Showing posts sorted by relevance for query Muslim. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Muslim. Sort by date Show all posts

Thursday, October 3, 2013

Mitos Gelombang Muslim (3)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Azyumardi Azra


Mitos gelombang Muslim begitu merasuk imajinasi sebagian masyarakat Eropa dan Amerika Utara, yang dengan instan digunakan oleh para politisi dan penulis ultra kanan. Bagi mereka, ada empat hal yang patut diwaspadai  masyarakat Barat karena bagi mereka amat mengkhawatirkan.


Pertama, pertambahan jumlah migran Muslim yang dapat berujung pada pembentukan ‘bangsa’ Muslim Barat; kedua, masalah integrasi kaum Muslim yang sangat sulit dengan lingkungan budaya lokal Barat; ketiga, privatisasi agama atau sekularisme negara-negara Barat yang justru mendapat respons balik dari masyarakat Muslim; dan keempat, tantangan kaum Muslim terhadap monokulturalisme Barat.


Adalah citra dan persepsi banyak kalangan Barat bahwa benua mereka terus ‘ditenggelamkan’ kaum Muslim. Menurut ‘teori’ atau tepatnya mitos ini, jumlah migran Muslim terus bertambah; dan pada saat yang sama keluarga Muslim terus beranak pinak secara cepat, sehingga dalam beberapa dasawarsa ke depan, kaum Muslim menjadi penduduk mayoritas Eropa dan Amerika. Begitu menjadi mayoritas–menurut mitos ini–kaum Muslim segera memaksakan Islam beserta syari’ah kepada penduduk ‘asli’ setempat yang jumlahnya merosot secara cepat.


Yang namanya ‘mitos’ tentu saja jauh daripada kenyataan. Seperti dibuktikan Saunders dalam The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (2012) berbagai fakta tentang pertumbuhan penduduk Eropa dan Amerika Utara sama sekali jauh dari klaim tersebut. Memang pada 1950 hanya ada sekitar 300.000 Muslim di 27 negara Eropa; dan kini berkisar antara 15 sampai 20 juta atau antara tiga sampai empat persen jumlah total sekitar 405 juta penduduk benua ini.


Menurut estimasi Pew Research Center, Washington DC, jika tingkat migrasi dan pertumbuhan penduduk Muslim sekarang ini dikalikan, penduduk Muslim Eropa pada 2030 mencapai 29,8 juta (4,5 persen). Untuk AS, penduduk Muslim meningkat dari 2,6 juta pada 2010 menjadi 6,2 juta pada 2030, atau(1,7 persen jumlah total penduduk negara ini. Survei Pew Research Center ini–di samping banyak survei lain–membuktikan kemustahilan kaum Muslim menjadi mayoritas di kedua benua tersebut.


Mitos selanjutnya adalah kaum Muslim, baik generasi pertama migran maupun generasi kedua dan selanjutnya yang lahir di perantauan Eropa dan Amerika Utara sangat sulit berintegrasi dengan masyarakat lokal beserta budaya dan tradisinya. Saunders tidak menolak adanya kesulitan tersebut. Generasi pertama migran Muslim sibuk dengan usaha untuk survive; bekerja kasar apa saja yang akhirnya membuat mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Keadaan ini memengaruhi generasi kedua, yang hanya secara ‘beringsut’ lebih baik dari orang tua mereka.


Kenestapaan seperti ini terutama terjadi di Eropa. Sementara di Amerika sebaliknya–migran Muslim adalah cerita tentang kesuksesan pendidikan, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok keagamaan lain. Menurut berbagai survei, sekitar 40 persen anak muda Muslim berhasil menyelesaikan pendidikan S1 atau S2. Dengan persentase ini, anak muda Muslim hanya dikalahkan pemuda Yahudi (61 persen), tetapi jauh lebih unggul dibandingkan rata-rata pemuda Amerika yang hanya 29 persen berhasil memperoleh gelar S1 dan S2.


Meski demikian, cerita sukses dalam pendidikan tinggi ini tidak lantas berarti pemuda Islam dapat dengan mudah mencapai mobilitas ekonomi. Kajian di beberapa negara Eropa menunjukkan, begitu pemuda Muslim berpendidikan tinggi masuk lapangan kerja, mereka mendapatkan gaji lebih rendah dibanding pemuda tempatan. Padahal, pendidikan mereka lebih tinggi atau sedikitnya setara dengan pemuda ‘pribumi’, dan lagi pula mereka juga fasih berbahasa lokal yang sudah menjadi bahasa ibu mereka. Saunders menyimpulkan: “anak-anak migran Muslim menghadapi hukuman karena agama dan etnisitas mereka di pasar kerja”.


Menghadapi diskriminasi dalam lapangan kerja, kaum Muslim umumnya di Barat masih juga berhadapan dengan mitos lain, yaitu bahwa mereka dengan mudah terjerumus ke dalam ekstremisme dan radikalisme. Bagi kalangan ultra kanan Barat, ekstremisme kaum Muslim di wilayah mereka bersumber dari ketidakpuasan dan  kemarahan kepada dunia Barat dengan segala sistem politik dan realitas sosial budayanya.


Sejauh mana kebenaran anggapan ini? Menurut sebuah survei Gallup, kaum Muslim yang menyimpan kemarahan hanya separus dari masyarakat pribumi Inggris. Tidak banyak berbeda, 76 persen Muslim Inggris merasa nikmat dengan kehidupannya, sementara 82 persen masyarakat lain umumnya. Di AS, 84 persen migran Muslim generasi pertama puas dengan kehidupan mereka; lebih tinggi daripada penduduk Amerika umumnya yang hanya 75 persen.


Kepuasan itu meningkat pada generasi kedua migran Muslim yang mencapai 90 persen. Bahkan, di lingkungan di mana masjid mereka menjadi sasaran vandalisme, 76 persen Muslim setempat menyatakan, komunitas pertetanggaan mereka sebenarnya terdiri atas orang baik-baik.


Mitos-mitos semacam itu dapat terus membiak. Tapi, mitos-mitos tidak berdasar itu juga dapat berkurang ketika setiap dan seluruh Muslim yang menetap for good atau selamanya di Barat dapat menampilkan diri seperti diharapkan Islam–tampil sebagai representasi rahmatan lil ‘alamin. Inilah yang juga masih menjadi ‘PR’ bagi kaum Muslim sendiri.


Article source: http://www.theglobejournal.com/Infotainment/bin-youcef-aktor-hollywood-yang-kumandang-azan-di-gereja/index.php


Mitos Gelombang Muslim (3)

Sunday, January 5, 2014

Islam Bertahan di Kolombia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Para imigran Muslim bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera.

Kolombia terkenal sebagai negara berkembang yang banyak terjadi kriminalitas. Adanya kartel narkoba yang besar dan terpelihara hingga kini memperburuk kondisi negara yang berada di Amerika Selatan ini.


Namun, di antara hiruk pikuk kehidupan warganya, ada eksistensi dari umat Muslim yang selalu berusaha untuk menunaikan semua ibadahnya, hidup dengan damai, dan terus berdakwah.


Awal mula Muslim yang tinggal di wilayah ini adalah para imigran yang berasal dari negara-negara Timur Tengah sekitar akhir abad ke-19.


Kemudian, disusul para imigran yang berasal dari Asia Selatan dan kini juga banyak warga lokal yang tertarik menjadi mualaf.


Ada tiga hal yang mendorong lahirnya komunitas Muslim di negara yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa pengantar ini. Pertama, periode setelah konflik politik di negara-negara Timur Tengah.


Kedua, jatuhnya Kekaisaran Ottoman yang mendorong minoritas Arab ke tanah Amerika. Ketiga, migrasi warga Palestina setelah perang dunia kedua dan setelah penciptaan Negara Israel pada 1948 serta migrasi warga Lebanon sekitar 1960-an.


Kolombia memiliki populasi Muslim sebanyak 86 ribu jiwa yang berarti mencakup 0,2 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 42 juta orang. Kebanyakan Muslim Kolombia adalah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina.


Mereka datang ke Kolombia sekitar 1880 hingga 1960. Mereka datang karena perang yang terjadi di Timur Tengah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi dibandingkan tempat asal mereka.


Kebanyakan, para imigran pertama tampak sebagai Muslim yang taat dibandingkan dengan generasi kedua dan ketiganya. Muslim generasi pertama sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Arab antara satu dengan yang lain.


Dari tulisan Diego Castellanos yang berjudul Islam in Colombia: Between Assimilation and Exclusion, dijelaskan kehidupan Muslim di Kolombia sangatlah kompleks. Karena, budaya masyarakat lokal masih sangat kuat, tulisnya.


Muslim menjadi kaum minoritas di negara ini. Dan, melihat apa yang terjadi dalam kesehariannya, tidak terjadi proses asimilasi yang signifikan antara Islam dengan budaya masyarakat setempat. Warga asli menolak adanya proses asimilasi dengan Islam.


Tapi, justru karena inilah Islam malah bisa bertahan sesuai aslinya, berbeda dengan kedatangan agama lain, seperti Kristen Pantekosta yang mendaur ulang formasi praktik-praktik leluhur masyarakat asli Kolombia.


Kehadiran komunitas Muslim yang sudah selama 40 tahun ini menjaga eksistensinya justru memperlihatkan bahwa agama inilah yang paling luhur di antara yang lainnya, tulis Diego.


Para imigran Muslim ini justru bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera lebih layak dibandingkan warga lainnya. Ini membuat orang-orang Muslim di Kolombia, disegani.


Padahal, fasilitas, sarana, serta gaya hidup warga Kolombia sangat tidak mendukung pada eksistensi komunitas Muslim. Karena, gaya hidup warganya yang sangat menyimpang dengan ajaran Islam membuat asimilasi Islam dan budaya setempat sulit tercapai. Ini membuat penyebaran Islam mengalami hambatan yang sangat besar.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tersendat, komunitas Muslim tetap ada di sejumlah besar Kota Kolumbia. Akhir-akhir ini, terjadi fenomena yang begitu menggembirakan.


Banyak warga setempat yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam. Ini membuat jumlah jamaah di masjid-masjid di Kolombia semakin bertambah banyak. Juga, berbagai lembaga sosial Islam yang punya banyak anggota baru.


Salah satu yang menjadi alasan kuat mengapa banyak orang Kolombia memutuskan masuk Islam karena menurut mereka, berdasarkan logika Islam menawarkan sebuah kehidupan religius yang dibangun berdasarkan ketuhanan Esa dan kepercayaan adanya Tuhan di sepanjang hidupnya.


Muslim di Kolombia bisa mengembangkan karakter yang universal yang memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang bisa dipeluk oleh ras, etnis, ataupun warga negara manapun, jelasnya.


Satu hal lagi yang membuat jumlah mualaf semakin banyak di Kolombia adalah karena jalur perkawinan. Orang-orang Muslim di sana hanya mau menikahi orang Muslim juga. Ini membuat warga setempat yang jatuh cinta pada pemuda Muslim, akhirnya berani untuk masuk Islam.


Beberapa tahun terakhir Muslim Kolombia semakin terbuka untuk memperlihatkan identitas mereka, apalagi Pemerintah Kolombia tidak lagi menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara.


Para perempuan yang mengenakan jilbab dan laki-laki menggunakan baju khas masyarakat Timur Tengah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Kolombia.


Populasi Muslim Kolombia terbanyak berada di Kota Maicao, bagian dari wilayah La Guajira. Di sinilah masjid termegah se-Amerika Selatan, Omar Ibnu al Khattab, yang didirikan pada 1987 berada.


Populasi Muslim di sini diperkirakan sekitar 8.000 orang. Sayangnya, di kota ini terjadi banyak aksi kriminalitas, seperti penyelundupan, baik rokok, barang-barang elektronik, narkoba, senjata, hingga pencucian uang, sama seperti kota-kota lain di Kolombia.


Article source: http://sidomi.com/224403/rowan-atkinson-masuk-islam-mr-bean-muslim/


Islam Bertahan di Kolombia

Wednesday, September 18, 2013

Mitos Gelombang Muslim (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra


Ada banyak mitos gelombang Muslim di Barat, tegasnya Eropa dan Amerika Utara. Terdapat kalangan Barat yang sangat khawatir dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk warga Muslim dalam diaspora masing-masing. Kekhawatiran ini ditambah terus mengalirnya migran Muslim dari kawasan dunia Islam yang menurut imajinasi mereka akhirnya bakal membuat kaum Muslim menjadi mayoritas penduduk di kedua benua itu dan selanjutnya menguasai politik setempat.


Sejumlah penulis Barat yang membawa semangat anti-Muslim mengklaim, misalnya, pada 2025 nanti populasi Muslim mencapai sekitar 40 persen penduduk Uni Eropa, dan menjelang pertengahan abad 21 mereka menjadi mayoritas di benua ini. Klaim tentang gelombang Muslim ke Eropa dan Amerika Utara menimbulkan berbagai ‘mitos’ yang meningkatkan sikap anti-Muslim dan fobia Islam di kalangan masyarakat kedua benua tersebut. Akibatnya, kecemasan juga kian meningkat di kalangan Muslim, baik yang merupakan generasi kedua atau ketiga atau migran yang belum lama datang ke Eropa atau Amerika Utara.


Mengadakan beberapa kali perjalanan ke Eropa Barat sepanjang September 2013, saya juga menemukan peningkatan kecemasan di antara kaum Muslim Eropa tentang kian kuatnya sikap permusuhan (hostility) dari penduduk ‘pribumi’ lokal. Misalnya Ali Mahmud, sopir taksi asal Baghdad yang membawa saya dari Hotel Sheraton di pusat Kota Stockholm ke Bandara Arlanda pada awal September. Ketika saya tanya tentang kehidupannya belakangan ini, dia menjawab singkat, hidupnya kian sulit dan hampir selalu mendapat tatapan tajam penumpangnya yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian.


Mencoba berefleksi tentang nestapa Ali dan kalangan kaum Muslim Eropa lain, saya ibarat mendapatkan “pucuk dicinta ulam tiba” di Bandara Arlanda ketika di salah satu toko buku menemukan karya Doug Saunders, The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (New York: Vintage Books, 2012). Meski buku ini mencakup anak judul “immigrants” secara umum, isinya hampir sepenuhnya menyangkut tentang kaum Muslim migran yang menetap di Eropa dan Amerika Utara.


Walaupun begitu, ‘gelombang’ imigran ke Barat sebenarnya bukan hanya mencakup kaum Muslim. Sebelum datangnya migran Muslim setelah Perang Dunia II, sampai sekarang masih berlangsung apa yang disebut sebagai ‘gelombang’ Katolik dan ‘gelombang’ Yahudi di Eropa maupun Amerika Utara. Tetapi, gelombang kedua masyarakat keagamaan ini dalam hal tertentu berbeda dengan gelombang migran Muslim yang mulai berlangsung intensif sejak masa pasca-Perang Dunia II sampai sekarang.


Gelombang-gelombang imigran ke Barat selalu mendapatkan ‘perlawanan’ dari masyarakat lokal. Meskipun dalam kasus migran Muslim belakangan kelihatan lebih sengit. Kesengitan itu jelas banyak terkait dengan peristiwa penyerangan WTC di New York dan markas Pentagon 11 September 2001 di AS, yang kemudian disusul pengeboman di London dan Madrid.


Ketika gelombang kaum Katolik ke AS terus meningkat sejak dasawarsa awal abad 20, pada 1949 seorang penulis, Paul Blanchard, menerbitkan buku American Freedom and Catholic Power. Buku ini segera menjadi hit dengan masuk daftar best seller harian the New York Times selama 11 bulan berturut-turut. Edisi pertamanya terjual 240 ribu kopi dan dicetak ulang sampai 26 kali.


Blanchard menyalakan ‘lampu merah’ yang menyentakkan masyarakat Protestan Amerika. Ia mengatakan, gelombang migran Katolik ke Amerika mendatangkan ancaman serius bagi demokrasi, kesetaraan, dan sekularisme Amerika. Menurut dia, migran Katolik berasal dari negara-negara yang hampir sepenuhnya otoriter, fundamentalis secara keagamaan, dan menentang hak-hak perempuan serta menolak pembatasan kelahiran (birth control).


Selain itu, gereja Katolik menganut dogma tidak bisa diubah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. “Gereja [Katolik] adalah peninggalan otoritarianisme abad pertengahan yang tidak punya tempat pas dalam demokrasi Amerika,” tulisnya.


Lebih jauh, seperti juga tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Muslim belakangan, Blanchard menuduh migran Katolik dengan tingkat kelahiran yang tinggi bakal melampaui jumlah masyarakat Protestan, dan akhirnya menguasai kepresidenan Amerika. “Mereka tidak bakal terintegrasi, sebaliknya, membuat masyarakat terpisah yang berencana jahat (plot) memaksakan keimanan mereka secara lebih luas.”


Persepsi yang sama juga berlaku bagi kaum Yahudi yang mulai bermigrasi ke Amerika Utara sejak dasawarsa akhir abad 19. Umumnya mereka berpindah karena meningkatnya sikap anti-Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Semula, mereka bermigrasi ke Eropa Barat yang kemudian juga menjadi anti-Yahudi sehingga akhirnya berpindah ke Amerika Utara–AS dan Kanada.


Memang, di kota besar seperti New York, di mana terdapat imigran Yahudi dalam jumlah signifikan, mulai terlihat mereka membentuk masyarakat terpisah. Mereka tampil dengan penampilan fisik, agama, bahasa, pakaian, dan makanan (kosher) yang khas. Media setempat berulang kali mengingatkan dalam laporannya tentang “masalah orang asing” yang telah “menguasai” pertetanggaan. Orang-orang Yahudi sering dianggap sebagai pelaku kriminal, sehingga Komisioner Polisi New York, Theodore Bingham, pada 1908 menulis di North American Review, “Meski orang Yahudi hanya seperempat penduduk kota, separuh mereka adalah kriminal.”


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130917162730/limit/0/Umat-Kristen-Mesir-Dipaksa-Bayar-Pajak-300-Ribu-Per-Hari.html


Mitos Gelombang Muslim (1)

Wednesday, December 18, 2013

Cindy Weber, Jalan Hidayah Sang Misionaris

REPUBLIKA.CO.ID,


Ia terpesona dengan cara hidup Muslim yang hangat dan harmonis.


Jika mualaf pada umumnya harus melalui perjuangan dan perjalanan panjang dalam menemukan Islam, lain halnya dengan Cindy Weber.


Ia merasa jalan menuju Islam memang telah dipersiapkan untuknya. “Saya hanya berpikir, Tuhan ingin membimbing saya, jadi tak ada penghalang apa pun yang merintangi jalan saya menuju Islam,” ujarnya.


Sejak kecil Cindy dibesarkan di Gereja Katolik. Ia dididik oleh biarawati hingga akhirnya menjadi misionaris. Tak banyak yang diceritakan Cindy bagaimana ia mempelajari Katolik dan menyebarkannya ke berbagai penjuru dunia.


Yang pasti, kisah hidayah Cindy bermula saat ia bertugas di Kenya sebagai misionaris tentunya. Di Kenya, Cindy banyak berinteraksi dengan Muslim. Diam-diam, ia terpesona dengan kehidupan umat Islam. Hanya itu yang menjadi kunci ketertarikannya pada Islam.


“Saya melihat bagaimana mereka menjalani hidup. Mereka memiliki kehidupan keluarga yang baik dan saya pikir itu sesuatu yang saya cari,” kisah Cindy dalam program They Chose Islam di The Algerian TV yang  bisa disaksikan di YouTube.


Cindy melihat keluarga Muslim begitu bahagia. Mereka gemar berkumpul, kemudian makan bersama. Pemandangan tersebut sangat asing bagi Cindy yang terbiasa hidup di tengah individualisme masyarakat AS.


“Kondisi yang kontras bagi saya di Amerika yang saat Minggu sore hanya di depan televisi, menonton permainan bola dengan sekotak bir. Benar-benar terasa kosong,” tuturnya mengenang.


Tak ada saudara dan teman Muslim, apalagi ustaz, membuat wanita kelahiran Burlington, Wisconsin, AS tersebut terpaksa menelaah Islam sendirian, secara otodidak.


Meski tanpa guru dan tanpa ada yang menjawab pertanyaannya tentang keimanan, Cindy tak butuh waktu lama untuk memutuskan Islam akan menjadi agamanya.


Tak ada keraguan sedikit pun. Cindy merasa seakan-akan diantar untuk memeluk Islam saat kembali ke AS. Begitu mudah jalan Cindy hingga kemudian menyatakan syahadat di Chicago.


Dua pekan sebelum mengucap syahadat, Cindy sempat pergi ke Islamic Center di Chicago. Ia hanya mengatakan, “Saya tertarik pada Islam”. Padahal, saat itu Cindy sudah mempelajari Islam, bahkan telah berniat untuk mengucapkan syahadat.


Pengurus Islamic Center Chicago tersebut pun memberinya beberapa literatur dan buku Islam. Setelah menerima buku tersebut, Cindy pun pergi.


Tetapi, tiba-tiba seorang Muslim dari Islamic Center tersebut memanggilnya, “Tunggu, tunggu… Kenapa kau tak menjadi Muslim sekarang saja?” Cindy menirukan pertanyaan Muslim tersebut.


“Well, saya hanya membaca buku-buku ini dan dan hal-hal serupa. Saya hanya memikirkan tentang itu,” jawab Cindy.


“Baiklah, apakah kau tahu jika kamu tidak menjadi Muslim hari ini, kemudian kamu melintas jalan itu kemudian tewas, kau akan masuk neraka,” ujar Muslim tersebut mengajak Cindy bersegera menuju kebaikan. “Tidak, itu tidak mungkin karena saya seorang Katolik dan Katolik tak akan masuk neraka,” kata Cindy.


“Oke, kami tahu, kau sebenarnya ingin pergi minum dengan teman-temanmu, meminum alkohol, semalam sebelum kau menjadi seorang Muslim. Itulah mengapa kau tak ingin menjadi Muslim hari ini,” ujar Muslim tersebut menebak. “Aku tidak minum alkohol,” jawab Cindy berdusta.


Cindy tertawa kecil, pipinya memerah ketika mengisahkan percakapan dengan pengurus Islamic Center tersebut.


Ia benar-benar mengingat peristiwa tersebut meski telah berlalu 25 tahun silam. Percakapan tersebut berujung pada pemberian sebuah alamat masjid besar di Chicago.


Pengurus Islamic Center menyerah, Cindy tak langsung memeluk Islam pada hari itu. “Jadi, saya menerima alamat (Masjid Besar Chicago) dan dua minggu kemudian saya pergi ke sana, mengucapkan syahadat,” tutur Cindy.


Begitu sederhana perjalanan sang misionaris hingga memeluk agama Islam. Cindy mengatakan, jalan Islam memang seperti sudah ditakdirkan baginya.


Ia tak merasakan kesulitan sedikit pun. Sebaliknya, kemudahan demi kemudahanlah yang ia alami saat menempuh jalan menuju hidayah.


Berkiprah di bidang sosial

Setelah memeluk Islam, Cindy menjadi Muslimah yang taat. Ia berjilbab, kemudian menikah dengan pria Muslim dan tinggal di Dallas.


Ia bahkan aktif di sebuah yayasan kemanusiaan Islam dan menghabiskan waktunya untuk berdakwah. Di sana ia membicarakan tentang Islam dan berbagi ilmu melalui dakwah.


Yayasan tersebut melindungi komunitas pengungsi di Dallas. Sekitar 50 persen pengungsi di sana adalah Muslim.


“Kami menerima mereka dan memberi tahu menerapkan syariat Islam di Amerika itu mudah. Mereka dapat menjaga iman dan tak perlu menyembuyikannya ataupun berpura-pura bukan sebagai Muslim,” ujar Cindy.


Di gedung pusat yayasan tersebut, shalat lima waktu digelar setiap hari.  Pelajaran agama Islam dan bahasa Arab pun diajarkan untuk anak-anak Muslim. Ada pula kelas bahasa Inggris yang diikuti tak hanya oleh anak-anak Muslim, tetapi juga non-Muslim.


Bahkan, guru bahasa Inggris di kelas tersebut merupakan seorang Katolik. “Kami bermitra dengan yayasan Katolik dan mereka mengirimkan pengajar aktif bahasa Inggris untuk mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Jadi, kami memiliki semua agama di sini, dan semua orang menyambutnya,” kata Cindy toleran.


Tujuh hari dalam sepekan, waktunya dihabiskan di yayasan tersebut. Meski demikian, Cindy menikmatinya. Tetapi, diakuinya, banyak hal yang berubah setelah ia memeluk Islam. Setelah berislam dan berjilbab, Cindy sering kali diperlakukan berbeda.


Ketika belanja, misalnya, kasir sering kali bersikap kasar. “Itu hanya hal kecil, yang Anda hanya bisa menerimanya dan pergi begitu saja karena Anda tahu, orang itu tak akan bersikap seperti itu jika tahu betapa bagusnya Islam. Yang perlu Anda lakukan hanyalah berperilaku sebaik mungkin.”



Article source: http://news.liputan6.com/read/470796/kaum-tak-beragama-ranking-3-setelah-kristen-dan-islam


Cindy Weber, Jalan Hidayah Sang Misionaris

Sunday, July 21, 2013

Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Jakarta – Sementara Jakarta punya Jokowi, Italia punya Arturo Cerulli. Keduanya sama-sama pejabat yang besahaja dan dekat dengan rakyatnya. Saat menghadiri peluncuran buku Scappa per Amore karya Dini Fitria di pusat belanja Blok M, Jakarta Selatan, Kamis sore lalu, Wali Kota Monte Argentario ini cuma ditemani istri dan anak keduanya. Tak ada pengawal, ajudan, atau sekretaris pribadi.

Tapi paling menarik dari sosok Arturo adalah soal keislamannya. Sebagai muslim, dia baru dua bulan lalu terpilih kembali untuk lima tahun berikutnya sebagai wali kota di negeri mayoritas Katolik tersebut. Dia mengaku agama Islam yang dianutnya pernah menjadi bulan-bulanan lawan-lawan politiknya saat berkampanye. Tapi Arturo berhasil meyakinkan bahwa dia semata ingin mengabdi pada kota kelahiran dan warganya.


“Saat itu orang-orang menganggap saya ingin menghancurkan bangunan-bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang (kampanye negatif) sudah selesai,” ujarnya saat berbincang dengan Astrid Septriana dan Arif Arianto dari Detik. Berikut petikan selengkapnya.


Italia identik dengan Katolik, tapi Anda yang muslim bisa menjadi wali kota…


Saat saya mencalonkan diri pada 2008, orang-orang juga menganggap saya gila. Tapi saya pikir, sebagai wali kota yang baik, Anda tidak seharusnya membicarakan agamanya, tapi lihat bahwa ia benar-benar mencoba melakukan perubahan baik, seperti membersihkan jalanan dan mencoba membuat oran lebih bahagia. Lambat laut orang mulai menerima saya dan mereka paham bahwa tidak ada pertimbangan agama untuk menjadikan seseorang sebagai wali kota.


Saya hanya mencoba melakukan hal yang bisa membuat kota lebih baik. Jadi tidak akan membawa hal yang menyentuh wilayah keagamaan. Ternyata ini bisa berjalan bersama antara wali kota muslim dengan kota Katolik. Anak saya juga pergi ke sekolah Katolik. Dia tentunya harus memahami agama Katolik, tapi ia tidak harus mengikuti peraturannya. Saat itu juga sedang terjadi krisis di Italia, jadi wali kota sebelumnya tidak dipilih kembali oleh rakyat, hanya sedikit yang akhirnya terpilih kembali. Saat itu saya senang karena mendapatkan 58 persen suara.


Waktu itu keislaman Anda tidak menjadi bahan kampanye negatif, dikaitkan dengan isu terorisme, misalnya?


Ya, lima tahun lalu tentu saja demikian. Semua surat kabar Italias menuliskan bahwa ada seorang muslim yang ingin menjadi wali kota di sebuah kota. Kabar ini juga menjadi breaking news di televisi. Saat itu orang-orang menganggap keberadaan saya ingin menghancurkan bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang sudah selesai.


Apa yang membuat Anda kembali terpilih?


Ya dua bulan lalu saya kembali terpilih menjadi wali kota. Saat yang pertama dulu, tentunya rakyat tidak mengenal saya. Jadi saya coba meyakinkan mereka dengan program yang saya rancang. Pada periode kedua, saya tidak menggambarkan kepada rakyat tentang program, tapi mengenai hal yang telah saya lakukan selama lima tahun terakhir. Jadi, jika mereka ingin mengikuti langkahku berikutnya, berikanlah kepercayaan kepadaku lagi. Saya juga sangat sangat menyukai pekerjaan ini. Bisa saya katakan, menjadi wali kota, gaji saya lebih rendah empat kali lipat dibanding sebagai insinyur. Tapi saya tidak peduli pada uang. Menjadi kaya bukanlah tujuan hidup saya. Tujuan hidup saya adalah menikmati hidup.


Bagaimana awal Anda menjadi seorang muslim?


Pada 1988, saya ke Indonesia untuk bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Serpong. Suatu hari saya bertemu dengan Nunuk dan jatuh hati padanya, lalu kami menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan. Tapi orangtuanya menentang karena saya bukan dari Jawa dan bukan muslim. Tentunya saya tidak bisa berubah jadi Jawa, tapi saya putuskan menjadi muslim. Jadi saya masuk Islam karena dalam satu keluarga sebaiknya hanya punya satu keyakinan, dan saya lebih nyaman untuk memeluk Islam.


Kenapa merasa nyaman menjadi muslim?


Tidak terdapat banyak perbedaan dari peraturan Islam dan di Kristen. Di kedua agama itu, hanya terdapat satu tuhan. Ketika Anda mampu menjadi seorang penganut Kristen yang baik, Anda juga mampu menjadi seorang muslim yang baik. Kecuali pada cara beribadahnya dan beberapa peraturan lainnya ya.


Respons keluarga saat memilih Islam?


Ibuku mempersilakan saya memilih beralih agama dan memberi kebebasan memilik istri. Saya sempat bercerita kepada Ibu bahwa calon istri saya sangat hitam, tapi ibu justru menukas, “Ini kamu yang akan menikah, bukan saya. Jadi jika kamu menyukainya, silakan saja.” Saat ibu bertemu dengan calon istri saya, ia bilang Nunuk tidak sehitam yang saya gambarkan.


Bagaimana multikulturalisme di Italia?


Mungkin saya belum menceritakan di sana ada kecenderungan, bila seorang pria muslim melecehkan perempuan, koran akan menuliskan pria muslim melakukan hal buruk. Tapi jika seorang pria kristen melakukan yang sama, mereka akan mengatakan, “pria dari Roma atau Milan melakukan hal buruk.” Mereka tidak menyebutkan identitas Kristennya. Jurnalis memberikan kesan tertentu. Tapi, di samping hal ini, kami bisa merasa sangat terintegrasi dari hari ke hari nuansa multikulturalisme semakin menjadi baik.


Seperti apa sih komunitas muslim di Italia?


Tidak banyak orang muslim di Italia. Biasanya orang muslim itu bukan penduduk asli Italia, sebagian imigran dari Afrika Utara atau Eropa Timur. Tentunya mereka membawa kesan sebagai orang yang berkualitas rendah karena datang sebagai imigran gelap. Ini membuat banyak orang beranggapan salah dan buruk kepada muslim. Faktanya, 90 persen imigran gelap muslim tak punya paspor dan pekerjaan.


Anda membuat masjid atau fasilitas untuk muslim?


Tidak. Komunitas muslim di kotaku sangat kecil. Jadi tidak ada cara untuk bisa menambahkan sesuatu. Jika ingin beribadah dengan komunitas muslim, yang terdekat berada sekitar 40 Km dari tempat saya. Di sini komunitas muslimnya lebih besar, dan untuk jarak tempuh 40 Km bisa ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit dengan mobil. Sedangkan di Indonesia bisa memakan waktu satu sampai dua jam ya, ha ha ha…


Seberapa sering Anda mengunjungi Indonesia?


Setelah kedatangan saya ke Jakarta pada 1988, saya kembali lagi ke sini pada 1990-an. Setelah itu, saya rutin ke sini setiap satu atau dua tahun karena istri saya memiliki keluarga di sini.


Selain karena istri, apa yang membuat Indonesia menarik untuk Anda?


Indonesia adalah negara yang benar-benar masih berkembang. Saya melihat seberapa mudahnya menjadi seorang politikus di Indonesia. Pertama karena Indonesia masih baru dalam urusan demokrasi. Sebagai wali kota, telepon saya aktif selama 24 jam. jadi warga bisa menelepon saya kapan pun untuk mengeluhkan apa saja. Saya tidak tahu apakah hal seperti ini mungkin dilakukan di Indonesia.


Jujur, saya datang ke Indonesia tidak dalam frame bekerja, tapi berlibur, dan saya lebih memilih Bali dan Lombok dibanding Jakarta. Jakarta is very good for shopping centre, and I don’t really like shopping centre. Saya juga menyukai Yogyakarta. Di sana lebih tampak keindonesiaannya. Atau ke Bandung dan Bogor.



Tulisan ini diambil dari Harian Detik edisi Minggu 21 Juli 2013.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/04/mntg9h-ada-tiga-kategori-mualaf-di-sumatra-selatan


Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Friday, January 17, 2014

Semarak Islam di Hong Kong

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Pemerintah mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan umat Islam.


Suara azan mengalun merdu dari sebuah masjid di Nathan Road, Hong Kong. Azan tersebut diserukan imam dari masjid tersebut, yaitu Ahmed Cheung Wong Yee atau yang dikenal sebagai Imam Cheung.


Saat itu hari Jumat, siang hari. Bersamaan dengan suara azan, mulai berdatanganlah laki-laki Muslim yang akan menjadi jamaah shalat Jumat.


Meski daerah ini merupakan wilayah bisnis yang padat, pada waktu tersebut, para laki-laki rela menanggalkan pakaian kerja mereka dan berganti dengan pakaian yang layak untuk dipakai shalat.


Beberapa wanita Muslim juga terlihat berada di dekat masjid sambil melantunkan ayat-ayat Alquran. Setelah iqamat dilantunkan, shalat Jumat pun dimulai.


Ini merupakan sekelumit cerita aktivitas kaum Muslim yang tinggal di Hong Kong. Meski menjadi minoritas karena jumlahnya hanya sekitar 250 ribu jiwa, umat Islam diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah.


Hong Kong merupakan kota metropolis dan merupakan wilayah yang terpisah dari daratan Cina serta lama berada di bawah kekuasaan Inggris. Hingga akhirnya pada 1997, Inggris menyerahkan kedaulatan Hong Kong kepada Cina.


Laman Islamonline menuliskan Muslim telah mendiami Cina sejak seribu tahun lalu. Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang melakukan perdagangan melintasi jalur sutra, jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan dunia Barat.


Khusus di Hong Kong sendiri, Muslim banyak yang datang bersamaan dengan kedatangan koloni Inggris yang menjadikan wilayah ini sebagai basis dagang East India Company.


Untuk menjaga kawasan Hong Kong, Inggris mempekerjakan tentara yang berasal dari India yang kebanyakan adalah Muslim.


Islam ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Jumlah penganut Islam pun semakin banyak. Orang Cina di daerah ini yang kemudian memutuskan untuk masuk Islam dikenal dengan nama Hui.


Kini, Muslim di Hong Kong sebagian besar merupakan orang Cina asli. Selain itu, juga ada Muslim yang berasal dari warga pendatang, seperti Pakistan, Malaysia, Filipina, Arab, Afrika, dan negara lainnya. Juga banyak yang merupakan keturunan campuran antaretnis.


Masyarakat Indonesia sendiri menyumbangkan jumlah yang lumayan banyak dalam komunitas Muslim. Kebanyakan dari mereka adalah para TKI yang mencari peruntungan hidup di sana sebagai pekerja rumah tangga.


Mereka menyebut diri mereka sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI). Jumlahnya tak kurang dari 120 ribu orang. Kegiatan pengajian dan aktivitas Islami lainnya sering digelar sembari bersilaturahim.


Antropolog dari Chinese University, Hong Kong, Paul O’Connor dalam bukunya Islam in Hong Kong: Muslims and Everyday Life in China’s World City yang terbit pada 2012, menjelaskan masyarakat Hong Kong yang mayoritas memeluk agama lain selain Islam sangat toleran.


“Mereka yang akan berjualan daging babi tidak akan melalui jalan yang banyak didiami oleh orang Islam sebagai bentuk saling menghormati,” tulisnya.


Mayoritas penduduk Hong Kong beragama Buddha, Tao, dan Konghucu. Agama lain yang menjadi minoritas, seperti Kristen, Yahudi, Sikh, dan Hindu, juga punya penganut di sini.


Menurut laman Islam.org, sekitar 1850-an, Muslim di Hong Kong mulai membantuk organisasi yang resmi yang kemudian diakui oleh Pemerintahan Inggris pada saat itu. Organisasi tersebut adalah Badan Wakaf Komunitas Islam (Incorporated Trustees of the Islamic Community Fund).


Organisasi Muslim ini kemudian menunjukkan tajinya yang akhirnya bisa membangun beberapa tempat ibadah secara resmi di wilayah ini. Sebelumnya, Muslim di Hong Kong menggelar shalat berjamaah di tempat terbuka di pinggir jalan saja.


Lahan pertama yang diubah menjadi masjid adalah yang berada di Jalan Shelley Nomor 30. Di kawasan elite ini, sebuah masjid kecil dibangun pada 1890, kemudian diperluas dan direnovasi lagi pada 1905. Masjid yang diberi nama Masjid Jami’a ini menjadi yang tertua di Hong Kong.


Lahan lain kemudian juga disiapkan untuk pemakaman Muslim yang terletak di daerah Happy Valley. Dibangun pula sebuah masjid kecil di dekatnya. Pemakaman Muslim lain juga dibuat di Cape Collinson.


Di Hong Kong, kita bisa menemukan beberapa masjid besar lainnya. Antara lain, Masjid Ammar dan Islamic Center Osman Ramfu Sadick di Oi Kwan Road, serta Masjid Stanley. Hanya di masjid-masjid inilah suara azan bisa diperdengarkan.


Daerah Kowloon dulu biasa dipakai untuk beribadah para tentara Muslim yang berasal dari India. Mereka tinggal di barak militer Whitfield yang kini dijadikan Kowloon Park.


Di tempat ini kemudian dibangun pula sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Kowloon lengkap dengan Islamic center di sana yang dibangun pada 1984.


Tak hanya masjid, di sini juga dibangun perpustakaan, tempat pendidikan membaca Alquran, juga taman kanak-kanak.


Imam Cheung kini menjadi imam besar Masjid Kowloon. Menurutnya, meski Muslim menjadi minoritas di Hong Kong, pemerintahnya mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan Muslim. “Misalnya, kini mereka menyediakan daging halal yang disembelih sesuai dengan hukum Islam,” ujarnya.


Cheung merupakan salah satu imam yang punya kontribusi besar bagi pengembangan ajaran Islam di kota yang dulunya merupakan koloni Inggris ini. Ia dibesarkan dan belajar di kawasan Cina Selatan dekat pelabuhan Guangzhou atau yang dikenal sebagai Kanton.


Ia menjadi imam mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang merupakan seorang imam juga. Meski kini usianya telah lanjut, Imam Cheung masih setia mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Islam.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/07/156502871/Momen-Kumpul-Saat-Lebaran-Wulan-Guritno


Semarak Islam di Hong Kong

Monday, December 9, 2013

Jejak Ilmuwan Muslim dalam Sains Modern




Ratusan tahun silam, sebelum ilmuwan Barat mengenal ilmu pengetahuan dan sains, ilmuwan muslim telah maju dan berkembang dengan rangkaian penemuan serta ilmu pengetahuannya. Tetapi, sejarah Barat kemudian mengubur mereka “hidup-hidup”, sehingga hanya sedikit ilmuwan muslim yang masuk ke dalam tinta sejarah penemuan di dunia.

Padahal dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat pernah mengalami masa-masa pahit yang mereka sebut dengan zaman kegelapan atau disebut juga zaman pertengahan (the Medieval Ages). Zaman kegelapan itu dimulai dari runtuhnya Imperium Romawi Barat pada tahun 476 M dan munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan dalam masyarakat Kristen Barat.


Pada abad kegelapan Barat tersebut, ilmuwan Muslim seperti al-Biruni sudah menghidupkan metode eksperimen yang tak pernah dikenal oleh para pemikir besar Yunani. Metode yang kemudian menjadi bangunan dasar sains modern itu, memang membawa Islam pada puncak  kegemilangan peradabannya. Maka tidaklah berlebihan jika sains modern yang dikembangkan oleh Barat merupakan benih pemikiran Islam. Sains modern, setidaknya metode eksperimental karya al-Biruni, merupakan kontribusi paling monumental dari peradaban Islam.


Selama ini, rupanya banyak pembelajar yang telah dibodohi habis-habisan oleh sejarah yang tidak benar. Lebih tepatnya, kejujuran sejarah pengetahuan sengaja ditutup-tutupi oleh orang-orang Barat. Akan tetapi, kendati mereka berusaha menutup-nutupi kebenaran ilmu pengetahuan, akhirnya ketahuan juga bahwa ilmu pengetahuan lebih dulu ditemukan oleh para ilmuwan muslim yang lalu mengispirasi perkembangan besar-besaran di dunia Barat.


Sekadar contoh, ilmuwan muslim yang menjadi inspirasi Barat adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, seorang tokoh matematika yang menemukan angka nol. Dalam matematika juga banyak ditemukan istilah-istilah seperti sinus, kosinus, tangen, kotangen atau dalam ilmu astronomi seperti istilah azimut, zenith dan nadir yang semua itu diciptakan oleh sarjana Muslim yang bernama al-Battani, yang di Barat disebut Albategni atau Albategnius.


Dalam bidang filsafat ada Ibnu Rusyd (1126-1198) yang dihormati Barat dengan nama Averroes. Dalam bidang sosial, politik dan budaya ada ibnu Khaldun (lahir 27 mei 1332) dan dalam bidang navigasi ada ibnu Battutah (1304-1377) yang menjelajah dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai, dan Ibnu Majid yang menemukan kompas modern. Masih banyak lagi cendekiawan Muslim lainnya. Jadi, Banyak ilmuwan Muslim yang menjadi sumber rujukan orang Barat sebelum terjadi kebangkitan ilmu pengetahuan.


Ikhtiar buku ini hendak membuktikan apa saja karya, pemikiran, dan penemuan fenomenal para ilmuwan muslim yang telah menjadi jejak perkembangan ilmu pengetahuan modern. Penyusun buku ini juga menegaskan keistimewaan para ilmuwan muslim terdahulu yang mampu menguasai ragam ilmu pengetahuan. Jabir bin Hayyan al-Kufi, misalnya, sebagai ilmuwan muslim ia tidak hanya ahli dalam ilmu kimia, tetapi juga ilmu kedokteran, filsafat, dan fisika.


Sebab itu, wajar jika kita mengenal para ilmuwan muslim di zaman dulu memiliki multitalenta yang tidak saja ahli di bidang fiqh, hadits, dan al-Quran, ternyata juga jago dalam bidang filsafat, kedokteran, fisika, kimia, astronomi, geografi, dan perdagangan. Fakta ini bisa diketahui dari rangkuman berbagai bidang keilmuan sebagaimana yang dirangkum buku ini.


Sayangnya, seiring pudarnya penguasaan umat Islam atas sains dan teknologi dan pesatnya kemajuan sains modern, lenyap pula kemampuan umat Islam untuk bertahan, sehingga kecenderungan menurunnya peran umat Islam di dunia tidak dapat dielakkan. Sebaliknya bangsa Barat, setelah belajar dari umat Islam, lima abad kemudian berhasil melanjutkan pengembangan sains di tengah masyarakat mereka.


Buku yang disusun dari berbagai sumber ini, kendati tak memuat banyak hal baru, menarik untuk disimak. Tidak hanya mengungkap cara belajar para ilmuwan muslim hingga menjadi tokoh-tokoh hebat sepanjang masa, buku ini diharapkan dapat membangkitkan kembali ruh keilmuan orang Islam yang belakangan kian terkubur oleh peradaban Barat.   
    
Peresensi: Ahmad Fatoni
Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang


(//mbs)


Article source: http://www.agendadaily.com/ruangan/ruangan/catatan-odah/8056-azhar-sulaiman-bersuarakes-berat-jika-dia-wakili-the-silent-majority-yang-rasa-fedup-terus-diperbodohkan.html


Jejak Ilmuwan Muslim dalam Sains Modern

Sunday, April 21, 2013

Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

foto googleSungguh berat nian untuk ber-Islam dengan baik di jaman moderen ini. Jaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Jaman dimana banyak hal dalam Islam yang katanya sudah tidak lagi sesuai. Islam kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan jaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu Islam datang menyerukan pembaharuan. Hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. Islam dahulu menjadi panduan yang komplit bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di jamannya.


Islam itu (seharusnya) progresif dan revolusioner. Tapi mengapa saat ini, wajah Islam seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan Islam ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan Islam dengan penganutnya. Kemudian pertanyaannya adalah, darimana kita melihat keagungan dan keunggulan Islam? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. Islamkah yang salah?


Saya sedikit penasaran, bagaimana generasi emas, para pengukir sejarah Islam hidup dan berkembang dahulu. Saya sempatkan untuk mencari-cari dan membaca-baca literatur, hingga akhirnya saya membaca kembali tulisan lama dari penulis favorit saya, Yusuf Qardhawi, dengan tulisannya Fiqih Prioritas. Saya pikir tulisan ini cukup mewakili sudut pandang orang-orang yang hidup sebagai generasi emas Islam. Setidaknya begitu bagi saya, sudut pandang yang diberikan Yusuf Qardhawi dalam buku tersebut sangat progresif dan revolusioner. Dan seperti itulah Islam seharusnya, gerbong perubahan. Tidak berniat untuk menjadi hiperbolis mengatakan bahwa dengan ber-Islam-lah Anda bisa berubah, tapi ada beberapa semangat dalam ber-Islam yang seharusnya bisa mengubah kita. Dengan begitu, jika Islam mengalami stagnansi, itu bukanlah Islam, bukan semangat ke-Islam-an yang dulu pernah digelorakan generasi pertama.


Di sini saya kemudian juga harus jujur, bahwa hampir semua ajaran yang ada di muka bumi ini datang dengan semangat yang sama, semangat perubahan, tidak hanya Islam. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan atau melebihkan, tidak ada kapasitas saya untuk melakukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah, mempertanyakan kembali kalimat Islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena semangat dan nafasnya Islam itu yah letaknya disana, bahwa Islam itu mempunyai semangat perbaikan, dimana semangat perbaikan itu berbeda dengan nilai konservatif dan status-quo yang cenderung stagnan.


Saya akan coba ulas beberapa hal yang saat ini sering menjadi pokok masalah didalam umat Islam sendiri, yang menurut saya menjadi sumber kemerosotan kebermanfaatan muslim di lingkungan sekitar. Kadang permasalahan ini malah menggerogoti keindahan Islam itu sendiri.


1. Fatwa-fatwa yang sudah tidak sesuai dengan jaman sudah seharusnya direvisi


Perubahan kondisi dunia hingga seperti saat ini memerlukan perubahan cara pandang di diri seorang muslim. Para ahli fiqih harus mengubah fatwa-fatwa lama yang sekiranya sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, dengan berpegang pada faktor keluwesan dan keleluasan dalam syariat Islam yang sejalan dengan As Sunnah dan Al Quran. Kondisi saat ini tentu berbeda dengan jaman dahulu sehingga pendekatan-pendekatan dalam pembuatan fatwa pun tentu berbeda, sehingga peninjauan terhadap fatwa-fatwa lama pun harus dilakukan.


Contoh yang diberikan Yusuf Qardhawi adalah bagaimana seharusnya muslim saat ini melihat dunia muslim dan dunia selain muslim. Jaman dahulu ada fatwa di dunia muslim yang membagi dunia ke dalam Dar Islam dan Dar Harb, sebuah pandangan mengenai hubungan dunia muslim dengan bukan muslim adalah peperangan. Selain tidak sesuai dengan kondisi saat ini, fatwa ini juga dinilai lemah karena banyak penjelasan-penjelasan di As Sunnah dan Al Quran yang menyatakan kebalikannya, seperti
“… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…“(al-Hujurat: 13) dan ”..Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan...” (al-Ahzab: 25)


Walaupun saya yakin banyak muslim saat ini yang memiliki pandangan bahwa peperangan bukan jalan dakwah yang bisa ditempuh saat ini. Namun pandangan anarkis dalam menyebarkan keindahan Islam ini masih saja menodai langkah perjalanannya saat ini, seperti aksi kekerasan terhadap golongan lainnya dengan mengatasnamakan dakwah.


Fatwa-fatwa lama, bisa jadi telah mendarah daging sehingga tanpa kita sadari telah menjadi keseharian muslim-muslim di dunia tanpa mengetahui jika itu tidak lagi sesuai jamannya. Muslim-muslim mengikuti fatwa-fatwa tanpa mengetahui sebab musababnya dan tanpa pengetahuan, sehingga yang ada hanya sikap fanatisme kosong. Ada teguran yang cukup jelas tentang hal ini.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” (al-Isra’: 36)


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)


Untuk masalah ini kadangkala masyarakat kita sangat mudah percaya bahwa sesuatu adalah benar jika itu mengatasnamakan Islam ataupun dakwah. Sudah jelas dalam ayat diatas bahwa ijtihad itu di atas taqlid, artinya kebiasaan menggali informasi serta memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan merupakan salah satu muslim sejati. Sehingga wajar saja di jamannya dulu, generasi emas Islam menorehkan banyak karya untuk ilmu pengetahuan. Rasa penasaran begitu besar memang tertanam dan diperintahkan.


2. Memperbaiki diri sebelum memperbaiki lingkungan lebih besar


“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)


Ada beberapa orang yang beranggapan, sistem dulu diperbaiki baru semuanya bisa lebih baik. Saya sangat menyangsikan proposisi ini, bahkan Rasulullah yang utusan langsung saja melakukan pembinaan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membina sebuah masyarakat yang memiliki aturan dan sistem. Tapi itu kan dulu? Saya pikir sama saja, hidup ini kan terus berputar dan menurut saya cara Rasul adalah sebaik-baiknya cara.


Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Rasulullah ini menjalankan perbaikan sistem di tempat-tempat baru. Beliau tidak kemudian memaksakan sistem dan pemahamanan-pemahaman yang ada dalam Islam untuk dipaksakan pada orang-orang bukan Islam. Ke-khalifah-an bukanlah tujuan akhir yang ingin Rasulullah kejar, tapi menyebarkan indahnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin, ke-khalifah-an bisa jadi salah satu cara yang ditempuh. Intinya adalah kita harus jeli melihat mana yang tujuan dan mana yang cara. Jika melihat bagaimana kisah Rasul, jelas terlihat bahwa pembinaan individu itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dengan menyebarkan kebaikan demi kebaikan ke setiap individu sampai akhir hayatnya, dan itu cara yang dipilih oleh beliau.


Ini bukan berarti sistem atau lingkungan tidak penting, karena individu adalah pembentuk sistem. Layaknya sebuah perusahaan yang fokus terhadap pengembangan personal sumberdaya manusianya, maka dia akan mendapatkan sistem yang lebih optimal.


3. Memahami perbedaan itu sebagai sebuah keluwesan dan keleluasaan yang dikarunia Allah


Hal yang tersulit dilakukan saat ini adalah menghargai perbedaan. Perbedaan itu fitrah dan berkah. Namun sebagian besar manusia memang tidak menyadari itu dan menjadi perbedaan itu sebagai dasar perpecahan dan persengketaan yang berkepanjangan. Termasuk diantaranya adalah bagaimana umat muslim mengintrepretasikan isi Al Quran, banyak sekali pendekatan-pendekatan berbeda sehingga memunculkan istilah aliran-aliran tertentu. Patut disadari bahwa dalam Al Quran memang ada ayat-ayat yang sifatnya muhkamat (terang-benderang) dan mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Jika seandainya Allah menginginkan manusia dalam satu pemahaman maka isi Al Quran tentunya mengandung ayat-ayat muhkamat.


Yang paling penting itu adalah kemudian untuk tidak merubah-rubah ayat muhkamat menjadi mutasyabihat ataupun sebaliknya. Banyak sekali perdebatan yang muncul akibat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Yusuf Qardhawi dengan jelas menuliskan bahwa masalah-masalah yang dinggap besar selalu dituliskan sebagai ayat muhkamat, dan kita dilarang untuk berselisih di dalam hal ini, misalnya seperti masalah aqidah. Sedangkan untuk masalah kecil yang tersirat dalam ayat mutasyabihat memang terkadang memunculkan perbedaan hukum oleh fuqaha-fuqaha, dan ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Dalam hal ini kemudian umat Islam tidak boleh dengan mudahnya tercerai berai, inilah yang dijelaskan diawal sebagai berkah perbedaan.


Allah memberikan ruang keleluasaan dan keluwesan bagi manusia untuk berinovasi dalam koridor tertentu, bahkan disini Allah menunjukkan bahwasanya Islam bisa terus bersifat progresif dan revolusioner disesuaikan dengan jamannya. Satu hal yang paling penting, ukhuwah Islamiyah adalah hal yang tetap patut dijaga terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.


4. Fokus kepada isu-isu sentral yang ada dalam Al Quran


Sebelum memikirkan apa yang harus diperbaiki dari umat Islam ini, ada baiknya kita kembali ke Al Quran. Penekanan yang diperlihatkan di dalam Al Quran dengan mengulang-ulang kata-kata dan istilah-istilah tertentu, adalah tanda bahwa hal-hal tersebut sudah seharusnya menjadi prioritas. Seperti pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi. Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.


Sebenernya dengan melihat penekanan-penekanan dalam Al Quran ini kita bisa menilai mana yang kemudian lebih penting ketimbang lainnya. Sehingga dalam bersikap kita bisa lebih proporsional terhadap perintah-perintah Allah, tidak kemudian memakai kacamata kuda untuk bersikeras memaksakan ayat-ayat yang dia sukai saja. Tiap ayat di Al Quran saling terkait satu sama lain, sehingga jika menerapkannya dalam keseharian berdasarkan prioritas tentu kita bisa melihat gambaran kebesaran Rasulullah didalamnya. Beliau bisa begitu lembut pada siapa pun, bahkan musuh Allah sekalipun. Beliau tidak membenci kecuali atas seizin Allah.


Saya rasa propaganda kebencian umat Islam terhadap umat lain memang sudah saatnya dihentikan, karena sudah tidak sesuai semangat yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah. Ada hal yang menarik sebenarnya, di Al Quran disebutkan, misalnya contoh bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi. Tetapi disisi lain kita juga dihadapkan contoh dimana Rasul kita bisa begitu sabar dan lembutnya menghadapi orang-orang Yahudi. Dan bagaimana toleran dan luwesnya Rasul kita dalam membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak di luar Islam.


Menurut pendapat saya kebencian yang kita miliki pun harus proporsional, bukan tanpa alasan dan bukan fanatisme kosong belaka. Sudah jelas bahwa kebencian Rasulullah bukannlah kebencian terhadap personal, bukan kebencian yang pada dasarnya adalah kepada manusia. Rasulullah memperlakukan binatang pun penuh dengan perasaan apalagi manusia, sejahat apapun mereka. Kebencian kita memang sudah sepatutnya ditujukan kepada sifat-sifat jeleknya yang melekat pada personal-personal itu, dan tugas kita untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat itu, menjauhkan keluarga dari sifat-sifat itu dan menjauhkan sifat-sifat itu dari personal-personal umat manusia. Itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah untuk membenci personal, bagi Rasullah setiap pribadi adalah manusia yang wajib beliau ajak ke jalan ke-Islam-an. Itupun berlaku bagi kita, umatnya.


Kemudian bagaimana peperangan yang dahulu umat Islam lakukan. Seperti yang saya jelaskan, dalam Al Quran ayat peperangan ini bahkan tidak masuk prioritas. Peperangan ini ada karena memang pada zamannya itu tidak bisa dihindarkan. Dan kalaupun ada peperangan bukan kebenciannya yang ditebarkan, sekali lagi peperangan itu hanyalah metode yang diambil pada zaman itu dan tidak bisa dihindarkan.


Melihat kondisi dunia seperti saat ini, isu-isu kemanusiaan mungkin bisa dijadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan Islam. Umat muslim sudah seharusnya ada di garda terdepan memerangi kemiskinan sebagaimana banyak ayat-ayat yang membahas tentang zakat, shadaqah dan fakir miskin, memberantas kebodohan sebagaimana banyaknya ayat yang membicarakan tentang ilmu dan menghentikan kemerosotan akhlak individu sebagaimana banyaknya ayat yang membahas bagaimana seharusnya pribadi muslim sejati itu.


Ijtihad-ijtihad dalam hal-hal ini diperlukan, ketika kita berbicara masalah kemiskinan, umat muslim harus terdepan memoderenisasikan pokok-pokok keIslaman dalam tatanan kehidupan berekonomi, saat berbicara kebodohan, umat muslim harus memiliki seribu satu gerakan untuk menyebarkan ilmu ke seluruh pelosok daerah, dan ketika berbicara masalah akhlak, muslim juga harus memiliki standar etika yang jelas, standar pribadi muslim. Bukan muslim yang bermuka dua, yaitu mereka menebar kebencian terhadap personal tetapi muslim yang menebar kebaikan dan memusuhi kejelekan, kepada siapapun orangnya. Dengan semangat ini semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin tentu bisa kita perlihatkan dan buktikan bukan hanya pada umat Islam saja, juga umat-umat lainnya. Kata kunci yang harus dipegang muslim saat ini adalah kebermanfaatan untuk umat manusia, bukan hanya umat muslim saja.


Tulisan ini dibuat tidak kemudian untuk menjadikan Islam terlihat lebih hebat dan superior dari ajaran apapun. Tetapi ini adalah hak dan kewajiban dari umat Islam untuk menjadikan diri mereka lebih baik bagi lingkungan sekitarnya berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. InshaAllah dengan menjadi lebih baik, cahaya Islam itu sendiri tidak kemudian tertutup oleh debu-debu keterbatasan manusia. Memberikan manfaat kepada sesama, bukankah itu sebaik-baiknya manusia. Pun rekan-rekan yang beragama lain pun dipersilakan mencari mutiara didalam ajarannya masing-masing dan mari menjadi lebih baik bagi lingkungan dan dunia. Mari kita hiasi dunia dengan indahnya kebersamaan dan kebermanfaatan dalam rasa cinta dan kasih sayang.


Wallahualam Bishowab


Oleh: Iwa Kartiwa, Seoul


[006-fimadani]


 


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/12/29/337/738766/fpi-wahid-institute-sebar-berita-fitnah


Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

Monday, January 20, 2014

Islam Berkembang di Alabama

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Minat masyarakat untuk menghormati dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi.


Sejak peristiwa bom 9/11 yang masih membekas bagi warga dunia, tak ada yang mengira bahwa jumlah Muslim di Amerika justru mengalami pertumbuhan.


Di sebuah kota bernama Tuscaloosa, yang masuk wilayah negara bagian Alabama, ada sebuah masjid yang masih aktif dan dipenuhi jamaah. Di sini, ketakutan warga Amerika kepada Islam semakin memudar.


Dari laman AL.com, masjid yang berada di Islamic Center Tuscaloosa itu menjadi tempat umat Islam melakukan berbagai aktivitas.


Di sini tergambar bagaimana harmonisnya hubungan umat Islam yang selalu diterima oleh masyarakat dan bisa bersosialisasi dengan lancar.


Ketua Tuscaloosa Islam Society Muhammad Sharif mengatakan, memang dulu peristiwa 11 September membuat warga menjadi cemas, takut, dan kesal dengan orang Muslim.


“Namun ternyata, kami menemukan banyak orang meninggalkan bunga di pintu kami dan memperlakukan kami dengan lebih baik. Tak semua orang membenci orang Muslim. Kami sangat menghargai hal ini dan berharap semoga keadaan bisa kembali normal seperti dulu lagi,” ujarnya.


Menurutnya, kini justru lebih banyak yang datang mencarinya untuk mendapatkan informasi tentang konsep Islam yang sebenarnya. Mereka ingin mendengar dari mulut orang Islam sendiri bahwa terorisme yang dilakukan pada peristiwa 11 September tersebut bukanlah bagian dari tuntunan Islam.


Hubungan antara Islam dan agama lain, misalnya Kristen pun, semakin membaik. Mereka sering melakukan kerja sama dan membentuk kelompok untuk kegiatan amal dan kemanusiaan. Persahabatan antara Muslim dan masyarakat lainnya juga semakin terjalin dengan eratnya.


Salah satu penduduk Muslim Alabama, Mirza Beg (68 tahun), percaya masyarakat di Tuscaloosa kini semakin terbuka pada Islam.


Ahli geologi di Geological Survey of Alabama ini sering mendapatkan pertanyaan dari kawan-kawannya yang Kristen tentang apa yang ia percaya selama ini. “Kini semakin banyak kawan saya yang ingin tahu apa itu Islam,” katanya.


Sejak 1992, terjadi peningkatan jumlah Muslim hingga berkali-kali lipat. Paling tidak ada 1,7 juta Muslim yang merupakan warga pendatang dari luar Amerika.


Berdasarkan survei yang dilakukan Pew Research Center of Asia Amerika, jumlah kaum Muslim di seluruh Amerika terus bertambah hingga kini mencapai tujuh juta. Persentase umat Islam meningkat dari lima persen pada 1992 menjadi 10 persen pada 2012.


Meski jumlahnya sedikit namun masih ada masyarakat Amerika yang dengan teguh pada pendirian Islamnya.


Dengan jumlahnya yang sedikit itu mereka menjaga eksistensi mereka dan tak kenal lelah menyebarkan informasi yang sebenarnya mengenai Islam.


Kita bisa melihatnya pada komunitas Muslim yang tinggal di Alabama yang merupakan negara bagian Amerika Serikat yang terletak di bagian tenggara. Sebelah selatannya, langsung berbatasan dengan Teluk Meksiko.


Alabama merupakan daerah pertanian. Dulu, daerah ini dikenal sebagai penghasil kapas terbesar di Amerika.


Namun, kini bukan hanya kapas yang menjadi andalan, melainkan berbagai hasil pertanian lain juga peternakan menjadi denyut nadi wilayah itu. Ada pula beberapa kota yang ramai di Alabama.


10 Masjid


Alabama beribu kota di Montgomery. Sedangkan, kota terbesar di wilayah ini adalah Huntsville dan kota berpenduduk terpadat adalah Birmingham.


Ada juga kota-kota lain yang masuk dalam wilayah tersebut, di antaranya kota tua Mobile yang didirikan oleh koloni Perancis, Tuscaloosa, Selma, dan banyak lagi kota lainnya.


Di seluruh negara bagian Alabama ada sekitar 10 masjid yang melayani kebutuhan ibadah umat Islam. Jumlah ini termasuk banyak.


Di Birmingham kita bisa menemukan empat masjid, yaitu Al Masjidul Al Ka’bah, Masjid As Sabiqqon, Masjid Alquran, dan Masjid Birmingham Islamic Society. Sedangkan, di Ibu Kota Alabama, Montgomery, terdapat sebuah masjid yang diberi nama Masjid Qasim Bilal El Amin.


Selain itu, di Kota Mobile ada tiga masjid utama, yaitu Masjid Baitul Haqq, Masjid Al Islam, dan sebuah Islamic center. Masih ada tiga Islamic center lainnya, lengkap dengan masjid besar dan berbagai kegiatan aktifnya, yang selalu mengisi kehidupan religius umat Islam di sana. Tiga Islamic center tersebut berada di Kota Tuscaloosa, Huntsville, dan Selma.


Belum ada survei tentang berapa jumlah pasti penduduk Muslim di sana. Namun, minat masyarakat untuk menghargai, menghormati, dan tidak memusuhi Muslim semakin tinggi. Beberapa sekolah Islam pun berdiri di tempat tersebut. Salah satunya Alabama Islamic School.


Di perguruan tinggi, tepatnya di University of South Alabama, terdapat pula komunitas mahasiswa Muslim. Dari laman resminya, Asosiasi Mahasiswa Muslim di Universitas South Alabama mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah organisasi independen yang didedikasikan untuk menyediakan komunitas bagi anggota universitas yang ingin mendapatkan informasi dan gambaran yang akurat tentang apa itu Islam yang sebenarnya, juga tujuannya.


“Dalam dunia di mana informasi hampir tak terbatas, sangat penting jika kita memperoleh informasi tentang agama lain dari sumber yang tepercaya dan representatif,” tulis laman tersebut.


Itu sebabnya komunitas ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang ajaran Islam sesuai konteks aslinya.


“Misi kami adalah untuk menyampaikan informasi yang akurat tentang Islam, menjelaskan prinsip-prinsip Islam, dan menjawab berbagai pertanyaan dengan harapan bisa menciptakan pemahaman dan menghilangkan segala kesalahpahaman tentang keyakinan kita,” tulisnya.


Jika masyarakat luar telah memahami Islam secara benar, harapan selanjutnya adalah bagaimana agar bisa tercipta keharmonisan hubungan dengan masyarakat secara damai meski berbeda agama atau ideologi.


Selain itu, komunitas ini juga banyak menggelar kegiatan yang melibatkan Muslim maupun mahasiswa non-Muslim.


Di antaranya, makan malam bersama dalam peringatan hari besar Islam, berbagai diskusi informal, informasi berbagai beasiswa dan lomba akademik, serta banyak acara lainnya.


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/21/perlu-perda-wajib-madrasah-diniah-360611


Islam Berkembang di Alabama

Friday, January 11, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)


 


Sabtu, 12 Januari 2013

oleh: Nuim Hidayat

Misi Dakwah Islam

Kini kita tahu bersama, banyak masyarakat yang antipati terhadap partai politik atau politik. Golongan putih makin lama makin menaik. Mereka muak terhadap tingkah laku banyak para politisi yang tidak peka terhadap kondisi rakyat. Di tengah-tengah rakyat Indonesia yang masih 40 juta miskin, malah menurut Bank Dunia, kalau kategori miskin di bawah 2 dolar US per hari, jumlah penduduk miskin bisa mencapai 100 juta orang, para politisi seenaknya bepergian ke luar negeri menghabiskan uang negara dan seterusnya.

Di sisi lain, banyak aktivis-aktivis Muslim yang tidak lagi istiqamah dalam memperjuangkan dakwah Islam. Dakwah Islam sebagai inti dari dibentuknya sebuah partai atau organisasi Islam, kini hanya tinggal slogan. Para politisi Muslim banyak yang tidak memberikan keteladanan dakwah ketika ia menjabat sebagai politisi atau eksekutif. Gaya hidup dan pergaulan tidak lagi mencerminkan sebagai seorang dai. Padahal dulu mereka diajari “Aku adalah Muslim (dai) sebelum segala sesuatu”.

Konsep-konsep dan praktek-praktek dalam politik tidak mencerminkan semangat dan nilai-nilai mendasar dalam Islam. Sehingga banyak politisi-politisi muda akhirnya kecewa terhadap partai Islam. Ada teman penulis yang kecewa dengan tingkah laku para politisi partai Islam, akhirnya membuat partai sekuler.

Tentu hal itu tidak kita ingini bersama. Kita menginginkan politisi-politisi di Partai Islam, makin Islami dan politisi-politisi Muslim di partai-partai sekuler berani melakukan islamisasi di partainya.

Lihatlah kini media massa dan masyarakat, gegap gempita menyiarkan gebrakan-gebrakan yang dilakukan Jokowi dan Ahok. Turun langsung ke masyarakat, berani memotong anggaran-anggaran yang mubazir, menggaji para pemulung dan lain-lain. Seharusnya politisi-politisi Muslim –terutama yang di partai-partai Islam- malu kalah gebrakannya dengan mereka berdua. Seharusnya politisi-politisi Muslim membuat gebrakan yang lebih hebat dari mereka. Misalnya minta penurunan gaji baik sebagai pejabat eksekutif atau legislatif, karena masih puluhan juta orang miskin di tanah air atau seperti Dahlan Iskan yang berani mengumumkan orang yang mencoba menyuap dan sebagainya.

Bila para politisi Muslim tidak berbuat demikian, kukuh terhadap akidah Islam dan membuat gebrakan-gebrakan yang ‘revolusioner’, maka masyarakat akan antipati terhadap politik Islam. Dan ini bisa disebut kegagalan politik Islam.  Kalau sudah demikian apa makna membentuk partai politik Islam? Apa makna dari pentingnya politisi Muslim memegang jabatan? Ya menjadi tidak bermakna.

Renungkanlah mengapa dulu Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin (dan dilanjutkan sahabat-sahabat terkemuka) berhasil dalam dakwahnya. Dakwah di masa mereka menyebar cepat, tidak sampai 50 tahun Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab, Afrika, Asia dan Eropa. Tidak lain karena menyatunya antara konsep dan praktik (akhlak) mereka. Hidup sederhana menjadi ciri para pemimpin Muslim saat itu. Para ulama di saat itu selalu mengingatkan bahaya hidup bermewah-mewah, apalagi bila uang yang dipakai uang rakyat dan seterusnya. Selain itu, juga keteguhan aqidah dan semangat dakwah yang tinggi yang menjadikan Islam adalah agama yang tercepat pertumbuhannya dalam sejarah dunia.

Para pemimpin Islam itu bangga dengan Islamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam surat-suratnya sering menyerukan ‘Aslim taslam’. Masuk Islam lah engkau pasti selamat. Sayyidina Umar ra, begitu teguhnya memegang Islam dan begitu tinggi tasamuhnya (misalnya ketika menaklukkan Yerusalem), sehingga para pendeta pun hormat kepadanya.

Umar ra  selalu menggelorakan dakwah Islam dan menyampaikan kemuliaan Islam, karena rasa kasihannya terhadap nasib non Muslim di akherat nanti.

Pernah suatu waktu, khalifah Umar melewati sebuah tempat ibadah seorang rahib/pendeta, lalu ia berhenti sejenak. Rahib itu kemudian dipanggil dan diberi tahu bahwa khalifah Umar datang. “Ini adalah Amirul Mukminin”. Rahib itu kemudian menghadap Umar ra. Keadaaannya kurus dan lemah karena lelah dan kesulitan hidupnya. Rahib itu dalam hidupnya berusaha meninggalkan dunia. Umar ra kemudian menangis melihat kondisi Rahib itu. Seorang sahabat mengingatkan.”Rahib itu seorang Nasrani.” Umar ra menjawab,”Aku tahu itu. Dan aku teringat firman Allah Subhanahu wata’ala yang berbunyi,”Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas.”  (al Ghasyiyah 3-4). Aku merasa kasihan pada nasib dan kesungguhannya itu, padahal ia akan masuk neraka nantinya.”

Begitulah nurani yang halus dan keteguhan Umar. Ia memberikan keteladanan yang tinggi dalam memimpin, hidup sederhana, selalu berkeliling memantau kondisi rakyat, selalu aktif menggelorakan dakwah dll, karena menginginkan Islam ini dipeluk sebanyak-banyaknya umat manusia. Karena Umar ra faham, Islam ini nilainya lebih dari emas sepenuh langit dan bumi.
Al-Qur’an yang mulia mengingatkan;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sungguh orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS: Ali Imran [3]: 91).

Jadi bila dakwah menjadi inti utama partai Islam, maka kebanggaan sebenarnya adalah bila berhasil partai Islam itu mengislamkan orang-orang non Muslim atau berhasil dalam program Islamisasinya. Bukan bangga memasukkan orang-orang non Muslim dalam partainya.

Mengapa kita perhatian terhadap partai Islam? Ya karena merekalah ujung tombak dakwah Islam dalam bidang politik. Bila citra mereka anjlok di kalangan masyarakat, berarti bisa dikatakan dakwah Islam gagal dalam bidang politik.

Politik memang tidak segalanya. Tapi politik banyak mempengaruhi kehidupan kita. Undang-undang dilahirkan dalam keputusan politik, kebijakan pembagian keuangan pusat dan daerah diputuskan lewat politik, kebijakan pendidikan siapa yang boleh mengajar, siapa guru yang akan diberi uang negara adalah keputusan politik. Keputusan memberikan modal baik bagi pengusaha besar maupun kecil juga keputusan politik. Pengangkatan hakim agung yang akan memutuskan perkara juga keputusan politik.  Jadi bila umat meninggalkan politik, maka alangkah ruginya umat Islam ini. Bisa dikatakan mereka telah meninggalkan tanggungjawab dan amanat yang besar dalam pengaturan tanah air, yang merupakan bumi Allah ini. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan kita sebagai khalifah adalah untuk memakmurkan bumi ini.

Entah bagaimana wajah politik Islam tahun 2014 nanti, ketika presiden berganti. Tapi bila politisi Muslim –terutama yang berada di partai-partai Islam- tidak memperbaiki sikapnya, mungkin partai-partai sekuler akan terus menguasai negeri ini. Dan negeri ini, yang telah diperjuangkan oleh para ulama dan ‘wali’ dalam sejarahnya, sulit menjadi negeri Muslim yang disegani dunia. Apalagi menjadi pemimpin dunia Muslim. Mungkin hanya jadi pemimpi.
Akhirnya marilah kita renungkan, nasihat Sayidina Ali kepada gubernur di Mesir saat itu yang isinya aktual hingga kini:

“Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu.  Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.”

Ali melanjutkan: ”Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.  Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka… Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu.  Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang.  Dengan sikap yang waspada itu,   kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut.  Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka.  Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.

Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Sesungguhnya tiang agama, kekuatan kaum Muslimin dan senjata untuk menghadapi musuh adalah rakyat jelata.  Karena itu, jagalah hubungan baik dengan mereka dan perhatikan kesejahteraan mereka.” Wallahu aliimun hakim.* Habis

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta
 

Baca juga: Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://news.okezone.com/read/2013/01/12/340/745083/silaturahmi-ke-mui-chairuman-minta-umat-islam-jangan-golput


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Friday, August 23, 2013

Universalising Islam in Malaysia — Hew Wai Weng


AUG 23 — Early this year, I attended a Chinese New Year open house, organised jointly by the Hidayah Centre (a dakwah [preaching] institution under IKRAM, a Muslim organisation) and the Malaysian Chinese Muslim Association (MACMA), with sponsorship from the Islamic Council of Selangor (MAIS, Majlis Agama Islam Selangor) and Mohd Chan Restaurant. Alongside a small exhibition about Islam in Mandarin and English, there were various cultural activities during the open house, such as Chinese traditional music performance, lion dances and Chinese calligraphy competition.



Indeed, in the last few years, as a way of disseminating Islamic message among non-Muslim Chinese, there is a growing trend of accommodating Chinese cultural elements in the Islamic preaching in Malaysia. Chinese-style mosques, Chinese Muslim preachers, Chinese halal restaurants and Chinese New Year celebrations are among the creative forms to promote the universality of Islam and to show that “there can be a Chinese way of being Muslim”.



Chinese Muslims are minorities in Malaysia, in which only one per cent of ethnic Chinese are Muslims. In the past, ethnic Chinese who became Muslims were assumed to lose their Chinese cultural identity and become “Malay”. The recent emergence of Chinese Muslim cultural identities, which combine both Chinese cultural symbols and Islamic messages have challenged this widely held perception that “Chineseness” and Islam are incompatible.



Unlike conventional dakwah activities, which aim at strengthening the faith of Muslims, Chinese Muslims dakwah movements aim to universalise Islam and invite non-Muslims to get closer to the Islamic faith. Differentiating Chinese “cultural” traditions (budaya) from religious rituals (agama), Chinese Muslim leaders argue that Chinese culture does not contradict with Islamic principles. Instead, it can facilitate the spread of Islamic messages, which I call here “dakwah pendekatan budaya” (preaching by using [Chinese] culture) or “cultural dakwah”.



Statements such as “Chinese New Year does not belong to any religion and that it is a cultural event shared by all Chinese” are commonly used by Chinese Muslims to justify their celebrations. A common belief in this school of thought is that many Chinese in Malaysia hesitate to become Muslim, because they are afraid of losing their Chinese cultural identity after conversion to Islam. By holding public Chinese New Year celebrations, this group would like to diminish such worry, with the hope that more Chinese will convert to Islam, or at least get closer to Islam.



Many Muslim leaders endorse these celebrations, as long as such activities do not contain non-Islamic elements, such as deity worship and the consumption of non-halal food, for example, pork and alcohol. They see Chinese New Year activities such as wearing red, giving ang pow and lion dance as cultural practices that do not contradict Islamic teachings. They also think get-together events, such as mutual visits, reunion dinners and open houses, fit well with Islamic values, and view these activities as promoting “silaturahim” (maintaining good relationships).



Since 2010, working together with MACMA, IKRAM has held various Chinese New Year open house celebrations. IKRAM consists primarily of well-educated, urban-based, middle-class and reformist-minded Malay Muslims. In 2013, the Selangor branch of IKRAM organised Chinese New Year celebrations in nine locations in Selangor: eight small open houses at different districts, all held at Chinese halal restaurants; and a grand one in a Chinese school. Remarkably, one of the key sponsors was the state-controlled MAIS. I joined some of these celebrations, which were well attended by Malay and Chinese Muslims, as well as non-Muslim Chinese.



Chinese cultural elements and Islamic messages are strategically combined in such events. Let me describe one of these celebrations in detail. On February 24, 2013, the 15th day of Chinese New Year, more than 1,000 people attended a grand Chinese New Year open house in the Chee Wen Chinese primary school in Subang Jaya. The organisers had chosen a Chinese school and not a mosque to hold this event, hoping that more Chinese would join without hesitation. Invited guest speakers included leaders from Chinese organisations, Islamic NGOs, and Hui Muslims working in Malaysia. There were three hosts for the event: one of them was of mixed Chinese-Malay parentage and the other two were Hui Muslims studying in Malaysia. Most of those involved in organising the event were — both Chinese and Malay Muslims — wore red. Halal Chinese dishes with a localised twist, including a 100-feet yee sang (a popular Chinese New Year dish in Malaysia), were served. The food was sponsored by Mohd Chan Restaurant, a Chinese halal restaurant.



Inside the hall, there were decorations of Chinese lanterns and Chinese calligraphy that read: “Allah is the Greatest” and “Happy Chinese New Year” in Mandarin. Various entertainment programmes, including Chinese traditional music performance and lion dances were staged. There were also screening of videos, introducing Islamic teachings and sharing experiences of Chinese converts.  MACMA Selangor also held a small exhibition about Islam in Mandarin and English. The Quran, Islamic books and leaflets in Mandarin and English were available for free. Some volunteers also approached the non-Muslim Chinese who attended, asking their views on Islam and sharing the Islamic messages with them, in a subtle and indirect way.



The chairman of IKRAM Selangor Hassanuddin Mohd Yunus explains:



“Islam is a universal religion. In the past, we have only conducted dakwah among Malay Muslims. This is our mistake. We have made Islam a Malay religion, which contradicts the universal value of Islam. We should share the beauty of Islam with ethnic Chinese, who are mostly non-Muslims. And the best way to spread Islamic messages to ethnic Chinese is by using cultural approaches. Chinese New Year is a cultural event, not a religious one. Therefore, we organise Chinese New Year open houses. We serve yee sang (a Chinese Malaysian dish). We give ang pow (red envelope with money). We want to show that Islam and Chinese culture are compatible. Masuk Islam itu bukan Masuk Melayu (convert to Islam is not equal to convert to ethnic Malay).” (Interview, Hassanudin Yunus, February 24, 2013)



In Seremban, there was also a Chinese New Year dinner celebration inside the Al-Saadah Complex. The complex is a newly-completed Chinese-style mosque in Malaysia, initiated and sponsored by the Islamic Council of Negri Sembilan (MAINS, Majlis Agama Islam Negeri Sembilan). Its architectural design was inspired by the Great Mosque of Xi An, in mainland China. Various Chinese features dominated both the exterior and interior design of the mosque complex, such as the Chinese-designed entrance gate, the Chinese garden, the courtyard and pavilion, the red pagoda-shaped minaret, red lanterns and Chinese calligraphy.



This mosque complex hosts various activities, such as religious talks, Mandarin classes, conversion ceremonies and cultural festivals. Remarkably, during the Idul Adha celebrations in 2011 and 2012, Chinese Muslim religious teachers presented their sermons in Mandarin (with translation in Malay on LCD screen) inside the mosque. Moreover, the mosque invited an imam from mainland China to serve the mosque. The mosque committee is also planning to hold regular Friday sermons in Mandarin, beginning from mid-2013. If this plan comes true, the Al-Saadah Complex might be the first mosque in post-independent Malaysia which conducts Friday sermons in Mandarin regularly.



In the past, it was quite difficult to imagine that a Muslim organisation would organise a Chinese New Year open house or an Islamic authority building a Chinese-style mosque simply because of the pervasive perception of Islam as the symbolic marker of Malay identity. Yet today, not only Chinese Muslims, but many Malay Muslims are enthusiastic in preaching Islam through the use of Chinese cultural symbols and practices.



What are the factors that have contributed to this emergence of cultural dakwah in contemporary Malaysia?



First, there is a growing expression of Chinese Muslim cultural identity among Chinese converts. In the past, many Chinese converted to Islam because of intermarriage or for economic reasons. Many of them came from lower middle-class background, were less educated and did not speak Mandarin. Therefore they were more easily assimilated into the Malay community. Today, there is an increasing number of urban middle-class and Mandarin-speaking converts. They become Muslims out of religious interest and take their new religion seriously. They also prefer to maintain their Chinese identity. They see their Chinese culture as an important asset and a preaching strategy, which could facilitate them to share the Islamic message among non-Muslim Chinese. In addition, the recent influx of Hui migrants and students in Malaysia has also given confidence to local Chinese Muslims to cultivate their unique identity.



Second, there is increasing number of urban middle-class Malay Muslims who no longer rely on government assistance and who do not view Islam from an ethnicised perspective. In the past, generally, Malay Muslim organisations were not keen to preach Islam to non-Muslim Chinese. Certain groups were worried that when a Chinese converts to Islam, he or she can then obtain Bumiputera status and enjoy the extensive economic benefits associated with the status (which, in reality, is not always the case). These groups also viewed Islam as their core identity marker, hence if a Chinese becomes a Muslim, he or she should also become a Malay. However, such perceptions have diminished in these recent years. Today, many middle-class Malay Muslims are well educated and do not depend on government assistance to make ends meet. They do not see Islam as a “Malay religion”, but a religion for all mankind. They state that Islam teaches Muslims against asabiyah (clanism/tribalism). They refer to Quranic verses and Hadith texts to highlight the universality of Islam.



Islam is highly controlled by the state in Malaysia. Some religious authorities even regulate the mosque architecture. Although there is not much public resistance towards these various forms of religious control, there are growing demands for diversity within Islamic expressions among urban Muslim youth. They do not want to see all the mosques built in similar pan-Islamic architecture, thus they support the construction of Chinese-style mosques. They do not want to just eat Malay food, thus they visit Chinese halal restaurants. However, it is uncertain whether this support for diverse cultural expressions of Islam will also lead to the greater pluralisation of Islamic discourses.



Certainly, cultural dakwah is a means for Malay Muslim organisations to expand their “faith market” beyond their own ethnic group. Perhaps, it is also a reaction to the perceived threat of “Christianisation” among Malay Muslims. In the last few years, some religious authorities have warned Muslims against the wave of “Christianisation”. In 2012, the Selangor Religious Department (JAIS, Jabatan Agama Islam Selangor) even raided a church activity, which allegedly attempted to convert some Malay Muslims to Christianity. At the same time, some religious authorities have begun to sponsor the establishment of Chinese-style mosques and the celebration of Chinese New Year as a way to disseminate Islamic messages to non-Muslim Chinese.



In Malaysia today, we are witnessing not only the emergence of “cultural dakwah”, but also “political dakwah”, “street dakwah”, “digital dakwah”, “food dakwah” and so on. Recently, the Islamist party, PAS, has put focus not on its “Islamic state” agenda, but on a “welfare state”, together with the slogan, “PAS for All” to broaden its electoral support. In the last election, for the first time, there were non-Muslim candidates running under the PAS banner. There is also an increasing support of non-Muslims towards the Islamist party. During the last election campaign, many non-Muslim Chinese publicly campaigned for PAS to the extent that some even put up the PAS logo as the display picture of their Facebook pages. Several PAS strategists welcomed this support of non-Muslims and see this as a form of “political dakwah”, which means spreading the Islamic messages through political engagement.



In the last 10 years, there has also been a mushrooming of Chinese halal restaurants in Malaysia. Mohammad Chan Halal Restaurant and Sharin Low Seafood Restaurant are the two most successful cases. Both Mohammad Chan and Sharin Low do not see contradictions between making profit and preaching Islam. Low notes that he “berniaga sambil beribadah” (does business while worshipping). All these dakwah methods share similar criteria — indirect, friendly and adaptive. Such attempts certainly could improve the perceptions of non-Muslims towards Islam, yet it is uncertain whether these efforts will convince more non-Muslims to become Muslim.



Amidst the concern of an increasingly puritan Islam or “Arabisation of Islam” that is hostile to ethnic traditions, “cultural dakwah” which promotes hybrid forms of Islamic manifestation reaffirms the cultural inclusivity of Islam in Malaysia. Indeed, the successful stories of Chinese-style mosques, halal restaurants and Chinese New Year celebrations show that many Malay Muslims no longer equal Islam to a Malay religion. There are also various transnational dimensions of “cultural dakwah”, such as building mosques with reference to the design of old mosques in mainland China, and inviting a Hui Muslim from China to become an imam in Malaysia.



The promoters of “cultural dakwah” differentiate “ethnic practices” from “religious ritual” to preach Islam by using Chinese cultural approaches. By doing so, they make Islam appear more universal and inclusive. However, such “culture-religion” distinction has limitations and can be problematic, especially when it comes to defending contentious practices. For example, the notion of a “culture-religion” distinction might be convincing enough to justify the Chinese New Year “cultural” celebration, yet it is inadequate to defend Muslims practising yoga (which some Islamic authorities in Malaysia deem to contain Hindu elements and are therefore un-Islamic), and to protect the rights of Christians to use the term “Allah” in the Bible. In other words, while many promoters of “cultural dakwah” accept cultural diversity, provided it falls within specified “orthodox” boundaries, yet they might hesitate to cross religious boundaries, observe non-Islamic rituals and endorse alternative interpretations of Islam. — New Mandala



* Hew Wai Weng is a research fellow at Zentrum Moderner Orient, Berlin.



* This is the personal opinion of the writer or publication and does not necessarily represent the views of The Malay Mail Online. 


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Universalising Islam in Malaysia — Hew Wai Weng

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja

Tuesday, December 25, 2012

Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

JAKARTA – Puji Tuhan. Malam Natal di seluruh Indonesia berjalan damai dan aman. Pantauan posko operasi Lilin Mabes Polri menyebutkan, secara umum tidak ada gangguan keamanan di malam yang dikuduskan umat Kristiani itu.
   
Kapolri Jenderal Timur Pradopo bersama jajarannya tadi  mengunjungi sejumlah gereja di Jakarta untuk meninjau pengamanan yang dilakukan anak buahnya. ”Kehadiran saya untuk melihat adik adik mengamankan ibadah di  Jakarta,” ujar Timur di gereja Katedral Jakarta tadi malam (24/12).  

Secara umum menurut Timur, seluruh wilayah Jakarta malam ini aman dan seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan khidmat. Selain Jakarta, secara keseluruhan kondisi malam Natal di seluruh Indonesia juga berjalan dengan aman dan tertib.  ”Laporan dari daerah semuanya kondusif. Ini kita syukuri, alhamdulillah,” kata alumnus kpol 1978 itu. 

Titik pengamanan disesuaikan dengan kondisi. Jumlah personel di masing-masing provinsi berbeda-beda. ”Kalau untuk daerah, Pemda sudah menyiapkan untuk mengamankan kegiatan agama,” katanya.

Khusus di Jakarta, dikerahkan 5.992 personel untuk menjaga 16 ribu gereja di Jakarta. Aparat tersebut adalah aparat gabungan dari satuan Polri, TNI, Satpol PP dan Dishub Jakarta.

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menambahkan, pengamanan akan berlangsung terus sampai awal 2013. ”Polri terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan adanya kerawanan, termasuk terorisme,” katanya.
Pengerahan pasukan Brimob, Densus dan intelijen dilakukan secara terkoordinasi. ”Tentu, jumlah dan plottingnya disesuaikan dengan analisa situasi,” katanya.

Secara terpisah, sumber Jawa Pos di lingkungan anti teror menyebutkan hingga tadi malam, kesiapsiagaan terhadap aksi terorisme sangat tinggi. ”Berbagai data intelijen yang masuk kami evaluasi dan kami ukur kadar akurasinya,” katanya.

Tren ancaman sebenarnya terbaca sejak dua pekan lalu. Saat penangkapan tersangka terorisme Roki Aprisdianto di madiun, Densus 88 menemukan beberapa ketarangan yang cukup mengejutkan. Namun, penyidik ini menolak menjelaskan secara detail. ”Yang jelas, kerawanan di Poso juga kami ukur. Itu bisa saja pengalihan strategi agar konsentrasi Densus kesana saja. Kami tidak boleh terkecoh,” katanya.
  
Menteri Agama Minta Masyarakat Tetap Akur

Di bagian lain, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menghimbau seluruh masyarakat Indonesia menyambut hari Natal 2012 dengan hikmat. ’’Harus tetap akur,’’ katanya usai pembukaan Konferensi Internasional tentang Fatwa di Jakarta kemarin (24/12).
 
Setiap perayaan natal, atau hari besar keagamaan non-Islam lainnya, selalu memunculkan persoalan. Yakni, sempat muncul fatwa jika umat muslim diharamkan mengucapkan selamat natal atau hari besar agama non-Islam lainnya. Dari kecenderungan ini, menteri yang akrab disapa SDA itu mengatakan tidak perlu dipersoalkan.

’’Pemerinta h nyatakan umat muslim boleh mengucapkan selamat natal kepada umar yang merayakannya,’’ kata SDA. Bahkan dia mengatakan akan mengikuti perayaan natal nasional yang rencananya digelar 27 Desember nanti. ’’Dalam momen perayaan natal nasional itu saya datang dan mengenakan kopyah,’’ kata dia lantas tertawa.

SDA mengatakan jika memperdebatkan fatwa yang mengharamkan umat muslim mengucapkan selamat natal tidak relevan lagi dengan semangat kebersamaan. Dia mengatakan tidak menjadi persoalan jika ada umat muslim yang mengucapkan selamat natal bahkan ikut merayakan natal.

’’Yang penting keteguhan imannya sebagai seorang muslim tetap terjaga,’’ tandas menteri yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Selain meminta masyarakat menjaga solidaritas menyambut natal, SDA secara resmi juga mewakili unsur pemerintah juga mengucapkan selamat natal kepada umat yang merayakannya. Dia berharap perayaan natal ini bisa berlangsung dengan hikmat dan aman.

SDA juga mengecam jika ada pihak-pihak yang ingin mengusik ketenangan natal tahun ini. Jika kebetulan yang mengusik ini adalah umat muslim, dia mengatakan bisa memperburuk citra umat muslim di mata dunia. SDA mengatakan jika saat ini pihaknya sedang membangun citra positif umat muslim. Terutama  umat muslim yang ada di Indonesia.

’’Umat muslim di Indonesia itu bukan umat muslim yang suka kekerasan atau perang,’’ katanya. Sebaliknya, umat muslim di Indonesia adalah umat yang ramah dan toleransi. Entah itu kepada sesama muslim atau dengan umat agama lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono yang mendampingi SDA juga menyampaikan selamat natal. ’’Tidak perlu diperdebatkan halal-haram mengucapkan selamat natal,’’ kata dia. Agung juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat natal 2013 kepada masyarakat yang merayakannya. (rdl/ wan)

Article source: http://nasional.inilah.com/read/detail/1940569/pks-mesin-partai-itu-kader-bukan-artis


Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun