Showing posts sorted by relevance for query Komunitas. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Komunitas. Sort by date Show all posts

Wednesday, August 21, 2013

Geliat Islam di Polandia

REPUBLIKA.CO.ID,


Muslimin dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat.


Polandia, negara di Eropa Tengah, ini jarang didengar gaungnya dalam menaungi kehidupan Muslimin. Namun siapa sangka, negara bekas komunis tersebut memiliki sejarah Islam yang panjang, yakni sekitar 600 tahun silam.
 
Islam pertama kali masuk ke Polandia dibawa oleh bangsa Tartar Muslim yang melarikan diri dari negara mereka akibat perang sipil.


Awalnya, mereka bermigrasi ke Lithuania. Namun, kemudian Raja Polandia merekrut mereka menjadi prajurit tangguh kaki tangan raja.
 
Para prajurit Tartar itu pun dengan gagah berani bertempur mengamankan Polandia dari berbagai ancaman luar, seperti gangguan Kerajaan Teknokil pada awal abad ke-15.


Mereka bahkan dikabarkan menjadi prajurit dalam Perang Wina di kubu Kerajaan Kristen Austro-Hongaria dalam melawan pasukan Turki Usmani.
 
Hingga ketika Polandia terlibat Perang Dunia II, pasukan Tartar ini masih menjadi militer tangguh negara. Dengan posisi penting sebagai ujung pedang negara, para prajurit Tartar itu tentu saja mendapat hak spesial.


Mereka setara dengan para bangsawan dan mendapat banyak hak istimewa serta fasilitas utama dari raja. Pasukan Tartar ini pun mendapat sebidang tanah untuk mereka tinggali dan membentuk komunitas.


Itulah komunitas Islam pertama di negara tetangga Jerman tersebut. Mereka pun kemudian menikahi wanita setempat dan mengenalkan Islam kepada keluarganya. Tak hanya itu, mereka juga diizinkan membangun masjid.


Menurut halaman Planeta Islam yang dipublikasikan komunitas Muslim Polandia, saat itu komunitas Muslim telah berjumlah sekitar 200 ribu orang dengan 160 masjid tegak berdiri.
 
Sayang beribu sayang, komunitas awal Islam ini meredup seiring bergantinya zaman. Semakin lama hidup di tengah mayoritas Kristen, mereka kemudian terbawa budaya dan tradisi masyarakat setempat.


Maka, mulai hilanglah nilai-nilai Islam yang ditanamkan generasi awal. Anak cucu pasukan Tartar pun memilih menjadi nasrani.
 
Kondisi Muslimin yang makin meredup itu pun kemudian diselamatkan oleh sekelompok Muslim yang membentuk sebuah organisasi pada 1917. Mereka menamakan diri sebagai “Persatuan Muslim Polandia”.


Namun, kondisi tak mendukung pergerakan mereka. Polandia di bawah rezim komunis mengakibatkan penurunan jumlah Muslimin yang besar. Pasalnya, banyak Muslimin yang dideportasi ke Siberia, tanah mereka pun dirampas, dan masjid-masjid ditutup.
 
Disebutkan oleh Planeta Islam, jumlah Muslimin pasca-insiden tersebut tersisa sekitar 5.000 orang. Puluhan masjid pun tersisa dua saja, yakni di Bohoniki dan Kruszyniany.


Tak hanya minim secara kuantitas, Muslimin kala itu juga minim kualitas. Pemahaman mereka terhadap agama sangat buruk sehingga rawan terjadi konversi iman. Apalagi, tak adanya lembaga yang memberikan mereka pendidikan syariat.
 
Mati surinya Muslimin Polandia ini pun kemudian bangkit ketika banyak imigran Muslim dari bangsa Arab. Semangat Islam kemudian digalakkan kembali. Kelompok yang berada di garda terdepan dakwah Islam saat itu justru para mahasiswa Muslim. 


Pada 1989 mereka membentuk Perkumpulan Mahasiswa Muslim Polandia. Organisasi ini kemudian membenahi pendidikan Islam Muslimin yang dimulai dari anak-anak. “Mereka mendirikan beberapa pendidikan Islam dasar untuk anak-anak Tatar,” dikutip dari Islamweb.
 
Sejak itulah Islam kembali menggeliat di Polandia. Saat ini, jumlah Muslimin lebih dari 30 ribu jiwa dengan komposisi Tartar, sang Muslimin awal hanya 5.000 jiwa. Kemudian, Muslim imigran asing sekitar 25 ribu serta Muslimin setempat atau para mualaf sekitar 500 hingga seribu orang.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, Muslimin Polandia masih memiliki banyak hambatan. Dalam pangan misalnya, mereka hanya memiliki satu toko halal yang berlokasi di ibu kota, Warsawa.


Banyaknya jumlah masjid yang ditutup pun membuat mereka kekurangan fasilitas ibadah. Masjid tak pernah cukup menampung jamaah. Tak hanya itu, Muslimin di sana juga berada di bawah garis kemiskinan.
 
Dalam pendidikan Islam pun, Muslimin masih membutuhkan banyak literatur Islam. Bahkan, untuk terjemahan Alquran, terdapat satu karya terjemah dari era Tartar abad ke-19.


Namun, terjemahan itu pun baru rampung sebagian. Bagian yang tersisa justru dirampungkan oleh seorang orientalis non-Muslim bernama Jozef Bielawski serta sebagian lain oleh kelompok Ahmedija.
 
Kendati banyak memiliki kesulitan, Muslimin Polandia hidup bahagia. Mereka dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat. Dibanding negara Eropa sekitarnya, Muslimin Polandialah yang dapat merasakan hidup tenteram tanpa diskriminasi sodial.
 
Untuk menjaga keharmonisan dengan agama mayoritas, terdapat dewan umum di Polandia yang menanganinya. Dewan Katolik dan Muslim merupakan salah satu lembaga yang memediasi dialog antaragama di negara tersebut.


Anggota dewan itu sekaligus ketua komunitas Muslim di kawasan Bialystok, Halima Szahidewicz, menuturkan, tak pernah ada pertikaian ataupun ketegangan dalam hubungan antaragama. Kondisi damai tersebut pun telah berlaku sejak generasi Muslim pertama Polandia.


“Banyak sekali hal yang berubah dalam 600 tahun terakhir, tapi ada satu hal yang tak berubah, yakni toleransi terhadap kami Muslimin,” ujarnya.



Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Geliat Islam di Polandia

Thursday, January 31, 2013

Singapura Dicuncang Gay

Bila di Indonesia sedang ramai gugatan undang-undang (UU) mengenai migas dan sekolah, di Singapura pemerintahannya ‘panas-dingin’ menghadapi tuntutan aturan pernikahan pasangan gay.

Kasus pernikahan sejenis kembali mengguncang publik. Kini giliran Singapura yang menghadapi dilemma tersebut.Pemerintah Singapura dalam rilisnya  mengatakan akan menggelar proses persidangan untuk menghadapi gugatan yang dilakukan pasangan gay terhadap salah satu pasal hukum pidana negara kota itu.

Gary Lim dan Kenneth Chee, pasangan gay, resmi menggugat pasal 377A yang menyatakan perbuatan homoseksual sebagai tindakan kriminal. Pasangan yang sudah hidup bersama selama 15 tahun itu menilai, pasal 377A tidak konstitusional.

“Kami tidak takut akan ditangkap polisi karena kami hidup sebagai pasangan gay, tetapi pasal itu melabel kaum kami sebagai kriminal, dan kami tidak menginginkannya,” jelas Kenneth.

Proses persidangan di Mahkamah Agung akan dilaksanakan 14 Februari mendatang. Aedit Abdullah, Kepala Jaksa Penuntut Singapura, akan bertindak sebagai perwakilan pemerintah. Gugatan ini sendiri bukanlah gugatan pertama. Sebelumnya Tan Eng Hong, menggugat pasal itu setelah dia ditangkap tahun 2010 dengan tuduhan melakukan seks oral di toilet mal.

Gary menambahkan, walaupun pemerintah sudah melunak dengan tidak akan terlalu pro-aktif dalam menerapkan pasal itu, namun kasus di mana individu dijerat dengan pasal 377A masih kerap terjadi. Selain itu, kata Gary, sangatlah mungkin, ada pihak-pihak yang mengeluh terhadap kaum gay dan menggunakan pasal ini untuk menjerat komunitas gay.

Pengacara Choo Zheng Xi, yang mewakili Gary dan Kenneth menyatakan, pasal ini mempersulit upaya organisasi non-profit yang bergerak di bidang perlindungan kaum gay. “Pasal ini menyebabkan masyarakat mempertahankan stigma dan diskriminasi terhadap kaum gay, mulai dari sekolah dan tempat kerja hingga menyebabkan (gay, red) bunuh diri,” jelasnya.

Pasangan yang berprofesi sebagai desainer ini telah banyak menghabiskan waktu untuk komunitas gay. Mereka mendirikan grup sosial, The Bear Project, dan juga telah mengumpulkan petisi untuk menggugat pasal kontroversial itu. Mereka berharap dapat melakukan yang lebih baik lagi melalui gugatan ini.

Pro-Kontra
Gereja-gereja di Singapura pun menyerukan jemaatnya secara khusus dan masyarakat secara umum untuk membentuk ‘barikade’ menghadapi gugatan hukum pasangan gay.

Asia One melaporkan, mobilisasi akan dilakukan secara terbuka dan online oleh 100 gereja dan 40.000 anggota jemaat Kristen yang tergabung dalam komunitas LoveSingapore. Mereka akan menyerukan penolakan keras terhadap pencabutan pasal tersebut.

Dimotori oleh Pendeta Lawrence Khong, gembala sidang di Faith Community Baptist Church, Khong memperingatkan nilai-nilai keluarga dan kebebasan beragama akan terancam jika pasal itu dicabut.
“Negara-negara lain yang mencabut pasal sejenis telah menyaksikan kehancuran keluarga yang merupakan unit paling dasar dari kehidupan. Hal ini berimbas negatif ke masyarakat dan juga pembangunan bangsa,” ucap Khong.

Khong mendesak Pemerintah Singapura untuk memelopori upaya memberikan pendidikan moral yang tepat kepada masyarakat dan memastikan bahwa definisi keluarga tetap terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Sementara itu, Pendeta Yang Tuck Yoong, anggota eksekutif LoveSingapore, menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab terhadap isu ini. “Kami siap untuk pertempuran ini.”

Paerin Choa, pimpinan komunitas Pink Dot, menjawab Singapura adalah negara yang beraneka ragam dan mereka menghargai perbedaan pendapat.

Bereaksi lebih keras, grup humanis di bawah pimpinan Mark Kwan mengeluarkan pernyataan bahwa pasal ini mengkriminalisasi gay yang tidak berafiliasi ke agama apa pun atau yang memiliki kepercayaan. Gay bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama mereka. Kwan merilis surat terbuka kepada Menteri Kehakiman K Shanmugam untuk mencabut pasal itu.

Kondisi makin memanas. Sebab, Scott Teng, seorang peneliti, melaporkan Pendeta Yang Tuck Yoong ke kepolisian menyusul komentar pedasnya terhadap komunitas gay Singapura. Yang memicu kontroversi menyusul tulisannya di situs web gereja tempatnya bertugas, Cornerstone Community Church.

Dalam tulisan berjudul “Firing the First Salvo” yang menyerukan umat Kristiani untuk mempersiapkan diri menghadapi “perang” melawan kaum gay. Dia juga menegaskan bahwa gereja tidak boleh lengah menghadapi bahaya homoseksualitas yang sudah berada di depan mata. Yang mengakhiri tulisannya dengan menekankan bahwa ini adalah tanggung jawab gereja untuk menghancurkan “kekuatan gelap” tersebut.

Pendeta Yang sendiri sudah mengganti judul tulisannya menjadi “Times and Seasons” dan menghilangkan referensi secara spesifik terhadap kaum gay.

Teng, yang merupakan seorang gay, memutuskan untuk melaporkan Yang karena dia menilai tulisan tersebut bernada menghasut masyarakat yang berpotensi menimbulkan kekerasan fisik terhadap kaum gay. “Sangat mungkin ada jemaat ataupun pengikut Dr Yang yang menanggapi tulisan ini secara harfiah dan memicu hal yang tidak diinginkan,” jelas Teng.ins

Indonesia Sepakat Pernikahan Sejenis Haram
Di Indonesia isu pernikahan sejenis juga snater beredar. Bahkan beberapa artis pria diduga memiliki hubungan ‘janggal’ tersebut. Sebut saja gosip percintaan Indra Bruggman Bertrand Antolin hingga Olga Saputra dan Chand Kelvin. Meski semuanya menampik kabar tersebut.

Pemerintah dan seluruh elemen bangsa sendiri sepakat, atas alasan apa pun pernikahan sejenis melanggar nilai-nilai ajaran agama apa pun. Islam secara tegas mengharamkan pernikahan tersebut.

Anggota Majlis Tarjih PP Muhammadiyah Marifat Iman mengatakan, mereka yang mendukung pernikahan sejenis atas nama hak asasi manusia (HAM) justru melanggar HAM itu sendiri. “Jika HAM yang seharusnya diperjuangkan adalah hak yang sesuai dengan kodrat alam dan digariskan Tuhan,” katanya. Menurutnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan, binatang saja ditakdirkan untuk hidup bersama lawan jenisnya.

Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin mengungkapkan, pernikahan sejenis melanggarkan nilai-nilai ajaran agama Islam. “Agama Islam jelas melarang pernikahan sejenis. Haram hukumnya,” ujarnya. Menurutnya, mereka yang menyukai sesama jenis memiliki masalah psikologis yang perlu diobati. “Itu harus disembuhkan. Bukan dituruti maunya. Dalam hatinya ada penyakit,” ujarnya.

Menurut hadis Rasulullah SAW, “Barang siapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian) maka ia harus menghukum mati, baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya,” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-baihaqi).

Rakyat Barat Menolak
Penolakan terhadap pernikahan sejenis atau terkenal dengan kelompok lesbian, gay, bisexual, transgender (LGBHT) tidak hanya datang dari kalangan Muslim. Sebelumnya, pemimpin Katolik Roma di Inggris dan Wales mengkritik rencana Pemerintah Inggris yang akan melegalkan pernikahan sejenis dalam kotbah malam natalnya. Uskup Agung Westminster Vincent Nichols menyatakan, rencana itu sangat tidak masuk akal.

Ratusan penduduk Paris juga memprotes rencana pelaksanaan rancangan undang-undang yang memperbolehkan pernikahan sejenis di Prancis oleh Presiden, Francois Hollande menjelang Juni ini.

Anehnya, para petinggi negeri itu tampaknya tak mengubris. Tak tanggung-tanggung, Undang-Undang yang digagas Perdana Menteri Inggris David Cameron itu akan memberi sanksi kepada siapapun yang nantinya menolak adanya pernikahan sejenis.

“Panitera alias pejabat kantor sekretariat pengadilan bakal dituntut apabila ketahuan menolak pengajuan pernikahan sesama jenis atau gay,” demikian isi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pernikahan gay di Inggris, seperti dikutip Dailymail.

Meskipun dihujani protes dan kritik pedas, Cameron tetap bersikeras akan memperjuangkan aturan ini. Sementara, sejumlah menteri kabinetnya banyak yang menentang apa yang Cameron yakini sebagai sebuah keadilan yang harus ditegakkan.

Menteri Pendidikan Michael Gove menyatakan akan melindungi para guru penentang pernikahan sejenis yang bakal dipecat atas sikapnya itu. Namun, seorang sumber di Departemen Pendidikan mengkhawatirkan pemecatan guru-guru tetap akan tetap terjadi.

Sementara, Menteri Kebudayaan Inggris Maria Miller, yang juga menteri atas kesetaraan, menyatakan akan mengkaji dan mendalami perlakuan yang sama dan adil terhadap pasangan gay.

“Pernikahan adalah institusi yang sangat penting dan sakral, salah satu yang kerap berubah sepanjang sejarah kita, dan akan terus berubah. Nilai-nilai kekeluargaan mengikat perkawinan dan masyarakat bersama-sama,” jelas Miller.

Dalam kasus ini, lanjut dia, kita akan lebih memperkuat pentingnya arti pernikahan dalam masyarakat. RUU ini melindungi sekaligus mempromosikan kebebasan beragama, sehingga semua organisasi keagamaan dapat bertindak sesuai ajaran dan keyakinan masing-masing.

Selain menteri, sejumlah anggota parlemen juga mengkhawatirkan efek domino dari RUU tersebut. Apabila RUU tersebut telah sah menjadi UU, kemungkinan besar akan diadopsi negara-negara lain.ins

NEGARA YANG MELEGALKAN PERNIKAHAN SEJENIS
1. Belanda
Pemerintah Belanda melegalkan pernikahan sejenis pada tahun 1996, 15 tahun setelah aktivis gay mengusung isu tersebut ke permukaan pada awal tahun 1980. Parlemen Belanda membentuk satu komisi khusus untuk melihat efek hukum dari legalitas pernikahan sejenis. Empat tahun kemudian undang-undang pun disahkan. Alhasil, sejak tanggal 1 April 2001, pernikahan sejenis telah resmi diakui secara hukum di Belanda.

2. Belgia
Satu tahun setelah legalitas pernikahan sejenis diberlakukan di Belanda, undang-undang serupa diajukan pula ke parlemen Belgia. Kemudian pada tanggal 1 Juni 2003, pernikahan gay pertama dilakukan secara resmi dan diakui secara hukum. Salah satu pasangan pertama yang menikah adalah Alain De Jonge dan Olivier Pierret.

3. Spanyol
Pada tanggal 8 Juni 1901, Elisa Sanchez Loriga, berpakaian layaknya seorang pria dan menggambar alias seperti laki-laki. Wanita ini menikahi pasangan lesbinya, Marcela Gracia Ibeas. Setelah kebenaran itu terkuak (dan diterbitkan dalam dua surat kabar), mereka kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dan harus meninggalkan Spanyol untuk menghindari penangkapan. Maka, pernikahan mereka menjadi pernikahan sejenis pertama yang tercatat dalam sejarah Spanyol.

Pada tanggal 30 Juni 2005, Parlemen Spanyol melegalkan pernikahan sejenis. RUU ini sangat ditentang oleh Gereja Katolik, tetapi hasil jajak pendapat menunjukkan 62% dari majelis mengabulkan UU tersebut.

4. Kanada
Pada saat Parlemen mengesahkan pernikahan gay pada 20 Juli 2005, hampir semua provinsi di Kanada telah melegalkan hukum tersebut. Setelah mengesahkan UU tersebut, Kanada menerbitkan lebih dari 15.000 surat nikah bagi pasangan sejenis yang tinggal di negara itu atau hanya datang untuk menikah.

5. Afrika Selatan
Di beberapa negara Afrika, seorang pria dapat dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup jika ketahuan gay. Namun Afrika Selatan memiliki hukum berbeda, negara ini memberi hak-hak kepada kaum LGBT untuk menikah sejak 30 November 2006.

6. Norwegia
Pernikahan sejenis menjadi topik diskusi di dewan pemerintah Norwegia. Pada tahun 1993, Norwegia menjadi negara kedua, setelah Denmark, yang melegalkan pernikahan sejenis.

7. Swedia
Swedia adalah salah satu negara paling liberal di dunia dan 71% penduduknya mendukung pernikahan sejenis. Legislasi pernikahan sejenis disahkan pada bulan Mei 2008. Lima bulan kemudian Gereja Lutheran Swedia mengumumkan dukungan penuh untuk pernikahan sesama jenis.

8. Portugal
Homoseksualitas dipandang sebagai sebuah kejahatan di Portugal sampai tahun 1982. Kemudian tahun 2009, para LGBT hanya menerima dukungan 40% dari parlemen. Setelah Perdana Menteri Jose Socrates kembali terpilih tahun 2009, ia membuat UU yang melegalkan pernikahan sejenis. Hukum itu mulai berlaku sejak 5 Juni 2010.

9. Islandia
Di Islandia, tidak satu pun anggota parlemen memberikan suara “Tidak!” tentang legalisasi pernikahan sejenis. Keputusan itu didukung oleh orang paling kuat di Islandia, Perdana Menteri Johanna Sigurdardottir. Mungkinkah ini hanya sebuah kebetulan? Pada tanggal 27 Juni 2010, hari yang sama saat undang-undang itu mulai berlaku, Perdana Menteri Islandia menikahi pasangan gaynya.

10. Argentina
Argentina menjadi negara bagian terakhir di Amerika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Tepat pada tanggal 22 Juli 2010, hukum itu mulai berlaku di Argentina.

11. Meksiko
Sejak 21 Desember 2009, pernikahan sesama jenis dapat dilakukan di ibukota Meksiko, Mexico City. Rupanya, hukum tersebut hanya berlaku di kota itu.

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277445:kapolres-sambut-baik-terbentuknya-pamk&catid=15:sumut&Itemid=28


Singapura Dicuncang Gay

Tuesday, July 30, 2013

Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bulan suci Ramadhan bukan berarti bulan untuk bermalas-malasan karena berpuasa. Justru, di bulan yang penuh rahmat ini kaum Muslimin harus banyak beraktivitas yang positif, baik dalam kegiatan ibadah maupun kegiatan kemanusiaan lainnya.


Begitu juga untuk para perempuan. Bagi kaum perempuan yang ingin selalu aktif dalam kegiatan positif, ada sebuah acara yang tepat agar bisa tetap aktif dalam kegiatan positif pada Ramadhan kali ini.


Republika bekerja sama dengan Scarf Magazine, menggelar sebuah event yang tepat untuk menyalurkan energi aktif tersebut. Acara tersebut adalah Fashionette Market. Manager Event dan Promosi Republika Yulia Ayu Trisia menjelaskan tujuan digelarnya acara tersebut merupakan salah satu aktivitas yang digelar oleh Leisure Community.


Leisure Community merupakan komunitas yang berisikan perempuan muda, berusia 18 – 30 tahun. “Komunitas ini terbentuk karena kecintaan pembaca pada halaman ‘Leisure’ di Republika yang terbit tiap Selasa,” ujar Yulia, Senin (29/7).


Ketika sebuah komunitas terbentuk, tak mungkin hanya diam saja. Perlu beragam aktivitas dan kegiatan dilakukan agar para anggota komunitas tersebut terjalin silaturahim yang lebih erat dan bisa berkumpul dalam acara yang bermanfaat bagi sesama. Fashionette Market ini adalah salah satunya.


Fashionette Market ini digelar sebagai salah satu aktivitas Leisure Community selama Ramadhan tahun ini. Kali ini, temanya creativity, beauty, dan charity. “Ketiga prinsip itu terwujud dalam rangkaian kegiatan di Fashionette Market,” kata Yulia.


Acara ini akan digelar selama tujuh hari, sejak 29 Juli hingga 4 Agustus 2013 di atrium lantai tiga FX Sudirman. Tidak dipungut biaya apa pun untuk masuk acara ini, jadi semua pengunjung mal ataupun masyarakat bisa dengan mudah menikmati sajian acara bermanfaat ini.


Untuk creativity, banyak kegiatan yang digelar untuk mendukung kreativitas perempuan muda. Selain untuk menunjukkan kepribadian perempuan cerdas yang aktif, kegiatan ini juga bertujuan menyalurkan ide-ide dan inovasi. Kegiatan yang dilakukan, antara lain, fashion workshop membuat aksesori, cooking class, membuat hidangan onigiri, dan kegiatan kreatif lainnya.


Sedangkan, untuk beauty para perempuan muda bisa mendapatkan inspirasi agar bisa tampil cantik nan menawan kala Ramadhan, terutama saat Idul Fitri. Tentunya, sebagai perempuan muda yang aktif, takkan mau ketinggalan mode. Bahkan, butik busana Muslim dari artis kenamaan Nuri Maulida juga tersedia di sini. Selain itu, ada pula fashion show dari desainer ketua hijabers community, Ria Miranda.


Banyak penampilan yang sayang untuk dilewatkan Fashionette Market. Ada pertunjukan musik dari komunitas hijabers juga peluncuran buku-buku terbaru, salah satunya buku Three of Us. Tak ketinggalan, acara charity dalam rangkaian Fashionette Market ini, banyak artis yang akan melelang bajunya di sini. Sebut saja Chakra Khan, Nova Eliza, Astrid, dan banyak lainnya.


Hasil dari penjualan lelang baju ini takkan dikantongi oleh para artis sendiri. Mereka akan mendonasikan hasil penjualannya ke Taman Kanak-Kanak (TK) Aluna. TK Aluna merupakan sebuah lembaga pendidikan anak yang diperuntukkan bagi mereka yang punya kekurangan dalam pendengaran, tuna rungu. n rosita budi suryaningsih ed: chairul akhmad


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/28/141240/Menelusuri-Jejak-Sejarah-Perkembangan-Islam-di-Negeri-Komunis-Tiongkok-(1)-


Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

Wednesday, December 12, 2012

Terisolisasi karena Jadi Mualaf di Negara Non-Muslim? Intip Solusinya

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Salah Satu tantangan terbesar seorang mualaf setelah memeluk Islam adalah terisolasi dari keluarga dan lingkungan. Kondisi itu juga kian diperparah dengan rasa tidak nyaman dari mualaf ketika berada di lingkungan non-Muslim.

Pendiri SuperMuslimah Project, Amal Stapley mengungkap situasi itu sangat wajar. Setiap mualaf butuh proses untuk merasa nyaman. “Tentu, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (21/11).

Faktor yang dimaksud mencakup dimana mualaf tinggal, dukungan masyarakat, juga status perkawinan, proses mualaf memeluk Islam, pemahaman dan harapan, dan kepribadian mualaf sendiri. Menurut Amal, Allah SWT membawa setiap mualaf menuju jalur yang terbaik dengan sebelumnya memberikan semacam tes untuk mengkonfirmasi level keimanan mualaf.

“Memang tidak ada hal yang baku dalam masalah ini. Yang pasti, butuh penyesuaian dengan melihat dari kebutuhan si mualaf,” kata dia. Akantetapi Amal menyarankan kepada para mualaf beberapa poin terkait masalah tersebut.

Poin pertama, setiap mualaf harus memiliki harapan yang realistis. “Islam adalah cara hidup ideal. Tapi perlu diketahui tidak setiap muslim baik dan mungkin tidak bisa memberikan bantuan kepada para mualaf, ” kata dia.

Poin kedua, kata Amal, setiap mualaf disarankan untuk bergabung dengan komunitas mualaf. Ini dilakukan guna mempermudah mualaf berbagi pengalaman. “Kalau sulit ditemukan, coba cari via internet atau hubungi masjid terdekat. Insya Allah akan banyak informasi soal komunitas,” kata dia.

Setelah menemukan komunitas, kata dia, cobalah untuk aktif dalam setiap kegiatan. Itu juga membantu mualaf untuk lebih mendalami Islam sekaligus banyak berkenalan dengan sesama mualaf. “Ini sangat berguna dalam proses transisi yang anda alami,” ucapnya.

Poin ketiga, lanjutnya, menjadi bagian dari komunitas masjid. Mengapa demikian? Sebab masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam. Di masjid, mualaf akan menemukan berbagai komunitas muslim. “Jangan gugup atau malu. Ajaklah siapapun untuk berbicara. Bersosialisasilah. Itu akan bermanfaat bagi anda,” ucapnya.

Poin terakhir, lanjut dia, coba untuk mencaga hubungan baik dengan keluarga meski mereka non-Muslim. Nabi Muhamamad SAW misalnya, beliau memperlakukan pamannya dengan penuh cinta kasih. Meski pamannya bukan seorang Muslim dan menolak Islam.

“Anda tidak tahu, apa rencana Allah soal mereka. Bisa jadi, satu saat mereka akan diberikan hidayah,” tuturnya. Hal penting lainnya, kerabat atau tetangga yang non-Muslim sebelumnya memiliki peran penting dalam kehidupan mualaf.

Itu menjadi alasan bagi setiap mualaf untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik. Tentu dengan catatan, hindari permintaan apapun dari mereka yang mendorong mengingkari peringa Allah SWT. “Yang anda butuhkan adalah modifikasi posisi anda,” kata dia.

Article source: http://www.merdeka.com/ramadan/masuk-surga-tanpa-salat.html


Terisolisasi karena Jadi Mualaf di Negara Non-Muslim? Intip Solusinya

Monday, January 20, 2014

Islam Berkembang di Alabama

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Minat masyarakat untuk menghormati dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi.


Sejak peristiwa bom 9/11 yang masih membekas bagi warga dunia, tak ada yang mengira bahwa jumlah Muslim di Amerika justru mengalami pertumbuhan.


Di sebuah kota bernama Tuscaloosa, yang masuk wilayah negara bagian Alabama, ada sebuah masjid yang masih aktif dan dipenuhi jamaah. Di sini, ketakutan warga Amerika kepada Islam semakin memudar.


Dari laman AL.com, masjid yang berada di Islamic Center Tuscaloosa itu menjadi tempat umat Islam melakukan berbagai aktivitas.


Di sini tergambar bagaimana harmonisnya hubungan umat Islam yang selalu diterima oleh masyarakat dan bisa bersosialisasi dengan lancar.


Ketua Tuscaloosa Islam Society Muhammad Sharif mengatakan, memang dulu peristiwa 11 September membuat warga menjadi cemas, takut, dan kesal dengan orang Muslim.


“Namun ternyata, kami menemukan banyak orang meninggalkan bunga di pintu kami dan memperlakukan kami dengan lebih baik. Tak semua orang membenci orang Muslim. Kami sangat menghargai hal ini dan berharap semoga keadaan bisa kembali normal seperti dulu lagi,” ujarnya.


Menurutnya, kini justru lebih banyak yang datang mencarinya untuk mendapatkan informasi tentang konsep Islam yang sebenarnya. Mereka ingin mendengar dari mulut orang Islam sendiri bahwa terorisme yang dilakukan pada peristiwa 11 September tersebut bukanlah bagian dari tuntunan Islam.


Hubungan antara Islam dan agama lain, misalnya Kristen pun, semakin membaik. Mereka sering melakukan kerja sama dan membentuk kelompok untuk kegiatan amal dan kemanusiaan. Persahabatan antara Muslim dan masyarakat lainnya juga semakin terjalin dengan eratnya.


Salah satu penduduk Muslim Alabama, Mirza Beg (68 tahun), percaya masyarakat di Tuscaloosa kini semakin terbuka pada Islam.


Ahli geologi di Geological Survey of Alabama ini sering mendapatkan pertanyaan dari kawan-kawannya yang Kristen tentang apa yang ia percaya selama ini. “Kini semakin banyak kawan saya yang ingin tahu apa itu Islam,” katanya.


Sejak 1992, terjadi peningkatan jumlah Muslim hingga berkali-kali lipat. Paling tidak ada 1,7 juta Muslim yang merupakan warga pendatang dari luar Amerika.


Berdasarkan survei yang dilakukan Pew Research Center of Asia Amerika, jumlah kaum Muslim di seluruh Amerika terus bertambah hingga kini mencapai tujuh juta. Persentase umat Islam meningkat dari lima persen pada 1992 menjadi 10 persen pada 2012.


Meski jumlahnya sedikit namun masih ada masyarakat Amerika yang dengan teguh pada pendirian Islamnya.


Dengan jumlahnya yang sedikit itu mereka menjaga eksistensi mereka dan tak kenal lelah menyebarkan informasi yang sebenarnya mengenai Islam.


Kita bisa melihatnya pada komunitas Muslim yang tinggal di Alabama yang merupakan negara bagian Amerika Serikat yang terletak di bagian tenggara. Sebelah selatannya, langsung berbatasan dengan Teluk Meksiko.


Alabama merupakan daerah pertanian. Dulu, daerah ini dikenal sebagai penghasil kapas terbesar di Amerika.


Namun, kini bukan hanya kapas yang menjadi andalan, melainkan berbagai hasil pertanian lain juga peternakan menjadi denyut nadi wilayah itu. Ada pula beberapa kota yang ramai di Alabama.


10 Masjid


Alabama beribu kota di Montgomery. Sedangkan, kota terbesar di wilayah ini adalah Huntsville dan kota berpenduduk terpadat adalah Birmingham.


Ada juga kota-kota lain yang masuk dalam wilayah tersebut, di antaranya kota tua Mobile yang didirikan oleh koloni Perancis, Tuscaloosa, Selma, dan banyak lagi kota lainnya.


Di seluruh negara bagian Alabama ada sekitar 10 masjid yang melayani kebutuhan ibadah umat Islam. Jumlah ini termasuk banyak.


Di Birmingham kita bisa menemukan empat masjid, yaitu Al Masjidul Al Ka’bah, Masjid As Sabiqqon, Masjid Alquran, dan Masjid Birmingham Islamic Society. Sedangkan, di Ibu Kota Alabama, Montgomery, terdapat sebuah masjid yang diberi nama Masjid Qasim Bilal El Amin.


Selain itu, di Kota Mobile ada tiga masjid utama, yaitu Masjid Baitul Haqq, Masjid Al Islam, dan sebuah Islamic center. Masih ada tiga Islamic center lainnya, lengkap dengan masjid besar dan berbagai kegiatan aktifnya, yang selalu mengisi kehidupan religius umat Islam di sana. Tiga Islamic center tersebut berada di Kota Tuscaloosa, Huntsville, dan Selma.


Belum ada survei tentang berapa jumlah pasti penduduk Muslim di sana. Namun, minat masyarakat untuk menghargai, menghormati, dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi. Beberapa sekolah Islam pun berdiri di tempat tersebut. Salah satunya Alabama Islamic School.


Di perguruan tinggi, tepatnya di University of South Alabama, terdapat pula komunitas mahasiswa Muslim. Dari laman resminya, Asosiasi Mahasiswa Muslim di Universitas South Alabama mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah organisasi independen yang didedikasikan untuk menyediakan komunitas bagi anggota universitas yang ingin mendapatkan informasi dan gambaran yang akurat tentang apa itu Islam yang sebenarnya, juga tujuannya.


“Dalam dunia di mana informasi hampir tak terbatas, sangat penting jika kita memperoleh informasi tentang agama lain dari sumber yang tepercaya dan representatif,” tulis laman tersebut.


Itu sebabnya komunitas ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang ajaran Islam sesuai konteks aslinya.


“Misi kami adalah untuk menyampaikan informasi yang akurat tentang Islam, menjelaskan prinsip-prinsip Islam, dan menjawab berbagai pertanyaan dengan harapan bisa menciptakan pemahaman dan menghilangkan segala kesalahpahaman tentang keyakinan kita,” tulisnya.


Jika masyarakat luar telah memahami Islam secara benar, harapan selanjutnya adalah bagaimana agar bisa tercipta keharmonisan hubungan dengan masyarakat secara damai meski berbeda agama atau ideologi.


Selain itu, komunitas ini juga banyak menggelar kegiatan yang melibatkan Muslim maupun mahasiswa non-Muslim.


Di antaranya, makan malam bersama dalam peringatan hari besar Islam, berbagai diskusi informal, informasi berbagai beasiswa dan lomba akademik, serta banyak acara lainnya.


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/21/perlu-perda-wajib-madrasah-diniah-360611


Islam Berkembang di Alabama

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Sunday, January 5, 2014

Islam Bertahan di Kolombia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Para imigran Muslim bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera.

Kolombia terkenal sebagai negara berkembang yang banyak terjadi kriminalitas. Adanya kartel narkoba yang besar dan terpelihara hingga kini memperburuk kondisi negara yang berada di Amerika Selatan ini.


Namun, di antara hiruk pikuk kehidupan warganya, ada eksistensi dari umat Muslim yang selalu berusaha untuk menunaikan semua ibadahnya, hidup dengan damai, dan terus berdakwah.


Awal mula Muslim yang tinggal di wilayah ini adalah para imigran yang berasal dari negara-negara Timur Tengah sekitar akhir abad ke-19.


Kemudian, disusul para imigran yang berasal dari Asia Selatan dan kini juga banyak warga lokal yang tertarik menjadi mualaf.


Ada tiga hal yang mendorong lahirnya komunitas Muslim di negara yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa pengantar ini. Pertama, periode setelah konflik politik di negara-negara Timur Tengah.


Kedua, jatuhnya Kekaisaran Ottoman yang mendorong minoritas Arab ke tanah Amerika. Ketiga, migrasi warga Palestina setelah perang dunia kedua dan setelah penciptaan Negara Israel pada 1948 serta migrasi warga Lebanon sekitar 1960-an.


Kolombia memiliki populasi Muslim sebanyak 86 ribu jiwa yang berarti mencakup 0,2 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 42 juta orang. Kebanyakan Muslim Kolombia adalah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina.


Mereka datang ke Kolombia sekitar 1880 hingga 1960. Mereka datang karena perang yang terjadi di Timur Tengah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi dibandingkan tempat asal mereka.


Kebanyakan, para imigran pertama tampak sebagai Muslim yang taat dibandingkan dengan generasi kedua dan ketiganya. Muslim generasi pertama sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Arab antara satu dengan yang lain.


Dari tulisan Diego Castellanos yang berjudul Islam in Colombia: Between Assimilation and Exclusion, dijelaskan kehidupan Muslim di Kolombia sangatlah kompleks. Karena, budaya masyarakat lokal masih sangat kuat, tulisnya.


Muslim menjadi kaum minoritas di negara ini. Dan, melihat apa yang terjadi dalam kesehariannya, tidak terjadi proses asimilasi yang signifikan antara Islam dengan budaya masyarakat setempat. Warga asli menolak adanya proses asimilasi dengan Islam.


Tapi, justru karena inilah Islam malah bisa bertahan sesuai aslinya, berbeda dengan kedatangan agama lain, seperti Kristen Pantekosta yang mendaur ulang formasi praktik-praktik leluhur masyarakat asli Kolombia.


Kehadiran komunitas Muslim yang sudah selama 40 tahun ini menjaga eksistensinya justru memperlihatkan bahwa agama inilah yang paling luhur di antara yang lainnya, tulis Diego.


Para imigran Muslim ini justru bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera lebih layak dibandingkan warga lainnya. Ini membuat orang-orang Muslim di Kolombia, disegani.


Padahal, fasilitas, sarana, serta gaya hidup warga Kolombia sangat tidak mendukung pada eksistensi komunitas Muslim. Karena, gaya hidup warganya yang sangat menyimpang dengan ajaran Islam membuat asimilasi Islam dan budaya setempat sulit tercapai. Ini membuat penyebaran Islam mengalami hambatan yang sangat besar.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tersendat, komunitas Muslim tetap ada di sejumlah besar Kota Kolumbia. Akhir-akhir ini, terjadi fenomena yang begitu menggembirakan.


Banyak warga setempat yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam. Ini membuat jumlah jamaah di masjid-masjid di Kolombia semakin bertambah banyak. Juga, berbagai lembaga sosial Islam yang punya banyak anggota baru.


Salah satu yang menjadi alasan kuat mengapa banyak orang Kolombia memutuskan masuk Islam karena menurut mereka, berdasarkan logika Islam menawarkan sebuah kehidupan religius yang dibangun berdasarkan ketuhanan Esa dan kepercayaan adanya Tuhan di sepanjang hidupnya.


Muslim di Kolombia bisa mengembangkan karakter yang universal yang memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang bisa dipeluk oleh ras, etnis, ataupun warga negara manapun, jelasnya.


Satu hal lagi yang membuat jumlah mualaf semakin banyak di Kolombia adalah karena jalur perkawinan. Orang-orang Muslim di sana hanya mau menikahi orang Muslim juga. Ini membuat warga setempat yang jatuh cinta pada pemuda Muslim, akhirnya berani untuk masuk Islam.


Beberapa tahun terakhir Muslim Kolombia semakin terbuka untuk memperlihatkan identitas mereka, apalagi Pemerintah Kolombia tidak lagi menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara.


Para perempuan yang mengenakan jilbab dan laki-laki menggunakan baju khas masyarakat Timur Tengah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Kolombia.


Populasi Muslim Kolombia terbanyak berada di Kota Maicao, bagian dari wilayah La Guajira. Di sinilah masjid termegah se-Amerika Selatan, Omar Ibnu al Khattab, yang didirikan pada 1987 berada.


Populasi Muslim di sini diperkirakan sekitar 8.000 orang. Sayangnya, di kota ini terjadi banyak aksi kriminalitas, seperti penyelundupan, baik rokok, barang-barang elektronik, narkoba, senjata, hingga pencucian uang, sama seperti kota-kota lain di Kolombia.


Article source: http://sidomi.com/224403/rowan-atkinson-masuk-islam-mr-bean-muslim/


Islam Bertahan di Kolombia

Wednesday, January 15, 2014

Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia menemukan kedamaian dan ketenangan hati setelah memeluk Islam.

Laki-laki Amerika ini terlahir dari ibu beragama Buddha dan ayah yang entah ia tak pernah tahu agamanya. Yang ia tahu, ayahnya setiap hari mabuk-mabukan dan tak pernah memperhatikan keluarganya.


Khidr Shahid Salaam dibesarkan tanpa pendidikan agama dari orang tuanya. Namun, karena lingkungan tempatnya tinggal membuatnya akrab dengan Kristen.


Ia pun sering pergi ke gereja bersama teman-temannya. Tapi aktivitas religius ini hanya dilakukannya sekadar ikut-ikutan, tak benar-benar merasuk ke kalbunya.


Peristiwa 9/11, yakni saat itu hampir semua media mainstream Amerika menuduh Islam sebagai pelaku dan teroris, membuatnya terhenyak. Ia sebelumnya tak pernah mengenal dengan baik apa itu Islam. Juga jiwanya kosong karena tak pernah diteduhkan oleh agama.


Rasa benci pada Islam mulai timbul pada dirinya. Ia mempunyai niat untuk membalas dendam kepada semua orang Islam di dunia ini.


Atas nama rasa benci tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota tentara Angkatan Darat Amerika Serikat agar bisa dikirim ke Timur Tengah dan membunuh orang-orang Muslim di sana.


“Karena saya sebenarnya bukan orang Kristen yang terlalu taat, saya bahkan minta dibaptis dulu untuk menguatkan keinginan saya membunuh orang-orang Muslim nanti,” ujarnya.


Sayang, ia tidak lolos tes masuk sehingga keinginan untuk membalas dendam dan membunuh orang Muslim tersebut pupus sudah.


Justru, saat itu ia mulai merasa kecewa dengan agama Kristen. Karena ia memiliki sebuah keinginan yang sangat kuat namun Tuhannya tak mengabulkannya.


Rasa kecewa yang sangat parah akhirnya membuat Salaam terjerumus dalam gaya hidup yang merusak dirinya, mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas. “Saat itu saya sudah dewasa, lebih dari 21 tahun, dan saya sudah boleh melakukan hal-hal tersebut,” katanya.


Kehidupannya semakin parah karena mengantarkannya pada hal-hal yang bersifat kriminal, pencurian, perampokan, penggelapan kendaraan, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sering dilakukannya.


Akibatnya, sudah pasti ia tertangkap dan mendekam di dalam penjara. Di penjara wilayah yang menjadi tempat tahanannya, ia mencoba mencari pertolongan dari Tuhan, padahal selama ini ia mengaku dirinya adalah orang ateis.


Tuhan yang ia tahu hanyalah Tuhan dari agama Kristen. Setiap hari dan malam, ia terus membaca Alkitab. Salaam ingin mendekatkan diri kepada Tuhan dan percaya Tuhannya nanti pasti akan membebaskannya.


Pengadilan akhirnya memutuskan hukuman yang sangat berat baginya. Hukuman penjara selama 75 tahun untuk perampokan yang dilakukannya, 25 tahun untuk pencurian, dan 20 bulan karena mengendarai mobil ilegal.


“Tak sampai satu jam setelah hakim membacakan keputusan itu, hilanglah kepercayaanku kepada Tuhan,” ujarnya.


Ia kecewa karena Tuhannya sekali lagi tak mengabulkan permintaannya hingga akhirnya jiwanya dipenuhi kebencian pada semua hal. Dalam menjalani masa hukuman, Salaam bertemu dengan komunitas narapidana Muslim.


Komunitas ini menamakan dirinya Lima Persen karena jumlah mereka yang sangat kecil dibandingkan penghuni penjara lainnya. Mereka juga tidak pernah mendapatkan pelayanan serta fasilitas ibadah dari pengelola penjara.


Di awal masa tahanannya, keluarga serta istrinya sering mengunjunginya pada akhir pekan. Namun, setelah sekian lama, istrinya tak lagi datang. Kemudian, ia mengetahui istrinya tersebut telah meninggalkannya. Kesedihannya bertambah Salaam juga mendapatkan kabar ayahnya meninggal.


Kekosongan jiwanya dan runtuhnya kepercayaan kepada Tuhan menuntun Salaam untuk bergaul dengan para anggota komunitas ini. Ia melihat komunitas tersebut sangat taat beribadah dan disiplin.


“Saya dibolehkan ikut shalat Jumat kala itu meski hanya menirukan gerakan orang lain. Dan, ketika mendengarkan khutbah, itu langsung menyentuh diri saya. Rasanya sang imam seperti sedang berbicara langsung pada saya,” katanya.


Setelah itu, ia mempelajari Islam lebih lanjut. Banyak buku tentang Islam yang Salaam baca dan ia juga belajar gerakan dan bacaan shalat serta doa-doa.


Saat itu, ia merasa lebih tenang dan nyaman. “Aku menyukai kata-kata dalam al-Fatihah dan bacaan-bacaan Islam yang memuji Allah,” ujarnya.


Ini yang membuatnya berpikir Islam berbeda dengan agamanya yang dulu. Di dalam Kristen, ia selalu berdoa untuk minta sesuatu.


Sedangkan dalam Islam, doa-doa yang dipanjatkan dipenuhi dengan puji-pujian dan semakin meneguhkan iman.


Pada  2008, akhirnya ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Di masa awalnya menjadi mualaf, yang paling berat dirasakannya adalah melakukan puasa karena itu bertepatan dengan musim panas di Amerika.


Namun dari Alquran yang dibacanya, ia percaya setelah melewati masa sesuatu yang berat, pasti akan diberikan masa yang lebih mudah. “Dan benar, setelah itu saya tidak pernah berada dalam situasi yang lebih baik dalam hidup saya,” ujarnya.


Setelah masuk Islam, ia merasakan banyak hikmah dan keajaiban terjadi pada hidupnya. Hukuman penjaranya menjadi lebih ringan, hanya sembilan tahun saja, dan kini ia telah menghirup udara bebas.


Ia kemudian dipertemukan dengan perempuan Muslim salihah, yang lebih baik daripada istrinya yang pertama, dan kemudian menjadi istrinya.


Rasa syukur terus dipanjatkannya karena kini ia telah diberikan kehidupan yang tenteram, pekerjaan yang layak, sebuah rumah indah, serta rasa bahagia yang terus ada dalam dirinya.



Article source: http://entertainment.kompas.com/read/xml/2013/11/26/1430093/Ayah.Asmirandah.Seharusnya.Vanno.Berani.Ambil.Risiko?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

Monday, September 16, 2013

Birmingham Menyambut Para Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, — Menjadi mualaf berarti menjadi asing dan terkucil. Itulah yang sering dirasakan para mualaf karena terusir dari keluarga dan kehilangan teman-teman.


Tapi, bagi mualaf di Kota Birmingham, Inggris, mereka tak perlu khawatir diasingkan. Mualaf Birmingham selalu mendapat tempat di tengah komunitas Muslim kota tersebut.


Komunitas Muslim Birmingham sangat antusias dalam menyambut para mualaf dan mengajak mereka untuk lebih mendalami agama.


Mereka memang sangat ulet dalam berdakwah. Sering kali masyarakat umum diundang untuk sekadar menilik apa itu Islam. Tak heran jika kemudian jumlah mualaf di sana terus meningkat.


Para mualaf pun mendapat fasilitas istimewa dengan selalu disediakan sarana belajar. Masjid dibuka lebar untuk mereka, bahkan untuk masyarakat sekitar. Di sana, mereka belajar mengenai Islam. Budaya Islam pun diajarkan setiap sore.
 
“Berharap orang yang meninggalkan tempat kami telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Jadi, kami mencoba untuk menetralisasi beberapa hal yang mungkin mereka pernah dengar, namun tak mengerti,” ujar seorang dari komunitas Muslim Birmingham, Ashfaq Taufique.
 
Upaya ini bagi masyarakat umum dan mualaf bermula sejak Ramadhan lalu. Tapi, banyaknya antusiasme membuat pihak masjid terus melanjutkannya hingga kini.


Siapa pun warga yang tertarik, diizinkan belajar. Siapa pun mualaf yang baru memeluk Islam, akan disambut baik.
Inggris merupakan negara Eropa yang memiliki angka tinggi dalam peningkatan jumlah Muslimin.


Pada 2008 terdapat 1,65 juta Muslim atau sekitar 2,7 persen dari total populasi Inggris. Meningkat pada 2010, sebanyak 2,8 juta Muslim tinggal di negara monarki konstitusi tersebut dengan persentase sebesar 4,6 persen dari total penduduk. Komunitas Muslim Inggris yang cukup banyak berada di Kota London dan Birmingham.



Article source: http://ramadan.detik.com/read/2013/08/14/082930/2329094/631/subhanallah-708-ekspatriat-asing-masuk-islam-di-riyadh-sepanjang-2013?992204cbr


Birmingham Menyambut Para Mualaf

Sunday, July 21, 2013

Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Jakarta – Sementara Jakarta punya Jokowi, Italia punya Arturo Cerulli. Keduanya sama-sama pejabat yang besahaja dan dekat dengan rakyatnya. Saat menghadiri peluncuran buku Scappa per Amore karya Dini Fitria di pusat belanja Blok M, Jakarta Selatan, Kamis sore lalu, Wali Kota Monte Argentario ini cuma ditemani istri dan anak keduanya. Tak ada pengawal, ajudan, atau sekretaris pribadi.

Tapi paling menarik dari sosok Arturo adalah soal keislamannya. Sebagai muslim, dia baru dua bulan lalu terpilih kembali untuk lima tahun berikutnya sebagai wali kota di negeri mayoritas Katolik tersebut. Dia mengaku agama Islam yang dianutnya pernah menjadi bulan-bulanan lawan-lawan politiknya saat berkampanye. Tapi Arturo berhasil meyakinkan bahwa dia semata ingin mengabdi pada kota kelahiran dan warganya.


“Saat itu orang-orang menganggap saya ingin menghancurkan bangunan-bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang (kampanye negatif) sudah selesai,” ujarnya saat berbincang dengan Astrid Septriana dan Arif Arianto dari Detik. Berikut petikan selengkapnya.


Italia identik dengan Katolik, tapi Anda yang muslim bisa menjadi wali kota…


Saat saya mencalonkan diri pada 2008, orang-orang juga menganggap saya gila. Tapi saya pikir, sebagai wali kota yang baik, Anda tidak seharusnya membicarakan agamanya, tapi lihat bahwa ia benar-benar mencoba melakukan perubahan baik, seperti membersihkan jalanan dan mencoba membuat oran lebih bahagia. Lambat laut orang mulai menerima saya dan mereka paham bahwa tidak ada pertimbangan agama untuk menjadikan seseorang sebagai wali kota.


Saya hanya mencoba melakukan hal yang bisa membuat kota lebih baik. Jadi tidak akan membawa hal yang menyentuh wilayah keagamaan. Ternyata ini bisa berjalan bersama antara wali kota muslim dengan kota Katolik. Anak saya juga pergi ke sekolah Katolik. Dia tentunya harus memahami agama Katolik, tapi ia tidak harus mengikuti peraturannya. Saat itu juga sedang terjadi krisis di Italia, jadi wali kota sebelumnya tidak dipilih kembali oleh rakyat, hanya sedikit yang akhirnya terpilih kembali. Saat itu saya senang karena mendapatkan 58 persen suara.


Waktu itu keislaman Anda tidak menjadi bahan kampanye negatif, dikaitkan dengan isu terorisme, misalnya?


Ya, lima tahun lalu tentu saja demikian. Semua surat kabar Italias menuliskan bahwa ada seorang muslim yang ingin menjadi wali kota di sebuah kota. Kabar ini juga menjadi breaking news di televisi. Saat itu orang-orang menganggap keberadaan saya ingin menghancurkan bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang sudah selesai.


Apa yang membuat Anda kembali terpilih?


Ya dua bulan lalu saya kembali terpilih menjadi wali kota. Saat yang pertama dulu, tentunya rakyat tidak mengenal saya. Jadi saya coba meyakinkan mereka dengan program yang saya rancang. Pada periode kedua, saya tidak menggambarkan kepada rakyat tentang program, tapi mengenai hal yang telah saya lakukan selama lima tahun terakhir. Jadi, jika mereka ingin mengikuti langkahku berikutnya, berikanlah kepercayaan kepadaku lagi. Saya juga sangat sangat menyukai pekerjaan ini. Bisa saya katakan, menjadi wali kota, gaji saya lebih rendah empat kali lipat dibanding sebagai insinyur. Tapi saya tidak peduli pada uang. Menjadi kaya bukanlah tujuan hidup saya. Tujuan hidup saya adalah menikmati hidup.


Bagaimana awal Anda menjadi seorang muslim?


Pada 1988, saya ke Indonesia untuk bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Serpong. Suatu hari saya bertemu dengan Nunuk dan jatuh hati padanya, lalu kami menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan. Tapi orangtuanya menentang karena saya bukan dari Jawa dan bukan muslim. Tentunya saya tidak bisa berubah jadi Jawa, tapi saya putuskan menjadi muslim. Jadi saya masuk Islam karena dalam satu keluarga sebaiknya hanya punya satu keyakinan, dan saya lebih nyaman untuk memeluk Islam.


Kenapa merasa nyaman menjadi muslim?


Tidak terdapat banyak perbedaan dari peraturan Islam dan di Kristen. Di kedua agama itu, hanya terdapat satu tuhan. Ketika Anda mampu menjadi seorang penganut Kristen yang baik, Anda juga mampu menjadi seorang muslim yang baik. Kecuali pada cara beribadahnya dan beberapa peraturan lainnya ya.


Respons keluarga saat memilih Islam?


Ibuku mempersilakan saya memilih beralih agama dan memberi kebebasan memilik istri. Saya sempat bercerita kepada Ibu bahwa calon istri saya sangat hitam, tapi ibu justru menukas, “Ini kamu yang akan menikah, bukan saya. Jadi jika kamu menyukainya, silakan saja.” Saat ibu bertemu dengan calon istri saya, ia bilang Nunuk tidak sehitam yang saya gambarkan.


Bagaimana multikulturalisme di Italia?


Mungkin saya belum menceritakan di sana ada kecenderungan, bila seorang pria muslim melecehkan perempuan, koran akan menuliskan pria muslim melakukan hal buruk. Tapi jika seorang pria kristen melakukan yang sama, mereka akan mengatakan, “pria dari Roma atau Milan melakukan hal buruk.” Mereka tidak menyebutkan identitas Kristennya. Jurnalis memberikan kesan tertentu. Tapi, di samping hal ini, kami bisa merasa sangat terintegrasi dari hari ke hari nuansa multikulturalisme semakin menjadi baik.


Seperti apa sih komunitas muslim di Italia?


Tidak banyak orang muslim di Italia. Biasanya orang muslim itu bukan penduduk asli Italia, sebagian imigran dari Afrika Utara atau Eropa Timur. Tentunya mereka membawa kesan sebagai orang yang berkualitas rendah karena datang sebagai imigran gelap. Ini membuat banyak orang beranggapan salah dan buruk kepada muslim. Faktanya, 90 persen imigran gelap muslim tak punya paspor dan pekerjaan.


Anda membuat masjid atau fasilitas untuk muslim?


Tidak. Komunitas muslim di kotaku sangat kecil. Jadi tidak ada cara untuk bisa menambahkan sesuatu. Jika ingin beribadah dengan komunitas muslim, yang terdekat berada sekitar 40 Km dari tempat saya. Di sini komunitas muslimnya lebih besar, dan untuk jarak tempuh 40 Km bisa ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit dengan mobil. Sedangkan di Indonesia bisa memakan waktu satu sampai dua jam ya, ha ha ha…


Seberapa sering Anda mengunjungi Indonesia?


Setelah kedatangan saya ke Jakarta pada 1988, saya kembali lagi ke sini pada 1990-an. Setelah itu, saya rutin ke sini setiap satu atau dua tahun karena istri saya memiliki keluarga di sini.


Selain karena istri, apa yang membuat Indonesia menarik untuk Anda?


Indonesia adalah negara yang benar-benar masih berkembang. Saya melihat seberapa mudahnya menjadi seorang politikus di Indonesia. Pertama karena Indonesia masih baru dalam urusan demokrasi. Sebagai wali kota, telepon saya aktif selama 24 jam. jadi warga bisa menelepon saya kapan pun untuk mengeluhkan apa saja. Saya tidak tahu apakah hal seperti ini mungkin dilakukan di Indonesia.


Jujur, saya datang ke Indonesia tidak dalam frame bekerja, tapi berlibur, dan saya lebih memilih Bali dan Lombok dibanding Jakarta. Jakarta is very good for shopping centre, and I don’t really like shopping centre. Saya juga menyukai Yogyakarta. Di sana lebih tampak keindonesiaannya. Atau ke Bandung dan Bogor.



Tulisan ini diambil dari Harian Detik edisi Minggu 21 Juli 2013.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/04/mntg9h-ada-tiga-kategori-mualaf-di-sumatra-selatan


Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Tuesday, May 14, 2013

Telepon yang Menggetarkan

JAKARTA, KOMPAS.com – Kamis, 17 Juni 2010, sekitar pukul 07.30. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (saat itu) Usman Hamid bersiap meninggalkan rumahnya di kawasan Cibubur, Jawa Barat. Hari itu, dia berencana menjawab tawaran Ketua Umum Partai Demokrat (saat itu) Anas Urbaningrum untuk masuk ke partainya.


Saat di halaman rumah, tiba-tiba telepon seluler Usman berbunyi. ”Dari Pak Oetomo (Oetomo Rahardjo, ayah Petrus Bima, satu dari 13 aktivis korban penculikan 1997/1998 yang sampai sekarang belum diketahui nasibnya),” kenang Usman.


Dalam teleponnya, Oetomo menanyakan kebenaran berita di sejumlah media bahwa Usman akan bergabung dengan Partai Demokrat.


”Mas Usman, kita sudah sekitar 12 tahun berjuang bersama. Kami semua sebenarnya lelah karena sampai sekarang belum ada hasil. Namun, jika Mas Usman masuk partai, saya merasa ditinggalkan,” tutur Usman tentang pernyataan Oetomo di telepon tersebut.


Usman, salah satu pegiat gerakan hak asasi manusia, mengaku merasakan getaran berbeda dalam telepon itu. Pernyataan Oetomo di telepon yang dilakukan sambil menangis tersebut akhirnya menjadi salah satu faktor yang membuatnya batal bergabung ke Partai Demokrat.


Sekitar dua minggu sebelumnya, Anas yang baru memenangi pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat pada Mei 2010 memang menawari Usman masuk Partai Demokrat.


”Kami memang mengajak aktivis, termasuk Usman, untuk bergabung agar Partai Demokrat lebih baik dan dinamis. Apalagi, sudah ada beberapa aktivis yang bergabung,” kenang Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa, rekan dekat Anas.


Partai dan politik praktis pada umumnya, lanjut Saan, membutuhkan aktivis. Pasalnya, mereka punya pengalaman organisasi, jaringan, dan idealisme.


Saking seriusnya menawari Usman, Anas dan Saan menemui Usman dan teman-temannya di kantor Kontras, Rabu, 16 Juni 2010, malam. Dalam diskusi yang berlangsung hingga Kamis dini hari itu, Anas, antara lain, menegaskan, yang dilakukan Usman di Kontras perlu dilanjutkan di Partai Demokrat.


”Suasana pertemuan sampai Kamis dini hari itu, Usman bergabung dengan kami. Namun, dia minta waktu sampai Kamis siang untuk berpikir. Kamis siang, ternyata dia batal bergabung,” kenang Saan.


Masukan


Usman mengaku meminta masukan dari sekitar 1.000 temannya saat menerima tawaran dari Partai Demokrat. ”(Aktivis perempuan) Karlina Supelli pernah mengatakan, saatnya aktivis turun dari langit ke bumi, tak hanya bicara asas, tetapi juga strategi. (Intelektual) Daniel Dhakidae tidak mendorong atau menghalangi saya masuk partai. Namun, dia akan membela saya jika ada yang mencela keputusan saya masuk partai. Sebab, menurut dia, sudah saatnya mengisi ruang politik dengan energi positif,” kenang Usman.


Upaya minta pertimbangan, lanjut Usman, dilakukan karena ingin menempatkan keputusan untuk masuk partai sebagai keputusan bersama dan bukan pribadi. Dengan demikian, keputusan itu tidak membuatnya tercerabut dari kategori sosial dan komunitasnya selama ini.


”Kategori sosial dan komunitas amat penting bagi aktivis yang berpolitik. Pasalnya, mereka yang akan mendukung, mengingatkan, dan membela kami saat menghadapi tantangan di politik,” ucap Usman.


Ace Hasan Sadzily, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri Jakarta periode 1997-1998 yang kini anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, juga berusaha menjaga hubungan dengan teman-temannya sesama aktivis yang kini berada di luar dunia politik praktis. Hal itu sebagai salah satu cara menghindari jebakan dalam permainan politik praktis yang penuh godaan.


Ketua Partai Amanat Nasional Bima Arya Sugiarto tetap mengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, aktivitas yang telah dia lakukan sejak sebelum berpolitik praktis. Dengan mengajar, Bima berharap dapat merawat kemampuan berpikir dan kategori sosialnya sebelum berpolitik praktis, yaitu sebagai intelektual.


”Mengajar juga menjadi sarana pengingat dan pengaman saya agar tak tersesat di politik praktis. Pasalnya, jika saya mulai melenceng, ada mahasiswa atau dosen yang mengingatkan,” tutur Bima.


Akhirnya, hubungan yang intensif dengan komunitas dan kategori sosialnya membuat aktivis tetap punya identitas jelas dan posisi tawar dalam kerasnya persaingan di politik praktis.


Masalahnya, seberapa banyak aktivis yang menjadikan aktivitas politik sebagai keputusan bersama dan selalu menjaga hubungan dengan komunitas asal serta konsisten menjaga kategori sosialnya? Yang pasti, sejumlah aktivis muda telah berguguran di politik, baik karena terlibat korupsi, tak punya agenda yang jelas, maupun gagal dalam persaingan di internal partai.(IAM/EDN/RYO/NWO)


 


















Article source: http://www.merdeka.com/dunia/158-orang-serawak-masuk-islam.html


Telepon yang Menggetarkan

Monday, August 19, 2013

Pekuburan Islam Akan Dibangun di Wuppertal


Samir Bouaissa berdiri di depan Pekuburan Yahudi di Wuppertal dan menunjuk ke areal kosong di depan pekuburan itu. “Disitu nanti lokasinya;” katanya dengan suara bangga. Jika semua berjalan lancar, pemerintah negara bagian Nordrhein Westfalen bulan November mendatang akan mengeluarkan ijin pembangunan Pekuburan Islam. Ini adalah pekuburan pertama di Jerman yang akan dikelola oleh warga muslim.



Orang tua Samir Bouaissa berasal dari Maroko. Keluarganya sudah tinggal selama dua generasi di Wuppertal. Dia bekerja di Balai Kota Wuppertal sebagai Ketua Dewan Pegawai. Di Wuppertal ada sekitar 340.000 warga muslim. Generasi orang tuanya dulu masih sering berkunjung ke Maroko, kata Bouaissa. Tapi dia dan keluarganya sudah jarang, mungkin empat atau lima tahun sekali.



Banyak warga muslim di Wuppertal yang ingin menguburkan keluarganya yang meninggal di sebuah pekuburan Islam. Di Taman Pekuburan Umum Wuppertal memang ada bagian yang bisa digunakan warga muslim. Tapi kelompok muslim ingin mengelola pekuburannya sendiri.



Dukungan pemerintah Wuppertal



Di pekuburan umum, lahan kuburan disewakan untuk jangka waktu 25 tahun. Tapi jika pekuburan itu menjadi milik komunitas Islam, kuburan bisa digunakan untuk seterusnya. Jadi warga muslim di Wuppertal ingin membeli lahan pekuburan. Untuk itu, pemerintah kota harus membuat undang-undang baru.


Samir Boussaia menunjukkan lokasi Pekuburan Islam


Pembiayaan Pekuburan Islam di Wuppertal juga masih dibahas. Ada 15 mesjid yang sekarang menyatakan bersedia mengelola pekuburan itu dan mengurus pembiayaannya. Untuk itu, perlu dibentuk sebuah yayasan. Pemerintah kota Wuppertal akan mengurus perijinannya, tapi tidak memberi bantuan dana.



“Kami juga tidak memberi bantuan dana untuk pekuburan Kristen atau Yahudi”, kata Hans-Jürgen Lemmer dari Balai Kota Wuppertal. Tapi pemerintah kota mendukung proyek itu. “Tanpa bantuan kaum migran, tidak akan terjadi integrasi. Komunitas muslim di sini mengurus banyak tema sosial dan melakukannya dengan baik. Jadi kami mendukung proyek ini”, ujarnya.



Pekuburan Islam, Kristen dan Yahudi berdampingan



Tradisi agama yang beragam memang sudah membudaya di kota Wuppertal. “Di kota ini malah ada bagian kota yang berdiri karena komunitas sebuah agama mulai menghuni kawasan itu dan membangun kawasan kota,” tutur Hans-Jürgen Lemmer. Hidup berdampingan antar agama punya tradisi panjang. Jadi tidak sulit menemukan lahan untuk mendirikan Pekuburan Islam, di antara Pekuburan Yahudi dan Pekuburan Kristen.



Samir Bouaissa berdiri di depan sebuah gerbang besar, pintu masuk ke Pekuburan Yahudi dan Pekuburan Kristen. Tahun 2014, kalau semua berjalan lancar, di tempat ini akan didirikan Pekuburan Islam. Kompleks pekuburan itu nantinya akan terpisah oleh pagar. “Tapi gerbang masuknya hanya satu”, kata Bouaissa. “Jadi pintu gerbang besar akan menjadi pintu masuk ke kompleks pekuburan tiga agama”.



Ini adalah tanda kerukunan beragama di kota Wuppertal. Semua agama hidup dengan saling menghormati tradisi agama lain. “Ini akan menjadi contoh yang baik bagi seluruh Jerman,” kata Bouaissa. “Kami sedang berunding dengan kelompok Kristen karena kami ingin membeli lahan mereka yang tidak digunakan.” Perundingan belum rampung, tapi semuanya berjalan lancar. “Kelompok Kristen juga mendukung rencana kami.”



Samir Bouaissa berharap, dalam dua tahun mendatang Pekuburan Islam di Wuppertal sudah rampung.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/pangeran-william-kate-perkenalkan-sang-pangeran-cilik/1707859.html


Pekuburan Islam Akan Dibangun di Wuppertal

Jenna Govan: Islam Begitu Sederhana dan Logis

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY — Jenna Govan lahir dan besar di Australia. Orang tuanya bercerai ketika ia remaja. Sejak itu, ia dididik ibunya.


Secara psikologis, perceraian orang tuanya memberikan pengaruh. Namun, ketelatenan ibunya mendekatkan Jenna dengan agama sangat membantu.


Bersama ibu dan adiknya, ia rutin pergi ke gereja setiap Ahad. Jenna juga aktif menjalani aktivitas gereja. Selama menjalani aktivitas itu, ia mengagumi kisah-kisah para Nabi. Namun, pemahaman agama yang masuk dalam pemikirannya adalah berdoa hanya dilakukan di gereja.


Memasuki usia remaja, ibu Jenna kembali menikah. Pernikahan itu rupanya tidak membuat Jenna bahagia. Ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya itu.


Ketika bertengkar, Jenna mulai melampiaskan kemarahannya dengan narkoba. Saat itu pula, ia mulai berkenalan dengan teman suaminya kelak yang seorang Muslim. Melalui dia, ia banyak mendapat pengetahuan tentang Islam dan Muslim.


Melalui pengetahuan yang didapatnya, Jenna kembali ingat tentang konsep Ketuhanan Yesus dari sudut pandang Kristen. Ketika membandingkan dengan pandangan Islam, ia menemukan satu fakta sederhana dan logis. Ia pun mengucapkan syahadat di usianya yang masih belia. Di saat bersamaan, ia dilamar seorang pria Melayu.


Ketika menjadi Muslim, Jenna banyak bergaul dengan komunitas Melayu di Australia. Sejujurnya ia sangat kurang nyaman dengan pandangan komunitas itu terhadap dirinya. Sejak itu, ia merasa terisolasi. Merasa terisoloasi, membuat Jenna kurang lepas dalam mempelajari Islam. Itu terlihat ketika ia merasa ragu ketika mencoba mengenakan jilbab. Ia semakin bingung bagaimana ia menjalani kehidupannya sebagai Muslim.


Pada satu fase memuncak, ia memutuskan meninggalkan suaminya. Rasa frustasi kembali mendera. Godaan menghabiskan waktu di dunia malam mulai datang. Alhamdulillah, Jenna ogah menyerah dengan gaya hidup yang dilarang Islam.


Selang beberapa lama, Jenna mulai menemukan kembali dirinya, ia kembali berteman dengan komunitas Muslim yang kali beragam. Bersama mereka, ia mempelajari Islam lebih intensif. Selanjutnya, Jenna kembali menikah dengan seorang pria Muslim. Ia juga kembali kuliah sembari mendalami Islam.


“Sejak itu, aku mencoba untuk membantu mereka yang menjadi mualaf,” kenang dia seperti dikutip onislam.net, Senin (19/8).


Pernikahan kali ini membuatnya begitu bahagia. Keluarga suaminya begitu mendukung usaha Jenna untuk menjadi Muslim yang kaffah. Kebahagiaan Jenna kembali bertambah ketika keluarganya mulai menerima statusnya sebagai Muslim. “Ibuku melihat banyak perubahan dalam diriku. Aku dinilai begitu bertanggung jawab dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tutup Jenna.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29077/23/06/2013/22-juni-1945-dan-5-juli-1959.html


Jenna Govan: Islam Begitu Sederhana dan Logis

Thursday, December 27, 2012

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Jakarta : Hingga menjelang berakhirnya 2012, berbagai peristiwa kelam menodai Bumi Pertiwi. Bentrokan antarwarga kerap terjadi. Suku, agama, ras, jenis kelamin, organisasi massa, status ekonomi, sosial, dan bahasa menjadi pemicunya. Akankah persoalan ini tuntas dan tak akan terulang lagi pada 2013?

Pengamat sosial dan budaya Irfan Abu Bakar memprediksi hal itu masih mungkin terjadi. “Mungkin akan muncul di tempat lain, karena Indonesia ini kan luas. Yang nggak kebagian akan terjadi tergantung status sosialnya,” kata Irfan di Jakarta.

Kawasan yang rawan terjadi konflik, tutur dia, adalah daerah yang cenderung homogen dan relasi antara kelompok yang berbeda belum terbangun dengan baik. Termasuk yang rawan adalah daerah yang belum punya pengalaman untuk hidup berdampingan dengan kelompok berbeda. Hal ini berbeda dengan kawasan yang di dalamnya terdapat masyarakat individual, berpendidikan tinggi, dan kurangnya pengalamannya terhadap perbedaan. Di kawasan seperti ini akan jarang terjadi konflik sosial.

Irfan menilai langkah pemerintah menindak tegas pelanggar hak asasi manusia sejauh ini sudah benar. Tapi efektivitas tindakan pemerintah tersebut masih dipertanyakan. Tindakan penanganan hukum tidak dilakukan dalam upaya untuk menyelesaikan atau memperkecil tindakan serupa di masa yang akan datang, tapi biasanya muncul karena tekanan dari berbagai pihak, kemudian melakukan tindakan kepada pelakunya.

“Dalam hal ini, elite agama juga bertanggung jawab bagaimana caranya melindungi keyakinan umat tanpa harus menjatuhkan korban orang lain,” saran Irfan.

Berikut adalah kasus-kasus sosial yang mengiringi perjalanan 2012:

1. Waria

Kehadirannya selalu menuai kontroversi di masyarakat. Ada yang ektrem menolak, ada yang netral, ada pula yang menyambutnya. Akhirnya mereka pun seringkali menyingkir dan tersingkir dari kehidupan sosial masyarakat. Pada 3 Desember 2012, ormas FPI membubarkan secara paksa acara kontes kecantikan di antara sesama waria. Kontes yang bertajuk Miss Waria 2012 itu dituding tidak memiliki izin. Hal itu pun diiyakan Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Yossi Prihambodo. Yossi menyatakan kegiatan yang diadakan di Gedung Nyi Ageng Tirtayasa, Kuningan, Jakarta, itu tidak mendapatkan rekomendasi dari Pemda DKI. Akhirnya acara yang dihadiri 400 peserta itu pun bubar juga. FPI mendapatkan laporan dari warga sehari sebelum acara berlangsung. Tidak hanya di Ibukota, kejadian serupa terjadi pula di Tegal, Jawa Tengah.

Bintang Idol Dangdut, sebuah kontes menyanyi yang diadakan para waria di Dedy Jaya Plaza, Kota Tegal, harus berakhir karena dibubarkan ormas Majelis Talim Darunnadzir Al Barokah. Sama seperti Miss Waria 2012, kegiatan Paguyuban Waria Tegal dan Shinta Management ini akhirnya pun urung dilaksanakan. Meski kecewa, para waria itu tak dapat berbuat banyak.

Untuk menyuarakan aspirasi kaumnya, Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia (FKWI) Yulianus Rotteblaut (50) mencalonkan diri sebagai komisioner Komnas HAM pada 20 Januari 2012, namun tak lolos. Keinginan waria yang akrab disapa Mama Yulie ini mendapatkan restu dari puluhan rekannya di FKWI. Sosoknya hadir untuk memperjuangkan kaum-kaum marginal, seperti halnya kaum transgender. Calon komisioner Komnas HAM yang kandas dalam fit and proper test di DPR pada 2007 lalu ini menuntut hak atas kaumnya dihargai sebagai warga negara. Perjuangan serupa dilakukan Dede Oetomo dengan menjadi calon komisioner Komnas HAM. Namun aktivis gay dalam komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) serta pendiri komunitas GAYa Nusantara ini kandas juga di DPR pada Oktober 2012.

Meski demikian kehadiran kaum waria mendapat perhatian lebih dari Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lelaki yang akrab disapa Ahok ini mengingatkan waria pun makhluk ciptaan Tuhan yang harus diberikan hak dan mendapat tempat yang sama. Pria berkacamata ini pun mengimbau tegas penanganan penderita AIDS yang di antaranya adalah kaum waria. “Masak kalau ada keluarga kita seperti itu, apa mesti kita bunuh? Kita buang?” cetus Ahok. Tak salah memang jika pada Pilkada DKI Jakarta, kaum waria melalui Mama Yulie menyatakan dukungannya pada Joko Widodo alias Jokowi dan Ahok.

2. Konflik Beragama

Sulit Beribadah di ‘Rumah’ Sendiri. Majelis Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin mengalami kesulitan menjalankan ibadah. Mereka tak bisa masuk ke GKI Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat karena disegel dan digembok warga. Peristiwa itu terjadi sejak 2010 hingga 2012. Mereka sampai mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mendatangi Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada 12 Februari 2012 dan 11 Maret 2012. Para jemaat terus mendesak dan tak akan meninggalkan lokasi sampai mereka bisa beribadah di GKI Taman Yasmin. Apalagi mengingat mereka sudah mengantongi izin mendirikan gereja dari Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman.

Ahmadiyah, Terasing di Negeri Sendiri. Kekerasan juga dialami warga Ahmadiyah. Persoalan jemaah pengikut Mirza Ghulam Ahmad itu kembali mengemuka setelah kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada awal Februari 2011. Sejumlah ormas Islam pada 13 November 2012, kembali mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi melarang segala aktivitas keagamaan Ahmadiyah dan membubarkan aliran tersebut. Di Cianjur, Jabar, massa FPI bahkan mendatangi masjid Ahmadiyah dan mengusir seorang warga yang sedang salat di dalam tempat ibadah. Pada 26 Oktober 2012, puluhan orang dari FPI Bandung Raya merusak kaca Masjid An Nasir milik jemaah Ahmadiyah di Astana Anyar, Kota Bandung.

Perseteruan Panjang Sunni Versus Syiah. Tak kalah panas terjadi konflik Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Keributan dipicu penyerangan muslim Sunni terhadap warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Kasus ini berawal dari persoalan keluarga sejak 2004 antara Tajul Muluk dan Rois. Dari masalah pribadi kemudian menyebar di masyarakat luas.

Pertikaian pun berujung bentrok antarwarga yang terjadi pada 29 Agustus 2012. Insiden itu menewaskan dua orang dan lainnya cedera, serta belasan rumah dibakar. Korban meninggal adalah kakak beradik, Muhammad Khosim (45) dan Thohir (40). Usai kejadian itu banyak warga Syiah mengungsi dan menempati GOR Wijaya Kusuma sebanyak 276 orang. Majelis Ulama Indonesa (MUI) Kabupaten Sampang berencana menekan warga Syiah masuk Sunni jika ingin kembali ke Desa Karang Gayam. Ini mengingat masih ada 75 persen warga Syiah menolak masuk Sunni.

30 Jemaah Syiah di Sampang, sempat dipaksa menandatangani surat pernyataan pindah aliran dari Syiah ke Sunni. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya Andy Irfan Junaidi mengatakan, warga Syiah itu mendapat tekanan atau intimidasi untuk berpindah keyakinan atau akan dibakar rumahnya.

Dalam kasus ini Polri menetapkan Roisul Al Hukuma sebagai tersangka. Adik kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang itu mendekam di Polda Jawa Timur dan diadili di Pengadilan Negeri Surabaya. Rois dijerat pasal berlapis yakni, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 354 tentang penganiayaan berat, Pasal 170 tentang pengeroyokkan dan perusakan, serta Pasal 55 dan 56, yakni turut serta membantu melakukan kejahatan.

3. Konflik Horisontal

Pertikaian Berdarah di Mesuji. Kasus pertikaian berujung maut warga di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung sudah berlangsung lama, yaitu sejak 1996. Masalah yang sudah mengakar itu murni dipicu sengketa lahan warga dengan perusahaan. Anggota Komisi III DPR Azis Syamsuddin pun menilai sengketa tanah perkebunan kelapa sawit menjadi akar masalah utama kasus Mesuji, baik di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.

Sementara anggota DPR Zainun Ahmadi menganggap hingar-bingar pemberitaan kasus Mesuji, baik di Kabupaten OKI atau di wilayah Lampung, tak menyentuh akar permasalahan. Zainun berpendapat banyak kasus serupa di Tanah Air, tapi selalu berujung tidak pada akar masalahnya yaitu salah urus agraria dan sumber daya alam. Anggota Komisi II ini menyatakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lebih senang menganalisa kejanggalan dalam informasi yang disampaikan Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi kepada DPR.

Pada tahap awal, TGPF Mesuji menyodorkan enam butir rekomendasi kepada pemerintah untuk penuntasan insiden sengketa lahan antara perusahaan dan warga yang menewaskan sembilan orang. Rekomendasi disampaikan Ketua TGPF Mesuji Denny Indrayana, saat melaporkan hasil investigasinya kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto di Jakarta, 2 Januari 2012. Berikutnya TGPF Kasus Mesuji merampungkan hasil penyelidikan mereka terhadap bentrokan, baik di Mesuji Lampung dan Sumsel, 16 Januari 2012.

Saat awal terjadi kehebohan jumlah korban tewas berjumlah 30 orang. Belakangan Polri merilis kronologis dan data penyelidikan terkait kasus dugaan pembantaian di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan. Dari tiga peristiwa di Ogan Komering Ilir dan Lampung, Polri mencatat 9 orang meninggal dalam kurun waktu 2010-2011.

Kasus yang mengemuka di Mesuji antara lain masalah pengelolaan lahan milik adat di areal kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Register 45 Way Buaya. Kejadian di Talang Pelita Jaya, Desa Gunung Batu, Mesuji, Lampung mencuat sejak Februari 2006. Selanjutnya, kasus sengketa tanah lahan sawit seluas 1533 hektar (ha) antara warga Desa Sodong, Mesuji, Sumsel dengan PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang berakhir dengan tragedi pembantaian terhadap dua orang petani di tengah kebun sawit pada 21 April 2011.

Pada wilayah yang sama, sengketa tanah lahan sawit seluas 17.000 (ha) antara warga desa Sri Tanjung, Kagungan Dalam dan Nipah Kuning, Mesuji, Lampung dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) yang puncaknya berujung pada kematian Zaini pada 10 November 2011.

Tolak Harga BBM Naik Berujung Aksi Anarkis Warga. Keputusan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memicu gelombang protes warga di Jakarta dan daerah. Unjuk rasa mahasiswa berujung bentrok dengan aparat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, 29 Maret 2012 malam. Pengunjuk rasa memblokade Jalan Diponegoro, sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM. Pos polisi yang dirusak massa membuat situasi tak terkendali. Serangan batu dan botol pun dibalas tembakan gas air mata aparat.

Masih di Jakarta. Forum Masyarakat Miskin berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Selain berorasi, demonstran juga menggelar spanduk berisi penolakan. Setali tiga uang dengan protes warga di Bogor Jawa Barat. Ratusan warga SUTET atau saluran udara tegangan ekstratinggi sekabupaten Bogor ramai-ramai mengubur diri selama sekitar lima jam. Seorang di antaranya pingsan saat beraksi.

Sementara unjuk rasa anti kenaikan BBM berlangsung anarkis di Ternate, Maluku Utara. Bandara Baabullah diserbu, fasilitas keselamatan bandara tak luput dari amukan massa. Ratusan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara pun berunjuk rasa menolak kenaikan BBM bersubsidi. Mereka merusak mobil milik anggota DPRD Kabupaten Konawe Utara. Sedikitnya 25 mahasiswa diringkus dalam insiden itu. Kemudian seribu lebih mahasiswa di Pontianak, Kalimantan Barat yang berdemonstrasi menduduki halaman gedung DPRD Kalbar.

Sedihnya saat warga Jakarta berunjuk rasa menolak kenaikan, di daerah harga BBM malah sudah naik. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Wilayah Tengah Endang Kesumayadi mengatakan, survei Kadin terhadap 17 kabupaten di 4 provinsi yang berbatasan dengan negara, harga BBM bersubsidi di kawasan ini sudah naik jauh lebih tinggi dari Rp 1.000 per liter.

Pada akhirnya hasil rapat paripurna DPR disepakati untuk menunda rencana kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Dengan demikian harga BBM bersubsidi tidak jadi naik. Belakangan DPR membolehkan pemerintah menaikkan harga BBM tahun 2013 setelah RUU APBN 2013 disetujui menjadi UU.

Teror Berkepanjangan di Bumi Papua. Serangkaian penembakan masih terjadi di bumi Papua. Suasana ini mengusik ketenangan warga. Ini mengingat banyak korban tewas adalah warga, selain aparat kepolisian. Masih hangat terjadi teror tersebut dialami Beni Yamamo dan Piter Tumoka yang menumpang mobil Kepala Desa Nayaro, Papua. Beni cedera di dada kanan dan Piter terluka di kaki. Kendaraan mereka ditembaki orang tak dikenal (OTK) di Mile 37 area PT Freeport Indonesia. Atas kejadian itu, dua dari lima penumpang mobil terluka.

Anggota Brimob, Briptu Ronald yang sedang bertugas tewas ditembak orang tak dikenal. Kasus penembakan bermula saat Ronald bersama sembilan rekannya yang lain tengah berpatroli di Mile 37 Freeport, Papua, pada 7 Februari 2012 sekitar pukul 08.15 WIT.

Di kawasan areal Freeport juga mendapat teror. Seorang korban di antaranya Seperius Yamiru yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika. Seperius merupakan satu dari empat korban penembakan di areal PT Freeport. Tercatat penembakan di kawasan PT Freeport, sejak Juli 2009 hingga 9 Februari 2012 sedikitnya 15 orang tewas. Sedangkan 54 orang terluka.

Seorang wanita bernama Fredika Metal Neki misalnya. Perempuan berusia 38 tahun itu ditembak orang tak dikenal di kawasan Trans-Papua dekat Sungai Digul, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, 21 November 2012. Fredika tewas dengan bekas luka tembak di bagian pelipis kiri. Ketika itu, petugas menemukan Fredika dalam kondisi tak bernyawa. Dalam penyelidikannya Mabes Polri mendapati barang bukti peluru kaliber 4,5 mm, 1 selongsong peluru, tas, dan sandal yang diduga milik Fredika.

Korban lain yakni Pendeta Rika Metalmety. Sang pendeta yang bertugas selama sepuluh tahun di Gereja Betlehem, Boven Digoel ditemukan tewas di pinggir Jalan Trans Asiki, Merauke. Lokasi penemuan mayat berjarak sekitar 150 meter dari pos polisi Kalimak Boven Digoel. Diduga Pendeta Rika ditembak teman dekatnya yang merupakan seorang anggota TNI, 22 November 2012.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 27 November 2012 beberapa orang kelompok bersenjata menyerang Markas Kepolisian Pirime, Lany Jaya, Papua, 27 November 2012. Kapolsek Pirime Ipda Rolfi Takubesi, Briptu Daniel Makuker, dan Briptu Jefri Rumkorem tewas dalam insiden itu. Polda Papua menangkap tujuh penyerang Mapolsek Pirime. Seorang di antaranya, YW (40) diciduk saat polisi menyisir sekitar Pirime. Sementara enam lainnya dibekuk pada 29 November 2012 di Distrik Piramid, Kampung Muara Game, Kabupaten Jaya Wijaya. Mabes Polri memastikan para pelaku terkait jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

4. Perjuangan Hidup Pahlawan Devisa

Seringkali disebut sebagai pahlawan devisa, tak menjamin Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjalani hidup layaknya pejuang atau super hero yang tangguh. Mereka justru kerap dianggap sebagai pihak yang lemah dan menjadi korban penganiayaan. Di luar negeri sana, banyak dari TKI yang harus menelan pahitnya hidup di negeri orang. Tak digaji, dipukuli, diperkosa menjadi makanan mereka selama di perantauan. Itu yang sering diberitakan media tanah air.

Beredarnya selebaran iklan ‘TKI On Sale‘ pada Oktober lalu menjadi topik hangat menjelang akhir tahun 2012. Dalam iklan tersebut, TKI ditampilkan layaknya barang komoditi. Dengan deposit 3.500 ringgit, warga Malaysia yang tertarik dapat segera menikmati jasa TKI yang dibandrol dengan harga 7.500 ringgit dan diskon sebesar 40 persen.

Menanggapi berita ini, pihak konsuler KBRI di Malaysia pun melakukan penyelidikan terhadap penyebar iklan itu. Pelacakan dilakukan demi menelusuri alamat yang tercantum pada selebaran iklan yang tersebar. Namun, hanya ditemukan tempat cukur bernama Southern’s Guy di alamat yang tertera itu. Pada 1 November lalu, Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) meminta klarifikasi dan protes kepada pihak Malaysia terkait hal ini. Kecaman pun datang dari Kementerian Luar Negeri Malaysia. Mereka berjanji akan mengusut kasus yang diduga terdapat unsur human trafficking (perdagangan manusia) ini. Sementara ini, Kepolisian Malaysia sudah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Belum diketahui jelas siapa dan apa motif di balik pembuatan iklan ini. Di sisi lain, anggota dewan pun berusaha meningkatkan perlindungan kepada TKI dengan merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Berita miris pun datang dari Arab Saudi. TKI Satinah binti Jumadi yang berasal dari Jawa Tengah masih ketar-ketir menunggu kepastian hukuman matinya. Wanita berusia 40 tahun ini dituduh membunuh majikan perempuannya serta mencuri uang sebesar 37.970 Riyal Saudi (RS) pada 2009 lalu. Setelah proses panjang bertahun-tahun, pihak keluarga majikannya mau memaafkan Satinah. Dia bisa terhindar dari hukuman gantung jika membayar diyat sebesar 10 juta RS sebelum 14 Desember 2012. Angin segar berhembus pada pertengahan Desember. Meskipun pemerintah hampir kehabisan waktu menegosiasikan penurunan nominal diyat TKI Satinah, Arab Saudi memberikan kelonggaran 6 bulan untuk melunasi diyat itu. Selain Satinah, masih banyak TKI kita yang mengalami nasib serupa.

Kabar naas kembali datang dari Negeri Jiran. Seorang TKI wanita diperkosa 3 aparat polisi Diraja Malaysia. Kejadian bermula pada 9 November lalu saat TKI yang bernisial SM ini terjaring pemeriksaan dan hanya membawa fotokopi paspor. Alih-alih dibawa ke kantor polisi di Prai, Pulau Pinang untuk diproses, korban malah diperkosa. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib SM. Dia harus menahan malu saat media Malaysia ramai-ramai mengekspos identitas dirinya. Masyarakat Indonesia pun bertambah geram. Ketiga polisi pelaku aksi bejat itu tidak ditahan. Masing-masing hanya dikenakan denda sebesar 25 ribu ringgit dan wajib lapor sebulan sekali. Mereka pun diseret ke meja hijau. Setelah 12 Desember lalu persidangan urung digelar, hakim menjadwalkan sidang lanjutan pada 25 dan 26 Februari 2013 mendatang.

5. Pencuri Sandal Jepit dan Koruptor Kakap

Pencuri Sandal dan Koruptor dua kata tersebut sama-sama memiliki makna negatif, yakni sama-sama mencuri, mengambil hak orang lain tanpa seizin pemiliknya. Yang membedakannya adalah nilai atau kadar barang yang dicuri. Bila pencuri sandal jepit tentu hanya mendapatkan barang yang nilainya tidak lebih dari Rp 10.000, itu pun bekas pakai. Sedangkan, koruptor kakap mencuri uang negara dari rakyat yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta hingga triliunan rupiah. Keduanya layak dihukum dengan seadil-adilnya.

Namun hukum ternyata hanya masih tegas terhadap rakyat kecil. AAL, remaja berusia 15 tahun ini dibawa ke meja hijau karena dituduh mencuri sandal jepit di depan rumah kos Briptu Ahmad Rusdi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Anehnya, peristiwa yang terjadi sekitar November 2010 silam itu baru dibawa ke pengadilan oleh sang korban yang nota benenya aparat penegak hukum enam bulan kemudian, pada Mei 2011 lalu, AAL pun diancam hukuman 5 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum karena melanggar pasal 362 KUHP. Meski akhirnya tidak dimasukkan penjara dan dikembalikan kepada keluarga oleh majelis hakim namun AAL menyandung status terpidana karena dinyatakan bersalah. Persidangan kasus pencurian yang mendapat sorotan media dan publik ini pun menuai kecaman. Massa menganggap persidangan ini mengada-ngada. Publik marah dan kecewa karena hukum sangat digdaya dengan kasus pencurian yang melibatkan rakyat kecil ini terlebih melibatkan pelaku yang masih di bawah umur. Sejumlah LSM pun menggalang aksi dukungan bagi AAL dengan mengumpulkan “1.000 sandal untuk Kapolri”. Sedangkan pada kasus-kasus korupsi besar bernilai ratusan miliar hingga triliunan yang melibatkan pejabat publik hukum takluk tak berdaya.

Sebutlah kasus suap Rp 24 miliar terkait pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan terdakwa Miranda Swaray Goeltom yang melibatkan Nunun Nurbaetie. Nunun yang notabene istri mantan Wakapolri Adang Darojatun itu sempat buron berpelesiran ke luar negeri. Adang yang seharusnya menjadi panutan rakyat sebagai anggota DPR dari Fraksi PKS ini selalu berkilah istrinya sedang “sakit”. Nunun akhirnya bisa ditangkap KPK dan diseret ke pengadilan. Namun, panggung sandiwara hukum kembali ditampilkan. Nunun hanya dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. Nunun akhirnya hanya divonis 2,5 tahun dan denda Rp 150 juta subsidier 6 bulan. Putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta ini menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Kedua kasus tersebut sama-sama melibatkan unsur aparat hukum sebagai korban dan keluarga mantan petinggi polisi sebagai pelaku. Namun, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dan kepolisian masih saja pilih kasih dalam menegakkannya. Hukuman untuk Nunun jauh lebih kecil ketimbang AAL. Semoga tak terulang pada 2013 dan penegak hukum mendapat tempat di hati rakyat.

6. Bernafas dalam Lumpur Lapindo

Enam tahun lebih duka menyelimuti korban semburan lumpur panas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan ribu warga dipaksa meninggalkan permukiman, lahan pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan akibat tenggelam menjadi lautan lumpur. Selain kerugian harta benda dan matinya roda perekonomian rakyat, semburan ini juga mengakibatkan kerusakan alam dan ekosistem yang dahsyat di wilayah tersebut. Hingga kini semburan lumpur bercampur gas yang berasal dari lokasi pengeboran Lapindo Brantas Incorporation di Dusun Balongnongo – Desa Rekonongo, Kecamatan Porong itu masih terus keluar. Data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyebutkan semburan tersebut mengeluarkan lumpur setidaknya 10 ribu hingga 15 ribu kubik per hari. Berbagai upaya telah dilakukan membuat pemerintah untuk mengatasinya, namun bencana yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu tetap tidak bisa dikendalikan, apalagi dihentikan.

Persoalan ganti rugi warga yang terdampak semburan lumpur panas masih juga belum selesai. Lapindo dengan kekuatan partai politik besar di belakangnya bermain mata dengan kekuasaan dengan mengalihkan tanggung jawab kelalaiannya kepada negara, seraya menyebutnya sebagai bencana nasional. Negara pun dibebani pembayaran ganti rugi kepada rakyat Sidoarjo melalui APBN. Sebagaimana hasil ahli geologi dunia konferensi internasional American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan pada 2008 menyebutkan sebagian besar ahli 42 dari 58 ahli menyatakan adanya kesalahan pengeboran gas sebagai penyebab. Hanya tiga ahli yang menyebut sebagai bencana alam, ironisnya ketiga ahli tersebut berasal dari Indonesia.

Semburan lumpur Lapindo yang juga diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2007 lalu menemukan kesalahan teknis dalam proses pemboran sehingga mengakibatkan semburan lumpur dan gas berbahaya tersebut keluar. Upaya penegakan kasus tersebut secara pidana juga kandas. Kasus yang sudah menetapkan 13 tersangka dari Lapindo maupun subkontraktor itu akhirnya ditutup Kepolisian Daerah Jawa Timur. Polri melalui Wakil Kadiv Humas Anton Bachrul Alam yang sempat kritis kini malah bungkam seribu bahasa meski menjabat Kapolda Jawa Timur.

Persoalan ganti rugi korban Lapindo oleh negara melalui APBN digugat lembaga lingkungan hidup Walhi dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI juga kandas di Mahkamah Konstitusi awal Desember 2012. Menurut Walhi, gugatan ini bukanlah persoalan tidak peduli dengan nasib korban, melainkan ditunjukkan bagaimana negara bertindak tegas terhadap kejahatan korporasi yang merusak lingkungan serta seluruh sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat Sidoarjo. Kejahatan tersebut seharusnya ditindak tegas dengan menyita seluruh harta benda Lapindo dan jika perlu “pemiliknya”, bukan dibebankan kepada uang negara yang notabene dari kantong rakyat.

Namun pemerintah, DPR, dan institusi penegak hukum tak bertaring. Hingga menjelang penghujung 2012, lumpur panas Lapindo masih terus menyembur menenggelamkan Sidoarjo. Pembayaran ganti rugi pada korban pun tak kunjung tuntas. (Ais/Ndy/Adi)

Article source: http://www.voaindonesia.com/content/article/1522476.html


KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit