Showing posts sorted by relevance for query serta. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query serta. Sort by date Show all posts

Sunday, February 3, 2013

Karena Korupsi, Ustadz Masuk Penjara!

Jelang Pemilu 2014 suhu politik makin memanas. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambah panasnya suhu politik di Indonesia. Masyarakat dikejutkan dengan datangnya sejumlah penyidik KPK ke kantor DPP PKS dibilangan Jl TB Simatupang dan langsung membawa Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq ke kantor KPK di Kuningan, Jakarta. Lutfi Hasan Ishaq ditetapkan sebagi tersangka penerima suap sebesar Rp 1 Miliar terkait impor daging sapi dan di duga melanggar pasal 12 UU no 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

PKS, partai yang terkenal bersih dan bebas dari noda, semakin meyakinkan publik bahwa semua kader partai politik, tak terkecuali Partai Islam seperti PKS ini atau berbasis Islam seperti PPP, PAN dan PKB, banyak yang menjadi tersangka karena korupsi oleh KPK ataupun penegak hukum lainnya, bahkan sudah ada yang menjadi narapidana dan sudah bebas menghirup udara bebas. Ambil missal: M Nazaruddin, Angelina Sondakh (Demokrat) Paskah Suzetta, Bobby Suhardiman, Hamka Yamdu, Anthony zeidra Abidin, Zulkarnaen Djabar (Golkar), Panda Nababan, Emir Moeis, Agus Condro, poltak Sitorus (PDIP) Bachtiar Hamsyah, Al Amin Nasution, Endin Soefihara, sofyan usman (PPP) Waode Nurhayati(PAN) Yusuf Emir Faisal (PKB).

Bagaimana PKS?. Walaupun telah sering disebut, kader PKS terlibat korupsi seperti Tamsil Linrung di badan anggaran DPR RI, dan Menteri pertanian sejak jaman Anton Apriyantono sampai Suswono yang diduga memonopoli masalah impor daging sapi, baru kali ini kader PKS tersandung kasus korupsi. Tidak tanggung-tanggung, yang ditangkap adalah Presiden PKS. Luthfi Hasan Ishaq.

Sebagai salah satu Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) bersama tokoh masyarakat sipil lainnya, saya yakin bahwa KPK bergerak dengan data yang valid, informasi akurat serta bukti yang cukup sehingga berani langsung menetapkan LHI menjadi tersangka. Dukungan publik kepada KPK membuat lembaga pemberantasan korupsi ini KPK semakin tajam dalam melakukan penindakan. Setelah beberapa orang eksekutif dan legislatif serta Jenderal Polisi ditangkap, kini partai yang mengusung jargon, “Bersih dan Peduli” inipun disambanginya tanpa ragu-ragu.

Kegelisahan saya bukan hanya pada masa depan Negara ini, seperti yang diungkapkan KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur pada saya pada tanggal 7 Desember 2009 di kantor PBNU, “Negeri ini tidak akan pernah hancur karena bencana apalagi karena berbeda. Negeri hanya akan hancur karena kebejatan moral. Dan itu adalah prilaku korupsi”. Kegelisahan saya karena para koruptor menyembunyikan prilaku mereka dibalik jubah agama. Lalu bagaimana agama memandang korupsi ini?.

Korupsi Musuh Kemanusiaan
Indonesia merupakan negara yang paling relijius di dunia, hampir tidak ada toleransi terhadap pilihan untuk tidak beragama. Pada saat yang sama Indonesia juga merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar di dunia, lebih dari 80 persen dari 220 juta penduduk adalah muslim. Akan tetapi realitas yang terjadi menunjukkan posisi yang sangat ironis, sebagai negara yang paling relijius ternyata juga sekaligus menjadi negara terkorup di dunia.

Korupsi merupakan kejahatan yang bersarang sejak lama. Berdasarkan pada sejarah panjang budaya dan kekuatan feodal Indonesia, para penguasa masyarakat kita tidak mampu mewujudkan perlunya memisahkan antara uang pribadi dan uang rakyat (publik). Itulah kenapa banyak orang dengan mudah mentolerir penyelewengan kekuasaan dan uang publik untuk kepentingan pribadi, korupsi.

Kejahatan korupsi adalah sebuah kejahatan kemanusiaan di lingkungan institusi pemerintah. Kejahatan ini dilakukan oleh pejabat pemerintah yang mendapat amanat sebagai wakil rakyat untuk mengayomi hak-hak rakyat. Pada kenyataannya mereka justru tega menyelewengkan hak-hak tersebut demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

Fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) sebagai bentuk kejahatan yang kita jumpai saat ini tidak jauh beda dengan budaya feodal kerajaan Hanya saja zaman serta dari tata cara kerja dan motif operandinya yang berbeda, namun tetap pada substansi yang sama yaitu menyelewengkan kekayaan rakyat serta eksploitasi hak-hak rakyat kecil dengan kebijakan yang korup.

Praktek korup seperti ini memang telah berlangsung sejak sejak lama. Sifatnya yang membudaya dari satu generasi ke generasi berikutnya mengharuskan upaya penanganan yang konsisten dan berkelanjutan. Korupsi di Indonesia telah menjadi kejahatan struktural yang dapat menghambat pemenuhan kebutuhan primer seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan rakyat kecil.

Melihat kenyataan seperti ini, kita tidak ragu untuk mengatakan bahwa di negeri ini hukum benar-benar tengah mengalami masalah yang sangat serius. Kepercayaan publik terhadap aparat hukum (polisi, jaksa, hakim dan pasti juga pengacara), nyaris ke tititk yang paling nadir. Bukan tidak ada oknum aparat hukum yang putih. Tapi warna dominan yang tampak dewasa ini memang telah meng-hitam.

Korupsi yang hebat bisa saja terjadi di kalangan wakil rakyat dan para pejabat, mulai dari tingkat ketua RT, lurah, camat, bupati, gubernur sampai yang lebih atas lagi. Atau dilakukan oleh aparat birokrasi dari esselon paling rendah sampai ke yang paling tinggi. Akan tetapi, sehebat apa pun korupsi terjadi, selama aparat penegak hukum masih tegak lurus hatinya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk terlalu khawatir.

Tapi apabila yang korup itu penegak hukumnya, apalagi jika telah mewabah ke seluruh jajaran dan lapisannya, maka siapakah yang bisa menyelamatkan negeri? Kasus jual beli keputusan, tawar menawar perihal berat ringanya tuntutan, sogok-menyogok menyangkut penyidikan, sampai dengan ulah mengkaburkan tahanan, begitu merata digunjingkan orang.

Bukan di negeri ini tidak ada hukum (lawless). Sepanjang sejarah belum pernah negeri ini memiliki perangkat hukum/perundang-undangan seperti yang dipunya sekarang ini. Sejak tahun 1950-an tercatat lebih dari 13.00D peraturan perundang-undangan telah dihasilkan oleh Republik ini. Belum terhitung peraturan-peraturan turunan (derivative) di bawahnya.

Oleh karena itu, yang sebenarnya terjadi, ribuan ketentuan hukum yang sudah ada sedikit sekali yang telah benar-benar ditegakkan. Hukum disebut benar-benar ditegakkan adalah ketika ia ditegakkan sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Yakni obyektif, konsisten, tidak diskriminatif dan demi keadilan. Bukan penegakan hukum, melainkan pengkhianatan hukum, jika ia dikenakan sesuka hati, se-kenanya, secara tebang pilih, tidak untuk keadilan, dan apalagi hanya untuk menambah penghasilan.

Membuat hukum tanpa disertai tekad kuat untuk menegakkannya justru akan mencelakakan bangsa ke jurang kebangkrutan, lebih cepat 100 kali dibanding mereka yang berfikir sebaliknya. Tapi inilah yang kita saksikan pada bangsa kita. Begitu kuatnya anggapan menyesatkan di masyarakat kita, seolah semua masalah bangsa akan segera dituntaskan, hanya apabila aturan atau hukum telah dirumuskan dan jargon telah dipekikkan.

Aparat penegak hukum semisal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sungguh sangat strategis dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kebaikan aparat hukum akan berdampak luas pada kebaikan negara, dan buruknya aparat hukum akan menyebabkan keburukan luar biasa kepada kehidupan negara dan bangsa. Oleh sebab itu, reward dan punishment untuk mereka layak diberikan secara berlipat-ganda.

Untuk itu, demi menjamin tegaknya hukum di negri ini yang pada gilirannya akan menjamin tegaknya pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government), layak kita ikhlaskan bersama standar reward (tsawab/kesejahteraan dan penghormatan) yang berlipat-ganda bagi segenap aparat penegak hukum kita yang lurus dalam mengemban amanatnya. Pada saat yang sama, kepada mereka juga kita ancamkan punishment (iqab/hukuman) yang berlipat ganda pula, apabila mereka mempermainkan hukum, mengkhianati amanat suci yang ada di pundaknya. Hukum dan keadilan terhadap aparat penegak hukum keadilan, musti kita jadikan agenda utama, membenahi bangsa dan negara.

Dalam MUNAS Alim Ulama di Jakarta pada Juli 2002, NU mengatakan, koruptor jangan dishalati sebelum ia mengembalikan uang jarahannya. Fatwa demi memberikan sanksi sosial ini tidak lain sebagai pintu masuk bahwa korupsi adalah faktor utama kebangkrutan negeri. Dari fatwa mati inilah, lahir gerakan-gerakan sistematis tentang pola keterlibatan agamawan untuk memerangi korupsi dalam konteks kesejahteraan sosial.

Pilihan kepada agamawan sebagai corong gerakan antikorupsi menunjukkan bahwa agama sejatinya tidak hanya mengurusi persoalan peribadatan saja, tetapi lebih dari itu, ia berfungsi sebagai kekuatan maha dahsyat untuk memerangi korupsi sebagai kejahatan kemanusiaan. Melakukan korupsi berarti mengkhianati ajaran agama serta mendekatkan api neraka ke tubuhnya.

Menurut ulama NU, korupsi merupakan pengkhianatan berat terhadap amanat rakyat. Dilihat dari cara kerja dan dampaknya, keharaman korupsi melebihi dari tindakan pencurian (sariqah) dan perampokan (nahb). Korupsi dalam berbagai bentuknya misalnya suap (risywah), mark up (khiyanat), penggelapan (ghulul) dan pemerasan (muksu) adalah penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang demi menguntungkan diri dan kelompoknya serta merugikan negara dan rakyat banyak. Hukumannya adalah ta’zir sesuai dengan berat ringannya kerusakan yang ditimbulkan dan bisa diperberat sampai hukuman mati.

Bangunan fikih diatas menjadi landasan kuat bagi ulama NU untuk melakukan gerakan antikorupsi. Fungsi kontrol sosial dari para agamawan untuk mencegah korupsi dilakukan dengan terus menerus mencermati kebijakan publik terutama melewati anggarannya, karena dari situlah sumber utama penyelewengan bermula. Kontrol kebijakan paling vital ini demi menghindarkan pejabat publik dari penyalahgunaan untuk hal-hal yang merugikan rakyat dan melawan tuntutan keadilan.

Masa Depan PKS dan Partai Berbasis Islam
Posisi PKS jelas menjadi rawan dan tidak aman, karena LHI adalah Presiden Partai. Suap sebesar Rp 40 miliar yang dibayarkan secara cicil itu akan terjadi di Kementerian Pertanian yang dijabat kader PKS Suswono. Masyarakat mudah menyimpulkan hal yang negatif.

Sebagai partai kader dengan citra “Bersih dan Peduli”, penangkapan Sang Presiden Partai akan meruntuhkan kepercayaan kader dan konstituennya serta masyarakat luas. Dengan kursi DPR 10 % (57 kursi) dan menempatkan 3 wakilnya sebagai menteri dalam Kabinet Bersatu 2009-2014 (Mentan Suswono, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Mensos Salim Segaf Al-Jufri, serta Ani Matta, Wakil Ketua DPR 2009-2014) PKS akan kesulitan dalam pemilu 2014.

Bukan hanya PKS yang menurut Survei Charta Politika (8-22 Juli 2012) elektabilitas PKS di posisi keenam hanya mendapat pesepsi  3,9% Partai politik Islam lainpun diprediksi akan tergusur dari pusaran politik nasional pada 2014. Kemungkinan pergeseran peta politik ini hasil jajak pendapat jika pemilu dilakukan awal Oktober 2012. Merujuk survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network, tak satu pun partai berbasis massa Islam masuk zona aman. Justru ranking lima besar dimonopoli partai yang tidak memiliki konstituen tradisional Islam, yaitu Golkar, PDI Perjuangan, Demokrat, Nasdem, dan Gerindra (Fajar Riza Ul Haq, kompas.com).

Kegelisahan saya terletak pada politisasi agama. Di mana agama hanya dijadikan “komoditas” yang dijual untuk kepentingan syahwat kekuasaan dan kesenangan dunyawiyah. Seharusnya, Dalam gerak perjuangan kader partai yang berbasis islam, seharusnya menjadikan politik sebagai ikhtiar dalam menyusun strategi kebudayaan yang adiluhung menuju sebuah tatanan masyarakat yang cerdas, berdaya saing, terbuka dan berkeadilan. Dalam konteks Indonesia para politisi santri ini seharusnya mengusung gagasan strategis yaitu Mempertemukan sejumlah pemikiran kritis yang emasipatoris, eksploratif dan liberatif.

Merekonstruksi nilai keberagamaan dan keberimanan dalam konteks yang lebih luas dan majemuk. Menjalin kerjasama yang sinergis dengan semua lapisan, semua kalangan dengan semangat saling mengenal, menghargai,dan menguntungkan untuk kemanusiaan. Sekali lagi, politisi Partai berbasis Islam seharusnya punya misi dakwah yang jelas yaitu mampu merefleksikan semangat keagamaan yang ia miliki terhadap realitas kehidupan: peradaban, keadilan, nilai keagaaman, dan persatuan yang terpuruk yang akhirnya melahirkan masyarakat yang mengalami kekerasan, ketidakadilan, pembedaan (diskriminasi), dan peminggiran (marjinalisasi) baik secara struktural maupun kultural. Itulah “aqidah” yang harus dimiliki para Politisi Partai Islam ini. Bukan justru terjebak pada Ideologi transnasional dan transaksional. Kaifa hal, ya Ustadz?.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/03/14/m0ve2o-benarkah-kubah-masjid-tiru-gereja


Karena Korupsi, Ustadz Masuk Penjara!

Friday, January 25, 2013

Perampok Bank Muamalat Menangis di Tahanan

JAKARTA, KOMPAS.com – Rahmat (46), tersangka tunggal perampokan Bank Muamalat yang terletak di dalam kawasan Yayasan Pendidikan Jenderal Sudirman, Jalan Pendidikan, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, menangis di dalam tahanan. Rahmat meminta maaf kepada mantan atasannya atas aksi nekatnya tersebut.

“Pak Budi, saya minta maaf pak, sungguh, saya minta maaf. Kepala saya isinya setan semua pak, setan semua,” teriaknya sambil menangis di ruang tahanan Polsek Pasar Rebo saat dihampiri oleh salah seorang mantan atasannya di Bank Muamalat, Jumat (25/1/2013) sore.

Warga RT 05 RW 03, Paseban, Senen, Jakarta Pusat tersebut mengaku motif perampokan itu dilakukan tak hanya karena sakit hati terhadap sistem di perusahaan tersebut, namun tersangka juga membutuhkan biaya sehari-hari dua anak yang baru berumur 13 dan 16 serta seorang istri. Pasalnya sudah tujuh tahun tersangka nganggur.

“Saya butuh uang buat biaya hidup. Saya kan nganggur sudah lima tahun lebih. Anak-anak saya butuh makan dan sekolah,” lanjutnya.

“Tapi kamu pakai pisau, pakai ngancam teller, itu sudah keterlaluan Mat. Ya sudah, sekarang jangan pikir kami gimana-gimana lagi, kamu harus terima akibatnya,” jawab mantan atasannya.

Latar belakang tersangka, diketahui mantan karyawan Bank Muamalat yang saat itu berposisi sebagai pengawas operasional bank. Tersangka bekerja di Bank Muamalat di Jakarta Selatan sejak 2005 hingga pada akhirnya kontraknya tidak lagi diperpanjang pada tahun 2010 lalu, karena surat permohonan pemindahan tersangka tidak dikabulkan oleh pihak perusahaan.

Kepala Kepolisian Sektor Pasar Rebo, Kompol L. Sutardi menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka bekerja seorang diri. Dari kronologi kejadian yang dihimpun dari saksi dan korban, tersangka pun diperkirakan amatiran. Hal tersebut dapat dilihat dari cara tersangka dalam menjalankan aksi perampokannya dengan cara konvensional yakni menodong kasir dengan pisau.

Meski demikian, Sutardi tetap akan melakukan pengembangan atas kasus perampokan nekat tersebut. Polisi tetap akan menyelidiki apakah ada kemungkinan bahwa benar tersangka bekerja seorang diri atau masih terdapat tersangka lain.

“Pengembangan tetap akan kita lakukan, apakah ada dugaan tersangka lain atau tidak. Tapi hingga saat ini, aksi perampokan ini dilakukan tersangka tunggal,” lanjut Sutardi.

Aksi perampokan tersebut dilakukan Rahmat, Jumat sekitar pukul 12.30 WIB, saat umat Islam tengah menunaikan ibadah shalat Jumat. Dengan berlagak sebagai karyawan bank, Rahmat yang mengenakan seragam Bank Muamalat masuk ke dalam bank berpura-pura mengantarkan berkas.

Namun, setelah sampai di meja kasir, tersangka mengeluarkan sebilah pisau serta mengancam 4 orang karyawan bank agar tidak berteriak. Ia pun mengikat empat karyawan itu dengan tali serta menutup matanya dengan lakban hitam serta mengambil uang Rp 55.390.000 di atas meja.

Beruntung, saat tersangka hendak melarikan diri menggunakan motor, salah satu dari empat karyawan berhasil melepaskan diri. Ia berteriak minta tolong bahwa bank itu usai dirampok. Tiga orang, yakni sekuriti, sopir serta anggota TNI AD yang mendengar teriakan korban sekaligus melihat tersangka kabur langsung menghalaunya. Tersangka pun diserahkan ke kepolisian bersama dengan uang hasil rampasan dan barang bukti.

“Tersangka akan kita hukum berat, Pasal 365 KUHP tentang Pencurian disertai Kekerasan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara,” ujar Sutardi.






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26848/19/01/2013/suripto:-waspadai-agenda-tersembunyi-dibalik-isu-suriah-dan-sampang.html


Perampok Bank Muamalat Menangis di Tahanan

Tuesday, April 30, 2013

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Home Opini



Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash





 


 




Selasa, 30 April 2013


Oleh: Abdullah al-Mustofa


AJANG Miss World 2013 yang sudah diagendakan akan diadakan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim sekaligus memiliki penduduk Muslim terbesar jumlahnya di dunia (Indonesia)  menimbulkan penolakan keras dari para tokoh dan lembaga Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Penolakan dari para tokoh dan lembaga Islamm itu memang wajar dan tepat, karena event Miss World – meskipun dibungkus dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan ada wacana bikini diganti kebaya -  tetaplah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, serta agama, budaya dan adat istiadat mayoritas bangsa Indonesia


Miss World dan segala ajang sejenis dari tingkat lokal hingga internasional semua mempunyai satu kesamaan, sama-sama menilai kecantikan wajah dan semua segi penampilan fisik wanita.
Kontes-kontes kecantikan seperti Miss World dan Miss Indonesia adalah contoh yang jelas menunjukkan hal tersebut. Kontes-kontes semacam itu meskipun mengklaim tidak sekadar menilai para pesertanya dari segi penampilan fisik saja tapi juga dari segi kepribadian dan kecerdasan, namun tetap mementingkan penampilan fisik.


Mustahil jika kontes-kontes tersebut sama sekali tidak mementingkan penampilan fisik karena terbukti sejak proses perekrutan peserta. Yang layak menjadi peserta adalah wanita-wanita yang berpenampilan fisik yang menarik dan bagus.


Itulah sebagian fenomena di jaman edan ini yang merendahkan wanita. Tapi Barat atau mereka yang silau kepada Barat termasuk sebagian kaum Islam mengangap sebaliknya.


Mereka menganggap fenomena tersebut menghargai dan memuliakan wanita serta menjadikan wanita berharga dan mulia. Padahal sesungguhnya itru adalah racun yang mematikan tapi dianggap madu. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu madu dianggap tidak waras. Sedangkan Islam yang sesungguhnya adalah madu dianggap racun. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu racun dianggap tidak waras.


Kemuliakaan Wanita antara Islam dan Logika


Ada banyak dalil naqly (dalil al-Qur’an dan al-Hadits) dan ‘aqly (logis) yang menunjukkan Islam sangat memuliakan wanita. Salah satu dalil naqly adalah: Dalam riwayat Aisyah ra bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata;  “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)


Ketentuan di atas menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara pia dan wanita dalam batas aurat dan ketentuan berpakaian. Batas aurat bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan ketentuan berpakaian bagi wanita adalah pakaian harus longgar, tidak transparan dan tidak tipis.


Perbedaan ini bukan untuk merendahkan wanita dan memperlakukannya secara tidak adil. Sebaliknya hal itu menunjukkan Islamm menghargai, menghormati dan memuliakan wanita, serta mendudukkan wanita pada posisi yang sangat tinggi dan mulia. Mengapa demikian?


Secara logika, dengan memenuhi ketentuan menutup aurat sesuai syar’i membuat seorang wanita tidak kelihatan bentuk dan kondisi tubuh, serta bentuk dan warna rambutnya. Hal ini mendorong dan menciptakan kondisi di mana wanita tidak termotivasi untuk berusaha mencapai dan mendapatkan penghargaan dari pihak lain, menilai dan menghargai dirinya sendiri dari, serta berlomba-lomba dalam segi pemampilan fisik, tapi dari segi selain itu, yakni kecerdasan, kepribadian, kualitas pribadi, ketakwaan, prestasi dan amal shaleh.


Kondisi ini tidak terbatas berlaku bagi wanita yang bersangkutan saja. Namun juga berlaku bagi wanita lainnya, pria, orang-orang di sekitarnya dan masyarakat dalam lingkup terkecil seperti keluarga dan lingkup yang luas seperti negara.  Semua pihak tersebut akan menilai dan menghargai wanita bukan dari segi penampilan fisik, tapi dari segi lainnya yang antara lain meliputi kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) dan prestasi  mereka.


Mass Brainwashing


Sejatinya, dibalik Miss World dan semua ajang sejenis –seperti berbagai hiburan dan tontonan yang diproduksi Barat dan para pembantunya– selalu ada udang di balik batu (hidden agenda) berupa mass brainwashing (cuci otak besar-besaran) yang diagendakan.


Barat selalu menanamkan worldview dan isme-isme yang dianutnya ke dalam otak sebanyak mungkin warga dunia. Worldview Barat adalah sekular-liberal. Isme-isme Barat di antaranya materialisme, liberalisme, pluralisme, humanisme, feminisme dan  pragmatisme.


Untuk mendukung agenda cuci otak besar-besaran tersebut, Barat dibantu oleh para “robot-robot” yang berasal dari warga pribumi termasuk dari kalangan Muslimin.


Di antara para “robot” yang berkartu identitas Muslim itu adalah mmereka yang menyebut diri  mereka sebagai kaum liberal. Mereka tidak cukup masuk kedalam dan menggunakan bidang studi Islam – dengan memakai metodologi keilmuan dari Barat dan Kristen dalam melakukan pembacaan dan penafsiran yang baru dan nyleneh terhadap al-Qur’an dan Hadits -, tapi  mereka juga masuk ke dalam dan menggunakan bidang politik, pendidikan, sosial dan budaya.
Dalam bidang politik, di Indonesia mmereka masuk kedalam partai politik-partai politik, DPR dan atau melobi anggotanya, masuk ke dalam Kementrian Agama dengan dibentuknya Kelompok Kerja Pengarus-utamaan Gender dan Tim Penyusun Counter Legal Draft KHI, dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.


Dalam pendidikan, ereka memasukkan worldview dan isme-isme Barat ke dalam pesantren dan  dalam kurikulum dan buku-buku pegangan mulai pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi Islam maupun umum.


Dalam bidang sosial antara lain  mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam menentukan orientasi seksual, untuk menikah atau tidak, menikah dengan sesama jenis kelamin, untuk tidak menyusui anak, dan mentalak suami. Dalam bidang budaya antara lain mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam berpakaian dan berekspresi.


Tidak mengherankan, bila cara berpikir, berpendapat, bersikap dan bertindak para ‘robot-robot’ Barat ini selalu mengkampanyekan ‘bebas dari Tuhan’. 
 
Dalam kehidupan nyata, sebagian masyarakat Indonesia telah menjadi korban cuci otak yang berkaitan dengan Miss World dan ajang lain sejenisnya. Tidak sedikit gadis-gadis Indonesia yang bermimpi terpilih sebagai Miss World, Miss Indonesia, Miss Jilbab atau gelar-gelar lain sejenis. Hal itu terbukti ketika event-event seperti itu akan diselanggarakan selalu tidak sepi dari peminat.


Agen Setan


Sungguh aneh, di negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini ada warganya yang bisa menjadi korban cuci otak. Sungguh lebih aneh lagi ada pihak-pihak tertentu yang ikut terlibat dalam mensukseskan Miss World, semua event sejenis dan proyek-proyek cuci otak lainnya yang diagendakan Barat di negeri ini.


Tapi lebih aneh lagi karena  mereka  kok mau-maunya menjadi setan. Sebab al-Quran dengan tegas menyebutkan  agen ‘cuci otak’ seperti ini adalah setan.


الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ


“yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, mereka semua adalah setan-setan dari golongan manusia.” (QS. An-Naas [114]:6).* 


Penulis peneliti  Islammic Studies Forum for Indonesia (ISFI) Kuala Lumpur Malaysia, Pengelola fanspage fb SBQ (Sukses Bersama Qur’an)


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Tuesday, July 2, 2013

Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

KETIKA era komunisme melanda kebanyakan negara di dunia pada awal abad lalu sehingga pertengahan abad ke-20, semacam ada gerakan tersusun untuk menjatuhkan ideologi itu dengan pelbagai penentangan, sehingga ketakutan kepada ideologi komunisme dilabelkan dengan pelbagai gelaran dan propaganda.


Yang menariknya pula, semua propaganda itu didalangi oleh Amerika Syarikat (AS) dan disokong oleh negara-negara Barat.


Ketakutan terhadap ideologi komunisme telah membawa kepada beberapa perang besar di dunia termasuk perang Vietnam, perang di semenanjung Korea, penaklukan Afghanistan oleh Moscow semasa era Kesatuan Soviet, konfrantasi di Eropah timur, konfrantasi antara Jerman Timur dan Jerman Barat dan perang dingin antara AS dan Kesatuan Soviet.


Dalam semua konfrontasi itu, kemenangan Vietkong di Vietnam paling dramatik apabila ideologi komunis berjaya mengatasi kuasa demokrasi barat tajaan AS di bumi Vietnam, bagaimanapun komunis di bawah Kesatuan Soviet kecundang di Afghanistan apabila Taliban berjaya mengusir Moscow dari bumi Afghanistan dengan bantuan China, AS dan sekutunya.


Begitulah sengitnya konfrontasi merentasi ideologi komunisme dan sistem demokrasi yang berlaku pada pertengahan abad lalu hingga dekad 80-an, termasuk menyaksikan kejatuhan Kesatuan Soviet, selain menyaksikan penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur dan robohnya Tembok Berlin serta memperlihatan kemenangan kuasa demokrasi tajaan AS.


Namun begitu, komunisme masih bertahan di semenanjung Korea apabila Korea Utara masih menunjukkan cengkaman kuasanya di semenanjung itu, walaupun dengan kehadiran AS di rantau tersebut.


Dalam semua insiden dan konfrantasi itu menyaksikan AS dan barat cuba mengetengahkan sistem demokrasi di negara-negara terbabit dan cuba menolak komunisme dengan menyogokkan propaganda bahawa komunisme sebagai musuh penduduk sejagat.


AS dalam propaganda menentang komunisme ketika itu telah memperkenalkan Teori Domino dengan mendakwa komunisme harus ditentang habis-habisan kerana bimbang jika satu negara jatuh ke tangan komunisme akan menyebabkan negara-negara lain yang berhampiran turut jatuh ke tangan komunisme.


Begitulah cara AS dan sekutunya mengekalkan kuasa dan kedudukan mereka sebagai kuasa dunia.


Setelah beberapa dekad menentang komunisme, AS dan barat menunjukkan kemajuan dalam kempen dan propaganda mereka apabila banyak negara komunis di Eropah timur runtuh dan menerima demokrasi termasuk di Jerman timur, Czechoslovakia, Yugoslavia, Albania dan Bulgaria melalui kebangkitan rakyat di negara-negara terbabit menerusi tunjuk perasaan besar-besaran.


Ketika itu kita menyaksikan penduduk negara-negara komunis terbabit bangkit menentang pemerintah komunis yang dianggap kuku besi melalui tunjuk perasaan hampir setiap hari selama berbulan-bulan sehingga membawa kepada kejatuhan kerajaan komunis dan digantikan dengan kerajaan demokrasi.


Kini, trend serupa berlaku di negara-negara Islam bermula dengan dunia Arab, apabila meletus Arab Spring di Tunisia, apabila rakyat di negara-negara Arab bangkit menentang kerajaan dan pemimpin mereka atas alasan kemiskinan, reformasi ekonomi dan pembaharuan demokrasi.


AS dan Barat menyedari kekuatan kuasa rakyat seperti yang berlaku di Filipina apabila Corazon Aquino menggerakkan kebangkitan rakyat dengan mengadakan perarakan raksasa bagi menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos, namun di dunia Islam, AS menggunakannya untuk kepentingannya dengan memperalatkan pemimpin di negara-negara Islam untuk meracuni rakyat supaya memberontak.


Apakah tunjuk perasaan di dunia Arab dan kini merebak ke dunia Islam juga merupakan perancangan AS dan barat yang bimbang dengan perluasan pengaruh Islam di negara-negara Islam dan di seluruh dunia. Inilah konspirasi AS dan barat untuk terus kekal sebagai kuasa besar dunia yang menentukan hala tuju dunia di bawah cengkaman mereka.


Sebenarnya, AS cuba menggunakan kekerasan seperti mereka lakukan ke atas Iraq, bagi menumpaskan pengaruh dan kuasa Islam yang semakin meningkat di dunia, tetapi AS dan barat sedar akibatnya, kerana selepas Perang Iraq dan kejatuhan Saddam Hussein, imej AS dan barat di kaca mata Islam merudum dan terjejas teruk serta dianggap sebagai negara pengganas. AS tidak mahu imej itu terus menghantui mereka.


AS menyedari perkara itu dan kembali menggunakan modus operadi yang sama seperti memerangi kebangkitan komunisme dahulu dengan meracuni rakyat negara-negara terbabit dengan menanam kebencian terhadap kerajaan. Mereka menggunakan masalah dalaman di negara-negara Islam sebagai alasan untuk rakyat membenci kerajaan yang sah di negara-negara Islam.


Akhirnya, strategi AS dan barat itu dilihat berkesan apabila beberapa pemimpin negara Arab berjaya digulingkan dan dibunuh termasuk Presiden Zine El Abidine Ben Ali (Tunisia), Muammar Ghaddafi (Libya), Hosni Mubarak (Mesir), Ali Abdullah Saleh (Yemen) dan Bashar al-Assad (Syria).


Selepas melihat kejayaan strategi itu di dunia Arab, AS dan barat mula mengembangkan strategi itu ke negara-negara Islam lain termasuk di Turki, Iran dan Pakistan.


AS dan barat turut menggunakan pendekatan itu di Malaysia dan strategi itu dilihat berjaya dengan kehadiran pemimpin seperti Anwar Ibrahim dan pemimpin politik Malaysia berhaluan kiri dan pemimpin Islam liberal serta mereka yang berfahaman rasis seperti DAP.


Trend ini dilihat akan berterusan selagi AS dan barat belum berpuas hati melihat perubahan kepimpinan di negara-negara Islam berpengaruh seperti Pakistan dan Iran yang mempunyai kuasa nuklear, Malaysia dan Turki yang mempunyai kedudukan ekonomi dan politik yang stabil serta Indonesia yang mempunyai penduduk Islam terbesar di dunia serta sumber alam yang banyak.


Selepas kejatuhan semua pemimpin Islam di negara-negara Islam yang terbabit, AS dan barat akan menjadikan Arab Saudi sebagai sasaran terakhirnya untuk memusnahkan sepenuhnya pengaruh Islam kerana Arab Saudi merupakan tempat terletaknya kiblat umat Islam di Mekah dan juga kemunculan negara Islam pertama di Madinah.


Presiden George W. Bush pernah mengutarakan idea untuk mengubah kiblat orang Islam dari Mekah ke New York dan mengubah al-Quran bagi menukar persepsi masyarakat Islam terhadap jihad.


Mungkin ramai yang akan menyatakan ini adalah teori semata-mata, tetapi trend yang sedang berlaku di seluruh dunia memperlihatkan dunia Islam sedang dilanda tunjuk perasaan yang tidak ada matlamat yang jelas, selain kebangkitan rakyat yang ditanam dengan kebencian terhadap pemerintah yang sah.


Bahaya sedang menanti umat Islam, kerana AS dan Barat sentiasa mencemburui perkembangan Islam dan umat Islam pula sentiasa alpa kerana tidak menyedari mereka masuk perangkap musuh.



Article source: http://www.sinarharian.com.my/kesal-gambar-masjid-dipijak-1.177832


Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

Monday, June 3, 2013

Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Home Sejarah



Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)





 

Perjalanan haji yang terbesar dilakukan oleh Mansa Musa (1312-1337)



 




Selasa, 04 Juni 2013


oleh: Alwi Alatas


REPUBLIK Mali di Afrika Barat meraih kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1960. Negeri dengan jumlah penduduk mendekati 15 juta orang itu mayoritasnya beragama Islam. Mata pencaharian utama penduduknya adalah dalam bidang pertanian dan perikanan. Garam dan emas merupakan sumber daya alam utama yang ada di negeri itu. Sebenarnya Mali merupakan negeri penghasil emas ketiga terbesar di Afrika. Tetapi separuh penduduknya hidup dengan penghasilan kurang dari 1,25 Dollar Amerika per hari (https://en.wikipedia.org/wiki/Mali). Memiliki kekayaan tambang tetapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan, Mali menampilkan ironi yang kurang lebih sama dengan Indonesia dan beberapa negeri Muslim lainnya.


Terjadinya perpecahan di negeri itu baru-baru ini serta masuknya intervensi asing (Prancis) sejak Januari 2013 tentu membuat keadaan masyarakat Mali menjadi semakin susah. Boleh jadi adanya sumber daya alam, serta upaya mempertahankan hegemoni atas bekas daerah jajahan, merupakan alasan sebenarnya dari kedatangan pasukan Prancis ke negara itu, walaupun yang dijadikan pretext oleh Prancis untuk melakukan invasi adalah munculnya kelompok Islam militan di sana. Kendati menuai protes dari kelompok kiri di Prancis dan dianggap memiliki tujuan tidak jelas, dewan nasional Prancis memutuskan untuk memperpanjang keberadaan militer Prancis di Mali (http://www.globalresearch.ca/mali-under-french-military-occupation/5334200).


Keadaannya sungguh sangat berbeda pada tujuh abad sebelumnya. Seperti yang ditulis oleh A.J.H. Goodwin (1957: 110): “Kerajaan Ghana-Melle (Mali, pen.) pada abad keempat belas jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, jauh lebih terorganisir, dan bahkan jauh lebih melek huruf dibandingkan kekuasaan Kristen yang mana pun di Eropa.” Berbicara tentang Mali, Islam, dan emas pada abad pertengahan, ada hal menarik dari sejarah negeri itu yang akan kita bahas berikut ini.


Dinasti Lion King


Pada abad ke-13 dan 14 di wilayah ini pernah berdiri Kerajaan Mali. Informasi tentang kerajaan ini disebutkan dalam cerita lisan setempat yang biasanya bercampur dengan legenda. Selain itu, ia bisa ditemukan juga dalam kisah perjalanan Ibnu Batutah serta beberapa kitab sejarah, terutama yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dan Shihabuddin al-Umari.


Kerajaan Mali didirikan oleh Sun-Djata Keita (1217-1255) atau Sundiata. Ia berasal dari suku Mandinka (Malinke) yang banyak menetap di Mali dan wilayah sekitarnya. Dalam Tarikh Ibn Khaldun, jilid 6 (2000: 266-7) tokoh ini disebut dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu Mari-Djata, yang bermakna lion king. Dalam bahasa setempat, Mari bermakna ‘raja’ dan Djata bermakna ‘singa’ (al-asad). Tokoh ini berhasil menyatukan bangsanya yang sempat dikuasai oleh Kerajaan Soso (Susu). Ia mengalahkan dan menaklukkan kerajaan itu serta mendirikan Kerajaan Mali. Ia memerintah selama 25 tahun dan memakai gelar Mansa (Raja diraja) di depan namanya, begitu juga dengan raja-raja berikutnya.


Islam sudah mulai berkembang di wilayah ini pada abad ke-11 dan 12. Al-Bakri, seorang sejarawan yang hidup pada abad ke-11 menyebutkan bahwa pada masa itu sudah ada satu kerajaan kecil bernama Malal yang penguasanya masuk Islam setelah kedatangan seorang Muslim ke wilayah itu saat terjadi kekeringan. Muslim tadi melakukan shalat Istisqa (shalat minta hujan) dan dengan izin Allah wilayah itu selamat dari kekeringan.


Ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Soso sebenarnya merupakan sebuah reaksi atas perkembangan Islam di wilayah itu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Sun-Djata berhasil menumbangkan kerajaan itu dan mendirikan kerajaan Mali. Kerajaan baru yang didirikan oleh Sun-Djata ini terus berekspansi dan berkembang hingga mencakup wilayah Senegal, Niger, dan Gambia. Ketika kerajaan ini berdiri, Islam sedang tumbuh dengan cukup pesat di Afrika Barat. Aktifitas perdagangan lintas Sahara yang didominasi para pedagang Muslim pada gilirannya menghubungkan Mali dengan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara. Hal ini lantas mendorong para penguasa Mali menjalankan kebijakan yang lebih memihak pada Islam (Bosworth, 1991: 257-8).


N. Levtzion dalam artikelnya, “The Thirteenth- and Forteenth- Century Kings of Mali” (1963), telah menyusun daftar raja-raja Mali berikut perkiraan masa pemerintahan masing-masing dengan merujuk pada Tarikh Ibn Khaldun dan beberapa sumber lainnya. Raja Muslim pertama di wilayah Mali yang disebut oleh Ibnu Khaldun adalah Barmandana. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup untuk mengetahui apakah tokoh ini sama dengan raja Malal yang disebutkan oleh al-Bakri. Selain itu juga tidak diketahui apa hubungan antara Barmandana dengan raja berikutnya yang lebih dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Mali, yaitu Sun-Djata (Mari-Djata) yang memerintah selama 25 tahun.


Mansa (raja) berikutnya adalah Uli yang merupakan anak Sun-Djata. Masa pemerintahannya beririsan dengan masa pemerintahan Baybars (1260-1277) di Mesir. Dua raja berikutnya adalah anak-anak Sun-Djata lainnya, yaitu Wati dan Khalifa. Yang terakhir ini digambarkan sebagai penguasa yang kejam sehingga akhirnya dijatuhkan dari kekuasaannya. Ia digantikan oleh keponakannya, Abu Bakar, yang merupakan cucu Sun-Djata dari seorang anak perempuannya. Abu Bakar lalu digantikan oleh seorang bernama Sakura yang memerintah pada pergantian abad ke-13. Sakura adalah seorang budak yang dibebaskan (freed slave) yang rupaya muncul sebagai orang kuat di istana. Tapi ia mati dibunuh dan kemudian digantikan oleh Qu yang merupakan anak Uli dan cucu dari Sun-Djata. Setelah itu Qu digantikan oleh anaknya Muhammad yang memerintah hingga sekitar tahun 1312.


Sun-Djata mempunyai seorang saudara lelaki, Abu Bakar, yang membantunya dalam mendirikan kerajaan Mali. Pemerintahan Mali setelah kepemimpinan Mansa Muhammad (w. 1312) berpindah kepada keturunan Abu Bakar ini. Yang pertama menjadi raja dari jalur ini adalah Mansa Musa (1312-1337) yang merupakan cucu Abu Bakar. Ia adalah raja terbesar yang pernah memerintah Kerajaan Mali. Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bernama Magha, yang menurut lisan setempat bermakna Muhammad. Setelah memerintah selama empat tahun, kepemimpinan diteruskan oleh Sulaiman, saudara Musa, yang memerintah selama 24 tahun. Selepas itu masih ada beberapa raja Mali lainnya, tetapi keadaannya sudah banyak menurun, karena sering terjadi intrik dan konflik di dalam istana.


Kerajaan Mali masih bertahan hingga abad ke-15 dan 16, tetapi hanya dalam bentuk kerajaan lokal, bukan sebagai imperium sebagaimana sebelumnya. Ia semakin tenggelam dengan masuknya penjajah Eropa pada masa-masa setelahnya.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib”




Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/asian-finance-bank-likely-target-as-islamic-mega-lender-say-sources


Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Monday, April 15, 2013

Artis berprestasi diincar PPP - Waspada

WASPADA ONLINE

JAKARTA – Musim pencalegan tiba, PPP incar sejumlah artis serta atlit berprestasi. Ada Bambang Pamungkas alias Bepe, Aura Kasih dan Bunga Cipta Lestari masuk radar PPP.


Seperti disampaikan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PPP Suharso Manoarfa, beberapa atlit berprestasi serta artis tenar itu, layak menjadi caleg (calon legislatif) PPP.


“PPP adalah parpol Islam yang terbuka. Kami harus bisa mengakomodir semua golongan, tidak perlu alergi dengan artis atau publik figur lainnya. Termasuk atlit berprestasi seperti Bepe,” terangnya  di Jakarta kemarin.


Dikatakan mantan Menpera itu, pemain sepakbola seperti Bepe, artis Aura Kasih, BCL (Bunga Cipta Lestari) serta Mat Solar adalah publik figur yang memiliki kemampuan dalam memajukan bangsa ini.


“Dari kalangan artis yang sudah resmi menjadi caleg PPP adalah Doni Damara. Kita harapkan tokoh lainnya tergerak untuk berpartisipasi. Artis, atlit atau presenter kondang seperti Sandrina Malakiano, boleh juga,” terang Monoarfa.


Dalam menjaring caleg, lanjutnya, PPP tidak akan asal comot. Mereka harus sanggup menandatangani pakta integritas. Di dalamnya mengatur larangan black champaign, serta terbebas dari segala tindak korupsi atau tercela lainnya. “Target PPP di pemilu 2014 adalah 72 kursi di DPR-RI. Insya Allah terpenuhi,” pungkasnya.
(dat18/inilah)




Name *
URL
Code

  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://www.malaysia-chronicle.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=41318:umnos-mashitah-sued-for-accusing-hadi-of-sex-scandal&Itemid=2


Artis berprestasi diincar PPP - Waspada

Sunday, December 30, 2012

Usai Makan Siang Sekeluarga Keracunan 2 Tewas dan 2 Kritis

Keterangan diperoleh, Selasa (25/12) siang, istri Suwardi (42) karyawan kebun PT RSK seperti biasa ketika bekerja sebagai pemanen dibantu keluarga istri dan anaknya. Sebelum berangkat ke areal kebun, istrinya memasak nasi dan lauk pauk untuk sarapan pagi serta makan siang.

Setelah memasak nasi dan menyediakan lauknya dengan membuat sambal ikan asin tongkol, sekaligus membungkusnya untuk sarapan di ancak bersama teman-temannya sekerjanya dan siang hari usai kerja mereka masing masing pulang ke rumah.

Begitu tiba di rumah, mereka makan siang bersama anaknya Budi(14) dan Dimas (6) dengan lauk sambal ikan yang dimasak pagi hari, usai makan istrinya merasa kepalanya pusing, perut mulas, tak lama muntah-muntah.

Melihat keadaan istrinya, Suwardi memanggil ibunya berdomisili di jiran C Desa Sidodadi Pangkatan, ibunya menyarankan kepada Suwardi agar istrinya cepat dibawa ke rumah sakit umum Rantau-prapat,setelah mendapat perawatan inap, Rabu (26) sore istrinya meninggal dunia,

Jenazahnya dikebumikan di kuburan islam Desa Sidodadi Pangkatan. Namun begitu usai istrinya dikebumikan anaknya Budi(14) meninggal dunia mengalami sakit yang sama muntah-muntah dan perut mual kepala pening.

Duka keluarga belum sirna, Suwardi sendiri serta anak bungsunya Dimas(6) juga mengalami sakit yang sama hanya berselang tidak berapa lama.Melihat situasi itu, perusahaan membawa Suwardi serta anaknya ke salah satu rumah sakit di Medan untuk perawatan intensif. Ganto (52), pakcik korban di rumah duka, Sabtu(29/12) sore menjelaskan pada Analisa, kronologi kejadian keluarga kemanakannya.

Menurut Ganto, mereka merasa heran sebab paginya mereka memakan nasi serta lauk sambal ikan bersama teman kerjanya tetapi teman-temannya tidak apa-apa, mengapa usai makan siang dengan menu yang sama mereka keracunan.

“Lebih mencurigakan kami, kuali tempat sambal ikan ketika hendak diambil pihak kepolisian untuk sampel sudah dicuci bersih, siapa yang mencuci kuali itu,masih dalam tanda tanya,” kata Ganto di komplek perumahan karyawan PT RSK.

Sudah menjadi kebiasaan, jika mereka berangkat kerja tidak pernah rumah dikunci bebas keluar masuk, menjadi teka-teki kuatir jika ada orang yang iri hati atau jahil menaruhkan racun ke dalam kuali, tapi kasus ini diserahkan pada pihak yang berwajib, katanya. (dc)

Article source: http://www.wartanews.com/monaspolitan/78e8dca7-b5cc-2ecf-5890-d61679a19feb/fpi-gugat-penerbit-buku-yang-mencemarkan-nabi-muhammad


Usai Makan Siang Sekeluarga Keracunan 2 Tewas dan 2 Kritis

Thursday, July 25, 2013

Contohi diet Rasulullah

Kesempurnaan peribadi Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah tiada tolok bandingnya dan menjadi ikutan para muslim seluruh  dunia.  Antara amalan Rasulullah SAW termasuklah cara  beribadah, menjaga kebersihan diri, hidup berkeluarga termasuk diet makanan cara baginda.  Jika kita menitik beratkan  diet yang  seimbang dan mengamalkan pemakanan yang sihat, tubuh akan terpelihara  daripada serangan penyakit. Hal ini penting kerana sebagai seorang muslim, badan yang sihat akan memudahkan kita beribadat kepada Allah SWT.


Rasulullah SAW menjaga kesihatan rohani dan jasmani demi memudahkan baginda untuk menyampaikan seruan Allah kepada umatnya.  Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak akan makan melainkan apabila sudah terasa lapar dan apabila kami makan, tidak pernah sampai kenyang.”  Begitulah antara petua yang Rasulullah amalkan.


Namun, Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) menjelaskan amalan gaya hidup mewah manusia masa kini yang melebihkan pengambilan makanan tinggi lemak dan kurang bersenam.  Situasi ini menyebabkan peningkatan penyakit kronik seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, strok, diabetes serta kanser.


Cara Diet Rasulullah


Susu dan kurma antara makanan kegemaran Nabi Muhammad SAW


Antara lain diet cara Rasulullah SAW adalah makan makanan yang seimbang, makan perlahan-lahan, sederhana serta  berkongsi makanan. Rasulullah SAW juga suka minum susu, buah-buahan, tamar, daging, madu, sayur dan bubur kerana makanan itu mempunyai khasiat yang tinggi untuk kesihatan badan.


Dalam amalan baginda, selepas subuh Rasulullah SAW akan memulakan sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesenduk madu asli. Jika dilihat dari ilmu kesihatan, madu berfungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus, menyembuhkan sembelit dan peradangan.


Setelah masuk waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh biji kurma ajwa’ untuk menghindari keracunan. Ketika seorang wanita Yahudi meletakkan racun dalam makanan Rasulullah ketika perang Khaibar, bisa racun itu kembali tawar oleh zat-zat terkandung dalam kurma. Sebab itu Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang rumahnya tiada kurma sebagai orang miskin.


Selain itu, Rasulullah SAW tidak akan  mengambil  dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan serentak dengan daging dalam satu waktu dan tidak tidur selepas makan kerana tidak baik untuk jantung.

Ada hikmahnya tidak meniup air panas untuk diminum


Rasulullah SAW juga melarang meniup atau menghembus nafas ke dalam bekas air (makruh) kerana akan berlaku tindak balas yang merubah kadar kealkalian (pH) air itu.


Sayur-sayuran menjadi pilihan Rasulullah SAW kerana secara umumnya sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi memperkuat daya tahan tubuh dan melindungi daripada serangan penyakit serta mencegah penyakit berpunca daripada gula.


Rasulullah SAW makan cuka dan minyak zaitun yang dicampurkan dengan makanan asasi seperti roti. Ia bermanfaat mencegah lemah tulang, melancarkan sembelit, menghancurkan kolestrol, melancarkan pencernaan dan menjaga suhu tubuh pada musim sejuk.


Baginda melebihkan makanan berasaskan bijirin dan ubi kerana ia membekalkan karbohidrat kompleks, vitamin, mineral dan serat. Mengikut piramid makanan, kita disarankan mengambil 8 hingga 12 hidangan makanan berasaskan bijirin dan ubi dalam sehari.


Ini bermakna Rasulullah SAW meninggalkan tatacara makanan yang lengkap untuk diteladani seluruh umatnya. Namun begitu, umat Islam masih dibelenggu pelbagai penyakit yang menyebabkan perbelanjaan orang Islam dihabiskan untuk perubatan serta makanan tambahan. Oleh itu, untuk membentuk kesinambungan generasi Islam, maka tabiat dan cara makan harus mencontohi Rasulullah SAW.


Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang sedikit makan, maka perutnya akan sihat dan hatinya akan bersih. Sebaliknya barang siapa yang banyak makan, maka perutnya akan ditimpa sakit dan hatinya keras.” (Hadis riwayat Huzaifah).


Dalam memastikan tubuh kita sihat, seharusnya kita mencontohi amalan pemakanan yang baik sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jika tubuh sihat, ibadah yang dilakukan sehari-hari akan terasa mudah untuk dilaksanakan.  Apalagi, mari kita mulakan amalan yang baik ini kesihatan diri.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/19/molzey-snmptn-jangan-diskriminatif-terhadap-siswa-madrasah


Contohi diet Rasulullah

Sunday, March 17, 2013

Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Ulet dan pantang menyerah. Itulah Maman Abdurrahman. Pengusaha muda asal Desa Mukok, Sanggau, Kalbar ini sukses mengembangkan usahanya di bidang perminyakan dan gas (migas). Bahkan perusahaan yang dipegangnya, Starborn Chemical, berkembang pesat menyaingi perusahaan asing yang juga bidang perminyakan.

Pria berpostur besar tinggi ini benar-benar tidak membayangi kalau dirinya akan terjun di dunia usaha. Apalagi di bidang perminyakan. Pada tahun 1998, Maman pergi ke Jakarta, niatnya ingin mendaftar menjadi polisi. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 3 Pontianak, Maman tidak bisa ikut bersaing menjadi polisi, karena umurnya yang masih terlalu muda (belum 17 tahun), hingga tidak memenuhi syarat. Jadi, mesti menunggu setahun lagi agar syarat mendaftar polisi terpenuhi.

Daripada menganggur, pria kelahiran Desa Semuntai, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau ini memilih untuk kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Maman lulus di Fakultas Teknik Jurusan Perminyakan. Selama setahun bergelut di dunia kampus, Maman aktif di dunia pergerakan dan organisasi kemahasiswaan. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketika itu sedang bergejolak pergerakan mahasiswa untuk mewujudkan reformasi pemerintahan.

Pria kelahiran 1980 ini mengaku bingung. Dia yang lebih banyak menghabiskan waktu kecilnya di Semuntai, Sanggau serta Sekadau dan menyelesaikan sekolahnya di Kota Pontianak, harus ikut berdemonstrasi mewujudkan reformasi di Semanggi I dan Semanggi II serta di kampusnya Trisakti, dengan konstalasi perpolitikan nasional yang mencekam. Merasa asyik menuntut ilmu perminyakan dan aktif di dunia pergerakan, sirna sudah keinginan Maman untuk menjadi polisi.

“Saya selalu ingat dengan pesan guru saya di SMA Negeri 3 dulu. Selagi ada niat baik dan usaha, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa kita lakukan, tentunya juga harus ditunjang dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki,” ungkap Maman.

Maman fokus menyelesaikan kuliahnya tanpa harus menghilangkan keikutsertaannya di dunia pergerakan. Maman mengubah mimpinya menjadi akademisi atau teknokrat di bidang perminyakan dan menempa pola pikirnya dengan pemikiran HMI. Dua perspektif atau pola pikir tergabung dalam dirinya, yakni pemikiran di bidang perminyakan dan pergerakan HMI.

Sakitnya menjalani hidup yang berjauhan dengan keluarga tidak mematahkan semangat pemuda desa ini untuk menuntut ilmu dan berkiprah di Jakarta. Kebetulan jurusan perminyakan ini dibangun dengan pola militer. Solidaritas benar-benar ditekankan di kampusnya itu. Persaudaraan sesama mahasiswa jurusan perminyakan benar-benar terjaga. Saling bantu sesama mahasiswa, khususnya mereka yang datang dari daerah. Meskipun harus merogoh kocek mengumpul uang receh untuk makan, namun tetap saling berbagi dengan kawan-kawannya yang lain, baik dari Papua, Kaltim, Aceh, maupun provinsi lainnya.

Mereka yang kuliah di Universitas Trisakti sekitar 30 ribu mahasiswa dari semua fakultas. Rata-rata mereka orang-orang berduit. Hampir semua yang kuliah di situ anak pejabat di republik ini. Ada anak gubernur, bupati, maupun pejabat TNI serta Polri bahkan anak menteri. Banyak didominasi anak-anak Jakarta. “Kita ini anak-anak daerah relatif termaginalkan di Trisakti. Namun kita tetap optimis, anak-anak daerah juga mampu seperti anak-anak di Jakarta,” jelas Maman.

Pada tahun 2004, mungkin karena jalan Allah juga, Maman diberikan kepercayaan oleh kawan-kawannya menjadi Presiden Mahasiswa Trisakti. Dari sinilah awal kariernya berorganisasi untuk masuk ke panggung yang lebih besar di dunia kemahasiswaan.

Hebatnya, ternyata pemuda Mukok ini menjadi Presiden Trisakti pertama dari daerah. Selama ini selalu dijabat anak-anak Jakarta yang berbasiskan militer. Ini menjadi sebuah motivasi baginya, bahwa anak daerah juga mampu. “Kita dari daerah jangan berkecil hati. Kita juga memiliki peran tersendiri di mana pun kita berada,” paparnya.

Pascakuliah, Maman mengambil jalan yang berbeda dari kawan-kawan aktivisnya. Mereka lebih banyak memilih jalur politis dengan bergabung di partai poltik (parpol). Sedangkan Maman mengembangkan keilmuannya di bidang perminyakan.

Maman menjadi engineer atau tenaga profesional di perusahaan Premier Oil, salah satu perusahaan perminyakan asing dari Inggris. Dari sinilah dia banyak mendapatkan pengalaman tentang industri perminyakan di beberapa negara. Karena Premier Oil, aset usahanya bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga negara lain, seperti Filipina, Thailand, dan India, serta London sebagai kantor pusatnya.

Bagi Maman, perspektif global dari sektor ekonomi di Indonesia tidak bisa lepas dari situasi internasional. Namun bukan berarti harus menghamba pada globalisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan globalisasi ini untuk kepentingan bangsa.

“Itu yang saya dapatkan dari pengalaman bekerja di perusahaan asing. Kultur profesionalisme dan good governance itu juga diterapkan di negara asing. Ini menurut saya harus dibawa untuk mengembangkan kampung halaman kita dan bangsa kita. Saya bekerja di perusahaan Premier Oil hampir tujuh tahun. Saya sempat disekolahkan di Australia selama enam bulan untuk mengembangkan industri perminyakan,” jelasnya.

Pada tahun 2010, Maman bersama rekan bisnisnya mengembangkan perusahaan perminyakan, Starborn Chemical PT Luas Birus Utama. Pada dasarnya perusahaan yang dikembangkannya bukanlah perusahaan baru, melainkan perusahaan lama yang sudah berdiri sejak tahun 1993 silam. Maman bersama mitra kerjanya mengambil alih perusahaan itu dan memperbaiki manajemennya.

Starborn Chemical yang berkantor di Jalan Industri Selatan IV, Kawasan Industri Jababeka 2 Cikarang, Bekasi ini murni 100 persen perusahaan lokal. Perusahaan ini bergerak di bidang penyedia jasa dan kebutuhan bahan-bahan kimia di industri perminyakan. Maman dan rekan-rekannya membuat beberapa produk untuk kebutuhan fasilitas produksi di perusahaan minyak dan gas (migas). Salah satu contoh, membuat produk kimia, agar tidak terjadi karatan pada pipa minyak. Starborn Chemical juga membuat bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produksi minyak.

“Kita coba kembangkan teknologi kimia dengan teknologi perminyakan. Kita juga buat produk bahan-bahan kimia untuk kebutuhan grilling di wilayah pengeboran,” ungkap Maman.

Banyak juga suka duka dalam mengembangkan Starborn Chemical. Maman harus turun ke hutan menuju lokasi pengeboran. Harus jual mobil untuk modal pengeluaran kantor setiap bulannya. Kini Starborn Chemical sudah bisa bersaing dengan perusahaan asing di dunia migas. Pengalaman Maman di Premier Oil diterapkan di perusahaannya sekarang. “Alhamdulillah bagus. Dulu perusahaan ini kolaps, sekarang bisa berkembang lagi. Sebelumnya karyawan kita sekitar 20 orang dan sekarang sudah hampir 50 orang. Kita sekarang juga lagi kerja di lokasi pengeboran minyak. Hampir beberapa perusahaan minyak di Indonesia, kita ikut andil untuk mengerjakannya. Sekarang kita juga lagi ekspan di Petronas—Malaysia dan Slumber Zee—Thailand. Total aset Starborn Chemical sudah mencapai 3 Juta US Dollar dengan revenue per tahun 8-10 juta US Dollar,” kata Maman.

Pria yang tak menyangka bisa mencari nafkah dan sukses berkarier di ibu kota negara ini juga melepaskan masa lajangnya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Maman si anak Mukok mempersunting Agustina Hastarini yang akrab disapa Tina Astari, artis sinetron yang wajahnya sudah tidak asing lagi di layar kaca. Setelah menikah dengan Maman, Tina tidak lagi berakting. Wanita berwajah cantik itu ingin fokus melayani suaminya dan mengasuh si buah hatinya Merpati Cattleya Zarita Rahman.

Maman yang lama bekerja di perusahaan asing memberikan pandangan, globalisasi jangan dilihat sebagai bentuk penjajahan di Indonesia. Masyarakat harus mengubah pola pikirnya, bahwa globalisasi itu juga sebagai alat untuk pengusaha lokal ekspansi ke negara lain. Jangan dibalik. Menganggap globalisasi sebagai sebuah sistem atau kesepakatan global, untuk menjajah Indonesia. “Bagi saya itu sebuah pemikiran yang pesimis. Kita harus berpikiran optimis, menjadikan sistem global ini untuk keuntungan kita,” katanya.

Ada tiga perusahaan besar dunia yang menjadi pemain besar di bidang kimia perminyakan. Sementara perusahaan lokal Indonesia hanya Starborn Chemical. Namun Starborn Chemical ini bisa bersaing dengan pemain internasional. Bahkan saat ini Starborn Chemical akan menembus pasar Malaysia dan Thailand.

“Tergantung niat kita mau atau tidak dan kita yakin atau tidak. Kalau kita tidak yakin, maka sulit juga mewujudkan apa yang diinginkan. Kemudian ambisi. Tapi tetap dengan dasar profesionalisme dan transparansi sistem keuangan di perusahaan. Dasar kualitas dan kompetensi juga harus digunakan. Dulu banyak yang mengatakan bahwa perusahaan lokal sulit bersaing di dunia migas, buktinya kita juga mampu bersaing. Kita mampu membuktikan perusahaan lokal yang tidak ada tenaga asingnya sanggup membuktikan di mata internasional dan dunia migas,” ungkap Maman.

Merasa dapurnya sudah mengepul dengan baik, Maman kembali lagi kepada aktivitasnya di organisasi. Kini Maman bergabung ke organisasi kepemudaan di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan menjadi pengurus dewan perwakilan pusat Partai Golkar.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita punya niat baik dan keyakinan, saya yakin putra Kalbar juga mampu memimpin bangsa ini baik di dunia ekonomi maupun politik,” ujar Maman. (hamka saptono)

Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=57178


Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Friday, November 22, 2013

Tegas tangani ajaran sesat

KEWUJUDAN kumpulan ajaran sesat di negara ini bukanlah perkara baharu kerana masalah berkenaan telah lama berlaku sejak sebelum merdeka dengan kemasukan pengaruh dari luar seperti Qadiani dan Bahai.


Kumpulan ini dikategorikan sebagai pengamal ajaran sesat kerana berpegang kepada fahaman yang menyimpang daripada Islam.


Pengikutnya menganggap setiap perkataan yang keluar daripada mulut pemimpin mereka sebagai benar walaupun tidak masuk akal.


Qadiani misalnya yang diasaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India mendakwa Nabi Isa meninggal dunia dan dimakamkan di Srinagar, India.


Fahaman yang turut dikenali dengan nama Ahmadiyah di Indonesia dibawa masuk ke negara ini pada 1949 oleh Maulana Muhammad Sadiq Barakatullah.


Mereka beriktikad bahawa Mirza Ghulam adalah Imam Mahdi, nabi dan jelmaan Krisna (tuhan mengikut kepercayaan Hindu).


Bahai yang diasaskan oleh beberapa individu termasuk Mirza Ali Muhammad di Iran pula dibawa masuk ke negara ini oleh kartunis kaum Cina, Yan Kee Leong pada 1953.


Ajaran Bahai disebarkan dalam kalangan Orang Asli dan juga kepada penduduk di Seremban, bandar Melaka, Kuala Lumpur dan Sarawak.


Kumpulan ini beriktikad bahawa kitab agama mereka iaitu Al-Bayan memansuhkan semua kitab suci agama lain, mendakwa terdapat kod 19 dalam al-Quran, berpuasa selama 19 hari, solat sebanyak sembilan rakaat dan dikerjakan tiga kali sehari serta berwuduk dengan air mawar.


Dalam pada itu, antara kumpulan ajaran sesat tertua yang berasal dari dalam negara adalah ajaran Taslim yang diasaskan oleh Muhammad Syafie atau lebih dikenali dengan panggilan Haji Muhammad Matahari yang berasal dari Sumatera, Indonesia.


Ajaran ini mula dikesan sekitar 1870-an di Kampung Seronok, Bayan Lepas, Pulau Pinang dan kemudiannya berkembang ke Kampung Tasik, Segamat dan Kampung Telok Sari, Mersing, Johor pada 1940-an.


Ciri-ciri kesesatan ajaran Taslim yang diamalkan secara rahsia sehingga sukar dikesan pihak berkuasa adalah beriktikad bahawa Allah berada dalam diri setiap manusia manakala solat lima waktu dan berpuasa boleh dikerjakan secara niat sahaja.


Kumpulan berkenaan turut mengharuskan perzinaan melalui konsep nikah batin bagi menarik pengikut.


Selepas itu, muncul banyak lagi kumpulan ajaran sesat seperti Nasrul Haq, Ilmu Tajalli Ahmad Laksamana, Hassan Anak Rimau, Tarikat Aurad Ismailiah dan Kumpulan Anti Hadis.


Antara yang mendapat publisiti meluas adalah kumpulan yang diketuai oleh Ayah Pin atau nama sebenarnya Ariffin Mohamad, yang mengaku dirinya adalah tuhan di perkampungan ‘Kerajaan Langit’ di Batu 13, Hulu Besut, Terengganu.


Antara fahaman kumpulan berkenaan adalah sembahyang lima waktu boleh digantikan dengan berzikir serta kiamat tidak akan berlaku kerana Allah tidak bodoh menjadikan alam dan merosakkannya kembali.


Pengaruh kumpulan itu mula lemah setelah pihak berkuasa merobohkan replika cerek dan payung gergasi serta dewan perhimpunan di perkampungan itu pada 2005 serta mendakwa pengikutnya di mahkamah. Ayah Pin pula telah menghilangkan diri bersama-sama empat isterinya.


Terdapat juga kumpulan ajaran sesat yang mengambil masa lama untuk dibanteras kerana mempunyai latar belakang ekonomi kukuh, beroperasi atas nama syarikat dan bijak menggunakan pelbagai kaedah bagi menyebarkan dakyah.


Antaranya, adalah Al-Arqam yang diasaskan oleh Ashaari Muhammad yang juga dikenali sebagai Jamaah Aurad Muhammadiah pada 1968. Ketika waktu kemuncaknya, ia dikatakan mempunyai 6,000 pengikut tegar.


Ajaran ini difatwakan sesat oleh Majlis Fatwa Kebangsaan pada 1994 kerana pengikutnya percaya pengasas Aurad Muhammadiah, Syeikh Muhammad As-Suhaimi yang telah meninggal dunia pada 1925 tidak mati, sebaliknya masih hidup.


Mereka percaya Syeikh Muhammad adalah Imam Mahdi yang ghaib buat seketika sebelum kembali untuk memimpin umat Islam dan beliau juga dikatakan boleh datang menolong apabila diseru namanya.


Setelah kematian Ashaari pada 2010, balu beliau, Hatijah Aam atau lebih dikenali dengan gelaran Ummu Jah cuba meluaskan pengaruh kumpulan itu ke luar negara khususnya di Mekah dengan membuka perniagaan restoran dan rumah rehat.


Bagaimanapun, pada 8 November lalu, Hatijah telah melafazkan taubat nasuha bersama-sama 400 pengikutnya dengan janji tidak mengulangi perbuatan mengamalkan ajaran Aurad Muhammadiah.


Modus operandi sama digunakan oleh kumpulan ajaran sesat Tuhan Harun yang yang diasaskan oleh Harun Mat Saat, 47.


Selain mengaku dirinya adalah tuhan dan Imam Mahdi, Harun turut mendakwa berkuasa mengalih posisi bulan, bintang dan matahari.


Kumpulan ajaran sesat berkenaan memperoleh dana dengan menganjurkan skim cepat kaya dan mengutip deposit secara haram yang dianggarkan sebanyak RM200 juta daripada orang ramai.


Mereka juga pernah menganjurkan konsert rock yang disertai ramai artis terkenal tempatan pada 2009 dan menerbitkan album lagu berunsur dakwah bagi mengembangkan pengaruh.


Sementara itu, yang cukup membimbangkan adalah apabila kumpulan ajaran sesat terbabit turut berubah menjadi militan.


Dalam sejarah Malaysia, antara kumpulan ajaran sesat bercorak militan adalah Kumpulan Mohd. Nasir Ismail dari Kemboja yang mengaku dirinya Imam Mahdi dan mendakwa tidak perlu solat Jumaat.


Kemuncak aktiviti kumpulan itu adalah apabila Mohd. Nasir dan 14 pengikutnya yang memakai jubah putih menyerang balai polis, pejabat kadi dan mahkamah rendah di Batu Pahat dengan menggunakan pedang pada 1980.


Dalam kejadian itu, 23 orang termasuk 14 anggota polis cedera parah manakala lapan pengikut kumpulan itu ditembak mati.


Satu lagi contoh kumpulan ajaran sesat bercorak sedemikian adalah Al-Maunah Malaysia yang diketuai oleh Mohammad Amin Razali.


Antara fahaman kumpulan itu adalah orang telah mati boleh menjadi perantara, percaya kepada konsep angka-angka tertentu pada ayat-ayat al-Quran dan mempercayai tangkal boleh memberi kesan.


Pada tahun 2000, kumpulan berkenaan telah merompak lebih 100 senjata api, 9,000 peluru, 26 benet dan 60 bom tangan dari Kem Batalion 304 Rejimen Askar Wataniah di Gerik.


Peristiwa itu berakhir apabila 27 anggota kumpulan tersebut termasuk 15 yang merompak senjata api berkenaan menyerah diri kepada pasukan keselamatan di tempat persembunyian di Hutan Bukit Jenalek, Sauk, Perak.



Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/745246/fpi-pernikahan-jonas-rivanno-asmirandah-haram


Tegas tangani ajaran sesat

Sunday, December 30, 2012

Haram! Hura-hura di Tahun Baru

TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) menyerukan masyarakat Aceh tidak melakukan kegiatan hura-hara pada malam pergantian tahun karena kegiatan seperti itu masuk kategori haram.

Imbauan mengisi malam pergantian tahun dengan zikir, doa, dan renungan diserukan oleh MPU Aceh dan MPU kabupaten/kota sehubungan akan masuknya tahun baru Masehi 2013.

“Jangan merayakan pergantian tahun secara berlebihan. Hindari kegiatan hura-hura seperti bakar mercon, tiup terompet, dansa, serta tindakan yang melanggar syariat Islam. Menyambut tahun baru dengan hura-hura haram,” tandas Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali kepada Serambi, Minggu (30/12/2012) malam.

Tgk Faisal berharap masyarakat Aceh tidak menyambut tahun baru dengan cara-cara nonmuslim. Dianjurkan mengisi malam pergantian tahun dengan tausiah, zikir, dan renungan terhadap perbuatan yang dilakukan setahun lalu. “Jangan tiup terompet. Tiup terompet bukan budaya Islam. Kita orang beriman. Munculkan ciri islami karena itu karakternya Aceh,” katanya. “Pemerintah bersama aparatnya harus mengawasi secara ketat agar perayaan tahun baru tidak memunculkan hal-hal yang meresahkan,” pungkas Tgk Faisal.

Ketua MPU Aceh Utara, Tgk H Mustafa Ahmad, mengingatkan umat Islam agar tidak menyambut Tahun Baru 2013 dengan pesta pora, apalagi meniup terompet, membakar lilin, atau duduk berbaur pria dan wanita nonmuhrim, sebab semua itu merupakan perbuatan setan dan tergolong maksiat.

Imbauan itu disampaikan Tgk Mustafa Ahmad melalui Serambi, Minggu (30/12), menjelang tutup tahun 2012 dan masuknya tahun 2013 terhitung pukul 00.01 malam ini.

Menurut Tgk Mustafa, umat Islam baru saja menyambut tahun barunya, yakni Tahun Baru 1434 Hijriah yang bertepatan dengan 15 November 2012. “Cuma itu tahun baru kita selaku umat Islam. Oleh karenanya, umat Islam di daerah ini tidak perlu ikut-ikutan merayakan pergantian tahun 2012 ke tahun 2013. Apalagi sampai membakar lilin, bakar mercon, dan berpesta pora pakai keyboard segala,” kata ulama yang dijuluki “Abu Paloh Gadeng” ini.

Di akhir pembicaraannya dengan Serambi, Abu Paloh Gadeng menekankan, “Jangan sampai saat pergantian tahun Masehi syariat Islam dikotori dengan maksiat sekecil apa pun yang tidak membawa manfaat.”

Imbauan serupa disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Lhokseumawe, Tgk H Misran Fuadi, dan Kepala DSI Bireuen, Drs Jamaluddin SE MM.

Tgk Misran Fuadi memperkirakan besarnya peluang terjadinya maksiat tinggi pada malam pergantian tahun baru yang melibatkan kawula muda.

“Prediksi ini berdasarkan pengalaman tiap malam tahun baru yang sudah-sudah. Banyak muda-mudi yang menyemarakkan malam tahun baru dengan maksiat. Misalnya, berdua-duaan di tempat sepi atau berduaan di atas kendaraan sambil keliling kota, tanpa malu pada orang sekitar,” ujar Tgk Misran Fuadi.

Kepala DSI Bireuen, Drs Jamaluddin SE MM juga tidak menginginkan penyambutan tahun dengan pesta kembang api atau berhura-hura. “Pesta kembang api bukanlah budaya masyarakat Aceh dalam menyambut tahun baru, tapi itu budaya luar yang berkembang di lingkungan masyarakat Aceh. Sebaiknya ditiadakan,” imbuhnya.

Ia anjurkan umat Islam di daerahnya untuk tidak merayakan malam tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat (mubazir), apalagi yang menjurus ke maksiat.

Malam ini, mulai pukul 22.00 hingga 02.00 WIB dini hari, seluruh ruas jalan dan persimpangan yang mengarah ke Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, ditutup untuk lalu lintas kendaraan roda dua dan empat. Ruas jalan yang ditutup itu dialihkan untuk pejalan kaki serta kegiatan masyarakat lainnya yang terbebas dari polusi udara saat menyambut detik-detik pergantian tahun 2012-2013.

Informasi penutupan semua akses ke bundaran Simpang Lima disampaikan Dirlantas Polda Aceh, Kombes Pol Drs Unggul Sediyantoro MSi kepada Serambi, Minggu (30/12).

Menurut Unggul, untuk ketertiban dan kelancaran malam pergantian tahun itu, tidak kurang 800 petugas gabungan dari Polda Aceh, Polresta, Pomdam IM, Prajurit TNI, Dinas Perhubungan dan Satpol PP diturunkan. “Jalur-jalur yang masuk car free night (malam bebas kendaraan) dikhususkan bagi pejalan kaki yang telah memarkirkan kendaraannya di titik-titik yang sudah ditentukan. Di jalur car free night juga diperboleh bagi mereka pengguna sepeda serta aktivitas lain yang tidak mengganggu dan menimbulkan polusi udara,” pungkas Unggul.

Tujuan penutupan sejumlah ruas jalan tersebut, menurut Unggul agar tercipta kelancaran dan kenyamanan pengguna jalan lain, terutama bagi mereka yang memiliki keperluan bersifat emergency, misalnya penanganan cepat medis. “Belajar dari pengalaman dan pemantauan pada malam pergantian tahun sebelumnya, selain menimbulkan kesemrautan dan kemacetan panjang, juga banyak ruas jalan yang sulit dilalui. Kami juga mengimbau seluruh warga yang memarkirkan kendaraannya agar memasang kunci tambahan,” kata Unggul.

Dirlantas Polda Aceh menyebutkan, jalur yang tetap dibuka, yakni pengguna jalan yang datang dari arah Darussalam berbelok ke kanan memasuki Jalan Syiah Kuala dan Jalan Pocut Baren (Jambo Tape) serta ke Jalan T Hasan Dek, hingga Simpang Surabaya. Selanjutnya Jalan Chik Ditiro , Jalan Chik Pante Kulu (depan Masjid Raya Baiturrahman), Jalan Muhammad Jam, Jalan KHA Dahlan, dan Jalan Tepi Kali Krueng Aceh.(mir/swa/ib/bah/yus)

Liputan Khusus Tahun Baru 2013

Baca juga:

  • Kapolri Dijadwalkan Tinjau Pelabuhan Bakauheni Pagi Ini
  • Pembakar Rumah Asal Singapura Siap Disidang di Batam
  • 300 Karyawan di Bintan Segera Di-PHK



Haram! Hura-hura di Tahun Baru

Wednesday, January 15, 2014

Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia menemukan kedamaian dan ketenangan hati setelah memeluk Islam.

Laki-laki Amerika ini terlahir dari ibu beragama Buddha dan ayah yang entah ia tak pernah tahu agamanya. Yang ia tahu, ayahnya setiap hari mabuk-mabukan dan tak pernah memperhatikan keluarganya.


Khidr Shahid Salaam dibesarkan tanpa pendidikan agama dari orang tuanya. Namun, karena lingkungan tempatnya tinggal membuatnya akrab dengan Kristen.


Ia pun sering pergi ke gereja bersama teman-temannya. Tapi aktivitas religius ini hanya dilakukannya sekadar ikut-ikutan, tak benar-benar merasuk ke kalbunya.


Peristiwa 9/11, yakni saat itu hampir semua media mainstream Amerika menuduh Islam sebagai pelaku dan teroris, membuatnya terhenyak. Ia sebelumnya tak pernah mengenal dengan baik apa itu Islam. Juga jiwanya kosong karena tak pernah diteduhkan oleh agama.


Rasa benci pada Islam mulai timbul pada dirinya. Ia mempunyai niat untuk membalas dendam kepada semua orang Islam di dunia ini.


Atas nama rasa benci tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota tentara Angkatan Darat Amerika Serikat agar bisa dikirim ke Timur Tengah dan membunuh orang-orang Muslim di sana.


“Karena saya sebenarnya bukan orang Kristen yang terlalu taat, saya bahkan minta dibaptis dulu untuk menguatkan keinginan saya membunuh orang-orang Muslim nanti,” ujarnya.


Sayang, ia tidak lolos tes masuk sehingga keinginan untuk membalas dendam dan membunuh orang Muslim tersebut pupus sudah.


Justru, saat itu ia mulai merasa kecewa dengan agama Kristen. Karena ia memiliki sebuah keinginan yang sangat kuat namun Tuhannya tak mengabulkannya.


Rasa kecewa yang sangat parah akhirnya membuat Salaam terjerumus dalam gaya hidup yang merusak dirinya, mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas. “Saat itu saya sudah dewasa, lebih dari 21 tahun, dan saya sudah boleh melakukan hal-hal tersebut,” katanya.


Kehidupannya semakin parah karena mengantarkannya pada hal-hal yang bersifat kriminal, pencurian, perampokan, penggelapan kendaraan, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sering dilakukannya.


Akibatnya, sudah pasti ia tertangkap dan mendekam di dalam penjara. Di penjara wilayah yang menjadi tempat tahanannya, ia mencoba mencari pertolongan dari Tuhan, padahal selama ini ia mengaku dirinya adalah orang ateis.


Tuhan yang ia tahu hanyalah Tuhan dari agama Kristen. Setiap hari dan malam, ia terus membaca Alkitab. Salaam ingin mendekatkan diri kepada Tuhan dan percaya Tuhannya nanti pasti akan membebaskannya.


Pengadilan akhirnya memutuskan hukuman yang sangat berat baginya. Hukuman penjara selama 75 tahun untuk perampokan yang dilakukannya, 25 tahun untuk pencurian, dan 20 bulan karena mengendarai mobil ilegal.


“Tak sampai satu jam setelah hakim membacakan keputusan itu, hilanglah kepercayaanku kepada Tuhan,” ujarnya.


Ia kecewa karena Tuhannya sekali lagi tak mengabulkan permintaannya hingga akhirnya jiwanya dipenuhi kebencian pada semua hal. Dalam menjalani masa hukuman, Salaam bertemu dengan komunitas narapidana Muslim.


Komunitas ini menamakan dirinya Lima Persen karena jumlah mereka yang sangat kecil dibandingkan penghuni penjara lainnya. Mereka juga tidak pernah mendapatkan pelayanan serta fasilitas ibadah dari pengelola penjara.


Di awal masa tahanannya, keluarga serta istrinya sering mengunjunginya pada akhir pekan. Namun, setelah sekian lama, istrinya tak lagi datang. Kemudian, ia mengetahui istrinya tersebut telah meninggalkannya. Kesedihannya bertambah Salaam juga mendapatkan kabar ayahnya meninggal.


Kekosongan jiwanya dan runtuhnya kepercayaan kepada Tuhan menuntun Salaam untuk bergaul dengan para anggota komunitas ini. Ia melihat komunitas tersebut sangat taat beribadah dan disiplin.


“Saya dibolehkan ikut shalat Jumat kala itu meski hanya menirukan gerakan orang lain. Dan, ketika mendengarkan khutbah, itu langsung menyentuh diri saya. Rasanya sang imam seperti sedang berbicara langsung pada saya,” katanya.


Setelah itu, ia mempelajari Islam lebih lanjut. Banyak buku tentang Islam yang Salaam baca dan ia juga belajar gerakan dan bacaan shalat serta doa-doa.


Saat itu, ia merasa lebih tenang dan nyaman. “Aku menyukai kata-kata dalam al-Fatihah dan bacaan-bacaan Islam yang memuji Allah,” ujarnya.


Ini yang membuatnya berpikir Islam berbeda dengan agamanya yang dulu. Di dalam Kristen, ia selalu berdoa untuk minta sesuatu.


Sedangkan dalam Islam, doa-doa yang dipanjatkan dipenuhi dengan puji-pujian dan semakin meneguhkan iman.


Pada  2008, akhirnya ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Di masa awalnya menjadi mualaf, yang paling berat dirasakannya adalah melakukan puasa karena itu bertepatan dengan musim panas di Amerika.


Namun dari Alquran yang dibacanya, ia percaya setelah melewati masa sesuatu yang berat, pasti akan diberikan masa yang lebih mudah. “Dan benar, setelah itu saya tidak pernah berada dalam situasi yang lebih baik dalam hidup saya,” ujarnya.


Setelah masuk Islam, ia merasakan banyak hikmah dan keajaiban terjadi pada hidupnya. Hukuman penjaranya menjadi lebih ringan, hanya sembilan tahun saja, dan kini ia telah menghirup udara bebas.


Ia kemudian dipertemukan dengan perempuan Muslim salihah, yang lebih baik daripada istrinya yang pertama, dan kemudian menjadi istrinya.


Rasa syukur terus dipanjatkannya karena kini ia telah diberikan kehidupan yang tenteram, pekerjaan yang layak, sebuah rumah indah, serta rasa bahagia yang terus ada dalam dirinya.



Article source: http://entertainment.kompas.com/read/xml/2013/11/26/1430093/Ayah.Asmirandah.Seharusnya.Vanno.Berani.Ambil.Risiko?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

Saturday, November 30, 2013

Kerajaan di penghujung hayat


  • DR MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN


KERAJAAN di penghujung hayat adalah kerajaan yang telah zahir padanya tanda-tanda keruntuhan. Banyak petanda bahawa sesebuah kerajaan itu menuju kepada penghujungnya.



Antara tanda yang jelas apabila negara sudah tidak terkawal dengan terlalu banyak konfliks berlaku sesama rakyat. Kerajaan kelihatan bersikap tidak tolerance dan dibenci oleh banyak puak dan pihak yang merasakan mereka tertindas ataupun hak mereka diketepikan dalam negara sendiri.



Kebencian merayap dan keinginan rakyat untuk keadaan itu dihapuskan membuak-buak. Akhirnya rusuhan dan pergaduhan kaum dan puak mula tercetus.



Jika kita lihat dalam sejarah, kejatuhan empayar dan dinasti ialah bermula apabila mereka bersikap tidak tolerance sehingga dalam negara berlaku banyak konfliks antara rakyat.



Kerajaan bersifat kepuakan dan gagal menaungi inspirasi rakyat yang pelbagai. Politik pecah perintah mungkin menguntung golongan politik tertentu untuk sementara waktu, tetapi akhirnya akan menjadikan negara porak peranda.



Firaun mengamalkan politik yang sama yang akhirnya menjatuhkan kerajaannya yang penuh bersejarah. Firman Allah:



    “Sesungguhnya Firaun telah melampau di bumi (Mesir), dan dia menjadikan penduduknya berpuak-puak. Dia menindas satu puak kalangan mereka dengan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia dari golongan yang membuat kerosakan. Dan Kami (Allah) hendak memberikan kurnia kepada kaum yang tertindas di negeri itu, dan Kami (Allah) hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (peninggalan Firaun)” (Surah al-Qasas ayat 4-5).



Jika kita lihat keadaan negara ini, kita dapati telah lahir ciri-ciri negara ataupun kerajaan di penghujung hayat. Negara ini sejak kebelakangan ini penuh dengan konflik yang memecah belahkan antara rakyat.



Konflik antara agama dalam pelbagai isu yang mana kerajaan kadang-kala mengambil pendekatan yang kurang seimbang. Golongan agama rasmi pula dibiarkan memilih pandangan-pandangan yang bersifat yang tidak sesuai serta sempit untuk masyarakat majmuk.



Bermula dari isu larangan orang bukan muslim masuk masjid sehingga ke isu kalimah Allah kelihatan ditangani dengan nada yang mencetuskan ketegangan antara rakyat. Kenyataan-kenyataan yang bersifat provokasi seakan mendapat tempat dalam media rasmi negara.



Demikian isu-isu perkauman dibangkit dalam pelbagai rupa. Golongan yang bersifat rasis memainkan peranan mereka. Sebelum pilihanraya kita lihat isu-isu agama dan kaum yang bersifat provokatif serta berpotensi mencetuskan ketegangan dan rusuhan seakan digalakkan.



Kemudian selepas itu, dipanaskan dengan isu-isu mazhab dan aliran fikir dalam Islam. Pegawai KDN yang sepatutnya bertugas menjaga kedamaian negara, bertindak bagaikan batu api yang boleh mencetuskan kebencian dan salah sangka rakyat terhadap kerajaan.



Golongan agamawan bergaji dan tidak bergaji, dihasut oleh beberapa orang dari aliran pengkafir umat iaitu Ahbash yang dalam rekod mereka telah berjaya menimbulkan ketegangan mazhab dan pertumpahan darah di Lebanon sehingga membawa pembunuhan antara aliran di sana. Kini mereka meresap ke dalam negara ini.



Kerajaan tidak boleh terbabit dengan perbalahan aliran fikir. Kerajaan dalam era dunia terbuka hari ini hendak bersifat penaung yang melindungi kebebasan setiap rakyat dengan syarat tidak menggugat keamanan awam.



Kerajaan yang matang dan demokratik akan menangani perbezaan rakyat dengan cara yang bijaksana. Kerajaan hendaklah tahu apabila kita mengiktiraf kewujudan sesuatu aliran, bukanlah bererti kita mengakui kebenarannya.



Jangan keliru antara mengiktiraf kebenaran di sudut akidah ataupun fekah, dengan mengiktiraf hak kewujudan di sudut politik. Kita mungkin tidak mengiktiraf kebenaran agama dan aliran tertentu, tapi kita mengiktiraf kewujudan dalam negara selagi mereka mematuhi undang-undang negara.




Kepelbagaian



Kebenaran itu boleh menjelma dalam pelbagai ungkapan sekalipun berbeza-beza puak dan aliran. Sebahagian perbezaan itu hanyalah pada cara ia dibahaskan tetapi natijahnya sama iaitu menuju kepada kebenaran.



Kerajaan tidak boleh terikut-ikut dengan golongan fanatik perkauman ataupun aliran yang mencetuskan huru-hara antara rakyat disebabkan perbezaan ungkapan dan ucapan, padahal maksudnya sama.



Saya tertarik dengan kisah tokoh besar ilmu kalam iaitu al-Imam Abul Hasan al-Ash’ari (meninggal tahun 330H) yang dinobatkan sebagai benteng Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi serangan falsafah. Kata al-Imam al-Zahabi (meninggal 748H) meriwayatkan daripada Zahir bin Ahmad al-Sarakhsi kisah akhir hayat al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari:



    “Apabila ajal menghampiri Abul Hasan al-‘Asy’ari di rumahku di Baghdad, beliau memanggilku. Aku pun datang. Beliau berkata: “Aku bersaksi bahawa aku tidak mengkafirkan seseorang pun dalam kalangan ahli Kiblat (mereka yang bersolat). Ini kerana setiap orang menuju kepada Tuhan Yang Satu Yang Disembah. Hanya semua ini (perbezaan yang ada) adalah perbezaan ungkapan semata”.



Kemudian al-Imam al-Zahabi menyebut:



    “Demikian juga guru kami Ibn Taimiyyah pada akhir hayatnya berkata: “Aku tidak mengkafirkan seseorang pun dari umat ini. Nabi s.a.w bersabda: “Tiada menjaga wuduk melainkan seorang mukmin”, maka sesiapa yang melazimi solat dengan wuduk maka dia muslim”. (Siyar A’lam al-Nubala, 15/88. Beirut: Muassasah al-Risalah).




Remeh Temeh



Kemudian, isu-isu remeh digunakan dalam untuk menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Kuasa agama cuba diheret bersama. Penguasa seakan membiarkan kekalutan ini.



Lebel-melebel dijadikan mainan yang dicampur kuasa pentadbiran. Sebahagian golongan intelek melayu dilebelkan sebagai liberalist dan diancam dengan kuasa politik. Ada yang dilebel wahabi dan digunakan kuasa pentadbiran.



Untuk membincangkan masalah theology dalam kalangan intelek tidak mengapa. Namun campur tangan kuasa politik dan kuasa agama serta kesempatan yang ambil oleh pihak yang berkepentingan, boleh mencerumuskan negara ke dalam kegawatan.



Hendaklah kita tahu dalam sejarah golongan agama samada Yahudi, Kristian dan juga Islam mereka sering mengambil pendekatan memfitnah orang yang berbeza dengan mereka dan mencari penguasa untuk menghukum lawan ataupun pesaing mereka.



Ini kerana golongan agama –kecuali yang ikhlas- sering mengumpulkan pengaruh seperti yang dilakukan oleh orang politik dan rela mempertaruhkan apa sahaja untuk survival pengaruh mereka.



Rela membunuh dan menyeksa pihak yang berbeza. Inilah yang dilakukan terhadap al-Imam al-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah dan lain-lain. Dalam sejarah agama Kristian inilah yang berlaku terhadap Martin Luther dan aliran Protestan.



Di satu sudut yang lain, golongan agamawan jenis ini menyibukkan diri dalam isu-isu remeh yang tidak memberikan banyak manfaat kepada rakyat seperti isu qunut subuh ataupun tidak.



Padahal itu hanya perkara sunat dalam mazhab Syafi’i. Demikian juga dianggap wahabi mereka yang mereka solat tarawih lapan rakaat. Padahal rakyat Malaysia yang solat lapan rakaat tarawih bukan kerana wahabi ataupun tidak.



Saudi yang dikatakan wahabi itu solat 20 rakaat. Di mana wahabinya? Itu berdasarkan keadaan masing-masing. Patutnya golongan ustaz ini sibuk dengan yang langsung tidak solat.



Malangnya dalam masa yang sama, ramai golongan agamawan berjawatan ini tidak pulak menyibukkan diri dengan isu-isu masyarakat yang penting untuk rakyat seperti pandangan Islam tentang ketelusan, rasuah, cukai, isu-isu yang dibangkitkan oleh audit negara, pembaziran dalam kerajaan-kerajaan negeri dan pusat, soal social justice dan pelbagai lagi yang sangat penting dalam Islam.




Konfliks



Hasilnya, negara terjerumus dalam konfliks tidak berfaedah. Dari satu konfliks kepada satu konfliks. Ia menafikan sifat negara yang mahu maju ke hadapan. Ia hanya memesongkan rakyat dari isu-isu penting yang lain dan mengheret mereka kepada pergaduhan sesama sendiri.



Dalam satu keadaan mungkin pemerintah beruntung kerana rakyat tidak tertumpu kepada menilai pemerintah kerana sibuk dengan isu pinggiran. Namun dalam jangka tertentu ketegangan boleh membawa kebencian dan seterusnya ketidaksetiaan kepada negara mungkin boleh berlaku.



Maka, kini negara kelihatan berselerakan. Badan-badan agama sibuk mencari isu-isu perbezaan bukan nilai-nilai persamaan untuk diambil manfaat antara rakyat.



Orang politik tumpang sekaki. Slogan 1 Malaysia yang meraikan perbezaan dan menghidupkan kesatuan antara rakyat menjadi slogan kosong yang tidak bermakna.



Akhirnya kelompok-kelompok minoriti walaupun berbeza antara satu sama lain, tetapi bersatu atas satu asas iaitu membenci kerajaan dan pengurusan kerajaan yang ada. Lalu mereka menjadi majority.



Jika mereka itu terlebih ekstrim, mereka mungkin mencari jalan menimbulkan ketegangan balas. Golongan muda dan berminda terbuka menganggap kerajaan ini tidak layak mengepalai politik yang sederhana dan bersikap terbuka serta adil dalam penilaian.



Kelompok berpendidikan dan moderate inginkan keharmonian dan keadilan untuk semua. Maka kerajaan ini menjadi makin tidak popular dalam kalangan cerdik pandai yang menjadi tulang belakang negara. Negara pun mula reput, kedamaian mula diragut dan berada di penghujung hayatnya.


Article source: http://www.malaysia-chronicle.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=38615:a-vote-for-dr-ms-devil-is-a-vote-for-evil-msians-must-vote-for-the-angels-they-know&Itemid=2


Kerajaan di penghujung hayat

Tuesday, December 25, 2012

Burhanuddin Muhtadi, Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah

DINAMIKA PARPOL
Partai Islam Sulit Bersaing

Burhanuddin Muhtadi, Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah

Rabu, 26 Desember 2012

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Burhanuddin Muhtadi mengatakan partai Islam akan kalah bersaing dengan partai nasionalis, dan mengalami kerugian apabila tidak ada batasan mengenai iklan politik melalui media massa.

“Kalau tidak ada batasan soal iklan politik, partai Islam akan kalah bersaing dengan partai nasionalis, partai Islam akan rugi,” kata Burhanuddin dalam diskusi di Jakarta, Senin (24/12). Sebagai antisipasi hal tersebut, menurut Burhanuddin partai Islam harus memantapkan dukungan internal dari basis masing-masing. Sebagai partai besar partai Islam tidak cukup hanya mengandalkan pasar pemilih Islam. Selain itu, isu-isu yang seharusnya diangkat oleh partai Islam sebaiknya tidak hanya isu keagamaan yang simbolik, karena menurut Burhanuddin, ceruk pasar isu simbolik keagamaan semakin kecil. “Yang dibutuhkan partai Islam adalah isu teknis terkait hajat hidup masyarakat, misalnya, soal ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujar dia. Namun demikian, Burhanuddin menilai ada kontribusi media yang menyebabkan partai Islam tidak banyak membicarakan isu teknis yang populis, karena media cenderung mengambil referensi narasumber partai nasionalis untuk membicarakan isu non-Islam. Partai Islam juga cenderung kekurangan kemampuan dalam menginformasikan suaranya secara masif melalui media massa, karena tidak memiliki dukungan finansial layaknya partai nasionalis. “Tetapi tidak selama-lamanya akses ke media dikuasai pemodal besar. Contohnya dulu PKS pernah menjadi ‘media daring’, karena bisa memberikan diferensiasi, dan Joko Widodo juga dapat mengakses media tanpa perlu menjadi pemodal besar,” kata dia. Dia menilai secara umum partai yang masuk kategori partai Islam dikategorikan dalam dua bagian yakni partai yang secara formal memiliki landasan ideologi Islam dalam AD/ART seperti PPP dan PKS. Serta partai yang secara formal tidak mencantumkan Islam sebagai basis ideologinya, namun memiliki basis utama konstituen Islam seperti PAN, dan PKB. Dikesempatan ini, Wakil Sekretaris Jendral PKB Abdul Malik Haramain menilai turunnya suara partai Islam disebabkan kurangnya kreatifitas dan kontribusi di dalam membicarakan atau menyelesaikan masalah yang menjadi perhatian masyarakat. “Hilangnya suara partai Islam karena kurang kreatifitas dan kontribusi membicarakan isu yang menjadi perhatian masyarakat, serta adanya anggapan partai Islam tidak konsisten,” kata Malik. Malik menekankan bahwa PKB tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai partai Islam. PKB menurut dia ingin dipandang sebagai partai modern. “PKB itu azasnya pancasila, bukan Islam. Sejak berdiri sampai sekarang sedikit sekali agenda Islam, dan kami tidak pernah mengaku sebagai partai Islam,” ujar dia. Menurut dia partai Islam terbagi dua yakni yang eksplisit memperjuangkan nilai-nilai Islam, serta partai yang dipersepsikan sebagai partai Islam, namun statutanya tidak demikian. PKB menurut dia masuk dalam kategori kedua. Malik mengatakan secara pribadi dirinya memandang isu yang terlalu Islam, tidak lagi prospektif. Menurut dia ke depan, partai berbasis Islam atau agama tidak menjadi faktor masyarakat untuk mempertimbangkan pilihannya. “Isu agama pasti ekslusif, karena itu bagi PKB itu tidak strategis. PKB mencoba tidak selalu ngomong isu-isu agama, namun lebih memanfaatkan kelompok-kelompok profesi, seperti buruh,” ujar dia. Ke depan, menurut dia, PKB akan mencoba mengakomodasi dan bertemu dengan kelompok buruh. Dekati Konstituen
Pakar politik Firman Noor memperkirakan partai politik akan mulai “berjualan” pada 2013 untuk menghadapi Pemilu 2014 dengan melakukan pendekatan kepada konstituen dan basis massanya. “Pada 2013 nanti, kader-kader partai akan mulai mendekati konstituen dan massanya dengan turun ke daerah-daerah untuk menjual partainya,” kata Firman Noor. Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengatakan sejumlah partai akan kembali menyentuh simpul-simpul basis massanya pada 2013. Misalnya, PKB akan mulai melakukan pendekatan dengan sejumlah kyai atau PAN yang akan mulai mendekati simpul-simpul Muhammadiyah. “Pada 2013, partai-partai politik akan sangat intensif melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam konteks praktis dan pragmatisme politis,” katanya. Menurut Firman Noor, kesempatan turun dan mendekati konstituen di daerah harus dimanfaatkan partai politik untuk melakukan dialog dan memlihara jaringan di masyarakat. Dia mengatakan banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dikemas dalam berbagai aksi sosial seperti pemberangkatan haji, pendirian posko kesehatan dan pendidikan. “Partai-partai akan mulai melakukan berbagai aksi sosial yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya. (Yudhiarma/Rully/Ant)

Article source: http://surabaya.detik.com/read/2012/12/25/215543/2126478/475/kisah-dua-pemuda-sidoarjo-yang-ditangkap-saat-misa-natal-di-gereja?9911012


Burhanuddin Muhtadi, Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja