Showing posts sorted by relevance for query dengan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query dengan. Sort by date Show all posts

Thursday, January 9, 2014

Sang Pengantin



(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)
(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)

Galau. Itulah yang kurasakan sejak orangtuaku memutuskan untuk bercerai. Aku tidak mengerti mengapa orang yang sangat kusayangi harus berpisah. Berbagai rasa mengaduk perasaanku. Marah, kecewa, dan sedih bergumpal di dada. Aku kecewa pada diriku yang tidak bisa membuat orangtuaku tetap bersatu walau kutahu dengan pasti bahwa perpisahan mereka bukan karena salahku

 

Aku mau menangis sekeras-kerasnya tapi malu karena aku sudah besar. Sudah tamat SMA. Aku pendam saja semua rasa yang berseliweran di hati. Ketika ibu mengajakku ikut bersamanya ke rumah nenek di luar kota, dengan tegas aku menolaknya. Hanya kedua adikku yang bersedia ikut dengan ibu. Sementara aku dan kakakku yang sedang kuliah memutuskan tinggal bersama ayah.

 

Bukan aku tidak sayang dengan ibu. Aku hanya tidak suka jika harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku termasuk tipe orang yang introvert dan tidak pintar bergaul serta pemalu.

 

Di depan semua orang, aku bersikap seolah tidak terpengaruh dengan perceraian orangtua. Tapi di lubuk terdalam diriku, aku merasa sangat terluka dan merana. Saat ayah menyuruhku kuliah, dengan halus aku menolaknya. Alasanku, aku ingin istirahat dulu dari urusan belajar. Ayah pun cukup memakluminya. Alasan sebenarnya adalah aku ingin berdamai dengan diriku.

 

Untuk mengisi waktu, aku aktif di masjid di dekat rumah. Aku merasakan ketenangan batin saat berada di dalam masjid. Sesuatu hal yang mustahil lagi kudapatkan di rumah. Di situlah aku berkenalan dengan seseorang yang kerap disapa Ustad Fikri. Beliau rajin memberikan siraman rohani serta menjadi imam saat sholat berjamaah. Saat melantunkan ayat-ayat suci Alquran, suaranya sangat merdu dan menyejukkan hati. Penampilannya juga sangat bersahaja, dengan sorban putih di kepala dan jenggot yang menghiasi dagunya.

 

Aku yang pemalu, saat sholat berjamaah selalu memilih posisi di shaf terakhir. Aku cukup terkejut seusai sholat Isya, Ustad Fikri mendekati dan menyapaku.

“Kenapa kalau sholat tidak di shaf depan?” tegurnya ramah.

Aku hanya diam mengunci mulutku rapat-rapat.

 

Ustad Fikri tidak bertanya lagi. Dia hanya menepuk-nepuk punggungku dan berkata, “Besok datang lagi, ya! Saya senang dengan anak muda yang mau belajar agama.”

Itulah awal perkenalanku dengan Ustad Fikri. Aku yang tadinya tertutup perlahan bisa membuka diri dengan Ustad Fikri. Seusai sholat Isya, kami sering berdiskusi  tentang berbagai hal di rumahnya. Paling sering adalah membahas masalah jihad.

 

“Mengapa pengeboman di Bali, di depan kedutaan Australia dan di Hotel JW Marriot disebut jihad? Setahuku jihad itu adalah perang melawan orang-orang yang terbukti memusuhi Islam? Bukankah mereka tidak memusuhi Islam?”

 

“Anakku, mereka adalah musuh Islam. Jadi sudah seharusnya mereka harus dibasmi.”

Aku merasa nyaman setiap kali berbincang dengan Ustad Fikri karena beliau selalu memanggilku dengan sapaan anakku.

 

“Mengapa? Mereka kan tidak berperang mengangkat senjata melawan umat Islam?”

“Anakku, memang mereka tidak menggunakan senjata untuk melawan kita. Mereka, terutama Amerika menggunakan cara-cara halus untuk memberangus dan menjauhkan kita dengan ajaran agama. Pola pikir kita dirusak agar sama dengan pola pikir dan cara hidup mereka. Itu lebih berbahaya ketimbang perang dengan persenjataan lengkap.”

Aku terdiam mendengar penjelasan Ustad Fikri.

 

“Anakku, Amerika dan antek-anteknya adalah musuh nyata umat Islam. Kita harus menumpas mereka dengan cara berjihad!” Ustad Fikri berapi-api. “Amerika merupakan wali setan yang ada di muka bumi ini. Dan kita adalah wali Allah! Sebagai wali Allah, kita punya kewajiban untuk menumpas para wali setan!”

 

“Kenapa harus berjihad di Indonesia? Kenapa tidak di negara lain yang lebih banyak warga Amerikanya?”

“Anakku, jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Kita merupakan sasaran empuk wali setan. Karena itu kita harus menunjukkan perlawanan terhadap wali setan tersebut dengan berjihad.”

 

“Aku setuju dengan berjihad melawan wali setan tapi kalau melakukannya di Indonesia, aku tidak setuju. Karena yang banyak korbannya adalah justru umat Islam sendiri. Bukankah sudah jelas bahwa sesama muslim adalah bersaudara dan tidak boleh saling menyakiti?”

 

“Itu betul sekali, Anakku! Tapi perlu diingat bahwa dalam setiap peperangan ada orang-orang yang harus berkorban. Orang-orang yang tidak bersalah yang meninggal dalam pengeboman adalah orang yang mengorbankan jiwa raganya untuk mencapai cita-cita kita membasmi wali setan dari muka bumi!”

 

Walau awalnya aku tidak setuju dengan konsep jihad yang ditawarkan oleh Ustad Fikri tapi karena seringnya aku berbincang dan berdiskusi hal itu bersamanya, perlahan aku mulai bisa menerima konsep jihad tersebut. Benih-benih kebencian terhadap wali setan mulai mengakar dalam hati. Aku jadi muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amerika. Aku juga merasa bangga karena hanya aku pemuda di kampung ini yang diajak ustad ke perkumpulan pengajiannya. Masalah jihad sering menjadi bahan diskusi dalam pengajian itu. Aku merasa nyaman karena anggota perkumpulan menerimaku dengan baik dan memperlakukanku sebagai saudara.

 

Suatu malam, seusai sholat Isya, Ustad Fikri memanggilku.

“Anakku, maukah kamu menjadi pengantin?”

Aku tergagap mendapat pertanyaan yang tidak kuduga seperti itu. “Aku…aku belum siap, Ustad. Aku belum bekerja dan aku juga belum punya pacar.”Aku merasa wajahku memanas, menahan malu.

 

Ah, perempuan mana yang sudi menjadi pacar pemuda pemalu sepertiku? Selain pemalu, aku juga punya wajah yang pas-pasan dengan kapasitas otak yang juga sedang-sedang saja ditambah lagi postur tubuh kurus kering seperti kurang gizi. Aku benar-benar tidak masuk dalam daftar pria idaman para wanita “Anakku, bukan menjadi pengantin seperti yang kau pikirkan,”kata Ustad Fikri seperti bisa membaca pikiranku.

 

Aku mengerutkan kening, bingung.

“Anakku, tahukah kamu bahwa orang yang meninggal dalam berjihad itu merupakan syahid.? Imbalan untuk orang yang mati syahid adalah surga. Ketika orang yang berjihad meninggal dunia, mereka langsung disambut oleh para bidadari yang akan menjadi mempelai wanita mereka. Orang yang mati syahid itulah sang pengantin!”

 

“Maksud Ustad, Aku….”

“Iya, Anakku. Kamu adalah orang pilihan. Tidak semua orang yang bisa mendapat kesempatan untuk melakukan ini. Apakah kamu bersedia melakukannya?”

***

 

Tidak ada rasa takut ataupun gentar saat aku memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang sedang ramai pengunjungnya. Penampilanku sama dengan remaja-remaja yang sedang nongkrong dan bergerombol di cafe di mal ini. Dengan mengenakan jins, baju kaos serta sepatu kets, aku tampak seperti remaja yang akan menghabiskan waktu libur di mal. Tidak ada yang curiga kalau ransel di pundakku berisi bom yang siap meledakkan gedung ini.

 

Aku melirik jam. Beberapa menit lagi Ustad Fikri akan meneleponku. Benar saja, ponselku berbunyi. Telepon dari Ustad Fikri.

“Anakku, apakah kamu benar-benar siap untuk menjadi pengantin dan menjemput bidadari yang akan jadi mempelaimu?”

 

“Aku sangat siap dan aku sudah tidak sabar bertemu dengan calon pengantin wanitaku.” Belum pernah aku merasa sangat seyakin ini sebelumnya.

“Bagus, Anakku. Lima menit lagi, kau ledakkan bom yang ada di ranselmu!”perintah Ustad Fikri dengan nada lembut.

 

Kata Ustad Fikri, bidadari di surga wajahnya sangat cantik. Lebih cantik dari Luna Maya, artis idolaku. Badan mereka harum semerbak. Tutur sapanya halus dan lembut. Betul-betul sempurna. Dan yang lebih penting lagi, aku bisa memiliki mereka seutuhnya.  Selama ini aku cuma bisa berhayal saja mempunyai pacar yang cantik. Sesaat lagi itu bukan mimpi. Itu akan menjadi kenyataan dan abadi.

 

Aku siap mengorbankan nyawaku dengan ikut meledak bersama bom yang ada di ranselku. Aku yakin apa yang kulakukan ini adalah benar. Ini merupakan bentuk jihad melawan Amerika yang merupakan wali setan di bumi. Aku yakin aku akan mati syahid.

 

Sambil memejamkan mata, aku menekan sebuah tombol pengaktif bom yang ada di kantong celanaku. Dalam hitungan detik, bom meledak dengan dahsyatnya. Aku merasa sakit di sekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku tercerai berai. Di sekelilingku mendadak gelap. Sunyi. Dingin. Kemana bidadari yang akan menyambutku? Mengapa mereka kunjung tidak datang?

 

Ah, alam kuburku tetap gelap. Terpampang putaran film hidup. Ternyata oh ternyata terpampang nyata Ustad Fikri penuh jelaga hitam di wajahnya. Di dunia nyata ia seakan paling mengerti diriku yang haus pengasihan. Ia kasih aku kesesatan ajaran saat aku ingin menjejak taubat.

***

 

Tengah malam di Benua Amerika

 

Sebuah telepon berbunyi disebuah gedung tinggi. Telepon itu berasal dari Indonesia.

“Lapor, misi berhasil dilaksanakan dengan baik!”

“Good job! Terus jalankan misi kita. Biar wajah Islam akan semakin buruk dan tercoreng di mata dunia. Jihad merupakan kata yang ampuh untuk merusak citra Islam. I love it! Ha…ha…ha..”

 

Sambungan telepon pun terputus
 
Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/11/mo80tl-perempuan-muslim-jadi-sasaran-diskriminasi-di-inggris


Sang Pengantin

Tuesday, June 18, 2013

Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria


Syria menghadapi arus perubahan musim bunga politik yang sedang berlaku di dunia Arab secara khusus. Tidak boleh dinafikan sedikitpun, kebangkitan yang menggolakkan arus perubahan itu disebabkan oleh tempoh pemerintahan yang lama tanpa kebebasan rakyat.

Pemerintahannya bersifat diktator bertopeng demokrasi, yang menekan rakyat dengan lesen yang diberi oleh kuasa-kuasa besar dunia diatas nama rakan strategik bagi keselamatan Israel yang dilindungi dengan cara paling istemewa, akhirnya tidak mampu membatalkan musim yang bertiup.


Syria mempunyai kedudukan yang agak berbeza dengan negara Arab yang lain, kerana tidak mengiktiraf Israel dan tidak mengadakan hubungan diplomatik dengannya.


Syria juga menjadi pintu keluar bagi negara Iran yang dikepung, dalam masa yang sama mengizinkan buminya menjadi pangkalan bagi gerakan Islam Hamas dan Jihad Islami, serta pangkalan bantuan bagi Hizbullah yang berada di Selatan Lubnan.


Hamas dan Jihad Islami bermazhab Sunni, tidak sama dengan Bashar Assad yang menganut mazhab Alawi. Begitu juga Republik Islam Iran dan Hizbullah yang bermazhab Syiah Imamiyyah yang bertentangan juga dengan mazhab yang dianut oleh Bashar dan keluarganya.


 


Diambil kira juga parti Baath yang menganut ideologi sosialis yang keras sehingga hampir sama dengan negara komunis dan juga berfahaman nasionalis fanatik yang keras terhadap Israel.Semua ini menunjukkan bahawa masing-masing lebih menjadikan rakan strategik bagi menghadapi musuh yang sama iaitu Israel.


Dalam masa yang sama, negara kuasa besar khususnya Amerika yang menjadi rakan strategik Israel akan melindungi negara haram tersebut daripada sebarang gerakan yang dianggap ancaman kepada keselamatan Israel khususnya dalam berdepan dengan Islam.


Kumpulan Hamas, Jihad dan Hizbullah adalah ancaman paling bahaya terhadap Israel dengan bantuan Iran secara terbuka. Ia diumumkan oleh pemimpin utamanya Imam Ali Khamanaei dalam khutbah jumaatnya yang terakhir, diikuti oleh lawatan rasmi ke Iran oleh Ismail Haniyyah, Perdana Menteri Palestin yang tidak diiktiraf oleh Barat dan sekutunya walaupun dipilih secara pilihanraya yang dipantau oleh pertubuhan antarabangsa.  Maka kesemuanya adalah ancaman besar terhadap negara Zionis itu.


Sebelum daripada perkembangan ini, tercetus perang di Selatan Lubnan dan selepasnya serangan terhadap Ghazzah. Kedua peristiwa percubaan Israel ini yang menyerang bagi menghapuskan ancaman terhadap negara haram itu menemui kegagalan yang memalukan.


Percubaannya gagal walaupun dengan bantuan negara-negara rakan Israel dan sokongan terbuka dan tersembunyi oleh negara-negara Arab yang bersahabat dengan Israel.



Kesemua negara Arab dan negara Islam itu menerima konsep Road Map tajaan kuasa besar yang bertanggungjawab menubuhkan Israel. Ia juga ekoran dicetuskan isu ancaman teknologi nuklear Iran, walaupun di atas tujuan perbekalan tenaga, bukannya persenjataan kerana diharamkan oleh agama Islam seperti dinyatakan oleh para pemimpinnya.

Sebaliknya Israel pula telah memiliki senjata nuklear sejak tahun enam puluhan lagi, dengan tidak menandatangani apa-apa perjanjian antarabangsa yang mencegahnya daripada melakukan sesuatu yang mengancam keamanan dan keselamatan dunia.


Sebarang tindakannya yang dikira menceroboh dan mengganas dengan nyata diselamatkan dengan kuasa veto oleh kuasa besar pelindungnya jika ada sebarang keputusan yang tidak berpihak kepadanya. Inilah dia undang-undang rimba yang diamalkan di peringkat antarabangsa iaitu siapa yang kuat dia selamat.


PAS bersama dengan parti Islam di seluruh dunia mengutuk segala kekejaman yang berlaku di Syria terhadap rakyatnya. PAS dan gerakan Islam bersetuju supaya kerajaan Syria menghentikan kekejaman terhadap rakyat.


Kami juga bersetuju supaya Syria didesak dan dipaksa membuat perubahan kepada demokrasi yang sebenar. Namun kami tidak bersetuju jika perubahan yang berlaku kerana hendak menyelamatkan negara haram Israel dan masuk ke dalam agenda Israel dan sekutunya.


Tujuannya bukan menyelamatkan Syria tetapi lebih daripada itu untuk menekan, melemah dan menghapuskan Hamas, Jihad Islami (daripada Sunni) dan Hizbullah serta Iran (daripada Syiah).


Pihak yang melawan kerajaan Syria pula melibatkan kumpulan Islam dan bukan Islam. Mereka dibekal dengan bermacam bantuan termasuk senjata dan ada yang diberi di atas nama Islam dengan agenda menegakkan kerajaan baru yang menyelamatkan Israel melalui gabungan kerjasama kumpulan Islam yang tidak kuat dengan kumpulan sekular yang berpangkalan di negara Barat yang lebih diperkuatkan supaya menguasai gerakan perubahan.


Media Israel melaporkan kenyataan pemimpin kerajaan dan tentera Israel bahawa mereka mahukan perubahan yang bukan berteraskan Islam yang lebih menyelamatkan Israel. Jika tidak maka Bashar Assad perlu diteruskan berkuasa pada tempatnya. Ini kerana perubahan yang memberi kemenangan kepada kumpulan Islam seperti di Mesir, Tunisia dan Libya lebih menjadi ancaman kepada keselamatan Israel.


Usaha mereka bukan sahaja menyekat ancaman terhadap Israel daripada utara dan selatannya, tetapi juga dilakukan bagi menghapuskan kekuatan Iran dan kemajuan teknologinya.


Beberapa bulan yang lalu media Barat mendedahkan perselisihan pendapat di kalangan Zionis Yahudi berhubung keperluan melancarkan serangan ke atas Iran seperti yang pernah dilakukan ke atas janakuasa tenaga nuklear Iraq di tahun 70-an di masa Saddam Husain.


Usaha juga dilakukan dengan menggunakan Iraq di zaman Saddam bagi menyerang Iran yang baru berjaya dalam Revolusi Islam menjatuhkan regim Shah yang pro Barat. Ada di kalangan mereka yang bersetuju supaya Iran diserang habis-habisan. Mereka ialah kalangan pelampau Zionis yang berada dalam negara haram Israel.


Ada juga yang tidak bersetuju Iran diserang. Mereka ialah kumpulan Zionis yang berada di Amerika dan Eropah. Mereka bimbang tindakan itu akan menyuburkan gerakan anti Zeonis dikalangan masyarakat barat apabila berlakunya krisis sampingan selepas serangan itu.


Bagi melaksanakan agenda yang nyata dan tersembunyi ini, maka sudah tentu Amerika dan sekutunya menjadi penyumbang besar bagi menjayakan cita-cita keselamatan negara haram Israel. Kepada mereka yang dapat membaca medan politik secara sepak terajangnya, bukan secara akademik sahaja, perlu difahami bahawa politik perlu dibaca dengan dua aspek iaitu akademik yang bersurat dan sepak terajang yang tersirat. Betapa agenda melagakan umat Islam yang pernah menjatuhkan kerajaan Othmaniyah di awal abad yang lalu sedang diulangi senarionya.



Pertama, umat Islam dilagakan dengan semangat kebangsaan masing-masing sehingga membantu musuh bagi menjatuhkan kerajaan Othmaniyyah di abad yang lalu tanpa menafikan adanya kezaliman dan kesilapan kerajaan Othmaniyyah terhadap wilayahnya. Semangat nasionalisme digunakan bagi menimbulkan kebencian Arab terhadap bangsa Turki yang menguasai kerajaan Islam dimasa itu.

Di atas semangat kebangsaan dengan bantuan yang melibatkan manusia seperti Lorans dan rakan-rakannya Arab dibantu untuk menentang Turki Otmaniyyah. Akhirnya Kerajaan Othmaniyyah dijatuhkan dan diberi tempat kepada Kamal Ataturk mendirikan kerajaan sekular menggantikan kerajaan Islam di atas nama memajukan Turki tetapi berakhir dengan bangsat.


Di kalangan bangsa Arab pula diupah dengan bahagian masing-masing mengikut road map Sykes Picot dengan membahagikan di kalangan negara Barat untuk menjaganya dengan upah mengangkut hasil bumi yang kaya. Manakala Arab pula dibayar dengan wang yang banyak supaya kaya-raya tanpa teknologi yang dapat menguatkannya sehingga dapat berdikari dan meninggalkan sifat Islamnya supaya tidak berakhlak, tetapi terus berlindung dengan negara-negara Barat tersebut.


Negara-negara Arab yang mendapat bahagian ini masih lagi menjadikan hari mendapat bahagian tersebut sebagai hari kebangsaan masing-masing yang disambut dengan meriahnya secara tahunan.


Yang kedua, melagakan umat dengan mazhab yang ramai pengikut. Pengikut Mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan majoriti umat Islam dan menjadi mazhab kerajaan Othmaniyyah yang bermazhab Hanafi, dilagakan dengan mazhab Syiah Imamiyyah yang ramai penganutnya di Iran, Iraq dan Selatan Lubnan dan menjadi mazhab Shah Iran di masa itu. Mazhab Zaidiyyah yang sebahagian besar pengikutnya di Yaman dan juga menjadi mazhab raja yang bergelar Imam yang memerintah Yaman.


Ada pun Oman pula bermazhab Khawarij Ibadiyyah. Syah Iran dan Imam Yaman berperang dengan kerajaan Othmaniyyah. Oman pula menjadi pengkalan kuasa barat.


Malangnya dalam pergolakan yang berlaku di Syria dan perang yang masih dingin di antara Iran dan negara Barat dan sekutunya, isu nasionalisme dan mazhab dihidupkan semula. Dihidupkan semula galakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam sehingga meletakkan ajaran Islam yang boleh menyatukan umat dan akhlaknya yang mulia dilupakan.


Masalah khilafiyyah di kalangan mazhab Islam yang satu dihidupkan semula. Sepatutnya menjadi perbincangan di kalangan para ulama yang mendalami ilmunya sahaja, tetapi dihidupkan bukan sahaja diantara Sunni dan Syiah bahkan di antara Sunni dan Sunni. Ia disebarkan saperti salafi (wahabi) dan Asya’irah dan Maturidiyyah di kalangan Ahli Sunnah.


Masalah cabang ajaran agama yang berbeza di kalangan empat mazhab dan lain-lain dikalangan ahli sunnah dihidupkan kalangan masyarakat awam yang cetek pengatahuan agamanya. Syiah Imam Khomeini dan Khaminaei yang membuat perubahan politik daripada syiah tradisi di kalangan Syiah, diantara syiah Arab dan syiah Parsi di Iraq.


Di samping menyebarkan mazhab-mazhab ini di kalangan umat Islam yang masih jahil agama, bukannya menyebarkan dan menambahkan penyebaran Islam di kalangan bukan Islam. Semua ini adalah agenda laga dan perintah atau penjajahan semula yang sepatutnya difahami oleh umat Islam.


Dalam kemelut yang begitu celaru, umat Islam perlu kembali ke pangkal jalan, mengenali kawan dan lawan serta mengambil iktibar daripada kesalahan yang lalu. Para ulama dan pemimpin di zaman keemasan umat Islam bersatu dalam perkara rukun dan berbeza pendapat dalam masalah cabang sehingga tidak memisahkan hubungan persaudaraan agama dan kemanusiaan berbagai agama dan kaum dalam negara Islam yang luas dan besar.


Pandangan semua ulama dicatit menjadi kajian, termasuk pendapat paling lemah kerana keadaan situasi dan realiti yang boleh berubah. Kesilapan dalam perkara rukun diperbetulkan dengan kebijaksanaan.


Maka paling menariknya berlaku perkembangan Islam secara damai lebih pesat daripada ketika berperang. Allah mengajar penganut Islam di zaman Rasulullah S.A.W. supaya umat Islam bersatu di atas dasar dan konsep Islam serta menggunakan pendekatan damai dan strategik dengan masyarakat bukan Islam.


Walaupun Rasulullah S.A.W. sudah wafat dan para sahabat generasi awal Islam berbeza pendapat siapakah pengganti Rasulullah S.A.W. selepas wafatnya sehingga melahirkan mazhab Sunni, Syiah dan Khawarij. Namun mereka bersatu bersama para Khulafa Rasyidin R.A. dalam menghadapi cabaran dan menyebarkan Islam sehingga berjaya selama beberapa abad. Mereka yang jahil dan melampau disingkirkan daripada masyarakat umat yang besar.


Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berguru dan bersatu dengan Imam Jaafar al-Sodiq pelopor Syiah Imamiyyah yang beribukan salah seorang daripada zuriyat Abu Bakar Al Siddiq R.A. Semua para ulama yang berwibawa itu menentang kezaliman di zaman Umawiyyah dan Abbasiyyah dan mendokong sesiapa yang adil, seterusnya dakwah dan jihad diteruskan.


Adapun pertelingkahan yang tajam selepasnya, berlaku di kalangan para jahil daripada semua pihak. Langkah penubuhan Majma’ Fiqh di bawah OIC yang melibatkan para ulama daripada semua mazhab itu adalah sangat positif bagi umat Islam.


Begitu juga kenyataan dan fatwa pemimpin utama Iran Imam Ali Khaminaei supaya para pengikutnya berhenti daripada mencaci dan menghina para Ummahatul Mukminin (para isteri Rasulullah S.A.W.) yang bertaraf ibu kepada seluruh orang-orang yang beriman dengan perintah Al Quran secara nas dan berhenti menghina para sahabat R.A. Malah para ulama besarnya memaklumkan bahawa lebih daripada sembilan ribu hadith yang ada dalam kitab al-Kulaini yang menimbulkan masalah hendaklah ditolak.


Adapun langkah membiarkan kuasa asing yang dijemput menyelesaikan masalah hanya mengulangi sejarah lama yang wajib dilipat dan dikebumikan. Kalau mahu menghidupkan semula dalam pergolakan di Syria terkini akan terlaksana sejarah lama yang mengundang singa dan buaya. Natijahnya kalau selamat daripada mulut harimau akan masuk ke dalam mulut buaya.



* Penulis adalah anggota Parlimen Marang yang juga Presiden PAS. Tulisan ini disiarkan semula berdasarkan tulisan asal yang dibuat beliau pada
Khamis, 23 Februari 2012. Tulisan ini boleh juga dibaca di sini.


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Sunday, July 28, 2013

Namanya Jastin Bibiaq

JASMANIZAM Basri. Kalau dicetak nama ini pada sebahagian judul berita utama pasti tidak ramai pembaca akan segera merengkuh helaian akhbar ke bola mata. Juga mustahil membuatkan para penonton berita perdana jam 8.00 malam untuk berterusan mengangkat kelopak mata agar tidak berkelip atas sebab cakna dengan jejaka berumur 30-an ini.


Namun keadaan berbeza sejurus Jastin Bibiaq diangkat menjadi nama komersialnya. Jasmanizam Basri kini bukan lagi nama asing dalam gelanggang hiburan tanah air. Nama mirip seorang penyanyi remaja Amerika Syarikat ini berpasak teguh di laman hati peminat muzik tempatan.


Fenomena Jastin Bibiaq (atau akronimnya JB) telah melanda seantero negara dengan begitu dahsyat. Sudah sebelas minggu, tepatnya. Seiring dengan jangka masa berlangsungnya program realiti televisyen berkonsepkan nyanyian yang memperkenalkan Jastin Bibiaq sebagai salah seorang peserta.


Di laman web carian internet tempatan, sebaik huruf J ditekan berbelas-belas cadangan carian berkaitan Jastin Bibiaq tersenarai secara automatik. Halaman-halaman media sosial yang menawarkan tempat untuk para peminat berkomunikasi juga menjelata muncul. Remaja lelaki pula tergila-gila mahu mengikuti fesyen rambut ‘sikat tepi’ JB yang kemas, meskipun suatu ketika fesyen sebegini dianggap tidak selari dengan gaya hidup kontemporari.


“Abang Jas, bersedia ya. Giliran abang tak lama lagi.” Seorang petugas yang sedang mundar-mandir berhenti mengejut di hadapan Jastin sebelum berlalu pergi. Jastin hanya terkerising.


Jastin menundukkan pandangan ke lantai. Jubah kemurungan menyerkup semula tampang senyum yang dibuat-buatnya sebentar tadi. Sejak kemasukannya ke rancangan ini sebelas minggu lalu, mainan perasaan sentiasa mengapung berat di atmosfera hatinya.


“Tugas kau adalah seorang guru sekolah agama. Bukankah menceburi bidang muzik mencemar nama baik sekolah?” Suara pengetua tempat dia mengisi cangkir rezeki bertandang kembali. Entah kali yang keberapa. Semenjak dia terpilih menjadi 12 peserta rancangan realiti TV tersohor negara, suara tuan pengetua bagai bisikan kekasih yang menemaninya setiap detik. Tidak pernah lekang bait-bait perbualan (atau perdebatan) itu daripada lohong pendengarannya.


“Bidang muzik juga memerlukan orang beragama untuk membetulkan apa jua kesalahan. Jika dibiarkan bidang ini dipelopori oleh orang biasa, sampai bila kemungkaran di dalamnya akan dapat diselesaikan?” Jasmanizam tidak berniat melebarkan hujah. Cukup satu dua ayat yang ringkas tetapi sarat dengan makna.


“Menggadaikan maruah untuk menjadi tumpuan masyarakat. Dikelilingi gosip liar dengan puluhan wanita. Tak perlu mencari masalah baru, Jas. Masalah disiplin dan prestasi merudum akademik pelajar di sini masih tak menang tangan kita nak urus.” Tuan pengetua kekal dengan pendiriannya. Jasmanizam tetap tidak boleh dilepaskan pergi untuk menyertai rancangan realiti TV terkemuka itu.


Bukan soal bakat atau kemampuan, tapi soal maruah. Tuan pengetua punya rangkaian hujah tersendiri.


“Bukankah Islam ada garis panduan tersendiri dalam hiburan? Berapa ramai manusia mendapat hidayah dengan mendengar lagu-lagu ketuhanan daripada penyanyi-penyanyi beragama Islam? Bukankah ini peluang untuk menjadikan agama kita disebarkan dengan lebih meluas, bukan sekadar kepada pelajar-pelajar di sekolah kita malah kepada masyarakat umum yang selama ini tidak pernah sedikit pun terdedah dengan keindahan ajaran Islam yang sebenar.”


Gemuruh tepukan penonton memancang khayalan Jastin di tanah realiti. Tidak sempat untuk dia menyelongkar almari ingatan, menjejak kembali hujah balas tuan pengetua untuk kenyataan dan soalan retoriknya yang panjang lebar. Kini tiba giliran peserta ketiga, Idayu Herman melangkah ke pentas utama. Sebagai gelanggang akhir, peserta harus menyanyikan dua buah lagu. Satu lagu baru ciptaan komposer mapan tempatan manakala satu lagi mana-mana lagu sedia ada yang bersesuaian.


Jeritan penonton menggegarkan bumbung stadium tertutup berkapasiti 23 ribu orang di ibu kota ini. Namun tidak sekuat gegaran yang kerap melanda jantung Jastin semenjak menandatangani surat pengesahan untuk menyertai rancangan ini.


“Apakah ini jalan terbaik untukku menegakkan agamaMu?” Acap kali pertanyaan seumpama ini berlegar sekitar perdu rasional di akalnya. Dia mengerti, perjuangan dengan kaedah populariti ini bukan sesuatu yang mudah. Bila-bila masa sahaja, sifat ujub mampu menendangnya keluar dari landasan keredaan Ilahi.


“Atau aku tersilap membuat perhitungan, ya Allah?” Ombak perasaan Jastin terus membusa ganas.


Dakwah


“Cubalah, Jas!”


Jasmanizam sekadar menghadiahkan senyuman. Buku nota pelajar lebih menggamit perhatiannya berbanding manusia berkumis tipis bernama Zamri.


“Bukan kena bayar, lagipun mudah pelajar kau nak berhubung sewaktu cuti sekolah.”


Jasmanizam membisu jua.


“Di Malaysia sekarang tak ada akaun Facebook macam tak ada surat beranak, kau tahu!” Zamri berlelucon dalam usaha meyakinkan Jasmanizam akan pentingnya media sosial darsawarsa ini. Dia akur rakan sekolahnya itu sememangnya ketinggalan dalam soal teknologi terkini.


“Dakwah kau pun akan berkembang dengan lebih hebat, kau tahu?”


Jasmanizam mengangkat kening. Mata dikalih daripada buku-buku nota pelajar di atas meja bilik guru ke arah Zamri yang sedang tersengih-sengih. “Dakwah yang bagaimana pula tu?”


Zamri mengeluarkan telefon berteknologi kanta sentuh sebesar telapak tangan daripada saku seluar. Disentuh pada ikon biru sederhana gelap bertulis ‘Facebook’, langsung cekatan jarinya menari-nari di atas skrin bagi menaip aksara di ruangan ‘carian’. Tak sampai beberapa saat, satu halaman dipenuhi himpunan kata-kata hikmah dan potongan ayat Al-Quran beserta ulasan ulama-ulama terkenal memenuhi segenap skrin telefon.


“Hebat betul!”


“Sambil-sambil mengajar di sekolah, tak salah pun kau menerokai teknik dakwah menerusi media sosial. Kaedah ini lebih berkesan untuk mendekati jiwa anak-anak muda.”


Kenyataan Zamri memadai untuk semangat Jasmanizam mengejuju naik ke angkasa. Dia tidak pernah tahu-menahu akan kehebatan Facebook sebagai medium komunikasi serba canggih untuk tujuan menyampaikan ilmu. Profil milik sendiri kemudiannya dicipta dengan bantuan Zamri.


“Hasil tunjuk ajarku tidak lagi semata-mata di darjah. Alhamdulilah.” Dia berbisik penuh suka. Platform penyampaiannya kini bercambah.


Namun kesukaan itu tidak sampai ke mana. Setelah menulis satu ulasan mengenai kelebihan solat berjemaah, hanya satu ‘suka’ dan tiada komen dipunyai tulisan itu – menandakan bilangan pengguna Facebook yang menerima penyampaiannya terlalu sedikit.


“Kau harus ramai followers terlebih dahulu.” Zamri menerangkan faktor penyampaian Jasmanizam kurang mendapat sambutan. Jasmanizam mengerti setelah menyemak senarai rakan maya yang hanya seramai 15 orang.


Jangan asyik leka di Facebook sampai lupa bersolat, rakan-rakanku!


Satu tulisan yang dikongsi salah seorang rakan maya terpampang di muka hadapan. Dia kenal penulis coretan ringkas itu, seorang pendakwah terkemuka yang sering muncul dalam rancangan motivasi pagi di saluran televisyen swasta. Butang kiri tetikus ditekan sejurus anak panah berada tepat di atas tajuk tulisan tersebut.


“Hampir sepuluh ribu ‘suka’ dan beratus-ratus kali dikongsi? Wah benar-benar mengujakan! Mudah dan berkesan pula tu.” Jasmanizam kagum. Betapa tulisan sembilan patah perkataan itu mampu mengirimkan peringatan kepada ribuan manusia yang sedang ralit menerokai halaman Facebook.


Kau harus menjadi popular. Demi menaikkan martabat agama dan menyampaikan ajaran yang kau punyai.


Entah macam mana idea ini melintas di persimpangan hati. Mengarut, tak masuk akal dan keanak-anakan. Usah bermimpi menjadi popular kalau sekadar menjadi guru di sekolah agama ceruk buana. Jasmanizam mentertawakan diri sendiri.


“Abang Jas, lagu Always Be There atau Aku Seorang Pendosa dahulu akan dipersembahkan? Maaf saya mahu memastikan buat kali kedua.” Petugas sama menegur kalut Jastin sekali lagi. Jastin terpinga-pinga sejurus tersedar daripada jelajah minda. Setelah jawapan diberikan, petugas itu dengan lekas menghubungi rakan petugas lain menggunakan alat walkie-talkie lalu beredar pergi.


Tatkala peserta lain berkumpul di bilik persediaan untuk raptai terakhir, Jastin memilih untuk bersendirian di satu sudut belakang pentas. Dia perlu bertafakur sejenak, memikir kembali hala tuju asalnya bertukar profesion daripada seorang guru di sekolah agama kepada seorang penyanyi.


“Sudah menjadi popular nanti tentunya ajaran agama entah ke mana. Resmi orang hebat, naik ke langit terus lupa bumi, lupa Maha Pencipta!”


“Agaknya bosan mengajar di kampung begini. Memanglah, gaji sedikit. Siapa tak tertarik dengan wang lumayan dan populariti?”


Kata-kata teman pengajar di sekolah umpama das-das tembakan padu daripada pistol mesin yang bertubi-tubi menembusi hatinya. Ah, kalian tak akan pernah faham apa kepentingan untuk menjadi popular dalam menyampaikan idea-idea! Jastin menggeleng-geleng pantas.


Segala-galanya bermula dengan uji bakat program realiti TV yang dihebahkan kepadanya oleh Zamri. Zamri kenal Jastin, bekas johan nasyid kebangsaan yang punya suara lunak dengan kebolehan mengawal pitching nan menakjubkan.


“Ini peluang keemasan untuk kau menjadi ikon masyarakat dengan cara kau tersendiri! Aku pasti dengan keazaman dan ilmumu, kau bakal menjadi seorang artis yang cukup berbeza. Kau bakal mengubah persepsi peminat-peminat hiburan, terutamanya anak muda.” Jastin merasakan Zamri seakan-akan sedang mencacang di hadapannya sekarang.


Jastin sememangnya punya perbezaan ketara dengan peserta lain. Dia meletakkan syarat untuk tiada penari wanita bersamanya di atas pentas. Lagu-lagu yang dipersembahkan juga disaring dengan teliti terlebih dahulu. Walaupun pada awalnya perseteruan dengan penganjur timbul, namun akibat fenomena JB telah menjuak status rancangan realiti TV itu ke tahap tertinggi, pihak penganjur terpaksa akur dengan kemahuan Jastin.


“Hanya Kau yang mengetahui pucuk pangkal perjuanganku, ya Rabb!”


Populariti


Lagu suspen dimainkan orkestra. Bila-bila masa sahaja nama pemenang rancangan realiti TV nyanyian nombor satu Malaysia itu akan sampai ke telinga para hadirin di stadium dan berjuta-juta peminat yang menanti di hadapan skrin televisyen.


“Tak lain tak bukan, Jastin Bibiaq!” Serentak pengacara lelaki berambut emas dan gandingannya, seorang pengacara wanita muda remaja menjerit. Reben dan belon beraneka warna menghujani pentas.


“Kita jemput Jastin ke hadapan untuk menerima trofi dan memberikan sepatah dua kata. Dengan segala hormat dipersilakan!”


Jastin maju ke hadapan perlahan-lahan. Jutaan anak mata kini tertumpu kepadanya. Teriakan penonton melantun-lantun di segenap penjuru. Atma Jastin tenang, tidak dirasakan satu kemegahan sekumin pun dengan sorakan penonton. Dia benar-benar takut dengan kemunculan rasa riak dalam keadaan disanjung sedemikian rupa.


“Inilah waktunya!” Jastin bermonolog sambil menyambut mikrofon tanpa wayar yang dihulurkan pengacara berambut emas.


“Gunakan populariti kurniaan Allah sebaiknya!” Dia terhimbau pesanan ringkas Zamri.


Jastin menghela nafas dengan gontai. Aku menjadi tumpuan seluruh masyarakat pada saat ini. Inilah masanya! Jangan bazirkan peluang! Sukma Jastin membentak kasar meski air muka tetap kelihatan selamba.


Jastin berdehem beberapa kali. “Bersyukur ke hadrat Ilahi atas kurniaan ini. Saya ucapkan terima kasih atas sokongan para peminat.”


Tepukan bergemuruh lagi. Tiada apa mengujakan melainkan ucapan tipikal seorang artis yang memenangi anugerah.


“Saya mengambil kesempatan ini untuk mengajak para peminat saya yang beragama Islam untuk mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuhnya. Janganlah asyik kita dilalaikan dengan hiburan sehingga lupa tujuan asal kita diciptakan di muka bumi ini. Ingatlah, kematian itu pasti akan mengunjungi setiap seorang daripada kita, sama ada yang senang menonton rancangan ini atau pun tidak.” Jastin memadatkan sebaik mungkin butiran penyampaian kepada sekalian penonton.


Suasana stadium tertutup kemegahan negara itu khali. Mulut penonton sama ada di stadium atau di hadapan kaca TV masing-masing terpelahang dengan apa yang didengari.


“Semoga kita terus beramal dengan al-Quran dan sunnah Rasullah. Terima kasih penganjur memberikan peluang untuk saya sampai ke sini. Sekarang saya harus kembali ke kerjaya asal saya sebagai seorang guru sekolah.” Jastin meletakkan mikrofon di atas lantai dan menonong keluar menerusi pintu kecemasan. Penonton keliru mahu menunjukkan reaksi yang bagaimana. Masing-masing terpempan dengan teguran ikon baru muzik tanah air itu.


Jastin menggalas beg lembik berisi pakaian lalu bergerak meninggalkan hotel mewah tempat dia menginap sekian lama. Kontrak sebagai peserta rancangan realiti TV tersohor itu kini tamat. Langsung dia mengungsi tubuh ke stesen bas ekspress di tengah ibu kota.


Jastin berhenti sebentar di kafe siber berhampiran stesen bas sejurus selesai membeli tiket pulang ke utara semenanjung. Halaman Facebook miliknya yang lama tidak disemak menjadi arah tuju. Lebih dua ratus mesej peribadi menanti untuk dibaca di pautan inbox. Satu per satu dibacanya dengan lekas:


Terima kasih Abang Jas, benar-benar membuka mata saya untuk berusaha mencari hidayah Allah – Jack Drummer, Seremban


Kami sekumpulan ingin berguru dengan abang. Kagum dengan lagu ciptaan abang, Aku Seorang Pendosa. Liriknya benar-benar menyentuh perasaan – Rockers Mandin, Butterworth


“Alhamdulilah, Kau telah beriku peluang untuk manfaatkan bakat kurniaanMu.” Jasmanizam memanjat rasa syukur.


Teriakan konduktor bas memanggil penumpang kedengaran jelas. Jastin harus segera pergi meskipun masih ratusan mesej peribadi belum sempat dibacanya.


Tugas sebagai seorang Jastin Bibiaq telah berakhir. Dia bakal kembali ke kehidupan asal. Bukan lagi sebagai Jastin Bibiaq tetapi Jasmanizam Basri, seorang guru sekolah agama.



Article source: http://www.tribunnews.com/2013/07/11/artis-mualaf-ini-kerap-ditegur-terlambat-salat-jumat


Namanya Jastin Bibiaq

Tuesday, July 2, 2013

Cinta Lelaki Aktivis

(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)



“Tidak seharusnya kita berfikir seperti itu ukhti. Kita tidak boleh egois memaksakan kehendak. Kita ini aktivis dakwah, kita hanya bisa mengajak dan menasehati. Serta memberikan kemafhuman bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil

 

Urusan terima atau tidaknya, itu bukan hak kita untuk memaksanya berubah menjadi muslimah yang mengamalkan Islam secara kaffah. Kita tawakkal serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla. Itulah ikhtiar kita. Dan yang paling penting bagi kita selaku aktivis dakwah, isbirun dan jangan menjauhinya tapi berlaku baiklah dan rangkullah ia.

Dakwah ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tidak mudah menjadikan seseorang berubah secara total. ”

 

Penjelasanku panjang lebar kepada Zahra yang berharap sekali teman perempuannya berubah menjadi muslimah yang menjalankan syariat Islam minimal memakai jilbab. Zahra salah satu akhwat seperjuanganku. Kulihat wajahnya mulai tenang mendengarkan nasihatku.

 

Zahra yang sangat bersemangat ketika berbicara masalah dakwah fi sabilillah guna menyelamatkan generasi muda dari arus globalisasi dan produk-produk yahudi yang liberal dan ingin menghancurkan generasi umat Islam dengan berbagai cara. Bahkan prioritas dan azzam-nya yang membuatku kagum pada Zahra. “Kalaupun aku harus mati dijalan-Nya, maka I’m pround and that my choice” gumamnya suatu ketika bersamaku dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu pondok pesantren.

 

“Tapi kak ! bukankah mereka sudah sering Zahra sampaikan bahwa kewajiban menutup aurat itu perintah Allah yang termaktum didalam Alquran” protes Zahra yang belum sepenuhnya menerima penjelasanku. Aku berfikir positif mungkin karena keinginannya yang terlalu besar sehingga menutup pikirannya untuk berfikir secara realistis.

 

“Benar sekali yang ukhti sampaikan, tapi yang harus diingat siapapun dan darimanapun orang yang menyampaikan kalau bukan dirinya sendiri yang tidak mau berubah maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah ukhti sering mendengarkan firman-Nya dalam surah Ar-Ra’ad 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”

 

Jadi disamping kita menyampaikan kebenaran itu, maka diperlukan juga dorongan motivasi dari dalam diri kita untuk melakukan perubahan, bukan sebaliknya. Bersifat apatis terhadap hidup kita. Jika hidup kita biasa-biasa saja dan bersahabat dengan lembah kehinaan dengan melakukan kemaksiatan, kita biarkan diri kita ikut arus tanpa mencoba untuk melawan arus itu. Berprinsip mengalir apa adanya tanpa ada kemaun untuk melakukan sebuah revolusi kearah yang lebih baik.

 

Zahra mendengarkan untaian-untaian kalimat yang kuucapkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata tersebut, tapi aku yakin Zahra bisa memahaminya. Entah karena untaian nasehat yang kuucapkan kulihat pelupuk matanya menampung air yang bening. Hingga kelopak mata tersebut tak mampu lagi untuk membendungnya seketika menetes membasahi pipinya yang bak baby face. Mata yang binar itupun sayup dan kemerahan.

 

Percakapanku dengan Zahra terhenti seiring dengan terdengarnya seruan menghadap pada Sang Khaliq dari menara masjid. Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan Zahra melangkahkan kaki ini memenuhi seruan-Nya. Karena kusadar aku berstatus sebagai hamba. Abdi Allah yang harus menjalankan kewajibanku. Aku bersyukur karena hati ini masih rindu akan kehadirat-Nya, meninggalkan sifat hedonis dan rindu akan kampung akhirat. Semoga hati ini tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

***

Hari-hariku kembali kujalani dengan sejuta nikmat yang senantiasa aku rasakan dari-Nya. Kicau burung, mentari merekah dan tetesan embun kembali menghiasi cakrawala dunia. Hari ini aku kembali mengukir sejarah dalam lembaran hidupku. Entah sama dengan hari kemarin atau lebih baik lagi atau bahkan sebaliknya. Tapi aku berharap dan ber-azzam hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena Rasulullah bersabda “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung.”

 

Ku atur waktuku secara sistematik. Mulai dari bangun tidur, aktivistas kuliah, organisasi bahkan mimpi-mimpiku untuk kedepannya. Menginterpretasikan makna kehidupan dengan jalanku sendiri membuatku terkadang mengalami kemandekan untuk menentukan sikap. Tapi itulah manusia terkadang berada pada situasi yang menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan sikap dan solusi.

 

Sudah dua jam lebih aku berdiri di depan kampus menunggu Zahra karena sesuatu hal yang sangat urgent harus kusampaikan. Tak kulihat batang hidungnya berlalu lalang di area kampus. Apa Zahra tidak masuk kuliah ? Atau sakit? Di masjid, perpustakaan atau sudah pulang? Sederetan pertanyaan itu terus mendesakku untuk mencari tahu. Aku menuju ke masjid kampus seakan ada magnet yang menarikku untuk cepat menuju masjid kampus. Jantungku berdebar kencang seperti genderang yang dipukul oleh para seniman mementaskan karya terbarunya dengan spektakuler.

 

“Ya Allah ada apa ini? Aku terus mengucapkan tasbih berdzikir menenangkan hati. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Itulah firman-Nya. Aku bergegas ke arah masjid

 

“Masya Allah, ada apa ukhti ?” Setelah berada dalam masjid kulihat Zahra berlinang air mata. Disampingnya Fatimah terusnya membujuknya tapi air mata Zahra semaking berlinang deras. Deras sekali. Membasahi jilbab abu-abu yang menjulur sampai kelutut yang ia kenakan.

 

“Ada apa ukhti ? kenapa ukhti menangis ?” tanyaku dengan rasa penasaran. Fatimah dan Zahra menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan yang tidak kumengerti. Suasana menjadi hening, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejurus aku berfikir keras untuk memecah kebisuan ini.

 

“Kak…….” Suara Zahra memecah keheningan. Aku hanya menunduk seraya menjaga pandangan.

“Kak Hafidz, Zahra dijodohkan kak. Kemarian Zahra dikhitbah dan orangtua Zahra menerimanya tanpa meminta persetujuan dari Zahra. Karena perjodohan itu disepakati sejak Zahra berusia lima tahun. Seminggu sebelum resepsi khitbah orangtuaku baru mengatakannya. Aku bingung kak.”

 

Aku tersentak mendengar penuturan Zahra. Aku mengernyitkan dahi dan menelang ludahku karena kerongkongan ini tiba-tiba kering. Hati ini seakan perih. Rekahnya mentari yang hangat menyusup kesetiap pori-pori tak lagi kurasakan. Lagi terlihat mendung seketika, hampa, hambar dan tak ada daya rasanya untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun susah bagiku.

 

Air mataku kurasakan sebentar lagi akan berjatuhan bak mendung yang siap menurunkan hujan dengan lembab tapi aku tahan dengan segenap kekuatanku. Aku harus tegar. Aku ini laki-laki bagaimana pun konsekuwensinya aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah bahkan lebay dihadapan Zahra dan Fatimah. Bukankah cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta tidak seharusnya memiliki tendensi yang lain.

 

Cinta terkadang membuat kita bahagia dan sedih. Itulah uniknya cinta. Secara diam-diam aku sangat menyayangi Zahra bahkan aku telah mencintainya.Aku mencintainya dan selama ini aku jaga cinta itu, aku simpan rapat-rapat dalam relung hatiku terbungkuskan harapan untuk suatu hari aku datang mengkhitbahnya. Hingga saat ini aku masih mencintainya dan tak pernah satu orangpun aku katakan perasaan ini bahkan pada dirinya. Aku ingin cinta ini tetap suci hingga kami disatukan dalam ikatan yang halal di mata manusia lebih-lebih lagi dihadapan-Nya tapi harapan itu kini hanyalah sebuah angan yang bergelantungan pada langit dunia.

 

“Ukhti, Insya Allah itulah yang terbaik yang Allah berikan. Syukurilah dan ambillah ibrah dari semua yang berlaku. Allah tahu bahwa ukhti sudah mampu mengemban amanah menjadi istri dan calon ibu kelak, makanya Allah menakdirkan ukhti menikah diusia muda” ucapku pada Zahra dengan mimik wajah yang kubuat bersikap biasa-biasa saja. Mimik wajah yang kubuat bahagia meski hati ini menolak untuk melakukannya

 

“Tapi kak, Zahra belum tahu akhlaknya, pergaulan bahkan semua tentangnya buram bagiku” Zahra seakan belum siap dengan semua itu, mungkin ada alasan yang urgent yang membuatnya belum bisa menentukan sikap. Aku kembali menyakinkannya

 
“La yukallifulluh nafsan illaah wus’aha”. Ingat firman-Nya ukhti. Bukankah setiap problem yang kita hadapi pasti ada solusinya? Seandainya orangtua ukhti tidak mengetahui dan kenal baik dengannya aku percaya beliau tidak akan menerimanya.

 

Pernikahan berarti menyempurnakan separuh agama, kini Allah membukakan jalan untuk menyempurnakan separuh agama itu. Maka jemputlah ia dengan senyuman indah penuh cinta kasih. Rangkul dan peluklah anugrah terindah itu yang Allah peruntuhkan untukmu ukhti. Sambutlah dan mulailah mencoba membuka lembaran baru dengan cinta yang mampu menggetarkan langit dan mendapat Ridha-Nya. Terimalah kenyataan ini dengan dasar cinta karena-Nya.

 

“Karena cinta senantiasa bergerak. Dimana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan intuisi, di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman. Belajarlah untuk mencintainya karena atas dasar cintalah kehidupan ini akan lebih berwarna” aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia atau sedih semua berpadu menjadi satu aliran.

 

Sudah lama aku tidak pernah melihat Zahra bahkan keberadaannya tak kutahu lagi. Pertemuanku di masjid kampus merupakan pertemuan terakhirku dengan dirinya. Menurut informasi, Zahra berhenti kuliah dan pindah rumah beserta keluarganya. Dia pun tidak pernah memberitahukanku kemana ia pergi.

 

Ada perasan hilang dalam hidupku yang menyergap hari-hariku semenjak kepergiannya tapi aku berusaha memahami setiap kejadian yang kualami. Menyelami akan arti kehidupan dan mengambil sirat makna dibalik semua yang telah berlaku. Kembali kudesain hidupku, kembali menuliskan mimpi-mimpi baru yang kuprioritaskan yang harus kugapai. Menuliskan misi sebanyak-banyaknya dan bertekad untuk lulus ujian akhir dengan predikat mahasiswa terbaik dengan hasil cumlude.

 

Menghiasi hari-hariku dengan berbagai aktivitas padat. Mulai dari kuliah sampai kembali eksis dan menjadi kader militan dalam organisasi. Walaupun bayangan Zahra sesekali melintas dalam benakku, namun secepat itu juga kutepis bayangan wajahnya. Aku harus lebih menggunakan logika.

 

Hembusan angin membelai wajahku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan seiring dengan silih bergantinya siang dan malam kehidupanku terus kulalui hingga takdir membawaku pada keadaan statis. Tak terasa aku sudah berada pada tingkatan akhir, seminar proposal sebulan lagi setelah itu penyusunan skripsi. Tapi sebagai aktivis dakwah aku tetap menyisihkan sebagian waktuku untuk mengurusi organisasi dengan mengadakan pengkaderan dan training. Perlahan tapi pasti, ingatan tentang Zahra kian menghilang aku kini lebih bisa menerima kepergiannya dan lebih banyaknya memfokuskan menatap masa depanku.

 

“Apa yang ingin kau lakukan ?” gumamku. Ponselku berdering

“Assalamu’alaikum. Afwan dengan bapak Hafidz ?” Tanya seorang laki-laki yang menelponku.

 

“Wa’alaikum salam iya benar saya sendiri. Siapa ?”

“Afwan menganggu Bapak. Kami dari panitia pelatihan meminta bapak untuk bersedia sebagai nara sumber pada training motivation for teens”

“Deadlinenya kira-kira kapan pak ?”

“Insya Allah tanggal 15 pekan depan pak”. Aku menghela nafas mengingat-ingat rencana untuk pekan depan ternyata kosong

“Insya Allah saya akan datang pak. Saya minta satu hari sebelum deadline-nya tolong hubungi saya, takutnya nanti lupa”

“Iya pak, syukran katsiran semoga Allah memudahkan ”

“ Afwan ” telpon terputus dengan salam

 

***

Hari H training motivasi tiba. Dengan mengenakan baju kokoh berwarna hijau dan celana kain hitam di atas mata kaki, aku menuju tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan menempuh jarak sekitar 15 menit aku menuju dengan mengendarai angkot. Peserta terlihat antre di tempat registrasi, aku menuju ruang tunggu yang telah disediakan oleh panitia.

 

Setelah beberapa menit berlalu acarapun dimulai. Moderator mengucapkan salam dan sambutan kepada seluruh audience. Namaku disebut pula sebagai nara sumber dan nama seorang akhwat. Nurul Hafidzah. Setelah mengerjakan sholat duha, aku melangkah ke audioturium. Langkahku terhenti, mataku menangkap sesosok perempuan yang telah mengisi ruang hatiku dua tahun silam. Ada rasa yang mengalir dalam tubuhku sekorelasi dengan aliran darahku. Desah nafasku menghembuskan arti kebahagiaan.

 

Perempuan yang sudah dua tahun tidak pernah aku lihat kini berdampingan denganku sebagai nara sumber. Di mana saat ingatan tentangnya mulai pudar kini dia hadir kembali.Pandangan kami berpapasan. Zahra kini tampak lebih dewasa.

 

“Astagfirullah” aku menundukkan pandangan memohon ampun. Tidak seharusnya aku memandangnya begitu lama. Aku terus melangkah, aku harus professional dan tidak boleh mendramatir keadaan.

 

“Assalamu’alaikum ukhti ” sapaku setelah berada dekat dengan dirinya

“Wa’alaikum salam” Zahra menjawab salamku dan menundukkan kepala. Tak satupun kalimat atau tanya yang terucap untukku. Pelatihan pun dimulai, aku sampaikan materiku dengan sebaik mungkin, lugas dan detail. Acara berlangsung dengan baik. Antusias dari peserta sangat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujaniku dari peserta aku jawab sebisaku dan tak ada kata tidak bisa, aku tidak ingin peserta merasa kecewa.

 

Setelah training selesai aku tidak melihat Zahra. Mungkin sudah dijemput oleh suaminya? Tanyaku pada diriku sendiri. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, aku bertanya pada salah satu panitia.

 

“Daeng, yang menjadi nara sumber selain saya, itu siapa ? tanyaku mencari tahu, karena moderator menyebut namanya sebagai Nurul Hafidzah bukan Zahra

“Oh, yang berjilbab panjang yang duduk disamping?” aku menganguk

“Namanya Zahra cuma dalam training dan kegiatan lainnya ia sering memakai nama pena Nurul Hafidzah. Soalnya disamping ia mahasiswi ia juga sebagai penulis. Orangnya cantik, muda dan belum ada suaminya” jawab panitia dengan logat Bugis kental. Aku tersentak kaget mendengar penuturan panitia penyelenggara. Kata-kata terakhirnya membuatku sulit untuk berfikir

 

“Belum ada suaminya” Apa Zahra belum menikah? Tapi kenapa? Bukankah dua tahun silam ia dikhitbah? Aku tidak bisa berfikir jernih. Semuanya terasa buram untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab.

 

“Ya Allah, mengapa disaat aku bisa melupakannya ia kembali hadir dalam kehidupanku. Astagfirullah ” aku tidak seharusnya mengeluh kepada-Nya hanya hal seperti ini.

Waktu terus berlalu, tapi pertanyaan yang memenuhi ruang hatiku masih pertanyaan yang sama. Benarkah Zahra belum menikah? Berkali-kali kutepiskan pertanyaan ini dan berfikir jernih dan realistis.

 

Mungkin saja pertemuanku dengan Zahra hanyalah kebetulan tapi adakah namanya kebutulan di dunia ini? Aku mencoba menghubungi Fatimah berharap ia tahu apa yang sebenarnya berlaku pada Zahra, tapi sia-sia saja nomor Fatimah tidak bisa terhubung meskipun berulang kali kucoba tapi hasilnya nihil. “Mungkin Fatimah telah ganti nomor”

 

Kurebahkan tubuh ini, menghilangkan kepenatan dan rasa penasaran yang menyelimutiku dimalam yang dingin ini. Biarkan rasa ini berbaur dengan dinginnya malam. Disuatu pagi. Dihari yang cerah, pelangi melukis keindahannya di jagad raya. Aku melihat pesan baru dalam inbox ponselku, sebuah SMS dari nomor tanpa identitas nama

 
“Bismillah…
 
Kerinduan cinta menjauhkan tabir, dan menerangi relung-relung hati dengan menciptakan kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain dapat melebihinya kecuali ketika jiwa itu memeluk Tuhan. Cinta laksana matahari yang muncul dari awan-awan dan selalu menghangatkan jiwa kita. Sambutlah cintamu akhi yang sudah lama merana menantikan kehadiranmu. Jadikanlah ia ustadzah di rumah yang engkau memadu kasih dibawa naungan ke-Ridhoan-Nya. Bersegeralah akhi. ”

 

Setiap kalimatnya tinggi dan puitis. Aku masih belum mengerti maksud dari bait katanya. Siapakah ia? Akupun membalas pesannya untuk menjawab rasa penasaranku

 
“Bismillah……
 
Afwan, dari setiap untaian kata yang anda tulis aku tidak mengerti. Bahkan tak satupun kalimat yang aku mengerti. Siapakah yang harus kujadikan ustadzah di rumah? Apa yang harus kusegerakan? Afwan siapa ? ”
 
“Bismillah….
 
Afwan akhi kalau setiap kalimatku tak satupun yang antum mengerti. Insya Allah kalau akhi punya waktu datanglah ke TPA AL-Ikhwan besok bakda asar, akhi akan tahu semuanya. Semoga Allah mengampuniku atas kelancanganku semuanya tapi percayalah ini semua demi kebaikan akhi ”

 

***

Bakda asar aku menuju TPA Al-Ikhwan. Aku sengaja sholat asar diperjalanan supaya bisa on time. Kulihat seorang akhwat bercadar sedang membaca buku di halaman masjid dekat TPA. Ia memberi salam tatkala aku semakin dekat dengannya. Aku merasa risih dengan keadaan kami yang hanya berdua saja apa lagi dalam lingkup masjid.

 

“Afwan akhi, ana yang mengirimkan pesan kemarin ” ucapnya memulai percakapan. Suaranya tidak asing bagiku, hanya karena wajahnya dibalik niqob maka aku tidak bisa memastikan siapa dirinya

 

“Afwan ukhti, tidak seharusnya kita berkhalwat nanti ada fitnah ”

“ Insya Allah tidak akhi. Ana ke sini bersama dengan mahram, hanya saja kakak masih di dalam masjid. Kita tunggu sejenak sebelum akhi tahu semuanya ” aku tidak sabar untuk menunggu, kuingin segera mengetahuinya supaya semuanya jelas

 

“Ukhti sebenarnya siapa ? dan apa maksud dari semua ini ? ”

“Ana Fatimah akhi Hafidz ” aku memuji dan bersyukur pada-Nya atas segala yang Dia berikan padaku bukankah kemarin aku ingin sekali bertemu dengan Fatimah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan diriku dan kini Allah membuka jalan ini untukku disaat ku mulai rapuh tapi…tapi perubahan Fatimah, subhanallah ya Allah

 

“Ukhti Fatimah temannya Zahra ? ” tanyaku mencari kepastian

“Na’am akhi (iya, saudaraku)” Fatimah lalu memberiku selembar kertas yang penuh dengan goresan cinta. Aku segera membacanya tanpa satu kata pun yang terlewati

 
Selasa 2007
 
Aku menemukan sesosok pemuda langkah di zaman ini. Tutur katanya senantiasa mengingatkan ku pada kebesaran-Nya dan membuat hati ini semakin terpaut pada-Nya dengan cinta. Cinta yang tulus hanya untuk-Nya. Ya Allah, salahkah jika aku mencintai dan berharap ia menjadi calon bapak dari anak-anakku kelak. Ya Allah jika aku boleh meminta, jadikanlah ia sebagai jodohku di dunia dan di alam keabadian akherat. Jadikanlah ia sebagai imam bagiku untuk meneguk sebanyak-banyak cinta-Mu. Kak Hafidz,
 
Ketiadaan bagi cinta
 
Laksana angin bagi api
 
Ia membakar yang kecil
 
Menyalakan yang besar
 
Datanglah bersamaku
 
Dan jadilah cintaku
 
Kita akan menikmati segala suka cita
 
Yang dihasilkan oleh bukit-bukit
 
Dan lembah-lembah hutan
 
Dan pegunungan
 
(Zahra yang mengharapkan keridhoan-Nya)

 

***

Konvergensi senja dengan bentangan malam kini silih berganti. Kunikmati semuanya dengan penuh keagungan-Nya. Pergulatan di dalam hatiku pun mengiringi perjalananku setelah bertemu dengan ukhti Fatimah. Pergulatan untuk tetap pada titik stagnan atau menjemput cinta dalam mahligai rumah tangga yang diridhoi oleh-Nya. Aku masih belum bisa untuk menentukan sikap. “Apakah aku pantas mendampingi ukhti Zahra ? Apakah ia akan menerima pinanganku? Bagaimana dengan keluarganya jika ia melihat materi sebagai indikasi pertama?” Pergulatan itulah yang membuatku statis pada titik ini. Tidak melakukan sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam sebuah treatment untuk memulai.

 

Setelah sholat istikharah berkali-kali ku kuatkan azzam-ku untuk mengkhitbah Zahra. Cukuplah Allah menjadi saksi atas ketulusan dan usahaku. Hari itu matahari semakin meninggi dan aku sudah siap menuju rumah Zahra, semua kemunkinan sudah aku pikirkan. Diterima tidaknya aku serahkan semua pada yang berhak tuk mengatur hidupku. Setelah sampai di ambang pintu rumahnya aku memberanikan diri mengucapkan salam. Dari dalam rumah kudengar suara langkah kaki menuju pintu

 

“Assalamu’alaikum” ucapku setelah kutahu yang membukakan pintu adalah orangtua Zahra

“Wa’alaikum salam”

“Zahranya ada bu ? saya Hafidz teman kampusnya Zahra sebelum ia pindah dua tahun silam”

“Oh nak Hafidz. Zahra sering bicara sama ibu tentang nak Hafidz. Tapi Zahra ….”

“Tapi Zahra kenapa bu ? tanyaku dengan hati yang tidak pasti. Ada firasat yang merasuk ke dalam hatiku yang membuatku merasa takut

 

“Zahra ke London nak, melanjutkan kuliah Sastra Bahasa Inggris di Universitas Oxford”

“Kapan berangkatnya bu ?”

“Alhamdulillah kemarin nak” aku menundukkan kepala dan menyesali diriku sendiri.

 

Seandainya dari kemarin tujuan ini saya segerakan mungkin semuanya berbeda. Atau ini tanda bahwa aku tidak berjodoh dengan Zahra. Kutepiskan perasaan sesal ini dan menata hati untuk berfikir positif, mengambil ibrah dari semua ini. Mungkin garis takdir cuma menuliskan aku dengan Zahra sebatas saudara semuslim yang terikat dalam ikatan ukhuwah islamiyah, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa hati ini masih tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Atau benarkan para pujangga bahwa cinta tak selamanya memiliki ? Kini di sang surya cerah gemerlapan diufuk timur dan kucoba untuk menyunggingkan senyumanku menjalani kehidupan ini. Biarkanlah catatan tentang Zahra menjadi bagian kisah terindah dalam hidupku yang akan menjadi bukti bahwa betapa aku menjaga hati dan cinta ini berdasarkan syariat dan koridor yang seharusnya.

 

“Nak Hafidz” suara ibu Zahra membangunkan ku dari lamunan tentang Zahra

“Nak Hafidz, Zahra pernah bicara sama ibu bahwa ia menginginkan suami seperti nak Hafidz” penuturan ibu Zahra mengangetkanku. Aku menatapnya dalam-dalam mengharap ada harapan dan jalan bagiku untuk menwujudkan tujuan mulia ini, menjadikan Zahra ustadzah di rumahku kelak.

 

“Tapi nak Hafidz sudah terlambat karena…..”

“Maksudnya bu ?”

“Dua hari sebelum keberangkatan Zahra ke London lamaran dari nak Ilham kami terima, begitupun dengan Zahra sudah mengikhlaskan dirinya menjadi istri nak Ilham kelak. Zahra bilang sama ibu bahwa nak Hafidz tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Nak Hafidz cuma menganggapnya sebagai adik, dan itu tidak lebih. Itulah yang Zahra ucapkan sebelum ia menerima lamaran nak Ilham.

 

Zahra juga pernah bilang bahwa ia pernah bertemu nak Hafidz di sebuah seminar dan sangat berharap nak Hafidz datang ke rumah tuk mengkhitbahnya”. Langit cerah di ufuk timur tak lagi indah kulihat. Semua penjelasan ibu Zahra membuat tubuh ini rapuh dan aliran darahku beku. Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tanpa aku sadari air mata beningpun menetes sebagai bukti bahwa betapa kuingin dan berharap Zahra menjadi kekasih hatiku yang terikat dengan ikatan suci pernikahan.

 

“Bu, sampaikan salam maafku dengan Zahra dan aku minta sama ibu untuk tidak memberitahukan bahwa aku pernah ke rumah mencarinya. Biarkan ia menjadikan diriku sebagai masa lalu dalam hidupnya”. Aku berpamitan pulang tanpa pernah mengatakan tujuanku datang ke rumahnya. Biarkan semuanya menjadi kisah terindah dan catatan yang tertulis dalam garis takdir. Aku terus berjalan dan berjalan menelusuri lorong-lorong labirin hidupku.

 

Aku harus sadar bahwa mencintai seseorang tidak mutlak kita harus mendapat balasan cintanya dan aku tahu bahwa Allah sedang memberikan pengajaran dan didikan bagiku untuk menjalani fase kehidupan berikut. Allah tahu yang terbaik bagiku bukan hanya hari ini tapi untuk hari berikutnya. Kubiarkan kita ini tetap ada dalam hidupku karena kutahu cinta itu fitrah dan anugrah Ilahi yang terindah yang ia titipkan padaku.

 

Cintaku akan kujaga seperti aku menjaga hati. Aku terus melangkah dan kulihat awan-awan membentuk sebuah harmonisasi cinta yang indah dan kulihat pelangi merangkai garis-garis cinta yang membuat semua insan bahagia karena cinta.

 

Cinta adalah fitrah dan anugrah Ilahi yang harus kita syukuri serta tidak membuat kita buta terhadap hal-hal yang mengotori kesucian cinta. Teruslah menebarkan sayap-sayap cintamu yang membuat hidup ini mendapat ke-Ridhoan-Nya.
 
Oleh  Muhammad Ramli

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIM Sinjai. Bisa dihubungi di khairul.azzam21@yahoo.co.id atau muhramli5@gmail.com. penastaim10.blogspot.com. 085 299 741 298

 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/06/16/moh90d-kanwil-kemenag-jabar-siap-sosialisasi-pemotongan-kuota-haji


Cinta Lelaki Aktivis

Monday, January 14, 2013

Minum Kopi Bersama "Salafi“

Dekat sebuah stasiun pengisian bahan bakar-SPBU di sebuah lokasi di kota Bonn. Ada banyak pria muda dengan baju olahraga santai berdiri di pinggir jalan. Hujan turun rintik-rintik. Ini tempat saya berjanji bertemu dengan dua anggota Salafi yang disebut-sebut sebagai pengkhotbah radikal.

Jam lima sore lewat satu menit, seorang pria menemui saya. ”Ya, kami ini radikal”. Dia tersenyum. Usianya awal dua puluhan, bercukur rapih, setelah jeda sejenak dia menambahkan: ”Kami radikal tepat waktu.” Senyumannya melebar.

Dia tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman. ”Anda harus mengerti tentang hal ini”. Pemahamannya yang ketat tentang Al Quran tidak mengijinkan dia bersalaman dengan seorang perempuan, demikian dia menjelaskan.

Orang muda itu lebih jauh menerangkan, pembicaraan saya dengan kedua pengkhotbah Salafi akan direkam dengan kamera. ”Ini lebih aman untuk kamu, ini lebih aman untuk kami. Tapi kamu tentu tidak wajahmu ingin ikut terekam dalam film ini, atau bagaimana?

Kedua pengkhotbah Salafi ingin penampilan mereka direkam. Mereka menunggu di sebuah Cafe di seberang pompa bensin. Kami lalu pergi ke sana. Musik Turki mengalun dari pengeras suara. Yang lebih tua, Abu Nagie mengaduk kopinya, yang lebih muda, Abu Dujana, bermain dengan iPhone putihnya. Mereka mengucapkan salam dengan ramah dan memanggil pelayan Cafe: ”Tolong bawa satu kopi lagi”.

Mencari Islam yang ”murni”

Juru bicara Dinas Perlindungan Konstitusi, Verfassungsschutz, dari negara bagian Nordrhein Westfalen yang saya temui sebelumnya, menyebut kedua orang itu sebagai „pengkhotbah Salafi yang berbahaya.“

Tapi seorang pakar Islam dari Universitas Osnabrück membantah. Salafi adalah kelompok yang ultraortodoks, tapi apa mereka berbahaya? ”Tidak harus demikian”, kata Elhakam Sukhni. Ia calon doktor di Institut untuk Studi Islam di Osnabrück.

Sukhni menjelaskan, Salafisme adalah aliran Islam yang sangat konservatif, yang mengacu pada masa-masa awal Islam, jadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad dan para wali generasi awal. ”Kelompok Salafi menolak interpretasi dan ajaran yang disebarkan setelah masa-masa awal itu.”

Abu Dujana: “Anda tentu bertanya tentang Syariah.”

”Ini Islam yang sebenarnya”, demikian disebutkan oleh anggota Salafi di Bonn, Ibrahim Abu Nagie. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai seorang muslim biasa. Ia tidak ingin disebut sebagai Salafi. Itu adalah sebutan yang digunakan oleh media dan politik untuk memecah-belah Islam, katanya.

Anggota Salafi yang lain, Abu Dujana menerangkan, memang ada ”kampanye terencana” yang dilakukan media dan politik untuk menyerang Salafi. ”Para penesehat zionis” yang menyarankan pemerintah Jerman melakukan itu, tambah Abu Nagie sambil tersenyum. Dia berasal dari Palestina dan datang ke Jerman pada usia 18 tahun. Di Gaza, katanya, dia bermimpi tentang Jerman: tentang teknik dan disiplin.

”Anda sekarang tentu akan bertanya tentang Syariah”, kata Abu Dujana. Ia mengelus janggut hitamnya, yang terlihat seperti seorang gerilyawan Kuba. Dia pintar, terdidik, dan terdaftar sebagai mahasiswa, tegas Abu Dujana. Tentu saja dia ingin Syariah diberlakukan di Jerman, tapi itu tidak mungkin. Belum mungkin. Dalam sistem Syariah, orang tidak begitu saja dipotong tangannya. Ada peraturan dan ada ahli hukumnya, jelas dia.

Diawasi dengan cermat

Menurut perkiraan Verfassungsschutz, ada sekitar 3800 pengikut Salafisme di Jerman. Jumlahnya terus naik, Tapi dari jumlah ini, hanya sedikit yang setuju dengan aksi kekerasan. Tapi batasan dari salafisme yang berkiprah secara politis dan yang siap melakukan kekerasan tidak jelas. Anggota Verfassungschutz dari Nordrhein-Westfalen menyatakan, mereka mengawasi perkembangan ini dengan cermat dan juga dengan cemas.

Kelompok Salafi yang siap melakukan kekerasan adalah „minoritas di dalam kalangan minoritas“, jelas pengamat Islam Elhakam Sukhni. Dari tiga kelompok yang termasuk Salafi di Jerman, yang mendukung kekerasan hanya sebagian kecil saja. Masih ada kelompok lain, yaitu ultraortodoks.

”Yang perempuan memakai cadar penutup muka, yang lelaki memakai baju panjang”. Menurut Sukhni, kelompok ini jarang tampil ke publik, karena mereka hidup terisolasi seperti dalam sebuah masyarakat paralel. Lalu ada lagi kelompok seperti Abu Nagie dan Abu Dujana. ”Belakangan mereka sangat sering disorot, terutama karena kegiatan ”dakwah” yang mereka lakukan.”

Anggota Salafi membagikan terjemahan Quran bahasa Jerman

Abu Nagia dan Abu Dujana berkenalan di sebuah mesjid di kota Köln. Sejak delapan tahun mereka melakukan ”dakwah”. Mereka menamakannya: undangan menjadi Islam. Ibrahim Abu Nagie menyebut kegiatan itu sebagai ”marketing” atau ”mengasihi sesama manusia”.

Pada awalnya, mereka merekam khotbah-khotbah dan menyebarkannya lewat CD. Lalu mereka mengunggah rekaman itu ke internet. Kemudian mereka melakukan kegiatan membagikan Quran dan melakukan berbagai seminar. Peminatnya juga cukup banyak.

Pengamat Islam Sukhni juga mengamati kecenderungan ini. ”Untuk pertama kalinya khotbah disampaikan dalam bahasa Jerman, dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ini tentu menarik.”

Ibrahim Abu Nagie bercerita tentang pelayanan lewat telpon. Setiap hari banyak anak muda menelpon, sekitar 200 percakapan telpon per hari. Misalnya banyak murid perempuan Muslim yang menelpon dan meminta nasehat karena mereka tidak mau ikut pelajaran renang di sekolah. Abu Nagie mengatakan, ia menasehati para murid agar memberi hadiah Quran kepada kepala sekolah dan selanjutnya bersabar.

Menarik Untuk Orang Muda

Mengapa Salafisme jadi menarik untuk anak muda? Saya mengunjungi salah satu mesjid di kota Bonn untuk mencari jawabnya. Saya menaiki tangga ke mesjid dan menemui seorang gadis anak sekolah. Dia sedang bercakap dengan temannya dan menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan saya.

”Kamu juga sudah masuk Islam?”, dia bertanya. Dia tersenyum lembut. Lantai mesjid dipenuhi dengan sajadah yang tersebar seperti mosaik. Dari jendela yang tidak terisolasi dengan baik masuk udara dingin dan suara bising kendaraan di jalan.

”Insya Allah dia bisa mengenali Islam yang benar,” kata seorang wanita yang lebih tua dalam bahasa Arab sambil menunjuk dengan dagunya ke arah saya. Wanita yang lebih muda mengangguk dan menjawab: ”Insya Allah”. Tubuhnya ditutupi oleh kain hitam, yang membuat dia kelihatan lebih tua. Dia menceritakan bahwa dirinya sama sekali tidak terganggu bahwa banyak orang sering menatapnya dan dia punya banyak masalah di sekolah. Allah akan memberi imbalan untuk semua kesulitan yang dia hadapi, kata anak sekolah itu.

”Terutama remaja antara 15 sampai 20 tahun yang tertarik pada Salafisme”, papar pengamat islam Elhakam Sukhni. Mereka akan bersikeras telah menemukan kebenaran yang absolut. Tentu saja ada kemungkinan, bahwa sebagian kecil dari antara mereka mendukung aksi kekerasan.

”Radikalisasi sendiri lewat internet”, demikian kata Sukhni. Maksudnya adalah anak-anak muda yang mengikuti dengan bersemangat pesan-pesan ekstrimis lewat Youtube, misalnya dari Al Qaida. Abu Nagie dan Abu Dujana mengatakan, mereka tidak menyerukan aksi kekerasan. Orang mungkin hanya bisa menuduh mereka tidak mengambil posisi yang tegas tentang kekerasan.

Masalah Kekerasan

Bentrokan antara Pro NRW dan Salafi di Bonn, 5 Mei 2012

Kedua pengkhotbah Salafi dari Bonn yang bertemu dengan saya di Cafe ini memang tidak memberi pandangan tegas tentang kekerasan. Kalau ada remaja yang tertarik dengan tema kekerasan, mereka tentu akan membahas hal itu dengan para remaja, kata Abu Dujana. ”Ini bukan tema yang tabu”. Tapi seringnya, anak muda yang memang mau melakukan aksi kekerasan tidak akan datang kepada mereka.

Bulan Mei tahun lalu ada kelompok ekstrim kanan yang menamakan diri Pro NRW melakukan aksi di Bonn. Mereka sengaja melakukan provokasi dengan menunjukkan foto karikatur Nabi Muhammad.

Abu Nagie dan Abu Dujana menceritakan, ketika itu mereka berdua berkeliling dari mesjid ke mesjid. ”Saya mengatakan pada orang-orang, jangan pergi keluar. Jangan biarkan kalian diprovokasi.”

Tapi tetap saja banyak anggota Salafi yang kemudian melakukan aksi demonstrasi tandingan di Bonn. Akhirnya terjadi bentrokan dengan polisi. Seorang polisi terluka ditusuk oleh seorang demonstran dan harus dirawat di rumah sakit.

”Tentu saja ada beberaoa pelaku kekerasan”, kata Abu Dujana. Suaranya terdengar kesal. Ia menuturkan, setiap minggu dalam pertandingan sepakbola atau demonstrasi kelompok kiri terjadi juga kekerasan. Tapi kalau menyangkut kelompok Salafi, semua orang langsung mengeritik.

Dia menyatakan tidak mengerti, mengapa politisi tidak mencoba mengajak kelompok Salafi duduk di satu meja, ”berbicara dengan kami”. Tapi Ibrahim Abu Nagie segera menggeleng kepala. Tidak, dia tidak mau bertemu dengan politisi, juga tidak dengan kanselir Angela Merkel. ”Hanya kalau dia masuk Islam.” Orang lain yang ada di Cafe tertawa.

Abu Dujana meletakkan sebuah Quran untuk saya di atas meja. ”Ini untuk Anda, khusus dilaminasi”. Abu Nagie tersenyum: ”Bahwa saya bisa menyampaikan pesan Allah kepada Anda, ini adalah kebahagian terbesar bagi saya”.

Dia lalu menunjuk pada iPhone putihnya: “Dinas pelindung konstitusi – Verfassungsschutz selalu ikut mendengar”, kata dia. Tapi ini tidak mengganggunya. Malah sebaliknya: „Ini betul-betul menyenangkan!“ Dia sering berbicara dengan telpon genggamnya tentang kasih Allah, kata dia. Yang dia maksud tentu para pegawai Verfassungsschutz yang menyadap percakapan telponnya. Dia yakin, beberapa pekerja Verfassungsschutz sudah ada yang masuk Islam.

Abu Nagie bertanya, apa saya tidak mau membawa beberapa kitab Quran dan membagikannya di redaksi saya. Dia masih punya beberapa eksemplar di mobil, yang bisa saya bawa.

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/01/12/17543741/Lanskap.Baru.Politik.2014


Minum Kopi Bersama "Salafi“

Sunday, March 10, 2013

Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Persaingan bisnis perbankan tahun 2013 diprediksi semakin ketat, khususnya persaingan antara bank umum baik syariah maupun konvensional dengan Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S). Dengan tetap menanamkan dan menerapkan budaya kerja ‘Smarter, Harder, dan Faster’ terhadap seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki, Tri Hari Widjajanto yakin perusahaannya terus mencatatkan pertumbuhan.

Tidak tanggung-tanggung, Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah ini memproyeksikan pertumbuhan aset perusahaan yang digawanginya tahun ini mencapai Rp 144,48 miliar atau tumbuh 51 persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp95,9 miliar, dengan target petumbuhan pembiayaan sebesar 64 persen atau RP 132,39 miliar. Sementara tahun sebelumnya perusahaan bisa membukukan pembiayaan sebesar Rp 80,5 miliar atau tumbuh 71 persen dari 2011.

Semua pencapaian di atas tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Widjajanto mengenang, saat pertama kali masuk menjadi Direktur tahun 1998 silam, total aset PT BPRS Baktimakmur Indah hanya Rp 100 miliar. Namun, tangan dingin pria kelahiran Kediri, 28 Februari 1965 ini membawa banyak perubahan di dalam tubuh perusahaan. Saat ini operasional BPRS yang dikelolanya bersama dengan seorang direksi lainnya memiliki 70 staf dan 30 tenaga non staf, serta jaringan kantor sebanyak 6 kantor cabang. Salah satu upaya yang dilakukan diantaranya dengan menerapkan ‘Smarter, Harder, dan Faster’.

Smarter menurutnya harus dimiliki oleh semua orang. Dalam artian, dalam menghadapi kompetisi yang sekarang sudah semakin ketat, SDM perusahaan harus cerdas. “Dengan kecerdasan itu, semua upaya kita menjadi efisien,” katanya.

Sedangkan harder, kata dia, semua dikerjakan dengan kerja keras. Pekerjaan harus dituntaskan dan tidak bisa kerja setengah-tengah. Dan terakhir adalah faster. “Kita harus lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan kompetitor kita,” ujarnya.

Terbukti, penerapan ketiga unsur tersebut membawa nama Widjajanto makin disegani di kalangan perbankan Jawa Timur, terutama perbankan syariah. Sehingga, tahun 1999-2004 ia didapuk menjadi Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Jawa Timur. “Ketua Asbisindo Jatim yang pertama adalah saya, sehingga saya tahu persis kondisi perbankan syariah di Jawa Timur,” katanya.
 
Di sisi lain, ia mengungkapkan kesuksesannya mengelola BPRS tidak lepas dari prinsip kejujuran, amanah, dan apa adanya. Semua pekerjaan dilakukan secara serius, dan tidak berdasarkan main-main. Meski demikian, sukses memimpin BPR Syariah diakuinya bukan hasil jerih payahnya sendiri. Diakuinya, semua kesuksesan itu merupakan hasil menghimpun atau menggerakkan tenaga-tenaga berkompeten yang ada di sekitarnya.

Kendati begitu, bukan berarti perjalanan menuju kesuksesannya itu tidak mengalami kendala. Apalagi, terjadinya liberalisasi perbankan sekarang ini sudah tidak bisa terhindarkan lagi. “Pasar atau segmen kita sudah ada liberisasi perbankan. Itu menyebabkan persaingan pasar menjadi lebih besar dan kompetitif. Siapa yang punya modal besar, itu yang menang. Kita bagaimana? Kita dalam menghadapi itu menggunakan 3 hal, yaitu ‘Smarter, Harder, dan Faster’. Dan juga harus memanfaatkan yang orang lain tidak bisa,” paparnya.

Ia mencontohkan, ketika kejadian lumpur Sidoarjo tahun 2006 silam, banyak perbankan memilih keluar dari Porong untuk menghindari dampak langsung semburan lumpur Sidoarjo. Akan tetapi Widjajanto melihat sebaliknya. Ia merasa yakin, di porong itu sekecil apapun masih ada transaksi ekonomi, yang memungkinkan perbankan masih bisa hidup. Peluang itu dimanfaatkan betul oleh Widjajanto.

Dia mencoba membuka kantor perwakilan di kawasan Candi Sidoarjo yang lokasinya dekat dengan Porong. “Dan alhamdulillah perkembangan disana sampai sekarang masih bagus. Disana saya memanfaatkan peluang. Saya melihat disana masih ada orang jual tempe dan jual sayur. Dari situ berarti ada orang kulak kedelai untuk di buat tempe, orang kulak sayur untuk dijual kembali. Disana ada transaksi perdagangan, dan saya masuk,” jelasnya.

Ke depan, ia berencana melakukan ekspansi dengan menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan non bank. Kerjasama yang dikenal dengan aliansi strategis itu bukan didasari dengan Ukuwah Islamiyah, melainkan Ukuwah Muammalah.

Bahkan, walaupun berlabel syariah, ia tidak ingin menjaring nasabah hanya terbatas pada umat muslim. Karena menurutnya perintah Nabi Muhammad bahwa perbankan syariah tidak dikhususkan untuk orang islam, tapi memakai cara-cara orang islam. “Cara kerja nabi secara muammalat atau berhubungan bisnis dengan siapapun, termasuk nasrani maupun yahudi, sehingga kita sebagai perbankan syariah memiliki nasabah dari berbagai macam kalangan,” jelasnya. “Kalau kita bicara non muslim, maka harus bicara keuntungan secara rasional. Kalau berhubungan dengan perbankan syariah yakin aman dan menguntungkan, dan kita tidak boleh membatasi,” tambahnya.

Tantangan krisis
Krisis ekonomi 1998 adalah krisis yang telah memukul sistem ekonomi di Asia terutama Asia Tenggara dan Korea Selatan. Widjajanto ingat betul, bagaimana krisis itu menyebabkan nilai rupiah melemah, ditambah para spekulan bereaksi dengan membeli dolar, sehingga menurunkan nilai rupiah lebih jauh lagi.

Hal ini akhirnya membuat banyak perusahaan di Indonesia menjadi bangkrut akibat beban hutang yang melonjak sampai hampir 10 kali lipat. Bangkrutnya perusahaan-perusahaan tersebut menyebabkan pinjaman-pinjaman yang dikucurkan oleh perbankan menjadi macet. Sehingga bank menghadapi masalah likuiditas. Tercatat ada 25 bank yang dinyatakan dilikuidasi pada tahun 1998.

Di saat seperti itu, Widjajanto harus memutar otak bagaimana caranya bisa bertahan dari hantaman krisis. Beruntung, karena perbankan syariah tidak ikut-ikutan memakai bunga simpanan yang besar tapi dengan sistem bagi hasil, pada tahun 1999 krisis pun bisa dilaluinya. Bahkan, di tahun yang sama dia mendapatkan award dari Info Bank kriteria bank dengan BPR Syariah yang mempunyai laba terbesar di Indonesia. “Apa sih kuncinya? Manfaatkan peluang yang ada. Di saat bank lain keluar, maka kami masuk. Itu memang tantangan,” tandasnya.

Ia pun tidak khawatir dengan ancaman Non Performing Loan (NPL) tinggi. Pada kenyataannya NPL yang ada selalu bisa diminimalisir. Ia berpandangan, penyebab NPL tinggi dimulai dari bagus atau tidak menganalisa pembiayaan yang masuk. Sebelum memberikan pembiayaan atau kredit, terlebih dahulu harus menganalisa secara tajam. “Sejak permohonan masuk kita harus selektif, dari situ kita terhindar,” sarannya.

Adapun segmen yang menjadi bidikannya rata-rata dari sektor perdagangan tradisional. Sejauh ini, sekitar 80 persen pembiayaan berasal dari sektor tersebut. Berkat mengoptimalkan layanan dengan jemput bola dan pro aktif, pihaknya yakin bisa memenangkan persaingan di segmen tersebut.

“Untuk merebut pasar kita harus jadi bank yang teller mate, seperti penjahit. Produk kita harus fleksibel. Apa yang dibutuhkan nasabah asal itu syariah dan sesuai dengan sistem perbankan, apapun kita harus layani,” tukasnya.

Pernah bangkrut
Walau sekarang menduduki jabatan Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah, Tri Hari Widjajanto mengisahkan pernah menghadapi getirnya hidup. Selepas kuliah strata satu di Fakultas hukum Universitas Negeri Surakarta (UNS) tahun 1990 silam, ia tidak langsung bekerja. Ia mengakui betapa sulitnya saat itu mencari kerja. Untuk itu, dia mulai membuka usaha dengan modal dari orang tuanya. Sayang, usahanya itu tidak berlangsung lama.

Kemudian tahun 1992, Widjajanto melamar di Koperasi BPR yang berlokasi di Nongkojajar Pasuruan Jawa Timur. Rupanya Dewi fortuna tidak jauh darinya. Ia diterima kerja sebagai collector funding. Tugasnya keluar masuk pasar untuk menjemput dana tabungan ke pedagang. Pekerjaan itu hanya bertahan sampai tahun 1993.

Keluar dari Koperasi itu, dia hijrah ke Surabaya dan bekerja di Bank Bumi Putera sampai dengan 1997. Lagi-lagi, ia harus resign karena bank tersebut terkena likuidasi. Tidak patah arang, mendengar informasi lowongan sebagai direktur di PT BPRS Baktimakmur Indah, ia bergegas mengirim lamaran kerja. Diperusahaan itu Widjijanto diterima sebagai direktur.

Punya latarbelakang hukum tidak membuatnya kesulitan beradaptasi dalam dunia perbankan. Bahkan, dalam menghadapi nasabah ia lebih pede (confidence) karena tahu hukum transaksi. “Tapi saya belajar banyak di bidang ekonomi. Saya bisa dikatakan mengatasinya,” pungkasnya. ins

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/01/hujan-batu-di-hotel-emerald-medan


Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina