Showing posts sorted by relevance for query Muhammad. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Muhammad. Sort by date Show all posts

Tuesday, July 16, 2013

Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Ujian Nasional tidak serentak atau gedung sekolah rusak hanyalah sekelumit kisah sedih wajah pendidikan negeri ini. Yang lebih bobrok lagi, buku pelajaran sekolah memuat cerita-cerita pornografi. Mau jadi apa generasi muda Indonesia?


Dalam pepatah Jawa mengatakan guru itu akronim kata dari ‘digugu lan ditiru’ (diikuti perintahnya, dicontoh setiap tindakannya). Di peribahasa Indonesia, ada juga ungkapan ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Artinya kurang lebihnya berkaitan dengan pemimpin–di sini digambarkan seorang guru– harus bisa memberi teladan kepada bawahan–seorang murid.


Ironisnya, beberpa waktu terakhir pendidik di Indonesia menunjukkan kelalaian fatal. Ini terbukti dengan beredarnya buku-buku pelajaran sekolah yang berbau pronografi.


Buku penunjang siswa kelas VI SD Negeri Polisi 4 di Bogor mislanya, jelas bermuatan pornografi. Buku terbitan CV Graphia Buana itu memuat kisah Anak Gembala dan Induk Serigala yang bertutur tentang perempuan hamil korban pemerkosaan dan kemudian berjuang di warung remang-remang demi menghidupi anaknya. Pertanyaannya: moralitas apa yang hendak diajarkan dari cerita ini?


Kisah itu, apalagi dibumbui adegan seks dengan menggunakan bahasa orang dewasa, tidaklah pantas sekaligus berbahaya jika disuguhkan untuk siswa. Ahli bedah otak asal Amerika Serikat, Dr Donald Hilton Jr., bahkan meyakini pornografi dapat merusak prefrontal cortex di otak anak. Kerusakan ini membuat anak tak mampu mengendalikan nafsu dan emosi serta mengambil keputusan.


Fakta bahwa cerita Anak Gembala diunggah begitu saja dari blog seorang penulis cerpen juga menggambarkan betapa buku itu dibikin secara asal-asalan. Penerbit yang telah mencetak buku tersebut sebanyak 10 ribu eksemplar terkesan memburu keuntungan bisnis semata.


Munculnya kisah tak mendidik dalam buku siswa bukanlah yang pertama. Di banyak daerah, cerita atau gambar porno dan kisah tak pantas juga kerap terselip dalam buku siswa. Setahun lalu, misalnya, kisah Bang Maman dari Kali Pasir membikin geger publik Jakarta. Cerita tentang tokoh lokal yang memiliki istri simpanan itu masuk buku penunjang siswa kelas II SD 9 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.


Adalah Hana (8), siswa SD Angkasa IX, Halim, bertanya pada ibunya, Intan. “Bu, istri simpanan itu apa?” Hal itu membuat Intan terperanjat. Dia terpaksa harus sedikit berbohong untuk menjawab pertanyaan itu. Intan lantas mengalihkan perhatian anaknya.


Ternyata, pertanyaan Hana berasal dari buku LKS yang dia baca. Kisah tersebut ada di dalam lembar kerja siswa (LKS) tentang Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Meski dalam teks kisah ada istilah istri simpanan, namun istilah itu tak muncul dalam soal-soal yang ada.


Buku ini diterbitkan oleh CV Media Kreasi dan terletak pada bab 11. Sebagian artikelnya berisi: “… Akhirnya Bang Maman meminta bantuan kepada Patme supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim …”


Setelah ramai jadi perbincangan, buku tersebut langsung ditarik. Sekolah yang sudah memberikan buku ke siswa pun langsung bereaksi dengan mengambil buku.


Buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) untuk SD di Pekanbaru juga  diprotes orangtua siswa. Buku tersebut dinilai terlalu vulgar dalam membahas alat kelamin.


Buku setebal 142 halaman tersebut Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Bagian sampul bergambar dua bocah tengah bermain bola.


Para ortu siswa menilai buku itu tak layak dibaca anak-anak. Dalam bagian bertopik “Menjaga Alat Kebersihan Reproduksi” muncul pertanyaan-pertanyaan di antaranya “Apa nama alat kelamin pria?”, “Apa nama alat kelamin wanita?” “Sperma dikeluarkan alat kelamin apa?” “Jika pria dan wanita berhubungan, reaksi apa yang terjadi pada wanita?”


Informasi yang dihimpun, buku yang ditulis oleh Dadan Heriana dan Giru Ferianti ini diedarkan Dinas Pendidikan Pemkot Pekanbaru.


Ada juga buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Inggris kelas 3 SMP diselip foto Miyabi alias Maria Ozawa. Meski kondisi fotonya tak bugil, namun foto bintang porno asal Jepang ini ramai dibicarakan.


Foto Miyabi muncul di halaman 36 di antara beberapa foto artis Indonesia dan foto fauna. Pada sampul LKS, tim penyusun bernama Giyono, Sumantri dan Jalil. Sementara penerbitnya adalah CV Sinar Mulia Mojosari, Mojokerto.


Beberapa orangtua siswa kelas 3 SMP Islam Brawijaya yang menyayangkan buku LKS Bahasa Inggris terdapat foto bintang porno Maria Ozawa atau Miyabi. Mereka meminta Dinas Pendidikan untuk menarik peredaran buku tersebut. Benar saja, buku itu langsung ditarik dan sebagian di antaranya dibakar.


Penistaan Agama


Ada juga buku pelajaran yang mengarah ke penistaan agama. Ditemukan buku yang memuat gambar Nabi Muhammad ini ditemukan salah satu siswa SD di Solo. Setelah melihat ada ilustrasi gambar Nabi Muhammad dalam buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolahan, siswa tersebut lalu melaporkan kepada orangtuanya.


Buku kontroversial itu diterbitkan Nobel Edumedia dan berisi kehidupan masa kecil 11 nabi. Di bagian akhir yaitu halaman 43 hingga 48 mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad SAW. Pada bagian ini terdapat lima ilustrasi gambar yang menggambarkan kehidupan masa kecil hingga masa remaja Nabi Muhammad.


Dari lima gambar itu, terdapat empat gambar yang menunjukkan sosok Nabi Muhammad. Gambar di halaman 43 terdapat gambar bayi sedang digendong seorang perempuan, yang mengilustrasikan masa bayi Nabi Muhammad di gendongan ibunya. Di depan gambar bayi diberi tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab.


Di halaman 44 nampak gambar anak lelaki kecil menggembala kambing, yang menunjukkan masa kecil Nabi Muhammad ketika dalam asuhan Halimah Tusa’diyah. Gambar utuh itu lalu ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, namun masih kelihatan jelas bagian dari seluruh rambut, jidat, mata, hingga bagian hidung. Sedangkan di bagian bawah terlihat jelas jubahnya.


Gambar halaman 46, menunjukkan seorang lelaki kecil di antara dua lelaki dewasa yang merupakan ilustrasi peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dua malaikat di perkampungan Bani Sa’d. Dalam gambar itu gambar lelaki kecil ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab ukuran besar di bagian atas namun masih terlihat jelas bagian kedua kakinya.


Gambar yang terdapat di halaman 48 adalah ilustrasi ketika Nabi Muhammad bertemu Buhairah, seorang pendeta ahli kitab yang sedang membuktikan tanda-tanda kenabian dalam diri Nabi Muhammad. Pada gambar itu di bagian kepala ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, sedangkan di bagian badan tetap terlihat utuh.


Kementerian Agama langsung bereaksi keras dan menarik buku dari peredaran. Menurut Menag Suryadharma Ali, Nabi Muhammad SAW tak bisa diilustrasikan dengan gambar apapun. Itu adalah materi sensitif yang bisa menimbulkan keresahan umat Islam.


Sementara, Lembar kerja siswa (LKS) di Kota Mojokerto kembali menjadi sorotan. Belum lama beredar LKS bergambar Miyabi, kali ini LKS Agama Islam tingkat SMP terdapat materi keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan fiqih.


Kesalahan buku itu terdapat pada pendefinisian salat jumat dan salat jenazah. Pada LKS ini, kedua salat itu hukumnya sunah, bukan fardu ain dan fardu kifayah atau salat wajib. Beberapa kesalahan konten tersebut dianggap tidak sesuai dengan kaidah fiqih.


“Beberapa konten yang diajarkan kami anggap itu menyesatkan,” ungkap Riha Mustofa, guru agama SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto. Pihak MUI pun sepakat buku itu harus segera diluruskan dan ditarik dari peredaran.


Kepala Sekolah SDN 155 Syafri Effendi membenarkan adanya buku tersebut. Informasi itu diterima setelah seorang orangtua siswa protes dan menganggap bahasanya tidak layak dibaca siswa SD. “Namun sekarang kami menarik buku tersebut. Kami menilai secara psikologi memang belum layak materi dan bahasanya untuk anak SD,” kata Effendi.ins


Sanksi ke Penerbit Lemah


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui jika pemerintah belum mampu memberikan sanksi tegas kepada penerbit buku pelajaran yang nakal. Menurut Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Ramon Mohandas inilah yang menyebabkan penerbit nakal tak jera memasukan materi yang tak sesuai dengan pelajaran.


“Kami akui, hukuman buat penerbit nakal masih lemah,” kata Ramon. Pernyataan Ramon ini menanggapi keluhan beradarnya buku pelajaran bermuatan materi porno di mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas VI yang digunakan oleh sejumlah SDN di Kota Bogor.


Ramon menuturkan sudah melihat cerita yang dimaksud. Dia mengatakan buku tersebut bukan buku resmi yang diwajibkan melainkan buku pengayaan. Buku itu melewati proses penilaian layak atau tidak.


 “Jadi penerbit langsung ke sekolah-sekolah terus mengiming-imingi sejumlah kompensasi,” ucap Ramon. Mestinya, ucap dia, para guru memperhatikan konten isi dulu sebelum sepakat untuk menggunakan.


Ramon mengatakan, ke depan perlu ada sanksi yang tegas untuk penerbit nakal agar menimbulkan efek jera. Menurut dia, DPR RI saat ini sedang menggodok Rancangan Undang Undang Perbukuan yang salah satu isinya tentang sanksi terhadap penerbit nakal.


Untuk Kurikulum Pendidikan 2013, Ramon menuturkan semua buku berasal dari pusat. Sekolah boleh menyediakan buku pengaya asal isinya lebih baik dibanding buku induk. “Buku induk itu hanya standar minimum,” ucap Ramon. Buku pengayaan itu harus melewati penilaian di dinas pendidikan setempat.ins




Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Tuesday, December 10, 2013

Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

REPUBLIKA.CO.ID,


Ia memutuskan menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim di sekelilingnya.


Dalam usianya yang menginjak 91 tahun, Georgette Lepaulle memutuskan masuk Islam. Meski sudah tua nan renta, ia tidak pernah merasa terlambat dalam membuat langkah terbaik dalam hidupnya.


Georgette sebenarnya sudah lama tahu tentang Islam karena ia mempunyai tetangga Muslim. Rumahnya yang berada di Berchem, di sebuah kota di provinsi Antwerpen, Belgia, berdekatan dengan rumah sebuah keluarga Muslim yang sangat baik kepadanya.


Selama 40 tahun bertetangga dengan seorang Muslim bernama Muhammad, membuat Georgette kagum dengan Islam karena tak pernah sekalipun ia diperlakukan tidak baik. Keluarga Muhammad selalu senyum dan baik hati kepadanya, padahal ia bukanlah bagian dari Islam.


Hingga akhirnya dua tahun yang lalu, terjadilah peristiwa yang membuat Georgette semakin dekat dengan keluarga Muhammad. Saat itu, karena usianya telah dianggap sangat tua, keluarga Georgette ingin memasukkannya ke panti jompo.


Muhammad yang tidak tega terhadap Georgette pun menghalang-halangi niatan tersebut hingga akhirnya ia mengajak Goergette untuk tinggal bersama. Karena ibu Muhammad telah meninggal, Georgette telah dianggap layaknya ibu sendiri.


Sejak tinggal bersama keluarga Muhammad, Georgette semakin tertarik mempelajari Islam. Nenek ini selalu melihat keluarga Muhammad sering melakukan shalat berjamaah, penuh kasih sayang, dan saling berbagi. Ia melihat makna “keluarga” yang begitu indah dalam keluarga Muhammad, sangat berbeda dengan kondisi keluarganya.


Hingga 2012 lalu, Gorgette akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat syahadat. Saat itu, Georgette tercatat sebagai mualaf tertua di dunia dengan usia 91 tahun.


Ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim yang berada di sekelilingnya dan beberapa kali ia merasa Allah mengabulkan doanya.


Setahun berlalu setelah masuk Islam, ia pun melakukan semua perintah Allah dengan tegas, menjalankan ibadah, serta tidak melanggar apa yang diharamkan.


Ia masih sehat hingga sekarang dan bisa melakukan perjalanan spiritual untuk bertemu dengan umat Islam yang bermacam-macam tipenya dari seluruh dunia.


Georgette sebelumnya memeluk Katolik. Ia pernah dibaptis, menimba ilmu di sekolah biarawati, menikah di gereja hingga dua kali, dua suaminya yang telah meninggal pun dimakamkan dengan tata cara gereja setempat.


Ia bekerja sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga Yahudi. Perilaku yang tidak sehat selalu mengiringi hidupnya.


Ia kecanduan merokok dari usia lima tahun hingga 78 tahun dan setiap hari selalu menenggak minimal setenggah botol alkohol sejak ia berusia tujuh tahun. Itulah kebiasaan yang mengisi hari-harinya sebelum Georgette masuk Islam.


Pertengahan 2012 lalu, Georgette ikut dengan keluarga Muhammad pulang kampung, mengunjungi keluarganya di Maroko. Saat itu adalah bulan Ramadhan.


Georgette mengenal apa itu puasa karena ia besar dalam lingkungan Katolik, yang sering berpuasa menjelang hari Paskah.


Namun, puasa yang dilakukan umat Islam, menurutnya berbeda. “Saya sadar, mengapa baru sekarang saya merasakan pengalaman ini, saya mulai percaya dengan sesuatu yang lebih tinggi dari semuanya, merasakan hubungan dengan Allah,” katanya.


Ia merasa keikutsertaannya saat Ramadhan tahun lalu itu membangkitkan jiwa religiusnya. “Saya percaya kepada Allah yang selalu terbuka dan selalu mencintai makhluk ciptaan-Nya,” ujarnya.


Georgette pernah berdoa dengan khusyuk, meminta kesembuhan seorang temannya dan mendoakan keselamatan seorang anak muda yang ditemuinya, yang dianggapnya salah jalan. Alhamdulillah, kedua doanya tersebut terkabul. “Ini sudah cukup menguatkan diri saya untuk masuk Islam,” ujarnya.


Di Maroko inilah ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelumnya, para Muslimah di sana membersihkan tubuh Georgette dengan tata cara mandi besar, sebuah hal yang diwajibkan sebelum seseorang masuk Islam.


Setelah syahadat terucap dari mulutnya, puluhan Muslimah yang datang menyaksikan menghujani Georgette dengan ciuman.


“Saya belum pernah menerima ciuman sebanyak itu sepanjang hidup saya,” katanya. Ia merasa terharu karena mereka semua menganggapnya sebagai saudara.


Ketika pulang ke Belgia, Georgette diantar untuk mengurus sertifikat keislamannya di masjid besar setempat. Ia menyandang nama Muslim baru, Noor. Kemudian, masjid tersebut melaporkannya ke masjid di Makkah.


Ternyata, data di Makkah menyatakan tidak ada mualaf yang lebih tua dari usia Georgette saat itu, yakni 91 tahun.


Segera kabar ini ditanggapi oleh Kerajaan Saudi dengan memberikan apresiasi, diberikan undangan khusus untuk naik haji tahun berikutnya, dan sebuah jam tangan emas.


Meski masuk Islam dalam usia yang sangat tua, tak membuat Georgette berkomitmen setengah-setengah. Sejak masuk Islam, ia mantap meninggalkan kebiasaannya selama ini yang dilarang oleh Islam, seperti menenggak minuman keras, merokok, mengonsumsi daging babi, dan ber-make-up berlebihan.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/12/10/mxktk1-gairah-islam-di-negeri-tango


Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

Tuesday, February 12, 2013

Meneladani kasih sayang Rasulullah

Dalam berbagai riwayat disebutkan Nabi Muhammad adalah panutan dalam hal kasih sayang. Saking cinta kepada istri pertamanya, Khadijah, Rasulullah begitu sedih ketika dia wafat. Ini menjadi salah satu alasan buat Allah memerintahkan Nabi Muhammad isra dan mikraj.

Rasulullah juga tidak pernah melupakan Khadijah. Dia selalu menyebut nama Khadijah. Sampai-sampai Aisyah, istri termudanya, marah lantaran cemburu. Biasanya Aisyah bakal bilang, “Khadijah! Khadijah! Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah!”

Rasullulah juga penuh kasih terhadap musuh sudah tidak berdaya. Ketika kembali ke Makkah dari Madinah dengan pasukan kuat, dia tidak berniat balas dendam kepada kaum Quraisy yang telah mengusir dia dari kota kelahirannya itu. Nabi Muhammad malah mengatakan kaum kafir mau masuk Islam atau tidak tetap boleh menetap di Makkah asal tidak memusuhi kaum muslim.

Dia juga tidak marah terhadap orang-orang menghina dan mencaci dia. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad menjadi orang pertama menjenguk orang Yahudi sakit padahal dia selalu melecehkan nabi sekaligus rasul terakhir itu. Akhirnya, orang Yahudi itu masuk Islam.

Di kisah lain, Nabi Muhammad saban hari menyuapi pengemis renta yang mangkal di sebuah pasar. Meski perempuan itu selalu menghujat nabi. Hingga akhirnya dia wafat, Abu Bakar menggantikan peran nabi, namun ditolak oleh sang pengemis. Selepas tahu penyuap setianya adalah Nabi Muhammad yang selalu diejek, dia menjadi muallaf.

Nabi Muhammad selalu rela berlapar diri demi memberi sedekah kepada orang membutuhkan. Sampai-sampai, pribadi mulia nabi ini dipilih sebagai tokoh paling berpengaruh sejagat dalam buku karya Michael H. Hart, ahli astronomi dan sejarah tersohor dari Amerika Serikat.

Kepribadian mulia Rasulullah ini juga dipuji oleh pemuka agama Hindu ternama, Swami Lakshmi Shankaracharya. Dia menegaskan Nabi Muhammad adalah manusia terhebat sepanjang sejarah. Jika orang ingin mengetahui Islam, harus menilai dari kehidupan dan ajaran nabi. “Nabi Muhammad selalu memaafkan musuh-musuhnya, sabar ketika dihina dan disakiti. Ini pelajaran moral membuat Islam menjadi agama internasional,” katanya seperti dilansir abna.ir, Senin lalu.

Swami menyesalkan kebanyakan umat Islam sekarang sudah tidak mengikuti ajaran agamanya dan tidak mau belajar dari kehidupan Rasulullah. Padahal, Alquran menyebutkan Rasulullah adalah panutan terbaik menjadi manusia mulia.

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277739:fadly-nurzal-pemimpin-harapan-umat&catid=41:pilkada-sumut&Itemid=64


Meneladani kasih sayang Rasulullah

Monday, May 13, 2013

Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

SETERUSNYA penulis akan mengemukakan kisah berkaitan dengan Zulkarnain. Cerita ini merupakan kisah keempat yang terdapat dalam al-Quran. Ia mengisahkan tentang orang kafir Mekah menghantar utusannya kepada ahli Kitab untuk meminta apa yang hendak diujikan terhadap Nabi SAW.


Ahli Kitab berkata: Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang berjaya mengelilingi dunia, tentang pemuda yang tidak diketahui apa yang mereka kerjakan dan tentang roh. Maka surah al-Kahfi diturunkan. Sebelum mentafsirkan ayat tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu, siapa Zulkarnain, siapa Yakjuj dan Makjuj dan di mana empangan Zulkarnain.


Pada ayat ke-83, Ibnu Kathir berkata: Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahawa orang kafir Mekah pernah mengirim utusan kepada ahli Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi SAW.


Kemudian para ahli Kitab itu berkata: Tanyalah kepadanya tentang orang yang di sekeliling muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda dan juga tentang roh. Maka turunlah surah al-Kahfi.


Diberi nama Zulkarnain kerana dia adalah seorang raja Rom dan Parsi. Sebahagian orang menyebutkan bahawa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan diberi nama Zulkarnain kerana dia sudah berhasil mencapai belahan Timur dan Barat iaitu tempat matahari terbit dan terbenam.


Al-Maraghi berkata: Orang Quraisy yang berguru dengan orang Yahudi, mengajukan pertanyaan kepada (Nabi Muhammad SAW) dengan tujuan menguji Baginda.


Katakanlah kepada orang yang keras kepala itu: Aku akan menceritakan kepada kamu cerita yang lengkap lagi menyeluruh seperti yang kamu minta dan cerita ini telah diberitahu kepadaku oleh Tuhanku.


Sayid Qutub berkata: Allah SWT telah mengurniakan kepadanya kedudukan yang teguh dan kekuasaan yang kukuh. Allah SWT telah memberikan jalan-jalan untuk memerintah dan menakluk, jalan-jalan pembangunan dan kemakmuran, jalan-jalan kekuasaan dan kesenangan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mengukuhkan kedudukan mereka dalam kehidupan ini.


Pada ayat ke-84, Ibnu Kathir berkata: Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakupi segala sesuatu yang diberikan kepada para raja iaitu berupa bala tentera, peralatan perang dan beberapa benteng.


Oleh itu, dia dapat menguasai bumi belahan Timur dan Barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya bahkan pelbagai raja di dunia pun turut tunduk kepadanya dan semua orang Arab dan bukan Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.


Ayat ini telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Ilmu pengetahuan. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, al-Suddi, Qatadah dan lain-lain.


l Iaitu tempat tinggal di bumi dan berbagai-bagai panjinya. Inilah pendapat Qatadah.


l Iaitu pengajaran bahasa-bahasa. Ia tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka. Inilah pendapat Abdul Rahman bin Aslam.


Al-Maraghi berkata: Allah SWT memberi kekuasaan kepada Zulkarnain melakukan mengikut kehendaknya, sehingga beliau berjaya menguasai seluruh dunia dan mengalahkan seluruh kerajaannya. Allah mengurniakan ilmu, kemampuan dan kelengkapan tentera bagi menjayakan segala hasrat yang hendak dilakukannya.”


Sayid Qutub berkata: Muhammad Ibnu Ishaq telah menyebut sebab turunnya surah ini katanya `aku telah diceritakan oleh seorang guru daripada penduduk negeri Mesir. Dia datang ke tempat kami kira-kira 40 tahun lebih yang lalu dari Ikrimah, daripada Ibnu Abbas katanya kaum Quraisy telah mengirim al-Nadhr Ibnu Harith dan Aqabah Ibnu Abu Mu`ayt kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah dan berkata tanyalah kepada pendeta-pendeta itu tenteng Muhammad SAW, terangkan sifatnya kepada mereka dan ceritakan apa yang telah dikatakan olehnya kerana mereka adalah kaum ahli Kitab yang pertama.”


Mereka mempunyai ilmu tentang para Anbiya yang tidak ada pada kita. Lalu kedua utusan itu pergi ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tenteng Rasulullah SAW. Kedua-duanya menceritakan kepada mereka tentang beliau dan sebahagian daripada apa yang telah dikatakan olehnya sambil berkata: Tuan-tuan adalah pakar-pakar kitab al-Taurat dan tujuan kami datang menemui tuan-tuan ialah supaya tuan-tuan boleh menjelaskan kepada kami tentang teman kami ini (Muhammad).


Kata Rawi, pendeta-pendeta itupun berkata: Tanyalah kepadanya (Muhammad) tiga perkara yang kami cadangkan ini, jika dia dapat menjawab, maka dia adalah benar seorang nabi yang diutuskan Allah SWT dan jika sebaliknya, maka dia hanya seorang pendusta dan kamu boleh memutuskan fikiran kamu terhadapnya.”


Tanyalah kepadanya tentang sekumpulan pemuda yang telah pergi menghilangkan diri di zaman dahulu bagaimana cerita mereka kerana cerita mereka amat menakjubkan. Dan tanyalah kepadanya tentang seorang lelaki yang menjelajah dunia hingga sampai ke kawasan-kawasan sebelah Timur dan kawasan-kawasan sebelah Barat bagaimana ceritanya?


Dan tanyalah kepadanya tentang roh dan apakah dia? Jika dia dapat menceritakan hal-hal itu kepada kamu, maka dia adalah benar seorang nabi yang boleh kamu ikutinya dan sebaliknya jika dia tidak dapat menceritakan kepada kamu, maka dia adalah seorang pendusta dan lakukan apa sahaja tindakan terhadapnya yang kamu fikir wajar.


Lalu an-Nadhr dan Aqabah balik menemui kaum Quraisy dan berkata: Wahai kaum Quraisy! Kami telah membawa kepada kamu kata pemutus yang dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dengan Muhammad. Pendeta-pendeta Yahudi itu menyuruh kita bertanya kepada Muhammad mengenai beberapa perkara.”


Lalu mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disuruh oleh pendeta-pendeta itu.


Rasulullah SAW menjawab: Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu tanpa berkata kecuali dikehendaki Allah SWT”. Mereka pun berundur daripadanya. Rasulullah SAW menunggu selama 15 hari 15 malam tanpa mendapat wahyu daripada Allah SWT mengenai perkara-perkara tersebut dan tanpa dikunjungi Jibril AS hingga menggemparkan penduduk Mekah. Mereka berkata: Muhammad telah berjanji untuk menjawab, sekarang telah masuk 15 hari tetapi masih belum ada jawapan.”


Terhentinya wahyu itu telah mendukacitakan Rasulullah SAW. Kemudian barulah dikunjungi Jibril AS membawakan surah Ashab al-Kahfi, di mana baginda telah ditegur kerana bersedih terhadap sikap penduduk Mekah, di samping dimuatkan cerita-cerita yang ditanyakan mereka mengenai kumpulan pemuda dan lelaki pengembara itu.


Pada ayat ke-85 ia telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Maka dia pun menempuh suatu jalan, iaitu al-Sabab iaitu tempat. Inilah pendapat Ibnu Abbas.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan iaitu tempat turun dan jalan antara timur dan barat. Inilah pendapat Mujahid.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan. Ia juga dipanggil ilmu pengetahuan. Dia berkata hal yang sama juga dikemukakan oleh Ikrimah, Ubaid bin Yala dan al-Suddi. Dan dia pun mengatakan inilah tanda-tanda dan bekas-bekas. Inilah pendapat Said bin Jubair.


Sayid Qutub berkata: Oleh sebab adanya pelbagai riwayat tentang sebab-sebab nuzul itu, maka kami memilih untuk berhenti setakat bayangan nas al-Quran yang amat diyakinkan kebenarannya itu.”


Malah daripadanya juga dapat diketahui bahawa ada satu pertanyaan mengenai Zulkarnain walaupun diketahui siapakah yang mengemukakan pertanyaan itu. Tetapi pengenalan tentang siapakah yang bertanya itu tidak menambahkan apa-apa kepada maksud kisah. Marilah kita hadapi nas al-Quran tanpa sebarang tokok tambah.



Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan betapa kebenaran pasti ditegakkan oleh pendukungnya walaupun sentiasa menghadapi ujian. Hal ini menjadi sunnatullah. Oleh itu, semangat Zulkarnaian perlu diwujudkan dalam hati pemimpin umat Islam.



Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

Friday, November 22, 2013

Tegas tangani ajaran sesat

KEWUJUDAN kumpulan ajaran sesat di negara ini bukanlah perkara baharu kerana masalah berkenaan telah lama berlaku sejak sebelum merdeka dengan kemasukan pengaruh dari luar seperti Qadiani dan Bahai.


Kumpulan ini dikategorikan sebagai pengamal ajaran sesat kerana berpegang kepada fahaman yang menyimpang daripada Islam.


Pengikutnya menganggap setiap perkataan yang keluar daripada mulut pemimpin mereka sebagai benar walaupun tidak masuk akal.


Qadiani misalnya yang diasaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India mendakwa Nabi Isa meninggal dunia dan dimakamkan di Srinagar, India.


Fahaman yang turut dikenali dengan nama Ahmadiyah di Indonesia dibawa masuk ke negara ini pada 1949 oleh Maulana Muhammad Sadiq Barakatullah.


Mereka beriktikad bahawa Mirza Ghulam adalah Imam Mahdi, nabi dan jelmaan Krisna (tuhan mengikut kepercayaan Hindu).


Bahai yang diasaskan oleh beberapa individu termasuk Mirza Ali Muhammad di Iran pula dibawa masuk ke negara ini oleh kartunis kaum Cina, Yan Kee Leong pada 1953.


Ajaran Bahai disebarkan dalam kalangan Orang Asli dan juga kepada penduduk di Seremban, bandar Melaka, Kuala Lumpur dan Sarawak.


Kumpulan ini beriktikad bahawa kitab agama mereka iaitu Al-Bayan memansuhkan semua kitab suci agama lain, mendakwa terdapat kod 19 dalam al-Quran, berpuasa selama 19 hari, solat sebanyak sembilan rakaat dan dikerjakan tiga kali sehari serta berwuduk dengan air mawar.


Dalam pada itu, antara kumpulan ajaran sesat tertua yang berasal dari dalam negara adalah ajaran Taslim yang diasaskan oleh Muhammad Syafie atau lebih dikenali dengan panggilan Haji Muhammad Matahari yang berasal dari Sumatera, Indonesia.


Ajaran ini mula dikesan sekitar 1870-an di Kampung Seronok, Bayan Lepas, Pulau Pinang dan kemudiannya berkembang ke Kampung Tasik, Segamat dan Kampung Telok Sari, Mersing, Johor pada 1940-an.


Ciri-ciri kesesatan ajaran Taslim yang diamalkan secara rahsia sehingga sukar dikesan pihak berkuasa adalah beriktikad bahawa Allah berada dalam diri setiap manusia manakala solat lima waktu dan berpuasa boleh dikerjakan secara niat sahaja.


Kumpulan berkenaan turut mengharuskan perzinaan melalui konsep nikah batin bagi menarik pengikut.


Selepas itu, muncul banyak lagi kumpulan ajaran sesat seperti Nasrul Haq, Ilmu Tajalli Ahmad Laksamana, Hassan Anak Rimau, Tarikat Aurad Ismailiah dan Kumpulan Anti Hadis.


Antara yang mendapat publisiti meluas adalah kumpulan yang diketuai oleh Ayah Pin atau nama sebenarnya Ariffin Mohamad, yang mengaku dirinya adalah tuhan di perkampungan ‘Kerajaan Langit’ di Batu 13, Hulu Besut, Terengganu.


Antara fahaman kumpulan berkenaan adalah sembahyang lima waktu boleh digantikan dengan berzikir serta kiamat tidak akan berlaku kerana Allah tidak bodoh menjadikan alam dan merosakkannya kembali.


Pengaruh kumpulan itu mula lemah setelah pihak berkuasa merobohkan replika cerek dan payung gergasi serta dewan perhimpunan di perkampungan itu pada 2005 serta mendakwa pengikutnya di mahkamah. Ayah Pin pula telah menghilangkan diri bersama-sama empat isterinya.


Terdapat juga kumpulan ajaran sesat yang mengambil masa lama untuk dibanteras kerana mempunyai latar belakang ekonomi kukuh, beroperasi atas nama syarikat dan bijak menggunakan pelbagai kaedah bagi menyebarkan dakyah.


Antaranya, adalah Al-Arqam yang diasaskan oleh Ashaari Muhammad yang juga dikenali sebagai Jamaah Aurad Muhammadiah pada 1968. Ketika waktu kemuncaknya, ia dikatakan mempunyai 6,000 pengikut tegar.


Ajaran ini difatwakan sesat oleh Majlis Fatwa Kebangsaan pada 1994 kerana pengikutnya percaya pengasas Aurad Muhammadiah, Syeikh Muhammad As-Suhaimi yang telah meninggal dunia pada 1925 tidak mati, sebaliknya masih hidup.


Mereka percaya Syeikh Muhammad adalah Imam Mahdi yang ghaib buat seketika sebelum kembali untuk memimpin umat Islam dan beliau juga dikatakan boleh datang menolong apabila diseru namanya.


Setelah kematian Ashaari pada 2010, balu beliau, Hatijah Aam atau lebih dikenali dengan gelaran Ummu Jah cuba meluaskan pengaruh kumpulan itu ke luar negara khususnya di Mekah dengan membuka perniagaan restoran dan rumah rehat.


Bagaimanapun, pada 8 November lalu, Hatijah telah melafazkan taubat nasuha bersama-sama 400 pengikutnya dengan janji tidak mengulangi perbuatan mengamalkan ajaran Aurad Muhammadiah.


Modus operandi sama digunakan oleh kumpulan ajaran sesat Tuhan Harun yang yang diasaskan oleh Harun Mat Saat, 47.


Selain mengaku dirinya adalah tuhan dan Imam Mahdi, Harun turut mendakwa berkuasa mengalih posisi bulan, bintang dan matahari.


Kumpulan ajaran sesat berkenaan memperoleh dana dengan menganjurkan skim cepat kaya dan mengutip deposit secara haram yang dianggarkan sebanyak RM200 juta daripada orang ramai.


Mereka juga pernah menganjurkan konsert rock yang disertai ramai artis terkenal tempatan pada 2009 dan menerbitkan album lagu berunsur dakwah bagi mengembangkan pengaruh.


Sementara itu, yang cukup membimbangkan adalah apabila kumpulan ajaran sesat terbabit turut berubah menjadi militan.


Dalam sejarah Malaysia, antara kumpulan ajaran sesat bercorak militan adalah Kumpulan Mohd. Nasir Ismail dari Kemboja yang mengaku dirinya Imam Mahdi dan mendakwa tidak perlu solat Jumaat.


Kemuncak aktiviti kumpulan itu adalah apabila Mohd. Nasir dan 14 pengikutnya yang memakai jubah putih menyerang balai polis, pejabat kadi dan mahkamah rendah di Batu Pahat dengan menggunakan pedang pada 1980.


Dalam kejadian itu, 23 orang termasuk 14 anggota polis cedera parah manakala lapan pengikut kumpulan itu ditembak mati.


Satu lagi contoh kumpulan ajaran sesat bercorak sedemikian adalah Al-Maunah Malaysia yang diketuai oleh Mohammad Amin Razali.


Antara fahaman kumpulan itu adalah orang telah mati boleh menjadi perantara, percaya kepada konsep angka-angka tertentu pada ayat-ayat al-Quran dan mempercayai tangkal boleh memberi kesan.


Pada tahun 2000, kumpulan berkenaan telah merompak lebih 100 senjata api, 9,000 peluru, 26 benet dan 60 bom tangan dari Kem Batalion 304 Rejimen Askar Wataniah di Gerik.


Peristiwa itu berakhir apabila 27 anggota kumpulan tersebut termasuk 15 yang merompak senjata api berkenaan menyerah diri kepada pasukan keselamatan di tempat persembunyian di Hutan Bukit Jenalek, Sauk, Perak.



Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/745246/fpi-pernikahan-jonas-rivanno-asmirandah-haram


Tegas tangani ajaran sesat

Friday, July 5, 2013

Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Home Sejarah



Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)





 

Sultan Al Fatih (dalam Film Fetih 1453) memberi perlindungan penganut Kristen



 




Jum’at, 05 Juli 2013


Oleh: Ady C. Effendy


Kejatuhan Konstantinopel: Faktor di balik Keberhasilan Penaklukan

SETELAH
gencatan senjata, Sultan Murad II secara mengejutkan menyerahkan tahta kepada putranya Muhammad II, yang pada saat itu baru berusia dua belas tahun. Pada Rabi II 848 H/ Juli 1444M, Muhammad II diangkat sebagai sultan oleh ayahnya. Dia ingin mempersiapkan anaknya untuk sesegera mungkin mengambil alih kekuasaan yang telah menyibukkan dirinya seumur hidupnya.


Alasan lain yang disebutkan untuk suksesi yang sangat cepat ini adalah bahwa Sultan Murad II ingin memastikan legitimasi pemerintahan putranya melawan seorang pangeran palsu keturunan Turki Usmani yang mengklaim kekuasaan dan tinggal di dalam kota Konstantinopel, yaitu pangeran Orkhan.


Pemerintahan pertama Sultan Muhammad II yang tercatat dari Rabi II 848H / Juli 1444M hingga Djumada II 850H/August 1448M, menemui kegagalan. Krisis internal pemberontakan Hurufi di Edirne pada 8 Djumada II 848/22 September 1444. Krisis eksternal yang ditimbulkan oleh fakta bahwa sepuluh tahun gencatan senjata rupanya dilanggar oleh raja Hungaria yang menyeberangi sungai ke Bulgaria. Paus mengampuni raja Hungaria atas sumpah yang telah diucapkannya dengan alasan bahwa hal itu tidak berlaku karena ia bersumpah untuk seorang kafir. Dalam 4-8 Djumada II 848 H/ 18-22 September 1444M, raja dan tentara salib siap untuk pertempuran.


Pada bulan November 1444, dengan bantuan pelaut Genoa, tentara Usmani di bawah Murad II menyeberang ke Eropa dan melawan tentara salib di dekat pelabuhan Laut Hitam Varna, utara dari Konstantinopel. Dinasti Utsmani menang secara telak, raja Hungaria tewas, dan hanya sedikit yang lolos.


Murad II mengupayakan untuk memastikan suksesi Sultan Muhammad II setelah mengajaknya untuk turut dalam kampanye militer yang besar di kawasan Balkan – melawan Hungaria di Kossova di 852H/1448M, dan melawan Albania pada musim panas 854H/1450M. Murad II memerintahkan anaknya untuk menikahi Sitti Khatun putri Dzul Kadirid penguasa, yang secara tradisional merupakan sekutu Turki Usmani melawan Karamanids, dan kemudian tinggal di istana ayahnya di Manisa, Anatolia. Tak lama setelah menerima kabar kematian ayahnya, Sultan Muhammad Al Fatih sekali lagi kembali ke tahta Usmani pada 16 Muharram 855H/18 Februari 1451M.


Ancaman eksternal terus menempatkan kepemimpinan Sultan Muhammad II dalam ancaman. Kaisar Bizantium, dalam upaya untuk mendapatkan konsesi dari Sultan Muhammad II, mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Pada saat yang sama, Karamanid Ibrahim menginvasi wilayah sengketa di Hamid-ili. Wazir Candarli berhasil menahan Byzantium dan Serbia dengan konsesi teritorial, sedangkan sultan muda memulai kampanye militer pertamanya melawan pasukan Karamanid tersebut. Ancaman Kaisar Bizantium tidak selesai dengan pemberian konsesi sebelumnya.


Bahkan, karena mengejar kekayaan, kaisar Kristen itu kembali mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Sultan Muhammad II, setelah mencapai kesepakatan dengan Karamanid, bertekad untuk kembali ke Edirne dan memecahkan masalah Bizantium secara tuntas. Dengan dukungan Panglima militer Zaghanos, ia mulai merencanakan pukulan militer yang akan mematikan kerajaan tua itu, pertama dengan membangun kastil Boghaz-Kesen di Bosphorus.


Dia juga telah mengamankan perjanjian dengan Venesia (13 Sha’ban 855/10 September 1451) dan Hungaria (25 Syawal 855/20 November 1451) serta menyewa seorang ilmuwan Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam paling kuat yang pernah dikenal untuk menghancurkan dinding tua Konstantinopel.


Panglima Zaghanos dan Syekh Shihabuddin mendukung perang tersebut seraya menegaskan ancaman bahaya yang ditimbulkan dari Bizantium untuk kekhilafahan Islam dan dapat memecah kesatuannya. Keberhasilan penaklukan akan sangat tergantung pada efisiensi waktu dan efektivitas pengepungan.


Pada bulan Maret 1453M, tentara Usmani meluncurkan long-march menuju kota. Pada tanggal 2 April, orang di kota melihat tentara besar sejumlah lebih dari seratus ribu tentara mendekati kota. Kaisar Constantine XI benar-benar cemas dengan situasi tersebut.


Seorang berkebangsaan Venesia bernama Nicolo Barbaro telah tiba pada musim semi di kota itu. Kaisar sangat menghargai dukungan ini pada situasi yang sangat mengkhawatirkan sehingga ia memberikan empat gerbang kota dan semua kunci yang ada pada mereka kepadanya. Para penjaga Konstantinopel juga memblokade Golden Horn dengan rantai besi untuk mencegah berlalunya setiap armada laut Turki Usmani. Populasi kota selama pengepungan itu diperkirakan berjumlah sekitar dua ribu orang asing dan 4,773 orang Yunani untuk melindungi dinding kota yang panjangnya 23 km.


Di sisi lain, Tentara Turki Usmani berkemah di luar tembok kota. Para tentara elit Janissary menjaga tenda merah dan emas tempat Sultan Muhammad Al Fatih berdiam, sedangkan tentara reguler menduduki dua daerah: “barat kota sepanjang daerah dataran rendah di sekitar Sungai Lycus, yang mengalir melalui tengah Konstantinopel, dan di dekat Barbaro Galata / Pera di pantai utara Golden Horn.”


Diperkirakan terdapat sekitar 145 kapal Turki Usmani rendah berlabuh di Kolom Ganda, sebuah pelabuhan di Bosporus yakni 3 km sebelah utara kota. Mempertahankan kota Konstantinopel dari laut adalah Alvise Diedo, seorang kapten kapal dan pedagang Venesia, yang menguasai sekitar dua puluh enam kapal tinggi dan perahu-perahu kecil, dan bertugas mempertahankan pelabuhan Golden Horn.



Pengepungan di Konstantinopel


Sebelum pengepungan dimulai, Sultan, mengikuti tradisi Islam, menawarkan warga Konstantinopel kesempatan untuk menyerah, pilihan yang akan menyelamatkan hidup dan harta mereka. Tetapi kaisar yang sombong terlalu mustahil untuk mengambil penghinaan seperti itu.


Pada tanggal 6 April pengepungan bersejarah dimulai dengan membuka tembakan meriam yang merusak parah dinding dekat gerbang Charisian sekitar setengah mil (0.8 km) utara Sungai Lycus. Para pembela kota berusaha untuk memperbaiki dinding. Beberapa hari kemudian, meriam membombardir dinding lagi dan benar-benar menghancurkan tembok luar sehingga memaksa para pelindung kota untuk membangun sebuah benteng tanah dan kayu di atasnya. Dampak meriam sangat besar sehingga meninggalkan lubang di dinding yang tidak dapat diperbaiki. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan tujuh kali sehari dan membutuhkan persiapan lama sebelum penembakan.


Pada tanggal 15 April, selama pengepungan, empat kapal penuh persediaan berlayar menuju kota, didanai oleh Paus dan duta besar Konstantinopel, melalui Laut Marmara. Suleiman Baltoghlu, laksamana armada Turki Usmani, mengerahkan puluhan kapal untuk mencegat dan menghancurkan empat kapal itu. Sayangnya, angin yang bertiup melawan arus membuat kapal-kapal Turki Usmani tidak mampu bermanuver.


Kapal Italia yang lebih tinggi dan bersenjata lengkap secara mengherankan lolos dan masuk ke Pelabuhan Tanduk Emas setelah para pelaut itu berhasil memukul kembali pelaut Turki  Usmani dengan tombak, kapak, batu dan panah. Di darat, tentara Usmani cukup berhasil. Giovanni Giustiniani memimpin para pembela kota dengan berani dan memukul kembali upaya musuh untuk membakar benteng dan membunuh para pembelanya. Setelah empat jam, pasukan Usmani mundur.


Para pembela kota mengambil kesempatan untuk memperbaiki lubang di dinding dengan balok kayu, tanaman merambat, cabang, bumi dan puing-puing. Sementara itu, Sultan telah merencanakan untuk memasuki pelabuhan Golden Horn dengan membangun jalan yang tidak lazim melintasi lereng bukit dekat Galata / Pera ke pelabuhan. Keesokan harinya, sekitar tujuh puluh kapal Turki Usmani berlayar menuju rantai besi. Satu per satu, kapal diangkat dan ditarik ke darat. Pasukan Lembu dan roda menyeret kapal-kapal itu ke gelondongan kayu yang diminyaki dengan lemak hewan … dan dalam hitungan jam kapal-kapal itu telah tiba dengan aman di dalam Golden Horn. “Keberhasilan pelaut Turki Usmani dalam memasuki pelabuhan telah membuat populasi kota lebih menderita karena kehabisan persediaan dan terhalang dari memancing ikan.


Di dalam kota Konstantinopel, orang-orang Kristen dari semua sekte berkumpul ke Gereja Hagia Sophia untuk mengadakan Misa bersama-sama. Mereka bersatu setidaknya untuk sesaat setelah sengketa selama berabad-abad antara gereja Yunani dan Latin. Giustiniani dan tentaranya mengambil posisi antara dinding bagian dalam di Lycus Valley dan benteng luar di mana tentara Turki Usmani pasti akan menyerang. Gerbang pada dinding bagian dalam di belakang mereka ditutup. Tidak ada jalan bagi mereka untuk mundur.


Pada pagi hari Selasa, tanggal 29 Mei 1453M, serangan berkekuatan penuh dimulai. Teriakan disela pertempuran, suara drum, alat musik, dan terompet dibunyikan oleh tentara Usmani seluruh lembah, dan diikuti oleh lonceng gereja yang memperingatkan penduduk kota dari ancaman yang datang.


Pertempuran dimulai dengan serangan oleh tentara non reguler yang sebagian besar berasal dari Balkan. Mereka berupaya untuk mendaki berbagai daerah sepanjang dinding menggunakan tangga untuk menyibukkan dan mengalihkan perhatian para pembela kota dari pertempuran utama di bagian Lycus Valley. Setelah dua jam pertempuran, tentara non regular diperintahkan untuk mundur. Sekarang, tentara reguler, yang bersenjata lengkap, sangat disiplin dan sebagian besar dari Anatolia menyerbu Lycus Valley. Sementara itu, meriam raksasa Urban terus menghancurkan dinding tanpa menyisakan waktu yang memadai untuk perbaikan oleh pembela.


Setelah dua jam, para pasukan Janissary (pasukan elit khusus) menyerbu ke lapangan pertempuran, sementara Muhammad Al Fatih memimpin sejauh parit. Para pembela yang kelelahan berjuang tanpa rasa takut selama satu jam.


Salah satu kelemahan, bagaimanapun, mulai terungkap oleh tentara Turki Usmani, sebuah gerbang kecil – Kerkopotra – di sudut barat laut kota itu dibiarkan terbuka. Itu digunakan untuk memungkinkan pembela kota untuk menyelinap dan meluncurkan serangan rahasia pada musuh, tapi terbuka karena seorang tentara pembela kota tampaknya lalai ketika ia masuk kembali ke kota. Orang-orang Turki Usmani bergegas memasuki pintu gerbang, beberapa dari mereka dipukul mundur, tetapi beberapa puluh tentara berhasil masuk ke dalam kota.


Saat matahari terbit, pemimpin militer kota, Giustiniani, tertembak di jarak dekat, yang merusak baju pelindungnya. Setelah menerima cedera parah ini, semangat pertempuran telah benar-benar hilang darinya dan ia bergegas menaiki kapal untuk meninggalkan medan perang. Ketika gerbang dibuka oleh pasukan Turki Usmani, kepanikan telah mengalahkan semangat para pembela kota sehingga beberapa meninggalkan posisi mereka.


Dalam pukulan terakhir terhadap pasukan pelindung kota, Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukan elit khusus (tentara Janissari) untuk memperbaharui serangan mereka dan para pembela benar-benar melarikan diri saat ini. Bendera kekaisaran Bizantium akhirnya dirobek dan digantikan dengan bendera Kekhilafahan Islam Turki Usmani. Konstantinopel telah jatuh dan sejarah Bizantium benar-benar berakhir sepenuhnya tanpa kemampuan lebih lanjut untuk bangkit kembali.


Setelah menerima sinyal kemenangan, sisa tentara Usmani bergegas ke kota. Para pelaut di kapal perang Turki Usmani di Golden Horn menyerang dinding pelabuhan dan keluarga nelayan membuka gerbang dan mendapatkan janji bahwa mereka tidak akan dibunuh. Kaisar Byzantium, Konstantinus XI, telah menghilang dari tempat kejadian, tanpa catatan sejarah kemana perginya. Sultan Usmani kembali ke tendanya dan memenuhi janjinya kepada orang-orang dari kota Konstantinopel dan Galata / Pera bahwa keluarga dan harta mereka akan dibiarkan utuh, sementara tentaranya mengambil ghanimah dari sebagian besar harta yang tersisa didalam kota.


Penutup


Catatan sejarah tentang konflik sektarian berkepanjangan yang melanda tanah Kristen terutama di Konstantinopel dan upaya tanpa henti oleh para pemimpin Muslim sepanjang era keemasan Islam untuk merebut Konstantinopel telah menunjukkan kepada kita bagaimana wacana agama selama abad pertengahan memainkan peran yang sangat penting dalam rangkaian peristiwa di masa lalu.


Para tentara Perang Salib yang dikirim setelah seruan dari Paus di Roma untuk mengambil alih tanah suci Yerusalem dari orang-orang kafir telah membawa dampak negatif bagi tanah Kristen. Alih-alih berhasil dalam upaya mereka untuk merebut kembali tanah suci, Pasukan Salib malahan menghancurkan kehidupan Kristen di kota Konstantinopel Bizantium dan kota Kristen di dekatnya. Hal ini telah menyebabkan ketidakpuasan yang sangat mendalam pada sisi Kristen Ortodoks Yunani terhadap Gereja Katolik Roma.


Hal ini akhirnya membuka jalan bagi Kekhilafahan Usmani Muslim sehingga berhasil merebut kota bersejarah itu dan menyebabkan pukulan telak bagi kekaisaran Kristen Bizantium yang telah berdiri selama berabad-abad tanpa ada kemampuan untuk menghidupkan kembali dinasti yang punah itu. Alasan yang mungkin dikemukakan untuk ketidakmampuan ini adalah fakta bahwa para pemimpin dan penduduk di kota Kristen telah benar-benar lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Gereja Roma.


Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih hidup damai di bawah pemerintahan Usmani Muslim yang menjamin kebebasan mereka dan memperlakukan mereka dengan adil daripada hidup di bawah Gereja Roma yang sangat menindas. Aturan Usmani selama abad pertengahan itu terbukti sangat adil dan damai terhadap orang Kristen dan Yahudi yang bahkan cenderung dianiaya di tanah Eropa pada abad pertengahan.


Faktor lain yang mendukung kemenangan Utsmani dalam menaklukkan ibukota Bizantium adalah faktor teknologi militer canggih. Keputusan untuk menyewa Urban, seorang ilmuwan Hungaria, untuk menciptakan meriam terkuat yang pernah ada di zaman pertengahan telah menjadi factor penting bagi keberhasilan pengepungan. Faktor terakhir yang berkontribusi terhadap kemenangan yang menentukan terhadap kekaisaran Bizantium selama berabad-abad adalah semangat keimanan yang membakar tanpa kenal lelah kekuatan militer Muslim Usmani pada umumnya, dan terutama Sultan Muhammad Al Fatih.


Akhirnya, jatuhnya Konstantinopel tidak akan mungkin terjadi tanpa faktor-faktor tersebut. Keruntuhan dari Kekaisaran Bizantium juga tidak mungkin untuk dipertahankan jika masih ada percikan semangat pada hati orang-orang Kristen Yunani untuk menghidupkan kembali kekaisaran mereka. Adalah rasa jijik selama berabad-abad dan kelelahan yang luar biasa akan konflik sektarian Kristen dan persepsi umum mereka akan keadilan kekhilafahan Muslim yang baru telah membantu dalam menjaga stabilitas pemerintahan Kekhilafahan Utsmani yang panjang atas penduduk Kristen Yunani di wilayah tersebut.*


Penulis sedang melanjutkan S2 di Qatar


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/06/18/6/179051/Ratusan-Jemaah-Keluar-dari-Ajaran-Ahmadiyah


Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Friday, January 3, 2014

Adakah Nabi masih hidup?


  • Kehidupan alam barzakh hanya diketahui ALLAH SWT. – Foto: Sumber internet


DALAM hadis perpecahan umat, Rasulullah SAW mengkhabarkan umat Islam akan terpecah kepada 73 golongan. Semuanya akan singgah ke neraka kecuali hanya satu terselamat dari neraka dan terus masuk ke syurga, iaitu golongan yang mengikuti jalan Nabi dan sahabat.



Ini menjadi petunjuk tidak semua umat Islam akhir zaman ini berada di atas jalan benar. Zaman ini begitu jauh dari zaman Nubuwwah dan pelbagai kefahaman serta tokok tambah meresapi ajaran Islam yang asal.



Hal ini tidak dapat dicegah, namun menjadi tuntutan ke atas kita mempelajari ilmu al-Quran dan Hadis agar mampu membezakan antara kebenaran dan kebatilan, seterusnya berpegang teguh dengan kebenaran, iaitu pegangan Nabi dan Sahabat.



Itulah satu-satunya jalan lurus yang ALLAH redai, jalan orang diberi nikmat.



Berbicara mengenai kumpulan yang mengangkat kedudukan orang soleh melebihi kedudukan yang sepatutnya, bahkan menyeru dan memohon pertolongan daripada mereka, dan beribadah di kubur mereka, kita bawakan firman ALLAH SWT: “Katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain ALLAH, mereka tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan bahaya daripada mu, dan tidak mampu mengubahnya’.



Orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada ALLAH). Mereka mengharap rahmat-Nya dan takut azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhan mu itu suatu yang harus ditakuti.” (Surah Al-Israa: 56-57)



Ketika ditanya mengenai orang yang meminta syafaat daripada Nabi setelah kewafatannya dengan alasan Nabi SAW hidup di dalam kubur, Syaikh Muhammad Soleh al-Uthaimin rahimahullah menjawab, “Bantahan atas mereka ini mudah, iaitu Nabi SAW telah wafat tanpa syak berdasarkan firman ALLAH, “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (juga).” (Surah Al-Zumar: 30).



Firman ALLAH: “Tidaklah Muhammad itu melainkan seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Adakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Surah Al Imran: 144)



Golongan sahabat sepakat Nabi  Muhammad SAW telah wafat. Mereka memandikan, mengkafani dan menguburkan Baginda. Dengan itu, Baginda telah wafat tanpa syak.



Namun di sana ada kehidupan lain iaitu kehidupan barzakh yang ada bagi golongan syuhada, dan golongan Nabi tentu lebih utama dalam hal ini. ALLAH SWT berfirman, “Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan ALLAH itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Surah Al Imran: 169)



“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia ALLAH yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang yang tinggal di belakang yang belum menyusul mereka.Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati.” (Surah Al Imran : 170)



Inilah kehidupan alam barzakh yang ilmunya di sisi ALLAH. Kita tidak mengetahui bagaimana. Orang yang mati tidak perlukan udara, air, makanan dan selainnya. Inilah jawapan bagi mereka yang mengatakan Rasulullah SAW hidup di dalam kubur.




Berbeza alam kehidupan



Ya, memang Baginda hidup, tapi bukan seperti kehidupan dunia yang manusia di dalamnya mungkin bekerja, taat, rukuk, sujud dan seterusnya. Ini adalah perkara ghaib tidak dihukumi seperti hukum orang-orang yang hidup. (Jalasat wa Fatawa)



Imam Al-Zahabi Rahimahullah berkata, “Nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti kehidupan syuhada’ di sisi Tuhan mereka. Kehidupan mereka tidak sama dengan kehidupan orang di dunia dan tidak sama dengan kehidupan manusia nanti di akhirat.” (Tarikh Al-Islam)



Ketika terjadinya fitnah besar pada zaman pemerintahan Khalifah Uthman dan Ali RA, mahupun berlaku pertelingkahan kalangan Sahabat, mereka tidak pergi ke kubur Baginda untuk meminta tolong untuk jalan penyelesaian.



Ternyata, golongan Nabi telah wafat dan tidak berhubung dengan alam dunia, sebaliknya roh Nabi Muhammad SAW berada di ‘Illiyun di tempat tertinggi, sebagaimana perkataan terakhir Baginda sebelum menghembus nafas terakhir, “Al-Rafiq Al-A’la (bersama teman yang tertinggi di atas)”.



Sebahagian orang salah faham hal ini sehingga menyangka golongan Nabi dan syuhada itu hidup seperti hidup di dunia. Mereka menyangka orang mati di dalam kubur mendengar seruan dan panggilan mereka, melihat, dan hadir ke majlis mereka.



Ini dakwaan yang tidak didasari petunjuk al-Quran dan Sunnah, bahkan menyalahinya.

ALLAH berfirman, “Dan engkau (Muhammad) tidak mungkin dapat menjadikan orang di dalam kubur dapat mendengar.” (Surah Fathir: 22).



“Sungguh kamu tidak dapat menjadikan orang mati dapat mendengar dan tidak pula menjadikan orang yang tuli dapat mendengar panggilan apabila mereka berpaling ke belakang.” (Surah al-Naml: 80)



Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Sahihnya, ketika orang Yahudi datang kepada Nabi SAW dan bertanya tentang roh, Nabi SAW terdiam dan tidak memberikan jawapan. Ini kerana ia adalah hal ghaib, yang hanya diketahui ALLAH. Baginda diam sehinggalah turun wahyu daripada ALLAH, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Surah Al-Isra’: 85)



Syaikh al-Albani rahimahullah ketika menjelaskan hadis yang menyatakan kehidupan para Nabi di kubur berkata, “Ketahuilah kehidupan yang ditetapkan oleh hadis bagi para Nabi adalah kehidupan alam barzakh, bukan kehidupan dunia sedikit pun.



Oleh itu, wajib mengimaninya tanpa memberi perumpamaan, atau berusaha menjelaskan bagaimana kaifiatnya dan menyamakannya dengan sesuatu yang diketahui dalam kehidupan dunia.




Jauhi Amalan Bidaah



Inilah sikap orang mukmin iaitu beriman kepada hadis tanpa memberi tambahan berupa qias dan pelbagai pemikiran sebagaimana dilakukan sebahagian ahli bidaah yang mendakwa kehidupan Nabi SAW di dalam kubur adalah kehidupan hakiki (seperti alam dunia).



Mereka berkata Baginda makan, minum dan menyetubuhi isterinya. Padahal itu adalah kehidupan alam Barzakh, tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh ALLAH”. (Sahihah)



Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya hari kamu yang paling utama adalah Jumaat, maka perbanyakkanlah selawat ke atas ku pada hari itu. Sesungguhnya selawat kamu disampaikan kepadaku.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu padahal engkau telah hancur menjadi tanah? ”Baginda menjawab, “Sesungguhnya ALLAH mengharamkan atas bumi menghancurkan jasad golongan Nabi.” (Sahih, Abu Daud)



Hadis ini menunjukkan kefahaman golongan Sahabat, iaitu orang yang mati tidak akan mendengar ucapan orang yang masih hidup. Rasulullah SAW tidak mendengar ucapan salam kepadanya, bagaimanapun sabda Nabi dalam hadis lain: “Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat yang berkeliling di bumi untuk menyampaikan kepada ku salam daripada umatku.” (Riwayat Ahmad)



Sekiranya orang mati dapat mendengar perbicaraan di alam dunia, sudah tentu Rasulullah yang paling layak untuk mendengar. Dan sekiranya Rasulullah mendengar perbicaraan di alam dunia, sudah tentu Baginda mendengar secara langsung selawat dan salam yang diucapkan kepada Baginda.



Namun sebaliknya, Baginda menjelaskan selawat dan salam ‘disampaikan’ kepada Baginda melalui golongan malaikat yang berkeliling di bumi. Jelas Baginda tidak mengetahui secara langsung apa yang berlaku di alam dunia selepas Baginda wafat.



Bahkan Nabi SAW menceritakan umatnya yang akan terhalang daripada minum di telaga Baginda di akhirat kelak, “Benar-benar suatu kaum daripada umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata, “Ya ALLAH, itu adalah umatku.” Maka dikatakan: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan selepas kewafatanmu.” (Riwayat Bukhari Muslim)



Hadis ini menunjukkan Nabi SAW tidak tahu apa yang berlaku kepada umatnya setelah wafat. Maka sungguh batil dakwaan sesetengah kumpulan yang mendakwa Nabi SAW hadir ke majlis mereka lalu mereka pun berdiri menghormati kehadiran Nabi! Ditambah dengan qasidah yang menyeru dan meminta daripada Nabi SAW dan orang soleh yang telah wafat.



Ini benar-benar menyalahi petunjuk Nabi SAW dan petunjuk sahabat RA. Semoga ALLAH memberikan kita taufiq dan keselamatan dalam beragama, dan beramal sesuai dengan petunjuk Nabi SAW dan sahabatnya, serta meninggalkan yang selainnya.




* Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia (iLMU)


Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/02/163205/Obama-dan-Dunia-Islam/7


Adakah Nabi masih hidup?

Saturday, November 23, 2013

Obama dan Raja Maroko Bertemu di Gedung Putih

REPUBLIKA.CO.ID, WASINGTON — Presiden Barak Obama menjamu Raja Maroko Muhammad VI di Gedung Putih, Jumat kemarin dalam sebuah pembicaraan mengenai demokrasi dan pemberantasan ekstremisme.


Dibicarakan juga potensi konflik di kawasan Afrika Utara, termasuk isu Sahara Barat, dan peran AS dalam kebijakan Maroko.


“AS telah menekankan bahwa rencana otonomi Maroko merupakan sesuatu yang serius dan realistik dan mewakili pendekatan yang potensial yang dapat memuaskan aspirasi masyarakat Sahara Barat untuk menjalankan urusan mereka sendiri dalam kedamaian dan kehormatan,” kata Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney.


Maroko mempunyai sejarah yang panjang dengan Amerika saat benua, yang dikenal di peta kuno pelaut Arab dengan nama Ard Majhoola (terra incognita), itu dikunjungi pertama sekali oleh Columbus 1492. 


Saat itu kapal Pinta yang digunakan Columbus dikapteni oleh Martin Alonso Pinzon dan kapal Nina dinakhodai Vicente Yanez Pinzon, yang menurut Profesor Barry Fell, keduanya dinilai merupakan keturunan Abu Zayyan Muhammad III (1362-1366), seorang Sultan Maroko di era Dinasti Mariniyah.


Tahun 1777, Maroko mengakui kedaulatan Amerika Serikat yang saat itu sedang berperang untuk meraih kemerdekaan dari Inggris atas permintaan pendiri AS George Washington. Pengakuan kedaulatan itu dilakukan oleh Sultan Maroko Sidi Muhammad ben Abdallah al-Khatib (Muhammad III), pada Desember 1777 saat pasukan pemberontakan yang dipimpin George Washington hampir kalah dari Inggris.


Dengan pengakuan itu pula, keamanan logistik kapal-kapal pemberontak AS terjamin di pelabuhan Maroko dari gangguan bajak laut dan Angkatan Laut Inggris yang mengusai dunia saat itu. Hubungan kedua negara kemudiaan diformalkan menjadi Moroccan–American Treaty of Friendship yang dinegosiasikan oleh Thomas Barclay, dan ditandatangani Thomas Jefferson, John Adams dan Muhammad III pada 1786.


Traktat ini juga membuat para budak yang beragama Islam di negara baru itu mendapat kebebasan seperti Abdulrahman Ibrahim Ibn Sori, seorang pangeran yang dijadikan budak, berasal dari Guinea yang saat itu masuk dalam wilayah Maroko. Kisahnya telah difilmkan berjudul ‘Prince Among Slaves’.


“Orang Amerika, saya mengetahui, adalah sebuah bangsa Kristen yang disukai ayah saya.. Saya sama dengan mereka, seperti ayahku, saya percaya mereka juga begitu kepadaku.. dengan hubungan yang baik semuanya terjalin,” kata Moulay Suliman sesaat setelah menggantikan tahta ayahnya Muhammad III yang meninggal tahun 1790.


Namun, Maroko terjerembab dalam kolonialisme Eropa di awal abad ke-20. Hingga, saat Maroko merdeka kembali, beberapa bekas wilayahnya telah menjadi negara-negara sendiri sampai akhirnya Sahara Barat ditinggalkan Spanyol. Sahara Barat dikuasai kembali secara de facto oleh Maroko tahun 1975 dan menyisakan konflik dengan organisasi lokal, Polisario.


Article source: http://artis.inilah.com/read/detail/2047082/asmirandah-jonas-rivano-menikah-islam-17-10-2013


Obama dan Raja Maroko Bertemu di Gedung Putih

Wednesday, January 22, 2014

Muslim Inggris Kecam Kartun Muhammad dan Yesus

INILAH.COM, London – Salah satu organisasi Islam di Inggris yang paling berpengaruh mengecam situs web yang menerbitkan kartun yang menampilkan Nabi Muhammad dan Yesus.


Situs web bertajuk Jesus and Mo menyajikan strip komik mingguan yang berisi perdebatan dua nabi tersebut dan guyonan tentang ajaran Islam dan Kristen, tulis Ahram Online, situs berita milik koran Al-Ahram, Mesir, Selasa (21/1/2014).


Asosiasi Muslim Inggris (MAB) menerbitkan pernyataan yang mengatakan bahwa gambar komik tersebut “sangat menyerang penganut agama masing-masing” yang “potensial meletup”. MAB mendesak operator situs web tersebut segera mencabut strip komik itu.


MAB menambahkan penggambaran dua nabi tersebut “sama seperti yang diterbitkan di Denmark” yang merujuk pada 12 kartun editorial menghina Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh koran Denmark pada 2005. Kartun ini memicu kemarahan dan protes dunia Islam.


Jika mereka yang menerbitkan strip komik atau kartun di koran Denmark mengatakan demi menghormati kebebasan berbicara dan artistik, MAB mempertanyakannya: “kebijaksanaan yang berisiko terhadap martabat dan nilai-nilai orang lain, walaupun mungkin mereka tidak menganut nilai-nilai tersebut”.


Situs Jesus and Mo yang edisi 15 Januari menampilkan strip komik yang menunjukkan Nabi Muhammad dan Yesus bertiduran di kasur. Nabi Muhammad membaca Kitab Injil sedangkan Yesus membaca keyakinan mengenai kebangkitan.


Operator situs web ini ngotot menolak menurunkan kartun tersebut. MAB juga menyerang politikus Inggris Maajid Naawaz yang mengunggah kartun itu di akun Twitter-nya.


Naawaz, calon legislatif dari Liberal Demokrat yang daerah pemilihannya di Hampstead dan Kilburn di London Raya, bermaksud menjadi anggota Parlemen Inggris pertama yang memeluk Islam.


MAB marah, dan meminta partai Lib Dem menggusur Naawaz dari pencalegan, dan meminta konstituen Muslim tidak memilihnya.


Sebagai bekas anggota Hizb ut-Tahrir, kelompok Islam yang bercita-cita mendirikan kekalifahan Islam dan hukum Syariah, Naawaz membelot keluar dari kelompok ini dan menamakan dirinya sebagai Muslim progresif.


Pada 2008 dia adalah salah satu pendiri Quilliam Foundation, sebuah think-tank yang mengadvokasi agar pluralisme dan lintas budaya diterima antara umat Islam dan penganut kepercayaan lain.


Ahram Online tak bisa menghubungi Naawaz untuk dimintai komentarnya.


Namun, Naawaz akhirnya menanggapi cercaan terhadap Twitternya di akun Facebook miliknya. Dia mengatakan bahwa kartun Nabi Mohamad dan Yesus itu, menurutnya, bukan menyerang.


“Jika benar menyerang pun,” ujar Naawaz,” saya yakin Tuhan lebih besar daripada merasa terancam oleh kartun itu.”


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/sideviews/article/universalising-islam-in-malaysia-hew-wai-weng


Muslim Inggris Kecam Kartun Muhammad dan Yesus

Saturday, January 5, 2013

Perubahan dari dalam Diri

Perubahan dari dalam Diri

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 06/01/2013 09:06 WIB • 15 klik

H. Sutan Zaili Asril

Di antara kegiatan manusia, khususnya kegiatan otak dan terlebih hati, yang sangat menguras energi adalah mendengki, bahkan dibandingkan dari ambisius dan tamak. Dengki artinya menaruh perasaan marah (karena benci dan tidak suka), karena perasaan iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain (ada istilah tak senang melihat keberuntungan oranglain/senang melihat orang gagal/tersungkur/bersalah). Hati merasa dengki dan atau mendengki, membenci perasaan karena iri hati pada orang lain/tetangga/teman sekerja—sebetulnya lebih baik energi digunakan secara positif/memilih berusaha menyamai. Kalau tamak dan ambisi pula dapat dipandang ”secara positif” karena kedua perasaan/sifat itu dapat menghasilkan/memberi hasil—hanya seringkali berlebihan dan mungkin merugikan orang lain.

 

Yang menjadi masalah, bilamana kedengkian/keben­cian/keirihatian itu menga­pung karena ketidakmampuan untuk berbuat sebaik/seting­kat orang yang didengki (orang yang menjadi sasaran keben­cian). Ada usaha memaksakan diri di atas keberdayaan men­jadi tumbuh/berkembang da­lam bentuk dengki/keben­cian terhadap orang lain/tetangga/teman sekantor yang tampil lebih baik/lebih berhasil/lebih menghasilkan/lebih sukses. Maka bentuk penyaluran ener­gi berupa kedengkian/keben­cian karena tidak berdaya itu sangat menguras energi/sa­ngat melelahkan. Sebetulnya, kita harus merasa kasihan ke­pada orang yang men­dengki/membenci karena tidak dapat berbuat/menyalurkan ener­ginya secara positif. Seringkali, orang yang marah karena men­­dengki/merasa iri hati putus asa, dan hanya dapat berharap orang yang dideng­kinya gagal/jatuh/hancur.

 

Pengalaman Cucu Magek Dirih, seringkali ia mem­per­hatikan adalah banyak orang-orang yang begitu mendengki/beriri hati padanya, tapi, Cucu Magek Dirih pula menga­bai­kannya saja. Itu karena Cucu Magek Dirih menerapkan aja­ran dari inyiaknya—dari falsa­fah silat tinggi luambek, bahwa tak semua serangan harus di­terima/ditahankan, tapi, di­biarkan lewat—hal yang mung­kin membuat orang yang ber­sangkutan menahankan hati/perasaan entah ke mana hen­dak dilepaskan/perasaan hen­dak ke mana dikatakan atau dicurhatkan. Jadi, dari penga­laman Cucu Magek Dirih, ia mengetahui ada orang yang ber­niat jahat/melakukan se­sua­tu yang jahat terhadapnya pun, maka ia memperlakukan seakan hal itu tidak ada—mengabaikannya/tidak dipi­kirkannya. Cucu Magek Dirih pun menerapkan ajaran in­yiak­nya, balas keburukan/niat jahat/perbuatan jahat orang kepada kita dengan bersikap baik/berbuat baik kepada yang bersangkutan—setidak-tidak­nya memaafkan dengan ikhlas.

 

Bagi Cucu Magek Dirih, sebaiknya beban pikiran dan hati harus selalu diringankan. Cucu Magek Dirih mengatakan kepada istrinya bahwa tidak semua dimasukkan ke dalam pikiran dan tidak semua harus dirasa-rasakan karena hanya menguras energi secara tidak berguna. Jikalau semua hal dimasukkan ke dalam otak sementara luas areal/kapasitas muat otak tak mampu menam­pungnya—nanti otak akan penuh dan sampai meleleh keluar. Jikalau semua dima­suk­kan dalam perasaan se­men­tara luas areal/kapasitas me­nampung hati tidak pula luas—nanti dada akan meledak sampai sakit hati/jantung kambuh pula. Orang yang memasukan semua ke dalam pikiran dan perasaannya, ma­ka orang itu akan gelisah, tidak bisa tidur, dan membenci/mendengki/meirihati pada orang lain/tetangganya/teman sekerja di kantornya dan atau orang-orang di kantor/peru­sahaan pesaingnya.

 

AGAMA Islam sangat tegas dalam hal orang/setiap orang setiap kelompok berusaha untuk berubah. Perubahan yang paling penting adalah tingkat kendali diri, menga­rah­kan diri, dan mengerahkan diri, sehingga mampu menya­lurkan energi secara positif (berjalan/bekerja di atas dan sesuai kodrat/takdir atau destination semampu/sedaya upaya/sesungguh-sungguh yang mungkin—sejujurnya saja pada diri sendiri/tidak karena hendak berlagak/agar diketahui dan dilihat orang lain) dan dapat menghasilkan secara lebih baik (kuantitas dan kualitas). Perubahan pula, bagi Cucu Magek Dirih diletak­kannya pada perspektif ber­syu­kur karena ada periode yang dipakai secara tentatif untuk mengevaluasi diri. Se­per­ti halnya dengan bersyukur, maka perubahan ke arah/tingkat yang baik menjadi hal yang wajib pula.

 

Perubahan diri pula, dalam pandangan Cucu Magek Dirih, adalah berusaha mengeluar­kan semua/segala hal dan sifat buruk dalam diri—pemikiran  yang counter productive dan perasaan benci/dengki/iri hati dan atau pun mengulangi ke­sa­lahan—ibaratkan unta yang terperosok di lubang yang sama, dan atau berkutat pada posisi yang sama yang sudah sebetulnya diketahui salah/keliru/tidak berguna—apakah yang bersangkutan tdak me­nge­tahui/menyadarinya, se­hingga mereka tidak mau ke­luar dari lobang hitam/me­ngeluarkan semua dan segala hal yang buruk/tidak berguna dalam dirinya. Seperti itu Cucu Magek Dirih memahami ayat Al Quran ”tidak akan berubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berusaha untuk berubah”.

 

Berubah dari dalam diri sendiri memang terutama membersihkan hati dari sega­la/semua hal yang buruk/jahat/tidak berguna. Setidak­nya, demikian Cucu Magek Dirih memahaminya. Bahwa, kisah Nabi Muhammad SAW yang dibedah malaikat saat ia masih kecil, maka malaikat mengeluarkan segala/semua hal dan sifat atau kecen­de­rungan yang tidak baik dari dalam hati Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, malaikat me­masukan sifat/kecen­de­rung­an hati yang baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Di antara sifat baik yang utama itu adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Selain itu, Cucu Magek Dirih mema­hami pula al-asmau al-husna sebagai potensi/peluang dan juga energi positif.

 

Shiddiq artinya benar—mustahil Nabi Muhammad SAW berdusta. Artinya nabi dan rasul bersiafat benar, baik dalam tutur kata maupun per­buatannya, yakni sesuai de­ngan ajaran Allah SWT. Seperti disebutkan Allah da­lam QS Maryam ayat 50. Kami me­nga­nugrahkan kepada mere­ka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. Lalu, amanah (dapat dipercaya/dapat diandala­kan)—mustahil nabi Muham­mad khianat (curang/culas atau sejenisnya). Artinya, pa­ra nabi dan rasul itu bersifat jujur pada saat menerima ajaran Allah SWT, dan meme­lihara keutuhannya, serta menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil me­re­ka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

 

Kemudian, tabligh (me­nyampaikan wahyu kepada umatnya—menyampaikan ke­be­naran atau ajakan kepada keluarga/sesama/masyarakat) untuk berbuat baik. Mustahil Nabi Muhammad SAW kit­man (menyembunyikan wah­yu). Artinya para nabi dan rasul itu pastilah menyam­pai­kan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan ji­wa­nya terancam. Seperti Allah menyebut pada QS Ali Imran ayat 20: Dan, katakanlah kepa­da orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapatkan petunjuk, dan bilamana mere­ka itu berpaling, maka kewa­ji­banmu hanyalah menyam­paikan (ayat-ayat Allah SWT). Dan Allah selalu Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. La­lu, fathanah (cerdas)—musta­hil Nabi Muhammad SAW itu jahlun (bodoh). Artinya, para nabi dan rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demi­kian mustahil mereka dapat/mudah dipengaruhi/diom­bang-ambingkan oleh orang lain. 

 

MAKA berkaitan dengan perkisaran tahun yang secara kelaziman dijadikan kesem­patan untuk mengevaluasi diri sendiri, bersyukur, dan beru­bah—ke arah situasi/keadaan/posisi/tingkat yang lebih baik, maka di dalam perspektif dan pemahaman Cucu Magek Di­rih, perubahan itu memang harus terutama dari dalam diri sendiri. Mengharapkan terjadi perubahan dari luar diri malah mungkin akan membawa pe­nga­ruh/dampak buruk. Kata­kan, ada perubahan secara evolutif (evolusi) dan atau perubahan pula secara demon­trati dan atau revolutif (revo­lusi) akan memberikan sesua­tu yang dominan yang mung­kin bukan yang dicitakan/dipikirkan/diperhitungkan dan atau bukan yang dira­sa­kan/diharapkan, misalnya. Bah­kan, mungkin tidak mus­tahil perubahan ari uar diri merusak/menghancurkan hal baik yang sudah ada dalam diri.

 

Cucu Magek Dirih dapat se­paham/menerima analogi pe­rubahan pada telur—dan telur yang ditetaskan. Dikata­kan, bilamana telur ditekan dari luar—apalagi tekanan yang kuat/keras, maka mung­kin telur itu akan pecah, dan kulit telur hancur serta isinya tumpah tak dapat digunakan. Sebaliknya, kalau telur itu dipecahkan dari dalam, tentu ibarat telur yang dieramkan induknya/ditetaskan, maka anak unggas itu sendiri yang memecahkan dinding kulit telur, dan akan ayam muncul/keluar. Ibarat­nya, kalau telur dipecahakan dari dalam maka artinya muncul satu kehidu­pan baru. Lalu, apa mungkin, dalam perkisaran tahun kita mengevaluasi diri dan bersyu­kur serta berubah, maka kita seakan memperbaruhi hidup kita seakan kita memasuki satu kehidupan yang baru.

 

Mungkin perspektif/pe­mahaman Cucu Magek Dirih di atas tidak lazim dan tidak memberi pengaruh kepada kita—karena kita seringkali tahu tapi tidak mengamalkan/melembagakan/menjadi akh­lak (perbuatan pikiran dan perbuatan hati). Karena itu, apakah kita memang mengeta­hui/menyadari hal buruk/tidak berguna dalam diri kita, dan bilamana kuta mengeya­hui dan menyadarinya, kenapa pula kita tidak mau menge­luar­kannya/berubah ke arah dan tingkat, serta situasi yang lebih baik. Siapa yang meno­long kita untuk mengevaluasi diri/bersyukur/berubah? Se­ba­gai orang beriman, tentulah kota akan menujuk pada diri kita sendiri, lalu bertanya/minta pandangan dan penda­pat orang cerdas/pandai/ber­pengetahuan/berakhlak mu­lia—karena dalam pemaha­man Islam tidak ada lagi nabi dan rasul sesudah Muhammad SAW. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/11/new-arab-spring-triumph-eluding-islamists-in-libya/


Perubahan dari dalam Diri

Wednesday, June 5, 2013

Pemimpin Berhati Suci

Pemimpin Berhati Suci


(Refleksi Peringatan Israk Mikraj 1434 H)


Oleh : Muhammad Kosim


Guru MTsN di Padang


Padang Ekspres • Rabu, 05/06/2013 12:41 WIB • 84 klik


Nabi Muhammad SAW merupakan pe­mimpin ideal yang mesti diteladani oleh umat Islam. Beliau tidak saja tampil se­bagai pemimpin agama di kalangan kaum muslimin, tetapi juga sebagai pe­mimpin masyarakat yang beragam suku, agama dan bangsa.


 


Ini pula yang menjadi alasan Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW pada posisi pertama di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Ia menulis: “Muhammad bukan semata pe­mimpin agama tapi juga pemimpin duniawi.”


 


Jika ditelusuri sirah perjuangan hidupnya, setelah diangkat menjadi Nabi di usia 40 tahun, ia melalui dua fase perjuangan penting, yaitu periode Mekah dan Madinah. Pada periode Mekkah, Nabi SAW hanya berperan sebagai pemimpin agama. Selama periode ini, ia mendidik aqidah dan spiritual para sahabatnya sebagai modal utama untuk menjalankan kepemimpinan di masa mendatang.


 


Sedangkan pada periode Madinah, Nabi Muhammad SAW memiliki peran ganda: sebagai pemimpin agama se­ka­ligus pemimpin duniawi. Sebagai pe­mim­pin duniawi, Nabi SAW tidak saja me­mim­pin umat Islam, tetapi juga ma­sya­ra­kat Madinah yang plural; lintas agama dan suku bangsa. Pada periode Madinah inilah kepemimpinan Nabi SAW men­ca­pai puncak kejayaannya dan menjadi mo­del bagi umat Islam khususnya, di masa-ma­sa sesudahnya.


 


Perlu dicatat, sebelum hijrah ke Ma­dinah, Nabi SAW terlebih dahulu me­nga­lami peristiwa Israk Mikraj. Peristiwa pen­ting ini sebagai prasyarat yang harus di­­l­alui Nabi SAW sebelum menjalankan pe­rannya sebagai pemimpin umat pada pe­riode Madinah.


 


Apa hubungan antara Israk Mikraj dengan kepemimpinan Nabi SAW? Peristiwa israk mikraj merupakan puncak per­jalanan seorang hamba (al-abd) me­nuju sang pencipta (al-Khalik). Israk Mikraj adalah perjalanan menuju ke­sem­pur­naan ruhani (insan kamil). Para sufi pun memandang perjalanan ini sebagai per­jalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Per­ja­la­nan meninggalkan orientasi materi ke­pa­da orientasi kesempurnaan hidup.


 


Bahkan beberapa riwayat men­jelas­kan bahwa sebelum Rasulullah SAW me­la­ku­kan perjalanan, dadanya dibedah untuk disucikan. Kesucian hati ini men­ja­di modal yang amat penting untuk bisa “ber­temu” dengan Allah Yang Mahasuci.


 


Dalam peristiwa tersebut juga di­ri­wa­yat­kan bahwa beliau ditawari susu dan khamar, lalu ia memilih susu. Di­ka­ta­kan­lah pada beliau: “Engkau telah di­anu­ge­rah­kan fitrah. Jika engkau mengambil kha­mar, berarti engkau menyesatkan umat­mu.”


 


Jadi, peristiwa Israk Mikraj adalah me­ng­gambarkan puncak spiritual Nabi SAW sehingga dikemudian hari ia men­ja­di pemimpin yang berhati suci. Inilah kunci keberhasilan Rasulullah me­mim­pin masyarakat Madinah. Tidak pernah ter­besit di hatinya untuk disanjung, di­puja, dan dihormati sebagai penguasa lak­sa­na raja. Ia juga tidak pernah benci apalagi menyakiti orang-orang yang tidak se­­paham dengannya.


 


Kecuali itu, ia bisa berubah menjadi tentara yang kuat ketika musuh-mu­suh­nya datang menyerang. Tetapi ketika musuh itu tertawan, ia tetap mem­per­la­ku­kan­nya dengan baik tanpa pernah mem­bujuk dan memaksa mereka agar ma­suk Islam.


 


Ia malah bersabda: “Takutlah kepada doa orang yang dizalimi walau pun dia orang kafir, karena pada saat itu tidak ada hijab baginya.” Hadis ini merupakan wa­siat bagi pemimpin agar tidak berlaku zalim, walaupun kepada musuh sendiri.


 


Allah juga menegaskan: Dan ja­nganlah sekali-kali kebencianmu ter­ha­dap sesuatu kaum, mendorong kamu un­tuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, ka­rena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, se­sung­guh­nya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al-Maidah/5: 8).


 


Dalam konteks kekinian, pemimpin hari ini sejatinya meneladani ke­pe­mim­pinan Nabi SAW. Seorang pemimpin mes­ti berhati suci. Syarat utama yang mes­ti dimilikinya adalah memiliki aqidah yang kokoh. Lebih 12 tahun Nabi SAW berjuang untuk membina dan mem­per­kokoh aqidah diri dan para sahabatnya pada periode Mekkah. Setelah itu, ba­ru­lah ia menjadi pemimpin umat di Ma­dinah.


 


Jika aqidah goyah, maka ia akan mu­dah tergoda dengan kenikmatan duniawi yang semakin mudah diperoleh jika diberi we­we­nang mengendalikan kekuasaan. Ia Cen­derung menghalalkan segala cara un­tuk meraih kenikmatan sesaat itu. Meski me­langgar hukum, jika aqidah goyah, pe­ne­gak hukum bisa dikelabui, saksi dan ba­rang bukti bisa saja dilenyapkan.


 


Se­baliknya, ketika aqidah kokoh, ma­ka dirinya senantiasa merasakan pe­nga­wa­san Allah. Meski ia diberi peluang un­tuk melakukan tindak kejahatan dan dipastikan tidak ada orang yang me­nge­tahuinya, tetapi keyakinannya pada pe­nga­wasan Allah membuatnya tidak be­rani melakukan praktik melanggar hu­kum tersebut.


 


Karena itu pula Syekh Sulaiman ar-Ra­suli dalam kitabnya “Asal Pangkat Peng­hulu dan Pendiriannya” me­ne­gas­kan bahwa penghulu atau pemimpin yang se­benarnya adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu mengurus persoalan akhi­rat dan duniawi. Hal itu diteruskan oleh khalifah yang empat. Setelah itu, tidak lagi terhimpun siyasah dunia dan akhirat pada satu orang. Tetapi urusan du­niawi dipimpin oleh umara, raja, kha­lifah atau semacamnya, sedangkan u­ru­san akhirat dipimpin oleh ulama.


 


Untuk itu, antara umara dengan u­lama harus sejalan. Sulaiman ar-Rasuli me­nye­but: “Kedua orang itu umpama orang yang melayarkan kapal. Seorang ja­ga haluan dan seorang jaga kemudi, kalau ke­duanya ada sepakat alamat pelayaran akan sampai dan si penumpang akan se­la­mat, dan kalau keduanya bersalahan tan­da pelayaran tidak akan sampai dan si penumpang akan dapat kecelakaan.”


 


Dalam sejarah Minangkabau, dikenal pula “Sumpah Sati Sumpah Satie Bukit Ma­rapalam,” yang mendamaikan antara adat dan agama. Salah satu rumusan da­lam sumpah sati itu adalah “Alim­ ulama­memfat­wakan­ dan­ Pang­hulu­ ma­ma­rintah­kan.”


 


Ini menunjukkan bahwa seorang pe­mim­pin tidak mesti dari kalangan ulama atau yang memiliki keilmuan di bidang tafaqquh fi al-din secara mendalam. Akan tetapi, seorang pemimpin harus men­dekati ulama untuk meminta fat­wa­nya.


 


Ahli hikmah pernah berkata: “Se­bu­ruk-buruk ulama ialah ulama yang men­dekat dengan umara, dan sebaik-ba­ik umara adalah yang mendekat dengan ulama.”


 


Na­mun kedekatan pemimpin dengan ula­ma bukan untuk dipolitisir, diperalat, atau mencarai simpati banyak orang. Te­tapi kedekatan pemimpin dengan ulama adalah untuk meminta fatwa, men­jadi­kan­nya guru, sehingga langkah dan arah sang pemimpin tetap berjalan sesuai de­ngan hukum-hukum Tuhan.


 


Sebaliknya, seorang ulama dilarang mendekati penguasa karena di­kha­wa­tir­kan ia akan diperalat. Namun ulama juga ti­dak dilarang menjadi penguasa, tetapi ke­u­lamaannya tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Ke­ula­maan­nya sejatinya memberi arah ke­bi­ja­kan­nya dalam memimpin dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip ke­adi­lan.


 


Dengan demikian, pemimpin yang ber­hati suci adalah pemimpin yang se­nan­tiasa dekat dengan bimbingan para ula­ma yang berhati suci pula. Hatinya se­nan­tiasa bergetar ketika melihat ke­mis­kinan, kebodohan dan penderitaan rak­yatnya. 


 


Itulah yang dicontohkan oleh Ra­su­lul­lah SAW. Ia tidak pernah membentak orang-orang yang dipimpinnya. Ia sangat sa­yang dan mencintai banyak orang; tidak den­dam dan tidak pula dengki.


 


Bahkan ia dikenal sebagai seorang in­ter­preneur yang sukses, namun hartanya di­habiskan untuk memperjuangkan ke­benaran, menampilkan Islam sebagai rah­matan lil-‘alamin, dan mengabdikan diri untuk keadilan dan kemakmuran rak­yat­nya.


 


Ia tidak pernah menginginkan, apa­lagi meminta jabatan. Bahkan ketika Abu Lahb bersama pembesar Quraisy lainnya, melalui Abu Thalib, menawarkan ke­pa­da­nya harta, tahta dan wanita untuk meng­hentikan dakwahnya, dengan tegas ia menolaknya dan berkata: “Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan ka­nan­ku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan me­ning­galkannya.”


 


Sifat ini pula yang harus dimiliki oleh pe­mimpin di negeri ini. Jangan sekali-kali me­lakukan money politic karena akan be­ru­jung pada penindasan terhadap rakyat kecil demi mengembalikan uang yang su­dah dihabiskan sebagai kos politik.


 


Abbas Muhammad al-Aqqad dalam bu­kunya: “Kejeniusan Rasulullah SAW” men­ceritakan tentang kepemimpinan Nabi SAW. Di antaranya, ketika kaum mus­limin menggali parit (khandak) di se­kitar kota Madinah, beliau pun ikut serta da­lam pekerjaan itu. Ia dekat dengan kalangan mustadh’afin, sehingga me­na­se­hatinya para sahabatnya: “Carikan aku orang-orang yang lemah sesungguhnya yang membawa rezeki dan pertolongan ka­lian adalah orang-orang yang lemah (mustadh’afin).”


 


Kisah ini mengajarkan kepada pe­mim­pin yang berhati suci melayani bukan di­layani, turut berjuang bersama rakyat dan merasakan beban mereka, bukan si­buk menebar citra menarik simpati tapi me­meras keringat dan abai terhadap pen­de­ritaan mereka.


 


Lalu bagaimanakah untuk mengasah dan membersihkan hati agar tetap bening dan suci?


 


Ibn ‘Athaillah dalam kitab Bahjat an-Nufus menulis: “Kalbu/hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca al-Qur’an, disertai tadabbur, duduk bersama pa­ra ulama dan orang-orang mukmin, men­jaga diri dari melihat sesuatu yang mu­bah, memelihara diri dari yang ter­la­rang dan makruh, serta cemas terhadap se­gala maksiat.”


 


Peringatan Israk Mikraj Nabi Mu­ham­mad SAW 1434 H ini seyogyanya menjadi momentum bagi kita untuk men­cari, menemukan, memilih dan mem­perjuangkan pemimpin yang ber­hati suci, dengan tetap mengharap pe­tunjuk dan bimbingan Allah Yang Ma­ha­suci. Jangan pernah mendukung pe­mim­pin yang berhati kotor; hanya berorientasi pada kepentingan dunia dan menghalal­kan se­gala cara. Wallahu a’lam.(*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/05/30/mnlg54-yulio-muslim-da-costa-mualaf-hafal-alquran-30-juz-bagian2


Pemimpin Berhati Suci

Wednesday, April 3, 2013

“Mengkristenkan Jawa”

Home Catatan Akhir Pekan


Catatan Akhir Pekan ke-358

“Mengkristenkan Jawa”


 

Dengan bantuan kolonial dan strategi pre-evangelisation, misi Kristen di Jawa meningkat tajam


Kamis, 04 April 2013

Oleh: Dr. Adian Husaini

”Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen”. Itulah judul buku karya Muhammad Isa Anshary, alumnus Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buku terbitan Pustaka Lir-Ilir, Surakarta, tahun 2013, ini diangkat dari Tesis penulis di Universitas yang sama. Karena kajiannya yang mendalam dan komprehensif, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan penting dalam studi Misi Kristen di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa.

Studi yang dilakukan Muhammad Isa Anshory melengkapi studi sejenis yang pernah dilakukan oleh Aqib Suminto, Deliar Noer, Alwi Shihab, dan sebagainya. Studi ini juga menguatkan kesimpulan para peneliti sebelumnya, bahwa pemerintah penjajah Belanda secara sistematis membantu kegiatan misi Kristen di Indonesia. Disimpulkan: ”Melihat praktiknya, politik etis sebenarnya adalah upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengkristenkan atau membaratkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.”

Catatan Akhir Pekan (CAP) kali ini sepenuhnya didasarkan pada data yang disajikan dalam buku ”Mengkristenkan Jawa” tersebut. Untuk bahan-bahan referensi lebih lanjut, pembaca dipersilakan merujuk langsung pada buku tersebut.

Hasil kajian Isa Anshory ini menunjukkan, bahwa laju penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda (Indonesia) sangat terkait erat dengan perkembangan politik kolonial. Awal abad ke-20 ditandai dengan peningkatan kegiatan misi Kristen. Pidato Ratu Wihelmina (1901) lebih menegaskan sikap terhadap kebijakan mendukung kegiatan misi Kristen yang telah berjalan.

Politik etis dilaksanakan pada masa kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia dan saat umat Islam mengalami kebangkitan. Arus Kristenisasi mencapai puncaknya saat Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen Anti-Revolusioner, menduduki kursi Perdana Menteri Belanda pada 1901. Banyak anggota Parlemen Belanda menuntut agar pemerintah membatasi pengaruh Islam di Indonesia. Van Baylant, misalnya, memperingatkan pemerintah akan seriusnya bahaya penyebaran Islam dan menuntut ditingkatkannya misi Kristen. Sementara itu, W.H. Bogat meluncurkan kampanye anti-Islam yang keras dan menuduh agama ini sebagai penyebab ”kurang bermoralnya” masyarakat.”

Diangkatnya Alexander Willem Frederik Idenburg sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916) lebih menguatkian arus Kristenisasi. Setelah tahun 1909, kelompok misi Kristen dengan cepat meluaskan kegiatan mereka di kepulauan Indonesia. Gerakan misi Kristen beroperasi dalam ruang lingkup yang luas untuk pembangunan kesejahteraan dan ekonomi. Pembatasan jumlah dan tempat misi dihapuskan, sehingga daerah baru di kepulauan ini pun terbuka bagi kegiatan misi Kristen. Idenburg menjadikan Kristenisasi sebagai tugas politik utama pemerintahannya.

Di hadapan Tweede Kamer, dia mengucapkan: De uitbreiding van het Christendom in Indiƫ, als wortel van onze hoogere beschaving, is een zaak van groot politiek belang. (Penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda sebagai dasar peradaban yang tinggi adalah tugas politik utama).

Pemerintah Penjajah juga mencoba untuk melanjutkan pokok-pokok ajaran Kristen di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan tata pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai contoh adalah keluarnya ”Edaran Minggu” atau ”Edaran Pasar” yang diterbitkan oleh Gubernur Jenderal Idenburg, 1910. ”Edaran Minggu” memberi sugesti bahwa tidak pantas untuk mengadakan pesta kenegaraan pada hari Minggu. Edaran ini juga meminta agar seluruh administratur dan pegawai sipil agar menghindari kegiatan-kegiatan resmi atau setengah resmi pada hari Minggu. ”Edaran Pasar” melarang diadakannya hari pasar orang Indonesia apabila ini jatuh pada hari Minggu.

Fakta tentang ”Edaran Minggu” ini menarik untuk kita cermati. Jangan-jangan tradisi libur pada hari Minggu kita saat ini masih melanjutkan kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Idenburg yang sangat fanatik Kristen dan anti-Islam. Idenburg, misalnya, menyatakan, bahwa satu-satunya jalan untuk melanjutkan penjajahan adalah pengkristenan.

Seperti dikutip Robert E. Speer, Idenburg menegaskan: ”The issue for Mohammedan world is not Mohammed and Christ. Ia not Mohammed or Christ. It is Christ. It is Christ or decay and death.” (Pilihan untuk dunia Islam bukan Muhammad dan Kristus; bukan Muhammad atau Kristus; tetapi pilihannya hanya Kristus. Pilih Kristus atau akan mengalami pembusukan dan kematian).
   
Misi dengan lembaga

Selain mendapat bantuan dari negara, peningkatan Kristenisasi pada masa politik etis juga diakibatkan adanya perubahan strategi. Abad ke-19, strategi zending Protestan maupun misi Katolik pada umumnya masih diarahkan pada misi secara langsung. Tapi, pada abad ke-20, strategi misi sudah berganti dengan pendirian kelembagaan misi, seperti sekolah, rumah sakit, rumah yatim piatu,  dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Melalui kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan itu, zending sanggup memikat hati orang yang masih bersikap menolak terhadap Kristenisasi secara langsung.

Strategi ini disebut pre-evangelisation, yaitu suatu usaha yang perlu diadakan untuk mempersiapkan daerah supaya siap menerima Kristen. Di sekolah-sekolah zending, kesetiaan kepada pemerintah dan ratu Belanda ditanamkan ke dalam hati para murid. Meski membutuhkan biaya besar dan waktu lama, Kristenisasi lewat pendidikan ini berhasil mengkonversi banyak pribumi Muslim.

Sebagai contoh, sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan, Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam.

Teman van Lith, Hoevenaars, juga menempuh cara serupa. Dia membangun berbagai sekolah di Mendut dan mengumpulkan para murid yang masih belia. Semua guru sekolah tersebut beragama Katolik, namun para muridnya seluruhnya berasal dari keluarga-keluarga Muslim.

Sebagaimana misionaris lainnya, Hoevenaars berpikir bahwa agama Islam yang mereka anut hanyalah kepatuhan superfisial atau nominal sehingga tidak akan menghalangi para murid untuk berpindah ke agama Katolik. Mantan murid sekolah-sekolah Muntilan dan Mendut itu kebanyakan menjadi guru pada jejaring sekolah-sekolah dasar Katolik yang dikembangkan dengan cepat di berbagai kota dan kampung di Jawa. Para guru itu kemudian berupaya menghasilkan jemaat-jemaat Katolik baru. Dengan demikian, sekolah yang dibangun oleh Frans van Lith maupun Hoevenaars adalah sekolah kader.   

Sebuah ungkapan penting dari Frans van Lith:

“Tujuan kita adalah memberi pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat. Kepada mereka kita memberikan pendidikan Kristiani, dan bila mereka nanti tersebar di seluruh Pulau Jawa, kita akan menanti tumbuh dan mekarnya benih-benih yang kita sebar.”

Strategi budaya

Strategi lain dalam menyebarkan agama Kristen di Jawa pada dekade pertama abad ke-20 adalah penyesuaian ajaran Kristen dengan budaya Jawa. Strateginya: memisahkan agama Islam dari budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari.

Untuk itulah di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu dianggap identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam. J.D. Wolterbeek mengatakan, “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 

Senada dengan ini, Imam Yesuit Frans van Lith berpendapat,

Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.

Dengan bantuan pemerintah kolonial dan strategi pre-evangelisation, kegiatan misi Kristen di Jawa meningkat tajam pada masa politik etis. Walaupun orang Kristen tetap terbilang sebagai minoritas kecil, namun jumlah pribumi Muslim Jawa, terutama di Jawa Tengah, yang murtad ke agama Kristen cukup besar. Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel Steenbrink mengatakan: ”Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.”

Total populasi penduduk Pulau Jawa pada 1906 adalah 28.746.688 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 24.270.600 adalah Muslim. Lapangan yang sangat luas dan sulit ini digarap oleh enam lembaga misionaris. C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. melaporkan pada tahun tersebut bahwa pengaruh Islam menjadi rintangan berat bagi para misionaris. Akan tetapi, berkat bantuan medis dan penyelenggaraan sekolah, mereka berhasil mengkonversi pribumi Muslim ke agama Kristen.

Dengan sokongan pemerintah jajahan, pada era 1930-an, banyak terjadi kasus pelecehan Islam oleh kaum Kristen. Di Pesako Sulawesi Utara, pasukan Bala Keselamatan masuk ke dalam masjid dengan memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu Kristen dalam masjid dengan alat-alat musik yang mereka bawa. Di Solo, buku-buku Kristen ditulis dalam bahasa Arab, dibagikan secara gratis kepada umat Islam yang sedang melaksanakan shalat Jumat di Masjid Mangkunegaran. Di Tasikmalaya, seekor anjing dibawa masuk ke mushalla. Di Menado, opsir Bala Keselamatan, Ernst Brandt, pada 13 April 1938 dengan terang-terangan menghina Nabi Muhammad SAW, dengan mengatakan: “Muhammad seorang miskin dan penggembala. Ia menikah dengan Khadijah janda kaya dan menghabiskan hartanya. Muhammad mempunyai 14 istri, perampas istri orang, dan menuruti hawa nafsunya. Mana bisa kesucian dari orang begitu. Siapa saja yang tidak mau mengikuti agamanya, ditusuknya dengan pedang terhunus.”

Respon Muslim

Menghadapi serbuan misi Kristen yang dahsyat seperti itu, kaum Muslim tentu saja tidak berdiam diri. Sebuah respon penting dalam menghadapi misi Kristen dilakukan oleh Muhammadiyah, yang berdiri tahun 1912 –di masa Gubernur Jenderal Idenburg. Tahun 1933, Muhammadiyah bersama 30 organisasi Islam, mengadakan rapat akbar di Solo,  menentang pemberian izin masuknya dua orang misionaris Kristen Advent dari pemerintah Jajahan di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).

Tahun 1939, Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kudus, juga menolak dicabutnya artikel 177 Indische Staatsregeling  yang isinya adalah kewajiban misionaris untuk mendapat izin dari pemerintah Jajahan. Secara individual, mubaligh Muhammadiyah asal Surakarta, R. Moehammad Sardjana, pernah menerbitkan buku “Agama Kristen” sebagai jawaban terhadap dua jilid buku tokoh Gereja, Henderick Kraemer, yang berjudul “Agama Islam”. Secara kelembagaan, Muhammadiyah masih terus menjadi salah satu garda penting umat Islam dalam membendung arus Kristenisasi, sampai hengkangnya penjajah Kristen dari bumi Indonesia.

Pendiri organisasi ini, KH Ahmad Dahlan, dikenal sangat serius dalam mengajak umat Islam untuk membandung arus Kristenisasi. Sebuah ucapannya yang terkenal: “Islam tak mungkin lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggungjawab?”

Walhasil, dalam rangka memahami sejarah, strategi, dan taktik Kristenisasi di Indonesia, buku Muhammad Isa Anshory ini sangat baik untuk dibaca. Wallahu a’lam.*/Depok, 28 Maret 2013

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/5-kemampuan-tempur-istimewa-idjon-djanbi-bapak-kopassus-tni-ad.html


“Mengkristenkan Jawa”