Showing posts sorted by relevance for query Eropa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Eropa. Sort by date Show all posts

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Wednesday, September 18, 2013

Mitos Gelombang Muslim (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra


Ada banyak mitos gelombang Muslim di Barat, tegasnya Eropa dan Amerika Utara. Terdapat kalangan Barat yang sangat khawatir dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk warga Muslim dalam diaspora masing-masing. Kekhawatiran ini ditambah terus mengalirnya migran Muslim dari kawasan dunia Islam yang menurut imajinasi mereka akhirnya bakal membuat kaum Muslim menjadi mayoritas penduduk di kedua benua itu dan selanjutnya menguasai politik setempat.


Sejumlah penulis Barat yang membawa semangat anti-Muslim mengklaim, misalnya, pada 2025 nanti populasi Muslim mencapai sekitar 40 persen penduduk Uni Eropa, dan menjelang pertengahan abad 21 mereka menjadi mayoritas di benua ini. Klaim tentang gelombang Muslim ke Eropa dan Amerika Utara menimbulkan berbagai ‘mitos’ yang meningkatkan sikap anti-Muslim dan fobia Islam di kalangan masyarakat kedua benua tersebut. Akibatnya, kecemasan juga kian meningkat di kalangan Muslim, baik yang merupakan generasi kedua atau ketiga atau migran yang belum lama datang ke Eropa atau Amerika Utara.


Mengadakan beberapa kali perjalanan ke Eropa Barat sepanjang September 2013, saya juga menemukan peningkatan kecemasan di antara kaum Muslim Eropa tentang kian kuatnya sikap permusuhan (hostility) dari penduduk ‘pribumi’ lokal. Misalnya Ali Mahmud, sopir taksi asal Baghdad yang membawa saya dari Hotel Sheraton di pusat Kota Stockholm ke Bandara Arlanda pada awal September. Ketika saya tanya tentang kehidupannya belakangan ini, dia menjawab singkat, hidupnya kian sulit dan hampir selalu mendapat tatapan tajam penumpangnya yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian.


Mencoba berefleksi tentang nestapa Ali dan kalangan kaum Muslim Eropa lain, saya ibarat mendapatkan “pucuk dicinta ulam tiba” di Bandara Arlanda ketika di salah satu toko buku menemukan karya Doug Saunders, The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (New York: Vintage Books, 2012). Meski buku ini mencakup anak judul “immigrants” secara umum, isinya hampir sepenuhnya menyangkut tentang kaum Muslim migran yang menetap di Eropa dan Amerika Utara.


Walaupun begitu, ‘gelombang’ imigran ke Barat sebenarnya bukan hanya mencakup kaum Muslim. Sebelum datangnya migran Muslim setelah Perang Dunia II, sampai sekarang masih berlangsung apa yang disebut sebagai ‘gelombang’ Katolik dan ‘gelombang’ Yahudi di Eropa maupun Amerika Utara. Tetapi, gelombang kedua masyarakat keagamaan ini dalam hal tertentu berbeda dengan gelombang migran Muslim yang mulai berlangsung intensif sejak masa pasca-Perang Dunia II sampai sekarang.


Gelombang-gelombang imigran ke Barat selalu mendapatkan ‘perlawanan’ dari masyarakat lokal. Meskipun dalam kasus migran Muslim belakangan kelihatan lebih sengit. Kesengitan itu jelas banyak terkait dengan peristiwa penyerangan WTC di New York dan markas Pentagon 11 September 2001 di AS, yang kemudian disusul pengeboman di London dan Madrid.


Ketika gelombang kaum Katolik ke AS terus meningkat sejak dasawarsa awal abad 20, pada 1949 seorang penulis, Paul Blanchard, menerbitkan buku American Freedom and Catholic Power. Buku ini segera menjadi hit dengan masuk daftar best seller harian the New York Times selama 11 bulan berturut-turut. Edisi pertamanya terjual 240 ribu kopi dan dicetak ulang sampai 26 kali.


Blanchard menyalakan ‘lampu merah’ yang menyentakkan masyarakat Protestan Amerika. Ia mengatakan, gelombang migran Katolik ke Amerika mendatangkan ancaman serius bagi demokrasi, kesetaraan, dan sekularisme Amerika. Menurut dia, migran Katolik berasal dari negara-negara yang hampir sepenuhnya otoriter, fundamentalis secara keagamaan, dan menentang hak-hak perempuan serta menolak pembatasan kelahiran (birth control).


Selain itu, gereja Katolik menganut dogma tidak bisa diubah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. “Gereja [Katolik] adalah peninggalan otoritarianisme abad pertengahan yang tidak punya tempat pas dalam demokrasi Amerika,” tulisnya.


Lebih jauh, seperti juga tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Muslim belakangan, Blanchard menuduh migran Katolik dengan tingkat kelahiran yang tinggi bakal melampaui jumlah masyarakat Protestan, dan akhirnya menguasai kepresidenan Amerika. “Mereka tidak bakal terintegrasi, sebaliknya, membuat masyarakat terpisah yang berencana jahat (plot) memaksakan keimanan mereka secara lebih luas.”


Persepsi yang sama juga berlaku bagi kaum Yahudi yang mulai bermigrasi ke Amerika Utara sejak dasawarsa akhir abad 19. Umumnya mereka berpindah karena meningkatnya sikap anti-Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Semula, mereka bermigrasi ke Eropa Barat yang kemudian juga menjadi anti-Yahudi sehingga akhirnya berpindah ke Amerika Utara–AS dan Kanada.


Memang, di kota besar seperti New York, di mana terdapat imigran Yahudi dalam jumlah signifikan, mulai terlihat mereka membentuk masyarakat terpisah. Mereka tampil dengan penampilan fisik, agama, bahasa, pakaian, dan makanan (kosher) yang khas. Media setempat berulang kali mengingatkan dalam laporannya tentang “masalah orang asing” yang telah “menguasai” pertetanggaan. Orang-orang Yahudi sering dianggap sebagai pelaku kriminal, sehingga Komisioner Polisi New York, Theodore Bingham, pada 1908 menulis di North American Review, “Meski orang Yahudi hanya seperempat penduduk kota, separuh mereka adalah kriminal.”


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130917162730/limit/0/Umat-Kristen-Mesir-Dipaksa-Bayar-Pajak-300-Ribu-Per-Hari.html


Mitos Gelombang Muslim (1)

Wednesday, January 30, 2013

Jejak Raden Saleh di Leipzig

Oleh Zeynita Gibbons

Lukisan cat minyak berjudul Stierjagd auf Java atau “Berburu Banteng Jawa” yang dibuat Raden Saleh tahun 1842 di kanvas berukuran 85 x 140 sentimeter tergantung di ruang pameran mini karya Raden Saleh koleksi Museum Sejarah Leipzig di Balai Kota Leipzig, Jerman.

Beberapa lukisan Raden Saleh ditampilkan dalam pameran yang diselenggarakan Perkumpulan Masyarakat Indonesia-Jerman di Leipzig yang berlangsung hingga 17 Februari mendatang itu.

Direktur Museum Sejarah Leipzig, Volker Rodekamp, dan Deputy Chief of Mission KBRI Berlin, Siswo Pramono, membuka pameran yang dihadiri sekitar 100 pengunjung yang terdiri atas anggota Perkumpulan Masyarakat Indonesia-Jerman, anggota Lion Club serta akademisi dan pecinta seni di Kota Leipzig itu.

Menurut Siswo, Raden Saleh termasuk sosok yang penting dalam hubungan Indonesia dan Jerman.

Bapak seni lukis modern Indonesia itu, ia menjelaskan, termasuk duta Indonesia yang pertama yang ikut membangun landasan hubungan antara Indonesia dan Jerman.

Di Jerman, Raden Saleh melahirkan karya lukis bergaya oriental, lukisan-lukisan tentang eksotika Asia yang dia buat menggunakan teknik melukis Eropa yang telah dia pelajari di Belanda.

Karya-karyanya menjadi daya tarik dalam tata pergaulan seni Eropa dan membuat Raden Saleh menjadi sorotan masyarakat seni saat berkunjung ke Frankfurt, Berlin dan Dressden.

Bersama karya-karyanya, Raden Saleh masuk ke lingkungan pergaulan kaum aristokrat Jerman pada masa itu. Duke of Saxe-Coburg and Gotha serta adiknya, Pangeran Albert, yang kemudian menikah dengan Ratu Victoria dari Inggris tercatat sebagai sahabat Raden Saleh.

Gaya berbusana Raden Saleh yang tak biasa saat menghadiri pesta-pesta yang diselenggarakan kelompok masyarakat Eropa pun ikut menjadi perhatian, membuat dia menjadi salah satu perbincangan pada masa itu. Dia sering memadukan unsur Jawa dan Eropa dalam berpakaian.

Hal inilah yang membuat Raden Saleh berhasil meruntuhkan hati perempuan-perempuan cantik di Eropa pada jaman itu, kata Dr Werner Kraus pada pembukaan pameran mini karya Raden Saleh di Balai Kota Leipzig.

Kraus adalah akademisi di Universitas Passau yang selama 25 tahun meneliti kiprah dan karya Raden Saleh dan menuangkannya dalam buku berjudul “Raden Saleh and the Beginning of Modern Indonesian Painting.”

Selama melakukan penelitian, dia menemukan berbagai manuskrip tentang Raden Saleh di Dressden. Dalam salah satu manuskrip Raden Saleh menuliskan kalimat:

“A lot of my life was dedicated exactly to this purpose, trying to connect two very different cultures. But behind each and every culture there are human beings, and human beings are not so different.”

(Sebagian besar hidup saya dedikasikan untuk tujuan ini, mencoba menghubungkan dua budaya yang berbeda. Tapi dibalik masing-masing dan setiap budaya manusia, dan manusia tidak terlalu berbeda.”

Kraus melihat tulisan itu sebagai cerminan usaha Raden Saleh untuk menjembatani hubungan antara dua budaya, yang dalam hal ini budaya dari tanah asalnya dan budaya Eropa.

Paduan

Kraus menjelaskan, di satu sisi Raden Saleh menampilkan realitas Timur yang dianggap eksotis oleh khalayak Eropa.

Saat peradaban Barat tengah tergila-gila dengan apapun yang berbau eksotisme Timur, Raden Saleh menampilkan karya-karya orientalis dengan teknik seni rupa Barat.

Namun di sisi lain, Raden Saleh juga terkesima dengan Eropa dan kemewahan istana-istananya yang seperti dongeng.

“Itu adalah pengalaman eksotis baginya, sama seperti orang Eropa waktu itu memandang eksotisme alam Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan pula bahwa penerimaan masyarakat Jerman ikut membantu Raden Saleh menemukan jati diri dan mengembangkan kemampuan artistiknya.

Di Belanda, Raden Saleh tetap mendapat cibiran sebagai inlander meski sudah setengah terpaksa mengenakan busana ala Eropa. Sementara saat di Dressden, Raden Saleh justru mengundang penasaran dan kekaguman saat mengenakan busana Jawa.

Penerimaan itu, menurut Krauss, membuat Raden Saleh bisa lebih banyak belajar dengan tetap mempertahankan identitas diri sebagai orang Asia dan orang Islam. Dan dia terbukti bisa.

Sekitar 15 kilometer dari Kota Dressden, tak jauh dari Istana Maxen yang pernah menjadi tempat Raden Saleh tinggal, sebuah masjid dibangun.

Di Masjid Kubah Biru itu ada tulisan kalimat Raden Saleh dalam Bahasa Jerman dan Bahasa Jawa, “Sembahlah Tuhanmu dan Cintailah Sesama Manusia.”






Article source: http://index.okezone.com/read/2013/01/30/339/754141/jadi-caleg-ppp-putri-panji-gumilang-masuk-dapil-indramayu


Jejak Raden Saleh di Leipzig

Thursday, October 3, 2013

Mitos Gelombang Muslim (3)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Azyumardi Azra


Mitos gelombang Muslim begitu merasuk imajinasi sebagian masyarakat Eropa dan Amerika Utara, yang dengan instan digunakan oleh para politisi dan penulis ultra kanan. Bagi mereka, ada empat hal yang patut diwaspadai  masyarakat Barat karena bagi mereka amat mengkhawatirkan.


Pertama, pertambahan jumlah migran Muslim yang dapat berujung pada pembentukan ‘bangsa’ Muslim Barat; kedua, masalah integrasi kaum Muslim yang sangat sulit dengan lingkungan budaya lokal Barat; ketiga, privatisasi agama atau sekularisme negara-negara Barat yang justru mendapat respons balik dari masyarakat Muslim; dan keempat, tantangan kaum Muslim terhadap monokulturalisme Barat.


Adalah citra dan persepsi banyak kalangan Barat bahwa benua mereka terus ‘ditenggelamkan’ kaum Muslim. Menurut ‘teori’ atau tepatnya mitos ini, jumlah migran Muslim terus bertambah; dan pada saat yang sama keluarga Muslim terus beranak pinak secara cepat, sehingga dalam beberapa dasawarsa ke depan, kaum Muslim menjadi penduduk mayoritas Eropa dan Amerika. Begitu menjadi mayoritas–menurut mitos ini–kaum Muslim segera memaksakan Islam beserta syari’ah kepada penduduk ‘asli’ setempat yang jumlahnya merosot secara cepat.


Yang namanya ‘mitos’ tentu saja jauh daripada kenyataan. Seperti dibuktikan Saunders dalam The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (2012) berbagai fakta tentang pertumbuhan penduduk Eropa dan Amerika Utara sama sekali jauh dari klaim tersebut. Memang pada 1950 hanya ada sekitar 300.000 Muslim di 27 negara Eropa; dan kini berkisar antara 15 sampai 20 juta atau antara tiga sampai empat persen jumlah total sekitar 405 juta penduduk benua ini.


Menurut estimasi Pew Research Center, Washington DC, jika tingkat migrasi dan pertumbuhan penduduk Muslim sekarang ini dikalikan, penduduk Muslim Eropa pada 2030 mencapai 29,8 juta (4,5 persen). Untuk AS, penduduk Muslim meningkat dari 2,6 juta pada 2010 menjadi 6,2 juta pada 2030, atau(1,7 persen jumlah total penduduk negara ini. Survei Pew Research Center ini–di samping banyak survei lain–membuktikan kemustahilan kaum Muslim menjadi mayoritas di kedua benua tersebut.


Mitos selanjutnya adalah kaum Muslim, baik generasi pertama migran maupun generasi kedua dan selanjutnya yang lahir di perantauan Eropa dan Amerika Utara sangat sulit berintegrasi dengan masyarakat lokal beserta budaya dan tradisinya. Saunders tidak menolak adanya kesulitan tersebut. Generasi pertama migran Muslim sibuk dengan usaha untuk survive; bekerja kasar apa saja yang akhirnya membuat mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Keadaan ini memengaruhi generasi kedua, yang hanya secara ‘beringsut’ lebih baik dari orang tua mereka.


Kenestapaan seperti ini terutama terjadi di Eropa. Sementara di Amerika sebaliknya–migran Muslim adalah cerita tentang kesuksesan pendidikan, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok keagamaan lain. Menurut berbagai survei, sekitar 40 persen anak muda Muslim berhasil menyelesaikan pendidikan S1 atau S2. Dengan persentase ini, anak muda Muslim hanya dikalahkan pemuda Yahudi (61 persen), tetapi jauh lebih unggul dibandingkan rata-rata pemuda Amerika yang hanya 29 persen berhasil memperoleh gelar S1 dan S2.


Meski demikian, cerita sukses dalam pendidikan tinggi ini tidak lantas berarti pemuda Islam dapat dengan mudah mencapai mobilitas ekonomi. Kajian di beberapa negara Eropa menunjukkan, begitu pemuda Muslim berpendidikan tinggi masuk lapangan kerja, mereka mendapatkan gaji lebih rendah dibanding pemuda tempatan. Padahal, pendidikan mereka lebih tinggi atau sedikitnya setara dengan pemuda ‘pribumi’, dan lagi pula mereka juga fasih berbahasa lokal yang sudah menjadi bahasa ibu mereka. Saunders menyimpulkan: “anak-anak migran Muslim menghadapi hukuman karena agama dan etnisitas mereka di pasar kerja”.


Menghadapi diskriminasi dalam lapangan kerja, kaum Muslim umumnya di Barat masih juga berhadapan dengan mitos lain, yaitu bahwa mereka dengan mudah terjerumus ke dalam ekstremisme dan radikalisme. Bagi kalangan ultra kanan Barat, ekstremisme kaum Muslim di wilayah mereka bersumber dari ketidakpuasan dan  kemarahan kepada dunia Barat dengan segala sistem politik dan realitas sosial budayanya.


Sejauh mana kebenaran anggapan ini? Menurut sebuah survei Gallup, kaum Muslim yang menyimpan kemarahan hanya separus dari masyarakat pribumi Inggris. Tidak banyak berbeda, 76 persen Muslim Inggris merasa nikmat dengan kehidupannya, sementara 82 persen masyarakat lain umumnya. Di AS, 84 persen migran Muslim generasi pertama puas dengan kehidupan mereka; lebih tinggi daripada penduduk Amerika umumnya yang hanya 75 persen.


Kepuasan itu meningkat pada generasi kedua migran Muslim yang mencapai 90 persen. Bahkan, di lingkungan di mana masjid mereka menjadi sasaran vandalisme, 76 persen Muslim setempat menyatakan, komunitas pertetanggaan mereka sebenarnya terdiri atas orang baik-baik.


Mitos-mitos semacam itu dapat terus membiak. Tapi, mitos-mitos tidak berdasar itu juga dapat berkurang ketika setiap dan seluruh Muslim yang menetap for good atau selamanya di Barat dapat menampilkan diri seperti diharapkan Islam–tampil sebagai representasi rahmatan lil ‘alamin. Inilah yang juga masih menjadi ‘PR’ bagi kaum Muslim sendiri.


Article source: http://www.theglobejournal.com/Infotainment/bin-youcef-aktor-hollywood-yang-kumandang-azan-di-gereja/index.php


Mitos Gelombang Muslim (3)

Sunday, January 12, 2014

Masjid-Masjid Agung di Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Anjar Fahmiarto


Benua Eropa menyimpan cerita dan sejarah panjang tentang Islam. Ratusan tahun lalu kekhalifahan Islam menguasai Benua Biru dan menancapkan pengaruhnya yang sangat kuat. Kemajuan di berbagai bidang pun dicapai umat Islam kala itu.


Kini, setelah ratusan tahun berlalu, Islam kembali menancapkan pengaruhnya di Eropa. Perkembangan Islam di benua ini menunjukkan tanda-tanda yang sangat positif. Kegairahan masyarakat untuk memeluk Islam menjadi penanda positif bangkitnya Islam di Eropa.


Sejumlah masjid agung dibangun. Arsitektur dan bangunannya megah. Selain untuk ibadah, masjid ini juga digunakan untuk berbagai keperluan lain.


Lokasi pembangunannya pun berada di tempat yang strategis. Tentu, kita menjadi bangga menyaksikan berdirinya masjid-masjid yang megah di Eropa.


Masjid Agung Roma

Masjid agung ini didesain arsitek Italia Paulo Porthogesi, berdekatan dengan Kota Vatikan dan Sinagog Yahudi. Artinya, tak ada masalah jika tiga tempat peribadatan itu saling berdekatan. Pencetusnya adalah Raja Faizal bin Abdul Aziz pada 1974.


Dari lembah Tiber, masjid itu tampak menjulang tinggi menyaingi Montenne, sebuah bukit yang sangat subur di utara Kota Roma. Bagi penduduk Roma yang mayoritasnya penganut Katolik Roma, mereka juga bangga dengan adanya sebuah bangunan yang didominasi warna kuning muda itu.


Bangunan pusat kegiatan umat Islam tersebut memiliki keistimewaan di banding dengan berbagai bangunan megah lainnya yang ada di kota itu.


Di antaranya, 16 kubah ditambah sebuah kubah besar di tengah yang atasnya dihiasi dengan bulan sabit serta sebuah menara berbentuk pohon palem setinggi 40 meter.


Masjid Schwetzingen, Jerman

Bangunan masjid pertama di Jerman ini cukup unik karena lokasinya yang berada di dalam kompleks Istana Schwetzingen. Masjid Schwetzingen dibangun untuk menghormati toleransi.


Dirancang dan dibangun pada 1779 arsitek berkebangsaan Perancis Nicolas de Pigage (1723-1796). Proses pembangunan Kompleks Masjid Schwetzingen sendiri memakan waktu lima belas tahun lamanya (1779-1796).


Masjid Schwetzingen merupakan bangunan terbesar pertama yang mengedepankan gaya arsitektur oriental. Pigage menggabungkan elemen-elemen dari arsitektur Islam Moor dengan eksotisme dari kisah-kisah dongeng 1.001 Malam.


Oleh sang arsitek, Masjid Schwetzingen juga dirancang dan dibangun dengan menggunakan konsep taman. Karenanya, masjid ini menjadi masjid taman pertama yang dibangun pada abad ke-18 dan hingga kini masih berdiri megah di kawasan Eropa. Taman yang berada di sekeliling bangunan masjid mengadopsi konsep taman-taman di Turki.


Masjid Central London


Masjid Sentral London atau The London Central Mosque and Islamic Cultural Centre (ICC) atau biasa disebut sebagai Masjid Regents Park dibangun pada 1978.


Ciri khasnya adalah kubah keemasan. Masjid yang sangat terkenal di Inggris Raya ini dibangun sebagai bentuk penghargaan kepada kaum Muslimin di Inggris raya yang turut berjuang membela Inggris dan sekutu selama Perang Dunia II.


Seluruh permukaan lantai masjid ini ditutup dengan karpet dan candilier yang cantik bergantung di atas ruang utama. Sedangkan, di bagian dalam kubahnya dihiasi dengan dekorasi tradisi Islam.


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Masjid-Masjid Agung di Eropa

Thursday, February 14, 2013

Hisbullah: Sebuah Organisasi Teror?

Kalau Hisbullah sedang terpojok, para anggotanya akan disuruh bungkam. “Bulgaria? Oh maaf, tak ada komentar”, begitu tegas Rana, jurubicara organisasi Hisbullah di Beirut. Dengan ramah ditambahkannya: “betul-betul, saya minta maaf ya“

Pusat media di jalan Dahiye yang ramai lalu lintas. Kawasan selatan Beirut ini dikuasai oleh Hisbullah. Pengaruhnya terlihat pada sekolah-sekolah, rumah sakit dan juga di pencakar langit yang pembangunannya mereka danai.

“Kaum Hisbullah sudah berakar di Libanon“, ungkap Björn Blaschke, koresponden media Jerman, ARD di lokasi. “Mereka terlibat dalam pemerintahan Libanon dan diwakili di parlemen, jadi bukan sekedar partai, tapi juga gerakan sosial.” Kaum Hisbullah juga memberikan bea siswa dan membiayai panti asuhan.

“Hisbollah itu segalanya”

Namun bukan hanya itu, Hisbullah memiliki sayap bersenjata, yang lahir dari perlawanan Libanon pada Israel tahun 1980-an dan menjadi kuat seiring perang saudara Libanon.

Hassan Nazrallah

Banyak pengikut Islam Syiah yang menetap di selatan Libanon yang dari segi pembangunan tertinggal, ketimbang bagian lain negara itu. Karena itu Hisbullah, atau partai Tuhan itu bisa disebut sebuah partai Syiah.

Pemimpinnya adalah seorang ulama Syiah. Turban hitam yang dikenakan Sekjen Hisbullah Hassan Nasrallah menunjukkan bahwa ia keturunan langsung dari Nabi.Singkatnya: “Hisbullah adalah segalanya”, begitu Blaschke.

Philipp Mißfelder, jurubicara partai Kristen Jerman menggunakan kata-kata lain, “Hisbullah itu bukan organisasi sosial seperti yang sering dicitrakannya, melainkan kelompok politik yang agresif dan fundamentalis dan siap menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya.“ Mißfelder menunjuk pada investigasi pembunuhan pertengahan tahun lalu atas 5 turis Israel dan supirnya. Menurut pemerintah Bulgaria, pelakunya anggota Hisbullah.

“Barat Kurang Tegas “

Oleh sebab itu, Mißfelder menuntut bahwa Hisbullah dimasukkan dalam daftar teror Uni Eropa. Saat ini sudah sejumlah organisasi seperti Hamas atau Al-Qaeda masuk daftar itu. Ini organisasi yang menurut definisi Uni Eropa, telah melakukan sejumlah pelanggaran hukum berat, seperti penyanderaan atau pembunuhan dengan tujuan mengintimidasi masyarakat dan mendestabilisasi atau menghancurkan struktur dasar sebuah negara.”

Pawai Hisbullah di Libanon

“Barat hingga kini kurang tegas mengenai Hisbullah”, begitu Mißfelder. Hisbullah bisa bergerak tanpa masalah di Eropa. Kegiatannya didanai dari bisnis-bisnis legal atau ilegal. Seandainya Hisbullah berada dalam daftar teror, maka badan-badan keamanan Eropa dan Jerman bisa bertindak lebih keras dan tajam. Bahkan membuka peluang untuk menjatuhkan sanksi atau larangan masuk bagi anggota Hisbullah.

Di Amerika Serikat dan Israel, yang telah mengkategorikan Hisbullah sebagai organisasi teror, langkah tersebut akan disambut. Tapi sejumlah negara Uni Eropa keberatan, karenanya Mißfelder melihat kemungkinan Jerman bertindak sendiri. Satu model kompromi yang dipertimbangkan serupa dengan sikap pemerintah Inggris menghadapi kelompok teroris IRA dulu. Yakni, berdialog dengan sayap politiknya, dan mengkategorikan sayap militer IRA sebagai teroris. “Ini merupakan pemisahan maya, tapi mungkin bisa diterima oleh Brussel”, tambah Mißfelder.

Menguatkan pengaruh Hisbullah

Di pihak lain, Nadim Shehadi dari think-tank Inggris, Chatham House, memperingatkan akan bahaya tindakan yang tergesa-gesa. Memang sejumlah definisi teroris bisa ditempelkan pada sebagian kelompok Hisbullah, yang melakukan serangan berdarah saat perang saudara Libanon. Namun, Shehadi kuatir akan dampaknya bagi Libanon.

Demonstrasi anti Suriah di Beirut

Nyatanya Hisbullah adalah bagian resmi dari pemerintah negara itu. Seandainya kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teroris dan dijatuhi sanksi, maka Libanon akan terisolir. “Ini malah akan menguatkan pengaruh Hisbullah, dan bukan melemahkan organisasi itu.”

Jurnalis Björn Blaschke berpandangan serupa. “Saya tidak tahu, apakah memberi label organisasi teror kepada Hisbullah adalah hal yang baik.” Namun menghentikan dialog adalah strategi yang salah. “Bila Hisbullah ditekan oleh asing, maka mereka bisa merasa harus membela diri.” Nadim Shehadi mengingatkan bahwa kaum Hisbullah masih memiliki cukup senjata untuk menjalankan perang lagi.

Hisbullah Mendorong Deeskalasi

Belakangan kaum Hisbullah di Libanon menghadapi tekanan besar di dalam negeri karena berpihak dengan rezim Assad dalam konflik Suriah. Menurut Blaschke, posisinya yang beraliansi dengan Iran ini telah menyebabkan Hisbullah kehilang banyak dukungan.

Karenanya Hisbullah, berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang provokatif. Blaschke melaporkan, foto-foto pemimpin revolusi Iran kini dicopot dari gedung-gedung di Libanon. “Bahkan dari rumah sakit Dahiye yang didanai oleh Iran.” Juga ketika perang Gaza berlangsung akhir tahun lalu, kaum Hisbullah tampak sangat terkendali. Menurut Blaschke, itu pertanda bahwa Hisbullah tengah menjalankan taktik deeskalasi.

Seandainya Uni Eropa betul-betul menaruh Hisbullah di daftar teror, maka jalur dialog akan terancam gagal. Bagaimana pandangan Hisbullah tentang ini belum jelas. Mungkin Hassan Nasrallah akan berpidato akhir pekan ini, ungkap jurubicara Rana. Mungkin juga tidak. Yang pasti Rana harus diam seribu bahasa.


Hisbullah: Sebuah Organisasi Teror?

Sunday, August 4, 2013

Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Oleh Erik Purnama Putra


REPUBLIKA.CO.ID, Bagi Dini Fitria (31 tahun), melakukan perjalanan jurnalistik ke luar negeri adalah hal biasa. Namun, presenter program “Jazirah Islam” di Trans 7 ini mengaku mendapat berkah tersembunyi ketika mendapat tugas meliput dunia Islam di negara Eropa maupun Amerika Utara.


Sosok yang akrab di panggil Dini ini mengaku, banyak pelajaran dari interaksi dengan beragam karakter umat Islam di negara yang masyarakat Muslim menjadi minoritas.


“Ada hikmah sejarah, perjuangan, dan persahabatan yang bisa kita petik,” kata perempuan yang merangkap sebagai produser program khusus Ramadhan ini kepada Republika, belum lama ini.


Dalam tiga tahun terakhir, beberapa negara yang pernah disinggahi Dini untuk program “Jazirah Islam”, antara lain, Austria, Belanda, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Argentina, Meksiko, dan Brasil. Adapun, negara Asia yang dikunjunginya adalah Thailand, Cina, India, dan Korea Selatan.


Di beberapa negara itu, putri dari pasangan Syamsul Bahri Yunus dan Roslaini Rasyad ini melakukan liputan dokumenter tentang perjuangan umat Islam dalam menjaga eksistensi komunitasnya.


Ia menuturkan, pengalaman mengharukan didapatnya ketika meliput Mezquita Catedral di Kordoba, Spanyol. Bangunan masjid yang sudah menjadi tempat peribadatan warga Katolik itu begitu memikatnya. Ia merasa seperti masuk ke lorong waktu para era kejayaan Islam di Benua Biru.


Tak terasa, air mata Dini terurai saat melihat mihrab masjid telah beralih menjadi altar gereja. “Miris sekali,” akunya. Kesedihannya semakin mendalam ketika Abdul Bahri, seorang Muslim yang menjadi pengantarnya, menuturkan masyarakat Negeri Matador itu memberi stigma buruk terhadap Islam yang selalu dikaitkan dengan isu teroris.


Bertemu mualaf


Pengalaman menarik juga didapat Dini di Italia. Bungsu dari lima bersaudara ini bertemu dengan dua sosok Muslim yang mampu menginspirasinya. Mereka adalah Wali Kota Monte Argentario Arturo Cerully dan fotografer Steffano Romano yang keduanya merupakan mualaf.


Khusus Arturo Cerully, ia merupakan wali kota Muslim pertama di Negeri Piza. Ia memilih Islam karena ajaran kemasyarakatan dan kenegaraan, serta mengikuti agama yang dianut istrinya.


Adapun, Steffano Romano memeluk Islam lewat karya fotografinya tentang perempuan berjilbab. Kecintaannya terhadap ajaran Rasulullah ini mampu membuat keduanya meninggalkan agama leluhurnya.


Pengalaman spiritual paling puncak didapatnya saat berkesempatan menyaksikan beberapa orang dari berbagai negara di Eropa merasa mantap ingin masuk Islam. Proses pengucapan kedua kalimat syahadat calon mualaf mampu menggetarkan hatinya.


Perempuan kelahiran Padang, 23 Maret 1982, ini sangat tergugah setiap kali mengingat momen itu. Pasalnya, untuk memeluk Islam, bukan sebuah pilihan mudah dan memerlukan perjuangan cukup berat bagi warga Eropa.


Rata-rata, mereka yang masuk Islam lebih karena tertarik dengan isi Alquran yang dianggap sangat rasional dan tidak menimbulkan perdebatan. “Karena itu, saya selalu bersyukur memeluk Islam sejak kecil.”


Merasa menemukan Islam di Eropa, ia dibuat terkesima dengan warga Muslim di sana. Ini lantaran rasa persaudaraannya yang sangat kuat di tengah pandangan minor yang diterimanya.


Fakta itu juga dirasakan Dini yang selalu dicurigai petugas di bandara hingga memaksanya harus melepas jilbab yang dikenakannya lantaran dicurigai sebagai teroris.


“Islam di Eropa hanya satu. Mereka tidak membedakan Suni, Syiah, Muhammadiyah, atau NU. Islam ya Islam,” celetuknya.


Di belahan bumi lainnya, perjalanan Dini mengantarkannya bertemu dengan keluarga Indian Muslim yang tinggal di Chiapas, Meksiko. Di daerah kaya sumber daya alam ini, warga setempat masih hidup terbelakang lantaran terlena dengan kehidupan yang dekat dengan alkohol, judi, dan hukum rimba.


Mayoritas warga suku Indian itu yang menjadi penganut animisme berusaha mencari kedamaian dengan memeluk agama Katolik maupun Protestan yang disebarkan masyarakat Eropa. Namun, lanjut Dini, ketenangan yang diharapkan tidak juga ditemukan.


Alhasil, pencarian keluarga itu mengantarkannya mengenal Islam dari kelompok pendatang Muslim asal Spanyol. “Islam menjadi alternatif yang menarik karena bisa mengerem kebiasaan buruk mereka,” katanya.


“Sayang, sekali lagi isu-isu terorisme membuat mereka takut dan akhirnya termarginalisasi,” kata alumnus Universitas Andalas, Padang, ini.


 Menulis novel


Meski hasil reportasenya telah muncul di televisi, Dini merasa belum puas lantaran tidak semuanya tergambarkan. Ini mengingat tayangan dokumenter lebih menonjolkan aspek objektivitas. Atas dasar itu, ia tertarik menuliskan pengalaman subjektifnya ke dalam sebuah novel berisi kisah nyata.


“Alhamdulillah, novel religius ini bisa terbit,” katanya. Karya perdananya itu berjudul Scapa per Amore. Judulnya yang memakai bahasa Italia itu merupakan usulan istri Arturo Cerulli, Sri Semiarti Sastropawiro, yang berarti lari karena cinta.


Scapa per Amore bercerita perjalanan cinta seorang jurnalis televisi, Diva, yang harus memilih antara melanjutkan hubungan dengan tunangannya yang retak atau menerima tugas liputan ke luar negeri. Di tengah kegalauannya, Diva menjatuhkan pilihan memilih menunaikan tugas profesionalnya.


Harapannya, dengan pengalaman spiritual selama liputan akan diperoleh perenungan untuk menentukan langkah berikutnya. Dan, benar saja, perjalanan liputan itu ternyata menggugah banyak makna dan inspirasi. 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138443/HMI-Tegaskan-Ajaran-Laduni-Aliran-Sesat-


Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Friday, December 21, 2012

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Home Sejarah


Perang Salib

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)


 

Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki


Jum’at, 21 Desember 2012

Oleh: Alwi Alatas

Kekalahan yang diikuti dengan kemenangan pada peristiwa Perang Salib

Bagaimanapun, bukan hanya kemenangan yang bisa berakhir dengan kekalahan. Kekalahan juga bisa disikapi dan dikelola dengan baik sehingga akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib I dimulai dengan seruan Paus Urbanus II pada sidang gereja di Clermont, Prancis. Seruan ini pada asalnya merupakan tanggapan positif gereja Katholik atas permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi pasukan-pasukan Turki Saljuk yang mengganggu wilayahnya. Namun isu ini kemudian dikembangkan dan diarahkan oleh Paus untuk merebut kota al-Quds atau Yerusalem. Paus tentu mempunyai pertimbangan pribadi saat menyampaikan seruannya. Gereja Katholik ketika itu sedang banyak masalah: perselisihan gereja dengan kaisar Jerman (Holy Roman Empire), adanya paus tandingan (anti-pope), perpecahan Katholik dengan Kristen Orthodoks yang berpusat di Byzantium, ditambah lagi dengan berbagai masalah sosial di Prancis dan beberapa negara Eropa Barat lainnya. Penguasaan Yerusalem, yang mereka yakini sebagai tempat disalibnya Yesus tentu akan menjadi prestasi yang menonjol dan meningkatkan pengaruh gereja Katholik di Eropa (Paine, 2005: 32).

Orang-orang yang hadir menyambut seruan Paus itu dengan penuh semangat. Sepanjang khutbah Paus Urbanus II mereka berseru, ”Deus Vult! Deus Vult! (Tuhan menghendakinya! Tuhan menghendakinya!) (Cole, 1991: 1-2). Setelah itu, beberapa pendeta mengkhususkan diri untuk menyebarluaskan seruan Paus kepada masyarakat. Manusia kemudian berbondong-bondong datang untuk menyertai Perang Salib yang pertama (1095-1099). Kata Edward Gibbon, seorang Sejarawan Inggris abad ke-18, khutbah Paus itu telah ”menyentuh syaraf perasaan (Eropa) yang paling halus” dan mendorong mereka untuk menyambutnya dengan penuh semangat. 

Terjadinya pasukan Salib I bertepatan dengan keadaan kekhalifahan Abbasiyah yang sedang mengalami perpecahan. Pemerintahan di kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dipimpin oleh orang-orang Turki Saljuk. Ketika pemimpin tertingginya meninggal dunia pada tahun 1092, keadaan menjadi tidak stabil dan para emir saling memperebutkan wilayah dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Perpecahan ini membuka jalan bagi pasukan Salib untuk masuk ke wilayah Muslim di Asia Minor, Suriah dan Palestina dan menguasai beberapa kota. Kota Nicaea (Iznik) jatuh pada tahun 1097, Antioch (Antakya) pada tahun 1098, dan Yerusalem (al-Quds) pada tahun 1099. Beberapa kota Muslim lainnya juga jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun-tahun tersebut. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kekuatan di dunia Islam yang mampu membebaskan kota-kota tersebut dan menghadapi pasukan Salib secara efektif.

Kaum Muslimin mengalami kekalahan yang telak. Kekalahan itu bukan disebabkan oleh musuh yang sangat hebat, tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan yang menimpa kaum Muslimin. Mereka terkena penyakit cinta dunia dan jatuh dalam perpecahan dan permusuhan di antara sesama mereka. ”Para penguasa semuanya dalam keadaan berselisih …,” kata Ibn al-Athir (2006: 22), ”dan demikianlah orang-orang Frank menaklukkan negeri-negeri (Muslim).” Dr. Majid Irsan al-Kilani (2007: 49) memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemunduran dan kelemahan kaum Muslimin pada masa itu, termasuk para ulamanya:

“Mereka menjalani rutinitas harian tanpa arahan yang benar, standar nilai Islam lenyap dari panggung kehidupan nyata, sedangkan nafsu dan syahwat merajalela. Pengaruh-pengaruh negatif terasa begitu kental dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran. Bidang-bidang tersebut hancur, fundamen internal masyarakat rapuh dan daya tahannya lemah serta rentan terhadap segala macam krisis dan keterpurukan.”

Keadaan ini menyebabkan mereka kalah, walaupun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak dibandingkan musuh dan peradaban mereka jauh lebih maju. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung terus menerus. Belakangan ada beberapa ulama yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan ummat. Mereka memahami bahwa semua kekalahan itu adalah disebabkan oleh masalah internal kaum Muslimin. Maka mereka pun berusaha memperbaiki kondisi internal kaum Muslimin, khususnya memperbaiki barisan ulamanya agar menjadi ulama yang lurus dan mampu menerangi ummat (Al-Kilani, 2007).

Kemudian muncul juga seorang peminpin yang shaleh di Suriah, yaitu Nuruddin Zanki, sehingga semakin menyempurnakan perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Salib. Nuruddin Zanki menjadi sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1146, hampir bersamaan dengan terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada Perang Salib II inilah mulai terlihat perubahan signifikan di dunia Islam, dan juga di kalangan orang-orang Frank (Prancis) dan Kristen pada umumnya. Dalam menghadapi gelombang kedatangan pasukan Salib yang baru ini, para pemimpin Muslim di Suriah mulai berupaya untuk menjalin kerja sama. Ketika pasukan Salib menjadikan Damaskus sebagai target serangan, emir Damaskus mengirim surat permintaan bantuan kepada Nuruddin Zanki di Aleppo dan kakaknya yang memerintah di Mosul. Keduanya segera menyambut permintaan bantuan itu.

Sebaliknya, orang-orang Kristen justru mulai mengalami perpecahan. Kaisar Byzantium mengijinkan pasukan Prancis dan Jerman melewati wilayahnya dan memfasilitasi mereka untuk menyeberang ke Asia Minor, tetapi tampaknya diam-diam memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di wilayah itu untuk menghadang pasukan dari Prancis dan Jerman ini. Orang-orang Eropa yang baru datang itu juga belakangan mengalami perselisihan dengan orang-orang Frank yang telah lama berada di Palestina. Semua itu menyebabkan pasukan Salib mengalami kekalahan dan pasukan Salib II itu terpaksa kembali ke negerinya masing-masing dengan tangan hampa (Alatas, 2012: 286-292). Steven Runciman (1987: 288), seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah Perang Salib mengomentari Perang Salib II dengan kata-kata berikut:

”Tidak ada usaha (enterprise) abad pertengahan yang dimulai dengan harapan yang begitu baiknya. Direncanakan oleh Paus, dikhotbahkan dan diinspirasikan oleh Santo Bernard, dan dipimpin oleh dua raja utama Eropa Barat, ia menjanjikan begitu banyak kejayaan dan keselamatan bagi dunia Kristen. Namun ketika ia sampai pada akhir yang begitu memalukan berupa penarikan pasukan dari Damaskus, semua yang berhasil dicapainya adalah memperburuk hubungan antara orang-orang Kristen di (Eropa) Barat dan orang-orang Byzantium hingga ke titik yang paling serius, menaburkan kecurigaan di antara tentara-tentara Salib yang baru datang dengan orang-orang Frank yang menetap di Suriah, memisahkan para bangsawan Frank di antara sesama mereka, menarik kaum Muslimin untuk saling mendekat dan bersatu, dan menghancurkan reputasi orang-orang Frank dalam hal kecakapan militer.”

Pada perang-perang Salib berikutnya kaum Muslimin juga mampu menahan serangan pasukan Salib. Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki yang meninggal dunia pada tahun 1174 berhasil membebaskan al-Quds. Pasukan Salib tidak pernah lagi mampu merebut kota al-Quds sejak saat itu. 

Kaum Muslimin memang kalah pada Perang Salib I. Tetapi para ulama dan pemimpinnya dapat merespon kekalahan itu dengan baik dan berjuang untuk mengubah keadaan internal kaum Muslimin sehingga mereka akhirnya mampu menghadapi lawan dan membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah.

Kaum Muslimin pada hari ini juga sedang mengalami kekalahan. Mereka telah dikalahkan sejak lama. Mampukah para ulama dan pemimpinnya untuk bangkit memperbaiki ummat sehingga suatu saat nanti mereka dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan? Semoga saja.*/Jakarta, 3 Safar 1434/ 17 Desember 2012 

Daftar Pustaka

Alatas, Alwi. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim. 2012.

Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh, part 1, The 

Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim Response (terjemahan oleh  D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.

Gibbon, Edward. History of the Decline And Fall of the Roman Empire, vol. 5. e-text edition by David Reed.

Al-Kilani, Dr. Majid ‘Irsan. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (terjemahan dari Hakadza Zhahara Jil Salah al-Din wa Hakadza ‘Adat al-Quds). Bekasi: Kalam Aulia Mediatama. 2007.

Al-Maqqari, Ahmed ibn Muhammed. 1984. The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, extracted from the Nafhu-t-Tib min Ghosni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-din Ibni-l-Khattib, vol. I II, translated and ilustrated with critical notes by Pascual de Gayangos. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delhi.

Paine, Michael. The Crusades. Harpenden: Pocket Essentials. 2005.

Runciman, Steven. A History of the Crusades, 2: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge: Cambridge University Press. 1987.

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26448/21/12/2012/penyesatan-opini-paham-pembela-kebathilan.html


Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Thursday, January 16, 2014

Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Jakarta - Szilvia Fabula bukan satu-satunya gadis Eropa Timur yang dikenal Presiden PKS Anis Matta. Anis Matta pernah bertemu dengan sorang Imam yang punya 7 gadis Eropa Timur yang baru saja masuk Islam. Namun Anis Matta memilih Szilvia sebagai istri keduanya.

Wasekjen PKS Fahri Hamzah mengisahkan hal tersebut melalui akun twitternya, Jumat (28/12/2013).


Szilvia Fabula masih studi S2 ekonomi saat mengenal Anis Matta di sebuah toko buku di Budapest, Hongaria. Setelah cukup lama sejak pertemuan pertama yang disaksikan Wasekjen PKS Fahri Hamzah itu, keduanya bertemu kembali di Budapest. Pertemuan kedua ini sudah banyak perubahan pada diri Szilvia.


Szilvia kini sudah memeluk agama Islam. Dia pun berani bertanya ke Anis Matta soal hukum Islam poligami.


“Rupanya dia sempat dikirimi Quran dengan terjemahan Inggris dan lalu diarahkan ke Islamic Center Budapest oleh Jen (Anis Matta),” kata Fahri.


Anis Matta pun menjelaskan tentang hukum poligami. Perdebatan pun terjadi karena awalnya Silvia menentang poligami. Namun entah mengapa setelah itu Szilvia semakin mantap mengubah penampilan.


“Waktu kami berjumpa Kerudungnya sudah sempurna. Dan dia menyampaikan terima kasih kepada kami,” kata Fahri.


Szilvia juga mengantarkan Anis Matta dan Fahri ke Islamic Center of Budapest dan mempertemukan dengan pimpinannya. Kala itu pemimpinnya memuji Anis Matta. 


“Sore itu kami dikenalkan oleh sang imam 7 gadis dari kawasan eropa timur yang menjadi muallaf bersama-sama,” kenang Fahri yang memilih tak poligami ini.


Perdebatan tentang poligami itu mengantar hubungan Anis Matta dan Szilvia semakin jauh. “Sampai kami kembali lagi ke Jakarta, kami belum mendengar ada kisah cinta. Semuanya dialog tentang Islam,” kilah Fahri yang belum mau mengugkit kisah cinta Anis dan Szilvia secara lebih mendalam ini.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/11/16/219530118/Asmirandah-Mengaku-Minta-Jonas-Masuk-Islam


Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Saturday, October 12, 2013

Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

JAKARTA – Warna rambut boleh sama hitam, namun setiap orang punya pendapat beragam tentang segala sesuatu. Apalagi menyangkut masalah keyakinan. Meskipun sama-sama muslim, umat Nabi Muhammad punya cara dan pendapat yang beragam soal ritual dan ajaran Islam. Itulah sebagian ‘warna’ yang ingin ditampilkan dalam ‘99 Cahaya di Langit Eropa’.


 Selain menampilkan perjalanan spiritual Hanum Rais (Acha Septriasa) di tanah Eropa, film ‘99 Cahaya di Langit Eropa’ juga melibatkan karakter-karakter lain yang memiliki pandangan sendiri soal kepercayaan. Mereka adalah teman-teman Rangga (Abimana) di lingkungan kampus.


Sosok pria yang tak percaya dengan agama, akan dimainkan oleh Nino Fernandez sebagai Stefan. Sedangkan Alex Abbad, memerankan tokoh Khan, pemuda keturunan Pakistan yang sangat memegang ketat ajaran agamanya.


“Khan ini orang Pakistan yang sangat strict sampai disertasinya dia tentang halal dan haram, dan ini memang real,” ujar sutradara Guntur Soeharjanto disela-sela lokasi syuting di Wina, Austria akhir September lalu.


Khan yang merupakan kalangan minoritas sebagai muslim di Wina, ‘menuntut’ haknya akan label halal dan haram sehingga ia bisa menjalankan perintah agamanya dengan tenang.  “Karena dia butuh pernyataan itu dari pemerintah, bahwa dia seorang muslim harus dijamin,” tambah Guntur.


Sementara karakter Stefan, selalu berargumen dengan logika. Ketika suatu hal tidak masuk rasionalnya, akan terjadi benturan pandangan antara si Khan dan Stefan melalui Rangga.


“Stefan sering mempertanyakan kenapa makan babi dilarang, dan sebagainya. Stefan kan porsinya lumayan banyak, karena film butuh sesuatu yang detail, akhirnya kita kembangkan dari bukunya,” jelas sutradara yang sebelumnya mengarahkan ‘Tampan Tailor’ itu.


Isu besar yang dibawa dalam film adalah ingin menampilkan bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Eksekutif Produser Yoen K menjelaskan, contoh menjadi agen muslim yang baik seperti digambarkan dalam film, misalnya, ada beberapa kali tokoh anak muslim yang di-bully, tetapi dia bukan membalas dengan melakukan hal sama.


 


Tetapi dia memberikan pelajaran dengan menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya. Bukan Islam yang menebar kebencian atas nama agama, seperti yang lebih sering disorot dunia Barat.


“Ini juga bukan film tentang bagaimana seorang wanita mendapat hidayah untuk berhijab, itu kan sebuah proses ya,” tambah Yoen.


Film ini juga dibuat dengan semangat toleransi yang besar. Meskipun bertema religi Islam, menurut Yoen film ini melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda.



“Yang terlibat di film ini bukan cuma teman-teman dari Muslim. Katolik, Kristen, Budha, Hindu pun ada. Ini film dari awal sudah ditegaskan bahwa film ini bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk memberikan gambaran rahmatan lil alamin,” terangnya dilansir detik.


‘99 Cahaya di Langit Eropa’ menampilkan Raline Shah, Acha Septriasa, Abimana, Nino Fernandezz, Alex Abbad, dan Marissa Nasution. Fatin Shidqia Lubis dan Dian Pelangi juga akan memeriahkan film produksi Maxima Pictures ini.


Proses syuting sudah dimulai sejak 9 September lalu di Wina, Austria. Dilanjutkan pengambilan gambar di Paris, Cordoba dan Istanbul. dtc



Article source: http://international.okezone.com/read/2013/10/10/412/879780/80-prajurit-israel-gerebek-masjid-al-aqsa


Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

Tuesday, January 22, 2013

Mali, Petualangan Perancis Paling Berisiko

PARIS, KOMPAS.com - Saat dunia memusuhi Libya, Perancis tampil paling depan membantu pemberontak. Dan kini, lebih dari 2.000 prajuritnya tengah bertempur melawan pemberontak Islam di Mali.

Namun, sejumlah analis mengatakan, kembalinya Perancis sebagai pemain utama di panggung internasional nampaknya lebih banyak mengundang risiko ketimbang pujian.

Dulu, Perancis dikenal sebagai salah satu negara kolonial terbesar di dunia. Koloninya tersebar mulai benua Amerika, Afrika dan Asia. Sayangnya, seperti halnya negara kolonial lainnya, Inggris, pengaruh Perancis kini memudah di balik Amerika Serikat.

Perancis memang menentang invasi AS ke Irak pada 2003 -sebuah langkah yang memicu kemarahan di antara banyak politisi AS- namun, Perancis juga mendukung AS di Perang Teluk I 1991 dan di Afganistan.

Saat rakyat Libya mengangkat senjata untuk melawan Moammar Khadafi pada 2011, dengan cepat Perancis menjadi pendukung utama pemberontak dan mengirim pesawat tempur untuk menghentikan laju pasukan pemerintah yang hampir menghabisi pasukan pemberontak.

Keterlibatan Perancis di Libya, kemudian disusul intervensi militer NATO yang menyediakan dukungan serangan udara sehingga pasukan pemberontak mampu menggulingkan Khadafi hanya dalam beberapa bulan saja.

Keputusan cepat juga dilakukan pemerintah Perancis di bawah pimpinan Francois Hollande. Pemimpin beraliran sosialis ini dengan cepat menyetujui pengiriman militer untuk membantu angkatan darat Mali yang kewalahan menghadapi pemberontak.

Keputusan Hollande itu diambil sehari setelah pasukan pemberontak militan yang terkait Al-Qaeda, yang sudah menguasai wilayah utara, bergerak untuk merebut wilayah selatan Mali.

Baik intervensi di Libya maupun Mali, Perancis mendapatkan pujian dari dunia internasional. Namun, sejumlah analis politik khawatir keterlibatan Perancis di Mali lebih berisiko, karena konflik di Mali berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

“Perancis berharap negara-negara Afrika dan Eropa ikut mengangkat senjata. Namun, negara-negara Eropa lain terlalu pengecut,” kata Philippe Moreau-Defarges, peneliti lembaga riset IFRI di Paris.

Pasukan koalisi Afrika yang diharapkan membantu Mali bisa mencapai 6.000 personil dijadwalkan tiba di Bamako dalam waktu dekat. Sementara AS dan sejumlah negara Eropa menjanjikan bantuan berupa pesawat angkut dan bantuan logistik.

Sejauh ini, Perancis adalah satu-satunya negara Barat yang mengirimkan pasukan tempurnya ke Mali.

Berebut Pengaruh di Afrika

Keterlibatan Perancis di Mali juga bukan sekadar urusan melawan pemberontak Islam. Namun, juga untuk mengembalikan pengaruh Perancis di benua yang sebagian wilayahnya pernah menjadi jajahan Perancis itu.

Apalagi dalam beberapa tahun belakangan ini, pengaruh China baik dari sisi politik dan investasi berkembang pesat di Afrika.

“Afrika tengah melepaskan diri dari Perancis dan Perancis ingin tetap tampil di Afrika,” papar Moreau-Defarges.

Salah satu bukti lain upaya Perancis menancapkan pengaruhnya di Afrika adalah di Pantai Gading, yang juga bekas jajahannya. Pada 2011, Perancis membantu menggulingkan presiden yang kalah dalam pemilu namun tidak mau turun dari jabatannya. Pasukan Perancis membantu menggulingkannya dan mendudukkan rivalnya sebagai presiden Pantai Gading.

Pemerintah Perancis membantah jika keterlibatannya di Mali adalah bentuk dari neo-kolonialisme. Sebab, intervensi di Mali mendapat dukungan Dewan Keamanan PBB dan sejumlah negara Afrika. Bahkan, pemerintah Mali meminta Perancis untuk mengirimkan pasukannya.

Berlangsung Lama

Petualangan Perancis di Mali, yang dimulai hanya beberapa bulan setelah Perancis menarik pasukannya di Afganistan, nampaknya bakal menjadi salah satu misi Perancis yang paling memakan biaya.

Menlu Perancis Laurent Fabius menggambarkan misi militer Perancis ini hanyalah untuk menahan laju pemberontak, terutama hanya menggunakan serangan udara dan hanya akan berlangsung beberapa pekan saja.

Namun, sejak intervensi Perancis ini bisa melibatkan hingga 4.000 prajurit dan Menhan Jean-Yves Le Drian mengatakan misi militer Perancis di Mali adalah untuk menguasai seluruh wilayah Mali, maka skenario beberapa pekan agaknya tak mungkin terlaksana.

Pernyataan Le Drian itu berarti Perancis kini memiliki misi untuk menghancurkan pemberontakan Islam di bagian utara Mali yang wilayahnya lebih luas dari Perancis. Apalagi, di kawasan gurun pasir seperti itu para pemberontak bisa lebih mudah keluar masuk Mali ke negara-negara tetangganya.

Bahkan PM Inggris David Cameron memperingatkan bertempur melawan militan Islam di kawasan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan mungkin dekade dan tidak mungkin diselesaikan dalam hitungan bulan.

Hal itu sudah terbukti di Afganistan, pasukan AS yang sudah satu dekade berada di negari itu tak kunjung berhasil memadamkan pemberontakan Taliban. Begitu pula dengan kegagalan AS di Somalia.

“Nampaknya di gurun Sahara ini, Perancis akan menghadapi skenario yang sama seperti dihadapi AS di Somalia dan Afganistan,” kata Bertrand Badie dari Institut d’Etudes Politiques Paris.

 






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/25169/02/10/2012/dr-adian:-multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme.html


Mali, Petualangan Perancis Paling Berisiko

Monday, January 28, 2013

Sepak Bola Sektarian Ala Israel

INILAH.COM, Moskow – Pelecehan rasial di sepak bola sudah sering terjadi di liga-liga top dunia. Samuel Eto’o yang berkulit hitam ketika bermain di Barcelona, contohnya, sering diejek para pendukung Real Madrid.

Nah, sekarang pelecehan sudah berkembang dan cenderung menjadi penistaan agama. Setidaknya fenomena ini muncul di negara Yahudi, Israel. Dua orang pesepak bola Muslim asal Chechnya warga Federasi Rusia rencananya akan menandatangani kontrak dengan klub Beitar, Yerusalem, yang dimiliki pria kelahiran Rusia Arkady Gaydamak, tulis RIA Novosti.

Gaydamak berharap Zaur Sadaev (penyerang spesialis pengganti yang berusia 23 tahun) dan Dzhabrail Kadiev (bek yang biasa duduk di bangku cadangan berusia 19 tahun) segera menandatangani kontrak dengan Beitar. Kedua pemain ini didatangkan dari klub Terek Grozny, Chechnya, yang menduduki peringkat lima di liga Rusia.

Berita perkruitan pemain Islam asal Chechnya ini memicu amarah dan amuk para penggemar Beitar yang chauvinistik dan ekstrem. Mereka bilang, Beitar tak pernah menandatangani kontrak pemain berkebangsaan Arab atau beragama Islam.

Mereka mengejek para pemain Chechnya itu dengan menggelar spanduk “Beitar akan selalu murni” pada pertandingan Sabtu pekan lalu. Tiga orang fans Beitar ditangkap polisi.

“Saya malu dengan para pendukung Beitar yang menjadikan isu rasisme sebagai bagian integral dari agenda mereka. Kami minta para penggemar Beitar dan warga Israel lainnya agar membuang pikiran jelek semacam itu,” ujar deputi PM Rusia Moshe Yaalon, yang mengaku sebagai penggemar berat Beitar, di akun Twitternya.

“Kita tak bisa mengabaikan rasisme seperti ini, karena isu seperti ini belakangan ini diarahkan kepada masayarakat Yahudi,” ujar Yaaloon.

Yaalon mengatakan, para penggemar Beitar memajang spanduk berbau penistaan agama, padahal hari Minggu kemarin itu adalah Hari Internasional Mengenang Holocaust di Eropa. Yaalon meminta polisi dan asosiasi sepak bola Rusia mengambil tindakan tegas.

Sebelumnya Beitar menandatangani kontrak dengan seorang pemain Muslim, Ibrahim Nadalla, asal Nigeria, yang cabut meninggalkan Israel begitu kakinya menginjak bandar udara Tel Aviv pada 2005. Para pendukung Beitar mengobarkan semangat anti-pemain Muslim, memang.

Beitar yang menduduki peringkat empat di Liga Israel dan Terek peringkat lima di liga Rusia, keduanya berusaha masuk dalam kompetisi Eropa musim depan. Michel Platini yang mengelola persepakbolaan Eropa dengan hati, mesti mencermati kecederungan sektarianisme dalam sepak bola. [mdr]

Article source: http://www.dw.de/dw/article/0,,16066118,00.html


Sepak Bola Sektarian Ala Israel

Thursday, April 18, 2013

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Home Sejarah



Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)





 

ilustrasi: Perang Salib



 




Kamis, 18 April 2013




/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin-top:0in;

mso-para-margin-right:0in;

mso-para-margin-bottom:10.0pt;

mso-para-margin-left:0in;

line-height:115%;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;

mso-bidi-font-family:Arial;

mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


Oleh: Alwi Alatas


SEBAGAIMANA pernah dijelaskan dalam beberapa rtikel sebelumnya, kaum Muslimin mengalami kekalahan yang menyakitkan pada masa Perang Salib I (1096-1099). Salah satu penyebab utamanya adalah karena perpecahan di dalam tubuh kaum Muslimin. Perpecahan itu terjadi di banyak lini. Para ulama berpecah belah disebabkan perbedaan mazhab, sebagaimana diterangkan secara detail dalam buku Misteri Masa Kelam Umat Islam. Para penguasa pun berpecah belah hebat. Para emir berusaha mempertahankan kekuasaan masing-masing dan merasa enggan untuk menyatukan langkah dalam membangun peradaban dan melayani masyarakat. Dalam situasi seperti inilah Pasukan Salib datang ke Suriah dan Palestina dan menaklukkan sebagian wilayah itu, termasuk al-Quds.


Setelah Pasukan Salib berhasil menguasai al-Quds dan beberapa wilayah Muslim lainnya, para pemimpin Muslim di wilayah itu masih tetap bermusuhan satu sama lain. Bahkan ada di antara mereka yang bekerja sama dengan orang-orang Frank (Pasukan Salib) dalam menghadapi saudara Muslimnya. Sementara pada saat yang sama, orang-orang Frank cenderung bersatu, terutama saat berhadapan dengan kekuatan Islam. Hal ini menyebabkan orang-orang Frank itu berhasil menguasai sebagian wilayah Suriah-Palestina untuk waktu yang cukup lama.


Angin Perubahan


Keadaan ini mulai berubah pada saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada masa ini, kaum Muslimin mulai berusaha menyatukan langkah mereka dan bekerja sama, sementara kekuatan salib justru mulai mengalami perpecahan. Rupanya para ulama dan pemimpin Islam di wilayah ini pada akhirnya mampu merespons tantangan yang mereka hadapi dengan baik. Dan ketika kaum Muslimin mulai menyatukan shaf, Allah menjadikan keadaan musuh justru berkebalikan dari itu. Situasi ini kemudian membawa kaum Muslimin pada kemenangan-kemenangan yang besar dalam menghadapi kekuatan salib, sehingga mereka berhasil membebaskan al-Quds 40 tahun kemudian.


Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kota Edessa (al-Ruha) ke tangan kaum Muslimin pada tahun 1144. Ketika itu yang memimpin penaklukkan Edessa adalah Imaduddin Zanki (1085-1146), pemimpin terkuat di Suriah ketika itu. Imaduddin Zanki mati terbunuh 2 tahun kemudian. Posisinya di Suriah digantikan oleh anaknya, Nuruddin Mahmud bin Zanki (1118-1174), seorang sultan yang soleh yang nantinya memberi perubahan besar di Suriah dan sekitarnya.


Jatuhnya Edessa menimbulkan kemarahan Eropa. Paus kemudian menyerukan dilakukannya Perang Salib II. Maka digalanglah kekuatan dan dihimpunlah pasukan dalam jumlah besar untuk berangkat ke Suriah dalam rangka membalas kekalahan di Edessa. Pasukan Salib II lebih banyak dan lebih hebat dibandingkan pasukan pada Perang Salib I. Pada Perang Salib I tidak ada raja yang menyertainya, hanya ada pangeran. Namun pada Perang Salib II ada dua raja yang memimpin pasukan, yaitu Raja Conrad III (1093-1152) dari Jerman dan Raja Louis VII (1120-1180) dari Perancis. Walaupun pasukan yang berangkat ini lebih dahsyat, tapi situasi yang mereka hadapi tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya.


Dalam Perang Salib II ini Pasukan Salib mengalami beberapa perpecahan. Perpecahan itu tidak dalam bentuk konflik terbuka, tetapi dampaknya sangat serius.


Berikut ini perpecahan-perpecahan yang terjadi di kubu Pasukan Salib.


1. Perpecahan orang-orang Frank dengan Byzantium



Pada Perang Salib I, orang-orang Frank (Eropa Barat) bekerja sama dengan Byzantium (Eropa Timur) dalam serangan ke wilayah Muslim. Di antara kedua pihak ini memang menyimpan perasaan saling tidak suka antara lain karena perbedaan keyakinan di antara mereka, yang satu Katholik dan yang lainnya Kristen Orthodoks. Namun, mereka berusaha menjaga hubungan demi menghadapi musuh yang sama, yaitu kaum Muslimin. Pada Perang Salib I, pihak Byzantium-lah yang mengundang orang-orang Frank untuk membantu mereka masuk ke Asia Minor (kini Turki) dan Suriah. Namun, pada akhirnya ketegangan di antara kedua belah pihak ini semakin sulit untuk didamaikan, terutama pada masa-masa selepas Perang Salib I.


Pada Perang Salib II, Kaisar Byzantium sama sekali tidak mengharapkan datangnya gelombang Pasukan Salib yang baru. Ia belajar dari pengalaman kaisar sebelumnya bahwa kehadiran orang-orang Frank di Suriah-Palestina hanya menimbulkan masalah baru bagi mereka.


Byzantium memang membantu menyeberangkan orang-orang Frank pada Perang Salib II dari Konstantinopel ke wilayah Asia Minor. Namun, belakangan diduga Kaisar Byzantium secara diam-diam telah memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di Asia Minor tentang perjalanan Pasukan Salib ini. Keadaan berikutnya memang sangat tidak menguntungkan bagi Pasukan Salib. Mereka menjadi bulan-bulanan pasukan Turki Saljuk, sehingga pada saat mereka berhasil tiba di Antioch (Antakya) yang terletak di perbatasan Suriah dan Asia Minor, jumlah pasukan mereka sudah menyusut jauh.


2. Perpecahan orang-orang Frank di Utara (Antioch-Edessa) dan Selatan (Palestina)



Pada masa Perang Salib II ini juga mulai terjadi perpecahan di antara para pemimpin Frank yang berada di Utara dan Selatan Kerajaan Latin, kerajaan yang mereka tubuhkan setelah penaklukkan al-Quds. Para pemimpin Frank di Utara, dalam hal ini Antioch dan sisa-sisa wilayah Edessa, ingin agar Pasukan Salib yang baru datang ke Suriah membantu mereka merebut kembali Edessa dan menghadapi pasukan Nuruddin Zanki yang merupakan kekuatan Muslim paling menonjol di Suriah. Namun, para pemimpin Frank di Selatan justru berkeinginan untuk menaklukkan Damaskus. Itulah sebabnya, ketika akhirnya sikap terakhir inilah yang diambil, para pemimpin Frank di Utara tidak mau ikut berpartisipasi.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib


 


Red: Cholis Akbar


Article source: http://bandung.detik.com/read/2013/01/05/190200/2134118/486/reni-tewas-terlindas-truk-akibat-nekat-masuk-jalur-cepat


Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Monday, May 27, 2013

Fatin dan X-Islam Factor

Senin, 27 Mei 2013 11:33 wib

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

AJANG X Factor Indonesia (XFI)yang bergengsi dan menjadi acara favorit dalam enam bulan terakhir di RCTI berujung indah dengan kejutan X: Fatin Shidqia Lubis, gadis belia berjilbab, 16 tahun, yang pemalu, lugu, dan baru pertama kali tampil menyanyi di hadapan publik dan layar kaca waktu audisi XFI, ternyata menang.


Dalam pengumpulan SMS, Fatin berhasil mengungguli perolehan SMS Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang prima. Tapi, tampaknya pemirsa lebih kesengsem melihat gaya Fatin yang lugu, imut, dan asli sehingga SMS membanjir ke arah gadis berjilbab itu. Tepat apa kata musisi Ahmad Dhani: banyak orang yang vokalnya bagus, gayanya bagus, tapi sedikit yang unik dan membuat orang terperangah.


Itulah yang ada dalam diri Fatin sehingga dia pantas menjadi juara XFI pertama. Apa yang menarik dalam diri Fatin selain suaranya yang unik? Ia mempertahankan jilbabnya di tengah kompetisi tarik suara yang menampilkan kultur pop Barat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat.


Ketika Fatin menyanyikan lagu “Grenade”-nya Bruno Mars dan kemudian menjadi perbincangan masyarakat cyber di YouTube, jagat musik internasional pun geger. Jutaan orang, dari Barat dan Timur, terkagum kagum dengan suara si imut Fatin. Fatin membawakan lagu “Grenade”—pinjam ungkapan musisi Ahmad Dhani—lebih bagus dari penyanyi aslinya.


Barangkali itulah yang menyebabkan George Levendis melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact in XF Indonesia!”. George Levendis adalah sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor).


George juga seorang eksekutif di perusahaan rekaman dan Syco TV, yang merupakan milik bersama antara Simon Cowell dan Sony Music Entertainment. Berbagai pujian juga muncul ketika Fatin menyanyikan lagu “Stay” milik Rihanna dengan gaya yang unik. Rihanna menyanyikannya dengan gaya pop plus busana minimnya yang seksi, sedangkan Fatin menyanyikannya dengan gaya pop plus busana muslimahnya yang elegan. Jagat musik pop pun tercengang, sampai-sampai wartawan Prancis menyatakan: fenomena Fatin sangat unik karena dia memakai busana religius yang tak pernah dipakai penyanyi mana pun di ajang kompetisi dunia selevel X Factor.


Sebuah pertanyaan menarik, apakah fenomena Fatin menunjukkan dunia Islam sedang mengalami perubahan? Jawabnya: selain akidah Islamiyah, rukun Islam, dan rukun iman, Islam sejak dulu mengalami perubahan kultural yang terus menerus. Pinjam kata-kata almarhum budayawan Kuntowijoyo: Budaya Islam telah berubah dan akan terus berubah karena Islam sangat fleksibel. Kunto menggambarkan perubahan besar itu dari kelahiran Islam di Makkah, kemudian besar di India, Eropa, dan akan mengalami kejayaan di Indonesia.


Seterusnya, akan jaya di seantero dunia. Bayangkan, ketika Islam masuk ke Jawa, Wali Songo menciptakan atribut-atribut kultural yang sama sekali berbeda dengan Islam Arab dan Islam Eropa. Wali Song mem-blending budaya Arab, India, dan budaya lokal untuk memasarkan Islam di Jawa. Hasilnya: Islam berhasil menembus ”pasar” masyarakat Jawa pinggiran, masyarakat Jawa pedalaman, sampai masyarakat priyayi Jawa di keraton- keraton yang dikeramatkan dan eksklusif. Islamisasi Jawa yang terus berkembang sampai hari ini tampaknya sulit dipahami para ilmuwan Barat, bahkan tak berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan sekaliber Clifford Geertz.


Geertz dalam buku monumentalnya, Religion of Java, misalnya mengategorikan orang Jawa dalam tiga kelompok—santri, priyayi, dan abangan yang masing-masing terpisahkan karena mempunyai karakter-karakter yang tak bisa saling menyatu. Padahal, orang Jawa masa kini, dengan tuntutan modernitasnya, termasuk dalam menjalankan Islam, masih tetap menghormati budaya-budaya nenek moyangnya.


Geertz mungkin akan kaget jika melihat ada gamelan dan keris di rumah tokoh-tokoh Islam modernis sebab simbol-simbol seperti itu khas priyayi Jawa. Di PDIP, partai yang selama ini diidentifikasi sebagai partai abangan, ada lembaga Baitul Hikmah yang di dalamnya duduk tokoh-tokoh modernis Muhammadiyah, termasuk Buya Syafi’i Maarif. Dalam Pemilu 2014, PDIPbahkansecara berani mendudukkan tokoh Islam modernis sekaligus sufistis, Jalaluddin Rakhmat, untuk anggota DPRI. Di sanalah letak ”X” dunia Islam Indonesia: mampu mengasimilasikan berbagai budaya dengan mulus dan akomodatif.


Pada masa lalu Sunan Bonang misalnya menciptakan tembang “Ilir-Ilir” dan “Tombo Ati” yang sangat etnik. Kedua tembang ini sejak dulu menjadi ”lagu wajib” orang-orang dusun di Jawa untuk menunggu kedatangan imam salat waktu magrib, isya, dan subuh. Tembang ciptaan Sunan Bonang ini kemudian hari direvitalisasi oleh Emha Ainun Najib dan dipopulerkan oleh penyanyi Opick sehingga kini nyaris menjadi ”lagu wajib” dalam acara-acara pengajian di Ibu Kota, sinetron religi, dan gelar budaya Islam di seantero Indonesia.


Dari perspektif inilah, kita melihat fenomena Fatin. Gadis berjilbab itu berhasil menyanyikan lagu “Grenade” dengan apik sehingga pemilik lagu aslinya, Bruno Mars, mengacungkan jempol. Ketika Fatin menyanyikan lagu ikon pop Rihanna dengan sangat bagus, tak hanya pencinta musik yang gempar, tapi juga masyarakat awam. Fatin berhasil mengawinkan ikon pop dan ikon muslim dengan jilbabnya— sesuatu yang nyaris tak mungkin terjadi di dunia Timur Tengah dan dunia Barat. Tapi, di Indonesia? Melalui Fatin, dunia muslim kembali menembus tembok-tembok kultural seperti yang dikategorikan Samuel P Huntington.


Orang semacam Huntington niscaya akan terkejut jika melihat Fatin yang berjilbab menyanyikan lagunya Rihanna dengan elegan tanpa kehilangan modernitasnya. Ini artinya, batasan dunia Islam dan dunia Barat yang ”ditembok” secara amat kuat oleh Huntington menjadi runtuh dalam panggung X-Factor yang dimenangi Fatin. Semua itu bukti bahwa generasi baru Islam tidak tunduk pada batasanbatasan kultural yang oleh Huntington diramalkan akan mengalami benturan (clash civilization).


Huntington mungkin tak pernah memprediksi jika seorang muslimah yang tinggal di negeri sejuta masjid mampu menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sebagai simbol kultur pop Barat tersebut. Dalam konteks inilah kemenangan Fatin menjadi amat berarti bagi Islam kultural. Bukan sekadar jilbab dan keunikan suara Fatin yang membuat orang kesengsem, tapi secara kultural penampilan Fatin telah berhasil meruntuhkan temboktembok identitas yang selama ini dibangun para fanatikus dunia Barat dan fanatikus dunia Islam.


Tepat sekali bila ajang XFI ditutup dengan lagu “We are The World”-nya, Michael Jackson, karena memang begitulah yang seharusnya terjadi pada umat manusia. Akhirnya umat Islam harus selalu optimistis dengan dinamika kultural yang terus berubah. Jika saat ini panggung peradaban sedang dikuasai Barat, kata Kunto, percayalah pada masa depan panggung itu akan kembali dikuasai Timur.


Yang dimaksud Timur oleh Kunto adalah Indonesia dengan kultur Islamnya yang unik yang merupakan blend dari berbagai kultur di dunia, dari Timur Tengah, Eropa, Hindustan, China, Jawa, dan kultur-kultur lokal lainnya. Itulah ”X-Islam Factor Indonesia”, Islam masa depan. Fatin sudah memulai langkah pertamanya.


M BAMBANG PRANOWO
Guru Besar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten


( (koran Sindo)/Koran SI/tre)true



mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/05/17/224956/10/Mengenal-Tari-Lengger


Fatin dan X-Islam Factor

Thursday, July 25, 2013

Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Semenjak zaman Charlemagne hingga Christoper Columbus, Islam Spanyol merepresentasikan salah satu dari hubungan intercultural paling produktif dalam sejarah Barat dari dulu hingga kini. Dimulai dari pohon jeruk, irigasi dan perairan, astronomi hingga filosofi Aristoteles yang sudah lama hilang dibawa kembali ke Spanyol oleh umat Muslim.


Gereja, kuil, literatur orang Yahudi saat zaman keemasan, awal mula dunia medis dan matematika, hingga pengertian mengenai filosofi Yunani kuno hanyalah beberapa bentuk dari hasil kolaborasi dan kerja sama dari umat Yahudi, Kristen dan Islam di Semenanjung Iberia selama tujuh abad.


Awal mula perkembangan Islam di Spanyol dibawa oleh Abdur Rahman III pada 711. Umat muslim Spanyol berdomisili di wilayah yang dikenal sebagai Andalusia, di bagian selatan Spanyol.


Abdur Rahman memimpin umat muslim dan juga umat Kristiani serta Yahudi dengan toleransi sangat tinggi. Bersama-sama mereka membangun Cordoba, dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan seni.


Abdur Rahman bahkan dengan berani dan terbuka menyatakan jika dirinya adalah seorang Khalifah. Di bawah kekalifahannyalah muslim Spanyol menikmati kemakmuran dan kejayaan. Ia mulai membangun bangunan monumental, dan mengembangkan Spanyol secara struktural.


Di bawah perintahnya, pada abad ke-10, populasi Cordoba mencapai 100.000 jiwa. Dan konon, Cordoba sendiri mempunyai 700 masjid, 600 istana dan 70 perpustakaan. Cordoba juga mempunyai banyak sarjana, akademisi dan orang-orang intelektual lainnya yang melakukan riset, penerjemahan dan ilustrasi dari buku-buku yang dibawa dari banyak negara Eropa seperti Jerman dan Yunani.


Pada abad ke-11, sebuah kelompok kecil umat Kristiani mulai melakukan pemberontakan. Dan di bawah komando Alfonso VI mereka berhasil merebut Tolode.


Ini adalah cikal bakal Rekonkuista atau juga penaklukan kembali Spanyol oleh bangsa Katolik (Kristiani) dengan membawa satu paham yaitu Spanyol adalah negara Katolik.


Hal ini mendorong banyak pemimpin Islam di Spanyol untuk semakin memperkuat kekuatan mereka. Namun, umat Kristiani lebih superior karena mereka mendapatkan dukungan dan bantuan dari Kristen Eropa. Maka, umat muslim meminta bantuan kepada Bangsa Almovarid, yang nantinya akan digantikan oleh Bangsa Almohad.


Umat Katolik mendeklarasikan pemurnian pada Spanyol yang berarti mereka harus menaklukkan Andalusia dengan tiga kota besar Islamnya yaitu Sevilla, Cordoba dan Granada. Dalam perjuangan umat Katolik itu memaksakan penyerahan kekuasaan oleh umat Islam di ketiga kota Islam Spanyol.


Pertama-tama dimulai dengan perebutan Cordoba dan Sevilla. Awalnya umat Katolik tidak bisa menyentuh Granada. Namun pemurnian mereka harus berakhir bahagia, dan akhirnya Granada juga berhasil ditaklukkan.


Dalam pemurnian tersebut bukan hanya umat Islam yang menjadi korban. Tetapi juga umat Yahudi. Umat Kristiani, Yahudi dan Islam yang dulunya hidup saling berdampingan dan harmonis harus dipaksakan memeluk agama Katolik. Saat itu mereka diberi dua pilihan yaitu memeluk Katolik atau meninggalkan Islam.


Walaupun begitu, banyak cerita zaman kuno yang menyatakan jika Yahudi dan Muslim yang dipaksakan memeluk Katolik secara diam masih banyak yang melakukan ritual keagamaan mereka yang pertama. Yahudi terus melaksanakan Yom Kippur, dan umat Islam tetap salat dan mengaji dalam diam dan kesunyian.


Setelah rekonkuista, banyak masjid dan bangunan Islam yang dibangun atas kerja sama umat Muslim, Yahudi dan Kristiani sebelumnya diubah menjadi gereja Katolik oleh umat Katolik. Dua pemimpin mereka yang terkenal yaitu Ferdinand dan Isabella terkenal dengan pemaksaan akan memeluk Katolik kepada Yahudi dan Muslim.


Kini, umat Islam di Spanyol jelas tidak lagi hidup berdampingan dengan Yahudi dan Kristiani. Kekuatan Katolik yang mantap sejak abad ke-15 memaksa umat Muslim kini menjadi kelompok minoritas di bagian selatan Spanyol, di Andalusia, di tempat yang dulunya adalah surga kecil mereka.












Article source: http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/04/07/05204614/Hidayat.Jakarta.Harus.Bagi.Gula.ke.Daerah.Lain


Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Friday, July 26, 2013

Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini


Masjid berarsitektur indah yang didominasi warna biru dan putih ini merupakan masjid terbesar di Rusia, bahkan di Eropa yang berada di wilayah Kazan. Di Rusia, Islam adalah agama terbesar setelah Kristen Ortodok. Pada masa pemerintahan Presiden Vladimir Putin, Islam di Rusia mulai mendapat perhatian khusus. Masjid-masjid yang pernah ditutup pada masa Uni Soviet perlahan kembali dibuka dan aktif. Ratusan masjid mulai dibangun di berbagai tempat di Rusia yang terdapat banyak komunitas muslim.



Tahun 2005 masjid yang juga disebut Kul Sharif ini didirkan bertepatan dengan seribu tahun Kota Kazan. Dinamakan Kul Sharif, untuk menghormati pahlawan nasional mereka dari etnis Tatar bernama Kul Sharif. Kul Sharif atau juga Qolsarif meninggal dunia dengan sejumlah muridnya ketika mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1.552.



Masjid yang dirancang dengan megah ini bisa menampung sekitar setengah ribu orang dan di alun-alunnya bisa menampung sekitar sepuluh ribu orang. Bangunan masjid mempunyai delapan menara masing-masing tingginya 57 meter. Kubah-kubahnya memiliki bentuk dan corak dekoratif khas Kazan, berbentuk seperti mahkota khan pada masa Kekhazanan Kaza sekitar abad ke-16.



Sebenarnya masjid ini dibangun pada abad ke-16 di Kazan Kremlin (benteng). Bangunan ini memiliki minaret (menara), keduanya dalam bentuk cupola (kanan) dan tenda (kiri). Bentuknya bergaya tradisional Volga Bulgaria, dengan sentuhan elemen Renaisans awal dan arsitektur Ottoman (Turki Utsmani). Saat penyerangan ke Kazan tahun 1.552 masjid ini dihancurkan oleh Rusia.



Bangunan masjid didesain oleh para arsitek Rusia bernama Sayfullin dan S Shakurov. Interiornya dirancang oleh A Sattarov. Sentuhan tradisional tidak menghilangkan kesan modern dari masjid ini. Beberapa temuan sejarah menjelaskan Islam telah ada di wilayah Federasi Rusia sejak abad ke-10. Persisnya di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan dan salah satu kota terbesar di Rusia yang masuk wilayah Eropa Timur.



Penjelasan tersebut merujuk pada penemuan masjid yang diyakini berusia seribu tahun lebih. Para arkeolog menemukan reruntuhan lain berupa bebatuan putih di dekat salah satu benteng kuni. Menurut peneliti, bangunan itu menghadar ke arah Mekkah. Di lokasi bekas temuan reruntuhan masjid itulah berdiri megah masjid Qolsarif. Paduan warna putih dan biru dari masjid ini mengingatkan kita pada gradasi langit biru yang cerah dan indah, serta menawan.



Qolsarif terdiri dari dua tingkat. Lantai atas untuk ruang salat sedangkan di bawah digunakan untuk keperluan pendidikan, museum dan administrasi. Di halaman ada dua paviliun besar dan kolam dengan ornamen Timur Yengah. Masjid ini menjadi titik lanskap terpenting di Kazan. Di sini juga terdapat ruang perpustakaan, ruang publikasi dan ruang khusus bagi para Imam.



Masjid ini berdampingan dengan sebuah katedral. Kini masjid tersebut sering digunakan untuk kepentingan umat muslim di Rusia serta menjadi islamic center untuk merayakan hari raya, dan hari-hari besar keagamaan lainnya. | berbagai sumber



Lihat vide kemegahan dan cantiknya interior Qolsarif di sini


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini

Monday, January 28, 2013

Prestasi Muslim Inggris Mulai Diakui

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON–Penghargaan “The British Muslim Award” akan digelar. Penghargaan ini boleh dibilang bersejarah karena untuk kali pertama digelar.

Penggagas BMA, Direktur Oceanic Consulting,  Irfan Younis mengatakan penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap jasa atau prestasi Muslim Inggris. “Kami memiliki sejumlah sosok inspiratif yang bangga menjadi Muslim dan Inggris. Ini pertama kalinya, prestasi mereka akan diakui oleh masyarakat,” kata Irfan Younis seperti dikutip The Daily Telegraph and Argus, Senin (28/1)

Younis mengatakan BMA mendapat respons yang luar biasa dalam masyarakat Inggris. “Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada publik dengan respons yang fantastis. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada semua finalis,” katanya.

Salah seorang finalis, Shaheen Kauser, seorang perawat di salah satu rumah sakit Inggris, mengaku sangat tersanjung dirinya terpilih sebagai salah satu nominator. Kauser masuk nominasi untuk kategori kesehatan. “Saya sangat senang karena bantuan yang saya berikan bermanfaat kepada pasien. Saya kira, mereka membutuhkan dorongan spiritual untuk cepat sembuh,” ujarnya.

Shaheen akan bersaing dengan Iman Abdul Jalil Sajid, Dewan Islam Brighton, Sheikh Bilal Khan dari Dome Penasehat, Iman Monawar Hussain dari Oxford Foundation dan Ajmal Masroor dari Barefoot Institute.

Di luar itu, ada 21 kategori lain seperti “Muslims in the Community”, “Arts Culture awareness”, “Sports Achievement”, “Young Achiever” dan lainnya. Penghargaan ini akan diberikan pada 29 Januari mendatang.

Berbeda dengan umat Islam di wilayah Eropa lainnya, Muslim Inggris termasuk “aman” dari berbagai kebijakan diskriminatif. Kendati berbagai gerakan penolakan telah muncul seiring dengan naiknya popularitas kelompok sayap kanan Eropa.

Banyak kalangan berpendapat, penolakan itu ditenggarai karena pertumbuhan jumlah umat Islam di Inggris terus menunjukan peningkatan. Bahkan, hasil sensus penduduk menunjukkan perkembangan agama islam paling cepat di Inggris dan Wales.

Seperti dilansir dailymail,  prosentase peningkatan Muslim menjadi yang tertinggi berdasarkan data statistik dua negara itu. Sementara agama mayoritas Inggris, Kristen, justru mengalami penurunan sangat besar dalam sensus nasional negara tersebut.

Presentase peningkatan Umat Islam di negara kerajaan tersebut mencapai 1,8 persen. Sementara agama lain tak lebih dari 0,5 persen. Diantaranya Hindu 0,4 persen, Sikh 0,2 persen, Yahudi 0 persen, Buddha 0,1 persen dan agama lain 0,1 persen.

Article source: http://news.detik.com/read/2013/01/29/020529/2154723/10/jaksa-kpk-ditelepon-zulkarnaen-wamenag-bantu-muluskan-proyek-alquran?991101mainnews


Prestasi Muslim Inggris Mulai Diakui

Wednesday, August 21, 2013

Geliat Islam di Polandia

REPUBLIKA.CO.ID,


Muslimin dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat.


Polandia, negara di Eropa Tengah, ini jarang didengar gaungnya dalam menaungi kehidupan Muslimin. Namun siapa sangka, negara bekas komunis tersebut memiliki sejarah Islam yang panjang, yakni sekitar 600 tahun silam.
 
Islam pertama kali masuk ke Polandia dibawa oleh bangsa Tartar Muslim yang melarikan diri dari negara mereka akibat perang sipil.


Awalnya, mereka bermigrasi ke Lithuania. Namun, kemudian Raja Polandia merekrut mereka menjadi prajurit tangguh kaki tangan raja.
 
Para prajurit Tartar itu pun dengan gagah berani bertempur mengamankan Polandia dari berbagai ancaman luar, seperti gangguan Kerajaan Teknokil pada awal abad ke-15.


Mereka bahkan dikabarkan menjadi prajurit dalam Perang Wina di kubu Kerajaan Kristen Austro-Hongaria dalam melawan pasukan Turki Usmani.
 
Hingga ketika Polandia terlibat Perang Dunia II, pasukan Tartar ini masih menjadi militer tangguh negara. Dengan posisi penting sebagai ujung pedang negara, para prajurit Tartar itu tentu saja mendapat hak spesial.


Mereka setara dengan para bangsawan dan mendapat banyak hak istimewa serta fasilitas utama dari raja. Pasukan Tartar ini pun mendapat sebidang tanah untuk mereka tinggali dan membentuk komunitas.


Itulah komunitas Islam pertama di negara tetangga Jerman tersebut. Mereka pun kemudian menikahi wanita setempat dan mengenalkan Islam kepada keluarganya. Tak hanya itu, mereka juga diizinkan membangun masjid.


Menurut halaman Planeta Islam yang dipublikasikan komunitas Muslim Polandia, saat itu komunitas Muslim telah berjumlah sekitar 200 ribu orang dengan 160 masjid tegak berdiri.
 
Sayang beribu sayang, komunitas awal Islam ini meredup seiring bergantinya zaman. Semakin lama hidup di tengah mayoritas Kristen, mereka kemudian terbawa budaya dan tradisi masyarakat setempat.


Maka, mulai hilanglah nilai-nilai Islam yang ditanamkan generasi awal. Anak cucu pasukan Tartar pun memilih menjadi nasrani.
 
Kondisi Muslimin yang makin meredup itu pun kemudian diselamatkan oleh sekelompok Muslim yang membentuk sebuah organisasi pada 1917. Mereka menamakan diri sebagai “Persatuan Muslim Polandia”.


Namun, kondisi tak mendukung pergerakan mereka. Polandia di bawah rezim komunis mengakibatkan penurunan jumlah Muslimin yang besar. Pasalnya, banyak Muslimin yang dideportasi ke Siberia, tanah mereka pun dirampas, dan masjid-masjid ditutup.
 
Disebutkan oleh Planeta Islam, jumlah Muslimin pasca-insiden tersebut tersisa sekitar 5.000 orang. Puluhan masjid pun tersisa dua saja, yakni di Bohoniki dan Kruszyniany.


Tak hanya minim secara kuantitas, Muslimin kala itu juga minim kualitas. Pemahaman mereka terhadap agama sangat buruk sehingga rawan terjadi konversi iman. Apalagi, tak adanya lembaga yang memberikan mereka pendidikan syariat.
 
Mati surinya Muslimin Polandia ini pun kemudian bangkit ketika banyak imigran Muslim dari bangsa Arab. Semangat Islam kemudian digalakkan kembali. Kelompok yang berada di garda terdepan dakwah Islam saat itu justru para mahasiswa Muslim. 


Pada 1989 mereka membentuk Perkumpulan Mahasiswa Muslim Polandia. Organisasi ini kemudian membenahi pendidikan Islam Muslimin yang dimulai dari anak-anak. “Mereka mendirikan beberapa pendidikan Islam dasar untuk anak-anak Tatar,” dikutip dari Islamweb.
 
Sejak itulah Islam kembali menggeliat di Polandia. Saat ini, jumlah Muslimin lebih dari 30 ribu jiwa dengan komposisi Tartar, sang Muslimin awal hanya 5.000 jiwa. Kemudian, Muslim imigran asing sekitar 25 ribu serta Muslimin setempat atau para mualaf sekitar 500 hingga seribu orang.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, Muslimin Polandia masih memiliki banyak hambatan. Dalam pangan misalnya, mereka hanya memiliki satu toko halal yang berlokasi di ibu kota, Warsawa.


Banyaknya jumlah masjid yang ditutup pun membuat mereka kekurangan fasilitas ibadah. Masjid tak pernah cukup menampung jamaah. Tak hanya itu, Muslimin di sana juga berada di bawah garis kemiskinan.
 
Dalam pendidikan Islam pun, Muslimin masih membutuhkan banyak literatur Islam. Bahkan, untuk terjemahan Alquran, terdapat satu karya terjemah dari era Tartar abad ke-19.


Namun, terjemahan itu pun baru rampung sebagian. Bagian yang tersisa justru dirampungkan oleh seorang orientalis non-Muslim bernama Jozef Bielawski serta sebagian lain oleh kelompok Ahmedija.
 
Kendati banyak memiliki kesulitan, Muslimin Polandia hidup bahagia. Mereka dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat. Dibanding negara Eropa sekitarnya, Muslimin Polandialah yang dapat merasakan hidup tenteram tanpa diskriminasi sodial.
 
Untuk menjaga keharmonisan dengan agama mayoritas, terdapat dewan umum di Polandia yang menanganinya. Dewan Katolik dan Muslim merupakan salah satu lembaga yang memediasi dialog antaragama di negara tersebut.


Anggota dewan itu sekaligus ketua komunitas Muslim di kawasan Bialystok, Halima Szahidewicz, menuturkan, tak pernah ada pertikaian ataupun ketegangan dalam hubungan antaragama. Kondisi damai tersebut pun telah berlaku sejak generasi Muslim pertama Polandia.


“Banyak sekali hal yang berubah dalam 600 tahun terakhir, tapi ada satu hal yang tak berubah, yakni toleransi terhadap kami Muslimin,” ujarnya.



Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Geliat Islam di Polandia