Showing posts sorted by relevance for query Oleh. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Oleh. Sort by date Show all posts

Monday, June 3, 2013

Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Home Sejarah



Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)





 

Perjalanan haji yang terbesar dilakukan oleh Mansa Musa (1312-1337)



 




Selasa, 04 Juni 2013


oleh: Alwi Alatas


REPUBLIK Mali di Afrika Barat meraih kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1960. Negeri dengan jumlah penduduk mendekati 15 juta orang itu mayoritasnya beragama Islam. Mata pencaharian utama penduduknya adalah dalam bidang pertanian dan perikanan. Garam dan emas merupakan sumber daya alam utama yang ada di negeri itu. Sebenarnya Mali merupakan negeri penghasil emas ketiga terbesar di Afrika. Tetapi separuh penduduknya hidup dengan penghasilan kurang dari 1,25 Dollar Amerika per hari (https://en.wikipedia.org/wiki/Mali). Memiliki kekayaan tambang tetapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan, Mali menampilkan ironi yang kurang lebih sama dengan Indonesia dan beberapa negeri Muslim lainnya.


Terjadinya perpecahan di negeri itu baru-baru ini serta masuknya intervensi asing (Prancis) sejak Januari 2013 tentu membuat keadaan masyarakat Mali menjadi semakin susah. Boleh jadi adanya sumber daya alam, serta upaya mempertahankan hegemoni atas bekas daerah jajahan, merupakan alasan sebenarnya dari kedatangan pasukan Prancis ke negara itu, walaupun yang dijadikan pretext oleh Prancis untuk melakukan invasi adalah munculnya kelompok Islam militan di sana. Kendati menuai protes dari kelompok kiri di Prancis dan dianggap memiliki tujuan tidak jelas, dewan nasional Prancis memutuskan untuk memperpanjang keberadaan militer Prancis di Mali (http://www.globalresearch.ca/mali-under-french-military-occupation/5334200).


Keadaannya sungguh sangat berbeda pada tujuh abad sebelumnya. Seperti yang ditulis oleh A.J.H. Goodwin (1957: 110): “Kerajaan Ghana-Melle (Mali, pen.) pada abad keempat belas jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, jauh lebih terorganisir, dan bahkan jauh lebih melek huruf dibandingkan kekuasaan Kristen yang mana pun di Eropa.” Berbicara tentang Mali, Islam, dan emas pada abad pertengahan, ada hal menarik dari sejarah negeri itu yang akan kita bahas berikut ini.


Dinasti Lion King


Pada abad ke-13 dan 14 di wilayah ini pernah berdiri Kerajaan Mali. Informasi tentang kerajaan ini disebutkan dalam cerita lisan setempat yang biasanya bercampur dengan legenda. Selain itu, ia bisa ditemukan juga dalam kisah perjalanan Ibnu Batutah serta beberapa kitab sejarah, terutama yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dan Shihabuddin al-Umari.


Kerajaan Mali didirikan oleh Sun-Djata Keita (1217-1255) atau Sundiata. Ia berasal dari suku Mandinka (Malinke) yang banyak menetap di Mali dan wilayah sekitarnya. Dalam Tarikh Ibn Khaldun, jilid 6 (2000: 266-7) tokoh ini disebut dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu Mari-Djata, yang bermakna lion king. Dalam bahasa setempat, Mari bermakna ‘raja’ dan Djata bermakna ‘singa’ (al-asad). Tokoh ini berhasil menyatukan bangsanya yang sempat dikuasai oleh Kerajaan Soso (Susu). Ia mengalahkan dan menaklukkan kerajaan itu serta mendirikan Kerajaan Mali. Ia memerintah selama 25 tahun dan memakai gelar Mansa (Raja diraja) di depan namanya, begitu juga dengan raja-raja berikutnya.


Islam sudah mulai berkembang di wilayah ini pada abad ke-11 dan 12. Al-Bakri, seorang sejarawan yang hidup pada abad ke-11 menyebutkan bahwa pada masa itu sudah ada satu kerajaan kecil bernama Malal yang penguasanya masuk Islam setelah kedatangan seorang Muslim ke wilayah itu saat terjadi kekeringan. Muslim tadi melakukan shalat Istisqa (shalat minta hujan) dan dengan izin Allah wilayah itu selamat dari kekeringan.


Ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Soso sebenarnya merupakan sebuah reaksi atas perkembangan Islam di wilayah itu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Sun-Djata berhasil menumbangkan kerajaan itu dan mendirikan kerajaan Mali. Kerajaan baru yang didirikan oleh Sun-Djata ini terus berekspansi dan berkembang hingga mencakup wilayah Senegal, Niger, dan Gambia. Ketika kerajaan ini berdiri, Islam sedang tumbuh dengan cukup pesat di Afrika Barat. Aktifitas perdagangan lintas Sahara yang didominasi para pedagang Muslim pada gilirannya menghubungkan Mali dengan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara. Hal ini lantas mendorong para penguasa Mali menjalankan kebijakan yang lebih memihak pada Islam (Bosworth, 1991: 257-8).


N. Levtzion dalam artikelnya, “The Thirteenth- and Forteenth- Century Kings of Mali” (1963), telah menyusun daftar raja-raja Mali berikut perkiraan masa pemerintahan masing-masing dengan merujuk pada Tarikh Ibn Khaldun dan beberapa sumber lainnya. Raja Muslim pertama di wilayah Mali yang disebut oleh Ibnu Khaldun adalah Barmandana. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup untuk mengetahui apakah tokoh ini sama dengan raja Malal yang disebutkan oleh al-Bakri. Selain itu juga tidak diketahui apa hubungan antara Barmandana dengan raja berikutnya yang lebih dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Mali, yaitu Sun-Djata (Mari-Djata) yang memerintah selama 25 tahun.


Mansa (raja) berikutnya adalah Uli yang merupakan anak Sun-Djata. Masa pemerintahannya beririsan dengan masa pemerintahan Baybars (1260-1277) di Mesir. Dua raja berikutnya adalah anak-anak Sun-Djata lainnya, yaitu Wati dan Khalifa. Yang terakhir ini digambarkan sebagai penguasa yang kejam sehingga akhirnya dijatuhkan dari kekuasaannya. Ia digantikan oleh keponakannya, Abu Bakar, yang merupakan cucu Sun-Djata dari seorang anak perempuannya. Abu Bakar lalu digantikan oleh seorang bernama Sakura yang memerintah pada pergantian abad ke-13. Sakura adalah seorang budak yang dibebaskan (freed slave) yang rupaya muncul sebagai orang kuat di istana. Tapi ia mati dibunuh dan kemudian digantikan oleh Qu yang merupakan anak Uli dan cucu dari Sun-Djata. Setelah itu Qu digantikan oleh anaknya Muhammad yang memerintah hingga sekitar tahun 1312.


Sun-Djata mempunyai seorang saudara lelaki, Abu Bakar, yang membantunya dalam mendirikan kerajaan Mali. Pemerintahan Mali setelah kepemimpinan Mansa Muhammad (w. 1312) berpindah kepada keturunan Abu Bakar ini. Yang pertama menjadi raja dari jalur ini adalah Mansa Musa (1312-1337) yang merupakan cucu Abu Bakar. Ia adalah raja terbesar yang pernah memerintah Kerajaan Mali. Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bernama Magha, yang menurut lisan setempat bermakna Muhammad. Setelah memerintah selama empat tahun, kepemimpinan diteruskan oleh Sulaiman, saudara Musa, yang memerintah selama 24 tahun. Selepas itu masih ada beberapa raja Mali lainnya, tetapi keadaannya sudah banyak menurun, karena sering terjadi intrik dan konflik di dalam istana.


Kerajaan Mali masih bertahan hingga abad ke-15 dan 16, tetapi hanya dalam bentuk kerajaan lokal, bukan sebagai imperium sebagaimana sebelumnya. Ia semakin tenggelam dengan masuknya penjajah Eropa pada masa-masa setelahnya.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib”




Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/asian-finance-bank-likely-target-as-islamic-mega-lender-say-sources


Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Thursday, May 16, 2013

Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Home Tsaqafah



Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak





 

Al-Kindi: “ilmuan Muslim tidak menerima bulat-bulat ilmu asing” (foto: ilustrasi)



 




Jum’at, 17 Mei 2013


Oleh: Edi Kurniawan


BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.


Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.


Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.


Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.


Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.


Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.


Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka  mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)


Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)


Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.


Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.


Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.


Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.


Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)


Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.


Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan  kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).


Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.


Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.


“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).


Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.


Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.


Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.*


Penulis adalah mahasiswa master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi


Red: Cholis Akbar


Article source: http://travel.detik.com/read/2013/01/03/095342/2131901/1308/inilah-5-masjid-bersejarah-di-singapura


Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Monday, June 17, 2013

Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Home Sejarah



Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan Islam





 

Kaum Alawi rayakan festival di Banyas, Suriah, selama Perang Dunia II (foto: Wikipedia)



 




Selasa, 18 Juni 2013


Oleh: Artawijaya


BAGHDAD baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.


Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.


Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.


Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama  dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)


Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.


Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”


Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil  tunduk pada kekuasaan Tartar.


Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”.  Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.


Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”


Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut.


Padahal  Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.


Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)


Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu  Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai  Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”


Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.


Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)


Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina.


Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin.


Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak)  kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.


Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)


Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258


Pengkhianatan Selanjutnya


Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan  Khilafah Utsmaniyah pada 1924.


Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.


Sebuah dokumen luar negeri Prancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang di antaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad.


Surat tersebut berisi permohonan agar Prancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Prancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:


 
“Presiden Prancis yang terhormat,


Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.


Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.


Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.


Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Prancis.”


Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Prancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)


Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle,  dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.


Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”


Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/559376/ikatan-pelajar-nu-kecam-penyerangan-pesantren-al-idrisiyyah


Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Saturday, August 3, 2013

Syiah sesat lagi menyesatkan

ISLAM agama ilmu. Islam juga memerangi kejahilan. Oleh itu, umat Islam diperintahkan agar mencari ilmu. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bermaksud: “Menuntut ilmu diwajibkan kepada setiap muslim”.


Daripada ayat al-Quran yang pertama diturunkan iaitu Iqra’, Allah SWT menghendaki manusia membaca dan pembacaan itu merupakan pintu kepada memperolehi ilmu.


Al-Quran itu sendiri merupakan kitab ilmu dan al-Quran telah menjadikan ilmu sebagai kayu pengukur kepada kelebihan seseorang manusia di atas dunia ini.


Justeru ketika menilai sesuatu pegangan dan aliran mestilah daripada perspektif ilmu agar tidak terpedaya dengan syaitan. Sememangnya jika dilihat dari sudut luaran, golongan Syiah agak ke hadapan daripada pelbagai sudut seperti ketenteraan, disiplin, penampilan dan sebagainya.


Apatah lagi setelah berlakunya Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang menyerlahkan lagi kewibawaan Iran mendokong dan menyebar fahaman Syiah, namun semua itu tidak boleh dijadikan ukuran untuk terus menerima pegangan dan aliran mereka.


Banyak golongan dan ajaran sesat yang berjaya menzahirkan penampilan hebat, namun akhirnya apabila ditimbang dari sudut ilmu, amat mengecewakan bahkan termasuk dalam ajaran yang menyeleweng. Jika persepsi menjadi ukuran, sudah tentu masyarakat akan mudah terikut dengan akidah dan pegangan orang Jepun.


Orang Jepun masyhur dengan semangat kerja mereka, disiplin yang tinggi, bahkan amalan kebersihan yang sangat dipuji sehinggakan ada menyatakan bahawa seseorang itu boleh tidur dalam tandas di Jepun lantaran tandas mereka yang sangat bersih!


Namun, apakah kehebatan dan penampilan masyarakat Jepun itu mewajarkan kita mengamal dan menganut agama Shinto mereka yang syirik itu? Sudah tentu tidak! Oleh yang demikian, ilmu hendaklah dijadikan suatu ukuran untuk menerima sesuatu pegangan dan ajaran.


Melalui kajian ilmu, didapati Syiah merupakan golongan yang sesat lagi menyesatkan. Mereka tidak termasuk dalam golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Pegangan mereka juga dilihat bercanggah dengan al-Quran dan hadis Nabi SAW.


Terdapat tiga kategori golongan Syiah iaitu: Syiah mughaliyah (pelampau), Syiah Rafidah (Imamiyah) dan Syiah Mu’tadilah (Zaidiyah).


Daripada tiga golongan Syiah ini, Syiah Rafidah atau Imamiyah merupakan golongan yang paling dominan dan berkembang dalam dunia pada hari ini. Mereka merupakan majoriti Syiah yang mengatakan imamnya Ali adalah dengan nas, Ali telah menaskan imamah anaknya Hassan manakala Hassan telah menaskan imamah saudaranya Hussein.


Begitulah seterusnya imamah itu berpindah dengan nas kepada anak-anak Hussein sehinggalah kepada Muhammad bin Hassan al-Askari yang pada pendapat mereka dia ghaib semasa kecil dan akan muncul sebagai Imam Mahdi pada akhir zaman dengan membawa kebenaran dan keadilan.


Mereka dikenali dengan Syiah Imamiyah kerana pegangan mereka kepada 12 imam yang dianggap sebagai maksum (bebas daripada segala dosa dan kesalahan).


Mereka ini juga dinamakan golongan Rafidah kerana mereka menolak imamah Abu Bakar, Umar al-Khattab dan Uthman Affan dengan hujah bahawa Nabi Muhammad SAW mewasiatkan kepada Ali sebagai khalifah selepasnya.


Namun wasiat ini pada dakwaan Syiah telah diketepikan oleh kebanyakan sahabat selepas kewafatan Rasulullah SAW. Oleh yang demikian mereka mengkafirkan para sahabat Nabi SAW termasuk sahabat-sahabat yang rapat dengan Rasulullah SAW seperti Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan selainnya.


Jelasnya, Syiah bukanlah suatu ajaran yang boleh diikuti, bahkan ia merupakan ajaran sesat yang diasaskan oleh seorang Yahudi dari Yemen yang bernama Abdullah bin Saba’.


Dia merupakan bangsa Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam. Dia pandai mengada-adakan cerita palsu dan bijak menipu orang. Dia juga digelar Ibnu Sauda’.


Setelah Abdullah bin Saba’ memeluk Islam secara berpura-pura, dialah orang yang mula-mula mengisytiharkan kewajipan melantik Ali sebagai Imam dan menyatakan secara terbuka penentangannya terhadap musuh-musuh Ali, bahkan mengkafirkan mereka.


Bermula dari sinilah, dapat dilihat dengan jelas bahawa ajaran Syiah Rafidah terpengaruh dengan agama Yahudi. Syiah merupakan ajaran sesat yang paling lama dapat bertahan sehingga ke hari ini. Mereka yang terpedaya dengan ajaran Syiah telah terperangkap dengan tipu daya syaitan yang sememangnya sentiasa berusaha untuk menyesatkan umat Islam daripada persada kebenaran.


Syiah dan al-Quran


Bahaya Syiah jelas apabila melihat kepada pandangan mereka terhadap kitab suci al-Quran. Syiah tidak menganggap kitab suci al-Quran adalah kitab yang terpelihara. Bahkan mereka beranggapan telah berlaku penyelewengan pada ayat-ayat al-Quran.


Buktinya adalah nas yang dikemukakan oleh al-Kulaini iaitu ulama hadis Syiah dalam kitab hadisnya al-Kafi dengan menyatakan bahawa: “Daripada Hisham bin Salim, daripada Abi Abdillah, a.s berkata, al-Quran yang didatangkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak 17,000 ayat”.


Pegangan golongan Syiah ini jelas menunjukkan bahawa mereka beranggapan al-Quran yang ada pada umat Islam hari ini masih tidak sempurna kerana ayat al-Quran yang ada hanya berjumlah 6,236 ayat sahaja, sedangkan mereka beranggapan bahawa al-Quran sebenar iaitu yang dikenali sebagai mushaf Fatimah mengandungi 17,000 ayat.


Ini bermakna dua pertiga ayat al-Quran sudah diselewengkan. Pegangan Syiah ini jelas sesat kerana Allah SWT telah menjamin kesucian al-Quran. Kitab suci itu terpelihara sehingga hari kiamat, tidak akan berlaku penyelewengan terhadap al-Quran walau satu huruf sekalipun. Firman Allah SWT dalam surah al-Hijr ayat 9 bermaksud: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya.


Allah juga berfirman dalam Surah Fussilat ayat 41-42 yang bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar terhadap al-Quran ketika sampainya kepada mereka, (akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi); sedang al-Quran itu, demi sesungguhnya sebuah Kitab suci yang tidak dapat ditandingi, yang tidak dapat didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya; ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Terpuji.


Syiah dan Hadis


Golongan Syiah menolak hadis-hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari, sahih Muslim, sunan al-Tirmidzi dan kitab-kitab hadis ahli sunah yang lain. Mereka menolak mentah-mentah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah SAW.


Bagi mereka, kitab hadis yang menjadi pegangan mereka ialah al-Kafi tulisan al-Kulaini, yang diriwayatkan daripada Imam Maksum.


Mereka juga menganggap para sahabat menjadi kufur dan murtad setelah kewafatan Rasulullah SAW. Al-Kulaini yang dianggap oleh golongan Syiah setaraf dengan Imam Bukhari meriwayatkan bahawa para sahabat telah murtad sepeninggalan Rasulullah SAW kecuali tiga orang daripada mereka iaitu Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.


Ini jelas menunjukkan kebiadaban puak Syiah kerana perbuatan mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad SAW sedangkan para sahabat mendapat tarbiah secara langsung daripada baginda. Secara tidak langsungnya, puak Syiah juga telah memperkecilkan serta menghina Rasulullah SAW.


Golongan Syiah juga sangat biadab terhadap para isteri Rasulullah SAW dengan mengatakan bahawa Saidatina Aisyah dan Saidatina Hafsah sebagai munafik dan kafir. Mereka mendatangkan riwayat palsu yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafsahlah yang telah meracuni Rasulullah SAW sehingga mengakibatkan kewafatan baginda.


Syiah dan Taqiyah


Sebenarnya konsep taqiyah itu ialah konsep yang berasaskan kepada perbuatan berdusta, berbohong dan berpura-pura. Namun, konsep ini telah dijadikan asas oleh golongan Syiah dalam memartabatkan keimanan mereka kepada Allah SWT.


Disebabkan sikap taqiyah ini, para ulama tidak mahu menerima riwayat yang dibawa oleh golongan Syiah ekoran pembohongan yang dilakukan oleh mereka.


Ajaran Syiah itu sendiri sebenarnya ditegakkan di atas dasar taqiyah. Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitab beliau al-Kafi: “Sesungguhnya kamu berada di atas agama yang sesiapa menyembunyikannya akan dimuliakan Allah dan sesiapa menyebarkannya akan dihina oleh Allah”.



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/07/02/mpadoi-kepincut-shalat-lima-waktu-mary-qatarneh-memeluk-islam


Syiah sesat lagi menyesatkan

Friday, November 22, 2013

Tegas tangani ajaran sesat

KEWUJUDAN kumpulan ajaran sesat di negara ini bukanlah perkara baharu kerana masalah berkenaan telah lama berlaku sejak sebelum merdeka dengan kemasukan pengaruh dari luar seperti Qadiani dan Bahai.


Kumpulan ini dikategorikan sebagai pengamal ajaran sesat kerana berpegang kepada fahaman yang menyimpang daripada Islam.


Pengikutnya menganggap setiap perkataan yang keluar daripada mulut pemimpin mereka sebagai benar walaupun tidak masuk akal.


Qadiani misalnya yang diasaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India mendakwa Nabi Isa meninggal dunia dan dimakamkan di Srinagar, India.


Fahaman yang turut dikenali dengan nama Ahmadiyah di Indonesia dibawa masuk ke negara ini pada 1949 oleh Maulana Muhammad Sadiq Barakatullah.


Mereka beriktikad bahawa Mirza Ghulam adalah Imam Mahdi, nabi dan jelmaan Krisna (tuhan mengikut kepercayaan Hindu).


Bahai yang diasaskan oleh beberapa individu termasuk Mirza Ali Muhammad di Iran pula dibawa masuk ke negara ini oleh kartunis kaum Cina, Yan Kee Leong pada 1953.


Ajaran Bahai disebarkan dalam kalangan Orang Asli dan juga kepada penduduk di Seremban, bandar Melaka, Kuala Lumpur dan Sarawak.


Kumpulan ini beriktikad bahawa kitab agama mereka iaitu Al-Bayan memansuhkan semua kitab suci agama lain, mendakwa terdapat kod 19 dalam al-Quran, berpuasa selama 19 hari, solat sebanyak sembilan rakaat dan dikerjakan tiga kali sehari serta berwuduk dengan air mawar.


Dalam pada itu, antara kumpulan ajaran sesat tertua yang berasal dari dalam negara adalah ajaran Taslim yang diasaskan oleh Muhammad Syafie atau lebih dikenali dengan panggilan Haji Muhammad Matahari yang berasal dari Sumatera, Indonesia.


Ajaran ini mula dikesan sekitar 1870-an di Kampung Seronok, Bayan Lepas, Pulau Pinang dan kemudiannya berkembang ke Kampung Tasik, Segamat dan Kampung Telok Sari, Mersing, Johor pada 1940-an.


Ciri-ciri kesesatan ajaran Taslim yang diamalkan secara rahsia sehingga sukar dikesan pihak berkuasa adalah beriktikad bahawa Allah berada dalam diri setiap manusia manakala solat lima waktu dan berpuasa boleh dikerjakan secara niat sahaja.


Kumpulan berkenaan turut mengharuskan perzinaan melalui konsep nikah batin bagi menarik pengikut.


Selepas itu, muncul banyak lagi kumpulan ajaran sesat seperti Nasrul Haq, Ilmu Tajalli Ahmad Laksamana, Hassan Anak Rimau, Tarikat Aurad Ismailiah dan Kumpulan Anti Hadis.


Antara yang mendapat publisiti meluas adalah kumpulan yang diketuai oleh Ayah Pin atau nama sebenarnya Ariffin Mohamad, yang mengaku dirinya adalah tuhan di perkampungan ‘Kerajaan Langit’ di Batu 13, Hulu Besut, Terengganu.


Antara fahaman kumpulan berkenaan adalah sembahyang lima waktu boleh digantikan dengan berzikir serta kiamat tidak akan berlaku kerana Allah tidak bodoh menjadikan alam dan merosakkannya kembali.


Pengaruh kumpulan itu mula lemah setelah pihak berkuasa merobohkan replika cerek dan payung gergasi serta dewan perhimpunan di perkampungan itu pada 2005 serta mendakwa pengikutnya di mahkamah. Ayah Pin pula telah menghilangkan diri bersama-sama empat isterinya.


Terdapat juga kumpulan ajaran sesat yang mengambil masa lama untuk dibanteras kerana mempunyai latar belakang ekonomi kukuh, beroperasi atas nama syarikat dan bijak menggunakan pelbagai kaedah bagi menyebarkan dakyah.


Antaranya, adalah Al-Arqam yang diasaskan oleh Ashaari Muhammad yang juga dikenali sebagai Jamaah Aurad Muhammadiah pada 1968. Ketika waktu kemuncaknya, ia dikatakan mempunyai 6,000 pengikut tegar.


Ajaran ini difatwakan sesat oleh Majlis Fatwa Kebangsaan pada 1994 kerana pengikutnya percaya pengasas Aurad Muhammadiah, Syeikh Muhammad As-Suhaimi yang telah meninggal dunia pada 1925 tidak mati, sebaliknya masih hidup.


Mereka percaya Syeikh Muhammad adalah Imam Mahdi yang ghaib buat seketika sebelum kembali untuk memimpin umat Islam dan beliau juga dikatakan boleh datang menolong apabila diseru namanya.


Setelah kematian Ashaari pada 2010, balu beliau, Hatijah Aam atau lebih dikenali dengan gelaran Ummu Jah cuba meluaskan pengaruh kumpulan itu ke luar negara khususnya di Mekah dengan membuka perniagaan restoran dan rumah rehat.


Bagaimanapun, pada 8 November lalu, Hatijah telah melafazkan taubat nasuha bersama-sama 400 pengikutnya dengan janji tidak mengulangi perbuatan mengamalkan ajaran Aurad Muhammadiah.


Modus operandi sama digunakan oleh kumpulan ajaran sesat Tuhan Harun yang yang diasaskan oleh Harun Mat Saat, 47.


Selain mengaku dirinya adalah tuhan dan Imam Mahdi, Harun turut mendakwa berkuasa mengalih posisi bulan, bintang dan matahari.


Kumpulan ajaran sesat berkenaan memperoleh dana dengan menganjurkan skim cepat kaya dan mengutip deposit secara haram yang dianggarkan sebanyak RM200 juta daripada orang ramai.


Mereka juga pernah menganjurkan konsert rock yang disertai ramai artis terkenal tempatan pada 2009 dan menerbitkan album lagu berunsur dakwah bagi mengembangkan pengaruh.


Sementara itu, yang cukup membimbangkan adalah apabila kumpulan ajaran sesat terbabit turut berubah menjadi militan.


Dalam sejarah Malaysia, antara kumpulan ajaran sesat bercorak militan adalah Kumpulan Mohd. Nasir Ismail dari Kemboja yang mengaku dirinya Imam Mahdi dan mendakwa tidak perlu solat Jumaat.


Kemuncak aktiviti kumpulan itu adalah apabila Mohd. Nasir dan 14 pengikutnya yang memakai jubah putih menyerang balai polis, pejabat kadi dan mahkamah rendah di Batu Pahat dengan menggunakan pedang pada 1980.


Dalam kejadian itu, 23 orang termasuk 14 anggota polis cedera parah manakala lapan pengikut kumpulan itu ditembak mati.


Satu lagi contoh kumpulan ajaran sesat bercorak sedemikian adalah Al-Maunah Malaysia yang diketuai oleh Mohammad Amin Razali.


Antara fahaman kumpulan itu adalah orang telah mati boleh menjadi perantara, percaya kepada konsep angka-angka tertentu pada ayat-ayat al-Quran dan mempercayai tangkal boleh memberi kesan.


Pada tahun 2000, kumpulan berkenaan telah merompak lebih 100 senjata api, 9,000 peluru, 26 benet dan 60 bom tangan dari Kem Batalion 304 Rejimen Askar Wataniah di Gerik.


Peristiwa itu berakhir apabila 27 anggota kumpulan tersebut termasuk 15 yang merompak senjata api berkenaan menyerah diri kepada pasukan keselamatan di tempat persembunyian di Hutan Bukit Jenalek, Sauk, Perak.



Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/745246/fpi-pernikahan-jonas-rivanno-asmirandah-haram


Tegas tangani ajaran sesat

Wednesday, September 25, 2013

Sepak Bola dan Sujud Syukur

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Imron Baehaqi


Cabang olahraga yang paling digandrungi masyarakat dunia adalah sepak bola. Sekalipun tidak mahir bermain bola, bahkan menendangnya pun kaku atau sama sekali tidak bisa, tetapi menontonnya hobi luar biasa. Begitulah faktanya.


Ada sebuah fenomena menarik dari dunia bola, yaitu pada saat terciptanya gol kemenangan yang disertai sujud syukur. Seperti dilakukan oleh pemain-pemain Muslim kelas dunia, salah satunya adalah Demba Ba.


Bintang pemain sepakbola yang sekarang mengabdi di klub Chelsea Inggris ini selalu melakukan aksi sujud syukur setiap mencetak gol. Sebuah aksi yang berani sekaligus mengharumkan Islam di tengah kehidupan Inggris yang mayoritas non Muslim.


Aksi sujud syukur yang dilakukan di tengah lapangan tersebut menunjukkan adegan spiritual dari sosok pemain yang berkepribadian Muslim. Meskipun berada di antara suasana gemuruh dan pujian para suporternya, Demba Ba masih ingat Allah dengan menjatuhkan keningnya ke tanah. Sujud syukur.


Konon khabarnya, pemain bola asal Senegal ini jauh dari kebiasaan minuman alkohol, menjaga shalat lima waktu dan tetap berpuasa di bulan Ramadhan. Sosok pemain bola yang masih langka dan jarang ditemukan, khususnya di  dunia Eropa yang kehidupan masyarakatnya penuh dengan kebebasan dan materialistik.


Selain itu, ia juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sehingga sesekali ia menyisihkan sebagian gajinya untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin di negaranya.  Kekentalan akidah, kerendahan hati dan kedermawanannya ini sepatutnya menjadi teladan bagi segenap umat Islam, khusunya para pesepakbola Muslim lainnya.
 
Dalam konteks Nasional, terutama di tanah air, aksi sujud syukur yang dilakukan oleh pemain-pemain Muslim kita sering juga dilakukan. Misalnya baru-baru ini, Evan Dimas dan kawan-kawan melakukan sujud syukur karena gol-gol kemenangannya pada saat menghadapi timnas Malaysia dan Timor Leste yang menentukan keberhasilan mereka untuk melaju ke semi final dan final Piala AFF U-19. Dan di babak penentuan yang menegangkan, aksi sujud syukur dilakukan kembali setelah mereka menjadi juara di laga bergengsi Asia itu setelah mengalahkan Timnas Vietnam lewat adu penalti.


Menurut Jumhur atau mayoritas pendapat ulama, sujud syukur adalah sunnah, karena hal tersebut pernah dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan para tabi’in.
Sebagimana diriwayatkan oleh Abu Bakrah, ”Bahwa Nabi Muhammad SAW ketika mendapatkan kabar gembira beliau bersujud karena bersyukur kepada Allah”. (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Turmudzi).


Dan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW melakukan sujud syukur kepada Allah ketika mendengar berita bahwa raja Hamadan masuk Islam.


Perbuatan Nabi Muhammad SAW tersebut kemudian diteladani oleh para sahabat dan tabi’in. Salah satunya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang melakukan aksi sujud syukur ketika mendapat kabar bahwa Musailamah Al-Kadzdzab (nabi palsu) terbunuh oleh pasukan Muslim.


Hakikatnya, pada saat seseorang melakukan sujud syukur dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, pemain bola atau siapa saja, berarti ia telah bertawakal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Pujian, kesyukuran, pensucian dan pengagungan itu diyakininya hanya milik Allah SWT.


Di samping itu, hikmah dan faedah dari sujud syukur adalah dapat melahirkan sifat tawadhu (rendah hati) atau mencegah dan menghilangkan sifat sombong atau takabur pada pelakunya.


Orang yang tawadhu menyadari bahwa apa saja yang dimilikinya, rupa cantik atau tampan, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, kemenangan atau keberhasilan, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya, semuanya itu adalah karunia dari Allah.


Oleh sebab itu, penting kiranya kita membaca dan merenungkan kembali firman Allah SWT berikut ini, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu semua datang dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya kamu meminta pertolongan.” (QS.An-Nahl [16]:53). Wallahu Al-Musta’an.





 


Article source: http://female.kompas.com/read/2012/12/01/11411196/Ingin.Jadi.Model.Berjilbab?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kfmwp


Sepak Bola dan Sujud Syukur

Tuesday, June 18, 2013

Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria


Syria menghadapi arus perubahan musim bunga politik yang sedang berlaku di dunia Arab secara khusus. Tidak boleh dinafikan sedikitpun, kebangkitan yang menggolakkan arus perubahan itu disebabkan oleh tempoh pemerintahan yang lama tanpa kebebasan rakyat.

Pemerintahannya bersifat diktator bertopeng demokrasi, yang menekan rakyat dengan lesen yang diberi oleh kuasa-kuasa besar dunia diatas nama rakan strategik bagi keselamatan Israel yang dilindungi dengan cara paling istemewa, akhirnya tidak mampu membatalkan musim yang bertiup.


Syria mempunyai kedudukan yang agak berbeza dengan negara Arab yang lain, kerana tidak mengiktiraf Israel dan tidak mengadakan hubungan diplomatik dengannya.


Syria juga menjadi pintu keluar bagi negara Iran yang dikepung, dalam masa yang sama mengizinkan buminya menjadi pangkalan bagi gerakan Islam Hamas dan Jihad Islami, serta pangkalan bantuan bagi Hizbullah yang berada di Selatan Lubnan.


Hamas dan Jihad Islami bermazhab Sunni, tidak sama dengan Bashar Assad yang menganut mazhab Alawi. Begitu juga Republik Islam Iran dan Hizbullah yang bermazhab Syiah Imamiyyah yang bertentangan juga dengan mazhab yang dianut oleh Bashar dan keluarganya.


 


Diambil kira juga parti Baath yang menganut ideologi sosialis yang keras sehingga hampir sama dengan negara komunis dan juga berfahaman nasionalis fanatik yang keras terhadap Israel.Semua ini menunjukkan bahawa masing-masing lebih menjadikan rakan strategik bagi menghadapi musuh yang sama iaitu Israel.


Dalam masa yang sama, negara kuasa besar khususnya Amerika yang menjadi rakan strategik Israel akan melindungi negara haram tersebut daripada sebarang gerakan yang dianggap ancaman kepada keselamatan Israel khususnya dalam berdepan dengan Islam.


Kumpulan Hamas, Jihad dan Hizbullah adalah ancaman paling bahaya terhadap Israel dengan bantuan Iran secara terbuka. Ia diumumkan oleh pemimpin utamanya Imam Ali Khamanaei dalam khutbah jumaatnya yang terakhir, diikuti oleh lawatan rasmi ke Iran oleh Ismail Haniyyah, Perdana Menteri Palestin yang tidak diiktiraf oleh Barat dan sekutunya walaupun dipilih secara pilihanraya yang dipantau oleh pertubuhan antarabangsa.  Maka kesemuanya adalah ancaman besar terhadap negara Zionis itu.


Sebelum daripada perkembangan ini, tercetus perang di Selatan Lubnan dan selepasnya serangan terhadap Ghazzah. Kedua peristiwa percubaan Israel ini yang menyerang bagi menghapuskan ancaman terhadap negara haram itu menemui kegagalan yang memalukan.


Percubaannya gagal walaupun dengan bantuan negara-negara rakan Israel dan sokongan terbuka dan tersembunyi oleh negara-negara Arab yang bersahabat dengan Israel.



Kesemua negara Arab dan negara Islam itu menerima konsep Road Map tajaan kuasa besar yang bertanggungjawab menubuhkan Israel. Ia juga ekoran dicetuskan isu ancaman teknologi nuklear Iran, walaupun di atas tujuan perbekalan tenaga, bukannya persenjataan kerana diharamkan oleh agama Islam seperti dinyatakan oleh para pemimpinnya.

Sebaliknya Israel pula telah memiliki senjata nuklear sejak tahun enam puluhan lagi, dengan tidak menandatangani apa-apa perjanjian antarabangsa yang mencegahnya daripada melakukan sesuatu yang mengancam keamanan dan keselamatan dunia.


Sebarang tindakannya yang dikira menceroboh dan mengganas dengan nyata diselamatkan dengan kuasa veto oleh kuasa besar pelindungnya jika ada sebarang keputusan yang tidak berpihak kepadanya. Inilah dia undang-undang rimba yang diamalkan di peringkat antarabangsa iaitu siapa yang kuat dia selamat.


PAS bersama dengan parti Islam di seluruh dunia mengutuk segala kekejaman yang berlaku di Syria terhadap rakyatnya. PAS dan gerakan Islam bersetuju supaya kerajaan Syria menghentikan kekejaman terhadap rakyat.


Kami juga bersetuju supaya Syria didesak dan dipaksa membuat perubahan kepada demokrasi yang sebenar. Namun kami tidak bersetuju jika perubahan yang berlaku kerana hendak menyelamatkan negara haram Israel dan masuk ke dalam agenda Israel dan sekutunya.


Tujuannya bukan menyelamatkan Syria tetapi lebih daripada itu untuk menekan, melemah dan menghapuskan Hamas, Jihad Islami (daripada Sunni) dan Hizbullah serta Iran (daripada Syiah).


Pihak yang melawan kerajaan Syria pula melibatkan kumpulan Islam dan bukan Islam. Mereka dibekal dengan bermacam bantuan termasuk senjata dan ada yang diberi di atas nama Islam dengan agenda menegakkan kerajaan baru yang menyelamatkan Israel melalui gabungan kerjasama kumpulan Islam yang tidak kuat dengan kumpulan sekular yang berpangkalan di negara Barat yang lebih diperkuatkan supaya menguasai gerakan perubahan.


Media Israel melaporkan kenyataan pemimpin kerajaan dan tentera Israel bahawa mereka mahukan perubahan yang bukan berteraskan Islam yang lebih menyelamatkan Israel. Jika tidak maka Bashar Assad perlu diteruskan berkuasa pada tempatnya. Ini kerana perubahan yang memberi kemenangan kepada kumpulan Islam seperti di Mesir, Tunisia dan Libya lebih menjadi ancaman kepada keselamatan Israel.


Usaha mereka bukan sahaja menyekat ancaman terhadap Israel daripada utara dan selatannya, tetapi juga dilakukan bagi menghapuskan kekuatan Iran dan kemajuan teknologinya.


Beberapa bulan yang lalu media Barat mendedahkan perselisihan pendapat di kalangan Zionis Yahudi berhubung keperluan melancarkan serangan ke atas Iran seperti yang pernah dilakukan ke atas janakuasa tenaga nuklear Iraq di tahun 70-an di masa Saddam Husain.


Usaha juga dilakukan dengan menggunakan Iraq di zaman Saddam bagi menyerang Iran yang baru berjaya dalam Revolusi Islam menjatuhkan regim Shah yang pro Barat. Ada di kalangan mereka yang bersetuju supaya Iran diserang habis-habisan. Mereka ialah kalangan pelampau Zionis yang berada dalam negara haram Israel.


Ada juga yang tidak bersetuju Iran diserang. Mereka ialah kumpulan Zionis yang berada di Amerika dan Eropah. Mereka bimbang tindakan itu akan menyuburkan gerakan anti Zeonis dikalangan masyarakat barat apabila berlakunya krisis sampingan selepas serangan itu.


Bagi melaksanakan agenda yang nyata dan tersembunyi ini, maka sudah tentu Amerika dan sekutunya menjadi penyumbang besar bagi menjayakan cita-cita keselamatan negara haram Israel. Kepada mereka yang dapat membaca medan politik secara sepak terajangnya, bukan secara akademik sahaja, perlu difahami bahawa politik perlu dibaca dengan dua aspek iaitu akademik yang bersurat dan sepak terajang yang tersirat. Betapa agenda melagakan umat Islam yang pernah menjatuhkan kerajaan Othmaniyah di awal abad yang lalu sedang diulangi senarionya.



Pertama, umat Islam dilagakan dengan semangat kebangsaan masing-masing sehingga membantu musuh bagi menjatuhkan kerajaan Othmaniyyah di abad yang lalu tanpa menafikan adanya kezaliman dan kesilapan kerajaan Othmaniyyah terhadap wilayahnya. Semangat nasionalisme digunakan bagi menimbulkan kebencian Arab terhadap bangsa Turki yang menguasai kerajaan Islam dimasa itu.

Di atas semangat kebangsaan dengan bantuan yang melibatkan manusia seperti Lorans dan rakan-rakannya Arab dibantu untuk menentang Turki Otmaniyyah. Akhirnya Kerajaan Othmaniyyah dijatuhkan dan diberi tempat kepada Kamal Ataturk mendirikan kerajaan sekular menggantikan kerajaan Islam di atas nama memajukan Turki tetapi berakhir dengan bangsat.


Di kalangan bangsa Arab pula diupah dengan bahagian masing-masing mengikut road map Sykes Picot dengan membahagikan di kalangan negara Barat untuk menjaganya dengan upah mengangkut hasil bumi yang kaya. Manakala Arab pula dibayar dengan wang yang banyak supaya kaya-raya tanpa teknologi yang dapat menguatkannya sehingga dapat berdikari dan meninggalkan sifat Islamnya supaya tidak berakhlak, tetapi terus berlindung dengan negara-negara Barat tersebut.


Negara-negara Arab yang mendapat bahagian ini masih lagi menjadikan hari mendapat bahagian tersebut sebagai hari kebangsaan masing-masing yang disambut dengan meriahnya secara tahunan.


Yang kedua, melagakan umat dengan mazhab yang ramai pengikut. Pengikut Mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan majoriti umat Islam dan menjadi mazhab kerajaan Othmaniyyah yang bermazhab Hanafi, dilagakan dengan mazhab Syiah Imamiyyah yang ramai penganutnya di Iran, Iraq dan Selatan Lubnan dan menjadi mazhab Shah Iran di masa itu. Mazhab Zaidiyyah yang sebahagian besar pengikutnya di Yaman dan juga menjadi mazhab raja yang bergelar Imam yang memerintah Yaman.


Ada pun Oman pula bermazhab Khawarij Ibadiyyah. Syah Iran dan Imam Yaman berperang dengan kerajaan Othmaniyyah. Oman pula menjadi pengkalan kuasa barat.


Malangnya dalam pergolakan yang berlaku di Syria dan perang yang masih dingin di antara Iran dan negara Barat dan sekutunya, isu nasionalisme dan mazhab dihidupkan semula. Dihidupkan semula galakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam sehingga meletakkan ajaran Islam yang boleh menyatukan umat dan akhlaknya yang mulia dilupakan.


Masalah khilafiyyah di kalangan mazhab Islam yang satu dihidupkan semula. Sepatutnya menjadi perbincangan di kalangan para ulama yang mendalami ilmunya sahaja, tetapi dihidupkan bukan sahaja diantara Sunni dan Syiah bahkan di antara Sunni dan Sunni. Ia disebarkan saperti salafi (wahabi) dan Asya’irah dan Maturidiyyah di kalangan Ahli Sunnah.


Masalah cabang ajaran agama yang berbeza di kalangan empat mazhab dan lain-lain dikalangan ahli sunnah dihidupkan kalangan masyarakat awam yang cetek pengatahuan agamanya. Syiah Imam Khomeini dan Khaminaei yang membuat perubahan politik daripada syiah tradisi di kalangan Syiah, diantara syiah Arab dan syiah Parsi di Iraq.


Di samping menyebarkan mazhab-mazhab ini di kalangan umat Islam yang masih jahil agama, bukannya menyebarkan dan menambahkan penyebaran Islam di kalangan bukan Islam. Semua ini adalah agenda laga dan perintah atau penjajahan semula yang sepatutnya difahami oleh umat Islam.


Dalam kemelut yang begitu celaru, umat Islam perlu kembali ke pangkal jalan, mengenali kawan dan lawan serta mengambil iktibar daripada kesalahan yang lalu. Para ulama dan pemimpin di zaman keemasan umat Islam bersatu dalam perkara rukun dan berbeza pendapat dalam masalah cabang sehingga tidak memisahkan hubungan persaudaraan agama dan kemanusiaan berbagai agama dan kaum dalam negara Islam yang luas dan besar.


Pandangan semua ulama dicatit menjadi kajian, termasuk pendapat paling lemah kerana keadaan situasi dan realiti yang boleh berubah. Kesilapan dalam perkara rukun diperbetulkan dengan kebijaksanaan.


Maka paling menariknya berlaku perkembangan Islam secara damai lebih pesat daripada ketika berperang. Allah mengajar penganut Islam di zaman Rasulullah S.A.W. supaya umat Islam bersatu di atas dasar dan konsep Islam serta menggunakan pendekatan damai dan strategik dengan masyarakat bukan Islam.


Walaupun Rasulullah S.A.W. sudah wafat dan para sahabat generasi awal Islam berbeza pendapat siapakah pengganti Rasulullah S.A.W. selepas wafatnya sehingga melahirkan mazhab Sunni, Syiah dan Khawarij. Namun mereka bersatu bersama para Khulafa Rasyidin R.A. dalam menghadapi cabaran dan menyebarkan Islam sehingga berjaya selama beberapa abad. Mereka yang jahil dan melampau disingkirkan daripada masyarakat umat yang besar.


Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berguru dan bersatu dengan Imam Jaafar al-Sodiq pelopor Syiah Imamiyyah yang beribukan salah seorang daripada zuriyat Abu Bakar Al Siddiq R.A. Semua para ulama yang berwibawa itu menentang kezaliman di zaman Umawiyyah dan Abbasiyyah dan mendokong sesiapa yang adil, seterusnya dakwah dan jihad diteruskan.


Adapun pertelingkahan yang tajam selepasnya, berlaku di kalangan para jahil daripada semua pihak. Langkah penubuhan Majma’ Fiqh di bawah OIC yang melibatkan para ulama daripada semua mazhab itu adalah sangat positif bagi umat Islam.


Begitu juga kenyataan dan fatwa pemimpin utama Iran Imam Ali Khaminaei supaya para pengikutnya berhenti daripada mencaci dan menghina para Ummahatul Mukminin (para isteri Rasulullah S.A.W.) yang bertaraf ibu kepada seluruh orang-orang yang beriman dengan perintah Al Quran secara nas dan berhenti menghina para sahabat R.A. Malah para ulama besarnya memaklumkan bahawa lebih daripada sembilan ribu hadith yang ada dalam kitab al-Kulaini yang menimbulkan masalah hendaklah ditolak.


Adapun langkah membiarkan kuasa asing yang dijemput menyelesaikan masalah hanya mengulangi sejarah lama yang wajib dilipat dan dikebumikan. Kalau mahu menghidupkan semula dalam pergolakan di Syria terkini akan terlaksana sejarah lama yang mengundang singa dan buaya. Natijahnya kalau selamat daripada mulut harimau akan masuk ke dalam mulut buaya.



* Penulis adalah anggota Parlimen Marang yang juga Presiden PAS. Tulisan ini disiarkan semula berdasarkan tulisan asal yang dibuat beliau pada
Khamis, 23 Februari 2012. Tulisan ini boleh juga dibaca di sini.


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria

Tuesday, August 6, 2013

Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Keadilan datangnya daripada Allah. Salah satu daripada nama-nama Allah ialah “Yang Maha Adil”. Keadilan lazimnya digandingkan dengan kebenaran, kerana tanpa mengetahui etika tersebut, kita tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, apatah lagi amal bakti yang diiktiraf sebagai berkebajikan di sisi Allah Taala. Di dalam Surah Al-Maidah ayat 8, Allah menyebut :

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa.”


Ayat ini membuktikan bahawa kebenaran dan keadilan tidak dapat dipisahkan. Seorang Muslim yang dibimbing wahyu Allah pasti meyakini bahawa menerima keadilan adalah ketaatan, menegakkannya adalah kewajiban dan memperjuangkannya adalah jihad. Dalam urutan keutamaan yang ditentukan oleh Islam dalam sebuah pemerintahan menurut Imam al-Mawardi, keadilan terletak di tempat yang tinggi selain daripada amanah. Ketinggiannya itu mengatasi perkara-perkara lain seperti kestabilan dan kemakmuran ekonomi. Kerana kestabilan negara yang dipimpin oleh pemerintah yang korup, sebenarnya adalah kestabilan yang palsu.


Sekiranya nilai kebenaran dimanipulasi dan keadilan dikesampingkan dalam sesebuah etika pemerintahan, maka tunggulah detik-detik kehancuran. Masyarakat tidak lagi percaya dan yakin dengan sistem perundangan yang rosak serta pemerintahan yang zalim. Natijahnya masyarakat akan menyelesaikan masalah masing-masing dengan caranya tersendiri seperti pemberontakan, pengeboman, keganasan dan apa jua cara kekerasan sehingga menumpahkan darah.


Dalam Islam, keadilan merentasi batas kaum dan bangsa bahkan agama. Hanya apabila keadilan telah ditegakkan dan kezaliman dihapuskan, maka kebaikan-kebaikan yang lain akan terlaksana dengan jayanya. Begitupun perlu kita fahami bahawa keadilan bukan hanya satu konsep yang berkaitan dengan pemerintahan dan politik sahaja, walaupun sehingga ke hari ini konsep keadilan terus menjadi tema penting terutamanya dalam bidang pemerintahan. Melaksanakan keadilan dan menghapuskan kezaliman juga merupakan antara falsafah sistem kehakiman dalam Islam.


Sebelum tema keadilan menjadi konsep politik, ia adalah konsep terulung bersifat metafizik yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, keadilan tidak lebih daripada satu perkataan yang boleh membangkitkan emosi, bahkan penegakan syiarnya juga adalah sebuah agenda Islam bagi meneruskan legasi perjuangan baginda Rasulullah SAW. Oleh itu, Ibn Khaldun (1332 M – 1406 M) di dalam “Muqaddimah”, turut mengaitkan ketidakadilan adalah penyebab kerosakan struktur negara sekaligus memporak-perandakan bangsa.


Ketika Islam tersebar di Andalus, keadilan adalah mercu tanda penyebaran dakwah yang menjadi haruman di kota yang penuh berprestij itu. Kehadiran umat Islam di Andalus bukanlah suatu bentuk yang agresif mahupun permisif, tetapi atas permintaan pemerintah bahagian Ceuta (wilayah Sepanyol terletak di Afrika Utara) ketika itu yang bernama Count Julian untuk membalas dendam terhadap Raja Don Roderic yang telah melakukan kekejaman dan penindasan di Andalus. Maka, jemputan Count Julian itu adalah untuk mengembalikan keadilan di Andalus dengan meyakini umat Islamlah pelopornya yang layak dijadikan pautan.


Kehadiran Islam di Andalus sekali gus menjadikan kota itu sebagai model terbaik bagaimana toleransi beragama telah dilaksanakan oleh umat Islam jauh sebelum konsep itu kini kononnya diperjuangkan oleh Barat. Ramai sejarawan Barat sendiri termasuk Edward Gibbon (1737 M – 1794 M) mengakui bahawa ketika zaman Andalus diperintah oleh orang Islam yang memakan tempoh ratusan abad, orang-orang Kristian dan Yahudi hidup dalam kedamaian dan keamanan. Namun, malangnya toleransi beragama yang dicontohkan oleh umat Islam tidak dihargai baik oleh orang-orang Yahudi mahupun Kristian.


Toleransi hancur setelah Andalus berada di tangan orang-orang Kristian. Sejarah mencatatkan pada abad ke-13 sahaja, 3 juta orang Islam dan 2 juta orang Yahudi diusir dari Andalus. Bukan hanya umat Islam dipaksa tukar agama, bahkan masyarakat Kristian yang beraliran “Unitarian” juga dipaksa bertukar kepada “Trinitarian”. Seramai 40 ribu orang Yahudi menerima “Converso” (masuk Kristian secara paksa). Ia berlaku setelah Andalus ditakluki Ferdinand III. Masjid Cordova yang indah dan megah, dibina Abd al-Rahman al-Dakhil pada 788 Masihi ditukar menjadi gereja pada 1236 Masihi.


Tahun-tahun berikutnya berlaku operasi pemurtadan secara besar-besaran di Andalus. Tribunal kegerejaan dilaksanakan dengan amat kejam, orang Kristian yang tidak mengamalkan ajaran Trinitarian digantung dan dibakar, sehingga masyarakat Andalus berada dalam kegelapan kembali setelah berada dalam kemuncak ketamadunan. Hanya pada 1813 M inkuisisi tersebut dinyatakan sebagai bertentangan dengan perlembagaan dan dihapuskan pada 1834 M. Inkuisisi itu jugalah yang menimbulkan kebencian masyarakat Eropah kepada agama dan dan melahirkan semangat ilmiah moden dan rasional melampau sehingga anti kepada konsep ketuhanan.


Begitupun sebenarnya titik-titik hitam dalam sejarah pemerintahan khilafah Islam di Andalus mula memperlihatkan petanda kejatuhannya apabila keadilan tidak lagi menjadi prinsip pentadbiran mereka. Ketika keadilan dibakul-sampahkan, bukan hanya cahaya ketamadunan dan keilmuan hilang dari bumi Andalus, kedamaian beragama juga hilang dari bumi yang kini disebut Sepanyol itu. Populasi masyarakat Islam di Andalus ketika itu semakin berkurangan akibat penindasan dan operasi pemurtadan beramai-ramai.


Ayuh kita perhatikan ketika Al-Hakam I (796M) menaiki takhta menggantikan ayahnya iaitu Hisham, bahawa ayahandanya telah berpesan, “Hendaklah kamu (wahai Hisham) berlaku adil kepada semua tanpa mengira miskin atau kaya, berbuat baik dan berlemah lembut kepada orang yang bergantung kepadamu. Kerana semuanya sama-sama ciptaan Allah. Amanahkan penjagaan kota-kota dan daerah-daerahmu kepada ketua yang setia dan berpengalaman; kenakan hukuman tanpa belas kasihan menteri-menteri yang menindas rakyatmu…”


Namun, malangnya Al-Hakam I tidak mengikuti pesan ayahnya. Al-Hakam I justeru tidak peduli nasib rakyatnya, bahkan kejam terhadap mereka. Beliau merupakan sultan pertama yang dikelilingi 6 ribu pengawal peribadi. Beliau menghukum rakyatnya dengan kejam walaupun atas kesalahan kecil, sehingga menyebabkan rakyat tidak berpuas hati dan berlakulah beberapa siri pemberontakan. Pada zamannya juga Barcelona jatuh ke tangan Kristian, dan ia adalah kejayaan besar pertama diperoleh oleh Kristian. Kejayaan tersebut telah memberikan momentum “reconquesta” (penaklukan kembali) kepada golongan Kristian untuk menyerang umat Islam. – rujuk “al-Mu’jib fi Talkhis Akhbar al-Maghrib”


Selain percubaan serangan yang ingin dilakukan oleh kaum Kristian untuk melakukan reconquesta terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Andalus, perpecahan dalaman akibat perbezaan kasta kepada umat Islam turut berlaku. Sifat angkuh golongan autokrat terhadap golongan bawahan, antara bencana tertewasnya tentera Islam dalam peperangan Las Navas de Tolosa pada 1212 Masihi, perang di mana kembalinya titik peralihan golongan Katholik menguasai Andalus. Dalam peperangan tersebut berlaku keengganan sultan dinasti al-Muwahidun mendengar nasihat panglimanya berbangsa Barbar yang lebih berpengalaman. Kekalahan itu menyebabkan 70 000 orang Islam disembelih atas arahan ketua bishop wilayah Toledo, Rodrigo Jiménez de Rada.


Zaman kejatuhan Andalus juga ditandai dengan kerakusan golongan pemerintah yang sanggup memperalatkan ulama. Perkara ini diakui Ibnu Khaldun di mana beliau sempat menyaksikan peristiwa bagaimana kerajaan-kerajaan Islam yang gagah perkasa di Andalus, tumbang satu persatu akibat fungsi dan peranan ulama tidak diberikan kedudukan yang sewajarnya. Ibnu Khaldun menceritakan ketika beliau berada di Andalus, ulama sering diperalatkan golongan pemerintah. Penghargaan terhadap ulama yang pada awal Islam benar-benar jujur dan ikhlas bertukar menjadi pemanfaatan para pemimpin (umara) terhadap kaum ilmuwan (ulama).


Jelas Ibnu Khaldun lagi, bibit-bibit zaman kejatuhan Andalus ketara terpampang apabila sering berlaku perpecahan politik dan perebutan kuasa yang amat dahsyat sehingga pemerintah cuba melakukan apa sahaja untuk memastikan kuasa berada di tangan mereka. Pertikaian dalaman berlaku setelah kekuasaan tidak lagi berada di tangan pemimpin yang adil. Kerajaan-kerajaan kecil yang dinamakan dengan “Muluk al-Tawaif”  atau taifa de reyes, terlalu lemah untuk melawan gelombang reconquesta. Maka, adalah suatu kebodohan jika kesilapan-kesilapan masa lalu itu kita ulangi di masa ini.


Benar, umat Islam pernah memiliki model kemajuan yang indah dan gemerlapan di masa lalu. Tetapi, sungguh malang apabila cita-cita kegemilangan berhujung dengan kejatuhan demi kejatuhan, apatah lagi jika kejatuhan tersebut berpunca daripada keruntuhan nilai-nilai keadilan sedangkan Islam menegaskan umatnya berlaku amanah dan adil. Untuk kembali bangkit, yang kita perlukan adalah kesungguhan dan keikhlasan, bukan hanya semangat dan slogan-slogan kosong. Yang jelas nasib umat Islam pada masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan pada hari ini.


http://www.tarbawi.my



Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Friday, December 13, 2013

Islam di Gorontalo Masuk Lewat Perkawinan

Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian utara. Daerah ini  punya jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan dalam kerajaan Islam.


Sebelum berdiri kerajaan Islam, di Gorontalo ada banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hingga pada 1385, sejumlah 17 kerajaan kecil tersebut sepakat membentuk sebuah serikat kerajaan. Diangkatlah Maharaja Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Hulondalo.


Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo. Hulondaloberasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air. Orang Belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin menjadi Gorontalo.


Nilai budaya yang dianut adalah yang berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukkan oleh alam. Ini berarti penduduknya menganut kepercayaan animisme. Kemudian, Islam mulai masuk ke Gorontalo.


Peneliti sejarah sosial dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menjelaskan mengenai masa-masa ketika Islam masuk ke Gorontalo. “‘Sekitar 1525, Islam mulai masuk dalam wilayah kerajaan ini. Islam dibawa oleh sang raja saat itu, Raja Amai,” ujarnya.


Islam kala itu masuk melalui jalur perkawinan. Raja Amai menikahi putri dari kerajaan Palasa, bernama Owutango. Kerajaan Palasa ini berada di Teluk Tomini dan rajanya sudah Islam. Sang putri sendiri punya hubungan keluarga dengan pihak kerajaan di Ternate, yang telah lebih dahulu mengenal Islam.


Dari sini bisa terlihat, pihak kerajaan memahami Islam dan ingin menjalankan kerajaan sesuai tuntunan Islam. “Karena Islam, maka bentuk kerajaannya pun menjadi kesultanan,” ujarnya.


Pendapat berbeda diungkapkan oleh guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Prof Dien Majid. Menurutnya, bentuk kerajaan tetap bisa dipertahankan meski rajanya telah Islam.


Dalam bentuk pemerintahan dulu, ia menjelaskan, dikenal bentuk kerajaan yang bersifat tradisional. Mulai abad ke-13, ketika Islam mulai masuk nusantara, maka dikenallah sistem pemerintah yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu kesultanan.


“Meski demikian, masih ada yang tetap menggunakan nama kerajaan, namun jabatan pemimpinnya disebut dengan sultan,” ujarnya.


Salah satunya, ia mencontohkan adalah kerajaan di Aceh, namanya tetap kerajaan, namun pemimpinnya bergelar sultan. Hal yang sama terjadi juga di Gorontalo.


Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Mohammad Karmin Baruadi, juga menjelaskan sejarah kerajaan Gorontalo dalam tulisannya yang berjudul Sendi Adat Dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam Dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo. 


“Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri Amai sendiri yang bernama putri raja Palasa,” tulisnya.


Awalnya, saat Raja Amai ingin meminangnya, sang putri yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan. 


Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan dalam masyarakat Gorontalo harus  bersumber dari Alquran. “Dua syarat itu diterima oleh Amai. Di sinilah awal Islam menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo,” tulisnya.


Sebelum menikah Raja Amai mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amai dengan terang-terangan mengumumkan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. 


Pada pesta tersebut Raja Amai meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. Saat pendeklarasian sumpah tersebut, adalah hari terakhir rakyat Gorontalo memakan babi.


Usai proses sumpah adat, Raja Amai kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Ia sendiri kemudian mengganti gelarnya dengan gelar raja Islam, yaitu sultan.


Prinsip hidup baru ini, mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo saat itu, yang tidak tersentuh oleh Hindu-Buddha. Masyarakat merasakan tidak ada pertentangan antara adat dan Islam, namun justru memperkuat dan membimbing pelaksanaannya.


Pada 1550, Sultan Amai digantikan oleh putera mahkotanya, Matolodula Kiki. Sultan kedua kesultanan Gorontalo ini menyempurnakan konsep kerajaan Islam yang dirintis oleh ayahnya. 


Ia pun melahirkan rumusan adati hula-hula’a to sara’a dan sara’a hula-hula’a to adati, yang artinya adat bersendi syarak, syarak bersendi adat. Islam dan adat, saling melengkapi.


Islam resmi menjadi agama kerajaan ketika kesultanan Gorontalo ada di bawah pemerintahan Sultan Eyato. Konsepnya pun berubah, mirip dengan prinsip masyarakat Minangkabau, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Di bawah kepimpinannnya, Kesultanan Gorontalo mencapai puncak kejayaan.


Bagi masyarakat Uduluwo limo lo Pohalaqa Gorontalo (serikat kerajaan di bawah dua kerajaan Gorontalo dan Limboto), syarak kitabullah dipahami bahwa hukum dan aturan-aturan yang berlaku bersumber dari kitab suci Alquran dan hadis Rasulullah SAW.


Beberapa perubahan


Pada masa itu, beberapa perubahan dilakukan, menjadi lebih Islami. Sistem pemerintahannya kini didasarkan pada ilmu akidah atau pokok-pokok keyakinan dalam ajaran Islam. 


Dalam ilmu akidah  tersebut diajarkan dua puluh sifat Allah SWT, untuk itu Eyato mewajibkan sifat-sifat itu menjadi sifat dan sikap semua aparat kerajaan mulai dari pejabat tertinggi sampai dengan jabatan terendah. Sumpah-sumpah dan adat istiadat yang dipakai, bersumber pada Islam.


Penerapan sistem budaya Islam pada sikap dan perilaku pejabat tersebut telah mengawali pemantapan karakteristik budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. 


Eyato sendiri awalnya memang seorang ahli agama dan cendekiawan. “Sebelum menjadi raja, Eyato merupakan seorang hatibida’a yang tergolong ulama pada masa itu,” tulisnya.


Struktur pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerja sama yang disebut Buatula Totolu, yaitu Buatula Bantayoyang dikepalai oleh Bate yang bertugas menciptakan peraturan-peraturan dan garis-garis besar tujuan kerajaan, Buatula Bubato yang dikepalai olehRaja (Olongia) dan bertugas melaksanakan peraturan serta berusaha menyejahterakan masyarakat, dan Buatula Bala yang pada mulanya dikepalai oleh Pulubala, bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan. [ROL]


 


Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/11/18/535/898819/demi-cinta-artis-pun-rela-pindah-agama


Islam di Gorontalo Masuk Lewat Perkawinan

Wednesday, January 2, 2013

Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Home Tazkiyatun Nafs

Jadikan Shalat sebagai Madrasah


 

Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan


Kamis, 03 Januari 2013

Oleh: Sholih Hasyim

SETIAP momentum bulan Rajab, biasanya  seorang muslim disegarkan ingatannya oleh peristiwa  monumental, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam . Beliau diperjalankan  oleh Allah Subhanahu Wata’ala setelah mengalami tahun kesedihan (‘amul huzni). Disebabkan oleh kematian istri tercintanya dan paman yang dihurmatinya, yang selama ini keduanya selalu mensupport beliau dalam suka dan duka merintis jalan dakwah. 

Perjalanan beliau menembus dimensi ruang dan waktu, memberikan pelajaran mendasar bahwa kerumitan apapun yang dihadapi seorang pejuang kebenaran dan keadilan akan ditemukan solusinya dengan media menegakkan shalat. Dengan shalat, kesulitan apapun yang dihadapi akan menjadi mudah, karena  mengundang intervensi dan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala (tadakhul rabbani).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[*], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah (2) : 153). 

Ada pula yang mengartikan : mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar (keteguhan dan ketegaran jiwa) dan shalat. Ash Shalatu mi’rajul mukmin (shalat adalah mi’raj – media untuk berinteraksi ke langit  -  seorang mukmin) (al-Hadits).

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi bukti yang sangat valid  alangkah agungnya perintah ibadah shalat. Berbeda dengan perintah yang lain, perintah shalat diterima oleh Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam secara langsung menghadap-Nya di Sidratul Muntaha, tanpa melalui perantara malaikat Jibril. 

Peristiwa bersejarah tersebut, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim untuk mengadakan evaluasi secara total dan radikal (fundamental) mutu pelaksanaan shalat kita. Dengan harapan ibadah mahdhah tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan (atsarun fa’aal) dalam membentuk kepribadian muslim secara utuh baik dari sisi mujahadah (kecerdasan spiritual), ijtihad (kecerdasan intlektual) dan jihad (kesedian untuk berkurban di jalan Allah Subhanahu Wata’ala). 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun (63) : 9)

Dengan dievaluasi secara berkesinambungan,  semoga kelak hisab shalat lebih ringan. Juga ada peningkatan mutu baik pisik dan dimensi ruhani. Shalat yang kita lakukan tidak sebatas kaya ritus formal serimonial yang menjemukan, tetapi miskin aplikasi. Kita berharap shalat yang kita lakukan fungsional memberikan maknawiyah (spirit), yang dapat mengantarkan kita menjadi sholih linafsihi (sholih untuk dirinya) dan shalih lighoirihi (shalih kepada orang lain). Dan menjaga keseimbangan dimensi hablun minallah (hubungan vertical) dan hablun minannas (hubungan horizontal).

Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Shalat

Secara empiris mengajarkan, setidaknya ada sembilan pelajaran penting (hikmah)  yang diserap  dalam ibadah shalat.

Pertama: Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Shalat mendidik pelakunya untuk mensucikan dirinya dari virus ruhani yang menjadi pemicu pelanggaran/penyimpangan dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia dahulu sampai sekarang. Yaitu, penyakit serakah (thama’), yang diwariskan oleh Adam as. Yang berefek pada terusirnya dari surge, takabur (sombong) yang ditularkan oleh Iblis, berakibat sebagai penghalang masuk surga dan hasud (dengki) yang dipusakakan oleh Qabil, pemicu terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia ini.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabut (29) : 45)

Kedua: Tarbiyatul Wahdah Al Islamiyah (pendidikan persatuan umat Islam). Orang yang shalat menghadap ke tempat/arah yang sama (kiblat), yaitu Baitullah (Ka’bah). Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan yang diikat oleh nilai-nilai prinsip (jamaah), bukan sekedar bergerombol (majmu’ah), berkumpul karena ikatan kerja (materi). Jamaah akan terwujud jika didorong oleh kebersihan hati individunya dari berbagai kepentingan kecuali menomorsatukan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengagungkan syi’ar-syi’arnya. Semua bentuk persahabatan, kesepahaman akan memicu permusuhan dikemudian hari kecuali didasari oleh spirit iman dan takwa. Tahapan persatuan diawali dari saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menyayangi (tarahum), saling menanggung (takaful), saling menolong (tanashur).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf (43): 67).

Ketiga: Harish ‘ala waqtihi (bersungguh-sungguh dalam mengelola waktunya)

Seorang Muslim jadual kehidupannya diatur oleh waktu shalat. Transaksi milyaran rupiah akan dia batalkan jika panggilan shalat telah dikumandangkan. Ia yakin, jika memperoleh undangan seseorang, maka yang mengundang sudah mempersiapakan hidangan kepada yang diundang. Apalagi yang mengundang adalah Zat Yang Maha Kaya, sudah tentu yang disisi-Nya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka, dia beruapaya melakukannya untuk tepat waktu. Memenuhi adab lahir dan batin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal (8): 24)

Keempat: Munadhdhamun fil Jama’ah (disiplin dalam berorganisasi). Sholat mendidik tertib organisasi, menyangkut tertibnya berjamaah dengan barisan yang rapi, rapat. Tidak boleh ada barisan yang kosong agar tidak dimasuki syetan. Muslim yang satu dengan yang lain bergaul dengan penuh kedekatan, keeratan dan keakraban. Rasulullah bersabda : Orang beriman itu mudah untuk harmonis dan mudah untuk diharmoniskan, tiada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah jinak dan tidak mudah dijinakkan (al Hadits). Dalam al-Quran panggilan untuk orang-orang beriman (ya ayyuhalladzina amanu – menggunakan jama’ -). Tidak ditemukan dalam al-Quran, sebutan untuk orang beriman dengan kata tunggal (ya ayyuhal mukmin). Hal ini menunjukkan bahwa konsekwensi keimanan seseorang adalah ia harus menempatkan dirinya bagian dari kaum muslimin di seluruh dunia.

Kelima:  Tarbiyatus Sam’i wath Tha’ati (pendidikan ketaatan). Shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan iman, tidak mendahului walaupun sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen (keterikatan yang kuat) atau loyal, serta meniadakan penolakan perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. Sesungguhnya efek ketaatan itu akan kembali kepada kita sendiri. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”(HR Ahmad). Seorang makmum menyadari jika ia tidak berhasil menanamkan kultur sami’na wa ‘atha’na terhadap pemimpin yang disepakati, maka kelak anak buahnya tidak akan patuh kepadanya. Agar kita memiliki anak shalih/ah, terlebih dahulu kita harus menjadi putra yang shalih/ah bagi orang tua kita. Jika kita mudah mengobral kutukan kepada sesepuh kita, maka anak kita nanti akan mengutuk kita.

Keenam: Qaulu Kalimatil hak ‘inda sulthanin jair (berani menyampaikan kebenaran di depan pemimpin yang zhalim). Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Karena ia mencintai pemimpinnya, tetapi lebih mencintai kepada kebenaran. Maka, jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan. Tidak membiarkannya melakukan kezhaliman. Teman yang benar bukanlah yang selalu setuju dengan pendapat kita, tetapi yang selalu meluruskan kita jika terjerumus dalam lubang kehancuran.

Ketujuh: Tarbiyatul Musawah  (mendidik sikap egaliter). Shalat mendidik persamaan hak. Surga berhak ditempati bagi orang yang bersegera menuju ketaatan sekalipun dia berasal dari suku Habasyah dan neraka berhak ditempati bagi orang yang berbuat maksiat walaupun ia berasal dari suku Quraisy.  Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status social jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memandang tinggi kedudukan maupun tua umurnya. Karena, Allah SWT tidak menilai kedudukan, keturunan, warna kulit, tetapi menilai hati dan amal kita.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13)

Kedelapan: Tarbiyatush Shihhiyyah (pendidikan kesehatan). Shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik secara sederhana dan mudah gerakannya. Kata ahli hikmah : Bergeraklah terus karena dalam gerakan itu ada barakah (tambahan kebaikan). Air yang  menggenang, tidak mengalir akan menjadi sarang kuman. Demikian pula apabila pisik tidak bergerak secara stimulan dan simultan akan mudah keropos dan gampang terserang penyakit.

Kesembilan: Tarbiyatu Mudawamatidz Dzikr (pendidikan kesinambungan mengingat Allah SWT). Secara etimologis shalat bermakna doa. Karena lafadz yang dibaca dalam shalat adalah berisi doa dan dzikir. Bahkan menegakkan shalat sesungguhnya untuk mengingat kebesaran, kemuliaan dan keagungan-Nya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha (20) : 14)

Dengan shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan menjadikan seseorang untuk selalu mengingat-Nya. Dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala hati menjadi tenang, karena selalu ditemani oleh-Nya. Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: Saya selalu menemani orang yang mengingat-KU (ana jaliisu man dzakarani).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) : 28)

Bahkan, jika kita selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala, Ia akan selalu mengingat kita. Ada kedekatan hubungan hamba dengan Al Khalik. Jika seseorang dekat dengan-Nya, maka dekat dengan rahmat, maghfirah, dan karunia-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah (2) : 152).

Indikator Diterimanya Shalat

Jika shalat dilakukan dengan khusyu’ dan berlatih untuk berpisah dengan dunia maka akan melahirkan perubahan secara kongkrit pada ranah pola piker dan perilaku pelakunya. Selesai shalat melahirkan manusia baru.  Manusia yang tawadhu (rendah hati), tidak bersikap sombong kepada sesama, tidak meneruskan berbuat maksiat, pada siang hari selalu kontak dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan zikir, memiliki kepekaan social terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.

Ada lima indikator utama yang bisa menjadi standar (tolak ukur) diterimanya shalat seseorang, sebagaimana hadits qudsi berikut :

اِنَّمَا اَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُظْمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَليَ خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِي وَرَحِمَ  المَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَالاّرْمَلّةَ وَرَحِمَ المُصَابَ

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-KU, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-KU, yang tidak meneruskan maksiat kepada-KU, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-KU, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal mati suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah.” (Sayid Sabiq, dalam karya tulisnya : Islamuna, hal.119)

Jika nilai-nilai shalat tersebut diatas diwujudkan dalam kehidupan setiap muslim maka secara aksiomatik akan terjadi pencerahan (transformasi) dan penataan ulang orientasi dan perilaku keislaman dan keimanan dalam seluruh aspek kehidupannya baik dalam skala kehidupan individu, keluarga, bangsa, Negara dan dunia. Insya Allah.* 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah 

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/11/29/06123825/Hari.Ini.Rombongan.DPR.RI.Masuk.ke.Gaza


Jadikan Shalat sebagai Madrasah