Showing posts sorted by relevance for query umat. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query umat. Sort by date Show all posts

Thursday, July 25, 2013

Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Semenjak zaman Charlemagne hingga Christoper Columbus, Islam Spanyol merepresentasikan salah satu dari hubungan intercultural paling produktif dalam sejarah Barat dari dulu hingga kini. Dimulai dari pohon jeruk, irigasi dan perairan, astronomi hingga filosofi Aristoteles yang sudah lama hilang dibawa kembali ke Spanyol oleh umat Muslim.


Gereja, kuil, literatur orang Yahudi saat zaman keemasan, awal mula dunia medis dan matematika, hingga pengertian mengenai filosofi Yunani kuno hanyalah beberapa bentuk dari hasil kolaborasi dan kerja sama dari umat Yahudi, Kristen dan Islam di Semenanjung Iberia selama tujuh abad.


Awal mula perkembangan Islam di Spanyol dibawa oleh Abdur Rahman III pada 711. Umat muslim Spanyol berdomisili di wilayah yang dikenal sebagai Andalusia, di bagian selatan Spanyol.


Abdur Rahman memimpin umat muslim dan juga umat Kristiani serta Yahudi dengan toleransi sangat tinggi. Bersama-sama mereka membangun Cordoba, dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan seni.


Abdur Rahman bahkan dengan berani dan terbuka menyatakan jika dirinya adalah seorang Khalifah. Di bawah kekalifahannyalah muslim Spanyol menikmati kemakmuran dan kejayaan. Ia mulai membangun bangunan monumental, dan mengembangkan Spanyol secara struktural.


Di bawah perintahnya, pada abad ke-10, populasi Cordoba mencapai 100.000 jiwa. Dan konon, Cordoba sendiri mempunyai 700 masjid, 600 istana dan 70 perpustakaan. Cordoba juga mempunyai banyak sarjana, akademisi dan orang-orang intelektual lainnya yang melakukan riset, penerjemahan dan ilustrasi dari buku-buku yang dibawa dari banyak negara Eropa seperti Jerman dan Yunani.


Pada abad ke-11, sebuah kelompok kecil umat Kristiani mulai melakukan pemberontakan. Dan di bawah komando Alfonso VI mereka berhasil merebut Tolode.


Ini adalah cikal bakal Rekonkuista atau juga penaklukan kembali Spanyol oleh bangsa Katolik (Kristiani) dengan membawa satu paham yaitu Spanyol adalah negara Katolik.


Hal ini mendorong banyak pemimpin Islam di Spanyol untuk semakin memperkuat kekuatan mereka. Namun, umat Kristiani lebih superior karena mereka mendapatkan dukungan dan bantuan dari Kristen Eropa. Maka, umat muslim meminta bantuan kepada Bangsa Almovarid, yang nantinya akan digantikan oleh Bangsa Almohad.


Umat Katolik mendeklarasikan pemurnian pada Spanyol yang berarti mereka harus menaklukkan Andalusia dengan tiga kota besar Islamnya yaitu Sevilla, Cordoba dan Granada. Dalam perjuangan umat Katolik itu memaksakan penyerahan kekuasaan oleh umat Islam di ketiga kota Islam Spanyol.


Pertama-tama dimulai dengan perebutan Cordoba dan Sevilla. Awalnya umat Katolik tidak bisa menyentuh Granada. Namun pemurnian mereka harus berakhir bahagia, dan akhirnya Granada juga berhasil ditaklukkan.


Dalam pemurnian tersebut bukan hanya umat Islam yang menjadi korban. Tetapi juga umat Yahudi. Umat Kristiani, Yahudi dan Islam yang dulunya hidup saling berdampingan dan harmonis harus dipaksakan memeluk agama Katolik. Saat itu mereka diberi dua pilihan yaitu memeluk Katolik atau meninggalkan Islam.


Walaupun begitu, banyak cerita zaman kuno yang menyatakan jika Yahudi dan Muslim yang dipaksakan memeluk Katolik secara diam masih banyak yang melakukan ritual keagamaan mereka yang pertama. Yahudi terus melaksanakan Yom Kippur, dan umat Islam tetap salat dan mengaji dalam diam dan kesunyian.


Setelah rekonkuista, banyak masjid dan bangunan Islam yang dibangun atas kerja sama umat Muslim, Yahudi dan Kristiani sebelumnya diubah menjadi gereja Katolik oleh umat Katolik. Dua pemimpin mereka yang terkenal yaitu Ferdinand dan Isabella terkenal dengan pemaksaan akan memeluk Katolik kepada Yahudi dan Muslim.


Kini, umat Islam di Spanyol jelas tidak lagi hidup berdampingan dengan Yahudi dan Kristiani. Kekuatan Katolik yang mantap sejak abad ke-15 memaksa umat Muslim kini menjadi kelompok minoritas di bagian selatan Spanyol, di Andalusia, di tempat yang dulunya adalah surga kecil mereka.












Article source: http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/04/07/05204614/Hidayat.Jakarta.Harus.Bagi.Gula.ke.Daerah.Lain


Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Tuesday, December 25, 2012

Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

JAKARTA – Puji Tuhan. Malam Natal di seluruh Indonesia berjalan damai dan aman. Pantauan posko operasi Lilin Mabes Polri menyebutkan, secara umum tidak ada gangguan keamanan di malam yang dikuduskan umat Kristiani itu.
   
Kapolri Jenderal Timur Pradopo bersama jajarannya tadi  mengunjungi sejumlah gereja di Jakarta untuk meninjau pengamanan yang dilakukan anak buahnya. ”Kehadiran saya untuk melihat adik adik mengamankan ibadah di  Jakarta,” ujar Timur di gereja Katedral Jakarta tadi malam (24/12).  

Secara umum menurut Timur, seluruh wilayah Jakarta malam ini aman dan seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan khidmat. Selain Jakarta, secara keseluruhan kondisi malam Natal di seluruh Indonesia juga berjalan dengan aman dan tertib.  ”Laporan dari daerah semuanya kondusif. Ini kita syukuri, alhamdulillah,” kata alumnus kpol 1978 itu. 

Titik pengamanan disesuaikan dengan kondisi. Jumlah personel di masing-masing provinsi berbeda-beda. ”Kalau untuk daerah, Pemda sudah menyiapkan untuk mengamankan kegiatan agama,” katanya.

Khusus di Jakarta, dikerahkan 5.992 personel untuk menjaga 16 ribu gereja di Jakarta. Aparat tersebut adalah aparat gabungan dari satuan Polri, TNI, Satpol PP dan Dishub Jakarta.

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menambahkan, pengamanan akan berlangsung terus sampai awal 2013. ”Polri terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan adanya kerawanan, termasuk terorisme,” katanya.
Pengerahan pasukan Brimob, Densus dan intelijen dilakukan secara terkoordinasi. ”Tentu, jumlah dan plottingnya disesuaikan dengan analisa situasi,” katanya.

Secara terpisah, sumber Jawa Pos di lingkungan anti teror menyebutkan hingga tadi malam, kesiapsiagaan terhadap aksi terorisme sangat tinggi. ”Berbagai data intelijen yang masuk kami evaluasi dan kami ukur kadar akurasinya,” katanya.

Tren ancaman sebenarnya terbaca sejak dua pekan lalu. Saat penangkapan tersangka terorisme Roki Aprisdianto di madiun, Densus 88 menemukan beberapa ketarangan yang cukup mengejutkan. Namun, penyidik ini menolak menjelaskan secara detail. ”Yang jelas, kerawanan di Poso juga kami ukur. Itu bisa saja pengalihan strategi agar konsentrasi Densus kesana saja. Kami tidak boleh terkecoh,” katanya.
  
Menteri Agama Minta Masyarakat Tetap Akur

Di bagian lain, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menghimbau seluruh masyarakat Indonesia menyambut hari Natal 2012 dengan hikmat. ’’Harus tetap akur,’’ katanya usai pembukaan Konferensi Internasional tentang Fatwa di Jakarta kemarin (24/12).
 
Setiap perayaan natal, atau hari besar keagamaan non-Islam lainnya, selalu memunculkan persoalan. Yakni, sempat muncul fatwa jika umat muslim diharamkan mengucapkan selamat natal atau hari besar agama non-Islam lainnya. Dari kecenderungan ini, menteri yang akrab disapa SDA itu mengatakan tidak perlu dipersoalkan.

’’Pemerinta h nyatakan umat muslim boleh mengucapkan selamat natal kepada umar yang merayakannya,’’ kata SDA. Bahkan dia mengatakan akan mengikuti perayaan natal nasional yang rencananya digelar 27 Desember nanti. ’’Dalam momen perayaan natal nasional itu saya datang dan mengenakan kopyah,’’ kata dia lantas tertawa.

SDA mengatakan jika memperdebatkan fatwa yang mengharamkan umat muslim mengucapkan selamat natal tidak relevan lagi dengan semangat kebersamaan. Dia mengatakan tidak menjadi persoalan jika ada umat muslim yang mengucapkan selamat natal bahkan ikut merayakan natal.

’’Yang penting keteguhan imannya sebagai seorang muslim tetap terjaga,’’ tandas menteri yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Selain meminta masyarakat menjaga solidaritas menyambut natal, SDA secara resmi juga mewakili unsur pemerintah juga mengucapkan selamat natal kepada umat yang merayakannya. Dia berharap perayaan natal ini bisa berlangsung dengan hikmat dan aman.

SDA juga mengecam jika ada pihak-pihak yang ingin mengusik ketenangan natal tahun ini. Jika kebetulan yang mengusik ini adalah umat muslim, dia mengatakan bisa memperburuk citra umat muslim di mata dunia. SDA mengatakan jika saat ini pihaknya sedang membangun citra positif umat muslim. Terutama  umat muslim yang ada di Indonesia.

’’Umat muslim di Indonesia itu bukan umat muslim yang suka kekerasan atau perang,’’ katanya. Sebaliknya, umat muslim di Indonesia adalah umat yang ramah dan toleransi. Entah itu kepada sesama muslim atau dengan umat agama lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono yang mendampingi SDA juga menyampaikan selamat natal. ’’Tidak perlu diperdebatkan halal-haram mengucapkan selamat natal,’’ kata dia. Agung juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat natal 2013 kepada masyarakat yang merayakannya. (rdl/ wan)

Article source: http://nasional.inilah.com/read/detail/1940569/pks-mesin-partai-itu-kader-bukan-artis


Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

Friday, February 2, 2018

Salat Gerhana di Al-Azhar, Ketua MPR Bicara Kekuatan Umat Islam


Salat Gerhana di Al-Azhar, Ketua MPR Bicara Kekuatan Umat Islam


Jakarta
-
Ketua MPR Zulkifli Hasan memberi sambutan seusai Salat Gerhana Bulan di Masjid Al-Azhar. Dia bicara soal kekuatan umat Islam hingga pentingnya anak muda dan pendidikan.
Awalnya, Zulkifli mengingatkan jemaah bahwa zaman saat ini telah berubah. Menurutnya, sistem yang ada sekarang adalah sistem liberal dan kapitalis.
"Saya mengingatkan saja bapak bapak suka, atau tidak suka, zaman kita ini sudah berubah, kita memasuki babak baru. Apa yang disebut liberalis kapitalis. Masuk pada persaingan bebas. Pertarungan bebas," kata Zulkifli di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (31/1/2018).
Karena itu, dia meminta umat Islam tidak hanya berlaku baik saja namun harus cerdas dalam menghadapi tantangan zaman. Dia juga berharap kekuatan umat Islam itu bisa dikonversi menjadi kekuatan di bidang ekonomi dan politik.
"Karena itu, baik tidak cukup, baik, pintar dan berani. Umat Islam yang berani harus mampu kita konversi menjadi kekuatan. Baik kekuatan ekonomi maupun politik. Tanpa itu kita akan selalu jadi pengikut," tutur Zulkifli yang juga Ketum PAN.
Dia lantas menyampaikan tiga pesan kepada jemaah yang hadir. Pertama, bangsa Indonesia dan umat Islam harus mampu menyadari karakter dirinya masing-masing.
"Karena itu menghadapi situasi sekarang ini pertarungan bebas. Apalagi ini masuk tahun politik. Bung Hatta sudah mengingatkan kita. Umat Islam yang besar akan akan berdaulat kalau umat Islam itu menyadari, kalau umat Islam itu sadar," imbuhnya.
"Apa maknanya? Maknanya tidak melakukan persaksian yang palsu dalam hal zaman ini tahun politik, pilpres, pilkada, pileg. Persaksian dalam memilih imamnya, pemimpinnya, wakilnya tidak karena hutang budi. Tidak karena iming-iming, tidak karena uang, sembako. Tapi sungguh-sungguh menyadari," sambungnya.
Selanjutnya, Zulkifli mengingatkan jemaah untuk senantiasa melakukan evaluasi diri. Menurutnya, fenomena alam yang terjadi hari ini harus dijadikan momentum untuk melihat kembali peran dari umat Islam.
"Mari kita peristiwa alam yang langka ini menjadi perenungan alam, kita berkontemplasi sejauh mana peram kita, peran umat Islam, kita kalau melihat dunia sedikit kita. Saudara-saudara kita di belahan dunia sana, kocar-kacir berkelahi satu sama lain, karena itu umat Islam bersatu, apapun ormasnya, sudahlah saling menghormati," imbuhnya.
Terakhir, Zulkifli meminta umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Bagi Zulkifli, tanpa ilmu, generasi muda Indonesia akan kalah saing dengan bangsa lain.
"Anak muda kita persiapkan. Ilmu, ilmu, ilmu. Tanpa ilmu kita akan menjadi kuli di negeri sendiri dan negeri orang," ucapnya.

(knv/rvk)



Thanks for reading our article Salat Gerhana di Al-Azhar, Ketua MPR Bicara Kekuatan Umat Islam. Please share it with responsible.
Sincery Berita Masuk Islam
SRC: https://news.detik.com/berita/3843873/salat-gerhana-di-al-azhar-ketua-mpr-bicara-kekuatan-umat-islam

powered by Blogger Image Poster

Saturday, April 20, 2013

“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam - Agama Lain Hidup Rukun”

Home Wawancara




14 Tahun Konflik Poso dan Tuduhan “Teror” (2)


“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam – Agama Lain Hidup Rukun”





 


 




Sabtu, 20 April 2013


22 SEPTEMBER 2006, dini hari, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu menjalani eksekusi mati di Poso, Provinsi Sulawesi Tengah di hadapan regu tembak dari kesatuan Brimob Polda setempat. Mereka menjalani eksekusi mati secara serentak selama kurang dari lima menit mulai pukul 01:10 WITA di sebuah tempat yang masih dirahasiakan di pinggiran selatan Kota Palu. Tibo CS, mengingatkan kasus kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah tahun 1999 yang menelan korban pihak Muslim dan Kristen dengan jumlah yang tidak sedikit.


Luka lama yang berumur tidak kurang 14 tahun itu kini mulai muncul kembali seiring berbagai tuduhan miring yang muncul, termasuk tuduhan “teroris”.


Hari Ahad, (14/04/2013), hidayatullah.com mewawancarai tokoh umat dari Poso, Adnan Abdul Rahman Saleh yang juga Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Poso.


Adnan kebetulan berada di Jakarta guna menghadiri acara diskusi bertopik “Memberantas Terorisme Tanpa Teror Melanggar HAM” di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng Jakarta Pusat, hari Kamis (11/4/2013).


Ustad Adnan Arsal, demikian ia akrab disapa menceritakan panjang lebar duka mendalam warga Sulawesi Tengah yang menurutnya kini difitnah dengan isu “terorisme”.


“Fitnah teroris yang telah menciptakan ketakutan baru di Poso,“ apa maksudnya? Inilai petikan wawancara pria dengan kelahiran 11 Desember 1967 yang akan dimuat selama empat seri.*


Sebenarnya apa yang terjadi di Poso?  Bagaimana hubungan agama Islam dengan agama lain?


Sebelum terjadi konflik Poso tahun 2000, umat Islam dan agama lain itu rukun sekali. Kita justru bertanya mengapa kerukunan ini bisa hancur dan susah diobati bertahun-tahun. Pada masa itu memang ada banyak kepentingan politis. Baik dari pemerintah pusat maupun oknum yang memiliki kepentingan di Poso.


Kami masyarakat Poso saat itu begitu merasakan ada kepentingan yang menunggangi konflik Poso. Tahun 2000 itu masa reformasi, terjadi pengalihan kekuasaan dari Soeharto ke BJ Habibie. Pada saat yang sama ada pengalihan kewenangan kekuasaan keamanan dari TNI ke Polri. Hal ini juga membawa dampak tidak sedikit.


Jika TNI turun saat itu merelai dan meredakan, dimungkinkan sangat mampu meredam konflik Poso hingga tak berlarut-larut seperti ini. Sebab


polisi saat itu masih berjumlah sedikit jelas tidak mampu dan berani melawan amuk massa kelompok yang berlebihan. Sementara setelah itu semua menjadi rumit setelah hadir perlawanan massa dari umat Islam. Akhirnya ada indikasi persaiangan aparat yang berujung mengorbankan masyarakat sipil.


Apakah ada kemungkinan faktor lain?


Ini juga titik penyebab kenapa konflik SARA di Poso itu berkembang dan semakin rumit. Pada kondisi lain pertumbuhan program transmigrai membuat kekuatan ekonomi umat Islam bertumbuh pesat. Lahan-lahan subur seperti pertanian dan tambang ketika dikelola umat Islam berjalan baik.


Akhirnya banyak lahan-lahan ekonomi agama lain bergeser peran. Dominasi umat Islam dalam ekonomi terus bertumbuh. Tanah-tanah di Poso semakin dikuasi umat Islam. Namun kekuasaan itu murni karena ekonomi, karena bisnis, karena jual beli yang baik bukan karena perang dan pembantaian.


Ketika umat Islam mulai masuk ke daerah-daerah yang 100% sebelumnya beragama agama lain akibat pengaruh perdagangan, yang terjadi adalah kecemburuan di kalangan umat agama lain.  Kecemburuan inilah yang terus meledak saat kasus pertengkaran anak muda karena minuman keras pertama kali terjadi.*/bersambung


Baca wawancara 1; MengapaTuduhan Terorisme Tak Habis-habis untuk Kami?


 


Rep: Thufail al Ghifari
Red: Cholis Akbar


Article source: http://sidomi.com/179276/persib-terharu-abanda-herman-jadi-mualaf/


“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam - Agama Lain Hidup Rukun”

Saturday, November 9, 2013

Kerukunan Umat di Indonesia Terbaik di Dunia

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG- Menteri Agama Suryadharma Ali mengaku ingin terus mengumandangkan KUAB, karena tak sedikit oleh para pihak, KUAB yang merupakan modal besar untuk membangun bangsa, menjadi pintu masuk ketidakrukunan atau disharmonisasi sosial sesama umat WNI.


“Dengan mengesampingkan keberagaman, berarti kita telah mengabaikan yang diciptakan Tuhan atau sama juga tidak beriman dengan Tuhan karena Tuhan telah menciptakan keberagaman, “ ujar Suryadharma Ali saat memberikan sambutan pertemuan silaturrahmi tokoh lintas agama di Kantor Wilayah Kemenag Jawa Tengah, Jumat (8/11/2013) malam.


Surya menilai Kerukunan Umat Antar Beragama (KUAB) di negara Indonesia sangat baik. Sebagai Negara mayoritas muslim yang terdiri dari multi ras, multi agama, bahasa, budaya, adat istiadat dan sistem nilai, keberagaman tersebut tidak lagi menjadikan sebagai kelemahan, tetapi menjadi kekuatan dan keindahan.


“KUAB itu bersifat dinamis, sekarang rukun belum tentu bulan depan rukun. Tetapi Forum KUAB di Indonesia selalu dilakukan bukan karena ada masalah, tetapi karena sedang berada dalam puncak terbaik, harus dirawat agar bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Bayangkan kalau semua sama, tak ada keberagaman, laki-laki semua, tak ada perempuan, tak ada keindahan tentunya, “ ujarnya.


Hadir dalam pertemuan silaturrahmi tokoh agama itu diantaranya Kakanwil Kemenag Jateng Khairudin, Ketua MUI Jateng Ahmad Rofiq, Ketua Bamus Antar Gereja Jateng Halowa, Ketua Keuskupan Agung Jateng Romo Aloys Budi Purnomo, Ketua Walubi Jateng Widiyanto Candra, Ketua Parisada Hindu Jateng I Nyoman Surahartta. Ketua Matakin Jateng Lucia Herawati, Ketua PW NU Jateng Abu Hafsin, Ketua PD Muhammadiyah Jateng Musman Tholib, Ketua Kemenang Kab/kota se-Jateng dan Ketua FKUB kab/kota se-Jateng.


Dalam pertemuan dengan pejabat asing yang berkunjung ke Indonesia, Suryadharma pun selalu mengatakan bahwa KUAB di Indonesia yang terbaik di dunia. Sebab dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Presiden dan Wapres pun selalu ikut merayakan peringatan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Waisyak, Natal maupun Nyepi dan dijadikan hari besar atau libur nasional. Bahkan Presiden dan Wapres pun ikut merayakan hari besar umat Kong Hu Cu yakni Imlek sebagai hari besar dan hari libur nasional.


“Bayangkan hari raya umat minoritas di rayakan sebagai hari libur nasional. Negara mana di dunia ini dengan mayoritas Islam atau Kristen, belum tentu memberi penghormatan terhadap agama lain yang minoritas di negaranya. Karena itulah, tak sedikit pimpinan dunia jika berkunjung ke Indonesia mempertanyakan KUAB yang terjadi tersebut, “ ujarnya.


Bahkan Rasyad Husein utusan khusus bidang agama, Presiden AS Barack Obama yang berkedudukan di negeri Paman Sam sangat iri dengan Indonesia. Umat Islam di AS yang hanya 4 persen, tak memperoleh penghormatan seperti Negara Indonesia menghormati agama minoritas.


Menjelang pemilu legislative dan Pilpres 2014, Suryadharma Ali pun meminta peranan para tokoh agama ikut menjaga kerukunan, karena bisa jadi saat kampanya nanti, dijadikan ajang adu domba antar umat beragama satu sama lain.


“Kami minta tokoh agama jalan bareng, bergandengan tangan, meningkatkan harmonisasi, jangan sampai diadu domba, “ ujarnya.


Suryadharma Ali berharap silaturrahmi tokoh agama di lain waktu bisa dilakukan di kabupaten/kota lain agar kebersamaan umat beragama dibangun lebih kokoh dan kuat lagi. Agama harus menjadi basis kekuatan dan kerukunan umat beragama dan basis persatuan Indonesia.


“Dengan demikian, keanekaragaman agama bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan umat, “ katanya.


Suryadharma Ali berharap jangan sampai pesta demokrasi yang diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan bangsa Indonesia untuk masa depan yang lebih baik, menjadi kompetisi tidak sehat. “Lebih tidak sehat lagi, jika melibatkan umat beragama dalam kompetisi tidak sehat, “ katanya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/28/mp232f-kpk-tak-sadar-dimainkan-kekuatan-besar


Kerukunan Umat di Indonesia Terbaik di Dunia

Thursday, January 24, 2013

Umat Kristen Dianiaya: Afrika dan Timur Tengah Diawasi

THURSDAY, 24 JANUARY 2013

Total View : 328 times

Yayasan Kristen internasional, Open Doors telah menyatakan bahwa ada 50 negara di daftar khusus mereka untuk diawasi ketat pada tahun 2013, terutama negara-negara Afrika dan Timur Tengah di mana banyak terjadi penyiksaan umat Kristen akhir-akhir ini.

Beberapa negara yang disebutkan adalah Uganda, Tanzania, Kenya, dan Nigeria yang merupakan “pendatang baru” dalam daftar milik Open Doors. Negara-negara tersebut masuk ke daftar Open Doors karena agama Islam telah menyebar dengan sangat mudah dan cepat di negara-negara tersebut. Telah banyak terjadi peristiwa pengeboman gereja, pembakaran rumah, serta pembantaian umat Kristen sepanjang tahun 2012 oleh kelompok Islam Boko Harem yang berupaya mengubah Nigeria menjadi negara Muslim.

Sementara Ethiopia, Eritrea, dan Libya telah naik peringkat di daftar pengawasan yayasan Open Doors. Ethiopia dari peringkat 38 ke 15, sementara Mali yang juga pendatang baru langsung menempati nomor 7 sebagai tempat paling berbahaya bagi umat Kristen.

“Padahal sebelumnya Mali adalah negara yang patut dijadikan contoh,” juru bicara yayasan Open Doors, Jerry Dykstra, menyebutkan. “Situasi di daerah utara memang selalu dipenuhi ketegangan, tapi umat Kristen dan para misionaris masih bisa bekerja dengan aktif. Tapi sekarang situasi di Mali mirip dengan yang terjadi di Arab Saudi. Tidak ada umat Kristen yang diperbolahkan tinggal di sana.”

Negara-negara yang ada di 10 besar daftar pengawasan Open Doors adalah: Korea Utara, Arab Saudi, Afganistan, Irak, Somalia, Republik Maldives, Mali, Iran, dan Yemen. Negara-negara tersebut adalah negara yang melakukan penyiksaan keji terhadap umat Kristen. Di Korea Utara, contohnya, umat Kristen akan langsung ditangkap dan dijebloskan dalam penjara penampungan hanya dengan memiliki Alkitab.

Menurut yayasan Open Doors, penganiayaan umat Kristen terjadi di sekitar 60 negara di seluruh dunia, namun yang mereka daftar sebagai negara yang paling berbahaya bagi umat beriman untuk tinggal adalah 50 negara.

Keberadaan yayasan Open Doors telah memberikan secercah harapan kepada umat Kristen di seluruh dunia yang tinggal dalam ketakutan. Marilah kita membantu mereka dengan terus berdoa dan berharap bagi keselamatan saudara-saudara kita.


Baca juga artikel lainnya:

Ivana Lie Pergi, Roy Suryo Tembak Susi Susanti

Istana Enggan Komentari Soal Patung Bugil Penyebab Banjir

True Story: The Successful Entrepreneur from the Poor Family

Sumber : christiannews.net / Zee


Lintas.me


About CBN - Rosita

Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/kedepankan-muatan-nilai-agama-bukan-penambahan-jam-belajar/29108


Umat Kristen Dianiaya: Afrika dan Timur Tengah Diawasi

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Monday, May 6, 2013

FUUI: Tak Aneh Jalal Masuk PDI-P, tapi Umat Islam Perlu Waspada!

Home Nasional



FUUI: Tak Aneh Jalal Masuk PDI-P, tapi Umat Islam Perlu Waspada!





 

Jalaluddin Rakhmat bertemu tokoh Syiah di Iran belum lama ini (foto: Abna)



 




Selasa, 07 Mei 2013


Hidayatullah.com–Menjelang Pemilihan Legislatif (pileg) yang akan berlangsun tahun depan telah bermunculan calon-calon legislatif (caleg) yang beraneka ragam latar belakangnya. Umat Islam diminta waspada dan hati-hati memilih calon.


“Kita memang amati dan terlihat beberapa tahun terakhir ini kaum yang mengaku minoritas mulai bergeser dan lebih memilih jalur parlemen sebagai wakil rakyat dalam memperjuangkan keberadaannya.Itu mereka manfaatkan karena peluangnya ada dan sangat terbuka,”ujar Ketua FUUI KH.Athian Ali Dai kepada hidayatullah.com, Senin malam (06/05/2013).


Lebih lanjut Athian mengatakan bahwa jalur parlemen tersebut mereka pilih karena dianggap lebih strategis dan mempunyai sasaran yang jelas yakni ikut serta dalam pembuatan berbagai kebijkan yang akan melindungi kelompoknya. Hal ini sambungnya,ditempuh karena mereka beranggapan sering merasa kalah dalam tataran praktis dilapangan,sehingga melalui jalur legislatif suara mereka akan lebih didengar.


Sementara disinggung soal pencalonan menjadi anggota legislatif oleh pentolan dari kalangan yang mengaku kelompok minoritas yang selama ini mengaku korban ketidakadilan hukum seperti Syiah dan Ahmadiyah,Athian mengaku tidak merasa aneh. Ia melihat memang tepat jika mereka pilih parpol berlambang kepala banteng tersebut.


“Memang tidak salah jika PDIP menjadi tempat bernaung dan berjuang bagi mereka,” ujarnya.
Apalagi, menurutnya,  beberapa partai yang getol pembela Syiah dan Ahmadiyah, selalu berdalih alasan HAM, bukan kesesatannya.


Seperti diketahui, beberapa media  mengabarkan Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Dr Jalaluddin Rakhmat  masuk dalam Daftar Calon Sementara (DCS) dari PDI P.


“Karena hanya PDI Perjuangan yang saya lihat dan saya nilai membela kaum minoritas,” kata Ustad Jalal saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online, Jumat (03/05/2013).


Menurut tokoh Syiah yang juga dikenal pakar komunikasi itu,  ia tak memilih partai-partai Islam, ia menuduh, selama ini partai-partai Islam tidak pernah menjadikan isu pembelaan terhadap kaum minoritas sebagai isu utama politiknya.


Athian menduga mereka-mereka ini sengaja di rekrut sebagai caleg sebagai alat untuk mendulang suara saja.


“Sulit membayangkan jika wakil rakyat nantinya diisi oleh orang-orang demikian.Selama ini saja kita merasa umat Islam tidak terwakili,apalagi nanti. Boleh jadi pemikiran pluralisme akan semakin berkembang,” sambungnya.


Untuk itu ia berharap umat Islam lebih waspada,lebih cerdas dan bisa memilah wakil rakyat yang hendak di pilih nantinya.Hal itu menurutnya karena pertanggungjawabannya dunia akherat atas pilihan yang diambil. Selain itu ia juga berharap umat Islam tersadar untuk tidak sekedar menjadi alat mendulang suara saja dan ketika hendak membuat kebijakan,umat sering kali dilupakan.


Ia juga mengajak umat untuk senantiasa berharap pada pertolongan Allah semata.Mengingat jika terlalu berharap pada pertolongan manusia sering kali mengecewakan. Problem umat yang demikian komplek selayaknya tidak saja diserahkan pada manusia semata dalam menyelesaikannya.*


Rep: Ngadiman Djojonegoro
Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28193/17/04/2013/masyarakat-tv-sehat-desak-kpi-hentikan-sinetron-rendahkan-simbol-islam.html


FUUI: Tak Aneh Jalal Masuk PDI-P, tapi Umat Islam Perlu Waspada!

Sunday, April 21, 2013

Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

foto googleSungguh berat nian untuk ber-Islam dengan baik di jaman moderen ini. Jaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Jaman dimana banyak hal dalam Islam yang katanya sudah tidak lagi sesuai. Islam kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan jaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu Islam datang menyerukan pembaharuan. Hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. Islam dahulu menjadi panduan yang komplit bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di jamannya.


Islam itu (seharusnya) progresif dan revolusioner. Tapi mengapa saat ini, wajah Islam seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan Islam ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan Islam dengan penganutnya. Kemudian pertanyaannya adalah, darimana kita melihat keagungan dan keunggulan Islam? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. Islamkah yang salah?


Saya sedikit penasaran, bagaimana generasi emas, para pengukir sejarah Islam hidup dan berkembang dahulu. Saya sempatkan untuk mencari-cari dan membaca-baca literatur, hingga akhirnya saya membaca kembali tulisan lama dari penulis favorit saya, Yusuf Qardhawi, dengan tulisannya Fiqih Prioritas. Saya pikir tulisan ini cukup mewakili sudut pandang orang-orang yang hidup sebagai generasi emas Islam. Setidaknya begitu bagi saya, sudut pandang yang diberikan Yusuf Qardhawi dalam buku tersebut sangat progresif dan revolusioner. Dan seperti itulah Islam seharusnya, gerbong perubahan. Tidak berniat untuk menjadi hiperbolis mengatakan bahwa dengan ber-Islam-lah Anda bisa berubah, tapi ada beberapa semangat dalam ber-Islam yang seharusnya bisa mengubah kita. Dengan begitu, jika Islam mengalami stagnansi, itu bukanlah Islam, bukan semangat ke-Islam-an yang dulu pernah digelorakan generasi pertama.


Di sini saya kemudian juga harus jujur, bahwa hampir semua ajaran yang ada di muka bumi ini datang dengan semangat yang sama, semangat perubahan, tidak hanya Islam. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan atau melebihkan, tidak ada kapasitas saya untuk melakukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah, mempertanyakan kembali kalimat Islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena semangat dan nafasnya Islam itu yah letaknya disana, bahwa Islam itu mempunyai semangat perbaikan, dimana semangat perbaikan itu berbeda dengan nilai konservatif dan status-quo yang cenderung stagnan.


Saya akan coba ulas beberapa hal yang saat ini sering menjadi pokok masalah didalam umat Islam sendiri, yang menurut saya menjadi sumber kemerosotan kebermanfaatan muslim di lingkungan sekitar. Kadang permasalahan ini malah menggerogoti keindahan Islam itu sendiri.


1. Fatwa-fatwa yang sudah tidak sesuai dengan jaman sudah seharusnya direvisi


Perubahan kondisi dunia hingga seperti saat ini memerlukan perubahan cara pandang di diri seorang muslim. Para ahli fiqih harus mengubah fatwa-fatwa lama yang sekiranya sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, dengan berpegang pada faktor keluwesan dan keleluasan dalam syariat Islam yang sejalan dengan As Sunnah dan Al Quran. Kondisi saat ini tentu berbeda dengan jaman dahulu sehingga pendekatan-pendekatan dalam pembuatan fatwa pun tentu berbeda, sehingga peninjauan terhadap fatwa-fatwa lama pun harus dilakukan.


Contoh yang diberikan Yusuf Qardhawi adalah bagaimana seharusnya muslim saat ini melihat dunia muslim dan dunia selain muslim. Jaman dahulu ada fatwa di dunia muslim yang membagi dunia ke dalam Dar Islam dan Dar Harb, sebuah pandangan mengenai hubungan dunia muslim dengan bukan muslim adalah peperangan. Selain tidak sesuai dengan kondisi saat ini, fatwa ini juga dinilai lemah karena banyak penjelasan-penjelasan di As Sunnah dan Al Quran yang menyatakan kebalikannya, seperti
“… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…“(al-Hujurat: 13) dan ”..Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan...” (al-Ahzab: 25)


Walaupun saya yakin banyak muslim saat ini yang memiliki pandangan bahwa peperangan bukan jalan dakwah yang bisa ditempuh saat ini. Namun pandangan anarkis dalam menyebarkan keindahan Islam ini masih saja menodai langkah perjalanannya saat ini, seperti aksi kekerasan terhadap golongan lainnya dengan mengatasnamakan dakwah.


Fatwa-fatwa lama, bisa jadi telah mendarah daging sehingga tanpa kita sadari telah menjadi keseharian muslim-muslim di dunia tanpa mengetahui jika itu tidak lagi sesuai jamannya. Muslim-muslim mengikuti fatwa-fatwa tanpa mengetahui sebab musababnya dan tanpa pengetahuan, sehingga yang ada hanya sikap fanatisme kosong. Ada teguran yang cukup jelas tentang hal ini.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” (al-Isra’: 36)


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)


Untuk masalah ini kadangkala masyarakat kita sangat mudah percaya bahwa sesuatu adalah benar jika itu mengatasnamakan Islam ataupun dakwah. Sudah jelas dalam ayat diatas bahwa ijtihad itu di atas taqlid, artinya kebiasaan menggali informasi serta memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan merupakan salah satu muslim sejati. Sehingga wajar saja di jamannya dulu, generasi emas Islam menorehkan banyak karya untuk ilmu pengetahuan. Rasa penasaran begitu besar memang tertanam dan diperintahkan.


2. Memperbaiki diri sebelum memperbaiki lingkungan lebih besar


“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)


Ada beberapa orang yang beranggapan, sistem dulu diperbaiki baru semuanya bisa lebih baik. Saya sangat menyangsikan proposisi ini, bahkan Rasulullah yang utusan langsung saja melakukan pembinaan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membina sebuah masyarakat yang memiliki aturan dan sistem. Tapi itu kan dulu? Saya pikir sama saja, hidup ini kan terus berputar dan menurut saya cara Rasul adalah sebaik-baiknya cara.


Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Rasulullah ini menjalankan perbaikan sistem di tempat-tempat baru. Beliau tidak kemudian memaksakan sistem dan pemahamanan-pemahaman yang ada dalam Islam untuk dipaksakan pada orang-orang bukan Islam. Ke-khalifah-an bukanlah tujuan akhir yang ingin Rasulullah kejar, tapi menyebarkan indahnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin, ke-khalifah-an bisa jadi salah satu cara yang ditempuh. Intinya adalah kita harus jeli melihat mana yang tujuan dan mana yang cara. Jika melihat bagaimana kisah Rasul, jelas terlihat bahwa pembinaan individu itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dengan menyebarkan kebaikan demi kebaikan ke setiap individu sampai akhir hayatnya, dan itu cara yang dipilih oleh beliau.


Ini bukan berarti sistem atau lingkungan tidak penting, karena individu adalah pembentuk sistem. Layaknya sebuah perusahaan yang fokus terhadap pengembangan personal sumberdaya manusianya, maka dia akan mendapatkan sistem yang lebih optimal.


3. Memahami perbedaan itu sebagai sebuah keluwesan dan keleluasaan yang dikarunia Allah


Hal yang tersulit dilakukan saat ini adalah menghargai perbedaan. Perbedaan itu fitrah dan berkah. Namun sebagian besar manusia memang tidak menyadari itu dan menjadi perbedaan itu sebagai dasar perpecahan dan persengketaan yang berkepanjangan. Termasuk diantaranya adalah bagaimana umat muslim mengintrepretasikan isi Al Quran, banyak sekali pendekatan-pendekatan berbeda sehingga memunculkan istilah aliran-aliran tertentu. Patut disadari bahwa dalam Al Quran memang ada ayat-ayat yang sifatnya muhkamat (terang-benderang) dan mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Jika seandainya Allah menginginkan manusia dalam satu pemahaman maka isi Al Quran tentunya mengandung ayat-ayat muhkamat.


Yang paling penting itu adalah kemudian untuk tidak merubah-rubah ayat muhkamat menjadi mutasyabihat ataupun sebaliknya. Banyak sekali perdebatan yang muncul akibat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Yusuf Qardhawi dengan jelas menuliskan bahwa masalah-masalah yang dinggap besar selalu dituliskan sebagai ayat muhkamat, dan kita dilarang untuk berselisih di dalam hal ini, misalnya seperti masalah aqidah. Sedangkan untuk masalah kecil yang tersirat dalam ayat mutasyabihat memang terkadang memunculkan perbedaan hukum oleh fuqaha-fuqaha, dan ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Dalam hal ini kemudian umat Islam tidak boleh dengan mudahnya tercerai berai, inilah yang dijelaskan diawal sebagai berkah perbedaan.


Allah memberikan ruang keleluasaan dan keluwesan bagi manusia untuk berinovasi dalam koridor tertentu, bahkan disini Allah menunjukkan bahwasanya Islam bisa terus bersifat progresif dan revolusioner disesuaikan dengan jamannya. Satu hal yang paling penting, ukhuwah Islamiyah adalah hal yang tetap patut dijaga terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.


4. Fokus kepada isu-isu sentral yang ada dalam Al Quran


Sebelum memikirkan apa yang harus diperbaiki dari umat Islam ini, ada baiknya kita kembali ke Al Quran. Penekanan yang diperlihatkan di dalam Al Quran dengan mengulang-ulang kata-kata dan istilah-istilah tertentu, adalah tanda bahwa hal-hal tersebut sudah seharusnya menjadi prioritas. Seperti pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi. Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.


Sebenernya dengan melihat penekanan-penekanan dalam Al Quran ini kita bisa menilai mana yang kemudian lebih penting ketimbang lainnya. Sehingga dalam bersikap kita bisa lebih proporsional terhadap perintah-perintah Allah, tidak kemudian memakai kacamata kuda untuk bersikeras memaksakan ayat-ayat yang dia sukai saja. Tiap ayat di Al Quran saling terkait satu sama lain, sehingga jika menerapkannya dalam keseharian berdasarkan prioritas tentu kita bisa melihat gambaran kebesaran Rasulullah didalamnya. Beliau bisa begitu lembut pada siapa pun, bahkan musuh Allah sekalipun. Beliau tidak membenci kecuali atas seizin Allah.


Saya rasa propaganda kebencian umat Islam terhadap umat lain memang sudah saatnya dihentikan, karena sudah tidak sesuai semangat yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah. Ada hal yang menarik sebenarnya, di Al Quran disebutkan, misalnya contoh bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi. Tetapi disisi lain kita juga dihadapkan contoh dimana Rasul kita bisa begitu sabar dan lembutnya menghadapi orang-orang Yahudi. Dan bagaimana toleran dan luwesnya Rasul kita dalam membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak di luar Islam.


Menurut pendapat saya kebencian yang kita miliki pun harus proporsional, bukan tanpa alasan dan bukan fanatisme kosong belaka. Sudah jelas bahwa kebencian Rasulullah bukannlah kebencian terhadap personal, bukan kebencian yang pada dasarnya adalah kepada manusia. Rasulullah memperlakukan binatang pun penuh dengan perasaan apalagi manusia, sejahat apapun mereka. Kebencian kita memang sudah sepatutnya ditujukan kepada sifat-sifat jeleknya yang melekat pada personal-personal itu, dan tugas kita untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat itu, menjauhkan keluarga dari sifat-sifat itu dan menjauhkan sifat-sifat itu dari personal-personal umat manusia. Itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah untuk membenci personal, bagi Rasullah setiap pribadi adalah manusia yang wajib beliau ajak ke jalan ke-Islam-an. Itupun berlaku bagi kita, umatnya.


Kemudian bagaimana peperangan yang dahulu umat Islam lakukan. Seperti yang saya jelaskan, dalam Al Quran ayat peperangan ini bahkan tidak masuk prioritas. Peperangan ini ada karena memang pada zamannya itu tidak bisa dihindarkan. Dan kalaupun ada peperangan bukan kebenciannya yang ditebarkan, sekali lagi peperangan itu hanyalah metode yang diambil pada zaman itu dan tidak bisa dihindarkan.


Melihat kondisi dunia seperti saat ini, isu-isu kemanusiaan mungkin bisa dijadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan Islam. Umat muslim sudah seharusnya ada di garda terdepan memerangi kemiskinan sebagaimana banyak ayat-ayat yang membahas tentang zakat, shadaqah dan fakir miskin, memberantas kebodohan sebagaimana banyaknya ayat yang membicarakan tentang ilmu dan menghentikan kemerosotan akhlak individu sebagaimana banyaknya ayat yang membahas bagaimana seharusnya pribadi muslim sejati itu.


Ijtihad-ijtihad dalam hal-hal ini diperlukan, ketika kita berbicara masalah kemiskinan, umat muslim harus terdepan memoderenisasikan pokok-pokok keIslaman dalam tatanan kehidupan berekonomi, saat berbicara kebodohan, umat muslim harus memiliki seribu satu gerakan untuk menyebarkan ilmu ke seluruh pelosok daerah, dan ketika berbicara masalah akhlak, muslim juga harus memiliki standar etika yang jelas, standar pribadi muslim. Bukan muslim yang bermuka dua, yaitu mereka menebar kebencian terhadap personal tetapi muslim yang menebar kebaikan dan memusuhi kejelekan, kepada siapapun orangnya. Dengan semangat ini semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin tentu bisa kita perlihatkan dan buktikan bukan hanya pada umat Islam saja, juga umat-umat lainnya. Kata kunci yang harus dipegang muslim saat ini adalah kebermanfaatan untuk umat manusia, bukan hanya umat muslim saja.


Tulisan ini dibuat tidak kemudian untuk menjadikan Islam terlihat lebih hebat dan superior dari ajaran apapun. Tetapi ini adalah hak dan kewajiban dari umat Islam untuk menjadikan diri mereka lebih baik bagi lingkungan sekitarnya berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. InshaAllah dengan menjadi lebih baik, cahaya Islam itu sendiri tidak kemudian tertutup oleh debu-debu keterbatasan manusia. Memberikan manfaat kepada sesama, bukankah itu sebaik-baiknya manusia. Pun rekan-rekan yang beragama lain pun dipersilakan mencari mutiara didalam ajarannya masing-masing dan mari menjadi lebih baik bagi lingkungan dan dunia. Mari kita hiasi dunia dengan indahnya kebersamaan dan kebermanfaatan dalam rasa cinta dan kasih sayang.


Wallahualam Bishowab


Oleh: Iwa Kartiwa, Seoul


[006-fimadani]


 


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/12/29/337/738766/fpi-wahid-institute-sebar-berita-fitnah


Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

Wednesday, May 8, 2013

Muslim Bisa Jadi Jembatan Bagi Bali

REPUBLIKA.CO.ID, Keberadaan umat Islam di Bali menguntungkan bagi daerah pariwisata itu. Karena secara tidak langsung umat Islam bisa menjadi jembatan dalam mengundang wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, HM Taufik Asadi, mengemukakan sekurangnya ada 30 paguyuban nusantara di Bali dan sebagian besar beragama Islam. Mereka bisa mengundang dan memperkenalkan Bali kepada karib kerabat di daerah asalnya. “Ini cara promosi yang sangat efektif untuk mendatangkan wisatawan ke Bali,” kata Taufik, Rabu (8/5) malam.


Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa Bali patut bersandar pada umat Islam. Pertama secara teologis, umat Islam mengenal doktrin untuk menjaga dan membangun daerah tempat tinggalnya. Kedua, sejarah umat Islam di Bali menunjukkan bahwa umat Islam ikut bahu membahu membela dan mempertahankan daerahnya saat melawan penjajahan Belanda.


Secara kebetulan umat Islam yang masuk ke Bali pada generasi awal sebagai pedagang yang sering kontak dengan dunia luar. “Hubungan bisnis antara Bali dengan dunia luar dilakukan melalui Pelabuhan Teluk Bundar, Desa Loloan, Kabupaten Jembrana,” kata Taufik.


Umat Islam di Bali berjumlah sekitar 550.000 orang dari 4,2 juta penduduk. Kebanyakan mereka berprofesi sebagai pedagang, petani, nelayan, dan pekerja bangunan. Kegiatan ekonomi yang dijalani ummat Islam ini, memberikan andil yang cukup besar bagi pembangunan Bali. “Jadi sejak dulu, ummat Islam senantiasa ikut menjaga keamanan dan kemakmuran Bali,” kata pensiunan pegawai Departemen Agama itu.


Meningkatnya jumlah ummat Islam di Bali jelas Taufik, juga menambah jumlah lembaga-lembaga keislaman, baik lembaga pendidikan maupun sarana ibadahnya. Ke depan, harap Taufik, lembaga-lembaga itu jangan hanya berkembang secara fisik, tetapi juga lebih berperan dalam pembinaan umat.


Article source: http://berita8.com/berita/2013/04/penghina-nabi-muhammad-kini-jadi-mualaf


Muslim Bisa Jadi Jembatan Bagi Bali

Tuesday, June 18, 2013

Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria


Syria menghadapi arus perubahan musim bunga politik yang sedang berlaku di dunia Arab secara khusus. Tidak boleh dinafikan sedikitpun, kebangkitan yang menggolakkan arus perubahan itu disebabkan oleh tempoh pemerintahan yang lama tanpa kebebasan rakyat.

Pemerintahannya bersifat diktator bertopeng demokrasi, yang menekan rakyat dengan lesen yang diberi oleh kuasa-kuasa besar dunia diatas nama rakan strategik bagi keselamatan Israel yang dilindungi dengan cara paling istemewa, akhirnya tidak mampu membatalkan musim yang bertiup.


Syria mempunyai kedudukan yang agak berbeza dengan negara Arab yang lain, kerana tidak mengiktiraf Israel dan tidak mengadakan hubungan diplomatik dengannya.


Syria juga menjadi pintu keluar bagi negara Iran yang dikepung, dalam masa yang sama mengizinkan buminya menjadi pangkalan bagi gerakan Islam Hamas dan Jihad Islami, serta pangkalan bantuan bagi Hizbullah yang berada di Selatan Lubnan.


Hamas dan Jihad Islami bermazhab Sunni, tidak sama dengan Bashar Assad yang menganut mazhab Alawi. Begitu juga Republik Islam Iran dan Hizbullah yang bermazhab Syiah Imamiyyah yang bertentangan juga dengan mazhab yang dianut oleh Bashar dan keluarganya.


 


Diambil kira juga parti Baath yang menganut ideologi sosialis yang keras sehingga hampir sama dengan negara komunis dan juga berfahaman nasionalis fanatik yang keras terhadap Israel.Semua ini menunjukkan bahawa masing-masing lebih menjadikan rakan strategik bagi menghadapi musuh yang sama iaitu Israel.


Dalam masa yang sama, negara kuasa besar khususnya Amerika yang menjadi rakan strategik Israel akan melindungi negara haram tersebut daripada sebarang gerakan yang dianggap ancaman kepada keselamatan Israel khususnya dalam berdepan dengan Islam.


Kumpulan Hamas, Jihad dan Hizbullah adalah ancaman paling bahaya terhadap Israel dengan bantuan Iran secara terbuka. Ia diumumkan oleh pemimpin utamanya Imam Ali Khamanaei dalam khutbah jumaatnya yang terakhir, diikuti oleh lawatan rasmi ke Iran oleh Ismail Haniyyah, Perdana Menteri Palestin yang tidak diiktiraf oleh Barat dan sekutunya walaupun dipilih secara pilihanraya yang dipantau oleh pertubuhan antarabangsa.  Maka kesemuanya adalah ancaman besar terhadap negara Zionis itu.


Sebelum daripada perkembangan ini, tercetus perang di Selatan Lubnan dan selepasnya serangan terhadap Ghazzah. Kedua peristiwa percubaan Israel ini yang menyerang bagi menghapuskan ancaman terhadap negara haram itu menemui kegagalan yang memalukan.


Percubaannya gagal walaupun dengan bantuan negara-negara rakan Israel dan sokongan terbuka dan tersembunyi oleh negara-negara Arab yang bersahabat dengan Israel.



Kesemua negara Arab dan negara Islam itu menerima konsep Road Map tajaan kuasa besar yang bertanggungjawab menubuhkan Israel. Ia juga ekoran dicetuskan isu ancaman teknologi nuklear Iran, walaupun di atas tujuan perbekalan tenaga, bukannya persenjataan kerana diharamkan oleh agama Islam seperti dinyatakan oleh para pemimpinnya.

Sebaliknya Israel pula telah memiliki senjata nuklear sejak tahun enam puluhan lagi, dengan tidak menandatangani apa-apa perjanjian antarabangsa yang mencegahnya daripada melakukan sesuatu yang mengancam keamanan dan keselamatan dunia.


Sebarang tindakannya yang dikira menceroboh dan mengganas dengan nyata diselamatkan dengan kuasa veto oleh kuasa besar pelindungnya jika ada sebarang keputusan yang tidak berpihak kepadanya. Inilah dia undang-undang rimba yang diamalkan di peringkat antarabangsa iaitu siapa yang kuat dia selamat.


PAS bersama dengan parti Islam di seluruh dunia mengutuk segala kekejaman yang berlaku di Syria terhadap rakyatnya. PAS dan gerakan Islam bersetuju supaya kerajaan Syria menghentikan kekejaman terhadap rakyat.


Kami juga bersetuju supaya Syria didesak dan dipaksa membuat perubahan kepada demokrasi yang sebenar. Namun kami tidak bersetuju jika perubahan yang berlaku kerana hendak menyelamatkan negara haram Israel dan masuk ke dalam agenda Israel dan sekutunya.


Tujuannya bukan menyelamatkan Syria tetapi lebih daripada itu untuk menekan, melemah dan menghapuskan Hamas, Jihad Islami (daripada Sunni) dan Hizbullah serta Iran (daripada Syiah).


Pihak yang melawan kerajaan Syria pula melibatkan kumpulan Islam dan bukan Islam. Mereka dibekal dengan bermacam bantuan termasuk senjata dan ada yang diberi di atas nama Islam dengan agenda menegakkan kerajaan baru yang menyelamatkan Israel melalui gabungan kerjasama kumpulan Islam yang tidak kuat dengan kumpulan sekular yang berpangkalan di negara Barat yang lebih diperkuatkan supaya menguasai gerakan perubahan.


Media Israel melaporkan kenyataan pemimpin kerajaan dan tentera Israel bahawa mereka mahukan perubahan yang bukan berteraskan Islam yang lebih menyelamatkan Israel. Jika tidak maka Bashar Assad perlu diteruskan berkuasa pada tempatnya. Ini kerana perubahan yang memberi kemenangan kepada kumpulan Islam seperti di Mesir, Tunisia dan Libya lebih menjadi ancaman kepada keselamatan Israel.


Usaha mereka bukan sahaja menyekat ancaman terhadap Israel daripada utara dan selatannya, tetapi juga dilakukan bagi menghapuskan kekuatan Iran dan kemajuan teknologinya.


Beberapa bulan yang lalu media Barat mendedahkan perselisihan pendapat di kalangan Zionis Yahudi berhubung keperluan melancarkan serangan ke atas Iran seperti yang pernah dilakukan ke atas janakuasa tenaga nuklear Iraq di tahun 70-an di masa Saddam Husain.


Usaha juga dilakukan dengan menggunakan Iraq di zaman Saddam bagi menyerang Iran yang baru berjaya dalam Revolusi Islam menjatuhkan regim Shah yang pro Barat. Ada di kalangan mereka yang bersetuju supaya Iran diserang habis-habisan. Mereka ialah kalangan pelampau Zionis yang berada dalam negara haram Israel.


Ada juga yang tidak bersetuju Iran diserang. Mereka ialah kumpulan Zionis yang berada di Amerika dan Eropah. Mereka bimbang tindakan itu akan menyuburkan gerakan anti Zeonis dikalangan masyarakat barat apabila berlakunya krisis sampingan selepas serangan itu.


Bagi melaksanakan agenda yang nyata dan tersembunyi ini, maka sudah tentu Amerika dan sekutunya menjadi penyumbang besar bagi menjayakan cita-cita keselamatan negara haram Israel. Kepada mereka yang dapat membaca medan politik secara sepak terajangnya, bukan secara akademik sahaja, perlu difahami bahawa politik perlu dibaca dengan dua aspek iaitu akademik yang bersurat dan sepak terajang yang tersirat. Betapa agenda melagakan umat Islam yang pernah menjatuhkan kerajaan Othmaniyah di awal abad yang lalu sedang diulangi senarionya.



Pertama, umat Islam dilagakan dengan semangat kebangsaan masing-masing sehingga membantu musuh bagi menjatuhkan kerajaan Othmaniyyah di abad yang lalu tanpa menafikan adanya kezaliman dan kesilapan kerajaan Othmaniyyah terhadap wilayahnya. Semangat nasionalisme digunakan bagi menimbulkan kebencian Arab terhadap bangsa Turki yang menguasai kerajaan Islam dimasa itu.

Di atas semangat kebangsaan dengan bantuan yang melibatkan manusia seperti Lorans dan rakan-rakannya Arab dibantu untuk menentang Turki Otmaniyyah. Akhirnya Kerajaan Othmaniyyah dijatuhkan dan diberi tempat kepada Kamal Ataturk mendirikan kerajaan sekular menggantikan kerajaan Islam di atas nama memajukan Turki tetapi berakhir dengan bangsat.


Di kalangan bangsa Arab pula diupah dengan bahagian masing-masing mengikut road map Sykes Picot dengan membahagikan di kalangan negara Barat untuk menjaganya dengan upah mengangkut hasil bumi yang kaya. Manakala Arab pula dibayar dengan wang yang banyak supaya kaya-raya tanpa teknologi yang dapat menguatkannya sehingga dapat berdikari dan meninggalkan sifat Islamnya supaya tidak berakhlak, tetapi terus berlindung dengan negara-negara Barat tersebut.


Negara-negara Arab yang mendapat bahagian ini masih lagi menjadikan hari mendapat bahagian tersebut sebagai hari kebangsaan masing-masing yang disambut dengan meriahnya secara tahunan.


Yang kedua, melagakan umat dengan mazhab yang ramai pengikut. Pengikut Mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan majoriti umat Islam dan menjadi mazhab kerajaan Othmaniyyah yang bermazhab Hanafi, dilagakan dengan mazhab Syiah Imamiyyah yang ramai penganutnya di Iran, Iraq dan Selatan Lubnan dan menjadi mazhab Shah Iran di masa itu. Mazhab Zaidiyyah yang sebahagian besar pengikutnya di Yaman dan juga menjadi mazhab raja yang bergelar Imam yang memerintah Yaman.


Ada pun Oman pula bermazhab Khawarij Ibadiyyah. Syah Iran dan Imam Yaman berperang dengan kerajaan Othmaniyyah. Oman pula menjadi pengkalan kuasa barat.


Malangnya dalam pergolakan yang berlaku di Syria dan perang yang masih dingin di antara Iran dan negara Barat dan sekutunya, isu nasionalisme dan mazhab dihidupkan semula. Dihidupkan semula galakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam sehingga meletakkan ajaran Islam yang boleh menyatukan umat dan akhlaknya yang mulia dilupakan.


Masalah khilafiyyah di kalangan mazhab Islam yang satu dihidupkan semula. Sepatutnya menjadi perbincangan di kalangan para ulama yang mendalami ilmunya sahaja, tetapi dihidupkan bukan sahaja diantara Sunni dan Syiah bahkan di antara Sunni dan Sunni. Ia disebarkan saperti salafi (wahabi) dan Asya’irah dan Maturidiyyah di kalangan Ahli Sunnah.


Masalah cabang ajaran agama yang berbeza di kalangan empat mazhab dan lain-lain dikalangan ahli sunnah dihidupkan kalangan masyarakat awam yang cetek pengatahuan agamanya. Syiah Imam Khomeini dan Khaminaei yang membuat perubahan politik daripada syiah tradisi di kalangan Syiah, diantara syiah Arab dan syiah Parsi di Iraq.


Di samping menyebarkan mazhab-mazhab ini di kalangan umat Islam yang masih jahil agama, bukannya menyebarkan dan menambahkan penyebaran Islam di kalangan bukan Islam. Semua ini adalah agenda laga dan perintah atau penjajahan semula yang sepatutnya difahami oleh umat Islam.


Dalam kemelut yang begitu celaru, umat Islam perlu kembali ke pangkal jalan, mengenali kawan dan lawan serta mengambil iktibar daripada kesalahan yang lalu. Para ulama dan pemimpin di zaman keemasan umat Islam bersatu dalam perkara rukun dan berbeza pendapat dalam masalah cabang sehingga tidak memisahkan hubungan persaudaraan agama dan kemanusiaan berbagai agama dan kaum dalam negara Islam yang luas dan besar.


Pandangan semua ulama dicatit menjadi kajian, termasuk pendapat paling lemah kerana keadaan situasi dan realiti yang boleh berubah. Kesilapan dalam perkara rukun diperbetulkan dengan kebijaksanaan.


Maka paling menariknya berlaku perkembangan Islam secara damai lebih pesat daripada ketika berperang. Allah mengajar penganut Islam di zaman Rasulullah S.A.W. supaya umat Islam bersatu di atas dasar dan konsep Islam serta menggunakan pendekatan damai dan strategik dengan masyarakat bukan Islam.


Walaupun Rasulullah S.A.W. sudah wafat dan para sahabat generasi awal Islam berbeza pendapat siapakah pengganti Rasulullah S.A.W. selepas wafatnya sehingga melahirkan mazhab Sunni, Syiah dan Khawarij. Namun mereka bersatu bersama para Khulafa Rasyidin R.A. dalam menghadapi cabaran dan menyebarkan Islam sehingga berjaya selama beberapa abad. Mereka yang jahil dan melampau disingkirkan daripada masyarakat umat yang besar.


Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berguru dan bersatu dengan Imam Jaafar al-Sodiq pelopor Syiah Imamiyyah yang beribukan salah seorang daripada zuriyat Abu Bakar Al Siddiq R.A. Semua para ulama yang berwibawa itu menentang kezaliman di zaman Umawiyyah dan Abbasiyyah dan mendokong sesiapa yang adil, seterusnya dakwah dan jihad diteruskan.


Adapun pertelingkahan yang tajam selepasnya, berlaku di kalangan para jahil daripada semua pihak. Langkah penubuhan Majma’ Fiqh di bawah OIC yang melibatkan para ulama daripada semua mazhab itu adalah sangat positif bagi umat Islam.


Begitu juga kenyataan dan fatwa pemimpin utama Iran Imam Ali Khaminaei supaya para pengikutnya berhenti daripada mencaci dan menghina para Ummahatul Mukminin (para isteri Rasulullah S.A.W.) yang bertaraf ibu kepada seluruh orang-orang yang beriman dengan perintah Al Quran secara nas dan berhenti menghina para sahabat R.A. Malah para ulama besarnya memaklumkan bahawa lebih daripada sembilan ribu hadith yang ada dalam kitab al-Kulaini yang menimbulkan masalah hendaklah ditolak.


Adapun langkah membiarkan kuasa asing yang dijemput menyelesaikan masalah hanya mengulangi sejarah lama yang wajib dilipat dan dikebumikan. Kalau mahu menghidupkan semula dalam pergolakan di Syria terkini akan terlaksana sejarah lama yang mengundang singa dan buaya. Natijahnya kalau selamat daripada mulut harimau akan masuk ke dalam mulut buaya.



* Penulis adalah anggota Parlimen Marang yang juga Presiden PAS. Tulisan ini disiarkan semula berdasarkan tulisan asal yang dibuat beliau pada
Khamis, 23 Februari 2012. Tulisan ini boleh juga dibaca di sini.


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Apa yang tersirat di sebalik konflik di Syria

Saturday, November 23, 2013

Taqiyah Syiah berlapang dada


  • FATHUL BARI


SYIAH yang ada di Malaysia adalah Syiah Imam 12 yang akidahnya sesat bahkan orang yang beriktikad dengannya boleh terkeluar dari Islam.



Syiah berasal dari agama Yahudi, permusuhan mereka dengan Islam telah cukup lama. Musuh utama mereka adalah sahabat Nabi SAW kerana mereka inilah yang menyebar dan berhempas pulas mempertahankan kesucian Islam, diikuti generasi tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat, yang disimpulkan sebagai Salaf Al-Soleh.



Sebab itu pelbagai tohmahan dilemparkan oleh Syiah terhadap golongan ini. Apabila Islam tersebar luas, musuh bertambah dengki dan sakit hati. Kumpulan orang-orang Yahudi ini berpura-pura masuk Islam, dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ bertujuan merosak pemikiran umat Islam dan menyebar akidah kufur atas nama Islam, supaya orang yang tidak tahu akidah Islam sebenar akan terpedaya.



Mereka mempergunakan Ali bin Abi Talib ra dan keturunannya, mendakwa mencintai Ahlul Bait, memperjuangkan hak Ali dan memuja keturunannya secara berlebihan.



Dalam kitab Syiah, Abdullah bin Saba’ berkata, “Sesungguhnya umat (para sahabat) telah menzalimi Ali bin Abi Talib dan merampas haknya iaitu sebagai khalifah dan imamah.” Abdullah bin Saba’ terus mengajak manusia untuk menolong Ali, dan tidak taat kepada Khalifah Osman bin Affan, dan menarik bai’at dari Osman.



Banyak orang Mesir terpengaruh oleh pemikiran ini lalu membelot dari Osman. (Sejarah Syiah, Raudhatu Al-Safa). Ini mengakibatkan timbul fitnah, rakyat keluar dari ketaatan kepada Khalifah Osman sehingga terjadi pembunuhan khalifah itu.



Kekuatan Islam menjadi lemah, penaklukan negara Islam terhenti, kaum Muslimin berbunuhan sesama sendiri dan kesannya berterusan hingga hari ini di mana umat Islam terus berbalah dan berbunuhan sesama sendiri dan hilang kekuatan menentang kafir.



Kebencian dan dendam terhadap sahabat dan isteri Nabi ditanam dalam pemikiran umat Islam. Mereka juga mempromosikan akidah Yahudi iaitu Imamah yang tidak disebut dalam al-Quran dan hadis sahih.



Ali bin Abi Talib dan ahli bait sendiri berlepas diri daripada mereka dan menghukum mereka dengan hukuman yang keras sewaktu hidup mereka. Namun hakikat ini tidak diketahui oleh kaum Muslimin sehingga muslihat Yahudi ini berjaya mempengaruhi sebahagian besar orang Islam.



Syiah dan kebohongan tidak dapat dipisahkan, bahkan agama Syiah bermula dengan kebohongan. Mereka menamakannya ‘taqiyah’ iaitu memperlihatkan suatu berbeza dari apa yang mereka rahsiakan. Taqiyah (berbohong) ini termasuk sebahagian agama Syiah dan diwajibkan atas mereka.



Sejak sekian lama mereka mengajak umat Islam bersatu dan berlapang dada dengan mereka. Mereka menyeru Ahli Sunnah wal Jamaah supaya dekat dengan mereka. Mereka melakukan usaha taqrib (mendekatkan) antara Sunni dan Syiah. Sedihnya seruan ini disambut oleh sebahagian orang Islam.



Tujuan mereka tidak lain kecuali supaya orang Islam cenderung kepada mereka, meninggalkan akidah dan kepercayaan terhadap ALLAH, RasulNya, isteri-isteri dan para sahabat Nabi yang mulia, lalu mengikuti pemikiran dan kesesatan yang disusun oleh Yahudi ini, na’uzubillah.



Mereka menggunakan slogan yang baik iaitu “bersatu” tetapi yang mereka kehendaki adalah kebatilan. Dalam Islam, bersatu hanya dibolehkan jika pihak yang berselisih kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ini seperti mana firman ALLAH, “Dan sekiranya kamu berselisih terhadap suatu urusan, kembalikanlah kepada ALLAH dan RasulNya (al-Quran dan Sunnah).” (Surah Al-Nisa: 59)



Seruan bersatu bukan suatu yang baharu. Orang kafir Quraisy pada zaman Rasulullah SAW meminta Rasulullah supaya jangan memecahbelahkan umat. Agama yang dibawa oleh Baginda dikatakan agama pemecah belah umat. Namun kebenaran tidak mungkin bersatu dengan kebatilan.



Rasulullah SAW bersabda atas perintah ALLAH, “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati.



Sesungguhnya ALLAH memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya, dan kamu sesekali tidak dapat menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 19-22)

 
*Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia


Article source: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00041870.html


Taqiyah Syiah berlapang dada

Wednesday, April 17, 2013

Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Home Nasional



Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli





 

Masjid Nurussa’adah Islamic Center Kupang/UAW



 




Rabu, 17 April 2013


Hidayatullah.com–Bila Anda punya waktu luang, sesekali cobalah berwisata ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, jangan lupa untuk mampir beribadah dan menikmati pemandangan indah Islamic Center Masjid Raya Nurussa’adah Kupang, beralamat di Jalan Soekarno Nomor 24 Fontein, Kota Kupang, NTT. 


Masjid Raya yang sekaligus Islamic Center di Kota Kupang ini belum sepenuhnya rampung untuk saat ini. Kini yang hampir selesai diperkirakan sudah 75 persen. Panitia pembangunan telah mengkonfirmasi bahwa rencana pembangunannya akan rampung pada bulan Juli tahun ini. 


Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Islamic Center Kupang Ir. H. Muhammad Anshor, mengatakan, pusat kegiatan Islam, baik pendidikan dan dakwah, akan dipusatkan di Masjid Raya Nurussa’adah sebagai Islamic Center kota ini. Ia juga menghimbau seluruh ormas Islam dapat bersatu dalam menyelesaikan persoalan umat. 


“Diharapkan dengan adanya Islamic Center dapat memberikan motivasi beragama umat Islam Kota Kupang dan sekitarnya,” kata Muhammad Anshor kepada kontributor Hidayatullah.com, Usman Aidil Wandan, di Kupang, Selasa (16/04/2013).


Meski umat Islam di Kupang minoritas, namun tahap demi tahap pembangunan Masjid Raya dan Islamic Center berjalan tanpa kendala berarti. Hal itu mendapat angin segar pula ketika peletakan batu pertama turut andil memberi sumbangan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik sebesar Rp 100 Juta dan Walikota Kota Kupang Jonas Salean yang beragama Kristen berdonasi sebesar Rp 30 Juta. 


Dikatakan Anshor, di masa mendatang Islamic Center ini terdapat kantor untuk perwakilan ormas-ormas Islam yang ada di Kota Kupang. Ia menjelaskan, dalam bulan Juli mendatang, Islamic Center ini dijadwalkan telah rampung dengan memakan dana sekitar Rp 8 Miliar dari dana Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) Kementerian Agama Pusat Jakarta. Rencananya Islamic Center ini akan diresmikan oleh Menteri Agama Suryadarma Ali.


Kebanggaan Masyarakat Kupang


Wakil Imam Besar Masjid Nurussa’adah Muhammad Ramli mengatakan bahwa Masjid Raya dan Islamic Center serta Pusat Dakwah Islam Nurussa’adah Kota Kupang merupakan ikon kebanggaan umat Islam NTT nantinya. 


Sekretari DDII Provinsi NTT ini mengharapkan, ke depan masjid ini menjadi pusat kegiatan keumatan yang diharapkan mampu berperan untuk meningkatkan mutu dan kualitas umat di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, dan sinergi keumatan.


“Bentuk konkrit yang akan dilakukan adalah sebagai pusat dakwah berkumpulnya ormas-ormas Islam untuk bersama-sama berfikir dan bekerja sama untuk kemaslahatan umat,” kata Ramli. 


Harapan masyarakat Kota Kupang datang dari Saharuddin. Ia berharap semoga dengan adanya Masjid Raya Nurussa’adah kelak menjadi tempat ibadah yang nyaman dan membuat khusyu’ bagi yang beribadah. 


“Harus ada satu tradisi keilmuan yang dibangun nanti melalui pusat pengkajian keislaman. Saya juga berharap ini menjadi masjid percontohan di NTT,” kata Sahar.


Hari ini perkembangan Islam cukup pesat di Kota Kupang. Hal itu dapat dilihat dengan kian semaraknya pengajian-pengajian, baik bapak maupun ibu-ibu serta kaum remaja. Perkembangan umat Islam juga bisa dilihat ketika sholat Jum’at, nyaris tidak ada masjid yang tidak dipadati jama’ah


“Setiap tahun ada saja dari kelompok masyarakat yang masuk Islam menjadi muallaf. Sehingga diharapkan dengan dibangunnya Islamic Center Kupang ini dapat menjadi solusi pembinaan keislaman di Kota Kupang dan sekitarnya,” tutup Ramli.*


Rep: Ainuddin Chalik
Red: Syaiful Irwan


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1941992/tolak-masuk-islam-lidah-pelajar-diiris


Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

Wednesday, February 5, 2014

Titik Nyala Yerusalem yang Termasyhur


Seratus tentara perempuan Israel dan 35 penganut Yahudi Ortodoks dari Amerika Serikat baru-baru ini mengunjungi Kota Lama. Kelompok tersebut ditemani sekelompok jurnalis dan rabi yang terkenal radikal, Yehuda Glick, mantan kepala Institut Temple. Pemukim Israel juga memasuki kota tua Yerusalem dalam beberapa pekan terakhir, salah satunya membuat sisi Kubah Shakhrah sebagai bentuk protes atas larangan masuk bagi non-Muslim. Para pendatang baru juga dilaporkan adu mulut dengan umat Islam yang beribadah.



Glick telah berkampanye untuk mendorong pembangunan tempat ibadah ketiga di lokasi masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah. Sheikh Azzam Al-Khatib, direktur jenderal Urusan Masjid Al-Aqsa, telah mengutuk upaya tersebut, menyebutnya sebagai “sebuah langkah yang berbahaya dan provokatif.”


Kubah emas menghiasi kaki langit Yerusalem



Larangan bagi pengunjung non-Muslim



Lokasi masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah dikenal sebagai Bait-ul-Muqaddas atau tanah suci yang mulia dan menjadi lokasi tersuci ketiga bagi umat Muslim. Lokasi keduanya juga diakui sebagai tempat paling suci bagi umat Yahudi – Al-Haram asy-Syarif – yang dipercaya oleh penganut Yahudi pernah menjadi lokasi Bait Salomo dan Bait Kedua. Bait Kedua hancur di tangan bangsa Romawi pada tahun 70 M.



Tempat ini berkali-kali menjadi lokasi demonstrasi berdarah, bentrokan, pelemparan batu dan penembakan, meski didapuk sebagai simbol religius oleh bangsa Yahudi, umat Kristen dan Muslim.



Al-Aqsa terletak Yerusalem Timur, bagian dari wilayah Palestina yang diakui secara internasional tetapi diduduki militer Israel sejak tahun 1967. Kepala rabi Tembok Ratapan, Shmuel Rabinovitch, kepada DW menyatakan tidak menerima larangan oleh umat Muslim bagi penganut Yahudi untuk masuk alun-alun masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah.


Lokasi yang kontroversial



Sebuah bentuk monopoli?



“Ajaran Yahudi menyatakan kami tidak punya monopoli atas Tuhan – itulah mengapa Tembok Ratapan terbuka bagi siapapun. Tempat suci harusnya terbuka bagi semua orang, tidak peduli agamanya apa, atau pandangan hidupnya.”



Menurut pimpinan agama Yahudi arus utama, penganut Yahudi dilarang masuk ke masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah atas kekhawatiran mereka dapat melanggar kesucian ‘tempat kudus,’ atau tempat suci Bait Kedua.



Rabi Rabinovich mengatakan Yudaisme juga melarang penganutnya untuk menggali ke dalam Al-Haram asy-Syarif. Saat ditanya apa yang ia harapkan dari kesepakatan damai apabila berhasil tercapai tahun ini, ia menyatakan dirinya tidak dapat melihat adanya resolusi terkait klaim atas Yerusalem.



“Yerusalem adalah salah satu lokasi yang paling bermasalah untuk mencapai kata sepakat – tidak segalanya mempunyai solusi. Akan mustahil untuk mengusir Yahudi dari Tembok Ratapan dan saya tidak yakin akan ada solusi atas Kota Lama Yerusalem. Namun saya ingin dunia mengetahui bahwa bangsa Yahudi itu damai dan kami beretika,” tuturnya.


Pemandu wisata di dalam terowongan Tembok Ratapan



Terowongan Tembok Ratapan



Bagian Kota Lama yang kurang terkenal adalah terowongan yang mengular di bawah kawasan Muslim sepanjang Tembok Ratapan.



Kini terowongan yang membatasi masjid Al-Aqsa, Kubah Shakhrah, dan Al-Haram asy-Syarif dibuka untuk kelompok-kelompok turis. Sekilas terowongan seakan terukur di bawah tanah, namun kenyataannya terowongan dibangun di atas tanah.



Meski dulunya umat Muslim memperbolehkan umat Yahudi beribadah selama ratusan tahun, sekarang lokasi tersebut menjadi titik fokus perselisihan dan perbedaan di antara kedua pihak.


Article source: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/pembimbing-jonas-rivanno-masuk-islam-itu-ikhlas-bukan-karena-nikah-f6f388.html


Titik Nyala Yerusalem yang Termasyhur

Wednesday, September 18, 2013

Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari

WEDNESDAY, 18 SEPTEMBER 2013


Total View : 481 times


Sejak diambil alih, 20.000 umat Kristen Koptik di Dalga mengalami penganiayaan. Sesaat setelah Morsi turun tahta, para penyerang merusak institusi Kristen, mencuri peralatan gereja dan membakar gedung setelah mereka selesai mencuri. “Mereka tidak ingin melihat umat Kristen punya kekuatan apapun, tidak peduli betapa sederhananya itu,” kata Yoannis, pendeta Ortodoks Koptik. Selain gereja, banyak rumah dan tempat bisnis umat Kristen yang diserang.



Sebanyak 40 keluarga sudah pergi dari kota tersebut saat penyerangan terjadi, namun masih banyak yang tersisa. Mereka dipaksa masuk Islam, para wanita seringkali menjadi target serangan verbal, dan mereka juga dipaksa untuk membayar pajak “penundukan” jika tetap berpegang teguh pada iman mereka.



Pajak ini, yang dikenal dengan pajak jizya, punya akar sejarah dalam politik Islam. Jizya dulunya adalah penaklukan non Muslim yang harus membayar tuan tanah Muslim dengan kerelaan ditundukkan agar keamanan mereka tetap terjaga, menurut Raymond Ibrahim, yang punya garis keturunan Koptik. Jika mereka beralih ke Islam, maka pajak ini tidak perlu lagi dibayar.



Para penyerang Dalga, kota yang berpenduduk 120.000 itu memberikan pajak yang berbeda-beda untuk setiap umat Kristen. “Pembayaran pajak dari satu tempat ke tempat lainnya berbeda-beda, beberapa membayar 200 pound Mesir setiap harinya, beberapa lagi 500,” kata Yunis Shawqi, seorang pendeta yang diterjemahkan oleh penerjemah. Sebagai informasi tambahan, 200 pound Mesir sama dengan Rp 300 ribu. Jadi sekitar Rp 9 juta per bulan. Mereka yang menolak membayar pajak akan diserang, menurut beberapa laporan.



Penganiayaan umat Kristen di Mesir makin bertambah. Mereka secara terang-terangan diserang karena iman mereka, padahal dunia menjunjung tinggi hak beribadah. Bahkan ketika seseorang tak percaya Tuhan pun diberikan kebebasan. Namun, mereka malah dianiaya dan tidak ada yang membela mereka. Biarlah mereka dibela oleh Tuhan dan Tuhan perlihatkan kuasa-Nya. Biarlah mereka juga kuat imannya di dalam Tuhan Yesus. Pray for Mesir.


 


Baca juga :


Cahaya Kecil, Pertemuan Hati Antara Ayah dan Anak


Ini Beberapa Cara Agar Daging Cepat Empuk


Orangtua VS Gadget


Kualitas yang Menentukan Cara Hidup


Mitos Seputar Kerontokan Rambut dan Kebenarannya


Selamatkan Usaha Anda dari Ancaman Krisis


Thread Forum JC : Aksi Solidaritas (JCers Goes To Panti Rehab YBMI)  


Ayah, Mengapa Kau Memukulku ?


Sumber : christianpost.com by lois horiyanti/jawaban.com



Lintas.me



About CBN


Article source: http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=12548:mualaf-ahmadiyah-dijamin-pusat&catid=60:news-update&Itemid=134


Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari