Showing posts sorted by relevance for query daerah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query daerah. Sort by date Show all posts

Monday, December 17, 2012

Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Anggaran pemerintah di Aceh pada 2013 terdiri dari Satker Vertikal Kementerian/Lembaga Rp7,599 triliun, dekonsentrasi Rp449,2 miliar, Tugas Pembantuan Rp554,4 miliar, Urusan Bersama Rp481,3 miliar, transfer ke daerah untuk provinsi Rp8,190 triliun serta untuk kabupaten/kota Rp14,182 triliun.

Penyerahan DIPA di Gedung Serba Guna Kantor Gubernur itu dihadiri Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi, Kajati TM Syahrizal SH, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Kasdam Iskandar Muda dan Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Provinsi Aceh Achmad Saifuddin.

Dari 23 bupati/walikota di Aceh, hanya 20 di antaranya yang hadir menerima langsung DIPA, sementara tiga kepala daerah tidak hadir dan diwakili sekda. Belum ada penjelasan dan alasan terkait ketidakhadiran mereka.

Penyerahan DIPA secara simbolis, pertama diterima instansi vertikal seperti Kodam Iskandar Muda, Kejaksaan Tinggi Aceh, Polda, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, Kanwil Kementerian Agama Aceh, Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry menyusul para bupati/walikota.

Terkait dengan penyerahan DIPA tahun 2013 ini, Gubernur Zaini meminta bupati/walikota dan pimpinan SKPA/SKPK agar menggunakan dengan sebaik-baiknya dana pembangunan ini, dengan berlandaskan pada peningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat, menurunkan jumlah penduduk miskin Aceh sebesar 2 persen per tahun dan penciptaan lapangan pekerjaan serta kesempatan berusaha sebagai upaya menurunkan jumlah pengangguran dari 9,10 persen menjadi 7 persen.

Data BPS menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh sebesar 19,46 persen atau jauh di atas nasional yang hanya 11,5 persen dan tingkat pengangguran 9,10 persen. Aceh tentu tidak ingin memberi kontribusi besar untuk data kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Karenanya, kerja keras sangat dibutuhkan agar tingkat pengangguran dan kemiskinan di Aceh bisa menurun, dengan demikian Aceh tidak lagi menjadi pemberat pertumbuhan ekonomi Indonesia melainkan Aceh menjadi pendorong dan atau kontributor percepatan peningkatan kualitas kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Untuk ini pastikan seluruh program harus tepat sasaran dan tepat guna dan tidak ada penyimpangan dalam penggunaannya,” harapnya.

Zaini menyatakan, sebagai bagian dari mewujudkan misi tatakelola pemerintah Aceh yang baik, perlu ditingkatkan kualitas sistem transparan dan akuntabilitas pengelolaan anggaran pembangunan dengan membuka akses masyarakat dalam memperoleh informasi program-program pembangunan.

Stimulus

DIPA 2013 juga harus dijadikan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi Aceh secara inklusif, merata, dan mendorong perbaikan kapasitas fiscal Aceh dalam mewujudkan kemandirian Aceh dalam anggaran pembangunan.

“Pastikan seluruh tahapan pelaksanaan program pembangunan sesuai dengan peraturan-perundang-undangan yang berlaku sehinggal kinerja kita dalam mengelola anggaran dapat meningkat dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dengan demikian kita sudah menjalankan dan menerapkan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatakelola pemerintah sebagai bagian dari upaya kita membenahi tatakelola pemerintahan Aceh,” terangnya.

Terkait semangat membangun Aceh sebagaima visi dan misi Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, Doto Zaini membuka kesempatan yang luas kepada pelaku bisnis dan masyarakat internasional untuk dapat mendukung pendanaan pembangunan Aceh dengan bekerjasama secara kemitraan yang sehat, setara dan terbuka.

“Kami juga meminta kepada DPR-RI khususnya Badan Anggaran untuk memberikan perhatian khusus kepada Aceh, dana APBN yang lebih signifikan melalui DAU, DAK dan Dana Dekonsentrasi agar lebih banyak diprioritaskan kepada Aceh dalam rangka menghapus angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh,” jelasnya.

Diungkapkan, ada sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang masih masuk kategori daerah tertinggal. Karenanya bagi daerah yang mendapat dana pembangunan untuk daerah tertinggal, supaya dapat menggunakan anggaran itu dengan tepat dan tidak lagi daerah tertinggal. “Saya berusaha, Aceh tahun 2017 nanti tidak ada lagi kabupaten yang masuk katagori daerah tertinggal dengan meningkatnya kualitas kesejahteraan rakyat dan kapasitas fiskal daerah,” jelasnya.

Hal lain yang paling penting adalah pembahasan APBA/APBK di tingkat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dan kabupaten/kota. Sesuai PP No.58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, APBD 2013 di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia harus selesai paling lambat akhir tahun ini.

“Untuk ini, saya minta DPRA dan DPRK serta para bupati/walikota untuk dapat menetapkan APBA dan APBK sesuai PP 58/2005, tandas gubernur. (mhd)

Article source: http://travel.kompas.com/read/2012/12/17/06514727/Belum.ke.Kuala.Lumpur.Tanpa.ke.Menara.Kembar.Petronas


Penggunaan Anggaran Harus Mampu Turunkan Kemiskinan dan Pengangguran

Tuesday, February 5, 2013

Mengukur Kekuatan Anas Urbaningrum di Demokrat

Tribunnews.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum disebut-sebut dalam posisi  terancam. Sejumlah senior partai yang masuk dalam struktur kepengurusan Majelis Tinggi dan Dewan Pembina Partai meminta Anas mundur untuk menyematkan partai yang kini berada di tubir kehancuran.

Namun Anas bergeming. Dia menolak mundur dari jabatannya. “Tidak ada saya, tidak mendengar apa-apa itu (meminta mundur). Siapa yang ngomong?” kata Anas

Bahkan barisan pendukung Anas di DPP Demokrat seperti Gede Pasek Suardika dan Saan Mustopa turun tangan membela Anas. “Kalau desakan mundur itu kan sudah ada dari bab awal, sementara kami sudah mau bab terakhir. Jadi enggak ada masalah,” ujar Pasek dikutip Kompas.com.

Politisi Demokrat Ruhut Sitompul menyebut Gede Pasek dan Saan Mustofa sebagai barisan pendukung Anas. Selain Nurhayati Assegaf, Ahmad Mubarok, dan beberapa pengurus DPP Demokrat lainnya.

Anas Urbaningrum tampaknya percaya diri tetap akan bertahan di Demokrat.

Apalagi karena Anas yakin memiliki basis massa pendukung setia hingga ke tingkat DPC Demokrat (kabupaten/kota).

Informasi yang diperoleh Tribunnews.com, dua tahun menjabat ketua umum Demokrat tampaknya dimanfaatkan oleh Anas untuk memperkuat basis pendukungnya di berbagai daerah dengan rajin turun menemui pimpinan Demokrat di daerah.
Anas memasukkan sejumlah orang-orangnya menjabat ketua DPD 1 Demokrat tingkat provinsi dan DPD II Demokrat tingkat kabupaten/kota.

Jika mengemuka wacana menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat mengganti ketua umum partai maka tentu saja bisa digelar dengan syarat yang diatur dalam AD/ART partai yakni  atas permintaan majelis tinggi partai atau permintaan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah anggota Dewan Pimpinan Daerah dan setengah jumlah anggota Dewan Pimpinan Cabang.

Pengamat Politik M Qodari mengakui upaya  sejumlah senior Demokrat  melengserkan Anas akan berhadapan dengan para pendukung Anas yang ada di pusat dan daerah.

“Ini bakal jadi ramai di tahun ini,” kata Qodari.

Menurut Qodari, pendukung Anas paling besar berada di daerah, termasuk sejumlah ketua DPD dan DPC Demokrat.

“Kalau pendukungnya dari daerah tidak besar  kan tidak menang Anas jadi Ketua Umum Demokrat,” kata Qodari.

Lanjut Qodari, sebelum menjadi ketua umum Demokrat saja Anas  sudah besar apalagi setelah 2 tahun konsolidasi.

“Problem Anas kan kesan bahwa dia terlibat kasus Nazar. Kalau secara jaringan dan kerja politik mestinya tidak ada masalah,” ujarnya.

Dijelaskan, soal citra PD sebagai partai korup bukan karena Anas semata tapi karena kader PD yang lain yang sudah jadi tersangka atau terdakwa seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh, Hartati, Andi Mallarangeng, dan sebagainya.

Diberitakan sebelumnya 5 menteri dari Demokrat dan sejumlah gubernur dari Demokrat meminta Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun tangan menyelamatkan Partai Demokrat.
Ini menyusul hasil survei Partai Demokrat yang terus merosot.Dalam survei SMRC yang dirilis kemarin menyebut perolehan suara Demokrat sekitar 8 persen kalau Pemilu dilakukan sekarang.

Diduga penyebab utama suara Demokrat anjlok karena partai tersandera oleh Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum yang disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi Hambalang. Jero mengatakan akan lebih bagus kalau Anas mundur.

(aco)

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/27092/04/02/2013/berani-berkata-dan-berani-berbuat,-ciri-beriman!.html


Mengukur Kekuatan Anas Urbaningrum di Demokrat

Friday, December 13, 2013

Polri: Pengamanan Natal Diprioritaskan di 14 Polda

KAMTIBMAS
Polri: Pengamanan Natal
Diprioritaskan di 14 Polda

Sabtu, 14 Desember 2013


JAKARTA (Suara Karya): Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Badrodin Haiti mengatakan, ada 14 kepolisian daerah (polda) yang masuk dalam prioritas utama dalam pengamanan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.


Nanti ada dua daerah prioritas, prioritas pertama adalah daerah-daerah yang perayaan Natalnya cukup banyak ada sekitar 14 polda, kata Badroddin di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.

Jenderal bintang tiga ini menjelaskan, pembagian daerah cakupan pengamanan menjadi dua, yakni Prioritas Satu dan Prioritas Dua, didasarkan pada aspek kewilayahan.

Daerah yang diprioritaskan di antaranya DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Pengamanan dilakukan dengan mendirikan pos pengamanan yang juga menempatkan personel. Mulainya tanggal 23 Desember, ujarnya.

Ia juga menampik adanya ancaman serangan bom aksi terorisme, dan meyakinkan bahwa kepolisian melakukan antisipasi secara menyeluruh.

Kan yang kita amankan tidak hanya tempat-tempat yang ada gereja, tetapi juga tempat lain yang ada pusat keramaian, pelabuhan, vihara, semua tempat kita amankan, ujarnya.

Lebih lanjut Badrodin mengatakan, persiapan pengamanan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 masih akan dibicarakan dengan Asisten Operasional (Asops) Polri pada 17-18 Desember 2013.

Adapun operasi pengamanan dan pelayanan dalam rangka perayaan Natal rencananya akan berlangsung pada 23 Desember 2013-6 Januari 2014.

Nanti pengamanan Natal itu tidak hanya polisi saja, tetapi juga mendapat pengamanan dari instansi lain, misalnya dari masalah cuaca saat Natal dan Tahun Baru, persediaan lain seperti logistik, dan sebagainya, katanya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta aparat keamanan mempersiapkan pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru 2014 agar masyarakat dapat beribadah dengan aman dan tenteram.

Saya ingin perayaan agama apa pun, baik itu dilakukan oleh umat Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, semua harus dijamin keamanannya agar mereka bisa menjalankan ibadahnya dengan aman, tenteram, dan penuh kebahagiaan, kata Presiden di Jakarta, Kamis.

Berbicara di Bandara Halim Perdanakusuma sebelum bertolak menuju Tokyo untuk menghadiri Pertemuan Puncak ASEAN-Jepang, Presiden juga mengingatkan aparat keamanan untuk mewaspadai kemungkinan adanya pihak yang memanfaatkan perayaan Natal dan Tahun Baru untuk tujuan tidak baik.

Saya telah menerima laporan dari Kapolri tentang adanya elemen-elemen yang merancang gangguan keamanan dan ketertiban di tempat-tempat tertentu, katanya merujuk gangguan keamanan yang disebut seolah-olah berkaitan dengan pemilihan umum.

(Antara/Dwi Putro AA)

Article source: http://hot.detik.com/read/2013/11/28/142542/2426386/230/ketua-mui-cinta-ada-batasnya-jangan-karena-cinta-jadi-murtad?991104topnews


Polri: Pengamanan Natal Diprioritaskan di 14 Polda

Thursday, June 13, 2013

[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa

[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa


Liputan6.com, Bandung : Pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat terpilih, Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar, diwarnai unjuk rasa. Seorang pengunjuk rasa berusaha masuk ke dalam gedung, saat pelantikan berlangsung. Meski diwarnai unjuk rasa, acara pelantikan berlangsung lancar.

Liputan 6 SCTV, Jumat (14/6/2013) memberitakan, seorang pengunjuk rasa berteriak-teriak dan berusaha masuk ke Gedung Merdeka, yang terletak di Jalan Asia Afrik, Bandung, tempat pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat terpilih pada Kamis 13 Juni. Sejumlah polisi berpakaian preman dengan sigap mengamankan pengunjuk rasa itu.


Namun, pengunjuk rasa itu tidak terima dengan perlakuan polisi. Sehingga dia terus berteriak, menolak pelantikan Ahmad Heryawan sebagai Kepala Daerah Jawa Barat. Aksi tersebut menarik perhatian sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi.


Masih di sekitar Gedung Merdeka, puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Bandung Raya, serta Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga menggelar orasi menolak pelantikan Ahmad Heryawan sebagai Kepala Daerah Jawa Barat. Pengunjuk rasa menagih dan akan mengawal janji-janji Ahmad Heryawan, pada saat kampanye lalu.


Meski didemo puluhan mahasiswa, jalannya pelantikan Kepala Daerah Jawa Barat periode 2013-2018, yang dihadiri sejumlah menteri dan pejabat, tetap berlangsung lancar. Pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar dilantik oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, dalam rapat paripurna istimewa DPRD Jawa Barat. Pasangan itu terpilih sebagai Kepala Daerah setelah mendulang suara terbanyak dalam Pemilukada Jawa Barat, yang digelar satu putaran. (Yog/Eks)


Article source: http://www.merdeka.com/jakarta/039dinas-peternakan-harus-perketat-penjualan-daging-babi039.html


[VIDEO] Pelantikan Aher-Deddy Diwarnai Unjuk Rasa

Sunday, March 17, 2013

Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Ulet dan pantang menyerah. Itulah Maman Abdurrahman. Pengusaha muda asal Desa Mukok, Sanggau, Kalbar ini sukses mengembangkan usahanya di bidang perminyakan dan gas (migas). Bahkan perusahaan yang dipegangnya, Starborn Chemical, berkembang pesat menyaingi perusahaan asing yang juga bidang perminyakan.

Pria berpostur besar tinggi ini benar-benar tidak membayangi kalau dirinya akan terjun di dunia usaha. Apalagi di bidang perminyakan. Pada tahun 1998, Maman pergi ke Jakarta, niatnya ingin mendaftar menjadi polisi. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 3 Pontianak, Maman tidak bisa ikut bersaing menjadi polisi, karena umurnya yang masih terlalu muda (belum 17 tahun), hingga tidak memenuhi syarat. Jadi, mesti menunggu setahun lagi agar syarat mendaftar polisi terpenuhi.

Daripada menganggur, pria kelahiran Desa Semuntai, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau ini memilih untuk kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Maman lulus di Fakultas Teknik Jurusan Perminyakan. Selama setahun bergelut di dunia kampus, Maman aktif di dunia pergerakan dan organisasi kemahasiswaan. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketika itu sedang bergejolak pergerakan mahasiswa untuk mewujudkan reformasi pemerintahan.

Pria kelahiran 1980 ini mengaku bingung. Dia yang lebih banyak menghabiskan waktu kecilnya di Semuntai, Sanggau serta Sekadau dan menyelesaikan sekolahnya di Kota Pontianak, harus ikut berdemonstrasi mewujudkan reformasi di Semanggi I dan Semanggi II serta di kampusnya Trisakti, dengan konstalasi perpolitikan nasional yang mencekam. Merasa asyik menuntut ilmu perminyakan dan aktif di dunia pergerakan, sirna sudah keinginan Maman untuk menjadi polisi.

“Saya selalu ingat dengan pesan guru saya di SMA Negeri 3 dulu. Selagi ada niat baik dan usaha, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa kita lakukan, tentunya juga harus ditunjang dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki,” ungkap Maman.

Maman fokus menyelesaikan kuliahnya tanpa harus menghilangkan keikutsertaannya di dunia pergerakan. Maman mengubah mimpinya menjadi akademisi atau teknokrat di bidang perminyakan dan menempa pola pikirnya dengan pemikiran HMI. Dua perspektif atau pola pikir tergabung dalam dirinya, yakni pemikiran di bidang perminyakan dan pergerakan HMI.

Sakitnya menjalani hidup yang berjauhan dengan keluarga tidak mematahkan semangat pemuda desa ini untuk menuntut ilmu dan berkiprah di Jakarta. Kebetulan jurusan perminyakan ini dibangun dengan pola militer. Solidaritas benar-benar ditekankan di kampusnya itu. Persaudaraan sesama mahasiswa jurusan perminyakan benar-benar terjaga. Saling bantu sesama mahasiswa, khususnya mereka yang datang dari daerah. Meskipun harus merogoh kocek mengumpul uang receh untuk makan, namun tetap saling berbagi dengan kawan-kawannya yang lain, baik dari Papua, Kaltim, Aceh, maupun provinsi lainnya.

Mereka yang kuliah di Universitas Trisakti sekitar 30 ribu mahasiswa dari semua fakultas. Rata-rata mereka orang-orang berduit. Hampir semua yang kuliah di situ anak pejabat di republik ini. Ada anak gubernur, bupati, maupun pejabat TNI serta Polri bahkan anak menteri. Banyak didominasi anak-anak Jakarta. “Kita ini anak-anak daerah relatif termaginalkan di Trisakti. Namun kita tetap optimis, anak-anak daerah juga mampu seperti anak-anak di Jakarta,” jelas Maman.

Pada tahun 2004, mungkin karena jalan Allah juga, Maman diberikan kepercayaan oleh kawan-kawannya menjadi Presiden Mahasiswa Trisakti. Dari sinilah awal kariernya berorganisasi untuk masuk ke panggung yang lebih besar di dunia kemahasiswaan.

Hebatnya, ternyata pemuda Mukok ini menjadi Presiden Trisakti pertama dari daerah. Selama ini selalu dijabat anak-anak Jakarta yang berbasiskan militer. Ini menjadi sebuah motivasi baginya, bahwa anak daerah juga mampu. “Kita dari daerah jangan berkecil hati. Kita juga memiliki peran tersendiri di mana pun kita berada,” paparnya.

Pascakuliah, Maman mengambil jalan yang berbeda dari kawan-kawan aktivisnya. Mereka lebih banyak memilih jalur politis dengan bergabung di partai poltik (parpol). Sedangkan Maman mengembangkan keilmuannya di bidang perminyakan.

Maman menjadi engineer atau tenaga profesional di perusahaan Premier Oil, salah satu perusahaan perminyakan asing dari Inggris. Dari sinilah dia banyak mendapatkan pengalaman tentang industri perminyakan di beberapa negara. Karena Premier Oil, aset usahanya bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga negara lain, seperti Filipina, Thailand, dan India, serta London sebagai kantor pusatnya.

Bagi Maman, perspektif global dari sektor ekonomi di Indonesia tidak bisa lepas dari situasi internasional. Namun bukan berarti harus menghamba pada globalisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan globalisasi ini untuk kepentingan bangsa.

“Itu yang saya dapatkan dari pengalaman bekerja di perusahaan asing. Kultur profesionalisme dan good governance itu juga diterapkan di negara asing. Ini menurut saya harus dibawa untuk mengembangkan kampung halaman kita dan bangsa kita. Saya bekerja di perusahaan Premier Oil hampir tujuh tahun. Saya sempat disekolahkan di Australia selama enam bulan untuk mengembangkan industri perminyakan,” jelasnya.

Pada tahun 2010, Maman bersama rekan bisnisnya mengembangkan perusahaan perminyakan, Starborn Chemical PT Luas Birus Utama. Pada dasarnya perusahaan yang dikembangkannya bukanlah perusahaan baru, melainkan perusahaan lama yang sudah berdiri sejak tahun 1993 silam. Maman bersama mitra kerjanya mengambil alih perusahaan itu dan memperbaiki manajemennya.

Starborn Chemical yang berkantor di Jalan Industri Selatan IV, Kawasan Industri Jababeka 2 Cikarang, Bekasi ini murni 100 persen perusahaan lokal. Perusahaan ini bergerak di bidang penyedia jasa dan kebutuhan bahan-bahan kimia di industri perminyakan. Maman dan rekan-rekannya membuat beberapa produk untuk kebutuhan fasilitas produksi di perusahaan minyak dan gas (migas). Salah satu contoh, membuat produk kimia, agar tidak terjadi karatan pada pipa minyak. Starborn Chemical juga membuat bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produksi minyak.

“Kita coba kembangkan teknologi kimia dengan teknologi perminyakan. Kita juga buat produk bahan-bahan kimia untuk kebutuhan grilling di wilayah pengeboran,” ungkap Maman.

Banyak juga suka duka dalam mengembangkan Starborn Chemical. Maman harus turun ke hutan menuju lokasi pengeboran. Harus jual mobil untuk modal pengeluaran kantor setiap bulannya. Kini Starborn Chemical sudah bisa bersaing dengan perusahaan asing di dunia migas. Pengalaman Maman di Premier Oil diterapkan di perusahaannya sekarang. “Alhamdulillah bagus. Dulu perusahaan ini kolaps, sekarang bisa berkembang lagi. Sebelumnya karyawan kita sekitar 20 orang dan sekarang sudah hampir 50 orang. Kita sekarang juga lagi kerja di lokasi pengeboran minyak. Hampir beberapa perusahaan minyak di Indonesia, kita ikut andil untuk mengerjakannya. Sekarang kita juga lagi ekspan di Petronas—Malaysia dan Slumber Zee—Thailand. Total aset Starborn Chemical sudah mencapai 3 Juta US Dollar dengan revenue per tahun 8-10 juta US Dollar,” kata Maman.

Pria yang tak menyangka bisa mencari nafkah dan sukses berkarier di ibu kota negara ini juga melepaskan masa lajangnya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Maman si anak Mukok mempersunting Agustina Hastarini yang akrab disapa Tina Astari, artis sinetron yang wajahnya sudah tidak asing lagi di layar kaca. Setelah menikah dengan Maman, Tina tidak lagi berakting. Wanita berwajah cantik itu ingin fokus melayani suaminya dan mengasuh si buah hatinya Merpati Cattleya Zarita Rahman.

Maman yang lama bekerja di perusahaan asing memberikan pandangan, globalisasi jangan dilihat sebagai bentuk penjajahan di Indonesia. Masyarakat harus mengubah pola pikirnya, bahwa globalisasi itu juga sebagai alat untuk pengusaha lokal ekspansi ke negara lain. Jangan dibalik. Menganggap globalisasi sebagai sebuah sistem atau kesepakatan global, untuk menjajah Indonesia. “Bagi saya itu sebuah pemikiran yang pesimis. Kita harus berpikiran optimis, menjadikan sistem global ini untuk keuntungan kita,” katanya.

Ada tiga perusahaan besar dunia yang menjadi pemain besar di bidang kimia perminyakan. Sementara perusahaan lokal Indonesia hanya Starborn Chemical. Namun Starborn Chemical ini bisa bersaing dengan pemain internasional. Bahkan saat ini Starborn Chemical akan menembus pasar Malaysia dan Thailand.

“Tergantung niat kita mau atau tidak dan kita yakin atau tidak. Kalau kita tidak yakin, maka sulit juga mewujudkan apa yang diinginkan. Kemudian ambisi. Tapi tetap dengan dasar profesionalisme dan transparansi sistem keuangan di perusahaan. Dasar kualitas dan kompetensi juga harus digunakan. Dulu banyak yang mengatakan bahwa perusahaan lokal sulit bersaing di dunia migas, buktinya kita juga mampu bersaing. Kita mampu membuktikan perusahaan lokal yang tidak ada tenaga asingnya sanggup membuktikan di mata internasional dan dunia migas,” ungkap Maman.

Merasa dapurnya sudah mengepul dengan baik, Maman kembali lagi kepada aktivitasnya di organisasi. Kini Maman bergabung ke organisasi kepemudaan di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan menjadi pengurus dewan perwakilan pusat Partai Golkar.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita punya niat baik dan keyakinan, saya yakin putra Kalbar juga mampu memimpin bangsa ini baik di dunia ekonomi maupun politik,” ujar Maman. (hamka saptono)

Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=57178


Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Sunday, October 13, 2013

Menambah seri Islam di Selangor

 


SELEPAS memenangi kerusi  Dewan Undangan Negeri (Dun) Sabak pada pilihan raya umum (PRU) 2013 lalu, rutin hidup  USTAZ SALLEHEN MUKHYI berubah. Walaupun pernah bergelar Adun apabila menang buat pertama kali pada PRU1999, beliau hanya memanaskan kerusi pembangkang di Dun Selangor selama sepenggal. Kini tugas beliau semakin mencabar apabila diamanahkan sebagai Pengerusi Jawatankuasa Tetap Hal Ehwal Islam, Pemodenan Pertanian dan Pembangunan Desa Selangor pada penggal kedua pemerintahan Pakatan Rakyat di Selangor. Ketiga-tiga portfolio ini berhubung rapat dengan masyarakat Melayu luar bandar – segmen masyarakat yang masih gagal dikuasai Pakatan Rakyat khususnya di wilayah-wilayah koridor utara Selangor. Ikuti wawancara wartawan Harakahdaily, AHMAD TAJDID  dan SAIDAH HAIRAN bagi meninjau sudut pandang Ustaz Sallehen terhadap portfolio yang diketuainya. Wawancara berlangsung di pejabat beliau di Tingkat 15, Bangunan Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah di Shah Alam.


 



 


Bagaimana ustaz melihat kepercayaan Menteri Besar, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim terhadap ustaz untuk mempengerusikan  portfolio berhubung Islam, pertanian dan desa?


 


Pertama sekali saya merujuk kepada keperluan untuk kita menangani 2.8 juta umat Islam di Selangor bagi  dibangunkan melalui pembangunan Hal Ehwal Islam.  Saya pun tidak tahu apa pertimbangan sebenar (MB) memilih saya mengetuai portfolio ini. Kepercayaan yang diberikan kepada saya akan saya laksanakan khususnya untuk 2.8 juta umat Islam di Selangor.


 


Portfolio yang saya sandang ini merangkumi  pembangunan ilmu sampai kepada pembangunan fizikal sama ada masjid, sekolah, maahad dan lain-lain.


 


Jadi ini satu peluang kepada saya untuk memastikan seluruh umat Islam di Selangor dapat merasai pembangunan Islam melalui kerajaan negeri. Pada era pemerintahan Pakatan Rakyat ini, kita mempunyai fokus yang lebih terarah dan hala tuju yang lebih jelas terhadap Hal Ehwal Islam. Itu yang saya rasa  Tan Sri (Menteri Besar) kehendaki.


 


Setakat ini apa aspek tentang Hal Ehwal Islam ustaz rasa perlu diberi perhatian khusus?


 


Bila bercakap soal tuntutan,  saya kena melihat kepada keperluan dan kehendak masyarakat. Bukan sahaja tuntutan saya tetapi lebih dilihat tuntutan masyarakat. Yang lebih besar dan menonjol adalah soal  jaminan pendidikan anak-anak atau generasi melalui satu pendidikan yang lebih terjamin.


 


Kita memfokuskan kali ini untuk menyediakan Maahad Tahfiz Sains di setiap daerah. Ini kerana menyedari bahawa ia merupakan satu tuntutan yang paling besar masa kini. Saya fikir ini dapat membantu meningkatkan kefahaman umat Islam.


 


Kedua adalah keperluan untuk menyediakan sumber tenaga manusia iaitu guru atau murabbi dan para ulama. Ini fokus yang besar juga. Sebab apabila kita semak melalui kesempatan saya dalam ruang yang ada ini, kita selama ini ramai menghantar pelajar mengikuti pengajian di Timur Tengah. Masalahanya kita kita tidak dapat’ pegang’ mereka.  Sehingga masalah kita sekarang ini jika hendak membina sekolah bukan masalah duit sangat tetapi tenaga pengajar. Ini juga menjadi fokus untuk saya cuba hadapi dan melihat pendidikan sebagai satu segmen yang mesti diberi penekanan berbanding yang lain.


 


Perkara yang lain sudah nampak sama ada dari pengurusan masjid walaupun masih ada lagi yang merungut. Bagaimanapun, masjid kita sudah bertambah berseri cuma daripada sudut asas sahaja.


 


Tentang Maahad Tahfiz Sains sekarang ini ada projek perintis?


 


Maahad tahfiz kita sudah ada tiga tempat di Kuala Langat, Klang dan di Sabak Bernam. Cuma di Sabak, kita letak sementara di Institut Latihan Dakwah. Bahkan di Sabak Bernam bukan sahaja Maahad Tahfiz Sains biasa. Kita wujudkan kelas Turath iaitu pelajar tingkatan satu yang  akan didedahkan satu pendidikan yang kurikulumnya menggunakan kitab Turath iaitu kitab besar yang lazimnya menjadi rujukan pelajar universiti.


 


Pelajar diberi penekanan mempelajari  bahasa Arab, bagaimana hendak baca kitab. Ini penekanan daripada tingkatan satu. Hasilnya, pelajar ini ada keupayaan bahkan setaraf bahasa Arab dengan SPM walaupun baru berada tingkatan satu dan dua.


 


Maahad Tahfiz Sains di Sabak ini kita akan pindahkan di bangunan IKYS di Bagan Terap. Ia akan jadi (Maahad Tahfiz) terbesar di Selangor.


 


Perancangan akan datang di mana ustaz?


 


Kita tengah mengintai beberapa tempat lain tetapi yang kita sedang cadangkan di Sepang. Kemungkinan kita akan buat dalam kawasan Kolej Universiti Islam Selangor (Kuis).  Ada satu bangunan di Kuis yang diperuntukkan untuk program bina Insan tetapi akan diambil alih kerajaan negeri bagi tujuan ini.


 


Yang lain kita tengah lihat daerah Hulu Langat dan Hulu Selangor. Pada waktu yang sama di  Kuis telah kita wujudkan satu bidang pengajian tahfiz sains atau pengajian tahfiz. Sebab di negara kita ini hanya ada tiga orang sahaja yang pakar tahfiz tafsir. Jadi kita hendak melahirkan ini. Di Kuis sudah ada hampir 90 pelajar (perintis).





Ada perancangan kerajaan negeri untuk wujudkan Kafa Menengah. Bagaimana perkembangannya?


 


Kafa Menengah setakat ini kita sudah mengenal pasti beberapa sekolah yang akan kita wujudkan sebagai projek perintis. Kita akan membuat perkhidmatan tambahan dengan memasukkan program Kafa Menengah di bangunan Sekolah Rendah Agama (SRA)  dan ia akan berjalan tiga hari dalam seminggu.


 


Jadi pelajar sekolah menengah kalau dia biasa tingkatan satu belajar petang, maka pagi akan mengikuti kelas Kafa. Petang sekolah menengah biasa. Kita tidak dapat memenuhi lagi di semua sekolah. Kita akan buat  satu daerah satu sekolah sebagai perintis.


 


Ini kerana kita perlu melihat kecenderungan pelajar sama ada mereka sendiri atau ibu bapa mereka (yang mahu pendidikan agama). Sebab suara yang datang kepada kita, ramai daripada ibu bapa. Dalam soal pendidikan, jika minat datang daripada ibu bapa biasanya kita akan gagal. Biar minat itu datang daripada pelajar. Ibu bapa mesti mendorong anak-anak dengan cara memberi motivasi.


 


Jika Kafa Menengah menjadi pilihan kepada anak-anak, sama ada dia hendak belajar atau tidak, mereka akan naik terus sekolah menengah.  Buat masa ini kita hendak wujudkan satu sekolah di setiap daerah.


 


Dalam waktu yang sama kita membuka peluang dan galakan kepada Kafa persendirian. Jika itu boleh dibuat oleh banyak pihak maka ia akan membantu usaha kita untuk mewujudkan  Kafa Menengah.


 


Bila projek Perintis ini akan dilaksanakan?


 


Tahun 2014. Kalau berjaya dengan projek perintis yang kita buat di setiap daerah, kita akan laksanakan Kafa Menengah pada tahun 2015.


 


Beralih kepada pengurusan masjid. Apa pembaharuan yang patut dilakukan di masjid dan surau khususnya bagi menarik kehadiran jemaah?


 


Kita akan cuba untuk laksanakan satu program baru iaitu masjid sebagai pusat komuniti masyarakat. Bagaimana kita hendak mengkomunitikan masjid itu. Antaranya yang kita akan buat adalah masjid dengan persekitarannya perlu dibangunkan melalui beberapa program yang menarik minat masyarakat.


 


Jika masjid ada ruang untuk membuat padang futsal maka masjid boleh buat padang futsal. Jika masjid ada ruang untuk buat bengkel  jahitan kepada golongan wanita, masjid kena buat. Jika masjid ada ruang untuk majlis kenduri umpamanya dewan, masjid boleh buat.


 


Saya fikir kalau itu kita boleh buat, orang yang datang meletakkan hati penggantungan kepada masjid, maka ini boleh menyemarakkan program masjid.


 


Kita akan semak melalui ketua kampung dan nazir masjid, bagaimana masjid perlu belajar pada persekitaran dan cadangkan kepada kita. Sekarang ini ada bebeberapa masjid yang mempunyai klinik dalam kawasan masjid. Macam Masjid Bandar Baru Sungai Buloh dan sebuah masjid di Ijok.


 


Kita juga hendak menjadikan kemakmuran masjid itu sebagai KPI (Indeks Prestasi Utama) kepada imam dan nazir. Ini bertujuan menilai sejauh mana masyarakat berjaya mengurus masjid. Kita jadikan kemakmuran masjid sebagai KPI tahap kepuasan.


 


Mula tahun depan masjid perlu menyediakan Pegawai Mualaf atau saudara baru. Selama ini Pegawai Mualaf hanya seorang sahaja di Pejabat Agama Daerah. Sedangkan peruntukan zakat untuk saudara baru tidak kurang RM40 juta setahun.


 


Kalau kita agihkan maknanya sembilan daerah, ada seorang Pegawai Mualaf yang jaga peruntukan RM4 juta. Ini tidak efisyen. Setiap masjid kena ada rekod dan buat program untuk mualaf. Kita hendak melihat keadaan rumah mereka, anak-anak mereka bersekolah atau tidak dan sebagainya.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Menambah seri Islam di Selangor

Friday, May 3, 2013

Syariat Islam di Aceh omong kosong - Waspada

WASPADA ONLINE


LHOKSEUMAWE – Ustadz Awi Chengho (Chou Cin Wie) (45) dalam berdakwah patut diacungi jempol. Mualaf yang masuk Islam akhir tahun 2000 itu, melakukan perjalanan dakwah keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda motor.

Namun sayang, harapannya ingin melihat Provinsi Aceh sebagai daerah syariat Islam, ternyata tidak berbeda dengan kota lainnya di Indonesia.


Mualaf keturunan Cina dari Medan, Sumatera Utara ini, tidak menyangka kalau Provinsi Aceh yang dikenal daerah Syariat Islam, ternyata hanya menggema sebatas nama saja. Sementara realisasi penegakkan Syariat Islam di Aceh tidak berjalan.


“Lihat aja di tempat keramaian dan rumah makan yang ada, tidak ada bedanya dengan di kota-kota lainnya di Indonesia. Jadi tidak nampak sama sekali daerah ini sebagai daerah penegakkan syariat Islam,” terang pria ini yang memiliki lima orang anak dalam kunjungannya di kota Lhokseumawe.


Suami Nur Baeti ini menyebutkan, seharusnya Aceh yang telah menerapkan Syariat Islam harus benar-benar menjalankan dan tidak hanya sebatas omongan semata. Sebab yang terlihat di lapangan tidak nampak sama sekali sebagai provinsi satu-satunya yang menjalankan syariat islam.


“Sama aja melihat tidak ada perbedaan sama sekali dengan daerah lain. Lihat saja sekarang ini contohnya,” terangnya kemarin, memperlihat salah satu rumah makan di kota Lhokseumawe, di mana para pengunjung yang duduk tidak ada pemisahan yang dilakukan antara muhrim dengan yang tidak muhrim.


Editor: SASTROY BANGUN

(dat06/jpnn)




Name *
URL
Code

  
ChronoComments by chronoengine.com

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/04/28/08254881/Caleg.Rangkap.Bukti.Manajemen.Partai.Amburadul.


Syariat Islam di Aceh omong kosong - Waspada

Monday, December 31, 2012

Trio Macan Goyang Kota Medan

TRIBUNNEWS.COM,MEDAN–Wali Kota Medan Rahudman Harahap ikut bernyanyi bersama grup penyanyi dangdut Tiga Macan pada Pesta Rakyat Pergantian Tahun 2012 ke 2013 di Lapangan Benteng, Selasa (31/12).

Tiga Macan yang menjadi penampil utama pada Pesta Rakyat berhasil mengerjai para pimpinan daerah yang hadir di Lapangan Benteng.

Berbeda dengan Kepala Polisi Daerah Sumut Irjen Wisjnu Amat Sastro dan Panglima Daerah Militer yang langsung menghindar saat diminta ikut menyanyikan lagu hits Iwak Peyek, Rahudman menerima tantangan Si Rambut Merah Yeni.

“Ooo ooo, ooo, ooo,” dendang Rahudman menyanyikan intro Iwak Peyek yang mirip yel-yel suporter sepakbola itu.

Barisan petinggi yang terlihat kikuk ini diselamatkan oleh Danlantamal yang tidak keberatan menyanyikan beberapa baris lagu.
Pesta Rakyat yang dibuat Pemko Medan menyedot perhatian warga Kota Medan yang ingin menyambut pergantian tahun dengan kemeriahan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan Busral Manan saat membacakan laporan pelaksanaan kegiatan mengatakan, Pesta Rakyat merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karen program Pemko Medan pada 2012 dapat berjalan lancar sekaligus penghargaan kepada masyarakat atas dukungannya kepada Pemko.

Manan menambahkan, sebelum kemeriahan di malam hari, di Lapangan Benteng juga telah digelar dzikir, doa, dan tausiah massal yang dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada seribu anak yatim yang berasal dari berbagai panti asuhan yang ada di Kota Medan.

“Untuk menghargai keberagaman kita, maka santunan diberikan kepada panti asuhan Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu,” katanya.

Pesta Rakyat dimulai sekitar pukul 21 dengan penampilan band-band yang menyanyikan lagu Top 40 dan pop daerah serta tarian-tarian multietnik sebelum masuk ke acara puncak oleh para biduan asal ibukota.

Busral Manan menjelaskan bahwa biaya untuk menghadirkan Tiga Macan tidak menggunakan dana dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Begitu juga dengan pengadaan pesta kembang api yang bagi sebagian pihak merupakan pemborosan uang.

Article source: http://www.malaysia-chronicle.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=38234:singapore-is-now-the-richest-country-in-the-world&Itemid=3


Trio Macan Goyang Kota Medan

Wednesday, April 24, 2013

Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'

Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'


Liputan6.com, Jakarta : Komisi Pemilihan Umum telah menutup pintu. Periode pendaftaran bakal calon legislatif di Pemilu 2014 berakhir. Publik pun disodori ribuan nama.

Dari ribuan nama itu, ada beberapa temuan menarik. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas memutuskan kembali maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan saat Pemilu lalu. Ibas maju dari daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan di nomor urut 1.


Padahal, pada Februari lalu, ia menyatakan mundur dari Senayan. “Saya mundur dari anggota DPR, saya akan konsentrasi sebagai Sekjen Partai Demokrat,” kata Ibas dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2013).


Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie membela Ibas. Marzuki mengatakan keputusan yang diambil Ibas itu sebagai langkah yang wajar. “Mundur selangkah untuk melompat 10 langkah, bagus kan?” ujar Marzuki melalui pesan singkat, Rabu (24/4/2013).


Marzuki menambahkan, keputusan yang diambil oleh Ibas dengan mundur dari DPR dan kembali mencalonkan diri sebagai legislator bukan dimaksudkan untuk mempermainkan konstituen. “Tidak ada yang dipermainkan, penggantinya juga pilihan rakyat,” ujar Marzuki.


Kali ini, Ibas seperti berada di ‘dapil surga’. Sebagai peraih suara tertinggi se-Indonesia dengan jumlah 327.097 suara pada Pemilu 2009, lawan-lawan Ibas di dapil ini relatif bukan tokoh “kelas berat.”


Nama-nama yang sedikit dikenal di dapil ini antara lain caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mantan aktivis, Dita Indah Sari. Dita saat ini tercatat sebagai Staf Ahli Menakertrans Muhaimin Iskandar yang juga Ketua Umum PKB.


Lawan Ibas yang lain adalah Heri Akhmadi (PDIP). Heri merupakan mantan Wakil Ketua Komisi X Bidang Pendidikan DPR.


Dari Golkar, lawan bungsu SBY itu adalah Binny Bintarti Buchori. Binny merupakan salah satu aktivis HAM dan demokrasi yang sudah cukup banyak berjuang melalui organisasi non-pemerintah seperti International NGO Forum on Indonesian Development (INFID).


Selain Ibas, ada juga Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri. PDIP menempatkan Puan di Dapil Jawa Tengah V di urutan 1. Di sana, Puan akan menemui lawan cukup berat, yakni Angel Lelga. Artis itu diusung Partai Persatuan Pembangunan di urutan pertama.


Kaehadiran Angel sebagai caleg cukup mengagetkan. “Saya mualaf, jadi saya ingin menjaga keislaman saya, dengan menjadi caleg dari PPP,” ujar Angel di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013).


Menurut Angel, keinginannya untuk terjun ke dunia politik muncul setelah melihat berbagai kesusahan rakyat Indonesia melalui berbagai media. “Saya ingin menjadi orang yang berguna untuk membantu rakyat kecil,” ujarnya.


Selain Angel, Puan juga akan menemui lawan tangguh dari ang diusung Partai Demokrat, yaitu GRAY Koes Moertiyah. Putri Susuhunan Pakubuwono XII ini masih menjadi anggota Komisi IX DPR.


Di luar nama itu, Puan juga akan bertarung sesama nomor urut 1 dengan Abdul Kharis Almasyhari (PKS), Yusuf wibisono, (PAN), Mohamad Toha (PKB), Sarwoto Atmosutarno (Partai Nasdem), Bambang Riyanto, (Gerindra), dan Eko Sarjono Putro (Golkar).


Para Mantan Kandidat Pilgub Jakarta


Selanjutnya, jika menyusuri daftar lebih teliti, kita memergoki sejumlah nama yang gagal dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012 bakal kembali bertarung dalam Pemilihan Legislatif 2014. Para kandidat ini takluk oleh pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.


Persaingan ketat diprediksi terjadi di Daerah Pemilihan DKI Jakarta II. Di dapil itu, bertengger nama Hidayat Nur Wahid yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Biem Benyamin yang diusung Partai Gerindra. Nama Hidayat dan Biem bercokol di nomor urut 1.


Pada Pilgub DKI 2012, Hidayat disusung PKS dan berpasangan dengan Didik J. Rachbini sebagai cawagub. Sementara Biem Benjamin menjadi cawagub untuk ekonom Faisal Basri yang maju melalui jalur independen.


Sementara itu, Didik J. Rachbini juga maju sebagai caleg untuk Pemilu Legislatif 2014. Nama Didik berada di nomor urut 1 dari Partai Amanat nasional (PAN) dan akan maju di Dapil DKI Jakarta I.


Mantan kandidat lain yang juga maju dalam Pemilu 2014 adalah Riza Patria. Mantan pasangan Hendardji Soepandji ini maju sebagai caleg dari Partai Gerindra. Riza berada di nomor urut 1 dan akan bertarung di Dapil Jakarta III.


Hanya Dua Ketum Partai


Temuan menarik lain, dari 12 partai politik nasional yang bertarung dalam Pemilu 2014, hanya 2 partai yang mengusung ketua umumnya sebagai calon legislator, yaitu Partai Gerindra dan Partai Bulang Bintang (PBB).


Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi maju dari daerah pemilihan DI Yogyakarta (DIY). Di dapil ini seperti dapil “neraka.” Sebab, banyak nama populer yang akan berebut suara.


Di dapil ini, Suhardi akan bertemu ‘lawan tangguh’ dari Demokrat yang juga Menpora KRMT Roy Suryo Notodiprodjo atau Roy Suryo. Suhardi juga mesti menghadapi mantan Bupati Bantul Muhammad Idham Samawi. Idham merupakan caleg dari PDI Perjuangan nomor urut 1.


Tak berhenti di sana. Dapil ini juga menyimpan caleg nomor urut 1 dari Golkar yakni Siti Hediati Soeharto atau yang dikenal dengan Titiek Soeharto. Persaingan kian ketat karena juga terdapat Ahmad Hanafi Rais, putra tokoh reformasi Amien Rais, yang merupakan caleg nomor urut 1 dari PAN.


Ketua umum partai lain yang maju menjadi caleg adalah Ketua Umum PBB MS Kaban. Mantan Menteri Kehutanan ini maju menjadi caleg PBB dari daerah pemilihan Jawa Barat V yang meliputi Kabupaten Bogor. Dapil Jawa Barat V ini tidak kalah ‘menyeramkan’. Banyak nama yang telah akrab di telinga publik.


Di Jawa Barat V, MS Kaban harus menghadapi caleg yang juga Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua; dari PKB ada artis Ridho Roma; ada artis senior dari PDIP, Yessy Gusman; Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, artis yang diusunng PAN, Primus Yustisio; ada pula mantan pendiri Partai Keadilan yang maju dari Hanura, Yusuf Supendi; serta mantan Menteri Pertanian yang juga caleg dari Partai Nasdem, Soleh Solahuddin.


Pertarungan segera dimulai. Rakyat akan menjadi juri. Semoga pilihan mereka tepat belaka. (Yus)


Article source: http://www.republika.co.id//berita/internasional/global/12/05/11/m3t9ux-materi-kontroversi-militer-as-3habis-10-persen-muslim-membenci-anda


Berjuang di Dapil 'Neraka', Bertarung di Dapil 'Surga'

Sunday, June 2, 2013

“150 Tahun Frans Van Lith”

Home Catatan Akhir Pekan




Catatan Akhir Pekan ke-362


“150 Tahun Frans Van Lith”





 


 




Ahad, 02 Juni 2013


Oleh: Dr. Adian Husaini


SITUS www.antarajateng.com, pada 27 Mei 2013, menurunkan berita berjudul “Pancadriya Kuwalik’ Van Lith setelah 150 Tahun”.  Berita itu berkisah tentang peringatan 150 tahun Van Lith yang dihadiri oleh Uskup Agung Semarang dan dilakukan oleh 329 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang. Acara dilakukan di tiga panggung terbuka di halaman Museum Misi Muntilan.
“Empat penari lainnya, masing-masing Siti Nurkhasanah, Siti Rifaatul Mahmudah, Mudrikah Zaini, dan Ita Purnamasari, memainkan performa tari mengelilingi kolam penuh enceng gondok dan di tengahnya tegak berdiri patung Romo Van Lith,” demikian antara lain berita yang ditampilkan.


Selanjutnya ditulis dalam berita tersebut: “Kiprah Romo Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith yang lahir di Belanda pada 17 Mei 1863, dikatakan oleh Koordinator Umum Panitia Peringatan 150 Tahun Van Lith Romo G. Budi Subanar, dikaitkan dengan pendidikan untuk pribumi dengan model asrama dan pembangunan gereja Katolik yang membumi di Indonesia, khususnya Jawa. Van Lith yang seorang pastor ordo Serikat Yesus itu, datang ke Jawa pada 1896, belajar budaya dan adat istiadat Jawa, menjalankan misi Katolik di Hindia Belanda hingga meninggal dunia di Semarang pada 9 Januari 1926, serta kemudian dimakamkan di Kerkof Muntilan, dekat kompleks SMA Van Lith yang dirintisnya sejak 1904.”


Demikian petikan berita dari situs www.antarajateng.com tentang peringatan 150 tahun tokoh misi Katolik Frans Van Lith. Bagi kaum Katolik, sosok Van Lith dipandang sebagai tokoh monumental dalam penyebaran misi Katolik di Tanah Jawa.  Ia memulai misi dengan mendirikan pendidikan guru di Muntilan, Jawa Tengah.  Sekolah Van Lith itu kini masih berlanjut dalam bentuk  SMA Pangudi Luhur Van Lith.


Dalam situsnya, (http://vanlith-mtl.sch.id/profil/visi-misi-tujuan-sma-vanlith.3.html), disebutkan tentang “visi, misi, dan tujuan SMA Van Lith, yaitu:


“Visi SMA Pangudi Luhur Van Lith adalah semangat Kerajaan Allah yang berintikan keselamatan bagi semua orang “terutama yang menderita dan terlupakan”, yang diharapkan menjadi kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”


Untuk mengabadikan dan menanamkan semangat misi Katolik Van Lith, diciptakanlah sebuah Mars SMA Pangudi Luhur Van Lith  berikut ini:


“Nyalakan, nyalakan
Kobarkan, kobarkan
Api Van Lith di dadamu. Bawalah, bawalah,
sebarkan sebarkan. Di sluruh tanah airmu.
Jadilah perintis, jadilah pelopor,
Dimasa pembangunan.
Kobarkan APIMU,
Sukseskan tugasmu, revolusi penebusan.
Bernyala, berkobar, semangat APIMU
di dada putra-putrimu,
Serentak, serentak, kujunjung,
kusebar untuk Nusa dan Bangsaku.
Kuterjang perintang, kudobrak penghalang,
demi PANJIMU menang.
Putra dan Putrimu setia berjuang,
Apimu menyala terang.”


*****


Jika kaum Katolik mengagung-agungkan sosok Frans van Lith, maka tidak demikian halnya bagi kaum Muslim  di Indonesia. Kehadiran van Lith dianggap sebagai “musibah dalam bidang akidah Islam”, karena Van Lith berhasil melakukan kristenisasi dengan cara-cara budaya dan pendidikan. Banyak korban dari kalangan Muslim yang berhasil dimurtadkan oleh gerakan Van Lith. 


Arif Wibowo, direktur Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo pernah menulis artikel berjudul “Profil Soegija, Cucu Kyai Korban Kristenisasi”.  Soegijapranata adalah uskup pribumi pertama di Indonesia, seorang cucu kyai di Yogya, yang akhirnya jadi korban pemurtadan oleh Van Lith.


Berikut ini petikan artikel yang ditulis oleh Arif Wibowo,  yang juga alumnus Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta:


“Pembukaan sekolah-sekolah rakyat oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka politik asosioasi dan memperoleh tenaga administrasi murah dari kalangan pribumi, dengan dalih pencerdasan, menyebabkan tingginya permintaan tenaga pengajar pada saat itu. Peluang ini ditangkap Fransiscus Georgius Josephus van Lith, seorang Jesuit senior yang berkarya di Jawa Tengah. Dalam pandangan Van Lith, posisi strategis guru adalah masa depan bagi perkembangan umat Katolik di Jawa. Usaha misi diantara bangsa Jawa mulai dengan metode yang salah: mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung pada pendidikan pemimpin dan guru.(G. Budi Subanar, SJ, Soegija Si Anak Betlehem van Java, Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hal. 50).


Van Lith kemudian mendirikan Kolese Xaverius, yang merupakan sekolah untuk para calon guru. Kesempatan untuk menjadi guru yang dalam pandangan orang Jawa masuk ke dalam kasta priyayi, merupakan magnet tersendiri bagi kolese Xaverius. Salah seorang alumni Muntilan angkatan 1915, Michael Slamet memaparkan :


“Untuk itu, Muntilan telah menjadi ”medan magnet” yang mampu menarik banyak orang dari berbagai daerah di Jawa, bahkan juga di luar Jawa untuk belajar di sana. Bagi siswa dan alumni Muntilan, Kolese Xaverius dapat dianggap sebagai ”dewa penolong” bagi suatu mobilitas sosial yang dicita-citakan. Dalam pemahaman demikian, mereka akan dengan mudah menyinergikan diri pada kegiatan para misionaris untuk tujuan-tujuan yang lebih mulia. ”Harta” didapat, ”sorga” diperoleh. ( Anton Haryono, 2009, Awal Mulanya adalah Muntilan, Misi Yesuit di Yogyakarta 1814 – 1940, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 84).


Godaan untuk menjadi priyayi inilah yang akhirnya mengantarkan Sogijapranata kecil untuk memutuskan memilih Kolese Xaverius menjadi tempat bagi pendidikan dan pengembangan dirinya.  (G. Budi Subanar, SJ, 2003, Idem, hal. 24-25). Soegija akhirnya memeluk Katolik.  Kareel Steenbrink menyebutkan, bahwa anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik.(Kareel Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia, Sebuah Pemulihan Bersahaja 1808 – 1903, (Maumere : Penerbit Ledalero, 2006) hlm 384.).


*****


Begitulah catatan Arif Wibowo tentang sepenggal kiprah Van Lith dalam pengkristenan orang Jawa. Sebuah situs (http://tidarheritage.org), memuat perjalanan misi Van Lith yang disebutnya ‘Misi Jawa’ Romo Van Lith. Sebab, Van Lith menjalankan misinya untuk ‘menaklukkan hati orang Jawa’ dengan menggunakan jalan kebudayaan. “Ini mengingatkan pada pendekatan para wali (songo) ketika mereka menjalankan misi penyebaran agama Islam.


Mungkin Van Lith juga belajar dari para wali itu, bahwa orang Jawa tidak mudah menerima suatu  ajaran atau budaya baru dengan begitu saja, apalagi dengan cara-cara pemaksaan.”


Kebudayaan Jawa lebih mudah ‘menyerap’ budaya baru itu, menjadi ‘Jawa baru’ atau
hibriditasi. Seperti halnya ‘Islam Jawa’, dalam praktek-praktek ritualnya agama Katholik di
Jawa juga akrab dengan idiom budaya Jawa seperti penggunaan bahasa, gamelan atau
tembang-tembang Jawa, serta yang paling kontemporer adalah wayang ukur (wayang
kulit dengan cerita Yesus).


Contoh kisah yang dipandang sebagai bentuk sukses misi Van Lith dalam mengkatolikkan orang Jawa terjadi tahun 1904, ketika Van Lith mempermandikan sekitar 173 orang dari Desa Kalibawang, Kulon Progo. Mereka serentak dibaptis di sebuah sendang, yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Sendang Sono. “Pertobatan dalam jumlah yang tidak kecil itu mempunyai arti penting bagi saya dan juga bagi misi Jawa … Saya sudah memberi pelajaran di banyak desa … tanpa ada hasilnya. Justru daerah yang belum pernah kudatangi menyatakan kesediaannya untuk menjadi Katolik. Apakah itu bukan tangan Tuhan yang bekerja?” tulis van Lith, seperti dikutip oleh situs tersebut.


Jadi, itulah misi utama Frans Van Lith: Menjalankan misi Katolik di Tanah Jawa. Jika ditelaah, kedatangan van Lith ke Indonesia sebenarnya bertepatan dengan era kebijakan pemerintah kolonial yang semakin kuat dalam menyokong misi Kristen di Indonesia. Pada 1888, Menteri Urusan Kolonial, Keuchenis, menyatakan dukungannya terhadap semua organisasi misionaris dan menyerukan agar mereka menggalang kerjasama dengan pemerintah Belanda untuk memperluas pengaruh Kristen dan membatasi pengaruh Islam. J.T. Cremer, Menteri untuk Urusan Kolonial lain, dengan semangat yang sama, juga menganjurkan agar kegiatan-kegiatan misionaris dibantu, karena hal itu — dalam pandangannya — akan melahirkan “peradaban, kesejahteraan, keamanan, dan keteraturan. (Lihat, Alwi Shihab, Membendung Arus, 1998, hal. 147.


Dalam sebuah pidato resminya, Ratu Belanda antara lain menegaskan, “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang Kristen pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral  terhadap penduduk di daerah-daerah itu.”


Pada 1901, Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen, ditunjuk sebagai Perdana Menteri, menyusul kekalahan Partai Liberal oleh koalisi partai-partai kanan dan agama. Alexander Idenburg, yang di masa mudanya pernah bercita-cita sebagai misionaris, mengambil alih kantor pemerintah kolonial. Kebijakan selama 50 tahun yang kurang lebih bersifat “netral agama” diubah menjadi kebijakan yang secara terang-terangan mendukung misi Kristen.


Berbagai subsidi terhadap sekolah Kristen dan lembaga misi yang semua ditolakkarena dikhawatirkan memancing reaksi keras kaum Muslim, mulai diberikan secara besar-besaran.


Kebijakan ini menunjukkan bahwa netralitas dalam agama adalah ilusi belaka. Idenburg yang menjabat Gubernur Jenderal dari 1906-1916, terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kegiatan misi di Indonesia. Dalam salah satu laporannya kepada pemerintah pusat, ia mengatakan, “Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.”


Bagi pemerintah kolonial, ancaman dari mereka yang sudah masuk Kristen akan lebih kecil dibandingkan dari kaum Muslim, karena kaum Kristen lebih dapat diajak kerjasama. Tujuan pemerintah kolonial dan misionaris dapat dikerjasamakan. Di satu pihak, pemeritah kolonial memandang koloni mereka sebagai tempat mengeruk keuntungan finansial. Di sisi lain, misionaris memandang koloni mereka sebagai tempat yang diberikan Tuhan untuk memperluas “Kerajaan Tuhan”. (Alwi Shihab, Membandung Arus, hal.37-42; Delier Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, 1990, hal.184-188).


Sikap Islam


Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja misionaris ke Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit “ditembus” misi Kristen.  Faktor Islam dituding sebagai penyebab kesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia. Hendrik Kraemer, seorang misionaris yang ditugaskan Masyarakat Bibel Belanda (Dutch Bible Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum Muslim, melalui ungkapannya:


“Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) yang menjadi teka-teki dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama  di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya.” (Alwi Shihab, Membendung Arus, hal. 38).


Dalam perspektif inilah, kita bisa memahami, mengapa kaum Katolik sangat mengagungkan tokoh misionaris seperti Van Lith. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu menjebol pertahanan orang Jawa yang sebelumnya telah menyatu dengan budaya Islam. Bagi umat Islam, pemurtadan dipandang sebagai usaha serius sebagai bentuk penyerangan aqidah Islam. Orang yang keluar dari Islam disebut murtad dari agama Allah. Amalnya sia-sia. Amal-amal orang kafir laksana fatamorgana. (QS 24:39).


Kaum Muslim memahami, upaya-upaya penyesatan atau pemurtadan terhadap kaum Muslim bukanlah hal aneh. Disebutkan dalam al-Quran, yang artinya: “Dan mereka akan selalu memerangi kamu, sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika mereka sanggup.” (QS Al Baqarah:217).


“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannam orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (QS Al Anfal:36).


Dalam menafsirkan ayat tersebut, Prof. Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar Juzu’ IX):


“Perhatikanlah betapa di zaman sekarang, orang-orang menghambur-hamburkan uang berjuta-juta dolar tiap tahun, bahkan tiap bulan, untuk menghalang-halangi jalan Allah yang telah dipegang teguh oleh kaum Muslimin. Perhatikanlah betapa zending dan misi Kristen dari negara-negara Barat memberi belanja penyebaran agama Kristen ke tanah-tanah dan negeri-negeri Islam. Diantara penyebaran Kristen dan penjajahan Barat terdapat kerjasama yang erat guna melemahkan keyakinan umat Islam kepada agamanya. Sehingga ada yang berkata bahwa, meskipun orang Islam itu tidak langsung menukar agamanya, sekurang-kurangnya bila mereka tidak mengenal agamanya lagi, sudahlah suatu keuntungan besar bagi mereka. Jika bapa-bapanya dan ibu-ibunya masih saja berkuat memegang iman kepada Allah dan Rasul, moga-moga dengan sistem pendidikan secara baru, jalan fikiran si anak hendaknya berubah sama sekali dengan jalan fikiran kedua orang tuanya. Demikian juga propaganda anti-agama, mencemohkan agama, dan menghapuskan kepercayaan sama sekali kepada adanya Allah, itu pun dikerjakan pula oleh orang kafir dengan mengeluarkan belanja yang besar. Yang menjadi sasaran tiada lain dari pada negeri-negeri Islam. Disamping itu ada lagi usaha merusakkan moral pemuda di negeri-negeri Islam, dengan menyebarluaskan majalah-majalah, buku-buku yang menimbulkan rangsangan nafsu dan syahwat, gambar-gambar porno, film-film cabul perusak jiwa pemuda yang baru bangkit pancaroba. Sasarannya tidak lain melainkan pemuda-pemuda di negeri Islam juga.” Wallahu a’lam bish-shawab.*/Solo, 2 Juni 2013


Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/khazanah/12/04/17/m2mmqq-jejak-penerjemahan-alquran-di-indonesia


“150 Tahun Frans Van Lith”

Thursday, December 8, 2016

MTQ Mualaf Sukses, Kemenag Kaltara Salut

PROKAL.CO, TARAKAN - Sebagai puncak acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 Mualaf Kota Tarakan 2016, Minggu (6/11) dilaksanakan penutupan dan pemberian hadiah kepada para pemenang.  

Event tahunan yang digelar atas kerja sama Baznas Tarakan dan Kementerian Agama Kota Tarakan itu secara resmi ditutup oleh Wali Kota Tarakan yang diwakili oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Ir. Jamaluddin. 

Hadir juga Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H.Suriasyah, S.Ag, M.Pd. pejabat Kaltara yang baru dilantik bulan lalu itu secara khusus datang menyaksikan langsung MTQ Mualaf yang diketahuinya hanya ada satu-satunya di Indonesia. 

“Yang saya tahu ini hanya ada di Kota Tarakan, belum pernah ada di daerah-daerah lain. Tarakan ini memang luar biasa, meskipun kota kecil, di pulau yang kecil tetapi banyak mencetuskan gagasan-gagasan besar hingga di tingkat nasional,” puji Suriansyah dalam kesempatan sambutannya. 

Pejabat pertama di Kementerian Agama Kaltara ini merasa salut dan bangga atas sukses pelaksanaan MTQ Mualaf di Tarakan. Dirinya juga menjanjikan untuk memperjuangkan agar event tersebut dapat juga dilaksanakan di daerah lain se-Kaltara hingga ke tingkat provinsi.  “Insya Allah akan kami anggarkan nanti di Kementerian Agama Provinsi Kaltara, sehingga tahun depan atau di tahun berikutnya sudah bisa dilaksanakan MTQ yang sama di tingkat provinsi,” katanya yang langsung disambut aplaus dari para tamu undangan yang hadir. 

Di ujung acara, panitia membagikan hadiah kepada para pemenang dalam bentuk tropi, uang pembinaan ditambah hadiah dari donatur yaitu voucher menginap gratis di Swiss Belhotel, Royal, Paradise dan Galaxy Hotel, ditambah lagi tabungan dari Bank CIMB Niaga kepada seluruh pemenang I, II dan III. Kegiatan hiburan yang tak kalah menariknya adalah pembagian doorprize. Banyak hadiah menarik yang disediakan para donatur yaitu dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Hotel Tarakan Plaza, BRI, Kantor Pelayanan Pajak Pratama, BPK, CV. Menara Baru Express, Butik Robbani, Cantique, A2 Tiara, Telkomsel, Toko Barokah H.Seni, PT. Telkom dan beberapa donatur perorangan. 

Panitia pelaksana Syamsi Sarman mengungkapkan kepada Radar Tarakan, pihaknya sengaja memfasilitasi para donatur untuk mensponsori kegiatan ini, agar syiarnya lebih semarak dan untuk menggembirakan para mualaf. 

“Sebetulnya sudah ada tropi kejuaraan dan uang pembinaan dari panitia, tapi kami upayakan ada tambahan hadiah lagi biar lebih semarak dan menggembirakan para peserta. Dan Alhamdulillah banyak dukungan hadiah dari para donatur termasuk untuk meramaikan acara ini dengan doorprize. Ada tiket Tarakan-Balikpapan plus menginap di hotel berbintang di Balikpapan, ada kulkas, jam dinding, paket busana muslim, dan lain-lain,” ungkap Syamsi. (adv/har)

"

| Mualaf | Sukses, | Kemenag | Kaltara | Salut | PROKAL | strong> | TARAKAN | Sebagai | puncak | acara | Musabaqah | Tilawatil | Quran | (MTQ) | Kota | 2016 | Minggu | dilaksan | penutupan | pemberian | hadiah | kepada | para | pemenang | p> Event | tahunan | yang | digelar | atas | kerja | sama | Baznas | Kementerian | Agama | secara | resmi | ditutup | oleh | Wali | diwakili | Asisten | Bidang | Ekonomi | Pembangunan | Setkot | Jamaluddin | p> Hadir | juga | Kepala | Provinsi | Kalimantan | Utara | Suriasyah | pejabat | baru | dilantik | bulan | khusus | datang | menyaksikan | langsung | diketahuinya | hanya | satu | satunya | Indonesia | p> “Yang | saya | tahu | pernah | daerah | lain | memang | luar | biasa | meskipun | kota | kecil | pulau | banyak | mencetuskan | gagasan | besar | tingkat | nasional | puji | Suriansyah | dalam | kesempatan | sambutannya | p> Pejabat | pertama | merasa | salut | bangga | sukses | pelaksanaan | Dirinya | menjanjikan | untuk | memperjuangkan | agar | event | tersebut | dapat | provinsi |  “Insya | Allah | kami | anggarkan | nanti | tahun | depan | atau | berikutnya | katanya | disambut | aplaus | tamu | undangan | hadir | p> Di | ujung | panitia | membagikan | bentuk | tropi | uang | pembinaan | ditambah | donatur | yaitu | voucher | menginap | gratis | Swiss | Belhotel | Royal | Paradise | Galaxy | Hotel | lagi | tabungan | Bank | CIMB | Niaga | seluruh | Kegiatan | hiburan | kalah | menariknya | adalah | pembagian | doorprize | Banyak | menarik | disedi | maskapai | penerbangan | Sriwijaya | Plaza | Kantor | Pelayanan | Pajak | Pratama | Menara | Baru | Express | Butik | Robbani | Cantique | Tiara | Telkomsel | Toko | Barokah | Seni | Telkom | beberapa | perorangan | p> Panitia | pelaksana | Syamsi | Sarman | mengungkapkan | Radar | pihaknya | sengaja | memfasilitasi | mensponsori | kegiatan | syiarnya | lebih | semarak | menggembir | mualaf | p> “Sebetulnya | kejuaraan | upay | tambahan | biar | peserta | Alhamdulillah | dukungan | termasuk | meramaikan | dengan | tiket | Balikpapan | plus | hotel | berbintang | kulkas | dinding | paket | busana | muslim | ungkap | (adv | har)< | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Friday, January 4, 2013

Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aturan mengenai larangan duduk kangkang di atas sepeda motor bagi perempuan di Aceh bisa membahayakan keselamatan. Regulasi tersebut dinilai sangat tidak masuk akal.

“Peraturan ini sangat tidak masuk akal dan membahayakan keselamatan perempuan, khususnya mereka yang berusia lanjut atau pun yang masih muda tetap sedang sakit,”kata Ahli Hukum Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Musdah Mulia kepada Tribunnews.com, Jumat(4/1/2013).

Musdah mengaku sedih perempuan terus dijadikan obyek hukum.

“Saya sedih karena atas nama syariat Islam, perempuan dan kelompok lemah selalu jadi obyek hukum,” kata dia.

Mestinya dengan syariat Islam, menurut Musdah, pemerintah daerah dapat memastikan semua warga menikmati pendidikan berkualitas secara gratis, layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, listrik dan bahan sandang serta pangan yang terjangkau.

Selain itu, memberdayakan masyarakat, terutama perempuan, mengurangi pengangguran dan membasmi koruptor. Sehingga seluruh warga terutama yang tidak mampu dapat hidup sejahtera.

“Itulah masyarakat Islami yang dicita-citakan oleh syariat Islam,”katanya.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri akan mengklarifikasi aturan pemerintah Kota Lhokseumawe yang melarang perempuan membonceng motor dengan cara mengangangkang.

“Semua aturan yang sudah disetujui pemerintah daerah akan kami klarifikasi kembali,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek saat dihubungi Rabu, (3/1/2013).

Secara normatif, kata Donny, seluruh peraturan buatan pemerintah daerah telah dikonsultasikan kepada Kementerian Dalam Negeri sebelum disetujui. Donny tak menjelaskan apakah aturan tersebut meliputi imbauan Wali Kota di tingkat provinsi.

Pemerintah kota Lhokseumawe tengah menyiapkan aturan unik. Dinas Syariat Islam membuat draf berisi himbauan agar perempuan tidak duduk mengangkang. “Draf sedang disiapkan oleh Dinas Syariah, jadi nomor berapa himbauan itu nanti ketika sudah siap,” kata Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, Dasni Yuzar, Kamis, (3/1/2013).

Dasni mengatakan draf itu memang baru disiapkan. Mulai Senin depan, pengumumannya akan di tempelkan di sejumlah tempat-tempat umum. Sejumlah spanduk dan baliho pun sudah disiapkan.

Article source: http://www.allvoices.com/contributed-news/13419711-selena-gomez-and-justin-bieber-get-back-together-for-a-date-in-hollywood


Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

Saturday, January 12, 2013

Lanskap Baru Politik 2014

Muhammad Qodari 

JAKARTA, KOMPAS.com – Hasil rapat pleno KPU soal verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 diperkirakan meloloskan 10 partai dari 34 yang mendaftar ke KPU (Kompas, 8/1). Ke-10 partai itu adalah PAN, Demokrat, PDI-P, Hanura, Gerindra, Partai Golkar, PKB, PKS, PPP, dan Nasdem.

Bagi yang optimistis, lolosnya 10 parpol untuk Pemilu 2014 membuka lanskap baru politik Indonesia ke depan. Lanskap pertama, harapan bahwa pilihan masyarakat akan lebih berkualitas karena jumlah partai jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Bandingkan jumlah parpol peserta Pemilu 2014 dengan Pemilu 1999 yang 48 parpol, 2004 (24), dan 2009 (38).

Pilihan yang sedikit ini diharapkan kondusif untuk masyarakat membuat pilihan berkualitas. Apalagi 9 dari 10 parpol yang lolos adalah partai lama yang sudah dikenal kiprahnya, baik di legislatif, eksekutif, di media, maupun di masyarakat. Jadi, masyarakat punya catatan tentang kinerja mereka. Pemilu 2014 akan menjadi hari penilaian bagi parpol-parpol tersebut.

Harapan yang lebih berkualitas juga diharapkan terjadi untuk level calon anggota legislatif (caleg). Berkurangnya jumlah partai secara signifikan secara dramatis juga mengurangi jumlah caleg.

Lanskap berikutnya, kemungkinan perubahan wajah politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Saat ini terjadi perbedaan situasi antara konstelasi politik di pusat (DPR) dan di daerah (DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota). Jika di pusat hanya ada 9 partai politik, di daerah jumlah parpol jauh lebih banyak sehingga lebih ”hiruk-pikuk”. Di DPRD 2009, jumlah parpol lebih banyak sebagai kombinasi dari tiadanya ambang batas parlemen untuk masuk DPRD dan jumlah peserta pemilu 38 parpol. Akibat tak ada ambang batas parlemen untuk DPRD, tak ada kursi DPRD yang ”hangus” seperti terjadi di DPR.

Pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi, aturan Pemilu 2014 hanya memberlakukan ambang batas di tingkat nasional seperti pada 2009 (sebelum keputusan itu ambang batas juga berlaku di tingkat daerah). Namun, dengan jumlah peserta pemilu yang hanya 10 parpol, jumlah parpol di DPRD juga tidak akan lebih dari 10. Ini membuat komposisi parpol di DPRD kurang lebih akan sama dengan DPR. Perbedaannya pada posisi dan jumlah kursi sesuai daerah masing-masing.

Skeptisisme

Jika analisis di atas menampilkan kemungkinan perubahan dan harapan pada Pemilu 2014, bagian berikut menampilkan kekhawatiran dan skeptisisme. Skeptisisme pertama adalah kinerja DPR hasil Pemilu 2014. Disinyalir salah satu sebab rendahnya produktivitas legislasi DPR akibat jumlah partai dan fraksi yang terlalu banyak di Senayan.

Salah satu solusinya mengurangi jumlah partai dan fraksi di DPR dengan ambang batas parlemen. Namun, ambang batas 3 persen yang ditetapkan untuk Pemilu 2014 (naik 0,5 persen dibanding Pemilu 2009) diduga tidak akan mampu mengurangi jumlah parpol di DPR secara signifikan. Bahkan, bukan mustahil jumlah parpol di DPR justru naik dari 9 ke 10 parpol, dengan asumsi 9 partai lama dan satu partai baru (Nasdem) semua mendapat suara di atas ambang batas. Kemungkinan ini besar karena Hanura sebagai partai ”bontot” dalam Pemilu 2009 meraih suara di atas 3 persen pada pemilu itu. Sementara Nasdem telah menembus suara di atas 3 persen dalam aneka survei akhir-akhir ini.

Skeptisisme berikutnya soal wajah politik nasional Indonesia secara umum di masa yang akan datang. Mafhum diketahui banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap kinerja parpol, politisi, dan aneka lembaga pemerintahan. Kenyataan bahwa 9 dari 10 parpol yang lolos pemilu adalah partai lama dapat ditafsirkan: wajah politik Indonesia ke depan tidak akan berubah banyak karena aktornya secara garis besar yang itu-itu saja. Termasuk peta calon presiden yang notabene akan keluar dari parpol-parpol tersebut di atas.

Sekarang, bagaimana cara menjawab potensi kekecewaan tersebut di atas? Soal ambang batas tidak mungkin diubah. Karena itu, harus diterima kemungkinan jumlah parpol di DPR tetap 9 atau malah jadi 10. Berdasarkan pengalaman pemilu di era Reformasi, memang angka ambang batas yang bisa memangkas jumlah parpol di DPR adalah minimal 5 persen. Solusinya adalah memperbaiki mekanisme pembahasan UU di DPR dan di tiap parpol agar target legislasi dapat tercapai.

Adapun solusi kekecewaan terhadap parpol di masa depan secara inheren terkandung dalam mekanisme demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi diharapkan terjadi proses reward and punishment (hadiah dan hukuman) dari masyarakat terhadap peserta pemilu dan selanjutnya proses belajar dan memperbaiki diri dari para peserta pemilu itu terhadap kesalahannya. Saya meyakini mekanisme hadiah dan hukuman itu berlaku dalam politik Indonesia. Buktinya PDI-P yang menang Pemilu 1999 bisa kalah di 2004, sedangkan Partai Golkar yang menang di 2004 kalah di 2009, sementara hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Demokrat yang menang Pemilu 2009 turun.

Tentang calon presiden 2014, ada tiga langkah untuk memunculkan alternatif wajah calon pemimpin nasional. Pertama, menurunkan aturan presidential threshold (ambang batas capres) Pemilu 2009 yang mencapai 20 persen suara dan/atau 25 persen kursi. Pilihan yang mudah adalah ”menyamakan”-nya dengan ambang batas parlemen, yakni 3 persen, untuk mengajukan pasangan calon sendiri. Namun, melihat pengalaman politik selama ini, agaknya angka itu akan bertemu di tengah, yaitu di rentang 10 persen-15 persen. Kedua, partai membuka kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai calon. Ketiga, partai membuka pintu bagi tokoh-tokoh di luar partai.

Agamis vs nasionalis

Lepas dari harapan dan skeptisisme terhadap calon peserta Pemilu 2014, jumlah peserta yang 10 sebetulnya kian mendekati opini masyarakat. Paling tidak ini terungkap dari hasil berbagai survei, di antaranya survei oleh Indo Barometer pada Juni 2008 dan Agustus 2010.

Secara ideologi, 10 partai peserta pemilu juga cukup mencerminkan konstruksi ideologi parpol di Indonesia yang kerap dibagi dalam dua spektrum. Untuk spektrum partai agamis/berbasis massa agama versus nasionalis/sekuler, ke-10 partai itu dapat dibagi dalam partai agamis (PKS, PPP, PAN, PKB) dan nasionalis (PDI-P, Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem).

Dalam spektrum partai agamis, ada dua subspektrum, yakni agamis Islam dan Kristen. Subspektrum agamis Islam bisa dibagi lagi dalam sub-subspektrum agamis Islam modernis dan agamis Islam tradisionalis. Adapun yang hilang dalam 10 parpol peserta Pemilu 2014 adalah wakil dari subspektrum agamis Kristen.

Sementara untuk spektrum partai nasionalis, dapat dibagi lagi dalam subspektrum kanan/developmentalis versus kiri/ populis. Tentu penggolongan ini relatif dan dapat diperdebatkan. Akan tetapi, pesannya adalah: walau jumlah partai peserta pemilu menurun jauh dibandingkan 2009, sebetulnya cukup mewakili spektrum ideologi politik yang ada.

Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26737/12/01/2013/dsn-mui:-ulama-mesir-haramkan-sukuk-karena-alasan-maslahat-.html


Lanskap Baru Politik 2014

Monday, December 24, 2012

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini

Home Gazw Al-Fikr

Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini


 


Senin, 24 Desember 2012

Oleh: Nuim Hidayat 

SULTAN Baabullah risau. Ia tidak ingin kematian ayahnya (Sultan Khairun) memadamkan semangat jihad rakyatnya. Segera setelah dilantik,  ia mengumumkan perang jihad melawan Portugis di seluruh negeri. Rakyat pun bersegera menyambut seruannya. Lebih dari 120 ribu penduduk menjadi mujahid sukarela melawan Portugis saat itu.

Dalam perang itu, Sultan Baabullah minta pembunuh ayahnya gubernur Lopez de Mesquita diserahkan kepadanya untuk diadili. Tapi Lopez menolak.  Sultan pun menyerbunya. Tidak lama kemudian benteng-benteng Portugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro jatuh. Hanya benteng Sao Paulo kediaman Lopez yang bertahan. Benteng Sao Paulo dikepung dan diputuskan hubungannya dengan dunia luar.  Suplai makanan dibatasi hanya sekedar agar penghuni benteng bisa bertahan hidup. Sultan Baabullah bisa saja menguasai dengan cepat menghancurkan benteng itu, tapi ia masih kasihan banyak rakyat Ternate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka tinggal dalam benteng itu. Karena tertekan dan frustasi, akhirnya Portugis memecat Lopez de Mesquita dan menggantinya dengan Alvaro de Ataide.

Baabullah pun melebarkan perlawanan. Ia mengobarkan perang Soya-Soya (perang pembebasan negeri).  Kedudukan Portugis di berbagai tempat digempur habis-habisan. Tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 3000 pasukan, pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon dan berhasil mendudukinya. Pasukan Portugis dibawah Kapten Sancho de Vasconcellos yang dibantu pribumi Kristen berhasil memukul mundur pasukan Ternate di pulau Buru untuk sementara. Namun tidak lama kemudian Portugis pun jatuh setelah pasukan Baabullah kembali menyrang di bawah pimpinan Kapita Rubuhongi.

Tahun 1575 seluruh kekuasaan Portugis di Maluku telah jatuh dan suku-suku atau kerajaan pribumi yang mendukung mereka telah berhasil ditundukkan.  Demikianlah, tanggal 15 Juli 1575, orang-orang Portugis pergi secara memalukan dari Ternate.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah menjadikan benteng Sao Paulo sebagai benteng sekaligus istana, ia merenovasi dan memperkuat benteng tersebut kemudian mengubah namanya menjadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih melanjutkan hubungan dagang dengan bangsa barat termasuk Portugis dan mengizinkan mereka menetap di Tidore. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap bangsa Eropa yang tiba di Ternate untuk melepaskan topi dan sepatu mereka, sekedar untuk mengingatkan mereka agar tidak lupa diri.

Tahun 1580 Sultan Baabullah mengunjungi Makassar dan mengadakan pertemuan dengan raja Gowa Tunijallo, mengajaknya masuk Islam dan ikut serta dalam persekutuan melawan Portugis dan Spanyol. Sang raja tak langsung menyetujui ajakan Sultan untuk memeluk Islam namun setuju untuk ikut dalam persekutuan. Sebagai tanda persahabatan, Sultan Baabullah menghadiahkan Pulau Selayar kepada Raja Gowa.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Sultan Baabullah tetap melanjutkan kebijakan ayahnya dengan menjalin persekutuan dengan Aceh dan Demak untuk mengenyahkan Portugis dari Nusantara. Persekutuan Aceh-Demak-Ternate ini merupakan simbol persatuan Nusantara, karena ketiganya sebagai yang terbesar dan terkuat di masa itu merangkai wilayah Barat. Tengah dan Timur Nusantara dalam satu ikatan persaudaraan.

Sultan lahir pada 10 Februari 1528. Ia adalah Sultan Ternate ke-24 yang berkuasa antara tahun 1570-1583. Baabullah ketika itu berhasil mengusir Portugis dari Ternate-Maluku, yang selain menginginkan monopoli rempah-rempah juga berniyat mengkristenkan penduduk di sana. Misionaris yang terkenal Portugis, Francis Xavier (1506-1552) menyatakan,”(Jika) setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen. “ (lihat Alwi Shihab, Membendung Arus Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Misi Kristen di Indonesia, 1998)

Portugis pergi, datanglah penjajah Belanda. Hampir sama dengan Portugis, Belanda juga mempunyai misi Kristenisasi di Indonesia. Van Goens, di akhir masa jabatannya sebagai gubernur, 1675 menulis: “Betapa orang Moor (Islam) di pulau ini sangat menghalangi kita setiap hari terlihat melalui aktivitas mereka, sungguh mereka tidak lebih dari kanker yang menggerogoti keuntungan kompeni dan perusak moral yang utama.” (lihat Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942), 1995).

Idenburg, Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia (1906-1916) juga menyatakan,”Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.” Pidato Kerajaan Belanda pada 1901 menyatakan: “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral terhadap para penduduk di daerah-daerah itu.”

Baabullah, Antasari, Tjut Nyak Dien, Fatahillah, Diponegoro, KH Hasyim Asyari dan Natsir adalah beberapa pejuang Nusantara yang melawan kaum penjajah dengan ‘Bismillah’. Mereka tidak peduli dengan harta dan nyawa mereka yang bisa hilang dalam perlawanan. Niat menegakkan kalimah Allah di bumi Nusantara menjadikan ghirah mereka terus menyala.
Jihad memang lafadz yang bisa membuat penjajah berdiri bulu romanya. Jihad yang salah satunya bermakna perang fisik ini menjadi landasan bagi pahlawan-pahlawan Islam di negeri ini dalam mengusir penjajah. Baik Portugis, Belanda, Jepang atau Sekutu. Mereka tidak rela tanah air ini dirampas kekayaannya dan agama Kristiani menjadi mayoritas di negeri ini. Maka jangan heran meski Portugis dan Belanda khususnya, yang menjajah negeri ini ratusan tahun dan mencoba mengkristenkan penduduk-penduduk Nusantara mereka mengalami kegagalan. Islam yang telah tegak di Nusantara ini sejak abad ke-7, berkat para pejuang dan ulama, tetap menjadi mayoritas di negeri subur loh jinawi ini.

Jihad adalah roh kaum Muslimin. Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan orang yang menyelisihi para rasul  dan mengarahkan pedang syariat kepada mereka, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban disebabkan pernyataan mereka untuk menolong para nabi dan rasul, dan untuk menjadi pelajaran berharga bagi yang mengambilnya sehingga dengan demikian orang-orang yang menyimpang menjadi jera, termasuk amalan yang paling utama yang Allah perintahkan kepada kita untuk menjadikannya ibadah mendekatkan diri kepada-Nya.”

Kata jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan. Atau berasal dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya.

Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan karena Allah dan meninggikan kalimat-Nya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga.

Maka dalam Islam ada istilah mujahid dan mujtahid. Keduanya melaksanakan jihad baik dengan fikiran maupun fisiknya. Mujtahid lebih mengerahkan kemampuannya dalam berfikir atau berkarya. Sedangkan mujahid lebih mengerahkan kemampuan fisiknya. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan jihad memiliki empat tingkatan, yaitu (1) jihad memerangi hawa nafsu, (2) jihad memerangi syetan, (3) jihad memerangi orang kafir dan (4) jihad memerangi orang munafik.

Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal shaleh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Jihad memerangi musuh Allah yang di luar (jiwa) adalah cabang dari jihad memerangi jiwa, sebagaimana sabda Nabi saw,  “Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR. Ahmad). Juga sabdanya,“Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Daud).

Dengan spritit “jihad” di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Sulawesi Utara, Tengah dan Timur di bagian Barat hingga kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina (Selatan) di bagian utara hingga sejauh kepulauan Kai dan Nusa Tenggara di bagian selatan.

Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.

Dengan sprit “jihad” pula,  benteng Konstantinopel (kini Istambul, Turki) di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodok yang legendaris akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani. 

Sultan Baabullah dan Sultan Muhammad al-Fatih adalah dua contoh pejuang Muslim yang menyerahkan waktu, tenaga, pikiran, ilmu dan hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Lantas apa “jihad” kita hari ini?

Penulis aktif di Institute for the Study of the Islamic and Civilization (INSISTS)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=317897


Baabullah, Pembebasan Nusantara dan “Jihad” Kita Hari Ini