Showing posts sorted by relevance for query puasa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query puasa. Sort by date Show all posts

Tuesday, July 30, 2013

Lebih Memahami Maknanya, David "Naif" Ikut Puasa Sungguhan Sejak Hari ...




Lebih Memahami Maknanya, David “Naif” Ikut Puasa Sungguhan Sejak Hari Pertama Ramadhan




Senin, 29 Juli 2013 11:43


Supriyanto


DAVID Bayu Danangjaya atau David “Naif” yang memeluk agama Kristen ternyata juga ikut berpuasa selama Ramadhan ini.


“Saya memang non muslim, tapi dari hari pertama kemarin ikutan puasa,” ucapnya saat ditemui di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.


Seperti diketahui, istri David, Shilla Delila serta dua anaknya Audrey Davis dan Jason Davis beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa.


Tahun-tahun sebelumnya David juga ikut berpuasa menemani keluarganya. Salah satu tujuannya ialah untuk menurunkan berat badan.


Tapi puasa tahun ini diakuinya David ada yang berbeda.


“Dulu kan cuma ikut-ikutan aja puasa, karena kepengen kurus, diet. Ternyata (puasa) lebih dari itu, tahun ini saya mengerti, keren juga puasa ya. Baru tahun ini saya baru mengerti esensi dan makna dari puasa,” paparnya.


(pri/gur)


 


 


 


Berita Terkait:


David Naif Nyaman dengan Gaya Fesyen 1950-anDavid Naif: Hati-hati, Indonesia Negara Rawan Bencana


Berikan komentar


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/01/05/penembakan-terduga-teroris-di-masjid-nur-alfiah-wahidin-rekayasa


Lebih Memahami Maknanya, David "Naif" Ikut Puasa Sungguhan Sejak Hari ...

Sunday, July 14, 2013

Jadi Mualaf, Abanda Ingin Puasa Sebulan Penuh

INILAH.COM, Bandung – Sebagai seorang mualaf, bek tengah Persib Bandung, Ahmad Abanda Herman tak kesulitan menahan haus dan lapar hingga adzan Magrib berkumandang. Apa target Abanda di puasa perdananya ini?


Pada Bulan April lalu, Abanda memutuskan untuk memeluk ajaran Agama Islam. Alasan pemain asal Kamerun itu masuk Islam karena melihat rekan-rekan satu timnya melaksanakan salat berjamaah bersamaan.


Kala itu, Abanda melihat rekan-rekannya melaksanakan salat Jumat. Mantan pemain Persija Jakarta itu mengatakan sungguh indah melihat orang Islam melakukan solat berjamaah.


Di bulan Ramadhan ini, Abanda melakukan puasa perdanannya sebagai seorang muslim. Pemain yang menggunakan nomor punggung 6 di Persib itu pun ingin puasa sebulan penuh.


“Saya mau puasa sampai selesai (satu bulan). Saya menikmati keseharianku dengan berpuasa. Saya tidak mengalami kendala apapun, karena sebelumnya saya pernah belajar puasa,” kata Abanda kepada INILAH.


Bek beusia 28 tahun itu pun menambahkan kalau dirinya memasang alarm untuk bersiap melakukan sahur. Abanda merasa tak ada halangan untuk niatnya berpuasa.


“Saya selalu pasang alarm untuk bangun sahur. Tidak ada masalah. Meski berpuasa, saya rasa juga tidak ada masalah saat latihan,” ia memungkasi. [arn]


Article source: http://www.sinarharian.com.my/hiburan/sherry-ibrahim-rujuk-kerana-wang-1.182347


Jadi Mualaf, Abanda Ingin Puasa Sebulan Penuh

Friday, July 19, 2013

Buka Puasa Bersama Umat Kristen di Bethlehem

Buka Puasa Bersama Umat Kristen di Bethlehem


FOTO


TEMPO.CO , Bethleham:Bethlehem – Sebagai kota berpenduduk beragama Kristen terbesar di Palestina, Bethlehem tidak menutup mata akan keberadaan masyarakat Muslim yang minoritas. Sejak tahun lalu, Lehigh Dialogue Center menggelar acara buka puasa bersama atau Ramadan Tent Dinner di Bethlehem Payrow Plaza.


Berlokasi di antara City Hall dan Perpustakaan Umum Bethlehem, terhampar tenda putih raksasa pada Rabu malam, 17 Juli 2013. Di bawah tenda, terhidang ratusan piring hummus, zaitun, dan makanan lainnya. Dan ratusan orang hadir untuk bersantap bersama setelah matahari terbenam. Kata Duta Besar Lehigh Dialogue Center, Mehmet Ozdemir, buka puasa bersama ini akan menjadi agenda tahunan di Bethlehem.


“Kami tidak hanya mengundang masyarakat untuk makan bersama,” kata Ozdemir di The Morning Call, Rabu, 17 Juli 2013. “Di sini, masyarakat juga belajar tentang keyakinan dan budaya di masa dekade-plus dari teror perang yang menimbulkan kecurigaan orang Amerika.” Lehigh Dialogue Center sendiri merupakan lembaga nirlaba yang berbasis di Bethlehem. Terbentuk pada 2004, lembaga ini bergerak untuk memerangi persepsi negatif.


Aktivis perdamaian Bethlehem, Vince Stravino, mengatakan, acara buka puasa bersama merupakan suatu metode perdamaian. “Jika Anda makan dengan seseorang, Anda pasti tidak akan membomnya,” kata Stravino. “Dan kegiatan ini akan menghilangkan ketakutan serta ketidaktahuan Anda akan sesuatu.”


Satu peserta buka puasa bersama adalah Kelly Gallagher, 26 tahun. Pengajar bahasa Inggris di Pusat Literasi Allentown ini memiliki beberapa murid yang beragama Islam. Dan ia datang ke acara itu untuk belajar soal Ramadan. “Saya ingin belajar tentang budaya murid-murid, yang nantinya akan menjadi bekal saya untuk membawa mereka masuk ke dalam masyarakat,” ujar Gallagher.


THE MORNING CALL | CORNILA DESYANA


Terhangat:
Hambalang | Bursa Capres 2014 | Liverpool di GBK

Baca juga:

Menteri Djoko: Jalur Pantura Kelebihan Beban
Ini Musabab Rusaknya Jalan Pantura
Jalur Cileunyi-Cirebon Rusak dan Rawan Kecelakaan




Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29018/18/06/2013/syiah,-dokumen-prancis-dan-penghianatan-di-balik-runtuhnya-kekhilafahan-islam.html


Buka Puasa Bersama Umat Kristen di Bethlehem

Monday, July 8, 2013

Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa

Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa


Liputan6.com, London : Bagi para pesepakbola muslim, bulan Ramadan akan menjadi tantangan tersendiri. Selain, terkadang akan menimbulkan pertentangan dengan manajer klub atau pelatih, yang tak ingin performa pemainnya terganggu, bulan puasa juga terkadang membuat penampilannya menurun.

Beberapa pemain bersikeras untuk tetap berpuasa setiap harinya. Ini merupakan bagian dari keyakinan mereka untuk menjalankan perintah agama. Beberapa di antaranya mungkin berpuasa selama latihan, tapi tidak saat pertandingan. Klub-klub cenderung mengatasi hal ini dengan kompromi, tapi hal ini bukanlah masalah yang mudah bagi para pemain dan manajer.


Berikut daftar pemain bintang sepakbola top dunia yang memeluk agama Islam. Mereka juga menjalankan puasa ditengah ketatnya kompetisi yang berada di Eropa, berikut lima diantaranya seperti yang dikutip dari berbagai sumber, Selasa (9/7/13).


1. Robin van Persie


Siapa yang tidak mengenali pemain satu ini. Pemain mualaf dari Belanda ini adalah sosok pemain yang luar biasa dan patut dibanggakan oleh umat muslim. Banyak beredar isu yang menyebutkan bahwa meskipun ia menikahi seorang muslimah, ia tidak masuk Islam.


Akan tetapi, saat dia diwawancarai oleh media Inggris, ia berkata “Itu tidak benar. Saya bukan seorang Muslim, bukan pula seorang Kristen, dan bukan juga seorang Yahudi. Jika Anda ingin menjadi seorang Muslim, itu harus datang dari hati,” dilansir laman robinvanpersienews.blogspot.


Oleh karena itu, mungkin sampai saat ini dirinya belum siap untuk sepenuhnya masuk Islam. Ia tak ingin masuk Islam hanya karena menikahi seorang muslimah.


Meski begitu, banyak orang yang menilai perkataan itu hanyalah sekedar menutup-nutupi bahwa dirinya sebenarnya memang mualaf. Semenjak dia memeluk agama Islam, pemain Manchester United itu dikabarkan rutin menjalankan puasa walaupun ketatnya kompetisi Liga Premier Inggris.


2. Eric Abidal


Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Abidal. Pasalnya, dia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat Barcelona dan timnas Prancis. Apalagi dia suka membaca Al Quran sebelum bertanding.


Di setiap sesi latihan klub sepakbola Barcelona, Abidal sering terlihat membawa tas kecil, mungkin banyak yang mengira isi tasnya sama seperti teman teman di klubnya barcelona jika latihan bola yaitu sepatu dan perlengkapannya yang menunjang untuk latihan.


Sebenarnya yang pemain AS Monaco itu membawa Al Quaran yang selalu dia baca sebelum ataupun setelah pertandingan berlangsung. Selain, itu ketika masih berseragam Barcelona Abidal juga berpuasa walaupun sempat ditentang oleh pelatih The Blaugrana saat itu, Pep Guardiola akan tetapi Abidal tetapi melanjutkan ibadahnya itu.


3. Nicolas Anelka


Di kehidupan pribadi, Anelka menikah dengan seorang perempuan berkebangsaan Belgia, Barbara Tausia, pada 9 Juni 2007 di Marrakesh, Maroko.


Pernikahannya dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang koreografer ini tidak membuat Anelka memilih meninggalkan keyakinan barunya tersebut yakni Islam. Bahkan, Anelka berencana untuk tinggal di Uni Emirates Arab setelah pensiun nanti.


Sebagai seorang pemain sepak bola profesional dan penganut Islam yang taat, kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan tidak membuat Anelka kesulitan untuk tetap menjalankan aktivitasnya di lapangan hijau. Seperti kebanyakan pemain sepak bola Muslim lainnya di Liga Inggris, Anelka berusaha tetap menjalankan ibadah puasa.


Dalam sebuah wawancara dengan majalah FourFourTwo pada beberapa waktu lalu, peraih Golden Boot Premiership musim kompetisi 2008/2009 ini mengungkapkan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, ia wajib menghormati bulan Ramadhan dengan menjalankan kewajiban puasa.


”Sebetulnya puasa bukan suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Saya pernah melakukannya beberapa kali. Namun, dalam beberapa kali Ramadhan saya mengalami dua atau tiga cedera. Sehingga, hal itu membuat saya tidak bisa berpuasa,” ujar penyerang West Bromwich Albion.


4. Frank Ribery


Mualaf setelah menikahi seorang gadis Perancis keturunan Maroko. Memiliki nama Islam yaitu Frank Bilal Ribery. Menurutnya Islam membawanya pada keselamatan. Islam yang menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. Di saat ia mengalami masa-masa sulit dalam karirnya, Islam datang memberikan kedamaian.


“Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan. Hingga kemudian saya menemukan Islam.” Begitulah Ribery memahami Islam.


5. Frederic Kanoute


Jika banyak pemain yang memilih untuk tidak berpuasa saat Ramadan, tidak begitu dengan Freddie Kanoute. Pemain yang lama membela klub La Liga, Sevilla, itu mengaku sebisa mungkin menjalankan kewajibannya tersebut.


“Saya coba menghormati kepercayaanku dan mengikutinya sebaik mungkin. Secara personal, kepercayaan saya membuat badan dan permainan saya sehat. Saya tahu kalau berpuasa menambah kekuatan dan tidak melemahkan seorang Muslim,” ujar Kanoute yang dikutip oleh BBC pada beberapa waktu lalu.


Ia juga mengungkapkan banyak pesepakbola tidak mau ditanya soal kewajibannya menjalankan ibadah puasa karena merasa itu adalah kepercayaan antara dirinya dengan sang pencipta. ()


Baca juga:
* Thiago Pergi ke MU, Barca Incar Pemain Ajax Amsterdam
* Pemain Berdarah Indonesia Segera jadi Milik Inter Milan
* Dua Pemain yang Bakal Dijual Inter Milan
* Tiga Skenario Transfer Chelsea
* Messi Jadi Tamu Kehormatan Pesta Mewah Ronaldo


Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3573


Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa

Thursday, September 19, 2013

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

REPUBLIKA.CO.ID, Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.


Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.


Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.


“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.


Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.


Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.


Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.


“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.


Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.


Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).


Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.


Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.


Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.


Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).


Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.


Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.


Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.


Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.


Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.


“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/09/juwita-bahar-pelit-bicara-soal-pacar-takut-direbut-cewek-lain


Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

Thursday, July 11, 2013

Dulu Membenci, Setelah Jadi Mualaf Kini Mencintai Puasa

REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Marcos. Dia berasal dari Manila, Filipina. Lelaki ini tinggal di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), selama lebih dari sembilan tahun. Marcos awalnya merupakan seorang non-Muslim.


Baginya, dahulu puasa adalah bentuk pengorbanan bodoh. Menurut Marcos, menahan diri dari semua kebutuhan jasmani merupakan suatu mimpi buruk.


Bulan Ramadhan adalah kiamat kecil bagi saya. Ketika semua tempat hiburan ditutup, kata dia kepada Arab News, beberapa waktu lalu. Menurut dia, puasa bertentangan dengan naluri dan hak-hak mahkluk hidup. Puasa perbuatan tidak logis dan menyiksa.


Pertanyaan mengapa seorang Muslim harus berpuasa terus memunculkan pertanyaan di otaknya setiap hari. Mengapa ada agama besar yang melarang manusia menikmati  ciptaan Tuhan? Mengapa harus menyiksa diri menahan lapar dan haus, padahal dua kebutuhan itu sangat penting?


Namun, perlahan hidayah mulai menghampiri Marcos. Seorang teman sekamar menjawab semua gelembung pertanyaan di otaknya itu. Semua prasangka negatifnya tentang puasa ternyata tidak benar. Apalagi, setelah dia membuktikan sendiri.


“Allah memberikan saya Islam. Saya menemukan tentang pernyataan-pernyatan saya (dahulu) yang ternyata tidak benar, “kata dia.


Marcos memilih bersyahadat dan mengubah namanya menjadi Ahmed Moamen. Tahun ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya dia hadapi pascakeislamannnya.


Pengalamannya berpuasa memberi keyakinan, rukun Islam ketiga itu adalah cara hidup yang sehat. Tubuh-tubuh ini juga punya hak untuk beristirahat. Setidaknya, setahun sekali. Ini adalah kebijaksanaan yang agung, ujarnya seperti dikutip Onislam.


Pengalaman yang mirip juga dialami mualaf lainnya, Amnah Jordon (Jordon Caroline) dari Afrika Selatan. Bagi dia, Ramadhan adalah momen paling intim antara manusia dengan Sang Maha. Kegiatan baik apa pun terganjar dengan kebaikan yang dinilai berlipat ganda.


Ini kegiatan keagamaan yang mudah dan paling saya nanti. Hati saya merasa dekat bersama-Nya, ujar dia. Pengalaman Jordon menjadi pengalaman-pengalaman pribadi dalam mendalami agama yang diimaninya beberapa tahun lalu.




Article source: http://travel.kompas.com/read/xml/2013/06/27/0949061/Senja.di.Kota.Lama.Jerusalem


Dulu Membenci, Setelah Jadi Mualaf Kini Mencintai Puasa

Saturday, September 21, 2013

Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"


PRIA kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.



Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.



Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.



“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.



Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.



Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.



Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.



“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.



Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.



Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).



Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.



Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.



Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.



Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).



Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.



Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.



Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.



Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.



Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.



“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum. | Sumber: republika.co.id


Article source: http://www.republika.co.id/berita/en/national-politics/12/07/13/m723x8-jakarta-election-supervisory-committee-receives-54-complaints


Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"

Wednesday, July 24, 2013

10 tahun mualaf, Cristian Gonzales belajar jadi muslim yang baik

Sejak menjadi seorang mualaf, pesepakbola Cristian Gonzales selalu menjalankan ibadah puasa saat bulan suci Ramadan tiba. Dirinya pun selalu belajar untuk menjadi seorang muslim yang baik.



Cristian mengakui, pada awal menjalankan ibadah puasa masih membutuhkan waktu untuk bisa menahan lapar dan haus. Dan belakangan dirinya sudah bisa menjalankan puasa sepenuhnya.



“Ini puasa saya yang ke-10 tahun. Dulu memang berat jalaninnya. Lagipula aku nggak mau malu dong sama anak-anak,” katanya ditemui di acara buka puasa SCTV bareng anak-anak yatim, Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (22/7)



Cristian Gonzales tergoda teh Uruguay.




Tapi ada satu minuman yang menggoda Gonzales, hal itu dibuka oleh sang istri, Eva.



“Cristian itu sudah biasa minum teh tradisional Uruguay. Jadi kalau nggak minum seharian, dia suka kliyengan (pusing),” pungkas Eva seraya tertawa.



Hindari Konflik, Ivan Ogah Buka Bersama Venna Melinda
Usai Buka Bersama, Cristian Gonzales Beri Coaching Clinic Pada Anak Yatim
Strategi Jitu Bella Shofie Jalani Syuting Saat Ramadan
Sibuk, Denada Tak Punya Manajemen Waktu
Reza Artamevia Tak Mau Bikin Lagu Religi (kpl/hen/abs/phi)












Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/02/17/micdqc-teladan-terbaik-adalah-rasulullah


10 tahun mualaf, Cristian Gonzales belajar jadi muslim yang baik

Tuesday, June 11, 2013

Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, jika seseorang bermimpi junub, tetapi tidak keluar mani, apakah sah jika ia melakukan shalat, baik yang fardhu maupun sunah tanpa mandi terlebih dahulu? Ataukah ia wajib mandi janabah terlebih dulu?


Dan, jika ia ingin berpuasa, tetapi mandinya setelah shalat Subuh apakah masih sah puasanya? Dan, ketika mandi ada air yang masuk ke lubang hidung dan telinganya, apakah puasanya masih bisa diteruskan?


Warsito – Semarang


Waalaikumussalam wr wb.

Ummu Salamah, Ummul Mukminin ra, berkata, “Ummu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi jika bermimpi?” Rasulullah SAW bersabda, “Iya, apabila ia melihat air (mani).” (HR Bukhari dan Muslim).


Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi. Beliau menjawab, “Dia wajib mandi.” Dan, beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab, “Dia tidak wajib mandi.” Lalu, Ummu Sulaim bertanya, “Perempuan juga mendapatkan itu (mendapatkan dirinya basah) apakah ia juga wajib mandi?” Nabi SAW menjawab, “Iya, kaum perempuan adalah saudara kandungnya kaum laki-laki.” (HR Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad).


Berdasarkan hadis-hadis di atas, para ulama sepakat, seseorang yang bermimpi, tapi tidak keluar mani maka tidak wajib baginya mandi janabah.


Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah mengatakan, jika seseorang bermimpi, tetapi tidak mendapati adanya mani yang keluar maka tidak wajib baginya mandi. Ibnu Mundzir menegaskan, “Para ulama yang saya ketahui sepakat (ijmak) tentang hal ini.”


Hal itu tidak memengaruhi ibadah puasanya jika seseorang ingin berpuasa di siang harinya. Bahkan, jika ia pun diwajibkan mandi karena bermimpi sampai keluar mani ataupun karena berhubungan suami istri, tetapi baru mandi setelah terbitnya fajar atau setelah waktu Subuh, puasanya tetap sah.


Dari Aisyah istri Nabi SAW, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) pada Ramdahan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian, beliau mandi dan tetap berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).


Dalam riwayat lain disebutkan, Aisyah dan Ummu salamah (istri-istri Nabi SAW) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa. (HR Bukhari).


Dan, masuknya setetes air ke dalam lubang hidung atau telinga ketika mandi tidaklah membatalkan ibadah puasa, apalagi jika itu tidak disengaja untuk memasukkannya dan tidak sampai ke lambungnya.


Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai memasukkan air ke dalam lubang hidung atau yang dinamakan dengan istinsyaq karena ada hadis Nabi SAW yang menegaskan agar tidak berlebih-lebihan dalam ber-instinsyaq ketika berpuasa.


Dari Laqith bin Shabirah, ia berkata, “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jemari dan bersungguh-sungguhlah ketika be-ristinsyaq (memasukkan air dalam hidung), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR Tirmizi, Abu Daud, al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).


Jumhur ulama berpendapat, jika seseorang berlebih-lebihan dalam ber-istinsyaq, lalu masuk air ke dalam badannya tanpa sengaja, batallah puasanya. Sedangkan, sebagian ulama berpendapat itu tidak membatalkan.


Tapi, jika air yang masuk itu banyak maka berdasarkan hadis di atas dan pendapat jumhur ulama, hal itu dapat membatalkan puasa karena hidung juga merupakan tempat masuknya sesuatu ke dalam perut atau lambung seseorang karena lubang hidung itu sama seperti mulut bersambung dengan tenggorokan.


Begitu juga ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah sesuatu yang masuk lewat lubang telinga dapat membatalkan puasa atau tidak? Sebagian berpendapat, itu dapat membatalkan puasa karena sama dengan lubang hidung sebagai tempat masuknya sesuatu ke dalam tubuh seseorang.


Sedangkan, sebagian lain berpendapat hal itu tidak membatalkan puasa selama sesuatu yang masuk itu tidak sampai ke tenggorokan.


Dan pendapat yang kuat adalah bahwa telinga itu sama dengan mata, ia bukan tempat masuk makanan atau minuman yang normal ke tenggorokan atau lambung. Oleh karena itu, tidaklah membatalkan sesuatu yang masuk lewat telinga selama tidak sampai ke tenggorokan.


Wallahu a’lam bish shawwab.


Ustaz Bachtiar Nasir



Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/05/02/219477408/Lawan-Eyang-Subur-Adi-Bing-Slamet-Didampingi-TPM


Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

Wednesday, July 17, 2013

Pasar Ramadhan di Tepian Katedral

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Ketika hari mulai sore, para pedagang mulai merapikan tempat jualannya untuk menyajikan beraneka macam kue, minuman ringan, es buah serta beraneka jenis makanan lainnya menjelang umat muslim berbuka puasa.


Trotoar di tepian Katedral Kristus Raja dan Bank Mandiri Kupang yang terletak di Jalan Ir Soekarno itu ramai dipadati pengunjung, baik yang muslim maupun nonmuslim, ketika mentari merangkak perlahan menuju keperaduannya.


Ruas jalan Ir Soekarno, terutama di depan Katedral Kristus Raja Kupang sampai ke Bank Mandiri dan Telkom Plaza menjadi macet karena padatnya arus lalu lintas, terutama kendaraan roda dua dan empat yang mampir sebentar di Pasar Ramadhan itu.


“Itu Pasar Ramadhan yang baru dibuka khusus untuk menyambut bulan puasa. Jika ada umat muslim yang tak sempat buka puasa bersama keluarga, bisa langsung menikmati di Pasar Ramadhan, atau membeli jajan di tempat itu untuk buka bersama keluarga di rumah,” kata Sulaiman Kopong (37 tahun), seorang warga Kota Kupang kelahiran Flores Timur.


Beraneka ragam kue dan jajanan yang disajikan itu, terkesan menggoda selera setiap orang yang melintas di kawasan tersebut. “Enak juga menikmati es buah sambil cuci mata di sini,” komentar Paulus Tadon (30), salah seorang pegawai swasta di Kupang.


Pasar Ramadhan di trotoar tepian Gereja Katolik Kristus Raja Kupang dan Bank Mandiri itu merupakan pengembangan dari pasar senja yang sebelumnya dibuka para pedagang dari Kelurahan Air Mata Kupang di seberang jalan Kantor Bupati Kupang. 


Kawasan itu terkenal dengan Jajan Air Mata (JAM), karena diproduksi oleh para pedagang dari Kelurahan Air Mata. Kawasan itu masih tetap saja ramai meski sudah berkembang ke arah Katedral Kristus Raja dan Bank Mandiri Kupang.


JAM mulai berkembang pada masa pemerintahan Gubernur NTT Herman Musakabe (1993-1998). Ketika itu, isteri sang gubernur, Jeanette Agnes Musakabe, berupaya memberdayakan para pedagang, khususnya kaum ibu rumah tangga dari Kampung Air Mata lewat penjualan jajan tersebut.


Beraneka ragam kue dan makanan ringan lainnya disajikan di atas kereta dorong itu. Lezatnya JAM inilah yang kemudian menjadi pusat perhatian umat muslim di Kota Kupang dan sekitarnya saat buka puasa.


Saat menjelang buka puasa, kawasan itu padat dengan pengunjung. Ada yang langsung buka di tempat itu, ada pula yang hanya membeli jajan untuk buka bersama keluarga di rumah masing-masing. JAM menjadi sangat populer bagi masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya.


Perkampungan muslim di Kota Kupang, terdapat di Kelurahan Air Mata, Bonipoi dan Kampung Solor. Mereka umumnya pendatang muslim dari Kepulauan Solor di Kabupaten Flores Timur, NTT serta turunan Arab. Mereka hidup rukun dan damai dalam bingkai kultur bersama umat agama lainnya seperti Katolik dan Protestan, tanpa adanya persoalan.


Munandjar Widiyatmika, seorang peneliti masuknya agama Islam di NTT dan penulis buku tentang Sejarah Islam di NTT, menyebutkan Islam masuk pertama kali di NTT pada abad ke-15 yang dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Palembang di Kepulauan Solor, Kabupaten Flores Timur.


Sejak masuknya agama Islam di NTT sampai abad ke-16, para perintis belum tergerak mewujudkan lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sebagai penunjang penyebaran agama, seperti penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang tidak saja ditunjang oleh para wali dan ulama, tetapi juga lewat sistem pendidikan di Pondok Pesantren.


Meskipun demikian, kehidupan umat muslim di NTT tetap dihormati dan dihargai oleh mayoritas orang Katolik dan Protestan, karena umat muslim membangun relasi sosial dengan saudara-saudaranya dari Kristen atas dasar bingkai budaya.


Atas dasar itu, munculnya Pasar Ramadhan di trotoar Jalan Ir Soekarno di depan Gereja Katolik Kristus Raja Kupang itu sebagai sebuah simbol nyata bahwa kerukunan hidup antarumat beragama dan antaragama di NTT tidak perlu diragukan lagi, sebab mereka diikat dalam sebuah bingkai budaya yang hakiki.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Pasar Ramadhan di Tepian Katedral

Monday, July 22, 2013

10 Tahun Mualaf, Cristian Gonzales Belajar Jadi Muslim Yang Baik

Kapanlagi.com – Sejak menjadi seorang mualaf, pesepakbola Cristian Gonzales selalu menjalankan ibadah puasa saat bulan suci Ramadan tiba. Dirinya pun selalu belajar untuk menjadi seorang muslim yang baik.



Cristian mengakui, pada awal menjalankan ibadah puasa masih membutuhkan waktu untuk bisa menahan lapar dan haus. Dan belakangan dirinya sudah bisa menjalankan puasa sepenuhnya.




“Ini puasa saya yang ke-10 tahun. Dulu memang berat jalaninnya. Lagipula aku nggak mau malu dong sama anak-anak,” katanya ditemui di acara buka puasa SCTV bareng anak-anak yatim, Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (22/7)




Cristian Gonzales tergoda teh Uruguay.Cristian Gonzales tergoda teh Uruguay.




Tapi ada satu minuman yang menggoda Gonzales, hal itu dibuka oleh sang istri, Eva.




“Cristian itu sudah biasa minum teh tradisional Uruguay. Jadi kalau nggak minum seharian, dia suka kliyengan (pusing),” pungkas Eva seraya tertawa.




Hindari Konflik, Ivan Ogah Buka Bersama Venna Melinda
Usai Buka Bersama, Cristian Gonzales Beri Coaching Clinic Pada Anak Yatim
Strategi Jitu Bella Shofie Jalani Syuting Saat Ramadan
Sibuk, Denada Tak Punya Manajemen Waktu
Reza Artamevia Tak Mau Bikin Lagu Religi (kpl/hen/abs/phi)


Article source: http://www.hariansumutpos.com/2013/07/63008/baca-alquran-melalui-indra-perasa


10 Tahun Mualaf, Cristian Gonzales Belajar Jadi Muslim Yang Baik

Tuesday, June 18, 2013

Promosi tagih umat Islam lariskan bisnes mereka

APABILA iklan kurma jenama Yusuf Taiyoob kembali ke udara di radio setelah hampir setahun tidak kedengaran, fikiran saya sedikit pun tidak terganggu. Malah, iklan itu mengingatkan lagi bahawa Ramadan bulan yang penuh berkah sudah semakin hampir. Tidak sampai 3 minggu lagi.


Bagaimanapun, fikiran saya jadi sedikit terganggu, apabila iklan-iklan mengenai jualan murah, tiba-tiba saja menjadi lebih meriah daripada hari-hari sebelum ini.


Bukan sebab saya ikut terpengaruh dan kaki saya bagaikan ditarik-tarik untuk menyerbu pasar raya dan kedai-kedai barangan elektrik berkenaan yang menawarkan promosi harga runtuh dan menggunakan slogan mesti beli itu.


Fikiran saya jadi begitu, sebab memikirkan berapa ramai pula kali ini yang tiba-tiba mahu menukar segala-galanya dengan yang baharu dan berapa ramai pula yang akan terpengaruh dengan promosi barangan murah sehingga barangan yang tidak perlu pun dibeli semata-mata sebab harganya murah.


Inilah saat dan ketikanya pihak peniaga tidak kira yang menjual produk apa pun pasti akan melancarkan strategi promosi besar-besaran untuk melariskan barangan mereka.


Sebabnya, umat Islam merupakan kuasa beli terbesar di negara ini. Kalau kita duduk diam-diam, tidak sibuk hendak menukar dan membeli itu dan ini, bisnes mereka tak jalanlah.


Jika kita lihat jualan barangan murah dan harga runtuh adalah lebih hebat dan meriah ketika umat Islam mahu menyambut Hari Raya berbanding sambutan perayaan Tahun Baru Cina, Deepavali dan Krismas.


Memang, puasa pun belum lagi tetapi di mana-mana saja termasuk di media-media baharu, banyak iklan yang tiada kaitannya dengan persiapan Hari Raya Puasa sudah timbul di sana sini.


Contohnya, iklan gajet untuk hari raya! Apa kena mengena beli telefon bimbit yang canggih untuk persiapan Hari Raya, apa kena mengena promosi program menurunkan berat badan dengan Hari Raya? Promosi tilam murah, rawatan dan produk kecantikan dan kaca mata?


Masa itulah juga promosi harga murah kereta tidak kira buatan tempatan atau luar negara giat berlangsung untuk menarik orang ramai beraya dengan kereta baharu. Itu belum masuk barangan hiasan rumah, perabot, barangan elektrik dan macam-macam lagi.


Bila semua peniaga memikirkan bahawa orang Melayu sanggup berhabis-habisan untuk hari raya dan bila semua produk hendak dikaitkan dengan Hari Raya maka timbullah promosi-promosi seperti ini.


Sebab itu, sebelum ini jualan arak pun dikaitkan dengan promosi sempena Hari Raya! yang menimbulkan kemarahan umat Islam. Walaupun arak itu tidak dibeli oleh orang Islam di pasar raya itu, tidak sepatutnya perkataan promosi sempena Hari Raya itu digunakan.


Sebab itu juga ada syarikat-syarikat kewangan yang telah mula menawarkan pinjaman peribadi khas untuk Hari Raya sehingga mencecah RM200,000! Antara peminjam yang disasarkan mereka adalah kakitangan kerajaan, badan-badan berkanun dan pesara-pesara kerajaan.


Kenapa perlu sampai membuat pinjaman peribadi yang wajib dilunaskan hingga bertahun-tahun lamanya untuk sebulan berhari raya? Kenapa perlu tambah hutang baharu. Tidak cukupkah hutang ansuran rumah, kereta, belanja dapur, persekolahan anak-anak dan macam-macam bil yang perlu ditolak setiap bulan?


Memang tidak boleh disalahkan 100 peratus kepada peniaga-peniaga yang membuat bermacam-macam promosi. Mereka mahu berniaga. Begitulah caranya. Kitalah sebagai pengguna perlu mengawal diri dan bijak mengatur perbelanjaan.


Sedangkan yang lebih diutamakan adalah menjalani ibadah puasa itu. Berebut-rebut beramal untuk mendapatkan ganjaran pahala dalam bulan berkenaan. Bukan berebut-rebut membeli barangan di pusat beli-belah atau sanggup meredah lautan manusia sambil mendukung anak-anak kecil hingga ke tengah malam di sekitar Jalan Tunku Abdul Rahman, Kuala Lumpur.


Tidak ada siapa pun yang memaksa anda untuk berbelanja lebih. Dan tidak salah apa pun jika anda tidak berbelanja sakan untuk Hari Raya. Jika tidak ada segala-galanya baharu, Hari Raya tetap berjalan dan disambut juga. Jika tidak mampu, berbelanjalah mengikut kemampuan. Islam turut melarang kita memudaratkan diri sendiri dan keluarga.


Dan dalam membuat persediaan menyambut Hari Raya, jangan pula disebabkan rambang mata, hilang terus semangat meneruskan jihad ekonomi kita! Jangan hangat-hangat tahi ayam.



Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Promosi tagih umat Islam lariskan bisnes mereka

Friday, August 9, 2013

Jamaah Mualaf Tionghoa di Masjid Lautze Meningkat Tajam

JAKARTA – Sepanjang bulan suci Ramadan tahun ini, jumlah warga khususnya dari etnis Tionghoa yang berpindah memeluk agama Islam (mualaf) di Masjid Lautze, Jakarta Barat, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu.


Menurut staf Pembina dan Pengislaman Mualaf Masjid Lautze, Ustad Suhaemi, pada Ramadhan kali ini jumlah warga Tionghoa yang menjadi mualaf di masjid ini sebanyak 37 orang.


“Jumlah mualaf di Masjid Lautze selama Ramadan meningkat. Tahun ini, ada sebanyak 37 orang, sedangkan Ramadan tahun lalu hanya 20 orang,” katanya di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Barat, Jumat (9/8/2013).


Selain jumlah mualaf, paparnya, jumlah jamaah di Masjid Lautze juga mengalami peningkatan, khususnya saat pelaksanaan shalat Ied yang digelar pada Kamis (8/8/2013)yang dipimpin oleh imam dan khatib Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan Shaberah.


“Tahun lalu, jumlah jamaah yang mengikuti shalat Ied disini hanya sekitar 400 orang, sedangkan tahun ini mencapai lebih dari 500 jamaah dan didominasi oleh warga Tionghoa”.


Dia mengungkapkan sepanjang Ramadan, Masjid Lautze mengadakan acara buka puasa bersama selama empat kali yang digelar setiap Sabtu.


“Acara buka puasa ini sebetulnya ditujukan bagi para mualaf di Masjid Lautze, baik mualaf baru maupun mualaf yang sudah lama. Jadi, ini seperti momen kumpul-kumpul. Tapi, acara ini juga terbuka untuk umum, siapa saja yang shalat di masjid ini pada waktu Maghrib, kita berikan makanan untuk berbuka puasa”.


Pihak masjid Lautze, juga memberikan pembinaan khusus kepada mualaf selama Ramadan, yakni kesempatan untuk menjadi imam dalam shalat tarawih.


“Kita memberikan kesempatan kepada mualaf untuk menjadi imam saat shalat tarawih. Ini merupakan latihan kepemimpinan. Kelak, diharapkan imam tersebut dapat menjadi pemimpin yang baik bagi keluarganya,” jelasnya. [Bisnis]


 


130714_masjidniujie-china.jpg130714_masjidniujie-china.jpg130714_masjidniujie-china.jpg


Article source: http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=45104


Jamaah Mualaf Tionghoa di Masjid Lautze Meningkat Tajam

Tuesday, October 15, 2013

Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat.  Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.


Namun, Allah SWT memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.


‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.


Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


                                                                            
                                                                     ***


Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.


Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.


‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.


Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”


Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.


Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.


 ”Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”


Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.


                                                                     ***


Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.


“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.


Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.


Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.


Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.


Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.


                                                                    
                                                                       ***


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.


Sepulang dari  Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.


Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.


“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat  berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.


Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.


“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.


                                                                         ***


Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.


“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”


Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”


Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.


Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.


“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”
 
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.


“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”


Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”


Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.


“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”


Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”


Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.


Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/06/06/078486229/Konvensi-Demokrat-Terbuka-untuk-Anas-Urbaningrum


Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

Wednesday, July 17, 2013

17 Ribu Warga Jadi Mualaf di Sunda Kelapa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta memiliki program sertifikasi untuk mualaf sejak tahun 1983. Hingga Ramadhan tahun ini, terdapat sekitar 17 ribu warga yang masuk Islam melalui masjid yang berada di pusat kota ini.


“Alhamdulillah, alhamdulillah. Sudah 5 orang yang masuk Islam di bulan Ramadhan ini,”ujar Anwar Sujana, Kepala Bagian Pembinaan Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa saat ditemui RoL dikantornya, Jakarta, Rabu (17/7).


Awalnya, Masjid Agung Sunda Kelapa hanya mengislamkan orang yang ingin masuk Islam saja. Mereka datang, lalu dibimbing untuk membaca kalimat syahadat setelah itu mereka dapat sertifikat lalu selesai. Namun, hal itu di anggap kurang efektif dan pada tahun 2003 di mulailah pembinaan terhadap mualaf.


Ada beberapa materi-materi yang harus diberikan kepada mualaf, yaitu Studi Dasar Islam yang menjelaskan Islam secara global yang menyangkut aqidah, syariat, ibadah, rukun iman, rukun Islam beserta resiko-resikonya. 


Lalu materi selanjutnya adalah Aqidah Ahlak yang mengajarkan tentang keimanan kepada Allah, Malaikat, Alkitab, Rasul, hari Kiamat juga Qada dan Qadar. Materi tersebut di jelaskan lebih dalam dan terperinci.


Berikutnya, materi Pengenalan Alquran. Materi ini membahas tentang isi kandungan, proses turunnya Alquran, juga bagaimana cara  memahami dan meyakini Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Tidak lupa sikap dan etika-etika  terhadap Alquran. 


Kemudian pembinaan ini  memiliki materi Fiqih Ibadah yang mengajarkan para mualaf tentang praktik tata cara shalat seperti berwudhu, rukun shalat dan semua hal yang menyangkut soal ibadah. 


Anwar juga memberitahukan, ada 2 materi baru di pembinaan mualaf ini, yaitu Kristologi yang memberikan pemahaman tentang kitab Injil yang harus di luruskan. Kedua, adalah Fiqih Wanita yang di adakan setiap rabu pagi dan di ajarkan oleh Ustazah.


Fiqih Wanita ini di ajarkan khusus untuk para mualaf  wanita untuk membahas tentang mensturasi dan masalah kewanitaan.


Dari Senin sampai Jumat, Masjid Agung Sunda Kelapa  membuka pembinaan mulai pukul 8 pagi hingga jam 5 sore. Akan ada Ustaz yang selalu siap memberikan materi bagi para mualaf yang ingin melakukan pembinaan.


Khusus di bulan Ramadhan, pada Sabtu dan Ahad, pembinaan akan di mulai setelah Zuhur hingga buka puasa bersama. Sudah dua kali bulan puasa,  Masjid  mengadakan malam Nuzulul Quran dan Iktikaf bersama para mualaf.


Banyaknya para mualaf yang hadir membuat kegiatan untuk mualaf pada Ramadhan ini akan digelar kembali dengan mendatangkan beberapa Ustaz.


Anwar mengaku terdapat kendala dalam membina para mualaf. Terutama, untuk mereka yang diusir dari keluarga.


Menurutnya, pihak masjid sulit untuk membantu menghadapi persoalan para mualaf tersebut. Sebenarnya Anwar menginginkan adanya rumah singgah bagi para mualaf, namun persoalan dana yang masih menjadi masalah.


Article source: http://www.merdeka.com/artis/titi-rajo-bintang-himbau-restoran-tak-sediakan-menu-sirip-hiu.html


17 Ribu Warga Jadi Mualaf di Sunda Kelapa

Saturday, July 13, 2013

Kekasih Jadi Mualaf, Winda Viska Menangis

Winda


MOBERITA.COM – Saat ini, rasa haru dan bahagia tengah dialami oleh penyanyi cantik Winda Viska. Pasalnya, sang kekasih Mulyadi Tan telah resmi menjadi seorang mualaf. “Enggak dipungkiri karena awal berkenalan aku, kalau di Islam kan menikah dengan seagama, kita enggak tau hidayah dapat dari mana saja,” ujar Winda


Saat ditemui di Ruang Serbaguna, Gedung Trans TV, Jalan Kapt. P. Tendean, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2013), Winda menuturkan, ia meminta sang kekasih untuk memantapkan keseriusan terhadapnya dengan cara memeluk agama Islam.


“Aku niatin 2 jam sebelum ke masjid aku minta yakinin dia benar atau enggak. Aku bilang, kalau mau serius saya enggak bisa dengan anda karena beda keyakinan. Untuk rumah tangga, kita harus satu keyakinan. Tanggal 8 Juli kemarin (mengucap syahadat) di Masjid Ijtihad, Pondok Indah,” paparnya


Alhasil, Winda pun tak kuasa meneteskan air mata ketika sang pujaan hati melakukan ibadah sholat 2 rakaat setelah memeluk agama Islam. “Dia sudah menemukan kedamaian. Aku sempat nangis dia salat dua rakaat habis jadi mualaf, dia nanya di mana kiblatnya,” kata Winda


Lebih lanjut Winda mengatakan, dirinya dan Mulyadi ingin segera melangkah ke jenjang pernikahan pada tahun ini. “Ya mudah-mudahan tahun ini. Insya Allah yakin, dia kan sudah memantabkan hati, ini langkah besar, sudah mau belajar agama. Yakin, yakin banget,” ucap Winda


Bahkan, setengah dari persiapan pernikahan pun sudah dilakukan oleh Winda dan Mulyadi baik dari wedding organizer (WO), undangan dan tempat menikah. “Sudah setengah persiapan. Harusnya urus undangan, gedung sudah ada, WO sudah meeting, belum fix, baju sudah coba belum fitting,” pungkasnya


Nantinya, konsep pernikahan yang akan digunakan Winda dan Mulyadi adalah adat internasional. Namun untuk akad nikah, keduanya akan menggunakan prosesi islami. “Karena dia chinese, konsepnya pakai international wedding, tapi akadnya tetap islam,” tutur Winda



Siti Nurjanah

Related Posts


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Kekasih Jadi Mualaf, Winda Viska Menangis

Sunday, July 14, 2013

Jupe Merasa Kagum Gaston Mau Belajar Agama Islam

 Aktris Yulia Rachmawati atau yang akrab disapa Julia Perez atau Jupe mengaku bahagia kekasihnya Gaston Castano mau mengerti dan mau belajar tentang agama Islam.


Pasalnya, meski status muallaf nya masih menjadi teka-teki, Gaston memang terlihat dan dikabarkan sering belajar dan sering mendengarkan ceramah agama dari beberapa ustad di Indonesia.


Hal itu diungkapkan Jupe saat ditemui diacara Buka bersama artis dan management MD Entertaiment, dikawasan Setia Budi, Jakarta Selatan.


“Enam tahun di Indonesia, dia (Gaston) selalu temani aku puasa. Sudah tahu suasananya seperti apa. Misalnya sahur dan waktu berbuka puasa,” terang Jupe.


Diakui pula oleh Jupe, kekasihnya yang juga pemain bola itu ternyata senang mendengarkan ceramah (tausiah) dari beberapa ustad di Indonesia.


“Dia suka sama Ustad Yusuf Mansyur, katanya bagus dan masuk akal ceramahnya. Dulu, dia juga suka sama almarhum Uje (Ustad Jefri Al Buchori) dan almarhum Zainuddin MZ,” ujarnya.


Pelantun lagu “Belah Duren” itu mengakui selain seringnya Jupe mengajarkan tentang agama Islam membuat dirinya sering meminjamkan buku-buku tentang agama.


“Dia suka nanya-nanya tentang Islam, makanya aku juga sering kasih pinjam buku-buku tentang Islam sama dia. Biar dia baca dan faham tentang Islam,” tuturnya.


Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/polah/69849-gara-gara-sinetron,-sandra-dewi-jadi-bisa-shalat.html


Jupe Merasa Kagum Gaston Mau Belajar Agama Islam

Wednesday, January 23, 2013

Cak Nun, Gus Dur, dan Ateis

SURABAYA, KOMPAS.com — Seorang peserta dalam acara bertajuk “A Tribute to Martin Luther King dan Gus Dur: Warisan Pluralisme, Keanekaragaman dan Demokrasi” yang digelar Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Selasa (22/1), mengaku ingin keluar dari agama.

“Rasanya, saya ingin keluar dari agama karena agama sudah tidak lagi membuat orang menjadi sejuk. Banyak orang beragama yang suka konflik. Banyak orang dengan pakaian agama justru melakukan kekerasan, bahkan membunuh saudara sendiri. Jadi, buat apa beragama,” ucap peserta itu.

Menjawab hal itu, budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menjelaskan agama itu bukan institusi. Karena itu, orang masuk ke dalam agama atau keluar dari agama itu bukan persoalan. “Agama itu bukan institusi. Kalau Anda mengaku beragama tapi suka kekerasan, itu bukan beragama,” tuturnya.

Sahabat dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (alm) itu menyebut Gus Dur sebagai orang beragama, dan orang beragama yang suka kekerasan itu ateis (bukan orang beragama).

“Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka kekerasan, Anda belum tentu Islam,” paparnya.

Bahkan, suami artis Novia Kolopaking itu menilai rukun Islam (shalat, puasa, zakat, haji, dan syariah lain) itu hanya 3,5 persen dari ajaran, sedangkan 96,5 persen dari ajaran Islam yang sesungguhnya adalah keindahan, penghormatan kepada sesama, jujur, adil, bersih, bersatu, dan seterusnya.

“Jadi, kalau Gus Dur itu garang kepada ICMI dan sesama Islam, tapi Gus Dur sangat hormat kepada non-Islam, maka hal itu bukan berarti Gus Dur tidak beragama. Target Gus Dur bukan sekadar menghormati non-Islam itu, tapi Gus Dur ingin menegakkan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, kejujuran, keindahan, dan sejenisnya. Itulah ajaran Islam yang sesungguhnya,” tuturnya.

Pemimpin kelompok musik religi Kiai Kanjeng itu menilai Gus Dur justru melakukan “diskriminasi hasanah” (diskriminasi yang baik). “Baginya, Islam tidak perlu dibela  karena jalurnya sudah tepat, tapi non-Islam justru harus tahu Islam itu bagaimana,” ujarnya tersenyum.

Pandangan Cak Nun itu tidak jauh berbeda dengan pandangan Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel yang juga hadir dalam acara mengenang Gus Dur dan Martin Luther King Jr itu. “Gus Dur dan Martin Luther King Jr itu berbeda, tapi keduanya memiliki kesamaan sebagai tokoh agama dan pejuang HAM di negaranya,” ujarnya.

Bahkan, ia menilai tokoh HAM Gus Dur telah mendorong Indonesia menjadi lebih baik, seperti halnya tokoh HAM Martin Luther King Jr mendorong AS menjadi lebih baik.

“Beliau ikut memperjuangkan kesetaraan hak itu, tapi caranya dengan damai,” paparnya dalam acara yang juga dihadiri putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid, itu.






Article source: http://artis.inilah.com/read/detail/1918341/lamaran-di-pusara-ayah-dan-menikah-islam


Cak Nun, Gus Dur, dan Ateis

Saturday, January 26, 2013

Cak Nun, Gus Dur, dan Atheis

SURABAYA, KOMPAS.com —Seorang peserta dalam acara bertajuk A Tribute to Martin Luther King dan Gus Dur: Warisan Pluralisme, Keanekaragaman dan Demokrasi yang digelar Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Selasa (22/1/2013), mengaku ingin keluar dari agama.

“Rasanya, saya ingin keluar dari agama karena agama sudah tidak lagi membuat orang menjadi sejuk. Banyak orang beragama yang suka konflik. Banyak orang dengan pakaian agama justru melakukan kekerasan, bahkan membunuh saudara sendiri. Jadi, buat apa beragama,” ucap peserta itu.

Menjawab hal itu, budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menjelaskan agama itu bukan institusi. Karena itu, orang masuk ke dalam agama atau keluar dari agama itu bukan persoalan. “Agama itu bukan institusi. Kalau Anda mengaku beragama tapi suka kekerasan, itu bukan beragama,” tuturnya.

Sahabat dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (alm) itu menyebut Gus Dur sebagai orang beragama dan orang beragama yang suka kekerasan itu ateis (bukan orang beragama).

“Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka kekerasan, Anda belum tentu Islam,” paparnya.

Bahkan, suami artis Novia Kolopaking itu menilai rukun Islam (syahadat, salat, puasa, zakat, haji, dan syariah lain) itu hanya 3,5 persen dari ajaran, sedangkan 96,5 persen dari ajaran Islam yang sesungguhnya adalah keindahan, penghormatan kepada sesama, jujur, adil, bersih, bersatu, dan seterusnya.

“Jadi, kalau Gus Dur itu garang kepada ICMI dan sesama Islam, tapi Gus Dur sangat hormat kepada non-Islam, maka hal itu bukan berarti Gus Dur tidak beragama. Target Gus Dur bukan sekadar menghormati non-Islam itu, tapi Gus Dur ingin menegakkan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, kejujuran, keindahan, dan sejenisnya. Itulah ajaran Islam yang sesungguhnya,” tuturnya.

Pemimpin kelompok musik religi Kiai Kanjeng itu menilai Gus Dur justru melakukan “diskriminasi hasanah” (diskriminasi yang baik). “Baginya, Islam tidak perlu dibela karena jalurnya sudah tepat, tapi non-Islam justru harus tahu Islam itu bagaimana,” ujarnya tersenyum.

Pandangan Cak Nun itu tidak jauh berbeda dengan pandangan Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel yang juga hadir dalam acara mengenang Gus Dur dan Martin Luther King Jr itu. “Gus Dur dan Martin Luther King Jr itu berbeda, tapi keduanya memiliki kesamaan sebagai tokoh agama dan pejuang HAM di negaranya,” ujarnya.

Bahkan, ia menilai tokoh HAM Gus Dur telah mendorong Indonesia menjadi lebih baik, seperti halnya tokoh HAM Martin Luther King Jr mendorong AS menjadi lebih baik.

“Beliau ikut memperjuangkan kesetaraan hak itu, tapi caranya dengan damai,” paparnya dalam acara yang juga dihadiri putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid, itu.






Article source: http://news.detik.com/read/2013/01/04/140927/2133214/10/solusi-kemenag-soal-pungli-di-kua-tetapkan-tarif-atau-beri-insentif?9911012


Cak Nun, Gus Dur, dan Atheis

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe