Monday, November 4, 2013

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki
Senin, 4 November 2013 | 6:42


Wartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di TurkiWartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di Turki


Sebuah perjalanan yang menyenangkan tentunya bagi Wartawan Suara Pembaruan,


Bangun Lubis, yang bertugas di Palembang, ketika mendapat

kesempatan berkunjung ke Republik Turki, selama delapan hari sejak 21 –

29 Oktober 2013 bersama sejumlah wartawan dari Jaringan Pers Nasional

bersama Pemprov Sumsel.


Para wartawan tak hanya berkunjung

ke obyek wisata fisik seperti Kota Istambul yang memiliki dua wilayah

yakni Bagian Asia dan Europea, tetapi juga begitu banyak wisata sejarah

yang sempat membuat terkesima ketika menyaksikannya.


Salah satu yang menarik adalah daya pikat Museum

Haghia Sophia

atau sering juga dibaca dengan sebuta Museum Aya Sofia. Museum

ini sebelumnya adalah sebuah bangunan dimana dulunya adalah Masjid.


Dan

sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Udara dingin yang kira-kira mencapai

10 derajat Celsius tidak menjadi hambatan bagi para wartawan untuk

menikmati kunjungan dan menimmati kota tua ini. Di ceritakan oleh

Pemandu Wisata bernama ,

Ali Ekinci,

(49) yang memandu kami selama berada di sana, bahwa usia bangunan ini

sudah sangat tua, sekitar lima abad.


Bangunan ini merupakan kebanggaan

masyarakat Muslim di Istanbul,

Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung.

Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat

kemegahan Aya Sofia.

Tampak dari luar, pengunjung

disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya

30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter.


Ketika memasuki area

bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang

dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam

warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.


Di

sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di

dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki

Ostmani (Otomant).


Gereja
 

Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama

Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa

Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah

Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Berkat tangan Anthemios dan

Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian

arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia

dengan konsep baru.


Hal ini dilakukan setelah orang-orang

Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari

kawasan Suriah dan Persia.


Keuntungan praktis bentuk kubah yang

dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang

lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma,

yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta

mahal biayanya.

Oleh keduanya, konsep kubah dalam

arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang

memanjang.


Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara

struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian

dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah

sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa

pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali

terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak

terkena gempa di awal abad ke-14.

Pengembangan Turki Ostmani



Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah

pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama

Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota

besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan

sujud syukur.

Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia.


Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi

masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari

setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan

untuk shalat Jumat berjamaah. Sepanjang kekhalifahan Turki Ostmani,

beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja

Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan

masjid.

Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya.


Sementara

dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal

sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya

untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela

Islam.

Kata Ali, karena orang-orang Turki

yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia

dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak

dibongkar.


Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas

dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar

bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara

ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di

bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun

lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad

III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III,

pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid

yang masih bercirikan gereja.


Termasuk, mengganti tanda salib yang

terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan

menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia

Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain

yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan. Akibat adanya kontak

budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam

dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula

mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap

meruncing.


Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik

awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat

megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan

timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan

lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan

ruang yang lebih luas dan tinggi.

Museum 

Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di

tahun 1937.


Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang

penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi

masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran

Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan

Islam diubah lagi menjadi gereja.

Sejak difungsikan sebagai museum,

para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur

menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia.


Bagian di

langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi

dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen

peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya

Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap

dipertahankan.Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu

objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki.

Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah

memesona.


Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan

identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam

dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu

masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh

para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah

kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.


Desain dan corak bangunan Aya Sofia

sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam

membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki

Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.Kubah

besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh

arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.


Salah satu karya terbesar Sinan yang

mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di

Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya

Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek

wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang

menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.


Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya

Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur

Islam, khususnya arsitektur masjid.

 


Adanya kontak budaya antara

orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah,

arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan

bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas.

Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur

ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat

megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(*)





Kirim Komentar Anda




Komentar Untuk Artikel Ini


Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/08/21/mrvdhl-geliat-islam-di-polandia


Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

0 comments :

Post a Comment