Showing posts sorted by relevance for query Provinsi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Provinsi. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Tuesday, March 26, 2013

Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Padang Ekspres • Selasa, 26/03/2013 13:09 WIB • • 63 klik

Pasbar, Padek—Kepala Kantor Ke­menterian Agama Pasaman Ba­rat, Abdel Haq me­nyam­pai­kan, ada tiga Kepala Kantor Uru­san Agama (KUA) se Pa­saman Barat mendapat nominasi se­ba­gai tiga besar pada penilaian ke­pala KUA berprestasi tingkat ka­bu­paten, tahun 2013. Mereka itu Ahmad Siddik, Kepala KUA Lem­bahmelintang, Sufrinas, Kepala KUA Kecamatan Kinali dan Bis­man Kepala KUA Pasa­man.

 

Tiga kepala KUA peraih pres­tasi terbaik tingkat kabupaten di tahun 2013 ini adalah hasil pe­nilaian yang dilakukan oleh tim penilai Kabupaten Pasaman Ba­rat. Untuk tahun ini, bertindak sebagai ketua tim penilai adalah Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, Syawal.

 

“Ya, tahun ini ada tiga orang yang masuk nominasi, dan satu diantara mereka akan mewakili Pasbar ke tingkat provinsi,” kata Abdul Haq kepada Padang Ek­spres di Simpangampek, Senin kemarin.

 

Dijelaskan, selain melak­sanakan agenda rutin, setiap tahun dilakukan penilaian kepala KUA berprestasi tingkat kabu­paten. Program ini sebagai upaya sekaligus untuk menentukan siapa yang berhak mewakili ka­bu­paten (Pasaman Barat) me­ngikuti penilaian serupa di ting­kat provinsi.

 

Untuk tingkat provinsi, dijad­walkan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2013 mendatang. Namun, hari dan tanggal apa kepastian jadwal penilaian kapala KUA berprestasi tingkat Provinsi Sumbar, masih menunggu jadwal khusus dari tim penilai provinsi. Diharapkan satu dari tiga peraih prestasi terbaik untuk tingkat Kabupaten Pasaman Barat ber­hak mengikuti penilaian serupa antar kabupaten/kota se Su­matera Barat.

 

“Kita harapkan kepala KUA yang menjadi wakil Pasaman Barat akan berhasil di tingkat provinsi dan berhasil membawa pulang hadiah ke ranah Pasbar ini,” harap Syawal (roy)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/12/25/118715/FPMM-Kedamaian-itu-Jauh-Lebih-Penting/3


Tiga KUA Masuk Nominasi Berprestasi

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Friday, December 21, 2012

'Di Kampus Saya Berasa Seperti Artis'

Foto: Rayful Mudassir | The Globe JournalElfis Yosua TruknaLangit masih samar-samar memperlihatkan warna birunya walaupun matahari hampir berganti giliran dengan bulan yang mulai naik perlahan. Suasana bising pun untuk jeda sejenak lantaran umat muslim tengah melaksanakan ibadah shalat Maghrib baik di mesjid maupun di rumah mereka masing-masing.

Usai melaksanakan shalat Magrib di rumah kerabat, tiba-tiba handphone yang saya letakkan di atas kasur kayu berukuran 2×1 itu bergetar. Sejenak terlupa bahwa sebelumnya saya mempunyai janji bertemu dengan salah seorang mahasiswa dari Papua yang saya peroleh nomornya dari seorang kerabat yang berkuliah di FISIP Unsyiah.

Setelah saling membalas pesan singkat, kami sepakat untuk segera bertemu di kantin Asrama Koperasi Mahasiswa Unsyiah di jalan Inong Balee Darussalam, Banda Aceh. Sampai disana setelah memarkirkan sepeda motor di depan kantin, tampak seorang pria berbadan gelap, berambut kriting khas Papua, serta berhidung mancung, sedang duduk seorang seperti sedang menunggu seseorang.

Saya langsung menuju ke arahnya dan berjabat tangan dengannya. Pria hitam manis manis ini dengan headset yang tetap dipasang ditelinganya, jaket berwarna biru dengan lambang pemerintah Papua di sebelah kiri jaket tersebut membuatnya terlihat gagah dan sangat Papua. 

Nama pria bertubuh mungil itu Elfis Yosua Trukna, salah seorang mahasiswa Papua yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dari Papua untuk belajar ke Universitas Syah Kuala. Ia masih terhitung belia di kampusnya, semester satu di jurusan Ekonomi Akutansi. Ia tak sendiri di Banda Aceh, pria yang biasa disapa Eli ini bersama 19 teman lainnya sesama Papua menyeberang ribuan kilometer untuk belajar di Negeri Serambi Mekkah.

“Sebenarnya ada 30 orang yang akan diberangkatkan, tapi karena ada yang takut dengan tsunami dan takut dengan perbedaan agama makanya 10 orang tidak berani kesini karena tidak diizinkan orang tuanya,” kata lelaki kelahiran 10  Oktober 1992 ini di kantin Askopma, Kamis, (6/12/2012) malam.

Namun Elfis berbeda dengan teman-temannya yang lain yang keder pindah ke Nanggroe Serambi Mekkah. Ia menganggap meski mayoritas penduduk Aceh Muslim, namun Aceh sama seperti di Papua. Kesamaan yang ia maksud diantaranya adalah perihal komposisi pemeluk agama.

Jika di Papua, agama yang dianut masyarakat disana tidak ada yang diatas atau dibawah, melainkan sama. Muslim 50 persen serta Kristen 50 persen.  “Meski disini mayoritas Muslim, namun tetap saja mereka toleransi terhadap kami, disana juga banyak mesjid-mesjid seperti disini,”kata anak dari Efraim Trukna dan Yohana Alimdam ini.

Selain itu, kesamaan yang lainnya ialah di Aceh dulu sempat lahir Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang kini telah berdamai dengan pemerintah RI. Di Papua saat ini juga mempunyai sebuah gerakan yang ingin memerdekakan Papua dari Indonesia, yaitu Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Ya saya anggap Papua dan Aceh itu sama, masyarakatnya juga ramah-ramah, tidak seperti saat saya berada di Jawa dulu,” katanya mulai menceritakan masa kelamnya saat di Yogyakarta.

Eli sempat menikmati bangku sekolahnya di SMAN 1 SMAPTA, Yogyakarta mulai kelas satu hingga tamat. Selama tiga tahun tersebut, ia terkadang menerima perlakukan yang tak mengenakan dari orang-orang disana. Terkadang dia dicemooh, dilirik hingga diteror oleh orang-orang baik yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal.

“Kadang-kadang ada yang bilang, Woi OPM kau ya, gak bakal merdeka kau,” katanya memperagakan bagaimana seseorang berkata kepadanya saat di Yogya.

“Di  Aceh tidak begitu, di kampus pun saya berasa seperti artis karena teman-teman baik kepada saya, mungkin karena mereka belum pernah bertemu dengan orang Papua sebelumnya,” tambah anak pertama dari empat bersaudara itu tertawa lebar.

Kehidupan di Aceh bagi pria ramah ini begitu menyenangkan, dengan budayanya, masyarakatnya hingga kebiasaan orang-orang Aceh dalam kesehariannya. Namun yang paling menarik bagi Eli terhadap Aceh ialah saat sedang di rumah makan atau warung kopi dimana kebiasaan orang Aceh selalu berlama-lama disana walau hanya untuk minum kopi.

“Lucu, saya dulu di Papua selesai makan minum langsung pergi karena nantinya akan ada orang lain lagi yang akan duduk disana. Tapi disini bisa santai-santai dulu selesai makan atau minum, suka saya,” katanya memasang wajah senang.

Selain itu penyuka mie Aceh ini mengatakan orang-orang di provinsi paling ujung Sumatera ini sangat ramah dan sangat bersahabat bahkan dengan orang asing baik dalam maupun luar negeri.

“Saya terkejut dan tertawa saat pertama membeli makanan di Aceh, sangat murah. Sekali makan saja hanya perlu uang sebesar Rp 10 ribu, tapi kalau di Papua sana tidak cukup Rp 10 atau Rp 20 ribu tetapi Rp 100 ribu,” kata Eli sambil tersenyum.

Namun dibalik nilai positif yang ia rasakan, ada satu hal yang membuat pria asal Sumtamon, kabupaten Pegunungan Bintang provinsi Papua ini kebingungan saat berada di Aceh.

“Saat saya tiba di Aceh saya bingung begitu, kami di Papua setiap hari Jumat dan Minggu libur karena itu kan hari besar untuk Muslim (Jumat) dan Kristen (Minggu), jadi bisa saling menghargai satu sama lain, sederajat begitu,” katanya dengan aksen Papua yang khas.

Ia juga mengeluh tentang fasilitas yang ia terima dari pemerintah Papua lantaran pemerintah tidak memberikan fasilitas belajar yang memadai seperti meja belajar. Ditambah lagi pengiriman uang baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten sering terlambat hingga satu bulan lebih. Padahal pemerintah telah berjanji akan memberikan fasilitas lengkap kepada para mahasiswa Papua yang kuliah di luar Papua.

“Kami terima uang beasiswanya dalam tiga tahap, dari Dikti Rp 800 ribu, Provinsi Papua Rp 1,2 juta dan dari kabupaten Pegunungan Bintang Rp 5,5 juta untuk setiap bulannya, tapi sering terlambat, punya yang bulan November pun belum dikirim,” katanya. 

Eli yang dipercayakan sebagai Ketua untuk mahasiswa Papua yang belajar di Unsyiah ini adalah salah satu putera Papua dari  747 mahasiswa yang dikirim ke universitas diluar Papua dan disebarkan ke seluruh universitas negeri di Indonesia. Mereka dikirim melalui program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), dididik keluar Papua agar di masa mendatang bisa membangun provinsi mereka dengan lebih baik.

Selain itu, sebelum para calon sarjana menuju ke kampus yang telah ditentukan, mereka juga menandatangani nota kesepakatan (MoU) antara setiap mahasiswa dengan Dikti. Dan yang lebih menjanjikan lagi, 747 orang yang dikirim usai menjadi sarjana maka dijamin mendapat pekerjaan sesuai perjanjian. Eli sendiri punya cita-cita menjadi wakil rakyat di negerinya nanti seusai menuntut ilmu.

Awal tahun 2012 lalu, Eli disarankan oleh salah seorang pamannya dari partai Nasional Demokrasi (Nasdem) yang menjadi salah seorang anggota DPRD Pegunungan Bintang, untuk masuk menjadi anggota partai yang diketuai oleh Surya Paloh tersebut sehingga Elfis bisa masuk menjadi anggota DPRD nantinya usai menjadi sarjana.

Eli tak diizinkan orang tuanya untuk kembali ke Papua kecuali sudah mendapat gelar sarjana. “Pokoknya pulang ke Papua kalau sudah jadi sarjana jadi langsung kerja,” katanya mengulang kalimat yang disampaikan oleh sang ayah untuknya.

Meski kerinduannya sangat besar terhadap keluarganya yang berada di ujung timur Indonesia itu, selain karena orang tuanya, Eli juga mengingat ongkos yang harus ia keluarkan hampir mencapai Rp 7,5 juta untuk sekali pulang sehingga ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kampung tercinta. “Lagian saya senang dengan Aceh,” katanya sambil tertawa dan membuang puntung rokok yang sejak tadi dihisapnya.
[004]

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/din-syamsuddin-ingin-saudagar-muslim-kuasai-sudirman-thamrin.html


'Di Kampus Saya Berasa Seperti Artis'

Tuesday, February 19, 2013

CAESSARIA INDRA DIPUTRI

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/14/14430041/LSI.Parpol.Islam.Terancam.Tak.Masuk.Lima.Besar


CAESSARIA INDRA DIPUTRI

Wednesday, February 13, 2013

Transparansi pembatasan kuota calon haji

CAESSARIA INDRA DIPUTRI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Cepi Supriatna, calon jamaah haji Indonesia yang masuk daftar tunggu berangkat beberapa tahun lagi mencapai angka 2,1 juta orang.

“Di provinsi Sulsel masa tunggunya 17 tahun, kalau daftar tahun ini berangkat tahun 2030, yang terendah 5-6 tahun, kalau Papua termasuk menengah,” kata Cepi Supriatna, hari ini.

Dijelaskan, pemerintah Arab di kota Mekkah, Arafah dan Mina yang hanya mampu menampung jamaah haji dari penjuru dunia sejumlah 2 juta orang. Karena itu, masalah kuota diatur sehingga masing-masing negara memperoleh 1 per mil, sesuai ketetapan konferensi negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam).

“Tahun lalu kita minta tambahan 30 ribu, tapi tidak ada satu pun negara yang ditambah kuotanya. Sehingga dalam dua tahun ini kuota kita tetap 211 ribu orang,” lanjutnya.

Pembagian kuota di tiap-tiap provinsi diatur dengan cara yang adil dan transparan. “Kalau kami berikan tambahan kuota kepada satu provinsi, berarti ada provinsi lain yang dikurangi. Karena itu tidak bisa kami mengabulkan permintaan tambahan begitu saja,” kata Cepi.

Menanggapi usulan program pemberangkatan umat Kristen ke kota suci Yerusalem, Staf Ahli Menag, Abdul Fatah menyangsikan hal tersebut karena Indonesia dengan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. “Sebenarnya Yerusalem tempat suci agama-agama Tuhan, disana ada Masjid Aqsa, Gereja Kristen dan Tembok Ratapan, tapi agak sulit memprogramkan kunjungan ke Yerusalem sebagaimana program jamaah haji,” kata Fatah.

Editor: SASTROY BANGUN

(dat16/wol)

Name *
URL
Code
  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://www.merdeka.com/dunia/calon-bos-cia-masuk-islam.html


Transparansi pembatasan kuota calon haji

Monday, December 17, 2012

Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Anggaran pemerintah di Aceh pada 2013 terdiri dari Satker Vertikal Kementerian/Lembaga Rp7,599 triliun, dekonsentrasi Rp449,2 miliar, Tugas Pembantuan Rp554,4 miliar, Urusan Bersama Rp481,3 miliar, transfer ke daerah untuk provinsi Rp8,190 triliun serta untuk kabupaten/kota Rp14,182 triliun.

Penyerahan DIPA di Gedung Serba Guna Kantor Gubernur itu dihadiri Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi, Kajati TM Syahrizal SH, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Kasdam Iskandar Muda dan Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Provinsi Aceh Achmad Saifuddin.

Dari 23 bupati/walikota di Aceh, hanya 20 di antaranya yang hadir menerima langsung DIPA, sementara tiga kepala daerah tidak hadir dan diwakili sekda. Belum ada penjelasan dan alasan terkait ketidakhadiran mereka.

Penyerahan DIPA secara simbolis, pertama diterima instansi vertikal seperti Kodam Iskandar Muda, Kejaksaan Tinggi Aceh, Polda, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, Kanwil Kementerian Agama Aceh, Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry menyusul para bupati/walikota.

Terkait dengan penyerahan DIPA tahun 2013 ini, Gubernur Zaini meminta bupati/walikota dan pimpinan SKPA/SKPK agar menggunakan dengan sebaik-baiknya dana pembangunan ini, dengan berlandaskan pada peningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat, menurunkan jumlah penduduk miskin Aceh sebesar 2 persen per tahun dan penciptaan lapangan pekerjaan serta kesempatan berusaha sebagai upaya menurunkan jumlah pengangguran dari 9,10 persen menjadi 7 persen.

Data BPS menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh sebesar 19,46 persen atau jauh di atas nasional yang hanya 11,5 persen dan tingkat pengangguran 9,10 persen. Aceh tentu tidak ingin memberi kontribusi besar untuk data kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Karenanya, kerja keras sangat dibutuhkan agar tingkat pengangguran dan kemiskinan di Aceh bisa menurun, dengan demikian Aceh tidak lagi menjadi pemberat pertumbuhan ekonomi Indonesia melainkan Aceh menjadi pendorong dan atau kontributor percepatan peningkatan kualitas kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Untuk ini pastikan seluruh program harus tepat sasaran dan tepat guna dan tidak ada penyimpangan dalam penggunaannya,” harapnya.

Zaini menyatakan, sebagai bagian dari mewujudkan misi tatakelola pemerintah Aceh yang baik, perlu ditingkatkan kualitas sistem transparan dan akuntabilitas pengelolaan anggaran pembangunan dengan membuka akses masyarakat dalam memperoleh informasi program-program pembangunan.

Stimulus

DIPA 2013 juga harus dijadikan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi Aceh secara inklusif, merata, dan mendorong perbaikan kapasitas fiscal Aceh dalam mewujudkan kemandirian Aceh dalam anggaran pembangunan.

“Pastikan seluruh tahapan pelaksanaan program pembangunan sesuai dengan peraturan-perundang-undangan yang berlaku sehinggal kinerja kita dalam mengelola anggaran dapat meningkat dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dengan demikian kita sudah menjalankan dan menerapkan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatakelola pemerintah sebagai bagian dari upaya kita membenahi tatakelola pemerintahan Aceh,” terangnya.

Terkait semangat membangun Aceh sebagaima visi dan misi Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, Doto Zaini membuka kesempatan yang luas kepada pelaku bisnis dan masyarakat internasional untuk dapat mendukung pendanaan pembangunan Aceh dengan bekerjasama secara kemitraan yang sehat, setara dan terbuka.

“Kami juga meminta kepada DPR-RI khususnya Badan Anggaran untuk memberikan perhatian khusus kepada Aceh, dana APBN yang lebih signifikan melalui DAU, DAK dan Dana Dekonsentrasi agar lebih banyak diprioritaskan kepada Aceh dalam rangka menghapus angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh,” jelasnya.

Diungkapkan, ada sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang masih masuk kategori daerah tertinggal. Karenanya bagi daerah yang mendapat dana pembangunan untuk daerah tertinggal, supaya dapat menggunakan anggaran itu dengan tepat dan tidak lagi daerah tertinggal. “Saya berusaha, Aceh tahun 2017 nanti tidak ada lagi kabupaten yang masuk katagori daerah tertinggal dengan meningkatnya kualitas kesejahteraan rakyat dan kapasitas fiskal daerah,” jelasnya.

Hal lain yang paling penting adalah pembahasan APBA/APBK di tingkat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dan kabupaten/kota. Sesuai PP No.58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, APBD 2013 di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia harus selesai paling lambat akhir tahun ini.

“Untuk ini, saya minta DPRA dan DPRK serta para bupati/walikota untuk dapat menetapkan APBA dan APBK sesuai PP 58/2005, tandas gubernur. (mhd)

Article source: http://travel.kompas.com/read/2012/12/17/06514727/Belum.ke.Kuala.Lumpur.Tanpa.ke.Menara.Kembar.Petronas


Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Saturday, February 16, 2013

Melunasi Utang Sosial

Melunasi Utang Sosial

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 17/02/2013 04:38 WIB

PENYELESAIAN suatu tahapan proses berkehidupan — apalagi satu tahapan cukup penting, rupa-rupanya, lebih dari sebatas psikologis (hendak mengatakan pada diri sendiri bahwa satu tahap kehidupan cukup penting sudah didapat/mampu diselesaikan, dan keluarga ikut berbahagia). Entah di dalam perspektif lingkungan sosial pula, penyelesaian suatu tahapan proses kehidupan memiliki nilai — seakan sekaligus menunaikan suatu beban tanggungjawab sosial. Ibaratnya nilai/beban tanggungjawab sosial adalah utang, penyelesaian satu taha­pan proses kehidupan yang penting terasa menjadi/dirasakan sebagai sudah membayarkan utang—utang ke lingkungan (keluarga dan masyarakat yang mengenal diri kita). Sebagai makhluk h sosial dan atau sebagai khalifah di muka bumi, manusia, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, memang memiliki nilai/beban tang­gungj­awab sosial pada keluarga dan masyarakat lingkungannya.

 

Masalahnya, kemudian, setidak­nya sejauh menurut Cucu Magek Dirih, ada sebagian kita yang me­mahami/memiliki perspektif dan kesa­daran tentang nilai/beban tang­gungjawab sosial yang harus ditu­naikan, dan sebagian kita yang lain pula tidak memahami/memiliki per­spek­tif dan kesadaran tentang nilai/beban tanggungjawab sosial tersebut — secara keras dan kasar bahwa orang demikian disebut egois/hanya memikirkan diri sendiri (keberadaan orang lain pun dipandang hanya untuk dirinya) atau sebagai tidak memiliki kepekaan/kepedulian terhadap mas­ya­rakat lingkungannya atau a-sosial. Ter­lebih pada masyarakat yang me­miliki nilai bersama tentang kolegial/kekeluargaan — betapa pun negara mengakui keberadaan hak individu pun! Nilai/penilaian masyarakat lingkungan terhadap diri seseorang atau tingkah lakunya atau perbuatan seseorang menjadi perlu dan penting — tergantung seseorang tadi memiliki perpektif tentang nilai/beban tanggu­ngjawab sosial itu.

 

Secara spesifik, seorang anak tidak dapat mengabaikan keberadaan dan peranan dari kedua orang tuanya, misalnya, dan tidak dapat menga­bai­kan keberadaan/peranan/penilaian masyarakat lingkungannya. Pada masyarakat Minangkabau, selain kesadaran tentang ada/keberadaa dari para pemuka masyarakat/tetua adat yang harus dihormati/kata dan nase­hat­nya harus didengar dan dilak­sana­kan, juga ada nilai/beban tang­gung­jawab sosial terhadap masyarakat lingkungan suku/korong/nagari, misalnya. Bilamana di dalam paruik/suku dan atau korong/nagari ada kegiatan bersama, maka seseorang yang menjadi warga paruik/suku dan atau warga korong/nagari otomatis mempunyai nilai/beban tang­gung­jawab sosial yang harus mereka tunaikan. Katakanlah kenduri perni­kahan dan atau berita kematian — kaba baik baimbauan (memberi tahu/mengundang)/kaba buruak baam­bauan (kalau tahu harus datang tanpa diberitahu/diundang pun!).

 

Sedang dalam kehidupan, ada pekerjaan/tugas dan atau nilai/beban dari pekerjaan/tugas yang sebetulnya lebih pada diri sendiri, tapi, rupanya juga memiliki nilai/beban sosial untuk menunaikannya. Misalnya, mamak (bersama sumandonya) bertang­gung­jawab segala sesuatu di atas rumahnya (mencarikan suami bagi anak/kema­na­kan; rumah gadang katirisan — juga membangun rumah bagi keluarga; dan mayik tabujua di ateh rumah/harus menyelenggarakan proses me­man­dikan dan mengu­burkan mayat), misalnya. Karna seseorang dikenal/cukup dikenal secara luas, maka segala sesuatu pada diri seseorang itu men­jadi milik masyarakat lingkungan — seakan masyarakat lingkungan berhak me­nge­­tahui/menanyakan/mem­per­soal­kan satu hal atau beberapa hal (tugas/pekerjaan/kegiatan) berkaitan dengan diri seseorang. Suka atau tidak suka, masyarakat lingkungan akan me­nge­tahui atau menanyakan atau bahkan mempertanyakannya

 

BEGITULAH yang dialami/dilalui Cucu Magek Dirih dengan penye­lesaian pendidikan degree strata-1 di jurusan pendidikan bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (PBA-Faktar-IAIN-IB) Padang. Bahwa sebagai mahasiswa pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang angkatan tahun 1974, Cucu Magk Dirih sudah diwisuda jadi sarjana muda (1978). Sesuai kebijakan otoritas pendidikan tinggi Kemenag saat itu, tingkatan pendidikan tinggi dilanjutkan ke doktoral I dan doktoral II — saat itu belum ada sistem kredit semester. Tahun 1979, Cucu Magek Dirih menyelesaikan doktoral II pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang — kecuali ujian dua mata kuliah doktoral I/II mata kuliah ilmu hadits dan ilmu tafsir yang dosennya Drs. H. Sanoesi Latief (saat itu Rektor IAIN-IB Padang). Ujian ilmu hadits dan ilmu tafsir doktoral I (1978) belum dibo­leh­kan Sanoesi Latief karena pekerjaan sebagai staf/pegawai honor (Pj. Sek­retaris) pada Lembaga Bahasa dan permintaan beliau agar melengkapi persyaratan untuk diajukan jadi pegawai negeri sipil (PNS) golongan lu­lusan sarjana muda belum dise­lesaikan.

 

Sebetulnya, juga karena kon­se­kuensi logis dari keterlibatan Cucu Magek Dirih sebagai salah seorang aktivis mahasiswa. Setelah Pang­kopkamtib Laksamana TNI Soedomo membekukan lembaga student gober­ment/organisasi intra­kampus dewan mahasiswa (DM)  — masih mem­pertahankan senat-senat ma­hasiswa (SM) di fakultas-fakultas (1978), Cucu Magek Dirih terlalu berani menye­leng­ga­rakan pertemuan/mengumpulkan para aktivis pengurus DM — juga dari Universitas Andalas dan IKIP Padang di laboratorium Lembaga Bahasa IAIN IB Padang (di mana Cucu Magek Dirih jadi pegawai honorer) Sabtu atau Minggu. Lalu, Cucu Magk Dirih dik­e­tahui mengadakan pembicaraan de­ng­an para pengurus senat-senat ma­hasiswa di lingkungan IAIB IB Padang. Ia ditangkap Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau — Rektor Sanoesi meneyerahkan Cucu Magek Dirih kepada dua perwira TNI berpa­kaian pereman yang datang men­jem­put ke kampus Sudirman Padang.

 

Keluar dari tahanan Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau, Cucu Magek Dirih merasa ia selalu diawasi — ruang geraknya dibatasi. Lalu, terbuka peluang bagi Cucu Magek Dirih menjadi wartawan/koresponden di Harian Pagi Kompas Jakarta untuk daerah kerja provinsi Sumatera Barat. Koordinator warta­wan/koresponden Harian Pagi Kom­pas wilayah Sumatera Barat/Riau memilih Cucu Magek Dirih untuk melalui masa percobaan tiga bulanan — singkatnya ia diterima menjadi wartawan/korespondn Kompas Ja­karta daerah kerja di provinsi Su­matera Barat (1979). Bersamaan pula karena situasi politis tidak men­gun­tungkan, Rektor Sanoesi digantikan caretaker Kol. Purn. Hasnawi Karim (saat itu ia menjabat Kepala Kanwil Depag Sumatera Barat). Situasi itu tak menguntungkan bagi penyelesaian studi Cucu Magk Dirih. Sampai ak­hirnya Cucu Magek Dirih dipindahkan kantor redaksinya menjadi wartawan/koresponden untuk wilayah provinsi Riau — termasuk wilayah provinsi Kepulauan Riau sekarang (1983).

 

Tadinya, Cucu Magek Dirih men­yang­ka penyelesaian kesarjanaannya dapat dilakukan di IAIN Sutan Qasim di Pekanbaru. Rupanya, untuk jurusan PBA di Faktar IAIN Sutan Qasim Pekanbaru belum ada doktoral (baru sampai sarjana muda). Lalu, dari Pekanbaru Cucu Magek Dirih ditarik ke kantor redaksi Kompas Jakarta (1987) — persiapan ke Persda Kelom­pok Kompas Gramedia (KKG) me­nangani proyek kerjasama dengan Harian Umum Sriwijaya Post Pa­lem­bang (1988-1990). Keluar dari Kom­pas/KKG, masuk ke Klompok Usaha Bakri (KUB) — menangani proyek Harian Umum Pelita Jakarta (1990-1992). Lalu, keluar. Masuk ke KUB lagi dan menangani Harian Umum Nusa Tenggara/sekaligus percetakannya. Akhir tahun 1998, return ke Padang, menangani Harian Pagi Padang Ek­spres — terbit perdana pada 26 Januari 1999. Sejak itu terbuka kembali peluang Cucu Magek Dirih menye­lesaikan kesarjanaan-lengkapnya.

 

ALHAMDULILLAH — atas pe­nye­lesaian kesarjanaan di jurusan PBA­-Faktar-IAIN-IB Padang (muna­qasah skripsi judul “Istikhdamu Kasaili al-I’lami Kawasailatun Tarabawiyatun fi Tanmiyati ath-Thaaqaati at-Ta’a­la­miyati Lillungati al-’Arabiyah, se­jum­lah kesalahpahaman terhadap kesar­janaan Cucu Magek Dirih sudah dapat dijawab/diatasi. Selama ini, ada sejumlah kenalan/masyarakat yang menganggap Cucu Magek Dirih lulu­san strata-1 (sarjana) — bahkan ada yang tidak percaya bilamana dijelas­kan bahwa Cucu Magek Dirih adalah orang surau dan atau karena pe­nam­pilan/jabatan Cucu Magek Dirih memimpin beberapa perusahaan lalu menganggap dirinya sarjana ekonomi. Kini, nilai/beban tangungjawab sosial dari Cucu Magek Dirih menerima anggapan/penilaian beberapa pihak tentang pendidikan tinggi/kesar­janaan­nya dapat dijawab — ibaratnya hutang sudah dapat dilunasinya.

 

What ever, sekarang Cucu Magek Dirih memang seorang lulusan strata-1 (sarjana lengkap) untuk jurusan pendidikan bahasa Arab Faktar-IAIN-IB Padang — walaupun sertifikat sarjana tersebut tak akan digunakan jadi PNS. Andai masih ada pihak/kenalan yang menyangka/mengang­gap dan atau menulis nama Cucu Magek Dirih yang menambahkan “drs” atau “SE”, tentu beban morilnya tidak seberat semula — sesungguhnya Cu­cu Magek Dirih adalah seorang su­rau yang semestinya menjadi guru ba­hasa Arab madrasah aliyah/sekolah menengah atas/sederajat. Bukan sar­jana ilmu politik dan atau ilmu eko­nomi yang selama ini dianggap oleh se­ba­gian — terutama saat Cucu Magek Di­­rih bertugas/jadi pemakalah di Ja­kar­ta/di Palembang Sumatera Se­latan dan sekitarnya/di Denpasar Ba­li dan se­kitarnya atau di tempat-tempat lainnya.

 

Akhirnya, di atas segalanya, Cucu Magek Dirih bersyukur kepada Allah — alhamdulillah hamdan jiddan, dan berterima kasih pada keluarganya. Khususnya isterinya Desnayetti yang menguruskan segala hal berkaitan dengan penyelesaian kuliah enam sistem kredit semester tambahan satu semester — karena di doktoral tahun 1978-1979 dahulu mata kuliah itu tak ada, mengurus makalah/tugas diberi­kan dari dosen, mengikuti ujian komp­re, penulisan/perbanyakan naskah skripsi — mencari/mengumpulkan buku dan dokumen diperlukan untuk penulisan skripsi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing (Cucu Magek Dirih belum pulih dari sakit), dan kepada ibunya, Saribanun. Cucu Magek Dirih menyampaikan terima kasih kepada dua dosen pembimbing Prof. Dr. Armen Mukhtar dan Dr. Reihani M. Ag, kepada dekan Prof. Dr. H. Duski Samad MA, penguji Prof. Dr. Masnal Jazuly M.Ag dan Drs. Lokot Nasution M.Ag.***

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=257113:-partai-islam-harus-segera-jalin-komunikasi&catid=17:politik&Itemid=30


Melunasi Utang Sosial

Saturday, August 24, 2013

Gereja Mesir di Serang, Polisi dan Militer Diam

REPUBLIKA.CO.ID, Dua polisi Mesir berseragam datang menghampiri dua reporter Washington Post dengan senjata. Dua jurnalis itu sedang meliput sebuah kawasan Kristen yang dihancurkan di dekat stasiun polisi.


Kepala Stasiun Polisi setempat yang memperkenalkan namanya sebagai Jendral Samir, mengatakan jika markasnya diserang saat kekerasan 14 Agustus berlangsung. Dia pun memperlihatkan setumpuk foto yang mendokumentasikan penyerangan pada markas polisi lalu lintas tersebut, tulis Washingtonpost.


Meski demikian, Samir dan anak buahnya tidak mengunjungi tiga gereja dan properti milik warga Kristen yang terletak hanya beberapa blok dari markasnya. “Untuk apa?”ungkap komandan polisi sambil menambahkan, investigasi adalah tugas dari jaksa wilayah, kepada Washingtonpost. 


Bukti serangan antiKristen terlihat dipajang sepanjang Minya. Di sebuah Sekolah Yesuit yang juga bernama Minya, terdapat coretan yang berisi,”Mesir adalah Islamis,” di gerbangnya.  


Gereja Mar Mina, dekat dengan titik unjuk rasa Ikhwanul Muslimin, juga terpampang kata Islamis. Beberapa saksi mengungkapkan, penyerang meneriakkan makian kepada pemerintah.


Seorang saksi lain mengatakan, kelompok yang dia lihat menyerang sebuah gereja, mengenakan ikat kepala hijau beserta dengan lambang Ikhwanul Muslimin.


Pejabat Ikhwanul Muslimin di Minya, yang saat ini sedang dicari polisi, menjelaskan via telepon, ‘keluarga’ di provinsi tersebut memang telah menembaki polisi sebagai upaya balas dendam atas tewasnya ratusan pengunjukrasa di kamp Nahda dan Raba al Adawiya. 


“Mereka yang mengenal sifat orang Mesir mengerti bahwa mereka percaya dengan pembalasan,”ujarnya. Akan tetapi, Behairy mengatakan, sama sekali tidak benar jika demonstran telah menyerang gereja. Dia pun menyalahkan penyerangan tersebut yang menyebabkan permasalahan. 


Sejarah Konflik Sekterian di Mesir


Mesir adalah Negara Muslim terbesar di timur tengah. Di Negeri Piramida, populasi Umat Kristiani hanya 10 persen. Akan tetapi, di Lembah Nil, kota seperti Beni Mazar dan Minya dapat memiliki kantong populasi kristen dengan prosentase terbesar dalam populasi. 


Dalam beberapa dekade, konflik sekterian antara Muslim dan Kristen telah menumpahkan kekerasan. Sebuah fenomena pada revolusi 2011 membawa kelompok Islam sebagai penguasa saat pihak keamanan goyah. 


Kekuatan militer Mesir enggan menanggulangi kekerasan sekterian di negara tersebut. Seorang pejabat dari perwakilan negara barat mengatakan, tidak dapat keluar dari konteks pertanyaan, apakah pihak keamanan yang tidak mengenakan seragam dan membawa senjata memainkan peran pada kekerasan tersebut. 


Beberapa warga yang diwawancarai di Provinsi Minya mengaku percaya kalau Ikhwanul Muslimin telah menyalahkan orang Kristen. Pasalnya, pemimpin Gereja Koptik Uskup Tawadros II, telah mendukung kudeta 3 Juli yang menggulingkan Mursi. 


Dari semua penyerangan di ibu kota provinsi,  terdapat satu gereja Amir Tadros yang juga dibakar. Letaknya, hanya beberapa blok dari kantor gubernur.


Micheal Kastour, seorang anggota gereja menyaksikan penyerangan tersebut. Satu kelompok pria bersenjata telah melempar batu dan bom molotov ke dinding gereja sebelum memaksa masuk gerbang besi. 


Kastour pun meraih tangga untuk naik ke atap gereja. Kemudian, ujarnya, dia melompati kubah batu yang lebih rendah hingga sampai ke jalan.


Dia menjelaskan, bersama ayahnya yang juga pejabat gereja, kemudian memanggil tentara dan polisi beberapa kali saat gereja sedang dibakar. Akan tetapi, tidak ada petugas yang datang merespons. 


“Kami percaya militer tidak tampil pada hari pertama, sehingga Ikhwanul Muslimin dapat menunjukkan semua kartunya dan menunjukkan kepada dunia kalau mereka ‘teroris’ .”


Dia mengungkapkan, dalam waktu normal, polisi hanya butuh beberapa waktu untuk merespons laporan kekerasan sekterian. “Tapi pada hari itu, mereka semua menolaknya,”jelasnya kepada Washingtonpost.


 


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/22179/12/04/2012/curhat-nya-mantan-aktivis-ldii-ke-miumi.html


Gereja Mesir di Serang, Polisi dan Militer Diam

Tuesday, August 20, 2013

Gereja Mesir Diserang, Polisi dan Militer Diam

REPUBLIKA.CO.ID, Dua polisi Mesir berseragam datang menghampiri dua reporter Washington Post dengan senjata. Dua jurnalis itu sedang meliput sebuah kawasan Kristen yang dihancurkan di dekat stasiun polisi.


Kepala Stasiun Polisi setempat yang memperkenalkan namanya sebagai Jendral Samir, mengatakan jika markasnya diserang saat kekerasan 14 Agustus berlangsung. Dia pun memperlihatkan setumpuk foto yang mendokumentasikan penyerangan pada markas polisi lalu lintas tersebut, tulis Washingtonpost.


Meski demikian, Samir dan anak buahnya tidak mengunjungi tiga gereja dan properti milik warga Kristen yang terletak hanya beberapa blok dari markasnya. “Untuk apa?”ungkap komandan polisi sambil menambahkan, investigasi adalah tugas dari jaksa wilayah, kepada Washingtonpost. 


Bukti serangan antiKristen terlihat dipajang sepanjang Minya. Di sebuah Sekolah Yesuit yang juga bernama Minya, terdapat coretan yang berisi,”Mesir adalah Islamis,” di gerbangnya.  


Gereja Mar Mina, dekat dengan titik unjuk rasa Ikhwanul Muslimin, juga terpampang kata Islamis. Beberapa saksi mengungkapkan, penyerang meneriakkan makian kepada pemerintah.


Seorang saksi lain mengatakan, kelompok yang dia lihat menyerang sebuah gereja, mengenakan ikat kepala hijau beserta dengan lambang Ikhwanul Muslimin.


Pejabat Ikhwanul Muslimin di Minya, yang saat ini sedang dicari polisi, menjelaskan via telepon, ‘keluarga’ di provinsi tersebut memang telah menembaki polisi sebagai upaya balas dendam atas tewasnya ratusan pengunjukrasa di kamp Nahda dan Raba al Adawiya. 


“Mereka yang mengenal sifat orang Mesir mengerti bahwa mereka percaya dengan pembalasan,”ujarnya. Akan tetapi, Behairy mengatakan, sama sekali tidak benar jika demonstran telah menyerang gereja. Dia pun menyalahkan penyerangan tersebut yang menyebabkan permasalahan. 


Sejarah Konflik Sekterian di Mesir


Mesir adalah Negara Muslim terbesar di timur tengah. Di Negeri Piramida, populasi Umat Kristiani hanya 10 persen. Akan tetapi, di Lembah Nil, kota seperti Beni Mazar dan Minya dapat memiliki kantong populasi kristen dengan prosentase terbesar dalam populasi. 


Dalam beberapa dekade, konflik sekterian antara Muslim dan Kristen telah menumpahkan kekerasan. Sebuah fenomena pada revolusi 2011 membawa kelompok Islam sebagai penguasa saat pihak keamanan goyah. 


Kekuatan militer Mesir enggan menanggulangi kekerasan sekterian di negara tersebut. Seorang pejabat dari perwakilan negara barat mengatakan, tidak dapat keluar dari konteks pertanyaan, apakah pihak keamanan yang tidak mengenakan seragam dan membawa senjata memainkan peran pada kekerasan tersebut. 


Beberapa warga yang diwawancarai di Provinsi Minya mengaku percaya kalau Ikhwanul Muslimin telah menyalahkan orang Kristen. Pasalnya, pemimpin Gereja Koptik Uskup Tawadros II, telah mendukung kudeta 3 Juli yang menggulingkan Mursi. 


Dari semua penyerangan di ibu kota provinsi,  terdapat satu gereja Amir Tadros yang juga dibakar. Letaknya, hanya beberapa blok dari kantor gubernur.


Micheal Kastour, seorang anggota gereja menyaksikan penyerangan tersebut. Satu kelompok pria bersenjata telah melempar batu dan bom molotov ke dinding gereja sebelum memaksa masuk gerbang besi. 


Kastour pun meraih tangga untuk naik ke atap gereja. Kemudian, ujarnya, dia melompati kubah batu yang lebih rendah hingga sampai ke jalan.


Dia menjelaskan, bersama ayahnya yang juga pejabat gereja, kemudian memanggil tentara dan polisi beberapa kali saat gereja sedang dibakar. Akan tetapi, tidak ada petugas yang datang merespons. 


“Kami percaya militer tidak tampil pada hari pertama, sehingga Ikhwanul Muslimin dapat menunjukkan semua kartunya dan menunjukkan kepada dunia kalau mereka ‘teroris’ .”


Dia mengungkapkan, dalam waktu normal, polisi hanya butuh beberapa waktu untuk merespons laporan kekerasan sekterian. “Tapi pada hari itu, mereka semua menolaknya,”jelasnya kepada Washingtonpost.


 


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Gereja Mesir Diserang, Polisi dan Militer Diam

Friday, May 3, 2013

Syariat Islam di Aceh omong kosong - Waspada

WASPADA ONLINE


LHOKSEUMAWE – Ustadz Awi Chengho (Chou Cin Wie) (45) dalam berdakwah patut diacungi jempol. Mualaf yang masuk Islam akhir tahun 2000 itu, melakukan perjalanan dakwah keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda motor.

Namun sayang, harapannya ingin melihat Provinsi Aceh sebagai daerah syariat Islam, ternyata tidak berbeda dengan kota lainnya di Indonesia.


Mualaf keturunan Cina dari Medan, Sumatera Utara ini, tidak menyangka kalau Provinsi Aceh yang dikenal daerah Syariat Islam, ternyata hanya menggema sebatas nama saja. Sementara realisasi penegakkan Syariat Islam di Aceh tidak berjalan.


“Lihat aja di tempat keramaian dan rumah makan yang ada, tidak ada bedanya dengan di kota-kota lainnya di Indonesia. Jadi tidak nampak sama sekali daerah ini sebagai daerah penegakkan syariat Islam,” terang pria ini yang memiliki lima orang anak dalam kunjungannya di kota Lhokseumawe.


Suami Nur Baeti ini menyebutkan, seharusnya Aceh yang telah menerapkan Syariat Islam harus benar-benar menjalankan dan tidak hanya sebatas omongan semata. Sebab yang terlihat di lapangan tidak nampak sama sekali sebagai provinsi satu-satunya yang menjalankan syariat islam.


“Sama aja melihat tidak ada perbedaan sama sekali dengan daerah lain. Lihat saja sekarang ini contohnya,” terangnya kemarin, memperlihat salah satu rumah makan di kota Lhokseumawe, di mana para pengunjung yang duduk tidak ada pemisahan yang dilakukan antara muhrim dengan yang tidak muhrim.


Editor: SASTROY BANGUN

(dat06/jpnn)




Name *
URL
Code

  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/04/28/08254881/Caleg.Rangkap.Bukti.Manajemen.Partai.Amburadul.


Syariat Islam di Aceh omong kosong - Waspada

Monday, April 1, 2013

Afghanistan: Keluar Total Bukan Suatu Pilihan

Seorang Tentara Afghanistan dan dua Tentara A.S. bersiap siaga di belakang
dinding lumpur di sebuah kamp di distrik Daman provinsi Kandahar pada bulan
September 2012. [AFP/GETTY IMAGES]

Banyak pihak memperkirakan tahun 2014 sebagai tahun di mana koalisi
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin oleh Amerika Serikat akan keluar dari
Afghanistan. Sasaran itu tampaknya semakin tidak bisa dicapai mengingat keadaan
perang yang belum selesai. Gambaran ini terus berubah setiap harinya sebagaimana
halnya merespons kebutuhan akan sumber daya.

Pada awalnya, penunjukan A.S. atas Afghanistan sebagai sekutu terbaru
non-NATO yang utama mengantar ke gelombang transformasi. Gerakan itu sendiri tidak
saja mengikat baik warga Afghanistan dan Amerika untuk waktu yang lama tetapi juga
dapat melindungi kepentingan kedua negara tersebut di masa depan. Sementara itu,
berbagai kelompok kepentingan menunggu dengan tidak sabar di sisi barisan untuk
mengambil alih kepemimpinan.

Kondisi militer, keuangan, dan politik terkini menentukan bagaimana keadaan
akhir Afghanistan akan terbentuk.

Truk-truk pengungsi Afghanistan dari Pakistan tiba di pusat P.B.B. di
Kabul, di mana para pengungsi yang kembali diberi US$100 untuk memulai kehidupan
baru di Afghanistan. Walaupun mereka pengungsi Afghanistan, banyak dari mereka
dilahirkan di Pakistan, dan ini pertama kalinya mereka berada di Afghanistan.
[mandy clark]

Faktor Militer

Kehadiran pasukan Amerika di Afghanistan, setelah mengalami peningkatan,
berjumlah 68.000 lebih pada bulan September 2012. Pada tahun 2013, jumlahnya mulai
menyusut sedikit demi sedikit, tetapi jumlah akhir tetap menjadi rekaan setiap
orang. Banyak pihak mengatakan jumlah mereka sebanyak 50.000; yang lain mengatakan
perhitungan yang realistis adalah 25.000 sampai 30.000 tentara.

Jadi, mengapa Tentara A.S. diperlukan berada di bumi Afghanistan saat
terdapat lebih dari 350.000 pasukan keamanan Afghanistan, menurut perhitungan Gedung
Putih A.S.?

Dari jumlah pasukan ini, Afghan National Army (ANA) atau Angkatan Darat
Afghanistan hanya 122.000 orang dan dilatih oleh koalisi internasional. Pelatihannya
singkat, dan mereka adalah Tentara muda dan kurang berpengalaman. Semua milisi lama
tidak dimasukkan ke dalam militer setelah dilakukan suatu eksperimen untuk
memasukkan mereka ke dalam pasukan biasa gagal. Mereka kesulitan memahami struktur
komando Angkatan Darat. Pada saat dilakukan suatu operasi di daerah mereka, mereka
sudah jauh terlalu mengakar dalam politik lokal.

Seorang ayah dan anak Afghanistan mengumpulkan kayu bakar di Badakhshan,
provinsi di utara Afghanistan. Kekurangan gizi menjadi penyebab utama kematian
bagi anak-anak dan balita di wilayah ini. [Mandy Clark]

Jadi, dengan jumlah Angkatan Darat Afghanistan sebesar 122.000, akan tidak
mungkin untuk melindungi negara dari ancaman dalam atau luar negeri. Risiko keduanya
sangat jelas. (lihat kolom samping pada halaman 53 dan 54).

Idealnya, tujuan dari setiap militer adalah untuk melindungi perbatasan
internasionalnya. Namun dalam kasus Afghanistan, operasi militer terutama ditujukan
untuk memerangi ancaman dari dalam negeri.

Menurut skenario, Amerika berusaha keras untuk tidak harus menapakkan jejak
sepatu bot mereka. Melainkan, mereka berencana untuk memberikan jaringan intelijen
yang kuat untuk memberi rakyat Afghanistan intelijen teknis yang dapat diandalkan
untuk melawan setiap serangan atas kedaulatan bangsa mereka.

Strategi ini merupakan bagian dari tujuan A.S. untuk mencegah serangan 11
September yang lain di dalam negeri. Hal ini juga menjadi bagian dari komitmen
mereka untuk mencegah Pakistan menggunakan kedalaman fungsi Afghanistan untuk
mengembangkan kembali suatu wilayah terorisme yang strategis sekali lagi. Amerika
Serikat juga akan meninggalkan perlengkapan kontraterorisme handal yang mampu
bertindak dalam intelijen bila rakyat Afghanistan meminta bantuan dalam menghadapi
ancaman.

Polisi Nasional Afghanistan melakukan latihan dalam upacara wisuda di
sebuah pusat pelatihan polisi di provinsi Laghman pada 20 September 2012.
Negara-negara NATO berencana untuk menarik pasukan perangnya secara
besar-besaran pada akhir tahun 2014 setelah penyerahan bertahap kepada Angkatan
Darat dan polisi Afghanistan. [AFP/GETTY IMAGES]

Kemitraan strategis A.S.-Afghanistan telah ditandatangani, tetapi jumlah dan
bentuk pasukan kontraterorisme yang tepat masih belum pasti. Apapun masalahnya,
pasukan itu akan cukup besar dalam menangani setiap ancaman besar yang dapat merusak
kedaulatan Afghanistan. Penetapannya akan didasarkan pada apa yang diinginkan oleh
rakyat Afghanistan dan sumber-sumber daya apa yang akan diberikan oleh Amerika
Serikat.

Ada cukup banyak tekanan dari Pakistan, Iran, dan Timur Tengah yang digunakan
untuk mengurangi kehadiran Amerika. Perhitungan akhir Pasukan akan berupa apa yang
masuk akal bagi Amerika.

Prospek Ekonomi

Peluang finansial tampak benar-benar kurang jelas di Afghanistan. Walaupun
Afghanistan saat ini merupakan sebuah tempat yang sulit secara keuangan dengan gross
domestic product (GDP) atau produk domestik bruto sekitar US$20 miliar, negara ini
dapat mencapai potensinya dengan mengembangkan sumber-sumber dayanya secara cerdas.

Seorang anak lelaki Afghanistan dari Bamiyan menunggu di luar klinik medis
yang didirikan oleh USAID. [MANDY CLARK]

Kekayaan sumber daya mineral Afghanistan, yang diperkirakan sebesar US$1
triliun, dapat mengubah keadaan ekonominya. Kajian detail dari Pentagon A.S.
membantu menentukan kemampuan kekayaan mineral tersebut. Afghanistan dapat menjadi
pusat dunia dalam penyediaan litium, yang terutama digunakan dalam komputer,
demikian pendapat para pakar. Sebagaimana dijelaskan oleh menteri Afghanistan, “Ini
dapat menjadi tulang punggung perekonomian Afghanistan.”

Namun demikian, menjalankan operasi pertambangan dapat menjadi problematik
bagi Afghanistan. Negara ini kurang berpengalaman dalam mengurus kontrak-kontrak,
dan usaha seperti ini rawan korupsi. Pada awalnya, Taliban dan berbagai panglima
perang ingin mengambil alih sumber-sumber daya pertambangan dan meraup laba bagi
mereka sendiri. Meskipun sumber-sumber daya tersebut tetap di bawah pengawasan
pemerintah, negara-negara dan perusahaan-perusahaan lain dapat dengan mudah
mengeksploitasi Afghanistan karena rakyat Afghanistan sendiri tidak berpengalaman
dalam mengembangkan usaha-usaha sumber daya mineral. Selain itu, pendistribusian
laba secara adil kepada rakyat membawa tantangan-tantangan yang menakutkan.

Seorang bocah lelaki berumur 11 tahun bekerja sebagai pedagang buah di
Bamiyan. Ayahnya sakit parah untuk dapat menjajakan jualannya. Stabilitas
ekonomi diperlukan bagi Afghanistan untuk berkembang. [MANDY CLARK]

Jalur pipa Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) juga dapat menjadi
suatu sumber energi dan pendapatan yang penting bagi rakyat Afghanistan. Jalur pipa
ini akan terbentang sepanjang 735 kilometer di wilayah Afghanistan dan menghasilkan
pemasukan pasti sebesar US$400 juta setiap tahunnya. Ini akan menghasilkan 14 juta
standar meter kubik gas setiap hari, yang menjadikan Afghanistan kurang bergantung
kepada Rusia untuk kebutuhan energinya.

Lebih banyak energi juga berarti jalur pipa ini akan membantu menaikkan GDP.
Diperkirakan 12.000 personel keamanan Afghanistan akan ditugaskan untuk mengamankan
pipa saluran ini.

Realitas Politik

Eksistensi dalam dunia politik menentukan segalanya di Afghanistan. Siapa
yang duduk di Kabul dan menunjukkan kemampuan untuk melakukan transaksi dengan
komunitas internasional akan memegang kekuasaan—dan uang. Uang sangat penting di
Afghanistan. Saya ingat ketika berdiri di garis depan antara Taliban dan pasukan
Aliansi Utara di suatu pagi, ketika saya melihat tank-tank berjalan dari arah
Taliban menuju ke arah Aliansi Utara. Dalam waktu 20 menit, tank-tank itu melintasi
garis depan dan kemudian mengarahkan moncong-moncongnya ke Taliban.

Para pedagang dari Tajikistan dan Afghanistan menjual barang-barang mereka
di sebuah pasar mingguan yang digelar sepanjang perbatasan. Stabilitas ekonomi
diperlukan oleh Afghanistan untuk berkembang. [MANDY CLARK]

Sehari sebelumnya, para komandan Aliansi Utara telah menyerahkan ratusan ribu
dolar kepada para komandan Taliban dan membujuk mereka untuk tidak lagi berperang
dengan Taliban. Kehilangan divisi bersenjata mereka merupakan akhir permainan bagi
Taliban. Di hari-hari selanjutnya, Aliansi Utara masuk dan merampas jajaran-jajaran
yang tersisa.

Saat itu yang berperan adalah uang, dan bahkan kini uang memainkan peranan
yang sangat penting di Afghanistan. Selain pertanian, tidak ada yang dapat
menghasilkan pemasukan. Yang dulunya telah hilang dari Afghanistan sekarang kembali:
menanam bunga madat untuk produk-produk opium. Menanam bunga madat telah musnah
karena Taliban secara fisik membakar ladang-ladang dan monopolinya. Sekarang dengan
lengsernya Taliban dan Amerika tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sepele,
pertanian bunga madat tersebut menopang para tuan tanah feudal.

Namun demikian, Afghanistan telah lebih maju dibandingkan dengan waktu
sebelumnya. Terdapat partai-partai politik dan lawan-lawan yang serius: Ada Abdullah
Abdullah, seorang dokter medis dan diplomat kawakan untuk perjuangan pembebasan
Afghanistan dari Taliban, dan ada Ramazan Beshardost, seorang Hazara yang lurus dan
jujur tetapi tidak terkait dengan suku manapun.

entara Angkatan Darat Nasional Afghanistan berpartisipasi dalam pembangunan
dan prosedur pemeliharaan persenjataan dengan Pasukan A.S. di Camp Hero di
provinsi Kandahar pada 10 September 2012. [AFP/GETTY IMAGES]

Masih ada panglima-panglima perang seperti Ahmed Rashid Dostum, Amin Fahim,
dan Gulbuddin Hekmatyar, yang akan tetap menentukan arah pemerintahan di masa depan.

Amerika telah berhadapan dengan semua kelompok ini dan membuat sebagian besar
dari mereka sejalan. Namun, gabungan politik-militer seperti Taliban dan Hekmatyar
akan tetap menjadi masalah besar.

Sebuah laporan terakhir mengatakan bahwa kelompok-kelompok pecahan Taliban
bersedia membiarkan Amerika tetap tinggal asalkan Presiden Hamid Karzai turun.
Sebelumnya, Taliban mengatakan Amerika harus sepenuhnya keluar dari Afghanistan agar
mereka dapat menyatakan gencatan senjata. Sesungguhnya, berunding dengan kelompok
pecahan tidak masuk akal karena Taliban bukanlah kelompok tunggal yang terpadu.
Mullah Omar yang bermata satu memiliki pengikut terbesar, tetapi ada orang-orang
lain yang telah memisahkan diri dari kelompok ini.

Taliban dan Amerika telah mulai berunding namun kurang berhasil. Taliban
menginginkan pembebasan para pejabat kunci mereka dari Guantanamo Bay. Amerika tidak
setuju hal ini menjadi titik awal perundingan. Cepat atau lambat, kedua pihak akan
harus bersikap praktis dalam apa yang mereka ingin capai dan dapat capai.

Amerika menginginkan Taliban datang ke meja perundingan dan setuju dengan
politik pemilu. Taliban ingin melihat Amerika keluar sepenuhnya. Hal ini tidak
dimungkinkan bila Afghanistan yang aman adalah tujuannya.

Dengan Amerika keluar sepenuhnya, hal ini akan meninggalkan terlalu banyak
pemain untuk berebut kendali dari kekosongan ini. Menarik Afghanistan keluar dari
kekacauan berikutnya akan menjadi lebih sulit daripada memulihkan
tantangan-tantangan yang ada saat ini.

Keluar Atau Tidak Keluar

Semua perilaku yang terjadi di Afghanistan tampaknya akan teatp berlanjut
sementara berbagai kelompok kepentingan berusaha mengambil kekuasaan.
Serangan-serangan yang terus terjadi pada pasukan A.S. hanya dimaksudkan untuk
mengirimkan pesan yang kuat kepada Amerika untuk berkemas dan pergi. Namun,
serangan-serangan ini tidak berjalan lama, dan semua kelompok akan menyadari bahwa
mereka tidak akan dapat menakuti koalisi internasional dengan beberapa serangan yang
mematikan.

Penarikan dari Afghanistan dapat berarti meninggalkan ruang yang besar dan
tak terkendali dari mana kumpulan teroris berikutnya dengan kemampuan untuk
menimbulkan bencana yang bahkan lebih besar dari tahun 2001 akan sekali lagi
membangun pimpinan mereka, dan kali ini tidak hanya dua menara saja.

Penarikan ini sesungguhnya bukanlah menjadi suatu pilihan bagi pihak manapun.
Keberhasilan dari penarikan ini akan bergantung pada siapa yang bersedia mengambil
langkah besar untuk mencapai perdamaian dan siapa yang dapat mempertahankan momentum
ini.

Ancaman Dalam Negeri

Taliban (Orde Quetta): Kelompok ini dipimpin oleh Mullah Omar yang bermata
satu, pemimpin Afghanistan sebelum perang 2001, memiliki dukungan dalam dan luar
negeri yang paling besar. Pasukan keamanan Pakistan dipercaya telah mendukung
kelompok ini selama bertahun-tahun sebagai keping tawar menawar untuk sebuah peranan
di Afghanistan setelah Amerika keluar.

Jaringan Haqqani: Kelompok ini yang dipimpin oleh Jalaludin dan Sarajudin
Haqqani adalah peninggalan dari serangan tiba-tiba Amerika ke Afghanistan selama
pendudukan Rusia. Haqqani, yang pernah menjadi tamu Gedung Putih, dikatakan banyak
pihak, saat ini didukung oleh pasukan keamanan Pakistan. Kelompok ini adalah salah
satu kelompok sayap kanan yang bertujuan untuk menimbulkan sebanyak mungkin korban
jiwa di pihak pasukan Amerika. Secara ideologi mereka sejalan dengan al-Qaeda dan
tidak mungkin ikut serta dalam solusi demokrasi apapun.

Hizb-i-Islami Gulbuddin (HIG): Faksi ini terutama mewakili aspirasi Gulbuddin
Hekmatyar sendiri. Ia menurut dugaan menjadi kaya karena uang Amerika; beberapa
pihak memperkirakan ia menerima bantuan Amerika sebesar US$600 juta melalui Pakistan
pada tahun 1980-an dan terutama tergantung kepada Pakistan dan beroperasi dari
Pakistan. Ia telah menjadi perdana menteri Afghanistan pada dua kesempatan dan
kemungkinan akan mencoba kembali berkuasa. Ia menghadapi oposisi dari bekas
pesaingnya, termasuk musuh-musuh bebuyutannya seperti almarhum Komandan Ahmad Shah
Massoud dari Aliansi Utara. Gulbuddin terus mempertahankan milisinya dan melancarkan
serangan-serangan untuk menyatakan eksistensinya.

Kriminal lokal: Kaum preman dan penjahat bermunculan dalam jumlah puluhan
ribu karena tidak adanya pekerjaan di Afghanistan. Setiap orang yang memiliki
senjata dan tidak bekerja melakukan penculikan demi uang tebusan dan mulai
mengumpulkan pajak lokal untuk memberi makan diri sendiri dan para kroninya.
Orang-orang kaya, orang asing, dan warga lokal dan pelancong yang tak berdaya
menjadi suatu sumber pendapatan. Modus operandi ini sudah menjadi kebiasaan sejak
dulu kala di Khyber. Sudah menjadi cara hidup bagi banyak orang.

Korupsi: Ini sudah menjadi masalah besar bagi Afghanistan. Dengan uang yang
telah dipompa ke negara ini, Afghanistan sebenarnya telah bisa direkonstruksi
berulang kali. Para politisi dan birokrat Afghanistan yang korup mengantongi
sebagian besar dari US$300 miliar bantuan Amerika. Banyak yang telah membeli vila
pribadi yang mewah di Dubai, Uni Emirat Arab, tempat perlindungan pajak. Tidak
banyak yang dicapai dengan US$300 miliar yang telah dihabiskan di Afghanistan.
Jalan-jalan berantakan, bahkan di Kabul.

Ancaman Luar Negeri

Pakistan: Salah satu negara yang terkena dampak terparah selama perang
bertahun-tahun ini adalah Pakistan. Negara ini benar-benar terlibat dalam operasi
anti-Rusia dan, selama proses itu, telah berubah menjadi pusat kegiatan militan dan
konsekuensinya terorisme. Banyak rakyat Afghanistan telah memilih tinggal di
Pakistan dan kini tinggal antara Afghanistan dan Pakistan. Hal ini telah menimbulkan
banyak masalah di antara rakyat Afghanistan dan Pakistan. Pakistan juga menggunakan
Afghanistan sebagai kedalaman strategisnya di tahun 1990-an dan telah terbiasa
memperlakukan Afghanistan seperti wilayahnya sendiri. Tetapi sikap semacam itu telah
menjadikan Pakistan sebagai ancaman bagi kedaulatan Afghanistan.

Al-Qaeda: Al-Qaeda yang terutama didanai oleh Arab Saudi telah menjadi
ancaman terbesar bagi dunia. Namun, mereka tidak menikmati perlindungan dari
pemerintah mereka. Dengan akses mudah ke dana-dana minyak, mereka mendanai
operasi-operasi terorisme besar. Walaupun supremasi mereka telah terganggu dengan
tewasnya Osama bin Ladin, mereka terus menjadi pusat otak dari terorisme yang
dilancarkan. Kemampuan mereka telah dimusnahkan melalui tekanan aliran uang, tetapi
mereka akan tetap mengancam eksistensi setiap struktur demokrasi. Mereka memiliki
pengikut yang besar karena mereka telah mendanai kelompok-kelompok selama lebih dari
20 tahun.

Tarik-i-Taliban Pakistan: Kelompok ini terutama lahir dari peralihan
peristiwa-peristiwa tahun 2001 ketika pemerintah Pakistan mengarahkan senjatanya
kepada Taliban, yang pernah didukungnya. Taliban kemudian melarikan diri ke dalam
Wilayah-Wilayah Suku yang Diatur Pemerintah Federal Pakistan dan menciptakan
jaringan ini. Selain memerangi apa yang mereka pandang sebagai hegemoni Kristen dan
Yahudi, mereka berpendapat bahwa mereka dilahirkan untuk membuat suatu uji internal
dalam pemerintah Pakistan dan membawa Pakistan ke jalan Islam yang lebih puritan.
Mereka beroperasi di perbatasan Afghanistan dan, oleh karena itu, menjadi saluran
bagi setiap operasi yang terjadi di antara Afghanistan dan Pakistan dan perlu
dukungan mereka. Hal ini menopang mereka secara finansial, memberi mereka akses
kepada persenjataan dan mengamankan eksistensi mereka dalam operasi-operasi al-Qaeda
yang lebih besar. Mereka telah dituduh bertanggung jawab atas percobaan pengeboman
mobil Times Square 2010 di New York City.

Bagilah Artikel Ini


id, article, email

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 

Terima kasih atas komentar Anda!

Monday, February 3, 2014

Melongok Islam di Filipina

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah

Islam adalah agama tertua di Filipina. Islam masuk berkat banyaknya pedagang Muslim dari Teluk Persia, India Selatan, dan sejumlah kesultanan dari Indonesia dan Malaysia. Mereka adalah kaum saudagar yang berdagang hingga ke Filipina pada abad ke-14.


Data yang diperoleh dari Laporan Kebebasan Beragama Internasional Departemen Luar Negeri AS pada 2010, populasi Muslim di Filipina sekitar sembilan persen. Mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik Roma.


Karimul Makhdum adalah pedagang Arab pertama yang datang ke Kepulauan Sulu dan Jolo di Filipina pada 1380 M. Pada 1390 Pangeran Rajah Baginda Minangkabau dan para pengikutnya mengajarkan Islam di pulau-pulau tersebut.


Masjid Syehk Karimal Makhdum merupakan masjid pertama yang didirikan di Filipina di Simunul, Mindanao, pada abad ke-14.


Permukiman yang dihuni pendakwah dari Arab yang bepergian ke Malaysia dan Indonesia membantu memperkuat Islam di Filipina. Setiap permukiman dikepalai seorang datu, raja, dan sultan.


Karena pesatnya perkembangan Islam, akhirnya didirikanlah provinsi Islam. Provinsi Islam di Filipina adalah Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Sulu, Kesultanan Lanao, dan sebagian lain di Filipina selatan.


Ketika armada Spanyol yang dipimpin Miguel López de Legazpi tiba di Kerajaan Maynila, mereka bertemu dengan Rajah Sulaiman III.


Satu abad berikutnya, Islam telah mencapai Kepulauan Sulu di ujung selatan Filipina yang penduduknya belum memeluk agama apa pun (animisme).


Pada abad ke-15 setengah bagian dari Luzon (Filipina Utara) dan pulau-pulau Mindanao di selatan tunduk pada berbagai kesultanan Muslim Borneo. Karena itulah, banyak penduduk di selatan yang menyatakan memeluk Islam.


Selama masa pemerintahan Sultan Bolkiah pada 1485-1521, Kesultanan Brunei melihat Manila sebagai pelabuhan alami. Sultan Brunei ini mencoba memiliki bagian dari Tondo sebelum perdagangan dari Cina masuk.


Caranya, dengan menyerang daerah sekitarnya dan membangun kesultanan sendiri di Kota Seludong. Islam semakin kuat dengan kedatangan para pedagang Muslim dari Jolo, Mindanao, Malaysia, dan Indonesia.


Di Filipina, Islam memperkenalkan struktur politik yang sangat berkembang, yakni kesultanan. Struktur sosial tradisional Muslim Filipina dipimpin seorang sultan yang diasumsikan sebagai otoritas di bidang agama dan sekuler.


Sedangkan, datu dianggap sebagai pemimpin komunal. Dia memberi bantuan dan arbitrase melalui pengadilan agama di bawah kepemimpinannya.


Atas bantuannya, datu mendapatkan bantuan, pekerjaan, dan perlindungan bila diperlukan dari rakyatnya. Menariknya, seorang datu tidak ditentukan dari kekayaan yang ia miliki, tetapi oleh jumlah pengikutnya.


Asimilasi penjajah Spanyol hanya berhasil menciptakan perpecahan antara umat Kristen Filipina di bawah kekuasaan Spanyol dan masyarakat Muslim yang menolak penaklukan.


Hal yang sama terjadi saat rezim Amerika di mana Muslim dimusnahkan pasukan militer ketika umat Islam menolak penaklukan dan menolak eksploitasi sumber daya di wilayah Mindanao. Amerika kemudian menyadari proses itu sia-sia.


Namun, selama beberapa tahun belakangan, inisiatif Amerika untuk mengintegrasikan masyarakat Muslim dengan mayoritas orang Filipina hanya menyebarkan perpecahan dalam budaya dan agama. Akibatnya, kerusuhan sosial dan konflik situasi menyebar dan berkembang.


Kaum Muslim tetap terisolasi dari perkembangan yang digalakkan pemerintah di wilayah utara Filipina. Faktanya, gerakan separatis tumbuh dan kebencian antara Kristen dan Muslim dikembangkan.


Article source: http://www.jpnn.com/read/2014/01/29/213719/Asmirandah-Boleh-Pulang-Meski-Pindah-Agama,-Asal-...-


Melongok Islam di Filipina

Wednesday, December 19, 2012

Basuki: Saya Hanya Belum Dapat Hidayah Saja

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dikenal sebagai sosok yang blak-blakan. Saat menjadi pembicara di Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dia menceritakan bagaimana nada miring yang diterimanya saat mengikuti pilkada.
Sebagai keturunan Tionghoa, pria yang akrab disapa Ahok itu menyadari tantangannya saat terjun ke kancah politik.
“Jangan pilih Ahok yang kafir. Lalu kenapa tetap memilih Ahok? Nah ini alasannya pasti menarik,” kata Basuki dalam forum tersebut, Selasa (27/11/2012).
Basuki bercerita, selama 10 tahun, dia menjadi anggota parlemen lokal di daerah asalnya, Bangka Belitung. Dia pun menyadari posisinya sebagai orang Kristen.
“Saya Kristen, tapi sejak SD-SMP saya sekolah di sekolah Islam. Saya hanya belum dapat hidayah saja,” kata Basuki sambil tersenyum.
Dia juga mengaku belajar mengaji habis shalat isya. Namun, dia pernah merasakan ditolak masuk masjid oleh Ketua Panitia MTQ Provinsi Bangka Belitung 2006.
“Saya hanya belum mendapat hidayah,” tuturnya lagi.
“Kata warga, yang kami butuhkan yang bisa menyejahterakan umat, bukan mengaku KTP Islam tapi korupsi. Mending dipimpin Ahok daripada dipimpin orang yang ngaku punya hidayah tapi kafir,” tambahnya.
Seusai Basuki menyampaikan pandangannya, seorang perwakilan dari Norwegia yang hadir dalam dialog ini mengaku sangat puas dengan apa yang disampaikan oleh Basuki.
“Sekarang saya tahu mengapa Pak Basuki terpilih menjadi wakil gubernur,” kata dia disambut tepuk tangan para peserta dialog.
Dialog antarumat beragama ini merupakan inisiasi dari FKUB sekaligus menyambut beberapa orang perwakilan Norwegia dalam dialog hak asasi manusia (HAM) ke-11 yang berlangsung di Jakarta.
Dialog ini diarahkan untuk mengetahui dinamika FKUB sebagai leading sector kerukunan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta. Hadir juga dalam dialog ini, Ketua FKUB KH Ahmad Syafii Mufid, Wakil Ketua FKUB Rudi Pratikno dan Echa Abdullah, serta Sekretaris FKUB H ME Syahroni.
Basuki: Saya Hanya Belum Dapat Hidayah Saja

Saturday, January 12, 2013

Lanskap Baru Politik 2014

Muhammad Qodari 

JAKARTA, KOMPAS.com – Hasil rapat pleno KPU soal verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 diperkirakan meloloskan 10 partai dari 34 yang mendaftar ke KPU (Kompas, 8/1). Ke-10 partai itu adalah PAN, Demokrat, PDI-P, Hanura, Gerindra, Partai Golkar, PKB, PKS, PPP, dan Nasdem.

Bagi yang optimistis, lolosnya 10 parpol untuk Pemilu 2014 membuka lanskap baru politik Indonesia ke depan. Lanskap pertama, harapan bahwa pilihan masyarakat akan lebih berkualitas karena jumlah partai jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Bandingkan jumlah parpol peserta Pemilu 2014 dengan Pemilu 1999 yang 48 parpol, 2004 (24), dan 2009 (38).

Pilihan yang sedikit ini diharapkan kondusif untuk masyarakat membuat pilihan berkualitas. Apalagi 9 dari 10 parpol yang lolos adalah partai lama yang sudah dikenal kiprahnya, baik di legislatif, eksekutif, di media, maupun di masyarakat. Jadi, masyarakat punya catatan tentang kinerja mereka. Pemilu 2014 akan menjadi hari penilaian bagi parpol-parpol tersebut.

Harapan yang lebih berkualitas juga diharapkan terjadi untuk level calon anggota legislatif (caleg). Berkurangnya jumlah partai secara signifikan secara dramatis juga mengurangi jumlah caleg.

Lanskap berikutnya, kemungkinan perubahan wajah politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Saat ini terjadi perbedaan situasi antara konstelasi politik di pusat (DPR) dan di daerah (DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota). Jika di pusat hanya ada 9 partai politik, di daerah jumlah parpol jauh lebih banyak sehingga lebih ”hiruk-pikuk”. Di DPRD 2009, jumlah parpol lebih banyak sebagai kombinasi dari tiadanya ambang batas parlemen untuk masuk DPRD dan jumlah peserta pemilu 38 parpol. Akibat tak ada ambang batas parlemen untuk DPRD, tak ada kursi DPRD yang ”hangus” seperti terjadi di DPR.

Pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi, aturan Pemilu 2014 hanya memberlakukan ambang batas di tingkat nasional seperti pada 2009 (sebelum keputusan itu ambang batas juga berlaku di tingkat daerah). Namun, dengan jumlah peserta pemilu yang hanya 10 parpol, jumlah parpol di DPRD juga tidak akan lebih dari 10. Ini membuat komposisi parpol di DPRD kurang lebih akan sama dengan DPR. Perbedaannya pada posisi dan jumlah kursi sesuai daerah masing-masing.

Skeptisisme

Jika analisis di atas menampilkan kemungkinan perubahan dan harapan pada Pemilu 2014, bagian berikut menampilkan kekhawatiran dan skeptisisme. Skeptisisme pertama adalah kinerja DPR hasil Pemilu 2014. Disinyalir salah satu sebab rendahnya produktivitas legislasi DPR akibat jumlah partai dan fraksi yang terlalu banyak di Senayan.

Salah satu solusinya mengurangi jumlah partai dan fraksi di DPR dengan ambang batas parlemen. Namun, ambang batas 3 persen yang ditetapkan untuk Pemilu 2014 (naik 0,5 persen dibanding Pemilu 2009) diduga tidak akan mampu mengurangi jumlah parpol di DPR secara signifikan. Bahkan, bukan mustahil jumlah parpol di DPR justru naik dari 9 ke 10 parpol, dengan asumsi 9 partai lama dan satu partai baru (Nasdem) semua mendapat suara di atas ambang batas. Kemungkinan ini besar karena Hanura sebagai partai ”bontot” dalam Pemilu 2009 meraih suara di atas 3 persen pada pemilu itu. Sementara Nasdem telah menembus suara di atas 3 persen dalam aneka survei akhir-akhir ini.

Skeptisisme berikutnya soal wajah politik nasional Indonesia secara umum di masa yang akan datang. Mafhum diketahui banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap kinerja parpol, politisi, dan aneka lembaga pemerintahan. Kenyataan bahwa 9 dari 10 parpol yang lolos pemilu adalah partai lama dapat ditafsirkan: wajah politik Indonesia ke depan tidak akan berubah banyak karena aktornya secara garis besar yang itu-itu saja. Termasuk peta calon presiden yang notabene akan keluar dari parpol-parpol tersebut di atas.

Sekarang, bagaimana cara menjawab potensi kekecewaan tersebut di atas? Soal ambang batas tidak mungkin diubah. Karena itu, harus diterima kemungkinan jumlah parpol di DPR tetap 9 atau malah jadi 10. Berdasarkan pengalaman pemilu di era Reformasi, memang angka ambang batas yang bisa memangkas jumlah parpol di DPR adalah minimal 5 persen. Solusinya adalah memperbaiki mekanisme pembahasan UU di DPR dan di tiap parpol agar target legislasi dapat tercapai.

Adapun solusi kekecewaan terhadap parpol di masa depan secara inheren terkandung dalam mekanisme demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi diharapkan terjadi proses reward and punishment (hadiah dan hukuman) dari masyarakat terhadap peserta pemilu dan selanjutnya proses belajar dan memperbaiki diri dari para peserta pemilu itu terhadap kesalahannya. Saya meyakini mekanisme hadiah dan hukuman itu berlaku dalam politik Indonesia. Buktinya PDI-P yang menang Pemilu 1999 bisa kalah di 2004, sedangkan Partai Golkar yang menang di 2004 kalah di 2009, sementara hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Demokrat yang menang Pemilu 2009 turun.

Tentang calon presiden 2014, ada tiga langkah untuk memunculkan alternatif wajah calon pemimpin nasional. Pertama, menurunkan aturan presidential threshold (ambang batas capres) Pemilu 2009 yang mencapai 20 persen suara dan/atau 25 persen kursi. Pilihan yang mudah adalah ”menyamakan”-nya dengan ambang batas parlemen, yakni 3 persen, untuk mengajukan pasangan calon sendiri. Namun, melihat pengalaman politik selama ini, agaknya angka itu akan bertemu di tengah, yaitu di rentang 10 persen-15 persen. Kedua, partai membuka kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai calon. Ketiga, partai membuka pintu bagi tokoh-tokoh di luar partai.

Agamis vs nasionalis

Lepas dari harapan dan skeptisisme terhadap calon peserta Pemilu 2014, jumlah peserta yang 10 sebetulnya kian mendekati opini masyarakat. Paling tidak ini terungkap dari hasil berbagai survei, di antaranya survei oleh Indo Barometer pada Juni 2008 dan Agustus 2010.

Secara ideologi, 10 partai peserta pemilu juga cukup mencerminkan konstruksi ideologi parpol di Indonesia yang kerap dibagi dalam dua spektrum. Untuk spektrum partai agamis/berbasis massa agama versus nasionalis/sekuler, ke-10 partai itu dapat dibagi dalam partai agamis (PKS, PPP, PAN, PKB) dan nasionalis (PDI-P, Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem).

Dalam spektrum partai agamis, ada dua subspektrum, yakni agamis Islam dan Kristen. Subspektrum agamis Islam bisa dibagi lagi dalam sub-subspektrum agamis Islam modernis dan agamis Islam tradisionalis. Adapun yang hilang dalam 10 parpol peserta Pemilu 2014 adalah wakil dari subspektrum agamis Kristen.

Sementara untuk spektrum partai nasionalis, dapat dibagi lagi dalam subspektrum kanan/developmentalis versus kiri/ populis. Tentu penggolongan ini relatif dan dapat diperdebatkan. Akan tetapi, pesannya adalah: walau jumlah partai peserta pemilu menurun jauh dibandingkan 2009, sebetulnya cukup mewakili spektrum ideologi politik yang ada.

Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26737/12/01/2013/dsn-mui:-ulama-mesir-haramkan-sukuk-karena-alasan-maslahat-.html


Lanskap Baru Politik 2014