Showing posts sorted by relevance for query hatinya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query hatinya. Sort by date Show all posts

Monday, January 13, 2014

Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

REPUBLIKA.CO.ID, Yusuf Ali Bernier merupakan mualaf dari Kanada. Sebelum menjadi Muslim, hidupnya lekat dengan gereja. Pelayanan gereja terutama ritual berulang , bernyanyi , dan doa kepada Yesus atau Maria atau Tuhan dan kadang-kadang orang-orang kudus menjadi hal-hal yang mengiringi pertumbuhan Yusuf.


Ia biasa duduk dengan bingung membaca Alkitab sembari merekam dalam tape recorder. Setelah selesai, Ia akan memutar rekaman kembali dengan harapan menangkap makna dari apa yang baru saja dibacanya. Namun, cara itu tak juga membantunya memperoleh apa yang ia cari.


Pada suatu hari, ia menyaksikan khotbah di televisi dimana acara tersebut  memerintahkan pemberian Alkitab gratis dan menyumbangkan sebanyak yang bisa dilakukan ( yang tidak bisa banyak dilakukan anak laki-laki sepuluh tahun ) kepada penginjil televisi. Ganjarannya Ia akan menerima surat terima kasih dan berkat dan yang membuat saya merasa baik .


Hal itu berlangsung selama satu tahun atau lebih sampai akhirnya Ia menjadi terlalu frustrasi, kehilangan, dan ​​bosan dengan seluruh proses. Bukannya mengerti, Yusuf malah semakin bingung memahami arti yang ada di dalam injil.


“Aku memiliki Alkitab di lemari laci dan saya hanya akan menyebutnya sesekali pada saat saya remaja. Aku menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah benar-benar memahami Alkitab. Artinya , ironisnya , sampai nanti ketika saya menjadi Muslim. Saat itulah aku mulai mendapatkan pemahaman yang lengkap itu,” jelasnya, seperti dilansir dari Onislam, Selasa (14/1).


Apa yang membuat Ia bingung dengan Injil adalah kontradiksi antara kitab tersebut dan apa yang telah diajarkan oleh para imam dan pendidik agamanya. Ia menemukan bahwa hampir setiap aspek keyakinannya terguncang atau tidak masuk akal sama sekali setelah mengacu pada Injil.


Ia merasa inti dari imannya yang telah dipelajari  adalah palsu. Hal tersebut membawa dirinya ke titik di mana pesimis dan sinis terhadap agama. Akhirnya saat remaja,  Ia pun seperti mengejek Agama yang diyakininya dengan pergi gereja sembari mengunyah permen karet dan setengah hati berpartisipasi dalam pelayanan.


Ia akan bersuara pada saat menyebutkan Tuhan atau Yesus. Ia tidak tahu apa yang bisa dipercaya lagi. Satu-satunya hal yang Ia yakini adalah bahwa Tuhan itu ada. Semua kebingungan dan kekecewaannya dari usia sepuluh tahun akhirnya memicu mencari Kebenaran dan akhirnya membawanya ke agama yang disebut Islam.


Pertemuan pertamanya dengan orang-orang Muslim adalah melalui transaksi bisnis. Hangat dan murah hati keramahan mereka memenangkan hatinya. Ia juga tergelitik dengan orang Muslim yang setia  dengan Allah dalam ungkapan-ungkapan seperti  Alhamdulillah (semua Segala puji bagi Allah ) dan Insya Allah ( Insya Allah ).


Ia tidak pernah melihat orang-orang dalam keadaan iman yang kuat seperti ini sebelumnya. Yusuf menemukan Kebaikan, kemurahan hati dan sifat belas kasih mereka adalah sebuah bagian dari seorang Muslim. Hal ini lantas mendorongnya ingin menjadi seperti mereka.


“Ini adalah apa yang menarik dari orang-orang Islam , ini adalah apa yang membuat saya tertarik terhadap Islam,” ujarnya.


Setelah peristiwa tersebut, Ia mulai mempelajari dasar-dasar Islam. Semakin Ia belajar, Yusuf semakin ingin tahu. Ia mempelajari Islam melalui buku-buku yang ditulis oleh umat Islam dan juga membaca terjemahan Al-Quran. Ketika itu, hanya beberapa orang yang tahu bahwa Ia sedang belajar Islam.


Ia beralasan karena tidak ingin ada campur tangan dari umat Islam dan terutama dari teman-teman Kristen dan Yahudinya. “Saya tahu bahwa jika ada yang membimbing dan membantu saya dalam pencarian kebenaran adalah Allah,” jelasnya.


Seiring waktu berlalu , pengetahuannya berkembang menjadi alam Kebenaran sampai sekarang tanpa sepengetahuan saya . Islam menjadi kekuatan yang kuat seperti magnet menarik dirinya lebih dekat dan lebih dekat untuk itu.


Allah adalah satu-satunya hal dipikirkannya ketika melayang tidur dan pikiran pertama ketika terbangun. Islam membangun intelektual serta hatinya dan Ia menjadi begitu semangat tumbuh untuk itu.


Baca Quran


Ia akhirnya belajar Surat Al – Ikhlas meskipun belum Muslim. Ia mulai mengajar diri untuk berdoa dengan menggunakan buku dan membaca satu-satunya Surah yang Ia tahu. Ia merasakan kebutuhan yang sangat besar untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta maaf dan petunjuk menjadi hal yang paling masuk akal baginya.


Tak lama kemudian, Ia berangkat berlibur sembari membawa Qur’an. Empat hari kemudian, Ia yang sendirian di negara asing terkena sakit parah. Ia hanya terbaring selama sebulan dan setiap hari kehilangan hampir satu pon berat badanya.


Menghadapi kematian, Ia yang sendirian dalam penderitaan ingat memohon kepada Allah untuk tidak membiarkannya mati dalam kondisi tidak lengkap. Waktu itu Ia  belum dikonversi menjadi Muslim tapi dalam hatinya selalu ingin menjadi seorang Muslim. Ia tersadar dahulu seperti menunda-nunda mencoba untuk mempelajari segala sesuatu yang benar.


Kini, Ia percaya bahwa itu adalah panggilan untuknya dari Sang Maha Penyayang. Itu adalah untuk momen baginya untuk mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menunda sesuatu yang ingin dilakukan.


Setelah memohon, kondisnya berangsur baik dan Ia bisa kembali ke Kanada. Dua minggu setelah kembali ke Kanada Ia masuk Islam. “Al- Hamdulillah saya tidak mati sebelum mengatakan syahadat,” ujarnya.


“Allah  Maha Penyayang. Dia memberikan orang banyak peluang dan tanda-tanda . Bagian yang sulit adalah tidak begitu banyak orang mengenali tanda-tanda tersebut,” jelasnya.


“Islam seperti obat. Ini perubahan perilaku menyimpang dan menenangkan serta membuat jiwa menangis. Islam adalah agama Kebenaran dan Quran adalah panduan untuk semua aspek kehidupan. Quran memberi saya semua jawaban atas pertanyaan saya,” kenangnya.


Ini, lanjutnya,  meringankan kebingungan saya dan mengubahnya menjadi kejelasan dan pemahaman . Tidak pernah terlintas ada agama yang Kebenaran mutlak dalam bentuk yang paling murni . Jika seluruh umat manusia menyadari bahwa kebenaran ini adalah agama Islam.


“Saya berdoa kepada Allah untuk membimbing kita semua ke jalan yang lurus. Jalan semua nabi Allah termasuk Ibrahim , Nuh , Musa , Yesus , dan Muhammad ( damai atas mereka semua ),” tandasnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/10/mz6xau-israel-curi-kunci-gerbang-masjid-al-aqsha


Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

Friday, June 28, 2013

"Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari ...

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id.

Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar,

berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras,

dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.


Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/perancis-kesulitan-atasi-islam-radikal-di-penjara/1656718.html


"Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari ...

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Thursday, July 25, 2013

Contohi diet Rasulullah

Kesempurnaan peribadi Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah tiada tolok bandingnya dan menjadi ikutan para muslim seluruh  dunia.  Antara amalan Rasulullah SAW termasuklah cara  beribadah, menjaga kebersihan diri, hidup berkeluarga termasuk diet makanan cara baginda.  Jika kita menitik beratkan  diet yang  seimbang dan mengamalkan pemakanan yang sihat, tubuh akan terpelihara  daripada serangan penyakit. Hal ini penting kerana sebagai seorang muslim, badan yang sihat akan memudahkan kita beribadat kepada Allah SWT.


Rasulullah SAW menjaga kesihatan rohani dan jasmani demi memudahkan baginda untuk menyampaikan seruan Allah kepada umatnya.  Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak akan makan melainkan apabila sudah terasa lapar dan apabila kami makan, tidak pernah sampai kenyang.”  Begitulah antara petua yang Rasulullah amalkan.


Namun, Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) menjelaskan amalan gaya hidup mewah manusia masa kini yang melebihkan pengambilan makanan tinggi lemak dan kurang bersenam.  Situasi ini menyebabkan peningkatan penyakit kronik seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, strok, diabetes serta kanser.


Cara Diet Rasulullah


Susu dan kurma antara makanan kegemaran Nabi Muhammad SAW


Antara lain diet cara Rasulullah SAW adalah makan makanan yang seimbang, makan perlahan-lahan, sederhana serta  berkongsi makanan. Rasulullah SAW juga suka minum susu, buah-buahan, tamar, daging, madu, sayur dan bubur kerana makanan itu mempunyai khasiat yang tinggi untuk kesihatan badan.


Dalam amalan baginda, selepas subuh Rasulullah SAW akan memulakan sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesenduk madu asli. Jika dilihat dari ilmu kesihatan, madu berfungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus, menyembuhkan sembelit dan peradangan.


Setelah masuk waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh biji kurma ajwa’ untuk menghindari keracunan. Ketika seorang wanita Yahudi meletakkan racun dalam makanan Rasulullah ketika perang Khaibar, bisa racun itu kembali tawar oleh zat-zat terkandung dalam kurma. Sebab itu Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang rumahnya tiada kurma sebagai orang miskin.


Selain itu, Rasulullah SAW tidak akan  mengambil  dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan serentak dengan daging dalam satu waktu dan tidak tidur selepas makan kerana tidak baik untuk jantung.

Ada hikmahnya tidak meniup air panas untuk diminum


Rasulullah SAW juga melarang meniup atau menghembus nafas ke dalam bekas air (makruh) kerana akan berlaku tindak balas yang merubah kadar kealkalian (pH) air itu.


Sayur-sayuran menjadi pilihan Rasulullah SAW kerana secara umumnya sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi memperkuat daya tahan tubuh dan melindungi daripada serangan penyakit serta mencegah penyakit berpunca daripada gula.


Rasulullah SAW makan cuka dan minyak zaitun yang dicampurkan dengan makanan asasi seperti roti. Ia bermanfaat mencegah lemah tulang, melancarkan sembelit, menghancurkan kolestrol, melancarkan pencernaan dan menjaga suhu tubuh pada musim sejuk.


Baginda melebihkan makanan berasaskan bijirin dan ubi kerana ia membekalkan karbohidrat kompleks, vitamin, mineral dan serat. Mengikut piramid makanan, kita disarankan mengambil 8 hingga 12 hidangan makanan berasaskan bijirin dan ubi dalam sehari.


Ini bermakna Rasulullah SAW meninggalkan tatacara makanan yang lengkap untuk diteladani seluruh umatnya. Namun begitu, umat Islam masih dibelenggu pelbagai penyakit yang menyebabkan perbelanjaan orang Islam dihabiskan untuk perubatan serta makanan tambahan. Oleh itu, untuk membentuk kesinambungan generasi Islam, maka tabiat dan cara makan harus mencontohi Rasulullah SAW.


Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang sedikit makan, maka perutnya akan sihat dan hatinya akan bersih. Sebaliknya barang siapa yang banyak makan, maka perutnya akan ditimpa sakit dan hatinya keras.” (Hadis riwayat Huzaifah).


Dalam memastikan tubuh kita sihat, seharusnya kita mencontohi amalan pemakanan yang baik sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jika tubuh sihat, ibadah yang dilakukan sehari-hari akan terasa mudah untuk dilaksanakan.  Apalagi, mari kita mulakan amalan yang baik ini kesihatan diri.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/19/molzey-snmptn-jangan-diskriminatif-terhadap-siswa-madrasah


Contohi diet Rasulullah

Saturday, December 10, 2016

Maria Elaine Memilih Ikuti Pelajaran Agama Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam.

Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya.

Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah. Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya.

Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas. Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya.

Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

ԉ۪Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,Չ۪ ungkap Maria. Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam.

"

| Maria | Elaine | Memilih | Ikuti | Pelajaran | Agama | Islam | REPUBLIKA | JAKARTA | Meski | ayahnya | lebih | dulu | menjadi | mualaf | Venerissa | tetap | mengalami | masa | gelisah | menentukan | keyakinan | yang | dipegangnya | tertarik | ingin | tahu | banyak | tentang | p> Ia | mempertany | mengapa | perlu | puasa | Mengapa | perempuan | haid | boleh | beribadah | istilah | bukan | mahrom | kategori | aurat | pada | Ayahnya | pernah | memaks | putri | sulungnya | untuk | mengikuti | jejaknya | p> Meski | sebagai | orangtua | berpesan | baik | jika | Muslim | begitu | mengantar | gereja | setiap | akhir | pekan | sendiri | merasa | keputusan | karena | panggilan | hati | Suara | adzan | membawa | ketenangan | hatinya | p> Selama | pelajaran | agama | semasa | juga | memilih | duduk | mendengarkan | kelas | membaca | menulis | Alquran | memahami | artinya | p> Jadilah | penolong | bagi | teman | sekelasnya | mencatatkan | ayat | atau | hadits | Hingga | akhirnya | 2012 | bersyahadat | Momen | akbar | hidup | gadis | tahun | berlangsung | sederhana | p> Dengan | bulat | didampingi | guru | seorang | selama | memang | dekat | dengannya | Ujian | terhadap | orang | beriman | Ditanya | tanya | oleh | keluarga | menjawab | sempat | tertekan | p> ԉ۪Saat | ilmu | saya | masih | sedikit | Saya | atas | diuji | Allah | Չ۪ | ungkap | Akan | masalah | demi | dilewatinya | menyerah | mempelajari | mendalami | sangat | bersyukur | telah | menemukan | pencerahan | kedamaian | dalam | p> |

Thank You Very Much for Visiting this Article

Saturday, January 4, 2014

Ruba Qewar Jatuh Cinta pada Alquran

REPUBLIKA.CO.ID. Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Ia menemukan jawaban atas keraguan hatinya dalam Alquran.


Perempuan yang tinggal di Amerika Serikat ini, Ruba Qewar lumayan banyak memicu kontroversi. Pencarian akan keyakinan kepada Tuhan yang membuatnya nyaman selama ini beberapa kali berubah.


Ia lahir dalam keluarga Kristen. Ruba lahir di Denmark pada 1981, kemudian keluarganya pindah ke Yordania pada 1985. Tinggal di sana sebagai minoritas karena ia beragama Kristen, tak membuatnya nyaman.


Hingga akhirnya keluarganya pindah ke Amerika Serikat pada 2002. Setelah ayahnya yang menjadi pendeta meninggal, ia mulai menjauhi agamanya dan gereja.


Selama ini yang membuatnya selalu pergi ke gereja dan membaca Alkitab adalah karena ayahnya, kakeknya, juga paman-pamannya yang merupakan para pendeta yang disegani.


Saudara-saudaranya yang lain juga para pengikut Kristen yang sangat taat dan beberapa dari mereka juga menikah dengan pendeta.


Namun, ia merasa berbeda. Ruba kadang tak puas dengan penjelasan yang diberikan para pendeta dan Alkitab atas pertanyaan akan rasa penasarannya. Ia kemudian mengamati agama yang lain, Hindu, Buddha, Yahudi, dan Islam.


Ia pergi bertemu dengan pengikut agama lain untuk mencari kebenaran. Ruba telah banyak berdebat dengan paman-pamannya yang pendeta, juga ibunya tentang keilahian Yesus, satu hal yang membuatnya ragu selama ini pada ajaran agamanya.


Ia pergi ke kuil Buddha, tempat ibadah Sikh, dan agama lainnya. Ia melihat mereka, penganut agama lain tersebut, bisa patuh dan percaya sepenuhnya kepada yang mereka sembah, yaitu Tuhan mereka.


Saat ingin mempelajari Islam, ia bingung harus memulainya dari mana. Ia tahu kitab suci agama ini, Alquran, namun ia tak tahu siapa yang memilikinya dan bisa meminjamkannya sebentar untuk ia baca.


Ia pun justru banyak merasa kesal kepada orang Islam karena menurutnya selalu menganggapnya salah dan merendahkan orang Kristen sepertinya. Itu yang ia ketahui dari berbagai media dan informasi yang tersebar di Amerika.


Ia ingin membaca Alquran untuk membuktikan kepada orang Islam bahwa mereka salah. “Aku ingin menemukan kesalahan dalam Alquran untuk membuktikan orang Islam itu salah dan sayalah yang benar,” ujarnya.


Ia pernah membaca bahwa Alquran hanyalah sebuah buku karangan yang ditulis seseorang yang menyebut dirinya seorang nabi. Ia kemudian membuka laman www.Muslim-web.com yang di dalamnya ada konten khusus untuk Alquran dan isi terjemahannya.


Membacanya satu per satu melalui layar komputernya, membuatnya jatuh cinta. Surat-surat pertama terdengar bahasanya tidak terlalu memaksa, namun menjelaskan dan menjawab rasa penasarannya. “Saya jadi jatuh cinta kepada Alquran,” kata Ruba.


Inilah yang membuatnya mantap untuk masuk Islam. “Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir Islam akan menjadi jalan yang saya pilih,” ujarnya.


Dalam perjalanan menjadi seorang mualaf baru, ia dilanda kebingungan dan salah jalan. Saat sedang dalam masalah keluarga, saat itu ia bercerai dari suaminya dan diusir dari rumahnya, kemudian memutuskan untuk pergi ke Yordania kembali.


Niatnya adalah untuk merasakan kembali tinggal di negara Muslim, tempat dulu ia menjadi kalangan minoritas. Namun kini ia statusnya berbeda, ia akan menjadi bagian dari keluarga Muslim itu.


Sayangnya, ia bertemu dengan orang yang salah. Sebagai seorang Muslim baru, di Yordania yang ia temui adalah guru spiritual yang mengajarkan Islam ekstremis dan mengaduk-aduk psikologis spiritualnya.


Ia merasa dididik untuk menjadi seorang teroris. Ruba kecewa dengan hal ini, hingga akhirnya ia kembali ke Amerika dan memutuskan untuk kembali ke keluarganya dan menjadi Kristen lagi.


Ia tak percaya lagi pada Islam dan kembali kepada ibu dan keluarganya yang Kristen. Kemudian, ia ditawari untuk ditayangkan dalam televisi pada sebuah acara tentang kembalinya ia menuju ke Kristen.


Dalam kesempatan tersebut, telah di-setting agar acara bisa mengharukan, yaitu dengan cara sang ibu memeluknya dengan erat sambil menangis, kemudian ia juga disuruh untuk melepaskan jilbabnya dalam acara tersebut.


Hari-hari berlalu saat ia kembali di tengah keluarga Kristen. Namun, ia merasa tak nyaman, hatinya merasa tak tenang. Saat kembali ke tengah keluarganya, ia diperlakukan berbeda, dianggap sebagai mata-mata, dan diberikan perawatan jiwa, seperti layaknya pencucian otak.


Ia merasa sangat berat sekali di masa ini. Stres secara psikologis dan waktunya banyak dihabiskan untuk mengikuti kelas dan pelajaran berat tentang kekristenan.


Kadang, ia sering menyendiri di dekat danau dan kemudian ia banyak lagi membaca Alquran. Ruba paham yang membuat jiwanya tenang adalah ketika bersama dengan hal yang dicintainya, Alquran, Islam.


Dengan keyakinan yang teguh, ia kemudian kembali ke Islam lagi. Ia percaya jalan inilah yang paling tepat baginya karena Islam bisa memberikan jawaban atas keraguannya dan ia merasa nyaman di dalamnya.


Jika ia ditanya apa alasannya kembali ke Islam lagi? Jawabnya adalah karena pertolongan Allah. “Atas rahmat-Nya yang besar yang diberikan kepada saya, saya bersyukur dan terus berdoa agar bisa selalu teguh pada Islam, agama yang saya percayai sekarang,” katanya.


Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/11/21/18210017/Kuota.Haji.Jember.Sudah.Penuh.Hingga.2024


Ruba Qewar Jatuh Cinta pada Alquran

Sunday, December 1, 2013

Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Rosita Budi Suyaningsih

Ia menemukan jawaban semua pertanyaannya di dalam Alquran.


Tak pernah terbayangkan dalam hidup Jared Craig Morris (26 tahun) berpindah soal keyakinannya. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan dan saat kecil ia pernah punya cita-cita menjadi seorang pastor.


Satu momen yang paling diingatnya, yang memantapkan dirinya untuk masuk Islam adalah saat menggendong putri pertamanya. Tiga tahun lalu, tepatnya 7 Juni 2010, putrinya yang diberi nama Mary Lee Rose lahir.


”Saat itu, bidan memberikannya pada saya untuk digendong, kemudian dia langsung berhenti menangis,” ujarnya dilansir dari laman ifoundislam, pekan lalu.


Momen ini tak pernah akan dilupakannya. ”Saat itu, saya memandang lekat mata indah anak perempuan saya, dan saya merasa yakin tentang keberadaan Allah,” kata pria Amerika ini.


Latar belakang keluarga Craig sebenarnya adalah Kristen yang taat. Saat berusia 12 tahun, ia punya cita-cita untuk menjadi pastor.


Semua kesehariannya fokus pada cita-cita tersebut, banyak membaca buku, dan bertemu ahli agama Kristen. Alkitab selalu dipelajarinya secara nonsteop, dibawa kemana pun dan dibacanya berkali-kali.


Ia lahir di Indianapolis, negara bagian Indiana, kemudian besar di daerah Hamilton. Selama itu, tak pernah ia bersentuhan langsung dengan Islam.


Hingga akhirnya, ia bertemu seorang mualaf di tempat kerjanya, enam bulan sebelum kelahiran putrinya. Mereka kemudian banyak berbincang tentang Islam.


Sang mualaf tersebut tidak pernah bermaksud untuk mengajak, apalagi memaksa Jared agar masuk Islam. Obrolan mereka kebanyakan bersifat ringan, diiringi gelak tawa, layaknya mengobrol bersama dengan teman lainnya.


Dalam setiap obrolan tersebut, ia mendapatkan gambaran tentang Islam. Sebuah hal yang tidak pernah dikenalnya sejak ia kecil.


Ketika kecil saat ia rajin membaca buku-buku agama, ia tak pernah mendapatkan informasi tentang Islam. Agama lain seperti Buddha, Hindu, ia pernah tahu. Namun Islam, baru ia dengar sekarang.


Selain kurang informasi, ia sendiri sangat jarang bertemu dengan orang yang beragama Islam. Justru, di Amerika semua media, baik televisi maupun surat kabar, terkesan memusuhi Islam dan selalu menjelek-jelekkannya.


Temannya ini membuka matanya pada Islam. Ia pun punya kesimpulan Islam dan Kristen sebenarnya sangat mirip, hanya ada beberapa perbedaan esensi di antara keduanya.


Kemudian, temannya yang mualaf itu pindah. Ia pun merasa kehilangan. ”Walau ia telah jauh, tapi kami terus berhubungan,” katanya.


Di saat ia merasa kehilangan seorang teman yang membuka wawasannya tentang Islam, ia pun mempertanyakan imannya. ”Saya ingin lebih yakin pada keberadaan Tuhan,” ujarnya.


Perang batin ini membuatnya frustrasi. Ia muak dengan semua dokumentasi yang menjelek-jelekkan Islam. Padahal, ia mulai mengagumi Islam, salah satunya adalah cara ibadahnya yang menyembah pencipta-Nya (ini berarti sikap sujud ketika shalat).


Lama kelamaan, ia justru melihat sisi jelek dari agama yang selama ini ia anut. Ia pun mulai membandingkan. Ia merasa dia tidak sesuci umat Islam. Bahkan, ia iri dengan umat Muslim yang bisa setaat itu pada Tuhannya.


Ia hanya ingin menjadi manusia yang taat dan bisa percaya pada Tuhannya dengan sepenuh hati. Namun, ia tidak tahu harus mencari informasi yang menenteramkan jiwanya ke mana lagi.


Dalam kebimbangannya ia merasa mendapatkan jalan buntu. Ia bahkan ditinggalkan oleh calon istrinya, mengalami kesulitan keuangan, dan ia pun menjadi pengangguran.


Ia sadar, saat itu tak ada lagi yang peduli padanya. Padahal, selama ini ia telah bekerja keras untuk menjadi seorang penganut Kristen yang baik.


Ia pun frustrasi dengan hal ini dan saat itu hatinya berkata untuk mulai mencari tahu tentang Islam. Ia mengunjungi Masjid Al Huda dan bertemu dengan beberapa kaum Muslim di sana.


Selama dua hari, ia banyak berbincang tentang Islam. ”Mereka mengatakan kepada saya, betapa pentingnya menjadi seorang Muslim,” katanya.


Di sana ia juga diperlihatkan sebuah Alquran dan ia terkejut ternyata kisah lahirnya Yesus dijelaskan. Di sanalah ia mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, terorisme yang dilakukan ternyata tidak dibenarkan oleh Alquran.


Sepulangnya dari tempat tersebut, justru ia bertambah galau. Ia pun pergi ke gereja dan mengajukan banyak pertanyaan pada pendetanya.


Sang pendeta tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan berdasarkan Alkitab. ”Ini sangat berbeda dengan Alquran di mana semua jawaban atas pertanyaan saya ada di sana,” ujarnya.


Alquran, menurutnya, bisa memberikan jawaban dengan cara yang masuk akal. ”Saya masih ingin lebih banyak bukti dan lebih banyak bukti lagi yang meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang tepat bagi saya,” katanya.


Satu hal lagi yang memantapkan hatinya adalah konsep politik dan kepemimpinan dalam Islam. Selain itu, seringnya ia bertemu dengan orang Muslim membuat kedekatan antarsesama Muslim ini seperti saudara. ”Saya pun mantap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,” katanya.


Gugup. Itu yang ia rasakan sebelum bersyahadat. Apalagi, kesaksiannya masuk Islam disaksikan orang banyak.


Namun, setelah dua kalimat syahadat terlontar dari mulutnya, ia langsung merasa berbeda. ”Saya merasa benar-benar tanpa dosa untuk pertama kalinya dalam hidup saya,” ujarnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/10/16/murdls-yayasan-orbit-bagikan-daging-kurban-kepada-mualaf-lautze


Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

Wednesday, June 5, 2013

Pemimpin Berhati Suci

Pemimpin Berhati Suci


(Refleksi Peringatan Israk Mikraj 1434 H)


Oleh : Muhammad Kosim


Guru MTsN di Padang


Padang Ekspres • Rabu, 05/06/2013 12:41 WIB • 84 klik


Nabi Muhammad SAW merupakan pe­mimpin ideal yang mesti diteladani oleh umat Islam. Beliau tidak saja tampil se­bagai pemimpin agama di kalangan kaum muslimin, tetapi juga sebagai pe­mimpin masyarakat yang beragam suku, agama dan bangsa.


 


Ini pula yang menjadi alasan Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW pada posisi pertama di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Ia menulis: “Muhammad bukan semata pe­mimpin agama tapi juga pemimpin duniawi.”


 


Jika ditelusuri sirah perjuangan hidupnya, setelah diangkat menjadi Nabi di usia 40 tahun, ia melalui dua fase perjuangan penting, yaitu periode Mekah dan Madinah. Pada periode Mekkah, Nabi SAW hanya berperan sebagai pemimpin agama. Selama periode ini, ia mendidik aqidah dan spiritual para sahabatnya sebagai modal utama untuk menjalankan kepemimpinan di masa mendatang.


 


Sedangkan pada periode Madinah, Nabi Muhammad SAW memiliki peran ganda: sebagai pemimpin agama se­ka­ligus pemimpin duniawi. Sebagai pe­mim­pin duniawi, Nabi SAW tidak saja me­mim­pin umat Islam, tetapi juga ma­sya­ra­kat Madinah yang plural; lintas agama dan suku bangsa. Pada periode Madinah inilah kepemimpinan Nabi SAW men­ca­pai puncak kejayaannya dan menjadi mo­del bagi umat Islam khususnya, di masa-ma­sa sesudahnya.


 


Perlu dicatat, sebelum hijrah ke Ma­dinah, Nabi SAW terlebih dahulu me­nga­lami peristiwa Israk Mikraj. Peristiwa pen­ting ini sebagai prasyarat yang harus di­­l­alui Nabi SAW sebelum menjalankan pe­rannya sebagai pemimpin umat pada pe­riode Madinah.


 


Apa hubungan antara Israk Mikraj dengan kepemimpinan Nabi SAW? Peristiwa israk mikraj merupakan puncak per­jalanan seorang hamba (al-abd) me­nuju sang pencipta (al-Khalik). Israk Mikraj adalah perjalanan menuju ke­sem­pur­naan ruhani (insan kamil). Para sufi pun memandang perjalanan ini sebagai per­jalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Per­ja­la­nan meninggalkan orientasi materi ke­pa­da orientasi kesempurnaan hidup.


 


Bahkan beberapa riwayat men­jelas­kan bahwa sebelum Rasulullah SAW me­la­ku­kan perjalanan, dadanya dibedah untuk disucikan. Kesucian hati ini men­ja­di modal yang amat penting untuk bisa “ber­temu” dengan Allah Yang Mahasuci.


 


Dalam peristiwa tersebut juga di­ri­wa­yat­kan bahwa beliau ditawari susu dan khamar, lalu ia memilih susu. Di­ka­ta­kan­lah pada beliau: “Engkau telah di­anu­ge­rah­kan fitrah. Jika engkau mengambil kha­mar, berarti engkau menyesatkan umat­mu.”


 


Jadi, peristiwa Israk Mikraj adalah me­ng­gambarkan puncak spiritual Nabi SAW sehingga dikemudian hari ia men­ja­di pemimpin yang berhati suci. Inilah kunci keberhasilan Rasulullah me­mim­pin masyarakat Madinah. Tidak pernah ter­besit di hatinya untuk disanjung, di­puja, dan dihormati sebagai penguasa lak­sa­na raja. Ia juga tidak pernah benci apalagi menyakiti orang-orang yang tidak se­­paham dengannya.


 


Kecuali itu, ia bisa berubah menjadi tentara yang kuat ketika musuh-mu­suh­nya datang menyerang. Tetapi ketika musuh itu tertawan, ia tetap mem­per­la­ku­kan­nya dengan baik tanpa pernah mem­bujuk dan memaksa mereka agar ma­suk Islam.


 


Ia malah bersabda: “Takutlah kepada doa orang yang dizalimi walau pun dia orang kafir, karena pada saat itu tidak ada hijab baginya.” Hadis ini merupakan wa­siat bagi pemimpin agar tidak berlaku zalim, walaupun kepada musuh sendiri.


 


Allah juga menegaskan: Dan ja­nganlah sekali-kali kebencianmu ter­ha­dap sesuatu kaum, mendorong kamu un­tuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, ka­rena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, se­sung­guh­nya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al-Maidah/5: 8).


 


Dalam konteks kekinian, pemimpin hari ini sejatinya meneladani ke­pe­mim­pinan Nabi SAW. Seorang pemimpin mes­ti berhati suci. Syarat utama yang mes­ti dimilikinya adalah memiliki aqidah yang kokoh. Lebih 12 tahun Nabi SAW berjuang untuk membina dan mem­per­kokoh aqidah diri dan para sahabatnya pada periode Mekkah. Setelah itu, ba­ru­lah ia menjadi pemimpin umat di Ma­dinah.


 


Jika aqidah goyah, maka ia akan mu­dah tergoda dengan kenikmatan duniawi yang semakin mudah diperoleh jika diberi we­we­nang mengendalikan kekuasaan. Ia Cen­derung menghalalkan segala cara un­tuk meraih kenikmatan sesaat itu. Meski me­langgar hukum, jika aqidah goyah, pe­ne­gak hukum bisa dikelabui, saksi dan ba­rang bukti bisa saja dilenyapkan.


 


Se­baliknya, ketika aqidah kokoh, ma­ka dirinya senantiasa merasakan pe­nga­wa­san Allah. Meski ia diberi peluang un­tuk melakukan tindak kejahatan dan dipastikan tidak ada orang yang me­nge­tahuinya, tetapi keyakinannya pada pe­nga­wasan Allah membuatnya tidak be­rani melakukan praktik melanggar hu­kum tersebut.


 


Karena itu pula Syekh Sulaiman ar-Ra­suli dalam kitabnya “Asal Pangkat Peng­hulu dan Pendiriannya” me­ne­gas­kan bahwa penghulu atau pemimpin yang se­benarnya adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu mengurus persoalan akhi­rat dan duniawi. Hal itu diteruskan oleh khalifah yang empat. Setelah itu, tidak lagi terhimpun siyasah dunia dan akhirat pada satu orang. Tetapi urusan du­niawi dipimpin oleh umara, raja, kha­lifah atau semacamnya, sedangkan u­ru­san akhirat dipimpin oleh ulama.


 


Untuk itu, antara umara dengan u­lama harus sejalan. Sulaiman ar-Rasuli me­nye­but: “Kedua orang itu umpama orang yang melayarkan kapal. Seorang ja­ga haluan dan seorang jaga kemudi, kalau ke­duanya ada sepakat alamat pelayaran akan sampai dan si penumpang akan se­la­mat, dan kalau keduanya bersalahan tan­da pelayaran tidak akan sampai dan si penumpang akan dapat kecelakaan.”


 


Dalam sejarah Minangkabau, dikenal pula “Sumpah Sati Sumpah Satie Bukit Ma­rapalam,” yang mendamaikan antara adat dan agama. Salah satu rumusan da­lam sumpah sati itu adalah “Alim­ ulama­memfat­wakan­ dan­ Pang­hulu­ ma­ma­rintah­kan.”


 


Ini menunjukkan bahwa seorang pe­mim­pin tidak mesti dari kalangan ulama atau yang memiliki keilmuan di bidang tafaqquh fi al-din secara mendalam. Akan tetapi, seorang pemimpin harus men­dekati ulama untuk meminta fat­wa­nya.


 


Ahli hikmah pernah berkata: “Se­bu­ruk-buruk ulama ialah ulama yang men­dekat dengan umara, dan sebaik-ba­ik umara adalah yang mendekat dengan ulama.”


 


Na­mun kedekatan pemimpin dengan ula­ma bukan untuk dipolitisir, diperalat, atau mencarai simpati banyak orang. Te­tapi kedekatan pemimpin dengan ulama adalah untuk meminta fatwa, men­jadi­kan­nya guru, sehingga langkah dan arah sang pemimpin tetap berjalan sesuai de­ngan hukum-hukum Tuhan.


 


Sebaliknya, seorang ulama dilarang mendekati penguasa karena di­kha­wa­tir­kan ia akan diperalat. Namun ulama juga ti­dak dilarang menjadi penguasa, tetapi ke­u­lamaannya tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Ke­ula­maan­nya sejatinya memberi arah ke­bi­ja­kan­nya dalam memimpin dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip ke­adi­lan.


 


Dengan demikian, pemimpin yang ber­hati suci adalah pemimpin yang se­nan­tiasa dekat dengan bimbingan para ula­ma yang berhati suci pula. Hatinya se­nan­tiasa bergetar ketika melihat ke­mis­kinan, kebodohan dan penderitaan rak­yatnya. 


 


Itulah yang dicontohkan oleh Ra­su­lul­lah SAW. Ia tidak pernah membentak orang-orang yang dipimpinnya. Ia sangat sa­yang dan mencintai banyak orang; tidak den­dam dan tidak pula dengki.


 


Bahkan ia dikenal sebagai seorang in­ter­preneur yang sukses, namun hartanya di­habiskan untuk memperjuangkan ke­benaran, menampilkan Islam sebagai rah­matan lil-‘alamin, dan mengabdikan diri untuk keadilan dan kemakmuran rak­yat­nya.


 


Ia tidak pernah menginginkan, apa­lagi meminta jabatan. Bahkan ketika Abu Lahb bersama pembesar Quraisy lainnya, melalui Abu Thalib, menawarkan ke­pa­da­nya harta, tahta dan wanita untuk meng­hentikan dakwahnya, dengan tegas ia menolaknya dan berkata: “Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan ka­nan­ku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan me­ning­galkannya.”


 


Sifat ini pula yang harus dimiliki oleh pe­mimpin di negeri ini. Jangan sekali-kali me­lakukan money politic karena akan be­ru­jung pada penindasan terhadap rakyat kecil demi mengembalikan uang yang su­dah dihabiskan sebagai kos politik.


 


Abbas Muhammad al-Aqqad dalam bu­kunya: “Kejeniusan Rasulullah SAW” men­ceritakan tentang kepemimpinan Nabi SAW. Di antaranya, ketika kaum mus­limin menggali parit (khandak) di se­kitar kota Madinah, beliau pun ikut serta da­lam pekerjaan itu. Ia dekat dengan kalangan mustadh’afin, sehingga me­na­se­hatinya para sahabatnya: “Carikan aku orang-orang yang lemah sesungguhnya yang membawa rezeki dan pertolongan ka­lian adalah orang-orang yang lemah (mustadh’afin).”


 


Kisah ini mengajarkan kepada pe­mim­pin yang berhati suci melayani bukan di­layani, turut berjuang bersama rakyat dan merasakan beban mereka, bukan si­buk menebar citra menarik simpati tapi me­meras keringat dan abai terhadap pen­de­ritaan mereka.


 


Lalu bagaimanakah untuk mengasah dan membersihkan hati agar tetap bening dan suci?


 


Ibn ‘Athaillah dalam kitab Bahjat an-Nufus menulis: “Kalbu/hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca al-Qur’an, disertai tadabbur, duduk bersama pa­ra ulama dan orang-orang mukmin, men­jaga diri dari melihat sesuatu yang mu­bah, memelihara diri dari yang ter­la­rang dan makruh, serta cemas terhadap se­gala maksiat.”


 


Peringatan Israk Mikraj Nabi Mu­ham­mad SAW 1434 H ini seyogyanya menjadi momentum bagi kita untuk men­cari, menemukan, memilih dan mem­perjuangkan pemimpin yang ber­hati suci, dengan tetap mengharap pe­tunjuk dan bimbingan Allah Yang Ma­ha­suci. Jangan pernah mendukung pe­mim­pin yang berhati kotor; hanya berorientasi pada kepentingan dunia dan menghalal­kan se­gala cara. Wallahu a’lam.(*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/05/30/mnlg54-yulio-muslim-da-costa-mualaf-hafal-alquran-30-juz-bagian2


Pemimpin Berhati Suci

Sunday, July 28, 2013

Namanya Jastin Bibiaq

JASMANIZAM Basri. Kalau dicetak nama ini pada sebahagian judul berita utama pasti tidak ramai pembaca akan segera merengkuh helaian akhbar ke bola mata. Juga mustahil membuatkan para penonton berita perdana jam 8.00 malam untuk berterusan mengangkat kelopak mata agar tidak berkelip atas sebab cakna dengan jejaka berumur 30-an ini.


Namun keadaan berbeza sejurus Jastin Bibiaq diangkat menjadi nama komersialnya. Jasmanizam Basri kini bukan lagi nama asing dalam gelanggang hiburan tanah air. Nama mirip seorang penyanyi remaja Amerika Syarikat ini berpasak teguh di laman hati peminat muzik tempatan.


Fenomena Jastin Bibiaq (atau akronimnya JB) telah melanda seantero negara dengan begitu dahsyat. Sudah sebelas minggu, tepatnya. Seiring dengan jangka masa berlangsungnya program realiti televisyen berkonsepkan nyanyian yang memperkenalkan Jastin Bibiaq sebagai salah seorang peserta.


Di laman web carian internet tempatan, sebaik huruf J ditekan berbelas-belas cadangan carian berkaitan Jastin Bibiaq tersenarai secara automatik. Halaman-halaman media sosial yang menawarkan tempat untuk para peminat berkomunikasi juga menjelata muncul. Remaja lelaki pula tergila-gila mahu mengikuti fesyen rambut ‘sikat tepi’ JB yang kemas, meskipun suatu ketika fesyen sebegini dianggap tidak selari dengan gaya hidup kontemporari.


“Abang Jas, bersedia ya. Giliran abang tak lama lagi.” Seorang petugas yang sedang mundar-mandir berhenti mengejut di hadapan Jastin sebelum berlalu pergi. Jastin hanya terkerising.


Jastin menundukkan pandangan ke lantai. Jubah kemurungan menyerkup semula tampang senyum yang dibuat-buatnya sebentar tadi. Sejak kemasukannya ke rancangan ini sebelas minggu lalu, mainan perasaan sentiasa mengapung berat di atmosfera hatinya.


“Tugas kau adalah seorang guru sekolah agama. Bukankah menceburi bidang muzik mencemar nama baik sekolah?” Suara pengetua tempat dia mengisi cangkir rezeki bertandang kembali. Entah kali yang keberapa. Semenjak dia terpilih menjadi 12 peserta rancangan realiti TV tersohor negara, suara tuan pengetua bagai bisikan kekasih yang menemaninya setiap detik. Tidak pernah lekang bait-bait perbualan (atau perdebatan) itu daripada lohong pendengarannya.


“Bidang muzik juga memerlukan orang beragama untuk membetulkan apa jua kesalahan. Jika dibiarkan bidang ini dipelopori oleh orang biasa, sampai bila kemungkaran di dalamnya akan dapat diselesaikan?” Jasmanizam tidak berniat melebarkan hujah. Cukup satu dua ayat yang ringkas tetapi sarat dengan makna.


“Menggadaikan maruah untuk menjadi tumpuan masyarakat. Dikelilingi gosip liar dengan puluhan wanita. Tak perlu mencari masalah baru, Jas. Masalah disiplin dan prestasi merudum akademik pelajar di sini masih tak menang tangan kita nak urus.” Tuan pengetua kekal dengan pendiriannya. Jasmanizam tetap tidak boleh dilepaskan pergi untuk menyertai rancangan realiti TV terkemuka itu.


Bukan soal bakat atau kemampuan, tapi soal maruah. Tuan pengetua punya rangkaian hujah tersendiri.


“Bukankah Islam ada garis panduan tersendiri dalam hiburan? Berapa ramai manusia mendapat hidayah dengan mendengar lagu-lagu ketuhanan daripada penyanyi-penyanyi beragama Islam? Bukankah ini peluang untuk menjadikan agama kita disebarkan dengan lebih meluas, bukan sekadar kepada pelajar-pelajar di sekolah kita malah kepada masyarakat umum yang selama ini tidak pernah sedikit pun terdedah dengan keindahan ajaran Islam yang sebenar.”


Gemuruh tepukan penonton memancang khayalan Jastin di tanah realiti. Tidak sempat untuk dia menyelongkar almari ingatan, menjejak kembali hujah balas tuan pengetua untuk kenyataan dan soalan retoriknya yang panjang lebar. Kini tiba giliran peserta ketiga, Idayu Herman melangkah ke pentas utama. Sebagai gelanggang akhir, peserta harus menyanyikan dua buah lagu. Satu lagu baru ciptaan komposer mapan tempatan manakala satu lagi mana-mana lagu sedia ada yang bersesuaian.


Jeritan penonton menggegarkan bumbung stadium tertutup berkapasiti 23 ribu orang di ibu kota ini. Namun tidak sekuat gegaran yang kerap melanda jantung Jastin semenjak menandatangani surat pengesahan untuk menyertai rancangan ini.


“Apakah ini jalan terbaik untukku menegakkan agamaMu?” Acap kali pertanyaan seumpama ini berlegar sekitar perdu rasional di akalnya. Dia mengerti, perjuangan dengan kaedah populariti ini bukan sesuatu yang mudah. Bila-bila masa sahaja, sifat ujub mampu menendangnya keluar dari landasan keredaan Ilahi.


“Atau aku tersilap membuat perhitungan, ya Allah?” Ombak perasaan Jastin terus membusa ganas.


Dakwah


“Cubalah, Jas!”


Jasmanizam sekadar menghadiahkan senyuman. Buku nota pelajar lebih menggamit perhatiannya berbanding manusia berkumis tipis bernama Zamri.


“Bukan kena bayar, lagipun mudah pelajar kau nak berhubung sewaktu cuti sekolah.”


Jasmanizam membisu jua.


“Di Malaysia sekarang tak ada akaun Facebook macam tak ada surat beranak, kau tahu!” Zamri berlelucon dalam usaha meyakinkan Jasmanizam akan pentingnya media sosial darsawarsa ini. Dia akur rakan sekolahnya itu sememangnya ketinggalan dalam soal teknologi terkini.


“Dakwah kau pun akan berkembang dengan lebih hebat, kau tahu?”


Jasmanizam mengangkat kening. Mata dikalih daripada buku-buku nota pelajar di atas meja bilik guru ke arah Zamri yang sedang tersengih-sengih. “Dakwah yang bagaimana pula tu?”


Zamri mengeluarkan telefon berteknologi kanta sentuh sebesar telapak tangan daripada saku seluar. Disentuh pada ikon biru sederhana gelap bertulis ‘Facebook’, langsung cekatan jarinya menari-nari di atas skrin bagi menaip aksara di ruangan ‘carian’. Tak sampai beberapa saat, satu halaman dipenuhi himpunan kata-kata hikmah dan potongan ayat Al-Quran beserta ulasan ulama-ulama terkenal memenuhi segenap skrin telefon.


“Hebat betul!”


“Sambil-sambil mengajar di sekolah, tak salah pun kau menerokai teknik dakwah menerusi media sosial. Kaedah ini lebih berkesan untuk mendekati jiwa anak-anak muda.”


Kenyataan Zamri memadai untuk semangat Jasmanizam mengejuju naik ke angkasa. Dia tidak pernah tahu-menahu akan kehebatan Facebook sebagai medium komunikasi serba canggih untuk tujuan menyampaikan ilmu. Profil milik sendiri kemudiannya dicipta dengan bantuan Zamri.


“Hasil tunjuk ajarku tidak lagi semata-mata di darjah. Alhamdulilah.” Dia berbisik penuh suka. Platform penyampaiannya kini bercambah.


Namun kesukaan itu tidak sampai ke mana. Setelah menulis satu ulasan mengenai kelebihan solat berjemaah, hanya satu ‘suka’ dan tiada komen dipunyai tulisan itu – menandakan bilangan pengguna Facebook yang menerima penyampaiannya terlalu sedikit.


“Kau harus ramai followers terlebih dahulu.” Zamri menerangkan faktor penyampaian Jasmanizam kurang mendapat sambutan. Jasmanizam mengerti setelah menyemak senarai rakan maya yang hanya seramai 15 orang.


Jangan asyik leka di Facebook sampai lupa bersolat, rakan-rakanku!


Satu tulisan yang dikongsi salah seorang rakan maya terpampang di muka hadapan. Dia kenal penulis coretan ringkas itu, seorang pendakwah terkemuka yang sering muncul dalam rancangan motivasi pagi di saluran televisyen swasta. Butang kiri tetikus ditekan sejurus anak panah berada tepat di atas tajuk tulisan tersebut.


“Hampir sepuluh ribu ‘suka’ dan beratus-ratus kali dikongsi? Wah benar-benar mengujakan! Mudah dan berkesan pula tu.” Jasmanizam kagum. Betapa tulisan sembilan patah perkataan itu mampu mengirimkan peringatan kepada ribuan manusia yang sedang ralit menerokai halaman Facebook.


Kau harus menjadi popular. Demi menaikkan martabat agama dan menyampaikan ajaran yang kau punyai.


Entah macam mana idea ini melintas di persimpangan hati. Mengarut, tak masuk akal dan keanak-anakan. Usah bermimpi menjadi popular kalau sekadar menjadi guru di sekolah agama ceruk buana. Jasmanizam mentertawakan diri sendiri.


“Abang Jas, lagu Always Be There atau Aku Seorang Pendosa dahulu akan dipersembahkan? Maaf saya mahu memastikan buat kali kedua.” Petugas sama menegur kalut Jastin sekali lagi. Jastin terpinga-pinga sejurus tersedar daripada jelajah minda. Setelah jawapan diberikan, petugas itu dengan lekas menghubungi rakan petugas lain menggunakan alat walkie-talkie lalu beredar pergi.


Tatkala peserta lain berkumpul di bilik persediaan untuk raptai terakhir, Jastin memilih untuk bersendirian di satu sudut belakang pentas. Dia perlu bertafakur sejenak, memikir kembali hala tuju asalnya bertukar profesion daripada seorang guru di sekolah agama kepada seorang penyanyi.


“Sudah menjadi popular nanti tentunya ajaran agama entah ke mana. Resmi orang hebat, naik ke langit terus lupa bumi, lupa Maha Pencipta!”


“Agaknya bosan mengajar di kampung begini. Memanglah, gaji sedikit. Siapa tak tertarik dengan wang lumayan dan populariti?”


Kata-kata teman pengajar di sekolah umpama das-das tembakan padu daripada pistol mesin yang bertubi-tubi menembusi hatinya. Ah, kalian tak akan pernah faham apa kepentingan untuk menjadi popular dalam menyampaikan idea-idea! Jastin menggeleng-geleng pantas.


Segala-galanya bermula dengan uji bakat program realiti TV yang dihebahkan kepadanya oleh Zamri. Zamri kenal Jastin, bekas johan nasyid kebangsaan yang punya suara lunak dengan kebolehan mengawal pitching nan menakjubkan.


“Ini peluang keemasan untuk kau menjadi ikon masyarakat dengan cara kau tersendiri! Aku pasti dengan keazaman dan ilmumu, kau bakal menjadi seorang artis yang cukup berbeza. Kau bakal mengubah persepsi peminat-peminat hiburan, terutamanya anak muda.” Jastin merasakan Zamri seakan-akan sedang mencacang di hadapannya sekarang.


Jastin sememangnya punya perbezaan ketara dengan peserta lain. Dia meletakkan syarat untuk tiada penari wanita bersamanya di atas pentas. Lagu-lagu yang dipersembahkan juga disaring dengan teliti terlebih dahulu. Walaupun pada awalnya perseteruan dengan penganjur timbul, namun akibat fenomena JB telah menjuak status rancangan realiti TV itu ke tahap tertinggi, pihak penganjur terpaksa akur dengan kemahuan Jastin.


“Hanya Kau yang mengetahui pucuk pangkal perjuanganku, ya Rabb!”


Populariti


Lagu suspen dimainkan orkestra. Bila-bila masa sahaja nama pemenang rancangan realiti TV nyanyian nombor satu Malaysia itu akan sampai ke telinga para hadirin di stadium dan berjuta-juta peminat yang menanti di hadapan skrin televisyen.


“Tak lain tak bukan, Jastin Bibiaq!” Serentak pengacara lelaki berambut emas dan gandingannya, seorang pengacara wanita muda remaja menjerit. Reben dan belon beraneka warna menghujani pentas.


“Kita jemput Jastin ke hadapan untuk menerima trofi dan memberikan sepatah dua kata. Dengan segala hormat dipersilakan!”


Jastin maju ke hadapan perlahan-lahan. Jutaan anak mata kini tertumpu kepadanya. Teriakan penonton melantun-lantun di segenap penjuru. Atma Jastin tenang, tidak dirasakan satu kemegahan sekumin pun dengan sorakan penonton. Dia benar-benar takut dengan kemunculan rasa riak dalam keadaan disanjung sedemikian rupa.


“Inilah waktunya!” Jastin bermonolog sambil menyambut mikrofon tanpa wayar yang dihulurkan pengacara berambut emas.


“Gunakan populariti kurniaan Allah sebaiknya!” Dia terhimbau pesanan ringkas Zamri.


Jastin menghela nafas dengan gontai. Aku menjadi tumpuan seluruh masyarakat pada saat ini. Inilah masanya! Jangan bazirkan peluang! Sukma Jastin membentak kasar meski air muka tetap kelihatan selamba.


Jastin berdehem beberapa kali. “Bersyukur ke hadrat Ilahi atas kurniaan ini. Saya ucapkan terima kasih atas sokongan para peminat.”


Tepukan bergemuruh lagi. Tiada apa mengujakan melainkan ucapan tipikal seorang artis yang memenangi anugerah.


“Saya mengambil kesempatan ini untuk mengajak para peminat saya yang beragama Islam untuk mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuhnya. Janganlah asyik kita dilalaikan dengan hiburan sehingga lupa tujuan asal kita diciptakan di muka bumi ini. Ingatlah, kematian itu pasti akan mengunjungi setiap seorang daripada kita, sama ada yang senang menonton rancangan ini atau pun tidak.” Jastin memadatkan sebaik mungkin butiran penyampaian kepada sekalian penonton.


Suasana stadium tertutup kemegahan negara itu khali. Mulut penonton sama ada di stadium atau di hadapan kaca TV masing-masing terpelahang dengan apa yang didengari.


“Semoga kita terus beramal dengan al-Quran dan sunnah Rasullah. Terima kasih penganjur memberikan peluang untuk saya sampai ke sini. Sekarang saya harus kembali ke kerjaya asal saya sebagai seorang guru sekolah.” Jastin meletakkan mikrofon di atas lantai dan menonong keluar menerusi pintu kecemasan. Penonton keliru mahu menunjukkan reaksi yang bagaimana. Masing-masing terpempan dengan teguran ikon baru muzik tanah air itu.


Jastin menggalas beg lembik berisi pakaian lalu bergerak meninggalkan hotel mewah tempat dia menginap sekian lama. Kontrak sebagai peserta rancangan realiti TV tersohor itu kini tamat. Langsung dia mengungsi tubuh ke stesen bas ekspress di tengah ibu kota.


Jastin berhenti sebentar di kafe siber berhampiran stesen bas sejurus selesai membeli tiket pulang ke utara semenanjung. Halaman Facebook miliknya yang lama tidak disemak menjadi arah tuju. Lebih dua ratus mesej peribadi menanti untuk dibaca di pautan inbox. Satu per satu dibacanya dengan lekas:


Terima kasih Abang Jas, benar-benar membuka mata saya untuk berusaha mencari hidayah Allah – Jack Drummer, Seremban


Kami sekumpulan ingin berguru dengan abang. Kagum dengan lagu ciptaan abang, Aku Seorang Pendosa. Liriknya benar-benar menyentuh perasaan – Rockers Mandin, Butterworth


“Alhamdulilah, Kau telah beriku peluang untuk manfaatkan bakat kurniaanMu.” Jasmanizam memanjat rasa syukur.


Teriakan konduktor bas memanggil penumpang kedengaran jelas. Jastin harus segera pergi meskipun masih ratusan mesej peribadi belum sempat dibacanya.


Tugas sebagai seorang Jastin Bibiaq telah berakhir. Dia bakal kembali ke kehidupan asal. Bukan lagi sebagai Jastin Bibiaq tetapi Jasmanizam Basri, seorang guru sekolah agama.



Article source: http://www.tribunnews.com/2013/07/11/artis-mualaf-ini-kerap-ditegur-terlambat-salat-jumat


Namanya Jastin Bibiaq

Sunday, April 28, 2013

Muslim AS Bantah Peluk Islam Karena Cuci Otak

REPUBLIKA.CO.ID, BOSTON–Populasi Muslim AS setiap tahunnya terus bertambah. Namun, selepas tragedi bom Boston, oleh pihak tertentu peningkatan populasi itu ditenggarai karena adanya aktifitas cuci otak.


Seorang mualaf Lauren Scheriber sangat menyayangkan isu tersebut. Menurut dia, isu ini mirip seperti mempertanyakan keputusan Muslim mengenakan jilbab.


Jadi, ketika Muslimah mengenakan jilbab  ada komentar yang mengatakan kebebasannya sebagai pribadi telah hilang. “Itu salah sekali. Tidak ada cuci otak, saya menjadi Muslim karena itu pilihan,” kata dia seperti dikutip AP, Ahad (28/4).


Schreiber menambahkan ia dan Muslimah lainnya lebih berkenan mendapat pertanyaan soal jilbab ketimbang muncul asumsi dibalik keputusan itu. “Saya ingin katakan kepada masyarakarkat AS, keputusan kami adalah murni pilihan bukan karena propaganda atau cuci otak,” kata dia.


Rebbeca Minor, 28 tahun, yang juga seorang Mualaf membenarkan pendapat Scheriber. Baginya, menjadi Muslim atau putusan mengenakan jilbab merupakan satu wujud komitmen. Sebuah komitmen yang mencerminkan itikad baik sebagai pribadi yang percaya terhadap ajaran Nabi Muhamamd SAW.


Berkembangnya isu itu juga menarik komentar Pakar Sejarah Islam dan Hubungan Islam-Kristen, Universitas Georgetown, Tvonne Haddad. Menurutnya, isu cuci otak itu merupakan hal yang menyakitkan. “Isu ini seolah jadi pembenaran bagi mereka yang tidak menyukai Islam dan Muslim,” kata dia.


Pendapat senada juga diutarakan Lindsey Faraj, 26 tahun. Ia mengatakan keputusan seseorang menjadi Muslim karena orang itu telah menerima konsep Islam baik melalui pikiran dan hatinya. “Konsep Islam telah memasuki hatiku,” kata dia. 


Article source: http://sumutdaily.com/hiburan/artis-a-gaya-hidup/3822-qawas-razia-wajah-gantengq.html


Muslim AS Bantah Peluk Islam Karena Cuci Otak

Sunday, December 29, 2013

Kisah Cinta Anis Matta di Hongaria

Teriknya sinar matahari di kawasan itu tak membuat warga yang sebagian membawa keluarga mereka untuk bersantai dan bersenda gurau.

Tak terkecuali bagi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Penampilan kasualnya menggunakan kaus dan kacamata hitam sempat membuat awak media yang kebetulan berada di lokasi terkecoh.


Anis tak hanya sendiri. Ia berolahraga bersama seorang perempuan, tiga orang anak laki-laki, dan seorang bayi mungil yang terlelap di dalam stroller (kereta bayi).


Pada akhirnya, wartawan pun menyadari kalau seseorang yang berlalu lalang mengitari Taman Suropati adalah Anis Matta. Berulang kali, Anis beserta sang istri dengan ramah melempar senyum kepada wartawan.


“Nanti ya, kita wawancaranya habis sepuluh putaran,” kata Anis seraya tersenyum.


Setelah sepuluh putaran mengelilingi Taman Suropati, Anis menepati janjinya untuk memenuhi wawancara awak media.


Sambil mendorong stroller, Anis bercerita tentang bayi mungil yang baru saja lahir pada September 2013 lalu. Bayi perempuan yang tampak cantik dan tidur nyenyak itu bernama Sofia Anis Matta.


Ia mengenalkan anak itu sebagai buah hatinya bersama Szilvi Fabula (28), yang berasal dari Hongaria. Szilvi adalah istri kedua Anis Matta.


“Anak saya itu ada sepuluh. Jadi, urutannya itu cewek, cewek, cewek, cowok, cowok, cowok, cewek, cowok, cewek, cewek,” kata Anis menjelaskan.


Beberapa menit kemudian, Szilvia bersama tiga anak laki-laki Anis menghampirinya. Ketiga anak-anaknya masing-masing bernama Azzam, Aiman, dan Roid. Mereka buah hati keempat, kelima, dan keenam Anis dengan istri pertamanya, Anaway Irianti Mansyur.


Dari hasil pernikahannya bersama Anaway, Anis memiliki sembilan buah hati.


Szilvia yang saat itu tampak cantik mengenakan jilbab pink berkaca mata langsung berdiri di sebelah Anis. Anis kemudian mengenang pertemuan pertamanya bersama Szilvia.


Beberapa tahun silam, Anis pernah menghadiri sebuah konferensi yang diadakan di Turki. Ia pun berpikir untuk mampir ke negara tetangga Turki, Hongaria.


Di tempat asal Szilvia itulah yang kemudian menumbuhkan benih-benih cinta Anis kepada Szilvia. Butuh waktu empat bulan bagi Anis untuk mengenal lebih dekat pribadi Szilvia.


“Kemudian dia menjadi mualaf. Dia membaca surat saya dan kita berdiskusi terlebih dahulu selama empat bulan,” imbuhnya.


Akhirnya, pada tahun 2006, mereka mengikat janji sehidup semati membangun bahtera rumah tangga.


Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/mualaf/12/04/09/m26vtc-asumsi-bimbing-afrah-alshaibani-memeluk-islam-1


Kisah Cinta Anis Matta di Hongaria

Monday, March 11, 2013

Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Judul Buku : Nomadic Heart
Penulis : Ariy
Penerbit : B-First, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : xiv + 174 halaman
ISBN : 978-602-8864-72-5
Peresensi : Sam Edy Yuswanto

Sebagai seorang traveler yang telah (dan akan terus) menjelajahi berbagai belahan dunia, ada banyak kepingan-kepingan cerita yang mencuat dari hati para traveler yang dijumpainya. Kisah teman-teman sesama traveler, bahkan cerita paling privasi mereka tertumpah di tiap liku perjalanan. Tawa, nestapa, tangis, bahagia tak ayal mengiringi tiap jengkal tanah yang dilaluinya. Itulah romantika kehidupan, bila direnungi dengan hati sebening telaga, akan membuat hidup ini jauh terasa lebih indah, berwarna, dan menjadi kita lebih bijak dalam memahami tiap inci kehidupan yang akan (atau sedang) kita lalui.

Bagi Ariy, menulis adalah proses menenangkan diri. Menulis itu kontemplasi. Dengan menulis, ia merasa sekolah tanpa henti, karena ia harus banyak membaca, banyak observasi, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dll. Menulis itu ‘curhat sempurna’ tanpa perlu traktir teman untuk mendengarkan. Menulis menjadi cara Ariy untuk berbagi kebahagiaan, berbagi perasaan menyenangkan. Buku ini memuat cerita-cerita yang dialami penulis sejak tahun 2008, saat ia pertama kali masuk komunitas ‘traveler’ dan mulai berinteraksi dengan banyak traveler dunia.
Banyak yang gagap dalam memahami isi pikiran dan filosofi hidup para traveler. Namun, penulis tak mau ambil pusing, tak memaksa orang lain untuk memahaminya. Pasti banyak sekali pertanyaan, mengapa hidup tak dibikin mudah saja? Lahir, sekolah, menikah, bekerja, lalu mati (hal x).

Sejujurnya, penulis sendiri tak terlalu mengerti apa sebenarnya yang membuatnya (dan para traveler lain) tak pernah berhenti bergerak. Mengapa ia lebih memilih berpayah-payah tersesat dan bukan duduk nyaman di sofa menonton televisi sambil ngemil pisang goreng hangat. Tapi yang pasti, ia dan sesama traveler lain seperti berada dalam frekuensi yang seirama. Saat bertemu, mereka saling menyelami, melengkapi, dan berbagi banyak hal. Dalam tiap perjalanan, ada banyak pelajaran penting yang ditemui, baik dari kisah hidup para traveler itu sendiri, maupun dari lingkungan yang mereka kunjungi. Benar kata orang, traveling adalah persoalan proses dan bukan lagi melulu soal destinasi. Traveling adalah sebuah proses memperkaya hati (hal xi).
Banyak orang bertanya, aku sedang menuju ke mana? Melakukan perjalanan beribu mil jauhnya hanya demi satu pertanyaan, apakah hidupmu sudah benar? Mengira di luasnya dunia akan tersedia semua jawaban atas persoalan hidup. Sedikit yang menyadari, bahwa aku sedang tidak menuju ke mana-mana. Aku bahkan mungkin tidak menyadari, bahwa aku sedang bertanya pada diriku sendiri (hal 11-12).

Ariy memilih resign dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Keputusannya itu segampang membalikkan telapak tangan. Sementara di luar sana mungkin ribuan bahkan jutaan orang tengah berjuang mendapat posisi seperti dirinya yang seorang jurnalis. Keputusannya tentu bukan atas dasar emosi. Itu keputusan terbijak menurutnya, yang merupakan hasil perenungan termatang satu tahun terakhir dan satu bulan perjalanan mengelilingi Thailand dan beberapa negara lainnya. Perusahaan tempat ia bekerja sudah tak membuatnya merasa nyaman untuk tinggal lebih lama. Meski di sisi lain, banyak orang bertahan lama kerja di perusahaan tersebut karena banyak alasan. Butuh uang menjadi alasan utama, yang bila dipaparkan lagi akan ada serentet alasan lain bahwa mereka harus membayar cicilan rumah, menghidupi keluarga, status sosial, dll. Namun pada prinsipnya, setiap orang tentu memiliki alasan atas keputusan dalam hidupnya, sebagaimana Ariy, memilih mundur dari perusahaan karena telah merasa nyaman dengan rutinitasnya sebagai traveler. “Aku percaya, di mana aku merasa nyaman, di sanalah seharusnya hatiku berada” ucap Ariy (hal 13-17).

Banyak kisah menarik dalam tiap perjalanan penulis, seperti ketika ia bertemu dengan Monica, gadis kulit putih bermabut pendek yang mengarungi samudera membentang dunia untuk melipur hatinya yang tengah terluka setelah putus dengan sang pacar. Tentang pertemuannya dengan Paul, cowok ganteng rendah hati penyuka traveling sekaligus artis terkenal di Thailand, yang dengan sukarela mau memberi tumpangan tempat tinggal, pertemuannya dengan John Doe, si “Topan Badai” yang suka mengumpat dan marah-marah, hingga pertemuannya dengan Duco, pemuda sopan berwawasan luas, mahasiswa kedokteran dari Belanda, yang tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Satu hal yang mencengangkan Ariy, Duco terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah gay. Meski begitu, Duco bilang bahwa dunianya tak melulu tentang gay. Dan inilah jawaban Duco saat Ariy bertanya; apakah kamu bahagia, Duco?

“Selama aku bisa bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, sebagai dokter bagi mereka yang membutuhkan jasaku, menjadi guru bagi mereka yang membutuhkan pengetahuanku, dan menjadi teman bagi mereka yang menginginkanku, maka selama itu pula aku akan bahagia,” ujar Duco sambil tersenyum (hal 116-123).  
***
Diresensi oleh Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen.






Article source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/514277/


Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Thursday, January 30, 2014

Pendeta Indrianto: Perkenankan Saya Ucapkan Assalamualaikum

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Pendeta Indrianto, yang hadir sebagai pembicara dalam Bincang Senja, membuka diskusi tentang masa depan keberagaman Yogyakarta dengan mengucapkan assalamualaikum.


Namun, sebelum mengucapkan salam itu, pendeta lulusan Univesitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta ini, meminta izin kepada pemeluk agama Islam yang hadir. Sebab, dia mengaku sering kali ditegur ketika mengucapkan assalamualaikum.


“Saudaraku yang memeluk agama Islam, saya meminta izin, bolehkah mengucapkan salam dengan assalamualaikum?” tanya Pendeta Indrianto kepada peserta acara Bincang Senja yang Muslim, Kamis (30/1/2014).


Mendengar pertanyaan tersebut, secara serentak puluhan pemeluk agama Islam yang hadir dalam acara itu mengiyakan. Setelah diizinkan, Pendeta Indrianto lantas mengucapkan salam.


“Terima kasih saudaraku. Kenapa saya bertanya, sebab setiap kali mengucapkan assalamualaikum saya selalu ditegur,” katanya.


Ia mengaku, pernah ditegur oleh salah satu ormas ketika melayani korban gempa di Klaten karena membuka pembicaraan dengan assalamualaikum.


Tak hanya nonformal, ketika menghadiri acara formal kecamatan pun, ia pernah juga ditegur karena membuka sambutannya dengan assalamualaikum.


Menurutnya, membuka pembicaraan dan sambutan dengan mengucapkan assalamualaikum karena hatinya ingin membuat senang orang-orang yang disapa.


“Niat hati saya, ingin menyapa dan yang disapa itu biar senang. Kalau berpapasan dengan orang Jawa, ya mengucapkan Sugeng Siang (Selamat Siang), tentu orang yang disapa akan senang meski yang mengucapkan bukan orang Jawa,” katanya.


Tak hanya itu, Pendeta Indrianto mengaku pernah ditegur oleh pendeta-pendeta karena datang dalam acara doa yang diadakan oleh salah satu ormas Islam. Padahal kedatangannya tersebut sebagai bukti tindakan nyata akan sikap toleransi.


“Dalam ajaran kami, ketika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah pipi kananmu. Kasihilah musuhmu. Jadi ketika kekerasan dilawan dengan cinta kasih, saya yakin mereka akan berubah. Doakan saja terus sampai sadar,” katanya.


Acara Bincang Senja dengan tema “Masa Depan Keberagaman Yogyakarta” ini diadakan oleh Jaringan Gusdurian, Aour Indonesia, dan Komunitas Makaryo. Hadir sebagai pembicara antara lain Subkhi Ridho (JIMM), Elga Sarapung (interfidei), Hairus Salim (LKIS), dan Pendeta Indrianto (Pirukun).


Article source: http://www.harianterbit.com/2014/01/08/penyanyi-amerika-jennifer-grout-masuk-islam/


Pendeta Indrianto: Perkenankan Saya Ucapkan Assalamualaikum

Monday, February 11, 2013

Jadi Mualaf, Seperti Ini Cara Diego Belajar Islam

Jadi Mualaf, Seperti Ini Cara Diego Belajar Islam

Liputan6.com, Jakarta : Empat hari sudah Diego Michiels menjadi pemeluk islam. Sebagai mualaf, Diego pun belajar banyak tentang agama barunya itu.

Jeruji besi yang mengurungnya tak jadi halangan bagi Diego untuk mengenal islam. Di dalam tahanan, ia belajar melafalkan kalimat-kalimat islam.

“Insya Allah, Nanti dipenjara dia belajar sama teman-temannya yang muslim. Belajar gerakan salat, step by step,” ungkap Nikita di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (11/2/2013). Nikita lagi-lagi mengelak kalau Diego pindah agama karena masalah yang kini membelitnya.

“Bukan karena cobaan dia pindah agama. Waktu itu kami pernah teleponan, dia bilang asalamualaikum. Dia bilang dia tumbuh sama teman-temannya di Belanda, dia sudah tahu masalah Islam, sejarah Islam. Sekarang dia lebih belajar itu lagi. Hatinya terbuka untuk pindah agama,” jelas Nikita.

Sedangkan Diego menyebut apa yang dijalani sekarang adalah proses untuk hidup yang lebih baik. “Ini adalah proses. Menjadi muslim adalah pilihan saya,” pungkas Bek kiri timnas Indonesia tersebut.(JUL/MER)

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=318419


Jadi Mualaf, Seperti Ini Cara Diego Belajar Islam