Showing posts sorted by relevance for query Cahaya Islam. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Cahaya Islam. Sort by date Show all posts

Sunday, June 30, 2013

Scott Lynch, anak pendeta yang menemukan cahaya Islam


LEBIH dari dua dekade Scott Lynch mencari kebenaran hakiki. Pada akhir pencariannya ia menemukan Islam. Komunikasi intensif dengan sang Pencipta  melalui kewajiban shalat lima waktu menjadi pertimbangan Lynch.



Selama dua dekade, Lynch hanya memahami Muslim memiliki karakteristik berperawakan gelap, rambut hitam, berjenggot, menetap di Timur Tengah dan Asia. Seorang Muslim hanya mengenakan pakaian sederhana dan serba tertutup.



“Saya merasa cukup aneh ketika terbiasa dengan penampilan warga AS yang berambut pirang, bermata biru, beragama Kristen. Namun, umat Islam begitu beragam,” kata dia seperti dikutipOnislam.net, Jumat (28/6).



Semasa remaja, beberapa kali Lynch berpindah tempat tinggal. Di mana ia tinggal, Lynch tidak menemukan keberagaman. Latar belakang keluarga Lynch cukup dengan gereja. Ia sendiri merupakan anak seorang pendeta.



“Ayah seorang pendeta. Anda bisa bayangkan bagaimana tradisi Kristen mewarnai kehidupan saya. Setiap akhir pekan, saya rutin beribadah di gereja,” kenang dia,



Lynch dibesarkan dalam pemahaman Yesus sebagai anak Tuhan. Namun, dirinya seolah menolak pemahaman itu. Akantetapi rasa takut kepada orang tuanya membuat ia harus menerima pemahaman itu. “Saya meyakini kisah Yesus itu tidak masuk akal,” kata dia.



Ia merasa aneh ketika sosok Yesus itu akan menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadanya. Pertanyaan pun muncul, bagaimana orang-orang sebelum kedatangan Yesus. “Saya diam-diam mulai mempertanyakan masalah ini,” kata dia.



Kendati mempertanyakan, Lynch tidak memperlihatkan apa yang ia rasakan kepada orang tuanya. Lynch hanya bisa menahan dalam hati. Di saat bersamaan, orang tuanya terus menerus meminta anaknya itu menerima kehadiran Yesus.



Selama lima tahun ke depan, Lynch terus berpura-pura. Ia memang hadiri kajian Injil. Namun, ia tidak pernah terpikir mempelajarinya. Lulus SMA, Lnych mendapatkan momentum. Ia niatkan diri pada satu hal penting yakni kebebasan mempelajari agama lain.



Hal yang pertama dilakukannya, ia pelajari ajaran Katolik Roma. Tapi itu tidak lama. Lnych kembali melanjutkan pencariannya. Untuk mempermudah niatannya itu, Lynch mempelajari agama Yahudi. Ia tertarik mendalami bahasa Ibrani. Saat itu, ia belajar bersama seorang rabi. Lagi-lagi, Lynch merasa buntu dengan tradisi Yahudi.



Barulah, ia menilik Islam. Pertemuan ini memang tidak sengaja. Saat itu, ia mengambil kelas Lembaga dan Tradisi Islam. Di kelas itu, ia berinteraksi dengan Muslim. Satu kesan yang ia dapat, Islam mengajarkan kesederhanaan dan rendah hati. Tak lama, ia mulai memberanikan diri mendatangi masjid. Di masjid, Lynch mulai menemukan kecocokan dengan apa yang dipikirkan tentang konsep Ketuhanan.



“Saya tahu ada satu Allah, tapi siapa dia, dimana dia,” tanyanya.



Memasuki dunia kerja, kecocokan itu berlanjut. Lynch menyimpulkan Islam memiliki dasar keyakinan yang kuat  tentang Ketuhanan. Islam menyatakan Tuhan itu satu, Tuhan itu melalui utusan-Nya coba menyampaikan hal tersebut. Islam itu merupakan pedoman hidup manusia.



“Saat itu, saya mulai tertarik untuk bertanya lebih jauh tentang Islam,” kata dia,



Suatu waktu, Lynch beremu dengan pria Muslim bernama Hani. Kepadanya, Lynch banyak bertanya tentang Islam dan Muslim. Oleh Hani, ia diberikan Alquran. Ketika membaca, ia merasa terkejut. Alquran banyak bercerita tentang Kristen dan Yahudi. “Tuhan apakah Engkau menginginkanku bangun pagi dan menyembah-Mu. Setelah begitu yakin, saya memutuskan mengucapkan syahadat,” kata dia. 



Usai mengucapkan syahadat, Lynch berpikir apa yang akan ia katakan kepada keluarga dan rekan kerjanya. Itu terjadi selama berbulan-bulan, tapi Lynch berusaha tenang menghadapi masalah tersebut. 



“Saya coba lupakan itu, dengan mulai mendalami ajaran Islam. Disini saya siap mengambil langkah berikutnya,” kenang dia.



Pada Januari 2001, Hani mengundang Lynch mengunjungi Islamic Center Fort Collins, Colorado.Berada di sana, Lynch seolah dipanggil melakukan sesuatu. Apa yang ia rasakan coba diutarakan pada Hani. Oleh temannya itu, ia disarankan membaca Alquran dan mulai mempelajari tata cara shalat.



“Jujur saya sedikit gugup,” kata dia.



Tak terasa, setahun sudah Lynch menjadi Muslim. Selama itu, Lynch merasakan kemajuan, kemunduran dan keraguan. Kondisi itu ia coba pahami sebagai satu upaya menjadi Muslim yang kaffah. “Saya ini manusia biasa, tentu Allah memahami kelemahan saya itu. Yang pasti, dalam hati, saya telah bekerja keras mengikut jalan-Nya,” kata dia. | sumber : republika


Article source: http://sidomi.com/161056/diego-michiels-masuk-agama-islam/


Scott Lynch, anak pendeta yang menemukan cahaya Islam

Friday, June 28, 2013

Scott Lynch, Anak Pendeta yang Menemukan Cahaya Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lebih dari dua dekade Scott Lynch mencari kebenaran hakiki. Pada akhir pencariannya ia menemukan Islam. Komunikasi intensif dengan sang Pencipta  melalui kewajiban shalat lima waktu menjadi pertimbangan Lynch.


Selama dua dekade, Lynch hanya memahami Muslim memiliki karakteristik berperawakan gelap, rambut hitam, berjenggot, menetap di Timur Tengah dan Asia. Seorang Muslim hanya mengenakan pakaian sederhana dan serba tertutup.


“Saya merasa cukup aneh ketika terbiasa dengan penampilan warga AS yang berambut pirang, bermata biru, beragama Kristen. Namun, umat Islam begitu beragam,” kata dia seperti dikutipOnislam.net, Jumat (28/6).


Semasa remaja, beberapa kali Lynch berpindah tempat tinggal. Di mana ia tinggal, Lynch tidak menemukan keberagaman. Latar belakang keluarga Lynch cukup dengan gereja. Ia sendiri merupakan anak seorang pendeta.


“Ayah seorang pendeta. Anda bisa bayangkan bagaimana tradisi Kristen mewarnai kehidupan saya. Setiap akhir pekan, saya rutin beribadah di gereja,” kenang dia,


Lynch dibesarkan dalam pemahaman Yesus sebagai anak Tuhan. Namun, dirinya seolah menolak pemahaman itu. Akantetapi rasa takut kepada orang tuanya membuat ia harus menerima pemahaman itu. “Saya meyakini kisah Yesus itu tidak masuk akal,” kata dia.


Ia merasa aneh ketika sosok Yesus itu akan menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadanya. Pertanyaan pun muncul, bagaimana orang-orang sebelum kedatangan Yesus. “Saya diam-diam mulai mempertanyakan masalah ini,” kata dia.


Kendati mempertanyakan, Lynch tidak memperlihatkan apa yang ia rasakan kepada orang tuanya. Lynch hanya bisa menahan dalam hati. Di saat bersamaan, orang tuanya terus menerus meminta anaknya itu menerima kehadiran Yesus.


Selama lima tahun ke depan, Lynch terus berpura-pura. Ia memang hadiri kajian Injil. Namun, ia tidak pernah terpikir mempelajarinya. Lulus SMA, Lnych mendapatkan momentum. Ia niatkan diri pada satu hal penting yakni kebebasan mempelajari agama lain.


Hal yang pertama dilakukannya, ia pelajari ajaran Katolik Roma. Tapi itu tidak lama. Lnych kembali melanjutkan pencariannya. Untuk mempermudah niatannya itu, Lynch mempelajari agama Yahudi. Ia tertarik mendalami bahasa Ibrani. Saat itu, ia belajar bersama seorang rabi. Lagi-lagi, Lynch merasa buntu dengan tradisi Yahudi.


Barulah, ia menilik Islam. Pertemuan ini memang tidak sengaja. Saat itu, ia mengambil kelas Lembaga dan Tradisi Islam. Di kelas itu, ia berinteraksi dengan Muslim. Satu kesan yang ia dapat, Islam mengajarkan kesederhanaan dan rendah hati. Tak lama, ia mulai memberanikan diri mendatangi masjid. Di masjid, Lynch mulai menemukan kecocokan dengan apa yang dipikirkan tentang konsep Ketuhanan.


“Saya tahu ada satu Allah, tapi siapa dia, dimana dia,” tanyanya.


Memasuki dunia kerja, kecocokan itu berlanjut. Lynch menyimpulkan Islam memiliki dasar keyakinan yang kuat  tentang Ketuhanan. Islam menyatakan Tuhan itu satu, Tuhan itu melalui utusan-Nya coba menyampaikan hal tersebut. Islam itu merupakan pedoman hidup manusia.


“Saat itu, saya mulai tertarik untuk bertanya lebih jauh tentang Islam,” kata dia,


Suatu waktu, Lynch beremu dengan pria Muslim bernama Hani. Kepadanya, Lynch banyak bertanya tentang Islam dan Muslim. Oleh Hani, ia diberikan Alquran. Ketika membaca, ia merasa terkejut. Alquran banyak bercerita tentang Kristen dan Yahudi. “Tuhan apakah Engkau menginginkanku bangun pagi dan menyembah-Mu. Setelah begitu yakin, saya memutuskan mengucapkan syahadat,” kata dia. 


Usai mengucapkan syahadat, Lynch berpikir apa yang akan ia katakan kepada keluarga dan rekan kerjanya. Itu terjadi selama berbulan-bulan, tapi Lynch berusaha tenang menghadapi masalah tersebut. 


“Saya coba lupakan itu, dengan mulai mendalami ajaran Islam. Disini saya siap mengambil langkah berikutnya,” kenang dia.


Pada Januari 2001, Hani mengundang Lynch mengunjungi Islamic Center Fort Collins, Colorado.Berada di sana, Lynch seolah dipanggil melakukan sesuatu. Apa yang ia rasakan coba diutarakan pada Hani. Oleh temannya itu, ia disarankan membaca Alquran dan mulai mempelajari tata cara shalat.


“Jujur saya sedikit gugup,” kata dia.


Tak terasa, setahun sudah Lynch menjadi Muslim. Selama itu, Lynch merasakan kemajuan, kemunduran dan keraguan. Kondisi itu ia coba pahami sebagai satu upaya menjadi Muslim yang kaffah. “Saya ini manusia biasa, tentu Allah memahami kelemahan saya itu. Yang pasti, dalam hati, saya telah bekerja keras mengikut jalan-Nya,” kata dia.


Article source: http://www.republika.co.id/berita


Scott Lynch, Anak Pendeta yang Menemukan Cahaya Islam

Sunday, April 21, 2013

Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

foto googleSungguh berat nian untuk ber-Islam dengan baik di jaman moderen ini. Jaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Jaman dimana banyak hal dalam Islam yang katanya sudah tidak lagi sesuai. Islam kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan jaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu Islam datang menyerukan pembaharuan. Hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. Islam dahulu menjadi panduan yang komplit bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di jamannya.


Islam itu (seharusnya) progresif dan revolusioner. Tapi mengapa saat ini, wajah Islam seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan Islam ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan Islam dengan penganutnya. Kemudian pertanyaannya adalah, darimana kita melihat keagungan dan keunggulan Islam? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. Islamkah yang salah?


Saya sedikit penasaran, bagaimana generasi emas, para pengukir sejarah Islam hidup dan berkembang dahulu. Saya sempatkan untuk mencari-cari dan membaca-baca literatur, hingga akhirnya saya membaca kembali tulisan lama dari penulis favorit saya, Yusuf Qardhawi, dengan tulisannya Fiqih Prioritas. Saya pikir tulisan ini cukup mewakili sudut pandang orang-orang yang hidup sebagai generasi emas Islam. Setidaknya begitu bagi saya, sudut pandang yang diberikan Yusuf Qardhawi dalam buku tersebut sangat progresif dan revolusioner. Dan seperti itulah Islam seharusnya, gerbong perubahan. Tidak berniat untuk menjadi hiperbolis mengatakan bahwa dengan ber-Islam-lah Anda bisa berubah, tapi ada beberapa semangat dalam ber-Islam yang seharusnya bisa mengubah kita. Dengan begitu, jika Islam mengalami stagnansi, itu bukanlah Islam, bukan semangat ke-Islam-an yang dulu pernah digelorakan generasi pertama.


Di sini saya kemudian juga harus jujur, bahwa hampir semua ajaran yang ada di muka bumi ini datang dengan semangat yang sama, semangat perubahan, tidak hanya Islam. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan atau melebihkan, tidak ada kapasitas saya untuk melakukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah, mempertanyakan kembali kalimat Islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena semangat dan nafasnya Islam itu yah letaknya disana, bahwa Islam itu mempunyai semangat perbaikan, dimana semangat perbaikan itu berbeda dengan nilai konservatif dan status-quo yang cenderung stagnan.


Saya akan coba ulas beberapa hal yang saat ini sering menjadi pokok masalah didalam umat Islam sendiri, yang menurut saya menjadi sumber kemerosotan kebermanfaatan muslim di lingkungan sekitar. Kadang permasalahan ini malah menggerogoti keindahan Islam itu sendiri.


1. Fatwa-fatwa yang sudah tidak sesuai dengan jaman sudah seharusnya direvisi


Perubahan kondisi dunia hingga seperti saat ini memerlukan perubahan cara pandang di diri seorang muslim. Para ahli fiqih harus mengubah fatwa-fatwa lama yang sekiranya sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, dengan berpegang pada faktor keluwesan dan keleluasan dalam syariat Islam yang sejalan dengan As Sunnah dan Al Quran. Kondisi saat ini tentu berbeda dengan jaman dahulu sehingga pendekatan-pendekatan dalam pembuatan fatwa pun tentu berbeda, sehingga peninjauan terhadap fatwa-fatwa lama pun harus dilakukan.


Contoh yang diberikan Yusuf Qardhawi adalah bagaimana seharusnya muslim saat ini melihat dunia muslim dan dunia selain muslim. Jaman dahulu ada fatwa di dunia muslim yang membagi dunia ke dalam Dar Islam dan Dar Harb, sebuah pandangan mengenai hubungan dunia muslim dengan bukan muslim adalah peperangan. Selain tidak sesuai dengan kondisi saat ini, fatwa ini juga dinilai lemah karena banyak penjelasan-penjelasan di As Sunnah dan Al Quran yang menyatakan kebalikannya, seperti
“… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…“(al-Hujurat: 13) dan ”..Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan...” (al-Ahzab: 25)


Walaupun saya yakin banyak muslim saat ini yang memiliki pandangan bahwa peperangan bukan jalan dakwah yang bisa ditempuh saat ini. Namun pandangan anarkis dalam menyebarkan keindahan Islam ini masih saja menodai langkah perjalanannya saat ini, seperti aksi kekerasan terhadap golongan lainnya dengan mengatasnamakan dakwah.


Fatwa-fatwa lama, bisa jadi telah mendarah daging sehingga tanpa kita sadari telah menjadi keseharian muslim-muslim di dunia tanpa mengetahui jika itu tidak lagi sesuai jamannya. Muslim-muslim mengikuti fatwa-fatwa tanpa mengetahui sebab musababnya dan tanpa pengetahuan, sehingga yang ada hanya sikap fanatisme kosong. Ada teguran yang cukup jelas tentang hal ini.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” (al-Isra’: 36)


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)


Untuk masalah ini kadangkala masyarakat kita sangat mudah percaya bahwa sesuatu adalah benar jika itu mengatasnamakan Islam ataupun dakwah. Sudah jelas dalam ayat diatas bahwa ijtihad itu di atas taqlid, artinya kebiasaan menggali informasi serta memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan merupakan salah satu muslim sejati. Sehingga wajar saja di jamannya dulu, generasi emas Islam menorehkan banyak karya untuk ilmu pengetahuan. Rasa penasaran begitu besar memang tertanam dan diperintahkan.


2. Memperbaiki diri sebelum memperbaiki lingkungan lebih besar


“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)


Ada beberapa orang yang beranggapan, sistem dulu diperbaiki baru semuanya bisa lebih baik. Saya sangat menyangsikan proposisi ini, bahkan Rasulullah yang utusan langsung saja melakukan pembinaan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membina sebuah masyarakat yang memiliki aturan dan sistem. Tapi itu kan dulu? Saya pikir sama saja, hidup ini kan terus berputar dan menurut saya cara Rasul adalah sebaik-baiknya cara.


Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Rasulullah ini menjalankan perbaikan sistem di tempat-tempat baru. Beliau tidak kemudian memaksakan sistem dan pemahamanan-pemahaman yang ada dalam Islam untuk dipaksakan pada orang-orang bukan Islam. Ke-khalifah-an bukanlah tujuan akhir yang ingin Rasulullah kejar, tapi menyebarkan indahnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin, ke-khalifah-an bisa jadi salah satu cara yang ditempuh. Intinya adalah kita harus jeli melihat mana yang tujuan dan mana yang cara. Jika melihat bagaimana kisah Rasul, jelas terlihat bahwa pembinaan individu itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dengan menyebarkan kebaikan demi kebaikan ke setiap individu sampai akhir hayatnya, dan itu cara yang dipilih oleh beliau.


Ini bukan berarti sistem atau lingkungan tidak penting, karena individu adalah pembentuk sistem. Layaknya sebuah perusahaan yang fokus terhadap pengembangan personal sumberdaya manusianya, maka dia akan mendapatkan sistem yang lebih optimal.


3. Memahami perbedaan itu sebagai sebuah keluwesan dan keleluasaan yang dikarunia Allah


Hal yang tersulit dilakukan saat ini adalah menghargai perbedaan. Perbedaan itu fitrah dan berkah. Namun sebagian besar manusia memang tidak menyadari itu dan menjadi perbedaan itu sebagai dasar perpecahan dan persengketaan yang berkepanjangan. Termasuk diantaranya adalah bagaimana umat muslim mengintrepretasikan isi Al Quran, banyak sekali pendekatan-pendekatan berbeda sehingga memunculkan istilah aliran-aliran tertentu. Patut disadari bahwa dalam Al Quran memang ada ayat-ayat yang sifatnya muhkamat (terang-benderang) dan mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Jika seandainya Allah menginginkan manusia dalam satu pemahaman maka isi Al Quran tentunya mengandung ayat-ayat muhkamat.


Yang paling penting itu adalah kemudian untuk tidak merubah-rubah ayat muhkamat menjadi mutasyabihat ataupun sebaliknya. Banyak sekali perdebatan yang muncul akibat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Yusuf Qardhawi dengan jelas menuliskan bahwa masalah-masalah yang dinggap besar selalu dituliskan sebagai ayat muhkamat, dan kita dilarang untuk berselisih di dalam hal ini, misalnya seperti masalah aqidah. Sedangkan untuk masalah kecil yang tersirat dalam ayat mutasyabihat memang terkadang memunculkan perbedaan hukum oleh fuqaha-fuqaha, dan ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Dalam hal ini kemudian umat Islam tidak boleh dengan mudahnya tercerai berai, inilah yang dijelaskan diawal sebagai berkah perbedaan.


Allah memberikan ruang keleluasaan dan keluwesan bagi manusia untuk berinovasi dalam koridor tertentu, bahkan disini Allah menunjukkan bahwasanya Islam bisa terus bersifat progresif dan revolusioner disesuaikan dengan jamannya. Satu hal yang paling penting, ukhuwah Islamiyah adalah hal yang tetap patut dijaga terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.


4. Fokus kepada isu-isu sentral yang ada dalam Al Quran


Sebelum memikirkan apa yang harus diperbaiki dari umat Islam ini, ada baiknya kita kembali ke Al Quran. Penekanan yang diperlihatkan di dalam Al Quran dengan mengulang-ulang kata-kata dan istilah-istilah tertentu, adalah tanda bahwa hal-hal tersebut sudah seharusnya menjadi prioritas. Seperti pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi. Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.


Sebenernya dengan melihat penekanan-penekanan dalam Al Quran ini kita bisa menilai mana yang kemudian lebih penting ketimbang lainnya. Sehingga dalam bersikap kita bisa lebih proporsional terhadap perintah-perintah Allah, tidak kemudian memakai kacamata kuda untuk bersikeras memaksakan ayat-ayat yang dia sukai saja. Tiap ayat di Al Quran saling terkait satu sama lain, sehingga jika menerapkannya dalam keseharian berdasarkan prioritas tentu kita bisa melihat gambaran kebesaran Rasulullah didalamnya. Beliau bisa begitu lembut pada siapa pun, bahkan musuh Allah sekalipun. Beliau tidak membenci kecuali atas seizin Allah.


Saya rasa propaganda kebencian umat Islam terhadap umat lain memang sudah saatnya dihentikan, karena sudah tidak sesuai semangat yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah. Ada hal yang menarik sebenarnya, di Al Quran disebutkan, misalnya contoh bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi. Tetapi disisi lain kita juga dihadapkan contoh dimana Rasul kita bisa begitu sabar dan lembutnya menghadapi orang-orang Yahudi. Dan bagaimana toleran dan luwesnya Rasul kita dalam membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak di luar Islam.


Menurut pendapat saya kebencian yang kita miliki pun harus proporsional, bukan tanpa alasan dan bukan fanatisme kosong belaka. Sudah jelas bahwa kebencian Rasulullah bukannlah kebencian terhadap personal, bukan kebencian yang pada dasarnya adalah kepada manusia. Rasulullah memperlakukan binatang pun penuh dengan perasaan apalagi manusia, sejahat apapun mereka. Kebencian kita memang sudah sepatutnya ditujukan kepada sifat-sifat jeleknya yang melekat pada personal-personal itu, dan tugas kita untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat itu, menjauhkan keluarga dari sifat-sifat itu dan menjauhkan sifat-sifat itu dari personal-personal umat manusia. Itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah untuk membenci personal, bagi Rasullah setiap pribadi adalah manusia yang wajib beliau ajak ke jalan ke-Islam-an. Itupun berlaku bagi kita, umatnya.


Kemudian bagaimana peperangan yang dahulu umat Islam lakukan. Seperti yang saya jelaskan, dalam Al Quran ayat peperangan ini bahkan tidak masuk prioritas. Peperangan ini ada karena memang pada zamannya itu tidak bisa dihindarkan. Dan kalaupun ada peperangan bukan kebenciannya yang ditebarkan, sekali lagi peperangan itu hanyalah metode yang diambil pada zaman itu dan tidak bisa dihindarkan.


Melihat kondisi dunia seperti saat ini, isu-isu kemanusiaan mungkin bisa dijadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan Islam. Umat muslim sudah seharusnya ada di garda terdepan memerangi kemiskinan sebagaimana banyak ayat-ayat yang membahas tentang zakat, shadaqah dan fakir miskin, memberantas kebodohan sebagaimana banyaknya ayat yang membicarakan tentang ilmu dan menghentikan kemerosotan akhlak individu sebagaimana banyaknya ayat yang membahas bagaimana seharusnya pribadi muslim sejati itu.


Ijtihad-ijtihad dalam hal-hal ini diperlukan, ketika kita berbicara masalah kemiskinan, umat muslim harus terdepan memoderenisasikan pokok-pokok keIslaman dalam tatanan kehidupan berekonomi, saat berbicara kebodohan, umat muslim harus memiliki seribu satu gerakan untuk menyebarkan ilmu ke seluruh pelosok daerah, dan ketika berbicara masalah akhlak, muslim juga harus memiliki standar etika yang jelas, standar pribadi muslim. Bukan muslim yang bermuka dua, yaitu mereka menebar kebencian terhadap personal tetapi muslim yang menebar kebaikan dan memusuhi kejelekan, kepada siapapun orangnya. Dengan semangat ini semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin tentu bisa kita perlihatkan dan buktikan bukan hanya pada umat Islam saja, juga umat-umat lainnya. Kata kunci yang harus dipegang muslim saat ini adalah kebermanfaatan untuk umat manusia, bukan hanya umat muslim saja.


Tulisan ini dibuat tidak kemudian untuk menjadikan Islam terlihat lebih hebat dan superior dari ajaran apapun. Tetapi ini adalah hak dan kewajiban dari umat Islam untuk menjadikan diri mereka lebih baik bagi lingkungan sekitarnya berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. InshaAllah dengan menjadi lebih baik, cahaya Islam itu sendiri tidak kemudian tertutup oleh debu-debu keterbatasan manusia. Memberikan manfaat kepada sesama, bukankah itu sebaik-baiknya manusia. Pun rekan-rekan yang beragama lain pun dipersilakan mencari mutiara didalam ajarannya masing-masing dan mari menjadi lebih baik bagi lingkungan dan dunia. Mari kita hiasi dunia dengan indahnya kebersamaan dan kebermanfaatan dalam rasa cinta dan kasih sayang.


Wallahualam Bishowab


Oleh: Iwa Kartiwa, Seoul


[006-fimadani]


 


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/12/29/337/738766/fpi-wahid-institute-sebar-berita-fitnah


Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

Monday, August 26, 2013

Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

“Tidak ada waktu untuk liburan, ketika Anda menyadari betapa sedikit waktu yang ada, dan betapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk Islam,” kata Bilal Philips, mengawali kisah hidupnya dari seorang non-Islam, menjadi pakar Islam yang giat berdakwah.


Abu Ameenah Bilal Philips, merupakan seorang mualaf yang mengabdikan dirinya pada pendidikan Islam. Ia sangat terpesona pada agama yang dibawa Rasulullah ini hingga mempelajarinya ke Haramain, tanah kelahiran Islam. Setelah mumpuni berislam dari Universitas Madinah dan Universitas King Saud Riyadh, ia pun menjadi dosen teologi Islam bahkan membentuk Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Bilal lahir di Jamaika di tengah keluarga intelek. Kedua orangtuanya merupakan guru, kakeknya bahkan seorang pendeta dan pakar Al Kitab. Tak heran jika Bilal tumbuh menjadi seorang Kristen yang taat. Di usia 11 tahun, Bilal ikut keluarganya pindah ke Kanada. Di kota itulah ia kemudian mengenyam pendidikan dan tumbuh dewasa.


Bilal dan keluarganya sempat pindah ke Malaysia. Disanalah kontak pertama Bilal dengan Islam. Namun Bilal belum tertarik pada agama rahmatan lil alamin ini. Saat itu Bilal masih masih sangat muda dan lebih suka bermain musik rock ketimbang memikirkan agamanya.


Tak lama, ia dan keluarga kembali ke Kanada. Saat Bilal kuliah, pemuda tengah digandrungi pesta ganja. Namun Bilal tak ikut serta, fenomena itu justru membuatnya mengambil pelajaran biokimia disamping kuliah seni yang ia dapat dengan beasiswa. 


Pencarian jati diri Bilal belum berakhir, di kampus ia tertarik dengan politik mahasiswa. Ia pun terlibat dalam aksi mahasiswa. Ia pun kemudian belajar sosialisme kemudian tergila-gila dengan Marxis-Leninis. Ia pun kemudian menekuni sosial-pilitik hingga pergi ke California. Ia bergabung dengan para aktivis kulit hitam disana.


Namun Bilal dikecewakan karena teman-temannya merupakan pecandu narkoba. Sikap anti-narkoba Bilal masih berakar kuat. Ia pun beralih haluan dan kembali ke Kanada. Bilal mempelajari ideologi lain. Ia kemudian terpesona pada komunisme di China. Sosialisme rupanya mengakar kuat pada hati Bilal.


Ia pun pergi ke Cina untuk mendapat pelatihan perang gerilya pendukung komunisme. Namun setibanya disana, Bilal merasakan hal sama saat ia bergabung dengan sosialis di California. Hanya saja kali ini bukan narkoba. Teman-teman komunisnya merupakan para perokok berat. Ia pun kembali kecewa. Ia kembali ke Kanada.


Saat kembali ke kampus, salah seorang teman perempuannya di kelompok mahasiswa dikabarkan memeluk Islam. Ia pun kemudian mulai mempelajari ajaran Islam. Ia membaca banyak literatur Islam dan ada satu buku yang memberikannya banyak pengaruh bagi hatinya. Buku tersebut bertajuk “Islam; agama yang disalahpahami” karya Muhammad Qutb.


Tak hanya mempelajari ajarannya, Bilal juga mempelajari sejarahnya. Ia pun terpesona dengan peran muslimin dalam pembebasan negara-negara Afrika dari kolonialisme Eropa. Bilal makin merasakan ketertarikan pada Islam. Ia pun mulai membela Islam hingga kemudian memutuskan bersyahadat. “Aku mulai membela Islam. Akhirnya beberapa introspeksi dan refleksi membuat saya memeluk Islam pada tahun 1972,” ujarnya dalam biografinya di SaudiGazzette.


Setelah berislam, Bilal ingin menyempurnakan pengetahuannya tentang Islam. Tak puas mempelajari otodidak, Bilal pun memutuskan pergi ke tanah kelahiran Islam, Arab Saudi. “Saya bergabung dengan Universitas Madinah dan mengambil gelar dalam Usoolud Deen (disiplin Islam) pada tahun 1979. Kemudian mengambil MA dalam teologi Islam dari Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan menyelesaikan Ph.D., dalam Teologi Islam di tahun 1994,” kata Bilal yang sangat haus mempelajari ilmu.


Setelah menjadi pakar Islam, Bilal pun membagi ilmunya di banyak negara. Ia menjadi guru di Riyadh, menjadi dosen di UEA hingga berdakwah di Filiphina. Enggan membuang waktu, ia pun kemudian membangun kampus sendiri dengan pengajaran online, yakni Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Pengalaman Spiritual

Hingga memutuskan bersyahadat, Bilal sesungguhnya pernah mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menegangkan. Kepada Saudi Gazette Bilal mengakui bahwa selama mempelajari Islam otodidak, ia hanya jatuh hati pada gaya politik Islam. Namun dalam hal keimanan, ia belum mampu membangunnya di hati. Konsep Tuhan yang selama ini ia pahami dalam filsafat komunis tentu sangat jauh berbeda dari Islam. “Dalam hati saya gagasan yang kabur tentang Allah masih ada,” ujarnya.


Keimanan pada Allah baru dirasakan Bilal setelah mengalami peristiwa menegangkan dalam mimpinya. Bilal bermimpi mengendarai sepeda ke gudang. Ia memasukinya dan segalanya gelap gulita. Bulu kuduk Bilal berkidik. Ia berusaha pergi darisana. Tapi sejauh apapun ia pergi, ia tak kunjung mampu keluar. “Serasa akan mati,” kisah Bilal.


Ia diliputi  ketakutan yang sangat karena berada di ruang yang amat sangat gelap, tak ada setitik cahaya pun. Bilal pun mulai menjerit mencari pertolongan. Namun tenggorokannya tiba-tiba sesak tak mampu bersuara. Ia berusaha keras meminta bantuan, namun tak ada yang mampu ia lakukan. Badannya lemas, ia menyerah. Bilal pun terbangun.


“Mimpi ini meninggalkan kesan berat bahwa tidak ada yang bisa membawa saya keluar dari situasi seperti itu, kecuali Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu membawa saya keluar dari keadaan putus asa mutlak, dan membawa saya kembali,” pungkasnya.


 


 




Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

Tuesday, August 6, 2013

Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Keadilan datangnya daripada Allah. Salah satu daripada nama-nama Allah ialah “Yang Maha Adil”. Keadilan lazimnya digandingkan dengan kebenaran, kerana tanpa mengetahui etika tersebut, kita tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, apatah lagi amal bakti yang diiktiraf sebagai berkebajikan di sisi Allah Taala. Di dalam Surah Al-Maidah ayat 8, Allah menyebut :

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa.”


Ayat ini membuktikan bahawa kebenaran dan keadilan tidak dapat dipisahkan. Seorang Muslim yang dibimbing wahyu Allah pasti meyakini bahawa menerima keadilan adalah ketaatan, menegakkannya adalah kewajiban dan memperjuangkannya adalah jihad. Dalam urutan keutamaan yang ditentukan oleh Islam dalam sebuah pemerintahan menurut Imam al-Mawardi, keadilan terletak di tempat yang tinggi selain daripada amanah. Ketinggiannya itu mengatasi perkara-perkara lain seperti kestabilan dan kemakmuran ekonomi. Kerana kestabilan negara yang dipimpin oleh pemerintah yang korup, sebenarnya adalah kestabilan yang palsu.


Sekiranya nilai kebenaran dimanipulasi dan keadilan dikesampingkan dalam sesebuah etika pemerintahan, maka tunggulah detik-detik kehancuran. Masyarakat tidak lagi percaya dan yakin dengan sistem perundangan yang rosak serta pemerintahan yang zalim. Natijahnya masyarakat akan menyelesaikan masalah masing-masing dengan caranya tersendiri seperti pemberontakan, pengeboman, keganasan dan apa jua cara kekerasan sehingga menumpahkan darah.


Dalam Islam, keadilan merentasi batas kaum dan bangsa bahkan agama. Hanya apabila keadilan telah ditegakkan dan kezaliman dihapuskan, maka kebaikan-kebaikan yang lain akan terlaksana dengan jayanya. Begitupun perlu kita fahami bahawa keadilan bukan hanya satu konsep yang berkaitan dengan pemerintahan dan politik sahaja, walaupun sehingga ke hari ini konsep keadilan terus menjadi tema penting terutamanya dalam bidang pemerintahan. Melaksanakan keadilan dan menghapuskan kezaliman juga merupakan antara falsafah sistem kehakiman dalam Islam.


Sebelum tema keadilan menjadi konsep politik, ia adalah konsep terulung bersifat metafizik yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, keadilan tidak lebih daripada satu perkataan yang boleh membangkitkan emosi, bahkan penegakan syiarnya juga adalah sebuah agenda Islam bagi meneruskan legasi perjuangan baginda Rasulullah SAW. Oleh itu, Ibn Khaldun (1332 M – 1406 M) di dalam “Muqaddimah”, turut mengaitkan ketidakadilan adalah penyebab kerosakan struktur negara sekaligus memporak-perandakan bangsa.


Ketika Islam tersebar di Andalus, keadilan adalah mercu tanda penyebaran dakwah yang menjadi haruman di kota yang penuh berprestij itu. Kehadiran umat Islam di Andalus bukanlah suatu bentuk yang agresif mahupun permisif, tetapi atas permintaan pemerintah bahagian Ceuta (wilayah Sepanyol terletak di Afrika Utara) ketika itu yang bernama Count Julian untuk membalas dendam terhadap Raja Don Roderic yang telah melakukan kekejaman dan penindasan di Andalus. Maka, jemputan Count Julian itu adalah untuk mengembalikan keadilan di Andalus dengan meyakini umat Islamlah pelopornya yang layak dijadikan pautan.


Kehadiran Islam di Andalus sekali gus menjadikan kota itu sebagai model terbaik bagaimana toleransi beragama telah dilaksanakan oleh umat Islam jauh sebelum konsep itu kini kononnya diperjuangkan oleh Barat. Ramai sejarawan Barat sendiri termasuk Edward Gibbon (1737 M – 1794 M) mengakui bahawa ketika zaman Andalus diperintah oleh orang Islam yang memakan tempoh ratusan abad, orang-orang Kristian dan Yahudi hidup dalam kedamaian dan keamanan. Namun, malangnya toleransi beragama yang dicontohkan oleh umat Islam tidak dihargai baik oleh orang-orang Yahudi mahupun Kristian.


Toleransi hancur setelah Andalus berada di tangan orang-orang Kristian. Sejarah mencatatkan pada abad ke-13 sahaja, 3 juta orang Islam dan 2 juta orang Yahudi diusir dari Andalus. Bukan hanya umat Islam dipaksa tukar agama, bahkan masyarakat Kristian yang beraliran “Unitarian” juga dipaksa bertukar kepada “Trinitarian”. Seramai 40 ribu orang Yahudi menerima “Converso” (masuk Kristian secara paksa). Ia berlaku setelah Andalus ditakluki Ferdinand III. Masjid Cordova yang indah dan megah, dibina Abd al-Rahman al-Dakhil pada 788 Masihi ditukar menjadi gereja pada 1236 Masihi.


Tahun-tahun berikutnya berlaku operasi pemurtadan secara besar-besaran di Andalus. Tribunal kegerejaan dilaksanakan dengan amat kejam, orang Kristian yang tidak mengamalkan ajaran Trinitarian digantung dan dibakar, sehingga masyarakat Andalus berada dalam kegelapan kembali setelah berada dalam kemuncak ketamadunan. Hanya pada 1813 M inkuisisi tersebut dinyatakan sebagai bertentangan dengan perlembagaan dan dihapuskan pada 1834 M. Inkuisisi itu jugalah yang menimbulkan kebencian masyarakat Eropah kepada agama dan dan melahirkan semangat ilmiah moden dan rasional melampau sehingga anti kepada konsep ketuhanan.


Begitupun sebenarnya titik-titik hitam dalam sejarah pemerintahan khilafah Islam di Andalus mula memperlihatkan petanda kejatuhannya apabila keadilan tidak lagi menjadi prinsip pentadbiran mereka. Ketika keadilan dibakul-sampahkan, bukan hanya cahaya ketamadunan dan keilmuan hilang dari bumi Andalus, kedamaian beragama juga hilang dari bumi yang kini disebut Sepanyol itu. Populasi masyarakat Islam di Andalus ketika itu semakin berkurangan akibat penindasan dan operasi pemurtadan beramai-ramai.


Ayuh kita perhatikan ketika Al-Hakam I (796M) menaiki takhta menggantikan ayahnya iaitu Hisham, bahawa ayahandanya telah berpesan, “Hendaklah kamu (wahai Hisham) berlaku adil kepada semua tanpa mengira miskin atau kaya, berbuat baik dan berlemah lembut kepada orang yang bergantung kepadamu. Kerana semuanya sama-sama ciptaan Allah. Amanahkan penjagaan kota-kota dan daerah-daerahmu kepada ketua yang setia dan berpengalaman; kenakan hukuman tanpa belas kasihan menteri-menteri yang menindas rakyatmu…”


Namun, malangnya Al-Hakam I tidak mengikuti pesan ayahnya. Al-Hakam I justeru tidak peduli nasib rakyatnya, bahkan kejam terhadap mereka. Beliau merupakan sultan pertama yang dikelilingi 6 ribu pengawal peribadi. Beliau menghukum rakyatnya dengan kejam walaupun atas kesalahan kecil, sehingga menyebabkan rakyat tidak berpuas hati dan berlakulah beberapa siri pemberontakan. Pada zamannya juga Barcelona jatuh ke tangan Kristian, dan ia adalah kejayaan besar pertama diperoleh oleh Kristian. Kejayaan tersebut telah memberikan momentum “reconquesta” (penaklukan kembali) kepada golongan Kristian untuk menyerang umat Islam. – rujuk “al-Mu’jib fi Talkhis Akhbar al-Maghrib”


Selain percubaan serangan yang ingin dilakukan oleh kaum Kristian untuk melakukan reconquesta terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Andalus, perpecahan dalaman akibat perbezaan kasta kepada umat Islam turut berlaku. Sifat angkuh golongan autokrat terhadap golongan bawahan, antara bencana tertewasnya tentera Islam dalam peperangan Las Navas de Tolosa pada 1212 Masihi, perang di mana kembalinya titik peralihan golongan Katholik menguasai Andalus. Dalam peperangan tersebut berlaku keengganan sultan dinasti al-Muwahidun mendengar nasihat panglimanya berbangsa Barbar yang lebih berpengalaman. Kekalahan itu menyebabkan 70 000 orang Islam disembelih atas arahan ketua bishop wilayah Toledo, Rodrigo Jiménez de Rada.


Zaman kejatuhan Andalus juga ditandai dengan kerakusan golongan pemerintah yang sanggup memperalatkan ulama. Perkara ini diakui Ibnu Khaldun di mana beliau sempat menyaksikan peristiwa bagaimana kerajaan-kerajaan Islam yang gagah perkasa di Andalus, tumbang satu persatu akibat fungsi dan peranan ulama tidak diberikan kedudukan yang sewajarnya. Ibnu Khaldun menceritakan ketika beliau berada di Andalus, ulama sering diperalatkan golongan pemerintah. Penghargaan terhadap ulama yang pada awal Islam benar-benar jujur dan ikhlas bertukar menjadi pemanfaatan para pemimpin (umara) terhadap kaum ilmuwan (ulama).


Jelas Ibnu Khaldun lagi, bibit-bibit zaman kejatuhan Andalus ketara terpampang apabila sering berlaku perpecahan politik dan perebutan kuasa yang amat dahsyat sehingga pemerintah cuba melakukan apa sahaja untuk memastikan kuasa berada di tangan mereka. Pertikaian dalaman berlaku setelah kekuasaan tidak lagi berada di tangan pemimpin yang adil. Kerajaan-kerajaan kecil yang dinamakan dengan “Muluk al-Tawaif”  atau taifa de reyes, terlalu lemah untuk melawan gelombang reconquesta. Maka, adalah suatu kebodohan jika kesilapan-kesilapan masa lalu itu kita ulangi di masa ini.


Benar, umat Islam pernah memiliki model kemajuan yang indah dan gemerlapan di masa lalu. Tetapi, sungguh malang apabila cita-cita kegemilangan berhujung dengan kejatuhan demi kejatuhan, apatah lagi jika kejatuhan tersebut berpunca daripada keruntuhan nilai-nilai keadilan sedangkan Islam menegaskan umatnya berlaku amanah dan adil. Untuk kembali bangkit, yang kita perlukan adalah kesungguhan dan keikhlasan, bukan hanya semangat dan slogan-slogan kosong. Yang jelas nasib umat Islam pada masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan pada hari ini.


http://www.tarbawi.my



Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Monday, July 15, 2013

Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika


ISLAMIC Society of North America (ISNA) tepat sekali memilih Ingrid Mattson sebagai orang nomor satu. Banyak orang sepakat bahwa sosok Ingrid sangat tepat untuk memimpin Komunitas Islam Amerika Utara, yang merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.



Siapa yang mengira bahwa mualaf ini akan memimpin sebuah organisasi besar dan berpengaruh di Amerika. Siapa sebenarnya Ingrid dan bagaimana kisah hidupnya sehingga bisa menjadi muslimah kesohor?



Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian.



“Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana,” ujar Ingrid dalam buku ‘Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44, Minggu (7/7).



Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.



Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.



Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. “Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang,” ujarnya.



Sejak saat itu, Mattson mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.



Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.



Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. “Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas,” ujar Mattson.



Pada tahun 1987, Mattson lalu memutuskan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson akhirnya menemukan seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.



Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.



Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu.



Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat. Hal ini lantaran namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inagurasi Barack Obama, setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.



Saat itu, Mattson masih menjabat sebagai presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC, sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.



Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.



Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. | sumber: merdeka.com


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=294239:jo-taslim-jadi-mualaf&catid=103:film&Itemid=149


Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika

Saturday, November 23, 2013

Taqiyah Syiah berlapang dada


  • FATHUL BARI


SYIAH yang ada di Malaysia adalah Syiah Imam 12 yang akidahnya sesat bahkan orang yang beriktikad dengannya boleh terkeluar dari Islam.



Syiah berasal dari agama Yahudi, permusuhan mereka dengan Islam telah cukup lama. Musuh utama mereka adalah sahabat Nabi SAW kerana mereka inilah yang menyebar dan berhempas pulas mempertahankan kesucian Islam, diikuti generasi tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat, yang disimpulkan sebagai Salaf Al-Soleh.



Sebab itu pelbagai tohmahan dilemparkan oleh Syiah terhadap golongan ini. Apabila Islam tersebar luas, musuh bertambah dengki dan sakit hati. Kumpulan orang-orang Yahudi ini berpura-pura masuk Islam, dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ bertujuan merosak pemikiran umat Islam dan menyebar akidah kufur atas nama Islam, supaya orang yang tidak tahu akidah Islam sebenar akan terpedaya.



Mereka mempergunakan Ali bin Abi Talib ra dan keturunannya, mendakwa mencintai Ahlul Bait, memperjuangkan hak Ali dan memuja keturunannya secara berlebihan.



Dalam kitab Syiah, Abdullah bin Saba’ berkata, “Sesungguhnya umat (para sahabat) telah menzalimi Ali bin Abi Talib dan merampas haknya iaitu sebagai khalifah dan imamah.” Abdullah bin Saba’ terus mengajak manusia untuk menolong Ali, dan tidak taat kepada Khalifah Osman bin Affan, dan menarik bai’at dari Osman.



Banyak orang Mesir terpengaruh oleh pemikiran ini lalu membelot dari Osman. (Sejarah Syiah, Raudhatu Al-Safa). Ini mengakibatkan timbul fitnah, rakyat keluar dari ketaatan kepada Khalifah Osman sehingga terjadi pembunuhan khalifah itu.



Kekuatan Islam menjadi lemah, penaklukan negara Islam terhenti, kaum Muslimin berbunuhan sesama sendiri dan kesannya berterusan hingga hari ini di mana umat Islam terus berbalah dan berbunuhan sesama sendiri dan hilang kekuatan menentang kafir.



Kebencian dan dendam terhadap sahabat dan isteri Nabi ditanam dalam pemikiran umat Islam. Mereka juga mempromosikan akidah Yahudi iaitu Imamah yang tidak disebut dalam al-Quran dan hadis sahih.



Ali bin Abi Talib dan ahli bait sendiri berlepas diri daripada mereka dan menghukum mereka dengan hukuman yang keras sewaktu hidup mereka. Namun hakikat ini tidak diketahui oleh kaum Muslimin sehingga muslihat Yahudi ini berjaya mempengaruhi sebahagian besar orang Islam.



Syiah dan kebohongan tidak dapat dipisahkan, bahkan agama Syiah bermula dengan kebohongan. Mereka menamakannya ‘taqiyah’ iaitu memperlihatkan suatu berbeza dari apa yang mereka rahsiakan. Taqiyah (berbohong) ini termasuk sebahagian agama Syiah dan diwajibkan atas mereka.



Sejak sekian lama mereka mengajak umat Islam bersatu dan berlapang dada dengan mereka. Mereka menyeru Ahli Sunnah wal Jamaah supaya dekat dengan mereka. Mereka melakukan usaha taqrib (mendekatkan) antara Sunni dan Syiah. Sedihnya seruan ini disambut oleh sebahagian orang Islam.



Tujuan mereka tidak lain kecuali supaya orang Islam cenderung kepada mereka, meninggalkan akidah dan kepercayaan terhadap ALLAH, RasulNya, isteri-isteri dan para sahabat Nabi yang mulia, lalu mengikuti pemikiran dan kesesatan yang disusun oleh Yahudi ini, na’uzubillah.



Mereka menggunakan slogan yang baik iaitu “bersatu” tetapi yang mereka kehendaki adalah kebatilan. Dalam Islam, bersatu hanya dibolehkan jika pihak yang berselisih kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ini seperti mana firman ALLAH, “Dan sekiranya kamu berselisih terhadap suatu urusan, kembalikanlah kepada ALLAH dan RasulNya (al-Quran dan Sunnah).” (Surah Al-Nisa: 59)



Seruan bersatu bukan suatu yang baharu. Orang kafir Quraisy pada zaman Rasulullah SAW meminta Rasulullah supaya jangan memecahbelahkan umat. Agama yang dibawa oleh Baginda dikatakan agama pemecah belah umat. Namun kebenaran tidak mungkin bersatu dengan kebatilan.



Rasulullah SAW bersabda atas perintah ALLAH, “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati.



Sesungguhnya ALLAH memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya, dan kamu sesekali tidak dapat menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 19-22)

 
*Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia


Article source: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00041870.html


Taqiyah Syiah berlapang dada

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja

Thursday, December 8, 2016

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank Very Very Much for Visit this Blog

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> UMJ< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank U So Much for Read this Article