Showing posts sorted by relevance for query Toko. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Toko. Sort by date Show all posts

Thursday, June 27, 2013

Senja di Kota Lama Jerusalem



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>






KUBAH Dome of the Rock itu berkilauan diterpa sinar matahari sore. Warna kuning emasnya begitu cemerlang. Entah sudah berapa kali mata memandang kubah Masjid Umar yang menjadi ”landmark” Jerusalem itu. Namun, sekejap pun tak ada rasa jemu. Penat tubuh setelah seharian jalan mengelilingi kota yang dahulu pernah ditapaki para nabi itu justru hilang begitu masuk kota tua Jerusalem yang didirikan sekitar 1.800 SM.”Inikah yang disebut kota para nabi?” tanya seorang sahabat yang menjadi teman perjalanan.

Ya. Inilah bumi para nabi. Begitulah orang biasa menyebut. Cobalah baca lagi puisi yang ditulis Nizar Tawfig Qabbani (1923-1998), diplomat sekaligus penyair dan penerbit asal Suriah:

Oh Jerusalem yang wangi oleh para nabi


Jalan terpendek antara langit dan bumi….


Seorang anak cantik dengan jemari terbakar dan mata menunduk….


Oh Jerusalem, kota penderitaan,


Sebutir air mata menggenang di matamu….


Kau akan mencuci tembok-tembokmu yang berdarah?


Oh Jerusalem, yang kucintai


Esok pepohonan lemon akan berbunga; pepohonan zaitun akan bersuka cita; matamu akan menari-nari; dan merpati-merpati terbang kembali ke menara-menara sucimu.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Gereja Makam Kristus.
Akhir zaman

Jerusalem atau Yerushalayim (Ibrani) dalam dirinya sudah mengandung kedamaian. Konon, nama Jerusalem berarti ”warisan perdamaian”—”warisan” (yerusha) dan ”damai” (salem atau shalom). Begitulah yang tercatat dalam sejarah Jerusalem.


Namun, apalah arti sebuah nama. Sebab, Jerusalem yang juga disebut ”Kota Suci” selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan; impian, dambaan, dan sasaran rebutan para penguasa dunia. Meskipun kota yang berada di puncak perbukitan Yudea itu tidak punya nilai strategis, kota ini berkali-kali dihancurkan dan kemudian dibangun lagi. Sejarah seperti tergores pada tumpukan batu dan tembok-tembok kota yang hingga kini masih berdiri kokoh.


Lihatlah, Menara Daud yang juga disebut Pintu Gerbang Jaffa, di bagian barat tembok Kota Lama. Di tempat itulah dahulu, pada tahun 1187, Sultan Saladin dengan pasukannya bersiaga sebelum merebut kota. Saladin duduk tegak di atas kuda putihnya dan kedua matanya memadang tajam tembok kota.


Dari puncak Bukit Zaitun, di sebelah timur Kota Lama, yang dipisahkan Lembah Kidron, terlihat Pintu Gerbang Kerahiman yang begitu megah. Ini pintu gerbang terpenting—dari delapan pintu gerbang Kota Lama—sebab lewat pintu inilah nanti di akhir zaman diyakini Sang Pengadil Agung akan masuk ke Jerusalem untuk mengadili semua manusia.


Di Lembah Kidron inilah dimakamkan begitu banyak orang, dari dulu hingga sekarang. Bahkan, di sekitar Kota Lama banyak makam: makam Yahudi, makam Kristen, dan makam Muslim. Batu-batu nisan dan tanda kubur berlomba menunjuk ke langit. Mereka yang dimakamkan di tempat itu yakin akan bangkit sebagai yang pertama dari kubur nanti di akhir zaman.


Via Dolorosa


Ketika kaki menyusuri jalan-jalan bebatuan di Kota Lama yang sempit, kiri-kanan tembok-tembok tinggi atau toko-toko cendera mata, tiba-tiba pikiran seperti ditarik ke masa lalu. Di jalan bebatuan itu dulu tentara Romawi dengan naik kuda berpatroli. Bunyi teplak, teplok, teplak, teplok… benturan kaki kuda dengan badan jalan seperti terngiang-ngiang di telinga. Jauh masa sebelumnya, di jalan bebatuan itu, para nabi berjalan disanjung dan dimaki.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Tembok Ratapan
Coba susuri Via Dolorosa, Jalan Penderitaan yang bagi umat Nasrani menjadi jalan paling penting di jagat ini. Di sepanjang jalan itulah, 2.000 tahun silam, Yesus, Nabi Isa, berjalan memanggul salib menuju Bukit Golgota. Itulah jalan air mata. Itulah jalan cinta, sekaligus jalan kemanusiaan.

Namun kini, dibutuhkan perjuangan keras dan berat agar bisa konsentrasi untuk bisa berdoa khusuk di sepanjang jalan itu. Karena di kiri- kanan Via Dolorosa yang sempit sekitar dua meter, penuh tokoh-toko cendera mata, juga menjadi jalan kendaraan roda dua dan empat. Para pedagang akan terus menawarkan dagangannya berbagai macam cendera mata kepada para peziarah.


Kadang para peziarah harus berjalan menepi, mepet tembok karena ada mobil yang melintas di jalan cinta itu. Rombongan peziarah yang berusaha khusuk berdoa tak jarang harus tercerai berai karena motor pengangkut barang yang menerabas di tengah-tengah mereka.


Suatu senja


Masjid Umar dengan kubah Dome of the Rock-nya yang merupakan salah satu dari begitu banyak situs di Jerusalem masih berdiri tegak setelah berbilang tahun. Di sana juga masih ada Masjid Al Aqsa, Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, dan banyak tempat suci dan yang disucikan lainnya. Kesemuanya itu lebih menyerupai halaman-halaman manuskrip yang disulam dengan benang sutra menjadi satu buku yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.


Karena itu, Jerusalem atau yang dalam bahasa Arab disebut Al-Quds merepresentasikan jantung tiga agama dunia: Islam, Judaisme, dan Kristen. Jerusalem diyakini menjadi tempat penting di bumi ini untuk komunikasi antara Tuhan dan manusia. Langit di atasnya menjadi penghubung terdekat antara bumi dan surga.


Tengoklah pada celah-celah di Tembok Barat (Tembok Ratapan), tempat orang Yahudi berdoa, begitu banyak kertas berisi doa dan permohonan yang diselipkan. Setiap tahun, kertas-kertas itu diambil dan dikubur di Bukit Zaitun karena dianggap suci. ”Benar kata orang, di Jerusalem, kebenaran sering jauh lebih penting ketimbang mitos,” komentar rekan seperjalanan.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Toko Cendera Mata.
Ketika langit di barat semakin memerah, suara azan masjid yang disusul dentang lonceng gereja petang itu menyeruak langit Jerusalem. Ada hawa kedamaian yang menyebar karenanya. Di Tembok Ratapan, puluhan orang Yahudi masih mendaraskan doa dan permohonan mereka kepada Yahwe, Tuhan Allah mereka. Bau dupa menyebar di Gereja Makam Suci, tempat ziarah umat Kristiani. Sebentar lagi pintu gereja akan ditutup.

Senja itu, mengingatkan bahwa Jerusalem adalah rumah satu Tuhan, tempat ibadah tiga agama… yang sekarang masih diperebutkan. Senja juga menjadi pertanda bahwa Matahari telah meninggalkan Jerusalem.


Ada segenggam damai di kota tua, senja itu…. (Trias Kuncahyono)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>

































Article source: http://news.detik.com/read/2013/06/27/132543/2285850/10/lipi-prabowo-menang-lawan-siapa-pun-kecuali-jokowi


Senja di Kota Lama Jerusalem

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja

Thursday, May 9, 2013

Menggiurkan, Bisnis Makanan Halal Dunia Beromzet Rp 6,2 Triliun

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang


TRIBUNNEWS.COM - Lukmanul Hakim, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOK) Majelis Ulama Indonesia (MUI), memberikan usulan diselenggarakan wisata Syariah. Pucuk dicinta ulam tiba, ditanggapi Gubernur Jakarta Jokowi dan Kementerian Pariwisata, sehingga Oktober nanti diselenggarakan Wisata Syariah akan dimulai dan akan diresmikan mulainya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


“Sebenarnya ini bukan ide baru. Sebelum Gubernur Jokowi kita pernah sampaikan ke Gubernur sebelumnya tapi kurang respons. Syukurlah kini ditanggapi cepat oleh Jokowi dan seiring pula dengan rencana Kementerian Pariwisata Indonesia,” papar Lukmanul Hakim khusus kepada Tribunnews.com, Kamis (9/5/2013) di Tokyo.


Lukmanul melihat, Jakarta sebagai pintu masuk Indonesia sebagai  negara terbesar dalam Islam. Tetapi selama ini kurang terlihat karakter Islamnya. “Bagaimana kalau jadi market wisata halal, restorar juga harus beridentitas halal, sertifikat halal kalau yang mau halal. Tapi yang tak mau halal harus diinformasikan kepada konsumen.”


Bagi yang tidak mau menjadi restoran yang tidak halal, menurutnya, harus ada keterbukaan konsumen produsen. Ada orang Islam masuk ke sana, ada makanan bukan untuk non-Islam, pemilik toko harus beritahu tamu Islam. Nantinya akan ada regulasi bagi hal tersebut yaitu agar pemilik toko restoran harus menjawanb jelas  kalau ada pertanyaan dari tamunya, harus jelas memberitahu makanan yang ada di dalam restoran, bahwa itu bukan makanan untuk kaum muslimin, tekannya.


“Kampanye halal yang damai supaya diterima baik, dalam implementasi di masyarakat,” jelasnya. Penyelenggaraan wisata syariah tersebut akan dilengkapi dengan hotel yang halal, “Kita siapkan restoran, kitchennya halal, akan ada guidebook Syariah. sampai regulasi. Sedang kita siapkan sekarang, pak Sumunar Jati wakil saya itu ikut menyiapkan semua ini.”


Indonesia tampaknya memang terlambat mengenai Wisata Halal atau Wisata Syariah ini, “Padahal di luar negeri beberapa negara termasuk Jepang sudah membuat wisata Syariah seperti ini,” tekannya lagi.


Dengan label dan sertifikat halal, Lukmanul hakim melihat sebagai satu hal yang sangat positif bagi semua manusia, bukan hanya bagi kaum muslimin saja, karena sudah pasti sehat dan tidak tercemar yang tidak baik.


Bisnis perdagangan makanan halal di dunia saat ini memang sangat besar dengan omzet mencapai sekitar 640 juta dolar AS atau sekitar Rp 6,2 triliun (kurs Rp 9.700 per dollar AS).


Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/05/09/mmi84p-muslim-bisa-jadi-jembatan-bagi-bali


Menggiurkan, Bisnis Makanan Halal Dunia Beromzet Rp 6,2 Triliun

Monday, April 29, 2013

Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2014 bukan saja diramaikan dengan kehadiran para artis atau pesohor negeri. Sejumlah pentolan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Ibu Kota yang memiliki basis massa juga mencoba peruntungan menjadi calon wakil rakyat. Mereka sering disebut sebagai penguasa bawah tanah Jakarta, yang memimpin massa akar rumput dan punya pengaruh cukup kuat di kelompoknya masing-masing.


Pada Pemilu 2014 mendatang, setidaknya ada empat penguasa bawah tanah Ibu Kota yang maju sebagai bakal calon anggota legislatif:

1. Jhony Indo

Inilah “Si Robinhood”. Nama aslinya Johanes Hubertus Eijkenboom, namun lebih populer dengan nama Johny Indo. Jhony pada tahun 1970-an merupakan salah satu pentolan preman Ibu Kota yang yang cukup disegani.


Ia dikenal sebagai perampok toko emas yang hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Dari situlah, Jhony kemudian mendapat julukan “Robinhood”. Dalam melancarkan aksinya, Jhony selalu bersama dengan kelompoknya yang bernama Pasukan Cina Kota atau yang disebut “Pachinko”. Mereka menyatroni toko emas pada siang hari.


Namun, setelah sekian kali lolos, akhirnya Jhony tertangkap. Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara 14 tahun dan dijebloskan ke Penjara Nusa Kambangan. Meski sudah masuk ke penjara dengan tingkat keamanan tinggi, Jhony sempat kabur dari selnya dan bersembunyi di antara bukit dan parit yang berada di penjara di pulau itu. Namun, keberadaan Jhony tetap bisa diendus aparat.


Kini, Jhony mengaku sudah tobat. Ia kini menjadi pelatih bela diri untuk para sekuriti di Bumi Perkemahan Cibubur. Pada tahun ini, Jhony menyatakan maju sebagai bakal  calon anggota legislatif dari Partai Nasdem untuk DPRD Sukabumi.


2. Tito Refra Kei
Fransiscus Kei atau yang akrab disapa Tito Kei. Ia maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN). Kali ini, ia tidak maju dari kota kelahirannya, Pulau Kei, Maluku Tenggara, tetapi justru dari daerah pemilihan Papua Barat.


Nama Tito sangat melekat dengan kebesaran nama sang kakak, John Kei, yang dibui atas tuduhan sebagai otak pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung pada tahun 2012 lalu. Kedua kakak beradik ini juga sempat berurusan dengan aparat kepolisian lantaran memotong jari dua pemuda pada Agustus 2008.


John dan Tito sempat diseret ke meja hijau akibat kasus itu. Ketika itu, proses peradilan terpaksa dilakukan di Surabaya untuk mencegah amuk massa. Setelah perkara itu muncul, Tito juga sempat terlibat dalam kasus “Ampera Berdarah”. Saat itu, massa kelompok Kei bentrok dengan kelompok asal Flores pimpinan Thalib Makarim di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat sidang kasus bentrok Blowfish digelar. Tito bahkan tertembak di bagian dadanya yang nyaris mengenai jantung. Namun, Tito akhirnya selamat dalam tragedi tahun 2010 tersebut.


Di luar catatan hukumnya itu, Tito merupakan seorang advokat. Ia pun mendirikan firma hukum bernama Tito Refra, Cosmas Refra and Partner.


3. Lutfi Hakim
Lutfi Hakim merupakan Ketua Umum Front Betawi Rempug (FBR) setelah Ketua Umum sebelumnya meninggal dunia pada tahun 2009 lalu. Ia sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal FBR. Lutfi Hakim termasuk salah satu tokoh Betawi yang cukup populer di kalangan masyarakat.


Kini, Lutfi maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk Provinsi DKI Jakarta, tanpa atribut partai politik apa pun.


4. Munarman
Munarman adalah mantan aktivis HAM dan mantan Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ia menanggalkan aktivitasnya di lembaga bantuan hukum itu, setelah menyatakan bergabung dengan sebuah organisasi massa, Front Pembela Islam (FPI).


Di FPI, Munarman pernah menjadi Panglima Komando Laskar Islam dan kini kerap tampil sebagai juru bicara ormas tersebut. Ia juga menjadi salah seorang penentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia bersama tokoh-tokoh lainnya.


Munarman pernah terlibat dalam insiden Monas, 1 Juni 2008. Saat itu, ia bersama Laskar Islam FPI melakukan penyerangan terhadap massa AKK-BB. Pada tanggal 4 Juni 2008, sekitar 1.500 polisi diturunkan ke Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, setelah tidak ada dari pihak FPI yang menyerahkan diri. Munarman pun menolak menyerahkan diri hingga menjadi buronan.


Setelah bersembunyi beberapa hari, Munarman akhirnya menyerahkan diri pada tanggal 8 Juni 2008. Selepas keluar dari penjara, Munarman masih aktif di FPI. Pada Pemilu 2014, Munarman menjadi bakal caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan Sumatera Selatan II.


Berita-berita jelang Pemilu dapat Anda ikuti dalam topik:
Geliat Politik Jelang 2014
Kabar dari KPU
Verifikasi DCS Pemilu 2014


 
















Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/04/22/159222/jadi-caleg-angel-lelga-maju-dari-dapil-solo


Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

Thursday, June 27, 2013

Istanbul: Ibu Kota Kekaisaran Utsmani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Chairul Akhmad


Sultan Mehmet II melangkah masuk ke kota dengan penuh kemenangan pada Selasa sore, 29 Mei 1453 M, melewati Gerbang Adrianopolis yang kini dikenal dengan Eirne Kapi. Bangsa Turki menyebutnya sebagai Fatih, sang Penakluk. Julukan ini yang membuat Mehmet II terkenal di kemudian hari.


Dia baru berusia 21 tahun saat menjadi sultan selama dua tahun terakhir, tapi kini menaklukkan kota yang paling terkenal di seluruh dunia yang dikenal bangsa Turki sebagai Istanbul.


Sebuah plakat di gerbang mencatat perjalanan masuk Fatih yang penuh kemenangan. Saat itu, sang sultan mengenakan serban lancip di kepalanya dan sepatu berwarna biru langit di kakinya, menunggang seekor keledai dan membawa pedang Nabi Muhammad di tangannya. Ia berjalan di depan 70 – 80 ribu ksatria, sambil berseru, “Jangan berhenti para penakluk! Kalian adalah penakluk Konstantinopel!”


Sang Penakluk kemudian berkuda menuju Gereja Aya Sofia. Tiba di sana, ia turun dari tunggangannya lalu berlutut mengucurkan sejumput tanah ke atas serbannya sebagai tanda kerendahan hati. Fatih menatap gereja itu dan memerintahkan agar dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Aya Sofia Camii Kabir, Masjid Agung Aya Sofia.


Sehari setelah penaklukan, tepatnya 30 Mei 1453, dia pun memeriksa isi kota, setelah itu mengumumkan bahwa Istanbul akan dijadikan ibu kota negara. Fatih mendorong orang-orang Yunani yang melarikan diri dari Konstantinopel sebelum penaklukan itu untuk pulang kampung. Dia juga menempatkan para tahanan yang menjadi bagiannya dari rampasan perang di kota. Fatih memberikan tanah dan rumah kepada orang-orang ini dan membebaskan mereka dari pajak untuk waktu tertentu.


Di samping itu, sebagian besar populasi baru dipicu ketetapan kekaisaran yang memanggil orang-orang untuk menetap di ibu kota. John Freely dalam Istanbul: The Imperial City mengatakan, para penduduk baru ini yang terdiri atas kaum Muslim, Kristen, dan Yahudi berasal dari seluruh pelosok kekaisaran. “Banyak di antara mereka yang ikut serta dalam sejumlah ekspedisi yang dilakukan Fatih dalam penaklukan Konstantinopel,” tulisnya.


Kaum Muslim segera membangun masjid atau mengubah gereja-gereja Bizantium menjadi masjid seperti yang dilakukan Fatih atas Aya Sofia. Beberapa masjid pertama yang didirikan setelah penaklukan masih bisa dilihat di daerah pasar di sepanjang Tanduk Emas antara Galata dan Jembatan Ataturk—walau semuanya dibangun kembali atau dipugar pada abad-abad berikutnya.


Pengembangan ibu kota
Penduduk yang bukan beragama Islam dikelompokkan dalam millet atau “bangsa” menurut agamanya. Masing-masing dipimpin kepala agamanya, sehingga millet Yunani dipimpin patriark Ortodoks, bangsa Armenia dipimpin patriark Gregorian, dan Yahudi dipimpin kepala rabi.


Kewenangan yang diberikan Fatih, menurut Freely, tak hanya untuk urusan keagamaan. Tapi, juga pada sebagian besar masalah hukum selain kasus kriminalitas yang harus ditangani hakim-hakim sang sultan. Dan, sistem millet yang dilanjutkan penerus Fatih sampai akhir Kesaisaran Utsmani menjadi sebuah alat dalam kebijakan pemerintah. “Sesuatu yang berjalan dengan baik dalam Negara Utsmani yang berkarakter multietnis,” kata Freely.


Tak lama setelah penaklukan, Fatih membangun sebuah benteng dalam Gerbang Emas bernama Yedikule, Puri Tujuh Menara. Pada akhir 1453 M, ia pun memindahkan istananya dari Edirne ke Istanbul. Saat itu, dia membangun sebuah istana di Bukit Ketiga yang digambarkan sebagai “lokasi terindah di kota”. Istana ini kemudian dikenal sebagai Eski Saray, Istana Tua. Sebab, enam tahun kemudian Fatih memutuskan untuk membangun sebuah istana baru di Bukit Pertama, Topkapi Saray yang terkenal.


Atas desakannya, sejumlah wazir pun mendirikan kompleks masjid kota itu yang tiga di antaranya masih berfungsi. Kota Turki baru, Istanbul, berkembang di sekeliling kompleks-kompleks masjid yang dibangun sang sultan dan para wazirnya—perkembangan yang berlanjut pada zaman penerus Fatih.


Fatih juga mendirikan Kapali Carsi atau Bazar Tertutup, sebuah pasar raksasa di Bukit Ketiga di dekat Beyazit Meydani. Di sekeliling Kapali Carsi terhampar han besar atau caravanserai, di mana para pedagang Utsmani membawa barang dagangan mereka di toko-toko berkubah yang masih memenuhi gang beratap dari labirin yang luas ini. Ini adalah jantung perdagangan Istanbul pada masa pemerintahan Fatih dan masih bertahan hingga kini.


Sensus Pertama di Istanbul
Sensus pertama di ibu kota Istanbul, termasuk Galata, diperintahkan Fatih pada 1477 M. Sensus yang hanya meliputi kediaman sipil dan tak menyertakan kelas militer atau mereka yang hidup di istana kekaisaran, menghitung keluarga dalam kategori agama dan etnis.


Hasilnya, tercatat 9.486 Muslim, 4.127 Yunani, 1.687 Yahudi, 434 Armenia, 267 Genoa, dan 332 keluarga Eropa selain Genoa. Semua anggota kelompok terakhir hidup di Galata. Jumlah populasi Istanbul dari sensus itu diperkirakan mencapai 80 – 100 ribu orang, menggandakan populasi yang menempati kota itu sebelum penaklukan.


Warga yang berada dalam Kota Istanbul di balik tembok tuanya meliputi 88 persen dari populasi ibu kota tersebut. Sisanya, hidup di Galata dan sebagian lagi hidup desa-desa Bosporus atau lingkungan di ibu kota di kedua sisi selat. Tujuh puluh persen yang tinggal di Kota Istanbul yang dilindungi tembok pertahanan adalah Muslim Turki dan sisanya non-Muslim. Sedangkan, di Galata sebaliknya.


Sensus pada 1477 M itu juga mencatat ada 31 keluarga Gipsi di Istanbul. Semuanya tinggal di mahalle yang dikenal sebagai Sulukule, tepat di dalam Tembok Theodosius di Bukit Keenam. Tempat perkemahan mereka tercatat sejak abad ke-14 dan keturunan mereka masih hidup hingga saat ini.


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/05/30/373/638184/mico-fasilitasi-keberagaman-agama-di-tanah-air


Istanbul: Ibu Kota Kekaisaran Utsmani

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Wednesday, June 12, 2013

Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Home Perjalanan



Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan





 

Jamaah Centre For Islamic Dakwah and Education (CIDE)



 




Rabu, 12 Juni 2013


TANGGAL 5-15 Mei 2013 yang lalu, saya mengunjungi Sydney Australia untuk yang kedua kali dalam rangka memenuhi undangan dakwah dari Centre For Islamic Dakwah and Education (CIDE), sebuah organisasi Islam komunitas Muslim Indonesia dan Australia. Program selama 10 hari adalah Pelatihan Manajemen Masjid, Manajemen Dakwah dan Tablig Akbar. Berikut catatan singkat saya dalam bahasa tutur untuk pembaca.*


SEBUT saja Lakemba, ini merupakan salah satu kecamatan di Sydney. Bila di Jakarta ada daerah mayoritas China yang non Muslim, maka salah satu keunikan Lakemba adalah kawasan ini boleh dibilang kawasan Muslim karena memang penduduknya mayoritas Muslim asal dari Libanon, Pakistan, Banglades, Indonesia, Turki, dll.


Suasana Arab terasa di kawasan ini, termasuk pertokoannya. Sangat mudah mendapatkan masjid di kawasan ini, bahkan ada masjid terbesar yang bernama Masjid Ali bin Abi Thalib.


Warga Indonesia punya Iqra Centre, orang Bangladesh punya masjid bekas gereja, ada masjid di pertokoan, dan ada beberapa masjid kecil lainnya, serta ada lagi masjid yang sedang dibangun. Tidak jauh dari Lakemba, ada pula Ashabul Kahfi Center yang didirikan oleh Ustad Chalidin Yakub (Mantan Ketua PB PII). Di tempat lain seperti di Auburn, berdiri masjid besar yang didirikan oleh komunitas Turki, sehingga dikawasan itu suasana Islam juga sangat terasa. Adapun masyarakat Indonesia terpencar jauh-jauh di banyak tempat dan mereka sering bertemu di Masjid Al Hijrah yang juga bekas gereja.


Kapasitas Masjid Al Hijrah 300 jamaah, bekas gereja yang dibeli oleh kaum Muslimin asal Indonesia. Sabtu dan Ahad biasanya masjid ini lebih semarak dengan kelompok pengajian anak-anak, remaja dan orang dewasa. Masjid ini juga sudah memiliki rumah dan halaman. Sejak beberapa tahun lalu, saya dan isteri menginap di rumah itu dan kondisinya sekarang sudah bagus setelah direnovasi 3 tahun lalu.


Rumah ini dilengkapi dengan perpustakaan dan karena banyaknya kelompok pengajian, maka di rumah ini juga digunakan untuk klas pengajian dengan ruang aula yang cukup luas, aula ini juga digunakan oleh umat Islam untuk menjadi tempat resepsi pernikahan.


Umat Islam bertambah banyak, baik karena orang masuk Islam maupun pendatang yang sekolah dan kerja membuat keberadaan masjid di Sydney semakin dibutuhkan.


Yang menanrik, tidak mudah untuk mendapatkan izin mendirikan rumah ibadah seperti masjid. Alternatifnya adalah membeli gereja lalu mengubahnya menjadi masjid sehingga izinnya memang sudah sebagai rumah ibadah.



Muslimah di Lakemba rayakan Idul Adha/foto: SHM


Karena itu jangan heran, jika banyak masjid adalah bekas gereja, bahkan 90 Persen masjid seluruh Australia bekas gereja. Pilihan lainnya adalah membeli rumah dan menjadikannya sebagai mushalla meskipun tetap digunakan untuk ibadah Jumat seperti mushalla Iqra Centre, Ashhabul Kahfi dan saya juga sempat mampir untuk shalat ashar di Masjid Malik Faishal di Surry Hills. Rumah 4 lantai ini sudah dijadikan masjid sejak lama, yang menarik rumah di sebelah kanan dan kirinya dibeli juga dan digunakan untuk shalat Jumat sehingga dari luar tidak nampak kalau itu bagian dari masjid. Jadi mirip dengan orang Kristen di Indonesia yang menjadikan rumah sebagai gereja


Kota dan Penduduknya.


Sebagaimana umumnya negara-negara maju, tata kota dibuat rapi sedemikian rupa sehingga menjadi terasa nyaman. Sebagai contoh Jalan-jalan utama terdiri dari 4-6 jalur mobil, sedangkan jalan lingkungan rata-rata 3-4 jalur sehingga warga dan tamunya bisa parkir di pinggir jalan kanan kiri dan tidak menimbulkan kemacetan. Taman-taman dengan rumput yang hijau dan pohon yang besar juga sangat banyak, ada di mana-mana. Selain menambah kenyamanan anak dan warga bisa rileks di taman-taman itu.


Kalau di negeri kita bayar tol naik tiap 2 tahun, di Australia tol hanya berlaku 10 tahun. Setelah itu menjadi jalan biasa yang tidak bayar karena investasi pembangunannya sudah kembali dalam 10 tahun. Meskipun begitu, pada tol yang masih bayar, di jalan tol ternyata tidak ada pintu tol untuk mengambil kartu atau bayar. Hal ini karena setiap pemilik mobil harus punya semacam kartu yang sudah ada barkotnya, bisa ditempel di kaca mobil atau pada saat lewat ditunjukkan untuk di scan, kalau sudah bunyi tit seperti hitungan belanja di toko, maka itu berarti sudah diambil dari deposit yang dimasukkan.


Disiplin lalu lintas tidak cukup hanya dihimbau. Tapi ditegakkan aturannya, suka atau tidak suka. Di Aussie, termasuk di Sydney dan di negara lain dengan disiplin tinggi seperti Eropa, Jepang dan Korea, Para pelanggar lalu lintas cukup dipotret dari kamera yang dipasang di jalan-jalan.


Tidak hanya ditilang dalam bentuk membayar denda hingga 300 dollar, tapi juga dikenakan 2-3 poin pelanggaran, padahal SIM itu hanya 12 poin. Jadi bila sampai 6 kali melakukan pelanggaran lalu lintas, SIM nya dicabut dan baru bisa diberikan lagi 3 tahun kemudian.


Dengan penegakan hukum lalu lintas, pengemudi sangat takut melakukan penggaran sehingga disiplin dan tertib lalu lintas bisa dirasakan meski tidak ada polisi di jalan raya
Hal yang menarik untuk diceritakan adalah dalam soal keuangan. Di Sydney tidak ada istilah tanggal muda, tanggal tua apalagi tanggung bulan. Hal ini karena orang umumnya menerima gaji setiap pekan. Berbeda di negeri kita yang gajian seminggu sekali biasanya buruh bangunan, tukang jahit konveksi, dll.


Di Aussie semua orang gajiannya tiap minggu atau dua mingguan, tidak ada gaji bulanan. Karenanya bayar kost, sewa rumah dan toko bayarnya juga mingguan atau dua pekanan. Jadi di Aussie ini tidak ada istilah duit habis karena tanggal tua. Tiap pekan tanggalnya muda lagi.


Pengangguran juga digaji oleh negara dengan standar sebesar 360 dolar jumlahnya 5% dari 24 jt penduduk. Karenanya setiap orang terjamin hidupnya. Namun tetap saja ada gepeng (gelandangan dan pengemis) di tempat tertentu di keramaian kota, namun bisa dipastikan bahwa mereka bukan tidak ditanggung hidupnya, tapi mereka adalah pemabuk, narkoba dan sejenisnya sehingga untuk hal-hal itu tunjangan dari pemerintah tidak cukup buat mereka.


Pajak untuk rakyat bukan hanya sebagai jargon sebagaimana di Indonesia. Tapi memang betul-betul dirasakan oleh rakyat Australia, termasuk di Sydney. Salah satunya adalah berobat gratis di rumah sakit manapun. Rakyat memiliki kartu untuk berobat dan bisa mendapatkan pelayanan rumah sakit dengan pelayanan terbaik, tidak ada istilah rumah sakit kelas tiga.


Yang mendapatkan kartu siapa saja, tidak hanya orang miskin, apalagi memang tidak ada yang tergolong miskin karena yang menganggur saja dapat tunjangan hidup, mulai dari anak yang baru lahir sampai lansia. Dari pajak, sekolah juga gratis sampai SMA.


Kegiatan ceramah saya sampaikan juga dihadapan KPII (Keluarga Pelajar Islam Indonesia) yang merupakan mahasiswa S1-S3 di UNSW (Univ of New South Wales), cerita yang saya peroleh adalah betapa banyak Mahasiswa Cina yang kuliah di sana, bahkan boleh dibilang jumlahnya 60% dari jumlah mahasiswa disitu. Sekitar 4 hari sebelum saya memasuki kampus itu, saya memang lewat di depan Univ tersebut dan saat mahasiswa bubar, pemandangan memang nampak sekali betapa banyak mahasiswa dengan wajah Cina berkerumum untuk menyeberang jalan. Orang Australi sendiri sedikit yang sampai ke jenjang perguruan tinggi.


Mungkin mereka merasa sudah cukup untuk bisa bekerja dan mendapat gaji yang memadai. Karenanya bila tidak ada mahasiswa dari Asia, banyak Universitas disana yang bangkrut.


Ali Bule dan Robot Stroke


Selain Lakemba saya mengenal orang-orangn istimewa.  Sebut saja Ali Abdullah, Nama ali adalah nama hijrah, sebab dulu namanya Theis Greentree. Namanya diganti  setelah memeluk Islam tahun 1993 di masjid Al Hijrah Sydney. Sehari-hari ia lebih dikenal dengan Ali Bule.
Saya berjumpa pertama kali dengan Ali Bule tahun 2007 saat ia transit di Hotel Milenium Jakarta hendak menunaikan haji bersama rombongan dari Australia yang kebanyakan orang Indonesia, termasuk isterinya yang asal Bandung.


Kala itu, saya memberikan ceramah pembekalan haji kepada mereka. Sesudah haji ia nyantri di PP Darussalam Gontor Ponorogo selama 3,5 tahun sehingga bacaan arabnya sangat fasih.


Selain bekerja, ia juga mengelola komunitas Muslim Al Ikhlas di West, mengadakan kelas pengajian untuk anak-anak dan remaja di rumahnya. Beliau juga menjadi pengurus yang aktif di CIDE, lembaga yang mengundang saya. Bahkan Ali Bule juga menjemput kedatangan saya di Bandara Sydney setelah menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al Hijrah menggantikan saya yang datang terlambat karena delay pesawat. Ia memang ikut pelatihan dakwah yang saya pandu tahun 2011 di Al Hijrah. Terus terang, saya tertarik dengan kesungguhannya sebagai Muslim.


Salah satu hal yang menarik adalah undangan masuk Islam dilakukan oleh Ali Bule kepada ibunya Margaret Joy Greentree. Sejak masuk Islam ia berusaha mempengaruhi ibunya agar masuk Islam, tapi sang ibu selalu mengalihkan pembicaraan, begitu cerita Ali saat saya dan isteri berkunjung ke rumahnya di Sydney West.


Akhirnya Ali menggunakan cara menulis surat agar dibaca sang ibu yang dicintainya.
Penyakit Kanker Otak yang dialami sang ibu membuatnya lebih serius dalam dakwah. Mungkin doa anak cucu dan para santri di PP Gontor membuat sang ibu menunjukan tanda ketertarikan kepada Islam.


Akhirnya sang Ibu betul-betul masuk Islam  21 Maret 2012 dihadapan keluarga yang lain. Ini merupakan kebahagiaan terbesar bagi Ali dan keluarganya, karena dengan begitu ia tidak hanya mendoakan sang ibu saat hidup, tapi juga setelah wafat nanti.


Setelah masuk Islam, sang ibu diberi nama dengan Mardhiyyah oleh seorang ustadz asal Gontor. Allah berkehendak lain, Mardhiyyah dipanggil menghadap ilahi akibat didera tumor otak,  dua bulan setelah memeluk Islam.


Peristiwa ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ali karena sang ibu telah menyambut undangannya untuk masuk Islam.


Terakhir, saya berkenalan dengan Khairul Anam, seorang mahasiswa S3 di UTS (University of Teknology Sydney). Khairul Anama berasal dari Jember, Jawa Timur.Dia mendapat beasiswa dari Diknas sejak setahun yang lalu. Penelitiannya tentang robot untuk orang yang stroke.  Menurut Khairul, beasiswa dari Diknas ada 1000 orang tiap tahun, tapi hanya 500 orang yang bisa diberangkatkan karena kendala bahasa asing.


Yang cukup menarik, hafalan al-Quran Anam cukup lumayan sehingga mulai tanggal 10 Mei 2013 ia dipercaya menjadi imam rawatib di Masjid Al Hijrah. Sebelumnya ia menjadi imam tidak resmi di Iqra Centre. Sedikit kisah ini merupakan kenangan yang tak dapat saya lupakan, mudah-mudahan bermanfaat bagi yang lain.*/Kiriman Drs. H. Ahmad Yani


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=58071


Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Monday, November 11, 2013

Tahun Baru Islam Paling Banyak Dicari Netter Indonesia

Tahun Baru Islam Paling Banyak Dicari Netter Indonesia




Liputan6.com, Jakarta : Setelah resmi mendarat di perangkat Android dan iPhone, euforia aplikasi BlackBerry Messenger lintas platform cenderung menurun. Namun bukan berarti informasi seputar dunia teknologi tidak lagi diminati oleh pengguna internet di Tanah Air.


Berita Terkait



Timnas U-19 dan Evan Dimas Ramai Diburu di Internet


Timnas U-19 dan Evan Dimas Ramai Diburu di Internet



`BBM for Android` Masuk Dalam Pencarian Terpopuler Google


`BBM for Android` Masuk Dalam Pencarian Terpopuler Google


Meski tidak seramai pencarian informasi mengenai BlackBerry Messenger lintas platform, namun kehadiran aplikasi karikatur dan smartphone untuk kelas menengah ramai diperbincangkan di dunia maya. Berikut 10 tema yang banyak dicari oleh pengguna internet yang berhasil dihimpun oleh Google Indonesia.


1. Doa Awal Tahun, Doa Akhir Tahun, Tahun Baru Islam


Minggu lalu atau tepatnya 5 November, umat muslim di seluruh dunia baru saja melewati pergantian tahun Hijriah. Dalam pergantian tahun Hijriah, umat muslim lokal banyak mencari informasi mengenai doa awal tahun, doa akhir tahun, dan tahun baru Islam.


Tradisi pawai obor pun banyak dilakukan oleh sejumlah muslim di beberapa daerah di Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menyambut malam pergantian tahun dengan hal-hal menarik yang menarik dan membawa suasana meriah.

2. Anggara Putra Trisula


Sejak kasus kecelakaan massal malam pergantian tahun yang melibatkan nama Afriani, hingga kini kejadian serupa kerap terulang di beberapa lokasi. Kali ini kasus kecelakaan maut melibatkan salah satu siswi bernama Anggara Putra Trisula.


Anggara diketahui menabrak sejumlah SMA 2 Hang Tuah Sidoarjo pada akhir Oktober lalu. Kasus kecelakaan ini mencuat terkait dengan statur Anggara sebagai salah satu anak Purnawirawan Jenderal Kepolisian.


3. Hasil Liga Champion


Indonesia dan sepak bola seakan sudah menjadi satu hal yang tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Sejumlah tayangan olahraga ‘rakyat’ di televisi pun tidak pernah sepi peminat dan kerap menjadi bahan perbincangan yang menarik.


Salah satunya merupakan euforia liga champion yang telah memasuki matchday 4 pada pekan pertama November. Hasil pertandingan antar klub dari masing-masing grup di Liga Champion pun banyak dicari oleh netter lokal.


4. Moment Camera


Informasi mengenai aplikasi edit foto asal China dengan nama Moman Xiang Ji masuk dalam daftar pencarian terpopuler Google. Aplikasi yang bisa diunduh gratis di Apple AppStore dan Google Play Store ini memungkinkan foto pengguna diubah menjadi layaknya sebuah karikatur.


Menariknya, aplikasi ini masuk dalam aplikasi yang paling banyak diunduh di kedua platform populer tersebut. Bahkan ketertarikan pengguna Android dan iOS terhadap aplikasi ini berhasil membawa Moment Camera sebagai yang paling banyak diunduh. Ketenarannya berhasil melampaui aplikasi BlackBerry Messenger dan WhatsApp Messenger di kedua toko aplikasi online tersebut.


5. Andi Soraya


Nama artis cantik Andi Soraya atau lebih dikenal dengan panggilan Aya kembali menjadi sorota. Artis yang sempat tinggal serumah dan melahirkan seorang anak dari hubungannya dengan Steve Immanuel kali ini dikabarkan tengah diambang perceraian.


Aya dikabarkan telah ditalak melalui pesan singkat oleh sang suami, Rudi Sutopo. Bahkan sang suami yang juga berprofesi sebagai pengusaha kabarnya telah mendatarkan gugatan cerai tersebut ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan.


6. Hari Pahlawan


Makna perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah kembali muncul saat peringatan Hari Pahlawan setiap tahunnya. Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November kerap diisi dengan upacara pengibaran bendera dan ziarah mengunjungi makam sejumlah pahlawan.


Dalam peringatan kali ini, pemerintah menghimbau agar masyarakat mengheningkan cipta selama 60 detik pada pukul 08.00 untuk sekedar mendoakan dan mengingat jasa para pejuang bangsa.


7. Anggita Sari


Kasus perceraian pedangdut Ayu Ting Ting dengan Enji melibatkan nama wanita cantik Anggita Sari. Anggita yang diketahui juga sebagai mantan kekasih bandar narkoba Freddy Budiman mengaku sempat bertunangan dan dihamili oleh Enji.



8. Samsung Galaxy Ace 3


Dominasi Samsung pada bisnis ponsel pintar berbasis Android masih terasa kental. Salah satu kehadiran ponsel kelas menengah, Galaxy Ace 3 berhasil mencuri perhatian pecinta gadget tanah air.


Informasi mengenai ponsel yang mengusung spesifikasi memadai dengan banderol harga yang relatif terjangkau banyak menarik minat netter di Indonesia untuk mencari tahu informasi tersebut secara lebih rinci.


9. Ayu Ting Ting


Jika sebelumnya nama Ayu Ting Ting sempat melonjak melalui lagu berjudul Alamat Palsu, kali ini kabar mengani kehidupan pribadinya banyak dicari pengguna internet. Sayangnya bukan kabar baik mengenai kehamilannya, namun kabar mengenai retaknya hubungan pernikahannya dengan Enji.


Kisruhnya hubungan rumah tangga yang dijalani keduanya menyita perhatian banyak orang. Mengingat usia pernikahan yang belum genap satu tahun tersebut juga melibatkan nama wanita cantik yang kabarnya menjadi orang ketiga diantara Ayu dan Enji.


10. Miss Universe


Ajang pencarian ratu sejagat ‘Miss Universe’ yang diadakan setiap tahunnya kembali menyita perhatian banyak orang. Tahun ini Indonesia kembali mengirimkan wakilnya di ajang prestijius tersebut.


Meskipun tidak terpilih sebagai pemenang, namun Whulandary Herman sebagai wakil Indonesia mampu masuk dalam daftar 16 besar. (vin/dew)







Article source: http://sabili.co.id/berita/inter/item/657-inilah-politisi-belanda-anti-islam-yang-kini-masuk-islam.html


Tahun Baru Islam Paling Banyak Dicari Netter Indonesia

Thursday, January 16, 2014

Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Jakarta - Szilvia Fabula bukan satu-satunya gadis Eropa Timur yang dikenal Presiden PKS Anis Matta. Anis Matta pernah bertemu dengan sorang Imam yang punya 7 gadis Eropa Timur yang baru saja masuk Islam. Namun Anis Matta memilih Szilvia sebagai istri keduanya.

Wasekjen PKS Fahri Hamzah mengisahkan hal tersebut melalui akun twitternya, Jumat (28/12/2013).


Szilvia Fabula masih studi S2 ekonomi saat mengenal Anis Matta di sebuah toko buku di Budapest, Hongaria. Setelah cukup lama sejak pertemuan pertama yang disaksikan Wasekjen PKS Fahri Hamzah itu, keduanya bertemu kembali di Budapest. Pertemuan kedua ini sudah banyak perubahan pada diri Szilvia.


Szilvia kini sudah memeluk agama Islam. Dia pun berani bertanya ke Anis Matta soal hukum Islam poligami.


“Rupanya dia sempat dikirimi Quran dengan terjemahan Inggris dan lalu diarahkan ke Islamic Center Budapest oleh Jen (Anis Matta),” kata Fahri.


Anis Matta pun menjelaskan tentang hukum poligami. Perdebatan pun terjadi karena awalnya Silvia menentang poligami. Namun entah mengapa setelah itu Szilvia semakin mantap mengubah penampilan.


“Waktu kami berjumpa Kerudungnya sudah sempurna. Dan dia menyampaikan terima kasih kepada kami,” kata Fahri.


Szilvia juga mengantarkan Anis Matta dan Fahri ke Islamic Center of Budapest dan mempertemukan dengan pimpinannya. Kala itu pemimpinnya memuji Anis Matta. 


“Sore itu kami dikenalkan oleh sang imam 7 gadis dari kawasan eropa timur yang menjadi muallaf bersama-sama,” kenang Fahri yang memilih tak poligami ini.


Perdebatan tentang poligami itu mengantar hubungan Anis Matta dan Szilvia semakin jauh. “Sampai kami kembali lagi ke Jakarta, kami belum mendengar ada kisah cinta. Semuanya dialog tentang Islam,” kilah Fahri yang belum mau mengugkit kisah cinta Anis dan Szilvia secara lebih mendalam ini.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/11/16/219530118/Asmirandah-Mengaku-Minta-Jonas-Masuk-Islam


Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Sunday, December 23, 2012

CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab


CATATAN 2012: “The Rise of Hijab Style”, atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Minggu, 23 Desember 2012 19:37

| Ade Irwansyah

PERINGATAN: Tulisan yang akan Anda baca terbilang panjang. Bersiaplah.

PERNAH bertanya-tanya kenapa wanita berkerudung zaman sekarang lebih ingin memakai istilah hijab ketimbang jilbab?

Di majalah Tempo edisi 19 Agustus 2012 Dian Pelangi, perancang busana muslimah yang boleh jadi ikon bagi para hijabist tanah air saat ini, memberi jawab begini: “Jilbab itu kan hanya kerudung, sedangkan hijab itu busana yang menutup semua aurat.”

Benarkah defenisi itu?

Mengecek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di lemari buku saya (yang saya miliki Edisi Ketiga, 2005) “hijab” berarti: 1) Dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain; 2) Isi dinding yang membatasi hati manusia dan Alllah; dan 3) Dinding yang membatasi seseorang dari mendapat harta waris (contoh kalimatnya: Anak laki-laki adalah hijab dari saudara sebapak). (KBBI, ed.3, 2005, hal. 401.)

Sedangkan KBBI mengartikan “jilbab” sebagai “kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.” (KKBI, ed.3, 2005, hal.473.)

Mengacu pada defenisi menurut kamus, tentu hijab dan jilbab yang disebut Dian tak sinkron. KBBI tidak (belum) mengenal istilah hijab sebagai kerudung maupun pakaian yang menutupi tubuh (baca: aurat) wanita muslimah.

Dengan demikian, pengertiannya mesti ditarik lebih jauh, hingga ke kitab suci Al-Quran. Dalam Islam, tata cara berpakaian bagi wanita muslimah memang diatur. Bahkan aturannya tidak lewat aturan yang dibuat manusia, melainkan oleh Tuhan langsung lewat firman-Nya.

Ayat pertama yang mengatur aurat wanita adalah firman Allah di QS. Al Ahzab (33): 53. Di ayat itu ada petikan kalimat begini: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kamu dan hati mereka.”

Di buku Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Lentera Hati, 2004), M. Quraish Shihab menulis, secara bahasa “hijab” berarti “sesuatu yang menghalangi antara dua lainnya.” Shihab melanjutkan, seseorang yang menghalangi orang lain sehingga tidak dapat bertemu disebut hajib. Kata ini juga berarti “penutup.” Tim Departemen Agama yang menyusun Al Quran dan Terjemahannya menerjemahkan kata “hijab” dengan tabir. Dalam perkembangan lebih jauh, tulis Shihab, “wanita yang menutup diri atau seluruh badannya dengan pakaian, dinamai mutahajjibah.”

Kata “tabir” juga dimaknai banyak ulama sebagai perintah bahwa seluruh badan wanita aurat. Karena makna “tabir” berarti menutupi serta menghalangi terlihatnya sesuatu yang berada di belakangnya. Sebuah tafsir yang dikutip Shihab menerangkan, “Ayat ini menunjukkan … perempuan semuanya aurat—badannya dan terbentuknya—maka tidak boleh membukanya kecuali bila ada darurat atau kebutuhan seperti untuk menyampaikan persaksian atau karena adanya penyakit di badannya (dalam rangka pengobatan).” (M. Quraish Shihab, Jilbab, 2004, hal. 75.)

Lalu ada pula firman Allah beriikutnya yang jelas-jelas menyebut kata “jilbab.” Di QS. Al-Ahzab (33): 59, Allah berfirman: “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan aanak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Itu menjadikn mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika mengacu ke Al Quran dan pandangan ulama, tak ada beda hijab dengan jilbab. Dua-duanya dimaksudkan sebagai penghalang dan penutup badan bagi wanita muslimah. Jilbab bisa dimaknai sekadar kerudung maupun pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh wanita. (Shibab, 2004: 88.)

***

Dari sini, yang menarik untuk lebih ditelisik adalah bagaimana kata “jilbab” di Indonesia kini seakan hendak berganti jadi “hijab”?

Saat mengulas film Khalifah (Nurman Hakim, 2011), tentang kehidupan wanita wanita berjilbab cadar, saya mengurai perkembangan jilbab mengutip artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers.”

Saya kutip saja bagian “sejarah” jilbab 30 tahun terakhir di Indonesia dari ulasan saya:

“Kesadaran ber-Islam di kalangan kaum muda perkotaan sejak akhir 1970-an kemudian juga termasuk di antaranya, bagi perempuan, yakni menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Namun, di awal 1980-an lampau berjilbab tidaklah segampang sekarang, tinggal datang ke toko, beli jilbab, lalu pakai. Dulu, berjilbab, terutama di lingkungan sekolah umum termasuk hal yang dilarang. Masa itu, yang memakai jilbab (waktu itu lebih pas disebut kerudung) umumnya ibu-ibu yang sudah berumur, punya suami, atau jika masih muda, umumnya sekolah di sekolah khusus Islam seperti Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) atau Aliyah (setingkat SMA). Berjilbab ke sekolah umum masa itu mendatangkan kecurigaan.

Silakan tanya aktivis dakwah yang mengalami pahit getir berjilbab di sekolah umum hingga awal 1990-an. Mereka pasti akan cerita betapa susahnya menjalani perintah Tuhan yang satu itu.

Anda tentu mafhum, Indonesia tahun 1980-an di masa Soeharto terhitung tak akrab dengan Islam yang mereka sebut radikal. Rezim hanya mau “Islam yang mereka terima.” Waktu itu, rezim sedang gerah dengan Islam radikal yang melakukan aksi teror mengebom Candi Borobudor, membajak pesawat Garuda, mengebom Bank BCA, hingga tragedi Tanjung Priok dan Lampung.

Perempuan berjilbab dianggap representasi dari kaum Islam radikal. Maka, berjilbab dilarang. Tidak langsung, tentu. Pada 1982, Departemen P K Republik Indonesia mengeluarkan SK 052/c/Kep/D/82 (kemudian dikenal dengan sebutan SK 052) untuk mengatur penggunaan seragam sekolah. Semua tahu, ini SK untuk melarang jilbab di sekolah-sekolah umum.

Sejak ada SK itu, tekanan pada siswi berjilbab makin keras. Para siswi dipaksa melepas jilbab atau tidak boleh mengikuti pelajaran. Pada 1980-an juga marak insiden pelarangan jibab. Dari buku Revolusi Jilbab (2002) karya Alwi Alatas, kasus jilbab versus siswi sekolah muncul pertama kali 1979 di Bandung. Sejumlah siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bandung mulai menggunakan jilbab. Pihak sekolah kemudian berniat mengumpulkan mereka dalam kelas terpisah. Para siswi menolak. Ketegangan ini lalu juga mengundang MUI Jawa Barat turun tangan menyurati Kanwil P dan K Jawa Barat, meminta siswi yang memakai jilbab di sekolah tak dipersulit.

Setelah muncul SK di atas, ada pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung. Guru olahraga sekolah itu, bukan hanya melarang siswi yang pakai jilbab ikut pelajarannya, tapi juga mewajibkan mereka pakai hot pants untuk olahraga.

Pada 1983, pelarangan atas jilbab semakin memanas. Dalam catatan MUI di tahun itu ada 100 siswi dipindahpaksa dari sekolah-sekolah mereka ke sekolah lain karena pakai jilbab. Kemudian, di tahun itu juga, tepatnya 9 Agustus, terjadi insiden kekerasan di SMAN 30 Jakarta. Para siswa-siswi SMA itu yang melakukan aksi protes pelarangan jilbab malah dihadapi dengan kekerasan oleh aparat. Mereka memukul beberapa siswa dengan popor senjata, membuat sejumlah siswa masuk rumah sakit.

Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 kemudian makin membuat pemakai jilbab terjepit hingga sudut tersempit. Rezim Orde Baru makin mengkotakkan Islam ke dalam “yang diterima” dan “yang tidak diterima.” Dan jilbab masuk kategori Islam “yang tak diterima.” Di sekolah-sekolah negeri di Bandung pada 1984 diklaim bersih dari jilbab.

Bukannya tak ada yang pakai jilbab lagi. Tapi, masa itu, akhirnya pemakai jilbab memilih tiarap. Jika tak pindah sekolah, banyak aktivis Islam masa itu yang memilih berkompromi. Para siswi berjilbab mmemilih manut, melepas kerudung saat masuk pelataran sekolah. Catat artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers”, aktivis dakwah masa itu akhirnya memilih merapatkan barisan dan kaderisasi.

Berbagai pelatihan keislaman mulai marak. Biasanya dilakukan dengan nama pesantren kilat (sanlat) dan para siswa ini membentuk organisasi keislaman yang berinduk pada OSIS yakni Rohani Islam (Rohis). Kemudian, siswa-siswa ini juga aktif dalam pengkaderan keislaman dalam kelompok-kelompok kecil (metode usroh) dan tarbiyah (pengkaderan intensif).

Para siswi hanya menanggalkan jilbab di sekolah. Di luar itu, mereka menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Laki-laki dan perempuan ditempatkan terpisah. Di kalangan mereka juga muncul sebutan ikhwan (saudara laki-laki) dan akhwat (saudara perempuan). Yang laki-laki dipanggil “akhi”, yang perempuan “ukhti.”

Pada akhirnya, rezim tak bisa lama-lama lagi melarang jilbab. Bukannya surut, pemakai jilbab malah makin banyak. Di awal 1990-an juga Soeharto konon lebih akrab dengan Islam. Momentumnya saat ia mengizinkan ICMI berdiri. Simpati masyarakat pada penindasan siswi berjilbab juga makin dreas.

Maka, pada 1991, Mendikbud Fuad Hasan mengeluarkan SK nomor 100 yang membolehkan siswi umum berjilbab. 

Sejak itu, jilbab semakin banyak. Maknanya juga kemudian bukan lagi simbol perlawanan atau ketaatan maksimal. Bahkan kemudian jilbab jadi bagian dari mode. Jilbab pun dikotakkan ke dalam beberapa jenis. Ada jilbab panjang, juga ada sebutan jilbab gaul, yang bisa diartikan berkerudung tapi memakai jeans atau bahkan tetap memakai kaus ukuran sang adik.”

***

Jilbab di Indonesia telah melewati sejarah panjang, jatuh-bangun. Jilbab sebagai mode gaya hidup kemudian melahirkan perancang busana muslim, seperti Ida Royani atau Ida Leman. Setelahh Reformasi 1998, perancang koleksi premium untuk perempuan berjilbab kian banyak. Hanya, rancangan mereka terlalu unik dan tampaknya ribet untuk dipakai. Ikon untuk jilbab jenis ini yang kerap dipakai Neno Warisman. Neno memakai jilbab berlapis-lapis.

Nah, anak-anak muda yang ingin tampil kasual tak melirik rancangan model begitu. Akhirnya yang terjadi salah kaprah dalam berjilbab. Berkerudung tapi pakaian tampak ketat. Dari sini muncul istilah jilbab gaul. Dicatat majalah Madina edisi Mei 2008, jilbab yang dulu dianggap tanda-tanda kebangkitan Revolusi Islam, kini dipandang sebagai bagian dari budaya pop saja. Jilbab yang di awal didasari semangat untuk menjalankan hidup yang murni secara Islam, kini diperlakukan sebagai gaya berpakaian yang “funky.” Semua dihadapi serba rileks. Istilah jilbab gaul—yang dalam istilah percakapan sehari-hari adalah berjilbab tapi juga ber-jins, dan bisa jadi menampakkan lekuk tubuh—adalah contoh sikap santai itu.

Para hijabist alias kaum berjilbab pasca dekade 2000-an semisal Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara Nasution, Fifi Alvianto, dan Ghaida Tsurayya tampaknya tak ingin terkontaminasi makna jilbab gaul yang sudah berkonotasi negatif. Pun mereka ingin membedakan diri dari perancang busana muslimah generasi orangtua mereka.

Seorang kawan yang menulis fashion dan membuat profil Dian di tabloid ini mengatakan, istilah “hijab” lebih meng-internasional ketimbang “jilbab.” Di Barat sana, misalnya, kata Arab “hijab” lebih dikenal ketimbang “jilbab.” Boleh jadi ada benarnya.

Nyatanya, yang membedakan perancang busana muslim generasi Dian dkk dengan angkatan Ida Royani dkk adalah, salah satunya, tulis Tempo, dulu para perancang menjual busana muslimah satu set: dari atas hingga bawah. Kini para perancang muda cenderung menujal dalam potongan terpisah. Pembeli, kaum jilbabers eh hijabers atau hijabist ini, bebas berkreasi. “Intinya adalah mix and match,” kata Dian. Dengan adanya internet dan majalah mode sebagai bahan referensi , setiap hijabist bisa berkreasi melakukan padu padan busana muslimah sesuai selera.

Ini dia, mau tak mau, ketika sudah bertemu dengan mode dan gaya hidup, berjilbab atau berhijab bukan lagi sekadar mematuhi tuntutan agama.***

(ade/ade)   

Berita Terkait:

KALEIDOSKOP: 10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2012 (Dengan Sedikit Catatan)KALEIDOSKOP: 5 Adegan Film Horor Seks Paling Panas 2012Dewi Sandra Sudah Mantap Berhijab?10 Video YouTube yang Paling Banyak Disaksikan di 2012

Berikan komentar

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Wednesday, September 18, 2013

Mitos Gelombang Muslim (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra


Ada banyak mitos gelombang Muslim di Barat, tegasnya Eropa dan Amerika Utara. Terdapat kalangan Barat yang sangat khawatir dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk warga Muslim dalam diaspora masing-masing. Kekhawatiran ini ditambah terus mengalirnya migran Muslim dari kawasan dunia Islam yang menurut imajinasi mereka akhirnya bakal membuat kaum Muslim menjadi mayoritas penduduk di kedua benua itu dan selanjutnya menguasai politik setempat.


Sejumlah penulis Barat yang membawa semangat anti-Muslim mengklaim, misalnya, pada 2025 nanti populasi Muslim mencapai sekitar 40 persen penduduk Uni Eropa, dan menjelang pertengahan abad 21 mereka menjadi mayoritas di benua ini. Klaim tentang gelombang Muslim ke Eropa dan Amerika Utara menimbulkan berbagai ‘mitos’ yang meningkatkan sikap anti-Muslim dan fobia Islam di kalangan masyarakat kedua benua tersebut. Akibatnya, kecemasan juga kian meningkat di kalangan Muslim, baik yang merupakan generasi kedua atau ketiga atau migran yang belum lama datang ke Eropa atau Amerika Utara.


Mengadakan beberapa kali perjalanan ke Eropa Barat sepanjang September 2013, saya juga menemukan peningkatan kecemasan di antara kaum Muslim Eropa tentang kian kuatnya sikap permusuhan (hostility) dari penduduk ‘pribumi’ lokal. Misalnya Ali Mahmud, sopir taksi asal Baghdad yang membawa saya dari Hotel Sheraton di pusat Kota Stockholm ke Bandara Arlanda pada awal September. Ketika saya tanya tentang kehidupannya belakangan ini, dia menjawab singkat, hidupnya kian sulit dan hampir selalu mendapat tatapan tajam penumpangnya yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian.


Mencoba berefleksi tentang nestapa Ali dan kalangan kaum Muslim Eropa lain, saya ibarat mendapatkan “pucuk dicinta ulam tiba” di Bandara Arlanda ketika di salah satu toko buku menemukan karya Doug Saunders, The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (New York: Vintage Books, 2012). Meski buku ini mencakup anak judul “immigrants” secara umum, isinya hampir sepenuhnya menyangkut tentang kaum Muslim migran yang menetap di Eropa dan Amerika Utara.


Walaupun begitu, ‘gelombang’ imigran ke Barat sebenarnya bukan hanya mencakup kaum Muslim. Sebelum datangnya migran Muslim setelah Perang Dunia II, sampai sekarang masih berlangsung apa yang disebut sebagai ‘gelombang’ Katolik dan ‘gelombang’ Yahudi di Eropa maupun Amerika Utara. Tetapi, gelombang kedua masyarakat keagamaan ini dalam hal tertentu berbeda dengan gelombang migran Muslim yang mulai berlangsung intensif sejak masa pasca-Perang Dunia II sampai sekarang.


Gelombang-gelombang imigran ke Barat selalu mendapatkan ‘perlawanan’ dari masyarakat lokal. Meskipun dalam kasus migran Muslim belakangan kelihatan lebih sengit. Kesengitan itu jelas banyak terkait dengan peristiwa penyerangan WTC di New York dan markas Pentagon 11 September 2001 di AS, yang kemudian disusul pengeboman di London dan Madrid.


Ketika gelombang kaum Katolik ke AS terus meningkat sejak dasawarsa awal abad 20, pada 1949 seorang penulis, Paul Blanchard, menerbitkan buku American Freedom and Catholic Power. Buku ini segera menjadi hit dengan masuk daftar best seller harian the New York Times selama 11 bulan berturut-turut. Edisi pertamanya terjual 240 ribu kopi dan dicetak ulang sampai 26 kali.


Blanchard menyalakan ‘lampu merah’ yang menyentakkan masyarakat Protestan Amerika. Ia mengatakan, gelombang migran Katolik ke Amerika mendatangkan ancaman serius bagi demokrasi, kesetaraan, dan sekularisme Amerika. Menurut dia, migran Katolik berasal dari negara-negara yang hampir sepenuhnya otoriter, fundamentalis secara keagamaan, dan menentang hak-hak perempuan serta menolak pembatasan kelahiran (birth control).


Selain itu, gereja Katolik menganut dogma tidak bisa diubah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. “Gereja [Katolik] adalah peninggalan otoritarianisme abad pertengahan yang tidak punya tempat pas dalam demokrasi Amerika,” tulisnya.


Lebih jauh, seperti juga tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Muslim belakangan, Blanchard menuduh migran Katolik dengan tingkat kelahiran yang tinggi bakal melampaui jumlah masyarakat Protestan, dan akhirnya menguasai kepresidenan Amerika. “Mereka tidak bakal terintegrasi, sebaliknya, membuat masyarakat terpisah yang berencana jahat (plot) memaksakan keimanan mereka secara lebih luas.”


Persepsi yang sama juga berlaku bagi kaum Yahudi yang mulai bermigrasi ke Amerika Utara sejak dasawarsa akhir abad 19. Umumnya mereka berpindah karena meningkatnya sikap anti-Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Semula, mereka bermigrasi ke Eropa Barat yang kemudian juga menjadi anti-Yahudi sehingga akhirnya berpindah ke Amerika Utara–AS dan Kanada.


Memang, di kota besar seperti New York, di mana terdapat imigran Yahudi dalam jumlah signifikan, mulai terlihat mereka membentuk masyarakat terpisah. Mereka tampil dengan penampilan fisik, agama, bahasa, pakaian, dan makanan (kosher) yang khas. Media setempat berulang kali mengingatkan dalam laporannya tentang “masalah orang asing” yang telah “menguasai” pertetanggaan. Orang-orang Yahudi sering dianggap sebagai pelaku kriminal, sehingga Komisioner Polisi New York, Theodore Bingham, pada 1908 menulis di North American Review, “Meski orang Yahudi hanya seperempat penduduk kota, separuh mereka adalah kriminal.”


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130917162730/limit/0/Umat-Kristen-Mesir-Dipaksa-Bayar-Pajak-300-Ribu-Per-Hari.html


Mitos Gelombang Muslim (1)