Showing posts sorted by relevance for query sejarah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sejarah. Sort by date Show all posts

Sunday, January 6, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)


 

Partai Masyumi


Senin, 07 Januari 2013

Oleh: Nuim Hidayat 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

SURAT cinta ini  saya tulis karena terpicu dengan pernyataan salah satu tokoh politisi Muslim yang bangga ketika ada non Muslim menjadi salah satu pengurus partainya.  Mungkin ia dan sahabat-sahabatnya punya dalil atau hujjah untuk pendapatnya itu. Tapi saya yakin hujjah itu tidak diuji ke publik, terutama ke para ulama dan cendekiawan yang shaleh, yang faham tentang Islam dan sejarah bangsa ini.

Sekitar tahun 2008, saya pernah menulis di Majalah Hidayatullah tentang pentingnya kesatuan akidah dalam sebuah organisasi termasuk partai politik. Kita bisa bayangkan, bila NU dan Muhammadiyah tidak dirintis oleh orang-orang yang sama dalam tujuan akidah dan dakwah. Apakah mungkin sebesar sekarang? Inilah ringkasan dari artikel yang saya beri judul; “Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang”.

Kepada sahabat-sahabat
Generasi Muda Islam
Kususun buku ini untukmu
Turutilah djejak pemimpinmu
kenangkan sedjarahnya
teruskan perjuangannya

Di tengah gegap gempitanya  partai-partai Islam saat ini berkonsolidasi untuk Pemilu 2009, maka muncullah gagasan partai Islam agar terbuka dan inklusif. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah lebih dulu memulai gagasan ini dengan memasukkan beberapa non Muslim menjadi pengurus atau anggota DPP Partai PKB.  Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang juga menerima gagasan inklusif ini.  Meski sebenarnya PKS juga telah memulai menerima anggota/pengurus non Muslim/anggota DPRD untuk daerah Irian.

Melihat gagasan inklusif partai-partai Islam (dalam AD/ART-nya) ini, membuat penasaran diri saya untuk bertanya: “Bolehkah dalam berpartai kita bersama-sama non Muslim?

Saya membuka-buka kembali buku sejarah.  Alhamdulillah di rumah saya ketemu buku “Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito” yang yang disusun oleh SU Bajasut. Buku ini selain memaparkan pemikiran-pemikiran Ketua Umum Masyumi Prawoto juga melampirkan dokumentasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Masyumi.

Dalam Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III). Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

-Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik
-Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan
-Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam
-Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai

Nah, ini yang menarik, di pasal V tentang anggota dinyatakan, Anggota Partai terdiri dari:

-Anggota biasa, ialah warga negara Indonesia yang beragama Islam (laki-laki dan perempuan) dan tidak menjadi anggota partai politik lain
-Anggota teras, terpilih dari anggota-anggota biasa
-Anggota Istimewa, ialah Pengurus Besar/Pusat perhimpunan Islam yang bukan partai politik

Keharusan anggota wajib beragama Islam ini lebih tegas lagi, dijelaskan dalam “Anggaran Rumah Tangga Partai Politik Islam Indonesia Masjumi”. Dalam Bab II Pasal 3 dijelaskan: “Syarat-syarat untuk menjadi anggota partai: 1.  Tiap warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam, laki-laki maupun perempuan, berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah kawin dan tidak menjadi anggota partai politik lain dapat diterima menjadi anggota biasa…” (ART Partai ini ditetapkan dalam Sidang Dewan Partai, 9-12 Oktober 1953. Artinya sebelum pemilu 1955 dimana Masjumi memperoleh suara)

Jadi Masjumi tegas mengharamkan anggota partainya non Muslim. Apalagi jadi pengurus partai. Seperti sudah lazim kita ketahui untuk menjadi pengurus partai (atau anggota DPRD sebuah partai), seseorang diharuskan menjadi anggota terlebih dahulu.  Jadi bila merujuk sejarah, maka suatu hal yang aneh partai Islam anggota/pengurus non Muslim (inklusif).

Bagi partai yang ingin menegakkan syariah Islam di Indonesia, atau partai dakwah, tentu hal yang aneh bila dalam perjuangan partai itu ada anggota/pengurus non Muslim.  Bagaimana mau berdakwah, mengajak orang lain ke jalan Islam,  sementara dalam rumah tangga partai dakwah sendiri ada yang non Muslim?  Logika berpikir yang benar, tentu untuk menjadi partai dakwah, maka anggota/pengurus yang di dalam harus bersiap untuk dakwah.  Dan untuk siap berdakwah, maka seseorang harus menjadi Muslim terlebih dulu.

Sayangnya, kini sejarah Masjumi yang didirikan oleh alim ulama dan cendekiawan Islam yang penuh keteladanan itu kini jarang lagi ditengok oleh politikus-politikus partai.  Para politikus saat ini mencoba gagah-gagahan untuk melepas diri sejarah perjuangan Islam Indonesia masa lalu.  Padahal Masjumi Masjumi didirikan dari hasil Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta 7-8 November 1945, oleh hampir semua tokoh berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang. Organisasi-organisasi Islam yang masuk Masjumi antara lain: Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam, Persis, Al Irsyad, Al Jamiyatul Washliyah, Al Ittihadiyah dan lain-lain (Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hal. 47-50).

Padahal al-Qur’an berulangkali dalam ayatnya mengingatkan kita agar menengok dan meneladani sejarah.  Baik sejarah individu, masyarakat atau sebuah bangsa. Politik hari ini, adalah sejarah sejarah esok hari. Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS: 11:120).

Maka buku pemikiran Prawoto Mangkusasmito di atas, bukanlah sekedar kalimat-kalimat pemuas akal belaka. Di halaman persembahannya ditulis:

“Kususun buku ini untukmu,
Turutilah djedjak pemimpinmu,
kenangkan sedjarahnya,
teruskan perjuangannya

Tapi, kini kondisi partai politik lebih parah. Disadari atau tidak, ideologi sekuler Barat –lewat lobi-lobi para orientalis/indonesianis– telah masuk dalam cara berpikir banyak orang partai.  Sehingga dalam dan antar partai Islam yang terjadi rebutan jabatan, rebutan angggota DPR/DPRD dan rebutan sumber-sumber uang. Tanpa melihat lagi akidah, kapabilitas dan keamanahan seorang calon. Partai bukan dilihat lagi sebagai alat perjuangan dakwah dan alat perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Padahal Al-Qur’an jelas menegaskan fungsi organisasi Islam atau partai Islam adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bukan untuk mencari suara belaka. Untuk apa kekuasaan dipegang, bila tidak ditegakkan amar makruf nahi mungkar? Al-Qur’an mengingatkan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS: 3:104)

Cara berpikir Barat yang menyesatkan lainnya –yang banyak diadopsi oleh partai-partai sekuler— adalah partai diibaratkan negara kecil. Dari sinilah ide pluralisme, inklusivisme partai masuk.  Padahal partai bukanlah tipikal negara.  Partai bukan negara. Partai bisa diibaratkan rumah keluarga besar kita.  Dalam keluarga, kita berkewajiban menjaga akidah istri, anak-anak dan sistem dalam keluarga itu agar tidak keluar dari nilai-nilai Islam.  Keluarga kita harus Islami, tapi kita menghormati tetangga kita yang non Muslim.  Bahkan kita bisa saling membantu dalam hal kebaikan dengan mereka.

Walhasil, memang benar ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, bahwa dalam kehidupan ini –berumah tangga, bekerja, berorganisasi dan berpartai—ditentukan oleh niat.

Kalau dalam organisasi Islam bisa dilihat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya.  Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Bukhari Muslim)

Keberhasilan Masjumi dengan asas Islam dan agenda penegakan syariah Islam di Indonesia, dalam Pemilu tahun 1955, dan kegagalan Amien Rais dengan Partai Amanat Nasionalnya sudah merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Fa’tabiru ya Ulil Albab.* bersambung

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta

Red: Cholis Akbar


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Tuesday, July 16, 2013

Sejarah Islam akan masuk pelajaran di sekolah Inggris

Sekretaris Pendidikan Inggris Michael Gove mengumumkan kurikulum sekolah di Inggris akan direvisi serta memasukkan sejarah Islam dalam pelajaran.


Stasiun televisi Press TV melaporkan, Selasa (16/7), perubahan itu dilakukan setelah muncul perdebatan luas pada rancangan kurikulum sekolah yang tidak memasukkan soal sejarah Islam.


Dewan Muslim Inggris yang mewakili 500 organisasi Islam di negeri itu marah karena rancangan kurikulum sekolah tidak memasukkan sejarah Islam daam salah satu mata pelajaran.


Namun akhirnya kelompok muslim dan Kristen menyambut baik revisi kurikulum itu dan sejarah Islam akan mulai perkenalkan dalam kurikulum sekolah pada 2014.


Ketua Dewan Masjid Lancashire Salim Mulla mengatakan perubahan itu sangat baik dan semua pihak perlu saling memahami kepercayaan masing-masing, terutama Islam yang kini menjadi agama kedua terbesar di Inggris.


“Sudah ada pemahaman baik soal Kristen dalam pelajaran sekolah. Tapi saya tidak yakin umat Kristen paham tentang keyakinan Islam,” kata dia.


Juru bicara Dewan Pendidikan Blackburn mengatakan kurikulum itu memang diperlukan untuk mengikuti perkembangan zaman yang bergerak makin cepat.


“Sebagaimana diketahui, sejarah awal peradaban Islam memberikan peran yang cukup luas kepada dunia dan kita harus mendukung pelajaran sejarah semacam itu.”












Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/11/mo8maj-mualaf-muslim-tak-butuh-perantara-ketika-berdoa


Sejarah Islam akan masuk pelajaran di sekolah Inggris

Sunday, September 22, 2013

Denny Malik Tawarkan Cerita Sejarah Islam di ISG

Foto Terkait


Bromo Marathon, Berlari Sambil Menikmati Pemandangan


Video Terkait


Promosikan Tinju Untuk Kurangi Kejahatan




TEMPO.CO, Palembang – Koreografer Denny Malik menjanjikan sebuah penampilan cerita yang menarik dalam pembukaan Islamic Solidarity Games (ISG) ke-III di Palembang, Minggu malam nanti, 22 September 2013 nanti. Cerita tersebut dia ambil dari sejarah masuknya agama Islam di bumi Sriwijaya, Sumatera Selatan, puluhan abad silam. Sementara itu, sejumlah artis papan atas, seperti Iyed Bustami, Iis Dahlia, Afgan, dan Warna Band, akan tampil menghibur penonton dengan lagu hit mereka.


“Sejarah panjang Islam dari sekitar abad ke-7 akan kita rangkum dalam tampilan apik anak SMA se-Palembang,” kata Denny.


Dia menyebutkan tidak kurang dari 600 pelajar sudah ia didik selama dua pekan terakhir untuk tampil di hadapan ribuan penonton yang terdiri dari para atlet hingga tamu kenegaraan. Menurut Denny, pada awalnya dia menginginkan acara pembukaan menyajikan sejarah masuknya Islam di seluruh Indonesia. Namun, karena alasan teknis, dia pun memutuskan untuk fokus pada sejarah di Sumsel.


Ia menerangkan, acara pembukaan itu akan diawali dengan tarian Gending Sriwijaya yang menceritakan bahwa Kota Palembang sempat mengalami masa keemasan pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Kemudian masa itu dilanjutkan dengan masuknya agama Islam dan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam, yang berkaitan erat dengan budaya Melayu. Selanjutnya, suguhan menarik itu diteruskan dengan penampilan penari binaannya dari Jakarta.


Denny menerangkan, meskipun ajang pembukaan ini ditampilkan dengan konsep yang lebih sederhana bila dibandingkan SEA Games lalu, dia memastikan event ISG ini akan tetap menyajikan keindahan perpaduan gerak penari, musik, dan tata lampu. Dalam satu kali sesi penampilan penarinya, Denny akan menyuguhkan tarian yang cukup terkenal di Sumsel dan di kalangan dunia Melayu, yakni Sriwijaya Agung, saman, dan piring.


Adapun Ketua Deputi IV panitia daerah yang membidangi acara pembukaan dan penutupan, Ahmad Najib, menjelaskan, acara pembukaan ISG akan dimulai dengan penampilan seni dan budaya tradisional dari beberapa daerah dan juga negara-negara peserta ISG. Selanjutnya, perwakilan kontingen akan memasuki lapangan utama Gelora Sriwijaya Jakabaring untuk berparade di hadapan penonton serta Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Pangeran Arab Saudi Nawaf bi Faisal, dan tamu VVIP dari negara peserta.


“Mereka akan masuk ke dalam stadion berparade berdasarkan abjad negara masing-masing,” kata Ahmad Najib. Acara tersebut akan dipandu oleh Irgi Fahrezi, April Koeshendratmo, Fuad Baradja, dan Rosita Suroso.


PARLIZA HENDRAWAN


Berita Lain:
Gareth Bale `Ditantang` Lima Debutan Terbaik
Alexandra Asmasoebrata Jago Bikin Cheese Cake
Steven Gerrard Mulai Pikir Karir Selepas Pensiun



Article source: http://www.tribunnews.com/2013/07/09/selama-berhijab-angel-lelga-tak-wajib-ke-salon


Denny Malik Tawarkan Cerita Sejarah Islam di ISG

Sunday, February 3, 2013

Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Temuan baru muncul mengungkap siapa sebenarnya Musso atau Munawar Musso alias Paul Mussote (nama ini tertulis dalam novel fiksi Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona), tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Nama Musso terus berkibar hingga pemberontakan Madiun 1948.

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.

Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Saat di Surabaya Musso pernah kos di Jl. Peneleh VII No. 29-31 rumah milik HOS Tjokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Selain Musso di rumah kos itu juga ada Soekarno, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi tokoh Darul Islam, ekstrem kanan. Mereka dicatat dalam sejarah perjalanan revolusi di Indonesia.

Saat kos itu, Musso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, “Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.”

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. “Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo,” kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab, kemudian Kyai Tafa mempersilakan masuk. Rumah lelaki pensiunan pegawai Departemen Agama ini tampak asri, tembok warna putih dan ada bagian gebyog kayu jati yang menandakan pemiliknya orang lama. Ditambah beberapa hiasan kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah menempel di antara dinding rumahnya. Selanjutnya Kiai Tafa masuk ke rumah induk dan berganti pakaian yang semata-mata dia lakukan untuk menghormati tamunya.

Lima menit berlalu, Kiai Tafa keluar dan menanyakan maksud kedatangan. Sebelumnya lelaki yang sudah tampak uzur ini menyatakan meski keturunan keluarga pesantren, dia tak memiliki santri. Sebab dia harus menjadi pegawai negeri dan berpindah-pindah tempat.

“Mau bagaimana lagi memang harus seperti itu,” kata Kiai Tafa membuka perbincangan.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk mengetahui sejarah Ponpes Kapurejo, kemudian penuh semangat, Kiai Tafa menjelaskan secara gamblang dengan suara yang sangat berwibawa.

Belum membuka pembicaraan tentang Musso, merdeka.com hanya ingin mengetahui arah pembicaraannya seperti yang disampaikan Gus Ibiq, bahwa Kyai Tafa -lah yang menjadi kunci silsilah keluarga Pondok Pesantren, Kapurejo.

“KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso,” ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. “Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah,” tukasnya.

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/02/01/156580/PKS-Diprediksi-Down-Karena-Status-Luthfi-


Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Tuesday, April 16, 2013

Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah - Metro TV

Metrotvnews.com, Tapanuli Tengah: Salah satu lokasi wisata sejarah terkenal di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, adalah di Kecamatan Barus, yang menjadi pintu masuk ajaran agama Islam dan Kristen di Indonesia. Selain wisata sejarah, di Tapanuli Tengah juga terdapat potensi wisata bahari.



Setelah menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Medan, Anda akan tiba di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten dengan garis pantai sepanjang 200 kilometer ini memiliki puluhan pantai dan pulau yang terhampar indah. Antara lain ada Pantai Binasih, Pantai Kahona, Pulau Mursala dan Pulau Putri.



Pulau Mursala bisa menjadi tujuan pertama Anda. Dengan menaiki kapal berkapasitas 10 penumpang dan menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam, Anda bisa tiba di Pulau Mursala yang eksotik. Anda juga bisa ke Pulau Mursala dengan menaiki perahu-perahu kayu. Namun waktu tempuhnya dua kali lipat dari waktu tempuh perjalanan dengan kapal.



Di Pulau Mursala, Anda akan menyaksikan air terjun setinggi 35 meter. Dari puncak pulau, air terjun tersebut langsung jatuh ke Samudera Hindia. Keindahan dan keunikan alam tersebut menjadi kebanggaan Tapanuli Tengah. Bahkan sejumlah orang percaya, percampuran air tawar dan air laut memiliki khasiat khusus.



Dari Pulau Mursala, Anda yang hobi menyelam bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Putri. Di pulau tersebut ada satu titik penyelaman yang sering dikunjungi wisatawan. Selain pemandangan bawah laut yang indah dengan beragam jenis terumbu karang, berbagai biota laut alami juga dapat Anda temukan di Pulau Putri.



Tak usah khawatir bagi Anda yang tak bisa menyelam di laut dalam. Dengan berenang di sekitar pantai, Anda sudah bisa bertemu dengan beberapa ikan karang yang lucu, seperti buterfly fish, dan clown fish. Hanya sayangnya, potensi wisata bawah laut yang indah ini belum dikelola secara maksimal. Pasalnya di Pulau Putri belum ada fasilitas penginapan untuk wisatawan.



Kemudian Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata ke Pantai Kahona. Di pantai tersebut Anda akan mendapat kejutan luar biasa dari kemunculan segerombolan ikan lumba-lumba. Ikan yang terkenal akan kecerdasannya ini akan menari-nari tak jauh dari kapal yang Anda tumpangi.



Selain memiliki potensi wisata bahari, Tapanuli Tengah juga menyimpan situs sejarah berusia ratusan tahun. Tepatnya di Kecamatan Barus. Di daerah yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia di abad ke 10 itu, terdapat beberapa jejak syiar Islam. Salah satunya adalah terdapatnya makam Mahligai. Dalam komplek pemakaman ini ada sekitar 215 makam ulama yang pertama kali membawa agama Islam ke Pulau Sumatra.



Selain itu, ada pula situs sejarah yang cukup unik, yaitu makam papan tinggi yang terletak di puncak bukit. Makam dengan panjang tujuh meter ini dipercaya sebagai pusara ulama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut, tokoh ulama yang hidup pada tahun 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah, atau pada masa khalifah Umar bin Khattab. Makan ini sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri.



Perjalanan ke lokasi wisata tersebut bisa Anda tempuh hanya dalam waktu dua hari. Namun, dua hari menjadi tak cukup bagi Anda untuk mengunjungi setiap jengkal seluruh potensi wisata di Tapanuli Tegah, negeri yang memiliki sejuta pesona.



Editor: Rizky



Share:






 


cbn



Article source: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/15/1/146902/Mahfud-MD-Siap-Nyapres


Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah - Metro TV

Monday, December 9, 2013

Jejak Ilmuwan Muslim dalam Sains Modern




Ratusan tahun silam, sebelum ilmuwan Barat mengenal ilmu pengetahuan dan sains, ilmuwan muslim telah maju dan berkembang dengan rangkaian penemuan serta ilmu pengetahuannya. Tetapi, sejarah Barat kemudian mengubur mereka “hidup-hidup”, sehingga hanya sedikit ilmuwan muslim yang masuk ke dalam tinta sejarah penemuan di dunia.

Padahal dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat pernah mengalami masa-masa pahit yang mereka sebut dengan zaman kegelapan atau disebut juga zaman pertengahan (the Medieval Ages). Zaman kegelapan itu dimulai dari runtuhnya Imperium Romawi Barat pada tahun 476 M dan munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan dalam masyarakat Kristen Barat.


Pada abad kegelapan Barat tersebut, ilmuwan Muslim seperti al-Biruni sudah menghidupkan metode eksperimen yang tak pernah dikenal oleh para pemikir besar Yunani. Metode yang kemudian menjadi bangunan dasar sains modern itu, memang membawa Islam pada puncak  kegemilangan peradabannya. Maka tidaklah berlebihan jika sains modern yang dikembangkan oleh Barat merupakan benih pemikiran Islam. Sains modern, setidaknya metode eksperimental karya al-Biruni, merupakan kontribusi paling monumental dari peradaban Islam.


Selama ini, rupanya banyak pembelajar yang telah dibodohi habis-habisan oleh sejarah yang tidak benar. Lebih tepatnya, kejujuran sejarah pengetahuan sengaja ditutup-tutupi oleh orang-orang Barat. Akan tetapi, kendati mereka berusaha menutup-nutupi kebenaran ilmu pengetahuan, akhirnya ketahuan juga bahwa ilmu pengetahuan lebih dulu ditemukan oleh para ilmuwan muslim yang lalu mengispirasi perkembangan besar-besaran di dunia Barat.


Sekadar contoh, ilmuwan muslim yang menjadi inspirasi Barat adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, seorang tokoh matematika yang menemukan angka nol. Dalam matematika juga banyak ditemukan istilah-istilah seperti sinus, kosinus, tangen, kotangen atau dalam ilmu astronomi seperti istilah azimut, zenith dan nadir yang semua itu diciptakan oleh sarjana Muslim yang bernama al-Battani, yang di Barat disebut Albategni atau Albategnius.


Dalam bidang filsafat ada Ibnu Rusyd (1126-1198) yang dihormati Barat dengan nama Averroes. Dalam bidang sosial, politik dan budaya ada ibnu Khaldun (lahir 27 mei 1332) dan dalam bidang navigasi ada ibnu Battutah (1304-1377) yang menjelajah dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai, dan Ibnu Majid yang menemukan kompas modern. Masih banyak lagi cendekiawan Muslim lainnya. Jadi, Banyak ilmuwan Muslim yang menjadi sumber rujukan orang Barat sebelum terjadi kebangkitan ilmu pengetahuan.


Ikhtiar buku ini hendak membuktikan apa saja karya, pemikiran, dan penemuan fenomenal para ilmuwan muslim yang telah menjadi jejak perkembangan ilmu pengetahuan modern. Penyusun buku ini juga menegaskan keistimewaan para ilmuwan muslim terdahulu yang mampu menguasai ragam ilmu pengetahuan. Jabir bin Hayyan al-Kufi, misalnya, sebagai ilmuwan muslim ia tidak hanya ahli dalam ilmu kimia, tetapi juga ilmu kedokteran, filsafat, dan fisika.


Sebab itu, wajar jika kita mengenal para ilmuwan muslim di zaman dulu memiliki multitalenta yang tidak saja ahli di bidang fiqh, hadits, dan al-Quran, ternyata juga jago dalam bidang filsafat, kedokteran, fisika, kimia, astronomi, geografi, dan perdagangan. Fakta ini bisa diketahui dari rangkuman berbagai bidang keilmuan sebagaimana yang dirangkum buku ini.


Sayangnya, seiring pudarnya penguasaan umat Islam atas sains dan teknologi dan pesatnya kemajuan sains modern, lenyap pula kemampuan umat Islam untuk bertahan, sehingga kecenderungan menurunnya peran umat Islam di dunia tidak dapat dielakkan. Sebaliknya bangsa Barat, setelah belajar dari umat Islam, lima abad kemudian berhasil melanjutkan pengembangan sains di tengah masyarakat mereka.


Buku yang disusun dari berbagai sumber ini, kendati tak memuat banyak hal baru, menarik untuk disimak. Tidak hanya mengungkap cara belajar para ilmuwan muslim hingga menjadi tokoh-tokoh hebat sepanjang masa, buku ini diharapkan dapat membangkitkan kembali ruh keilmuan orang Islam yang belakangan kian terkubur oleh peradaban Barat.   
    
Peresensi: Ahmad Fatoni
Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang


(//mbs)


Article source: http://www.agendadaily.com/ruangan/ruangan/catatan-odah/8056-azhar-sulaiman-bersuarakes-berat-jika-dia-wakili-the-silent-majority-yang-rasa-fedup-terus-diperbodohkan.html


Jejak Ilmuwan Muslim dalam Sains Modern

Thursday, April 4, 2013

Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah

Metrotvnews.com, Tapanuli Tengah: Salah satu lokasi wisata sejarah terkenal di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, adalah di Kecamatan Barus, yang menjadi pintu masuk ajaran agama Islam dan Kristen di Indonesia. Selain wisata sejarah, di Tapanuli Tengah juga terdapat potensi wisata bahari.

Setelah menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Medan, Anda akan tiba di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten dengan garis pantai sepanjang 200 kilometer ini memiliki puluhan pantai dan pulau yang terhampar indah. Antara lain ada Pantai Binasih, Pantai Kahona, Pulau Mursala dan Pulau Putri.

Pulau Mursala bisa menjadi tujuan pertama Anda. Dengan menaiki kapal berkapasitas 10 penumpang dan menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam, Anda bisa tiba di Pulau Mursala yang eksotik. Anda juga bisa ke Pulau Mursala dengan menaiki perahu-perahu kayu. Namun waktu tempuhnya dua kali lipat dari waktu tempuh perjalanan dengan kapal.

Di Pulau Mursala, Anda akan menyaksikan air terjun setinggi 35 meter. Dari puncak pulau, air terjun tersebut langsung jatuh ke Samudera Hindia. Keindahan dan keunikan alam tersebut menjadi kebanggaan Tapanuli Tengah. Bahkan sejumlah orang percaya, percampuran air tawar dan air laut memiliki khasiat khusus.

Dari Pulau Mursala, Anda yang hobi menyelam bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Putri. Di pulau tersebut ada satu titik penyelaman yang sering dikunjungi wisatawan. Selain pemandangan bawah laut yang indah dengan beragam jenis terumbu karang, berbagai biota laut alami juga dapat Anda temukan di Pulau Putri.

Tak usah khawatir bagi Anda yang tak bisa menyelam di laut dalam. Dengan berenang di sekitar pantai, Anda sudah bisa bertemu dengan beberapa ikan karang yang lucu, seperti buterfly fish, dan clown fish. Hanya sayangnya, potensi wisata bawah laut yang indah ini belum dikelola secara maksimal. Pasalnya di Pulau Putri belum ada fasilitas penginapan untuk wisatawan.

Kemudian Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata ke Pantai Kahona. Di pantai tersebut Anda akan mendapat kejutan luar biasa dari kemunculan segerombolan ikan lumba-lumba. Ikan yang terkenal akan kecerdasannya ini akan menari-nari tak jauh dari kapal yang Anda tumpangi.

Selain memiliki potensi wisata bahari, Tapanuli Tengah juga menyimpan situs sejarah berusia ratusan tahun. Tepatnya di Kecamatan Barus. Di daerah yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia di abad ke 10 itu, terdapat beberapa jejak syiar Islam. Salah satunya adalah terdapatnya makam Mahligai. Dalam komplek pemakaman ini ada sekitar 215 makam ulama yang pertama kali membawa agama Islam ke Pulau Sumatra.

Selain itu, ada pula situs sejarah yang cukup unik, yaitu makam papan tinggi yang terletak di puncak bukit. Makam dengan panjang tujuh meter ini dipercaya sebagai pusara ulama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut, tokoh ulama yang hidup pada tahun 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah, atau pada masa khalifah Umar bin Khattab. Makan ini sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri.

Perjalanan ke lokasi wisata tersebut bisa Anda tempuh hanya dalam waktu dua hari. Namun, dua hari menjadi tak cukup bagi Anda untuk mengunjungi setiap jengkal seluruh potensi wisata di Tapanuli Tegah, negeri yang memiliki sejuta pesona.

Editor: Rizky

Share:

 

cbn

Article source: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/5466/ada-pungutan-di-sma-6.html


Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah

Monday, June 3, 2013

Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Home Sejarah



Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)





 

Perjalanan haji yang terbesar dilakukan oleh Mansa Musa (1312-1337)



 




Selasa, 04 Juni 2013


oleh: Alwi Alatas


REPUBLIK Mali di Afrika Barat meraih kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1960. Negeri dengan jumlah penduduk mendekati 15 juta orang itu mayoritasnya beragama Islam. Mata pencaharian utama penduduknya adalah dalam bidang pertanian dan perikanan. Garam dan emas merupakan sumber daya alam utama yang ada di negeri itu. Sebenarnya Mali merupakan negeri penghasil emas ketiga terbesar di Afrika. Tetapi separuh penduduknya hidup dengan penghasilan kurang dari 1,25 Dollar Amerika per hari (https://en.wikipedia.org/wiki/Mali). Memiliki kekayaan tambang tetapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan, Mali menampilkan ironi yang kurang lebih sama dengan Indonesia dan beberapa negeri Muslim lainnya.


Terjadinya perpecahan di negeri itu baru-baru ini serta masuknya intervensi asing (Prancis) sejak Januari 2013 tentu membuat keadaan masyarakat Mali menjadi semakin susah. Boleh jadi adanya sumber daya alam, serta upaya mempertahankan hegemoni atas bekas daerah jajahan, merupakan alasan sebenarnya dari kedatangan pasukan Prancis ke negara itu, walaupun yang dijadikan pretext oleh Prancis untuk melakukan invasi adalah munculnya kelompok Islam militan di sana. Kendati menuai protes dari kelompok kiri di Prancis dan dianggap memiliki tujuan tidak jelas, dewan nasional Prancis memutuskan untuk memperpanjang keberadaan militer Prancis di Mali (http://www.globalresearch.ca/mali-under-french-military-occupation/5334200).


Keadaannya sungguh sangat berbeda pada tujuh abad sebelumnya. Seperti yang ditulis oleh A.J.H. Goodwin (1957: 110): “Kerajaan Ghana-Melle (Mali, pen.) pada abad keempat belas jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, jauh lebih terorganisir, dan bahkan jauh lebih melek huruf dibandingkan kekuasaan Kristen yang mana pun di Eropa.” Berbicara tentang Mali, Islam, dan emas pada abad pertengahan, ada hal menarik dari sejarah negeri itu yang akan kita bahas berikut ini.


Dinasti Lion King


Pada abad ke-13 dan 14 di wilayah ini pernah berdiri Kerajaan Mali. Informasi tentang kerajaan ini disebutkan dalam cerita lisan setempat yang biasanya bercampur dengan legenda. Selain itu, ia bisa ditemukan juga dalam kisah perjalanan Ibnu Batutah serta beberapa kitab sejarah, terutama yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dan Shihabuddin al-Umari.


Kerajaan Mali didirikan oleh Sun-Djata Keita (1217-1255) atau Sundiata. Ia berasal dari suku Mandinka (Malinke) yang banyak menetap di Mali dan wilayah sekitarnya. Dalam Tarikh Ibn Khaldun, jilid 6 (2000: 266-7) tokoh ini disebut dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu Mari-Djata, yang bermakna lion king. Dalam bahasa setempat, Mari bermakna ‘raja’ dan Djata bermakna ‘singa’ (al-asad). Tokoh ini berhasil menyatukan bangsanya yang sempat dikuasai oleh Kerajaan Soso (Susu). Ia mengalahkan dan menaklukkan kerajaan itu serta mendirikan Kerajaan Mali. Ia memerintah selama 25 tahun dan memakai gelar Mansa (Raja diraja) di depan namanya, begitu juga dengan raja-raja berikutnya.


Islam sudah mulai berkembang di wilayah ini pada abad ke-11 dan 12. Al-Bakri, seorang sejarawan yang hidup pada abad ke-11 menyebutkan bahwa pada masa itu sudah ada satu kerajaan kecil bernama Malal yang penguasanya masuk Islam setelah kedatangan seorang Muslim ke wilayah itu saat terjadi kekeringan. Muslim tadi melakukan shalat Istisqa (shalat minta hujan) dan dengan izin Allah wilayah itu selamat dari kekeringan.


Ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Soso sebenarnya merupakan sebuah reaksi atas perkembangan Islam di wilayah itu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Sun-Djata berhasil menumbangkan kerajaan itu dan mendirikan kerajaan Mali. Kerajaan baru yang didirikan oleh Sun-Djata ini terus berekspansi dan berkembang hingga mencakup wilayah Senegal, Niger, dan Gambia. Ketika kerajaan ini berdiri, Islam sedang tumbuh dengan cukup pesat di Afrika Barat. Aktifitas perdagangan lintas Sahara yang didominasi para pedagang Muslim pada gilirannya menghubungkan Mali dengan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara. Hal ini lantas mendorong para penguasa Mali menjalankan kebijakan yang lebih memihak pada Islam (Bosworth, 1991: 257-8).


N. Levtzion dalam artikelnya, “The Thirteenth- and Forteenth- Century Kings of Mali” (1963), telah menyusun daftar raja-raja Mali berikut perkiraan masa pemerintahan masing-masing dengan merujuk pada Tarikh Ibn Khaldun dan beberapa sumber lainnya. Raja Muslim pertama di wilayah Mali yang disebut oleh Ibnu Khaldun adalah Barmandana. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup untuk mengetahui apakah tokoh ini sama dengan raja Malal yang disebutkan oleh al-Bakri. Selain itu juga tidak diketahui apa hubungan antara Barmandana dengan raja berikutnya yang lebih dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Mali, yaitu Sun-Djata (Mari-Djata) yang memerintah selama 25 tahun.


Mansa (raja) berikutnya adalah Uli yang merupakan anak Sun-Djata. Masa pemerintahannya beririsan dengan masa pemerintahan Baybars (1260-1277) di Mesir. Dua raja berikutnya adalah anak-anak Sun-Djata lainnya, yaitu Wati dan Khalifa. Yang terakhir ini digambarkan sebagai penguasa yang kejam sehingga akhirnya dijatuhkan dari kekuasaannya. Ia digantikan oleh keponakannya, Abu Bakar, yang merupakan cucu Sun-Djata dari seorang anak perempuannya. Abu Bakar lalu digantikan oleh seorang bernama Sakura yang memerintah pada pergantian abad ke-13. Sakura adalah seorang budak yang dibebaskan (freed slave) yang rupaya muncul sebagai orang kuat di istana. Tapi ia mati dibunuh dan kemudian digantikan oleh Qu yang merupakan anak Uli dan cucu dari Sun-Djata. Setelah itu Qu digantikan oleh anaknya Muhammad yang memerintah hingga sekitar tahun 1312.


Sun-Djata mempunyai seorang saudara lelaki, Abu Bakar, yang membantunya dalam mendirikan kerajaan Mali. Pemerintahan Mali setelah kepemimpinan Mansa Muhammad (w. 1312) berpindah kepada keturunan Abu Bakar ini. Yang pertama menjadi raja dari jalur ini adalah Mansa Musa (1312-1337) yang merupakan cucu Abu Bakar. Ia adalah raja terbesar yang pernah memerintah Kerajaan Mali. Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bernama Magha, yang menurut lisan setempat bermakna Muhammad. Setelah memerintah selama empat tahun, kepemimpinan diteruskan oleh Sulaiman, saudara Musa, yang memerintah selama 24 tahun. Selepas itu masih ada beberapa raja Mali lainnya, tetapi keadaannya sudah banyak menurun, karena sering terjadi intrik dan konflik di dalam istana.


Kerajaan Mali masih bertahan hingga abad ke-15 dan 16, tetapi hanya dalam bentuk kerajaan lokal, bukan sebagai imperium sebagaimana sebelumnya. Ia semakin tenggelam dengan masuknya penjajah Eropa pada masa-masa setelahnya.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib”




Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/asian-finance-bank-likely-target-as-islamic-mega-lender-say-sources


Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Monday, June 17, 2013

Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Home Sejarah



Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan Islam





 

Kaum Alawi rayakan festival di Banyas, Suriah, selama Perang Dunia II (foto: Wikipedia)



 




Selasa, 18 Juni 2013


Oleh: Artawijaya


BAGHDAD baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.


Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.


Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.


Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama  dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)


Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.


Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”


Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil  tunduk pada kekuasaan Tartar.


Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”.  Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.


Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”


Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut.


Padahal  Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.


Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)


Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu  Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai  Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”


Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.


Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)


Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina.


Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin.


Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak)  kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.


Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)


Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258


Pengkhianatan Selanjutnya


Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan  Khilafah Utsmaniyah pada 1924.


Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.


Sebuah dokumen luar negeri Prancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang di antaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad.


Surat tersebut berisi permohonan agar Prancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Prancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:


 
“Presiden Prancis yang terhormat,


Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.


Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.


Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.


Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Prancis.”


Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Prancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)


Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle,  dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.


Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”


Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/559376/ikatan-pelajar-nu-kecam-penyerangan-pesantren-al-idrisiyyah


Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Friday, March 22, 2013

Tasamuh Dalam Beragama

Sebuah hasil penelitian dari Surat kabar The Daily Mail yang dirilis beberapa waktu yang lalu menyebutkan, bahwa dua agama yang memiliki pemeluk terbesar di dunia adalah Kristen dan Islam. Kedua agama ini, tersebar hampir di semua negara-negara di dunia, dengan dinamika dan sebaran yang beragam. Hal yang cukup menarik yang diungkap dalam penelitian ini menunjukkan bahwa posisi ketiga, dari jumlah pemeluk terbesar agama ditempati oleh atheisme atau agnotisime. Yakni kepercayaan tentang ketidak-percayaan terhadap Tuhan dan Agama. Penganut ”agama” ini, mengalahkan jumlah pemeluk agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Yahudi dan lainnya.

Islam dan Kristen, dalam lintasan sejarahnya memiliki akar konflik yang luar biasa besar. Meskipun kedua agama ini merupakan rumpun agama Abrahamik (agama samawi), namun konfrontsi antar keduanya telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah. Puncaknya adalah pada perang Salib. Perang yang terjadi dalam ukuran abad, dan melibatkan beberapa generasi ini telah mengorbankan ribuan nyawa dari kedua pihak. Dan hal ini masih menyisakan luka sejarah perih, yang pada titik tertentu melahirkan apa yang disebut dendam sejarah.

Tidak bisa dielakkan, hal inilah yang menjadi akar geneologi keberadaan konflik antar kedua agama tersebut. Berbagai sentimen, stereotipe, curiga, stigma dan beban psikologis selalu menjadi pemicu konflik, yang juga masuk pada ranah-ranah kehidupan keberagamaan.

Dua dasawarsa yang lalu, seorang futurolog pernah meramalkan akan benturan besar antar kedua agama tersebut. Adalah Samuel Huntington yang memprediksikan bahwa pasca Perang Dingin akan terjadi apa yang ia sebut sebagai “clash of civilization”, benturan antar peradaban. Meskipun Huntington tidak secara specifik menyebut “agama” sebagai basis pemicu benturan, namun Huntington mengindikasikan adanya entitas agama, dengan menyebut sebagai sebuah peradaban. Tiga peradaban yang akan berbenturan tersebut adalah perababan Islam dan Confusion melawan peradaban WASP (White Anglo Saxon Protestan) yang kemudian dikenal dengan peradaban Barat. Hal ini setidaknya memberi legitimasi bahwa kedua agama tersebut, Islam dan Kristen selalu diposisikan secara berhadap-hadapan, dan berpotensi melahirkan konflik yang besar.

Membangun Toleransi
Indonesia merupakan negara plural, di mana di dalamnya terdapat beberapa agama yang dianut oleh pemeluknya. Meskipun secara kuantitas, Agama Islam merupakan agama mayoritas, namun kebebasan untuk beragama sangat dilindungi dan dihargai. Dalam perkembangannya, memang terjadi letupan-letupan kecil konflik antar kedua agama ini. Konflik terbesar yang bisa kita sebutkan disini barang kali adalah konflik Ambon pada tahun 1999. Pasca itu, konflik hanya terjadi pada sekala kecil dan terjadi secara sporadis. Namun, tidak menutup kemungkinan, jika perbedaan ini tidak dikelola dengan baik, suatu saat bisa jadi akan menjadi bom waktu. Disinilah kiranya, perlu membangun budaya toleran antar kedua agama tersebut.

Dalam perspektif Islam, toleransi atau tasamuh dalam beragama menjadi spirit ajaran agama yang sangat urgen. Islam dalam sebuah teks sucinya menyatakan bahwa tujuan diturunkannya risalah Islam adalah menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan li a-alamin. Islam sangat menghargai perbedaan agama dan keyakinan. Sehingga tidak boleh ada paksaan dalam memeluk suatu agama, la iqraha fi al-din. Setiap orang boleh melaksanakan ajaran agamanya dengan bebas, tanpa ada rasa kekhawatiran dan ketakutan. Karena dalam persoalan pelaksanaan ajaran agama, berlaku prinsip lakum dinukum waliya din, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Inilah inti ajaran agama, membangun toleransi dan harmoni dalam kehidupan manusia. Islam juga menjaga hak kemanusiaan kepada non muslim, selagi mereka mau menjaga hubungan yang baik dengan ummat Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, siapa yang menyakiti seorang non muslim yang dzimmy, maka ia sama saja dengan menyakiti Rasulullah Muhammad SAW.

Menjadi seorang muslim yang tasamuh adalah keniscayaan dalam rangka membumikan tujuan risalah islam tersebut. sikap fanatisme yang berlebihan, dengan merampas hal-hak kemanusiaan ummat lain adalah sebuah tindakan anarkisme yang tidak bisa dibenarkan. Menganggap agama kita yang paling benar adalah sebuah keyakinan yang sah, namun jika disertai dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain yang tidak seagama atau sealiran dengan kita tentunya bukan merupakan inti ajaran islam.

Islam adalah agama yang ramah dan murah, hanafiah al-samhah, bukan agama yang marah. Islam menganjurkan untuk memberikan kemudahan dan kegembiraan kepada orang lain, bukan malah menyulitkan dan menakutkan. Sabda nabi dalam sebuah riwayat, yassiru wala tu’assiru, basysyiru wana tunaffiru, permudahlah jangan mempersulit, gembirakanlah jangan menakuti. Mari kita beragama dengan toleran, demi terwujudnya tatanan dunia yang penuh rahmah!

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/01/06/jat-densus-88-melanggar-ham


Tasamuh Dalam Beragama

Thursday, January 3, 2013

Sejarah Islam di Asia Tenggara (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka.

Ada sekitar 240 juta Muslim tinggal di Asia Tenggara. Jumlah tersebut hampir seperempat dari total jumlah umat Islam di dunia yang mencapai 1,6 miliar jiwa.

Indonesia, sebagai bagian dari Asia Tenggara, bahkan merupakan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Sebanyak 12,9 persen dari total Muslim dunia hidup di Indonesia.

Meski Islam lahir di tanah Arab, namun jumlah Muslimin didominasi masyarakat Asia, terutama Asia Selatan dan Tengggara.

Tak sedikit negara Asia Tenggara menjadi rumah bagi mayoritas Muslim. Bahkan, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Dibanding saudara-saudara seiman mereka di Timur Tengah, umat Islam di Asia Tenggara hidup lebih aman dan damai. Konflik agama, aksi kekerasan, ataupun peperangan sangat minim.

Meski berasal dari etnik yang heterogen, Muslim Asia Tenggara sebagian besar menganut paham agama yang sama, yakni Sunni dengan mazhab Syafi’i.

Menilik sejarahnya, Malaka merupakan gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara.

Dalam versi lain disebutkan, Islam lebih dahulu dikenal di Samudra Pasai, Aceh, sebelum sampai ke Malaka. Keberadaan Islam di Samudra Pasai sendiri merupakan dampak perkembangan penyebaran Islam dari Kerajaan Perlak.

Prof A Hasymi dalam bukunya “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia” menyatakan, Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri abad ketiga Hijriah.

“Buktinya, pada 173 Hijriah atau 800 Masehi, sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa para saudagar di bawah pimpinan Nakhuda Khalifah dari Teluk Kambay, Gujarat,” tulis Hasymi.

Pada 1 Muharam 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Islam Perlak resmi berdiri dengan Sayid Abdul Aziz sebagai sultan pertama. Adapun, Kerajaan Samudera Pasai baru berdiri pada 1267 Masehi.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/01/02/mfzuoe-pelayanan-di-pemkot-denpasar-berjalan-normal


Sejarah Islam di Asia Tenggara (1)

Saturday, January 19, 2013

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Home Nasional

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa


 

Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya Kristenisasi melalui budaya


Ahad, 20 Januari 2013

Hidayatullah.com–Penetrasi missionaris Kristen di Jawa cukup massif melalui pintu kebudayaan. Kajian ilmiah menemukan, ada dua macam strategi yang diterapkan para missionary; yaitu dengan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa dan pemakaian kebudayaan Jawa ke dalam praktik kekristenan.

Demikian salah penjelasan Arif Wibowo, peneliti Kristologi dan Budaya Jawa Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo dalam seminar yang diadakan nstitut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)  di Masjid Unair Sabtu (19/01/2013).

Dalam seminar bertajuk “Missionarisme Kebudayaan: Penetrasi Katolik dalam Kebudayaan Jawa” ini, Arif menerangkan landasan strategi Kristenisasi Jawa telah dibangun oleh Franciscus Georgian Josephus Van Lith.

Pada tahun 1904, Van Lith membuka sekolah Guru bernama Kolose Xaverius di Muntilan. Van Lith kemudian mengadopsi unsur-unsur budaya Jawa ke dalam kekristenan dan memisahkan kebudayaan Jawa dari agama Islam.

Caranya, Van Lith melarang orang Jawa yang masuk Kristen mengikuti budaya Eropa. Tapi dianjurkan untuk meneruskan kebudayaan Jawanya. Tujuannya, untuk memberi kesan bahwa Jawa itu Kristen, bukan Islam.

“Padahal, sebelumnya Jawa sangat kental dengan tradisi budaya Islam. Buktinya tulisan pegon lebih dikenal daripada aksara Jawa,” ujar Arif.

Missionaris pada masa lalu membagi-bagikan Alkitab bertuliskan Arab pegon, tidak dengan huruf Jawa.

“Ini menunjukkan, orang Jawa dulu itu sangat kental budaya Islamnya, daripada budaya Hindu,” tambahnya.

Kenapa lantas kemudian yang terkesan, budaya Jawa itu khas Hindu-Budha?

“Karena umat Islam tidak serius menghadapi penetrasi missionaris Kristen itu,” ungkap pemerhati sejarah ini.

Padahal, tambah Arif, sesungguhnya Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya ‘kristenisasi’ melalui budaya ini.

Yang memubuat kalah lagi umat Islam dalam ‘pertarungan budaya’ itu adalah ahli-ahli sejarah Muslim kita sangat sedikit. Kalaupun ada kurang serius.

“Akibatnya, banyak sekali litelature-litelatur sejarah Jawa bertulisakan Arab pegon yang diambil orientalis-missionaris. Naskah otentik Walisongo sudah tidak ada. Karena diambil orientalis,” tegasnya.

Menurut Arif, seharusnya umat Islam lebih ofensif, jangan hanya defensif. Sebab, penetrasi kebudayaan mereka seratus persen, sedangkan kita setengah-setengah, ujarnya di hadapan mahasiswa Unair Surabaya.

Padahal dakwah Walisongo itu luar biasa berhasil karena strategi kebudayaannya sangat baik.

“Maka perlu kita buat pusat-pusat studi kebudayaan peradaban Islam dan Jawa di tiap-tiap daerah,” pungkasnya.*

Rep: Kholili Hasib
Red: Cholis Akbar

Article source: http://regional.kompas.com/read/2013/01/20/00115493/Terjerat.Aliran.Sesat.Istri.Laporkan.Suami.ke.Polisi


Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Wednesday, December 4, 2013

Islam Elemen Penting dari Sejarah Jerman

REPUBLIKA.CO.ID, MUNSTER – Presiden Jerman Joachim Gauck menyatakan komunitas Muslim bagian dari masyarakat Jerman. Ia memastikan Jerman, rumah untuk seluruh komunitas agama.


“Lebih dari dua ribu masjid dan islamic center dibangun,” kata dia kepada mahasiswa studi Islam, University of Munster seperti dikutip Anadolu Agency, Rabu (4/12).


Ia juga menegaskan keberadaan departemen Teologi Islam di Universitas-universitas Jerman merupakan elemen penting dari sejarah negara itu. “Pembentukan fakultas ini menyediakan pendidikan Teologi Islam adalah komitmen Jerman untuk masa depan, ” kata Presiden Jerman .


Setiap hari, banyak Muslim yang masuk Jerman dan ikut membangun Jerman. Melalui lembaga pendidikan teologi Islam, pemerintah ingin membantu memberikan pelajaran Islam di sekolah, masjid, maupun universitas. Ini membantu integrasi mereka.


“Islam merupakan agama minoritas terbesar di Jerman,” kata Gauck.


Kebanyakan Muslim berasal dari Turki. Sebagian kecil lainnya datang dari Pakistan, Iran, dan Afghanistan. Sikap toleran Gauck terhadap Islam dan Muslim tak sekali ini saja. Pernyataan simpatik pernah ia sampaikan saat berkunjung ke Masjid Sehitlik di Berlin, 23 Oktober 2012.


Jerman diyakini menjadi rumah bagi hampir 4 juta Muslim. Negara ini memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa setelah Perancis.


Sebuah jajak pendapat terbaru oleh Universitas Munster mencatat Jerman melihat Muslim lebih negatif daripada tetangga mereka di Eropa. Harian terkemuka Jerman, Der Spiegel telah memperingatkan adanya sikap tidak toleran terhadap minoritas Muslim.


 


Footage  : Youtube


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/04/mxa6nd-sang-guru


Islam Elemen Penting dari Sejarah Jerman

Wednesday, July 31, 2013

Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID,


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.


Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan.


Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika. Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut.


“Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani.


Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam.


Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957.


Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland.


Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika.


Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka.


Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel The Lost Story of Islam in Jamaica dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari
University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika.


Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak.


Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan,


mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya.


Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel Muslim Minority in Jamaica dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka.


Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika.


Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.


Article source: http://index.okezone.com/read/2013/04/08/411/788220/negara-besar-terlibat-timteng-sulit-damai


Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Tuesday, July 30, 2013

Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.

Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan. Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika.


Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut. “Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani. Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam. Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957. Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland. Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika. Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka. Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel “The Lost Story of Islam in Jamaica” dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika. Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak. Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan, mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya. Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel “Muslim Minority in Jamaica” dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka. Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika. Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.
 
Masjid Menjamur

Kedatangan imigran India telah memberikan sumbangsih besar bagi Muslimin Jamaika. Banyak masjid dibangun di segala penjuru pulau. Menurut data Dewan Islam Jamaika, terdapat 12 masjid berdiri di negeri tersebut. Masjid berada di Kingston, Kota Spanyol, Town St Catherine, Pelabuhan Maria, Albany St Mary, Newell St Elizabeth, dan Westmoreland. Masjid Jamaika di Kota Spanyol merupakan masjid pertama yang berdiri.


Selain 12 masjid tersebut, saat ini Muslimin Jamaika dikabarkan baru saja membangun masjid baru di Bushy Park dekat Old Harbour, Kota St Catherine. Masjid tersebut memiliki kubah logam dan menara. Beberapa pria dengan jubah dan kopiah pun terlihat memasuki masjid tersebut. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di Jamaika meski jumlah masjid di sana cukup banyak.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/fosil-dinosaurus-bercula-spesies-baru-ditemukan-di-utah/1704938.html


Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Tuesday, January 28, 2014

Iktibar peristiwa Uthman dibunuh


  • Dr Asyraf Wajdi Dusuki


JIKA ada orang bertanya kepada saya apakah penyakit utama menjadi wabak penghancur kesejahteraan umat, tentu sekali jawabnya adu domba dan fitnah. Ternyata fitnah dan adu domba merupakan virus yang amat berbahaya jika dibiar membarah dalam masyarakat.



Lihatlah berapa banyak tamadun dan kuasa-kuasa besar dunia yang hancur akibat daripada budaya fitnah yang mendominasi kehidupan bangsanya. Berapa banyak juga kerajaan Islam yang jatuh akibat budaya fitnah yang begitu mengakar dalam jiwa umatnya. Tidak hairanlah jika Islam memandang fitnah lebih buruk daripada membunuh.



Jika ditelusuri sejarah silam, fenomena fitnahlah yang menjadi penyebab utama berlakunya peristiwa pemberontakan terbesar dalam sejarah awal Islam, khususnya selepas kewafatan Rasulullah SAW. Pemberontakan yang membawa kepada peristiwa pembunuhan Khalifah ketiga Saiyyidina Uthman bin ‘Affan ra adalah detik paling tragis dalam sejarah umat Islam hingga melarat-larat kepada pertelingkahan hebat di kalangan sahabat.



Mengikut riwayat yang dikemukakan oleh Saif bin Umar dalam buku Tarikh al-Tabariy, fitnah terbesar tersebut berlaku akibat kegagalan mengekang usaha pengadu-pengadu domba yang diketuai Abdullah bin Saba’ yang berketurunan Yahudi. Beliau dan pengikutnya bersungguh-sungguh bergerak dari satu tempat ke tempat lain termasuklah ke Kufah, Basrah hingga ke Mesir untuk menyesat dan mencetuskan keraguan terhadap kepemimpinan dan keIslaman Uthman yang berpusat di Madinah pada ketika itu.



Sebagai contoh, pertuduhan yang mengatakan Uthman tidak lagi mengamalkan Sunnah Nabi SAW sedangkan beliau adalah antara sahabat paling rapat dengan baginda Nabi SAW.



Hebatnya kesan gerakan penabur fitnah ini berjaya menimbulkan kesangsian dan keraguan di kalangan umat hinggakan gabenor-gabenor yang dilantik Khalifah juga tidak mampu menangani fenomena penyimpangan persepsi yang terbiak.



Lebih menyedihkan apabila gerakan adu domba ini berupaya membiakkan sejumlah kelompok pelampau yang akhirnya sanggup membunuh Saiyyidina Uthman dengan cara yang tidak berperikemanusiaan.



Pada hari Khalifah Uthman dibunuh, sejumlah 3,000 pemberontak mengepung rumah baginda ketika ramai para sahabat sedang menunaikan haji di Makkah. Baginda bukan sahaja dipukul dengan besi, bahkan mashaf al-Quran yang dibacanya ketika itu dipijak hingga darah baginda terpercik ke mashaf isteri baginda yang turut dipotong jarinya.



Demikianlah hakikat fitnah yang bukan sahaja menumpahkan darah seorang pemimpin agung umat, bahkan berupaya menghancurkan keharmonian dan meleburkan kestabilan agama dan negara.



Hari ini fitnah dan adu domba tidak sepayah dulu, hanya menggunakan jari-jemari, tidak memerlukan air liur mahupun tenaga yang banyak.



Papan kekunci komputer, laptop, Ipad mahupun telefon bimbit dengan pelbagai perisian canggih masa kini seperti whatsapp, facebook, twitter, istagram, blog dan instrumen-instrumen lain sering kali disalah guna bagi merangsang dan menyuburkan budaya negatif ini.



Sebab itulah satu-satu cerita amat mudah direka dan disensasikan dalam pelbagai bentuk dengan hanya menekan beberapa butang tanpa batasan. Rakyat marhain pula seolah-olah dipaksa menelan bulat-bulat segala cerita berbaur fitnah yang belumpun terbukti kebenarannya.



Lebih menyedihkan apabila setiap warga yang terlibat semacam tiada langsung nilai rasa bersalah atau takutkan Tuhan apabila mensensasikan satu-satu isu yang belum dipastikan benar.



Malah ada juga yang menjustifikasikan perbuatan fitnah dengan menganggap usaha menjatuhkan pihak lawan yang didakwanya zalim adalah lebih utama.



Sebab itulah Islam keras mencela golongan pencacai-pencacai dan pengadu domba. Amaran keras ALLAH jelas ternukil dalam al-Quran:  “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang ke sana ke mari menghambur fitnah. (Al-Qalam : 10-11).



Banyak hadis lain yang menunjukkan betapa seriusnya kesalahan mengadu-domba dan membudayakan fitnah dalam kehidupan. Bahkan dalam hadis yang lain Rasulullah jelas memberi indikasi bahawa orang yang mengadu-domba dan mereka-reka cerita tidak akan masuk syurga bahkan bakal berhadapan azab pedih di hari kiamat kelak.



Justeru usaha bersepadu harus segera dilakukan untuk membendung gejala fitnah daripada terus menyubur dalam masyarakat Islam ketika ini. Sudah tiba masanya usaha bimbingan dan pendidikan dilakukan secara menyeluruh agar umat sedar bahana fitnah dan adu domba versi moden ini.



* Penulis ialah Yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim)


Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2014/01/01/33/920343/pengantin-baru-winda-visca-tak-bisa-lepas-dari-suami


Iktibar peristiwa Uthman dibunuh

Saturday, June 22, 2013

Berpecah kerana kejahilan, bukan perbezaan

Syiah adalah mazhab yang wujud hasil dari warisan sejarah Islam lampau. Mereka mazhab yang lahir dari isu politik, maka mereka sangat mahir berpolitik. Kita semakin rancak berbual tentang Syiah sejak krisis kemanusiaan yang kini berlaku di Syria.

Mahu terima atau tidak, populasi Syiah telah mewakili 20 peratus dari populasi Muslim di dunia. Pertembungan tamadun Syiah dan Sunni menyebabkan mereka berkongsi budaya dan sejarah.


palestine middle east conflict 160407 armedInstitusi ilmu terkenal bagi Muslim Sunni, Universiti Al-Azhar telah dibina oleh dinasti Syiah. Cendekiawan dari Syiah seperti Ibnu Sina, al-Biruni, Imam Khomeini, dan Ali Shariati banyak menyumbang kepada tamadun Islam.


Mahu terima atau tidak, kestabilan politik Timur Tengah dipengaruhi oleh penganut Syiah dari Iran, Lubnan, Iraq, dan Syria.


Iran yang secara terbuka menyokong gerakan Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islami untuk melawan penindasan Israel. Keseimbangan politik ini penting untuk mengelak Israel dari menjadi kuasa pembuli di Timur Tengah.


Mahu terima atau tidak, Syiah sudah bertapak di Alam Melayu sejak abad ke 12 Masihi. Kebudayaan dan kesusasteraan Alam Melayu juga dipengaruhi oleh Syiah. Bubur Asyura yang diraikan setiap 10 Muharam adalah untuk berkabung syahid Imam Hussein RA.


Persembahan Boria di beberapa negeri Tanah Melayu adalah untuk mengenang kekejaman yang menimpa cucu Rasulullah di Karbala. Perarakan Maulidur Rasul pula sebenarnya dimulakan oleh kerajaan Syiah, Khilafah Fatimmiyah di Mesir.


azlanMahu terima atau tidak, semangat Revolusi Iran 1979 telah meresap masuk dalam kebangkitan kesedaran politik di Malaysia. Revolusi Iran telah menjadikan PAS sebuah parti revolusioner yang menuntut perubahan. Buku Imam Khomeini, Hukumah Islamiah telah di bawa masuk dan ditukar bahasa oleh ABIM pada tahun 1983.


Perbezaan dan persengketaan Syiah dan Sunni adalah warisan sejarah kuno yang menyebabkan umat Islam lemah secara keseluruhannya.


Apa yang kita perlu perjuangkan bukan membongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya. Tugas kita ialah menemukan titik pertemuan ajaran Islam yang selama ini ditutup oleh sifat jahil, sektarian dan fanatisisme.


Perpecahan dan permusuhan antara mazhab tidak akan menguntungkan kita, tetapi ia sebenarnya digalakkan oleh kuasa Barat. Perpecahan umat Islam akan mengekalkan hegemoni Barat di negara Islam supaya mereka boleh mengawal sumber asli khususnya di Timur Tengah.


Berdakwah bukan melaknat

Selepas tamat Perang Dunia Pertama, kuasa Barat melaksana dasar pecah dan perintah untuk mengawal sumber asli.


Mereka menipu pemerintah Arab supaya menyokong perang mereka terhadap Khilafah Uthmaniah dengan menjanjikan kemerdekaan bagi tanah Arab, tetapi selepas mengalahkan Turki, Britain dan Perancis membahagikan wilayah antara mereka dan menubuhkan Israel dan Arab Saudi.


NONESelepas tamat perang dunia, sekali lagi mereka menghasut negara Arab untuk menyertai Amerika Syarikat dan Israel menghapuskan kuasa Syiah.


Perang Iraq-Iran selama sepuluh tahun tidak menguntungkan sesiapa, tetapi mengukuhkan sekuriti Israel. Hari ini, kita dapat melihat ulangan dasar yang sama di Syria. Aspirasi rakyat Syria yang asalnya mahu menjatuhkan rejim telah diapi-apikan dengan isu sektarian.


Ada pun, yang mahu menyelamatkan akidah saudara Islam mereka tidak perlu melaungkan “Syiah laknatullah“, say no to Shia” mahupun mengkafirkan mereka.


Tiada pula Nabi Muhammad mengajar kita berdakwah dengan melaknat, mengkafir, dan menutup ruang berbincang dengan fahaman yang bertentangan dengan kita.


Penganut Syiah di Malaysia pula harus mengelak dari bersikap mencurigakan yang membuat penganut majoriti Sunni tidak senang. Seperti mana Imam Khomeini pernah menasihati jemaah Syiah supaya tidak mengasingkan diri mereka daripada orang Islam yang lain.


NONE“Rakyat Iran dan golongan Syiah dari negara lain dikehendaki untuk mengelakkan semua tindakan yang boleh menimbulkan perpecahan sesama umat Islam.


“Mereka juga perlu menyertai perhimpunan Sunni dan mengelakkan menghadiri atau membentuk solat di rumah atau memasang pembesar suara untuk menentang mereka.


“Mereka mestilah mengelakkan daripada melutut di makam suci atau melakukan apa sahaja yang tidak selaras dengan undang-undang yang mulia”, kata Imam Khomeini (atas).


Kita perlu sedar perpecahan umat Islam bukan kerana kita berbeza pendapat dan jemaah. Kita berpecah kerana sifat jahil, sektarian, dan fanatisisme.


“Resolusi 152 Akademi Fikah Islam Antarabangsa menyeru supaya umat Islam bersepakat dan saling menghormati. Dialog antara Syiah dan Sunni mestilah digalakkan dan disuburkan. Menggunakan kekerasan bukan cara untuk kita mempertahankan akidah kerana akidah perlu didirikan atas ilmu.




ARIFFIN ABDULLAH pelajar tahun akhir Kejuruteraan Mekanikal Universiti Malaysia Pahang.

Article source: http://sidomi.com/176198/nikita-willy-senang-diego-michiels-berani-khitan/


Berpecah kerana kejahilan, bukan perbezaan

Saturday, November 30, 2013

Kerajaan di penghujung hayat


  • DR MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN


KERAJAAN di penghujung hayat adalah kerajaan yang telah zahir padanya tanda-tanda keruntuhan. Banyak petanda bahawa sesebuah kerajaan itu menuju kepada penghujungnya.



Antara tanda yang jelas apabila negara sudah tidak terkawal dengan terlalu banyak konfliks berlaku sesama rakyat. Kerajaan kelihatan bersikap tidak tolerance dan dibenci oleh banyak puak dan pihak yang merasakan mereka tertindas ataupun hak mereka diketepikan dalam negara sendiri.



Kebencian merayap dan keinginan rakyat untuk keadaan itu dihapuskan membuak-buak. Akhirnya rusuhan dan pergaduhan kaum dan puak mula tercetus.



Jika kita lihat dalam sejarah, kejatuhan empayar dan dinasti ialah bermula apabila mereka bersikap tidak tolerance sehingga dalam negara berlaku banyak konfliks antara rakyat.



Kerajaan bersifat kepuakan dan gagal menaungi inspirasi rakyat yang pelbagai. Politik pecah perintah mungkin menguntung golongan politik tertentu untuk sementara waktu, tetapi akhirnya akan menjadikan negara porak peranda.



Firaun mengamalkan politik yang sama yang akhirnya menjatuhkan kerajaannya yang penuh bersejarah. Firman Allah:



    “Sesungguhnya Firaun telah melampau di bumi (Mesir), dan dia menjadikan penduduknya berpuak-puak. Dia menindas satu puak kalangan mereka dengan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia dari golongan yang membuat kerosakan. Dan Kami (Allah) hendak memberikan kurnia kepada kaum yang tertindas di negeri itu, dan Kami (Allah) hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (peninggalan Firaun)” (Surah al-Qasas ayat 4-5).



Jika kita lihat keadaan negara ini, kita dapati telah lahir ciri-ciri negara ataupun kerajaan di penghujung hayat. Negara ini sejak kebelakangan ini penuh dengan konflik yang memecah belahkan antara rakyat.



Konflik antara agama dalam pelbagai isu yang mana kerajaan kadang-kala mengambil pendekatan yang kurang seimbang. Golongan agama rasmi pula dibiarkan memilih pandangan-pandangan yang bersifat yang tidak sesuai serta sempit untuk masyarakat majmuk.



Bermula dari isu larangan orang bukan muslim masuk masjid sehingga ke isu kalimah Allah kelihatan ditangani dengan nada yang mencetuskan ketegangan antara rakyat. Kenyataan-kenyataan yang bersifat provokasi seakan mendapat tempat dalam media rasmi negara.



Demikian isu-isu perkauman dibangkit dalam pelbagai rupa. Golongan yang bersifat rasis memainkan peranan mereka. Sebelum pilihanraya kita lihat isu-isu agama dan kaum yang bersifat provokatif serta berpotensi mencetuskan ketegangan dan rusuhan seakan digalakkan.



Kemudian selepas itu, dipanaskan dengan isu-isu mazhab dan aliran fikir dalam Islam. Pegawai KDN yang sepatutnya bertugas menjaga kedamaian negara, bertindak bagaikan batu api yang boleh mencetuskan kebencian dan salah sangka rakyat terhadap kerajaan.



Golongan agamawan bergaji dan tidak bergaji, dihasut oleh beberapa orang dari aliran pengkafir umat iaitu Ahbash yang dalam rekod mereka telah berjaya menimbulkan ketegangan mazhab dan pertumpahan darah di Lebanon sehingga membawa pembunuhan antara aliran di sana. Kini mereka meresap ke dalam negara ini.



Kerajaan tidak boleh terbabit dengan perbalahan aliran fikir. Kerajaan dalam era dunia terbuka hari ini hendak bersifat penaung yang melindungi kebebasan setiap rakyat dengan syarat tidak menggugat keamanan awam.



Kerajaan yang matang dan demokratik akan menangani perbezaan rakyat dengan cara yang bijaksana. Kerajaan hendaklah tahu apabila kita mengiktiraf kewujudan sesuatu aliran, bukanlah bererti kita mengakui kebenarannya.



Jangan keliru antara mengiktiraf kebenaran di sudut akidah ataupun fekah, dengan mengiktiraf hak kewujudan di sudut politik. Kita mungkin tidak mengiktiraf kebenaran agama dan aliran tertentu, tapi kita mengiktiraf kewujudan dalam negara selagi mereka mematuhi undang-undang negara.




Kepelbagaian



Kebenaran itu boleh menjelma dalam pelbagai ungkapan sekalipun berbeza-beza puak dan aliran. Sebahagian perbezaan itu hanyalah pada cara ia dibahaskan tetapi natijahnya sama iaitu menuju kepada kebenaran.



Kerajaan tidak boleh terikut-ikut dengan golongan fanatik perkauman ataupun aliran yang mencetuskan huru-hara antara rakyat disebabkan perbezaan ungkapan dan ucapan, padahal maksudnya sama.



Saya tertarik dengan kisah tokoh besar ilmu kalam iaitu al-Imam Abul Hasan al-Ash’ari (meninggal tahun 330H) yang dinobatkan sebagai benteng Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi serangan falsafah. Kata al-Imam al-Zahabi (meninggal 748H) meriwayatkan daripada Zahir bin Ahmad al-Sarakhsi kisah akhir hayat al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari:



    “Apabila ajal menghampiri Abul Hasan al-‘Asy’ari di rumahku di Baghdad, beliau memanggilku. Aku pun datang. Beliau berkata: “Aku bersaksi bahawa aku tidak mengkafirkan seseorang pun dalam kalangan ahli Kiblat (mereka yang bersolat). Ini kerana setiap orang menuju kepada Tuhan Yang Satu Yang Disembah. Hanya semua ini (perbezaan yang ada) adalah perbezaan ungkapan semata”.



Kemudian al-Imam al-Zahabi menyebut:



    “Demikian juga guru kami Ibn Taimiyyah pada akhir hayatnya berkata: “Aku tidak mengkafirkan seseorang pun dari umat ini. Nabi s.a.w bersabda: “Tiada menjaga wuduk melainkan seorang mukmin”, maka sesiapa yang melazimi solat dengan wuduk maka dia muslim”. (Siyar A’lam al-Nubala, 15/88. Beirut: Muassasah al-Risalah).




Remeh Temeh



Kemudian, isu-isu remeh digunakan dalam untuk menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Kuasa agama cuba diheret bersama. Penguasa seakan membiarkan kekalutan ini.



Lebel-melebel dijadikan mainan yang dicampur kuasa pentadbiran. Sebahagian golongan intelek melayu dilebelkan sebagai liberalist dan diancam dengan kuasa politik. Ada yang dilebel wahabi dan digunakan kuasa pentadbiran.



Untuk membincangkan masalah theology dalam kalangan intelek tidak mengapa. Namun campur tangan kuasa politik dan kuasa agama serta kesempatan yang ambil oleh pihak yang berkepentingan, boleh mencerumuskan negara ke dalam kegawatan.



Hendaklah kita tahu dalam sejarah golongan agama samada Yahudi, Kristian dan juga Islam mereka sering mengambil pendekatan memfitnah orang yang berbeza dengan mereka dan mencari penguasa untuk menghukum lawan ataupun pesaing mereka.



Ini kerana golongan agama –kecuali yang ikhlas- sering mengumpulkan pengaruh seperti yang dilakukan oleh orang politik dan rela mempertaruhkan apa sahaja untuk survival pengaruh mereka.



Rela membunuh dan menyeksa pihak yang berbeza. Inilah yang dilakukan terhadap al-Imam al-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah dan lain-lain. Dalam sejarah agama Kristian inilah yang berlaku terhadap Martin Luther dan aliran Protestan.



Di satu sudut yang lain, golongan agamawan jenis ini menyibukkan diri dalam isu-isu remeh yang tidak memberikan banyak manfaat kepada rakyat seperti isu qunut subuh ataupun tidak.



Padahal itu hanya perkara sunat dalam mazhab Syafi’i. Demikian juga dianggap wahabi mereka yang mereka solat tarawih lapan rakaat. Padahal rakyat Malaysia yang solat lapan rakaat tarawih bukan kerana wahabi ataupun tidak.



Saudi yang dikatakan wahabi itu solat 20 rakaat. Di mana wahabinya? Itu berdasarkan keadaan masing-masing. Patutnya golongan ustaz ini sibuk dengan yang langsung tidak solat.



Malangnya dalam masa yang sama, ramai golongan agamawan berjawatan ini tidak pulak menyibukkan diri dengan isu-isu masyarakat yang penting untuk rakyat seperti pandangan Islam tentang ketelusan, rasuah, cukai, isu-isu yang dibangkitkan oleh audit negara, pembaziran dalam kerajaan-kerajaan negeri dan pusat, soal social justice dan pelbagai lagi yang sangat penting dalam Islam.




Konfliks



Hasilnya, negara terjerumus dalam konfliks tidak berfaedah. Dari satu konfliks kepada satu konfliks. Ia menafikan sifat negara yang mahu maju ke hadapan. Ia hanya memesongkan rakyat dari isu-isu penting yang lain dan mengheret mereka kepada pergaduhan sesama sendiri.



Dalam satu keadaan mungkin pemerintah beruntung kerana rakyat tidak tertumpu kepada menilai pemerintah kerana sibuk dengan isu pinggiran. Namun dalam jangka tertentu ketegangan boleh membawa kebencian dan seterusnya ketidaksetiaan kepada negara mungkin boleh berlaku.



Maka, kini negara kelihatan berselerakan. Badan-badan agama sibuk mencari isu-isu perbezaan bukan nilai-nilai persamaan untuk diambil manfaat antara rakyat.



Orang politik tumpang sekaki. Slogan 1 Malaysia yang meraikan perbezaan dan menghidupkan kesatuan antara rakyat menjadi slogan kosong yang tidak bermakna.



Akhirnya kelompok-kelompok minoriti walaupun berbeza antara satu sama lain, tetapi bersatu atas satu asas iaitu membenci kerajaan dan pengurusan kerajaan yang ada. Lalu mereka menjadi majority.



Jika mereka itu terlebih ekstrim, mereka mungkin mencari jalan menimbulkan ketegangan balas. Golongan muda dan berminda terbuka menganggap kerajaan ini tidak layak mengepalai politik yang sederhana dan bersikap terbuka serta adil dalam penilaian.



Kelompok berpendidikan dan moderate inginkan keharmonian dan keadilan untuk semua. Maka kerajaan ini menjadi makin tidak popular dalam kalangan cerdik pandai yang menjadi tulang belakang negara. Negara pun mula reput, kedamaian mula diragut dan berada di penghujung hayatnya.


Article source: http://www.malaysia-chronicle.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=38615:a-vote-for-dr-ms-devil-is-a-vote-for-evil-msians-must-vote-for-the-angels-they-know&Itemid=2


Kerajaan di penghujung hayat