Showing posts sorted by relevance for query Manado. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Manado. Sort by date Show all posts

Monday, July 8, 2013

Dari gembala Tuhan menjadi rabbi Yahudi

Rabbi Yobbi Ensel menjalankan ajaran Yahudi terang-terangan sejak tahun satu dasawarsa lalu. Lelaki 40 tahun ini sebelumnya beragama Kristen Protestan, keyakinan dijalankan keluarganya. Pada 2001 dia memulai ritual Yudaisme sendirian kemudian didukung keluarganya. Dia pernah menjadi gembala Tuhan di sebuah gereja di Kota Manado, Sulawesi Utara.


Perpindahan keyakinan itu dia lakukan secara sadar setelah mempelajari bahasa Ibrani secara otodidak serta membaca kitab Torah dan ajaran Yudaisme lainnya. “Menjalankan Yudaisme adalah panggilan dan tugas saya sebagai keturunan Yahudi meski fisik saya tidak seperti keturunan Yahudi umumnya karena perkawinan campur nenek moyang saya,” kata Yobbi kepada merdeka.com Kamis pekan lalu di lobi sebuah hotel di Manado.


Darah Yahudi dalam tubuhnya berasal dari mendiang ayahnya, Jonathan Hattie, keturunan Yahudi Portugis kelahiran 1942 di Sanger Siau, Sulawesi Utara. Hattie anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat bertugas di Toli-toli, Sulawesi Tengah, dan pensiun pada 1989 dengan pangkat sersan satu. Dia meninggal di Manado dua tahun lalu. Yobbi adalah anak keempat dari lima bersaudara. Empat saudara kandung lainnya beragama Kristen Protestan dan Islam.


Dari garis keturunan bapaknya, nenek moyang Yobbi asal Portugis. Sekitar 1514 datang ke perkampungan paling tua di Kepulauan Karakelang Talaud, Kampung Ruso, Sulawesi Utara, berbatasan laut dengan Filipina. Nama Kampung Ruso atau Roso diambil dari marga Yahudi keturunan Yakub. Kemudian dari situ nenek moyangnya ikut bersama Portugis dan dipaksa menuju Minahasa saat abad ke-16 atau awal mula Portugis ke Nusantara.


Ibunya, Irene Andasia, 50 tahun, keturunan Portugis dari kakeknya, Ayub Andasia kelahiran 1514 di Kepulauan Karakelang, Sulawesi Utara. Kemudian nenek Yobbi, Ribbka Bala, keturunan Portugis dilahirkan pada 1920 di Sanger, Kolongan Mito, Sulawesi Utara. Andasia merupakan marga Yahudi di Andalusia, Spanyol, hidup di abad ke-16.


Kakek dari ibunya bernama Masone. Ketika itu nama Yahudi di Minahasa Utara belum menggunakan Marga. Kelak Masone akan melekat menjadi nama marga keluarga untuk keturunannya. Nenek dari ibu Yobbi berasal dari Belarusia bermarga Bala. Dia lupa tahun berapa saat Portugis datang ke Nusantara. Salah satu marga Bala ikut rombongan Portugis dan berlabuh di Pelabuhan Mulang, Minahasa Tenggara.


Bekas jejak nenek moyang Yobbi bisa dilihat dari perkebunan gandum orang Spanyol di Minahasa Tenggara. Baru pada 1600-an Belanda masuk ke Pulau Siau atau Sanger/Sangihe. Sehingga ada juga orang Yahudi bermarga Sanger di Minahasa. “Sebenarnya Sanger itu variasi dari beberapa nama. Ada sanger, singer, singale, dan singal. Kemudian setelah membaur dengan masyarakat lokal istilah itu berubah menjadi sinjal, sinyal,” ujar Yobbi.


Sepengetahuan Yobbi, Sanger saat itu dihuni oleh berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Prancis, dan Belanda. Makanya sekitar 1500 atau 1600-an Minahasa itu adalah satu bangsa dan pernah menandatangani kerja sama dengan Inggris. Kemudian Minahasa bergabung dengan Indonesia. Cerita ini ada dalam film Benteng Muraya dibuat di Tondano.” Itulah muasal Yahudi di Minahasa dan menyebar ke seantero nusantara, termasuk Manado,” tuturnya.


Istrinya Yulita, 30 tahun, perempuan keturunan Minahasa menyokong keyakinan dianut Yobbi dan turut menjalankan ajaran Yudaisme. Menurut Yobbi, menerapkan Yudaisme tidak harus berdarah Yahudi (goyim), namun atas dasar kesadaran. Demikian juga keputusannya menjadi rabbi atau pembimbing umat lewat sekolah dan pelatihan khusus diselenggarakan komunitas Yahudi di Manado. Dia mengatakan posisi Rabbi itu sama dengan ulama dalam Islam.












Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/gadis-pesta-ini-mengenal-islam-di-klub-malam.html


Dari gembala Tuhan menjadi rabbi Yahudi

Thursday, December 8, 2016

Dikabarkan Jadi Istri ke-2, Muncul Isu Angel Karamoy Jadi Mualaf

BANGKAPOS.COM--Kabar menghebohkan datang dari pesinetron cantik Angel Karamoy.

Setelah berpisah dari Steven Rumangkang, artis berdarah Manado ini dikabarkan jadi istri kedua produser Ganteng Ganteng Serigala, Syaiful Drajat.

Padahal, produser tersebut juga belum lama menikahi istri pertamanya yang juga seorang artis bernama Afifa Syahira.

Mereka baru menikah pada tahun 2014 lalu dan telah dikaruniai seorang anak yang belum genap berumur dua tahun.

Bukti bahwa Angel Karamoy jadi istri kedua diperkuat dengan video yang diunggah akun gosip @lambe_turah berikut ini.

Dalam video tersebut, Angel yang mengenakan bandana merah dan kaos hitam terlihat tengah berlibur bersama keluarga Syaiful Drajat.

Ia tampak berlarian di pantai dan tercebur ke kolam renang.

Pada saat Angel tercebur itulah tampak sosok yang diduga Syaiful Drajat yang tengah berenang.

Tak hanya video, akun ini juga mengunggah foto Angel yang tengah mengenakan hijab.

Dalam foto tersebut, Angel yang mengenakan hijab berwarna pink terlihat sangat cantik ketika berfoto bersama adik sang produser.

"

| Dikabarkan | Jadi | Istri | ke-2, | Muncul | Angel | Karamoy | Mualaf | BANGKAPOS | strong>Kabar | menghebohkan | datang | pesinetron | cantik | Karamoy< | p> Setelah | berpisah | Steven | Rumangkang | artis | berdarah | Manado | dikabarkan | jadi | istri | kedua | produser | Ganteng | Serigala | Syaiful | Drajat | p> Padahal | tersebut | juga | lama | menikahi | pertamanya | yang | seorang | bernama | Afifa | Syahira | p> Mereka | baru | menikah | pada | tahun | 2014 | telah | dikaruniai | anak | genap | berumur | p> Bukti | bahwa | diperkuat | dengan | video | diunggah | akun | gosip< | @lambe_turah | berikut | p> Dalam | mengen | bandana | merah | kaos | hitam | terlihat | tengah | berlibur | bersama | keluarga | p> Ia | tampak | berlarian | pantai | tercebur | kolam | renang | p> Pada | saat | itulah | sosok | diduga | berenang | p> Tak | hanya | mengunggah | foto | hijab | berwarna | pink | sangat | ketika | berfoto | adik | sang | p> |

Thank You Very Very Much for Read this News

Monday, January 20, 2014

Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

TRIBUNNEWS.COM, MANADO – Akibat salah paham, tawuran nyaris pecah antara pemuda Desa Kema 2 dan 3, Kecamatan Kema, Minggu (19/1/2014) sekira pukul 01.00 Wita. Hanya dipicu masalah yang sepele, pemuda dua desa tersebut saling lempar batu. Keadaan dua Desa tersebut sempat mencekam. Kabar tentang adanya korban dalam peristiwa itu membuat sebagian warga terpancing emosinya.


Sebaliknya, banyak warga ketakutan, apalagi listrik sedang padam waktu itu dan banyak petugas bersenjata berjaga di perbatasan desa. Aparat Polres Minut dan Polsek Kema langsung turun mengamankan situasi, hingga tawuran tak berlangsung.


Informasi yang dihimpun Tribun Manado (Tribunnews.com Network), kejadian itu bermula dari seorang warga Kema 3 yang mendatangi Portal di Desa Kema 2. Portal waktu itu sedang ditutup, namun warga memaksa masuk. Salah paham terjadi antara mereka. Apalagi sebelumnya mereka telah mengonsumsi minuman keras.


Hanya itu yang terjadi, namun berbagai isu sudah terlanjur menyebar. Hal itu kontan membuat darah warga dua desa mendidih, hingga bersiap tawuran. Minggu sore digelar pertemuan antara tokoh warga Desa Kema 2 dan 3 di Kantor Camat Kema.


Hadir dalam pertemuan itu, Kapolsek Kema AKP Suparno, Plh Danramil Kauditan 1310 05 Kapten Inf Takumansang serta Camat Kema Jack Paruntu. Dalam pertemuan itu, warga kedua belah pihak sepakat untuk berdamai. Hal tersebut kemudian dituangkan nota kesepahaman antarwarga. Pertemuan selama sekira 3 jam itu diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin dua pemuka agama dari Kristen dan Islam.


Sebelum doa itu, diadakan jabat tangan antara pemuda dua desa yang bertikai. Dengan raut wajah penuh penyesalan, dua kubu yang bertikai berjabat tangan, saling berpelukan sembari mengucap kata maaf. Ternyata, mereka kebanyakan masih punya hubungan saudara.


Kapolsek Kema AKP Suparno mengatakan, perkelahian itu bukan antara dua warga desa, namun hanya antara dua kelompok pemuda.


“Itu hanya antar pemuda saja,” kata dia.


Ia pun membantah, jika ada korban yang kena sabetan parang.


“Yang benar adalah seorang warga, lengannya tersangkut parang,” bebernya.


Dari ciri-ciri kejadiannya, ia menduga ada provokator yang turut bermain. Ia janji akan memburu provokator itu.


“Setahu saya, warga disini bersaudara, warga Kema coba diadu, seperti terjadi di beberapa kabupaten sebelum ini,” katanya.


Suparno juga berjanji akan memberantas peredaran miras di daerahnya, yang ditengarai menyulut perkelahian antarwarga.


Camat Kema Jack Paruntu minta aparat desa untuk menjaga keamanan desa masing-masing.


“Hansip harus berperan, jika ada potensi rusuh harus diatasi,” katanya. (art)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/27/mp29k8-masjid-sheikh-zayed-masuk-landmark-terbaik-dunia


Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

Friday, December 9, 2016

Dikabarkan Jadi Istri ke-2, Angel Karamoy Jadi Mualaf?

Laporan Wartawan TribunStyle.com, Fathul Amanah

TRIBUNSTYLE.COM - Kabar menghebohkan datang dari pesinetron cantik Angel Karamoy.

Setelah berpisah dari Steven Rumangkang, artis berdarah Manado ini dikabarkan jadi istri kedua produser Ganteng Ganteng Serigala, Syaiful Drajat.

Padahal, produser tersebut juga belum lama menikahi istri pertamanya yang juga seorang artis bernama Afifa Syahira.

Mereka baru menikah pada tahun 2014 lalu dan telah dikaruniai seorang anak yang belum genap berumur dua tahun.

Bukti bahwa Angel Karamoy jadi istri kedua diperkuat dengan video yang diunggah akun gosip @lambe_turah berikut ini.

Dalam video tersebut, Angel yang mengenakan bandana merah dan kaos hitam terlihat tengah berlibur bersama keluarga Syaiful Drajat.

Angel Karamoy
Instagram/lambe_turah

Ia tampak berlarian di pantai dan tercebur ke kolam renang.

Pada saat Angel tercebur itulah tampak sosok yang diduga Syaiful Drajat yang tengah berenang.

Angel Karamoy
Instagram/lambe_turah

Tak hanya video, akun ini juga mengunggah foto Angel yang tengah mengenakan hijab.

"

| Dikabarkan | Jadi | Istri | ke-2, | Angel | Karamoy | Mualaf? | Laporan | Wartawan | TribunStyle | Fathul | Amanah< | strong>< | p> TRIBUNSTYLE | COM< | strong> | Kabar | menghebohkan | datang | pesinetron | cantik | p> Setelah | berpisah | Steven | Rumangkang | artis | berdarah | Manado | dikabarkan | jadi | istri | kedua | produser | Ganteng | Serigala | Syaiful | Drajat | p> Padahal | tersebut | juga | lama | menikahi | pertamanya | yang | seorang | bernama | Afifa | Syahira | p> Mereka | baru | menikah | pada | tahun | 2014 | telah | dikaruniai | anak | genap | berumur | p> Bukti | bahwa | diperkuat | dengan | video | diunggah | akun | gosip | @lambe_turah | berikut | p> Dalam | mengen | bandana | merah | kaos | hitam | terlihat | tengah | berlibur | bersama | keluarga | p> Instagram | lambe_turah< | h5> Ia | tampak | berlarian | pantai | tercebur | kolam | renang | p> Pada | saat | itulah | sosok | diduga | berenang | h5> Tak | hanya | mengunggah | foto | hijab | p> |

Thank So Much for Reading this Blog

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Dikabarkan Jadi Istri ke-2, Muncul Isu Angel Karamoy Jadi Mualaf

BANGKAPOS.COM--Kabar menghebohkan datang dari pesinetron cantik Angel Karamoy.

Setelah berpisah dari Steven Rumangkang, artis berdarah Manado ini dikabarkan jadi istri kedua produser Ganteng Ganteng Serigala, Syaiful Drajat.

Padahal, produser tersebut juga belum lama menikahi istri pertamanya yang juga seorang artis bernama Afifa Syahira.

Mereka baru menikah pada tahun 2014 lalu dan telah dikaruniai seorang anak yang belum genap berumur dua tahun.

Bukti bahwa Angel Karamoy jadi istri kedua diperkuat dengan video yang diunggah akun gosip @lambe_turah berikut ini.

Dalam video tersebut, Angel yang mengenakan bandana merah dan kaos hitam terlihat tengah berlibur bersama keluarga Syaiful Drajat.

Ia tampak berlarian di pantai dan tercebur ke kolam renang.

Pada saat Angel tercebur itulah tampak sosok yang diduga Syaiful Drajat yang tengah berenang.

Tak hanya video, akun ini juga mengunggah foto Angel yang tengah mengenakan hijab.

Dalam foto tersebut, Angel yang mengenakan hijab berwarna pink terlihat sangat cantik ketika berfoto bersama adik sang produser.

"

| Dikabarkan | Jadi | Istri | ke-2, | Muncul | Angel | Karamoy | Mualaf | BANGKAPOS | strong>Kabar | menghebohkan | datang | pesinetron | cantik | Karamoy< | p> Setelah | berpisah | Steven | Rumangkang | artis | berdarah | Manado | dikabarkan | jadi | istri | kedua | produser | Ganteng | Serigala | Syaiful | Drajat | p> Padahal | tersebut | juga | lama | menikahi | pertamanya | yang | seorang | bernama | Afifa | Syahira | p> Mereka | baru | menikah | pada | tahun | 2014 | telah | dikaruniai | anak | genap | berumur | p> Bukti | bahwa | diperkuat | dengan | video | diunggah | akun | gosip< | @lambe_turah | berikut | p> Dalam | mengen | bandana | merah | kaos | hitam | terlihat | tengah | berlibur | bersama | keluarga | p> Ia | tampak | berlarian | pantai | tercebur | kolam | renang | p> Pada | saat | itulah | sosok | diduga | berenang | p> Tak | hanya | mengunggah | foto | hijab | berwarna | pink | sangat | ketika | berfoto | adik | sang | p> |

Thank So Much for Visiting this Article

Friday, December 9, 2016

Hot Mom Angel Karamoy, Isu Mualaf dan Nikah Siri

image

Angel Karamoy

Jakarta, HanTer - Angel Karamoy kembali diisukan menjadi mualaf dan menikah siri. Perempuan kelahiran Manado, 16 Januari 1987 itu juga dirumorkan menikah dengan Syaiful Drajat, produser sekaligus suami artis muda Afifa Syahira.

Kedekatan Angel dengan produser sinetronnya terjalin dalam sinetron "Surga Yang Kedua". Apalagi, mantan istri Steven Rumangkang itu sempat liburan bareng keluarga Syaiful.

Menanggapi isu tersebut, kakak sekaligus manajer Angel, Daniel Karamoy, tak mau banyak bicara. Hanya saja, Daniel mengungkap kalau Angel sempat kesal karena diberitakan yang tidak-tidak.

"Dia (Angel) bilang 'Kenapa sih semua tindakan gue salah?' soalnya inframe sama ini digosipin, terserah saja deh mau gimana," kata Daniel. "Ya namanya gosip, tersebar cepat, apalagi yang miring-miring. Ya terserah mereka mau ngomong apa. Kasihan aja sama Angel, baru kemarin, nanti inframe sama siapa kena lagi."

Daniel juga mengklarifikasi soal kabar Angel liburan bareng Syaiful. "Terserah mereka mau ngomong apa, yang jelas kami sedang syuting di Marbella, Anyer hingga Sabtu," seru Daniel menirukan jawaban Angel.

Daniel menambahkan kalau Angel juga sering curhat padanya. Namun ia berusaha bersikap profesional sebagia manajer. "Kalau udah kehidupan pribadi saya nggak mau urusin. Saya urus jadwal aja. Pasti lah (curhat). Saya kan kakaknya. Pasti dia ngomong. Yang penting kita benar-benar aja. Angel bilang, 'Yang penting aku syuting kerja, ngurusin anak-anak," seru Daniel.

Hot Mom

Meski telah punya dua anak, Junio McKenzie âۉ€¹Ãƒ¢Ã¢‚¬Ã¢€¹Rumangkang, Lovely Maria Rumangkang, penampilan Angel Karamoy terlihat masih sangat hot mom atau ibu cantik. Orang tak menyangka jika ia sudah punya anak.

Janda seksi ini memang selalu berpenampilan segar dan cantik. Ia seolah tak ingin mengecewakan para penggemarnya. Hal itu membuat Tak para penggemarnya sering kali melontarkan pujian.
 

(AN)

"

| Angel | Karamoy, | Mualaf | Nikah | Siri | p> Angel | Karamoy< | p> Jakarta | HanTer | strong> | Karamoy | kembali | diisukan | menjadi | mualaf | menikah | siri | Perempuan | kelahiran | Manado | Januari | 1987 | juga | dirumorkan | dengan | Syaiful | Drajat | produser | sekaligus | suami | artis | muda | Afifa | Syahira | p>Kedekatan | sinetronnya | terjalin | dalam | sinetron | Surga | Yang | Kedua | Apalagi | mantan | istri | Steven | Rumangkang | sempat | liburan | bareng | keluarga | p>Menanggapi | tersebut | kakak | manajer | Daniel | banyak | bicara | Hanya | mengungkap | kalau | kesal | karena | diberit | yang | p>Dia | (Angel) | bilang | Kenapa | semua | tind | salah | soalnya | inframe | sama | digosipin | terserah | gimana | kata | namanya | gosip | tersebar | cepat | apalagi | miring | ngomong | Kasihan | baru | kemarin | nanti | siapa | kena | lagi | p>Daniel | mengklarifikasi | soal | kabar | Terserah | jelas | kami | syuting | Marbella | Anyer | Sabtu | seru | menirukan | jawaban | menambahkan | sering | curhat | padanya | Namun | berusaha | bersikap | profesional | sebagia | Kalau | udah | kehidupan | pribadi | saya | nggak | urusin | Saya | urus | jadwal | Pasti | (curhat) | kakaknya | penting | benar | kerja | ngurusin | anak | p>Hot | Mom< | strong>< | p>Meski | telah | punya | Junio | McKenzie | âۉ€¹Ãƒ¢Ã¢‚¬Ã¢€¹Rumangkang | Lovely | Maria | penampilan | terlihat | masih | sangat | atau | cantik | Orang | menyangka | jika | p>Janda | seksi | memang | berpenampilan | segar | seolah | ingin | mengecew | para | penggemarnya | membuat | kali | melontarkan | pujian | p> (AN)< | p> |

Thank You So Much for Visit this News

Thursday, December 8, 2016

Dikabarkan Jadi Istri ke-2, Angel Karamoy Jadi Mualaf?

Laporan Wartawan TribunStyle.com, Fathul Amanah

TRIBUNSTYLE.COM - Kabar menghebohkan datang dari pesinetron cantik Angel Karamoy.

Setelah berpisah dari Steven Rumangkang, artis berdarah Manado ini dikabarkan jadi istri kedua produser Ganteng Ganteng Serigala, Syaiful Drajat.

Padahal, produser tersebut juga belum lama menikahi istri pertamanya yang juga seorang artis bernama Afifa Syahira.

Mereka baru menikah pada tahun 2014 lalu dan telah dikaruniai seorang anak yang belum genap berumur dua tahun.

Bukti bahwa Angel Karamoy jadi istri kedua diperkuat dengan video yang diunggah akun gosip @lambe_turah berikut ini.

Dalam video tersebut, Angel yang mengenakan bandana merah dan kaos hitam terlihat tengah berlibur bersama keluarga Syaiful Drajat.

Angel Karamoy
Instagram/lambe_turah

Ia tampak berlarian di pantai dan tercebur ke kolam renang.

Pada saat Angel tercebur itulah tampak sosok yang diduga Syaiful Drajat yang tengah berenang.

Angel Karamoy
Instagram/lambe_turah

Tak hanya video, akun ini juga mengunggah foto Angel yang tengah mengenakan hijab.

"

| Dikabarkan | Jadi | Istri | ke-2, | Angel | Karamoy | Mualaf? | Laporan | Wartawan | TribunStyle | Fathul | Amanah< | strong>< | p> TRIBUNSTYLE | COM< | strong> | Kabar | menghebohkan | datang | pesinetron | cantik | p> Setelah | berpisah | Steven | Rumangkang | artis | berdarah | Manado | dikabarkan | jadi | istri | kedua | produser | Ganteng | Serigala | Syaiful | Drajat | p> Padahal | tersebut | juga | lama | menikahi | pertamanya | yang | seorang | bernama | Afifa | Syahira | p> Mereka | baru | menikah | pada | tahun | 2014 | telah | dikaruniai | anak | genap | berumur | p> Bukti | bahwa | diperkuat | dengan | video | diunggah | akun | gosip | @lambe_turah | berikut | p> Dalam | mengen | bandana | merah | kaos | hitam | terlihat | tengah | berlibur | bersama | keluarga | p> Instagram | lambe_turah< | h5> Ia | tampak | berlarian | pantai | tercebur | kolam | renang | p> Pada | saat | itulah | sosok | diduga | berenang | h5> Tak | hanya | mengunggah | foto | hijab | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Tuesday, July 9, 2013

Menyaksikan prosesi Sabbath

Empat sepeda motor bebek sudah terparkir pagi itu. Namun semua pemilik tidak terlihat. Pintu depan rumah tertutup oleh tirai bambu berwarna kuning kusam akibat sinar matahari dan hujan. Terasnya dipenuhi bunga bonsai ditanam dalam ember plastik.


Itulah rumah Rabbi Yobbi Ensel di Jalan 14 Februari 14, Teling Atas, Lingkungan Dua, Kota Manado, Sulawesi Utara. Hampir semua tukang ojek di depan gang 14 tahu di sana lokasi berkumpulnya komunitas Yahudi saban pekan. “Maaf depan rumah harus ditutup tirai hanya untuk menghalangi sinar matahari,” kata Yobbi sambil mengjak masuk merdeka.com ke dalam rumahnya Sabtu pekan lalu.


Pagi itu adalah Sabbath, hari istimewa bagi umat Yahudi, persis Minggu buat kaum Nasrani dan Jumat untuk orang Islam. Jemaat Yahudi dipimpin Yobbi belum memiliki sinagoge. Jadi ritual Sabbath digelar di rumah Yobbi.


Tujuh anggota jemaat Yobbi sudah ada dalam ruang tamu berukuran sekitar 9×3,5 meter. Mereka adalah Titi (25 tahun) dan suaminya Mikcy (38 tahun), Viviyanti (24 tahun), Odhy (25 tahun), Phipus (60 tahun) bersama istrinya Rosiana (40 tahun), Ayyub (52 tahun). Di situ juga ada istri Yobbi, Yulita, dan dua anaknya. Setelah beramah tamah lima menit, Yobbi memberi isyarat dengan berdiri di depan meja berukuran sekitar 30×20 sentimeter setinggi satu meter.


Posisi Yobbi berdiri segaris dengan Bintang Daud terpacak di atas tembok. Meja itu berlapis taplak putih dengan garis pinggir biru tua. Di tiap sudut ada bordiran Bintang Daud. Taplak itu menutup hingga kaki meja.


Jemaat lelaki segera memperbaiki kippah di atas ubun-ubun mereka. Yang tidak bawa, bisa mengambil di meja. Semua jemaat perempuan sudah berkerudung. Mereka mengikuti semua gerakan dan ucapan Yobbi. Saat Yobbi memasang jubah ibadah berwarna putih menutup kepala hingga punggung juga diikuti jemaat laki-laki. Yulita mengambil tumpukan buku doa berwarna merah dengan sampul bertulisan huruf Ibrani.


Setelah semua jemaat mendapatkan buku doa disebut sidur itu, terdengar lantunan doa dalam bahasa Ibrani meluncur dari mulut Yobbi. Jemaatnya segera mengikuti. Tiap berhenti merapal doa, Yobbi memberikan aba-aba, halaman berapa harus dibuka.
Menurut Yobbi, dalam upacara Sabbath biasanya membaca ayat Mazmur berbeda tiap minggu.


Setelah semua doa pujian selesai, dilanjutkan pembacaan gulungan kitab Torah. Syarat membuka Torah minimal ada sepuluh jemaat. Jika kurang, Torah tidak bisa dibuka. “Makanya dalam Yahudi, syarat quorum itu minimal sepuluh orang, di parlemen Israel juga demikian,” tutur Yobbi.


Saat dikeluarkan dari dalam lemari, ada dua orang bertugas khusus memegang dan membuka sarung gulungan Torah. Setelah sarung gulungan dibuka, Torah kemudian diarak ke masing-masing jemaat untuk mencium gulungan atau disebut Keriah Torah.


Pengarak Torah atau Hakbaha saat itu adalah Odhy, sedangkan pembuka sarung Torah atau Gelila adalah Phipus. Begitu hati-hati kedua orang itu melakukan tugasnya. Setelah Torah diarak, gulungan Torah dibuka perlahan di atas meja. Yobbi selaku rabbi adalah pembaca pertama Torah saat gulungan dibuka. Setelah itu, jemaat lain bergantian membaca Torah menggunakan kalam khusus untuk menunjuk dengan bimbingan Yobbi.


Selama acara berlangsung, tidak ada jemaat berbicara. Semua khusyuk dengan sidur di tangan. Yobbi menerangkan hari itu pasal Torah dibaca adalah Parasha pinechas. Tiap peserta membaca lima ayat bergiliran. Semua jemaat terdengar lancar membaca Torah itu. Bacaan penutup dilakukan oleh Yobbi. Selepas itu, Torah kembali digulung, disarungkan, dan ditaruh dalam lemari. Acara diakhiri doa penutup.


Tinggi gulungan Torah sekitar 30 sentimeter. “Gulungan Torah langsung dari Israel dan bahannya dari kulit sapi. Ayat-ayat Torah ditulis tangan oleh sofer, penulis khusus Torah,” kata Yobbi.


Upacara berlangsung dari pukul 10.00 sampai pukul 13.00. Setelah semua sakramen doa selesai, acara ditutup dengan makan bersama. Siang itu ada banyak hidangan tersedia. Mulai dari sup ayam, pisang goreng, ubi goreng, hingga aneka jenis penganan lainnya. Setelah itu ditutup dengan meminum anggur.


Kemudian dilanjutkan diskusi membahas makna ayat-ayat dibaca saat upacara Sabbath tadi. Semua jemaat dipersilakan menafsir dan memberikan interpretasi atas ayat-ayat Torah itu. Yobbi lebih banyak diam dan mendengarkan. Rabbi akan bicara dan memberikan pandangan jika diskusi melenceng jauh. Menurut Mickey, biasanya diskusi bisa sampai pukul 24.00.


Sekitar pukul 13.00, merdeka.com pamit meninggalkan acara diskusi jemaat itu. Semua jemaat menyalami dan Yobbi mengantarkan sampai depan jalan rumahnya. “Maaf kalau jamaat saya terlihat takut diliput media. Tapi kami tidak bisa terus bersembunyi atas keyakinan kita anut.”












Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Menyaksikan prosesi Sabbath

Friday, January 24, 2014

Shandy Aulia Berbagi Kisah Cinta dan Kepedihan Dalam Buku Incomplete

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apa yang sudah terjadi di masa lalu, bukan alasan untuk membuat hidup seseorang terpuruk, tetapi harus bisa menjadi motivasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi.


Pesan inilah yang ingin disampaikan Shandy Aulia melalui buku terbarunya Incomplete, yang resmi diluncurkan di Kinokuniya Bookstores, Plaza Senayan.


Lahir dan besar dalam keluarga yang memiliki perbedaan baik dalam suku maupun agama, Shandy Aulia tumbuh menjadi sosok yang sangat menghargai perbedaan dan memiliki pemikiran yang terbuka dalam segala hal.


Ibunya berdarah Manado dan memeluk agama Kristen, sedangkan ayahnya berdarah Palembang dan memeluk agama Islam..


Perceraian orangtuanya pada saat ia masih kecil, membuatnya menjadi pribadi yang lebih dewasa, tegar, dan selalu memandang hidup jauh ke depan.


“Shandy membagi kisah pribadinya dengan lugas. Kita diajak mengikuti naik-turun perjalanan emosi dan intrik kariernya,” ungkap Siti Gretiani, General Manager Gramedia Pustaka Utama, penerbit yang menerbitkan Incomplete, Jumat (24/1/2014).


Ketika membaca buku itu, kita akan ikut merasakan cinta dan kepedihan yang dirasakan Shandy. “Walaupun hidupnya tampak seperti lingkaran yang masih incomplete, namun ia mampu menyentuh hati pembacanya,” katanya.


Dalam buku 272 halaman ini, Shandy berbagi cerita tentang peristiwa-peristiwa berkesan dalam hidupnya, termasuk cerita keberhasilannya mengalahkan 5.000 peserta casting dan mendapatkan peran utama di film Eiffel I’m in Love (2003), film yang kemudian sukses besar dan melambungkan namanya hingga saat ini.


Ada juga bagian yang mengisahkan tentang bakat, kecintaan, dan passion Shandy di dunia seni peran, yang membuatnya selalu ingin mencoba berbagai peran baik di film maupun sinetron, dan
memberikan kualitas terbaiknya.


Incomplete adalah bentuk terima kasih dan syukur Shandy Aulia, bahwa baginya, apa yang sudah diraihnya bukanlah semata-mata karena kemampuannya tapi juga karena kasih karunia Tuhan.


Article source: http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2014/01/140112_foto_ariel_sharon.shtml


Shandy Aulia Berbagi Kisah Cinta dan Kepedihan Dalam Buku Incomplete

Wednesday, August 14, 2013

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Cerminan Keberagaman di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keberhasilan pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi juara pada Kejuaraan Dunia 2013 sungguh membawa angin segar bagi Indonesia. Tidak hanya angin segar bagi prestasi Indonesia di bidang olah raga, keberhasilan Tontowi/Liliyana merupakan cerminan dari keberagaman di tanah air.


Liliyana Natsir sebelumnya sudah dua kali berturut-turut menyandang gelar juara dunia bersama Nova Widianto yang juga memeluk agama Katolik. Sejak Nova gantung raket, Butet, sapaan akrab Liliyana, harus berpasangan dengan Tontowi Ahmad yang dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang kuat. Kedua orang tua pemuda asal Sumpiuh, Banyumas itu bahkan sudah menunaikan ibadah Haji. Sementara itu Liliyana Natsir dibesarkan dalam keluarga Katolik di Manado.


Meski berbeda latar belakang daerah dan agama, keduanya tetap tampil bagus dan berhasil menyandang gelar juara dunia. Selain itu, Tontowi/Liliyana juga dua kali menjuarai All Englan dan Singapura Terbuka dalam jumlah yang sama.


Dalam perbedaan, Indonesia juga pernah meraih prestasi di bulu tangkis. Masih ingat jelas Indonesia pernah melahirkan pasangan ganda putra legendaris Ricky Subagja/Rexy Mainaky yang pernah meraih medali emas di Olimpiade Atlanta. Ricky Subagja memeluk Islam, sementara Rexy memeluk Kristen Protestan. Saat merayakan kemenangan, Ricky dan Rexy pun kerap melakukan hal yang berbeda. Ricky menengadahkan kedua tangannya, sementara Rexy bersujud dan mengatupkan tangannya.


Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Ricky Subagja/Rexy Mainaki adalah segelintir cerminan keberagaman di Indonesia. Namun demikian, setidaknya keberhasilan mereka menyampaikan pesan bahwa selama bersatu di atas keberagaman, Indonesia bisa berjaya.


Article source: http://www.gatra.com/entertainmen/apa-siapa/35588-jadi-mualaf,-bella-saphira-teteskan-air-mata.html


Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Cerminan Keberagaman di Indonesia

Wednesday, May 1, 2013

Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Terhenyak. Itulah satu kata yang menggambarkan situasi bangun tidur saya, Kamis 25 April 2013. Saya baru saja bangun kesiangan karena semalam suntuk merasa tidak mau membiarkan halaman demi halaman buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo terbiarkan.


Saya begitu penasaran dengan tuisannya yang meski belum selesai membacanya, tetapi ada begitu banyak nilai yang penting tercatat di sana. Sebuah perjalanan keliling dunia yang menjadikannya pribadi open minded. Beragam jenis dan situasi kehidupan yang dialaminya di luar sana membuka pikirannya tentang apa yang namanya nilai kemanusiaan.


Ya, terhenyak. Saya tidak terhenyak karena bangun kesiangan. Saya terhenyak karena membuka smartphone saya dan menemukan link berita dari BeritaSatu.Com (Rabu, 16 Januari 2013, 21.29) berjudul: Pemda Blitar Batal Tutup Enam Sekolah Katolik. Maaf. Saya ketinggalan berita. Berita ini sudah basi. Sudah tiga bulan yang lalu. Kurang lebih seperti ini:


Pemerintah Daerah Blitar membatalkan niatnya menutup sejumlah sekolah di wilayah itu yang tidak mau mengikuti aturan memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Romo Didik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Surabaya, menjelaskan bahwa pada hari ini, pengurus yayasan sekolah itu memenuhi undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Blitar demi membicarakan masalah itu.


Ada sejumlah kesepakatan yang didapatkan dari pertemuan itu, yakni pendidikan agama non-Katolik tetap dilaksanakan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh guru yang kompeten atau lembaga agama yang terkait. Berikutnya kegiatan dimaksud di atas akan dilaksanakan di luar sekolah.


“Petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan itu akan disusun secara bersama-sama,” kata Romo Didik saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/1) malam.


“Jadi tidak ada penutupan sekolah Katolik,” tegas dia.


Sebelumnya, DPR dan pemerintah diberitakan bergerak cepat untuk mengatasi adanya rencana penutupan enam sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur, karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Anggota Komisi III DPR dari daerah pemilihan itu, Eva Kusuma Sundari, mengisahkan kisruh itu diawali oleh adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kantor Kementerian Agama Setempat dengan Walikota mengenai hal itu. Surat itu bernomor 8 tahun 2012.


Di suratnya disebutkan bahwa wajib bagi setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.


Surat itu lalu disusul surat peringatan keenam sekolah swasta di kota Blitar yang dianggap tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain, yakni SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.


Enam sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.


Disebutkan di dalam peringatan bahwa dasar untuk itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, yang mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional.


Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut izin operasional enam sekolah tersebut.


Yang menarik dari berita tersebut adalah sudut komentar yang menggugah rasa saya untuk sebuah tulisan setelah ini yang akan saya sajikan.


Ogut – Selasa, 23 April 2013 | 14:02


kenapa ya agama selalu sj yg dipermasalahkan … org Katholik yg bersekolah / kuliah di yayasan agama Islam tidak pernah mengeluhkan ttg pelajaran agamanya …Yg penting tujuan utama utk sekolah / kuliah itu tercapai dgn baik… Jangan sllu agama yg dipermasalahkan .. Yg penting bisa lulus dgn hasil yg baik .. syukur-2 lgsg dpt pekerjaan .. Jika org Katholik bs sekolah di Yayasan Islam justru malah senang krn sebagai umat minoritas bisa belajar pengetahuan ttg Islam, tidak merasa didiskriminasi


ridho – Senin, 25 Februari 2013 | 20:11


maaf mas saya alumni SMAK Diponegoro Blitar, selama saya bersekolah disitu kami muslim hanya mengenal agama Katolik dan juga sebaliknya jadi akan terjadi toleransi beragama yang baik


anton – Selasa, 19 Februari 2013 | 08:27


Salut, dengan saudara/i muslim yang mau bersekolah di sekolah katolik tanpa harus pindah agama . Mereka tahu sekolah katolik mendidik murid jadi NASIONALIS bukan TERORIS. Berapa banyak pejabat negara yang masih MUSLIM sejati yang pernah bersekolah di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tak mengajarkan FANATISME TOLOL dan PEMAKSAAN serta senang budaya KORUP ( pengrusakan, kekerasan, tawuran ) yang membuat para siswa sering KERASUKAN BERSAMA karena murid dan gurunya hanya ingin libur bersama (malas)


Hariyadi Blitar – Sabtu, 16 Februari 2013 | 21:54


Mendapatkan Pendidikan Agama oleh Guru Seagama adalah HAK ASASI.


Inilah bunyi pasal 12 ayat 1 di UU SISDIKNAS 2003 yang menjadi acuan. Jika ada sekolah (lembaga pendidikan formal) yang tidak melaksanakannya PANTAS untuk ditinjau ulang ijin operasionalnya.


Saya dapat bocoran 60% lebih siswa di SMA Katolik Blitar adalah Muslim. 85% siswa di STM Katolik Blitar juga Muslim. Sayang nya mereka DIPAKSA mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dan TIDAK ADA PILIHAN LAINNYA.


PELANGGARAN HAM


Agustinus Wibowo (sapaan akrabnya Ming), pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur beretnis Tionghoa yang menjadi musafir selama 10 tahun keliling dunia setelah menamatkan kuliah bermutunya di Universitas Tsinghua Beijing, Tiongkok. Saya, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, beretnis Minahasa, belum mengembara terlalu jauh seperti Ming, tetapi cukup merasakan sembilan tahun tidak bersama keluarga.


Dengan alasan yang sama seperti Ming, saya tidak bersama keluarga bukan karena melarikan diri, tetapi karena panggilan jiwa, pendidikan dan tentunya petualangan. Tidak bermaksud menyindir siapa pun, tetapi perjalanan bertahun-tahun “di luar rumah” adalah perjalanan membuka pikiran untuk hidup tidak dengan pola piker kolot yang sok pinter melakukan justifikasi dalam setiap persoalan sensitif menyangkut hak asasi manusia (HAM).


Saya mengingat perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sadar akan kekolotan kehidupan yang ada di sekitarnya, Dahlan berani mendobrak tradisi keislaman yang tradisional di tanah Jawa waktu itu dan mencerahkan pikiran dengan melakukan perjalanan belajar ke luar negeri. Itulah kemudian yang menetapkan langkahnya mendirikan sebuah organisasi Islam sebesar Muhammadiyah saat ini, sebuah organisasi Islam modern yang terkenal dengan dialog bermutu dan pemikiran-pemikiran terbukanya tentang dunia secara global.


Saya juga hafal betul dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang merupakan tokoh pengusung pluralisme dalam berbangsa. Bisakah Gus Dur memiliki karakter demikian jika pada masa lalunya tidak berani keluar dari zona tradisionalnya? Bisakah beliau tanpa latar belakang pendidikan ala Kairo yang pluralistik yang diterimanya saat kuliah?


Ketika tahun 2004, kakak perempuan saya secara radikal memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti suaminya yang beragama Islam, keluarga saya yang tumbuh dalam keluarga Katolik tradisional begitu menolak keputusan itu. Keluarga saya adalah kumpulan orang-orang yang mengetahui Islam sebagai ajaran yang tidak pernah berhubungan dengan Kristianitas. Seorang Katolik yang masuk Islam, yah, tidak bisa diterima. Itulah pemikiran tradisional keluarga kami. Apalagi keluarga kami berasal dari etnis Minahasa yang kental dengan suasana kekeluargaan dan kerabat Kristen. Keluarga besar akan mencibir keluarga inti saya jika hal itu terjadi. Malu. Itulah inti dari mengapa kakak saya tidak boleh masuk Islam. Hingga kini pun, meski kakak saya sudah menjalani imannya sebagai seorang muslimah hampir tujuh tahun, stigma sebagai seorang yang “berbeda” sudah telanjur diberikan untuk kakak saya.


Tahun 2008, untuk pertama kalinya saya mengenal Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Sebuah kampus milik yayasan gereja Katolik. Tak seperti kampus-kampus Katolik lainnya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Biasanya kampus-kampus itu bernama Santo-Santa atau nilai ke-Katolik-an misalnya De La Salle, Atma Jaya, Sanata Dharma atau Santo Thomas Aquinas, dan lain-lain. Nama “Parahyangan” sangat tidak bersangkut paut dengan nilai-nilai Katolik. Parahyangan justru merupakan representasi dari makna luas sebuah tempat yang menjadi surge dewa-dewi, surge para hyang. Meski akhirnya belakangan nama itu dimaknai khusus oleh kampus tersebut (dalam hubungannya dengan Sang-Hyang-Tuhan), tetapi menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kampus Katolik yang terkenal tersebut bukan karena saja namanya, tetapi juga karena pendiri dan visi-misi pendidikan yang diusungnya.


Selama menjadi mahasiswa dan menjalani kuliah di kampus ini, sebagai seorang Katolik yang terbiasa sekolah di sekolah Katolik (dengan segala pendidikan Katolik-nya, ritual, kapel, dsb), untuk pertama kalinya saya tidak menemukan mayoritas “penduduk” kampus adalah mahasiswa non-Katolik. Untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah Pusat Kajian Humaniora yang melaksanakan kuliah-kuliah karakter, moral , agama dan psikologi. Pusat kajian ini dipimpin oleh seorang romo. Bagi mahasiswa kampus ini – sesuai aturan harus ada pendidikan agama untuk setiap personal – disediakan pilihan untuk memilih mata kuliah dasar wajib: memilih kuliah fenomenologi agama (filsafat) atau kuliah pendidikan agama Katolik.


Bagi saya, mahasiswa fakultas filsafat, sebuah kewajiban untuk memilih mata kuliah fenomenologi. Tetapi untuk mahasiswa dari fakultas lain, mereka dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Pilihan yang memudahkan sebenarnya! Kenyataan yang sedikit lucu dan tak disangka adalah, para mahasiswa non-Katolik, justru begitu menyukai memilih kuliah pendidikan agama Katolik. Tanpa dipaksa. Itu pilihan mereka. Kalau saja mereka seorang yang tradisional dan tidak mau menjadi kafir, mereka tentunya lebih memilih kuliah fenomenologi yang notabene sama sekali tidak mempelajari tentang ajaran Katolik. Fenomenologi mengkaji realita agama-agama secara umum. Mau tahu kenapa mereka memilih kuliah pendidikan agama Katolik? Hanya satu alasannya: Dosennya seorang romo yang begitu cerdas, baik hati, murah hati dan bersahaja! Wow! Sebuah alasan yang manusiawi.


Ada hal lain yang begitu menonjol yang saya temukan di kampus ini. Selama kuliah, saya belum menemukan di mana letak kapel atau gereja kampus yang berdiri megah di dalam lingkungan kampus, seperti halnya sebuah kampus Katolik yang ada di belahan dunia mana pun. Mendapat embel-embel Katolik di antara kata “Universitas” dan “Parahyangan” bukanlah hal yang mudah.


Dalam peraturan Gereja Katolik tentang pendidikan Katolik ada pasal yang mengatur hal tersebut. Salah satunya ialah sebuah kampus Katolik harus menampakkan ciri ke-katolik-an yang khas. Maka sebuah kapel atau gereja menjadi ciri khas banyak kampus Katolik di seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kapel megah di lingkungan kampus bernama Parahyangan tersebut?


Ya, sejak berdiri tahun 1955, pendirinya dua uskup berkebangsaan Belanda. Monsinyur Petrus Arntz, OSC (uskup Bandung) dan Monsinyur Prof Geise OFM (rektor pertama Universitas Parahyangan) mencita-citakan sebuah perguruan tinggi yang dibangun “di” dan “untuk” tanah Parahyangan! Keduanya menyadari, kampus ini berdiri di tengah-tengah tanah Sunda yang kental dengan budayanya. Kampus yang akhirnya tetap eksis hingga kini itu ialah kampus yang dipersembahkan untuk tatar Parahyangan. Dengan alasan itu pula, dua pendiri ini menghendaki sebuah kampus yang mengajarkan ilmu berdasarkan Ketuhanan untuk diabdikan kepada masyarakat atau Bakuning Hyang Mrig Guna Santyaya Bhakti.


Dua pendiri ini pertama-tama tidak menempatkan Ke-katolik-an sebagai subjek utama yang harus dicekokin di dalam otak para mahasiswanya, tetapi justru semangat kekatolikan itu sendiri yakni iman, harap, dan kasih, yang harus menyemangati para mahasiswanya agar kelak menjadi manusia yang berbakti secara manusiawi. Itulah alasan mengapa, tidak ada kapel di kampus itu. (dan katanya tidak akan pernah ada-dan itu juga mengapa, Universitas Parahyangan menjadi kampus Katolik yang selalu mendapatkan ‘pengawasan yang ketat’ dari petinggi Gereja Katolik yang mengurusi pendidikan Katolik).


Panjang-lebar tentang Agustinus Wibowo, Ahmad Dahlan, Gus Dur, dan Universitas Katolik Parahyangan, apa sebenarnya hal yang penting dari semua itu?


Dalam sejarah pemikiran Yunani, ada satu masa ketika logika mendapatkan tempat yang begitu mulia saat ia melengserkan segala mitos yang terlalu lama membelenggu masyarakat Yunani waktu itu. Masa ketika myth berubah menjadi logos itulah menjadi masa kelahiran filsafat. Manusia hidup tidak lagi dalam kungkungan tradisionalitas. Tradisional itu bukan masalah konservatif atau kekakuan. Tradisional itu adalah masa ketika otak manusia begitu keukeuh mempertahankan imajinasi kolotnya diperhadapkan dengan kebenaran logika.


Mitos pada masa itu bahkan telah menjadi keyakinan yang begitu menguratnadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika mitos itu telah menjadi sebuah “agama”, dia lalu melakukan pembelaan yang terlalu percaya diri dan mati-matian. Dalam perjalanannya kemudian sedikit demi sedikit tradisionalitas mendapatkan tempat yang sesungguhnya harus ia tempati: tradisionalitas menjadi sebuah kearifan lokal, yang dari dialah setiap persoalan seharusnya dipelajari.


Lalu apakah yang mendasari sebuah negara menjadi begitu kolot pemikirannya terhadap pemberlakukan sebuah aturan? Itulah yang terjadi dalam konstruksi pemberitaan yang saya kutip di awal tulisan saya ini. Ketika Pancasila sebagai kearifan jiwa Indonesia yang kemudian di-logos-kan menjadi sebuah dasar negara, bahkan telah kalah dengan seperangkat aturan yang dikeluarkan oleh pemikir-pemikir kolot yang menuntut hak asasi yang sesungguhnya tidak pada pemahaman sebenarnya tentang pentingnya sebuah kemanusiaan.


Apa sebenarnya hak asasi yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Apakah mayoritas sebuah komunitas harus mengalahkan hak asasi dari sebuah kekhasan?


Ketika di satu sisi saya menuntut hak saya untuk diperlakukan sesuai kekhasan diri saya, lalu kapan saya memperhitungkan kekhasan orang lain atau institusi yang saya tuntut memberikan hak kekhasan itu kepada saya?


Sekali lagi, mitos dan tradisionalitas sempit telah lahir menjadi logika. Lalu ketika ada yang membaca tulisan ini berkomentar” “Logika justru telah menghancurkan sistem-sistem nilai moral! Rasio justru telah menjadi alat pembunuh bagi manusia!.”


Itu bukan konteks sebenarnya. Bagaimana setiap manusia menyadari bahwa setiap masalah ada di dalam konteksnya masing-masing. Dalam konteks pembicaraan saya, hak asasi manusia adalah setiap hal yang menjadi hak dasar manusia sebagai makhluk bermartabat Allah. Martabat Allah yang diembuskan dalam napas manusia membuatnya menjadi makhluk yang khusus. Dan manusia yang dimaksud itu banyak. Ada hampir delapan miliar martabat Allah di dunia ini. Lalu kita harusnya kembali ke pemahaman bahwa saya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk hidup menurut ciri khasnya dan saya juga harus menyesuaikan untuk berusaha hidup sesuai kekhasan diri saya secara maksimal.


Ada yang keliru dalam argumentasi-argumentasi tentang mendapatkan hak asasi: aturan diperlakukan untuk memudahkan hak asasi tersebut terwujud, tetapi mengebiri hak asasi pihak lain.


Di akhir tulisan saya ini ada satu hal yang ingin saya gabungkan dalam hubungannya dengan beberapa cerita tentang Agustinus Wibowo hingga Universitas Katolik Parahyangan di atas.


Seorang Pastor Belanda di Tilburg setahun yang lalu pernah mengatakan kepada saya,“Orang Indonesia itu bagus sekali. Punya ungkapan hiduplah membumi!”


Kalimat ini menggugah saya. Ketika orang Barat hidup dengan seni individualistiknya, penilaian saya terhadap itu positif: mereka demikian bukan karena mementingkan diri sendiri, tetapi mereka hidup membumi, apa adanya. Hidup membumi juga berarti saling menghargai, rendah hati, dan memperlakukan segala sesuatu pada “bumi”-nya atau pada asalnya.


Jangan meminta sayur di warung buah. Jangan meminta besi di warung sayur. Jangan meminta pizza di warung gado-gado. Bisa saja, tetapi sulit dan lama! Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berkutat pada bagaimana bisa membeli kebutuhan pada tempat yang tidak menjualnya. Dirampok, tersesat, hampir mati, dan diperhadapkan pada orangtua yang sakit parah di belahan dunia lain, telah menjadikan Agustinus Wibowo menjadi seseorang yang melihat dunia dan membagi nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi untuk banyak orang.


KH Ahmad Dahlan dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pribadi yang modern dan toleran. Mereka menjadi demikian bukan berarti mengabaikan inti nilai iman mereka, tetapi justru dengan demikian menjadi pribadi yang bersahaja dan mudah menghargai orang lain.


Dan yang terakhir adalah kampus Katolik yang saya ceritakan tadi, yang terpenting adalah mendidik karakter. Percuma paham Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, percuma hafal dan paham Alquran dari awal hingga akhir kitab, percuma menguasai tiga keranjang Tripitaka, dan berbagai ajaran Veda ataupun seluruh kebijaksanaan Nabi Kongzi. Semuanya percuma, jika dalam hidup sehari-hari, kita menggunakan semua indra untuk menelanjangi kemanusiaan orang lain. Pertanyaannya, berdasarkan ajaran iman pribadi sebenarnya saya berjuang untuk hak asasi siapa?


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1ftb-geliat-islam-di-eropa-barat-1


Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?