Showing posts sorted by relevance for query teman. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query teman. Sort by date Show all posts

Tuesday, October 15, 2013

Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat.  Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.


Namun, Allah SWT memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.


‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.


Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


                                                                            
                                                                     ***


Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.


Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.


‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.


Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”


Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.


Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.


 ”Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”


Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.


                                                                     ***


Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.


“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.


Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.


Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.


Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.


Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.


                                                                    
                                                                       ***


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.


Sepulang dari  Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.


Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.


“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat  berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.


Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.


“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.


                                                                         ***


Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.


“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”


Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”


Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.


Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.


“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”
 
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.


“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”


Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”


Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.


“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”


Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”


Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.


Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/06/06/078486229/Konvensi-Demokrat-Terbuka-untuk-Anas-Urbaningrum


Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

Monday, August 19, 2013

Disebut Komunis, TKI Hong Kong Buka Suara soal Kasus Solmed

Senin, 19 Agustus 2013 13:52 wib

Edi Hidayat – Okezone

Ustadz Solmed (Foto: Edi Hidayat)

Ustadz Solmed (Foto: Edi Hidayat)

JAKARTA – Kasus pembatalan tausiah secara sepihak yang dilakukan Ustadz Solmed semakin memanas. Yang terkini, muncul sebuah surat terbuka yang ditujukan untuk Solmed.


Surat tersebut ditulis oleh seseorang bernama Rihanu Alifa, yang mengaku sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong. Dia merasa sakit hati dengan kicauan Solmed di Twitter yang menaruh curiga ada unsur komunis dalam kisruh tersebut.


Berikut isi suratnya:

Kepada Yth :
Ustaz Solmed


Ustaz Solmed yang terhormat, saya adalah salah satu TKI Hong Kong yang terluka dengan pernyataan ustaz di twitter yang mencurigai kami (TKI Hong Kong) sebagai jaringan dari komunis. Saya (masih) memaklumi jika ustaz memasang tarif saat diundang untuk berceramah.


Itu hak ustaz. Pun, saya juga mengerti jika ustaz membela diri ketika ustaz dituding menaikkan tarif saat diminta ceramah di Hong Kong, terlepas dari benar atau tidaknya argumen yang ustad sampaikan. Namun, ketika ustad “berkicau” di twitter dengan menyatakan kecurigaan bahwa TKI Hong Kong merupakan bagian dari jaringan komunis, maka saya sebagai bagian dari TKI Hong Kong merasa terluka, teriris hati saya mendengar hal ini.


Saya suka menulis, saya menyampaikan hal ini melalui tulisan dan mem-broadcastnya di sosmed bukan untuk mencari sensasi, apalagi popularitas. Ini adalah suara hati saya. Sedih tak terkira saya melihat seorang ustad “memerangi” saudara seagamanya dengan bersenjatakan media.


Miris, melihat dan mendengar pemberitaan beberapa media yang menurunkan berita timpang (tidak balance, hanya memaparkan berita dari pihak ustad Solmed, tidak berusaha melakukan cross check dengan pihak EO di Hong Kong).


Secara pribadi, saya tidak ada dendam dengan ustad. Saya pertama kali melihat ustazmelalui tayangan sinetron di televisi (saya lupa judulnya). Tayangan itu saya saksikan melalui internet. Saya bukan pecinta sinetron, hanya saja saya tertarik menyaksikan sinetron tersebut karena ada Maher Zain yang ikut syuting di dalamnya (sewaktu dia berkunjung ke Indonesia).


Sebagai TKI Hong Kong, saya memang mengikuti perkembangan konflik ustad dengan salah satu event organizer (EO) di Hong Kong yang mengundang ustad untuk berceramah. Namun, saya tak ikut ambil pusing.


Saya bukan bagian dari EO tersebut, dan (tadinya) saya pikir, perselisihan ustad dengan EO tersebut dapat menemui titik temu (damai). Tetapi, semakin lama, ustad semakin membuat pernyataan yang tidak-tidak, bahkan cenderung memfitnah. Di infotainment, ustad menyebut angka Rp150 juta yang bakalan dikeruk oleh EO di Hong Kong dari penjualan tiket masuk yang dijual kepada para jamaah.


Izinkan saya bertanya, dari mana ustaz dapatkan angka fantastis tersebut?


Hampir tujuh tahun saya di Hong Kong dan selama empat tahun terakhir ini saya berkecimpung dalam organisasi yang kadang menjadi EO suatau acara dengan mengundang bintang tamu artis dari Indonesia.


Sedikit banyak, saya tahu seluk-beluk penyelenggaraan acara di Hong Kong. Untuk gedung di Sheung Wan yang rencananya akan dipakai untuk acara yang sedianya akan ustad hadiri tersebut, setidaknya sudah tiga kali saya memasukinya.


Gedung tersebut merupakan ruangan berbentuk L yang kapasitasnya (menurut pengamatan orang awam seperti saya), hanya muat untuk 500 orang (itu juga kalau dijejal-jejal).


Jika tiket masuk dijual seharga 50 (Hong Kong dolar), dan pengajian diadakan dua sesi, maka hasil dari penjualan tiket adalah : 50 x 1000 orang = 50.000 (Hong Kong dolar).


Kurs saat ini : HK$ 1 = Rp. 1300 (kurang lebih, karena kurs naik turun). Jadi, jika ustazmenyebut angka 150 juta rupiah, maka saya katakan hal tersebut adalah AJAIB (kalau tak mau dikatakan OMONG KOSONG).


Lagipula, angka HK$50. 000 itu dengan asumsi bahwa tiket terjual habis (sold out)*. Pada kenyataanya, tidak semua tiket bisa terjual habis.


Dan uang sejumlah itu bisa dikatakan sangat pas-pasan untuk membiayai sebuah acara di Hong Kong. Ini berdasarkan pengalaman saya selama bergelut dalam organisasi Forum Lingkar Pena Hong Kong.


Perlu ustaz ketahui, pengajian di Hong Kong dengan menjual tiket (entah itu HK$20, 50, atau 100) itu sudah lazim di kalangan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong ini.


Di Hong Kong ini, memakai mesjid atau gedung TIDAK BISA GRATIS. Minimal perlu HK$ 4.000 untuk sewa satu gedung (ini harga sewa gedung di pelosok, kalau di pusat kota minimal bisa dua kali lipatnya).


Belum lagi sewa sound systemnya (tidak mungkin ‘kan ustad teriak-teriak atau lari sana-sini agar suara ustad dapat didengar oleh jamaah yang hadir).


Harga sewa sound system bisa berkisar HK$ 5.000 ke atas. Belum lagi ditambah biaya pembelian tiket pesawat untuk ustad dan manajer ustad, biaya hotel, konsumsi,transportasi, dll. Jika pun acara dilaksanakan di tempat terbuka, seperti lapangan Victoria Park, itu juga harus ada izin dari pengelolanya.


Setidaknya, penyelenggara acara harus membayar uang asuransi pada pengelola taman jika ingin menggunakan area tersebut. Hal ini saya ketahui saat mencari info tentang penggunaan lapangan rumput dan tenda putih atas Victoria Park.


Dan lebih fantastis lagi, sound system kalau untuk outdoor seperti di lapangan Victoria Park, harga sewanya bisa mencapai belasan juta rupiah. Jadi, jika ustad mengatakan bahwa dakwah ustad dijadikan lahan bisnis oleh EO di Hong Kong, saya sangat meragukan hal ini.


Karena, yang saya tahu, jika pun acara pengajian itu memperoleh keuntungan dari penjulan tiket serta dana dari kotak amal (yang diedarkan saat pengajian berlangsung), maka dana tersebut tidak akan masuk ke kantong panitia penyelenggara, melainkan disumbangkan ke Indonesia, entah itu untuk pembangunan masjid, pesantren, dll.


Mengenai hal ini, mungkin ustaz bisa bertanya pada EO yang mengundang ustaz, berapa pondok pesantren yang sudah mereka biayai dari uang sisa yang didapat dari acara pengajian yang mereka adakan.


Ustad akan lebih tercengang lagi, jika melihat fakta bahwa begitu banyak mujahidah di Hong Kong ini yang rela berpanas-hujan menjual majalah, meminjamkan buku melalui perpustakaan lesehan, menjual buku, dll demi mendapat keuntungan 1 atau 2 dolar yang mereka kumpulkan untuk kemudian disumbangkan ke Indonesia.


Bayangkan, mereka rela berlelah-lelah di hari yang seharusnya menjadi hari libur mereka. Saya sendiri pun pernah mengalaminya, menggeret-geret koper besar berisi buku-buku untuk dipinjamkan.


Uang penyewaan buku hanya numpang lewat di tangan saya,untuk kemudian disumbangkan ke Indonesia. Jika ustad mengatakan bahwa seluruh biaya yang saya sebutkan itu (tiket pesawat, hotel, dll) sudah ditanggung oleh sponsor, maka silakan disebutkan siapa saja sponsor acara tersebut, berapa banyak uang yang mereka berikan sehingga bisa mengcover seluruh biaya tersebut?


Setahu saya, untuk satu event semisal pengajian, 3 atau 4 sponsor saja itu belum tentu ada, karena kini semakin banyak organisasi TKI di Hong Kong, banyak acara yang bisa mereka pilih untuk didukung.


Satu sponsor saja, biasanya member support materi yang tidak begitu banyak, sekitar HK$500 – HK$ 2.000, sangat jauh untuk bisa menutup biaya-biaya yang harus dikeluarkan.


Saya berbicara berdasarkan fakta. Menurut pengalaman saya dalam mencari dana dari sponsor, kadang dana dari sponsor tidak diberikan dalam bentuk tunai, tapi berupa barang yang harus dijual, jadi tidak berbentuk cash money.


Well, dua pertanyaan itu (dari mana angka 150 juta itu ustad dapat dan sponsor mana yang mau mendanai penuh acara yang akan ustad hadiri), akan membuktikan kebenaran dari ucapan ustad.


Mari bicara fakta, atau diam jika hanya menimbulkan fitnah, menyakiti kami (TKI Hong Kong) yang ustad sebut sebagai “saudara”. Sekali lagi, saya sangat maklum jika benar ustad memasang tariff dan meminta fasilitas ini-itu pada panitia. Saya juga tidak menyalahkan jika ustad (mungkin) berbohong di media untuk menjaga reputasi ustad. Itu manusiawi.


Silakan saja, dosa ditanggung ustad sendiri. Namun, jika konfliknya melebar sampai ustad koar-koar di twitter dengan menyatakan kecurigaan bahwa TKI Hong Kong adalah jaringan dari komunis, itu sudah keterlaluan.


Curiga boleh saja, tapi tak harus berkicau di sosmed tanpa fakta, tanpa tabayyun, karena itu semua akan menjadi fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan.


Untuk media-media di Indonesia Di Indonesia, mungkin nama ustad Solmed sangat layak jual. Sehingga otomatis, berita yang menyangkut dirinya akan menarik bagi masyarakat.


Namun, setahu saya setiap berita yang diturunkan haruslah berimbang, tidak boleh hanya dari satu sisi saja. Meskipun narasumber berita jauh, wartawan harus tetap mengusahakan untuk mewawancarainya meski hanya melalui saluran telefon.


Jika si narasumber tidak dapat dihubungi, maka hal tersebut juga harus disampaikan kepada masyarakat, bahwa si wartawan sudah berusaha menghubungi, namun hingga saat berita diturunkan, narasumber belum memberikan jawaban.


Silakan menghubungi dan mewawancarai langsung EO yang mengundang ustad Solmed ke Hong Kong, agar berita yang disampaikan pada masyarakat tidak berat sebelah, dan tidak lebay (saya pernah melihat tayangan infotainment yang menampilan media yang memuat berita dengan judul “Astaga, tarif ustad Solmed 150 juta”.


Menurut saya judul tersebut sangatlah lebay karena angka 150 juta tersebut bukan tarif yang dipatok sang ustad, melainkan angka perkiraan sang ustad dari penghitungan penjulan tiket yang dijual oleh panitia). Memang, judul bombastis bisa menaikkan berita, tapi akan merugikan media sendiri jika judul tak sesuai dengan isi.


Akibatnya, bukan tidak mungkin media yang seperti itu akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat yang berimbas pada kematian media itu sendiri.


TKI di Hong Kong mudah dijumpai di jejaring social Facebook. Itulah mengapa, ketika ustad Solmed koar-koar di Twitter, yang ikut me-retweet dari kalangan TKI Hong Kong hanya mempunyai beberapa follower, karena memang TKI Hong Kong hanya sedikit saja yang ber-twitter ria. Kami lebih nyaman di Facebook karena bisa membaca info-info menarik dari catatan fans fage, sharing foto, dll, sedangkan twitter tidak memungkinkan hal itu, karena membatasi penulisan hanya 140 karakter saja.


Untuk teman-teman TKI/BMI Hong Kong, kita adalah satu tubuh, ketika ada pihak yang menyakiti bagian dari diri kita, tentu kita akan ikut terluka. Demikian pula halnya dengan diri saya. Awalnya saya tak ingin angkat bicara, malas koar-koar di sosmed.


Tetapi, saya melihat beberapa aktivis BMI HK yang biasanya vocal membela BMI, diam melihat hal ini, sama sekali tak berkomentar. Dan yang bukan aktivis, ada saja yang nyinyir dengan mengatakan bahwa pengajian harus gratis lah, salah panitia ngundangnya artis lah, dll. Untuk yang belum pernah berkecimpung di organisasi BMI, tentu pernyataan “gratis” tadi wajar saja, karena ketidaktahuan mereka bahwa tidak ada yang gratis di Hong Kong ini.


Lagipula, tiket dijual kepada mereka yang bersedia membayar, tak ada paksaan. Pun dengan kotak amal, tidak ada paksaan untuk mengisinya. Saya ungkapkan di sini, event pengajian yang diadakan berbagai organisasi BMI di Hong Kong, tidaklah bertujuan untuk mengeruk untung ataupun dijadikan lahan bisnis seperti yang dikatakan ustaz Solmed. Saudara-saudara kita berjuang menegakkan agama islam di negeri non muslim ini.


Jika pun ada yang membisniskan pengajian, itu adalah oknum, jangan pernah melakukan generalisir dengan menyebutkan BMI/TKI Hong Kong, karena akan sangat fatal akibatnya, menjadi fitnah yang menyakiti semua.


Kita bisa saja memaafkan ustad Solmed atas pernyataannya di twitter yang mencurigai TKI Hong Kong sebagai komunis, kita juga bisa memboikot ustad Solmed dengan menganjurkan keluarga kita agar meninggalkan segala tontonan yang menampilkan ustad Solmed. Kita adalah kekuatan yang besar jika bersatu. Kita dikatakan komunis, komunis itu tak bertuhan, rela kita dikatakan demikian?


Untuk teman-teman yang berkecimpung di organisasi, terutama dalam bidang keagamaan, mari jadikan kasus ini sebagai pelajaran. Selama ini, mungkin teman-teman tidak pernah membuat perjanjian (kontrak) tertulis dengan tamu (ustaz/artis) yang akan diundang. 


Belajar dari hal ini, tawarkanlan surat perjanjian pada tamu yang akan diundang. Jika hal itu dianggap merepotkan, maka gunakan fasilitas rekam suara di HP. Kita bisa merekam pembicaraan di HP dengan sang tamu yang akan diundang.


Atau, simpanlah bukti sms/whatsapp untuk setiap deal yang teman-teman lakukan dengan calon tamu. Jadi, jika di kemudian hari terjadi konflik seperti ustad Solmed di atas, teman-teman punya bukti kuat.


Demikian yang ingin saya ungkapkan. Mohon maaf jika ada pembaca yang kurang berkenan dengan tulisan saya ini. Silakan diluruskan jika da kekeliruan dalam tulisan saya ini.
Saya Rihanu Alifa, saya TKI Hong Kong, tidak kenal ustad Solmed, juga tidak kenal dengan organisasi TKI Hong Kong yang berseteru dengannya. Saya tidak memihak siapapun.


Saya menuliskan hal ini karena bagaimanapun juga, saya adalah bagian dari TKI Hong Kong yang akan terluka jika nama TKI Hong Kong dinodai. Yang benar hanya dari Allah. Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan ada hikmah yang dapat dipetik di dalamnya, tidak menjadi ghibah, apalagi fitnah.


 
Shatin, 17 Agustus 2013


Salam santun,
Rihanu Alifa.


(nsa)






mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://peraktoday.com/?p=130819


Disebut Komunis, TKI Hong Kong Buka Suara soal Kasus Solmed

Tuesday, January 7, 2014

Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Akhlaknya yang bagus membuat keluarganya tertarik pada Islam.


Perempuan yang menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya ini mengenakan jilbab dan sangat ramah. Ibadah shalatnya pun bisa dibilang rajin.


Tak banyak yang tahu, perempuan berusia 50 tahun bernama Indriana Purnamawati itu lahir dan dibesarkan bukan oleh keluarga Islam. Masa kecilnya dipenuhi dengan kehidupan keluarga yang taat pada ajaran Katolik.


Namun, rasa ingin tahunya yang besar merintis jalannya untuk mengenal Islam, hingga akhirnya muncul keinginan kuat untuk menjadi Muslimah.


Perempuan yang akrab disapa Nina ini terlahir sebagai Katolik. Sejak TK hingga SMP, ia selalu mengenyam pendidikan di sekolah Katolik.


Ketika duduk di bangku SMA, ia bersekolah di SMA negeri. Saat itu, matanya terbuka, ternyata ia hidup menjadi minoritas di antara banyak kawannya yang Muslim.


Saat menghadapi syok karena melihat kebiasaan baru agama lain, ia banyak penasaran. Misalnya, ia melihat ada temannya yang membawa mukena ke sekolah dan mengetahui apa saja ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. “Saya dulu melihat, kok Islam itu ribet banget, ya,” ujarnya kepada Republika, pekan lalu.


Ia juga dekat dengan lelaki Muslim, yang kemudian menjadi kekasihnya kala itu. Pria ini selalu menggiringnya agar ia masuk menjadi Muslimah. “Saya tidak suka dengan cara seperti ini sehingga saat itu saya jadi benci setengah mati dengan Islam,” katanya.


Namun, saat duduk di kelas dua SMA, ia justru mulai tertarik dengan Islam. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya banyak belajar hal baru dan informasi-informasi mengenai Islam. “Bahkan, saya iseng-iseng ikut pelajaran agama Islam juga,” ujarnya.


Saat itu, ketika datang waktu ulangan pelajaran agama Islam, ia harus mencontek juga belajar menghafal mati-matian agar tidak terlalu jelek nilainya.


Ketika masa kuliah, ia semakin dekat dengan Islam. Teman kos sekamarnya Muslim yang taat dan banyak mempunyai buku agama yang menarik perhatiannya. “Awalnya ngumpet-ngumpet baca buku agama teman saya ini dan lama-lama tertarik,” kata Nina.


Banyak pengetahuan baru yang didapatnya ketika mempelajari Islam. Salah satunya adalah kenyataan Allah itu bersifat esa dan tidak diperanakkan.


Setelah banyak membaca buku agama  Islam, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia akhirnya berani membuka Alquran yang di dalamnya ada terjemahannya. “Melihat bahasanya, saya nggak ngerti sama sekali,” ujarnya.


Namun,  ia tidak menyerah. Ia terus membuka Alquran dan membaca buku-buku agama. Melalui proses yang panjang,


Nina akhirnya merasakan mendapatkan hidayah. Hingga ia minta diajarkan shalat oleh teman. Pada 1983, ia akhirnya mantap mengucapkan syahadat di depan teman-teman juga ustaz yang membimbingnya.


Awalnya, Nina menyembunyikan identitas barunya sebagai Muslimah apalagi di depan keluarga. Karena, ia tahu keluarganya adalah penganut Katolik yang taat.


Suatu hari, keluarganya akhirnya mengetahui juga. Saat itu, orang tuanya melihat ia sedang shalat. Ia pun kemudian dimarahi habis-habisan oleh bapaknya. “Saat dimarahi itu, saya ya diam saja terus,” katanya.


Ia mencari pembelaan kepada kakaknya yang telah menjadi mualaf juga karena menikah dengan orang Islam. Namun, ia kecewa karena kakaknya sama sekali tidak tahu tentang esensi Islam dan tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.


Kakaknya ini hanya ikut-ikutan shalat seperti pasangannya, namun tidak mengetahui ilmu-ilmu agama Islam. “Berbeda dengan saya. Kalau saya mempelajari dulu, tahu ilmunya, baru belajar shalat dan memutuskan masuk Islam,” ujar Nina.


Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginan sendiri.


Sebelumnya, ia banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun dan bukan sekadar ikut-ikutan.


Setelah masuk Islam, ia merasa banyak perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam.


Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. “Saya selalu merasa disayang Allah,” kata Nina.


Ia merasa seperti terlahir kembali setelah masuk Islam tersebut. Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman baginya. Meski begitu, ia tetap menghormati orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan sendiri-sendiri.


Ketika lama tak bertemu kawan lama, banyak yang kaget melihat penampilannya sekarang apalagi sekarang ia mengenakan jilbab. “Tapi, alhamdulillah hubungan kami tetap baik, hubungan sosial tetap terjaga, apa pun kepercayaan yang kamu anut,” ujarnya.


Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia selalu diam, tak membantah ataupun balas membentak orang tuanya.


Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. Bahkan, semakin hari akhlaknya kian bagus. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam.


“Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung ngebut belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat, sudah mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meregang nyawa,” kata Nina.


Article source: http://hot.detik.com/read/2011/04/08/140904/1611824/230/aniesa-amalia-langganan-peran-komedi?880006fa


Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

Monday, March 11, 2013

Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Judul Buku : Nomadic Heart
Penulis : Ariy
Penerbit : B-First, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : xiv + 174 halaman
ISBN : 978-602-8864-72-5
Peresensi : Sam Edy Yuswanto

Sebagai seorang traveler yang telah (dan akan terus) menjelajahi berbagai belahan dunia, ada banyak kepingan-kepingan cerita yang mencuat dari hati para traveler yang dijumpainya. Kisah teman-teman sesama traveler, bahkan cerita paling privasi mereka tertumpah di tiap liku perjalanan. Tawa, nestapa, tangis, bahagia tak ayal mengiringi tiap jengkal tanah yang dilaluinya. Itulah romantika kehidupan, bila direnungi dengan hati sebening telaga, akan membuat hidup ini jauh terasa lebih indah, berwarna, dan menjadi kita lebih bijak dalam memahami tiap inci kehidupan yang akan (atau sedang) kita lalui.

Bagi Ariy, menulis adalah proses menenangkan diri. Menulis itu kontemplasi. Dengan menulis, ia merasa sekolah tanpa henti, karena ia harus banyak membaca, banyak observasi, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dll. Menulis itu ‘curhat sempurna’ tanpa perlu traktir teman untuk mendengarkan. Menulis menjadi cara Ariy untuk berbagi kebahagiaan, berbagi perasaan menyenangkan. Buku ini memuat cerita-cerita yang dialami penulis sejak tahun 2008, saat ia pertama kali masuk komunitas ‘traveler’ dan mulai berinteraksi dengan banyak traveler dunia.
Banyak yang gagap dalam memahami isi pikiran dan filosofi hidup para traveler. Namun, penulis tak mau ambil pusing, tak memaksa orang lain untuk memahaminya. Pasti banyak sekali pertanyaan, mengapa hidup tak dibikin mudah saja? Lahir, sekolah, menikah, bekerja, lalu mati (hal x).

Sejujurnya, penulis sendiri tak terlalu mengerti apa sebenarnya yang membuatnya (dan para traveler lain) tak pernah berhenti bergerak. Mengapa ia lebih memilih berpayah-payah tersesat dan bukan duduk nyaman di sofa menonton televisi sambil ngemil pisang goreng hangat. Tapi yang pasti, ia dan sesama traveler lain seperti berada dalam frekuensi yang seirama. Saat bertemu, mereka saling menyelami, melengkapi, dan berbagi banyak hal. Dalam tiap perjalanan, ada banyak pelajaran penting yang ditemui, baik dari kisah hidup para traveler itu sendiri, maupun dari lingkungan yang mereka kunjungi. Benar kata orang, traveling adalah persoalan proses dan bukan lagi melulu soal destinasi. Traveling adalah sebuah proses memperkaya hati (hal xi).
Banyak orang bertanya, aku sedang menuju ke mana? Melakukan perjalanan beribu mil jauhnya hanya demi satu pertanyaan, apakah hidupmu sudah benar? Mengira di luasnya dunia akan tersedia semua jawaban atas persoalan hidup. Sedikit yang menyadari, bahwa aku sedang tidak menuju ke mana-mana. Aku bahkan mungkin tidak menyadari, bahwa aku sedang bertanya pada diriku sendiri (hal 11-12).

Ariy memilih resign dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Keputusannya itu segampang membalikkan telapak tangan. Sementara di luar sana mungkin ribuan bahkan jutaan orang tengah berjuang mendapat posisi seperti dirinya yang seorang jurnalis. Keputusannya tentu bukan atas dasar emosi. Itu keputusan terbijak menurutnya, yang merupakan hasil perenungan termatang satu tahun terakhir dan satu bulan perjalanan mengelilingi Thailand dan beberapa negara lainnya. Perusahaan tempat ia bekerja sudah tak membuatnya merasa nyaman untuk tinggal lebih lama. Meski di sisi lain, banyak orang bertahan lama kerja di perusahaan tersebut karena banyak alasan. Butuh uang menjadi alasan utama, yang bila dipaparkan lagi akan ada serentet alasan lain bahwa mereka harus membayar cicilan rumah, menghidupi keluarga, status sosial, dll. Namun pada prinsipnya, setiap orang tentu memiliki alasan atas keputusan dalam hidupnya, sebagaimana Ariy, memilih mundur dari perusahaan karena telah merasa nyaman dengan rutinitasnya sebagai traveler. “Aku percaya, di mana aku merasa nyaman, di sanalah seharusnya hatiku berada” ucap Ariy (hal 13-17).

Banyak kisah menarik dalam tiap perjalanan penulis, seperti ketika ia bertemu dengan Monica, gadis kulit putih bermabut pendek yang mengarungi samudera membentang dunia untuk melipur hatinya yang tengah terluka setelah putus dengan sang pacar. Tentang pertemuannya dengan Paul, cowok ganteng rendah hati penyuka traveling sekaligus artis terkenal di Thailand, yang dengan sukarela mau memberi tumpangan tempat tinggal, pertemuannya dengan John Doe, si “Topan Badai” yang suka mengumpat dan marah-marah, hingga pertemuannya dengan Duco, pemuda sopan berwawasan luas, mahasiswa kedokteran dari Belanda, yang tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Satu hal yang mencengangkan Ariy, Duco terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah gay. Meski begitu, Duco bilang bahwa dunianya tak melulu tentang gay. Dan inilah jawaban Duco saat Ariy bertanya; apakah kamu bahagia, Duco?

“Selama aku bisa bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, sebagai dokter bagi mereka yang membutuhkan jasaku, menjadi guru bagi mereka yang membutuhkan pengetahuanku, dan menjadi teman bagi mereka yang menginginkanku, maka selama itu pula aku akan bahagia,” ujar Duco sambil tersenyum (hal 116-123).  
***
Diresensi oleh Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen.






Article source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/514277/


Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Saturday, October 12, 2013

Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

JAKARTA – Warna rambut boleh sama hitam, namun setiap orang punya pendapat beragam tentang segala sesuatu. Apalagi menyangkut masalah keyakinan. Meskipun sama-sama muslim, umat Nabi Muhammad punya cara dan pendapat yang beragam soal ritual dan ajaran Islam. Itulah sebagian ‘warna’ yang ingin ditampilkan dalam ‘99 Cahaya di Langit Eropa’.


 Selain menampilkan perjalanan spiritual Hanum Rais (Acha Septriasa) di tanah Eropa, film ‘99 Cahaya di Langit Eropa’ juga melibatkan karakter-karakter lain yang memiliki pandangan sendiri soal kepercayaan. Mereka adalah teman-teman Rangga (Abimana) di lingkungan kampus.


Sosok pria yang tak percaya dengan agama, akan dimainkan oleh Nino Fernandez sebagai Stefan. Sedangkan Alex Abbad, memerankan tokoh Khan, pemuda keturunan Pakistan yang sangat memegang ketat ajaran agamanya.


“Khan ini orang Pakistan yang sangat strict sampai disertasinya dia tentang halal dan haram, dan ini memang real,” ujar sutradara Guntur Soeharjanto disela-sela lokasi syuting di Wina, Austria akhir September lalu.


Khan yang merupakan kalangan minoritas sebagai muslim di Wina, ‘menuntut’ haknya akan label halal dan haram sehingga ia bisa menjalankan perintah agamanya dengan tenang.  “Karena dia butuh pernyataan itu dari pemerintah, bahwa dia seorang muslim harus dijamin,” tambah Guntur.


Sementara karakter Stefan, selalu berargumen dengan logika. Ketika suatu hal tidak masuk rasionalnya, akan terjadi benturan pandangan antara si Khan dan Stefan melalui Rangga.


“Stefan sering mempertanyakan kenapa makan babi dilarang, dan sebagainya. Stefan kan porsinya lumayan banyak, karena film butuh sesuatu yang detail, akhirnya kita kembangkan dari bukunya,” jelas sutradara yang sebelumnya mengarahkan ‘Tampan Tailor’ itu.


Isu besar yang dibawa dalam film adalah ingin menampilkan bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Eksekutif Produser Yoen K menjelaskan, contoh menjadi agen muslim yang baik seperti digambarkan dalam film, misalnya, ada beberapa kali tokoh anak muslim yang di-bully, tetapi dia bukan membalas dengan melakukan hal sama.


 


Tetapi dia memberikan pelajaran dengan menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya. Bukan Islam yang menebar kebencian atas nama agama, seperti yang lebih sering disorot dunia Barat.


“Ini juga bukan film tentang bagaimana seorang wanita mendapat hidayah untuk berhijab, itu kan sebuah proses ya,” tambah Yoen.


Film ini juga dibuat dengan semangat toleransi yang besar. Meskipun bertema religi Islam, menurut Yoen film ini melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda.



“Yang terlibat di film ini bukan cuma teman-teman dari Muslim. Katolik, Kristen, Budha, Hindu pun ada. Ini film dari awal sudah ditegaskan bahwa film ini bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk memberikan gambaran rahmatan lil alamin,” terangnya dilansir detik.


‘99 Cahaya di Langit Eropa’ menampilkan Raline Shah, Acha Septriasa, Abimana, Nino Fernandezz, Alex Abbad, dan Marissa Nasution. Fatin Shidqia Lubis dan Dian Pelangi juga akan memeriahkan film produksi Maxima Pictures ini.


Proses syuting sudah dimulai sejak 9 September lalu di Wina, Austria. Dilanjutkan pengambilan gambar di Paris, Cordoba dan Istanbul. dtc



Article source: http://international.okezone.com/read/2013/10/10/412/879780/80-prajurit-israel-gerebek-masjid-al-aqsa


Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

Wednesday, March 6, 2013

Teman Politisi Geert Wilder Masuk Islam

Teman anggota politisi terkemuka di partai sayap kanan Belanda Geert Wilders ‘telah memeluk Islam setelah mengkaji agama Islam.

 

Belanda,Negeri Kincir Angin digemparkan dengan kicauan Arnoud Van Doorn (46) di Twitter, 27 Februari lalu.Secara mengejutkan ia membuat twett yang menyatakan ia memeluk Islam dan memulai kehidupan baru sebagai seorang Muslim.

 

Pasalnya Arnoud adalah politisi dari Partai untuk Kebebasan (PVV) dan teman dekat (wakil) Geert Wilders pemimpin partai PVV, sosok kontroversial yang mengguncang Belanda, Eropa, Amerika dan Dunia Islam dengan film “Fitna” yang diproduksinya hingga ia digelari sebagai sang “Penghasut Kebencian”.

 

Dalam akun Twitternya Arnoud menulis kalimat yang lazim diucapkan orang muslim dan orang yang akan masuk Islam, yaitu dua kalimat syahadat. Ia menulisnya dengan tulisan berbahasa Arab yang berarti “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

 

Van Doorn juga menegaskan bahwa ia benar-benar memeluk Islam dan bangga menjadi seorang muslim. Ia banyak mendengar cerita negatif tentang Islam, namun saya bukan orang yang mudah mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan penelitian sendiri,” kata Doorn.

 

Oleh karena itu, saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan tentang Islam dibantu rekannya Aboe Khoulani dari Dewan Kota di Den Haag.

 

Beberapa orang menyebut saya sebagai pengkhianat, tetapi menurut kebanyakan orang lain saya telah benar-benar membuat keputusan yang sangat baik,” katanya kepada Aljazeera.

 

Reaksi umumnya positif dan saya juga menerima cukup beberapa dukungan melalui twitter. Rasanya sangat baik bahwa orang-orang yang tidak mengenalnya secara pribadi telah memahami situasi dirinya dan mendukung atas pilihan nya.”

 

Dalam hidupnya ia banyak membuat kesalahan, dari kesalahan-kesalahan ini ia telah belajar banyak, oleh karena itu, konversinya ke Islam memiliki perasaan bahwa akhirnya ia menemukan jalan dan menyadari atas apa-apa yang diperbuat sebelumnya.

 

Kicauan Arnoud di Twitter ini banyak diragukan oleh para netizen dan pegiat sosial media, pasalnya Arnoud selama ini terkenal dengan sikapnya yang memusuhi Islam dan bergabung ke partai PVV yang memusuhi Islam.

 

Salah satu situs Belanda, joop.nl, menguatkan berita  keislaman Arnoud Van Doorn. Situs ini juga telah menghubungi dirinya untuk konfirmasi. Bahkan telah menghubungi pihak masjid As-Sunnah Den Haag, di mana Van Doorn mengucapkan kalimat syahadat di masjid tersebut.

 

Situs berita Aljazeera.net juga Senin kemarin (4/3) telah memuat berita keislaman Arnoud dan telah mendapat komfirmasi langsung dari Arnoud atas pemberitaan keislaman dirinya.(ig/sbl/iol)

 

Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/17/m2ltlp-perkawinan-makrokosmos-2


Teman Politisi Geert Wilder Masuk Islam

Saturday, February 9, 2013

Diego Michiels: Saya Masuk Islam Bukan karena Nikita Willy

Laporan Wartawan Tribunnews, Eri Komar Sinaga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Diego Robbie Michiels (22) menegaskan bahwa dirinya memeluk agama Islam bukan karena berpacaran dengan Nikita Willy.

Diego mengaku mantap pindah keyakinan lantaran dorongan dari hatinya.

“No, I did it for my self. From my heart (Tidak ada hubungannya. Saya melakukannya untuk saya sendiri. Dari hati saya),” ujar Diego di hadapan wartawan dan Tribunnews.com, sebelum sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2013).

Diego juga menampik jika menjadi mualaf karena teman-temannya banyak yang muslim. Namun, Diego mengaku kini diajari temannya yang Islam.

“I don’t do it for my friends. My friends here who also Moeslim they teach me how to pray (saya tidak melakukannya demi teman. Teman-teman saya yang Islam mengajari saya bagaimana caranya berdoa,” ujarnya.

Diego juga mengaku ibunya sudah mengetahui tentang kepindahannya menjadi seorang Muslim.

Diego mengatakan tidak ada masalah dengan ibunya. Jika Diego bahagia dengan pilihannya, ibunya juga demikian.

“My mother already know. I aksed her before one month ago and when she was here last month I asked if it’s okay. She said if you happy I’m happy (ibu saya sudah tahu. Sebulan yang lalu saya bertanya kepadanya. Dan ketika dia di sini bulan lalu dia bilang jika kamu bahagia saya juga bahagia,” terangnya.

Diego sebelum menjadi warga negara Indonesia (WNI) adalah warga negara Belanda.

Diego lahir di Deventer, Belanda, pada 8 Agustus 1990. Sebelumnya, Deigo adalah penganut agama Kristen.

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/27187/10/02/2013/anggota-dpr:-anak-muda-wajib-masuk-pesantren.html


Diego Michiels: Saya Masuk Islam Bukan karena Nikita Willy

Thursday, September 19, 2013

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

REPUBLIKA.CO.ID, Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.


Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.


Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.


“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.


Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.


Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.


Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.


“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.


Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.


Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).


Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.


Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.


Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.


Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).


Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.


Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.


Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.


Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.


Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.


“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/09/juwita-bahar-pelit-bicara-soal-pacar-takut-direbut-cewek-lain


Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

Friday, August 9, 2013

Jadi Dokter Berjilbab di AS, Ranti Tak Lelah Lawan Diskriminasi


Ranti Aryani dan suaminya, Richard J Bennett Jr.

Jakarta – Pengalaman drg Ranti Aryani, didiskriminasi karena memakai jilbab dialami lagi saat dia memutuskan mengikuti program praktek pasca kelulusan pendidikan penyetaraan kedokteran gigi dari New York University (NYU). US Air Force (Angkatan Udara AS) menjadi pilihan praktiknya. Di lembaga ini Ranti mengalami ironi di negara demokrasi.

Karena alasan bergengsi dan bagus untuk mengembangkan skill praktek kedokteran gigi yang dimilikinya, Ranti mendaftar ke Angkatan Udara AS ini. Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab. Ranti mengajukan syarat bila diterima, dia minta diizinkan tetap memakai jilbab.


Setelah mengalami penolakan dari rekruter di AU AS, akhirnya AU AS menerima Ranti. Seorang rekruter mengatakan hak Ranti dijamin oleh peraturan dari Kementerian Pertahanan AS (Departmen of Defence/DOD), DOD 13000.17 yang menjamin praktik keagamaan di angkatan bersenjata AS. Sang rekruter mengatakan hijab bukan menjadi masalah.


“Peraturan DOD itu turun karena dulu ada Kapten Yahudi yang memakai yarmulka (penutup kepala pria Yahudi). Nah bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada masalah jilbab yang muncul. Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” kisah Ranti mengenang awal masuknya dia ke AU AS, Juli 2003 itu ketika ditemui detikcom di Jalan Puter 1, Bintaro Sektor 5, Jakarta dan ditulis Jumat (9/8/2013).


Namun, jaminan sang rekruter yang mengatakan jilbab tak masalah ternyata jauh berbeda dalam praktiknya di lapangan. Saat itu pasca 9/11 pada 2001, Islamofobia dan stigma Islam adalah agama kekerasan masih melekat kuat di benak warga AS, baik di kalangan sipil maupun militer.


“Niat pemerintah mengakomodir, tapi interpretasi di lapangan itu agak sulit. Kalau melihat kembali, pengalaman mengakomodir jilbab ini AS baru berusaha karena masih ada trauma nasional 9/11. Saya masuk setelah 9/11, misinterpretasi di AS itu masih banyak sekali. Saat 9/11, media menampilkan di beberapa bagian di dunia muslim malah bergembira ria, padahal saya saat itu sangat sedih sekali. At that point, I understand why they being careful (Pada titik itu saya bisa mengerti mengapa mereka berhati-hati),” jelas perempuan kelahiran Bogor, 1 April 1972 ini.


Pandangan berbeda sudah dia terima sejak mendaftar ulang di AU AS di Lanud Maxwell, Montgomerry, Alabama. Ranti yang berjilbab ditemani suaminya, Richard G Bennett Jr untuk melakukan daftar ulang. Saat itu Ranti sudah diterima di AU AS, sebagai dokter gigi tentara berpangkat kapten.


“Kantor yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. Mereka memandang saya, up and down, up and down. Oh my God,” kenang Ranti sambil menganggukkan kepalanya memperagakan reaksi di AU AS pertama kali.


Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang. Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatan masuknya, tidak diizinkan membeli seragam tentara kalau tidak menanggalkan jilbabnya. Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan namun harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan.


“Dan mereka tahu saya tidak akan melakukan itu. Untuk buka tutup itu saya pernah alami. Dan saya ingat bagaimana labilnya saya ketika buka tutup jilbab itu, bukan pengalaman yang mengenakkan. Opsi seperti ini saya khawatir jangan-jangan malah saya yang berniat naik turun untuk membuka jilbab daripada menetapkan niat saya dan berlanjut dengan pekerjaan saya,” tegas Ranti.


Dia juga tak diberitahu ada hak-hak yang bisa didapatkannya dari AU AS, fasilitas yang menjadi haknya dikurangi. Ranti lantas menyusun argumen demi argumen, dokumen demi dokumen dan mengadukan perlakuan diskriminasinya sesuai garis komando, mulai dari komandan pangkalan hingga ke Pentagon, AS. Ranti juga mengadukan perlakuan yang diterimanya ke senator, salah satunya Hillary Clinton.


Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya, dan menunjukkannya bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Di sela-sela menunggu ketidakpastian akan nasibnya yang hendak diputuskan, Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.


“Alhamdulillah semua teman-teman satu kantor, kolega, bawahan, atasan saya, kolonel, letkol, semua kolonel pangkalan secara individual itu mereka percaya persamaan HAM. Itu bagian kultur mereka untuk tidak diskriminasi. Walau sulit, saya banyak dukungan moril kan mereka tahu prinsip mereka tentang kesetaraan. Ini memang masalah kultur militer ya, agak rigid, with or without jilbab problem,” jelas Ranti.


Dalam satu prosesnya, Ranti didampingi pengacara dari AU AS. Kendati demikian, 2 dari 3 pengacara malah menyarankan Ranti untuk menerima keputusan AU AS agar dirinya mengundurkan diri daripada memperjuangkan hak-haknya.


Saat menghadapi diskriminasi itu, Ranti yang seorang salik atau pejalan spiritual yang menempuh jalan sufisme, selalu berkomunikasi dengan Sang Khalik atas segala keputusan yang hendak diambilnya. Puncaknya adalah keputusan final yang membuatnya dikeluarkan secara terhormat ‘Honorable Discharge’, tingkat penghentian tertinggi dalam angkatan bersenjata AS, setelah ‘General Discharge’ (dikeluarkan karena alasan yang biasa) dan ‘Dishonorable Discharge’ (dikeluarkan dengan tidak terhormat).


Ranti tak terima karena alasan penghentiannya adalah ‘unsatisfactory performance’ atau performa kinerja yang tidak memuaskan dan tidak kompeten. Dia menilai performa kerjanya dalam merawat gigi tentara AS sangat memuaskan dengan menangani 3 ribu pasien.


Belum lagi dia mendapati bahwa keputusan final yang diteken 5 jenderal AU AS, 4 di antaranya ternyata mengizinkan Ranti memakai jilbab dan 1 jenderal lainnya yang paling senior, Wakil KSAU, memveto keputusan 4 jenderal lainnya.


Setelah perjuangan selama 14 bulan melawan diskriminasi di AU AS, Ranti akhirnya mundur dari AU AS. Ranti mendapati dirinya mengalami ironi di negara pelopor demokrasi di dunia itu. Di sisi lain, tentara AS yang bertugas di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Irak, malah diwajibkan memakai burqa untuk menghormati kultur setempat.


Pernah ada tentara Kristen yang menggugat pemakaian burqa ini karena tak sesuai dengan agamanya dan dikeluarkan. Ranti tak menggugat putusan AU AS itu ke pengadilan karena dirinya sadar dia berhadapan dengan birokrasi raksasa yang digdaya. Yang penting, ikhtiar sudah dijalankan dengan maksimal dan Ranti cukup senang di kalangan jenderal yang lebih muda sudah terbuka pikirannya akan jilbab. Ranti yakin, suatu saat jilbab dan simbol keagamaan lain akan diizinkan dipakai di angkatan bersenjata di negara demokrasi itu, hanya masalah waktu.


“We can hope alot from younger general, mereka sudah open, just waiting that old habit changing giving new world,” tutur Ranti.


Dalam kehidupan dunia, Ranti merasa ini adalah titik terendahnya. Di saat yang sama, inilah titik terdekatnya dengan Yang Maha Pencipta secara spiritual.


“Saya honorable discharge, sampai sekarang US Air Force (USAF) tidak pernah minta maaf pada saya, tapi saya tidak butuh US AF minta maaf karena saya maafkan semuannya. USAF titik terendah saya sebagai seorang profesional, secara spiritual titik tertinggi saya dengan Allah. Saya tak butuh maaf mereka,” kata Ranti.


“Itu bagian dari melakukan usaha dunia kita, sementara dalam hati, kita berserah diri pada Allah. Kita meminta keadilan dari Allah, kita tak bisa bergantung pada dunia ini, kita bergantung pada Allah,” tutur Ranti.


Ranti akhirnya menjadi dokter gigi sipil, berpraktek dari satu klinik ke klinik lain. Perjuangan belum selesai, karena di dunia sipil pun Ranti bergelut dengan diskriminasi. Dukungan sang suami yang menguatkan dalam jalan rohani membuat Ranti ulet berjuang dengan diskriminasi dengan cara yang elegan.


Bagaimana situasi jalur mudik di jalur Selatan Jawa Barat dan Jalur utara Jawa Timur, saksikan di Reportase Pulang Kampung pukul 22.00 WIB Hanya di Trans TV


(nwk/rmd)







Article source: http://www.tabloidbintang.com/extra/61811-film-tentang-cinta-beda-agama,-kenapa-terus-dibuat.html


Jadi Dokter Berjilbab di AS, Ranti Tak Lelah Lawan Diskriminasi

Friday, December 21, 2012

'Di Kampus Saya Berasa Seperti Artis'

Foto: Rayful Mudassir | The Globe JournalElfis Yosua TruknaLangit masih samar-samar memperlihatkan warna birunya walaupun matahari hampir berganti giliran dengan bulan yang mulai naik perlahan. Suasana bising pun untuk jeda sejenak lantaran umat muslim tengah melaksanakan ibadah shalat Maghrib baik di mesjid maupun di rumah mereka masing-masing.

Usai melaksanakan shalat Magrib di rumah kerabat, tiba-tiba handphone yang saya letakkan di atas kasur kayu berukuran 2×1 itu bergetar. Sejenak terlupa bahwa sebelumnya saya mempunyai janji bertemu dengan salah seorang mahasiswa dari Papua yang saya peroleh nomornya dari seorang kerabat yang berkuliah di FISIP Unsyiah.

Setelah saling membalas pesan singkat, kami sepakat untuk segera bertemu di kantin Asrama Koperasi Mahasiswa Unsyiah di jalan Inong Balee Darussalam, Banda Aceh. Sampai disana setelah memarkirkan sepeda motor di depan kantin, tampak seorang pria berbadan gelap, berambut kriting khas Papua, serta berhidung mancung, sedang duduk seorang seperti sedang menunggu seseorang.

Saya langsung menuju ke arahnya dan berjabat tangan dengannya. Pria hitam manis manis ini dengan headset yang tetap dipasang ditelinganya, jaket berwarna biru dengan lambang pemerintah Papua di sebelah kiri jaket tersebut membuatnya terlihat gagah dan sangat Papua. 

Nama pria bertubuh mungil itu Elfis Yosua Trukna, salah seorang mahasiswa Papua yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dari Papua untuk belajar ke Universitas Syah Kuala. Ia masih terhitung belia di kampusnya, semester satu di jurusan Ekonomi Akutansi. Ia tak sendiri di Banda Aceh, pria yang biasa disapa Eli ini bersama 19 teman lainnya sesama Papua menyeberang ribuan kilometer untuk belajar di Negeri Serambi Mekkah.

“Sebenarnya ada 30 orang yang akan diberangkatkan, tapi karena ada yang takut dengan tsunami dan takut dengan perbedaan agama makanya 10 orang tidak berani kesini karena tidak diizinkan orang tuanya,” kata lelaki kelahiran 10  Oktober 1992 ini di kantin Askopma, Kamis, (6/12/2012) malam.

Namun Elfis berbeda dengan teman-temannya yang lain yang keder pindah ke Nanggroe Serambi Mekkah. Ia menganggap meski mayoritas penduduk Aceh Muslim, namun Aceh sama seperti di Papua. Kesamaan yang ia maksud diantaranya adalah perihal komposisi pemeluk agama.

Jika di Papua, agama yang dianut masyarakat disana tidak ada yang diatas atau dibawah, melainkan sama. Muslim 50 persen serta Kristen 50 persen.  “Meski disini mayoritas Muslim, namun tetap saja mereka toleransi terhadap kami, disana juga banyak mesjid-mesjid seperti disini,”kata anak dari Efraim Trukna dan Yohana Alimdam ini.

Selain itu, kesamaan yang lainnya ialah di Aceh dulu sempat lahir Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang kini telah berdamai dengan pemerintah RI. Di Papua saat ini juga mempunyai sebuah gerakan yang ingin memerdekakan Papua dari Indonesia, yaitu Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Ya saya anggap Papua dan Aceh itu sama, masyarakatnya juga ramah-ramah, tidak seperti saat saya berada di Jawa dulu,” katanya mulai menceritakan masa kelamnya saat di Yogyakarta.

Eli sempat menikmati bangku sekolahnya di SMAN 1 SMAPTA, Yogyakarta mulai kelas satu hingga tamat. Selama tiga tahun tersebut, ia terkadang menerima perlakukan yang tak mengenakan dari orang-orang disana. Terkadang dia dicemooh, dilirik hingga diteror oleh orang-orang baik yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal.

“Kadang-kadang ada yang bilang, Woi OPM kau ya, gak bakal merdeka kau,” katanya memperagakan bagaimana seseorang berkata kepadanya saat di Yogya.

“Di  Aceh tidak begitu, di kampus pun saya berasa seperti artis karena teman-teman baik kepada saya, mungkin karena mereka belum pernah bertemu dengan orang Papua sebelumnya,” tambah anak pertama dari empat bersaudara itu tertawa lebar.

Kehidupan di Aceh bagi pria ramah ini begitu menyenangkan, dengan budayanya, masyarakatnya hingga kebiasaan orang-orang Aceh dalam kesehariannya. Namun yang paling menarik bagi Eli terhadap Aceh ialah saat sedang di rumah makan atau warung kopi dimana kebiasaan orang Aceh selalu berlama-lama disana walau hanya untuk minum kopi.

“Lucu, saya dulu di Papua selesai makan minum langsung pergi karena nantinya akan ada orang lain lagi yang akan duduk disana. Tapi disini bisa santai-santai dulu selesai makan atau minum, suka saya,” katanya memasang wajah senang.

Selain itu penyuka mie Aceh ini mengatakan orang-orang di provinsi paling ujung Sumatera ini sangat ramah dan sangat bersahabat bahkan dengan orang asing baik dalam maupun luar negeri.

“Saya terkejut dan tertawa saat pertama membeli makanan di Aceh, sangat murah. Sekali makan saja hanya perlu uang sebesar Rp 10 ribu, tapi kalau di Papua sana tidak cukup Rp 10 atau Rp 20 ribu tetapi Rp 100 ribu,” kata Eli sambil tersenyum.

Namun dibalik nilai positif yang ia rasakan, ada satu hal yang membuat pria asal Sumtamon, kabupaten Pegunungan Bintang provinsi Papua ini kebingungan saat berada di Aceh.

“Saat saya tiba di Aceh saya bingung begitu, kami di Papua setiap hari Jumat dan Minggu libur karena itu kan hari besar untuk Muslim (Jumat) dan Kristen (Minggu), jadi bisa saling menghargai satu sama lain, sederajat begitu,” katanya dengan aksen Papua yang khas.

Ia juga mengeluh tentang fasilitas yang ia terima dari pemerintah Papua lantaran pemerintah tidak memberikan fasilitas belajar yang memadai seperti meja belajar. Ditambah lagi pengiriman uang baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten sering terlambat hingga satu bulan lebih. Padahal pemerintah telah berjanji akan memberikan fasilitas lengkap kepada para mahasiswa Papua yang kuliah di luar Papua.

“Kami terima uang beasiswanya dalam tiga tahap, dari Dikti Rp 800 ribu, Provinsi Papua Rp 1,2 juta dan dari kabupaten Pegunungan Bintang Rp 5,5 juta untuk setiap bulannya, tapi sering terlambat, punya yang bulan November pun belum dikirim,” katanya. 

Eli yang dipercayakan sebagai Ketua untuk mahasiswa Papua yang belajar di Unsyiah ini adalah salah satu putera Papua dari  747 mahasiswa yang dikirim ke universitas diluar Papua dan disebarkan ke seluruh universitas negeri di Indonesia. Mereka dikirim melalui program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), dididik keluar Papua agar di masa mendatang bisa membangun provinsi mereka dengan lebih baik.

Selain itu, sebelum para calon sarjana menuju ke kampus yang telah ditentukan, mereka juga menandatangani nota kesepakatan (MoU) antara setiap mahasiswa dengan Dikti. Dan yang lebih menjanjikan lagi, 747 orang yang dikirim usai menjadi sarjana maka dijamin mendapat pekerjaan sesuai perjanjian. Eli sendiri punya cita-cita menjadi wakil rakyat di negerinya nanti seusai menuntut ilmu.

Awal tahun 2012 lalu, Eli disarankan oleh salah seorang pamannya dari partai Nasional Demokrasi (Nasdem) yang menjadi salah seorang anggota DPRD Pegunungan Bintang, untuk masuk menjadi anggota partai yang diketuai oleh Surya Paloh tersebut sehingga Elfis bisa masuk menjadi anggota DPRD nantinya usai menjadi sarjana.

Eli tak diizinkan orang tuanya untuk kembali ke Papua kecuali sudah mendapat gelar sarjana. “Pokoknya pulang ke Papua kalau sudah jadi sarjana jadi langsung kerja,” katanya mengulang kalimat yang disampaikan oleh sang ayah untuknya.

Meski kerinduannya sangat besar terhadap keluarganya yang berada di ujung timur Indonesia itu, selain karena orang tuanya, Eli juga mengingat ongkos yang harus ia keluarkan hampir mencapai Rp 7,5 juta untuk sekali pulang sehingga ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kampung tercinta. “Lagian saya senang dengan Aceh,” katanya sambil tertawa dan membuang puntung rokok yang sejak tadi dihisapnya.
[004]

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/din-syamsuddin-ingin-saudagar-muslim-kuasai-sudirman-thamrin.html


'Di Kampus Saya Berasa Seperti Artis'

Saturday, September 21, 2013

Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"


PRIA kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.



Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.



Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.



“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.



Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.



Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.



Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.



“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.



Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.



Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).



Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.



Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.



Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.



Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).



Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.



Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.



Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.



Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.



Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.



“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum. | Sumber: republika.co.id


Article source: http://www.republika.co.id/berita/en/national-politics/12/07/13/m723x8-jakarta-election-supervisory-committee-receives-54-complaints


Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"

Monday, July 8, 2013

Gadis pesta ini mengenal Islam di klub malam

Matanya berwarna biru teduh, kulitnya putih, rambutnya pirang sebelum mengenakan kerudung. Ketika Amy Sall mulai memakai jilbab, dia menarik perhatian banyak orang, terutama di jalanan. Orang yang berpapasan dengannya kerap mencaci atau mengeluarkan kata-kata penghinaan. Tapi itu semua tidak menyurutkan niat perempuan Inggris berusia 29 tahun itu untuk tetap memeluk Islam.


Amy mengaku awalnya cukup terkejut dengan reaksi orang asing yang tidak mengenalnya. Perempuan yang memiliki tiga putri ini masuk Islam saat menikahi suaminya Amadou yang beragama Islam pada April 2010.


“Ketika saya sedang berjalan memakai jilbab seorang pria lewat kemudian berhenti dan meneriaki saya, ‘Muslim brengsek!’,” kata dia seperti dilansir surat kabar The Sun tahun lalu.


“Saya sangat terkejut tapi saya harus menghadapi situasi itu. Sejak peristiwa 11 September banyak orang di negeri ini yang berpikir bahwa semua muslim itu fundamentalis dan teroris.”


Amy mengaku di dulunya adalah seorang gadis yang suka pesta dan minum-minum.


“Ironisnya saya dulu adalah anak liar dan hingga saat ini saya terkadang masih pergi ke klub malam bersama teman-teman, membuka jilbab dan minum-minum.”


Tapi ketika dia pulang ke rumah, Amadou selalu marah kepadanya. Suaminya itu memperingatkan dia tidak keberatan jika Sall pergi keluar dan minum-minum tapi jika dia sampai mabuk dan di luar kendali maka Amy dilarang kembali ke rumah.


“Saya mencoba berusaha salat lima kali sehari tapi saya jujur belum bisa melakukannya. Itu membuat saya merasa bersalah dan tidak bisa menjadi seorang muslim seharusnya.”


Ketika pergi ke masjid, Amy sadar orang suka berbisik-bisik di belakang dia. “Omongan itu bukan berasal dari teman dekat Amadou, tapi dari orang-orang tua yang berpikir saya tidak serius masuk Islam dan tidak pakai jilbab setiap saat.”


Amy memiliki teman dekat bernama Donna, seorang perempuan Inggris yang juga baru masuk Islam. Donna lebih serius dalam berislam dan Amy sering berkonsultasi dengannya.


“Saya masih berusaha mempelajari peran perempuan di dunia muslim dan saya merasa tidak akan sepenuhnya bisa menjalaninya. Ini seperti hidup di dua dunia.”


Meski menjadi muslim merupakan sebuah tantangan tapi Amy masih lebih setia kepada suaminya. Mereka kini menjalani pernikahan bahagia.


“Sebelum melahirkan Alfred saya sangat liar. Saya suka pergi ke klub malam hampir saban hari dan minum-minum.”


“Saya banyak melakukan kesalahan di masa lalu dan karena itulah keluarga saya menyambut baik hadirnya Amadou. Mereka pikir dia bisa membuat saya lebih terkendali. Amadou orang yang serius tapi kami cocok.”


“Kami menikah dalam waktu enam bulan dan waktu itu saya tahu harus masuk Islam untuk bisa bersamanya. Saya sangat mencintainya dan saya ingin terus bersamanya jadi saya katakan saya mau masuk Islam.


Amy masuk Islam di hari ketika mereka menikah.


“Saya harus mengucap kalimat syahadat di depan imam. Saya belum membaca Alquran ketika itu tapi sejak itu saya berusaha belajar. Saya juga membaca di Internet dan senang bergabung dengan kelompok perempuan muslim di Facebook.”


Suami Amy, Amadou, 37, berasal dari Afrika Barat. Dia bekerja di pergudangan Tesco dan mereka kini tinggal di Middlesbrough dengan tiga anak. Anak pertama Alfred, tujuh tahun, berasal dari pernikahan Amy sebelumnya. Anak kedua Aminata, enam tahun dan Kade tiga tahun. Mereka telah menikah selama enam tahun.


“Lucunya kami bertemu di klub malam meski Amadou tidak minum-minum atau merokok dia suka menari dan saya langsung memperhatikannya ketika itu,” ujar Amy.












Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130622114843/limit/0/Kristen-Koptik-Diancam-Batalkan-Protes-Menentang-Morsi-di-Mesir.html


Gadis pesta ini mengenal Islam di klub malam

Monday, December 30, 2013

Selebrasi Hormat Ala Nazi Anelka Berujung Sanksi

TRIBUNNEWS.COM – Gara-gara gerakan selebrasi ala Nazi, Nicolas Anelka terancam hukuman dari Asosiasi Sepak Bola Inggris. Mantan striker timnas Prancis yang memperkuat klub West Bromwich Albion melakukan gerakan anti-semit saat merayakan gol yang dicetaknya pada pertandingan melawan West Ham United, di Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013).


Usai mencetak gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan. Kemudian tangan kiri dilipat dan diarahkan di dekat dada, sedangkan tangan kanan lurus mengarah ke depan namun pada posisi agak ke bawah.


Gerakan yang dilakukan tersebut cukup dikenal di Prancis. Di sana, gerakan itu disebut dengan istilah ‘la quenelle’. Sebuah gerakan dengan menempatkan tangan kiri memegang lengan kanan, sedangkan tangan kanan mengarah ke bawah itu juga dikenal sebagai gerakan hormat Nazi-terbalik.


Anelka melakukan gerakan selebrasi itu pada saat dia mencetak gol pertama dari dua gol yang dibuatnya pada pertandingan yang hasil akhirnya imbang 3-3 tersebut. Gerakan tersebut dilakukan Anelka karena terinspirasi oleh gerakan yang dipopulerkan oleh komedian asal Prancis, Dieudonne M’bala M’bala.


Pelawak teman Anelka itu mendapat kecaman karena pikiran dan pemahamannya yang dinilai termasuk kelompok sayap kanan. Dia juga sudah untuk memberikan penjelasan terkait dia yang dianggap anti-Semit.


Baru-baru ini, gerakan itu juga mendapat tanggapan serius dari Menteri Dalam Negeri Prancis, Manuel Valls. Dia menyebut gerakan tersebut sebagai isyarat anti-Yahudi.


Valls mengatakan dia akan melakukan apa pun untuk mencegah Dieudonne mengkampanyekan gerakan yang dinilai rasis karena termasuk anti-Semitis (anti Yahudi).


Dieudonne merupakan teman Anelka. Dia menyebut gerakan itu sebagai simbol anti kemapanan. Gara-gara “kreativitasnya” membuat gerakan itu dalam aksi komedinya, dia harus berhadapan dengan pengadilan Prancis.


Dukungan buat Dieudonne juga mengalir dari masyarakat, mereka bahkan sengaja secara bersama-sama melakukan gerakan yang biasa dilakukan Dieudonne pada saat di Pengadilan. Sedangkan bentuk dukungan Anelka pada Dieudonne adalah dengan membuat gerakan yang sama sebagai selebrasi usai mencetak gol.


Karena dipicu ulah Anelka, Menteri Olahraga Prancis, Valerie Fourneyron pun merasa perlu ikut berkomentar. Malam hari setelah terjadinya selebrasi Anelka itu menilai selebrasi yang dilakukan Anelkan itu sebagai sebuah gerakan yang ‘provokatif, mengejutkan, dan menjijikkan’. Dia menambahkan: ‘Anti-Semitisme dan hasutan untuk kebencian tidak memiliki tempat di lapangan sepak bola,” seperti dilansir Dailymail.


Anelka yang merupakan pemain sepak bola berusia 34 tahun itu adalah pemain yang lahir di Paris. Dia telah masuk Islam pada tahun 2004. Perubahan yang terlihat dari penampilannya sekarang adalah dia tetap memelihara janggut, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan oleh banyak pemain sepak bola.


Usai pertandingan, dia tidak segera mengomentari kehebohan atas sikapnya itu. Keith Downing, Manajer sementara Albion, menjelaskan apa yang dilakukan oleh striker nya itu hanya untuk menunjukkan dukungan dia kepada seorang teman.


Dia ingin ikut mendongkrak popularitas temannya yang seorang komedian itu dengan ikut melakukan gerakan yang dipopulerkan oleh temannya itu.


“Dia (Anelka) melakukan itu sebagai bentuk dedikasi untuk seorang komedian Prancis yang dia kenal sangat baik. Ini adalah bentuk dari candaan komik yang diungkapkan dengan sebuah gerakan, ” kata Downing.


Setelah ramai jadi sorotan, Anelka pun akhirnya merasa perlu untuk memberikan penjelasan terhadap selebrasi yang dilakukannya itu. Dia mengungkapkan itu melalui akun twitternya untuk konfirmasi.


“Gerakan ini hanya sebuah gerakan yang saya dedikasikan khusus untuk teman saya yang seorang pelawak, Dieudonne’,” katanya. (*)


Article source: http://sidomi.com/251469/foto-istri-muda-anis-matta-szilvia-fabula-asal-hungaria/


Selebrasi Hormat Ala Nazi Anelka Berujung Sanksi

Monday, August 26, 2013

Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

“Tidak ada waktu untuk liburan, ketika Anda menyadari betapa sedikit waktu yang ada, dan betapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk Islam,” kata Bilal Philips, mengawali kisah hidupnya dari seorang non-Islam, menjadi pakar Islam yang giat berdakwah.


Abu Ameenah Bilal Philips, merupakan seorang mualaf yang mengabdikan dirinya pada pendidikan Islam. Ia sangat terpesona pada agama yang dibawa Rasulullah ini hingga mempelajarinya ke Haramain, tanah kelahiran Islam. Setelah mumpuni berislam dari Universitas Madinah dan Universitas King Saud Riyadh, ia pun menjadi dosen teologi Islam bahkan membentuk Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Bilal lahir di Jamaika di tengah keluarga intelek. Kedua orangtuanya merupakan guru, kakeknya bahkan seorang pendeta dan pakar Al Kitab. Tak heran jika Bilal tumbuh menjadi seorang Kristen yang taat. Di usia 11 tahun, Bilal ikut keluarganya pindah ke Kanada. Di kota itulah ia kemudian mengenyam pendidikan dan tumbuh dewasa.


Bilal dan keluarganya sempat pindah ke Malaysia. Disanalah kontak pertama Bilal dengan Islam. Namun Bilal belum tertarik pada agama rahmatan lil alamin ini. Saat itu Bilal masih masih sangat muda dan lebih suka bermain musik rock ketimbang memikirkan agamanya.


Tak lama, ia dan keluarga kembali ke Kanada. Saat Bilal kuliah, pemuda tengah digandrungi pesta ganja. Namun Bilal tak ikut serta, fenomena itu justru membuatnya mengambil pelajaran biokimia disamping kuliah seni yang ia dapat dengan beasiswa. 


Pencarian jati diri Bilal belum berakhir, di kampus ia tertarik dengan politik mahasiswa. Ia pun terlibat dalam aksi mahasiswa. Ia pun kemudian belajar sosialisme kemudian tergila-gila dengan Marxis-Leninis. Ia pun kemudian menekuni sosial-pilitik hingga pergi ke California. Ia bergabung dengan para aktivis kulit hitam disana.


Namun Bilal dikecewakan karena teman-temannya merupakan pecandu narkoba. Sikap anti-narkoba Bilal masih berakar kuat. Ia pun beralih haluan dan kembali ke Kanada. Bilal mempelajari ideologi lain. Ia kemudian terpesona pada komunisme di China. Sosialisme rupanya mengakar kuat pada hati Bilal.


Ia pun pergi ke Cina untuk mendapat pelatihan perang gerilya pendukung komunisme. Namun setibanya disana, Bilal merasakan hal sama saat ia bergabung dengan sosialis di California. Hanya saja kali ini bukan narkoba. Teman-teman komunisnya merupakan para perokok berat. Ia pun kembali kecewa. Ia kembali ke Kanada.


Saat kembali ke kampus, salah seorang teman perempuannya di kelompok mahasiswa dikabarkan memeluk Islam. Ia pun kemudian mulai mempelajari ajaran Islam. Ia membaca banyak literatur Islam dan ada satu buku yang memberikannya banyak pengaruh bagi hatinya. Buku tersebut bertajuk “Islam; agama yang disalahpahami” karya Muhammad Qutb.


Tak hanya mempelajari ajarannya, Bilal juga mempelajari sejarahnya. Ia pun terpesona dengan peran muslimin dalam pembebasan negara-negara Afrika dari kolonialisme Eropa. Bilal makin merasakan ketertarikan pada Islam. Ia pun mulai membela Islam hingga kemudian memutuskan bersyahadat. “Aku mulai membela Islam. Akhirnya beberapa introspeksi dan refleksi membuat saya memeluk Islam pada tahun 1972,” ujarnya dalam biografinya di SaudiGazzette.


Setelah berislam, Bilal ingin menyempurnakan pengetahuannya tentang Islam. Tak puas mempelajari otodidak, Bilal pun memutuskan pergi ke tanah kelahiran Islam, Arab Saudi. “Saya bergabung dengan Universitas Madinah dan mengambil gelar dalam Usoolud Deen (disiplin Islam) pada tahun 1979. Kemudian mengambil MA dalam teologi Islam dari Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan menyelesaikan Ph.D., dalam Teologi Islam di tahun 1994,” kata Bilal yang sangat haus mempelajari ilmu.


Setelah menjadi pakar Islam, Bilal pun membagi ilmunya di banyak negara. Ia menjadi guru di Riyadh, menjadi dosen di UEA hingga berdakwah di Filiphina. Enggan membuang waktu, ia pun kemudian membangun kampus sendiri dengan pengajaran online, yakni Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Pengalaman Spiritual

Hingga memutuskan bersyahadat, Bilal sesungguhnya pernah mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menegangkan. Kepada Saudi Gazette Bilal mengakui bahwa selama mempelajari Islam otodidak, ia hanya jatuh hati pada gaya politik Islam. Namun dalam hal keimanan, ia belum mampu membangunnya di hati. Konsep Tuhan yang selama ini ia pahami dalam filsafat komunis tentu sangat jauh berbeda dari Islam. “Dalam hati saya gagasan yang kabur tentang Allah masih ada,” ujarnya.


Keimanan pada Allah baru dirasakan Bilal setelah mengalami peristiwa menegangkan dalam mimpinya. Bilal bermimpi mengendarai sepeda ke gudang. Ia memasukinya dan segalanya gelap gulita. Bulu kuduk Bilal berkidik. Ia berusaha pergi darisana. Tapi sejauh apapun ia pergi, ia tak kunjung mampu keluar. “Serasa akan mati,” kisah Bilal.


Ia diliputi  ketakutan yang sangat karena berada di ruang yang amat sangat gelap, tak ada setitik cahaya pun. Bilal pun mulai menjerit mencari pertolongan. Namun tenggorokannya tiba-tiba sesak tak mampu bersuara. Ia berusaha keras meminta bantuan, namun tak ada yang mampu ia lakukan. Badannya lemas, ia menyerah. Bilal pun terbangun.


“Mimpi ini meninggalkan kesan berat bahwa tidak ada yang bisa membawa saya keluar dari situasi seperti itu, kecuali Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu membawa saya keluar dari keadaan putus asa mutlak, dan membawa saya kembali,” pungkasnya.


 


 




Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

Tuesday, June 25, 2013

Kerjasama dengan bukan Islam dalam pemerintahan

Soalan;
Saya ingin bertanya tentang hukum bekerjasama dengan orang bukan Islam dalam pemerintahan dan pentadbiran negara.


Jawapan;


1. Berkerjasama dengan orang bukan Islam untuk mencapai perkara yang menjadi maslahah bersama sesama manusia (kesejahteraan hidup duniawi, keadilan, membenteras kezaliman, penyelewengan, rasuah, menjamin kehidupan rakyat yang lebih baik dan sebagainya) tanpa melanggar mana-mana hukum-hakam Syariat, hukumnya adalah harus. Dalam al-Quran, Allah menjelaskan bahawa Nabi Muhammad diutuskan sebagai rahmat untuk sekelian alam.

“Dan tidak Kami utuskan engkau wahai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Surah al-Anbia : ayat 107)


Terdapat juga di dalam al-Quran ayat yang menegaskan tidak dilarang orang Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang bukan Islam yang baik yang tidak memusuhi kaum muslimin sekalipun pada zahirnya sahaja.


“Allah tidak menegah kamu dari berbuat baik dan berlaku adil (kepada orang-orang bukan Islam) yang tidak memerangi kamu kerana agama kamu dan tidak mengusir kamu dari tanah air kamu. Allah mengasihi orang-orang yang berlalu adil.” (Surah al-Mumtahanah : ayat 8)

2. Dari segi praktik pula, Nabi Muhammad -sallalalhu ‘alaihi wasallam- telah mengadakan perjanjian Madinah (Sahifah Madinah/Piagam Madinah) yang membabitkan bukan sahaja golongan Islam tetapi juga kabilah Yahudi di Madinah. Jika berpakat dengan orang bukan Islam haram secara mutlaknya, nescaya Nabi tidak akan mengadakan perjanjian dengan mereka. Adapun ada kabilah Yahudi yang diusir dari Madinah oleh Nabi. Hal itu kerana mereka melanggar perjanjian dengan Nabi dan mengkhianati baginda. Jika mereka terus setia dengan Nabi, nescaya mereka akan terus hidup aman damai di Madinah sebagai Ahlul-Zimmah.


Rasulullah pernah memberitahu para sahabatnya bahawa beliau pernah menyaksikan persepakatan yang dibuat oleh beberapa pemimpin Quraisy di Makkah sebelum baginda dilantik menjadi Rasul (iaitu persepakatan yang dipanggil Halful-Fudhul. Ketika itu usia Nabi 25 tahun). Persepakatan itu mereka meterai bersama untuk mempertahankan sesiapa yang dizalimi di Makkah atau dirampas haknya. Nabi berkata; “Jika aku diajak untuk turut sama menyertai persepakatan serupa, nescaya aku akan menyertainya. Ia lebih aku suka daripada unta merah.” (al-Ahkam al-Sultaniyah, Imam al-Mawardi). Perhatikan, bagaimana Rasulullah berhasrat menyertai persepakatan yang baginda sendiri tahu bahawa mereka yang terlibat semuanya bukan Islam. Namun oleh sebab isi persepakatan itu sama dengan apa yang dituntut oleh Islam iaitu keadilan untuk manusia, maka baginda menyokongnya.


2. Kerjasama yang diharamkan ialah yang merugikan Islam dan kaum muslimin, antaranya untuk menegakkan mana-mana sistem pemerintahan yang bercanggah dengan Syariah Islam (sekular, sosialis, komunis dan sebagainya), membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin (sebagaimana pemimpin-pemimpin Arab bersekongkol dengan Amerika untuk menyerang Iraq), menolak Syariat Allah atau mengambil pendekatan yang bercanggah dengan Syariat, menafikan hak kaum muslimin kerana lebih mengutamakan persepakatan dengan orang bukan Islam dan sebagainya lagi yang merugikan Islam dan umat Islam.  Dalam apa keadaan sekalipun, seorang muslim wajib mengutamakan Islam dan umat Islam. Jika suatu persepakatan boleh merugikan Islam dan umat Islam, haram orang Islam menyertai persepakatan sebegitu. Di dalam al-Quran Allah melarang orang beriman berteman rapat dengan orang-orang kafir dengan menyisihkan orang-orang beriman. Begitu juga, Allah melarang mengambil orang-orang yang memusuhi Islam dan umat Islam sebagai teman dan kawan.

“Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu). Dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diri-Nya (menyeksa kamu). Dan kepada Allah jualah tempat kembali.” (Surah al-Imran : ayat 28)


“Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu, serta membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (surah al-Mumtahanah : ayat 9)


3. Dari segi pemerintahan negara, Ketua Negara (Khalifah/Sultan/Presiden) wajib dari kalangan orang Islam kerana kewajipan ketua negara dalam Islam bukan sahaja mentadbir negara, tetapi juga menegakkan agama. Imam al-Mawardi (salah seorang tokoh ulama silam dalam bidang politik Islam) tatkala mendefinisikan Khilafah (iaitu jawatan tertinggi dalam pemerintahan Islam), beliau menjelaskan; “Khilafah ialah pengganti kepada Rasulullah untuk melaksanakan tugas menegakkan agama dan mentadbir negara” (al-Ahkam as-Sultaniyah). Seorang bukan Islam sudah tentu tidak akan melaksanakan tugas menegakkan agama sekalipun mungkin mampu mentadbir negara dengan baik.


Selain itu, Allah berfirman (bermaksud); “Milik Allah lah kemuliaan, juga milik Rasul-Nya serta kaum muslimin”. Jika ketua negara bukan berada pada tangan orang Islam, pasti kemuliaan yang disebut Allah dalam ayat ini tidak akan berlaku. Oleh itu, wajib kaum muslimin memperjuangkan kepimpinan Islam atau mempertahankannya sebagaimana mereka wajib memperjuang dan mempertahan kedaulatan Syariah dalam perlembagaan dan undang-undang.


4. Adapun menteri (wazir), para ulama membahagikannua kepada dua kategori;
i. Wazir at-Tafwidh; iaitu menteri yang diserah mandat oleh ketua negara untuk membentuk kerajaan (termasuk melantik menteri dan penjawat jawatan penting negara/negeri seperti ketua hakim, ketua tentera dan sebagainya) dan mentadbir urusan negara berdasarkan ijtihad dan pertimbangannya. Pada hari ini, yang masuk dalam kategori ini ialah perdana menteri, menteri besar atau seumpama mereka. Menteri dalam kategori ini wajib dari orang Islam dengan sepakat para ulama. Tidak harus dilantik dari kalangan orang bukan Islam.
ii. Wazir at-Tanfidz; iaitu menteri-menteri pelaksana. Mereka adalah pelaksana dasar-dasar yang telah diputuskan oleh ketua negara atau majlis syura (Ahlul-Halli Wal-’Aqdi) dan tertakluk dengan arahan perdana menteri (atau orang yang memegang Wazir at-Tafwidh tadi). Menteri dalam kategori ini, menurut ulama – harus dilantik daripada kalangan orang bukan Islam mengikut kesesuaian jawatan dengan mereka.     


http://ilmudanulamak.blogspot.com/


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Kerjasama dengan bukan Islam dalam pemerintahan