Showing posts sorted by relevance for query Sahabat. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Sahabat. Sort by date Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Home Gazw Al-Fikr

Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”


 

Pembaca ajar dan Syiah di Sampang Tajul Muluk saat di pengadilan


Kamis, 28 Maret 2013

Oleh: Kholili Hasib

POLEMIK Ahlus Sunnah-Syiah tentang kesesatan Syiah di harian Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul “Kesesatan Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” ditulis oleh Babul Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.

Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013.  Bahasa yang ditulis dalam buku tersebut cenderung  tidak memakai etika serta adab terhadap tokoh dan institusi terhormat.

Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung dalam MUI Sampang dan Jatim”.

Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan  bahwa MUI Jawa Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar virus kebencian antarsesama umat Islam.

Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.

Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok kesesatannya terbuka.

Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim menulis tujuh butir.

Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.

Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif”.

Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Tajul dihukum dua tahun penjara.

Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan, umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan terhadap umat.

Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat. Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik Syiah.

Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh Dimasyqa yang berbunyi:

لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي

“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali adalah wahiku dan pewarisku”.

Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat Lu’lu’ al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid I hal. 368). Begitupula imam al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.

Hadits berikutnya berbunyi:

أنت مني بمنزلة هارون من موسى

“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap jamaah Ahlus Sunnah. Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits Sunni.

Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ (mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.

Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.

Tidak ada term yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.

Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang Badar.

Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum, Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.

Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran yang berbeda” (hal. 22).

Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama. Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.

Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi  juz I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 23 hal. 390).

Dua hadits di atas  dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan ini dapat pula disebut tanawwu’  (variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’ Shirat al-Mustaqim,124).

Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari, bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits tersebut berbunyi:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy) akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.” (HR. Bukhari).(hal. 34).

BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”.  Menurut BU, MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).

Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya, BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.

Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab Fath al-Bari 13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:

قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين

Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak pernah menolong kepentingan Islam.”
Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.

BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Bari syarah kitab al-Bukhari. Inilah yang disebut Kalimatun haq urida biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).

Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).

Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci mencaci sahabat.  Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa al-khanazir).

Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya. Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*

Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/16/m2ksfo-astaghfirullah-masjid-tua-di-yunani-dibakar


Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Sunday, November 10, 2013

Sokong enakmen anti Syiah


  • FATHUL BARI


APABILA Menteri Besar Kedah, Datuk Mukhriz Mahathir berserta Adun BN sepakat untuk wujudkan enakmen anti-Syiah, Alhamdulillah orang BN setuju belaka. Yang bantah 9 ahli Dun Pas. Bagaimana hal ini boleh berlaku?



Beza Syiah dengan Ahli Sunnah wal Jamaah bukan perbezaan khilaf isu fiqh sahaja. Bukan isu baca qunut atau tak baca qunut, bukan isu buat tahlil atau tidak, bukan isu talqin atau tidak, yang ini semua hanya khilaf di kalangan mazhab ahli sunnah yang tidak gugurkan akidah pun.



Imam Ahmad anak murid Imam Syafi’i, Imam Syafi’I anak murid Imam Malik, mereka semua adalah Imam ahli sunnah yang kita ambil ilmu dan pandangan daripada mereka.



Sebaliknya perbezaan Syiah dengan kita adalah pada prinsip agama dan pendirian akidah. Perkara yang pisahkan seseorang itu Islam ataupun bukan Islam, sama sekali tidak boleh kita toleransi prinsip dan pegangan agama mereka.



Syiah kafirkan sahabat Nabi. Bukan itu saja, mereka kafirkan sahabat Nabi yang telah dijanjikan syurga oleh Nabi sendiri. Sekarang kita tidak tahu siapa di antara kita yang ahli syurga, tetapi pada zaman Nabi, Baginda sendiri telah tunjukkan siapa di kalangan sahabat Baginda yang dijamin syurga oleh ALLAH SWT. Nabi sendiri sebut melalui lisannya, Nabi sendiri yang tunjuk mereka.



Datang puak Syiah, dengan senang mereka mengatakan Abu Bakar, Omar Al-Khattab, Osman bin Affan, Muawiyah bin Abi Sufyan ahli neraka, na’uzubillah. Syiah menuduh Abu Bakar merancang membunuh Ali bin Abi Talib, menuduh sahabat Nabi menolak wasiat Nabi supaya melantik Ali ra sebagai khalifah. Mereka bohong, Nabi tidak mewasiatkan sedemikian.



Semua celaan dan hinaan atas sahabat Nabi ini terdapat dalam penulisan-penulisan puak-puak Syiah dan kitab karangan ulama-ulama Syiah sendiri. Sedangkan sabda Nabi dalam hadis Irbadh bin Sariyah, “hendaklah kamu lazimi sunnahku dan sunnah Khulafa Al-Rasyidin yang mereka ini diberi petunjuk.” (Sahih, Abu Daud).



Bahkan ALLAH SWT berfirman tentang sahabat Nabi, “Orang-orang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, ALLAH reda kepada mereka dan mereka reda kepada ALLAH, dan ALLAH menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Taubah: 100)



Sabda Rasulullah, “Janganlah kamu cela sahabatku. Walaupun seorang kamu menginfakkan emas sebesar Uhud pun, tidak akan dapat menandingi sedekah sahabatku sebesar mud dan tidak juga separuhnya.” (Bukhari Muslim). Sebab itu Imam Al-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat bohong daripada (Syiah) Rafidhah.”



Imam Syafi’i, Imam Al-Bukhari memfatwakan haram makan sembelihan Syiah, haram beri salam kepada Syiah, haram menikahi mereka. Mereka lebih dahsyat daripada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Maknanya ini bukan benda kecil. Ini perkara yang cukup besar.



Semua mazhab dalam Islam sepakat menolak Syiah. Mana mungkin kita berlepas diri dan tidak mahu tolak Syiah? Jika kita marah dikatakan bela Syiah, jadi buktikanlah pendirian kita terhadap Syiah dengan tegas. Tunjukkan kita tidak bela Syiah, tunjukkan kita menolak Syiah.



Kita minta semua pihak, sama ada di pihak kerajaan mahupun pembangkang memberi pendirian tegas dalam menyekat usaha penyebaran fahaman Syiah baik melalui poster, iklan-iklan, kempen politik dan sebagainya.



Walaupun kita kata kita tidak boleh halang Syiah sokong parti kita, tapi jangan sama sekali kita benarkan ajaran dan fahaman Syiah yang membawa kepada kesyirikan itu disebarkan.



Saya dan sahabat-sahabat telah kempen anti-Syiah sejak 2007 sejak mula-mula balik Malaysia setelah tamat pengajian. Syiah yang mula-mula kita tentang, kerana kita tahu Syiah akan bawa perpecahan, pergaduhan, dan ajaran-ajaran yang menyelisihi prinsip akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.



Jadi saya teruja apabila MB Kedah memaklumkan dia akan hentam dan lawan Syiah habis-habisan dan harapkan sokongan daripada semua dalam Dun. Usaha mewujudkan enakmen anti-Syiah sepatutnya disokong penuh oleh orang Islam seluruhnya tanpa mengira parti politik.


Article source: http://www.solopos.com/2013/10/30/kekasih-asmirandah-jadi-mualaf-460888


Sokong enakmen anti Syiah

Saturday, August 3, 2013

Syiah sesat lagi menyesatkan

ISLAM agama ilmu. Islam juga memerangi kejahilan. Oleh itu, umat Islam diperintahkan agar mencari ilmu. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bermaksud: “Menuntut ilmu diwajibkan kepada setiap muslim”.


Daripada ayat al-Quran yang pertama diturunkan iaitu Iqra’, Allah SWT menghendaki manusia membaca dan pembacaan itu merupakan pintu kepada memperolehi ilmu.


Al-Quran itu sendiri merupakan kitab ilmu dan al-Quran telah menjadikan ilmu sebagai kayu pengukur kepada kelebihan seseorang manusia di atas dunia ini.


Justeru ketika menilai sesuatu pegangan dan aliran mestilah daripada perspektif ilmu agar tidak terpedaya dengan syaitan. Sememangnya jika dilihat dari sudut luaran, golongan Syiah agak ke hadapan daripada pelbagai sudut seperti ketenteraan, disiplin, penampilan dan sebagainya.


Apatah lagi setelah berlakunya Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang menyerlahkan lagi kewibawaan Iran mendokong dan menyebar fahaman Syiah, namun semua itu tidak boleh dijadikan ukuran untuk terus menerima pegangan dan aliran mereka.


Banyak golongan dan ajaran sesat yang berjaya menzahirkan penampilan hebat, namun akhirnya apabila ditimbang dari sudut ilmu, amat mengecewakan bahkan termasuk dalam ajaran yang menyeleweng. Jika persepsi menjadi ukuran, sudah tentu masyarakat akan mudah terikut dengan akidah dan pegangan orang Jepun.


Orang Jepun masyhur dengan semangat kerja mereka, disiplin yang tinggi, bahkan amalan kebersihan yang sangat dipuji sehinggakan ada menyatakan bahawa seseorang itu boleh tidur dalam tandas di Jepun lantaran tandas mereka yang sangat bersih!


Namun, apakah kehebatan dan penampilan masyarakat Jepun itu mewajarkan kita mengamal dan menganut agama Shinto mereka yang syirik itu? Sudah tentu tidak! Oleh yang demikian, ilmu hendaklah dijadikan suatu ukuran untuk menerima sesuatu pegangan dan ajaran.


Melalui kajian ilmu, didapati Syiah merupakan golongan yang sesat lagi menyesatkan. Mereka tidak termasuk dalam golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Pegangan mereka juga dilihat bercanggah dengan al-Quran dan hadis Nabi SAW.


Terdapat tiga kategori golongan Syiah iaitu: Syiah mughaliyah (pelampau), Syiah Rafidah (Imamiyah) dan Syiah Mu’tadilah (Zaidiyah).


Daripada tiga golongan Syiah ini, Syiah Rafidah atau Imamiyah merupakan golongan yang paling dominan dan berkembang dalam dunia pada hari ini. Mereka merupakan majoriti Syiah yang mengatakan imamnya Ali adalah dengan nas, Ali telah menaskan imamah anaknya Hassan manakala Hassan telah menaskan imamah saudaranya Hussein.


Begitulah seterusnya imamah itu berpindah dengan nas kepada anak-anak Hussein sehinggalah kepada Muhammad bin Hassan al-Askari yang pada pendapat mereka dia ghaib semasa kecil dan akan muncul sebagai Imam Mahdi pada akhir zaman dengan membawa kebenaran dan keadilan.


Mereka dikenali dengan Syiah Imamiyah kerana pegangan mereka kepada 12 imam yang dianggap sebagai maksum (bebas daripada segala dosa dan kesalahan).


Mereka ini juga dinamakan golongan Rafidah kerana mereka menolak imamah Abu Bakar, Umar al-Khattab dan Uthman Affan dengan hujah bahawa Nabi Muhammad SAW mewasiatkan kepada Ali sebagai khalifah selepasnya.


Namun wasiat ini pada dakwaan Syiah telah diketepikan oleh kebanyakan sahabat selepas kewafatan Rasulullah SAW. Oleh yang demikian mereka mengkafirkan para sahabat Nabi SAW termasuk sahabat-sahabat yang rapat dengan Rasulullah SAW seperti Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan selainnya.


Jelasnya, Syiah bukanlah suatu ajaran yang boleh diikuti, bahkan ia merupakan ajaran sesat yang diasaskan oleh seorang Yahudi dari Yemen yang bernama Abdullah bin Saba’.


Dia merupakan bangsa Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam. Dia pandai mengada-adakan cerita palsu dan bijak menipu orang. Dia juga digelar Ibnu Sauda’.


Setelah Abdullah bin Saba’ memeluk Islam secara berpura-pura, dialah orang yang mula-mula mengisytiharkan kewajipan melantik Ali sebagai Imam dan menyatakan secara terbuka penentangannya terhadap musuh-musuh Ali, bahkan mengkafirkan mereka.


Bermula dari sinilah, dapat dilihat dengan jelas bahawa ajaran Syiah Rafidah terpengaruh dengan agama Yahudi. Syiah merupakan ajaran sesat yang paling lama dapat bertahan sehingga ke hari ini. Mereka yang terpedaya dengan ajaran Syiah telah terperangkap dengan tipu daya syaitan yang sememangnya sentiasa berusaha untuk menyesatkan umat Islam daripada persada kebenaran.


Syiah dan al-Quran


Bahaya Syiah jelas apabila melihat kepada pandangan mereka terhadap kitab suci al-Quran. Syiah tidak menganggap kitab suci al-Quran adalah kitab yang terpelihara. Bahkan mereka beranggapan telah berlaku penyelewengan pada ayat-ayat al-Quran.


Buktinya adalah nas yang dikemukakan oleh al-Kulaini iaitu ulama hadis Syiah dalam kitab hadisnya al-Kafi dengan menyatakan bahawa: “Daripada Hisham bin Salim, daripada Abi Abdillah, a.s berkata, al-Quran yang didatangkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak 17,000 ayat”.


Pegangan golongan Syiah ini jelas menunjukkan bahawa mereka beranggapan al-Quran yang ada pada umat Islam hari ini masih tidak sempurna kerana ayat al-Quran yang ada hanya berjumlah 6,236 ayat sahaja, sedangkan mereka beranggapan bahawa al-Quran sebenar iaitu yang dikenali sebagai mushaf Fatimah mengandungi 17,000 ayat.


Ini bermakna dua pertiga ayat al-Quran sudah diselewengkan. Pegangan Syiah ini jelas sesat kerana Allah SWT telah menjamin kesucian al-Quran. Kitab suci itu terpelihara sehingga hari kiamat, tidak akan berlaku penyelewengan terhadap al-Quran walau satu huruf sekalipun. Firman Allah SWT dalam surah al-Hijr ayat 9 bermaksud: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya.


Allah juga berfirman dalam Surah Fussilat ayat 41-42 yang bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar terhadap al-Quran ketika sampainya kepada mereka, (akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi); sedang al-Quran itu, demi sesungguhnya sebuah Kitab suci yang tidak dapat ditandingi, yang tidak dapat didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya; ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Terpuji.


Syiah dan Hadis


Golongan Syiah menolak hadis-hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari, sahih Muslim, sunan al-Tirmidzi dan kitab-kitab hadis ahli sunah yang lain. Mereka menolak mentah-mentah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah SAW.


Bagi mereka, kitab hadis yang menjadi pegangan mereka ialah al-Kafi tulisan al-Kulaini, yang diriwayatkan daripada Imam Maksum.


Mereka juga menganggap para sahabat menjadi kufur dan murtad setelah kewafatan Rasulullah SAW. Al-Kulaini yang dianggap oleh golongan Syiah setaraf dengan Imam Bukhari meriwayatkan bahawa para sahabat telah murtad sepeninggalan Rasulullah SAW kecuali tiga orang daripada mereka iaitu Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.


Ini jelas menunjukkan kebiadaban puak Syiah kerana perbuatan mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad SAW sedangkan para sahabat mendapat tarbiah secara langsung daripada baginda. Secara tidak langsungnya, puak Syiah juga telah memperkecilkan serta menghina Rasulullah SAW.


Golongan Syiah juga sangat biadab terhadap para isteri Rasulullah SAW dengan mengatakan bahawa Saidatina Aisyah dan Saidatina Hafsah sebagai munafik dan kafir. Mereka mendatangkan riwayat palsu yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafsahlah yang telah meracuni Rasulullah SAW sehingga mengakibatkan kewafatan baginda.


Syiah dan Taqiyah


Sebenarnya konsep taqiyah itu ialah konsep yang berasaskan kepada perbuatan berdusta, berbohong dan berpura-pura. Namun, konsep ini telah dijadikan asas oleh golongan Syiah dalam memartabatkan keimanan mereka kepada Allah SWT.


Disebabkan sikap taqiyah ini, para ulama tidak mahu menerima riwayat yang dibawa oleh golongan Syiah ekoran pembohongan yang dilakukan oleh mereka.


Ajaran Syiah itu sendiri sebenarnya ditegakkan di atas dasar taqiyah. Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitab beliau al-Kafi: “Sesungguhnya kamu berada di atas agama yang sesiapa menyembunyikannya akan dimuliakan Allah dan sesiapa menyebarkannya akan dihina oleh Allah”.



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/07/02/mpadoi-kepincut-shalat-lima-waktu-mary-qatarneh-memeluk-islam


Syiah sesat lagi menyesatkan

Tuesday, May 7, 2013

Menjadi Keluarga Allah

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, saya pernah mendengar hadis bahwa Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Betapa istimewanya orang itu dan indah sekali bisa masuk ke golongan orang seperti itu. Pertanyaan saya, siapakah mereka dan bagaimana caranya agar kita bisa menjadi seperti mereka?


Rusyadi Muhammad – Jakarta


Waalaikumussalam wr wb.


Hamalat Alquran yang berarti pengemban amanah Alquran adalah mereka yang mendapatkan kedudukan khusus di sisi Allah SWT.


Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai ‘ahli’ dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Baginda berkata, “Merekalah ahlu Alquran, yaitu ‘ahli’ Allah dan golongan pilihan-Nya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).


Yang dimaksud dengan keluarga Allah dalam hadis ini adalah para wali Allah dan golongan yang mendapat tempat istimewa di hadapan Allah SWT.


Sedangkan, yang dimaksudkan dengan ahlu Alquran adalah para penghafal Alquran yang senantiasa membacanya dan beramal serta berakhlak dengan akhlak Alquran.


Jadi, untuk menjadi seorang hamalat Alquran atau ahlu Alquran tidak cukup hanya dengan menghafal dan selalu membaca Alquran saja, tetapi harus juga mengamalkan ajarannya, tidak melanggar batas-batasnya dan berakhlak dengan akhlak Alquran.


Imam Tirmidzi dalam kitab Faidh al-Qadir menjelaskan bahwa ahlu Alquran itu hanya bagi para penghafal dan pembaca Alquran yang tidak ada kezaliman (syirik) dalam hatinya serta tidak ada kejahatan dalam dirinya.


Dan, bukanlah ahlu Alquran, kecuali mereka yang sudah menyucikan dirinya dari dosa-dosa, baik yang zahir maupun yang batin, serta menghias dirinya dengan segala bentuk ketaatan, dan ketika itulah mereka menjadi ahlu Allah SWT. Itulah yang dicontohkan Rasulullah saw.


Aisyah ra ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, ia menjawab, “Akhlak Rasulullah itu adalah Alquran.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Bukhari dalam Khalqu af’al al-Ibad).


Sehingga, Allah SWT pun mengabadikan kemuliaan akhlak Rasulullah saw dalam Alquran. “Dan, sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS al-Qalam [68]: 4).


Untuk menjadi keluarga Allah sebagai ahlu Alquran dan golongan yang membangkitkan peradaban baru berlandaskan Alquran, pernyataan Sayyid Quthb dalam kitabnya Ma’alim fi al-Thariq dapat kita jadikan pandangan yang bagus. Ia menjadikan generasi sahabat Nabi sebagai barometer.


Yang menjadi pembeda antara generasi sahabat dan generasi-generasi setelahnya, yakni hanya Alquran satu-satunya sumber mata air tempat mereka mengambil air minum.


Dari madrasah Alquran inilah mereka keluar dan dengan berdasarkan Alquran itu mereka menyesuaikan dan mengatur kehidupan mereka.


Hal tersebut bukan karena tidak adanya peradaban atau kebudayaan lain. Bukan juga karena tidak ada ilmu pengetahuan, hasil tulisan, ataupun kajian.


Melainkan, pada masa itu sudah ada peradaban Romawi yang begitu maju, juga dengan peradaban Yunani dengan segala logika, filsafat, dan seninya.


Selain itu, ada peradaban Persia yang menguasai wilayah yang luas. Dan, memang Nabi saw sengaja menjadikan Alquran sebagai satu-satunya sumber yang membentuk jiwa dan pribadi para sahabat.


Perbedaan kedua adalah dalam manhaj dan cara menerima dakwah Alquran itu. Para sahabat tidak membaca Alquran dengan tujuan untuk mencari dan mendapatkan wawasan atau pengetahuan, juga bukan sekadar untuk merasakan dan menikmatinya.


Tidak ada seorang pun dari mereka yang mempelajari Alquran untuk sekadar menambah pengetahuan atau untuk menambah bobot ilmiah dan kepintaran dalam ilmu fikih.


Mereka menerima dan membaca Alquran untuk menerima perintah Allah SWT berkenaan dengan masalah pribadi mereka, masyarakat tempat mereka hidup, dan kehidupan yang dijalaninya bersama jamaahnya.


Faktor lain yang perlu menjadi perhatian, yaitu ketika para sahabat ini masuk Islam, mereka melepaskan diri dari semua masa lalu yang berbau jahiliyah.


Sehingga, ketika masuk Islam, mereka seakan-akan membuka lembaran baru dan menutup rapat-rapat masa kejahiliyahan. Wallahu a’lam bish shawab.


Ustaz Bachtiar Nasir


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/as-pertimbangkan-persenjatai-pemberontak-suriah/1653606.html


Menjadi Keluarga Allah

Friday, January 3, 2014

Adakah Nabi masih hidup?


  • Kehidupan alam barzakh hanya diketahui ALLAH SWT. – Foto: Sumber internet


DALAM hadis perpecahan umat, Rasulullah SAW mengkhabarkan umat Islam akan terpecah kepada 73 golongan. Semuanya akan singgah ke neraka kecuali hanya satu terselamat dari neraka dan terus masuk ke syurga, iaitu golongan yang mengikuti jalan Nabi dan sahabat.



Ini menjadi petunjuk tidak semua umat Islam akhir zaman ini berada di atas jalan benar. Zaman ini begitu jauh dari zaman Nubuwwah dan pelbagai kefahaman serta tokok tambah meresapi ajaran Islam yang asal.



Hal ini tidak dapat dicegah, namun menjadi tuntutan ke atas kita mempelajari ilmu al-Quran dan Hadis agar mampu membezakan antara kebenaran dan kebatilan, seterusnya berpegang teguh dengan kebenaran, iaitu pegangan Nabi dan Sahabat.



Itulah satu-satunya jalan lurus yang ALLAH redai, jalan orang diberi nikmat.



Berbicara mengenai kumpulan yang mengangkat kedudukan orang soleh melebihi kedudukan yang sepatutnya, bahkan menyeru dan memohon pertolongan daripada mereka, dan beribadah di kubur mereka, kita bawakan firman ALLAH SWT: “Katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain ALLAH, mereka tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan bahaya daripada mu, dan tidak mampu mengubahnya’.



Orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada ALLAH). Mereka mengharap rahmat-Nya dan takut azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhan mu itu suatu yang harus ditakuti.” (Surah Al-Israa: 56-57)



Ketika ditanya mengenai orang yang meminta syafaat daripada Nabi setelah kewafatannya dengan alasan Nabi SAW hidup di dalam kubur, Syaikh Muhammad Soleh al-Uthaimin rahimahullah menjawab, “Bantahan atas mereka ini mudah, iaitu Nabi SAW telah wafat tanpa syak berdasarkan firman ALLAH, “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (juga).” (Surah Al-Zumar: 30).



Firman ALLAH: “Tidaklah Muhammad itu melainkan seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Adakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Surah Al Imran: 144)



Golongan sahabat sepakat Nabi  Muhammad SAW telah wafat. Mereka memandikan, mengkafani dan menguburkan Baginda. Dengan itu, Baginda telah wafat tanpa syak.



Namun di sana ada kehidupan lain iaitu kehidupan barzakh yang ada bagi golongan syuhada, dan golongan Nabi tentu lebih utama dalam hal ini. ALLAH SWT berfirman, “Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan ALLAH itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Surah Al Imran: 169)



“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia ALLAH yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang yang tinggal di belakang yang belum menyusul mereka.Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati.” (Surah Al Imran : 170)



Inilah kehidupan alam barzakh yang ilmunya di sisi ALLAH. Kita tidak mengetahui bagaimana. Orang yang mati tidak perlukan udara, air, makanan dan selainnya. Inilah jawapan bagi mereka yang mengatakan Rasulullah SAW hidup di dalam kubur.




Berbeza alam kehidupan



Ya, memang Baginda hidup, tapi bukan seperti kehidupan dunia yang manusia di dalamnya mungkin bekerja, taat, rukuk, sujud dan seterusnya. Ini adalah perkara ghaib tidak dihukumi seperti hukum orang-orang yang hidup. (Jalasat wa Fatawa)



Imam Al-Zahabi Rahimahullah berkata, “Nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti kehidupan syuhada’ di sisi Tuhan mereka. Kehidupan mereka tidak sama dengan kehidupan orang di dunia dan tidak sama dengan kehidupan manusia nanti di akhirat.” (Tarikh Al-Islam)



Ketika terjadinya fitnah besar pada zaman pemerintahan Khalifah Uthman dan Ali RA, mahupun berlaku pertelingkahan kalangan Sahabat, mereka tidak pergi ke kubur Baginda untuk meminta tolong untuk jalan penyelesaian.



Ternyata, golongan Nabi telah wafat dan tidak berhubung dengan alam dunia, sebaliknya roh Nabi Muhammad SAW berada di ‘Illiyun di tempat tertinggi, sebagaimana perkataan terakhir Baginda sebelum menghembus nafas terakhir, “Al-Rafiq Al-A’la (bersama teman yang tertinggi di atas)”.



Sebahagian orang salah faham hal ini sehingga menyangka golongan Nabi dan syuhada itu hidup seperti hidup di dunia. Mereka menyangka orang mati di dalam kubur mendengar seruan dan panggilan mereka, melihat, dan hadir ke majlis mereka.



Ini dakwaan yang tidak didasari petunjuk al-Quran dan Sunnah, bahkan menyalahinya.

ALLAH berfirman, “Dan engkau (Muhammad) tidak mungkin dapat menjadikan orang di dalam kubur dapat mendengar.” (Surah Fathir: 22).



“Sungguh kamu tidak dapat menjadikan orang mati dapat mendengar dan tidak pula menjadikan orang yang tuli dapat mendengar panggilan apabila mereka berpaling ke belakang.” (Surah al-Naml: 80)



Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Sahihnya, ketika orang Yahudi datang kepada Nabi SAW dan bertanya tentang roh, Nabi SAW terdiam dan tidak memberikan jawapan. Ini kerana ia adalah hal ghaib, yang hanya diketahui ALLAH. Baginda diam sehinggalah turun wahyu daripada ALLAH, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Surah Al-Isra’: 85)



Syaikh al-Albani rahimahullah ketika menjelaskan hadis yang menyatakan kehidupan para Nabi di kubur berkata, “Ketahuilah kehidupan yang ditetapkan oleh hadis bagi para Nabi adalah kehidupan alam barzakh, bukan kehidupan dunia sedikit pun.



Oleh itu, wajib mengimaninya tanpa memberi perumpamaan, atau berusaha menjelaskan bagaimana kaifiatnya dan menyamakannya dengan sesuatu yang diketahui dalam kehidupan dunia.




Jauhi Amalan Bidaah



Inilah sikap orang mukmin iaitu beriman kepada hadis tanpa memberi tambahan berupa qias dan pelbagai pemikiran sebagaimana dilakukan sebahagian ahli bidaah yang mendakwa kehidupan Nabi SAW di dalam kubur adalah kehidupan hakiki (seperti alam dunia).



Mereka berkata Baginda makan, minum dan menyetubuhi isterinya. Padahal itu adalah kehidupan alam Barzakh, tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh ALLAH”. (Sahihah)



Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya hari kamu yang paling utama adalah Jumaat, maka perbanyakkanlah selawat ke atas ku pada hari itu. Sesungguhnya selawat kamu disampaikan kepadaku.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu padahal engkau telah hancur menjadi tanah? ”Baginda menjawab, “Sesungguhnya ALLAH mengharamkan atas bumi menghancurkan jasad golongan Nabi.” (Sahih, Abu Daud)



Hadis ini menunjukkan kefahaman golongan Sahabat, iaitu orang yang mati tidak akan mendengar ucapan orang yang masih hidup. Rasulullah SAW tidak mendengar ucapan salam kepadanya, bagaimanapun sabda Nabi dalam hadis lain: “Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat yang berkeliling di bumi untuk menyampaikan kepada ku salam daripada umatku.” (Riwayat Ahmad)



Sekiranya orang mati dapat mendengar perbicaraan di alam dunia, sudah tentu Rasulullah yang paling layak untuk mendengar. Dan sekiranya Rasulullah mendengar perbicaraan di alam dunia, sudah tentu Baginda mendengar secara langsung selawat dan salam yang diucapkan kepada Baginda.



Namun sebaliknya, Baginda menjelaskan selawat dan salam ‘disampaikan’ kepada Baginda melalui golongan malaikat yang berkeliling di bumi. Jelas Baginda tidak mengetahui secara langsung apa yang berlaku di alam dunia selepas Baginda wafat.



Bahkan Nabi SAW menceritakan umatnya yang akan terhalang daripada minum di telaga Baginda di akhirat kelak, “Benar-benar suatu kaum daripada umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata, “Ya ALLAH, itu adalah umatku.” Maka dikatakan: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan selepas kewafatanmu.” (Riwayat Bukhari Muslim)



Hadis ini menunjukkan Nabi SAW tidak tahu apa yang berlaku kepada umatnya setelah wafat. Maka sungguh batil dakwaan sesetengah kumpulan yang mendakwa Nabi SAW hadir ke majlis mereka lalu mereka pun berdiri menghormati kehadiran Nabi! Ditambah dengan qasidah yang menyeru dan meminta daripada Nabi SAW dan orang soleh yang telah wafat.



Ini benar-benar menyalahi petunjuk Nabi SAW dan petunjuk sahabat RA. Semoga ALLAH memberikan kita taufiq dan keselamatan dalam beragama, dan beramal sesuai dengan petunjuk Nabi SAW dan sahabatnya, serta meninggalkan yang selainnya.




* Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia (iLMU)


Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/02/163205/Obama-dan-Dunia-Islam/7


Adakah Nabi masih hidup?

Thursday, January 9, 2014

Perginya seorang amil

PEMBACA budiman, kali ini saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat sahabat saya, Almarhum Aidi Munawer Ahmed Shukri, mantan Pengurus Besar, Lembaga Zakat Selangor (LZS). Lebih 10 tahun dahulu, beliaulah insan yang telah memperkenalkan LZS kepada saya. Beliau jugalah yang meyakini bakat dakwah yang tersemai dalam diri saya, lalu memberikan peluang hingga akhirnya saya mampu menjadi seperti hari ini.


Insya-Allah, dalam setiap usaha dakwah yang saya lakukan, pasti ada sebahagian pahala yang tertitip untuknya di alam barzakh sana. Sebelum itu, beberapa bulan yang lalu kala menjelangnya tarikh 1 Januari 2014, saya telah menerima satu pesanan ringkas (SMS) daripada Aidi.


“Tuan-puan dijemput ke majlis bacaan Yaasin, tahlil dan doa selamat sempena perasmian perusahaan ikan salai saya pada 1 Januari 2014…”


Saya terkejut dengan SMS berkenaan. Untuk makluman, sahabat saya ini telah berjuang lebih dari lima tahun melawan serangan jantungnya.


Selama itu, Institut Jantung Negara (IJN) telah menjadi rumah utamanya dan rumahnya sendiri menjadi rumah kedua. Malah dadanya juga telah beberapa kali dibelah, ditebuk dan dibelah.


Saya tidak akan lupa saat beliau mengisahkan, sakitnya dada dibelah tidak tergambar dengan kata-kata dan beliau seboleh mungkin tidak mahu lagi menjalaninya.


Malam 31 Disember 2013, lebih kurang pukul 8.20 malam, sahabat saya itu berjuang untuk saat-saat akhir mencicipi saki baki nafas yang terukir di dunia ini.


Kala itu, saya sedang menyampaikan kuliah Maghrib di sebuah surau dan yakin ribuan orang lain bersiap-siap demi menanti detik 12 tengah malam, sama ada di program penuh hiburan mahu pun di majlis ilmu penuh peringatan. Sahabat saya itu pula, sedang bersiap-siap menerima panggilan Ilahi.


Esoknya, 1 Januari 2014 saya menerima khabar kematian. Sayangnya, saya tidak dapat mengunjunginya lantaran anak perlu mendaftar masuk ke asrama.


Namun, saya gagahi menziarahi isterinya Kak Yati selepas itu. Apatah lagi kami memang jiran lama dan saling mengenali. Kak Yati pun berkongsi kisah 40 hari sebelum suaminya, Aidi dijemput Ilahi. Saya yakin, kisah ini ada iktibar besar yang wajar dikongsi.



Majlis tahlil



“Pada 1 Januari 2014 baru-baru ini, benar-benar kami adakan majlis tahlil besar-besaran seperti yang Aidi mahu. Tapi, bukan sebagai perasmian perniagaanya, sebaliknya atas kematiannya.”


Kak Yati kelihatan begitu tabah menghadapi suasana. Benar, ujian berat yang telah dia dan anak-anaknya lalui sekian lama, membuatkan mereka lebih kuat mendepani ujian kehilangan.


Sejak Aidi mengidap sakit jantung sekitar 2006, kehidupan mereka sekeluarga berubah warna. Jangankan anak-anak dan isterinya, saya sebagai teman sepejabat pun turut merasai kehilangannya di tempat kerja.


“Aidi tidak guna langsung wang pampasan persaraan daripada LZS (Aidi telah bersara awal ekoran masalah kesihatan). Seluruh wangnya lebih daripada RM300,000 itu, dia manfaatkan untuk membuka kilang menyalai ikan.


“Malah dia pesan sangat-sangat, apa pun yang terjadi selepas ini, sama ada dia masih ada atau pergi, kilang itu mesti terus beroperasi. Tetapi, bukan untuk kami anak-beranak, sebaliknya untuk para asnaf zakat,” kata Kak Yati.


Itulah kesungguhan sahabat saya ini dalam meladeni amanah zakat. Biarpun nyawa sudah di hujung usia, dia tidak pernah melupakan asnaf zakat, khususnya kaum fuqara wal masakin dan mualaf yang melata.


“Kami membuka kilang itu di Subang Bestari dan Aidi mahu agar para pekerjanya diambil daripada kalangan asnaf zakat yang memang ditempatkan di sana oleh LZS. Baginya, dia mahu kilang itu menjadi nadi pembangunan diri asnaf,” kata Kak Yati.


Hakikatnya, komitmen Aidi menyantuni para asnaf bukanlah perkara baharu. Dalam buku Diari Seorang Amil (terbitan Galeri Ilmu), ada saya paparkan perihal kisah kami sama-sama menyelamatkan seorang bapa tunggal dan dua anak gadis suntinya di hutan simpan Kemensah pada 2003.


Malah, sebelum saya menjawat jawatan amil pun, Aidi pernah membawa saya mengunjungi sebuah keluarga miskin di Kampung Tok Pinang, Serendah dalam bulan Ramadan dan membawa pelbagai barangan untuk disedekahkan.


Saya juga tidak akan lupa saat seorang penerima bantuan bertaraf Orang Kurang Upaya (OKU) yang datang ke Pejabat LZS di Shah Alam pada 2013 untuk meminta LZS membaiki kerusi rodanya yang sudah rosak. Kebetulan dia bertemu Aidi, langsung kerusi rodanya digantikan dengan yang baharu. Malah siap berkuasa elektrik lagi. Menangis pakcik itu menerima hadiah kerusi roda baharu berkenaan.


Justeru, pengalaman saya dalam memikul tugas sebagai amil zakat bersama Aidi amat mengesankan. Maka, saya tidak hairan kecintaannya kepada para asnaf telah membuatkan dia sanggup menafkahkan seluruh wang pampasannya untuk tujuan menyediakan pekerjaan kepada sebilangan asnaf yang memerlukan. Calang-calang orang, pasti tidak sanggup melakukan sedemikian.


“Aidi juga berpesan, jika perniagaan itu menghasilkan keuntungan, maka jangan lupa tunaikan zakat. Malah, dia juga pesan agar lebihkan bahagian untuk diinfak.


“Bagi kami anak-beranak, sudah ada bahagian lain yang dia tinggalkan. Jadi, kami tidak perlu terlalu mengharap kepada perniagaan,” ujar Kak Yati.


Demikianlah wasiat yang Aidi titipkan kepada isterinya, kala usia 40 harinya kian mengensot meninggalkannya. Kesungguhan Aidi merealisasikan perniagaannya itu, dengan ‘kebugaran’ kira-kira sebulan yang Allah SWT berikan sebelum mentakdirkan dia harus pulang kepada Allah SWT, ibarat memberikan kesempatan terbaik buat Aidi merealisasikan impian.


Ya, impian menyantuni asnaf zakat selagi usia masih terpahat, kala 40 hari kian mendekat.



Bina sekolah tahfiz



“Aidi sebenarnya berhasrat untuk membina sekolah tahfiz selain daripada membina perniagaan demi membantu asnaf. Amat besar cita-citanya, tapi tidak sempat dia penuhi semua,” kata isterinya.


Demikianlah, masa yang berenjak, namun saya tetap terkenangkan betapa Aidi dan saya dahulu sama-sama mengimarahkan rumah Allah, bertadarus sepanjang malam di bulan Ramadan. Sama-sama turun mencari orang susah hingga kawasan pedalaman, sama-sama bergelut menjayakan Karnival Ummah dan banyak lagi memori indah yang telah kami catatkan di kanvas persahabatan kami.


Di akhir kalam ini, saya hanya mengharapkan semoga Aidi diberikan Allah SWT kelapangan dalam kuburnya. Selapang hatinya dahulu yang tega menyisihkan ‘masa dan harta’ demi melunasi maslahah ummah. Duhai sahabat, terimalah daripadaku dan pembaca sekalian, hadiah berupa sakalung surah buatmu dalam menagih kasihnya Allah, al-Fatihah.



PENULIS ialah Eksekutif Dakwah di Lembaga Zakat Selangor (MAIS)



Nota: Dalam tempoh tiga bulan ini, LZS telah kehilangan tiga orang amil, iaitu Mohd. Rais Jamil, Aidi Munawer dan Mohd. Lutfi Ibni Hijar, semoga mereka ditempatkan dalam kalangan orang-orang yang soleh. Amin.




Article source: http://www.theglobejournal.com/Opini/memahami-konflik-berdarah-di-mesir/index.php


Perginya seorang amil

Saturday, April 6, 2013

Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Home Nasional




Bedah Jurnal Islamiah


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil





 




Ahad, 07 April 2013


Hidayatullah.com—Bertempat di Aula Pascasarjana Kampus ITS Surabaya, Jamaah Masjid Manurul Ilmi (JMMI) menggelar Seminar Akbar bertema; “Ahlus Sunnah dan Syiah: Beda Akidah, Syariah atau Politik?”


Acara yang diselenggarakan hari Sabtu, (06/04/2013) ini adalah puncak dari rangakain acara “Gebyar Manurul Ilmi (G-Mail)” yang di ikuti oleh seluruh Lembaga Dakwah Jurusan.


Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur I nstitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS dan Pimred Jurnal  Islamia), Mohammad Idrus Romli (dosen STAIN Jember dan Anggota LBM NU Jatim), dan Henry Shalahuddin, MA (dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah/STID Muhammad Natsir Jakarta). Acara  dipandu langsung oleh Bahrul Ulum  dari InPAS Surabaya.


“Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa tentang bagaimana  memahami  hingga kita bisa mengerti perbedaan Syiah dan Sunnah,” ujar Syafruddin, penanggung jawab seminar.


Pada sesi pembicara pertama,  Dr. Hamid. Fahmi Zarkasih menyampaikan bahayanya pemikiran yang mengaggap semua agama itu benar. Sudut pandang pemikiran ini menggunakan teori relativisme, di mana menganggap kebenaran menurut Anda benar, menurut orang lain belum tentu benar.


“Pemahaman kebenaran ini  kemudian dijadikan acuan untuk membenarkan semua agama. Padahal dalam Islam umatnya harus meyakini bahwa agamanya Islam yang benar, namun tetap menghormati agama lain,” ujar Hamid.


Menurutnya, menyikapi perbedaan dalam Islam bisa menggunakan tiga macam kategori rumusan dalam melihat perselisihan. Pertama adalah sesuatu yang di katakan khata’ (salah) atau shawab (betul). Perbedaan dalam kategori ini masih dalam ranah ijtihadiyah atau dalam masalah –masalah furu’.


“Kalau perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, umumnya masalah furu’,” ujarnya.


Kategori yang kedua adalah sesuatu yang dikategorikan haq dan bathil. Yang kedua ini, biasanya ditemukan dalam masalah salah dan benar dalam ruang akidah. Biasanya pula, konsekwensi dari perselisihan ini akan berujung pada akidah seseorang itu lurus atau salah.


Sedang kategori yang ketiga adalah, perbedaan yang bisa menjadikan seseorang itu mukmin dan kafir. Misalnya mendiskon atau menambah rukun iman. Karena menambah dan mengurangi itu bisa menjadikan seseorang itu kafir.


Berkaitan dengan masalah Syiah, perbedaan berawal dari  informasi hadits yang digunakan oleh pengikut Ali, yang dikatakan bahwa Ali lah sebenarnya yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi Wassalam untuk menjadi imam. Namun kemudian hadits ini ditolak oleh para Sahabat dan kemudian terpilihlah Abubakar Radhiallahu anhu sebagai khalifah, Imam pengganti Nabi. Hal inilah membangkitkan perlawanan pengikut Ali, kemudian menyebarkan doktrin tentang imamah. Doktrin yang mempercayai bahwa satu-satunya imam pengganti Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. [baca: Idrus Romli: Kultur Islam Indonesia Justru Melawan Syiah]


Dalam literatur Syiah dikatakan Imamah, yang artinya seorang harus mempercayai Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Imam. Barangsiapa yang tidak mempercayai Ali sebagai imam berarti kafir.


“Dalam kalangan Syiah, imamah dijadikan sebagai akidah. Sehingga hal itu yang mengakibatkan Ahlus Sunnah tidak bisa bersatu dalam masalah akidah. Jadi tidak mungkin Syiah dan Ahlus Sunnah bisa bersatu.  Namun disayangkan Syiah kurang bijak, dengan mengklaim kelompok diluar syiah telah menjadi kafir, sebagaimana tertuang dalam buku-buku mereka.”


Pada sesi pembicara kedua,  Henry Shalahuddin, MA banyak menyoroti perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah.  Menurutnya,  perbedaan Ahlus Sunnah dan Syiah masuk dalam sudah kategori haq dan bathil.


“Kelompok Syiah secara peribadatan sangat berbeda dengan Ahlus Sunnah. Contoh orang Syiah harus sujud di atas gambar imam-imam mereka. Mencambuk diri sendiri ketika memperingati hari Asyuro.”


Bukan sampai disitu saja perbedaannya, orang Ahlus Sunnah sangat menghormati dan mencintai para Sahabat Rasulullah termasuk Ali Bin Abi Thalib, tapi di kalangan Syiah, Sahabat selain Ali bin Abi Thalib adalah terlaknat, sehingga pengikut Syiah dianjurkan untuk melaknat Abubakar, Umar ibnu Khatab, Ustman bin Afan hingga istri Nabi Siti Aisyah.


“Begitu bencinya pada Sahabat Nabi, bahkan ada anjuran tempat yang paling bagus untuk melakukan laknat itu adalah di WC,” ujar Henry.


Menurut Henry kebencian kelompok ini terhadap para Sahabat diekspresikan secara nyata dalam kehidupan, seperti lewat kata, dan tulisan. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang ada.


Dalam dialog ini disimpulkan bahwa ajaran Syiah telah merasuk ke dalam kehidupan umat Islam secara perlahan lewat berbagai propaganda. Semua aspek kehidupan dimasuki, mulai dari budaya, pendidikan, politik, dan penyebaran keilmuan melalui penerbitan buku. Berbagai propaganda dilakukan melalui keilmuan dengan membalikan fakta dan sejarah. Menggunakan hadits dan ayat untuk mengklaim kebenaran keimamahan-nya. Di sisi lain syiah juga disebarkan seperti menggunakan bantuan ekonomi dan bantuan pendidikan.*/Samsul Bahri


Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.okezone.com/read/2012/12/27/58/737593/perayaan-natal-mui-dan-fpi-ikut-sibuk


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Monday, January 6, 2014

Bolehkah orang Islam masuk ke gereja?



Soalan:
Bolehkah orang Islam memasuki rumah ibadat agama lain. Adakah menjejaskan akidah jika masuk dengan tujuan berdialog. Hal ini kerana saya melihat ada kalangan pimpinan PAS berbuat demikian. Minta penjelasan Ustaz. Terima kasih.


Jawapan:
Sebahagian ulama melarang secara mutlak memasuki gereja. Mereka berdalil dengan firman Allah, yang ertinya,


“Janganlah kamu solat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu solat di dalamnya.” (QS. At Taubah: 108)


Sekembalinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perang Tabuk, orang-orang munafik semakin hilang harapan untuk mengalahkan kaum muslimin. Akhirnya mereka mendirikan sebuah masjid dalam rangka memecah belah kaum muslimin. Masjid ini dikenali sebagai masjid dhirar. Ayat ini turun sebagai larangan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk melaksanakan solat di masjid tersebut dan diperintahkan agar masjid tersebut dihancurkan. Jika Nabi dan sahabat dilarang untuk masuk dan solat di masjid dhirar, yang dibina untuk tujuan merosakkan kaum muslimin, padahal itu adalah masjid maka lebih terlarang lagi jika itu adalah gereja. Gereja itu murni dibangun semata-mata untuk syirik kepada Allah.


Ulama yang berpendapat sebegini memberikan pengecualian untuk masuk gereja jika dipenuhi beberapa syarat:


- Adanya maslahat bagi agama Islam, misalnya dalam rangka berdakwah atau berdebat dengan orang Nasrani agar mereka masuk Islam.


- Tidak menimbulkan perbuatan haram, misalnya terlibat dalam kesyirikan mereka.


- Berani menampakkan jati diri keislamannya di hadapan orang kafir.


- Tidak menyebabkan orang awam mengira bahawa dirinya setuju dengan agama orang Nasrani.


(Fatwa Lajnah Daimah, 2:339 dan Fatwa Syaikh Dr Nashir bin Sulaiman di Majalah Ad Da’wah edisi 1930, Dzulhijjah 1424 H).


Namun berdasarkan keterangan banyak ulama berbagai mazhab, akan lebih tepat jika diberikan perincian sebagai berikut:


Pertama, masuk gereja ketika orang Nasrani sedang melakukan ibadat, para ulama secara mutlak melarang perbuatan ini dengan beberapa alasan:


- Ini bererti kita ikut bergabung dalam kebatilan yang mereka lakukan.


- Tindakan ini menyerupai ciri khas orang kafir, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum (dalam ciri khas mereka) maka dia termasuk sebahagian kaum tersebut.” (HR. Abu Daud 4031 dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani).


- Murka Allah turun waktu mereka beribadat dan di tempat ibadat mereka. Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hati-hatilah kalian dari bahasa orang kafir dan janganlah kalian masuk bersama orang muyrik pada saat peribadatan mereka di gereja mereka, kerana pada saat itu dan di tempat itulah murka Allah sedang turun.” (HR. Abdur Razaq dalam Al Mushannaf no. 1608, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro, 9:234 dan dinilai kuat oleh Al Bukhari dalam At Tarikh).


Kedua, Masuk gereja di luar waktu mereka beribadat, namun di dalam gereja tersebut terdapat gambar atau palang salib yang dipasang.


Hukum keadaan ini sebagaimana memasuki rumah yang ada gambar. Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini. Umairah dalam Hasyiyahnya mengatakan, “Kita tidak boleh masuk gereja kecuali dengan izin mereka. Jika di dalamnya terdapat gambar maka diharamkan secara mutlak.”


Ibnu Qudamah mengatakan, “Adapun masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar bukanlah satu hal yang haram… ini adalah pendapat Imam Malik, beliau melarangnya sekadar makruh dan beliau tidak menganggap hal itu satu hal yang haram. Majoriti Syafi’iyah mengatakan: Jika gambar di dinding maka tidak boleh memasukinya.


Dalam satu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk Ka’bah beliau melihat ada gambar Ibrahim dan Ismail yang sedang mengundi nasib dengan anak panah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Semoga Allah membinasakan mereka (orang musyrikin), sungguh mereka telah mengetahui bahawa keduanya (Ibrahim dan Ismail) sama sekali tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah.” (HR. Abu Daud).


Dan di antara persyaratan Umar (untuk kafir dzimmi), mereka (diperintahkan) agar memperluas gereja dengan menyediakan bilik tamu supaya kaum muslimin boleh masuk untuk menginap di dalamnya.


Ibnu ‘Aidz dalam Futuh As Syam meriwayatkan bahawa orang Nasrani membuat makanan untuk Umar ketika beliau sampai di Syam, kemudian mereka mengundang Umar. Beliau bertanya, “Di mana?” Mereka menjawab, “Di gereja.” Maka Umar tidak mahu menghadirinya dan Umar berkata kepada Ali, “Berangkatlah bersama para sahabat agar mereka boleh makan.” Maka berangkatlah Ali bersama para sahabat dan masuk ke dalam gereja serta makan. Kemudian Ali melihat ke gambar, sambil mengatakan, “Tidak ada masalah bagi Amirul Mukminin (Umar) apabila dia masuk dan makan.” Sikap para sahabat ini menunjukkan kesepakatan mereka tentang bolehnya masuk gereja meskipun di dalamnya terdapat gambar, disamping masuk gereja dan tempat peribadatan mereka tidaklah haram.” (Al Mughni Ibnu Qudamah, 4:16).


Ibnu Muflih mengatakan, “Boleh masuk dan solat di tempat peribadatan dan gereja atau yang semacamnya. Dan makruh jika di dalamnya ada gambarnya. Ada yang mengatakan haram mutlak. Penulis Al Mustau’ib mengatakan, sah melaksanakan solat fardhu di gereja atau tempat peribadatan orang kafir meskipun makruh.


Dalam Syarh Ibnu ‘Aqil disebutkan, “Tidak mengapa solat di gereja yang suci (dari najis), ini adalah riwayat dari Ibnu Umar dan Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhum…”


Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan Imam Malik membenci masuk gereja kerana alasan ada gambar… (Al Adab As Syar’iyah, 4:122).


Ringkasnya, hukum masuk gereja yang ada gambar atau palang salib yang tergantung dalam posisi diagungkan adalah makruh, kecuali jika orang muslim tersebut mampu untuk mengubahnya. Wallaahu a’lam.


Ketiga, di luar waktu peribadatan mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar mahupun palang salib


Al-Hanifiyah berpendapat makruhnya seorang muslim masuk ke gereja. Alasannya, kerana gereja adalah tempat berkumpulnya syaitan. Sebahagian ulama Mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah membolehkan masuk gereja. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaithiyah 2:14143).


Pendapat kedua inilah yang lebih tepat, kerana sebagaimana ditegaskan oleh sebahagian Ulama  dianjurkan bagi penguasa muslim untuk mengadakan perjanjian dengan orang kafir dzimmi agar mereka menyediakan tempat untuk tamu muslim di gereja. Dan inilah yang dilakukan khalifah Umar terhadap penduduk Syam. Di antara isi perjanjian damai ahli kitab dengan kaum muslimin: “Kami tidak melarang kaum muslimin untuk singgah di gereja kami baik di malam hari maupun siang hari. Kami akan memperlebar pintu-pintu gereja kami untuk para pelancong dan orang yang kehabisan bekal di perjalanan.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaithiyah 2).


Keempat, dalam rangka untuk dakwah dan berdebat untuk menyedarkan kesesatan mereka.


Untuk keadaan yang terakhir ini para ulama menegaskan kebolehannya. Bahkan mereka yang melarang secara mutlak pun membolehkan masuk gereja dalam rangka berdakwah kepada mereka.


WalLahu a’lam



Article source: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=46429


Bolehkah orang Islam masuk ke gereja?

Wednesday, June 26, 2013

Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Home Gazw Al-Fikr



Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi





 

Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?”



 




Rabu, 26 Juni 2013


Oleh: Kholili Hasib


PROGAM Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?” meninggalkan banyak catatan. Pertama, tema “Syiah Diusir, Negara Kemana”  telah menunjukkan TV One berada dalam posisi kelompok Syiah. Kedua, tak adanya banyak perwakillan Sunni yang sejak lama keberatan ulah Syiah yang dinilai menyakiti perasaannya (baca; mayoritas NU). Karenanya, agak aneh saja jika acara ini justru dirasakan menjadi ajang pembelaan tokoh-tokoh Syiah. Sementara perasaan dan hak kaum mayoritas (Sunni-NU) justru diabaikan.


Fokus Persoalan


Sudut pandang menilai kasus Syiah di Sampang harus terfokus pada akar persoalan. Bahwa kasus ini murni karena dipicu dakwah pelecehan Shahabat Nabi. M. Nur, mantan pengikut Tajul Muluk –pemimpin Syiah Sampang– memberi kesaksian, “Sejak 2008 Tajul mulai menyampaikan khutbah Jumat bahwa rukun Islam ada 8, rukun iman ada 5, khalifah Nabi Muhammad bukan Abu Bakar, Abu Bakar dikatakan merampok dari Ali”. Demikian seperti dalam release laporan tim BASRA (Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura) yang pernah berdialog dengan Tajul Muluk.


Berkaitan dengan itu, PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur pada Oktober 2012 mengirim peneliti yaitu HM. Shiddiq Abdurrahman untuk investigasi lapangan. Hasil investigasi PWNU di antaranya menyimpulkan bahwa ada indikasi kuat kejadian bentrokan telah disekenario sejak awal oleh Syiah. Menurut laporan PWNU yang dimuat majalah AULA edisi Oktober 2012, bahwa sekenario bentrok telah dipersiapkan di kota Malang. Mereka melanggar kesepakatan bahwa anak-anak Syiah mau dibina di pesantren Ahlus Sunnah, agar mereka tidak terjerak ajaran sesat. Berikut sebagian hasil investigasi PWNU Jawa Timur:
“Kala itu terjadi perdebatan sengit ketika ada rombongan anak-anak Syiah yang mau balik pondok. Para santri mempertanyakan keseriusan Pemkab Sampang untuk memondokkan mereka. Demikian juga mereka menolak tidak berangkat ke Bangil lantaran terikat aturan pesantren yang mengharuskan para santri untuk segera ke pondok. Pada saat bersamaan, penduduk bersikukuh untuk melarang rombongan meneruskan perjalanan lantaran sudah terikat kesepakatan bahwa anak-anak tersebut akan modok di pesantren Ahlus Sunnah bukan Syiah dengan biaya Pemkab.


Para penduduk yang awalnya mencegat, ikut mengawal minibus yang membawa anak-anak Syiah tersebut karena khawatir rombongan hanya pura-pura pulang, namun tetap berusaha berangkat dengan cara diam-diam. Saat akan memasuki kediaman Tajul inilah, ada seseorang Syiah yang membuat garis di jalan sambil mengingatkan dengan suara keras: “Polisi dan para penguntit dilarang masuk. Kalau sampai melewati garis, akan mati”.


Dari arah pesantren Tajul Muluk, ternyata ada sekelompok orang berseragam serba hitam dengan senjata tajam terhunus di tangan. Dan benar adanya, begitu ada penduduk yang melewati garis, ternyata terjadi ledakan dan beberapa benda keras beterbangan. Sebagian penduduk terluka, termasuk dalam hal ini Kapolsek Omben. Suasana pun berubah liar, kedua belah pihak saling lempar batu.


Dengan siap siaganya beberapa orang yang bereseragam hitam dan menghunus senjata tajam, serta adanya bahan peledak di area kediaman Tajul Muluk, kuat indikasi bahwa kejadian tersebut sudah disekenariokan sejak awal. Bahkan ada kabar bahwa kondisi ini sudah dimusyawarahkan di Malang, meskipun kebenarannya perlu diungkap.


Para penduduk yang sejak awal memang tidak mempersiapkan diri untuk bertarung akhirnya terdesak. Terpaksa mereka mundur ke perkampungan, menghindar serangan warga Syiah. Dalam situasi terdesak, ada sebagian penduduk menggunakan pengeras suara milik Masjid.


Dari speaker disampaikan kesediaan masyarakat sekitar untuk membantuk menghadapi serangan pengikut Tajul Muluk. Gayung pun bersambut. Terjadilah saling serang antar dua kubu”.


Dari laporan tersebut, sesungguhnya ada pelanggaran kesepakatan dari pihak Syiah. Jika saja, pengikut Tajul Muluk memenuhi kesepakatan dan menerima persyaratan damai dengan cara tidak akan menyebarkan ajaran pelecehan, pasti tidak akan terjadi bentrok.


Dari hasil kajian, beberapa pihak terkait melakukan upaya-upaya penyelesaian. MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim mencegah aliran Syiah dengan upaya edukatif, menerbitkan fatwa tentang Syiah. Surat fatwa bernomor 01/SKF-MUI/JTM/I/2012 berisi kesesatan ajaran Syiah. Sementara Gubernur Jatim menerbitkan Peraturan Gubernur No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.


Baik fatwa maupun Pergub Jatim diterbitkan untuk mencegah umat Islam Jatim melakukan tindakan tercela yang bisa memicu chaos. Upaya edukatif ini berusaha mewujudkan umat yang beradab, memahami etika beragama dan bermu’amalah antar sesama. Bahwa tindakan menghina ajaran lain bisa memantik konflik sosial. Dengan diterbitkannya dua surat keputusan tersebut, diharapkan di Sampang maupun di daerah-daerah lain tidak adalagi umat yang terinfiltrasi ajaran-ajaran ‘aneh’ dengan menghina Sahabat Nabi, istri Nabi dan lain-lain.


Pembinaan Penganut Agama


Berdasarkan hal itu, Pemkot Sampang pun berjanji membiayai anak-anak Syiah untuk mengirim ke pondok pesantren Ahlus Sunnah. Pencegahan dini harus dilakukan. Sebab, jika anak-anak tersebut dibiarkan jadi menganut ajaran penistaan terhadap Sahabat, maka Sampang akan terus membara lagi kelak.


Upaya-upaya aparatur pemerintah, ulama dan pihak keamanan harus didukung. Solusi mereka menyentuh akar utama penyebab konflik. Bahwa, penistaan terhadap Sahabat dan Istri Nabi yang dilakukan secara publik yang menjadi sebab bentrok. Menutupi akar utama, apalagi memotongnya justru akan memelihara konflik menjadi lebih besar lagi.


Yang harus kita cerna baik-baik, bahwa kekerasan membabi buta adalah kriminil tapi bukan berarti Islam tidak memiliki sikap tegas terhadap  penistaan agama. Terhadap aliran sesat, Islam memiliki aturan yang adil. Memang ada perintah bersikap ramah namun diperintah pula bersikap tegas. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah merobohkan masjid Dhirar yang dibangun oleh Abu ‘Amir Ar-Rahib.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus bertindak tegas, sebab masjid Dhirar dibangun dengan tujuan untuk menghasut umat Islam, membela kaum kafir dan berefek memecah belah para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.


Peristiwa itu direkam dalam al-Qur’an: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. al-Taubah: 107-108).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin membiarkan penyimpangan itu yang bisa mamantik perpecahan umat Islam. Pertimbangannya dua hal penting; Abu ‘Amir Ar-Rahib berpotensi melakukan penyesatan massal dan memancing permusuhan.


Yahudi bani Quinuqa’ dan bani Nadzir pernah diusir oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah. Gara-garanya, mereka mengkhianati perjanjian. Bahkan, beberapa orang Yahudi dari bani Quraidzah dieksekusi karena ganasnya mereka memusuhi dan mengancam fisik para sahabat. Kecuali wanita dan anak-anak, mereka dilindungi dan diperlakukan dengan lembut (Sirah Ibn Hisyam jilid 3).


Berbuat baik dan bersikap bijak terhadap non-muslim atau  penganut kepercayaan yang berbeda, tidak menghalangi Islam untuk berdakwah. Mereka tetap disebut dakwah Islam, tapi bukan bersifat memaksa. Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan.


Dalam konteks Negara Indonesia, ajaran-ajaran ekstrim Syiah yang melecehkan Shahabat serta gerak dakwah politik Syiah harus jadi catatan pemerintah. Perlu ada penelusuruan lebih dalam lagi. Apalagi terdapat laporan tentang sayap militant Syiah. H. As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU, pernah mengatakan bahwa terdapat jaringan militansi Syiah. Dalam tulisannya berjudul “Gerakan Syiah di Indonesia”, di www.nuonline.com pada 30/5/2011, As’ad berpendapat bahwa terdapat jaringan yang berupaya membuat lembaga bernama Marja’iyyat al-Taqlidi seperti di Iran. Pemicunya adalah, doktrin kemutlakan imamah berdasarkan politik.


Maka dapat disimpulkan bahwa ajaran pelecehan terhadap kesucian agama-lah yang sesungguhnya memicu konflik sosial. Ajaran seperti ini jika dibiarkan memperkeruh keamanan masyarakat, karena penodaan agama hakikatnya melanggar Hak Asasi Manusia. Pelecehan terhadap agama hakikatnya pelecehan terhadap hak manusia. Sebab, hak manusia yang paling asasi adalah hak untuk menjaga agamanya. Jika kesucian agama dihujat, maka telah terjadi pelanggaran hak asasi yang berat. Pelecehan agama bukan domain toleransi lagi, sebab toleransi adalah menghormati tanpa mencaci-maki. Jika konsep toleransi ‘dibumbui’ caci maki Shahabat, maka ini toleransi yang ilusi alias rancu.*


Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/622779/komnas-ham-cuek-soal-tebus-ijazah-anak-bapak-mantap-jual-ginjal


Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Saturday, November 23, 2013

Taqiyah Syiah berlapang dada


  • FATHUL BARI


SYIAH yang ada di Malaysia adalah Syiah Imam 12 yang akidahnya sesat bahkan orang yang beriktikad dengannya boleh terkeluar dari Islam.



Syiah berasal dari agama Yahudi, permusuhan mereka dengan Islam telah cukup lama. Musuh utama mereka adalah sahabat Nabi SAW kerana mereka inilah yang menyebar dan berhempas pulas mempertahankan kesucian Islam, diikuti generasi tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat, yang disimpulkan sebagai Salaf Al-Soleh.



Sebab itu pelbagai tohmahan dilemparkan oleh Syiah terhadap golongan ini. Apabila Islam tersebar luas, musuh bertambah dengki dan sakit hati. Kumpulan orang-orang Yahudi ini berpura-pura masuk Islam, dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ bertujuan merosak pemikiran umat Islam dan menyebar akidah kufur atas nama Islam, supaya orang yang tidak tahu akidah Islam sebenar akan terpedaya.



Mereka mempergunakan Ali bin Abi Talib ra dan keturunannya, mendakwa mencintai Ahlul Bait, memperjuangkan hak Ali dan memuja keturunannya secara berlebihan.



Dalam kitab Syiah, Abdullah bin Saba’ berkata, “Sesungguhnya umat (para sahabat) telah menzalimi Ali bin Abi Talib dan merampas haknya iaitu sebagai khalifah dan imamah.” Abdullah bin Saba’ terus mengajak manusia untuk menolong Ali, dan tidak taat kepada Khalifah Osman bin Affan, dan menarik bai’at dari Osman.



Banyak orang Mesir terpengaruh oleh pemikiran ini lalu membelot dari Osman. (Sejarah Syiah, Raudhatu Al-Safa). Ini mengakibatkan timbul fitnah, rakyat keluar dari ketaatan kepada Khalifah Osman sehingga terjadi pembunuhan khalifah itu.



Kekuatan Islam menjadi lemah, penaklukan negara Islam terhenti, kaum Muslimin berbunuhan sesama sendiri dan kesannya berterusan hingga hari ini di mana umat Islam terus berbalah dan berbunuhan sesama sendiri dan hilang kekuatan menentang kafir.



Kebencian dan dendam terhadap sahabat dan isteri Nabi ditanam dalam pemikiran umat Islam. Mereka juga mempromosikan akidah Yahudi iaitu Imamah yang tidak disebut dalam al-Quran dan hadis sahih.



Ali bin Abi Talib dan ahli bait sendiri berlepas diri daripada mereka dan menghukum mereka dengan hukuman yang keras sewaktu hidup mereka. Namun hakikat ini tidak diketahui oleh kaum Muslimin sehingga muslihat Yahudi ini berjaya mempengaruhi sebahagian besar orang Islam.



Syiah dan kebohongan tidak dapat dipisahkan, bahkan agama Syiah bermula dengan kebohongan. Mereka menamakannya ‘taqiyah’ iaitu memperlihatkan suatu berbeza dari apa yang mereka rahsiakan. Taqiyah (berbohong) ini termasuk sebahagian agama Syiah dan diwajibkan atas mereka.



Sejak sekian lama mereka mengajak umat Islam bersatu dan berlapang dada dengan mereka. Mereka menyeru Ahli Sunnah wal Jamaah supaya dekat dengan mereka. Mereka melakukan usaha taqrib (mendekatkan) antara Sunni dan Syiah. Sedihnya seruan ini disambut oleh sebahagian orang Islam.



Tujuan mereka tidak lain kecuali supaya orang Islam cenderung kepada mereka, meninggalkan akidah dan kepercayaan terhadap ALLAH, RasulNya, isteri-isteri dan para sahabat Nabi yang mulia, lalu mengikuti pemikiran dan kesesatan yang disusun oleh Yahudi ini, na’uzubillah.



Mereka menggunakan slogan yang baik iaitu “bersatu” tetapi yang mereka kehendaki adalah kebatilan. Dalam Islam, bersatu hanya dibolehkan jika pihak yang berselisih kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ini seperti mana firman ALLAH, “Dan sekiranya kamu berselisih terhadap suatu urusan, kembalikanlah kepada ALLAH dan RasulNya (al-Quran dan Sunnah).” (Surah Al-Nisa: 59)



Seruan bersatu bukan suatu yang baharu. Orang kafir Quraisy pada zaman Rasulullah SAW meminta Rasulullah supaya jangan memecahbelahkan umat. Agama yang dibawa oleh Baginda dikatakan agama pemecah belah umat. Namun kebenaran tidak mungkin bersatu dengan kebatilan.



Rasulullah SAW bersabda atas perintah ALLAH, “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati.



Sesungguhnya ALLAH memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya, dan kamu sesekali tidak dapat menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 19-22)

 
*Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia


Article source: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00041870.html


Taqiyah Syiah berlapang dada

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Thursday, December 8, 2016

Angel Karamoy Dikabarkan Mualaf Serta Menikah Dengan Produser GGS, Begini Tanggapan Sang Kakak ?

Angel Karamoy Pindah AgamaAngel Karamoy Pindah Agama>

Swadeka.com â€" Masih ingat dengan rumor yang menyebutkan Angel Karamoy sudah muallaf ? Walau berita ini masih simpang siur, tetapi beberapa fakta lain terkuak seputar mualafnya Angel Karamoy. Kini, mantan istri Steven Rumangkang ini dikabarkan menikah dengan produser Ganteng-Ganteng Serigala, Syaiful Drajat. Wow, berita ini pun lantas mengejutkan banyak pihak.

Namun begitu, kabar ini sebetulnya pernah berhembus beberapa waktu lalu. Terkait kabar ini, manajer yang sekaligus kakak Angel Karamoy, Danny Karamoy angkat bicara. Dirinya mengaku tidak tahu menahu soal kabar tersebut. “Itu kabar dari mana lagi (Angel masuk Islam). Saya nggak tahu apa apa,” ujar Danny pada 3 Agustus lalu, seperti dilansir Suara.com.

Danny menambahkan, sebagai manajer dirinya hanya mengurusi jadwal kegiatan artisnya. Sementara itu untuk urusan pribadi, Danny menuturkan dirinya tak ikut campur.

“Dia sudah di atas 17 tahun. Sebagai kakak, saya hanya bisa kasih tahu apa yang bagus dan tidak. Keputusannya nanti seperti apa, itu hasil dia sendiri,” tandasnya. Malahan, beberapa waktuyang lalu tepatnya Agustus. Angel Karamoy sempat menuliskan status. Kegalauan sahabat Angel ini langsung dikomentari para netizen. Mereka masih penasaran apakah Angel akan benar-benar pindah agama.

“Susah klo udah urusan hati sama Tuhan, semoga keputusan dia yg terbaik.. kadang gw suka gimana gt sama yg pindah agama, gw Muslim, tapi klo liat ada yg muallaf kadang suka mikir gt, apa yg dirasain dihatinya??.. ada perang batin ga ya??.. dari lahir Kristen,dan keliatan bgt klo di infotainment umat Kristen yg kuat..yaahh semoga ini yg terbaik deh mbak Angel,” kata netizen.

“Ini no offense ya. tapi kalo gue misalnya punya sahabat seiman sm gue, kita berdoa dan menguatkan sama2, lalu dia memutuskan untuk beralih, walau itu hak masing2 indvidu, gue sih sedih. apalagi kalo dr post ini kayanya segitu dekatnya mereka kek sodara. apalagi your preference decides your attitude, dan attitudenya jd beda (dr postnya kan condong ke sana), kecewa lah. gue setuju, itu hak masing2. gue inget bgt dulu pernah baca media kristiani si mbak cantik ini blg dia itu selalu berusaha jd terang dan garam (like, an inspiration of christ) di antara teman2 artisnya. trs dia begini skg. gue jd bertanya, trs point artikel itu apa skg?” kata followers lainnya.

loading...

"

| Angel | Karamoy | Dikabarkan | Mualaf | Serta | Menikah | Dengan | Produser | GGS, | Begini | Tanggapan | Sang | Kakak | div> Swadeka | com< | strong> | Masih | ingat | dengan | rumor | yang | menyebutkan | Karamoy< | span> | muallaf | Walau | berita | masih | simpang | siur | beberapa | fakta | lain | terkuak | seputar | mualafnya | Kini | mantan | istri | Steven | Rumangkang | dikabarkan | menikah | produser | Ganteng | Serigala | Syaiful | Drajat | lantas | mengejutkan | banyak | pihak | p> Namun | begitu | kabar | sebetulnya | pernah | berhembus | waktu | Terkait | manajer | sekaligus | kakak | Danny | angkat | bicara | Dirinya | mengaku | tahu | menahu | soal | tersebut | “Itu | mana | lagi | (Angel | masuk | Islam) | Saya | nggak | ujar | pada | Agustus | seperti | dilansir | Suara | p> Danny | menambahkan | sebagai | dirinya | hanya | mengurusi | jadwal | kegiatan | artisnya | Sementara | untuk | urusan | pribadi | menuturkan | ikut | campur | p> “Dia | atas | tahun | Sebagai | saya | kasih | bagus | Keputusannya | nanti | hasil | sendiri | tandasnya | Malahan | waktuyang | tepatnya | sempat | menuliskan | status |  Kegalauan | sahabat | langsung | dikomentari | para | netizen | Mereka | penasaran | apakah | benar | pindah | agama | p> “Susah | udah | hati | sama | Tuhan | semoga | keputusan | terbaik | kadang | suka | gimana | Muslim | liat | mikir | dirasain | dihatinya | perang | batin | lahir | Kristen | keliatan | infotainment | umat | kuat | yaahh | mbak | kata | p> “Ini | offense | kalo | misalnya | punya | seiman | berdoa | menguatkan | sama2 | memutuskan | beralih | walau | masing2 | indvidu | sedih | apalagi | post | kayanya | segitu | dekatnya | sodara | your | preference | decides | attitude | attitudenya | beda | postnya | condong | sana) | kecewa | setuju | inget | dulu | baca | media | kristiani | cantik | berusaha | terang | garam | (like | inspiration | christ) | antara | teman2 | begini | bertanya | point | artikel | followers | lainnya | p> loading | p> < | div> |

Thank U Very Much for Read this Blog