Showing posts sorted by relevance for query biasa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query biasa. Sort by date Show all posts

Thursday, July 11, 2013

Kisah pengemis buta masuk Islam karena disuapi Rasulullah

Ketika Rasulullah tinggal di Makkah, terdapat seorang pengemis Yahudi buta yang berada di ujung pasar. Dia selalu berkata kepada orang yang lewat untuk menjauhi Rasulullah.


“Wahai saudaraku, jangan kau dekati Muhammad. Dia itu gila, pembohong, tukang sihir, apabila kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya,” kata pengemis buta itu/


Setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dan membawakan makanan untuk pengemis buta itu. Rasulullah kemudian menyuapi pengemis tua itu, meski selalu mendapat pesan untuk tidak mendekati Muhammad.


Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang menyuapi si pengemis buta. Kebiasan Rasulullah terdengar oleh Abu Bakar, dari putrinya, Aisyah.


Abu Bakar kemudian menjalankan kebiasaan Rasulullah itu dan memberi makanan kepada si pengemis buta. Tapi, si pengemis buta malah membentak.


“Siapa kau?” kata pengemis buta itu dengan nada tinggi.


“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar.


“Bukan, kau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Dia selalu menyuapiku dengan terlebih dulu dia haluskan makanan itu dengan mulutnya kemudian diberikan kepadaku,” kata pengemis itu.


Mendengar perkataan itu, Abu Bakar tidak sanggup menahan tangis. Akhirnya dia menangis di depan pengemis buta itu.


“Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Orang yang mulia itu, yang biasa menyuapimu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW,” kata Abu Bakar sambil terisak.


Si pengemis buta pun menangis. “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku, sedikitpun, dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia,” kata dia.


Usai berkata demikian, si pengemis buta itu kemudian bersyahadat di hadapan Abu Bakar.


(Disarikan dari buku ‘Kisah Orang-orang Sabar’ Nashiruddin)












Article source: http://hot.detik.com/read/2013/07/10/184939/2298559/230/winda-viska-nangis-lihat-pacar-salat-usai-jadi-mualaf?991104topnews


Kisah pengemis buta masuk Islam karena disuapi Rasulullah

Friday, June 21, 2013

Jelang Naiknya Harga BBM, Kampus UKI Cawang Sepi Pendemo

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang beberapa jam naiknya harga bahan bakar minyak(BBM), beberapa elemen mahasiswa seperti mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, Jumat (21/6/2013) malam.


Namun hal serupa tak tampak di depan Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Jakarta Timur. Pantauan Tribunnews.com, pukul 21.30 wib, tak tampak tanda-tanda mahasiswa UKI Cawang akan menggelar aksi demo.


Kemudian situasi dan kondisi serta aktivitas masyarakat di sekitar kampus UKI Cawang juga tampak normal. Para pedagang kaki lima di depan kampus juga berjualan seperti biasa. Dan tidak ada pengamanan dari kepolisian.


“Biasa-biasa saja, sepertinya tidak ada demo. Karena mobil polisi dan anggota tidak ada yang siaga disini. Saya juga jualan seperti biasa,” tutur Tobi, penjual minuman di depan kampus UKI Cawang.


Padahal, Jumat (14/6/2013) sore, puluhan mahasiswa UKI Cawang Jakata Timur melakukan aksi tutup jalan didepan kampus mereka, Jalan Mayjend Sutoyo Cawang, Jakarta Timur lantaran menolak rencana kenaikan harga BBM.


Mahasiswa tersebut juga menutup jalan dari arah Cililitan menuju Dewi Sartika dan MT Haryono. Akibatnya penumpukan kendaraan pun tak dapat dihindarkan. Seluruh kendaraan yang ingin mengarah ke Jalan MT Haryono atau masuk Tol Cikampek harus melewati underpass Cawang.


Dalam aksinya, mahasiswa juga membakar ban di tengah jalan sambil berorasi dan memalangkan jalan menggunakan bambu. Aksi mahasiswa tersebut berujung rusuh sampai akhirnya, kepolisian mengamankan dua mahasiswa yang menjadi biang ricuh.


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/192046


Jelang Naiknya Harga BBM, Kampus UKI Cawang Sepi Pendemo

Sunday, February 24, 2013

Imlek dan Cap Go Meh

Imlek dan Cap Go Meh

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 24/02/2013 04:02 WIB • 103 klik

H. Sutan Zaili Asril

ADALAH Cap Go Meh (juga disebut Festival Lentera/Lantern Festival) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari perayaan Tahun Baru Imlek di lingkungan  komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap atau chap berarti Sepuluh, go berarti lima, dan meh berarti malam). Ini juga berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama lima belas hari. Perayaan Cap Go Meh lazimnya dira­ya­kan dengan jamuan/makan besar dan berbagai kegiatan lainnya. Di Taiwan, misalnya, Cap Go Meh dirayakan sebagai Festival Lampion (Lantern Festival). Sedang di Asia Tenggara, Cap Go Meh dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, ketika perempuan/gadis yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut—suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

 

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia (di Kota Makassar, misalnya) diadakan secara rutin tiap setahun sekali. Di hari perayaan Cap Go Meh, daerah pecinaan Kota Makassar akan ditutup untuk kendaraan sejak pukul 10.00 WITA pagi, namun prosesi perarakan Cap Go Meh atau yang biasa disebut Karnaval Budaya Nusantara dimulai pukul 14.00 WITA, wali kota Makassar melepas puluhan ekor burung. Perarakan (karnaval) Cap Go Meh diawali rombongan Bhinneka Tunggal Ika antara lain terdiri atas berbagai tokoh agama/masyarakat diikuti Dara/Daeng Makassar, terus ke Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang Bulukumba/Vihara Dharma Loka, kelompok adat Aluktudolo Tana Toraja/Kelenteng Xian Ma, kelompok adat Bone/Kelenteng Pan Ku Ong, dari Galesong Kabupaten Takalar/Vihara Dharma Agung, Komunitas Bissu dari Segeri/Kabupaten Pangkep/Ma­pan­bumi/Kelompok Adat Mappasili Pallawa/Vihara Girinaga. Terakhir di­tutup Yayasan Budha Tzu Chi mem­bersihkan sampah di sepanjang jalan dilalui rombongan prosesi. Hampir setiap klenteng mengarak dewa/dewi. Klenteng Kwan Kong mengarak Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang dan Dewi Kwan Im sebagai pembawa cinta kasih. Vihara Dharma Loka mengarak Dewa Cho Sua Kong atau dewa pengo­batan, dan Klenteng Xian Ma mem­bawa Dewi Xian Ma.

 

Mungkin, semua kita sudah tahu, Cap Go Meh adalah hari raya penutupan rangkaian acara perayaan Tahun Baru Imlek (Tahun Baru Saka/Cina) yang dirayakan tiap tanggal 15 Chia Gwee dalam penanggalan Tionghoa (Imlek). Biasanya, saat itu terang bulan pertama pada tahun baru Imlek. Bagi kaum tani Tionghoa/China ini adalah hari yang penting. Mereka umumnya akan melakukan persiapan satu minggu (menyebar benih) yang ditanam dalam dua-tiga minggu kemudian. Mereka mela­ku­kan turun ke sawah dengan segala perhitungan—salah-salah mereka bisa ke­laparan. Para petani baru sem­bahyang cheng beng (untuk/men­yembah leluhur) setelah selesai ber­tanam padi. Tanaman padi mereka akan dipanen kelak saat summer pada 5-6 bulan kemudian. Padi ditumbuk menjadi beras sebulan setelah panen (bulan kedelapan—menjelang pera­yaan Imlek/Cap Go Meh berikutnya). Jadi, terang bulan Cap Go Meh adalah pesta mooncake dan diramaikan dengan harvest festival. Perayaan hari Cap Go Meh dimeriahkan dengan festival lampion, karnaval barong-liong (barongsai-liongsai), makan ketupat Cap Go Meh, dan berbagai perayaan lainnya.

 

AKAN HALNYA Tahun Baru Im­lek pula, aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dila­kukan para petani di Cina biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan berkaitan pesta para petani men­yam­but musim semi. Perayaan ini dimulai tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir tanggal 15 bulan pertama. Acara meliputi sembahyang Imlek, sem­bahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan per­sem­bahyangan sebagai wujud syukur dan doa harapan agar tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, men­jamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan te­tangga. Karena perayaan Imlek berasal dari budaya petani, segala bentuk persembahan berupa berbagai jenis makanan. Tiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, yang dipilih adalah hidangan mempunyai arti kemak­muran, panjang umur, keselamatan, atau kebahagiaan, yang merupakan hidangan kesukaan leluhur.

 

Kue-kue yang dihidangkan akan lebih manis daripada biasa. Diha­rap­kan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Juga dihi­dang­kan kue lapis sebagai perlambang rezeki berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang merupakan ma­ka­nan wajib dihidangkan di saat per­sembahyangan menyambut datang tahun baru Imlek. Biasanya, kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada makanan yang dihindari dan tak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini lebih melambangkan kemiskinan. Kedua belas hidangan, lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depan digantungi dengan kain khusus yang biasa bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya men­yantap hidangan disuguhkan.

 

Di malam tahun baru orang-orang biasa bersantap di rumah/di restoran. Se­lesai makan malam mereka bega­dang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa leluasa masuk ke rumah. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen. Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah kue lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, dan manisan kolang-kaling. Agar pikiran jadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang. Tujuh hari sesudah hari Imlek dila­ku­kan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut Cap Go Meh. Warga keturunan Cina di Semarang, misalnya, mera­yakan dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh, terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Di Jakarta, menunya lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Saat perayaan Imlek juga dirayakan ber­bagai macam keramaian, festival dan karnaval, yang menyuguhkan antara lain atraksi barongsai atau liongsai dan kembang api.

 

SEBETULNYA, kita—setidaknya seorang Cucu Magek Dirih—mele­takkan warga Cihna/keturunan Tiong­hoa sebagai/dalam perspektif warga negara Indonesia (UU Nomor 12/2006 tentang Warga Negara). Yang masih membuat perbedaan hanya keturunan—sebagai mana ada warga negara Indonesia keturuan Arab/keturunan India dan tentu saja berbe­da agama dan secara sub-etnik/suku bangsa (Jawa/Batak/Minang/Bugis, misalnya), serta beda budaya/adat/tradisi (dalam perspektif Bhinneka Tunggal Ika). Kita tidak dapat mem­vonis satu warga sebagai keturunan Arab/India/Cina sebagai tak memiliki hak/kewajiban yang berbeda. Setiap warga negara adalah sama, sama ada berbeda asal-usul (keturunan Arab/India/China, misalnya), atau berbeda suku bangsa (Jawa/Batak/Minang/Bugis dan lainnya, misalnya), dan atau beda agama (keturunan apa pun dan atau suku bangsa apa pun), tidak lagi menjadi masalah.

 

Misalnya, warga keturunan Tiong­hoa seperti pernah dikemukakan beberapa sahabat Cucu Magek Dirih dari Pondok, bukanlah keinginan mereka sejak dari dalam kandungan dilahirkan sebagai keturunan China—kalau mereka boleh/dapat memilih—kalau karena keturunan China lalu hak/kewajiban mereka didis­krimi­nasikan. Sama ada, warga RI ketu­runan Arab/keturunan India/ketu­runan Tionghoa bebas memeluk/menganut agama. Warga keturunan (Arab/India/China, misalnya) boleh jadi beragama Islam, Kristen, Budha, dan atau Hindu, serta Kong Hu Chu, misalnya—sama ada warga RI yang sub-etniknya Jawa/Batang/Minang/Bugis, misalnya, juga bebas memeluk agama diakui di Indonesia. Yang pasti semua warga negara (keturunan atau suku bangsa berbeda), sama-sama mempunyai hak dan kewajiban sama sebagai waarga negara.

 

Warga negara Indonesia ketu­runan China, misalnya, ada yang beragama Kong Hu Chu, Budha, Hindu, Kristen, dan atau Islam, sama halnya warga suku bangsa Jawa/Batak/Bugis, misalnya, memeluk agama-agama yang disebutkan. Kita tidak dapat melakukan sikap/perlakuan diskriminasi di antara sesama warga negara. Justru dalam perspektif/pandangan Cucu Magek Dirih, sebagaimana halnya kita di Padang ini dan atau provinsi Sumatra Barat, idealnya memandang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa/Cina sebagai saudara dan memandang budaya dan adat/tradisi warga negara Indonesia keturunan China/Tionghoa sebagai kekayaan budaya Indonesia. Sejauh ini, justru warga keturunan China/Tionghoa yang tak banyak mengeluh karena masih diperlakukan berbeda/didiskriminasikan oleh warga negara Indonesia lainnya—tidak ter­ba­ya­ng­kan bilamana pemerintah daerah/aparat pemerintah daerah pula masih mendiskriminasi mereka pula? 

 

Mungkin akan dipandang berle­bihan oleh sebagian kita bilamana Cucu Magek Dirih mengatakan, sela­yak­nya kita di Padang menyemangati warga Pondok sekitarnya, misalnya, untuk merayakan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh sebagai keramaian/kemeriahan dan atau festival/karnaval bagi saudara kita di Pondok—tidak ada halangan bagi mereka melakukan perayaan Imlek dan Cap Go Meh sebagai khazanah/kekayaan budaya bangsa Indonesia di Padang, tapi, juga menjadi sebagai khazanah/kekayaan dan daya tarik wisatawan datang. Kalau saja kita mendorong warga Pondok melakukan perayaan pesta tahunan Imlek/Cap Go Meh yang direncanakan dan dipersiapkan den­gan saksama/baik—sebagai agen­da pariwisata khas di Padang, misalnya, dipromosikan dengan gen­car, mu­ngkin menarik wiatawan datang ke Padang—sebagaimana Malaysia suk­ses mengembangkan agenda wisa­tanya dan sukses mendatangkan wistawan. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://artis.inilah.com/read/detail/1955737/diego-michiels-mualaf


Imlek dan Cap Go Meh

Tuesday, July 2, 2013

Cinta Lelaki Aktivis

(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)



“Tidak seharusnya kita berfikir seperti itu ukhti. Kita tidak boleh egois memaksakan kehendak. Kita ini aktivis dakwah, kita hanya bisa mengajak dan menasehati. Serta memberikan kemafhuman bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil

 

Urusan terima atau tidaknya, itu bukan hak kita untuk memaksanya berubah menjadi muslimah yang mengamalkan Islam secara kaffah. Kita tawakkal serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla. Itulah ikhtiar kita. Dan yang paling penting bagi kita selaku aktivis dakwah, isbirun dan jangan menjauhinya tapi berlaku baiklah dan rangkullah ia.

Dakwah ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tidak mudah menjadikan seseorang berubah secara total. ”

 

Penjelasanku panjang lebar kepada Zahra yang berharap sekali teman perempuannya berubah menjadi muslimah yang menjalankan syariat Islam minimal memakai jilbab. Zahra salah satu akhwat seperjuanganku. Kulihat wajahnya mulai tenang mendengarkan nasihatku.

 

Zahra yang sangat bersemangat ketika berbicara masalah dakwah fi sabilillah guna menyelamatkan generasi muda dari arus globalisasi dan produk-produk yahudi yang liberal dan ingin menghancurkan generasi umat Islam dengan berbagai cara. Bahkan prioritas dan azzam-nya yang membuatku kagum pada Zahra. “Kalaupun aku harus mati dijalan-Nya, maka I’m pround and that my choice” gumamnya suatu ketika bersamaku dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu pondok pesantren.

 

“Tapi kak ! bukankah mereka sudah sering Zahra sampaikan bahwa kewajiban menutup aurat itu perintah Allah yang termaktum didalam Alquran” protes Zahra yang belum sepenuhnya menerima penjelasanku. Aku berfikir positif mungkin karena keinginannya yang terlalu besar sehingga menutup pikirannya untuk berfikir secara realistis.

 

“Benar sekali yang ukhti sampaikan, tapi yang harus diingat siapapun dan darimanapun orang yang menyampaikan kalau bukan dirinya sendiri yang tidak mau berubah maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah ukhti sering mendengarkan firman-Nya dalam surah Ar-Ra’ad 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”

 

Jadi disamping kita menyampaikan kebenaran itu, maka diperlukan juga dorongan motivasi dari dalam diri kita untuk melakukan perubahan, bukan sebaliknya. Bersifat apatis terhadap hidup kita. Jika hidup kita biasa-biasa saja dan bersahabat dengan lembah kehinaan dengan melakukan kemaksiatan, kita biarkan diri kita ikut arus tanpa mencoba untuk melawan arus itu. Berprinsip mengalir apa adanya tanpa ada kemaun untuk melakukan sebuah revolusi kearah yang lebih baik.

 

Zahra mendengarkan untaian-untaian kalimat yang kuucapkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata tersebut, tapi aku yakin Zahra bisa memahaminya. Entah karena untaian nasehat yang kuucapkan kulihat pelupuk matanya menampung air yang bening. Hingga kelopak mata tersebut tak mampu lagi untuk membendungnya seketika menetes membasahi pipinya yang bak baby face. Mata yang binar itupun sayup dan kemerahan.

 

Percakapanku dengan Zahra terhenti seiring dengan terdengarnya seruan menghadap pada Sang Khaliq dari menara masjid. Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan Zahra melangkahkan kaki ini memenuhi seruan-Nya. Karena kusadar aku berstatus sebagai hamba. Abdi Allah yang harus menjalankan kewajibanku. Aku bersyukur karena hati ini masih rindu akan kehadirat-Nya, meninggalkan sifat hedonis dan rindu akan kampung akhirat. Semoga hati ini tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

***

Hari-hariku kembali kujalani dengan sejuta nikmat yang senantiasa aku rasakan dari-Nya. Kicau burung, mentari merekah dan tetesan embun kembali menghiasi cakrawala dunia. Hari ini aku kembali mengukir sejarah dalam lembaran hidupku. Entah sama dengan hari kemarin atau lebih baik lagi atau bahkan sebaliknya. Tapi aku berharap dan ber-azzam hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena Rasulullah bersabda “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung.”

 

Ku atur waktuku secara sistematik. Mulai dari bangun tidur, aktivistas kuliah, organisasi bahkan mimpi-mimpiku untuk kedepannya. Menginterpretasikan makna kehidupan dengan jalanku sendiri membuatku terkadang mengalami kemandekan untuk menentukan sikap. Tapi itulah manusia terkadang berada pada situasi yang menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan sikap dan solusi.

 

Sudah dua jam lebih aku berdiri di depan kampus menunggu Zahra karena sesuatu hal yang sangat urgent harus kusampaikan. Tak kulihat batang hidungnya berlalu lalang di area kampus. Apa Zahra tidak masuk kuliah ? Atau sakit? Di masjid, perpustakaan atau sudah pulang? Sederetan pertanyaan itu terus mendesakku untuk mencari tahu. Aku menuju ke masjid kampus seakan ada magnet yang menarikku untuk cepat menuju masjid kampus. Jantungku berdebar kencang seperti genderang yang dipukul oleh para seniman mementaskan karya terbarunya dengan spektakuler.

 

“Ya Allah ada apa ini? Aku terus mengucapkan tasbih berdzikir menenangkan hati. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Itulah firman-Nya. Aku bergegas ke arah masjid

 

“Masya Allah, ada apa ukhti ?” Setelah berada dalam masjid kulihat Zahra berlinang air mata. Disampingnya Fatimah terusnya membujuknya tapi air mata Zahra semaking berlinang deras. Deras sekali. Membasahi jilbab abu-abu yang menjulur sampai kelutut yang ia kenakan.

 

“Ada apa ukhti ? kenapa ukhti menangis ?” tanyaku dengan rasa penasaran. Fatimah dan Zahra menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan yang tidak kumengerti. Suasana menjadi hening, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejurus aku berfikir keras untuk memecah kebisuan ini.

 

“Kak…….” Suara Zahra memecah keheningan. Aku hanya menunduk seraya menjaga pandangan.

“Kak Hafidz, Zahra dijodohkan kak. Kemarian Zahra dikhitbah dan orangtua Zahra menerimanya tanpa meminta persetujuan dari Zahra. Karena perjodohan itu disepakati sejak Zahra berusia lima tahun. Seminggu sebelum resepsi khitbah orangtuaku baru mengatakannya. Aku bingung kak.”

 

Aku tersentak mendengar penuturan Zahra. Aku mengernyitkan dahi dan menelang ludahku karena kerongkongan ini tiba-tiba kering. Hati ini seakan perih. Rekahnya mentari yang hangat menyusup kesetiap pori-pori tak lagi kurasakan. Lagi terlihat mendung seketika, hampa, hambar dan tak ada daya rasanya untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun susah bagiku.

 

Air mataku kurasakan sebentar lagi akan berjatuhan bak mendung yang siap menurunkan hujan dengan lembab tapi aku tahan dengan segenap kekuatanku. Aku harus tegar. Aku ini laki-laki bagaimana pun konsekuwensinya aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah bahkan lebay dihadapan Zahra dan Fatimah. Bukankah cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta tidak seharusnya memiliki tendensi yang lain.

 

Cinta terkadang membuat kita bahagia dan sedih. Itulah uniknya cinta. Secara diam-diam aku sangat menyayangi Zahra bahkan aku telah mencintainya.Aku mencintainya dan selama ini aku jaga cinta itu, aku simpan rapat-rapat dalam relung hatiku terbungkuskan harapan untuk suatu hari aku datang mengkhitbahnya. Hingga saat ini aku masih mencintainya dan tak pernah satu orangpun aku katakan perasaan ini bahkan pada dirinya. Aku ingin cinta ini tetap suci hingga kami disatukan dalam ikatan yang halal di mata manusia lebih-lebih lagi dihadapan-Nya tapi harapan itu kini hanyalah sebuah angan yang bergelantungan pada langit dunia.

 

“Ukhti, Insya Allah itulah yang terbaik yang Allah berikan. Syukurilah dan ambillah ibrah dari semua yang berlaku. Allah tahu bahwa ukhti sudah mampu mengemban amanah menjadi istri dan calon ibu kelak, makanya Allah menakdirkan ukhti menikah diusia muda” ucapku pada Zahra dengan mimik wajah yang kubuat bersikap biasa-biasa saja. Mimik wajah yang kubuat bahagia meski hati ini menolak untuk melakukannya

 

“Tapi kak, Zahra belum tahu akhlaknya, pergaulan bahkan semua tentangnya buram bagiku” Zahra seakan belum siap dengan semua itu, mungkin ada alasan yang urgent yang membuatnya belum bisa menentukan sikap. Aku kembali menyakinkannya

 
“La yukallifulluh nafsan illaah wus’aha”. Ingat firman-Nya ukhti. Bukankah setiap problem yang kita hadapi pasti ada solusinya? Seandainya orangtua ukhti tidak mengetahui dan kenal baik dengannya aku percaya beliau tidak akan menerimanya.

 

Pernikahan berarti menyempurnakan separuh agama, kini Allah membukakan jalan untuk menyempurnakan separuh agama itu. Maka jemputlah ia dengan senyuman indah penuh cinta kasih. Rangkul dan peluklah anugrah terindah itu yang Allah peruntuhkan untukmu ukhti. Sambutlah dan mulailah mencoba membuka lembaran baru dengan cinta yang mampu menggetarkan langit dan mendapat Ridha-Nya. Terimalah kenyataan ini dengan dasar cinta karena-Nya.

 

“Karena cinta senantiasa bergerak. Dimana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan intuisi, di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman. Belajarlah untuk mencintainya karena atas dasar cintalah kehidupan ini akan lebih berwarna” aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia atau sedih semua berpadu menjadi satu aliran.

 

Sudah lama aku tidak pernah melihat Zahra bahkan keberadaannya tak kutahu lagi. Pertemuanku di masjid kampus merupakan pertemuan terakhirku dengan dirinya. Menurut informasi, Zahra berhenti kuliah dan pindah rumah beserta keluarganya. Dia pun tidak pernah memberitahukanku kemana ia pergi.

 

Ada perasan hilang dalam hidupku yang menyergap hari-hariku semenjak kepergiannya tapi aku berusaha memahami setiap kejadian yang kualami. Menyelami akan arti kehidupan dan mengambil sirat makna dibalik semua yang telah berlaku. Kembali kudesain hidupku, kembali menuliskan mimpi-mimpi baru yang kuprioritaskan yang harus kugapai. Menuliskan misi sebanyak-banyaknya dan bertekad untuk lulus ujian akhir dengan predikat mahasiswa terbaik dengan hasil cumlude.

 

Menghiasi hari-hariku dengan berbagai aktivitas padat. Mulai dari kuliah sampai kembali eksis dan menjadi kader militan dalam organisasi. Walaupun bayangan Zahra sesekali melintas dalam benakku, namun secepat itu juga kutepis bayangan wajahnya. Aku harus lebih menggunakan logika.

 

Hembusan angin membelai wajahku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan seiring dengan silih bergantinya siang dan malam kehidupanku terus kulalui hingga takdir membawaku pada keadaan statis. Tak terasa aku sudah berada pada tingkatan akhir, seminar proposal sebulan lagi setelah itu penyusunan skripsi. Tapi sebagai aktivis dakwah aku tetap menyisihkan sebagian waktuku untuk mengurusi organisasi dengan mengadakan pengkaderan dan training. Perlahan tapi pasti, ingatan tentang Zahra kian menghilang aku kini lebih bisa menerima kepergiannya dan lebih banyaknya memfokuskan menatap masa depanku.

 

“Apa yang ingin kau lakukan ?” gumamku. Ponselku berdering

“Assalamu’alaikum. Afwan dengan bapak Hafidz ?” Tanya seorang laki-laki yang menelponku.

 

“Wa’alaikum salam iya benar saya sendiri. Siapa ?”

“Afwan menganggu Bapak. Kami dari panitia pelatihan meminta bapak untuk bersedia sebagai nara sumber pada training motivation for teens

“Deadlinenya kira-kira kapan pak ?”

“Insya Allah tanggal 15 pekan depan pak”. Aku menghela nafas mengingat-ingat rencana untuk pekan depan ternyata kosong

“Insya Allah saya akan datang pak. Saya minta satu hari sebelum deadline-nya tolong hubungi saya, takutnya nanti lupa”

“Iya pak, syukran katsiran semoga Allah memudahkan ”

“ Afwan ” telpon terputus dengan salam

 

***

Hari H training motivasi tiba. Dengan mengenakan baju kokoh berwarna hijau dan celana kain hitam di atas mata kaki, aku menuju tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan menempuh jarak sekitar 15 menit aku menuju dengan mengendarai angkot. Peserta terlihat antre di tempat registrasi, aku menuju ruang tunggu yang telah disediakan oleh panitia.

 

Setelah beberapa menit berlalu acarapun dimulai. Moderator mengucapkan salam dan sambutan kepada seluruh audience. Namaku disebut pula sebagai nara sumber dan nama seorang akhwat. Nurul Hafidzah. Setelah mengerjakan sholat duha, aku melangkah ke audioturium. Langkahku terhenti, mataku menangkap sesosok perempuan yang telah mengisi ruang hatiku dua tahun silam. Ada rasa yang mengalir dalam tubuhku sekorelasi dengan aliran darahku. Desah nafasku menghembuskan arti kebahagiaan.

 

Perempuan yang sudah dua tahun tidak pernah aku lihat kini berdampingan denganku sebagai nara sumber. Di mana saat ingatan tentangnya mulai pudar kini dia hadir kembali.Pandangan kami berpapasan. Zahra kini tampak lebih dewasa.

 

“Astagfirullah” aku menundukkan pandangan memohon ampun. Tidak seharusnya aku memandangnya begitu lama. Aku terus melangkah, aku harus professional dan tidak boleh mendramatir keadaan.

 

“Assalamu’alaikum ukhti ” sapaku setelah berada dekat dengan dirinya

“Wa’alaikum salam” Zahra menjawab salamku dan menundukkan kepala. Tak satupun kalimat atau tanya yang terucap untukku. Pelatihan pun dimulai, aku sampaikan materiku dengan sebaik mungkin, lugas dan detail. Acara berlangsung dengan baik. Antusias dari peserta sangat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujaniku dari peserta aku jawab sebisaku dan tak ada kata tidak bisa, aku tidak ingin peserta merasa kecewa.

 

Setelah training selesai aku tidak melihat Zahra. Mungkin sudah dijemput oleh suaminya? Tanyaku pada diriku sendiri. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, aku bertanya pada salah satu panitia.

 

“Daeng, yang menjadi nara sumber selain saya, itu siapa ? tanyaku mencari tahu, karena moderator menyebut namanya sebagai Nurul Hafidzah bukan Zahra

“Oh, yang berjilbab panjang yang duduk disamping?” aku menganguk

“Namanya Zahra cuma dalam training dan kegiatan lainnya ia sering memakai nama pena Nurul Hafidzah. Soalnya disamping ia mahasiswi ia juga sebagai penulis. Orangnya cantik, muda dan belum ada suaminya” jawab panitia dengan logat Bugis kental. Aku tersentak kaget mendengar penuturan panitia penyelenggara. Kata-kata terakhirnya membuatku sulit untuk berfikir

 

“Belum ada suaminya” Apa Zahra belum menikah? Tapi kenapa? Bukankah dua tahun silam ia dikhitbah? Aku tidak bisa berfikir jernih. Semuanya terasa buram untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab.

 

“Ya Allah, mengapa disaat aku bisa melupakannya ia kembali hadir dalam kehidupanku. Astagfirullah ” aku tidak seharusnya mengeluh kepada-Nya hanya hal seperti ini.

Waktu terus berlalu, tapi pertanyaan yang memenuhi ruang hatiku masih pertanyaan yang sama. Benarkah Zahra belum menikah? Berkali-kali kutepiskan pertanyaan ini dan berfikir jernih dan realistis.

 

Mungkin saja pertemuanku dengan Zahra hanyalah kebetulan tapi adakah namanya kebutulan di dunia ini? Aku mencoba menghubungi Fatimah berharap ia tahu apa yang sebenarnya berlaku pada Zahra, tapi sia-sia saja nomor Fatimah tidak bisa terhubung meskipun berulang kali kucoba tapi hasilnya nihil. “Mungkin Fatimah telah ganti nomor”

 

Kurebahkan tubuh ini, menghilangkan kepenatan dan rasa penasaran yang menyelimutiku dimalam yang dingin ini. Biarkan rasa ini berbaur dengan dinginnya malam. Disuatu pagi. Dihari yang cerah, pelangi melukis keindahannya di jagad raya. Aku melihat pesan baru dalam inbox ponselku, sebuah SMS dari nomor tanpa identitas nama

 
“Bismillah…
 
Kerinduan cinta menjauhkan tabir, dan menerangi relung-relung hati dengan menciptakan kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain dapat melebihinya kecuali ketika jiwa itu memeluk Tuhan. Cinta laksana matahari yang muncul dari awan-awan dan selalu menghangatkan jiwa kita. Sambutlah cintamu akhi yang sudah lama merana menantikan kehadiranmu. Jadikanlah ia ustadzah di rumah yang engkau memadu kasih dibawa naungan ke-Ridhoan-Nya. Bersegeralah akhi. ”

 

Setiap kalimatnya tinggi dan puitis. Aku masih belum mengerti maksud dari bait katanya. Siapakah ia? Akupun membalas pesannya untuk menjawab rasa penasaranku

 
“Bismillah……
 
Afwan, dari setiap untaian kata yang anda tulis aku tidak mengerti. Bahkan tak satupun kalimat yang aku mengerti. Siapakah yang harus kujadikan ustadzah di rumah? Apa yang harus kusegerakan? Afwan siapa ? ”
 
“Bismillah….
 
Afwan akhi kalau setiap kalimatku tak satupun yang antum mengerti. Insya Allah kalau akhi punya waktu datanglah ke TPA AL-Ikhwan besok bakda asar, akhi akan tahu semuanya. Semoga Allah mengampuniku atas kelancanganku semuanya tapi percayalah ini semua demi kebaikan akhi ”

 

***

Bakda asar aku menuju TPA Al-Ikhwan. Aku sengaja sholat asar diperjalanan supaya bisa on time. Kulihat seorang akhwat bercadar sedang membaca buku di halaman masjid dekat TPA. Ia memberi salam tatkala aku semakin dekat dengannya. Aku merasa risih dengan keadaan kami yang hanya berdua saja apa lagi dalam lingkup masjid.

 

“Afwan akhi, ana yang mengirimkan pesan kemarin ” ucapnya memulai percakapan. Suaranya tidak asing bagiku, hanya karena wajahnya dibalik niqob maka aku tidak bisa memastikan siapa dirinya

 

“Afwan ukhti, tidak seharusnya kita berkhalwat nanti ada fitnah ”

“ Insya Allah tidak akhi. Ana ke sini bersama dengan mahram, hanya saja kakak masih di dalam masjid. Kita tunggu sejenak sebelum akhi tahu semuanya ” aku tidak sabar untuk menunggu, kuingin segera mengetahuinya supaya semuanya jelas

 

“Ukhti sebenarnya siapa ? dan apa maksud dari semua ini ? ”

“Ana Fatimah akhi Hafidz ” aku memuji dan bersyukur pada-Nya atas segala yang Dia berikan padaku bukankah kemarin aku ingin sekali bertemu dengan Fatimah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan diriku dan kini Allah membuka jalan ini untukku disaat ku mulai rapuh tapi…tapi perubahan Fatimah, subhanallah ya Allah

 

“Ukhti Fatimah temannya Zahra ? ” tanyaku mencari kepastian

“Na’am akhi (iya, saudaraku)” Fatimah lalu memberiku selembar kertas yang penuh dengan goresan cinta. Aku segera membacanya tanpa satu kata pun yang terlewati

 
Selasa 2007
 
Aku menemukan sesosok pemuda langkah di zaman ini. Tutur katanya senantiasa mengingatkan ku pada kebesaran-Nya dan membuat hati ini semakin terpaut pada-Nya dengan cinta. Cinta yang tulus hanya untuk-Nya. Ya Allah, salahkah jika aku mencintai dan berharap ia menjadi calon bapak dari anak-anakku kelak. Ya Allah jika aku boleh meminta, jadikanlah ia sebagai jodohku di dunia dan di alam keabadian akherat. Jadikanlah ia sebagai imam bagiku untuk meneguk sebanyak-banyak cinta-Mu. Kak Hafidz,
 
Ketiadaan bagi cinta
 
Laksana angin bagi api
 
Ia membakar yang kecil
 
Menyalakan yang besar
 
Datanglah bersamaku
 
Dan jadilah cintaku
 
Kita akan menikmati segala suka cita
 
Yang dihasilkan oleh bukit-bukit
 
Dan lembah-lembah hutan
 
Dan pegunungan
 
(Zahra yang mengharapkan keridhoan-Nya)

 

***

Konvergensi senja dengan bentangan malam kini silih berganti. Kunikmati semuanya dengan penuh keagungan-Nya. Pergulatan di dalam hatiku pun mengiringi perjalananku setelah bertemu dengan ukhti Fatimah. Pergulatan untuk tetap pada titik stagnan atau menjemput cinta dalam mahligai rumah tangga yang diridhoi oleh-Nya. Aku masih belum bisa untuk menentukan sikap. “Apakah aku pantas mendampingi ukhti Zahra ? Apakah ia akan menerima pinanganku? Bagaimana dengan keluarganya jika ia melihat materi sebagai indikasi pertama?” Pergulatan itulah yang membuatku statis pada titik ini. Tidak melakukan sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam sebuah treatment untuk memulai.

 

Setelah sholat istikharah berkali-kali ku kuatkan azzam-ku untuk mengkhitbah Zahra. Cukuplah Allah menjadi saksi atas ketulusan dan usahaku. Hari itu matahari semakin meninggi dan aku sudah siap menuju rumah Zahra, semua kemunkinan sudah aku pikirkan. Diterima tidaknya aku serahkan semua pada yang berhak tuk mengatur hidupku. Setelah sampai di ambang pintu rumahnya aku memberanikan diri mengucapkan salam. Dari dalam rumah kudengar suara langkah kaki menuju pintu

 

“Assalamu’alaikum” ucapku setelah kutahu yang membukakan pintu adalah orangtua Zahra

“Wa’alaikum salam”

“Zahranya ada bu ? saya Hafidz teman kampusnya Zahra sebelum ia pindah dua tahun silam”

“Oh nak Hafidz. Zahra sering bicara sama ibu tentang nak Hafidz. Tapi Zahra ….”

“Tapi Zahra kenapa bu ? tanyaku dengan hati yang tidak pasti. Ada firasat yang merasuk ke dalam hatiku yang membuatku merasa takut

 

“Zahra ke London nak, melanjutkan kuliah Sastra Bahasa Inggris di Universitas Oxford”

“Kapan berangkatnya bu ?”

“Alhamdulillah kemarin nak” aku menundukkan kepala dan menyesali diriku sendiri.

 

Seandainya dari kemarin tujuan ini saya segerakan mungkin semuanya berbeda. Atau ini tanda bahwa aku tidak berjodoh dengan Zahra. Kutepiskan perasaan sesal ini dan menata hati untuk berfikir positif, mengambil ibrah dari semua ini. Mungkin garis takdir cuma menuliskan aku dengan Zahra sebatas saudara semuslim yang terikat dalam ikatan ukhuwah islamiyah, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa hati ini masih tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Atau benarkan para pujangga bahwa cinta tak selamanya memiliki ? Kini di sang surya cerah gemerlapan diufuk timur dan kucoba untuk menyunggingkan senyumanku menjalani kehidupan ini. Biarkanlah catatan tentang Zahra menjadi bagian kisah terindah dalam hidupku yang akan menjadi bukti bahwa betapa aku menjaga hati dan cinta ini berdasarkan syariat dan koridor yang seharusnya.

 

“Nak Hafidz” suara ibu Zahra membangunkan ku dari lamunan tentang Zahra

“Nak Hafidz, Zahra pernah bicara sama ibu bahwa ia menginginkan suami seperti nak Hafidz” penuturan ibu Zahra mengangetkanku. Aku menatapnya dalam-dalam mengharap ada harapan dan jalan bagiku untuk menwujudkan tujuan mulia ini, menjadikan Zahra ustadzah di rumahku kelak.

 

“Tapi nak Hafidz sudah terlambat karena…..”

“Maksudnya bu ?”

“Dua hari sebelum keberangkatan Zahra ke London lamaran dari nak Ilham kami terima, begitupun dengan Zahra sudah mengikhlaskan dirinya menjadi istri nak Ilham kelak. Zahra bilang sama ibu bahwa nak Hafidz tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Nak Hafidz cuma menganggapnya sebagai adik, dan itu tidak lebih. Itulah yang Zahra ucapkan sebelum ia menerima lamaran nak Ilham.

 

Zahra juga pernah bilang bahwa ia pernah bertemu nak Hafidz di sebuah seminar dan sangat berharap nak Hafidz datang ke rumah tuk mengkhitbahnya”. Langit cerah di ufuk timur tak lagi indah kulihat. Semua penjelasan ibu Zahra membuat tubuh ini rapuh dan aliran darahku beku. Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tanpa aku sadari air mata beningpun menetes sebagai bukti bahwa betapa kuingin dan berharap Zahra menjadi kekasih hatiku yang terikat dengan ikatan suci pernikahan.

 

“Bu, sampaikan salam maafku dengan Zahra dan aku minta sama ibu untuk tidak memberitahukan bahwa aku pernah ke rumah mencarinya. Biarkan ia menjadikan diriku sebagai masa lalu dalam hidupnya”. Aku berpamitan pulang tanpa pernah mengatakan tujuanku datang ke rumahnya. Biarkan semuanya menjadi kisah terindah dan catatan yang tertulis dalam garis takdir. Aku terus berjalan dan berjalan menelusuri lorong-lorong labirin hidupku.

 

Aku harus sadar bahwa mencintai seseorang tidak mutlak kita harus mendapat balasan cintanya dan aku tahu bahwa Allah sedang memberikan pengajaran dan didikan bagiku untuk menjalani fase kehidupan berikut. Allah tahu yang terbaik bagiku bukan hanya hari ini tapi untuk hari berikutnya. Kubiarkan kita ini tetap ada dalam hidupku karena kutahu cinta itu fitrah dan anugrah Ilahi yang terindah yang ia titipkan padaku.

 

Cintaku akan kujaga seperti aku menjaga hati. Aku terus melangkah dan kulihat awan-awan membentuk sebuah harmonisasi cinta yang indah dan kulihat pelangi merangkai garis-garis cinta yang membuat semua insan bahagia karena cinta.

 

Cinta adalah fitrah dan anugrah Ilahi yang harus kita syukuri serta tidak membuat kita buta terhadap hal-hal yang mengotori kesucian cinta. Teruslah menebarkan sayap-sayap cintamu yang membuat hidup ini mendapat ke-Ridhoan-Nya.
 
Oleh  Muhammad Ramli

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIM Sinjai. Bisa dihubungi di khairul.azzam21@yahoo.co.id atau muhramli5@gmail.com. penastaim10.blogspot.com. 085 299 741 298

 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/06/16/moh90d-kanwil-kemenag-jabar-siap-sosialisasi-pemotongan-kuota-haji


Cinta Lelaki Aktivis

Sunday, February 2, 2014

Si mata sepet, berkulit putih

SEJAK seminggu ini saya turut sama menerima ucapan Selamat Tahun Baharu Cina. Terima kasih. Saya tidak marah apatah lagi ucapan tersebut datang daripada orang yang tidak saya kenali sama sekali. Daripada rakan-rakan, saya tahu mereka kuat mengusik.


Lagipun, hendak marah apa? Hendak menyorok mata sepet dan kulit putih melepak ini? Tidak mungkin. Kerana malu? Tidak sama sekali. Memang sebelah mak berdarah Cina. Mak dan kakak yang bertudung pun sampai hari ini masih ada yang bertanya Cina masuk Islam ke?”


Kepada soalan itu, tidak juga kami jawab. Malas hendak layan. Bukan kerana malu mengaku mualaf. Sebab bukan mualaf pun. Dan apa hinakah menjadi mualaf? Kurang sedarjat awak selaku orang Islam di Malaysia? Ini sudah menyeleweng. Darjat kita sebagai orang Islam dikira daripada amalan, bukan sama ada awak lahir Islam atau baharu memeluk Islam.


Hujung tahun lepas saya sekeluarga ke utara. Singgah makan nasi beriani di Seberang Jaya. Seperti biasa, akan ada orang datang ke meja makan minta sedekah atau mahu menjual cakera padat atau buku agama. Luar biasa bila tidak seorang pun berhenti di meja saya.


Ini berbeza di Shah Alam. Penjual atau peminta sedekah guna konsep pukul rata. Semua orang dimintanya. Di Seberang Jaya, ada sedikit privacy. Perkara ini tidaklah suatu isu negara tetapi sekadar menjadi bahan jenaka kami sekeluarga.


Sebenarnya, daripada kecil mata sepet dan kulit putih pucat ini menyebabkan saya menjadi sedikit canggung walaupun secara jujurnya saya tidak endahkan sangat. Kawan sekolah menggelar saya Jo Jepun. Ejekan itu lumrah pada zaman persekolahan, kata saya kepada anak-anak yang mewarisi wajah Cina ini. Tidak perlu jadi hal pergaduhan. Anggapnya sebagai keistimewaan.


Memiliki wajah Pan-Oriental ini semasa zaman remaja memang ada disalahgunakan terutama pada bulan Ramadan. Malah pernah dipaksa rakan-rakan untuk menolong membeli makanan kepada mereka. Tetapi ini cerita zaman jahiliah. Bab mencari pacaran, ada yang melabel orang kacukan sebagai eksotik. Sila guna imaginasi anda.


Daripada kecil hinggalah dewasa, setiap hari akan ada sahaja orang bertanya mengenai identiti diri. Di negeri asal Sarawak, spesies mata sepet dan kulit cerah bukan eksotik. Tetapi sudah biasa. Di Semenanjung ini, nampaknya masih suatu konsep yang dipelajari, baik oleh masyarakat Melayu mahupun Cina dan India.


Memang mahu ketawa dibuatnya bila orang Cina menegur saya sebab tidak tahu berbahasa Cina. Menegur ini mirip-mirip kesal dan marah. Terpaksalah dinyatakan ringkas mak Cina, bapa Melayu… Apek kedai pun mengangguk faham.


Dewasa ini, bila bersemuka dengan orang Melayu, mereka pantas berbahasa Inggeris dengan saya. Mungkin was-was saya tidak fasih berbahasa Melayu. Mungkin syak saya orang Singapura. Lazimnya saya jawab dengan ucapan Terima Kasih. Bukan disebabkan hendak tunjuk saya sebenarnya bukan Cina tetapi mahu galakkan penggunaan bahasa Melayu.


Untuk pengetahuan ringkas anda yang belum tahu, spesies kami ini terhasil daripada perkahwinan campur Melayu-Cina jauh lebih awal daripada pembentukan Malaysia, jauh lebih awal daripada kempen integrasi nasional. Bukan seperti masyarakat Baba dan Nyonya di Melaka. Tetapi telah melalui proses asimilasi sepenuhnya dari Cina kepada adat resam, bahasa dan agama Melayu-Melanau-Islam. Tidak juga buang Cina sama sekali. Masakan bisa? Mata sepet dan kulit putih pucat terus kekal bagi mengingatkan asal-usul kami dari Tanah Besar. Cuma tidak ada lagilah tradisi atau pakaian, apalagi bahasa diamalkan. Setakat berbahasa Hokkien untuk menyumpah seranah, rasanya skil itu masih terpelihara.


Bermata sepet dan kulit putih pucat ini juga menjadi ironi dengan kerjaya saya di Utusan Melayu. Bagi sahabat sekerja yang kenal lama, ironi itu hanya sekadar pada wajah. Jiwa dan jati diri ini tiada ragu-ragu. Mereka juga tahu saya mengaku jati diri sebagai orang Melayu berketurunan Melanau atau istilah politiknya ialah Bumiputera, sekali gus mendorong saya kekal menyokong Parti Pusaka Bumiputera Bersatu Sarawak (PBB) walaupun bermastautin di Selangor.


Cuma bila berangan-angan menjadi ahli politik, mungkin sukar untuk saya ke pentas melaungkan slogan disebabkan mata sepet saya. Walaupun demikian, hakikat itu tidak menghalang saya membuat keputusan politik untuk mengundi calon Perkasa di Shah Alam.


Perkara mata sepet dan kulit cerah orang Melayu yang mirip orang Cina ini sengaja saya ketengahkan di sini agar boleh sama-sama direnungkan hari ini, sempena sambutan Tahun Baharu Cina agar usaha ke arah perpaduan nasional tidak terhenti tetapi sebaliknya diperteguhkan.


Aspek perpaduan nasional sekarang seolah-olah diabaikan, kebanyakan masa demi meraih undi. Yang mempertahankan Melayu dikata rasis. Yang berhujah hal jurang kekayaan ekonomi antara Melayu dan Cina dipertikai sebagai ekstremis.


Isu-isu semasa yang dipalit oleh unsur politik melampau hari ini, amat merimaskan. Satu benda pun tidak menyumbang kepada usaha perpaduan nasional. Ada parti bergaduh sesama sendiri dan paksa bikin pilihan raya. Isu pengundi Cina-Melayu juga ditimbulkan.


Boleh tak untuk sekali ini, semua ahli politik berhenti menggunakan modal perkauman? Boleh tak fokus kepada soal integriti parti yang bertanding? Bermoralkah penyandang meletak jawatan, bagi memberi laluan kepada ketuanya untuk mencapai cita-cita politik? Kata mahu jimat duit rakyat tapi paksa pilihan raya sama sahaja bazir duit rakyat. Fokus hal ini. Tidak perlu cerita hal kaum.



Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/628764/jadi-muallaf-rina-diana-berharap-segera-berhijab


Si mata sepet, berkulit putih

Sunday, January 6, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)


 

Partai Masyumi


Senin, 07 Januari 2013

Oleh: Nuim Hidayat 

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

SURAT cinta ini  saya tulis karena terpicu dengan pernyataan salah satu tokoh politisi Muslim yang bangga ketika ada non Muslim menjadi salah satu pengurus partainya.  Mungkin ia dan sahabat-sahabatnya punya dalil atau hujjah untuk pendapatnya itu. Tapi saya yakin hujjah itu tidak diuji ke publik, terutama ke para ulama dan cendekiawan yang shaleh, yang faham tentang Islam dan sejarah bangsa ini.

Sekitar tahun 2008, saya pernah menulis di Majalah Hidayatullah tentang pentingnya kesatuan akidah dalam sebuah organisasi termasuk partai politik. Kita bisa bayangkan, bila NU dan Muhammadiyah tidak dirintis oleh orang-orang yang sama dalam tujuan akidah dan dakwah. Apakah mungkin sebesar sekarang? Inilah ringkasan dari artikel yang saya beri judul; “Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang”.

Kepada sahabat-sahabat
Generasi Muda Islam
Kususun buku ini untukmu
Turutilah djejak pemimpinmu
kenangkan sedjarahnya
teruskan perjuangannya

Di tengah gegap gempitanya  partai-partai Islam saat ini berkonsolidasi untuk Pemilu 2009, maka muncullah gagasan partai Islam agar terbuka dan inklusif. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah lebih dulu memulai gagasan ini dengan memasukkan beberapa non Muslim menjadi pengurus atau anggota DPP Partai PKB.  Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang juga menerima gagasan inklusif ini.  Meski sebenarnya PKS juga telah memulai menerima anggota/pengurus non Muslim/anggota DPRD untuk daerah Irian.

Melihat gagasan inklusif partai-partai Islam (dalam AD/ART-nya) ini, membuat penasaran diri saya untuk bertanya: “Bolehkah dalam berpartai kita bersama-sama non Muslim?

Saya membuka-buka kembali buku sejarah.  Alhamdulillah di rumah saya ketemu buku “Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito” yang yang disusun oleh SU Bajasut. Buku ini selain memaparkan pemikiran-pemikiran Ketua Umum Masyumi Prawoto juga melampirkan dokumentasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Masyumi.

Dalam Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III). Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

-Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik
-Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan
-Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam
-Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai

Nah, ini yang menarik, di pasal V tentang anggota dinyatakan, Anggota Partai terdiri dari:

-Anggota biasa, ialah warga negara Indonesia yang beragama Islam (laki-laki dan perempuan) dan tidak menjadi anggota partai politik lain
-Anggota teras, terpilih dari anggota-anggota biasa
-Anggota Istimewa, ialah Pengurus Besar/Pusat perhimpunan Islam yang bukan partai politik

Keharusan anggota wajib beragama Islam ini lebih tegas lagi, dijelaskan dalam “Anggaran Rumah Tangga Partai Politik Islam Indonesia Masjumi”. Dalam Bab II Pasal 3 dijelaskan: “Syarat-syarat untuk menjadi anggota partai: 1.  Tiap warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam, laki-laki maupun perempuan, berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah kawin dan tidak menjadi anggota partai politik lain dapat diterima menjadi anggota biasa…” (ART Partai ini ditetapkan dalam Sidang Dewan Partai, 9-12 Oktober 1953. Artinya sebelum pemilu 1955 dimana Masjumi memperoleh suara)

Jadi Masjumi tegas mengharamkan anggota partainya non Muslim. Apalagi jadi pengurus partai. Seperti sudah lazim kita ketahui untuk menjadi pengurus partai (atau anggota DPRD sebuah partai), seseorang diharuskan menjadi anggota terlebih dahulu.  Jadi bila merujuk sejarah, maka suatu hal yang aneh partai Islam anggota/pengurus non Muslim (inklusif).

Bagi partai yang ingin menegakkan syariah Islam di Indonesia, atau partai dakwah, tentu hal yang aneh bila dalam perjuangan partai itu ada anggota/pengurus non Muslim.  Bagaimana mau berdakwah, mengajak orang lain ke jalan Islam,  sementara dalam rumah tangga partai dakwah sendiri ada yang non Muslim?  Logika berpikir yang benar, tentu untuk menjadi partai dakwah, maka anggota/pengurus yang di dalam harus bersiap untuk dakwah.  Dan untuk siap berdakwah, maka seseorang harus menjadi Muslim terlebih dulu.

Sayangnya, kini sejarah Masjumi yang didirikan oleh alim ulama dan cendekiawan Islam yang penuh keteladanan itu kini jarang lagi ditengok oleh politikus-politikus partai.  Para politikus saat ini mencoba gagah-gagahan untuk melepas diri sejarah perjuangan Islam Indonesia masa lalu.  Padahal Masjumi Masjumi didirikan dari hasil Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta 7-8 November 1945, oleh hampir semua tokoh berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang. Organisasi-organisasi Islam yang masuk Masjumi antara lain: Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam, Persis, Al Irsyad, Al Jamiyatul Washliyah, Al Ittihadiyah dan lain-lain (Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hal. 47-50).

Padahal al-Qur’an berulangkali dalam ayatnya mengingatkan kita agar menengok dan meneladani sejarah.  Baik sejarah individu, masyarakat atau sebuah bangsa. Politik hari ini, adalah sejarah sejarah esok hari. Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS: 11:120).

Maka buku pemikiran Prawoto Mangkusasmito di atas, bukanlah sekedar kalimat-kalimat pemuas akal belaka. Di halaman persembahannya ditulis:

“Kususun buku ini untukmu,
Turutilah djedjak pemimpinmu,
kenangkan sedjarahnya,
teruskan perjuangannya

Tapi, kini kondisi partai politik lebih parah. Disadari atau tidak, ideologi sekuler Barat –lewat lobi-lobi para orientalis/indonesianis– telah masuk dalam cara berpikir banyak orang partai.  Sehingga dalam dan antar partai Islam yang terjadi rebutan jabatan, rebutan angggota DPR/DPRD dan rebutan sumber-sumber uang. Tanpa melihat lagi akidah, kapabilitas dan keamanahan seorang calon. Partai bukan dilihat lagi sebagai alat perjuangan dakwah dan alat perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Padahal Al-Qur’an jelas menegaskan fungsi organisasi Islam atau partai Islam adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bukan untuk mencari suara belaka. Untuk apa kekuasaan dipegang, bila tidak ditegakkan amar makruf nahi mungkar? Al-Qur’an mengingatkan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS: 3:104)

Cara berpikir Barat yang menyesatkan lainnya –yang banyak diadopsi oleh partai-partai sekuler— adalah partai diibaratkan negara kecil. Dari sinilah ide pluralisme, inklusivisme partai masuk.  Padahal partai bukanlah tipikal negara.  Partai bukan negara. Partai bisa diibaratkan rumah keluarga besar kita.  Dalam keluarga, kita berkewajiban menjaga akidah istri, anak-anak dan sistem dalam keluarga itu agar tidak keluar dari nilai-nilai Islam.  Keluarga kita harus Islami, tapi kita menghormati tetangga kita yang non Muslim.  Bahkan kita bisa saling membantu dalam hal kebaikan dengan mereka.

Walhasil, memang benar ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, bahwa dalam kehidupan ini –berumah tangga, bekerja, berorganisasi dan berpartai—ditentukan oleh niat.

Kalau dalam organisasi Islam bisa dilihat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya.  Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Bukhari Muslim)

Keberhasilan Masjumi dengan asas Islam dan agenda penegakan syariah Islam di Indonesia, dalam Pemilu tahun 1955, dan kegagalan Amien Rais dengan Partai Amanat Nasionalnya sudah merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Fa’tabiru ya Ulil Albab.* bersambung

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta

Red: Cholis Akbar


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Saturday, January 5, 2013

Dari Dulu Perempuan Sumatera Tak Biasa Duduk Ngangkang

“Dari dulu perempuan Sumatera tidak biasa ngangkang,” kata Daud Rasyid dalam wawancara yang dilakukan TV One, Sabtu (5/1).

Daud menjelaskan duduk mengangkang bagi perempuan ini bagi masyarakat memang tidak pantas. Bahkan kata dia, ketidakpantasan itu sudah menjadi tradisi.

Dikatakan pula Daud, jika itu sudah menjadi tradisi maka dalam padangan syariat Islam bisa saja dijadikan rujukan hukum untuk menerapkan aturan.

“Apabila itu menjadi tradisi dan tidak pantas, tabu dan masuk dalam hukum adat tentu bisa menjadi rujukan hukum dalam syariat Islam,” pungkasnya. (awa/jpnn)

Article source: http://www.merdeka.com/artis/daftar-lengkap-nominasi-golden-globe-awards-ke-70.html


Dari Dulu Perempuan Sumatera Tak Biasa Duduk Ngangkang

Wednesday, January 16, 2013

Bersama Tangani Teroris

Oleh Said Aqil Siradj

KOMPAS.com – Kembali teroris berulah. Di awal Januari 2013 ini, Detasemen Khusus Anti-teror 88 menembak mati lima terduga teroris di Dompu dan Bima. Kelima tersangka itu, menurut polisi, bagian dari tujuh teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang dari Poso yang masuk ke Bima melalui jalur pelayaran dari Makassar, Sulawesi Selatan. Densus 88 juga menemukan bahan baku 261 bom pipa di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Kawanan teroris ini diduga mengincar kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Teroris juga diduga menargetkan menghancurkan sebuah hotel di Bima. Selain di NTB, teroris juga diduga hendak menghancurkan tempat ibadah dan kantor polisi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rupanya teroris masih kuat bercokol di negeri ini, terus berbenah diri, membangun sel-sel jaringan, dan siap melancarkan aksinya. Banyak yang mengakui bahwa gerakan kelompok terorisme sangat terorganisasi, dinamis, dan memiliki tujuan tertentu. Jangan kaget bila jaringan teroris telah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Penyakit akut

Terorisme barangkali layak diibaratkan penyakit diabetes. Manakala seseorang sudah terkena penyakit yang disebut-sebut sebagai pembunuh manusia tingkat kedua di dunia setelah kanker tersebut, ia seolah sudah divonis mustahil sembuh. Kadar gula penyandang diabetes kadang naik, kadang turun, bergantung pola diet makan, obat, dan olahraga.

Kata dokter, belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang pankreas tersebut. Namun, sudah banyak obat yang setidaknya bisa menurunkan atau menetralkan kadar gula, baik medis maupun herbal.

Persis dengan seseorang yang sudah terjangkiti ”penyakit” radikal dan terorisme. Entah karena awalnya berangkat dari ikut-ikutan pengajian-pengajian ”keras”, salah dalam membaca buku keagamaan, atau akibat rasa ”terasing” dari pergaulan sosial alias frustrasi sosial, masalah keterjepitan ekonomi, dan sebagainya.

Mengobati militansi yang didasari semangat jihad yang kebablasan ini memang tak seperti membalik tangan. Namun, jelas perlu terapi yang mujarab. Memang sudah cukup banyak dilakukan, seperti deradikalisasi, resosialisasi, reedukasi, dan reintegrasi. Cara-cara tersebut harus terus digencarkan demi kemanjuran menyembuhkan penyakit akibat ”overdosis” dalam memaknai ajaran keagamaan.

Penanganan komprehensif

Pada 7 Januari lalu, saya kedatangan empat warga Poso, Sulawesi Tengah. Mereka ke PBNU difasilitasi aktivis Gerakan Pemuda Anshor dan dua komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Keempat orang ini meluapkan kecemasan terhadap sikap aparat dalam penanganan terorisme belakangan ini. Setelah mendengar segala keluh kesah mereka, saya manggut-manggut dan berjanji akan mencoba menyampaikan laporan warga Poso ini kepada Presiden.

Apa yang hendak saya wedarkan ini tentu sama sekali bukan untuk menggembosi tindakan pemberantasan teroris, tetapi lebih sebagai upaya membantu agar penanganan terorisme bisa lebih baik. Kita berharap penanganan sejumlah kasus dugaan terorisme di Tanah Air lebih profesional, menghindari sikap represif yang dapat menimbulkan waswas di masyarakat.

Memang, menghadapi ulah teroris seolah kita dibuat ”kelabakan” atau katakanlah ”dilematis”. Padahal, kelompok teroris ini bila beraksi bertindak brutal tanpa mengindahkan norma sosial dan bahkan keagamaan. Namun, pihak berwenang dituntut dalam menangani teroris harus selalu berjalan di jalur hukum dan norma-norma kemanusiaan lantaran perlu sealur dengan pemberlakuan HAM yang didudukkan sebagai ”norma internasional”. Misalnya, salah tangkap atau salah tembak bisa menimbulkan gejolak yang makin memanaskan suasana.

Adanya ”rambu-rambu” seperti ini bisa-bisa menimbulkan sikap dan tindakan ”maju kena mundur kena” sekalipun perlakuan dan penanganan terhadap terorisme lebih punya ”keleluasaan” dibanding penanganan kejahatan biasa. Sebab, terorisme dimasukkan kategori kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Sebenarnya yang justru lebih menarik dan bikin penasaran adalah model penanganan terorisme di negeri kita yang dirasa masih ”luwes dan lunak”. Namun ternyata, penanganan terorisme di negeri ini dipandang paling sukses dibanding negara lain, bahkan dibanding Amerika Serikat yang katanya jadi ”ikon” demokrasi justru memberlakukan tindakan represif terhadap tahanan kasus terorisme.

Fakta ini perlu jadi kebanggaan kita sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran sehingga segala upaya penindakan terhadap segala bentuk brutalisme selalu berjalan berdasar pada hukum yang berlaku serta norma-norma yang adiluhung. Bukan lantas menjadi ”peluang” bagi kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan aksi anarkis, terutama terhadap mereka yang diposisikan sebagai minoritas.

Tak bisa dimungkiri, aksi terorisme merupakan tindakan sadis yang melanggar kemanusiaan dan ajaran mulia keagamaan. Prinsip ini yang secara fundamental wajib menjadi pegangan dalam menindaklanjuti upaya melawan teroris. Jangan sampai kemudian tindakan yang sudah dirancang bangun demikian rupa jadi terkesan ”lembek”.

Di tataran perilaku

Apa dan siapa teroris itu? Teroris bukan penyandang sakit jiwa (psikopat), penderita gangguan jiwa (neurotik), atau orang- orang yang sadis. Pengamat Barat sebelumnya menghujami tuduhan, teroris itu akibat ketersumbatan libido seksual mereka lantaran banyaknya larangan perilaku seksual dalam ajaran Islam.

Meminjam hasil penelitian Sarlito Wirawan Sarwono (2012), para teroris adalah orang-orang biasa. Beberapa di antaranya bahkan tergolong cerdas. Kebetulan mereka punya ideologi berbeda dengan kita. Ideologi ini sangat diyakini seolah-olah ideologi mereka paling benar dan yang lain salah.

Para teroris adalah orang-orang normal yang beranak-istri, setia kawan, patuh pada orangtua, dan bekerja mencari nafkah sebelum buron.

Ideologi mereka tak ubahnya ideologi-ideologi radikal lainnya yang berada di luar basis keagamaan. Sebutlah ideologi kaum kiri yang bersumber pada Marxisme seperti pemberontak komunis di Kolombia dan Filipina. Juga seperti sekte-sekte radikal Aum Shinrikyo di Jepang dan Yoel Lerner dari Yahudi radikal di Israel. Mereka sangat militan dalam doktrin dan kalap dalam melakukan aksi kekerasan.

Akhirnya, kita perlu menimang-nimang pemahaman yang lebih baik atas gejala terorisme sehingga mampu menindaknya lebih cepat dan tepat. Pendekatan komprehensif banyak diakui berbagai pihak belum terlaksana dalam penanganan terorisme di negeri ini.

Apa yang selama ini dilakukan, seperti program deradikalisasi, perlu lebih ditingkatkan menjadi program disengagement. Maksudnya, kita tak lagi hanya berkutat di tataran ideologi, tetapi juga di tataran perilaku.

Seiring itu, perlu keterlibatan masyarakat dalam memberi informasi, mewaspadai, dan menyikapi bekas narapidana teroris sehingga langkah-langkah pembinaan, preventif, dan penegakan hukum menjadi lebih sinergis.

Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Bersama Tangani Teroris

Sunday, October 13, 2013

Menambah seri Islam di Selangor

 


SELEPAS memenangi kerusi  Dewan Undangan Negeri (Dun) Sabak pada pilihan raya umum (PRU) 2013 lalu, rutin hidup  USTAZ SALLEHEN MUKHYI berubah. Walaupun pernah bergelar Adun apabila menang buat pertama kali pada PRU1999, beliau hanya memanaskan kerusi pembangkang di Dun Selangor selama sepenggal. Kini tugas beliau semakin mencabar apabila diamanahkan sebagai Pengerusi Jawatankuasa Tetap Hal Ehwal Islam, Pemodenan Pertanian dan Pembangunan Desa Selangor pada penggal kedua pemerintahan Pakatan Rakyat di Selangor. Ketiga-tiga portfolio ini berhubung rapat dengan masyarakat Melayu luar bandar – segmen masyarakat yang masih gagal dikuasai Pakatan Rakyat khususnya di wilayah-wilayah koridor utara Selangor. Ikuti wawancara wartawan Harakahdaily, AHMAD TAJDID  dan SAIDAH HAIRAN bagi meninjau sudut pandang Ustaz Sallehen terhadap portfolio yang diketuainya. Wawancara berlangsung di pejabat beliau di Tingkat 15, Bangunan Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah di Shah Alam.


 



 


Bagaimana ustaz melihat kepercayaan Menteri Besar, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim terhadap ustaz untuk mempengerusikan  portfolio berhubung Islam, pertanian dan desa?


 


Pertama sekali saya merujuk kepada keperluan untuk kita menangani 2.8 juta umat Islam di Selangor bagi  dibangunkan melalui pembangunan Hal Ehwal Islam.  Saya pun tidak tahu apa pertimbangan sebenar (MB) memilih saya mengetuai portfolio ini. Kepercayaan yang diberikan kepada saya akan saya laksanakan khususnya untuk 2.8 juta umat Islam di Selangor.


 


Portfolio yang saya sandang ini merangkumi  pembangunan ilmu sampai kepada pembangunan fizikal sama ada masjid, sekolah, maahad dan lain-lain.


 


Jadi ini satu peluang kepada saya untuk memastikan seluruh umat Islam di Selangor dapat merasai pembangunan Islam melalui kerajaan negeri. Pada era pemerintahan Pakatan Rakyat ini, kita mempunyai fokus yang lebih terarah dan hala tuju yang lebih jelas terhadap Hal Ehwal Islam. Itu yang saya rasa  Tan Sri (Menteri Besar) kehendaki.


 


Setakat ini apa aspek tentang Hal Ehwal Islam ustaz rasa perlu diberi perhatian khusus?


 


Bila bercakap soal tuntutan,  saya kena melihat kepada keperluan dan kehendak masyarakat. Bukan sahaja tuntutan saya tetapi lebih dilihat tuntutan masyarakat. Yang lebih besar dan menonjol adalah soal  jaminan pendidikan anak-anak atau generasi melalui satu pendidikan yang lebih terjamin.


 


Kita memfokuskan kali ini untuk menyediakan Maahad Tahfiz Sains di setiap daerah. Ini kerana menyedari bahawa ia merupakan satu tuntutan yang paling besar masa kini. Saya fikir ini dapat membantu meningkatkan kefahaman umat Islam.


 


Kedua adalah keperluan untuk menyediakan sumber tenaga manusia iaitu guru atau murabbi dan para ulama. Ini fokus yang besar juga. Sebab apabila kita semak melalui kesempatan saya dalam ruang yang ada ini, kita selama ini ramai menghantar pelajar mengikuti pengajian di Timur Tengah. Masalahanya kita kita tidak dapat’ pegang’ mereka.  Sehingga masalah kita sekarang ini jika hendak membina sekolah bukan masalah duit sangat tetapi tenaga pengajar. Ini juga menjadi fokus untuk saya cuba hadapi dan melihat pendidikan sebagai satu segmen yang mesti diberi penekanan berbanding yang lain.


 


Perkara yang lain sudah nampak sama ada dari pengurusan masjid walaupun masih ada lagi yang merungut. Bagaimanapun, masjid kita sudah bertambah berseri cuma daripada sudut asas sahaja.


 


Tentang Maahad Tahfiz Sains sekarang ini ada projek perintis?


 


Maahad tahfiz kita sudah ada tiga tempat di Kuala Langat, Klang dan di Sabak Bernam. Cuma di Sabak, kita letak sementara di Institut Latihan Dakwah. Bahkan di Sabak Bernam bukan sahaja Maahad Tahfiz Sains biasa. Kita wujudkan kelas Turath iaitu pelajar tingkatan satu yang  akan didedahkan satu pendidikan yang kurikulumnya menggunakan kitab Turath iaitu kitab besar yang lazimnya menjadi rujukan pelajar universiti.


 


Pelajar diberi penekanan mempelajari  bahasa Arab, bagaimana hendak baca kitab. Ini penekanan daripada tingkatan satu. Hasilnya, pelajar ini ada keupayaan bahkan setaraf bahasa Arab dengan SPM walaupun baru berada tingkatan satu dan dua.


 


Maahad Tahfiz Sains di Sabak ini kita akan pindahkan di bangunan IKYS di Bagan Terap. Ia akan jadi (Maahad Tahfiz) terbesar di Selangor.


 


Perancangan akan datang di mana ustaz?


 


Kita tengah mengintai beberapa tempat lain tetapi yang kita sedang cadangkan di Sepang. Kemungkinan kita akan buat dalam kawasan Kolej Universiti Islam Selangor (Kuis).  Ada satu bangunan di Kuis yang diperuntukkan untuk program bina Insan tetapi akan diambil alih kerajaan negeri bagi tujuan ini.


 


Yang lain kita tengah lihat daerah Hulu Langat dan Hulu Selangor. Pada waktu yang sama di  Kuis telah kita wujudkan satu bidang pengajian tahfiz sains atau pengajian tahfiz. Sebab di negara kita ini hanya ada tiga orang sahaja yang pakar tahfiz tafsir. Jadi kita hendak melahirkan ini. Di Kuis sudah ada hampir 90 pelajar (perintis).





Ada perancangan kerajaan negeri untuk wujudkan Kafa Menengah. Bagaimana perkembangannya?


 


Kafa Menengah setakat ini kita sudah mengenal pasti beberapa sekolah yang akan kita wujudkan sebagai projek perintis. Kita akan membuat perkhidmatan tambahan dengan memasukkan program Kafa Menengah di bangunan Sekolah Rendah Agama (SRA)  dan ia akan berjalan tiga hari dalam seminggu.


 


Jadi pelajar sekolah menengah kalau dia biasa tingkatan satu belajar petang, maka pagi akan mengikuti kelas Kafa. Petang sekolah menengah biasa. Kita tidak dapat memenuhi lagi di semua sekolah. Kita akan buat  satu daerah satu sekolah sebagai perintis.


 


Ini kerana kita perlu melihat kecenderungan pelajar sama ada mereka sendiri atau ibu bapa mereka (yang mahu pendidikan agama). Sebab suara yang datang kepada kita, ramai daripada ibu bapa. Dalam soal pendidikan, jika minat datang daripada ibu bapa biasanya kita akan gagal. Biar minat itu datang daripada pelajar. Ibu bapa mesti mendorong anak-anak dengan cara memberi motivasi.


 


Jika Kafa Menengah menjadi pilihan kepada anak-anak, sama ada dia hendak belajar atau tidak, mereka akan naik terus sekolah menengah.  Buat masa ini kita hendak wujudkan satu sekolah di setiap daerah.


 


Dalam waktu yang sama kita membuka peluang dan galakan kepada Kafa persendirian. Jika itu boleh dibuat oleh banyak pihak maka ia akan membantu usaha kita untuk mewujudkan  Kafa Menengah.


 


Bila projek Perintis ini akan dilaksanakan?


 


Tahun 2014. Kalau berjaya dengan projek perintis yang kita buat di setiap daerah, kita akan laksanakan Kafa Menengah pada tahun 2015.


 


Beralih kepada pengurusan masjid. Apa pembaharuan yang patut dilakukan di masjid dan surau khususnya bagi menarik kehadiran jemaah?


 


Kita akan cuba untuk laksanakan satu program baru iaitu masjid sebagai pusat komuniti masyarakat. Bagaimana kita hendak mengkomunitikan masjid itu. Antaranya yang kita akan buat adalah masjid dengan persekitarannya perlu dibangunkan melalui beberapa program yang menarik minat masyarakat.


 


Jika masjid ada ruang untuk membuat padang futsal maka masjid boleh buat padang futsal. Jika masjid ada ruang untuk buat bengkel  jahitan kepada golongan wanita, masjid kena buat. Jika masjid ada ruang untuk majlis kenduri umpamanya dewan, masjid boleh buat.


 


Saya fikir kalau itu kita boleh buat, orang yang datang meletakkan hati penggantungan kepada masjid, maka ini boleh menyemarakkan program masjid.


 


Kita akan semak melalui ketua kampung dan nazir masjid, bagaimana masjid perlu belajar pada persekitaran dan cadangkan kepada kita. Sekarang ini ada bebeberapa masjid yang mempunyai klinik dalam kawasan masjid. Macam Masjid Bandar Baru Sungai Buloh dan sebuah masjid di Ijok.


 


Kita juga hendak menjadikan kemakmuran masjid itu sebagai KPI (Indeks Prestasi Utama) kepada imam dan nazir. Ini bertujuan menilai sejauh mana masyarakat berjaya mengurus masjid. Kita jadikan kemakmuran masjid sebagai KPI tahap kepuasan.


 


Mula tahun depan masjid perlu menyediakan Pegawai Mualaf atau saudara baru. Selama ini Pegawai Mualaf hanya seorang sahaja di Pejabat Agama Daerah. Sedangkan peruntukan zakat untuk saudara baru tidak kurang RM40 juta setahun.


 


Kalau kita agihkan maknanya sembilan daerah, ada seorang Pegawai Mualaf yang jaga peruntukan RM4 juta. Ini tidak efisyen. Setiap masjid kena ada rekod dan buat program untuk mualaf. Kita hendak melihat keadaan rumah mereka, anak-anak mereka bersekolah atau tidak dan sebagainya.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Menambah seri Islam di Selangor

Wednesday, January 9, 2013

LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Jakarta, GATRAnewsLian Gogali menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Usahanya yang menginspirasi dan tanpa lelah mengantarkannya menjadi penerima Coexist Prize.

Kota Poso yang terik, awal November lalu, sekitar 50 ibu-ibu berkerumun di bawah tugu Jam Kota Poso, yang terletak di Jalan Kalimang. Mereka membawa poster kertas putih bertulisan ajakan agar menciptakan perdamaian di kota yang pernah terpecah oleh konflik selama hampir satu dekade itu. ”Kami Perempuan Poso Ingin Damai”, ”Ciptakan Poso yang Bebas dari Ketakutan”, ”Damai Tak Butuh Kekerasan”, begitu beberapa kalimat dalam poster yang dipertontonkan para perempuan setengah baya itu.

Mereka juga meneriakkan yel-yel agar perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan, sembari membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Seorang peserta aksi kadang memberikan seruan dan disambut balasan teriakan, ”Sintuwu maroso,” yang berarti bersatu dan kuat. ”Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kasus agama. Kekerasan Poso adalah bentuk kegagalan pemerintah, dan kami menolak segala bentuk kekerasan,” begitu pesan aksi damai itu yang dibacakan Lina Laando, koordinator lapangan.

Ibu-ibu pendemo dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage, dan wilayah Tentena itu memang ingin kampung mereka damai, tak ada pertikaian lagi. Sejak ada konflik horizontal sekitar tahun 2000, hingga yang paling terbaru adanya pembantaian warga oleh oknum tak bertanggung jawab, akhir Agustus lalu, Poso memang seperti tak henti dirundung teror.

Trauma itu membuat perempuan Poso tenggelam dalam ketakutan. Jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Namun hari itu para perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu itu sudah tak punya rasa takut untuk bersuara.

Ketakutan yang kini berganti menjadi kekuatan itu adalah salah satu hasil usaha panjang perempuan bernama Lian Gogali. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, ini tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Konflik telah memicu saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga.

Ketika konflik Poso pecah, keluarga Lian menjadi korban. Harta dijarah, rumah juga dihancurkan oleh api dan banyak yang terluka. Pada saat itu, Lian sedang belajar untuk meraih gelar master di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. Dia sempat pulang ke rumahnya, menyaksikan dan mengalami langsung getirnya konflik yang terjadi. Meski sedih, dia menyatakan tidak memegang dendam. Ia pun kemudian memutuskan menulis tentang resolusi konflik untuk tesisnya.

Maka, pada 2002-2004, Lian melakukan penelitian di beberapa wilayah pengungsian saat konflik Poso. Ia mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak. Selama penelitiannya itu, Lian menemukan bahwa perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Seperti di masa lalu, selama konflik, sayuran, buah, dan lauk memiliki “agama”. Kristen menolak ikan yang berasal Poso Timur karena takut diracun. Sebaliknya, umat Islam di Poso menyingkirkan sayuran dari permukiman Kristen. Tapi para wanita tidak peduli. Bagi mereka, ini adalah masalah bertahan hidup. Suami dan anak-anak butuh makan.

Ratusan wanita juga membantu satu sama lain selama bentrokan. Seorang ibu muslim di Lage menyembunyikan wanita Kristen selama serangan. Di sisi lain, para pengungsi muslim menerima makanan dari pengungsi Kristen.

Dalam penelitian itu, Lian juga menemukan sesuatu yang kelak mengubah jalan hidupnya. Saat itu, seorang responden bertanya kepadanya, ”Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lian tersadar. Pertanyaan itu selalu diingatnya, bahkan setelah dia kembali ke Yogya untuk menyempurnakan tesisnya. “Saya memutuskan kelak kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dan, memang, begitu kuliahnya kelar sekitar tahun 2009, Lian memilih bekerja pada Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator sekolah perempuan (SP) yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapat, Lian memutuskan membuat SP sendiri. “Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Lalu didatangilah desa-desa di Poso, bertemu para wanitanya, untuk mengenal karakter mereka. Waktu itu, Lian sudah berketetapan hati untuk mengajar perempuan berpenghasilan rendah serta kelompok-kelompok minoritas yang tidak memiliki akses terhadap gender dan pengetahuan soal membangun perdamaian. Dia sengaja tak minta rekomendasi dari aparat desa atau tetua desa. Sebab biasanya dia diarahkan kepada pribadi-pribadi yang punya pamrih, bukan mereka yang benar-benar ingin memperbaiki diri.

Jadi, ada beberapa kriteria calon muridnya waktu itu. Pertama, mereka harus memiliki visi perdamaian inklusif dan keadilan. Mereka juga harus memiliki kemauan berjuang untuk orang lain. Lian pun mengutamakan muridnya adalah para korban kekerasan, karena mereka memiliki akses terbatas pada informasi dan biasanya tak berdaya.

Dengan dana yang terbatas, pada 2011 Lian bisa menyelenggarakan sesi awal SP Mosintuwu di teras rumah kontrakannya di Pamona. Sebuah ruang besar terbuka dengan dinding kayu. Angkatan pertama SP ini, kata Lian, awalnya sekitar 80 orang saja, terdiri dari umat Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Semuanya ibu rumah tangga biasa, lulusan SD, maksimal SMP. Mereka juga diajari menonton film bersama, bermain peran, mengunjungi rumah ibadah, dan sebagainya.

***

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan lancar. Pertemuan pertama diawali tatapan mata saling curiga. Beberapa peserta juga ada yang tidak memiliki komitmen dan meninggalkan kelas. Mosintuwu yang berarti hidup bersama ini pun mengembangkan kurikulumnya sendiri di sekolah itu. Akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, dan perempuan diundang untuk duduk bersama mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas kurikulum dielaborasi oleh Lian dan dibantu Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivis sosial di Tentena.

Meski tertatih, lambat laun sekolah itu bisa digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan kemudian dilengkapi dengan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Ternyata dana dari Belanda itu sangat berguna. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuannya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana. Lian pun bersiap memperluas jaringannya. Apalagi, bila hanya membuka di Pamona, program pemulihan konflik berlatar keyakinan ini tak akan efektif.

Lian akhirnya dengan cepat bisa mendirikan SP setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Namun, karena keterbatasan dana, tempat mengajar ini juga sederhana. Lian sudah biasa mengajar di rumah-rumah penduduk dan teras mereka, bahkan di ladang. Untuk menjaga semangat para perempuan itu, Lian rutin berpatroli ke tiap desa.

Saking semangatnya, ia pernah mengalami kecelakaan hingga perlu menggunakan kruk. Kakinya patah dan menderita infeksi. Dia sempat menjalani sembilan kali operasi. Namun ibu satu anak ini tetap bersemangat. Ia senang murid-muridnya menemukan ruang yang aman dan terbuka untuk berbicara.

Awalnya memang tak mudah menggandeng para perempuan itu. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” kata Lian. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarangnya. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi, jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan.

Hasil tempaan Lian memang luar biasa. Pada upacara wisuda angkatan pertama di Tentena, lulusan Mosintuwu sepakat untuk mengabdikan diri bagi masyarakat dengan membangun sebuah rumah untuk perlindungan perempuan dan anak.

***

SP Mosintuwu kini memiliki delapan modul kurikulum dan yang bisa diselesaikan dalam 10 bulan. Mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender dan isu-isu politik, berbicara di depan umum dan pembangunan ekonomi. Melalui kurikulum ini, para anggota diminta menghilangkan praduga, kecurigaan, trauma, dan dendam, membangun kepercayaan diri serta saling percaya, dan meningkatkan kerja sama.

Tahun ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize, yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya, merendah. Lian terpilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Dalam penjelasan resmi di website Coexist Foundation disebutkan bahwa Coexist Prize baru pertama kali diadakan pada 2012 ini. Para juri memilih enam nominator sebagai finalis. Hingga akhirnya, juri berkeputusan bulat memilih Lian sebagai penerima Coexist Prize. ”Lian Gogali menjadi pemenang karena dia contoh terbaik dari sebuah pengalaman pribadi dan sebuah proyek yang menginspirasi,” kata David Ford, profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mewakili para juri.

Saat menerima hadiah senilai US$ 100.000 itu, Lian Gogali menuturkan bahwa Coexist Prize yang diterimanya adalah penghargaan untuk semua perempuan dan anak-anak yang selama ini bekerja bersama-sama dengannya dalam segala keterbatasan untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Termasuk untuk semua pihak yang tetap percaya dan terus berjuang bagi kesetaraan, untuk perdamaian dan keadilan, melalui gerakan interfaith.

Coexist merupakan yayasan yang sejak 2006 mengupayakan pendekatan antar-keyakinan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, juga masyarakat lain, melalui pendidikan, dialog, dan penelitian. Penghargaan buat Lian itu adalah sebuah pengakuan atas usahanya membangun perempuan Poso menjadi bagian terbaik dalam mereduksi pengaruh hasutan ideologi kebencian.

Kini, setelah satu langkah dilalui Lian, ada satu harapan lagi yang ingin dia wujudkan. Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini dimaksudkan untuk membuka ruang bicara perempuan Poso serta akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya pun ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” katanya. (Mukhlison S. Widodo dan Rach Alida Bahaweres)


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Sunday, September 15, 2013

Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Jejak Bintang minggu ini, RAP menyelongkar kisah pelakon yang sedang mencipta nama iaitu Johan Ariff As’ari, 27, atau nama pentasnya Johan As’ari. Dia mula dikenali ramai menerusi aksi hebatnya dalam drama bersiri Juvana, arahan Faizal Ishak dan sejak itu dia terus melakar kejayaan dalam kerjaya seninya.


Pasti penonton menyampah melihat aksi jahatnya sebagai Botak dalam Juvana, tetapi di luar lokasi, perwatakan dan karektor sebenarnya amat berbeza.


Johan dilahirkan pada 3 Disember, 1986. Dia anak kedua daripada empat beradik. Untuk mengenali secara dekat peribadi Johan, RAP menemubual ibunya, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, iaitu wanita yang melahir dan membesarkannya.


“Johan seorang anak yang baik dan tidak kedekut. Bukan saja dengan saya, ayah dan adik-beradiknya malah dia juga tidak pernah berkira dengan sepupu dan kawan-kawannya,” kata ibu Johan, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, mengenai aktor yang dikenali selepas membintangi drama bersiri Juvana yang disiarkan di TV3, pada April 2011.



Seperti pada Ramadan lalu, Firdaus beritahu Johan yang telefon bimbitnya tidak berfungsi dengan baik.


“Apabila saya menceritakannya kepada Johan, saya tak bermaksud minta dia belikan saya telefon baru kerana saya bercadang minta ayahnya (Datuk As’ari Ibrahim) yang belikan. Namun sehari sebelum Aidilfitri lalu, dia bawa balik telefon baru bagi menggantikan telefon saya yang rosak itu.


“Paling membuatkan saya terharu dia belikan saya telefon Ipone 5 (64G), sedangkan untuk dirinya sendiri dia beli Ipone 5 (32G). Dia kata untuk saya, dia belikan telefon yang paling canggih dan terbaik. Dia punya yang biasa-biasa saja, tak mengapa.


“Macam itulah sikap Johan, kalau dia dengar saja saya atau adik-beradiknya teringinkan apa-apa, dia akan cari. Beberapa hari sebelum hari raya dia berikan saya duit untuk belikan hadiah kepada semua sepupu perempuannya. Dia tak ada, tak apa, asalkan dia boleh menggembirakan hari orang lain,” kata Firdaus ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Ampang, baru-baru ini.


Apabila mengenangkan kebaikan dan keluhuran hati anak kedua daripada empat beradik itu, Firdaus teringatkan kisah Johan dan adiknya (Muhammad Hazwan, kini berusia 23 tahun) sewaktu mereka bersama-sama bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi Melaka (SMTM).


“Sudah sampai di sekolah baru Hazwan perasan yang dia tertinggal tali leher di rumah. Di SMTM, pelajar lelaki diwajibkan pakai tali leher. Melihatkan adiknya yang dah nak menangis, Johan berikan tali lehernya kepada Hazwan. Katanya, biar dia yang kena denda kerana dia lebih besar.


“Saya yang menghantar mereka ke sekolah pagi itu, bergenang air mata saya melihatkan gelagat mereka dua beradik. Betapa Johan sayangkan adiknya,” katanya.


Adik beradik Johan yang lain, Farah Alya, 29, dan Siti Aisyah, 25.


Cerita Firdaus lagi, ketika dia pergi bercuti di Palembang minggu lalu, Johan beri kad debit bank miliknya kepada ibunya itu agar Firdaus boleh membeli-belah di sana.


“Dia beri kadnya untuk saya berbelanja di sana dan dia tidak meletakkan had keluaran,” katanya.


Ketika Johan belajar di sekolah rendah, dia beri kasut sekolahnya kepada kawan kerana kasut kawannya itu sudah buruk.


“Selepas itu dia sendiri ke sekolah dengan berselipar. Yang ini saya marah kerana dia sanggup berkorban untuk orang lain sampai menyusahkan diri sendiri. Saya beritahu padanya, kalau nak tolong kawan pun, tengoklah juga keadaannya. Tetapi itulah Johan, dia tak sanggup tengok orang susah.


“Pada ketika yang lain, dia nak keluar dengan kawan-kawannya. Saya beri dia RM10 dan ada juga bekalkan dia makanan. Saya fikir dengan bekal itu dia dapat simpan duit belanja yang saya beri kepadanya. Rupanya dia gunakan duit itu belanja kawan-kawan pula.


“Johan seorang yang hatinya lembut dan kalau kita nak tegur dia pun kena cakap perlahan-lahan. Kita tak boleh berkasar dengannya,” katanya.


Menyambung perbualan, jelas Firdaus pada November ini, Johan akan bercuti ke Dubai bersama peminatnya dan dia mengajak semua ahli keluarganya pergi bersama.


“Insya-Allah jika tiada aral, kami akan ikut Johan. Kemudian pada Disember, sekali lagi dia akan ke sana untuk menjalani penggambaran drama. Dalam apa situasi pun, Johan tidak pernah melupakan keluarga,” katanya.


Imbas zaman kecil Johan, selepas melahirkan Johan, mereka sekeluarga berpindah dari Kuala Lumpur (KL) dan menetap di Melaka kerana mengikut bapanya yang aktif politik bertugas di negeri itu.


“Sebelum berkahwin dan sehingga lahirnya Farah, saya bekerja dengan FELDA. Waktu itu, suami sibuk dengan aktiviti politiknya di Melaka dan dia terpaksa berulang-alik antara Melaka dan KL. Kalau suami sibuk, saya akan bawa Farah balik ke Melaka. Selepas saya melahirkan Johan saya berhenti kerja dengan FELDA kerana sukar nak menguruskan anak kecil dan pada sama suami pula tinggal berasingan.


“Kami tinggal di Ayer Molek, Melaka. Di sana saya bekerja dengan Yayasan Melaka. Tidak lama selepas itu saya berhenti kerja menguruskan rumah tangga sepenuh masa. Johan dan tiga adik-beradiknya membesar di sana dan kami sekeluarga berpindah semula ke KL lima tahun lalu,” katanya.


Johan agak nakal ketika kecil.


“Waktu dia berusia sekitar tiga, empat tahun, pintu almari yang menyimpan pinggan mangkuk kena ikat dengan tali kerana dia suka memunggah barang. Dia jenis yang tak duduk diam, ada saja benda yang nak dibuatnya.


“Pernah sekali, ketika itu saya masih bekerja, saya tinggalkan Johan bersama kakak dan adiknya di rumah bersama pembantu, tetapi pembantu rumah saya ini suka berkebun. Tiba-tiba, jiran hubungi saya beritahu salah satu bilik di rumah kami berasap tebal. Nasib baik rumah tak terbakar.


“Rupanya Johan ambil bunga api yang saya simpan atas para dan bawa masuk ke bilik saya. Apabila saya tanya dia macam mana bilik saya boleh terbakar, katanya selepas bermain bunga api dia membuangnya dalam tong sampah yang terdapat dalam bilik itu. Dia tak tahu yang bara daripada batang bunga api itu lama-lama boleh membakar sampah dalam tong sampah itu.


“Mujur api itu hanya menyambar tilam dan ia membakar dalam tilam itu perlahan-lahan sehingga mengeluarkan asap hitam. Api belum sempat merebak ke ruang lain, kalau tidak saya tak tahu apa jadi dengan rumah dan mereka adik-beradik. Ngeri saya nak membayangkannya,” katanya.


Johan suka main parang.


“Dia libas-libas parang itu pada kakaknya yang buat kerja sekolah dan terkena belakang Farah sampai kena jahitlah,” katanya.


Selepas tamat sekolah menengah, Johan menyambung pengajiannya di Universiti Telekom Malaysia Melaka. Namun, selepas dua tahun belajar di sana, dia beritahu ayahnya yang dia tidak mampu meneruskan pengajiannya di sana.


“Kemudian ayahnya minta dia belajar agama dan seterusnya dia dihantar mendalami agama di Jambi, Indonesia. Dia belajar di sana pun tak lama kerana selepas dua tahun dia nak balik kerana dia tak tahan dengan disiplinnya yang ketat.


“Sebagai pelajar agama yang belajar menghafal al-Quran, mereka tidak boleh makan dan minum sebarangan. Kali kedua ayahnya pergi melawat dia di sana, dia minta dikeluarkan daripada sana dan balik ke sini dia belajar pula di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Melaka, dalam jurusan Kaunseling. Apabila dapat berlakon dalam Juvana, dia minta cuti dengan pihak kolej selama setahun tetapi sekarang dah masuk tahun kedua.


“Saya harap dia dapat menyambung pengajiannya yang tertangguh itu,” katanya.
Jelas Firdaus, Johan sebenarnya suka menyanyi dan tidak pernah terlintas pun nak jadi pelakon. Ini mungkin kerana dia mengikut hobi ayahnya yang suka menyanyi.


“Sewaktu musim pertama Akademi Fantasia, dia belajar dalam tingkatan lima dan dia sanggup turun ke KL untuk menyaksikan program itu di sana. Barangkali tak ramai yang tahu Johan pernah pergi menghadiri uji bakat Mentor musim kelima dan bercita-cita nak jadi protege kepada Afdlin Shauki kerana dia amat meminati pelakon itu, tetapi tidak berjaya.


“Ketika uji bakat itu dia buat lawak dan Afdlin kata dia lebih sesuai jadi pelakon daripada penyanyi. Dia jadi pelakon hanya kebetulan kerana Farah yang menulis skrip dan bekerja di belakang tabir dunia penerbitan beritahu Johan, ada uji bakat mencari pelakon Juvana dan waktu itu Johan bercuti semester.


“Dia pergi ke uji bakat itu dan pengarah Juvana, Kamal Ishak mengambilnya berlakon untuk pilot drama itu untuk ditunjukkan kepada TV3. Pihak stesen TV suka dengan lakonan Johan dan Kamal terus mengambilnya berlakon dalam Juvana,” katanya.


Bapa Johan tak suka dia berlakon kerana mahu anak lelakinya itu menyelesaikan pengajiannya setahun saja lagi. Johan berkeras mahu berlakon dan dia memujuk bapanya serta berjanji untuk menamatkan pengajiannya.


“Melihatkan kesungguhan Johan, ayahnya terpaksa mengalah. Selepas dia dah berlakon banyaklah pula gosip yang timbul, tetapi kami sekeluarga tidak terkejut sangat kerana dah tahu industri ini macam mana. Namun sebagai ibu bapa kami berpesan kepadanya supaya berhati-hati dalam setiap tindak tanduk dan percakapannya,” katanya.


Apabila dia digosipkan dengan artis wanita terutamanya Nabila Huda, Firdaus tidak pernah melarang atau pun membantah.


“Siapa pun wanita yang Johan pilih sebagai kawannya atau calon isterinya, kami terima. Apa yang penting ialah kebahagiaan Johan dan siapa pun jodohnya kelak sama ada artis atau orang biasa, saya harap dia bertemu dengan wanita yang baik dan dapat menerima Johan seadanya serta menghormati orang tua.


“Johan ada beritahu saya yang dia nak berkahwin tetapi belum ada calon,” katanya.


Artikel ini disiarkan pada : 2013/09/16





Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=282185:artis-masuk-politik-jangan-hanya-popularitas&catid=17:politik&ItemId=30


Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah