Showing posts sorted by relevance for query Mahmoud. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Mahmoud. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Friday, July 12, 2013

Pelampau Yahudi cemari al-Aqsa

Pencerobohan Masjid al-Aqsa semakin berleluasa walaupun pihak berkuasa Israel memperhebatkan kawalan di pintu masuk. Foto: AP



BAITULMAQDIS – Kira-kira 90 pelampau Yahudi bertindak biadab dengan mengotorkan Masjid al-Aqsa pada hari pertama Ramadan, menurut Yayasan al-Aqsa bagi Pembiayaan dan Warisan, kelmarin.



Dipetik PIC, pegawai kanan yayasan itu, Mahmoud Abu Ata berkata, tindakan provokasi oleh puluhan pelampau termasuk wanita itu sengaja dilakukan ketika ratusan penduduk Palestin sedang berada di pekarangan masjid tersebut.



Mahmoud turut memberi amaran insiden pencerobohan sama mungkin akan berlaku pada masa hadapan walaupun pihak berkuasa Israel memperhebatkan kawalan di pintu masuk al-Aqsa.



“Saya menggesa penduduk Palestin terus mengunjungi al-Aqsa terutamanya pada awal pagi bagi mengelakkan pelampau Yahudi terus berbuat sesuka hati di masjid yang menjadi kiblat pertama orang Islam itu,” katanya lagi.     



Dalam perkembangan lain, kerajaan tempatan Genting Gaza menuntut Mesir membuka semula laluan sempadan Rafah kerana penutupannya memberi kesan kepada penduduk Palestin.



Mereka juga tidak berpuas hati dengan keputusan Mesir membuka sebahagian laluan tersebut hanya untuk beberapa jam sehari.



Selain itu, kerajaan turut mengutuk pencerobohan Masjid al-Aqsa yang didakwa berlaku dengan kehadiran pihak berkuasa. 


Article source: http://www.merdeka.com/ramadan/kisah-pengemis-buta-masuk-islam-karena-disuapi-rasulullah.html


Pelampau Yahudi cemari al-Aqsa

Friday, June 14, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2005.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/03/30/m1n98n-anggota-dpr-dpd-menolak-dansa-masuk-pon


Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

Friday, May 24, 2013

Pemilu Iran, Inilah Profil 8 Calon Presiden

Grafis Terkait


Tiga Puluh Tahun Revolusi Islam Iran


Foto Terkait


Peluk Ibunda Chavez, Ahmadinejad Diprotes Ulama Iran




TEMPO.CO, Teheran – Pemilihan presiden Iran digelar pada 14 Juni 2013 diikuti delapan calon dari 686 peserta yang disetujui oleh Dewan Pengawal (Revolusi). Siapapun pemenangnya, dia akan menggantikan posisi Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang tidak boleh mencalonkan lagi karena telah menjabat dua kali berturut-turut. Siapa calon Presiden Iran mendatang, inilah profilnya.


Saeed Jalili
Seorang juru runding nuklir Iran kondang, untuk pertama kalinya maju sebagai calon presiden pada pemilu bulan depan. Dia mengaku memiliki hubungan dekat dengan Pemimpin Agung Ayatullah Ali Khamenei.


Namanya mulai moncer setelah dia ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan juru runding nuklir Iran dengan Barat pada 2007.


Lahir di sebelah timur laut Mashhad pada 1965, Jalili bergabung dengan pasukan paramiliter Basij dan menjadi lasykar pejuang dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988 sebagai relawan. Dalam pertempuran tersebut dia mengalami cedera dan kehilangan kaki kanannya.


Jalili bergelar PhD. Tesis doktornya mengenai “Politik dalam Quran”. Beberapa situs berita Iran menyebutnya sebagai seorang intleketual yang loyal terhadap nilai-nilai Islam dan hidup sederhana.


Kritik juru runding ini adalah negara terlalu boros dalam membelanjakan anggaran, khususnya saat Iran menderita akibat tekanan sanksi Barat karena mempertahankan program nuklir.


Mohammad Baqer Qalibaf…


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Pemilu Iran, Inilah Profil 8 Calon Presiden

Friday, July 26, 2013

Israel batal rancangan tutup masjid

BAITULMAQDIS 25 Julai – Pihak berkuasa Israel yang sebelum ini mahu menutup Masjid Ibrahim di Hebron selama sehari pada salah satu malam ganjil sempena Lailatul Qadar, terpaksa menarik balik keputusan tersebut.


Keputusan yang mendapat pelbagai kecaman itu dibuat dalam tempoh tidak sampai 24 jam selepas ia diumumkan semalam.


Menurut Pengarah Hebron Waqf, Tayseer Abu Sneineh, Israel pada mulanya melarang masyarakat Islam memasuki masjid tersebut bermula malam Ahad ini hingga keesokan hari bagi membolehkan penduduk Yahudi meraikan hari pertama bulan Ayloul mengikut kalendar agama mereka.


“Namun, Israel menarik balik larangan itu dan membuat keputusan bahawa masjid tersebut akan dibuka pada malam Isnin dan ditutup pada keesokan harinya bermula pada pukul tujuh pagi hingga 10 malam,” katanya.


Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah SWT menurunkan ayat al-Quran pertama kepada Nabi Muhammad SAW untuk pedoman manusia.


Pada malam tersebut, umat Islam akan menghabiskan masa dengan mengabdikan diri kepada Allah, sama ada di rumah atau masjid.


Keputusan Israel itu sebelum ini mendapat tentangan daripada kerajaan Palestin.


Menurut Menteri Hal Ehwal Agama Palestin, Mahmoud al-Habash, tindakan Israel menutup masjid tersebut pada malam penting dalam bulan Ramadan adalah tidak masuk akal.


“Masjid Ibrahim merupakan satu daripada masjid terpenting di Palestin dan kami tidak akan menurut arahan Israel,” ujarnya.


Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam untuk mendapat ganjaran pahala yang berlipat kali ganda. – AGENSI



Article source: http://bm.harakahdaily.net/index.php/sudut-dakwah/21005-contohi-diet-rasulullah


Israel batal rancangan tutup masjid

Thursday, June 13, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2015.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/27/me4lzq-islam-kian-eksis-di-fiji-2


Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Sunday, July 7, 2013

Keith Ellison, muslim pertama yang jadi anggota Kongres AS

Keith Ellison mencatatkan dirinya dalam sejarah demokrasi di Amerika Serikat (AS). Dia adalah muslim pertama yang terpilih jadi anggota kongres AS mewakili negara bagian Minnoseta. Selain muslim pertama, Ellison juga Afro-Amerika pertama dari Minnoseta yang terpilih jadi anggota Kongres.


Pria bernama lengkap Keith Maurice Ellison lahir pada 4 Agustus 1963 di Detroit, Michigan. Dia lulusan University of Detroit Jesuit High School and Academy pada 1981. Kemudian dia melanjutkan studinya di Wayne State University, Detroit. Selama kuliah, Ellison aktif di dunia olahraga dan senat mahasiswa.


Saat menempuh pendidikan di universitas inilah, Ellison mengenal Islam. Pada usia 19 tahun, dia memantapkan hati, memutuskan jadi mualaf. Setalah masuk Islam, Ellison sempat beberapa kali ganti nama untuk membela ormas Islam garis keras Nation of Islam (NoI), pada setiap tulisan kolomnya di koran.


Setelah meraih gelar Bachelor of Arts di bidang Ekonomi, Ellison menikahi Kim (pacarnya sewaktu SMU) dan pindah ke Minneapolis untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Minneasota jurusan hukum.


Ellison pertama kali muncul sebagai kandidat untuk jabatan publik pada 1998, sewaktu mencalonkan diri untuk mendapat nominasi dari DFL agar jadi anggota dewan legislatif negara bagian Minnesota. Dia mendaftar dengan nama Keith Ellison -Muhammad. Namun nama Ellison kandas, kalah dengan kandidat lain.


Tak ingin patah semangat, Ellison kembali maju jadi anggota dewan legislatif Minnesota pada pileg 2002. Hasilnya memuaskan, dia terpilih sebagai legislator untuk distrik 58D Minnesota. Pada dua tahun berikutnya, dia terpilih lagi jadi anggota legislatif Minnesota.


Karir Ellison terus menanjak, pada 2006 dia berhasil menang pada pemilihan anggota Kongres AS. “Saya mencalonkan diri untuk Kongres, karena yakin bahwa kita harus berani dan tegas menyatakan bahwa kita bakal lebih baik bila bersatu daripada terpecah belah,” kata Ellison seperti dikutip dari buku ‘Seeking Truth Finding Islam’ karangan Anwar Holid.


Selama menjabat sebagai anggota Kongres, Ellison lugas menyuarakan nasib-nasib golongan minoritas dan muslim AS. Bahkan saat pelantikan, dia hanya mau sumpah janji di bawah Alquran.


Menjabat sebagai anggota Kongres, tak membuat Ellison lepas dari kontroversi. Seperti pada pejabat AS umumnya, Ellison juga memiliki hubungan dengan kaum Yahudi. Bahkan kemenangannya sebagai anggota Kongres, juga sedikit banyak adalah sumbangan suara orang Yahudi setempat.


“Ada perhatian terhadap hukum dalam komunitas Yahudi. Jadi saya senang menjawab (kerjasama) mereka. Meski saya juga berfikir, pasti ada orang di luar sana yang ketakutan, berusaha mengancam masyarakat Yahudi dalam memanipulasi isu ini,” kata Ellison.


Selama menjabat sebagai anggota Kongres, Ellison juga tercatat beberapa kali ke Timur Tengah, termasuk Israel. Pada 2007, terkait status hubungan antara Israel dengan Palestina yang terus memanas, Ellison ikut kunjungan kerja memantau langsung kondisi di lapangan. Di sana, dia mengunjungi Tembok Ratapan, Masjid Al-Aqsha, juga bertemu dengan para petinggi lintas negara, seperti PM Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.












Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/hikmah/12/05/07/m3mvz2-bilal-dan-muazin


Keith Ellison, muslim pertama yang jadi anggota Kongres AS