Showing posts sorted by relevance for query perempuan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perempuan. Sort by date Show all posts

Wednesday, January 9, 2013

LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Jakarta, GATRAnews – Lian Gogali menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Usahanya yang menginspirasi dan tanpa lelah mengantarkannya menjadi penerima Coexist Prize. —

Kota Poso yang terik, awal November lalu, sekitar 50 ibu-ibu berkerumun di bawah tugu Jam Kota Poso, yang terletak di Jalan Kalimang. Mereka membawa poster kertas putih bertulisan ajakan agar menciptakan perdamaian di kota yang pernah terpecah oleh konflik selama hampir satu dekade itu. ”Kami Perempuan Poso Ingin Damai”, ”Ciptakan Poso yang Bebas dari Ketakutan”, ”Damai Tak Butuh Kekerasan”, begitu beberapa kalimat dalam poster yang dipertontonkan para perempuan setengah baya itu.

Mereka juga meneriakkan yel-yel agar perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan, sembari membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Seorang peserta aksi kadang memberikan seruan dan disambut balasan teriakan, ”Sintuwu maroso,” yang berarti bersatu dan kuat. ”Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kasus agama. Kekerasan Poso adalah bentuk kegagalan pemerintah, dan kami menolak segala bentuk kekerasan,” begitu pesan aksi damai itu yang dibacakan Lina Laando, koordinator lapangan.

Ibu-ibu pendemo dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage, dan wilayah Tentena itu memang ingin kampung mereka damai, tak ada pertikaian lagi. Sejak ada konflik horizontal sekitar tahun 2000, hingga yang paling terbaru adanya pembantaian warga oleh oknum tak bertanggung jawab, akhir Agustus lalu, Poso memang seperti tak henti dirundung teror.

Trauma itu membuat perempuan Poso tenggelam dalam ketakutan. Jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Namun hari itu para perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu itu sudah tak punya rasa takut untuk bersuara.

Ketakutan yang kini berganti menjadi kekuatan itu adalah salah satu hasil usaha panjang perempuan bernama Lian Gogali. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, ini tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Konflik telah memicu saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga.

Ketika konflik Poso pecah, keluarga Lian menjadi korban. Harta dijarah, rumah juga dihancurkan oleh api dan banyak yang terluka. Pada saat itu, Lian sedang belajar untuk meraih gelar master di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. Dia sempat pulang ke rumahnya, menyaksikan dan mengalami langsung getirnya konflik yang terjadi. Meski sedih, dia menyatakan tidak memegang dendam. Ia pun kemudian memutuskan menulis tentang resolusi konflik untuk tesisnya.

Maka, pada 2002-2004, Lian melakukan penelitian di beberapa wilayah pengungsian saat konflik Poso. Ia mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak. Selama penelitiannya itu, Lian menemukan bahwa perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Seperti di masa lalu, selama konflik, sayuran, buah, dan lauk memiliki “agama”. Kristen menolak ikan yang berasal Poso Timur karena takut diracun. Sebaliknya, umat Islam di Poso menyingkirkan sayuran dari permukiman Kristen. Tapi para wanita tidak peduli. Bagi mereka, ini adalah masalah bertahan hidup. Suami dan anak-anak butuh makan.

Ratusan wanita juga membantu satu sama lain selama bentrokan. Seorang ibu muslim di Lage menyembunyikan wanita Kristen selama serangan. Di sisi lain, para pengungsi muslim menerima makanan dari pengungsi Kristen.

Dalam penelitian itu, Lian juga menemukan sesuatu yang kelak mengubah jalan hidupnya. Saat itu, seorang responden bertanya kepadanya, ”Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lian tersadar. Pertanyaan itu selalu diingatnya, bahkan setelah dia kembali ke Yogya untuk menyempurnakan tesisnya. “Saya memutuskan kelak kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dan, memang, begitu kuliahnya kelar sekitar tahun 2009, Lian memilih bekerja pada Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator sekolah perempuan (SP) yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapat, Lian memutuskan membuat SP sendiri. “Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Lalu didatangilah desa-desa di Poso, bertemu para wanitanya, untuk mengenal karakter mereka. Waktu itu, Lian sudah berketetapan hati untuk mengajar perempuan berpenghasilan rendah serta kelompok-kelompok minoritas yang tidak memiliki akses terhadap gender dan pengetahuan soal membangun perdamaian. Dia sengaja tak minta rekomendasi dari aparat desa atau tetua desa. Sebab biasanya dia diarahkan kepada pribadi-pribadi yang punya pamrih, bukan mereka yang benar-benar ingin memperbaiki diri.

Jadi, ada beberapa kriteria calon muridnya waktu itu. Pertama, mereka harus memiliki visi perdamaian inklusif dan keadilan. Mereka juga harus memiliki kemauan berjuang untuk orang lain. Lian pun mengutamakan muridnya adalah para korban kekerasan, karena mereka memiliki akses terbatas pada informasi dan biasanya tak berdaya.

Dengan dana yang terbatas, pada 2011 Lian bisa menyelenggarakan sesi awal SP Mosintuwu di teras rumah kontrakannya di Pamona. Sebuah ruang besar terbuka dengan dinding kayu. Angkatan pertama SP ini, kata Lian, awalnya sekitar 80 orang saja, terdiri dari umat Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Semuanya ibu rumah tangga biasa, lulusan SD, maksimal SMP. Mereka juga diajari menonton film bersama, bermain peran, mengunjungi rumah ibadah, dan sebagainya.

***

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan lancar. Pertemuan pertama diawali tatapan mata saling curiga. Beberapa peserta juga ada yang tidak memiliki komitmen dan meninggalkan kelas. Mosintuwu yang berarti hidup bersama ini pun mengembangkan kurikulumnya sendiri di sekolah itu. Akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, dan perempuan diundang untuk duduk bersama mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas kurikulum dielaborasi oleh Lian dan dibantu Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivis sosial di Tentena.

Meski tertatih, lambat laun sekolah itu bisa digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan kemudian dilengkapi dengan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Ternyata dana dari Belanda itu sangat berguna. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuannya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana. Lian pun bersiap memperluas jaringannya. Apalagi, bila hanya membuka di Pamona, program pemulihan konflik berlatar keyakinan ini tak akan efektif.

Lian akhirnya dengan cepat bisa mendirikan SP setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Namun, karena keterbatasan dana, tempat mengajar ini juga sederhana. Lian sudah biasa mengajar di rumah-rumah penduduk dan teras mereka, bahkan di ladang. Untuk menjaga semangat para perempuan itu, Lian rutin berpatroli ke tiap desa.

Saking semangatnya, ia pernah mengalami kecelakaan hingga perlu menggunakan kruk. Kakinya patah dan menderita infeksi. Dia sempat menjalani sembilan kali operasi. Namun ibu satu anak ini tetap bersemangat. Ia senang murid-muridnya menemukan ruang yang aman dan terbuka untuk berbicara.

Awalnya memang tak mudah menggandeng para perempuan itu. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” kata Lian. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarangnya. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi, jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan.

Hasil tempaan Lian memang luar biasa. Pada upacara wisuda angkatan pertama di Tentena, lulusan Mosintuwu sepakat untuk mengabdikan diri bagi masyarakat dengan membangun sebuah rumah untuk perlindungan perempuan dan anak.

***

SP Mosintuwu kini memiliki delapan modul kurikulum dan yang bisa diselesaikan dalam 10 bulan. Mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender dan isu-isu politik, berbicara di depan umum dan pembangunan ekonomi. Melalui kurikulum ini, para anggota diminta menghilangkan praduga, kecurigaan, trauma, dan dendam, membangun kepercayaan diri serta saling percaya, dan meningkatkan kerja sama.

Tahun ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize, yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya, merendah. Lian terpilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Dalam penjelasan resmi di website Coexist Foundation disebutkan bahwa Coexist Prize baru pertama kali diadakan pada 2012 ini. Para juri memilih enam nominator sebagai finalis. Hingga akhirnya, juri berkeputusan bulat memilih Lian sebagai penerima Coexist Prize. ”Lian Gogali menjadi pemenang karena dia contoh terbaik dari sebuah pengalaman pribadi dan sebuah proyek yang menginspirasi,” kata David Ford, profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mewakili para juri.

Saat menerima hadiah senilai US$ 100.000 itu, Lian Gogali menuturkan bahwa Coexist Prize yang diterimanya adalah penghargaan untuk semua perempuan dan anak-anak yang selama ini bekerja bersama-sama dengannya dalam segala keterbatasan untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Termasuk untuk semua pihak yang tetap percaya dan terus berjuang bagi kesetaraan, untuk perdamaian dan keadilan, melalui gerakan interfaith.

Coexist merupakan yayasan yang sejak 2006 mengupayakan pendekatan antar-keyakinan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, juga masyarakat lain, melalui pendidikan, dialog, dan penelitian. Penghargaan buat Lian itu adalah sebuah pengakuan atas usahanya membangun perempuan Poso menjadi bagian terbaik dalam mereduksi pengaruh hasutan ideologi kebencian.

Kini, setelah satu langkah dilalui Lian, ada satu harapan lagi yang ingin dia wujudkan. Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini dimaksudkan untuk membuka ruang bicara perempuan Poso serta akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya pun ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” katanya. (Mukhlison S. Widodo dan Rach Alida Bahaweres)


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Saturday, April 20, 2013

“Kartini-Kartini” di Balik Jeruji

Memaknai Hari Kartini, seharusnya tidak ada lagi pikiran bahwa perempuan itu mahluk lemah, yang hanya bisa berlindung di balik pria. Buktinya, dalam pesakitan perempuan-perempuan ini masih sanggup bertahan dan tertawa ceria.


ULVA APRILIA,


Samarinda


AZAN subuh telah berkumandang, namun Saida bangun lebih awal. Ia membaca lembaran surah dalam Alquran lalu melanjutkan salat. Di tengah kekhusyukan salatnya, suara gaduh mulai terdengar. Hingga rakaat kedua, sebuah botol minuman melayang ke kepalanya. Dengan riwayat penyakit jantung, perempuan kepala lima itu langsung dilarikan ke klinik kesehatan di Rutan Kelas IIA Sempaja, Samarinda. Hingga kembali fajar, Saida berangsur siuman.

Kejadian itu baru beberapa minggu berselang. Saida adalah salah satu tahanan di Rutan Kelas II Samarinda. Dia divonis hakim setahun penjara karena melakukan tindak pidana korupsi. Saida memang salah satu tahanan tertua di blok perempuan di Rutan. Namun, tidak ada perlakuan khusus. Semua sama, tidur di atas beton beralas karpet dan menggunakan satu kamar mandi bersama 26 tahanan lainnya.

Rutan yang terletak di Jalan Wahid Hasyim itu hanya memiliki dua blok tahanan perempuan. Blok A luasnya 4X3 meter persegi dihuni 36 perempuan, sedang blok B lebih kecil dengan penghuni 26 orang.  Tidak ada televisi atau alat elektronik lainnya seperti ponsel, laptop, dan kipas angin. Pada dinding, menumpuk pakaian dan beberapa perlengkapan salat. Selain membantu petugas bekerja, mereka hanya bercengkerama dan merawat muka. Jelas saja para tahanan di sini terlihat cantik dan bersih.  Sama halnya dengan Saida, perempuan bercucu tiga ini lebih sibuk membaca novel yang kerap dibawakan anaknya kala membesuk. “Daripada bosan di sini, ya begini saja kerjaan setiap hari,” tuturnya.

Kondisi blok-blok para “Kartini” ini tidak seseram yang orang luar bayangkan. Jika penjara identik dengan kejahatan, justru penghuninya akur dan saling berbagi. “Jika ada yang bebas, kami kadang sedih, nangis merasa kehilangan. Atau ada yang mau sidang,” ceritanya.

Memaknai Hari Kartini ini, Saida menyimpan harapan besar bahwa perempuan dapat bersaing dengan lelaki dalam intelegensinya. “Hanya, perempuan kadang lebih sensitif dan tidak mau kalah,” terangnya. Saat ini, lanjut dia, memang Saida belum bisa berbuat apa-apa. Tapi, pelajaran hidupnya bisa jadi pelajaran bagi anak cucunya kelak.
MENGAJARI MERAJUT

Perempuanyang tidak kurus itu menyimpan kekhawatiran di balik senyumnya. Malam itu, Sinta dipindahkan dari penjara di Sangata menuju Rutan Kelas IIA Sempaja, Samarinda. Sempat muncul ketakutan mendengar kata Rutan dari dalam dirinyal; takut akan kekerasan dan penindasan, seperti dalam film-film. Sesampainya di blok perempuan dan berkenalan dengan penghuni bilik itu, Sinta disuruh menyanyi oleh kepala blok, yang juga tahanan senior. Merasa takut dan baru, Sinta tidak kuasa menahan tangis.

Bukan dihukum atau dimarahi, Sinta justru ditertawakan para tahanan. “Sejak saat itu saya mulai terbiasa. Ternyata mereka hanya melatih mental saya saja,” ucapnya. Kini, Sinta sudah menjalani 10 bulan dari setahun masa hukumannya. Sama halnya dengan Saida, Sinta juga tersandung kasus korupsi di Sangatta. Menghabisi waktu luang di balik bui selama itu bukan hal mudah baginya. Terlebih, sebelumnya Sinta adalah pejabat pemerintahan.

Namun, semua harus dia jalankan. “Tidak buruk-buruk amat. Mereka semua yang di dalam sini juga manusia kok,” ucapnya. Sinta sendiri punya keterampilan merajut. Dalam Rutan dia juga mengajarkan tahanan lain merajut. Bahkan, baju bayi hasil rajutannya dipakai bayi kawan setahanan. “Ada beberapa yang sudah jadi, seperti kerudung dan taplak,” tuturnya.

Memaknai Hari Kartini ini, Sinta berharap ada perlakuan yang lebih adil untuk perempuan. Tidak hanya di Rutan, kata dia, di luar pun harus sama.  “Jangan melihat dengan sebelah mata. Perempuan juga perlu menuntut haknya, asalkan kewajibannya terpenuhi,” tutur perempuan 30 tahun ini.
MEMIMPIN BLOK TAHANAN

PEREMPUAN yang satu ini lebih pendiam ketimbang Sinta dan Saida. Dia adalah Fitri, yang telah menghabiskan tiga dari enam tahun masa hukumannya di Rutan. Dia merupakan ketua blok perempuan yang terjerat lembah hitam narkotika. Sekilas, Fitri memang terlihat judes, namun, sesekali matanya sembab menceritakan pengalaman hidupnya.

Sebelumnya, Fitri adalah ibu rumah tangga biasa, yang memasak dan mengurus tiga anak ketika suami bekerja sembari menjual baju-baju via online di rumahnya. Namun godaan datang hingga akhirnya Fitri masuk jebakan teman dan ikut mengonsumsi narkotika.

Dalam Rutan ia cukup merasakan sengsara karena tidak ada televisi. Untuk mengisi waktu, Fitri melakukan kegiatan positif agar tidak bosan, seperti belajar menyulam, menjahit, atau membantu petugas mengurus administrasi. “Dulu ada televisi tapi karena sering bertengkar saat menonton jadi dipindah,” tuturnya.

Menjadi ketua blok tentunya Fitri bertanggung jawab memobilisasi teman tahanannya. Namun, Fitri tipikal perempuan yang cuek. Pernah sesekali antar tahanan saling berkelahi, tapi karena saat itu malam hari, Fitri membiarkan saja. “Kalau hanya cekcok mulut saya biarkan saja. Tapi kalau sudah saling pukul, baru saya tindak,” terangnya.

Fitri bercerita, pernah sesekali seorang tahanan sedang makan, sedangkan yang satunya menyapu lantai. Karena tersinggung mereka saling kelahi hingga bercakaran. Keesokan harinya, setelah didamaikan, mereka kembali seperti semula. “Kondisi di sini memang susah ditebak. Namanya juga kami tidur bertindihan, makan sama-sama. Ada yang keluar sedih, ya karena rasa kekeluargaannya sudah erat. Walaupun kadang kelahi,” akunya.

Bahkan, lanjut Firi, tidak sedikit tahanan yang masuk Islam. “Entah karena kebiasaan di sini atau bagaimana. Tapi, sebelum masuk Islam kami tes mental juga, apa benar-benar atau bagaimana,”  ceritanya.  Sama halnya dengan tahanan lain yang mengharap kebebasan, ketika bebas nanti, Fitri berencana membuka usaha di rumahnya. Tentunya sembari mengurus tiga buah hatinya. (tom/k1)


Article source: http://lombokita.com/khazanah/1282-diego-akhirnya-menjadi-muallaf


“Kartini-Kartini” di Balik Jeruji

Wednesday, June 12, 2013

Kaasiyaatun 'Aariyaat

Ali r.a. berkunjung kepada Nabi saw. bersama Fatimah r.anha. Nabi saw sedang menangis terisak. Ali bertanya, “Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, hai Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis ?”


Rasulullah saw menjawab, “Hai Ali pada malam ketika aku diisra’kan ke langit, kulihat beragam wanita dari umatku disiksa di neraka, aku menangis karena beratnnya siksaan itu. Aku lihat wanita digantung rambutnya dan otaknya mendidih. Ada wanita digantung dengan lidahnya, sedang air mendidih dituang ke tenggorokan. Ada lagi wanita kedua kakinya dipasung hingga buah dada dan kedua tangannya terbelenggu di ubun-ubun. Allah Swt perintahkan ular dan kalajengking untuk menyiksa. Ada wanita digantung dengan kedua buah dadanya. Ada wanita berkepala babi dan berbadan keledai, mengalami beribu siksa. Ada wanita berbentuk anjing, sedang api neraka membakar dirinya masuk melalui lubang mulut dan keluar melalui duburnya, sementara para malaikat memukulinya dengan godam panas.”


Fatimah r.anha bangkit dan berkata, “Wahai kekasih dan permata hatiku, sesungguhnya apa yang mereka lakukan dengan siksa seberat itu ?” Rasulullah saw: “Wahai putriku, perempuan digantung dengan rambut sendiri karena tak menutup rambut dari pandangan lelaki lain. Perempuan digantung menggunakan lidah karena menyakiti suami. Perempuan digantung dengan kedua buah dada karena mengotori tempat tidur (bersetubuh dengan lelaki lain). Perempuan dipasung kedua kakinya dan kedua tangannya dirantai ke ubun-ubun, Allah perintahkan ular dan kalajengking menyiksa, karena tak mandi junub, tak mandi setelah haid dan melalaikan sholat. Perempuan berkepala babi berbadan keledai karena pengadu lagi pendusta. Perempuan berbentuk anjing dan api membakar masuk melalui mulut dan keluar melalui dubur, karena suka mengungkit (pemberian ke suami) dan dengki. Putriku, celakalah istri maksiat pada suami’.


Kemudian Nabi saw bwesabda :


“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim/2128).


Belum pernah ada tapi terjadi setelah beliau tiada. Menurut An Nawawi, ‘kasiyaatun ‘aariyah dalam hadis itu, bermakna; Pertama, wanita mendapat nikmat tapi tak bersyukur. Buka aurat, kepala, telapak kaki, paha, celana dan rok di atas dengkul. Budaya barat berbumbu maksiat bercumbu aurat. Kedua, wanita berpakaian tapi kosong amal, tak mengutamakan akhirat dan tidak taat. Ketiga, wanita sengaja pamer anggota tubuh. Berpakaian tapi telanjang. Keempat, wanita berpakaian tipis hingga jelas bagian dalam. Zohirnya berpakaian, hakikatnya telanjang. (Syarh Muslim, 9/240). Akan muncul di kalangan umatku, lelaki menunggang atas pelana, turun di pintu masjid. Isteri dan anak perempuannya berpakaian tipis dan ketat. Di kepalanya bonggolan (sanggul atau tocang) seperti punuk unta. Laknatlah mereka. Sungguh mereka wanita terlaknat” (HR Ahmad 2/223).


Ibnu ‘Abdil Barr rah.a memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat; wanita berpakaian tipis menggambarkan bentuk tubuh. Pakaian belum menutup anggota tubuh yang wajib ditutup sempurna. Berpakaian namun hakikatnya telanjang. Perempuan muslim mengenakan kerudung menutup kepala dan rambut, namun bahan tipis, transparan, ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuh. Kepala dibalut kerudung atau jilbab, kaos ketat, celana full pressed body, konon kerudung gaul. Padahal mereka melecehkan syariat. Simbolnya Islam modelnya batil. Wanita berkerudung gaul tutup aurat dengan paradigma, ‘perempuan harus mensyukuri keindahan tubuh sebagai anugerah Allah, lalu memamerkannya.’ Maraknya kerudung gaul akibat akal minim dilanda iklim. Ikut-ikutan, korban iklan, sambil berangan, ‘Nikmatilah keindahan tubuh dan kecantikanku.’ Adakah yang mau mendekat ? Adakah yang mau memandang ? Adakah yang mau tersenyum ? Setiap orang mengigau, ‘Aduhai betapa cantiknya ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa berpakaian sombong (berbangga) di dunia maka Allah akan pakaikan kehinaan di akhirat.’(HR Abu Dawud). Al Munawi memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat (berpakaian tapi telanjang); wanita berpakaian tipis tampak kulit. Menampakkan perhiasan tanpa pakaian takwa. Makna lain, tandanya tidak syukur nikmat. Menutup sebagian, membuka sebagian. (Faidul Qodir, 4/275).


Kaasiyaatun ‘aariyaat ; ‘Wanita berpakaian tipis nampak bagian dalam tubuhnya dan membuka sebagian aurat yang wajib ditutup.’ Jika wanita mengetahui sesuatu haram tapi menghalalkannya, maka ia jatuh ke derjat kafir. Bagi mukminah, menundukkan pandangan; menjaga kemaluan; tidak menunjukkan perhiasan kecuali apa yang seharusnya; menutupi dada dengan kerudung; tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada suami dan mahram.


Di sini akan tampak selas bahwa syariat itu berkaitan langsung pada Allah Swt, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Setiap amalan menuju kesempurnaan tauhid. Berpakaian bukan sekadar tutup aurat, adat atau model dari keadaan dan tempat tertentu, tapi kaitannya adalah ketaatan terhadap syariat. Ada pendapat kalau di kolam renang boleh pakai bikini, di lapangan bola boleh pakai celana pendek, cadar itu budaya Arab tidak cocok untuk Indonesia, berjubah dan berjanggut budaya Arab tidak sesuai budaya kita. Itulah mulut- mulut tak bertanggungjawab. Padahal itu ajaran Islam yang jelas, baku, bersih dan furqon (pembeda), dilandasi nash yang qath’i. Coba anda jalan-jalan di Amerika, London, Meulborne (Australia), Nagoya (Jepang) jelas kelihatan wanita muslimah dan non muslimah dari cara berpakaian. Padahal muslimnya minoritas. Justru terbalik, di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Di tempat umum, kita enggan mengucap salam, kalau-kalau yang dihadapi non muslim. Karena hak menjawab salam dengan kata Alaikumussalaam wajib dan untuk sesama muslim. Tapi karena orang Islam (terutama wanitanya) kebanyakan cara berpakaiannya sama saja dengan wanita non muslimah, bahkan pada waktu-waktu shalat kebanyakan muslimahnya tidak shalat, sehingga tak ada yang membedakan mereka, maka menjadi rancu. Tak menunjukkan Islam sebagai Furqon. Islam KTP, tak ada dalam kehidupan nyata. Semestinya ingat, isi neraka itu mayoritas perempuan. Rasulullah saw. sekembali Isra dan Mi’raj, menyaksikan, perempuan digantung dengan rambutnya, otak di kepalanya mendidih. Mereka dulu tak melindungi rambut (tak berjilbab) agar tak dilihat lelaki lain. Perempuan yang digantung dengan lidahnya, tangan dikeluarkan dari punggungnya, kerongkongan dituang minyak panas. Mereka suka menyakiti hati suami dengan kata-kata. Perempuan mengunyah-ngunyah badan sampai hancur sambil berteriak kesakitan, Allah cipta badan baru dan lebih mulus, lalu dikunyah-kunyah lagi. Dulu, di dunia sering mempertontonkan tubuh dan aurat di depan khalayak (seperti penyanyi, penari, perenang, artis dan sebagainya). Perempuan digantung dengan buah dada dari arah punggung dan air pohon zaqqum dituang ke kerongkongannya. Merekalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa izin suami. Perempuan diikat dua kaki dan dua tangan sampai ke ubun-ubun dan dibelit ular dan kala jengking. Mereka yang mampu sholat dan puasa, tapi tak mau mengerjakan, tak berwudhu dan tak mau mandi junub. Keluar rumah tanpa izin suami (wanita karir, TKW), tidak mandi dan tidak bersuci selesai haid dan nifas. Perempuan makan daging tubuhnya sementara di bawahnya api menyala. Perempuan berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang (para artis, selebritis, wartawan gosip, antara lain dalam infotainment, tari-tarian, showbiz dan wanita karir). Perempuan memotong badan sendiri dengan gunting neraka. Karena suka mencari perhatian orang agar melihat perhiasan diri (artis dan selebritis). Perempuan kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai. Suka mengadu domba dan pendusta. Perempuan berwajah anjing, ular dan kala jengking masuk ke mulut dan keluar melalui dubur. Yakni, suka marah kepada suami dan memfitnah orang. Jika ancamannya jelas, kenapa wanita masih pakai rok dosa ? pamer paha ? pamer rambut ? pamer telapak kaki ? pamer leher ? Jawabannya ada pada iman masing-masing.


                                                        Penulis, pemerhati masalah keislaman.


Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/03/29/154627/mui-sumut-pelaku-kumpul-kebo-harus-dihukum-berat


Kaasiyaatun 'Aariyaat

Saturday, January 5, 2013

PDI-P: "Di Malaysia Saja Perempuan Wajib Ngangkang"

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Lhokseumawe menyebarkan surat edaran terkait anjuran agar para perempuan di sana tidak duduk mengangkang saat dibonceng di atas sepeda motor. Anjuran ini dinilai tidak masuk akal lantaran di negara Islam lain seperti Malaysia, kaum perempuan justru diwajibkan duduk mengangkang saat dibonceng di atas motor.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi III dari Fraksi PDI-Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, Jumat (4/1/2013), di Gedung Kompleks Parlemen, Senayan. “Anjuran itu dibuat berdasarkan prasangka dan kecurigaan dan tidak sesuai dengan kebijakan publik. Di Malaysia saja, yang pakai hukum Islam, justru wajib mengangkang,” ujarnya.

Kebijakan di Malaysia itu, lanjut Eva, justru lebih mempertimbangkan rasa aman dan nyaman berkendara. Eva menilai peraturan di Lhokseumawe itu hanya disusun berdasarkan prasangka dan subyektif. “Aku merasa sedih dan norak karena tidak untuk kepentingan publik. Sistem value yang sangat didebatkan. Kebijakan di Lhokseumawe seharusnya membuat aman, tidak meresahkan. Kok malah repot perempuan,” imbuh Eva.

Eva mengimbau agar Pemkot Lhokseumawe lebih mementingkan pelaksanaan kebijakan untuk kepentingan perempuan, seperti pelayanan kesehatan, posyandu, hingga upaya menurunkan angka kematian ibu. “Bukan apa yang dianggap penting oleh ulama, tetapi apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Bikin kebijakan yang ramah,” katanya.

Anjuran yang rencananya akan dibuat peraturan tertulis itu tak ayal dinilai diskriminatif bagi kaum perempuan. Eva menyayangkan bahwa selama ini peraturan-peraturan diskriminatif sangat mudah dikeluarkan, tetapi susah dicabut. Seharusnya hal ini menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Kalau yang menyangkut investasi, kenapa lebih mudah dicabut? Apa uang lebih penting dibandingkan hak asasi perempuan?” ucap Eva.

Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya mengeluarkan surat edaran yang mengimbau kaum perempuan tidak duduk mengangkang saat dibonceng sepeda motor. “Alasannya untuk peningkatan dan mendukung syariat Islam yang telah ada qanun-nya di Aceh,” kata Suadi Yahya, Rabu (2/1/2013) siang, melalui telepon.

Menurutnya, kaum perempuan yang duduk mengangkang saat dibonceng di sepeda motor tidak sesuai dengan budaya Aceh yang Islami. “Sebenarnya budaya Aceh, bagi perempuan, kalau duduk di sepeda motor ini tidak boleh mengangkang, budayanya harus duduk menyamping,” jelas Suadi.

Surat edaran berupa imbauan kepada warga Lhokseumawe, menurutnya, mulai berlaku sejak Selasa (1/1/2013) lalu. Sosialisasi pun dilakukan ke kecamatan hingga ke desa-desa. Selama satu bulan ke depan, Pemkot Lhokseumawe akan mengevaluasi sejauh mana efektivitas surat edaran itu berdampak ke masyarakat.

“Kita lihat perkembangannya. Baru setelah itu kita lakukan (dalam) bentuk aturan seperti aturan wali kota atau membuat qanun,” kata Suadi.

Suadi mengklaim surat edarannya ini didukung masyarakat Lhokseumawe, setidaknya kalangan ulama di wilayah itu. Menurutnya, alasan yang berkembang di kalangan ulama Lhokseumawe menyebutkan, jika kaum perempuan duduk tidak mengangkang saat dibonceng sepeda motor terlihat karakter perempuannya.

“Kalau duduk mengangkang, itu kayak lelaki, kalau dilihat dari samping. Tapi kalau duduk menyamping, ciri khasnya terlihat kalau itu perempuan,” jelas Suadi.

Baca Juga: Duduk Mengangkang di Sepeda Motor Justru Lebih Aman






Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/475552/mr-p-iras-xo-ix-disunat-pakai-kayu


PDI-P: "Di Malaysia Saja Perempuan Wajib Ngangkang"

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Friday, January 4, 2013

Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aturan mengenai larangan duduk kangkang di atas sepeda motor bagi perempuan di Aceh bisa membahayakan keselamatan. Regulasi tersebut dinilai sangat tidak masuk akal.

“Peraturan ini sangat tidak masuk akal dan membahayakan keselamatan perempuan, khususnya mereka yang berusia lanjut atau pun yang masih muda tetap sedang sakit,”kata Ahli Hukum Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Musdah Mulia kepada Tribunnews.com, Jumat(4/1/2013).

Musdah mengaku sedih perempuan terus dijadikan obyek hukum.

“Saya sedih karena atas nama syariat Islam, perempuan dan kelompok lemah selalu jadi obyek hukum,” kata dia.

Mestinya dengan syariat Islam, menurut Musdah, pemerintah daerah dapat memastikan semua warga menikmati pendidikan berkualitas secara gratis, layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, listrik dan bahan sandang serta pangan yang terjangkau.

Selain itu, memberdayakan masyarakat, terutama perempuan, mengurangi pengangguran dan membasmi koruptor. Sehingga seluruh warga terutama yang tidak mampu dapat hidup sejahtera.

“Itulah masyarakat Islami yang dicita-citakan oleh syariat Islam,”katanya.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri akan mengklarifikasi aturan pemerintah Kota Lhokseumawe yang melarang perempuan membonceng motor dengan cara mengangangkang.

“Semua aturan yang sudah disetujui pemerintah daerah akan kami klarifikasi kembali,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek saat dihubungi Rabu, (3/1/2013).

Secara normatif, kata Donny, seluruh peraturan buatan pemerintah daerah telah dikonsultasikan kepada Kementerian Dalam Negeri sebelum disetujui. Donny tak menjelaskan apakah aturan tersebut meliputi imbauan Wali Kota di tingkat provinsi.

Pemerintah kota Lhokseumawe tengah menyiapkan aturan unik. Dinas Syariat Islam membuat draf berisi himbauan agar perempuan tidak duduk mengangkang. “Draf sedang disiapkan oleh Dinas Syariah, jadi nomor berapa himbauan itu nanti ketika sudah siap,” kata Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, Dasni Yuzar, Kamis, (3/1/2013).

Dasni mengatakan draf itu memang baru disiapkan. Mulai Senin depan, pengumumannya akan di tempelkan di sejumlah tempat-tempat umum. Sejumlah spanduk dan baliho pun sudah disiapkan.

Article source: http://www.allvoices.com/contributed-news/13419711-selena-gomez-and-justin-bieber-get-back-together-for-a-date-in-hollywood


Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

Tuesday, July 30, 2013

Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bulan suci Ramadhan bukan berarti bulan untuk bermalas-malasan karena berpuasa. Justru, di bulan yang penuh rahmat ini kaum Muslimin harus banyak beraktivitas yang positif, baik dalam kegiatan ibadah maupun kegiatan kemanusiaan lainnya.


Begitu juga untuk para perempuan. Bagi kaum perempuan yang ingin selalu aktif dalam kegiatan positif, ada sebuah acara yang tepat agar bisa tetap aktif dalam kegiatan positif pada Ramadhan kali ini.


Republika bekerja sama dengan Scarf Magazine, menggelar sebuah event yang tepat untuk menyalurkan energi aktif tersebut. Acara tersebut adalah Fashionette Market. Manager Event dan Promosi Republika Yulia Ayu Trisia menjelaskan tujuan digelarnya acara tersebut merupakan salah satu aktivitas yang digelar oleh Leisure Community.


Leisure Community merupakan komunitas yang berisikan perempuan muda, berusia 18 – 30 tahun. “Komunitas ini terbentuk karena kecintaan pembaca pada halaman ‘Leisure’ di Republika yang terbit tiap Selasa,” ujar Yulia, Senin (29/7).


Ketika sebuah komunitas terbentuk, tak mungkin hanya diam saja. Perlu beragam aktivitas dan kegiatan dilakukan agar para anggota komunitas tersebut terjalin silaturahim yang lebih erat dan bisa berkumpul dalam acara yang bermanfaat bagi sesama. Fashionette Market ini adalah salah satunya.


Fashionette Market ini digelar sebagai salah satu aktivitas Leisure Community selama Ramadhan tahun ini. Kali ini, temanya creativity, beauty, dan charity. “Ketiga prinsip itu terwujud dalam rangkaian kegiatan di Fashionette Market,” kata Yulia.


Acara ini akan digelar selama tujuh hari, sejak 29 Juli hingga 4 Agustus 2013 di atrium lantai tiga FX Sudirman. Tidak dipungut biaya apa pun untuk masuk acara ini, jadi semua pengunjung mal ataupun masyarakat bisa dengan mudah menikmati sajian acara bermanfaat ini.


Untuk creativity, banyak kegiatan yang digelar untuk mendukung kreativitas perempuan muda. Selain untuk menunjukkan kepribadian perempuan cerdas yang aktif, kegiatan ini juga bertujuan menyalurkan ide-ide dan inovasi. Kegiatan yang dilakukan, antara lain, fashion workshop membuat aksesori, cooking class, membuat hidangan onigiri, dan kegiatan kreatif lainnya.


Sedangkan, untuk beauty para perempuan muda bisa mendapatkan inspirasi agar bisa tampil cantik nan menawan kala Ramadhan, terutama saat Idul Fitri. Tentunya, sebagai perempuan muda yang aktif, takkan mau ketinggalan mode. Bahkan, butik busana Muslim dari artis kenamaan Nuri Maulida juga tersedia di sini. Selain itu, ada pula fashion show dari desainer ketua hijabers community, Ria Miranda.


Banyak penampilan yang sayang untuk dilewatkan Fashionette Market. Ada pertunjukan musik dari komunitas hijabers juga peluncuran buku-buku terbaru, salah satunya buku Three of Us. Tak ketinggalan, acara charity dalam rangkaian Fashionette Market ini, banyak artis yang akan melelang bajunya di sini. Sebut saja Chakra Khan, Nova Eliza, Astrid, dan banyak lainnya.


Hasil dari penjualan lelang baju ini takkan dikantongi oleh para artis sendiri. Mereka akan mendonasikan hasil penjualannya ke Taman Kanak-Kanak (TK) Aluna. TK Aluna merupakan sebuah lembaga pendidikan anak yang diperuntukkan bagi mereka yang punya kekurangan dalam pendengaran, tuna rungu. n rosita budi suryaningsih ed: chairul akhmad


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/28/141240/Menelusuri-Jejak-Sejarah-Perkembangan-Islam-di-Negeri-Komunis-Tiongkok-(1)-


Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

Wednesday, December 25, 2013

Kisah Anis Matta Taklukkan Gadis Hungaria

Kisah Anis Matta Taklukkan Gadis Hungaria




Liputan6.com, Jakarta : Dengan mengenakan pakaian olah raga, bertopi, dan kacamata hitam, orang tak akan mengira, sosok tengah asyik berjogging itu adalah seorang politisi. Dia adalah Anis Matta, Presiden PKS yang bakal maju sebagai calon presiden pada 2014.


Berita Terkait



Joging Depan Rumah Jokowi, Anis Matta: Kapan Dia Deklarasi?


Joging Depan Rumah Jokowi, Anis Matta: Kapan Dia Deklarasi?



Anis Matta dan HNW `Dorong-dorongan` Jadi Capres PKS


Anis Matta dan HNW `Dorong-dorongan` Jadi Capres PKS


Tak hanya sendiri, Anis berjogging bersama 4 anaknya, 3 laki-laki remaja dan satu bayi mungil yang baru berumur 3 bulan. Selain itu, tampak juga perempuan muda beparas cantik yang mendampingi Anis. Dia adalah istri kedua Anis yang bernama Szilvia Fabula, asal Hungaria.


Tampil di muka publik, Anis tampak tak malu-malu pamer kemesraan dengan Szilvia. Sambil lari-lari kecil, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu sesekali menggenggam tangan perempuan berkacamata tersebut. Empat orang putra Anis dari istri pertamanya, Anaway Irianti Mansyur pun mengikuti dari belakang.


Menjadi perhatian warga yang juga tengah berolahraga, Szilvia tak nampak canggung. Dengan mengenakan jilbab pink dan baju lengan panjang serta celana olahraga, ia sesekali melempar senyum saat sejumlah warga menyapanya.


Puas berlari sebanyak 10 putaran, langkah Anis terhenti. Ia pun bersedia meladeni sejumlah pertanyaan wartawan. Saat ditanya hal yang berkaitan pernikahannya dengan Szilvia, Anis pun malu-malu menjawab.


Namun setelah didesak, Anis pun akhirnya bersedia mengungkap siapa perempuan tersebut. Tak hanya itu, ia pun juga menceritakan awal perkenalan dengan perempuan berkulit putih itu.


“Ini istri saya, namanya Szilvia Fabula, Saya bertemu dengannya saat di Hungaria, ketika acara suatu konferensi di Turki, dari Hungaria ke Turki kan tidak jauh tuh,” ujar Anis, Rabu, (25/12/2013).


Ia menuturkan, pertemuannya dengan Szilvia berlangsung 8 tahun lalu. Anis mengaku tak mudah menaklukan hati perempuan itu. Butuh waktu 4 bulan untuk meyakinkan dirinya, terlebih saat ia berkenalan, Szilvia beragama non-muslim.


“Kami sempat surat-suratan, dia baca surat saya dan sempat diskusi selama 4 bulan. Setelah rentang sekian bulan, dia memutuskan jadi mualaf dan akhirnya saya nikahkan dia pada tahun 2006 di Indonesia,” beber Anis.


Setelah melangsungkan pernikahannya, Szilvia pun resmi menjadi istri kedua Anis. Szilvia kemudian meninggalkan kampung halamannya di kawasan Eropa Timur itu dan hidup di Indonesia mendampingi sang suami.


Setelah menunggu sekian tahun, lewat pernikahannya, Anis yang telah dikaruniai sembilan anak dari istri pertamanya, pada september lalu kembali dikaruniai seorang anak perempuan dari Szilvia. Bayi perempuan itu ia namakan Shofia Anis Matta.


“Shofia baru lahir september lalu. Ini anak saya yang ke-10,” kata Anis sambil mendorong kereta bayi Shofia. (Mut)



17 Komentar Untuk Artikel Ini




  • 2013-12-26 10:28:24


    Paling tidak menjelang Pemilu ini kita sudah tau apa2 saja yang ada di otak politisi yg bersangkutan, dari kehidupan pribadinya..





  • 2013-12-26 09:56:17


    gw keturunan sulsel,gw ga bakal pilih calon pemimpin yg punya isteri 2,karena calon2 pemimpin seperti ini tak akan memajukan negara mereka hanya memajukan sahwatnya saja





  • 2013-12-26 06:03:00


    Yang penting jangan berzinah …




  • Siti Nuraini


    2013-12-26 05:51:02


    munafik si Anta, apa dia bisa berlaku distribusi keadilan? yang sdh pasti dia anti monogami…





  • 2013-12-26 05:09:19


    Ogah ah pilih PKS, bukannya nannti urusin negara, malah sibuk urusin anak istrinya..!




  • rudi


    2013-12-26 05:07:07


    Tambah lagi anaknya 1 pak, supaya jadi keseblasan timnas…




  • Nini Thowok


    2013-12-26 04:35:52


    Saya bangga dan salut kepada Jokowi-Ahok. Mereka adalah pemimpin yg tdk neko2. Istri cukup satu. Mereka adalah pemimpin yg berhati lurus.




  • Siska Puspita


    2013-12-26 04:16:30


    Bisnis Travel agen. legalitas usaha jelas Suport PT.Anta utama Tours and travel !!! Untuk mengisi waktu luang dan menghasilkan tambahan penghasilan http://www.birotiket.org




  • Intan Gilles


    2013-12-26 03:02:25


    Nanti yang ada juga sibuk ngurusin keluarga, bukannya negara. Ogah milih PKS aaahhhhhhh….




  • Heru Wibowo


    2013-12-26 02:42:07


    Konglomerat aja anaknya gak sampe 10


    Si Anis

    Anaknya 10. Istrinya 2


    1 anak 1 mobil ,


    Biaya hidup n pendidikan buat 10 anak berapa tuh tiap bulan ??


    Gelagat banyak makan uang Rakyat neh Manusia …




  • Wa Zen


    2013-12-26 00:46:19


    klo saya siih salut sama mas anis bisa menaklukan hati szilvia dan bisa sekali gus masuk xxxxx lagi…..waaaduuuuuh sungguh luar biasa pak Anis,,selamat ya




  • Riefad Ifal


    2013-12-26 00:04:13


    PKS,, partai kawin sejahtera




  • Matt Ngobus


    2013-12-25 23:53:17


    pilihlah bobot dan bebetnya….tapi kebnyakan PKS bnyak istrinya,,,,jadi klau mau nambah istri masuk paratai PKS aja.




  • Monyonk Dw


    2013-12-25 23:28:22


    wah hati-hati kalau pilih si anis.anaknya10+2+1= keluarga dari hunggaria jelas rakyat kita dibuat rugi untuk kasih makan+fasilitas umum hasilnya belum tentu memuaskan





  • 2013-12-25 22:41:03


    santai bener????gimana perasaan anak istrinya?




  • Adi Supriadi Didi


    2013-12-25 22:20:52


    hahahahaha,,,orang sulawesi sori deh klu harus milih dia.





  • 2013-12-25 21:54:51


    WWW.KUNDARI.COM

    Kundari, S.E. CALON DPD JATENG NOMOR URUT 17






loading comment box



Kirim Komentar



Nama

:

Email

:


Komentar

:


Security Code

:



‘ + $(‘#nama’).val() + ‘



‘ + komentar + ‘


‘;

$(‘#comment-list’).prepend(isi);

$(“#frmKomentar”).html(‘

Terima Kasih Telah Mengirimkan Komentar


‘);

} else {

alert(data);

$(“#siimage”).attr(‘src’, base_url + ‘show_image/sid=’ + Math.random());

$(“#code”).val(“”);

$(“#code”).focus();

}

$(“#frmKomentar”).unblock();

}

});

}

});

});


Article source: http://www.merdeka.com/politik/dilarang-masuk-parpol-sultan-lebih-baik-jaga-kearifan-diy.html


Kisah Anis Matta Taklukkan Gadis Hungaria

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Sunday, March 24, 2013

Indonesia Harus Tampilkan Wajah Islam yang Moderat

WASHINGTON, (PRLM).- Keunikan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia memainkan peranan penting dalam menciptakan keharmonisan beragama dengan menunjukkan wajah Islam yang moderat. Demikian salah satu poin yang diangkat dalam sebuah diskusi antar-agama di Washington DC.

Ketika Emira Soleha Ramli tiba di Amerika untuk menuntut ilmu beberapa tahun lalu, ia sempat khawatir. Mahasiswi asal Malaysia itu khawatir warga Amerika akan melihat dirinya sebagai perempuan yang tertindas, hanya karena ia Muslim dan mengenakan jilbab. Stereotipe semacam itu muncul terkait maraknya pemberitaan kekerasan terhadap perempuan di negara-negara Arab di mana dominasi laki-laki masih sangat kuat.

Namun ia justru semakin terpicu untuk meluruskan stereotipe itu. “Karena kalau bukan kita sendiri, perempuan Muslim, yang menyuarakan sikap kita, siapa lagi?” ujar Emira dalam diskusi bertajuk ‘Engaging Diverse Voices of Faith for the Common Good’ di Gedung Capitol, Washington DC hari Rabu (03/20) yang di antaranya dihadiri oleh beberapa organisasi agama yang moderat.

Salah satu organisasi yang ikut ambil bagian dalam dialog antar-agama itu adalah Nahdlatul Ulama USA-Canada. Organisasi yang baru terbentuk awal tahun ini tersebut mengatakan stereotipe negatif tentang Muslim dan Islamofobia atau ketakutan terhadap Islam muncul karena banyaknya sorotan terhadap ekstrimisme.

Ketuanya, Dr. Shalahudin Kafrawi mengatakan kepada VOA arus ekstrimisme yang kuat itu harus diredam dengan menunjukkan wajah Islam yang lebih moderat, dan inilah modal yang dimiliki Indonesia. “Mengedepankan diskursus Islam Indonesia yang moderat, toleran, tersenyum, yang memahami nuansa keberagamaan, nuansa pemikiran keislaman, yang terefleksikan dalam prinsip-prinsip dasar Nahdlatul Ulama,” ujar Dr. Shalahudin.

Global Peace Foundation, kelompok yang mengupayakan keharmonisan beragama di dunia, memiliki pendapat yang sama. Presiden GPF, James P. Flynn, memberitahu VOA bahwa Indonesia dan Amerika sama-sama memainkan peranan penting dalam hal ini.

“Amerika sebagai negara yang pernah menjadi mayoritas Kristen memiliki prinsip-prinsip dan nilai-nilai berdasarkan “self-evident truth*” atau kebenaran yang mutlak yang membentuk kita sebagai bangsa. Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim juga menganut prinsip-prinsip dan nilai-nilai Pancasila sebagai cara dimana Indonesia sebagai negara plural bisa bersatu. Jadi keterkaitan antara Amerika dan Indonesia dan pelajaran yang telah dipetik oleh kedua negara itu bisa bermanfaat bagi dunia,” papar Flynn.

Sementara itu, Asosiasi Perempuan Muslim di Amerika mengatakan ekstrimisme seyogyanya bisa diredam dari keluarga. Karena itu sangat penting untuk memberdayakan perempuan yang berperan besar dalam keluarga, demikian menurut Presiden organisasi non-profit dan non-politik tersebut, Rosa Rai Djalal.

“Bila ibu berpendidikan, mengajarkan kasih sayang, bukan kebencian atau kekerasan, anak-anaknya akan tumbuh menjadi orang yang penuh kasih, baik, penolong dan tidak mau terlibat dalam konflik, apalagi masuk ke dalam (kelompok) ekstrimisme atau terorisme,” kata Rosa Djalal.

Isteri Duta Besar Indonesia untuk Amerika itu menganjurkan kepada para perempuan, terlepas dari keyakinan mereka, untuk lebih memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan sikap dan menekan pemerintah agar lebih memberdayakan perempuan. (voa/A-147)***

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/01/02/mfzjne-pengamat-parpol-kekurangan-tokoh-populer


Indonesia Harus Tampilkan Wajah Islam yang Moderat

Wednesday, December 25, 2013

Kisah Anis Matta Taklukan Gadis Hungaria

Kisah Anis Matta Taklukan Gadis Hungaria




Liputan6.com, Jakarta : Dengan mengenakan pakaian olah raga, bertopi, dan kacamata hitam, orang tak akan mengira, sosok tengah asyik berjogging itu adalah seorang politisi. Dia adalah Anis Matta, Presiden PKS yang bakal maju sebagai calon presiden pada 2014.


Berita Terkait



Joging Depan Rumah Jokowi, Anis Matta: Kapan Dia Deklarasi?


Joging Depan Rumah Jokowi, Anis Matta: Kapan Dia Deklarasi?



Anis Matta dan HNW `Dorong-dorongan` Jadi Capres PKS


Anis Matta dan HNW `Dorong-dorongan` Jadi Capres PKS


Tak hanya sendiri, Anis berjogging bersama 4 anaknya, 3 laki-laki remaja dan satu bayi mungil yang baru berumur 3 bulan. Selain itu, tampak juga perempuan muda beparas cantik yang mendampingi Anis. Dia adalah istri kedua Anis yang bernama Szilvia Fabula, asal Hungaria.


Tampil di muka publik, Anis tampak tak malu-malu pamer kemesraan dengan Szilvia. Sambil lari-lari kecil, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu sesekali menggenggam tangan perempuan berkacamata tersebut. Empat orang putra Anis dari istri pertamanya, Anaway Irianti Mansyur pun mengikuti dari belakang.


Menjadi perhatian warga yang juga tengah berolahraga, Szilvia tak nampak canggung. Dengan mengenakan jilbab pink dan baju lengan panjang serta celana olahraga, ia sesekali melempar senyum saat sejumlah warga menyapanya.


Puas berlari sebanyak 10 putaran, langkah Anis terhenti. Ia pun bersedia meladeni sejumlah pertanyaan wartawan. Saat ditanya hal yang berkaitan pernikahannya dengan Szilvia, Anis pun malu-malu menjawab.


Namun setelah didesak, Anis pun akhirnya bersedia mengungkap siapa perempuan tersebut. Tak hanya itu, ia pun juga menceritakan awal perkenalan dengan perempuan berkulit putih itu.


“Ini istri saya, namanya Szilvia Fabula, Saya bertemu dengannya saat di Hungaria, ketika acara suatu konferensi di Turki, dari Hungaria ke Turki kan tidak jauh tuh,” ujar Anis, Rabu, (25/12/2013).


Ia menuturkan, pertemuannya dengan Szilvia berlangsung 8 tahun lalu. Anis mengaku tak mudah menaklukan hati perempuan itu. Butuh waktu 4 bulan untuk meyakinkan dirinya, terlebih saat ia berkenalan, Szilvia beragama non-muslim.


“Kami sempat surat-suratan, dia baca surat saya dan sempat diskusi selama 4 bulan. Setelah rentang sekian bulan, dia memutuskan jadi mualaf dan akhirnya saya nikahkan dia pada tahun 2006 di Indonesia,” beber Anis.


Setelah melangsungkan pernikahannya, Szilvia pun resmi menjadi istri kedua Anis. Szilvia kemudian meninggalkan kampung halamannya di kawasan Eropa Timur itu dan hidup di Indonesia mendampingi sang suami.


Setelah menunggu sekian tahun, lewat pernikahannya, Anis yang telah dikaruniai sembilan anak dari istri pertamanya, pada september lalu kembali dikaruniai seorang anak perempuan dari Szilvia. Bayi perempuan itu ia namakan Shofia Anis Matta.


“Shofia baru lahir september lalu. Ini anak saya yang ke-10,” kata Anis sambil mendorong kereta bayi Shofia. (Mut)



3 Komentar Untuk Artikel Ini




  • 2013-12-25 22:41:03


    santai bener????gimana perasaan anak istrinya?




  • Adi Supriadi Didi


    2013-12-25 22:20:52


    hahahahaha,,,orang sulawesi sori deh klu harus milih dia.





  • 2013-12-25 21:54:51


    WWW.KUNDARI.COM

    Kundari, S.E. CALON DPD JATENG NOMOR URUT 17






loading comment box



Kirim Komentar



Nama

:

Email

:


Komentar

:


Security Code

:



‘ + $(‘#nama’).val() + ‘



‘ + komentar + ‘


‘;

$(‘#comment-list’).prepend(isi);

$(“#frmKomentar”).html(‘

Terima Kasih Telah Mengirimkan Komentar


‘);

} else {

alert(data);

$(“#siimage”).attr(‘src’, base_url + ‘show_image/sid=’ + Math.random());

$(“#code”).val(“”);

$(“#code”).focus();

}

$(“#frmKomentar”).unblock();

}

});

}

});

});


Article source: http://bm.harakahdaily.net/index.php/sudut-dakwah/21639-kisah-ashabul-ukhdud-dan-iktibar-mesir


Kisah Anis Matta Taklukan Gadis Hungaria

Wednesday, January 2, 2013

Kebijakan Duduk Ngangkang di Sepeda Motor, Tak Masuk Akal

Ilustrasi wanita naik motor (Foto: Feri U/okezone)
Ilustrasi wanita naik motor (Foto: Feri U/okezone)

ACEH- Kebijakan Pemkot Lhokseumawe yang melarang wanita duduk ngangkang di sepeda motor menimbulkan polemik. Warga, khususnya kaum wanita, memprotes kebijakan tersebut.

Nanda, seorang mahasiswi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, menilai, kebijakan itu justru mengekang kebebasan para perempuan, tidak modern dan bisa mengganggu keselamatan berkendaraan.

“Kalau dulu perempuan jarang berkendara sepeda motor, tapi inikan zaman modern. Tidak masuk akal,” sebutnya, Rabu (2/1/2013).

Menurutnya, bila memakai rok saat duduk di belakang mengangu kesimbangan sepeda motor, karena harus duduk menyamping.

“Kalau mau menerapkan syariat Islam, sebaiknya jangan urus perempuan duduk di sepeda motor,” tuturnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Fiqih Fakultas Syriah IAIN Ar Ranirry, Al Yasa Abubakar, menilai dalam Islam tidak ada aturan perempuan harus pakai rok dan laki-laki memakai jeans.

“Tidak ada aturannya itu (perempuan pakai rok,red), kecuali memakai ketat dan membentuk lekuk tubuh,” tegasnya.

Menurutnya laki-laki saja memakai sarung dan bentuknya menyerupai rok. “Dalam hadis dinyatakan jangan sampai orang sulit membedakan antara laki-laki dan perempuan,” sebutnya.
(kem)

Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/06/26/132014/Punggawa-Fulham-Pilih-Masuk-Islam-


Kebijakan Duduk Ngangkang di Sepeda Motor, Tak Masuk Akal

Friday, June 21, 2013

Pakar Genetika Yahudi Masuk Islam Setelah Mempelajari Iddah Dalam Islam

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.” (QS. Al-Baqarah : 228).


Ayat tersebut menarik perhatian Robert Guilhem, seorang pakar genetika dan tokoh Yahudi di Albert Einstein College. Ia bertanya-tanya, mengapa kitab suci umat Islam memberikan ketentuan masa iddah tiga bulan? Mengapa setelah bercerai perempuan tidak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain?


Guilhem pun menyelidiki ayat itu dan melakukan penelitian. Seperti dipublikasikan societyberty.com, hasil penelitian Guilhem menunjukkan, hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan. Jika pasangan suami istri tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Kemudian ia akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Setelah tiga bulan dan sisik khusus suaminya hilang, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya.


Guilhem kemudian melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.


Ketika ia melakukan penelitian serupa di perkampungan nonmuslim Amerika, ia mendapatkan hasil yang berbeda. Ternyata wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Artinya, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.


Pakar genetika itu juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Ternyata hasilnya menunjukkan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki. Ia mendapati bukti bahwa istrinya berselingkuh. Dari tiga anaknya, hanya satu yang berasal dari dirinya.


Setelah penelitian-penelitian tersebut, Guilhem akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia bersyahadat setelah meyakini hanya Islam lah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah perempuan paling bersih di muka bumi ini. (IK/Republika)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/11/mo8maj-mualaf-muslim-tak-butuh-perantara-ketika-berdoa


Pakar Genetika Yahudi Masuk Islam Setelah Mempelajari Iddah Dalam Islam

Friday, March 15, 2013

Kekerasan dan Serangan Rasis Sering Diderita Warga Palestina di Israel

WARGA Palestina di Israel belakangan ini sering jadi sasaran serangan kekerasan dan rasis yang dilakukan warga Yahudi.

Perbuatan merendahkan orang lain seperti dilakukan tiga orang remaja Israel baru-baru ini. Mereka meludahi seorang perempuan Palestina berusia 60 tahun dan meneriakkan kata-kata rasis terhadapnya.

Insiden memalukan itu terjadi di wilayah Nazareth Illit, tempat masih banyak warga Arab Palestina yang bertahan di antara warga Israel. Pihak berwenang Israel pun memberikan hukuman kepada remaja yang seluruhnya baru berusia 14 tahun itu.

“Mereka dihukum untuk mengikuti program anti-rasis di sekolah. Kami lebih memilih untuk menghukum mereka melalui hukuman yang mendidik,” ungkap Kepolisian Israel, seperti dikutip ANBA baru-baru ini.

Aksi kekerasan yang diderita warga Palestina di Israel bukanlah pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, tiga orang remaja Israel lainnya ditangkap setelah diduga menyerang seorang pekerja kebersihan Palestina di Tel Aviv pada 24 Pebruari lalu. Ketiga remaja itu meneriakkan kata-kata rasis sambil menyerang Hassan Ausruf yang bekerja di gedung pemerintahan Tel Aviv.

Pekan lalu, tindakan kekerasan juga dialami seorang perempuan Palestina ketika sedang menunggu di stasiun kereta api. Ketika tengah menunggu kereta api, tiba-tiba tiga orang perempuan Yahudi menyerang dan memukuli korban hingga menderita luka parah.

Tidak hanya memukuli korban, ketiga perempuan Yahudi itu juga melepas paksa jilbab yang dikenakan perempuan Palestina. Pihak berwenang memutuskan ketiganya bersalah tetapi mereka dibebaskan dari kurungan penjara.

Dua orang perempuan Israel tersebut hanya diberi hukuman larangan untuk masuk ke Jerusalem selama 45 hari. Sementara pelaku lainnya diberi hukuman larangan selama 30 hari. (ozc/bh)

Article source: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ba9a1bf15e402b506e34e2e72822b9ad&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c


Kekerasan dan Serangan Rasis Sering Diderita Warga Palestina di Israel

Tuesday, July 23, 2013

Jalan Islam Sam Brodie




VIVAlife-Lelaki itu dulu kerap tampil di layar televisi sebagai perempuan. Namanya mencuat sejak tampil di acara reality show ‘Living the Dream’ dan ‘Big Brother 7 UK’. Dia kelahiran Medan, 14 Maret 1987. Dia adalah Samuel David Alexander Brodie, akrab disapa sebagai Sam Brodie.
 
Sejak umur 12 tahun, Sam mengubah penampilannya dari lelaki menjadi perempuan. Rambutnya panjang, wajahnya cantik dipoles make up, dan jemarinya lentik terawat. Meski dikecam keluarga, tapi penampilannya itu justru membuatnya moncer menjadi artis.


Di Inggris, dia meraih banyak prestasi, antara lain Nicest Big Brother Housemate Award dari BBLB Channel 4  pada 2010. Dia kerap muncul di majalah, surat kabar, stasiun radio, dan sejumlah program televisi lainnya.


Rezekinya pun yahud. Sam getol berbisnis dengan menjual DVD, dan lagu-lagu single. Dia juga rajin menulis sebagai kolumnis. Sekali tampil di iklan TV, dia dibayar sekitar 100.000 Poundsterling. Sebagai model ia juga teken  kontrak dengan Burberry. Terakhir penghasilan Sam tercatat US$4,6 juta.


Tapi, sukses sebagai pesohor di negara makmur rupanya tak membuat Sam bahagia. Ia tetap seorang lelaki yang menyaru perempuan. Itu membuatnya tak tenang. Akhirnya Sam buka rahasia. Kepada publik, ia mengaku sejatinya ia adalah seorang pria.
 
Kejujuran itu malah kian melambungkan namanya. Sam makin terkenal. Tapi batinnya tambah meradang. Ia sungguh ingin kembali menjadi lelaki. Dalam keadaan galau itu dia rajin membaca kitab suci. Dan, sejumlah ayat Al-Quran membuatnya tersentak.


Saat ditemui di ANTV, Gedung Epicentrum kawasan Jakarta Selatan, Sam bercerita panjang lebar soal perjalanan spiritualnya.


Pada suatu hari, Sam yang masih tampil sebagai perempuan itu membaca salah satu ayat Al Quran. Isi terjemahan dalam kitab itu mengungkapkan larangan pria berpenampilan seperti wanita dan sebaliknya. Itu membuatnya menangis.


“Ada bisikan seperti mengatakan pada saya, hidup yang saya jalani selama ini penuh dosa”, ujarnya.


Dia mengatakan kitab suci umat Islam itu memberinya petunjuk bahwa sekarang waktunya dia harus berubah. Kembali ke jati dirinya sebagai laki-laki diakuinya tidak mudah. Selama satu dekade dia tampil sebagai perempuan.  Dalam keseharian, ia juga hidup layaknya sebagai perempuan.
 
Tapi keputusan Sam telah mantap. Ia tak lagi berdandan sebagai wanita. Risikonya jelas ada. Ia harus meninggalkan gemerlap, dan renyahnya dunia hiburan di Inggris, negeri yang memberinya kelimpahan materi dan ketenaran.


Keputusan itu rupanya memberikannya hikmah yang lain. Keluarga yang dulu menjauhinya, kini kembali menerima Sam. Keputusan besar lain yang diambil Sam adalah pulang ke Indonesia, dan menetap di tanah air untuk seterusnya.


Terinspirasi Maia Estianty


Sam pergi ke Inggris setelah dia lulus dari Jakarta International School (JIS), dan melanjutkan pendidikan ke Greenwood Academy di Dreghorn. Pada 2008, Sam pulang kembali ke Indonesia.
 
Dia berkisah, sebelum ikut dalam acara Big Brother di televisi Inggris, dia bukanlah siapa-siapa. Ia bahkan sempat menjadi pembantu hingga karyawan sebuah kafe.


Banyak sejarah pahit dalam hidupnya. Dia, misalnya, pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil. Dia juga pernah ditelantarkan keluarganya hingga hidup di sebuah panti asuhan di Inggris.
 
Sejak kembali ke tanah air, Sam memutuskan tampil sebagai manusia baru. Dia total meninggalkan atribut keperempuanannya itu. Ia menumbuhkan kumis, dan merawat jenggotnya.
 
Di Indonesia,  Sam mulai menjajal dunia tarik suara di bawah manajemen Ahmad Dani. Dari situ ia bertemu Maia Estianty, yang kini menjadi mantan istri Dhani.


Bertemu Maia, Sam seperti menemukan guru. Rasa penasarannya tentang isi Al Quran dan Islam, sering pula ia curahkan pada Maia. “Awalnya setiap hari aku datang ke rumah Bunda Maia. Setiap kali aku ke sana, aku tanya soal Islam,” katanya.


Tapi Maia merasa dia sendiri masih belajar, dan belum sempurna menjadi muslim. Akhirnya, Maia memberikan Sam sebuah kitab suci. “Bunda bilang, kamu mending baca Al Quran saja,” ujarnya.


Tak berhenti di situ, Sam makin penasaran pada Islam.  “Setiap kali aku datang ke rumah Bunda, aku tanya terus. Tapi bunda Maia bilang, dia bukan guru agama, jadi saya disuruh belajar Islam pada guru agama,” ceritanya.


Dari situ, Sam pun memperdalam agama Islam, dengan guru agama. Diakui Sam, Maia memang memberinya ilham untuk memeluk Islam. “Tapi sekarang, karena kesibukan masing-masing, kami sudah jarang bertemu,” tuturnya.


Menjadi muslim


Setelah melewati proses pencarian selama 18 bulan, Sam akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim di tahun 2010.  Dia tertarik pada Islam lantaran ia melihat adanya kebersamaan. Sam merasa punya keluarga besar, ketika ia melihat para muslim merayakan Lebaran, dan juga saat menajalankan ibadah puasa.


“Maklum, 14 tahun saya hidup sendiri, kesepian jauh dari keluarga. Saat saya ke Bandung saya merasakan suasana Lebaran, begitu indah.”


Saat buka puasa, katanya, juga begitu. Ada sesuatu yang menarik untuknya. Ia melihat kebersamaan dalam Islam. Setelah memeluk Islam, lelaki keturunan Skotlandia itu dihujani  banyak pertanyaan, misalnya kenapa memilih agama itu, dan sebagainya.
 
Tapi Sam menjawabnya santai. Bagi dia, agama seperti handphone dengan fitur dan aplikasi yang selalu up to date.  “Jadi sama seperti Islam, kenapa saya memilih Islam, karena Al Quran itu paling up to date.”


Menjadi muslim, bagi Sam, punya banyak tantangan.  Saat itu, timbul pro dan kontra di keluarganya. “Untuk yang bukan dari agama Islam, mereka berpikir saya memilih agama yang salah.”


Tapi Sam justru semakin yakin, bahwa  tidak ada agama yang salah. Kepercayaan itu, kata Sam, sangat personal. “Bagi saya, ya Islam itu agama itu paling benar,” ujarnya. Ia kini mengganti namanya menjadi Muhammad Sam.


Dia juga tak menyesal dengan pengalaman hidupnya yang pernah kelam. Justru karena itulah ia bisa menemukan hidayah.  “Bagi saya, lebih baik punya pengalaman hidup yang buruk dan penuh kontroversi. Sekarang saya bisa menghargai segala sesuatu yang sudah pernah saya alami. “


Belajar ikhlas


Menjadi muslim, Sam lalu giat belajar tentang Islam. Awalnya, ia sulit menjalankan ibadah shalat lima waktu. Di masjid atau musholla, ia sering bingung.
“Saya selalu lihat kanan dan kiri, karena belum  mengerti adat-adatnya bagaimana. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah lancar shalat.”


Ia mulai dari nol, seperti anak TK yang belajar mengaji. “Aku juga belajar Iqra,” ujarnya. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari mereka yang sejak lahir sudah menjadi muslim. Ia juga belajar tentang makna ikhlas, sikap menerima karena ketakwaan. Sikap ikhlas, kata dia, sangat penting dalam segala hal.  Baginya, butuh waktu sangat lama untuk bisa bersikap ikhlas.
 
Kini Sam telah menemukan pendamping hidup. Ia menikah dengan sahabatnya, Indry, seorang wanita Indonesia. Mereka kini punya seorang putri yang lucu, Kimmy Caitlyn Malika, lahir 2011.
 
Sam juga makin mantap ingin berkiprah di tanah air. “Saya orang Indonesia, saya ingin maju di sini,” kata pria yang mengaku dekat dengan sosialita Paris Hilton.


Sewaktu hijrah ke Indonesia, semua penghasilannya selama di London ia titipkan pada notaris di sana. Di Jakarta, dia kini bekerja di perusahaan multinasional. Ia juga menolak sejumlah tawaran kerja di luar negeri, karena ingin berkarir di tanah air.


Dan Sam memang tak bisa jauh dari dunia televisi.


Saat ini, dalam momen Ramadan, dia mengisi acara sahur sebulan penuh untuk program Pesbukers di ANTV.  “Saat Lebaran aku juga ada acara syuting film layar lebar, dan ada jadwal tiga program FTV. Semua acara itu saya anggap rezeki,” ujar Sam.


Article source: http://ramadan.detik.com/read/2013/07/23/074216/2310922/631/yarlina-haliwah-alhamdulillah-orangtuaku-ikhlas-aku-masuk-islam?992204cbr


Jalan Islam Sam Brodie