Showing posts sorted by relevance for query tingkat. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query tingkat. Sort by date Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Padang Ekspres • Selasa, 26/03/2013 13:09 WIB • • 63 klik

Pasbar, Padek—Kepala Kantor Ke­menterian Agama Pasaman Ba­rat, Abdel Haq me­nyam­pai­kan, ada tiga Kepala Kantor Uru­san Agama (KUA) se Pa­saman Barat mendapat nominasi se­ba­gai tiga besar pada penilaian ke­pala KUA berprestasi tingkat ka­bu­paten, tahun 2013. Mereka itu Ahmad Siddik, Kepala KUA Lem­bahmelintang, Sufrinas, Kepala KUA Kecamatan Kinali dan Bis­man Kepala KUA Pasa­man.

 

Tiga kepala KUA peraih pres­tasi terbaik tingkat kabupaten di tahun 2013 ini adalah hasil pe­nilaian yang dilakukan oleh tim penilai Kabupaten Pasaman Ba­rat. Untuk tahun ini, bertindak sebagai ketua tim penilai adalah Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, Syawal.

 

“Ya, tahun ini ada tiga orang yang masuk nominasi, dan satu diantara mereka akan mewakili Pasbar ke tingkat provinsi,” kata Abdul Haq kepada Padang Ek­spres di Simpangampek, Senin kemarin.

 

Dijelaskan, selain melak­sanakan agenda rutin, setiap tahun dilakukan penilaian kepala KUA berprestasi tingkat kabu­paten. Program ini sebagai upaya sekaligus untuk menentukan siapa yang berhak mewakili ka­bu­paten (Pasaman Barat) me­ngikuti penilaian serupa di ting­kat provinsi.

 

Untuk tingkat provinsi, dijad­walkan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2013 mendatang. Namun, hari dan tanggal apa kepastian jadwal penilaian kapala KUA berprestasi tingkat Provinsi Sumbar, masih menunggu jadwal khusus dari tim penilai provinsi. Diharapkan satu dari tiga peraih prestasi terbaik untuk tingkat Kabupaten Pasaman Barat ber­hak mengikuti penilaian serupa antar kabupaten/kota se Su­matera Barat.

 

“Kita harapkan kepala KUA yang menjadi wakil Pasaman Barat akan berhasil di tingkat provinsi dan berhasil membawa pulang hadiah ke ranah Pasbar ini,” harap Syawal (roy)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/12/25/118715/FPMM-Kedamaian-itu-Jauh-Lebih-Penting/3


Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Tuesday, August 6, 2013

Wako Ingin Pesantren Menasional

Wako Ingin Pesantren Menasional


Padang Ekspres • Selasa, 06/08/2013 13:58 WIB • Redaksi • 47 klik


M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ya­ng rutin diadakan Pemko Pa­dang selama Ramadhan menjadi program nasional. Program ini ber­manfaat dalam pembentukan ka­rak­ter anak sejak dini.


 


Seperti diketahui Pesantren Ramadhan diikuti 54.897 murid SD, 47.435 siswa SMP, dan 42.790 siswa SMA dan siswa nonmuslim 4.766 siswa mulai dari SD hingga SMA.


 


“Ini hendaknya menjadi program nasional. Inilah yang dibilang Pak Presiden character building (pembangunan karakter). Ini se­ba­gai upaya pembentukannya dari awal,” kata Fauzi Bahar kepada sejumlah wartawan, usai pe­nu­tupan kegiatan pastoral di Gereja HKBP Padang, kemarin (5/8). Kegiatan pastoral dilaksanakan oleh siswa beragama Kristen.


 


Saat menutup Pesantren Ra­mad­han di Masjid Nurul Yakin, Kompleks Perumahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Mi­nggu (4/8) malam, Fauzi me­nga­takan, banyak manfaat yang di­dapat dari kegiatan tersebut, te­ru­tama meminimalisir kriminalitas.


 


“Orang Islam yang tidak taat pada agamanya rentan menjadi pelaku kriminal, kejahatan, ko­rup­si dan sebagainya. Begitu juga penganut Kristen, yang tidak taat akan melakukan kejahatan,” jelas­nya.


 


Melalui Pesantren Ramadhan, salah satu upaya menanami nilai-nilai agama bagi generasi muda sejak usia dini. “Negara ini men­jamin setiap umat, setiap warga untuk memeluk agama dan beri­ba­dah menurut agama dan ke­per­cayaan masing-masing,” tu­tur­nya.


 


Pembentukan karakter, ka­tanya, akan lebih ber­man­faat kendati mengeluarkan biaya besar. Manfaatnya akan dirasakan secara luas. “Jika kita bina olahraga sepakbola dengan biaya Rp 5 miliar ha­silnya tentu tidak akan begitu besar kita rasakan. Tapi jika kita bina anak-anak ini dengan pembentukan akhlak dan budi pekerti akan lebih bermanfaat karena akan langsung dira­sakan dampaknya. Ayah mana yang tidak suka anaknya da­tang ke gereja, masjid, vihara, dan pura,” terangnya.


 


Melalui kegiatan tersebut, intensitas beribadah anak-anak bertambah dari hari bia­sanya. “Saya terharu pada anak-anak tadi begitu antu­sias. Anak-anak ini berada di gereja 3 minggu berturut-turut. Tingkat intensitasnya beribadah meningkat diban­ding hari-hari biasa. Yang biasanya hanya sehari ke ge­reja, itu pun bersama ke­luarga. Kini mereka setiap hari selama tiga minggu ke gereja,” im­buhnya.


 


Di samping manfaat ter­se­but, pembentukan karak­ter dan akhlak ini dapat me­redam ge­sekan antaragama. “Selama ini terjadi gesekan antaragama di­sebabkan le­mah­nya pen­ge­ta­­huan agama mereka,” tu­kuk­nya. Fauzi berharap Pesantren Ramadhan dilanjutkan oleh wali kota terpilih nantinya. “Kalau wali kota berikutnya tidak melakukan hal ini, warga harus mendesaknya. Hal ini dibutuhkan warga,” paparnya.


 


Senada dengan itu, pen­deta gereja HKBP Padang, Afolo Waruwu, juga berharap kegiatan serupa dapat dilan­jutkan oleh wali kota Padang baru nantinya. “Disayangkan tidak dilanjutkan,” ujarnya.


 


Dia mengatakan, pem­bina­an rohani bagi siswa siswi Kristen bermanfaat mem­be­ntuk karakter mereka. De­ngan demikian, anak-anak terfokus untuk belajar pemahaman agama. “Anak-anak kita an­tusias” katanya.


 


Paraklaweh Unggul


 


Secara terpisah, Kelurahan Paraklaweh Kecamatan Lu­buk­begalung berhasil me­ngung­guli 14 kelurahan dalam pe­laksanaan Pesantren Ra­mad­han 1434 H/2013 M. Ini predikat terbaik ketiga kalinya yang diraih secara berturut-turut sejak 2011 lalu pada kegiatan yang sama.


 


“Ini prestasi yang ketiga kalinya untuk tingkat Ke­ca­ma­tan Lubeg. Jadi harapan kita tinggal selangkah lagi, yakni mengukir prestasi di tingkat Kota Padang nantinya,” ujar Lurah Paraklaweh Ganefardi, saat penutupan Pesantren Ramadhan tingkat Kecamatan di Masjid At Taubah, Parak Laweh, Lubeg, kemarin.


 


Total peserta pesantren 171 siswa terdiri dari 60 murid SD dan sederajat, 59 siswa dari SLTP serta sisanya pelajar SLTA.


 


Selain itu, aparatur kelurahan yang bekerja sama dengan Karang Taruna Aster Biru, Parak Laweh, juga men­ye­rahkan bantuan kepada 89 orang anak yatim yang ma­sing-masingnya mendapat santuan sebesar Rp 500 ribu.


 


Ketua Karang Taruna Aster Biru, Paraklaweh, Febrinal me­ngu­ngkapkan, selain fokus pada kegiatan sosial ke­mas­ya­rakatan, organisasinya juga aktif dalam mendukung pem­ben­tukan men­tal generasi muda salah satunya melalui Pesantren Ramadhan ini. (bis/zul)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/207819


Wako Ingin Pesantren Menasional

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Monday, December 17, 2012

Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Anggaran pemerintah di Aceh pada 2013 terdiri dari Satker Vertikal Kementerian/Lembaga Rp7,599 triliun, dekonsentrasi Rp449,2 miliar, Tugas Pembantuan Rp554,4 miliar, Urusan Bersama Rp481,3 miliar, transfer ke daerah untuk provinsi Rp8,190 triliun serta untuk kabupaten/kota Rp14,182 triliun.

Penyerahan DIPA di Gedung Serba Guna Kantor Gubernur itu dihadiri Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi, Kajati TM Syahrizal SH, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Kasdam Iskandar Muda dan Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Provinsi Aceh Achmad Saifuddin.

Dari 23 bupati/walikota di Aceh, hanya 20 di antaranya yang hadir menerima langsung DIPA, sementara tiga kepala daerah tidak hadir dan diwakili sekda. Belum ada penjelasan dan alasan terkait ketidakhadiran mereka.

Penyerahan DIPA secara simbolis, pertama diterima instansi vertikal seperti Kodam Iskandar Muda, Kejaksaan Tinggi Aceh, Polda, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, Kanwil Kementerian Agama Aceh, Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry menyusul para bupati/walikota.

Terkait dengan penyerahan DIPA tahun 2013 ini, Gubernur Zaini meminta bupati/walikota dan pimpinan SKPA/SKPK agar menggunakan dengan sebaik-baiknya dana pembangunan ini, dengan berlandaskan pada peningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat, menurunkan jumlah penduduk miskin Aceh sebesar 2 persen per tahun dan penciptaan lapangan pekerjaan serta kesempatan berusaha sebagai upaya menurunkan jumlah pengangguran dari 9,10 persen menjadi 7 persen.

Data BPS menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh sebesar 19,46 persen atau jauh di atas nasional yang hanya 11,5 persen dan tingkat pengangguran 9,10 persen. Aceh tentu tidak ingin memberi kontribusi besar untuk data kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Karenanya, kerja keras sangat dibutuhkan agar tingkat pengangguran dan kemiskinan di Aceh bisa menurun, dengan demikian Aceh tidak lagi menjadi pemberat pertumbuhan ekonomi Indonesia melainkan Aceh menjadi pendorong dan atau kontributor percepatan peningkatan kualitas kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Untuk ini pastikan seluruh program harus tepat sasaran dan tepat guna dan tidak ada penyimpangan dalam penggunaannya,” harapnya.

Zaini menyatakan, sebagai bagian dari mewujudkan misi tatakelola pemerintah Aceh yang baik, perlu ditingkatkan kualitas sistem transparan dan akuntabilitas pengelolaan anggaran pembangunan dengan membuka akses masyarakat dalam memperoleh informasi program-program pembangunan.

Stimulus

DIPA 2013 juga harus dijadikan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi Aceh secara inklusif, merata, dan mendorong perbaikan kapasitas fiscal Aceh dalam mewujudkan kemandirian Aceh dalam anggaran pembangunan.

“Pastikan seluruh tahapan pelaksanaan program pembangunan sesuai dengan peraturan-perundang-undangan yang berlaku sehinggal kinerja kita dalam mengelola anggaran dapat meningkat dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dengan demikian kita sudah menjalankan dan menerapkan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatakelola pemerintah sebagai bagian dari upaya kita membenahi tatakelola pemerintahan Aceh,” terangnya.

Terkait semangat membangun Aceh sebagaima visi dan misi Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, Doto Zaini membuka kesempatan yang luas kepada pelaku bisnis dan masyarakat internasional untuk dapat mendukung pendanaan pembangunan Aceh dengan bekerjasama secara kemitraan yang sehat, setara dan terbuka.

“Kami juga meminta kepada DPR-RI khususnya Badan Anggaran untuk memberikan perhatian khusus kepada Aceh, dana APBN yang lebih signifikan melalui DAU, DAK dan Dana Dekonsentrasi agar lebih banyak diprioritaskan kepada Aceh dalam rangka menghapus angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh,” jelasnya.

Diungkapkan, ada sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang masih masuk kategori daerah tertinggal. Karenanya bagi daerah yang mendapat dana pembangunan untuk daerah tertinggal, supaya dapat menggunakan anggaran itu dengan tepat dan tidak lagi daerah tertinggal. “Saya berusaha, Aceh tahun 2017 nanti tidak ada lagi kabupaten yang masuk katagori daerah tertinggal dengan meningkatnya kualitas kesejahteraan rakyat dan kapasitas fiskal daerah,” jelasnya.

Hal lain yang paling penting adalah pembahasan APBA/APBK di tingkat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dan kabupaten/kota. Sesuai PP No.58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, APBD 2013 di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia harus selesai paling lambat akhir tahun ini.

“Untuk ini, saya minta DPRA dan DPRK serta para bupati/walikota untuk dapat menetapkan APBA dan APBK sesuai PP 58/2005, tandas gubernur. (mhd)

Article source: http://travel.kompas.com/read/2012/12/17/06514727/Belum.ke.Kuala.Lumpur.Tanpa.ke.Menara.Kembar.Petronas


Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Tuesday, May 7, 2013

SMAN 28 Jakarta: Meraih Prestasi, Mempertebal Keimanan




SMAN 28 Jakarta: Meraih Prestasi, Mempertebal Keimanan



EDISI KHUSUS: Sekolah Para Juara


Setiap tahun, siswa SMA Negeri 28 Jakarta langganan meraih juara dalam ajang prestasi. Robotik menjadi ikon ekskul sekolah. Alumninya diterima di perguruan tinggi negeri favorit.  


Jakarta, GATRAnews – Bangunan kelir hijau berlantai tiga di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu menjadi ”rumah” bagi keluarga besar SMA Negeri 28 Jakarta. Suasana sejuk terasa ketika memasuki gerbang sekolah lantaran banyak pepohonan rindang di berbagai sisinya. Sekolah ini secara resmi berdiri sejak 5 Maret 1970. Sebelumnya, sekolah ini bernama SMA 11 filial, didirikan Djoko Soetedjo dan Sumardi pada 2 Agusus 1965. Djoko Soetedjo sekaligus menjadi kepala sekolah pertama periode 1965-1980.


 


Sempat pindah lokasi beberapa kali serta mengalami renovasi besar-besaran pada 1977, sejak 2003 SMA Negeri 28 Jakarta ditunjuk pemerintah menjadi SMA plus tingkat Provinsi DKI Jakarta. Kemudian, pada tahun pelajaran 2004/2005, sekolah ini ditetapkan sebagai sekolah plus standar nasional. Sebelum program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dihapus pemerintah, SMA Negeri 28 juga pernah menyediakan program unggulan tersebut.


 


Selain memiliki kelas reguler per angkatan sebanyak enam kelas, sekolah yang kini dipimpin Nani Kurniasih itu juga membuka program kelas internasional sejak tahun pelajaran 2009/2010, dengan jumlah siswa 24 orang per kelas.


 


Sekolah yang memiliki visi “Menguasai Iptek Berdasarkan Imtak” ini memiliki kultur religi yang patut diacungi jempol. Setiap pagi pukul 06.30-07.00 WIB, murid beragama Islam diwajibkan tadarus (membaca Al-Quran) bersama di kelas masing-masing. Seorang guru memimpin tadarus ini melalui speaker sekolah yang terdengar ke ruang-ruang kelas. Untuk siswa yang menganut agama Kristen pun diadakan semacam kebaktian di ruang audio-visual sekolah tersebut. “Tradisi itu kami laksanakan sejak tahun 2006,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muhammad Tauhid.


 


Selain tradisi keagamaan yang berjalan baik, pihak sekolah juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan siswa-siswi melalui ekstrakurikuler (ekskul). Disediakan ekskul bidang olahraga, seni, maupun sains dan teknologi. Dari sekian banyak ekskul yang ada, robotik menjadi ekskul favorit sekaligus ikon SMA Negeri 28 Jakarta.


 


Selain aktif melakukan kegiatan di lingkungan sekolah, para siswa yang tergabung dalam ekskul robotik sering pula mengikuti dan memenangkan perlombaan robotik bertaraf nasional hingga internasional. Salah satunya, The 13th International Robot Olympiad 2011 yang diikuti Fadel Mahadika Putra dan timnya. Mereka berhasil menyabet medali emas.


 


Prestasi di tingkat Olimpiade Sains Nasional (OSN) juga didapatkan para siswa. Tahun 2011, siswa bernama Devin membawa pulang medali emas OSN ekonomi. Saat ini, Devin menempuh studi di Universitas Indonesia. Bagi siswa yang meraih prestasi membanggakan di perlombaan tingkat nasional dan internasional, pihak sekolah memberikan penghargaan berupa sertifikat dan beasiswa.


 


Tauhid menjelaskan, banyak alumnus SMA Negeri 28 Jakarta yang diterima di Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Banyak pula dari mereka yang diterima di perguruan tinggi negeri favorit melalui penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) atau jalur undangan tanpa tes. Pada 2010-2011 sebanyak 59 siswa diterima masuk UI melalui PMDK, 24 orang diterima tanpa tes masuk ke ITB, dan beberapa lainnya diterima tanpa tes di IPB, UGM, serta Universitas Brawijaya.


 


Untuk memberikan ruang apresiasi bagi siswanya, pihak sekolah mengadakan Mimbar Kreasi, yaitu pergelaran seni internal sekolah yang diselenggarakan setiap Senin pada minggu ketiga setiap bulan. Dalam acara ini, siswa bebas menampilkan karya puisi, grafis, mementaskan teater, ataupun bermusik. “Tujuannya, agar mereka bisa berkolaborasi dan saling mengapresiasi di antara mereka,” ungkap Tauhid, yang juga mengajar bidang studi fisika.


 


Keistimewaan lain SMA Negeri 28 Jakarta terlihat dari hubungan harmonis antara guru dan siswanya. Menurut Tauhid, para guru sebisa mungkin menciptakan hubungan egaliter kepada muridnya, tanpa melupakan etika dan rasa hormat. “Memang kami menganggap mereka sebisa mungkin sebagai teman. Tapi mereka juga tetap hormat. Ketika diskusi, kami bisa menempatkan diri sebagai teman, biasanya mereka lebih terbuka,” ujarnya.


 


Dari segi kurikulum, SMA Negeri 28 Jakarta menerapkan kurikulum nasional dengan pengembangan-pengembangan. Misalnya, untuk kelas internasional, digunakan dua kurikulum sekaligus: nasional dan Cambridge, Inggris. “Setelah selesai, mereka langsung mendapat double degree, sertifikat kelulusan dalam negeri dan sertifikat dari Cambridge. Tesnya pun double, karena kami memang berafiliasi dengan Cambridge,” Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Baharai Lubis, menjelaskan.


 


Sertifikat Cambridge International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) yang dimiliki siswa kelas internasional dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas-universitas internasional yang mengakui dan menerima sertifikat tersebut, dan diterima di tingkat foundation. Kelas internasional juga memiliki program study tour ke luar negeri. Tahun 2012, siswa kelas internasional diberangkatkan ke Sydney, Australia. Siswa merasakan kuliah di Sydney University selama satu minggu dan mendapat sertifikat.


 


Menurut Bahari, seluruh siswa yang ada di SMA Negeri 28 Jakarta tergolong siswa jenius. Sebab tidak ada siswa yang IQ-nya kurang dari 120. Maklum, proses seleksi masuk sekolah ini tidak sembarangan. Setiap tahun pelaajaran baru, pihak sekolah mengundang pendaftar melalui website resmi SMA Negeri 28 Jakarta. Hanya siswa yang memiliki nilai rapor rata-rata 7,5 yang bisa lolos seleksi awal tersebut.


 


Tahun lalu, sekitar 1.300 anak lulus untuk seleksi nilai rapor, tapi hanya 192 orang dengan nilai ujian nasional SMP tertinggi yang diterima menjadi enam kelas. “Makanya, saya berani bilang, tidak ada mengajar matematika yang lebih enak daripada di sekolah ini. Saya pernah ngajar dimana-mana. Memang mereka ini beda daya tangkapnya,” ujar Bahari, yang mengajar matematika.


Sujud Dwi Pratisto dan Mira Febri Mellya


Edisi Khusus Pendidikan Majalah GATRA, 


No 24 Tahun ke XIX, Beredar Kamis, 2 Mei


—————————————-


Dapatkan versi digital di toko:


GATRA Apps, Wayang Force, Scanie, Scoop, Indobook


 


Article source: http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/2323-tasamuh-dalam-beragama.html


SMAN 28 Jakarta: Meraih Prestasi, Mempertebal Keimanan

Saturday, January 12, 2013

Lanskap Baru Politik 2014

Muhammad Qodari 

JAKARTA, KOMPAS.com – Hasil rapat pleno KPU soal verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 diperkirakan meloloskan 10 partai dari 34 yang mendaftar ke KPU (Kompas, 8/1). Ke-10 partai itu adalah PAN, Demokrat, PDI-P, Hanura, Gerindra, Partai Golkar, PKB, PKS, PPP, dan Nasdem.

Bagi yang optimistis, lolosnya 10 parpol untuk Pemilu 2014 membuka lanskap baru politik Indonesia ke depan. Lanskap pertama, harapan bahwa pilihan masyarakat akan lebih berkualitas karena jumlah partai jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Bandingkan jumlah parpol peserta Pemilu 2014 dengan Pemilu 1999 yang 48 parpol, 2004 (24), dan 2009 (38).

Pilihan yang sedikit ini diharapkan kondusif untuk masyarakat membuat pilihan berkualitas. Apalagi 9 dari 10 parpol yang lolos adalah partai lama yang sudah dikenal kiprahnya, baik di legislatif, eksekutif, di media, maupun di masyarakat. Jadi, masyarakat punya catatan tentang kinerja mereka. Pemilu 2014 akan menjadi hari penilaian bagi parpol-parpol tersebut.

Harapan yang lebih berkualitas juga diharapkan terjadi untuk level calon anggota legislatif (caleg). Berkurangnya jumlah partai secara signifikan secara dramatis juga mengurangi jumlah caleg.

Lanskap berikutnya, kemungkinan perubahan wajah politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Saat ini terjadi perbedaan situasi antara konstelasi politik di pusat (DPR) dan di daerah (DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota). Jika di pusat hanya ada 9 partai politik, di daerah jumlah parpol jauh lebih banyak sehingga lebih ”hiruk-pikuk”. Di DPRD 2009, jumlah parpol lebih banyak sebagai kombinasi dari tiadanya ambang batas parlemen untuk masuk DPRD dan jumlah peserta pemilu 38 parpol. Akibat tak ada ambang batas parlemen untuk DPRD, tak ada kursi DPRD yang ”hangus” seperti terjadi di DPR.

Pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi, aturan Pemilu 2014 hanya memberlakukan ambang batas di tingkat nasional seperti pada 2009 (sebelum keputusan itu ambang batas juga berlaku di tingkat daerah). Namun, dengan jumlah peserta pemilu yang hanya 10 parpol, jumlah parpol di DPRD juga tidak akan lebih dari 10. Ini membuat komposisi parpol di DPRD kurang lebih akan sama dengan DPR. Perbedaannya pada posisi dan jumlah kursi sesuai daerah masing-masing.

Skeptisisme

Jika analisis di atas menampilkan kemungkinan perubahan dan harapan pada Pemilu 2014, bagian berikut menampilkan kekhawatiran dan skeptisisme. Skeptisisme pertama adalah kinerja DPR hasil Pemilu 2014. Disinyalir salah satu sebab rendahnya produktivitas legislasi DPR akibat jumlah partai dan fraksi yang terlalu banyak di Senayan.

Salah satu solusinya mengurangi jumlah partai dan fraksi di DPR dengan ambang batas parlemen. Namun, ambang batas 3 persen yang ditetapkan untuk Pemilu 2014 (naik 0,5 persen dibanding Pemilu 2009) diduga tidak akan mampu mengurangi jumlah parpol di DPR secara signifikan. Bahkan, bukan mustahil jumlah parpol di DPR justru naik dari 9 ke 10 parpol, dengan asumsi 9 partai lama dan satu partai baru (Nasdem) semua mendapat suara di atas ambang batas. Kemungkinan ini besar karena Hanura sebagai partai ”bontot” dalam Pemilu 2009 meraih suara di atas 3 persen pada pemilu itu. Sementara Nasdem telah menembus suara di atas 3 persen dalam aneka survei akhir-akhir ini.

Skeptisisme berikutnya soal wajah politik nasional Indonesia secara umum di masa yang akan datang. Mafhum diketahui banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap kinerja parpol, politisi, dan aneka lembaga pemerintahan. Kenyataan bahwa 9 dari 10 parpol yang lolos pemilu adalah partai lama dapat ditafsirkan: wajah politik Indonesia ke depan tidak akan berubah banyak karena aktornya secara garis besar yang itu-itu saja. Termasuk peta calon presiden yang notabene akan keluar dari parpol-parpol tersebut di atas.

Sekarang, bagaimana cara menjawab potensi kekecewaan tersebut di atas? Soal ambang batas tidak mungkin diubah. Karena itu, harus diterima kemungkinan jumlah parpol di DPR tetap 9 atau malah jadi 10. Berdasarkan pengalaman pemilu di era Reformasi, memang angka ambang batas yang bisa memangkas jumlah parpol di DPR adalah minimal 5 persen. Solusinya adalah memperbaiki mekanisme pembahasan UU di DPR dan di tiap parpol agar target legislasi dapat tercapai.

Adapun solusi kekecewaan terhadap parpol di masa depan secara inheren terkandung dalam mekanisme demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi diharapkan terjadi proses reward and punishment (hadiah dan hukuman) dari masyarakat terhadap peserta pemilu dan selanjutnya proses belajar dan memperbaiki diri dari para peserta pemilu itu terhadap kesalahannya. Saya meyakini mekanisme hadiah dan hukuman itu berlaku dalam politik Indonesia. Buktinya PDI-P yang menang Pemilu 1999 bisa kalah di 2004, sedangkan Partai Golkar yang menang di 2004 kalah di 2009, sementara hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Demokrat yang menang Pemilu 2009 turun.

Tentang calon presiden 2014, ada tiga langkah untuk memunculkan alternatif wajah calon pemimpin nasional. Pertama, menurunkan aturan presidential threshold (ambang batas capres) Pemilu 2009 yang mencapai 20 persen suara dan/atau 25 persen kursi. Pilihan yang mudah adalah ”menyamakan”-nya dengan ambang batas parlemen, yakni 3 persen, untuk mengajukan pasangan calon sendiri. Namun, melihat pengalaman politik selama ini, agaknya angka itu akan bertemu di tengah, yaitu di rentang 10 persen-15 persen. Kedua, partai membuka kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai calon. Ketiga, partai membuka pintu bagi tokoh-tokoh di luar partai.

Agamis vs nasionalis

Lepas dari harapan dan skeptisisme terhadap calon peserta Pemilu 2014, jumlah peserta yang 10 sebetulnya kian mendekati opini masyarakat. Paling tidak ini terungkap dari hasil berbagai survei, di antaranya survei oleh Indo Barometer pada Juni 2008 dan Agustus 2010.

Secara ideologi, 10 partai peserta pemilu juga cukup mencerminkan konstruksi ideologi parpol di Indonesia yang kerap dibagi dalam dua spektrum. Untuk spektrum partai agamis/berbasis massa agama versus nasionalis/sekuler, ke-10 partai itu dapat dibagi dalam partai agamis (PKS, PPP, PAN, PKB) dan nasionalis (PDI-P, Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem).

Dalam spektrum partai agamis, ada dua subspektrum, yakni agamis Islam dan Kristen. Subspektrum agamis Islam bisa dibagi lagi dalam sub-subspektrum agamis Islam modernis dan agamis Islam tradisionalis. Adapun yang hilang dalam 10 parpol peserta Pemilu 2014 adalah wakil dari subspektrum agamis Kristen.

Sementara untuk spektrum partai nasionalis, dapat dibagi lagi dalam subspektrum kanan/developmentalis versus kiri/ populis. Tentu penggolongan ini relatif dan dapat diperdebatkan. Akan tetapi, pesannya adalah: walau jumlah partai peserta pemilu menurun jauh dibandingkan 2009, sebetulnya cukup mewakili spektrum ideologi politik yang ada.

Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26737/12/01/2013/dsn-mui:-ulama-mesir-haramkan-sukuk-karena-alasan-maslahat-.html


Lanskap Baru Politik 2014

Tuesday, February 5, 2013

Mengukur Kekuatan Anas Urbaningrum di Demokrat

Tribunnews.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum disebut-sebut dalam posisi  terancam. Sejumlah senior partai yang masuk dalam struktur kepengurusan Majelis Tinggi dan Dewan Pembina Partai meminta Anas mundur untuk menyematkan partai yang kini berada di tubir kehancuran.

Namun Anas bergeming. Dia menolak mundur dari jabatannya. “Tidak ada saya, tidak mendengar apa-apa itu (meminta mundur). Siapa yang ngomong?” kata Anas

Bahkan barisan pendukung Anas di DPP Demokrat seperti Gede Pasek Suardika dan Saan Mustopa turun tangan membela Anas. “Kalau desakan mundur itu kan sudah ada dari bab awal, sementara kami sudah mau bab terakhir. Jadi enggak ada masalah,” ujar Pasek dikutip Kompas.com.

Politisi Demokrat Ruhut Sitompul menyebut Gede Pasek dan Saan Mustofa sebagai barisan pendukung Anas. Selain Nurhayati Assegaf, Ahmad Mubarok, dan beberapa pengurus DPP Demokrat lainnya.

Anas Urbaningrum tampaknya percaya diri tetap akan bertahan di Demokrat.

Apalagi karena Anas yakin memiliki basis massa pendukung setia hingga ke tingkat DPC Demokrat (kabupaten/kota).

Informasi yang diperoleh Tribunnews.com, dua tahun menjabat ketua umum Demokrat tampaknya dimanfaatkan oleh Anas untuk memperkuat basis pendukungnya di berbagai daerah dengan rajin turun menemui pimpinan Demokrat di daerah.
Anas memasukkan sejumlah orang-orangnya menjabat ketua DPD 1 Demokrat tingkat provinsi dan DPD II Demokrat tingkat kabupaten/kota.

Jika mengemuka wacana menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat mengganti ketua umum partai maka tentu saja bisa digelar dengan syarat yang diatur dalam AD/ART partai yakni  atas permintaan majelis tinggi partai atau permintaan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah anggota Dewan Pimpinan Daerah dan setengah jumlah anggota Dewan Pimpinan Cabang.

Pengamat Politik M Qodari mengakui upaya  sejumlah senior Demokrat  melengserkan Anas akan berhadapan dengan para pendukung Anas yang ada di pusat dan daerah.

“Ini bakal jadi ramai di tahun ini,” kata Qodari.

Menurut Qodari, pendukung Anas paling besar berada di daerah, termasuk sejumlah ketua DPD dan DPC Demokrat.

“Kalau pendukungnya dari daerah tidak besar  kan tidak menang Anas jadi Ketua Umum Demokrat,” kata Qodari.

Lanjut Qodari, sebelum menjadi ketua umum Demokrat saja Anas  sudah besar apalagi setelah 2 tahun konsolidasi.

“Problem Anas kan kesan bahwa dia terlibat kasus Nazar. Kalau secara jaringan dan kerja politik mestinya tidak ada masalah,” ujarnya.

Dijelaskan, soal citra PD sebagai partai korup bukan karena Anas semata tapi karena kader PD yang lain yang sudah jadi tersangka atau terdakwa seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh, Hartati, Andi Mallarangeng, dan sebagainya.

Diberitakan sebelumnya 5 menteri dari Demokrat dan sejumlah gubernur dari Demokrat meminta Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun tangan menyelamatkan Partai Demokrat.
Ini menyusul hasil survei Partai Demokrat yang terus merosot.Dalam survei SMRC yang dirilis kemarin menyebut perolehan suara Demokrat sekitar 8 persen kalau Pemilu dilakukan sekarang.

Diduga penyebab utama suara Demokrat anjlok karena partai tersandera oleh Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum yang disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi Hambalang. Jero mengatakan akan lebih bagus kalau Anas mundur.

(aco)

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/27092/04/02/2013/berani-berkata-dan-berani-berbuat,-ciri-beriman!.html


Mengukur Kekuatan Anas Urbaningrum di Demokrat

Thursday, December 13, 2012

Ini Dia 3 Hakim Agung yang Menghukum Julia Perez 3 Bulan Penjara




Julia Perez (dok.pri)
Jakarta – Nasib artis seksi Julia Perez alias Jupe berubah 180 derajat. Hal ini seiring dengan diubahnya hukuman Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) dari hukuman percobaan menjadi 3 bulan penjara.
“Mengabulkan kasasi JPU,” demikian lansir panitera MA dalam websitenya, Kamis (13/12/2012).
Perkara kasasi bernomor 913 K/PID/2012 diadili 3 hakim agung dari jalur non karier. Mereka adalah Dr Artidjo Alkostar, Prof Gayus Lumbuun dan Dr Salman Luthan. Siapakah ketiga hakim agung tersebut?
1. Dr Artidjo Alkostar
Artidjo dalam perkara ini duduk selaku ketua majelis. Pria kelahiran 22 Mei 1948 ini dulunya dikenal sebagai aktivis jalanan dengan ditandai sebagai wakil direktur LBH Yogyakarta tahun 1978. Artidjo pula yang tampil terdepan membela kematian misterius wartawan Bernas, Udin. Di masa Orde Baru pula, dia bergabung dalam tim pembela insiden Santa Cruz Dili, 1992.
Catatan di atas menjadi modal Artidjo menjadi hakim agung lewat pilihan DPR. Alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini kini melenggang menjadi Ketua Muda Bidang Pidana Umum. Dia bersama hakim agung Timur Manurung menduduki jabatan struktural MA dari kalangan hakim non karier.
2. Prof Gayus Lumbuun
Mantan politikus PDIP ini menduduki kursi hakim agung pada 2011 lalu. Sebelum memutus perkara Jupe, Gayus bersama Artidjo dan Salman juga turut mengadili Ryan ‘Jagal dari Jombang’ dengan hukuman mati di tingkat peninjauan kembali (PK).
Jiwa demokrasi yang dia bawa dari parlemen ternyata tetap mewarnai dirinya meski telah masuk lembaga peradilan tertinggi di Indonesia. Terakhir, dia berseteru dengan Sekretaris MA Nurhadi dan juru bicara MA Djoko Sarwoko. Saat itu dia meminta MA transparan namun mendapat tekanan balik dari keduanya.
3. Dr Salman Luthan
Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Salman Luthan menginjakkan kaki di MA setelah dipilih DPR menjadi hakim agung pada 18 Februari 2010. Salman meraih penilaian tertingggi yaitu dengan memperoleh sebanyak 55 suara.
Dirinya ikut mengadili Prita Mulyasari di tingkat kasasi. Saat itu dia berseberangan dengan 2 hakim agung lainnya yang menghukum Prita Mulyasari dengan vonis 6 bulan penjara masa percobaan 1 tahun. Namun suara Salman kalah suara, meski dia bersikukuh Prita tidak bersalah.
“Saya sendiri menganggap perbuatan Prita Mulyasari tidak memenuhi kualifikasi tindak pidana pencemaran nama baik dengan adanya surat elektronik itu,” kata Salman Luthan kala itu.
Di tingkat PK, Prita bebas. Majelis hakim PK sependapat dengan pendirian Salman.
(asp/nwk)

Thursday, March 28, 2013

Preman Yogya, dari satgas partai kini masuk kalangan mahasiswa

Penelitian Skripsi Ulil Amri yang berjudul: “Preman di Yogyakarta: Studi Antropologis Premanisme Kontemporer di Yogyakarta”, memuat kisah muasal preman, aksi, hingga tokoh-tokoh pentingnya di Yogyakarta. Studi yang disusun untuk Jurusan Antropologi, UGM itu dilakukan pada 2004-2005.

Dalam studinya, Ulil menjelaskan, komposisi preman di Yogyakarta bisa ditelisik sejak zaman Orde Baru. Terutama saat masih menggunakan tiga partai sebagai peserta pemilu. Menurut Ulil, pada masa itu kelompok preman memiliki ideologi politik sesuai dengan partai yang diikutinya.

“Sebutan preman hijau untuk sebutan Gerakan Pemuda Kabah, hubungannya ke PPP, kemudian pasukan Cakra untuk Golkar saat itu,” kata Ulil saat dihubungi merdeka.com pada Kamis (28/3) malam.

Bahkan menurut Ulil, sistem perekrutan preman sebagai satgas partai masih berlangsung saat ini di Yogyakarta. Ulil enggan menyebut nama kelompok itu, demikian juga nama partai yang membawahinya. Ulil memberi kode, kelompok itu sekarang pindah ke salah satu partai berlabel Islam saat ini. Bagi Ulil, hal itu adalah hal yang lumrah dalam dunia preman.

Dalam penelitiannya, hubungan preman dan partai adalah bentuk hubungan yang saling menguntungkan. Tidak hanya itu, menurut Ulil, pemerintah juga menggunakan preman dalam menjalankan segala misi dan ambisinya.

“Hubungannya saling menguntungkan, preman dengan kemampuan menteror dan bikin onar di tingkat bawah, sedangkan elit tetap menjaga citra. Padahal dalam memuluskan misi politik dan ekonominya banyak menggunakan preman sebagai kaki tangan,” ujar Ulil lebih lanjut.

Dengan pola hubungan seperti itu, preman dan kelompoknya memiliki kuasa atas lokasi atau tempat sebagai ladang uang. Menurut Ulil, di Yogyakarta tempat-tempat tertentu memiliki penguasa tersendiri dan kelompok preman itu mendapatkan upeti dari daerah kekuasaannya itu, seperti laiknya upeti dari pemakai lahan seperti pedagang kaki lima hingga perjudian.

Dalam penjelasan Ulil, lokasi kekuasaan preman di Yogya meliputi lahan-lahan bisnis yang dianggap basah secara ekonomi, seperti kafe-kafe, pusat perbelanjaan, hingga Pasar Kembang (Sarkem). “Saat penelitian, saya pernah mengikuti preman kondang di Yogya untuk mengambil upeti di Sarkem sampai membagikan uang itu ke anak buahnya,” ujar Ulil lebih lanjut.

Saat ini perkembangan kelompok preman di Yogyakarta kian meluas. Menurut Ulil, jika dulu preman-preman di Yogya adalah afiliasi dari partai-partai tertentu, saat ini sudah sedikit berbeda. Dalam pengamatan Ulil, perkembangan kelompok preman di Yogyakarta sudah berkembang ke tingkat mahasiswa yang bercorak etnis hingga tingkat pelajar.

“Kalau mahasiswa biasanya dari luar Jawa atau yang merantau di Yogya. Biasanya drop out dari kampusnya, kemudian berkumpul dengan teman-teman satu etnis, klan keluarga kemudian berlanjut membuat kelompok,” kata Ulil lebih lanjut.

Menurut Ulil, perubahan kelompok perkumpulan pertemanan yang berdasar etnis itu berubah menjadi preman biasanya karena tidak memiliki pekerjaan. Sedangkan untuk pulang kampung, sudah kadung malu di kampungnya.

Sejak terjadinya kejadian pembantaian terhadap empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu (23/3) dini hari lalu yang salah satu korbannya diindikasikan berafiliasi kelompok dengan etnis mahasiswa Nusa Tenggara Timur membuat marah Sultan Hemengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada Rabu (27/3) kemarin, Sultan meminta kepada pendatang dan mahasiswa di Yogyakarta untuk berkomitmen menjaga kenyamanan dan keamanan Kota Yogyakarta. “Jika masih ada kekerasan yang melibatkan etnis, lebih baik keluar dari Yogyakarta,” kata Sultan dengan nada marah.


{paging_prev_label}

{paging_next_label}


Article source: http://www.analisadaily.com/news/2013/2761/paus-fransiskus-pilih-pelantikan-sederhana/


Preman Yogya, dari satgas partai kini masuk kalangan mahasiswa

Liga Arab Setujui Bantuan Dana untuk Yerusalem Timur

YERUSALEM – Liga Arab akhirnya menyetujui usulan Qatar untuk menggalang dana 1 miliar dolar AS  atau sekitar Rp 9,7 triliun bagi Yerusalem Timur Arab, yang diinginkan Palestina menjadi ibu kota negara independen di bawah kesepakatan perdamaian dengan Israel.

Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, mengatakan negaranya akan memberikan 250 juta dolar (Rp2,4 triliun). Dia mengemukakan hal itu dalam pidato pembukaan pada konferensi tingkat tinggi Liga Arab di Doha yang memusatkan pembahasan pada masalah krisis di Suriah dan macetnya upaya-upaya perdamaian Israel-Palestina.

“Pertemuan tingkat tinggi menyerukan dibentuknya dana untuk membantu Yerusalem senilai 1 miliar dolar AS untuk mendanai proyek-proyek dan program yang akan menjaga karakter Arab dan Islam kota tersebut dan memperkuat keteguhan warganya,” demikian rancangan resolusi pertemuan yang dikutip Reuters, Kamis (28/3).

Menurut rancangan resolusi, Bank Pembangunan Islam yang berpusat di Jeddah, Arab Saudi itu akan mengatur dana tersebut. Presiden Palestina, Mahmud Abbas menyambut baik penggalangan dana untuk membantu menjaga karakter Arab di Yerusalem itu dan mengimbau negara-negara Arab memberikan kontribusi.

“Pendudukan Israel berjalan secara sistematis dan cepat di Yerusalem Timur Yahudi, mengubah penampilan dan mencabut para penduduk dari akarnya, menyerang Masjid Al Aqsa dan situs-situs suci Muslim dan Kristiani,” kata Abbas dalam pidatonya di konferensi tingkat tinggi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor, menyebut prakarsa itu sebagai suatu simbol yang memalukan bagi Qatar. “Keberatan terhadap Yahudisasi Yerusalem adalah hal yang tak masuk akal dan bisa disamakan dengan keberatan terhadap kodrat Katolik Vatikan atau Islamisasi Mekkah,” kata Palmor.

Nasib Yerusalem telah menjadi salah satu butir paling mengganjal dalam perundingan-perundingan damai Timur Tengah masa lalu. Dengan mengutip hubungan alkitab Yahudi dengan kota suci tersebut, Israel mencaplok setengah bagian Yerusalem Arab dan sekitarnya pada tahun 1980. Tindakan itu ditentang oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Otoritas Palestina, yang mengelola beberapa bagian Tepi Barat yang diduduki Israel, saat ini berada dalam krisis keuangan yang parah. Sekira 200 ribu warga Israel tinggal di Yerusalem bagian Arab yang dicaplok Israel, termasuk 1.000 orang yang berada di sekitar Kota Tua Arab. ant

Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_smg/2012/07/29/125642/Dijanjikan-Masuk-PHT-IAIN-Walisongo-30-Mahasiswa-Tertipu


Liga Arab Setujui Bantuan Dana untuk Yerusalem Timur

Saturday, January 5, 2013

Perubahan dari dalam Diri

Perubahan dari dalam Diri

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 06/01/2013 09:06 WIB • 15 klik

H. Sutan Zaili Asril

Di antara kegiatan manusia, khususnya kegiatan otak dan terlebih hati, yang sangat menguras energi adalah mendengki, bahkan dibandingkan dari ambisius dan tamak. Dengki artinya menaruh perasaan marah (karena benci dan tidak suka), karena perasaan iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain (ada istilah tak senang melihat keberuntungan oranglain/senang melihat orang gagal/tersungkur/bersalah). Hati merasa dengki dan atau mendengki, membenci perasaan karena iri hati pada orang lain/tetangga/teman sekerja—sebetulnya lebih baik energi digunakan secara positif/memilih berusaha menyamai. Kalau tamak dan ambisi pula dapat dipandang ”secara positif” karena kedua perasaan/sifat itu dapat menghasilkan/memberi hasil—hanya seringkali berlebihan dan mungkin merugikan orang lain.

 

Yang menjadi masalah, bilamana kedengkian/keben­cian/keirihatian itu menga­pung karena ketidakmampuan untuk berbuat sebaik/seting­kat orang yang didengki (orang yang menjadi sasaran keben­cian). Ada usaha memaksakan diri di atas keberdayaan men­jadi tumbuh/berkembang da­lam bentuk dengki/keben­cian terhadap orang lain/tetangga/teman sekantor yang tampil lebih baik/lebih berhasil/lebih menghasilkan/lebih sukses. Maka bentuk penyaluran ener­gi berupa kedengkian/keben­cian karena tidak berdaya itu sangat menguras energi/sa­ngat melelahkan. Sebetulnya, kita harus merasa kasihan ke­pada orang yang men­dengki/membenci karena tidak dapat berbuat/menyalurkan ener­ginya secara positif. Seringkali, orang yang marah karena men­­dengki/merasa iri hati putus asa, dan hanya dapat berharap orang yang dideng­kinya gagal/jatuh/hancur.

 

Pengalaman Cucu Magek Dirih, seringkali ia mem­per­hatikan adalah banyak orang-orang yang begitu mendengki/beriri hati padanya, tapi, Cucu Magek Dirih pula menga­bai­kannya saja. Itu karena Cucu Magek Dirih menerapkan aja­ran dari inyiaknya—dari falsa­fah silat tinggi luambek, bahwa tak semua serangan harus di­terima/ditahankan, tapi, di­biarkan lewat—hal yang mung­kin membuat orang yang ber­sangkutan menahankan hati/perasaan entah ke mana hen­dak dilepaskan/perasaan hen­dak ke mana dikatakan atau dicurhatkan. Jadi, dari penga­laman Cucu Magek Dirih, ia mengetahui ada orang yang ber­niat jahat/melakukan se­sua­tu yang jahat terhadapnya pun, maka ia memperlakukan seakan hal itu tidak ada—mengabaikannya/tidak dipi­kirkannya. Cucu Magek Dirih pun menerapkan ajaran in­yiak­nya, balas keburukan/niat jahat/perbuatan jahat orang kepada kita dengan bersikap baik/berbuat baik kepada yang bersangkutan—setidak-tidak­nya memaafkan dengan ikhlas.

 

Bagi Cucu Magek Dirih, sebaiknya beban pikiran dan hati harus selalu diringankan. Cucu Magek Dirih mengatakan kepada istrinya bahwa tidak semua dimasukkan ke dalam pikiran dan tidak semua harus dirasa-rasakan karena hanya menguras energi secara tidak berguna. Jikalau semua hal dimasukkan ke dalam otak sementara luas areal/kapasitas muat otak tak mampu menam­pungnya—nanti otak akan penuh dan sampai meleleh keluar. Jikalau semua dima­suk­kan dalam perasaan se­men­tara luas areal/kapasitas me­nampung hati tidak pula luas—nanti dada akan meledak sampai sakit hati/jantung kambuh pula. Orang yang memasukan semua ke dalam pikiran dan perasaannya, ma­ka orang itu akan gelisah, tidak bisa tidur, dan membenci/mendengki/meirihati pada orang lain/tetangganya/teman sekerja di kantornya dan atau orang-orang di kantor/peru­sahaan pesaingnya.

 

AGAMA Islam sangat tegas dalam hal orang/setiap orang setiap kelompok berusaha untuk berubah. Perubahan yang paling penting adalah tingkat kendali diri, menga­rah­kan diri, dan mengerahkan diri, sehingga mampu menya­lurkan energi secara positif (berjalan/bekerja di atas dan sesuai kodrat/takdir atau destination semampu/sedaya upaya/sesungguh-sungguh yang mungkin—sejujurnya saja pada diri sendiri/tidak karena hendak berlagak/agar diketahui dan dilihat orang lain) dan dapat menghasilkan secara lebih baik (kuantitas dan kualitas). Perubahan pula, bagi Cucu Magek Dirih diletak­kannya pada perspektif ber­syu­kur karena ada periode yang dipakai secara tentatif untuk mengevaluasi diri. Se­per­ti halnya dengan bersyukur, maka perubahan ke arah/tingkat yang baik menjadi hal yang wajib pula.

 

Perubahan diri pula, dalam pandangan Cucu Magek Dirih, adalah berusaha mengeluar­kan semua/segala hal dan sifat buruk dalam diri—pemikiran  yang counter productive dan perasaan benci/dengki/iri hati dan atau pun mengulangi ke­sa­lahan—ibaratkan unta yang terperosok di lubang yang sama, dan atau berkutat pada posisi yang sama yang sudah sebetulnya diketahui salah/keliru/tidak berguna—apakah yang bersangkutan tdak me­nge­tahui/menyadarinya, se­hingga mereka tidak mau ke­luar dari lobang hitam/me­ngeluarkan semua dan segala hal yang buruk/tidak berguna dalam dirinya. Seperti itu Cucu Magek Dirih memahami ayat Al Quran ”tidak akan berubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berusaha untuk berubah”.

 

Berubah dari dalam diri sendiri memang terutama membersihkan hati dari sega­la/semua hal yang buruk/jahat/tidak berguna. Setidak­nya, demikian Cucu Magek Dirih memahaminya. Bahwa, kisah Nabi Muhammad SAW yang dibedah malaikat saat ia masih kecil, maka malaikat mengeluarkan segala/semua hal dan sifat atau kecen­de­rungan yang tidak baik dari dalam hati Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, malaikat me­masukan sifat/kecen­de­rung­an hati yang baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Di antara sifat baik yang utama itu adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Selain itu, Cucu Magek Dirih mema­hami pula al-asmau al-husna sebagai potensi/peluang dan juga energi positif.

 

Shiddiq artinya benar—mustahil Nabi Muhammad SAW berdusta. Artinya nabi dan rasul bersiafat benar, baik dalam tutur kata maupun per­buatannya, yakni sesuai de­ngan ajaran Allah SWT. Seperti disebutkan Allah da­lam QS Maryam ayat 50. Kami me­nga­nugrahkan kepada mere­ka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. Lalu, amanah (dapat dipercaya/dapat diandala­kan)—mustahil nabi Muham­mad khianat (curang/culas atau sejenisnya). Artinya, pa­ra nabi dan rasul itu bersifat jujur pada saat menerima ajaran Allah SWT, dan meme­lihara keutuhannya, serta menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil me­re­ka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

 

Kemudian, tabligh (me­nyampaikan wahyu kepada umatnya—menyampaikan ke­be­naran atau ajakan kepada keluarga/sesama/masyarakat) untuk berbuat baik. Mustahil Nabi Muhammad SAW kit­man (menyembunyikan wah­yu). Artinya para nabi dan rasul itu pastilah menyam­pai­kan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan ji­wa­nya terancam. Seperti Allah menyebut pada QS Ali Imran ayat 20: Dan, katakanlah kepa­da orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapatkan petunjuk, dan bilamana mere­ka itu berpaling, maka kewa­ji­banmu hanyalah menyam­paikan (ayat-ayat Allah SWT). Dan Allah selalu Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. La­lu, fathanah (cerdas)—musta­hil Nabi Muhammad SAW itu jahlun (bodoh). Artinya, para nabi dan rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demi­kian mustahil mereka dapat/mudah dipengaruhi/diom­bang-ambingkan oleh orang lain. 

 

MAKA berkaitan dengan perkisaran tahun yang secara kelaziman dijadikan kesem­patan untuk mengevaluasi diri sendiri, bersyukur, dan beru­bah—ke arah situasi/keadaan/posisi/tingkat yang lebih baik, maka di dalam perspektif dan pemahaman Cucu Magek Di­rih, perubahan itu memang harus terutama dari dalam diri sendiri. Mengharapkan terjadi perubahan dari luar diri malah mungkin akan membawa pe­nga­ruh/dampak buruk. Kata­kan, ada perubahan secara evolutif (evolusi) dan atau perubahan pula secara demon­trati dan atau revolutif (revo­lusi) akan memberikan sesua­tu yang dominan yang mung­kin bukan yang dicitakan/dipikirkan/diperhitungkan dan atau bukan yang dira­sa­kan/diharapkan, misalnya. Bah­kan, mungkin tidak mus­tahil perubahan ari uar diri merusak/menghancurkan hal baik yang sudah ada dalam diri.

 

Cucu Magek Dirih dapat se­paham/menerima analogi pe­rubahan pada telur—dan telur yang ditetaskan. Dikata­kan, bilamana telur ditekan dari luar—apalagi tekanan yang kuat/keras, maka mung­kin telur itu akan pecah, dan kulit telur hancur serta isinya tumpah tak dapat digunakan. Sebaliknya, kalau telur itu dipecahkan dari dalam, tentu ibarat telur yang dieramkan induknya/ditetaskan, maka anak unggas itu sendiri yang memecahkan dinding kulit telur, dan akan ayam muncul/keluar. Ibarat­nya, kalau telur dipecahakan dari dalam maka artinya muncul satu kehidu­pan baru. Lalu, apa mungkin, dalam perkisaran tahun kita mengevaluasi diri dan bersyu­kur serta berubah, maka kita seakan memperbaruhi hidup kita seakan kita memasuki satu kehidupan yang baru.

 

Mungkin perspektif/pe­mahaman Cucu Magek Dirih di atas tidak lazim dan tidak memberi pengaruh kepada kita—karena kita seringkali tahu tapi tidak mengamalkan/melembagakan/menjadi akh­lak (perbuatan pikiran dan perbuatan hati). Karena itu, apakah kita memang mengeta­hui/menyadari hal buruk/tidak berguna dalam diri kita, dan bilamana kuta mengeya­hui dan menyadarinya, kenapa pula kita tidak mau menge­luar­kannya/berubah ke arah dan tingkat, serta situasi yang lebih baik. Siapa yang meno­long kita untuk mengevaluasi diri/bersyukur/berubah? Se­ba­gai orang beriman, tentulah kota akan menujuk pada diri kita sendiri, lalu bertanya/minta pandangan dan penda­pat orang cerdas/pandai/ber­pengetahuan/berakhlak mu­lia—karena dalam pemaha­man Islam tidak ada lagi nabi dan rasul sesudah Muhammad SAW. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/11/new-arab-spring-triumph-eluding-islamists-in-libya/


Perubahan dari dalam Diri

Friday, March 29, 2013

Pendidikan Karakter Setengah Hati

Pendidikan Karakter Setengah Hati

Oleh : Muhammad Kosim

Guru MTsN di Padang

Padang Ekspres • Jumat, 29/03/2013 12:26 WIB • 84 klik

”Pendidikan Karakter Hanya Slogan”, demikian berita Padang Ekspres, Rabu (27/3). Hal ini be­rangkat dari beragam kasus pelajar yang melanggar hukum sehingga disimpulkan bahwa kenalan pelajar kian meningkat. Berita itu sejatinya bahan renungan bagi pemikir dan praktisi pendidikan yang selama ini mendengungkan pentingnya pen­didikan karakter di sekolah.

 

Apalagi bagi pemegang kebijakan di Sumatera Barat, Pendidikan Karak­ter telah menghabiskan dana miliaran rupiah. Pemerintah Daerah Sumatera Barat telah menetapkan Pergub No. 73 Tahun 2012 tentang “Pendidikan Karakter pada Sekolah/Madrasah di Sumatera Barat”. Bahkan Pemprov Sumbar telah menetapkan satu SMP tiap kabupan/kota sebagai sekolah piloting dengan anggaran fantastis, 300 juta rupiah. Di tahun ini, rencananya dana tersebut akan ditambah 125 juta rupiah untuk tingkat SMP dan 75 juta rupiah untuk SD.

 

Namun, setelah satu tahun berja­lan, apa yang diperoleh dari program tersebut?

 

Jika mengukur keberhasilan pen­di­dikan karakter yang masih “seumur jagung” itu dengan fenomena kenalan remaja yang kian meningkat, seperti yang diberitakan Padek, tentulah kurang adil. Sebab, untuk mem­bangun karakter peserta didik tidak semudah membalik telapak tangan.

 

Tetapi perlu mengevaluasi dan melihat beragam persoalan yang ada sehingga dibutuhkan upaya serius untuk mengatasinya. Banyak persoa­lan yang melatarbelakangi fenomena tersebut, seperti kurangnya pendidi­kan dan perhatian orangtua, pudarnya peran dan tanggung jawab ninik-mamak, ketidakpedulian masyarakat sekitar, kinerja guru di sekolah yang tidak optimal, hingga kebijakan peme­rintah yang kadang bertentangan antara konsepsi dan aplikasi.

 

Namun, tanpa mencari “kambing hitam”, paling tidak sekolah sebagai lembaga pendidikan yang diberi amanah oleh orangtua, melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan dalam mendidik karakter siswa.

 

Di antara persoalan yang harus menjadi perhatian pengelola pendi­dikan, khususnya di Sumatera Barat, dalam pelaksanaan pendidikan karak­ter adalah: pertama, kurangnya kesia­pan guru menjadi model atau teladan bagi peserta didik. Selama ini, guru lebih dibebani untuk melaksanaan pendidikan yang berorientasi pada kognitif. Sementara aspek afektif nyaris diabaikan.

 

Hal itu terjadi secara sistemik. Sejak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa yang kuliah di jurusan keguruan lebih dipersiapkan untuk menguasai materi dan terampil mengajar. Sementara sisi afektif mahasiswa yang akan menjadi calon guru tersebut kurang mendapat perhatian dan pembinaan.

 

Ketika dilakukan rekruitmen guru, termasuk penerimaan CPNS, yang diuji lebih kepada kognitifnya, bahkan banyak fakta yang menunjukkan tes CPNS tersebut tidak menyentuh aspek kepribadian sama sekali.

 

Di saat menjadi guru, lalu dila­kukan pembinaan dengan berbagai training, workshop, lokakarya, dan sejenisnya. Lagi-lagi, materi yang diajarkan tetap berorientasi pada kognitif dan psikomotor/skill guru untuk menyusun perangkat pem­belajaran. Bahkan ketika guru me­ngikuti Pendidikan dan Latihan Pro­fesi Guru (PLPG) untuk memperoleh Sertifikasi Guru, materi yang di­ajarkan tidak jauh berbeda dengan pola training di atas.

 

Akibatnya, ketika di lapangan, guru lebih disibukkan dengan pe­nyam­paian materi yang bersifat kog­nitif (transfer of knowledge), se­mentara proses pendidikan karakter yang berorientasi pada afektif (internalization of values) kurang men­dapat perhatian.

 

Lain lagi dengan aturan bagi guru yang diwajibkan harus memenuhi 24 jam sebagai salah satu syarat mem­peroleh tunjangan sertifikasi, mereka justru disibukkan dengan tugas ter­sebut. Ada yang berpindah-pindah di beberapa sekolah untuk memenuhi tugas wajib 24 jam, ada pula yang disibukkan dengan seonggok pe­rangkat pembelajaran.

 

Ketika diminta melakukan pem­binaan karakter siswa di luar PBM dan tidak dihitung sebagai jam tatap muka, maka banyak yang enggan. Maka berbagai program pengembangan diri yang sarat akan pendidikan karakter, seperti pramuka, kesenian, olah raga, ROHIS, dan sebagainya kurang ber­jalan dengan optimal karena tidak diakui sebagai jam tatap muka. Ironis memang.

 

Begitu juga memberi penghargaan pada siswa, yang diumumkan sebagai juara hanyalah mereka yang mengum­pulkan angka-angka kognitif, semen­tara siswa yang berbudi luhur, tetapi kemampuan kognitifnya tergolong menengah tidak mendapat peng­har­gaan dan tempat istimewa.

 

Maka bagi sebagian siswa—bah­kan sekolah—menghalalkan segala cara agar nilai ujian akhir (seperti Ujian Sekolah dan Ujian Nasional) mendapat angka-angka yang tinggi. Dengan begitu mereka akan dihargai oleh kepada dinas bahkan masyarakat, karena dianggap berhasil meluluskan siswa 100% dengan nilai rata-rata yang tinggi.

 

Dalam perspektif pendidikan Islam, tanggung jawab pendidikan akhlak anak sepenuhnya ada pada orangtuanya. Namun, orangtua sadar akan keterbatasannya sehingga ia menyerahkan anaknya kepada guru di sekolah. Guru menerima amanah mulia dari orangtua. Hukum me­ngem­ban amanah adalah wajib. Kare­na itu, guru disebut sebagai orang tua ruhani (abu al-ruh/spiritual father).

 

Untuk itu, setiap guru harus ber­upaya semaksimal mungkin untuk terlibat aktif membina dan mendidik ranah afektif siswa, di samping ranah kognitif dan psikomotornya.

 

Kedua,bergesernya paradigma tentang agama. Di satu sisi, banyak pakar yang menyebut bahwa agama memiliki peran yang signifikan dalam mendidik karakter setiap manusia. Sebab agama sarat akan nilai-nilai karakter. Apalagi di Sumatera Barat, kultur masyarakatnya demikian kental dengan nuansa agama sehingga di­kenal filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

 

 Namun di sisi lain, agama mulai dipandang sebagai urusan pirvasi seseorang. Negara tidak boleh banyak campur tangan terhadap agama. Misalnya, penulis mendengar per­nyataan beberapa orang mengkritik Pergub No. 73 Tahun 2012 tentang Pendidikan Karakter Sumbar itu “tidak netral”, lebih cenderung pada tataran agama. Bukankah bangsa ini dibangun atas dasar Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah paradigma pendidi­kan yang dikembangkan sesuai de­ngan kearifan lokal, tanpa melakukan deskriminasi terhadap kelompok lain?

 

Tidak itu saja, program-program yang telah disusun dan difasilitasi oleh pemerintah daerah Sumbar terkait dengan agama juga tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Misalnya, satu-satunya propinsi yang membuat Perda (Perda No. 3 Tahun 2007) dan Pergub (Pergub No. 70 dan 71 Tahun 2010) tentang Muatan Lokal Pendidikan Alquran adalah Sumatera Barat.

 

Muatan lokal ini dirasa sangat penting mengingat masyarakat di wilayah ini mayoritas muslim dan dikenal sangat dekat dengan al-Qur’an (ABS-SBK). Nyatanya, seiring kelang­kaan surau sebagai lembaga pendi­dikan, banyak fakta yang menun­jukkan bahwa remaja muslim tidak lagi fasih membaca Al-Quran, apalagi memahami dan mengamalkannya. Padahal Mulok ini diyakini menjadi salah satu upaya yang efektif untuk mendidik karakter siswa.

 

Coba terapkan, seluruh siswa mus­lim dibimbing membaca Al-Quran, lalu mengartikan memahami dan berupaya mengamalkannya. Begitu pula di dalam tas mereka ada al-Qur’an, apakah mereka berani juga mencuri, tawuran, atau berbuat onar, paling tidak ketika memakai seragam sekolah?

 

Akan tetapi, berapa banyak seko­lah yang tak kunjung ridho menerap­kan Pendidikan Alquran sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolahnya. Apalagi pada kurikulum 2013, kedudukan Mulok itu akan semakin terancam karena Mulok lebih diintegrasikan pada Olahraga, Kese­nian, dan Prakarya.

 

Ketiga, kurangnya ketegasan dan kerjasama kepala daerah, khususnya tingkat kota/kabupaten dalam mene­rapkan, mengawal, mengevaluasi, dan menindaklanjuti program pendidikan karakter. Program pendidikan karak­ter kadang dianggap hanya sebatas proyek, kebijakan dari atasan, dan tentu akan bertahan selagi dana proyek yang tersedia masih ada.

 

Seperti yang telah disebutkan di muka, setiap kota/kabupaten di Sum­bar terdapat sekolah piloting. Akan tetapi sumber dana yang diberikan hanya dari APBD Propinsi, sementara APBD tingkat Kota/Kabupaten ku­rang mendapat perhatian di beberapa tempat.

 

Seharusnya, pelaksanaan pendi­dikan karakter tidak saja di sekolah piloting, tetapi seiring dengan itu dikembangkan oleh sekolah-sekolah lain. Maka untuk mendukung program tersebut, butuh dukungan dan ketegasan kepala daerah.

 

Ketegasan dan kerjasama yang dimaksud tidak sekedar meminta guru buat perangkat pembelajaran dengan nilai-nilai karakter, tetapi memberi perhatian dan penghargaan kepada sekolah yang mengedepankan pen­didikan akhlak.

 

Selama ini, masih saja terdengar suara sumbang, kepala sekolah dimin­ta untuk pandai-pandai meningkatkan hasil UN siswa-siswanya. Kepala sekolah yang diberi amanah bukan karena kompetensinya, tetapi karena masuk dalam jajaran tim sukses kepala daerah yang berkuasa.

 

Ketika pendidikan dipolitisir demi kepentingan sekelompok orang, maka hal inilah yang menjadi penyebab utama gagalnya pelaksanaan pen­didikan karakter. Jika di hulu telah keruh, maka sangat sulit untuk me­nyaringnya agar jernih di hilir.

 

Masih banyak persoalan-persoalan lain yang perlu dievaluasi dan ditin­daklanjuti. Tentu butuh keseriusan dan kesungguhan hati. Jika tidak, maka jelaslah pendidikan karakter hanya setengah hati, atau malah hanya slogan. Maka bagi pemegang ke­bijakan, pengelola dan praktisi pen­didikan, sejatinya konsisten antara kata dan perbuatan; antara konsepsi dan aplikasi. Semoga Allah memberi kita pertolongan. Amin. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/11/106612/forbumi_hadirkan_penceramah_nasional/


Pendidikan Karakter Setengah Hati

Saturday, July 20, 2013

Nafsu, Qalbu, wa Ruh

Nafsu, Qalbu, wa Ruh


Oleh : H. Sutan Zaili Asril


Wartawan Senior


Padang Ekspres • Minggu, 21/07/2013 01:57 WIB • 21 klik


H. Sutan Zaili Asril


SEBAGAIMANA kebanyakan dari kita, masa di bulan Ramadlan digunakan Cucu Magek Dirih mengulangi kaji/menyegarkan berbagai pemahaman tentang ajaran agama Islam. Salah satunya, memahami kembali nafs, qalb, dan ruh. Ia membaca kitab-kitab atau banyak buku yang ada dalam perpustakaan pribadinya, dan masih pula kitab-kitab atau banyak buku pada library online. Misalnya, an-nafs berasal dari kata Arab, bisa bermakna: napas, nafsu, jiwa, diri, ruh, jasad, qolbu. Kata nafs berhubungan dengan nephes di dalam Hebrew (bahasa Ibrani). Dalam bahasa Inggris, kata mendekati/sering digunakan menerjemahkan nafs adalah soul, tapi, soul terbatas penggunaan suatu yang bersifat teologis dan metafisik. Kadangkala nafs diterjemahkan sebagai mind (Inggris) yang berarti pikiran, benak, tapi, mind tidak bisa mewakili kedalaman makna nafs. Dalam bahasa Indonesia nafs diterjemahkan sebagai jiwa, walau sering rancu dengan makna hawa nafsu, tapi, pemaknaan jiwa (perpaduan antara ruh dan jasad.) sering digunakan dalam istilah psikologi Islam. Kata nafs banyak disebutkan di dalam Al Quran, ada beberapa makna yang terkandung di dalamnya.


 


Pertama (QS 5:32), seorang manusia (seutuhnya): ”Oleh kare­na itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (mem­bu­nuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan ia/dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang­siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah ia/dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, lalu banyak di antara mereka sesu­dah itu sungguh-sungguh melam­paui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” Kedua, apa yang terdapat (bagian) dalam diri ma­nu­sia yang menghasilkan tingkah laku (QS 13:11): ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ketiga, me­nunjukkan diri Allah SWT (QS 6:12): ”Katakanlah: Kepunyaan Allah. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang.” Dalam Al Quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna sebagai sarana menampung dan mendo­rong manusia untuk berbuat ke­baikan dan keburukkan (QS 91:7-8): ”Dan jiwa serta penyempur­naan­nya (ciptaan), Allah me­ng­ilham­kan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan baru, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukkan. Setelah ruh dan ja­sad disatukan maka munculah pengaruh yang ditimbulkan jasad terhadap ruh, pengaruh tersebut kemudian memunculkan kebu­tuh­an-kebutuhan jasad yang di­bangun oleh ruh. Kebutuhan atau dorongan jiwa inilah yang dikenal dengan hawa nafsu.


 


Berkatalah Ibnu Abbas RA: ”Sumber dari maksiat, nafsu birahi, dan kelalaian adalah hawa nafsu. Bagimu berteman dengan orang bodoh yang membenci hawa nafsu lebih baik ketimbang berteman dengan orang pandai yang menyu­kai hawa nafsunya. Ilmu macam apakah yang dimiliki orang alim (pandai) yang menyukai hawa nafsunya atau kebodohan apakah yang akan dimiliki orang bodoh yang membenci hawa nafsunya?” Al-Quran selalu mengajak manusia untuk selalu menjaga/mensuci­kan jiwa-nya dari dorongan hawa nafsu (QS 4:29): ”Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesung­guhnya Allah adalah yang Maha Penyayang padamu.” Atau (QS. 91:8-10), ”Sesungguhnya berun­tung orang yang mensucikan jiwa itu. Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”


 


Al-Ghazali memjelaskan pe­nger­tian-pengertian aql, qalb, ruh, dan nafs. Menurut Al Ghazali, ’aql adalah pengetahuan yang dikate­gorikan dalam tiga: pertama, pengetahuan aksiomatis (al-’ulum al-dharuriyyah), muncul dalam diri manusia saat ia mencapai usia tertentu. Ini mencakup penge­tahuan tentang yang kemung­kinan suatu yang mungkin dan kemustahilan mustahil. Seperti tiga lebih banyak dari dua atau sebuah benda tak mungkin berada lebih dari satu tempat di dalam waktu bersamaan. Kedua, penge­ta­huan didapat dari pengalaman/interrelasi pada lingkungan. Di sini, ’aql dipertentangkan dengan jahl (kebodohan). Ketiga, pengeta­huan memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan mengendalikan diri/hawa nafsu dan tidak lagi terjebak dengan ke­senangan-kesenangan tempo­rer—yang berakhir buruk. Dalam pe­ngertian kedua, ’aql berarti kuali­tas (washf) yang membedakan manusia dari hewan, memung­kin­kan paham ilmu-ilmu speku­latif, dan menyadari operasi mental psikologis yang terjadi dalam diri. Secara sederhana ’aql adalah fakultas penyerap pengetahuan.


 


Lalu, qalb—sebagaimana ’aql—mempunyai dua pengertian. Per­ta­ma, qalb sebagai entitas fisik yang merupakan hati, segumpal daging yang tergantung di dalam rongga dada sebelah kiri manusia. Kedua, qalb adalah esensi paling mendasar dari manusia yang dapat menalar/mengetahui infor­ma­si atau pengetahuan. Dalam definisi kedua ini kelihatan ada persamaan yang mendasar de­ngan definisi ’aql yang kedua. Ruh, sebagai fakultas psikologi adalah sama dengan qalb, meski dalam definisi material berbeda. Ruh adalah materi halus yang merupa­kan tonggak kehidupan manusia. Kehilangan ruh berarti kematian. Materi halus ini bersumber dalam hati qalb (dalam arti material) yang disebarkan oleh darah keselu­ruh bagian tubuh manusia. Lalu, nafs juga memiliki dua pengertian. Pertama, entitas immaterial yang merupakan sumber dari sifat-sifat negatif manusia seperti marah, dengki, dan sebagainya. Kedua, nafs dapat berarti esensi manusia yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pemahaman-pema­haman dan pengetahuan (sama dengan ’aql dalam definisinya yang kedua).


 


Wa ma huwa ar-ruh? Roh atau ruuh (bahasa Arab) unsur non­ma­teri yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penye­bab ada kehidupan. Dalam pan­dang­an agama Islam, manusia merupakan makhluk terakhir diciptakan Allah, setelah makhluk lain seperti malaikat, jin (iblis), alam semesta, hewan (binatang), tum­buhan, dan lain-lainnya, di­cip­ta­kan. Allah menciptakan ma­nusia dengan dipersiapkan untuk jadi makhluk paling sem­purna. Manusia diciptakan untuk jadi khalifah di muka bumi dan me­makmurkan bumi.


 


Pada persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian/kesaksian dari calon manusia. Yaitu, ruh-ruh manusia yang ada di alam arwah. Allah mengambil sumpah (Al Quran, surat Al A’raf ayat 172). Dengan kesaksian dan perjanjian itu, seluruh manusia yang lahir ke dunia dianggap sudah memiliki nilai (fitrah) beriman pada Allah dan ajaran yang lurus (agama Islam).


 


Dalam Kristen, secara etimo­logis, roh/ru-ach (Ibrani) unsur ketiga yang membentuk kehidu­pan manusia. Paulus menye­but­kan, bahwa manusia terdiri tiga unsur: roh, jiwa, dan tubuh. Unsur tubuh jasmani, wadag, yang dapat diraba. Jiwa atau nyawa, ada di dalam darah. Roh memberi manu­sia kesadaran. Tubuh jasmani dapat binasa, roh manusia kekal. Dalam Kristen diakui, Allah ada­lah roh (Yohanes 4:24). Yesus Kris­tus disebut Allah atau Bapa. Bapa adalah roh. Roh Kudus, roh Tuhan. Roh Kudus tidak diciptakan, tapi, keluar dari Bapa (Yohanes 15:26). Roh Kudus hanya satu, sekaligus me­menuhi banyak manusia/mem­­berikan rupa-rupa karunia roh (1 Korintus 12:4). Arwah, roh dari manusia meninggal. Kristen mem­percayai, tiap arwah manu­sia yang benar ditempatkan ma­lai­kat Tuhan di Firdaus Allah—ke pa­ngkuan Abraham (Lukas 16:23), sedang arwah orang yang tidak benar ditempatkan di Hades. Iblis pun disebut satan, dalam Kristen dipercaya sebagai pribadi roh (tunggal, bukan jamak), asal dari penghulu malaikat yang memberontak pada Allah, dan diusir dari surga. Setan-setan disebut roh-roh jahat—bermakna banyak. Sepertiga jumlah malai­kat yang terpengaruh iblis dan ikut memberontak, lalu diusir dari surga, dijatuhkan ke bumi. Iblis dan roh-roh jahat mempunyai ke­cenderungan menggoda manu­sia berbuat dosa—kelak mendapatkan hukuman Tuhan di neraka di Hari Penghakiman.


 


BEGITULAH, ulama menyu­sun tingkatan dan derajah nafs dalam tujuh tingkatan: amarah, lawwamah,  mulhimmah, mut­main­nah, radhiah, mardhiah, dan kamilah. Nafs amarah (akan selalu menyeru berbuat jahat, Surat Yusuf ayat 53) adalah tingkatan nafsu manusia yang terendah: sifat dan watah manusia pada tingkat ini sangat buruk. Ciri-ciri (QS 10:53): orangnya gampang tersinggung, selalu marah-ma­rah, merasa benar sendiri atau tidak mau kalah, dendam, ringan tangan, nafsu seksual tidak terken­dali, tidak ada pengendali dalam diri (norma/etika). Kedua, nafs law­wamah (pencela/Surat Al Qiyamah ayat 2), yang setingkat le­bih baik daripada nafs amarah, tapi, diri belum stabil, karena terkadang ia/dia kembali jatuh ke tingkat nafsu amarah. Ciri-ciri (QS 75:2): tidak stabil, setelah menjadi baik, bahkan mengajak orang untuk baik, setelah ada ujian/godaan sedikit saja masih kembali ke asal (maksiat)/tidak sabar.


 


Ketiga, nafsu mulhimah, adalah telah cukup mengetahui tentang kebenaran (al-haq) dan kesalahan (al-bathil), tapi, belum mampu untuk melaksanakan dengan/secara baik karena kelema­han­nya. Ciri-cirinya (QS 91:8): telah mengetahui kebathilan dan atau kemaksiatan tapi tetap mela­ku­kannya dengan kesadaran, telah mengetahui kebenaran tapi, tidak ada kemauan melaksanakannya. Keempat, nafsu muthmainah (te­nang, Surat al-Fajr ayat 27-28), pada tingkatan ini orang telah dijanjikan Allah SWT masuk ke dalam surga-Nya. Ciri-cirinya (QS 89:27-30): Jiwa tenang, kem­bali kepada Rabbnya dengan hati puas, kepribadian mantap menger­jakan perintah Allah, mening­gal­kan larangan, tak mudah ter­penga­ruh/istiqamah. Kelima, nafs radhiah, pada tingkatan ini ma­nusia setingkat di atas nafs mu­thmainah, ditambah rasa ikhlas/penyerahan diri total pada Allah, kesusahan/musibah/tantangan menjadi nikmat baginya. Ciri-ciri (QS 2:45; dan QS 3:146): penuh ketakwaan, menerima segala ujian/musibah/tantangan dgn keikhlasan dan penuh kesabaran (tidak lemah, tidak lesu dan tidak menyerah).


 


Keenam, nafsu mardhiah, pada tingkatan ini manusia berada setingkat lagi di atas nafsu radhiah. Baginya, sesuatu yang sunnah dilaksanakannya seakan ibadat itu juga yang (nyaris sama de­ngan) diwajibkan dan memperla­kukan hal-hal yang subhat sebagai haram. Ciri-cirinya (QS 3:104; dan QS 19:97): Semua yang dimi­li­ki pada tingkatan nafsu radhiah ditambah mempunyai daya me­lak­sanakan/menegakkan amal ma’ruf nahi dan mungkar secara sejati, menjadi pemberi peringa­tan dan atau berita gembira. Ketujuh, nafsu kamilah. Manusia pada tingkatan nafsu yang sem­pur­na, ini hanya dimiliki oleh setingkat para Nabi dan para Rasul: nafs yang sudah berada pada tingkat penyerahan diri secara totalitas dengan pengabdian pada Allah. Ciri-ciri (QS 3:110; QS 33:21): memiliki sifat utama para Nabi/Rasul: siddiq (jujur/benar), amanah (dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (menyam­pai­kan).


 


KIRANYA, kita yang berpuasa Ramadhan mampu menaklukkan dan mengendalikan diri dalam arti, selain menahan lapar/daha­ga/berhubungan dengan isteri/suami, adalah berusaha melatih mengendalikan pikiran dan hati—orang bertakwa mengendalikan/terpelihara hati, pikiran, dan perbuatannya. Insya Allah berkah. (*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://beritasore.com/2013/06/27/azerbaijan-ajak-indonesia-mengesahkan-rsolusi-khusus/


Nafsu, Qalbu, wa Ruh