Showing posts sorted by relevance for query Rasulullah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Rasulullah. Sort by date Show all posts

Saturday, May 25, 2013

Implementasi Isra' Mi'raj dalam Kehidupan

Implementasi Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan


Oleh : Asasriwarni


Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang


Padang Ekspres • Jumat, 24/05/2013 11:43 WIB • 50 klik


Maha Suci Allah, yang Telah mem­perjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Se­sungguhnya Dia adalah Maha men­dengar lagi Maha Mengetahui.



 



(QS. Al-Isra ayat 1)


 


Firman Allah dalam Surat al-Isra (17) ayat 1 di atas merupakan dalil yang kuat akan peristiwa Isra’ Mi’raj.  Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa suci yang di­alami oleh Nabi Muhammad SAW pada suatu malam tanggal 27 Rajab 10 tahun setelah Rasulullah SAW me­ne­rima wahyu kenabian. Dalam peristiwa ter­sebut Allah memperjalankan ham­ba-Nya yang terkasih, yaitu Mu­ham­mad SAW dari Masjidil Haram – Mekah ke Masjidil Aqsha –Palestina, atau yang disebut dengan Isra’ ,  kemudian dari Masjidil Aqsha naik ke langit ke-7 menuju Sidratul Muntaha, atau yang disebut dengan Mi’raj.


 


Peristiwa Isra’ Mi’raj ini terjadi pada masa-masa kesedihan yang di­a­lami oleh Nabi Muhammad SAW atau yang disebut juga dengan ‘ammul huzni  (tahun kesedihan). Dikatakan masa ini de­ngan tahun kesedihan, karena pada saat itu Rasulullah masih dalam masa berduka kerena berpulangnya ke rah­ma­tullah Istri beliau yang tercinta, yaitu Siti Khadijah. Disamping itu beliau juga bersedih karena meninggalnya Paman beliau yaitu Abu Thalib.


 


Kepergian kedua orang yang sangat dekat dengan Rasulullah ini sangat mem­buat duka di hati Rasulullah SAW. di samping kedua orang ini adalah ke­luarga Rasulullah sendiri, dan me­rupakan orang-orang yang membela dak­wah Rasul di tengah-tengah ma­syarakat kafir Quraisy yang selalu me­nentang dakwah beliau. Dengan de­mi­kian, Isra’ Mi’raj juga merupakan rihlah spri­ritual yang juga sebagai pengobat du­ka di hati Rasulullah SAW. 


 


Peristiwa Isra’ Mi’raj ini bukanlah pe­ristiwa biasa yang tanpa makna. Sungguh banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari peristia Isra’ Mi’raj tersebut, diantaranya adalah:


 


Pertama, Isra’ Mi’raj adalah per­ja­lanan yang nyata, bukan perjalanan ru­hani/mimpi atau khayalan. Sungguh tak bisa dibayangkan apabila per­ja­lanan Isra’ Mi’raj yang Rasulullah ja­lan­kan merupakan hanya perjalanan ru­hani alias hanya mimpi, karena jika hal itu yang terjadi maka perjalanan Isra’ Mi’raj tidak ada bedanya dengan wa­h­yu-wahyu yang Rasulullah terima baik melalui bisikan Jibril maupun dari mim­pi. Sehingga peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dijadikan pembuktian ke­imanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sepulangnya Rasulullah dari per­ja­lanan Isra’ dan Mi’raj-nya, beliau me­ngu­mumkan tentang apa yang telah di­ala­minya semalam kepada kaumnya. Dan sebagaimana yang diceritakan oleh Ra­sulullah bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut sebuah perjalanan yang di­lakukannya dengan jiwa dan ruhnya, maka seketika itu banyak dari kaum Quraisy yang menentang dan men­ce­moohnya dengan sebutan ‘gila’. Kaum­nya beranggapan mana mungkin per­ja­lanan dari Masjidil Haram yang di Me­kah ke Masjidil Aqsha yang ada di ne­geri Syam (Palestina) hanya dengan wak­tu semalaman, padahal mereka jika hendak ke negeri Syam untuk ber­da­gang membutuhkan waktu hingga 1 bu­lan lamanya. Tak pelak peristiwa Isra’ Mi’raj yang menurut mereka tidak ma­suk akal membuat beberapa orang yang baru masuk Islam tergoyahkan ke­ima­nan­nya dan kembali menjadi murtad.


 


Kedua, Isra’ Mi’raj adalah jamuan ke­muliaan dari Allah, penghibur hati, dan pengganti dari apa yang dialami Rasulullah SAW ketika berada di Thaif yang mendapatkan penghinaan, pe­no­lakan dan pengusiran. Sebelum pe­ris­tiwa Isra’ Mi’raj terjadi, Rasulullah SAW terus mengalami ujian yang sa­ngat berat. Mulai dari embargo e­ko­nomi hingga dikucilkan dari kehidupan sosial yang dilakukan oleh Kaum Qu­raisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib, kemudian cobaan yang sa­ngat berat diterima oleh Rasulullah SAW adalah meninggalnya orang-orang yang terkasihinya dalam waktu yang berdekatan yaitu meninggalnya pamannya Abu Thalib bin Abdul Mu­thalib serta istrinya tercinta Khadijah yang selalu menemaninya dan men­du­kungnya dengan jiwa, raga dan har­tanya dalam perjalanan dakwah Ra­su­lullah. Lalu hingga pengusiran, pe­no­lakan dan penghinaan kepada apa yang Rasulullah dakwahkan kepada pen­duduk kota Thaif.


 


Ketiga, Isra’ bukanlah peristiwa yang sederhana. Tetapi peristiwa yang me­nampakkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang paling besar. Se­bagaimana yang telah dijelaskan dalam su­rat Al-Isra’: 1 dan An-Najm: 13-18 bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj me­ru­pakan pembuktian dan me­nam­pakkan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling besar. Peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa ti­dak ada yang tidak bisa Allah lakukan, dan hal tersebut terkadang masih saja di ­antara kita yang meragukan tentang ke­kuasaan Allah yang sangatlah besar, se­hingga membuat kita menjadi ingkar ke­pada Allah dan Rasul-Nya.


 


Keempat, peristiwa Isra’ Mi’raj mem­buktikan bahwa risalah yang di­bawa oleh Rasulullah adalah bersifat uni­versal. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Ha­ram yang ada di Mekah ke Masjidil Aqsha yang ada di Syam melintasi ri­buan kilometer yang jauh dari Mekah tem­pat Rasulullah dilahirkan, hal ini Allah ingin membuktikan bahwa ajaran yang Rasulullah bawa bukan hanya un­tuk penduduk Mekah saja tetapi untuk se­luruh wilayah yang ada di bumi ini. Setibanya Rasulullah SAW di Masjidil Aqsha, beliau memimpin shalat para Nabi dan Rasul-Rasul Allah. Hal ter­se­but menandakan bahwa baginda Ra­su­l­ullah SAW merupakan pemimpin dan pe­­nghulu para Nabi dan Rasul yang te­lah Allah turunkan sebelumnya. Dan a­gama Islam beserta syariatnya yang Ra­s­u­lullah bawa menjadi ajaran dan syariat yang berlaku untuk seluruh kaum dan umat manusia di seluruh du­nia.


 


Kelima, dalam Isra’ Mi’raj di­tu­run­kannya perintah shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam . Ketika Ra­su­lullah sampai di Sidratul Muntaha dan meng­hadap kepada Allah, lalu Allah me­nurunkan syariat shalat 5 waktu ke­pada Rasulullah SAW dan kepada para umat­nya. Dan perintah shalat yang Ra­sulullah terima menjadi perintah yang Rasulullah pegang erat dan Rasulullah te­guh­kan kepada umatnya agar jangan sampai umatnya melalaikannya, ka­rena ibadah shalat menjadi kunci u­tama diterimanya amalan-amalan umat­nya yang lainnya hingga sampai Ra­sulullah mewasiatkannya pada de­tik-detik meninggalnya Rasulullah saw.


 


Diantara hikmah tersebut, Shalat me­rupakan inti dari Isra’ Mi’raj. Shalat a­dalah Mi’rajnya orang-orang mukmin. Dari shalat itu sendiri dapat dipetik be­berapa hikmah, diantaranya adalah; per­tama dimensi waktu, dimana shalat ter­sebut tidak wajib kalau belum ma­suk waktunya. Shalat juga tidak sah apa­bila dikerjakan di luar waktunya. De­ngan demikian umat Islam sangat di­tuntut untuk menghargai waktu dan di­siplin. Tidak akan terlambat dalam melaksanakan tugas, tidak terlambat masuk ke kantor,  tidak terlambat menghadiri rapat, dan lain sebagainya.


 


Kedua dimensi thaharah, atau di­mensi kebersihan dan kesucian. Ke­ber­sihan dan kesucian merupakan salah sa­tu syarat sahnya shalat. Shalat yang di­lakukan tidak akan sah apabila pa­kaian dan tempat shalat kotor, atau ti­dak suci. Demikian juga dalam ke­hi­dupan sehari-hari, seorang mukmin sa­ngat dituntut untuk memperhatikan ke­sucian diri, baik yang akan dimakan, di­minum, pakaian, dan tempat tinggal. Meng­hindarkan diri dari memakan dan me­minum dari yang haram, baik zatnya, maupun dari segi cara men­dapat­kannya.


 


Dimensi ketiga adalah menutup aurat. Shalat tidak sah kalau aurat orang yang mengerjakannya terbuka. De­mikian pula hendaknya di luar shalat. De­n­gan memperhatikan ketentuan me­nutup aurat tersebut, tentunya tidak di­te­mukan lagi anak gadis kita yang ber­pakaian serba senteng, pendek, dan ke­tat. Demikian pula halnya dengan anak laki-laki yang berpakaian di atas lutut.


 


Dimensi keempat, adalah meng­hadap kiblat, shalat tidak sah kalau tidak menghadap kiblat, kecuali dalam kon­disi yang tidak normal, yang tidak di­ketahui arahnya, seperti dalam kendaraan, di hutan, dan lain se­bagai­nya. Dengan ketentuan menghadap kiblat ini, tentunya seorang muslim me­natap masa depannya terarah jauh ke depan. Dimensi kelima, yaitu di­men­si khusu’. Dimensi khusu’ sangat di­perlukan dalam shalat, mes­ki­pun sa­ngat berat. Dengan demikian, be­rarti se­orang muslim mengerjakan se­suatu de­ngan penuh kesungguhan  dan kon­­sentrasi dan hati-hati.


 


Dimensi Keenam patuh kepada imam dalam shalat berjama’ah. Apabila imam rukuk, makmumpun ikut rukuk, ka­lau imam sujud, makmum juga su­jud, selama wuhdhu’ imam belum ba­tal. Te­tapi apabila ada imam yang keliru atau lu­pa dalam bacaan shalat, maka mak­mum boleh mengingatkannya de­ngan penuh etika, yaitu dengan ucapan su­bha­nallah, bukan ditarik ke­be­la­kang. Dengan ke­tentuan ini berarti se­orang muslim ha­rus loyal dan patuh kepada pimpinan. A­pabila ada pim­pinan yang keliru dan ter­salah, maka akan diingatkan dengan pe­nuh ke­sopanan. Apabila setiap dimensi hik­­mah perintah shalat ini diperhatikan dan diamalkan dengan baik, maka insya Allah kehidupan yang baik kan diperoleh oleh setiap muslim.(*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/04/10/10062185/Pesan.PPP.dari.Bangkalan.


Implementasi Isra' Mi'raj dalam Kehidupan

Thursday, July 25, 2013

Contohi diet Rasulullah

Kesempurnaan peribadi Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah tiada tolok bandingnya dan menjadi ikutan para muslim seluruh  dunia.  Antara amalan Rasulullah SAW termasuklah cara  beribadah, menjaga kebersihan diri, hidup berkeluarga termasuk diet makanan cara baginda.  Jika kita menitik beratkan  diet yang  seimbang dan mengamalkan pemakanan yang sihat, tubuh akan terpelihara  daripada serangan penyakit. Hal ini penting kerana sebagai seorang muslim, badan yang sihat akan memudahkan kita beribadat kepada Allah SWT.


Rasulullah SAW menjaga kesihatan rohani dan jasmani demi memudahkan baginda untuk menyampaikan seruan Allah kepada umatnya.  Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak akan makan melainkan apabila sudah terasa lapar dan apabila kami makan, tidak pernah sampai kenyang.”  Begitulah antara petua yang Rasulullah amalkan.


Namun, Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) menjelaskan amalan gaya hidup mewah manusia masa kini yang melebihkan pengambilan makanan tinggi lemak dan kurang bersenam.  Situasi ini menyebabkan peningkatan penyakit kronik seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, strok, diabetes serta kanser.


Cara Diet Rasulullah


Susu dan kurma antara makanan kegemaran Nabi Muhammad SAW


Antara lain diet cara Rasulullah SAW adalah makan makanan yang seimbang, makan perlahan-lahan, sederhana serta  berkongsi makanan. Rasulullah SAW juga suka minum susu, buah-buahan, tamar, daging, madu, sayur dan bubur kerana makanan itu mempunyai khasiat yang tinggi untuk kesihatan badan.


Dalam amalan baginda, selepas subuh Rasulullah SAW akan memulakan sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesenduk madu asli. Jika dilihat dari ilmu kesihatan, madu berfungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus, menyembuhkan sembelit dan peradangan.


Setelah masuk waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh biji kurma ajwa’ untuk menghindari keracunan. Ketika seorang wanita Yahudi meletakkan racun dalam makanan Rasulullah ketika perang Khaibar, bisa racun itu kembali tawar oleh zat-zat terkandung dalam kurma. Sebab itu Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang rumahnya tiada kurma sebagai orang miskin.


Selain itu, Rasulullah SAW tidak akan  mengambil  dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan serentak dengan daging dalam satu waktu dan tidak tidur selepas makan kerana tidak baik untuk jantung.

Ada hikmahnya tidak meniup air panas untuk diminum


Rasulullah SAW juga melarang meniup atau menghembus nafas ke dalam bekas air (makruh) kerana akan berlaku tindak balas yang merubah kadar kealkalian (pH) air itu.


Sayur-sayuran menjadi pilihan Rasulullah SAW kerana secara umumnya sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi memperkuat daya tahan tubuh dan melindungi daripada serangan penyakit serta mencegah penyakit berpunca daripada gula.


Rasulullah SAW makan cuka dan minyak zaitun yang dicampurkan dengan makanan asasi seperti roti. Ia bermanfaat mencegah lemah tulang, melancarkan sembelit, menghancurkan kolestrol, melancarkan pencernaan dan menjaga suhu tubuh pada musim sejuk.


Baginda melebihkan makanan berasaskan bijirin dan ubi kerana ia membekalkan karbohidrat kompleks, vitamin, mineral dan serat. Mengikut piramid makanan, kita disarankan mengambil 8 hingga 12 hidangan makanan berasaskan bijirin dan ubi dalam sehari.


Ini bermakna Rasulullah SAW meninggalkan tatacara makanan yang lengkap untuk diteladani seluruh umatnya. Namun begitu, umat Islam masih dibelenggu pelbagai penyakit yang menyebabkan perbelanjaan orang Islam dihabiskan untuk perubatan serta makanan tambahan. Oleh itu, untuk membentuk kesinambungan generasi Islam, maka tabiat dan cara makan harus mencontohi Rasulullah SAW.


Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang sedikit makan, maka perutnya akan sihat dan hatinya akan bersih. Sebaliknya barang siapa yang banyak makan, maka perutnya akan ditimpa sakit dan hatinya keras.” (Hadis riwayat Huzaifah).


Dalam memastikan tubuh kita sihat, seharusnya kita mencontohi amalan pemakanan yang baik sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jika tubuh sihat, ibadah yang dilakukan sehari-hari akan terasa mudah untuk dilaksanakan.  Apalagi, mari kita mulakan amalan yang baik ini kesihatan diri.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/19/molzey-snmptn-jangan-diskriminatif-terhadap-siswa-madrasah


Contohi diet Rasulullah

Wednesday, February 5, 2014

DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Assalaamu’alaikum Wr.Wb.


Bismillaahirrahmaanirrahiim,


Dalam satu literatur saya menemukan singkatan dari diet. Disebutnya dalam bahasa inggris “DIET” stands for: Did I Eat That?. Tapi pemahaman diet yang umum adalah mengatur pola makan.


Menurut istriku, adiknya yang kembar Hilma pernah jatuh lemas dan sekujur tubuhnya berkeringat dingin dikarenakan pola “Diet” yang salah, begitu juga saudara kembarnya Hilda sakit perut yang berkepanjangan, bahkan sampai sesak nafasnya. Awalnya dikarenakan pola makan yang tidak teratur.


Memang agar kurus banyak hal yang diupayakan oleh banyak orang, bukan hanya kaum hawa saja tetapi juga banyak juga para pria yang ingin menjaga penampilannya. Dari mulai Atkins diet, Rawfood diet, Food combaining, diet macan, diet mediterania, acai berry dan berbagai nama diet sampai laris manisnya alat-alat penurun berat badan di tv media.


Biayanya pun beragam dari yang murah sampai yang mahal banget. Tapi saya agak ragu apakah metoda dan pola-pola diet itu banyak berhasilnya atau justru lebih banyak gagalnya.


Jika menela’ah kehidupan Rasulullah SAW, beliau jarang sekali sakit. Pola hidupnya sangatlah sehat. Dari mulai pola makan, istirahat, berolahraga dan sebagainya. Dan mungkin saja bisa dibuat metoda Diet syar’i yang mengikuti pola beliau.


Tentu perlu kajian lebih lanjut dikarenakan makanan-makanan yang berbeda jenisnya dengan makanan kita. Namun ada baiknya kita simak bagaimana islam menuntun umatnya, sebagaimana Alloh swt berfirman; “Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah, 2 : 168).


Sesungguhnya pangkal penyakit kebanyakan bersumber dari makanan. Maka tak heran bila Rasulullah memberi perhatian besar dalam masalah ini. Prinsip pertama makanan dan minuman harus halal dan thoyib (baik).


Maksudnya selain masuk kategori halal, maka makanan dan minuman kaum muslimin juga harus bersih dan mengandung kandungan gizi yang cukup. Juga menghindari dari pola makan yang berlebihan. Sebagaimana ayat ; Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf, 7 : 31).


Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” (HR. Ibnu Majah no. 3349 dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah no. 2720).


Al Fudhail bin Iyyadh mengatakan, “Ada dua hal yang menyebabkan hati menjadi beku dan keras yaitu banyak berbicara dan banyak makan.”“Orang beriman itu makan dengan menggunakan satu lambung sedangkan orang yang kafir makan dengan menggunakan tujuh lambung.” (HR. Bukhari no. 5393, dan Muslim no. 2060).


Mengkonsumsi makanan berlebih selain menyebabkan berbagai macam penyakit juga memotivasi keinginan terhadap dunia yang berlebih. Menurut kajian tasawuf sumber malapetaka yang menimpa manusia itu disebabkan oleh kerakusan terhadap dunia, yang memotivasinya adalah perut dan alat kelamin.


Syahwat kelamin berkaitan dengan perut yang kekenyangan, sedang lapar adalah satu sarana menutup pintu kebinasaan. Ilmu tidak akan masuk kedalam perut yang terisi penuh makanan, banyak makan, banyak minum dan banyak tidur.


Nabi selalu mengambil makanan yang terdekat, memberikan keteladanan kepada orang yang beriman agar tidak diperkenankan “rakus” dan serakah dalam soal makanan.


Rasul lebih sering makan Nabati meski juga memakan daging tapi sesekali saja dan tidak banyak. Daging yang disukai nabi adalah daging yang mudah dicerna yaitu daging bagian lengan. Makanan favorit Rasul adalah labu.


Dari Anas bin Malik mengisahkan, “Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah SAW untuk menikmati hidangan makan yang disajikannya. Maka aku mendatangi undangan makan itu bersama Rasulullah. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah roti gandum serta kuah berisi labu dan daging. Lalu aku melihat Rasulullah menjumputi labu dari pinggiran pinggan. Maka sejak hari itu aku selalu menyukai labu.”(HR Bukhari).
 
Berikut secara ringkas pola sehat kebiasaan Rasulullah SAW. Beliau bangun di sepertiga malam sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Rasulullah SAW juga biasa bersiwak.


Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka sungguh aku sudah memerintahkan mereka Untuk bersiwak (sikat gigi) setiap kali berwudlu” (HR.Malik, Ahmad, dan Nasai dan dinilai Shohih oleh Ibnu Khuzaimah).


Menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan madu. Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan hadits dari Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda.“Artinya : Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”.


Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibnu Al Barra’, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun tersebut.


Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah Khol (cuka) adalah sejenis cairan. Jika kurma dimasukkan ke dalamnya, cairan tersebut akan terasa manis sehingga bisa diminum,dan minyak zaitun dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti gandum. Manfaatnya banyak sekali, di antara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan.
 
Di malam hari, menu utama makan malam adalah sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Sayyidina Umar ra, berkata : Jangan kau jadikan perutmu sebagai binatang ternak. Maka makanan Komposisi terbaik adalah : 10 % Hewani, 60 % biji-bijian, 30 % Sayuran dan buah.


Nabi makan dari berbagai makanan karena sesungguhnya bila makanan yang satu panas akan dipadamkan oleh makanan lain yang dingin. Sebagaimana hadist dari Abdullah bin Ja’far ra, ia menceritakan, bahwasanya ia melihat Rasulullah SAW menyantap kurma dengan mentimun. (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas seperti sholat terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna. Nabi bersabda: “Hancurkan makanmu dengan dzikir dan shalat serta Janganlah tidur setelah makan maka hatimu menjadi keras.” (HR. Ibnu Sunni, Thabrani dan Baihaqi).


Dengan pola seperti itu belum lagi ditambah, pengelolaan hati yang sempurna seperti tidak mudah marah, tidak terganggu stress, selalu berbaik sangka, selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan, jika sakit minum obat-obatan herbal, seperti habbats, madu, juz kurma, dan banyak lagi faktor yang membuat Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa pola hidup sehat adalah pola hidup islami.


Karenanya diet syar’i menjadi salah satu persyaratan dari sekian banyak persyaratan agar menjadi sehat yang terintegrasi. Bukan hanya jasadnya saja tetapi juga sekaligus sehat secara ruhiyah. Semoga duo kembar Hilda dan Hilma, juga kita semua dapat mengambil hikmah diet syar’i ‘ala sunnah ini. Insya Allah.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/opinion/2012/08/24/apa-aku-peduli/


DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW

Saturday, July 27, 2013

Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

REPUBLIKA.CO.ID, Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga Muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama.


Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.


Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar.


Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.


Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit.


Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.


Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat.


Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang.


Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.


Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).


Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.


“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!” perintah beliau.


Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”


“Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa,” tutur Hudzaifah.


Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, “Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!”


“Saya siap, ya Rasulullah,” jawab Hudzaifah. Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam.


Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.


“Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”


Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, “Siapa kamu?” Jawabnya, “Aku si Fulan, anak si Fulan.”


Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi.


Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”


Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat.


Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.


Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka menjawab, “Ada,” Umar turut menyalatkannya.


Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”"Ada seorang,” jawab Hudzaifah.


“Tolong tunjukkan kepadaku siapa?” kata Umar. Hudzaifah menjawab, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”


Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai.


Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.


Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”Mereka menjawab, “Sudah dekat Subuh.”


Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”Ia bertanya kembali, “Adakah kalian membawa kafan?”


Mereka menjawab, “Ada.” Hudzaifah berkata, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”


Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.”


Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.


 


 


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/240107


Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

Friday, July 26, 2013

Rasulullah dan penaklukan wilayah Yahudi di Arab

Perang Khaibar merupakan salah satu peperangan besar yang dijalankan Rasulullah. Perang ini muncul akibat keangkuhan kaum Yahudi yang menolak masuk Islam.


Kaum Yahudi pun pada akhirnya menyerah kepada pasukan Islam setelah benteng Khaibar digempur habis-habisan. Namun demikian, ternyata masih ada kelompok Yahudi di beberapa wilayah yang tidak mau menerima dakwah Nabi SAW.


Usai pertempuran Khaibar, Rasulullah beserta seluruh pasukan Islam kembali ke Madinah. Mereka melewati sebuah desa yang dihuni oleh kelompok Yahudi, yang bernama Wadil Qura.


Sesampai di Wadil Qura, Rasulullah memutuskan untuk berhenti sejenak. Rasulullah kemudian mengajak umat Yahudi untuk memeluk Islam.


Namun, seruan Rasulullah yang disampaikan secara damai ternyata ditentang dengan kekerasan oleh umat Yahudi Wadil Qura. Mereka malah memancing timbulnya perang kembali antara pasukan Muslim dengan Yahudi.


Rasulullah kembali mengajak mereka untuk mengikuti Islam dengan damai. Tetapi, dengan sombong mereka menolak ajakan itu dan mengeluarkan para satrianya untuk melawan umat Islam.


Pertarungan itu dilakukan secara duel satu lawan satu. Duel terjadi selama sebelas kali dan tak satupun dimenangkan oleh pihak Yahudi.


Akhirnya mereka menyerah kepada Rasulullah dan mengajukan permohonan damai. Hal itu dikabulkan oleh Rasulullah dengan syarat mereka harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.


Tetapi, Rasulullah tidak lantas memaksa mereka untuk memeluk Islam. Mereka dibiarkan tetap beragama Yahudi serta diperbolehkan tinggal di Wadil Qura.


(Disarikan dari buku ‘Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad’ Moenawar Chalil)












Article source: http://www.bolanews.com/read/tinju/internasional/29421-Petinju-Jepang-Ikuti-Jejak-Seterunya-Muhammad-Ali.html


Rasulullah dan penaklukan wilayah Yahudi di Arab

Thursday, July 11, 2013

Kisah pengemis buta masuk Islam karena disuapi Rasulullah

Ketika Rasulullah tinggal di Makkah, terdapat seorang pengemis Yahudi buta yang berada di ujung pasar. Dia selalu berkata kepada orang yang lewat untuk menjauhi Rasulullah.


“Wahai saudaraku, jangan kau dekati Muhammad. Dia itu gila, pembohong, tukang sihir, apabila kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya,” kata pengemis buta itu/


Setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dan membawakan makanan untuk pengemis buta itu. Rasulullah kemudian menyuapi pengemis tua itu, meski selalu mendapat pesan untuk tidak mendekati Muhammad.


Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang menyuapi si pengemis buta. Kebiasan Rasulullah terdengar oleh Abu Bakar, dari putrinya, Aisyah.


Abu Bakar kemudian menjalankan kebiasaan Rasulullah itu dan memberi makanan kepada si pengemis buta. Tapi, si pengemis buta malah membentak.


“Siapa kau?” kata pengemis buta itu dengan nada tinggi.


“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar.


“Bukan, kau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Dia selalu menyuapiku dengan terlebih dulu dia haluskan makanan itu dengan mulutnya kemudian diberikan kepadaku,” kata pengemis itu.


Mendengar perkataan itu, Abu Bakar tidak sanggup menahan tangis. Akhirnya dia menangis di depan pengemis buta itu.


“Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Orang yang mulia itu, yang biasa menyuapimu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW,” kata Abu Bakar sambil terisak.


Si pengemis buta pun menangis. “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku, sedikitpun, dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia,” kata dia.


Usai berkata demikian, si pengemis buta itu kemudian bersyahadat di hadapan Abu Bakar.


(Disarikan dari buku ‘Kisah Orang-orang Sabar’ Nashiruddin)












Article source: http://hot.detik.com/read/2013/07/10/184939/2298559/230/winda-viska-nangis-lihat-pacar-salat-usai-jadi-mualaf?991104topnews


Kisah pengemis buta masuk Islam karena disuapi Rasulullah

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Tuesday, July 2, 2013

Abu Bakar yang Setia

REPUBLIKA.CO.ID, Abu Bakar tetap menemani Rasulullah saat peristiwa hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah pada 622 M.  Dia menjadi sahabat satu-satunya yang menemani Rasulullah.


Kesetiaan Abu Bakar semakin menjadi tatkala dia mengikat tali kekeluargaan dengan Nabi Muhammad. Anak perempuannya, Aisyah, menikah dengan Rasulullah beberapa saat setelah hijrah.


Nama awal Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah. Dalam lembaran sejarah disebutkan nama ayahnya adalah Abu Quhafah. Ini pun bukan nama sebenarnya. Utsman bin Amir demikian nama lain dari Abu Quhafah. Abu Bakar lahir pada 573 Masehi, lebih muda sekitar tiga tahun dari Nabi Muhammad.


Sebelum masuk Islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah. Ada cerita menarik tentang nama ini. Ummul Khair, ibunda Abu Bakar sebelumnya beberapa kali melahirkan anak laki-laki.


Namun setiap kali melahirkan anak laki-laki, setiap kali pula mereka meninggal. Sampai kemudian ia bernazar akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk mengabdi pad Ka’bah. Maka, lahirlah Abu Bakar.


Setelah Abu Bakar lahir dan besar ia diberi nama lain; Atiq. Nama ini diambil dari nama lain Ka’bah, Baitul Atiq yang berarti rumah purba. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Abdullah. Nama Abu Bakar konon berasal dari predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal.


Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah mengabarkan tentang keutamaan sahabat sekaligus mertua beliau ini. “Tak seorang pun yang pernah kuajak masuk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu ragu dan berhati-hati kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunggu-nunggu atau ragu-ragu ketika kusampaikan hal ini,” sabda Rasulullah.


Hal ini pula yang menyebabkan ia dilantik dengan gelar Ash-Shiddiq di belakang namanya. Abu Bakar memang selalu membenarkan Rasulullah tanpa sedikit pun keraguan. Pada peristiwa Isra’ Mikraj, Abu Bakar adalah orang pertama yang percaya saat Rasulullah menyampaikan hal itu. Tanpa setitik pun ada kebimbangan di benaknya.


Abu Bakar memulai misi mulia dalam menyerukan agama Allah, sehingga berkat tangannya, Allah memberikan hidayah-Nya kepada generasi pertama Islam (As-Sabiqunal Awwalun), di mana dengan kesabaran dan kesungguhan mereka membangun Islam.


Ia mulai menyebarkan Islam kepada orang-orang di kaumnya yang ia percayai, orang yang berteman dan duduk bersamanya. Sehingga banyak sekali yang masuk Islam karenanya seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf.


Mereka ini berangkat menemui Rasulullah ditemani Abu Bakar. Lalu beliau menawarkan Islam kepada mereka, membacakan Al-Qur’an, menjelaskan kebenaran Islam, hingga mereka beriman.


Betapa mulianya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang telah mengislamkan lima dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Umar berkata, “Abu Bakar adalah junjungan kami dan telah memerdekakan junjungan kami, yakni Bilal.”


Ibnu Umar berkata, “Dahulu kami melakukan pemilihan kepada orang-orang pada zaman Nabi Saw masih hidup siapakah yang terbaik, maka kami memilih Abu Bakar dan kemudian Umar bin Khatab dan kemudian Utsman bin Affan.” (HR Bukhari)


 



Abu Bakar yang Setia

Saturday, July 20, 2013

Kepemimpinan Rasul di Madinah

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, tokoh-tokoh liberal selalu menjadikan kepemimpinan Rasulullah di Madinah, khususnya dengan adanya piagam Madinah, sebagai pembenaran akan pendapat dan pemikiran mereka.


Rasulullah sangat toleran dan tidak bersikap keras terhadap golongan agama lain yang ada di Madinah pada waktu itu dan membiarkan mereka menjalankan ajaran agama mereka secara bebas. Bagaimana sesungguhnya memandang kepemimpinan Rasulullah di Madinah?


Ardiansyah Firman – Yogyakarta


Waalaikumussalam wr wb.


Allah SWT berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8).


Dalam ayat ini, Allah menegaskan, tidak ada larangan bagi orang beriman berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memerangi agama Islam. Juga, tak mengusir kaum Muslimin dari kampung halaman mereka.


Dalam ayat lain, Allah memerintahkan, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Dialah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS al-Anfal [8]: 61).


Allah menegaskan pula, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).


Inilah yang menjadi sandaran Nabi dalam berinteraksi dengan orang-orang kafir. Beliau memang sangat toleran dan penuh kasih sayang, baik kepada kaum Muslimin maupun kepada non-Muslim.


Banyak orang kafir dan musyrik yang masuk Islam karena keluhuran budi dan kemuliaan akhlak Nabi. Hal itulah yang beliau tuangkan dalam piagam Madinah yang dianggap sebagai konstitusi pertama di dunia.


Semua golongan, umat Islam dengan kaum Muhajirin dan Ansharnya, kaum Yahudi dengan berbagai kabilahnya, dan orang-orang musyrik Madinah dilindungi dan dibiarkan bebas menjalankan ajaran agama masing-masing. Tetapi, dengan syarat mereka mematuhi piagam Madinah dan tidak mengkhianati isinya.


Namun, ketika isi perjanjian dalam piagam Madinah itu dilanggar salah satu pihak yang bersepakat, sebagaimana kaum Yahudi dari Bani Quraizhah ketika melanggar piagam Madinah, berkhianat dengan membantu musuh-musuh Islam dalam perang Khandaq, Rasulullah memerangi dengan mengepung mereka sampai 25 malam hingga akhirnya mereka menyerah.


Lihatlah bagaimana hukuman yang dijatuhkan Rasulullah kepada Yahudi dari Bani Quraizhah. Rasulullah menyerahkan hukuman atas mereka kepada Sa’d bin Mu’az yang kemudian memutuskan semua laki-laki Yahudi Bani Quraizhah dibunuh, wanita dan anak-anaknya dijadikan tawanan, sedangkan hartanya dijadikan harta rampasan perang yang dibagikan kepada kaum Muslimin. Inilah konsekuensi dari Piagam Madinah tersebut.


Kalau kaum liberalis memperhatikan hukuman ini, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk mengatakan bahwa Nabi sangat toleran atau malah sebaliknya, menuduh Nabi sebagai pemimpin sadis yang kejam.


Begitu juga sikap Nabi terhadap kaum kafir yang memerangi Islam dan tidak bersikap damai. Rasulullah bersikap tegas dan selalu melindungi hak dan kepentingan kaum Muslimin.


Hal itu sesuai firman Allah, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS al-Mumtahanah [60]: 9).


Dan dalam hadis Nabi juga dijelaskan mengenai persoalan ini. Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pernah juga memukul seorang pembantu. Beliau hanya memukul jika sedang berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu pun, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali, jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau akan membalas dengan hukuman hanya karena Allah ‘Azza Wa Jalla.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bish shawab.


Ustaz Bachtiar Nasir


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Kepemimpinan Rasul di Madinah

Saturday, August 3, 2013

Syiah sesat lagi menyesatkan

ISLAM agama ilmu. Islam juga memerangi kejahilan. Oleh itu, umat Islam diperintahkan agar mencari ilmu. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bermaksud: “Menuntut ilmu diwajibkan kepada setiap muslim”.


Daripada ayat al-Quran yang pertama diturunkan iaitu Iqra’, Allah SWT menghendaki manusia membaca dan pembacaan itu merupakan pintu kepada memperolehi ilmu.


Al-Quran itu sendiri merupakan kitab ilmu dan al-Quran telah menjadikan ilmu sebagai kayu pengukur kepada kelebihan seseorang manusia di atas dunia ini.


Justeru ketika menilai sesuatu pegangan dan aliran mestilah daripada perspektif ilmu agar tidak terpedaya dengan syaitan. Sememangnya jika dilihat dari sudut luaran, golongan Syiah agak ke hadapan daripada pelbagai sudut seperti ketenteraan, disiplin, penampilan dan sebagainya.


Apatah lagi setelah berlakunya Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang menyerlahkan lagi kewibawaan Iran mendokong dan menyebar fahaman Syiah, namun semua itu tidak boleh dijadikan ukuran untuk terus menerima pegangan dan aliran mereka.


Banyak golongan dan ajaran sesat yang berjaya menzahirkan penampilan hebat, namun akhirnya apabila ditimbang dari sudut ilmu, amat mengecewakan bahkan termasuk dalam ajaran yang menyeleweng. Jika persepsi menjadi ukuran, sudah tentu masyarakat akan mudah terikut dengan akidah dan pegangan orang Jepun.


Orang Jepun masyhur dengan semangat kerja mereka, disiplin yang tinggi, bahkan amalan kebersihan yang sangat dipuji sehinggakan ada menyatakan bahawa seseorang itu boleh tidur dalam tandas di Jepun lantaran tandas mereka yang sangat bersih!


Namun, apakah kehebatan dan penampilan masyarakat Jepun itu mewajarkan kita mengamal dan menganut agama Shinto mereka yang syirik itu? Sudah tentu tidak! Oleh yang demikian, ilmu hendaklah dijadikan suatu ukuran untuk menerima sesuatu pegangan dan ajaran.


Melalui kajian ilmu, didapati Syiah merupakan golongan yang sesat lagi menyesatkan. Mereka tidak termasuk dalam golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Pegangan mereka juga dilihat bercanggah dengan al-Quran dan hadis Nabi SAW.


Terdapat tiga kategori golongan Syiah iaitu: Syiah mughaliyah (pelampau), Syiah Rafidah (Imamiyah) dan Syiah Mu’tadilah (Zaidiyah).


Daripada tiga golongan Syiah ini, Syiah Rafidah atau Imamiyah merupakan golongan yang paling dominan dan berkembang dalam dunia pada hari ini. Mereka merupakan majoriti Syiah yang mengatakan imamnya Ali adalah dengan nas, Ali telah menaskan imamah anaknya Hassan manakala Hassan telah menaskan imamah saudaranya Hussein.


Begitulah seterusnya imamah itu berpindah dengan nas kepada anak-anak Hussein sehinggalah kepada Muhammad bin Hassan al-Askari yang pada pendapat mereka dia ghaib semasa kecil dan akan muncul sebagai Imam Mahdi pada akhir zaman dengan membawa kebenaran dan keadilan.


Mereka dikenali dengan Syiah Imamiyah kerana pegangan mereka kepada 12 imam yang dianggap sebagai maksum (bebas daripada segala dosa dan kesalahan).


Mereka ini juga dinamakan golongan Rafidah kerana mereka menolak imamah Abu Bakar, Umar al-Khattab dan Uthman Affan dengan hujah bahawa Nabi Muhammad SAW mewasiatkan kepada Ali sebagai khalifah selepasnya.


Namun wasiat ini pada dakwaan Syiah telah diketepikan oleh kebanyakan sahabat selepas kewafatan Rasulullah SAW. Oleh yang demikian mereka mengkafirkan para sahabat Nabi SAW termasuk sahabat-sahabat yang rapat dengan Rasulullah SAW seperti Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan selainnya.


Jelasnya, Syiah bukanlah suatu ajaran yang boleh diikuti, bahkan ia merupakan ajaran sesat yang diasaskan oleh seorang Yahudi dari Yemen yang bernama Abdullah bin Saba’.


Dia merupakan bangsa Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam. Dia pandai mengada-adakan cerita palsu dan bijak menipu orang. Dia juga digelar Ibnu Sauda’.


Setelah Abdullah bin Saba’ memeluk Islam secara berpura-pura, dialah orang yang mula-mula mengisytiharkan kewajipan melantik Ali sebagai Imam dan menyatakan secara terbuka penentangannya terhadap musuh-musuh Ali, bahkan mengkafirkan mereka.


Bermula dari sinilah, dapat dilihat dengan jelas bahawa ajaran Syiah Rafidah terpengaruh dengan agama Yahudi. Syiah merupakan ajaran sesat yang paling lama dapat bertahan sehingga ke hari ini. Mereka yang terpedaya dengan ajaran Syiah telah terperangkap dengan tipu daya syaitan yang sememangnya sentiasa berusaha untuk menyesatkan umat Islam daripada persada kebenaran.


Syiah dan al-Quran


Bahaya Syiah jelas apabila melihat kepada pandangan mereka terhadap kitab suci al-Quran. Syiah tidak menganggap kitab suci al-Quran adalah kitab yang terpelihara. Bahkan mereka beranggapan telah berlaku penyelewengan pada ayat-ayat al-Quran.


Buktinya adalah nas yang dikemukakan oleh al-Kulaini iaitu ulama hadis Syiah dalam kitab hadisnya al-Kafi dengan menyatakan bahawa: “Daripada Hisham bin Salim, daripada Abi Abdillah, a.s berkata, al-Quran yang didatangkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak 17,000 ayat”.


Pegangan golongan Syiah ini jelas menunjukkan bahawa mereka beranggapan al-Quran yang ada pada umat Islam hari ini masih tidak sempurna kerana ayat al-Quran yang ada hanya berjumlah 6,236 ayat sahaja, sedangkan mereka beranggapan bahawa al-Quran sebenar iaitu yang dikenali sebagai mushaf Fatimah mengandungi 17,000 ayat.


Ini bermakna dua pertiga ayat al-Quran sudah diselewengkan. Pegangan Syiah ini jelas sesat kerana Allah SWT telah menjamin kesucian al-Quran. Kitab suci itu terpelihara sehingga hari kiamat, tidak akan berlaku penyelewengan terhadap al-Quran walau satu huruf sekalipun. Firman Allah SWT dalam surah al-Hijr ayat 9 bermaksud: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya.


Allah juga berfirman dalam Surah Fussilat ayat 41-42 yang bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar terhadap al-Quran ketika sampainya kepada mereka, (akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi); sedang al-Quran itu, demi sesungguhnya sebuah Kitab suci yang tidak dapat ditandingi, yang tidak dapat didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya; ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Terpuji.


Syiah dan Hadis


Golongan Syiah menolak hadis-hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari, sahih Muslim, sunan al-Tirmidzi dan kitab-kitab hadis ahli sunah yang lain. Mereka menolak mentah-mentah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah SAW.


Bagi mereka, kitab hadis yang menjadi pegangan mereka ialah al-Kafi tulisan al-Kulaini, yang diriwayatkan daripada Imam Maksum.


Mereka juga menganggap para sahabat menjadi kufur dan murtad setelah kewafatan Rasulullah SAW. Al-Kulaini yang dianggap oleh golongan Syiah setaraf dengan Imam Bukhari meriwayatkan bahawa para sahabat telah murtad sepeninggalan Rasulullah SAW kecuali tiga orang daripada mereka iaitu Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.


Ini jelas menunjukkan kebiadaban puak Syiah kerana perbuatan mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad SAW sedangkan para sahabat mendapat tarbiah secara langsung daripada baginda. Secara tidak langsungnya, puak Syiah juga telah memperkecilkan serta menghina Rasulullah SAW.


Golongan Syiah juga sangat biadab terhadap para isteri Rasulullah SAW dengan mengatakan bahawa Saidatina Aisyah dan Saidatina Hafsah sebagai munafik dan kafir. Mereka mendatangkan riwayat palsu yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafsahlah yang telah meracuni Rasulullah SAW sehingga mengakibatkan kewafatan baginda.


Syiah dan Taqiyah


Sebenarnya konsep taqiyah itu ialah konsep yang berasaskan kepada perbuatan berdusta, berbohong dan berpura-pura. Namun, konsep ini telah dijadikan asas oleh golongan Syiah dalam memartabatkan keimanan mereka kepada Allah SWT.


Disebabkan sikap taqiyah ini, para ulama tidak mahu menerima riwayat yang dibawa oleh golongan Syiah ekoran pembohongan yang dilakukan oleh mereka.


Ajaran Syiah itu sendiri sebenarnya ditegakkan di atas dasar taqiyah. Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitab beliau al-Kafi: “Sesungguhnya kamu berada di atas agama yang sesiapa menyembunyikannya akan dimuliakan Allah dan sesiapa menyebarkannya akan dihina oleh Allah”.



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/07/02/mpadoi-kepincut-shalat-lima-waktu-mary-qatarneh-memeluk-islam


Syiah sesat lagi menyesatkan

Wednesday, March 27, 2013

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Home Gazw Al-Fikr

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”


 

Pembaca ajar dan Syiah di Sampang Tajul Muluk saat di pengadilan


Kamis, 28 Maret 2013

Oleh: Kholili Hasib

POLEMIK Ahlus Sunnah-Syiah tentang kesesatan Syiah di harian Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul “Kesesatan Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” ditulis oleh Babul Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.

Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013.  Bahasa yang ditulis dalam buku tersebut cenderung  tidak memakai etika serta adab terhadap tokoh dan institusi terhormat.

Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung dalam MUI Sampang dan Jatim”.

Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan  bahwa MUI Jawa Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar virus kebencian antarsesama umat Islam.

Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.

Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok kesesatannya terbuka.

Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim menulis tujuh butir.

Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.

Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif”.

Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Tajul dihukum dua tahun penjara.

Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan, umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan terhadap umat.

Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat. Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik Syiah.

Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh Dimasyqa yang berbunyi:

لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي

“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali adalah wahiku dan pewarisku”.

Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat Lu’lu’ al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid I hal. 368). Begitupula imam al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.

Hadits berikutnya berbunyi:

أنت مني بمنزلة هارون من موسى

“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap jamaah Ahlus Sunnah. Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits Sunni.

Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ (mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.

Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.

Tidak ada term yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.

Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang Badar.

Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum, Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.

Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran yang berbeda” (hal. 22).

Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama. Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.

Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi  juz I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 23 hal. 390).

Dua hadits di atas  dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan ini dapat pula disebut tanawwu’  (variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’ Shirat al-Mustaqim,124).

Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari, bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits tersebut berbunyi:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy) akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.” (HR. Bukhari).(hal. 34).

BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”.  Menurut BU, MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).

Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya, BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.

Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab Fath al-Bari 13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:

قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين

Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak pernah menolong kepentingan Islam.”
Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.

BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Bari syarah kitab al-Bukhari. Inilah yang disebut Kalimatun haq urida biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).

Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).

Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci mencaci sahabat.  Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa al-khanazir).

Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya. Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*

Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/16/m2ksfo-astaghfirullah-masjid-tua-di-yunani-dibakar


Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Tuesday, June 11, 2013

Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, jika seseorang bermimpi junub, tetapi tidak keluar mani, apakah sah jika ia melakukan shalat, baik yang fardhu maupun sunah tanpa mandi terlebih dahulu? Ataukah ia wajib mandi janabah terlebih dulu?


Dan, jika ia ingin berpuasa, tetapi mandinya setelah shalat Subuh apakah masih sah puasanya? Dan, ketika mandi ada air yang masuk ke lubang hidung dan telinganya, apakah puasanya masih bisa diteruskan?


Warsito – Semarang


Waalaikumussalam wr wb.

Ummu Salamah, Ummul Mukminin ra, berkata, “Ummu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi jika bermimpi?” Rasulullah SAW bersabda, “Iya, apabila ia melihat air (mani).” (HR Bukhari dan Muslim).


Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi. Beliau menjawab, “Dia wajib mandi.” Dan, beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab, “Dia tidak wajib mandi.” Lalu, Ummu Sulaim bertanya, “Perempuan juga mendapatkan itu (mendapatkan dirinya basah) apakah ia juga wajib mandi?” Nabi SAW menjawab, “Iya, kaum perempuan adalah saudara kandungnya kaum laki-laki.” (HR Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad).


Berdasarkan hadis-hadis di atas, para ulama sepakat, seseorang yang bermimpi, tapi tidak keluar mani maka tidak wajib baginya mandi janabah.


Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah mengatakan, jika seseorang bermimpi, tetapi tidak mendapati adanya mani yang keluar maka tidak wajib baginya mandi. Ibnu Mundzir menegaskan, “Para ulama yang saya ketahui sepakat (ijmak) tentang hal ini.”


Hal itu tidak memengaruhi ibadah puasanya jika seseorang ingin berpuasa di siang harinya. Bahkan, jika ia pun diwajibkan mandi karena bermimpi sampai keluar mani ataupun karena berhubungan suami istri, tetapi baru mandi setelah terbitnya fajar atau setelah waktu Subuh, puasanya tetap sah.


Dari Aisyah istri Nabi SAW, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) pada Ramdahan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian, beliau mandi dan tetap berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).


Dalam riwayat lain disebutkan, Aisyah dan Ummu salamah (istri-istri Nabi SAW) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa. (HR Bukhari).


Dan, masuknya setetes air ke dalam lubang hidung atau telinga ketika mandi tidaklah membatalkan ibadah puasa, apalagi jika itu tidak disengaja untuk memasukkannya dan tidak sampai ke lambungnya.


Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai memasukkan air ke dalam lubang hidung atau yang dinamakan dengan istinsyaq karena ada hadis Nabi SAW yang menegaskan agar tidak berlebih-lebihan dalam ber-instinsyaq ketika berpuasa.


Dari Laqith bin Shabirah, ia berkata, “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jemari dan bersungguh-sungguhlah ketika be-ristinsyaq (memasukkan air dalam hidung), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR Tirmizi, Abu Daud, al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).


Jumhur ulama berpendapat, jika seseorang berlebih-lebihan dalam ber-istinsyaq, lalu masuk air ke dalam badannya tanpa sengaja, batallah puasanya. Sedangkan, sebagian ulama berpendapat itu tidak membatalkan.


Tapi, jika air yang masuk itu banyak maka berdasarkan hadis di atas dan pendapat jumhur ulama, hal itu dapat membatalkan puasa karena hidung juga merupakan tempat masuknya sesuatu ke dalam perut atau lambung seseorang karena lubang hidung itu sama seperti mulut bersambung dengan tenggorokan.


Begitu juga ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah sesuatu yang masuk lewat lubang telinga dapat membatalkan puasa atau tidak? Sebagian berpendapat, itu dapat membatalkan puasa karena sama dengan lubang hidung sebagai tempat masuknya sesuatu ke dalam tubuh seseorang.


Sedangkan, sebagian lain berpendapat hal itu tidak membatalkan puasa selama sesuatu yang masuk itu tidak sampai ke tenggorokan.


Dan pendapat yang kuat adalah bahwa telinga itu sama dengan mata, ia bukan tempat masuk makanan atau minuman yang normal ke tenggorokan atau lambung. Oleh karena itu, tidaklah membatalkan sesuatu yang masuk lewat telinga selama tidak sampai ke tenggorokan.


Wallahu a’lam bish shawwab.


Ustaz Bachtiar Nasir



Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/05/02/219477408/Lawan-Eyang-Subur-Adi-Bing-Slamet-Didampingi-TPM


Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

Tuesday, February 12, 2013

Meneladani kasih sayang Rasulullah

Dalam berbagai riwayat disebutkan Nabi Muhammad adalah panutan dalam hal kasih sayang. Saking cinta kepada istri pertamanya, Khadijah, Rasulullah begitu sedih ketika dia wafat. Ini menjadi salah satu alasan buat Allah memerintahkan Nabi Muhammad isra dan mikraj.

Rasulullah juga tidak pernah melupakan Khadijah. Dia selalu menyebut nama Khadijah. Sampai-sampai Aisyah, istri termudanya, marah lantaran cemburu. Biasanya Aisyah bakal bilang, “Khadijah! Khadijah! Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah!”

Rasullulah juga penuh kasih terhadap musuh sudah tidak berdaya. Ketika kembali ke Makkah dari Madinah dengan pasukan kuat, dia tidak berniat balas dendam kepada kaum Quraisy yang telah mengusir dia dari kota kelahirannya itu. Nabi Muhammad malah mengatakan kaum kafir mau masuk Islam atau tidak tetap boleh menetap di Makkah asal tidak memusuhi kaum muslim.

Dia juga tidak marah terhadap orang-orang menghina dan mencaci dia. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad menjadi orang pertama menjenguk orang Yahudi sakit padahal dia selalu melecehkan nabi sekaligus rasul terakhir itu. Akhirnya, orang Yahudi itu masuk Islam.

Di kisah lain, Nabi Muhammad saban hari menyuapi pengemis renta yang mangkal di sebuah pasar. Meski perempuan itu selalu menghujat nabi. Hingga akhirnya dia wafat, Abu Bakar menggantikan peran nabi, namun ditolak oleh sang pengemis. Selepas tahu penyuap setianya adalah Nabi Muhammad yang selalu diejek, dia menjadi muallaf.

Nabi Muhammad selalu rela berlapar diri demi memberi sedekah kepada orang membutuhkan. Sampai-sampai, pribadi mulia nabi ini dipilih sebagai tokoh paling berpengaruh sejagat dalam buku karya Michael H. Hart, ahli astronomi dan sejarah tersohor dari Amerika Serikat.

Kepribadian mulia Rasulullah ini juga dipuji oleh pemuka agama Hindu ternama, Swami Lakshmi Shankaracharya. Dia menegaskan Nabi Muhammad adalah manusia terhebat sepanjang sejarah. Jika orang ingin mengetahui Islam, harus menilai dari kehidupan dan ajaran nabi. “Nabi Muhammad selalu memaafkan musuh-musuhnya, sabar ketika dihina dan disakiti. Ini pelajaran moral membuat Islam menjadi agama internasional,” katanya seperti dilansir abna.ir, Senin lalu.

Swami menyesalkan kebanyakan umat Islam sekarang sudah tidak mengikuti ajaran agamanya dan tidak mau belajar dari kehidupan Rasulullah. Padahal, Alquran menyebutkan Rasulullah adalah panutan terbaik menjadi manusia mulia.

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277739:fadly-nurzal-pemimpin-harapan-umat&catid=41:pilkada-sumut&Itemid=64


Meneladani kasih sayang Rasulullah

Sunday, April 21, 2013

Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

foto googleSungguh berat nian untuk ber-Islam dengan baik di jaman moderen ini. Jaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Jaman dimana banyak hal dalam Islam yang katanya sudah tidak lagi sesuai. Islam kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan jaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu Islam datang menyerukan pembaharuan. Hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. Islam dahulu menjadi panduan yang komplit bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di jamannya.


Islam itu (seharusnya) progresif dan revolusioner. Tapi mengapa saat ini, wajah Islam seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan Islam ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan Islam dengan penganutnya. Kemudian pertanyaannya adalah, darimana kita melihat keagungan dan keunggulan Islam? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. Islamkah yang salah?


Saya sedikit penasaran, bagaimana generasi emas, para pengukir sejarah Islam hidup dan berkembang dahulu. Saya sempatkan untuk mencari-cari dan membaca-baca literatur, hingga akhirnya saya membaca kembali tulisan lama dari penulis favorit saya, Yusuf Qardhawi, dengan tulisannya Fiqih Prioritas. Saya pikir tulisan ini cukup mewakili sudut pandang orang-orang yang hidup sebagai generasi emas Islam. Setidaknya begitu bagi saya, sudut pandang yang diberikan Yusuf Qardhawi dalam buku tersebut sangat progresif dan revolusioner. Dan seperti itulah Islam seharusnya, gerbong perubahan. Tidak berniat untuk menjadi hiperbolis mengatakan bahwa dengan ber-Islam-lah Anda bisa berubah, tapi ada beberapa semangat dalam ber-Islam yang seharusnya bisa mengubah kita. Dengan begitu, jika Islam mengalami stagnansi, itu bukanlah Islam, bukan semangat ke-Islam-an yang dulu pernah digelorakan generasi pertama.


Di sini saya kemudian juga harus jujur, bahwa hampir semua ajaran yang ada di muka bumi ini datang dengan semangat yang sama, semangat perubahan, tidak hanya Islam. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan atau melebihkan, tidak ada kapasitas saya untuk melakukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah, mempertanyakan kembali kalimat Islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena semangat dan nafasnya Islam itu yah letaknya disana, bahwa Islam itu mempunyai semangat perbaikan, dimana semangat perbaikan itu berbeda dengan nilai konservatif dan status-quo yang cenderung stagnan.


Saya akan coba ulas beberapa hal yang saat ini sering menjadi pokok masalah didalam umat Islam sendiri, yang menurut saya menjadi sumber kemerosotan kebermanfaatan muslim di lingkungan sekitar. Kadang permasalahan ini malah menggerogoti keindahan Islam itu sendiri.


1. Fatwa-fatwa yang sudah tidak sesuai dengan jaman sudah seharusnya direvisi


Perubahan kondisi dunia hingga seperti saat ini memerlukan perubahan cara pandang di diri seorang muslim. Para ahli fiqih harus mengubah fatwa-fatwa lama yang sekiranya sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, dengan berpegang pada faktor keluwesan dan keleluasan dalam syariat Islam yang sejalan dengan As Sunnah dan Al Quran. Kondisi saat ini tentu berbeda dengan jaman dahulu sehingga pendekatan-pendekatan dalam pembuatan fatwa pun tentu berbeda, sehingga peninjauan terhadap fatwa-fatwa lama pun harus dilakukan.


Contoh yang diberikan Yusuf Qardhawi adalah bagaimana seharusnya muslim saat ini melihat dunia muslim dan dunia selain muslim. Jaman dahulu ada fatwa di dunia muslim yang membagi dunia ke dalam Dar Islam dan Dar Harb, sebuah pandangan mengenai hubungan dunia muslim dengan bukan muslim adalah peperangan. Selain tidak sesuai dengan kondisi saat ini, fatwa ini juga dinilai lemah karena banyak penjelasan-penjelasan di As Sunnah dan Al Quran yang menyatakan kebalikannya, seperti
“… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…“(al-Hujurat: 13) dan ”..Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan...” (al-Ahzab: 25)


Walaupun saya yakin banyak muslim saat ini yang memiliki pandangan bahwa peperangan bukan jalan dakwah yang bisa ditempuh saat ini. Namun pandangan anarkis dalam menyebarkan keindahan Islam ini masih saja menodai langkah perjalanannya saat ini, seperti aksi kekerasan terhadap golongan lainnya dengan mengatasnamakan dakwah.


Fatwa-fatwa lama, bisa jadi telah mendarah daging sehingga tanpa kita sadari telah menjadi keseharian muslim-muslim di dunia tanpa mengetahui jika itu tidak lagi sesuai jamannya. Muslim-muslim mengikuti fatwa-fatwa tanpa mengetahui sebab musababnya dan tanpa pengetahuan, sehingga yang ada hanya sikap fanatisme kosong. Ada teguran yang cukup jelas tentang hal ini.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” (al-Isra’: 36)


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)


Untuk masalah ini kadangkala masyarakat kita sangat mudah percaya bahwa sesuatu adalah benar jika itu mengatasnamakan Islam ataupun dakwah. Sudah jelas dalam ayat diatas bahwa ijtihad itu di atas taqlid, artinya kebiasaan menggali informasi serta memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan merupakan salah satu muslim sejati. Sehingga wajar saja di jamannya dulu, generasi emas Islam menorehkan banyak karya untuk ilmu pengetahuan. Rasa penasaran begitu besar memang tertanam dan diperintahkan.


2. Memperbaiki diri sebelum memperbaiki lingkungan lebih besar


“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)


Ada beberapa orang yang beranggapan, sistem dulu diperbaiki baru semuanya bisa lebih baik. Saya sangat menyangsikan proposisi ini, bahkan Rasulullah yang utusan langsung saja melakukan pembinaan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membina sebuah masyarakat yang memiliki aturan dan sistem. Tapi itu kan dulu? Saya pikir sama saja, hidup ini kan terus berputar dan menurut saya cara Rasul adalah sebaik-baiknya cara.


Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Rasulullah ini menjalankan perbaikan sistem di tempat-tempat baru. Beliau tidak kemudian memaksakan sistem dan pemahamanan-pemahaman yang ada dalam Islam untuk dipaksakan pada orang-orang bukan Islam. Ke-khalifah-an bukanlah tujuan akhir yang ingin Rasulullah kejar, tapi menyebarkan indahnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin, ke-khalifah-an bisa jadi salah satu cara yang ditempuh. Intinya adalah kita harus jeli melihat mana yang tujuan dan mana yang cara. Jika melihat bagaimana kisah Rasul, jelas terlihat bahwa pembinaan individu itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dengan menyebarkan kebaikan demi kebaikan ke setiap individu sampai akhir hayatnya, dan itu cara yang dipilih oleh beliau.


Ini bukan berarti sistem atau lingkungan tidak penting, karena individu adalah pembentuk sistem. Layaknya sebuah perusahaan yang fokus terhadap pengembangan personal sumberdaya manusianya, maka dia akan mendapatkan sistem yang lebih optimal.


3. Memahami perbedaan itu sebagai sebuah keluwesan dan keleluasaan yang dikarunia Allah


Hal yang tersulit dilakukan saat ini adalah menghargai perbedaan. Perbedaan itu fitrah dan berkah. Namun sebagian besar manusia memang tidak menyadari itu dan menjadi perbedaan itu sebagai dasar perpecahan dan persengketaan yang berkepanjangan. Termasuk diantaranya adalah bagaimana umat muslim mengintrepretasikan isi Al Quran, banyak sekali pendekatan-pendekatan berbeda sehingga memunculkan istilah aliran-aliran tertentu. Patut disadari bahwa dalam Al Quran memang ada ayat-ayat yang sifatnya muhkamat (terang-benderang) dan mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Jika seandainya Allah menginginkan manusia dalam satu pemahaman maka isi Al Quran tentunya mengandung ayat-ayat muhkamat.


Yang paling penting itu adalah kemudian untuk tidak merubah-rubah ayat muhkamat menjadi mutasyabihat ataupun sebaliknya. Banyak sekali perdebatan yang muncul akibat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Yusuf Qardhawi dengan jelas menuliskan bahwa masalah-masalah yang dinggap besar selalu dituliskan sebagai ayat muhkamat, dan kita dilarang untuk berselisih di dalam hal ini, misalnya seperti masalah aqidah. Sedangkan untuk masalah kecil yang tersirat dalam ayat mutasyabihat memang terkadang memunculkan perbedaan hukum oleh fuqaha-fuqaha, dan ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Dalam hal ini kemudian umat Islam tidak boleh dengan mudahnya tercerai berai, inilah yang dijelaskan diawal sebagai berkah perbedaan.


Allah memberikan ruang keleluasaan dan keluwesan bagi manusia untuk berinovasi dalam koridor tertentu, bahkan disini Allah menunjukkan bahwasanya Islam bisa terus bersifat progresif dan revolusioner disesuaikan dengan jamannya. Satu hal yang paling penting, ukhuwah Islamiyah adalah hal yang tetap patut dijaga terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.


4. Fokus kepada isu-isu sentral yang ada dalam Al Quran


Sebelum memikirkan apa yang harus diperbaiki dari umat Islam ini, ada baiknya kita kembali ke Al Quran. Penekanan yang diperlihatkan di dalam Al Quran dengan mengulang-ulang kata-kata dan istilah-istilah tertentu, adalah tanda bahwa hal-hal tersebut sudah seharusnya menjadi prioritas. Seperti pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi. Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.


Sebenernya dengan melihat penekanan-penekanan dalam Al Quran ini kita bisa menilai mana yang kemudian lebih penting ketimbang lainnya. Sehingga dalam bersikap kita bisa lebih proporsional terhadap perintah-perintah Allah, tidak kemudian memakai kacamata kuda untuk bersikeras memaksakan ayat-ayat yang dia sukai saja. Tiap ayat di Al Quran saling terkait satu sama lain, sehingga jika menerapkannya dalam keseharian berdasarkan prioritas tentu kita bisa melihat gambaran kebesaran Rasulullah didalamnya. Beliau bisa begitu lembut pada siapa pun, bahkan musuh Allah sekalipun. Beliau tidak membenci kecuali atas seizin Allah.


Saya rasa propaganda kebencian umat Islam terhadap umat lain memang sudah saatnya dihentikan, karena sudah tidak sesuai semangat yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah. Ada hal yang menarik sebenarnya, di Al Quran disebutkan, misalnya contoh bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi. Tetapi disisi lain kita juga dihadapkan contoh dimana Rasul kita bisa begitu sabar dan lembutnya menghadapi orang-orang Yahudi. Dan bagaimana toleran dan luwesnya Rasul kita dalam membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak di luar Islam.


Menurut pendapat saya kebencian yang kita miliki pun harus proporsional, bukan tanpa alasan dan bukan fanatisme kosong belaka. Sudah jelas bahwa kebencian Rasulullah bukannlah kebencian terhadap personal, bukan kebencian yang pada dasarnya adalah kepada manusia. Rasulullah memperlakukan binatang pun penuh dengan perasaan apalagi manusia, sejahat apapun mereka. Kebencian kita memang sudah sepatutnya ditujukan kepada sifat-sifat jeleknya yang melekat pada personal-personal itu, dan tugas kita untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat itu, menjauhkan keluarga dari sifat-sifat itu dan menjauhkan sifat-sifat itu dari personal-personal umat manusia. Itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah untuk membenci personal, bagi Rasullah setiap pribadi adalah manusia yang wajib beliau ajak ke jalan ke-Islam-an. Itupun berlaku bagi kita, umatnya.


Kemudian bagaimana peperangan yang dahulu umat Islam lakukan. Seperti yang saya jelaskan, dalam Al Quran ayat peperangan ini bahkan tidak masuk prioritas. Peperangan ini ada karena memang pada zamannya itu tidak bisa dihindarkan. Dan kalaupun ada peperangan bukan kebenciannya yang ditebarkan, sekali lagi peperangan itu hanyalah metode yang diambil pada zaman itu dan tidak bisa dihindarkan.


Melihat kondisi dunia seperti saat ini, isu-isu kemanusiaan mungkin bisa dijadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan Islam. Umat muslim sudah seharusnya ada di garda terdepan memerangi kemiskinan sebagaimana banyak ayat-ayat yang membahas tentang zakat, shadaqah dan fakir miskin, memberantas kebodohan sebagaimana banyaknya ayat yang membicarakan tentang ilmu dan menghentikan kemerosotan akhlak individu sebagaimana banyaknya ayat yang membahas bagaimana seharusnya pribadi muslim sejati itu.


Ijtihad-ijtihad dalam hal-hal ini diperlukan, ketika kita berbicara masalah kemiskinan, umat muslim harus terdepan memoderenisasikan pokok-pokok keIslaman dalam tatanan kehidupan berekonomi, saat berbicara kebodohan, umat muslim harus memiliki seribu satu gerakan untuk menyebarkan ilmu ke seluruh pelosok daerah, dan ketika berbicara masalah akhlak, muslim juga harus memiliki standar etika yang jelas, standar pribadi muslim. Bukan muslim yang bermuka dua, yaitu mereka menebar kebencian terhadap personal tetapi muslim yang menebar kebaikan dan memusuhi kejelekan, kepada siapapun orangnya. Dengan semangat ini semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin tentu bisa kita perlihatkan dan buktikan bukan hanya pada umat Islam saja, juga umat-umat lainnya. Kata kunci yang harus dipegang muslim saat ini adalah kebermanfaatan untuk umat manusia, bukan hanya umat muslim saja.


Tulisan ini dibuat tidak kemudian untuk menjadikan Islam terlihat lebih hebat dan superior dari ajaran apapun. Tetapi ini adalah hak dan kewajiban dari umat Islam untuk menjadikan diri mereka lebih baik bagi lingkungan sekitarnya berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. InshaAllah dengan menjadi lebih baik, cahaya Islam itu sendiri tidak kemudian tertutup oleh debu-debu keterbatasan manusia. Memberikan manfaat kepada sesama, bukankah itu sebaik-baiknya manusia. Pun rekan-rekan yang beragama lain pun dipersilakan mencari mutiara didalam ajarannya masing-masing dan mari menjadi lebih baik bagi lingkungan dan dunia. Mari kita hiasi dunia dengan indahnya kebersamaan dan kebermanfaatan dalam rasa cinta dan kasih sayang.


Wallahualam Bishowab


Oleh: Iwa Kartiwa, Seoul


[006-fimadani]


 


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/12/29/337/738766/fpi-wahid-institute-sebar-berita-fitnah


Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern