Showing posts sorted by relevance for query Gaya Hidup. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Gaya Hidup. Sort by date Show all posts

Sunday, January 5, 2014

Islam Bertahan di Kolombia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Para imigran Muslim bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera.

Kolombia terkenal sebagai negara berkembang yang banyak terjadi kriminalitas. Adanya kartel narkoba yang besar dan terpelihara hingga kini memperburuk kondisi negara yang berada di Amerika Selatan ini.


Namun, di antara hiruk pikuk kehidupan warganya, ada eksistensi dari umat Muslim yang selalu berusaha untuk menunaikan semua ibadahnya, hidup dengan damai, dan terus berdakwah.


Awal mula Muslim yang tinggal di wilayah ini adalah para imigran yang berasal dari negara-negara Timur Tengah sekitar akhir abad ke-19.


Kemudian, disusul para imigran yang berasal dari Asia Selatan dan kini juga banyak warga lokal yang tertarik menjadi mualaf.


Ada tiga hal yang mendorong lahirnya komunitas Muslim di negara yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa pengantar ini. Pertama, periode setelah konflik politik di negara-negara Timur Tengah.


Kedua, jatuhnya Kekaisaran Ottoman yang mendorong minoritas Arab ke tanah Amerika. Ketiga, migrasi warga Palestina setelah perang dunia kedua dan setelah penciptaan Negara Israel pada 1948 serta migrasi warga Lebanon sekitar 1960-an.


Kolombia memiliki populasi Muslim sebanyak 86 ribu jiwa yang berarti mencakup 0,2 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 42 juta orang. Kebanyakan Muslim Kolombia adalah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina.


Mereka datang ke Kolombia sekitar 1880 hingga 1960. Mereka datang karena perang yang terjadi di Timur Tengah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi dibandingkan tempat asal mereka.


Kebanyakan, para imigran pertama tampak sebagai Muslim yang taat dibandingkan dengan generasi kedua dan ketiganya. Muslim generasi pertama sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Arab antara satu dengan yang lain.


Dari tulisan Diego Castellanos yang berjudul Islam in Colombia: Between Assimilation and Exclusion, dijelaskan kehidupan Muslim di Kolombia sangatlah kompleks. Karena, budaya masyarakat lokal masih sangat kuat, tulisnya.


Muslim menjadi kaum minoritas di negara ini. Dan, melihat apa yang terjadi dalam kesehariannya, tidak terjadi proses asimilasi yang signifikan antara Islam dengan budaya masyarakat setempat. Warga asli menolak adanya proses asimilasi dengan Islam.


Tapi, justru karena inilah Islam malah bisa bertahan sesuai aslinya, berbeda dengan kedatangan agama lain, seperti Kristen Pantekosta yang mendaur ulang formasi praktik-praktik leluhur masyarakat asli Kolombia.


Kehadiran komunitas Muslim yang sudah selama 40 tahun ini menjaga eksistensinya justru memperlihatkan bahwa agama inilah yang paling luhur di antara yang lainnya, tulis Diego.


Para imigran Muslim ini justru bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera lebih layak dibandingkan warga lainnya. Ini membuat orang-orang Muslim di Kolombia, disegani.


Padahal, fasilitas, sarana, serta gaya hidup warga Kolombia sangat tidak mendukung pada eksistensi komunitas Muslim. Karena, gaya hidup warganya yang sangat menyimpang dengan ajaran Islam membuat asimilasi Islam dan budaya setempat sulit tercapai. Ini membuat penyebaran Islam mengalami hambatan yang sangat besar.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tersendat, komunitas Muslim tetap ada di sejumlah besar Kota Kolumbia. Akhir-akhir ini, terjadi fenomena yang begitu menggembirakan.


Banyak warga setempat yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam. Ini membuat jumlah jamaah di masjid-masjid di Kolombia semakin bertambah banyak. Juga, berbagai lembaga sosial Islam yang punya banyak anggota baru.


Salah satu yang menjadi alasan kuat mengapa banyak orang Kolombia memutuskan masuk Islam karena menurut mereka, berdasarkan logika Islam menawarkan sebuah kehidupan religius yang dibangun berdasarkan ketuhanan Esa dan kepercayaan adanya Tuhan di sepanjang hidupnya.


Muslim di Kolombia bisa mengembangkan karakter yang universal yang memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang bisa dipeluk oleh ras, etnis, ataupun warga negara manapun, jelasnya.


Satu hal lagi yang membuat jumlah mualaf semakin banyak di Kolombia adalah karena jalur perkawinan. Orang-orang Muslim di sana hanya mau menikahi orang Muslim juga. Ini membuat warga setempat yang jatuh cinta pada pemuda Muslim, akhirnya berani untuk masuk Islam.


Beberapa tahun terakhir Muslim Kolombia semakin terbuka untuk memperlihatkan identitas mereka, apalagi Pemerintah Kolombia tidak lagi menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara.


Para perempuan yang mengenakan jilbab dan laki-laki menggunakan baju khas masyarakat Timur Tengah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Kolombia.


Populasi Muslim Kolombia terbanyak berada di Kota Maicao, bagian dari wilayah La Guajira. Di sinilah masjid termegah se-Amerika Selatan, Omar Ibnu al Khattab, yang didirikan pada 1987 berada.


Populasi Muslim di sini diperkirakan sekitar 8.000 orang. Sayangnya, di kota ini terjadi banyak aksi kriminalitas, seperti penyelundupan, baik rokok, barang-barang elektronik, narkoba, senjata, hingga pencucian uang, sama seperti kota-kota lain di Kolombia.


Article source: http://sidomi.com/224403/rowan-atkinson-masuk-islam-mr-bean-muslim/


Islam Bertahan di Kolombia

Sunday, December 15, 2013

Israel Anggap PBB Anjing Menggonggong

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri


Bagaimanakah Negara Palestina di mata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-moon? Menurut diplomat Korea Selatan ini, untuk menuju Negara Palestina Merdeka harus ada pembicaraan damai yang berujung pada pendirian dua negara: Palestina berdampingan dengan Israel.


Ban Ki-moon berpandangan Tahun 2014 merupakan waktu tepat untuk pembicaraan damai. Jangan sampai terlewatkan. Pembicaraan damai yang bertujuan menghentikan penjajahan yang telah berlangsung sejak 1967 serta mendirikan Negara Palestina Merdeka dan Berdaulat dengan batas-batas sebelum tahun 1967.


Ini berarti Madinatul Quds (Jerusalem) Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai (telah dikembalikan ke Mesir), Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan (Suriah) yang telah diduduki Israel sejak 1967 harus dikembalikan kepada Palestina dan Arab. Menurut Ban, hanya dengan itu bangsa Palestina bisa hidup berdampingan dengan negara Israel dengan rasa aman.


Namun, lanjutnya, Al Quds (Madinatul Quds) harus dikeluarkan dari materi pembicaraan damai. Ia sepakat Al Quds merupakan ibukota kedua negara, dengan syarat harus ada peraturan yang menjamin semua orang bisa mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci oleh para pemeluk agama. Selain itu, katanya, harus ada penyelesaian adil untuk memulangkan jutaan warga Palestina di pengasingan.


Pandangan Ban Ki-moon itu disampaikan ketika ia memberi pidato mengenai keputusan PBB yang menjadikan ’2014 sebagai ‘Tahun Solidaritas Buat Bangsa Palestina’ pada akhir November lalu. Keputusan itu diambil melalui pemungutan suara negara anggota PBB. Sejumlah 110 setuju, 7 menolak, dan 54 abstain.


Tahun lalu, pada bulan yang sama, Sidang Umum PBB juga telah menyetujui menjadikan Palestina sebagai pengamat non-anggota. Status ini secara otomatis merupakan pengakuan terhadap Negara Palestina. Pada saat itu, 138 negara anggota menyatakan setuju, 9 menolak, dan 41 abstain. Bisa dipasikan yang menolak adalah AS dan Israel serta konco-konconya.


Status baru Palestina di dunia internasional ini tentu patut disambut gembira. Namun, apakah status, pengakuan, dan solidaritas ini banyak artinya buat masyarakat Palestina yang sehari-hari hidup menderita di bawah pendudukan Zeonis Israel? Bukankah rakyat Palestina sudah terlalu sering mendengar janji-janji dari para pemimpin dunia?


Faktanya, Zeonis Israel, terutama pada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sekarang ini, telah semakin berhasil menancapkan pengaruh Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan. Caranya, antara lain dengan mengubah ciri-ciri khas Palestina dengan indentitas baru Yahudi. Termasuk nama-nama kampung, desa, dan jalan.


Menurut pemerhati masalah Palestina, ‘Ato’ullah Marajoni, yang menulis di media Al Sharq Al Awsat edisi 9 Desember lalu, apa yang dilakukan Zeonis Israel ini sebenarnya strategi lama. Ia menunjuk sebuah buku berjudul ‘Tahwidul Quds’ (Mengyahudikan Al Quds) yang ditulis Rouhi Al Khatib pada 1970. Juga buku yang ditulis sastrawan dan politisi Palestina, Imil Habibi, tentang ‘Mengyahudikan Palestina dan Orang-orang Palestina’. Di dalam kedua buku itu disebutkan bagaimana mengyahudikan budaya, gaya hidup, dan cara berpikir warga Palestina, terutama mereka yang hidup di bawah pendudukan Zeonis Israel.


Strategi ‘mengyahudikan’ Palestina ini tidak bisa dianggap remeh. Ia harus dipandang sebagai sama bahayanya dengan perang bersenjata. Strategi ini secara pelan-pelan tapi pasti akan menghilangkan identitas warga dan wilayah-wilayah Palestina yang diduduki Zeonis Israel. Yang terakhi ini kemudian menggantikannya dengan identitas Yahudi.


Yang paling gencar diserang oleh ‘strategi mengyahudikan Palestina’ ini adalah Al Quds bagian timur yang banyak dihuni warga Palestina. Hampir tiap hari warga Palestina di wilayah ini diancam, diteror, serta diusir. Tujuannya agar mereka tidak kerasan dan kemudian meninggalkan rumah-rumah mereka. Rumah-rumah warga Palestina ini kemudian dihancurkan dan dibangun pemukiman baru Yahudi.


Berikutnya adalah mengganggu keberadaan Masjidil Aqsa yang merukan tempat suci yang paling sensitif bagi umat Islam. Selain merusak bagian-bagian dari masjid yang merupakan kiblat pertama umat Islam ini, Zeonis Israel juga melarang-anak-anak muda shalat di masjid. Setiap orang Palestina yang masuk ke tempat suci ini harus diperiksa ketat. Sejumlah kelompok warga Yahudi juga menggelar perbagai pertunjukan musik yang hingar bingar tepat di depan masjid, yang bahkan sering berlangsung pada waktu-waktu shalat.


Semua itu dimaksudkan agar ketika berlangsung pembicaraan damai dengan delegasi Palestina, posisi Zeonis Israel di pihak yang kuat. Mereka akan mendasarkan pada bukti bahwa wilayah-wilayah yang diduduki selama ini secara faktual adalah beridentitas Yahudi: penghuni, budaya, gaya hidup, dan bahkan nama-nama kampung, desa, dan jalan-jalan. Itu sebabnya, Netanyahu menolak keras syarat bahwa pembicaraan damai dengan Palestina dikaitkan dengan pembangunan pemukiman baru Yahudi.


Dalam kondisi seperti itulah PBB menjadikan 2014 sebagai ‘Tahun Solidaritas terhadap Bangsa Palestina’. Pertanyaannya, apa yang bisa diperbuat oleh PBB dan bahkan oleh Ban Ki-moon? Selama ini Zeonis Israel pun telah lama tidak memandang badan dunia itu. 


Berbagai kecaman dan resolusi PBB (Majelis Umum dan DK) dianggapnya sepi. Bahkan dalam pembicaraan damai dengan Palestina, Zeonis Israel ogah melalui PBB. Mereka hanya mau pembicaraan secara langsung dengan delegasi Palestina yang difasilitasi oleh AS. Sementara Ban Ki-moon meskipun menjabat sebagai Sekjen PBB tidak mempunyai power. Tidak memiliki kekuatan memaksa. Ia tak lebih dan tak kurang hanya sebagai moderator dari negara-negara anggota badan dunia itu.


Apa pun, keputusan PBB untuk menjadikan 2014 sebagai tahun solidaritas untuk bangsa Palestina patut disambut gembira. Juga harapan-harapan besar Ban Ki-moon untuk bangsa Palestina. Walaupun kita juga tahu bahwa janji-janji PBB dan anggotanya, termasuk kecaman-kecaman mereka, ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya. Zeonis Israel telah lama menganggap PBB hanyalah gong-gongan anjing. Mereka akan terus membangun pemukiman baru Yahudi dan mengubah apa pun yang berbau Palestina dengan identitas Yahudi. 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/05/31/174561/Syariat-Islam-Berjalan-Lambat-


Israel Anggap PBB Anjing Menggonggong

Thursday, July 11, 2013

Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Kaligrafi mendapat tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena bertujuan memperindah lafal Allah.


Jika menyebut seni kaligrafi, belum tentu bertuliskan Arab atau menuliskan ayat suci Alquran. Banyak tulisan lain, seperti Jepang, Cina, dan Yunani, yang juga memiliki seni visual tersebut. Secara bahasa, kaligrafi memang bermakna seni tulisan indah, yakni dari bahasa Yunani allos yang bermakna indah dan graphein, yakni menulis.


Kaligrafi Arab (khat arab) atau yang sering dikenal dengan kaligrafi Islam, hanyalah salah satunya. Hanya, Muslimin Indonesia terbiasa menyebut kaligrafi pada huruf indah Arab yang menuliskan Alquran.


Bagi bangsa Arab, tulisan pun sebetulnya bukanlah hal yang utama. Bangsa Arab pada masa lalu lebih bangga dengan lisan yang pandai bersyair ketimbang menulis indah. Kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Jikalau ada syair yang amat cantik, itu pun hanya ditulis jika akan digantungkan pada Ka’bah. Pun ketika Islam datang.


Alquran hanyalah disimpan dalam memori para sahabat. Kitabullah baru ditulis setelah banyak hafiz yang wafat di medan pertempuran. Maka, barulah dimulai penulisan Alquran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan baru mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.


Tak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan sesuatu yang diperhatikan. Meski aksara Arab diperkirakan telah muncul seabad sebelum Islam datang, kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Meski perkembangannya lamban, kaligrafi pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat Muslim.


Philip K Hitti dalam History of the Arab mengatakan, seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah dan didukung oleh ayat Alquran surah 68 ayat 1 dan 96 ayat 4. Kedua ayat tersebut, yakni “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, surah al-Qalam ayat 1 dan “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”, surah al-Alaq ayat 4. Maka, saat muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, kaligrafi langsung menjadi primadona kesenian Islam.


                                                              *****



Pada tahap berikutnya, lanjut Hitti, kaligrafi sepenuhnya menjadi karya seni Islami dan membawa pengaruh pada seni lukis yang dikui banyak kalangan. Melalui karya kaligrafi, seorang Muslim menyalurkan bakat seninya yang tidak bisa diekspresikan melalui representasi objek-objek yang hidup. Seorang penulis kaligrafi atau kaligrafer menempati kedudukan yang terhormat dan mulia melebihi kedudukan para pelukis.


Terdapat beberapa pelopor pengembangan kaligrafi Arab, di antaranya, al-Raihani (meninggal 834) yang mengembangkan kaligrafi pada masa kekhalifahan al-Ma’mun dari Dinasti Abasiyah. Ia menyempurnakan gaya kaligrafi Rihan, sesuai dengan namanya. Kemudian, Ibn Muqlah (meninggal 940), seorang menteri Abasiyah yang tangan kanannya dipotong oleh Khalifah al-Radhi. Dengan tangan kiri, ia mampu menulis dengan indah.


Terdapat pula nama Ibn al-Bawwb (meninggal 1022 atau 1032), anak seorang pegawai di Majelis Umum Baghdad. Ia menemukan gaya kaligrafi muhaqqaq. Lalu, pelopor terakhir yang amat masyhur, yakni Yaqut al-Mutashimi. Muncul pada pengujung periode Abasiyah, ia sangat kondang sebagai ahli kaligrafi terkemuka yang namanya diabadikan sebagai nama gaya tulisan, yakni Yaquti.


“Dinilai dari karya kaligrafi Yaquti yang masih bertahan hingga kini dan sejumlah karya kaligrafi lain, capaian artistik dalam bidang kaligrafi pada periode ini tidak bisa dianggap tinggi. Bisa dikatakan kaligrafi merupakan satu-satunya kesenian Arab yang produknya saat ini, baik kalangan Muslim maupun Kristen, bisa kita lihat di Konstantinopel, Kairo, Beirut, dan Damaskus. Karya-karya mereka menampilkan nilai keindahan dan keagungan yang lebih tinggi dibandingkan terdahulu yang pernah diproduksi sepanjang masa,” kata Hitti.


 
                                                             *****


Lebih perinci, Habibullah Fadzoili dalam Athlasul Khat wa al-Kutub membagi enam periode perkembangan kaligrafi. Pertama, yakni era pertumbuhan di mana saat itu huruf Arab belum memiliki tanda baca atau masih gundul. Gaya kufi muncul saat periode ini. Kedua, yakni era pertumbuhan. Periode kedua baru dimulai saat kekhalifahan Bani Umayah. Saat itu, gaya kufi mulai perkembangan lebih indah. Gaya tsulus, naskhi, muhaqqaq, raihani, riq’I, dan tauqi’ muncul pada periode yang berlangsung hingga pertengahan kepemimpinan Dinasti Abasiyah tersebut.


Ketiga, periode penyempurnaan di mana mulai muncul metode kaligrafi lengkap dengan standardisasinya. Gaya-gaya sebelumnya mulai dimodifikasi dan diberi kaidah. Periode keempat, yakni pengembangan kaidah dan metode pada era sebelumnya. Saat itu mulai muncul harmonisasi dua gaya dalam satu kanvas. Kemudian, periode selanjutnya, yakni masuk ke pengolahan.


Pengembangan teknik lebih mendapat penekanan dalam era ini. Saat itu, ratusan gaya telah berhasil diciptakan para kaligrafer. Periode terakhir, yakni saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir dan Dinasti Safawi berkuasa di Persia. Pengembangan gaya terus terjadi saat periode tersebut hingga mencapai puncak saat periode Turki Utsmani.


                                                    ******


 
Berkembang di Timur
Saat Dinasti Abasiyah runtuh akibat serangan Mongol, perkembangan kaligrafi justru makin memuncak. Apalagi, saat itu terdapat pelopor kaligrafer ternama, Yaqut. Islamnya putra Hulagu Khan, Abaga, menjadikan Dinasti Mongol menganut Islam. Saat itulah kaligrafi mengalami perkembangan di negeri Islam timur, terutama saat Mongol di bawah kepemimpinan Ghazan dan Uljaytu.


“Ghazan seorang Muslim yang terpelajar memberikan dukungan besar terhadap seni Islam, termasuk kaligrafi dan penyalinan buku. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan penggantinya, Uljaytu, yang kemudian menjadi era kemajuan seni dan sastra. Uljaytu memiliki dua orang kepercayaan, yakni Rashid al-Din dan Sa’d al-Din. Keduanyalah yang selalu melindungi para pelajar, seniman, dan kaligrafer. Pada masa Uljaytu inilah, perkembangan kaligrafi mencapai puncaknya,” demikian yang tertulis di web calligraphicworld.


Pascaberakhirnya generasi Mongol pada abad ke-14, kaligrafi masih menjadi primadona di bawah kekuasaan Dinasti Timurid yang pimpin Timur Leng. Dia menciptakan gaya baru kaligrafi untuk penulisan Alquran. Menggantikan gaya Mongol, gaya ini lebih memiliki pola megah dan geometris.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/ledakan-bom-di-kuil-buddha-lukai-2-orang/1696938.html


Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

Thursday, December 8, 2016

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank Very Very Much for Visit this Blog

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> UMJ< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank U So Much for Read this Article

Monday, September 9, 2013

Carley, Model Pakaian Dalam Wanita Yang Memeluk Islam

Carley Wattsdoc: ROLCarley Watts“Di dalam Islam, perempuan diperlakukan dengan hormat. Muslimah juga menghargai diri dan tubuh mereka,” ujar Carley Watts, seorang model ternama asal Inggris yang tengah jatuh hati pada Islam. 

Bukan model biasa, Carley merupakan model seksi pakaian dalam wanita. Mengejutkan, ia memeluk Islam dan menutup tubuh indahnya dengan hijab.


Bertemu dengan seorang pria Tunisia, Mohammed Salah, menghantarkan Carley pada hidayah. Ia pun mempelajari Islam dan tertarik pada penjagaan Islam yang sangat melindungi wanita. Setelah berislam, ia segera meninggalkan pekerjaannya dan berencana menikah dengan Mohammed dan tinggal di Tunisia. 


Cerita jalan hidayah sang model usia 24 tahun itu dimulai ketika ia berlibur ke Tunisia bulan April lalu. Ia pergi berjalan-jalan ke pantai hingga kemudian secara tak sengaja bertemu dengan seorang penjaga pantai. Ya, penjaga pantai itulah Mohammed Salah. 


“Aku suatu hari memberanikan diri menanyakan namanya. Bahasa Inggrisnya tidak baik, kami pun berbicara dalam bahasa Prancis. Namun hanya sedikit bahasa Prancis yang saya ingat saat sekolah,” ujar Carley sembali tersenyum malu, dikutip The Sun. 


Dari sanalah, hubungan Carley dan Salah dimulai. Carley pun kemudian mengenal agama yang Salah anut, Islam. Rupanya Saleh menjadi perantara Carley menemukan hidayah. Wanita beranak satu itu pun kemudian tertarik pada risalah yang dibawa Rasulullah. “Mohammed (Salah) telah membuatku benar-benar melihat hidupku. Aku merasa tenang dan bahagia,” ujarnya.


Dengan bantuan Salah, Carley mempelajari agama Islam. Ia kemudian menemukan betapa Islam memuliakan wanita. Carley yang selama ini mengumbar keindahan tubuhnya pun merasakan penyesalan yang sangat. Makin mempelajari syariat Islam kepada para wanita, Carley makin membulatkan tekad untuk mengakhiri pekerjaannya. 


Carley merasa selama ini hidupnya begitu liar. Apalagi gaya hidup pemuda-pemudi Inggris seperti minum alkohol dan pergi ke klub malam juga sangat dekat dengan kehidupannya. “Aku tak ingin lagi hidup liar, tak mau lagi mempertontonkann payudara juga tak akan pergi lagi ke klub malam lagi,” tuturnya.


Pilihan hidup Carley ini pun tentu mengejutkan keluarga dan fansnya. Mereka menolak keputusan Carley. Teman-temannya pun tak mendukung pertunangannya dengan Salah. “Mereka tak dapat menerima aku masuk Islam dan mengenakan jilbab. Mereka menganggap aku telah mengakhiri hidupku dengan keputusan itu,” ujarnya sedih.


Kendati demikian, Carley tak goyah. Ia tetap memutuskan untuk menjadi muslimah. Ia pun bersyukur Salah selalu mendukungnya. “Dia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi istrinya. Kami sudah membulatkan itu (rencana pernikahan). Ia menerimaku apa adanya, ia tak pernah mencoba mengubahku,” ujarnya.


Bertekad Menutup Aurat


Setelah menikah dengan Salah, Carley akan pindah dari Inggris ke Tunisia bersama putri kecilnya, Alanah yang baru berusia dua tahun. Oktober menjadi bulan yang telah disiapkan untuk hidup baru Carley di negara Timur Tengah itu. Ia bersama Alanah akan tinggal di Kota Monastir. Carley juga akan meresmikan statusnya sebagai mualaf saat musim semi, sebelum menikah dengan Salah.

Pindahnya Carley ke Tunisia pun seiring dengan tekad Carley untuk melepaskan pekerjaannya sebagai model. Tak hanya itu, ia juga telah siap untuk menutup aurat. “Hidupku mungkin memang diatur sesuai keyakinan, namun aku tak pernah merasa khawatir,” ujarnya.


Carley juga telah mempelajari budaya Tunisia, termasuk budaya menutup aurat bagi wanita. Ia pun megaku menyukai budaya itu. Menurutnya, budaya itu telah menghormati dan menghargai tubuh para wanita. Budaya itulah yang diajarkan Islam, yang tengah dipelajari Carley.[008-ROL]


 


Article source: http://internasional.kompas.com/read/xml/2013/09/09/1252305/Panel.Konstitusi.Mesir.Beragam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Carley, Model Pakaian Dalam Wanita Yang Memeluk Islam

Friday, January 11, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)


 


Sabtu, 12 Januari 2013

oleh: Nuim Hidayat

Misi Dakwah Islam

Kini kita tahu bersama, banyak masyarakat yang antipati terhadap partai politik atau politik. Golongan putih makin lama makin menaik. Mereka muak terhadap tingkah laku banyak para politisi yang tidak peka terhadap kondisi rakyat. Di tengah-tengah rakyat Indonesia yang masih 40 juta miskin, malah menurut Bank Dunia, kalau kategori miskin di bawah 2 dolar US per hari, jumlah penduduk miskin bisa mencapai 100 juta orang, para politisi seenaknya bepergian ke luar negeri menghabiskan uang negara dan seterusnya.

Di sisi lain, banyak aktivis-aktivis Muslim yang tidak lagi istiqamah dalam memperjuangkan dakwah Islam. Dakwah Islam sebagai inti dari dibentuknya sebuah partai atau organisasi Islam, kini hanya tinggal slogan. Para politisi Muslim banyak yang tidak memberikan keteladanan dakwah ketika ia menjabat sebagai politisi atau eksekutif. Gaya hidup dan pergaulan tidak lagi mencerminkan sebagai seorang dai. Padahal dulu mereka diajari “Aku adalah Muslim (dai) sebelum segala sesuatu”.

Konsep-konsep dan praktek-praktek dalam politik tidak mencerminkan semangat dan nilai-nilai mendasar dalam Islam. Sehingga banyak politisi-politisi muda akhirnya kecewa terhadap partai Islam. Ada teman penulis yang kecewa dengan tingkah laku para politisi partai Islam, akhirnya membuat partai sekuler.

Tentu hal itu tidak kita ingini bersama. Kita menginginkan politisi-politisi di Partai Islam, makin Islami dan politisi-politisi Muslim di partai-partai sekuler berani melakukan islamisasi di partainya.

Lihatlah kini media massa dan masyarakat, gegap gempita menyiarkan gebrakan-gebrakan yang dilakukan Jokowi dan Ahok. Turun langsung ke masyarakat, berani memotong anggaran-anggaran yang mubazir, menggaji para pemulung dan lain-lain. Seharusnya politisi-politisi Muslim –terutama yang di partai-partai Islam- malu kalah gebrakannya dengan mereka berdua. Seharusnya politisi-politisi Muslim membuat gebrakan yang lebih hebat dari mereka. Misalnya minta penurunan gaji baik sebagai pejabat eksekutif atau legislatif, karena masih puluhan juta orang miskin di tanah air atau seperti Dahlan Iskan yang berani mengumumkan orang yang mencoba menyuap dan sebagainya.

Bila para politisi Muslim tidak berbuat demikian, kukuh terhadap akidah Islam dan membuat gebrakan-gebrakan yang ‘revolusioner’, maka masyarakat akan antipati terhadap politik Islam. Dan ini bisa disebut kegagalan politik Islam.  Kalau sudah demikian apa makna membentuk partai politik Islam? Apa makna dari pentingnya politisi Muslim memegang jabatan? Ya menjadi tidak bermakna.

Renungkanlah mengapa dulu Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin (dan dilanjutkan sahabat-sahabat terkemuka) berhasil dalam dakwahnya. Dakwah di masa mereka menyebar cepat, tidak sampai 50 tahun Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab, Afrika, Asia dan Eropa. Tidak lain karena menyatunya antara konsep dan praktik (akhlak) mereka. Hidup sederhana menjadi ciri para pemimpin Muslim saat itu. Para ulama di saat itu selalu mengingatkan bahaya hidup bermewah-mewah, apalagi bila uang yang dipakai uang rakyat dan seterusnya. Selain itu, juga keteguhan aqidah dan semangat dakwah yang tinggi yang menjadikan Islam adalah agama yang tercepat pertumbuhannya dalam sejarah dunia.

Para pemimpin Islam itu bangga dengan Islamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam surat-suratnya sering menyerukan ‘Aslim taslam’. Masuk Islam lah engkau pasti selamat. Sayyidina Umar ra, begitu teguhnya memegang Islam dan begitu tinggi tasamuhnya (misalnya ketika menaklukkan Yerusalem), sehingga para pendeta pun hormat kepadanya.

Umar ra  selalu menggelorakan dakwah Islam dan menyampaikan kemuliaan Islam, karena rasa kasihannya terhadap nasib non Muslim di akherat nanti.

Pernah suatu waktu, khalifah Umar melewati sebuah tempat ibadah seorang rahib/pendeta, lalu ia berhenti sejenak. Rahib itu kemudian dipanggil dan diberi tahu bahwa khalifah Umar datang. “Ini adalah Amirul Mukminin”. Rahib itu kemudian menghadap Umar ra. Keadaaannya kurus dan lemah karena lelah dan kesulitan hidupnya. Rahib itu dalam hidupnya berusaha meninggalkan dunia. Umar ra kemudian menangis melihat kondisi Rahib itu. Seorang sahabat mengingatkan.”Rahib itu seorang Nasrani.” Umar ra menjawab,”Aku tahu itu. Dan aku teringat firman Allah Subhanahu wata’ala yang berbunyi,”Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas.”  (al Ghasyiyah 3-4). Aku merasa kasihan pada nasib dan kesungguhannya itu, padahal ia akan masuk neraka nantinya.”

Begitulah nurani yang halus dan keteguhan Umar. Ia memberikan keteladanan yang tinggi dalam memimpin, hidup sederhana, selalu berkeliling memantau kondisi rakyat, selalu aktif menggelorakan dakwah dll, karena menginginkan Islam ini dipeluk sebanyak-banyaknya umat manusia. Karena Umar ra faham, Islam ini nilainya lebih dari emas sepenuh langit dan bumi.
Al-Qur’an yang mulia mengingatkan;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sungguh orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS: Ali Imran [3]: 91).

Jadi bila dakwah menjadi inti utama partai Islam, maka kebanggaan sebenarnya adalah bila berhasil partai Islam itu mengislamkan orang-orang non Muslim atau berhasil dalam program Islamisasinya. Bukan bangga memasukkan orang-orang non Muslim dalam partainya.

Mengapa kita perhatian terhadap partai Islam? Ya karena merekalah ujung tombak dakwah Islam dalam bidang politik. Bila citra mereka anjlok di kalangan masyarakat, berarti bisa dikatakan dakwah Islam gagal dalam bidang politik.

Politik memang tidak segalanya. Tapi politik banyak mempengaruhi kehidupan kita. Undang-undang dilahirkan dalam keputusan politik, kebijakan pembagian keuangan pusat dan daerah diputuskan lewat politik, kebijakan pendidikan siapa yang boleh mengajar, siapa guru yang akan diberi uang negara adalah keputusan politik. Keputusan memberikan modal baik bagi pengusaha besar maupun kecil juga keputusan politik. Pengangkatan hakim agung yang akan memutuskan perkara juga keputusan politik.  Jadi bila umat meninggalkan politik, maka alangkah ruginya umat Islam ini. Bisa dikatakan mereka telah meninggalkan tanggungjawab dan amanat yang besar dalam pengaturan tanah air, yang merupakan bumi Allah ini. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan kita sebagai khalifah adalah untuk memakmurkan bumi ini.

Entah bagaimana wajah politik Islam tahun 2014 nanti, ketika presiden berganti. Tapi bila politisi Muslim –terutama yang berada di partai-partai Islam- tidak memperbaiki sikapnya, mungkin partai-partai sekuler akan terus menguasai negeri ini. Dan negeri ini, yang telah diperjuangkan oleh para ulama dan ‘wali’ dalam sejarahnya, sulit menjadi negeri Muslim yang disegani dunia. Apalagi menjadi pemimpin dunia Muslim. Mungkin hanya jadi pemimpi.
Akhirnya marilah kita renungkan, nasihat Sayidina Ali kepada gubernur di Mesir saat itu yang isinya aktual hingga kini:

“Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu.  Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.”

Ali melanjutkan: ”Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.  Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka… Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu.  Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang.  Dengan sikap yang waspada itu,   kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut.  Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka.  Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.

Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Sesungguhnya tiang agama, kekuatan kaum Muslimin dan senjata untuk menghadapi musuh adalah rakyat jelata.  Karena itu, jagalah hubungan baik dengan mereka dan perhatikan kesejahteraan mereka.” Wallahu aliimun hakim.* Habis

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta
 

Baca juga: Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://news.okezone.com/read/2013/01/12/340/745083/silaturahmi-ke-mui-chairuman-minta-umat-islam-jangan-golput


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Sunday, September 8, 2013

Carley Watts, Model Seksi Pakaian Dalam Wanita yang Akhirnya Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

“Di dalam Islam, perempuan diperlakukan dengan hormat. Muslimah juga menghargai diri dan tubuh mereka,” ujar Carley Watts, seorang model ternama asal Inggris yang tengah jatuh hati pada Islam.


Bukan model biasa, Carley merupakan model seksi pakaian dalam wanita. Mengejutkan, ia memeluk Islam dan menutup tubuh indahnya dengan hijab.


Bertemu dengan seorang pria Tunisia, Mohammed Salah, menghantarkan Carley pada hidayah. Ia pun mempelajari Islam dan tertarik pada penjagaan Islam yang sangat melindungi wanita. Setelah berislam, ia segera meninggalkan pekerjaannya dan berencana menikah dengan Mohammed dan tinggal di Tunisia.


Cerita jalan hidayah sang model usia 24 tahun itu dimulai ketika ia berlibur ke Tunisia bulan April lalu. Ia pergi berjalan-jalan ke pantai hingga kemudian secara tak sengaja bertemu dengan seorang penjaga pantai. Ya, penjaga pantai itulah Mohammed Salah.


“Aku suatu hari memberanikan diri menanyakan namanya. Bahasa Inggrisnya tidak baik, kami pun berbicara dalam bahasa Prancis. Namun hanya sedikit bahasa Prancis yang saya ingat saat sekolah,” ujar Carley sembali tersenyum malu, dikutip The Sun.


Dari sanalah, hubungan Carley dan Saleh dimulai. Carley pun kemudian mengenal agama yang Saleh anut, Islam. Rupanya Saleh menjadi perantara Carley menemukan hidayah. Wanita beranak satu itu pun kemudian tertarik pada risalah yang dibawa Rasulullah. “Mohammed (Saleh) telah membuatku benar-benar melihat hidupku. Aku merasa tenang dan bahagia,” ujarnya.


Dengan bantuan Salah, Carley mempelajari agama Islam. Ia kemudian menemukan betapa Islam memuliakan wanita. Carley yang selama ini mengumbar keindahan tubuhnya pun merasakan penyesalan yang sangat. Makin mempelajari syariat Islam kepada para wanita, Carley makin membulatkan tekad untuk mengakhiri pekerjaannya.


Carley merasa selama ini hidupnya begitu liar. Apalagi gaya hidup pemudapemudi Inggris seperti minum alkohol dan pergi ke klub malam juga sangat dekat dengan kehidupannya. “Aku tak ingin lagi hidup liar, tak mau lagi mempertontonkann payudara juga tak akan pergi lagi ke klub malam lagi,” tuturnya.


Pilihan hidup Carley ini pun tentu mengejutkan keluarga dan fans nya. Mereka menolak keputusan Carley. Teman-temannya pun tak mendukung pertunangannya dengan Salah. “Mereka tak dapat menerima aku masuk Islam dan mengenakan jilbab. Mereka menganggap aku telah mengakhiri hidupku dengan keputusan itu,” ujarnya sedih.


Kendati demikian, Carley tak goyah. Ia tetap memutuskan untuk menjadi muslimah. Ia pun bersyukur Salah selalu mendukungnya. “Dia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi istrinya. Kami sudah membulatkan itu (rencana pernikahan). Ia menerimaku apa adanya, ia tak pernah mencoba mengubahku,” ujarnya.


Bertekad Menutup Aurat
Setelah menikah dengan Salah, Carley akan pindah dari Inggris ke Tunisia bersama putri kecilnya, Alanah yang baru berusia dua tahun. Oktober menjadi bulan yang telah disiapkan untuk hidup baru Carley di negara Timur Tengah itu. Ia bersama Alanah akan tinggal di Kota Monastir. Carley juga akan meresmikan statusnya sebagai ualaf saat musim semi, sebelum menikah dengan Salah.


Pindahnya Carley ke Tunisia pun seiring dengan tekad Carley untuk melepaskan pekerjaannya sebagai model. Tak hanya itu, ia juga telah siap untuk menutup aurat. “Hidupku mungkin memang diatur sesuai keyakinan, namun aku tak pernah merasa khawatir,” ujarnya.


Carley juga telah mempelajari budaya Tunisia, termasuk budaya menutup aurat bagi wanita. Ia pun megaku menyukai budaya itu. Menurutnya, budaya itu telah menghormati dan menghargai tubuh para wanita. Budaya itulah yang diajarkan Islam, yang tengah dipelajari Carley.


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/680579/dinikahi-zayn-malik-one-direction-perrie-edwards-jadi-mualaf


Carley Watts, Model Seksi Pakaian Dalam Wanita yang Akhirnya Memeluk Islam

Monday, October 7, 2013

Siapakah Orang Kaya Itu?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini


Kekayaan merupakan tema yang menarik diperbincangkan. Sedikit sekali penghuni dunia ini yang tidak ingin kaya dalam hidupnya. Hidup kaya bisa dikatakan impian setiap orang.


Kesuksesan orang baru diakui kalau dia sudah menjadi orang kaya. Keberhasilan pendidikan juga sering dilihat dari sejauh mana hasil pendidikan itu dapat mengantarkan peserta didiknya menjadi orang kaya.


Lawan dari kaya adalah miskin. Orang disebut kaya karena memiliki banyak harta. Yang minim harta, itu miskin namanya. Dengan begitu, kekayaan selalu identik dengan segala hal yang berbau materi atau benda. Memiliki rumah megah, uang banyak, mobil berderet, pakaian necis, dan tanah luas adalah di antara simbol orang kaya. Orang miskin berarti kebalikan dari semua itu.


Tidak usah kita berdebat tentang definisi yang sudah sekian lama diamini secara luas itu. Sekiranya definisi itu dianggap benar, kebenarannya tentu tidak mutlak. Definisi demikian dimensinya serba fisik. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menerimanya. Saya teringat penuturan Rasulullah ketika mendefinisikan siapa gerangan orang kaya itu. Menurut Rasulullah, seperti dikutip Bukhari dan Muslim, “Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.”


Mencermati makna hadis di atas, kita segera mendapatkan pemahaman bahwa Rasulullah ternyata memiliki definisi berbeda dengan kebanyakan kita tentang siapa orang kaya. Barangkali hadis itu akan lebih mudah dipahami ketika kita mengaitkannya dengan daftar orang terkaya di dunia tahun 2013, sebagaimana dirilis majalah Forbes.


Keluarga Budi Hartono, pemilik BCA dan Djarum, memiliki harta 8,5 miliar dolar AS. Michael Hartono memiliki harta 8,2 miliar dolar AS. Dua orang ini jelas lebih kaya tinimbang kita. Menurut Forbes, mereka menduduki peringkat pertama dan kedua daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, ternyata mereka tidak ada apa-apanya jika dibanding Carlos Slim Helu dan Bill Gates. Harta Carlos Slim Helu, CEO Telefonos de Mexico dan America Movil, mencapai 73 triliun dolar AS, sementara Bill Gates, yang mantan CEO Microsoft, memiliki harta 67 miliar dolar AS.


Banyaknya harta tidak pernah akan ada puncaknya. Di atas orang kaya, selalu ada orang yang lebih kaya. Di sini berlaku rumus relativitas. Fulan yang tergolong orang kaya di sini, belum tentu kaya di sana. Fulanah yang termasuk miskin di suatu tempat, justru dia orang paling kaya di tempat lain. Demikian pula seterusnya. Tegasnya, tidak ada orang yang paling kaya, sebagaimana juga tidak ditemukan orang yang paling miskin.


Penting pula dicatat, definisi kaya atau miskin semacam itu sesungguhnya muncul dari orang luar. Pelakunya sendiri kerap tidak merasakan apakah dia kaya atau miskin. Karena, kebanyakan orang masih saja merasa kurang. Meskipun orang bilang kita ini sudah kaya, tetapi senyatanya kita juga tidak merasa kelebihan harta. Selalu saja kita merasa miskin dan kurang.


Apalagi jika definisi kaya atau miskin itu dikaitkan dengan unsur diri yang bernama keinginan dan kebutuhan. Misalnya, petani desa yang saban hari mengantongi uang lima juta, dia boleh dibilang kaya. Berbeda halnya dengan seorang artis. Uang sejumlah itu tentu tidak dapat mendefinisikan dirinya sebagai orang kaya. Ini soal keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup petani desa umumnya tidak menelan uang jutaan dalam sehari. Sementara, tuntutan profesi artis mengharuskan pelakunya untuk selalu tampil mewah dan mahal, sebagaimana rekan sesama artis.


Benarlah, Islam tidak menisbahkan definisi kaya atau miskin dengan kepemilikan benda. Definisi serba fisik itu sangat memusingkan. Karena itu, Rasulullah menegaskan, kekayaan sejati itu ada di dada. Menjadi kaya atau miskin itu murni soal mental. Inilah definisi berdimensi batin. Analoginya sederhana. Orang yang lapang dada selalu merasa kaya, meskipun minim harta. Sebaliknya, orang yang bermental miskin selalu merasa kurang, meskipun menggenggam emas segudang. Pikirannya mengawang di langit harapan, berusaha menjangkau segala yang belum digenggam tangan. Hidup berselimut harta tetapi tampil bagai pecundang.


Alangkah bahagia kehidupan orang yang hati, jiwa, dan pikirannya selalu merasa kaya. Mensyukuri nikmat yang ada tanpa terus mengangankan segala yang dipunyai orang. Harta sekadarnya selalu digunakan untuk memacu amal baik dan ibadah. Batinnya tenang, karena tidak diperbudak dunia, tetapi justru merajai dunia. Rasulullah memuji pribadi demikian. “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).


Berbagai penyimpangan menyeruak di segala tempat adalah bukti ketidakmampuan orang untuk merajai dunia. Juga kebejatan moral yang berkecambah dan memperburuk sendi-sendi kehidupan. Mereka itulah orang miskin dalam makna sesungguhnya. Fisiknya mapan tetapi batinnya gersang, karena tidak pernah merasa kenyang oleh kuantitas harta. Kembali renungkan penegasan Rasulullah berikut.


“Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling mendatangi rumah ke rumah lalu ditolak ketika meminta sebiji atau dua biji kurma, atau ketika meminta sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah memiliki kekayaan untuk mencukupi keperluannya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Sungguh beruntung siapa saja yang dikaruniai Allah kelapangan harta sekaligus batin yang selalu menerima, gemar bersedekah, sehingga hidup selalu diliputi berkah dan jauh dari bencana.


Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’.  Email: hus_surya06@yahoo.co.id


Article source: http://www.sinarharian.com.my/hayati-dan-hormati-toleransi-islam-1.192405


Siapakah Orang Kaya Itu?

Sunday, December 23, 2012

CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab


CATATAN 2012: “The Rise of Hijab Style”, atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Minggu, 23 Desember 2012 19:37

| Ade Irwansyah

PERINGATAN: Tulisan yang akan Anda baca terbilang panjang. Bersiaplah.

PERNAH bertanya-tanya kenapa wanita berkerudung zaman sekarang lebih ingin memakai istilah hijab ketimbang jilbab?

Di majalah Tempo edisi 19 Agustus 2012 Dian Pelangi, perancang busana muslimah yang boleh jadi ikon bagi para hijabist tanah air saat ini, memberi jawab begini: “Jilbab itu kan hanya kerudung, sedangkan hijab itu busana yang menutup semua aurat.”

Benarkah defenisi itu?

Mengecek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di lemari buku saya (yang saya miliki Edisi Ketiga, 2005) “hijab” berarti: 1) Dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain; 2) Isi dinding yang membatasi hati manusia dan Alllah; dan 3) Dinding yang membatasi seseorang dari mendapat harta waris (contoh kalimatnya: Anak laki-laki adalah hijab dari saudara sebapak). (KBBI, ed.3, 2005, hal. 401.)

Sedangkan KBBI mengartikan “jilbab” sebagai “kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.” (KKBI, ed.3, 2005, hal.473.)

Mengacu pada defenisi menurut kamus, tentu hijab dan jilbab yang disebut Dian tak sinkron. KBBI tidak (belum) mengenal istilah hijab sebagai kerudung maupun pakaian yang menutupi tubuh (baca: aurat) wanita muslimah.

Dengan demikian, pengertiannya mesti ditarik lebih jauh, hingga ke kitab suci Al-Quran. Dalam Islam, tata cara berpakaian bagi wanita muslimah memang diatur. Bahkan aturannya tidak lewat aturan yang dibuat manusia, melainkan oleh Tuhan langsung lewat firman-Nya.

Ayat pertama yang mengatur aurat wanita adalah firman Allah di QS. Al Ahzab (33): 53. Di ayat itu ada petikan kalimat begini: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kamu dan hati mereka.”

Di buku Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Lentera Hati, 2004), M. Quraish Shihab menulis, secara bahasa “hijab” berarti “sesuatu yang menghalangi antara dua lainnya.” Shihab melanjutkan, seseorang yang menghalangi orang lain sehingga tidak dapat bertemu disebut hajib. Kata ini juga berarti “penutup.” Tim Departemen Agama yang menyusun Al Quran dan Terjemahannya menerjemahkan kata “hijab” dengan tabir. Dalam perkembangan lebih jauh, tulis Shihab, “wanita yang menutup diri atau seluruh badannya dengan pakaian, dinamai mutahajjibah.”

Kata “tabir” juga dimaknai banyak ulama sebagai perintah bahwa seluruh badan wanita aurat. Karena makna “tabir” berarti menutupi serta menghalangi terlihatnya sesuatu yang berada di belakangnya. Sebuah tafsir yang dikutip Shihab menerangkan, “Ayat ini menunjukkan … perempuan semuanya aurat—badannya dan terbentuknya—maka tidak boleh membukanya kecuali bila ada darurat atau kebutuhan seperti untuk menyampaikan persaksian atau karena adanya penyakit di badannya (dalam rangka pengobatan).” (M. Quraish Shihab, Jilbab, 2004, hal. 75.)

Lalu ada pula firman Allah beriikutnya yang jelas-jelas menyebut kata “jilbab.” Di QS. Al-Ahzab (33): 59, Allah berfirman: “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan aanak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Itu menjadikn mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika mengacu ke Al Quran dan pandangan ulama, tak ada beda hijab dengan jilbab. Dua-duanya dimaksudkan sebagai penghalang dan penutup badan bagi wanita muslimah. Jilbab bisa dimaknai sekadar kerudung maupun pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh wanita. (Shibab, 2004: 88.)

***

Dari sini, yang menarik untuk lebih ditelisik adalah bagaimana kata “jilbab” di Indonesia kini seakan hendak berganti jadi “hijab”?

Saat mengulas film Khalifah (Nurman Hakim, 2011), tentang kehidupan wanita wanita berjilbab cadar, saya mengurai perkembangan jilbab mengutip artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers.”

Saya kutip saja bagian “sejarah” jilbab 30 tahun terakhir di Indonesia dari ulasan saya:

“Kesadaran ber-Islam di kalangan kaum muda perkotaan sejak akhir 1970-an kemudian juga termasuk di antaranya, bagi perempuan, yakni menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Namun, di awal 1980-an lampau berjilbab tidaklah segampang sekarang, tinggal datang ke toko, beli jilbab, lalu pakai. Dulu, berjilbab, terutama di lingkungan sekolah umum termasuk hal yang dilarang. Masa itu, yang memakai jilbab (waktu itu lebih pas disebut kerudung) umumnya ibu-ibu yang sudah berumur, punya suami, atau jika masih muda, umumnya sekolah di sekolah khusus Islam seperti Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) atau Aliyah (setingkat SMA). Berjilbab ke sekolah umum masa itu mendatangkan kecurigaan.

Silakan tanya aktivis dakwah yang mengalami pahit getir berjilbab di sekolah umum hingga awal 1990-an. Mereka pasti akan cerita betapa susahnya menjalani perintah Tuhan yang satu itu.

Anda tentu mafhum, Indonesia tahun 1980-an di masa Soeharto terhitung tak akrab dengan Islam yang mereka sebut radikal. Rezim hanya mau “Islam yang mereka terima.” Waktu itu, rezim sedang gerah dengan Islam radikal yang melakukan aksi teror mengebom Candi Borobudor, membajak pesawat Garuda, mengebom Bank BCA, hingga tragedi Tanjung Priok dan Lampung.

Perempuan berjilbab dianggap representasi dari kaum Islam radikal. Maka, berjilbab dilarang. Tidak langsung, tentu. Pada 1982, Departemen P K Republik Indonesia mengeluarkan SK 052/c/Kep/D/82 (kemudian dikenal dengan sebutan SK 052) untuk mengatur penggunaan seragam sekolah. Semua tahu, ini SK untuk melarang jilbab di sekolah-sekolah umum.

Sejak ada SK itu, tekanan pada siswi berjilbab makin keras. Para siswi dipaksa melepas jilbab atau tidak boleh mengikuti pelajaran. Pada 1980-an juga marak insiden pelarangan jibab. Dari buku Revolusi Jilbab (2002) karya Alwi Alatas, kasus jilbab versus siswi sekolah muncul pertama kali 1979 di Bandung. Sejumlah siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bandung mulai menggunakan jilbab. Pihak sekolah kemudian berniat mengumpulkan mereka dalam kelas terpisah. Para siswi menolak. Ketegangan ini lalu juga mengundang MUI Jawa Barat turun tangan menyurati Kanwil P dan K Jawa Barat, meminta siswi yang memakai jilbab di sekolah tak dipersulit.

Setelah muncul SK di atas, ada pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung. Guru olahraga sekolah itu, bukan hanya melarang siswi yang pakai jilbab ikut pelajarannya, tapi juga mewajibkan mereka pakai hot pants untuk olahraga.

Pada 1983, pelarangan atas jilbab semakin memanas. Dalam catatan MUI di tahun itu ada 100 siswi dipindahpaksa dari sekolah-sekolah mereka ke sekolah lain karena pakai jilbab. Kemudian, di tahun itu juga, tepatnya 9 Agustus, terjadi insiden kekerasan di SMAN 30 Jakarta. Para siswa-siswi SMA itu yang melakukan aksi protes pelarangan jilbab malah dihadapi dengan kekerasan oleh aparat. Mereka memukul beberapa siswa dengan popor senjata, membuat sejumlah siswa masuk rumah sakit.

Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 kemudian makin membuat pemakai jilbab terjepit hingga sudut tersempit. Rezim Orde Baru makin mengkotakkan Islam ke dalam “yang diterima” dan “yang tidak diterima.” Dan jilbab masuk kategori Islam “yang tak diterima.” Di sekolah-sekolah negeri di Bandung pada 1984 diklaim bersih dari jilbab.

Bukannya tak ada yang pakai jilbab lagi. Tapi, masa itu, akhirnya pemakai jilbab memilih tiarap. Jika tak pindah sekolah, banyak aktivis Islam masa itu yang memilih berkompromi. Para siswi berjilbab mmemilih manut, melepas kerudung saat masuk pelataran sekolah. Catat artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers”, aktivis dakwah masa itu akhirnya memilih merapatkan barisan dan kaderisasi.

Berbagai pelatihan keislaman mulai marak. Biasanya dilakukan dengan nama pesantren kilat (sanlat) dan para siswa ini membentuk organisasi keislaman yang berinduk pada OSIS yakni Rohani Islam (Rohis). Kemudian, siswa-siswa ini juga aktif dalam pengkaderan keislaman dalam kelompok-kelompok kecil (metode usroh) dan tarbiyah (pengkaderan intensif).

Para siswi hanya menanggalkan jilbab di sekolah. Di luar itu, mereka menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Laki-laki dan perempuan ditempatkan terpisah. Di kalangan mereka juga muncul sebutan ikhwan (saudara laki-laki) dan akhwat (saudara perempuan). Yang laki-laki dipanggil “akhi”, yang perempuan “ukhti.”

Pada akhirnya, rezim tak bisa lama-lama lagi melarang jilbab. Bukannya surut, pemakai jilbab malah makin banyak. Di awal 1990-an juga Soeharto konon lebih akrab dengan Islam. Momentumnya saat ia mengizinkan ICMI berdiri. Simpati masyarakat pada penindasan siswi berjilbab juga makin dreas.

Maka, pada 1991, Mendikbud Fuad Hasan mengeluarkan SK nomor 100 yang membolehkan siswi umum berjilbab. 

Sejak itu, jilbab semakin banyak. Maknanya juga kemudian bukan lagi simbol perlawanan atau ketaatan maksimal. Bahkan kemudian jilbab jadi bagian dari mode. Jilbab pun dikotakkan ke dalam beberapa jenis. Ada jilbab panjang, juga ada sebutan jilbab gaul, yang bisa diartikan berkerudung tapi memakai jeans atau bahkan tetap memakai kaus ukuran sang adik.”

***

Jilbab di Indonesia telah melewati sejarah panjang, jatuh-bangun. Jilbab sebagai mode gaya hidup kemudian melahirkan perancang busana muslim, seperti Ida Royani atau Ida Leman. Setelahh Reformasi 1998, perancang koleksi premium untuk perempuan berjilbab kian banyak. Hanya, rancangan mereka terlalu unik dan tampaknya ribet untuk dipakai. Ikon untuk jilbab jenis ini yang kerap dipakai Neno Warisman. Neno memakai jilbab berlapis-lapis.

Nah, anak-anak muda yang ingin tampil kasual tak melirik rancangan model begitu. Akhirnya yang terjadi salah kaprah dalam berjilbab. Berkerudung tapi pakaian tampak ketat. Dari sini muncul istilah jilbab gaul. Dicatat majalah Madina edisi Mei 2008, jilbab yang dulu dianggap tanda-tanda kebangkitan Revolusi Islam, kini dipandang sebagai bagian dari budaya pop saja. Jilbab yang di awal didasari semangat untuk menjalankan hidup yang murni secara Islam, kini diperlakukan sebagai gaya berpakaian yang “funky.” Semua dihadapi serba rileks. Istilah jilbab gaul—yang dalam istilah percakapan sehari-hari adalah berjilbab tapi juga ber-jins, dan bisa jadi menampakkan lekuk tubuh—adalah contoh sikap santai itu.

Para hijabist alias kaum berjilbab pasca dekade 2000-an semisal Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara Nasution, Fifi Alvianto, dan Ghaida Tsurayya tampaknya tak ingin terkontaminasi makna jilbab gaul yang sudah berkonotasi negatif. Pun mereka ingin membedakan diri dari perancang busana muslimah generasi orangtua mereka.

Seorang kawan yang menulis fashion dan membuat profil Dian di tabloid ini mengatakan, istilah “hijab” lebih meng-internasional ketimbang “jilbab.” Di Barat sana, misalnya, kata Arab “hijab” lebih dikenal ketimbang “jilbab.” Boleh jadi ada benarnya.

Nyatanya, yang membedakan perancang busana muslim generasi Dian dkk dengan angkatan Ida Royani dkk adalah, salah satunya, tulis Tempo, dulu para perancang menjual busana muslimah satu set: dari atas hingga bawah. Kini para perancang muda cenderung menujal dalam potongan terpisah. Pembeli, kaum jilbabers eh hijabers atau hijabist ini, bebas berkreasi. “Intinya adalah mix and match,” kata Dian. Dengan adanya internet dan majalah mode sebagai bahan referensi , setiap hijabist bisa berkreasi melakukan padu padan busana muslimah sesuai selera.

Ini dia, mau tak mau, ketika sudah bertemu dengan mode dan gaya hidup, berjilbab atau berhijab bukan lagi sekadar mematuhi tuntutan agama.***

(ade/ade)   

Berita Terkait:

KALEIDOSKOP: 10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2012 (Dengan Sedikit Catatan)KALEIDOSKOP: 5 Adegan Film Horor Seks Paling Panas 2012Dewi Sandra Sudah Mantap Berhijab?10 Video YouTube yang Paling Banyak Disaksikan di 2012

Berikan komentar

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Friday, July 26, 2013

Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

suarasurabaya.net – Bulan Ramadhan selalu digunakan mantan preman ini untuk bersafari ke lembaga pemasyarakatan (LP), rumah tahanan (Rutan) dan lokalisasi beberapa kota di Indonesia.


“Saya 1 minggu sekali buka puasa bersama dengan keluarga, kunjungan ke LP dan Rutan. Selain itu awal Ramadhan 10 malam kunjungan ke lokasi pelacuran,” kata Anton Medan pada Suara Surabaya, Kamis (25/7/2013).



Di bulan Ramadhan penuh berkah ini, lelaki yang mengganti namanya menjadi Muhammad Ramdhan Effendy ini punya prinsip harus ada perubahan gaya hidup. “Hidup lebih baik jika kita memberikan keberkahan untuk diri sendiri dan orang lain,” katanya. Di sisi lain kita harus lebih toleran dan ramah serta saling menghargai soal mereka beda agama, suku karena itu rahmat Tuhan yang mengharuskan kita saling mengormati,” ujar dia.



Anton Medan menceritakan pertama kali masuk Islam pada 1992. Sebelumnya sempat memeluk agama Kristen selama 4 tahun. Sebelumnya juga pernah 7 tahun sempat tidak menganut agama sama sekali. Usai masuk Islam, Anton Medan sudah dakwah di 476 Rutan dan Lapas.



“Ketika itu saya dalam keadaaan galau betul, saya pertama ketika punya anak niat bertobat karena saya sudah pernah dipenjara sejak usia 12 tahun karena kasus pembunuhan,” kata dia.



Bahkan setelah itu, lanjut dia, juga pernah dipenjara di Jakarta selama 6 tahun, 3 tahun dan 2 tahun. Kemudian harus masuk bui kembali selama 27 tahun karena merampok 16 toko emas serta 26 nasabah bank. “Saya di berbagai penjara dijadikan sebagai pemuka napi. Jadi saya bisa bawa diri dan bisa bergaul dengan napi yang terlibat kasus apa saja,” ujar Anton Medan yang menjadi Ketua Umum DPP Persatuan Islam Tionghoa.



“Saya ingin menjadi pelaku sejarah karena banyak orang bisa melakukan hal-hal baik tapi belum tentu bisa berakhir baik,” kata pengagum Umar bin Khatab ini.



Bagi Anton, segala tindakannya harus bertujuan pada amar ma’ruf nahi munkar. Untuk melaksanakannya, Anton mengaku tidak tertarik menggunakan politik sebagai alatnya. Dia juga mengkritisi organisasi masyarakat yang mengaku menganut amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan metode kekerasan. “Islam wajib melawan kemunkaran, tapi tidak wajib menggunakan kekerasan dalam memeranginya,” kata dia.



Saat melihat ada kemunkaran, kata Anton, adalah peran aparat negara yang membasminya. Masyarakat bisa mendampinginya dengan imbauan lisan. “Kalau yang diimbau tidak mau berubah, ya sudah. Itu urusan mereka,” ungkap dia.



Kata Anton, Islam itu mengayomi dan memberi contoh. Dia menyesali jika Islam dikotori oleh radikalisasi dan aksi ormas tertentu yang merupakan sebuah agama radikal.



“Saya sering memberikan motivasi kalau Islam bisa jalankan semua syariat. Saya coba menggiring para napi ke arah sana dengan memberi sedikit tausiah,” kata dia.



“Penjara bukan tempatnya sampah masyarakat. Penjara bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kebaikan. Manusia tidak perlu terus larut dalam penyesalan. Sebaliknya, catatan hitam kehidupan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri di masa depan,” pesan Anton Medan. (dwi/edy)



Teks Foto :

- Anton Medan saat berkunjung ke Suara Surabaya

Foto : Dwi suarasurabaya.net


Editor: Eddy Prastyo


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

Thursday, July 25, 2013

Contohi diet Rasulullah

Kesempurnaan peribadi Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah tiada tolok bandingnya dan menjadi ikutan para muslim seluruh  dunia.  Antara amalan Rasulullah SAW termasuklah cara  beribadah, menjaga kebersihan diri, hidup berkeluarga termasuk diet makanan cara baginda.  Jika kita menitik beratkan  diet yang  seimbang dan mengamalkan pemakanan yang sihat, tubuh akan terpelihara  daripada serangan penyakit. Hal ini penting kerana sebagai seorang muslim, badan yang sihat akan memudahkan kita beribadat kepada Allah SWT.


Rasulullah SAW menjaga kesihatan rohani dan jasmani demi memudahkan baginda untuk menyampaikan seruan Allah kepada umatnya.  Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak akan makan melainkan apabila sudah terasa lapar dan apabila kami makan, tidak pernah sampai kenyang.”  Begitulah antara petua yang Rasulullah amalkan.


Namun, Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) menjelaskan amalan gaya hidup mewah manusia masa kini yang melebihkan pengambilan makanan tinggi lemak dan kurang bersenam.  Situasi ini menyebabkan peningkatan penyakit kronik seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, strok, diabetes serta kanser.


Cara Diet Rasulullah


Susu dan kurma antara makanan kegemaran Nabi Muhammad SAW


Antara lain diet cara Rasulullah SAW adalah makan makanan yang seimbang, makan perlahan-lahan, sederhana serta  berkongsi makanan. Rasulullah SAW juga suka minum susu, buah-buahan, tamar, daging, madu, sayur dan bubur kerana makanan itu mempunyai khasiat yang tinggi untuk kesihatan badan.


Dalam amalan baginda, selepas subuh Rasulullah SAW akan memulakan sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesenduk madu asli. Jika dilihat dari ilmu kesihatan, madu berfungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus, menyembuhkan sembelit dan peradangan.


Setelah masuk waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh biji kurma ajwa’ untuk menghindari keracunan. Ketika seorang wanita Yahudi meletakkan racun dalam makanan Rasulullah ketika perang Khaibar, bisa racun itu kembali tawar oleh zat-zat terkandung dalam kurma. Sebab itu Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang rumahnya tiada kurma sebagai orang miskin.


Selain itu, Rasulullah SAW tidak akan  mengambil  dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan serentak dengan daging dalam satu waktu dan tidak tidur selepas makan kerana tidak baik untuk jantung.

Ada hikmahnya tidak meniup air panas untuk diminum


Rasulullah SAW juga melarang meniup atau menghembus nafas ke dalam bekas air (makruh) kerana akan berlaku tindak balas yang merubah kadar kealkalian (pH) air itu.


Sayur-sayuran menjadi pilihan Rasulullah SAW kerana secara umumnya sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi memperkuat daya tahan tubuh dan melindungi daripada serangan penyakit serta mencegah penyakit berpunca daripada gula.


Rasulullah SAW makan cuka dan minyak zaitun yang dicampurkan dengan makanan asasi seperti roti. Ia bermanfaat mencegah lemah tulang, melancarkan sembelit, menghancurkan kolestrol, melancarkan pencernaan dan menjaga suhu tubuh pada musim sejuk.


Baginda melebihkan makanan berasaskan bijirin dan ubi kerana ia membekalkan karbohidrat kompleks, vitamin, mineral dan serat. Mengikut piramid makanan, kita disarankan mengambil 8 hingga 12 hidangan makanan berasaskan bijirin dan ubi dalam sehari.


Ini bermakna Rasulullah SAW meninggalkan tatacara makanan yang lengkap untuk diteladani seluruh umatnya. Namun begitu, umat Islam masih dibelenggu pelbagai penyakit yang menyebabkan perbelanjaan orang Islam dihabiskan untuk perubatan serta makanan tambahan. Oleh itu, untuk membentuk kesinambungan generasi Islam, maka tabiat dan cara makan harus mencontohi Rasulullah SAW.


Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang sedikit makan, maka perutnya akan sihat dan hatinya akan bersih. Sebaliknya barang siapa yang banyak makan, maka perutnya akan ditimpa sakit dan hatinya keras.” (Hadis riwayat Huzaifah).


Dalam memastikan tubuh kita sihat, seharusnya kita mencontohi amalan pemakanan yang baik sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jika tubuh sihat, ibadah yang dilakukan sehari-hari akan terasa mudah untuk dilaksanakan.  Apalagi, mari kita mulakan amalan yang baik ini kesihatan diri.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/19/molzey-snmptn-jangan-diskriminatif-terhadap-siswa-madrasah


Contohi diet Rasulullah

Wednesday, January 15, 2014

Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia menemukan kedamaian dan ketenangan hati setelah memeluk Islam.

Laki-laki Amerika ini terlahir dari ibu beragama Buddha dan ayah yang entah ia tak pernah tahu agamanya. Yang ia tahu, ayahnya setiap hari mabuk-mabukan dan tak pernah memperhatikan keluarganya.


Khidr Shahid Salaam dibesarkan tanpa pendidikan agama dari orang tuanya. Namun, karena lingkungan tempatnya tinggal membuatnya akrab dengan Kristen.


Ia pun sering pergi ke gereja bersama teman-temannya. Tapi aktivitas religius ini hanya dilakukannya sekadar ikut-ikutan, tak benar-benar merasuk ke kalbunya.


Peristiwa 9/11, yakni saat itu hampir semua media mainstream Amerika menuduh Islam sebagai pelaku dan teroris, membuatnya terhenyak. Ia sebelumnya tak pernah mengenal dengan baik apa itu Islam. Juga jiwanya kosong karena tak pernah diteduhkan oleh agama.


Rasa benci pada Islam mulai timbul pada dirinya. Ia mempunyai niat untuk membalas dendam kepada semua orang Islam di dunia ini.


Atas nama rasa benci tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota tentara Angkatan Darat Amerika Serikat agar bisa dikirim ke Timur Tengah dan membunuh orang-orang Muslim di sana.


“Karena saya sebenarnya bukan orang Kristen yang terlalu taat, saya bahkan minta dibaptis dulu untuk menguatkan keinginan saya membunuh orang-orang Muslim nanti,” ujarnya.


Sayang, ia tidak lolos tes masuk sehingga keinginan untuk membalas dendam dan membunuh orang Muslim tersebut pupus sudah.


Justru, saat itu ia mulai merasa kecewa dengan agama Kristen. Karena ia memiliki sebuah keinginan yang sangat kuat namun Tuhannya tak mengabulkannya.


Rasa kecewa yang sangat parah akhirnya membuat Salaam terjerumus dalam gaya hidup yang merusak dirinya, mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas. “Saat itu saya sudah dewasa, lebih dari 21 tahun, dan saya sudah boleh melakukan hal-hal tersebut,” katanya.


Kehidupannya semakin parah karena mengantarkannya pada hal-hal yang bersifat kriminal, pencurian, perampokan, penggelapan kendaraan, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sering dilakukannya.


Akibatnya, sudah pasti ia tertangkap dan mendekam di dalam penjara. Di penjara wilayah yang menjadi tempat tahanannya, ia mencoba mencari pertolongan dari Tuhan, padahal selama ini ia mengaku dirinya adalah orang ateis.


Tuhan yang ia tahu hanyalah Tuhan dari agama Kristen. Setiap hari dan malam, ia terus membaca Alkitab. Salaam ingin mendekatkan diri kepada Tuhan dan percaya Tuhannya nanti pasti akan membebaskannya.


Pengadilan akhirnya memutuskan hukuman yang sangat berat baginya. Hukuman penjara selama 75 tahun untuk perampokan yang dilakukannya, 25 tahun untuk pencurian, dan 20 bulan karena mengendarai mobil ilegal.


“Tak sampai satu jam setelah hakim membacakan keputusan itu, hilanglah kepercayaanku kepada Tuhan,” ujarnya.


Ia kecewa karena Tuhannya sekali lagi tak mengabulkan permintaannya hingga akhirnya jiwanya dipenuhi kebencian pada semua hal. Dalam menjalani masa hukuman, Salaam bertemu dengan komunitas narapidana Muslim.


Komunitas ini menamakan dirinya Lima Persen karena jumlah mereka yang sangat kecil dibandingkan penghuni penjara lainnya. Mereka juga tidak pernah mendapatkan pelayanan serta fasilitas ibadah dari pengelola penjara.


Di awal masa tahanannya, keluarga serta istrinya sering mengunjunginya pada akhir pekan. Namun, setelah sekian lama, istrinya tak lagi datang. Kemudian, ia mengetahui istrinya tersebut telah meninggalkannya. Kesedihannya bertambah Salaam juga mendapatkan kabar ayahnya meninggal.


Kekosongan jiwanya dan runtuhnya kepercayaan kepada Tuhan menuntun Salaam untuk bergaul dengan para anggota komunitas ini. Ia melihat komunitas tersebut sangat taat beribadah dan disiplin.


“Saya dibolehkan ikut shalat Jumat kala itu meski hanya menirukan gerakan orang lain. Dan, ketika mendengarkan khutbah, itu langsung menyentuh diri saya. Rasanya sang imam seperti sedang berbicara langsung pada saya,” katanya.


Setelah itu, ia mempelajari Islam lebih lanjut. Banyak buku tentang Islam yang Salaam baca dan ia juga belajar gerakan dan bacaan shalat serta doa-doa.


Saat itu, ia merasa lebih tenang dan nyaman. “Aku menyukai kata-kata dalam al-Fatihah dan bacaan-bacaan Islam yang memuji Allah,” ujarnya.


Ini yang membuatnya berpikir Islam berbeda dengan agamanya yang dulu. Di dalam Kristen, ia selalu berdoa untuk minta sesuatu.


Sedangkan dalam Islam, doa-doa yang dipanjatkan dipenuhi dengan puji-pujian dan semakin meneguhkan iman.


Pada  2008, akhirnya ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Di masa awalnya menjadi mualaf, yang paling berat dirasakannya adalah melakukan puasa karena itu bertepatan dengan musim panas di Amerika.


Namun dari Alquran yang dibacanya, ia percaya setelah melewati masa sesuatu yang berat, pasti akan diberikan masa yang lebih mudah. “Dan benar, setelah itu saya tidak pernah berada dalam situasi yang lebih baik dalam hidup saya,” ujarnya.


Setelah masuk Islam, ia merasakan banyak hikmah dan keajaiban terjadi pada hidupnya. Hukuman penjaranya menjadi lebih ringan, hanya sembilan tahun saja, dan kini ia telah menghirup udara bebas.


Ia kemudian dipertemukan dengan perempuan Muslim salihah, yang lebih baik daripada istrinya yang pertama, dan kemudian menjadi istrinya.


Rasa syukur terus dipanjatkannya karena kini ia telah diberikan kehidupan yang tenteram, pekerjaan yang layak, sebuah rumah indah, serta rasa bahagia yang terus ada dalam dirinya.



Article source: http://entertainment.kompas.com/read/xml/2013/11/26/1430093/Ayah.Asmirandah.Seharusnya.Vanno.Berani.Ambil.Risiko?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Khidr Salaam Lebih Tenang dengan Islam