Showing posts sorted by relevance for query Kini. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Kini. Sort by date Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Bill Liddle: Saya Khawatir Golkar Semakin Kanan

R. William Liddle adalah Indonesianis asal Amerika yang dianggap berjasa melahirkan generasi baru political scientiest Indonesia. Beberapa tahun terakhir ada istilah Mafia Ohio, untuk menyebut kelompok pengamat atau politisi murid Bill Liddle, begitu ia biasa dipanggil, yang dianggap “menguasai” panggung ide politik Indonesia.

Lewat murid Liddle, terutama Saiful Mujani, Indonesia kini mengenal dan semakin akrab dengan ilmu yang mendekati politik dengan cara membaca prilaku masyarakat melalui jajak pendapat. Sebuah metode yang banyak dipakai di negara demokrasi maju seperti Eropa terutama Amerika.

Dia masih aktif pulang pergi Ohio-Jakarta, bicara dengan murid-muridnya: mulai dari Rizal Mallarangeng yang kini menjabat Ketua DPP Golkar, Saiful Mujani dan Eep Saefulloh Fatah yang kini memiliki kantor konsultan politik terkenal, hingga Dodi Ambardi yang memimpin lembaga riset politik.

Itulah yang antara lain membuat analisis pak Bill tentang Indonesia tetap menarik: karena dia mendapatkan sumber-sumber informasi dari pengamat dan pelaku utama politik Indonesia, yang dulu adalah murid-muridnya di The Ohio State University.

Bill Liddle awal tahun 2013 ini meluncurkan buku terbaru “Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan“.

Deutsche Welle mewawancarai Bill Liddle di tengah gempa politik terkait dugaan korupsi yang kini membelit para elit Partai Keadilan Sejahtera yang akhirnya membuat Presiden PKS ditangkap dan terpental dari jabatannya.

Deutsche Welle

Menurut anda apakah PKS masih punya prospek dalam pemilu tahun depan?

Bill Liddle

Saya kira prospeknya kini jauh berkurang. Tapi pemilu masih lama. Kalau merujuk pada politik Amerika, enam bulan adalah masa yang sangat panjang. Jadi kita lihat saja apakah masyarakat Indonesia akan lupa atau tidak. Meski PKS lebih terpukul karena mereka selama ini punya reputasi sebagai partai bersih. Ramalan saya pasti suara PKS berkurang tahun depan.

Deutsche Welle

Bagaimana kecenderungan suara partai Islam setelah kasus PKS?

Bill Liddle

Saya melihat bahwa partai Islam cenderung menurun suaranya dari Pemilu ke Pemilu. Kalau kita bandingkan Pemilu demokratis Indonesia pertama tahun 1955, ada sekitar 40 persen suara yang didapat partai Islam Masyumi dan NU, yang saat itu berkampanye bahwa jika mereka berkuasa, maka Indonesia akan menjadi negara Islam. Tapi kini? Pemilu 2009 lalu jumlah total suara partai Islam hanya 15 persen. Akibat kasus terakhir, suara PKS mungkin akan ada yang pindah ke PPP, tapi sebagian saya kira akan lari ke Golkar.

Deutsche Welle

Apakah anda melihat partai tengah seperti Golkar kini cenderung semakin kanan untuk menarik dukungan kelompok yang dulu memilih partai Islam?

Bill Liddle

Ya saya khawatir begitu. Ada kecenderungan partai tengah seperti Golkar sekarang semakin ke kanan. Saya khawatir Golkar menjadi ke-Islam-Islam-an (secara aspirasi politik-red). Itu lebih berbahaya, karena menyangkut perlindungan terhadap warga negara. Saya melihat di masa depan, kemungkinan kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah akan semakin terancam. Itu mengkhawatirkan karena mereka tidak mendapat perlindungan dari polisi serta sistem politik. Saya lebih khawatir soal itu ketimbang kemungkinan radikaliasi kelompok Islamis seperti PKS atau HTI (Hizbut Thahrir Indonesia-red)

Deutsche Welle

Apakah kecenderungan Golkar yang semakin Islami itu semakin menguat?

Bill Liddle

Anda harus ingat sejarah, dulu Golkar lebih populer di daerah daripada di Jawa, dan jangan lupa suara santri lebih banyak di luar Jawa. Lalu ketika terjadi perpecahan di partai Golkar tahun 1999, kelompok non santri seperti Edi Sudrajat hengkang, angkat kaki dari Golkar. Akibatnya, yang tinggal adalah orang seperti Akbar Tandjung yang punya jaringan santri (Akbar Tandjung dikenal sebagai tokoh HMI-red). Jadi Golkar sejak 1999 sudah menjadi lebih Islami ketimbang sebelumnya. Sudah lama saya menyaksikan partai besar seperti Golkar dan juga Demokrat, memposisikan diri untuk menampung aspirasi umat Islam. Bahkan ada pemimpin Golkar yang bilang kepada saya: kami ingin dianggap ramah terhadap Islam. Misalnya dalam Undang-Undang Anti Pornografi, Golkar mendukung undang-undang itu, dengan tujuan agar suara umat Islam masuk ke mereka.

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/06/mengukur-kekuatan-anas-urbaningrum-di-demokrat


Bill Liddle: Saya Khawatir Golkar Semakin Kanan

Friday, February 1, 2013

Ihsan Ali Fauzi: Jangan Silau oleh Klaim Agama

Banyak orang terkejut saat Komisi Pemberantasan Korupsi KPK menangkap Presiden Partai Keadilan Sejahtera PKS Luthfi Hasan Ishaaq atas tuduhan menerima suap. Luthfi yang kini telah mengundurkan diri dari jabatan Presiden PKS ditangkap KPK bersama sejumlah anggota PKS lainnya.

Kasus ini menarik karena PKS banyak dipandang sebagai salah satu benteng terakhir aspirasi Islam dalam panggung politik di Indonesia.

Politik dan agama adalah isu yang tak ada habisnya dibicarakan para sarjana. Apalagi di masa ketika Islam politik sedang bangkit di banyak belahan dunia. Kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, atau berkuasanya partai Islam Al-Nahda di Tunisia disebut sebagai tanda menguatnya politik Islam.

Pertanyaan klasik yang muncul: apakah agama akan membuat politik menjadi lebih baik?

Ihsan Ali Fauzi adalah intelektual muslim yang menjabat Direktur Yayasan Paramadina.“Jangan silau oleh klaim partai agama,” kata Ihsan Ali Fauzi kepada Deutsche Welle.

Deutsche Welle

Bagaimana anda melihat kasus yang kini menimpa PKS?

Ihsan Ali Fauzi

Ini menunjukkan bahwa korupsi bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada politisi yang mengklaim atas nama agama. Biasanya kan politisi yang mengklaim atas nama agama tertentu itu dianggap suci dsb. Tapi sebenarnya kita tahu, bahwa faktanya, norma agama tidak bisa berpengaruh seperti yang kita duga sebelumnya.

Deutsche Welle

Apakah kasus serupa juga terjadi di negara lain?

Ihsan Ali Fauzi

Misalanya Jerussalem Post yang menurunkan laporan bahwa ada sebuah lembaga agama yang cukup besar di Israel kini sedang dililit kasus korupsi. Kini ada banyak aktivis anti korupsi Israel yang mendesak agar lembaga-lembaga agama diperiksa karena seringkali mereka dianggap kebal dari tuduhan korupsi. Kita juga tahu bahwa indeks persepsi korupsi yang paling tinggi ada di negara-negara yang tingkat keber-agama-annya tinggi: Nigeria, Mali, Indonesia, Pakistan atau India. Bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Departemen Agama di Indonesia dianggap yang paling parah tingkat korupsinya. Belakangan kita juga tahu bahwa KPK kini sedang menangani kasus dugaan korupsi pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama.

Deutsche Welle

Banyak yang meyakini bahwa memasukkan agama ke dalam politik akan membuat politik menjadi lebih bersih. Apakah anda setuju?

Ihsan Ali Fauzi

Tak ada riset yang menunjukkan bahwa semakin banyak agamawan masuk ke dalam politik akan membuat politik lebih bersih. Berbagai riset menunjukkan bahwa korupsi jika sudah menjadi sistemik atau budaya, akan menimbulkan aksi kolektif. Artinya orang akan merasa bahwa kalau tidak korupsi maka dia akan rugi: kalau orang lain korupsi kenapa saya tidak? Di tengah situasi seperti itu, norma-norma agama yang mengajarkan kepatutan dan kejujuran tidak bisa menembus sistem atau budaya korup yang telah berakar kuat.

Deutsche Welle

Apa yang bisa dipelajari masyarakat Indonesia dari kasus yang kini menimpa PKS?

Ihsan Ali Fauzi

Perlakukan orang seperti orang biasa. Jangan silau oleh klaim karena saya berasal dari partai agama, maka saya akan lebih bersih atau lebih suci.

Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/27/167484/Unjuk-Rasa-Mahasiswa-di-Pandeglang-Ricuh/6


Ihsan Ali Fauzi: Jangan Silau oleh Klaim Agama

Monday, January 20, 2014

Islam Berkembang di Alabama

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Minat masyarakat untuk menghormati dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi.


Sejak peristiwa bom 9/11 yang masih membekas bagi warga dunia, tak ada yang mengira bahwa jumlah Muslim di Amerika justru mengalami pertumbuhan.


Di sebuah kota bernama Tuscaloosa, yang masuk wilayah negara bagian Alabama, ada sebuah masjid yang masih aktif dan dipenuhi jamaah. Di sini, ketakutan warga Amerika kepada Islam semakin memudar.


Dari laman AL.com, masjid yang berada di Islamic Center Tuscaloosa itu menjadi tempat umat Islam melakukan berbagai aktivitas.


Di sini tergambar bagaimana harmonisnya hubungan umat Islam yang selalu diterima oleh masyarakat dan bisa bersosialisasi dengan lancar.


Ketua Tuscaloosa Islam Society Muhammad Sharif mengatakan, memang dulu peristiwa 11 September membuat warga menjadi cemas, takut, dan kesal dengan orang Muslim.


“Namun ternyata, kami menemukan banyak orang meninggalkan bunga di pintu kami dan memperlakukan kami dengan lebih baik. Tak semua orang membenci orang Muslim. Kami sangat menghargai hal ini dan berharap semoga keadaan bisa kembali normal seperti dulu lagi,” ujarnya.


Menurutnya, kini justru lebih banyak yang datang mencarinya untuk mendapatkan informasi tentang konsep Islam yang sebenarnya. Mereka ingin mendengar dari mulut orang Islam sendiri bahwa terorisme yang dilakukan pada peristiwa 11 September tersebut bukanlah bagian dari tuntunan Islam.


Hubungan antara Islam dan agama lain, misalnya Kristen pun, semakin membaik. Mereka sering melakukan kerja sama dan membentuk kelompok untuk kegiatan amal dan kemanusiaan. Persahabatan antara Muslim dan masyarakat lainnya juga semakin terjalin dengan eratnya.


Salah satu penduduk Muslim Alabama, Mirza Beg (68 tahun), percaya masyarakat di Tuscaloosa kini semakin terbuka pada Islam.


Ahli geologi di Geological Survey of Alabama ini sering mendapatkan pertanyaan dari kawan-kawannya yang Kristen tentang apa yang ia percaya selama ini. “Kini semakin banyak kawan saya yang ingin tahu apa itu Islam,” katanya.


Sejak 1992, terjadi peningkatan jumlah Muslim hingga berkali-kali lipat. Paling tidak ada 1,7 juta Muslim yang merupakan warga pendatang dari luar Amerika.


Berdasarkan survei yang dilakukan Pew Research Center of Asia Amerika, jumlah kaum Muslim di seluruh Amerika terus bertambah hingga kini mencapai tujuh juta. Persentase umat Islam meningkat dari lima persen pada 1992 menjadi 10 persen pada 2012.


Meski jumlahnya sedikit namun masih ada masyarakat Amerika yang dengan teguh pada pendirian Islamnya.


Dengan jumlahnya yang sedikit itu mereka menjaga eksistensi mereka dan tak kenal lelah menyebarkan informasi yang sebenarnya mengenai Islam.


Kita bisa melihatnya pada komunitas Muslim yang tinggal di Alabama yang merupakan negara bagian Amerika Serikat yang terletak di bagian tenggara. Sebelah selatannya, langsung berbatasan dengan Teluk Meksiko.


Alabama merupakan daerah pertanian. Dulu, daerah ini dikenal sebagai penghasil kapas terbesar di Amerika.


Namun, kini bukan hanya kapas yang menjadi andalan, melainkan berbagai hasil pertanian lain juga peternakan menjadi denyut nadi wilayah itu. Ada pula beberapa kota yang ramai di Alabama.


10 Masjid


Alabama beribu kota di Montgomery. Sedangkan, kota terbesar di wilayah ini adalah Huntsville dan kota berpenduduk terpadat adalah Birmingham.


Ada juga kota-kota lain yang masuk dalam wilayah tersebut, di antaranya kota tua Mobile yang didirikan oleh koloni Perancis, Tuscaloosa, Selma, dan banyak lagi kota lainnya.


Di seluruh negara bagian Alabama ada sekitar 10 masjid yang melayani kebutuhan ibadah umat Islam. Jumlah ini termasuk banyak.


Di Birmingham kita bisa menemukan empat masjid, yaitu Al Masjidul Al Ka’bah, Masjid As Sabiqqon, Masjid Alquran, dan Masjid Birmingham Islamic Society. Sedangkan, di Ibu Kota Alabama, Montgomery, terdapat sebuah masjid yang diberi nama Masjid Qasim Bilal El Amin.


Selain itu, di Kota Mobile ada tiga masjid utama, yaitu Masjid Baitul Haqq, Masjid Al Islam, dan sebuah Islamic center. Masih ada tiga Islamic center lainnya, lengkap dengan masjid besar dan berbagai kegiatan aktifnya, yang selalu mengisi kehidupan religius umat Islam di sana. Tiga Islamic center tersebut berada di Kota Tuscaloosa, Huntsville, dan Selma.


Belum ada survei tentang berapa jumlah pasti penduduk Muslim di sana. Namun, minat masyarakat untuk menghargai, menghormati, dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi. Beberapa sekolah Islam pun berdiri di tempat tersebut. Salah satunya Alabama Islamic School.


Di perguruan tinggi, tepatnya di University of South Alabama, terdapat pula komunitas mahasiswa Muslim. Dari laman resminya, Asosiasi Mahasiswa Muslim di Universitas South Alabama mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah organisasi independen yang didedikasikan untuk menyediakan komunitas bagi anggota universitas yang ingin mendapatkan informasi dan gambaran yang akurat tentang apa itu Islam yang sebenarnya, juga tujuannya.


“Dalam dunia di mana informasi hampir tak terbatas, sangat penting jika kita memperoleh informasi tentang agama lain dari sumber yang tepercaya dan representatif,” tulis laman tersebut.


Itu sebabnya komunitas ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang ajaran Islam sesuai konteks aslinya.


“Misi kami adalah untuk menyampaikan informasi yang akurat tentang Islam, menjelaskan prinsip-prinsip Islam, dan menjawab berbagai pertanyaan dengan harapan bisa menciptakan pemahaman dan menghilangkan segala kesalahpahaman tentang keyakinan kita,” tulisnya.


Jika masyarakat luar telah memahami Islam secara benar, harapan selanjutnya adalah bagaimana agar bisa tercipta keharmonisan hubungan dengan masyarakat secara damai meski berbeda agama atau ideologi.


Selain itu, komunitas ini juga banyak menggelar kegiatan yang melibatkan Muslim maupun mahasiswa non-Muslim.


Di antaranya, makan malam bersama dalam peringatan hari besar Islam, berbagai diskusi informal, informasi berbagai beasiswa dan lomba akademik, serta banyak acara lainnya.


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/21/perlu-perda-wajib-madrasah-diniah-360611


Islam Berkembang di Alabama

Tuesday, July 16, 2013

Mesir dan pergolakan politik Islam

KARIM RASLAN



MENJATUHKAN kerajaan dipilih secara sah sememangnya satu rampasan kuasa – tidak kira kita melihat kejadian ini dari sudut mana sekalipun. Mengamalkan demokrasi bermakna menerima apa jua keputusan tidak kira baik atau buruk.



Penggulingan Presiden Mursi di Mesir dan tindakan ganas ke atas Muslim Brotherhood hanya akan membawa kepada tragedi lebih buruk. Penyokong liberal sekular pasti menyesal dengan tindakan awal mereka untuk menjatuhkan Mursi kerana kini, kebenaran, kepercayaan awam dan undang-undang hancur kerana situasi di Kaherah.



Mereka yang anggap politik Islam perlu dikekang dengan apa cara sekalipun – sama ada mengikut undang-undang atau sebaliknya – salah sama sekali. Apabila kita bersetuju untuk melaksanakan demokrasi melalui peti undi, kita tidak boleh berpaling arah sewenang-wenangnya apabila keputusannya tidak menyebelahi kita.



Jalan pintas politik hanya akan membawa kepada penyelesaian jangka pendek yang tidak mampan, seterusnya membawa kepada kezaliman lebih serius.



Mungkinkah perkara berlaku di Algeria pada 1990 ketika pihak tentera menafikan kemenangan jelas melalui pilihan raya dan memenjarakan serta membunuh beribu-ribu orang, bakal berlaku di Mesir?



Pada masa sama, banyak parti Islam di seluruh dunia – pewaris konsep Ikhwanul-Muslimin di Mesir – akan merasakan bahawa demokrasi sememangnya bukan untuk mereka walaupun mempunyai sokongan besar untuk memenangi pilihan raya.



Malah, parti-parti Islam ini makin yakin bayang-bayang pengaruh Amerika, Eropah, puak liberal, pembiaya kewangan dan kuasa Yahudi global akan terus campur tangan bagi merampas kuasa.  Parti Islam melihat diri mereka sebagai mangsa situasi. Walaupun mungkin mendapat simpati pengundi, ini juga membuat pemimpin parti-parti ini berasa mereka tidak perlu perbaiki diri dari aspek rasuah, salah tadbir dan sifat eksklusif.



Sememangnya kerajaan Mursi dilanda pelbagai kegagalan. Ramai meletakkan harapan tinggi pada beliau ketika diundi masuk pada Jun 2012. Beliau dijangkakan mampu untuk menonjolkan imej moderat bagi Mesir setelah berdekad-dekad di bawah pemerintahan autokratik, Presiden Hosni Mubarak.



Malangnya, ini tidak menjadi kenyataan. Mursi gagal dengan teruk: ekonomi Mesir tidak berkembang dan saham di bursa saham jatuh 31.2 peratus untuk lima bulan pertama tahun ini. Defisit bajet negara kini mencecah USD29.2 bilion (RM93.10 bilion) dan statistik rasmi menunjukkan pengangguran berada pada 12.5 peratus.



Pada masa sama, Mursi meminggirkan komuniti sekular dan liberal. Golongan moderat dan Kristian Koptik cukup kecewa hingga mereka memulaukan proses perangkaan perlembagaan pada Disember 2012 – yang dikritik kerana tidak melindungi kebebasan beragama dan hak wanita – diakibatkan kegagalan kerajaan Mursi untuk berunding.



Sementara itu, politik Islam cenderung mengalami kekecewaan termasuk di Asia Tenggara sendiri. Di Indonesia, Parti Keadilan Sejahtera (PKS) kini dilanda pelbagai krisis apabila beberapa skandal timbul dan merosakkan imej suci dan anti-rasuah mereka.



Malah di Malaysia sendiri, Pas kini perlu merenung dan bermuhasabah diri setelah keputusan yang kurang memberangsangkan pada Pilihan Raya Umum 2013 – di mana mereka hilang kuasa di Kedah.



Rampasan kuasa di Mesir hanya akan memperkuat lagi prasangka parti-parti ini bahawa mereka perlu berwaspada dengan demokrasi. Kesimpulan ini mungkin ada logiknya tetapi tidaklah sempurna kerana hampir kesemua kegagalan mereka tidak mempunyai kaitan dengan demokrasi. Sebaliknya, ia disebabkan pentadbiran yang lemah, rasuah dan kegagalan untuk memahami pentingnya pendekatan yang inklusif dan seimbang.



Malangnya, dengan jatuhnya Mursi, konspirasi ini akan terus merebak. Rundingan dan kesepakatan merupakan aspek kritikal dalam pentadbiran yang baik.



Seorang lagi ikon politik Islam, Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki (yang kini sedang menangani protes di negaranya) pernah menyangkal pendapat bahawa demokrasi adalah seperti sebuah bas yang akan kita tinggalkan setelah tiba di destinasi.



Mungkin bas yang dimaksudkan Erdogan bakal terbabas dan mencederakan semua penumpang di dalamnya, daripada puak liberal kepada tentera dan golongan Islamis dek kerana tuduhan demi tuduhan terus dilemparkan.


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=284672:artis-berprestasi-diincar-ppp&catid=17:politik&Itemid=30


Mesir dan pergolakan politik Islam

Tuesday, March 5, 2013

VIDEO: Diego Michiels Kini Lebih Religius

VIDEO: Diego Michiels Kini Lebih Religius

Liputan6.com, Jakarta : Kasus yang menjerat Diego Michiels gara-gara ribut dengan Mef Paripurna di Domain Cafe beberapa waktu lalu, ternyata memberi pelajaran penting untuk Diego. Pesepakbola yang merupakan kekasih artis Nikita Willy itu kini lebih religius.

Pesepakbola berdarah Belanda yang baru menjadi mualaf itu bahkan menyempatkan diri untuk salat di sela-sela persidangan kasusnya. Diego tampak serius mendalami agama Islam yang baru dipeluknya itu.

Diego pun mengaku kapok mendatangi tempat dugem (dunia gemerlap). “No. No more party,” ceplos kekasih Nikita Willy itu usai menjalani sidang di PN Jakarta Pusat (4/3/2013) kemarin. Ia kini fokus menghadapi hari pembacaan putusan oleh hakim. Diego optimisitis dirinya tak bersalah.

Tapi ia juga bersiap dengan kemungkinan terburuk bila hakim menyatakan dirinya harus menjalani hukuman. “Saya nggak merasa bersalah apa-apa. Tapi di Indonesia kita nggak pernah tahu seperti apa nanti. Setiap hari saya di dalam tahanan, jadi kalau hakim katakan enam bulan, ya sudah jalani saja,” ungkap bek timnas Indonesia ini.

Rencananya, nasib Diego akan diputus majelis hakim PN Jakarta Pusat, pada Kamis (7/3/2013) mendatang.(Waswas/FEI/ANS)

Article source: http://entertainment.kompas.com/read/2013/02/23/23313455/Ringgo.Agus.Rahman.Bingung.Ben.Affleck.Tidak.Masuk.Nominasi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


VIDEO: Diego Michiels Kini Lebih Religius

Tuesday, July 23, 2013

Jalan Islam Sam Brodie




VIVAlife-Lelaki itu dulu kerap tampil di layar televisi sebagai perempuan. Namanya mencuat sejak tampil di acara reality show ‘Living the Dream’ dan ‘Big Brother 7 UK’. Dia kelahiran Medan, 14 Maret 1987. Dia adalah Samuel David Alexander Brodie, akrab disapa sebagai Sam Brodie.
 
Sejak umur 12 tahun, Sam mengubah penampilannya dari lelaki menjadi perempuan. Rambutnya panjang, wajahnya cantik dipoles make up, dan jemarinya lentik terawat. Meski dikecam keluarga, tapi penampilannya itu justru membuatnya moncer menjadi artis.


Di Inggris, dia meraih banyak prestasi, antara lain Nicest Big Brother Housemate Award dari BBLB Channel 4  pada 2010. Dia kerap muncul di majalah, surat kabar, stasiun radio, dan sejumlah program televisi lainnya.


Rezekinya pun yahud. Sam getol berbisnis dengan menjual DVD, dan lagu-lagu single. Dia juga rajin menulis sebagai kolumnis. Sekali tampil di iklan TV, dia dibayar sekitar 100.000 Poundsterling. Sebagai model ia juga teken  kontrak dengan Burberry. Terakhir penghasilan Sam tercatat US$4,6 juta.


Tapi, sukses sebagai pesohor di negara makmur rupanya tak membuat Sam bahagia. Ia tetap seorang lelaki yang menyaru perempuan. Itu membuatnya tak tenang. Akhirnya Sam buka rahasia. Kepada publik, ia mengaku sejatinya ia adalah seorang pria.
 
Kejujuran itu malah kian melambungkan namanya. Sam makin terkenal. Tapi batinnya tambah meradang. Ia sungguh ingin kembali menjadi lelaki. Dalam keadaan galau itu dia rajin membaca kitab suci. Dan, sejumlah ayat Al-Quran membuatnya tersentak.


Saat ditemui di ANTV, Gedung Epicentrum kawasan Jakarta Selatan, Sam bercerita panjang lebar soal perjalanan spiritualnya.


Pada suatu hari, Sam yang masih tampil sebagai perempuan itu membaca salah satu ayat Al Quran. Isi terjemahan dalam kitab itu mengungkapkan larangan pria berpenampilan seperti wanita dan sebaliknya. Itu membuatnya menangis.


“Ada bisikan seperti mengatakan pada saya, hidup yang saya jalani selama ini penuh dosa”, ujarnya.


Dia mengatakan kitab suci umat Islam itu memberinya petunjuk bahwa sekarang waktunya dia harus berubah. Kembali ke jati dirinya sebagai laki-laki diakuinya tidak mudah. Selama satu dekade dia tampil sebagai perempuan.  Dalam keseharian, ia juga hidup layaknya sebagai perempuan.
 
Tapi keputusan Sam telah mantap. Ia tak lagi berdandan sebagai wanita. Risikonya jelas ada. Ia harus meninggalkan gemerlap, dan renyahnya dunia hiburan di Inggris, negeri yang memberinya kelimpahan materi dan ketenaran.


Keputusan itu rupanya memberikannya hikmah yang lain. Keluarga yang dulu menjauhinya, kini kembali menerima Sam. Keputusan besar lain yang diambil Sam adalah pulang ke Indonesia, dan menetap di tanah air untuk seterusnya.


Terinspirasi Maia Estianty


Sam pergi ke Inggris setelah dia lulus dari Jakarta International School (JIS), dan melanjutkan pendidikan ke Greenwood Academy di Dreghorn. Pada 2008, Sam pulang kembali ke Indonesia.
 
Dia berkisah, sebelum ikut dalam acara Big Brother di televisi Inggris, dia bukanlah siapa-siapa. Ia bahkan sempat menjadi pembantu hingga karyawan sebuah kafe.


Banyak sejarah pahit dalam hidupnya. Dia, misalnya, pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil. Dia juga pernah ditelantarkan keluarganya hingga hidup di sebuah panti asuhan di Inggris.
 
Sejak kembali ke tanah air, Sam memutuskan tampil sebagai manusia baru. Dia total meninggalkan atribut keperempuanannya itu. Ia menumbuhkan kumis, dan merawat jenggotnya.
 
Di Indonesia,  Sam mulai menjajal dunia tarik suara di bawah manajemen Ahmad Dani. Dari situ ia bertemu Maia Estianty, yang kini menjadi mantan istri Dhani.


Bertemu Maia, Sam seperti menemukan guru. Rasa penasarannya tentang isi Al Quran dan Islam, sering pula ia curahkan pada Maia. “Awalnya setiap hari aku datang ke rumah Bunda Maia. Setiap kali aku ke sana, aku tanya soal Islam,” katanya.


Tapi Maia merasa dia sendiri masih belajar, dan belum sempurna menjadi muslim. Akhirnya, Maia memberikan Sam sebuah kitab suci. “Bunda bilang, kamu mending baca Al Quran saja,” ujarnya.


Tak berhenti di situ, Sam makin penasaran pada Islam.  “Setiap kali aku datang ke rumah Bunda, aku tanya terus. Tapi bunda Maia bilang, dia bukan guru agama, jadi saya disuruh belajar Islam pada guru agama,” ceritanya.


Dari situ, Sam pun memperdalam agama Islam, dengan guru agama. Diakui Sam, Maia memang memberinya ilham untuk memeluk Islam. “Tapi sekarang, karena kesibukan masing-masing, kami sudah jarang bertemu,” tuturnya.


Menjadi muslim


Setelah melewati proses pencarian selama 18 bulan, Sam akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim di tahun 2010.  Dia tertarik pada Islam lantaran ia melihat adanya kebersamaan. Sam merasa punya keluarga besar, ketika ia melihat para muslim merayakan Lebaran, dan juga saat menajalankan ibadah puasa.


“Maklum, 14 tahun saya hidup sendiri, kesepian jauh dari keluarga. Saat saya ke Bandung saya merasakan suasana Lebaran, begitu indah.”


Saat buka puasa, katanya, juga begitu. Ada sesuatu yang menarik untuknya. Ia melihat kebersamaan dalam Islam. Setelah memeluk Islam, lelaki keturunan Skotlandia itu dihujani  banyak pertanyaan, misalnya kenapa memilih agama itu, dan sebagainya.
 
Tapi Sam menjawabnya santai. Bagi dia, agama seperti handphone dengan fitur dan aplikasi yang selalu up to date.  “Jadi sama seperti Islam, kenapa saya memilih Islam, karena Al Quran itu paling up to date.”


Menjadi muslim, bagi Sam, punya banyak tantangan.  Saat itu, timbul pro dan kontra di keluarganya. “Untuk yang bukan dari agama Islam, mereka berpikir saya memilih agama yang salah.”


Tapi Sam justru semakin yakin, bahwa  tidak ada agama yang salah. Kepercayaan itu, kata Sam, sangat personal. “Bagi saya, ya Islam itu agama itu paling benar,” ujarnya. Ia kini mengganti namanya menjadi Muhammad Sam.


Dia juga tak menyesal dengan pengalaman hidupnya yang pernah kelam. Justru karena itulah ia bisa menemukan hidayah.  “Bagi saya, lebih baik punya pengalaman hidup yang buruk dan penuh kontroversi. Sekarang saya bisa menghargai segala sesuatu yang sudah pernah saya alami. “


Belajar ikhlas


Menjadi muslim, Sam lalu giat belajar tentang Islam. Awalnya, ia sulit menjalankan ibadah shalat lima waktu. Di masjid atau musholla, ia sering bingung.
“Saya selalu lihat kanan dan kiri, karena belum  mengerti adat-adatnya bagaimana. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah lancar shalat.”


Ia mulai dari nol, seperti anak TK yang belajar mengaji. “Aku juga belajar Iqra,” ujarnya. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari mereka yang sejak lahir sudah menjadi muslim. Ia juga belajar tentang makna ikhlas, sikap menerima karena ketakwaan. Sikap ikhlas, kata dia, sangat penting dalam segala hal.  Baginya, butuh waktu sangat lama untuk bisa bersikap ikhlas.
 
Kini Sam telah menemukan pendamping hidup. Ia menikah dengan sahabatnya, Indry, seorang wanita Indonesia. Mereka kini punya seorang putri yang lucu, Kimmy Caitlyn Malika, lahir 2011.
 
Sam juga makin mantap ingin berkiprah di tanah air. “Saya orang Indonesia, saya ingin maju di sini,” kata pria yang mengaku dekat dengan sosialita Paris Hilton.


Sewaktu hijrah ke Indonesia, semua penghasilannya selama di London ia titipkan pada notaris di sana. Di Jakarta, dia kini bekerja di perusahaan multinasional. Ia juga menolak sejumlah tawaran kerja di luar negeri, karena ingin berkarir di tanah air.


Dan Sam memang tak bisa jauh dari dunia televisi.


Saat ini, dalam momen Ramadan, dia mengisi acara sahur sebulan penuh untuk program Pesbukers di ANTV.  “Saat Lebaran aku juga ada acara syuting film layar lebar, dan ada jadwal tiga program FTV. Semua acara itu saya anggap rezeki,” ujar Sam.


Article source: http://ramadan.detik.com/read/2013/07/23/074216/2310922/631/yarlina-haliwah-alhamdulillah-orangtuaku-ikhlas-aku-masuk-islam?992204cbr


Jalan Islam Sam Brodie

Saturday, October 19, 2013

Menilai tragedi di tanah Arab

HAMPIR setiap hari sejak beberapa tahun lalu, kita akan melihat dan mendengar berita sedih tentang konflik di Syria dan Mesir. Apa yang berlaku di kedua-dua buah negara ada kaitannya dengan beberapa peristiwa penting sebelum ini khususnya 40 tahun dahulu. Pada 6 Oktober 2013, genaplah 40 tahun terjadinya Perang Arab-Israel 1973 (PAI 73) atau Perang Ramadan atau juga dikenali sebagai Perang Yom Kippur. Perang tersebut bermula dalam bulan Ramadan dan hari yang sama adalah Hari Yom Kippur iaitu hari mulia kaum Yahudi ketika mereka sedang bercuti meraikannya.


Rencana ini bukanlah bertujuan untuk membincangkan strategi ketenteraan semata-mata, namun sebagai perkongsian maklumat sejarah kepada generasi muda mengenai kekacauan di rantau Arab yang tidak berkesudahan sehingga ke hari ini. Berlakunya PAI 73 adalah rentetan daripada Perang Arab Israel Ke-3 pada tahun 1967 yang mana Israel telah merampas Gaza, Bukit Golan, Tebing Barat (Baitulmaqdis) dan Semenanjung Sinai daripada negara-negara Islam. Presiden Mesir ketika PAI 73 ialah Anwar Sadat, Syria dipimpin oleh Hafez Assad dan Perdana Menteri Israel adalah Puan Golda Meir.


Manakala Menteri Pertahanan Israel yang hampir-hampir dimalukan ketika PAI 73 adalah Moshe Dayan yang juga digelar “si mata satu”. Banyak buku dan sumber mengenai perang ini ditulis oleh sarjana Barat yang cenderung untuk memperlihatkan tentera Islam lemah, tidak bersatu dan mudah dikalahkan. Adakah dahulu negara-negara Arab semuanya lemah? Atau hanya mainan persepsi Barat seperti apa yang berlaku hari ini.


Pada petang bulan Ramadan 6 Oktober 1973, Tentera Udara Mesir mula membuat serangan udara diikuti serangan meriam artileri darat bertalu-talu dari seberang Terusan Suez ke arah Semenanjung Sinai yang ditakluki Israel. Setelah 15 minit, barulah askar infantri dan komando Mesir menyeberangi Terusan Suez dengan diiringi laungan takbir oleh beberapa askar yang membawa pembesar suara. Mesir mempunyai kekuatan kereta kebal sebanyak 2,200 buah, Syria 1,650 buah dan Israel 2,100 buah. Imbangan pesawat pejuang pula didahului oleh Mesir sebanyak 400 buah, Israel 359 buah dan Syria 280 buah.


Antara negara-negara Islam yang serius membantu Mesir berperang ialah Iraq, Tunisia dan Libya. Iraq menghantar satu skuadron jet pejuang Hawker Hunter buatan British khusus untuk memusnahkan kereta-kereta kebal Israel. Tunisia menempatkan 900 askar infantrinya bagi mempertahankan Port Said dan Libya sejak sebelum PAI 73 meletus lagi membantu pertahanan Mesir dengan kekuatan satu briged kereta kebal dan dua skuadron jet pejuang Mirage V buatan Perancis. Iraq turut membantu Syria dalam perang ini dengan menghantar 30 ribu tentera darat yang dilengkapi 500 buah kereta kebal dan 700 buah kenderaan berperisai.


Senjata rahsia


James R. Schlesinger, Setiausaha Pertahanan A.S. ketika itu mengakui perancangan teliti dan strategi cemerlang Mesir serta Syria. Cuba kita renungkan apakah nasib negara-negara yang membantu Mesir dan Syria (40 tahun dahulu) iaitu Iraq, Tunisia dan Libya selepas berlakunya Arab Spring? Adakah dendam lama ini berkaitan dengan pihak-pihak tertentu yang menghasut rakyat negara-negara tersebut sebelum Mesir dan Syria pula hendak dihancurkan?


Setelah diserang secara mengejut dan bertubi-tubi oleh Mesir dan Syria, Israel pada 9 Oktober 1973 mengugut AS bahawa mereka akan menggunakan senjata rahsia simpanan Israel iaitu bom nuklear, jika tidak menerima bantuan ketenteraan daripada negara Uncle Sam itu. Presiden Nixon yang bimbang akan campur tangan Kesatuan Soviet di rantau Arab akhirnya melancarkan Operasi Nickel Grass untuk menghantar beberapa buah kereta kebal, pesawat pejuang dan lain-lain peralatan pertahanan kepada Israel.


Selain bantuan kelengkapan serta peluru berpandu, AS turut menerbangkan pesawat pengintip strategik jarak jauhnya, SR-71 bagi memantau pergerakan tentera darat dan udara Mesir. Hasil daripada bantuan A.S. inilah Israel pada 14 Oktober 1973 telah berjaya menyusup masuk ke Mesir dengan menyeberangi Terusan Suez menuju ke Kaherah. Henry Kissinger, Setiausaha Luar AS turut mencadangkan kepada Israel agar mara menyerang ibu kota Syria, Damascus. Mungkinkah sejarah akan berulang kembali? Persoalannya sama ada Israel atau AS sendiri yang akan mengebom Damascus.


Selain daripada AS, Israel turut mendapat bantuan daripada salah seorang pemimpin Arab iaitu Raja Hussein, pemerintah Jordan. Berdasarkan buku tulisan Abraham Rabinovich bertajuk The Yom Kippur War: The Epic Encounter That Transformed The Middle East, beberapa hari sebelum bermulanya PAI 73, Raja Hussein telah menaiki helikopter Tentera Udara Diraja Jordan bertemu dengan Golda Meir, Perdana Menteri Isreal di Tel Aviv. Beliau telah memberitahu Meir mengenai serangan yang bakal dilaksanakan oleh Syria dan Mesir.


Buku itu turut menyatakan Raja Hussein tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuan jeneral-jeneral Syria dan Mesir yang sebangsa dengan beliau untuk berperang menentang Israel. Walaupun Raja Hussein menghantar tenteranya membantu Syria, namun ia bukanlah bantuan yang serius. Sedangkan Jordan berkongsi sempadan yang panjang dengan Israel selain telah melepaskan Tebing Barat dan Baitulmaqdis yang menjadi milik Jordan sebelum perang tahun 1967. Jika Jordan menyertai PAI 73 secara bersungguh-sungguh, mungkin situasi di Asia Barat akan menjadi berbeza kini.


Setelah melihat AS gigih membantu Israel menentang Mesir dan Syria, Kolonel Muammar Gadafi, Presiden Libya telah memberhentikan sepenuhnya eksport minyak kepada AS pada 19 Oktober 1973. Sehari berikutnya Arab Saudi di bawah naungan Raja Faisal, Kuwait, Qatar, Bahrain dan beberapa negara Arab lain turut mengikut jejak langkah Libya.


Ketika itu mereka bersatu menentang musuh yang sama. Menurut Edgar O’ Ballance, seorang pengkaji pertahanan warganegara United Kingdom, ketika PAI 73, Israel hampir-hampir tidak mendapat sebarang bekalan minyak daripada laut akibat disekat oleh Tentera Laut Mesir. Sekatan minyak dari laut ini benar-benar mengajar Israel tentang perlunya penguasaan bekalan minyak untuk jangka masa panjang. Ia juga ada kaitannya dengan harga minyak dunia kini.


Pengajaran


Namun secara senyap-senyap Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi tetap menjual minyak kepada Israel sejak sebelum PAI 73 lagi. AS dan kuasa-kuasa besar dunia lain telah mengambil pengajaran atas apa yang berlaku selepas PAI 73 untuk menguasai dan mengawal pasaran minyak dunia. Negara-negara pengeluar minyak utama seperti Iraq menjadi tumpuan untuk dikuasai secara halus atau melalui peperangan. Sebab itu Iraq tetap diserang pada Mac 2003 walaupun tidak mendapat sokongan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).


Selepas beberapa kali berunding, akhirnya Mesir dan Israel menandatangani perjanjian damai pada 17 September 1978. Perjanjian itu dipanggil Perjanjian Kem David atas inisiatif Presiden AS, Jimmy Carter. Sejak sebelum PAI 73 sehingga hari ini, Syria diketahui tidak pernah menandatangani apa-apa perjanjian rasmi dengan Israel. Anwar Sadat, Raja Faisal (Arab Saudi) dan Muammar Gadafi kesemuanya mati dibunuh oleh bangsa mereka sendiri.


Syria sejak dari dahulu sehingga kini mengekalkan hubungan baik dengan Rusia dan menggunakan pelbagai senjata buatan negara bekas empayar komunis tersebut. Berbanding tentera Mesir sebelum PAI 73 yang menggunakan kelengkapan ketenteraan Rusia, mereka telah beralih arah kepada AS selepas PAI 73 sehingga kini.


Jika dahulu Tentera Mesir dan tentera Syria melaungkan takbir ketika berperang menentang perampas tanah mereka, kini mereka bertakbir sambil berbunuhan sesama bangsa sendiri. Anasir asing tidak memerlukan kereta kebal atau jet pejuang untuk memusnahkan Mesir dan Syria. Apa yang perlu hanyalah demonstrasi jalanan, rusuhan, penyebaran hasutan dalam Internet, kebebasan bersuara tanpa had, kebencian terhadap sesama bangsa, ketaksuban kepada pemimpin tertentu dan undangan kepada pihak luar untuk menyelesaikan masalah dalaman negara.


Apakah umat Islam di Malaysia masih tidak mengambil pengajaran atas apa yang berlaku di Mesir dan Syria?



Article source: http://www.tribunnews.com/internasional/2013/10/19/penghina-islam-itu-kini-naik-haji


Menilai tragedi di tanah Arab

Friday, January 17, 2014

Semarak Islam di Hong Kong

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Pemerintah mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan umat Islam.


Suara azan mengalun merdu dari sebuah masjid di Nathan Road, Hong Kong. Azan tersebut diserukan imam dari masjid tersebut, yaitu Ahmed Cheung Wong Yee atau yang dikenal sebagai Imam Cheung.


Saat itu hari Jumat, siang hari. Bersamaan dengan suara azan, mulai berdatanganlah laki-laki Muslim yang akan menjadi jamaah shalat Jumat.


Meski daerah ini merupakan wilayah bisnis yang padat, pada waktu tersebut, para laki-laki rela menanggalkan pakaian kerja mereka dan berganti dengan pakaian yang layak untuk dipakai shalat.


Beberapa wanita Muslim juga terlihat berada di dekat masjid sambil melantunkan ayat-ayat Alquran. Setelah iqamat dilantunkan, shalat Jumat pun dimulai.


Ini merupakan sekelumit cerita aktivitas kaum Muslim yang tinggal di Hong Kong. Meski menjadi minoritas karena jumlahnya hanya sekitar 250 ribu jiwa, umat Islam diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah.


Hong Kong merupakan kota metropolis dan merupakan wilayah yang terpisah dari daratan Cina serta lama berada di bawah kekuasaan Inggris. Hingga akhirnya pada 1997, Inggris menyerahkan kedaulatan Hong Kong kepada Cina.


Laman Islamonline menuliskan Muslim telah mendiami Cina sejak seribu tahun lalu. Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang melakukan perdagangan melintasi jalur sutra, jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan dunia Barat.


Khusus di Hong Kong sendiri, Muslim banyak yang datang bersamaan dengan kedatangan koloni Inggris yang menjadikan wilayah ini sebagai basis dagang East India Company.


Untuk menjaga kawasan Hong Kong, Inggris mempekerjakan tentara yang berasal dari India yang kebanyakan adalah Muslim.


Islam ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Jumlah penganut Islam pun semakin banyak. Orang Cina di daerah ini yang kemudian memutuskan untuk masuk Islam dikenal dengan nama Hui.


Kini, Muslim di Hong Kong sebagian besar merupakan orang Cina asli. Selain itu, juga ada Muslim yang berasal dari warga pendatang, seperti Pakistan, Malaysia, Filipina, Arab, Afrika, dan negara lainnya. Juga banyak yang merupakan keturunan campuran antaretnis.


Masyarakat Indonesia sendiri menyumbangkan jumlah yang lumayan banyak dalam komunitas Muslim. Kebanyakan dari mereka adalah para TKI yang mencari peruntungan hidup di sana sebagai pekerja rumah tangga.


Mereka menyebut diri mereka sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI). Jumlahnya tak kurang dari 120 ribu orang. Kegiatan pengajian dan aktivitas Islami lainnya sering digelar sembari bersilaturahim.


Antropolog dari Chinese University, Hong Kong, Paul O’Connor dalam bukunya Islam in Hong Kong: Muslims and Everyday Life in China’s World City yang terbit pada 2012, menjelaskan masyarakat Hong Kong yang mayoritas memeluk agama lain selain Islam sangat toleran.


“Mereka yang akan berjualan daging babi tidak akan melalui jalan yang banyak didiami oleh orang Islam sebagai bentuk saling menghormati,” tulisnya.


Mayoritas penduduk Hong Kong beragama Buddha, Tao, dan Konghucu. Agama lain yang menjadi minoritas, seperti Kristen, Yahudi, Sikh, dan Hindu, juga punya penganut di sini.


Menurut laman Islam.org, sekitar 1850-an, Muslim di Hong Kong mulai membantuk organisasi yang resmi yang kemudian diakui oleh Pemerintahan Inggris pada saat itu. Organisasi tersebut adalah Badan Wakaf Komunitas Islam (Incorporated Trustees of the Islamic Community Fund).


Organisasi Muslim ini kemudian menunjukkan tajinya yang akhirnya bisa membangun beberapa tempat ibadah secara resmi di wilayah ini. Sebelumnya, Muslim di Hong Kong menggelar shalat berjamaah di tempat terbuka di pinggir jalan saja.


Lahan pertama yang diubah menjadi masjid adalah yang berada di Jalan Shelley Nomor 30. Di kawasan elite ini, sebuah masjid kecil dibangun pada 1890, kemudian diperluas dan direnovasi lagi pada 1905. Masjid yang diberi nama Masjid Jami’a ini menjadi yang tertua di Hong Kong.


Lahan lain kemudian juga disiapkan untuk pemakaman Muslim yang terletak di daerah Happy Valley. Dibangun pula sebuah masjid kecil di dekatnya. Pemakaman Muslim lain juga dibuat di Cape Collinson.


Di Hong Kong, kita bisa menemukan beberapa masjid besar lainnya. Antara lain, Masjid Ammar dan Islamic Center Osman Ramfu Sadick di Oi Kwan Road, serta Masjid Stanley. Hanya di masjid-masjid inilah suara azan bisa diperdengarkan.


Daerah Kowloon dulu biasa dipakai untuk beribadah para tentara Muslim yang berasal dari India. Mereka tinggal di barak militer Whitfield yang kini dijadikan Kowloon Park.


Di tempat ini kemudian dibangun pula sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Kowloon lengkap dengan Islamic center di sana yang dibangun pada 1984.


Tak hanya masjid, di sini juga dibangun perpustakaan, tempat pendidikan membaca Alquran, juga taman kanak-kanak.


Imam Cheung kini menjadi imam besar Masjid Kowloon. Menurutnya, meski Muslim menjadi minoritas di Hong Kong, pemerintahnya mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan Muslim. “Misalnya, kini mereka menyediakan daging halal yang disembelih sesuai dengan hukum Islam,” ujarnya.


Cheung merupakan salah satu imam yang punya kontribusi besar bagi pengembangan ajaran Islam di kota yang dulunya merupakan koloni Inggris ini. Ia dibesarkan dan belajar di kawasan Cina Selatan dekat pelabuhan Guangzhou atau yang dikenal sebagai Kanton.


Ia menjadi imam mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang merupakan seorang imam juga. Meski kini usianya telah lanjut, Imam Cheung masih setia mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Islam.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/07/156502871/Momen-Kumpul-Saat-Lebaran-Wulan-Guritno


Semarak Islam di Hong Kong

Monday, April 29, 2013

Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2014 bukan saja diramaikan dengan kehadiran para artis atau pesohor negeri. Sejumlah pentolan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Ibu Kota yang memiliki basis massa juga mencoba peruntungan menjadi calon wakil rakyat. Mereka sering disebut sebagai penguasa bawah tanah Jakarta, yang memimpin massa akar rumput dan punya pengaruh cukup kuat di kelompoknya masing-masing.


Pada Pemilu 2014 mendatang, setidaknya ada empat penguasa bawah tanah Ibu Kota yang maju sebagai bakal calon anggota legislatif:

1. Jhony Indo

Inilah “Si Robinhood”. Nama aslinya Johanes Hubertus Eijkenboom, namun lebih populer dengan nama Johny Indo. Jhony pada tahun 1970-an merupakan salah satu pentolan preman Ibu Kota yang yang cukup disegani.


Ia dikenal sebagai perampok toko emas yang hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Dari situlah, Jhony kemudian mendapat julukan “Robinhood”. Dalam melancarkan aksinya, Jhony selalu bersama dengan kelompoknya yang bernama Pasukan Cina Kota atau yang disebut “Pachinko”. Mereka menyatroni toko emas pada siang hari.


Namun, setelah sekian kali lolos, akhirnya Jhony tertangkap. Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara 14 tahun dan dijebloskan ke Penjara Nusa Kambangan. Meski sudah masuk ke penjara dengan tingkat keamanan tinggi, Jhony sempat kabur dari selnya dan bersembunyi di antara bukit dan parit yang berada di penjara di pulau itu. Namun, keberadaan Jhony tetap bisa diendus aparat.


Kini, Jhony mengaku sudah tobat. Ia kini menjadi pelatih bela diri untuk para sekuriti di Bumi Perkemahan Cibubur. Pada tahun ini, Jhony menyatakan maju sebagai bakal  calon anggota legislatif dari Partai Nasdem untuk DPRD Sukabumi.


2. Tito Refra Kei
Fransiscus Kei atau yang akrab disapa Tito Kei. Ia maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN). Kali ini, ia tidak maju dari kota kelahirannya, Pulau Kei, Maluku Tenggara, tetapi justru dari daerah pemilihan Papua Barat.


Nama Tito sangat melekat dengan kebesaran nama sang kakak, John Kei, yang dibui atas tuduhan sebagai otak pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung pada tahun 2012 lalu. Kedua kakak beradik ini juga sempat berurusan dengan aparat kepolisian lantaran memotong jari dua pemuda pada Agustus 2008.


John dan Tito sempat diseret ke meja hijau akibat kasus itu. Ketika itu, proses peradilan terpaksa dilakukan di Surabaya untuk mencegah amuk massa. Setelah perkara itu muncul, Tito juga sempat terlibat dalam kasus “Ampera Berdarah”. Saat itu, massa kelompok Kei bentrok dengan kelompok asal Flores pimpinan Thalib Makarim di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat sidang kasus bentrok Blowfish digelar. Tito bahkan tertembak di bagian dadanya yang nyaris mengenai jantung. Namun, Tito akhirnya selamat dalam tragedi tahun 2010 tersebut.


Di luar catatan hukumnya itu, Tito merupakan seorang advokat. Ia pun mendirikan firma hukum bernama Tito Refra, Cosmas Refra and Partner.


3. Lutfi Hakim
Lutfi Hakim merupakan Ketua Umum Front Betawi Rempug (FBR) setelah Ketua Umum sebelumnya meninggal dunia pada tahun 2009 lalu. Ia sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal FBR. Lutfi Hakim termasuk salah satu tokoh Betawi yang cukup populer di kalangan masyarakat.


Kini, Lutfi maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk Provinsi DKI Jakarta, tanpa atribut partai politik apa pun.


4. Munarman
Munarman adalah mantan aktivis HAM dan mantan Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ia menanggalkan aktivitasnya di lembaga bantuan hukum itu, setelah menyatakan bergabung dengan sebuah organisasi massa, Front Pembela Islam (FPI).


Di FPI, Munarman pernah menjadi Panglima Komando Laskar Islam dan kini kerap tampil sebagai juru bicara ormas tersebut. Ia juga menjadi salah seorang penentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia bersama tokoh-tokoh lainnya.


Munarman pernah terlibat dalam insiden Monas, 1 Juni 2008. Saat itu, ia bersama Laskar Islam FPI melakukan penyerangan terhadap massa AKK-BB. Pada tanggal 4 Juni 2008, sekitar 1.500 polisi diturunkan ke Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, setelah tidak ada dari pihak FPI yang menyerahkan diri. Munarman pun menolak menyerahkan diri hingga menjadi buronan.


Setelah bersembunyi beberapa hari, Munarman akhirnya menyerahkan diri pada tanggal 8 Juni 2008. Selepas keluar dari penjara, Munarman masih aktif di FPI. Pada Pemilu 2014, Munarman menjadi bakal caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan Sumatera Selatan II.


Berita-berita jelang Pemilu dapat Anda ikuti dalam topik:
Geliat Politik Jelang 2014
Kabar dari KPU
Verifikasi DCS Pemilu 2014


 
















Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/04/22/159222/jadi-caleg-angel-lelga-maju-dari-dapil-solo


Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

Sunday, March 17, 2013

Australia Makin Serius Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Diplomat
Australia Makin Serius
Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Senin, 18 Maret 2013

Australia kini semakin serius mempererat hubungan dengan Indonesia. Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, mengungkapkan yang dia hubungi pertama lewat telepon setelah ditunjuk sebagai Menlu baru Australia adalah Menlu RI, Marty Natalegawa. Carr menilai Indonesia adalah tetangga utama dan mitra terpenting bagi Australia.

Menlu Carr menilai hubungan kedua negara kini mencapai titik tertinggi. Jumlah kunjungan antarmenteri dalam 5 tahun terakhir lebih dari 120 kali. Ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia telah membangun kebiasaan berkonsultasi satu sama lain. Kebiasaan berkonsultasi ini untuk membahas tantangan-tantangan yang sedang dihadapi sehingga ini merupakan tugas yang tidak pernah selesai. Australia tahun ini berkomitmen menambah program visa kerja khusus untuk turis (working holiday visa) dari 100 menjadi 1.000 orang setiap tahun. Ini tentunya program yang bagus untuk memperbanyak warga Australia yang berlibur sambil bekerja di Indonesia. Begitu juga makin banyak warga Indonesia yang memperoleh pengalaman bekerja sambil berlibur di Australia. “Kami juga mempersiapkan program saling kunjung di bidang seni, budaya, sains, dan teknologi kedua negara pada 2014. Di Australia, Kota Perth disiapkan menjadi lokasi pertama program pelatihan kejuruan untuk peserta dari Indonesia,” kata Carr sambil menambahkan pihaknya juga terus melibatkan lebih banyak lagi peserta program pertukaran sekolah lanjutan. Dia mengungkapkan program pertukaran kunjungan sekolah bernama BRIDGE. Dalam kunjungan proyek BRIDGE di Bali November 2012, Carr mengaku terkesan atas interaksi Sekolah Kristen Tasmania dengan Sekolah Islam setempat dengan saling mengenalkan bahasa dan budaya masing-masing. Kedua negara pun sedang mempersiapkan Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif (yang ditargetkan bisa selesai pada 2014). Dengan demikian kedua negara berupaya untuk menambah lagi fundamental hubungan bilateral. Carr memastikan Pemerintah Australia punya komitmen besar untuk turut membangun Indonesia. Pemerintah federal menganggarkan 1 miliar dolar untuk memenuhi komitmen itu. Lalu kini mulai rutin digelar dialog yang mempertemukan kalangan pebisnis, cendekiawan, tokoh masyarakat, dan media dari Indonesia dan Australia. Kini ada sekitar 50.000 warga Indonesia di Australia menurut data per 2011 dan sebanyak 18.000 dari mereka adalah pelajar. Mereka adalah para duta besar yang berperan bagi Indonesia dalam budaya dan bahasa. Program pertukaran pelajar dari kedua negara pun berjalan lancar. “Ada perbedaan besar dari skema yang terdahulu dengan yang diterapkan pemerintah saat ini. Dulu, melalui The Old Colombo Plan, ditawarkan 570 tempat untuk belajar di Australia per tahun. Namun pada skema saat ini, yang kami sebut sebagai The Australia Awards, menawarkan 5.000 tempat untuk belajar di Australia setiap tahun. Jumlah itu 10 kali lipat lebih besar dari skema Colombo Plan,” katanya. Bagi Carr kebijakan-kebijakan kompleks yang menjadi tantangan bagi kedua negara, berkisar pada penyelundupan manusia, kontra terorisme, perubahan iklim, perlindungan maritim, dan dialog antarkeyakinan. Indonesia selama ini dijadikan sebagai tempat singgah orang-orang yang ingin masuk ke Australia secara tidak sah. Maka kedua pemerintah berkesempatan bekerja sama untuk menanggulanginya. “Kedua negara sama-sama punya kepentingan untuk memperbaiki masalah itu pada asalnya dan saya pikir kami bisa melakukannya. Itulah sebabnya kami terus-menerus membicarakannya dengan Indonesia untuk mencari solusi yang ampuh melalui mekanisme yang disebut Bali Process,” tambah dia. Beberapa pekan lalu, 23 warga Indonesia berencana untuk menggugat pemerintah Australia setelah karena ditahan di penjara dewasa padahal masih berstatus anak-anak dalam kasus penyelundupan manusia. (*/Kardeni)

Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/04/25/125382/Jawara-Pembunuh-Mahasiswi-Diburu-


Australia Makin Serius Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Thursday, April 11, 2013

Ini Cerita Lucu Nikita Willy Ajari Diego Ngaji

Laporan Wartawan Tribunnews.com Danang Setiaji


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sejak menjadi mualaf beberapa waktu lalu, pemain sepakbola Diego Michiels semakin rajin mempelajari Islam. Kekasih Diego, Nikita Willy, menceritakan pengalaman mengajari Diego ajaran Islam.


“Lucu banget, aku harus ngajarin satu-satu. Kayak beneran ngajarin anak TK, dia semangat banget, baca iqro juga. Aku ngajarin satu-satu tulisannya,” kata Nikita saat ditemui di studio RCTI, Kamis (11/4/2013).


Bintang sinetron ‘Pengantin Kecil’ ini menuturkan walaupun kini Diego tengah berada di Palembang, tak menyurutkan niat kekasihnya tersebut untuk bisa mengaji. “Dia panggil guru ngaji juga di Palembang,” beber Nikita.


Artis terfavorit 2010 dan 2011 versi Panasonic Awards ini mengatakan kekasihnya tersebut kini sangat bersyukur karena masalah yang menerpanya kini sudah selesai. Menurutnya kini Diego sudah dapat menjalani aktifitas seperti biasa, yakni bermain bola lagi.


“Kemarin selama empat bulan kita sudah nangis-nangisan. Diego juga bersyukur, dia sudah jadi muslim seutuhnya. Senang banget, bersyukur selesai masalahnya dan kembali dari awal lagi,” tandasnya.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28101/11/04/2013/membangun-percaya-diri-dan-pencitraan-yang-hakiki-(1).html


Ini Cerita Lucu Nikita Willy Ajari Diego Ngaji

Tuesday, July 2, 2013

Cinta Lelaki Aktivis

(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)



“Tidak seharusnya kita berfikir seperti itu ukhti. Kita tidak boleh egois memaksakan kehendak. Kita ini aktivis dakwah, kita hanya bisa mengajak dan menasehati. Serta memberikan kemafhuman bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil

 

Urusan terima atau tidaknya, itu bukan hak kita untuk memaksanya berubah menjadi muslimah yang mengamalkan Islam secara kaffah. Kita tawakkal serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla. Itulah ikhtiar kita. Dan yang paling penting bagi kita selaku aktivis dakwah, isbirun dan jangan menjauhinya tapi berlaku baiklah dan rangkullah ia.

Dakwah ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tidak mudah menjadikan seseorang berubah secara total. ”

 

Penjelasanku panjang lebar kepada Zahra yang berharap sekali teman perempuannya berubah menjadi muslimah yang menjalankan syariat Islam minimal memakai jilbab. Zahra salah satu akhwat seperjuanganku. Kulihat wajahnya mulai tenang mendengarkan nasihatku.

 

Zahra yang sangat bersemangat ketika berbicara masalah dakwah fi sabilillah guna menyelamatkan generasi muda dari arus globalisasi dan produk-produk yahudi yang liberal dan ingin menghancurkan generasi umat Islam dengan berbagai cara. Bahkan prioritas dan azzam-nya yang membuatku kagum pada Zahra. “Kalaupun aku harus mati dijalan-Nya, maka I’m pround and that my choice” gumamnya suatu ketika bersamaku dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu pondok pesantren.

 

“Tapi kak ! bukankah mereka sudah sering Zahra sampaikan bahwa kewajiban menutup aurat itu perintah Allah yang termaktum didalam Alquran” protes Zahra yang belum sepenuhnya menerima penjelasanku. Aku berfikir positif mungkin karena keinginannya yang terlalu besar sehingga menutup pikirannya untuk berfikir secara realistis.

 

“Benar sekali yang ukhti sampaikan, tapi yang harus diingat siapapun dan darimanapun orang yang menyampaikan kalau bukan dirinya sendiri yang tidak mau berubah maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah ukhti sering mendengarkan firman-Nya dalam surah Ar-Ra’ad 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”

 

Jadi disamping kita menyampaikan kebenaran itu, maka diperlukan juga dorongan motivasi dari dalam diri kita untuk melakukan perubahan, bukan sebaliknya. Bersifat apatis terhadap hidup kita. Jika hidup kita biasa-biasa saja dan bersahabat dengan lembah kehinaan dengan melakukan kemaksiatan, kita biarkan diri kita ikut arus tanpa mencoba untuk melawan arus itu. Berprinsip mengalir apa adanya tanpa ada kemaun untuk melakukan sebuah revolusi kearah yang lebih baik.

 

Zahra mendengarkan untaian-untaian kalimat yang kuucapkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata tersebut, tapi aku yakin Zahra bisa memahaminya. Entah karena untaian nasehat yang kuucapkan kulihat pelupuk matanya menampung air yang bening. Hingga kelopak mata tersebut tak mampu lagi untuk membendungnya seketika menetes membasahi pipinya yang bak baby face. Mata yang binar itupun sayup dan kemerahan.

 

Percakapanku dengan Zahra terhenti seiring dengan terdengarnya seruan menghadap pada Sang Khaliq dari menara masjid. Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan Zahra melangkahkan kaki ini memenuhi seruan-Nya. Karena kusadar aku berstatus sebagai hamba. Abdi Allah yang harus menjalankan kewajibanku. Aku bersyukur karena hati ini masih rindu akan kehadirat-Nya, meninggalkan sifat hedonis dan rindu akan kampung akhirat. Semoga hati ini tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

***

Hari-hariku kembali kujalani dengan sejuta nikmat yang senantiasa aku rasakan dari-Nya. Kicau burung, mentari merekah dan tetesan embun kembali menghiasi cakrawala dunia. Hari ini aku kembali mengukir sejarah dalam lembaran hidupku. Entah sama dengan hari kemarin atau lebih baik lagi atau bahkan sebaliknya. Tapi aku berharap dan ber-azzam hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena Rasulullah bersabda “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung.”

 

Ku atur waktuku secara sistematik. Mulai dari bangun tidur, aktivistas kuliah, organisasi bahkan mimpi-mimpiku untuk kedepannya. Menginterpretasikan makna kehidupan dengan jalanku sendiri membuatku terkadang mengalami kemandekan untuk menentukan sikap. Tapi itulah manusia terkadang berada pada situasi yang menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan sikap dan solusi.

 

Sudah dua jam lebih aku berdiri di depan kampus menunggu Zahra karena sesuatu hal yang sangat urgent harus kusampaikan. Tak kulihat batang hidungnya berlalu lalang di area kampus. Apa Zahra tidak masuk kuliah ? Atau sakit? Di masjid, perpustakaan atau sudah pulang? Sederetan pertanyaan itu terus mendesakku untuk mencari tahu. Aku menuju ke masjid kampus seakan ada magnet yang menarikku untuk cepat menuju masjid kampus. Jantungku berdebar kencang seperti genderang yang dipukul oleh para seniman mementaskan karya terbarunya dengan spektakuler.

 

“Ya Allah ada apa ini? Aku terus mengucapkan tasbih berdzikir menenangkan hati. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Itulah firman-Nya. Aku bergegas ke arah masjid

 

“Masya Allah, ada apa ukhti ?” Setelah berada dalam masjid kulihat Zahra berlinang air mata. Disampingnya Fatimah terusnya membujuknya tapi air mata Zahra semaking berlinang deras. Deras sekali. Membasahi jilbab abu-abu yang menjulur sampai kelutut yang ia kenakan.

 

“Ada apa ukhti ? kenapa ukhti menangis ?” tanyaku dengan rasa penasaran. Fatimah dan Zahra menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan yang tidak kumengerti. Suasana menjadi hening, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejurus aku berfikir keras untuk memecah kebisuan ini.

 

“Kak…….” Suara Zahra memecah keheningan. Aku hanya menunduk seraya menjaga pandangan.

“Kak Hafidz, Zahra dijodohkan kak. Kemarian Zahra dikhitbah dan orangtua Zahra menerimanya tanpa meminta persetujuan dari Zahra. Karena perjodohan itu disepakati sejak Zahra berusia lima tahun. Seminggu sebelum resepsi khitbah orangtuaku baru mengatakannya. Aku bingung kak.”

 

Aku tersentak mendengar penuturan Zahra. Aku mengernyitkan dahi dan menelang ludahku karena kerongkongan ini tiba-tiba kering. Hati ini seakan perih. Rekahnya mentari yang hangat menyusup kesetiap pori-pori tak lagi kurasakan. Lagi terlihat mendung seketika, hampa, hambar dan tak ada daya rasanya untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun susah bagiku.

 

Air mataku kurasakan sebentar lagi akan berjatuhan bak mendung yang siap menurunkan hujan dengan lembab tapi aku tahan dengan segenap kekuatanku. Aku harus tegar. Aku ini laki-laki bagaimana pun konsekuwensinya aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah bahkan lebay dihadapan Zahra dan Fatimah. Bukankah cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta tidak seharusnya memiliki tendensi yang lain.

 

Cinta terkadang membuat kita bahagia dan sedih. Itulah uniknya cinta. Secara diam-diam aku sangat menyayangi Zahra bahkan aku telah mencintainya.Aku mencintainya dan selama ini aku jaga cinta itu, aku simpan rapat-rapat dalam relung hatiku terbungkuskan harapan untuk suatu hari aku datang mengkhitbahnya. Hingga saat ini aku masih mencintainya dan tak pernah satu orangpun aku katakan perasaan ini bahkan pada dirinya. Aku ingin cinta ini tetap suci hingga kami disatukan dalam ikatan yang halal di mata manusia lebih-lebih lagi dihadapan-Nya tapi harapan itu kini hanyalah sebuah angan yang bergelantungan pada langit dunia.

 

“Ukhti, Insya Allah itulah yang terbaik yang Allah berikan. Syukurilah dan ambillah ibrah dari semua yang berlaku. Allah tahu bahwa ukhti sudah mampu mengemban amanah menjadi istri dan calon ibu kelak, makanya Allah menakdirkan ukhti menikah diusia muda” ucapku pada Zahra dengan mimik wajah yang kubuat bersikap biasa-biasa saja. Mimik wajah yang kubuat bahagia meski hati ini menolak untuk melakukannya

 

“Tapi kak, Zahra belum tahu akhlaknya, pergaulan bahkan semua tentangnya buram bagiku” Zahra seakan belum siap dengan semua itu, mungkin ada alasan yang urgent yang membuatnya belum bisa menentukan sikap. Aku kembali menyakinkannya

 
“La yukallifulluh nafsan illaah wus’aha”. Ingat firman-Nya ukhti. Bukankah setiap problem yang kita hadapi pasti ada solusinya? Seandainya orangtua ukhti tidak mengetahui dan kenal baik dengannya aku percaya beliau tidak akan menerimanya.

 

Pernikahan berarti menyempurnakan separuh agama, kini Allah membukakan jalan untuk menyempurnakan separuh agama itu. Maka jemputlah ia dengan senyuman indah penuh cinta kasih. Rangkul dan peluklah anugrah terindah itu yang Allah peruntuhkan untukmu ukhti. Sambutlah dan mulailah mencoba membuka lembaran baru dengan cinta yang mampu menggetarkan langit dan mendapat Ridha-Nya. Terimalah kenyataan ini dengan dasar cinta karena-Nya.

 

“Karena cinta senantiasa bergerak. Dimana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan intuisi, di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman. Belajarlah untuk mencintainya karena atas dasar cintalah kehidupan ini akan lebih berwarna” aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia atau sedih semua berpadu menjadi satu aliran.

 

Sudah lama aku tidak pernah melihat Zahra bahkan keberadaannya tak kutahu lagi. Pertemuanku di masjid kampus merupakan pertemuan terakhirku dengan dirinya. Menurut informasi, Zahra berhenti kuliah dan pindah rumah beserta keluarganya. Dia pun tidak pernah memberitahukanku kemana ia pergi.

 

Ada perasan hilang dalam hidupku yang menyergap hari-hariku semenjak kepergiannya tapi aku berusaha memahami setiap kejadian yang kualami. Menyelami akan arti kehidupan dan mengambil sirat makna dibalik semua yang telah berlaku. Kembali kudesain hidupku, kembali menuliskan mimpi-mimpi baru yang kuprioritaskan yang harus kugapai. Menuliskan misi sebanyak-banyaknya dan bertekad untuk lulus ujian akhir dengan predikat mahasiswa terbaik dengan hasil cumlude.

 

Menghiasi hari-hariku dengan berbagai aktivitas padat. Mulai dari kuliah sampai kembali eksis dan menjadi kader militan dalam organisasi. Walaupun bayangan Zahra sesekali melintas dalam benakku, namun secepat itu juga kutepis bayangan wajahnya. Aku harus lebih menggunakan logika.

 

Hembusan angin membelai wajahku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan seiring dengan silih bergantinya siang dan malam kehidupanku terus kulalui hingga takdir membawaku pada keadaan statis. Tak terasa aku sudah berada pada tingkatan akhir, seminar proposal sebulan lagi setelah itu penyusunan skripsi. Tapi sebagai aktivis dakwah aku tetap menyisihkan sebagian waktuku untuk mengurusi organisasi dengan mengadakan pengkaderan dan training. Perlahan tapi pasti, ingatan tentang Zahra kian menghilang aku kini lebih bisa menerima kepergiannya dan lebih banyaknya memfokuskan menatap masa depanku.

 

“Apa yang ingin kau lakukan ?” gumamku. Ponselku berdering

“Assalamu’alaikum. Afwan dengan bapak Hafidz ?” Tanya seorang laki-laki yang menelponku.

 

“Wa’alaikum salam iya benar saya sendiri. Siapa ?”

“Afwan menganggu Bapak. Kami dari panitia pelatihan meminta bapak untuk bersedia sebagai nara sumber pada training motivation for teens”

“Deadlinenya kira-kira kapan pak ?”

“Insya Allah tanggal 15 pekan depan pak”. Aku menghela nafas mengingat-ingat rencana untuk pekan depan ternyata kosong

“Insya Allah saya akan datang pak. Saya minta satu hari sebelum deadline-nya tolong hubungi saya, takutnya nanti lupa”

“Iya pak, syukran katsiran semoga Allah memudahkan ”

“ Afwan ” telpon terputus dengan salam

 

***

Hari H training motivasi tiba. Dengan mengenakan baju kokoh berwarna hijau dan celana kain hitam di atas mata kaki, aku menuju tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan menempuh jarak sekitar 15 menit aku menuju dengan mengendarai angkot. Peserta terlihat antre di tempat registrasi, aku menuju ruang tunggu yang telah disediakan oleh panitia.

 

Setelah beberapa menit berlalu acarapun dimulai. Moderator mengucapkan salam dan sambutan kepada seluruh audience. Namaku disebut pula sebagai nara sumber dan nama seorang akhwat. Nurul Hafidzah. Setelah mengerjakan sholat duha, aku melangkah ke audioturium. Langkahku terhenti, mataku menangkap sesosok perempuan yang telah mengisi ruang hatiku dua tahun silam. Ada rasa yang mengalir dalam tubuhku sekorelasi dengan aliran darahku. Desah nafasku menghembuskan arti kebahagiaan.

 

Perempuan yang sudah dua tahun tidak pernah aku lihat kini berdampingan denganku sebagai nara sumber. Di mana saat ingatan tentangnya mulai pudar kini dia hadir kembali.Pandangan kami berpapasan. Zahra kini tampak lebih dewasa.

 

“Astagfirullah” aku menundukkan pandangan memohon ampun. Tidak seharusnya aku memandangnya begitu lama. Aku terus melangkah, aku harus professional dan tidak boleh mendramatir keadaan.

 

“Assalamu’alaikum ukhti ” sapaku setelah berada dekat dengan dirinya

“Wa’alaikum salam” Zahra menjawab salamku dan menundukkan kepala. Tak satupun kalimat atau tanya yang terucap untukku. Pelatihan pun dimulai, aku sampaikan materiku dengan sebaik mungkin, lugas dan detail. Acara berlangsung dengan baik. Antusias dari peserta sangat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujaniku dari peserta aku jawab sebisaku dan tak ada kata tidak bisa, aku tidak ingin peserta merasa kecewa.

 

Setelah training selesai aku tidak melihat Zahra. Mungkin sudah dijemput oleh suaminya? Tanyaku pada diriku sendiri. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, aku bertanya pada salah satu panitia.

 

“Daeng, yang menjadi nara sumber selain saya, itu siapa ? tanyaku mencari tahu, karena moderator menyebut namanya sebagai Nurul Hafidzah bukan Zahra

“Oh, yang berjilbab panjang yang duduk disamping?” aku menganguk

“Namanya Zahra cuma dalam training dan kegiatan lainnya ia sering memakai nama pena Nurul Hafidzah. Soalnya disamping ia mahasiswi ia juga sebagai penulis. Orangnya cantik, muda dan belum ada suaminya” jawab panitia dengan logat Bugis kental. Aku tersentak kaget mendengar penuturan panitia penyelenggara. Kata-kata terakhirnya membuatku sulit untuk berfikir

 

“Belum ada suaminya” Apa Zahra belum menikah? Tapi kenapa? Bukankah dua tahun silam ia dikhitbah? Aku tidak bisa berfikir jernih. Semuanya terasa buram untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab.

 

“Ya Allah, mengapa disaat aku bisa melupakannya ia kembali hadir dalam kehidupanku. Astagfirullah ” aku tidak seharusnya mengeluh kepada-Nya hanya hal seperti ini.

Waktu terus berlalu, tapi pertanyaan yang memenuhi ruang hatiku masih pertanyaan yang sama. Benarkah Zahra belum menikah? Berkali-kali kutepiskan pertanyaan ini dan berfikir jernih dan realistis.

 

Mungkin saja pertemuanku dengan Zahra hanyalah kebetulan tapi adakah namanya kebutulan di dunia ini? Aku mencoba menghubungi Fatimah berharap ia tahu apa yang sebenarnya berlaku pada Zahra, tapi sia-sia saja nomor Fatimah tidak bisa terhubung meskipun berulang kali kucoba tapi hasilnya nihil. “Mungkin Fatimah telah ganti nomor”

 

Kurebahkan tubuh ini, menghilangkan kepenatan dan rasa penasaran yang menyelimutiku dimalam yang dingin ini. Biarkan rasa ini berbaur dengan dinginnya malam. Disuatu pagi. Dihari yang cerah, pelangi melukis keindahannya di jagad raya. Aku melihat pesan baru dalam inbox ponselku, sebuah SMS dari nomor tanpa identitas nama

 
“Bismillah…
 
Kerinduan cinta menjauhkan tabir, dan menerangi relung-relung hati dengan menciptakan kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain dapat melebihinya kecuali ketika jiwa itu memeluk Tuhan. Cinta laksana matahari yang muncul dari awan-awan dan selalu menghangatkan jiwa kita. Sambutlah cintamu akhi yang sudah lama merana menantikan kehadiranmu. Jadikanlah ia ustadzah di rumah yang engkau memadu kasih dibawa naungan ke-Ridhoan-Nya. Bersegeralah akhi. ”

 

Setiap kalimatnya tinggi dan puitis. Aku masih belum mengerti maksud dari bait katanya. Siapakah ia? Akupun membalas pesannya untuk menjawab rasa penasaranku

 
“Bismillah……
 
Afwan, dari setiap untaian kata yang anda tulis aku tidak mengerti. Bahkan tak satupun kalimat yang aku mengerti. Siapakah yang harus kujadikan ustadzah di rumah? Apa yang harus kusegerakan? Afwan siapa ? ”
 
“Bismillah….
 
Afwan akhi kalau setiap kalimatku tak satupun yang antum mengerti. Insya Allah kalau akhi punya waktu datanglah ke TPA AL-Ikhwan besok bakda asar, akhi akan tahu semuanya. Semoga Allah mengampuniku atas kelancanganku semuanya tapi percayalah ini semua demi kebaikan akhi ”

 

***

Bakda asar aku menuju TPA Al-Ikhwan. Aku sengaja sholat asar diperjalanan supaya bisa on time. Kulihat seorang akhwat bercadar sedang membaca buku di halaman masjid dekat TPA. Ia memberi salam tatkala aku semakin dekat dengannya. Aku merasa risih dengan keadaan kami yang hanya berdua saja apa lagi dalam lingkup masjid.

 

“Afwan akhi, ana yang mengirimkan pesan kemarin ” ucapnya memulai percakapan. Suaranya tidak asing bagiku, hanya karena wajahnya dibalik niqob maka aku tidak bisa memastikan siapa dirinya

 

“Afwan ukhti, tidak seharusnya kita berkhalwat nanti ada fitnah ”

“ Insya Allah tidak akhi. Ana ke sini bersama dengan mahram, hanya saja kakak masih di dalam masjid. Kita tunggu sejenak sebelum akhi tahu semuanya ” aku tidak sabar untuk menunggu, kuingin segera mengetahuinya supaya semuanya jelas

 

“Ukhti sebenarnya siapa ? dan apa maksud dari semua ini ? ”

“Ana Fatimah akhi Hafidz ” aku memuji dan bersyukur pada-Nya atas segala yang Dia berikan padaku bukankah kemarin aku ingin sekali bertemu dengan Fatimah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan diriku dan kini Allah membuka jalan ini untukku disaat ku mulai rapuh tapi…tapi perubahan Fatimah, subhanallah ya Allah

 

“Ukhti Fatimah temannya Zahra ? ” tanyaku mencari kepastian

“Na’am akhi (iya, saudaraku)” Fatimah lalu memberiku selembar kertas yang penuh dengan goresan cinta. Aku segera membacanya tanpa satu kata pun yang terlewati

 
Selasa 2007
 
Aku menemukan sesosok pemuda langkah di zaman ini. Tutur katanya senantiasa mengingatkan ku pada kebesaran-Nya dan membuat hati ini semakin terpaut pada-Nya dengan cinta. Cinta yang tulus hanya untuk-Nya. Ya Allah, salahkah jika aku mencintai dan berharap ia menjadi calon bapak dari anak-anakku kelak. Ya Allah jika aku boleh meminta, jadikanlah ia sebagai jodohku di dunia dan di alam keabadian akherat. Jadikanlah ia sebagai imam bagiku untuk meneguk sebanyak-banyak cinta-Mu. Kak Hafidz,
 
Ketiadaan bagi cinta
 
Laksana angin bagi api
 
Ia membakar yang kecil
 
Menyalakan yang besar
 
Datanglah bersamaku
 
Dan jadilah cintaku
 
Kita akan menikmati segala suka cita
 
Yang dihasilkan oleh bukit-bukit
 
Dan lembah-lembah hutan
 
Dan pegunungan
 
(Zahra yang mengharapkan keridhoan-Nya)

 

***

Konvergensi senja dengan bentangan malam kini silih berganti. Kunikmati semuanya dengan penuh keagungan-Nya. Pergulatan di dalam hatiku pun mengiringi perjalananku setelah bertemu dengan ukhti Fatimah. Pergulatan untuk tetap pada titik stagnan atau menjemput cinta dalam mahligai rumah tangga yang diridhoi oleh-Nya. Aku masih belum bisa untuk menentukan sikap. “Apakah aku pantas mendampingi ukhti Zahra ? Apakah ia akan menerima pinanganku? Bagaimana dengan keluarganya jika ia melihat materi sebagai indikasi pertama?” Pergulatan itulah yang membuatku statis pada titik ini. Tidak melakukan sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam sebuah treatment untuk memulai.

 

Setelah sholat istikharah berkali-kali ku kuatkan azzam-ku untuk mengkhitbah Zahra. Cukuplah Allah menjadi saksi atas ketulusan dan usahaku. Hari itu matahari semakin meninggi dan aku sudah siap menuju rumah Zahra, semua kemunkinan sudah aku pikirkan. Diterima tidaknya aku serahkan semua pada yang berhak tuk mengatur hidupku. Setelah sampai di ambang pintu rumahnya aku memberanikan diri mengucapkan salam. Dari dalam rumah kudengar suara langkah kaki menuju pintu

 

“Assalamu’alaikum” ucapku setelah kutahu yang membukakan pintu adalah orangtua Zahra

“Wa’alaikum salam”

“Zahranya ada bu ? saya Hafidz teman kampusnya Zahra sebelum ia pindah dua tahun silam”

“Oh nak Hafidz. Zahra sering bicara sama ibu tentang nak Hafidz. Tapi Zahra ….”

“Tapi Zahra kenapa bu ? tanyaku dengan hati yang tidak pasti. Ada firasat yang merasuk ke dalam hatiku yang membuatku merasa takut

 

“Zahra ke London nak, melanjutkan kuliah Sastra Bahasa Inggris di Universitas Oxford”

“Kapan berangkatnya bu ?”

“Alhamdulillah kemarin nak” aku menundukkan kepala dan menyesali diriku sendiri.

 

Seandainya dari kemarin tujuan ini saya segerakan mungkin semuanya berbeda. Atau ini tanda bahwa aku tidak berjodoh dengan Zahra. Kutepiskan perasaan sesal ini dan menata hati untuk berfikir positif, mengambil ibrah dari semua ini. Mungkin garis takdir cuma menuliskan aku dengan Zahra sebatas saudara semuslim yang terikat dalam ikatan ukhuwah islamiyah, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa hati ini masih tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Atau benarkan para pujangga bahwa cinta tak selamanya memiliki ? Kini di sang surya cerah gemerlapan diufuk timur dan kucoba untuk menyunggingkan senyumanku menjalani kehidupan ini. Biarkanlah catatan tentang Zahra menjadi bagian kisah terindah dalam hidupku yang akan menjadi bukti bahwa betapa aku menjaga hati dan cinta ini berdasarkan syariat dan koridor yang seharusnya.

 

“Nak Hafidz” suara ibu Zahra membangunkan ku dari lamunan tentang Zahra

“Nak Hafidz, Zahra pernah bicara sama ibu bahwa ia menginginkan suami seperti nak Hafidz” penuturan ibu Zahra mengangetkanku. Aku menatapnya dalam-dalam mengharap ada harapan dan jalan bagiku untuk menwujudkan tujuan mulia ini, menjadikan Zahra ustadzah di rumahku kelak.

 

“Tapi nak Hafidz sudah terlambat karena…..”

“Maksudnya bu ?”

“Dua hari sebelum keberangkatan Zahra ke London lamaran dari nak Ilham kami terima, begitupun dengan Zahra sudah mengikhlaskan dirinya menjadi istri nak Ilham kelak. Zahra bilang sama ibu bahwa nak Hafidz tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Nak Hafidz cuma menganggapnya sebagai adik, dan itu tidak lebih. Itulah yang Zahra ucapkan sebelum ia menerima lamaran nak Ilham.

 

Zahra juga pernah bilang bahwa ia pernah bertemu nak Hafidz di sebuah seminar dan sangat berharap nak Hafidz datang ke rumah tuk mengkhitbahnya”. Langit cerah di ufuk timur tak lagi indah kulihat. Semua penjelasan ibu Zahra membuat tubuh ini rapuh dan aliran darahku beku. Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tanpa aku sadari air mata beningpun menetes sebagai bukti bahwa betapa kuingin dan berharap Zahra menjadi kekasih hatiku yang terikat dengan ikatan suci pernikahan.

 

“Bu, sampaikan salam maafku dengan Zahra dan aku minta sama ibu untuk tidak memberitahukan bahwa aku pernah ke rumah mencarinya. Biarkan ia menjadikan diriku sebagai masa lalu dalam hidupnya”. Aku berpamitan pulang tanpa pernah mengatakan tujuanku datang ke rumahnya. Biarkan semuanya menjadi kisah terindah dan catatan yang tertulis dalam garis takdir. Aku terus berjalan dan berjalan menelusuri lorong-lorong labirin hidupku.

 

Aku harus sadar bahwa mencintai seseorang tidak mutlak kita harus mendapat balasan cintanya dan aku tahu bahwa Allah sedang memberikan pengajaran dan didikan bagiku untuk menjalani fase kehidupan berikut. Allah tahu yang terbaik bagiku bukan hanya hari ini tapi untuk hari berikutnya. Kubiarkan kita ini tetap ada dalam hidupku karena kutahu cinta itu fitrah dan anugrah Ilahi yang terindah yang ia titipkan padaku.

 

Cintaku akan kujaga seperti aku menjaga hati. Aku terus melangkah dan kulihat awan-awan membentuk sebuah harmonisasi cinta yang indah dan kulihat pelangi merangkai garis-garis cinta yang membuat semua insan bahagia karena cinta.

 

Cinta adalah fitrah dan anugrah Ilahi yang harus kita syukuri serta tidak membuat kita buta terhadap hal-hal yang mengotori kesucian cinta. Teruslah menebarkan sayap-sayap cintamu yang membuat hidup ini mendapat ke-Ridhoan-Nya.
 
Oleh  Muhammad Ramli

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIM Sinjai. Bisa dihubungi di khairul.azzam21@yahoo.co.id atau muhramli5@gmail.com. penastaim10.blogspot.com. 085 299 741 298

 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/06/16/moh90d-kanwil-kemenag-jabar-siap-sosialisasi-pemotongan-kuota-haji


Cinta Lelaki Aktivis

Wednesday, November 6, 2013

Hijrah Shamsul, Nora


  • Shamsul dan Nora muncul dalam rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah. – Foto Sinar Harian oleh SAFWAN MANSOR


MAAL Hijrah atau Awal Muharram adalah hari paling bermakna bagi umat Islam kerana memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masihi.



Ia menandakan tahun baru dan segala amalan pada tahun ini akan dihisab dan amalan seterusnya akan dikira dalam buku baru.



Hijrah Rasulullah SAW memberi kesan besar kepada umat Islam dan tidak terkecuali melibatkan beberapa selebriti.



Sejak akhir-akhir ini menyaksikan beberapa selebriti yang dahulunya mengaku alpa, tetapi kini hati mereka semakin mendekati Islam.



Antara artis yang telah berhijrah ialah Nora dan Shamsul Ghau Ghau.



Ternyata, perubahan mereka bukan untuk menunjuk-nunjuk sebaliknya ia lahir daripada kesedaran sendiri dan kedua-dua penggiat seni itu bakal muncul dalam sebuah rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah.



Rancangan 13 episod yang mula bersiaran pada 25 Oktober lalu itu menampilkan Shamsul sebagai pengacara bersama tetamu jemputan pada setiap minggu untuk berkongsi kisah penghijrahan mereka.



Akui Shamsul, dia kini lebih selesa dengan program berbentuk keagamaan apatah lagi setelah terpilih mengacarakan program tersebut.



“Apabila mereka tawarkan untuk jadi pengacara program ini, saya terus rebut peluang tanpa fikir panjang kerana rancangan ini berkisarkan penghijrahan seseorang dan bagaimana melaluinya.



“Selain sebagai rezeki, kandungan program ini juga bagus, maka ini adalah peluang keemasan buat saya,” jelasnya.



Manakala bagi Nora pula tawaran dari penerbit, Iswati Ishak, untuk dia berkongsi kisah hijrah dalam hidup sememangnya tidak disia-siakan.



“Saya berbesar hati untuk berkongsi dengan masyarakat mengenai penghijrahan saya. Benda baik, elok kalau kita kongsi bersama.



“Lagipun saya selesa dengan pendekatan yang dibawa Shamsul, mungkin sebab dia juga orang seni seperti saya,” ujar Nora mengenai program itu.



Selain Nora, barisan selebriti seperti Nazrey Johani, Catriona Ross, Adam Corrie Lee dan Ustaz Ebit Lew merupakan antara tetamu jemputan dalam setiap episod berasingan.



Justeru sempena sambutan Maal Hijrah kali ini, mari kita ikuti cerita penghijrahan penyanyi Nora dan  Shamsul.




Tanda kesyukuran – Nora



Lima tahun lalu, sempena sambutan ulang tahun yang ke-35, Nora atau pemilik nama sebenar Wan Norafizah Ariffin ini mengambil keputusan untuk tampil dengan imej barunya, bertudung.



Penyanyi kelahiran Cik Siti Wan Kembang itu menyifatkan, penghijrahannya melalui satu fasa baru dalam kehidupannya.



“Hijrah itu adalah suatu perubahan. Pada usia tertentu, sudah pasti kita mahu sesuatu perubahan ke arah lebih baik dalam diri kita.



“Tidak kiralah perubahan itu kecil atau besar, asalkan kita menjadi lebih baik,” katanya yang anggap detik hijrah itu sebagai tanda syukur kepada nikmat ALLAH SWT.



“Saya bersyukur apabila lihat anak-anak di depan mata. Tetapi pada ketika itu, saya sekadar mengucapkannya di bibir sahaja.



“Apabila saya fikirkan semula, saya tertanya-tanya adakah itu cara untuk bersyukur? Bertitik tolak daripada perasaan itu pada lima tahun lalu, saya tekad mahu berubah.



“Lalu, pada usia 35 tahun saya buat keputusan untuk lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT,” jelasnya.



Ceritanya lagi, pada peringkat awal penghijrahannya, dia terpaksa berdepan dengan cabaran dan penerimaan masyarakat yang agak skeptikal namun itu semua dapat diatasinya.



“Pada peringkat permulaan berhijrah, saya akui agak tertekan apatah lagi ada ‘bisikan’ seperti menyuruh saya membuat konsert terlebih dahulu, tunggu umur 40 tahun atau selepas tunaikan haji barulah menutup aurat.



“Namun, saya tekad ingin berhijrah kerana apabila sudah mendapat hidayah, janganlah kita berpaling kerana mungkin hidayah itu akan ditarik balik.



“Tetapi kini, cabaran itu hanya lebih kepada bagaimana mahu menyesuaikan diri lebih-lebih lagi saya terlibat dalam industri hiburan,” katanya.



Ujarnya, sebagai seorang artis bertudung, had dan batasan perlu diletakkan agar tidak dipandang serong oleh masyarakat.



“Saya banyak rujuk pada ustaz dan membaca buku-buku agama mengenai apa yang boleh dan tidak.



“Kita masih lagi boleh menyanyi atau menyampaikan sesuatu yang baik, tetapi perlu menjaga setiap kelakuan, penampilan, percakapan dan apa yang kita sampaikan.



“Jika saya rasa perjuangan saya betul, maka saya akan teruskan. Kita juga jangan sesekali menegakkan benang yang basah. Jika kita melakukan kesilapan, tak salah jika kita mengakuinya,” katanya.




Siri kartun animasi



Melihat kepada tanggungjawabnya sebagai anak seni, Nora sambil dibantu suaminya yang juga komposer, Johan Nawawi dan anak-anaknya menghasilkan siri kartun animasi bertajuk Ummi…Ceritalah Pada Kami! yang kini sudah masuk musim kedua.



“Penghasilan kartun animasi ini adalah salah satu tanggungjawab kami dalam mendidik kanak-kanak dengan cara Islam.



“Saya boleh menyanyi dan suami pula boleh buat lagu untuk rancangan itu,” jelasnya.



Kata ibu kepada empat anak ini, idea untuk menghasilkan siri kartun animasi itu tercetus atas kesedaran untuk menghidangkan program bermanfaat untuk tontonan kanak-kanak dan keluarga yang bukan sahaja menghiburkan malah memberikan pengajaran.



“Sebagai seorang ibu, saya terpanggil untuk menghasilkan sesuatu bermanfaat di samping menghiburkan kanak-kanak.



“Penerbitan siri animasi ini adalah jawapan terbaik untuk menarik perhatian mereka kerana ia paling dekat dan relevan dengan golongan cilik,” katanya.



Siri kartun animasi  itu akan ditayang semula pada Januari depan di TV9 pada Khamis jam 8.30 pagi dan Sabtu pada jam 6 petang.




Tinggal di depan rumah Allah



Tidak seperti Nora, pengalaman Shamsul agak berbeza. Ramai beranggapan pelakon dan pelawak ini mula berhijrah setelah pulang mengerjakan ibadah haji, tahun lalu.



Hakikatnya, bapa kepada tiga anak ini berubah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT secara beransur-ansur sejak beberapa tahun kebelakangan ini.



“Seperti kita ketahui, pengertian hijrah sebenar adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Tetapi untuk kita di zaman ini, hijrah membawa erti luas.



“Berubah daripada yang baik menjadi jahat juga sesuatu penghijrahan. Tetapi pastinya kita mahu berhijrah daripada tidak baik menjadi lebih bagus,” katanya.



Jelasnya lagi, titik tolak penghijrahannya bermula setelah berpindah dari Cheras ke Bangi sementelah lagi rumah itu pula letaknya betul-betul di hadapan sebuah masjid.



“Rumah di depan masjid, tetapi saya tidak pernah pergi ke masjid untuk solat berjemaah.



“Tetapi, saban waktu surah Ar-Rahman sering diperdengarkan dari corong pembesar suara masjid sehingga satu hari saya terdetik untuk mencari maksud akan surah itu.



“Selepas mengetahui maksudnya mengenai kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT, hati saya terdetik untuk mengikut ajaran yang diperintahkannya,” katanya.



Pemilik nama sebenar Shamsul Azahar Aliddin ini berkata, cabaran terbesar perlu dihadapinya adalah bagaimana dia mahu memperbetulkan keluarganya terlebih dahulu terutama mengajar isterinya menutup aurat.



“Saya ambil pendekatan Rasulullah SAW, kita jangan terlalu pandang jauh hendak mengajar orang terutamanya akhlak sebaliknya betulkan diri kita dahulu. Apabila akhlak kita bagus, maka orang sekeliling kita juga akan bagus seperti anak-anak, keluarga, jiran-jiran dan lain-lain.



“Berat untuk saya menyatakan hasrat berubah kepada isteri sendiri apatah lagi untuk mengajak dia menutup aurat dan bertudung sebab sebenarnya untuk membentuk dan memberi dakwah pada isteri bukanlah senang. Tapi lama-kelamaan isteri menerimanya dengan sikap terbuka dan ALLAH SWT telah kabul permintaan saya,” katanya berhasrat bergelar pendakwah suatu hari nanti.




Tidak tinggal dunia seni



Tambah Shamsul, penghijrahannya itu bukanlah bererti dia akan meninggalkan dunia hiburan sebaliknya akan terus menerima tawaran berlakon dan nyanyian jika bersesuaian.



“Tiada masalah untuk melakukan sesuatu yang mengikut perintah ALLAH, tetapi saya  cuba elak hal bercanggah. Saya ada juga terima tawaran untuk mengendalikan majlis keagamaan.



“Aktiviti lakonan masih ada, tetapi aktiviti itu semakin kurang kerana turut memberi tumpuan kepada mencari ilmu dan menghabiskan masa bersama anak-anak,” katanya.



Dalam pada itu, pada awal hijrah, dia ada terfikir kemungkinan untuk berundur dari dunia seni.



“Saya ada bertanya kepada ustaz tentang hasrat untuk berundur daripada dunia hiburan, tetapi dia kata kalau saya berhenti, anak-anak nak makan apa?



“Apabila difikirkan, saya masih ada tanggungjawab kepada keluarga dan masyarakat. Saya kena mempamerkan lakonan yang boleh memberi kebaikan dan menjauhi kemungkaran,” katanya yang bakal muncul dengan telefilem Lelaki Buaya terbitan TV3

di samping Shah Jazle dan Jasmin Hamid.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/16/stalled-iran-nuclear-probe-raises-diplomatic-pressure/


Hijrah Shamsul, Nora

Friday, January 11, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)


 


Sabtu, 12 Januari 2013

oleh: Nuim Hidayat

Misi Dakwah Islam

Kini kita tahu bersama, banyak masyarakat yang antipati terhadap partai politik atau politik. Golongan putih makin lama makin menaik. Mereka muak terhadap tingkah laku banyak para politisi yang tidak peka terhadap kondisi rakyat. Di tengah-tengah rakyat Indonesia yang masih 40 juta miskin, malah menurut Bank Dunia, kalau kategori miskin di bawah 2 dolar US per hari, jumlah penduduk miskin bisa mencapai 100 juta orang, para politisi seenaknya bepergian ke luar negeri menghabiskan uang negara dan seterusnya.

Di sisi lain, banyak aktivis-aktivis Muslim yang tidak lagi istiqamah dalam memperjuangkan dakwah Islam. Dakwah Islam sebagai inti dari dibentuknya sebuah partai atau organisasi Islam, kini hanya tinggal slogan. Para politisi Muslim banyak yang tidak memberikan keteladanan dakwah ketika ia menjabat sebagai politisi atau eksekutif. Gaya hidup dan pergaulan tidak lagi mencerminkan sebagai seorang dai. Padahal dulu mereka diajari “Aku adalah Muslim (dai) sebelum segala sesuatu”.

Konsep-konsep dan praktek-praktek dalam politik tidak mencerminkan semangat dan nilai-nilai mendasar dalam Islam. Sehingga banyak politisi-politisi muda akhirnya kecewa terhadap partai Islam. Ada teman penulis yang kecewa dengan tingkah laku para politisi partai Islam, akhirnya membuat partai sekuler.

Tentu hal itu tidak kita ingini bersama. Kita menginginkan politisi-politisi di Partai Islam, makin Islami dan politisi-politisi Muslim di partai-partai sekuler berani melakukan islamisasi di partainya.

Lihatlah kini media massa dan masyarakat, gegap gempita menyiarkan gebrakan-gebrakan yang dilakukan Jokowi dan Ahok. Turun langsung ke masyarakat, berani memotong anggaran-anggaran yang mubazir, menggaji para pemulung dan lain-lain. Seharusnya politisi-politisi Muslim –terutama yang di partai-partai Islam- malu kalah gebrakannya dengan mereka berdua. Seharusnya politisi-politisi Muslim membuat gebrakan yang lebih hebat dari mereka. Misalnya minta penurunan gaji baik sebagai pejabat eksekutif atau legislatif, karena masih puluhan juta orang miskin di tanah air atau seperti Dahlan Iskan yang berani mengumumkan orang yang mencoba menyuap dan sebagainya.

Bila para politisi Muslim tidak berbuat demikian, kukuh terhadap akidah Islam dan membuat gebrakan-gebrakan yang ‘revolusioner’, maka masyarakat akan antipati terhadap politik Islam. Dan ini bisa disebut kegagalan politik Islam.  Kalau sudah demikian apa makna membentuk partai politik Islam? Apa makna dari pentingnya politisi Muslim memegang jabatan? Ya menjadi tidak bermakna.

Renungkanlah mengapa dulu Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin (dan dilanjutkan sahabat-sahabat terkemuka) berhasil dalam dakwahnya. Dakwah di masa mereka menyebar cepat, tidak sampai 50 tahun Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab, Afrika, Asia dan Eropa. Tidak lain karena menyatunya antara konsep dan praktik (akhlak) mereka. Hidup sederhana menjadi ciri para pemimpin Muslim saat itu. Para ulama di saat itu selalu mengingatkan bahaya hidup bermewah-mewah, apalagi bila uang yang dipakai uang rakyat dan seterusnya. Selain itu, juga keteguhan aqidah dan semangat dakwah yang tinggi yang menjadikan Islam adalah agama yang tercepat pertumbuhannya dalam sejarah dunia.

Para pemimpin Islam itu bangga dengan Islamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam surat-suratnya sering menyerukan ‘Aslim taslam’. Masuk Islam lah engkau pasti selamat. Sayyidina Umar ra, begitu teguhnya memegang Islam dan begitu tinggi tasamuhnya (misalnya ketika menaklukkan Yerusalem), sehingga para pendeta pun hormat kepadanya.

Umar ra  selalu menggelorakan dakwah Islam dan menyampaikan kemuliaan Islam, karena rasa kasihannya terhadap nasib non Muslim di akherat nanti.

Pernah suatu waktu, khalifah Umar melewati sebuah tempat ibadah seorang rahib/pendeta, lalu ia berhenti sejenak. Rahib itu kemudian dipanggil dan diberi tahu bahwa khalifah Umar datang. “Ini adalah Amirul Mukminin”. Rahib itu kemudian menghadap Umar ra. Keadaaannya kurus dan lemah karena lelah dan kesulitan hidupnya. Rahib itu dalam hidupnya berusaha meninggalkan dunia. Umar ra kemudian menangis melihat kondisi Rahib itu. Seorang sahabat mengingatkan.”Rahib itu seorang Nasrani.” Umar ra menjawab,”Aku tahu itu. Dan aku teringat firman Allah Subhanahu wata’ala yang berbunyi,”Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas.”  (al Ghasyiyah 3-4). Aku merasa kasihan pada nasib dan kesungguhannya itu, padahal ia akan masuk neraka nantinya.”

Begitulah nurani yang halus dan keteguhan Umar. Ia memberikan keteladanan yang tinggi dalam memimpin, hidup sederhana, selalu berkeliling memantau kondisi rakyat, selalu aktif menggelorakan dakwah dll, karena menginginkan Islam ini dipeluk sebanyak-banyaknya umat manusia. Karena Umar ra faham, Islam ini nilainya lebih dari emas sepenuh langit dan bumi.
Al-Qur’an yang mulia mengingatkan;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sungguh orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS: Ali Imran [3]: 91).

Jadi bila dakwah menjadi inti utama partai Islam, maka kebanggaan sebenarnya adalah bila berhasil partai Islam itu mengislamkan orang-orang non Muslim atau berhasil dalam program Islamisasinya. Bukan bangga memasukkan orang-orang non Muslim dalam partainya.

Mengapa kita perhatian terhadap partai Islam? Ya karena merekalah ujung tombak dakwah Islam dalam bidang politik. Bila citra mereka anjlok di kalangan masyarakat, berarti bisa dikatakan dakwah Islam gagal dalam bidang politik.

Politik memang tidak segalanya. Tapi politik banyak mempengaruhi kehidupan kita. Undang-undang dilahirkan dalam keputusan politik, kebijakan pembagian keuangan pusat dan daerah diputuskan lewat politik, kebijakan pendidikan siapa yang boleh mengajar, siapa guru yang akan diberi uang negara adalah keputusan politik. Keputusan memberikan modal baik bagi pengusaha besar maupun kecil juga keputusan politik. Pengangkatan hakim agung yang akan memutuskan perkara juga keputusan politik.  Jadi bila umat meninggalkan politik, maka alangkah ruginya umat Islam ini. Bisa dikatakan mereka telah meninggalkan tanggungjawab dan amanat yang besar dalam pengaturan tanah air, yang merupakan bumi Allah ini. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan kita sebagai khalifah adalah untuk memakmurkan bumi ini.

Entah bagaimana wajah politik Islam tahun 2014 nanti, ketika presiden berganti. Tapi bila politisi Muslim –terutama yang berada di partai-partai Islam- tidak memperbaiki sikapnya, mungkin partai-partai sekuler akan terus menguasai negeri ini. Dan negeri ini, yang telah diperjuangkan oleh para ulama dan ‘wali’ dalam sejarahnya, sulit menjadi negeri Muslim yang disegani dunia. Apalagi menjadi pemimpin dunia Muslim. Mungkin hanya jadi pemimpi.
Akhirnya marilah kita renungkan, nasihat Sayidina Ali kepada gubernur di Mesir saat itu yang isinya aktual hingga kini:

“Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu.  Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.”

Ali melanjutkan: ”Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.  Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka… Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu.  Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang.  Dengan sikap yang waspada itu,   kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut.  Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka.  Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.

Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Sesungguhnya tiang agama, kekuatan kaum Muslimin dan senjata untuk menghadapi musuh adalah rakyat jelata.  Karena itu, jagalah hubungan baik dengan mereka dan perhatikan kesejahteraan mereka.” Wallahu aliimun hakim.* Habis

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta
 

Baca juga: Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://news.okezone.com/read/2013/01/12/340/745083/silaturahmi-ke-mui-chairuman-minta-umat-islam-jangan-golput


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)