Showing posts sorted by relevance for query paket. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query paket. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Saturday, December 15, 2012

4 Parpol Usung Pasangan Frenly - KOMPAS.com

KUPANG, KOMPAS.com - Empat partai politik mengusung pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur NTT 2013-2018, Frans Lebu Raya-Beny Litelnoni (Frenly).

Keempat partai menyatakan dukungan dalam deklarasi kedua pasangan calon gubernur. Empat partai politik itu yakni PKB, PPP, Hanura, dan PDIP. Dengan demikian paket Frenly didukung 16 kursi di DPRD NTT yakni 9 kursi dari PDIP, 5 kursi dari Hanura, PKB dan PPP masing masing satu kursi.

Deklarasi paket Frenly berlangsung di GOR Oepoi Kupang, Rabu (12/12/2012) malam diikuti sekitar 2000 pendukung. Mereka adalah para kader dari keempat parpol, dan simpatisan. Deklarasi diawali dengan penjemputan secara adat di pintu masuk, tarian perang Hedung dari Adonara Flores Timur, dan pembacaan sikap dukungan dari empat parpol di atas.

Pada kesempatan itu dilakukan pula doa bersama, dibawakan empat pimpinan tokoh agama yakni tokoh agama Katolik, Kristen Protestan, Islam, dan Hindu.

Frans Lebu Raya dalam sambutan mengatakan, bertekad melanjutkan program pemberdayaan masyarakat desa, dengan mengalokasikan dana Rp 250 juta per desa per tahun yang telah berlangsung 3 tahun terakhir.

Beny Litelnoni adalah Wakil Bupati Timor Tengah Utara dan Frans Lebu Raya adalah Gubernur NTT saat ini.






Article source: http://news.liputan6.com/read/467756/ruu-kamnas-potensial-membuat-keamanan-memanas


4 Parpol Usung Pasangan Frenly - KOMPAS.com

Monday, June 24, 2013

Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

img


Makam wali di Jawa (Icha/detikTravel)


Surabaya – Keberadaan Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, terus memberikan pengaruh dan menjadi magnet wisata religi. Bahkan, wisatawan asing juga tertarik untuk mengikuti perjalanan wisata religi tersebut.

Menurut Direktur Utama PT Darmawisata Indonesia, Husin SE, pihaknya mengakui keunikan wisata religi Wali mampu menyedot perhatian wisatawan. Nah, di Jawa Timur ada 5 wali yang makamnya menjadi objek wisata religi.


“Beberapa wisatawan asing salah satunya dari Belgia yang non muslim tertarik untuk mengambil paket perjalanan wali 5 di Jawa Timur,” kata Husein, Senin (24/6/2013).


Paket Wali 5 yang mempunyai durasi hanya 1 hari ini menjadi satu kelebihan yang ditawarkan kepada wisatawan. Selain mempunyai jarak yang dekat kendala waktu juga bisa dihilangkan terutama untuk para wisatawan yang mempunyai waktu berlibur singkat.


“Jumlahnya terus mengalami peningkatan dan untuk musim liburan kali ini melonjak hingga 30%,” terang Husin.


Banyak keunikan yang ditawarkan saat melakoni wisata religi Wali 5 yang seluruhnya berada di wilayah Jawa Timur. Kunjungan pertama di Kota Surabaya yang dikenal sebagai Mbah Bungkul.


Mbah Bungkul yang berlokasi di Taman Bungkul Surabaya ini mempunyai nama asli Ki Ageng Supo yang lahir tahun 1400-1481. Sewaktu masuk Islam berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Mbah bungkul dikenal sebagai Guru dari sesepuh para Sunan yaitu Sunan Ampel. Kunjungan ziarah ke makam Mbah Bungkul jadi agenda wajib dan sekitar makam disulap oleh Pemkot Surabaya menjadi taman yang indah.


Selanjutnya berada di kawasan Surabaya Utara adalah makam Sunan Ampel. Selain berziarah, wisata belanja juga ditawarkan karena lokasinya bersebelahan dengan Pasar Gubah, pusat oleh-oleh wisata religi.


Di lokasi makam terdapat sumur mata air yang diyakini mampu menyembuhkan beragam penyakit dan membuat awet muda. Beberapa peziarah sengaja menyimpan air tersebut untuk dibawa pulang.


Ziarah selanjutnya mengarah ke Kota Gresik di makam Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Kedua Sunan ini mempunyai pola penyebaran agama yang cukup berbeda. Maulana Malik Ibrahim melakukan penyebaran agama Islam dengan pendekatan kultural dan sangat mahir di bidang pertanian dan pengobatan.


Di samping komplek Makan Maulana Malik Ibrahim terdapat Komplek makam keluarga Bupati pertama Gresik Kyai Tumenggung Pusponegoro I. Cara dakwah Sunan Giri yang mempunya nama asli Raden Paku/Ainul Yaqien dengan melakukan pendekatan kesenian dan mempunyai karya abadi seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending atau lagu instrumental Jawa seperti Asmaradana dan Pucung.


Butuh sedikit pengorbanan untuk mencapai makam Sunan Giri di perbukitan. Wisatawan bila mampu bisa berjalan kaki, namun bisa juga menggunakan transportasi ojek maupun dokar yang tersedia di sana.


Selain berziarah wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Sunan Giri yang menyimpan koleksi pribadi seperti sajadah dan beberapa alat salat lainnya. Lokasinya berdekatan dengan makam Sunan Malik Ibrahim.


Wisata selanjutnya menuju Kota Lamongan untuk berziarah ke makam Sunan Drajat yang mempunyai nama asli Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin yang merupakan putra dari Sunan Ampel.


Lokasi makam mempunyai keunikan yakni terdiri dari 7 bagian yang mencerminkan 7 filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan saat melakukan penyebaran ajaran Islam. Tur berakhir saat mengunjungi makam Sunan Bonang yang berada di pusat kota Tuban.


Bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, Sunan Bonang menyimpan kontroversi seputar lokasi makam. Selain di Pusat Kota Tuban bersebelahan dengan Masjid Jami Tuban, makam Sunan Bonang juga dipercaya sebagian orang berada di Pulau Bawean. Karya seni abadi yang ditinggalkan dan masih bisa dinikmati sampai sekarang adalah tembang Tombo Ati yang sering kita dengar merupakan gubahan dari Sunan Bonang.


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/240107


Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

Saturday, June 1, 2013

Ini Tips SMPN 1 Kota Magelang Raih Nilai UN Tertinggi Nasional



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>



MAGELANG, KOMPAS.com — Menduduki peringkat pertama nasional dalam perolehan nilai hasil ujian nasional (UN) 2013/2013 menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMP Negeri 1 Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebab, prestasi ini adalah yang pertama kali dicapai dalam sepanjang sejarah.


“Pada tahun ajaran ini sekolah kami mampu mencapai nilai rata-rata hasil UN 9,14. Pencapaian ini adalah yang terbaik dalam sepanjang sejarah,” ungkap Kunadi, Kepala SMP Negeri 1 Kota Magelang, Sabtu (1/6/2013).


Menurutnya, tahun ajaran lalu, sekolah tersebut hanya dapat mencapai peringkat 6 nasional. Padahal, kata Kunadi, tahun ajaran ini tingkat kesulitan soal-soal lebih tinggi dibanding tahun lalu. Ditambah lagi dengan sistem 20 paket soal yang berbeda tiap kelas. Sementara itu, tahun lalu hanya 5 paket soal berbeda tiap ruang.


Kunadi menyebutkan, dari 162 siswa peserta UN, sebanyak 71 di antaranya meraih nilai 10 untuk mata pelajaran matematika, kemudian dua siswa nilai 10 untuk Bahasa Inggris, dan tiga siswa meraih nilai 10 untuk IPA.


“Pencapaian ini adalah hasil kerja keras kami, bukan hanya para siswa akan tetapi adanya sinergitas antara siswa, tim guru, karyawan, komite, dan juga orangtua wali murid,” tuturnya.


Untuk dapat meraih prestasi tersebut, Kunadi mengakui, memang harus ada strategi antara lain selalu menerapkan profesionalitas guru, utamanya guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan. Selain itu, pihaknya juga senantiasa menekankan pada proses dan kualitas pembelajaran pada siswa.


“Meski status sekolah kami sudah tidak Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) lagi sejak Januari lalu, tapi kami tetap optimistis, bekerja keras dan tetap mepertahankan prestasi belajar anak didik kami,” tuturnya.


Wakil Kepala SMP Negeri 1 Kota Magelang Sri Endah Cahyani menambahkan, untuk memacu prestasi siswa, pihak sekolah sudah menerapkan disiplin sejak mulai masuk kelas IX. Siswa sudah diwajibkan mengikuti pendalaman materi atau biasa disebut jam ke-0 (pukul 06.00 – 07.00 WIB).


“Pada jam tersebut mereka harus mengerjakan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Kemudian dibahas bersama guru mata pelajaran yang bersangkutan. Setiap sebulan sekali siswa juga wajib mengikuti tes kompetisi. Di sini siswa menjadi terbiasa mengerjakan soal-soal dan berkompetisi secara sehat,” jelasnya.


Selain latihan soal secara intensif, pihaknya juga melatih siswa untuk disiplin dalam berdoa. Setiap hari siswa-siswa yang beragama Islam dianjurkan untuk menjalankan shalat dhuha berjemaah di masjid sekolah. Demikian pula bagi yang non-muslim, juga disediakan waktu khusus untuk berdoa di sekolah.


Yang lebih penting pula, kata Sri, pihak guru juga senantiasa menerapkan sikap jujur dan mandiri. Hampir setiap ujian sekolah maupun ujian nasional, guru-guru tidak pernah melakukan pengawasan yang berlebihan.


“Ini kami terapkan untuk melatih kejujuran dan percaya diri anak-anak. Jika kami para guru sudah terlalu ketat dalam pengawasan, misalnya keliling kelas memperhatikan siswa satu persatu justru membuat anak takut dan merasa tidak diberi kepercayaan,” pungkasnya.


Sekolah yang terletak di Jalan Pahlawan Kota Magelang ini memang dikenal dengan sekolah unggulan terbaik di Kota Magelang. Ribuan prestasi telah ditorehkan oleh siswa-siswa dan para guru sekolah ini. Tidak hanya prestasi akademik tapi juga nonakademik, baik tingkat kota/kabupaten, provinsi, nasional bahkan Internasional.


Untuk bisa masuk di sekolah ini pun, calon siswa harus mengikut beberapa tahapan seleksi. Antara lain harus mengikuti tes tulis khusus yang diselenggarakan sekolah. Kemudian hasil tes tersebut akan ditambah dengan rata-rata nilai SD.


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>







































Article source: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/gavin-susantio-bahagia-memiliki-keluarga-campur-5bba37.html


Ini Tips SMPN 1 Kota Magelang Raih Nilai UN Tertinggi Nasional

Thursday, December 13, 2012

4 Parpol Usung Pasangan Frenly

KUPANG, KOMPAS.com - Empat partai politik mengusung pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur NTT 2013-2018, Frans Lebu Raya-Beny Litelnoni (Frenly).

Keempat partai menyatakan dukungan dalam deklarasi kedua pasangan calon gubernur. Empat partai politik itu yakni PKB, PPP, Hanura, dan PDIP. Dengan demikian paket Frenly didukung 16 kursi di DPRD NTT yakni 9 kursi dari PDIP, 5 kursi dari Hanura, PKB dan PPP masing masing satu kursi.

Deklarasi paket Frenly berlangsung di GOR Oepoi Kupang, Rabu (12/12/2012) malam diikuti sekitar 2000 pendukung. Mereka adalah para kader dari keempat parpol, dan simpatisan. Deklarasi diawali dengan penjemputan secara adat di pintu masuk, tarian perang Hedung dari Adonara Flores Timur, dan pembacaan sikap dukungan dari empat parpol di atas.

Pada kesempatan itu dilakukan pula doa bersama, dibawakan empat pimpinan tokoh agama yakni tokoh agama Katolik, Kristen Protestan, Islam, dan Hindu.

Frans Lebu Raya dalam sambutan mengatakan, bertekad melanjutkan program pemberdayaan masyarakat desa, dengan mengalokasikan dana Rp 250 juta per desa per tahun yang telah berlangsung 3 tahun terakhir.

Beny Litelnoni adalah Wakil Bupati Timor Tengah Utara dan Frans Lebu Raya adalah Gubernur NTT saat ini.






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26071/27/11/2012/kuatkan-solidaritas-dengan-kedermawanan.html


4 Parpol Usung Pasangan Frenly

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Monday, May 20, 2013

Di Depan Menteri Agama, 20 Ahmadiyah Baca Syahadat

Grafis Terkait


Kekerasan Terhadap Ahmadiyah dalam Setahun


Foto Terkait


Masjid Ahmadiyah Disegel, Sejumlah Jemaat Dievakuasi




TEMPO.CO, Tasikmalaya – Sebanyak 20 pengikut Ahmadiyah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengucapkan kalimat syahadat di Masjid Agung Baiturrochman, Singaparna, Senin, 20 Mei 2013.


Prosesi itu diadakan di hadapan Menteri Agama Suryadarma Ali, Kepala Kementerian Agama wilayah Kabupaten Tasikmalaya Dadang Romansyah, serta unsur muspida dan ormas Islam. “Yang mualaf ada 20 orang. Total mantan jemaat Ahmadiyah yang sudah masuk Islam di Tasik ini ada 732 orang,” kata Dadang Romansyah, Senin, 20 Mei 2013.


Dadang menjelaskan, hingga sekarang, ada 4.216 jemaah Ahmadiyah di wilayahnya. Mereka tersebar di sejumlah desa di Tasikmalaya, di antaranya Tenjowaringin, Salawu, Singaparna, Sukaraja, dan Sukaratu.


Seusai prosesi itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya meminta Menteri Agama Suryadarma Ali membubarkan Ahmadiyah. “Kami meminta segera bubarkan Ahmadiyah,” kata Sekretaris MUI Tasikmalaya Edeng Zaenal Abidin.


Zaenal menjelaskan, selama ini MUI Tasikmalaya berusaha menangani keberadaan Ahmadiyah secara damai. “Prinsip kami, airnya jernih, ikannya berhasil ditangkap,” kata Zaenal. Untuk itu, bekerja sama dengan FKUB dan ormas Islam, MUI sering mengadakan dakwah di basis Ahmadiyah. “Hasilnya, sudah 700 anggota Ahmadiyah di Tasikmalaya kembali memeluk Islam,” kata Zaenal.


Pengikut Ahmadiyah yang hari itu membaca syahadat, Rani Rahmawati, mendukung anjuran MUI. Dia juga minta Menteri Agama memberi mereka pekerjaan. “Kami minta diangkat jadi pegawai negeri dan diberi dana usaha,” katanya terus terang.


Berbicara terakhir, Menteri Suryadarma mengaku tak bisa sendirian membubarkan Ahmadiyah. Dia mengaku harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.


“Akan kita bicarakan bagaimana baiknya menyelesaikan masalah Ahmadiyah ini. Mohon sabar, kita perlu proses,” kata dia. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan ini mengimbau agar mereka yang menolak Ahmadiyah tidak menggunakan kekerasan.


“Kalau berniat baik tapi caranya salah, ya akan salah. Misalnya bakar rumah, rusak tempat ibadah, itu salah,” Suryadarma menjelaskan.


CANDRA NUGRAHA


Topik Terhangat:
PKS Vs KPK
| E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Berita Terpopuler:
Selingkuh, Begini Fathanah Minta Maaf

Ilham Arief Serahkan Rp 7 Miliar ke Fathanah

Cerita Sopir Fathanah Soal Paket Duit ke Luthfi

Bisnis Labora Sitorus Dimulai dari Miras Cap Tikus

Sefti Suruh Sopir Beri Bingkisan Duit ke Luthfi?


Article source: http://sabili.co.id/berita/islami/item/598-dalam-sebulan-374-orang-masuk-islam-di-saudi.html


Di Depan Menteri Agama, 20 Ahmadiyah Baca Syahadat

Monday, September 23, 2013

Pembinaan Mualaf Juga Butuh Peran Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Pembinaan mualaf merupakan tugas seluruh umat Islam, termasuk pesantren. Itu sebabnya, sosialisasi perkembangan dakwah dikalangan mualaf perlu dilakukan, dengan harapan pesantren dapat turut berperan.


Yayasan Al-Isya Nurulbaqi, selaku lembaga pembinaan mualaf, Ahad (22/9) kemarin melakukan sosialisasi pemahaman tersebut sekaligus silaturahmi akbar di Ponpes Nur El Falah, Kubang, Serang, Banten. Hadir dalam acara itu, Menteri Agama, Suryadharma Ali.


“Sosialisasi ini merupakan bagian dari pengembangan pembinaan mualaf di seluruh daerah baik tingkat kelurahan hingga pusat,” ungkap Ketua Yayasan Al-Isya Nurulbaqi, Alisya Fianne, dalam pesan singkat kepada ROL, Senin (23/9).


Menurut Fianne, melalui sosialisasi ini diharapkan pesantren dapat menjadi mitra yayasan dalam pengembangan dakwah mualaf di Banten. Ini sekaligus memperkuat usaha dimana lembaga mualaf terus berinovasi dalam upaya menjangkau seluruh mualaf.


Sosialisasi yang dimaksud bagaimana perkembangan dakwah dikalangan mualaf saat ini. Lalu tantangan apa saja yang dihadapi mualaf. Lalu bagaimana peranan umat Islam dalam hal ini. Apa saja yang dilakukan Yayasan dalam upaya mendorong mualaf sehingga menjadi Muslim yang kaffah.


“Tentunya, pesantren lebih mengetahui bagaimana cara mencintai Islam. Ketika mualaf sudah mencintai Islam, Insya Allah akan lebih mudah menerima Islam,” kata dia.


Pada kesempatan itu, Yayasan Al-Isya Nurulbaqi yang juga bergerak dibidang Tour and Travel ini memberikan bantuan kepada anak-anak pesantren yang tidak mampu. Mereka memberikan beasiswa sebesar 1 juta rupiah kepada tiga orang santri yang tidak mampu namun berprestasi. Yayasan juga memberikan hadiah dua paket umrah dan dua tabungan umrah masing-masing sebesar lima juta rupiah.


“Melalui bantuan ini, saya ingin katakan seorang muallaf itu bisa menyantunilewat al-isya nurulbaqi. Jadi, mualaf tidak lagi disantuni terus tetapi juga menyantuni sehingga ada kebanggan menjadi seorang mualaf,” katanya,


Article source: http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=63836


Pembinaan Mualaf Juga Butuh Peran Pesantren

Thursday, January 9, 2014

Sekilas tentang Islam di Tanah Naga Petir

REPUBLIKA.CO.ID, Tersembunyi jauh di Pegunungan Himalaya, Bhutan merupakan kerajaan kecil yang diapit negara besar Cina dan India.


Di utara, wilayahnya berbatasan dengan Cina. Sedangkan, di selatan, timur, dan barat, berbatasan dengan India.


Bhutan, dalam bahasa Bhutan, Druk Yul, artinya Tanah Sang Naga Petir. Naga berwarna putih mewujud jelas dalam bendera Bhutan. Kerajaan ini mulai membuka diri kepada dunia luar pada 1970-an.


Karena luasnya yang tidak besar, populasi Muslim di Bhutan sangat sedikit. Negara ini hanya mempunyai luas wilayah sekitar 38 ribu kilometer persegi.


Menurut CIA Factbook, Muslim hanya satu persen dari populasi di Bhutan. Pada 2009, Pusat Riset Pew memperkirakan jumlah yang sama, yakni 7.000 Muslim dengan populasi sekitar 1,8 juta jiwa.


Bhutan adalah satu-satunya negara di dunia yang mengakui Buddha Mahayana sebagai agama resmi. Pemerintah tidak memiliki data resmi jumlah Muslim karena agama lain selain Buddha dan Hindu dilarang.


Pemberitaan media barat yang gencar mengenai Muslim yang terlibat terorisme mau tak mau memengaruhi persepsi warga Bhutan mengenai Islam.


Dalam pemberitaan itu, pelakunya kerap diberi label Islamist rebel atau Islamist bad guy. Akibatnya, warga Bhutan cenderung memandang negatif Islam dan pemeluknya.


Asal muasal rakyat Bhutan berasal dari Nepal, Burma Utara, timur laut India, dan Tibet. Mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha. Agama yang tergolong minoritas adalah Islam, Hindu, dan Kristen.


Pada 2008, komunitas Ahmadiyah di Bhutan mendirikan Masjid. Inilah masjid satu-satunya yang dimiliki Muslim Bhutan. Sesuai namanya, Masjid Jaigaon atau Joygaon terletak di sebuah kota kecil di Bengal, Barat India.


Lokasinya berada di perbatasan Bhutan dengan India. Tidak banyak informasi tersedia mengenai masjid ini. Bagaimana bentuk dan arsitekturnya pun tidak pernah dipublikasikan.


Sebagai negara yang berada di wilayah pegunungan, Bhutan mempunyai pemandangan gunung, bukit, dan lembah yang menakjubkan. Ekologi dan hewan-hewan liar masih terjaga dengan baik.


Sayangnya, pemerintah membatasi kunjungan wisata. Para wisatawan yang ingin berkunjung harus ikut paket wisata. Disarankan tidak mengunjungi Bhutan sebagai backpacker atau wisatawan perorangan.


Ketersediaan makanan halal sangat jarang. Agar aman, seorang Muslim yang akan berkunjung ke Bhutan sebaiknya menghindari mengonsumsi daging.


Bisa juga bertanya pada masyarakat lokal mengenai tempat menemukan makanan halal. Tapi, Bhutan memiliki banyak jenis masakan vegetarian yang terkenal kelezatannya.


 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/11/18/201406/Teuku-Shireen-Bulan-Madu-ke-Norwegia-


Sekilas tentang Islam di Tanah Naga Petir

Monday, July 1, 2013

Musim Semi Wahabisme


Ratusan orang menyerang sebuah desa kecil yang dihuni pemeluk Syiah. Membakar rumah, menganiaya, membunuh satu orang dan melukai puluhan lainnya. Tak hanya itu, para penyerang kemudian mengusir warga desa itu karena dianggap murtad.



Tidak, ini bukan kejadian di Peshawar, Pakistan atau Kandahar, Afghanistan. Peristiwa itu terjadi akhir tahun lalu di pulau Madura yang terletak di wilayah Jawa, sebuah tempat yang dikenal sebagai basis Islam moderat Indonesia.



Kekerasan itu hanyalah potret kecil. SETARA Institute, sebuah lembaga pengawas toleransi mencatat, dari tahun ke tahun jumlah kekerasan atas nama agama terus meningkat. Tahun lalu ada 264 kasus.



Berbagai jajak pendapat, secara konsisten juga menunjukkan masyarakat Indonesia semakin tidak toleran terhadap perbedaan iman. Bahkan polling Lingkaran Survei Indonesia menemukan: hampir satu dari empat orang Indonesia bisa mentolerir kekerasan, untuk menegakkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran agama.



Lalu apa yang mengubah Indonesia? Sejumlah kalangan menuding menguatnya pengaruh Wahabisme, paham yang dianggap memberi saham bagi munculnya gerakan radikal.



Saham Wahabisme


Rumah pengikut Syiah di Sampang Madura dibakar massa yang menganggap aliran ini sesat


Jejak Wahabisme dalam kasus intoleransi antara lain muncul dalam persekusi terhadap kelompok Syiah.



“Ada gerakan dari kelompok Wahabi yang menyebarkan selebaran bahwa Syiah sesat, dan memobilisasi massa untuk menyerang,“ kata Jalaluddin Rakhmat, intelektual yang juga dikenal sebagai tokoh Syiah Indonesia kepada Deutsche Welle.



“Bukti pengaruh Wahabisme dalam kasus ini bisa kita lihat dari fatwa ulama yang menganggap Syiah itu sesat,“, kata Rakhmat sambil menambahkan bahwa selama berabad-abad, Islam di Indonesia tidak punya sejarah konflik dengan kelompok Syiah.



“Fatwa itu pasti disponsori Wahabisme.”



Faham Wahabi yang berpusat di Arab Saudi, didirikan oleh Muhammad ibn Abdul Wahab, dikenal sebagai sekte garis keras yang ingin memurnikan ajaran Islam dengan menafsirkan kitab suci secara literal dan menganggap kelompok lain yang berbeda pandangan sebagai bid’ah, termasuk Syiah.



Konflik antara Wahabisme dan Syiah punya akar di Timur Tengah dan termanifestasi dalam kontestasi politik antara Arab Saudi dengan Iran hingga hari ini.



“Kerjasama kebudayaan”



Syafiq Hasyim yang sedang merampungkan studi doktoral tentang Islam di Freie Universität Berlin, kepada Deutsche Welle mengatakan bahwa kemunculan faham Wahabisme di Indonesia adalah bagian dari gerakan Islam lintas negara.



Wahabisme masuk lewat “kerjasama kebudayaan“ yang dibangun antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi pada tahun 80′an. Sebagian besar masuk lewat bantuan yayasan milik pemerintah Saudi.



“Ulama Indonesia yang datang ke Arab Saudi mendapat bantuan finansial, para pelajar Indonesia juga ditawari beasiswa untuk studi Islam ke sana.“



Selain itu, kata Hasyim, pemerintah Arab Saudi melalui yayasan-yayasannya  menawarkan bantuan pembangunan rumah ibadah dengan paket komplit: “Bukan cuma bangunan mesjid, tapi juga berikut pendakwah dan buku-buku Wahabisme“.



Belakangan seiring pemberantasan terorisme, bantuan finansial itu berkurang karena bank sentral Indonesia menerapkan pengawasan yang ketat terhadap aliran dana dari luar negeri.



“Sekarang Wahabisme disebarkan melalui internet termasuk lewat Social Media Facebook dan Twitter.”



Selain itu, kelompok ini memanfaatkan majelis taklim atau kelompok pengajian serta membangun situs berita internet.



“Arrahmah.com jelas representasi suara Wahabi,” kata Hasyim merujuk pada situs berita yang belakangan menjadi referensi penting di kalangan Islamis Indonesia.



Friksi menajam



Direktur Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Novriantoni Kahar menyebut Wahabisme sebagai aktor utama dramatisasi perbedaan di kalangan umat Islam: ”Di mana pun Wahabisme menguat, maka urusan-urusan keagamaan yang sebetulnya sepele jadi dianggap persoalan besar. Akibatnya, ketegangan antar golongan di dalam Islam meningkat…”


Pengikut Ahmadiyah juga menjadi sasaran kekerasan kelompok garis keras



Survei Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi mengungkapkan ketegangan itu: 46,6 persen umat Islam mengaku tidak suka bertetangga dengan Ahmadiyah, sebuah sekte dalam Islam yang juga sering menjadi sasaran persekusi.



Sementara ketika ditanya: apakah anda bersedia hidup berdampingan dengan penganut Syiah? 41,8 persen mengaku tidak nyaman. Angka ini lebih tinggi dibanding sikap tidak suka, jika hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain bukan Islam yang angkanya 15,1 persen.



“Yang paling bahaya dari Wahabisme karena ia mengancam kebebasan berpikir dan berekspresi,“ kata Syafiq Hasyim menambahkan.



“Wahabisme mematikan diskursus dan pada gilirannya membunuh ilmu pengetahuan. Bagi kaum Wahabi, semua yang bertentangan dengan ajaran mereka adalah kafir…“



Negara Absen



Intoleransi akibat sikap masyarakat yang dipengaruhi kelompok garis keras, sebenarnya bisa diatasi jika Negara tegas menegakkan hukum. Tapi masalahnya, pemerintah Indonesia lemah ketika berhadapan dengan aktor-aktor kekerasan yang mengatasnamakan agama.



Imdadun Rahmat , Wakil Ketua Komnas HAM, yang menangani masalah kebebasan beragama, kepada Deutsche Welle menyebut pemerintah Indonesia cenderung membiarkan terjadinya kekerasan atas nama agama: “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak serius. Hanya retorika…”



“Presiden tidak punya keberanian berhadapan dengan kelompok radikal, karena takut dianggap melawan umat Islam…“


Wajah Islam Indonesia yang damai memudar?


Akhir Mei lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat penghargaan World Statesman Award di New York (30/5), karena dianggap sukses membangun toleransi.



Ketika menerima penghargaan itu, presiden Yudhoyono berpidato: “Kami tidak akan menoleransi setiap tindakan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama… Kami juga akan melindungi minoritas dan memastikan tidak ada yang mengalami diskriminasi.”



Retorika tinggal retorika. Kenyataannya, intoleransi terus terjadi. 15 tahun demokrasi Indonesia, ditandai dengan musim semi Wahabisme.


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/21/perlu-perda-wajib-madrasah-diniah-360611


Musim Semi Wahabisme

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur