Showing posts sorted by relevance for query umurnya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query umurnya. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank So Much for Read this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank You So Much for Reading this Article

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank Very Very Much for Visit this Article

Friday, December 9, 2016

Cerita Lucky Perdana yang Calon Istrinya Seorang Mualaf

Jakarta - Pemain sinetron Lucky Perdana diam-diam ternyata sudah memiliki kekasih hati. Ia memiliki cerita tentang calon istrinya yang ternyata seorang mualaf.

"Dia namanya Veronica, seorang mualaf nggak lama beberapa bulan lalu setelah pacaran sama saya," ceritanya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Apakah calon istrinya itu seorang mualaf karena ingin menikah dengan Lucky?

"Dia mualaf untuk dirinya sendiri, dia mendalami seperti apa memeluk agama yang tidak dianut dari kecil. Saya tidak berhenti coba berikan keyakinan dan kepercayaan dia. Menganut agamaku tak sesusah yang dibayangkan," cerita Lucky.

Veronica bukanlah seorang pekerja seni. Lucky mengatakan calon istrinya adalah seorang pemain saham.

"Umurnya sama kayak saya. Sama-sama tua, umurnya 30 tahun," paparnya lagi.

Meski hingga saat ini belum tahu kapan akan menikah, namun Lucky mengatakan dirinya sangat yakin akan melaju ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

"Nggak ragu sama sekali dengan dia, yakin menikah dengan dia," bebernya.

(wes/dal)

Photo Gallery

> >
"

| Cerita | Lucky | Perdana | yang | Calon | Istrinya | Seorang | Mualaf | Jakarta< | strong> | Pemain | sinetron | diam | ternyata | memiliki | kekasih | hati | cerita | tentang | calon | istrinya | seorang | mualaf | namanya | Veronica | nggak | lama | beberapa | bulan | setelah | pacaran | sama | saya | ceritanya | saat | ditemui | kawasan | Cinere | Depok | Jawa | Barat | Rabu | 2016) | p>Apakah | karena | ingin | menikah | dengan | p>Dia | untuk | dirinya | sendiri | mendalami | seperti | memeluk | agama | dianut | kecil | Saya | berhenti | coba | berikan | keyakinan | kepercayaan | Menganut | agamaku | sesusah | dibayangkan | p>Veronica | bukanlah | pekerja | seni | mengat | adalah | pemain | saham | p>Umurnya | kayak | Sama | umurnya | tahun | paparnya | lagi | p>Meski | tahu | kapan | sangat | yakin | melaju | jenjang | pernikahan | dalam | waktu | dekat | p>Nggak | ragu | sekali | bebernya | p>(wes | dal)< | p>Photo< | span> | Gallery< | span>< | p> < | a> < | div> |

Thank You Very Much for Reading this Article

Saturday, December 22, 2012

Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam

Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Washington : Ada banyak pilihan keyakinan di dunia, namun kecendungan belakangan justru menunjukkan, orang yang tak beragama makin banyak. Jumlahnya nomor tiga terbesar di dunia, setelah Kristiani dan Muslim. Di atas jumlah pemeluk Hindu.

Berdasarkan studi “Lanskap Agama Global (The Global Religious Landscape) yang dirilis Pew Forum on Religion and Public Life pada Selasa kemarin, ada 1,1 miliar orang yang tak beragama di seluruh dunia.

Sebanyak 700 juta orang atau 62 persennya tinggal di Cina atau 52,2 persen penduduk Negeri Tirai Bambu. Disusul Jepang, di Negeri Sakura ada 72 juta orang yang tak beragama, atau 57 persen dari populasi nasional.

Di peringkat tiga penduduk tak berafiliasi ke agama tertentu adalah Amerika Serikat, sekitar 16,4 persen dari jumlah penduduknya.

Pemeluk Kristiani Terbesar

Studi mengungkap, secara keseluruhan, 84 persen penduduk dunia, dari total sebesar 6,9 miliar jiwa, teridentifikasi memeluk agama.

Kristiani merupakan agama terbesar dengan 2,2 miliar penganut atau 31,5 persen dari populasi dunia.

Gereja Katolik Roma paling dominan, lebih 50 persen dari jumlah tersebut. Sementara Protestan, termasuk Anglikan dan non-denominasi gereja pada kisaran 37 persen. Sementara Ortodoks 12 persen.

Ranking dua adalah umat muslim. Ada sekitar 1,6 miliar umat Islam di seluruh dunia, atau 23 persen dari populasi global. “Mayoritas (87-90 persen) adalah Sunni, sekitar 10-13 persen adalah Muslim Syiah,” kata studi tersebut, seperti dimuat Daily Mail, Rabu (19/12/2012)

Populasi pemeluk Hindu di dunia sebagian besar terkonsentrasi di India, Nepal dan Bangladesh. Sementara, separuh pemeluk Buddha dunia ada Cina, menyusul Thailand, lalu Jepang.

Studi juga menemukan, sekitar 405 juta orang, atau 6 persen penduduk bumi memeluk agama nenek moyang seperti yang ditemukan di Afrika dan Cina. Atau di kalangan penduduk asli aborigin Amerika dan Australia.

Sementara 58 juta lainnya masuk kategori “agama lain-lain” seperti termasuk Baha’i, Taoisme, Jainisme, Shinto, Sikh, Tenrikyo, Wicca, dan Zoroastrianisme. Sebagian besar berada di kawasan Asia-Pasifik.

Islam Paling Berpotensi Melejit

Berapa persisnya populasi keyakinan di dunia tak mungkin didapatkan angkanya. Hanya kisaran ratusan juta. Namun, apa yang dilakukan Pew Forum yang berbasis di Washington, adalah studi terluas hingga saat ini. Menggunakan data global tahun 2010.

Ahli demografi Pew Forum, Conrad Hackett mengatakan, meski telah mengerahkan 2.500 orang dalam kegiatan sensus, survey, serta mengkaji catatan populasi yang digunakan untuk kompilasi data, pihaknya tak bisa memperkirakan persis populasi ateis dan agnostik dunia. “Itu bukan data yang tersedia di semua negara,” kata dia.

Dari studi itu terungkap, berdasarkan usia pemeluk, rata-rata muslim berusia paling muda 23 tahun, dibandingkan populasi penduduk dunia yang rata-rata umurnya 28 tahun.

“Muslim akan tumbuh sebagai bagian besar dari populasi dunia. Dan menjadi bagian penting karena struktur usianya yang muda,” kata Hackett.

Sebaliknya, Yudaisme, yang jumlah pengikutnya 14 juta orang atau 0,2 persen dunia, punya usia rata-rata tertinggi yakni 36 tahun. Itu artinya prospek pertumbuhannya lemah.

Usia rata-rata global pemeluk Kristen adalah 30 tahun dan yang memeluk Hindu 26 tahun. Sementara, dengan usia rata-rata 34, prospek pertumbuhan bagi orang-orang tak beragama, lemah.(Ein)

Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1939378/warga-tak-beragama-duduki-peringkat-ketiga


Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam

Sunday, March 17, 2013

Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Ulet dan pantang menyerah. Itulah Maman Abdurrahman. Pengusaha muda asal Desa Mukok, Sanggau, Kalbar ini sukses mengembangkan usahanya di bidang perminyakan dan gas (migas). Bahkan perusahaan yang dipegangnya, Starborn Chemical, berkembang pesat menyaingi perusahaan asing yang juga bidang perminyakan.

Pria berpostur besar tinggi ini benar-benar tidak membayangi kalau dirinya akan terjun di dunia usaha. Apalagi di bidang perminyakan. Pada tahun 1998, Maman pergi ke Jakarta, niatnya ingin mendaftar menjadi polisi. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 3 Pontianak, Maman tidak bisa ikut bersaing menjadi polisi, karena umurnya yang masih terlalu muda (belum 17 tahun), hingga tidak memenuhi syarat. Jadi, mesti menunggu setahun lagi agar syarat mendaftar polisi terpenuhi.

Daripada menganggur, pria kelahiran Desa Semuntai, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau ini memilih untuk kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Maman lulus di Fakultas Teknik Jurusan Perminyakan. Selama setahun bergelut di dunia kampus, Maman aktif di dunia pergerakan dan organisasi kemahasiswaan. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketika itu sedang bergejolak pergerakan mahasiswa untuk mewujudkan reformasi pemerintahan.

Pria kelahiran 1980 ini mengaku bingung. Dia yang lebih banyak menghabiskan waktu kecilnya di Semuntai, Sanggau serta Sekadau dan menyelesaikan sekolahnya di Kota Pontianak, harus ikut berdemonstrasi mewujudkan reformasi di Semanggi I dan Semanggi II serta di kampusnya Trisakti, dengan konstalasi perpolitikan nasional yang mencekam. Merasa asyik menuntut ilmu perminyakan dan aktif di dunia pergerakan, sirna sudah keinginan Maman untuk menjadi polisi.

“Saya selalu ingat dengan pesan guru saya di SMA Negeri 3 dulu. Selagi ada niat baik dan usaha, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa kita lakukan, tentunya juga harus ditunjang dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki,” ungkap Maman.

Maman fokus menyelesaikan kuliahnya tanpa harus menghilangkan keikutsertaannya di dunia pergerakan. Maman mengubah mimpinya menjadi akademisi atau teknokrat di bidang perminyakan dan menempa pola pikirnya dengan pemikiran HMI. Dua perspektif atau pola pikir tergabung dalam dirinya, yakni pemikiran di bidang perminyakan dan pergerakan HMI.

Sakitnya menjalani hidup yang berjauhan dengan keluarga tidak mematahkan semangat pemuda desa ini untuk menuntut ilmu dan berkiprah di Jakarta. Kebetulan jurusan perminyakan ini dibangun dengan pola militer. Solidaritas benar-benar ditekankan di kampusnya itu. Persaudaraan sesama mahasiswa jurusan perminyakan benar-benar terjaga. Saling bantu sesama mahasiswa, khususnya mereka yang datang dari daerah. Meskipun harus merogoh kocek mengumpul uang receh untuk makan, namun tetap saling berbagi dengan kawan-kawannya yang lain, baik dari Papua, Kaltim, Aceh, maupun provinsi lainnya.

Mereka yang kuliah di Universitas Trisakti sekitar 30 ribu mahasiswa dari semua fakultas. Rata-rata mereka orang-orang berduit. Hampir semua yang kuliah di situ anak pejabat di republik ini. Ada anak gubernur, bupati, maupun pejabat TNI serta Polri bahkan anak menteri. Banyak didominasi anak-anak Jakarta. “Kita ini anak-anak daerah relatif termaginalkan di Trisakti. Namun kita tetap optimis, anak-anak daerah juga mampu seperti anak-anak di Jakarta,” jelas Maman.

Pada tahun 2004, mungkin karena jalan Allah juga, Maman diberikan kepercayaan oleh kawan-kawannya menjadi Presiden Mahasiswa Trisakti. Dari sinilah awal kariernya berorganisasi untuk masuk ke panggung yang lebih besar di dunia kemahasiswaan.

Hebatnya, ternyata pemuda Mukok ini menjadi Presiden Trisakti pertama dari daerah. Selama ini selalu dijabat anak-anak Jakarta yang berbasiskan militer. Ini menjadi sebuah motivasi baginya, bahwa anak daerah juga mampu. “Kita dari daerah jangan berkecil hati. Kita juga memiliki peran tersendiri di mana pun kita berada,” paparnya.

Pascakuliah, Maman mengambil jalan yang berbeda dari kawan-kawan aktivisnya. Mereka lebih banyak memilih jalur politis dengan bergabung di partai poltik (parpol). Sedangkan Maman mengembangkan keilmuannya di bidang perminyakan.

Maman menjadi engineer atau tenaga profesional di perusahaan Premier Oil, salah satu perusahaan perminyakan asing dari Inggris. Dari sinilah dia banyak mendapatkan pengalaman tentang industri perminyakan di beberapa negara. Karena Premier Oil, aset usahanya bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga negara lain, seperti Filipina, Thailand, dan India, serta London sebagai kantor pusatnya.

Bagi Maman, perspektif global dari sektor ekonomi di Indonesia tidak bisa lepas dari situasi internasional. Namun bukan berarti harus menghamba pada globalisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan globalisasi ini untuk kepentingan bangsa.

“Itu yang saya dapatkan dari pengalaman bekerja di perusahaan asing. Kultur profesionalisme dan good governance itu juga diterapkan di negara asing. Ini menurut saya harus dibawa untuk mengembangkan kampung halaman kita dan bangsa kita. Saya bekerja di perusahaan Premier Oil hampir tujuh tahun. Saya sempat disekolahkan di Australia selama enam bulan untuk mengembangkan industri perminyakan,” jelasnya.

Pada tahun 2010, Maman bersama rekan bisnisnya mengembangkan perusahaan perminyakan, Starborn Chemical PT Luas Birus Utama. Pada dasarnya perusahaan yang dikembangkannya bukanlah perusahaan baru, melainkan perusahaan lama yang sudah berdiri sejak tahun 1993 silam. Maman bersama mitra kerjanya mengambil alih perusahaan itu dan memperbaiki manajemennya.

Starborn Chemical yang berkantor di Jalan Industri Selatan IV, Kawasan Industri Jababeka 2 Cikarang, Bekasi ini murni 100 persen perusahaan lokal. Perusahaan ini bergerak di bidang penyedia jasa dan kebutuhan bahan-bahan kimia di industri perminyakan. Maman dan rekan-rekannya membuat beberapa produk untuk kebutuhan fasilitas produksi di perusahaan minyak dan gas (migas). Salah satu contoh, membuat produk kimia, agar tidak terjadi karatan pada pipa minyak. Starborn Chemical juga membuat bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produksi minyak.

“Kita coba kembangkan teknologi kimia dengan teknologi perminyakan. Kita juga buat produk bahan-bahan kimia untuk kebutuhan grilling di wilayah pengeboran,” ungkap Maman.

Banyak juga suka duka dalam mengembangkan Starborn Chemical. Maman harus turun ke hutan menuju lokasi pengeboran. Harus jual mobil untuk modal pengeluaran kantor setiap bulannya. Kini Starborn Chemical sudah bisa bersaing dengan perusahaan asing di dunia migas. Pengalaman Maman di Premier Oil diterapkan di perusahaannya sekarang. “Alhamdulillah bagus. Dulu perusahaan ini kolaps, sekarang bisa berkembang lagi. Sebelumnya karyawan kita sekitar 20 orang dan sekarang sudah hampir 50 orang. Kita sekarang juga lagi kerja di lokasi pengeboran minyak. Hampir beberapa perusahaan minyak di Indonesia, kita ikut andil untuk mengerjakannya. Sekarang kita juga lagi ekspan di Petronas—Malaysia dan Slumber Zee—Thailand. Total aset Starborn Chemical sudah mencapai 3 Juta US Dollar dengan revenue per tahun 8-10 juta US Dollar,” kata Maman.

Pria yang tak menyangka bisa mencari nafkah dan sukses berkarier di ibu kota negara ini juga melepaskan masa lajangnya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Maman si anak Mukok mempersunting Agustina Hastarini yang akrab disapa Tina Astari, artis sinetron yang wajahnya sudah tidak asing lagi di layar kaca. Setelah menikah dengan Maman, Tina tidak lagi berakting. Wanita berwajah cantik itu ingin fokus melayani suaminya dan mengasuh si buah hatinya Merpati Cattleya Zarita Rahman.

Maman yang lama bekerja di perusahaan asing memberikan pandangan, globalisasi jangan dilihat sebagai bentuk penjajahan di Indonesia. Masyarakat harus mengubah pola pikirnya, bahwa globalisasi itu juga sebagai alat untuk pengusaha lokal ekspansi ke negara lain. Jangan dibalik. Menganggap globalisasi sebagai sebuah sistem atau kesepakatan global, untuk menjajah Indonesia. “Bagi saya itu sebuah pemikiran yang pesimis. Kita harus berpikiran optimis, menjadikan sistem global ini untuk keuntungan kita,” katanya.

Ada tiga perusahaan besar dunia yang menjadi pemain besar di bidang kimia perminyakan. Sementara perusahaan lokal Indonesia hanya Starborn Chemical. Namun Starborn Chemical ini bisa bersaing dengan pemain internasional. Bahkan saat ini Starborn Chemical akan menembus pasar Malaysia dan Thailand.

“Tergantung niat kita mau atau tidak dan kita yakin atau tidak. Kalau kita tidak yakin, maka sulit juga mewujudkan apa yang diinginkan. Kemudian ambisi. Tapi tetap dengan dasar profesionalisme dan transparansi sistem keuangan di perusahaan. Dasar kualitas dan kompetensi juga harus digunakan. Dulu banyak yang mengatakan bahwa perusahaan lokal sulit bersaing di dunia migas, buktinya kita juga mampu bersaing. Kita mampu membuktikan perusahaan lokal yang tidak ada tenaga asingnya sanggup membuktikan di mata internasional dan dunia migas,” ungkap Maman.

Merasa dapurnya sudah mengepul dengan baik, Maman kembali lagi kepada aktivitasnya di organisasi. Kini Maman bergabung ke organisasi kepemudaan di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan menjadi pengurus dewan perwakilan pusat Partai Golkar.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita punya niat baik dan keyakinan, saya yakin putra Kalbar juga mampu memimpin bangsa ini baik di dunia ekonomi maupun politik,” ujar Maman. (hamka saptono)

Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=57178


Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Wednesday, January 2, 2013

Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Home Tazkiyatun Nafs

Jadikan Shalat sebagai Madrasah


 

Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan


Kamis, 03 Januari 2013

Oleh: Sholih Hasyim

SETIAP momentum bulan Rajab, biasanya  seorang muslim disegarkan ingatannya oleh peristiwa  monumental, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam . Beliau diperjalankan  oleh Allah Subhanahu Wata’ala setelah mengalami tahun kesedihan (‘amul huzni). Disebabkan oleh kematian istri tercintanya dan paman yang dihurmatinya, yang selama ini keduanya selalu mensupport beliau dalam suka dan duka merintis jalan dakwah. 

Perjalanan beliau menembus dimensi ruang dan waktu, memberikan pelajaran mendasar bahwa kerumitan apapun yang dihadapi seorang pejuang kebenaran dan keadilan akan ditemukan solusinya dengan media menegakkan shalat. Dengan shalat, kesulitan apapun yang dihadapi akan menjadi mudah, karena  mengundang intervensi dan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala (tadakhul rabbani).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[*], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah (2) : 153). 

Ada pula yang mengartikan : mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar (keteguhan dan ketegaran jiwa) dan shalat. Ash Shalatu mi’rajul mukmin (shalat adalah mi’raj – media untuk berinteraksi ke langit  -  seorang mukmin) (al-Hadits).

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi bukti yang sangat valid  alangkah agungnya perintah ibadah shalat. Berbeda dengan perintah yang lain, perintah shalat diterima oleh Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam secara langsung menghadap-Nya di Sidratul Muntaha, tanpa melalui perantara malaikat Jibril. 

Peristiwa bersejarah tersebut, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim untuk mengadakan evaluasi secara total dan radikal (fundamental) mutu pelaksanaan shalat kita. Dengan harapan ibadah mahdhah tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan (atsarun fa’aal) dalam membentuk kepribadian muslim secara utuh baik dari sisi mujahadah (kecerdasan spiritual), ijtihad (kecerdasan intlektual) dan jihad (kesedian untuk berkurban di jalan Allah Subhanahu Wata’ala). 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun (63) : 9)

Dengan dievaluasi secara berkesinambungan,  semoga kelak hisab shalat lebih ringan. Juga ada peningkatan mutu baik pisik dan dimensi ruhani. Shalat yang kita lakukan tidak sebatas kaya ritus formal serimonial yang menjemukan, tetapi miskin aplikasi. Kita berharap shalat yang kita lakukan fungsional memberikan maknawiyah (spirit), yang dapat mengantarkan kita menjadi sholih linafsihi (sholih untuk dirinya) dan shalih lighoirihi (shalih kepada orang lain). Dan menjaga keseimbangan dimensi hablun minallah (hubungan vertical) dan hablun minannas (hubungan horizontal).

Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Shalat

Secara empiris mengajarkan, setidaknya ada sembilan pelajaran penting (hikmah)  yang diserap  dalam ibadah shalat.

Pertama: Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Shalat mendidik pelakunya untuk mensucikan dirinya dari virus ruhani yang menjadi pemicu pelanggaran/penyimpangan dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia dahulu sampai sekarang. Yaitu, penyakit serakah (thama’), yang diwariskan oleh Adam as. Yang berefek pada terusirnya dari surge, takabur (sombong) yang ditularkan oleh Iblis, berakibat sebagai penghalang masuk surga dan hasud (dengki) yang dipusakakan oleh Qabil, pemicu terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia ini.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabut (29) : 45)

Kedua: Tarbiyatul Wahdah Al Islamiyah (pendidikan persatuan umat Islam). Orang yang shalat menghadap ke tempat/arah yang sama (kiblat), yaitu Baitullah (Ka’bah). Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan yang diikat oleh nilai-nilai prinsip (jamaah), bukan sekedar bergerombol (majmu’ah), berkumpul karena ikatan kerja (materi). Jamaah akan terwujud jika didorong oleh kebersihan hati individunya dari berbagai kepentingan kecuali menomorsatukan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengagungkan syi’ar-syi’arnya. Semua bentuk persahabatan, kesepahaman akan memicu permusuhan dikemudian hari kecuali didasari oleh spirit iman dan takwa. Tahapan persatuan diawali dari saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menyayangi (tarahum), saling menanggung (takaful), saling menolong (tanashur).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf (43): 67).

Ketiga: Harish ‘ala waqtihi (bersungguh-sungguh dalam mengelola waktunya)

Seorang Muslim jadual kehidupannya diatur oleh waktu shalat. Transaksi milyaran rupiah akan dia batalkan jika panggilan shalat telah dikumandangkan. Ia yakin, jika memperoleh undangan seseorang, maka yang mengundang sudah mempersiapakan hidangan kepada yang diundang. Apalagi yang mengundang adalah Zat Yang Maha Kaya, sudah tentu yang disisi-Nya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka, dia beruapaya melakukannya untuk tepat waktu. Memenuhi adab lahir dan batin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal (8): 24)

Keempat: Munadhdhamun fil Jama’ah (disiplin dalam berorganisasi). Sholat mendidik tertib organisasi, menyangkut tertibnya berjamaah dengan barisan yang rapi, rapat. Tidak boleh ada barisan yang kosong agar tidak dimasuki syetan. Muslim yang satu dengan yang lain bergaul dengan penuh kedekatan, keeratan dan keakraban. Rasulullah bersabda : Orang beriman itu mudah untuk harmonis dan mudah untuk diharmoniskan, tiada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah jinak dan tidak mudah dijinakkan (al Hadits). Dalam al-Quran panggilan untuk orang-orang beriman (ya ayyuhalladzina amanu – menggunakan jama’ -). Tidak ditemukan dalam al-Quran, sebutan untuk orang beriman dengan kata tunggal (ya ayyuhal mukmin). Hal ini menunjukkan bahwa konsekwensi keimanan seseorang adalah ia harus menempatkan dirinya bagian dari kaum muslimin di seluruh dunia.

Kelima:  Tarbiyatus Sam’i wath Tha’ati (pendidikan ketaatan). Shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan iman, tidak mendahului walaupun sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen (keterikatan yang kuat) atau loyal, serta meniadakan penolakan perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. Sesungguhnya efek ketaatan itu akan kembali kepada kita sendiri. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”(HR Ahmad). Seorang makmum menyadari jika ia tidak berhasil menanamkan kultur sami’na wa ‘atha’na terhadap pemimpin yang disepakati, maka kelak anak buahnya tidak akan patuh kepadanya. Agar kita memiliki anak shalih/ah, terlebih dahulu kita harus menjadi putra yang shalih/ah bagi orang tua kita. Jika kita mudah mengobral kutukan kepada sesepuh kita, maka anak kita nanti akan mengutuk kita.

Keenam: Qaulu Kalimatil hak ‘inda sulthanin jair (berani menyampaikan kebenaran di depan pemimpin yang zhalim). Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Karena ia mencintai pemimpinnya, tetapi lebih mencintai kepada kebenaran. Maka, jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan. Tidak membiarkannya melakukan kezhaliman. Teman yang benar bukanlah yang selalu setuju dengan pendapat kita, tetapi yang selalu meluruskan kita jika terjerumus dalam lubang kehancuran.

Ketujuh: Tarbiyatul Musawah  (mendidik sikap egaliter). Shalat mendidik persamaan hak. Surga berhak ditempati bagi orang yang bersegera menuju ketaatan sekalipun dia berasal dari suku Habasyah dan neraka berhak ditempati bagi orang yang berbuat maksiat walaupun ia berasal dari suku Quraisy.  Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status social jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memandang tinggi kedudukan maupun tua umurnya. Karena, Allah SWT tidak menilai kedudukan, keturunan, warna kulit, tetapi menilai hati dan amal kita.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13)

Kedelapan: Tarbiyatush Shihhiyyah (pendidikan kesehatan). Shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik secara sederhana dan mudah gerakannya. Kata ahli hikmah : Bergeraklah terus karena dalam gerakan itu ada barakah (tambahan kebaikan). Air yang  menggenang, tidak mengalir akan menjadi sarang kuman. Demikian pula apabila pisik tidak bergerak secara stimulan dan simultan akan mudah keropos dan gampang terserang penyakit.

Kesembilan: Tarbiyatu Mudawamatidz Dzikr (pendidikan kesinambungan mengingat Allah SWT). Secara etimologis shalat bermakna doa. Karena lafadz yang dibaca dalam shalat adalah berisi doa dan dzikir. Bahkan menegakkan shalat sesungguhnya untuk mengingat kebesaran, kemuliaan dan keagungan-Nya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha (20) : 14)

Dengan shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan menjadikan seseorang untuk selalu mengingat-Nya. Dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala hati menjadi tenang, karena selalu ditemani oleh-Nya. Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: Saya selalu menemani orang yang mengingat-KU (ana jaliisu man dzakarani).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) : 28)

Bahkan, jika kita selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala, Ia akan selalu mengingat kita. Ada kedekatan hubungan hamba dengan Al Khalik. Jika seseorang dekat dengan-Nya, maka dekat dengan rahmat, maghfirah, dan karunia-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah (2) : 152).

Indikator Diterimanya Shalat

Jika shalat dilakukan dengan khusyu’ dan berlatih untuk berpisah dengan dunia maka akan melahirkan perubahan secara kongkrit pada ranah pola piker dan perilaku pelakunya. Selesai shalat melahirkan manusia baru.  Manusia yang tawadhu (rendah hati), tidak bersikap sombong kepada sesama, tidak meneruskan berbuat maksiat, pada siang hari selalu kontak dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan zikir, memiliki kepekaan social terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.

Ada lima indikator utama yang bisa menjadi standar (tolak ukur) diterimanya shalat seseorang, sebagaimana hadits qudsi berikut :

اِنَّمَا اَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُظْمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَليَ خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِي وَرَحِمَ  المَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَالاّرْمَلّةَ وَرَحِمَ المُصَابَ

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-KU, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-KU, yang tidak meneruskan maksiat kepada-KU, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-KU, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal mati suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah.” (Sayid Sabiq, dalam karya tulisnya : Islamuna, hal.119)

Jika nilai-nilai shalat tersebut diatas diwujudkan dalam kehidupan setiap muslim maka secara aksiomatik akan terjadi pencerahan (transformasi) dan penataan ulang orientasi dan perilaku keislaman dan keimanan dalam seluruh aspek kehidupannya baik dalam skala kehidupan individu, keluarga, bangsa, Negara dan dunia. Insya Allah.* 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah 

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/11/29/06123825/Hari.Ini.Rombongan.DPR.RI.Masuk.ke.Gaza


Jadikan Shalat sebagai Madrasah