Showing posts sorted by relevance for query perang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perang. Sort by date Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Home Sejarah



Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)





 

ilustrasi: Perang Salib



 




Kamis, 18 April 2013




/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin-top:0in;

mso-para-margin-right:0in;

mso-para-margin-bottom:10.0pt;

mso-para-margin-left:0in;

line-height:115%;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;

mso-bidi-font-family:Arial;

mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


Oleh: Alwi Alatas


SEBAGAIMANA pernah dijelaskan dalam beberapa rtikel sebelumnya, kaum Muslimin mengalami kekalahan yang menyakitkan pada masa Perang Salib I (1096-1099). Salah satu penyebab utamanya adalah karena perpecahan di dalam tubuh kaum Muslimin. Perpecahan itu terjadi di banyak lini. Para ulama berpecah belah disebabkan perbedaan mazhab, sebagaimana diterangkan secara detail dalam buku Misteri Masa Kelam Umat Islam. Para penguasa pun berpecah belah hebat. Para emir berusaha mempertahankan kekuasaan masing-masing dan merasa enggan untuk menyatukan langkah dalam membangun peradaban dan melayani masyarakat. Dalam situasi seperti inilah Pasukan Salib datang ke Suriah dan Palestina dan menaklukkan sebagian wilayah itu, termasuk al-Quds.


Setelah Pasukan Salib berhasil menguasai al-Quds dan beberapa wilayah Muslim lainnya, para pemimpin Muslim di wilayah itu masih tetap bermusuhan satu sama lain. Bahkan ada di antara mereka yang bekerja sama dengan orang-orang Frank (Pasukan Salib) dalam menghadapi saudara Muslimnya. Sementara pada saat yang sama, orang-orang Frank cenderung bersatu, terutama saat berhadapan dengan kekuatan Islam. Hal ini menyebabkan orang-orang Frank itu berhasil menguasai sebagian wilayah Suriah-Palestina untuk waktu yang cukup lama.


Angin Perubahan


Keadaan ini mulai berubah pada saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada masa ini, kaum Muslimin mulai berusaha menyatukan langkah mereka dan bekerja sama, sementara kekuatan salib justru mulai mengalami perpecahan. Rupanya para ulama dan pemimpin Islam di wilayah ini pada akhirnya mampu merespons tantangan yang mereka hadapi dengan baik. Dan ketika kaum Muslimin mulai menyatukan shaf, Allah menjadikan keadaan musuh justru berkebalikan dari itu. Situasi ini kemudian membawa kaum Muslimin pada kemenangan-kemenangan yang besar dalam menghadapi kekuatan salib, sehingga mereka berhasil membebaskan al-Quds 40 tahun kemudian.


Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kota Edessa (al-Ruha) ke tangan kaum Muslimin pada tahun 1144. Ketika itu yang memimpin penaklukkan Edessa adalah Imaduddin Zanki (1085-1146), pemimpin terkuat di Suriah ketika itu. Imaduddin Zanki mati terbunuh 2 tahun kemudian. Posisinya di Suriah digantikan oleh anaknya, Nuruddin Mahmud bin Zanki (1118-1174), seorang sultan yang soleh yang nantinya memberi perubahan besar di Suriah dan sekitarnya.


Jatuhnya Edessa menimbulkan kemarahan Eropa. Paus kemudian menyerukan dilakukannya Perang Salib II. Maka digalanglah kekuatan dan dihimpunlah pasukan dalam jumlah besar untuk berangkat ke Suriah dalam rangka membalas kekalahan di Edessa. Pasukan Salib II lebih banyak dan lebih hebat dibandingkan pasukan pada Perang Salib I. Pada Perang Salib I tidak ada raja yang menyertainya, hanya ada pangeran. Namun pada Perang Salib II ada dua raja yang memimpin pasukan, yaitu Raja Conrad III (1093-1152) dari Jerman dan Raja Louis VII (1120-1180) dari Perancis. Walaupun pasukan yang berangkat ini lebih dahsyat, tapi situasi yang mereka hadapi tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya.


Dalam Perang Salib II ini Pasukan Salib mengalami beberapa perpecahan. Perpecahan itu tidak dalam bentuk konflik terbuka, tetapi dampaknya sangat serius.


Berikut ini perpecahan-perpecahan yang terjadi di kubu Pasukan Salib.


1. Perpecahan orang-orang Frank dengan Byzantium



Pada Perang Salib I, orang-orang Frank (Eropa Barat) bekerja sama dengan Byzantium (Eropa Timur) dalam serangan ke wilayah Muslim. Di antara kedua pihak ini memang menyimpan perasaan saling tidak suka antara lain karena perbedaan keyakinan di antara mereka, yang satu Katholik dan yang lainnya Kristen Orthodoks. Namun, mereka berusaha menjaga hubungan demi menghadapi musuh yang sama, yaitu kaum Muslimin. Pada Perang Salib I, pihak Byzantium-lah yang mengundang orang-orang Frank untuk membantu mereka masuk ke Asia Minor (kini Turki) dan Suriah. Namun, pada akhirnya ketegangan di antara kedua belah pihak ini semakin sulit untuk didamaikan, terutama pada masa-masa selepas Perang Salib I.


Pada Perang Salib II, Kaisar Byzantium sama sekali tidak mengharapkan datangnya gelombang Pasukan Salib yang baru. Ia belajar dari pengalaman kaisar sebelumnya bahwa kehadiran orang-orang Frank di Suriah-Palestina hanya menimbulkan masalah baru bagi mereka.


Byzantium memang membantu menyeberangkan orang-orang Frank pada Perang Salib II dari Konstantinopel ke wilayah Asia Minor. Namun, belakangan diduga Kaisar Byzantium secara diam-diam telah memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di Asia Minor tentang perjalanan Pasukan Salib ini. Keadaan berikutnya memang sangat tidak menguntungkan bagi Pasukan Salib. Mereka menjadi bulan-bulanan pasukan Turki Saljuk, sehingga pada saat mereka berhasil tiba di Antioch (Antakya) yang terletak di perbatasan Suriah dan Asia Minor, jumlah pasukan mereka sudah menyusut jauh.


2. Perpecahan orang-orang Frank di Utara (Antioch-Edessa) dan Selatan (Palestina)



Pada masa Perang Salib II ini juga mulai terjadi perpecahan di antara para pemimpin Frank yang berada di Utara dan Selatan Kerajaan Latin, kerajaan yang mereka tubuhkan setelah penaklukkan al-Quds. Para pemimpin Frank di Utara, dalam hal ini Antioch dan sisa-sisa wilayah Edessa, ingin agar Pasukan Salib yang baru datang ke Suriah membantu mereka merebut kembali Edessa dan menghadapi pasukan Nuruddin Zanki yang merupakan kekuatan Muslim paling menonjol di Suriah. Namun, para pemimpin Frank di Selatan justru berkeinginan untuk menaklukkan Damaskus. Itulah sebabnya, ketika akhirnya sikap terakhir inilah yang diambil, para pemimpin Frank di Utara tidak mau ikut berpartisipasi.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib


 


Red: Cholis Akbar


Article source: http://bandung.detik.com/read/2013/01/05/190200/2134118/486/reni-tewas-terlindas-truk-akibat-nekat-masuk-jalur-cepat


Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Friday, December 21, 2012

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Home Sejarah


Perang Salib

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)


 

Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki


Jum’at, 21 Desember 2012

Oleh: Alwi Alatas

Kekalahan yang diikuti dengan kemenangan pada peristiwa Perang Salib

Bagaimanapun, bukan hanya kemenangan yang bisa berakhir dengan kekalahan. Kekalahan juga bisa disikapi dan dikelola dengan baik sehingga akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib I dimulai dengan seruan Paus Urbanus II pada sidang gereja di Clermont, Prancis. Seruan ini pada asalnya merupakan tanggapan positif gereja Katholik atas permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi pasukan-pasukan Turki Saljuk yang mengganggu wilayahnya. Namun isu ini kemudian dikembangkan dan diarahkan oleh Paus untuk merebut kota al-Quds atau Yerusalem. Paus tentu mempunyai pertimbangan pribadi saat menyampaikan seruannya. Gereja Katholik ketika itu sedang banyak masalah: perselisihan gereja dengan kaisar Jerman (Holy Roman Empire), adanya paus tandingan (anti-pope), perpecahan Katholik dengan Kristen Orthodoks yang berpusat di Byzantium, ditambah lagi dengan berbagai masalah sosial di Prancis dan beberapa negara Eropa Barat lainnya. Penguasaan Yerusalem, yang mereka yakini sebagai tempat disalibnya Yesus tentu akan menjadi prestasi yang menonjol dan meningkatkan pengaruh gereja Katholik di Eropa (Paine, 2005: 32).

Orang-orang yang hadir menyambut seruan Paus itu dengan penuh semangat. Sepanjang khutbah Paus Urbanus II mereka berseru, ”Deus Vult! Deus Vult! (Tuhan menghendakinya! Tuhan menghendakinya!) (Cole, 1991: 1-2). Setelah itu, beberapa pendeta mengkhususkan diri untuk menyebarluaskan seruan Paus kepada masyarakat. Manusia kemudian berbondong-bondong datang untuk menyertai Perang Salib yang pertama (1095-1099). Kata Edward Gibbon, seorang Sejarawan Inggris abad ke-18, khutbah Paus itu telah ”menyentuh syaraf perasaan (Eropa) yang paling halus” dan mendorong mereka untuk menyambutnya dengan penuh semangat. 

Terjadinya pasukan Salib I bertepatan dengan keadaan kekhalifahan Abbasiyah yang sedang mengalami perpecahan. Pemerintahan di kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dipimpin oleh orang-orang Turki Saljuk. Ketika pemimpin tertingginya meninggal dunia pada tahun 1092, keadaan menjadi tidak stabil dan para emir saling memperebutkan wilayah dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Perpecahan ini membuka jalan bagi pasukan Salib untuk masuk ke wilayah Muslim di Asia Minor, Suriah dan Palestina dan menguasai beberapa kota. Kota Nicaea (Iznik) jatuh pada tahun 1097, Antioch (Antakya) pada tahun 1098, dan Yerusalem (al-Quds) pada tahun 1099. Beberapa kota Muslim lainnya juga jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun-tahun tersebut. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kekuatan di dunia Islam yang mampu membebaskan kota-kota tersebut dan menghadapi pasukan Salib secara efektif.

Kaum Muslimin mengalami kekalahan yang telak. Kekalahan itu bukan disebabkan oleh musuh yang sangat hebat, tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan yang menimpa kaum Muslimin. Mereka terkena penyakit cinta dunia dan jatuh dalam perpecahan dan permusuhan di antara sesama mereka. ”Para penguasa semuanya dalam keadaan berselisih …,” kata Ibn al-Athir (2006: 22), ”dan demikianlah orang-orang Frank menaklukkan negeri-negeri (Muslim).” Dr. Majid Irsan al-Kilani (2007: 49) memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemunduran dan kelemahan kaum Muslimin pada masa itu, termasuk para ulamanya:

“Mereka menjalani rutinitas harian tanpa arahan yang benar, standar nilai Islam lenyap dari panggung kehidupan nyata, sedangkan nafsu dan syahwat merajalela. Pengaruh-pengaruh negatif terasa begitu kental dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran. Bidang-bidang tersebut hancur, fundamen internal masyarakat rapuh dan daya tahannya lemah serta rentan terhadap segala macam krisis dan keterpurukan.”

Keadaan ini menyebabkan mereka kalah, walaupun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak dibandingkan musuh dan peradaban mereka jauh lebih maju. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung terus menerus. Belakangan ada beberapa ulama yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan ummat. Mereka memahami bahwa semua kekalahan itu adalah disebabkan oleh masalah internal kaum Muslimin. Maka mereka pun berusaha memperbaiki kondisi internal kaum Muslimin, khususnya memperbaiki barisan ulamanya agar menjadi ulama yang lurus dan mampu menerangi ummat (Al-Kilani, 2007).

Kemudian muncul juga seorang peminpin yang shaleh di Suriah, yaitu Nuruddin Zanki, sehingga semakin menyempurnakan perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Salib. Nuruddin Zanki menjadi sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1146, hampir bersamaan dengan terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada Perang Salib II inilah mulai terlihat perubahan signifikan di dunia Islam, dan juga di kalangan orang-orang Frank (Prancis) dan Kristen pada umumnya. Dalam menghadapi gelombang kedatangan pasukan Salib yang baru ini, para pemimpin Muslim di Suriah mulai berupaya untuk menjalin kerja sama. Ketika pasukan Salib menjadikan Damaskus sebagai target serangan, emir Damaskus mengirim surat permintaan bantuan kepada Nuruddin Zanki di Aleppo dan kakaknya yang memerintah di Mosul. Keduanya segera menyambut permintaan bantuan itu.

Sebaliknya, orang-orang Kristen justru mulai mengalami perpecahan. Kaisar Byzantium mengijinkan pasukan Prancis dan Jerman melewati wilayahnya dan memfasilitasi mereka untuk menyeberang ke Asia Minor, tetapi tampaknya diam-diam memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di wilayah itu untuk menghadang pasukan dari Prancis dan Jerman ini. Orang-orang Eropa yang baru datang itu juga belakangan mengalami perselisihan dengan orang-orang Frank yang telah lama berada di Palestina. Semua itu menyebabkan pasukan Salib mengalami kekalahan dan pasukan Salib II itu terpaksa kembali ke negerinya masing-masing dengan tangan hampa (Alatas, 2012: 286-292). Steven Runciman (1987: 288), seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah Perang Salib mengomentari Perang Salib II dengan kata-kata berikut:

”Tidak ada usaha (enterprise) abad pertengahan yang dimulai dengan harapan yang begitu baiknya. Direncanakan oleh Paus, dikhotbahkan dan diinspirasikan oleh Santo Bernard, dan dipimpin oleh dua raja utama Eropa Barat, ia menjanjikan begitu banyak kejayaan dan keselamatan bagi dunia Kristen. Namun ketika ia sampai pada akhir yang begitu memalukan berupa penarikan pasukan dari Damaskus, semua yang berhasil dicapainya adalah memperburuk hubungan antara orang-orang Kristen di (Eropa) Barat dan orang-orang Byzantium hingga ke titik yang paling serius, menaburkan kecurigaan di antara tentara-tentara Salib yang baru datang dengan orang-orang Frank yang menetap di Suriah, memisahkan para bangsawan Frank di antara sesama mereka, menarik kaum Muslimin untuk saling mendekat dan bersatu, dan menghancurkan reputasi orang-orang Frank dalam hal kecakapan militer.”

Pada perang-perang Salib berikutnya kaum Muslimin juga mampu menahan serangan pasukan Salib. Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki yang meninggal dunia pada tahun 1174 berhasil membebaskan al-Quds. Pasukan Salib tidak pernah lagi mampu merebut kota al-Quds sejak saat itu. 

Kaum Muslimin memang kalah pada Perang Salib I. Tetapi para ulama dan pemimpinnya dapat merespon kekalahan itu dengan baik dan berjuang untuk mengubah keadaan internal kaum Muslimin sehingga mereka akhirnya mampu menghadapi lawan dan membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah.

Kaum Muslimin pada hari ini juga sedang mengalami kekalahan. Mereka telah dikalahkan sejak lama. Mampukah para ulama dan pemimpinnya untuk bangkit memperbaiki ummat sehingga suatu saat nanti mereka dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan? Semoga saja.*/Jakarta, 3 Safar 1434/ 17 Desember 2012 

Daftar Pustaka

Alatas, Alwi. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim. 2012.

Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh, part 1, The 

Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim Response (terjemahan oleh  D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.

Gibbon, Edward. History of the Decline And Fall of the Roman Empire, vol. 5. e-text edition by David Reed.

Al-Kilani, Dr. Majid ‘Irsan. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (terjemahan dari Hakadza Zhahara Jil Salah al-Din wa Hakadza ‘Adat al-Quds). Bekasi: Kalam Aulia Mediatama. 2007.

Al-Maqqari, Ahmed ibn Muhammed. 1984. The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, extracted from the Nafhu-t-Tib min Ghosni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-din Ibni-l-Khattib, vol. I II, translated and ilustrated with critical notes by Pascual de Gayangos. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delhi.

Paine, Michael. The Crusades. Harpenden: Pocket Essentials. 2005.

Runciman, Steven. A History of the Crusades, 2: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge: Cambridge University Press. 1987.

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26448/21/12/2012/penyesatan-opini-paham-pembela-kebathilan.html


Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Saturday, October 19, 2013

Menilai tragedi di tanah Arab

HAMPIR setiap hari sejak beberapa tahun lalu, kita akan melihat dan mendengar berita sedih tentang konflik di Syria dan Mesir. Apa yang berlaku di kedua-dua buah negara ada kaitannya dengan beberapa peristiwa penting sebelum ini khususnya 40 tahun dahulu. Pada 6 Oktober 2013, genaplah 40 tahun terjadinya Perang Arab-Israel 1973 (PAI 73) atau Perang Ramadan atau juga dikenali sebagai Perang Yom Kippur. Perang tersebut bermula dalam bulan Ramadan dan hari yang sama adalah Hari Yom Kippur iaitu hari mulia kaum Yahudi ketika mereka sedang bercuti meraikannya.


Rencana ini bukanlah bertujuan untuk membincangkan strategi ketenteraan semata-mata, namun sebagai perkongsian maklumat sejarah kepada generasi muda mengenai kekacauan di rantau Arab yang tidak berkesudahan sehingga ke hari ini. Berlakunya PAI 73 adalah rentetan daripada Perang Arab Israel Ke-3 pada tahun 1967 yang mana Israel telah merampas Gaza, Bukit Golan, Tebing Barat (Baitulmaqdis) dan Semenanjung Sinai daripada negara-negara Islam. Presiden Mesir ketika PAI 73 ialah Anwar Sadat, Syria dipimpin oleh Hafez Assad dan Perdana Menteri Israel adalah Puan Golda Meir.


Manakala Menteri Pertahanan Israel yang hampir-hampir dimalukan ketika PAI 73 adalah Moshe Dayan yang juga digelar “si mata satu”. Banyak buku dan sumber mengenai perang ini ditulis oleh sarjana Barat yang cenderung untuk memperlihatkan tentera Islam lemah, tidak bersatu dan mudah dikalahkan. Adakah dahulu negara-negara Arab semuanya lemah? Atau hanya mainan persepsi Barat seperti apa yang berlaku hari ini.


Pada petang bulan Ramadan 6 Oktober 1973, Tentera Udara Mesir mula membuat serangan udara diikuti serangan meriam artileri darat bertalu-talu dari seberang Terusan Suez ke arah Semenanjung Sinai yang ditakluki Israel. Setelah 15 minit, barulah askar infantri dan komando Mesir menyeberangi Terusan Suez dengan diiringi laungan takbir oleh beberapa askar yang membawa pembesar suara. Mesir mempunyai kekuatan kereta kebal sebanyak 2,200 buah, Syria 1,650 buah dan Israel 2,100 buah. Imbangan pesawat pejuang pula didahului oleh Mesir sebanyak 400 buah, Israel 359 buah dan Syria 280 buah.


Antara negara-negara Islam yang serius membantu Mesir berperang ialah Iraq, Tunisia dan Libya. Iraq menghantar satu skuadron jet pejuang Hawker Hunter buatan British khusus untuk memusnahkan kereta-kereta kebal Israel. Tunisia menempatkan 900 askar infantrinya bagi mempertahankan Port Said dan Libya sejak sebelum PAI 73 meletus lagi membantu pertahanan Mesir dengan kekuatan satu briged kereta kebal dan dua skuadron jet pejuang Mirage V buatan Perancis. Iraq turut membantu Syria dalam perang ini dengan menghantar 30 ribu tentera darat yang dilengkapi 500 buah kereta kebal dan 700 buah kenderaan berperisai.


Senjata rahsia


James R. Schlesinger, Setiausaha Pertahanan A.S. ketika itu mengakui perancangan teliti dan strategi cemerlang Mesir serta Syria. Cuba kita renungkan apakah nasib negara-negara yang membantu Mesir dan Syria (40 tahun dahulu) iaitu Iraq, Tunisia dan Libya selepas berlakunya Arab Spring? Adakah dendam lama ini berkaitan dengan pihak-pihak tertentu yang menghasut rakyat negara-negara tersebut sebelum Mesir dan Syria pula hendak dihancurkan?


Setelah diserang secara mengejut dan bertubi-tubi oleh Mesir dan Syria, Israel pada 9 Oktober 1973 mengugut AS bahawa mereka akan menggunakan senjata rahsia simpanan Israel iaitu bom nuklear, jika tidak menerima bantuan ketenteraan daripada negara Uncle Sam itu. Presiden Nixon yang bimbang akan campur tangan Kesatuan Soviet di rantau Arab akhirnya melancarkan Operasi Nickel Grass untuk menghantar beberapa buah kereta kebal, pesawat pejuang dan lain-lain peralatan pertahanan kepada Israel.


Selain bantuan kelengkapan serta peluru berpandu, AS turut menerbangkan pesawat pengintip strategik jarak jauhnya, SR-71 bagi memantau pergerakan tentera darat dan udara Mesir. Hasil daripada bantuan A.S. inilah Israel pada 14 Oktober 1973 telah berjaya menyusup masuk ke Mesir dengan menyeberangi Terusan Suez menuju ke Kaherah. Henry Kissinger, Setiausaha Luar AS turut mencadangkan kepada Israel agar mara menyerang ibu kota Syria, Damascus. Mungkinkah sejarah akan berulang kembali? Persoalannya sama ada Israel atau AS sendiri yang akan mengebom Damascus.


Selain daripada AS, Israel turut mendapat bantuan daripada salah seorang pemimpin Arab iaitu Raja Hussein, pemerintah Jordan. Berdasarkan buku tulisan Abraham Rabinovich bertajuk The Yom Kippur War: The Epic Encounter That Transformed The Middle East, beberapa hari sebelum bermulanya PAI 73, Raja Hussein telah menaiki helikopter Tentera Udara Diraja Jordan bertemu dengan Golda Meir, Perdana Menteri Isreal di Tel Aviv. Beliau telah memberitahu Meir mengenai serangan yang bakal dilaksanakan oleh Syria dan Mesir.


Buku itu turut menyatakan Raja Hussein tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuan jeneral-jeneral Syria dan Mesir yang sebangsa dengan beliau untuk berperang menentang Israel. Walaupun Raja Hussein menghantar tenteranya membantu Syria, namun ia bukanlah bantuan yang serius. Sedangkan Jordan berkongsi sempadan yang panjang dengan Israel selain telah melepaskan Tebing Barat dan Baitulmaqdis yang menjadi milik Jordan sebelum perang tahun 1967. Jika Jordan menyertai PAI 73 secara bersungguh-sungguh, mungkin situasi di Asia Barat akan menjadi berbeza kini.


Setelah melihat AS gigih membantu Israel menentang Mesir dan Syria, Kolonel Muammar Gadafi, Presiden Libya telah memberhentikan sepenuhnya eksport minyak kepada AS pada 19 Oktober 1973. Sehari berikutnya Arab Saudi di bawah naungan Raja Faisal, Kuwait, Qatar, Bahrain dan beberapa negara Arab lain turut mengikut jejak langkah Libya.


Ketika itu mereka bersatu menentang musuh yang sama. Menurut Edgar O’ Ballance, seorang pengkaji pertahanan warganegara United Kingdom, ketika PAI 73, Israel hampir-hampir tidak mendapat sebarang bekalan minyak daripada laut akibat disekat oleh Tentera Laut Mesir. Sekatan minyak dari laut ini benar-benar mengajar Israel tentang perlunya penguasaan bekalan minyak untuk jangka masa panjang. Ia juga ada kaitannya dengan harga minyak dunia kini.


Pengajaran


Namun secara senyap-senyap Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi tetap menjual minyak kepada Israel sejak sebelum PAI 73 lagi. AS dan kuasa-kuasa besar dunia lain telah mengambil pengajaran atas apa yang berlaku selepas PAI 73 untuk menguasai dan mengawal pasaran minyak dunia. Negara-negara pengeluar minyak utama seperti Iraq menjadi tumpuan untuk dikuasai secara halus atau melalui peperangan. Sebab itu Iraq tetap diserang pada Mac 2003 walaupun tidak mendapat sokongan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).


Selepas beberapa kali berunding, akhirnya Mesir dan Israel menandatangani perjanjian damai pada 17 September 1978. Perjanjian itu dipanggil Perjanjian Kem David atas inisiatif Presiden AS, Jimmy Carter. Sejak sebelum PAI 73 sehingga hari ini, Syria diketahui tidak pernah menandatangani apa-apa perjanjian rasmi dengan Israel. Anwar Sadat, Raja Faisal (Arab Saudi) dan Muammar Gadafi kesemuanya mati dibunuh oleh bangsa mereka sendiri.


Syria sejak dari dahulu sehingga kini mengekalkan hubungan baik dengan Rusia dan menggunakan pelbagai senjata buatan negara bekas empayar komunis tersebut. Berbanding tentera Mesir sebelum PAI 73 yang menggunakan kelengkapan ketenteraan Rusia, mereka telah beralih arah kepada AS selepas PAI 73 sehingga kini.


Jika dahulu Tentera Mesir dan tentera Syria melaungkan takbir ketika berperang menentang perampas tanah mereka, kini mereka bertakbir sambil berbunuhan sesama bangsa sendiri. Anasir asing tidak memerlukan kereta kebal atau jet pejuang untuk memusnahkan Mesir dan Syria. Apa yang perlu hanyalah demonstrasi jalanan, rusuhan, penyebaran hasutan dalam Internet, kebebasan bersuara tanpa had, kebencian terhadap sesama bangsa, ketaksuban kepada pemimpin tertentu dan undangan kepada pihak luar untuk menyelesaikan masalah dalaman negara.


Apakah umat Islam di Malaysia masih tidak mengambil pengajaran atas apa yang berlaku di Mesir dan Syria?



Article source: http://www.tribunnews.com/internasional/2013/10/19/penghina-islam-itu-kini-naik-haji


Menilai tragedi di tanah Arab

Friday, June 7, 2013

Tokoh partai Islam Bangladesh dihukum mati

Delwar Hossain Sayedee

Delwar Hossain Sayedee menjabat sebagai wakil presiden partai Jamaat-e-Islami.


Pengadilan khusus di Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pemimpin partai Islam Delwar Hossain Sayedee atas kejahatan perang selama perang kemerdekaan.


Sayedee, 73, dinyatakan bersalah atas dakwaan pembunuhan massal, pemerkosaan, pembakaran, penjarahan dan pemaksaan pemeluk Hindu masuk agama Islam dalam perang kemerdakaan pada 1971.


Perang tersebut dilancarkan dalam upaya merdeka dari Pakistan.


Vonis terhadap wakil presiden partai Jamaat-e-Islami atau Jamaat itu dibacakan oleh hakim pengadilan khusus Fazle Kabir di Dhaka pada Kamis (28/02).


Tim pengacara terdakwa memboikot sidang pembacaan vonis dan mereka sejauh ini belum memberikan komentar.


Sebelumnya mereka menolak dakwaan jaksa dan menegaskan dakwaan terhadap kliennya bermotif politik.


Demonstrasi


Demonstrasi di Bangladesh

Demonstrasi digelar untuk menuntut agar Sayedee diganjar hukuman mati.


Jamaat-e-Islami menyerukan mogok nasional hari ini untuk mengantisipasi vonis dan sekaligus mengecam sidang. Seruan mogok juga dikeluarkan untuk menuntut pembebasan Delwar Hossain Sayedee.


Namun para wartawan mengatakan seruan mogok tersebut tidak terlalu diiindahkan warga. Selama berminggu-minggu para penentang Sayedee menggelar demonstrasi di ibukota untuk menuntut agar ia dihukum mati.


Delwar Hossain Sayedee adalah orang paling senior yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan kejahatan perang ini.


Sebelumnya salah seorang tokoh dari partai yang sama,
Klik


Abdul Khader Mullah didakwa melakukan kejahatan perang dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.


Perdana Menteri Sheikh Hasina membentuk pengadilan khusus pada 2010 untuk menangani pelanggaran selama perang yang menewaskan sekitar tiga juta orang.


Beberapa kelompok hak asasi manusia mengkritik pengadilan ini karena dinilai gagal memenuhi standar internasional.


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/microsofts-bing-adds-yelp-to-power-local-search


Tokoh partai Islam Bangladesh dihukum mati

Wednesday, March 27, 2013

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Home Gazw Al-Fikr

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”


 

Pembaca ajar dan Syiah di Sampang Tajul Muluk saat di pengadilan


Kamis, 28 Maret 2013

Oleh: Kholili Hasib

POLEMIK Ahlus Sunnah-Syiah tentang kesesatan Syiah di harian Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul “Kesesatan Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” ditulis oleh Babul Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.

Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013.  Bahasa yang ditulis dalam buku tersebut cenderung  tidak memakai etika serta adab terhadap tokoh dan institusi terhormat.

Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung dalam MUI Sampang dan Jatim”.

Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan  bahwa MUI Jawa Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar virus kebencian antarsesama umat Islam.

Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.

Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok kesesatannya terbuka.

Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim menulis tujuh butir.

Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.

Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif”.

Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Tajul dihukum dua tahun penjara.

Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan, umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan terhadap umat.

Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat. Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik Syiah.

Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh Dimasyqa yang berbunyi:

لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي

“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali adalah wahiku dan pewarisku”.

Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat Lu’lu’ al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid I hal. 368). Begitupula imam al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.

Hadits berikutnya berbunyi:

أنت مني بمنزلة هارون من موسى

“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap jamaah Ahlus Sunnah. Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits Sunni.

Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ (mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.

Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.

Tidak ada term yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.

Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang Badar.

Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum, Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.

Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran yang berbeda” (hal. 22).

Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama. Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.

Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi  juz I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 23 hal. 390).

Dua hadits di atas  dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan ini dapat pula disebut tanawwu’  (variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’ Shirat al-Mustaqim,124).

Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari, bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits tersebut berbunyi:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy) akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.” (HR. Bukhari).(hal. 34).

BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”.  Menurut BU, MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).

Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya, BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.

Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab Fath al-Bari 13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:

قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين

Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak pernah menolong kepentingan Islam.”
Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.

BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Bari syarah kitab al-Bukhari. Inilah yang disebut Kalimatun haq urida biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).

Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).

Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci mencaci sahabat.  Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa al-khanazir).

Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya. Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*

Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/16/m2ksfo-astaghfirullah-masjid-tua-di-yunani-dibakar


Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Wednesday, March 6, 2013

Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Selasa, 5 Maret 2013 19:46
Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Digalang tanda tangan ribuan warga menyatakan perang terhadap narkotika di Rohil. Uniknya, 15 tersangka narkotika menjadi yang pertama membubuhkan teken.

Riauterkini-UJUNGTANJUNG-Kabupaten Rokan Hilir menyatakan perang
terhadap narkoba. Genderang itu ditandai upacara komitmen bersama anti
narkoba, dilanjutkan membubuhkan tandatangan seluruh peserta upaca
dalam spanduk, dimulai perwakilan 15 tersangka narkoba.

Upacara digelar di halaman Mapolres Rohil, Senin (5/3/13),
inpspektur upacara Ketua BNK Rohil Suyatno, diawali komitmen bersama
dari tokoh masyarakat dari sejumlah agama yang disumpah masing-masing
rohaniawan (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan
Budha).

Dalam amanatnya, Suyatno mengatakan, kasus narkoba di Rohil
mengalami peningkatan dari tahun ketahun, 2011 tercatat 53 kasus,
tahun 2012, 81 kasus, terjadi kenaikan 28 kasus atau 34,57 persen.
Untuk tahun 2013 ini katanya, dari bulan Januari-Februari, sudah
terjadi 43 kasus.

Bahkan dari 43 kasus tersebut, bulan Februari lalu, 9-28
Februari 2013, hasil operasi antik Polres Rohil, berhasil mengungkap
21 kasus dengan 27 tersangka.

Rohil katanya berbatasan langsung dengan negara tetangga
memiliki kerawanan tinggi dalam masuknya peredaran narkoba ke wilayah
Indonesia, terbukti dari beberapa kasus menonjol yang telah diungkap
menunjukkan, sebagian besar narkoba tersebut dibawa dari negara
tetangga masuk melalui pelabuhan/perairan yang terdapat di Rohil.

Usai upacara, dilakukan pembubuhan tandatangan bersama elemen
masyarakat dalam sebuah spanduk besar, didahului 15 orang perwakilan
tersangka narkoba memakai sebo.

Sementara itu, Kapolres Rohil AKBP Tonny Hermawan, R, S.Ik
mengatakan komitmen ini terinspirasi karena Rohil salah satu daerah
yang rawan peredaran dan penyeludupan narkoba.

“Kita merangkul BNK berserta seluruh elemen masyarakat,
supaya kita bekerjasama mendukung untuk pencegahan dan pemberantasan
narkoba diwilayah Kabupaten Rohil,” komitmennya.

Aparat dan masyarakat itu katnaya ibaratnya dua sisi mata
uang, yang tidak bisa dipisahkan. “Kalau salah satu sisi hilang, itu
tidak bernilai. Tujuan kita pemberantasan narkoba, artinya aparat dan
masyarakat ini harus bergabung, harus bekerjasama untuk memberantas
narkoba khususnya Kabupaten Rokan Hilir,” tekadnya.

Karena Rokan Hilir katanya terindikasi menjadi daerah yang
cukup rawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba.***(nop)


Beri
tanggapan
| Baca
tanggapan

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/07/diego-michiels-makin-tertarik-islam-saat-datang-ke-indonesia


Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Tuesday, July 2, 2013

Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

KETIKA era komunisme melanda kebanyakan negara di dunia pada awal abad lalu sehingga pertengahan abad ke-20, semacam ada gerakan tersusun untuk menjatuhkan ideologi itu dengan pelbagai penentangan, sehingga ketakutan kepada ideologi komunisme dilabelkan dengan pelbagai gelaran dan propaganda.


Yang menariknya pula, semua propaganda itu didalangi oleh Amerika Syarikat (AS) dan disokong oleh negara-negara Barat.


Ketakutan terhadap ideologi komunisme telah membawa kepada beberapa perang besar di dunia termasuk perang Vietnam, perang di semenanjung Korea, penaklukan Afghanistan oleh Moscow semasa era Kesatuan Soviet, konfrantasi di Eropah timur, konfrantasi antara Jerman Timur dan Jerman Barat dan perang dingin antara AS dan Kesatuan Soviet.


Dalam semua konfrontasi itu, kemenangan Vietkong di Vietnam paling dramatik apabila ideologi komunis berjaya mengatasi kuasa demokrasi barat tajaan AS di bumi Vietnam, bagaimanapun komunis di bawah Kesatuan Soviet kecundang di Afghanistan apabila Taliban berjaya mengusir Moscow dari bumi Afghanistan dengan bantuan China, AS dan sekutunya.


Begitulah sengitnya konfrontasi merentasi ideologi komunisme dan sistem demokrasi yang berlaku pada pertengahan abad lalu hingga dekad 80-an, termasuk menyaksikan kejatuhan Kesatuan Soviet, selain menyaksikan penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur dan robohnya Tembok Berlin serta memperlihatan kemenangan kuasa demokrasi tajaan AS.


Namun begitu, komunisme masih bertahan di semenanjung Korea apabila Korea Utara masih menunjukkan cengkaman kuasanya di semenanjung itu, walaupun dengan kehadiran AS di rantau tersebut.


Dalam semua insiden dan konfrantasi itu menyaksikan AS dan barat cuba mengetengahkan sistem demokrasi di negara-negara terbabit dan cuba menolak komunisme dengan menyogokkan propaganda bahawa komunisme sebagai musuh penduduk sejagat.


AS dalam propaganda menentang komunisme ketika itu telah memperkenalkan Teori Domino dengan mendakwa komunisme harus ditentang habis-habisan kerana bimbang jika satu negara jatuh ke tangan komunisme akan menyebabkan negara-negara lain yang berhampiran turut jatuh ke tangan komunisme.


Begitulah cara AS dan sekutunya mengekalkan kuasa dan kedudukan mereka sebagai kuasa dunia.


Setelah beberapa dekad menentang komunisme, AS dan barat menunjukkan kemajuan dalam kempen dan propaganda mereka apabila banyak negara komunis di Eropah timur runtuh dan menerima demokrasi termasuk di Jerman timur, Czechoslovakia, Yugoslavia, Albania dan Bulgaria melalui kebangkitan rakyat di negara-negara terbabit menerusi tunjuk perasaan besar-besaran.


Ketika itu kita menyaksikan penduduk negara-negara komunis terbabit bangkit menentang pemerintah komunis yang dianggap kuku besi melalui tunjuk perasaan hampir setiap hari selama berbulan-bulan sehingga membawa kepada kejatuhan kerajaan komunis dan digantikan dengan kerajaan demokrasi.


Kini, trend serupa berlaku di negara-negara Islam bermula dengan dunia Arab, apabila meletus Arab Spring di Tunisia, apabila rakyat di negara-negara Arab bangkit menentang kerajaan dan pemimpin mereka atas alasan kemiskinan, reformasi ekonomi dan pembaharuan demokrasi.


AS dan Barat menyedari kekuatan kuasa rakyat seperti yang berlaku di Filipina apabila Corazon Aquino menggerakkan kebangkitan rakyat dengan mengadakan perarakan raksasa bagi menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos, namun di dunia Islam, AS menggunakannya untuk kepentingannya dengan memperalatkan pemimpin di negara-negara Islam untuk meracuni rakyat supaya memberontak.


Apakah tunjuk perasaan di dunia Arab dan kini merebak ke dunia Islam juga merupakan perancangan AS dan barat yang bimbang dengan perluasan pengaruh Islam di negara-negara Islam dan di seluruh dunia. Inilah konspirasi AS dan barat untuk terus kekal sebagai kuasa besar dunia yang menentukan hala tuju dunia di bawah cengkaman mereka.


Sebenarnya, AS cuba menggunakan kekerasan seperti mereka lakukan ke atas Iraq, bagi menumpaskan pengaruh dan kuasa Islam yang semakin meningkat di dunia, tetapi AS dan barat sedar akibatnya, kerana selepas Perang Iraq dan kejatuhan Saddam Hussein, imej AS dan barat di kaca mata Islam merudum dan terjejas teruk serta dianggap sebagai negara pengganas. AS tidak mahu imej itu terus menghantui mereka.


AS menyedari perkara itu dan kembali menggunakan modus operadi yang sama seperti memerangi kebangkitan komunisme dahulu dengan meracuni rakyat negara-negara terbabit dengan menanam kebencian terhadap kerajaan. Mereka menggunakan masalah dalaman di negara-negara Islam sebagai alasan untuk rakyat membenci kerajaan yang sah di negara-negara Islam.


Akhirnya, strategi AS dan barat itu dilihat berkesan apabila beberapa pemimpin negara Arab berjaya digulingkan dan dibunuh termasuk Presiden Zine El Abidine Ben Ali (Tunisia), Muammar Ghaddafi (Libya), Hosni Mubarak (Mesir), Ali Abdullah Saleh (Yemen) dan Bashar al-Assad (Syria).


Selepas melihat kejayaan strategi itu di dunia Arab, AS dan barat mula mengembangkan strategi itu ke negara-negara Islam lain termasuk di Turki, Iran dan Pakistan.


AS dan barat turut menggunakan pendekatan itu di Malaysia dan strategi itu dilihat berjaya dengan kehadiran pemimpin seperti Anwar Ibrahim dan pemimpin politik Malaysia berhaluan kiri dan pemimpin Islam liberal serta mereka yang berfahaman rasis seperti DAP.


Trend ini dilihat akan berterusan selagi AS dan barat belum berpuas hati melihat perubahan kepimpinan di negara-negara Islam berpengaruh seperti Pakistan dan Iran yang mempunyai kuasa nuklear, Malaysia dan Turki yang mempunyai kedudukan ekonomi dan politik yang stabil serta Indonesia yang mempunyai penduduk Islam terbesar di dunia serta sumber alam yang banyak.


Selepas kejatuhan semua pemimpin Islam di negara-negara Islam yang terbabit, AS dan barat akan menjadikan Arab Saudi sebagai sasaran terakhirnya untuk memusnahkan sepenuhnya pengaruh Islam kerana Arab Saudi merupakan tempat terletaknya kiblat umat Islam di Mekah dan juga kemunculan negara Islam pertama di Madinah.


Presiden George W. Bush pernah mengutarakan idea untuk mengubah kiblat orang Islam dari Mekah ke New York dan mengubah al-Quran bagi menukar persepsi masyarakat Islam terhadap jihad.


Mungkin ramai yang akan menyatakan ini adalah teori semata-mata, tetapi trend yang sedang berlaku di seluruh dunia memperlihatkan dunia Islam sedang dilanda tunjuk perasaan yang tidak ada matlamat yang jelas, selain kebangkitan rakyat yang ditanam dengan kebencian terhadap pemerintah yang sah.


Bahaya sedang menanti umat Islam, kerana AS dan Barat sentiasa mencemburui perkembangan Islam dan umat Islam pula sentiasa alpa kerana tidak menyedari mereka masuk perangkap musuh.



Article source: http://www.sinarharian.com.my/kesal-gambar-masjid-dipijak-1.177832


Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

Tuesday, March 5, 2013

Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoka di Rohil

Selasa, 5 Maret 2013 19:46
Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoka di Rohil

Digalang tanda tangan ribuan warga menyatakan perang terhadap narkotika di Rohil. Uniknya, 15 tersangka narkotika menjadi yang pertama membubuhkan teken.

Riauterkini-UJUNGTANJUNG-Kabupaten Rokan Hilir menyatakan perang
terhadap narkoba. Genderang itu ditandai upacara komitmen bersama anti
narkoba, dilanjutkan membubuhkan tandatangan seluruh peserta upaca
dalam spanduk, dimulai perwakilan 15 tersangka narkoba.

Upacara digelar di halaman Mapolres Rohil, Senin (5/3/13),
inpspektur upacara Ketua BNK Rohil Suyatno, diawali komitmen bersama
dari tokoh masyarakat dari sejumlah agama yang disumpah masing-masing
rohaniawan (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan
Budha).

Dalam amanatnya, Suyatno mengatakan, kasus narkoba di Rohil
mengalami peningkatan dari tahun ketahun, 2011 tercatat 53 kasus,
tahun 2012, 81 kasus, terjadi kenaikan 28 kasus atau 34,57 persen.
Untuk tahun 2013 ini katanya, dari bulan Januari-Februari, sudah
terjadi 43 kasus.

Bahkan dari 43 kasus tersebut, bulan Februari lalu, 9-28
Februari 2013, hasil operasi antik Polres Rohil, berhasil mengungkap
21 kasus dengan 27 tersangka.

Rohil katanya berbatasan langsung dengan negara tetangga
memiliki kerawanan tinggi dalam masuknya peredaran narkoba ke wilayah
Indonesia, terbukti dari beberapa kasus menonjol yang telah diungkap
menunjukkan, sebagian besar narkoba tersebut dibawa dari negara
tetangga masuk melalui pelabuhan/perairan yang terdapat di Rohil.

Usai upacara, dilakukan pembubuhan tandatangan bersama elemen
masyarakat dalam sebuah spanduk besar, didahului 15 orang perwakilan
tersangka narkoba memakai sebo.

Sementara itu, Kapolres Rohil AKBP Tonny Hermawan, R, S.Ik
mengatakan komitmen ini terinspirasi karena Rohil salah satu daerah
yang rawan peredaran dan penyeludupan narkoba.

“Kita merangkul BNK berserta seluruh elemen masyarakat,
supaya kita bekerjasama mendukung untuk pencegahan dan pemberantasan
narkoba diwilayah Kabupaten Rohil,” komitmennya.

Aparat dan masyarakat itu katnaya ibaratnya dua sisi mata
uang, yang tidak bisa dipisahkan. “Kalau salah satu sisi hilang, itu
tidak bernilai. Tujuan kita pemberantasan narkoba, artinya aparat dan
masyarakat ini harus bergabung, harus bekerjasama untuk memberantas
narkoba khususnya Kabupaten Rokan Hilir,” tekadnya.

Karena Rokan Hilir katanya terindikasi menjadi daerah yang
cukup rawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba.***(nop)


Beri
tanggapan
| Baca
tanggapan

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/10/ke-jepang-bukan-susah-bahasa-tetapi-susah-makanan-berlabel-halal


Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoka di Rohil

Saturday, July 27, 2013

Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

REPUBLIKA.CO.ID, Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga Muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama.


Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.


Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar.


Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.


Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit.


Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.


Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat.


Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang.


Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.


Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).


Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.


“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!” perintah beliau.


Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”


“Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa,” tutur Hudzaifah.


Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, “Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!”


“Saya siap, ya Rasulullah,” jawab Hudzaifah. Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam.


Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.


“Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”


Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, “Siapa kamu?” Jawabnya, “Aku si Fulan, anak si Fulan.”


Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi.


Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”


Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat.


Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.


Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka menjawab, “Ada,” Umar turut menyalatkannya.


Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”"Ada seorang,” jawab Hudzaifah.


“Tolong tunjukkan kepadaku siapa?” kata Umar. Hudzaifah menjawab, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”


Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai.


Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.


Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”Mereka menjawab, “Sudah dekat Subuh.”


Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”Ia bertanya kembali, “Adakah kalian membawa kafan?”


Mereka menjawab, “Ada.” Hudzaifah berkata, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”


Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.”


Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.


 


 


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/240107


Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

Monday, December 24, 2012

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini

Home Gazw Al-Fikr

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini


 


Senin, 24 Desember 2012

Oleh: Nuim Hidayat 

SULTAN Baabullah risau. Ia tidak ingin kematian ayahnya (Sultan Khairun) memadamkan semangat jihad rakyatnya. Segera setelah dilantik,  ia mengumumkan perang jihad melawan Portugis di seluruh negeri. Rakyat pun bersegera menyambut seruannya. Lebih dari 120 ribu penduduk menjadi mujahid sukarela melawan Portugis saat itu.

Dalam perang itu, Sultan Baabullah minta pembunuh ayahnya gubernur Lopez de Mesquita diserahkan kepadanya untuk diadili. Tapi Lopez menolak.  Sultan pun menyerbunya. Tidak lama kemudian benteng-benteng Portugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro jatuh. Hanya benteng Sao Paulo kediaman Lopez yang bertahan. Benteng Sao Paulo dikepung dan diputuskan hubungannya dengan dunia luar.  Suplai makanan dibatasi hanya sekedar agar penghuni benteng bisa bertahan hidup. Sultan Baabullah bisa saja menguasai dengan cepat menghancurkan benteng itu, tapi ia masih kasihan banyak rakyat Ternate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka tinggal dalam benteng itu. Karena tertekan dan frustasi, akhirnya Portugis memecat Lopez de Mesquita dan menggantinya dengan Alvaro de Ataide.

Baabullah pun melebarkan perlawanan. Ia mengobarkan perang Soya-Soya (perang pembebasan negeri).  Kedudukan Portugis di berbagai tempat digempur habis-habisan. Tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 3000 pasukan, pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon dan berhasil mendudukinya. Pasukan Portugis dibawah Kapten Sancho de Vasconcellos yang dibantu pribumi Kristen berhasil memukul mundur pasukan Ternate di pulau Buru untuk sementara. Namun tidak lama kemudian Portugis pun jatuh setelah pasukan Baabullah kembali menyrang di bawah pimpinan Kapita Rubuhongi.

Tahun 1575 seluruh kekuasaan Portugis di Maluku telah jatuh dan suku-suku atau kerajaan pribumi yang mendukung mereka telah berhasil ditundukkan.  Demikianlah, tanggal 15 Juli 1575, orang-orang Portugis pergi secara memalukan dari Ternate.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah menjadikan benteng Sao Paulo sebagai benteng sekaligus istana, ia merenovasi dan memperkuat benteng tersebut kemudian mengubah namanya menjadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih melanjutkan hubungan dagang dengan bangsa barat termasuk Portugis dan mengizinkan mereka menetap di Tidore. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap bangsa Eropa yang tiba di Ternate untuk melepaskan topi dan sepatu mereka, sekedar untuk mengingatkan mereka agar tidak lupa diri.

Tahun 1580 Sultan Baabullah mengunjungi Makassar dan mengadakan pertemuan dengan raja Gowa Tunijallo, mengajaknya masuk Islam dan ikut serta dalam persekutuan melawan Portugis dan Spanyol. Sang raja tak langsung menyetujui ajakan Sultan untuk memeluk Islam namun setuju untuk ikut dalam persekutuan. Sebagai tanda persahabatan, Sultan Baabullah menghadiahkan Pulau Selayar kepada Raja Gowa.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Sultan Baabullah tetap melanjutkan kebijakan ayahnya dengan menjalin persekutuan dengan Aceh dan Demak untuk mengenyahkan Portugis dari Nusantara. Persekutuan Aceh-Demak-Ternate ini merupakan simbol persatuan Nusantara, karena ketiganya sebagai yang terbesar dan terkuat di masa itu merangkai wilayah Barat. Tengah dan Timur Nusantara dalam satu ikatan persaudaraan.

Sultan lahir pada 10 Februari 1528. Ia adalah Sultan Ternate ke-24 yang berkuasa antara tahun 1570-1583. Baabullah ketika itu berhasil mengusir Portugis dari Ternate-Maluku, yang selain menginginkan monopoli rempah-rempah juga berniyat mengkristenkan penduduk di sana. Misionaris yang terkenal Portugis, Francis Xavier (1506-1552) menyatakan,”(Jika) setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen. “ (lihat Alwi Shihab, Membendung Arus Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Misi Kristen di Indonesia, 1998)

Portugis pergi, datanglah penjajah Belanda. Hampir sama dengan Portugis, Belanda juga mempunyai misi Kristenisasi di Indonesia. Van Goens, di akhir masa jabatannya sebagai gubernur, 1675 menulis: “Betapa orang Moor (Islam) di pulau ini sangat menghalangi kita setiap hari terlihat melalui aktivitas mereka, sungguh mereka tidak lebih dari kanker yang menggerogoti keuntungan kompeni dan perusak moral yang utama.” (lihat Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942), 1995).

Idenburg, Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia (1906-1916) juga menyatakan,”Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.” Pidato Kerajaan Belanda pada 1901 menyatakan: “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral terhadap para penduduk di daerah-daerah itu.”

Baabullah, Antasari, Tjut Nyak Dien, Fatahillah, Diponegoro, KH Hasyim Asyari dan Natsir adalah beberapa pejuang Nusantara yang melawan kaum penjajah dengan ‘Bismillah’. Mereka tidak peduli dengan harta dan nyawa mereka yang bisa hilang dalam perlawanan. Niat menegakkan kalimah Allah di bumi Nusantara menjadikan ghirah mereka terus menyala.
Jihad memang lafadz yang bisa membuat penjajah berdiri bulu romanya. Jihad yang salah satunya bermakna perang fisik ini menjadi landasan bagi pahlawan-pahlawan Islam di negeri ini dalam mengusir penjajah. Baik Portugis, Belanda, Jepang atau Sekutu. Mereka tidak rela tanah air ini dirampas kekayaannya dan agama Kristiani menjadi mayoritas di negeri ini. Maka jangan heran meski Portugis dan Belanda khususnya, yang menjajah negeri ini ratusan tahun dan mencoba mengkristenkan penduduk-penduduk Nusantara mereka mengalami kegagalan. Islam yang telah tegak di Nusantara ini sejak abad ke-7, berkat para pejuang dan ulama, tetap menjadi mayoritas di negeri subur loh jinawi ini.

Jihad adalah roh kaum Muslimin. Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan orang yang menyelisihi para rasul  dan mengarahkan pedang syariat kepada mereka, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban disebabkan pernyataan mereka untuk menolong para nabi dan rasul, dan untuk menjadi pelajaran berharga bagi yang mengambilnya sehingga dengan demikian orang-orang yang menyimpang menjadi jera, termasuk amalan yang paling utama yang Allah perintahkan kepada kita untuk menjadikannya ibadah mendekatkan diri kepada-Nya.”

Kata jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan. Atau berasal dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya.

Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan karena Allah dan meninggikan kalimat-Nya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga.

Maka dalam Islam ada istilah mujahid dan mujtahid. Keduanya melaksanakan jihad baik dengan fikiran maupun fisiknya. Mujtahid lebih mengerahkan kemampuannya dalam berfikir atau berkarya. Sedangkan mujahid lebih mengerahkan kemampuan fisiknya. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan jihad memiliki empat tingkatan, yaitu (1) jihad memerangi hawa nafsu, (2) jihad memerangi syetan, (3) jihad memerangi orang kafir dan (4) jihad memerangi orang munafik.

Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal shaleh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Jihad memerangi musuh Allah yang di luar (jiwa) adalah cabang dari jihad memerangi jiwa, sebagaimana sabda Nabi saw,  “Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR. Ahmad). Juga sabdanya,“Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Daud).

Dengan spritit “jihad” di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Sulawesi Utara, Tengah dan Timur di bagian Barat hingga kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina (Selatan) di bagian utara hingga sejauh kepulauan Kai dan Nusa Tenggara di bagian selatan.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Dengan sprit “jihad” pula,  benteng Konstantinopel (kini Istambul, Turki) di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodok yang legendaris akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani. 

Sultan Baabullah dan Sultan Muhammad al-Fatih adalah dua contoh pejuang Muslim yang menyerahkan waktu, tenaga, pikiran, ilmu dan hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Lantas apa “jihad” kita hari ini?

Penulis aktif di Institute for the Study of the Islamic and Civilization (INSISTS)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=317897


Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini

Thursday, February 14, 2013

Hisbullah: Sebuah Organisasi Teror?

Kalau Hisbullah sedang terpojok, para anggotanya akan disuruh bungkam. “Bulgaria? Oh maaf, tak ada komentar”, begitu tegas Rana, jurubicara organisasi Hisbullah di Beirut. Dengan ramah ditambahkannya: “betul-betul, saya minta maaf ya“

Pusat media di jalan Dahiye yang ramai lalu lintas. Kawasan selatan Beirut ini dikuasai oleh Hisbullah. Pengaruhnya terlihat pada sekolah-sekolah, rumah sakit dan juga di pencakar langit yang pembangunannya mereka danai.

“Kaum Hisbullah sudah berakar di Libanon“, ungkap Björn Blaschke, koresponden media Jerman, ARD di lokasi. “Mereka terlibat dalam pemerintahan Libanon dan diwakili di parlemen, jadi bukan sekedar partai, tapi juga gerakan sosial.” Kaum Hisbullah juga memberikan bea siswa dan membiayai panti asuhan.

“Hisbollah itu segalanya”

Namun bukan hanya itu, Hisbullah memiliki sayap bersenjata, yang lahir dari perlawanan Libanon pada Israel tahun 1980-an dan menjadi kuat seiring perang saudara Libanon.

Hassan Nazrallah

Banyak pengikut Islam Syiah yang menetap di selatan Libanon yang dari segi pembangunan tertinggal, ketimbang bagian lain negara itu. Karena itu Hisbullah, atau partai Tuhan itu bisa disebut sebuah partai Syiah.

Pemimpinnya adalah seorang ulama Syiah. Turban hitam yang dikenakan Sekjen Hisbullah Hassan Nasrallah menunjukkan bahwa ia keturunan langsung dari Nabi.Singkatnya: “Hisbullah adalah segalanya”, begitu Blaschke.

Philipp Mißfelder, jurubicara partai Kristen Jerman menggunakan kata-kata lain, “Hisbullah itu bukan organisasi sosial seperti yang sering dicitrakannya, melainkan kelompok politik yang agresif dan fundamentalis dan siap menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya.“ Mißfelder menunjuk pada investigasi pembunuhan pertengahan tahun lalu atas 5 turis Israel dan supirnya. Menurut pemerintah Bulgaria, pelakunya anggota Hisbullah.

“Barat Kurang Tegas “

Oleh sebab itu, Mißfelder menuntut bahwa Hisbullah dimasukkan dalam daftar teror Uni Eropa. Saat ini sudah sejumlah organisasi seperti Hamas atau Al-Qaeda masuk daftar itu. Ini organisasi yang menurut definisi Uni Eropa, telah melakukan sejumlah pelanggaran hukum berat, seperti penyanderaan atau pembunuhan dengan tujuan mengintimidasi masyarakat dan mendestabilisasi atau menghancurkan struktur dasar sebuah negara.”

Pawai Hisbullah di Libanon

“Barat hingga kini kurang tegas mengenai Hisbullah”, begitu Mißfelder. Hisbullah bisa bergerak tanpa masalah di Eropa. Kegiatannya didanai dari bisnis-bisnis legal atau ilegal. Seandainya Hisbullah berada dalam daftar teror, maka badan-badan keamanan Eropa dan Jerman bisa bertindak lebih keras dan tajam. Bahkan membuka peluang untuk menjatuhkan sanksi atau larangan masuk bagi anggota Hisbullah.

Di Amerika Serikat dan Israel, yang telah mengkategorikan Hisbullah sebagai organisasi teror, langkah tersebut akan disambut. Tapi sejumlah negara Uni Eropa keberatan, karenanya Mißfelder melihat kemungkinan Jerman bertindak sendiri. Satu model kompromi yang dipertimbangkan serupa dengan sikap pemerintah Inggris menghadapi kelompok teroris IRA dulu. Yakni, berdialog dengan sayap politiknya, dan mengkategorikan sayap militer IRA sebagai teroris. “Ini merupakan pemisahan maya, tapi mungkin bisa diterima oleh Brussel”, tambah Mißfelder.

Menguatkan pengaruh Hisbullah

Di pihak lain, Nadim Shehadi dari think-tank Inggris, Chatham House, memperingatkan akan bahaya tindakan yang tergesa-gesa. Memang sejumlah definisi teroris bisa ditempelkan pada sebagian kelompok Hisbullah, yang melakukan serangan berdarah saat perang saudara Libanon. Namun, Shehadi kuatir akan dampaknya bagi Libanon.

Demonstrasi anti Suriah di Beirut

Nyatanya Hisbullah adalah bagian resmi dari pemerintah negara itu. Seandainya kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teroris dan dijatuhi sanksi, maka Libanon akan terisolir. “Ini malah akan menguatkan pengaruh Hisbullah, dan bukan melemahkan organisasi itu.”

Jurnalis Björn Blaschke berpandangan serupa. “Saya tidak tahu, apakah memberi label organisasi teror kepada Hisbullah adalah hal yang baik.” Namun menghentikan dialog adalah strategi yang salah. “Bila Hisbullah ditekan oleh asing, maka mereka bisa merasa harus membela diri.” Nadim Shehadi mengingatkan bahwa kaum Hisbullah masih memiliki cukup senjata untuk menjalankan perang lagi.

Hisbullah Mendorong Deeskalasi

Belakangan kaum Hisbullah di Libanon menghadapi tekanan besar di dalam negeri karena berpihak dengan rezim Assad dalam konflik Suriah. Menurut Blaschke, posisinya yang beraliansi dengan Iran ini telah menyebabkan Hisbullah kehilang banyak dukungan.

Karenanya Hisbullah, berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang provokatif. Blaschke melaporkan, foto-foto pemimpin revolusi Iran kini dicopot dari gedung-gedung di Libanon. “Bahkan dari rumah sakit Dahiye yang didanai oleh Iran.” Juga ketika perang Gaza berlangsung akhir tahun lalu, kaum Hisbullah tampak sangat terkendali. Menurut Blaschke, itu pertanda bahwa Hisbullah tengah menjalankan taktik deeskalasi.

Seandainya Uni Eropa betul-betul menaruh Hisbullah di daftar teror, maka jalur dialog akan terancam gagal. Bagaimana pandangan Hisbullah tentang ini belum jelas. Mungkin Hassan Nasrallah akan berpidato akhir pekan ini, ungkap jurubicara Rana. Mungkin juga tidak. Yang pasti Rana harus diam seribu bahasa.


Hisbullah: Sebuah Organisasi Teror?

Wednesday, January 29, 2014

Warisan Budaya Hancur Akibat Perang

Jembatan Dua Dunia


Stari Most, sebuah jembatan di Bosnia dan Herzegovina, lebih dari sekedar situs budaya. Selama berabad-abad, jembatan ini menjadi penghubung simbolik antara timur dan barat, antara dunia Kristen dan Islam, dan antara warga Katolik Kroasia dan Ortodoks Serbia. Jembatan hancur November 1993 saat Perang Bosnia. Namun sejak itu telah dibangun kembali dan masuk daftar Warisan Budaya tahun 2005.


Article source: http://www.tribunnews.com/regional/2014/01/20/pemuda-desa-kema-2-dan-kema-3-perang-batu


Warisan Budaya Hancur Akibat Perang

Monday, November 18, 2013

Ridhuan Tee dan Bajet 2014




SAYA terkejut beruk, apabila perbahasan Bajet 2014 di Parlimen yang mulia dua minggu lalu, digunakan sepenuh ruang dan peluang oleh seorang ahli Parlimen ultra kiasu, untuk menghentam saya membutatuli.



Dia mendakwa, beliau mendapat maklumat daripada beberapa pensyarah di tempat saya. Siapakah pensyarah malang itu?



Saya kenal orang itu, juga seorang ultra kiasu, pensyarah kriminologi.



Peliknya, apa kaitan saya dengan Bajet 2014? Terima kasih kerana mempopularkan lagi nama saya yang sudah pun popular, berbanding profesor ultra kiasu itu.



Beberapa pertuduhan mengenai saya dibangkitkan di Parlimen. Pertama, pensyarah dan penuntut tidak senang dengan pengajaran saya di universiti.



Siapa tu? Jika mereka adalah kalangan ultra kiasu, itu tidak mustahil, sebab mereka bermasalah, anti-Islam dan antikerajaan.



Saya pula sebaliknya. Siapa tidak kenal Ridhuan Tee? Seorang yang berani dan vokal, bukan pengecut dan tiada telur seperti ahli Parlimen dan pensyarah ultra kiasu itu. Maaf, masuk bakul sendiri.



Jika berani, mari berdepan dan berdebat. Mohon ahli Parlimen ultra kiasu beritahu siapa pemberi maklumat tersebut. Saya cabar.



Kedua, saya tidak faham maksud pertahanan kerana menggalakkan perang, dikaitkan dengan artikel saya mengenai perebutan Pulau Batu Putih yang sudah pun terlepas kepada Singapura apabila perkara ini dibawa kepada Mahkamah Keadilan Antarabangsa (ICJ).



Jawapan, ijazahijazah saya semua berkaitan dengan pertahanan, bukan seperti pensyarah tersebut, latar belakang kriminologi tetapi mengajar subjek strategi. Apa kaitan? Kelakar sungguh?



Lagi pun, pemimpin China berkalikali menggalakkan perang dengan kenyataan sesiapa yang berani memasuki Kepulauan Spratly yang

menjadi milik bersama beberapa negara termasuk Malaysia, jawapannya perang.



Kenapa tidak berani kutuk pemimpin China? Sama juga kenyataan Lee Kuan Yew, jika Malaysia berani menghentikan bekalan air, jawapannya, perang. Kenapa tidak kutuk Lee Kuan Yew? Bila saya memberi pandangan, tidak boleh?

Salahkah saya memberikan pandangan atas dasar kebebasan berkarya dalam akademik?



Ketiga, saya menggalakkan ethnic cleansing dengan menyokong Hitler, berkaitan tindakan Hitler membunuh Yahudi beramai-ramai dalam peristiwa Holocust. Sebelum komen, bacalah buku Hitler bertajuk Main Kamp, baru boleh bergelar pensyarah strategi. Cari jawapan

kenapa Hitler bunuh orang Yahudi.



Baca juga, kenapa Yahudi memusuhi Islam. Keempat, komen saya terhadap perayaan kaum tertentu sehingga menyebabkan kesesakan jalan raya.



Apakah tidak betul? Kenapa tidak pertikai mereka yang mempersendakan sembelihan korban di sekolah? Kena pada Islam, tidak mengapa. Kena pada mereka tidak boleh.



Kelima, tulisan saya dituduh sebagai sesat. Sudah lama saya dikenakan tindakan jika tulisan saya sesat.



Sebenarnya, bukan saya yang sesat sebab saya orang Islam. Saya tukar agama dahulu yang sesat kepada agama yang lagi terang agar tidak sesat. Saya punyai pengikut yang ramai dalam Facebook dan fan FB.



Keenam, saya dituduh rasis. Peliknya, macam mana saya boleh rasis. Saya tidak mempertahankan Cina walaupun saya Cina. Malah saya dituduh lebih Melayu daripada Melayu. Jadi, di mana rasisnya?



Sebenarnya ultra kiasu itu yang rasis. Partinya hanya untuk satu kaum. Ketika baru menjadi Exco Selangor, beliau mendesak mahu mewujudkan bandar Cina yang penuh kecinaan di Selangor, termasuk industri Cina, universiti Cina, sekolah Cina dan semua berkaitan Cina untuk tarik pelaburan China.



Tidakkah ultra kiasu sedar kita tinggal dalam sebuah negara berasaskan kepada Malay Polity? Jika tidak faham, mari profesor sains politik dan strategi ajarkan.



Apakah mungkin saya tidak dituduh rasis, jika saya mengajar mempertahankan komunis dan MPAJA sebagaimana yang didewa-dewakan oleh ultra kiasu? Pendirian saya, biar saya khianat kepada bangsa daripada khianat kepada agama dan negara. Lagipun, yang ditanya malaikat nanti bukannya bangsa dan keturunan nenek moyang, tetapi Tuhan, Rasul dan Agama.



Kesimpulannya, dalam dunia akademik, kami bebas memberikan pandangan. Perkara yang sensitif boleh dibincangkan dalam perbahasan akademik, terutama dalam kelas, barulah berlaku percambahan idea. Jika tidak,

penuntut kita akan jadi jumud.


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/729351/jauh-sebelum-jadi-mualaf-bella-saphira-sudah-berhijab?wp.trkn


Ridhuan Tee dan Bajet 2014

Friday, December 14, 2012

Israel Semakin Brutal

Jakarta, GATRAnews – Jalur Gaza semakin bersimbah darah. Meski dikecam para pemimpin seluruh dunia, terutama negara-negara Islam, aksi negara zionis itu tak berhenti memberangus Palestina.Sejak Rabu pekan lalu hingga Selasa (20/11/2012) kemarin, roket Israel telah menghantam 1.400 titik di kota Gaza. Dengan dalih menghancurkan markas Hamas yang mereka anggap teroris, Israel telah menewaskan 110 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Kebanyakan serangan Israel dilakukan dari udara menggunakan pesawat tempur F-16, dibantu oleh kapal perang yang bersiaga di perairan Gaza. Sementara itu, menurut juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), pejuang militan Hamas telah menembakkan 544 roket ke wilayah Israel. Sebanyak 290 di antaranya gagal mendarat karena ditangkal oleh sistem pertahanan Iron Dome.
Agresi Israel atas Gaza dimulai dengan penyerangan dari udara yang menewaskan Komandan Militer Hamas Ahmed al-Jabari. Serangan tersebut lantas diteruskan dengan serangan-serangan lainnya yang menewaskan banyak warga sipil Gaza.
Israel mengklaim, serangan mereka berhasil menghancurkan ratusan gudang senjata Gaza, termasuk bunker yang menyimpan persediaan roket Grad yang mampu mencapai jarak 40km. Israel juga mengaku telah menghancurkan banyak roket Fajr-5 buatan Iran yang bisa masuk ke wilayah Israel sedalam 60km.
Pemusnahan etnis itu berlangsung di depan mata publik dunia. Saat Mesir menggalang upaya diplomatik untuk gencatan senjata, pihak Israel malah bersiap melakukan invasi darat ke Gaza. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Israel untuk AS, Michael Oren.
Menurut Oren, invasi darat adalah cara terakhir untuk membasmi Hamas jika solusi diplomatis tidak dihasilkan. “Persenjataan berat seperti tank, artileri dan infanteri telah kami tempatkan di dekat perbatasan dengan Gaza,” ujarnya. Ia menambahkan, sebanyak 75.000 tentara Israel telah ditugaskan untuk mengepung Palestina, dan setengahnya telah disiagakan di perbatasan.
Dikhawatirkan, invasi Israel ke Gaza akan memicu banyak korban seperti perang tahun 2008 yang menewaskan 1.400 warga Gaza.
Menghadapi rencana serangan darat itu, pemimpin Hamas Khaled Meshaal tidak merasa jerih. “Kami tidak ingin peningkatan ketegangan, atau perang di darat. Tapi jika itu terjadi, kami tidak takut dan tidak akan mundur,” tegasnya.
Upaya diplomasi untuk menghentikan kekerasan di Gaza masih terus dilakukan. Kemarin, Sekjen PBB Ban Ki-moon dan delegasi Israel menyambangi Mesir untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata. Mesir sebagai pihak mediator mengaku optimis pembicaraan tiga pihak akan berlangsung positif.
Menurut pihak Mesir, Hamas setuju gencatan senjata, jika Israel menghentikan agresinya, menghentikan pembantaian dan menghapuskan blokade Gaza. Sementara Wakil Perdana Menteri Israel Moshe Yaalon menuding bahwa pemicu perang adalah ulah Hamas yang melontarkan roket dan rudal ke warga Israel. “Jika ketenangan terjadi di selatan dan tidak ada serangan teroris dari Jalur Gaza, kami tidak akan menyerang,” tegasnya.
Hujan Kutukan
Tragedi di Jalur Gaza itu mengundang solidaritas masyarakat internasional. Aksi protes pun bermunculan di mancanegara. Para pemrotes, walau berbeda gaya dan pendekatan, memiliki sikap yang sama: serangan apapun yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata patut dikutuk.
Walau berdalih membalas serangan ratusan roket Hamas dari Gaza, serangan udara Israel sejak 14 November 2012 telah mengundang kemarahan karena turut menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak Palestina. Tidak kurang, para aktivis di Korea Selatan, pemuka umat Yahudi di Amerika Serikat, hingga anak-anak sekolah di Indonesia menyuarakan sikap yang sama: menentang serangan brutal Israel.
Demonstrasi massal hingga doa bersama berlangsung di beberapa tempat sejak akhir pekan lalu. Ratusan unjuk rasa dalam beberapa hari terakhir telah digelar secara serentak, tidak saja di negara-negara Islam maupun negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim seperti di Tunisia, Yaman, Mesir, dan Aljazair. Warga di Australia, Italia, Korea Selatan, Spanyol dan lain-lain pun kompak menyuarakan kemarahan atas Israel.
Ali Golin termasuk yang berdemonstrasi di Kota Istanbul, Turki, pada Jumat pekan lalu. “Saya yakin bahwa semua umat Muslim harus menunjukkan solidaritasnya. Semua faksi dan perbedaan hanya menghacurkan tujuan kita,” kata Golin seperti dikutip Ynet.com.
Seorang demonstran di Istanbul, Ali Golin, menyerukan kepada dunia bahwa bila ingin menentang Israel, semua umat harus kompak. “Kita tidak dapat mencapai apa-apa hanya dengan mengecam Israel. Kita harus mengambil aksi yang nyata,” ujarnya.
Seorang warga Korea Selatan pun menyatakan solidaritasnya bagi warga Palestina dengan ikut berdemosntrasi di luar Kedutaan Besar Israel di Seoul. “Kalian tidak boleh memaksa warga Palestina jadi korban. Kalian tidak boleh membunuh anak-anak di mana pun,” seru aktivis tersebut.
Seruan serupa juga dilontarkan warga Australia saat ikut berdemonstrasi di Kota Sydney. “Israel tengah menerapkan kebijakan yang membantai banyak orang di Gaza,” kata wanita bernama Sylvia Hale, yang mantan anggota parlemen dari Partai Hijau.
Sebagian publik di Amerika Serikat pun menyuarakan simpati yang sama. Saat pemerintahnya menyatakan dukungan kepada Israel, tidak sedikit para warga yang mengecam aksi militer negara zionis yang menimbulkan banyak korban jiwa di kalangan warga sipil itu.
Dalam suatu aksi yang berlangsung di Kota New York pada Minggu (18/11/2012), sekitar 500 orang memprotes atas jatuhnya banyak korban di kalangan warga Palestina.  Saat itu, sedikitnya sudah ada 70 warga Palestina –termasuk 20 anak-anak– yang tewas dan 600 orang lainnya luka-luka.
Bahkan ada seorang pemuka Yahudi yang turut mengecam aksi Israel. Menurut harian The New York Times, seorang rabi bernama Yisroel Dovid Weiss menyatakan simpatinya kepada warga Palestina. “Kami malu atas aksi yang sedang berlangsung mewakili bangsa kami. Kami justru menangisi para korban,” kata Weiss.
Reaksi PBB
Saat tekanan publik dari penjuru dunia kian menguat, PBB pun terus berupaya mengakhiri kekerasan brutal di Gaza dengan cara diplomasi. Menurut stasiun berita Al Jazeera, Sekjen PBB Ban Ki-moon pekan ini akan mengunjungi Yerusalem dan Ramallah, yang masing-masing adalah ibukota Israel dan Otoritas Palestina.
Ban Ki-moon, Ahad (18/11/2012), menyerukan Israel dan Hamas untuk menyepakati gencatan senjata. Ban meminta kedua pihak merundingkannya dengan Mesir dalam mewujudkan upaya perdamaian ini.
Dalam pernyataannya, Ban mengatakan ingin bertolak ke dua negara yang terlibat konflik untuk mendukung upaya gencatan senjata. Namun, PBB belum memberikan jadwal Ban akan menuju kesana. Media Israel mengatakan bahwa ia akan pergi ke Yerusalem, sementara Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan Ban juga akan pergi ke wilayah Palestina.
Sekjen PBB mengatakan dirinya “sangat sedih” dengan laporan-laporan tewasnya warga Palestina, termasuk 10 anggota dari satu keluarga. Ia mengaku “cemas” atas penembakan roket-roket dari Gaza ke Israel.
“Ini harus dihentikan. Saya sangat mendorong para pihak untuk bekerja sama dengan semua upaya dipimpin oleh Mesir untuk segera mencapai gencatan senjata. Setiap eskalasi lebih lanjut pasti akan meningkatkan penderitaan penduduk sipil yang terkena dampak dan itu harus dihindari,” kata Ban.
Ban Ki-moon akan melobi para pemimpin Israel dan Palestina untuk mengakhiri krisis. Sebelumnya, ia telah bertemu dengan Ketua Liga Arab, Nabil al-Arabi, dan menyatakan dukungan kepada Presiden Mesir, Mohamed Morsi, untuk menjadi mediator bagi perundingan damai Israel dan kelompok Hamas.
Ini merupakan tugas yang sangat mendesak bagi Sekjen PBB, mengingat dalam seminggu ini jumlah korban sipil di Gaza sudah melebihi seratus jiwa. (HP, dari berbagai sumber)

Israel Semakin Brutal

Saturday, June 22, 2013

Berpecah kerana kejahilan, bukan perbezaan

Syiah adalah mazhab yang wujud hasil dari warisan sejarah Islam lampau. Mereka mazhab yang lahir dari isu politik, maka mereka sangat mahir berpolitik. Kita semakin rancak berbual tentang Syiah sejak krisis kemanusiaan yang kini berlaku di Syria.

Mahu terima atau tidak, populasi Syiah telah mewakili 20 peratus dari populasi Muslim di dunia. Pertembungan tamadun Syiah dan Sunni menyebabkan mereka berkongsi budaya dan sejarah.


palestine middle east conflict 160407 armedInstitusi ilmu terkenal bagi Muslim Sunni, Universiti Al-Azhar telah dibina oleh dinasti Syiah. Cendekiawan dari Syiah seperti Ibnu Sina, al-Biruni, Imam Khomeini, dan Ali Shariati banyak menyumbang kepada tamadun Islam.


Mahu terima atau tidak, kestabilan politik Timur Tengah dipengaruhi oleh penganut Syiah dari Iran, Lubnan, Iraq, dan Syria.


Iran yang secara terbuka menyokong gerakan Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islami untuk melawan penindasan Israel. Keseimbangan politik ini penting untuk mengelak Israel dari menjadi kuasa pembuli di Timur Tengah.


Mahu terima atau tidak, Syiah sudah bertapak di Alam Melayu sejak abad ke 12 Masihi. Kebudayaan dan kesusasteraan Alam Melayu juga dipengaruhi oleh Syiah. Bubur Asyura yang diraikan setiap 10 Muharam adalah untuk berkabung syahid Imam Hussein RA.


Persembahan Boria di beberapa negeri Tanah Melayu adalah untuk mengenang kekejaman yang menimpa cucu Rasulullah di Karbala. Perarakan Maulidur Rasul pula sebenarnya dimulakan oleh kerajaan Syiah, Khilafah Fatimmiyah di Mesir.


azlanMahu terima atau tidak, semangat Revolusi Iran 1979 telah meresap masuk dalam kebangkitan kesedaran politik di Malaysia. Revolusi Iran telah menjadikan PAS sebuah parti revolusioner yang menuntut perubahan. Buku Imam Khomeini, Hukumah Islamiah telah di bawa masuk dan ditukar bahasa oleh ABIM pada tahun 1983.


Perbezaan dan persengketaan Syiah dan Sunni adalah warisan sejarah kuno yang menyebabkan umat Islam lemah secara keseluruhannya.


Apa yang kita perlu perjuangkan bukan membongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya. Tugas kita ialah menemukan titik pertemuan ajaran Islam yang selama ini ditutup oleh sifat jahil, sektarian dan fanatisisme.


Perpecahan dan permusuhan antara mazhab tidak akan menguntungkan kita, tetapi ia sebenarnya digalakkan oleh kuasa Barat. Perpecahan umat Islam akan mengekalkan hegemoni Barat di negara Islam supaya mereka boleh mengawal sumber asli khususnya di Timur Tengah.


Berdakwah bukan melaknat

Selepas tamat Perang Dunia Pertama, kuasa Barat melaksana dasar pecah dan perintah untuk mengawal sumber asli.


Mereka menipu pemerintah Arab supaya menyokong perang mereka terhadap Khilafah Uthmaniah dengan menjanjikan kemerdekaan bagi tanah Arab, tetapi selepas mengalahkan Turki, Britain dan Perancis membahagikan wilayah antara mereka dan menubuhkan Israel dan Arab Saudi.


NONESelepas tamat perang dunia, sekali lagi mereka menghasut negara Arab untuk menyertai Amerika Syarikat dan Israel menghapuskan kuasa Syiah.


Perang Iraq-Iran selama sepuluh tahun tidak menguntungkan sesiapa, tetapi mengukuhkan sekuriti Israel. Hari ini, kita dapat melihat ulangan dasar yang sama di Syria. Aspirasi rakyat Syria yang asalnya mahu menjatuhkan rejim telah diapi-apikan dengan isu sektarian.


Ada pun, yang mahu menyelamatkan akidah saudara Islam mereka tidak perlu melaungkan “Syiah laknatullah“, say no to Shia” mahupun mengkafirkan mereka.


Tiada pula Nabi Muhammad mengajar kita berdakwah dengan melaknat, mengkafir, dan menutup ruang berbincang dengan fahaman yang bertentangan dengan kita.


Penganut Syiah di Malaysia pula harus mengelak dari bersikap mencurigakan yang membuat penganut majoriti Sunni tidak senang. Seperti mana Imam Khomeini pernah menasihati jemaah Syiah supaya tidak mengasingkan diri mereka daripada orang Islam yang lain.


NONE“Rakyat Iran dan golongan Syiah dari negara lain dikehendaki untuk mengelakkan semua tindakan yang boleh menimbulkan perpecahan sesama umat Islam.


“Mereka juga perlu menyertai perhimpunan Sunni dan mengelakkan menghadiri atau membentuk solat di rumah atau memasang pembesar suara untuk menentang mereka.


“Mereka mestilah mengelakkan daripada melutut di makam suci atau melakukan apa sahaja yang tidak selaras dengan undang-undang yang mulia”, kata Imam Khomeini (atas).


Kita perlu sedar perpecahan umat Islam bukan kerana kita berbeza pendapat dan jemaah. Kita berpecah kerana sifat jahil, sektarian, dan fanatisisme.


“Resolusi 152 Akademi Fikah Islam Antarabangsa menyeru supaya umat Islam bersepakat dan saling menghormati. Dialog antara Syiah dan Sunni mestilah digalakkan dan disuburkan. Menggunakan kekerasan bukan cara untuk kita mempertahankan akidah kerana akidah perlu didirikan atas ilmu.




ARIFFIN ABDULLAH pelajar tahun akhir Kejuruteraan Mekanikal Universiti Malaysia Pahang.

Article source: http://sidomi.com/176198/nikita-willy-senang-diego-michiels-berani-khitan/


Berpecah kerana kejahilan, bukan perbezaan