Showing posts sorted by relevance for query Wali. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Wali. Sort by date Show all posts

Sunday, July 21, 2013

Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Jakarta – Sementara Jakarta punya Jokowi, Italia punya Arturo Cerulli. Keduanya sama-sama pejabat yang besahaja dan dekat dengan rakyatnya. Saat menghadiri peluncuran buku Scappa per Amore karya Dini Fitria di pusat belanja Blok M, Jakarta Selatan, Kamis sore lalu, Wali Kota Monte Argentario ini cuma ditemani istri dan anak keduanya. Tak ada pengawal, ajudan, atau sekretaris pribadi.

Tapi paling menarik dari sosok Arturo adalah soal keislamannya. Sebagai muslim, dia baru dua bulan lalu terpilih kembali untuk lima tahun berikutnya sebagai wali kota di negeri mayoritas Katolik tersebut. Dia mengaku agama Islam yang dianutnya pernah menjadi bulan-bulanan lawan-lawan politiknya saat berkampanye. Tapi Arturo berhasil meyakinkan bahwa dia semata ingin mengabdi pada kota kelahiran dan warganya.


“Saat itu orang-orang menganggap saya ingin menghancurkan bangunan-bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang (kampanye negatif) sudah selesai,” ujarnya saat berbincang dengan Astrid Septriana dan Arif Arianto dari Detik. Berikut petikan selengkapnya.


Italia identik dengan Katolik, tapi Anda yang muslim bisa menjadi wali kota…


Saat saya mencalonkan diri pada 2008, orang-orang juga menganggap saya gila. Tapi saya pikir, sebagai wali kota yang baik, Anda tidak seharusnya membicarakan agamanya, tapi lihat bahwa ia benar-benar mencoba melakukan perubahan baik, seperti membersihkan jalanan dan mencoba membuat oran lebih bahagia. Lambat laut orang mulai menerima saya dan mereka paham bahwa tidak ada pertimbangan agama untuk menjadikan seseorang sebagai wali kota.


Saya hanya mencoba melakukan hal yang bisa membuat kota lebih baik. Jadi tidak akan membawa hal yang menyentuh wilayah keagamaan. Ternyata ini bisa berjalan bersama antara wali kota muslim dengan kota Katolik. Anak saya juga pergi ke sekolah Katolik. Dia tentunya harus memahami agama Katolik, tapi ia tidak harus mengikuti peraturannya. Saat itu juga sedang terjadi krisis di Italia, jadi wali kota sebelumnya tidak dipilih kembali oleh rakyat, hanya sedikit yang akhirnya terpilih kembali. Saat itu saya senang karena mendapatkan 58 persen suara.


Waktu itu keislaman Anda tidak menjadi bahan kampanye negatif, dikaitkan dengan isu terorisme, misalnya?


Ya, lima tahun lalu tentu saja demikian. Semua surat kabar Italias menuliskan bahwa ada seorang muslim yang ingin menjadi wali kota di sebuah kota. Kabar ini juga menjadi breaking news di televisi. Saat itu orang-orang menganggap keberadaan saya ingin menghancurkan bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang sudah selesai.


Apa yang membuat Anda kembali terpilih?


Ya dua bulan lalu saya kembali terpilih menjadi wali kota. Saat yang pertama dulu, tentunya rakyat tidak mengenal saya. Jadi saya coba meyakinkan mereka dengan program yang saya rancang. Pada periode kedua, saya tidak menggambarkan kepada rakyat tentang program, tapi mengenai hal yang telah saya lakukan selama lima tahun terakhir. Jadi, jika mereka ingin mengikuti langkahku berikutnya, berikanlah kepercayaan kepadaku lagi. Saya juga sangat sangat menyukai pekerjaan ini. Bisa saya katakan, menjadi wali kota, gaji saya lebih rendah empat kali lipat dibanding sebagai insinyur. Tapi saya tidak peduli pada uang. Menjadi kaya bukanlah tujuan hidup saya. Tujuan hidup saya adalah menikmati hidup.


Bagaimana awal Anda menjadi seorang muslim?


Pada 1988, saya ke Indonesia untuk bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Serpong. Suatu hari saya bertemu dengan Nunuk dan jatuh hati padanya, lalu kami menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan. Tapi orangtuanya menentang karena saya bukan dari Jawa dan bukan muslim. Tentunya saya tidak bisa berubah jadi Jawa, tapi saya putuskan menjadi muslim. Jadi saya masuk Islam karena dalam satu keluarga sebaiknya hanya punya satu keyakinan, dan saya lebih nyaman untuk memeluk Islam.


Kenapa merasa nyaman menjadi muslim?


Tidak terdapat banyak perbedaan dari peraturan Islam dan di Kristen. Di kedua agama itu, hanya terdapat satu tuhan. Ketika Anda mampu menjadi seorang penganut Kristen yang baik, Anda juga mampu menjadi seorang muslim yang baik. Kecuali pada cara beribadahnya dan beberapa peraturan lainnya ya.


Respons keluarga saat memilih Islam?


Ibuku mempersilakan saya memilih beralih agama dan memberi kebebasan memilik istri. Saya sempat bercerita kepada Ibu bahwa calon istri saya sangat hitam, tapi ibu justru menukas, “Ini kamu yang akan menikah, bukan saya. Jadi jika kamu menyukainya, silakan saja.” Saat ibu bertemu dengan calon istri saya, ia bilang Nunuk tidak sehitam yang saya gambarkan.


Bagaimana multikulturalisme di Italia?


Mungkin saya belum menceritakan di sana ada kecenderungan, bila seorang pria muslim melecehkan perempuan, koran akan menuliskan pria muslim melakukan hal buruk. Tapi jika seorang pria kristen melakukan yang sama, mereka akan mengatakan, “pria dari Roma atau Milan melakukan hal buruk.” Mereka tidak menyebutkan identitas Kristennya. Jurnalis memberikan kesan tertentu. Tapi, di samping hal ini, kami bisa merasa sangat terintegrasi dari hari ke hari nuansa multikulturalisme semakin menjadi baik.


Seperti apa sih komunitas muslim di Italia?


Tidak banyak orang muslim di Italia. Biasanya orang muslim itu bukan penduduk asli Italia, sebagian imigran dari Afrika Utara atau Eropa Timur. Tentunya mereka membawa kesan sebagai orang yang berkualitas rendah karena datang sebagai imigran gelap. Ini membuat banyak orang beranggapan salah dan buruk kepada muslim. Faktanya, 90 persen imigran gelap muslim tak punya paspor dan pekerjaan.


Anda membuat masjid atau fasilitas untuk muslim?


Tidak. Komunitas muslim di kotaku sangat kecil. Jadi tidak ada cara untuk bisa menambahkan sesuatu. Jika ingin beribadah dengan komunitas muslim, yang terdekat berada sekitar 40 Km dari tempat saya. Di sini komunitas muslimnya lebih besar, dan untuk jarak tempuh 40 Km bisa ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit dengan mobil. Sedangkan di Indonesia bisa memakan waktu satu sampai dua jam ya, ha ha ha…


Seberapa sering Anda mengunjungi Indonesia?


Setelah kedatangan saya ke Jakarta pada 1988, saya kembali lagi ke sini pada 1990-an. Setelah itu, saya rutin ke sini setiap satu atau dua tahun karena istri saya memiliki keluarga di sini.


Selain karena istri, apa yang membuat Indonesia menarik untuk Anda?


Indonesia adalah negara yang benar-benar masih berkembang. Saya melihat seberapa mudahnya menjadi seorang politikus di Indonesia. Pertama karena Indonesia masih baru dalam urusan demokrasi. Sebagai wali kota, telepon saya aktif selama 24 jam. jadi warga bisa menelepon saya kapan pun untuk mengeluhkan apa saja. Saya tidak tahu apakah hal seperti ini mungkin dilakukan di Indonesia.


Jujur, saya datang ke Indonesia tidak dalam frame bekerja, tapi berlibur, dan saya lebih memilih Bali dan Lombok dibanding Jakarta. Jakarta is very good for shopping centre, and I don’t really like shopping centre. Saya juga menyukai Yogyakarta. Di sana lebih tampak keindonesiaannya. Atau ke Bandung dan Bogor.



Tulisan ini diambil dari Harian Detik edisi Minggu 21 Juli 2013.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/04/mntg9h-ada-tiga-kategori-mualaf-di-sumatra-selatan


Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Monday, June 24, 2013

Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

img


Makam wali di Jawa (Icha/detikTravel)


Surabaya – Keberadaan Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, terus memberikan pengaruh dan menjadi magnet wisata religi. Bahkan, wisatawan asing juga tertarik untuk mengikuti perjalanan wisata religi tersebut.

Menurut Direktur Utama PT Darmawisata Indonesia, Husin SE, pihaknya mengakui keunikan wisata religi Wali mampu menyedot perhatian wisatawan. Nah, di Jawa Timur ada 5 wali yang makamnya menjadi objek wisata religi.


“Beberapa wisatawan asing salah satunya dari Belgia yang non muslim tertarik untuk mengambil paket perjalanan wali 5 di Jawa Timur,” kata Husein, Senin (24/6/2013).


Paket Wali 5 yang mempunyai durasi hanya 1 hari ini menjadi satu kelebihan yang ditawarkan kepada wisatawan. Selain mempunyai jarak yang dekat kendala waktu juga bisa dihilangkan terutama untuk para wisatawan yang mempunyai waktu berlibur singkat.


“Jumlahnya terus mengalami peningkatan dan untuk musim liburan kali ini melonjak hingga 30%,” terang Husin.


Banyak keunikan yang ditawarkan saat melakoni wisata religi Wali 5 yang seluruhnya berada di wilayah Jawa Timur. Kunjungan pertama di Kota Surabaya yang dikenal sebagai Mbah Bungkul.


Mbah Bungkul yang berlokasi di Taman Bungkul Surabaya ini mempunyai nama asli Ki Ageng Supo yang lahir tahun 1400-1481. Sewaktu masuk Islam berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Mbah bungkul dikenal sebagai Guru dari sesepuh para Sunan yaitu Sunan Ampel. Kunjungan ziarah ke makam Mbah Bungkul jadi agenda wajib dan sekitar makam disulap oleh Pemkot Surabaya menjadi taman yang indah.


Selanjutnya berada di kawasan Surabaya Utara adalah makam Sunan Ampel. Selain berziarah, wisata belanja juga ditawarkan karena lokasinya bersebelahan dengan Pasar Gubah, pusat oleh-oleh wisata religi.


Di lokasi makam terdapat sumur mata air yang diyakini mampu menyembuhkan beragam penyakit dan membuat awet muda. Beberapa peziarah sengaja menyimpan air tersebut untuk dibawa pulang.


Ziarah selanjutnya mengarah ke Kota Gresik di makam Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Kedua Sunan ini mempunyai pola penyebaran agama yang cukup berbeda. Maulana Malik Ibrahim melakukan penyebaran agama Islam dengan pendekatan kultural dan sangat mahir di bidang pertanian dan pengobatan.


Di samping komplek Makan Maulana Malik Ibrahim terdapat Komplek makam keluarga Bupati pertama Gresik Kyai Tumenggung Pusponegoro I. Cara dakwah Sunan Giri yang mempunya nama asli Raden Paku/Ainul Yaqien dengan melakukan pendekatan kesenian dan mempunyai karya abadi seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending atau lagu instrumental Jawa seperti Asmaradana dan Pucung.


Butuh sedikit pengorbanan untuk mencapai makam Sunan Giri di perbukitan. Wisatawan bila mampu bisa berjalan kaki, namun bisa juga menggunakan transportasi ojek maupun dokar yang tersedia di sana.


Selain berziarah wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Sunan Giri yang menyimpan koleksi pribadi seperti sajadah dan beberapa alat salat lainnya. Lokasinya berdekatan dengan makam Sunan Malik Ibrahim.


Wisata selanjutnya menuju Kota Lamongan untuk berziarah ke makam Sunan Drajat yang mempunyai nama asli Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin yang merupakan putra dari Sunan Ampel.


Lokasi makam mempunyai keunikan yakni terdiri dari 7 bagian yang mencerminkan 7 filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan saat melakukan penyebaran ajaran Islam. Tur berakhir saat mengunjungi makam Sunan Bonang yang berada di pusat kota Tuban.


Bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, Sunan Bonang menyimpan kontroversi seputar lokasi makam. Selain di Pusat Kota Tuban bersebelahan dengan Masjid Jami Tuban, makam Sunan Bonang juga dipercaya sebagian orang berada di Pulau Bawean. Karya seni abadi yang ditinggalkan dan masih bisa dinikmati sampai sekarang adalah tembang Tombo Ati yang sering kita dengar merupakan gubahan dari Sunan Bonang.


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/240107


Wisata Religi 5 Wali di Jatim Diminati Turis Mancanegara

Thursday, January 9, 2014

Sang Pengantin



(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)
(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)

Galau. Itulah yang kurasakan sejak orangtuaku memutuskan untuk bercerai. Aku tidak mengerti mengapa orang yang sangat kusayangi harus berpisah. Berbagai rasa mengaduk perasaanku. Marah, kecewa, dan sedih bergumpal di dada. Aku kecewa pada diriku yang tidak bisa membuat orangtuaku tetap bersatu walau kutahu dengan pasti bahwa perpisahan mereka bukan karena salahku

 

Aku mau menangis sekeras-kerasnya tapi malu karena aku sudah besar. Sudah tamat SMA. Aku pendam saja semua rasa yang berseliweran di hati. Ketika ibu mengajakku ikut bersamanya ke rumah nenek di luar kota, dengan tegas aku menolaknya. Hanya kedua adikku yang bersedia ikut dengan ibu. Sementara aku dan kakakku yang sedang kuliah memutuskan tinggal bersama ayah.

 

Bukan aku tidak sayang dengan ibu. Aku hanya tidak suka jika harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku termasuk tipe orang yang introvert dan tidak pintar bergaul serta pemalu.

 

Di depan semua orang, aku bersikap seolah tidak terpengaruh dengan perceraian orangtua. Tapi di lubuk terdalam diriku, aku merasa sangat terluka dan merana. Saat ayah menyuruhku kuliah, dengan halus aku menolaknya. Alasanku, aku ingin istirahat dulu dari urusan belajar. Ayah pun cukup memakluminya. Alasan sebenarnya adalah aku ingin berdamai dengan diriku.

 

Untuk mengisi waktu, aku aktif di masjid di dekat rumah. Aku merasakan ketenangan batin saat berada di dalam masjid. Sesuatu hal yang mustahil lagi kudapatkan di rumah. Di situlah aku berkenalan dengan seseorang yang kerap disapa Ustad Fikri. Beliau rajin memberikan siraman rohani serta menjadi imam saat sholat berjamaah. Saat melantunkan ayat-ayat suci Alquran, suaranya sangat merdu dan menyejukkan hati. Penampilannya juga sangat bersahaja, dengan sorban putih di kepala dan jenggot yang menghiasi dagunya.

 

Aku yang pemalu, saat sholat berjamaah selalu memilih posisi di shaf terakhir. Aku cukup terkejut seusai sholat Isya, Ustad Fikri mendekati dan menyapaku.

“Kenapa kalau sholat tidak di shaf depan?” tegurnya ramah.

Aku hanya diam mengunci mulutku rapat-rapat.

 

Ustad Fikri tidak bertanya lagi. Dia hanya menepuk-nepuk punggungku dan berkata, “Besok datang lagi, ya! Saya senang dengan anak muda yang mau belajar agama.”

Itulah awal perkenalanku dengan Ustad Fikri. Aku yang tadinya tertutup perlahan bisa membuka diri dengan Ustad Fikri. Seusai sholat Isya, kami sering berdiskusi  tentang berbagai hal di rumahnya. Paling sering adalah membahas masalah jihad.

 

“Mengapa pengeboman di Bali, di depan kedutaan Australia dan di Hotel JW Marriot disebut jihad? Setahuku jihad itu adalah perang melawan orang-orang yang terbukti memusuhi Islam? Bukankah mereka tidak memusuhi Islam?”

 

“Anakku, mereka adalah musuh Islam. Jadi sudah seharusnya mereka harus dibasmi.”

Aku merasa nyaman setiap kali berbincang dengan Ustad Fikri karena beliau selalu memanggilku dengan sapaan anakku.

 

“Mengapa? Mereka kan tidak berperang mengangkat senjata melawan umat Islam?”

“Anakku, memang mereka tidak menggunakan senjata untuk melawan kita. Mereka, terutama Amerika menggunakan cara-cara halus untuk memberangus dan menjauhkan kita dengan ajaran agama. Pola pikir kita dirusak agar sama dengan pola pikir dan cara hidup mereka. Itu lebih berbahaya ketimbang perang dengan persenjataan lengkap.”

Aku terdiam mendengar penjelasan Ustad Fikri.

 

“Anakku, Amerika dan antek-anteknya adalah musuh nyata umat Islam. Kita harus menumpas mereka dengan cara berjihad!” Ustad Fikri berapi-api. “Amerika merupakan wali setan yang ada di muka bumi ini. Dan kita adalah wali Allah! Sebagai wali Allah, kita punya kewajiban untuk menumpas para wali setan!”

 

“Kenapa harus berjihad di Indonesia? Kenapa tidak di negara lain yang lebih banyak warga Amerikanya?”

“Anakku, jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Kita merupakan sasaran empuk wali setan. Karena itu kita harus menunjukkan perlawanan terhadap wali setan tersebut dengan berjihad.”

 

“Aku setuju dengan berjihad melawan wali setan tapi kalau melakukannya di Indonesia, aku tidak setuju. Karena yang banyak korbannya adalah justru umat Islam sendiri. Bukankah sudah jelas bahwa sesama muslim adalah bersaudara dan tidak boleh saling menyakiti?”

 

“Itu betul sekali, Anakku! Tapi perlu diingat bahwa dalam setiap peperangan ada orang-orang yang harus berkorban. Orang-orang yang tidak bersalah yang meninggal dalam pengeboman adalah orang yang mengorbankan jiwa raganya untuk mencapai cita-cita kita membasmi wali setan dari muka bumi!”

 

Walau awalnya aku tidak setuju dengan konsep jihad yang ditawarkan oleh Ustad Fikri tapi karena seringnya aku berbincang dan berdiskusi hal itu bersamanya, perlahan aku mulai bisa menerima konsep jihad tersebut. Benih-benih kebencian terhadap wali setan mulai mengakar dalam hati. Aku jadi muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amerika. Aku juga merasa bangga karena hanya aku pemuda di kampung ini yang diajak ustad ke perkumpulan pengajiannya. Masalah jihad sering menjadi bahan diskusi dalam pengajian itu. Aku merasa nyaman karena anggota perkumpulan menerimaku dengan baik dan memperlakukanku sebagai saudara.

 

Suatu malam, seusai sholat Isya, Ustad Fikri memanggilku.

“Anakku, maukah kamu menjadi pengantin?”

Aku tergagap mendapat pertanyaan yang tidak kuduga seperti itu. “Aku…aku belum siap, Ustad. Aku belum bekerja dan aku juga belum punya pacar.”Aku merasa wajahku memanas, menahan malu.

 

Ah, perempuan mana yang sudi menjadi pacar pemuda pemalu sepertiku? Selain pemalu, aku juga punya wajah yang pas-pasan dengan kapasitas otak yang juga sedang-sedang saja ditambah lagi postur tubuh kurus kering seperti kurang gizi. Aku benar-benar tidak masuk dalam daftar pria idaman para wanita “Anakku, bukan menjadi pengantin seperti yang kau pikirkan,”kata Ustad Fikri seperti bisa membaca pikiranku.

 

Aku mengerutkan kening, bingung.

“Anakku, tahukah kamu bahwa orang yang meninggal dalam berjihad itu merupakan syahid.? Imbalan untuk orang yang mati syahid adalah surga. Ketika orang yang berjihad meninggal dunia, mereka langsung disambut oleh para bidadari yang akan menjadi mempelai wanita mereka. Orang yang mati syahid itulah sang pengantin!”

 

“Maksud Ustad, Aku….”

“Iya, Anakku. Kamu adalah orang pilihan. Tidak semua orang yang bisa mendapat kesempatan untuk melakukan ini. Apakah kamu bersedia melakukannya?”

***

 

Tidak ada rasa takut ataupun gentar saat aku memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang sedang ramai pengunjungnya. Penampilanku sama dengan remaja-remaja yang sedang nongkrong dan bergerombol di cafe di mal ini. Dengan mengenakan jins, baju kaos serta sepatu kets, aku tampak seperti remaja yang akan menghabiskan waktu libur di mal. Tidak ada yang curiga kalau ransel di pundakku berisi bom yang siap meledakkan gedung ini.

 

Aku melirik jam. Beberapa menit lagi Ustad Fikri akan meneleponku. Benar saja, ponselku berbunyi. Telepon dari Ustad Fikri.

“Anakku, apakah kamu benar-benar siap untuk menjadi pengantin dan menjemput bidadari yang akan jadi mempelaimu?”

 

“Aku sangat siap dan aku sudah tidak sabar bertemu dengan calon pengantin wanitaku.” Belum pernah aku merasa sangat seyakin ini sebelumnya.

“Bagus, Anakku. Lima menit lagi, kau ledakkan bom yang ada di ranselmu!”perintah Ustad Fikri dengan nada lembut.

 

Kata Ustad Fikri, bidadari di surga wajahnya sangat cantik. Lebih cantik dari Luna Maya, artis idolaku. Badan mereka harum semerbak. Tutur sapanya halus dan lembut. Betul-betul sempurna. Dan yang lebih penting lagi, aku bisa memiliki mereka seutuhnya.  Selama ini aku cuma bisa berhayal saja mempunyai pacar yang cantik. Sesaat lagi itu bukan mimpi. Itu akan menjadi kenyataan dan abadi.

 

Aku siap mengorbankan nyawaku dengan ikut meledak bersama bom yang ada di ranselku. Aku yakin apa yang kulakukan ini adalah benar. Ini merupakan bentuk jihad melawan Amerika yang merupakan wali setan di bumi. Aku yakin aku akan mati syahid.

 

Sambil memejamkan mata, aku menekan sebuah tombol pengaktif bom yang ada di kantong celanaku. Dalam hitungan detik, bom meledak dengan dahsyatnya. Aku merasa sakit di sekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku tercerai berai. Di sekelilingku mendadak gelap. Sunyi. Dingin. Kemana bidadari yang akan menyambutku? Mengapa mereka kunjung tidak datang?

 

Ah, alam kuburku tetap gelap. Terpampang putaran film hidup. Ternyata oh ternyata terpampang nyata Ustad Fikri penuh jelaga hitam di wajahnya. Di dunia nyata ia seakan paling mengerti diriku yang haus pengasihan. Ia kasih aku kesesatan ajaran saat aku ingin menjejak taubat.

***

 

Tengah malam di Benua Amerika

 

Sebuah telepon berbunyi disebuah gedung tinggi. Telepon itu berasal dari Indonesia.

“Lapor, misi berhasil dilaksanakan dengan baik!”

“Good job! Terus jalankan misi kita. Biar wajah Islam akan semakin buruk dan tercoreng di mata dunia. Jihad merupakan kata yang ampuh untuk merusak citra Islam. I love it! Ha…ha…ha..”

 

Sambungan telepon pun terputus
 
Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/11/mo80tl-perempuan-muslim-jadi-sasaran-diskriminasi-di-inggris


Sang Pengantin

Tuesday, August 6, 2013

Wako Ingin Pesantren Menasional

Wako Ingin Pesantren Menasional


Padang Ekspres • Selasa, 06/08/2013 13:58 WIB • Redaksi • 47 klik


M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ya­ng rutin diadakan Pemko Pa­dang selama Ramadhan menjadi program nasional. Program ini ber­manfaat dalam pembentukan ka­rak­ter anak sejak dini.


 


Seperti diketahui Pesantren Ramadhan diikuti 54.897 murid SD, 47.435 siswa SMP, dan 42.790 siswa SMA dan siswa nonmuslim 4.766 siswa mulai dari SD hingga SMA.


 


“Ini hendaknya menjadi program nasional. Inilah yang dibilang Pak Presiden character building (pembangunan karakter). Ini se­ba­gai upaya pembentukannya dari awal,” kata Fauzi Bahar kepada sejumlah wartawan, usai pe­nu­tupan kegiatan pastoral di Gereja HKBP Padang, kemarin (5/8). Kegiatan pastoral dilaksanakan oleh siswa beragama Kristen.


 


Saat menutup Pesantren Ra­mad­han di Masjid Nurul Yakin, Kompleks Perumahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Mi­nggu (4/8) malam, Fauzi me­nga­takan, banyak manfaat yang di­dapat dari kegiatan tersebut, te­ru­tama meminimalisir kriminalitas.


 


“Orang Islam yang tidak taat pada agamanya rentan menjadi pelaku kriminal, kejahatan, ko­rup­si dan sebagainya. Begitu juga penganut Kristen, yang tidak taat akan melakukan kejahatan,” jelas­nya.


 


Melalui Pesantren Ramadhan, salah satu upaya menanami nilai-nilai agama bagi generasi muda sejak usia dini. “Negara ini men­jamin setiap umat, setiap warga untuk memeluk agama dan beri­ba­dah menurut agama dan ke­per­cayaan masing-masing,” tu­tur­nya.


 


Pembentukan karakter, ka­tanya, akan lebih ber­man­faat kendati mengeluarkan biaya besar. Manfaatnya akan dirasakan secara luas. “Jika kita bina olahraga sepakbola dengan biaya Rp 5 miliar ha­silnya tentu tidak akan begitu besar kita rasakan. Tapi jika kita bina anak-anak ini dengan pembentukan akhlak dan budi pekerti akan lebih bermanfaat karena akan langsung dira­sakan dampaknya. Ayah mana yang tidak suka anaknya da­tang ke gereja, masjid, vihara, dan pura,” terangnya.


 


Melalui kegiatan tersebut, intensitas beribadah anak-anak bertambah dari hari bia­sanya. “Saya terharu pada anak-anak tadi begitu antu­sias. Anak-anak ini berada di gereja 3 minggu berturut-turut. Tingkat intensitasnya beribadah meningkat diban­ding hari-hari biasa. Yang biasanya hanya sehari ke ge­reja, itu pun bersama ke­luarga. Kini mereka setiap hari selama tiga minggu ke gereja,” im­buhnya.


 


Di samping manfaat ter­se­but, pembentukan karak­ter dan akhlak ini dapat me­redam ge­sekan antaragama. “Selama ini terjadi gesekan antaragama di­sebabkan le­mah­nya pen­ge­ta­­huan agama mereka,” tu­kuk­nya. Fauzi berharap Pesantren Ramadhan dilanjutkan oleh wali kota terpilih nantinya. “Kalau wali kota berikutnya tidak melakukan hal ini, warga harus mendesaknya. Hal ini dibutuhkan warga,” paparnya.


 


Senada dengan itu, pen­deta gereja HKBP Padang, Afolo Waruwu, juga berharap kegiatan serupa dapat dilan­jutkan oleh wali kota Padang baru nantinya. “Disayangkan tidak dilanjutkan,” ujarnya.


 


Dia mengatakan, pem­bina­an rohani bagi siswa siswi Kristen bermanfaat mem­be­ntuk karakter mereka. De­ngan demikian, anak-anak terfokus untuk belajar pemahaman agama. “Anak-anak kita an­tusias” katanya.


 


Paraklaweh Unggul


 


Secara terpisah, Kelurahan Paraklaweh Kecamatan Lu­buk­begalung berhasil me­ngung­guli 14 kelurahan dalam pe­laksanaan Pesantren Ra­mad­han 1434 H/2013 M. Ini predikat terbaik ketiga kalinya yang diraih secara berturut-turut sejak 2011 lalu pada kegiatan yang sama.


 


“Ini prestasi yang ketiga kalinya untuk tingkat Ke­ca­ma­tan Lubeg. Jadi harapan kita tinggal selangkah lagi, yakni mengukir prestasi di tingkat Kota Padang nantinya,” ujar Lurah Paraklaweh Ganefardi, saat penutupan Pesantren Ramadhan tingkat Kecamatan di Masjid At Taubah, Parak Laweh, Lubeg, kemarin.


 


Total peserta pesantren 171 siswa terdiri dari 60 murid SD dan sederajat, 59 siswa dari SLTP serta sisanya pelajar SLTA.


 


Selain itu, aparatur kelurahan yang bekerja sama dengan Karang Taruna Aster Biru, Parak Laweh, juga men­ye­rahkan bantuan kepada 89 orang anak yatim yang ma­sing-masingnya mendapat santuan sebesar Rp 500 ribu.


 


Ketua Karang Taruna Aster Biru, Paraklaweh, Febrinal me­ngu­ngkapkan, selain fokus pada kegiatan sosial ke­mas­ya­rakatan, organisasinya juga aktif dalam mendukung pem­ben­tukan men­tal generasi muda salah satunya melalui Pesantren Ramadhan ini. (bis/zul)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/207819


Wako Ingin Pesantren Menasional

Friday, June 14, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2005.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/03/30/m1n98n-anggota-dpr-dpd-menolak-dansa-masuk-pon


Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Thursday, June 13, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2015.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/27/me4lzq-islam-kian-eksis-di-fiji-2


Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Sunday, February 17, 2013

Menjadi Jurkam, Jokowi Harus Berhati-hati

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heriyanto, menilai Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk lebih berhati-hati sebelum memutuskan ikut menjadi juru kampanye (jurkam) pada pemilihan gubernur di wilayah lain. Hal ini dia ungkapkan menyusul langkah Jokowi menjadi jurkam pasangan calon gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki.

“Jokowi sekarang harus berhati-hati, bukan lagi politisi biasa yang enggak punya jabatan tinggi seperti sekarang,” kata Gun Gun, saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/2/2013).

Perlu diketahui, Jokowi menjadi juru kampanye pasangan calon gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, di dua kota berbeda, yakni di Bandung pada Sabtu (16/2/2013) dan di Depok pada Minggu (17/2/2013). Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengatakan, pihaknya tidak pernah menerbitkan izin cuti untuk Jokowi melakukan kampanye Rieke-Teten.

Menurut Gamawan, Jokowi sangat terlambat mengajukan surat izin cuti kampanye tersebut. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 14 Tahun 2011 menyebutkan, izin cuti melaksanakan kampanye bagi pejabat negara atau daerah, seperti gubernur, bupati, dan wali kota, harus diajukan sejak 12 hari sebelumnya.

“Surat izin cuti beliau itu masuk hari Jumat (15/2/2013) sekitar pukul 14.00 WIB, sementara acara kampanyenya dilaksanakan pada Sabtu (16/2/2013). Aturannya itu ketika Gubernur ingin melakukan kampanye maka izinnya harus masuk 12 hari sebelumnya karena akan diproses,” kata Mendagri, saat berkunjung di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, kemarin.

Menanggapi hal itu, Gun Gun berpendapat, seharusnya Jokowi baru ikut terjun menjadi jurkam hanya setelah mengantongi izin dari Mendagri. Kalaupun Jokowi tetap menjadi jurkam sebelum mendapat izin, pengamat dari The Political Literacy Institute ini menganggap Jokowi melakukan kesalahan dan wajar bila kemudian menuai polemik.

Sebagai seorang birokrat, kata Gun Gun, seharusnya Jokowi memberikan contoh positif dengan menaati hukum sebelum menjadi jurkam. Selain itu, perlu juga diinformasikan bahwa dirinya telah mendapat izin sehingga masyarakat tahu posisi Jokowi saat terlibat dalam kampanye calon pemimpin tertentu.

“Kalau enggak punya izin, Jokowi salah. Kalau ngajuin izinnya mepet, dari sudut tata administrasi justru keliru ikut jadi jurkam di Pilgub Jabar. Harusnya kan di-declare, izin dari tanggal sekian sampai tanggal sekian, karena jabatan tetap melekat,” ujarnya.

Secara terpisah, Jokowi mengaku telah menandatangani surat cuti untuk dikirimkan ke Kementerian Dalam Negeri. Surat tersebut digunakan Jokowi agar bisa menjadi juru kampanye rekan satu partainya, Rieke Diah Pitaloka, yang hendak mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Barat. Namun begitu, mantan Wali Kota Surakarta tersebut tak menyebutkan kapan surat izin itu ditandatangani dan dikirimkan kepada Kemendagri.

Berita terkait, baca:

JABAR SATU






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/23590/10/07/2012/ramadhan,-fathu-makkah-dan-%E2%80%9Ckemenangan-islam%E2%80%9D.html


Menjadi Jurkam, Jokowi Harus Berhati-hati

Monday, May 27, 2013

Fatin dan X-Islam Factor

Senin, 27 Mei 2013 11:33 wib

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

AJANG X Factor Indonesia (XFI)yang bergengsi dan menjadi acara favorit dalam enam bulan terakhir di RCTI berujung indah dengan kejutan X: Fatin Shidqia Lubis, gadis belia berjilbab, 16 tahun, yang pemalu, lugu, dan baru pertama kali tampil menyanyi di hadapan publik dan layar kaca waktu audisi XFI, ternyata menang.


Dalam pengumpulan SMS, Fatin berhasil mengungguli perolehan SMS Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang prima. Tapi, tampaknya pemirsa lebih kesengsem melihat gaya Fatin yang lugu, imut, dan asli sehingga SMS membanjir ke arah gadis berjilbab itu. Tepat apa kata musisi Ahmad Dhani: banyak orang yang vokalnya bagus, gayanya bagus, tapi sedikit yang unik dan membuat orang terperangah.


Itulah yang ada dalam diri Fatin sehingga dia pantas menjadi juara XFI pertama. Apa yang menarik dalam diri Fatin selain suaranya yang unik? Ia mempertahankan jilbabnya di tengah kompetisi tarik suara yang menampilkan kultur pop Barat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat.


Ketika Fatin menyanyikan lagu “Grenade”-nya Bruno Mars dan kemudian menjadi perbincangan masyarakat cyber di YouTube, jagat musik internasional pun geger. Jutaan orang, dari Barat dan Timur, terkagum kagum dengan suara si imut Fatin. Fatin membawakan lagu “Grenade”—pinjam ungkapan musisi Ahmad Dhani—lebih bagus dari penyanyi aslinya.


Barangkali itulah yang menyebabkan George Levendis melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact in XF Indonesia!”. George Levendis adalah sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor).


George juga seorang eksekutif di perusahaan rekaman dan Syco TV, yang merupakan milik bersama antara Simon Cowell dan Sony Music Entertainment. Berbagai pujian juga muncul ketika Fatin menyanyikan lagu “Stay” milik Rihanna dengan gaya yang unik. Rihanna menyanyikannya dengan gaya pop plus busana minimnya yang seksi, sedangkan Fatin menyanyikannya dengan gaya pop plus busana muslimahnya yang elegan. Jagat musik pop pun tercengang, sampai-sampai wartawan Prancis menyatakan: fenomena Fatin sangat unik karena dia memakai busana religius yang tak pernah dipakai penyanyi mana pun di ajang kompetisi dunia selevel X Factor.


Sebuah pertanyaan menarik, apakah fenomena Fatin menunjukkan dunia Islam sedang mengalami perubahan? Jawabnya: selain akidah Islamiyah, rukun Islam, dan rukun iman, Islam sejak dulu mengalami perubahan kultural yang terus menerus. Pinjam kata-kata almarhum budayawan Kuntowijoyo: Budaya Islam telah berubah dan akan terus berubah karena Islam sangat fleksibel. Kunto menggambarkan perubahan besar itu dari kelahiran Islam di Makkah, kemudian besar di India, Eropa, dan akan mengalami kejayaan di Indonesia.


Seterusnya, akan jaya di seantero dunia. Bayangkan, ketika Islam masuk ke Jawa, Wali Songo menciptakan atribut-atribut kultural yang sama sekali berbeda dengan Islam Arab dan Islam Eropa. Wali Song mem-blending budaya Arab, India, dan budaya lokal untuk memasarkan Islam di Jawa. Hasilnya: Islam berhasil menembus ”pasar” masyarakat Jawa pinggiran, masyarakat Jawa pedalaman, sampai masyarakat priyayi Jawa di keraton- keraton yang dikeramatkan dan eksklusif. Islamisasi Jawa yang terus berkembang sampai hari ini tampaknya sulit dipahami para ilmuwan Barat, bahkan tak berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan sekaliber Clifford Geertz.


Geertz dalam buku monumentalnya, Religion of Java, misalnya mengategorikan orang Jawa dalam tiga kelompok—santri, priyayi, dan abangan yang masing-masing terpisahkan karena mempunyai karakter-karakter yang tak bisa saling menyatu. Padahal, orang Jawa masa kini, dengan tuntutan modernitasnya, termasuk dalam menjalankan Islam, masih tetap menghormati budaya-budaya nenek moyangnya.


Geertz mungkin akan kaget jika melihat ada gamelan dan keris di rumah tokoh-tokoh Islam modernis sebab simbol-simbol seperti itu khas priyayi Jawa. Di PDIP, partai yang selama ini diidentifikasi sebagai partai abangan, ada lembaga Baitul Hikmah yang di dalamnya duduk tokoh-tokoh modernis Muhammadiyah, termasuk Buya Syafi’i Maarif. Dalam Pemilu 2014, PDIPbahkansecara berani mendudukkan tokoh Islam modernis sekaligus sufistis, Jalaluddin Rakhmat, untuk anggota DPRI. Di sanalah letak ”X” dunia Islam Indonesia: mampu mengasimilasikan berbagai budaya dengan mulus dan akomodatif.


Pada masa lalu Sunan Bonang misalnya menciptakan tembang “Ilir-Ilir” dan “Tombo Ati” yang sangat etnik. Kedua tembang ini sejak dulu menjadi ”lagu wajib” orang-orang dusun di Jawa untuk menunggu kedatangan imam salat waktu magrib, isya, dan subuh. Tembang ciptaan Sunan Bonang ini kemudian hari direvitalisasi oleh Emha Ainun Najib dan dipopulerkan oleh penyanyi Opick sehingga kini nyaris menjadi ”lagu wajib” dalam acara-acara pengajian di Ibu Kota, sinetron religi, dan gelar budaya Islam di seantero Indonesia.


Dari perspektif inilah, kita melihat fenomena Fatin. Gadis berjilbab itu berhasil menyanyikan lagu “Grenade” dengan apik sehingga pemilik lagu aslinya, Bruno Mars, mengacungkan jempol. Ketika Fatin menyanyikan lagu ikon pop Rihanna dengan sangat bagus, tak hanya pencinta musik yang gempar, tapi juga masyarakat awam. Fatin berhasil mengawinkan ikon pop dan ikon muslim dengan jilbabnya— sesuatu yang nyaris tak mungkin terjadi di dunia Timur Tengah dan dunia Barat. Tapi, di Indonesia? Melalui Fatin, dunia muslim kembali menembus tembok-tembok kultural seperti yang dikategorikan Samuel P Huntington.


Orang semacam Huntington niscaya akan terkejut jika melihat Fatin yang berjilbab menyanyikan lagunya Rihanna dengan elegan tanpa kehilangan modernitasnya. Ini artinya, batasan dunia Islam dan dunia Barat yang ”ditembok” secara amat kuat oleh Huntington menjadi runtuh dalam panggung X-Factor yang dimenangi Fatin. Semua itu bukti bahwa generasi baru Islam tidak tunduk pada batasanbatasan kultural yang oleh Huntington diramalkan akan mengalami benturan (clash civilization).


Huntington mungkin tak pernah memprediksi jika seorang muslimah yang tinggal di negeri sejuta masjid mampu menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sebagai simbol kultur pop Barat tersebut. Dalam konteks inilah kemenangan Fatin menjadi amat berarti bagi Islam kultural. Bukan sekadar jilbab dan keunikan suara Fatin yang membuat orang kesengsem, tapi secara kultural penampilan Fatin telah berhasil meruntuhkan temboktembok identitas yang selama ini dibangun para fanatikus dunia Barat dan fanatikus dunia Islam.


Tepat sekali bila ajang XFI ditutup dengan lagu “We are The World”-nya, Michael Jackson, karena memang begitulah yang seharusnya terjadi pada umat manusia. Akhirnya umat Islam harus selalu optimistis dengan dinamika kultural yang terus berubah. Jika saat ini panggung peradaban sedang dikuasai Barat, kata Kunto, percayalah pada masa depan panggung itu akan kembali dikuasai Timur.


Yang dimaksud Timur oleh Kunto adalah Indonesia dengan kultur Islamnya yang unik yang merupakan blend dari berbagai kultur di dunia, dari Timur Tengah, Eropa, Hindustan, China, Jawa, dan kultur-kultur lokal lainnya. Itulah ”X-Islam Factor Indonesia”, Islam masa depan. Fatin sudah memulai langkah pertamanya.


M BAMBANG PRANOWO
Guru Besar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten


( (koran Sindo)/Koran SI/tre)true



mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/05/17/224956/10/Mengenal-Tari-Lengger


Fatin dan X-Islam Factor

Monday, December 31, 2012

Dzikir Akhir Tahun, Bentuk Keluwesan Islam

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Hampir semua tempat di seluruh dunia merayakan malam pergantian tahun baru. Bahkan di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Padahal, penanggalan Masehi bukan merupakan penaggalan umat Islam.

Di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Republika menggagas perayaan pergantian tahun dengan dzikir nasional. Menurut Pemimpin Redaksi Harian Republika, Nasihin Masha, kegiatan ini menunjukkan umat Islam luwes melihat perkembangan zaman. Meskipun, kata dia, Islam sudah memiliki kebudayaan sendiri.

“Tapi jika ada budaya asing masuk, kita juga bisa mengisinya dengan kegiatan yang sesuai dengan budaya kita (Islam),” kata Nasihin di Masjid At-Tin, Senin (31/12).

Nasihin menegaskan, Islam pertama kali masuk ke Indonesia juga melalui budaya. Penyebar Islam pertama di Indonesia, yang dikenal dengan wali, datang menyebarkan Islam ke masyarakat menggunakan pendekatan budaya.

Menurut Nasihin, umat Islam sekarang harus lebih kreatif dibanding wali dahulu. “Umat Islam harus rajin memproduksi budaya,”katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Masjid At-Tin, Maftuh Basyuni mengatakan, sudah 11 tahun Republika mengajak masjid At-Tin untuk mengisi malam tahun baru dengan dzikir nasional. Padahal, umur masjid At-Tin baru menginjak 13 tahun. Sejak masjid At-Tin berumur 2 tahun, Republika sudah mengajak menyemarakkan malam tahun baru dengan dzikir.

Maftuh menambahkan, dengan dzikir ini, umat Islam dapat mengintrospeksi diri sendiri setahun yang lalu. Apakah selama setahun lalu, yang dilakukan sudah benar? Kalau iya, kata dia, maka tahun depan harus dilanjutkan.

Kalau tidak, tambah Maftuh, tahun depan harus ada perbaikan. Selama ini, perayaan tahun baru identik dengan hura-hura oleh kaum muda-mudi. Bahkan, saat ini kaum tua juga sudah banyak yang mengisi kegiatannya dengan hura-hura.

“Kalau dibiarkan, maka Republik yang telah dibangun oleh pendahulu kita akan sia-sia,” kata Maftuh.

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/207819


Dzikir Akhir Tahun, Bentuk Keluwesan Islam

Monday, January 27, 2014

Rumah terkena banjir, Maria Eva pulang kampung

Berita Terkait



  • Bereskan banjir, wali kota Depok belum berencana bertemu Jokowi

    Bereskan banjir, wali kota Depok belum berencana bertemu Jokowi


  • Jokowi sebut macet dan banjir hambat pembangunan Jakarta


  • Ahok sebut Pemprov DKI juga bisa tuntut warga penyebab banjir

Merdeka.com – Rupanya Maria Eva mengalami apa yang jadi derita sebagian warga Jakarta. Rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, terendam air hingga ketinggian lutut orang dewasa. Saat tahu rumahnya kebanjiran, Maria langsung tancap gas menuju kampung halamannya di Surabaya.


“Rumah aku itu kebanjiran selutut orang dewasa. Saat banjir, aku pas banget di tol. Langsung aku ke bandara, balik ke Surabaya,” ujarnya disela-sela memberi bantuan banjir Kelompok Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI) dan Media Center Kementerian Ekonomi dan Pariwisata Kreatif di SD Madrasah Islam Al-Bahri, Cawang, Jakarta Timur, Senin (27/1).


Tiap tahunnya, memang rumahnya selalu menjadi langganan banjir. Tahun yang lalu pun, air dengan ketinggian yang sama juga masuk ke dalam rumahnya.


“Cuma kayaknya yang terparah tahun ini ya. Sampai ada yang seatap rumah, untung rumah aku tempatnya masih agak tinggi jadi cuma kebanjiran selutut. Cuma yang namanya kebanjiran ya tetap saja nggak enak,” katanya.
Rumah kebanjiran, stronga href=
Dari kejadian itu, tentu Maria mengaku mendapat kerugian, baik barang yang terbawa air di rumahnya maupun dari segi pekerjaan karena akses jalan tertutup oleh air. Makanya ia pun berharap pemerintah cepat dalam mengatasi masalah tahunan itu.


Pedangdut yang kerap digosipkan memiliki hubungan asmara dengan banyak pejabat itu mengharapkan pemerintah DKI Jakarta bisa segera menuntaskan masalah banjir.


“Supaya banjir nggak terus terusan melanda Jakarta. Kalau Ibukota kena banjir terus, aktivitas banyak yang terhenti dan terganggu,” pungkasnya.



(kpl/aal/abs/phi)












Article source: http://www.antaranews.com/berita/415331/anelka-terancam-dikenai-sanksi-berat-oleh-fa


Rumah terkena banjir, Maria Eva pulang kampung

Friday, August 16, 2013

Pemuda China Medan masuk Islam Di Masjid Teungku Dianjong Banda Aceh


SEORANG warga keturunan China asal Medan hari ini mengikrarkan diri masuk agama Islam di Masjid Teungku Dianjong Peulanggahan Banda Aceh, Jumat 16 Agustus 2013.



Sebelumnya pria berumur 32 tahun ini beragama Kristen dengan nama Loys Frans Romi. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat ia berganti nama menjadi Ahmad Damanhuri.



Disyahadatkan oleh Ketua MPU Banda Aceh Kasim Syeikh, pengucapan dua kalimat syahadah Ahmad Damanhuri juga disaksikan oleh sejumlah pejabat Pemerintah Kota Banda Aceh seperti Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Kepala Dinas Syariat Islam Banda Aceh, Kepala Baitul Mal Banda Aceh beserta puluhan warga Peulanggahan.



Amatan ATJEHPOSTcom usai mengucapkan syahadat yang dituntun oleh Ketua MPU Banda Aceh, Ahmad Damanhuri sekilas tersenyum puas, sembari kepalanya terus menunduk. Dibalut baju koko putih dan kain sarung berwarna hijau, ia duduk di tengah-tengah para saksi yang duduk mengelilinginya.



Wakil Wali Kota Banda Aceh memberikan sambutan hangat dengan menyerahkan seperangkat bingkisan berupa sejumlah uang, seperangkat alat salat, Al-Quran dan juga beberapa kitab panduan.



“Masuknya Islam Ahmad Damanhuri hari ini adalah berkah besar bagi kita semua masyarakat Aceh, khususnya warga Banda Aceh, di mana telah bertambah lagi saudara seiman yang jauh-jauh datang dari Medan untuk mengikrarkan keimanannya di sini,” kata Illiza dalam sambutannya.



Usai prosesi pengucapan syahadat ini berlangsung, Ahmad Damanhuri kepada ATJEHPOSTcom mengatakan, ia masuk Islam atas kesadaran keimanannya sendiri tanpa ada pemaksaan dari pihak siapa pun. Di samping itu, ia kepindahan keyakinannya hari ini telah diketahui juga oleh pihak keluarga besarnya di Medan.



“Pihak keluarga telah saya beritahu sebelumnya. Dan tidak ada penolakan dari keluarga, karena dari pihak ibu saya pun, banyak kerabat famili saya yang sudah masuk Islam sebelumnya,” kata Ahmad Damanhuri.



Sementara ketika ditanyakan perasaannya setelah mengucapkan syahadat tadi, Ahmad Damanhuri tak mampu menjawab kecuali tersenyum sumringah. Ada perasaan damai yang tak terucap dari mimik wajahnya yang cerah. Begitu juga ketika ditanyakan motivasi apa yang membuat ia mengubah keyakinan agamanya, sekali lagi Ahmad Damanhuri diam sambil terus menyungging senyum.[] ihn


Article source: http://surabaya.detik.com/read/2012/12/10/110013/2113813/475/mahasiswa-di-blitar-turun-ke-jalan-peringati-hari-anti-korupsi


Pemuda China Medan masuk Islam Di Masjid Teungku Dianjong Banda Aceh

Sunday, August 4, 2013

Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Oleh Erik Purnama Putra


REPUBLIKA.CO.ID, Bagi Dini Fitria (31 tahun), melakukan perjalanan jurnalistik ke luar negeri adalah hal biasa. Namun, presenter program “Jazirah Islam” di Trans 7 ini mengaku mendapat berkah tersembunyi ketika mendapat tugas meliput dunia Islam di negara Eropa maupun Amerika Utara.


Sosok yang akrab di panggil Dini ini mengaku, banyak pelajaran dari interaksi dengan beragam karakter umat Islam di negara yang masyarakat Muslim menjadi minoritas.


“Ada hikmah sejarah, perjuangan, dan persahabatan yang bisa kita petik,” kata perempuan yang merangkap sebagai produser program khusus Ramadhan ini kepada Republika, belum lama ini.


Dalam tiga tahun terakhir, beberapa negara yang pernah disinggahi Dini untuk program “Jazirah Islam”, antara lain, Austria, Belanda, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Argentina, Meksiko, dan Brasil. Adapun, negara Asia yang dikunjunginya adalah Thailand, Cina, India, dan Korea Selatan.


Di beberapa negara itu, putri dari pasangan Syamsul Bahri Yunus dan Roslaini Rasyad ini melakukan liputan dokumenter tentang perjuangan umat Islam dalam menjaga eksistensi komunitasnya.


Ia menuturkan, pengalaman mengharukan didapatnya ketika meliput Mezquita Catedral di Kordoba, Spanyol. Bangunan masjid yang sudah menjadi tempat peribadatan warga Katolik itu begitu memikatnya. Ia merasa seperti masuk ke lorong waktu para era kejayaan Islam di Benua Biru.


Tak terasa, air mata Dini terurai saat melihat mihrab masjid telah beralih menjadi altar gereja. “Miris sekali,” akunya. Kesedihannya semakin mendalam ketika Abdul Bahri, seorang Muslim yang menjadi pengantarnya, menuturkan masyarakat Negeri Matador itu memberi stigma buruk terhadap Islam yang selalu dikaitkan dengan isu teroris.


Bertemu mualaf


Pengalaman menarik juga didapat Dini di Italia. Bungsu dari lima bersaudara ini bertemu dengan dua sosok Muslim yang mampu menginspirasinya. Mereka adalah Wali Kota Monte Argentario Arturo Cerully dan fotografer Steffano Romano yang keduanya merupakan mualaf.


Khusus Arturo Cerully, ia merupakan wali kota Muslim pertama di Negeri Piza. Ia memilih Islam karena ajaran kemasyarakatan dan kenegaraan, serta mengikuti agama yang dianut istrinya.


Adapun, Steffano Romano memeluk Islam lewat karya fotografinya tentang perempuan berjilbab. Kecintaannya terhadap ajaran Rasulullah ini mampu membuat keduanya meninggalkan agama leluhurnya.


Pengalaman spiritual paling puncak didapatnya saat berkesempatan menyaksikan beberapa orang dari berbagai negara di Eropa merasa mantap ingin masuk Islam. Proses pengucapan kedua kalimat syahadat calon mualaf mampu menggetarkan hatinya.


Perempuan kelahiran Padang, 23 Maret 1982, ini sangat tergugah setiap kali mengingat momen itu. Pasalnya, untuk memeluk Islam, bukan sebuah pilihan mudah dan memerlukan perjuangan cukup berat bagi warga Eropa.


Rata-rata, mereka yang masuk Islam lebih karena tertarik dengan isi Alquran yang dianggap sangat rasional dan tidak menimbulkan perdebatan. “Karena itu, saya selalu bersyukur memeluk Islam sejak kecil.”


Merasa menemukan Islam di Eropa, ia dibuat terkesima dengan warga Muslim di sana. Ini lantaran rasa persaudaraannya yang sangat kuat di tengah pandangan minor yang diterimanya.


Fakta itu juga dirasakan Dini yang selalu dicurigai petugas di bandara hingga memaksanya harus melepas jilbab yang dikenakannya lantaran dicurigai sebagai teroris.


“Islam di Eropa hanya satu. Mereka tidak membedakan Suni, Syiah, Muhammadiyah, atau NU. Islam ya Islam,” celetuknya.


Di belahan bumi lainnya, perjalanan Dini mengantarkannya bertemu dengan keluarga Indian Muslim yang tinggal di Chiapas, Meksiko. Di daerah kaya sumber daya alam ini, warga setempat masih hidup terbelakang lantaran terlena dengan kehidupan yang dekat dengan alkohol, judi, dan hukum rimba.


Mayoritas warga suku Indian itu yang menjadi penganut animisme berusaha mencari kedamaian dengan memeluk agama Katolik maupun Protestan yang disebarkan masyarakat Eropa. Namun, lanjut Dini, ketenangan yang diharapkan tidak juga ditemukan.


Alhasil, pencarian keluarga itu mengantarkannya mengenal Islam dari kelompok pendatang Muslim asal Spanyol. “Islam menjadi alternatif yang menarik karena bisa mengerem kebiasaan buruk mereka,” katanya.


“Sayang, sekali lagi isu-isu terorisme membuat mereka takut dan akhirnya termarginalisasi,” kata alumnus Universitas Andalas, Padang, ini.


 Menulis novel


Meski hasil reportasenya telah muncul di televisi, Dini merasa belum puas lantaran tidak semuanya tergambarkan. Ini mengingat tayangan dokumenter lebih menonjolkan aspek objektivitas. Atas dasar itu, ia tertarik menuliskan pengalaman subjektifnya ke dalam sebuah novel berisi kisah nyata.


“Alhamdulillah, novel religius ini bisa terbit,” katanya. Karya perdananya itu berjudul Scapa per Amore. Judulnya yang memakai bahasa Italia itu merupakan usulan istri Arturo Cerulli, Sri Semiarti Sastropawiro, yang berarti lari karena cinta.


Scapa per Amore bercerita perjalanan cinta seorang jurnalis televisi, Diva, yang harus memilih antara melanjutkan hubungan dengan tunangannya yang retak atau menerima tugas liputan ke luar negeri. Di tengah kegalauannya, Diva menjatuhkan pilihan memilih menunaikan tugas profesionalnya.


Harapannya, dengan pengalaman spiritual selama liputan akan diperoleh perenungan untuk menentukan langkah berikutnya. Dan, benar saja, perjalanan liputan itu ternyata menggugah banyak makna dan inspirasi. 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138443/HMI-Tegaskan-Ajaran-Laduni-Aliran-Sesat-


Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Saturday, January 19, 2013

Tak Sediakan Guru Agama, Sekolah Favorit di Blitar Terancam Ditutup



Blitar – 6 Sekolah favorit Katolik/Kristen terancam ditutup di Blitar. Pangkal persoalannya, sekolah itu disebut Kemenag tidak menyediakan guru agama. Rekomendasi itu akan diberikan Kantor Kementerian Agama Kota Blitar kepada Wali Kota.

“Katanya, Rabu kemarin (16/1) kepala sekolah enam sekolah ini, bertemu dengan yayasan, namun hingga kini, belum ada laporan masuk kepada kami, atas kesediaan mereka menjalankan PP 55 itu,” jelas Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama, Kantor Kemenag Kota Blitar, Baharudin saat dikonfirmasi, Sabtu (19/1/2013).

Baharudin menguraikan, 6 sekolah itu yakni SDK SM, SDK dan SMPK YS, SMPK YG, SMAK dan SMK D. Sekolah itu, seharusnya sesuai PP No 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan menyediakan guru agama bagi agama-agama siswa.

“Kepala sekolah masih menunggu keputusan yayasan,” imbuhnya.

Baharudin menepis kabar yang menyebar lewat BBM, bahwa ada pemaksaan pengajaran agama Islam bagi sekolah itu. Memang sesuai peraturan Wali Kota Blitar, setiap sekolah negeri, siswa muslim dari SD sampai SMP, dan SMP masuk SMA wajib bisa membaca pengajaran al quran.

Menurut Baharudin, atas kasus ini, Sabtu siang ini, ada agenda pertemuan antara kepala sekolah se-Kota Blitar di Aula Dinas Pendidikan Daerah Kota Blitar.

“Ya, ditunggu nanti jam 13.00 WIB, ada rapat dengan semua kepala sekolah di bawah yayasan agama di Dikda Kota Blitar, membahas masalah ini, termasuk enam kepala sekolah swasta dimaksud juga akan hadir,” terangnya.

(gik/ndr)

Article source: http://life.viva.co.id/news/read/343815-adzan-buat-christian-gonzales-terpikat-islam


Tak Sediakan Guru Agama, Sekolah Favorit di Blitar Terancam Ditutup

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Saturday, January 5, 2013

PDI-P: "Di Malaysia Saja Perempuan Wajib Ngangkang"

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Lhokseumawe menyebarkan surat edaran terkait anjuran agar para perempuan di sana tidak duduk mengangkang saat dibonceng di atas sepeda motor. Anjuran ini dinilai tidak masuk akal lantaran di negara Islam lain seperti Malaysia, kaum perempuan justru diwajibkan duduk mengangkang saat dibonceng di atas motor.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi III dari Fraksi PDI-Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, Jumat (4/1/2013), di Gedung Kompleks Parlemen, Senayan. “Anjuran itu dibuat berdasarkan prasangka dan kecurigaan dan tidak sesuai dengan kebijakan publik. Di Malaysia saja, yang pakai hukum Islam, justru wajib mengangkang,” ujarnya.

Kebijakan di Malaysia itu, lanjut Eva, justru lebih mempertimbangkan rasa aman dan nyaman berkendara. Eva menilai peraturan di Lhokseumawe itu hanya disusun berdasarkan prasangka dan subyektif. “Aku merasa sedih dan norak karena tidak untuk kepentingan publik. Sistem value yang sangat didebatkan. Kebijakan di Lhokseumawe seharusnya membuat aman, tidak meresahkan. Kok malah repot perempuan,” imbuh Eva.

Eva mengimbau agar Pemkot Lhokseumawe lebih mementingkan pelaksanaan kebijakan untuk kepentingan perempuan, seperti pelayanan kesehatan, posyandu, hingga upaya menurunkan angka kematian ibu. “Bukan apa yang dianggap penting oleh ulama, tetapi apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Bikin kebijakan yang ramah,” katanya.

Anjuran yang rencananya akan dibuat peraturan tertulis itu tak ayal dinilai diskriminatif bagi kaum perempuan. Eva menyayangkan bahwa selama ini peraturan-peraturan diskriminatif sangat mudah dikeluarkan, tetapi susah dicabut. Seharusnya hal ini menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Kalau yang menyangkut investasi, kenapa lebih mudah dicabut? Apa uang lebih penting dibandingkan hak asasi perempuan?” ucap Eva.

Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya mengeluarkan surat edaran yang mengimbau kaum perempuan tidak duduk mengangkang saat dibonceng sepeda motor. “Alasannya untuk peningkatan dan mendukung syariat Islam yang telah ada qanun-nya di Aceh,” kata Suadi Yahya, Rabu (2/1/2013) siang, melalui telepon.

Menurutnya, kaum perempuan yang duduk mengangkang saat dibonceng di sepeda motor tidak sesuai dengan budaya Aceh yang Islami. “Sebenarnya budaya Aceh, bagi perempuan, kalau duduk di sepeda motor ini tidak boleh mengangkang, budayanya harus duduk menyamping,” jelas Suadi.

Surat edaran berupa imbauan kepada warga Lhokseumawe, menurutnya, mulai berlaku sejak Selasa (1/1/2013) lalu. Sosialisasi pun dilakukan ke kecamatan hingga ke desa-desa. Selama satu bulan ke depan, Pemkot Lhokseumawe akan mengevaluasi sejauh mana efektivitas surat edaran itu berdampak ke masyarakat.

“Kita lihat perkembangannya. Baru setelah itu kita lakukan (dalam) bentuk aturan seperti aturan wali kota atau membuat qanun,” kata Suadi.

Suadi mengklaim surat edarannya ini didukung masyarakat Lhokseumawe, setidaknya kalangan ulama di wilayah itu. Menurutnya, alasan yang berkembang di kalangan ulama Lhokseumawe menyebutkan, jika kaum perempuan duduk tidak mengangkang saat dibonceng sepeda motor terlihat karakter perempuannya.

“Kalau duduk mengangkang, itu kayak lelaki, kalau dilihat dari samping. Tapi kalau duduk menyamping, ciri khasnya terlihat kalau itu perempuan,” jelas Suadi.

Baca Juga: Duduk Mengangkang di Sepeda Motor Justru Lebih Aman






Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/475552/mr-p-iras-xo-ix-disunat-pakai-kayu


PDI-P: "Di Malaysia Saja Perempuan Wajib Ngangkang"