Showing posts sorted by relevance for query Menara. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Menara. Sort by date Show all posts

Monday, November 4, 2013

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki
Senin, 4 November 2013 | 6:42


Wartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di TurkiWartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di Turki


Sebuah perjalanan yang menyenangkan tentunya bagi Wartawan Suara Pembaruan,


Bangun Lubis, yang bertugas di Palembang, ketika mendapat

kesempatan berkunjung ke Republik Turki, selama delapan hari sejak 21 –

29 Oktober 2013 bersama sejumlah wartawan dari Jaringan Pers Nasional

bersama Pemprov Sumsel.


Para wartawan tak hanya berkunjung

ke obyek wisata fisik seperti Kota Istambul yang memiliki dua wilayah

yakni Bagian Asia dan Europea, tetapi juga begitu banyak wisata sejarah

yang sempat membuat terkesima ketika menyaksikannya.


Salah satu yang menarik adalah daya pikat Museum

Haghia Sophia

atau sering juga dibaca dengan sebuta Museum Aya Sofia. Museum

ini sebelumnya adalah sebuah bangunan dimana dulunya adalah Masjid.


Dan

sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Udara dingin yang kira-kira mencapai

10 derajat Celsius tidak menjadi hambatan bagi para wartawan untuk

menikmati kunjungan dan menimmati kota tua ini. Di ceritakan oleh

Pemandu Wisata bernama ,

Ali Ekinci,

(49) yang memandu kami selama berada di sana, bahwa usia bangunan ini

sudah sangat tua, sekitar lima abad.


Bangunan ini merupakan kebanggaan

masyarakat Muslim di Istanbul,

Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung.

Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat

kemegahan Aya Sofia.

Tampak dari luar, pengunjung

disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya

30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter.


Ketika memasuki area

bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang

dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam

warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.


Di

sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di

dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki

Ostmani (Otomant).


Gereja
 

Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama

Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa

Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah

Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Berkat tangan Anthemios dan

Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian

arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia

dengan konsep baru.


Hal ini dilakukan setelah orang-orang

Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari

kawasan Suriah dan Persia.


Keuntungan praktis bentuk kubah yang

dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang

lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma,

yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta

mahal biayanya.

Oleh keduanya, konsep kubah dalam

arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang

memanjang.


Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara

struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian

dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah

sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa

pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali

terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak

terkena gempa di awal abad ke-14.

Pengembangan Turki Ostmani



Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah

pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama

Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota

besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan

sujud syukur.

Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia.


Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi

masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari

setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan

untuk shalat Jumat berjamaah. Sepanjang kekhalifahan Turki Ostmani,

beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja

Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan

masjid.

Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya.


Sementara

dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal

sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya

untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela

Islam.

Kata Ali, karena orang-orang Turki

yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia

dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak

dibongkar.


Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas

dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar

bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara

ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di

bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun

lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad

III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III,

pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid

yang masih bercirikan gereja.


Termasuk, mengganti tanda salib yang

terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan

menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia

Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain

yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan. Akibat adanya kontak

budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam

dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula

mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap

meruncing.


Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik

awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat

megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan

timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan

lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan

ruang yang lebih luas dan tinggi.

Museum 

Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di

tahun 1937.


Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang

penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi

masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran

Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan

Islam diubah lagi menjadi gereja.

Sejak difungsikan sebagai museum,

para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur

menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia.


Bagian di

langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi

dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen

peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya

Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap

dipertahankan.Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu

objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki.

Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah

memesona.


Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan

identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam

dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu

masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh

para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah

kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.


Desain dan corak bangunan Aya Sofia

sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam

membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki

Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.Kubah

besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh

arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.


Salah satu karya terbesar Sinan yang

mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di

Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya

Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek

wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang

menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.


Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya

Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur

Islam, khususnya arsitektur masjid.

 


Adanya kontak budaya antara

orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah,

arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan

bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas.

Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur

ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat

megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(*)





Kirim Komentar Anda




Komentar Untuk Artikel Ini


Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/08/21/mrvdhl-geliat-islam-di-polandia


Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

Sunday, May 19, 2013

Bangun Masjid Megah di Tengah Kremlin Putih

TRIBUNNEWS.COM, TATARSTAN – KETIKA mendengar nama Kremlin, biasanya terbayang sebuah benteng kuno yang kini menjadi pusat pemerintahan Republik Federasi Rusia di jantung Kota Moskow. Namun sebenarnya nama Kremlin tidak hanya ada di Moskow.


Ada Kremlin lain yang belum banyak dikenal yaitu di Kota Kazan, ibukota Republik Tatarstan, sekitar 800 km sebelah barat Kota Moskow. “Kami menyebutnya sebagai Kremlin Putih.


Sedangkan di Kota Moskow itu sering disebut Kremlin Merah,” ujar Achkinazi Ekaterina atau akrab dipanggil Katya, seorang alumnus Fakultas Bahasa Inggris Universitas Kazan, kepada Tribunnews.


Tribunnews berkesempatan mengunjungi Kazan atas undangan pemerintah Republik Tatarstan, pada 8-11 Mei 20013. Republik Tatarstan merupakan bagian dari Republik Federasi Rusia, namun mempunyai pemerintahan independen.


Negara itu dipimpin Presiden Rustam Minnikanov dan  Perdana Menteri Halikov Iidar. Sedangkan parlemen Tatarstan diketuai Farid Mukhamestsin. Dilihat dari namanya, para pemimpin itu berasal dari etnis Tatar yang mayoritas pemeluk agama Islam.


Rumah dinas Presiden Rustam Minnikanov berada di Kremlin Putih alias Kremlin Kazan, begitu pula sejumlah kantor kementerian berada di kompleks seluas 13 hektare  yang dikelilingi tembok sepanjang 1,8 km tersebut. Keunikan kompleks Kremlin Putih yaitu adanya sebuah masjid yang sangat megah, bernama Masjid Kul Sharif.  


“Masjid ini bukan sekadar tempat bersejarah tetapi juga tempat ibadah warga Tatar yang beragama Islam,” ujar Diana, warga Kota Kazan beragama Islam saat ditemui di Masjid Kul Sharif.


Masjid itu diberi nama Kul Sharif untuk menghormati imam masjid dan pemimpin agama Islam di Kesultanan Volga Bolgaria. Kerajaan Islam itu berada sekitar 180 km sebelah selatan Kota Kazan. “Dari wilayah Volga Bolgaria itulah agama Islam berkembang ke wilayah yang sekarang disebut Republik Tatarstan,” kata Katya.


Masjid Kul Sharif dibangun 1996-2005, didisain artistek bernama S Latypova, I Saifulllina, M Safronova, dan A Sattarofa. Masjid dilengkapi delapan menara, menempati areal seluas 1,9 hektare. Empat menara utama tingginya 57 meter, sedangkan dua menara lebih lebih kecil dan dua menara lainnya berada di atas pintu masuk.


Bangunan masjid bertingkat lima, terdapat kubah utama setinggi 39 meter dan diameter 17,5 meter. “Setiap Jumat, banyak warga muslim Kota Kazan salat Jumat di masjid ini,” ujar Diana.


Donasi umat
Pernak-pernik Masjid Kul Sharif membuat pengujung berdecak kagum. Mamer yang dipakai di dalam maupun luar masjid berasal dari Chelyabinsk, sebuah kawasan penghasil marmer di Tatarstan.


Dekorasi masjid punya sentuhan unik. Ada sejumlah kaligrafi, ukiran ayat-ayat suci Alquran di gipsum, kayu, dan batu. Bagian depan masjid gedung terbuat dari granit dan marmer. Lantai untuk jamaah ditutupi karpet dari Persia.


Pembangunan masjid didanai pemerintah Federal Rusia, dan  donasi sejumlah organisasi Islam serta umat Islam dari penjuru Tatarstan.  Nama-nama penyumbang dana pembangunan ditulis di serambi masjid.
 
Sheik Kul Sharif merupakan seorang negarawan, diplomat andal, dan seorang pujangga. Ketika Kazan Khan Yadigar menjazdi Sultan Volga Bolgaria , Kul Sharif bergabung menjadi pejabat kesultanan dan mengurus pemerintahan harian.


Setelah kematian ayahnya 1546,  Kul Sharif diangkat menjadi pemimpin agama di kesultanan itu. Ia pernah menjadi menjadi panglima perang yang hebat dan meninggal saat mempertahankan Kota Volga Bolgaria pada 1552.


Republik Tatarstan terbagi menjadi 43 wilayah administratif, semacam kota dan kabupaten di Indonesia. Kazan, ibukota Tatarstan berada di tepian sungai Volga, sebuah sungai terpanjang di Eropa.


Seperti Indonesia, Republik Tatarstan merupakan negeri tempat hidup berbagai pemeluk agama. Agama yang paling banyak dianut warga Tatarstan yaitu Islam dan Kristen Otodoks. Dalam jumlah lebih sedikit ada juga pemeluk agama Katholik, Kristen Protestan, agama Yahudi, dan Krisnaism.


“Seperti juga di Indonesia, warga Tatarstan sangat menjaga tolerensi beragama. Kami dapat hidup rukun. Anda bisa lihat sendiri, bukan sesuatu yang aneh di sini kalau letak masjid dan gereja saling berdekatan,” ujar Sergey Ivanov, Deputi Menteri Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Republik Tatarstan.  


Sergey Ivanov memang tidak sedang membual. Menjelajah Kota Kazan, gereja Kristen Ortodoks dan masjid, tampak bertebaran. Di kompleks Kremlin Putih, bahkan Masjid Kul Sharif bertetangga dengan Kathedral Blagoveshchensky. (febby mahendra)


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Bangun Masjid Megah di Tengah Kremlin Putih

Wednesday, June 26, 2013

Masjid Baitul Ihsan Keindahan yang Jadi Nilai Tambah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Mohammad Akbar


Deretan pohon kurma dan palem menghiasi tampilan Masjid Baitul Ihsan. Sebuah keindahan yang asri tersaji di halaman depan masjid yang berada di lingkungan kompleks PLN Gandul, Depok. Dari luar, pesona masjid yang berdiri di atas hamparan sekitar 1.000 meter persegi ini telah terlihat.


Bangunan utamanya berbentuk kotak. Luas bangunan masjid ini sekitar 800 meter persegi. Tetapi, sebagai ornamen penghiasnya dihadirkan bentuk lengkung an yang lebih mencerminkan adopsi gaya arsitektural bangunan Islam di Kordoba, Spanyol.


Secara umum, masjid ini memiliki empat kubah. Kubah utama berukuran diameter sekitar 20 meter. Letaknya ber ada di bagian tengah bangunan. Pada bagian kubah utama ini, terlihat ku bah kecil yang ditumpukkan pada bagian atas dengan lambang bulan sabit di bagian ujungnya. Tampilan kubah kecil yang menumpuk ini pada dasarnya hanya sebagai bentuk hiasan saja bagi kubah utama.


Selain kubah utama, terdapat pula dua kubah yang berukuran lebih kecil. Posisi kubah tersebut tepat berada di atas menara. Sedangkan, satu kubah lainnya berada di bagian mihrab. Sayang nya, untuk kubah yang terakhir ini tidak begitu jelas terlihat jika kita berada di sisi halaman muka masjid.


Lengkung-lengkungan
Dua menara menghiasi bagian mu ka masjid. Adopsi desain menara ini lebih menyerupai tampilan fasad di Masjid Raya Bogor. Tampilannya mengadopsi desain hypostyle atau Arabplan. Gaya ini menjadi salah satu keagungan seni arsitektur Islam yang pernah tumbuh pada masa Abbasiyah dan Umayyah.


Bagian menara ini menyatu dengan bagian inti masjid. Bagian dasar menaranya berbentuk kotak. Dengan posisinya yang menyatu dan berbentuk kotak itulah yang memberikan ke san gagah bagi tampilan fasad mas jid. Sedangkan, untuk bagian selasar masjid, dihiasi oleh atap yang melengkung. Lengkunganlengkungan itu menghiasi setiap ruas antartiang. Tampilan lengkungan semacam ini juga banyak terlihat pada bangunan bergaya hypostyle.


Cecep Supendi, manajer operasional Masjid Baitul Ihsan, menceritakan tampilan yang ada sekarang ini sebenarnya merupakan hasil renovasi. Dulu, masjid ini berbentuk persegi enam dengan bentuknya yang sederhana.


Lantas merujuk pada prasasti yang tertempel di dinding masjid, renovasi masjid ini peresmiannya ditandatangani oleh Eddie Widiono, direktur Utama PT PLN, 17 November 2006. “Tampilan bergaya Eropa yang muncul sekarang ini lebih ditujukan pada kepentingan artistiknya saja, tak banyak makna yang disimpannya,” kata dia saat berbincang kepada Republika.


Lalu, ketika melihat ke bagian interior, sentuhan seni tak terlalu begitu menonjol. Bentuk melengkung justru lebih menonjol pada bagian jendela. Dengan menggunakan material kayu, kusen dan jendela masjid yang dipilih berbentuk melengkung. Bentuk tersebut terlihat serasi dengan tempias yang juga membentuk tampilan melengkung.


Sedangkan, pada bagian mihrab yang lebih ditonjolkan adalah hiasan dari bahan granit. Setiap sisi dari hamparan granit itu dibuat dengan sisi miring 45 derajat. Hiasan semacam ini juga selaras dengan kacakaca jendela masjid yang dibuat dengan teknik kaca bevel.


Di bagian atas mihrab terdapat sebuah bulatan yang memancar sinar. Di dalam bulatan itu tertulis kalimat Allah dalam bahasa Arab. Sedangkan, cahaya yang muncul itu tak lepas dari pilihan kaca patri yang dipakai. Sebagaimana fungsi dari kaca patri maka cahaya yang masuk tidak langsung menyeluruh, sehingga membuat suasana di dalam menjadi panas. Cahaya yang melewati kaca patri ini menjadi me mendar se hingga mem berikan efek luas bagi cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Inilah yang tersaji pada bagian interior masjid.


Mengutamakan pemanfaatan
Pada bagian mihrab ter dapat pula bentuk ce kungan atau ceruk. Di bagian ceruk inilah terdapat lubang. Di bagian atasnya menjadi tempat kubah. Di bagian ini tak terlalu banyak dihadirkan ornamenornamen yang mendetail.


Sementara, pada bagian bawah kubah utama juga demikian. Tampilan yang tersaji hanya dominasi sebaran cat berwarna putih tanpa diberikan hiasan yang menambah nilai estetika. Permainan seni kaligrafi yang ada di masjid ini hanya tersaji di beberapa bagian saja. Di antaranya, mengelilingi bagian balokan di bawah kubah yang berbentuk kotak persegi empat.


Adapun kaligrafi yang menghiasinya berasal dari penggalanpenggalan surat di dalam Alquran, seperti Surat atTaubah ayat 18, atTaubah (108), alBaqarah (284), atTahrib (6), dan alAnkabut (45). Hiasan kaligrafi lainnya berisi huruf Arab tentang namanama baik Allah atau As maul Husna. Penempatan As maul Husna itu disebar ke setiap sudut ruangan. Setiap Asmaul Husna itu dibingkai dalam ruang bujur sangkar.


S e c a r a umum pada bagian interior ini terdapat dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai ruang ibadah bagi jamaah lelaki, sedangkan pada lantai balkon menjadi tempat ibadah bagi kaum hawa dan juga seba gai tempat pe nampung tambahan jika lantai ba wah sudah terisi penuh. “Daya tampung di sini bisa mencapai 1.000 jamaah lebih,” ungkap Cecep.


Cecep menjelaskan secara konsep masjid ini tidak terlalu terpatok pada sebuah adopsi desain Eropa atau Timur Tengah. “Tetapi, lebih mengedepankan sisi manfaatnya saja. Kalaupun terlihat indah, itu menjadi nilai tambah bagi masjid ini,” ujarnya.


Semarak Kegiatan di Rumah Kebaikan
Kehadiran sebuah masjid tak selamanya hanya mengandalkan sisi keindahannya. Tapi, jauh lebih bermanfaat adalah bagaimana menjadikan peran masjid ini mampu memberi faedah bagi lingkungan sekitar. “Konsep itulah yang coba kami ke depankan. Sebagaimana makna dari Baitul Ihsan maka kami ingin masjid ini bisa menjadi tempat yang memberi kebaikan dan manfaat bagi orangorang yang ada di sekitarnya,” kata Cecep Supendi, manajer operasional Masjid Baitul Ihsan.


Cecep pun menjelaskan sejumlah aktivitas yang diharapkan bisa menyemaikan nilai-nilai kebaikan bagi lingkungan sekitar. Di antaranya, di masjid ini terdapat juga sekolah setingkat SMP dan SMK. “Sekolah ini ditujukan bagi kaum dhuafa. Biayanya gratis,” kata dia.


Selain menyediakan pendidikan formal, Cecep juga menjelaskan, secara rutin pula pihaknya menggelar kegiatan yang mempertebal nilai keimanan. Bentuknya majelis taklim, kajian keilmuan dan Alquran, hingga pembinaan Alquran bagi anak-anak. “Alhamdulillah untuk kegiatan kajian Islam kami melakukannya secara rutin, mulai dari Senin hingga Ahad selalu ada,” ujarnya.


Article source: http://www.utusan.com.my/utusan/Bicara_Agama/20130626/ba_03/Pengalaman-jadi-kelebihan


Masjid Baitul Ihsan Keindahan yang Jadi Nilai Tambah

Thursday, June 27, 2013

Senja di Kota Lama Jerusalem



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>






KUBAH Dome of the Rock itu berkilauan diterpa sinar matahari sore. Warna kuning emasnya begitu cemerlang. Entah sudah berapa kali mata memandang kubah Masjid Umar yang menjadi ”landmark” Jerusalem itu. Namun, sekejap pun tak ada rasa jemu. Penat tubuh setelah seharian jalan mengelilingi kota yang dahulu pernah ditapaki para nabi itu justru hilang begitu masuk kota tua Jerusalem yang didirikan sekitar 1.800 SM.”Inikah yang disebut kota para nabi?” tanya seorang sahabat yang menjadi teman perjalanan.

Ya. Inilah bumi para nabi. Begitulah orang biasa menyebut. Cobalah baca lagi puisi yang ditulis Nizar Tawfig Qabbani (1923-1998), diplomat sekaligus penyair dan penerbit asal Suriah:

Oh Jerusalem yang wangi oleh para nabi


Jalan terpendek antara langit dan bumi….


Seorang anak cantik dengan jemari terbakar dan mata menunduk….


Oh Jerusalem, kota penderitaan,


Sebutir air mata menggenang di matamu….


Kau akan mencuci tembok-tembokmu yang berdarah?


Oh Jerusalem, yang kucintai


Esok pepohonan lemon akan berbunga; pepohonan zaitun akan bersuka cita; matamu akan menari-nari; dan merpati-merpati terbang kembali ke menara-menara sucimu.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Gereja Makam Kristus.
Akhir zaman

Jerusalem atau Yerushalayim (Ibrani) dalam dirinya sudah mengandung kedamaian. Konon, nama Jerusalem berarti ”warisan perdamaian”—”warisan” (yerusha) dan ”damai” (salem atau shalom). Begitulah yang tercatat dalam sejarah Jerusalem.


Namun, apalah arti sebuah nama. Sebab, Jerusalem yang juga disebut ”Kota Suci” selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan; impian, dambaan, dan sasaran rebutan para penguasa dunia. Meskipun kota yang berada di puncak perbukitan Yudea itu tidak punya nilai strategis, kota ini berkali-kali dihancurkan dan kemudian dibangun lagi. Sejarah seperti tergores pada tumpukan batu dan tembok-tembok kota yang hingga kini masih berdiri kokoh.


Lihatlah, Menara Daud yang juga disebut Pintu Gerbang Jaffa, di bagian barat tembok Kota Lama. Di tempat itulah dahulu, pada tahun 1187, Sultan Saladin dengan pasukannya bersiaga sebelum merebut kota. Saladin duduk tegak di atas kuda putihnya dan kedua matanya memadang tajam tembok kota.


Dari puncak Bukit Zaitun, di sebelah timur Kota Lama, yang dipisahkan Lembah Kidron, terlihat Pintu Gerbang Kerahiman yang begitu megah. Ini pintu gerbang terpenting—dari delapan pintu gerbang Kota Lama—sebab lewat pintu inilah nanti di akhir zaman diyakini Sang Pengadil Agung akan masuk ke Jerusalem untuk mengadili semua manusia.


Di Lembah Kidron inilah dimakamkan begitu banyak orang, dari dulu hingga sekarang. Bahkan, di sekitar Kota Lama banyak makam: makam Yahudi, makam Kristen, dan makam Muslim. Batu-batu nisan dan tanda kubur berlomba menunjuk ke langit. Mereka yang dimakamkan di tempat itu yakin akan bangkit sebagai yang pertama dari kubur nanti di akhir zaman.


Via Dolorosa


Ketika kaki menyusuri jalan-jalan bebatuan di Kota Lama yang sempit, kiri-kanan tembok-tembok tinggi atau toko-toko cendera mata, tiba-tiba pikiran seperti ditarik ke masa lalu. Di jalan bebatuan itu dulu tentara Romawi dengan naik kuda berpatroli. Bunyi teplak, teplok, teplak, teplok… benturan kaki kuda dengan badan jalan seperti terngiang-ngiang di telinga. Jauh masa sebelumnya, di jalan bebatuan itu, para nabi berjalan disanjung dan dimaki.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Tembok Ratapan
Coba susuri Via Dolorosa, Jalan Penderitaan yang bagi umat Nasrani menjadi jalan paling penting di jagat ini. Di sepanjang jalan itulah, 2.000 tahun silam, Yesus, Nabi Isa, berjalan memanggul salib menuju Bukit Golgota. Itulah jalan air mata. Itulah jalan cinta, sekaligus jalan kemanusiaan.

Namun kini, dibutuhkan perjuangan keras dan berat agar bisa konsentrasi untuk bisa berdoa khusuk di sepanjang jalan itu. Karena di kiri- kanan Via Dolorosa yang sempit sekitar dua meter, penuh tokoh-toko cendera mata, juga menjadi jalan kendaraan roda dua dan empat. Para pedagang akan terus menawarkan dagangannya berbagai macam cendera mata kepada para peziarah.


Kadang para peziarah harus berjalan menepi, mepet tembok karena ada mobil yang melintas di jalan cinta itu. Rombongan peziarah yang berusaha khusuk berdoa tak jarang harus tercerai berai karena motor pengangkut barang yang menerabas di tengah-tengah mereka.


Suatu senja


Masjid Umar dengan kubah Dome of the Rock-nya yang merupakan salah satu dari begitu banyak situs di Jerusalem masih berdiri tegak setelah berbilang tahun. Di sana juga masih ada Masjid Al Aqsa, Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, dan banyak tempat suci dan yang disucikan lainnya. Kesemuanya itu lebih menyerupai halaman-halaman manuskrip yang disulam dengan benang sutra menjadi satu buku yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.


Karena itu, Jerusalem atau yang dalam bahasa Arab disebut Al-Quds merepresentasikan jantung tiga agama dunia: Islam, Judaisme, dan Kristen. Jerusalem diyakini menjadi tempat penting di bumi ini untuk komunikasi antara Tuhan dan manusia. Langit di atasnya menjadi penghubung terdekat antara bumi dan surga.


Tengoklah pada celah-celah di Tembok Barat (Tembok Ratapan), tempat orang Yahudi berdoa, begitu banyak kertas berisi doa dan permohonan yang diselipkan. Setiap tahun, kertas-kertas itu diambil dan dikubur di Bukit Zaitun karena dianggap suci. ”Benar kata orang, di Jerusalem, kebenaran sering jauh lebih penting ketimbang mitos,” komentar rekan seperjalanan.



KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Toko Cendera Mata.
Ketika langit di barat semakin memerah, suara azan masjid yang disusul dentang lonceng gereja petang itu menyeruak langit Jerusalem. Ada hawa kedamaian yang menyebar karenanya. Di Tembok Ratapan, puluhan orang Yahudi masih mendaraskan doa dan permohonan mereka kepada Yahwe, Tuhan Allah mereka. Bau dupa menyebar di Gereja Makam Suci, tempat ziarah umat Kristiani. Sebentar lagi pintu gereja akan ditutup.

Senja itu, mengingatkan bahwa Jerusalem adalah rumah satu Tuhan, tempat ibadah tiga agama… yang sekarang masih diperebutkan. Senja juga menjadi pertanda bahwa Matahari telah meninggalkan Jerusalem.


Ada segenggam damai di kota tua, senja itu…. (Trias Kuncahyono)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>

































Article source: http://news.detik.com/read/2013/06/27/132543/2285850/10/lipi-prabowo-menang-lawan-siapa-pun-kecuali-jokowi


Senja di Kota Lama Jerusalem

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Friday, July 26, 2013

Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini


Masjid berarsitektur indah yang didominasi warna biru dan putih ini merupakan masjid terbesar di Rusia, bahkan di Eropa yang berada di wilayah Kazan. Di Rusia, Islam adalah agama terbesar setelah Kristen Ortodok. Pada masa pemerintahan Presiden Vladimir Putin, Islam di Rusia mulai mendapat perhatian khusus. Masjid-masjid yang pernah ditutup pada masa Uni Soviet perlahan kembali dibuka dan aktif. Ratusan masjid mulai dibangun di berbagai tempat di Rusia yang terdapat banyak komunitas muslim.



Tahun 2005 masjid yang juga disebut Kul Sharif ini didirkan bertepatan dengan seribu tahun Kota Kazan. Dinamakan Kul Sharif, untuk menghormati pahlawan nasional mereka dari etnis Tatar bernama Kul Sharif. Kul Sharif atau juga Qolsarif meninggal dunia dengan sejumlah muridnya ketika mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1.552.



Masjid yang dirancang dengan megah ini bisa menampung sekitar setengah ribu orang dan di alun-alunnya bisa menampung sekitar sepuluh ribu orang. Bangunan masjid mempunyai delapan menara masing-masing tingginya 57 meter. Kubah-kubahnya memiliki bentuk dan corak dekoratif khas Kazan, berbentuk seperti mahkota khan pada masa Kekhazanan Kaza sekitar abad ke-16.



Sebenarnya masjid ini dibangun pada abad ke-16 di Kazan Kremlin (benteng). Bangunan ini memiliki minaret (menara), keduanya dalam bentuk cupola (kanan) dan tenda (kiri). Bentuknya bergaya tradisional Volga Bulgaria, dengan sentuhan elemen Renaisans awal dan arsitektur Ottoman (Turki Utsmani). Saat penyerangan ke Kazan tahun 1.552 masjid ini dihancurkan oleh Rusia.



Bangunan masjid didesain oleh para arsitek Rusia bernama Sayfullin dan S Shakurov. Interiornya dirancang oleh A Sattarov. Sentuhan tradisional tidak menghilangkan kesan modern dari masjid ini. Beberapa temuan sejarah menjelaskan Islam telah ada di wilayah Federasi Rusia sejak abad ke-10. Persisnya di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan dan salah satu kota terbesar di Rusia yang masuk wilayah Eropa Timur.



Penjelasan tersebut merujuk pada penemuan masjid yang diyakini berusia seribu tahun lebih. Para arkeolog menemukan reruntuhan lain berupa bebatuan putih di dekat salah satu benteng kuni. Menurut peneliti, bangunan itu menghadar ke arah Mekkah. Di lokasi bekas temuan reruntuhan masjid itulah berdiri megah masjid Qolsarif. Paduan warna putih dan biru dari masjid ini mengingatkan kita pada gradasi langit biru yang cerah dan indah, serta menawan.



Qolsarif terdiri dari dua tingkat. Lantai atas untuk ruang salat sedangkan di bawah digunakan untuk keperluan pendidikan, museum dan administrasi. Di halaman ada dua paviliun besar dan kolam dengan ornamen Timur Yengah. Masjid ini menjadi titik lanskap terpenting di Kazan. Di sini juga terdapat ruang perpustakaan, ruang publikasi dan ruang khusus bagi para Imam.



Masjid ini berdampingan dengan sebuah katedral. Kini masjid tersebut sering digunakan untuk kepentingan umat muslim di Rusia serta menjadi islamic center untuk merayakan hari raya, dan hari-hari besar keagamaan lainnya. | berbagai sumber



Lihat vide kemegahan dan cantiknya interior Qolsarif di sini


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Subhanallah, cantik dan megahnya Masjid Qolsarif di Rusia ini

Saturday, June 1, 2013

Mesjid Mevlana di Konstanz


Siang hari pada sebuah Jumat yang dingin di kota Konstanz. Walaupun udara membekukan badan, sekitar 100 orang berkumpul di depan pintu kayu mesjid. Mereka lantas melepas sepatu sambil berbincang-bincang, lalu bergiliran mengambil air wudhu. Percakapan berlangsung dalam beberapa bahasa, Jerman dan Turki yang paling banyak digunakan. Lima menit berlalu, pintu dibuka dan semua melangkah masuk.



Adegan ini berulang setiap Jumat di mesjid Mevlana. Sekitar 4.000 umat muslim bermukim di Konstanz. Hampir separuhnya merupakan generasi ke dua atau ke tiga dari pendatang Turki. Salah satunya Kurban Aras, anggota Dewan “Komunitas Muslim Turki”. Ahli pembuat sepatu berusia paruh baya itu mengenang, saat organisasinya memulai dialog dengan masyarakat Kristen dan dewan kota, sebelum mesjid dibangun tahun 2000. Mereka sama sekali tidak menghendaki munculnya rasa saling curiga. Mesjid itu bahkan dibangun dengan menara setinggi 35 meter, ketika itu yang paling tinggi di Jerman.



„Kami tinggal di sini, di Jerman. Kami warga Jerman yang baru. Dan anak-anak kami akan menetap di sini. Karena itu kami juga harus membangun mesjid baru yang bagus di sini. Untuk itu kami berbicara dengan masyarakat sekitar. Gereja-gereja juga mendukung kami,” dikatakan Kurban Aras.



Sebelum mesjid dibangun, berkali-kali perhimpunan umat Muslim mengundang masyarakat yang skeptis untuk menghadiri pertemuan. Wakil umat Kristen ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan ikut hadir dalam pesta selamatan. Dari situlah muncul kelompok kerja bagi pertemuan umat Kristen dan Islam.



Lebih dari satu dekade berlalu dan mesji Mevlana menjadi bagian dari panorama kota. Warga Muslim tampaknya berhasil membangun kepercayaan masyarakat kota Konstanz. Bukan hanya berpartisipasi dalam acara-acara yang dilakukan pemerintah kota, tetapi juga aktif dalam kegiatan kepemudaan. Tujuan resmi yang ingin dicapai pengurus mesjid adalah “berkontribusi bagi pemahaman yang baik antara warga Muslim dan non-Muslim, dan menawarkan peluang bagi umat Muslim untuk merasa sebagai bagian dari masyarakat kota Konstanz.



Mesjid Mevlana juga menarik perhatian warga di negara tetangga, Swiss. Ismail Toprak, wakil imam di mesjid Mevlana menyambut gembira fenomena wisata menara mesjid’. Dengan bangga ia menuturkan bahwa semakin banyak warga Swiss, Muslim maupun non-Muslim yang berkunjung ke mesjid Mevlana.



Di mesjid ini, khotbah disampaikan dalam Bahasa Jerman, yang dipahami sebagian besar warga Swiss. Faktor bahasa ini juga yang merupakan nilai tambah, mengingat umat Muslim yang datang ke mesjid Mevlana berasal dari negara yang berbeda-beda, terang Toprak, yang berasal dari Turki.



“Kita di Jerman, atau di negara lain, harus menggunakan bahasa negara yang bersangkutan sebagai bahasa pertama untuk khotbah. Dan bahasa lainnya sebagai bahasa ke dua. Generasi penerus kami hanya memahami Bahasa Jerman. Kalaupun mereka mengerti Bahasa Turki, mereka tidak memahami istilah-isitlah Islam dalam Bahasa Turki,” demikian papar Ismail Toprak.



Yasser Abumuailek/Asril Ridwan



Editor: Yuniman Farid


Article source: http://www.analisadaily.com/news/2013/5685/nomor-porsi-aman-haji-sumut-sementara-0200077128/


Mesjid Mevlana di Konstanz

Wednesday, February 6, 2013

Bali Punya 5 Tempat Ibadah Dalam 1 Komplek


Masjid Agung Ibnu Batutah

Masjid Agung Ibnu Batutah

detikTravel Community - 

Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, punya pemandangan yang beda. Di sini, Anda dapat melihat 5 rumah ibadah yang terletak dalam satu komplek. Suasananya yang tenang pun mampu mendamaikan hati ini.

Dalam perjalanan dari Nusa Dua menuju ke Uluwatu, saya melihat sesuatu yang unik. Nama tempat tersebut ialah Pusat Peribadatan Puja Mandala. Ada 5 bangunan di sini. Masing-masing bangunan dalam lokasi tersebut merupakan tempat ibadah umat Islam, Katholik, Protestan, Buddha, dan Hindu. 

1. Masjid Agung Ibnu Batutah

Interior luar Masjid Agung Ibnu Batutah, seperti masjid-masjid pada umumnya. Warna kuning lebih mendominasi masjid ini. Masjid Agung Ibnu Batutah memiliki tiga lantai dan lantai pertama diperuntukkan bagi kaum wanita.

2. Gereja Katholik, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa

Bangunan gereja ini sama seperti kayaknya gereja yang ada di luar Bali. Tidak seperti gereja-gereja Katholik di Bali yang umumnya mempunyai bentuk unik. Di depan bangunan utama terdapat menara lonceng. Saya paling suka mendengar bunyi lonceng dari gereja. 

Sesuai dengan agama saya, jadi saya pun menyempatkan masuk ke dalam Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Interior di dalamnya juga seperti gereja-gereja pada umumnya. Ruangannya cukup besar dengan altar dan barisan kursi umat. Yang menarik dari gereja ini ialah lantainya yang bersih menimbulkan refleksi altar serta kursi. Cantik!

3. Vihara Buddha Guna

Nah, ini dia yang saya suka. Banyak patung cantik di luar bangunan Vihara Buddha Guna. Dari patung gajah putih di bagian depan, naga putih di samping, dan tentunya patung Buddha. Warna putih dan emas mendominasi vihara ini. Pantulan cahaya matahari waktu itu pun membuatnya semakin cantik.

4. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua

Di Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua, juga memiliki menara lonceng. Walaupun, bentuk lonceng di gereja ini berdeda bentuk. Bangunan utama gereja ini terdiri dari dua lantai, dengan dinding marmer. Sayang, saya tidak meihat interior di dalam, mungkin saja ada yang menarik.

5. Pura Jagatnatha

Keberadaan pura memang sudah umum di Bali. Pura Jagatnatha yang ada di lokasi ini juga sama seperti pura pada umumnya. Bangunan puranya terbuat dari batu berwarna hitam dan terdapat gapura pintu masuk. Karena pintunya tertutup, saya pun tidak bisa melihat bagian dalam.

Sungguh kagum saya melihat kompleks ini. Yuk, kita jalin kerukunan antar umat beragama di Indonesia tercinta.


Bali Punya 5 Tempat Ibadah Dalam 1 Komplek

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Tuesday, February 12, 2013

Warga Tionghoa Indonesia Nikmati Kebebasan Jalankan Tradisi Budaya Leluhur

Tidak semua warga Tionghoa mengatakan bisa mempraktekkan kepercayaan mereka secara terbuka.

Adzan, misalnya, tidak identik dengan Tahun Baru Imlek. Tetapi bagi sekelompok kecil warga Tionghoa, adzan jadi identik dengan perayaan “Tahun Ular” ketika dirayakan ala Islam di masjid ini.

“Saya baru pertama kali merayakan Tahun Baru Imlek di sebuah masjid karena saya baru menjadi mualaf bulan September lalu,” ujar Cung.

Itulah pendapat Cung Li Ha yang berusia 27 tahun. Sebagai bagian dari kelompok minoritas Tionghoa, pilihan agama menjadikannya seperti orang aneh di negara mayoritas berpenduduk Muslim ini.

Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, sekitar 9 juta terdiri dari warga Tionghoa – yang kebanyakan beragama Budha, Kristen dan Konghucu. Sedikit sekali yang beralih ke agama Islam.

Cung Li Ha mengatakan masih ada beberapa tantangan besar. Pagi ini misalnya, ia harus berbohong pada keluarganya tentang kemana ia akan pergi.

“Ini sangat sulit karena keluarga Tionghoa umumnya tidak dapat menerima jika anak-anak atau keluarganya beralih menjadi Muslim. Mereka umumnya lebih terbuka terhadap agama Kristen,” ungkap Cung.

Semasa masa kediktatoran Soeharto selama tiga puluh tahun, bahasa dan tradisi budaya Tionghoa ditekan.

Tapi sepuluh tahun terakhir ini warga Tionghoa bisa bebas merayakan Imlek – atau “Tahun Baru Cina” – dengan perayaan yang lebih rinci.

Di Jakarta, hiasan naga Cina berukuran besar digantung di beberapa pusat perbelanjaan dan di kuil-kuil, sementara ribuan jemaat berdoa sambil menyalakan dupa.

Tetapi warga Muslim-Tionghoa tidak suka pamer.

Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).
​​Dalam komunitas warga Tionghoa ada persepsi bahwa Muslim-Tionghoa telah kehilangan warisan budaya mereka dan bukan lagi warga Tionghoa. Namun, warga Tionghoa yang berada di Masjid Lautze berbeda pendapat.

Ali Karim yang dibesarkan sebagai warga Muslim-Tionghoa mengatakan, penting untuk membedakan tradisi dan agama.

Masjid Lautze adalah satu-satunya masjid yang Jakarta yang punya ciri-ciri khas Tiongkok. Bukannya dihiasi dengan kubah tradisional dan menara, pintu masuk masjid ini dihiasi lampion merah.

Di dalam masjid ada kaligrafi Tiongkok kuno – yang bertuliskan kata-kata “Nabi Muhammad” – tergantung di dinding-dinding, dan sajadah sholat bergambar Mekkah berwarna merah cerah.

Mudhi Astuti yang berusia 46 tahun mengatakan di masjid Lautze ia merasa seperti berada di rumah, meskipun ia bukan warga Tionghoa. Ia mengatakan sekitar seribu warga Tionghoa yang beralih ke agama Islam di masjid Lautze, kebanyakan ditolak oleh keluarga mereka.

Sebagian di antara mereka bahkan meninggalkan pasangan dan anak-anaknya dan beralih ke agama Islam. Tetapi, waktu akan menyembuhkan semua ini – ujarnya – dan kadangkala setelah beberapa tahun mereka kembali membangun hubungan baik dengan keluarga mereka.

Ini merupakan tantangan rumit bagi Cung Li – yang baru saja masuk Islam – dan masih mencoba berhubungan dengan keluarganya. Ia mengatakan khawatir keluarganya tidak bisa menerima agama barunya, tetapi sejauh ini menurutnya perayaan Tahun Baru tidak terlalu berbeda.

“Saya kira ini sama saja. Hanya saja saya tidak pergi ke kuil, dan berdoa di depan meja yang dipenuhi nama-nama nenek moyang. Saya tidak melakukan itu dan saya mencoba untuk tidak makan babi, tetapi saya masih makan kue yang dibuat ibu saya, dan mie. Tetapi selain itu saya berupaya untuk tidak menyentuh makanan yang haram,” ujarnya.

Pada tahun baru ular ini, Cung Li Ha berharap bisa berani memberitahu kedua orang tuanya bahwa ia sudah masuk Islam. Meskipun tambahnya, mereka mungkin sudah tahu.

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=257675:hanya-lima-persen-umat-islam-sumbang-ekonomi&catid=77:fokusutama&Itemid=131


Warga Tionghoa Indonesia Nikmati Kebebasan Jalankan Tradisi Budaya Leluhur

Tuesday, July 2, 2013

Cinta Lelaki Aktivis

(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)



“Tidak seharusnya kita berfikir seperti itu ukhti. Kita tidak boleh egois memaksakan kehendak. Kita ini aktivis dakwah, kita hanya bisa mengajak dan menasehati. Serta memberikan kemafhuman bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil

 

Urusan terima atau tidaknya, itu bukan hak kita untuk memaksanya berubah menjadi muslimah yang mengamalkan Islam secara kaffah. Kita tawakkal serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla. Itulah ikhtiar kita. Dan yang paling penting bagi kita selaku aktivis dakwah, isbirun dan jangan menjauhinya tapi berlaku baiklah dan rangkullah ia.

Dakwah ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tidak mudah menjadikan seseorang berubah secara total. ”

 

Penjelasanku panjang lebar kepada Zahra yang berharap sekali teman perempuannya berubah menjadi muslimah yang menjalankan syariat Islam minimal memakai jilbab. Zahra salah satu akhwat seperjuanganku. Kulihat wajahnya mulai tenang mendengarkan nasihatku.

 

Zahra yang sangat bersemangat ketika berbicara masalah dakwah fi sabilillah guna menyelamatkan generasi muda dari arus globalisasi dan produk-produk yahudi yang liberal dan ingin menghancurkan generasi umat Islam dengan berbagai cara. Bahkan prioritas dan azzam-nya yang membuatku kagum pada Zahra. “Kalaupun aku harus mati dijalan-Nya, maka I’m pround and that my choice” gumamnya suatu ketika bersamaku dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu pondok pesantren.

 

“Tapi kak ! bukankah mereka sudah sering Zahra sampaikan bahwa kewajiban menutup aurat itu perintah Allah yang termaktum didalam Alquran” protes Zahra yang belum sepenuhnya menerima penjelasanku. Aku berfikir positif mungkin karena keinginannya yang terlalu besar sehingga menutup pikirannya untuk berfikir secara realistis.

 

“Benar sekali yang ukhti sampaikan, tapi yang harus diingat siapapun dan darimanapun orang yang menyampaikan kalau bukan dirinya sendiri yang tidak mau berubah maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah ukhti sering mendengarkan firman-Nya dalam surah Ar-Ra’ad 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”

 

Jadi disamping kita menyampaikan kebenaran itu, maka diperlukan juga dorongan motivasi dari dalam diri kita untuk melakukan perubahan, bukan sebaliknya. Bersifat apatis terhadap hidup kita. Jika hidup kita biasa-biasa saja dan bersahabat dengan lembah kehinaan dengan melakukan kemaksiatan, kita biarkan diri kita ikut arus tanpa mencoba untuk melawan arus itu. Berprinsip mengalir apa adanya tanpa ada kemaun untuk melakukan sebuah revolusi kearah yang lebih baik.

 

Zahra mendengarkan untaian-untaian kalimat yang kuucapkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata tersebut, tapi aku yakin Zahra bisa memahaminya. Entah karena untaian nasehat yang kuucapkan kulihat pelupuk matanya menampung air yang bening. Hingga kelopak mata tersebut tak mampu lagi untuk membendungnya seketika menetes membasahi pipinya yang bak baby face. Mata yang binar itupun sayup dan kemerahan.

 

Percakapanku dengan Zahra terhenti seiring dengan terdengarnya seruan menghadap pada Sang Khaliq dari menara masjid. Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan Zahra melangkahkan kaki ini memenuhi seruan-Nya. Karena kusadar aku berstatus sebagai hamba. Abdi Allah yang harus menjalankan kewajibanku. Aku bersyukur karena hati ini masih rindu akan kehadirat-Nya, meninggalkan sifat hedonis dan rindu akan kampung akhirat. Semoga hati ini tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

***

Hari-hariku kembali kujalani dengan sejuta nikmat yang senantiasa aku rasakan dari-Nya. Kicau burung, mentari merekah dan tetesan embun kembali menghiasi cakrawala dunia. Hari ini aku kembali mengukir sejarah dalam lembaran hidupku. Entah sama dengan hari kemarin atau lebih baik lagi atau bahkan sebaliknya. Tapi aku berharap dan ber-azzam hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena Rasulullah bersabda “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung.”

 

Ku atur waktuku secara sistematik. Mulai dari bangun tidur, aktivistas kuliah, organisasi bahkan mimpi-mimpiku untuk kedepannya. Menginterpretasikan makna kehidupan dengan jalanku sendiri membuatku terkadang mengalami kemandekan untuk menentukan sikap. Tapi itulah manusia terkadang berada pada situasi yang menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan sikap dan solusi.

 

Sudah dua jam lebih aku berdiri di depan kampus menunggu Zahra karena sesuatu hal yang sangat urgent harus kusampaikan. Tak kulihat batang hidungnya berlalu lalang di area kampus. Apa Zahra tidak masuk kuliah ? Atau sakit? Di masjid, perpustakaan atau sudah pulang? Sederetan pertanyaan itu terus mendesakku untuk mencari tahu. Aku menuju ke masjid kampus seakan ada magnet yang menarikku untuk cepat menuju masjid kampus. Jantungku berdebar kencang seperti genderang yang dipukul oleh para seniman mementaskan karya terbarunya dengan spektakuler.

 

“Ya Allah ada apa ini? Aku terus mengucapkan tasbih berdzikir menenangkan hati. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Itulah firman-Nya. Aku bergegas ke arah masjid

 

“Masya Allah, ada apa ukhti ?” Setelah berada dalam masjid kulihat Zahra berlinang air mata. Disampingnya Fatimah terusnya membujuknya tapi air mata Zahra semaking berlinang deras. Deras sekali. Membasahi jilbab abu-abu yang menjulur sampai kelutut yang ia kenakan.

 

“Ada apa ukhti ? kenapa ukhti menangis ?” tanyaku dengan rasa penasaran. Fatimah dan Zahra menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan yang tidak kumengerti. Suasana menjadi hening, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejurus aku berfikir keras untuk memecah kebisuan ini.

 

“Kak…….” Suara Zahra memecah keheningan. Aku hanya menunduk seraya menjaga pandangan.

“Kak Hafidz, Zahra dijodohkan kak. Kemarian Zahra dikhitbah dan orangtua Zahra menerimanya tanpa meminta persetujuan dari Zahra. Karena perjodohan itu disepakati sejak Zahra berusia lima tahun. Seminggu sebelum resepsi khitbah orangtuaku baru mengatakannya. Aku bingung kak.”

 

Aku tersentak mendengar penuturan Zahra. Aku mengernyitkan dahi dan menelang ludahku karena kerongkongan ini tiba-tiba kering. Hati ini seakan perih. Rekahnya mentari yang hangat menyusup kesetiap pori-pori tak lagi kurasakan. Lagi terlihat mendung seketika, hampa, hambar dan tak ada daya rasanya untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun susah bagiku.

 

Air mataku kurasakan sebentar lagi akan berjatuhan bak mendung yang siap menurunkan hujan dengan lembab tapi aku tahan dengan segenap kekuatanku. Aku harus tegar. Aku ini laki-laki bagaimana pun konsekuwensinya aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah bahkan lebay dihadapan Zahra dan Fatimah. Bukankah cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta tidak seharusnya memiliki tendensi yang lain.

 

Cinta terkadang membuat kita bahagia dan sedih. Itulah uniknya cinta. Secara diam-diam aku sangat menyayangi Zahra bahkan aku telah mencintainya.Aku mencintainya dan selama ini aku jaga cinta itu, aku simpan rapat-rapat dalam relung hatiku terbungkuskan harapan untuk suatu hari aku datang mengkhitbahnya. Hingga saat ini aku masih mencintainya dan tak pernah satu orangpun aku katakan perasaan ini bahkan pada dirinya. Aku ingin cinta ini tetap suci hingga kami disatukan dalam ikatan yang halal di mata manusia lebih-lebih lagi dihadapan-Nya tapi harapan itu kini hanyalah sebuah angan yang bergelantungan pada langit dunia.

 

“Ukhti, Insya Allah itulah yang terbaik yang Allah berikan. Syukurilah dan ambillah ibrah dari semua yang berlaku. Allah tahu bahwa ukhti sudah mampu mengemban amanah menjadi istri dan calon ibu kelak, makanya Allah menakdirkan ukhti menikah diusia muda” ucapku pada Zahra dengan mimik wajah yang kubuat bersikap biasa-biasa saja. Mimik wajah yang kubuat bahagia meski hati ini menolak untuk melakukannya

 

“Tapi kak, Zahra belum tahu akhlaknya, pergaulan bahkan semua tentangnya buram bagiku” Zahra seakan belum siap dengan semua itu, mungkin ada alasan yang urgent yang membuatnya belum bisa menentukan sikap. Aku kembali menyakinkannya

 
“La yukallifulluh nafsan illaah wus’aha”. Ingat firman-Nya ukhti. Bukankah setiap problem yang kita hadapi pasti ada solusinya? Seandainya orangtua ukhti tidak mengetahui dan kenal baik dengannya aku percaya beliau tidak akan menerimanya.

 

Pernikahan berarti menyempurnakan separuh agama, kini Allah membukakan jalan untuk menyempurnakan separuh agama itu. Maka jemputlah ia dengan senyuman indah penuh cinta kasih. Rangkul dan peluklah anugrah terindah itu yang Allah peruntuhkan untukmu ukhti. Sambutlah dan mulailah mencoba membuka lembaran baru dengan cinta yang mampu menggetarkan langit dan mendapat Ridha-Nya. Terimalah kenyataan ini dengan dasar cinta karena-Nya.

 

“Karena cinta senantiasa bergerak. Dimana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan intuisi, di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman. Belajarlah untuk mencintainya karena atas dasar cintalah kehidupan ini akan lebih berwarna” aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia atau sedih semua berpadu menjadi satu aliran.

 

Sudah lama aku tidak pernah melihat Zahra bahkan keberadaannya tak kutahu lagi. Pertemuanku di masjid kampus merupakan pertemuan terakhirku dengan dirinya. Menurut informasi, Zahra berhenti kuliah dan pindah rumah beserta keluarganya. Dia pun tidak pernah memberitahukanku kemana ia pergi.

 

Ada perasan hilang dalam hidupku yang menyergap hari-hariku semenjak kepergiannya tapi aku berusaha memahami setiap kejadian yang kualami. Menyelami akan arti kehidupan dan mengambil sirat makna dibalik semua yang telah berlaku. Kembali kudesain hidupku, kembali menuliskan mimpi-mimpi baru yang kuprioritaskan yang harus kugapai. Menuliskan misi sebanyak-banyaknya dan bertekad untuk lulus ujian akhir dengan predikat mahasiswa terbaik dengan hasil cumlude.

 

Menghiasi hari-hariku dengan berbagai aktivitas padat. Mulai dari kuliah sampai kembali eksis dan menjadi kader militan dalam organisasi. Walaupun bayangan Zahra sesekali melintas dalam benakku, namun secepat itu juga kutepis bayangan wajahnya. Aku harus lebih menggunakan logika.

 

Hembusan angin membelai wajahku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan seiring dengan silih bergantinya siang dan malam kehidupanku terus kulalui hingga takdir membawaku pada keadaan statis. Tak terasa aku sudah berada pada tingkatan akhir, seminar proposal sebulan lagi setelah itu penyusunan skripsi. Tapi sebagai aktivis dakwah aku tetap menyisihkan sebagian waktuku untuk mengurusi organisasi dengan mengadakan pengkaderan dan training. Perlahan tapi pasti, ingatan tentang Zahra kian menghilang aku kini lebih bisa menerima kepergiannya dan lebih banyaknya memfokuskan menatap masa depanku.

 

“Apa yang ingin kau lakukan ?” gumamku. Ponselku berdering

“Assalamu’alaikum. Afwan dengan bapak Hafidz ?” Tanya seorang laki-laki yang menelponku.

 

“Wa’alaikum salam iya benar saya sendiri. Siapa ?”

“Afwan menganggu Bapak. Kami dari panitia pelatihan meminta bapak untuk bersedia sebagai nara sumber pada training motivation for teens”

“Deadlinenya kira-kira kapan pak ?”

“Insya Allah tanggal 15 pekan depan pak”. Aku menghela nafas mengingat-ingat rencana untuk pekan depan ternyata kosong

“Insya Allah saya akan datang pak. Saya minta satu hari sebelum deadline-nya tolong hubungi saya, takutnya nanti lupa”

“Iya pak, syukran katsiran semoga Allah memudahkan ”

“ Afwan ” telpon terputus dengan salam

 

***

Hari H training motivasi tiba. Dengan mengenakan baju kokoh berwarna hijau dan celana kain hitam di atas mata kaki, aku menuju tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan menempuh jarak sekitar 15 menit aku menuju dengan mengendarai angkot. Peserta terlihat antre di tempat registrasi, aku menuju ruang tunggu yang telah disediakan oleh panitia.

 

Setelah beberapa menit berlalu acarapun dimulai. Moderator mengucapkan salam dan sambutan kepada seluruh audience. Namaku disebut pula sebagai nara sumber dan nama seorang akhwat. Nurul Hafidzah. Setelah mengerjakan sholat duha, aku melangkah ke audioturium. Langkahku terhenti, mataku menangkap sesosok perempuan yang telah mengisi ruang hatiku dua tahun silam. Ada rasa yang mengalir dalam tubuhku sekorelasi dengan aliran darahku. Desah nafasku menghembuskan arti kebahagiaan.

 

Perempuan yang sudah dua tahun tidak pernah aku lihat kini berdampingan denganku sebagai nara sumber. Di mana saat ingatan tentangnya mulai pudar kini dia hadir kembali.Pandangan kami berpapasan. Zahra kini tampak lebih dewasa.

 

“Astagfirullah” aku menundukkan pandangan memohon ampun. Tidak seharusnya aku memandangnya begitu lama. Aku terus melangkah, aku harus professional dan tidak boleh mendramatir keadaan.

 

“Assalamu’alaikum ukhti ” sapaku setelah berada dekat dengan dirinya

“Wa’alaikum salam” Zahra menjawab salamku dan menundukkan kepala. Tak satupun kalimat atau tanya yang terucap untukku. Pelatihan pun dimulai, aku sampaikan materiku dengan sebaik mungkin, lugas dan detail. Acara berlangsung dengan baik. Antusias dari peserta sangat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujaniku dari peserta aku jawab sebisaku dan tak ada kata tidak bisa, aku tidak ingin peserta merasa kecewa.

 

Setelah training selesai aku tidak melihat Zahra. Mungkin sudah dijemput oleh suaminya? Tanyaku pada diriku sendiri. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, aku bertanya pada salah satu panitia.

 

“Daeng, yang menjadi nara sumber selain saya, itu siapa ? tanyaku mencari tahu, karena moderator menyebut namanya sebagai Nurul Hafidzah bukan Zahra

“Oh, yang berjilbab panjang yang duduk disamping?” aku menganguk

“Namanya Zahra cuma dalam training dan kegiatan lainnya ia sering memakai nama pena Nurul Hafidzah. Soalnya disamping ia mahasiswi ia juga sebagai penulis. Orangnya cantik, muda dan belum ada suaminya” jawab panitia dengan logat Bugis kental. Aku tersentak kaget mendengar penuturan panitia penyelenggara. Kata-kata terakhirnya membuatku sulit untuk berfikir

 

“Belum ada suaminya” Apa Zahra belum menikah? Tapi kenapa? Bukankah dua tahun silam ia dikhitbah? Aku tidak bisa berfikir jernih. Semuanya terasa buram untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab.

 

“Ya Allah, mengapa disaat aku bisa melupakannya ia kembali hadir dalam kehidupanku. Astagfirullah ” aku tidak seharusnya mengeluh kepada-Nya hanya hal seperti ini.

Waktu terus berlalu, tapi pertanyaan yang memenuhi ruang hatiku masih pertanyaan yang sama. Benarkah Zahra belum menikah? Berkali-kali kutepiskan pertanyaan ini dan berfikir jernih dan realistis.

 

Mungkin saja pertemuanku dengan Zahra hanyalah kebetulan tapi adakah namanya kebutulan di dunia ini? Aku mencoba menghubungi Fatimah berharap ia tahu apa yang sebenarnya berlaku pada Zahra, tapi sia-sia saja nomor Fatimah tidak bisa terhubung meskipun berulang kali kucoba tapi hasilnya nihil. “Mungkin Fatimah telah ganti nomor”

 

Kurebahkan tubuh ini, menghilangkan kepenatan dan rasa penasaran yang menyelimutiku dimalam yang dingin ini. Biarkan rasa ini berbaur dengan dinginnya malam. Disuatu pagi. Dihari yang cerah, pelangi melukis keindahannya di jagad raya. Aku melihat pesan baru dalam inbox ponselku, sebuah SMS dari nomor tanpa identitas nama

 
“Bismillah…
 
Kerinduan cinta menjauhkan tabir, dan menerangi relung-relung hati dengan menciptakan kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain dapat melebihinya kecuali ketika jiwa itu memeluk Tuhan. Cinta laksana matahari yang muncul dari awan-awan dan selalu menghangatkan jiwa kita. Sambutlah cintamu akhi yang sudah lama merana menantikan kehadiranmu. Jadikanlah ia ustadzah di rumah yang engkau memadu kasih dibawa naungan ke-Ridhoan-Nya. Bersegeralah akhi. ”

 

Setiap kalimatnya tinggi dan puitis. Aku masih belum mengerti maksud dari bait katanya. Siapakah ia? Akupun membalas pesannya untuk menjawab rasa penasaranku

 
“Bismillah……
 
Afwan, dari setiap untaian kata yang anda tulis aku tidak mengerti. Bahkan tak satupun kalimat yang aku mengerti. Siapakah yang harus kujadikan ustadzah di rumah? Apa yang harus kusegerakan? Afwan siapa ? ”
 
“Bismillah….
 
Afwan akhi kalau setiap kalimatku tak satupun yang antum mengerti. Insya Allah kalau akhi punya waktu datanglah ke TPA AL-Ikhwan besok bakda asar, akhi akan tahu semuanya. Semoga Allah mengampuniku atas kelancanganku semuanya tapi percayalah ini semua demi kebaikan akhi ”

 

***

Bakda asar aku menuju TPA Al-Ikhwan. Aku sengaja sholat asar diperjalanan supaya bisa on time. Kulihat seorang akhwat bercadar sedang membaca buku di halaman masjid dekat TPA. Ia memberi salam tatkala aku semakin dekat dengannya. Aku merasa risih dengan keadaan kami yang hanya berdua saja apa lagi dalam lingkup masjid.

 

“Afwan akhi, ana yang mengirimkan pesan kemarin ” ucapnya memulai percakapan. Suaranya tidak asing bagiku, hanya karena wajahnya dibalik niqob maka aku tidak bisa memastikan siapa dirinya

 

“Afwan ukhti, tidak seharusnya kita berkhalwat nanti ada fitnah ”

“ Insya Allah tidak akhi. Ana ke sini bersama dengan mahram, hanya saja kakak masih di dalam masjid. Kita tunggu sejenak sebelum akhi tahu semuanya ” aku tidak sabar untuk menunggu, kuingin segera mengetahuinya supaya semuanya jelas

 

“Ukhti sebenarnya siapa ? dan apa maksud dari semua ini ? ”

“Ana Fatimah akhi Hafidz ” aku memuji dan bersyukur pada-Nya atas segala yang Dia berikan padaku bukankah kemarin aku ingin sekali bertemu dengan Fatimah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan diriku dan kini Allah membuka jalan ini untukku disaat ku mulai rapuh tapi…tapi perubahan Fatimah, subhanallah ya Allah

 

“Ukhti Fatimah temannya Zahra ? ” tanyaku mencari kepastian

“Na’am akhi (iya, saudaraku)” Fatimah lalu memberiku selembar kertas yang penuh dengan goresan cinta. Aku segera membacanya tanpa satu kata pun yang terlewati

 
Selasa 2007
 
Aku menemukan sesosok pemuda langkah di zaman ini. Tutur katanya senantiasa mengingatkan ku pada kebesaran-Nya dan membuat hati ini semakin terpaut pada-Nya dengan cinta. Cinta yang tulus hanya untuk-Nya. Ya Allah, salahkah jika aku mencintai dan berharap ia menjadi calon bapak dari anak-anakku kelak. Ya Allah jika aku boleh meminta, jadikanlah ia sebagai jodohku di dunia dan di alam keabadian akherat. Jadikanlah ia sebagai imam bagiku untuk meneguk sebanyak-banyak cinta-Mu. Kak Hafidz,
 
Ketiadaan bagi cinta
 
Laksana angin bagi api
 
Ia membakar yang kecil
 
Menyalakan yang besar
 
Datanglah bersamaku
 
Dan jadilah cintaku
 
Kita akan menikmati segala suka cita
 
Yang dihasilkan oleh bukit-bukit
 
Dan lembah-lembah hutan
 
Dan pegunungan
 
(Zahra yang mengharapkan keridhoan-Nya)

 

***

Konvergensi senja dengan bentangan malam kini silih berganti. Kunikmati semuanya dengan penuh keagungan-Nya. Pergulatan di dalam hatiku pun mengiringi perjalananku setelah bertemu dengan ukhti Fatimah. Pergulatan untuk tetap pada titik stagnan atau menjemput cinta dalam mahligai rumah tangga yang diridhoi oleh-Nya. Aku masih belum bisa untuk menentukan sikap. “Apakah aku pantas mendampingi ukhti Zahra ? Apakah ia akan menerima pinanganku? Bagaimana dengan keluarganya jika ia melihat materi sebagai indikasi pertama?” Pergulatan itulah yang membuatku statis pada titik ini. Tidak melakukan sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam sebuah treatment untuk memulai.

 

Setelah sholat istikharah berkali-kali ku kuatkan azzam-ku untuk mengkhitbah Zahra. Cukuplah Allah menjadi saksi atas ketulusan dan usahaku. Hari itu matahari semakin meninggi dan aku sudah siap menuju rumah Zahra, semua kemunkinan sudah aku pikirkan. Diterima tidaknya aku serahkan semua pada yang berhak tuk mengatur hidupku. Setelah sampai di ambang pintu rumahnya aku memberanikan diri mengucapkan salam. Dari dalam rumah kudengar suara langkah kaki menuju pintu

 

“Assalamu’alaikum” ucapku setelah kutahu yang membukakan pintu adalah orangtua Zahra

“Wa’alaikum salam”

“Zahranya ada bu ? saya Hafidz teman kampusnya Zahra sebelum ia pindah dua tahun silam”

“Oh nak Hafidz. Zahra sering bicara sama ibu tentang nak Hafidz. Tapi Zahra ….”

“Tapi Zahra kenapa bu ? tanyaku dengan hati yang tidak pasti. Ada firasat yang merasuk ke dalam hatiku yang membuatku merasa takut

 

“Zahra ke London nak, melanjutkan kuliah Sastra Bahasa Inggris di Universitas Oxford”

“Kapan berangkatnya bu ?”

“Alhamdulillah kemarin nak” aku menundukkan kepala dan menyesali diriku sendiri.

 

Seandainya dari kemarin tujuan ini saya segerakan mungkin semuanya berbeda. Atau ini tanda bahwa aku tidak berjodoh dengan Zahra. Kutepiskan perasaan sesal ini dan menata hati untuk berfikir positif, mengambil ibrah dari semua ini. Mungkin garis takdir cuma menuliskan aku dengan Zahra sebatas saudara semuslim yang terikat dalam ikatan ukhuwah islamiyah, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa hati ini masih tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Atau benarkan para pujangga bahwa cinta tak selamanya memiliki ? Kini di sang surya cerah gemerlapan diufuk timur dan kucoba untuk menyunggingkan senyumanku menjalani kehidupan ini. Biarkanlah catatan tentang Zahra menjadi bagian kisah terindah dalam hidupku yang akan menjadi bukti bahwa betapa aku menjaga hati dan cinta ini berdasarkan syariat dan koridor yang seharusnya.

 

“Nak Hafidz” suara ibu Zahra membangunkan ku dari lamunan tentang Zahra

“Nak Hafidz, Zahra pernah bicara sama ibu bahwa ia menginginkan suami seperti nak Hafidz” penuturan ibu Zahra mengangetkanku. Aku menatapnya dalam-dalam mengharap ada harapan dan jalan bagiku untuk menwujudkan tujuan mulia ini, menjadikan Zahra ustadzah di rumahku kelak.

 

“Tapi nak Hafidz sudah terlambat karena…..”

“Maksudnya bu ?”

“Dua hari sebelum keberangkatan Zahra ke London lamaran dari nak Ilham kami terima, begitupun dengan Zahra sudah mengikhlaskan dirinya menjadi istri nak Ilham kelak. Zahra bilang sama ibu bahwa nak Hafidz tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Nak Hafidz cuma menganggapnya sebagai adik, dan itu tidak lebih. Itulah yang Zahra ucapkan sebelum ia menerima lamaran nak Ilham.

 

Zahra juga pernah bilang bahwa ia pernah bertemu nak Hafidz di sebuah seminar dan sangat berharap nak Hafidz datang ke rumah tuk mengkhitbahnya”. Langit cerah di ufuk timur tak lagi indah kulihat. Semua penjelasan ibu Zahra membuat tubuh ini rapuh dan aliran darahku beku. Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tanpa aku sadari air mata beningpun menetes sebagai bukti bahwa betapa kuingin dan berharap Zahra menjadi kekasih hatiku yang terikat dengan ikatan suci pernikahan.

 

“Bu, sampaikan salam maafku dengan Zahra dan aku minta sama ibu untuk tidak memberitahukan bahwa aku pernah ke rumah mencarinya. Biarkan ia menjadikan diriku sebagai masa lalu dalam hidupnya”. Aku berpamitan pulang tanpa pernah mengatakan tujuanku datang ke rumahnya. Biarkan semuanya menjadi kisah terindah dan catatan yang tertulis dalam garis takdir. Aku terus berjalan dan berjalan menelusuri lorong-lorong labirin hidupku.

 

Aku harus sadar bahwa mencintai seseorang tidak mutlak kita harus mendapat balasan cintanya dan aku tahu bahwa Allah sedang memberikan pengajaran dan didikan bagiku untuk menjalani fase kehidupan berikut. Allah tahu yang terbaik bagiku bukan hanya hari ini tapi untuk hari berikutnya. Kubiarkan kita ini tetap ada dalam hidupku karena kutahu cinta itu fitrah dan anugrah Ilahi yang terindah yang ia titipkan padaku.

 

Cintaku akan kujaga seperti aku menjaga hati. Aku terus melangkah dan kulihat awan-awan membentuk sebuah harmonisasi cinta yang indah dan kulihat pelangi merangkai garis-garis cinta yang membuat semua insan bahagia karena cinta.

 

Cinta adalah fitrah dan anugrah Ilahi yang harus kita syukuri serta tidak membuat kita buta terhadap hal-hal yang mengotori kesucian cinta. Teruslah menebarkan sayap-sayap cintamu yang membuat hidup ini mendapat ke-Ridhoan-Nya.
 
Oleh  Muhammad Ramli

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIM Sinjai. Bisa dihubungi di khairul.azzam21@yahoo.co.id atau muhramli5@gmail.com. penastaim10.blogspot.com. 085 299 741 298

 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/06/16/moh90d-kanwil-kemenag-jabar-siap-sosialisasi-pemotongan-kuota-haji


Cinta Lelaki Aktivis