Showing posts sorted by relevance for query pelajaran. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query pelajaran. Sort by date Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menegaskan bahwa impor buku ilmu pengetahuan bebas dari bea masuk (BM) dan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) serta dikecualikan dari pemungutan pajak penghasilan (PPh) pasal 22. Dirjen Bea dan Cukai (BC) Agung Kuswandono melalui Surat Edaran Nomor SE-16/BC/2013 tentang Penegasan Pelayanan Importasi Buku Ilmu Pengetahuan, yang diperoleh di Jakarta, Kamis (14/11) menyebutkan pembebasan tersebut berlaku juga untuk buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.


Dirjen BC merinci, pembebasan BM diberikan terhadap impor buku ilmu pengetahuan yang meliputi buku ilmu pengetahuan dan teknologi, buku pelajaran umum, kitab suci, buku pelajaran agama dan buku ilmu pengetahuan lainnya. Dikecualikan dari buku yang diberikan pembebasan BM sebagaiamana tersebut di atas, meliputi buku hiburan, buku roman populer, buku sulap, buku iklan, buku promosi suatu usaha, buku katalog di luar keperluan pendidikan, buku karikatur, buku horoskop, buku horor, buku komik dan buku reproduksi lukisan.


Terhadap impor buku ilmu pengetahuan seperti tersebut di atas, diberikan pembebasan BM tanpa perlu mendapatkan persetujuan pemberian pembebasan BM dari Menteri Keuangan atau pejabat yang ditunjuk. Sementara terhadap impor buku-buku yang dikecualikan dari pembebasan BM, dipungut BM sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012.


Orang pribadi atau badan yang melakukan impor buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, untuk memperoleh pembebasan dari pengenaan PPN tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. Buku-buku pelajaran umum seperti tersebut di atas merupakan buku-buku fiksi dan nonfiksi untuk meningkatkan pendidikan dan kecerdasan bangsa, yang merupakan buku-buku pelajaran pokok, penunjang dan kepustakaan.


Sementara kitab suci yang dimaksud adalah kitab suci agama Islam meliputi kitab suci Alquran termasuk tafsir dan terjemahnya bauk secara keseluruhan maupun sebagian, dan Juz Amma. Kitab suci agama Kristen Protestan meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Katolik yang meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian.


Kitab suci agama Hindu meliputi Weda, Smerti dan Sruti, Unpanisad, Itihsa, Purnama, termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Budha meliptui Tripitaka termasuk tafsir dan terjemahannya baik keseluruhan maupun sebagian. Juga kitab suci lainnya yang telah ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang agama atau pejabat lain yang ditunjuk.


Impor barang berupa buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama yang dibebaskan dari pungutan BM dan PPN, tidak dipungut pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 dan tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. “Terhadap impor buku ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya buku pelajaran umum, kitab suci dan buku pelajaran agama, ditegaskan kembali bahwa tidak ada pugutan apapun terkait BM, PPN dan PPh Pasal 22,” tegas Agung.


Article source: http://www.republika.co.id/berita


Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

Wednesday, July 24, 2013

SMP di Semarang Gunakan Kurikulum Baru untuk Sembilan Pelajaran

Metrotvnews.com, Semarang: SMP di Kota Semarang, Jawa Tengah,  telah menerapkan kurikulum baru pada sembilan pelajaran dari total 10 mata pelajaran yang ada pada kurikulum 2013.



“Kami mulai pembelajaran secara efektif, sekaligus mengaplikasikan kurikulum baru sejak tiga hari yang lalu, yakni Senin (22/7) lalu,” kata Kepala SMP Negeri 5 Semarang Suharto di Semarang, Rabu (23/7).



Siswa memang sudah mulai masuk sekolah pada 15 Juli 2013, kata dia, tetapi selama seminggu ada masa orientasi siswa (MOS) dilanjutkan kegiatan pesantren Ramadan yang harus diikuti siswa baru.



Menurut dia, para guru juga sudah diberikan pelatihan implementasi kurikulum baru di berbagai daerah, yakni Yogyakarta, Salatiga, Solo, dan Semarang, kecuali guru pendidikan agama dan budi pekerti.



Ia menyebutkan ada 17 guru dari sembilan mata pelajaran itu mengikuti pelatihan kurikulum baru yang diselenggarakan oleh pemerintah, dari total 48 guru yang dimiliki SMP Negeri 5 Semarang.



“Guru IPA ada dua orang yang dikirim pelatihan, IPS ada tiga guru, termasuk saya, kemudian bahasa Indonesia dikirim dua guru, matematika ada dua guru. Totalnya ada 17 guru yang dikirim,” katanya.



Buku-buku kurikulum baru untuk sembilan pelajaran itu, lanjut dia, sudah dikirim ke sekolah, sementara buku acuan pendidikan agama dan budi pekerti baru dapat lima buah untuk Islam, Kristen, dan Hindu.



Sembilan mata pelajaran tersebut, yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani Kesehatan, dan Prakarya.



“Kalau dari mata pelajarannya sebenarnya sudah semua pelajaran dikirim. Namun, jumlahnya sendiri masih kurang karena per pelajaran baru diberi 275 buku, sementara siswa baru kami ada 288 orang,” katanya.



Untuk mengatasi kekurangan itu, Suharto mengatakan ada satu kelas, yakni VII J yang baru sebagian siswanya dibagikan buku pelajaran sehingga setiap satu buku sementara digunakan bersama untuk dua orang.



Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kota Semarang Taufik Hidayat mengakui penerapan kurikulum baru di SMP memang lebih lengkap dibanding SMA yang baru menerapkan untuk tiga pelajaran.



“Untuk jenjang SD juga lebih lengkap, kalau SMA kan baru Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah. Namun, sebenarnya seluruh pelajaran sudah disesuaikan kompetensi inti dan kompetensi dasarnya,” katanya. (Antara)



Editor: Agus Tri Wibowo



Share:






 


cbn



Article source: http://www.merdeka.com/dunia/paus-mundur-karena-uzur.html


SMP di Semarang Gunakan Kurikulum Baru untuk Sembilan Pelajaran

Tuesday, July 16, 2013

Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Ujian Nasional tidak serentak atau gedung sekolah rusak hanyalah sekelumit kisah sedih wajah pendidikan negeri ini. Yang lebih bobrok lagi, buku pelajaran sekolah memuat cerita-cerita pornografi. Mau jadi apa generasi muda Indonesia?


Dalam pepatah Jawa mengatakan guru itu akronim kata dari ‘digugu lan ditiru’ (diikuti perintahnya, dicontoh setiap tindakannya). Di peribahasa Indonesia, ada juga ungkapan ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Artinya kurang lebihnya berkaitan dengan pemimpin–di sini digambarkan seorang guru– harus bisa memberi teladan kepada bawahan–seorang murid.


Ironisnya, beberpa waktu terakhir pendidik di Indonesia menunjukkan kelalaian fatal. Ini terbukti dengan beredarnya buku-buku pelajaran sekolah yang berbau pronografi.


Buku penunjang siswa kelas VI SD Negeri Polisi 4 di Bogor mislanya, jelas bermuatan pornografi. Buku terbitan CV Graphia Buana itu memuat kisah Anak Gembala dan Induk Serigala yang bertutur tentang perempuan hamil korban pemerkosaan dan kemudian berjuang di warung remang-remang demi menghidupi anaknya. Pertanyaannya: moralitas apa yang hendak diajarkan dari cerita ini?


Kisah itu, apalagi dibumbui adegan seks dengan menggunakan bahasa orang dewasa, tidaklah pantas sekaligus berbahaya jika disuguhkan untuk siswa. Ahli bedah otak asal Amerika Serikat, Dr Donald Hilton Jr., bahkan meyakini pornografi dapat merusak prefrontal cortex di otak anak. Kerusakan ini membuat anak tak mampu mengendalikan nafsu dan emosi serta mengambil keputusan.


Fakta bahwa cerita Anak Gembala diunggah begitu saja dari blog seorang penulis cerpen juga menggambarkan betapa buku itu dibikin secara asal-asalan. Penerbit yang telah mencetak buku tersebut sebanyak 10 ribu eksemplar terkesan memburu keuntungan bisnis semata.


Munculnya kisah tak mendidik dalam buku siswa bukanlah yang pertama. Di banyak daerah, cerita atau gambar porno dan kisah tak pantas juga kerap terselip dalam buku siswa. Setahun lalu, misalnya, kisah Bang Maman dari Kali Pasir membikin geger publik Jakarta. Cerita tentang tokoh lokal yang memiliki istri simpanan itu masuk buku penunjang siswa kelas II SD 9 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.


Adalah Hana (8), siswa SD Angkasa IX, Halim, bertanya pada ibunya, Intan. “Bu, istri simpanan itu apa?” Hal itu membuat Intan terperanjat. Dia terpaksa harus sedikit berbohong untuk menjawab pertanyaan itu. Intan lantas mengalihkan perhatian anaknya.


Ternyata, pertanyaan Hana berasal dari buku LKS yang dia baca. Kisah tersebut ada di dalam lembar kerja siswa (LKS) tentang Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Meski dalam teks kisah ada istilah istri simpanan, namun istilah itu tak muncul dalam soal-soal yang ada.


Buku ini diterbitkan oleh CV Media Kreasi dan terletak pada bab 11. Sebagian artikelnya berisi: “… Akhirnya Bang Maman meminta bantuan kepada Patme supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim …”


Setelah ramai jadi perbincangan, buku tersebut langsung ditarik. Sekolah yang sudah memberikan buku ke siswa pun langsung bereaksi dengan mengambil buku.


Buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) untuk SD di Pekanbaru juga  diprotes orangtua siswa. Buku tersebut dinilai terlalu vulgar dalam membahas alat kelamin.


Buku setebal 142 halaman tersebut Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Bagian sampul bergambar dua bocah tengah bermain bola.


Para ortu siswa menilai buku itu tak layak dibaca anak-anak. Dalam bagian bertopik “Menjaga Alat Kebersihan Reproduksi” muncul pertanyaan-pertanyaan di antaranya “Apa nama alat kelamin pria?”, “Apa nama alat kelamin wanita?” “Sperma dikeluarkan alat kelamin apa?” “Jika pria dan wanita berhubungan, reaksi apa yang terjadi pada wanita?”


Informasi yang dihimpun, buku yang ditulis oleh Dadan Heriana dan Giru Ferianti ini diedarkan Dinas Pendidikan Pemkot Pekanbaru.


Ada juga buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Inggris kelas 3 SMP diselip foto Miyabi alias Maria Ozawa. Meski kondisi fotonya tak bugil, namun foto bintang porno asal Jepang ini ramai dibicarakan.


Foto Miyabi muncul di halaman 36 di antara beberapa foto artis Indonesia dan foto fauna. Pada sampul LKS, tim penyusun bernama Giyono, Sumantri dan Jalil. Sementara penerbitnya adalah CV Sinar Mulia Mojosari, Mojokerto.


Beberapa orangtua siswa kelas 3 SMP Islam Brawijaya yang menyayangkan buku LKS Bahasa Inggris terdapat foto bintang porno Maria Ozawa atau Miyabi. Mereka meminta Dinas Pendidikan untuk menarik peredaran buku tersebut. Benar saja, buku itu langsung ditarik dan sebagian di antaranya dibakar.


Penistaan Agama


Ada juga buku pelajaran yang mengarah ke penistaan agama. Ditemukan buku yang memuat gambar Nabi Muhammad ini ditemukan salah satu siswa SD di Solo. Setelah melihat ada ilustrasi gambar Nabi Muhammad dalam buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolahan, siswa tersebut lalu melaporkan kepada orangtuanya.


Buku kontroversial itu diterbitkan Nobel Edumedia dan berisi kehidupan masa kecil 11 nabi. Di bagian akhir yaitu halaman 43 hingga 48 mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad SAW. Pada bagian ini terdapat lima ilustrasi gambar yang menggambarkan kehidupan masa kecil hingga masa remaja Nabi Muhammad.


Dari lima gambar itu, terdapat empat gambar yang menunjukkan sosok Nabi Muhammad. Gambar di halaman 43 terdapat gambar bayi sedang digendong seorang perempuan, yang mengilustrasikan masa bayi Nabi Muhammad di gendongan ibunya. Di depan gambar bayi diberi tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab.


Di halaman 44 nampak gambar anak lelaki kecil menggembala kambing, yang menunjukkan masa kecil Nabi Muhammad ketika dalam asuhan Halimah Tusa’diyah. Gambar utuh itu lalu ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, namun masih kelihatan jelas bagian dari seluruh rambut, jidat, mata, hingga bagian hidung. Sedangkan di bagian bawah terlihat jelas jubahnya.


Gambar halaman 46, menunjukkan seorang lelaki kecil di antara dua lelaki dewasa yang merupakan ilustrasi peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dua malaikat di perkampungan Bani Sa’d. Dalam gambar itu gambar lelaki kecil ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab ukuran besar di bagian atas namun masih terlihat jelas bagian kedua kakinya.


Gambar yang terdapat di halaman 48 adalah ilustrasi ketika Nabi Muhammad bertemu Buhairah, seorang pendeta ahli kitab yang sedang membuktikan tanda-tanda kenabian dalam diri Nabi Muhammad. Pada gambar itu di bagian kepala ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, sedangkan di bagian badan tetap terlihat utuh.


Kementerian Agama langsung bereaksi keras dan menarik buku dari peredaran. Menurut Menag Suryadharma Ali, Nabi Muhammad SAW tak bisa diilustrasikan dengan gambar apapun. Itu adalah materi sensitif yang bisa menimbulkan keresahan umat Islam.


Sementara, Lembar kerja siswa (LKS) di Kota Mojokerto kembali menjadi sorotan. Belum lama beredar LKS bergambar Miyabi, kali ini LKS Agama Islam tingkat SMP terdapat materi keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan fiqih.


Kesalahan buku itu terdapat pada pendefinisian salat jumat dan salat jenazah. Pada LKS ini, kedua salat itu hukumnya sunah, bukan fardu ain dan fardu kifayah atau salat wajib. Beberapa kesalahan konten tersebut dianggap tidak sesuai dengan kaidah fiqih.


“Beberapa konten yang diajarkan kami anggap itu menyesatkan,” ungkap Riha Mustofa, guru agama SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto. Pihak MUI pun sepakat buku itu harus segera diluruskan dan ditarik dari peredaran.


Kepala Sekolah SDN 155 Syafri Effendi membenarkan adanya buku tersebut. Informasi itu diterima setelah seorang orangtua siswa protes dan menganggap bahasanya tidak layak dibaca siswa SD. “Namun sekarang kami menarik buku tersebut. Kami menilai secara psikologi memang belum layak materi dan bahasanya untuk anak SD,” kata Effendi.ins


Sanksi ke Penerbit Lemah


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui jika pemerintah belum mampu memberikan sanksi tegas kepada penerbit buku pelajaran yang nakal. Menurut Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Ramon Mohandas inilah yang menyebabkan penerbit nakal tak jera memasukan materi yang tak sesuai dengan pelajaran.


“Kami akui, hukuman buat penerbit nakal masih lemah,” kata Ramon. Pernyataan Ramon ini menanggapi keluhan beradarnya buku pelajaran bermuatan materi porno di mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas VI yang digunakan oleh sejumlah SDN di Kota Bogor.


Ramon menuturkan sudah melihat cerita yang dimaksud. Dia mengatakan buku tersebut bukan buku resmi yang diwajibkan melainkan buku pengayaan. Buku itu melewati proses penilaian layak atau tidak.


 “Jadi penerbit langsung ke sekolah-sekolah terus mengiming-imingi sejumlah kompensasi,” ucap Ramon. Mestinya, ucap dia, para guru memperhatikan konten isi dulu sebelum sepakat untuk menggunakan.


Ramon mengatakan, ke depan perlu ada sanksi yang tegas untuk penerbit nakal agar menimbulkan efek jera. Menurut dia, DPR RI saat ini sedang menggodok Rancangan Undang Undang Perbukuan yang salah satu isinya tentang sanksi terhadap penerbit nakal.


Untuk Kurikulum Pendidikan 2013, Ramon menuturkan semua buku berasal dari pusat. Sekolah boleh menyediakan buku pengaya asal isinya lebih baik dibanding buku induk. “Buku induk itu hanya standar minimum,” ucap Ramon. Buku pengayaan itu harus melewati penilaian di dinas pendidikan setempat.ins




Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Sejarah Islam akan masuk pelajaran di sekolah Inggris

Sekretaris Pendidikan Inggris Michael Gove mengumumkan kurikulum sekolah di Inggris akan direvisi serta memasukkan sejarah Islam dalam pelajaran.


Stasiun televisi Press TV melaporkan, Selasa (16/7), perubahan itu dilakukan setelah muncul perdebatan luas pada rancangan kurikulum sekolah yang tidak memasukkan soal sejarah Islam.


Dewan Muslim Inggris yang mewakili 500 organisasi Islam di negeri itu marah karena rancangan kurikulum sekolah tidak memasukkan sejarah Islam daam salah satu mata pelajaran.


Namun akhirnya kelompok muslim dan Kristen menyambut baik revisi kurikulum itu dan sejarah Islam akan mulai perkenalkan dalam kurikulum sekolah pada 2014.


Ketua Dewan Masjid Lancashire Salim Mulla mengatakan perubahan itu sangat baik dan semua pihak perlu saling memahami kepercayaan masing-masing, terutama Islam yang kini menjadi agama kedua terbesar di Inggris.


“Sudah ada pemahaman baik soal Kristen dalam pelajaran sekolah. Tapi saya tidak yakin umat Kristen paham tentang keyakinan Islam,” kata dia.


Juru bicara Dewan Pendidikan Blackburn mengatakan kurikulum itu memang diperlukan untuk mengikuti perkembangan zaman yang bergerak makin cepat.


“Sebagaimana diketahui, sejarah awal peradaban Islam memberikan peran yang cukup luas kepada dunia dan kita harus mendukung pelajaran sejarah semacam itu.”












Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/11/mo8maj-mualaf-muslim-tak-butuh-perantara-ketika-berdoa


Sejarah Islam akan masuk pelajaran di sekolah Inggris

Wednesday, May 1, 2013

Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Terhenyak. Itulah satu kata yang menggambarkan situasi bangun tidur saya, Kamis 25 April 2013. Saya baru saja bangun kesiangan karena semalam suntuk merasa tidak mau membiarkan halaman demi halaman buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo terbiarkan.


Saya begitu penasaran dengan tuisannya yang meski belum selesai membacanya, tetapi ada begitu banyak nilai yang penting tercatat di sana. Sebuah perjalanan keliling dunia yang menjadikannya pribadi open minded. Beragam jenis dan situasi kehidupan yang dialaminya di luar sana membuka pikirannya tentang apa yang namanya nilai kemanusiaan.


Ya, terhenyak. Saya tidak terhenyak karena bangun kesiangan. Saya terhenyak karena membuka smartphone saya dan menemukan link berita dari BeritaSatu.Com (Rabu, 16 Januari 2013, 21.29) berjudul: Pemda Blitar Batal Tutup Enam Sekolah Katolik. Maaf. Saya ketinggalan berita. Berita ini sudah basi. Sudah tiga bulan yang lalu. Kurang lebih seperti ini:


Pemerintah Daerah Blitar membatalkan niatnya menutup sejumlah sekolah di wilayah itu yang tidak mau mengikuti aturan memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Romo Didik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Surabaya, menjelaskan bahwa pada hari ini, pengurus yayasan sekolah itu memenuhi undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Blitar demi membicarakan masalah itu.


Ada sejumlah kesepakatan yang didapatkan dari pertemuan itu, yakni pendidikan agama non-Katolik tetap dilaksanakan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh guru yang kompeten atau lembaga agama yang terkait. Berikutnya kegiatan dimaksud di atas akan dilaksanakan di luar sekolah.


“Petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan itu akan disusun secara bersama-sama,” kata Romo Didik saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/1) malam.


“Jadi tidak ada penutupan sekolah Katolik,” tegas dia.


Sebelumnya, DPR dan pemerintah diberitakan bergerak cepat untuk mengatasi adanya rencana penutupan enam sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur, karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Anggota Komisi III DPR dari daerah pemilihan itu, Eva Kusuma Sundari, mengisahkan kisruh itu diawali oleh adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kantor Kementerian Agama Setempat dengan Walikota mengenai hal itu. Surat itu bernomor 8 tahun 2012.


Di suratnya disebutkan bahwa wajib bagi setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.


Surat itu lalu disusul surat peringatan keenam sekolah swasta di kota Blitar yang dianggap tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain, yakni SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.


Enam sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.


Disebutkan di dalam peringatan bahwa dasar untuk itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, yang mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional.


Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut izin operasional enam sekolah tersebut.


Yang menarik dari berita tersebut adalah sudut komentar yang menggugah rasa saya untuk sebuah tulisan setelah ini yang akan saya sajikan.


Ogut – Selasa, 23 April 2013 | 14:02


kenapa ya agama selalu sj yg dipermasalahkan … org Katholik yg bersekolah / kuliah di yayasan agama Islam tidak pernah mengeluhkan ttg pelajaran agamanya …Yg penting tujuan utama utk sekolah / kuliah itu tercapai dgn baik… Jangan sllu agama yg dipermasalahkan .. Yg penting bisa lulus dgn hasil yg baik .. syukur-2 lgsg dpt pekerjaan .. Jika org Katholik bs sekolah di Yayasan Islam justru malah senang krn sebagai umat minoritas bisa belajar pengetahuan ttg Islam, tidak merasa didiskriminasi


ridho – Senin, 25 Februari 2013 | 20:11


maaf mas saya alumni SMAK Diponegoro Blitar, selama saya bersekolah disitu kami muslim hanya mengenal agama Katolik dan juga sebaliknya jadi akan terjadi toleransi beragama yang baik


anton – Selasa, 19 Februari 2013 | 08:27


Salut, dengan saudara/i muslim yang mau bersekolah di sekolah katolik tanpa harus pindah agama . Mereka tahu sekolah katolik mendidik murid jadi NASIONALIS bukan TERORIS. Berapa banyak pejabat negara yang masih MUSLIM sejati yang pernah bersekolah di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tak mengajarkan FANATISME TOLOL dan PEMAKSAAN serta senang budaya KORUP ( pengrusakan, kekerasan, tawuran ) yang membuat para siswa sering KERASUKAN BERSAMA karena murid dan gurunya hanya ingin libur bersama (malas)


Hariyadi Blitar – Sabtu, 16 Februari 2013 | 21:54


Mendapatkan Pendidikan Agama oleh Guru Seagama adalah HAK ASASI.


Inilah bunyi pasal 12 ayat 1 di UU SISDIKNAS 2003 yang menjadi acuan. Jika ada sekolah (lembaga pendidikan formal) yang tidak melaksanakannya PANTAS untuk ditinjau ulang ijin operasionalnya.


Saya dapat bocoran 60% lebih siswa di SMA Katolik Blitar adalah Muslim. 85% siswa di STM Katolik Blitar juga Muslim. Sayang nya mereka DIPAKSA mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dan TIDAK ADA PILIHAN LAINNYA.


PELANGGARAN HAM


Agustinus Wibowo (sapaan akrabnya Ming), pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur beretnis Tionghoa yang menjadi musafir selama 10 tahun keliling dunia setelah menamatkan kuliah bermutunya di Universitas Tsinghua Beijing, Tiongkok. Saya, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, beretnis Minahasa, belum mengembara terlalu jauh seperti Ming, tetapi cukup merasakan sembilan tahun tidak bersama keluarga.


Dengan alasan yang sama seperti Ming, saya tidak bersama keluarga bukan karena melarikan diri, tetapi karena panggilan jiwa, pendidikan dan tentunya petualangan. Tidak bermaksud menyindir siapa pun, tetapi perjalanan bertahun-tahun “di luar rumah” adalah perjalanan membuka pikiran untuk hidup tidak dengan pola piker kolot yang sok pinter melakukan justifikasi dalam setiap persoalan sensitif menyangkut hak asasi manusia (HAM).


Saya mengingat perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sadar akan kekolotan kehidupan yang ada di sekitarnya, Dahlan berani mendobrak tradisi keislaman yang tradisional di tanah Jawa waktu itu dan mencerahkan pikiran dengan melakukan perjalanan belajar ke luar negeri. Itulah kemudian yang menetapkan langkahnya mendirikan sebuah organisasi Islam sebesar Muhammadiyah saat ini, sebuah organisasi Islam modern yang terkenal dengan dialog bermutu dan pemikiran-pemikiran terbukanya tentang dunia secara global.


Saya juga hafal betul dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang merupakan tokoh pengusung pluralisme dalam berbangsa. Bisakah Gus Dur memiliki karakter demikian jika pada masa lalunya tidak berani keluar dari zona tradisionalnya? Bisakah beliau tanpa latar belakang pendidikan ala Kairo yang pluralistik yang diterimanya saat kuliah?


Ketika tahun 2004, kakak perempuan saya secara radikal memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti suaminya yang beragama Islam, keluarga saya yang tumbuh dalam keluarga Katolik tradisional begitu menolak keputusan itu. Keluarga saya adalah kumpulan orang-orang yang mengetahui Islam sebagai ajaran yang tidak pernah berhubungan dengan Kristianitas. Seorang Katolik yang masuk Islam, yah, tidak bisa diterima. Itulah pemikiran tradisional keluarga kami. Apalagi keluarga kami berasal dari etnis Minahasa yang kental dengan suasana kekeluargaan dan kerabat Kristen. Keluarga besar akan mencibir keluarga inti saya jika hal itu terjadi. Malu. Itulah inti dari mengapa kakak saya tidak boleh masuk Islam. Hingga kini pun, meski kakak saya sudah menjalani imannya sebagai seorang muslimah hampir tujuh tahun, stigma sebagai seorang yang “berbeda” sudah telanjur diberikan untuk kakak saya.


Tahun 2008, untuk pertama kalinya saya mengenal Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Sebuah kampus milik yayasan gereja Katolik. Tak seperti kampus-kampus Katolik lainnya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Biasanya kampus-kampus itu bernama Santo-Santa atau nilai ke-Katolik-an misalnya De La Salle, Atma Jaya, Sanata Dharma atau Santo Thomas Aquinas, dan lain-lain. Nama “Parahyangan” sangat tidak bersangkut paut dengan nilai-nilai Katolik. Parahyangan justru merupakan representasi dari makna luas sebuah tempat yang menjadi surge dewa-dewi, surge para hyang. Meski akhirnya belakangan nama itu dimaknai khusus oleh kampus tersebut (dalam hubungannya dengan Sang-Hyang-Tuhan), tetapi menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kampus Katolik yang terkenal tersebut bukan karena saja namanya, tetapi juga karena pendiri dan visi-misi pendidikan yang diusungnya.


Selama menjadi mahasiswa dan menjalani kuliah di kampus ini, sebagai seorang Katolik yang terbiasa sekolah di sekolah Katolik (dengan segala pendidikan Katolik-nya, ritual, kapel, dsb), untuk pertama kalinya saya tidak menemukan mayoritas “penduduk” kampus adalah mahasiswa non-Katolik. Untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah Pusat Kajian Humaniora yang melaksanakan kuliah-kuliah karakter, moral , agama dan psikologi. Pusat kajian ini dipimpin oleh seorang romo. Bagi mahasiswa kampus ini – sesuai aturan harus ada pendidikan agama untuk setiap personal – disediakan pilihan untuk memilih mata kuliah dasar wajib: memilih kuliah fenomenologi agama (filsafat) atau kuliah pendidikan agama Katolik.


Bagi saya, mahasiswa fakultas filsafat, sebuah kewajiban untuk memilih mata kuliah fenomenologi. Tetapi untuk mahasiswa dari fakultas lain, mereka dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Pilihan yang memudahkan sebenarnya! Kenyataan yang sedikit lucu dan tak disangka adalah, para mahasiswa non-Katolik, justru begitu menyukai memilih kuliah pendidikan agama Katolik. Tanpa dipaksa. Itu pilihan mereka. Kalau saja mereka seorang yang tradisional dan tidak mau menjadi kafir, mereka tentunya lebih memilih kuliah fenomenologi yang notabene sama sekali tidak mempelajari tentang ajaran Katolik. Fenomenologi mengkaji realita agama-agama secara umum. Mau tahu kenapa mereka memilih kuliah pendidikan agama Katolik? Hanya satu alasannya: Dosennya seorang romo yang begitu cerdas, baik hati, murah hati dan bersahaja! Wow! Sebuah alasan yang manusiawi.


Ada hal lain yang begitu menonjol yang saya temukan di kampus ini. Selama kuliah, saya belum menemukan di mana letak kapel atau gereja kampus yang berdiri megah di dalam lingkungan kampus, seperti halnya sebuah kampus Katolik yang ada di belahan dunia mana pun. Mendapat embel-embel Katolik di antara kata “Universitas” dan “Parahyangan” bukanlah hal yang mudah.


Dalam peraturan Gereja Katolik tentang pendidikan Katolik ada pasal yang mengatur hal tersebut. Salah satunya ialah sebuah kampus Katolik harus menampakkan ciri ke-katolik-an yang khas. Maka sebuah kapel atau gereja menjadi ciri khas banyak kampus Katolik di seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kapel megah di lingkungan kampus bernama Parahyangan tersebut?


Ya, sejak berdiri tahun 1955, pendirinya dua uskup berkebangsaan Belanda. Monsinyur Petrus Arntz, OSC (uskup Bandung) dan Monsinyur Prof Geise OFM (rektor pertama Universitas Parahyangan) mencita-citakan sebuah perguruan tinggi yang dibangun “di” dan “untuk” tanah Parahyangan! Keduanya menyadari, kampus ini berdiri di tengah-tengah tanah Sunda yang kental dengan budayanya. Kampus yang akhirnya tetap eksis hingga kini itu ialah kampus yang dipersembahkan untuk tatar Parahyangan. Dengan alasan itu pula, dua pendiri ini menghendaki sebuah kampus yang mengajarkan ilmu berdasarkan Ketuhanan untuk diabdikan kepada masyarakat atau Bakuning Hyang Mrig Guna Santyaya Bhakti.


Dua pendiri ini pertama-tama tidak menempatkan Ke-katolik-an sebagai subjek utama yang harus dicekokin di dalam otak para mahasiswanya, tetapi justru semangat kekatolikan itu sendiri yakni iman, harap, dan kasih, yang harus menyemangati para mahasiswanya agar kelak menjadi manusia yang berbakti secara manusiawi. Itulah alasan mengapa, tidak ada kapel di kampus itu. (dan katanya tidak akan pernah ada-dan itu juga mengapa, Universitas Parahyangan menjadi kampus Katolik yang selalu mendapatkan ‘pengawasan yang ketat’ dari petinggi Gereja Katolik yang mengurusi pendidikan Katolik).


Panjang-lebar tentang Agustinus Wibowo, Ahmad Dahlan, Gus Dur, dan Universitas Katolik Parahyangan, apa sebenarnya hal yang penting dari semua itu?


Dalam sejarah pemikiran Yunani, ada satu masa ketika logika mendapatkan tempat yang begitu mulia saat ia melengserkan segala mitos yang terlalu lama membelenggu masyarakat Yunani waktu itu. Masa ketika myth berubah menjadi logos itulah menjadi masa kelahiran filsafat. Manusia hidup tidak lagi dalam kungkungan tradisionalitas. Tradisional itu bukan masalah konservatif atau kekakuan. Tradisional itu adalah masa ketika otak manusia begitu keukeuh mempertahankan imajinasi kolotnya diperhadapkan dengan kebenaran logika.


Mitos pada masa itu bahkan telah menjadi keyakinan yang begitu menguratnadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika mitos itu telah menjadi sebuah “agama”, dia lalu melakukan pembelaan yang terlalu percaya diri dan mati-matian. Dalam perjalanannya kemudian sedikit demi sedikit tradisionalitas mendapatkan tempat yang sesungguhnya harus ia tempati: tradisionalitas menjadi sebuah kearifan lokal, yang dari dialah setiap persoalan seharusnya dipelajari.


Lalu apakah yang mendasari sebuah negara menjadi begitu kolot pemikirannya terhadap pemberlakukan sebuah aturan? Itulah yang terjadi dalam konstruksi pemberitaan yang saya kutip di awal tulisan saya ini. Ketika Pancasila sebagai kearifan jiwa Indonesia yang kemudian di-logos-kan menjadi sebuah dasar negara, bahkan telah kalah dengan seperangkat aturan yang dikeluarkan oleh pemikir-pemikir kolot yang menuntut hak asasi yang sesungguhnya tidak pada pemahaman sebenarnya tentang pentingnya sebuah kemanusiaan.


Apa sebenarnya hak asasi yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Apakah mayoritas sebuah komunitas harus mengalahkan hak asasi dari sebuah kekhasan?


Ketika di satu sisi saya menuntut hak saya untuk diperlakukan sesuai kekhasan diri saya, lalu kapan saya memperhitungkan kekhasan orang lain atau institusi yang saya tuntut memberikan hak kekhasan itu kepada saya?


Sekali lagi, mitos dan tradisionalitas sempit telah lahir menjadi logika. Lalu ketika ada yang membaca tulisan ini berkomentar” “Logika justru telah menghancurkan sistem-sistem nilai moral! Rasio justru telah menjadi alat pembunuh bagi manusia!.”


Itu bukan konteks sebenarnya. Bagaimana setiap manusia menyadari bahwa setiap masalah ada di dalam konteksnya masing-masing. Dalam konteks pembicaraan saya, hak asasi manusia adalah setiap hal yang menjadi hak dasar manusia sebagai makhluk bermartabat Allah. Martabat Allah yang diembuskan dalam napas manusia membuatnya menjadi makhluk yang khusus. Dan manusia yang dimaksud itu banyak. Ada hampir delapan miliar martabat Allah di dunia ini. Lalu kita harusnya kembali ke pemahaman bahwa saya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk hidup menurut ciri khasnya dan saya juga harus menyesuaikan untuk berusaha hidup sesuai kekhasan diri saya secara maksimal.


Ada yang keliru dalam argumentasi-argumentasi tentang mendapatkan hak asasi: aturan diperlakukan untuk memudahkan hak asasi tersebut terwujud, tetapi mengebiri hak asasi pihak lain.


Di akhir tulisan saya ini ada satu hal yang ingin saya gabungkan dalam hubungannya dengan beberapa cerita tentang Agustinus Wibowo hingga Universitas Katolik Parahyangan di atas.


Seorang Pastor Belanda di Tilburg setahun yang lalu pernah mengatakan kepada saya,“Orang Indonesia itu bagus sekali. Punya ungkapan hiduplah membumi!”


Kalimat ini menggugah saya. Ketika orang Barat hidup dengan seni individualistiknya, penilaian saya terhadap itu positif: mereka demikian bukan karena mementingkan diri sendiri, tetapi mereka hidup membumi, apa adanya. Hidup membumi juga berarti saling menghargai, rendah hati, dan memperlakukan segala sesuatu pada “bumi”-nya atau pada asalnya.


Jangan meminta sayur di warung buah. Jangan meminta besi di warung sayur. Jangan meminta pizza di warung gado-gado. Bisa saja, tetapi sulit dan lama! Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berkutat pada bagaimana bisa membeli kebutuhan pada tempat yang tidak menjualnya. Dirampok, tersesat, hampir mati, dan diperhadapkan pada orangtua yang sakit parah di belahan dunia lain, telah menjadikan Agustinus Wibowo menjadi seseorang yang melihat dunia dan membagi nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi untuk banyak orang.


KH Ahmad Dahlan dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pribadi yang modern dan toleran. Mereka menjadi demikian bukan berarti mengabaikan inti nilai iman mereka, tetapi justru dengan demikian menjadi pribadi yang bersahaja dan mudah menghargai orang lain.


Dan yang terakhir adalah kampus Katolik yang saya ceritakan tadi, yang terpenting adalah mendidik karakter. Percuma paham Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, percuma hafal dan paham Alquran dari awal hingga akhir kitab, percuma menguasai tiga keranjang Tripitaka, dan berbagai ajaran Veda ataupun seluruh kebijaksanaan Nabi Kongzi. Semuanya percuma, jika dalam hidup sehari-hari, kita menggunakan semua indra untuk menelanjangi kemanusiaan orang lain. Pertanyaannya, berdasarkan ajaran iman pribadi sebenarnya saya berjuang untuk hak asasi siapa?


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1ftb-geliat-islam-di-eropa-barat-1


Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Saturday, July 20, 2013

Pelajaran dari Surah Al Baqarah Ayat 101-141










Jakarta – Ayat 101-103

1.Nabi Sulaiman as. dan semua nabi dianugerahi Allah keluarbiasaan sebagai mukjizat. Mukjizat berbeda dengan sihir. Sihir dapat dipelajari oleh siapa pun, sedang mukjizat adalah anugerah Allah yang tidak dapat dipelajari.
2.Sihir tidak memiliki pengaruh positif atau negatif kecuali bila dikehendaki Allah swt. karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam raya ini tanpa izin-Nya.
3.Sihir tidak ada manfaatnya, bahkan justru memberi mudharat. Apa yang didambakan sebenarnya dapat diperoleh melalui keimanan dan ketakwaan kepadaa Allah.
4.Kisah Nabi Sulaiman as. dan dua “malaikat” yang di celah kisahnnya terdapat uraian tentang sihir harus menjadi pelajaran agar manusia tidak terpengaruh oleh ilusi.


Ayat 104-110


1.Seseorang hendaknya pandai-pandai memilih kalimat-kalimat dalam percakapannya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman, tidak juga mengundang pelecehan dan penghinaan terhadap siapa pun.
2.Mukjizat seorang nabi merupakan kewenangan Allah swt., demikian juga penetapan hukum, keduanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat.
3.Bukanlah sifat terpuji mengajukan pertanyaan yang bukan pada tempatnya. Pertanyaan merupakan setengah dari pengetahuan sehingga pertanyaan yang tidak tepat menunjukkan kebodohan si penanya.
4.Tabiat dasar kaum Muslim adalah memaafkan, sabar, dan tabah, selama hal tersebut belum menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan kehormatan agama dan ketetapan-ketetapan Allah swt.


Ayat 111-115


1.Jangan mencela anutan dan sesembahan siapa pun. Hiduplah berdampingam karena hanya Allah yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
2.Pentingnya memelihara kesucian masjid dan rumah-rumah ibadah.
3.Pentingnya memberi kebebasan kepada setiap penganut agama untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan tertib dan aman.
4.Allah di mana-mana. Karena itu di mana pun seseorang mengarah, maka dia menemukan Allah, hanya saja perlu diingat bahwa ada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan-Nya guna menghadap kepada-Nya dalam shalat, yaitu arah Bait al-Maqdis di Palestina bagi Bani Israil dan arah Ka‘bah di Mekkah bagi umat Islam.


Ayat 116-119


1.Allah Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu, tetapi segala sesuatu butuh kepada-Nya. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Tiada yang serupa dengan-Nya walau dalam khayalan. Jika Dia berkehendak, terlaksana kehendak-Nya kapan pun Dia kehendaki. Tanpa terikat oleh waktu, alat, atau apa pun.
2.Manusia—dalam kehidupan dunia ini—tidak dapat melihat atau bercakap-cakap langsung dengan Allah, karena manusia tidak memiliki potensi untuk itu.
3.Tidak diperlukan lagi bukti-bukti baru tentang wujud dan keesaan Allah, karena sudah demikian banyak bukti-bukti tentang hal tersebut yang terhampar di alam raya dan dalam diri manusia.
4.Tugas Nabi, demikian juga penganjur agama, hanyalah menyampaikan ajaran agama dengan penuh kesungguhan. Karenanya Nabi saw. atau siapa pun tidak bertanggung jawab atas kekufuran siapa pun.


Ayat 120-123


1.Kewajiban berhati-hati terhadap ajakan dan cara hidup yang diterapkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan semua cara hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam.
2.Ada sebagian penganut agama Yahudi dan Nasrani, yang memeluk agama Islam dengan tulus setelah memahami pesan dan kandungan kitab suci mereka yang menguraikan tentang Nabi Muhammad saw.
3.Kewajiban mensyukuri nikmat Allah serta keharusan menyadari betapa dahsyat pertanggungjawaban yang akan dituntut oleh Allah dari setiap orang pada Hari Kemudian.


Ayat 124-129


1.Ujian Allah kepada Nabi Ibrahim as. merupakan pelajaran kepada manusia tentang perlunya menguji/mengetahui kemampuan seseorang sebelum diberi tugas.
2.Ka‘bah telah wujud sebelum Nabi Ibrahim as. Dia adalah rumah peribadatan pertama untuk umat manusia sehingga tidak berlebihan jika dikatakan ia dibangun oleh manusia pertama atau bahkan malaikat.
3.Salah satu makna Maqam Ibrahim adalah tempat yang terpatri padanya telapak kaki Nabi Ibrahim as. ketika beliau berdiri di atasnya guna meninggikan Ka‘bah agar dapat mencapai ketinggian yang melebihi ketinggian badannya.
4.Penyebutan keterlibatan Ismail bersama ayah beliau, Ibrahim as. dalam membersihkan Ka‘bah, memberi pelajaran agar orangtua hendaknya mengajak anaknya berpartisipasi dalam kebajikan.
5.Seorang pemimpin hendaknya tidak membatasi usahanya menyebarluaskan kesejahteraan duniawi kepada mereka yang seiman dengannya saja (hanya kelompok pendukungnya), tetapi harus mencakup seluruh penduduk tanpa diskriminasi.
6.Pada ayat 129, Nabi Ibrahim as. Berdoa agar Allah “mengutus untuk penduduk Mekkah seorang Rasul dari kalangan mereka,” maka itu berarti doanya baru dikabulkan setelah sekitar 3400 tahun, karena Nabi Muhammad saw. diutus pada tahun 610 M. Ini menjadi pelajaran agar yang berdoa jangan jemu berdoa dan jangan juga tergesa-gesa meminta pengabulan doanya.


Ayat 130-134


1.Nabi Ibrahim as. adalah tokoh yang sangat mulia. Penyebutan bahwa beliau terpilih di dunia dan di akhirat, mengisyaratkan bahwa ada tokoh yang hanya terkemuka di dunia, tetapi tidak di akhirat. Nabi Ibrahim as. menyandang kemuliaan dunia dan akhirat.
2.Islam adalah anutan serta pesan para nabi yang lalu kepada generasi mereka dan generasi-generasi selanjutnya.
3.Wasiat beliau: “Jangan sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Muslim/berserah diri kepada Allah,” mengandung makna jangan meninggalkan agama Islam walau sesaat pun.
4.Setiap orang mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Seseorang tidak dapat mengandalkan leluhurnya dalam meraih keselamatan dan kebahagiaan ukhrawi.


Ayat 135-141


1.Agama Allah pada prinsipnya sama. Intinya adalah mengesakan Allah swt. serta beribadah secara murni dan tulus kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.
2.Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishaq as. bukanlah orang Yahudi atau penganut agama Yahudi.






( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Pelajaran dari Surah Al Baqarah Ayat 101-141

Saturday, December 10, 2016

Maria Elaine Memilih Ikuti Pelajaran Agama Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam.

Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya.

Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah. Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya.

Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas. Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya.

Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

‘’Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,’’ ungkap Maria. Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam.

"

| Maria | Elaine | Memilih | Ikuti | Pelajaran | Agama | Islam | REPUBLIKA | JAKARTA | Meski | ayahnya | lebih | dulu | menjadi | mualaf | Venerissa | tetap | mengalami | masa | gelisah | menentukan | keyakinan | yang | dipegangnya | tertarik | ingin | tahu | banyak | tentang | p> Ia | mempertany | mengapa | perlu | puasa | Mengapa | perempuan | haid | boleh | beribadah | istilah | bukan | mahrom | kategori | aurat | pada | Ayahnya | pernah | memaks | putri | sulungnya | untuk | mengikuti | jejaknya | p> Meski | sebagai | orangtua | berpesan | baik | jika | Muslim | begitu | mengantar | gereja | setiap | akhir | pekan | sendiri | merasa | keputusan | karena | panggilan | hati | Suara | adzan | membawa | ketenangan | hatinya | p> Selama | pelajaran | agama | semasa | juga | memilih | duduk | mendengarkan | kelas | membaca | menulis | Alquran | memahami | artinya | p> Jadilah | penolong | bagi | teman | sekelasnya | mencatatkan | ayat | atau | hadits | Hingga | akhirnya | 2012 | bersyahadat | Momen | akbar | hidup | gadis | tahun | berlangsung | sederhana | p> Dengan | bulat | didampingi | guru | seorang | selama | memang | dekat | dengannya | Ujian | terhadap | orang | beriman | Ditanya | tanya | oleh | keluarga | menjawab | sempat | tertekan | p> ‘’Saat | ilmu | saya | masih | sedikit | Saya | atas | diuji | Allah | ’’ | ungkap | Akan | masalah | demi | dilewatinya | menyerah | mempelajari | mendalami | sangat | bersyukur | telah | menemukan | pencerahan | kedamaian | dalam | p> |

Thank You Very Much for Visiting this Article

Friday, March 29, 2013

Islam Jadi Pelajaran Agama Paling Diminati di AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pelajaran Agama sudah masuk dalam kurikulum pembelajaran sekolah di Amerika Serikat (AS). Tak terkecuali Islam. Yang lebih mengejutkan, Islam menjadi pelajaran agama yang paling diminati di AS. 

“Itu karena kejadian-kejadian yang belakangan terjadi, membuat nama Islam naik daun,” kata imam Pusat Kebudayaan Islam New York, Ustadz Shamsi Ali di Jakarta, Kamis (28/3). 

Ali mengakui, kehidupan muslim di AS berjalan normal. Karena negara menjamin hal itu lantaran bagian dari hak asasi manusia. Meski pun masih ada kasus diskriminasi di negeri Paman Sam tersebut.

“Tapi sekarang sudah banyak yang melawan (diskriminasi Islam) di antara umat non-Islam sendiri,” tambah dia.

Contoh penolakan stigma radikal yang disematkan pada umat Islam justru dilakukan oleh umat Yahudi di Town Square New York saat demonstrasi dengan slogan ‘Today I am a moslem too’. 

Article source: http://www.dw.de/politik-dalam-secarik-busana-muslim/a-16378714


Islam Jadi Pelajaran Agama Paling Diminati di AS

Saturday, April 13, 2013

1,6 Juta Lebih Siswa Madrasah Siap Ikuti UN

Jakarta, (Analisa).Tercatat sebanyak 1.659.717 siswa madrasah siap mengikuti Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2012/2013, terdiri dari: 484.230 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), 829.884 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 345.603 siswa Madrasyah Aliyah (MA), kata seorang pejabat Departemen Agama.


“Untuk siswa MA, terbagi dalamjurusan IPA: 103.835 siswa, IPS: 214.946 siswa, Bahasa: 9.460 siswa, dan Keagamaan: 17.362 siswa,” kata kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Agama, Zubaidi di Jakarta, Sabtu.


Terkait waktu pelaksanaan UN, ia menjelaskan bahwa UN siswa madrasah dilaksanakan berbarengan dengan UN siswa sekolah. Untuk UN siswa MA akan dilaksanakan pada 15 – 18 April 2013. Adapun ujian susulannya dijadwalkan pada 22 – 25 April 2013. “Menteri Agama, Dirjen Pendidikan Islam, Direktur Pendidikan Madrasah, dan saya sendiri dijadwalkan akan melakukan pemantauan langsung di MAN Insan Cendekia Serpong,” tutur Zubaidi.


UN bagi siswa MTs, lanjut Zubaidi, akan dilaksanakan pada 22 – 25 April 2013, dengan susulan pada 29 April – 2 Mei 2013. Adapun UN bagi siswa MI, dilaksanakan pada 6 – 8 Mei 2013 dan ujian susulannya dilaksanakan pada 13 – 15 Mei 2013.


Ia menambahkan bahwa hasil UN ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pemetaan program dan/atau satuan pendidikan dan dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Hasil UN juga akan menjadi penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, serta sebagai dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.


“Mata pelajaran yang diujikan pada UN MA, selain Jurusan Keagamaan, sama dengan SMA. Mata pelajaran yang diujikan pada UN MTs sama dengan SMP. Mata pelajaran yang diujikan pada UN MI, sama dengan SD,” kata Zubaid.


Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan angka dan kualitas kelulusan siswa madrasah tahun ini. Kalau tahun lalu angka kelulusan mencapai 99 persen, diharapkan tahun ini bisa mencapai 100 persen. “Kementerian Agama dan seluruh siswa madrasah siap menyukseskan Ujian Nasional dengan jujur dan berprestasi,” kata Zubaidi menambahkan. (Ant)


Article source: http://www.solopos.com/2012/12/17/pandeyan-empat-kali-kebanjiran-pemkot-masih-cuek-358739


1,6 Juta Lebih Siswa Madrasah Siap Ikuti UN

Saturday, June 1, 2013

Ini Tips SMPN 1 Kota Magelang Raih Nilai UN Tertinggi Nasional



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>



MAGELANG, KOMPAS.com — Menduduki peringkat pertama nasional dalam perolehan nilai hasil ujian nasional (UN) 2013/2013 menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMP Negeri 1 Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebab, prestasi ini adalah yang pertama kali dicapai dalam sepanjang sejarah.


“Pada tahun ajaran ini sekolah kami mampu mencapai nilai rata-rata hasil UN 9,14. Pencapaian ini adalah yang terbaik dalam sepanjang sejarah,” ungkap Kunadi, Kepala SMP Negeri 1 Kota Magelang, Sabtu (1/6/2013).


Menurutnya, tahun ajaran lalu, sekolah tersebut hanya dapat mencapai peringkat 6 nasional. Padahal, kata Kunadi, tahun ajaran ini tingkat kesulitan soal-soal lebih tinggi dibanding tahun lalu. Ditambah lagi dengan sistem 20 paket soal yang berbeda tiap kelas. Sementara itu, tahun lalu hanya 5 paket soal berbeda tiap ruang.


Kunadi menyebutkan, dari 162 siswa peserta UN, sebanyak 71 di antaranya meraih nilai 10 untuk mata pelajaran matematika, kemudian dua siswa nilai 10 untuk Bahasa Inggris, dan tiga siswa meraih nilai 10 untuk IPA.


“Pencapaian ini adalah hasil kerja keras kami, bukan hanya para siswa akan tetapi adanya sinergitas antara siswa, tim guru, karyawan, komite, dan juga orangtua wali murid,” tuturnya.


Untuk dapat meraih prestasi tersebut, Kunadi mengakui, memang harus ada strategi antara lain selalu menerapkan profesionalitas guru, utamanya guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan. Selain itu, pihaknya juga senantiasa menekankan pada proses dan kualitas pembelajaran pada siswa.


“Meski status sekolah kami sudah tidak Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) lagi sejak Januari lalu, tapi kami tetap optimistis, bekerja keras dan tetap mepertahankan prestasi belajar anak didik kami,” tuturnya.


Wakil Kepala SMP Negeri 1 Kota Magelang Sri Endah Cahyani menambahkan, untuk memacu prestasi siswa, pihak sekolah sudah menerapkan disiplin sejak mulai masuk kelas IX. Siswa sudah diwajibkan mengikuti pendalaman materi atau biasa disebut jam ke-0 (pukul 06.00 – 07.00 WIB).


“Pada jam tersebut mereka harus mengerjakan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Kemudian dibahas bersama guru mata pelajaran yang bersangkutan. Setiap sebulan sekali siswa juga wajib mengikuti tes kompetisi. Di sini siswa menjadi terbiasa mengerjakan soal-soal dan berkompetisi secara sehat,” jelasnya.


Selain latihan soal secara intensif, pihaknya juga melatih siswa untuk disiplin dalam berdoa. Setiap hari siswa-siswa yang beragama Islam dianjurkan untuk menjalankan shalat dhuha berjemaah di masjid sekolah. Demikian pula bagi yang non-muslim, juga disediakan waktu khusus untuk berdoa di sekolah.


Yang lebih penting pula, kata Sri, pihak guru juga senantiasa menerapkan sikap jujur dan mandiri. Hampir setiap ujian sekolah maupun ujian nasional, guru-guru tidak pernah melakukan pengawasan yang berlebihan.


“Ini kami terapkan untuk melatih kejujuran dan percaya diri anak-anak. Jika kami para guru sudah terlalu ketat dalam pengawasan, misalnya keliling kelas memperhatikan siswa satu persatu justru membuat anak takut dan merasa tidak diberi kepercayaan,” pungkasnya.


Sekolah yang terletak di Jalan Pahlawan Kota Magelang ini memang dikenal dengan sekolah unggulan terbaik di Kota Magelang. Ribuan prestasi telah ditorehkan oleh siswa-siswa dan para guru sekolah ini. Tidak hanya prestasi akademik tapi juga nonakademik, baik tingkat kota/kabupaten, provinsi, nasional bahkan Internasional.


Untuk bisa masuk di sekolah ini pun, calon siswa harus mengikut beberapa tahapan seleksi. Antara lain harus mengikuti tes tulis khusus yang diselenggarakan sekolah. Kemudian hasil tes tersebut akan ditambah dengan rata-rata nilai SD.


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>







































Article source: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/gavin-susantio-bahagia-memiliki-keluarga-campur-5bba37.html


Ini Tips SMPN 1 Kota Magelang Raih Nilai UN Tertinggi Nasional

Wednesday, January 2, 2013

Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Home Tazkiyatun Nafs

Jadikan Shalat sebagai Madrasah


 

Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan


Kamis, 03 Januari 2013

Oleh: Sholih Hasyim

SETIAP momentum bulan Rajab, biasanya  seorang muslim disegarkan ingatannya oleh peristiwa  monumental, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam . Beliau diperjalankan  oleh Allah Subhanahu Wata’ala setelah mengalami tahun kesedihan (‘amul huzni). Disebabkan oleh kematian istri tercintanya dan paman yang dihurmatinya, yang selama ini keduanya selalu mensupport beliau dalam suka dan duka merintis jalan dakwah. 

Perjalanan beliau menembus dimensi ruang dan waktu, memberikan pelajaran mendasar bahwa kerumitan apapun yang dihadapi seorang pejuang kebenaran dan keadilan akan ditemukan solusinya dengan media menegakkan shalat. Dengan shalat, kesulitan apapun yang dihadapi akan menjadi mudah, karena  mengundang intervensi dan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala (tadakhul rabbani).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[*], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah (2) : 153). 

Ada pula yang mengartikan : mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar (keteguhan dan ketegaran jiwa) dan shalat. Ash Shalatu mi’rajul mukmin (shalat adalah mi’raj – media untuk berinteraksi ke langit  -  seorang mukmin) (al-Hadits).

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi bukti yang sangat valid  alangkah agungnya perintah ibadah shalat. Berbeda dengan perintah yang lain, perintah shalat diterima oleh Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam secara langsung menghadap-Nya di Sidratul Muntaha, tanpa melalui perantara malaikat Jibril. 

Peristiwa bersejarah tersebut, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim untuk mengadakan evaluasi secara total dan radikal (fundamental) mutu pelaksanaan shalat kita. Dengan harapan ibadah mahdhah tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan (atsarun fa’aal) dalam membentuk kepribadian muslim secara utuh baik dari sisi mujahadah (kecerdasan spiritual), ijtihad (kecerdasan intlektual) dan jihad (kesedian untuk berkurban di jalan Allah Subhanahu Wata’ala). 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun (63) : 9)

Dengan dievaluasi secara berkesinambungan,  semoga kelak hisab shalat lebih ringan. Juga ada peningkatan mutu baik pisik dan dimensi ruhani. Shalat yang kita lakukan tidak sebatas kaya ritus formal serimonial yang menjemukan, tetapi miskin aplikasi. Kita berharap shalat yang kita lakukan fungsional memberikan maknawiyah (spirit), yang dapat mengantarkan kita menjadi sholih linafsihi (sholih untuk dirinya) dan shalih lighoirihi (shalih kepada orang lain). Dan menjaga keseimbangan dimensi hablun minallah (hubungan vertical) dan hablun minannas (hubungan horizontal).

Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Shalat

Secara empiris mengajarkan, setidaknya ada sembilan pelajaran penting (hikmah)  yang diserap  dalam ibadah shalat.

Pertama: Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Shalat mendidik pelakunya untuk mensucikan dirinya dari virus ruhani yang menjadi pemicu pelanggaran/penyimpangan dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia dahulu sampai sekarang. Yaitu, penyakit serakah (thama’), yang diwariskan oleh Adam as. Yang berefek pada terusirnya dari surge, takabur (sombong) yang ditularkan oleh Iblis, berakibat sebagai penghalang masuk surga dan hasud (dengki) yang dipusakakan oleh Qabil, pemicu terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia ini.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabut (29) : 45)

Kedua: Tarbiyatul Wahdah Al Islamiyah (pendidikan persatuan umat Islam). Orang yang shalat menghadap ke tempat/arah yang sama (kiblat), yaitu Baitullah (Ka’bah). Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan yang diikat oleh nilai-nilai prinsip (jamaah), bukan sekedar bergerombol (majmu’ah), berkumpul karena ikatan kerja (materi). Jamaah akan terwujud jika didorong oleh kebersihan hati individunya dari berbagai kepentingan kecuali menomorsatukan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengagungkan syi’ar-syi’arnya. Semua bentuk persahabatan, kesepahaman akan memicu permusuhan dikemudian hari kecuali didasari oleh spirit iman dan takwa. Tahapan persatuan diawali dari saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menyayangi (tarahum), saling menanggung (takaful), saling menolong (tanashur).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf (43): 67).

Ketiga: Harish ‘ala waqtihi (bersungguh-sungguh dalam mengelola waktunya)

Seorang Muslim jadual kehidupannya diatur oleh waktu shalat. Transaksi milyaran rupiah akan dia batalkan jika panggilan shalat telah dikumandangkan. Ia yakin, jika memperoleh undangan seseorang, maka yang mengundang sudah mempersiapakan hidangan kepada yang diundang. Apalagi yang mengundang adalah Zat Yang Maha Kaya, sudah tentu yang disisi-Nya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka, dia beruapaya melakukannya untuk tepat waktu. Memenuhi adab lahir dan batin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal (8): 24)

Keempat: Munadhdhamun fil Jama’ah (disiplin dalam berorganisasi). Sholat mendidik tertib organisasi, menyangkut tertibnya berjamaah dengan barisan yang rapi, rapat. Tidak boleh ada barisan yang kosong agar tidak dimasuki syetan. Muslim yang satu dengan yang lain bergaul dengan penuh kedekatan, keeratan dan keakraban. Rasulullah bersabda : Orang beriman itu mudah untuk harmonis dan mudah untuk diharmoniskan, tiada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah jinak dan tidak mudah dijinakkan (al Hadits). Dalam al-Quran panggilan untuk orang-orang beriman (ya ayyuhalladzina amanu – menggunakan jama’ -). Tidak ditemukan dalam al-Quran, sebutan untuk orang beriman dengan kata tunggal (ya ayyuhal mukmin). Hal ini menunjukkan bahwa konsekwensi keimanan seseorang adalah ia harus menempatkan dirinya bagian dari kaum muslimin di seluruh dunia.

Kelima:  Tarbiyatus Sam’i wath Tha’ati (pendidikan ketaatan). Shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan iman, tidak mendahului walaupun sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen (keterikatan yang kuat) atau loyal, serta meniadakan penolakan perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. Sesungguhnya efek ketaatan itu akan kembali kepada kita sendiri. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”(HR Ahmad). Seorang makmum menyadari jika ia tidak berhasil menanamkan kultur sami’na wa ‘atha’na terhadap pemimpin yang disepakati, maka kelak anak buahnya tidak akan patuh kepadanya. Agar kita memiliki anak shalih/ah, terlebih dahulu kita harus menjadi putra yang shalih/ah bagi orang tua kita. Jika kita mudah mengobral kutukan kepada sesepuh kita, maka anak kita nanti akan mengutuk kita.

Keenam: Qaulu Kalimatil hak ‘inda sulthanin jair (berani menyampaikan kebenaran di depan pemimpin yang zhalim). Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Karena ia mencintai pemimpinnya, tetapi lebih mencintai kepada kebenaran. Maka, jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan. Tidak membiarkannya melakukan kezhaliman. Teman yang benar bukanlah yang selalu setuju dengan pendapat kita, tetapi yang selalu meluruskan kita jika terjerumus dalam lubang kehancuran.

Ketujuh: Tarbiyatul Musawah  (mendidik sikap egaliter). Shalat mendidik persamaan hak. Surga berhak ditempati bagi orang yang bersegera menuju ketaatan sekalipun dia berasal dari suku Habasyah dan neraka berhak ditempati bagi orang yang berbuat maksiat walaupun ia berasal dari suku Quraisy.  Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status social jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memandang tinggi kedudukan maupun tua umurnya. Karena, Allah SWT tidak menilai kedudukan, keturunan, warna kulit, tetapi menilai hati dan amal kita.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13)

Kedelapan: Tarbiyatush Shihhiyyah (pendidikan kesehatan). Shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik secara sederhana dan mudah gerakannya. Kata ahli hikmah : Bergeraklah terus karena dalam gerakan itu ada barakah (tambahan kebaikan). Air yang  menggenang, tidak mengalir akan menjadi sarang kuman. Demikian pula apabila pisik tidak bergerak secara stimulan dan simultan akan mudah keropos dan gampang terserang penyakit.

Kesembilan: Tarbiyatu Mudawamatidz Dzikr (pendidikan kesinambungan mengingat Allah SWT). Secara etimologis shalat bermakna doa. Karena lafadz yang dibaca dalam shalat adalah berisi doa dan dzikir. Bahkan menegakkan shalat sesungguhnya untuk mengingat kebesaran, kemuliaan dan keagungan-Nya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha (20) : 14)

Dengan shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan menjadikan seseorang untuk selalu mengingat-Nya. Dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala hati menjadi tenang, karena selalu ditemani oleh-Nya. Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: Saya selalu menemani orang yang mengingat-KU (ana jaliisu man dzakarani).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) : 28)

Bahkan, jika kita selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala, Ia akan selalu mengingat kita. Ada kedekatan hubungan hamba dengan Al Khalik. Jika seseorang dekat dengan-Nya, maka dekat dengan rahmat, maghfirah, dan karunia-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah (2) : 152).

Indikator Diterimanya Shalat

Jika shalat dilakukan dengan khusyu’ dan berlatih untuk berpisah dengan dunia maka akan melahirkan perubahan secara kongkrit pada ranah pola piker dan perilaku pelakunya. Selesai shalat melahirkan manusia baru.  Manusia yang tawadhu (rendah hati), tidak bersikap sombong kepada sesama, tidak meneruskan berbuat maksiat, pada siang hari selalu kontak dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan zikir, memiliki kepekaan social terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.

Ada lima indikator utama yang bisa menjadi standar (tolak ukur) diterimanya shalat seseorang, sebagaimana hadits qudsi berikut :

اِنَّمَا اَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُظْمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَليَ خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِي وَرَحِمَ  المَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَالاّرْمَلّةَ وَرَحِمَ المُصَابَ

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-KU, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-KU, yang tidak meneruskan maksiat kepada-KU, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-KU, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal mati suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah.” (Sayid Sabiq, dalam karya tulisnya : Islamuna, hal.119)

Jika nilai-nilai shalat tersebut diatas diwujudkan dalam kehidupan setiap muslim maka secara aksiomatik akan terjadi pencerahan (transformasi) dan penataan ulang orientasi dan perilaku keislaman dan keimanan dalam seluruh aspek kehidupannya baik dalam skala kehidupan individu, keluarga, bangsa, Negara dan dunia. Insya Allah.* 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah 

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/11/29/06123825/Hari.Ini.Rombongan.DPR.RI.Masuk.ke.Gaza


Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Thursday, February 28, 2013

Pendidikan Agama Islam Masuk Ujian Sekolah

SOLO – Seiring dengan dimasukkan kembali mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam ujian sekolah berstandar nasional (USBN), kini sekolah-sekolah di kota Solo di bawah koordinasi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) mulai melakukan persiapan pembuatan soal.           

“Masuknya Pendidikan Agama Islam kedalam USBN tersebut merupakan kesepakatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Agama (Kemenag),” ungkap Kepala Kemenag Kota Solo, Ahmad Nasirin melalui Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Dasar (Mapenda) Kemenag kota Solo, Nasirudin kepada wartawan, di Solo, Jawa Tengah, Jumat (1/3/2013).

Nasirudin mengatakan, tahun ini penyusunan soal tidak lagi dibuat oleh Kanwil Kemenag Jawa Tengah, tetapi dikelola oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) SD/MI dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam SD, SMP, SMA dan SMK. Namun kisi-kisinya tetap masih sama dari Kemenag pusat.

“Pelaksanaan USBN untuk mata uji Pendidikan Agama Islam di Solo tahun ini dikoordinasikan oleh MKKS Solo, agar dapat dilangsungkan secara serentak,” jelasnya.

Pendidikan Agama Islam kembali dimasukkan pada USBN tahun 2013 bertujuan untuk meningkatkan dan memotivasi anak didik dalam mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga moral anak terjaga. “Hal itu mengingat merosotnya moral anak bangsa, seperti pergaulan bebas di kalangan pelajar, maraknya tawuran pelajar dan sebagainya,” imbuhnya.(rfa)

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277739:fadly-nurzal-pemimpin-harapan-umat&catid=41:pilkada-sumut&Itemid=64


Pendidikan Agama Islam Masuk Ujian Sekolah

Wednesday, December 4, 2013

Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, — Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.


Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.


”Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,” ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.


Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.


”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.


Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.


Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.


Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.


”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,” ungkapnya.


Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,” paparnya polos.


Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ”Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Alqur’an sementara saya tidak bisa membaca Alqur’an.”


Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Alqur’an,” ujarnya.


Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.


Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.


Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf V yang masih ada artinya dibanding V terbalik… Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.


Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.”


Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.


Lantas, kenikmatan apa yang ia rasakan setelah menjadi Muslimah? Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.


Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah SWT meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.


”Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.


Sita membenarkan nasihat sang mama. when you are close to Allah problems will revolve around you and it won’t affect you  (Ketika kamu dekat dengan Allah SWT, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).


Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.


”Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.


”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah SAW. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.


Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energy, banyak kemudahan yang kami rasakan,” ujarnya.


Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ”Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.


”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.


Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.


Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain.


Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.


”Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”


Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).


Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.


Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower – September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.


”Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.”


Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.


”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.”


Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.


Di Sydney selain bekerja sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur’an.


Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.”


Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.”


Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”


Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fundraising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.


Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.


”Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu sebelum shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang  “kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja.” 
 
Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.


”Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.
 
Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.


Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma0, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.




Article source: http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/13/10/14/munb2r-jamaah-haji-tamu-raja-berada-di-arafah


Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Friday, January 17, 2014

Pelajaran Dari Kematian Ariel Sharon

Normal

0



false

false

false


EN-US

X-NONE

X-NONE


MicrosoftInternetExplorer4




<w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"

DefSemiHidden=”true” DefQFormat=”false” DefPriority=”99″

LatentStyleCount=”267″>

<w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Normal”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”heading 1″/>



<w:LsdException Locked="false" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false"

QFormat=”true” Name=”Title”/>


<w:LsdException Locked="false" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false"

QFormat=”true” Name=”Subtitle”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Strong”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Table Grid”/>


<w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”No Spacing”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 1″/>


<w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”List Paragraph”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Quote”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Quote”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Subtle Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Subtle Reference”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Reference”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Book Title”/>



/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-qformat:yes;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin:0in;

mso-para-margin-bottom:.0001pt;

text-align:justify;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;

mso-fareast-theme-font:minor-fareast;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;}


yang tak terlupakan oleh kaum Muslimin sampai kapanpun adalah menghasut tentara Kristiani Phalengis Lebanon dan menyerang penghuni kemah pengungsian yang menyebabkan 4000 orang awam terbunuh


Siapa yang tidak kenal dengan Ariel Sharon, nama aslinya Ariel Scheinermann, lahir pada tahun 1928 di permukiman Yahudi Kfar Malal, ayahnya seorang sarjana Agronomi dan ibunya seorang dokter. Sejak muda Ariel Sharon sudah terlibat gerakan zionis. Ia dibesarkan di lingkungan militer. Sejak umur 14 tahun Sharon masuk militer dan dikader pasukan militer bawah tanah Yahudi.


Sejak tahun 1942 hingga tahun 1972 Ariel Sharon aktif di bidang militer, ia pernah menjadi penasehat keamanan Perdana Menteri Yitzhak Rabin (1975), dan pernah menjadi Menteri Pertanian pada masa Menachem Begin (1977). Pada tahun 1981 Ariel Sharon diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Dialah “arsitek” peperangan Lebanon sejak 1982, menghancurkan infrstruktur PLO, pembantaian pengungsi Palestina di Shabra dan Shatila yang menewaskan ribuan umat Islam.


Pada tahun 2001 Ariel Sharon terpilih sebagai Perdana Menteri, mengalahkan Ehud Barak. Masa kekuasaannya Sharon mengejar habis-habisan kelompok pejuang Palestina dan mengklaim Yaser Arafat-lah sebagai penghalang bagi terciptanya perdamaian di Palestina. Gerakan Sharon melawan orang-orang yang dianggap teroris banyak mendapat dukungan dari Amerika Serika dan Eropa, dan menyusul terjadinya pengeboman Word Trade Centre (2001).


Selama masa kekuasaan Sharon, gerakan teror meningkat tajam, korban jiwa dan harta di Palestina tidak terhitung jumlahnya, dan bagi orang-orang Arab dan Islam menganggap Sharon sebagai penjahat perang dan “pembunuh massal”, sementara bagi orang-orang Yahudi dan Israel menganggap Sharon sebagai pahlawan nasional.


Jati diri seorang Yahudi nampak jelas pada Ariel Sharon sebagai orang paling benci terhadap Islam, sebagaimana dikatakan di dalam Alquran” Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka (QS. Al-Baqarah: 120). Kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin tidak mengenal prikemanusiaan.


Bukankah Sharon pernah mengambil seorang bayi dari ibunya lalu melemparkannya ke dinding, dan dia menembaki sekumpulan keluarga setelah disuruhnya berbaris dengan teratur, dan kejahatan kemanusiaan Sharon yang tak terlupakan oleh kaum Muslimin sampai kapanpun adalah menghasut tentara Kristiani Phalengis Lebanon dan menyerang penghuni kemah pengungsian yang menyebabkan 4000 orang awam terbunuh dengan kejam. Sama halnya dengan pembantaian di Shabra dan Shatila, semua yang menjadi mangsa dan korban pembantaian Sharon adalah umat Islam.


Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Sharon terhadap kaum Muslimin di Palestina dan Arab lainnya telah dirasakan pembalasannya ketika akhir-akhir hidupnya, dimana di usia senjanya Sharon mengalami koma terpanjang dalam sejarah, yaitu sejak tahun 2006.


Ariel Sharon tergeletak di rumah sakit bertahun-tahun. Menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, kematiannya setelah mengalami koma selama 8 tahun, organ-organ tubuhnya membusuk, penyumbatan di bagian otaknya menyebabkan kerusakan di bagian tubuhnya, ususnya membusuk, ia tidak sadarkan diri selama bertahun tahun, seakan-akan dia mayat hidup atau “mumi hidup” yang masih bernyawa tapi mati.


Tepatnya pada tanggal 11 Januari 2014 Ariel Sharon mengakhiri kehidupannya setelah mengalami penderitaan yang amat berat. Kematiannya tidak ditangisi oleh manusia, mayatnya seakan-akan tidak diterima oleh bumi. Maha benar Allah Swt yang telah berfirman di dalam Alquran: Maka tidak ditangisi oleh langit dan bumi akan kematiannya (QS. Ad-Dukhan: 29).


Ayat di atas menceritakan kematian Fir’aun yang sangat kejam terhadap kaumnya. Kata ‘baka’ diartikan menangis yang biasanya digunakan untuk perbuatan manusia. Sedangkan ayat di atas menceritakan bahwa langit dan bumi tidak menangis atas kematian Fir’aun. Oleh sebab itu, para pakar Tafsir mengatakan di dalam ayat tersebut terdapat kata sisipan yang diartikan penghuni langit dan bumi tidak merasa sedih atas kematiannya.


Kematian Fir’aun dan Ariel Sharon memiliki persamaan, dimana jasad Fir’aun tidak diterima oleh bumi, hingga saat ini jasad Fir’aun dimumikan dan masih utuh disimpan di Museum Tahrir-Cairo Mesir dan dapat disaksikan oleh manusia di dunia ini sebagai pelajaran bagi para penguasa yang zalim phobia terhadap Islam, diktator, tangan besi, bersukaria di atas penderitaan rakyatnya, dan sederet kejahatan kemanusiaan dilakukan oleh Fir’aun. Bacalah firman Allah Swt di dalam Alquran surat Yunus ayat 92: Maka hari ini kami simpan jasad mu (wahai Fir’aun) sebagai tanda (ayat) bagi orang hidup di belakang hari, akan tetapi kebanyakan manusia lalai terhadap ayat-ayat kami.


Akan halnya Ariel Sharon, meskipun kejahatannya tidak sampai menandingi Fir’aun yang mengangkat dirinya sebagai “Tuhan” tapi paling tidak kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya mirip dengan apa yang dilakukan oleh Fir’aun ketika ia memerintahkan penyembelihan kepada pengikut Nabi Musa As.


Dan pembataian/pembunuhan terhadap seorang manusia sama dengan membunuh semua manusia, sebagaimana memelihara kehidupan seorang manusia sama dengan memelihara kehidupan semua manusia. Hal itu dikarenakan manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini, antara satu dengan yang lain saling membutuhkan.


Allah Swt berfirman: Oleh sebab itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa-siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi ini, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia, siapa-siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan-akan dia memelihara kehidupan semua manusia (QS. Al-Maidah: 32).


‘Ala kullihal, apapun yang dirasakan oleh Ariel Sharon menjelang akhir-akhir kehidupannya, belum setimpal dengan kejahatan yang dilakukannya dengan apa yang dirasakan oleh ribuan umat Islam yang menjadi korban pembantaian Ariel Sharon. Oleh sebab itu, azab dan siksa yang ditimpakan kepada Ariel Sharon menjelang kematiannya hanya merupakan “panjar azab” Allah di dunia ini dan di akhirat kelak dia akan menerima azab Allah seutuhnya. Allah Swt berfirman di dalam Alquran: Pasti kami rasakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar ( di akhirat) agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS. As-Sajadah: 32).


Kata “merasa” di dalam ayat di atas, berarti menjadikan seseorang merasakan, baik dengan fisik maupun jiwanya. Apa yang dirasakan Ariel Sharon berdasarkan keterangan dokter ahlinya bahwa dia berada di bawah “kesadaran minimal” meskipun dalam keadaan koma, akan tetapi dia merasakan sakit dan mampu merespon ketika mendengar suara saudara-saudaranya dan orang yang memembesuknya.


Pendek kata, kematian Ariel Sharon merupakan pelajaran bagi penguasa tirani, dan pelajaran bagi siapa saja yang masih cinta kemanusiaan dan keadilan. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** (H.M. Nasir, Lc., MA : Penulis:Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah )


 



Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/05/14/08385680/Telepon.yang.Menggetarkan


Pelajaran Dari Kematian Ariel Sharon