Showing posts sorted by relevance for query usia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query usia. Sort by date Show all posts

Tuesday, June 18, 2013

Mengapa Ully Artha Menikah di Usia 59 Tahun?

Mengapa Ully Artha Menikah di Usia 59 Tahun?


Liputan6.com, Jakarta : Sebelum meninggal dunia, Ully Artha diketahui sudah menikah dengan pria bernama Gatot. Pernikahan yang dilakukan secara diam-diam pada 13 Juli tahun silam, digelar saat Ully berusia 59 tahun.


Kabar yang berembus, artis senior kelahiran 17 Oktober 1953 ini memutuskan untuk menikah di usia tua karena masih bertanggung jawab dengan kehidupan adik dan keluarganya. Namun, bukan itu penyebab utama pernikahan Ully di usia tua.

“Mama Ully itu kenapa sampai umur 50 tahun belum juga menikah karena masalah agama. Mama Ully dulu nggak mau pindah agama (memeluk Islam),” beber sahabat Ully Artha, Elma Theana saat ditemui di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2013).



Sebagai sahabat sekaligus orang terdekat Ully Artha, Elma tahu persis kehidupan artis senior yang wafat di usia 59 tahun tersebut. Jauh sebelum memutuskan menjadi mualaf dan menikah dengan Gatot, Ully rupanya juga pernah menjalani hubungan asmara dengan seseorang.

“Dulu Mama Ully itu memang pernah punya pacar, agamanya kebetulan Islam. Aku bilang sama dia, ‘Mam, pacaran sudah lama tapi kok belum nikah juga?’ A pikir mungkin sama yang dulu dia janji sama orangtuanya kalau nggak mau pindah agama,” papar Elma.


Elma menambahkan, tidak semua anggota keluarga serta sahabatnya tahu Ully sudah memeluk agama Islam dan menikah dengan Gatot. “Hanya orang-orang tertentu yang tahu, mungkin lebih ke menjaga perasaan,” pungkasnya.(Gie/Asw)


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Mengapa Ully Artha Menikah di Usia 59 Tahun?

Saturday, December 22, 2012

Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam

Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Washington : Ada banyak pilihan keyakinan di dunia, namun kecendungan belakangan justru menunjukkan, orang yang tak beragama makin banyak. Jumlahnya nomor tiga terbesar di dunia, setelah Kristiani dan Muslim. Di atas jumlah pemeluk Hindu.

Berdasarkan studi “Lanskap Agama Global (The Global Religious Landscape) yang dirilis Pew Forum on Religion and Public Life pada Selasa kemarin, ada 1,1 miliar orang yang tak beragama di seluruh dunia.

Sebanyak 700 juta orang atau 62 persennya tinggal di Cina atau 52,2 persen penduduk Negeri Tirai Bambu. Disusul Jepang, di Negeri Sakura ada 72 juta orang yang tak beragama, atau 57 persen dari populasi nasional.

Di peringkat tiga penduduk tak berafiliasi ke agama tertentu adalah Amerika Serikat, sekitar 16,4 persen dari jumlah penduduknya.

Pemeluk Kristiani Terbesar

Studi mengungkap, secara keseluruhan, 84 persen penduduk dunia, dari total sebesar 6,9 miliar jiwa, teridentifikasi memeluk agama.

Kristiani merupakan agama terbesar dengan 2,2 miliar penganut atau 31,5 persen dari populasi dunia.

Gereja Katolik Roma paling dominan, lebih 50 persen dari jumlah tersebut. Sementara Protestan, termasuk Anglikan dan non-denominasi gereja pada kisaran 37 persen. Sementara Ortodoks 12 persen.

Ranking dua adalah umat muslim. Ada sekitar 1,6 miliar umat Islam di seluruh dunia, atau 23 persen dari populasi global. “Mayoritas (87-90 persen) adalah Sunni, sekitar 10-13 persen adalah Muslim Syiah,” kata studi tersebut, seperti dimuat Daily Mail, Rabu (19/12/2012)

Populasi pemeluk Hindu di dunia sebagian besar terkonsentrasi di India, Nepal dan Bangladesh. Sementara, separuh pemeluk Buddha dunia ada Cina, menyusul Thailand, lalu Jepang.

Studi juga menemukan, sekitar 405 juta orang, atau 6 persen penduduk bumi memeluk agama nenek moyang seperti yang ditemukan di Afrika dan Cina. Atau di kalangan penduduk asli aborigin Amerika dan Australia.

Sementara 58 juta lainnya masuk kategori “agama lain-lain” seperti termasuk Baha’i, Taoisme, Jainisme, Shinto, Sikh, Tenrikyo, Wicca, dan Zoroastrianisme. Sebagian besar berada di kawasan Asia-Pasifik.

Islam Paling Berpotensi Melejit

Berapa persisnya populasi keyakinan di dunia tak mungkin didapatkan angkanya. Hanya kisaran ratusan juta. Namun, apa yang dilakukan Pew Forum yang berbasis di Washington, adalah studi terluas hingga saat ini. Menggunakan data global tahun 2010.

Ahli demografi Pew Forum, Conrad Hackett mengatakan, meski telah mengerahkan 2.500 orang dalam kegiatan sensus, survey, serta mengkaji catatan populasi yang digunakan untuk kompilasi data, pihaknya tak bisa memperkirakan persis populasi ateis dan agnostik dunia. “Itu bukan data yang tersedia di semua negara,” kata dia.

Dari studi itu terungkap, berdasarkan usia pemeluk, rata-rata muslim berusia paling muda 23 tahun, dibandingkan populasi penduduk dunia yang rata-rata umurnya 28 tahun.

“Muslim akan tumbuh sebagai bagian besar dari populasi dunia. Dan menjadi bagian penting karena struktur usianya yang muda,” kata Hackett.

Sebaliknya, Yudaisme, yang jumlah pengikutnya 14 juta orang atau 0,2 persen dunia, punya usia rata-rata tertinggi yakni 36 tahun. Itu artinya prospek pertumbuhannya lemah.

Usia rata-rata global pemeluk Kristen adalah 30 tahun dan yang memeluk Hindu 26 tahun. Sementara, dengan usia rata-rata 34, prospek pertumbuhan bagi orang-orang tak beragama, lemah.(Ein)

Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1939378/warga-tak-beragama-duduki-peringkat-ketiga


Kaum Tak Beragama Ranking 3, Setelah Kristen dan Islam

Tuesday, December 10, 2013

Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

REPUBLIKA.CO.ID,


Ia memutuskan menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim di sekelilingnya.


Dalam usianya yang menginjak 91 tahun, Georgette Lepaulle memutuskan masuk Islam. Meski sudah tua nan renta, ia tidak pernah merasa terlambat dalam membuat langkah terbaik dalam hidupnya.


Georgette sebenarnya sudah lama tahu tentang Islam karena ia mempunyai tetangga Muslim. Rumahnya yang berada di Berchem, di sebuah kota di provinsi Antwerpen, Belgia, berdekatan dengan rumah sebuah keluarga Muslim yang sangat baik kepadanya.


Selama 40 tahun bertetangga dengan seorang Muslim bernama Muhammad, membuat Georgette kagum dengan Islam karena tak pernah sekalipun ia diperlakukan tidak baik. Keluarga Muhammad selalu senyum dan baik hati kepadanya, padahal ia bukanlah bagian dari Islam.


Hingga akhirnya dua tahun yang lalu, terjadilah peristiwa yang membuat Georgette semakin dekat dengan keluarga Muhammad. Saat itu, karena usianya telah dianggap sangat tua, keluarga Georgette ingin memasukkannya ke panti jompo.


Muhammad yang tidak tega terhadap Georgette pun menghalang-halangi niatan tersebut hingga akhirnya ia mengajak Goergette untuk tinggal bersama. Karena ibu Muhammad telah meninggal, Georgette telah dianggap layaknya ibu sendiri.


Sejak tinggal bersama keluarga Muhammad, Georgette semakin tertarik mempelajari Islam. Nenek ini selalu melihat keluarga Muhammad sering melakukan shalat berjamaah, penuh kasih sayang, dan saling berbagi. Ia melihat makna “keluarga” yang begitu indah dalam keluarga Muhammad, sangat berbeda dengan kondisi keluarganya.


Hingga 2012 lalu, Gorgette akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat syahadat. Saat itu, Georgette tercatat sebagai mualaf tertua di dunia dengan usia 91 tahun.


Ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim yang berada di sekelilingnya dan beberapa kali ia merasa Allah mengabulkan doanya.


Setahun berlalu setelah masuk Islam, ia pun melakukan semua perintah Allah dengan tegas, menjalankan ibadah, serta tidak melanggar apa yang diharamkan.


Ia masih sehat hingga sekarang dan bisa melakukan perjalanan spiritual untuk bertemu dengan umat Islam yang bermacam-macam tipenya dari seluruh dunia.


Georgette sebelumnya memeluk Katolik. Ia pernah dibaptis, menimba ilmu di sekolah biarawati, menikah di gereja hingga dua kali, dua suaminya yang telah meninggal pun dimakamkan dengan tata cara gereja setempat.


Ia bekerja sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga Yahudi. Perilaku yang tidak sehat selalu mengiringi hidupnya.


Ia kecanduan merokok dari usia lima tahun hingga 78 tahun dan setiap hari selalu menenggak minimal setenggah botol alkohol sejak ia berusia tujuh tahun. Itulah kebiasaan yang mengisi hari-harinya sebelum Georgette masuk Islam.


Pertengahan 2012 lalu, Georgette ikut dengan keluarga Muhammad pulang kampung, mengunjungi keluarganya di Maroko. Saat itu adalah bulan Ramadhan.


Georgette mengenal apa itu puasa karena ia besar dalam lingkungan Katolik, yang sering berpuasa menjelang hari Paskah.


Namun, puasa yang dilakukan umat Islam, menurutnya berbeda. “Saya sadar, mengapa baru sekarang saya merasakan pengalaman ini, saya mulai percaya dengan sesuatu yang lebih tinggi dari semuanya, merasakan hubungan dengan Allah,” katanya.


Ia merasa keikutsertaannya saat Ramadhan tahun lalu itu membangkitkan jiwa religiusnya. “Saya percaya kepada Allah yang selalu terbuka dan selalu mencintai makhluk ciptaan-Nya,” ujarnya.


Georgette pernah berdoa dengan khusyuk, meminta kesembuhan seorang temannya dan mendoakan keselamatan seorang anak muda yang ditemuinya, yang dianggapnya salah jalan. Alhamdulillah, kedua doanya tersebut terkabul. “Ini sudah cukup menguatkan diri saya untuk masuk Islam,” ujarnya.


Di Maroko inilah ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelumnya, para Muslimah di sana membersihkan tubuh Georgette dengan tata cara mandi besar, sebuah hal yang diwajibkan sebelum seseorang masuk Islam.


Setelah syahadat terucap dari mulutnya, puluhan Muslimah yang datang menyaksikan menghujani Georgette dengan ciuman.


“Saya belum pernah menerima ciuman sebanyak itu sepanjang hidup saya,” katanya. Ia merasa terharu karena mereka semua menganggapnya sebagai saudara.


Ketika pulang ke Belgia, Georgette diantar untuk mengurus sertifikat keislamannya di masjid besar setempat. Ia menyandang nama Muslim baru, Noor. Kemudian, masjid tersebut melaporkannya ke masjid di Makkah.


Ternyata, data di Makkah menyatakan tidak ada mualaf yang lebih tua dari usia Georgette saat itu, yakni 91 tahun.


Segera kabar ini ditanggapi oleh Kerajaan Saudi dengan memberikan apresiasi, diberikan undangan khusus untuk naik haji tahun berikutnya, dan sebuah jam tangan emas.


Meski masuk Islam dalam usia yang sangat tua, tak membuat Georgette berkomitmen setengah-setengah. Sejak masuk Islam, ia mantap meninggalkan kebiasaannya selama ini yang dilarang oleh Islam, seperti menenggak minuman keras, merokok, mengonsumsi daging babi, dan ber-make-up berlebihan.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/12/10/mxktk1-gairah-islam-di-negeri-tango


Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

Friday, December 20, 2013

Minat Islam sejak usia 8 tahun


  • Muhamad Daniel menunjukkan rumah tempat dia sekeluarga menyewa.


PORT DICKSON – “Saya sudah mula tertarik dengan islam sejak usia lapan tahun. Sejak itu juga saya mula belajar puasa setiap Ramadan,” demikian menurut saudara baru, Muhammad Daniel Chan Abdullah, 17.



Muhammad Daniel berkata, semasa di sekolah menengah, dia mengambil keputusan untuk mempelajari subjek Agama Islam berbanding Pendidikan Moral untuk terus memahami Islam dengan lebih mendalam.



“Masa tingkatan tiga, saya beranikan diri beritahu ayah dan ibu nak masuk Islam.  Saya sangat bersyukur mereka tak marah malah merestui.



“Dengan bantuan guru, akhirnya saya dapat lafazkan Syahadah dan lebih menggembirakan lagi apabila ibu, Sofiya Siswagi, 48, dan adik lelaki bongsu saya berusia 12 tahun turut memeluk Islam pada hari Maal Hijrah lalu di

Pejabat Agama Port Dickson,” katanya kepada Sinar Harian.



Menurut Muhammad Daniel, walaupun ayah, kakak serta seorang lagi adiknya masih belum memeluk Islam, namun dia masih mengharapkan agar mereka turut mendapat hidayah ALLAH SWT.



“Ayah sekarang berusia 55 tahun dan bekerja sebagai tukang jahit. Sebelum ini ayahpernahberitahu dia tertarik dengan Islam dan sedang berfikir untuk mengikut jejak langkah kami (memeluk Islam).



“Saya sangat gembira dengan penerimaan ayah yang sangat positif dan harap dia segera bersama-sama kami hidup dalam suasana Islam,” katanya.



Muhammad Daniel berkata, sejak dua tahun memeluk Islam, dia tidak pernah mendapat bantuan daripada mana-mana pihak, namun Masjid Jamek Port Dickson ada menyumbangkan bantuan kepadanya sempena sambutan Aidilfitri lalu sebanyak RM350.



“Saya tak mahu kesukaran sebagai saudara baru dirasai oleh emak dan adik. Saya ada buat kerja sambilan di sebuah kedai makan untuk menampung perbelanjaan rumah dan sekolah adik-adik.



“Sekarang ini kami sekeluarga masih tinggal bersama. Ayah tinggal di tingkat atas, manakala kami tinggal di tingkat bawah rumah kedai yang disewa RM800 sebulan.



“Ayah juga banyak membantu tetapi pendapatannya juga tidak cukup untuk menampung kami sekeluarga.



“Saya amat berharap ada pihak dapat membantu kami memandangkan ibu hanyalah seorang suri rumah,” katanya yang baharu selesai menduduki peperiksaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) di Kolej Vokasional Port Dickson.


Article source: http://www.gatra.com/fokus-berita/19788-menghina-islam-lewat-game.html


Minat Islam sejak usia 8 tahun

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Thursday, January 24, 2013

Miroslav Janu Tutup Usia

Surabaya – Kabar duka datang dari dunia sepakbola Indonesia. Pelatih asing yang lama melatih klub-klub di tanah air, Miroslav Janu, meninggal dunia akibat serangan jantung.

Janu mengembuskan napas terakhirnya di RS. Islam Jemursari, Surabaya, Kamis (24/1/2013) siang WIB. Pria yang berstatus sebagai pelatih Persebaya Divisi Utama PT. Liga Indonesia itu sempat menjalani perawatan, tapi nyawanya tak tertolong.

“Kemarin siang, pulang dari Bali beliau terlihat sehat dan tidak ada masalah. Tadi pagi bahkan sempat telepon saya untuk membicarakan evaluasi tim, yang akan dilakukan besok,” jelas manajer Persebaya DU, Bambang Pramukantoro, saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (24/1/2013).

“Beliau bangun jam 09.30 kemudian mandi dilanjutkan baca koran. Tiba-tiba mengeluh sakit di dadanya, lalu kita bawa ke RS Islam Jemursari untuk mendapatkan perawatan. Beliau masuk rumah sakit pukul 10.40. Saat menjalani perawatan beliau sempat mendapat suntikan di dadanya untuk mengurangi sakit dan bantuan oksigen,” tambahnya.

Namun, usaha tim dokter untuk menolong Janu tak berhasil. Pelatih berkebangsaan Republik Ceko itu dinyatakan meninggal pada pukul 12.21 dalam usia 53 tahun.

Pihak Persebaya DU akan segera berkoordinasi dengan PT. LI dan duta besar negara asal Janu untuk membahas pemulangan jenazah sang pelatih.

“Kita akan memberikan yang terbaik bagi jenazah coach. Jika PT LI dan Dubes sudah ada keputusan maka jenazah akan kita kirim ke negara asalnya,” ujar Bambang.

Janu pertama kali bekerja di Indonesia pada tahun 2003 saat menangani Persigo Gorontalo. Dia kemudian hijrah ke PSM Makassar dan melatih di sana pada periode 2003-2005. Sempat pulang ke Ceko untuk jadi asisten pelatih Slavia Praha, dia kembali ke Indonesia untuk menukangi Arema (2007 dan 2010-2011). Musim lalu, Janu melatih Persela Lamongan.

Selama berkarier di Indonesia, Janu dua kali mengantarkan timnya jadi runner-up Liga Indonesia, yakni bersama PSM (2004) dan Arema (2011).

<!–

–>

( mfi / mfi )

Article source: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=26246


Miroslav Janu Tutup Usia

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja

Thursday, January 9, 2014

Perginya seorang amil

PEMBACA budiman, kali ini saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat sahabat saya, Almarhum Aidi Munawer Ahmed Shukri, mantan Pengurus Besar, Lembaga Zakat Selangor (LZS). Lebih 10 tahun dahulu, beliaulah insan yang telah memperkenalkan LZS kepada saya. Beliau jugalah yang meyakini bakat dakwah yang tersemai dalam diri saya, lalu memberikan peluang hingga akhirnya saya mampu menjadi seperti hari ini.


Insya-Allah, dalam setiap usaha dakwah yang saya lakukan, pasti ada sebahagian pahala yang tertitip untuknya di alam barzakh sana. Sebelum itu, beberapa bulan yang lalu kala menjelangnya tarikh 1 Januari 2014, saya telah menerima satu pesanan ringkas (SMS) daripada Aidi.


“Tuan-puan dijemput ke majlis bacaan Yaasin, tahlil dan doa selamat sempena perasmian perusahaan ikan salai saya pada 1 Januari 2014…”


Saya terkejut dengan SMS berkenaan. Untuk makluman, sahabat saya ini telah berjuang lebih dari lima tahun melawan serangan jantungnya.


Selama itu, Institut Jantung Negara (IJN) telah menjadi rumah utamanya dan rumahnya sendiri menjadi rumah kedua. Malah dadanya juga telah beberapa kali dibelah, ditebuk dan dibelah.


Saya tidak akan lupa saat beliau mengisahkan, sakitnya dada dibelah tidak tergambar dengan kata-kata dan beliau seboleh mungkin tidak mahu lagi menjalaninya.


Malam 31 Disember 2013, lebih kurang pukul 8.20 malam, sahabat saya itu berjuang untuk saat-saat akhir mencicipi saki baki nafas yang terukir di dunia ini.


Kala itu, saya sedang menyampaikan kuliah Maghrib di sebuah surau dan yakin ribuan orang lain bersiap-siap demi menanti detik 12 tengah malam, sama ada di program penuh hiburan mahu pun di majlis ilmu penuh peringatan. Sahabat saya itu pula, sedang bersiap-siap menerima panggilan Ilahi.


Esoknya, 1 Januari 2014 saya menerima khabar kematian. Sayangnya, saya tidak dapat mengunjunginya lantaran anak perlu mendaftar masuk ke asrama.


Namun, saya gagahi menziarahi isterinya Kak Yati selepas itu. Apatah lagi kami memang jiran lama dan saling mengenali. Kak Yati pun berkongsi kisah 40 hari sebelum suaminya, Aidi dijemput Ilahi. Saya yakin, kisah ini ada iktibar besar yang wajar dikongsi.



Majlis tahlil



“Pada 1 Januari 2014 baru-baru ini, benar-benar kami adakan majlis tahlil besar-besaran seperti yang Aidi mahu. Tapi, bukan sebagai perasmian perniagaanya, sebaliknya atas kematiannya.”


Kak Yati kelihatan begitu tabah menghadapi suasana. Benar, ujian berat yang telah dia dan anak-anaknya lalui sekian lama, membuatkan mereka lebih kuat mendepani ujian kehilangan.


Sejak Aidi mengidap sakit jantung sekitar 2006, kehidupan mereka sekeluarga berubah warna. Jangankan anak-anak dan isterinya, saya sebagai teman sepejabat pun turut merasai kehilangannya di tempat kerja.


“Aidi tidak guna langsung wang pampasan persaraan daripada LZS (Aidi telah bersara awal ekoran masalah kesihatan). Seluruh wangnya lebih daripada RM300,000 itu, dia manfaatkan untuk membuka kilang menyalai ikan.


“Malah dia pesan sangat-sangat, apa pun yang terjadi selepas ini, sama ada dia masih ada atau pergi, kilang itu mesti terus beroperasi. Tetapi, bukan untuk kami anak-beranak, sebaliknya untuk para asnaf zakat,” kata Kak Yati.


Itulah kesungguhan sahabat saya ini dalam meladeni amanah zakat. Biarpun nyawa sudah di hujung usia, dia tidak pernah melupakan asnaf zakat, khususnya kaum fuqara wal masakin dan mualaf yang melata.


“Kami membuka kilang itu di Subang Bestari dan Aidi mahu agar para pekerjanya diambil daripada kalangan asnaf zakat yang memang ditempatkan di sana oleh LZS. Baginya, dia mahu kilang itu menjadi nadi pembangunan diri asnaf,” kata Kak Yati.


Hakikatnya, komitmen Aidi menyantuni para asnaf bukanlah perkara baharu. Dalam buku Diari Seorang Amil (terbitan Galeri Ilmu), ada saya paparkan perihal kisah kami sama-sama menyelamatkan seorang bapa tunggal dan dua anak gadis suntinya di hutan simpan Kemensah pada 2003.


Malah, sebelum saya menjawat jawatan amil pun, Aidi pernah membawa saya mengunjungi sebuah keluarga miskin di Kampung Tok Pinang, Serendah dalam bulan Ramadan dan membawa pelbagai barangan untuk disedekahkan.


Saya juga tidak akan lupa saat seorang penerima bantuan bertaraf Orang Kurang Upaya (OKU) yang datang ke Pejabat LZS di Shah Alam pada 2013 untuk meminta LZS membaiki kerusi rodanya yang sudah rosak. Kebetulan dia bertemu Aidi, langsung kerusi rodanya digantikan dengan yang baharu. Malah siap berkuasa elektrik lagi. Menangis pakcik itu menerima hadiah kerusi roda baharu berkenaan.


Justeru, pengalaman saya dalam memikul tugas sebagai amil zakat bersama Aidi amat mengesankan. Maka, saya tidak hairan kecintaannya kepada para asnaf telah membuatkan dia sanggup menafkahkan seluruh wang pampasannya untuk tujuan menyediakan pekerjaan kepada sebilangan asnaf yang memerlukan. Calang-calang orang, pasti tidak sanggup melakukan sedemikian.


“Aidi juga berpesan, jika perniagaan itu menghasilkan keuntungan, maka jangan lupa tunaikan zakat. Malah, dia juga pesan agar lebihkan bahagian untuk diinfak.


“Bagi kami anak-beranak, sudah ada bahagian lain yang dia tinggalkan. Jadi, kami tidak perlu terlalu mengharap kepada perniagaan,” ujar Kak Yati.


Demikianlah wasiat yang Aidi titipkan kepada isterinya, kala usia 40 harinya kian mengensot meninggalkannya. Kesungguhan Aidi merealisasikan perniagaannya itu, dengan ‘kebugaran’ kira-kira sebulan yang Allah SWT berikan sebelum mentakdirkan dia harus pulang kepada Allah SWT, ibarat memberikan kesempatan terbaik buat Aidi merealisasikan impian.


Ya, impian menyantuni asnaf zakat selagi usia masih terpahat, kala 40 hari kian mendekat.



Bina sekolah tahfiz



“Aidi sebenarnya berhasrat untuk membina sekolah tahfiz selain daripada membina perniagaan demi membantu asnaf. Amat besar cita-citanya, tapi tidak sempat dia penuhi semua,” kata isterinya.


Demikianlah, masa yang berenjak, namun saya tetap terkenangkan betapa Aidi dan saya dahulu sama-sama mengimarahkan rumah Allah, bertadarus sepanjang malam di bulan Ramadan. Sama-sama turun mencari orang susah hingga kawasan pedalaman, sama-sama bergelut menjayakan Karnival Ummah dan banyak lagi memori indah yang telah kami catatkan di kanvas persahabatan kami.


Di akhir kalam ini, saya hanya mengharapkan semoga Aidi diberikan Allah SWT kelapangan dalam kuburnya. Selapang hatinya dahulu yang tega menyisihkan ‘masa dan harta’ demi melunasi maslahah ummah. Duhai sahabat, terimalah daripadaku dan pembaca sekalian, hadiah berupa sakalung surah buatmu dalam menagih kasihnya Allah, al-Fatihah.



PENULIS ialah Eksekutif Dakwah di Lembaga Zakat Selangor (MAIS)



Nota: Dalam tempoh tiga bulan ini, LZS telah kehilangan tiga orang amil, iaitu Mohd. Rais Jamil, Aidi Munawer dan Mohd. Lutfi Ibni Hijar, semoga mereka ditempatkan dalam kalangan orang-orang yang soleh. Amin.




Article source: http://www.theglobejournal.com/Opini/memahami-konflik-berdarah-di-mesir/index.php


Perginya seorang amil

Saturday, June 15, 2013

Masjid Tuo Kayu Jao, Salah Satu Masjid Tertua di Sumbar



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>




SEBUAH bangunan kayu berbentuk segi empat berdiri apik di antara perbukitan menjulang di sekelilingnya. Atapnya berundak dengan lambang bulan dan bintang menyembul di ujungnya menandakan bangunan ini adalah rumah ibadah. Di salah satu sisi bagian atapnya berbentuk gonjong atau runcing seperti kebanyakan rumah adat tempatnya berada yakni di tanah Minang.


Di samping bangunan ada aliran anak sungai. Alirannya tak begitu deras namun sangat jernih. Saat suasana senyap gemericik air terdengar riuh sangat nyaman didengar. Untuk menuju ke tempat ini melewati jalan-jalan kecil desa yang masih mengandung kerikil-kerikil belum dipelur. Lokasi bangunan berada lebih rendah dibanding jalan. Ada satu papan nama telah usang yang menginformasikan nama bangunan ini yaitu Masjid Tuo Kayu Jao.


Pada papan nama juga tertulis bahwa bangunan ini adalah “situs cagar budaya” yang menandakan bangunan ini dilindungi oleh pemerintah daerah. Juru pelihara masjid, Firman, saat ditemui Kompas.com, menceritakan bahwa masjid ini merupakan salah satu yang tertua Sumatera Barat bahkan di nusantara. Masjid didirikan oleh pemuka agama, penduduk sekitar menyebutnya dengan Imam Musaur. Ia mengajak penduduk setempat secara bergotong royong mendirikan masjid.


Pada masanya, wilayah ini bisa dibilang sebagai pusat penyebaran Agama Islam. Sedangkan masjid yang berada di Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat tersebut dijadikan sebagai pusat kegiatan 3 anak nagari di Kanagarian Batang Barus.


Meski usia masjid sudah ratusan tahun tetapi masjid ini masih berfungsi selayaknya tempat ibadah. Bahkan anak-anak kecil masih menjadikan masjid sebagai tempat menimba ilmu dengan belajar mengaji pada waktu-waktu tertentu.


Kayu-kayu jati hitam menandakan bangunan ini pernah menjadi yang termegah pada masanya. Pilar-pilar kayu pun masih kokoh berdiri meski pada beberapa pilar terlihat memiliki warna berbeda menunjukkan bangunan ini pernah direnovasi. Bagian-bagian masjid sangat sederhana. Tak ada ukiran rumit terpatri di dinding, pilar, mimbar masjid bahkan jendela dan pintu. Hanya saja, jumlah jendela yang ada adalah melambangkan jumlah rukun dalam solat yaitu 13.


Seolah tak lengkap masjid tanpa adanya bedug sebagai pengingat waktu salat. Masjid Tuo Kayu Jao juga memiliki bedug sebagai “pasangannya”. Bedug masjid atau tabuah berbentuk cukup besar, digadang memiliki usia yang sama dengan masjid. Bedug juga beratap gonjong berada persis di depan pintu masuk masjid.


Meski terlihat sepi, ternyata masjid ini telah menjadi salah satu masjid yang ramai dikunjungi wisatawan yang sedang berpelesir di Sumatera Barat. Pada buku tamu yang dimiliki oleh masjid tercatat beberapa pengunjung yang datang berasal dari Banten, Jambi, Pekanbaru, Medan, Samarinda, dan Banjarmasin. Tak hanya pengunjung lokal, dalam catatan pun tertulis beberapa nama asing seperti dari Belanda, Perancis, dan Polandia.


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>


































Article source: http://internasional.kompas.com/read/2013/01/02/23032881/Panglima.Perang.Afganistan.Berniat.Serang.Pasukan.NATO


Masjid Tuo Kayu Jao, Salah Satu Masjid Tertua di Sumbar

Wednesday, November 6, 2013

Hijrah Shamsul, Nora


  • Shamsul dan Nora muncul dalam rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah. – Foto Sinar Harian oleh SAFWAN MANSOR


MAAL Hijrah atau Awal Muharram adalah hari paling bermakna bagi umat Islam kerana memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masihi.



Ia menandakan tahun baru dan segala amalan pada tahun ini akan dihisab dan amalan seterusnya akan dikira dalam buku baru.



Hijrah Rasulullah SAW memberi kesan besar kepada umat Islam dan tidak terkecuali melibatkan beberapa selebriti.



Sejak akhir-akhir ini menyaksikan beberapa selebriti yang dahulunya mengaku alpa, tetapi kini hati mereka semakin mendekati Islam.



Antara artis yang telah berhijrah ialah Nora dan Shamsul Ghau Ghau.



Ternyata, perubahan mereka bukan untuk menunjuk-nunjuk sebaliknya ia lahir daripada kesedaran sendiri dan kedua-dua penggiat seni itu bakal muncul dalam sebuah rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah.



Rancangan 13 episod yang mula bersiaran pada 25 Oktober lalu itu menampilkan Shamsul sebagai pengacara bersama tetamu jemputan pada setiap minggu untuk berkongsi kisah penghijrahan mereka.



Akui Shamsul, dia kini lebih selesa dengan program berbentuk keagamaan apatah lagi setelah terpilih mengacarakan program tersebut.



“Apabila mereka tawarkan untuk jadi pengacara program ini, saya terus rebut peluang tanpa fikir panjang kerana rancangan ini berkisarkan penghijrahan seseorang dan bagaimana melaluinya.



“Selain sebagai rezeki, kandungan program ini juga bagus, maka ini adalah peluang keemasan buat saya,” jelasnya.



Manakala bagi Nora pula tawaran dari penerbit, Iswati Ishak, untuk dia berkongsi kisah hijrah dalam hidup sememangnya tidak disia-siakan.



“Saya berbesar hati untuk berkongsi dengan masyarakat mengenai penghijrahan saya. Benda baik, elok kalau kita kongsi bersama.



“Lagipun saya selesa dengan pendekatan yang dibawa Shamsul, mungkin sebab dia juga orang seni seperti saya,” ujar Nora mengenai program itu.



Selain Nora, barisan selebriti seperti Nazrey Johani, Catriona Ross, Adam Corrie Lee dan Ustaz Ebit Lew merupakan antara tetamu jemputan dalam setiap episod berasingan.



Justeru sempena sambutan Maal Hijrah kali ini, mari kita ikuti cerita penghijrahan penyanyi Nora dan  Shamsul.




Tanda kesyukuran – Nora



Lima tahun lalu, sempena sambutan ulang tahun yang ke-35, Nora atau pemilik nama sebenar Wan Norafizah Ariffin ini mengambil keputusan untuk tampil dengan imej barunya, bertudung.



Penyanyi kelahiran Cik Siti Wan Kembang itu menyifatkan, penghijrahannya melalui satu fasa baru dalam kehidupannya.



“Hijrah itu adalah suatu perubahan. Pada usia tertentu, sudah pasti kita mahu sesuatu perubahan ke arah lebih baik dalam diri kita.



“Tidak kiralah perubahan itu kecil atau besar, asalkan kita menjadi lebih baik,” katanya yang anggap detik hijrah itu sebagai tanda syukur kepada nikmat ALLAH SWT.



“Saya bersyukur apabila lihat anak-anak di depan mata. Tetapi pada ketika itu, saya sekadar mengucapkannya di bibir sahaja.



“Apabila saya fikirkan semula, saya tertanya-tanya adakah itu cara untuk bersyukur? Bertitik tolak daripada perasaan itu pada lima tahun lalu, saya tekad mahu berubah.



“Lalu, pada usia 35 tahun saya buat keputusan untuk lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT,” jelasnya.



Ceritanya lagi, pada peringkat awal penghijrahannya, dia terpaksa berdepan dengan cabaran dan penerimaan masyarakat yang agak skeptikal namun itu semua dapat diatasinya.



“Pada peringkat permulaan berhijrah, saya akui agak tertekan apatah lagi ada ‘bisikan’ seperti menyuruh saya membuat konsert terlebih dahulu, tunggu umur 40 tahun atau selepas tunaikan haji barulah menutup aurat.



“Namun, saya tekad ingin berhijrah kerana apabila sudah mendapat hidayah, janganlah kita berpaling kerana mungkin hidayah itu akan ditarik balik.



“Tetapi kini, cabaran itu hanya lebih kepada bagaimana mahu menyesuaikan diri lebih-lebih lagi saya terlibat dalam industri hiburan,” katanya.



Ujarnya, sebagai seorang artis bertudung, had dan batasan perlu diletakkan agar tidak dipandang serong oleh masyarakat.



“Saya banyak rujuk pada ustaz dan membaca buku-buku agama mengenai apa yang boleh dan tidak.



“Kita masih lagi boleh menyanyi atau menyampaikan sesuatu yang baik, tetapi perlu menjaga setiap kelakuan, penampilan, percakapan dan apa yang kita sampaikan.



“Jika saya rasa perjuangan saya betul, maka saya akan teruskan. Kita juga jangan sesekali menegakkan benang yang basah. Jika kita melakukan kesilapan, tak salah jika kita mengakuinya,” katanya.




Siri kartun animasi



Melihat kepada tanggungjawabnya sebagai anak seni, Nora sambil dibantu suaminya yang juga komposer, Johan Nawawi dan anak-anaknya menghasilkan siri kartun animasi bertajuk Ummi…Ceritalah Pada Kami! yang kini sudah masuk musim kedua.



“Penghasilan kartun animasi ini adalah salah satu tanggungjawab kami dalam mendidik kanak-kanak dengan cara Islam.



“Saya boleh menyanyi dan suami pula boleh buat lagu untuk rancangan itu,” jelasnya.



Kata ibu kepada empat anak ini, idea untuk menghasilkan siri kartun animasi itu tercetus atas kesedaran untuk menghidangkan program bermanfaat untuk tontonan kanak-kanak dan keluarga yang bukan sahaja menghiburkan malah memberikan pengajaran.



“Sebagai seorang ibu, saya terpanggil untuk menghasilkan sesuatu bermanfaat di samping menghiburkan kanak-kanak.



“Penerbitan siri animasi ini adalah jawapan terbaik untuk menarik perhatian mereka kerana ia paling dekat dan relevan dengan golongan cilik,” katanya.



Siri kartun animasi  itu akan ditayang semula pada Januari depan di TV9 pada Khamis jam 8.30 pagi dan Sabtu pada jam 6 petang.




Tinggal di depan rumah Allah



Tidak seperti Nora, pengalaman Shamsul agak berbeza. Ramai beranggapan pelakon dan pelawak ini mula berhijrah setelah pulang mengerjakan ibadah haji, tahun lalu.



Hakikatnya, bapa kepada tiga anak ini berubah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT secara beransur-ansur sejak beberapa tahun kebelakangan ini.



“Seperti kita ketahui, pengertian hijrah sebenar adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Tetapi untuk kita di zaman ini, hijrah membawa erti luas.



“Berubah daripada yang baik menjadi jahat juga sesuatu penghijrahan. Tetapi pastinya kita mahu berhijrah daripada tidak baik menjadi lebih bagus,” katanya.



Jelasnya lagi, titik tolak penghijrahannya bermula setelah berpindah dari Cheras ke Bangi sementelah lagi rumah itu pula letaknya betul-betul di hadapan sebuah masjid.



“Rumah di depan masjid, tetapi saya tidak pernah pergi ke masjid untuk solat berjemaah.



“Tetapi, saban waktu surah Ar-Rahman sering diperdengarkan dari corong pembesar suara masjid sehingga satu hari saya terdetik untuk mencari maksud akan surah itu.



“Selepas mengetahui maksudnya mengenai kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT, hati saya terdetik untuk mengikut ajaran yang diperintahkannya,” katanya.



Pemilik nama sebenar Shamsul Azahar Aliddin ini berkata, cabaran terbesar perlu dihadapinya adalah bagaimana dia mahu memperbetulkan keluarganya terlebih dahulu terutama mengajar isterinya menutup aurat.



“Saya ambil pendekatan Rasulullah SAW, kita jangan terlalu pandang jauh hendak mengajar orang terutamanya akhlak sebaliknya betulkan diri kita dahulu. Apabila akhlak kita bagus, maka orang sekeliling kita juga akan bagus seperti anak-anak, keluarga, jiran-jiran dan lain-lain.



“Berat untuk saya menyatakan hasrat berubah kepada isteri sendiri apatah lagi untuk mengajak dia menutup aurat dan bertudung sebab sebenarnya untuk membentuk dan memberi dakwah pada isteri bukanlah senang. Tapi lama-kelamaan isteri menerimanya dengan sikap terbuka dan ALLAH SWT telah kabul permintaan saya,” katanya berhasrat bergelar pendakwah suatu hari nanti.




Tidak tinggal dunia seni



Tambah Shamsul, penghijrahannya itu bukanlah bererti dia akan meninggalkan dunia hiburan sebaliknya akan terus menerima tawaran berlakon dan nyanyian jika bersesuaian.



“Tiada masalah untuk melakukan sesuatu yang mengikut perintah ALLAH, tetapi saya  cuba elak hal bercanggah. Saya ada juga terima tawaran untuk mengendalikan majlis keagamaan.



“Aktiviti lakonan masih ada, tetapi aktiviti itu semakin kurang kerana turut memberi tumpuan kepada mencari ilmu dan menghabiskan masa bersama anak-anak,” katanya.



Dalam pada itu, pada awal hijrah, dia ada terfikir kemungkinan untuk berundur dari dunia seni.



“Saya ada bertanya kepada ustaz tentang hasrat untuk berundur daripada dunia hiburan, tetapi dia kata kalau saya berhenti, anak-anak nak makan apa?



“Apabila difikirkan, saya masih ada tanggungjawab kepada keluarga dan masyarakat. Saya kena mempamerkan lakonan yang boleh memberi kebaikan dan menjauhi kemungkaran,” katanya yang bakal muncul dengan telefilem Lelaki Buaya terbitan TV3

di samping Shah Jazle dan Jasmin Hamid.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/16/stalled-iran-nuclear-probe-raises-diplomatic-pressure/


Hijrah Shamsul, Nora

Tuesday, April 2, 2013

Bagian-Bagian Penuh Makna di Keraton Yogyakarta

Selasa, 2 April 2013 – 23:17 wib

Keraton Yogyakarta (foto: Adhia/Okezone)

Keraton Yogyakarta (foto: Adhia/Okezone)

BERKELILING Keraton Yogyakarta mungkin sudah biasa bagi wisatawan Nusantara. Namun, tahukah Anda makna beberapa sudut di dalamnya.
 
Bangunan Keraton Yogyakarta seluruhnya seluas 14.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat dari beberapa bangunan dan bangsal. Jika bangsal adalah bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, lain lagi dengan gedung yang lebih tertutup.
 
Keraton juga dikelilingi pohon beringin yang berjumlah 64 buah. Jumlahnya menyiratkan usia Nabi Muhammad saat wafat jika dihitung berdasarkan penanggalan Jawa. Dua buah pohon beringin yang ada di bagian depan Keraton Yogyakarta merupakan hadiah dari Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit. Di antara kedua beringin itulah, pemerintahan raja pertama hingga ke delapan memberlakukan hukuman kepada para penjahat.
 
Ketika memasuki Keraton Yogyakarta, Anda akan disambut bangsal pagelaran yang digunakan untuk menggelar upacara adat keraton. Bangsal ini pernah dipugar 1934 oleh Sultan Hamengkubuwono VIII.
 
Motif lantainya berbentuk bintang delapan. Bangsal pagelaran ini juga memiliki tiang penyangga sebanyak 63 buah yang bertujuan mengingat usia wafat Nabi Muhammad jika dihitung berdasarkan kalender Masehi.
 
Tiang-tiang bangsal juga mengandung simbol agama. Misalnya, yang paling atas adalah bunga lotus yang merupakan lambang agama Hindu, bunga teratai yang merupakan lambang Budha, dan alat baca Quran yang melambangkan agama Islam.
 
Peletakan simbol tersebut diurut berdasarkan urutan masuknya agama ke Indonesia. Sayangnya, lambang Kristen dan Katolik tidak disertakan karena baru masuk ke Indonesia setelah tiang tersebut dipancangkan. Ini artinya, agama itu seperti tiang kerajaan, jadi apapun agamanya yang penting tetap damai dan bersatu.
 
Berjalan ke bagian belakang, Anda akan disambut dua buah bangsal kecil di bagian kiri dan kanan. Ini adalah bangsal Pacikeran yang digunakan sebagai tempat berdiam diri para abdi dalem yang bertugas sebagai algojo.
 
Tugas mereka memang menunggu perintah untuk membunuh penjahat. Bangsal Pacikeran ini memang sengaja dibuat pendek agar semua algojo hanya dapat duduk di dalam bangsal dan menghormati para tamu yang datang sehingga mereka tidak akan semena-mena.

mobile
Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com
untuk BlackBerry

Article source: http://sidomi.com/161056/diego-michiels-masuk-agama-islam/


Bagian-Bagian Penuh Makna di Keraton Yogyakarta

Wednesday, July 31, 2013

Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID,


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.


Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan.


Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika. Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut.


“Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani.


Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam.


Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957.


Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland.


Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika.


Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka.


Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel The Lost Story of Islam in Jamaica dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari
University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika.


Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak.


Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan,


mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya.


Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel Muslim Minority in Jamaica dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka.


Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika.


Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.


Article source: http://index.okezone.com/read/2013/04/08/411/788220/negara-besar-terlibat-timteng-sulit-damai


Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Tuesday, July 30, 2013

Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.

Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan. Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika.


Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut. “Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani. Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam. Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957. Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland. Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika. Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka. Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel “The Lost Story of Islam in Jamaica” dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika. Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak. Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan, mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya. Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel “Muslim Minority in Jamaica” dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka. Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika. Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.
 
Masjid Menjamur

Kedatangan imigran India telah memberikan sumbangsih besar bagi Muslimin Jamaika. Banyak masjid dibangun di segala penjuru pulau. Menurut data Dewan Islam Jamaika, terdapat 12 masjid berdiri di negeri tersebut. Masjid berada di Kingston, Kota Spanyol, Town St Catherine, Pelabuhan Maria, Albany St Mary, Newell St Elizabeth, dan Westmoreland. Masjid Jamaika di Kota Spanyol merupakan masjid pertama yang berdiri.


Selain 12 masjid tersebut, saat ini Muslimin Jamaika dikabarkan baru saja membangun masjid baru di Bushy Park dekat Old Harbour, Kota St Catherine. Masjid tersebut memiliki kubah logam dan menara. Beberapa pria dengan jubah dan kopiah pun terlihat memasuki masjid tersebut. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di Jamaika meski jumlah masjid di sana cukup banyak.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/fosil-dinosaurus-bercula-spesies-baru-ditemukan-di-utah/1704938.html


Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam