Showing posts sorted by relevance for query Jawa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Jawa. Sort by date Show all posts

Saturday, January 19, 2013

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Home Nasional

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa


 

Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya Kristenisasi melalui budaya


Ahad, 20 Januari 2013

Hidayatullah.com–Penetrasi missionaris Kristen di Jawa cukup massif melalui pintu kebudayaan. Kajian ilmiah menemukan, ada dua macam strategi yang diterapkan para missionary; yaitu dengan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa dan pemakaian kebudayaan Jawa ke dalam praktik kekristenan.

Demikian salah penjelasan Arif Wibowo, peneliti Kristologi dan Budaya Jawa Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo dalam seminar yang diadakan nstitut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)  di Masjid Unair Sabtu (19/01/2013).

Dalam seminar bertajuk “Missionarisme Kebudayaan: Penetrasi Katolik dalam Kebudayaan Jawa” ini, Arif menerangkan landasan strategi Kristenisasi Jawa telah dibangun oleh Franciscus Georgian Josephus Van Lith.

Pada tahun 1904, Van Lith membuka sekolah Guru bernama Kolose Xaverius di Muntilan. Van Lith kemudian mengadopsi unsur-unsur budaya Jawa ke dalam kekristenan dan memisahkan kebudayaan Jawa dari agama Islam.

Caranya, Van Lith melarang orang Jawa yang masuk Kristen mengikuti budaya Eropa. Tapi dianjurkan untuk meneruskan kebudayaan Jawanya. Tujuannya, untuk memberi kesan bahwa Jawa itu Kristen, bukan Islam.

“Padahal, sebelumnya Jawa sangat kental dengan tradisi budaya Islam. Buktinya tulisan pegon lebih dikenal daripada aksara Jawa,” ujar Arif.

Missionaris pada masa lalu membagi-bagikan Alkitab bertuliskan Arab pegon, tidak dengan huruf Jawa.

“Ini menunjukkan, orang Jawa dulu itu sangat kental budaya Islamnya, daripada budaya Hindu,” tambahnya.

Kenapa lantas kemudian yang terkesan, budaya Jawa itu khas Hindu-Budha?

“Karena umat Islam tidak serius menghadapi penetrasi missionaris Kristen itu,” ungkap pemerhati sejarah ini.

Padahal, tambah Arif, sesungguhnya Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya ‘kristenisasi’ melalui budaya ini.

Yang memubuat kalah lagi umat Islam dalam ‘pertarungan budaya’ itu adalah ahli-ahli sejarah Muslim kita sangat sedikit. Kalaupun ada kurang serius.

“Akibatnya, banyak sekali litelature-litelatur sejarah Jawa bertulisakan Arab pegon yang diambil orientalis-missionaris. Naskah otentik Walisongo sudah tidak ada. Karena diambil orientalis,” tegasnya.

Menurut Arif, seharusnya umat Islam lebih ofensif, jangan hanya defensif. Sebab, penetrasi kebudayaan mereka seratus persen, sedangkan kita setengah-setengah, ujarnya di hadapan mahasiswa Unair Surabaya.

Padahal dakwah Walisongo itu luar biasa berhasil karena strategi kebudayaannya sangat baik.

“Maka perlu kita buat pusat-pusat studi kebudayaan peradaban Islam dan Jawa di tiap-tiap daerah,” pungkasnya.*

Rep: Kholili Hasib
Red: Cholis Akbar

Article source: http://regional.kompas.com/read/2013/01/20/00115493/Terjerat.Aliran.Sesat.Istri.Laporkan.Suami.ke.Polisi


Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Sunday, June 2, 2013

“150 Tahun Frans Van Lith”

Home Catatan Akhir Pekan




Catatan Akhir Pekan ke-362


“150 Tahun Frans Van Lith”





 


 




Ahad, 02 Juni 2013


Oleh: Dr. Adian Husaini


SITUS www.antarajateng.com, pada 27 Mei 2013, menurunkan berita berjudul “Pancadriya Kuwalik’ Van Lith setelah 150 Tahun”.  Berita itu berkisah tentang peringatan 150 tahun Van Lith yang dihadiri oleh Uskup Agung Semarang dan dilakukan oleh 329 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang. Acara dilakukan di tiga panggung terbuka di halaman Museum Misi Muntilan.
“Empat penari lainnya, masing-masing Siti Nurkhasanah, Siti Rifaatul Mahmudah, Mudrikah Zaini, dan Ita Purnamasari, memainkan performa tari mengelilingi kolam penuh enceng gondok dan di tengahnya tegak berdiri patung Romo Van Lith,” demikian antara lain berita yang ditampilkan.


Selanjutnya ditulis dalam berita tersebut: “Kiprah Romo Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith yang lahir di Belanda pada 17 Mei 1863, dikatakan oleh Koordinator Umum Panitia Peringatan 150 Tahun Van Lith Romo G. Budi Subanar, dikaitkan dengan pendidikan untuk pribumi dengan model asrama dan pembangunan gereja Katolik yang membumi di Indonesia, khususnya Jawa. Van Lith yang seorang pastor ordo Serikat Yesus itu, datang ke Jawa pada 1896, belajar budaya dan adat istiadat Jawa, menjalankan misi Katolik di Hindia Belanda hingga meninggal dunia di Semarang pada 9 Januari 1926, serta kemudian dimakamkan di Kerkof Muntilan, dekat kompleks SMA Van Lith yang dirintisnya sejak 1904.”


Demikian petikan berita dari situs www.antarajateng.com tentang peringatan 150 tahun tokoh misi Katolik Frans Van Lith. Bagi kaum Katolik, sosok Van Lith dipandang sebagai tokoh monumental dalam penyebaran misi Katolik di Tanah Jawa.  Ia memulai misi dengan mendirikan pendidikan guru di Muntilan, Jawa Tengah.  Sekolah Van Lith itu kini masih berlanjut dalam bentuk  SMA Pangudi Luhur Van Lith.


Dalam situsnya, (http://vanlith-mtl.sch.id/profil/visi-misi-tujuan-sma-vanlith.3.html), disebutkan tentang “visi, misi, dan tujuan SMA Van Lith, yaitu:


“Visi SMA Pangudi Luhur Van Lith adalah semangat Kerajaan Allah yang berintikan keselamatan bagi semua orang “terutama yang menderita dan terlupakan”, yang diharapkan menjadi kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”


Untuk mengabadikan dan menanamkan semangat misi Katolik Van Lith, diciptakanlah sebuah Mars SMA Pangudi Luhur Van Lith  berikut ini:


“Nyalakan, nyalakan
Kobarkan, kobarkan
Api Van Lith di dadamu. Bawalah, bawalah,
sebarkan sebarkan. Di sluruh tanah airmu.
Jadilah perintis, jadilah pelopor,
Dimasa pembangunan.
Kobarkan APIMU,
Sukseskan tugasmu, revolusi penebusan.
Bernyala, berkobar, semangat APIMU
di dada putra-putrimu,
Serentak, serentak, kujunjung,
kusebar untuk Nusa dan Bangsaku.
Kuterjang perintang, kudobrak penghalang,
demi PANJIMU menang.
Putra dan Putrimu setia berjuang,
Apimu menyala terang.”


*****


Jika kaum Katolik mengagung-agungkan sosok Frans van Lith, maka tidak demikian halnya bagi kaum Muslim  di Indonesia. Kehadiran van Lith dianggap sebagai “musibah dalam bidang akidah Islam”, karena Van Lith berhasil melakukan kristenisasi dengan cara-cara budaya dan pendidikan. Banyak korban dari kalangan Muslim yang berhasil dimurtadkan oleh gerakan Van Lith. 


Arif Wibowo, direktur Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo pernah menulis artikel berjudul “Profil Soegija, Cucu Kyai Korban Kristenisasi”.  Soegijapranata adalah uskup pribumi pertama di Indonesia, seorang cucu kyai di Yogya, yang akhirnya jadi korban pemurtadan oleh Van Lith.


Berikut ini petikan artikel yang ditulis oleh Arif Wibowo,  yang juga alumnus Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta:


“Pembukaan sekolah-sekolah rakyat oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka politik asosioasi dan memperoleh tenaga administrasi murah dari kalangan pribumi, dengan dalih pencerdasan, menyebabkan tingginya permintaan tenaga pengajar pada saat itu. Peluang ini ditangkap Fransiscus Georgius Josephus van Lith, seorang Jesuit senior yang berkarya di Jawa Tengah. Dalam pandangan Van Lith, posisi strategis guru adalah masa depan bagi perkembangan umat Katolik di Jawa. Usaha misi diantara bangsa Jawa mulai dengan metode yang salah: mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung pada pendidikan pemimpin dan guru.(G. Budi Subanar, SJ, Soegija Si Anak Betlehem van Java, Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hal. 50).


Van Lith kemudian mendirikan Kolese Xaverius, yang merupakan sekolah untuk para calon guru. Kesempatan untuk menjadi guru yang dalam pandangan orang Jawa masuk ke dalam kasta priyayi, merupakan magnet tersendiri bagi kolese Xaverius. Salah seorang alumni Muntilan angkatan 1915, Michael Slamet memaparkan :


“Untuk itu, Muntilan telah menjadi ”medan magnet” yang mampu menarik banyak orang dari berbagai daerah di Jawa, bahkan juga di luar Jawa untuk belajar di sana. Bagi siswa dan alumni Muntilan, Kolese Xaverius dapat dianggap sebagai ”dewa penolong” bagi suatu mobilitas sosial yang dicita-citakan. Dalam pemahaman demikian, mereka akan dengan mudah menyinergikan diri pada kegiatan para misionaris untuk tujuan-tujuan yang lebih mulia. ”Harta” didapat, ”sorga” diperoleh. ( Anton Haryono, 2009, Awal Mulanya adalah Muntilan, Misi Yesuit di Yogyakarta 1814 – 1940, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 84).


Godaan untuk menjadi priyayi inilah yang akhirnya mengantarkan Sogijapranata kecil untuk memutuskan memilih Kolese Xaverius menjadi tempat bagi pendidikan dan pengembangan dirinya.  (G. Budi Subanar, SJ, 2003, Idem, hal. 24-25). Soegija akhirnya memeluk Katolik.  Kareel Steenbrink menyebutkan, bahwa anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik.(Kareel Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia, Sebuah Pemulihan Bersahaja 1808 – 1903, (Maumere : Penerbit Ledalero, 2006) hlm 384.).


*****


Begitulah catatan Arif Wibowo tentang sepenggal kiprah Van Lith dalam pengkristenan orang Jawa. Sebuah situs (http://tidarheritage.org), memuat perjalanan misi Van Lith yang disebutnya ‘Misi Jawa’ Romo Van Lith. Sebab, Van Lith menjalankan misinya untuk ‘menaklukkan hati orang Jawa’ dengan menggunakan jalan kebudayaan. “Ini mengingatkan pada pendekatan para wali (songo) ketika mereka menjalankan misi penyebaran agama Islam.


Mungkin Van Lith juga belajar dari para wali itu, bahwa orang Jawa tidak mudah menerima suatu  ajaran atau budaya baru dengan begitu saja, apalagi dengan cara-cara pemaksaan.”


Kebudayaan Jawa lebih mudah ‘menyerap’ budaya baru itu, menjadi ‘Jawa baru’ atau
hibriditasi. Seperti halnya ‘Islam Jawa’, dalam praktek-praktek ritualnya agama Katholik di
Jawa juga akrab dengan idiom budaya Jawa seperti penggunaan bahasa, gamelan atau
tembang-tembang Jawa, serta yang paling kontemporer adalah wayang ukur (wayang
kulit dengan cerita Yesus).


Contoh kisah yang dipandang sebagai bentuk sukses misi Van Lith dalam mengkatolikkan orang Jawa terjadi tahun 1904, ketika Van Lith mempermandikan sekitar 173 orang dari Desa Kalibawang, Kulon Progo. Mereka serentak dibaptis di sebuah sendang, yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Sendang Sono. “Pertobatan dalam jumlah yang tidak kecil itu mempunyai arti penting bagi saya dan juga bagi misi Jawa … Saya sudah memberi pelajaran di banyak desa … tanpa ada hasilnya. Justru daerah yang belum pernah kudatangi menyatakan kesediaannya untuk menjadi Katolik. Apakah itu bukan tangan Tuhan yang bekerja?” tulis van Lith, seperti dikutip oleh situs tersebut.


Jadi, itulah misi utama Frans Van Lith: Menjalankan misi Katolik di Tanah Jawa. Jika ditelaah, kedatangan van Lith ke Indonesia sebenarnya bertepatan dengan era kebijakan pemerintah kolonial yang semakin kuat dalam menyokong misi Kristen di Indonesia. Pada 1888, Menteri Urusan Kolonial, Keuchenis, menyatakan dukungannya terhadap semua organisasi misionaris dan menyerukan agar mereka menggalang kerjasama dengan pemerintah Belanda untuk memperluas pengaruh Kristen dan membatasi pengaruh Islam. J.T. Cremer, Menteri untuk Urusan Kolonial lain, dengan semangat yang sama, juga menganjurkan agar kegiatan-kegiatan misionaris dibantu, karena hal itu — dalam pandangannya — akan melahirkan “peradaban, kesejahteraan, keamanan, dan keteraturan. (Lihat, Alwi Shihab, Membendung Arus, 1998, hal. 147.


Dalam sebuah pidato resminya, Ratu Belanda antara lain menegaskan, “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang Kristen pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral  terhadap penduduk di daerah-daerah itu.”


Pada 1901, Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen, ditunjuk sebagai Perdana Menteri, menyusul kekalahan Partai Liberal oleh koalisi partai-partai kanan dan agama. Alexander Idenburg, yang di masa mudanya pernah bercita-cita sebagai misionaris, mengambil alih kantor pemerintah kolonial. Kebijakan selama 50 tahun yang kurang lebih bersifat “netral agama” diubah menjadi kebijakan yang secara terang-terangan mendukung misi Kristen.


Berbagai subsidi terhadap sekolah Kristen dan lembaga misi yang semua ditolakkarena dikhawatirkan memancing reaksi keras kaum Muslim, mulai diberikan secara besar-besaran.


Kebijakan ini menunjukkan bahwa netralitas dalam agama adalah ilusi belaka. Idenburg yang menjabat Gubernur Jenderal dari 1906-1916, terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kegiatan misi di Indonesia. Dalam salah satu laporannya kepada pemerintah pusat, ia mengatakan, “Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.”


Bagi pemerintah kolonial, ancaman dari mereka yang sudah masuk Kristen akan lebih kecil dibandingkan dari kaum Muslim, karena kaum Kristen lebih dapat diajak kerjasama. Tujuan pemerintah kolonial dan misionaris dapat dikerjasamakan. Di satu pihak, pemeritah kolonial memandang koloni mereka sebagai tempat mengeruk keuntungan finansial. Di sisi lain, misionaris memandang koloni mereka sebagai tempat yang diberikan Tuhan untuk memperluas “Kerajaan Tuhan”. (Alwi Shihab, Membandung Arus, hal.37-42; Delier Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, 1990, hal.184-188).


Sikap Islam


Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja misionaris ke Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit “ditembus” misi Kristen.  Faktor Islam dituding sebagai penyebab kesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia. Hendrik Kraemer, seorang misionaris yang ditugaskan Masyarakat Bibel Belanda (Dutch Bible Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum Muslim, melalui ungkapannya:


“Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) yang menjadi teka-teki dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama  di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya.” (Alwi Shihab, Membendung Arus, hal. 38).


Dalam perspektif inilah, kita bisa memahami, mengapa kaum Katolik sangat mengagungkan tokoh misionaris seperti Van Lith. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu menjebol pertahanan orang Jawa yang sebelumnya telah menyatu dengan budaya Islam. Bagi umat Islam, pemurtadan dipandang sebagai usaha serius sebagai bentuk penyerangan aqidah Islam. Orang yang keluar dari Islam disebut murtad dari agama Allah. Amalnya sia-sia. Amal-amal orang kafir laksana fatamorgana. (QS 24:39).


Kaum Muslim memahami, upaya-upaya penyesatan atau pemurtadan terhadap kaum Muslim bukanlah hal aneh. Disebutkan dalam al-Quran, yang artinya: “Dan mereka akan selalu memerangi kamu, sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika mereka sanggup.” (QS Al Baqarah:217).


“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannam orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (QS Al Anfal:36).


Dalam menafsirkan ayat tersebut, Prof. Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar Juzu’ IX):


“Perhatikanlah betapa di zaman sekarang, orang-orang menghambur-hamburkan uang berjuta-juta dolar tiap tahun, bahkan tiap bulan, untuk menghalang-halangi jalan Allah yang telah dipegang teguh oleh kaum Muslimin. Perhatikanlah betapa zending dan misi Kristen dari negara-negara Barat memberi belanja penyebaran agama Kristen ke tanah-tanah dan negeri-negeri Islam. Diantara penyebaran Kristen dan penjajahan Barat terdapat kerjasama yang erat guna melemahkan keyakinan umat Islam kepada agamanya. Sehingga ada yang berkata bahwa, meskipun orang Islam itu tidak langsung menukar agamanya, sekurang-kurangnya bila mereka tidak mengenal agamanya lagi, sudahlah suatu keuntungan besar bagi mereka. Jika bapa-bapanya dan ibu-ibunya masih saja berkuat memegang iman kepada Allah dan Rasul, moga-moga dengan sistem pendidikan secara baru, jalan fikiran si anak hendaknya berubah sama sekali dengan jalan fikiran kedua orang tuanya. Demikian juga propaganda anti-agama, mencemohkan agama, dan menghapuskan kepercayaan sama sekali kepada adanya Allah, itu pun dikerjakan pula oleh orang kafir dengan mengeluarkan belanja yang besar. Yang menjadi sasaran tiada lain dari pada negeri-negeri Islam. Disamping itu ada lagi usaha merusakkan moral pemuda di negeri-negeri Islam, dengan menyebarluaskan majalah-majalah, buku-buku yang menimbulkan rangsangan nafsu dan syahwat, gambar-gambar porno, film-film cabul perusak jiwa pemuda yang baru bangkit pancaroba. Sasarannya tidak lain melainkan pemuda-pemuda di negeri Islam juga.” Wallahu a’lam bish-shawab.*/Solo, 2 Juni 2013


Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/khazanah/12/04/17/m2mmqq-jejak-penerjemahan-alquran-di-indonesia


“150 Tahun Frans Van Lith”

Wednesday, April 3, 2013

“Mengkristenkan Jawa”

Home Catatan Akhir Pekan


Catatan Akhir Pekan ke-358

“Mengkristenkan Jawa”


 

Dengan bantuan kolonial dan strategi pre-evangelisation, misi Kristen di Jawa meningkat tajam


Kamis, 04 April 2013

Oleh: Dr. Adian Husaini

”Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen”. Itulah judul buku karya Muhammad Isa Anshary, alumnus Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buku terbitan Pustaka Lir-Ilir, Surakarta, tahun 2013, ini diangkat dari Tesis penulis di Universitas yang sama. Karena kajiannya yang mendalam dan komprehensif, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan penting dalam studi Misi Kristen di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa.

Studi yang dilakukan Muhammad Isa Anshory melengkapi studi sejenis yang pernah dilakukan oleh Aqib Suminto, Deliar Noer, Alwi Shihab, dan sebagainya. Studi ini juga menguatkan kesimpulan para peneliti sebelumnya, bahwa pemerintah penjajah Belanda secara sistematis membantu kegiatan misi Kristen di Indonesia. Disimpulkan: ”Melihat praktiknya, politik etis sebenarnya adalah upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengkristenkan atau membaratkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.”

Catatan Akhir Pekan (CAP) kali ini sepenuhnya didasarkan pada data yang disajikan dalam buku ”Mengkristenkan Jawa” tersebut. Untuk bahan-bahan referensi lebih lanjut, pembaca dipersilakan merujuk langsung pada buku tersebut.

Hasil kajian Isa Anshory ini menunjukkan, bahwa laju penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda (Indonesia) sangat terkait erat dengan perkembangan politik kolonial. Awal abad ke-20 ditandai dengan peningkatan kegiatan misi Kristen. Pidato Ratu Wihelmina (1901) lebih menegaskan sikap terhadap kebijakan mendukung kegiatan misi Kristen yang telah berjalan.

Politik etis dilaksanakan pada masa kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia dan saat umat Islam mengalami kebangkitan. Arus Kristenisasi mencapai puncaknya saat Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen Anti-Revolusioner, menduduki kursi Perdana Menteri Belanda pada 1901. Banyak anggota Parlemen Belanda menuntut agar pemerintah membatasi pengaruh Islam di Indonesia. Van Baylant, misalnya, memperingatkan pemerintah akan seriusnya bahaya penyebaran Islam dan menuntut ditingkatkannya misi Kristen. Sementara itu, W.H. Bogat meluncurkan kampanye anti-Islam yang keras dan menuduh agama ini sebagai penyebab ”kurang bermoralnya” masyarakat.”

Diangkatnya Alexander Willem Frederik Idenburg sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916) lebih menguatkian arus Kristenisasi. Setelah tahun 1909, kelompok misi Kristen dengan cepat meluaskan kegiatan mereka di kepulauan Indonesia. Gerakan misi Kristen beroperasi dalam ruang lingkup yang luas untuk pembangunan kesejahteraan dan ekonomi. Pembatasan jumlah dan tempat misi dihapuskan, sehingga daerah baru di kepulauan ini pun terbuka bagi kegiatan misi Kristen. Idenburg menjadikan Kristenisasi sebagai tugas politik utama pemerintahannya.

Di hadapan Tweede Kamer, dia mengucapkan: De uitbreiding van het Christendom in Indië, als wortel van onze hoogere beschaving, is een zaak van groot politiek belang. (Penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda sebagai dasar peradaban yang tinggi adalah tugas politik utama).

Pemerintah Penjajah juga mencoba untuk melanjutkan pokok-pokok ajaran Kristen di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan tata pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai contoh adalah keluarnya ”Edaran Minggu” atau ”Edaran Pasar” yang diterbitkan oleh Gubernur Jenderal Idenburg, 1910. ”Edaran Minggu” memberi sugesti bahwa tidak pantas untuk mengadakan pesta kenegaraan pada hari Minggu. Edaran ini juga meminta agar seluruh administratur dan pegawai sipil agar menghindari kegiatan-kegiatan resmi atau setengah resmi pada hari Minggu. ”Edaran Pasar” melarang diadakannya hari pasar orang Indonesia apabila ini jatuh pada hari Minggu.

Fakta tentang ”Edaran Minggu” ini menarik untuk kita cermati. Jangan-jangan tradisi libur pada hari Minggu kita saat ini masih melanjutkan kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Idenburg yang sangat fanatik Kristen dan anti-Islam. Idenburg, misalnya, menyatakan, bahwa satu-satunya jalan untuk melanjutkan penjajahan adalah pengkristenan.

Seperti dikutip Robert E. Speer, Idenburg menegaskan: ”The issue for Mohammedan world is not Mohammed and Christ. Ia not Mohammed or Christ. It is Christ. It is Christ or decay and death.” (Pilihan untuk dunia Islam bukan Muhammad dan Kristus; bukan Muhammad atau Kristus; tetapi pilihannya hanya Kristus. Pilih Kristus atau akan mengalami pembusukan dan kematian).
   
Misi dengan lembaga

Selain mendapat bantuan dari negara, peningkatan Kristenisasi pada masa politik etis juga diakibatkan adanya perubahan strategi. Abad ke-19, strategi zending Protestan maupun misi Katolik pada umumnya masih diarahkan pada misi secara langsung. Tapi, pada abad ke-20, strategi misi sudah berganti dengan pendirian kelembagaan misi, seperti sekolah, rumah sakit, rumah yatim piatu,  dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Melalui kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan itu, zending sanggup memikat hati orang yang masih bersikap menolak terhadap Kristenisasi secara langsung.

Strategi ini disebut pre-evangelisation, yaitu suatu usaha yang perlu diadakan untuk mempersiapkan daerah supaya siap menerima Kristen. Di sekolah-sekolah zending, kesetiaan kepada pemerintah dan ratu Belanda ditanamkan ke dalam hati para murid. Meski membutuhkan biaya besar dan waktu lama, Kristenisasi lewat pendidikan ini berhasil mengkonversi banyak pribumi Muslim.

Sebagai contoh, sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan, Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam.

Teman van Lith, Hoevenaars, juga menempuh cara serupa. Dia membangun berbagai sekolah di Mendut dan mengumpulkan para murid yang masih belia. Semua guru sekolah tersebut beragama Katolik, namun para muridnya seluruhnya berasal dari keluarga-keluarga Muslim.

Sebagaimana misionaris lainnya, Hoevenaars berpikir bahwa agama Islam yang mereka anut hanyalah kepatuhan superfisial atau nominal sehingga tidak akan menghalangi para murid untuk berpindah ke agama Katolik. Mantan murid sekolah-sekolah Muntilan dan Mendut itu kebanyakan menjadi guru pada jejaring sekolah-sekolah dasar Katolik yang dikembangkan dengan cepat di berbagai kota dan kampung di Jawa. Para guru itu kemudian berupaya menghasilkan jemaat-jemaat Katolik baru. Dengan demikian, sekolah yang dibangun oleh Frans van Lith maupun Hoevenaars adalah sekolah kader.   

Sebuah ungkapan penting dari Frans van Lith:

“Tujuan kita adalah memberi pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat. Kepada mereka kita memberikan pendidikan Kristiani, dan bila mereka nanti tersebar di seluruh Pulau Jawa, kita akan menanti tumbuh dan mekarnya benih-benih yang kita sebar.”

Strategi budaya

Strategi lain dalam menyebarkan agama Kristen di Jawa pada dekade pertama abad ke-20 adalah penyesuaian ajaran Kristen dengan budaya Jawa. Strateginya: memisahkan agama Islam dari budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari.

Untuk itulah di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu dianggap identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam. J.D. Wolterbeek mengatakan, “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 

Senada dengan ini, Imam Yesuit Frans van Lith berpendapat,

Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.

Dengan bantuan pemerintah kolonial dan strategi pre-evangelisation, kegiatan misi Kristen di Jawa meningkat tajam pada masa politik etis. Walaupun orang Kristen tetap terbilang sebagai minoritas kecil, namun jumlah pribumi Muslim Jawa, terutama di Jawa Tengah, yang murtad ke agama Kristen cukup besar. Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel Steenbrink mengatakan: ”Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.”

Total populasi penduduk Pulau Jawa pada 1906 adalah 28.746.688 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 24.270.600 adalah Muslim. Lapangan yang sangat luas dan sulit ini digarap oleh enam lembaga misionaris. C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. melaporkan pada tahun tersebut bahwa pengaruh Islam menjadi rintangan berat bagi para misionaris. Akan tetapi, berkat bantuan medis dan penyelenggaraan sekolah, mereka berhasil mengkonversi pribumi Muslim ke agama Kristen.

Dengan sokongan pemerintah jajahan, pada era 1930-an, banyak terjadi kasus pelecehan Islam oleh kaum Kristen. Di Pesako Sulawesi Utara, pasukan Bala Keselamatan masuk ke dalam masjid dengan memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu Kristen dalam masjid dengan alat-alat musik yang mereka bawa. Di Solo, buku-buku Kristen ditulis dalam bahasa Arab, dibagikan secara gratis kepada umat Islam yang sedang melaksanakan shalat Jumat di Masjid Mangkunegaran. Di Tasikmalaya, seekor anjing dibawa masuk ke mushalla. Di Menado, opsir Bala Keselamatan, Ernst Brandt, pada 13 April 1938 dengan terang-terangan menghina Nabi Muhammad SAW, dengan mengatakan: “Muhammad seorang miskin dan penggembala. Ia menikah dengan Khadijah janda kaya dan menghabiskan hartanya. Muhammad mempunyai 14 istri, perampas istri orang, dan menuruti hawa nafsunya. Mana bisa kesucian dari orang begitu. Siapa saja yang tidak mau mengikuti agamanya, ditusuknya dengan pedang terhunus.”

Respon Muslim

Menghadapi serbuan misi Kristen yang dahsyat seperti itu, kaum Muslim tentu saja tidak berdiam diri. Sebuah respon penting dalam menghadapi misi Kristen dilakukan oleh Muhammadiyah, yang berdiri tahun 1912 –di masa Gubernur Jenderal Idenburg. Tahun 1933, Muhammadiyah bersama 30 organisasi Islam, mengadakan rapat akbar di Solo,  menentang pemberian izin masuknya dua orang misionaris Kristen Advent dari pemerintah Jajahan di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).

Tahun 1939, Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kudus, juga menolak dicabutnya artikel 177 Indische Staatsregeling  yang isinya adalah kewajiban misionaris untuk mendapat izin dari pemerintah Jajahan. Secara individual, mubaligh Muhammadiyah asal Surakarta, R. Moehammad Sardjana, pernah menerbitkan buku “Agama Kristen” sebagai jawaban terhadap dua jilid buku tokoh Gereja, Henderick Kraemer, yang berjudul “Agama Islam”. Secara kelembagaan, Muhammadiyah masih terus menjadi salah satu garda penting umat Islam dalam membendung arus Kristenisasi, sampai hengkangnya penjajah Kristen dari bumi Indonesia.

Pendiri organisasi ini, KH Ahmad Dahlan, dikenal sangat serius dalam mengajak umat Islam untuk membandung arus Kristenisasi. Sebuah ucapannya yang terkenal: “Islam tak mungkin lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggungjawab?”

Walhasil, dalam rangka memahami sejarah, strategi, dan taktik Kristenisasi di Indonesia, buku Muhammad Isa Anshory ini sangat baik untuk dibaca. Wallahu a’lam.*/Depok, 28 Maret 2013

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/5-kemampuan-tempur-istimewa-idjon-djanbi-bapak-kopassus-tni-ad.html


“Mengkristenkan Jawa”

Monday, May 27, 2013

Fatin dan X-Islam Factor

Senin, 27 Mei 2013 11:33 wib

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

AJANG X Factor Indonesia (XFI)yang bergengsi dan menjadi acara favorit dalam enam bulan terakhir di RCTI berujung indah dengan kejutan X: Fatin Shidqia Lubis, gadis belia berjilbab, 16 tahun, yang pemalu, lugu, dan baru pertama kali tampil menyanyi di hadapan publik dan layar kaca waktu audisi XFI, ternyata menang.


Dalam pengumpulan SMS, Fatin berhasil mengungguli perolehan SMS Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang prima. Tapi, tampaknya pemirsa lebih kesengsem melihat gaya Fatin yang lugu, imut, dan asli sehingga SMS membanjir ke arah gadis berjilbab itu. Tepat apa kata musisi Ahmad Dhani: banyak orang yang vokalnya bagus, gayanya bagus, tapi sedikit yang unik dan membuat orang terperangah.


Itulah yang ada dalam diri Fatin sehingga dia pantas menjadi juara XFI pertama. Apa yang menarik dalam diri Fatin selain suaranya yang unik? Ia mempertahankan jilbabnya di tengah kompetisi tarik suara yang menampilkan kultur pop Barat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat.


Ketika Fatin menyanyikan lagu “Grenade”-nya Bruno Mars dan kemudian menjadi perbincangan masyarakat cyber di YouTube, jagat musik internasional pun geger. Jutaan orang, dari Barat dan Timur, terkagum kagum dengan suara si imut Fatin. Fatin membawakan lagu “Grenade”—pinjam ungkapan musisi Ahmad Dhani—lebih bagus dari penyanyi aslinya.


Barangkali itulah yang menyebabkan George Levendis melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact in XF Indonesia!”. George Levendis adalah sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor).


George juga seorang eksekutif di perusahaan rekaman dan Syco TV, yang merupakan milik bersama antara Simon Cowell dan Sony Music Entertainment. Berbagai pujian juga muncul ketika Fatin menyanyikan lagu “Stay” milik Rihanna dengan gaya yang unik. Rihanna menyanyikannya dengan gaya pop plus busana minimnya yang seksi, sedangkan Fatin menyanyikannya dengan gaya pop plus busana muslimahnya yang elegan. Jagat musik pop pun tercengang, sampai-sampai wartawan Prancis menyatakan: fenomena Fatin sangat unik karena dia memakai busana religius yang tak pernah dipakai penyanyi mana pun di ajang kompetisi dunia selevel X Factor.


Sebuah pertanyaan menarik, apakah fenomena Fatin menunjukkan dunia Islam sedang mengalami perubahan? Jawabnya: selain akidah Islamiyah, rukun Islam, dan rukun iman, Islam sejak dulu mengalami perubahan kultural yang terus menerus. Pinjam kata-kata almarhum budayawan Kuntowijoyo: Budaya Islam telah berubah dan akan terus berubah karena Islam sangat fleksibel. Kunto menggambarkan perubahan besar itu dari kelahiran Islam di Makkah, kemudian besar di India, Eropa, dan akan mengalami kejayaan di Indonesia.


Seterusnya, akan jaya di seantero dunia. Bayangkan, ketika Islam masuk ke Jawa, Wali Songo menciptakan atribut-atribut kultural yang sama sekali berbeda dengan Islam Arab dan Islam Eropa. Wali Song mem-blending budaya Arab, India, dan budaya lokal untuk memasarkan Islam di Jawa. Hasilnya: Islam berhasil menembus ”pasar” masyarakat Jawa pinggiran, masyarakat Jawa pedalaman, sampai masyarakat priyayi Jawa di keraton- keraton yang dikeramatkan dan eksklusif. Islamisasi Jawa yang terus berkembang sampai hari ini tampaknya sulit dipahami para ilmuwan Barat, bahkan tak berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan sekaliber Clifford Geertz.


Geertz dalam buku monumentalnya, Religion of Java, misalnya mengategorikan orang Jawa dalam tiga kelompok—santri, priyayi, dan abangan yang masing-masing terpisahkan karena mempunyai karakter-karakter yang tak bisa saling menyatu. Padahal, orang Jawa masa kini, dengan tuntutan modernitasnya, termasuk dalam menjalankan Islam, masih tetap menghormati budaya-budaya nenek moyangnya.


Geertz mungkin akan kaget jika melihat ada gamelan dan keris di rumah tokoh-tokoh Islam modernis sebab simbol-simbol seperti itu khas priyayi Jawa. Di PDIP, partai yang selama ini diidentifikasi sebagai partai abangan, ada lembaga Baitul Hikmah yang di dalamnya duduk tokoh-tokoh modernis Muhammadiyah, termasuk Buya Syafi’i Maarif. Dalam Pemilu 2014, PDIPbahkansecara berani mendudukkan tokoh Islam modernis sekaligus sufistis, Jalaluddin Rakhmat, untuk anggota DPRI. Di sanalah letak ”X” dunia Islam Indonesia: mampu mengasimilasikan berbagai budaya dengan mulus dan akomodatif.


Pada masa lalu Sunan Bonang misalnya menciptakan tembang “Ilir-Ilir” dan “Tombo Ati” yang sangat etnik. Kedua tembang ini sejak dulu menjadi ”lagu wajib” orang-orang dusun di Jawa untuk menunggu kedatangan imam salat waktu magrib, isya, dan subuh. Tembang ciptaan Sunan Bonang ini kemudian hari direvitalisasi oleh Emha Ainun Najib dan dipopulerkan oleh penyanyi Opick sehingga kini nyaris menjadi ”lagu wajib” dalam acara-acara pengajian di Ibu Kota, sinetron religi, dan gelar budaya Islam di seantero Indonesia.


Dari perspektif inilah, kita melihat fenomena Fatin. Gadis berjilbab itu berhasil menyanyikan lagu “Grenade” dengan apik sehingga pemilik lagu aslinya, Bruno Mars, mengacungkan jempol. Ketika Fatin menyanyikan lagu ikon pop Rihanna dengan sangat bagus, tak hanya pencinta musik yang gempar, tapi juga masyarakat awam. Fatin berhasil mengawinkan ikon pop dan ikon muslim dengan jilbabnya— sesuatu yang nyaris tak mungkin terjadi di dunia Timur Tengah dan dunia Barat. Tapi, di Indonesia? Melalui Fatin, dunia muslim kembali menembus tembok-tembok kultural seperti yang dikategorikan Samuel P Huntington.


Orang semacam Huntington niscaya akan terkejut jika melihat Fatin yang berjilbab menyanyikan lagunya Rihanna dengan elegan tanpa kehilangan modernitasnya. Ini artinya, batasan dunia Islam dan dunia Barat yang ”ditembok” secara amat kuat oleh Huntington menjadi runtuh dalam panggung X-Factor yang dimenangi Fatin. Semua itu bukti bahwa generasi baru Islam tidak tunduk pada batasanbatasan kultural yang oleh Huntington diramalkan akan mengalami benturan (clash civilization).


Huntington mungkin tak pernah memprediksi jika seorang muslimah yang tinggal di negeri sejuta masjid mampu menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sebagai simbol kultur pop Barat tersebut. Dalam konteks inilah kemenangan Fatin menjadi amat berarti bagi Islam kultural. Bukan sekadar jilbab dan keunikan suara Fatin yang membuat orang kesengsem, tapi secara kultural penampilan Fatin telah berhasil meruntuhkan temboktembok identitas yang selama ini dibangun para fanatikus dunia Barat dan fanatikus dunia Islam.


Tepat sekali bila ajang XFI ditutup dengan lagu “We are The World”-nya, Michael Jackson, karena memang begitulah yang seharusnya terjadi pada umat manusia. Akhirnya umat Islam harus selalu optimistis dengan dinamika kultural yang terus berubah. Jika saat ini panggung peradaban sedang dikuasai Barat, kata Kunto, percayalah pada masa depan panggung itu akan kembali dikuasai Timur.


Yang dimaksud Timur oleh Kunto adalah Indonesia dengan kultur Islamnya yang unik yang merupakan blend dari berbagai kultur di dunia, dari Timur Tengah, Eropa, Hindustan, China, Jawa, dan kultur-kultur lokal lainnya. Itulah ”X-Islam Factor Indonesia”, Islam masa depan. Fatin sudah memulai langkah pertamanya.


M BAMBANG PRANOWO
Guru Besar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten


( (koran Sindo)/Koran SI/tre)true



mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/05/17/224956/10/Mengenal-Tari-Lengger


Fatin dan X-Islam Factor

Thursday, June 13, 2013

[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa

[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa


Liputan6.com, Bandung : Pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat terpilih, Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar, diwarnai unjuk rasa. Seorang pengunjuk rasa berusaha masuk ke dalam gedung, saat pelantikan berlangsung. Meski diwarnai unjuk rasa, acara pelantikan berlangsung lancar.

Liputan 6 SCTV, Jumat (14/6/2013) memberitakan, seorang pengunjuk rasa berteriak-teriak dan berusaha masuk ke Gedung Merdeka, yang terletak di Jalan Asia Afrik, Bandung, tempat pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat terpilih pada Kamis 13 Juni. Sejumlah polisi berpakaian preman dengan sigap mengamankan pengunjuk rasa itu.


Namun, pengunjuk rasa itu tidak terima dengan perlakuan polisi. Sehingga dia terus berteriak, menolak pelantikan Ahmad Heryawan sebagai Kepala Daerah Jawa Barat. Aksi tersebut menarik perhatian sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi.


Masih di sekitar Gedung Merdeka, puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Bandung Raya, serta Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga menggelar orasi menolak pelantikan Ahmad Heryawan sebagai Kepala Daerah Jawa Barat. Pengunjuk rasa menagih dan akan mengawal janji-janji Ahmad Heryawan, pada saat kampanye lalu.


Meski didemo puluhan mahasiswa, jalannya pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat periode 2013-2018, yang dihadiri sejumlah menteri dan pejabat, tetap berlangsung lancar. Pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar dilantik oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, dalam rapat paripurna istimewa DPRD Jawa Barat. Pasangan itu terpilih sebagai Kepala Daerah setelah mendulang suara terbanyak dalam Pemilukada Jawa Barat, yang digelar satu putaran. (Yog/Eks)


Article source: http://www.merdeka.com/jakarta/039dinas-peternakan-harus-perketat-penjualan-daging-babi039.html


[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa

Monday, June 24, 2013

Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

img


Makam wali di Jawa (Icha/detikTravel)


Surabaya – Keberadaan Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, terus memberikan pengaruh dan menjadi magnet wisata religi. Bahkan, wisatawan asing juga tertarik untuk mengikuti perjalanan wisata religi tersebut.

Menurut Direktur Utama PT Darmawisata Indonesia, Husin SE, pihaknya mengakui keunikan wisata religi Wali mampu menyedot perhatian wisatawan. Nah, di Jawa Timur ada 5 wali yang makamnya menjadi objek wisata religi.


“Beberapa wisatawan asing salah satunya dari Belgia yang non muslim tertarik untuk mengambil paket perjalanan wali 5 di Jawa Timur,” kata Husein, Senin (24/6/2013).


Paket Wali 5 yang mempunyai durasi hanya 1 hari ini menjadi satu kelebihan yang ditawarkan kepada wisatawan. Selain mempunyai jarak yang dekat kendala waktu juga bisa dihilangkan terutama untuk para wisatawan yang mempunyai waktu berlibur singkat.


“Jumlahnya terus mengalami peningkatan dan untuk musim liburan kali ini melonjak hingga 30%,” terang Husin.


Banyak keunikan yang ditawarkan saat melakoni wisata religi Wali 5 yang seluruhnya berada di wilayah Jawa Timur. Kunjungan pertama di Kota Surabaya yang dikenal sebagai Mbah Bungkul.


Mbah Bungkul yang berlokasi di Taman Bungkul Surabaya ini mempunyai nama asli Ki Ageng Supo yang lahir tahun 1400-1481. Sewaktu masuk Islam berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Mbah bungkul dikenal sebagai Guru dari sesepuh para Sunan yaitu Sunan Ampel. Kunjungan ziarah ke makam Mbah Bungkul jadi agenda wajib dan sekitar makam disulap oleh Pemkot Surabaya menjadi taman yang indah.


Selanjutnya berada di kawasan Surabaya Utara adalah makam Sunan Ampel. Selain berziarah, wisata belanja juga ditawarkan karena lokasinya bersebelahan dengan Pasar Gubah, pusat oleh-oleh wisata religi.


Di lokasi makam terdapat sumur mata air yang diyakini mampu menyembuhkan beragam penyakit dan membuat awet muda. Beberapa peziarah sengaja menyimpan air tersebut untuk dibawa pulang.


Ziarah selanjutnya mengarah ke Kota Gresik di makam Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Kedua Sunan ini mempunyai pola penyebaran agama yang cukup berbeda. Maulana Malik Ibrahim melakukan penyebaran agama Islam dengan pendekatan kultural dan sangat mahir di bidang pertanian dan pengobatan.


Di samping komplek Makan Maulana Malik Ibrahim terdapat Komplek makam keluarga Bupati pertama Gresik Kyai Tumenggung Pusponegoro I. Cara dakwah Sunan Giri yang mempunya nama asli Raden Paku/Ainul Yaqien dengan melakukan pendekatan kesenian dan mempunyai karya abadi seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending atau lagu instrumental Jawa seperti Asmaradana dan Pucung.


Butuh sedikit pengorbanan untuk mencapai makam Sunan Giri di perbukitan. Wisatawan bila mampu bisa berjalan kaki, namun bisa juga menggunakan transportasi ojek maupun dokar yang tersedia di sana.


Selain berziarah wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Sunan Giri yang menyimpan koleksi pribadi seperti sajadah dan beberapa alat salat lainnya. Lokasinya berdekatan dengan makam Sunan Malik Ibrahim.


Wisata selanjutnya menuju Kota Lamongan untuk berziarah ke makam Sunan Drajat yang mempunyai nama asli Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin yang merupakan putra dari Sunan Ampel.


Lokasi makam mempunyai keunikan yakni terdiri dari 7 bagian yang mencerminkan 7 filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan saat melakukan penyebaran ajaran Islam. Tur berakhir saat mengunjungi makam Sunan Bonang yang berada di pusat kota Tuban.


Bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, Sunan Bonang menyimpan kontroversi seputar lokasi makam. Selain di Pusat Kota Tuban bersebelahan dengan Masjid Jami Tuban, makam Sunan Bonang juga dipercaya sebagian orang berada di Pulau Bawean. Karya seni abadi yang ditinggalkan dan masih bisa dinikmati sampai sekarang adalah tembang Tombo Ati yang sering kita dengar merupakan gubahan dari Sunan Bonang.


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/240107


Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

Sunday, November 17, 2013

Gedung Ibadah di Kota Tua



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





Oleh: Windoro Adi

Ada banyak museum di Kota Tua—Museum Jakarta, Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bahari. Bosan dengan itu, ternyata ada sederet gedung ibadah yang menjadi saksi kemegahan dan keakraban masyarakat yang tinggal di Batavia.


Yuk menyusur gedung-gedung ibadah tersebut. Ada beragam rumah ibadah di Kota Tua. Jika langkah mulai menyusuri Jalan Perniagaan Raya menuju Jalan Tubagus Angke, ada beberapa masjid dan langgar yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Di tepi Kali Angke, dekat persimpangan Jalan KH Moh Mansyur Jembatan Lima-Jalan Tubagus Angke, tak jauh dari Jalan Perniagaan Raya, tampak gedung Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1833 atau 1249 Hijriah. Hingga kini, masih digunakan untuk ibadah.


Ketika itu, langgar ini menjadi tempat favorit bagi pedagang serta awak perahu dan rakit yang datang dari Banten dan Tangerang.


Dari sana mereka membawa bahan-bahan bangunan, beraneka buah dan rempah, serta bermacam barang kelontong dan tekstil yang akan mereka jual di Batavia. Mereka menyusuri Kali Cisadane ke sodetan kali bernama Mookevart (di tepian Jalan Daan Mogot) sebelum masuk ke Kali Angke.


Langgar dengan luas lantai dasar 8 x 24 meter ini berada di lingkungan RT 002 RW 001, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora. Lantai bawah digunakan sebagai tempat wudu dan tempat penginapan pedagang serta awak rakit dan perahu.


Arsitektur langgar berunsur Eropa klasik tampak pada tiang-tiangnya, dipadu unsur China pada penyangga balok-balok kayunya dan Jawa pada denah dasarnya.


Tak jauh dari langgar terdapat masjid tertua di Jakarta yang masih berdiri, Masjid Al Anshor (1648), di Jalan Pengukiran II. Juga Masjid Annawar (1760) di Jalan Pekojan Nomor 71.


Di seberang Kali Angke, di Gang Mesjid 1, berdiri Masjid Angke atau Masjid Al Anwar (1761) yang dibangun seorang kontraktor China untuk orang Bali yang beragama Islam.


Selain Masjid Angke, ada pula Masjid Kebon Jeruk (1786) yang berarsitek Bali, Belanda, Jawa, dan China. Lokasi masjid ini berada di Jalan Hayam Wuruk Nomor 8 (masih di lingkungan Jakarta Barat, tetapi sudah di luar batas Kota Tua).


Tentang kedua masjid ini, penulis banyak buku tentang Batavia, Heuken SJ, menyebutkan, orang Belanda menganggap kaum pribumi adalah orang-orang yang tinggal di tanah Jawa. Jadi, orang pribumi itu orang Jawa. Orang Jawa itu beragama Islam. Artinya, tunduk pada peraturan hukum Islam. Maka, orang Bali yang tinggal di tanah Jawa (termasuk Batavia) yang beragama Hindu pun harus tunduk pada hukum Islam.


Berbeda dengan orang-orang China yang masuk Islam kala itu. Mereka masuk Islam agar dianggap golongan pribumi sehingga mereka bisa bebas dari pajak kuncir rambut dan beban pajak lainnya yang hanya ditanggung orang China.


Klenteng


Jangan heran apabila jumlah masjid di kawasan Kota Tua jauh lebih sedikit daripada jumlah klenteng di sana. Sebab, ada satu masa di era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Persatuan Dagang Hindia Timur, jumlah orang China mendominasi Batavia.


Dari perempatan Jalan Perniagaan Barat-Tambora 8 dan Jalan Perniagaan Raya-Pangeran Tubagus Angke, masuklah ke Jalan Tambora 8 di tepi Kali Opak. Tak berapa lama menyisir jalan tersebut, di sisi kiri jalan akan tampak gapura dengan papan bertulis ”Kwan Tee Bio d/n Lamceng, Jakarta Barat”, pertanda masuk ke kompleks Kelenteng Arya Marga atau Nan Jing Miao.


Klenteng dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi, dikelilingi 12 rumah petak sewa milik yayasan pengelola klenteng. Klenteng terbagi dalam empat ruang besar.


Di ruang belakang ada dua altar untuk menghormati mendiang Kapitan The Liong Hui. Di atas altar utama disimpan abu dan patung kayu sang kapitan asal Nanjing, Kabupaten Zhanzhou (Fujian) itu.


Tahun 1824, Kapitan The membangun kelenteng ini. Karena tidak memiliki keturunan, seluruh kekayaan ia habiskan untuk membangun rumah ibadah ini. Pengelolaan rumah ibadah ia percayakan kepada Tjhung See Gan.


Agar biaya pemeliharaan kelenteng terjamin, tahun 1839 Kapitan The meminta Tjhung membangun 12 rumah petak sewa yang hasil sewanya untuk ”menghidupi” kelenteng.


Sepeninggal Tjhung, kelenteng terbengkalai dan menjadi tempat tinggal pengemis. Beruntung, kondisi merana tersebut berakhir setelah tahun 1978, kelenteng dibersihkan, dikelola, dan dirawat Kepala Kelenteng Basri Oemar (Oey Sek Hai).


Jika dibandingkan dengan plafon Kelenteng Tian-Hou atau Wihara Dewi Samudera (1784) di Bandengan Selatan atau dengan Kelenteng Feng-shan Miao (1751) di Jalan Kemenangan III/48, plafon Kelenteng Kapitan The pasti kalah indah.


Altarnya pun kalah bagus dengan altar yang ada dalam Kelenteng Lu Ban Gong (1784) yang terletak di Jalan Bandengan Selatan 36. Meskipun demikian, Kelenteng Arya Marga menjadi satu-satunya kelenteng yang dibangun kapitan China di Batavia.


Pada periode 1812-1847, pembangunan kelenteng (Taois) dan wihara (Buddhis) umumnya dilakukan kongsi dagang dan lebih banyak ditujukan menghormati dewa dagang atau yang berhubungan dengan perdagangan. Lingkungan kelenteng pun sering dijadikan tempat pertemuan untuk membahas rencana bisnis.


Sebelum era ini, kelenteng di Kota Tua dibangun dengan berbagai tujuan. Dewa yang diletakkan di altar pun beragam, tidak didominasi dewa dagang. Kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan kelenteng lebih sering dilakukan daripada pertemuan-pertemuan dagang.


Kelenteng Li Tie-guai atau Wihara Budhidharma di Jalan Perniagaan Selatan, yang menjadi tempat beribadah orang China terpopuler di kawasan Glodok, adalah salah satu kelenteng yang dibangun untuk dua di antara ”Delapan Hyang Mulia”, pelindung kongsi dagang.


Gereja


Di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua berdiri megah Gereja Sion. Sebuah mimbar bergaya barok karya H Bruyn (1695) berdiri di tengah altar. Di atasnya terpasang kanopi Gereja Kubah, yang juga ada kota Batavia tapi sudah dibongkar Gubernur Jenderal Belanda Daendels tahun 1808.



DHONI SETIAWAN Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Pembangunan Gereja dimulai pada tahun 1693 dan diresmikan 1695.

Pembuatan mimbar bersegi delapan dengan paduan ukiran China, Eropa, dan India ini menghabiskan biaya 260 ringgit, sedangkan biaya pembangunan gereja ini 3.000 ringgit pada 1695. Menghadap altar, di sebelah kanan, berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17. Kursi itu dibuat khusus bagi petinggi VOC, termasuk buat para Gubernur Jenderal Belanda. Di tengah atas sandaran kursi yang terbuat dari kayu hitam itu terukir kitab suci yang terbuka. Di kiri-kanannya ada dua malaikat kecil.

Di salah satu dinding gereja ada batu bertulis dalam bahasa Belanda yang artinya, ”Batu pertama gereja ini diletakkan 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn”. Meski menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Kristen di Kota Tua, kondisi gereja ini terawat baik dibandingkan dengan semua tempat ibadah bersejarah di Kota Tua. (JOS)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>



































Article source: http://news.liputan6.com/read/708601/euforia-pelantikan-kalemnya-jokowi-garangnya-ahok?wp.hdln


Gedung Ibadah di Kota Tua

Thursday, April 25, 2013

Ogah Pilih Caleg Artis kalau Tidak Smart - Jawa Timur - Okezone

SURABAYA - Pemilihan legislatif (Pileg) 2014 bakal diramaikan oleh sejumlah artis. Beberapa partai mengusung artis dengan alasan untuk mendongkrak peroleh suara di pileg. Namun, pilihan tetap ada di tangan rakyat.


Nisa Al Seena (25), warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berpendapat, artis belum tentu menjadi pilihannya. “Harus diteliti dulu. Meski dia artis dan terkenal, tentu ada plus-minusnya, yakni menyangkut kecerdasan dalam berpolitik,” ujar perempuan berjilbab yang tinggal di Kranggan, Margorejo, Surabaya, itu, Kamis (25/4/2013).


Duduk di Senayan, kata dia, setiap caleg, termasuk artis, harus memiliki pemahaman politik dan yang paling penting bisa memperjuangkan aspirasi rakyat. Menjadi anggota dewan tidak bisa hanya menjadi pengikut.


Alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel itu menambahkan, tidak semua artis yang saat ini menjadi bakal caleg tidak memenuhi syarat. Dia menyebut beberapa artis perempuan yang latar belakang pendidikannya memadai untuk berpolitik. Selain itu, sebelumnya dia sudah memjadi legislator.


Saat disebut beberapa artis yang nyaleg di beberapa dapil di Jawa Tmur, Nisa mengaku sejauh ini belum ada yang masuk dalam kriteria pilihannya. Namun, bisa saja sikapnya berubah karena pileg masih akan berlangsung setahun lagi.


“Hal yang jelas, saya enggak memilih caleg artis yang tidak smart. Karena modal di politik tidak hanya cukup terkenal. Tentunya, rakyat sudah tahu sejauh mana figur yang akan dipilih itu,” pungkasnya.


Seperti diketahui, bakal caleg DPR di Jawa Timur bertabur artis. Eko Patrio akan maju di Dapil VIII (Mojokerto, Jombang, Ngajuk, dan Madiun), Hengky Kurniawan di Dapil VI ( Blitar, Tulung Agung, dan Kediri). Kemudian, penyanyi Anang Hermansyah di Dapil IV (Jember dan Lumajang). Mereka diusung Partai Amanat Nasional (PAN).


Mantan model, Arzetti Bilbina akan berjuang di Dapil (Surabaya dan Sidoarjo). Dia maju melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di jalur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ada artis senior Emilia Contesa.
 


Berita Selengkapnya Klik di Sini


Article source: http://regional.kompas.com/read/2013/01/03/02452412/Banyak.Dosen.Lulusan.S-1.Mahasiswa.Bone.Ngamuk


Ogah Pilih Caleg Artis kalau Tidak Smart - Jawa Timur - Okezone

Wednesday, April 24, 2013

Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'

Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'


Liputan6.com, Jakarta : Komisi Pemilihan Umum telah menutup pintu. Periode pendaftaran bakal calon legislatif di Pemilu 2014 berakhir. Publik pun disodori ribuan nama.

Dari ribuan nama itu, ada beberapa temuan menarik. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas memutuskan kembali maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan saat Pemilu lalu. Ibas maju dari daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan di nomor urut 1.


Padahal, pada Februari lalu, ia menyatakan mundur dari Senayan. “Saya mundur dari anggota DPR, saya akan konsentrasi sebagai Sekjen Partai Demokrat,” kata Ibas dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2013).


Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie membela Ibas. Marzuki mengatakan keputusan yang diambil Ibas itu sebagai langkah yang wajar. “Mundur selangkah untuk melompat 10 langkah, bagus kan?” ujar Marzuki melalui pesan singkat, Rabu (24/4/2013).


Marzuki menambahkan, keputusan yang diambil oleh Ibas dengan mundur dari DPR dan kembali mencalonkan diri sebagai legislator bukan dimaksudkan untuk mempermainkan konstituen. “Tidak ada yang dipermainkan, penggantinya juga pilihan rakyat,” ujar Marzuki.


Kali ini, Ibas seperti berada di ‘dapil surga’. Sebagai peraih suara tertinggi se-Indonesia dengan jumlah 327.097 suara pada Pemilu 2009, lawan-lawan Ibas di dapil ini relatif bukan tokoh “kelas berat.”


Nama-nama yang sedikit dikenal di dapil ini antara lain caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mantan aktivis, Dita Indah Sari. Dita saat ini tercatat sebagai Staf Ahli Menakertrans Muhaimin Iskandar yang juga Ketua Umum PKB.


Lawan Ibas yang lain adalah Heri Akhmadi (PDIP). Heri merupakan mantan Wakil Ketua Komisi X Bidang Pendidikan DPR.


Dari Golkar, lawan bungsu SBY itu adalah Binny Bintarti Buchori. Binny merupakan salah satu aktivis HAM dan demokrasi yang sudah cukup banyak berjuang melalui organisasi non-pemerintah seperti International NGO Forum on Indonesian Development (INFID).


Selain Ibas, ada juga Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri. PDIP menempatkan Puan di Dapil Jawa Tengah V di urutan 1. Di sana, Puan akan menemui lawan cukup berat, yakni Angel Lelga. Artis itu diusung Partai Persatuan Pembangunan di urutan pertama.


Kaehadiran Angel sebagai caleg cukup mengagetkan. “Saya mualaf, jadi saya ingin menjaga keislaman saya, dengan menjadi caleg dari PPP,” ujar Angel di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013).


Menurut Angel, keinginannya untuk terjun ke dunia politik muncul setelah melihat berbagai kesusahan rakyat Indonesia melalui berbagai media. “Saya ingin menjadi orang yang berguna untuk membantu rakyat kecil,” ujarnya.


Selain Angel, Puan juga akan menemui lawan tangguh dari ang diusung Partai Demokrat, yaitu GRAY Koes Moertiyah. Putri Susuhunan Pakubuwono XII ini masih menjadi anggota Komisi IX DPR.


Di luar nama itu, Puan juga akan bertarung sesama nomor urut 1 dengan Abdul Kharis Almasyhari (PKS), Yusuf wibisono, (PAN), Mohamad Toha (PKB), Sarwoto Atmosutarno (Partai Nasdem), Bambang Riyanto, (Gerindra), dan Eko Sarjono Putro (Golkar).


Para Mantan Kandidat Pilgub Jakarta


Selanjutnya, jika menyusuri daftar lebih teliti, kita memergoki sejumlah nama yang gagal dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012 bakal kembali bertarung dalam Pemilihan Legislatif 2014. Para kandidat ini takluk oleh pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.


Persaingan ketat diprediksi terjadi di Daerah Pemilihan DKI Jakarta II. Di dapil itu, bertengger nama Hidayat Nur Wahid yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Biem Benyamin yang diusung Partai Gerindra. Nama Hidayat dan Biem bercokol di nomor urut 1.


Pada Pilgub DKI 2012, Hidayat disusung PKS dan berpasangan dengan Didik J. Rachbini sebagai cawagub. Sementara Biem Benjamin menjadi cawagub untuk ekonom Faisal Basri yang maju melalui jalur independen.


Sementara itu, Didik J. Rachbini juga maju sebagai caleg untuk Pemilu Legislatif 2014. Nama Didik berada di nomor urut 1 dari Partai Amanat nasional (PAN) dan akan maju di Dapil DKI Jakarta I.


Mantan kandidat lain yang juga maju dalam Pemilu 2014 adalah Riza Patria. Mantan pasangan Hendardji Soepandji ini maju sebagai caleg dari Partai Gerindra. Riza berada di nomor urut 1 dan akan bertarung di Dapil Jakarta III.


Hanya Dua Ketum Partai


Temuan menarik lain, dari 12 partai politik nasional yang bertarung dalam Pemilu 2014, hanya 2 partai yang mengusung ketua umumnya sebagai calon legislator, yaitu Partai Gerindra dan Partai Bulang Bintang (PBB).


Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi maju dari daerah pemilihan DI Yogyakarta (DIY). Di dapil ini seperti dapil “neraka.” Sebab, banyak nama populer yang akan berebut suara.


Di dapil ini, Suhardi akan bertemu ‘lawan tangguh’ dari Demokrat yang juga Menpora KRMT Roy Suryo Notodiprodjo atau Roy Suryo. Suhardi juga mesti menghadapi mantan Bupati Bantul Muhammad Idham Samawi. Idham merupakan caleg dari PDI Perjuangan nomor urut 1.


Tak berhenti di sana. Dapil ini juga menyimpan caleg nomor urut 1 dari Golkar yakni Siti Hediati Soeharto atau yang dikenal dengan Titiek Soeharto. Persaingan kian ketat karena juga terdapat Ahmad Hanafi Rais, putra tokoh reformasi Amien Rais, yang merupakan caleg nomor urut 1 dari PAN.


Ketua umum partai lain yang maju menjadi caleg adalah Ketua Umum PBB MS Kaban. Mantan Menteri Kehutanan ini maju menjadi caleg PBB dari daerah pemilihan Jawa Barat V yang meliputi Kabupaten Bogor. Dapil Jawa Barat V ini tidak kalah ‘menyeramkan’. Banyak nama yang telah akrab di telinga publik.


Di Jawa Barat V, MS Kaban harus menghadapi caleg yang juga Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua; dari PKB ada artis Ridho Roma; ada artis senior dari PDIP, Yessy Gusman; Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, artis yang diusunng PAN, Primus Yustisio; ada pula mantan pendiri Partai Keadilan yang maju dari Hanura, Yusuf Supendi; serta mantan Menteri Pertanian yang juga caleg dari Partai Nasdem, Soleh Solahuddin.


Pertarungan segera dimulai. Rakyat akan menjadi juri. Semoga pilihan mereka tepat belaka. (Yus)


Article source: http://www.republika.co.id//berita/internasional/global/12/05/11/m3t9ux-materi-kontroversi-militer-as-3habis-10-persen-muslim-membenci-anda


Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'

Friday, February 1, 2013

Mengikuti Kereta yang Membawa 30 Napi Korupsi Jatim ke Lapas Sukamiskin ...

Tiga puluh narapidana kasus korupsi asal Jawa Timur dipindahkan ke Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Rabu (16/1). Selama 12 jam mereka menempuh perjalanan dengan kereta dari Surabaya ke Bandung. Berikut laporan wartawan Jawa Pos MAYA APRILIANI yang berada dalam satu gerbong dengan para pesakitan itu.
 
= = = = = = 

JARUM jam masih menunjuk angka 3 lebih 30 menit ketika Jumanto, salah seorang napi korupsi, bangun dari tidur di kamar selnya di blok H Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah itu, satu per satu napi yang lain ikut terjaga. Ada yang langsung mengambil air wudu untuk salat malam, ada pula yang bersiap-siap untuk aktivitas esoknya.
 
Selama dua hari, 30 napi kasus korupsi dari berbagai daerah di Jawa Timur itu dikumpulkan di blok H Lapas Kelas I Surabaya, Porong. Dua kamar disediakan untuk menampung mereka. Masing-masing kamar berukuran 7 x 6 meter. Satu kamar diisi 15 orang. Karena itu, bisa dibayangkan betapa sumpeknya kamar tersebut.
 
Setelah semua bangun dan berkemas, para napi diminta segera bersiap diri untuk perjalanan jauh ke Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung. Dengan mengenakan seragam napi bertulisan Warga Binaan Lapas Kelas I Surabaya, mereka diminta keluar dari kamar untuk selanjutnya masuk bus Transpas Lowokwaru yang akan membawa mereka ke Stasiun Gubeng.

Tepat pukul 05.00, bus bernopol N 7006 AP yang mengangkut para napi meninggalkan lapas. Sejam kemudian, bus tiba di stasiun. Kedatangan bus berisi para napi kerah putih itu menarik perhatian warga dan awak media yang nyanggong beberapa jam sebelumnya.
 
Tanpa upacara, para napi digiring memasuki gerbong eksekutif nomor 5 KA Argo Wilis. Gerbong itu memang dikhususkan untuk para pesakitan. Saat berjalan menuju gerbong, tangan mereka diborgol serta dirangkai dengan tali plastik. Mereka berjalan berbaris dan dikawal ketat enam anggota Brimob Polda Jatim bersenjata laras panjang.

“Itu sudah protap pengawalan napi,” ungkap Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jatim Y. Ambeg Paramarta. Prosedur tetap itu bertujuan untuk mengantisipasi agar para napi tidak melarikan diri.

Selain warga umum dan wartawan, banyak keluarga napi yang bermaksud melepas kepergian orang yang mereka cintai. Begitu melihat barisan koruptor berkaus biru keluar dari bus menuju gerbong kereta, mereka berteriak-teriak memanggil nama napi.

Ada juga yang menangis. Sebagian lagi mengumandangkan takbir berkali-kali. Terlihat jelas kesedihan di wajah mereka. Apalagi, mereka tidak bisa mendekat karena aksesnya dibatasi. Mereka yang dipanggil namanya hanya bisa menoleh. Tanpa dapat melambaikan tangan. Mereka hanya bisa tersenyum dari kejauhan.
 
Begitu sampai di dalam gerbong, tali yang merangkai mereka dilepas. Satu per satu napi lalu menempati kursi yang telah disiapkan. Gerbong itu benar-benar steril. Baik dari penumpang umum maupun barang-barang yang “berbahaya”. Selain itu, selama dalam perjalanan, gerbong tersebut dikunci rapat. Hanya satu pintu samping yang dibuka, tapi dijaga ketat petugas keamanan.
 
Mereka tidak bisa memilih tempat duduk sesuka hati. Jumanto, napi kasus Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Lumajang, duduk di kursi nomor 5D. Di sebelahnya (C) ada Totok Setyo, napi kasus korupsi dana kas daerah (kasda) Kabupaten Pasuruan. Khudlori, mantan kepala BPN Surabaya, juga duduk di deretan kursi nomor 5 (A). Dia berdampingan dengan Hamzar Bastian, napi korupsi Kasda Pemkab Situbondo yang selama ini ditahan di Lapas Madiun.
 
Di depan Jumanto, kursi nomor 4 diduduki napi Abdul Azis dari Lapas Pasuruan dan Indra Kusuma dari Lapas Malang. Keduanya terjerat kasus korupsi Kasda Kabupaten Pasuruan dengan vonis 15 tahun penjara.
 
Tepat pukul 07.30, kereta berangkat. Suasana di dalam gerbong senyap. Para napi sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Ada yang memandang ke luar jendela. Ada yang terdiam di kursi dengan tatapan kosong. Konsentrasi mereka pecah saat ada pembagian kue dan kardus sarapan. Pagi itu, para napi mendapat menu istimewa: ayam goreng. Padahal, biasanya di dalam lapas mereka hanya mendapat nasi cadong alias nasi jatah penjara.
 
Seusai sarapan, suasana kembali hening. Tidak terdengar lagi suara napi berbincang. Maklum, tidak semua napi saling mengenal sebelumnya. Apalagi, tempat duduk mereka tidak diatur berdasar asal penjara.
 
Setelah hening beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara Khudlori yang cukup keras. Dia bercerita tentang kisah Jeffrey Lang, seorang profesor matematika yang menjadi dosen dan peneliti di Kansas University, AS, yang masuk Islam. Lang cukup lama menjadi ateis. Dia masuk Islam setelah membaca Alquran.
 
“Jawaban yang diinginkan tentang Sang Pencipta dan surga ada semua di Alquran,” katanya bersemangat kepada Hamzar, napi di sebelahnya.
 
Pria yang dipidana selama enam tahun penjara dalam kasus penerbitan sertifikat hak guna bangunan (HGB) SPBU Marmoyo itu juga memuji buku-buku karya sang profesor. “Enak dibaca, alur dan bahasanya mudah dimegerti,” lanjutnya.
 
Selama di balik jeruji penjara, Khudlori memang dikenal sebagai napi yang agamis. Selama ditahan di Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, pria yang sebagian besar rambutnya sudah memutih itu juga aktif di masjid rutan.
 
Setelah Khudlori terdiam, suasana sepi lagi. Sebagian besar napi terlelap. Saat itulah dua petugas kebersihan menjalankan tugas, mengumpulkan sampah bekas makanan. Keduanya dikawal ketat aparat di belakang mereka.
 
Suasana dalam gerbong tetap tenang hingga kereta berhenti di Stasiun Tugu, Jogjakarta, pukul 12.00. Kala itu, Kakanwil Kemenkum HAM Daerah Istimewa Jogjakarta Rusdianto masuk gerbong menghampiri ketua rombongan dari Kanwil Kemenkum HAM Jatim Ali Mustofa, sekaligus untuk menyambangi para napi korupsi Jatim yang boyongan ke Bandung itu.
 
Setelah berhenti lima menit di Stasiun Tugu, kereta berjalan lagi. Namun, kali ini suasananya sedikit gaduh karena ada pembagian jatah makan siang. Menunya gudeg jogja.
 
Seusai makan, suasana di gerbong mulai cair. Terdengar suara tawa para koruptor. Termasuk percakapan mereka terkait dengan berbelitnya proses hukum yang harus dilalui. Rupanya, Jumanto dan beberapa napi memperbincangkan proses PK (peninjauan kembali) dan perpanjangan penahanan.
 
“Ada teman yang belum diperpanjang masa penahanannya akhirnya keluar penjara. Padahal, dia sedang mengajukan PK,” ungkap Jumanto.
 
Selain itu, tidak sedikit napi yang telah diputus tapi belum memperoleh salinan putusan. Ada yang sampai bertahun-tahun. Termasuk surat eksekusi jaksa untuk melaksanakan putusan. Padahal, putusan tidak berasal dari MA (Mahkamah Agung), tapi dari pengadilan tingkat pertama dan kedua.
 
Jumanto termasuk napi yang blak-blakan dan tidak menutup-nutupi kasusnya. Bahkan, mantan ketua Fosil Mahara (Forum Silaturahmi Mantan Tahanan dan Narapidana) itu tidak berkeberatan ketika difoto dan diwawancarai media. Padahal, sebagian napi berusaha menghindar dari kejaran wartawan.
 
Kepada Jawa Pos, dia mengaku berkeberatan atas kebijakan pemindahan napi korupsi ke Lapas Sukamiskin. Namun, mantan anggota DPRD Probolinggo itu berusaha menerima keadaan, walau harus berjauhan dari keluarga dan berpisah dari teman-temannya di Lapas Pasuruan.
 
“Seharusnya pemerintah itu membuat kebijakan yang arif dong. Tidak melanggar HAM dan bisa menimbulkan dendam,” ujarnya.
 
Saat ditanya apakah kebijakan itu membuat dirinya dendam, Jumanto menggelengkan kepala. “Khawatirnya, ada teman-teman yang seperti itu,” katanya.
 
Kini setelah merasakan hidup di penjara selama tiga tahun, pria 47 tahun tersebut teringat profesinya dulu sebagai guru. Sebelum masuk dunia politik, Jumanto menjadi guru matematika di SMA selama 14 tahun.
 
Tentang politik, dia mengaku tidak kapok untuk menggelutinya lagi setelah bebas nanti. Menurut Jumanto, berpolitik tidak harus menjadi anggota parpol. “Banyak kegiatan politik yang dapat dilakukan tanpa harus aktif di parpol,” tegasnya.
 
Selama dalam perjalanan, para napi “dibebaskan” untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Misalnya, untuk ke toilet, mereka akan dikawal petugas hingga di luar WC. Begitu pula, petugas mempersilakan napi yang ingin menjalankan salat. “Alhamdulillah, selama di dalam kereta, kami bisa apa saja,” tutur Jumanto.
 
Pukul 19.13, kereta tiba di Stasiun Bandung. Namun, para koruptor tidak langsung diturunkan. Mereka diminta berbaris lebih dulu di dalam gerbong sambil menunggu penumpang lain turun. Baru pukul 19.30 mereka turun dari kereta. Tak ayal, kedatangan mereka mengundang perhatian warga dan wartawan setempat.
 
Beberapa napi tampak berupaya menutupi wajahnya dengan koran atau tangan. Melihat hal itu, masyarakat di stasiun berteriak-teriak. “Tidak usah ditutupi, ingat saat mengambil uang rakyat dulu,” ujar seorang warga.
 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Stasiun Bandung, rombongan napi koruptor tiba di Lapas Sukamiskin. Begitu turun dari bus Transpas nopol D 7126 A, mereka dimasukkan ke aula kompleks lapas.

Begitu borgol dilepas, mereka kembali merasa bebas. Yang merokok langsung menyulut rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Mengepulkan asap ke udara untuk melepas gundah di dada. Wajah-wajah mereka tampak lelah. Tapi, mereka tetap bisa bercanda.
 
Dari aula, secara bergiliran para napi masuk ke ruang registrasi untuk pencocokan data. Untuk mempercepat pemasukan data penghuni baru, sebagian napi menjalani pemeriksaan kesehatan di poliklinik. Namun, malam itu pemeriksaan tersebut tidak detail. Hanya pengukuran tensi darah.
 
“Waktu berangkat dari Porong, tensi mereka sudah diperiksa,” ungkap dr Hardjo Santoso, dokter Lapas Porong yang ikut dalam pemindahan napi itu.
 
Menurut Hardjo, berdasar hasil pemeriksaan awal tersebut, semua napi sehat. Tidak ada masalah kesehatan yang serius. “Paling hanya tekanan darah yang sedikit naik. Mungkin tegang,” lanjutnya.
 
Karena sudah malam, proses lanjutan seperti pengambilan foto untuk arsip lapas dilakukan esok harinya. Malam itu para napi diberi kesempatan untuk beristirahat.

Tapi, mereka tidak bisa langsung masuk kamar. Sebelum masuk kamar baru, mereka diperiksa di ruang pengamanan kamar. Termasuk barang bawaan mereka. Tas, koper, hingga seprai tempat tidur pun digeledah.   “Tidak ada barang terlarang yang ditemukan,” ungkap Teguh Wibowo, kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Sukamiskin.
 
Menurut Kakanwil Kemenkum HAM Jabar I Wayan K. Dusak, ada beberapa napi yang membawa uang. Padahal, uang tidak boleh masuk ke area lapas. Uang di lapas harus ditukar dengan kupon. Jika butuh apa-apa, penghuni membeli dengan kupon. “Sistem ini untuk menghindari terjadinya kejahatan di dalam penjara seperti perjudian,” tegas Dusak. (*/c11/ari)


Mengikuti Kereta yang Membawa 30 Napi Korupsi Jatim ke Lapas Sukamiskin ...

Wednesday, January 30, 2013

Jejak Raden Saleh di Leipzig

Oleh Zeynita Gibbons

Lukisan cat minyak berjudul Stierjagd auf Java atau “Berburu Banteng Jawa” yang dibuat Raden Saleh tahun 1842 di kanvas berukuran 85 x 140 sentimeter tergantung di ruang pameran mini karya Raden Saleh koleksi Museum Sejarah Leipzig di Balai Kota Leipzig, Jerman.

Beberapa lukisan Raden Saleh ditampilkan dalam pameran yang diselenggarakan Perkumpulan Masyarakat Indonesia-Jerman di Leipzig yang berlangsung hingga 17 Februari mendatang itu.

Direktur Museum Sejarah Leipzig, Volker Rodekamp, dan Deputy Chief of Mission KBRI Berlin, Siswo Pramono, membuka pameran yang dihadiri sekitar 100 pengunjung yang terdiri atas anggota Perkumpulan Masyarakat Indonesia-Jerman, anggota Lion Club serta akademisi dan pecinta seni di Kota Leipzig itu.

Menurut Siswo, Raden Saleh termasuk sosok yang penting dalam hubungan Indonesia dan Jerman.

Bapak seni lukis modern Indonesia itu, ia menjelaskan, termasuk duta Indonesia yang pertama yang ikut membangun landasan hubungan antara Indonesia dan Jerman.

Di Jerman, Raden Saleh melahirkan karya lukis bergaya oriental, lukisan-lukisan tentang eksotika Asia yang dia buat menggunakan teknik melukis Eropa yang telah dia pelajari di Belanda.

Karya-karyanya menjadi daya tarik dalam tata pergaulan seni Eropa dan membuat Raden Saleh menjadi sorotan masyarakat seni saat berkunjung ke Frankfurt, Berlin dan Dressden.

Bersama karya-karyanya, Raden Saleh masuk ke lingkungan pergaulan kaum aristokrat Jerman pada masa itu. Duke of Saxe-Coburg and Gotha serta adiknya, Pangeran Albert, yang kemudian menikah dengan Ratu Victoria dari Inggris tercatat sebagai sahabat Raden Saleh.

Gaya berbusana Raden Saleh yang tak biasa saat menghadiri pesta-pesta yang diselenggarakan kelompok masyarakat Eropa pun ikut menjadi perhatian, membuat dia menjadi salah satu perbincangan pada masa itu. Dia sering memadukan unsur Jawa dan Eropa dalam berpakaian.

Hal inilah yang membuat Raden Saleh berhasil meruntuhkan hati perempuan-perempuan cantik di Eropa pada jaman itu, kata Dr Werner Kraus pada pembukaan pameran mini karya Raden Saleh di Balai Kota Leipzig.

Kraus adalah akademisi di Universitas Passau yang selama 25 tahun meneliti kiprah dan karya Raden Saleh dan menuangkannya dalam buku berjudul “Raden Saleh and the Beginning of Modern Indonesian Painting.”

Selama melakukan penelitian, dia menemukan berbagai manuskrip tentang Raden Saleh di Dressden. Dalam salah satu manuskrip Raden Saleh menuliskan kalimat:

“A lot of my life was dedicated exactly to this purpose, trying to connect two very different cultures. But behind each and every culture there are human beings, and human beings are not so different.”

(Sebagian besar hidup saya dedikasikan untuk tujuan ini, mencoba menghubungkan dua budaya yang berbeda. Tapi dibalik masing-masing dan setiap budaya manusia, dan manusia tidak terlalu berbeda.”

Kraus melihat tulisan itu sebagai cerminan usaha Raden Saleh untuk menjembatani hubungan antara dua budaya, yang dalam hal ini budaya dari tanah asalnya dan budaya Eropa.

Paduan

Kraus menjelaskan, di satu sisi Raden Saleh menampilkan realitas Timur yang dianggap eksotis oleh khalayak Eropa.

Saat peradaban Barat tengah tergila-gila dengan apapun yang berbau eksotisme Timur, Raden Saleh menampilkan karya-karya orientalis dengan teknik seni rupa Barat.

Namun di sisi lain, Raden Saleh juga terkesima dengan Eropa dan kemewahan istana-istananya yang seperti dongeng.

“Itu adalah pengalaman eksotis baginya, sama seperti orang Eropa waktu itu memandang eksotisme alam Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan pula bahwa penerimaan masyarakat Jerman ikut membantu Raden Saleh menemukan jati diri dan mengembangkan kemampuan artistiknya.

Di Belanda, Raden Saleh tetap mendapat cibiran sebagai inlander meski sudah setengah terpaksa mengenakan busana ala Eropa. Sementara saat di Dressden, Raden Saleh justru mengundang penasaran dan kekaguman saat mengenakan busana Jawa.

Penerimaan itu, menurut Krauss, membuat Raden Saleh bisa lebih banyak belajar dengan tetap mempertahankan identitas diri sebagai orang Asia dan orang Islam. Dan dia terbukti bisa.

Sekitar 15 kilometer dari Kota Dressden, tak jauh dari Istana Maxen yang pernah menjadi tempat Raden Saleh tinggal, sebuah masjid dibangun.

Di Masjid Kubah Biru itu ada tulisan kalimat Raden Saleh dalam Bahasa Jerman dan Bahasa Jawa, “Sembahlah Tuhanmu dan Cintailah Sesama Manusia.”






Article source: http://index.okezone.com/read/2013/01/30/339/754141/jadi-caleg-ppp-putri-panji-gumilang-masuk-dapil-indramayu


Jejak Raden Saleh di Leipzig

Thursday, December 27, 2012

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Jakarta : Hingga menjelang berakhirnya 2012, berbagai peristiwa kelam menodai Bumi Pertiwi. Bentrokan antarwarga kerap terjadi. Suku, agama, ras, jenis kelamin, organisasi massa, status ekonomi, sosial, dan bahasa menjadi pemicunya. Akankah persoalan ini tuntas dan tak akan terulang lagi pada 2013?

Pengamat sosial dan budaya Irfan Abu Bakar memprediksi hal itu masih mungkin terjadi. “Mungkin akan muncul di tempat lain, karena Indonesia ini kan luas. Yang nggak kebagian akan terjadi tergantung status sosialnya,” kata Irfan di Jakarta.

Kawasan yang rawan terjadi konflik, tutur dia, adalah daerah yang cenderung homogen dan relasi antara kelompok yang berbeda belum terbangun dengan baik. Termasuk yang rawan adalah daerah yang belum punya pengalaman untuk hidup berdampingan dengan kelompok berbeda. Hal ini berbeda dengan kawasan yang di dalamnya terdapat masyarakat individual, berpendidikan tinggi, dan kurangnya pengalamannya terhadap perbedaan. Di kawasan seperti ini akan jarang terjadi konflik sosial.

Irfan menilai langkah pemerintah menindak tegas pelanggar hak asasi manusia sejauh ini sudah benar. Tapi efektivitas tindakan pemerintah tersebut masih dipertanyakan. Tindakan penanganan hukum tidak dilakukan dalam upaya untuk menyelesaikan atau memperkecil tindakan serupa di masa yang akan datang, tapi biasanya muncul karena tekanan dari berbagai pihak, kemudian melakukan tindakan kepada pelakunya.

“Dalam hal ini, elite agama juga bertanggung jawab bagaimana caranya melindungi keyakinan umat tanpa harus menjatuhkan korban orang lain,” saran Irfan.

Berikut adalah kasus-kasus sosial yang mengiringi perjalanan 2012:

1. Waria

Kehadirannya selalu menuai kontroversi di masyarakat. Ada yang ektrem menolak, ada yang netral, ada pula yang menyambutnya. Akhirnya mereka pun seringkali menyingkir dan tersingkir dari kehidupan sosial masyarakat. Pada 3 Desember 2012, ormas FPI membubarkan secara paksa acara kontes kecantikan di antara sesama waria. Kontes yang bertajuk Miss Waria 2012 itu dituding tidak memiliki izin. Hal itu pun diiyakan Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Yossi Prihambodo. Yossi menyatakan kegiatan yang diadakan di Gedung Nyi Ageng Tirtayasa, Kuningan, Jakarta, itu tidak mendapatkan rekomendasi dari Pemda DKI. Akhirnya acara yang dihadiri 400 peserta itu pun bubar juga. FPI mendapatkan laporan dari warga sehari sebelum acara berlangsung. Tidak hanya di Ibukota, kejadian serupa terjadi pula di Tegal, Jawa Tengah.

Bintang Idol Dangdut, sebuah kontes menyanyi yang diadakan para waria di Dedy Jaya Plaza, Kota Tegal, harus berakhir karena dibubarkan ormas Majelis Talim Darunnadzir Al Barokah. Sama seperti Miss Waria 2012, kegiatan Paguyuban Waria Tegal dan Shinta Management ini akhirnya pun urung dilaksanakan. Meski kecewa, para waria itu tak dapat berbuat banyak.

Untuk menyuarakan aspirasi kaumnya, Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia (FKWI) Yulianus Rotteblaut (50) mencalonkan diri sebagai komisioner Komnas HAM pada 20 Januari 2012, namun tak lolos. Keinginan waria yang akrab disapa Mama Yulie ini mendapatkan restu dari puluhan rekannya di FKWI. Sosoknya hadir untuk memperjuangkan kaum-kaum marginal, seperti halnya kaum transgender. Calon komisioner Komnas HAM yang kandas dalam fit and proper test di DPR pada 2007 lalu ini menuntut hak atas kaumnya dihargai sebagai warga negara. Perjuangan serupa dilakukan Dede Oetomo dengan menjadi calon komisioner Komnas HAM. Namun aktivis gay dalam komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) serta pendiri komunitas GAYa Nusantara ini kandas juga di DPR pada Oktober 2012.

Meski demikian kehadiran kaum waria mendapat perhatian lebih dari Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lelaki yang akrab disapa Ahok ini mengingatkan waria pun makhluk ciptaan Tuhan yang harus diberikan hak dan mendapat tempat yang sama. Pria berkacamata ini pun mengimbau tegas penanganan penderita AIDS yang di antaranya adalah kaum waria. “Masak kalau ada keluarga kita seperti itu, apa mesti kita bunuh? Kita buang?” cetus Ahok. Tak salah memang jika pada Pilkada DKI Jakarta, kaum waria melalui Mama Yulie menyatakan dukungannya pada Joko Widodo alias Jokowi dan Ahok.

2. Konflik Beragama

Sulit Beribadah di ‘Rumah’ Sendiri. Majelis Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin mengalami kesulitan menjalankan ibadah. Mereka tak bisa masuk ke GKI Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat karena disegel dan digembok warga. Peristiwa itu terjadi sejak 2010 hingga 2012. Mereka sampai mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mendatangi Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada 12 Februari 2012 dan 11 Maret 2012. Para jemaat terus mendesak dan tak akan meninggalkan lokasi sampai mereka bisa beribadah di GKI Taman Yasmin. Apalagi mengingat mereka sudah mengantongi izin mendirikan gereja dari Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman.

Ahmadiyah, Terasing di Negeri Sendiri. Kekerasan juga dialami warga Ahmadiyah. Persoalan jemaah pengikut Mirza Ghulam Ahmad itu kembali mengemuka setelah kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada awal Februari 2011. Sejumlah ormas Islam pada 13 November 2012, kembali mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi melarang segala aktivitas keagamaan Ahmadiyah dan membubarkan aliran tersebut. Di Cianjur, Jabar, massa FPI bahkan mendatangi masjid Ahmadiyah dan mengusir seorang warga yang sedang salat di dalam tempat ibadah. Pada 26 Oktober 2012, puluhan orang dari FPI Bandung Raya merusak kaca Masjid An Nasir milik jemaah Ahmadiyah di Astana Anyar, Kota Bandung.

Perseteruan Panjang Sunni Versus Syiah. Tak kalah panas terjadi konflik Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Keributan dipicu penyerangan muslim Sunni terhadap warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Kasus ini berawal dari persoalan keluarga sejak 2004 antara Tajul Muluk dan Rois. Dari masalah pribadi kemudian menyebar di masyarakat luas.

Pertikaian pun berujung bentrok antarwarga yang terjadi pada 29 Agustus 2012. Insiden itu menewaskan dua orang dan lainnya cedera, serta belasan rumah dibakar. Korban meninggal adalah kakak beradik, Muhammad Khosim (45) dan Thohir (40). Usai kejadian itu banyak warga Syiah mengungsi dan menempati GOR Wijaya Kusuma sebanyak 276 orang. Majelis Ulama Indonesa (MUI) Kabupaten Sampang berencana menekan warga Syiah masuk Sunni jika ingin kembali ke Desa Karang Gayam. Ini mengingat masih ada 75 persen warga Syiah menolak masuk Sunni.

30 Jemaah Syiah di Sampang, sempat dipaksa menandatangani surat pernyataan pindah aliran dari Syiah ke Sunni. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya Andy Irfan Junaidi mengatakan, warga Syiah itu mendapat tekanan atau intimidasi untuk berpindah keyakinan atau akan dibakar rumahnya.

Dalam kasus ini Polri menetapkan Roisul Al Hukuma sebagai tersangka. Adik kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang itu mendekam di Polda Jawa Timur dan diadili di Pengadilan Negeri Surabaya. Rois dijerat pasal berlapis yakni, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 354 tentang penganiayaan berat, Pasal 170 tentang pengeroyokkan dan perusakan, serta Pasal 55 dan 56, yakni turut serta membantu melakukan kejahatan.

3. Konflik Horisontal

Pertikaian Berdarah di Mesuji. Kasus pertikaian berujung maut warga di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung sudah berlangsung lama, yaitu sejak 1996. Masalah yang sudah mengakar itu murni dipicu sengketa lahan warga dengan perusahaan. Anggota Komisi III DPR Azis Syamsuddin pun menilai sengketa tanah perkebunan kelapa sawit menjadi akar masalah utama kasus Mesuji, baik di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.

Sementara anggota DPR Zainun Ahmadi menganggap hingar-bingar pemberitaan kasus Mesuji, baik di Kabupaten OKI atau di wilayah Lampung, tak menyentuh akar permasalahan. Zainun berpendapat banyak kasus serupa di Tanah Air, tapi selalu berujung tidak pada akar masalahnya yaitu salah urus agraria dan sumber daya alam. Anggota Komisi II ini menyatakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lebih senang menganalisa kejanggalan dalam informasi yang disampaikan Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi kepada DPR.

Pada tahap awal, TGPF Mesuji menyodorkan enam butir rekomendasi kepada pemerintah untuk penuntasan insiden sengketa lahan antara perusahaan dan warga yang menewaskan sembilan orang. Rekomendasi disampaikan Ketua TGPF Mesuji Denny Indrayana, saat melaporkan hasil investigasinya kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto di Jakarta, 2 Januari 2012. Berikutnya TGPF Kasus Mesuji merampungkan hasil penyelidikan mereka terhadap bentrokan, baik di Mesuji Lampung dan Sumsel, 16 Januari 2012.

Saat awal terjadi kehebohan jumlah korban tewas berjumlah 30 orang. Belakangan Polri merilis kronologis dan data penyelidikan terkait kasus dugaan pembantaian di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan. Dari tiga peristiwa di Ogan Komering Ilir dan Lampung, Polri mencatat 9 orang meninggal dalam kurun waktu 2010-2011.

Kasus yang mengemuka di Mesuji antara lain masalah pengelolaan lahan milik adat di areal kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Register 45 Way Buaya. Kejadian di Talang Pelita Jaya, Desa Gunung Batu, Mesuji, Lampung mencuat sejak Februari 2006. Selanjutnya, kasus sengketa tanah lahan sawit seluas 1533 hektar (ha) antara warga Desa Sodong, Mesuji, Sumsel dengan PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang berakhir dengan tragedi pembantaian terhadap dua orang petani di tengah kebun sawit pada 21 April 2011.

Pada wilayah yang sama, sengketa tanah lahan sawit seluas 17.000 (ha) antara warga desa Sri Tanjung, Kagungan Dalam dan Nipah Kuning, Mesuji, Lampung dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) yang puncaknya berujung pada kematian Zaini pada 10 November 2011.

Tolak Harga BBM Naik Berujung Aksi Anarkis Warga. Keputusan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memicu gelombang protes warga di Jakarta dan daerah. Unjuk rasa mahasiswa berujung bentrok dengan aparat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, 29 Maret 2012 malam. Pengunjuk rasa memblokade Jalan Diponegoro, sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM. Pos polisi yang dirusak massa membuat situasi tak terkendali. Serangan batu dan botol pun dibalas tembakan gas air mata aparat.

Masih di Jakarta. Forum Masyarakat Miskin berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Selain berorasi, demonstran juga menggelar spanduk berisi penolakan. Setali tiga uang dengan protes warga di Bogor Jawa Barat. Ratusan warga SUTET atau saluran udara tegangan ekstratinggi sekabupaten Bogor ramai-ramai mengubur diri selama sekitar lima jam. Seorang di antaranya pingsan saat beraksi.

Sementara unjuk rasa anti kenaikan BBM berlangsung anarkis di Ternate, Maluku Utara. Bandara Baabullah diserbu, fasilitas keselamatan bandara tak luput dari amukan massa. Ratusan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara pun berunjuk rasa menolak kenaikan BBM bersubsidi. Mereka merusak mobil milik anggota DPRD Kabupaten Konawe Utara. Sedikitnya 25 mahasiswa diringkus dalam insiden itu. Kemudian seribu lebih mahasiswa di Pontianak, Kalimantan Barat yang berdemonstrasi menduduki halaman gedung DPRD Kalbar.

Sedihnya saat warga Jakarta berunjuk rasa menolak kenaikan, di daerah harga BBM malah sudah naik. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Wilayah Tengah Endang Kesumayadi mengatakan, survei Kadin terhadap 17 kabupaten di 4 provinsi yang berbatasan dengan negara, harga BBM bersubsidi di kawasan ini sudah naik jauh lebih tinggi dari Rp 1.000 per liter.

Pada akhirnya hasil rapat paripurna DPR disepakati untuk menunda rencana kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Dengan demikian harga BBM bersubsidi tidak jadi naik. Belakangan DPR membolehkan pemerintah menaikkan harga BBM tahun 2013 setelah RUU APBN 2013 disetujui menjadi UU.

Teror Berkepanjangan di Bumi Papua. Serangkaian penembakan masih terjadi di bumi Papua. Suasana ini mengusik ketenangan warga. Ini mengingat banyak korban tewas adalah warga, selain aparat kepolisian. Masih hangat terjadi teror tersebut dialami Beni Yamamo dan Piter Tumoka yang menumpang mobil Kepala Desa Nayaro, Papua. Beni cedera di dada kanan dan Piter terluka di kaki. Kendaraan mereka ditembaki orang tak dikenal (OTK) di Mile 37 area PT Freeport Indonesia. Atas kejadian itu, dua dari lima penumpang mobil terluka.

Anggota Brimob, Briptu Ronald yang sedang bertugas tewas ditembak orang tak dikenal. Kasus penembakan bermula saat Ronald bersama sembilan rekannya yang lain tengah berpatroli di Mile 37 Freeport, Papua, pada 7 Februari 2012 sekitar pukul 08.15 WIT.

Di kawasan areal Freeport juga mendapat teror. Seorang korban di antaranya Seperius Yamiru yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika. Seperius merupakan satu dari empat korban penembakan di areal PT Freeport. Tercatat penembakan di kawasan PT Freeport, sejak Juli 2009 hingga 9 Februari 2012 sedikitnya 15 orang tewas. Sedangkan 54 orang terluka.

Seorang wanita bernama Fredika Metal Neki misalnya. Perempuan berusia 38 tahun itu ditembak orang tak dikenal di kawasan Trans-Papua dekat Sungai Digul, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, 21 November 2012. Fredika tewas dengan bekas luka tembak di bagian pelipis kiri. Ketika itu, petugas menemukan Fredika dalam kondisi tak bernyawa. Dalam penyelidikannya Mabes Polri mendapati barang bukti peluru kaliber 4,5 mm, 1 selongsong peluru, tas, dan sandal yang diduga milik Fredika.

Korban lain yakni Pendeta Rika Metalmety. Sang pendeta yang bertugas selama sepuluh tahun di Gereja Betlehem, Boven Digoel ditemukan tewas di pinggir Jalan Trans Asiki, Merauke. Lokasi penemuan mayat berjarak sekitar 150 meter dari pos polisi Kalimak Boven Digoel. Diduga Pendeta Rika ditembak teman dekatnya yang merupakan seorang anggota TNI, 22 November 2012.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 27 November 2012 beberapa orang kelompok bersenjata menyerang Markas Kepolisian Pirime, Lany Jaya, Papua, 27 November 2012. Kapolsek Pirime Ipda Rolfi Takubesi, Briptu Daniel Makuker, dan Briptu Jefri Rumkorem tewas dalam insiden itu. Polda Papua menangkap tujuh penyerang Mapolsek Pirime. Seorang di antaranya, YW (40) diciduk saat polisi menyisir sekitar Pirime. Sementara enam lainnya dibekuk pada 29 November 2012 di Distrik Piramid, Kampung Muara Game, Kabupaten Jaya Wijaya. Mabes Polri memastikan para pelaku terkait jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

4. Perjuangan Hidup Pahlawan Devisa

Seringkali disebut sebagai pahlawan devisa, tak menjamin Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjalani hidup layaknya pejuang atau super hero yang tangguh. Mereka justru kerap dianggap sebagai pihak yang lemah dan menjadi korban penganiayaan. Di luar negeri sana, banyak dari TKI yang harus menelan pahitnya hidup di negeri orang. Tak digaji, dipukuli, diperkosa menjadi makanan mereka selama di perantauan. Itu yang sering diberitakan media tanah air.

Beredarnya selebaran iklan ‘TKI On Sale‘ pada Oktober lalu menjadi topik hangat menjelang akhir tahun 2012. Dalam iklan tersebut, TKI ditampilkan layaknya barang komoditi. Dengan deposit 3.500 ringgit, warga Malaysia yang tertarik dapat segera menikmati jasa TKI yang dibandrol dengan harga 7.500 ringgit dan diskon sebesar 40 persen.

Menanggapi berita ini, pihak konsuler KBRI di Malaysia pun melakukan penyelidikan terhadap penyebar iklan itu. Pelacakan dilakukan demi menelusuri alamat yang tercantum pada selebaran iklan yang tersebar. Namun, hanya ditemukan tempat cukur bernama Southern’s Guy di alamat yang tertera itu. Pada 1 November lalu, Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) meminta klarifikasi dan protes kepada pihak Malaysia terkait hal ini. Kecaman pun datang dari Kementerian Luar Negeri Malaysia. Mereka berjanji akan mengusut kasus yang diduga terdapat unsur human trafficking (perdagangan manusia) ini. Sementara ini, Kepolisian Malaysia sudah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Belum diketahui jelas siapa dan apa motif di balik pembuatan iklan ini. Di sisi lain, anggota dewan pun berusaha meningkatkan perlindungan kepada TKI dengan merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Berita miris pun datang dari Arab Saudi. TKI Satinah binti Jumadi yang berasal dari Jawa Tengah masih ketar-ketir menunggu kepastian hukuman matinya. Wanita berusia 40 tahun ini dituduh membunuh majikan perempuannya serta mencuri uang sebesar 37.970 Riyal Saudi (RS) pada 2009 lalu. Setelah proses panjang bertahun-tahun, pihak keluarga majikannya mau memaafkan Satinah. Dia bisa terhindar dari hukuman gantung jika membayar diyat sebesar 10 juta RS sebelum 14 Desember 2012. Angin segar berhembus pada pertengahan Desember. Meskipun pemerintah hampir kehabisan waktu menegosiasikan penurunan nominal diyat TKI Satinah, Arab Saudi memberikan kelonggaran 6 bulan untuk melunasi diyat itu. Selain Satinah, masih banyak TKI kita yang mengalami nasib serupa.

Kabar naas kembali datang dari Negeri Jiran. Seorang TKI wanita diperkosa 3 aparat polisi Diraja Malaysia. Kejadian bermula pada 9 November lalu saat TKI yang bernisial SM ini terjaring pemeriksaan dan hanya membawa fotokopi paspor. Alih-alih dibawa ke kantor polisi di Prai, Pulau Pinang untuk diproses, korban malah diperkosa. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib SM. Dia harus menahan malu saat media Malaysia ramai-ramai mengekspos identitas dirinya. Masyarakat Indonesia pun bertambah geram. Ketiga polisi pelaku aksi bejat itu tidak ditahan. Masing-masing hanya dikenakan denda sebesar 25 ribu ringgit dan wajib lapor sebulan sekali. Mereka pun diseret ke meja hijau. Setelah 12 Desember lalu persidangan urung digelar, hakim menjadwalkan sidang lanjutan pada 25 dan 26 Februari 2013 mendatang.

5. Pencuri Sandal Jepit dan Koruptor Kakap

Pencuri Sandal dan Koruptor dua kata tersebut sama-sama memiliki makna negatif, yakni sama-sama mencuri, mengambil hak orang lain tanpa seizin pemiliknya. Yang membedakannya adalah nilai atau kadar barang yang dicuri. Bila pencuri sandal jepit tentu hanya mendapatkan barang yang nilainya tidak lebih dari Rp 10.000, itu pun bekas pakai. Sedangkan, koruptor kakap mencuri uang negara dari rakyat yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta hingga triliunan rupiah. Keduanya layak dihukum dengan seadil-adilnya.

Namun hukum ternyata hanya masih tegas terhadap rakyat kecil. AAL, remaja berusia 15 tahun ini dibawa ke meja hijau karena dituduh mencuri sandal jepit di depan rumah kos Briptu Ahmad Rusdi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Anehnya, peristiwa yang terjadi sekitar November 2010 silam itu baru dibawa ke pengadilan oleh sang korban yang nota benenya aparat penegak hukum enam bulan kemudian, pada Mei 2011 lalu, AAL pun diancam hukuman 5 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum karena melanggar pasal 362 KUHP. Meski akhirnya tidak dimasukkan penjara dan dikembalikan kepada keluarga oleh majelis hakim namun AAL menyandung status terpidana karena dinyatakan bersalah. Persidangan kasus pencurian yang mendapat sorotan media dan publik ini pun menuai kecaman. Massa menganggap persidangan ini mengada-ngada. Publik marah dan kecewa karena hukum sangat digdaya dengan kasus pencurian yang melibatkan rakyat kecil ini terlebih melibatkan pelaku yang masih di bawah umur. Sejumlah LSM pun menggalang aksi dukungan bagi AAL dengan mengumpulkan “1.000 sandal untuk Kapolri”. Sedangkan pada kasus-kasus korupsi besar bernilai ratusan miliar hingga triliunan yang melibatkan pejabat publik hukum takluk tak berdaya.

Sebutlah kasus suap Rp 24 miliar terkait pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan terdakwa Miranda Swaray Goeltom yang melibatkan Nunun Nurbaetie. Nunun yang notabene istri mantan Wakapolri Adang Darojatun itu sempat buron berpelesiran ke luar negeri. Adang yang seharusnya menjadi panutan rakyat sebagai anggota DPR dari Fraksi PKS ini selalu berkilah istrinya sedang “sakit”. Nunun akhirnya bisa ditangkap KPK dan diseret ke pengadilan. Namun, panggung sandiwara hukum kembali ditampilkan. Nunun hanya dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. Nunun akhirnya hanya divonis 2,5 tahun dan denda Rp 150 juta subsidier 6 bulan. Putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta ini menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Kedua kasus tersebut sama-sama melibatkan unsur aparat hukum sebagai korban dan keluarga mantan petinggi polisi sebagai pelaku. Namun, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dan kepolisian masih saja pilih kasih dalam menegakkannya. Hukuman untuk Nunun jauh lebih kecil ketimbang AAL. Semoga tak terulang pada 2013 dan penegak hukum mendapat tempat di hati rakyat.

6. Bernafas dalam Lumpur Lapindo

Enam tahun lebih duka menyelimuti korban semburan lumpur panas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan ribu warga dipaksa meninggalkan permukiman, lahan pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan akibat tenggelam menjadi lautan lumpur. Selain kerugian harta benda dan matinya roda perekonomian rakyat, semburan ini juga mengakibatkan kerusakan alam dan ekosistem yang dahsyat di wilayah tersebut. Hingga kini semburan lumpur bercampur gas yang berasal dari lokasi pengeboran Lapindo Brantas Incorporation di Dusun Balongnongo – Desa Rekonongo, Kecamatan Porong itu masih terus keluar. Data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyebutkan semburan tersebut mengeluarkan lumpur setidaknya 10 ribu hingga 15 ribu kubik per hari. Berbagai upaya telah dilakukan membuat pemerintah untuk mengatasinya, namun bencana yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu tetap tidak bisa dikendalikan, apalagi dihentikan.

Persoalan ganti rugi warga yang terdampak semburan lumpur panas masih juga belum selesai. Lapindo dengan kekuatan partai politik besar di belakangnya bermain mata dengan kekuasaan dengan mengalihkan tanggung jawab kelalaiannya kepada negara, seraya menyebutnya sebagai bencana nasional. Negara pun dibebani pembayaran ganti rugi kepada rakyat Sidoarjo melalui APBN. Sebagaimana hasil ahli geologi dunia konferensi internasional American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan pada 2008 menyebutkan sebagian besar ahli 42 dari 58 ahli menyatakan adanya kesalahan pengeboran gas sebagai penyebab. Hanya tiga ahli yang menyebut sebagai bencana alam, ironisnya ketiga ahli tersebut berasal dari Indonesia.

Semburan lumpur Lapindo yang juga diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2007 lalu menemukan kesalahan teknis dalam proses pemboran sehingga mengakibatkan semburan lumpur dan gas berbahaya tersebut keluar. Upaya penegakan kasus tersebut secara pidana juga kandas. Kasus yang sudah menetapkan 13 tersangka dari Lapindo maupun subkontraktor itu akhirnya ditutup Kepolisian Daerah Jawa Timur. Polri melalui Wakil Kadiv Humas Anton Bachrul Alam yang sempat kritis kini malah bungkam seribu bahasa meski menjabat Kapolda Jawa Timur.

Persoalan ganti rugi korban Lapindo oleh negara melalui APBN digugat lembaga lingkungan hidup Walhi dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI juga kandas di Mahkamah Konstitusi awal Desember 2012. Menurut Walhi, gugatan ini bukanlah persoalan tidak peduli dengan nasib korban, melainkan ditunjukkan bagaimana negara bertindak tegas terhadap kejahatan korporasi yang merusak lingkungan serta seluruh sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat Sidoarjo. Kejahatan tersebut seharusnya ditindak tegas dengan menyita seluruh harta benda Lapindo dan jika perlu “pemiliknya”, bukan dibebankan kepada uang negara yang notabene dari kantong rakyat.

Namun pemerintah, DPR, dan institusi penegak hukum tak bertaring. Hingga menjelang penghujung 2012, lumpur panas Lapindo masih terus menyembur menenggelamkan Sidoarjo. Pembayaran ganti rugi pada korban pun tak kunjung tuntas. (Ais/Ndy/Adi)

Article source: http://www.voaindonesia.com/content/article/1522476.html


KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit