Showing posts sorted by relevance for query berupa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query berupa. Sort by date Show all posts

Wednesday, April 10, 2013

Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)

Home Tazkiyatun Nafs



Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)





 

Orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat agar mensyukuri iman





Kamis, 11 April 2013


Oleh: Shalih Hasyim


DALAM buku Ma’alim Fith-Thoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb (Ideolog Kedua Ikhwanul Muslimin Mesir) menulis bab khusus dengan judul Kebanggaan Iman. Bab ini menegaskan bahwa orang beriman adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat dengan Rabb-nya. Allah Subhanahu Wata”ala . Dan jalinan hubungan imannya yang kuat dengan-Nya menyebabkan dirinya bermental kokoh. Bagaikan batu karang di tengah samudera. Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Justru, ia selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena dirinya tersambung dengan Allah Subhanahu Wata”ala Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Inilah yang dimaksud oleh Sayyid Qutb dengan Kebanggaan Iman.


Betapa penting persoalan ini diangkat ke permukaan. Hal itu amat relevan jika dikaitkan dengan gejala/fenomena/realitas dunia modern yang penuh fitnah. Suatu kehidupan yang sekuler (memisahkan makhluk dari Al-Kholiq). Dan sebuah kehidupan yang mengikuti sistem ekonomi materialis, hedonis. Dua tsunami (skuler dan materialis) itulah yang menggerogoti iman dari dalam, dan menawarkan berbagai kebanggaan palsu. Ada kebanggaan harta, kebanggaan tahta dan jabatan, kebanggaan teknologi, kebanggaan intelektual-formal, kebanggaan popularitas dan kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya. 


Semua bentuk kebanggaan palsu tersebut tidak ada kaitan dengan iman kepada Allah Subhanahu Wata”ala . Sehingga menurut kajian Kebanggaan Iman bentuk-bentuk kebanggaan duniawi itu hakikatnya sangat lemah dan rapuh. Bahkan bersifat hina, semua dan tidak berarti di mata Allah Subhanahu Wata”ala .


Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu. Boleh jadi ia tampil dengan self-confidence (percaya-diri) yang tinggi sewaktu masih di dunia. Tetapi di akhirat kelak ia akan menyadari bahwa ia telah terpedaya. Sehingga ia akan menyesal telah membanggakan diri dengan kebanggaan-kebanggaan palsu. Ia tidak memperoleh nikmat spiritual, tetapi hanya mata’ud dunya (kenikmatan yang dekat dan sesaat). Itulah penyesalan yang sangat terlambat dan tentunya tiada berguna.


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah Subhanahu Wata”ala-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran (3) : 14).


Janganlah kita silau/terpedaya memandang kekuasaan/jabatan, dunia dan seisinya ini dengan kaca mata Fir’aun.  Keduanya dipersepsikan sebagai ghoyah (tujuan akhir), bukan wasilatud dakwah (media dakwah). Ketika kekuasaan diraih, ia lupa diri dan lupa daratan. Ia mabuk kekuasaan dan gila harta dan pengaruh. Dia sadar dengan keimanan, ketika kondisi sedang terjepit. Sadar karena tekanan eksternal. Yaitu, ketika tubuhnya dipermainkan oleh gelombang bagaikan bola pimpong. Bukan bersumber dari lubuk hati yang dalam. Jangan berfikir aji mumpung, jangan bangga, jangan kaget dengan kekuasaan. 


وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ


“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah Subhanahu Wata”ala)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [*] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS: Yunus (10) : 90-92)


Yang diselamatkan Allah Subhanahu Wata”ala ialah tubuh kasarnya. Menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.


Syetan sangat cerdik menipu manusia dengan berbagai kebanggaan duniawi. Menggelincirkan penguasa, ilmuan, hartawan dari jalan yang lurus. Kekuasaan, harta dan ilmu tidak semakin mendekatkan pemiliknya kepada Allah Subhanahu Wata”ala.


Syetan menyuruh manusia agar jangan peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Sementara itu kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan. Sehingga jabatan, ilmu dan harta tidak ditemani dan dikontrol secara langsung oleh spirit Iman.


ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ


“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS: Al Araf (7) : 17).


Kalau yang terperangkap adalah manusia awam yang jahil akan agamanya kita tentu prihatin, tetapi masih dapat memahaminya. Ironisnya, dewasa ini kita menyaksikan mereka yang terjerat tipuan syetan adalah orang-orang yang dikenal khalayak ramai sebagai orang-orang yang biasa ikut pengajian, bahkan para ustadz dan ahli ilmu syar’iyyah Islamiyyah. Mereka adalah orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat luas agar mensyukuri dan mempertahankan Kebanggaan Iman. 


Alih-alih melaksanakan kewajibannya sebagai mercusuar di tengah arus zaman penuh fitnah, mereka malah menjadi fihak yang mempromosikan pentingnya kebanggaan duniawi seperti kebanggaan akan tahta dan jabatan.


Mereka robah tolok-ukur keberhasilan da’wah. Keberhasilan da’wah Islam tidak lagi dinilai berdasarkan berapa banyak orang yang semakin beriman dan istiqomah. Tetapi dinilai berdasarkan berapa banyak dan berapa tinggi jabatan politik dan pos struktural kekuasaan yang berhasil direbut.


Kebanggaan tahta dan jabatan menjadi pembicaraan utama. Semua enersi dikerahkan untuk mencapai kebanggaan yang satu ini. Enersi waktu, fisik, batin, fikiran, dana dan doa semuanya dipusatkan demi kesuksesan merebut kekuasaan formal.


Kebanggaan iman semakin jarang dibicarakan dan malah semakin dirasa aneh dan tidak penting. Kerugian adalah saat seorang aktifis da’wah tidak berhasil merebut atau mempertahankan jabatan dan kekuasaannya untuk kebaikan. Keterlibatan dalam suatu kegiatan maksiat tidak dinilai sebagai sebuah kerugian, melainkan sebuah perilaku manusiawi yang wajar dan perlu dimaklumi. Mengejar ridho Allah Subhanahu Wata”ala menjadi kalah penting dibandingkan upaya image-building (pencitraan) dalam rangka mendapatkan dukungan rakyat luas.


Sayyid Qutb menjelaskan Kebanggaan Iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:


وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ


“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran 139)


Selanjutnya Sayyid Qutb mengomentari ayat di atas dengan uraian sebagai berikut: “Dia melukiskan suatu keadaan yang tertinggi yang harus mendasari dalam kalbu seorang mukmin dalam menghadapi apa pun. Suatu kebanggaan karena iman dan sendi-sendinya yang mengatasi seluruh sendi yang bukan bersumber dari iman. Suatu ketinggian yang mengatasi seluruh kekuatan di bumi yang jauh dari dasar iman; dan mengatasi seluruh sendi yang hidup di bumi ini yang tidak ber¬sumber dari iman. Mengatasi seluruh tradisi di bumi ini yang tidak dicetak oleh iman. Mengatasi seluruh undang-undang di bumi ini yang tidak disyariatkan oleh iman, dan mengatasi seluruh posisi di bumi ini yang tidak ditumbuhkan oleh iman.


Suatu ketinggian yang walaupun tenaga lemah, jumlah ummat yang sedikit dan kemiskinan harta, sama dengan ketinggian di waktu kuat, jumlah yang banyak dan harta yang melimpah.


Suatu ketinggian yang tidak merasa terhina di hadapan kekuatan yang zalim, tidak merasa rendah di hadapan kebiasaan sosial dan hukum yang bathil, dan tidak merasa rendah di hadapan posisi yang diterima oleh manusia tetapi tanpa sandaran iman.” (Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272)


Masalahnya bukan pada memiliki atau tidak memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Tetapi yang menjadi masalah apakah sesudah seseorang memiliki kekuasaan politik masihkah ia menjadikan Kebanggaan Iman sebagai tolok ukur kemuliaan dan ketinggian di dalam hidupnya? Dan jawabannya bukan sekedar berupa sebuah pernyataan atau claim (za’mun).


Jawabannya haruslah berupa bukti dalam perilaku dan kebijakan. Bukti terbaik adalah berupa langkah-langkah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala. Dan sebaik-baik bentuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala ialah berupa pemanfaatan kekuasaan demi memastikan tegak dan berlakunya dienullah serta hukum Allah Subhanahu Wata”ala di bawah wilayah otoritas kekuasaannya. Itulah salah satu janji Allah Subhanahu Wata”ala  kepada orang beriman di dunia ini.


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ


“Dan Allah Subhanahu Wata”ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur (24) : 55).*


Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)

Thursday, December 8, 2016

CIMB Niaga Sponsori MTQ Mualaf Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN â€" Kemeriahan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kedua mualaf tahun ini tak lepas dari antusiasnya para mualaf yang ikut berlomba dan mengunjungi acara yang digelar selama 2 hari di halaman Masjid Agung Al Ma’arif belum lama ini.

Hal lain juga karena panitia MTQ tahun ini secara khusus menyediakan banyak hadiah, baik untuk para pemenang lomba maupun berbentuk doorprize untuk para pengunjung yang mendatngi arena MTQ.

Ketua Panitia MTQ ke-2 Mualaf Kota Tarakan H.Ramli, S.Ag kepada Radar Tarakan bahwa pihaknya merangkul beberapa donatur untuk mendukung acara mualaf tersebut.  

“Memang untuk memeriahkan MTQ Mualaf tahun ini, kami mencoba merangkul beberapa donatur guna mendukung acara ini, terutama dalam menambah nilai hadiahnya. Alhamdulillah beberapa donatur telah memberikan sumbangannya. Diantaranya adalah tambahan hadiah kepada para juara dari Bank CIMB Niaga,” kata Ramli.

“Kepada para pemenang lomba juara 1, 2 dan 3 diberikan tambahan hadiah berupa tabungan di Bank CIMB Niaga Tarakan,” tambahnya. 

Dari pihak Bank CIMB Niaga sendiri menjanjikan akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan Baznas Tarakan di masa mendatang dan siap untuk berpartisipasi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Leader Marketing Bank CIMB Niaga, Chaterina Sophia Chandra kepada awak media ini.

“Alhamdulillah kami bisa ikut berpartisipasi di MTQ Mualaf ini, walaupun mungkin tidak banyak. Insya Allah ke depannya kami dari CIMB Niaga siap mendukung kegiatan yang dilaksanakan Baznas Tarakan,” katanya. Masih menurut wanita berhijab yang ternyata juga mualaf ini, dirinya senang sekali dengan kegiatan mualaf yang digagas oleh Baznas Tarakan.

“Terus terang saya sangat terharu dan merasa senang sekali dengan acara Baznas ini. Saya juga seorang mualaf, acara MTQ ini sangat menyentuh sekali buat saya,” ungkap Chaterina. (adv/har) 

"

| CIMB | Niaga | Sponsori | Mualaf | PROKAL | strong> | TARAKAN | Kemeriahan | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | kedua | mualaf | tahun | lepas | antusiasnya | para | yang | ikut | berlomba | mengunjungi | acara | digelar | selama | hari | halaman | Masjid | Agung | Ma’arif | lama | p> Hal | lain | juga | karena | panitia | secara | khusus | menyedi | banyak | hadiah | baik | untuk | pemenang | lomba | maupun | berbentuk | doorprize | pengunjung | mendatngi | arena | p> Ketua | Panitia | Kota | Ramli | kepada | Radar | Tar< | bahwa | pihaknya | merangkul | beberapa | donatur | mendukung | tersebut | p> “Memang | memeriahkan | kami | mencoba | guna | terutama | dalam | menambah | nilai | hadiahnya | Alhamdulillah< | telah | memberikan | sumbangannya | Diantaranya | adalah | tambahan | juara | Bank | kata | p> “Kepada | diberikan | berupa | tabungan | tambahnya | p> Dari | pihak | sendiri | menjanjikan | senantiasa | kegiatan | Baznas | masa | mendatang | siap | berpartisipasi | p> Sebagaimana | diungkapkan | oleh | Leader | Marketing | Chaterina | Sophia | Chandra | awak | media | p> “Alhamdulillah | walaupun | mungkin | Insya | Allah< | depannya | dilaksan | katanya | Masih | menurut | wanita | berhijab | ternyata | dirinya | senang | sekali | dengan | digagas | p> “Terus | terang | saya | sangat | terharu | merasa | Saya | seorang | menyentuh | buat | ungkap | (adv | har) < | p> |

Thank U So Much for Visit this News

Wednesday, November 13, 2013

FPI Tunjukkan Bukti Jonas Rivano Telah Jadi Mualaf dan Nikahi Asmirandah

Jakarta – Pasangan pesinetron Asmirandah dan Jonas Rivano ternyata memang benar-benar sudah menikah. Keduanya tercatat menjadi sepasang suami-istri pada 17 Oktober 2013.

Sebelumnya, Andah, begitu sapaan Asmirandah, selalu menyangkal soal pernikahannya dengan Jonas. Andah mengaku, baru akan menikah pada Januari tahun depan.


Namun pernyataan Andah beberapa waktu lalu tersebut dipatahkan oleh Habib Idrus Al Ghadri, Ketua FPI DPW Kota Depok, Jawa Barat. Habib Idrus mengatakan bahwa Andah dan Jonas telah menikah.


“Dia (Jonas) sudah menikah dengan Andah pada 17 Oktober 2013, tempatnya di kediaman mempelai wanita,” ujarnya saat ditemui di Sekretarian FPI DPW Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (13/11/2013).


Habib Idrus tak asal berucap. Dirinya memiliki bukti berupa fotokopi akta pernikahan Andah dan Rivano. Di dalamnya tertera mahar pernikahan berupa sejumlah uang.


“Mahar nikahnya ada di sini, yaitu uang sejumlah Rp 13.131.000,” jelasnya.


Foto: Bukti Rivano Jadi Mualaf dan Nikahi Asmirandah


Di kesempatan yang sama, Habib Idrus mewakili FPI Depok juga menyampaikan keberatannya atas perkataan Rivano di media. Saat itu, Rivano yang diketahui sudah beragama Islam mengaku belum menjadi mualaf.


Selain berencana untuk membawa masalah ini ke jalur hukum, Habib Idrus juga meminta Jonas menyampaikan maafnya kepada seluruh umat Islam.
(dar/mmu)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS Windows Phone. Install sekarang!



Article source: http://www.merdeka.com/dunia/warga-suriah-kristen-dipaksa-masuk-islam-oleh-pemberontak.html


FPI Tunjukkan Bukti Jonas Rivano Telah Jadi Mualaf dan Nikahi Asmirandah

Thursday, December 8, 2016

CIMB Niaga Sponsori MTQ Mualaf Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN â€" Kemeriahan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kedua mualaf tahun ini tak lepas dari antusiasnya para mualaf yang ikut berlomba dan mengunjungi acara yang digelar selama 2 hari di halaman Masjid Agung Al Ma’arif belum lama ini.

Hal lain juga karena panitia MTQ tahun ini secara khusus menyediakan banyak hadiah, baik untuk para pemenang lomba maupun berbentuk doorprize untuk para pengunjung yang mendatngi arena MTQ.

Ketua Panitia MTQ ke-2 Mualaf Kota Tarakan H.Ramli, S.Ag kepada Radar Tarakan bahwa pihaknya merangkul beberapa donatur untuk mendukung acara mualaf tersebut.  

“Memang untuk memeriahkan MTQ Mualaf tahun ini, kami mencoba merangkul beberapa donatur guna mendukung acara ini, terutama dalam menambah nilai hadiahnya. Alhamdulillah beberapa donatur telah memberikan sumbangannya. Diantaranya adalah tambahan hadiah kepada para juara dari Bank CIMB Niaga,” kata Ramli.

“Kepada para pemenang lomba juara 1, 2 dan 3 diberikan tambahan hadiah berupa tabungan di Bank CIMB Niaga Tarakan,” tambahnya. 

Dari pihak Bank CIMB Niaga sendiri menjanjikan akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan Baznas Tarakan di masa mendatang dan siap untuk berpartisipasi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Leader Marketing Bank CIMB Niaga, Chaterina Sophia Chandra kepada awak media ini.

“Alhamdulillah kami bisa ikut berpartisipasi di MTQ Mualaf ini, walaupun mungkin tidak banyak. Insya Allah ke depannya kami dari CIMB Niaga siap mendukung kegiatan yang dilaksanakan Baznas Tarakan,” katanya. Masih menurut wanita berhijab yang ternyata juga mualaf ini, dirinya senang sekali dengan kegiatan mualaf yang digagas oleh Baznas Tarakan.

“Terus terang saya sangat terharu dan merasa senang sekali dengan acara Baznas ini. Saya juga seorang mualaf, acara MTQ ini sangat menyentuh sekali buat saya,” ungkap Chaterina. (adv/har) 

"

| CIMB | Niaga | Sponsori | Mualaf | PROKAL | strong> | TARAKAN | Kemeriahan | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | kedua | mualaf | tahun | lepas | antusiasnya | para | yang | ikut | berlomba | mengunjungi | acara | digelar | selama | hari | halaman | Masjid | Agung | Ma’arif | lama | p> Hal | lain | juga | karena | panitia | secara | khusus | menyedi | banyak | hadiah | baik | untuk | pemenang | lomba | maupun | berbentuk | doorprize | pengunjung | mendatngi | arena | p> Ketua | Panitia | Kota | Ramli | kepada | Radar | Tar< | bahwa | pihaknya | merangkul | beberapa | donatur | mendukung | tersebut | p> “Memang | memeriahkan | kami | mencoba | guna | terutama | dalam | menambah | nilai | hadiahnya | Alhamdulillah< | telah | memberikan | sumbangannya | Diantaranya | adalah | tambahan | juara | Bank | kata | p> “Kepada | diberikan | berupa | tabungan | tambahnya | p> Dari | pihak | sendiri | menjanjikan | senantiasa | kegiatan | Baznas | masa | mendatang | siap | berpartisipasi | p> Sebagaimana | diungkapkan | oleh | Leader | Marketing | Chaterina | Sophia | Chandra | awak | media | p> “Alhamdulillah | walaupun | mungkin | Insya | Allah< | depannya | dilaksan | katanya | Masih | menurut | wanita | berhijab | ternyata | dirinya | senang | sekali | dengan | digagas | p> “Terus | terang | saya | sangat | terharu | merasa | Saya | seorang | menyentuh | buat | ungkap | (adv | har) < | p> |

Thank U Very Much for Visit this News

Sunday, February 24, 2013

Imlek dan Cap Go Meh

Imlek dan Cap Go Meh

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 24/02/2013 04:02 WIB • 103 klik

H. Sutan Zaili Asril

ADALAH Cap Go Meh (juga disebut Festival Lentera/Lantern Festival) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari perayaan Tahun Baru Imlek di lingkungan  komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap atau chap berarti Sepuluh, go berarti lima, dan meh berarti malam). Ini juga berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama lima belas hari. Perayaan Cap Go Meh lazimnya dira­ya­kan dengan jamuan/makan besar dan berbagai kegiatan lainnya. Di Taiwan, misalnya, Cap Go Meh dirayakan sebagai Festival Lampion (Lantern Festival). Sedang di Asia Tenggara, Cap Go Meh dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, ketika perempuan/gadis yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut—suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

 

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia (di Kota Makassar, misalnya) diadakan secara rutin tiap setahun sekali. Di hari perayaan Cap Go Meh, daerah pecinaan Kota Makassar akan ditutup untuk kendaraan sejak pukul 10.00 WITA pagi, namun prosesi perarakan Cap Go Meh atau yang biasa disebut Karnaval Budaya Nusantara dimulai pukul 14.00 WITA, wali kota Makassar melepas puluhan ekor burung. Perarakan (karnaval) Cap Go Meh diawali rombongan Bhinneka Tunggal Ika antara lain terdiri atas berbagai tokoh agama/masyarakat diikuti Dara/Daeng Makassar, terus ke Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang Bulukumba/Vihara Dharma Loka, kelompok adat Aluktudolo Tana Toraja/Kelenteng Xian Ma, kelompok adat Bone/Kelenteng Pan Ku Ong, dari Galesong Kabupaten Takalar/Vihara Dharma Agung, Komunitas Bissu dari Segeri/Kabupaten Pangkep/Ma­pan­bumi/Kelompok Adat Mappasili Pallawa/Vihara Girinaga. Terakhir di­tutup Yayasan Budha Tzu Chi mem­bersihkan sampah di sepanjang jalan dilalui rombongan prosesi. Hampir setiap klenteng mengarak dewa/dewi. Klenteng Kwan Kong mengarak Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang dan Dewi Kwan Im sebagai pembawa cinta kasih. Vihara Dharma Loka mengarak Dewa Cho Sua Kong atau dewa pengo­batan, dan Klenteng Xian Ma mem­bawa Dewi Xian Ma.

 

Mungkin, semua kita sudah tahu, Cap Go Meh adalah hari raya penutupan rangkaian acara perayaan Tahun Baru Imlek (Tahun Baru Saka/Cina) yang dirayakan tiap tanggal 15 Chia Gwee dalam penanggalan Tionghoa (Imlek). Biasanya, saat itu terang bulan pertama pada tahun baru Imlek. Bagi kaum tani Tionghoa/China ini adalah hari yang penting. Mereka umumnya akan melakukan persiapan satu minggu (menyebar benih) yang ditanam dalam dua-tiga minggu kemudian. Mereka mela­ku­kan turun ke sawah dengan segala perhitungan—salah-salah mereka bisa ke­laparan. Para petani baru sem­bahyang cheng beng (untuk/men­yembah leluhur) setelah selesai ber­tanam padi. Tanaman padi mereka akan dipanen kelak saat summer pada 5-6 bulan kemudian. Padi ditumbuk menjadi beras sebulan setelah panen (bulan kedelapan—menjelang pera­yaan Imlek/Cap Go Meh berikutnya). Jadi, terang bulan Cap Go Meh adalah pesta mooncake dan diramaikan dengan harvest festival. Perayaan hari Cap Go Meh dimeriahkan dengan festival lampion, karnaval barong-liong (barongsai-liongsai), makan ketupat Cap Go Meh, dan berbagai perayaan lainnya.

 

AKAN HALNYA Tahun Baru Im­lek pula, aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dila­kukan para petani di Cina biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan berkaitan pesta para petani men­yam­but musim semi. Perayaan ini dimulai tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir tanggal 15 bulan pertama. Acara meliputi sembahyang Imlek, sem­bahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan per­sem­bahyangan sebagai wujud syukur dan doa harapan agar tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, men­jamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan te­tangga. Karena perayaan Imlek berasal dari budaya petani, segala bentuk persembahan berupa berbagai jenis makanan. Tiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, yang dipilih adalah hidangan mempunyai arti kemak­muran, panjang umur, keselamatan, atau kebahagiaan, yang merupakan hidangan kesukaan leluhur.

 

Kue-kue yang dihidangkan akan lebih manis daripada biasa. Diha­rap­kan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Juga dihi­dang­kan kue lapis sebagai perlambang rezeki berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang merupakan ma­ka­nan wajib dihidangkan di saat per­sembahyangan menyambut datang tahun baru Imlek. Biasanya, kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada makanan yang dihindari dan tak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini lebih melambangkan kemiskinan. Kedua belas hidangan, lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depan digantungi dengan kain khusus yang biasa bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya men­yantap hidangan disuguhkan.

 

Di malam tahun baru orang-orang biasa bersantap di rumah/di restoran. Se­lesai makan malam mereka bega­dang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa leluasa masuk ke rumah. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen. Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah kue lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, dan manisan kolang-kaling. Agar pikiran jadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang. Tujuh hari sesudah hari Imlek dila­ku­kan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut Cap Go Meh. Warga keturunan Cina di Semarang, misalnya, mera­yakan dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh, terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Di Jakarta, menunya lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Saat perayaan Imlek juga dirayakan ber­bagai macam keramaian, festival dan karnaval, yang menyuguhkan antara lain atraksi barongsai atau liongsai dan kembang api.

 

SEBETULNYA, kita—setidaknya seorang Cucu Magek Dirih—mele­takkan warga Cihna/keturunan Tiong­hoa sebagai/dalam perspektif warga negara Indonesia (UU Nomor 12/2006 tentang Warga Negara). Yang masih membuat perbedaan hanya keturunan—sebagai mana ada warga negara Indonesia keturuan Arab/keturunan India dan tentu saja berbe­da agama dan secara sub-etnik/suku bangsa (Jawa/Batak/Minang/Bugis, misalnya), serta beda budaya/adat/tradisi (dalam perspektif Bhinneka Tunggal Ika). Kita tidak dapat mem­vonis satu warga sebagai keturunan Arab/India/Cina sebagai tak memiliki hak/kewajiban yang berbeda. Setiap warga negara adalah sama, sama ada berbeda asal-usul (keturunan Arab/India/China, misalnya), atau berbeda suku bangsa (Jawa/Batak/Minang/Bugis dan lainnya, misalnya), dan atau beda agama (keturunan apa pun dan atau suku bangsa apa pun), tidak lagi menjadi masalah.

 

Misalnya, warga keturunan Tiong­hoa seperti pernah dikemukakan beberapa sahabat Cucu Magek Dirih dari Pondok, bukanlah keinginan mereka sejak dari dalam kandungan dilahirkan sebagai keturunan China—kalau mereka boleh/dapat memilih—kalau karena keturunan China lalu hak/kewajiban mereka didis­krimi­nasikan. Sama ada, warga RI ketu­runan Arab/keturunan India/ketu­runan Tionghoa bebas memeluk/menganut agama. Warga keturunan (Arab/India/China, misalnya) boleh jadi beragama Islam, Kristen, Budha, dan atau Hindu, serta Kong Hu Chu, misalnya—sama ada warga RI yang sub-etniknya Jawa/Batang/Minang/Bugis, misalnya, juga bebas memeluk agama diakui di Indonesia. Yang pasti semua warga negara (keturunan atau suku bangsa berbeda), sama-sama mempunyai hak dan kewajiban sama sebagai waarga negara.

 

Warga negara Indonesia ketu­runan China, misalnya, ada yang beragama Kong Hu Chu, Budha, Hindu, Kristen, dan atau Islam, sama halnya warga suku bangsa Jawa/Batak/Bugis, misalnya, memeluk agama-agama yang disebutkan. Kita tidak dapat melakukan sikap/perlakuan diskriminasi di antara sesama warga negara. Justru dalam perspektif/pandangan Cucu Magek Dirih, sebagaimana halnya kita di Padang ini dan atau provinsi Sumatra Barat, idealnya memandang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa/Cina sebagai saudara dan memandang budaya dan adat/tradisi warga negara Indonesia keturunan China/Tionghoa sebagai kekayaan budaya Indonesia. Sejauh ini, justru warga keturunan China/Tionghoa yang tak banyak mengeluh karena masih diperlakukan berbeda/didiskriminasikan oleh warga negara Indonesia lainnya—tidak ter­ba­ya­ng­kan bilamana pemerintah daerah/aparat pemerintah daerah pula masih mendiskriminasi mereka pula? 

 

Mungkin akan dipandang berle­bihan oleh sebagian kita bilamana Cucu Magek Dirih mengatakan, sela­yak­nya kita di Padang menyemangati warga Pondok sekitarnya, misalnya, untuk merayakan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh sebagai keramaian/kemeriahan dan atau festival/karnaval bagi saudara kita di Pondok—tidak ada halangan bagi mereka melakukan perayaan Imlek dan Cap Go Meh sebagai khazanah/kekayaan budaya bangsa Indonesia di Padang, tapi, juga menjadi sebagai khazanah/kekayaan dan daya tarik wisatawan datang. Kalau saja kita mendorong warga Pondok melakukan perayaan pesta tahunan Imlek/Cap Go Meh yang direncanakan dan dipersiapkan den­gan saksama/baik—sebagai agen­da pariwisata khas di Padang, misalnya, dipromosikan dengan gen­car, mu­ngkin menarik wiatawan datang ke Padang—sebagaimana Malaysia suk­ses mengembangkan agenda wisa­tanya dan sukses mendatangkan wistawan. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://artis.inilah.com/read/detail/1955737/diego-michiels-mualaf


Imlek dan Cap Go Meh

Monday, December 24, 2012

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini

Home Gazw Al-Fikr

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini


 


Senin, 24 Desember 2012

Oleh: Nuim Hidayat 

SULTAN Baabullah risau. Ia tidak ingin kematian ayahnya (Sultan Khairun) memadamkan semangat jihad rakyatnya. Segera setelah dilantik,  ia mengumumkan perang jihad melawan Portugis di seluruh negeri. Rakyat pun bersegera menyambut seruannya. Lebih dari 120 ribu penduduk menjadi mujahid sukarela melawan Portugis saat itu.

Dalam perang itu, Sultan Baabullah minta pembunuh ayahnya gubernur Lopez de Mesquita diserahkan kepadanya untuk diadili. Tapi Lopez menolak.  Sultan pun menyerbunya. Tidak lama kemudian benteng-benteng Portugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro jatuh. Hanya benteng Sao Paulo kediaman Lopez yang bertahan. Benteng Sao Paulo dikepung dan diputuskan hubungannya dengan dunia luar.  Suplai makanan dibatasi hanya sekedar agar penghuni benteng bisa bertahan hidup. Sultan Baabullah bisa saja menguasai dengan cepat menghancurkan benteng itu, tapi ia masih kasihan banyak rakyat Ternate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka tinggal dalam benteng itu. Karena tertekan dan frustasi, akhirnya Portugis memecat Lopez de Mesquita dan menggantinya dengan Alvaro de Ataide.

Baabullah pun melebarkan perlawanan. Ia mengobarkan perang Soya-Soya (perang pembebasan negeri).  Kedudukan Portugis di berbagai tempat digempur habis-habisan. Tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 3000 pasukan, pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon dan berhasil mendudukinya. Pasukan Portugis dibawah Kapten Sancho de Vasconcellos yang dibantu pribumi Kristen berhasil memukul mundur pasukan Ternate di pulau Buru untuk sementara. Namun tidak lama kemudian Portugis pun jatuh setelah pasukan Baabullah kembali menyrang di bawah pimpinan Kapita Rubuhongi.

Tahun 1575 seluruh kekuasaan Portugis di Maluku telah jatuh dan suku-suku atau kerajaan pribumi yang mendukung mereka telah berhasil ditundukkan.  Demikianlah, tanggal 15 Juli 1575, orang-orang Portugis pergi secara memalukan dari Ternate.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah menjadikan benteng Sao Paulo sebagai benteng sekaligus istana, ia merenovasi dan memperkuat benteng tersebut kemudian mengubah namanya menjadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih melanjutkan hubungan dagang dengan bangsa barat termasuk Portugis dan mengizinkan mereka menetap di Tidore. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap bangsa Eropa yang tiba di Ternate untuk melepaskan topi dan sepatu mereka, sekedar untuk mengingatkan mereka agar tidak lupa diri.

Tahun 1580 Sultan Baabullah mengunjungi Makassar dan mengadakan pertemuan dengan raja Gowa Tunijallo, mengajaknya masuk Islam dan ikut serta dalam persekutuan melawan Portugis dan Spanyol. Sang raja tak langsung menyetujui ajakan Sultan untuk memeluk Islam namun setuju untuk ikut dalam persekutuan. Sebagai tanda persahabatan, Sultan Baabullah menghadiahkan Pulau Selayar kepada Raja Gowa.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Sultan Baabullah tetap melanjutkan kebijakan ayahnya dengan menjalin persekutuan dengan Aceh dan Demak untuk mengenyahkan Portugis dari Nusantara. Persekutuan Aceh-Demak-Ternate ini merupakan simbol persatuan Nusantara, karena ketiganya sebagai yang terbesar dan terkuat di masa itu merangkai wilayah Barat. Tengah dan Timur Nusantara dalam satu ikatan persaudaraan.

Sultan lahir pada 10 Februari 1528. Ia adalah Sultan Ternate ke-24 yang berkuasa antara tahun 1570-1583. Baabullah ketika itu berhasil mengusir Portugis dari Ternate-Maluku, yang selain menginginkan monopoli rempah-rempah juga berniyat mengkristenkan penduduk di sana. Misionaris yang terkenal Portugis, Francis Xavier (1506-1552) menyatakan,”(Jika) setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen. “ (lihat Alwi Shihab, Membendung Arus Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Misi Kristen di Indonesia, 1998)

Portugis pergi, datanglah penjajah Belanda. Hampir sama dengan Portugis, Belanda juga mempunyai misi Kristenisasi di Indonesia. Van Goens, di akhir masa jabatannya sebagai gubernur, 1675 menulis: “Betapa orang Moor (Islam) di pulau ini sangat menghalangi kita setiap hari terlihat melalui aktivitas mereka, sungguh mereka tidak lebih dari kanker yang menggerogoti keuntungan kompeni dan perusak moral yang utama.” (lihat Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942), 1995).

Idenburg, Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia (1906-1916) juga menyatakan,”Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.” Pidato Kerajaan Belanda pada 1901 menyatakan: “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral terhadap para penduduk di daerah-daerah itu.”

Baabullah, Antasari, Tjut Nyak Dien, Fatahillah, Diponegoro, KH Hasyim Asyari dan Natsir adalah beberapa pejuang Nusantara yang melawan kaum penjajah dengan ‘Bismillah’. Mereka tidak peduli dengan harta dan nyawa mereka yang bisa hilang dalam perlawanan. Niat menegakkan kalimah Allah di bumi Nusantara menjadikan ghirah mereka terus menyala.
Jihad memang lafadz yang bisa membuat penjajah berdiri bulu romanya. Jihad yang salah satunya bermakna perang fisik ini menjadi landasan bagi pahlawan-pahlawan Islam di negeri ini dalam mengusir penjajah. Baik Portugis, Belanda, Jepang atau Sekutu. Mereka tidak rela tanah air ini dirampas kekayaannya dan agama Kristiani menjadi mayoritas di negeri ini. Maka jangan heran meski Portugis dan Belanda khususnya, yang menjajah negeri ini ratusan tahun dan mencoba mengkristenkan penduduk-penduduk Nusantara mereka mengalami kegagalan. Islam yang telah tegak di Nusantara ini sejak abad ke-7, berkat para pejuang dan ulama, tetap menjadi mayoritas di negeri subur loh jinawi ini.

Jihad adalah roh kaum Muslimin. Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan orang yang menyelisihi para rasul  dan mengarahkan pedang syariat kepada mereka, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban disebabkan pernyataan mereka untuk menolong para nabi dan rasul, dan untuk menjadi pelajaran berharga bagi yang mengambilnya sehingga dengan demikian orang-orang yang menyimpang menjadi jera, termasuk amalan yang paling utama yang Allah perintahkan kepada kita untuk menjadikannya ibadah mendekatkan diri kepada-Nya.”

Kata jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan. Atau berasal dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya.

Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan karena Allah dan meninggikan kalimat-Nya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga.

Maka dalam Islam ada istilah mujahid dan mujtahid. Keduanya melaksanakan jihad baik dengan fikiran maupun fisiknya. Mujtahid lebih mengerahkan kemampuannya dalam berfikir atau berkarya. Sedangkan mujahid lebih mengerahkan kemampuan fisiknya. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan jihad memiliki empat tingkatan, yaitu (1) jihad memerangi hawa nafsu, (2) jihad memerangi syetan, (3) jihad memerangi orang kafir dan (4) jihad memerangi orang munafik.

Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal shaleh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Jihad memerangi musuh Allah yang di luar (jiwa) adalah cabang dari jihad memerangi jiwa, sebagaimana sabda Nabi saw,  “Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR. Ahmad). Juga sabdanya,“Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Daud).

Dengan spritit “jihad” di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Sulawesi Utara, Tengah dan Timur di bagian Barat hingga kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina (Selatan) di bagian utara hingga sejauh kepulauan Kai dan Nusa Tenggara di bagian selatan.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Dengan sprit “jihad” pula,  benteng Konstantinopel (kini Istambul, Turki) di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodok yang legendaris akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani. 

Sultan Baabullah dan Sultan Muhammad al-Fatih adalah dua contoh pejuang Muslim yang menyerahkan waktu, tenaga, pikiran, ilmu dan hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Lantas apa “jihad” kita hari ini?

Penulis aktif di Institute for the Study of the Islamic and Civilization (INSISTS)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=317897


Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Monday, December 9, 2013

Gairah Islam di Negeri Tango

REPUBLIKA.CO.ID, Perlahan tapi pasti, Argentina kini mulai menerima Islam. Sulit menemukan jumlah Muslim yang pasti di Argentina. Beberapa sumber data menyebutkan angka yang berbeda.


Menurut catatan CIA Fact Book pada 2004, dari total penduduk Argentina yang mencapai 39.144.753 orang, hanya dua persen yang memeluk Islam, yakni sekitar 782.895 jiwa.


Sisanya adalah Katolik Roma, Protestan, dan Yahudi. Katolik Roma adalah agama mayoritas di negara yang terkenal dengan tarian tangonya itu.


Namun, menurut salah satu laporan surat kabar di Argentina, Clerein, warga Argentina yang baru masuk Islam sekarang meningkat menjadi 900 ribu orang.


Jika imigran Muslim yang ada di situ ditambahkan secara keseluruhan bisa mencapai lebih dari tiga juta orang.


Dengan demikian, perkiraan populasi Muslim di Argentina meningkat dari semula 700 ribu kini menjadi lebih dari tiga juta jiwa.


Peningkatan populasi Muslim di Argentina diakui Pusat Studi Islam di Argentina, Centro de Estudios Islamicos, lembaga yang fokus pada dakwah dan kajian budaya Islam di Argentina.


Di tengah euforia warganya yang mencintai sepak bola, hidup komunitas Muslim di antara mayoritas penduduknya yang Kristen. Ya, Argentina merupakan negara yang memiliki pemeluk Islam terbesar dibanding negara Amerika Latin lainnya.


Islam tetap bisa berkembang dengan baik. Nuansa dan geliat dakwah Islam begitu tinggi di sana. Di Buenos Aires, ibu kota Argentina, telah berdiri sebuah masjid besar di Alberti St pada 1989 yang dibangun warga lokal.


Masjid sekarang menjadi pusat ibadah dan dakwah umat Islam di negara asal pesebak bola Maradona itu. Masjid berdiri tegak dan megah. Jumlahnya mencapai puluhan.


Syiar Islam semakin marak di Argentina setelah pusat studi Islam bernama The King Fahd Islamic Cultural Center dibangun pada 1996. Pusat studi Islam ini terletak di lingkungan kelas menengah di Palermo, Buenos Aires.


Proyek yang merupakan kerja sama antara Pemerintah Argentina dan Arab Saudi ini dibangun di atas lahan seluas 34 ribu meter persegi.


Pusat studi ini dilengkapi dengan bangunan masjid, perpustakaan, dua sekolah, taman, dan lahan parkir yang luas.


Di tempat ini, biasanya umat Islam berkumpul dan berdiskusi tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Selama Ramadhan, nyanyian budaya dan nilai-nilai Islam begitu marak berkumandang.


Organisasi Islam Amerika Latin (IOLA) yang bermarkas di Argentina menjadi lembaga paling aktif mempromosikan Islam di Amerika Latin.


Tidak dimungkiri tragedi 11 September 2001 bisa menciptakan kecurigaan umat Islam di Argentina. Namun, dengan dialog dua arah, ketegangan dan kecurigaan hilang dengan sendirinya. banyak tuduhan negatif kepada Muslim yang diabaikan masyarakat Argentina.


Para imigran dari Timur Tengah, seperti Suriah dan Lebanon, makin menyemarakkan Islam di Argentina. Fakta menunjukkan banyak imigran yang memperkenalkan Islam kepada penduduk Argentina.


Mereka bermigrasi ke wilayah Argentina pada awal abad ke-20. Para imigran kemudian membentuk pemukiman di tengah-tengah penduduk asli. Mereka hidup rukun dan damai tanpa rasa curiga dan permusuhan.


Namun, jauh sebelum kedatangan imigran Lebanon dan Suriah, komunitas Muslim sudah terbentuk di tanah Argentin.


Kedatangan para imigran Muslim pertama bertepatan dengan kedatangan penjelajah Spanyol dan Portugis, warga negara di wilayah Argentina. Jumlah imigran Muslim terus tumbuh setelah Argentina menjadi koloni Spanyol.


Di antara keluarga imigran Arab yang paling terkenal adalah Menem yang berasal dari Suriah dan seorang Muslim. Mantan presiden Argentina Carlos Menem merupakan salah satu keturunan dari keluarga imigran Suriah.


Meskipun leluhurnya adalah Muslim, ia sendiri adalah seorang Katolik Roma yang taat. Carlos Menem diizinkan berpartisipasi mencalonkan diri sebagai presiden Argentina.


Dalam aturan konstitusi yang berlaku, presiden Argentina haruslah seorang Katolik Roma. Namun, aturan ini dihapuskan dalam reformasi konstitusi 1994.


Jejak Islam di Argentina terlihat dari sejumlah nama tempat dan kota yang berasal dari bahasa Arab. Di Argentina, Cordoba merupakan nama ibu kota sebuah provinsi di Argentina yang terletak sekitar 700 kilometer di barat laut Buenos Aires.


Dalam sejarah peradaban Islam, Bahia adalah salah satu peninggalan Islam berupa istana di Kota Marrakesh, Maroko. Di Argentina, ada sebuah kota bernama Bahia Blanca. Kota ini terletak di barat daya Buenos Aires.
 


Article source: http://www.tribunnews.com/seleb/2013/11/16/asmirandah-saya-yang-minta-vanno-jadi-mualaf


Gairah Islam di Negeri Tango

Monday, May 13, 2013

Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

SETERUSNYA penulis akan mengemukakan kisah berkaitan dengan Zulkarnain. Cerita ini merupakan kisah keempat yang terdapat dalam al-Quran. Ia mengisahkan tentang orang kafir Mekah menghantar utusannya kepada ahli Kitab untuk meminta apa yang hendak diujikan terhadap Nabi SAW.


Ahli Kitab berkata: Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang berjaya mengelilingi dunia, tentang pemuda yang tidak diketahui apa yang mereka kerjakan dan tentang roh. Maka surah al-Kahfi diturunkan. Sebelum mentafsirkan ayat tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu, siapa Zulkarnain, siapa Yakjuj dan Makjuj dan di mana empangan Zulkarnain.


Pada ayat ke-83, Ibnu Kathir berkata: Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahawa orang kafir Mekah pernah mengirim utusan kepada ahli Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi SAW.


Kemudian para ahli Kitab itu berkata: Tanyalah kepadanya tentang orang yang di sekeliling muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda dan juga tentang roh. Maka turunlah surah al-Kahfi.


Diberi nama Zulkarnain kerana dia adalah seorang raja Rom dan Parsi. Sebahagian orang menyebutkan bahawa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan diberi nama Zulkarnain kerana dia sudah berhasil mencapai belahan Timur dan Barat iaitu tempat matahari terbit dan terbenam.


Al-Maraghi berkata: Orang Quraisy yang berguru dengan orang Yahudi, mengajukan pertanyaan kepada (Nabi Muhammad SAW) dengan tujuan menguji Baginda.


Katakanlah kepada orang yang keras kepala itu: Aku akan menceritakan kepada kamu cerita yang lengkap lagi menyeluruh seperti yang kamu minta dan cerita ini telah diberitahu kepadaku oleh Tuhanku.


Sayid Qutub berkata: Allah SWT telah mengurniakan kepadanya kedudukan yang teguh dan kekuasaan yang kukuh. Allah SWT telah memberikan jalan-jalan untuk memerintah dan menakluk, jalan-jalan pembangunan dan kemakmuran, jalan-jalan kekuasaan dan kesenangan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mengukuhkan kedudukan mereka dalam kehidupan ini.


Pada ayat ke-84, Ibnu Kathir berkata: Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakupi segala sesuatu yang diberikan kepada para raja iaitu berupa bala tentera, peralatan perang dan beberapa benteng.


Oleh itu, dia dapat menguasai bumi belahan Timur dan Barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya bahkan pelbagai raja di dunia pun turut tunduk kepadanya dan semua orang Arab dan bukan Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.


Ayat ini telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Ilmu pengetahuan. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, al-Suddi, Qatadah dan lain-lain.


l Iaitu tempat tinggal di bumi dan berbagai-bagai panjinya. Inilah pendapat Qatadah.


l Iaitu pengajaran bahasa-bahasa. Ia tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka. Inilah pendapat Abdul Rahman bin Aslam.


Al-Maraghi berkata: Allah SWT memberi kekuasaan kepada Zulkarnain melakukan mengikut kehendaknya, sehingga beliau berjaya menguasai seluruh dunia dan mengalahkan seluruh kerajaannya. Allah mengurniakan ilmu, kemampuan dan kelengkapan tentera bagi menjayakan segala hasrat yang hendak dilakukannya.”


Sayid Qutub berkata: Muhammad Ibnu Ishaq telah menyebut sebab turunnya surah ini katanya `aku telah diceritakan oleh seorang guru daripada penduduk negeri Mesir. Dia datang ke tempat kami kira-kira 40 tahun lebih yang lalu dari Ikrimah, daripada Ibnu Abbas katanya kaum Quraisy telah mengirim al-Nadhr Ibnu Harith dan Aqabah Ibnu Abu Mu`ayt kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah dan berkata tanyalah kepada pendeta-pendeta itu tenteng Muhammad SAW, terangkan sifatnya kepada mereka dan ceritakan apa yang telah dikatakan olehnya kerana mereka adalah kaum ahli Kitab yang pertama.”


Mereka mempunyai ilmu tentang para Anbiya yang tidak ada pada kita. Lalu kedua utusan itu pergi ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tenteng Rasulullah SAW. Kedua-duanya menceritakan kepada mereka tentang beliau dan sebahagian daripada apa yang telah dikatakan olehnya sambil berkata: Tuan-tuan adalah pakar-pakar kitab al-Taurat dan tujuan kami datang menemui tuan-tuan ialah supaya tuan-tuan boleh menjelaskan kepada kami tentang teman kami ini (Muhammad).


Kata Rawi, pendeta-pendeta itupun berkata: Tanyalah kepadanya (Muhammad) tiga perkara yang kami cadangkan ini, jika dia dapat menjawab, maka dia adalah benar seorang nabi yang diutuskan Allah SWT dan jika sebaliknya, maka dia hanya seorang pendusta dan kamu boleh memutuskan fikiran kamu terhadapnya.”


Tanyalah kepadanya tentang sekumpulan pemuda yang telah pergi menghilangkan diri di zaman dahulu bagaimana cerita mereka kerana cerita mereka amat menakjubkan. Dan tanyalah kepadanya tentang seorang lelaki yang menjelajah dunia hingga sampai ke kawasan-kawasan sebelah Timur dan kawasan-kawasan sebelah Barat bagaimana ceritanya?


Dan tanyalah kepadanya tentang roh dan apakah dia? Jika dia dapat menceritakan hal-hal itu kepada kamu, maka dia adalah benar seorang nabi yang boleh kamu ikutinya dan sebaliknya jika dia tidak dapat menceritakan kepada kamu, maka dia adalah seorang pendusta dan lakukan apa sahaja tindakan terhadapnya yang kamu fikir wajar.


Lalu an-Nadhr dan Aqabah balik menemui kaum Quraisy dan berkata: Wahai kaum Quraisy! Kami telah membawa kepada kamu kata pemutus yang dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dengan Muhammad. Pendeta-pendeta Yahudi itu menyuruh kita bertanya kepada Muhammad mengenai beberapa perkara.”


Lalu mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disuruh oleh pendeta-pendeta itu.


Rasulullah SAW menjawab: Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu tanpa berkata kecuali dikehendaki Allah SWT”. Mereka pun berundur daripadanya. Rasulullah SAW menunggu selama 15 hari 15 malam tanpa mendapat wahyu daripada Allah SWT mengenai perkara-perkara tersebut dan tanpa dikunjungi Jibril AS hingga menggemparkan penduduk Mekah. Mereka berkata: Muhammad telah berjanji untuk menjawab, sekarang telah masuk 15 hari tetapi masih belum ada jawapan.”


Terhentinya wahyu itu telah mendukacitakan Rasulullah SAW. Kemudian barulah dikunjungi Jibril AS membawakan surah Ashab al-Kahfi, di mana baginda telah ditegur kerana bersedih terhadap sikap penduduk Mekah, di samping dimuatkan cerita-cerita yang ditanyakan mereka mengenai kumpulan pemuda dan lelaki pengembara itu.


Pada ayat ke-85 ia telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Maka dia pun menempuh suatu jalan, iaitu al-Sabab iaitu tempat. Inilah pendapat Ibnu Abbas.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan iaitu tempat turun dan jalan antara timur dan barat. Inilah pendapat Mujahid.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan. Ia juga dipanggil ilmu pengetahuan. Dia berkata hal yang sama juga dikemukakan oleh Ikrimah, Ubaid bin Yala dan al-Suddi. Dan dia pun mengatakan inilah tanda-tanda dan bekas-bekas. Inilah pendapat Said bin Jubair.


Sayid Qutub berkata: Oleh sebab adanya pelbagai riwayat tentang sebab-sebab nuzul itu, maka kami memilih untuk berhenti setakat bayangan nas al-Quran yang amat diyakinkan kebenarannya itu.”


Malah daripadanya juga dapat diketahui bahawa ada satu pertanyaan mengenai Zulkarnain walaupun diketahui siapakah yang mengemukakan pertanyaan itu. Tetapi pengenalan tentang siapakah yang bertanya itu tidak menambahkan apa-apa kepada maksud kisah. Marilah kita hadapi nas al-Quran tanpa sebarang tokok tambah.



Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan betapa kebenaran pasti ditegakkan oleh pendukungnya walaupun sentiasa menghadapi ujian. Hal ini menjadi sunnatullah. Oleh itu, semangat Zulkarnaian perlu diwujudkan dalam hati pemimpin umat Islam.



Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

Monday, April 8, 2013

Warga NU Tuntut Pembubaran Ormas Islam Anarkistis

TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Warga Nahdlatul Ulama (NU) Tasikmalaya meminta organisasi masyarakat (ormas) Islam yang selalu bertindak anarkistis untuk segera dibubarkan. Ormas anarkistis tak lebih dari provokator untuk membuat kondisi di Tasikmalaya menjadi tidak kondusif.


“Kami meminta ormas Islam yang bertindak anarki di Tasikmalaya segera dibubarkan. Mereka telah membuat suasana yang tidak aman dan tidak kondusif bagi warga Tasikmalaya,” kata Sekretaris Gerakan Pemuda Anshor NU Tasikmalaya Asep Rizal, saat berorasi di hadapan jajaran pejabat Polres Tasikmalaya Kota, Selasa (9/4/2013).


Penyerangan salah satu pesantren oleh ormas Islam pada Sabtu malam lalu merupakan tindakan anarkistis yang akan menimbulkan kekhawatiran warga Tasikmalaya. Diharapkan, kepolisian mampu menangkap dan mengadili para pelaku perusakan. Sebab, jika dibiarkan akan menyebabkan pemicu konflik masyarakat.


“Kami minta polisi mampu dan secepatnya menangkap para pelaku perusakan. Jangan sampai dibiarkan,” tegas Asep di hadapan ratusan orang yang berdemo di Mako Tasikmalaya Kota.


Ratusan warga NU Tasikmalaya dan badan organisasinya melakukan aksi damai mendukung aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus perusakan dan penyerangan salah satu pesantren di Tasikmalaya.


Diberitakan sebelumnya, ratusan orang dari salah satu ormas Islam menyerang pesantren Al Idrisiyyah di Jalan Raya Ciawi, Kampung Pagendingan, Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu malam. Sekelompok orang itu merusak aset pesantren berupa minimarket dan memaksa masuk ke lokasi pesantren.


Akibat aksi perusakan itu, kaca minimarket yang berada di depan kompleks pesantren pecah. Bahkan, tiga orang santri pesantren itu mengalami luka-luka di wajah dan tubuhnya akibat terkena lemparan batu yang dilakukan kelompok penyerang.














Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Monday-s-high-school-roundup-Oxford-s-Drayton-3470032.php


Warga NU Tuntut Pembubaran Ormas Islam Anarkistis

Thursday, November 14, 2013

Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menegaskan bahwa impor buku ilmu pengetahuan bebas dari bea masuk (BM) dan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) serta dikecualikan dari pemungutan pajak penghasilan (PPh) pasal 22. Dirjen Bea dan Cukai (BC) Agung Kuswandono melalui Surat Edaran Nomor SE-16/BC/2013 tentang Penegasan Pelayanan Importasi Buku Ilmu Pengetahuan, yang diperoleh di Jakarta, Kamis (14/11) menyebutkan pembebasan tersebut berlaku juga untuk buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.


Dirjen BC merinci, pembebasan BM diberikan terhadap impor buku ilmu pengetahuan yang meliputi buku ilmu pengetahuan dan teknologi, buku pelajaran umum, kitab suci, buku pelajaran agama dan buku ilmu pengetahuan lainnya. Dikecualikan dari buku yang diberikan pembebasan BM sebagaiamana tersebut di atas, meliputi buku hiburan, buku roman populer, buku sulap, buku iklan, buku promosi suatu usaha, buku katalog di luar keperluan pendidikan, buku karikatur, buku horoskop, buku horor, buku komik dan buku reproduksi lukisan.


Terhadap impor buku ilmu pengetahuan seperti tersebut di atas, diberikan pembebasan BM tanpa perlu mendapatkan persetujuan pemberian pembebasan BM dari Menteri Keuangan atau pejabat yang ditunjuk. Sementara terhadap impor buku-buku yang dikecualikan dari pembebasan BM, dipungut BM sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012.


Orang pribadi atau badan yang melakukan impor buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, untuk memperoleh pembebasan dari pengenaan PPN tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. Buku-buku pelajaran umum seperti tersebut di atas merupakan buku-buku fiksi dan nonfiksi untuk meningkatkan pendidikan dan kecerdasan bangsa, yang merupakan buku-buku pelajaran pokok, penunjang dan kepustakaan.


Sementara kitab suci yang dimaksud adalah kitab suci agama Islam meliputi kitab suci Alquran termasuk tafsir dan terjemahnya bauk secara keseluruhan maupun sebagian, dan Juz Amma. Kitab suci agama Kristen Protestan meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Katolik yang meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian.


Kitab suci agama Hindu meliputi Weda, Smerti dan Sruti, Unpanisad, Itihsa, Purnama, termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Budha meliptui Tripitaka termasuk tafsir dan terjemahannya baik keseluruhan maupun sebagian. Juga kitab suci lainnya yang telah ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang agama atau pejabat lain yang ditunjuk.


Impor barang berupa buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama yang dibebaskan dari pungutan BM dan PPN, tidak dipungut pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 dan tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. “Terhadap impor buku ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya buku pelajaran umum, kitab suci dan buku pelajaran agama, ditegaskan kembali bahwa tidak ada pugutan apapun terkait BM, PPN dan PPh Pasal 22,” tegas Agung.


Article source: http://www.republika.co.id/berita


Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

Friday, July 26, 2013

Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini


Masjid berarsitektur indah yang didominasi warna biru dan putih ini merupakan masjid terbesar di Rusia, bahkan di Eropa yang berada di wilayah Kazan. Di Rusia, Islam adalah agama terbesar setelah Kristen Ortodok. Pada masa pemerintahan Presiden Vladimir Putin, Islam di Rusia mulai mendapat perhatian khusus. Masjid-masjid yang pernah ditutup pada masa Uni Soviet perlahan kembali dibuka dan aktif. Ratusan masjid mulai dibangun di berbagai tempat di Rusia yang terdapat banyak komunitas muslim.



Tahun 2005 masjid yang juga disebut Kul Sharif ini didirkan bertepatan dengan seribu tahun Kota Kazan. Dinamakan Kul Sharif, untuk menghormati pahlawan nasional mereka dari etnis Tatar bernama Kul Sharif. Kul Sharif atau juga Qolsarif meninggal dunia dengan sejumlah muridnya ketika mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1.552.



Masjid yang dirancang dengan megah ini bisa menampung sekitar setengah ribu orang dan di alun-alunnya bisa menampung sekitar sepuluh ribu orang. Bangunan masjid mempunyai delapan menara masing-masing tingginya 57 meter. Kubah-kubahnya memiliki bentuk dan corak dekoratif khas Kazan, berbentuk seperti mahkota khan pada masa Kekhazanan Kaza sekitar abad ke-16.



Sebenarnya masjid ini dibangun pada abad ke-16 di Kazan Kremlin (benteng). Bangunan ini memiliki minaret (menara), keduanya dalam bentuk cupola (kanan) dan tenda (kiri). Bentuknya bergaya tradisional Volga Bulgaria, dengan sentuhan elemen Renaisans awal dan arsitektur Ottoman (Turki Utsmani). Saat penyerangan ke Kazan tahun 1.552 masjid ini dihancurkan oleh Rusia.



Bangunan masjid didesain oleh para arsitek Rusia bernama Sayfullin dan S Shakurov. Interiornya dirancang oleh A Sattarov. Sentuhan tradisional tidak menghilangkan kesan modern dari masjid ini. Beberapa temuan sejarah menjelaskan Islam telah ada di wilayah Federasi Rusia sejak abad ke-10. Persisnya di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan dan salah satu kota terbesar di Rusia yang masuk wilayah Eropa Timur.



Penjelasan tersebut merujuk pada penemuan masjid yang diyakini berusia seribu tahun lebih. Para arkeolog menemukan reruntuhan lain berupa bebatuan putih di dekat salah satu benteng kuni. Menurut peneliti, bangunan itu menghadar ke arah Mekkah. Di lokasi bekas temuan reruntuhan masjid itulah berdiri megah masjid Qolsarif. Paduan warna putih dan biru dari masjid ini mengingatkan kita pada gradasi langit biru yang cerah dan indah, serta menawan.



Qolsarif terdiri dari dua tingkat. Lantai atas untuk ruang salat sedangkan di bawah digunakan untuk keperluan pendidikan, museum dan administrasi. Di halaman ada dua paviliun besar dan kolam dengan ornamen Timur Yengah. Masjid ini menjadi titik lanskap terpenting di Kazan. Di sini juga terdapat ruang perpustakaan, ruang publikasi dan ruang khusus bagi para Imam.



Masjid ini berdampingan dengan sebuah katedral. Kini masjid tersebut sering digunakan untuk kepentingan umat muslim di Rusia serta menjadi islamic center untuk merayakan hari raya, dan hari-hari besar keagamaan lainnya. | berbagai sumber



Lihat vide kemegahan dan cantiknya interior Qolsarif di sini


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini

Monday, November 18, 2013

Langkah Asmirandah-Jonas Khawatir Ditiru

Jonas dan Asmirandah


FPI menuduh Jonas telah melakukan penistaan agama

JAKARTA- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni dan Budaya KH A Cholil Ridwan khawatir tindakan Asmirandah dan Jonas Rivanno akan ditiru banyak orang mengingat profesi keduanya sebagai publik figur.


Pernikahan Jonas dan Asmirandah menuai sorotan karena Jonas memeluk agama Islam atau mualaf sebelum menikah. Namun, setelah isu pernikahannya terkuak, Jonas membantah telah masuk Islam dan mengaku masih Kristen.


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok dan Front Pembela Islam (FPI) Depok pun langsung mengecam bantahan Jonas. MUI Depok mengaku punya bukti kuat Jonas telah memeluk agama Islam seperti surat, foto dan saksi.  “Iya takutnya seperti itu (ditiru),” kata Cholil Ridwan dilansir okezone.


FPI pun melaporkan Jonas ke polisi karena dianggap melecehkan agama Islam. Mereka juga menganggap Jonas telah melecehkan lembaga negara seperti MUI dan KUA karena pura-pura masuk Islam agar bisa resmi menikahi Asmirandah. Setelah menikah, Jonas lantas kembali kepada agamanya semula.


Dalam hal ini Cholil Ridwan menilai status keislaman Jonas Rivanno gugur karena suami Asmirandah itu pernah membantah menjadi mualaf dan mengaku masih beragama Kristen.


“Berarti dia bukan Islam karena pernyataannya belakangan. Pernyataan itu menghapus kemualafannya. Masuk Islam itu menyatakan Islam dengan baca syahadat. Tapi dia tidak mengakui berarti kemualafannya gugur, keislamannya gugur,” tandasnya.


Menurut Cholil, Jonas harus membaca dua kalimat syahadat kembali jika untuk mendapatkan status keislamannya. Namun, Cholil mengatakan bahwa bintang sinetron itu akan dianggap telah mempermainkan agama.


“Dia harus baca syahadat lagi, tapi itu akan bisa dianggap mempermainkan agama. Secara syariat kalau baca syahadat lagi berarti dia Islam lagi,” terangnya.


Karena pernikahannya gugur, pasangan selebriti yang sering bermain sinetron bareng itupun bukan suami istri. Meski diwarnai kontroversi, Jonas dan Andah memang tetap merasa masih suami istri dan tinggal bersama.


“Masuk Islam itu menyatakan Islam dengan baca syahadat. Tapi dia tidak mengakui berarti kemualafannya gugur, keislamannya gugur. Karena dia tidak mengakui keislamannya, otomatis bukan suami istri lagi,” tegasnya.


Seperti diketahui, Jonas memeluk agama Islam dengan dipimpin Ketua MUI Depok pada bulan Agustus 2013 sebelum menikahi Asmirandah. Namun, setelah pernikahannya terkuak Jonas membantah telah masuk Islam dan mengaku masih beragama Kristen.


Sontak saja, MUI Depok mengecam bantahan Jonas itu karena mereka memiliki surat mualaf Jonas. Front Pembela Islam (FPI) Depok pun langsung melaporkan Jonas ke polisi karena dianggap mempermainkan agama.


Pada Sabtu kemarin, FPI kembali ke Polres Bogor untuk memberikan keterangan. “Kami baru menghadirkan saksi, yaitu keterangan MUI dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid (An Nur). Dan Ane baru di minta keterangannya sebagai pelapor,” kata Ketua FPI Depok Habib Idrus Al Gadri dilansir tempo.


FPI menuduh Jonas melakukan penistaan agama Islam karena membantah telah masuk Islam. Padahal, FPI memiliki bukti berupa pengakuan Ketua MUI Beji, Depok yang mengislamkan Jonas. Menurut Idrus, Jonas bisa kena pasal penghinaan dan penodaan terhadap agama. “Polisi akan mengembangkan kasus ini barang kali ada pasal (lain) yang berkaitan status Jonas,” kata dia. okz,tmp


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/09/06/msod7e-hamas-serukan-semarakan-al-aqsha-untuk-melawan-aksi-ekstrimis-yahudi


Langkah Asmirandah-Jonas Khawatir Ditiru

Monday, May 20, 2013

Sejuknya Pertemuan Ulama 'Dua Sayap untuk Masjidil Aqsha' di Istanbul

Home Internasional




Pengadilan Kasus Serangan Mavi Marmara


Sejuknya Pertemuan Ulama ‘Dua Sayap untuk Masjidil Aqsha’ di Istanbul





 

Syeikh Usamah Rifa’i (Suriah) dan Syeikh Raid Shalah (Palestina) Foto:Surya/SA



 




Senin, 20 Mei 2013


Hidayatullah.com | Sahabat Al-Aqsha.com–Sebuah pertemuan sederhana namun sarat pesan sejarah terjadi kemarin sore di sebuah hotel sederhana di jantung kota Istanbul. Sehari sebelum digelarnya sidang ketiga kasus serangan zionis ‘israel’ terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara (Freedom Flotilla to Gaza) di Istanbul, dua orang ulama Negeri Syam memadu fikir dan hati Syeikh Usamah Abdul Karim Rifa’i dari Suriah dan Syeikh Raid Shalah dari Palestina.


Syeikh Usamah Rifa’i adalah tokoh penting yang dikenal luas dalam ilmunya dan tetap tenang menghadapi berbagai situasi Suriah. Tahun 2011 lalu ia luka-luka di kepalanya akibat serangan agen intelijen dan polisi Suriah ke dalam masjidnya di suatu malam Ramadhan.


Syeikh Raid Shalah dikenal luas sebagai “Jurubicara Masjidil Aqsha” karena keberaniannya mengungkapkan berbagai kezhaliman rezim zionis ‘israel’ atas warga kota Al-Quds atau Yerusalem, serta makar mereka terhadap Masjidil Aqsha. Syeikh Raid yang ikut diserang di kapal Mavi Marmara dijadualkan memberi kesaksian hari ini di persidangan ketiga.


Sejuk Berisi


Bisa dibilang tidak ada kata-kata yang sia-sia dalam pertemuan sekitar 20 menit di sebuah hotel di kawasan Fatih itu. Keduanya bertukar-kabar tentang kondisi Damaskus dan al-Quds, saling mendoakan kebaikan, dan saling mengingatkan -tentang keutamaan-keutamaan Negeri Syam, baik berupa hadits Nabi Sallallaahu ‘alayhi wa sallam atau dari perkatan-perkataan para ulama.


“Kami yakin Allah akan memberikan pahala yang besar di Akhirat bagi saudara-saudara kita di Suriah yang sedang menghadapi fitnah besar,” kata Syaikh Raid.


Syaikh Usamah menyahut, “Aamannaa billah, kami beriman dan yakin kepada Allah.”


Syaikh Raid melanjutkan, di sepanjang rentang sejarah yang berabad-abad penguasa di Syam memang selalu berubah-ubah keadaannya, dari yang baik hingga yang zhalim. Tapi rakyatnya tetap baik, kata Syeikh Raid, karena didoakan secara khusus oleh Rasulullah Sallallaahu ‘alayhi wa sallam.


Soal kota Al-Quds yang masih dijajah zionis ‘israel’ dia mengatakan, penjajahan selamanya merupakan keburukan dan kejelekan. Tetapi tidak ada penjajahan yang berlangsung selamanya. “Kemenangan sudah dekat, insya Allah,” ujar Syeikh Raid.


Di akhir pembicaraan, Syeikh Raid menyinggung hadits Nabi Muhammad Sallalahu ‘alayhi wa sallam tentang lima fase umur umat Islam: masa kenabian, masa khalifah yang lurus, masa penguasa zhalim, masa raja-raja diktator, dan diakhiri masa kekhalifahan yang mengikuti kenabian.


“Kita sekarang ada di pintu-pintu menuju khilafah ‘ala minhajil nubuwwah, kekhalifahan di atas platform (manhaj) yang dicontohkan Nabi Muhammad Sallallahu ‘alayhi wa sallam,” kata Syeikh Raid Shalah.


Syeikh Usamah


Syeikh Usamah Rifa’i di Indonesia dikenal lewat karyanya “Tafsir Wajiz” terbitan Gema Insani Press. Beliau adalah ulama Damaskus yang sejak akhir tahun 2011 bermukim di bekas ibukota Khilafah Utsmaniyyah itu.


Suatu malam di bulan Ramadhan tahun 2011, masjid beliau yang dikenal seantero Suriah merupakan markas penyebarluasan ilmu-ilmu Al-Islam di kawasan Kfar Susyeh menjadi ajang pertumpahan darah.


Seusai mengimami Qiyamul Lail yang khusyu’ Syeikh Usamah dikejutkan teriakan-teriakan dari halaman tengah masjid. Puluhan pemuda meneriakkan yel-yel revolusi melawan rezim tiran Basyar Al-Assad.


Tak lama kemudian, puluhan agen intelijen dan polisi Suriah menyerbu masuk ke dalam masjid, mendobrak pintu utama, memukuli para pemuda Muslim, menangkapi, dan merusak berbagai bagian masjid dan perlengkapannya.


Salah seorang pendamping Syeikh Usamah luka parah ditusuki benda tajam di bagian perut dan dada. Syeikh Usamah sendiri terluka kepalanya kena pecahan kaca jendela masjid yang dilempari benda-benda keras dari arah luar.


Sesudah beberapa waktu dirawat di rumah sakit, para muridnya mengevakuasi beliau dan keluarga ke Turki sampai sekarang. Beliau dikabarkan terus aktif mendukung rakyat Suriah dengan memberi nasihat dan membina generasi muda Suriah yang datang silih berganti ke Turki.


Syeikh Raid


Sedangkan Syeikh Raid Shalah adalah Ketua Persatuan Masyarakat Arab (Palestina 1948) dan Gerakan Islam Palestina 1948 yang berkedudukan di kota Al-Quds atau Yerusalem. Sudah belasan kali pria ini ditangkap, dipenjara dan disiksa oleh rezim zionis ‘yahudi’.


Dialah yang pertama kali menyiarkan gambar-gambar terowongan di bawah Masjidil Aqsha yang digali oleh penjajah zionis sejak tahun 1970-an. Kegigihannya menyiarkan kabar tentang berbagai bahaya atas umat Islam di Al-Quds dan Masjidil Aqsha membuat dirinya dijuluki “Jurubicara Masjidil Aqsha”.


Tahun lalu, Syeikh Raid Shalah ditangkap di Inggris oleh kementerian dalam negeri, atas desakan lobi zionis. Beberapa bulan kemudian, pengadilan Inggris memutuskan bebas untuk Syeikh Raid yang datang ke negeri itu dalam rangka memenuhi undangan untuk memberikan pidato di depan Parlemen. Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May menanggung malu atas salah tangkap itu.


Syeikh Raid Shalah ikut ditangkap di atas kapal Mavi Marmara, dan dijadualkan memberi kesaksian dalam sidang kasus serangan berdarah tiga tahun lalu itu.


Semoga Allah menjaga kedua ulama ini sampai akhir hayatnya, terus menjadi suluh ummat yang kebanyakan dibikin bingung oleh fitnah Akhir Zaman.* 


Rep: Surya Fachrizal Ginting
Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Sejuknya Pertemuan Ulama 'Dua Sayap untuk Masjidil Aqsha' di Istanbul