Showing posts sorted by relevance for query seorang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query seorang. Sort by date Show all posts

Monday, July 8, 2013

Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa

Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa


Liputan6.com, London : Bagi para pesepakbola muslim, bulan Ramadan akan menjadi tantangan tersendiri. Selain, terkadang akan menimbulkan pertentangan dengan manajer klub atau pelatih, yang tak ingin performa pemainnya terganggu, bulan puasa juga terkadang membuat penampilannya menurun.

Beberapa pemain bersikeras untuk tetap berpuasa setiap harinya. Ini merupakan bagian dari keyakinan mereka untuk menjalankan perintah agama. Beberapa di antaranya mungkin berpuasa selama latihan, tapi tidak saat pertandingan. Klub-klub cenderung mengatasi hal ini dengan kompromi, tapi hal ini bukanlah masalah yang mudah bagi para pemain dan manajer.


Berikut daftar pemain bintang sepakbola top dunia yang memeluk agama Islam. Mereka juga menjalankan puasa ditengah ketatnya kompetisi yang berada di Eropa, berikut lima diantaranya seperti yang dikutip dari berbagai sumber, Selasa (9/7/13).


1. Robin van Persie


Siapa yang tidak mengenali pemain satu ini. Pemain mualaf dari Belanda ini adalah sosok pemain yang luar biasa dan patut dibanggakan oleh umat muslim. Banyak beredar isu yang menyebutkan bahwa meskipun ia menikahi seorang muslimah, ia tidak masuk Islam.


Akan tetapi, saat dia diwawancarai oleh media Inggris, ia berkata “Itu tidak benar. Saya bukan seorang Muslim, bukan pula seorang Kristen, dan bukan juga seorang Yahudi. Jika Anda ingin menjadi seorang Muslim, itu harus datang dari hati,” dilansir laman robinvanpersienews.blogspot.


Oleh karena itu, mungkin sampai saat ini dirinya belum siap untuk sepenuhnya masuk Islam. Ia tak ingin masuk Islam hanya karena menikahi seorang muslimah.


Meski begitu, banyak orang yang menilai perkataan itu hanyalah sekedar menutup-nutupi bahwa dirinya sebenarnya memang mualaf. Semenjak dia memeluk agama Islam, pemain Manchester United itu dikabarkan rutin menjalankan puasa walaupun ketatnya kompetisi Liga Premier Inggris.


2. Eric Abidal


Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Abidal. Pasalnya, dia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat Barcelona dan timnas Prancis. Apalagi dia suka membaca Al Quran sebelum bertanding.


Di setiap sesi latihan klub sepakbola Barcelona, Abidal sering terlihat membawa tas kecil, mungkin banyak yang mengira isi tasnya sama seperti teman teman di klubnya barcelona jika latihan bola yaitu sepatu dan perlengkapannya yang menunjang untuk latihan.


Sebenarnya yang pemain AS Monaco itu membawa Al Quaran yang selalu dia baca sebelum ataupun setelah pertandingan berlangsung. Selain, itu ketika masih berseragam Barcelona Abidal juga berpuasa walaupun sempat ditentang oleh pelatih The Blaugrana saat itu, Pep Guardiola akan tetapi Abidal tetapi melanjutkan ibadahnya itu.


3. Nicolas Anelka


Di kehidupan pribadi, Anelka menikah dengan seorang perempuan berkebangsaan Belgia, Barbara Tausia, pada 9 Juni 2007 di Marrakesh, Maroko.


Pernikahannya dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang koreografer ini tidak membuat Anelka memilih meninggalkan keyakinan barunya tersebut yakni Islam. Bahkan, Anelka berencana untuk tinggal di Uni Emirates Arab setelah pensiun nanti.


Sebagai seorang pemain sepak bola profesional dan penganut Islam yang taat, kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan tidak membuat Anelka kesulitan untuk tetap menjalankan aktivitasnya di lapangan hijau. Seperti kebanyakan pemain sepak bola Muslim lainnya di Liga Inggris, Anelka berusaha tetap menjalankan ibadah puasa.


Dalam sebuah wawancara dengan majalah FourFourTwo pada beberapa waktu lalu, peraih Golden Boot Premiership musim kompetisi 2008/2009 ini mengungkapkan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, ia wajib menghormati bulan Ramadhan dengan menjalankan kewajiban puasa.


”Sebetulnya puasa bukan suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Saya pernah melakukannya beberapa kali. Namun, dalam beberapa kali Ramadhan saya mengalami dua atau tiga cedera. Sehingga, hal itu membuat saya tidak bisa berpuasa,” ujar penyerang West Bromwich Albion.


4. Frank Ribery


Mualaf setelah menikahi seorang gadis Perancis keturunan Maroko. Memiliki nama Islam yaitu Frank Bilal Ribery. Menurutnya Islam membawanya pada keselamatan. Islam yang menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. Di saat ia mengalami masa-masa sulit dalam karirnya, Islam datang memberikan kedamaian.


“Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan. Hingga kemudian saya menemukan Islam.” Begitulah Ribery memahami Islam.


5. Frederic Kanoute


Jika banyak pemain yang memilih untuk tidak berpuasa saat Ramadan, tidak begitu dengan Freddie Kanoute. Pemain yang lama membela klub La Liga, Sevilla, itu mengaku sebisa mungkin menjalankan kewajibannya tersebut.


“Saya coba menghormati kepercayaanku dan mengikutinya sebaik mungkin. Secara personal, kepercayaan saya membuat badan dan permainan saya sehat. Saya tahu kalau berpuasa menambah kekuatan dan tidak melemahkan seorang Muslim,” ujar Kanoute yang dikutip oleh BBC pada beberapa waktu lalu.


Ia juga mengungkapkan banyak pesepakbola tidak mau ditanya soal kewajibannya menjalankan ibadah puasa karena merasa itu adalah kepercayaan antara dirinya dengan sang pencipta. ()


Baca juga:
* Thiago Pergi ke MU, Barca Incar Pemain Ajax Amsterdam
* Pemain Berdarah Indonesia Segera jadi Milik Inter Milan
* Dua Pemain yang Bakal Dijual Inter Milan
* Tiga Skenario Transfer Chelsea
* Messi Jadi Tamu Kehormatan Pesta Mewah Ronaldo


Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3573


Lima Bintang Sepakbola yang Tetap Bermain Walau Berpuasa

Sunday, July 28, 2013

Namanya Jastin Bibiaq

JASMANIZAM Basri. Kalau dicetak nama ini pada sebahagian judul berita utama pasti tidak ramai pembaca akan segera merengkuh helaian akhbar ke bola mata. Juga mustahil membuatkan para penonton berita perdana jam 8.00 malam untuk berterusan mengangkat kelopak mata agar tidak berkelip atas sebab cakna dengan jejaka berumur 30-an ini.


Namun keadaan berbeza sejurus Jastin Bibiaq diangkat menjadi nama komersialnya. Jasmanizam Basri kini bukan lagi nama asing dalam gelanggang hiburan tanah air. Nama mirip seorang penyanyi remaja Amerika Syarikat ini berpasak teguh di laman hati peminat muzik tempatan.


Fenomena Jastin Bibiaq (atau akronimnya JB) telah melanda seantero negara dengan begitu dahsyat. Sudah sebelas minggu, tepatnya. Seiring dengan jangka masa berlangsungnya program realiti televisyen berkonsepkan nyanyian yang memperkenalkan Jastin Bibiaq sebagai salah seorang peserta.


Di laman web carian internet tempatan, sebaik huruf J ditekan berbelas-belas cadangan carian berkaitan Jastin Bibiaq tersenarai secara automatik. Halaman-halaman media sosial yang menawarkan tempat untuk para peminat berkomunikasi juga menjelata muncul. Remaja lelaki pula tergila-gila mahu mengikuti fesyen rambut ‘sikat tepi’ JB yang kemas, meskipun suatu ketika fesyen sebegini dianggap tidak selari dengan gaya hidup kontemporari.


“Abang Jas, bersedia ya. Giliran abang tak lama lagi.” Seorang petugas yang sedang mundar-mandir berhenti mengejut di hadapan Jastin sebelum berlalu pergi. Jastin hanya terkerising.


Jastin menundukkan pandangan ke lantai. Jubah kemurungan menyerkup semula tampang senyum yang dibuat-buatnya sebentar tadi. Sejak kemasukannya ke rancangan ini sebelas minggu lalu, mainan perasaan sentiasa mengapung berat di atmosfera hatinya.


“Tugas kau adalah seorang guru sekolah agama. Bukankah menceburi bidang muzik mencemar nama baik sekolah?” Suara pengetua tempat dia mengisi cangkir rezeki bertandang kembali. Entah kali yang keberapa. Semenjak dia terpilih menjadi 12 peserta rancangan realiti TV tersohor negara, suara tuan pengetua bagai bisikan kekasih yang menemaninya setiap detik. Tidak pernah lekang bait-bait perbualan (atau perdebatan) itu daripada lohong pendengarannya.


“Bidang muzik juga memerlukan orang beragama untuk membetulkan apa jua kesalahan. Jika dibiarkan bidang ini dipelopori oleh orang biasa, sampai bila kemungkaran di dalamnya akan dapat diselesaikan?” Jasmanizam tidak berniat melebarkan hujah. Cukup satu dua ayat yang ringkas tetapi sarat dengan makna.


“Menggadaikan maruah untuk menjadi tumpuan masyarakat. Dikelilingi gosip liar dengan puluhan wanita. Tak perlu mencari masalah baru, Jas. Masalah disiplin dan prestasi merudum akademik pelajar di sini masih tak menang tangan kita nak urus.” Tuan pengetua kekal dengan pendiriannya. Jasmanizam tetap tidak boleh dilepaskan pergi untuk menyertai rancangan realiti TV terkemuka itu.


Bukan soal bakat atau kemampuan, tapi soal maruah. Tuan pengetua punya rangkaian hujah tersendiri.


“Bukankah Islam ada garis panduan tersendiri dalam hiburan? Berapa ramai manusia mendapat hidayah dengan mendengar lagu-lagu ketuhanan daripada penyanyi-penyanyi beragama Islam? Bukankah ini peluang untuk menjadikan agama kita disebarkan dengan lebih meluas, bukan sekadar kepada pelajar-pelajar di sekolah kita malah kepada masyarakat umum yang selama ini tidak pernah sedikit pun terdedah dengan keindahan ajaran Islam yang sebenar.”


Gemuruh tepukan penonton memancang khayalan Jastin di tanah realiti. Tidak sempat untuk dia menyelongkar almari ingatan, menjejak kembali hujah balas tuan pengetua untuk kenyataan dan soalan retoriknya yang panjang lebar. Kini tiba giliran peserta ketiga, Idayu Herman melangkah ke pentas utama. Sebagai gelanggang akhir, peserta harus menyanyikan dua buah lagu. Satu lagu baru ciptaan komposer mapan tempatan manakala satu lagi mana-mana lagu sedia ada yang bersesuaian.


Jeritan penonton menggegarkan bumbung stadium tertutup berkapasiti 23 ribu orang di ibu kota ini. Namun tidak sekuat gegaran yang kerap melanda jantung Jastin semenjak menandatangani surat pengesahan untuk menyertai rancangan ini.


“Apakah ini jalan terbaik untukku menegakkan agamaMu?” Acap kali pertanyaan seumpama ini berlegar sekitar perdu rasional di akalnya. Dia mengerti, perjuangan dengan kaedah populariti ini bukan sesuatu yang mudah. Bila-bila masa sahaja, sifat ujub mampu menendangnya keluar dari landasan keredaan Ilahi.


“Atau aku tersilap membuat perhitungan, ya Allah?” Ombak perasaan Jastin terus membusa ganas.


Dakwah


“Cubalah, Jas!”


Jasmanizam sekadar menghadiahkan senyuman. Buku nota pelajar lebih menggamit perhatiannya berbanding manusia berkumis tipis bernama Zamri.


“Bukan kena bayar, lagipun mudah pelajar kau nak berhubung sewaktu cuti sekolah.”


Jasmanizam membisu jua.


“Di Malaysia sekarang tak ada akaun Facebook macam tak ada surat beranak, kau tahu!” Zamri berlelucon dalam usaha meyakinkan Jasmanizam akan pentingnya media sosial darsawarsa ini. Dia akur rakan sekolahnya itu sememangnya ketinggalan dalam soal teknologi terkini.


“Dakwah kau pun akan berkembang dengan lebih hebat, kau tahu?”


Jasmanizam mengangkat kening. Mata dikalih daripada buku-buku nota pelajar di atas meja bilik guru ke arah Zamri yang sedang tersengih-sengih. “Dakwah yang bagaimana pula tu?”


Zamri mengeluarkan telefon berteknologi kanta sentuh sebesar telapak tangan daripada saku seluar. Disentuh pada ikon biru sederhana gelap bertulis ‘Facebook’, langsung cekatan jarinya menari-nari di atas skrin bagi menaip aksara di ruangan ‘carian’. Tak sampai beberapa saat, satu halaman dipenuhi himpunan kata-kata hikmah dan potongan ayat Al-Quran beserta ulasan ulama-ulama terkenal memenuhi segenap skrin telefon.


“Hebat betul!”


“Sambil-sambil mengajar di sekolah, tak salah pun kau menerokai teknik dakwah menerusi media sosial. Kaedah ini lebih berkesan untuk mendekati jiwa anak-anak muda.”


Kenyataan Zamri memadai untuk semangat Jasmanizam mengejuju naik ke angkasa. Dia tidak pernah tahu-menahu akan kehebatan Facebook sebagai medium komunikasi serba canggih untuk tujuan menyampaikan ilmu. Profil milik sendiri kemudiannya dicipta dengan bantuan Zamri.


“Hasil tunjuk ajarku tidak lagi semata-mata di darjah. Alhamdulilah.” Dia berbisik penuh suka. Platform penyampaiannya kini bercambah.


Namun kesukaan itu tidak sampai ke mana. Setelah menulis satu ulasan mengenai kelebihan solat berjemaah, hanya satu ‘suka’ dan tiada komen dipunyai tulisan itu – menandakan bilangan pengguna Facebook yang menerima penyampaiannya terlalu sedikit.


“Kau harus ramai followers terlebih dahulu.” Zamri menerangkan faktor penyampaian Jasmanizam kurang mendapat sambutan. Jasmanizam mengerti setelah menyemak senarai rakan maya yang hanya seramai 15 orang.


Jangan asyik leka di Facebook sampai lupa bersolat, rakan-rakanku!


Satu tulisan yang dikongsi salah seorang rakan maya terpampang di muka hadapan. Dia kenal penulis coretan ringkas itu, seorang pendakwah terkemuka yang sering muncul dalam rancangan motivasi pagi di saluran televisyen swasta. Butang kiri tetikus ditekan sejurus anak panah berada tepat di atas tajuk tulisan tersebut.


“Hampir sepuluh ribu ‘suka’ dan beratus-ratus kali dikongsi? Wah benar-benar mengujakan! Mudah dan berkesan pula tu.” Jasmanizam kagum. Betapa tulisan sembilan patah perkataan itu mampu mengirimkan peringatan kepada ribuan manusia yang sedang ralit menerokai halaman Facebook.


Kau harus menjadi popular. Demi menaikkan martabat agama dan menyampaikan ajaran yang kau punyai.


Entah macam mana idea ini melintas di persimpangan hati. Mengarut, tak masuk akal dan keanak-anakan. Usah bermimpi menjadi popular kalau sekadar menjadi guru di sekolah agama ceruk buana. Jasmanizam mentertawakan diri sendiri.


“Abang Jas, lagu Always Be There atau Aku Seorang Pendosa dahulu akan dipersembahkan? Maaf saya mahu memastikan buat kali kedua.” Petugas sama menegur kalut Jastin sekali lagi. Jastin terpinga-pinga sejurus tersedar daripada jelajah minda. Setelah jawapan diberikan, petugas itu dengan lekas menghubungi rakan petugas lain menggunakan alat walkie-talkie lalu beredar pergi.


Tatkala peserta lain berkumpul di bilik persediaan untuk raptai terakhir, Jastin memilih untuk bersendirian di satu sudut belakang pentas. Dia perlu bertafakur sejenak, memikir kembali hala tuju asalnya bertukar profesion daripada seorang guru di sekolah agama kepada seorang penyanyi.


“Sudah menjadi popular nanti tentunya ajaran agama entah ke mana. Resmi orang hebat, naik ke langit terus lupa bumi, lupa Maha Pencipta!”


“Agaknya bosan mengajar di kampung begini. Memanglah, gaji sedikit. Siapa tak tertarik dengan wang lumayan dan populariti?”


Kata-kata teman pengajar di sekolah umpama das-das tembakan padu daripada pistol mesin yang bertubi-tubi menembusi hatinya. Ah, kalian tak akan pernah faham apa kepentingan untuk menjadi popular dalam menyampaikan idea-idea! Jastin menggeleng-geleng pantas.


Segala-galanya bermula dengan uji bakat program realiti TV yang dihebahkan kepadanya oleh Zamri. Zamri kenal Jastin, bekas johan nasyid kebangsaan yang punya suara lunak dengan kebolehan mengawal pitching nan menakjubkan.


“Ini peluang keemasan untuk kau menjadi ikon masyarakat dengan cara kau tersendiri! Aku pasti dengan keazaman dan ilmumu, kau bakal menjadi seorang artis yang cukup berbeza. Kau bakal mengubah persepsi peminat-peminat hiburan, terutamanya anak muda.” Jastin merasakan Zamri seakan-akan sedang mencacang di hadapannya sekarang.


Jastin sememangnya punya perbezaan ketara dengan peserta lain. Dia meletakkan syarat untuk tiada penari wanita bersamanya di atas pentas. Lagu-lagu yang dipersembahkan juga disaring dengan teliti terlebih dahulu. Walaupun pada awalnya perseteruan dengan penganjur timbul, namun akibat fenomena JB telah menjuak status rancangan realiti TV itu ke tahap tertinggi, pihak penganjur terpaksa akur dengan kemahuan Jastin.


“Hanya Kau yang mengetahui pucuk pangkal perjuanganku, ya Rabb!”


Populariti


Lagu suspen dimainkan orkestra. Bila-bila masa sahaja nama pemenang rancangan realiti TV nyanyian nombor satu Malaysia itu akan sampai ke telinga para hadirin di stadium dan berjuta-juta peminat yang menanti di hadapan skrin televisyen.


“Tak lain tak bukan, Jastin Bibiaq!” Serentak pengacara lelaki berambut emas dan gandingannya, seorang pengacara wanita muda remaja menjerit. Reben dan belon beraneka warna menghujani pentas.


“Kita jemput Jastin ke hadapan untuk menerima trofi dan memberikan sepatah dua kata. Dengan segala hormat dipersilakan!”


Jastin maju ke hadapan perlahan-lahan. Jutaan anak mata kini tertumpu kepadanya. Teriakan penonton melantun-lantun di segenap penjuru. Atma Jastin tenang, tidak dirasakan satu kemegahan sekumin pun dengan sorakan penonton. Dia benar-benar takut dengan kemunculan rasa riak dalam keadaan disanjung sedemikian rupa.


“Inilah waktunya!” Jastin bermonolog sambil menyambut mikrofon tanpa wayar yang dihulurkan pengacara berambut emas.


“Gunakan populariti kurniaan Allah sebaiknya!” Dia terhimbau pesanan ringkas Zamri.


Jastin menghela nafas dengan gontai. Aku menjadi tumpuan seluruh masyarakat pada saat ini. Inilah masanya! Jangan bazirkan peluang! Sukma Jastin membentak kasar meski air muka tetap kelihatan selamba.


Jastin berdehem beberapa kali. “Bersyukur ke hadrat Ilahi atas kurniaan ini. Saya ucapkan terima kasih atas sokongan para peminat.”


Tepukan bergemuruh lagi. Tiada apa mengujakan melainkan ucapan tipikal seorang artis yang memenangi anugerah.


“Saya mengambil kesempatan ini untuk mengajak para peminat saya yang beragama Islam untuk mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuhnya. Janganlah asyik kita dilalaikan dengan hiburan sehingga lupa tujuan asal kita diciptakan di muka bumi ini. Ingatlah, kematian itu pasti akan mengunjungi setiap seorang daripada kita, sama ada yang senang menonton rancangan ini atau pun tidak.” Jastin memadatkan sebaik mungkin butiran penyampaian kepada sekalian penonton.


Suasana stadium tertutup kemegahan negara itu khali. Mulut penonton sama ada di stadium atau di hadapan kaca TV masing-masing terpelahang dengan apa yang didengari.


“Semoga kita terus beramal dengan al-Quran dan sunnah Rasullah. Terima kasih penganjur memberikan peluang untuk saya sampai ke sini. Sekarang saya harus kembali ke kerjaya asal saya sebagai seorang guru sekolah.” Jastin meletakkan mikrofon di atas lantai dan menonong keluar menerusi pintu kecemasan. Penonton keliru mahu menunjukkan reaksi yang bagaimana. Masing-masing terpempan dengan teguran ikon baru muzik tanah air itu.


Jastin menggalas beg lembik berisi pakaian lalu bergerak meninggalkan hotel mewah tempat dia menginap sekian lama. Kontrak sebagai peserta rancangan realiti TV tersohor itu kini tamat. Langsung dia mengungsi tubuh ke stesen bas ekspress di tengah ibu kota.


Jastin berhenti sebentar di kafe siber berhampiran stesen bas sejurus selesai membeli tiket pulang ke utara semenanjung. Halaman Facebook miliknya yang lama tidak disemak menjadi arah tuju. Lebih dua ratus mesej peribadi menanti untuk dibaca di pautan inbox. Satu per satu dibacanya dengan lekas:


Terima kasih Abang Jas, benar-benar membuka mata saya untuk berusaha mencari hidayah Allah – Jack Drummer, Seremban


Kami sekumpulan ingin berguru dengan abang. Kagum dengan lagu ciptaan abang, Aku Seorang Pendosa. Liriknya benar-benar menyentuh perasaan – Rockers Mandin, Butterworth


“Alhamdulilah, Kau telah beriku peluang untuk manfaatkan bakat kurniaanMu.” Jasmanizam memanjat rasa syukur.


Teriakan konduktor bas memanggil penumpang kedengaran jelas. Jastin harus segera pergi meskipun masih ratusan mesej peribadi belum sempat dibacanya.


Tugas sebagai seorang Jastin Bibiaq telah berakhir. Dia bakal kembali ke kehidupan asal. Bukan lagi sebagai Jastin Bibiaq tetapi Jasmanizam Basri, seorang guru sekolah agama.



Article source: http://www.tribunnews.com/2013/07/11/artis-mualaf-ini-kerap-ditegur-terlambat-salat-jumat


Namanya Jastin Bibiaq

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Thursday, May 9, 2013

Asia Terancam Teroris Mancanegara

TEHERAN – Ketua Majelis (Parlemen) Iran Ali Larijani mengingatkan, Asia kini menghadapi teroris asal mancanegara. Saat berpidato dalam penutupan sidang Dialog Kerja Sama Asia (ACD), Rabu, Larijani mengatakan bahwa gejala terorisme dan ekstremisme di kawasan itu didukung AS dan jaringan mata-mata Barat, yang bertekad mengganggu perdamaian dan keamanan di Asia. “Pada abad terakhir, India, China, Jepang dan Iran menjadi kekuatan berpengaruh di dunia dan semua berada di benua Asia,” katanya. Meskipun menyebabkan masalah untuk Asia, pelatihan kelompok teroris oleh Barat dinilainya akan lebih berbahaya.



Diserang, Napi Pakistan Tewas


AMRITSAR – Seorang narapidana (napi) Pakistan yang diserang di penjara India akhirnya meninggal di rumah sakit, Kamis, setelah mengalami cedera dalam saling-balas serangan pekan lalu. Sanaullah Ranjay menderita cedera kepala parah di satu penjara di kota utara Jammu, dalam serangan tak lama setelah kematian seorang tahanan India, Sarabjit Singh, yang diserang di penjara Pakistan. Ranjay, seorang pembunuh dari kota Pakistan Sialkot, diserang oleh seorang tahanan diidentifikasi sebagai mantan tentara angkatan darat India hanya 24 jam setelah kematian Singh di penjara Lahore. Insiden ini bisa menyulut ketegangan baru antara India dan Pakistan. Sekitar 535 tahanan India, termasuk 483 nelayan, berada di penjara-penjara Pakistan, sementara 272 tahanan Pakistan berada di penjara-penjara di India.




Yordania Usir Duta Besar Israel


AMMAN – Parlemen Yordania setuju untuk mengusir duta besar Israel. Pengusiran itu merupakan balasan atas agresi Israel ke Masjid Al-Aqsa di Kota Yerusalem akhir-akhir ini. Kondisi di area masjid Al Aqsa saat ini memang sedang panas. Sekelompok ekstrimis Yahudi tiba-tiba menyerang masjid Al-Aqsa Selasa (7/5). Warga Palestina pun segera melindungi masjid yang dianggap suci oleh umat Islam itu. Mereka membangun blokade untuk melindungi area masjid Al-Aqsa. Yordania sebenarnya memiliki hubungan baik dengan Israel. Negara itu merupakan salah satu dari segelintir Negara Arab yang memiliki perjanjian damai dengan Israel.




PM Australia Ditimpuk Roti


BRISBANE – Sandwich atau roti isi berisi Vegemite dilempar oleh seorang pelajar ke arah PM Australia Julia Gillard yang sedang mengunjungi sebuah sekolah di dekat Brisbane. Untungnya, sandwich itu tidak mendarat di wajah Gillard. Keramaian menyambut Gillard yang baru saja sampai di sekolah tersebut, banyak pelajar menyambut Gillard dengan sorak sorai dan foto bersama. Meski demikian, sejumlah pelajar terlihat mencemoohnya dan salah seorang diantara mereka melempar sandwich ke arahnya. Gillard justru terlihat santai dan bergurau mengenai insiden pelemparan itu. Gillard tidak memandang pelemparan sandwich itu sebagai tindakan protes atau penghinaan terhadap dirinya.




Beranak 7, Sutradara China Didenda


BEIJING – Pemerintah China tengah menyelidiki laporan bahwa sutradara ternama Zhang Yimou melanggar aturan keluarga berencana di negara tersebut dengan memiliki 7 anak, sehingga terancam denda sebanyak 160 juta yuan (26,05 juta dolar AS). China punya kebijakan 1 anak. Zhang mengundang decak kagum dunia dengan kemegahan pembukaan Olimpiade di Beijing yang ditanganinya pada 2008. Belum jelas dimana anak-anak Zhang dilahirkan, namun Komisi Populasi dan Keluarga Berencana Provinsi Jiangsu masih melakukan investigasi. Zhang (61) dikenal sebagai anak nakal di kalangan perfilman China karena beberapa filmnya pernah dilarang beredar di dalam negeri meski cukup tenar di luar negeri.




Biarawati Menyusup Reaktor Nuklir


TENNESSEE – Seorang biarawati ditahan petugas setelah menyusup masuk ke dalam reaktor nuklir di Negara Bagian Tennesse, AS. Dia pun terancam menerima hukuman 20 tahun penjara. Megan Rice melakukan aksinya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan nuklir AS. Menurutnya, nuklir hanya akan membawa kematian. Perempuan berusia 83 tahun itu menyusup ke dalam reaktor nuklir bersama 2 rekannya. Mereka menerobos pagar lalu mencoret-coret tembok bangunan reaktor dengan pesan anti-nuklir. Aksi Rice membuat malu Pemerintah AS. Mereka tidak menyangka reaktor nuklir yang harusnya dijaga ketat dapat disusupi dengan mudah oleh seorang lansia. Beberapa pejabat keamanan dimutasi akibat insiden ini dan perusahaan yang menjaga reaktor nuklir itu juga diputus kontraknya.




Meninggal Tersedak Hot-Dog


CHICAGO – Seorang guru yang berusia 28 tahun, Maureen Oleskewics, menghembuskan napas terakhir setelah ia tersedak hot dog saat menyaksikan pertandingan tim baseball Chicago Cubs di Wirgley Field, Chicago, dan jantungnya berhenti berdenyut secara mendadak. Maureeen tiba-tiba tersedak dan jatuh di antara barisan bangku stadion. Sang adik, Martin, mulanya mengira kakak perempuannya bercanda. Namun saat lagu nasional dikumandangkan, beberapa petugas tampak melakukan pernapasan buatan pada kakaknya. (AP/Ant/Adi)



Article source: http://internasional.kompas.com/read/xml/2013/05/08/08335887/Militan.Boko.Haram.Serang.Kota..55.Orang.Tewas


Asia Terancam Teroris Mancanegara

Thursday, December 8, 2016

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank So Much for Read this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank You So Much for Reading this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank Very Very Much for Visit this Article

Friday, December 9, 2016

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank You Very Much for Reading this Article

Tuesday, October 15, 2013

Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat.  Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.


Namun, Allah SWT memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.


‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.


Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


                                                                            
                                                                     ***


Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.


Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.


‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.


Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”


Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.


Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.


 ”Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”


Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.


                                                                     ***


Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.


“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.


Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.


Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.


Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.


Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.


                                                                    
                                                                       ***


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.


Sepulang dari  Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.


Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.


“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat  berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.


Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.


“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.


                                                                         ***


Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.


“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”


Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”


Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.


Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.


“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”
 
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.


“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”


Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”


Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.


“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”


Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”


Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.


Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/06/06/078486229/Konvensi-Demokrat-Terbuka-untuk-Anas-Urbaningrum


Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

Monday, May 13, 2013

Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

SETERUSNYA penulis akan mengemukakan kisah berkaitan dengan Zulkarnain. Cerita ini merupakan kisah keempat yang terdapat dalam al-Quran. Ia mengisahkan tentang orang kafir Mekah menghantar utusannya kepada ahli Kitab untuk meminta apa yang hendak diujikan terhadap Nabi SAW.


Ahli Kitab berkata: Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang berjaya mengelilingi dunia, tentang pemuda yang tidak diketahui apa yang mereka kerjakan dan tentang roh. Maka surah al-Kahfi diturunkan. Sebelum mentafsirkan ayat tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu, siapa Zulkarnain, siapa Yakjuj dan Makjuj dan di mana empangan Zulkarnain.


Pada ayat ke-83, Ibnu Kathir berkata: Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahawa orang kafir Mekah pernah mengirim utusan kepada ahli Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi SAW.


Kemudian para ahli Kitab itu berkata: Tanyalah kepadanya tentang orang yang di sekeliling muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda dan juga tentang roh. Maka turunlah surah al-Kahfi.


Diberi nama Zulkarnain kerana dia adalah seorang raja Rom dan Parsi. Sebahagian orang menyebutkan bahawa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan diberi nama Zulkarnain kerana dia sudah berhasil mencapai belahan Timur dan Barat iaitu tempat matahari terbit dan terbenam.


Al-Maraghi berkata: Orang Quraisy yang berguru dengan orang Yahudi, mengajukan pertanyaan kepada (Nabi Muhammad SAW) dengan tujuan menguji Baginda.


Katakanlah kepada orang yang keras kepala itu: Aku akan menceritakan kepada kamu cerita yang lengkap lagi menyeluruh seperti yang kamu minta dan cerita ini telah diberitahu kepadaku oleh Tuhanku.


Sayid Qutub berkata: Allah SWT telah mengurniakan kepadanya kedudukan yang teguh dan kekuasaan yang kukuh. Allah SWT telah memberikan jalan-jalan untuk memerintah dan menakluk, jalan-jalan pembangunan dan kemakmuran, jalan-jalan kekuasaan dan kesenangan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mengukuhkan kedudukan mereka dalam kehidupan ini.


Pada ayat ke-84, Ibnu Kathir berkata: Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakupi segala sesuatu yang diberikan kepada para raja iaitu berupa bala tentera, peralatan perang dan beberapa benteng.


Oleh itu, dia dapat menguasai bumi belahan Timur dan Barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya bahkan pelbagai raja di dunia pun turut tunduk kepadanya dan semua orang Arab dan bukan Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.


Ayat ini telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Ilmu pengetahuan. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, al-Suddi, Qatadah dan lain-lain.


l Iaitu tempat tinggal di bumi dan berbagai-bagai panjinya. Inilah pendapat Qatadah.


l Iaitu pengajaran bahasa-bahasa. Ia tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka. Inilah pendapat Abdul Rahman bin Aslam.


Al-Maraghi berkata: Allah SWT memberi kekuasaan kepada Zulkarnain melakukan mengikut kehendaknya, sehingga beliau berjaya menguasai seluruh dunia dan mengalahkan seluruh kerajaannya. Allah mengurniakan ilmu, kemampuan dan kelengkapan tentera bagi menjayakan segala hasrat yang hendak dilakukannya.”


Sayid Qutub berkata: Muhammad Ibnu Ishaq telah menyebut sebab turunnya surah ini katanya `aku telah diceritakan oleh seorang guru daripada penduduk negeri Mesir. Dia datang ke tempat kami kira-kira 40 tahun lebih yang lalu dari Ikrimah, daripada Ibnu Abbas katanya kaum Quraisy telah mengirim al-Nadhr Ibnu Harith dan Aqabah Ibnu Abu Mu`ayt kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah dan berkata tanyalah kepada pendeta-pendeta itu tenteng Muhammad SAW, terangkan sifatnya kepada mereka dan ceritakan apa yang telah dikatakan olehnya kerana mereka adalah kaum ahli Kitab yang pertama.”


Mereka mempunyai ilmu tentang para Anbiya yang tidak ada pada kita. Lalu kedua utusan itu pergi ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tenteng Rasulullah SAW. Kedua-duanya menceritakan kepada mereka tentang beliau dan sebahagian daripada apa yang telah dikatakan olehnya sambil berkata: Tuan-tuan adalah pakar-pakar kitab al-Taurat dan tujuan kami datang menemui tuan-tuan ialah supaya tuan-tuan boleh menjelaskan kepada kami tentang teman kami ini (Muhammad).


Kata Rawi, pendeta-pendeta itupun berkata: Tanyalah kepadanya (Muhammad) tiga perkara yang kami cadangkan ini, jika dia dapat menjawab, maka dia adalah benar seorang nabi yang diutuskan Allah SWT dan jika sebaliknya, maka dia hanya seorang pendusta dan kamu boleh memutuskan fikiran kamu terhadapnya.”


Tanyalah kepadanya tentang sekumpulan pemuda yang telah pergi menghilangkan diri di zaman dahulu bagaimana cerita mereka kerana cerita mereka amat menakjubkan. Dan tanyalah kepadanya tentang seorang lelaki yang menjelajah dunia hingga sampai ke kawasan-kawasan sebelah Timur dan kawasan-kawasan sebelah Barat bagaimana ceritanya?


Dan tanyalah kepadanya tentang roh dan apakah dia? Jika dia dapat menceritakan hal-hal itu kepada kamu, maka dia adalah benar seorang nabi yang boleh kamu ikutinya dan sebaliknya jika dia tidak dapat menceritakan kepada kamu, maka dia adalah seorang pendusta dan lakukan apa sahaja tindakan terhadapnya yang kamu fikir wajar.


Lalu an-Nadhr dan Aqabah balik menemui kaum Quraisy dan berkata: Wahai kaum Quraisy! Kami telah membawa kepada kamu kata pemutus yang dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dengan Muhammad. Pendeta-pendeta Yahudi itu menyuruh kita bertanya kepada Muhammad mengenai beberapa perkara.”


Lalu mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disuruh oleh pendeta-pendeta itu.


Rasulullah SAW menjawab: Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu tanpa berkata kecuali dikehendaki Allah SWT”. Mereka pun berundur daripadanya. Rasulullah SAW menunggu selama 15 hari 15 malam tanpa mendapat wahyu daripada Allah SWT mengenai perkara-perkara tersebut dan tanpa dikunjungi Jibril AS hingga menggemparkan penduduk Mekah. Mereka berkata: Muhammad telah berjanji untuk menjawab, sekarang telah masuk 15 hari tetapi masih belum ada jawapan.”


Terhentinya wahyu itu telah mendukacitakan Rasulullah SAW. Kemudian barulah dikunjungi Jibril AS membawakan surah Ashab al-Kahfi, di mana baginda telah ditegur kerana bersedih terhadap sikap penduduk Mekah, di samping dimuatkan cerita-cerita yang ditanyakan mereka mengenai kumpulan pemuda dan lelaki pengembara itu.


Pada ayat ke-85 ia telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Maka dia pun menempuh suatu jalan, iaitu al-Sabab iaitu tempat. Inilah pendapat Ibnu Abbas.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan iaitu tempat turun dan jalan antara timur dan barat. Inilah pendapat Mujahid.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan. Ia juga dipanggil ilmu pengetahuan. Dia berkata hal yang sama juga dikemukakan oleh Ikrimah, Ubaid bin Yala dan al-Suddi. Dan dia pun mengatakan inilah tanda-tanda dan bekas-bekas. Inilah pendapat Said bin Jubair.


Sayid Qutub berkata: Oleh sebab adanya pelbagai riwayat tentang sebab-sebab nuzul itu, maka kami memilih untuk berhenti setakat bayangan nas al-Quran yang amat diyakinkan kebenarannya itu.”


Malah daripadanya juga dapat diketahui bahawa ada satu pertanyaan mengenai Zulkarnain walaupun diketahui siapakah yang mengemukakan pertanyaan itu. Tetapi pengenalan tentang siapakah yang bertanya itu tidak menambahkan apa-apa kepada maksud kisah. Marilah kita hadapi nas al-Quran tanpa sebarang tokok tambah.



Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan betapa kebenaran pasti ditegakkan oleh pendukungnya walaupun sentiasa menghadapi ujian. Hal ini menjadi sunnatullah. Oleh itu, semangat Zulkarnaian perlu diwujudkan dalam hati pemimpin umat Islam.



Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online