Showing posts sorted by relevance for query tambahan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query tambahan. Sort by date Show all posts

Wednesday, May 1, 2013

Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Terhenyak. Itulah satu kata yang menggambarkan situasi bangun tidur saya, Kamis 25 April 2013. Saya baru saja bangun kesiangan karena semalam suntuk merasa tidak mau membiarkan halaman demi halaman buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo terbiarkan.


Saya begitu penasaran dengan tuisannya yang meski belum selesai membacanya, tetapi ada begitu banyak nilai yang penting tercatat di sana. Sebuah perjalanan keliling dunia yang menjadikannya pribadi open minded. Beragam jenis dan situasi kehidupan yang dialaminya di luar sana membuka pikirannya tentang apa yang namanya nilai kemanusiaan.


Ya, terhenyak. Saya tidak terhenyak karena bangun kesiangan. Saya terhenyak karena membuka smartphone saya dan menemukan link berita dari BeritaSatu.Com (Rabu, 16 Januari 2013, 21.29) berjudul: Pemda Blitar Batal Tutup Enam Sekolah Katolik. Maaf. Saya ketinggalan berita. Berita ini sudah basi. Sudah tiga bulan yang lalu. Kurang lebih seperti ini:


Pemerintah Daerah Blitar membatalkan niatnya menutup sejumlah sekolah di wilayah itu yang tidak mau mengikuti aturan memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Romo Didik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Surabaya, menjelaskan bahwa pada hari ini, pengurus yayasan sekolah itu memenuhi undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Blitar demi membicarakan masalah itu.


Ada sejumlah kesepakatan yang didapatkan dari pertemuan itu, yakni pendidikan agama non-Katolik tetap dilaksanakan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh guru yang kompeten atau lembaga agama yang terkait. Berikutnya kegiatan dimaksud di atas akan dilaksanakan di luar sekolah.


“Petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan itu akan disusun secara bersama-sama,” kata Romo Didik saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/1) malam.


“Jadi tidak ada penutupan sekolah Katolik,” tegas dia.


Sebelumnya, DPR dan pemerintah diberitakan bergerak cepat untuk mengatasi adanya rencana penutupan enam sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur, karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Anggota Komisi III DPR dari daerah pemilihan itu, Eva Kusuma Sundari, mengisahkan kisruh itu diawali oleh adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kantor Kementerian Agama Setempat dengan Walikota mengenai hal itu. Surat itu bernomor 8 tahun 2012.


Di suratnya disebutkan bahwa wajib bagi setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.


Surat itu lalu disusul surat peringatan keenam sekolah swasta di kota Blitar yang dianggap tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain, yakni SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.


Enam sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.


Disebutkan di dalam peringatan bahwa dasar untuk itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, yang mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional.


Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut izin operasional enam sekolah tersebut.


Yang menarik dari berita tersebut adalah sudut komentar yang menggugah rasa saya untuk sebuah tulisan setelah ini yang akan saya sajikan.


Ogut – Selasa, 23 April 2013 | 14:02


kenapa ya agama selalu sj yg dipermasalahkan … org Katholik yg bersekolah / kuliah di yayasan agama Islam tidak pernah mengeluhkan ttg pelajaran agamanya …Yg penting tujuan utama utk sekolah / kuliah itu tercapai dgn baik… Jangan sllu agama yg dipermasalahkan .. Yg penting bisa lulus dgn hasil yg baik .. syukur-2 lgsg dpt pekerjaan .. Jika org Katholik bs sekolah di Yayasan Islam justru malah senang krn sebagai umat minoritas bisa belajar pengetahuan ttg Islam, tidak merasa didiskriminasi


ridho – Senin, 25 Februari 2013 | 20:11


maaf mas saya alumni SMAK Diponegoro Blitar, selama saya bersekolah disitu kami muslim hanya mengenal agama Katolik dan juga sebaliknya jadi akan terjadi toleransi beragama yang baik


anton – Selasa, 19 Februari 2013 | 08:27


Salut, dengan saudara/i muslim yang mau bersekolah di sekolah katolik tanpa harus pindah agama . Mereka tahu sekolah katolik mendidik murid jadi NASIONALIS bukan TERORIS. Berapa banyak pejabat negara yang masih MUSLIM sejati yang pernah bersekolah di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tak mengajarkan FANATISME TOLOL dan PEMAKSAAN serta senang budaya KORUP ( pengrusakan, kekerasan, tawuran ) yang membuat para siswa sering KERASUKAN BERSAMA karena murid dan gurunya hanya ingin libur bersama (malas)


Hariyadi Blitar – Sabtu, 16 Februari 2013 | 21:54


Mendapatkan Pendidikan Agama oleh Guru Seagama adalah HAK ASASI.


Inilah bunyi pasal 12 ayat 1 di UU SISDIKNAS 2003 yang menjadi acuan. Jika ada sekolah (lembaga pendidikan formal) yang tidak melaksanakannya PANTAS untuk ditinjau ulang ijin operasionalnya.


Saya dapat bocoran 60% lebih siswa di SMA Katolik Blitar adalah Muslim. 85% siswa di STM Katolik Blitar juga Muslim. Sayang nya mereka DIPAKSA mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dan TIDAK ADA PILIHAN LAINNYA.


PELANGGARAN HAM


Agustinus Wibowo (sapaan akrabnya Ming), pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur beretnis Tionghoa yang menjadi musafir selama 10 tahun keliling dunia setelah menamatkan kuliah bermutunya di Universitas Tsinghua Beijing, Tiongkok. Saya, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, beretnis Minahasa, belum mengembara terlalu jauh seperti Ming, tetapi cukup merasakan sembilan tahun tidak bersama keluarga.


Dengan alasan yang sama seperti Ming, saya tidak bersama keluarga bukan karena melarikan diri, tetapi karena panggilan jiwa, pendidikan dan tentunya petualangan. Tidak bermaksud menyindir siapa pun, tetapi perjalanan bertahun-tahun “di luar rumah” adalah perjalanan membuka pikiran untuk hidup tidak dengan pola piker kolot yang sok pinter melakukan justifikasi dalam setiap persoalan sensitif menyangkut hak asasi manusia (HAM).


Saya mengingat perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sadar akan kekolotan kehidupan yang ada di sekitarnya, Dahlan berani mendobrak tradisi keislaman yang tradisional di tanah Jawa waktu itu dan mencerahkan pikiran dengan melakukan perjalanan belajar ke luar negeri. Itulah kemudian yang menetapkan langkahnya mendirikan sebuah organisasi Islam sebesar Muhammadiyah saat ini, sebuah organisasi Islam modern yang terkenal dengan dialog bermutu dan pemikiran-pemikiran terbukanya tentang dunia secara global.


Saya juga hafal betul dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang merupakan tokoh pengusung pluralisme dalam berbangsa. Bisakah Gus Dur memiliki karakter demikian jika pada masa lalunya tidak berani keluar dari zona tradisionalnya? Bisakah beliau tanpa latar belakang pendidikan ala Kairo yang pluralistik yang diterimanya saat kuliah?


Ketika tahun 2004, kakak perempuan saya secara radikal memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti suaminya yang beragama Islam, keluarga saya yang tumbuh dalam keluarga Katolik tradisional begitu menolak keputusan itu. Keluarga saya adalah kumpulan orang-orang yang mengetahui Islam sebagai ajaran yang tidak pernah berhubungan dengan Kristianitas. Seorang Katolik yang masuk Islam, yah, tidak bisa diterima. Itulah pemikiran tradisional keluarga kami. Apalagi keluarga kami berasal dari etnis Minahasa yang kental dengan suasana kekeluargaan dan kerabat Kristen. Keluarga besar akan mencibir keluarga inti saya jika hal itu terjadi. Malu. Itulah inti dari mengapa kakak saya tidak boleh masuk Islam. Hingga kini pun, meski kakak saya sudah menjalani imannya sebagai seorang muslimah hampir tujuh tahun, stigma sebagai seorang yang “berbeda” sudah telanjur diberikan untuk kakak saya.


Tahun 2008, untuk pertama kalinya saya mengenal Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Sebuah kampus milik yayasan gereja Katolik. Tak seperti kampus-kampus Katolik lainnya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Biasanya kampus-kampus itu bernama Santo-Santa atau nilai ke-Katolik-an misalnya De La Salle, Atma Jaya, Sanata Dharma atau Santo Thomas Aquinas, dan lain-lain. Nama “Parahyangan” sangat tidak bersangkut paut dengan nilai-nilai Katolik. Parahyangan justru merupakan representasi dari makna luas sebuah tempat yang menjadi surge dewa-dewi, surge para hyang. Meski akhirnya belakangan nama itu dimaknai khusus oleh kampus tersebut (dalam hubungannya dengan Sang-Hyang-Tuhan), tetapi menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kampus Katolik yang terkenal tersebut bukan karena saja namanya, tetapi juga karena pendiri dan visi-misi pendidikan yang diusungnya.


Selama menjadi mahasiswa dan menjalani kuliah di kampus ini, sebagai seorang Katolik yang terbiasa sekolah di sekolah Katolik (dengan segala pendidikan Katolik-nya, ritual, kapel, dsb), untuk pertama kalinya saya tidak menemukan mayoritas “penduduk” kampus adalah mahasiswa non-Katolik. Untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah Pusat Kajian Humaniora yang melaksanakan kuliah-kuliah karakter, moral , agama dan psikologi. Pusat kajian ini dipimpin oleh seorang romo. Bagi mahasiswa kampus ini – sesuai aturan harus ada pendidikan agama untuk setiap personal – disediakan pilihan untuk memilih mata kuliah dasar wajib: memilih kuliah fenomenologi agama (filsafat) atau kuliah pendidikan agama Katolik.


Bagi saya, mahasiswa fakultas filsafat, sebuah kewajiban untuk memilih mata kuliah fenomenologi. Tetapi untuk mahasiswa dari fakultas lain, mereka dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Pilihan yang memudahkan sebenarnya! Kenyataan yang sedikit lucu dan tak disangka adalah, para mahasiswa non-Katolik, justru begitu menyukai memilih kuliah pendidikan agama Katolik. Tanpa dipaksa. Itu pilihan mereka. Kalau saja mereka seorang yang tradisional dan tidak mau menjadi kafir, mereka tentunya lebih memilih kuliah fenomenologi yang notabene sama sekali tidak mempelajari tentang ajaran Katolik. Fenomenologi mengkaji realita agama-agama secara umum. Mau tahu kenapa mereka memilih kuliah pendidikan agama Katolik? Hanya satu alasannya: Dosennya seorang romo yang begitu cerdas, baik hati, murah hati dan bersahaja! Wow! Sebuah alasan yang manusiawi.


Ada hal lain yang begitu menonjol yang saya temukan di kampus ini. Selama kuliah, saya belum menemukan di mana letak kapel atau gereja kampus yang berdiri megah di dalam lingkungan kampus, seperti halnya sebuah kampus Katolik yang ada di belahan dunia mana pun. Mendapat embel-embel Katolik di antara kata “Universitas” dan “Parahyangan” bukanlah hal yang mudah.


Dalam peraturan Gereja Katolik tentang pendidikan Katolik ada pasal yang mengatur hal tersebut. Salah satunya ialah sebuah kampus Katolik harus menampakkan ciri ke-katolik-an yang khas. Maka sebuah kapel atau gereja menjadi ciri khas banyak kampus Katolik di seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kapel megah di lingkungan kampus bernama Parahyangan tersebut?


Ya, sejak berdiri tahun 1955, pendirinya dua uskup berkebangsaan Belanda. Monsinyur Petrus Arntz, OSC (uskup Bandung) dan Monsinyur Prof Geise OFM (rektor pertama Universitas Parahyangan) mencita-citakan sebuah perguruan tinggi yang dibangun “di” dan “untuk” tanah Parahyangan! Keduanya menyadari, kampus ini berdiri di tengah-tengah tanah Sunda yang kental dengan budayanya. Kampus yang akhirnya tetap eksis hingga kini itu ialah kampus yang dipersembahkan untuk tatar Parahyangan. Dengan alasan itu pula, dua pendiri ini menghendaki sebuah kampus yang mengajarkan ilmu berdasarkan Ketuhanan untuk diabdikan kepada masyarakat atau Bakuning Hyang Mrig Guna Santyaya Bhakti.


Dua pendiri ini pertama-tama tidak menempatkan Ke-katolik-an sebagai subjek utama yang harus dicekokin di dalam otak para mahasiswanya, tetapi justru semangat kekatolikan itu sendiri yakni iman, harap, dan kasih, yang harus menyemangati para mahasiswanya agar kelak menjadi manusia yang berbakti secara manusiawi. Itulah alasan mengapa, tidak ada kapel di kampus itu. (dan katanya tidak akan pernah ada-dan itu juga mengapa, Universitas Parahyangan menjadi kampus Katolik yang selalu mendapatkan ‘pengawasan yang ketat’ dari petinggi Gereja Katolik yang mengurusi pendidikan Katolik).


Panjang-lebar tentang Agustinus Wibowo, Ahmad Dahlan, Gus Dur, dan Universitas Katolik Parahyangan, apa sebenarnya hal yang penting dari semua itu?


Dalam sejarah pemikiran Yunani, ada satu masa ketika logika mendapatkan tempat yang begitu mulia saat ia melengserkan segala mitos yang terlalu lama membelenggu masyarakat Yunani waktu itu. Masa ketika myth berubah menjadi logos itulah menjadi masa kelahiran filsafat. Manusia hidup tidak lagi dalam kungkungan tradisionalitas. Tradisional itu bukan masalah konservatif atau kekakuan. Tradisional itu adalah masa ketika otak manusia begitu keukeuh mempertahankan imajinasi kolotnya diperhadapkan dengan kebenaran logika.


Mitos pada masa itu bahkan telah menjadi keyakinan yang begitu menguratnadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika mitos itu telah menjadi sebuah “agama”, dia lalu melakukan pembelaan yang terlalu percaya diri dan mati-matian. Dalam perjalanannya kemudian sedikit demi sedikit tradisionalitas mendapatkan tempat yang sesungguhnya harus ia tempati: tradisionalitas menjadi sebuah kearifan lokal, yang dari dialah setiap persoalan seharusnya dipelajari.


Lalu apakah yang mendasari sebuah negara menjadi begitu kolot pemikirannya terhadap pemberlakukan sebuah aturan? Itulah yang terjadi dalam konstruksi pemberitaan yang saya kutip di awal tulisan saya ini. Ketika Pancasila sebagai kearifan jiwa Indonesia yang kemudian di-logos-kan menjadi sebuah dasar negara, bahkan telah kalah dengan seperangkat aturan yang dikeluarkan oleh pemikir-pemikir kolot yang menuntut hak asasi yang sesungguhnya tidak pada pemahaman sebenarnya tentang pentingnya sebuah kemanusiaan.


Apa sebenarnya hak asasi yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Apakah mayoritas sebuah komunitas harus mengalahkan hak asasi dari sebuah kekhasan?


Ketika di satu sisi saya menuntut hak saya untuk diperlakukan sesuai kekhasan diri saya, lalu kapan saya memperhitungkan kekhasan orang lain atau institusi yang saya tuntut memberikan hak kekhasan itu kepada saya?


Sekali lagi, mitos dan tradisionalitas sempit telah lahir menjadi logika. Lalu ketika ada yang membaca tulisan ini berkomentar” “Logika justru telah menghancurkan sistem-sistem nilai moral! Rasio justru telah menjadi alat pembunuh bagi manusia!.”


Itu bukan konteks sebenarnya. Bagaimana setiap manusia menyadari bahwa setiap masalah ada di dalam konteksnya masing-masing. Dalam konteks pembicaraan saya, hak asasi manusia adalah setiap hal yang menjadi hak dasar manusia sebagai makhluk bermartabat Allah. Martabat Allah yang diembuskan dalam napas manusia membuatnya menjadi makhluk yang khusus. Dan manusia yang dimaksud itu banyak. Ada hampir delapan miliar martabat Allah di dunia ini. Lalu kita harusnya kembali ke pemahaman bahwa saya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk hidup menurut ciri khasnya dan saya juga harus menyesuaikan untuk berusaha hidup sesuai kekhasan diri saya secara maksimal.


Ada yang keliru dalam argumentasi-argumentasi tentang mendapatkan hak asasi: aturan diperlakukan untuk memudahkan hak asasi tersebut terwujud, tetapi mengebiri hak asasi pihak lain.


Di akhir tulisan saya ini ada satu hal yang ingin saya gabungkan dalam hubungannya dengan beberapa cerita tentang Agustinus Wibowo hingga Universitas Katolik Parahyangan di atas.


Seorang Pastor Belanda di Tilburg setahun yang lalu pernah mengatakan kepada saya,“Orang Indonesia itu bagus sekali. Punya ungkapan hiduplah membumi!”


Kalimat ini menggugah saya. Ketika orang Barat hidup dengan seni individualistiknya, penilaian saya terhadap itu positif: mereka demikian bukan karena mementingkan diri sendiri, tetapi mereka hidup membumi, apa adanya. Hidup membumi juga berarti saling menghargai, rendah hati, dan memperlakukan segala sesuatu pada “bumi”-nya atau pada asalnya.


Jangan meminta sayur di warung buah. Jangan meminta besi di warung sayur. Jangan meminta pizza di warung gado-gado. Bisa saja, tetapi sulit dan lama! Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berkutat pada bagaimana bisa membeli kebutuhan pada tempat yang tidak menjualnya. Dirampok, tersesat, hampir mati, dan diperhadapkan pada orangtua yang sakit parah di belahan dunia lain, telah menjadikan Agustinus Wibowo menjadi seseorang yang melihat dunia dan membagi nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi untuk banyak orang.


KH Ahmad Dahlan dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pribadi yang modern dan toleran. Mereka menjadi demikian bukan berarti mengabaikan inti nilai iman mereka, tetapi justru dengan demikian menjadi pribadi yang bersahaja dan mudah menghargai orang lain.


Dan yang terakhir adalah kampus Katolik yang saya ceritakan tadi, yang terpenting adalah mendidik karakter. Percuma paham Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, percuma hafal dan paham Alquran dari awal hingga akhir kitab, percuma menguasai tiga keranjang Tripitaka, dan berbagai ajaran Veda ataupun seluruh kebijaksanaan Nabi Kongzi. Semuanya percuma, jika dalam hidup sehari-hari, kita menggunakan semua indra untuk menelanjangi kemanusiaan orang lain. Pertanyaannya, berdasarkan ajaran iman pribadi sebenarnya saya berjuang untuk hak asasi siapa?


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1ftb-geliat-islam-di-eropa-barat-1


Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Thursday, December 8, 2016

CIMB Niaga Sponsori MTQ Mualaf Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN â€" Kemeriahan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kedua mualaf tahun ini tak lepas dari antusiasnya para mualaf yang ikut berlomba dan mengunjungi acara yang digelar selama 2 hari di halaman Masjid Agung Al Ma’arif belum lama ini.

Hal lain juga karena panitia MTQ tahun ini secara khusus menyediakan banyak hadiah, baik untuk para pemenang lomba maupun berbentuk doorprize untuk para pengunjung yang mendatngi arena MTQ.

Ketua Panitia MTQ ke-2 Mualaf Kota Tarakan H.Ramli, S.Ag kepada Radar Tarakan bahwa pihaknya merangkul beberapa donatur untuk mendukung acara mualaf tersebut.  

“Memang untuk memeriahkan MTQ Mualaf tahun ini, kami mencoba merangkul beberapa donatur guna mendukung acara ini, terutama dalam menambah nilai hadiahnya. Alhamdulillah beberapa donatur telah memberikan sumbangannya. Diantaranya adalah tambahan hadiah kepada para juara dari Bank CIMB Niaga,” kata Ramli.

“Kepada para pemenang lomba juara 1, 2 dan 3 diberikan tambahan hadiah berupa tabungan di Bank CIMB Niaga Tarakan,” tambahnya. 

Dari pihak Bank CIMB Niaga sendiri menjanjikan akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan Baznas Tarakan di masa mendatang dan siap untuk berpartisipasi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Leader Marketing Bank CIMB Niaga, Chaterina Sophia Chandra kepada awak media ini.

“Alhamdulillah kami bisa ikut berpartisipasi di MTQ Mualaf ini, walaupun mungkin tidak banyak. Insya Allah ke depannya kami dari CIMB Niaga siap mendukung kegiatan yang dilaksanakan Baznas Tarakan,” katanya. Masih menurut wanita berhijab yang ternyata juga mualaf ini, dirinya senang sekali dengan kegiatan mualaf yang digagas oleh Baznas Tarakan.

“Terus terang saya sangat terharu dan merasa senang sekali dengan acara Baznas ini. Saya juga seorang mualaf, acara MTQ ini sangat menyentuh sekali buat saya,” ungkap Chaterina. (adv/har) 

"

| CIMB | Niaga | Sponsori | Mualaf | PROKAL | strong> | TARAKAN | Kemeriahan | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | kedua | mualaf | tahun | lepas | antusiasnya | para | yang | ikut | berlomba | mengunjungi | acara | digelar | selama | hari | halaman | Masjid | Agung | Ma’arif | lama | p> Hal | lain | juga | karena | panitia | secara | khusus | menyedi | banyak | hadiah | baik | untuk | pemenang | lomba | maupun | berbentuk | doorprize | pengunjung | mendatngi | arena | p> Ketua | Panitia | Kota | Ramli | kepada | Radar | Tar< | bahwa | pihaknya | merangkul | beberapa | donatur | mendukung | tersebut | p> “Memang | memeriahkan | kami | mencoba | guna | terutama | dalam | menambah | nilai | hadiahnya | Alhamdulillah< | telah | memberikan | sumbangannya | Diantaranya | adalah | tambahan | juara | Bank | kata | p> “Kepada | diberikan | berupa | tabungan | tambahnya | p> Dari | pihak | sendiri | menjanjikan | senantiasa | kegiatan | Baznas | masa | mendatang | siap | berpartisipasi | p> Sebagaimana | diungkapkan | oleh | Leader | Marketing | Chaterina | Sophia | Chandra | awak | media | p> “Alhamdulillah | walaupun | mungkin | Insya | Allah< | depannya | dilaksan | katanya | Masih | menurut | wanita | berhijab | ternyata | dirinya | senang | sekali | dengan | digagas | p> “Terus | terang | saya | sangat | terharu | merasa | Saya | seorang | menyentuh | buat | ungkap | (adv | har) < | p> |

Thank U So Much for Visit this News

Tuesday, February 19, 2013

CAESSARIA INDRA DIPUTRI

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/14/14430041/LSI.Parpol.Islam.Terancam.Tak.Masuk.Lima.Besar


CAESSARIA INDRA DIPUTRI

Wednesday, February 13, 2013

Transparansi pembatasan kuota calon haji

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://www.merdeka.com/dunia/calon-bos-cia-masuk-islam.html


Transparansi pembatasan kuota calon haji

Thursday, December 8, 2016

CIMB Niaga Sponsori MTQ Mualaf Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN â€" Kemeriahan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kedua mualaf tahun ini tak lepas dari antusiasnya para mualaf yang ikut berlomba dan mengunjungi acara yang digelar selama 2 hari di halaman Masjid Agung Al Ma’arif belum lama ini.

Hal lain juga karena panitia MTQ tahun ini secara khusus menyediakan banyak hadiah, baik untuk para pemenang lomba maupun berbentuk doorprize untuk para pengunjung yang mendatngi arena MTQ.

Ketua Panitia MTQ ke-2 Mualaf Kota Tarakan H.Ramli, S.Ag kepada Radar Tarakan bahwa pihaknya merangkul beberapa donatur untuk mendukung acara mualaf tersebut.  

“Memang untuk memeriahkan MTQ Mualaf tahun ini, kami mencoba merangkul beberapa donatur guna mendukung acara ini, terutama dalam menambah nilai hadiahnya. Alhamdulillah beberapa donatur telah memberikan sumbangannya. Diantaranya adalah tambahan hadiah kepada para juara dari Bank CIMB Niaga,” kata Ramli.

“Kepada para pemenang lomba juara 1, 2 dan 3 diberikan tambahan hadiah berupa tabungan di Bank CIMB Niaga Tarakan,” tambahnya. 

Dari pihak Bank CIMB Niaga sendiri menjanjikan akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan Baznas Tarakan di masa mendatang dan siap untuk berpartisipasi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Leader Marketing Bank CIMB Niaga, Chaterina Sophia Chandra kepada awak media ini.

“Alhamdulillah kami bisa ikut berpartisipasi di MTQ Mualaf ini, walaupun mungkin tidak banyak. Insya Allah ke depannya kami dari CIMB Niaga siap mendukung kegiatan yang dilaksanakan Baznas Tarakan,” katanya. Masih menurut wanita berhijab yang ternyata juga mualaf ini, dirinya senang sekali dengan kegiatan mualaf yang digagas oleh Baznas Tarakan.

“Terus terang saya sangat terharu dan merasa senang sekali dengan acara Baznas ini. Saya juga seorang mualaf, acara MTQ ini sangat menyentuh sekali buat saya,” ungkap Chaterina. (adv/har) 

"

| CIMB | Niaga | Sponsori | Mualaf | PROKAL | strong> | TARAKAN | Kemeriahan | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | kedua | mualaf | tahun | lepas | antusiasnya | para | yang | ikut | berlomba | mengunjungi | acara | digelar | selama | hari | halaman | Masjid | Agung | Ma’arif | lama | p> Hal | lain | juga | karena | panitia | secara | khusus | menyedi | banyak | hadiah | baik | untuk | pemenang | lomba | maupun | berbentuk | doorprize | pengunjung | mendatngi | arena | p> Ketua | Panitia | Kota | Ramli | kepada | Radar | Tar< | bahwa | pihaknya | merangkul | beberapa | donatur | mendukung | tersebut | p> “Memang | memeriahkan | kami | mencoba | guna | terutama | dalam | menambah | nilai | hadiahnya | Alhamdulillah< | telah | memberikan | sumbangannya | Diantaranya | adalah | tambahan | juara | Bank | kata | p> “Kepada | diberikan | berupa | tabungan | tambahnya | p> Dari | pihak | sendiri | menjanjikan | senantiasa | kegiatan | Baznas | masa | mendatang | siap | berpartisipasi | p> Sebagaimana | diungkapkan | oleh | Leader | Marketing | Chaterina | Sophia | Chandra | awak | media | p> “Alhamdulillah | walaupun | mungkin | Insya | Allah< | depannya | dilaksan | katanya | Masih | menurut | wanita | berhijab | ternyata | dirinya | senang | sekali | dengan | digagas | p> “Terus | terang | saya | sangat | terharu | merasa | Saya | seorang | menyentuh | buat | ungkap | (adv | har) < | p> |

Thank U Very Much for Visit this News

Friday, July 19, 2013

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Sunday, February 9, 2014

'Kita perlu realisitik'


  • Aminuddin Omar


ALOR SETAR – Peraturan persembahan hiburan diselaraskan bagi memenuhi tuntutan rakyat berbilang agama dan bangsa supaya keharmonian terus terpelihara.



Exco Belia dan Sukan, Kesenian, Kebudayaan dan Warisan, Badan-badan Bukan Kerajaan, Aminuddin Omar berkata, permohonan yang dibuat mengikut prosedur serta mendapat kelulusan pihak berkuasa tempatan.



Beliau berkata, penganjuran konsert di Sungai Petani itu dilaksanakan oleh pihak persendirian tanpa melibatkan kerajaan negeri.



“Kita perlu lebih realistik dengan budaya hidup pelbagai bangsa di negara ini. Jadi apabila penganjur bukan Islam memohon mengadakan program hiburan kita kena hormati namun pada masa yang sama mereka juga perlu mematuhi syarat tambahan lain.



“Antaranya ialah artis yang membuat persembahan perlu tampil dengan berpakaian sopan, tidak menjolok mata, situasi terkawal serta tidak melampaui tata cara atau peraturan dikehendaki pihak berwajib,” katanya kepada Sinar Harian ketika dihubungi semalam.



Menurutnya, Konsert Festival Muzik Planet Eupe tidak boleh dianggap sebagai konsert hiburan melampau seperti didakwa beberapa pihak sebelum ini kerana beberapa syarat tambahan dikenakan terhadap penganjur selain wajib mematuhi garis panduan persembahan yang ditetapkan.



Kelmarin, Pertubuhan Setiakawan Ummah Malaysia (Setiakawan Malaysia) mendakwa wujud konspirasi tangan ghaib cuba menimbulkan provokasi menyentuh sensitiviti agama serta akidah umat Islam di sebalik keghairahan penganjur mengadakan konsert hiburan melampau dengan membawa masuk budaya K-pop ke negeri ini.



Pas Kedah turut menggesa kerajaan negeri menarik balik permit penganjuran konsert yang bakal diadakan di Taman Air Carnival Eupe, Sungai Petani pada 1 Mac ini anjuran sebuah syarikat pemaju hartanah.



Konsert berkenaan dijangka dihadiri lebih 20,000 peminat bakal menampilkan penyanyi dan penulis lagu Yuna, Najwa Latif dan penyanyi mandopop Wang Lee Horn.



Antara persembahan lain termasuk penyanyi elektro-pop dari Taiwan Jeannie Hsieh dan kumpulan K-Pop dari Korea Selatan U-Kiss.



Susulan itu, lebih 5,000 tanda tangan penduduk di kawasan berhampiran festival dikumpul menyatakan bantahan terhadap penganjurannya kerana agama Islam melarang hiburan yang keterlaluan, penganjuran dalam kawasan persendirian terbuka, menyentuh sensitiviti Islam dan gangguan terhadap ketenteraman dan kesejahteraan awam.


Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/12/25/1826336/Kisah.Cinta.Anis.Matta.di.Hungaria


'Kita perlu realisitik'

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Sunday, December 30, 2012

Haram! Hura-hura di Tahun Baru

TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) menyerukan masyarakat Aceh tidak melakukan kegiatan hura-hara pada malam pergantian tahun karena kegiatan seperti itu masuk kategori haram.

Imbauan mengisi malam pergantian tahun dengan zikir, doa, dan renungan diserukan oleh MPU Aceh dan MPU kabupaten/kota sehubungan akan masuknya tahun baru Masehi 2013.

“Jangan merayakan pergantian tahun secara berlebihan. Hindari kegiatan hura-hura seperti bakar mercon, tiup terompet, dansa, serta tindakan yang melanggar syariat Islam. Menyambut tahun baru dengan hura-hura haram,” tandas Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali kepada Serambi, Minggu (30/12/2012) malam.

Tgk Faisal berharap masyarakat Aceh tidak menyambut tahun baru dengan cara-cara nonmuslim. Dianjurkan mengisi malam pergantian tahun dengan tausiah, zikir, dan renungan terhadap perbuatan yang dilakukan setahun lalu. “Jangan tiup terompet. Tiup terompet bukan budaya Islam. Kita orang beriman. Munculkan ciri islami karena itu karakternya Aceh,” katanya. “Pemerintah bersama aparatnya harus mengawasi secara ketat agar perayaan tahun baru tidak memunculkan hal-hal yang meresahkan,” pungkas Tgk Faisal.

Ketua MPU Aceh Utara, Tgk H Mustafa Ahmad, mengingatkan umat Islam agar tidak menyambut Tahun Baru 2013 dengan pesta pora, apalagi meniup terompet, membakar lilin, atau duduk berbaur pria dan wanita nonmuhrim, sebab semua itu merupakan perbuatan setan dan tergolong maksiat.

Imbauan itu disampaikan Tgk Mustafa Ahmad melalui Serambi, Minggu (30/12), menjelang tutup tahun 2012 dan masuknya tahun 2013 terhitung pukul 00.01 malam ini.

Menurut Tgk Mustafa, umat Islam baru saja menyambut tahun barunya, yakni Tahun Baru 1434 Hijriah yang bertepatan dengan 15 November 2012. “Cuma itu tahun baru kita selaku umat Islam. Oleh karenanya, umat Islam di daerah ini tidak perlu ikut-ikutan merayakan pergantian tahun 2012 ke tahun 2013. Apalagi sampai membakar lilin, bakar mercon, dan berpesta pora pakai keyboard segala,” kata ulama yang dijuluki “Abu Paloh Gadeng” ini.

Di akhir pembicaraannya dengan Serambi, Abu Paloh Gadeng menekankan, “Jangan sampai saat pergantian tahun Masehi syariat Islam dikotori dengan maksiat sekecil apa pun yang tidak membawa manfaat.”

Imbauan serupa disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Lhokseumawe, Tgk H Misran Fuadi, dan Kepala DSI Bireuen, Drs Jamaluddin SE MM.

Tgk Misran Fuadi memperkirakan besarnya peluang terjadinya maksiat tinggi pada malam pergantian tahun baru yang melibatkan kawula muda.

“Prediksi ini berdasarkan pengalaman tiap malam tahun baru yang sudah-sudah. Banyak muda-mudi yang menyemarakkan malam tahun baru dengan maksiat. Misalnya, berdua-duaan di tempat sepi atau berduaan di atas kendaraan sambil keliling kota, tanpa malu pada orang sekitar,” ujar Tgk Misran Fuadi.

Kepala DSI Bireuen, Drs Jamaluddin SE MM juga tidak menginginkan penyambutan tahun dengan pesta kembang api atau berhura-hura. “Pesta kembang api bukanlah budaya masyarakat Aceh dalam menyambut tahun baru, tapi itu budaya luar yang berkembang di lingkungan masyarakat Aceh. Sebaiknya ditiadakan,” imbuhnya.

Ia anjurkan umat Islam di daerahnya untuk tidak merayakan malam tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat (mubazir), apalagi yang menjurus ke maksiat.

Malam ini, mulai pukul 22.00 hingga 02.00 WIB dini hari, seluruh ruas jalan dan persimpangan yang mengarah ke Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, ditutup untuk lalu lintas kendaraan roda dua dan empat. Ruas jalan yang ditutup itu dialihkan untuk pejalan kaki serta kegiatan masyarakat lainnya yang terbebas dari polusi udara saat menyambut detik-detik pergantian tahun 2012-2013.

Informasi penutupan semua akses ke bundaran Simpang Lima disampaikan Dirlantas Polda Aceh, Kombes Pol Drs Unggul Sediyantoro MSi kepada Serambi, Minggu (30/12).

Menurut Unggul, untuk ketertiban dan kelancaran malam pergantian tahun itu, tidak kurang 800 petugas gabungan dari Polda Aceh, Polresta, Pomdam IM, Prajurit TNI, Dinas Perhubungan dan Satpol PP diturunkan. “Jalur-jalur yang masuk car free night (malam bebas kendaraan) dikhususkan bagi pejalan kaki yang telah memarkirkan kendaraannya di titik-titik yang sudah ditentukan. Di jalur car free night juga diperboleh bagi mereka pengguna sepeda serta aktivitas lain yang tidak mengganggu dan menimbulkan polusi udara,” pungkas Unggul.

Tujuan penutupan sejumlah ruas jalan tersebut, menurut Unggul agar tercipta kelancaran dan kenyamanan pengguna jalan lain, terutama bagi mereka yang memiliki keperluan bersifat emergency, misalnya penanganan cepat medis. “Belajar dari pengalaman dan pemantauan pada malam pergantian tahun sebelumnya, selain menimbulkan kesemrautan dan kemacetan panjang, juga banyak ruas jalan yang sulit dilalui. Kami juga mengimbau seluruh warga yang memarkirkan kendaraannya agar memasang kunci tambahan,” kata Unggul.

Dirlantas Polda Aceh menyebutkan, jalur yang tetap dibuka, yakni pengguna jalan yang datang dari arah Darussalam berbelok ke kanan memasuki Jalan Syiah Kuala dan Jalan Pocut Baren (Jambo Tape) serta ke Jalan T Hasan Dek, hingga Simpang Surabaya. Selanjutnya Jalan Chik Ditiro , Jalan Chik Pante Kulu (depan Masjid Raya Baiturrahman), Jalan Muhammad Jam, Jalan KHA Dahlan, dan Jalan Tepi Kali Krueng Aceh.(mir/swa/ib/bah/yus)

Liputan Khusus Tahun Baru 2013

Baca juga:

  • Kapolri Dijadwalkan Tinjau Pelabuhan Bakauheni Pagi Ini
  • Pembakar Rumah Asal Singapura Siap Disidang di Batam
  • 300 Karyawan di Bintan Segera Di-PHK



Haram! Hura-hura di Tahun Baru

Sunday, January 13, 2013

Hunian Eksotik Hadir di Tengah Kegalauan Individualistik

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Theresia T. Andayani

TRIBUNNEWS.COM – Kediaman Ambar Polah Tjahyono sangat mudah ditemui diantara rumah permukiman penduduk. Bangunan khas Joglo lengkap dengan arsitektur tradisional Jawa menjadi ciri khas yang membedakan dengan hunian lainnya. Rumah yang masih masuk dalam kompleks perumahan Wiromulyo itu memang begitu eksotik.

Memang lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu alasan bagi seseorang untuk memilih letak rumah hunian. Berada di tengah-tengah permukiman penduduk sebagai tempat tinggal bagi seluruh keluarga mungkin akan jarang dijumpai untuk saat ini. Terutama karena seringnya anggapan jika perkampungan terkesan berdesak-desakan, sempit, dan juga kotor.

Tapi tunggu dulu. Semua bergantung dengan komunitas yang ada dalam ruang lingkup lingkungan tersebut. Boleh jadi, di tengah-tengah kegalauan zaman yang mengakibatkan pola pikir individualistik seperti sekarang ini, kampung kembali memberi ruang bagi orang-orang yang rindu dengan kebersamaan, sosialisasi, dan juga saling berbagi dan merasakan sebagaimana hubungan manusia satu dengan yang lain.

Ambar Polah adalah salah satu dari sekian orang yang memilih hidup yang tidak jauh berbeda dengan di masyarakat perkampungan. “Karena dengan begitu saya dan keluarga justru bisa saling berkomunikasi dengan baik dengan lingkungan. Prinsipnya saya itu bisa tersenyum dan bertegur sapa dengan tetangga kanan kiri,” terang Ambar kepada Tribun Jogja, beberapa waktu lalu.

Tak heran kalau rumah Ketua Asmindo Pusat ini, benar-benar difungsikan secara maksimal untuk kepentingan kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. “Pokoknya rumah ini terbuka bagi siapa saja, untuk arisan boleh, numppang tidur boleh, main musik juga oke, he-he-he,” kelakar Ambar.

Memasuki rumah yang didominasi warna matang kayu ini akan mulai tampak unik. Seluruh dinding bagian depan rumah memakai gebyok ukiran yang didatangkan langsung dari Kudus, Jawa Tengah. Gebyok tersebut asli dari rumah penduduk yang berdiri kira-kira pada abad 13 ketika Islam mulai masuk. Detail ukiran tersebut sungguh menarik mengingat pada tiap bagian dikerjakan sangat rapi, teliti, dan kecil-kecil, sehingga membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi.

Berjalan melewati ruang dalam, kita lalu masuk ke ruang santai. Ruangan ini lebih familiar untuk menerima tamu-tamu dan juga untuk bersantai. Jalan yang menghubungkan dari ruang tamu depan dengan ruangan ini dibuat lantai berundak. Di ruang ini pula kita akan banyak menyaksikan barang-barang kuno yang menjadi koleksi Ambar. Mulai dari patung gajah Majapahit zaman Puteri Bali, Kelaparan, dan Kejayaan.

Di dinding terdapat topeng penthul gebyar dan wayang dari berbagai versi. Studio musik juga berada di ruang ini.

Rumah yang dibangun pada tahun 1999 ini terdiri dari dua kavling rumah yang digabung menjadi satu. Sisi ruang untuk publik lebih banyak memakan tempat jika dibandingkan dengan ruang keluarga. Bahkan sekalipun terdapat ruang pribadi, semua kamar didesain secara terbuka. Selain taman sebagai penyegar udara, juga berfungsi memisahkan ruang pribadi dengan ruang untuk publik tersebut. Tetap dalam konsep menyatu, seperti ruang makan, kerja, keluarga, dan kamar mandi dibuat saling berhubungan.

“Ya, bagi saya rumah adalah tempat untuk bisa saling bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri, sehingga saya dan keluarga tidak merasa menjadi manusia aneh yang harus hidup individu seperti sekarang ini,” pesannya.

Bahkan untuk urusan desain, Ambar mengaku melakukannya sendiri, sehingga beberapa bagian dalam rumah yang terdiri dari 2 lantai ini memang terdapat bagian-bagian yang menunjukkan bangunan tambahan. Ambar mengaku, dengan konsep yang dikerjakannya sendiri akan benar-benar dapat disebut sebagai rumah rakyat untuk semua kalangan.

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/09/27/18151274/Penasihat.Media.Presiden.Iran.Masuk.Bui


Hunian Eksotik Hadir di Tengah Kegalauan Individualistik

Monday, December 2, 2013

Wajah Islam di Armenia

Ratusan pendukung Partai Aksi Nasionalis Turki sholat di reruntuhan Katedral kuno Armenia.Dok: Al ArabiyaRatusan pendukung Partai Aksi Nasionalis Turki sholat di reruntuhan Katedral kuno Armenia.Armenia – Islam mulai masuk ke Armenia pada abad ketujuh. Arab dan kemudian suku Kurdi mulai menetap di Armenia setelah invasi Arab pertama. Mereka memainkan peran yang cukup besar dalam sejarah politik dan sosial di Armenia.


Dengan invasi Seljuk pada abad ke-11 dan 12, unsur Turki akhirnya digantikan. Tekanan pemerintahan asing suksesi negara Muslim memaksa banyak Kristen dan Yunani di Anatolia dan Armenia masuk Islam dan berasimilasi ke dalam masyarakat Muslim.


Orang-orang Arab Muslim pertama menginvasi Armenia pada 640 M. Pangeran Theodoros Rshtuni memimpin pertahanan Armenia. Pada sekitar 652 M, kesepakatan damai yang memungkinkan kebebasan beragama Armenia dibuat.


Pangeran Theodoros melakukan perjalanan ke Damaskus, ia diakui oleh bangsa Arab sebagai penguasa Armenia, Georgia, dan Kaukasia Albania.


Pada akhir abad ketujuh, kebijakan khalifah terhadap Armenia dan iman Kristen menguat. Perwakilan khusus dari khalifah disebut ostikans (gubernur). Mereka dikirim untuk memerintah Armenia.


Para gubernur tinggal di Kota Dvin. Meskipun Armenia dinyatakan sebagai wilayah kekuasaan khalifah, banyak warganya yang masih tetap menganut Kristen.


Pada awal abad kedelapan, suku-suku Arab dari Crescent Hejaz dan Subur mulai bermigrasi dan menetap di kota-kota besar Armenia, seperti Dvin, Diyarbekir, Manzikert, dan Apahunik.


Unsur Muslim di Armenia tumbuh semakin kuat selama periode abad pertengahan. Setelah kekalahan Bizantium di Manzikert pada 1071 M, gelombang Turki nomaden menembus Asia Tengah dan Iran utara serta membuat jalan mereka dari menembus dan akhirnya menetap di sepanjang Armenia dan Anatolia.


Kekaisaran Ottoman (Turki Usmani) memerintah sesuai dengan hukum Islam. Dengan demikian, para ahli kitab (Kristen dan Yahudi) harus membayar pajak tambahan untuk status mereka dan kebebasan beragamanya dijamin.


Rakyat Armenia harus memberikan beberapa anak laki-laki sehat kepada pemerintah. Para lelaki itu lalu masuk Islam dan dididik menjadi prajurit terampil pada masa perang.


Beberapa provinsi dimasukkan dalam batas-batas Republik Turki pada 1923. Sisanya menjadi bagian dari Republik Soviet Sosialis Armenia.


Sejak merdeka pada 1991, mayoritas Muslim terdiri atas penduduk sementara dari Iran dan negara-negara lain. Pada 2009, Pew Research Center memperkirakan kurang dari 0,1 persen dari populasi atau sekitar 1.000 orang adalah Muslim.


Sejumlah besar masjid didirikan di Armenia selama periode kuno, abad pertengahan, dan zaman modern. Meski tidak biasa bagi gereja-gereja Kristen Armenia dan lainnya diubah menjadi masjid, Katedral Kars berubah fungsi menjadi masjid.


Hanya ada satu masjid yang dibangun pada era modern, yaitu Masjid Biru di Yereven yang masih bertahan sampai saat ini.


Negara ini memiliki luas wilayah 30 ribu kilometer persegi dengan jumlah penduduk tiga juta. Armenia terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia di Pegunungan Kaukasus.


Armenia terus menjadi salah satu negara yang paling homogen secara etnis di Eropa. Pada 2001, penduduknya terdiri atas 97,9 persen etnis Armenia, Rusia sebesar 0,5 persen, Kurdi sebanyak 1,3 persen, dan lainnya 0,3 persen.


Alquran versi cetak pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia dari bahasa Arab muncul pada 1910. Pada 1912, terjemahan versi Prancis diterbitkan.


Sebuah terjemahan baru Alquran dalam dialek Armenia Timur dimulai dengan bantuan Kedutaan Republik Islam Iran yang terletak di Yerevan. Terjemahan dilakukan oleh Edward Hakhverdyan dari Persia dalam tiga tahun.


Di Yerevan, ada juga komunitas kecil Muslim, termasuk Kurdi, Iran, dan penduduk sementara dari Timur Tengah.


Konstitusi yang diubah pada 2005 memberikan kebebasan beragama dan hak untuk melaksanakan, memilih, atau mengubah keyakinan agama.  [005-Republika]


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=305200:jadi-mualaf-jonas-rivanno-sembunyi&catid=19:infotainment&Itemid=33


Wajah Islam di Armenia

Wednesday, September 18, 2013

Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari

WEDNESDAY, 18 SEPTEMBER 2013


Total View : 481 times


Sejak diambil alih, 20.000 umat Kristen Koptik di Dalga mengalami penganiayaan. Sesaat setelah Morsi turun tahta, para penyerang merusak institusi Kristen, mencuri peralatan gereja dan membakar gedung setelah mereka selesai mencuri. “Mereka tidak ingin melihat umat Kristen punya kekuatan apapun, tidak peduli betapa sederhananya itu,” kata Yoannis, pendeta Ortodoks Koptik. Selain gereja, banyak rumah dan tempat bisnis umat Kristen yang diserang.



Sebanyak 40 keluarga sudah pergi dari kota tersebut saat penyerangan terjadi, namun masih banyak yang tersisa. Mereka dipaksa masuk Islam, para wanita seringkali menjadi target serangan verbal, dan mereka juga dipaksa untuk membayar pajak “penundukan” jika tetap berpegang teguh pada iman mereka.



Pajak ini, yang dikenal dengan pajak jizya, punya akar sejarah dalam politik Islam. Jizya dulunya adalah penaklukan non Muslim yang harus membayar tuan tanah Muslim dengan kerelaan ditundukkan agar keamanan mereka tetap terjaga, menurut Raymond Ibrahim, yang punya garis keturunan Koptik. Jika mereka beralih ke Islam, maka pajak ini tidak perlu lagi dibayar.



Para penyerang Dalga, kota yang berpenduduk 120.000 itu memberikan pajak yang berbeda-beda untuk setiap umat Kristen. “Pembayaran pajak dari satu tempat ke tempat lainnya berbeda-beda, beberapa membayar 200 pound Mesir setiap harinya, beberapa lagi 500,” kata Yunis Shawqi, seorang pendeta yang diterjemahkan oleh penerjemah. Sebagai informasi tambahan, 200 pound Mesir sama dengan Rp 300 ribu. Jadi sekitar Rp 9 juta per bulan. Mereka yang menolak membayar pajak akan diserang, menurut beberapa laporan.



Penganiayaan umat Kristen di Mesir makin bertambah. Mereka secara terang-terangan diserang karena iman mereka, padahal dunia menjunjung tinggi hak beribadah. Bahkan ketika seseorang tak percaya Tuhan pun diberikan kebebasan. Namun, mereka malah dianiaya dan tidak ada yang membela mereka. Biarlah mereka dibela oleh Tuhan dan Tuhan perlihatkan kuasa-Nya. Biarlah mereka juga kuat imannya di dalam Tuhan Yesus. Pray for Mesir.


 


Baca juga :


Cahaya Kecil, Pertemuan Hati Antara Ayah dan Anak


Ini Beberapa Cara Agar Daging Cepat Empuk


Orangtua VS Gadget


Kualitas yang Menentukan Cara Hidup


Mitos Seputar Kerontokan Rambut dan Kebenarannya


Selamatkan Usaha Anda dari Ancaman Krisis


Thread Forum JC : Aksi Solidaritas (JCers Goes To Panti Rehab YBMI)  


Ayah, Mengapa Kau Memukulku ?


Sumber : christianpost.com by lois horiyanti/jawaban.com



Lintas.me



About CBN


Article source: http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=12548:mualaf-ahmadiyah-dijamin-pusat&catid=60:news-update&Itemid=134


Umat Kristen Mesir Dipaksa Bayar Pajak 300 Ribu Per Hari

Sunday, February 24, 2013

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Home Internasional

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia


 

Sebuah baliho di Kelantan

 


Senin, 25 Februari 2013

DALAM konstelasi perpolitikan Malaysia, Kelantan selalu “stand out” atau tampil beda dari negeri-negeri lain di negeri Semenanjung Tanah Melayu.  Betapa tidak, di negeri yang terletak di Pantai Timur Malaysia ini  Partai Islam Semalaysia (PAS), yakni partai oposisi paling sengit bagi pemerintah yang sedang berkuasa di Putrajaya, selalu keluar sebagai pemenang. Hal tersebut sudah berlangsung selama dua puluh dua tahun. Sebenarnya sudah sering kali para pemimpin Barisan Nasional (BN), berkoar-koar akan mengambil alih pemerintahan negeri Kelantan. Tetapi sejauh ini rakyat Kelantan tetap tidak bergeming dari kepemimpinan ulama. Begitu mereka menyebut pemerintahan PAS.

Fenomena ini tentu menarik dicermati di saat partai-partai Islam di Indonesia sedang kelimpungan. Seandainya survei-survei yang banyak beredar mengenai bakal anjloknya suara partai Islam di Indonesia memang layak dipercayai.

Berada di Kelantan pada detik-detik menjelang Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia ke-13 merupakan pengalaman menarik karena penulis berkesempatan bertemu dan berbincang secara langsung dengan beberapa orang calon pemilih. Kesan bahwa partai Islam sudah menjadi lagu lama seperti yang sering didengungkan lembaga-lembaga survey seolah tidak berlaku di Negeri Serambi Makkah ini.

Kepemimpinan ulama bagi rakyat Kelantan adalah prinsip karena menjadi bagian dari perjuangan menegakkan syariat. Sementara di Indonesia istilah “syariat” ini semakin dijauhi karena telah dilekatkan dengan streotipe menakutkan: terorisme!

“Bisa-bisanya mereka mengaku Muslim tetapi ketika dibicarakan hukum Islam eh ketakutan. Mereka bilang hukum hudud itu sudah ketinggalan zaman. ‘Lagu’ gapo (apa pula) ini?,” ujar seorang penceramah di Masjid Wakaf Bharu malam Jumat itu.

Pengajian yang menghadirkan penceramah terkenal Malaysia tersebut dikerumuni ribuan anak-anak muda. Tidak kira anak muda yang bersorban atau yang ‘masih’ memakai anting-anting serta memakai kalung sebesar ibu jari semuanya rela duduk berdesak-desakan. Sambutan terhadap penceramah ‘selebriti’ seperti Azhar Idrus selalu seperti itu.  Sehingga jalan umum memasuki masjid terpaksa disulap jadi selasar tambahan.

Tetapi jangan bayangkan Azhar Idrus sering tampil di RTM 1 atau TV3 sehingga dia disebut selebriti. Penceramah yang tidak ramah dengan arah kebijakan pemerintahan di Malaysia tidak mungkin bisa masuk televisi untuk berceramah. Ketenarannya, selain karena ceramahnya memang ‘asyik’, adalah manajemen publikasi yang baik dengan memanfaatkan social network seperti youtube.

Suasana religius Kelantan tersebut kembali terlihat pagi berikutnya. Ribuan orang kembali meramaikan kuliah rutin yang digelar di sebuah musholla di tengah kota. Sementara diluarnya pula meriah dengan bazar-bazar yang diadakan penduduk dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota Bharu.

“Kuliah seperti ini diadakan secara rutin setiap jumat pagi,” ujar Rusydi salah seorang warga Kota Bharu sambil membawa penulis mengitari beberapa blok yang dipenuhi dengan tenda-tenda di mana penduduk dari pelosok Kelantan menjajankan dagangan mereka.

Biasanya kajian di Dataran Ilmu tersebut diisi langsung oleh Menteri Besar (Gubernur, red) Kelantan, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Tetapi karena Menteri Besar Kelantan tersebut sedang melakukan umrah ke Tanah Suci, ceramah lalu dibawakan oleh ustadz-ustadz senior yang memang ramai sekali jumlahnya di Kelantan.

Tidak mengherankan jika Kelantan seperti gudang ustadz bagi Malaysia, mengingat Kelantan sejak zaman dahulu sudah dikenal sebagai “negeri pondok pesantren.”

Sampai saat ini mayoritas pelajar Malaysia yang studi di Kairo, Mesir, juga berasal dari Kelantan. Jumlahnya lebih dari dua ribu orang. Ketika para ustadz ini berpolitik, mereka ingin persepsi politik sebagai “dirty arts” atau kerja kotor diisi dengan ruh Islam menjadi kerja dakwah. Sebagai kerja dakwah, politik harus bersih. Mungkin terdengar klise, tetapi politik uang misalnya amat sulit dipraktekkan di Kelantan.

Menarik juga dicermati dukungan kuat yang didapatkan PAS dari kalangan intelektual dan profesional di Kelantan. Menurut YB Dato’ Hj Che Abdullah Mat Nawi, anggota dewan asal Wakaf Bharu, hal ini terjadi karena imej positif yang berhasil didapatkan PAS setelah bekerja keras dengan bersih dan sungguh-sungguh selama 22 tahun menerajui (memerintah) negeri Kelantan.

“Didaerah seperti Kubang Krian yang didiami doktor, dosen dan cerdik pandai … cukup letakkan topi haji diatas meja undi maka secara otomatis suara mereka akan diraup oleh PAS,” ujar Dato’ Che Abdullah Mat Nawi pula.

Menurutnya  kepercayaan  yang diberikan rakyat adalah amanah. Entah berapa orang yang sanggup melakukan ini: keluar rumah pukul tujuh pagi, turun ke pelosok-pelosok desa untuk menyambangi rakyat lalu pulang jam 1 atau 2 dini hari. Tetapi aktifitas tersebut merupakan rutinitasnya jika kebetulan tidak ada jam kantor. Selama dua hari mengikuti aktifitas keseharian exco Negeri Kelantan membuat penulis berpikir “kalau saya YB dah lama minta berhenti!”

Tak punya hak royalti

Negeri yang sempat ditinggali Manohara ini sama sekali tidak bisa dikatakan miskin. Pertanian di Kelantan adalah nomor dua terbesar di Malaysia.

“Tetapi Kelantan bisa kaya raya jika tuntutan kami agar royalti minyak dan gas yang telah disetujui secara tertulis dengan pihak Petronas sejak tahun 1975 segera dikembalikan ke rakyat,” ujar beberapa orang warga Kelantan.

Bagi orang Kelantan sikap pemerintah pusat terhadap mereka selama ini dianggap tidak adil. Sabah dan Sarawak menerima royalti minyak dan gas bumi mereka, demikian pula Trengganu, tetapi Kelantan tidak diberi apa-apa.

Isu ini dimainkan kembali oleh partai-partai oposisi di Malaysia menjelang Pilihan Raya Umum 13 yang disebut sebagai Pilihan Raya (Pemilu) paling menentukan dalam sejarah Malaysia.

Setelah terdepak dari kekuasaan pada tahun 2003, seiring dengan eko reformasi di Indonesia, Mahathir Muhammad tidak lantas tenggelam seperti keluarga cendana. Pengaruhnya luar biasa mencengkram, sehingga dia mampu menyingkirkan Abdullah Ahmad Badawi yang menggantikannya ketika itu lalu digantikannya dengan orang yang bisa melindungi ‘kebijakan-kebijakannya’ yaitu PM Dato’ Sri Najib Tun Razak.

Begitu kuatnya pengaruh Mahathir dalam kebijakan Najib ini diakui sendiri oleh PM yang merupakan incumbent itu. Seperti dikutip oleh Malaysiadigest.com (3 Desember 2012), Najib mengakui jasa Mahathir dengan Visi 2020nya, “Dia dapat tugas mudah, saya dapat sulitnya,” ujar Najib dengan maksud bercanda, “dia mengumumkan visi 2020, saya yang harus mengisinya. Karena dia masih terus memantau saya.”

Kalau dalam PRU 13 UMNO dan aliansinya dalam Barisan Nasional sampai kalah dengan Pakatan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim maka reformasi yang sesungguhnya bakal terjadi di semenanjung tanah Melayu ini.  Sejauh ini saja, hasil dari PRU 12 lima tahun yang lalu, sudah ada empat dari tiga belas Negara bagian di Malaysia, yaitu: Kedah, Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor yang telah berhasil dikuasai Pakatan Rakyat. Meskipun Perdana Menteri Najib Tun Razak begitu yakin akan mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai PR tersebut ke tangan BN namun banyak analis yang meragukan kemampuan BN melakukan hal tersebut.

Di jejaring sosial, misalnya, orang masih hangat membicarakan kejadian di Penang beberapa waktu yang lalu. Seperti diberitakan media massa, lebih jelas lagi di Youtube, BN telah berhasil membawa Psy si penari Gangnam Style ke Penang bersempena dengan sambutan Hari Raya Imlek. Tarifnya tidak tanggung-tanggung: dua juta ringgit untuk bergangnam ria bersama Psy selama kurang dari lima belas menit.

Di sela-sela acara tersebut Perdana Menteri Malaysia melontarkan pertanyaan,  “Are you ready for BN?” Tetapi di luar dugaannya, para pengunjung yang didominasi kawula muda justru meneriakkan: “No!” secara beramai-ramai.

Memang agak sulit membayangkan seperti apa nasib syariat Islam jika PR berhasil menduduki Putrajaya dalam PRU 13 nanti. Partai Keadilan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim jelas bukan partai berbasis Islam seperti PAS. Begitu pula DAP, anggota Pakatan Rakyat yang didominasi masyarakat China dan India, sama sekali bukan partai yang ideologically friendly dengan visi dan misi yang diperjuangkan PAS. Sejauh ini partai-partai tersebut memang berhasil disatukan oleh kepentingan sesaat.

Mengenai isu ini Presiden PAS, Abdul Hadi Awang menegaskan dengan tidak ragu-ragu, “PAS memberi jaminan kerjasama dengan parti Pakatan Rakyat -dengan DAP, dengan PKR- selagi dapat mempertahankan Melayu Islam. Sekiranya kerjasama itu merugikan Melayu Islam, merugikan Islam…PAS keluar dari Pakatan Rakyat dan tidak ada ragu-ragu lagi.” Sikap seperti inilah, menurut hemat kita, yang membuat PAS tidak pernah kehilangan dukungan konstitutennya. Setidaknya di negeri Kelantan Darun Naim.*

Syaifullah Yudha,  penulis adalah peminat kajian Bahasa dan Peradaban Islam. Saat ini sedang mengawali perjalanan ke negeri-negeri di Asia Timur

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/hmi-jangan-masuk-kemelut-politik/30593


“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia