Showing posts sorted by relevance for query artinya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query artinya. Sort by date Show all posts

Saturday, January 5, 2013

Perubahan dari dalam Diri

Perubahan dari dalam Diri

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 06/01/2013 09:06 WIB • 15 klik

H. Sutan Zaili Asril

Di antara kegiatan manusia, khususnya kegiatan otak dan terlebih hati, yang sangat menguras energi adalah mendengki, bahkan dibandingkan dari ambisius dan tamak. Dengki artinya menaruh perasaan marah (karena benci dan tidak suka), karena perasaan iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain (ada istilah tak senang melihat keberuntungan oranglain/senang melihat orang gagal/tersungkur/bersalah). Hati merasa dengki dan atau mendengki, membenci perasaan karena iri hati pada orang lain/tetangga/teman sekerja—sebetulnya lebih baik energi digunakan secara positif/memilih berusaha menyamai. Kalau tamak dan ambisi pula dapat dipandang ”secara positif” karena kedua perasaan/sifat itu dapat menghasilkan/memberi hasil—hanya seringkali berlebihan dan mungkin merugikan orang lain.

 

Yang menjadi masalah, bilamana kedengkian/keben­cian/keirihatian itu menga­pung karena ketidakmampuan untuk berbuat sebaik/seting­kat orang yang didengki (orang yang menjadi sasaran keben­cian). Ada usaha memaksakan diri di atas keberdayaan men­jadi tumbuh/berkembang da­lam bentuk dengki/keben­cian terhadap orang lain/tetangga/teman sekantor yang tampil lebih baik/lebih berhasil/lebih menghasilkan/lebih sukses. Maka bentuk penyaluran ener­gi berupa kedengkian/keben­cian karena tidak berdaya itu sangat menguras energi/sa­ngat melelahkan. Sebetulnya, kita harus merasa kasihan ke­pada orang yang men­dengki/membenci karena tidak dapat berbuat/menyalurkan ener­ginya secara positif. Seringkali, orang yang marah karena men­­dengki/merasa iri hati putus asa, dan hanya dapat berharap orang yang dideng­kinya gagal/jatuh/hancur.

 

Pengalaman Cucu Magek Dirih, seringkali ia mem­per­hatikan adalah banyak orang-orang yang begitu mendengki/beriri hati padanya, tapi, Cucu Magek Dirih pula menga­bai­kannya saja. Itu karena Cucu Magek Dirih menerapkan aja­ran dari inyiaknya—dari falsa­fah silat tinggi luambek, bahwa tak semua serangan harus di­terima/ditahankan, tapi, di­biarkan lewat—hal yang mung­kin membuat orang yang ber­sangkutan menahankan hati/perasaan entah ke mana hen­dak dilepaskan/perasaan hen­dak ke mana dikatakan atau dicurhatkan. Jadi, dari penga­laman Cucu Magek Dirih, ia mengetahui ada orang yang ber­niat jahat/melakukan se­sua­tu yang jahat terhadapnya pun, maka ia memperlakukan seakan hal itu tidak ada—mengabaikannya/tidak dipi­kirkannya. Cucu Magek Dirih pun menerapkan ajaran in­yiak­nya, balas keburukan/niat jahat/perbuatan jahat orang kepada kita dengan bersikap baik/berbuat baik kepada yang bersangkutan—setidak-tidak­nya memaafkan dengan ikhlas.

 

Bagi Cucu Magek Dirih, sebaiknya beban pikiran dan hati harus selalu diringankan. Cucu Magek Dirih mengatakan kepada istrinya bahwa tidak semua dimasukkan ke dalam pikiran dan tidak semua harus dirasa-rasakan karena hanya menguras energi secara tidak berguna. Jikalau semua hal dimasukkan ke dalam otak sementara luas areal/kapasitas muat otak tak mampu menam­pungnya—nanti otak akan penuh dan sampai meleleh keluar. Jikalau semua dima­suk­kan dalam perasaan se­men­tara luas areal/kapasitas me­nampung hati tidak pula luas—nanti dada akan meledak sampai sakit hati/jantung kambuh pula. Orang yang memasukan semua ke dalam pikiran dan perasaannya, ma­ka orang itu akan gelisah, tidak bisa tidur, dan membenci/mendengki/meirihati pada orang lain/tetangganya/teman sekerja di kantornya dan atau orang-orang di kantor/peru­sahaan pesaingnya.

 

AGAMA Islam sangat tegas dalam hal orang/setiap orang setiap kelompok berusaha untuk berubah. Perubahan yang paling penting adalah tingkat kendali diri, menga­rah­kan diri, dan mengerahkan diri, sehingga mampu menya­lurkan energi secara positif (berjalan/bekerja di atas dan sesuai kodrat/takdir atau destination semampu/sedaya upaya/sesungguh-sungguh yang mungkin—sejujurnya saja pada diri sendiri/tidak karena hendak berlagak/agar diketahui dan dilihat orang lain) dan dapat menghasilkan secara lebih baik (kuantitas dan kualitas). Perubahan pula, bagi Cucu Magek Dirih diletak­kannya pada perspektif ber­syu­kur karena ada periode yang dipakai secara tentatif untuk mengevaluasi diri. Se­per­ti halnya dengan bersyukur, maka perubahan ke arah/tingkat yang baik menjadi hal yang wajib pula.

 

Perubahan diri pula, dalam pandangan Cucu Magek Dirih, adalah berusaha mengeluar­kan semua/segala hal dan sifat buruk dalam diri—pemikiran  yang counter productive dan perasaan benci/dengki/iri hati dan atau pun mengulangi ke­sa­lahan—ibaratkan unta yang terperosok di lubang yang sama, dan atau berkutat pada posisi yang sama yang sudah sebetulnya diketahui salah/keliru/tidak berguna—apakah yang bersangkutan tdak me­nge­tahui/menyadarinya, se­hingga mereka tidak mau ke­luar dari lobang hitam/me­ngeluarkan semua dan segala hal yang buruk/tidak berguna dalam dirinya. Seperti itu Cucu Magek Dirih memahami ayat Al Quran ”tidak akan berubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berusaha untuk berubah”.

 

Berubah dari dalam diri sendiri memang terutama membersihkan hati dari sega­la/semua hal yang buruk/jahat/tidak berguna. Setidak­nya, demikian Cucu Magek Dirih memahaminya. Bahwa, kisah Nabi Muhammad SAW yang dibedah malaikat saat ia masih kecil, maka malaikat mengeluarkan segala/semua hal dan sifat atau kecen­de­rungan yang tidak baik dari dalam hati Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, malaikat me­masukan sifat/kecen­de­rung­an hati yang baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Di antara sifat baik yang utama itu adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Selain itu, Cucu Magek Dirih mema­hami pula al-asmau al-husna sebagai potensi/peluang dan juga energi positif.

 

Shiddiq artinya benar—mustahil Nabi Muhammad SAW berdusta. Artinya nabi dan rasul bersiafat benar, baik dalam tutur kata maupun per­buatannya, yakni sesuai de­ngan ajaran Allah SWT. Seperti disebutkan Allah da­lam QS Maryam ayat 50. Kami me­nga­nugrahkan kepada mere­ka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. Lalu, amanah (dapat dipercaya/dapat diandala­kan)—mustahil nabi Muham­mad khianat (curang/culas atau sejenisnya). Artinya, pa­ra nabi dan rasul itu bersifat jujur pada saat menerima ajaran Allah SWT, dan meme­lihara keutuhannya, serta menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil me­re­ka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

 

Kemudian, tabligh (me­nyampaikan wahyu kepada umatnya—menyampaikan ke­be­naran atau ajakan kepada keluarga/sesama/masyarakat) untuk berbuat baik. Mustahil Nabi Muhammad SAW kit­man (menyembunyikan wah­yu). Artinya para nabi dan rasul itu pastilah menyam­pai­kan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan ji­wa­nya terancam. Seperti Allah menyebut pada QS Ali Imran ayat 20: Dan, katakanlah kepa­da orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapatkan petunjuk, dan bilamana mere­ka itu berpaling, maka kewa­ji­banmu hanyalah menyam­paikan (ayat-ayat Allah SWT). Dan Allah selalu Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. La­lu, fathanah (cerdas)—musta­hil Nabi Muhammad SAW itu jahlun (bodoh). Artinya, para nabi dan rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demi­kian mustahil mereka dapat/mudah dipengaruhi/diom­bang-ambingkan oleh orang lain. 

 

MAKA berkaitan dengan perkisaran tahun yang secara kelaziman dijadikan kesem­patan untuk mengevaluasi diri sendiri, bersyukur, dan beru­bah—ke arah situasi/keadaan/posisi/tingkat yang lebih baik, maka di dalam perspektif dan pemahaman Cucu Magek Di­rih, perubahan itu memang harus terutama dari dalam diri sendiri. Mengharapkan terjadi perubahan dari luar diri malah mungkin akan membawa pe­nga­ruh/dampak buruk. Kata­kan, ada perubahan secara evolutif (evolusi) dan atau perubahan pula secara demon­trati dan atau revolutif (revo­lusi) akan memberikan sesua­tu yang dominan yang mung­kin bukan yang dicitakan/dipikirkan/diperhitungkan dan atau bukan yang dira­sa­kan/diharapkan, misalnya. Bah­kan, mungkin tidak mus­tahil perubahan ari uar diri merusak/menghancurkan hal baik yang sudah ada dalam diri.

 

Cucu Magek Dirih dapat se­paham/menerima analogi pe­rubahan pada telur—dan telur yang ditetaskan. Dikata­kan, bilamana telur ditekan dari luar—apalagi tekanan yang kuat/keras, maka mung­kin telur itu akan pecah, dan kulit telur hancur serta isinya tumpah tak dapat digunakan. Sebaliknya, kalau telur itu dipecahkan dari dalam, tentu ibarat telur yang dieramkan induknya/ditetaskan, maka anak unggas itu sendiri yang memecahkan dinding kulit telur, dan akan ayam muncul/keluar. Ibarat­nya, kalau telur dipecahakan dari dalam maka artinya muncul satu kehidu­pan baru. Lalu, apa mungkin, dalam perkisaran tahun kita mengevaluasi diri dan bersyu­kur serta berubah, maka kita seakan memperbaruhi hidup kita seakan kita memasuki satu kehidupan yang baru.

 

Mungkin perspektif/pe­mahaman Cucu Magek Dirih di atas tidak lazim dan tidak memberi pengaruh kepada kita—karena kita seringkali tahu tapi tidak mengamalkan/melembagakan/menjadi akh­lak (perbuatan pikiran dan perbuatan hati). Karena itu, apakah kita memang mengeta­hui/menyadari hal buruk/tidak berguna dalam diri kita, dan bilamana kuta mengeya­hui dan menyadarinya, kenapa pula kita tidak mau menge­luar­kannya/berubah ke arah dan tingkat, serta situasi yang lebih baik. Siapa yang meno­long kita untuk mengevaluasi diri/bersyukur/berubah? Se­ba­gai orang beriman, tentulah kota akan menujuk pada diri kita sendiri, lalu bertanya/minta pandangan dan penda­pat orang cerdas/pandai/ber­pengetahuan/berakhlak mu­lia—karena dalam pemaha­man Islam tidak ada lagi nabi dan rasul sesudah Muhammad SAW. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/11/new-arab-spring-triumph-eluding-islamists-in-libya/


Perubahan dari dalam Diri

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Friday, December 13, 2013

Islam di Gorontalo Masuk Lewat Perkawinan

Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian utara. Daerah ini  punya jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan dalam kerajaan Islam.


Sebelum berdiri kerajaan Islam, di Gorontalo ada banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hingga pada 1385, sejumlah 17 kerajaan kecil tersebut sepakat membentuk sebuah serikat kerajaan. Diangkatlah Maharaja Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Hulondalo.


Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo. Hulondaloberasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air. Orang Belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin menjadi Gorontalo.


Nilai budaya yang dianut adalah yang berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukkan oleh alam. Ini berarti penduduknya menganut kepercayaan animisme. Kemudian, Islam mulai masuk ke Gorontalo.


Peneliti sejarah sosial dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menjelaskan mengenai masa-masa ketika Islam masuk ke Gorontalo. “‘Sekitar 1525, Islam mulai masuk dalam wilayah kerajaan ini. Islam dibawa oleh sang raja saat itu, Raja Amai,” ujarnya.


Islam kala itu masuk melalui jalur perkawinan. Raja Amai menikahi putri dari kerajaan Palasa, bernama Owutango. Kerajaan Palasa ini berada di Teluk Tomini dan rajanya sudah Islam. Sang putri sendiri punya hubungan keluarga dengan pihak kerajaan di Ternate, yang telah lebih dahulu mengenal Islam.


Dari sini bisa terlihat, pihak kerajaan memahami Islam dan ingin menjalankan kerajaan sesuai tuntunan Islam. “Karena Islam, maka bentuk kerajaannya pun menjadi kesultanan,” ujarnya.


Pendapat berbeda diungkapkan oleh guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Prof Dien Majid. Menurutnya, bentuk kerajaan tetap bisa dipertahankan meski rajanya telah Islam.


Dalam bentuk pemerintahan dulu, ia menjelaskan, dikenal bentuk kerajaan yang bersifat tradisional. Mulai abad ke-13, ketika Islam mulai masuk nusantara, maka dikenallah sistem pemerintah yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu kesultanan.


“Meski demikian, masih ada yang tetap menggunakan nama kerajaan, namun jabatan pemimpinnya disebut dengan sultan,” ujarnya.


Salah satunya, ia mencontohkan adalah kerajaan di Aceh, namanya tetap kerajaan, namun pemimpinnya bergelar sultan. Hal yang sama terjadi juga di Gorontalo.


Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Mohammad Karmin Baruadi, juga menjelaskan sejarah kerajaan Gorontalo dalam tulisannya yang berjudul Sendi Adat Dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam Dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo. 


“Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri Amai sendiri yang bernama putri raja Palasa,” tulisnya.


Awalnya, saat Raja Amai ingin meminangnya, sang putri yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan. 


Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan dalam masyarakat Gorontalo harus  bersumber dari Alquran. “Dua syarat itu diterima oleh Amai. Di sinilah awal Islam menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo,” tulisnya.


Sebelum menikah Raja Amai mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amai dengan terang-terangan mengumumkan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. 


Pada pesta tersebut Raja Amai meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. Saat pendeklarasian sumpah tersebut, adalah hari terakhir rakyat Gorontalo memakan babi.


Usai proses sumpah adat, Raja Amai kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Ia sendiri kemudian mengganti gelarnya dengan gelar raja Islam, yaitu sultan.


Prinsip hidup baru ini, mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo saat itu, yang tidak tersentuh oleh Hindu-Buddha. Masyarakat merasakan tidak ada pertentangan antara adat dan Islam, namun justru memperkuat dan membimbing pelaksanaannya.


Pada 1550, Sultan Amai digantikan oleh putera mahkotanya, Matolodula Kiki. Sultan kedua kesultanan Gorontalo ini menyempurnakan konsep kerajaan Islam yang dirintis oleh ayahnya. 


Ia pun melahirkan rumusan adati hula-hula’a to sara’a dan sara’a hula-hula’a to adati, yang artinya adat bersendi syarak, syarak bersendi adat. Islam dan adat, saling melengkapi.


Islam resmi menjadi agama kerajaan ketika kesultanan Gorontalo ada di bawah pemerintahan Sultan Eyato. Konsepnya pun berubah, mirip dengan prinsip masyarakat Minangkabau, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Di bawah kepimpinannnya, Kesultanan Gorontalo mencapai puncak kejayaan.


Bagi masyarakat Uduluwo limo lo Pohalaqa Gorontalo (serikat kerajaan di bawah dua kerajaan Gorontalo dan Limboto), syarak kitabullah dipahami bahwa hukum dan aturan-aturan yang berlaku bersumber dari kitab suci Alquran dan hadis Rasulullah SAW.


Beberapa perubahan


Pada masa itu, beberapa perubahan dilakukan, menjadi lebih Islami. Sistem pemerintahannya kini didasarkan pada ilmu akidah atau pokok-pokok keyakinan dalam ajaran Islam. 


Dalam ilmu akidah  tersebut diajarkan dua puluh sifat Allah SWT, untuk itu Eyato mewajibkan sifat-sifat itu menjadi sifat dan sikap semua aparat kerajaan mulai dari pejabat tertinggi sampai dengan jabatan terendah. Sumpah-sumpah dan adat istiadat yang dipakai, bersumber pada Islam.


Penerapan sistem budaya Islam pada sikap dan perilaku pejabat tersebut telah mengawali pemantapan karakteristik budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. 


Eyato sendiri awalnya memang seorang ahli agama dan cendekiawan. “Sebelum menjadi raja, Eyato merupakan seorang hatibida’a yang tergolong ulama pada masa itu,” tulisnya.


Struktur pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerja sama yang disebut Buatula Totolu, yaitu Buatula Bantayoyang dikepalai oleh Bate yang bertugas menciptakan peraturan-peraturan dan garis-garis besar tujuan kerajaan, Buatula Bubato yang dikepalai olehRaja (Olongia) dan bertugas melaksanakan peraturan serta berusaha menyejahterakan masyarakat, dan Buatula Bala yang pada mulanya dikepalai oleh Pulubala, bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan. [ROL]


 


Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/11/18/535/898819/demi-cinta-artis-pun-rela-pindah-agama


Islam di Gorontalo Masuk Lewat Perkawinan

Sunday, July 28, 2013

Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?










Tanya:

Assalamu’alaikum Wr Wb


Saya membaca Alquran dan artinya, kemudian menemukan ayat yang artinya sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah: 62).


Apakah benar umat yang menganut agama selain Islam juga mendapat pahala dan syurga? Sedangkan yang saya tahu agama yang Allah ridhai adalah agama Islam. Mohon penjelasannya agar kami yakin. Terimakasih
Wassalamu ‘alaikum Wr Wb


(adick_syaf@yahoo.com)



Jawab:


Persyaratan beriman kepada Allah dan hari Kemudian, seperti bunyi ayat di atas, bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka, tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh Alquran dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Memang akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu persatu. Rasul saw dalam percakapan sehari-hari, sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan hari Kemudian.


Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar-umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya.


Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah memang harus diakui. Tetapi, hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar-pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di hari Kemudian kelak agama siapa yang direstui-nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.




( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://regional.kompas.com/read/xml/2013/06/12/18252539/Penyerangan.ke.Diskusi.Lintas.Agama.Tuai.Kecaman


Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?

Saturday, December 22, 2012

Ratusan TKI Ikuti Isbat Nikah di Konsulat RI di Tawau

Ratusan WNI yang sebagian besar TKI (Tenaga Kerja Indonesia) menjalani sidang isbat nikah di kantor Konsulat Republik Indonesia di Tawau, Malaysia. Seperti apa kegiatannya?
————
AGUSSALAM SANIP, Tawau
———–
SEBANYAK 490 pasangan suami istri (pasutri) berkebangsaan WNI yang sebagian besar TKI akhirnya bisa bernapas lega. Setelah keluar dari ruangan sidang isbat, pernikahan mereka akhirnya diakui negara. Para pasutri pun memiliki buku nikah yang disampulknya terdapat gambar garuda.

Isbat nikah masal merupakan program Konsulat RI di Tawau yang didukung Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler Direktorat Pelayanan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia  bekerja sama dengan Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Kegiatannya sendiri berlangsung mulai 17 Desember, dan berakhir kemarin (21/12).
 
Konsulat RI bekerja sama dengan sejumlah lembaga tersebut menyelenggarakan isbat nikah (penetapan nikah) untuk 490 pasutri yang berada di wilayah kerjanya. Selama penyelenggaraan istbat nikah, setiap harinya ditargetkan 100-an pasutri hadir untuk diisbatkan. Melalui program ini memberikan legalitas kepada Pasutri yang sebelumnya telah melakukan pernikahan siri secara Islam. Dengan legalitas istbat nikah ini, anak-anak Pasutri tersebut akan mendapatkan Surat Keterangan Kelahiran (Akta Kelahiran) yang memiliki status hukum sebagai anak dari Pasutri yang diisbatkan.

Penyelenggaraan sidang isbat dibuka oleh Kepala Konsulat RI Tawau, Muhammad Soleh pada Selasa lalu (17/12) di kantornya Jalan Sin Onn Batu 2 ½, dihadiri Ketua Pengadilan Agama (PA) Jakarta Pusat Drs. H. Khalilurrahman dan Wakil Ketua Drs. Abdul Hakim, serta hakim Pengadilan Agama Jakarta Pusat Dra. Hj. Rosmida M. Nur, SH. MH dan Dra. Nadhifah SH, MH.
 
Sesuai dan peraturan peraturan undang-undang Republik Indonesia, setiap subjek hukum WNI yang berada di luar negeri, harus beracara atau masuk dalam yurisdiksi hukum “di ibukota negara” dalam hal ini artinya mereka disentralkan  untuk beracara di Pengadilan Negeri Jakarta pusat atau di Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Karena itu, Kementrian Luar Negeri memfasilitasi untuk memproses sebagai upaya perlindungan WNI di luar negeri dalam program Isbat nikah yang juga merupakan program Konsulat RI Tawau.

“Program ini bentuk perlindungan dan keberpihakan kepada WNI yang berada di wilayah kerja Konsulat RI Tawau,” kata Mohammad Soleh.

Untuk memudahkan kegiatan tersebut, Kementerian Luar Negeri yang berkoordinasi dengan Pengadilan  Agama (Jakarta Pusat, telah menugaskan tim yang terdiri dari “majelis hakim” lengkap yang terdiri dari hakim ketua dan dua orang hakim anggota, beserta perangkatnya yang terdiri dari panitera dan operator IT yang mengatur dan menyambut (bukan secara “on line”)  pemberkasan perkara yang langsung didepositokan dalam sistem komputerrisasi yang dimiliki oleh pengadilan agama.

“Semoga melalui kegiatan bisa membantu legalitas hukum pernikahan sesuai peraturan perundang–undangan RI, bagi WNI atau TKI di wilayah kerja Konsulat RI Tawau,” harapnya.

Para pasutri yang mengikuti isbat nikah kata Saleh, rata-rata telah tinggal di Sabah lebih dari lima tahun, dan telah melakukan pernikahan siri dengan pasangannya di perkebunan tempat mereka bekerja. Mayoritas mereka berasal dari daerah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Keseluruhan 490 Pasutri bekerja di ladang di wilayah kerja Konsulat RI Tawau antara lain Ladang Felda Sahabat, Ladang Bongalio, Ladang Sebrang, Ladang Bagahak, Ladang Felcra, Ladang Imam Sime Darby, Ladang KL Kepong, Ladang Ikut Maju, dan Ladang-ladang persendirian.

Hari pertama saja telah diselesaikan 84 perkara. Hari kedua (Selasa, 18/12) telah diselesaikan 114 perkara, dan hari ke-3, sekitar pukul 16.00 waktu tawau telah diselesaikan 92 pasutri.
 
“Jadi total pasutri yang sudah diisbatkan di hari ketiga ini mencapai 290 pasutri. Sesuai dengan yang terdaftar 490 Pasutri,” sebut Soleh.

Menurut Soleh lagi, mereka yang turut serta istbat atau pasutri tersebut diharuskan membayar biaya perkara sebesar Rp 116 ribu yang penyetoran dilakukan langsung oleh para pasutri dengan difasilitasi transfernya oleh para pemilik ladang ke rekening bank milik Pengadilan Agama, Jakarta Pusat. Transfer biaya istbat itu sendiri akan ditetapkan dalam amar putusan sidang isbat (tertulis dalam petikan keputusan hakim isbat).

Untuk proses biaya perkara ini sudah dilakukan sebelum hari “H” persidangan. Artinya seminggu sebelum dilaksanakan sidang para  pasutri tersebut harus menunjukkan bukti  bahwa biaya istbat sudah ditransfer. Mengingat bahwa pengadilan agama juga memiliki bukti dengan on line system bahwa biaya perkara sudah ditransfer sebagai pendapatan negara bukan pajak, maka sidang dapat dibuka untuk memeriksa dan memberikan keabsahan dalam sidang istbat tersebut.

Kementrian Luar Negeri dalam hal ini Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler cq. Direktorat Perlindungan WNI, mendukung “deployment” para hakim pengadilan agama untuk memproses sidang di kantor KRI Tawau, sebagai bagian dari wilayah yuridiksi hukum Indonesia.
 
Setelah porses penetapan istbat nikah selesai, mereka juga mendapatkan suvenir berupa “photo session” di pelaminan yang difasilitasi oleh pihak  Konsulat RI Tawau, yang tujuan memberikan semangat  dan gambaran bahwa mereka adalah sebagai pengantin baru yang resmi menurut hukum di negara Republik Indonesia.(***)

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


Ratusan TKI Ikuti Isbat Nikah di Konsulat RI di Tawau

Thursday, January 3, 2013

Temuan Makam, Bukti Bangsa Indonesia Penemu Pertama Situs Gunung Padang



Foto: Ali Akbar

Jakarta – Selama ini catatan sejarah menulis penemu Situs Megalitik Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekitar 50 KM dari Kota Cianjur, Jawa Barat, adalah NJ Krom yang merupakan warga negara Belanda. Namun, ditemukannya deretan makam di areal yang kini menjadi objek penelitian itu, diharapkan dapat membuka tabir baru jika masyarakat sekitarlah yang pertama kali menemukan situs tersebut.

“Dengan adanya makam di situ (areal Gunung Padang), artinya ada masyarakat yang tinggal dan menetap di situ, kemudian ada jeda sampai MJ Krim menemukan situs tersebut dan melaporkannya ke pemerintah Belanda,” ujar Arkeolog UI, Ali Akbar, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/1/2013).

Ali memaklumi, bila Belanda mencatat temuan Krom tahun 1914 itu dalam catatan pemerintahannya. Pasalnya, pemerintahan saat itu dipegang oleh Gubernur Hindia-Belanda, dimana Krom memiliki akses langsung ke pemerintah untuk memasukannya ke dalam temuan Belanda.

“Maksudnya ke depan, kita menghargai masyarakat setempat yang mereka sudah lebih dulu tahu dan menjaganya namun tidak masuk dalam laporan temuan,” kata Ali.

Berdasarkan temuan tim penelitian di Gunung Padang, terdapat beberapa makam yang terletak di teras kelima situs megalitik tersebut. Ali menyebut, makam yang ditemukan tersebut bergaya makam Islam yang masing-masing makamnya memiliki nisan. Namun, hanya satu makam yang tulisan di nisannya masih terbaca.

Di nisan satu tertera tulisan latin yang menerangkan nama jasad yang dimakamkan bernama Hadi Winata yang wafat pada tahun 1947. Almarhum tertulis juga wafat pada usia 68 tahun, artinya almarhum lahir pada tahun 1879. Di nisan lainnya makam yang sama, tertera pula tulisan Arab, di nisan tersebut terbaca ‘prabu’ serta terdapat tahun hijriyah, 1356 H.

(ahy/spt)

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/11/09/md7yad-jk-izin-masuk-ke-myanmar-masih-sulit


Temuan Makam, Bukti Bangsa Indonesia Penemu Pertama Situs Gunung Padang

Sunday, July 21, 2013

Islam dan Pluralisme

ISLAM merupakan agama rahmatan lil alamin. Bisa pula diartikan agama penuh kedamaian. Tidak mempersoalkan perbedaan yang mengerucut hingga terjadinya konflik antar sesama manusia.


Banyak dalil di Alquran yang bisa dijadikan dasar bahwa Islam menjunjung tinggi perbedaan. Salah satunya dalam surah Al Kafirun ayat 6 yang artinya “”Untukmu agamamu, untukkulah agamaku”". Sangat jelas bahwa perbedaan bukan menjadi persoalan umat yang cukup fundamental.



Di Indonesia, khususnya Surabaya, masyarakatnya beragam. Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, semua ada di Surabaya. Bahkan dalam satu permukiman, bisa jadi di satu gang, agama penghuninya berbeda-beda. Meski begitu, mereka bisa hidup damai, saling membantu. Seperti itulah yang diharapkan dalam Islam yang sebenarnya.



Sungguh sebuah keprihatinan yang mendalam ketika primordialisme yang berlebihan itu merusak kerukunan umat. Indikasinya, merasa paling benar sehingga tidak menghargai orang lain dan melecehkan agama lain. Tanpa didasari, hal itu memicu konflik dan ketidaknyamanan di masyarakat.



Bila itu terjadi, penilaian orang yang disampaikan adalah keyakinan. Misalnya, si A seorang muslim. Setiap hari datang ke masjid, mengenakan sarung, peci, layaknya seorang kiai. Sementara itu, rumahnya bersebelahan dengan orang miskin yang berbeda keyakinan dengan dirinya.



Sikap fanatik yang berlebihan membuat si A merasa lebih dari segalanya dibanding tetangganya yang beda keyakinan tersebut. Tidak sedikit pun ada rasa hormat meski hidup bersebelahan. Bahkan, saat si tetangga terkena musibah, si A tidak mau membantu dengan dalih tidak seiman.



Praktis, tetangga lain pasti mencela. Satu kalimat yang biasa keluar dari mereka adalah “”Orang Islam kok kayak gitu”. Jelas sekali, agama yang kerap menjadi kambing hitam atas sikap individu yang tidak menghargai pluralisme. Bukan agama yang tidak menekankan penghargaan terhadap pluralisme itu sendiri.



Di zaman Rasulullah pun demikian. Semua aktivitas berlangsung dengan baik. Kerja sama bidang ekonomi juga terjadi antara umat muslim dan lainnya. Tentu saja mereka menjunjung tinggi kemaslahatan umat. Dengan begitu, tidak ada yang dirugikan dalam mewujudkan kongsi dagang tersebut.



Selain itu, tidak pernah ada paksaan untuk memeluk Islam di zaman Rasulullah. Itu diperkuat dengan surah Al Baqarah ayat 256 yang intinya “”Tidak boleh ada paksaan dalam memeluk agama Islam…”"



Islam hanya pernah memberikan pilihan. Bergabung satu agama menyembah Allah atau membayar pajak. Pilihan itu biasa disampaikan kepada raja-raja yang telah ditaklukkan Islam. Jika mereka menginginkan tetap memeluk keyakinannya yang lama, Islam tidak melarang.



Hanya mewajibkan mereka membayar pajak. Dari dua pilihan itu, hampir semua pemimpin memilih bergabung dengan memeluk agama Islam. Jadi, bukan karena paksaan, tapi atas pilihan sendiri.



Dalam Alquran juga dijelaskan bahwa diciptakannya manusia dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Artinya, penekanan untuk menghargai perbedaan sangat tinggi.



Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak menghargai perbedaan. Baik perbedaan suku maupun keyakinan. Sebab, di mata Allah, bukan wujud fisik yang menjadi pertimbangan. Namun, wujud ketakwaan yang diakui di hadapan Allah.



Alangkah baiknya, menjaga kebersamaan dan kerukunan. Hal itu merupakan cara menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Selain itu, seorang muslim yang mampu mewujudkan kedamaian secara tidak langsung menjadi dai atas dirinya sendiri dan orang lain. (riq/c7/end)



*Penulis adalah General Manager Masjid Cheng Hoo, Surabaya


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Islam dan Pluralisme

Saturday, December 10, 2016

Maria Elaine Memilih Ikuti Pelajaran Agama Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam.

Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya.

Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah. Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya.

Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas. Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya.

Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

ԉ۪Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,Չ۪ ungkap Maria. Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam.

"

| Maria | Elaine | Memilih | Ikuti | Pelajaran | Agama | Islam | REPUBLIKA | JAKARTA | Meski | ayahnya | lebih | dulu | menjadi | mualaf | Venerissa | tetap | mengalami | masa | gelisah | menentukan | keyakinan | yang | dipegangnya | tertarik | ingin | tahu | banyak | tentang | p> Ia | mempertany | mengapa | perlu | puasa | Mengapa | perempuan | haid | boleh | beribadah | istilah | bukan | mahrom | kategori | aurat | pada | Ayahnya | pernah | memaks | putri | sulungnya | untuk | mengikuti | jejaknya | p> Meski | sebagai | orangtua | berpesan | baik | jika | Muslim | begitu | mengantar | gereja | setiap | akhir | pekan | sendiri | merasa | keputusan | karena | panggilan | hati | Suara | adzan | membawa | ketenangan | hatinya | p> Selama | pelajaran | agama | semasa | juga | memilih | duduk | mendengarkan | kelas | membaca | menulis | Alquran | memahami | artinya | p> Jadilah | penolong | bagi | teman | sekelasnya | mencatatkan | ayat | atau | hadits | Hingga | akhirnya | 2012 | bersyahadat | Momen | akbar | hidup | gadis | tahun | berlangsung | sederhana | p> Dengan | bulat | didampingi | guru | seorang | selama | memang | dekat | dengannya | Ujian | terhadap | orang | beriman | Ditanya | tanya | oleh | keluarga | menjawab | sempat | tertekan | p> ԉ۪Saat | ilmu | saya | masih | sedikit | Saya | atas | diuji | Allah | Չ۪ | ungkap | Akan | masalah | demi | dilewatinya | menyerah | mempelajari | mendalami | sangat | bersyukur | telah | menemukan | pencerahan | kedamaian | dalam | p> |

Thank You Very Much for Visiting this Article

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

Sunday, November 17, 2013

Gedung Ibadah di Kota Tua



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





Oleh: Windoro Adi

Ada banyak museum di Kota Tua—Museum Jakarta, Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bahari. Bosan dengan itu, ternyata ada sederet gedung ibadah yang menjadi saksi kemegahan dan keakraban masyarakat yang tinggal di Batavia.


Yuk menyusur gedung-gedung ibadah tersebut. Ada beragam rumah ibadah di Kota Tua. Jika langkah mulai menyusuri Jalan Perniagaan Raya menuju Jalan Tubagus Angke, ada beberapa masjid dan langgar yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Di tepi Kali Angke, dekat persimpangan Jalan KH Moh Mansyur Jembatan Lima-Jalan Tubagus Angke, tak jauh dari Jalan Perniagaan Raya, tampak gedung Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1833 atau 1249 Hijriah. Hingga kini, masih digunakan untuk ibadah.


Ketika itu, langgar ini menjadi tempat favorit bagi pedagang serta awak perahu dan rakit yang datang dari Banten dan Tangerang.


Dari sana mereka membawa bahan-bahan bangunan, beraneka buah dan rempah, serta bermacam barang kelontong dan tekstil yang akan mereka jual di Batavia. Mereka menyusuri Kali Cisadane ke sodetan kali bernama Mookevart (di tepian Jalan Daan Mogot) sebelum masuk ke Kali Angke.


Langgar dengan luas lantai dasar 8 x 24 meter ini berada di lingkungan RT 002 RW 001, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora. Lantai bawah digunakan sebagai tempat wudu dan tempat penginapan pedagang serta awak rakit dan perahu.


Arsitektur langgar berunsur Eropa klasik tampak pada tiang-tiangnya, dipadu unsur China pada penyangga balok-balok kayunya dan Jawa pada denah dasarnya.


Tak jauh dari langgar terdapat masjid tertua di Jakarta yang masih berdiri, Masjid Al Anshor (1648), di Jalan Pengukiran II. Juga Masjid Annawar (1760) di Jalan Pekojan Nomor 71.


Di seberang Kali Angke, di Gang Mesjid 1, berdiri Masjid Angke atau Masjid Al Anwar (1761) yang dibangun seorang kontraktor China untuk orang Bali yang beragama Islam.


Selain Masjid Angke, ada pula Masjid Kebon Jeruk (1786) yang berarsitek Bali, Belanda, Jawa, dan China. Lokasi masjid ini berada di Jalan Hayam Wuruk Nomor 8 (masih di lingkungan Jakarta Barat, tetapi sudah di luar batas Kota Tua).


Tentang kedua masjid ini, penulis banyak buku tentang Batavia, Heuken SJ, menyebutkan, orang Belanda menganggap kaum pribumi adalah orang-orang yang tinggal di tanah Jawa. Jadi, orang pribumi itu orang Jawa. Orang Jawa itu beragama Islam. Artinya, tunduk pada peraturan hukum Islam. Maka, orang Bali yang tinggal di tanah Jawa (termasuk Batavia) yang beragama Hindu pun harus tunduk pada hukum Islam.


Berbeda dengan orang-orang China yang masuk Islam kala itu. Mereka masuk Islam agar dianggap golongan pribumi sehingga mereka bisa bebas dari pajak kuncir rambut dan beban pajak lainnya yang hanya ditanggung orang China.


Klenteng


Jangan heran apabila jumlah masjid di kawasan Kota Tua jauh lebih sedikit daripada jumlah klenteng di sana. Sebab, ada satu masa di era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Persatuan Dagang Hindia Timur, jumlah orang China mendominasi Batavia.


Dari perempatan Jalan Perniagaan Barat-Tambora 8 dan Jalan Perniagaan Raya-Pangeran Tubagus Angke, masuklah ke Jalan Tambora 8 di tepi Kali Opak. Tak berapa lama menyisir jalan tersebut, di sisi kiri jalan akan tampak gapura dengan papan bertulis ”Kwan Tee Bio d/n Lamceng, Jakarta Barat”, pertanda masuk ke kompleks Kelenteng Arya Marga atau Nan Jing Miao.


Klenteng dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi, dikelilingi 12 rumah petak sewa milik yayasan pengelola klenteng. Klenteng terbagi dalam empat ruang besar.


Di ruang belakang ada dua altar untuk menghormati mendiang Kapitan The Liong Hui. Di atas altar utama disimpan abu dan patung kayu sang kapitan asal Nanjing, Kabupaten Zhanzhou (Fujian) itu.


Tahun 1824, Kapitan The membangun kelenteng ini. Karena tidak memiliki keturunan, seluruh kekayaan ia habiskan untuk membangun rumah ibadah ini. Pengelolaan rumah ibadah ia percayakan kepada Tjhung See Gan.


Agar biaya pemeliharaan kelenteng terjamin, tahun 1839 Kapitan The meminta Tjhung membangun 12 rumah petak sewa yang hasil sewanya untuk ”menghidupi” kelenteng.


Sepeninggal Tjhung, kelenteng terbengkalai dan menjadi tempat tinggal pengemis. Beruntung, kondisi merana tersebut berakhir setelah tahun 1978, kelenteng dibersihkan, dikelola, dan dirawat Kepala Kelenteng Basri Oemar (Oey Sek Hai).


Jika dibandingkan dengan plafon Kelenteng Tian-Hou atau Wihara Dewi Samudera (1784) di Bandengan Selatan atau dengan Kelenteng Feng-shan Miao (1751) di Jalan Kemenangan III/48, plafon Kelenteng Kapitan The pasti kalah indah.


Altarnya pun kalah bagus dengan altar yang ada dalam Kelenteng Lu Ban Gong (1784) yang terletak di Jalan Bandengan Selatan 36. Meskipun demikian, Kelenteng Arya Marga menjadi satu-satunya kelenteng yang dibangun kapitan China di Batavia.


Pada periode 1812-1847, pembangunan kelenteng (Taois) dan wihara (Buddhis) umumnya dilakukan kongsi dagang dan lebih banyak ditujukan menghormati dewa dagang atau yang berhubungan dengan perdagangan. Lingkungan kelenteng pun sering dijadikan tempat pertemuan untuk membahas rencana bisnis.


Sebelum era ini, kelenteng di Kota Tua dibangun dengan berbagai tujuan. Dewa yang diletakkan di altar pun beragam, tidak didominasi dewa dagang. Kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan kelenteng lebih sering dilakukan daripada pertemuan-pertemuan dagang.


Kelenteng Li Tie-guai atau Wihara Budhidharma di Jalan Perniagaan Selatan, yang menjadi tempat beribadah orang China terpopuler di kawasan Glodok, adalah salah satu kelenteng yang dibangun untuk dua di antara ”Delapan Hyang Mulia”, pelindung kongsi dagang.


Gereja


Di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua berdiri megah Gereja Sion. Sebuah mimbar bergaya barok karya H Bruyn (1695) berdiri di tengah altar. Di atasnya terpasang kanopi Gereja Kubah, yang juga ada kota Batavia tapi sudah dibongkar Gubernur Jenderal Belanda Daendels tahun 1808.



DHONI SETIAWAN Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Pembangunan Gereja dimulai pada tahun 1693 dan diresmikan 1695.

Pembuatan mimbar bersegi delapan dengan paduan ukiran China, Eropa, dan India ini menghabiskan biaya 260 ringgit, sedangkan biaya pembangunan gereja ini 3.000 ringgit pada 1695. Menghadap altar, di sebelah kanan, berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17. Kursi itu dibuat khusus bagi petinggi VOC, termasuk buat para Gubernur Jenderal Belanda. Di tengah atas sandaran kursi yang terbuat dari kayu hitam itu terukir kitab suci yang terbuka. Di kiri-kanannya ada dua malaikat kecil.

Di salah satu dinding gereja ada batu bertulis dalam bahasa Belanda yang artinya, ”Batu pertama gereja ini diletakkan 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn”. Meski menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Kristen di Kota Tua, kondisi gereja ini terawat baik dibandingkan dengan semua tempat ibadah bersejarah di Kota Tua. (JOS)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>



































Article source: http://news.liputan6.com/read/708601/euforia-pelantikan-kalemnya-jokowi-garangnya-ahok?wp.hdln


Gedung Ibadah di Kota Tua

Friday, March 1, 2013

Aher-Demiz Unggul Tipis pada Rekapitulasi Penghitungan Suara Kota Bandung

Bismillaahirrohmaanirrohiiim
Segala puja dan puji seluruhnya hanya milik Allaah SWT semata, Rabb-nya manusia, Raja-nya manusia, Sembahan-nya manusia dan Pemilik alam jagat raya ini beserta semua isinya baik yang nyata/riil/kelihatan maupun yang tidak/ghaib.
Allaah SWT Yang Kuasa, Maha Gagah Perkasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang !!!
Jika bukan karena Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Rahmat Allaah SWT maka bangsa Indonesia akan selalu menderita siang dan malam, lahir maupun bathin di bawah kaki kaum imperialis/libralis/kapitalis Yahudi dan Nashrani baik bangsa Eropa (Belanda, Inggris, Portugis) ataupun kaum atheis/penyembah matahari bangsa Asia yaitu Jepang dan Yahudi Asia !!!
Selama berabad-abad lamanya bangsa Indonesia dari mulai nenek moyang Soekarno, Soeharto, Gus Dur termasuk nenek moyang kita dijajah, dihina, dicaci, dimaki diperkosa hak-haknya oleh bangsa lain selama itu pula tidak ada seorang yang berdaya.
Seluruh bangsa ini diam seribu basa dan hanya para mujahidlah yang berani untuk berperang melawan para penjajah. Para mujahid dan mujahidah Islam dari mulai wilayah Indonesia bagian barat seperti Imam Bonjol, Cut Nya Dien, Cik Di Tiro dll, di wilayah tengah Pangeran Diponogoro, Pangeran Antasari, Sultan Agung, Sultan Ageng, Raden Fatah dll, di wilayah timur Hasanudin, Jamaludin dll. Mereka rela berjuang karena terdorong oleh dua hal yaitu “mati syahid dan hidup mulia” bukan karena ingin kedudukan atau jabatan baik jabatan presiden, gubernur, walikota/bupati, camat, lurah, rw dan rt !!!
Sangat berbeda sekali dengan para pejuang sekarang, mereka berjuang karena hanya mengejar tahta, harta, wanita !!!
Mereka berjuang hanya untuk menyalurkan nafsu keserakahan semata seperti di zaman orde lama setelah duduk menjadi pimpinan hartanya melimpah dan wanitanya pun banyak serta hidupnya bermewah-mewah akantetapi tidak terexkpos karena semua (rakyat Indonesia) terfokus fikirannya hanya pada urusan perut (banyak yang kelaparan) semata tidak seperti sekarang bisa menilai segala dan keadaan semua orang yang ada di negara ini dari a s/d z.
Kondisi ini berlangsung dari mulai sebelum merdeka s/d 1965 ( zaman PKI ).
Pada zaman pasca PKI s/d orde reformasi, sekarang para pejuang bergerak di kancah perpolitikan karena dorongan mengejar tahta, harta, wanita dengan berbagai cara !!!
Itulah manusia dari mulai zaman nabi Adam AS sebagai manusia pertama di muka bumi ini sifat dimiliki seperti sifat tamak, sombong, serakah, dlolim.bengis, biadab dan sebagainya serta kondisi ini akan terus bergulir s/d hari kiamat nanti !!!
Dan alasan di ataslah mengapa Allaah SWT menurunkan para nabi dan rasul untuk membimbing ummat kepada jalan yang diridhoi-Nya !!!
Allaah SWT mengutus para dan rasul adalah karena sifat Kasih dan Sayang-Nya, supaya manusia bahagia lahir dan bathin di dunia serta di akhirat !!!
Kondisi seperti di atas terjadi tidak hanya di negeri orang akantetapi di negara kita termasuk di Jawa Barat !!!
Untuk menyalurkan hasrat tersebut di atas orang-orang yang pinter dari mulai prof s/d dengan tukang batagor rame-rame berlomba-lomba di dalam mencapai cita-cita tersebut dengan berdalihkan demokrasi tanpa mengenal halal dan haram !!!
Mereka lebih memilih aturan manusia daripada aturan Allaah SWT sebagai Rabb-nya manusia, Raja-nya manusia, Sembahan-nya manusia !!!
Mereka lebih memilih taat dan patuh kepada aturan manusia sekalipun ujung-ujungnya neraka jahanam !!!
Mereka berpesta pora memakai uang rakyat yaitu dari APBD Jabar senilai Rp satu triliunan lebih !!!
Di dalam ajaran Islam sudah dijelaskan bahwa memubadzirkan sesuatu itu adalah perbuatan
syaithan sementara syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi seluruh ummat manusia dan jin !!!
Mereka lebih memilih berpesta daripada membantu memberi makan anak yatim dan orang-orang miskin !!!
Orang-orang yang menderita karena tidak punya duit berjuta-juta jumlahnya, mereka tidak memiliki uang :
- untuk membeli beras,
- untuk berobat ke rumah sakit
- untuk biaya sekolah
- untuk membayar hutang
- untuk modal
- dll
Pertanyaannya adalah
apakah orang-orang tersebut masih bertuhan ???
apakah orang-orang tersebut masih memiliki hati nurani ???
Karena hasil dari pesta itu adalah Gubernurnya KH Ahmad Heryawan tetap seperti keadaan semula !!!
Dan ternyata Beliau masih dipilih oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat !!!
Artinya kualitas calon-calon Gubernur selain Beliau masih di bawah !!!
Daripada uang Rp 1 (satu) Triliunan dipakai untuk berpesta seperti itu alangkah bijak jika dialokasikan untuk masalah-masalah yang lebih penting !!!
Karena dengan berdemokrasi seperti bangsa lain, bangsa Indonesia ini belum siap ???
Baik kualitas pemilih dan yang dipilihnya secara pendidikan maupun taraf hidupnya !!!
Bukti tersebut seperti berita demo di atas !!!
Marilah kita merenung sejenak untuk berintropeksi diri masing-masing, apakah kita sudah benar-benar di jalur yang benar ???
Jangan sampai kotoran kecil yang ada pada orang lain jelas terlihat sementara kotoran yang nambru/nempel besar di muka kita tidak terlihat artinya kalau kesalahan orang lain lain sekecil apapun kita bisa melihat akantetapi kesalahan yang fatal pada diri sendiri, kita pura-pura tidak melihat ???
Sanes ti kamari atuh Akang-akang demona sateu acan dicairkeun dana anu Rp. 1,3 triliun kanggo pilkada Jabar 2013-2018 ari geus beres nembe demo mani sigap, siap menerkam, menerjang ?????
Ari atos aya anu eleh nembe ribut, boa-boa anu demo teh ti kubu anu kawon atawa anu dibayar nya ???
Telat jang atuh demo-na lamun saacan dana keur pilkada anu Rp. 1,3 Triliun dicairkeun mah Abah oge bade turun pasang badan, ari ayeuna mah da atos telat atuh !!!
Boa-boa lamun telat kieu mah demo jalma-jalma anu hoyong ngaramekeun Tatar Sunda nya ???
Patarosanana lamun kitu carana mah aya 2 kamungkinan hiji kelompok anu kawon, kadua kelompok anu hoyong wilayah tatar Sunda ricuh/kacau balau anu mana tah ???
Cing atuh ka para inohong partai atawa sayap-sayapna, simpatisan jeung kelompok anu gaduh kapentingan sing nyaah ka diri jeung kadulur-dulur !!!
Lamun hayang aman mah ti kamari usulkeun dina 5 calon teh sakali ewang mimpinna sataun sakali gantina !!!
Lamun kitu geus teu kudu aya kaluar waragad keur spanduk, brosur jeung sajabana nya ???
PILKADAL JABAR teh bakal efektif jeung efisien hartina harapan kacumponan milih pamimpin bari waragad sagalana irit !!!
Jeung moal aya istilah money politic (politik bagi-bagi uang), Black compaiyn (kampanye hitam) moal aya perkeliruan formulir C, moal aya PNS anu digiring-giring jiga meri jeung sajabana nya !!!
Para cagub cawagub ti no 1 nepi ka no 5 bakal tenang sabab kabeh bakal kabagean nya, satuju ???
Tong jiga ayeuna ari mimiti mah jiga nu enya ti no 1 nepi ka no 5 saling mengklaim ari pek teh eleh, kumaha pokna teh “awas sia pokokna Oneng mah rek eleh atawa meunang oge bakal bebeja / ngalapor ka MK ( mahkamah konstitusi ) asa ningali budak leutik pasea ari keur mimiti mah sok sia wani ka aing ari pek teh digeubuk ku babaturanana ngagerewek bari ceurik manehna ngancam dibejakeun siah ka Mamah !!!
Matak demokrasi di urang mah demokrasi budak leutik ari taen hayang nurutan Amerika ari prak-prakanana jiga dina sinetron bajaj bajuri anu leuwih pikaseurian deui nyaeta panontonna pipiluweun (lauk buruk milu buruk) kusabab hayang kapake kucalon jagoanana polah kitu jiga Taufiq Kiemas ceuk anjeunna pokokna mah Oneng neunang ngan kudu ditingalina tanggal tilu / 3 Maret 2013, eta teu kabayang lamun tanggal 3 Maret 2013 pas diumumkeun teh eleh rek kumaha Nyai Oneng, jigana gogoleranana lain di imah Taufiq kiemas tapi di monas jadi engke mah lain Soekarno wae anu aya sangkut pautna jeung monas teh, sanggeus Anas, Oneng gogoleran pedah Taufiq kiemas ngaramalna salah nya !!!
Kedah Isin ku urang Garut sareung warga Tatar Sunda, batur mah nyengseurikeun sanajan jiga anu ngadukung, tah urang Sunda anu sejenna bisa disakompet daunkeun, boro-boro hayang jadi Gubernur Jabar gawe di DPR RI komisi IX oge teu bisa ngabeberes rumah sakit-rumah sakit anu bararenggal boh di daerah soranganana komo deui di Jakarta, hoyong buktos mangga engke sakali-kali rurumpaheun ka rumah sakit Garut wae heula saacan ka daerah anu sejen, di rumah sakit masih seueur keneh anu gaduh jamkesmas, jamkesda masih dipersulit komo anu teu gaduheun !!!
Cing atuh geura salaladar kamari Anas anu rek di gantung di monas, maenya ayeuna Oneng anu bakal gogoleran di monas ku sabab eleh di pilkadal Jabar !!!
Tapi eta oge hukum karma ari pasien miskin mah ditolak ku 8 rumah sakit di Jakarta, careurik maratan langit ngoceak maratan jagat kulantaran ku kamiskinan !!!
Ari Oneng mah ceurik gogoleran di monas kulantaran Taufiq kiemas ngaramalna salah.
Karma Oneng yaeta Manehna 1000% punya andil dina ditolakna pasien miskin ku 8 rumah sakit di Jakarta sabab Oneng adalah salah satu anggota DPR RI Komisi IX anu garapanana urusan kasehatan !!!
Ngarah aman demo mah ti kamari wae !!!
Usulna jiga kieu ngabring paksa KPU Jabar kerahkeun pendukung Oneng sa-Indonesia bari uleum Mega, Taufiq K. Jokowi bila perlu Nagara RRC oge Eropa Timur termasuk Amerika dan Israel ulah kagok supaya milih gubernur teh jiga kos di luhur sakali ewang nya, kumaha dulur-dulur satuju ???
Tong jiga ayeuna ari geus beres bari aya anu kengingna nembe ribut, kumaha ari ujang jiga si Kabayan wae !!!
Untuk para pimpinan partai dari PDIP Mega + Taufiq K, PAN Amin, Gerindra Prabowo, PKB Gus Dur, Demokrat SBY dan para calon Independen dan para sponsornya serta pendukung fanatiknya di mohon dengan hormat supaya bisa mengendalikan massanya masing-masing jika tidak mampu maka citra partai dan nama besar para tokoh di atas akan semakin terpuruk !!!
Ingat pada Pilkada Jabar sekarang yang GOLPUT 40 % kemungkinan untuk PEMILU 2014 yang GOLPUT akan semakin besar dan partai-partai yang ada akan dibubarkan Karena rakyat Indonesia sudah tidak percaya lagi kepada mereka !!!
Akibatnya stabilitas nasional akan kacau balau seperti di negara-negara yang sedang kemelut seperti Suriah, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya perang saudarapun tak dapat dihindarkan, apakah kondisi seperti itu yang di harapkan oleh para tokoh partai termasuk para pendukungnya ???
Supaya mudah untuk merebut kekuasaannya karena dengan cara demokrasi kalah terus, seharusnya sadar diri dan harus malu karena Megawati sudah ada kesempatan untuk menata bangsa ini tapi hasilnya adalah kemiskinan merajalela asset-aset negarapun dijual Laksamana, kumaha atuh ari kondisina, ari ku batur ulah kusorangan teu bisa ???
Ngomong-ngomong berpihak ka wong cilik, ari wong cilikna dimanfaatkeun keur kapentingan ngeruk suara dina kampanye wungkul, ari geus kitu mah wong cilik kalaparan eweh anu nulungan ari keluarga Mega mah naek turun mobil alus, kumaha nya ???
Adanya demokrasi itu secara teori adalah agar saluran pendapat rakyat dapat tersalurkan secara baik dan aman akantetapi pada kenyataannya di Indonesia itu tidak seperti itu bahkan sebaliknya kondisi yang tadinya kondusif menjadi kacau balau istri dan suami berbeda pilihan cerai,ulama dengan ulama beda calon yang didukung silaturahmi putus, sekelas orang-orang yang jadi panutan cerai berai apalagi masyarakat awam yang miskin harta dan miskin ilmu !!!
Wong cilik dari hari ke hari ditipu dan ditipu, katanya NKRI itu milik seluruh bangsa Indonesia, dina waktuna Jokowi disurvei ku lembaga survey ternyata urutanana saluhureun Mega ceuk keluarga Mega teh “Anak Macan ( Jokowi ) mau makan Induknya ( Mega)” ka Jokowi wae anu didukung ku Mega jadi Gubernurna tegana mega nyangka kitu komo ka batur, naha nya ???
Baca di media tong sarare wae !!!
Padahal awalna Jokowi dipuji-puji ku keluargana Mega tapi nalika ngelehkeun Mega dina survey keluarga Mega ngambek, pertanyaanana naha ari NKRI teh nu saha ???
Anu Soekarno, oh pedah eta Soekarno jadi proklamator, ari proklamator teh lain Soekarno wungkul tapi Bung Hatta oge aya, jeung keluarga Bung Hatta mah teu jiga Mega. Apan dina proklamasi kemerdekaan mah Soekarno sareung Bung Hatta ngawakilan bangsa Indonesia, hartina NKRI teh anu bogana teh seluruh bangsa Indonesia lain anu Mega !!!
Ieu dibuktikeun dina hiji acara nalika Taufiq kiemas ngomong ka anak Nyai Puan pokna teh Puan sing ingeut yen NKRI teh apan anu bogana teh Aki (Soekarno).
Jeung lamun bener NKRI warisan ti Soekarno naha ari keluarga anu sejen teu dibere kasempetan pikeun ilu biung dina kapartaean jiga Guruh, rahma jeung nu sejenna ???
Sadarlah wahai saudara-saudaraku sebangsa setanah air !!!
Ayeuna anu ngajajah bangsa urang teh geuning lain bangsa deungeun tapi dulur sorangan anu ngajual ngaran kolotna, nya ???
Sadarlah wahai para tokoh bangsa, kita sekarang sudah ada diujung tanduk alias sudah mendekati kehancuran jika kita tidak mencegah maka sia-sialah kita berjuang beratus-ratus tahun lamanya untuk mewujudkan NKRI ini !!!
Jika kekacauan ini terjadi maka kita sudah tidak akan susah mencari dalangnya, mereka itu adalah :

- kelompok Libralis
- kelompok Komunis
- kelompok Atheis
Kenapa Islam tidak disebut, karena dunia luar sudah tahu secara historis terwujudnya NKRI adalah hasil jerih payah para ulama dan Ummat Islam, sebagai bukti Belanda sangat sulit untuk menundukkan Islam di Sumatera sampai mereka memasukkan Snouck Horjhe ke dalam Islam supaya kelemahan Islam dapat diketahui dan pada akhirnya berhasil pula, Pangeran Diponogoro Ulama Jawa Tengah ditipu Belanda dengan siasat akan diadakannya perundingan dan kenyataan ditipu dan akhirnya Beliau wafat, Kesultanan-kesultanan banyak yang diadu domba dari mulai Indonesia bagian, tengah dan Timur, KH Zaenal Musthafa pesantren Sukamanah di Tasikmalaya dibunuh Jepang karena berontak Beliau tidak mau menyembah matahari dan masih banyak lagi para Kyai/ ulama pahlawan yang lainnya !!!
Dan ingat para pejuang (para ulama dan ummat Islam) tidak ada seorangpun yang mengaku-ngaku bahwa NKRI itu adalah milik mereka dan keturunan !!!
Tidak seperti keluarga Mega !!!
Urang luar negeri sudah pada tahu bahwa yang berani melawan para penjajah ini adalah Ummat Islam dan para Ulamanya !!!
Karena ada slogan “ mati syahid atau hidup mulia “ !!!
Ingat istilah di atas tidak dikenal di dalam agama atau kepercayaan lain selain Ajaran Islam !!!
Kemerdekaan ini dicapai melalui peperangan bukan hadiah dari penjajah !!!
Yang berani berperang pada waktu itu adalah hanyalah orang-orang yang faham artinya perang !!!
Siapakah mereka ???
Para ulama dan ummat Islam !!!
Karena orang-orang nasionalis yang berduit kebanyakan sekolah ke luar negeri maka mustahil bila mereka berani turun bertempur karena mereka orang-orang pinter, sebelum bertindak itu difikir secara matang karena saking lamanya mikir akhirnya lebih memilih mengembangkan ilmu ke luar negeri dari pada mati di negeri sendiri karena hitungannya adalah pertempuran yang tak berimbang kita bamboo runcing penjajah memakai tank-tank dan senjata lengkap !!!
Dan yang menggembar-gemborkan demokrasi itu adalah negara barat sementara di Indonesia itu mayoritas pemerintahan dijalankan oleh para Sultan !!!
Sekarang kita sudah mengikuti cara-cara demokrasi seperti di negara lain ternyata sayang sekali para pimpinan partai dan para pendukungnya masih harus banyak belajar tentang demokrasi !!!
Sing emut Kang, ari dina demokrasi mah pasti aya anu kenging oge aya anu kawon nya ???
Eta mutlak ayana, teu tiasa dihayang-hayang, teu tiasa diembung-embung, kudu siap narima eleh !!!
Teu tiasa upami eleh teh rek bebeja ka anu-ka anu !!!
Lamun datangna ka anu geus pinter berdemokrasi mah seperti orang Amerika !!! Naha atuh bet ngiringan nyalon atuh Nyai atawa Kang ???
Di Amerika mah partaina ngan 2 siki, jadi lamun anu hiji eleh engke teh dina waktu anu meunang ngajalankeun pamarentahanana bisa ngiritik nepi ka bongkar borok-borok nya dian pemilihan dina waktu anu sejen boga senjata mematikan nyaeta data-data anu kapanggih dina nalika lawan politik urang nuju ngajabat, kitu tah ceu oneng !!!
Matak tong demo wae bari mamawa buruh anu antukna kawajiban ngurus anu miskin, elmu anu diteangan modelna ngan ka RRC, Kuba, Eropa Timur embung maca artikel ti barat the komo deui buku-buku Islam jigana mah panas nya !!!
Upami ayeuna tos jelas posisi Oneng the kawon teu kenging nektreg da masih seueur batur anu sami-sami kawon, kandidat no. 1,2, 3 mah parantos lempar handuk bari ngucapkeun selamet tur sadar legowo !!!
Naha ari salira ???
Engke oge lima taun kapayun aya deui !!!
Mun bade manggung deui, tah engke mah nyaankeun !!!

Upami alim kawon atanapi hoyong kenging mah ti kamari keneh perjuangkeun artos anggaran pilkada Jabar anu Rp. 1 Triliunan langkung teh, alokasikan kanggo jalmi-jalmi anu marariskin Insya Allaah Nyai/Akang akan mendapat ganjaran ti Allaah SWT Anu Maha Benghar oge kenging gelar pahlawan ti para dua’fa (kaum lemah harta/elmu) itu namina pejuang !!!
Upami Nyai/Akang wantun dina raraga kabela kaum dua’fa (lemah) karena mencari ridho Allaah SWT berarti Insya Allaah Nyai/Akang ka golong para Mujahid sapertos Imam Bonjol, Hasanudin, Pangeran Diponogoro !!!

Oleh karena itulah marilah kita bersama-sama merenung sejenak dan bertaubat kepada Allaah SWT Yang Maha Pengampun serta berdoa’ semoga kita semua diampuni segala dosa baik yang disengaja ataupun yang tidak baik yang terlihat maupun yang tidak !!! Aamiiin
Hatur nuhun.


Aher-Demiz Unggul Tipis pada Rekapitulasi Penghitungan Suara Kota Bandung

Wednesday, March 6, 2013

Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Selasa, 5 Maret 2013 19:46
Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Digalang tanda tangan ribuan warga menyatakan perang terhadap narkotika di Rohil. Uniknya, 15 tersangka narkotika menjadi yang pertama membubuhkan teken.

Riauterkini-UJUNGTANJUNG-Kabupaten Rokan Hilir menyatakan perang
terhadap narkoba. Genderang itu ditandai upacara komitmen bersama anti
narkoba, dilanjutkan membubuhkan tandatangan seluruh peserta upaca
dalam spanduk, dimulai perwakilan 15 tersangka narkoba.

Upacara digelar di halaman Mapolres Rohil, Senin (5/3/13),
inpspektur upacara Ketua BNK Rohil Suyatno, diawali komitmen bersama
dari tokoh masyarakat dari sejumlah agama yang disumpah masing-masing
rohaniawan (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan
Budha).

Dalam amanatnya, Suyatno mengatakan, kasus narkoba di Rohil
mengalami peningkatan dari tahun ketahun, 2011 tercatat 53 kasus,
tahun 2012, 81 kasus, terjadi kenaikan 28 kasus atau 34,57 persen.
Untuk tahun 2013 ini katanya, dari bulan Januari-Februari, sudah
terjadi 43 kasus.

Bahkan dari 43 kasus tersebut, bulan Februari lalu, 9-28
Februari 2013, hasil operasi antik Polres Rohil, berhasil mengungkap
21 kasus dengan 27 tersangka.

Rohil katanya berbatasan langsung dengan negara tetangga
memiliki kerawanan tinggi dalam masuknya peredaran narkoba ke wilayah
Indonesia, terbukti dari beberapa kasus menonjol yang telah diungkap
menunjukkan, sebagian besar narkoba tersebut dibawa dari negara
tetangga masuk melalui pelabuhan/perairan yang terdapat di Rohil.

Usai upacara, dilakukan pembubuhan tandatangan bersama elemen
masyarakat dalam sebuah spanduk besar, didahului 15 orang perwakilan
tersangka narkoba memakai sebo.

Sementara itu, Kapolres Rohil AKBP Tonny Hermawan, R, S.Ik
mengatakan komitmen ini terinspirasi karena Rohil salah satu daerah
yang rawan peredaran dan penyeludupan narkoba.

“Kita merangkul BNK berserta seluruh elemen masyarakat,
supaya kita bekerjasama mendukung untuk pencegahan dan pemberantasan
narkoba diwilayah Kabupaten Rohil,” komitmennya.

Aparat dan masyarakat itu katnaya ibaratnya dua sisi mata
uang, yang tidak bisa dipisahkan. “Kalau salah satu sisi hilang, itu
tidak bernilai. Tujuan kita pemberantasan narkoba, artinya aparat dan
masyarakat ini harus bergabung, harus bekerjasama untuk memberantas
narkoba khususnya Kabupaten Rokan Hilir,” tekadnya.

Karena Rokan Hilir katanya terindikasi menjadi daerah yang
cukup rawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba.***(nop)


Beri
tanggapan
| Baca
tanggapan

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/07/diego-michiels-makin-tertarik-islam-saat-datang-ke-indonesia


Tersangka Narkoba Diajak Teken Perang Narkoba di Rohil

Monday, September 23, 2013

Kemenangan Politik Bukan Target Umat Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, THAILAND — Sebagai sebuah negara plural dengan mayoritas penduduk Muslim, kondisi Indonesia mirip dengan Madinah di jaman Nabi Muhammad AS.


Untuk menyatukan masyarakat, Nabi AS lalu membuat Piagam Madinah sebagai dasar negara. Sedangkan Indonesia mempunyai Pancasila untuk fungsi yang sama.


“Meskipun hukum agama bukan dasar negara, pemerintah memiliki kewajiban moral untuk menjamin kehidupan beragama rakyatnya,” ujar Menteri Agama Suryadarma Ali di Islamic Academy and Arabic Study, Princess of Naradhiwas University, Kok Kian Sub-district, Amphur Muang, Narathiwat Province, Thailand, Senin (23/9).


Islam tidak diragukan lagi mengambil peran dalam politik pada awal pembentukan Indonesia. Namun pembentukan negara sekuler tidak cocok di Indonesia karena beragamnya etnis dan agama yang hidup bersama.


Pemerintah sejak awal telah mengambil jalan tengah dengan menempatkan Pancasila sebagai acuan untuk membangun Indonesia. Pancasila juga menjadi dasar untuk merespon banyaknya mahzab Islam yang ada di Indonesia. 


Menag mengingatkan agar berjuang di jalan agama tidak identik dengan kemenangan politik. Selain itu, menjaga persatuan dan menghindari pertumpahan darah juga harus diprioritaskan.


“Akan menjadi sia-sia, ketika agama dan nilai Islam justru tidak ditemukan dalam jiwa pejuangnya. Artinya, tidak ada rasa keadilan, toleransi dan kasih sayang,” Menag melanjutkan.


Semua umat Muslim yang berjuang demi perbaikan nasib, diimbau untuk tetap berdiri pada kedaulatan negara yang sudah diputuskan sejak awal.


Pengalaman mengajarkan bahwa target utama bukan pada kemenangan politik, melainkan keadilan ekonomi dan sosial. Untuk itu, komunitas muslim harus menemukan nilai umum yang bisa menyatukan masyarakat demi mencapai nilai-nilai bersama.


Kasus di Indoensia untuk taraf tertentu sangat relevan dengan kondisi muslim di Thailand. Pertama, kedua negara memasukkan konsep politik Islam dalam membentuk negara di jaman modern. Lalu, kedua negara juga terdiri dari ragam agama dan budaya yang mencoba untuk hidup harmonis.


Latar belakang historis diharapkan bisa mempengaruhi umat Islam dalam bersikap terkait negaranya. Islam sejak dahulu tidak memisahkan agama dengan politik. 


Lalu, Islam yang solutif harus kembali ditempatkan mengisi ruang pubil. “Pemikiran yang memisahkan Islam dan politik tidak dapat diterima, begitupun sekulerisasi,” ia melanjutkan.


Dekan Academic Pengajian Islam dan Bahasa Arab Princess of Naradhiwas University, Abdulrashid Abdullah Hameeyae mengatakan Islam berkembang di Thailand pada abad ke-15 oleh rakyat Patani. Namun penyebaran ajaran Islam masih sembunyi-sembunyi dan dalam lingkup kecil.


Setelah penguasa saat itu, Raja Patani Sultan Ismail Shah dan keluarganya masuk Islam, barulah Islam dengan terang-terang. Peradaban umat Islam pernah mencapai puncak sebelum Thailand melancarkan serangan terhadap rakyat Patani.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/27288/15/02/2013/di-australia,-geert-wilders-akan-kampanye-anti-islam-.html


Kemenangan Politik Bukan Target Umat Muslim

Sunday, April 21, 2013

Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston


Advertisement



Tamerlan Tsarnaev (ibtimes.com/Johannes Hirn)

Boston – Tersangka bom Boston, Tamerlan Tsarnaev diyakini telah menjalani radikalisasi Islam di wilayah Boston, Amerika Serikat. Disebut-sebut, ada seseorang yang mempengaruhi dan mencuci otak Tamerlan.

Sang paman Ruslan Tsarni yang tinggal di Maryland, AS seperti dilansir New York Times, Senin (22/4/2013), mengaku menyadari perubahan pada diri keponakannya pada tahun 2009. Tsarni kemudian meminta bantuan seorang kerabatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakak Dzhokhar Tsarnaev, yang kini terbaring tak berdaya di rumah sakit.


“Saya terkejut ketika mendengar kata-katanya (Tamerlan), ucapannya, setiap kata yang diucapkannya diawali dalam nama Tuhan. Saya menanyakan apa pekerjaan dia, dan dia mengklaim dirinya memasrahkan semuanya kepada takdir Tuhan. Itu menjadi perhatian besar bagi saya. … Itu bukanlah keyakinan, melainkan hal lain, yang bisa disebut radikalisasi. Saya tidak memahami apa yang dia bicarakan. Dia hanya berkata-kata dengan kata-kata yang dia tahu dan tidak memahami artinya,” jelasnya.


Menurut kerabat tersebut, seperti diceritakan Tsarni, proses radikalisasi terhadap Tamerlan berawal ketika pemuda berusia 26 tahun tersebut bertemu dengan seorang mualaf di wilayah Boston. Belakangan diketahui bahwa Tamerlan bertemu dengan orang yang mempengaruhinya tersebut pada tahun 2007 silam.


Orang yang masih misterius itu, disebut-sebut berhasil mencuci otak Tamerlan. Sang paman mengungkapkan percakapannya dengan Tamerlan pada tahun 2009 silam. Saat itu, Tsarni melihat, keponakannya seperti kehilangan harapan hidup.


“Anak-anak muda semacam ini, yang tidak mampu mengatasi masalah pribadi mereka memang menjadi sasaran empuk,” tutur Tsarni kepada media Inggris, Sunday Times, dan dilansir New York Post.


“Dia (orang misterius-red) semacam mencuci otaknya,” imbuh Tsarni yang berprofesi sebagai pengacara ini.


Meski mengaku tidak mengetahui pasti siapa yang meradikalisasi Tamerlan, Tsarni menyebut orang tersebut berasal dari Armenia. “Saya ingin menekankan bahwa dia (kenalan) merupakan keturunan Armenia,” ucapnya. Armenia termasuk dalam ras Kaukasia yang sebagian besar penduduknya penganut Kristen.


Lebih lanjut, Tsarni menyebut, Tamerlan sengaja mempengaruhi dan mencuci otak Dzhokhar, sang adik. Tsarni bahkan sempat menyebut Tamerlan sebagai pengecut.


“Dia (Dzhokhar) hanyalah korban dari kakaknya… Kakaknya membawanya ke situ. Dzhokhar hanya seorang anak yang ingin memiliki kakak yang menjadi panutan. Selain sebagai seorang pembunuh, Tamerlan sebenarnya kakak yang penyayang,” ceritanya.


“Jadi, yang disebut radikalisasi tersebut memang terjadi di sini (AS-red), tidak di Kaukasia, tidak di Rusia, tidak di Chechnya, yang sama sekali tidak ada kaitan dengan kasus ini,” tandas Tsarni.


(nvc/ita)







Article source: http://www.tubasmedia.com/berita/ulil-justru-saya-orang-baru-berani-ngomong-anas-lengser/


Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston