Showing posts sorted by relevance for query sesuatu. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sesuatu. Sort by date Show all posts

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Tuesday, June 11, 2013

Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, jika seseorang bermimpi junub, tetapi tidak keluar mani, apakah sah jika ia melakukan shalat, baik yang fardhu maupun sunah tanpa mandi terlebih dahulu? Ataukah ia wajib mandi janabah terlebih dulu?


Dan, jika ia ingin berpuasa, tetapi mandinya setelah shalat Subuh apakah masih sah puasanya? Dan, ketika mandi ada air yang masuk ke lubang hidung dan telinganya, apakah puasanya masih bisa diteruskan?


Warsito – Semarang


Waalaikumussalam wr wb.

Ummu Salamah, Ummul Mukminin ra, berkata, “Ummu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi jika bermimpi?” Rasulullah SAW bersabda, “Iya, apabila ia melihat air (mani).” (HR Bukhari dan Muslim).


Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi. Beliau menjawab, “Dia wajib mandi.” Dan, beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab, “Dia tidak wajib mandi.” Lalu, Ummu Sulaim bertanya, “Perempuan juga mendapatkan itu (mendapatkan dirinya basah) apakah ia juga wajib mandi?” Nabi SAW menjawab, “Iya, kaum perempuan adalah saudara kandungnya kaum laki-laki.” (HR Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad).


Berdasarkan hadis-hadis di atas, para ulama sepakat, seseorang yang bermimpi, tapi tidak keluar mani maka tidak wajib baginya mandi janabah.


Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah mengatakan, jika seseorang bermimpi, tetapi tidak mendapati adanya mani yang keluar maka tidak wajib baginya mandi. Ibnu Mundzir menegaskan, “Para ulama yang saya ketahui sepakat (ijmak) tentang hal ini.”


Hal itu tidak memengaruhi ibadah puasanya jika seseorang ingin berpuasa di siang harinya. Bahkan, jika ia pun diwajibkan mandi karena bermimpi sampai keluar mani ataupun karena berhubungan suami istri, tetapi baru mandi setelah terbitnya fajar atau setelah waktu Subuh, puasanya tetap sah.


Dari Aisyah istri Nabi SAW, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) pada Ramdahan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian, beliau mandi dan tetap berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).


Dalam riwayat lain disebutkan, Aisyah dan Ummu salamah (istri-istri Nabi SAW) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa. (HR Bukhari).


Dan, masuknya setetes air ke dalam lubang hidung atau telinga ketika mandi tidaklah membatalkan ibadah puasa, apalagi jika itu tidak disengaja untuk memasukkannya dan tidak sampai ke lambungnya.


Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai memasukkan air ke dalam lubang hidung atau yang dinamakan dengan istinsyaq karena ada hadis Nabi SAW yang menegaskan agar tidak berlebih-lebihan dalam ber-instinsyaq ketika berpuasa.


Dari Laqith bin Shabirah, ia berkata, “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jemari dan bersungguh-sungguhlah ketika be-ristinsyaq (memasukkan air dalam hidung), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR Tirmizi, Abu Daud, al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).


Jumhur ulama berpendapat, jika seseorang berlebih-lebihan dalam ber-istinsyaq, lalu masuk air ke dalam badannya tanpa sengaja, batallah puasanya. Sedangkan, sebagian ulama berpendapat itu tidak membatalkan.


Tapi, jika air yang masuk itu banyak maka berdasarkan hadis di atas dan pendapat jumhur ulama, hal itu dapat membatalkan puasa karena hidung juga merupakan tempat masuknya sesuatu ke dalam perut atau lambung seseorang karena lubang hidung itu sama seperti mulut bersambung dengan tenggorokan.


Begitu juga ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah sesuatu yang masuk lewat lubang telinga dapat membatalkan puasa atau tidak? Sebagian berpendapat, itu dapat membatalkan puasa karena sama dengan lubang hidung sebagai tempat masuknya sesuatu ke dalam tubuh seseorang.


Sedangkan, sebagian lain berpendapat hal itu tidak membatalkan puasa selama sesuatu yang masuk itu tidak sampai ke tenggorokan.


Dan pendapat yang kuat adalah bahwa telinga itu sama dengan mata, ia bukan tempat masuk makanan atau minuman yang normal ke tenggorokan atau lambung. Oleh karena itu, tidaklah membatalkan sesuatu yang masuk lewat telinga selama tidak sampai ke tenggorokan.


Wallahu a’lam bish shawwab.


Ustaz Bachtiar Nasir



Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/05/02/219477408/Lawan-Eyang-Subur-Adi-Bing-Slamet-Didampingi-TPM


Mimpi Tapi tidak Keluar Mani

Saturday, November 16, 2013

Hendaklah akal mengukur maklumat


  • DR MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN


CABARAN paling besar dalam kalangan sesetengah yang memakai gelaran ‘agamawan’ atau tokoh agama adalah apabila mereka tidak memiliki manhaj atau method yang betul dalam memahami sesuatu fakta yang dikaitkan dengan Islam ini.



Lalu, atas kurang teliti, atau ‘kurang fikir’ atau ‘memang tak mahu fikir’ mereka menelan semua perkara yang dikaitkan dengan agama, sama ada hasil percakapan orang atau bahan bacaan yang mereka temui.



Dari situlah lahirnya khurafat, karut marut, tokok tambah, kekartunan pemikiran yang diberikan label agama.



 Jika hal itu berterusan, maka kekeliruan terhadap agama akan berkembang lantas agama akan dipersenda dan didustai.



Menilai



Sesuatu riwayat atau kisah atau matan yang hendak dianggap benar untuk dikaitkan dengan Islam dinilai secara kritis sejauh manakah kesahihan maklumat tersebut.



Ini mesti dilihat kepada sumber maklumat; sama ada ia berasal daripada al-Quran dan al-Sunnah atau tidak?



Sementara jika riwayat itu bersumberkan hadis atau athar; hendaklah dipastikan ia riwayat yang diterima di sisi ilmu periwayatan.



Setelah proses ini dilepasi, dinilai pula sejauh manakah kemunasabahan sesuatu teks atau riwayat itu.



Adakah ia bertentangan dengan al-Quran, atau realiti yang nyata, atau fakta sejarah yang tidak mungkin dipertikaikan, atau akal yang disepakati?



Jika ini berlaku dan tiada jalan keluar untuk menserasikannya, maka riwayat itu ditolak.



Contohnya cerita bahawa Bahtera Nabi Nuh a.s. tawaf ka’bah dan bersolat di makam Ibrahim dua raka`at. Ini semua adalah dusta. Tidak masuk akal. Nabi Nuh a.s. wujud sebelum Ibrahim a.s.



Sementara Kaabah dibina oleh Nabi Ibrahim dan Makam Ibrahim mengambil sempena nama Nabi Ibrahim a.s. Di mana Kaabah dan makamnya ketika itu untuk bahtera Nuh bertawaf?



Dengan itu para ulama hadis hadis menolak cerita ini. Termasuk yang tampail menempelak riwayat tersebut al-Imam al-Syafi’i r.h (al-Jurjani, al-Kamil fi Du’afa al-Rijal, 4/270, Beirut: Dar al-Fikr).



Malang sekali, masih ada penceramah agama yang mendendangkan kisah karut ini.



Pembunuhan Husain



Beberapa email saya terima mengadu mengenai sebuah tulisan dalam akhbar ini yang menyatakan tentang sunat membuat bubur pada sepuluh Muharram kerana mengenangkan peristiwa pembunuhan Saidina Husain bin ‘Ali r.huma.



Ada yang bimbang masuknya unsur syiah ke dalam masyarakat yang tidak diajar menilai sesuatu dengan kritis.



Saya kata; kita tidak bimbang asal-usul sesuatu unsur pemikiran atau kefahaman dari mana datangnya. Selagi ia benar atau bertepatan dengan fakta, datanglah dari mana sahaja, sekalipun dari Yahudi. Kebenaran tidak memilih bulu.



Apa yang dibimbangi adalah unsur tersebut terpinggir jauh dari kebenaran.



Soal kelebihan amalan atau fadilat adalah ditentukan oleh ALLAH dan RasulNya.



Dalam riwayat sahih yang manakah yang menyebut kelebihan membuat bubur hitam atau merah atau apa warna sahaja pada Hari ‘Asyura?



Apa yang pasti ia tidak pernah ada riwayat sahih yang menyuruh hal itu.



Apatah lagi peristiwa pembunuhan Husain bin ‘Ali berlaku pada tahun 61H, di zaman pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. (lihat: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 6/258, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).



Terlajak membicarakan tentang pembunuhan cucunda Nabi SAW ini, al-Husain bin ‘Ali yang amat kita cintai, ingin saya jelaskan bahawa ahli-ahli sejarah ramai yang berpendapat bukan Yazid yang membunuhnya seperti yang didakwa. Saya ingin memetik apa yang diulas oleh sejarahwan besar, al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H):



“Orangramai mempunyai berbagai pendapat tentang Yazid bin Mu’awiyah. Ada yang mencintai dan mengangkatnya iaitu segolongan penduduk Syam yang beraliran Nasibiyyah. Adapun golongan Syiah Rafidah, mereka mengejinya dan mengada-adakan berbagai pembohongan yang Yazid tidak lakukan.



Ramai mereka menuduhnya zindiq (kafir yang berpura muslim). Dia tidak sampai begitu. Sementara pihak yang lain, tidak menyukainya dan tidak pula mencercanya. Ini kerana mereka tahu dia bukan zindik seperti yang dituduh oleh golongan Syiah Rafidah, namun pada zaman pemerintahannya berlaku berbagai peristiwa yang jelek dan perkara-perkara yang dibantah, hodoh dan keji.



Paling teruk adalah pembunuhan Husain bin ‘Ali di Karbala. Namun dia tidak tahu (mengarahkannya) dan barangkali dia tidak meredhainya” (al-Bidayah wa al-Nihayah, 6/256).



Kata tokoh pengkaji hadis al-Imam Ibn al-Salah (meninggal 643H):



“Tidak sahih di sisi kami bahawa Yazid memerintahkan agar dibunuh al-Husain r.a. Riwayat mereka yang dipercayai bahawa perintah agar dibunuh al-Husain dari orang yang mengepalai dalam pembunuhannya iaitu `Ubaid Allah bin Ziyad, gabenor Iraq ketika itu” (Ibn Tulun, Qaid al-Syarid min Akhbar Yazid m.s. 57, Kaherah: Dar al-Sahwah, Kaherah).



Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah (meninggal 728H) mempunyai ulasan yang menarik, katanya:



“Apabila kaum keluarga Husain datang kepada Yazid, dia memuliakan mereka dan mengiringi mereka ke Madinah. Diriwayatkan dia melaknat Ibn Ziyad atas pembunuhan al-Husain. Katanya: “Aku meredhai ketaatan penduduk Iraq tanpa membunuh al-Husain”.



Namun begitu beliau tidak menampakkan bantahannya, membela kematiannya dan mengambil tindakan membunuh balas sedangkan itu adalah kewajipannya. Maka dengan itu, pendokong kebenaran mengutuknya disebabkan dia meninggalkan kewajipan di samping perkara-perkara lain.



Adapun musuh-musuhnya mereka menokok tambah pendustaan ke atasnya berbagai-bagai lagi” (Ibn, Taimiyyah, Majmu’ al-Fatwa, 2/253, Riyadh: Maktab al-‘Abikan).



Unsur Syiah



Unsur syiah bukan baru dalam masyarakat kita, walaupun ia belum lagi keterlaluan.



Ini dapat dilihat bagaimana orang Melayu menamakan akar-akar kayu dengan nama ‘Ali dan Fatimah; seperti tongkat Ali dan Kacip Fatimah.



Tidak dinamakan tongkat Abu Bakar atau ‘Umar, tidak juga Kacip ‘Aishah, atau Habsah.



Dalam jampi juga ada menyebut: “fu kiri, fu kanan, berkat doa baginda ‘Ali”. Jika sekadar nama ‘Ali atau Fatimah tiada salahnya.



Mereka ialah kaum keluarga Nabi SAW yang amat kita kasihi. Sebaliknya, yang ditakuti apabila perkara yang tidak agama dianggap agama dalam Islam.



Itu yang menakutkan. Sehingga di Pakistan, Iraq, Iran dan kawasan-kawasan yang kuat pegangan Syiahnya, pada hari ‘Asyura’ mereka mencederakan diri masing-masing dengan alatan tajam kerana mengenangkan Saidina Husain dan kekejaman Yazid.



Ribuan bahkan ratus ribu kaum Syiah berkumpul pada sepuluh Muharram saban tahun melukai tubuh dengan darah dan membasahi pipi dengan airmata mendendami Yazid dan mengenang al-Husain bin ‘Ali.



Lalu peristiwa hitam semalam, terus menjadi dendam hingga ke hari ini. Siapakah sasarannya?



Apapun jawapannya, ia adalah antara sebab terpisahnya sunni dan syi’ah. Satu ajaran yang hidup dalam nostagia luka yang sebahagiannya mungkin benar, sebahagiannya mungkin palsu.



Apapun, saya tidak dapat bayang jika seseorang yang ingin menganut Islam hadir menyaksikan upacara yang dikaitkan dengan Islam yang dipenuhi manusia yang mencedera dan melukai diri sendiri, apakah dia akan terus menganggap agama yang membangunkan akal dan jiwa, mudah dan lurus mencapai Tuhan?



Atau mungkin dia tidak dapat membezakan antara ajaran Kristian yang mendakwa darah Jesus terpaksa ditumpah untuk menebus dosa manusia, atau mungkin dia akan keliru dengan agama sesat yang menyuruh penganutnya berjalan atas api dan melukai diri untuk menunaikan nazar atau menebus dosa? Saya tidak pasti.



Apa yang pasti itu bukan sifat Islam seperti yang terkandung indah dalam al-Quran dan al-Sunnah.



Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin

(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sport/2013/09/28/26790/UNSA-ASMI-Bidik-Juara


Hendaklah akal mengukur maklumat

Monday, October 28, 2013

Kalimah ALLAH: Bahan dakwah umat Islam


  • SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI


SELEPAS Mahkamah Rayuan memutuskan larangan penggunaan kalimah ALLAH oleh Gereja Katolik dalam penerbitan akhbar mingguannya, The Herald, pada 14 Oktober lalu lalu, ia mencetus reaksi pelbagai pihak.



Seminggu kemudian, Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak pula menjelaskan larangan tersebut tidak melibatkan amalan penganut Kristian di Sabah dan Sarawak memandangkan ia terkandung dalam resolusi 10 perkara peringkat Kabinet yang dikekalkan.



Susulan itu, pelbagai persoalan lain mula timbul kerana isu itu dilihat dan dibincangkan daripada perspektif berbeza. Sinar Harian mendapatkan pandangan Ketua Pegawai Dakwah Islamic Information Services Foundation (IIS), SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI.



Beliau yang dikenali sebagai Brother Shah pada asalnya beragama Hindu sebelum memeluk Islam pada 1996 dan pernah mengikuti intensif perbandingan agama menerusi kursus ‘Program Latihan Dakwah Antarabangsa’.



Ikuti temu bual wartawan NURULFATIHA MUAH bersama Shah Kirit mengenai pandangan beliau dalam isu ini.




Sinar Harian: Selepas Mahkamah Rayuan buat keputusan tentang larangan guna kalimah ALLAH dalam akhbar The Herald, timbul pula persoalan lain seperti bolehkah orang bukan Islam guna kalimah ALLAH sehingga menimbulkan pertelagahan pendapat. Bagaimana Brother Shah melihat perkara ini?




SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya melihatnya, suatu urusan mahkamah itu biarkan mahkamah buat keputusan dan kita sebagai rakyat Malaysia, akur kepada keputusan mahkamah sebab negara kita ada sistem penghakiman.



Komen yang saya hendak berikan tidaklah berkaitan keputusan mahkamah, tetapi ia perbincangan secara ilmiah dari segi teologi. Saya melihat perbalahan orang Islam memang berlaku kerana bincang isu ini dari sudut berbeza.



Bila dibincangkan sudut berbeza, maka kita mendapat keputusan berbeza, tetapi saya lihat, agak harmoni pandangan terhadap isu ini bila dilihat daripada sudut tertentu.



Contohnya, soalan pertama, bolehkah orang bukan Islam guna kalimah ALLAH?



Kedua, adakah wajar orang Kristian menterjemahkan perkataan God dalam Bible Bahasa Inggeris (BI), sebagai ALLAH dalam Bahasa Melayu (BM)?  Bagaimana pula dengan ‘uruf’ (budaya dan adat) tempatan? Melihat kepada adat kita di sini, sesuai ke orang Kristian menterjemahkan perkataan God dalam BI sebagai ALLAH dalam BM? Ada sudut yang berbeza di sini.



Bolehkah bukan Islam guna kalimah ALLAH? Untuk menerang seseorang membuat sesuatu, kita mesti menggunakan dalil, hujah, bukti yang jelas daripada al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebagai contoh, dalam al-Quran disebut dalam Surah al-Ankabut, ayat 61 dan 63; al-Zumar ayat 38 dan al-Zukhruf ayat 87: Apabila ALLAH SWT berfirman yang bermaksud: ALLAH bertanya kepada Musyrikin ini; “Siapakah yang menjadi langit dan bumi?” Nescaya mereka kata: ALLAH. Mereka merujuk ALLAH ini kepada ALLAH yang sebenarnya, bukan merujuk kepada berhala mereka. Bila ditanya soalan; “Siapakah yang turunkan hujan daripada langit?” Nescaya mereka kata: ALLAH. Dan kemudian dalam Surah al-Zukhruf ayat 87; “Siapakah yang menjadikan manusia?” Mereka tetap mengatakan ALLAH.



Tetapi di sini, ALLAH menempelak mereka. Yang ditempelak di sini bukan penggunaan kalimah ALLAH, tetapi walaupun mereka tahu ALLAH yang jadikan semua ini, tetapi mereka tetap hendak menyembah selain dari ALLAH. Jadi pada pemahaman saya, orang bukan Islam boleh guna kalimah ALLAH apabila mereka rujuk kepada ALLAH sesuai dengan sifatnya.



Namun, apabila mereka guna kalimah ALLAH tidak bersesuaian dengan sifat ALLAH, maka saya kurang setuju penggunaan tadi kerana dalam Surah Maryam, ayat 88 hingga 90. ALLAH berfirman yang bermaksud: “Sungguh keji kata-kata mereka mengatakan ALLAH ada anak sehinggakan langit hampir sahaja pecah, bumi terbelah dan gunung ganang runtuh”.



Jika orang mengatakan sesuatu tidak benar tentang ALLAH, sebagai orang Islam, sudah tentu saya tidak boleh duduk diam dan mesti ada tindakan balik iaitu berhujah dan berdialog dengan mereka.



Bagi orang Islam, perkataan ALLAH itu bukan nama am, tetapi nama khas. Kalau dalam Bahasa Arab, God itu bukannya ALLAH, tapi God itu ialah ‘Ilah’ ataupun ‘Rabb’. Namun, bagi orang Kristian, mereka tidak pandang ALLAH itu sebagai nama khas.



Dalam Bible, kalau rujuk kepada ‘God the father’, mereka akan sebut God, tetapi ia akan dirujuk sebagai ‘Lord’ kalau rujuk kepada Jesus. ‘Lord’ dalam BM diterjemah sebagai Tuhan, jadi hujah dia ialah, God dalam BI tadi akan diterjemahkan ke dalam BM sebagai ALLAH untuk membezakan antara ‘God’ dan ‘Lord’. Orang Kristian percaya kepada tuhan anak dan tuhan bapa. Ini bercanggah dengan kepercayaan konsep ALLAH dalam agama Islam.



Sinar Harian: Apa implikasi sekiranya kalimah ALLAH digunakan penganut Kristian?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Ia dibincangkan dalam dua sudut berbeza iaitu apa akan berlaku kepada penganut agama Islam dan apa yang boleh berlaku kepada penganut agama Kristian pula? Orang Islam khuatir bila orang Kristian guna kalimah ALLAH dalam BM dan membacanya, dia akan terkeliru dan terpengaruh dengan ajaran Kristian. Kalau seseorang Islam itu faham akidah Islam dengan keyakinan, pada masa sama orang Kristian guna kalimah ALLAH, saya rasa mereka tidak mahu masuk Kristian.



Namun, hari ini kalau orang Kristian guna kalimah ALLAH, akan berlaku ancaman dan orang Islam mungkin terkeliru kerana kurang faham akidah Islam. Adakah salah orang Kristian atau Yahudi sekiranya orang Islam kurang faham akidah Islam? Itu kelemahan orang Islam sendiri walaupun kita ada kelas agama di sekolah dan pelbagai aktiviti Islam di Malaysia seperti dalam radio, televisyen dan surat khabar. Tetapi kenapa masyarakat Islam masih lagi rapuh dalam pemahaman akidah Islam mereka. Kita banyak beri tumpuan kpd isu fardu ain, hukum hakam, tetapi sangat kurang dalam bab tauhid.



Untuk berlaku adil, kita tinjau pula apa implikasi jika orang Kristian guna kalimah ALLAH? Dalam ‘Gospel of John’ (14; 28): Jesus menyebut dalam Bible, “My father is greater than I” (Tuhan bapa lebih besar dari saya). Apabila kita tukar tuhan bapa jadi ALLAH, ertinya ALLAH lebih besar dari Jesus (Nabi Isa). Apabila saya tanya banyak kali kepada orang Kristian, kebanyakan mereka menjawab tidak setuju dengan frasa tersebut.



Contoh lain, dalam ‘Gospel of Mark’ (12;29): Jesus ditanya, apakah perintah paling utama?  Jesus jawab; Wahai orang Israel, tuhan kamu, tuhan kita, tuhan adalah satu. Dalam bab ini, Jesus sebut bahawa ALLAH itu adalah ‘Ihad’ (satu).



Selain itu, dalam ‘Gospel of Matthew’ (26;39): ada dinyatakan “Jesus pray to God” (Jesus menyembah ALLAH). Dalam forum terbuka, saya tanya soalan itu kepada orang Kristian, namun semua tidak setuju dengan frasa itu. Dalam satu forum terbuka, saya bertanya; “Kamu setuju Tuhan kamu ialah ALLAH, boleh tak kamu mengucap Lailahaillallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan ALLAH)”. Kemudian, seorang yang mewakili agama Kristian dan merupakan pelatih kepada paderi Kristian berkata; “Tidak boleh mengucap begitu sebab ALLAH anda dan ALLAH saya berbeza”.



Kesimpulannya, kalau orang Kristian guna kalimah ALLAH, ia akan jadi bahan dakwah cukup besar bagi umat Islam. Bagaimanapun, dalam konteks umat Islam hari ini di Malaysia, saya lihat banyak organisasi Islam kurang berminat lakukan dakwah kepada orang bukan Islam dan kurang berminat ambil kesempatan ini untuk melakukan dakwah kepada bukan Islam. Kita dituntut supaya menyampaikan mesej Islam.



Sinar Harian: Sebelum ini, terdapat orang politik bukan beragama Islam menggunakan ayat-ayat ALLAH dalam laman sosial miliknya selepas Mahkamah Rayuan buat keputusan itu. Apa pandangan Brother Shah?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya tidak pasti itu. Apa yang banyak berlaku dalam Internet sekarang, ramai orang menyindir keputusan mahkamah terutamanya bukan Islam. Harus diambil perhatian. ada kitab-kitab suci bukan Islam memang merujuk Tuhan sebagai ALLAH.



Sebagai contoh, dalam kitab Hindu iaitu ‘Veda’, perkataan ‘Allo Upanishad’ antara lain juga merujuk Tuhan sebagai ALLAH. Dalam ‘Guru Granth’, kitab agama Sikh, nama ALLAH dirujuk pada Tuhan lebih 40 kali.



Kalau kita melarang orang bukan Islam guna kalimah ALLAH, banyak implikasi lain perlu kita lihat. Adakah kita akan melarang orang Sikh dan Hindu daripada membaca kitab sucinya sendiri? Ini belum lagi kita bangkitkan persoalan lain.



Pandangan saya ini adalah sebagai orang Islam biasa, bukan alim ulama atau orang mempunyai ilmu tinggi. Jika pandangan saya kurang tepat atau tidak betul, saya minta supaya jelaskan pandangan yang betul.



Sinar Harian: Penggunaan kalimah ALLAH di Sabah dan Sarawak serta negara jiran, Indonesia agak meluas. Boleh jelaskan mengenai perbezaan kawasan tersebut dengan Semenanjung Malaysia?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Apabila ambil kira Indonesia sebagai contoh, tidak semestinya apa yang dilaksanakan Indonesia, Malaysia kena ikut. Ia bukan satu ukuran di Malaysia untuk kita lakukan sesuatu perkara. Contohnya, kalau jiran saya berikan anaknya makan makanan ringan, bukan bererti saya juga kena berikan anak saya makan ‘junk food’.



Jadi apa yang dilakukan di negara lain bukan satu ukuran di Malaysia untuk kita lakukan sesuatu perkara. Kita ada ‘uruf’ dan maslahah kita sendiri. Kena ambil kira semua aspek sebelum buat sesuatu keputusan.



Keduanya, bila melihat di Sabah dan Sarawak, ‘uruf’ di sana berbeza dengan di Semenanjung Malaysia. Di sana, Bible diterjemahkan dalam BM atau lebih tepat lagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan kemudian ke BM. Sudah berpuluh-puluh tahun mereka gunakan kalimah ALLAH di sana. Sepanjang mereka gunakan kalimah ALLAH di situ, kita selalu kata ‘kalau bagi orang Kristian guna kalimah ALLAH, nanti kita akan jumpa macam-macam rumah ibadat orang Kristian’ dan pelbagai andaian lain. Namun, apabila kita sebut kerisauan, kita mestilah bersabit dengan fakta dan bukti serta lihat peratusan ancaman sebelum mengatakan perkara ini haram, makruh dan sebagainya.



Walaupun berpuluh-puluh tahun orang Kristian di Sabah dan Sarawak guna kalimah ALLAH, saya tak jumpa orang Islam yang membaca Bible mengandungi kalimah ALLAH di dalamnya, masuk Kristian. Yang saya banyak jumpa, orang Kristian baca Bible BM mengandungi kalimah ALLAH dan masuk Islam.



Saya pernah tanya orang Kristian  yang memeluk agama Islam; “Dulu, masa kamu Kristian, ada tak kamu nak mengkristiankan orang Islam?”. Mereka memang berharap juga berbuat demikian sebab pada mereka, mereka hanya hendak ‘menyelamatkan’ orang Islam, bukan hendak menyesatkan, tetapi tidak berjaya. Namun, akhirnya dia sendiri yang masuk Islam.



Jadi akidah umat Islam perlu diselamatkan berpandukan ajaran Islam yang berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.



Apabila kita hendak menyebut sesuatu perkara, jangan hanya lihat hanya pada zahirnya, tetapi juga kena lihat pada apa yang tersirat, bukan hanya tersurat seperti tujuan, matlamat dan lihat secara menyeluruh dalam pelbagai situasi bagaimana mereka menyelesaikan sesuatu masalah. Wallahua’lam.



Undang-undang di setiap negeri berbeza mengenai isu ini, apa saranan Brother Shah untuk menyelaraskan undang-undang berkaitan Islam di negara ini?



Kita kena lihat realiti negara kita sebab kita berpandu kepada Perlembagaan Malaysia. Dalam perlembagaan negara, bab agama adalah di bawah kuasa Sultan bawah negeri masing-masing. Kita tidak boleh lakukan sebarang penyelarasan jika semua sultan tidak bersetuju.



Ia bukan tertakluk di bawah Persekutuan. Disebabkan itu, kita nampak ketidakseragaman berlaku, namun ada pro dan kontra di situ.



Sinar Harian: Sebagai panel kaunseling orang murtad, boleh kongsikan apa alasan yang mereka gunakan untuk murtad?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya sudah kaunseling berpuluh-puluh orang. Semuanya termasuk orang Melayu dan saudara baru yang masuk Islam kemudian murtad, semuanya murtad sebab tidak memahami akidah Islam.



Dalam kaunseling itu bila diterangkan tentang apa itu Islam dan tauhid dan sebagainya, kebanyakan mereka setuju Islam itu agama benar. Kebanyakan mereka pun mengatakan “kenapa dulu tak ada orang cerita perkara ini kepada saya, tetapi sekarang sudah terlambat”.



Ada yang dapat diselamatkan, tetapi yang sudah terlambat sebab dia sudah mendirikan rumah tangga dengan orang bukan Islam dan mempunyai anak sebab untuk dia kembali kepada Islam sekarang ini menjadi satu masalah yang besar.



Faktor utama mereka keluar daripada Islam ialah tidak memahami akidah Islam. Tidak ada seorang pun yang murtad ini, yang saya jumpa, dia terpengaruh dengan orang Kristian gunakan kalimah ALLAH dan dia masuk Kristian.



Dalam pengetahuan saya, saya belum jumpa satu pun manusia atas muka bumi ini semata-mata mengkaji Bible, dia masuk Kristian.



Mereka masuk Kristian kerana suka dengan akhlak, kebajikan diberikan, kasih sayang, perhatian, ekonomi yang dijaga dan akhlak orang Kristian, bukan sebab baca Bible BM. Semua yang saya sebutkan tadi memang ada dalam Islam, tetapi saya lihat orang Islam kurang melakukan perkara ini.



Sinar Harian: Orang Kristian dikatakan mahu guna kalimah ALLAH sebab ada agenda hendak murtadkan orang Islam. Sejauhmana dakwaan itu?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Orang Kristian percaya dengan yakin, Kristian itu agama yang benar. Saya percaya, orang Kristian sudah pasti meletakkan hasrat untuk mengkristiankan orang-orang Melayu, tapi tujuan mereka untuk mengkristiankan orang Melayu, bukan untuk murtadkan orang Melayu.



Ia untuk menyelamatkan orang Melayu supaya sama-sama masuk syurga dan kita pula tidak lakukan dakwah kepada mereka.



Jadi bagaimana kita hendak menyalahkan mereka yang tidak tahu agama Islam?  Padahal kita sendiri tidak berdakwah kepada mereka. Saya tidak kata, tiada ustaz yang berdakwah kepada bukan Islam, tetapi saya cerita secara umum dan ia jarang berlaku.



Sebut soal gereja, ia terbahagi kepada dua, iaitu yang ‘established’ dan gereja kecil-kecilan. Gereja ‘established’ sangat berhati-hati dan tidak buat kerja-kerja ‘machinery’ kepada orang Islam dan undang-undang negara.



Banyak kali juga paderi Kristian panggil saya dan kata ada orang Islam datang minta bantuan kepada mereka, tetapi mereka minta saya tolong uruskan kerana khuatir disalah tafsir jika dibantu pihak gereja. Kenapa orang Islam kita lambat bergerak dalam bab ini? Ini kelemahan kita.



Sinar Harian: Apa langkah apa yang perlu diambil oleh orang Islam?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Katakanlah akhirnya keputusan kalimah ALLAH akan dibuat Mahkamah Persekutuan, mungkin mahkamah membenarkan Kristian guna kalimah ALLAH atau mungkin juga tidak. Kalau dibenarkan Kristian guna kalimah ALLAH, apa orang Islam hendak buat?



Dan kalau mahkamah kata Kristian tak boleh guna kalimah ALLAH, adakah masalah selesai? Bagaimana anda nak membendung dalam Internet? Orang kristian boleh guna kalimah ALLAH.



Pada saya tidak ada pilihan, orang Islam kena bangun sekarang dan marilah kita amal Islam dengan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan.



Sinar Harian: Boleh ceritakan mengenai denominasi (‘mazhab’) orang Kristian?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Mereka ada banyak denominasi dan bukan semua denominasi setuju dengan penggunaan kalimah ALLAH. Ada denominasi berkeras tak boleh guna kalimah ALLAH merujuk kepada God. Dalam bab ini, denominasi yang tidak bersetuju hanya berdiam diri. Orang kritsian tidak berbalah sesama sendiri dalam keadaan terbuka.



Mereka pun kadang kala mengkafirkan antara satu sama lain, tapi mereka tak lakukannya di tempat awam. Orang Islam kadang kala perkara yang kecil menjadi perbalahan. Saya bukan rujuk kepada kalimah ALLAH, tetapi dalam bab lain.



Sinar Harian: Apa nasihat Brother Shah kepada orang Islam?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Merujuk pada surah Muhammad, ayat 38: …Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia (ALLAH) akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (derhaka) seperti kamu.  



Hari ini kalau kita lihat di Malaysia, yang menjadi pelindung kepada agama Islam adalah bangsa Melayu.



Apabila orang Melayu tidak lakukan kerja Islam berdakwah, orang akan gantikan orang Melayu dengan bangsa lain.



Saya cakap ini bukan kerana rasis, tapi hanya sebagai satu peringatan kepada kita semua. Sebagai orang Islam, kita ada tanggungjawab melakukan dakwah. Jangan letak kepentingan lain lebih tinggi daripada Islam.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Kalimah ALLAH: Bahan dakwah umat Islam

Sunday, December 23, 2012

CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab


CATATAN 2012: “The Rise of Hijab Style”, atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Minggu, 23 Desember 2012 19:37

| Ade Irwansyah

PERINGATAN: Tulisan yang akan Anda baca terbilang panjang. Bersiaplah.

PERNAH bertanya-tanya kenapa wanita berkerudung zaman sekarang lebih ingin memakai istilah hijab ketimbang jilbab?

Di majalah Tempo edisi 19 Agustus 2012 Dian Pelangi, perancang busana muslimah yang boleh jadi ikon bagi para hijabist tanah air saat ini, memberi jawab begini: “Jilbab itu kan hanya kerudung, sedangkan hijab itu busana yang menutup semua aurat.”

Benarkah defenisi itu?

Mengecek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di lemari buku saya (yang saya miliki Edisi Ketiga, 2005) “hijab” berarti: 1) Dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain; 2) Isi dinding yang membatasi hati manusia dan Alllah; dan 3) Dinding yang membatasi seseorang dari mendapat harta waris (contoh kalimatnya: Anak laki-laki adalah hijab dari saudara sebapak). (KBBI, ed.3, 2005, hal. 401.)

Sedangkan KBBI mengartikan “jilbab” sebagai “kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.” (KKBI, ed.3, 2005, hal.473.)

Mengacu pada defenisi menurut kamus, tentu hijab dan jilbab yang disebut Dian tak sinkron. KBBI tidak (belum) mengenal istilah hijab sebagai kerudung maupun pakaian yang menutupi tubuh (baca: aurat) wanita muslimah.

Dengan demikian, pengertiannya mesti ditarik lebih jauh, hingga ke kitab suci Al-Quran. Dalam Islam, tata cara berpakaian bagi wanita muslimah memang diatur. Bahkan aturannya tidak lewat aturan yang dibuat manusia, melainkan oleh Tuhan langsung lewat firman-Nya.

Ayat pertama yang mengatur aurat wanita adalah firman Allah di QS. Al Ahzab (33): 53. Di ayat itu ada petikan kalimat begini: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kamu dan hati mereka.”

Di buku Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Lentera Hati, 2004), M. Quraish Shihab menulis, secara bahasa “hijab” berarti “sesuatu yang menghalangi antara dua lainnya.” Shihab melanjutkan, seseorang yang menghalangi orang lain sehingga tidak dapat bertemu disebut hajib. Kata ini juga berarti “penutup.” Tim Departemen Agama yang menyusun Al Quran dan Terjemahannya menerjemahkan kata “hijab” dengan tabir. Dalam perkembangan lebih jauh, tulis Shihab, “wanita yang menutup diri atau seluruh badannya dengan pakaian, dinamai mutahajjibah.”

Kata “tabir” juga dimaknai banyak ulama sebagai perintah bahwa seluruh badan wanita aurat. Karena makna “tabir” berarti menutupi serta menghalangi terlihatnya sesuatu yang berada di belakangnya. Sebuah tafsir yang dikutip Shihab menerangkan, “Ayat ini menunjukkan … perempuan semuanya aurat—badannya dan terbentuknya—maka tidak boleh membukanya kecuali bila ada darurat atau kebutuhan seperti untuk menyampaikan persaksian atau karena adanya penyakit di badannya (dalam rangka pengobatan).” (M. Quraish Shihab, Jilbab, 2004, hal. 75.)

Lalu ada pula firman Allah beriikutnya yang jelas-jelas menyebut kata “jilbab.” Di QS. Al-Ahzab (33): 59, Allah berfirman: “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan aanak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Itu menjadikn mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika mengacu ke Al Quran dan pandangan ulama, tak ada beda hijab dengan jilbab. Dua-duanya dimaksudkan sebagai penghalang dan penutup badan bagi wanita muslimah. Jilbab bisa dimaknai sekadar kerudung maupun pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh wanita. (Shibab, 2004: 88.)

***

Dari sini, yang menarik untuk lebih ditelisik adalah bagaimana kata “jilbab” di Indonesia kini seakan hendak berganti jadi “hijab”?

Saat mengulas film Khalifah (Nurman Hakim, 2011), tentang kehidupan wanita wanita berjilbab cadar, saya mengurai perkembangan jilbab mengutip artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers.”

Saya kutip saja bagian “sejarah” jilbab 30 tahun terakhir di Indonesia dari ulasan saya:

“Kesadaran ber-Islam di kalangan kaum muda perkotaan sejak akhir 1970-an kemudian juga termasuk di antaranya, bagi perempuan, yakni menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Namun, di awal 1980-an lampau berjilbab tidaklah segampang sekarang, tinggal datang ke toko, beli jilbab, lalu pakai. Dulu, berjilbab, terutama di lingkungan sekolah umum termasuk hal yang dilarang. Masa itu, yang memakai jilbab (waktu itu lebih pas disebut kerudung) umumnya ibu-ibu yang sudah berumur, punya suami, atau jika masih muda, umumnya sekolah di sekolah khusus Islam seperti Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) atau Aliyah (setingkat SMA). Berjilbab ke sekolah umum masa itu mendatangkan kecurigaan.

Silakan tanya aktivis dakwah yang mengalami pahit getir berjilbab di sekolah umum hingga awal 1990-an. Mereka pasti akan cerita betapa susahnya menjalani perintah Tuhan yang satu itu.

Anda tentu mafhum, Indonesia tahun 1980-an di masa Soeharto terhitung tak akrab dengan Islam yang mereka sebut radikal. Rezim hanya mau “Islam yang mereka terima.” Waktu itu, rezim sedang gerah dengan Islam radikal yang melakukan aksi teror mengebom Candi Borobudor, membajak pesawat Garuda, mengebom Bank BCA, hingga tragedi Tanjung Priok dan Lampung.

Perempuan berjilbab dianggap representasi dari kaum Islam radikal. Maka, berjilbab dilarang. Tidak langsung, tentu. Pada 1982, Departemen P K Republik Indonesia mengeluarkan SK 052/c/Kep/D/82 (kemudian dikenal dengan sebutan SK 052) untuk mengatur penggunaan seragam sekolah. Semua tahu, ini SK untuk melarang jilbab di sekolah-sekolah umum.

Sejak ada SK itu, tekanan pada siswi berjilbab makin keras. Para siswi dipaksa melepas jilbab atau tidak boleh mengikuti pelajaran. Pada 1980-an juga marak insiden pelarangan jibab. Dari buku Revolusi Jilbab (2002) karya Alwi Alatas, kasus jilbab versus siswi sekolah muncul pertama kali 1979 di Bandung. Sejumlah siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bandung mulai menggunakan jilbab. Pihak sekolah kemudian berniat mengumpulkan mereka dalam kelas terpisah. Para siswi menolak. Ketegangan ini lalu juga mengundang MUI Jawa Barat turun tangan menyurati Kanwil P dan K Jawa Barat, meminta siswi yang memakai jilbab di sekolah tak dipersulit.

Setelah muncul SK di atas, ada pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung. Guru olahraga sekolah itu, bukan hanya melarang siswi yang pakai jilbab ikut pelajarannya, tapi juga mewajibkan mereka pakai hot pants untuk olahraga.

Pada 1983, pelarangan atas jilbab semakin memanas. Dalam catatan MUI di tahun itu ada 100 siswi dipindahpaksa dari sekolah-sekolah mereka ke sekolah lain karena pakai jilbab. Kemudian, di tahun itu juga, tepatnya 9 Agustus, terjadi insiden kekerasan di SMAN 30 Jakarta. Para siswa-siswi SMA itu yang melakukan aksi protes pelarangan jilbab malah dihadapi dengan kekerasan oleh aparat. Mereka memukul beberapa siswa dengan popor senjata, membuat sejumlah siswa masuk rumah sakit.

Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 kemudian makin membuat pemakai jilbab terjepit hingga sudut tersempit. Rezim Orde Baru makin mengkotakkan Islam ke dalam “yang diterima” dan “yang tidak diterima.” Dan jilbab masuk kategori Islam “yang tak diterima.” Di sekolah-sekolah negeri di Bandung pada 1984 diklaim bersih dari jilbab.

Bukannya tak ada yang pakai jilbab lagi. Tapi, masa itu, akhirnya pemakai jilbab memilih tiarap. Jika tak pindah sekolah, banyak aktivis Islam masa itu yang memilih berkompromi. Para siswi berjilbab mmemilih manut, melepas kerudung saat masuk pelataran sekolah. Catat artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers”, aktivis dakwah masa itu akhirnya memilih merapatkan barisan dan kaderisasi.

Berbagai pelatihan keislaman mulai marak. Biasanya dilakukan dengan nama pesantren kilat (sanlat) dan para siswa ini membentuk organisasi keislaman yang berinduk pada OSIS yakni Rohani Islam (Rohis). Kemudian, siswa-siswa ini juga aktif dalam pengkaderan keislaman dalam kelompok-kelompok kecil (metode usroh) dan tarbiyah (pengkaderan intensif).

Para siswi hanya menanggalkan jilbab di sekolah. Di luar itu, mereka menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Laki-laki dan perempuan ditempatkan terpisah. Di kalangan mereka juga muncul sebutan ikhwan (saudara laki-laki) dan akhwat (saudara perempuan). Yang laki-laki dipanggil “akhi”, yang perempuan “ukhti.”

Pada akhirnya, rezim tak bisa lama-lama lagi melarang jilbab. Bukannya surut, pemakai jilbab malah makin banyak. Di awal 1990-an juga Soeharto konon lebih akrab dengan Islam. Momentumnya saat ia mengizinkan ICMI berdiri. Simpati masyarakat pada penindasan siswi berjilbab juga makin dreas.

Maka, pada 1991, Mendikbud Fuad Hasan mengeluarkan SK nomor 100 yang membolehkan siswi umum berjilbab. 

Sejak itu, jilbab semakin banyak. Maknanya juga kemudian bukan lagi simbol perlawanan atau ketaatan maksimal. Bahkan kemudian jilbab jadi bagian dari mode. Jilbab pun dikotakkan ke dalam beberapa jenis. Ada jilbab panjang, juga ada sebutan jilbab gaul, yang bisa diartikan berkerudung tapi memakai jeans atau bahkan tetap memakai kaus ukuran sang adik.”

***

Jilbab di Indonesia telah melewati sejarah panjang, jatuh-bangun. Jilbab sebagai mode gaya hidup kemudian melahirkan perancang busana muslim, seperti Ida Royani atau Ida Leman. Setelahh Reformasi 1998, perancang koleksi premium untuk perempuan berjilbab kian banyak. Hanya, rancangan mereka terlalu unik dan tampaknya ribet untuk dipakai. Ikon untuk jilbab jenis ini yang kerap dipakai Neno Warisman. Neno memakai jilbab berlapis-lapis.

Nah, anak-anak muda yang ingin tampil kasual tak melirik rancangan model begitu. Akhirnya yang terjadi salah kaprah dalam berjilbab. Berkerudung tapi pakaian tampak ketat. Dari sini muncul istilah jilbab gaul. Dicatat majalah Madina edisi Mei 2008, jilbab yang dulu dianggap tanda-tanda kebangkitan Revolusi Islam, kini dipandang sebagai bagian dari budaya pop saja. Jilbab yang di awal didasari semangat untuk menjalankan hidup yang murni secara Islam, kini diperlakukan sebagai gaya berpakaian yang “funky.” Semua dihadapi serba rileks. Istilah jilbab gaul—yang dalam istilah percakapan sehari-hari adalah berjilbab tapi juga ber-jins, dan bisa jadi menampakkan lekuk tubuh—adalah contoh sikap santai itu.

Para hijabist alias kaum berjilbab pasca dekade 2000-an semisal Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara Nasution, Fifi Alvianto, dan Ghaida Tsurayya tampaknya tak ingin terkontaminasi makna jilbab gaul yang sudah berkonotasi negatif. Pun mereka ingin membedakan diri dari perancang busana muslimah generasi orangtua mereka.

Seorang kawan yang menulis fashion dan membuat profil Dian di tabloid ini mengatakan, istilah “hijab” lebih meng-internasional ketimbang “jilbab.” Di Barat sana, misalnya, kata Arab “hijab” lebih dikenal ketimbang “jilbab.” Boleh jadi ada benarnya.

Nyatanya, yang membedakan perancang busana muslim generasi Dian dkk dengan angkatan Ida Royani dkk adalah, salah satunya, tulis Tempo, dulu para perancang menjual busana muslimah satu set: dari atas hingga bawah. Kini para perancang muda cenderung menujal dalam potongan terpisah. Pembeli, kaum jilbabers eh hijabers atau hijabist ini, bebas berkreasi. “Intinya adalah mix and match,” kata Dian. Dengan adanya internet dan majalah mode sebagai bahan referensi , setiap hijabist bisa berkreasi melakukan padu padan busana muslimah sesuai selera.

Ini dia, mau tak mau, ketika sudah bertemu dengan mode dan gaya hidup, berjilbab atau berhijab bukan lagi sekadar mematuhi tuntutan agama.***

(ade/ade)   

Berita Terkait:

KALEIDOSKOP: 10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2012 (Dengan Sedikit Catatan)KALEIDOSKOP: 5 Adegan Film Horor Seks Paling Panas 2012Dewi Sandra Sudah Mantap Berhijab?10 Video YouTube yang Paling Banyak Disaksikan di 2012

Berikan komentar

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Wednesday, November 6, 2013

Hijrah Shamsul, Nora


  • Shamsul dan Nora muncul dalam rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah. – Foto Sinar Harian oleh SAFWAN MANSOR


MAAL Hijrah atau Awal Muharram adalah hari paling bermakna bagi umat Islam kerana memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masihi.



Ia menandakan tahun baru dan segala amalan pada tahun ini akan dihisab dan amalan seterusnya akan dikira dalam buku baru.



Hijrah Rasulullah SAW memberi kesan besar kepada umat Islam dan tidak terkecuali melibatkan beberapa selebriti.



Sejak akhir-akhir ini menyaksikan beberapa selebriti yang dahulunya mengaku alpa, tetapi kini hati mereka semakin mendekati Islam.



Antara artis yang telah berhijrah ialah Nora dan Shamsul Ghau Ghau.



Ternyata, perubahan mereka bukan untuk menunjuk-nunjuk sebaliknya ia lahir daripada kesedaran sendiri dan kedua-dua penggiat seni itu bakal muncul dalam sebuah rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah.



Rancangan 13 episod yang mula bersiaran pada 25 Oktober lalu itu menampilkan Shamsul sebagai pengacara bersama tetamu jemputan pada setiap minggu untuk berkongsi kisah penghijrahan mereka.



Akui Shamsul, dia kini lebih selesa dengan program berbentuk keagamaan apatah lagi setelah terpilih mengacarakan program tersebut.



“Apabila mereka tawarkan untuk jadi pengacara program ini, saya terus rebut peluang tanpa fikir panjang kerana rancangan ini berkisarkan penghijrahan seseorang dan bagaimana melaluinya.



“Selain sebagai rezeki, kandungan program ini juga bagus, maka ini adalah peluang keemasan buat saya,” jelasnya.



Manakala bagi Nora pula tawaran dari penerbit, Iswati Ishak, untuk dia berkongsi kisah hijrah dalam hidup sememangnya tidak disia-siakan.



“Saya berbesar hati untuk berkongsi dengan masyarakat mengenai penghijrahan saya. Benda baik, elok kalau kita kongsi bersama.



“Lagipun saya selesa dengan pendekatan yang dibawa Shamsul, mungkin sebab dia juga orang seni seperti saya,” ujar Nora mengenai program itu.



Selain Nora, barisan selebriti seperti Nazrey Johani, Catriona Ross, Adam Corrie Lee dan Ustaz Ebit Lew merupakan antara tetamu jemputan dalam setiap episod berasingan.



Justeru sempena sambutan Maal Hijrah kali ini, mari kita ikuti cerita penghijrahan penyanyi Nora dan  Shamsul.




Tanda kesyukuran – Nora



Lima tahun lalu, sempena sambutan ulang tahun yang ke-35, Nora atau pemilik nama sebenar Wan Norafizah Ariffin ini mengambil keputusan untuk tampil dengan imej barunya, bertudung.



Penyanyi kelahiran Cik Siti Wan Kembang itu menyifatkan, penghijrahannya melalui satu fasa baru dalam kehidupannya.



“Hijrah itu adalah suatu perubahan. Pada usia tertentu, sudah pasti kita mahu sesuatu perubahan ke arah lebih baik dalam diri kita.



“Tidak kiralah perubahan itu kecil atau besar, asalkan kita menjadi lebih baik,” katanya yang anggap detik hijrah itu sebagai tanda syukur kepada nikmat ALLAH SWT.



“Saya bersyukur apabila lihat anak-anak di depan mata. Tetapi pada ketika itu, saya sekadar mengucapkannya di bibir sahaja.



“Apabila saya fikirkan semula, saya tertanya-tanya adakah itu cara untuk bersyukur? Bertitik tolak daripada perasaan itu pada lima tahun lalu, saya tekad mahu berubah.



“Lalu, pada usia 35 tahun saya buat keputusan untuk lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT,” jelasnya.



Ceritanya lagi, pada peringkat awal penghijrahannya, dia terpaksa berdepan dengan cabaran dan penerimaan masyarakat yang agak skeptikal namun itu semua dapat diatasinya.



“Pada peringkat permulaan berhijrah, saya akui agak tertekan apatah lagi ada ‘bisikan’ seperti menyuruh saya membuat konsert terlebih dahulu, tunggu umur 40 tahun atau selepas tunaikan haji barulah menutup aurat.



“Namun, saya tekad ingin berhijrah kerana apabila sudah mendapat hidayah, janganlah kita berpaling kerana mungkin hidayah itu akan ditarik balik.



“Tetapi kini, cabaran itu hanya lebih kepada bagaimana mahu menyesuaikan diri lebih-lebih lagi saya terlibat dalam industri hiburan,” katanya.



Ujarnya, sebagai seorang artis bertudung, had dan batasan perlu diletakkan agar tidak dipandang serong oleh masyarakat.



“Saya banyak rujuk pada ustaz dan membaca buku-buku agama mengenai apa yang boleh dan tidak.



“Kita masih lagi boleh menyanyi atau menyampaikan sesuatu yang baik, tetapi perlu menjaga setiap kelakuan, penampilan, percakapan dan apa yang kita sampaikan.



“Jika saya rasa perjuangan saya betul, maka saya akan teruskan. Kita juga jangan sesekali menegakkan benang yang basah. Jika kita melakukan kesilapan, tak salah jika kita mengakuinya,” katanya.




Siri kartun animasi



Melihat kepada tanggungjawabnya sebagai anak seni, Nora sambil dibantu suaminya yang juga komposer, Johan Nawawi dan anak-anaknya menghasilkan siri kartun animasi bertajuk Ummi…Ceritalah Pada Kami! yang kini sudah masuk musim kedua.



“Penghasilan kartun animasi ini adalah salah satu tanggungjawab kami dalam mendidik kanak-kanak dengan cara Islam.



“Saya boleh menyanyi dan suami pula boleh buat lagu untuk rancangan itu,” jelasnya.



Kata ibu kepada empat anak ini, idea untuk menghasilkan siri kartun animasi itu tercetus atas kesedaran untuk menghidangkan program bermanfaat untuk tontonan kanak-kanak dan keluarga yang bukan sahaja menghiburkan malah memberikan pengajaran.



“Sebagai seorang ibu, saya terpanggil untuk menghasilkan sesuatu bermanfaat di samping menghiburkan kanak-kanak.



“Penerbitan siri animasi ini adalah jawapan terbaik untuk menarik perhatian mereka kerana ia paling dekat dan relevan dengan golongan cilik,” katanya.



Siri kartun animasi  itu akan ditayang semula pada Januari depan di TV9 pada Khamis jam 8.30 pagi dan Sabtu pada jam 6 petang.




Tinggal di depan rumah Allah



Tidak seperti Nora, pengalaman Shamsul agak berbeza. Ramai beranggapan pelakon dan pelawak ini mula berhijrah setelah pulang mengerjakan ibadah haji, tahun lalu.



Hakikatnya, bapa kepada tiga anak ini berubah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT secara beransur-ansur sejak beberapa tahun kebelakangan ini.



“Seperti kita ketahui, pengertian hijrah sebenar adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Tetapi untuk kita di zaman ini, hijrah membawa erti luas.



“Berubah daripada yang baik menjadi jahat juga sesuatu penghijrahan. Tetapi pastinya kita mahu berhijrah daripada tidak baik menjadi lebih bagus,” katanya.



Jelasnya lagi, titik tolak penghijrahannya bermula setelah berpindah dari Cheras ke Bangi sementelah lagi rumah itu pula letaknya betul-betul di hadapan sebuah masjid.



“Rumah di depan masjid, tetapi saya tidak pernah pergi ke masjid untuk solat berjemaah.



“Tetapi, saban waktu surah Ar-Rahman sering diperdengarkan dari corong pembesar suara masjid sehingga satu hari saya terdetik untuk mencari maksud akan surah itu.



“Selepas mengetahui maksudnya mengenai kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT, hati saya terdetik untuk mengikut ajaran yang diperintahkannya,” katanya.



Pemilik nama sebenar Shamsul Azahar Aliddin ini berkata, cabaran terbesar perlu dihadapinya adalah bagaimana dia mahu memperbetulkan keluarganya terlebih dahulu terutama mengajar isterinya menutup aurat.



“Saya ambil pendekatan Rasulullah SAW, kita jangan terlalu pandang jauh hendak mengajar orang terutamanya akhlak sebaliknya betulkan diri kita dahulu. Apabila akhlak kita bagus, maka orang sekeliling kita juga akan bagus seperti anak-anak, keluarga, jiran-jiran dan lain-lain.



“Berat untuk saya menyatakan hasrat berubah kepada isteri sendiri apatah lagi untuk mengajak dia menutup aurat dan bertudung sebab sebenarnya untuk membentuk dan memberi dakwah pada isteri bukanlah senang. Tapi lama-kelamaan isteri menerimanya dengan sikap terbuka dan ALLAH SWT telah kabul permintaan saya,” katanya berhasrat bergelar pendakwah suatu hari nanti.




Tidak tinggal dunia seni



Tambah Shamsul, penghijrahannya itu bukanlah bererti dia akan meninggalkan dunia hiburan sebaliknya akan terus menerima tawaran berlakon dan nyanyian jika bersesuaian.



“Tiada masalah untuk melakukan sesuatu yang mengikut perintah ALLAH, tetapi saya  cuba elak hal bercanggah. Saya ada juga terima tawaran untuk mengendalikan majlis keagamaan.



“Aktiviti lakonan masih ada, tetapi aktiviti itu semakin kurang kerana turut memberi tumpuan kepada mencari ilmu dan menghabiskan masa bersama anak-anak,” katanya.



Dalam pada itu, pada awal hijrah, dia ada terfikir kemungkinan untuk berundur dari dunia seni.



“Saya ada bertanya kepada ustaz tentang hasrat untuk berundur daripada dunia hiburan, tetapi dia kata kalau saya berhenti, anak-anak nak makan apa?



“Apabila difikirkan, saya masih ada tanggungjawab kepada keluarga dan masyarakat. Saya kena mempamerkan lakonan yang boleh memberi kebaikan dan menjauhi kemungkaran,” katanya yang bakal muncul dengan telefilem Lelaki Buaya terbitan TV3

di samping Shah Jazle dan Jasmin Hamid.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/16/stalled-iran-nuclear-probe-raises-diplomatic-pressure/


Hijrah Shamsul, Nora

Saturday, July 20, 2013

Kepemimpinan Rasul di Madinah

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, tokoh-tokoh liberal selalu menjadikan kepemimpinan Rasulullah di Madinah, khususnya dengan adanya piagam Madinah, sebagai pembenaran akan pendapat dan pemikiran mereka.


Rasulullah sangat toleran dan tidak bersikap keras terhadap golongan agama lain yang ada di Madinah pada waktu itu dan membiarkan mereka menjalankan ajaran agama mereka secara bebas. Bagaimana sesungguhnya memandang kepemimpinan Rasulullah di Madinah?


Ardiansyah Firman – Yogyakarta


Waalaikumussalam wr wb.


Allah SWT berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8).


Dalam ayat ini, Allah menegaskan, tidak ada larangan bagi orang beriman berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memerangi agama Islam. Juga, tak mengusir kaum Muslimin dari kampung halaman mereka.


Dalam ayat lain, Allah memerintahkan, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Dialah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS al-Anfal [8]: 61).


Allah menegaskan pula, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).


Inilah yang menjadi sandaran Nabi dalam berinteraksi dengan orang-orang kafir. Beliau memang sangat toleran dan penuh kasih sayang, baik kepada kaum Muslimin maupun kepada non-Muslim.


Banyak orang kafir dan musyrik yang masuk Islam karena keluhuran budi dan kemuliaan akhlak Nabi. Hal itulah yang beliau tuangkan dalam piagam Madinah yang dianggap sebagai konstitusi pertama di dunia.


Semua golongan, umat Islam dengan kaum Muhajirin dan Ansharnya, kaum Yahudi dengan berbagai kabilahnya, dan orang-orang musyrik Madinah dilindungi dan dibiarkan bebas menjalankan ajaran agama masing-masing. Tetapi, dengan syarat mereka mematuhi piagam Madinah dan tidak mengkhianati isinya.


Namun, ketika isi perjanjian dalam piagam Madinah itu dilanggar salah satu pihak yang bersepakat, sebagaimana kaum Yahudi dari Bani Quraizhah ketika melanggar piagam Madinah, berkhianat dengan membantu musuh-musuh Islam dalam perang Khandaq, Rasulullah memerangi dengan mengepung mereka sampai 25 malam hingga akhirnya mereka menyerah.


Lihatlah bagaimana hukuman yang dijatuhkan Rasulullah kepada Yahudi dari Bani Quraizhah. Rasulullah menyerahkan hukuman atas mereka kepada Sa’d bin Mu’az yang kemudian memutuskan semua laki-laki Yahudi Bani Quraizhah dibunuh, wanita dan anak-anaknya dijadikan tawanan, sedangkan hartanya dijadikan harta rampasan perang yang dibagikan kepada kaum Muslimin. Inilah konsekuensi dari Piagam Madinah tersebut.


Kalau kaum liberalis memperhatikan hukuman ini, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk mengatakan bahwa Nabi sangat toleran atau malah sebaliknya, menuduh Nabi sebagai pemimpin sadis yang kejam.


Begitu juga sikap Nabi terhadap kaum kafir yang memerangi Islam dan tidak bersikap damai. Rasulullah bersikap tegas dan selalu melindungi hak dan kepentingan kaum Muslimin.


Hal itu sesuai firman Allah, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS al-Mumtahanah [60]: 9).


Dan dalam hadis Nabi juga dijelaskan mengenai persoalan ini. Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pernah juga memukul seorang pembantu. Beliau hanya memukul jika sedang berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu pun, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali, jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau akan membalas dengan hukuman hanya karena Allah ‘Azza Wa Jalla.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bish shawab.


Ustaz Bachtiar Nasir


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Kepemimpinan Rasul di Madinah

Monday, May 13, 2013

Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

SETERUSNYA penulis akan mengemukakan kisah berkaitan dengan Zulkarnain. Cerita ini merupakan kisah keempat yang terdapat dalam al-Quran. Ia mengisahkan tentang orang kafir Mekah menghantar utusannya kepada ahli Kitab untuk meminta apa yang hendak diujikan terhadap Nabi SAW.


Ahli Kitab berkata: Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang berjaya mengelilingi dunia, tentang pemuda yang tidak diketahui apa yang mereka kerjakan dan tentang roh. Maka surah al-Kahfi diturunkan. Sebelum mentafsirkan ayat tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu, siapa Zulkarnain, siapa Yakjuj dan Makjuj dan di mana empangan Zulkarnain.


Pada ayat ke-83, Ibnu Kathir berkata: Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahawa orang kafir Mekah pernah mengirim utusan kepada ahli Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi SAW.


Kemudian para ahli Kitab itu berkata: Tanyalah kepadanya tentang orang yang di sekeliling muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda dan juga tentang roh. Maka turunlah surah al-Kahfi.


Diberi nama Zulkarnain kerana dia adalah seorang raja Rom dan Parsi. Sebahagian orang menyebutkan bahawa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan diberi nama Zulkarnain kerana dia sudah berhasil mencapai belahan Timur dan Barat iaitu tempat matahari terbit dan terbenam.


Al-Maraghi berkata: Orang Quraisy yang berguru dengan orang Yahudi, mengajukan pertanyaan kepada (Nabi Muhammad SAW) dengan tujuan menguji Baginda.


Katakanlah kepada orang yang keras kepala itu: Aku akan menceritakan kepada kamu cerita yang lengkap lagi menyeluruh seperti yang kamu minta dan cerita ini telah diberitahu kepadaku oleh Tuhanku.


Sayid Qutub berkata: Allah SWT telah mengurniakan kepadanya kedudukan yang teguh dan kekuasaan yang kukuh. Allah SWT telah memberikan jalan-jalan untuk memerintah dan menakluk, jalan-jalan pembangunan dan kemakmuran, jalan-jalan kekuasaan dan kesenangan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mengukuhkan kedudukan mereka dalam kehidupan ini.


Pada ayat ke-84, Ibnu Kathir berkata: Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakupi segala sesuatu yang diberikan kepada para raja iaitu berupa bala tentera, peralatan perang dan beberapa benteng.


Oleh itu, dia dapat menguasai bumi belahan Timur dan Barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya bahkan pelbagai raja di dunia pun turut tunduk kepadanya dan semua orang Arab dan bukan Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.


Ayat ini telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Ilmu pengetahuan. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, al-Suddi, Qatadah dan lain-lain.


l Iaitu tempat tinggal di bumi dan berbagai-bagai panjinya. Inilah pendapat Qatadah.


l Iaitu pengajaran bahasa-bahasa. Ia tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka. Inilah pendapat Abdul Rahman bin Aslam.


Al-Maraghi berkata: Allah SWT memberi kekuasaan kepada Zulkarnain melakukan mengikut kehendaknya, sehingga beliau berjaya menguasai seluruh dunia dan mengalahkan seluruh kerajaannya. Allah mengurniakan ilmu, kemampuan dan kelengkapan tentera bagi menjayakan segala hasrat yang hendak dilakukannya.”


Sayid Qutub berkata: Muhammad Ibnu Ishaq telah menyebut sebab turunnya surah ini katanya `aku telah diceritakan oleh seorang guru daripada penduduk negeri Mesir. Dia datang ke tempat kami kira-kira 40 tahun lebih yang lalu dari Ikrimah, daripada Ibnu Abbas katanya kaum Quraisy telah mengirim al-Nadhr Ibnu Harith dan Aqabah Ibnu Abu Mu`ayt kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah dan berkata tanyalah kepada pendeta-pendeta itu tenteng Muhammad SAW, terangkan sifatnya kepada mereka dan ceritakan apa yang telah dikatakan olehnya kerana mereka adalah kaum ahli Kitab yang pertama.”


Mereka mempunyai ilmu tentang para Anbiya yang tidak ada pada kita. Lalu kedua utusan itu pergi ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tenteng Rasulullah SAW. Kedua-duanya menceritakan kepada mereka tentang beliau dan sebahagian daripada apa yang telah dikatakan olehnya sambil berkata: Tuan-tuan adalah pakar-pakar kitab al-Taurat dan tujuan kami datang menemui tuan-tuan ialah supaya tuan-tuan boleh menjelaskan kepada kami tentang teman kami ini (Muhammad).


Kata Rawi, pendeta-pendeta itupun berkata: Tanyalah kepadanya (Muhammad) tiga perkara yang kami cadangkan ini, jika dia dapat menjawab, maka dia adalah benar seorang nabi yang diutuskan Allah SWT dan jika sebaliknya, maka dia hanya seorang pendusta dan kamu boleh memutuskan fikiran kamu terhadapnya.”


Tanyalah kepadanya tentang sekumpulan pemuda yang telah pergi menghilangkan diri di zaman dahulu bagaimana cerita mereka kerana cerita mereka amat menakjubkan. Dan tanyalah kepadanya tentang seorang lelaki yang menjelajah dunia hingga sampai ke kawasan-kawasan sebelah Timur dan kawasan-kawasan sebelah Barat bagaimana ceritanya?


Dan tanyalah kepadanya tentang roh dan apakah dia? Jika dia dapat menceritakan hal-hal itu kepada kamu, maka dia adalah benar seorang nabi yang boleh kamu ikutinya dan sebaliknya jika dia tidak dapat menceritakan kepada kamu, maka dia adalah seorang pendusta dan lakukan apa sahaja tindakan terhadapnya yang kamu fikir wajar.


Lalu an-Nadhr dan Aqabah balik menemui kaum Quraisy dan berkata: Wahai kaum Quraisy! Kami telah membawa kepada kamu kata pemutus yang dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dengan Muhammad. Pendeta-pendeta Yahudi itu menyuruh kita bertanya kepada Muhammad mengenai beberapa perkara.”


Lalu mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disuruh oleh pendeta-pendeta itu.


Rasulullah SAW menjawab: Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu tanpa berkata kecuali dikehendaki Allah SWT”. Mereka pun berundur daripadanya. Rasulullah SAW menunggu selama 15 hari 15 malam tanpa mendapat wahyu daripada Allah SWT mengenai perkara-perkara tersebut dan tanpa dikunjungi Jibril AS hingga menggemparkan penduduk Mekah. Mereka berkata: Muhammad telah berjanji untuk menjawab, sekarang telah masuk 15 hari tetapi masih belum ada jawapan.”


Terhentinya wahyu itu telah mendukacitakan Rasulullah SAW. Kemudian barulah dikunjungi Jibril AS membawakan surah Ashab al-Kahfi, di mana baginda telah ditegur kerana bersedih terhadap sikap penduduk Mekah, di samping dimuatkan cerita-cerita yang ditanyakan mereka mengenai kumpulan pemuda dan lelaki pengembara itu.


Pada ayat ke-85 ia telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Maka dia pun menempuh suatu jalan, iaitu al-Sabab iaitu tempat. Inilah pendapat Ibnu Abbas.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan iaitu tempat turun dan jalan antara timur dan barat. Inilah pendapat Mujahid.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan. Ia juga dipanggil ilmu pengetahuan. Dia berkata hal yang sama juga dikemukakan oleh Ikrimah, Ubaid bin Yala dan al-Suddi. Dan dia pun mengatakan inilah tanda-tanda dan bekas-bekas. Inilah pendapat Said bin Jubair.


Sayid Qutub berkata: Oleh sebab adanya pelbagai riwayat tentang sebab-sebab nuzul itu, maka kami memilih untuk berhenti setakat bayangan nas al-Quran yang amat diyakinkan kebenarannya itu.”


Malah daripadanya juga dapat diketahui bahawa ada satu pertanyaan mengenai Zulkarnain walaupun diketahui siapakah yang mengemukakan pertanyaan itu. Tetapi pengenalan tentang siapakah yang bertanya itu tidak menambahkan apa-apa kepada maksud kisah. Marilah kita hadapi nas al-Quran tanpa sebarang tokok tambah.



Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan betapa kebenaran pasti ditegakkan oleh pendukungnya walaupun sentiasa menghadapi ujian. Hal ini menjadi sunnatullah. Oleh itu, semangat Zulkarnaian perlu diwujudkan dalam hati pemimpin umat Islam.



Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online