Showing posts sorted by relevance for query kelompok. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kelompok. Sort by date Show all posts

Thursday, June 27, 2013

Harapan masyarakat pada pluralis dan Nahdlatul Ulama

Anggota Front Pembela Islam dalam salah satu aksi mereka


Setelah ketegasan pemerintah untuk mengatasi kasus kekerasan dan intoleransi yang kerap dilakukan oleh kelompok Islam garis keras tidak lagi bisa diharapkan maka banyak orang kemudian berharap kepada aksi kelompok pluralis dan ormas Islam besar, Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah untuk meredamnya.


Kekhawatiran bahwa aksi kekerasan dan intoleransi yang berlatar agama akan terus berkembang memang beralasan.


Lembaga Setara Institut dan Wahid Institut dalam penelitiannya menyebutkan ada sekitar 299 kasus peristiwa pelanggaran kebebasan beragama yang terjadi pada tahun 2011 lalu dan akan tetap ada bahkan meningkat di tahun ini.


“Peningkatannya ada jumlahnya lebih banyak sekitar 15 persen dibanding angka kasus yang terjadi pada tahun lalu,” kata Wakil Ketua Setara Institut, Bonar Tigor Naipospos.


Bonar mengatakan masih adanya kasus-kasus seperti ini terjadi karena lemahnya negara dalam menindak tegas pelaku kekerasan atas nama agama.


“Pembiaran oleh negara membuat kelompok-kelompok intoleran bisa berbuat apa saja termasuk melanggar hukum selain itu mereka bisa menyebarkan penyebaran pikiran picik dan sempit lewat buku, brosur dan ceramah oleh pimpinan agama yang berpandangan sempit selain itu pemahaman soal multikultural yang lemah di masyarakat kita.”


Bonar menyebut lembaganya mencatat kelompok seperti Front Pembela Islam adalah salah satu yang cukup sering melakukan aksi intoleran.


Kasus terakhir yang menunjukan besarnya pengaruh mereka adalah seruan penolakan FPI terhadap penolakan konser Lady Gaga yang berujung pada batalnya konser tersebut.


Menolak kekerasan


Aksi Indonesia tanpa FPI di Jakarta beberapa waktu lalu


Meski aksi kelompok ini mengatasnamakan agama Islam namun tidak semua muslim di indonesia setuju dengan aksi kelompok seperti ini.


Sejumlah orang yang tidak setuju dan hanya menyuarakannya lewat lewat situs jejaring sosial mulai bersepakat untuk unjuk diri menolak aksi kekerasan berlatar agama.


“Saya ngga pernah bicara karena siapalah saya tapi lama kelamaan kok semakin ke sini tidak ada tindakan dari aparat ya udah karena gemes kita beranikan dirilah bilang ngga setuju dan buak gerakan anti kekerasan atas nama agama,” kata Tunggal Pawastri salah satu inisiator gerakan Indonesia Damai Tanpa FPI.


“Mereka yang ikut muak juga dibilang silent majority terus, saya juga termasuk yang tidak bisa diam terus dan harus turun.”


Gerakan yang diusung Tunggal beserta sejumlah rekannya berhasil mengumpulkan sekitar seratus orang dan melakukan aksi unjuk rasa di jalan pada pertengahan Februari lalu.


Aksi Tunggal dan kawan-kawannya tidak berhenti sampai di sana, mereka menggagas dukungan lewat petisi online untuk mensomasi polisi agar berani menindak pelaku kekerasan atas nama agama.


Aksi ini mendapat dukungan dari 2500 orang lebih yang berasal dari berbagai latar belakang.


“Kalau kita amati yang mendukung ada dari kalangan artis, politisi, akademisi dan bahkan beberapa dari kalangan pegawai negeri.”


“Kita juga berdiskusi dengan LBH Jakarta, PBHI dan Elsam untuk mengambil tindakan hukum yang kongkret terhadap hal ini. Dan yang menurut yang paling realistis adalah mengambil gugatan citizen lawsuit.”


Meski banyak bergerak lewat situs jejaring sosial, usaha kampanye Tunggal menentang aksi kekerasan berlatar agama bukannya tidak mendapat perlawanan kelompok garis keras.


Kelompok ini ternyata juga memberikan perlawanan dari kampanye kalangan pluralis melalui jalur media di dunia maya ini.


“Mereka (kelompok intoleran) juga melakukan hal ini dan secara teknis mereka kadang lebih canggih dari kelompok pro pluralisme, mereka kampanye secara provokatif dan menyebarkan fitnah,” kata Peneliti Senior Wahid Institut, Ahmad Suady.


Di Kalimantan Tengah penolakan terhadap kelompok FPI yang dinilai kerap melakukan tindakan kekerasan dalam penyampaian pesannya terjadi secara meluas.


Pejabat daerah dan sejumlah organisasi lintas agama pada pertengahan Februari lalu memutuskan menolak kedatangan sejumlah petinggi FPI yang akan mendirikan cabang organisasi mereka di Kalimantan Tengah.


Keputusan ini diambil setelah sejumlah ormas besar dari kelompok agama Islam, Kristen dan perwakilan etnis Dayak melakukan pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan bersama menolak FPI.


“Jangan ada pengertian orang luar bahwa penolakan ini merupakan penolakan terhadap agama Islam, kita sepakat bersama-sama menolak organisasi yang bertentangan dengan budaya betang di tempat kami yang kami lihat mirip dengan Pancasila,” kata Yansen Binti.


Menurut Yansen kehadiran FPI dikhawatirkan akan merusak budaya Betang di daerah itu yang menjunjung penghormatan terhadap semua kelompok dengan latar budaya, etnis dan agama yang berbeda.


“Begitu kita mendengar ada FPI akan masuk ke Kalimantan Tengah dengan dilandasi atas track record yang pernah kita lihat dengan senantiasa kegiatan menebar kekerasan berlandas agama, maka ini mendapat penolakan luas di Kalimantan tengah baik dari agama Islam maupun Kristen.”


Tokoh Dayak lainnya, Sabran Achmad juga menilai kebijakan organisasi itu tidak cocok dengan kehidupan sosial masyarakat di Kalimantan Tengah.


“Penolakan itu karena Kalimantan Tengah sudah cukup aman jadi tidak perlu ada organisasi lagi masuk ke Kalimantan Tengah dan kita melihat organisasi itu kurang cocok di masyarakat Kalimantan Tengah karena sering menimbulkan berita-berita (kasus kekerasan) di luar,” kata Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah Sabran Achmad.


Aksi di Kalimantan Tengah dan Jakarta menunjukan penolakan terhadap ormas yang berlandas kekerasan seperti FPI bukannya tidak ada di kalangan masyarakat sipil namun memang bersifat sporadis.


Peran Ormas Besar


Jika ada peran warga menolak kehadiran ormas Islam yang kerap melakukan kekerasan dan intoleran bagaimana dengan peran ormas besar seperti NU dan Muhamadiyah.


Apakah selama ini mereka berdiam diri melihat aksi kekerasan oleh kelompok Islam yang intoleran dan melakukan kekerasan.


Salah satu Ketua PP Muhamadiyah Fattah Wibisono membantah organisasinya tidak melakukan sesuatu untuk meredam organisasi islam yang kerap melakukan kekerasan dan berlaku intoleran.


“Kami selalu melakukan diskusi-diskusi tentang bagaimana seharusnya mengambail langkah untuk kebaikan umat dan Muhamadiyah melakukan itu dengan kelompok manapun,” kata Fattah.


“Saya secara individual sering berhubungan dengan FPI dan bahkan sebetulnya ada hal yang menarik pada FPI, mereka sedang membangun pola akademik karena selama ini dikenal sering melakukan itu (kekerasan) mereka tengah membangun langkah akademik dan menghindari kekerasan.”


Muhamadiyah kata Fattah juga memberikan pemahaman kepada anggotanya dan mereka yang belajar pada seluruh lembaga pendidikan yang dikelolanya untuk tidak mengedepankan kekerasan dalam menghadapi perbedaan.


Serupa dengan Muhamadiyah, Nahdatul Ulama membantah jika mereka bersikap diam terhadap aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI atau organisasi keagamaan lainnya.


“Kita tidak pernah diam, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah itu (faham kekerasan) kita akan lakukan misalnya memberikan penjelasan lebih masif kepada warga kita tentang peneguhan kembali prinsip NU yaitu tasamuh itu toleran, tawasuf itu moderat dan menghargai kebhinekaan,” kata Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi .


Masdar mengatakan warga NU kerap membantu menjaga kegiatan kelompok minoritas yang kerap mendapat ancaman kekerasan dari kelompok intoleran.


“Ketika ada upacara keagamaan yang diganggu oleh kelompok intoleran, Banser kita ikut berada di sana. Kita hanya menjaga dan tentu tidak bisa melakukan tindakan represif kepada mereka.”


Namun menurut Masdar langkah kekuatan masyarakat sipil saja untuk melawan kelompok intoleran ini tidak cukup. Karena tindakan represif dan langkah hukum kepada mereka hanya boleh dilakukan oleh aparat negara.


Senada dengan Masdar, Peneliti Senior di Wahid Institut, Ahmad Suaedy mengatakan meski ormas besar Islam telah melakukan sesuatu terhadao kelompok intoleran seperti FPI namun yang paling menentukan adalah bagaimana kebijakan pemerintah terhadap ormas yang berperilaku seperti ini.


“Saya kira satu-satunnya cara dalam mengatasi hal ini (aksi kekerasan ormas intoleran) adalah komitmen pemimpin negara karena kepolisian ada di bawah dia,” kata Suaedy.


Harapan untuk mendesak pemerintah berlaku tegas terhadap ormas intoleran yang kerap melakukan kekerasan sejauh ini belum mendapat respon yang menggembirakan.


Pertengahan Februari lalu ketika masyarakat ramai menolak kehadiran FPI termasuk di Kalimantan Tengah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak meresponya dengan semangat yang sama.


Dia saat itu hanya meminta FPI untuk introspeksi terhaap kebijakan lapangan yang mereka tempuh.


“”Sejumlah organisasi massa pasti mengerti, membuat tidak nyaman bagi sebagian kalangan. Tentu harus bertanya kenapa? Yang lain boleh tapi saudara-saudara kita yang ada di FPI tidak boleh,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28848/04/06/2013/islam-dan-kerajaan-mali-abad-ke-13-dan-14-(bag-1).html


Harapan masyarakat pada pluralis dan Nahdlatul Ulama

Wednesday, August 14, 2013

Kronologi 2,5 Tahun Revolusi Berdarah Mesir

Kairo – Mesir menjadi salah satu pelakon utama dalam gelombang Arab Spring di mana banyak negara di Timur Tengah bangkit menuntut diakhirinya kekuasaan monarki dan pemerintahan otoriter yang bercokol selama beberapa dekade atau turun temurun.


Namun dalam 2,5 tahun sejak digulingkannya Presiden Hosni Mubarak, negara itu tak pernah mengecap manisnya hasil revolusi politik, dan justru dilanda konflik berkepanjangan sampai satu lagi presiden digulingkan.


Peristiwa paling akhir adalah serbuan militer atas kelompok pendukung mantan presiden Muhammad Morsi dan Muslim Brotherhood yang mengakibatkan sedikitnya 149 orang tewas, Rabu (14/8).


Berikut kronologi peristiwa-peristiwa penting di Mesir dalam kurun waktu tersebut:


25 Jan. – 11 Feb. 2011 — Rakyat Mesir melakukan demonstrasi di seluruh negeri menentang 30 tahun kekuasaan Mubarak. Ratusan orang dilaporkan tewas karena Mubarak dan sekutunya mencoba melawan.


11 Feb.— Mubarak mundur dan militer mengambil alih. Militer juga membubarkan parlemen dan membekukan konstitusi sesuai permintaan para demonstran.


28 Nov. 2011-15 Feb. 2012 — Mesir melakukan serangkaian pemilu legislatif selama beberapa pekan. Di majelis rendah, kelompok Muslim Brotherhood memenangi hampir separuh jumlah kursi dan kelompok ultra konservatif Salafis mendapatkan seperempat jumlah kursi parlemen. Sisanya dibagi antara kelompok liberal, independen dan politisi sekuler. Di majelis tinggi yang relatif tidak punya gigi, kelompok Islamis merebut sekitar 90% kursi.


23-24 Mei 2012 — Putaran pertama pemilihan presiden (pilpres) menjaring 13 kandidat, dan akhirnya berakhir pada persaingan Morsi dan Ahmed Shafiq, perdana menteri terakhir di era Mubarak.


14 Juni — Mahkamah Konstitusi memerintahkan dibubarkannya majelis rendah parlemen.


16-17 Juni — Pilpres dilakukan, Morsi menang dengan 51,7% suara.


30 Juni — Morsi diambil sumpahnya sebagai presiden.


19 Nov.— Para anggota partai liberal dan perwakilan gereja di Mesir mundur dari tim perumus konstitusi yang beranggotakan 100 orang, sebagai protes atas kelompok Islamis yang dinilai memaksakan kehendak.


22 Nov. — Morsi secara sepihak mengeluarkan dekrit yang menambah kekuasaannya, sehingga setiap keputusan yang dibuat mendapat imunitas dari pemeriksaan hukum, dan melarang pengadilan membubarkan majelis tinggi parlemen. Manuver ini memicu aksi protes selama berhari-hari.


30 Nov.— Kelompok Islam mempercepat perumusan konstitusi baru, dan Morsi memberi tenggat waktu hingga 15 Desember 2012 untuk dilakukan referendum.


4 Des. — Lebih dari 100.000 demonstran menyerbu istana presiden menuntut dibatalkannya referendum dan perumusan konstitusi. Hari berikutnya, kelompok Islamis menyerang demonstran sehingga pecah kerusuhan di jalan yang mengakibatkan 10 orang tewas.


15 dan 22 Des. — Dalam referendum dua putaran, rakyat Mesir menyetujui konstitusi baru dengan suara 63,8%, namun tingkat partisipasi rendah.


25 Jan. 2013 — Ratusan ribu orang berdemo menentang Morsi dalam peringatan tahun kedua dimulainya perlawanan atas Mubarak. Kerusuhan pecah di banyak tempat.


Feb.-Maret 2013 — Aksi protes pecah di Port Said dan kota-kota lain selama beberapa pekan, mengakibatkan puluhan orang tewas.


7 April — Kelompok Islamis menyerbu katedral Gereja Ortodoks Coptic di mana saat itu sedang melakukan prosesi pemakaman dan peringatan atas meninggalnya empat jemaat Kristen dalam konflik sectarian sehari sebelumnya.


23 Juni — Empat penganut Shiah dipukuli hingga tewas di sebuah desa di pinggiran Kairo.


30 Juni — Jutaan orang berdemo menentang Morsi tepat pada ulang tahun pertama kekuasaannya. Sedikitnya delapan orang tewas dalam kerusuhan di luar markas Muslim Brotherhood di Kairo.


1 Juli — Demonstrasi berlanjut, militer Mesir memberi waktu 48 jam kepada presiden dan kelompok oposisi untuk menyelesaikan sengketa, atau mereka akan turun tangan.


2 Juli — Pihak militer merinci rencana mereka jika kesepakatan gagal diraih: mengganti Morsi dengan pemerintahan sementara, membatalkan konstitusi yang dirumus kelompok Islamis dan mengadakan pemilu dalam tempo satu tahun. Malamnya Morsi berpidato menyatakan tekad untuk mempertahankan legitimasi dan menolak mundur.


3 Juli — Panglima militer Mesir mengumumkan Morsi telah digulingkan dan akan diganti oleh Ketua Mahkamah Konstitusi sampai dilakukannya pilpres baru. Tidak ada jangka waktu yang dibuat, dan para pemimpin Muslim Brotherhood ditangkap. Puluhan ribu pendukung Morsi berkemah di jalanan Kairo dalam aksi demo besar-besaran.


4 Juli — Ketua Mahkamah Konstitusi Adly Mansour diambil sumpah sebagai pejabat pelaksana presiden.


5 Juli — Mansour membubarkan majelis tinggi yang didominasi kelompok Islamis, sementara konflik antara pendukung dan penentang Morsi pecah di Kairo dan Alexandria, seidkitnya 36 orang tewas. Petinggi Muslim Brotherhood Khairat el-Shater ditangkap.


8 Juli — Tentara Mesir menembaki para pendukung Morsi di depan pangkalan militer di Kairo dan menewaskan sedikitnya 50 orang. Mansour memberi tenggat waktu hingga pertengahan Februari 2014 untuk pilpres dan pileg, namun Muslim Brotherhood menolak berpartisipasi.


9 Juli — Mansour menunjuk ekonom Hazem el-Beblawi sebagai perdana menteri dan pemimpin oposisi Mohamed ElBaradei sebagai wakil presiden. Militer mendukung keputusan ini.


26 Juli — Jutaan orang membanjiri jalanan Mesir setelah panglima militer menyerukan agar dia diberi mandat untuk menghentikan setiap “potensi tindak terorisme” oleh pendukung Morsi. Kejaksaan mengumumkan Morsi disidik dalam berbagai kasus termasuk pembunuhan dan konspirasi dengan kelompok militant Palestina, Hamas.


27 Juli — Pasukan keamanan bersama kelompok pria bersenjata berbaju sipil terlibat bentrok dengan para pendukung Morsi di Kairo, sedikitnya 80 orang tewas.


7 Agt. — Kantor kepresidenan Mesir menyatakan upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar damai antara pemerintahan interim dukungan militer dengan Muslim Brotherhood gagal.


11 Agt. — Tentara Mesir mengumumkan akan mengepung dua lokasi demo besar selama 24 jam demi mencegah ada yang masuk ke sana.


12 Agt. — Otoritas setempat menunda rencana mengambil tindakan atas pendemo di tenda-tenda untuk menghindari pertumpahan darah setelah ribuan orang lagi ikut bergabung.


14 Agt. — Pasukan keamanan dengan kendaraan lapis baja dan buldoser menyerbu masuk dan menghancurkan tenda-tenda. Para pendukung Morsi terlibat perang jalanan dengan polisi di Kairo dan kota-kota lain. Sedikitnya 149 orang tewas dan kelompok Islamis yang marah membakar kantor polisi, gedung-gedung pemerintah dan gereja. Kantor presiden mengumumkan kondisi darurat selama satu bulan.


Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/08/14/33/849567/mualaf-sam-brodie-dibimbing-maia-estianty


Kronologi 2,5 Tahun Revolusi Berdarah Mesir

Saturday, July 20, 2013

Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Nia Sjarifudin (tengah) terpanggil melakukan pembelaan terhadap kelompok minoritas.


Nia Sjarifudin mendampingi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi agama dengan pendekatan personal.


Beberapa menit setelah masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Jati Bening, Bekasi, disegel oleh aparat Satpol Pamong Praja Kota Bekasi dan aparat kepolisian setempat, awal April 2013 lalu, sejumlah perempuan tua anggota Jemaat Ahmadiyah terlihat menangis sesenggukan.


Mereka akhirnya harus meninggalkan tempat ibadah miliknya, setelah aparat memaksakan penyegelan pada petang harinya, karena dianggap menyalahi aturan setempat.


Namun demikian, proses penyegelan itu tidak berjalan mudah, karena warga Ahmadiyah dan didukung para aktivis kemanusiaan, sejak pagi hari menolak dan melawannya.


Di antara orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap upaya penyegelan masjid itu, ada seorang perempuan berkacamata dan berambut pendek.


Bersama pegiat lainnya dan pimpinan Ahmadiyah, dia saat itu terlibat pembicaraan serius dengan aparat kepolisian, mengajukan argumen dan alasan penolakan penyegelan itu.


Nia Sjarifudin (berkaca mata) mendampingi seorang warga Ahmadiyah di Bekasi yang masjidnya disegel oleh pemerintah kota itu, April 2013 lalu.


Dia terlihat pula memberi semangat kepada beberapa perempuan tua warga Ahmadiyah yang menangis dan terlihat syok, akibat penyegelan tempat ibadah mereka.


Nia Sjarifudin, nama perempuan itu, selama ini memang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang menaruh peduli terhadap nasib kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.


Seperti yang dilakukannya terhadap warga Ahmadiyah di Bekasi, Nia — begitu sapaan akrab perempuan kelahiran 1966 ini — juga melakukan pembelaan terhadap warga Islam Syiah di Sampang, warga Kristen di Bekasi dan Bogor yang dipersulit beribadat, serta para penganut kepercayaan yang tidak pernah diakui oleh negara.


“Belum banyak gerakan masyarakat sipil, atau kepedulian kita terhadap isu kelompok minoritas. Masih sedikit sekali yang punya concern terhadap isu kelompok minoritas ini,” ungkap Nia Sjarifudin dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (28/06) lalu.



“Belum banyak gerakan masyarakat sipil, atau kepedulian kita terhadap isu kelompok minoritas. Masih sedikit sekali yang punya concern terhadap isu kelompok minoritas ini.“



Hal ini dia utarakan saat saya tanyakan apa yang membuatnya melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.


Menurutnya, kepedulian terhadap nasib kelompok minoritas juga dilatari situasi saat ini yang disebutnya “banyak melahirkan kebijakan diskriminatif.”


“Karena itu, berdasarkan kesepakatan di antara teman-teman, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), kita prioritaskan memperjuangkan kelompok minoritas keagamaan dan keyakinan,” kata ibu dua anak ini, menjelaskan.


ANBTI didirikan pada 2006 lalu oleh orang-orang yang merasa prihatin (termasuk mendiang Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) atas persoalan intoleransi dan kasus-kasus diskriminasi terhadap kelompok minoritas.Sejak 2010 lalu, Nia Sjarifudin dipercaya sebagai sekjen ANBTI.


Keyakinan diri


Pemihakan Nia Sjarifudin terhadap kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, tentu saja, dapat membuatnya berhadap-hadapan langsung dengan kelompok atau orang-orang yang dianggap sebagai pelaku diskriminasi.


Di benak masyarakat awam, situasi seperti ini seolah-olah merupakan sesuatu yang tidak gampang dilakukan.


Dalam berbagai kesempatan, Nia dan aktivis kemanusiaan lainnya memang terlibat langsung dalam unjuk rasa menolak penyegelan Gereja Yasmin di Bogor, dan berhadapan dengan kelompok yang mendukung penyegelan.


Tetapi menurut Nia, kekhawatiran seperti itu bisa dia atasi. Alasannya, dia meyakini bahwa apa yang diperjuangkan kelompok minoritas terhadap hak-haknya dilindungi oleh Konstitusi, UUD 1945.


“Ya, memang persoalan resistensi kelihatannya seperti itu ya, kalau bicara agama. Tapi kita tidak bicara soal agamanya, tapi bagaimana hak-hak konstitusinya banyak sekali dilanggar terhadap beberapa pemeluk agama, yang sebetulnya mereka sudah hidup dengan kita sejak awal jauh sebelum kemerdekaan,” jelas Nia.


Nia dan sejumlah aktivis menolak penyegelan Gereja Yasmin di Bogor, Jabar.


Dan lebih dari itu, menurutnya, “Keyakinan saya sendiri terhadap apa yang menjadi komitmen kebangsaan kita, saya rasa itu yang menguatkan saya,” kata Nia, dengan nada tegas.


Jadi, persoalan psikologi sudah Anda anggap selesai ya? Tanya saya.


“Ha-ha-ha… Saya rasa, manusiawi ya, kadang-kadang kita melihat ‘Waduh kita melawan sekelompok orang yang, mohon maaf, sering melakukan kekerasan, dan negara sering melakukan pembiaran’,” ungkap Nia, yang semasa kuliah, sudah aktif sebagai pencinta alam.


“Tapi, buat saya yang lebih menguatkan saya adalah bagaimana saya melihat saudara-saudara saya yang masih terdiskriminasi,” kali ini Nia berkata serius.



“Mereka kuat tetap bertahan, justru disitu yang sering menguatkan saya sendiri.“



“Itu buat saya jauh lebih penting, ketimbang saya melihat sekelompok orang yang melakukan pelanggaran atau sering melakukan pelanggaran”.


Dia kemudian mencontohkan, aksi Jemaat Gereja Yasmin di Bogor yang berthana dan terus memperjuangkan hak-haknya atas gerejanya, walaupun “dicaci maki, menjadi korban kekerasan, bahkan secara fisik.”


“Mereka kuat tetap bertahan, justru disitu yang sering menguatkan saya sendiri,” akunya.


Nia menambahkan, hal lain yang menguatkan dirinya adalah bahwa para korban sangat sadar dan memahami hak-hak Konstitusinya.


Pendekatan pribadi


Terjun sebagai aktivis kemanusiaan yang peduli terhadap kelompok agama minoritas, Nia dikenal melalui pendekatan kulturalnya.


Dia tidak segan-segan melakukan pendekatan pribadi saat mendampingi orang-orang dari kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, kata juru bicara masyarakat adat Sunda Wiwitan, Dewi Kanti.


Bersama organisasi yang dipimpinnya, ANBTI, Nia tampil untuk berbagi pengalaman di Sekolah Pluralisme Kewarganegaraan yang didirikan UGM Yogyakarta.


“Dia itu turun langsung dan secara pribadi agak berbeda dengan sifat yang dimiliki beberapa NGO yang hanya melihat hubungan sekedar organisasi,” kata Dewi.


Melalui pendekatan kulturalnya, imbuh Dewi, Nia sering melakukan pendekatan yang sangat personal dan humanis. “Dia merekatkan kekuatan yang hampir tercecer,” tambahnya.


“Sekarang butuh orang-orang seperti Nia, yang bisa menembus batas, sekat perbedaan dan ego lembaga itu sendiri,” katanya lebih lanjut.


Nia Sjarifudin sendiri mengaku, dirinya sengaja melakukan pendekatan pribadi, karena pola hubungan seperti inilah yang dibutuhkan dalam mendampingi para korban diskriminasi, yaitu antara lain kepercayaan (trust).



“Sekarang butuh orang-orang seperti Nia, yang bisa menembus batas, sekat perbedaan dan ego lembaga itu sendiri.“



“Mungkin karena sekian lama ya diskriminasi itu dialami (korban), mereka juga tidak bisa secara langsung, atau bercerita dengan orang yang tidak dikenal,” kata Nia. “Kan tadinya kita tidak kenal”.


Melalui pendekatan personal, Nia mengharapkan dapat mengetahui dan memahami persoalan mereka. “Buat saya, hal-hal seperti itu tidak bisa dengan pendekatan yang kaku,” tambah istri Bambang Joedopramono ini.


“Saya mesti merasa sejajar dengan mereka. Duduk bersama dan saya berusaha untuk menempatkan diri, mencoba merasakan empati dengan apa yang mereka rasakan”.


Pengalaman emosional


“Paling menyentuh buat saya adalah persoalan anak,” ungkap Nia, saat saya menanyakan pengalaman emosional seperti apa yang pernah dialaminya selama melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang menyebut dirinya sebagai korban diskriminasi.


Menurutnya, anak yang dilahirkan dari pasangan orang tua yang agama atau keyakinannya tidak diakui negara, membuat dirinya tersentuh secara emosional.



“Saya baru bisa memahami, seorang anak lahir dari orang tua yang menikah secara cinta dan direstui keluarga, tetapi negara masih memberikan suatu bentuk diskriminasi dalam aturan terhadap kaum penghayat.“



“Saya baru bisa memahami, seorang anak lahir dari orang tua yang menikah secara cinta dan direstui keluarga, tetapi negara masih memberikan suatu bentuk diskriminasi dalam aturan terhadap kaum penghayat,” ungkapnya.


“Bagaimana saya melihat seorang anak lahir tanpa dosa, tetapi karena orang tuanya menikah, dan agamanya dianggap tidak resmi oleh negara, kemudian pernikahannya tidak dicatatkan oleh negara, maka anak itu menjadi anak yang kalau ke ruang publik itu, anak yang bisa dikatakan anak yang lahir dari orang tua yang tidak menikah,” paparnya.


“Anak yang tidak berdosa, karena aturan negara, dia lahir menjadi — kalau dia dicap secara kasar di ruang publik — dianggap sebagai anak haram”.


Pengamalan menyedihkan seperti ini, lanjutnya, bakal berdampak pula pada masa depan anak itu.


“Itu membuat saya miris,” kata ibu dari Omar Rolihlahla Hakeem (14 tahun) dan Putri Malahayati Hangkalea Bourguiba (8 tahun) ini, dengan nada bergetar.


Sosok Gus Dur


Pada pekan ketiga Juni lalu, Nia Sjarifudin sibuk melakukan konsolidasi organisasi yang dipimpinnya, yaitu Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, ANBTI. Usai kunjungannya ke Aceh, barulah wawancara dengan dirinya bisa dilakukan.


“Kita memetakan persoalan di tingkat propinsi, misalnya kejadian atau kasus yang berpotensi terhadap keberagaman kita,” ungkap Nia, mengungkapkan salah-satu bentuk konsolidasi yang dia lakukan bersama rekan-rekannya di seluruh Indonesia.


Selain melakukan advokasi langsung terhadap kasus-kasus diskrimnasi, Nia melalui organisasinya juga mengunjungi lokasi pengungsian warga Syiah di Sampang, Madura (sebelum dpindahkan ke Sidoarjo, Jatim).


Menurut NIa, mereka juga mendorong para korban kebijakan diskriminasi untuk menyatukan gerakan.


Nia mengunjungi warga Syiah di Sampang sebelum mereka diserang kelompok penentangnya.


“Kita banyak mendorong para korban untuk survival, untuk melakukan advokasi. Dan ini sudah jalan setelah terbentuk Komunitas Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Sobat KBB),” ungkapnya.


Dalam wawancara, Nia Sjarifudin menjelaskan panjang lebar visi, tujuan serta organisasi ANBTI. Tetapi siapa yang paling menginspirasi atau mempengaruhi Anda sehingga Anda bisa seperti sekarang? Tanya saya.


“Buat saya, perjumpaan saya selalu dengan setiap korban (diskriminasi), menurut saya, itu terus menerus mempengaruhi saya,” akunya, seraya menambahkan bahwa peningkatan intolrenasi saat ini mendorognnya pula untuk lebih berjuang keras.


Nia kemudian beberapa nama, dan salah-satunya mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang disebutnya sebagai inspirator dirinya.


“Setiap orang berpikir: kalau ada apa-apa, ke Gus Dur dulu, kalau ada apa-apa ke Gus Dur, baik itu orang Kristen, orang penghayat, dan lain-lain. Buat saya itu menjadi patokan,” katanya.



“Saya merasa sebagai individu Muslim, saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan, itu menjadi rahmat buat semuanya. Itu pegangan paling penting.“



Pihak lain yang ikut mempengaruhi sikapnya dalam bertoleransi adalah kedua orang tuanya, melalui landasan agama yang ditanamkan sejak dirinya kanak-kanak.


“Misalnya Islam itu universal, buat saya itu sebuah pegangan. Islam itu Rahmatan lil alamin. Saya merasa sebagai individu Muslim, saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan, itu menjadi rahmat buat semuanya. Itu pegangan paling penting,” ungkapnya.


“Dan buat saya, dukungan paling besar itu terutama dari pasangan hidup saya, suami saya, itu dia yang banyak sekali memberi support kepada saya,” katanya, menyebut suaminya yang bernama Bambang Joedopramono.


Menurutnya, suaminya mendukung sepenuhnya aktivitasnya sosialnya saat ini.


Seperti Nia, sang suami juga aktivis di masa kuliah. “Kami menikah tahun 1998, setelah Suharto turun dari kekuasaan,” kata Nia, yang memiliki hobi berjalan-jalan ke pasar tradisional, setiap mengunjungi setiap daerah di berbagai pelosok Indonesia.


Mempengaruhi kebijakan


Pada akhir wawancara, saya bertanya kepada Nia Sjarifudin: “jika bisa mengulang waktu, apa yang ingin dia lakukan.”


Nia Sjarifudin dalam aksi di depan Istana Merdeka, menentang kebijakan diskrimitaif terhadap kelompok minoritas.


“Saya merasa terlambat sadar bahwa saya seharusnya dulu berani mengambil jalur sebagai pengambil kebijakan. Itu yang selalu saya pikirkan sampai sekarang…ha-ha-ha…”


Nia kemudian mengisahkan pengalamannya sebagai aktivis sejak tahun 80-an, yang lebih memilih sebagai aktivis ‘parlemen jalanan’.


“Saya memikirkan, dengan kondisi parlemen sekarang, mestinya orang-orang seperti saya dulu itu masuk ke dalam, setidaknya setelah reformasi,” kata Nia yang dulu pernah aktif di organisasi Komite Independen Pemantau Pemilu, KIPP, yang mengkritisi pelaksanaan pemilu pada periode akhir Rezim Orde Baru.



“Tapi, saya memang memikirkan bagaimana saya bertahan dengan idealisme saya di dalam (dunia politik praktis) dengan situasi sekarang.“



“Seharusnya saya berani masuk ke dunia politik praktis. Kalau saya bisa mengulang ya. Kalau sekarang kayaknya terlambat,” katanya, kemudian disusul tawanya. “Karena sebenarnya di situ banyak sekali persoalan yang sekarang itu muncul, karena kebijakan-kebijakan yang dibuat di dalam”.


“Paling tidak,” lanjutnya,”dengan pengalaman (kita melakukan) advokasi masyarakat, bisa menjadi satu pengalaman kita untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang tidak meminggirkan siapapun.”


“Tapi, saya memang memikirkan bagaimana saya bertahan dengan idealisme saya di dalam (dunia politik praktis) dengan situasi sekarang,” akunya sekaligus menutup wawancara.


Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3479


Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Thursday, July 18, 2013

Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Nia Sjarifudin mendampingi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi agama dengan pendekatan personal.


Beberapa menit setelah masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Jati Bening, Bekasi, disegel oleh aparat Satpol Pamong Praja Kota Bekasi dan aparat kepolisian setempat, awal April 2013 lalu, sejumlah perempuan tua anggota Jemaat Ahmadiyah terlihat menangis sesenggukan.



Mereka akhirnya harus meninggalkan tempat ibadah miliknya, setelah aparat memaksakan penyegelan pada petang harinya, karena dianggap menyalahi aturan setempat.



Namun demikian, proses penyegelan itu tidak berjalan mudah, karena warga Ahmadiyah dan didukung para aktivis kemanusiaan, sejak pagi hari menolak dan melawannya.



Di antara orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap upaya penyegelan masjid itu, ada seorang perempuan berkacamata dan berambut pendek.



Bersama pegiat lainnya dan pimpinan Ahmadiyah, dia saat itu terlibat pembicaraan serius dengan aparat kepolisian, mengajukan argumen dan alasan penolakan penyegelan itu.



Nia Sjarifudin (berkaca mata) mendampingi seorang warga Ahmadiyah di Bekasi yang masjidnya disegel oleh pemerintah kota itu, April 2013 lalu.


Dia terlihat pula memberi semangat kepada beberapa perempuan tua warga Ahmadiyah yang menangis dan terlihat syok, akibat penyegelan tempat ibadah mereka.



Nia Sjarifudin, nama perempuan itu, selama ini memang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang menaruh peduli terhadap nasib kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.



Seperti yang dilakukannya terhadap warga Ahmadiyah di Bekasi, Nia — begitu sapaan akrab perempuan kelahiran 1966 ini — juga melakukan pembelaan terhadap warga Islam Syiah di Sampang, warga Kristen di Bekasi dan Bogor yang dipersulit beribadat, serta para penganut kepercayaan yang tidak pernah diakui oleh negara.



“Belum banyak gerakan masyarakat sipil, atau kepedulian kita terhadap isu kelompok minoritas. Masih sedikit sekali yang punya concern terhadap isu kelompok minoritas ini,” ungkap Nia Sjarifudin dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (28/06) lalu.



Hal ini dia utarakan saat saya tanyakan apa yang membuatnya melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.



Menurutnya, kepedulian terhadap nasib kelompok minoritas juga dilatari situasi saat ini yang disebutnya “banyak melahirkan kebijakan diskriminatif.”



“Karena itu, berdasarkan kesepakatan di antara teman-teman, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), kita prioritaskan memperjuangkan kelompok minoritas keagamaan dan keyakinan,” kata ibu dua anak ini, menjelaskan.



ANBTI didirikan pada 2006 lalu oleh orang-orang yang merasa prihatin (termasuk mendiang Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) atas persoalan intoleransi dan kasus-kasus diskriminasi terhadap kelompok minoritas.Sejak 2010 lalu, Nia Sjarifudin dipercaya sebagai sekjen ANBTI.



Keyakinan diri


Pemihakan Nia Sjarifudin terhadap kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, tentu saja, dapat membuatnya berhadap-hadapan langsung dengan kelompok atau orang-orang yang dianggap sebagai pelaku diskriminasi.


Di benak masyarakat awam, situasi seperti ini seolah-olah merupakan sesuatu yang tidak gampang dilakukan.



Dalam berbagai kesempatan, Nia dan aktivis kemanusiaan lainnya memang terlibat langsung dalam unjuk rasa menolak penyegelan Gereja Yasmin di Bogor, dan berhadapan dengan kelompok yang mendukung penyegelan.



Tetapi menurut Nia, kekhawatiran seperti itu bisa dia atasi. Alasannya, dia meyakini bahwa apa yang diperjuangkan kelompok minoritas terhadap hak-haknya dilindungi oleh Konstitusi, UUD 1945.



“Ya, memang persoalan resistensi kelihatannya seperti itu ya, kalau bicara agama. Tapi kita tidak bicara soal agamanya, tapi bagaimana hak-hak konstitusinya banyak sekali dilanggar terhadap beberapa pemeluk agama, yang sebetulnya mereka sudah hidup dengan kita sejak awal jauh sebelum kemerdekaan,” jelas Nia.



Dan lebih dari itu, menurutnya, “Keyakinan saya sendiri terhadap apa yang menjadi komitmen kebangsaan kita, saya rasa itu yang menguatkan saya,” kata Nia, dengan nada tegas.



Jadi, persoalan psikologi sudah Anda anggap selesai ya? Tanya saya.



“Ha-ha-ha… Saya rasa, manusiawi ya, kadang-kadang kita melihat Waduh kita melawan sekelompok orang yang, mohon maaf, sering melakukan kekerasan, dan negara sering melakukan pembiaran,” ungkap Nia, yang semasa kuliah, sudah aktif sebagai pencinta alam.



“Tapi, buat saya yang lebih menguatkan saya adalah bagaimana saya melihat saudara-saudara saya yang masih terdiskriminasi,” kali ini Nia berkata serius.



“Itu buat saya jauh lebih penting, ketimbang saya melihat sekelompok orang yang melakukan pelanggaran atau sering melakukan pelanggaran”.



Dia kemudian mencontohkan, aksi Jemaat Gereja Yasmin di Bogor yang berthana dan terus memperjuangkan hak-haknya atas gerejanya, walaupun “dicaci maki, menjadi korban kekerasan, bahkan secara fisik.”



“Mereka kuat tetap bertahan, justru disitu yang sering menguatkan saya sendiri,” akunya.



Nia menambahkan, hal lain yang menguatkan dirinya adalah bahwa para korban sangat sadar dan memahami hak-hak Konstitusinya.



Pendekatan pribadi


Terjun sebagai aktivis kemanusiaan yang peduli terhadap kelompok agama minoritas, Nia dikenal melalui pendekatan kulturalnya.


Dia tidak segan-segan melakukan pendekatan pribadi saat mendampingi orang-orang dari kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, kata juru bicara masyarakat adat Sunda Wiwitan, Dewi Kanti.



Bersama organisasi yang dipimpinnya, ANBTI, Nia tampil untuk berbagi pengalaman di Sekolah Pluralisme Kewarganegaraan yang didirikan UGM Yogyakarta.


“Dia itu turun langsung dan secara pribadi agak berbeda dengan sifat yang dimiliki beberapa NGO yang hanya melihat hubungan sekedar organisasi,” kata Dewi.



Melalui pendekatan kulturalnya, imbuh Dewi, Nia sering melakukan pendekatan yang sangat personal dan humanis. “Dia merekatkan kekuatan yang hampir tercecer,” tambahnya.



“Sekarang butuh orang-orang seperti Nia, yang bisa menembus batas, sekat perbedaan dan ego lembaga itu sendiri,” katanya lebih lanjut.



Nia Sjarifudin sendiri mengaku, dirinya sengaja melakukan pendekatan pribadi, karena pola hubungan seperti inilah yang dibutuhkan dalam mendampingi para korban diskriminasi, yaitu antara lain kepercayaan (trust).



“Mungkin karena sekian lama ya diskriminasi itu dialami (korban), mereka juga tidak bisa secara langsung, atau bercerita dengan orang yang tidak dikenal,” kata Nia. “Kan tadinya kita tidak kenal”.



Melalui pendekatan personal, Nia mengharapkan dapat mengetahui dan memahami persoalan mereka. “Buat saya, hal-hal seperti itu tidak bisa dengan pendekatan yang kaku,” tambah istri Bambang Joedopramono ini.



“Saya mesti merasa sejajar dengan mereka. Duduk bersama dan saya berusaha untuk menempatkan diri, mencoba merasakan empati dengan apa yang mereka rasakan”.



Pengalaman emosional


“Paling menyentuh buat saya adalah persoalan anak,” ungkap Nia, saat saya menanyakan pengalaman emosional seperti apa yang pernah dialaminya selama melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang menyebut dirinya sebagai korban diskriminasi.


Menurutnya, anak yang dilahirkan dari pasangan orang tua yang agama atau keyakinannya tidak diakui negara, membuat dirinya tersentuh secara emosional.



“Saya baru bisa memahami, seorang anak lahir dari orang tua yang menikah secara cinta dan direstui keluarga, tetapi negara masih memberikan suatu bentuk diskriminasi dalam aturan terhadap kaum penghayat,” ungkapnya.



“Bagaimana saya melihat seorang anak lahir tanpa dosa, tetapi karena orang tuanya menikah, dan agamanya dianggap tidak resmi oleh negara, kemudian pernikahannya tidak dicatatkan oleh negara, maka anak itu menjadi anak yang kalau ke ruang publik itu, anak yang bisa dikatakan anak yang lahir dari orang tua yang tidak menikah,” paparnya.



“Anak yang tidak berdosa, karena aturan negara, dia lahir menjadi — kalau dia dicap secara kasar di ruang publik — dianggap sebagai anak haram”.



Pengamalan menyedihkan seperti ini, lanjutnya, bakal berdampak pula pada masa depan anak itu.



“Itu membuat saya miris,” kata ibu dari Omar Rolihlahla Hakeem (14 tahun) dan Putri Malahayati Hangkalea Bourguiba (8 tahun) ini, dengan nada bergetar.



Sosok Gus Dur


Pada pekan ketiga Juni lalu, Nia Sjarifudin sibuk melakukan konsolidasi organisasi yang dipimpinnya, yaitu Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, ANBTI. Usai kunjungannya ke Aceh, barulah wawancara dengan dirinya bisa dilakukan.


“Kita memetakan persoalan di tingkat propinsi, misalnya kejadian atau kasus yang berpotensi terhadap keberagaman kita,” ungkap Nia, mengungkapkan salah-satu bentuk konsolidasi yang dia lakukan bersama rekan-rekannya di seluruh Indonesia.



Selain melakukan advokasi langsung terhadap kasus-kasus diskrimnasi, Nia melalui organisasinya juga mengunjungi lokasi pengungsian warga Syiah di Sampang, Madura (sebelum dpindahkan ke Sidoarjo, Jatim).



Menurut NIa, mereka juga mendorong para korban kebijakan diskriminasi untuk menyatukan gerakan.



“Kita banyak mendorong para korban untuk survival, untuk melakukan advokasi. Dan ini sudah jalan setelah terbentuk Komunitas Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Sobat KBB),” ungkapnya.



Dalam wawancara, Nia Sjarifudin menjelaskan panjang lebar visi, tujuan serta organisasi ANBTI. Tetapi siapa yang paling menginspirasi atau mempengaruhi Anda sehingga Anda bisa seperti sekarang? Tanya saya.



“Buat saya, perjumpaan saya selalu dengan setiap korban (diskriminasi), menurut saya, itu terus menerus mempengaruhi saya,” akunya, seraya menambahkan bahwa peningkatan intolrenasi saat ini mendorognnya pula untuk lebih berjuang keras.



Nia kemudian beberapa nama, dan salah-satunya mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang disebutnya sebagai inspirator dirinya.



“Setiap orang berpikir: kalau ada apa-apa, ke Gus Dur dulu, kalau ada apa-apa ke Gus Dur, baik itu orang Kristen, orang penghayat, dan lain-lain. Buat saya itu menjadi patokan,” katanya.



Pihak lain yang ikut mempengaruhi sikapnya dalam bertoleransi adalah kedua orang tuanya, melalui landasan agama yang ditanamkan sejak dirinya kanak-kanak.



“Misalnya Islam itu universal, buat saya itu sebuah pegangan. Islam itu Rahmatan lil alamin. Saya merasa sebagai individu Muslim, saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan, itu menjadi rahmat buat semuanya. Itu pegangan paling penting,” ungkapnya.



“Dan buat saya, dukungan paling besar itu terutama dari pasangan hidup saya, suami saya, itu dia yang banyak sekali memberi support kepada saya,” katanya, menyebut suaminya yang bernama Bambang Joedopramono.



Menurutnya, suaminya mendukung sepenuhnya aktivitasnya sosialnya saat ini.



Seperti Nia, sang suami juga aktivis di masa kuliah. “Kami menikah tahun 1998, setelah Suharto turun dari kekuasaan,” kata Nia, yang memiliki hobi berjalan-jalan ke pasar tradisional, setiap mengunjungi setiap daerah di berbagai pelosok Indonesia.



Mempengaruhi kebijakan


Pada akhir wawancara, saya bertanya kepada Nia Sjarifudin: “jika bisa mengulang waktu, apa yang ingin dia lakukan.”


Nia Sjarifudin dalam aksi di depan Istana Merdeka, menentang kebijakan diskrimitaif terhadap kelompok minoritas.


“Saya merasa terlambat sadar bahwa saya seharusnya dulu berani mengambil jalur sebagai pengambil kebijakan. Itu yang selalu saya pikirkan sampai sekarang…ha-ha-ha…”



Nia kemudian mengisahkan pengalamannya sebagai aktivis sejak tahun 80-an, yang lebih memilih sebagai aktivis parlemen jalanan.



“Saya memikirkan, dengan kondisi parlemen sekarang, mestinya orang-orang seperti saya dulu itu masuk ke dalam, setidaknya setelah reformasi,” kata Nia yang dulu pernah aktif di organisasi Komite Independen Pemantau Pemilu, KIPP, yang mengkritisi pelaksanaan pemilu pada periode akhir Rezim Orde Baru.



“Seharusnya saya berani masuk ke dunia politik praktis. Kalau saya bisa mengulang ya. Kalau sekarang kayaknya terlambat,” katanya, kemudian disusul tawanya. “Karena sebenarnya di situ banyak sekali persoalan yang sekarang itu muncul, karena kebijakan-kebijakan yang dibuat di dalam”.



“Paling tidak,” lanjutnya,”dengan pengalaman (kita melakukan) advokasi masyarakat, bisa menjadi satu pengalaman kita untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang tidak meminggirkan siapapun.”



“Tapi, saya memang memikirkan bagaimana saya bertahan dengan idealisme saya di dalam (dunia politik praktis) dengan situasi sekarang,” akunya sekaligus menutup wawancara.


(bbc/bbc)





Lebih Banyak Lagi dari BBC Indonesia:


BBC





Lapsus


Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/01/05/mg5byb-ppp-usung-arief-mudatsir-cagub-jateng


Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Monday, July 1, 2013

Musim Semi Wahabisme


Ratusan orang menyerang sebuah desa kecil yang dihuni pemeluk Syiah. Membakar rumah, menganiaya, membunuh satu orang dan melukai puluhan lainnya. Tak hanya itu, para penyerang kemudian mengusir warga desa itu karena dianggap murtad.



Tidak, ini bukan kejadian di Peshawar, Pakistan atau Kandahar, Afghanistan. Peristiwa itu terjadi akhir tahun lalu di pulau Madura yang terletak di wilayah Jawa, sebuah tempat yang dikenal sebagai basis Islam moderat Indonesia.



Kekerasan itu hanyalah potret kecil. SETARA Institute, sebuah lembaga pengawas toleransi mencatat, dari tahun ke tahun jumlah kekerasan atas nama agama terus meningkat. Tahun lalu ada 264 kasus.



Berbagai jajak pendapat, secara konsisten juga menunjukkan masyarakat Indonesia semakin tidak toleran terhadap perbedaan iman. Bahkan polling Lingkaran Survei Indonesia menemukan: hampir satu dari empat orang Indonesia bisa mentolerir kekerasan, untuk menegakkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran agama.



Lalu apa yang mengubah Indonesia? Sejumlah kalangan menuding menguatnya pengaruh Wahabisme, paham yang dianggap memberi saham bagi munculnya gerakan radikal.



Saham Wahabisme


Rumah pengikut Syiah di Sampang Madura dibakar massa yang menganggap aliran ini sesat


Jejak Wahabisme dalam kasus intoleransi antara lain muncul dalam persekusi terhadap kelompok Syiah.



“Ada gerakan dari kelompok Wahabi yang menyebarkan selebaran bahwa Syiah sesat, dan memobilisasi massa untuk menyerang,“ kata Jalaluddin Rakhmat, intelektual yang juga dikenal sebagai tokoh Syiah Indonesia kepada Deutsche Welle.



“Bukti pengaruh Wahabisme dalam kasus ini bisa kita lihat dari fatwa ulama yang menganggap Syiah itu sesat,“, kata Rakhmat sambil menambahkan bahwa selama berabad-abad, Islam di Indonesia tidak punya sejarah konflik dengan kelompok Syiah.



“Fatwa itu pasti disponsori Wahabisme.”



Faham Wahabi yang berpusat di Arab Saudi, didirikan oleh Muhammad ibn Abdul Wahab, dikenal sebagai sekte garis keras yang ingin memurnikan ajaran Islam dengan menafsirkan kitab suci secara literal dan menganggap kelompok lain yang berbeda pandangan sebagai bid’ah, termasuk Syiah.



Konflik antara Wahabisme dan Syiah punya akar di Timur Tengah dan termanifestasi dalam kontestasi politik antara Arab Saudi dengan Iran hingga hari ini.



“Kerjasama kebudayaan”



Syafiq Hasyim yang sedang merampungkan studi doktoral tentang Islam di Freie Universität Berlin, kepada Deutsche Welle mengatakan bahwa kemunculan faham Wahabisme di Indonesia adalah bagian dari gerakan Islam lintas negara.



Wahabisme masuk lewat “kerjasama kebudayaan“ yang dibangun antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi pada tahun 80′an. Sebagian besar masuk lewat bantuan yayasan milik pemerintah Saudi.



“Ulama Indonesia yang datang ke Arab Saudi mendapat bantuan finansial, para pelajar Indonesia juga ditawari beasiswa untuk studi Islam ke sana.“



Selain itu, kata Hasyim, pemerintah Arab Saudi melalui yayasan-yayasannya  menawarkan bantuan pembangunan rumah ibadah dengan paket komplit: “Bukan cuma bangunan mesjid, tapi juga berikut pendakwah dan buku-buku Wahabisme“.



Belakangan seiring pemberantasan terorisme, bantuan finansial itu berkurang karena bank sentral Indonesia menerapkan pengawasan yang ketat terhadap aliran dana dari luar negeri.



“Sekarang Wahabisme disebarkan melalui internet termasuk lewat Social Media Facebook dan Twitter.”



Selain itu, kelompok ini memanfaatkan majelis taklim atau kelompok pengajian serta membangun situs berita internet.



“Arrahmah.com jelas representasi suara Wahabi,” kata Hasyim merujuk pada situs berita yang belakangan menjadi referensi penting di kalangan Islamis Indonesia.



Friksi menajam



Direktur Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Novriantoni Kahar menyebut Wahabisme sebagai aktor utama dramatisasi perbedaan di kalangan umat Islam: ”Di mana pun Wahabisme menguat, maka urusan-urusan keagamaan yang sebetulnya sepele jadi dianggap persoalan besar. Akibatnya, ketegangan antar golongan di dalam Islam meningkat…”


Pengikut Ahmadiyah juga menjadi sasaran kekerasan kelompok garis keras



Survei Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi mengungkapkan ketegangan itu: 46,6 persen umat Islam mengaku tidak suka bertetangga dengan Ahmadiyah, sebuah sekte dalam Islam yang juga sering menjadi sasaran persekusi.



Sementara ketika ditanya: apakah anda bersedia hidup berdampingan dengan penganut Syiah? 41,8 persen mengaku tidak nyaman. Angka ini lebih tinggi dibanding sikap tidak suka, jika hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain bukan Islam yang angkanya 15,1 persen.



“Yang paling bahaya dari Wahabisme karena ia mengancam kebebasan berpikir dan berekspresi,“ kata Syafiq Hasyim menambahkan.



“Wahabisme mematikan diskursus dan pada gilirannya membunuh ilmu pengetahuan. Bagi kaum Wahabi, semua yang bertentangan dengan ajaran mereka adalah kafir…“



Negara Absen



Intoleransi akibat sikap masyarakat yang dipengaruhi kelompok garis keras, sebenarnya bisa diatasi jika Negara tegas menegakkan hukum. Tapi masalahnya, pemerintah Indonesia lemah ketika berhadapan dengan aktor-aktor kekerasan yang mengatasnamakan agama.



Imdadun Rahmat , Wakil Ketua Komnas HAM, yang menangani masalah kebebasan beragama, kepada Deutsche Welle menyebut pemerintah Indonesia cenderung membiarkan terjadinya kekerasan atas nama agama: “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak serius. Hanya retorika…”



“Presiden tidak punya keberanian berhadapan dengan kelompok radikal, karena takut dianggap melawan umat Islam…“


Wajah Islam Indonesia yang damai memudar?


Akhir Mei lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat penghargaan World Statesman Award di New York (30/5), karena dianggap sukses membangun toleransi.



Ketika menerima penghargaan itu, presiden Yudhoyono berpidato: “Kami tidak akan menoleransi setiap tindakan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama… Kami juga akan melindungi minoritas dan memastikan tidak ada yang mengalami diskriminasi.”



Retorika tinggal retorika. Kenyataannya, intoleransi terus terjadi. 15 tahun demokrasi Indonesia, ditandai dengan musim semi Wahabisme.


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/21/perlu-perda-wajib-madrasah-diniah-360611


Musim Semi Wahabisme

Thursday, March 28, 2013

Preman Yogya, dari satgas partai kini masuk kalangan mahasiswa

Penelitian Skripsi Ulil Amri yang berjudul: “Preman di Yogyakarta: Studi Antropologis Premanisme Kontemporer di Yogyakarta”, memuat kisah muasal preman, aksi, hingga tokoh-tokoh pentingnya di Yogyakarta. Studi yang disusun untuk Jurusan Antropologi, UGM itu dilakukan pada 2004-2005.

Dalam studinya, Ulil menjelaskan, komposisi preman di Yogyakarta bisa ditelisik sejak zaman Orde Baru. Terutama saat masih menggunakan tiga partai sebagai peserta pemilu. Menurut Ulil, pada masa itu kelompok preman memiliki ideologi politik sesuai dengan partai yang diikutinya.

“Sebutan preman hijau untuk sebutan Gerakan Pemuda Kabah, hubungannya ke PPP, kemudian pasukan Cakra untuk Golkar saat itu,” kata Ulil saat dihubungi merdeka.com pada Kamis (28/3) malam.

Bahkan menurut Ulil, sistem perekrutan preman sebagai satgas partai masih berlangsung saat ini di Yogyakarta. Ulil enggan menyebut nama kelompok itu, demikian juga nama partai yang membawahinya. Ulil memberi kode, kelompok itu sekarang pindah ke salah satu partai berlabel Islam saat ini. Bagi Ulil, hal itu adalah hal yang lumrah dalam dunia preman.

Dalam penelitiannya, hubungan preman dan partai adalah bentuk hubungan yang saling menguntungkan. Tidak hanya itu, menurut Ulil, pemerintah juga menggunakan preman dalam menjalankan segala misi dan ambisinya.

“Hubungannya saling menguntungkan, preman dengan kemampuan menteror dan bikin onar di tingkat bawah, sedangkan elit tetap menjaga citra. Padahal dalam memuluskan misi politik dan ekonominya banyak menggunakan preman sebagai kaki tangan,” ujar Ulil lebih lanjut.

Dengan pola hubungan seperti itu, preman dan kelompoknya memiliki kuasa atas lokasi atau tempat sebagai ladang uang. Menurut Ulil, di Yogyakarta tempat-tempat tertentu memiliki penguasa tersendiri dan kelompok preman itu mendapatkan upeti dari daerah kekuasaannya itu, seperti laiknya upeti dari pemakai lahan seperti pedagang kaki lima hingga perjudian.

Dalam penjelasan Ulil, lokasi kekuasaan preman di Yogya meliputi lahan-lahan bisnis yang dianggap basah secara ekonomi, seperti kafe-kafe, pusat perbelanjaan, hingga Pasar Kembang (Sarkem). “Saat penelitian, saya pernah mengikuti preman kondang di Yogya untuk mengambil upeti di Sarkem sampai membagikan uang itu ke anak buahnya,” ujar Ulil lebih lanjut.

Saat ini perkembangan kelompok preman di Yogyakarta kian meluas. Menurut Ulil, jika dulu preman-preman di Yogya adalah afiliasi dari partai-partai tertentu, saat ini sudah sedikit berbeda. Dalam pengamatan Ulil, perkembangan kelompok preman di Yogyakarta sudah berkembang ke tingkat mahasiswa yang bercorak etnis hingga tingkat pelajar.

“Kalau mahasiswa biasanya dari luar Jawa atau yang merantau di Yogya. Biasanya drop out dari kampusnya, kemudian berkumpul dengan teman-teman satu etnis, klan keluarga kemudian berlanjut membuat kelompok,” kata Ulil lebih lanjut.

Menurut Ulil, perubahan kelompok perkumpulan pertemanan yang berdasar etnis itu berubah menjadi preman biasanya karena tidak memiliki pekerjaan. Sedangkan untuk pulang kampung, sudah kadung malu di kampungnya.

Sejak terjadinya kejadian pembantaian terhadap empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu (23/3) dini hari lalu yang salah satu korbannya diindikasikan berafiliasi kelompok dengan etnis mahasiswa Nusa Tenggara Timur membuat marah Sultan Hemengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada Rabu (27/3) kemarin, Sultan meminta kepada pendatang dan mahasiswa di Yogyakarta untuk berkomitmen menjaga kenyamanan dan keamanan Kota Yogyakarta. “Jika masih ada kekerasan yang melibatkan etnis, lebih baik keluar dari Yogyakarta,” kata Sultan dengan nada marah.


{paging_prev_label}

{paging_next_label}


Article source: http://www.analisadaily.com/news/2013/2761/paus-fransiskus-pilih-pelantikan-sederhana/


Preman Yogya, dari satgas partai kini masuk kalangan mahasiswa

Monday, April 1, 2013

Afghanistan: Keluar Total Bukan Suatu Pilihan

Seorang Tentara Afghanistan dan dua Tentara A.S. bersiap siaga di belakang
dinding lumpur di sebuah kamp di distrik Daman provinsi Kandahar pada bulan
September 2012. [AFP/GETTY IMAGES]

Banyak pihak memperkirakan tahun 2014 sebagai tahun di mana koalisi
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin oleh Amerika Serikat akan keluar dari
Afghanistan. Sasaran itu tampaknya semakin tidak bisa dicapai mengingat keadaan
perang yang belum selesai. Gambaran ini terus berubah setiap harinya sebagaimana
halnya merespons kebutuhan akan sumber daya.

Pada awalnya, penunjukan A.S. atas Afghanistan sebagai sekutu terbaru
non-NATO yang utama mengantar ke gelombang transformasi. Gerakan itu sendiri tidak
saja mengikat baik warga Afghanistan dan Amerika untuk waktu yang lama tetapi juga
dapat melindungi kepentingan kedua negara tersebut di masa depan. Sementara itu,
berbagai kelompok kepentingan menunggu dengan tidak sabar di sisi barisan untuk
mengambil alih kepemimpinan.

Kondisi militer, keuangan, dan politik terkini menentukan bagaimana keadaan
akhir Afghanistan akan terbentuk.

Truk-truk pengungsi Afghanistan dari Pakistan tiba di pusat P.B.B. di
Kabul, di mana para pengungsi yang kembali diberi US$100 untuk memulai kehidupan
baru di Afghanistan. Walaupun mereka pengungsi Afghanistan, banyak dari mereka
dilahirkan di Pakistan, dan ini pertama kalinya mereka berada di Afghanistan.
[mandy clark]

Faktor Militer

Kehadiran pasukan Amerika di Afghanistan, setelah mengalami peningkatan,
berjumlah 68.000 lebih pada bulan September 2012. Pada tahun 2013, jumlahnya mulai
menyusut sedikit demi sedikit, tetapi jumlah akhir tetap menjadi rekaan setiap
orang. Banyak pihak mengatakan jumlah mereka sebanyak 50.000; yang lain mengatakan
perhitungan yang realistis adalah 25.000 sampai 30.000 tentara.

Jadi, mengapa Tentara A.S. diperlukan berada di bumi Afghanistan saat
terdapat lebih dari 350.000 pasukan keamanan Afghanistan, menurut perhitungan Gedung
Putih A.S.?

Dari jumlah pasukan ini, Afghan National Army (ANA) atau Angkatan Darat
Afghanistan hanya 122.000 orang dan dilatih oleh koalisi internasional. Pelatihannya
singkat, dan mereka adalah Tentara muda dan kurang berpengalaman. Semua milisi lama
tidak dimasukkan ke dalam militer setelah dilakukan suatu eksperimen untuk
memasukkan mereka ke dalam pasukan biasa gagal. Mereka kesulitan memahami struktur
komando Angkatan Darat. Pada saat dilakukan suatu operasi di daerah mereka, mereka
sudah jauh terlalu mengakar dalam politik lokal.

Seorang ayah dan anak Afghanistan mengumpulkan kayu bakar di Badakhshan,
provinsi di utara Afghanistan. Kekurangan gizi menjadi penyebab utama kematian
bagi anak-anak dan balita di wilayah ini. [Mandy Clark]

Jadi, dengan jumlah Angkatan Darat Afghanistan sebesar 122.000, akan tidak
mungkin untuk melindungi negara dari ancaman dalam atau luar negeri. Risiko keduanya
sangat jelas. (lihat kolom samping pada halaman 53 dan 54).

Idealnya, tujuan dari setiap militer adalah untuk melindungi perbatasan
internasionalnya. Namun dalam kasus Afghanistan, operasi militer terutama ditujukan
untuk memerangi ancaman dari dalam negeri.

Menurut skenario, Amerika berusaha keras untuk tidak harus menapakkan jejak
sepatu bot mereka. Melainkan, mereka berencana untuk memberikan jaringan intelijen
yang kuat untuk memberi rakyat Afghanistan intelijen teknis yang dapat diandalkan
untuk melawan setiap serangan atas kedaulatan bangsa mereka.

Strategi ini merupakan bagian dari tujuan A.S. untuk mencegah serangan 11
September yang lain di dalam negeri. Hal ini juga menjadi bagian dari komitmen
mereka untuk mencegah Pakistan menggunakan kedalaman fungsi Afghanistan untuk
mengembangkan kembali suatu wilayah terorisme yang strategis sekali lagi. Amerika
Serikat juga akan meninggalkan perlengkapan kontraterorisme handal yang mampu
bertindak dalam intelijen bila rakyat Afghanistan meminta bantuan dalam menghadapi
ancaman.

Polisi Nasional Afghanistan melakukan latihan dalam upacara wisuda di
sebuah pusat pelatihan polisi di provinsi Laghman pada 20 September 2012.
Negara-negara NATO berencana untuk menarik pasukan perangnya secara
besar-besaran pada akhir tahun 2014 setelah penyerahan bertahap kepada Angkatan
Darat dan polisi Afghanistan. [AFP/GETTY IMAGES]

Kemitraan strategis A.S.-Afghanistan telah ditandatangani, tetapi jumlah dan
bentuk pasukan kontraterorisme yang tepat masih belum pasti. Apapun masalahnya,
pasukan itu akan cukup besar dalam menangani setiap ancaman besar yang dapat merusak
kedaulatan Afghanistan. Penetapannya akan didasarkan pada apa yang diinginkan oleh
rakyat Afghanistan dan sumber-sumber daya apa yang akan diberikan oleh Amerika
Serikat.

Ada cukup banyak tekanan dari Pakistan, Iran, dan Timur Tengah yang digunakan
untuk mengurangi kehadiran Amerika. Perhitungan akhir Pasukan akan berupa apa yang
masuk akal bagi Amerika.

Prospek Ekonomi

Peluang finansial tampak benar-benar kurang jelas di Afghanistan. Walaupun
Afghanistan saat ini merupakan sebuah tempat yang sulit secara keuangan dengan gross
domestic product (GDP) atau produk domestik bruto sekitar US$20 miliar, negara ini
dapat mencapai potensinya dengan mengembangkan sumber-sumber dayanya secara cerdas.

Seorang anak lelaki Afghanistan dari Bamiyan menunggu di luar klinik medis
yang didirikan oleh USAID. [MANDY CLARK]

Kekayaan sumber daya mineral Afghanistan, yang diperkirakan sebesar US$1
triliun, dapat mengubah keadaan ekonominya. Kajian detail dari Pentagon A.S.
membantu menentukan kemampuan kekayaan mineral tersebut. Afghanistan dapat menjadi
pusat dunia dalam penyediaan litium, yang terutama digunakan dalam komputer,
demikian pendapat para pakar. Sebagaimana dijelaskan oleh menteri Afghanistan, “Ini
dapat menjadi tulang punggung perekonomian Afghanistan.”

Namun demikian, menjalankan operasi pertambangan dapat menjadi problematik
bagi Afghanistan. Negara ini kurang berpengalaman dalam mengurus kontrak-kontrak,
dan usaha seperti ini rawan korupsi. Pada awalnya, Taliban dan berbagai panglima
perang ingin mengambil alih sumber-sumber daya pertambangan dan meraup laba bagi
mereka sendiri. Meskipun sumber-sumber daya tersebut tetap di bawah pengawasan
pemerintah, negara-negara dan perusahaan-perusahaan lain dapat dengan mudah
mengeksploitasi Afghanistan karena rakyat Afghanistan sendiri tidak berpengalaman
dalam mengembangkan usaha-usaha sumber daya mineral. Selain itu, pendistribusian
laba secara adil kepada rakyat membawa tantangan-tantangan yang menakutkan.

Seorang bocah lelaki berumur 11 tahun bekerja sebagai pedagang buah di
Bamiyan. Ayahnya sakit parah untuk dapat menjajakan jualannya. Stabilitas
ekonomi diperlukan bagi Afghanistan untuk berkembang. [MANDY CLARK]

Jalur pipa Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) juga dapat menjadi
suatu sumber energi dan pendapatan yang penting bagi rakyat Afghanistan. Jalur pipa
ini akan terbentang sepanjang 735 kilometer di wilayah Afghanistan dan menghasilkan
pemasukan pasti sebesar US$400 juta setiap tahunnya. Ini akan menghasilkan 14 juta
standar meter kubik gas setiap hari, yang menjadikan Afghanistan kurang bergantung
kepada Rusia untuk kebutuhan energinya.

Lebih banyak energi juga berarti jalur pipa ini akan membantu menaikkan GDP.
Diperkirakan 12.000 personel keamanan Afghanistan akan ditugaskan untuk mengamankan
pipa saluran ini.

Realitas Politik

Eksistensi dalam dunia politik menentukan segalanya di Afghanistan. Siapa
yang duduk di Kabul dan menunjukkan kemampuan untuk melakukan transaksi dengan
komunitas internasional akan memegang kekuasaan—dan uang. Uang sangat penting di
Afghanistan. Saya ingat ketika berdiri di garis depan antara Taliban dan pasukan
Aliansi Utara di suatu pagi, ketika saya melihat tank-tank berjalan dari arah
Taliban menuju ke arah Aliansi Utara. Dalam waktu 20 menit, tank-tank itu melintasi
garis depan dan kemudian mengarahkan moncong-moncongnya ke Taliban.

Para pedagang dari Tajikistan dan Afghanistan menjual barang-barang mereka
di sebuah pasar mingguan yang digelar sepanjang perbatasan. Stabilitas ekonomi
diperlukan oleh Afghanistan untuk berkembang. [MANDY CLARK]

Sehari sebelumnya, para komandan Aliansi Utara telah menyerahkan ratusan ribu
dolar kepada para komandan Taliban dan membujuk mereka untuk tidak lagi berperang
dengan Taliban. Kehilangan divisi bersenjata mereka merupakan akhir permainan bagi
Taliban. Di hari-hari selanjutnya, Aliansi Utara masuk dan merampas jajaran-jajaran
yang tersisa.

Saat itu yang berperan adalah uang, dan bahkan kini uang memainkan peranan
yang sangat penting di Afghanistan. Selain pertanian, tidak ada yang dapat
menghasilkan pemasukan. Yang dulunya telah hilang dari Afghanistan sekarang kembali:
menanam bunga madat untuk produk-produk opium. Menanam bunga madat telah musnah
karena Taliban secara fisik membakar ladang-ladang dan monopolinya. Sekarang dengan
lengsernya Taliban dan Amerika tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sepele,
pertanian bunga madat tersebut menopang para tuan tanah feudal.

Namun demikian, Afghanistan telah lebih maju dibandingkan dengan waktu
sebelumnya. Terdapat partai-partai politik dan lawan-lawan yang serius: Ada Abdullah
Abdullah, seorang dokter medis dan diplomat kawakan untuk perjuangan pembebasan
Afghanistan dari Taliban, dan ada Ramazan Beshardost, seorang Hazara yang lurus dan
jujur tetapi tidak terkait dengan suku manapun.

entara Angkatan Darat Nasional Afghanistan berpartisipasi dalam pembangunan
dan prosedur pemeliharaan persenjataan dengan Pasukan A.S. di Camp Hero di
provinsi Kandahar pada 10 September 2012. [AFP/GETTY IMAGES]

Masih ada panglima-panglima perang seperti Ahmed Rashid Dostum, Amin Fahim,
dan Gulbuddin Hekmatyar, yang akan tetap menentukan arah pemerintahan di masa depan.

Amerika telah berhadapan dengan semua kelompok ini dan membuat sebagian besar
dari mereka sejalan. Namun, gabungan politik-militer seperti Taliban dan Hekmatyar
akan tetap menjadi masalah besar.

Sebuah laporan terakhir mengatakan bahwa kelompok-kelompok pecahan Taliban
bersedia membiarkan Amerika tetap tinggal asalkan Presiden Hamid Karzai turun.
Sebelumnya, Taliban mengatakan Amerika harus sepenuhnya keluar dari Afghanistan agar
mereka dapat menyatakan gencatan senjata. Sesungguhnya, berunding dengan kelompok
pecahan tidak masuk akal karena Taliban bukanlah kelompok tunggal yang terpadu.
Mullah Omar yang bermata satu memiliki pengikut terbesar, tetapi ada orang-orang
lain yang telah memisahkan diri dari kelompok ini.

Taliban dan Amerika telah mulai berunding namun kurang berhasil. Taliban
menginginkan pembebasan para pejabat kunci mereka dari Guantanamo Bay. Amerika tidak
setuju hal ini menjadi titik awal perundingan. Cepat atau lambat, kedua pihak akan
harus bersikap praktis dalam apa yang mereka ingin capai dan dapat capai.

Amerika menginginkan Taliban datang ke meja perundingan dan setuju dengan
politik pemilu. Taliban ingin melihat Amerika keluar sepenuhnya. Hal ini tidak
dimungkinkan bila Afghanistan yang aman adalah tujuannya.

Dengan Amerika keluar sepenuhnya, hal ini akan meninggalkan terlalu banyak
pemain untuk berebut kendali dari kekosongan ini. Menarik Afghanistan keluar dari
kekacauan berikutnya akan menjadi lebih sulit daripada memulihkan
tantangan-tantangan yang ada saat ini.

Keluar Atau Tidak Keluar

Semua perilaku yang terjadi di Afghanistan tampaknya akan teatp berlanjut
sementara berbagai kelompok kepentingan berusaha mengambil kekuasaan.
Serangan-serangan yang terus terjadi pada pasukan A.S. hanya dimaksudkan untuk
mengirimkan pesan yang kuat kepada Amerika untuk berkemas dan pergi. Namun,
serangan-serangan ini tidak berjalan lama, dan semua kelompok akan menyadari bahwa
mereka tidak akan dapat menakuti koalisi internasional dengan beberapa serangan yang
mematikan.

Penarikan dari Afghanistan dapat berarti meninggalkan ruang yang besar dan
tak terkendali dari mana kumpulan teroris berikutnya dengan kemampuan untuk
menimbulkan bencana yang bahkan lebih besar dari tahun 2001 akan sekali lagi
membangun pimpinan mereka, dan kali ini tidak hanya dua menara saja.

Penarikan ini sesungguhnya bukanlah menjadi suatu pilihan bagi pihak manapun.
Keberhasilan dari penarikan ini akan bergantung pada siapa yang bersedia mengambil
langkah besar untuk mencapai perdamaian dan siapa yang dapat mempertahankan momentum
ini.

Ancaman Dalam Negeri

Taliban (Orde Quetta): Kelompok ini dipimpin oleh Mullah Omar yang bermata
satu, pemimpin Afghanistan sebelum perang 2001, memiliki dukungan dalam dan luar
negeri yang paling besar. Pasukan keamanan Pakistan dipercaya telah mendukung
kelompok ini selama bertahun-tahun sebagai keping tawar menawar untuk sebuah peranan
di Afghanistan setelah Amerika keluar.

Jaringan Haqqani: Kelompok ini yang dipimpin oleh Jalaludin dan Sarajudin
Haqqani adalah peninggalan dari serangan tiba-tiba Amerika ke Afghanistan selama
pendudukan Rusia. Haqqani, yang pernah menjadi tamu Gedung Putih, dikatakan banyak
pihak, saat ini didukung oleh pasukan keamanan Pakistan. Kelompok ini adalah salah
satu kelompok sayap kanan yang bertujuan untuk menimbulkan sebanyak mungkin korban
jiwa di pihak pasukan Amerika. Secara ideologi mereka sejalan dengan al-Qaeda dan
tidak mungkin ikut serta dalam solusi demokrasi apapun.

Hizb-i-Islami Gulbuddin (HIG): Faksi ini terutama mewakili aspirasi Gulbuddin
Hekmatyar sendiri. Ia menurut dugaan menjadi kaya karena uang Amerika; beberapa
pihak memperkirakan ia menerima bantuan Amerika sebesar US$600 juta melalui Pakistan
pada tahun 1980-an dan terutama tergantung kepada Pakistan dan beroperasi dari
Pakistan. Ia telah menjadi perdana menteri Afghanistan pada dua kesempatan dan
kemungkinan akan mencoba kembali berkuasa. Ia menghadapi oposisi dari bekas
pesaingnya, termasuk musuh-musuh bebuyutannya seperti almarhum Komandan Ahmad Shah
Massoud dari Aliansi Utara. Gulbuddin terus mempertahankan milisinya dan melancarkan
serangan-serangan untuk menyatakan eksistensinya.

Kriminal lokal: Kaum preman dan penjahat bermunculan dalam jumlah puluhan
ribu karena tidak adanya pekerjaan di Afghanistan. Setiap orang yang memiliki
senjata dan tidak bekerja melakukan penculikan demi uang tebusan dan mulai
mengumpulkan pajak lokal untuk memberi makan diri sendiri dan para kroninya.
Orang-orang kaya, orang asing, dan warga lokal dan pelancong yang tak berdaya
menjadi suatu sumber pendapatan. Modus operandi ini sudah menjadi kebiasaan sejak
dulu kala di Khyber. Sudah menjadi cara hidup bagi banyak orang.

Korupsi: Ini sudah menjadi masalah besar bagi Afghanistan. Dengan uang yang
telah dipompa ke negara ini, Afghanistan sebenarnya telah bisa direkonstruksi
berulang kali. Para politisi dan birokrat Afghanistan yang korup mengantongi
sebagian besar dari US$300 miliar bantuan Amerika. Banyak yang telah membeli vila
pribadi yang mewah di Dubai, Uni Emirat Arab, tempat perlindungan pajak. Tidak
banyak yang dicapai dengan US$300 miliar yang telah dihabiskan di Afghanistan.
Jalan-jalan berantakan, bahkan di Kabul.

Ancaman Luar Negeri

Pakistan: Salah satu negara yang terkena dampak terparah selama perang
bertahun-tahun ini adalah Pakistan. Negara ini benar-benar terlibat dalam operasi
anti-Rusia dan, selama proses itu, telah berubah menjadi pusat kegiatan militan dan
konsekuensinya terorisme. Banyak rakyat Afghanistan telah memilih tinggal di
Pakistan dan kini tinggal antara Afghanistan dan Pakistan. Hal ini telah menimbulkan
banyak masalah di antara rakyat Afghanistan dan Pakistan. Pakistan juga menggunakan
Afghanistan sebagai kedalaman strategisnya di tahun 1990-an dan telah terbiasa
memperlakukan Afghanistan seperti wilayahnya sendiri. Tetapi sikap semacam itu telah
menjadikan Pakistan sebagai ancaman bagi kedaulatan Afghanistan.

Al-Qaeda: Al-Qaeda yang terutama didanai oleh Arab Saudi telah menjadi
ancaman terbesar bagi dunia. Namun, mereka tidak menikmati perlindungan dari
pemerintah mereka. Dengan akses mudah ke dana-dana minyak, mereka mendanai
operasi-operasi terorisme besar. Walaupun supremasi mereka telah terganggu dengan
tewasnya Osama bin Ladin, mereka terus menjadi pusat otak dari terorisme yang
dilancarkan. Kemampuan mereka telah dimusnahkan melalui tekanan aliran uang, tetapi
mereka akan tetap mengancam eksistensi setiap struktur demokrasi. Mereka memiliki
pengikut yang besar karena mereka telah mendanai kelompok-kelompok selama lebih dari
20 tahun.

Tarik-i-Taliban Pakistan: Kelompok ini terutama lahir dari peralihan
peristiwa-peristiwa tahun 2001 ketika pemerintah Pakistan mengarahkan senjatanya
kepada Taliban, yang pernah didukungnya. Taliban kemudian melarikan diri ke dalam
Wilayah-Wilayah Suku yang Diatur Pemerintah Federal Pakistan dan menciptakan
jaringan ini. Selain memerangi apa yang mereka pandang sebagai hegemoni Kristen dan
Yahudi, mereka berpendapat bahwa mereka dilahirkan untuk membuat suatu uji internal
dalam pemerintah Pakistan dan membawa Pakistan ke jalan Islam yang lebih puritan.
Mereka beroperasi di perbatasan Afghanistan dan, oleh karena itu, menjadi saluran
bagi setiap operasi yang terjadi di antara Afghanistan dan Pakistan dan perlu
dukungan mereka. Hal ini menopang mereka secara finansial, memberi mereka akses
kepada persenjataan dan mengamankan eksistensi mereka dalam operasi-operasi al-Qaeda
yang lebih besar. Mereka telah dituduh bertanggung jawab atas percobaan pengeboman
mobil Times Square 2010 di New York City.

Bagilah Artikel Ini


id, article, email

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 

Terima kasih atas komentar Anda!

Monday, January 14, 2013

Minum Kopi Bersama "Salafi“

Dekat sebuah stasiun pengisian bahan bakar-SPBU di sebuah lokasi di kota Bonn. Ada banyak pria muda dengan baju olahraga santai berdiri di pinggir jalan. Hujan turun rintik-rintik. Ini tempat saya berjanji bertemu dengan dua anggota Salafi yang disebut-sebut sebagai pengkhotbah radikal.

Jam lima sore lewat satu menit, seorang pria menemui saya. ”Ya, kami ini radikal”. Dia tersenyum. Usianya awal dua puluhan, bercukur rapih, setelah jeda sejenak dia menambahkan: ”Kami radikal tepat waktu.” Senyumannya melebar.

Dia tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman. ”Anda harus mengerti tentang hal ini”. Pemahamannya yang ketat tentang Al Quran tidak mengijinkan dia bersalaman dengan seorang perempuan, demikian dia menjelaskan.

Orang muda itu lebih jauh menerangkan, pembicaraan saya dengan kedua pengkhotbah Salafi akan direkam dengan kamera. ”Ini lebih aman untuk kamu, ini lebih aman untuk kami. Tapi kamu tentu tidak wajahmu ingin ikut terekam dalam film ini, atau bagaimana?

Kedua pengkhotbah Salafi ingin penampilan mereka direkam. Mereka menunggu di sebuah Cafe di seberang pompa bensin. Kami lalu pergi ke sana. Musik Turki mengalun dari pengeras suara. Yang lebih tua, Abu Nagie mengaduk kopinya, yang lebih muda, Abu Dujana, bermain dengan iPhone putihnya. Mereka mengucapkan salam dengan ramah dan memanggil pelayan Cafe: ”Tolong bawa satu kopi lagi”.

Mencari Islam yang ”murni”

Juru bicara Dinas Perlindungan Konstitusi, Verfassungsschutz, dari negara bagian Nordrhein Westfalen yang saya temui sebelumnya, menyebut kedua orang itu sebagai „pengkhotbah Salafi yang berbahaya.“

Tapi seorang pakar Islam dari Universitas Osnabrück membantah. Salafi adalah kelompok yang ultraortodoks, tapi apa mereka berbahaya? ”Tidak harus demikian”, kata Elhakam Sukhni. Ia calon doktor di Institut untuk Studi Islam di Osnabrück.

Sukhni menjelaskan, Salafisme adalah aliran Islam yang sangat konservatif, yang mengacu pada masa-masa awal Islam, jadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad dan para wali generasi awal. ”Kelompok Salafi menolak interpretasi dan ajaran yang disebarkan setelah masa-masa awal itu.”

Abu Dujana: “Anda tentu bertanya tentang Syariah.”

”Ini Islam yang sebenarnya”, demikian disebutkan oleh anggota Salafi di Bonn, Ibrahim Abu Nagie. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai seorang muslim biasa. Ia tidak ingin disebut sebagai Salafi. Itu adalah sebutan yang digunakan oleh media dan politik untuk memecah-belah Islam, katanya.

Anggota Salafi yang lain, Abu Dujana menerangkan, memang ada ”kampanye terencana” yang dilakukan media dan politik untuk menyerang Salafi. ”Para penesehat zionis” yang menyarankan pemerintah Jerman melakukan itu, tambah Abu Nagie sambil tersenyum. Dia berasal dari Palestina dan datang ke Jerman pada usia 18 tahun. Di Gaza, katanya, dia bermimpi tentang Jerman: tentang teknik dan disiplin.

”Anda sekarang tentu akan bertanya tentang Syariah”, kata Abu Dujana. Ia mengelus janggut hitamnya, yang terlihat seperti seorang gerilyawan Kuba. Dia pintar, terdidik, dan terdaftar sebagai mahasiswa, tegas Abu Dujana. Tentu saja dia ingin Syariah diberlakukan di Jerman, tapi itu tidak mungkin. Belum mungkin. Dalam sistem Syariah, orang tidak begitu saja dipotong tangannya. Ada peraturan dan ada ahli hukumnya, jelas dia.

Diawasi dengan cermat

Menurut perkiraan Verfassungsschutz, ada sekitar 3800 pengikut Salafisme di Jerman. Jumlahnya terus naik, Tapi dari jumlah ini, hanya sedikit yang setuju dengan aksi kekerasan. Tapi batasan dari salafisme yang berkiprah secara politis dan yang siap melakukan kekerasan tidak jelas. Anggota Verfassungschutz dari Nordrhein-Westfalen menyatakan, mereka mengawasi perkembangan ini dengan cermat dan juga dengan cemas.

Kelompok Salafi yang siap melakukan kekerasan adalah „minoritas di dalam kalangan minoritas“, jelas pengamat Islam Elhakam Sukhni. Dari tiga kelompok yang termasuk Salafi di Jerman, yang mendukung kekerasan hanya sebagian kecil saja. Masih ada kelompok lain, yaitu ultraortodoks.

”Yang perempuan memakai cadar penutup muka, yang lelaki memakai baju panjang”. Menurut Sukhni, kelompok ini jarang tampil ke publik, karena mereka hidup terisolasi seperti dalam sebuah masyarakat paralel. Lalu ada lagi kelompok seperti Abu Nagie dan Abu Dujana. ”Belakangan mereka sangat sering disorot, terutama karena kegiatan ”dakwah” yang mereka lakukan.”

Anggota Salafi membagikan terjemahan Quran bahasa Jerman

Abu Nagia dan Abu Dujana berkenalan di sebuah mesjid di kota Köln. Sejak delapan tahun mereka melakukan ”dakwah”. Mereka menamakannya: undangan menjadi Islam. Ibrahim Abu Nagie menyebut kegiatan itu sebagai ”marketing” atau ”mengasihi sesama manusia”.

Pada awalnya, mereka merekam khotbah-khotbah dan menyebarkannya lewat CD. Lalu mereka mengunggah rekaman itu ke internet. Kemudian mereka melakukan kegiatan membagikan Quran dan melakukan berbagai seminar. Peminatnya juga cukup banyak.

Pengamat Islam Sukhni juga mengamati kecenderungan ini. ”Untuk pertama kalinya khotbah disampaikan dalam bahasa Jerman, dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ini tentu menarik.”

Ibrahim Abu Nagie bercerita tentang pelayanan lewat telpon. Setiap hari banyak anak muda menelpon, sekitar 200 percakapan telpon per hari. Misalnya banyak murid perempuan Muslim yang menelpon dan meminta nasehat karena mereka tidak mau ikut pelajaran renang di sekolah. Abu Nagie mengatakan, ia menasehati para murid agar memberi hadiah Quran kepada kepala sekolah dan selanjutnya bersabar.

Menarik Untuk Orang Muda

Mengapa Salafisme jadi menarik untuk anak muda? Saya mengunjungi salah satu mesjid di kota Bonn untuk mencari jawabnya. Saya menaiki tangga ke mesjid dan menemui seorang gadis anak sekolah. Dia sedang bercakap dengan temannya dan menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan saya.

”Kamu juga sudah masuk Islam?”, dia bertanya. Dia tersenyum lembut. Lantai mesjid dipenuhi dengan sajadah yang tersebar seperti mosaik. Dari jendela yang tidak terisolasi dengan baik masuk udara dingin dan suara bising kendaraan di jalan.

”Insya Allah dia bisa mengenali Islam yang benar,” kata seorang wanita yang lebih tua dalam bahasa Arab sambil menunjuk dengan dagunya ke arah saya. Wanita yang lebih muda mengangguk dan menjawab: ”Insya Allah”. Tubuhnya ditutupi oleh kain hitam, yang membuat dia kelihatan lebih tua. Dia menceritakan bahwa dirinya sama sekali tidak terganggu bahwa banyak orang sering menatapnya dan dia punya banyak masalah di sekolah. Allah akan memberi imbalan untuk semua kesulitan yang dia hadapi, kata anak sekolah itu.

”Terutama remaja antara 15 sampai 20 tahun yang tertarik pada Salafisme”, papar pengamat islam Elhakam Sukhni. Mereka akan bersikeras telah menemukan kebenaran yang absolut. Tentu saja ada kemungkinan, bahwa sebagian kecil dari antara mereka mendukung aksi kekerasan.

”Radikalisasi sendiri lewat internet”, demikian kata Sukhni. Maksudnya adalah anak-anak muda yang mengikuti dengan bersemangat pesan-pesan ekstrimis lewat Youtube, misalnya dari Al Qaida. Abu Nagie dan Abu Dujana mengatakan, mereka tidak menyerukan aksi kekerasan. Orang mungkin hanya bisa menuduh mereka tidak mengambil posisi yang tegas tentang kekerasan.

Masalah Kekerasan

Bentrokan antara Pro NRW dan Salafi di Bonn, 5 Mei 2012

Kedua pengkhotbah Salafi dari Bonn yang bertemu dengan saya di Cafe ini memang tidak memberi pandangan tegas tentang kekerasan. Kalau ada remaja yang tertarik dengan tema kekerasan, mereka tentu akan membahas hal itu dengan para remaja, kata Abu Dujana. ”Ini bukan tema yang tabu”. Tapi seringnya, anak muda yang memang mau melakukan aksi kekerasan tidak akan datang kepada mereka.

Bulan Mei tahun lalu ada kelompok ekstrim kanan yang menamakan diri Pro NRW melakukan aksi di Bonn. Mereka sengaja melakukan provokasi dengan menunjukkan foto karikatur Nabi Muhammad.

Abu Nagie dan Abu Dujana menceritakan, ketika itu mereka berdua berkeliling dari mesjid ke mesjid. ”Saya mengatakan pada orang-orang, jangan pergi keluar. Jangan biarkan kalian diprovokasi.”

Tapi tetap saja banyak anggota Salafi yang kemudian melakukan aksi demonstrasi tandingan di Bonn. Akhirnya terjadi bentrokan dengan polisi. Seorang polisi terluka ditusuk oleh seorang demonstran dan harus dirawat di rumah sakit.

”Tentu saja ada beberaoa pelaku kekerasan”, kata Abu Dujana. Suaranya terdengar kesal. Ia menuturkan, setiap minggu dalam pertandingan sepakbola atau demonstrasi kelompok kiri terjadi juga kekerasan. Tapi kalau menyangkut kelompok Salafi, semua orang langsung mengeritik.

Dia menyatakan tidak mengerti, mengapa politisi tidak mencoba mengajak kelompok Salafi duduk di satu meja, ”berbicara dengan kami”. Tapi Ibrahim Abu Nagie segera menggeleng kepala. Tidak, dia tidak mau bertemu dengan politisi, juga tidak dengan kanselir Angela Merkel. ”Hanya kalau dia masuk Islam.” Orang lain yang ada di Cafe tertawa.

Abu Dujana meletakkan sebuah Quran untuk saya di atas meja. ”Ini untuk Anda, khusus dilaminasi”. Abu Nagie tersenyum: ”Bahwa saya bisa menyampaikan pesan Allah kepada Anda, ini adalah kebahagian terbesar bagi saya”.

Dia lalu menunjuk pada iPhone putihnya: “Dinas pelindung konstitusi – Verfassungsschutz selalu ikut mendengar”, kata dia. Tapi ini tidak mengganggunya. Malah sebaliknya: „Ini betul-betul menyenangkan!“ Dia sering berbicara dengan telpon genggamnya tentang kasih Allah, kata dia. Yang dia maksud tentu para pegawai Verfassungsschutz yang menyadap percakapan telponnya. Dia yakin, beberapa pekerja Verfassungsschutz sudah ada yang masuk Islam.

Abu Nagie bertanya, apa saya tidak mau membawa beberapa kitab Quran dan membagikannya di redaksi saya. Dia masih punya beberapa eksemplar di mobil, yang bisa saya bawa.

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/01/12/17543741/Lanskap.Baru.Politik.2014


Minum Kopi Bersama "Salafi“

Thursday, May 16, 2013

Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Home Tsaqafah



Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak





 

Al-Kindi: “ilmuan Muslim tidak menerima bulat-bulat ilmu asing” (foto: ilustrasi)



 




Jum’at, 17 Mei 2013


Oleh: Edi Kurniawan


BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.


Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.


Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.


Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.


Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.


Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.


Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka  mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)


Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)


Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.


Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.


Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.


Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.


Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)


Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.


Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan  kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).


Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.


Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.


“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).


Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.


Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.


Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.*


Penulis adalah mahasiswa master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi


Red: Cholis Akbar


Article source: http://travel.detik.com/read/2013/01/03/095342/2131901/1308/inilah-5-masjid-bersejarah-di-singapura


Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak