Showing posts sorted by relevance for query kakaknya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kakaknya. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 7, 2014

Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Akhlaknya yang bagus membuat keluarganya tertarik pada Islam.


Perempuan yang menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya ini mengenakan jilbab dan sangat ramah. Ibadah shalatnya pun bisa dibilang rajin.


Tak banyak yang tahu, perempuan berusia 50 tahun bernama Indriana Purnamawati itu lahir dan dibesarkan bukan oleh keluarga Islam. Masa kecilnya dipenuhi dengan kehidupan keluarga yang taat pada ajaran Katolik.


Namun, rasa ingin tahunya yang besar merintis jalannya untuk mengenal Islam, hingga akhirnya muncul keinginan kuat untuk menjadi Muslimah.


Perempuan yang akrab disapa Nina ini terlahir sebagai Katolik. Sejak TK hingga SMP, ia selalu mengenyam pendidikan di sekolah Katolik.


Ketika duduk di bangku SMA, ia bersekolah di SMA negeri. Saat itu, matanya terbuka, ternyata ia hidup menjadi minoritas di antara banyak kawannya yang Muslim.


Saat menghadapi syok karena melihat kebiasaan baru agama lain, ia banyak penasaran. Misalnya, ia melihat ada temannya yang membawa mukena ke sekolah dan mengetahui apa saja ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. “Saya dulu melihat, kok Islam itu ribet banget, ya,” ujarnya kepada Republika, pekan lalu.


Ia juga dekat dengan lelaki Muslim, yang kemudian menjadi kekasihnya kala itu. Pria ini selalu menggiringnya agar ia masuk menjadi Muslimah. “Saya tidak suka dengan cara seperti ini sehingga saat itu saya jadi benci setengah mati dengan Islam,” katanya.


Namun, saat duduk di kelas dua SMA, ia justru mulai tertarik dengan Islam. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya banyak belajar hal baru dan informasi-informasi mengenai Islam. “Bahkan, saya iseng-iseng ikut pelajaran agama Islam juga,” ujarnya.


Saat itu, ketika datang waktu ulangan pelajaran agama Islam, ia harus mencontek juga belajar menghafal mati-matian agar tidak terlalu jelek nilainya.


Ketika masa kuliah, ia semakin dekat dengan Islam. Teman kos sekamarnya Muslim yang taat dan banyak mempunyai buku agama yang menarik perhatiannya. “Awalnya ngumpet-ngumpet baca buku agama teman saya ini dan lama-lama tertarik,” kata Nina.


Banyak pengetahuan baru yang didapatnya ketika mempelajari Islam. Salah satunya adalah kenyataan Allah itu bersifat esa dan tidak diperanakkan.


Setelah banyak membaca buku agama  Islam, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia akhirnya berani membuka Alquran yang di dalamnya ada terjemahannya. “Melihat bahasanya, saya nggak ngerti sama sekali,” ujarnya.


Namun,  ia tidak menyerah. Ia terus membuka Alquran dan membaca buku-buku agama. Melalui proses yang panjang,


Nina akhirnya merasakan mendapatkan hidayah. Hingga ia minta diajarkan shalat oleh teman. Pada 1983, ia akhirnya mantap mengucapkan syahadat di depan teman-teman juga ustaz yang membimbingnya.


Awalnya, Nina menyembunyikan identitas barunya sebagai Muslimah apalagi di depan keluarga. Karena, ia tahu keluarganya adalah penganut Katolik yang taat.


Suatu hari, keluarganya akhirnya mengetahui juga. Saat itu, orang tuanya melihat ia sedang shalat. Ia pun kemudian dimarahi habis-habisan oleh bapaknya. “Saat dimarahi itu, saya ya diam saja terus,” katanya.


Ia mencari pembelaan kepada kakaknya yang telah menjadi mualaf juga karena menikah dengan orang Islam. Namun, ia kecewa karena kakaknya sama sekali tidak tahu tentang esensi Islam dan tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.


Kakaknya ini hanya ikut-ikutan shalat seperti pasangannya, namun tidak mengetahui ilmu-ilmu agama Islam. “Berbeda dengan saya. Kalau saya mempelajari dulu, tahu ilmunya, baru belajar shalat dan memutuskan masuk Islam,” ujar Nina.


Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginan sendiri.


Sebelumnya, ia banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun dan bukan sekadar ikut-ikutan.


Setelah masuk Islam, ia merasa banyak perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam.


Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. “Saya selalu merasa disayang Allah,” kata Nina.


Ia merasa seperti terlahir kembali setelah masuk Islam tersebut. Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman baginya. Meski begitu, ia tetap menghormati orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan sendiri-sendiri.


Ketika lama tak bertemu kawan lama, banyak yang kaget melihat penampilannya sekarang apalagi sekarang ia mengenakan jilbab. “Tapi, alhamdulillah hubungan kami tetap baik, hubungan sosial tetap terjaga, apa pun kepercayaan yang kamu anut,” ujarnya.


Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia selalu diam, tak membantah ataupun balas membentak orang tuanya.


Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. Bahkan, semakin hari akhlaknya kian bagus. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam.


“Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung ngebut belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat, sudah mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meregang nyawa,” kata Nina.


Article source: http://hot.detik.com/read/2011/04/08/140904/1611824/230/aniesa-amalia-langganan-peran-komedi?880006fa


Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

Sunday, April 21, 2013

Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston


Advertisement



Tamerlan Tsarnaev (ibtimes.com/Johannes Hirn)

Boston – Tersangka bom Boston, Tamerlan Tsarnaev diyakini telah menjalani radikalisasi Islam di wilayah Boston, Amerika Serikat. Disebut-sebut, ada seseorang yang mempengaruhi dan mencuci otak Tamerlan.

Sang paman Ruslan Tsarni yang tinggal di Maryland, AS seperti dilansir New York Times, Senin (22/4/2013), mengaku menyadari perubahan pada diri keponakannya pada tahun 2009. Tsarni kemudian meminta bantuan seorang kerabatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakak Dzhokhar Tsarnaev, yang kini terbaring tak berdaya di rumah sakit.


“Saya terkejut ketika mendengar kata-katanya (Tamerlan), ucapannya, setiap kata yang diucapkannya diawali dalam nama Tuhan. Saya menanyakan apa pekerjaan dia, dan dia mengklaim dirinya memasrahkan semuanya kepada takdir Tuhan. Itu menjadi perhatian besar bagi saya. … Itu bukanlah keyakinan, melainkan hal lain, yang bisa disebut radikalisasi. Saya tidak memahami apa yang dia bicarakan. Dia hanya berkata-kata dengan kata-kata yang dia tahu dan tidak memahami artinya,” jelasnya.


Menurut kerabat tersebut, seperti diceritakan Tsarni, proses radikalisasi terhadap Tamerlan berawal ketika pemuda berusia 26 tahun tersebut bertemu dengan seorang mualaf di wilayah Boston. Belakangan diketahui bahwa Tamerlan bertemu dengan orang yang mempengaruhinya tersebut pada tahun 2007 silam.


Orang yang masih misterius itu, disebut-sebut berhasil mencuci otak Tamerlan. Sang paman mengungkapkan percakapannya dengan Tamerlan pada tahun 2009 silam. Saat itu, Tsarni melihat, keponakannya seperti kehilangan harapan hidup.


“Anak-anak muda semacam ini, yang tidak mampu mengatasi masalah pribadi mereka memang menjadi sasaran empuk,” tutur Tsarni kepada media Inggris, Sunday Times, dan dilansir New York Post.


“Dia (orang misterius-red) semacam mencuci otaknya,” imbuh Tsarni yang berprofesi sebagai pengacara ini.


Meski mengaku tidak mengetahui pasti siapa yang meradikalisasi Tamerlan, Tsarni menyebut orang tersebut berasal dari Armenia. “Saya ingin menekankan bahwa dia (kenalan) merupakan keturunan Armenia,” ucapnya. Armenia termasuk dalam ras Kaukasia yang sebagian besar penduduknya penganut Kristen.


Lebih lanjut, Tsarni menyebut, Tamerlan sengaja mempengaruhi dan mencuci otak Dzhokhar, sang adik. Tsarni bahkan sempat menyebut Tamerlan sebagai pengecut.


“Dia (Dzhokhar) hanyalah korban dari kakaknya… Kakaknya membawanya ke situ. Dzhokhar hanya seorang anak yang ingin memiliki kakak yang menjadi panutan. Selain sebagai seorang pembunuh, Tamerlan sebenarnya kakak yang penyayang,” ceritanya.


“Jadi, yang disebut radikalisasi tersebut memang terjadi di sini (AS-red), tidak di Kaukasia, tidak di Rusia, tidak di Chechnya, yang sama sekali tidak ada kaitan dengan kasus ini,” tandas Tsarni.


(nvc/ita)







Article source: http://www.tubasmedia.com/berita/ulil-justru-saya-orang-baru-berani-ngomong-anas-lengser/


Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston

Thursday, December 8, 2016

Angel Karamoy Jengkel Soal Isu Mualaf dan Nikah Siri dengan Suami Artis Afifa Syahira | Kabar, Berita, Artikel & Hot Gossip

Kakak sekaligus manajer Angel, Daniel, mengungkap kalau adiknya itu cukup resah karena tertimpa isu tak sedap.

image

WowKeren.com - Angel Karamoy kembali diisukan menjadi mualaf dan menikah siri. Bahkan ia juga dirumorkan menikah dengan Syaiful Drajat, produser sekaligus suami artis muda Afifa Syahira.

Kedekatan Angel dengan produser sinetronnya, "Surga Yang Kedua", itu semakin jadi sorotan. Ini karena mantan istri Steven Rumangkang itu sempat liburan bareng keluarga Syaiful.

Menanggapi isu tersebut, kakak sekaligus manajer Angel, Daniel Karamoy, tak mau banyak bicara. Hanya saja, Daniel mengungkap kalau Angel sempat kesal karena diberitakan yang tidak-tidak.

"Dia (Angel) bilang 'Kenapa sih semua tindakan gue salah?' soalnya inframe sama ini digosipin, terserah saja deh mau gimana," kata Daniel. "Ya namanya gosip, tersebar cepat, apalagi yang miring-miring. Ya terserah mereka mau ngomong apa. Kasihan aja sama Angel, baru kemarin, nanti inframe sama siapa kena lagi."

Daniel juga mengklarifikasi soal kabar Angel liburan bareng Syaiful. "Terserah mereka mau ngomong apa, yang jelas kami sedang syuting di Marbella, Anyer hingga Sabtu," seru Daniel menirukan jawaban Angel.

Daniel menambahkan kalau Angel juga sering curhat padanya. Namun ia berusaha bersikap profesional sebagia manajer. "Kalau udah kehidupan pribadi saya nggak mau urusin. Saya urus jadwal aja. Pasti lah (curhat). Saya kan kakaknya. Pasti dia ngomong. Yang penting kita benar-benar aja. Angel bilang, 'Yang penting aku syuting kerja, ngurusin anak-anak," seru Daniel. (wk/ri)

loading...

loading...

Berita Angel Karamoy terkait :
• Angel Karamoy Dikabarkan Pacari Suami Afifa Syahira, Begini Reaksi Steven Rumangkang
• Isu Angel Pacari Suami Artis 'GGS' Afifa Syahira, Netter Sindir Skandal Foto Pasha
• Sudah Move On, Angel Karamoy Akhirnya Akui Punya Pacar Baru
• Sahabat Kecewa, Isyaratkan Angel Karamoy Berubah Drastis Karena Pindah Agama?
• Lihat berita terbaru Angel Karamoy ...

Koleksi foto Angel Karamoy terkini (95 foto):
"

| Angel | Karamoy | Jengkel | Soal | Mualaf | Nikah | Siri | dengan | Suami | Artis | Afifa | Syahira | Kabar, | Berita, | Artikel | Gossip | Kakak | sekaligus | manajer | Daniel | mengungkap | kalau | adiknya | cukup | resah | karena | tertimpa | sedap | em>< | p> < | div> WowKeren | com< | strong> | Karamoy< | kembali | diisukan | menjadi | mualaf | menikah | siri | Bahkan | juga | dirumorkan | Syaiful | Drajat | produser | suami | artis | muda | p>Kedekatan | sinetronnya | Surga | Yang | Kedua | semakin | jadi | sorotan | mantan | istri | Steven | Rumangkang | sempat | liburan | bareng | keluarga | p>Menanggapi | tersebut | kakak | banyak | bicara | Hanya | kesal | diberit | yang | p>Dia | (Angel) | bilang | Kenapa | semua | tind | gue< | salah | soalnya | inframe | sama | digosipin | terserah | gimana | kata | namanya | gosip | tersebar | cepat | apalagi | miring | ngomong | Kasihan | baru | kemarin | nanti | siapa | kena | lagi | p>Daniel | mengklarifikasi | soal | kabar | Terserah | jelas | kami | syuting | Marbella | Anyer | Sabtu | seru | menirukan | jawaban | menambahkan | sering | curhat | padanya | Namun | berusaha | bersikap | profesional | sebagia | Kalau | udah | kehidupan | pribadi | saya | nggak | urusin | Saya | urus | jadwal | Pasti | (curhat) | kakaknya | penting | benar | kerja | ngurusin | anak | ri)< | strong>< | p> loading | p> loading | p> < | div> Berita | terkait | :• | Dikabarkan | Pacari | Begini | Reaksi | Rumangkang< | a>• | Netter | Sindir | Skandal | Foto | Pasha< | Sudah | Move | Akhirnya | Akui | Punya | Pacar | Baru< | Sahabat | Kecewa | Isyaratkan | Berubah | Drastis | Karena | Pindah | Agama | Lihat | berita | terbaru | p> Koleksi | foto | terkini | foto< | a>):< | div> < | div> < | div> |

Thank You Very Much for Visit this News

Friday, January 10, 2014

Ikut Jadi Mualaf, Ibu Nina Meninggal Saat Belajar Shalat

Oleh Rosita Budi Suryaningsih


REPUBLIKA.CO.ID, Meski dimarahi sang ayah, Indriana Purnamawati tetap pada keyakinan barunya sebagai Muslimah. Nina, sapaan akrabnya pun mencari pembelaan kepada kakaknya yang telah menjadi mualaf juga karena menikah dengan orang Islam.


Hanya, dia berbeda dengan sang kakak yang sama sekali tidak tahu tentang esensi Islam dan tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Kakaknya ini hanya ikut-ikutan shalat seperti pasangannya, namun tidak mengetahui ilmu-ilmu agama Islam. “Berbeda dengan saya. Kalau saya mempelajari dulu, tahu ilmunya, baru belajar shalat dan memutuskan masuk Islam,” ujar Nina.


Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginan sendiri. Sebelumnya, ia telah banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun dan bukan sekadar ikut-ikutan.


Setelah masuk Islam, ia merasa banyak perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam. Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. “Saya selalu merasa disayang Allah,” kata Nina.


Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia selalu diam, tak membantah ataupun balas membentak orang tuanya. Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. Bahkan, semakin hari akhlaknya kian bagus. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam. 


“Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung ngebut belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat, sudah mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meregang nyawa,” kata Nina.  


 Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman baginya. Meski begitu, ia tetap menghormati orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan sendiri-sendiri.


Ketika lama tak bertemu kawan lama, banyak yang kaget melihat penampilannya sekarang apalagi sekarang ia mengenakan jilbab. “Tapi, alhamdulillah hubungan kami tetap baik, hubungan sosial tetap terjaga, apa pun kepercayaan yang kamu anut,” ujarnya.


Article source: http://www.sinarharian.com.my/tidak-salah-suami-bohong-isteri-1.212165


Ikut Jadi Mualaf, Ibu Nina Meninggal Saat Belajar Shalat

Thursday, December 8, 2016

Angel Karamoy Jengkel Soal Isu Mualaf dan Nikah Siri dengan Suami Artis Afifa Syahira | Kabar, Berita, Artikel & Hot Gossip

Kakak sekaligus manajer Angel, Daniel, mengungkap kalau adiknya itu cukup resah karena tertimpa isu tak sedap.

image

WowKeren.com - Angel Karamoy kembali diisukan menjadi mualaf dan menikah siri. Bahkan ia juga dirumorkan menikah dengan Syaiful Drajat, produser sekaligus suami artis muda Afifa Syahira.

Kedekatan Angel dengan produser sinetronnya, "Surga Yang Kedua", itu semakin jadi sorotan. Ini karena mantan istri Steven Rumangkang itu sempat liburan bareng keluarga Syaiful.

Menanggapi isu tersebut, kakak sekaligus manajer Angel, Daniel Karamoy, tak mau banyak bicara. Hanya saja, Daniel mengungkap kalau Angel sempat kesal karena diberitakan yang tidak-tidak.

"Dia (Angel) bilang 'Kenapa sih semua tindakan gue salah?' soalnya inframe sama ini digosipin, terserah saja deh mau gimana," kata Daniel. "Ya namanya gosip, tersebar cepat, apalagi yang miring-miring. Ya terserah mereka mau ngomong apa. Kasihan aja sama Angel, baru kemarin, nanti inframe sama siapa kena lagi."

Daniel juga mengklarifikasi soal kabar Angel liburan bareng Syaiful. "Terserah mereka mau ngomong apa, yang jelas kami sedang syuting di Marbella, Anyer hingga Sabtu," seru Daniel menirukan jawaban Angel.

Daniel menambahkan kalau Angel juga sering curhat padanya. Namun ia berusaha bersikap profesional sebagia manajer. "Kalau udah kehidupan pribadi saya nggak mau urusin. Saya urus jadwal aja. Pasti lah (curhat). Saya kan kakaknya. Pasti dia ngomong. Yang penting kita benar-benar aja. Angel bilang, 'Yang penting aku syuting kerja, ngurusin anak-anak," seru Daniel. (wk/ri)

loading...

loading...

Berita Angel Karamoy terkait :
• Angel Karamoy Dikabarkan Pacari Suami Afifa Syahira, Begini Reaksi Steven Rumangkang
• Isu Angel Pacari Suami Artis 'GGS' Afifa Syahira, Netter Sindir Skandal Foto Pasha
• Sudah Move On, Angel Karamoy Akhirnya Akui Punya Pacar Baru
• Sahabat Kecewa, Isyaratkan Angel Karamoy Berubah Drastis Karena Pindah Agama?
• Lihat berita terbaru Angel Karamoy ...

Koleksi foto Angel Karamoy terkini (95 foto):
"

| Angel | Karamoy | Jengkel | Soal | Mualaf | Nikah | Siri | dengan | Suami | Artis | Afifa | Syahira | Kabar, | Berita, | Artikel | Gossip | Kakak | sekaligus | manajer | Daniel | mengungkap | kalau | adiknya | cukup | resah | karena | tertimpa | sedap | em>< | p> < | div> WowKeren | com< | strong> | Karamoy< | kembali | diisukan | menjadi | mualaf | menikah | siri | Bahkan | juga | dirumorkan | Syaiful | Drajat | produser | suami | artis | muda | p>Kedekatan | sinetronnya | Surga | Yang | Kedua | semakin | jadi | sorotan | mantan | istri | Steven | Rumangkang | sempat | liburan | bareng | keluarga | p>Menanggapi | tersebut | kakak | banyak | bicara | Hanya | kesal | diberit | yang | p>Dia | (Angel) | bilang | Kenapa | semua | tind | gue< | salah | soalnya | inframe | sama | digosipin | terserah | gimana | kata | namanya | gosip | tersebar | cepat | apalagi | miring | ngomong | Kasihan | baru | kemarin | nanti | siapa | kena | lagi | p>Daniel | mengklarifikasi | soal | kabar | Terserah | jelas | kami | syuting | Marbella | Anyer | Sabtu | seru | menirukan | jawaban | menambahkan | sering | curhat | padanya | Namun | berusaha | bersikap | profesional | sebagia | Kalau | udah | kehidupan | pribadi | saya | nggak | urusin | Saya | urus | jadwal | Pasti | (curhat) | kakaknya | penting | benar | kerja | ngurusin | anak | ri)< | strong>< | p> loading | p> loading | p> < | div> Berita | terkait | :• | Dikabarkan | Pacari | Begini | Reaksi | Rumangkang< | a>• | Netter | Sindir | Skandal | Foto | Pasha< | Sudah | Move | Akhirnya | Akui | Punya | Pacar | Baru< | Sahabat | Kecewa | Isyaratkan | Berubah | Drastis | Karena | Pindah | Agama | Lihat | berita | terbaru | p> Koleksi | foto | terkini | foto< | a>):< | div> < | div> < | div> |

Thank You So Much for Read this Article

Friday, December 9, 2016

Hot Mom Angel Karamoy, Isu Mualaf dan Nikah Siri

image

Angel Karamoy

Jakarta, HanTer - Angel Karamoy kembali diisukan menjadi mualaf dan menikah siri. Perempuan kelahiran Manado, 16 Januari 1987 itu juga dirumorkan menikah dengan Syaiful Drajat, produser sekaligus suami artis muda Afifa Syahira.

Kedekatan Angel dengan produser sinetronnya terjalin dalam sinetron "Surga Yang Kedua". Apalagi, mantan istri Steven Rumangkang itu sempat liburan bareng keluarga Syaiful.

Menanggapi isu tersebut, kakak sekaligus manajer Angel, Daniel Karamoy, tak mau banyak bicara. Hanya saja, Daniel mengungkap kalau Angel sempat kesal karena diberitakan yang tidak-tidak.

"Dia (Angel) bilang 'Kenapa sih semua tindakan gue salah?' soalnya inframe sama ini digosipin, terserah saja deh mau gimana," kata Daniel. "Ya namanya gosip, tersebar cepat, apalagi yang miring-miring. Ya terserah mereka mau ngomong apa. Kasihan aja sama Angel, baru kemarin, nanti inframe sama siapa kena lagi."

Daniel juga mengklarifikasi soal kabar Angel liburan bareng Syaiful. "Terserah mereka mau ngomong apa, yang jelas kami sedang syuting di Marbella, Anyer hingga Sabtu," seru Daniel menirukan jawaban Angel.

Daniel menambahkan kalau Angel juga sering curhat padanya. Namun ia berusaha bersikap profesional sebagia manajer. "Kalau udah kehidupan pribadi saya nggak mau urusin. Saya urus jadwal aja. Pasti lah (curhat). Saya kan kakaknya. Pasti dia ngomong. Yang penting kita benar-benar aja. Angel bilang, 'Yang penting aku syuting kerja, ngurusin anak-anak," seru Daniel.

Hot Mom

Meski telah punya dua anak, Junio McKenzie ​​Rumangkang, Lovely Maria Rumangkang, penampilan Angel Karamoy terlihat masih sangat hot mom atau ibu cantik. Orang tak menyangka jika ia sudah punya anak.

Janda seksi ini memang selalu berpenampilan segar dan cantik. Ia seolah tak ingin mengecewakan para penggemarnya. Hal itu membuat Tak para penggemarnya sering kali melontarkan pujian.
 

(AN)

"

| Angel | Karamoy, | Mualaf | Nikah | Siri | p> Angel | Karamoy< | p> Jakarta | HanTer | strong> | Karamoy | kembali | diisukan | menjadi | mualaf | menikah | siri | Perempuan | kelahiran | Manado | Januari | 1987 | juga | dirumorkan | dengan | Syaiful | Drajat | produser | sekaligus | suami | artis | muda | Afifa | Syahira | p>Kedekatan | sinetronnya | terjalin | dalam | sinetron | Surga | Yang | Kedua | Apalagi | mantan | istri | Steven | Rumangkang | sempat | liburan | bareng | keluarga | p>Menanggapi | tersebut | kakak | manajer | Daniel | banyak | bicara | Hanya | mengungkap | kalau | kesal | karena | diberit | yang | p>Dia | (Angel) | bilang | Kenapa | semua | tind | salah | soalnya | inframe | sama | digosipin | terserah | gimana | kata | namanya | gosip | tersebar | cepat | apalagi | miring | ngomong | Kasihan | baru | kemarin | nanti | siapa | kena | lagi | p>Daniel | mengklarifikasi | soal | kabar | Terserah | jelas | kami | syuting | Marbella | Anyer | Sabtu | seru | menirukan | jawaban | menambahkan | sering | curhat | padanya | Namun | berusaha | bersikap | profesional | sebagia | Kalau | udah | kehidupan | pribadi | saya | nggak | urusin | Saya | urus | jadwal | Pasti | (curhat) | kakaknya | penting | benar | kerja | ngurusin | anak | p>Hot | Mom< | strong>< | p>Meski | telah | punya | Junio | McKenzie | ​​Rumangkang | Lovely | Maria | penampilan | terlihat | masih | sangat | atau | cantik | Orang | menyangka | jika | p>Janda | seksi | memang | berpenampilan | segar | seolah | ingin | mengecew | para | penggemarnya | membuat | kali | melontarkan | pujian | p> (AN)< | p> |

Thank You So Much for Visit this News

Thursday, May 16, 2013

Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Penggeledahan rumah terduga teroris Qomasu Nuawiyah Arob alias Nuaim (39) Rabu (15/5) siang, selain berlangsung lama, juga sempat mendapat protes keras dari istri dan keluarga.


Adik kandung Nuaim, Muhammad Fauzi kepada wartawan usai penggeledahan mengatakan, pihak keluarga merasa belum mendapat pemberitahuan resmi mengenai penggeledahan tersebut. Pihaknya juga meminta agar saat penggeledahan disaksikan oleh Tim Pengacara Muslim (TPM).


“Kami hanya minta polisi menunjukkan surat resmi (penggeledahan) sebelum masuk ke rumah. Karena saat datang tidak ada pemberitahuan dan tidak ada surat resminya,” katanya.


Menurut Fauzi, pihaknya juga menanyakan alasan Densus 88 menangkap kakaknya. “Kami tidak tahu sama sekali apa salah Nuiam sehingga ditangkap Densus 88,” ujarnya.


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Densus 88 memberikan surat penangkapan dengan nomor SPJK – 40/4/5/2013. Dalam surat tersebut disebutkan, Nuaim ditangkap terkait dengan penangkapan terduga teroris lainnya, William Maksum.


“Kami dari pihak keluarga tidak mengenal William Maksum,” tegasnya.


Sementara mengenai barang bukti yang disita polisi menurut Fauzi, tidak serta merta bisa menyimpulkan bahwa Nuaim terkait tindak terorisme.


“Benda-benda itu biasa didapati di rumah-rumah warga pada umumnya. Lagian benda-benda tersebut juga tidak disembunyikan,” terangnya.


Fauzi mencontohkan, gulungan kabel, itu dibeli untuk memperbaiki saluran listrik di rumah. Sementara paralon itu sebenarnya peredam senapan angin yang sudah rusak. Kalau sarung pistol itu dibeli Nuaim dari pasar barang bekas dan jadi mainan anaknya.


“Itu tadi kan ditemukan di kotak mainan anaknya. Kalau CD dan buku-buku yang disinyalir berkaitan dengan tindak terorisme, itu tidak benar. Buku-buku itu kan bisa dibeli di pasaran,” tambahnya.


Sebelumnya, Tim Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sekaligus penggeledahan, di tempat tinggal terduga teroris Nuaim, kampung Padangan, Joyotakan RT 03 RW 04 Serengan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (15/5).


Dalam penggeledahan tersebut, polisi menemukan dan membawa beberapa barang bukti, antara lain sebuah sarung senjata, Majalah Sabili, buku-buku dengan judul “Islam Arab dan Yahudi Zionis, “Jihad dan Terorisme”, “Melawan Kafir Yahudi”, “Salibis tunggangi SBY”.


Selain barang tersebut, polisi juga menyita beberapa potongan pipa paralon, satu ikat kepala bertuliskan “freedem Palestina”, lima VCD tanpa cover, dan beberapa kabel tiga warna.










Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/03/165621/Mahasiswa-dan-Polisi-Terlibat-Baku-Pukul/6


Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Monday, June 17, 2013

Almarhum Ully Artha Sudah Jadi Muallaf

INILAH.COM, Jakarta – Artis senior Ully Artha ternyata sudah memeluk agama islam sejak tahun lalu. Jenazah pun direncanakan akan dikebumikan di TPU Tanah Kusir dengan cara islam.


“Dikuburkan secara islam, mungkin habis adzan dzuhur,” ucap Tigor, adik almarhumah Ully saat ditemui di rumah duka, Minggu (16/6/2013).


Tigor pun mengakui jika kakaknya tersebut telah masuk islam sejak setahun lalu. Namun, keputusan Ully untuk menjadi mualaf tak diketahui oleh pihak keluarganya.


“Keluarga nggak tahu, ya kalau saya sih nggak terkejut karena itu kan pilihan masing-masing,” tambahnya.


Seperti diketahui, Ully meninggal dunia di usia 59 karena penyakit komplikasi. [irv]


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/05/10/mmkzvb-qaradhawi-imbau-rakyat-palestina-untuk-bersatu


Almarhum Ully Artha Sudah Jadi Muallaf

Thursday, May 9, 2013

Asia Terancam Teroris Mancanegara

TEHERAN – Ketua Majelis (Parlemen) Iran Ali Larijani mengingatkan, Asia kini menghadapi teroris asal mancanegara. Saat berpidato dalam penutupan sidang Dialog Kerja Sama Asia (ACD), Rabu, Larijani mengatakan bahwa gejala terorisme dan ekstremisme di kawasan itu didukung AS dan jaringan mata-mata Barat, yang bertekad mengganggu perdamaian dan keamanan di Asia. “Pada abad terakhir, India, China, Jepang dan Iran menjadi kekuatan berpengaruh di dunia dan semua berada di benua Asia,” katanya. Meskipun menyebabkan masalah untuk Asia, pelatihan kelompok teroris oleh Barat dinilainya akan lebih berbahaya.



Diserang, Napi Pakistan Tewas


AMRITSAR – Seorang narapidana (napi) Pakistan yang diserang di penjara India akhirnya meninggal di rumah sakit, Kamis, setelah mengalami cedera dalam saling-balas serangan pekan lalu. Sanaullah Ranjay menderita cedera kepala parah di satu penjara di kota utara Jammu, dalam serangan tak lama setelah kematian seorang tahanan India, Sarabjit Singh, yang diserang di penjara Pakistan. Ranjay, seorang pembunuh dari kota Pakistan Sialkot, diserang oleh seorang tahanan diidentifikasi sebagai mantan tentara angkatan darat India hanya 24 jam setelah kematian Singh di penjara Lahore. Insiden ini bisa menyulut ketegangan baru antara India dan Pakistan. Sekitar 535 tahanan India, termasuk 483 nelayan, berada di penjara-penjara Pakistan, sementara 272 tahanan Pakistan berada di penjara-penjara di India.




Yordania Usir Duta Besar Israel


AMMAN – Parlemen Yordania setuju untuk mengusir duta besar Israel. Pengusiran itu merupakan balasan atas agresi Israel ke Masjid Al-Aqsa di Kota Yerusalem akhir-akhir ini. Kondisi di area masjid Al Aqsa saat ini memang sedang panas. Sekelompok ekstrimis Yahudi tiba-tiba menyerang masjid Al-Aqsa Selasa (7/5). Warga Palestina pun segera melindungi masjid yang dianggap suci oleh umat Islam itu. Mereka membangun blokade untuk melindungi area masjid Al-Aqsa. Yordania sebenarnya memiliki hubungan baik dengan Israel. Negara itu merupakan salah satu dari segelintir Negara Arab yang memiliki perjanjian damai dengan Israel.




PM Australia Ditimpuk Roti


BRISBANE – Sandwich atau roti isi berisi Vegemite dilempar oleh seorang pelajar ke arah PM Australia Julia Gillard yang sedang mengunjungi sebuah sekolah di dekat Brisbane. Untungnya, sandwich itu tidak mendarat di wajah Gillard. Keramaian menyambut Gillard yang baru saja sampai di sekolah tersebut, banyak pelajar menyambut Gillard dengan sorak sorai dan foto bersama. Meski demikian, sejumlah pelajar terlihat mencemoohnya dan salah seorang diantara mereka melempar sandwich ke arahnya. Gillard justru terlihat santai dan bergurau mengenai insiden pelemparan itu. Gillard tidak memandang pelemparan sandwich itu sebagai tindakan protes atau penghinaan terhadap dirinya.




Beranak 7, Sutradara China Didenda


BEIJING – Pemerintah China tengah menyelidiki laporan bahwa sutradara ternama Zhang Yimou melanggar aturan keluarga berencana di negara tersebut dengan memiliki 7 anak, sehingga terancam denda sebanyak 160 juta yuan (26,05 juta dolar AS). China punya kebijakan 1 anak. Zhang mengundang decak kagum dunia dengan kemegahan pembukaan Olimpiade di Beijing yang ditanganinya pada 2008. Belum jelas dimana anak-anak Zhang dilahirkan, namun Komisi Populasi dan Keluarga Berencana Provinsi Jiangsu masih melakukan investigasi. Zhang (61) dikenal sebagai anak nakal di kalangan perfilman China karena beberapa filmnya pernah dilarang beredar di dalam negeri meski cukup tenar di luar negeri.




Biarawati Menyusup Reaktor Nuklir


TENNESSEE – Seorang biarawati ditahan petugas setelah menyusup masuk ke dalam reaktor nuklir di Negara Bagian Tennesse, AS. Dia pun terancam menerima hukuman 20 tahun penjara. Megan Rice melakukan aksinya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan nuklir AS. Menurutnya, nuklir hanya akan membawa kematian. Perempuan berusia 83 tahun itu menyusup ke dalam reaktor nuklir bersama 2 rekannya. Mereka menerobos pagar lalu mencoret-coret tembok bangunan reaktor dengan pesan anti-nuklir. Aksi Rice membuat malu Pemerintah AS. Mereka tidak menyangka reaktor nuklir yang harusnya dijaga ketat dapat disusupi dengan mudah oleh seorang lansia. Beberapa pejabat keamanan dimutasi akibat insiden ini dan perusahaan yang menjaga reaktor nuklir itu juga diputus kontraknya.




Meninggal Tersedak Hot-Dog


CHICAGO – Seorang guru yang berusia 28 tahun, Maureen Oleskewics, menghembuskan napas terakhir setelah ia tersedak hot dog saat menyaksikan pertandingan tim baseball Chicago Cubs di Wirgley Field, Chicago, dan jantungnya berhenti berdenyut secara mendadak. Maureeen tiba-tiba tersedak dan jatuh di antara barisan bangku stadion. Sang adik, Martin, mulanya mengira kakak perempuannya bercanda. Namun saat lagu nasional dikumandangkan, beberapa petugas tampak melakukan pernapasan buatan pada kakaknya. (AP/Ant/Adi)



Article source: http://internasional.kompas.com/read/xml/2013/05/08/08335887/Militan.Boko.Haram.Serang.Kota..55.Orang.Tewas


Asia Terancam Teroris Mancanegara

Friday, April 26, 2013

Duet Bomber Boston Terpengaruh Al Qaeda?

INILAH.COM. Washington – Jauh hari sebelum dua pengebom Maraton Boston beraksi pekan lalu, adik Tamerlan Tsarnaev yang selamat bernama Dzhokhar Tsarnaev, sudah mendapat suntikan radikalisasi, menurut para pakar psikologi dan terorisme.


“Masa dewasa adalah saat paling penting dalam pembentukan identitas seseorang,” ujar Sherry Mc Carty profesor psikologi dan konseling di Northern Arizona University yang mendapat bea siswa Fullbright untuk belajar di Rusia.


“Jika sudah tumbuh perasaan terisolasi, maka ini akan membuat masalah dan upya asimilasi dengan masyarakat yang berbeda menjadi faktor penentu,” ujar McCarthy merujuk pada masalah psikologis yang dialami Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev, duet pengebom Maraton Boston.


Perasaan diperlakukan tak adil, identitas diri yang take jelas dan merasa tidak menjadi bagian masyarakat telah menjadi pemicu ampuh yang mendorong orang bisa bertindak layaknya teroris.


Randy Bourma, profesor strategi dan informasi di University of Southern Florida dan pakar psikologi terorisme menyatakan, ia tak khusus menyoroti Tsarnaev bersaudara, namun secara umum terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tindak terorisme. “Ada banyak penyebab tindak terorisme, jarang yang sebabnya tunggal dan khusus. Banyak kemungkinannya,” ujar Bourma.


Namun sejumlah faktor, menurut para ahli, mungkin berpengaruh terhadap perilaku Tsarnaev bersaudara. Temasuk karena mereka berasal dari republik bekas Uni Sovyet yang dianggap sebagai bahaya laten dalam psikologi Perang Dingin, dan mereka memiliki akses baik ke Rusia maupun AS serta ada kesempatan merealisasikan motif politik dan keagaamaan yang mereka yakini, kata para ahli.


“Mekanisme sentral radikalisasi dimulai dari gerutuan politik,” ujar Clark McCauley, seorang profesor psikologi sosial di Bryn Mawr College.


“Orang Chechen berperang melawan Rusia dari generasi demi generasi, dan sebagian orang Chechen mengintepretasikannya sebagai konflik Muslim versus Kristen…AS dan Rusia sama-sama negara Kristen,” tulis McCauley di blog Psychology Today bertajuk “Radikalisasi Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev”.


“Para anggota Al Qaeda juga berkeliaran di Chechnya. Beberapa anggota Al Qaedah dilaporkan berjuang membela orang Chechen di sebuah sekolah Beslan sewaktu meletus krisis penyanderaan di 2004. Sebagai nilai budaya, orang Chenchen menganggap loyalitas adalah terpenting dalam masyarakat: Musuh teman saya adalah musuh saya,” tulis McCauley.


Mekipun dua tersangka duet pengebom ini beretnis Chechen, namun Dzhokhar Tsarnaev kabarnya tak pernah pulang kampung. Sedangkan Tamerlan yang diberitakan pernah mengunjungi Chechnya, kemungkinan berhubungan dengan kaum Islam radikal sana.


Tamerlan berupaya berbaur dengan warga Boston, tapi orientasinya lebih kepada Chechnya yang banyak dihuni golongan Islam garis keras. Kembali ke Boston, kemungkinan Tamerlan membimbing adiknya untuk masuk dalam jalan pikiran radikalnya dan merencanakan kekerasan masif dengan meledakkan bom Maraton Boston.


“Mekanisme radikalisasi adalah mencintai seseorang yang sudah teradikalisasi. Ini seperti adik manis yang diajak ngebom..Kita melihat tayangan video, sang adik bergegas mengikuti kakaknya di garis finish Maraton,” ujar McCauley.


Lebih berspekulasi lagi McCauley bilang, sejak Tamerlan pulang kampung dan merasa “disconnected” dari AS mungkin inilah yang membuat dirinya terbuka terhadap ide dan berhubungan dengan Al Qaeda serta kaum militan Chechen.


Pandangan seperti ini memang sepertinya yang paling diinginkan baik oleh AS dan Rusia untuk membentuk opini publik. Kedua pemerintah sama-sama membenci gerakan radikal seperti Al Qaedah dan gerilyawan Chechen.


Hubungan AS dan Rusia kini seperti mencapai titik pertemuan paling ideal yang lama dikungkung psikologi Perang Dingin yang terus menimbulkan saling curiga.


Secara bisnis yang berdimensi politis, baru awal April ini Kementerian Pertahanan AS menyetujui pembelian helikopter Rusia untuk kepentingan pelatihan tentara Afganistan. Ini menjadi simbol terpenting bakal makin baiknya hubungan AS dan Rusia. [Dari berbagai sumber]


Article source: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/30/90854/lipi_peran_perempuan_dalam_politik_terkendala_kultur/


Duet Bomber Boston Terpengaruh Al Qaeda?

Sunday, June 16, 2013

Almarhumah Ully Artha Sudah Jadi Mualaf

INILAH.COM, Jakarta – Artis senior Ully Artha ternyata sudah memeluk agama islam sejak tahun lalu. Jenazah pun direncanakan akan dikebumikan di TPU Tanah Kusir dengan cara islam.


“Dikuburkan secara islam, mungkin habis adzan dzuhur,” ucap Tigor, adik almarhumah Ully saat ditemui di rumah duka, Minggu (16/6/2013).


Tigor pun mengakui jika kakaknya tersebut telah masuk islam sejak setahun lalu. Namun, keputusan Ully untuk menjadi mualaf tak diketahui oleh pihak keluarganya.


“Keluarga nggak tahu, ya kalau saya sih nggak terkejut karena itu kan pilihan masing-masing,” tambahnya.


Seperti diketahui, Ully meninggal dunia di usia 59 karena penyakit komplikasi. [irv]


Article source: http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/42853/polrestabes-surabaya-periksa-anggota-fpi


Almarhumah Ully Artha Sudah Jadi Mualaf

Saturday, April 27, 2013

Sang Panutan Telah Berpulang - Makassar Terkini

JAKARTA – Indonesia kehilangan dai kondang, Ustaz Jefry Al Bukhory, 40, kemarin. Wafatnya dai muda secara mendadak ini menyisakan duka mendalam. Ribuan orang pun larut dalam kesedihan dalam pemakamannya


Sebelum dikebumikan, ribuan jamaah turut menyalati jenazah Uje seusai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Ketika rombongan memasuki pelataran Istiqlal, ribuan pelayat yang sudah menunggu di dalam masjid, langsung tak kuasa menahan air mata begitu melihat keranda berisikan jenazah ustaz yang dicintainya itu.


Mereka saling berebut bisa menggotong keranda ataupun mendekat ke jasad sang “dai gaul” ini. Prosesi pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Tengsin Tanah Abang, Jakarta Pusat pun tak kalah tumpah ruah dipenuhi ribuan pelayat. TPU yang berada di samping Jalan Mas Mansyur ini dipenuhi kendaraan bermotor serta mobil. Karena banyaknya masyarakat yang hendak melihat prosesi ini, sejumlah anggota ormas keagamaan membantu menjadi sweeper agar ambulans yang membawa jenazah Ustaz Jefry bisa lewat.


Tak lama kemudian, seorang yang menggunakan kopiah putih datang membawa foto diri Ustaz Jefry berjalan di depan ambulans yang membawa jasad Jefry. Sesekali terdengar suara pria yang meminta masyarakat untuk mundur. Butuh waktu 15 menit untuk membawa jasad Jefry sampai depan liang lahatnya. Siang kemarin, ribuan orang mulai keluarga, saudara, tetangga, pejabat, sahabat, hingga anggota jamaah pengajian sengaja ikut hadir langsung dalam pemakaman demi bisa melihat Uje untuk terakhir kalinya. Jasad Uje dimakamkan satu liang dengan ayahnya, Haji Ismail Modal, yang meninggal pada 1992 lalu.


Sekitar pukul 14.00 WIB, jenazah Uje selesai dimakamkan. Meski demikian, ribuan pelayat masih berada di pemakaman, bahkan masih banyak yang berdatangan. Ustaz Jefry meninggal dunia setelah motor yang dikendarainya menabrak sebuah pohon di Jalan Gedung Hijau Raya, Pondok Indah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat dini hari kemarin sekitar pukul 01.00 WIB. Korban sempat mendapatkan perawatan selama setengah jam di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Namun, nyawa Uje tak terselamatkan karena luka di kepalanya yang cukup parah. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Selatan AKBP Hindarsono mengatakan, Uje diketahui mengendarai sepeda motor Kawasaki ER 6N bernopol B 3590 SGQ. “Saat kecelakaan, helm korban terlepas, sedangkan kondisi sepeda motornya cukup parah,” katanya. Saat helm terlepas, kepalanya diduga terbentur yang mengakibatkan kepalanya terluka parah. Diduga, luka tersebut yang membuat Uje meninggal dunia. Sebelum kecelakaan, Uje melintas dari arah timur menuju barat di Jalan Gedung Hijau Raya.


Sesampainya di depan rumah No 17 PB-38, motor korban menabrak trotoar dan pohon palem di sebelah kiri jalan. Akibatnya, korban terpental beberapa meter dalam posisi telungkup. Korban yang kala itu sendirian mengendarai sepeda motornya, kemudian ditolong oleh pengawalnya di belakang motornya. Uje langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah. Namun karena lukanya yang cukup parah, dia akhirnya menghadap Sang Ilahi. Polisi sempat membawa Ustaz Uje ke RS Fatmawati.


Namun, pihak keluarga akhirnya meminta jenazah untuk tidak divisum dan menganggap apa yang terjadi adalah musibah. Setelah itu, jenazah Uje dibawa ke rumah duka di Perum Bukit Mas, Jalan Narmada III, Rempoa, Bintaro, Tangerang Selatan. Almarhummeninggalkanseorangistri, Pipik Dian Irawati Popon, dan tiga anak yakni Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro. Adik kandung almarhum, Deki Fajar Sidiq, menjelaskan bahwa sebelum kecelakaan, Ustaz Uje minum kopi bersama rekanrekannya di kawasan Kemang.


Malam itu kondisi Uje sebenarnya sedang dalam keadaan kurang sehat. Bahkan, dia sempat meminta kakaknya agar tidak ikut dalam kongko tersebut. Namun, permintaannya ditolak. “Beliau mengajak saya. Awalnya saya menolak dan mengingatkan agar istirahat, karena kondisi beliau sedang tak terlalu sehat. Tapi begitulah, kalau beliau punya kemauan susah dilarang. Akhirnya saya ikut juga,” ujarnya. Sambil minum kopi di Kemang, Ustaz Uje membahas rencana kegiatan pada bulan Ramadan mendatang dan syuting di Arab Saudi. “Kita pulang sekitar pukul 24.00 WIB,” katanya.


Saat pulang, Uje kembali mengendarai motornya sendirian. Ketika tiba di lokasi kejadian, di Gedung Hijau Raya Pondok Indah tepat di depan rumah No 17 PB 38, Jakarta Selatan, Uje mengalami kecelakaan, sekitar pukul 01.00. Deki menilai Ustaz Uje adalah sosok yang amat baik dan sayang keluarga. “Dia merupakan panutan. Semoga amal dan ibadahnya diterima Allah serta diberikan tempat di sisi-Nya,” jelas dia. Ruslia, 27, salah seorang pelayat, mengatakan sengaja ikut salat ke Masjid Istiqlal demi bisa melayat mendiang Ustaz Jefry. Menurutnya, Ustaz Jefry telah mengajarkan agama Islam dengan baik dan mudah dipahami.


“Saya kan mualaf, ketika saya mendengar ceramah beliau, saya jadi cepat mengerti. Karena cara mengajarnya yang mudah dicerna. Tentu ini sebuah kehilangan besar bagi saya,” ujar warga Pulogadung, Jakarta Timur tersebut. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan Ustaz Uje telah berjasa membimbing umat agar tetap beriman dan berada di jalan Allah. “Indonesia telah kehilangan ustaz muda yang menjadi panutan,” kata Suryadharma sambil meneteskan air mata ketika melepas jenazah Uje di Masjid Istiqlal.


Pengakuan senada dikatakan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar. Di sejumlah daerah, salat gaib untuk Ustaz Uje juga dilaksanakan, seperti di Bogor, Batam, dan Bali. KORAN SINDO – helmisyarif/ridwansyah/ ayurachamaningtyas/ ant


Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/06/11/17145258/Mahasiswa.Akan.Demo.Kedatangan.Boediono


Sang Panutan Telah Berpulang - Makassar Terkini

Sunday, June 9, 2013

Juwita Bahar Pelit Bicara Soal Pacar, Takut Direbut Cewek Lain!

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang S. Prabowo


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penyanyi Juwita Bahar telah melaksanakan pertunangannya dengan Barry Muhammad. Lantas bagaimana dengan kakaknya, Jelita Bahar?


Ditanya soal asmaranya, putri pedangdut Annisa Bahar itu malu-malu mengatakannya. Menurutnya ia saat ini sudah punya pacar, namun enggan membeberkannya karena suatu alasan.


“Aku ada (pacar). Cuma kalau aku, lebih enggak mau dipublikasi. Cukup aku aja yang tahu. Nanti kalau pada tahu, suka lagi, naksir lagi, ” ceplos Jelita di studio RCTI.


Mengenai kriteria cowok idamannya, Jelita mengatakan cowok itu tak harus dari dunia selebriti. Yang penting, kata Jelita, cowok itu good looking, baik, perhatian, sayang sama keluarga, dan seiman.


“Enggak milih-milih sih, kalau jodoh ya terima-terima aja. Harus seiman juga, tapi kalau enggak seiman tapi nanti masuk Islam, enggak apa-apa juga,” tukasnya.


Article source: http://bm.harakahdaily.net/index.php/berita-utama/19758-tarian-separuh-bogel-hasil-pemerintah-tidak-prihatin-hukum-agama


Juwita Bahar Pelit Bicara Soal Pacar, Takut Direbut Cewek Lain!

Wednesday, December 4, 2013

Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, — Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.


Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.


Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,” ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.


Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.


”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.


Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.


Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.


Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.


”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,” ungkapnya.


Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,” paparnya polos.


Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ”Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Alqur’an sementara saya tidak bisa membaca Alqur’an.”


Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Alqur’an,” ujarnya.


Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.


Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.


Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf V yang masih ada artinya dibanding V terbalik… Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.


Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.”


Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.


Lantas, kenikmatan apa yang ia rasakan setelah menjadi Muslimah? Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.


Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah SWT meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.


”Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.


Sita membenarkan nasihat sang mama. when you are close to Allah problems will revolve around you and it won’t affect you  (Ketika kamu dekat dengan Allah SWT, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).


Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.


”Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.


”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah SAW. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.


Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energy, banyak kemudahan yang kami rasakan,” ujarnya.


Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ”Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.


”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.


Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.


Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain.


Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.


”Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”


Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).


Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.


Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower – September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.


”Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.”


Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.


”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.”


Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.


Di Sydney selain bekerja sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur’an.


Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.”


Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.”


Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”


Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fundraising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.


Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.


”Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu sebelum shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang  “kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja.” 
 
Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.


”Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.
 
Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.


Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma0, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.




Article source: http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/13/10/14/munb2r-jamaah-haji-tamu-raja-berada-di-arafah


Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Friday, December 21, 2012

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Home Sejarah


Perang Salib

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)


 

Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki


Jum’at, 21 Desember 2012

Oleh: Alwi Alatas

Kekalahan yang diikuti dengan kemenangan pada peristiwa Perang Salib

Bagaimanapun, bukan hanya kemenangan yang bisa berakhir dengan kekalahan. Kekalahan juga bisa disikapi dan dikelola dengan baik sehingga akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib I dimulai dengan seruan Paus Urbanus II pada sidang gereja di Clermont, Prancis. Seruan ini pada asalnya merupakan tanggapan positif gereja Katholik atas permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi pasukan-pasukan Turki Saljuk yang mengganggu wilayahnya. Namun isu ini kemudian dikembangkan dan diarahkan oleh Paus untuk merebut kota al-Quds atau Yerusalem. Paus tentu mempunyai pertimbangan pribadi saat menyampaikan seruannya. Gereja Katholik ketika itu sedang banyak masalah: perselisihan gereja dengan kaisar Jerman (Holy Roman Empire), adanya paus tandingan (anti-pope), perpecahan Katholik dengan Kristen Orthodoks yang berpusat di Byzantium, ditambah lagi dengan berbagai masalah sosial di Prancis dan beberapa negara Eropa Barat lainnya. Penguasaan Yerusalem, yang mereka yakini sebagai tempat disalibnya Yesus tentu akan menjadi prestasi yang menonjol dan meningkatkan pengaruh gereja Katholik di Eropa (Paine, 2005: 32).

Orang-orang yang hadir menyambut seruan Paus itu dengan penuh semangat. Sepanjang khutbah Paus Urbanus II mereka berseru, ”Deus Vult! Deus Vult! (Tuhan menghendakinya! Tuhan menghendakinya!) (Cole, 1991: 1-2). Setelah itu, beberapa pendeta mengkhususkan diri untuk menyebarluaskan seruan Paus kepada masyarakat. Manusia kemudian berbondong-bondong datang untuk menyertai Perang Salib yang pertama (1095-1099). Kata Edward Gibbon, seorang Sejarawan Inggris abad ke-18, khutbah Paus itu telah ”menyentuh syaraf perasaan (Eropa) yang paling halus” dan mendorong mereka untuk menyambutnya dengan penuh semangat. 

Terjadinya pasukan Salib I bertepatan dengan keadaan kekhalifahan Abbasiyah yang sedang mengalami perpecahan. Pemerintahan di kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dipimpin oleh orang-orang Turki Saljuk. Ketika pemimpin tertingginya meninggal dunia pada tahun 1092, keadaan menjadi tidak stabil dan para emir saling memperebutkan wilayah dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Perpecahan ini membuka jalan bagi pasukan Salib untuk masuk ke wilayah Muslim di Asia Minor, Suriah dan Palestina dan menguasai beberapa kota. Kota Nicaea (Iznik) jatuh pada tahun 1097, Antioch (Antakya) pada tahun 1098, dan Yerusalem (al-Quds) pada tahun 1099. Beberapa kota Muslim lainnya juga jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun-tahun tersebut. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kekuatan di dunia Islam yang mampu membebaskan kota-kota tersebut dan menghadapi pasukan Salib secara efektif.

Kaum Muslimin mengalami kekalahan yang telak. Kekalahan itu bukan disebabkan oleh musuh yang sangat hebat, tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan yang menimpa kaum Muslimin. Mereka terkena penyakit cinta dunia dan jatuh dalam perpecahan dan permusuhan di antara sesama mereka. ”Para penguasa semuanya dalam keadaan berselisih …,” kata Ibn al-Athir (2006: 22), ”dan demikianlah orang-orang Frank menaklukkan negeri-negeri (Muslim).” Dr. Majid Irsan al-Kilani (2007: 49) memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemunduran dan kelemahan kaum Muslimin pada masa itu, termasuk para ulamanya:

“Mereka menjalani rutinitas harian tanpa arahan yang benar, standar nilai Islam lenyap dari panggung kehidupan nyata, sedangkan nafsu dan syahwat merajalela. Pengaruh-pengaruh negatif terasa begitu kental dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran. Bidang-bidang tersebut hancur, fundamen internal masyarakat rapuh dan daya tahannya lemah serta rentan terhadap segala macam krisis dan keterpurukan.”

Keadaan ini menyebabkan mereka kalah, walaupun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak dibandingkan musuh dan peradaban mereka jauh lebih maju. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung terus menerus. Belakangan ada beberapa ulama yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan ummat. Mereka memahami bahwa semua kekalahan itu adalah disebabkan oleh masalah internal kaum Muslimin. Maka mereka pun berusaha memperbaiki kondisi internal kaum Muslimin, khususnya memperbaiki barisan ulamanya agar menjadi ulama yang lurus dan mampu menerangi ummat (Al-Kilani, 2007).

Kemudian muncul juga seorang peminpin yang shaleh di Suriah, yaitu Nuruddin Zanki, sehingga semakin menyempurnakan perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Salib. Nuruddin Zanki menjadi sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1146, hampir bersamaan dengan terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada Perang Salib II inilah mulai terlihat perubahan signifikan di dunia Islam, dan juga di kalangan orang-orang Frank (Prancis) dan Kristen pada umumnya. Dalam menghadapi gelombang kedatangan pasukan Salib yang baru ini, para pemimpin Muslim di Suriah mulai berupaya untuk menjalin kerja sama. Ketika pasukan Salib menjadikan Damaskus sebagai target serangan, emir Damaskus mengirim surat permintaan bantuan kepada Nuruddin Zanki di Aleppo dan kakaknya yang memerintah di Mosul. Keduanya segera menyambut permintaan bantuan itu.

Sebaliknya, orang-orang Kristen justru mulai mengalami perpecahan. Kaisar Byzantium mengijinkan pasukan Prancis dan Jerman melewati wilayahnya dan memfasilitasi mereka untuk menyeberang ke Asia Minor, tetapi tampaknya diam-diam memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di wilayah itu untuk menghadang pasukan dari Prancis dan Jerman ini. Orang-orang Eropa yang baru datang itu juga belakangan mengalami perselisihan dengan orang-orang Frank yang telah lama berada di Palestina. Semua itu menyebabkan pasukan Salib mengalami kekalahan dan pasukan Salib II itu terpaksa kembali ke negerinya masing-masing dengan tangan hampa (Alatas, 2012: 286-292). Steven Runciman (1987: 288), seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah Perang Salib mengomentari Perang Salib II dengan kata-kata berikut:

”Tidak ada usaha (enterprise) abad pertengahan yang dimulai dengan harapan yang begitu baiknya. Direncanakan oleh Paus, dikhotbahkan dan diinspirasikan oleh Santo Bernard, dan dipimpin oleh dua raja utama Eropa Barat, ia menjanjikan begitu banyak kejayaan dan keselamatan bagi dunia Kristen. Namun ketika ia sampai pada akhir yang begitu memalukan berupa penarikan pasukan dari Damaskus, semua yang berhasil dicapainya adalah memperburuk hubungan antara orang-orang Kristen di (Eropa) Barat dan orang-orang Byzantium hingga ke titik yang paling serius, menaburkan kecurigaan di antara tentara-tentara Salib yang baru datang dengan orang-orang Frank yang menetap di Suriah, memisahkan para bangsawan Frank di antara sesama mereka, menarik kaum Muslimin untuk saling mendekat dan bersatu, dan menghancurkan reputasi orang-orang Frank dalam hal kecakapan militer.”

Pada perang-perang Salib berikutnya kaum Muslimin juga mampu menahan serangan pasukan Salib. Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki yang meninggal dunia pada tahun 1174 berhasil membebaskan al-Quds. Pasukan Salib tidak pernah lagi mampu merebut kota al-Quds sejak saat itu. 

Kaum Muslimin memang kalah pada Perang Salib I. Tetapi para ulama dan pemimpinnya dapat merespon kekalahan itu dengan baik dan berjuang untuk mengubah keadaan internal kaum Muslimin sehingga mereka akhirnya mampu menghadapi lawan dan membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah.

Kaum Muslimin pada hari ini juga sedang mengalami kekalahan. Mereka telah dikalahkan sejak lama. Mampukah para ulama dan pemimpinnya untuk bangkit memperbaiki ummat sehingga suatu saat nanti mereka dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan? Semoga saja.*/Jakarta, 3 Safar 1434/ 17 Desember 2012 

Daftar Pustaka

Alatas, Alwi. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim. 2012.

Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh, part 1, The 

Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim Response (terjemahan oleh  D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.

Gibbon, Edward. History of the Decline And Fall of the Roman Empire, vol. 5. e-text edition by David Reed.

Al-Kilani, Dr. Majid ‘Irsan. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (terjemahan dari Hakadza Zhahara Jil Salah al-Din wa Hakadza ‘Adat al-Quds). Bekasi: Kalam Aulia Mediatama. 2007.

Al-Maqqari, Ahmed ibn Muhammed. 1984. The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, extracted from the Nafhu-t-Tib min Ghosni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-din Ibni-l-Khattib, vol. I II, translated and ilustrated with critical notes by Pascual de Gayangos. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delhi.

Paine, Michael. The Crusades. Harpenden: Pocket Essentials. 2005.

Runciman, Steven. A History of the Crusades, 2: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge: Cambridge University Press. 1987.

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26448/21/12/2012/penyesatan-opini-paham-pembela-kebathilan.html


Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Sunday, September 15, 2013

Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Jejak Bintang minggu ini, RAP menyelongkar kisah pelakon yang sedang mencipta nama iaitu Johan Ariff As’ari, 27, atau nama pentasnya Johan As’ari. Dia mula dikenali ramai menerusi aksi hebatnya dalam drama bersiri Juvana, arahan Faizal Ishak dan sejak itu dia terus melakar kejayaan dalam kerjaya seninya.


Pasti penonton menyampah melihat aksi jahatnya sebagai Botak dalam Juvana, tetapi di luar lokasi, perwatakan dan karektor sebenarnya amat berbeza.


Johan dilahirkan pada 3 Disember, 1986. Dia anak kedua daripada empat beradik. Untuk mengenali secara dekat peribadi Johan, RAP menemubual ibunya, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, iaitu wanita yang melahir dan membesarkannya.


“Johan seorang anak yang baik dan tidak kedekut. Bukan saja dengan saya, ayah dan adik-beradiknya malah dia juga tidak pernah berkira dengan sepupu dan kawan-kawannya,” kata ibu Johan, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, mengenai aktor yang dikenali selepas membintangi drama bersiri Juvana yang disiarkan di TV3, pada April 2011.



Seperti pada Ramadan lalu, Firdaus beritahu Johan yang telefon bimbitnya tidak berfungsi dengan baik.


“Apabila saya menceritakannya kepada Johan, saya tak bermaksud minta dia belikan saya telefon baru kerana saya bercadang minta ayahnya (Datuk As’ari Ibrahim) yang belikan. Namun sehari sebelum Aidilfitri lalu, dia bawa balik telefon baru bagi menggantikan telefon saya yang rosak itu.


“Paling membuatkan saya terharu dia belikan saya telefon Ipone 5 (64G), sedangkan untuk dirinya sendiri dia beli Ipone 5 (32G). Dia kata untuk saya, dia belikan telefon yang paling canggih dan terbaik. Dia punya yang biasa-biasa saja, tak mengapa.


“Macam itulah sikap Johan, kalau dia dengar saja saya atau adik-beradiknya teringinkan apa-apa, dia akan cari. Beberapa hari sebelum hari raya dia berikan saya duit untuk belikan hadiah kepada semua sepupu perempuannya. Dia tak ada, tak apa, asalkan dia boleh menggembirakan hari orang lain,” kata Firdaus ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Ampang, baru-baru ini.


Apabila mengenangkan kebaikan dan keluhuran hati anak kedua daripada empat beradik itu, Firdaus teringatkan kisah Johan dan adiknya (Muhammad Hazwan, kini berusia 23 tahun) sewaktu mereka bersama-sama bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi Melaka (SMTM).


“Sudah sampai di sekolah baru Hazwan perasan yang dia tertinggal tali leher di rumah. Di SMTM, pelajar lelaki diwajibkan pakai tali leher. Melihatkan adiknya yang dah nak menangis, Johan berikan tali lehernya kepada Hazwan. Katanya, biar dia yang kena denda kerana dia lebih besar.


“Saya yang menghantar mereka ke sekolah pagi itu, bergenang air mata saya melihatkan gelagat mereka dua beradik. Betapa Johan sayangkan adiknya,” katanya.


Adik beradik Johan yang lain, Farah Alya, 29, dan Siti Aisyah, 25.


Cerita Firdaus lagi, ketika dia pergi bercuti di Palembang minggu lalu, Johan beri kad debit bank miliknya kepada ibunya itu agar Firdaus boleh membeli-belah di sana.


“Dia beri kadnya untuk saya berbelanja di sana dan dia tidak meletakkan had keluaran,” katanya.


Ketika Johan belajar di sekolah rendah, dia beri kasut sekolahnya kepada kawan kerana kasut kawannya itu sudah buruk.


“Selepas itu dia sendiri ke sekolah dengan berselipar. Yang ini saya marah kerana dia sanggup berkorban untuk orang lain sampai menyusahkan diri sendiri. Saya beritahu padanya, kalau nak tolong kawan pun, tengoklah juga keadaannya. Tetapi itulah Johan, dia tak sanggup tengok orang susah.


“Pada ketika yang lain, dia nak keluar dengan kawan-kawannya. Saya beri dia RM10 dan ada juga bekalkan dia makanan. Saya fikir dengan bekal itu dia dapat simpan duit belanja yang saya beri kepadanya. Rupanya dia gunakan duit itu belanja kawan-kawan pula.


“Johan seorang yang hatinya lembut dan kalau kita nak tegur dia pun kena cakap perlahan-lahan. Kita tak boleh berkasar dengannya,” katanya.


Menyambung perbualan, jelas Firdaus pada November ini, Johan akan bercuti ke Dubai bersama peminatnya dan dia mengajak semua ahli keluarganya pergi bersama.


“Insya-Allah jika tiada aral, kami akan ikut Johan. Kemudian pada Disember, sekali lagi dia akan ke sana untuk menjalani penggambaran drama. Dalam apa situasi pun, Johan tidak pernah melupakan keluarga,” katanya.


Imbas zaman kecil Johan, selepas melahirkan Johan, mereka sekeluarga berpindah dari Kuala Lumpur (KL) dan menetap di Melaka kerana mengikut bapanya yang aktif politik bertugas di negeri itu.


“Sebelum berkahwin dan sehingga lahirnya Farah, saya bekerja dengan FELDA. Waktu itu, suami sibuk dengan aktiviti politiknya di Melaka dan dia terpaksa berulang-alik antara Melaka dan KL. Kalau suami sibuk, saya akan bawa Farah balik ke Melaka. Selepas saya melahirkan Johan saya berhenti kerja dengan FELDA kerana sukar nak menguruskan anak kecil dan pada sama suami pula tinggal berasingan.


“Kami tinggal di Ayer Molek, Melaka. Di sana saya bekerja dengan Yayasan Melaka. Tidak lama selepas itu saya berhenti kerja menguruskan rumah tangga sepenuh masa. Johan dan tiga adik-beradiknya membesar di sana dan kami sekeluarga berpindah semula ke KL lima tahun lalu,” katanya.


Johan agak nakal ketika kecil.


“Waktu dia berusia sekitar tiga, empat tahun, pintu almari yang menyimpan pinggan mangkuk kena ikat dengan tali kerana dia suka memunggah barang. Dia jenis yang tak duduk diam, ada saja benda yang nak dibuatnya.


“Pernah sekali, ketika itu saya masih bekerja, saya tinggalkan Johan bersama kakak dan adiknya di rumah bersama pembantu, tetapi pembantu rumah saya ini suka berkebun. Tiba-tiba, jiran hubungi saya beritahu salah satu bilik di rumah kami berasap tebal. Nasib baik rumah tak terbakar.


“Rupanya Johan ambil bunga api yang saya simpan atas para dan bawa masuk ke bilik saya. Apabila saya tanya dia macam mana bilik saya boleh terbakar, katanya selepas bermain bunga api dia membuangnya dalam tong sampah yang terdapat dalam bilik itu. Dia tak tahu yang bara daripada batang bunga api itu lama-lama boleh membakar sampah dalam tong sampah itu.


“Mujur api itu hanya menyambar tilam dan ia membakar dalam tilam itu perlahan-lahan sehingga mengeluarkan asap hitam. Api belum sempat merebak ke ruang lain, kalau tidak saya tak tahu apa jadi dengan rumah dan mereka adik-beradik. Ngeri saya nak membayangkannya,” katanya.


Johan suka main parang.


“Dia libas-libas parang itu pada kakaknya yang buat kerja sekolah dan terkena belakang Farah sampai kena jahitlah,” katanya.


Selepas tamat sekolah menengah, Johan menyambung pengajiannya di Universiti Telekom Malaysia Melaka. Namun, selepas dua tahun belajar di sana, dia beritahu ayahnya yang dia tidak mampu meneruskan pengajiannya di sana.


“Kemudian ayahnya minta dia belajar agama dan seterusnya dia dihantar mendalami agama di Jambi, Indonesia. Dia belajar di sana pun tak lama kerana selepas dua tahun dia nak balik kerana dia tak tahan dengan disiplinnya yang ketat.


“Sebagai pelajar agama yang belajar menghafal al-Quran, mereka tidak boleh makan dan minum sebarangan. Kali kedua ayahnya pergi melawat dia di sana, dia minta dikeluarkan daripada sana dan balik ke sini dia belajar pula di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Melaka, dalam jurusan Kaunseling. Apabila dapat berlakon dalam Juvana, dia minta cuti dengan pihak kolej selama setahun tetapi sekarang dah masuk tahun kedua.


“Saya harap dia dapat menyambung pengajiannya yang tertangguh itu,” katanya.
Jelas Firdaus, Johan sebenarnya suka menyanyi dan tidak pernah terlintas pun nak jadi pelakon. Ini mungkin kerana dia mengikut hobi ayahnya yang suka menyanyi.


“Sewaktu musim pertama Akademi Fantasia, dia belajar dalam tingkatan lima dan dia sanggup turun ke KL untuk menyaksikan program itu di sana. Barangkali tak ramai yang tahu Johan pernah pergi menghadiri uji bakat Mentor musim kelima dan bercita-cita nak jadi protege kepada Afdlin Shauki kerana dia amat meminati pelakon itu, tetapi tidak berjaya.


“Ketika uji bakat itu dia buat lawak dan Afdlin kata dia lebih sesuai jadi pelakon daripada penyanyi. Dia jadi pelakon hanya kebetulan kerana Farah yang menulis skrip dan bekerja di belakang tabir dunia penerbitan beritahu Johan, ada uji bakat mencari pelakon Juvana dan waktu itu Johan bercuti semester.


“Dia pergi ke uji bakat itu dan pengarah Juvana, Kamal Ishak mengambilnya berlakon untuk pilot drama itu untuk ditunjukkan kepada TV3. Pihak stesen TV suka dengan lakonan Johan dan Kamal terus mengambilnya berlakon dalam Juvana,” katanya.


Bapa Johan tak suka dia berlakon kerana mahu anak lelakinya itu menyelesaikan pengajiannya setahun saja lagi. Johan berkeras mahu berlakon dan dia memujuk bapanya serta berjanji untuk menamatkan pengajiannya.


“Melihatkan kesungguhan Johan, ayahnya terpaksa mengalah. Selepas dia dah berlakon banyaklah pula gosip yang timbul, tetapi kami sekeluarga tidak terkejut sangat kerana dah tahu industri ini macam mana. Namun sebagai ibu bapa kami berpesan kepadanya supaya berhati-hati dalam setiap tindak tanduk dan percakapannya,” katanya.


Apabila dia digosipkan dengan artis wanita terutamanya Nabila Huda, Firdaus tidak pernah melarang atau pun membantah.


“Siapa pun wanita yang Johan pilih sebagai kawannya atau calon isterinya, kami terima. Apa yang penting ialah kebahagiaan Johan dan siapa pun jodohnya kelak sama ada artis atau orang biasa, saya harap dia bertemu dengan wanita yang baik dan dapat menerima Johan seadanya serta menghormati orang tua.


“Johan ada beritahu saya yang dia nak berkahwin tetapi belum ada calon,” katanya.


Artikel ini disiarkan pada : 2013/09/16





Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=282185:artis-masuk-politik-jangan-hanya-popularitas&catid=17:politik&ItemId=30


Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah