Showing posts sorted by relevance for query pernah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query pernah. Sort by date Show all posts

Sunday, December 1, 2013

Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Rosita Budi Suyaningsih

Ia menemukan jawaban semua pertanyaannya di dalam Alquran.


Tak pernah terbayangkan dalam hidup Jared Craig Morris (26 tahun) berpindah soal keyakinannya. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan dan saat kecil ia pernah punya cita-cita menjadi seorang pastor.


Satu momen yang paling diingatnya, yang memantapkan dirinya untuk masuk Islam adalah saat menggendong putri pertamanya. Tiga tahun lalu, tepatnya 7 Juni 2010, putrinya yang diberi nama Mary Lee Rose lahir.


”Saat itu, bidan memberikannya pada saya untuk digendong, kemudian dia langsung berhenti menangis,” ujarnya dilansir dari laman ifoundislam, pekan lalu.


Momen ini tak pernah akan dilupakannya. ”Saat itu, saya memandang lekat mata indah anak perempuan saya, dan saya merasa yakin tentang keberadaan Allah,” kata pria Amerika ini.


Latar belakang keluarga Craig sebenarnya adalah Kristen yang taat. Saat berusia 12 tahun, ia punya cita-cita untuk menjadi pastor.


Semua kesehariannya fokus pada cita-cita tersebut, banyak membaca buku, dan bertemu ahli agama Kristen. Alkitab selalu dipelajarinya secara nonsteop, dibawa kemana pun dan dibacanya berkali-kali.


Ia lahir di Indianapolis, negara bagian Indiana, kemudian besar di daerah Hamilton. Selama itu, tak pernah ia bersentuhan langsung dengan Islam.


Hingga akhirnya, ia bertemu seorang mualaf di tempat kerjanya, enam bulan sebelum kelahiran putrinya. Mereka kemudian banyak berbincang tentang Islam.


Sang mualaf tersebut tidak pernah bermaksud untuk mengajak, apalagi memaksa Jared agar masuk Islam. Obrolan mereka kebanyakan bersifat ringan, diiringi gelak tawa, layaknya mengobrol bersama dengan teman lainnya.


Dalam setiap obrolan tersebut, ia mendapatkan gambaran tentang Islam. Sebuah hal yang tidak pernah dikenalnya sejak ia kecil.


Ketika kecil saat ia rajin membaca buku-buku agama, ia tak pernah mendapatkan informasi tentang Islam. Agama lain seperti Buddha, Hindu, ia pernah tahu. Namun Islam, baru ia dengar sekarang.


Selain kurang informasi, ia sendiri sangat jarang bertemu dengan orang yang beragama Islam. Justru, di Amerika semua media, baik televisi maupun surat kabar, terkesan memusuhi Islam dan selalu menjelek-jelekkannya.


Temannya ini membuka matanya pada Islam. Ia pun punya kesimpulan Islam dan Kristen sebenarnya sangat mirip, hanya ada beberapa perbedaan esensi di antara keduanya.


Kemudian, temannya yang mualaf itu pindah. Ia pun merasa kehilangan. ”Walau ia telah jauh, tapi kami terus berhubungan,” katanya.


Di saat ia merasa kehilangan seorang teman yang membuka wawasannya tentang Islam, ia pun mempertanyakan imannya. ”Saya ingin lebih yakin pada keberadaan Tuhan,” ujarnya.


Perang batin ini membuatnya frustrasi. Ia muak dengan semua dokumentasi yang menjelek-jelekkan Islam. Padahal, ia mulai mengagumi Islam, salah satunya adalah cara ibadahnya yang menyembah pencipta-Nya (ini berarti sikap sujud ketika shalat).


Lama kelamaan, ia justru melihat sisi jelek dari agama yang selama ini ia anut. Ia pun mulai membandingkan. Ia merasa dia tidak sesuci umat Islam. Bahkan, ia iri dengan umat Muslim yang bisa setaat itu pada Tuhannya.


Ia hanya ingin menjadi manusia yang taat dan bisa percaya pada Tuhannya dengan sepenuh hati. Namun, ia tidak tahu harus mencari informasi yang menenteramkan jiwanya ke mana lagi.


Dalam kebimbangannya ia merasa mendapatkan jalan buntu. Ia bahkan ditinggalkan oleh calon istrinya, mengalami kesulitan keuangan, dan ia pun menjadi pengangguran.


Ia sadar, saat itu tak ada lagi yang peduli padanya. Padahal, selama ini ia telah bekerja keras untuk menjadi seorang penganut Kristen yang baik.


Ia pun frustrasi dengan hal ini dan saat itu hatinya berkata untuk mulai mencari tahu tentang Islam. Ia mengunjungi Masjid Al Huda dan bertemu dengan beberapa kaum Muslim di sana.


Selama dua hari, ia banyak berbincang tentang Islam. ”Mereka mengatakan kepada saya, betapa pentingnya menjadi seorang Muslim,” katanya.


Di sana ia juga diperlihatkan sebuah Alquran dan ia terkejut ternyata kisah lahirnya Yesus dijelaskan. Di sanalah ia mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, terorisme yang dilakukan ternyata tidak dibenarkan oleh Alquran.


Sepulangnya dari tempat tersebut, justru ia bertambah galau. Ia pun pergi ke gereja dan mengajukan banyak pertanyaan pada pendetanya.


Sang pendeta tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan berdasarkan Alkitab. ”Ini sangat berbeda dengan Alquran di mana semua jawaban atas pertanyaan saya ada di sana,” ujarnya.


Alquran, menurutnya, bisa memberikan jawaban dengan cara yang masuk akal. ”Saya masih ingin lebih banyak bukti dan lebih banyak bukti lagi yang meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang tepat bagi saya,” katanya.


Satu hal lagi yang memantapkan hatinya adalah konsep politik dan kepemimpinan dalam Islam. Selain itu, seringnya ia bertemu dengan orang Muslim membuat kedekatan antarsesama Muslim ini seperti saudara. ”Saya pun mantap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,” katanya.


Gugup. Itu yang ia rasakan sebelum bersyahadat. Apalagi, kesaksiannya masuk Islam disaksikan orang banyak.


Namun, setelah dua kalimat syahadat terlontar dari mulutnya, ia langsung merasa berbeda. ”Saya merasa benar-benar tanpa dosa untuk pertama kalinya dalam hidup saya,” ujarnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/10/16/murdls-yayasan-orbit-bagikan-daging-kurban-kepada-mualaf-lautze


Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

Tuesday, December 10, 2013

Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

REPUBLIKA.CO.ID,


Ia memutuskan menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim di sekelilingnya.


Dalam usianya yang menginjak 91 tahun, Georgette Lepaulle memutuskan masuk Islam. Meski sudah tua nan renta, ia tidak pernah merasa terlambat dalam membuat langkah terbaik dalam hidupnya.


Georgette sebenarnya sudah lama tahu tentang Islam karena ia mempunyai tetangga Muslim. Rumahnya yang berada di Berchem, di sebuah kota di provinsi Antwerpen, Belgia, berdekatan dengan rumah sebuah keluarga Muslim yang sangat baik kepadanya.


Selama 40 tahun bertetangga dengan seorang Muslim bernama Muhammad, membuat Georgette kagum dengan Islam karena tak pernah sekalipun ia diperlakukan tidak baik. Keluarga Muhammad selalu senyum dan baik hati kepadanya, padahal ia bukanlah bagian dari Islam.


Hingga akhirnya dua tahun yang lalu, terjadilah peristiwa yang membuat Georgette semakin dekat dengan keluarga Muhammad. Saat itu, karena usianya telah dianggap sangat tua, keluarga Georgette ingin memasukkannya ke panti jompo.


Muhammad yang tidak tega terhadap Georgette pun menghalang-halangi niatan tersebut hingga akhirnya ia mengajak Goergette untuk tinggal bersama. Karena ibu Muhammad telah meninggal, Georgette telah dianggap layaknya ibu sendiri.


Sejak tinggal bersama keluarga Muhammad, Georgette semakin tertarik mempelajari Islam. Nenek ini selalu melihat keluarga Muhammad sering melakukan shalat berjamaah, penuh kasih sayang, dan saling berbagi. Ia melihat makna “keluarga” yang begitu indah dalam keluarga Muhammad, sangat berbeda dengan kondisi keluarganya.


Hingga 2012 lalu, Gorgette akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat syahadat. Saat itu, Georgette tercatat sebagai mualaf tertua di dunia dengan usia 91 tahun.


Ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim yang berada di sekelilingnya dan beberapa kali ia merasa Allah mengabulkan doanya.


Setahun berlalu setelah masuk Islam, ia pun melakukan semua perintah Allah dengan tegas, menjalankan ibadah, serta tidak melanggar apa yang diharamkan.


Ia masih sehat hingga sekarang dan bisa melakukan perjalanan spiritual untuk bertemu dengan umat Islam yang bermacam-macam tipenya dari seluruh dunia.


Georgette sebelumnya memeluk Katolik. Ia pernah dibaptis, menimba ilmu di sekolah biarawati, menikah di gereja hingga dua kali, dua suaminya yang telah meninggal pun dimakamkan dengan tata cara gereja setempat.


Ia bekerja sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga Yahudi. Perilaku yang tidak sehat selalu mengiringi hidupnya.


Ia kecanduan merokok dari usia lima tahun hingga 78 tahun dan setiap hari selalu menenggak minimal setenggah botol alkohol sejak ia berusia tujuh tahun. Itulah kebiasaan yang mengisi hari-harinya sebelum Georgette masuk Islam.


Pertengahan 2012 lalu, Georgette ikut dengan keluarga Muhammad pulang kampung, mengunjungi keluarganya di Maroko. Saat itu adalah bulan Ramadhan.


Georgette mengenal apa itu puasa karena ia besar dalam lingkungan Katolik, yang sering berpuasa menjelang hari Paskah.


Namun, puasa yang dilakukan umat Islam, menurutnya berbeda. “Saya sadar, mengapa baru sekarang saya merasakan pengalaman ini, saya mulai percaya dengan sesuatu yang lebih tinggi dari semuanya, merasakan hubungan dengan Allah,” katanya.


Ia merasa keikutsertaannya saat Ramadhan tahun lalu itu membangkitkan jiwa religiusnya. “Saya percaya kepada Allah yang selalu terbuka dan selalu mencintai makhluk ciptaan-Nya,” ujarnya.


Georgette pernah berdoa dengan khusyuk, meminta kesembuhan seorang temannya dan mendoakan keselamatan seorang anak muda yang ditemuinya, yang dianggapnya salah jalan. Alhamdulillah, kedua doanya tersebut terkabul. “Ini sudah cukup menguatkan diri saya untuk masuk Islam,” ujarnya.


Di Maroko inilah ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelumnya, para Muslimah di sana membersihkan tubuh Georgette dengan tata cara mandi besar, sebuah hal yang diwajibkan sebelum seseorang masuk Islam.


Setelah syahadat terucap dari mulutnya, puluhan Muslimah yang datang menyaksikan menghujani Georgette dengan ciuman.


“Saya belum pernah menerima ciuman sebanyak itu sepanjang hidup saya,” katanya. Ia merasa terharu karena mereka semua menganggapnya sebagai saudara.


Ketika pulang ke Belgia, Georgette diantar untuk mengurus sertifikat keislamannya di masjid besar setempat. Ia menyandang nama Muslim baru, Noor. Kemudian, masjid tersebut melaporkannya ke masjid di Makkah.


Ternyata, data di Makkah menyatakan tidak ada mualaf yang lebih tua dari usia Georgette saat itu, yakni 91 tahun.


Segera kabar ini ditanggapi oleh Kerajaan Saudi dengan memberikan apresiasi, diberikan undangan khusus untuk naik haji tahun berikutnya, dan sebuah jam tangan emas.


Meski masuk Islam dalam usia yang sangat tua, tak membuat Georgette berkomitmen setengah-setengah. Sejak masuk Islam, ia mantap meninggalkan kebiasaannya selama ini yang dilarang oleh Islam, seperti menenggak minuman keras, merokok, mengonsumsi daging babi, dan ber-make-up berlebihan.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/12/10/mxktk1-gairah-islam-di-negeri-tango


Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

Saturday, August 3, 2013

Bella Saphira & Jenderal Menikah di Binjai 17 Agustus Mendatang

Setelah menjadi mualaf, Bella Saphira akan menikah dengan Mayor Jenderal (Mayjen) H. Agus Surya Bhakti. Kabarnya, pernikahan mereka akan digelar pada Agustus mendatang.


Bella Sapphira Jenderal//H. Agus Surya Bhakti.

Bella Sapphira dan Jenderal//H. Agus Surya Bhakti.


Dikutip dari tabloid Cek n Ricek edisi terbaru yang terbit Selasa (30/7), pernikahan keduanya rencananya akan digelar di Binjai, Sumatera Utara, tepat pada hari perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Kota Binjai adalah kampung halaman jenderal bintang dua tersebut.


Mereka akan menikah di rumah orangtua Agus. Menurut sebuah sumber, resepsi akan digelar akhir Agustus 2013. Tanggal dan tempat belum ditetapkan karena masih dicari.


Sumber itu pun mengungkapkan, Bella dan sang jenderal sudah menjalin hubungan cinta selama dua tahunn

Mereka memang tidak pernah memublikasikan hubungan tersebut. Namun, jenderal dari TNI Angkatan Darat itu ikut mendampingi Bella saat menjalani prosesi masuk Islam di Masjid Istiqal, Jumat pekan lalu. Agus yang saat itu mengenakan baju koko warna putih gading dan duduk di seberang Bella, luput dari jepretan kamera para wartawan.


Sayangnya, sampai saat ini, Bella, artis berdarah Batak yang lahir di Magelang belum bisa dimintai komentarnya terkait kabar ini.


Pada Jumat (26/7) pekan lalu, Bella Saphira menjalani prosesi masuk Islam di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Saat itu berembus kabar, Bella menjadi mualaf karena akan menikah dengan seorang jenderal. Kini, teka-teki itu mulai terkuak.


Duda dua anak tersebut saat ini menjabat sebagai Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Istri Agus, Mila, meninggal akibat kanker paru-paru, sekitar empat tahun lalu.


Seorang sumber menuturkan, Bella dekat dengan Agus sejak dua tahun silam. Agus adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang, angkatan 1984. Sejak menyandang pangkat Letnan Dua, Agus berkarier di kecabangan Infanteri.


Agus juga pernah berkarir di Korps Baret Merah, menjabat Komandan Grup III Sandiyudha Kopassus pada 2002. Selanjutnya, Agus menjadi Komandan Ke-20 di Pusat Pendidikan Intelijen TNI AD dari 2007 hingga 2008.


Alumni Akabri tahun 1984 dan Lemhannas tahun 2001 ini juga pernah menjabat sebagai Danton Kopassandha, Asintel Kodam Iskandar Muda, Dan Pusdik Intel Kodiklat TNI AD, Bais TNI, Danrem-152/Babullah, Wakil Asisten Teritorial Kasa.


Pria yang pernah mengenyam di bidang intelijen ini  latar belakangnya sebagai Komandan Grup 3 Kopassus/Sandhi Yuda yang memiliki spesifik tugas perang rahasia ‘clandestine operation’, termasuk kemampuan dalam intelijen tempur, dan kontra pemberontakan seperti dikutip dari wikipedia.

Grup 3 Kopassus lahir pada tanggal 24 Juli 1967 dan bermarkas di Cijantung Jakarta Timur. Calon personel di grup ini diseleksi sangat ketat di internal mulai dari calon prajurit yang masih pendidikan hingga personel yang sudah bertugas aktif di kesatuan, namun juga mempunyai bakat intelijen yang kemudian akan dilatih lagi.


Sekedar diketahui, Bella belum pernah menikah, namun ia pernah menjalin kasih dengan Adjie Massaid selama 20 bulan atau hampir 2 tahun di masa lalunya. (dtc/int)




Share on facebook



Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Bella Saphira & Jenderal Menikah di Binjai 17 Agustus Mendatang

Monday, June 3, 2013

Terima Mobil dari Fathanah, Siapa Novia Ardhana?

Grafis Terkait


Obat-obatan Di Tubuh Jackson


Foto Terkait


Menyambut Final, Tiga Besar X-Factor Duet Bersama Mentornya


Video Terkait


Backstreet Boys Terima Hollywood Walk of Fame




TEMPO.CO, Jakarta -Satu lagi perempuan yang berada di pusaran Ahmad Fathanah, tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota impor daging sapi Kementerian Pertanian. Dia adalah Novia Ardhana, setelah sederet nama yang menerima derma dari Fathanah seperti mahasiswa Maharani, artis Ayu Azhari, model majalah pria dewasa Vitalia Shesya dan penyanyi dangdut Tri Kurnia Rahayu, belakangan nama Novia Ardhana juga muncul.


Hal itu diungkapkan pengacara Vitalia, Farhat Abbas, bahwa Novia memang pernah mendapat hadiah dari Fathanah berupa Honda Jazz, uang Rp 50 juta dan sejumlah perhiasan. Siapakah sebenarnya Novia Ardhana? Sampai kini Tempo masih berusaha menghubungi Novia.


Wanita yang biasa disapa Novi ini lahir di Jakarta pada 27 November 1974. Di awal tahun 2000an wajahnya sempat menghiasi layar kaca sebagai bintang sinetron. Selain artis, Novi yang berparas putih mulus itu juga pernah menjadi presenter dan memandu beberapa acara antara lain Seputar Olah Raga (RCTI) dan Sisi-Sisi Selebriti.


Di dunia sinetron namanya melambung dengan sederet sinetron yang pernah dibintanginya antara lain Jelangkung, Bila Wanita Bercanda, Misteri Nini Pelet, Maharani, Asyiknya Geng Hijau, Cahaya Kemenangan, Nyanyian Seorang Istri, dan Kembali ke Fitrah.


Berita perceraian Novi dengan suami, Muhammad Bintang merebak di tahun 2004. Novi yang memiliki pribadi supel itu dikabarkan bercerai karena kedekatannya dengan aktor senior Tio Pakusadewo di tahun 2003. Belakangan juga muncul nama aktor Agus Kuncoro yang juga sempat dekat dengan Novi. Nama Agus disebu-sebut sebagai pemicu bercerainya dengan Abin, panggilan Muhammad Bintang yang menikahi Novi pada 9 Februari 2001. Hasil pernikahan ini dikaruniai seorang putri bernama Jasmine Mutiara Bintang. Perceraian ini juga didasari tindak tanduk Abin yang sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang pernah memukuli Novi hingga lembam.


Novi yang menjadi mualaf atau memeluk agama Islam ini pernah mengaku dirinya sebagai pecandu narkoba pada April 2006. Novi juga pernah terjaring razia narkoba di Bali saat malam pergantian tahun 2006, dengan ditemukan 0,5 gram ganja, dan ekstasi. Namun karena barang terlarang tersebut bukan miliknya maka dirinya tidak ditahan.


HADRIANI P



Terhangat:
Teroris
| Edsus FANS BOLA | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Baca Juga:
Reuni Mesra Ahmad Fathanah Istri Mudanya

PKS Bungkam Soal Kicauan Mahfudz Siddiq

KPK: PKS Jangan Membalikkan Fakta

Fatin Lupa Lirik, Bebi: Ini Bukan Idola Cilik

Ahok: Komnas HAM Tidak Paham Keadilan

Rumah Seharga Rp 5,8 M, Fathanah Masih Nunggak

Ahok: Pemprov Tak Perlu Datang ke Komnas HAM

Istri Wali Kota Belanda Berebut Foto Bareng Jokowi

Ahok Ingin Tahu Alasan Detil Penolakan Deep Tunnel


Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/04/28/16274786/LKP.Inilah.Sebab.Parpol.Islam.Terseok


Terima Mobil dari Fathanah, Siapa Novia Ardhana?

Wednesday, January 15, 2014

Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia menemukan kedamaian dan ketenangan hati setelah memeluk Islam.

Laki-laki Amerika ini terlahir dari ibu beragama Buddha dan ayah yang entah ia tak pernah tahu agamanya. Yang ia tahu, ayahnya setiap hari mabuk-mabukan dan tak pernah memperhatikan keluarganya.


Khidr Shahid Salaam dibesarkan tanpa pendidikan agama dari orang tuanya. Namun, karena lingkungan tempatnya tinggal membuatnya akrab dengan Kristen.


Ia pun sering pergi ke gereja bersama teman-temannya. Tapi aktivitas religius ini hanya dilakukannya sekadar ikut-ikutan, tak benar-benar merasuk ke kalbunya.


Peristiwa 9/11, yakni saat itu hampir semua media mainstream Amerika menuduh Islam sebagai pelaku dan teroris, membuatnya terhenyak. Ia sebelumnya tak pernah mengenal dengan baik apa itu Islam. Juga jiwanya kosong karena tak pernah diteduhkan oleh agama.


Rasa benci pada Islam mulai timbul pada dirinya. Ia mempunyai niat untuk membalas dendam kepada semua orang Islam di dunia ini.


Atas nama rasa benci tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota tentara Angkatan Darat Amerika Serikat agar bisa dikirim ke Timur Tengah dan membunuh orang-orang Muslim di sana.


“Karena saya sebenarnya bukan orang Kristen yang terlalu taat, saya bahkan minta dibaptis dulu untuk menguatkan keinginan saya membunuh orang-orang Muslim nanti,” ujarnya.


Sayang, ia tidak lolos tes masuk sehingga keinginan untuk membalas dendam dan membunuh orang Muslim tersebut pupus sudah.


Justru, saat itu ia mulai merasa kecewa dengan agama Kristen. Karena ia memiliki sebuah keinginan yang sangat kuat namun Tuhannya tak mengabulkannya.


Rasa kecewa yang sangat parah akhirnya membuat Salaam terjerumus dalam gaya hidup yang merusak dirinya, mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas. “Saat itu saya sudah dewasa, lebih dari 21 tahun, dan saya sudah boleh melakukan hal-hal tersebut,” katanya.


Kehidupannya semakin parah karena mengantarkannya pada hal-hal yang bersifat kriminal, pencurian, perampokan, penggelapan kendaraan, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sering dilakukannya.


Akibatnya, sudah pasti ia tertangkap dan mendekam di dalam penjara. Di penjara wilayah yang menjadi tempat tahanannya, ia mencoba mencari pertolongan dari Tuhan, padahal selama ini ia mengaku dirinya adalah orang ateis.


Tuhan yang ia tahu hanyalah Tuhan dari agama Kristen. Setiap hari dan malam, ia terus membaca Alkitab. Salaam ingin mendekatkan diri kepada Tuhan dan percaya Tuhannya nanti pasti akan membebaskannya.


Pengadilan akhirnya memutuskan hukuman yang sangat berat baginya. Hukuman penjara selama 75 tahun untuk perampokan yang dilakukannya, 25 tahun untuk pencurian, dan 20 bulan karena mengendarai mobil ilegal.


“Tak sampai satu jam setelah hakim membacakan keputusan itu, hilanglah kepercayaanku kepada Tuhan,” ujarnya.


Ia kecewa karena Tuhannya sekali lagi tak mengabulkan permintaannya hingga akhirnya jiwanya dipenuhi kebencian pada semua hal. Dalam menjalani masa hukuman, Salaam bertemu dengan komunitas narapidana Muslim.


Komunitas ini menamakan dirinya Lima Persen karena jumlah mereka yang sangat kecil dibandingkan penghuni penjara lainnya. Mereka juga tidak pernah mendapatkan pelayanan serta fasilitas ibadah dari pengelola penjara.


Di awal masa tahanannya, keluarga serta istrinya sering mengunjunginya pada akhir pekan. Namun, setelah sekian lama, istrinya tak lagi datang. Kemudian, ia mengetahui istrinya tersebut telah meninggalkannya. Kesedihannya bertambah Salaam juga mendapatkan kabar ayahnya meninggal.


Kekosongan jiwanya dan runtuhnya kepercayaan kepada Tuhan menuntun Salaam untuk bergaul dengan para anggota komunitas ini. Ia melihat komunitas tersebut sangat taat beribadah dan disiplin.


“Saya dibolehkan ikut shalat Jumat kala itu meski hanya menirukan gerakan orang lain. Dan, ketika mendengarkan khutbah, itu langsung menyentuh diri saya. Rasanya sang imam seperti sedang berbicara langsung pada saya,” katanya.


Setelah itu, ia mempelajari Islam lebih lanjut. Banyak buku tentang Islam yang Salaam baca dan ia juga belajar gerakan dan bacaan shalat serta doa-doa.


Saat itu, ia merasa lebih tenang dan nyaman. “Aku menyukai kata-kata dalam al-Fatihah dan bacaan-bacaan Islam yang memuji Allah,” ujarnya.


Ini yang membuatnya berpikir Islam berbeda dengan agamanya yang dulu. Di dalam Kristen, ia selalu berdoa untuk minta sesuatu.


Sedangkan dalam Islam, doa-doa yang dipanjatkan dipenuhi dengan puji-pujian dan semakin meneguhkan iman.


Pada  2008, akhirnya ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Di masa awalnya menjadi mualaf, yang paling berat dirasakannya adalah melakukan puasa karena itu bertepatan dengan musim panas di Amerika.


Namun dari Alquran yang dibacanya, ia percaya setelah melewati masa sesuatu yang berat, pasti akan diberikan masa yang lebih mudah. “Dan benar, setelah itu saya tidak pernah berada dalam situasi yang lebih baik dalam hidup saya,” ujarnya.


Setelah masuk Islam, ia merasakan banyak hikmah dan keajaiban terjadi pada hidupnya. Hukuman penjaranya menjadi lebih ringan, hanya sembilan tahun saja, dan kini ia telah menghirup udara bebas.


Ia kemudian dipertemukan dengan perempuan Muslim salihah, yang lebih baik daripada istrinya yang pertama, dan kemudian menjadi istrinya.


Rasa syukur terus dipanjatkannya karena kini ia telah diberikan kehidupan yang tenteram, pekerjaan yang layak, sebuah rumah indah, serta rasa bahagia yang terus ada dalam dirinya.



Article source: http://entertainment.kompas.com/read/xml/2013/11/26/1430093/Ayah.Asmirandah.Seharusnya.Vanno.Berani.Ambil.Risiko?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

Tuesday, April 16, 2013

Wawancara dengan Ustad Berpengaruh di New York

TEMPO.CO, Jakarta – Muhammad Syamsi Ali telah 16 tahun tinggal di New York, Amerika Serikat. Di sana ia bukan sekadar warga biasa. Ayah lima anak ini adalah imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah, yang didirikan muslim Indonesia di Astoria. Ia juga Direktur Jamaica Muslim Center di Queens.


Namanya kian populer karena beragam kegiatan antar-imannya. Ia rajin mengenalkan Islam ke gereja dan sinagog. Ia juga bekerja sama dengan kelompok Yahudi dan Kristen sejak serangan 11 September yang merobohkan World Trade Center dan mengoyak Pentagon.


Pada 2006, namanya pun masuk daftar tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di New York oleh New York Magazine. Kamis, dua pekan lalu, Tempo mewawancarai Muhammad Syamsi Ali saat ia berada di Jakarta.


Apa cita-cita masa kecil Anda?
Menjadi tentara. Menurut saya, tentara itu profesi paling hebat. Apalagi saya suka berkelahi.


Kenakalan paling fatal apa yang pernah Anda lakukan waktu kecil?
Saya pernah masuk tahanan polisi selama tujuh hari. Gara-garanya ada siswa pesantren yang menantang saya berkelahi. Merasa tertantang, ya, saya lawan. Hidung siswa itu patah dan harus masuk rumah sakit. Saya pun diadukan ke polisi.


Lalu, bagaimana Anda bisa menjadi imam di New York?
Itu karena undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu, Nugroho Wisnumurti. Saya bertemu Pak Nugroho di Jeddah, Arab Saudi. Kebetulan waktu itu saya tidak betah mengajar di Islamic Education Foundation Jeddah (yayasan pendidikan milik Amir Mamduh, adik Raja Fahd) karena adanya diskriminasi.


Dari Pakistan, Arab Saudi, lalu ke Amerika. Anda mengalami gegar budaya?
Pasti. Saya waktu itu senang, tapi juga waswas. Di kepala saya itu, semua gejolak di Afganistan dan Timur Tengah adalah desain Zionis Amerika. Tapi sopir taksi pertama yang saya tumpangi dari bandara ke Kantor Perwakilan Indonesia di PBB bernama Muhammad Fazil, orang Pakistan. Sepanjang perjalanan, kami bicara. Dari situ, pola pikir saya mulai berubah.


***


Setiap tahun dia pulang ke Tanah Air. Tahun ini ia menghadiri konferensi perdamaian dunia yang digelar Muhammadiyah. Ia juga keliling Jakarta, Padang, Balikpapan, dan Makassar, untuk menyuarakan pluralisme dan sikap saling menghargai.


Setelah lama pergi, bagaimana Anda melihat perkembangan umat Islam di Indonesia?
Islam didominasi oleh kepentingan politik. Sebenarnya, mau memakai Islam sebagai kekuatan politik, silakan. Mau memakai Islam sebagai dasar politik, juga silakan. Tapi jangan dipolitisasi. Yang terjadi sekarang, banyak partai menjadikan Islam sebagai obyek politik.


Apa yang terpikir saat melihat intoleransi dan tekanan kepada kelompok minoritas di Indonesia?
Sedih. Ini mungkin proses pematangan demokrasi. Amerika juga tidak langsung matang. Kita tahu perjuangan warga kulit hitam di sana yang dipimpin Martin Luther King tidaklah gampang. Tapi pemerintah tetap harus tegas. Hukum harus ditegakkan, dan harus ada peran aktif ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.


Maksudnya?
Sebagai ormas besar, NU dan Muhammadiyah harus berinisiatif mempertemukan mereka yang sedang berkonflik. Harus ada kedewasaan. Sebagai mayoritas, yang kita bangun bukanlah rasa takut, tapi justru harus mengayomi. Itu dilakukan Rasul.


Lalu, bagaimana dengan kelompok garis keras yang terus menggunakan kekerasan, misalnya Front Pembela Islam (FPI)?
Ya hukum harus jelas. Teman-teman seperti di FPI ini harus introspeksi diri. Apa yang mereka lakukan belum tentu membawa dampak positif. Karena, ketika dengan alasan melakukan nahi munkar (mencegah perbuatan buruk), tapi dilakukan dengan kekerasan, kemungkaran justru bertambah. Orang semakin benci.


***


Syamsi Ali meneruskan bicara. Ia memilih menjamak takhir salat magrib. Ia pun kembali berkisah tentang kegiatannya di New York. Di antara seabrek kegiatannya, Syamsi selalu meluangkan waktu untuk hobinya: olahraga. “Tahun lalu saya ikut maraton di Chicago,” katanya.


Ia rutin joging dua kali sepekan. Kalau pas hari kerja, minimal ia berlari sejauh 5 mil. Sedangkan pada akhir pekan, bisa 10 mil. Untuk latihan silat? “Tak ada lawannya,” ujarnya sembari tertawa.


Apa perubahan terpenting bagi umat muslim Amerika pasca-tragedi 11 September?
Islam sekarang menjadi mainstream. Amerika, yang dulu dikenal sebagai bangsa Kristen-Yahudi, sekarang menjadi Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Buddha, dan semuanya. Dan yang pasti, pola komunikasi antar-agama berubah. Kami bahkan tak lagi menggunakan istilah dialog, melainkan kerja sama. Dialog identik dengan elite. Para pimpinan agamanya bertemu, tapi masyarakat tetap berkelahi. Karena itu kita ubah.


Kerja sama seperti apa?
Di New York, kita buat “Soup Kitchen for Homeless”. Jadi di dapur umum itu, masyarakat muslim, Yahudi, Kristen masak bersama untuk orang miskin. Ada juga “Midnight Run”. Kami keluar di tengah malam, membagikan sandwich dan minuman untuk orang di jalanan. Yang muslim memakai peci, yang Kristen memakai salib, dan Yahudi memakai peci yahudi. Para gelandangan heran melihat kami karena bisa bergandengan.


Bagaimana Anda memulai kerja sama dengan umat agama lain pasca-tragedi 11 September?
Saya mulai mengunjungi gereja yang dekat dengan masjid Indonesia di Manhattan. Saya juga berdialog dengan Rabi Marc Schneier, satu dari 50 rabi yang berpengaruh di Amerika. Saya kini justru dekat dengan dia. Bahkan konsep dialog lintas agama kami berdua dipelajari oleh rabi dan imam dari Eropa dan Amerika Latin yang datang ke New York. Gerakan itu jadi meluas sehingga menjadi gerakan internasional.


Anda mendapat serangan atau ancaman karena kedekatan Anda dengan rabi dan pendeta, juga sinagog dan gereja?
Tidak pernah ada ancaman. Di Amerika, ancaman adalah kriminal. Apalagi sampai memukul. Yang terjadi, saya dijelek-jelekkan. Lihat saja di Internet. Banyak sekali hujatan buat saya. Ada yang membuat website khusus yang ada foto saya dengan tulisan “A Liar”. Isinya wawancara saya yang diambil sepotong-sepotong dari berbagai media. Saya dituduh anti-syariah. Tapi saya tidak terlalu memikirkan.


Bagaimana peran pemerintah dalam melindungi kerukunan umat beragama?
Luar biasa. Ketika komunitas umat Islam diobok-obok, mereka justru mengayomi kami. Di bawah Michael Bloomberg (Wali Kota New York), kami diberi kebebasan. Islam, kalau diberi kebebasan, seperti ikan mendapatkan air. Sebanyak 10 persen dari penduduk New York—yang sekitar 8 juta itu—adalah muslim. Pernah ada kejadian menarik. Meski Bloomberg bukan muslim, dia pernah ikut salat Jumat. Ketika itu, dia datang untuk mengucapkan terima kasih atas dukungannya dalam pemilu. Dia pun mendengarkan khotbah saya tentang Islam dan pluralisme. Seusai khotbah, saya minta dia ke pojokan. Eh ternyata dia malah ikut salat di belakang. Tapi itu politik… ha-ha-ha….


Bagaimana dengan perkembangan pembangunan Islamic Center di dekat “ground zero” yang pernah menjadi perdebatan?
Sekarang ini tetap dipakai salat Jumat dan salat lima waktu. Ada kuliah rutin Al-Quran untuk anak-anak. Saya mengajar beberapa kali di sana. Tapi memang, untuk renovasi, butuh biaya besar. Di Islamic Center itu rencananya akan dibangun juga museum 11 September, lengkap dengan pusat kulinernya.


Apa rencana Anda ke depan?
Saya selalu ingin memperlihatkan bahwa Islam itu bersahabat, meski saya terus dituduh bekerja sama dengan Yahudi Zionis.


HERU TRIYONO

Topik Terhangat:
Lion Air Jatuh|Serangan Penjara Sleman|Harta Djoko Susilo|Nasib Anas


Baca juga
EDISI KHUSUS Tipu-Tipu Jagad Maya

Kata Saksi Bom Boston
Selamat dari Bom Boston, Dirut BTPN Hobi Lari
Bom Boston Diduga Disembunyikan di Tong Sampah


Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/04/09/156708/pks-utamakan-kader-internal-ketimbang-artis-dalam-pencalegan


Wawancara dengan Ustad Berpengaruh di New York

Monday, November 18, 2013

Jonas Rivanno Cuma Ngaku Pernah Jadi Mualaf dengan Tulus

Senin, 18 November 2013 18:37 wib

Alan Pamungkas – Okezone

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

JAKARTA – Jonas Rivanno Wattimena (Vanno) resmi menjadi mualaf pada 21 Agustus 2013. Dia pun mengaku pernah menjadi mualaf dengan tulus.


Dibimbing Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Beji, Ustadz Mahari Madarif, Vanno mengucapkan dua kalimat syahadat selepas salat Subuh di Masjid An Nur Tanah Baru, Depok.


Vanno menjadi mualaf agar bisa menikahi kekasihnya, Asmirandah. Betul saja, pada 17 Oktober, Vanno dan Andah resmi menikah di hadapan KUA Kecamatan Beji dengan status Vanno beragama Islam.


Kedua Peristiwa itu sempat dibantah Vanno dan Andah. Vanno menggelar jumpa pers pertama pada 29 Oktober di kediamannya di kawasan Kota Wisata Cibubur. Dalam konferensi pers tersebut, Vanno mengaku masih beragama Kristen, dan belum menikah dengan Andah. Pernikahan baru dilaksanakan pada Januari 2014.


Pernyataan Vanno kemudian diperkarakan FPI Depok, dan MUI Kecamatan Beji. Vanno dinilai telah melecehkan agama Islam karena telah mengingkari pengucapan dua kalimat syahadat.


Merasa dirinya tersudut, Vanno menggelar kembali jumpa pers kedua pada 15 November. Dalam jumpa tersebut, Vanno mencabut pernyataan pertamanya, dan mengakui pernah menjadi mualaf, dan sudah menikah dengan Asmirandah.


“Saya selaku pribadi mencabut penyataan sebelumnya, saya pernah jadi mualaf dengan setulusnya dan sedalam-dalamnya,” ungkap Vanno saat ditemui di kawasan Cibubur, Depok.


Hingga saat ini, kasus tersebut masih berbuntut panjang. Namun, yang masih menjadi teka-teki apakah agama yang saat ini dianut Vanno? Dia pun enggan menjawab dengan alasan privasi.


(nsa)






mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.ngomel.com/pengakuan-vanno-dan-asmirandah-15113


Jonas Rivanno Cuma Ngaku Pernah Jadi Mualaf dengan Tulus

Friday, May 24, 2013

Pelaku Pembunuhan Sadis Tentara Inggris Pernah Mencoba Pergi ke Somalia


salah seorang pelaku (ITV News)

London, – Dua pelaku pembunuhan sadis tentara Inggris saat ini masih dirawat di rumah sakit setelah ditembak polisi. Kedua pria berkulit hitam itu diketahui sebagai warga Inggris keturunan Nigeria. Kepolisian belum merilis identitas kedua pria tersebut.

Namun media Inggris mengidentifikasi salah satu pelaku adalah Michael Adebolajo, yang namanya sudah tak asing bagi kepolisian dan intelijen Inggris dikarenakan sepak terjangnya.


Menurut harian Telegraph, Jumat (24/5/2013), Adebolajo pernah ditangkap enam tahun lalu setelah terlibat dalam aksi protes yang berlangsung rusuh di luar Old Bailey. Pria berumur 28 tahun itu dikenal sebagai anggota sebuah kelompok fanatik yang kerap melancarkan aksi demo bersama sejumlah ulama Inggris.



Pekan lalu, Adebolajo pernah muncul menyuarakan retorika anti-Barat di Woolwich. Bahkan dia pernah mencoba pergi ke Somalia untuk bergabung dengan jaringan militan Al-Shabaab, namun dipaksa kembali ke Inggris.


Menurut Anjem Choudary, pemimpin kelompok radikal yang telah dilarang, al-Muhajiroun, Adebolajo sering menghadiri pertemuan dan aksi-aksi demo yang dilakukan kelompoknya. Adebolajo juga diketahui sebagai mualaf yang dekat dengan ulama radikal yang terkenal di Inggris, Omar Bakri Mohammed.


Bahkan Omar Bakri Mohammed mengaku dirinyalah yang meng-Islam-kan Adebolajo beberapa tahun lalu. “Kami dulu memiliki sebuah kios di jalanan di London tempat kami berbicara dengan orang-orang yang lewat soal arti kehidupan,” tuturnya.


“Dia berhenti untuk berbicara dengan kami dan kami mengajaknya untuk masuk Islam. Karena dia mualaf, saya masih bisa mengingat dia. Saat itu ada banyak konflik di seluruh dunia, dan khususnya di Irak dan Afghanistan. Kami bicara dengan dia soal ini dan dia tampaknya bersimpati pada kaum muslim,” tuturnya.


Adapun pelaku kedua belum diketahui identitasnya. Namun para penyidik tengah menyelidiki apakah pria muda itu memiliki catatan kriminal sebelumnya.


Hanya Gara-gara Menyimpan Foto Pacar, Siswi SMK Tidak Diluluskan Pihak Sekolah. Simak Selengkapnya di “Reportase Pagi Akhir Pekan”, pukul 04.30 – 05.30 WIB Hanya di TransTV


(ita/nrl)







Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Pelaku Pembunuhan Sadis Tentara Inggris Pernah Mencoba Pergi ke Somalia

Saturday, December 28, 2013

Cita-cita Gus Dur yang Belum Terwujud: Ahok Jadi Gubernur atau Presiden

Dok: KompasJakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok menceritakan kenangannya bersama mantan Presiden RI ke-4, almarhum Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. 


Sebagai tokoh yang pernah mendukungnya maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung di Pilgub Babel 2007, Gus Dur meyakini Basuki dapat menjadi gubernur bahkan pemimpin Indonesia.


Saat mendapat penolakan dari berbagai pihak, kepercayaan diri Basuki menipis begitu mengetahui ia merupakan warga minoritas.


“Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa,” kata Basuki seraya menirukan ucapan Gus Dur, saat memberi testimoni di Haul ke-4 Gus Dur, di Pondok Pesantren Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu  malam yang ditulis Minggu (29/12/2013).


Walaupun akhirnya gagal menjadi gubernur, Basuki sangat berkesan saat-saat berjuang dibantu Gus Dur.


Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku bersyukur bisa mengenal Gus Dur. Karena Gus Dur pula yang mempengaruhinya terjun ke dunia politik.


Salah satu alasan mengapa Basuki ingin menjadi Gubernur Bangka Belitung, karena ingin mewujudkan jaminan kesehatan. Ia menginginkan Bangka Belitung dapat menjadi wilayah yang diperhitungkan di AFTA 2015.


Cita-citanya pun sama dengan cita-cita Gus Dur yaitu membangun pemerintahan yang mewujudkan keadilan sosial bukanlah bantuan sosial. Gus Dur pula yang mengingatkan Basuki untuk tetap teguh pada keyakinannya.


“Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat suara banyak. Tapi, Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau adalah contoh yang tidak pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” kata Basuki lagi.


Di samping itu, Gus Dur juga pernah membela Basuki saat ia mengajukan gugatan di Mahkamah Agung karena merasa dicurangi dalam kekalahan di Pilkada. Bahkan, Gus Dur berniat mengirim sebanyak 2.000 banser untuk membela Basuki.


Ide “gila” Gus Dur tak berhenti sampai di situ. Gus Dur berniat membuatkan tenda bagi para banser itu. Namun, Basuki tidak menerima ide Gus Dur. Sebab, ia tidak mau sampai ada pihak yang mengorbankan nyawa demi niatnya menjadi gubernur.


Alumnus Universitas Trisakti itu juga pernah mendapat pujian dari Gus Dur karena membebaskan biaya kesehatan saat memimpin Kabupaten Belitung Timur.


Haul ke-4 Gus Dur itu dikunjungi oleh sekitar 4.000 orang dari sejumlah pesantren, majelis taklim, dan kalangan umum di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.


Selain Basuki, tak sedikit pejabat lain yang hadir dan mendoakan Gus Dur. Antara lain mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Kapolri (Jend) Sutarman, politisi Partai Golkar Akbar Tanjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan tokoh agama Frans Magnis Suseno. [005-kompas]


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/733088/nama-jonas-rivanno-setelah-memeluk-islam


Cita-cita Gus Dur yang Belum Terwujud: Ahok Jadi Gubernur atau Presiden

Saturday, November 30, 2013

Jonas Rivano Akhirnya Mengaku Pernah Mualaf

Jakarta – Jonas Rivano akhirnya menggelar jumpa pers terkait berita miring tentang dirinya yang menghiasi media-media hiburan beberapa hari terakhir. Pada kesempatan itu, Vano menarik ucapan bahwa ia tidak pernah menjadi mualaf.

“Saya selaku pribadi mencabut penyataan sebelumnya. Saya pernah jadi mualaf,” ujar Vano saat menggelar jumpa pers bersama istrinya, Asmirandah di Rafles Hills, Cimanggis, Depok, Jumat (15/11/2013).


Selanjutnya, Vano juga meminta maaf kepada semua instansi terkait yang merasa telah dikecewakan oleh dirinya.


“Dengan setulusnya dan sedalam-dalamnya, saya meminta maaf kepada semua instansi, baik MUI Depok, KUA Depok, dan Masjid An Nur, saya mohon dibukakan pintu maaf untuk saya dan Andah,” katanya.


Namun ketika ditanyakan apakah saat ini dirinya masih memeluk agama Islam, Vano enggan untuk menjawabnya. Ia ingin membiarkan hal tersebut menjadi opini publik.


“Keyakinan saya itu hak saya sebagai manusia, pertanggungjawabannya saya kepada yang di Atas,” jawabnya.


Sebelumnya, Jonas Rivano dikabarkan telah menjadi mualaf pada tanggal 21 Agustus 2013 sebelum menikah dengan Asmirandah pada 17 Oktober 2013. Namun beberapa waktu lalu, Vano menyangkal jika dirinya pernah mengucapkan dua kalimat syahadat.


(dar/ich)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS Windows Phone. Install sekarang!



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/10/08/mubn34-narbaez-warga-as-yang-memeluk-islam-karena-terpikat-sujud-dan-wudhu


Jonas Rivano Akhirnya Mengaku Pernah Mualaf

Wednesday, January 1, 2014

Cita-cita Gus Dur yang Belum Terwujud: Ahok Jadi Gubernur atau Presiden



JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok menceritakan kenangannya bersama mantan Presiden ke-4 RI, almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Sebagai tokoh yang pernah mendukungnya maju sebagai calon gubernur Bangka Belitung di Pilgub Babel 2007, Gus Dur meyakini Basuki dapat menjadi gubernur, bahkan pemimpin Indonesia.


Saat mendapat penolakan dari berbagai pihak, kepercayaan diri Basuki menipis begitu mengetahui ia merupakan warga minoritas.


“Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa,” kata Basuki seraya menirukan ucapan Gus Dur saat memberi testimoni di haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013) malam.


Walaupun akhirnya gagal menjadi gubernur, Basuki sangat berkesan saat-saat dirinya berjuang dibantu Gus Dur.


Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku bersyukur bisa mengenal Gus Dur. Sebab, Gus Dur pula yang mempengaruhinya terjun ke dunia politik.


Salah satu alasan mengapa Basuki ingin menjadi gubernur Bangka Belitung ialah karena ia ingin mewujudkan jaminan kesehatan. Ia menginginkan Bangka Belitung dapat menjadi wilayah yang diperhitungkan di AFTA 2015.


Cita-citanya pun sama dengan cita-cita Gus Dur, yaitu membangun pemerintahan yang mewujudkan keadilan sosial, bukanlah bantuan sosial. Gus Dur pula yang mengingatkan Basuki untuk tetap teguh pada keyakinannya.


“Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat suara banyak. Tapi, Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau adalah contoh yang tidak pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” kata Basuki lagi.


Di samping itu, Gus Dur juga pernah membela Basuki saat ia mengajukan gugatan di Mahkamah Agung karena merasa dicurangi dalam kekalahan di pilkada. Bahkan, Gus Dur berniat mengirim sebanyak 2.000 banser untuk membela Basuki.


Ide “gila” Gus Dur tak berhenti sampai di situ. Gus Dur berniat membuatkan tenda bagi para banser itu. Namun, Basuki tidak menerima ide Gus Dur. Sebab, ia tidak mau sampai ada pihak yang mengorbankan nyawa demi niatnya menjadi gubernur.


Alumnus Universitas Trisakti itu juga pernah mendapat pujian dari Gus Dur karena membebaskan biaya kesehatan saat memimpin Kabupaten Belitung Timur.


Haul ke-4 Gus Dur itu dikunjungi oleh sekitar 4.000 orang dari sejumlah pesantren, majelis taklim, dan kalangan umum di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.


Selain Basuki, tak sedikit pejabat lain yang hadir dan mendoakan Gus Dur, antara lain mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman, politisi Partai Golkar Akbar Tanjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan tokoh agama Frans Magnis Suseno.



Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/10/30/219525793/Ini-Kata-Jonas-Rivanno-Soal-Mualaf


Cita-cita Gus Dur yang Belum Terwujud: Ahok Jadi Gubernur atau Presiden

Tuesday, December 31, 2013

Ahok: Saya Tionghoa, Apa Bisa Jadi Gubernur?

Tribunnews.com, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok menceritakan kenangannya bersama mantan Presiden RI ke-4, almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.


Sebagai tokoh yang pernah mendukungnya maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung di Pilgub Babel 2007, Gus Dur meyakini Basuki dapat menjadi gubernur bahkan pemimpin Indonesia.


Saat mendapat penolakan dari berbagai pihak, kepercayaan diri Basuki menipis begitu mengetahui ia merupakan warga minoritas.


“Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa,” kata Basuki seraya menirukan ucapan Gus Dur, saat memberi testimoni di Haul ke-4 Gus Dur, di Pondok Pesantren Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013) malam.


Walaupun akhirnya gagal menjadi gubernur, Basuki sangat berkesan saat-saat berjuang dibantu Gus Dur.


Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku bersyukur bisa mengenal Gus Dur. Karena Gus Dur pula yang mempengaruhinya terjun ke dunia politik.


Salah satu alasan mengapa Basuki ingin menjadi Gubernur Bangka Belitung, karena ingin mewujudkan jaminan kesehatan. Ia menginginkan Bangka Belitung dapat menjadi wilayah yang diperhitungkan di AFTA 2015.


Cita-citanya pun sama dengan cita-cita Gus Dur yaitu membangun pemerintahan yang mewujudkan keadilan sosial bukanlah bantuan sosial. Gus Dur pula yang mengingatkan Basuki untuk tetap teguh pada keyakinannya.


“Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat suara banyak. Tapi, Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau adalah contoh yang tidak pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” kata Basuki lagi.


Di samping itu, Gus Dur juga pernah membela Basuki saat ia mengajukan gugatan di Mahkamah Agung karena merasa dicurangi dalam kekalahan di Pilkada. Bahkan, Gus Dur berniat mengirim sebanyak 2.000 banser untuk membela Basuki.


Ide “gila” Gus Dur tak berhenti sampai di situ. Gus Dur berniat membuatkan tenda bagi para banser itu. Namun, Basuki tidak menerima ide Gus Dur. Sebab, ia tidak mau sampai ada pihak yang mengorbankan nyawa demi niatnya menjadi gubernur.


Alumnus Universitas Trisakti itu juga pernah mendapat pujian dari Gus Dur karena membebaskan biaya kesehatan saat memimpin Kabupaten Belitung Timur.


Haul ke-4 Gus Dur itu dikunjungi oleh sekitar 4.000 orang dari sejumlah pesantren, majelis taklim, dan kalangan umum di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.


Selain Basuki, tak sedikit pejabat lain yang hadir dan mendoakan Gus Dur. Antara lain mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Kapolri (Jend) Sutarman, politisi Partai Golkar Akbar Tanjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan tokoh agama Frans Magnis Suseno.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/23/mcc38s-damainya-islam-di-kamboja-2habis


Ahok: Saya Tionghoa, Apa Bisa Jadi Gubernur?

Wednesday, June 5, 2013

Pemimpin Berhati Suci

Pemimpin Berhati Suci


(Refleksi Peringatan Israk Mikraj 1434 H)


Oleh : Muhammad Kosim


Guru MTsN di Padang


Padang Ekspres • Rabu, 05/06/2013 12:41 WIB • 84 klik


Nabi Muhammad SAW merupakan pe­mimpin ideal yang mesti diteladani oleh umat Islam. Beliau tidak saja tampil se­bagai pemimpin agama di kalangan kaum muslimin, tetapi juga sebagai pe­mimpin masyarakat yang beragam suku, agama dan bangsa.


 


Ini pula yang menjadi alasan Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW pada posisi pertama di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Ia menulis: “Muhammad bukan semata pe­mimpin agama tapi juga pemimpin duniawi.”


 


Jika ditelusuri sirah perjuangan hidupnya, setelah diangkat menjadi Nabi di usia 40 tahun, ia melalui dua fase perjuangan penting, yaitu periode Mekah dan Madinah. Pada periode Mekkah, Nabi SAW hanya berperan sebagai pemimpin agama. Selama periode ini, ia mendidik aqidah dan spiritual para sahabatnya sebagai modal utama untuk menjalankan kepemimpinan di masa mendatang.


 


Sedangkan pada periode Madinah, Nabi Muhammad SAW memiliki peran ganda: sebagai pemimpin agama se­ka­ligus pemimpin duniawi. Sebagai pe­mim­pin duniawi, Nabi SAW tidak saja me­mim­pin umat Islam, tetapi juga ma­sya­ra­kat Madinah yang plural; lintas agama dan suku bangsa. Pada periode Madinah inilah kepemimpinan Nabi SAW men­ca­pai puncak kejayaannya dan menjadi mo­del bagi umat Islam khususnya, di masa-ma­sa sesudahnya.


 


Perlu dicatat, sebelum hijrah ke Ma­dinah, Nabi SAW terlebih dahulu me­nga­lami peristiwa Israk Mikraj. Peristiwa pen­ting ini sebagai prasyarat yang harus di­­l­alui Nabi SAW sebelum menjalankan pe­rannya sebagai pemimpin umat pada pe­riode Madinah.


 


Apa hubungan antara Israk Mikraj dengan kepemimpinan Nabi SAW? Peristiwa israk mikraj merupakan puncak per­jalanan seorang hamba (al-abd) me­nuju sang pencipta (al-Khalik). Israk Mikraj adalah perjalanan menuju ke­sem­pur­naan ruhani (insan kamil). Para sufi pun memandang perjalanan ini sebagai per­jalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Per­ja­la­nan meninggalkan orientasi materi ke­pa­da orientasi kesempurnaan hidup.


 


Bahkan beberapa riwayat men­jelas­kan bahwa sebelum Rasulullah SAW me­la­ku­kan perjalanan, dadanya dibedah untuk disucikan. Kesucian hati ini men­ja­di modal yang amat penting untuk bisa “ber­temu” dengan Allah Yang Mahasuci.


 


Dalam peristiwa tersebut juga di­ri­wa­yat­kan bahwa beliau ditawari susu dan khamar, lalu ia memilih susu. Di­ka­ta­kan­lah pada beliau: “Engkau telah di­anu­ge­rah­kan fitrah. Jika engkau mengambil kha­mar, berarti engkau menyesatkan umat­mu.”


 


Jadi, peristiwa Israk Mikraj adalah me­ng­gambarkan puncak spiritual Nabi SAW sehingga dikemudian hari ia men­ja­di pemimpin yang berhati suci. Inilah kunci keberhasilan Rasulullah me­mim­pin masyarakat Madinah. Tidak pernah ter­besit di hatinya untuk disanjung, di­puja, dan dihormati sebagai penguasa lak­sa­na raja. Ia juga tidak pernah benci apalagi menyakiti orang-orang yang tidak se­­paham dengannya.


 


Kecuali itu, ia bisa berubah menjadi tentara yang kuat ketika musuh-mu­suh­nya datang menyerang. Tetapi ketika musuh itu tertawan, ia tetap mem­per­la­ku­kan­nya dengan baik tanpa pernah mem­bujuk dan memaksa mereka agar ma­suk Islam.


 


Ia malah bersabda: “Takutlah kepada doa orang yang dizalimi walau pun dia orang kafir, karena pada saat itu tidak ada hijab baginya.” Hadis ini merupakan wa­siat bagi pemimpin agar tidak berlaku zalim, walaupun kepada musuh sendiri.


 


Allah juga menegaskan: Dan ja­nganlah sekali-kali kebencianmu ter­ha­dap sesuatu kaum, mendorong kamu un­tuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, ka­rena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, se­sung­guh­nya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al-Maidah/5: 8).


 


Dalam konteks kekinian, pemimpin hari ini sejatinya meneladani ke­pe­mim­pinan Nabi SAW. Seorang pemimpin mes­ti berhati suci. Syarat utama yang mes­ti dimilikinya adalah memiliki aqidah yang kokoh. Lebih 12 tahun Nabi SAW berjuang untuk membina dan mem­per­kokoh aqidah diri dan para sahabatnya pada periode Mekkah. Setelah itu, ba­ru­lah ia menjadi pemimpin umat di Ma­dinah.


 


Jika aqidah goyah, maka ia akan mu­dah tergoda dengan kenikmatan duniawi yang semakin mudah diperoleh jika diberi we­we­nang mengendalikan kekuasaan. Ia Cen­derung menghalalkan segala cara un­tuk meraih kenikmatan sesaat itu. Meski me­langgar hukum, jika aqidah goyah, pe­ne­gak hukum bisa dikelabui, saksi dan ba­rang bukti bisa saja dilenyapkan.


 


Se­baliknya, ketika aqidah kokoh, ma­ka dirinya senantiasa merasakan pe­nga­wa­san Allah. Meski ia diberi peluang un­tuk melakukan tindak kejahatan dan dipastikan tidak ada orang yang me­nge­tahuinya, tetapi keyakinannya pada pe­nga­wasan Allah membuatnya tidak be­rani melakukan praktik melanggar hu­kum tersebut.


 


Karena itu pula Syekh Sulaiman ar-Ra­suli dalam kitabnya “Asal Pangkat Peng­hulu dan Pendiriannya” me­ne­gas­kan bahwa penghulu atau pemimpin yang se­benarnya adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu mengurus persoalan akhi­rat dan duniawi. Hal itu diteruskan oleh khalifah yang empat. Setelah itu, tidak lagi terhimpun siyasah dunia dan akhirat pada satu orang. Tetapi urusan du­niawi dipimpin oleh umara, raja, kha­lifah atau semacamnya, sedangkan u­ru­san akhirat dipimpin oleh ulama.


 


Untuk itu, antara umara dengan u­lama harus sejalan. Sulaiman ar-Rasuli me­nye­but: “Kedua orang itu umpama orang yang melayarkan kapal. Seorang ja­ga haluan dan seorang jaga kemudi, kalau ke­duanya ada sepakat alamat pelayaran akan sampai dan si penumpang akan se­la­mat, dan kalau keduanya bersalahan tan­da pelayaran tidak akan sampai dan si penumpang akan dapat kecelakaan.”


 


Dalam sejarah Minangkabau, dikenal pula “Sumpah Sati Sumpah Satie Bukit Ma­rapalam,” yang mendamaikan antara adat dan agama. Salah satu rumusan da­lam sumpah sati itu adalah “Alim­ ulama­memfat­wakan­ dan­ Pang­hulu­ ma­ma­rintah­kan.”


 


Ini menunjukkan bahwa seorang pe­mim­pin tidak mesti dari kalangan ulama atau yang memiliki keilmuan di bidang tafaqquh fi al-din secara mendalam. Akan tetapi, seorang pemimpin harus men­dekati ulama untuk meminta fat­wa­nya.


 


Ahli hikmah pernah berkata: “Se­bu­ruk-buruk ulama ialah ulama yang men­dekat dengan umara, dan sebaik-ba­ik umara adalah yang mendekat dengan ulama.”


 


Na­mun kedekatan pemimpin dengan ula­ma bukan untuk dipolitisir, diperalat, atau mencarai simpati banyak orang. Te­tapi kedekatan pemimpin dengan ulama adalah untuk meminta fatwa, men­jadi­kan­nya guru, sehingga langkah dan arah sang pemimpin tetap berjalan sesuai de­ngan hukum-hukum Tuhan.


 


Sebaliknya, seorang ulama dilarang mendekati penguasa karena di­kha­wa­tir­kan ia akan diperalat. Namun ulama juga ti­dak dilarang menjadi penguasa, tetapi ke­u­lamaannya tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Ke­ula­maan­nya sejatinya memberi arah ke­bi­ja­kan­nya dalam memimpin dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip ke­adi­lan.


 


Dengan demikian, pemimpin yang ber­hati suci adalah pemimpin yang se­nan­tiasa dekat dengan bimbingan para ula­ma yang berhati suci pula. Hatinya se­nan­tiasa bergetar ketika melihat ke­mis­kinan, kebodohan dan penderitaan rak­yatnya. 


 


Itulah yang dicontohkan oleh Ra­su­lul­lah SAW. Ia tidak pernah membentak orang-orang yang dipimpinnya. Ia sangat sa­yang dan mencintai banyak orang; tidak den­dam dan tidak pula dengki.


 


Bahkan ia dikenal sebagai seorang in­ter­preneur yang sukses, namun hartanya di­habiskan untuk memperjuangkan ke­benaran, menampilkan Islam sebagai rah­matan lil-‘alamin, dan mengabdikan diri untuk keadilan dan kemakmuran rak­yat­nya.


 


Ia tidak pernah menginginkan, apa­lagi meminta jabatan. Bahkan ketika Abu Lahb bersama pembesar Quraisy lainnya, melalui Abu Thalib, menawarkan ke­pa­da­nya harta, tahta dan wanita untuk meng­hentikan dakwahnya, dengan tegas ia menolaknya dan berkata: “Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan ka­nan­ku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan me­ning­galkannya.”


 


Sifat ini pula yang harus dimiliki oleh pe­mimpin di negeri ini. Jangan sekali-kali me­lakukan money politic karena akan be­ru­jung pada penindasan terhadap rakyat kecil demi mengembalikan uang yang su­dah dihabiskan sebagai kos politik.


 


Abbas Muhammad al-Aqqad dalam bu­kunya: “Kejeniusan Rasulullah SAW” men­ceritakan tentang kepemimpinan Nabi SAW. Di antaranya, ketika kaum mus­limin menggali parit (khandak) di se­kitar kota Madinah, beliau pun ikut serta da­lam pekerjaan itu. Ia dekat dengan kalangan mustadh’afin, sehingga me­na­se­hatinya para sahabatnya: “Carikan aku orang-orang yang lemah sesungguhnya yang membawa rezeki dan pertolongan ka­lian adalah orang-orang yang lemah (mustadh’afin).”


 


Kisah ini mengajarkan kepada pe­mim­pin yang berhati suci melayani bukan di­layani, turut berjuang bersama rakyat dan merasakan beban mereka, bukan si­buk menebar citra menarik simpati tapi me­meras keringat dan abai terhadap pen­de­ritaan mereka.


 


Lalu bagaimanakah untuk mengasah dan membersihkan hati agar tetap bening dan suci?


 


Ibn ‘Athaillah dalam kitab Bahjat an-Nufus menulis: “Kalbu/hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca al-Qur’an, disertai tadabbur, duduk bersama pa­ra ulama dan orang-orang mukmin, men­jaga diri dari melihat sesuatu yang mu­bah, memelihara diri dari yang ter­la­rang dan makruh, serta cemas terhadap se­gala maksiat.”


 


Peringatan Israk Mikraj Nabi Mu­ham­mad SAW 1434 H ini seyogyanya menjadi momentum bagi kita untuk men­cari, menemukan, memilih dan mem­perjuangkan pemimpin yang ber­hati suci, dengan tetap mengharap pe­tunjuk dan bimbingan Allah Yang Ma­ha­suci. Jangan pernah mendukung pe­mim­pin yang berhati kotor; hanya berorientasi pada kepentingan dunia dan menghalal­kan se­gala cara. Wallahu a’lam.(*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/05/30/mnlg54-yulio-muslim-da-costa-mualaf-hafal-alquran-30-juz-bagian2


Pemimpin Berhati Suci

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Sunday, September 15, 2013

Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Jejak Bintang minggu ini, RAP menyelongkar kisah pelakon yang sedang mencipta nama iaitu Johan Ariff As’ari, 27, atau nama pentasnya Johan As’ari. Dia mula dikenali ramai menerusi aksi hebatnya dalam drama bersiri Juvana, arahan Faizal Ishak dan sejak itu dia terus melakar kejayaan dalam kerjaya seninya.


Pasti penonton menyampah melihat aksi jahatnya sebagai Botak dalam Juvana, tetapi di luar lokasi, perwatakan dan karektor sebenarnya amat berbeza.


Johan dilahirkan pada 3 Disember, 1986. Dia anak kedua daripada empat beradik. Untuk mengenali secara dekat peribadi Johan, RAP menemubual ibunya, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, iaitu wanita yang melahir dan membesarkannya.


“Johan seorang anak yang baik dan tidak kedekut. Bukan saja dengan saya, ayah dan adik-beradiknya malah dia juga tidak pernah berkira dengan sepupu dan kawan-kawannya,” kata ibu Johan, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, mengenai aktor yang dikenali selepas membintangi drama bersiri Juvana yang disiarkan di TV3, pada April 2011.



Seperti pada Ramadan lalu, Firdaus beritahu Johan yang telefon bimbitnya tidak berfungsi dengan baik.


“Apabila saya menceritakannya kepada Johan, saya tak bermaksud minta dia belikan saya telefon baru kerana saya bercadang minta ayahnya (Datuk As’ari Ibrahim) yang belikan. Namun sehari sebelum Aidilfitri lalu, dia bawa balik telefon baru bagi menggantikan telefon saya yang rosak itu.


“Paling membuatkan saya terharu dia belikan saya telefon Ipone 5 (64G), sedangkan untuk dirinya sendiri dia beli Ipone 5 (32G). Dia kata untuk saya, dia belikan telefon yang paling canggih dan terbaik. Dia punya yang biasa-biasa saja, tak mengapa.


“Macam itulah sikap Johan, kalau dia dengar saja saya atau adik-beradiknya teringinkan apa-apa, dia akan cari. Beberapa hari sebelum hari raya dia berikan saya duit untuk belikan hadiah kepada semua sepupu perempuannya. Dia tak ada, tak apa, asalkan dia boleh menggembirakan hari orang lain,” kata Firdaus ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Ampang, baru-baru ini.


Apabila mengenangkan kebaikan dan keluhuran hati anak kedua daripada empat beradik itu, Firdaus teringatkan kisah Johan dan adiknya (Muhammad Hazwan, kini berusia 23 tahun) sewaktu mereka bersama-sama bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi Melaka (SMTM).


“Sudah sampai di sekolah baru Hazwan perasan yang dia tertinggal tali leher di rumah. Di SMTM, pelajar lelaki diwajibkan pakai tali leher. Melihatkan adiknya yang dah nak menangis, Johan berikan tali lehernya kepada Hazwan. Katanya, biar dia yang kena denda kerana dia lebih besar.


“Saya yang menghantar mereka ke sekolah pagi itu, bergenang air mata saya melihatkan gelagat mereka dua beradik. Betapa Johan sayangkan adiknya,” katanya.


Adik beradik Johan yang lain, Farah Alya, 29, dan Siti Aisyah, 25.


Cerita Firdaus lagi, ketika dia pergi bercuti di Palembang minggu lalu, Johan beri kad debit bank miliknya kepada ibunya itu agar Firdaus boleh membeli-belah di sana.


“Dia beri kadnya untuk saya berbelanja di sana dan dia tidak meletakkan had keluaran,” katanya.


Ketika Johan belajar di sekolah rendah, dia beri kasut sekolahnya kepada kawan kerana kasut kawannya itu sudah buruk.


“Selepas itu dia sendiri ke sekolah dengan berselipar. Yang ini saya marah kerana dia sanggup berkorban untuk orang lain sampai menyusahkan diri sendiri. Saya beritahu padanya, kalau nak tolong kawan pun, tengoklah juga keadaannya. Tetapi itulah Johan, dia tak sanggup tengok orang susah.


“Pada ketika yang lain, dia nak keluar dengan kawan-kawannya. Saya beri dia RM10 dan ada juga bekalkan dia makanan. Saya fikir dengan bekal itu dia dapat simpan duit belanja yang saya beri kepadanya. Rupanya dia gunakan duit itu belanja kawan-kawan pula.


“Johan seorang yang hatinya lembut dan kalau kita nak tegur dia pun kena cakap perlahan-lahan. Kita tak boleh berkasar dengannya,” katanya.


Menyambung perbualan, jelas Firdaus pada November ini, Johan akan bercuti ke Dubai bersama peminatnya dan dia mengajak semua ahli keluarganya pergi bersama.


“Insya-Allah jika tiada aral, kami akan ikut Johan. Kemudian pada Disember, sekali lagi dia akan ke sana untuk menjalani penggambaran drama. Dalam apa situasi pun, Johan tidak pernah melupakan keluarga,” katanya.


Imbas zaman kecil Johan, selepas melahirkan Johan, mereka sekeluarga berpindah dari Kuala Lumpur (KL) dan menetap di Melaka kerana mengikut bapanya yang aktif politik bertugas di negeri itu.


“Sebelum berkahwin dan sehingga lahirnya Farah, saya bekerja dengan FELDA. Waktu itu, suami sibuk dengan aktiviti politiknya di Melaka dan dia terpaksa berulang-alik antara Melaka dan KL. Kalau suami sibuk, saya akan bawa Farah balik ke Melaka. Selepas saya melahirkan Johan saya berhenti kerja dengan FELDA kerana sukar nak menguruskan anak kecil dan pada sama suami pula tinggal berasingan.


“Kami tinggal di Ayer Molek, Melaka. Di sana saya bekerja dengan Yayasan Melaka. Tidak lama selepas itu saya berhenti kerja menguruskan rumah tangga sepenuh masa. Johan dan tiga adik-beradiknya membesar di sana dan kami sekeluarga berpindah semula ke KL lima tahun lalu,” katanya.


Johan agak nakal ketika kecil.


“Waktu dia berusia sekitar tiga, empat tahun, pintu almari yang menyimpan pinggan mangkuk kena ikat dengan tali kerana dia suka memunggah barang. Dia jenis yang tak duduk diam, ada saja benda yang nak dibuatnya.


“Pernah sekali, ketika itu saya masih bekerja, saya tinggalkan Johan bersama kakak dan adiknya di rumah bersama pembantu, tetapi pembantu rumah saya ini suka berkebun. Tiba-tiba, jiran hubungi saya beritahu salah satu bilik di rumah kami berasap tebal. Nasib baik rumah tak terbakar.


“Rupanya Johan ambil bunga api yang saya simpan atas para dan bawa masuk ke bilik saya. Apabila saya tanya dia macam mana bilik saya boleh terbakar, katanya selepas bermain bunga api dia membuangnya dalam tong sampah yang terdapat dalam bilik itu. Dia tak tahu yang bara daripada batang bunga api itu lama-lama boleh membakar sampah dalam tong sampah itu.


“Mujur api itu hanya menyambar tilam dan ia membakar dalam tilam itu perlahan-lahan sehingga mengeluarkan asap hitam. Api belum sempat merebak ke ruang lain, kalau tidak saya tak tahu apa jadi dengan rumah dan mereka adik-beradik. Ngeri saya nak membayangkannya,” katanya.


Johan suka main parang.


“Dia libas-libas parang itu pada kakaknya yang buat kerja sekolah dan terkena belakang Farah sampai kena jahitlah,” katanya.


Selepas tamat sekolah menengah, Johan menyambung pengajiannya di Universiti Telekom Malaysia Melaka. Namun, selepas dua tahun belajar di sana, dia beritahu ayahnya yang dia tidak mampu meneruskan pengajiannya di sana.


“Kemudian ayahnya minta dia belajar agama dan seterusnya dia dihantar mendalami agama di Jambi, Indonesia. Dia belajar di sana pun tak lama kerana selepas dua tahun dia nak balik kerana dia tak tahan dengan disiplinnya yang ketat.


“Sebagai pelajar agama yang belajar menghafal al-Quran, mereka tidak boleh makan dan minum sebarangan. Kali kedua ayahnya pergi melawat dia di sana, dia minta dikeluarkan daripada sana dan balik ke sini dia belajar pula di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Melaka, dalam jurusan Kaunseling. Apabila dapat berlakon dalam Juvana, dia minta cuti dengan pihak kolej selama setahun tetapi sekarang dah masuk tahun kedua.


“Saya harap dia dapat menyambung pengajiannya yang tertangguh itu,” katanya.
Jelas Firdaus, Johan sebenarnya suka menyanyi dan tidak pernah terlintas pun nak jadi pelakon. Ini mungkin kerana dia mengikut hobi ayahnya yang suka menyanyi.


“Sewaktu musim pertama Akademi Fantasia, dia belajar dalam tingkatan lima dan dia sanggup turun ke KL untuk menyaksikan program itu di sana. Barangkali tak ramai yang tahu Johan pernah pergi menghadiri uji bakat Mentor musim kelima dan bercita-cita nak jadi protege kepada Afdlin Shauki kerana dia amat meminati pelakon itu, tetapi tidak berjaya.


“Ketika uji bakat itu dia buat lawak dan Afdlin kata dia lebih sesuai jadi pelakon daripada penyanyi. Dia jadi pelakon hanya kebetulan kerana Farah yang menulis skrip dan bekerja di belakang tabir dunia penerbitan beritahu Johan, ada uji bakat mencari pelakon Juvana dan waktu itu Johan bercuti semester.


“Dia pergi ke uji bakat itu dan pengarah Juvana, Kamal Ishak mengambilnya berlakon untuk pilot drama itu untuk ditunjukkan kepada TV3. Pihak stesen TV suka dengan lakonan Johan dan Kamal terus mengambilnya berlakon dalam Juvana,” katanya.


Bapa Johan tak suka dia berlakon kerana mahu anak lelakinya itu menyelesaikan pengajiannya setahun saja lagi. Johan berkeras mahu berlakon dan dia memujuk bapanya serta berjanji untuk menamatkan pengajiannya.


“Melihatkan kesungguhan Johan, ayahnya terpaksa mengalah. Selepas dia dah berlakon banyaklah pula gosip yang timbul, tetapi kami sekeluarga tidak terkejut sangat kerana dah tahu industri ini macam mana. Namun sebagai ibu bapa kami berpesan kepadanya supaya berhati-hati dalam setiap tindak tanduk dan percakapannya,” katanya.


Apabila dia digosipkan dengan artis wanita terutamanya Nabila Huda, Firdaus tidak pernah melarang atau pun membantah.


“Siapa pun wanita yang Johan pilih sebagai kawannya atau calon isterinya, kami terima. Apa yang penting ialah kebahagiaan Johan dan siapa pun jodohnya kelak sama ada artis atau orang biasa, saya harap dia bertemu dengan wanita yang baik dan dapat menerima Johan seadanya serta menghormati orang tua.


“Johan ada beritahu saya yang dia nak berkahwin tetapi belum ada calon,” katanya.


Artikel ini disiarkan pada : 2013/09/16





Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=282185:artis-masuk-politik-jangan-hanya-popularitas&catid=17:politik&ItemId=30


Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah