Showing posts sorted by relevance for query sendirian. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sendirian. Sort by date Show all posts

Monday, January 13, 2014

Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

REPUBLIKA.CO.ID, Yusuf Ali Bernier merupakan mualaf dari Kanada. Sebelum menjadi Muslim, hidupnya lekat dengan gereja. Pelayanan gereja terutama ritual berulang , bernyanyi , dan doa kepada Yesus atau Maria atau Tuhan dan kadang-kadang orang-orang kudus menjadi hal-hal yang mengiringi pertumbuhan Yusuf.


Ia biasa duduk dengan bingung membaca Alkitab sembari merekam dalam tape recorder. Setelah selesai, Ia akan memutar rekaman kembali dengan harapan menangkap makna dari apa yang baru saja dibacanya. Namun, cara itu tak juga membantunya memperoleh apa yang ia cari.


Pada suatu hari, ia menyaksikan khotbah di televisi dimana acara tersebut  memerintahkan pemberian Alkitab gratis dan menyumbangkan sebanyak yang bisa dilakukan ( yang tidak bisa banyak dilakukan anak laki-laki sepuluh tahun ) kepada penginjil televisi. Ganjarannya Ia akan menerima surat terima kasih dan berkat dan yang membuat saya merasa baik .


Hal itu berlangsung selama satu tahun atau lebih sampai akhirnya Ia menjadi terlalu frustrasi, kehilangan, dan ​​bosan dengan seluruh proses. Bukannya mengerti, Yusuf malah semakin bingung memahami arti yang ada di dalam injil.


“Aku memiliki Alkitab di lemari laci dan saya hanya akan menyebutnya sesekali pada saat saya remaja. Aku menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah benar-benar memahami Alkitab. Artinya , ironisnya , sampai nanti ketika saya menjadi Muslim. Saat itulah aku mulai mendapatkan pemahaman yang lengkap itu,” jelasnya, seperti dilansir dari Onislam, Selasa (14/1).


Apa yang membuat Ia bingung dengan Injil adalah kontradiksi antara kitab tersebut dan apa yang telah diajarkan oleh para imam dan pendidik agamanya. Ia menemukan bahwa hampir setiap aspek keyakinannya terguncang atau tidak masuk akal sama sekali setelah mengacu pada Injil.


Ia merasa inti dari imannya yang telah dipelajari  adalah palsu. Hal tersebut membawa dirinya ke titik di mana pesimis dan sinis terhadap agama. Akhirnya saat remaja,  Ia pun seperti mengejek Agama yang diyakininya dengan pergi gereja sembari mengunyah permen karet dan setengah hati berpartisipasi dalam pelayanan.


Ia akan bersuara pada saat menyebutkan Tuhan atau Yesus. Ia tidak tahu apa yang bisa dipercaya lagi. Satu-satunya hal yang Ia yakini adalah bahwa Tuhan itu ada. Semua kebingungan dan kekecewaannya dari usia sepuluh tahun akhirnya memicu mencari Kebenaran dan akhirnya membawanya ke agama yang disebut Islam.


Pertemuan pertamanya dengan orang-orang Muslim adalah melalui transaksi bisnis. Hangat dan murah hati keramahan mereka memenangkan hatinya. Ia juga tergelitik dengan orang Muslim yang setia  dengan Allah dalam ungkapan-ungkapan seperti  Alhamdulillah (semua Segala puji bagi Allah ) dan Insya Allah ( Insya Allah ).


Ia tidak pernah melihat orang-orang dalam keadaan iman yang kuat seperti ini sebelumnya. Yusuf menemukan Kebaikan, kemurahan hati dan sifat belas kasih mereka adalah sebuah bagian dari seorang Muslim. Hal ini lantas mendorongnya ingin menjadi seperti mereka.


“Ini adalah apa yang menarik dari orang-orang Islam , ini adalah apa yang membuat saya tertarik terhadap Islam,” ujarnya.


Setelah peristiwa tersebut, Ia mulai mempelajari dasar-dasar Islam. Semakin Ia belajar, Yusuf semakin ingin tahu. Ia mempelajari Islam melalui buku-buku yang ditulis oleh umat Islam dan juga membaca terjemahan Al-Quran. Ketika itu, hanya beberapa orang yang tahu bahwa Ia sedang belajar Islam.


Ia beralasan karena tidak ingin ada campur tangan dari umat Islam dan terutama dari teman-teman Kristen dan Yahudinya. “Saya tahu bahwa jika ada yang membimbing dan membantu saya dalam pencarian kebenaran adalah Allah,” jelasnya.


Seiring waktu berlalu , pengetahuannya berkembang menjadi alam Kebenaran sampai sekarang tanpa sepengetahuan saya . Islam menjadi kekuatan yang kuat seperti magnet menarik dirinya lebih dekat dan lebih dekat untuk itu.


Allah adalah satu-satunya hal dipikirkannya ketika melayang tidur dan pikiran pertama ketika terbangun. Islam membangun intelektual serta hatinya dan Ia menjadi begitu semangat tumbuh untuk itu.


Baca Quran


Ia akhirnya belajar Surat Al – Ikhlas meskipun belum Muslim. Ia mulai mengajar diri untuk berdoa dengan menggunakan buku dan membaca satu-satunya Surah yang Ia tahu. Ia merasakan kebutuhan yang sangat besar untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta maaf dan petunjuk menjadi hal yang paling masuk akal baginya.


Tak lama kemudian, Ia berangkat berlibur sembari membawa Qur’an. Empat hari kemudian, Ia yang sendirian di negara asing terkena sakit parah. Ia hanya terbaring selama sebulan dan setiap hari kehilangan hampir satu pon berat badanya.


Menghadapi kematian, Ia yang sendirian dalam penderitaan ingat memohon kepada Allah untuk tidak membiarkannya mati dalam kondisi tidak lengkap. Waktu itu Ia  belum dikonversi menjadi Muslim tapi dalam hatinya selalu ingin menjadi seorang Muslim. Ia tersadar dahulu seperti menunda-nunda mencoba untuk mempelajari segala sesuatu yang benar.


Kini, Ia percaya bahwa itu adalah panggilan untuknya dari Sang Maha Penyayang. Itu adalah untuk momen baginya untuk mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menunda sesuatu yang ingin dilakukan.


Setelah memohon, kondisnya berangsur baik dan Ia bisa kembali ke Kanada. Dua minggu setelah kembali ke Kanada Ia masuk Islam. “Al- Hamdulillah saya tidak mati sebelum mengatakan syahadat,” ujarnya.


“Allah  Maha Penyayang. Dia memberikan orang banyak peluang dan tanda-tanda . Bagian yang sulit adalah tidak begitu banyak orang mengenali tanda-tanda tersebut,” jelasnya.


“Islam seperti obat. Ini perubahan perilaku menyimpang dan menenangkan serta membuat jiwa menangis. Islam adalah agama Kebenaran dan Quran adalah panduan untuk semua aspek kehidupan. Quran memberi saya semua jawaban atas pertanyaan saya,” kenangnya.


Ini, lanjutnya,  meringankan kebingungan saya dan mengubahnya menjadi kejelasan dan pemahaman . Tidak pernah terlintas ada agama yang Kebenaran mutlak dalam bentuk yang paling murni . Jika seluruh umat manusia menyadari bahwa kebenaran ini adalah agama Islam.


“Saya berdoa kepada Allah untuk membimbing kita semua ke jalan yang lurus. Jalan semua nabi Allah termasuk Ibrahim , Nuh , Musa , Yesus , dan Muhammad ( damai atas mereka semua ),” tandasnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/10/mz6xau-israel-curi-kunci-gerbang-masjid-al-aqsha


Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. PermohonannyaƂ tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku:Ƃ The Wilder Shores of Love,Ƃ Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria.Ƃ 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat,Ƃ mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat.Ƃ 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | PermohonannyaƂ tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku:Ƃ The | Wilder | Shores | Love | Ƃ Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat | Ƃ mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, April 1, 2013

Perempuan Tidak Boleh Sendirian Masuk Arab Saudi

Senin, 1 April 2013 – 23:33 wib

Mekkah, Arab Saudi (Foto: shedexpedition)

Mekkah, Arab Saudi (Foto: shedexpedition)

Arab Saudi

Arab Saudi atau Kerajaan Arab Saudi yang terletak di Jazirah Arab. Wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali.

Arab Saudi menjadi tempat di mana Kota Mekkah dengan Ka’bah berdiri, sebagai kiblat umat Muslim. Hal ini menjadikan Mekkah kota suci bagi umat Islam di seluruh dunia.

Setiap tahun, ribuan umat muslim dari penjuru dunia datang ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tak hanya ke Mekkah, umat Muslim berziarah ke Madinah, Jeddah, dan kota-kota lain dengan masjidnya yang indah.

Namun, lupakan mengunjungi Arab Saudi bila Anda adalah wisatawan perempuan yang berpergian sendiri. Perempuan yang ingin masuk ke negara ini wajib ditemani oleh seorang pria, yang merupakan kerabat atau suaminya.

mobile
Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com
untuk BlackBerry

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/12/09/11/ma5dbe-sekarang-agama-dijadikan-atribut-tutupi-kebobrokan


Perempuan Tidak Boleh Sendirian Masuk Arab Saudi

Saturday, April 27, 2013

Sang Panutan Telah Berpulang - Makassar Terkini

JAKARTA – Indonesia kehilangan dai kondang, Ustaz Jefry Al Bukhory, 40, kemarin. Wafatnya dai muda secara mendadak ini menyisakan duka mendalam. Ribuan orang pun larut dalam kesedihan dalam pemakamannya


Sebelum dikebumikan, ribuan jamaah turut menyalati jenazah Uje seusai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Ketika rombongan memasuki pelataran Istiqlal, ribuan pelayat yang sudah menunggu di dalam masjid, langsung tak kuasa menahan air mata begitu melihat keranda berisikan jenazah ustaz yang dicintainya itu.


Mereka saling berebut bisa menggotong keranda ataupun mendekat ke jasad sang “dai gaul” ini. Prosesi pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Tengsin Tanah Abang, Jakarta Pusat pun tak kalah tumpah ruah dipenuhi ribuan pelayat. TPU yang berada di samping Jalan Mas Mansyur ini dipenuhi kendaraan bermotor serta mobil. Karena banyaknya masyarakat yang hendak melihat prosesi ini, sejumlah anggota ormas keagamaan membantu menjadi sweeper agar ambulans yang membawa jenazah Ustaz Jefry bisa lewat.


Tak lama kemudian, seorang yang menggunakan kopiah putih datang membawa foto diri Ustaz Jefry berjalan di depan ambulans yang membawa jasad Jefry. Sesekali terdengar suara pria yang meminta masyarakat untuk mundur. Butuh waktu 15 menit untuk membawa jasad Jefry sampai depan liang lahatnya. Siang kemarin, ribuan orang mulai keluarga, saudara, tetangga, pejabat, sahabat, hingga anggota jamaah pengajian sengaja ikut hadir langsung dalam pemakaman demi bisa melihat Uje untuk terakhir kalinya. Jasad Uje dimakamkan satu liang dengan ayahnya, Haji Ismail Modal, yang meninggal pada 1992 lalu.


Sekitar pukul 14.00 WIB, jenazah Uje selesai dimakamkan. Meski demikian, ribuan pelayat masih berada di pemakaman, bahkan masih banyak yang berdatangan. Ustaz Jefry meninggal dunia setelah motor yang dikendarainya menabrak sebuah pohon di Jalan Gedung Hijau Raya, Pondok Indah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat dini hari kemarin sekitar pukul 01.00 WIB. Korban sempat mendapatkan perawatan selama setengah jam di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Namun, nyawa Uje tak terselamatkan karena luka di kepalanya yang cukup parah. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Selatan AKBP Hindarsono mengatakan, Uje diketahui mengendarai sepeda motor Kawasaki ER 6N bernopol B 3590 SGQ. “Saat kecelakaan, helm korban terlepas, sedangkan kondisi sepeda motornya cukup parah,” katanya. Saat helm terlepas, kepalanya diduga terbentur yang mengakibatkan kepalanya terluka parah. Diduga, luka tersebut yang membuat Uje meninggal dunia. Sebelum kecelakaan, Uje melintas dari arah timur menuju barat di Jalan Gedung Hijau Raya.


Sesampainya di depan rumah No 17 PB-38, motor korban menabrak trotoar dan pohon palem di sebelah kiri jalan. Akibatnya, korban terpental beberapa meter dalam posisi telungkup. Korban yang kala itu sendirian mengendarai sepeda motornya, kemudian ditolong oleh pengawalnya di belakang motornya. Uje langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah. Namun karena lukanya yang cukup parah, dia akhirnya menghadap Sang Ilahi. Polisi sempat membawa Ustaz Uje ke RS Fatmawati.


Namun, pihak keluarga akhirnya meminta jenazah untuk tidak divisum dan menganggap apa yang terjadi adalah musibah. Setelah itu, jenazah Uje dibawa ke rumah duka di Perum Bukit Mas, Jalan Narmada III, Rempoa, Bintaro, Tangerang Selatan. Almarhummeninggalkanseorangistri, Pipik Dian Irawati Popon, dan tiga anak yakni Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro. Adik kandung almarhum, Deki Fajar Sidiq, menjelaskan bahwa sebelum kecelakaan, Ustaz Uje minum kopi bersama rekanrekannya di kawasan Kemang.


Malam itu kondisi Uje sebenarnya sedang dalam keadaan kurang sehat. Bahkan, dia sempat meminta kakaknya agar tidak ikut dalam kongko tersebut. Namun, permintaannya ditolak. “Beliau mengajak saya. Awalnya saya menolak dan mengingatkan agar istirahat, karena kondisi beliau sedang tak terlalu sehat. Tapi begitulah, kalau beliau punya kemauan susah dilarang. Akhirnya saya ikut juga,” ujarnya. Sambil minum kopi di Kemang, Ustaz Uje membahas rencana kegiatan pada bulan Ramadan mendatang dan syuting di Arab Saudi. “Kita pulang sekitar pukul 24.00 WIB,” katanya.


Saat pulang, Uje kembali mengendarai motornya sendirian. Ketika tiba di lokasi kejadian, di Gedung Hijau Raya Pondok Indah tepat di depan rumah No 17 PB 38, Jakarta Selatan, Uje mengalami kecelakaan, sekitar pukul 01.00. Deki menilai Ustaz Uje adalah sosok yang amat baik dan sayang keluarga. “Dia merupakan panutan. Semoga amal dan ibadahnya diterima Allah serta diberikan tempat di sisi-Nya,” jelas dia. Ruslia, 27, salah seorang pelayat, mengatakan sengaja ikut salat ke Masjid Istiqlal demi bisa melayat mendiang Ustaz Jefry. Menurutnya, Ustaz Jefry telah mengajarkan agama Islam dengan baik dan mudah dipahami.


“Saya kan mualaf, ketika saya mendengar ceramah beliau, saya jadi cepat mengerti. Karena cara mengajarnya yang mudah dicerna. Tentu ini sebuah kehilangan besar bagi saya,” ujar warga Pulogadung, Jakarta Timur tersebut. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan Ustaz Uje telah berjasa membimbing umat agar tetap beriman dan berada di jalan Allah. “Indonesia telah kehilangan ustaz muda yang menjadi panutan,” kata Suryadharma sambil meneteskan air mata ketika melepas jenazah Uje di Masjid Istiqlal.


Pengakuan senada dikatakan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar. Di sejumlah daerah, salat gaib untuk Ustaz Uje juga dilaksanakan, seperti di Bogor, Batam, dan Bali. KORAN SINDO – helmisyarif/ridwansyah/ ayurachamaningtyas/ ant


Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/06/11/17145258/Mahasiswa.Akan.Demo.Kedatangan.Boediono


Sang Panutan Telah Berpulang - Makassar Terkini

Monday, July 8, 2013

Dari gembala Tuhan menjadi rabbi Yahudi

Rabbi Yobbi Ensel menjalankan ajaran Yahudi terang-terangan sejak tahun satu dasawarsa lalu. Lelaki 40 tahun ini sebelumnya beragama Kristen Protestan, keyakinan dijalankan keluarganya. Pada 2001 dia memulai ritual Yudaisme sendirian kemudian didukung keluarganya. Dia pernah menjadi gembala Tuhan di sebuah gereja di Kota Manado, Sulawesi Utara.


Perpindahan keyakinan itu dia lakukan secara sadar setelah mempelajari bahasa Ibrani secara otodidak serta membaca kitab Torah dan ajaran Yudaisme lainnya. “Menjalankan Yudaisme adalah panggilan dan tugas saya sebagai keturunan Yahudi meski fisik saya tidak seperti keturunan Yahudi umumnya karena perkawinan campur nenek moyang saya,” kata Yobbi kepada merdeka.com Kamis pekan lalu di lobi sebuah hotel di Manado.


Darah Yahudi dalam tubuhnya berasal dari mendiang ayahnya, Jonathan Hattie, keturunan Yahudi Portugis kelahiran 1942 di Sanger Siau, Sulawesi Utara. Hattie anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat bertugas di Toli-toli, Sulawesi Tengah, dan pensiun pada 1989 dengan pangkat sersan satu. Dia meninggal di Manado dua tahun lalu. Yobbi adalah anak keempat dari lima bersaudara. Empat saudara kandung lainnya beragama Kristen Protestan dan Islam.


Dari garis keturunan bapaknya, nenek moyang Yobbi asal Portugis. Sekitar 1514 datang ke perkampungan paling tua di Kepulauan Karakelang Talaud, Kampung Ruso, Sulawesi Utara, berbatasan laut dengan Filipina. Nama Kampung Ruso atau Roso diambil dari marga Yahudi keturunan Yakub. Kemudian dari situ nenek moyangnya ikut bersama Portugis dan dipaksa menuju Minahasa saat abad ke-16 atau awal mula Portugis ke Nusantara.


Ibunya, Irene Andasia, 50 tahun, keturunan Portugis dari kakeknya, Ayub Andasia kelahiran 1514 di Kepulauan Karakelang, Sulawesi Utara. Kemudian nenek Yobbi, Ribbka Bala, keturunan Portugis dilahirkan pada 1920 di Sanger, Kolongan Mito, Sulawesi Utara. Andasia merupakan marga Yahudi di Andalusia, Spanyol, hidup di abad ke-16.


Kakek dari ibunya bernama Masone. Ketika itu nama Yahudi di Minahasa Utara belum menggunakan Marga. Kelak Masone akan melekat menjadi nama marga keluarga untuk keturunannya. Nenek dari ibu Yobbi berasal dari Belarusia bermarga Bala. Dia lupa tahun berapa saat Portugis datang ke Nusantara. Salah satu marga Bala ikut rombongan Portugis dan berlabuh di Pelabuhan Mulang, Minahasa Tenggara.


Bekas jejak nenek moyang Yobbi bisa dilihat dari perkebunan gandum orang Spanyol di Minahasa Tenggara. Baru pada 1600-an Belanda masuk ke Pulau Siau atau Sanger/Sangihe. Sehingga ada juga orang Yahudi bermarga Sanger di Minahasa. “Sebenarnya Sanger itu variasi dari beberapa nama. Ada sanger, singer, singale, dan singal. Kemudian setelah membaur dengan masyarakat lokal istilah itu berubah menjadi sinjal, sinyal,” ujar Yobbi.


Sepengetahuan Yobbi, Sanger saat itu dihuni oleh berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Prancis, dan Belanda. Makanya sekitar 1500 atau 1600-an Minahasa itu adalah satu bangsa dan pernah menandatangani kerja sama dengan Inggris. Kemudian Minahasa bergabung dengan Indonesia. Cerita ini ada dalam film Benteng Muraya dibuat di Tondano.” Itulah muasal Yahudi di Minahasa dan menyebar ke seantero nusantara, termasuk Manado,” tuturnya.


Istrinya Yulita, 30 tahun, perempuan keturunan Minahasa menyokong keyakinan dianut Yobbi dan turut menjalankan ajaran Yudaisme. Menurut Yobbi, menerapkan Yudaisme tidak harus berdarah Yahudi (goyim), namun atas dasar kesadaran. Demikian juga keputusannya menjadi rabbi atau pembimbing umat lewat sekolah dan pelatihan khusus diselenggarakan komunitas Yahudi di Manado. Dia mengatakan posisi Rabbi itu sama dengan ulama dalam Islam.












Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/gadis-pesta-ini-mengenal-islam-di-klub-malam.html


Dari gembala Tuhan menjadi rabbi Yahudi

Monday, May 20, 2013

Di Depan Menteri Agama, 20 Ahmadiyah Baca Syahadat

Grafis Terkait


Kekerasan Terhadap Ahmadiyah dalam Setahun


Foto Terkait


Masjid Ahmadiyah Disegel, Sejumlah Jemaat Dievakuasi




TEMPO.CO, Tasikmalaya – Sebanyak 20 pengikut Ahmadiyah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengucapkan kalimat syahadat di Masjid Agung Baiturrochman, Singaparna, Senin, 20 Mei 2013.


Prosesi itu diadakan di hadapan Menteri Agama Suryadarma Ali, Kepala Kementerian Agama wilayah Kabupaten Tasikmalaya Dadang Romansyah, serta unsur muspida dan ormas Islam. “Yang mualaf ada 20 orang. Total mantan jemaat Ahmadiyah yang sudah masuk Islam di Tasik ini ada 732 orang,” kata Dadang Romansyah, Senin, 20 Mei 2013.


Dadang menjelaskan, hingga sekarang, ada 4.216 jemaah Ahmadiyah di wilayahnya. Mereka tersebar di sejumlah desa di Tasikmalaya, di antaranya Tenjowaringin, Salawu, Singaparna, Sukaraja, dan Sukaratu.


Seusai prosesi itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya meminta Menteri Agama Suryadarma Ali membubarkan Ahmadiyah. “Kami meminta segera bubarkan Ahmadiyah,” kata Sekretaris MUI Tasikmalaya Edeng Zaenal Abidin.


Zaenal menjelaskan, selama ini MUI Tasikmalaya berusaha menangani keberadaan Ahmadiyah secara damai. “Prinsip kami, airnya jernih, ikannya berhasil ditangkap,” kata Zaenal. Untuk itu, bekerja sama dengan FKUB dan ormas Islam, MUI sering mengadakan dakwah di basis Ahmadiyah. “Hasilnya, sudah 700 anggota Ahmadiyah di Tasikmalaya kembali memeluk Islam,” kata Zaenal.


Pengikut Ahmadiyah yang hari itu membaca syahadat, Rani Rahmawati, mendukung anjuran MUI. Dia juga minta Menteri Agama memberi mereka pekerjaan. “Kami minta diangkat jadi pegawai negeri dan diberi dana usaha,” katanya terus terang.


Berbicara terakhir, Menteri Suryadarma mengaku tak bisa sendirian membubarkan Ahmadiyah. Dia mengaku harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.


“Akan kita bicarakan bagaimana baiknya menyelesaikan masalah Ahmadiyah ini. Mohon sabar, kita perlu proses,” kata dia. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan ini mengimbau agar mereka yang menolak Ahmadiyah tidak menggunakan kekerasan.


“Kalau berniat baik tapi caranya salah, ya akan salah. Misalnya bakar rumah, rusak tempat ibadah, itu salah,” Suryadarma menjelaskan.


CANDRA NUGRAHA


Topik Terhangat:
PKS Vs KPK
| E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Berita Terpopuler:
Selingkuh, Begini Fathanah Minta Maaf

Ilham Arief Serahkan Rp 7 Miliar ke Fathanah

Cerita Sopir Fathanah Soal Paket Duit ke Luthfi

Bisnis Labora Sitorus Dimulai dari Miras Cap Tikus

Sefti Suruh Sopir Beri Bingkisan Duit ke Luthfi?


Article source: http://sabili.co.id/berita/islami/item/598-dalam-sebulan-374-orang-masuk-islam-di-saudi.html


Di Depan Menteri Agama, 20 Ahmadiyah Baca Syahadat

Wednesday, February 6, 2013

Korupsi Itu Bertentangan dengan Agama

KOMPAS.com – Penetapan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap kuota impor daging oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu (30/1), sungguh mengejutkan. Bagaimana mungkin presiden partai yang mengusung jargon citra bersih ternyata diduga melakukan perbuatan yang dilarang agama. Bagaimana menjelaskannya?


Jika mau menengok ke beberapa tahun ke belakang, sebenarnya kita tak perlu ”kaget-kaget amat”. Soalnya, kasus-kasus korupsi yang dianggap bersentuhan dengan ranah agama justru banyak menyeret sejumlah tokoh.
Dana Abadi Umat (DAU) menyeret mantan Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar (Kabinet Gotong Royong 2001-2004), yang divonis hukuman lima tahun penjara dan membayar denda Rp 200 juta serta uang pengganti Rp 2 miliar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Februari 2006. Hampir bersamaan, DAU juga menyeret Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Ibadah Haji Departemen Agama Taufik Kamil, yang divonis empat tahun penjara.
Juni 2012, KPK menyidik dugaan korupsi dalam pengadaan Al Quran di Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama tahun anggaran 2010-2011. Anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Jabbar, dan anaknya, Dendy Prasetya, ditetapkan menjadi tersangka. Selain pengadaan Al Quran, Zulkarnaen juga terlibat korupsi pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah di Ditjen Pendidikan Islam. Belakangan, pejabat pembuat komitmen di Ditjen Bimas Islam, Ahmad Jauhari, juga ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam kasus Luthfi, beberapa alat bukti menunjukkan, suap dari PT Indoguna Utama tersebut mengarah kepada anggota DPR itu. Namun, PKS pun membela diri. M Anis Matta, yang menggantikan Luthfi sebagai presiden partai, bahkan menuding ada konspirasi untuk menghancurkan partai tersebut. Namun, tampaknya publik percaya dengan KPK sebagai lembaga profesional dan kredibel. Siapa pun yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh komisi itu biasanya dapat dibuktikan kejahatannya di pengadilan.
Moralitas
Kita semua sepakat, korupsi merupakan kejahatan luar biasa karena tak hanya merugikan orang per orang, tetapi juga publik luas. Kejahatan ini menggerogoti dana negara yang semestinya untuk pembangunan bagi rakyat. Semua agama jelas-jelas melarang keras praktik korupsi (rasuah). Ajaran Islam bahkan menegaskan, penyuap (al-rosyi) dan penerima suap (al-murtasyi) bakal masuk neraka dan menerima siksaan pedih.
Namun, mengapa banyak tokoh bisa terjerumus? Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, membuat pesan berseri yang menarik di laman Twitter lewat akun @ihsan_AF. Dia mengingatkan, kita jangan kaget oleh adanya agamawan yang tak kuat menahan godaan korupsi.
Agama, kata Ihsan, bukanlah yang terpenting untuk menentukan perilaku. Lidah seseorang boleh mengucapkan kalimat-kalimat bijak agama, tetapi bisa jadi perilakunya menyimpang. Apalagi, ada dorongan kebutuhan material tinggi, konsumerisme menggila.
”Faktanya, negara-negara dengan tingkat ketaatan beragama tinggi juga adalah negara-negara terparah korupsinya. Misalnya, Pakistan, India, Banglades, juga Indonesia. Politisi, sekuler atau religius, bisa korup. Itu menyangkut agama apa saja,” catatnya.
Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Ali Munhanif menilai, agama tak bisa sendirian melawan praktik korupsi. Batasan-batasan moral agama tidak cukup kuat untuk mendorong seseorang tetap bermoral ketika memperoleh peluang dan punya kekuasaan. Perlu batasan-batasan legal yang bisa memaksa siapa pun untuk mematuhi larangan korupsi.
”Kita memerlukan penegakan hukum tegas dan adil serta memperkuat lembaga pemberantasan korupsi,” katanya.
Menurut Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch Ade Irawan, nilai-nilai agama tetap relevan untuk memperkuat moralitas antikorupsi di masyarakat dan pemerintahan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesalehan sosial dapat terus dikembangkan lewat pendidikan dan lembaga agama. Penting juga keteladanan dari para pemimpin, pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab, serta publik yang kritis.
Tokoh-tokoh agama juga perlu menjadi contoh melawan korupsi dan mencegah lembaga agama sebagai tempat pencucian uang hasil korupsi. (Ilham Khoiri)

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

Friday, December 13, 2013

Jilbab Polwan Terempas Dusta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nasihin Masha


Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut. Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan. Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno. Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel. Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen. Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab. Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan. Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan. Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi. Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI. Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri. Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR. Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian. Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi. Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri.


Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/76826-fpi-dan-mui-depok-sodorkan-bukti-jonas-rivanno-sudah-masuk-islam.html


Jilbab Polwan Terempas Dusta

Wednesday, December 18, 2013

Cindy Weber, Jalan Hidayah Sang Misionaris

REPUBLIKA.CO.ID,


Ia terpesona dengan cara hidup Muslim yang hangat dan harmonis.


Jika mualaf pada umumnya harus melalui perjuangan dan perjalanan panjang dalam menemukan Islam, lain halnya dengan Cindy Weber.


Ia merasa jalan menuju Islam memang telah dipersiapkan untuknya. “Saya hanya berpikir, Tuhan ingin membimbing saya, jadi tak ada penghalang apa pun yang merintangi jalan saya menuju Islam,” ujarnya.


Sejak kecil Cindy dibesarkan di Gereja Katolik. Ia dididik oleh biarawati hingga akhirnya menjadi misionaris. Tak banyak yang diceritakan Cindy bagaimana ia mempelajari Katolik dan menyebarkannya ke berbagai penjuru dunia.


Yang pasti, kisah hidayah Cindy bermula saat ia bertugas di Kenya sebagai misionaris tentunya. Di Kenya, Cindy banyak berinteraksi dengan Muslim. Diam-diam, ia terpesona dengan kehidupan umat Islam. Hanya itu yang menjadi kunci ketertarikannya pada Islam.


“Saya melihat bagaimana mereka menjalani hidup. Mereka memiliki kehidupan keluarga yang baik dan saya pikir itu sesuatu yang saya cari,” kisah Cindy dalam program They Chose Islam di The Algerian TV yang  bisa disaksikan di YouTube.


Cindy melihat keluarga Muslim begitu bahagia. Mereka gemar berkumpul, kemudian makan bersama. Pemandangan tersebut sangat asing bagi Cindy yang terbiasa hidup di tengah individualisme masyarakat AS.


“Kondisi yang kontras bagi saya di Amerika yang saat Minggu sore hanya di depan televisi, menonton permainan bola dengan sekotak bir. Benar-benar terasa kosong,” tuturnya mengenang.


Tak ada saudara dan teman Muslim, apalagi ustaz, membuat wanita kelahiran Burlington, Wisconsin, AS tersebut terpaksa menelaah Islam sendirian, secara otodidak.


Meski tanpa guru dan tanpa ada yang menjawab pertanyaannya tentang keimanan, Cindy tak butuh waktu lama untuk memutuskan Islam akan menjadi agamanya.


Tak ada keraguan sedikit pun. Cindy merasa seakan-akan diantar untuk memeluk Islam saat kembali ke AS. Begitu mudah jalan Cindy hingga kemudian menyatakan syahadat di Chicago.


Dua pekan sebelum mengucap syahadat, Cindy sempat pergi ke Islamic Center di Chicago. Ia hanya mengatakan, “Saya tertarik pada Islam”. Padahal, saat itu Cindy sudah mempelajari Islam, bahkan telah berniat untuk mengucapkan syahadat.


Pengurus Islamic Center Chicago tersebut pun memberinya beberapa literatur dan buku Islam. Setelah menerima buku tersebut, Cindy pun pergi.


Tetapi, tiba-tiba seorang Muslim dari Islamic Center tersebut memanggilnya, “Tunggu, tunggu… Kenapa kau tak menjadi Muslim sekarang saja?” Cindy menirukan pertanyaan Muslim tersebut.


“Well, saya hanya membaca buku-buku ini dan dan hal-hal serupa. Saya hanya memikirkan tentang itu,” jawab Cindy.


“Baiklah, apakah kau tahu jika kamu tidak menjadi Muslim hari ini, kemudian kamu melintas jalan itu kemudian tewas, kau akan masuk neraka,” ujar Muslim tersebut mengajak Cindy bersegera menuju kebaikan. “Tidak, itu tidak mungkin karena saya seorang Katolik dan Katolik tak akan masuk neraka,” kata Cindy.


“Oke, kami tahu, kau sebenarnya ingin pergi minum dengan teman-temanmu, meminum alkohol, semalam sebelum kau menjadi seorang Muslim. Itulah mengapa kau tak ingin menjadi Muslim hari ini,” ujar Muslim tersebut menebak. “Aku tidak minum alkohol,” jawab Cindy berdusta.


Cindy tertawa kecil, pipinya memerah ketika mengisahkan percakapan dengan pengurus Islamic Center tersebut.


Ia benar-benar mengingat peristiwa tersebut meski telah berlalu 25 tahun silam. Percakapan tersebut berujung pada pemberian sebuah alamat masjid besar di Chicago.


Pengurus Islamic Center menyerah, Cindy tak langsung memeluk Islam pada hari itu. “Jadi, saya menerima alamat (Masjid Besar Chicago) dan dua minggu kemudian saya pergi ke sana, mengucapkan syahadat,” tutur Cindy.


Begitu sederhana perjalanan sang misionaris hingga memeluk agama Islam. Cindy mengatakan, jalan Islam memang seperti sudah ditakdirkan baginya.


Ia tak merasakan kesulitan sedikit pun. Sebaliknya, kemudahan demi kemudahanlah yang ia alami saat menempuh jalan menuju hidayah.


Berkiprah di bidang sosial

Setelah memeluk Islam, Cindy menjadi Muslimah yang taat. Ia berjilbab, kemudian menikah dengan pria Muslim dan tinggal di Dallas.


Ia bahkan aktif di sebuah yayasan kemanusiaan Islam dan menghabiskan waktunya untuk berdakwah. Di sana ia membicarakan tentang Islam dan berbagi ilmu melalui dakwah.


Yayasan tersebut melindungi komunitas pengungsi di Dallas. Sekitar 50 persen pengungsi di sana adalah Muslim.


“Kami menerima mereka dan memberi tahu menerapkan syariat Islam di Amerika itu mudah. Mereka dapat menjaga iman dan tak perlu menyembuyikannya ataupun berpura-pura bukan sebagai Muslim,” ujar Cindy.


Di gedung pusat yayasan tersebut, shalat lima waktu digelar setiap hari.  Pelajaran agama Islam dan bahasa Arab pun diajarkan untuk anak-anak Muslim. Ada pula kelas bahasa Inggris yang diikuti tak hanya oleh anak-anak Muslim, tetapi juga non-Muslim.


Bahkan, guru bahasa Inggris di kelas tersebut merupakan seorang Katolik. “Kami bermitra dengan yayasan Katolik dan mereka mengirimkan pengajar aktif bahasa Inggris untuk mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Jadi, kami memiliki semua agama di sini, dan semua orang menyambutnya,” kata Cindy toleran.


Tujuh hari dalam sepekan, waktunya dihabiskan di yayasan tersebut. Meski demikian, Cindy menikmatinya. Tetapi, diakuinya, banyak hal yang berubah setelah ia memeluk Islam. Setelah berislam dan berjilbab, Cindy sering kali diperlakukan berbeda.


Ketika belanja, misalnya, kasir sering kali bersikap kasar. “Itu hanya hal kecil, yang Anda hanya bisa menerimanya dan pergi begitu saja karena Anda tahu, orang itu tak akan bersikap seperti itu jika tahu betapa bagusnya Islam. Yang perlu Anda lakukan hanyalah berperilaku sebaik mungkin.”



Article source: http://news.liputan6.com/read/470796/kaum-tak-beragama-ranking-3-setelah-kristen-dan-islam


Cindy Weber, Jalan Hidayah Sang Misionaris

Friday, July 12, 2013

Amru bin Ash, Si Cerdik dari Arab










Masjid Amr bin AshJakarta – Amru bin Ash adalah anak dari seorang pemuka Quraisy yang bernama Ash dan ibunya bernama Nabighah binti Harmalah. Ayahnya pernah hidup di masa Islam namun dia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Amru bin Ash berprofesi sebagai pedagang sehingga dia sempat menjelajah Mesir, Habasyah, dan Yaman. Dari perjalanan ini pula dia mendapatkan banyak pengalaman, terutama pengalaman beramsyarakat, dan banyak mempelajari budaya-budaya negara


yang pernah dia singgahi. Dari pengalaman inilah juga dia menjadi seorang yang cakap, berwawasan luas serta intelektual di negeri Arab. Orang yang terkenal cakap, berwawasan luas dan intelektul selain Amru bin Ash adalah, Muawiyah bin Abu Sufiyan, dan Mughirah bin Syu’bah.


Beberapa sahabat Nabi yang taat tapi dia lemah oleh Nabi diperintahkanya untuk berhijrah ke negeri Habasyah yang menganut agama Nasrani. Negeri ini dipimpin oleh seorang Raja Negus yang sangat taat dan paham betul dengan ajaran Agama Nasrani.


Sahabat nabi yang hijrah ke negeri ini untuk menghindar dari kekejaman orang-orang Quraisy yang tidak suka dengan keimananya dan untuk menjaga agamanya.


Maka ketika para pemuka Quraisy mendengar hijrahnya para sahabat Nabi ke negeri Habasyah, spontan mereka marah dan kemudian menyuru Amru Bin Ash untuk menjemputnya. Amru bin Ash kemudian menjemput kaum muslim yang lemah itu ke ke negeri


Habasyah, dengan membawa hadiah yang sangat banyak untuk dipersembahkan kepada Raja Negus agar Raja Negus mau mengembalikan kaum muslimin ke negerinya. Terjadilah percakapan antara Amru dan Raja Negus. Sang Raja berkata, “Kenapa kau tidak ikut agama baru yang dibawa Muhammad?”


“Apakah demikian wahai baginda?”


“Memang benar demikian adanya, demi Allah!” jawab Raja Negus.


Hal ini membuat Amru bin Ash terngiang-ngiang dalam kepalanya ketika dia kembali pulang dengan tangan Hampa. Sampailah Amru bin Ash di Mekah. Kemudian dia dan Khalid bin Walid datang menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman mereka.


Setelah Amru bin Ash masuk Islam, Rasulullah mengutusnya untuk menyampaikan sepucuk surat ke penguasa Oman Jaifar bin Julanda dan saudarana Abd bin Julanda. Surat itu berisikan ajakan kepada penguasa Oman untuk memeluk Islam. Namun Amru bin Ash tahu bahwa Abd bin Julanda memiliki sikap lemah lembut sehingga Abd lah yang dia temui dulu dan mengajaknya memeluk Islam. Sehingga sampai keduanya memeluk Islam dan Amru bin Ash pun menetap di Oman sampai wafatnya Rasulullah.


Pada masa Khalifah Abu Bakar, Amru bin Ash diutus untuk menumpas kaum murtad di daerah Qudha’ah. Hasilnya, dia berhasil menumpas orang-orang murtad di daerah tersebut.


Pembebasan Palestina


Amru bin Ash adalah salah satu prajurit yang ikut berperan dalam futuhat Islamiyah (pembebasan berbagai negeri oleh pasukan muslim). Pada saat pertempuran dengan Romawi, pertempuran pertama kali yang dijalani Amru bin Ash adalah pembebasan Palestina termasuk Gaza, Nablus dan Rafah. Selanjutnya Amru bin Ash bergerak menuju Ajnadain yang saat itu masih dikuasai oleh Romawi. Pada sat itu gubernurnya adalah Artavon. Amru bin Ash dan pasukan Muslimin berhasil mengepung


Ajnadain, sehingga Artavon tidak bisa bergerak sama sekali walaupun dengan jalan diplomasi. Amru bin Ash bergerak sendirian dengan menyamar sebagai utusan. Amru bin Ash menyampaikan maksudnya, di samping itu juga dia menyimak ucapan Artavon baik-baik dan melihat kekuatanya. Namun Artavon adalah Gubernur cerdik sehingga dia bisa mengetahui bahwa utusan yang datang kepadanya pasti bukan orang biasa. Dia pasti seorang pemimpin atau juga utusan yang sangat didengar oleh pemimpinnya. Maka Artavon menyuruh pengawalnya untuk mencegat Amru.


Amru bin Ash tahu niat buruk Artavon maka kemudian dia berkata kepada Artavon, “Aku telah mendengar informasi darimu dan engkaupun juga mendengar dariku. Aku sangat kagum dengan pembicaraanmu. Aku ini hanyalah 10 dari salah satu orang yang diutus oleh Umar bin Khatab kepada penguasa negeri ini untuk mengepungnya hingga penguasa negeri ini mau memberikan kondisinya. Oleh karena itu, aku pulang terlebih dahulu dan aku akan ajak teman-temanku itu (untuk kesini lagi). Maksudku, jika teman-temanku mengetahui sendiri sebagaimana yang aku lihat tentang kondisinya ini, tentu panglima kami dan para pasukan akan mengetahuinya. Tetapi jika teman-temanmu tidak mau melihatnya aku akan kembalikan mereka ke markas mereka, dan aku akan kembali lagi ke sini dan selanjutnya terserah kamu”.


Artavon berkata “baiklah”. Lalu menyuruh pengawal yang dipanggilnya agar menyingkir. Artavon berkata kepada Amru, “Pergilah dan kemudian datang lagi bersama teman-temanmu”.


Ketika Romawi telah ditaklukan dan Artavon menjadi tawanan dia baru tahu kalau utusan yang dulu datang kepadanya adalah panglima perang Amru bin Ash.


Pembebasan Baitul Maqdish


Pada tahun 16 H, tepatnya pada bulan Rabiul Awal, Baitul Maqdis berhasil dibebaskan oleh Amru bin Ash dari cengkeraman Romawi. Amru bin Ash juga membebaskan Gaza dan Nablus. Amru bin Ash hendak menaklukan kota Elia, Artavon menulis surat kepada Amru bin Ash dengan mengatakan “demi Allah, Amru tidak akan bisa membebaskan suatu negeripun setelah Ajnadian.”


Amru pun kemudian menulis surat kepada Khalifah Umar dengan mengatakan,“Sungguh, aku menghadapi musuh yang amat licik dan kuat, dan menghadapi negeri untuk anda taklukan. Bagaimana pendapat anda?”


Pembesar Mesir


Mesir adalah kota Fir’aun yang berpenduduk 10 juta Jiwa. bukan hanya itu Mesir juga memiliki kesuburan alam yang luar biasa. Hal ini yang membuat Amru bin Ash tertarik untuk menduduki Mesir. Namun keberanian Amru bin Ash untuk menduduki Mesir dengan membawa pasukan Muslimin sebanyak kurang dari 4.000 orang. Pertama kali tiba Amru di Arisy dan membebaskanya, kemudian membebaskan Farma, lalu Dimyath, lalu melakukan pengepungan terhadap kota Bilbis, pasukan Muslim mulai menyerang pasukan Bilbis dan menawan 1.000 orang. Sedangkan sisanya melarikan diri berlindung kepada Raja Muqaquis. Amru bin Ash dalam menghadapi Raja Muqaquis memilih lunak dengan membebaskan putri sang raja yang tertawanya. Hal ini dilakukan untuk membuka diplomasi dengan Raja Muqaquis.


Pengepungan Benteng Babylon


Benteng Babylon sangatlah kuat sehingga kekuatan benteng itu masih bisa kita saksikan sampai abad ke-20. Pada waktu pengepungan benteng itu, pasukan Muslim yang dipimpin Amru bin Ash hanya sebanyak 3.500 personil. Hal ini dirasa tidak mungkin bisa menaklukan benteng sekuat itu, sehingga Amru bin Ash meminta bantuan kepada Khalifah Umar agar menambah pasukan. Maka dikirimlah sebanyak 12.000 personil yang di dalamnya ada Zubair bin Awwam. Amru bin Ash langsung saja menyambut kedatangan pasukan ini dan kemudian sama-sama menuju benteng untuk mengepungnya. Setelah berhasil menguasai benteng tersebut, tentara Kristen-Koptik pun melarikan diri ke Gezirah (Jazirat Ar-Raudhah).


Pembebasan Alexandria


Selanjutnya, Amru bin Ash menulis surat kepada Khalifah Umar agar memberi izin untuk melanjutkan ekspedisi pembebasan Iskandaria (Alexandaria). Khalifah Umar memberi izin maka Amru bin Ash pun langsung bergerak bersama pasukanya menuju Alexandaria. Di sana pasukan Romawi telah berkumpul untuk menyambut kedatangan pasukan Muslimin. Pasukan muslimpun melakukan pengepungan dan terjadi pertempuran yang berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan muslimin.


Pembebasan Zuwailah dan Tripoli


Setelah berhasil menaklukan Alexandaria Amru bin Ash melanjutkan perjalanan ke Maroko. Ketika Amru bin Ash dan pasukannya sampai di kota Riqqah, penduduk kota itu sepakat untuk membayar jizyah kepada kaum muslim. Amru bin Ash dan pasukannya melanjutkan perjalanan ke Zuwailah dan Tripoli. Saat di Tripoli, Khalifah Umar memberi perintah untuk menghentikan ekspedisi. Sejak itulah Amru bin Ash kembali ke Fushat dan bermukim di sana. Amru bin Ash kemudian membangun Masjid yang diberi nama Masjid Jami’ Amru bin Ash. Masjid ini pertama kali dibangun di Mesir.


Amru bin Ash diberhentikan


Di Mesir, Amru menjadi Gubenur pada masa Khalifah Umar dan Usman namun ketika Khalifah Usman melihat perkembangan Mesir dengan menghabiskan banyak dana sedangkan pajak yang diperoleh dari Mesir sangat sedikit, maka Khilafah Usman memberhentikan Amru bin Ash sebagai Gubenur Mesir. Hal ini membuat sangat kecewa hati Amru bin Ash.


Setelah wafatnya Khilafah Usman digantikan Khalifah Ali, terjadilah persoalan di mana Gubenur Syam Muawiyah bin Abu Sufyan memproklamirkan diri berdiri sendiri tidak di bawah Khalifah Ali di Madinah. Amru bin Ash melihat ini sebagai peluang untuk menjalankan dua siasatnya. Pertama, pada perang Siffin, dia mengangkat Mushaf di hadapan para pendukung Ali.


Kedua, Amru bin Ash berhasil memperdaya Abu Musa Al-Asy’ari dalam peristiwa tahkim yang saat itu Abu Musa Al-Asy’ari mendapatkan kesempatan dahulu mencopot jabatan Khalifah dari Ali. Melihat Abu Musa Al-Asy’ari mencopot jabatan Ali maka kemudian Amru bin Ash menyematkan jabatan tersebut terhadap temannya Muawiyah bin Abu Sufyan.


Setelah kemenangan itu akhirnya Amru bin Ash diangkat kembali oleh Muawiyah sebagai gubernur Mesir dan Amru bin Ash melanjutkan kembali Masjid yang sempat dirobohkan oleh Khalifah Usman dan Ali.






( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/05/mnwkx2-dahsyatnya-shalat-subuh


Amru bin Ash, Si Cerdik dari Arab

Friday, December 13, 2013

Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut.


Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan.


Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno.


Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel.


Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen.


Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab.


Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan.


Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan.


Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi.


Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI.


Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri.


Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR.


Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian.


Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi.


Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri. [ROL]


Article source: http://hot.detik.com/read/2013/11/28/142542/2426386/230/ketua-mui-cinta-ada-batasnya-jangan-karena-cinta-jadi-murtad?991104topnews


Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam