Showing posts sorted by relevance for query Haji<. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Haji<. Sort by date Show all posts

Wednesday, January 1, 2014

PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

PENYELENGGARAAN HAJI
2014, Kemenag Sumbar
Optimalkan Pelayanan

Kamis, 2 Januari 2014


PADANG (Suara Karya): Secara keseluruhan, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2013 berjalan lancar dan sesuai harapan. Meski demikian, tak dipungkiri masih ditemukan sejumlah kendala dan masalah di lapangan.


Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Sumbar Syamsuir Ilyas, di Padang, Sumbar, baru-baru ini. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan sesuai harapan.

Apalagi, Bengkulu sudah punya embarkasi antara, jadi jemaahnya langsung ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tanpa menginap di Asrama Haji Padang. Kita akan optimalkan pelayanan pada 2014,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Kemenag Sumbar dipimpin Kepala Kanwil Syahrul Wirda selaku Ketua Panitia Peberangkatan Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Padang, telah menggelar rapat evaluasi pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji tahun 2013 hanya dua hari setelah kedatangan jemaah kloter terakhir dari Tanah Suci. Yakni, Jumat (15/11), di Aula Asrama Haji Padang.

Rapat itu dihadiri seluruh panitia dari setiap instansi dan elemen masyarakat yang terlibat dalam kepanitiaan haji, seperti Dinas Kesehatan Sumbar, Dinas Perhubungan Sumbar, Imigrasi Padang, Polda Sumbar, TNI, Biro Binsos Pemprov Sumbar, PT Angkasa Pura II, tokoh masyarakat, dan lainnya.

Rapat menghasilkan sejumlah komitmen, agar pelaksanaan haji tahun depan lebih baik lagi. Dalam rapat itu, beberapa instansi terkait mengakui masih adanya kekurangan selama pelaksanaan haji tahun ini.

Pada prinsipnya, mereka berjanji akan memperbaiki semua kekurangan tersebut, sehingga tahun depan tidak lagi ditemui keluhan dari jemaah. Salah satunya dari Angkasa Pura II, yang berjanji akan memperbaiki pelayanannya, seperti menambah eskalator, dan memperbaiki fasilitas lainnya seperti toilet, dan sebagainya.

“Selain itu, pihak Polda Sumbar juga berjanji memi-nimalisasi segala kekurangan pada pelaksanaan haji 2013 agar pelaksanaan haji 2014 dapat berjalan baik,” ujar mantan Kepala Kantor Kemenag Mentawai ini.

Dalam kesempatan tersebut, Syamsuir Ilyas mengisahkan pengalamannya ketika bertugas di Mentawai pada 2011. Ketika itu, ia berhasil memberangkatkan delapan mualaf. “Mereka bagian dari 35 warga muslim di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang menunaikan haji tahun 2011,” ucapnya.

Sebenarnya, tutur dia, mereka baru mendaftar tahun 2009 dan 2010. “Tapi karena ada perlakuan khusus yang seharusnya berangkat tahun 2017 dan 2018, 2011 mereka bisa menunaikan haji,” katanya.

Menurut Syamsuir, terwujudnya cita-cita para mualaf dari Mentawai itu tak lepas dari perjuangan Kakanwil Kemenag Sumbar ke Kemenag pusat. Semula, lanjut dia, saat Sekjen Kemenag Bahrul Hayat berkunjung ke Padang beberapa waktu lalu, Pemprov Sumbar meminta agar warga Mentawai diprioritaskan berangkat haji tanpa menunggu 9 hingga 10 tahun ke depan.

“Alhamdulillah, pihak bank penerima setoran biaya penyelenggaran ibadah haji (BPS-BPIH) yakni Bank Nagari dan BRI, telah diberikan informasi kalau 35 orang jemaah tersebut bisa melunasi setoran hajinya dan bisa segera diberangkatkan,” katan Syamsuir. (Yudhiarma)

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/12/13/mxpojk-membangun-amal-usaha


PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

Monday, October 14, 2013

Jamaah Haji Tamu Raja Berada di Arafah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Seperti tiga juta jamaah haji dari seluruh dunia, jamaah haji yang menjadi tamu Raja Arab Saudi, saat ini sudah berada di Arafah untuk melaksanakan ibadah wukuf.


”Alhamdulillah, kondisi Bella Saphira dan suaminya baik-baik. Bersama puluhan jamaah haji Indonesia yang menjadi Tamu Raja Arab Saudi, Bella sudah berada di Arafah melaksanakan wukuf,” jelas Imam Besar Masjidil Istiqlal Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub MA melalui pesan singkat kepada Republika Senin (14/10).


Pakar Hadis dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengungkapkan, Bella dan rombongan jamaah haji tamu Raja Saudi, meninggalkan Kota Makkah Ahad (13/10) malam waktu Saudi.


”Insya Allah, malam ini pukul 01.00 wib atau pukul 21.00 waktu Saudi, Bella Shapira dan rombongan jamaah haji tamu Raja Saudi meninggalkan Makkah menuju Arafah,” jelas Prof Ali.


Ia meminta untuk mendoakan Bella agar menjadi Muslimah shalihah. ”Doakan semoga Allah SWT memudahkan segalanya, memabrurkan hajinya dan menjadikannya sebagai Muslimah shalihah,” ujarnya.


Jamaah haji Indonesia yang menjadi tamu Raja Arab Saudi, dilepas Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Musthafa Ibrahim Al-Mubarak di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (10/10).


Total jumlah undangan mencapai 90 orang. Mayoritas mereka berasal dari kalangan akademisi, ulama dan guru. Setiap tahun, Raja Abdullah bin Abdul Aziz mengundang sekitar seribu jamaah haji dari seluruh dunia dengan semua fasilitas, tiket dan akomodasi ditanggung penuh kerajaan.


Ikut dalam rombongan tamu raja ini artis Bella Saphira yang baru saja masuk Islam dengan ditemani suaminya Mayor Jenderal (TNI) Agus Surya Bakti.


“Ttahun ini terjadi pengurangan kuota besar-besaran hingga 20 persen. Namun begitu, kami berharap agar program ini tetap berjalan meski dengan situasi sulit ini dan diharapkan dapat dipergunakan seluas-luasnya oleh saudara-saudara kami di Indonesia,” ujar Mubarak dalam sambutannya.


Tujuan program ini, menurut dubes yang meraih masternya di bidang politik dari Kanada ini, ada dua: pertama, sebagai saluran komunikasi antara Arab Saudi dan kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, bahkan dengan negara-negara yang tidak dihuni oleh mayoritas Muslim.


Kedua, untuk menyampaikan pesan kepada saudara-saudara semuslim tentang proyek perluasan dan pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.


Selain rombongan tamu raja yang berjumlah 90 orang, di hari yang sama, Duta Besar juga melepas rombongan jamaah haji yang termasuk dalam program bersama Kedutaan Besar dan Atase Agama Arab Saudi yang berjumlah 100 orang.


“Sebenarnya program ini tidak diadakan pada tahun ini. Namun, atas desakan dari Duta Besar Al-Mubarak yang menekankan agar program ini harus terlaksana, alhamdulillah dapat terlaksana dengan baik. Karena itu, peran dubes sangat besar di sini,” ujar Atase Agama Arab Saudi, Dr. Ibrahim An-Nughaimisy.


Duta Besar Al-Mubarak menjelaskan, proyek perluasan Masjidil Haram ini merupakan yang terbesar dalam sejarah dan mendapat arahan langsung dari Pelayan Dua Kota Suci, Raja Abdullah bin Abdul Azis.


“Ini tahun yang sangat sulit untuk menunaikan haji akibat pengurangan kuota sebesar 20 persen dari seluruh jamaah haji dunia. Kebijakan yang biasanya diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk haji atas kerjasama dengan yayasan sosial Ar-Rajhi distop. Sementara itu, masyarakat Indonesia sangat mengharapkan.”


Karena itu, pihak kedutaan lantas membuat program alternatif. “Program ini terwujud atas kerjasama semua
pihak: konsulter, atase agama dan kantor duta besar. Alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.


Dubes menambahkan, ”Konsuler Arab Saudi, Turky Al-Waily, bukan hanya membantu, tapi ikut menekan dubes agar program ini berjalan dengan baik,” ujar Al-Mubarak sambil tersenyum yang disambut tawa hadirin. 


Article source: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/11/121123_warga_baduy_ktp_sundawiwitan.shtml


Jamaah Haji Tamu Raja Berada di Arafah

Saturday, March 30, 2013

Nomor Porsi Aman Haji Sumut Sementara 0200077128

Medan, (Analisa). Nomor porsi aman  sementara untuk haji Sumut kuota 2013 atau 1434 H tahun ini adalah 0200077128.

“Insya Allah sampai pada nomor tersebut di atas yang akan menjadi calon Dhuyufurrahman Sumut untuk musim haji tahun ini,” kata Kepala Kantor Kemenagsu Drs H Abd Rahim diwakili Kasi Haji Kemenagsu Drs H Bahrum Saleh di Mako Brimobdasu Jalan KH Wahid Hasyim, Jumat (29/3).

Dia yang menyampaikan itu usai membuka manasik haji Majelis Ta’lim Babussalam Medan meminta kepada seluruh calon jamaah haji yang mendapat porsi berangkat tahun ini untuk mempersiapkan diri baik fisik, mental dan lain sebagainya. Dikatakan, sesuai jadwal dari pemerintah, ujarnya kelompok terbang pertama jamaah calon haji Embarkasi Medan akan masuk Asrama Haji Medan pada tanggal 9 September 2013 dan akan bertolak menuju Bandara King Abdul Azis Jeddah 10 September 2013 keesokan harinya.

Pada tahun ini Embarkasi Medan kemungkinan sebanyak 18 atau 19 kelompok terbang. Dan untuk persiapan pelaksanaan akan dilaksanakan pelatihan kepada petugas selama sepuluh hari dalam waktu dekat ini, jelasnya.

Bahrum mengatakan mengenai kelompok terbang khusus untuk lansia, Kemenagsu masih menunggu petunjuk dari Kemenag RI. “Jadi belum ada petunjuk teknis resmi,” ungkapnya.

Empat kali

Pimpinan Majelis Ta’lim Babussalam, H Ardy Chaniago menjelaskan, saat ini majelis ta’lim yang dipimpinnya telah empat kali memberangkatkan serta membimbing jamaah  menunaikan rukun Islam kelimanya di tanah suci.

“Alhamdulillah  selama pelaksanaan bimbingan kepada jamaah dapat terlaksana dengan baik,” ucapnya. Dalam pelaksanaanya, ungkap H Ardy kami menjelaskan mengenai beberapa hal penting mengenai haji, antara lain tafsir, fiqih haji, fardu kifayah, bahasa Arab, penyuluhan kesehatan, imigrasi dan lain sebagainya.

Sementara Syekh Ali Shaleh Ali dari Eri Teria Makkah dalam tausiyahnya menjelaskan, ibadah haji merupakan kerinduan umat Islam untuk kembali kepada fitrahnya yang sesungguhnya.

“Baitullah menjadi Rumah Allah di pusat bumi dan menjadi titik sentrum kerinduan umat kepada Sang Khalik,” jelas Syekh Ali. (rmd)

Article source: http://www.merdeka.com/dunia/ulama-mesir-serukan-bunuh-penghasut-rakyat-untuk-demo.html


Nomor Porsi Aman Haji Sumut Sementara 0200077128

Wednesday, June 12, 2013

338 Calhaj Riau Tak Lunasi BPIH

REPUBLIKA.CO.ID,PEKANBARU–Kepala Seksi Pendaftaran dan Dokumen Haji, Kantor Kementerian Agama Riau Devizon mengatakan bahwa sebanyak 338 calon haji asal daerah itu belum melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2013 sehingga mereka dipastikan batal berangkat.


“Artinya bagi 338 calon haji yang tidak melunasi hingga batas waktu ditentukan (12/6) itu, maka akan dimasukkan ke daftar tunggu pemberangkatan tahun depan,” kata Devizon di Pekanbaru, Rabu.


Ia mengatakan bahwa Kementerian Agama telah menetapkan bahwa tanggal 22 Mei hingga 12 Juni adalah tenggang waktu pelunasan BPIH 2013.


Devizon menyebutkan hingga sekarang sebanyak 4.431 calon sudah melunasi BPIH –dari 4.769 yang berhak melunasi BPIH– itu, sedangkan yang 338 orang lagi batal diberangkatkan dalam Musim Haji 2013. Mereka terpaksa menunggu tahun berikutnya.


Menurut Devizon, tempat calon haji yang tidak melunasi BPIH hingga batas waktu penutupan akan diisi calon lain yang pendaftarannya dibuka mulai 18 hingga 26 Juni. “Kesempatan pada 18-26 Juni 2013 diprioritaskan bagi pendaftar sampai 7 Januari 2013,” katanya.


Kesempatan juga diberikan pada calon haji suami istri yang terpisah akibat sistem. Selain itu juga diprioritaskan pada anak yang terpisah dengan orang tua mereka.


Ia mengimbau calon haji yang sudah melunasi BPIH segera melapor ke Kantor Kementerian Agama di kabupaten/kota untuk pembuatan paspor paling lambat tiga hari setelah pelunasan.


“Hal ini penting, walaupun sudah melunasi BPIH, tidak ada paspor juga mereka tidak bisa berangkat. Hingga saat ini calon haji yang sudah melapor baru tercatat sekitar 50 persen,” katanya.


Sementara itu, pemberangkatan ke Arab Saudi dijadwalkan 10 September 2013, karena pada 9 September calon haji baru masuk asrama haji, katanya.


“Tiga bulan lagi jadwal keberangkatan calon haji akan ditentukan, karena harus menyeselsaikan seluruh proses pelunasan dan selanjutnya baru menyusun kloter dan rapat pemantapan jadwal,” katanya.


Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/12/20/19195418/Maling.Santai.Bobol.Ruang.Komputer.Sekolah


338 Calhaj Riau Tak Lunasi BPIH

Friday, June 14, 2013

Keberangkatan 383 Cahaj DIY Ditunda Tahun Depan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Sebanyak 383 calon jamaah haji DIY tahun 2013 masuk dalam ‘lunas tunda.’ Maksudnya, meskipun mereka sudah melunasi biaya pemberangkatan ibadah haji dan dijadwalkan berangkat  pada tahun ini, namun dengan adanya pengurangan kuota bagi calon jamaah haji dari Indonesia sebesar 20 persen, keberangkatan mereka tertunda. Mereka dijadwalkan berangkat tahun depan.


Hal itu dikemukakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Maskul Haji, Jum’at (14/6). Menurut Maskul, pada tahun 2013 ini semua negara ada pengurangan kuota haji  karena ada pembangunan thowaf lantai satu sampai tiga. Pengurangan kuota ini termasuk juga untuk calon jamaah haji plus dan umroh.


Saat ini kuota untuk calon jamaah haji DIY sebanyak 3.068 orang, sehingga kalau dikurangi 20 persen tinggal 2.455 orang. “Para calon jamaah haji yang tahun ini tertunda keberangkatannya, diprioritaskan bisa berangkat tahun depan (red. 2014),” katanya menegaskan.


Para calon jamaah haji  yaang tahun ini tertunda keberangkatannya adalah mulai nomor 12.000.28.695 sampai nomor 12.000.29.124. “Bagi yang ingin mengetahui nama-namanya bisa melihat di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY atau di web Kementerian Agama DIY,” kata Maskul.


Saat ini, dia menambahkan, daftar tunggu calon jamaah haji DIY sudah 13 tahun. “Jadi yang mendaftar sekarang berangkatnya sekitar tahun 2026,” kata dia.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/06/tifatul-sembiring-partai-nasionalis-juga-elektabilitasnya-menurun


Keberangkatan 383 Cahaj DIY Ditunda Tahun Depan

Wednesday, February 13, 2013

Transparansi pembatasan kuota calon haji

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://www.merdeka.com/dunia/calon-bos-cia-masuk-islam.html


Transparansi pembatasan kuota calon haji

Thursday, December 8, 2016

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank Very Very Much for Visit this Blog

Republika Online

"

| Republika | Online | All | Kanal< | p> [ | button> | button>< | p> Find | on:< | span> | div> < | div> News< | div> Nasional< | div> Internasional< | div> Olahraga< | div> Pendidikan< | div> UMJ< | div> Khazanah< | div> Cahaya | Islam< | div> Hikmah< | div> Islam | Digest< | div> Mualaf< | div> Fatwa< | div> ZIS | Wakaf< | div> Mozaik< | div> Empowering | Indonesia< | div> Al | Quran< | div> Sepakbola< | div> Liga | Inggris< | Spanyol< | Dunia< | div> Bola | Nasional< | Italia< | div> Freekick< | div> Oto | Tek< | div> Otomotif< | div> Trendtek< | div> Bina | Sarana | Informatika< | div> Fun | Science | & | Math< | div> Jurnal | Haji< | div> Berita< | div> Tempoe | Doeloe< | div> Situs< | div> Kabar | Makkah< | div> Haji | Barkah< | div> Humor | div> Tips< | div> Pengalaman | div> Leisure< | div> Gaya | Hidup< | div> Senggang< | div> Hotel | Murah< | div> About | div> Disclaimer< | div> Privacy | Policy< | div> Pedoman | Siber< | div> Karir< | div> < | div> InPicture< | div> Jabotabek< | div> Rana< | div> Video< | div> Stokshot< | div> Bincang< | div> ROLExplore< | div> Ototekno< | div> Republikustik< | div> Publika< | div> Jurnalisme | Warga< | div> Wacana< | div> Komunitas< | div> Surat | Pembaca< | div> Forum< | div> Ekonomi< | div> Makro< | div> Bisnis< | div> Global< | div> Entrepreneurship< | div> Syariah< | div> Energi< | div> properti< | div> English< | div> National | Regional< | Archipelago< | div> General< | div> Travelling< | div> Resonance< | div> International< | div> Speak | Out< | div> Selarung< | div> Nostalgia | Abah | Alwi< | div> Suluh< | div> Breaking | History< | div> Tuturan< | div> Copyright | 2015 | republika | right | reserved< | p> < | div> |

Thank U So Much for Read this Article

Wednesday, October 9, 2013

Masjid di Makkah Ini Jadi Saksi Para Jin Masuk Islam

Makkah – Makkah tak hanya punya Masjidil Haram saja. Tanah Suci tersebut juga punya banyak masjid bersejarah yang selalu dikunjungi jamaah haji. Seperti, Masjid Al Jin yang jadi saksi para jin masuk Islam di depan Nabi Muhammad.

Makkah, Arab Saudi punya beberapa masjid dan bangunan bersejarah dengan aneka kisah yang berbeda. Di Masjid Al Jin, para jamaah haji dapat mengetahui kisah lengkap para jin yang tunduk kepada Nabi Muhammad dan menyatakan keislamannya, seperti yang dilongok dari situs Ministry of Hajj Kingdom of Saudi Arabia, Rabu (9/10/2013).


detikTravel pun sempat berkunjung ke Masjid Al-Jin beberapa waktu lalu. Lokasinya berada di kawasan Ghazza, distrik Mala atau sekitar 1 kilometer dari Masjidil Haram.


Nama jin pada masjidnya memang mengundang para traveler muslim yang melancong ke Makkah, baik untuk haji atau umroh. Nama jin berasal dari kisah para jin yang masuk Islam saat mendengar lantunan ayat Al Quran dari mulut Nabi Muhammad.


Kisahnya, pada waktu itu Rasulullah sedang melafazkan ayat Al Quran. Kemudian para jin yang kebetulan lewat tertarik mencari tahu asal muasal lantunan tersebut. Mereka lalu mendapati Nabi Muhammad yang sedang mengaji.


Karena tersentuh oleh lantunan lembut ayat Al Quran, lantas para jin pun berdialog dengan Nabi Muhammad. Setelah itu, para jin lantas menyatakan diri masuk Islam.


Masjid Al Jin tampak seperti masjid-masjid pada umumnya. Luasnya 10 x 20 meter, mempunyai dua lantai, satu basement, dan juga kubah. Masjid ini terlihat kokoh, tidak kalah dengan gedung-gedung di sekitarnya. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Bai’at .


Anda bakal merasakan udara yang sejuk ketika memasuki Masjid Al Jin, mungkin karena bangunannya yang tinggi dan terdapat pendingin ruangan. Warna abu-abu terlihat mendominasi bangunan masjidnya. Jika menengok ke atas, peziarah bisa melihat kubah masjid yang dihias dengan tulisan kaligrafi Surat Al Jin ayat 1-9.


Meski tidak masuk dalam rukun haji, para jamaah haji biasanya menyempatkan diri untuk datang ke Masjid Al Jin. Mereka bisa mendengar cerita dan sejarah lebih lengkap tentang masijdnya, sekaligus beribadah secara khusyuk di sana.


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130909185415/limit/0/Umat-Kristen-Suriah-Dipaksa-Masuk-Islam.html


Masjid di Makkah Ini Jadi Saksi Para Jin Masuk Islam

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Tuesday, June 18, 2013

Menengok Jejak Pangeran Wiraguna di Ragunan

Jika menyebut nama Ragunan maka yang terbersit pertama kali dalam benak kita adalah tempat rekreasi fauna Taman Margasatwa Ragunan (TMR) di Kecamatan Pasarminggu, Jakarta Selatan. Namun tidak banyak yang tahu kalau nama Ragunan diambil dari nama Pangeran Wiraguna yang merupakan seorang warga negara Belanda bernama asli Hendrick Lucaasz Cardeel yang hidup di abad ke-16.

Hendrick sendiri mendapat gelar itu dari putra Sultan Ageng Tirtayasa Raja Banten, yang bernama Sultan Abunasar Abdul Qohar atau Sultan Haji. Ini dilakukan karena Hendrick telah membantu pihak Kerajaan Banten untuk membangun kembali bangunan kompleks kerajaan yang hangus terbakar saat itu. Sultan Haji yang ingin menguasai singgasana ayahnya, juga memberikan kepercayaan penuh kepada Pangeran Wiraguna dalam menjalin hubungan dengan pihak VOC di Batavia.


“Dahulu Pangeran Wiraguna sempat masuk Islam dan menikah dengan seorang perempuan muslimah. Dia dipercaya sebagai utusan untuk berhubungan dengan VOC dan membantu Sultan Haji merebut kekuasaan ayahnya,” ujar Kamaludin (56), penjaga makam Pangeran Putra Wiraguna, Rabu (19/6).


Setelah lama tinggal di nusantara, sekitar tahun 1689, Pangeran Wiraguna memohon izin kepada Sultan Haji untuk pulang ke Belanda. Namun karena jasanya juga membantu VOC menguasai wilayah jajahannya, ia diberikan lahan yang cukup luas di Batavia hingga ia mengurungkan niat pulang ke tanah kelahirannya. Dan pada tahun yang sama, Pangeran Wiraguna meninggalkan Islam untuk kembali ke agama Kristen. “Meninggalnya saya tidak tahu pasti kapan, sampai dikuburkan di sini, Sehingga orang menyebut kawasan ini jadi Ragunan,” ucapnya.


Saat ini, makam Pengeran Wiraguna berada di Jl Pekayon Pejatenbarat RT 05/03, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasarminggu, Jakarta Selatan. Kemajuan zaman, membuat lahan pekuburan wakaf yang juga terdapat makam pangeran tersebut kini mulai terjepit oleh bangunan-bangunan besar. Pintu masuk untuk menuju makam pun, melalui gang sempit. Bahkan di depannya hampir tertutup dengan usaha tambal ban.


“Di sini setiap malam Jumat sangat banyak peziarah yang berdoa. Mereka mulai datang dari sore hari, untuk melakukan doa dan lainnya. Tidak tahu juga kalau ada yang meminta pesugihan atau suatu maksud, biasanya sampai subuh banyak orang,” tuturnya.


Kamaludin sendiri baru menjadi penjaga makam pada 2007 lalu. Di tempat itu dirinya diberikan mandat untuk menjaga dan merawat makam tersebut. “Juru kuncinya sudah meninggal beberapa tahun lalu, saya hanya merawat dan menjaga. Baru direnovasi menjadi seperti rumah sekitar tahun 2010, dan pintu baru saya buka kalau malam Jumat saja,” ucapnya.
 
Karena banyak peziarah yang datang dengan maksud tertentu, untuk mencegah penyimpangan di dinding dan di atas pintu makam Pangeran Wiraguna diberikan peringatan untuk para peziarah. “Mudah-mudahan mereka mengerti hakekat dari berziarah itu, jangan sampai meminta sesuatu kepada selain Allah,” harap Kamaludin.


 


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Menengok Jejak Pangeran Wiraguna di Ragunan

Tuesday, February 19, 2013

CAESSARIA INDRA DIPUTRI

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/14/14430041/LSI.Parpol.Islam.Terancam.Tak.Masuk.Lima.Besar


CAESSARIA INDRA DIPUTRI

Wednesday, September 11, 2013

443 Calon Jamaah Haji Asal Subang Diberangkatkan dari Asrama Haji Bekasi

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id.

Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar,

berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras,

dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.


Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/557326/jadi-mualaf-janet-jackson-tinggalkan-dunia-hiburan


443 Calon Jamaah Haji Asal Subang Diberangkatkan dari Asrama Haji Bekasi

Wednesday, December 4, 2013

Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, — Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.


Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.


”Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,” ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.


Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.


”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.


Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.


Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.


Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.


”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,” ungkapnya.


Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,” paparnya polos.


Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ”Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Alqur’an sementara saya tidak bisa membaca Alqur’an.”


Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Alqur’an,” ujarnya.


Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.


Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.


Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf V yang masih ada artinya dibanding V terbalik… Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.


Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.”


Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.


Lantas, kenikmatan apa yang ia rasakan setelah menjadi Muslimah? Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.


Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah SWT meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.


”Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.


Sita membenarkan nasihat sang mama. when you are close to Allah problems will revolve around you and it won’t affect you  (Ketika kamu dekat dengan Allah SWT, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).


Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.


”Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.


”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah SAW. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.


Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energy, banyak kemudahan yang kami rasakan,” ujarnya.


Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ”Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.


”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.


Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.


Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain.


Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.


”Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”


Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).


Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.


Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower – September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.


”Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.”


Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.


”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.”


Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.


Di Sydney selain bekerja sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur’an.


Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.”


Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.”


Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”


Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fundraising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.


Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.


”Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu sebelum shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang  “kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja.” 
 
Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.


”Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.
 
Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.


Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma0, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.




Article source: http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/13/10/14/munb2r-jamaah-haji-tamu-raja-berada-di-arafah


Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Friday, October 25, 2013

Bella Saphira dan Suami Naik Haji


JAKARTA, KOMPAS.com — Artis peran Bella Saphira baru saja pulang beribadah haji bersama suaminya, Agus Surya Bakti. Bella berangkat ke Tanah Suci untuk kali pertama, setelah memeluk agama Islam pada 26 Juli 2013.

Menurut pihak manajemennya, Rio, Bella sudah berangkat ke Tanah Suci sejak awal September lalu. “Berangkatnya tanggal 10 September atau 9 September, saya lupa,” kata Rio ketika diwawancara melalui telepon, Kamis (24/10/2013).


Manurut Rio, Bella enggan berbagi cerita soal pengalaman spiritualnya. Menurut Rio pula, mereka sudah berpesan mengenai hal itu kepada pihak manajemen Bella. “Ya, dari atas (Bella dan Agus), enggak mau (dibeberkan ke publik) kalau untuk urusan ibadah. Ibadah itu kan urusan dengan Tuhan,” kata Rio. (Okki)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/10/23/mv49zs-mantan-politisi-antiislam-swiss-kini-aktif-di-masjid


Bella Saphira dan Suami Naik Haji

Saturday, January 19, 2013

Terjerat Aliran Sesat, Istri Laporkan Suami ke Polisi

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com – Tak tahan dipaksa menjadi budak seks, Haisa (40) warga Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar ini melaporkan suaminya, Hawu ke polisi.

Haisa mengaku kerap dipaksa menjadi budak seks sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan derajat keimanan yang sempurna dalam kelompok zikir dan tafakur Sandita Bapa Caulu.

Hawu, yang juga menjadi khalifat aliran kelompok ini untuk wilayah Sulawesi Barat kini menjadi buronan polisi. Hawu diduga melarikan diri dari sejak sang istri melaporkan kegiatan kelompok yang dinilai tak sesuai ajaran Islam ini ke polisi.

Haisa mengaku sudah menjadi pengikut aliran ini sejak 2008, sementara suaminya sudah jadi pengikut sejak belum menikah. Haisa selama menjadi pengikut  aliran sandita Bapa Caulu, dia dan sejumlah perempuan lain kerap dipaksa menjadi budak seks, pemimpian aliran yang dipanggil Puang Kulla.

“Saya malam itu bersama empat perempuan yang juga istri pengikut aliran ini masuk kamar, setelah pergelangan tangan kami diraba Puang Kulla kami  seperti dihipnotis, semua permintaan puang kami ikuti termasuk hubungan suami istri, saat suami kami berada di luar kamar,” ujar Haisa.

Menurut Haisa yang hanya bisa berbahasa Mandar ini, aliran ini juga melakukan penipuan. Setiap anggota kelompok dijanjikan emas batangan bernilai miliaran rupiah dan naik haji untuk menyempurnaakan ajaran mereka.

Namun, untuk mendapatkan itu semua para anggota dimintai sejumlah uang dengan besara bervariasi untuk mendapatkan emas batangan dan naik haji.

Hal yang sama juga dilakukan Haisa. Sayangnya meski Haisa sudah menjual hampir seluruh hartanya seperti lahan kebun dan emas 200 gram miliknya, hingga kini emas batangan dan naik haji yang dijanjikan belum diperolehnya.

Jamalauddin, keponakan Haisa, mengatakan pengikut aliran ini di Sulawesi Barat  diduga mencapai ratusan orang. Namun, Jamaluddin menduga banyak pengikut aliran ini yang kemudian mengetahui telah menjadi korban penipuan malu menceritakan hal sebenarnya.

“Pengikutnya ratusana orang di Sulbar, kebetulan rumah Haisa, adalah rumah kalifah wilayah Sulbar maka foto-foto dan KTP pengikutnya ada di sana,”ujar Jamaluddin.

Kapolsek Campalagian, Polewali Mandar, AKP Masdar Mansur mengakui telah menerima laporan pengaduan korban. Namun, polisi mengaku kesulitan mengungkap kasus ini lantaran Hawu, sang khalifah wilayah Sulbar melarikan diri sejak sebulan lalu.

Sedangkan, pemimpin tertinggi aliran Sandita Bapa Caulu diyakini tidak tinggal di Makassar dan Bone, Sulawesi Selatan.

“Kami sedang mencari Hawu dan telah jadi DPO, kami kesulitan mengorek keterangan untuk membuktikan kebnenaran laporan korban,”ujar Masdar. (K25-11/Junaedi)






Article source: http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5455:jalan-kaki-datangi-markas-polisi&catid=60:news-update&Itemid=134


Terjerat Aliran Sesat, Istri Laporkan Suami ke Polisi