Showing posts sorted by relevance for query Pelayanan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Pelayanan. Sort by date Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Mahasiswa STAIN Pamekasan Tuntut Pergantian Pengelola Perpustakaan


Puluhan mahasiswa mendemo gedung perpustakaan STAIN Pamekasan(Foto: arif)

LENSAINDONESIA.COM: Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, mendemo Gedung Perpustakaan di kampus mereka. Para mahasiswa yang menamakan dirinya Dewan Advokat Mahasiswa (DAM), menilai pelayanan perpustakaan di kampusnya tidak optimal. Mahasiswa menuntut ada pergantian pengelola perpustakaan.

Korlap aksi, Ahmad Ukik, menyatakan pengelola perpustakaan tidak bekerja profesional sehingga berdampak pada layanan buruk yang dirasakan mahasiswa. Dalam orasinya, Ukik meminta rektorat segera melakukan pembenahan para pengelola perpustakaan. “Jika memang tidak becus mengurus perpustakaan, ganti saja pengelolanya dengan petugas yang memiliki latar belakang ilmu pustakawan,” tandasnya, Rabu (20/2/2013).

Baca juga: BEM Pamekasan Serukan Pilkada Damai dan Lia Trisnawati, Bocah 10 Tahun yang Doyan Minum Bensin

Sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan petugas keamanan kampus tersebut karena menghalangi mahasiswa untuk masuk kedalam perpustakaan, beruntung insiden tersebut tidak meluas, dan segera bisa diredam oleh korlap aksi.

Ukik menambahkan, minimnya pelayanan dari petugas perpustakaan belum mencerminkan sebagai perpustakaan negeri. “Mana ada perpustakaan kampus yang jam layanannya tidak sejalan dengan jam perkuliahan mahasiswa. Saat mahasiswa butuh mencari buku referensi di perpustakaan, saat yang sama perpustakaan masih tutup. Jika tak mampu bekerja profesional, ganti saja pengelola perpustakaan,” sesalnya.

Sementara itu, Zaini, kepala perpustakaan STAIN Pamekasan, akan menindak lanjuti aspirasi mahasiswa terkait dengan pelayanan perpustakaan tersebut, baik yang berhubungan dengan pelayanan, waktu, denda, dan kelengkapan administrasi.

“Beri kami waktu untuk melakukan pembenahan perpustakaan. Yang pasti, kami akan menindak lanjuti aspirasi mahasiswa terkait pelayanan perpustakaan yang meliputi waktu, denda dan kelengkapan administrasi,” tutup Zaini. @arief



Berita Terkait:

  • Sekolah di Pamekasan Masih Lakukan Pungli Terhadap Siswanya
    Berdalih untuk Biaya Pembelian LKS dan Bimbingan Belajar
  • Warga Tlontorajeh Tolak Pembagunan Tower Selular
    Ditemukan Surat Pernyataan Palsu
  • Pembagian Raskin Pamekasan Diduga Diselewengkan
    Kerugian Mencapai Rp 1,8 Miliar
  • Ratusan Pelanggan Demo Kantor PDAM Pamekasan
    Empat Bulan Air Mampet Tetap Harus Bayar Tagihan
  • Harga Ikan Laut Meroket Tinggi Gara-Gara Cuaca Buruk
    Nalayan Tak Melaut, Stok Ikan Menipis
  • Cuaca Buruk Dongkrak Kenaikan Harga Telur
    Suplai dari Peternak Dikurangi
  • Surat Suara Pilkada Pamekasan Siap Dicoblos
    3000 Lembar Rusak, Sudah Diganti cadangan
  • Selingkuh, Anggota Polsek Tlanakan Hadapi Sidang Disiplin
    Segera Tetapkan Sanksi Pekan Ini
  • Mantan Anggota KPU Pamekasan Diwajibkan Kembalikan Uang Kehormatan
    Setelah Dipecat DKPP
  • Tak Tegas! Kopaja Tuding Satpol PP Pamekasan “Banci”
    PNS Dibiarkan Keluyuran




Article source: http://oase.kompas.com/read/2013/01/24/08234084/Cak.Nun.Gus.Dur.dan.Atheis?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Mahasiswa STAIN Pamekasan Tuntut Pergantian Pengelola Perpustakaan

Wednesday, January 1, 2014

PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

PENYELENGGARAAN HAJI
2014, Kemenag Sumbar
Optimalkan Pelayanan

Kamis, 2 Januari 2014


PADANG (Suara Karya): Secara keseluruhan, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2013 berjalan lancar dan sesuai harapan. Meski demikian, tak dipungkiri masih ditemukan sejumlah kendala dan masalah di lapangan.


Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Sumbar Syamsuir Ilyas, di Padang, Sumbar, baru-baru ini. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan sesuai harapan.

Apalagi, Bengkulu sudah punya embarkasi antara, jadi jemaahnya langsung ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tanpa menginap di Asrama Haji Padang. Kita akan optimalkan pelayanan pada 2014,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Kemenag Sumbar dipimpin Kepala Kanwil Syahrul Wirda selaku Ketua Panitia Peberangkatan Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Padang, telah menggelar rapat evaluasi pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji tahun 2013 hanya dua hari setelah kedatangan jemaah kloter terakhir dari Tanah Suci. Yakni, Jumat (15/11), di Aula Asrama Haji Padang.

Rapat itu dihadiri seluruh panitia dari setiap instansi dan elemen masyarakat yang terlibat dalam kepanitiaan haji, seperti Dinas Kesehatan Sumbar, Dinas Perhubungan Sumbar, Imigrasi Padang, Polda Sumbar, TNI, Biro Binsos Pemprov Sumbar, PT Angkasa Pura II, tokoh masyarakat, dan lainnya.

Rapat menghasilkan sejumlah komitmen, agar pelaksanaan haji tahun depan lebih baik lagi. Dalam rapat itu, beberapa instansi terkait mengakui masih adanya kekurangan selama pelaksanaan haji tahun ini.

Pada prinsipnya, mereka berjanji akan memperbaiki semua kekurangan tersebut, sehingga tahun depan tidak lagi ditemui keluhan dari jemaah. Salah satunya dari Angkasa Pura II, yang berjanji akan memperbaiki pelayanannya, seperti menambah eskalator, dan memperbaiki fasilitas lainnya seperti toilet, dan sebagainya.

“Selain itu, pihak Polda Sumbar juga berjanji memi-nimalisasi segala kekurangan pada pelaksanaan haji 2013 agar pelaksanaan haji 2014 dapat berjalan baik,” ujar mantan Kepala Kantor Kemenag Mentawai ini.

Dalam kesempatan tersebut, Syamsuir Ilyas mengisahkan pengalamannya ketika bertugas di Mentawai pada 2011. Ketika itu, ia berhasil memberangkatkan delapan mualaf. “Mereka bagian dari 35 warga muslim di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang menunaikan haji tahun 2011,” ucapnya.

Sebenarnya, tutur dia, mereka baru mendaftar tahun 2009 dan 2010. “Tapi karena ada perlakuan khusus yang seharusnya berangkat tahun 2017 dan 2018, 2011 mereka bisa menunaikan haji,” katanya.

Menurut Syamsuir, terwujudnya cita-cita para mualaf dari Mentawai itu tak lepas dari perjuangan Kakanwil Kemenag Sumbar ke Kemenag pusat. Semula, lanjut dia, saat Sekjen Kemenag Bahrul Hayat berkunjung ke Padang beberapa waktu lalu, Pemprov Sumbar meminta agar warga Mentawai diprioritaskan berangkat haji tanpa menunggu 9 hingga 10 tahun ke depan.

“Alhamdulillah, pihak bank penerima setoran biaya penyelenggaran ibadah haji (BPS-BPIH) yakni Bank Nagari dan BRI, telah diberikan informasi kalau 35 orang jemaah tersebut bisa melunasi setoran hajinya dan bisa segera diberangkatkan,” katan Syamsuir. (Yudhiarma)

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/12/13/mxpojk-membangun-amal-usaha


PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Tuesday, December 10, 2013

Perbenturan agama dan pekerjaan

Liston Siregar


Wartawan BBC Indonesia


Celestina Mba akhirnya terpaksa berhenti kerja pada tahun 2010 karena kantornya meminta dia bekerja hari Minggu.


Perempuan berusia 58 tahun itu merupakan penganut Kristen yang taat dan sejak awal tidak bersedia kerja pada hari Minggu atau Sabat, yang berdasarkan hukum keempat dalam 10 perintah Tuhan merupakan hari khusus untuk memuja Tuhan.


Walau dia menegaskan siap bekerja Sabtu malam -asal Minggu bisa libur- kantornya bergeming dan akhirnya Mba berhenti kerja.


Namun perjuangannya diteruskan lewat ruang pengadilan dengan pemikiran bahwa Dewan Kota Merton -tempatnya bekerja- tidak menghormati agamanya.


Gugatan yang akhirnya ditolak sampai di tingkat banding pada Kamis 5 Desember.


Fakta bahwa waktu masa awal bekerja tiga tahun sebelumnya dia tidak perlu masuk hari Minggu namun belakangan diharuskan, sepertinya bukan menjadi alasan kuat -paling tidak menurut pengadilan- untuk menolak kerja.


Alam sekularisme?


Celestina Mba

Celestina Mba berpendapat Dewan Kota Merton tidak menghormati agamanya.


Semakin hari rasanya memang semakin terbuka ‘kontak langsung’ antara agama dan kebutuhan masyarakat modern.


Rumitnya kehidupan modern yang meningkatkan kebutuhan sehari-hari membuat tuntutan untuk produksi maupun pelayanan semakin tinggi pula.


Kalau dulu mungkin hanya beberapa sektor yang perlu beroperasi total 24 jam penuh dan 365 hari dalam setahun -misalnya rumah sakit, kantor berita, dan polisi- kini semakin banyak orang yang bekerja tanpa batasan waktu.


Dan dalam situasi seperti itu, ada kecenderungan untuk memisahkan lebih tegas lagi antara urusan agama dan pekerjaan.


Orang lebih dikejar untuk mengutamakan dunia material dibanding kehidupan spritual dan rasanya semakin banyak orang yang tidak keberatan untuk itu.


Kasus demi kasus


Tapi apakah kasus Mba bisa dikatakan sebagai bukti dari ketidakpedulian Inggris terhadap keyakinan orang demi pelayanan umum?


Mba bekerja untuk membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan permanen dan menurut hakim para anak-anak itu harus mendapat layanan penuh.


Dalam kasusnya, mungkin hakim berpendapat bahwa ada kepentingan umum yang sebaiknya tidak bisa ditawar-tawar lagi.


Tapi dalam kasus lain, polisi yang memeluk Sikh diizinkan untuk tetap mengenakan turban saat bertugas karena dianggap tidak akan menghalanginya dalam melaksanakan pekerjaan.



Sementara permintaan seorang karyawan beragama Islam agar selalu libur pada hari Jumat namun bekerja di hari Minggu ditolak dengan pertimbangan semua orang seharusnya diperlakukan setara sehingga bergiliran bekerja pada akhir pekan.


Akhirnya, saya pikir, tak ada pegangan mutlak ketika terjadi pertemuan antara keyakinan agama dan pekerjaan.


Di dekat rumah saya ada supermarket kecil yang juga menjual alkohol dan seorang pegawai di kasir mengenakan kerudung.


Saya sempat tertanya-tanya, apakah dia tidak terganggu saat menjual alkohol.


Belakangan saya lihat jika ada pembeli yang membawa alkohol ke mejanya maka dia memanggil temannya untuk mengurus penjualan alkohol itu. Urusan beres.


Di zaman modern, semuanya bisa diatur -paling tidak menuru saya. Anda setuju atau tidak?


Article source: http://www.aktualpost.com/2013/11/17/5456/5-gereja-di-dunia-yang-berubah-menjadi-masjid/


Perbenturan agama dan pekerjaan

Monday, January 13, 2014

Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

REPUBLIKA.CO.ID, Yusuf Ali Bernier merupakan mualaf dari Kanada. Sebelum menjadi Muslim, hidupnya lekat dengan gereja. Pelayanan gereja terutama ritual berulang , bernyanyi , dan doa kepada Yesus atau Maria atau Tuhan dan kadang-kadang orang-orang kudus menjadi hal-hal yang mengiringi pertumbuhan Yusuf.


Ia biasa duduk dengan bingung membaca Alkitab sembari merekam dalam tape recorder. Setelah selesai, Ia akan memutar rekaman kembali dengan harapan menangkap makna dari apa yang baru saja dibacanya. Namun, cara itu tak juga membantunya memperoleh apa yang ia cari.


Pada suatu hari, ia menyaksikan khotbah di televisi dimana acara tersebut  memerintahkan pemberian Alkitab gratis dan menyumbangkan sebanyak yang bisa dilakukan ( yang tidak bisa banyak dilakukan anak laki-laki sepuluh tahun ) kepada penginjil televisi. Ganjarannya Ia akan menerima surat terima kasih dan berkat dan yang membuat saya merasa baik .


Hal itu berlangsung selama satu tahun atau lebih sampai akhirnya Ia menjadi terlalu frustrasi, kehilangan, dan ​​bosan dengan seluruh proses. Bukannya mengerti, Yusuf malah semakin bingung memahami arti yang ada di dalam injil.


“Aku memiliki Alkitab di lemari laci dan saya hanya akan menyebutnya sesekali pada saat saya remaja. Aku menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah benar-benar memahami Alkitab. Artinya , ironisnya , sampai nanti ketika saya menjadi Muslim. Saat itulah aku mulai mendapatkan pemahaman yang lengkap itu,” jelasnya, seperti dilansir dari Onislam, Selasa (14/1).


Apa yang membuat Ia bingung dengan Injil adalah kontradiksi antara kitab tersebut dan apa yang telah diajarkan oleh para imam dan pendidik agamanya. Ia menemukan bahwa hampir setiap aspek keyakinannya terguncang atau tidak masuk akal sama sekali setelah mengacu pada Injil.


Ia merasa inti dari imannya yang telah dipelajari  adalah palsu. Hal tersebut membawa dirinya ke titik di mana pesimis dan sinis terhadap agama. Akhirnya saat remaja,  Ia pun seperti mengejek Agama yang diyakininya dengan pergi gereja sembari mengunyah permen karet dan setengah hati berpartisipasi dalam pelayanan.


Ia akan bersuara pada saat menyebutkan Tuhan atau Yesus. Ia tidak tahu apa yang bisa dipercaya lagi. Satu-satunya hal yang Ia yakini adalah bahwa Tuhan itu ada. Semua kebingungan dan kekecewaannya dari usia sepuluh tahun akhirnya memicu mencari Kebenaran dan akhirnya membawanya ke agama yang disebut Islam.


Pertemuan pertamanya dengan orang-orang Muslim adalah melalui transaksi bisnis. Hangat dan murah hati keramahan mereka memenangkan hatinya. Ia juga tergelitik dengan orang Muslim yang setia  dengan Allah dalam ungkapan-ungkapan seperti  Alhamdulillah (semua Segala puji bagi Allah ) dan Insya Allah ( Insya Allah ).


Ia tidak pernah melihat orang-orang dalam keadaan iman yang kuat seperti ini sebelumnya. Yusuf menemukan Kebaikan, kemurahan hati dan sifat belas kasih mereka adalah sebuah bagian dari seorang Muslim. Hal ini lantas mendorongnya ingin menjadi seperti mereka.


“Ini adalah apa yang menarik dari orang-orang Islam , ini adalah apa yang membuat saya tertarik terhadap Islam,” ujarnya.


Setelah peristiwa tersebut, Ia mulai mempelajari dasar-dasar Islam. Semakin Ia belajar, Yusuf semakin ingin tahu. Ia mempelajari Islam melalui buku-buku yang ditulis oleh umat Islam dan juga membaca terjemahan Al-Quran. Ketika itu, hanya beberapa orang yang tahu bahwa Ia sedang belajar Islam.


Ia beralasan karena tidak ingin ada campur tangan dari umat Islam dan terutama dari teman-teman Kristen dan Yahudinya. “Saya tahu bahwa jika ada yang membimbing dan membantu saya dalam pencarian kebenaran adalah Allah,” jelasnya.


Seiring waktu berlalu , pengetahuannya berkembang menjadi alam Kebenaran sampai sekarang tanpa sepengetahuan saya . Islam menjadi kekuatan yang kuat seperti magnet menarik dirinya lebih dekat dan lebih dekat untuk itu.


Allah adalah satu-satunya hal dipikirkannya ketika melayang tidur dan pikiran pertama ketika terbangun. Islam membangun intelektual serta hatinya dan Ia menjadi begitu semangat tumbuh untuk itu.


Baca Quran


Ia akhirnya belajar Surat Al – Ikhlas meskipun belum Muslim. Ia mulai mengajar diri untuk berdoa dengan menggunakan buku dan membaca satu-satunya Surah yang Ia tahu. Ia merasakan kebutuhan yang sangat besar untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta maaf dan petunjuk menjadi hal yang paling masuk akal baginya.


Tak lama kemudian, Ia berangkat berlibur sembari membawa Qur’an. Empat hari kemudian, Ia yang sendirian di negara asing terkena sakit parah. Ia hanya terbaring selama sebulan dan setiap hari kehilangan hampir satu pon berat badanya.


Menghadapi kematian, Ia yang sendirian dalam penderitaan ingat memohon kepada Allah untuk tidak membiarkannya mati dalam kondisi tidak lengkap. Waktu itu Ia  belum dikonversi menjadi Muslim tapi dalam hatinya selalu ingin menjadi seorang Muslim. Ia tersadar dahulu seperti menunda-nunda mencoba untuk mempelajari segala sesuatu yang benar.


Kini, Ia percaya bahwa itu adalah panggilan untuknya dari Sang Maha Penyayang. Itu adalah untuk momen baginya untuk mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menunda sesuatu yang ingin dilakukan.


Setelah memohon, kondisnya berangsur baik dan Ia bisa kembali ke Kanada. Dua minggu setelah kembali ke Kanada Ia masuk Islam. “Al- Hamdulillah saya tidak mati sebelum mengatakan syahadat,” ujarnya.


“Allah  Maha Penyayang. Dia memberikan orang banyak peluang dan tanda-tanda . Bagian yang sulit adalah tidak begitu banyak orang mengenali tanda-tanda tersebut,” jelasnya.


“Islam seperti obat. Ini perubahan perilaku menyimpang dan menenangkan serta membuat jiwa menangis. Islam adalah agama Kebenaran dan Quran adalah panduan untuk semua aspek kehidupan. Quran memberi saya semua jawaban atas pertanyaan saya,” kenangnya.


Ini, lanjutnya,  meringankan kebingungan saya dan mengubahnya menjadi kejelasan dan pemahaman . Tidak pernah terlintas ada agama yang Kebenaran mutlak dalam bentuk yang paling murni . Jika seluruh umat manusia menyadari bahwa kebenaran ini adalah agama Islam.


“Saya berdoa kepada Allah untuk membimbing kita semua ke jalan yang lurus. Jalan semua nabi Allah termasuk Ibrahim , Nuh , Musa , Yesus , dan Muhammad ( damai atas mereka semua ),” tandasnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/10/mz6xau-israel-curi-kunci-gerbang-masjid-al-aqsha


Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

Friday, December 6, 2013

Perbenturan agama dan pekerjaan

Liston Siregar



Wartawan BBC Indonesia


Celestina Mba akhirnya terpaksa berhenti kerja pada tahun 2010 karena kantornya meminta dia bekerja hari Minggu.



Perempuan berusia 58 tahun itu merupakan penganut Kristen yang taat dan sejak awal tidak bersedia kerja pada hari Minggu atau Sabat, yang berdasarkan hukum keempat dalam 10 perintah Tuhan merupakan hari khusus untuk memuja Tuhan.



Walau dia menegaskan siap bekerja Sabtu malam -asal Minggu bisa libur- kantornya bergeming dan akhirnya Mba berhenti kerja.



Namun perjuangannya diteruskan lewat ruang pengadilan dengan pemikiran bahwa Dewan Kota Merton -tempatnya bekerja- tidak menghormati agamanya.



Gugatan yang akhirnya ditolak sampai di tingkat banding pada Kamis 5 Desember.



Fakta bahwa waktu masa awal bekerja tiga tahun sebelumnya dia tidak perlu masuk hari Minggu namun belakangan diharuskan, sepertinya bukan menjadi alasan kuat -paling tidak menurut pengadilan- untuk menolak kerja.



Alam sekularisme?


Celestina Mba

Celestina Mba berpendapat Dewan Kota Merton tidak menghormati agamanya.


Semakin hari rasanya memang semakin terbuka kontak langsung antara agama dan kebutuhan masyarakat modern.



Rumitnya kehidupan modern yang meningkatkan kebutuhan sehari-hari membuat tuntutan untuk produksi maupun pelayanan semakin tinggi pula.



Kalau dulu mungkin hanya beberapa sektor yang perlu beroperasi total 24 jam penuh dan 365 hari dalam setahun -misalnya rumah sakit, kantor berita, dan polisi- kini semakin banyak orang yang bekerja tanpa batasan waktu.



Dan dalam situasi seperti itu, ada kecenderungan untuk memisahkan lebih tegas lagi antara urusan agama dan pekerjaan.



Orang lebih dikejar untuk mengutamakan dunia material dibanding kehidupan spritual dan rasanya semakin banyak orang yang tidak keberatan untuk itu.



Kasus demi kasus


Tapi apakah kasus Mba bisa dikatakan sebagai bukti dari ketidakpedulian Inggris terhadap keyakinan orang demi pelayanan umum?


Mba bekerja untuk membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan permanen dan menurut hakim para anak-anak itu harus mendapat layanan penuh.



Dalam kasusnya, mungkin hakim berpendapat bahwa ada kepentingan umum yang sebaiknya tidak bisa ditawar-tawar lagi.



Tapi dalam kasus lain, polisi yang memeluk Sikh diizinkan untuk tetap mengenakan turban saat bertugas karena dianggap tidak akan menghalanginya dalam melaksanakan pekerjaan.


Sementara permintaan seorang karyawan beragama Islam agar selalu libur pada hari Jumat namun bekerja di hari Minggu ditolak dengan pertimbangan semua orang seharusnya diperlakukan setara sehingga bergiliran bekerja pada akhir pekan.



Akhirnya, saya pikir, tak ada pegangan mutlak ketika terjadi pertemuan antara keyakinan agama dan pekerjaan.



Di dekat rumah saya ada supermarket kecil yang juga menjual alkohol dan seorang pegawai di kasir mengenakan kerudung.



Saya sempat tertanya-tanya, apakah dia tidak terganggu saat menjual alkohol.



Belakangan saya lihat jika ada pembeli yang membawa alkohol ke mejanya maka dia memanggil temannya untuk mengurus penjualan alkohol itu. Urusan beres.



Di zaman modern, semuanya bisa diatur -paling tidak menuru saya. Anda setuju atau tidak?



(bbc/bbc)





Lebih Banyak Lagi dari BBC Indonesia:


BBC





Lapsus


Article source: http://www.solopos.com/2013/10/09/mr-bean-masuk-islam-media-masih-ngotot-rowan-atkinson-mualaf-454827


Perbenturan agama dan pekerjaan

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  â€œInsya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  â€œInsya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Wednesday, June 12, 2013

Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Home Perjalanan



Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan





 

Jamaah Centre For Islamic Dakwah and Education (CIDE)



 




Rabu, 12 Juni 2013


TANGGAL 5-15 Mei 2013 yang lalu, saya mengunjungi Sydney Australia untuk yang kedua kali dalam rangka memenuhi undangan dakwah dari Centre For Islamic Dakwah and Education (CIDE), sebuah organisasi Islam komunitas Muslim Indonesia dan Australia. Program selama 10 hari adalah Pelatihan Manajemen Masjid, Manajemen Dakwah dan Tablig Akbar. Berikut catatan singkat saya dalam bahasa tutur untuk pembaca.*


SEBUT saja Lakemba, ini merupakan salah satu kecamatan di Sydney. Bila di Jakarta ada daerah mayoritas China yang non Muslim, maka salah satu keunikan Lakemba adalah kawasan ini boleh dibilang kawasan Muslim karena memang penduduknya mayoritas Muslim asal dari Libanon, Pakistan, Banglades, Indonesia, Turki, dll.


Suasana Arab terasa di kawasan ini, termasuk pertokoannya. Sangat mudah mendapatkan masjid di kawasan ini, bahkan ada masjid terbesar yang bernama Masjid Ali bin Abi Thalib.


Warga Indonesia punya Iqra Centre, orang Bangladesh punya masjid bekas gereja, ada masjid di pertokoan, dan ada beberapa masjid kecil lainnya, serta ada lagi masjid yang sedang dibangun. Tidak jauh dari Lakemba, ada pula Ashabul Kahfi Center yang didirikan oleh Ustad Chalidin Yakub (Mantan Ketua PB PII). Di tempat lain seperti di Auburn, berdiri masjid besar yang didirikan oleh komunitas Turki, sehingga dikawasan itu suasana Islam juga sangat terasa. Adapun masyarakat Indonesia terpencar jauh-jauh di banyak tempat dan mereka sering bertemu di Masjid Al Hijrah yang juga bekas gereja.


Kapasitas Masjid Al Hijrah 300 jamaah, bekas gereja yang dibeli oleh kaum Muslimin asal Indonesia. Sabtu dan Ahad biasanya masjid ini lebih semarak dengan kelompok pengajian anak-anak, remaja dan orang dewasa. Masjid ini juga sudah memiliki rumah dan halaman. Sejak beberapa tahun lalu, saya dan isteri menginap di rumah itu dan kondisinya sekarang sudah bagus setelah direnovasi 3 tahun lalu.


Rumah ini dilengkapi dengan perpustakaan dan karena banyaknya kelompok pengajian, maka di rumah ini juga digunakan untuk klas pengajian dengan ruang aula yang cukup luas, aula ini juga digunakan oleh umat Islam untuk menjadi tempat resepsi pernikahan.


Umat Islam bertambah banyak, baik karena orang masuk Islam maupun pendatang yang sekolah dan kerja membuat keberadaan masjid di Sydney semakin dibutuhkan.


Yang menanrik, tidak mudah untuk mendapatkan izin mendirikan rumah ibadah seperti masjid. Alternatifnya adalah membeli gereja lalu mengubahnya menjadi masjid sehingga izinnya memang sudah sebagai rumah ibadah.



Muslimah di Lakemba rayakan Idul Adha/foto: SHM


Karena itu jangan heran, jika banyak masjid adalah bekas gereja, bahkan 90 Persen masjid seluruh Australia bekas gereja. Pilihan lainnya adalah membeli rumah dan menjadikannya sebagai mushalla meskipun tetap digunakan untuk ibadah Jumat seperti mushalla Iqra Centre, Ashhabul Kahfi dan saya juga sempat mampir untuk shalat ashar di Masjid Malik Faishal di Surry Hills. Rumah 4 lantai ini sudah dijadikan masjid sejak lama, yang menarik rumah di sebelah kanan dan kirinya dibeli juga dan digunakan untuk shalat Jumat sehingga dari luar tidak nampak kalau itu bagian dari masjid. Jadi mirip dengan orang Kristen di Indonesia yang menjadikan rumah sebagai gereja


Kota dan Penduduknya.


Sebagaimana umumnya negara-negara maju, tata kota dibuat rapi sedemikian rupa sehingga menjadi terasa nyaman. Sebagai contoh Jalan-jalan utama terdiri dari 4-6 jalur mobil, sedangkan jalan lingkungan rata-rata 3-4 jalur sehingga warga dan tamunya bisa parkir di pinggir jalan kanan kiri dan tidak menimbulkan kemacetan. Taman-taman dengan rumput yang hijau dan pohon yang besar juga sangat banyak, ada di mana-mana. Selain menambah kenyamanan anak dan warga bisa rileks di taman-taman itu.


Kalau di negeri kita bayar tol naik tiap 2 tahun, di Australia tol hanya berlaku 10 tahun. Setelah itu menjadi jalan biasa yang tidak bayar karena investasi pembangunannya sudah kembali dalam 10 tahun. Meskipun begitu, pada tol yang masih bayar, di jalan tol ternyata tidak ada pintu tol untuk mengambil kartu atau bayar. Hal ini karena setiap pemilik mobil harus punya semacam kartu yang sudah ada barkotnya, bisa ditempel di kaca mobil atau pada saat lewat ditunjukkan untuk di scan, kalau sudah bunyi tit seperti hitungan belanja di toko, maka itu berarti sudah diambil dari deposit yang dimasukkan.


Disiplin lalu lintas tidak cukup hanya dihimbau. Tapi ditegakkan aturannya, suka atau tidak suka. Di Aussie, termasuk di Sydney dan di negara lain dengan disiplin tinggi seperti Eropa, Jepang dan Korea, Para pelanggar lalu lintas cukup dipotret dari kamera yang dipasang di jalan-jalan.


Tidak hanya ditilang dalam bentuk membayar denda hingga 300 dollar, tapi juga dikenakan 2-3 poin pelanggaran, padahal SIM itu hanya 12 poin. Jadi bila sampai 6 kali melakukan pelanggaran lalu lintas, SIM nya dicabut dan baru bisa diberikan lagi 3 tahun kemudian.


Dengan penegakan hukum lalu lintas, pengemudi sangat takut melakukan penggaran sehingga disiplin dan tertib lalu lintas bisa dirasakan meski tidak ada polisi di jalan raya
Hal yang menarik untuk diceritakan adalah dalam soal keuangan. Di Sydney tidak ada istilah tanggal muda, tanggal tua apalagi tanggung bulan. Hal ini karena orang umumnya menerima gaji setiap pekan. Berbeda di negeri kita yang gajian seminggu sekali biasanya buruh bangunan, tukang jahit konveksi, dll.


Di Aussie semua orang gajiannya tiap minggu atau dua mingguan, tidak ada gaji bulanan. Karenanya bayar kost, sewa rumah dan toko bayarnya juga mingguan atau dua pekanan. Jadi di Aussie ini tidak ada istilah duit habis karena tanggal tua. Tiap pekan tanggalnya muda lagi.


Pengangguran juga digaji oleh negara dengan standar sebesar 360 dolar jumlahnya 5% dari 24 jt penduduk. Karenanya setiap orang terjamin hidupnya. Namun tetap saja ada gepeng (gelandangan dan pengemis) di tempat tertentu di keramaian kota, namun bisa dipastikan bahwa mereka bukan tidak ditanggung hidupnya, tapi mereka adalah pemabuk, narkoba dan sejenisnya sehingga untuk hal-hal itu tunjangan dari pemerintah tidak cukup buat mereka.


Pajak untuk rakyat bukan hanya sebagai jargon sebagaimana di Indonesia. Tapi memang betul-betul dirasakan oleh rakyat Australia, termasuk di Sydney. Salah satunya adalah berobat gratis di rumah sakit manapun. Rakyat memiliki kartu untuk berobat dan bisa mendapatkan pelayanan rumah sakit dengan pelayanan terbaik, tidak ada istilah rumah sakit kelas tiga.


Yang mendapatkan kartu siapa saja, tidak hanya orang miskin, apalagi memang tidak ada yang tergolong miskin karena yang menganggur saja dapat tunjangan hidup, mulai dari anak yang baru lahir sampai lansia. Dari pajak, sekolah juga gratis sampai SMA.


Kegiatan ceramah saya sampaikan juga dihadapan KPII (Keluarga Pelajar Islam Indonesia) yang merupakan mahasiswa S1-S3 di UNSW (Univ of New South Wales), cerita yang saya peroleh adalah betapa banyak Mahasiswa Cina yang kuliah di sana, bahkan boleh dibilang jumlahnya 60% dari jumlah mahasiswa disitu. Sekitar 4 hari sebelum saya memasuki kampus itu, saya memang lewat di depan Univ tersebut dan saat mahasiswa bubar, pemandangan memang nampak sekali betapa banyak mahasiswa dengan wajah Cina berkerumum untuk menyeberang jalan. Orang Australi sendiri sedikit yang sampai ke jenjang perguruan tinggi.


Mungkin mereka merasa sudah cukup untuk bisa bekerja dan mendapat gaji yang memadai. Karenanya bila tidak ada mahasiswa dari Asia, banyak Universitas disana yang bangkrut.


Ali Bule dan Robot Stroke


Selain Lakemba saya mengenal orang-orangn istimewa.  Sebut saja Ali Abdullah, Nama ali adalah nama hijrah, sebab dulu namanya Theis Greentree. Namanya diganti  setelah memeluk Islam tahun 1993 di masjid Al Hijrah Sydney. Sehari-hari ia lebih dikenal dengan Ali Bule.
Saya berjumpa pertama kali dengan Ali Bule tahun 2007 saat ia transit di Hotel Milenium Jakarta hendak menunaikan haji bersama rombongan dari Australia yang kebanyakan orang Indonesia, termasuk isterinya yang asal Bandung.


Kala itu, saya memberikan ceramah pembekalan haji kepada mereka. Sesudah haji ia nyantri di PP Darussalam Gontor Ponorogo selama 3,5 tahun sehingga bacaan arabnya sangat fasih.


Selain bekerja, ia juga mengelola komunitas Muslim Al Ikhlas di West, mengadakan kelas pengajian untuk anak-anak dan remaja di rumahnya. Beliau juga menjadi pengurus yang aktif di CIDE, lembaga yang mengundang saya. Bahkan Ali Bule juga menjemput kedatangan saya di Bandara Sydney setelah menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al Hijrah menggantikan saya yang datang terlambat karena delay pesawat. Ia memang ikut pelatihan dakwah yang saya pandu tahun 2011 di Al Hijrah. Terus terang, saya tertarik dengan kesungguhannya sebagai Muslim.


Salah satu hal yang menarik adalah undangan masuk Islam dilakukan oleh Ali Bule kepada ibunya Margaret Joy Greentree. Sejak masuk Islam ia berusaha mempengaruhi ibunya agar masuk Islam, tapi sang ibu selalu mengalihkan pembicaraan, begitu cerita Ali saat saya dan isteri berkunjung ke rumahnya di Sydney West.


Akhirnya Ali menggunakan cara menulis surat agar dibaca sang ibu yang dicintainya.
Penyakit Kanker Otak yang dialami sang ibu membuatnya lebih serius dalam dakwah. Mungkin doa anak cucu dan para santri di PP Gontor membuat sang ibu menunjukan tanda ketertarikan kepada Islam.


Akhirnya sang Ibu betul-betul masuk Islam  21 Maret 2012 dihadapan keluarga yang lain. Ini merupakan kebahagiaan terbesar bagi Ali dan keluarganya, karena dengan begitu ia tidak hanya mendoakan sang ibu saat hidup, tapi juga setelah wafat nanti.


Setelah masuk Islam, sang ibu diberi nama dengan Mardhiyyah oleh seorang ustadz asal Gontor. Allah berkehendak lain, Mardhiyyah dipanggil menghadap ilahi akibat didera tumor otak,  dua bulan setelah memeluk Islam.


Peristiwa ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ali karena sang ibu telah menyambut undangannya untuk masuk Islam.


Terakhir, saya berkenalan dengan Khairul Anam, seorang mahasiswa S3 di UTS (University of Teknology Sydney). Khairul Anama berasal dari Jember, Jawa Timur.Dia mendapat beasiswa dari Diknas sejak setahun yang lalu. Penelitiannya tentang robot untuk orang yang stroke.  Menurut Khairul, beasiswa dari Diknas ada 1000 orang tiap tahun, tapi hanya 500 orang yang bisa diberangkatkan karena kendala bahasa asing.


Yang cukup menarik, hafalan al-Quran Anam cukup lumayan sehingga mulai tanggal 10 Mei 2013 ia dipercaya menjadi imam rawatib di Masjid Al Hijrah. Sebelumnya ia menjadi imam tidak resmi di Iqra Centre. Sedikit kisah ini merupakan kenangan yang tak dapat saya lupakan, mudah-mudahan bermanfaat bagi yang lain.*/Kiriman Drs. H. Ahmad Yani


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=58071


Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Saturday, January 12, 2013

Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Padang Ekspres • Minggu, 13/01/2013 08:05 WIB • • 60 klik

Mohammad Nuh

Tangerang, Padek—Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menghapus sekolah negeri ber­taraf internasional atau rintisan sekolah bertaraf internasional (SBI/RSBI) diduga me­ngun­tu­ngkan sekolah swasta berlabel internasional. Sekarang mereka menjadi pemain tunggal penyedia lanyanan pendidikan berkualitas meskipun biayanya mahal.

 

Potensi itu saat ini menjadi kegelisahan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk itu, me­reka meminta sekolah negeri eks RSBI bisa menjaga kualitasnya.

 

”Kalau bisa kualitasnya harus naik dibandingkan ketika masih dila­beli RSBI,” tandas Mendikbud Mohammad Nuh usai bertemu dengan guru se-Kota Tangerang Selatan di Univeristas Terbuka (UT) kemarin.

 

Pihak Kemendikbud me­mas­ti­kan jika MK tidak mela­rang se­kolah negeri eks-RSBI untuk te­rus menggenjot kualitas layanan pen­didikan. Begitu juga untuk se­kolah-sekolah negeri lainnya. Se­­bab yang menjadi amar pu­tu­san MK adalah penghapusan pasal di UU Sisdiknas yang me­lan­dasi pengoperasional SBI/RSBI.

 

Perkara biaya untuk meng­gen­jot kualitas tersebut, Nuh mengatakan, pengelola tidak perlu khawatir. Dia mengatakan, pemerintah tidak akan tinggal diam.

 

”Masak salah kalau kami pemerintah ingin menciptakan sekolah berkualitas. Coba nilai dengan hati,” ujar menteri asal Surabaya itu.

 

Kemendikbud sedang menjajaki pemberian hibah kompetisi untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sekolah eks-RSBI dan sekolah umum lainnya berhak berkompetisi untuk merebutkan hibah ini. Dengan hibah ini, diharapkan bisa membantu pembiayaan peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.

 

Dengan terjaganya kualitas pendidikan di sekolah-sekolah eks-RSBI itu, Nuh mengatakan layanan pendidikan unggul tidak akan dimonopoli sekolah-sekolah swasta berlabel international yang menjamur di kota-kota besar. Diantaranya di Jakarta dan Surabaya.

 

Nuh mengatakan ketika RSBI masih ada masyarakat memiliki dua alternatif untuk menerima layanan pendidikan unggul. Yakni melalui sekolah negeri berlabel RSBI atau ke sekolah swasta internasional itu. ”Bagi golongan tertentu mungkin tidak masalah masuk sekolah swasta top yang biayanya juga top itu,” kata Nuh.

 

Tetapi untuk kalangan masyarakat dengan tingkat ekonomi pas-pasan, tentu sulit untuk mengenyam pendidikan bertaraf internasional di sekolah swasta itu. Jalan satu-satunya adalah dengan masuk sekolah negeri yang juga bertaraf internasional (RSBI).

 

Mantan rektor ITS itu mengakui jika dalam praktiknya banyak masyarakat kurang mampu mengeluh sulitnya akses masuk ke sekolah RSBI. Tetapi dia mengatakan jika kasus seperti ini sebagian besar hanya terjadi di Jakarta saja. Di kota-kota lainnya, seperti Surabaya, pemko setempat mengklaim jika sekolah RSBI tidak memungut biaya apapun kepada siswa.

 

”Kalau dalam praktiknya (pembiayaan RSBI, red) ada yang melenceng, ya ayo kita perbaiki,” tandasnya. Nuh mengatakan, kurang tepat ketika dalam urusan RSBI ini yang melenceng adalah tataran implementasi tetapi langsung mencabut dasar hukumnya.

 

Sumber di internal Kemendikbud menduga ada konspirasi besar di balik putusan MK ini. Dengan digugurkannya sekolah RSBI dia menduga saat ini sekolah-sekolah swasta internasional itu tertawa lebar. Sebab, muncul dugaan jika RSBI dibiarkan berjalan terus hingga beralih status menjadi SBI, posisi sekolah-sekolah swasta internasional itu terancam.

 

Terkait tudingan ini, Nuh tidak mau berpolemik lebih jauh. Intinya karena putusan penghapusan RSBI ini sudah digedok MK, maka Kemendikbud dengan legawa harus menjalankannya. Dia bahkan mengatakan, hari ini (13/1) akan bertemu langsung dengan Ketua MK Mahfud MD dalam forum alumni Universitas Islam Indonesia (UII) di Jakarta.

 

Dalam forum ini, Nuh mengatakan, akan berkomunikasi secara nonformal dengan Mahfud. Inti pembahasannya adalah soal putusan penghapusan RSBI. ”Soal RSBI ini murni urusan akademik. Jangan sampai ditunggani kepentingan politik,” ujar mantan Menkominfo itu.

 

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Kemendikbud Suyanto mengatakan, sebelum ada RSBI siswa-siswa yang mampu menembus olimpiade internasional didominasi sekolah-sekolah swasta internasional. Sayangnya Suyaeminta nama-nama sekolah langganan olimpiade internasional itu tidak dikorankan.

 

Setelah sekolah negeri RSBI mulai tumbuh di Indonesia, mantan rektor UNY itu mengatakan banyak siswanya mampu tembus ke olimpiade internasional. Bahkan berhasil menyabet juara atau medali emas. ”Banyak itu dari pelosok Semarang, Jawa Timur, dan lain-lainnya,” tutur Suyanto.

 

Untuk itu Suyanto berharap sekolah-sekolah eks RSBI tidak melunturkan tradisi mengikuti olimpiade internasional. Dia mengatakan untuk mengikuti olimpiade internasional ini tidak ujug-ujug. Tetapi melalui seleksi berjenjang mulai dari level kabupaten/kota hingga nasional dulu.

 

Selain menyanjung soal keunggulan RSBI, Suyanto mengakui juga sekolah dengan label itu memang memiliki kelemahan. Dia mengatakan kelemahan utama adalah soal akuntabilitas. Suyanto mengatakan seharusnya pemda yang menaungi sekolah RSBI harus mendorong akuntabilitas pengelolaan keuangan di sekolah.

 

Mulai dari komite sekolah, orangtua siswa hingga LSM bahkan media massa tidak perlu ditutup-tutupi untuk mengakses laporan keuangan di RSBI. Sebab, bagaimana pun juga sekolah RSBI negeri memiliki tanggung jawab transparansi kepada masyarakat karena memang lembaga publik. (wan/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/01/12/154084/WN-Vietnam-Ketahuan-Bikin-Paspor-RI-


Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Thursday, January 3, 2013

Sejarah Islam di Asia Tenggara (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka.

Ada sekitar 240 juta Muslim tinggal di Asia Tenggara. Jumlah tersebut hampir seperempat dari total jumlah umat Islam di dunia yang mencapai 1,6 miliar jiwa.

Indonesia, sebagai bagian dari Asia Tenggara, bahkan merupakan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Sebanyak 12,9 persen dari total Muslim dunia hidup di Indonesia.

Meski Islam lahir di tanah Arab, namun jumlah Muslimin didominasi masyarakat Asia, terutama Asia Selatan dan Tengggara.

Tak sedikit negara Asia Tenggara menjadi rumah bagi mayoritas Muslim. Bahkan, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Dibanding saudara-saudara seiman mereka di Timur Tengah, umat Islam di Asia Tenggara hidup lebih aman dan damai. Konflik agama, aksi kekerasan, ataupun peperangan sangat minim.

Meski berasal dari etnik yang heterogen, Muslim Asia Tenggara sebagian besar menganut paham agama yang sama, yakni Sunni dengan mazhab Syafi’i.

Menilik sejarahnya, Malaka merupakan gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara.

Dalam versi lain disebutkan, Islam lebih dahulu dikenal di Samudra Pasai, Aceh, sebelum sampai ke Malaka. Keberadaan Islam di Samudra Pasai sendiri merupakan dampak perkembangan penyebaran Islam dari Kerajaan Perlak.

Prof A Hasymi dalam bukunya “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia” menyatakan, Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri abad ketiga Hijriah.

“Buktinya, pada 173 Hijriah atau 800 Masehi, sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa para saudagar di bawah pimpinan Nakhuda Khalifah dari Teluk Kambay, Gujarat,” tulis Hasymi.

Pada 1 Muharam 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Islam Perlak resmi berdiri dengan Sayid Abdul Aziz sebagai sultan pertama. Adapun, Kerajaan Samudera Pasai baru berdiri pada 1267 Masehi.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/01/02/mfzuoe-pelayanan-di-pemkot-denpasar-berjalan-normal


Sejarah Islam di Asia Tenggara (1)

Monday, August 12, 2013

Toleransi di Kaimana Lahir dari Pandangan Agama Keluarga



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





KAIMANA, KOMPAS.com – Penyebaran ajaran Islam di Kaimana, Papua Barat sejak masuk awal abad XV di Borombouw, berkembang sangat pesat. Adanya kesamaan ajaran Islam dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat asli, menjadi alasan ajaran Islam mudah diterima.


“Contohnya pasangan yang belum menikah tidak boleh tinggal serumah sebelum hubungan mereka diresmikan dalam pernikahan. Karenanya ajaran Islam memperjelas dan mempertegas apa yang dipahami masyarakat asli,” kata Umar Sabuku, Mangkubumi Kaimana, belum lama ini.


Menurut Umar, saat agama Islam masuk dengan aturan, masyarakat asli kemudian terbagi, ada yang memilih menganut ajaran islam dan ada pula yang tetap menganut kepercayaan lama dengan tradisi memakan binatang yang diharamkan oleh ajaran Islam.


“Dalam satu marga warga asli ada yang menganut keyakinan berbeda, karena sejak awal penyebaran ajaran Islam tidak ada paksaan. Tidak ada gesekan dengan perbedaan keyakinan ini karena masih ada hubungan kekerabatan, serta adanya peranan Raja Sran Kaimana yang menjembatani perbedaan keyakinan ini,” urai Imam Masjid Nurul Falah Kampung Bumi Surmai, Kaimana.


Hal Senada juga diungkapkan peneliti LIPI, Muridan Widjojo bahwa masyarakat asli Kaimana sudah terbiasa hidup dalam keluarga dengan keyakinan yang berbeda. “Karena itu muncul istilah agama keluarga,” ungkap Muridan.


Dijelaskan Muridan, meski di wilayah Kaimana terdapat dua Kerajaan Islam yakni Kerajaan Sran Eman Muun (Kerajaan Sran Kaimana) dan Kerajaan Namatota namun tidak serta merta Islam menjadi kepercayaan dominan penduduk setempat.


Menurut Muridan, Raja pada dua kerajaan ini tidak memiliki pengaruh yang efektif dalam penyebaran Islam karena belum mengalami pelembagaan dan hanya sebatas identitas nominal.


“Pelembagaan Agama Islam baru berlangsung sekitar tahun 1950-an bersamaan pendirian institusi pendidikan seperti madrasah. Itu pun mati-hidup,” kata Muridan yang pernah meneliti tentang Penyebaran Islam di Maluku dan Papua.


Berbeda dengan penyebaran agama Kristen yang masuk bersama Belanda di awal abad XX, khususnya melalui pendidikan. Kondisi masyarakat yang pragmatis pada saat itu, dan karena Pemerintah Belanda memberikan pelayanan pendidikan, kesehatan, mengakibatkan agama Kristen juga menyebar luas.


Namun adanya perbedaan yang sudah berlangsung lama di Kaimana, justru melahirkan toleransi di antara warga penganut keyakinan berbeda, karena masih kuatnya kekerabatan penduduk asli.


Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Kaimana, Muhamad Lakotani juga mengakui kuatnya toleransi antarumat beragama di Kaimana khususnya warga asli karena masih kentalnya rasa kekeluargaan.


“Misalnya marga Warfete ada yang Muslim ada juga Kristen, dan yang seperti ini banyak di Kaimana. Kalau ditarik ke atas mereka masih keluarga. Faktor perkawinan juga mempengaruhi kemajemukan ini,” kata Lakotani yang juga ketua Majelis Muslim Papua.


Menurut Lakotani toleransi umat beragama di Kaimana bisa terlihat pada saat perayaan hari besar keagamaan ataupun hajatan tertentu. Lakotani mencontohkan kepanitiaan MTQ ke-4 yang diadakan di Kaimana tahun 2012 lalu.


“Panitianya tak hanya umat Muslim tapi juga dari Kristiani. Bahkan yang menyanyikan mars MTQ adalah tim Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Kabupaten Kaimana,” ungkap Lakotani.


Toleransi yang tumbuh di Kaimana, menurut Lakotani, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dan sudah berlangsung sangat lama. Meski sempat beberapa kali dilanda isu SARA, akibat gesekan di tengah masyarakat, namun dapat dengan cepat diatasi karena semua pihak sadar untuk menjaga toleransi.


Komunikasi antarpimpinan umat beragama di Kaimana, menurut Lakotani, berjalan sangat baik melalui Forum Komunikasi yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Kaimana. Namun, sebelum forum itu terbentuk komunikasi antarpimpinan umat beragama, tokoh adat dan tokoh masyarakat juga sudah berlangsung secara informal sejak dulu sebelum Kabupaten Kaimana dimekarkan dari Kabupaten Fak-Fak. 


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>






































Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/02/163205/Obama-dan-Dunia-Islam/7


Toleransi di Kaimana Lahir dari Pandangan Agama Keluarga