Showing posts sorted by relevance for query mengisahkan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query mengisahkan. Sort by date Show all posts

Tuesday, June 25, 2013

Idolakan Yesus, Brandon Toropov akhirnya masuk Islam


NAMA Brandon Toropov dikenal dunia Islam. Ialah penulis novel Jihadi yang mengisahkan dan menggambarkan terorisme bukanlah bagian dari Islam.



Bukan hanya karena novelnya yang laris manis d ipasaran itu yang membuat namanya melambung, kefaqihannya dalam beragama juga menjadi sorotan publik karena ia seorang mualaf.



Brandon bersyahadat sekitar 10 tahun lalu. Tapi kecintaannya pada Islam mungkin melampaui muslimin yang sejak lahir telah mentauhidkan Allah. Perjalanannya hingga mendapat hidayah pun tak singkat. Ia menghadapi pencarian dengan semangat yang luar biasa hebat mengenai keesaan Allah.



“Saya lahir sebagai muslim. Hanya saja aku baru menyadarinya di tahun 2003,” ujar Brandon Toropov menggambarkan sosok dirinya pasca-berislam. Tentu yang dikatakan Brandon ini benar adanya karena setiap jiwa yang lahir berada dalam kondisi fitrah.



Meski di tahun 2003 ia baru meninggalkan agama lamanya menuju Islam, namun ia merasakan telah lama menemukan kebenaran yang ia yakini bahkan sebelum lahir ke dunia.



Pria kelahiran Amerika itu telah memulai perjalanannya menuju hidayah sejak muda. Selama 30 tahun, ia mencari hakikat kebenaran Yesus atau Nabi Isa. Sejak kecil, Brandon yang lahir di tengah keluarga nashrani telah mengidolakan sosok Yesus.



Saat itu, pertanyaan belum banyak muncul dibenaknya. Ia sangat mengidolakan Yesus sejak kecil.



“Saya masih menyimpan bilble King James yang saya beli saat masih remaja. Ada catatan tulisan tangan saya di halaman depan, tertulis 26 Juni 1974, tanggal saya memulai menjadikan Yesus sebagai juru selamat pribadi saya,” ujarnya mengisahkan pengalamannya, dikutip dari laman The Religion of Islam.[] sumber : republika


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/06/24/mowaxz-kisah-singa-yang-tunduk-kepada-nabi-daniyal


Idolakan Yesus, Brandon Toropov akhirnya masuk Islam

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, July 1, 2013

Kepincut Shalat Lima Waktu, Mary Qatarneh Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa


Gaya beribadah kaum Muslimin membuatnya jatuh hati.


“Umat Islam beribadah lima kali sehari, menyerahkan diri kepada Tuhan setiap hari. Melihatnya, saya iri. Saya merasa sangat kurang hanya pergi berdoa sepekan sekali. Sementara, mereka dapat melakukannya setiap hari, dapat berinteraksi dengan Tuhan setiap hari,” ujar Mary Qatarneh menyampaikan hal yang ia sukai dari Islam.


Shalat lima waktu menjadi perhatian Mary saat ia tertarik pada agama yang dibawa Rasulullah ini. Ibadah yang dianggap berat oleh sebagian orang yang berislam sejak lahir ini justru merupakan kabar gembira bagi Mary. Ia akan sangat gembira jika dapat berinteraksi dengan Tuhan setiap hari, setiap waktu. Demikian hal yang ada di pikirannya saat mempelajari agama Islam.


Sebelum tertarik pada Islam, Mary mengaku tak pernah yakin 100 persen atas apa yang ia anut. Ia taat beragama, tapi ia pun ragu di dalam hati. Ia rutin beribadah, tapi tak pernah mengerti esensi ibadah sebenarnya. “Saya selalu percaya pada Tuhan, selalu memiliki iman, tapi itu bukan iman yang benar. Itu bukan sesuatu yang selalu saya rasakan,” kata wanita kelahiran AS ini.


Dari kegelisahan akan agama tersebut, Mary pun mencari kebenaran. Ia mempelajari beragam keyakinan dan agama. Ia berinteraksi dengan banyak orang dari beragam ras dan agama di seluruh penjuru dunia melalui internet. Ia membaca banyak buku tentang teologi. Hingga, kemudian Mary mengenal Islam dan mulai mempelajarinya. “Pencarian saya akan kebenaran membawa saya pada banyak pelajaran tentang Islam. Saya membaca banyak buku dan punya banyak teman dari seluruh penjuru dunia,” tuturnya.


Saat mempelajari Islam, ia mulai merasa tertarik. Melihat gaya beribadah Muslimin, Mary pun kemudian jatuh hati. Ia makin meragukan agamanya yang hanya beribadah sepekan sekali. “Kaum Muslimin beribadah lima kali sehari. Interaksi lima kali sehari ini benar-benar membuat saya merasa nyaman,” kata Mary menggambarkan perasaannya setelah merasakan nikmatnya “bertemu” Allah lima kali sehari.


Keyakinannya pada Islam pun makin menjadi ketika mengetahui kisah Nabi Isa dalam Islam. Tak hanya itu, Mary pun tak lagi kebingungan mengenai pengakuan dosa. Ia pun lega, setelah berislam tak perlu mengumbar dosa kecuali di hadapan Allah semata. “Saya percaya Islam karena hal-hal yang membingungkan saya di masa lalu. Semua hal membingungkan itu hilang setelah mengetahui Islam,” ujar Mary tersenyum simpul.


Setelah memantapkan hati, Mary pun mendapatkan kesempatan bertemu seorang imam Muslim di sebuah acara pernikahan kerabatnya. Mary yang telah mencari kebenaran Islam itu pun mendapat nasihat dari sang imam. “Imam bertanya, apakah saya ingin masuk Islam. Saya pun mengatakan bahwa sebagai seorang remaja, hidup saya adalah hidup merdeka. Kau tahu orang Amerika menganggap biasa remaja 18 tahun pergi dari rumah,” ujar Mary mengisahkan pengalamannya berislam.


Maksud Mary, yakni ia berhak memilih jalan hidupnya sendiri saat itu. Apalagi, memeluk Islam adalah hal yang sangat penting. Jikalau mendapat pertentangan dari keluarga, ia telah siap. Dengan tekad bulat tersebut, Mary pun bersyahadat dibantu sang imam. “Saat imam bertanya hal itu, sebenarnya dalam hati saya memang sudah menerima Islam. Hanya saja, aku belum melafalkannya secara lisan. Maka, saat imam bertanya, aku pun bersyahadat. Saya baru benar-benar menjadi seorang Muslim. Saat itu, tanggal 23 Juli 1983,” ujar Mary dengan wajah berseri-seri. n ed: anjar fahmiarto


Mendapat Tentangan Keluarga
Tentangan keluarga kemudian menguji kehidupan Mary setelah menjadi mualaf. Saat baru memeluk Islam, Mary masih bisa menutupinya dari keluarga. Tapi, setelah berjilbab, terbongkarlah rahasianya yang telah berislam. Penolakan keras datang dari keluarga, terutama sang ibu. Bahkan, hingga kini sang ibu masih belum menerima Mary meski ia telah memberikan penjelasan panjang lebar.


“Begitu mulai mengenakan kerudung. Saya mendapat reaksi yang sangat buruk dari keluarga, terutama ibuku. Ibu sampai hari ini tak bisa memahami alasan saya mengapa berubah begitu banyak. Dan, ibu meyakini bahwa saya berubah karena suami saya.


Meski saya telah menjelaskan bahwa saya sungguh-sunggu memeluk Islam, dia tetap tidak menerimanya. Namun, adik saya selalu mendukung saya selama ini. Ia tak pernah protes dan juga mengaku mencintai Islam. Dia mempelajarinya. Dia selalu menjadi teman saya. Saya berharap, suatu hari adik saya menjadi seorang Muslim,” ujar Mary, berkisah pengalamannya.


Saat ini, Mary tinggal di Yordania bersama suami dan keenam anaknya. Mary tak mengisahkan alasannya pindah, tapi ia mengaku bahagia tinggal di Yordania. Di sana, ia mengajar bahasa Inggris di lembaga Educational Techniques and Skills Training and consulting (ESTA). Mengingat ia merupakan penutur asli Bahasa Inggris. Mary mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak maupun dewasa. 



Article source: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/deddy-mizwar-tak-tahu-ully-artha-sudah-menikah-72efdb.html


Kepincut Shalat Lima Waktu, Mary Qatarneh Memeluk Islam

Wednesday, June 19, 2013

Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Karen Armstrong Pakar Agama: Alquran Mengajarkan Belas Kasih


Di ambang pintu, Karen Armstrong menyungging senyum. Ia mempersilakan masuk, menyapa ramah, dan mengucapkan “How do you do?” Lalu, ia duduk di sofa putih di kamar hotel ia menginap. Perempuan Inggris ini mengisahkan konsep belas kasih yang ia dengungkan, Islam, dan dirinya kepada wartawan Republika, Ferry Kisihandi, dan fotografer, Prayogi, Jumat (14/6) sore. Berikut petikannya.


Sebegitu pentingkah belas kasih bagi Anda?

Saya pikir ini merupakan hal terpenting di dunia. Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.


Menurut saya, ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi semua agama. Ini juga sarana untuk membantu kita bertahan. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk tentu dampaknya juga akan menimpa diri kita. Dan, kita melihat dunia sekarang mengalami hal seperti ini. Maka, sudah seharusnya kondisi semacam itu tak lagi berlangsung. Saya melihat Sang Buddha, Konfusius, dan Yesus semuanya bekerja di sebuah masyarakat yang penuh keserakahan. Tapi, mereka mampu bertahan dengan menggerakkan sikap belas kasih.


Bagaimana mempraktikkannya di tengah dunia yang sekarang sarat kekerasan dan konflik ini?


Saya akui, kini kita tinggal di tempat yang sangat terpolarisasi dan berbahaya. Tapi, pada dasarnya, kita tak bisa mengabaikan pengembangan ide belas kasih ini. Karena itu, sangat mendesak membangun kesadaran global soal ini. Lalu, membangun hubungan lebih baik dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.


Semua sudah melihat, hampir semua musnah oleh senjata yang manusia buat. Demikian pula kalau merunut pada sejarah perang ratusan tahun silam. Itu berulang dan meletuslah perang di Afghanistan, Irak, dan sekarang terjadi di Suriah. Ini situasi berbahaya. Bila agama tak mampu tampil dengan pesan belas kasih yang ada pada ajarannya, mereka akan gagal mengatasi ini semua. Dengan demikian, mereka harus mampu. Apa yang mereka lakukan adalah untuk generasi kita sekarang.


Anda optimistis agama bisa memainkan perannya dengan baik?

Tergantung. Kita semua mempunyai jejak rekam bagus dalam mendorong upaya yang baik. Namun, karena rasa malas, hal itu tak berkembang. Saya bahagia dengan respons terhadap pesan belas kasih yang kemudian dituangkan dalam Piagam Belas Kasih. Muncul gerakan yang begitu aktif di Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Pakistan juga di Indonesia. Jadi, secara alamiah, saya optimistis.


Tapi, kita masih menghadapi kendala utama, yaitu prasangka walaupun telah ada serangkaian dialog antarkeyakinan yang digelar?


Ini sisi alamiah manusia dan pada prinsipnya prasangka harus diatasi. Anda dapat melakukan seperti apa yang ditempuh Islamic Society of North America (ISNA), sebuah organisasi Muslim besar di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa tahun lalu mereka menegaskan untuk menerapkan prinsip belas kasih lewat Piagam Belas Kasih.


Imam masjid yang memimpin kegiatan ISNA menetapkan tekad menciptakan masjid yang penuh belas kasih. Ini maknanya, masjid harus ramah gender dan pemuda, mesti memperluas dialog antarkeyakinan, serta mempelajari cara dalam mengahadapi terjadinya penyalahgunaan agama oleh segelintir orang.


Mereka juga menyebarkan pesan belas kasih yang juga terdapat pada ajaran Islam dalam berbagai pelatihan imam. Maka intinya, akar rumput menjadi bagian yang vital. Di sisi lain, saya melihat adanya dialog di antara para pemimpin agama. Namun sebaiknya, ini tak berakhir pada konferensi. Dan, cara terbaik adalah dengan bekerja bersama-sama.


Langkah ini dapat dilakukan oleh Yahudi, Muslim, Kristen, Buddhis, maupun pemeluk Hindu. Karena itu, alangkah baiknya setiap masjid, gereja, maupun kuil saling menjalankan program untuk saling merangkul dan berdialog dengan orang lain.


Tak jarang, peristiwa semacam pengeboman di Boston membuat seluruh komunitas Muslim disalahkan?

Saya pikir, komunitas Muslim perlu benar-benar proaktif. Terkadang tak ada yang menaruh perhatian penuh saat muncul pernyataan bahwa Islam menentang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Tak pernah digambarkan oleh media mainstream. Di sisi lain, umat Islam harus terus memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa Muslim berbelas kasih dan menentang kekerasan.


Apakah Anda berpikir Muslim akan mampu melakukannya?


Saya tidak tahu. Muslim harus mencoba melakukannya sendiri. Tuhan menyatakan, Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tak mengubahnya. Ini pernyataan yang terkandung dalam Alquran. Saya pikir, jihad sebenarnya adalah berusaha menjadikan hal itu terwujud.


Anda pernah menulis buku tentang Muhammad, kapan pertama kali tertarik mengkaji Islam?

Saat saya bekerja di televisi. Saya membuat program mengenai Perang Salib. Ini berarti saya harus mempelajari tentang Islam. Banyak orang memandang miring agama ini, saya tak paham apa yang mereka katakan. Saya dapat mempelajari Islam dengan baik. Lalu, saya ingin membuat Islam dapat diakses bagi warga Barat sehingga mereka lebih memahami agama ini.


Bagaiman pandangan Anda tentang Muslim di Indonesia?


Saya diundang oleh penerbit buku (Mizan) saya di sini. Dalam kurun 10 tahun ini saya sibuk bepergian ke sejumlah tempat. Pernah juga singgah ke Malaysia. Bagi saya, mesti tinggal beberapa saat dulu di Indonesia, berbicara dengan orang-orangnya, dan mempelajarinya, baru saya bisa menyampaikan opini mengenai Muslim di sini. Saya baru berada di sini pada Rabu (12/6) malam lalu.


Anda menikmati saat berbicara dari satu kuliah umum ke kuliah umum lainnya?

(Karen menjawab sambil tertawa). Tidak benar-benar. Saat kuliah umum, saya selalu mengatakan kepada setiap orang tentang apa yang mesti dilakukan. Saya pergi dari sini kemudian menuju tempat lainnya. Meski tak benar-benar menikmati, saya terkesan dengan sambutan-sambutan yang hangat dan saya sangat menghargainya. Anda tahu, sebenarnya saya adalah seorang yang sangat soliter.


Saya hidup sendiri, saya menyukai keheningan. Saya membutuhkannya termasuk saat menulis. Terlalu berat bagi saya untuk selalu berada di tengah orang banyak. Ini bukan nature saya. Tapi, dalam kunjungan ke Indonesia ini, saya tersentuh. Sebab, ada sambutan hangat dan banyak yang berbuat baik kepada saya. n ed: nur hasan murtiaji


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.harianterbit.com/2013/03/23/ratusan-biksu-budha-kejar-warga-muslim-di-meiktila/


Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

Monday, May 13, 2013

Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

SETERUSNYA penulis akan mengemukakan kisah berkaitan dengan Zulkarnain. Cerita ini merupakan kisah keempat yang terdapat dalam al-Quran. Ia mengisahkan tentang orang kafir Mekah menghantar utusannya kepada ahli Kitab untuk meminta apa yang hendak diujikan terhadap Nabi SAW.


Ahli Kitab berkata: Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang berjaya mengelilingi dunia, tentang pemuda yang tidak diketahui apa yang mereka kerjakan dan tentang roh. Maka surah al-Kahfi diturunkan. Sebelum mentafsirkan ayat tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu, siapa Zulkarnain, siapa Yakjuj dan Makjuj dan di mana empangan Zulkarnain.


Pada ayat ke-83, Ibnu Kathir berkata: Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahawa orang kafir Mekah pernah mengirim utusan kepada ahli Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi SAW.


Kemudian para ahli Kitab itu berkata: Tanyalah kepadanya tentang orang yang di sekeliling muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda dan juga tentang roh. Maka turunlah surah al-Kahfi.


Diberi nama Zulkarnain kerana dia adalah seorang raja Rom dan Parsi. Sebahagian orang menyebutkan bahawa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan diberi nama Zulkarnain kerana dia sudah berhasil mencapai belahan Timur dan Barat iaitu tempat matahari terbit dan terbenam.


Al-Maraghi berkata: Orang Quraisy yang berguru dengan orang Yahudi, mengajukan pertanyaan kepada (Nabi Muhammad SAW) dengan tujuan menguji Baginda.


Katakanlah kepada orang yang keras kepala itu: Aku akan menceritakan kepada kamu cerita yang lengkap lagi menyeluruh seperti yang kamu minta dan cerita ini telah diberitahu kepadaku oleh Tuhanku.


Sayid Qutub berkata: Allah SWT telah mengurniakan kepadanya kedudukan yang teguh dan kekuasaan yang kukuh. Allah SWT telah memberikan jalan-jalan untuk memerintah dan menakluk, jalan-jalan pembangunan dan kemakmuran, jalan-jalan kekuasaan dan kesenangan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mengukuhkan kedudukan mereka dalam kehidupan ini.


Pada ayat ke-84, Ibnu Kathir berkata: Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakupi segala sesuatu yang diberikan kepada para raja iaitu berupa bala tentera, peralatan perang dan beberapa benteng.


Oleh itu, dia dapat menguasai bumi belahan Timur dan Barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya bahkan pelbagai raja di dunia pun turut tunduk kepadanya dan semua orang Arab dan bukan Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.


Ayat ini telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Ilmu pengetahuan. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, al-Suddi, Qatadah dan lain-lain.


l Iaitu tempat tinggal di bumi dan berbagai-bagai panjinya. Inilah pendapat Qatadah.


l Iaitu pengajaran bahasa-bahasa. Ia tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka. Inilah pendapat Abdul Rahman bin Aslam.


Al-Maraghi berkata: Allah SWT memberi kekuasaan kepada Zulkarnain melakukan mengikut kehendaknya, sehingga beliau berjaya menguasai seluruh dunia dan mengalahkan seluruh kerajaannya. Allah mengurniakan ilmu, kemampuan dan kelengkapan tentera bagi menjayakan segala hasrat yang hendak dilakukannya.”


Sayid Qutub berkata: Muhammad Ibnu Ishaq telah menyebut sebab turunnya surah ini katanya `aku telah diceritakan oleh seorang guru daripada penduduk negeri Mesir. Dia datang ke tempat kami kira-kira 40 tahun lebih yang lalu dari Ikrimah, daripada Ibnu Abbas katanya kaum Quraisy telah mengirim al-Nadhr Ibnu Harith dan Aqabah Ibnu Abu Mu`ayt kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah dan berkata tanyalah kepada pendeta-pendeta itu tenteng Muhammad SAW, terangkan sifatnya kepada mereka dan ceritakan apa yang telah dikatakan olehnya kerana mereka adalah kaum ahli Kitab yang pertama.”


Mereka mempunyai ilmu tentang para Anbiya yang tidak ada pada kita. Lalu kedua utusan itu pergi ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tenteng Rasulullah SAW. Kedua-duanya menceritakan kepada mereka tentang beliau dan sebahagian daripada apa yang telah dikatakan olehnya sambil berkata: Tuan-tuan adalah pakar-pakar kitab al-Taurat dan tujuan kami datang menemui tuan-tuan ialah supaya tuan-tuan boleh menjelaskan kepada kami tentang teman kami ini (Muhammad).


Kata Rawi, pendeta-pendeta itupun berkata: Tanyalah kepadanya (Muhammad) tiga perkara yang kami cadangkan ini, jika dia dapat menjawab, maka dia adalah benar seorang nabi yang diutuskan Allah SWT dan jika sebaliknya, maka dia hanya seorang pendusta dan kamu boleh memutuskan fikiran kamu terhadapnya.”


Tanyalah kepadanya tentang sekumpulan pemuda yang telah pergi menghilangkan diri di zaman dahulu bagaimana cerita mereka kerana cerita mereka amat menakjubkan. Dan tanyalah kepadanya tentang seorang lelaki yang menjelajah dunia hingga sampai ke kawasan-kawasan sebelah Timur dan kawasan-kawasan sebelah Barat bagaimana ceritanya?


Dan tanyalah kepadanya tentang roh dan apakah dia? Jika dia dapat menceritakan hal-hal itu kepada kamu, maka dia adalah benar seorang nabi yang boleh kamu ikutinya dan sebaliknya jika dia tidak dapat menceritakan kepada kamu, maka dia adalah seorang pendusta dan lakukan apa sahaja tindakan terhadapnya yang kamu fikir wajar.


Lalu an-Nadhr dan Aqabah balik menemui kaum Quraisy dan berkata: Wahai kaum Quraisy! Kami telah membawa kepada kamu kata pemutus yang dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dengan Muhammad. Pendeta-pendeta Yahudi itu menyuruh kita bertanya kepada Muhammad mengenai beberapa perkara.”


Lalu mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disuruh oleh pendeta-pendeta itu.


Rasulullah SAW menjawab: Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu tanpa berkata kecuali dikehendaki Allah SWT”. Mereka pun berundur daripadanya. Rasulullah SAW menunggu selama 15 hari 15 malam tanpa mendapat wahyu daripada Allah SWT mengenai perkara-perkara tersebut dan tanpa dikunjungi Jibril AS hingga menggemparkan penduduk Mekah. Mereka berkata: Muhammad telah berjanji untuk menjawab, sekarang telah masuk 15 hari tetapi masih belum ada jawapan.”


Terhentinya wahyu itu telah mendukacitakan Rasulullah SAW. Kemudian barulah dikunjungi Jibril AS membawakan surah Ashab al-Kahfi, di mana baginda telah ditegur kerana bersedih terhadap sikap penduduk Mekah, di samping dimuatkan cerita-cerita yang ditanyakan mereka mengenai kumpulan pemuda dan lelaki pengembara itu.


Pada ayat ke-85 ia telah ditafsirkan dengan pelbagai tafsiran:


l Maka dia pun menempuh suatu jalan, iaitu al-Sabab iaitu tempat. Inilah pendapat Ibnu Abbas.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan iaitu tempat turun dan jalan antara timur dan barat. Inilah pendapat Mujahid.


l Maka dia pun menempuh suatu jalan. Ia juga dipanggil ilmu pengetahuan. Dia berkata hal yang sama juga dikemukakan oleh Ikrimah, Ubaid bin Yala dan al-Suddi. Dan dia pun mengatakan inilah tanda-tanda dan bekas-bekas. Inilah pendapat Said bin Jubair.


Sayid Qutub berkata: Oleh sebab adanya pelbagai riwayat tentang sebab-sebab nuzul itu, maka kami memilih untuk berhenti setakat bayangan nas al-Quran yang amat diyakinkan kebenarannya itu.”


Malah daripadanya juga dapat diketahui bahawa ada satu pertanyaan mengenai Zulkarnain walaupun diketahui siapakah yang mengemukakan pertanyaan itu. Tetapi pengenalan tentang siapakah yang bertanya itu tidak menambahkan apa-apa kepada maksud kisah. Marilah kita hadapi nas al-Quran tanpa sebarang tokok tambah.



Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan betapa kebenaran pasti ditegakkan oleh pendukungnya walaupun sentiasa menghadapi ujian. Hal ini menjadi sunnatullah. Oleh itu, semangat Zulkarnaian perlu diwujudkan dalam hati pemimpin umat Islam.



Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Kebenaran seorang Nabi - Utusan Online

Thursday, January 16, 2014

Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Jakarta - Szilvia Fabula bukan satu-satunya gadis Eropa Timur yang dikenal Presiden PKS Anis Matta. Anis Matta pernah bertemu dengan sorang Imam yang punya 7 gadis Eropa Timur yang baru saja masuk Islam. Namun Anis Matta memilih Szilvia sebagai istri keduanya.

Wasekjen PKS Fahri Hamzah mengisahkan hal tersebut melalui akun twitternya, Jumat (28/12/2013).


Szilvia Fabula masih studi S2 ekonomi saat mengenal Anis Matta di sebuah toko buku di Budapest, Hongaria. Setelah cukup lama sejak pertemuan pertama yang disaksikan Wasekjen PKS Fahri Hamzah itu, keduanya bertemu kembali di Budapest. Pertemuan kedua ini sudah banyak perubahan pada diri Szilvia.


Szilvia kini sudah memeluk agama Islam. Dia pun berani bertanya ke Anis Matta soal hukum Islam poligami.


“Rupanya dia sempat dikirimi Quran dengan terjemahan Inggris dan lalu diarahkan ke Islamic Center Budapest oleh Jen (Anis Matta),” kata Fahri.


Anis Matta pun menjelaskan tentang hukum poligami. Perdebatan pun terjadi karena awalnya Silvia menentang poligami. Namun entah mengapa setelah itu Szilvia semakin mantap mengubah penampilan.


“Waktu kami berjumpa Kerudungnya sudah sempurna. Dan dia menyampaikan terima kasih kepada kami,” kata Fahri.


Szilvia juga mengantarkan Anis Matta dan Fahri ke Islamic Center of Budapest dan mempertemukan dengan pimpinannya. Kala itu pemimpinnya memuji Anis Matta. 


“Sore itu kami dikenalkan oleh sang imam 7 gadis dari kawasan eropa timur yang menjadi muallaf bersama-sama,” kenang Fahri yang memilih tak poligami ini.


Perdebatan tentang poligami itu mengantar hubungan Anis Matta dan Szilvia semakin jauh. “Sampai kami kembali lagi ke Jakarta, kami belum mendengar ada kisah cinta. Semuanya dialog tentang Islam,” kilah Fahri yang belum mau mengugkit kisah cinta Anis dan Szilvia secara lebih mendalam ini.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/11/16/219530118/Asmirandah-Mengaku-Minta-Jonas-Masuk-Islam


Kisah Anis Matta dan Tujuh Gadis Eropa Timur

Wednesday, January 1, 2014

PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

PENYELENGGARAAN HAJI
2014, Kemenag Sumbar
Optimalkan Pelayanan

Kamis, 2 Januari 2014


PADANG (Suara Karya): Secara keseluruhan, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2013 berjalan lancar dan sesuai harapan. Meski demikian, tak dipungkiri masih ditemukan sejumlah kendala dan masalah di lapangan.


Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Sumbar Syamsuir Ilyas, di Padang, Sumbar, baru-baru ini. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan sesuai harapan.

Apalagi, Bengkulu sudah punya embarkasi antara, jadi jemaahnya langsung ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tanpa menginap di Asrama Haji Padang. Kita akan optimalkan pelayanan pada 2014,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Kemenag Sumbar dipimpin Kepala Kanwil Syahrul Wirda selaku Ketua Panitia Peberangkatan Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Padang, telah menggelar rapat evaluasi pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji tahun 2013 hanya dua hari setelah kedatangan jemaah kloter terakhir dari Tanah Suci. Yakni, Jumat (15/11), di Aula Asrama Haji Padang.

Rapat itu dihadiri seluruh panitia dari setiap instansi dan elemen masyarakat yang terlibat dalam kepanitiaan haji, seperti Dinas Kesehatan Sumbar, Dinas Perhubungan Sumbar, Imigrasi Padang, Polda Sumbar, TNI, Biro Binsos Pemprov Sumbar, PT Angkasa Pura II, tokoh masyarakat, dan lainnya.

Rapat menghasilkan sejumlah komitmen, agar pelaksanaan haji tahun depan lebih baik lagi. Dalam rapat itu, beberapa instansi terkait mengakui masih adanya kekurangan selama pelaksanaan haji tahun ini.

Pada prinsipnya, mereka berjanji akan memperbaiki semua kekurangan tersebut, sehingga tahun depan tidak lagi ditemui keluhan dari jemaah. Salah satunya dari Angkasa Pura II, yang berjanji akan memperbaiki pelayanannya, seperti menambah eskalator, dan memperbaiki fasilitas lainnya seperti toilet, dan sebagainya.

“Selain itu, pihak Polda Sumbar juga berjanji memi-nimalisasi segala kekurangan pada pelaksanaan haji 2013 agar pelaksanaan haji 2014 dapat berjalan baik,” ujar mantan Kepala Kantor Kemenag Mentawai ini.

Dalam kesempatan tersebut, Syamsuir Ilyas mengisahkan pengalamannya ketika bertugas di Mentawai pada 2011. Ketika itu, ia berhasil memberangkatkan delapan mualaf. “Mereka bagian dari 35 warga muslim di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang menunaikan haji tahun 2011,” ucapnya.

Sebenarnya, tutur dia, mereka baru mendaftar tahun 2009 dan 2010. “Tapi karena ada perlakuan khusus yang seharusnya berangkat tahun 2017 dan 2018, 2011 mereka bisa menunaikan haji,” katanya.

Menurut Syamsuir, terwujudnya cita-cita para mualaf dari Mentawai itu tak lepas dari perjuangan Kakanwil Kemenag Sumbar ke Kemenag pusat. Semula, lanjut dia, saat Sekjen Kemenag Bahrul Hayat berkunjung ke Padang beberapa waktu lalu, Pemprov Sumbar meminta agar warga Mentawai diprioritaskan berangkat haji tanpa menunggu 9 hingga 10 tahun ke depan.

“Alhamdulillah, pihak bank penerima setoran biaya penyelenggaran ibadah haji (BPS-BPIH) yakni Bank Nagari dan BRI, telah diberikan informasi kalau 35 orang jemaah tersebut bisa melunasi setoran hajinya dan bisa segera diberangkatkan,” katan Syamsuir. (Yudhiarma)

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/12/13/mxpojk-membangun-amal-usaha


PENYELENGGARAAN HAJI 2014, Kemenag Sumbar Optimalkan Pelayanan

Friday, January 24, 2014

Shandy Aulia Berbagi Kisah Cinta dan Kepedihan Dalam Buku Incomplete

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apa yang sudah terjadi di masa lalu, bukan alasan untuk membuat hidup seseorang terpuruk, tetapi harus bisa menjadi motivasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi.


Pesan inilah yang ingin disampaikan Shandy Aulia melalui buku terbarunya Incomplete, yang resmi diluncurkan di Kinokuniya Bookstores, Plaza Senayan.


Lahir dan besar dalam keluarga yang memiliki perbedaan baik dalam suku maupun agama, Shandy Aulia tumbuh menjadi sosok yang sangat menghargai perbedaan dan memiliki pemikiran yang terbuka dalam segala hal.


Ibunya berdarah Manado dan memeluk agama Kristen, sedangkan ayahnya berdarah Palembang dan memeluk agama Islam..


Perceraian orangtuanya pada saat ia masih kecil, membuatnya menjadi pribadi yang lebih dewasa, tegar, dan selalu memandang hidup jauh ke depan.


“Shandy membagi kisah pribadinya dengan lugas. Kita diajak mengikuti naik-turun perjalanan emosi dan intrik kariernya,” ungkap Siti Gretiani, General Manager Gramedia Pustaka Utama, penerbit yang menerbitkan Incomplete, Jumat (24/1/2014).


Ketika membaca buku itu, kita akan ikut merasakan cinta dan kepedihan yang dirasakan Shandy. “Walaupun hidupnya tampak seperti lingkaran yang masih incomplete, namun ia mampu menyentuh hati pembacanya,” katanya.


Dalam buku 272 halaman ini, Shandy berbagi cerita tentang peristiwa-peristiwa berkesan dalam hidupnya, termasuk cerita keberhasilannya mengalahkan 5.000 peserta casting dan mendapatkan peran utama di film Eiffel I’m in Love (2003), film yang kemudian sukses besar dan melambungkan namanya hingga saat ini.


Ada juga bagian yang mengisahkan tentang bakat, kecintaan, dan passion Shandy di dunia seni peran, yang membuatnya selalu ingin mencoba berbagai peran baik di film maupun sinetron, dan
memberikan kualitas terbaiknya.


Incomplete adalah bentuk terima kasih dan syukur Shandy Aulia, bahwa baginya, apa yang sudah diraihnya bukanlah semata-mata karena kemampuannya tapi juga karena kasih karunia Tuhan.


Article source: http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2014/01/140112_foto_ariel_sharon.shtml


Shandy Aulia Berbagi Kisah Cinta dan Kepedihan Dalam Buku Incomplete

Tuesday, April 30, 2013

Orangtua Ani Polisikan Eyang Subur atas Tuduhan Bawa Lari Anaknya

Jakarta – Mantan pengikut Eyang Subur, Arya Wiguna mendatangi Polda Metro Jaya bersama Ade Junaedi, ayah istri ketujuh Subur, Ani. Mereka akan melaporkan Subur atas tuduhan membawa lari Ani.

Rombongan berjumlah sepuluh orang itu pun langsung masuk ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Polda, Selasa (30/4/2013) sekitar pukul 14:30 WIB. Mereka didampingi kuasa hukum Fahmi Bachmid SH.


Sebelumnya rombongan itu telah mengadu soal Subur ke Komnas Perempuan. Di sana, Ade Junaedi mengisahkan awal mula pertemuan anaknya dengan Subur.


“Tahun 2004 akhir atau 2005 awal saya pulang dari Sulawesi Tenggara. Saya kedatangan adik saya (Arya wiguna), kemudian anak saya meminta persetujuan izin restu sama saya. Dia mau menikah dengan Pak Subur,” kisahnya.


Ade pun mengaku tak memberi izin karena kala itu Ani akan dijadikan istri keenam Subur. “Saya bilang, istri lebih dari empat itu nggak boleh dalam Islam, dilanggar itu. Anak saya tetap minta persetujuan, minta direstui,” tuturnya.


Menurut Ade, satu bulan kemudian ia pun mendatangi rumah Subur. Namun pernikahan tersebut batal digelar.


“Tapi sebulan kembali saya datang lagi ke Jakarta tiba-tiba anak saya bilang, sudah menikah dengan Pak Subur,” lanjut Ade.


Ade menambahkan, pernikahan itu digelar di kediaman Haji Memet di kawasan Bekasi, Jawa Barat. “Saya tak diundang. Haji Memet itu artis. Dia saksinya mungkin,” ujarnya.


Setelah itu, hampir setiap tiga bulan ia datang ke Jakarta untuk menemui anaknya yang tinggal di rumah Subur. Namun ia mengaku mulutnya seperti terkunci.


“Delapan tahun Ani nggak boleh pulang. Anak saya dikondisikan sesuai eyang gaibnya. Keluarga boleh pulang, tapi Ani nggak boleh,” ungkap Ade.


(nu2/mmu)


<!–HUT ke-13, detikcom bagi-bagi 13 iPad 2, juga puluhan ribu tiket bus dan kereta. Daftar di sini. –>


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/19/m2puoq-inilah-kisah-muslimah-yahudi-tentang-kekejaman-nazi


Orangtua Ani Polisikan Eyang Subur atas Tuduhan Bawa Lari Anaknya

Wednesday, May 1, 2013

Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Terhenyak. Itulah satu kata yang menggambarkan situasi bangun tidur saya, Kamis 25 April 2013. Saya baru saja bangun kesiangan karena semalam suntuk merasa tidak mau membiarkan halaman demi halaman buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo terbiarkan.


Saya begitu penasaran dengan tuisannya yang meski belum selesai membacanya, tetapi ada begitu banyak nilai yang penting tercatat di sana. Sebuah perjalanan keliling dunia yang menjadikannya pribadi open minded. Beragam jenis dan situasi kehidupan yang dialaminya di luar sana membuka pikirannya tentang apa yang namanya nilai kemanusiaan.


Ya, terhenyak. Saya tidak terhenyak karena bangun kesiangan. Saya terhenyak karena membuka smartphone saya dan menemukan link berita dari BeritaSatu.Com (Rabu, 16 Januari 2013, 21.29) berjudul: Pemda Blitar Batal Tutup Enam Sekolah Katolik. Maaf. Saya ketinggalan berita. Berita ini sudah basi. Sudah tiga bulan yang lalu. Kurang lebih seperti ini:


Pemerintah Daerah Blitar membatalkan niatnya menutup sejumlah sekolah di wilayah itu yang tidak mau mengikuti aturan memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Romo Didik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Surabaya, menjelaskan bahwa pada hari ini, pengurus yayasan sekolah itu memenuhi undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Blitar demi membicarakan masalah itu.


Ada sejumlah kesepakatan yang didapatkan dari pertemuan itu, yakni pendidikan agama non-Katolik tetap dilaksanakan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh guru yang kompeten atau lembaga agama yang terkait. Berikutnya kegiatan dimaksud di atas akan dilaksanakan di luar sekolah.


“Petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan itu akan disusun secara bersama-sama,” kata Romo Didik saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/1) malam.


“Jadi tidak ada penutupan sekolah Katolik,” tegas dia.


Sebelumnya, DPR dan pemerintah diberitakan bergerak cepat untuk mengatasi adanya rencana penutupan enam sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur, karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Anggota Komisi III DPR dari daerah pemilihan itu, Eva Kusuma Sundari, mengisahkan kisruh itu diawali oleh adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kantor Kementerian Agama Setempat dengan Walikota mengenai hal itu. Surat itu bernomor 8 tahun 2012.


Di suratnya disebutkan bahwa wajib bagi setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.


Surat itu lalu disusul surat peringatan keenam sekolah swasta di kota Blitar yang dianggap tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain, yakni SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.


Enam sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.


Disebutkan di dalam peringatan bahwa dasar untuk itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, yang mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional.


Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut izin operasional enam sekolah tersebut.


Yang menarik dari berita tersebut adalah sudut komentar yang menggugah rasa saya untuk sebuah tulisan setelah ini yang akan saya sajikan.


Ogut – Selasa, 23 April 2013 | 14:02


kenapa ya agama selalu sj yg dipermasalahkan … org Katholik yg bersekolah / kuliah di yayasan agama Islam tidak pernah mengeluhkan ttg pelajaran agamanya …Yg penting tujuan utama utk sekolah / kuliah itu tercapai dgn baik… Jangan sllu agama yg dipermasalahkan .. Yg penting bisa lulus dgn hasil yg baik .. syukur-2 lgsg dpt pekerjaan .. Jika org Katholik bs sekolah di Yayasan Islam justru malah senang krn sebagai umat minoritas bisa belajar pengetahuan ttg Islam, tidak merasa didiskriminasi


ridho – Senin, 25 Februari 2013 | 20:11


maaf mas saya alumni SMAK Diponegoro Blitar, selama saya bersekolah disitu kami muslim hanya mengenal agama Katolik dan juga sebaliknya jadi akan terjadi toleransi beragama yang baik


anton – Selasa, 19 Februari 2013 | 08:27


Salut, dengan saudara/i muslim yang mau bersekolah di sekolah katolik tanpa harus pindah agama . Mereka tahu sekolah katolik mendidik murid jadi NASIONALIS bukan TERORIS. Berapa banyak pejabat negara yang masih MUSLIM sejati yang pernah bersekolah di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tak mengajarkan FANATISME TOLOL dan PEMAKSAAN serta senang budaya KORUP ( pengrusakan, kekerasan, tawuran ) yang membuat para siswa sering KERASUKAN BERSAMA karena murid dan gurunya hanya ingin libur bersama (malas)


Hariyadi Blitar – Sabtu, 16 Februari 2013 | 21:54


Mendapatkan Pendidikan Agama oleh Guru Seagama adalah HAK ASASI.


Inilah bunyi pasal 12 ayat 1 di UU SISDIKNAS 2003 yang menjadi acuan. Jika ada sekolah (lembaga pendidikan formal) yang tidak melaksanakannya PANTAS untuk ditinjau ulang ijin operasionalnya.


Saya dapat bocoran 60% lebih siswa di SMA Katolik Blitar adalah Muslim. 85% siswa di STM Katolik Blitar juga Muslim. Sayang nya mereka DIPAKSA mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dan TIDAK ADA PILIHAN LAINNYA.


PELANGGARAN HAM


Agustinus Wibowo (sapaan akrabnya Ming), pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur beretnis Tionghoa yang menjadi musafir selama 10 tahun keliling dunia setelah menamatkan kuliah bermutunya di Universitas Tsinghua Beijing, Tiongkok. Saya, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, beretnis Minahasa, belum mengembara terlalu jauh seperti Ming, tetapi cukup merasakan sembilan tahun tidak bersama keluarga.


Dengan alasan yang sama seperti Ming, saya tidak bersama keluarga bukan karena melarikan diri, tetapi karena panggilan jiwa, pendidikan dan tentunya petualangan. Tidak bermaksud menyindir siapa pun, tetapi perjalanan bertahun-tahun “di luar rumah” adalah perjalanan membuka pikiran untuk hidup tidak dengan pola piker kolot yang sok pinter melakukan justifikasi dalam setiap persoalan sensitif menyangkut hak asasi manusia (HAM).


Saya mengingat perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sadar akan kekolotan kehidupan yang ada di sekitarnya, Dahlan berani mendobrak tradisi keislaman yang tradisional di tanah Jawa waktu itu dan mencerahkan pikiran dengan melakukan perjalanan belajar ke luar negeri. Itulah kemudian yang menetapkan langkahnya mendirikan sebuah organisasi Islam sebesar Muhammadiyah saat ini, sebuah organisasi Islam modern yang terkenal dengan dialog bermutu dan pemikiran-pemikiran terbukanya tentang dunia secara global.


Saya juga hafal betul dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang merupakan tokoh pengusung pluralisme dalam berbangsa. Bisakah Gus Dur memiliki karakter demikian jika pada masa lalunya tidak berani keluar dari zona tradisionalnya? Bisakah beliau tanpa latar belakang pendidikan ala Kairo yang pluralistik yang diterimanya saat kuliah?


Ketika tahun 2004, kakak perempuan saya secara radikal memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti suaminya yang beragama Islam, keluarga saya yang tumbuh dalam keluarga Katolik tradisional begitu menolak keputusan itu. Keluarga saya adalah kumpulan orang-orang yang mengetahui Islam sebagai ajaran yang tidak pernah berhubungan dengan Kristianitas. Seorang Katolik yang masuk Islam, yah, tidak bisa diterima. Itulah pemikiran tradisional keluarga kami. Apalagi keluarga kami berasal dari etnis Minahasa yang kental dengan suasana kekeluargaan dan kerabat Kristen. Keluarga besar akan mencibir keluarga inti saya jika hal itu terjadi. Malu. Itulah inti dari mengapa kakak saya tidak boleh masuk Islam. Hingga kini pun, meski kakak saya sudah menjalani imannya sebagai seorang muslimah hampir tujuh tahun, stigma sebagai seorang yang “berbeda” sudah telanjur diberikan untuk kakak saya.


Tahun 2008, untuk pertama kalinya saya mengenal Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Sebuah kampus milik yayasan gereja Katolik. Tak seperti kampus-kampus Katolik lainnya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Biasanya kampus-kampus itu bernama Santo-Santa atau nilai ke-Katolik-an misalnya De La Salle, Atma Jaya, Sanata Dharma atau Santo Thomas Aquinas, dan lain-lain. Nama “Parahyangan” sangat tidak bersangkut paut dengan nilai-nilai Katolik. Parahyangan justru merupakan representasi dari makna luas sebuah tempat yang menjadi surge dewa-dewi, surge para hyang. Meski akhirnya belakangan nama itu dimaknai khusus oleh kampus tersebut (dalam hubungannya dengan Sang-Hyang-Tuhan), tetapi menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kampus Katolik yang terkenal tersebut bukan karena saja namanya, tetapi juga karena pendiri dan visi-misi pendidikan yang diusungnya.


Selama menjadi mahasiswa dan menjalani kuliah di kampus ini, sebagai seorang Katolik yang terbiasa sekolah di sekolah Katolik (dengan segala pendidikan Katolik-nya, ritual, kapel, dsb), untuk pertama kalinya saya tidak menemukan mayoritas “penduduk” kampus adalah mahasiswa non-Katolik. Untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah Pusat Kajian Humaniora yang melaksanakan kuliah-kuliah karakter, moral , agama dan psikologi. Pusat kajian ini dipimpin oleh seorang romo. Bagi mahasiswa kampus ini – sesuai aturan harus ada pendidikan agama untuk setiap personal – disediakan pilihan untuk memilih mata kuliah dasar wajib: memilih kuliah fenomenologi agama (filsafat) atau kuliah pendidikan agama Katolik.


Bagi saya, mahasiswa fakultas filsafat, sebuah kewajiban untuk memilih mata kuliah fenomenologi. Tetapi untuk mahasiswa dari fakultas lain, mereka dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Pilihan yang memudahkan sebenarnya! Kenyataan yang sedikit lucu dan tak disangka adalah, para mahasiswa non-Katolik, justru begitu menyukai memilih kuliah pendidikan agama Katolik. Tanpa dipaksa. Itu pilihan mereka. Kalau saja mereka seorang yang tradisional dan tidak mau menjadi kafir, mereka tentunya lebih memilih kuliah fenomenologi yang notabene sama sekali tidak mempelajari tentang ajaran Katolik. Fenomenologi mengkaji realita agama-agama secara umum. Mau tahu kenapa mereka memilih kuliah pendidikan agama Katolik? Hanya satu alasannya: Dosennya seorang romo yang begitu cerdas, baik hati, murah hati dan bersahaja! Wow! Sebuah alasan yang manusiawi.


Ada hal lain yang begitu menonjol yang saya temukan di kampus ini. Selama kuliah, saya belum menemukan di mana letak kapel atau gereja kampus yang berdiri megah di dalam lingkungan kampus, seperti halnya sebuah kampus Katolik yang ada di belahan dunia mana pun. Mendapat embel-embel Katolik di antara kata “Universitas” dan “Parahyangan” bukanlah hal yang mudah.


Dalam peraturan Gereja Katolik tentang pendidikan Katolik ada pasal yang mengatur hal tersebut. Salah satunya ialah sebuah kampus Katolik harus menampakkan ciri ke-katolik-an yang khas. Maka sebuah kapel atau gereja menjadi ciri khas banyak kampus Katolik di seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kapel megah di lingkungan kampus bernama Parahyangan tersebut?


Ya, sejak berdiri tahun 1955, pendirinya dua uskup berkebangsaan Belanda. Monsinyur Petrus Arntz, OSC (uskup Bandung) dan Monsinyur Prof Geise OFM (rektor pertama Universitas Parahyangan) mencita-citakan sebuah perguruan tinggi yang dibangun “di” dan “untuk” tanah Parahyangan! Keduanya menyadari, kampus ini berdiri di tengah-tengah tanah Sunda yang kental dengan budayanya. Kampus yang akhirnya tetap eksis hingga kini itu ialah kampus yang dipersembahkan untuk tatar Parahyangan. Dengan alasan itu pula, dua pendiri ini menghendaki sebuah kampus yang mengajarkan ilmu berdasarkan Ketuhanan untuk diabdikan kepada masyarakat atau Bakuning Hyang Mrig Guna Santyaya Bhakti.


Dua pendiri ini pertama-tama tidak menempatkan Ke-katolik-an sebagai subjek utama yang harus dicekokin di dalam otak para mahasiswanya, tetapi justru semangat kekatolikan itu sendiri yakni iman, harap, dan kasih, yang harus menyemangati para mahasiswanya agar kelak menjadi manusia yang berbakti secara manusiawi. Itulah alasan mengapa, tidak ada kapel di kampus itu. (dan katanya tidak akan pernah ada-dan itu juga mengapa, Universitas Parahyangan menjadi kampus Katolik yang selalu mendapatkan ‘pengawasan yang ketat’ dari petinggi Gereja Katolik yang mengurusi pendidikan Katolik).


Panjang-lebar tentang Agustinus Wibowo, Ahmad Dahlan, Gus Dur, dan Universitas Katolik Parahyangan, apa sebenarnya hal yang penting dari semua itu?


Dalam sejarah pemikiran Yunani, ada satu masa ketika logika mendapatkan tempat yang begitu mulia saat ia melengserkan segala mitos yang terlalu lama membelenggu masyarakat Yunani waktu itu. Masa ketika myth berubah menjadi logos itulah menjadi masa kelahiran filsafat. Manusia hidup tidak lagi dalam kungkungan tradisionalitas. Tradisional itu bukan masalah konservatif atau kekakuan. Tradisional itu adalah masa ketika otak manusia begitu keukeuh mempertahankan imajinasi kolotnya diperhadapkan dengan kebenaran logika.


Mitos pada masa itu bahkan telah menjadi keyakinan yang begitu menguratnadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika mitos itu telah menjadi sebuah “agama”, dia lalu melakukan pembelaan yang terlalu percaya diri dan mati-matian. Dalam perjalanannya kemudian sedikit demi sedikit tradisionalitas mendapatkan tempat yang sesungguhnya harus ia tempati: tradisionalitas menjadi sebuah kearifan lokal, yang dari dialah setiap persoalan seharusnya dipelajari.


Lalu apakah yang mendasari sebuah negara menjadi begitu kolot pemikirannya terhadap pemberlakukan sebuah aturan? Itulah yang terjadi dalam konstruksi pemberitaan yang saya kutip di awal tulisan saya ini. Ketika Pancasila sebagai kearifan jiwa Indonesia yang kemudian di-logos-kan menjadi sebuah dasar negara, bahkan telah kalah dengan seperangkat aturan yang dikeluarkan oleh pemikir-pemikir kolot yang menuntut hak asasi yang sesungguhnya tidak pada pemahaman sebenarnya tentang pentingnya sebuah kemanusiaan.


Apa sebenarnya hak asasi yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Apakah mayoritas sebuah komunitas harus mengalahkan hak asasi dari sebuah kekhasan?


Ketika di satu sisi saya menuntut hak saya untuk diperlakukan sesuai kekhasan diri saya, lalu kapan saya memperhitungkan kekhasan orang lain atau institusi yang saya tuntut memberikan hak kekhasan itu kepada saya?


Sekali lagi, mitos dan tradisionalitas sempit telah lahir menjadi logika. Lalu ketika ada yang membaca tulisan ini berkomentar” “Logika justru telah menghancurkan sistem-sistem nilai moral! Rasio justru telah menjadi alat pembunuh bagi manusia!.”


Itu bukan konteks sebenarnya. Bagaimana setiap manusia menyadari bahwa setiap masalah ada di dalam konteksnya masing-masing. Dalam konteks pembicaraan saya, hak asasi manusia adalah setiap hal yang menjadi hak dasar manusia sebagai makhluk bermartabat Allah. Martabat Allah yang diembuskan dalam napas manusia membuatnya menjadi makhluk yang khusus. Dan manusia yang dimaksud itu banyak. Ada hampir delapan miliar martabat Allah di dunia ini. Lalu kita harusnya kembali ke pemahaman bahwa saya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk hidup menurut ciri khasnya dan saya juga harus menyesuaikan untuk berusaha hidup sesuai kekhasan diri saya secara maksimal.


Ada yang keliru dalam argumentasi-argumentasi tentang mendapatkan hak asasi: aturan diperlakukan untuk memudahkan hak asasi tersebut terwujud, tetapi mengebiri hak asasi pihak lain.


Di akhir tulisan saya ini ada satu hal yang ingin saya gabungkan dalam hubungannya dengan beberapa cerita tentang Agustinus Wibowo hingga Universitas Katolik Parahyangan di atas.


Seorang Pastor Belanda di Tilburg setahun yang lalu pernah mengatakan kepada saya,“Orang Indonesia itu bagus sekali. Punya ungkapan hiduplah membumi!”


Kalimat ini menggugah saya. Ketika orang Barat hidup dengan seni individualistiknya, penilaian saya terhadap itu positif: mereka demikian bukan karena mementingkan diri sendiri, tetapi mereka hidup membumi, apa adanya. Hidup membumi juga berarti saling menghargai, rendah hati, dan memperlakukan segala sesuatu pada “bumi”-nya atau pada asalnya.


Jangan meminta sayur di warung buah. Jangan meminta besi di warung sayur. Jangan meminta pizza di warung gado-gado. Bisa saja, tetapi sulit dan lama! Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berkutat pada bagaimana bisa membeli kebutuhan pada tempat yang tidak menjualnya. Dirampok, tersesat, hampir mati, dan diperhadapkan pada orangtua yang sakit parah di belahan dunia lain, telah menjadikan Agustinus Wibowo menjadi seseorang yang melihat dunia dan membagi nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi untuk banyak orang.


KH Ahmad Dahlan dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pribadi yang modern dan toleran. Mereka menjadi demikian bukan berarti mengabaikan inti nilai iman mereka, tetapi justru dengan demikian menjadi pribadi yang bersahaja dan mudah menghargai orang lain.


Dan yang terakhir adalah kampus Katolik yang saya ceritakan tadi, yang terpenting adalah mendidik karakter. Percuma paham Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, percuma hafal dan paham Alquran dari awal hingga akhir kitab, percuma menguasai tiga keranjang Tripitaka, dan berbagai ajaran Veda ataupun seluruh kebijaksanaan Nabi Kongzi. Semuanya percuma, jika dalam hidup sehari-hari, kita menggunakan semua indra untuk menelanjangi kemanusiaan orang lain. Pertanyaannya, berdasarkan ajaran iman pribadi sebenarnya saya berjuang untuk hak asasi siapa?


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1ftb-geliat-islam-di-eropa-barat-1


Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Friday, August 9, 2013

Bek Persib: Aku Sudah Senang Masuk Islam

Liputan6.com, Bandung : Pemain bertahan Persib Bandung yang baru masuk Islam, Abanda Herman merasakan sesuatu yang berbeda. Abanda mengaku senang bisa menjalankan puasa sebulan penuh selama Ramadan. Perayaan Idul Fitri 1434 Hijriah kali ini adalah yang pertama baginya setelah menjadi mualaf.

Herman merayakan Lebaran di Bandung setelah sebelumnya menjalani laga tur Kalimantan bersama skuat Maung Bandung. Pemain asal Kamerun ini sebelum bergabung di Persib, menjadi bek andalan Persija Jakarta.


“Aku sudah senang masuk Islam. Selama satu bulan ini aku kuat berpuasa. Aku senang bisa merayakan Lebaran di sini,” ujar Abanda seperti dikutip dari laman resmi klub, Jumat (9/8/2013).


Abanda Herman juga mengisahkan, di hari Lebaran dirinya memiliki harapan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia bertekad untuk menjadi seorang Muslim yang baik, dengan menjalankan semua kewajibannya sebagai umat Islam.


“Aku selalu mau menjadi Muslim yang baik dan menjalankan ibadah dengan benar,” tutur pemain yang kini telah berganti nama menjadi Ahmad Abanda Herman ini. (*)



Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/12/report-poverty-and-injustice-drive-nigerias-sectarian-violence/


Bek Persib: Aku Sudah Senang Masuk Islam

Tuesday, January 8, 2013

Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Selasa, 08 Januari 2013 10:49

| Ade Irwansyah

HINGGA selesai menulis artikel ini, jujur, saya belum nonton film terbaru Hanung Bramantyo, Cinta Tapi Beda.

Saya tak tertarik menontonnya. Saya sedang malas nonton film bertema “berat.” Sebab, jika menonton, saya akan repot menuliskan ulasannya. Tapi, kontroversi soal filmnya, bahkan kabar Hanung memutuskan menarik filmnya dari peredaran sampai dilaporkan ke polisi segala mendorong saya menulis artikel ini.

Karena belum nonton, saya tak berhak menilai Cinta Tapi Beda. Namun, saya sudah nonton beberapa film yang mengangkat soal cinta beda agama sebelum yang ini. Jadi, menurut saya, sah saja saya punya pendapat soal tema yang diangkatnya: tentang cinta beda agama.

Negeri kita yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama sudah sejak dulu menjadi bahan baku cerita fiksi, termasuk film cerita. Kritikus film Eric Sasono pernah menulis di situs Rumah Film (2011), dahulu setidaknya ada dua pendekatan utama pembuat film menceritakan keragaman di Indonesia ini. Pendekatan pertama humoristis, dengan bercerita tentang tokoh-tokoh komikal dan stereotip etnis sebagai bahan lawakan atau ejekan. Tujuan pendekatan ini untuk mengajak penonton menertawakan diri sendiri. Humor yang semacam mendamaikan diri sendiri ini (morbid humor) dianggap efektif untuk menerima kenyataan ketimbang dipendam dan dibiarkan hingga jadi bisul kronis.

Pendekatan kedua adalah pendekatan yang menceritakan keragaman itu sebagai bagian komentar—atau kritik sosial budaya. Pendekatan ini melihat bahwa keragaman itu merupakan sebuah hal kompleks yang harus dijalani oleh manusia Indonesia. Pendekatan kedua ini menceritakan orang-orang yang harus bersiasat dengan beragam identitas yang berkumpul dalam diri mereka.

Untuk pendekatan pertama, Eric memberi contoh film-film komedi Nya’ Abbas Akup, sedang contoh pendekatan kedua di antaranya dilakukan Sjumandjaja lewat, misalnya, Si Doel Anak Modern.

Salah satu ciri yang menonjol di sinema Indonesia pasca Soeharto adalah sifat individualistis. Para pembuat film pasca Soeharto tak terlalu memusingkan keragaman latar belakang etnis, kebudayaan atau agama. Yang dikejar melulu capaian individual si tokoh. Keadaan sekitar tak kelewat dipedulikan, dan film Indonesia sekarang lebih senang membuat cerita yang berpusat pada aspirasi (capaian psikologis dan material) orang per orang yang khas kelas menengah.

Maka, kita melihat kisah-kisah from zero to hero tentang orang miskin jadi orang sukses, orang saleh mencari jodoh, dan sebagainya.

***

Namun, tentu, selalu ada yang menyempal bergeser dari titik mainstream. Kondisi pasca Soeharto yang relatif bebas juga memungkinkan mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi wacana di layar lebar. Dari sini menyempal film yang membincangkan cinta beda agama.

Film tentang cinta beda agama di sinema Indonesia pasca Soeharto dimulai oleh Cin(T)a karya Sammaria Simanjuntak yang rilis tahun 2009. Judulnya memberi simbol yang kira-kira bisa diartikan—saya meminjamnya dari tulisan Ifan Adriansyah Ismail di majalah Madina—di antara sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta ada “T” yang menghalangi. “T” itu adalah perbedaan dalam menyebut Tuhan. (O ya, sebetulnya, setahun sebelumnya, 2008, rilis Ayat-Ayat Cinta [sutradara Hanung Bramantyo] yang di dalamnya ada kisah cinta beda agama antara Fahri [Fedi Nuril], penganut Islam, dengan Maria yang menganut Kristen Koptik. Tapi persolan cinta beda agama itu tak menjadi soal berarti karena Maria kemudian masuk Islam.)

Kembali ke Cin(T)a, film itu tampak samar-samar mengisahkan cinta beda agama dengan membalutnya sebagai film esai. Tokoh-tokohnya dipinjam sineasnya untuk mengutarakan gagasan ataupun pertanyaan seputar cinta, Tuhan, dan agama. “Kenapa Allah nyiaptain kita beda-beda. Kalau Allah ingin disembah dengan satu cara?” “Makanya Allah ciptain cinta. Biar yang beda-beda bisa nyatu.”

Film berikutnya, 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta (2010). Kita bertemu Rosid (Reza rahadian) telah menetapkan hatinya pada Delia (Laura Basuki). Rosid, Islam. Delia, Katolik. Film arahan Benni Setiawan yang kisahnya diambil dari dua novel (Da Peci Code dan Rosid Delia) ini mengambil jalan ke inti persoalan: seperti apa problema yang akan ditemukan bila dua sejoli beda agama memadu kasih?

Film ini tak mencoba memberi putusan bahwa hal itu dilarang (atau juga dibolehkan). Sebaliknya, film ini menyajikan serangkaian hal untuk direnungkan penonton usai menonton. Misalnya, ada dialog soal persoalan nikah beda agama akan meninggalkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Ditanya bagaimana sebaiknya, malah dijawab dengan tawa. Kemudian, ada dialog, dari sudut Islam, ada pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Tapi, dengan bijak, film ini tak menganjurkan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu, melainkan taati agama dengan baik dulu, baru pahami betul-betul sebelum akhirnya ikut pendapat yang mana. SPOILER ALERT pada akhirnya Rosid dan Delia tak melanjutkan hubungan cinta mereka.

Kemudian juga ada sedikit cerita cinta beda agama yang terselip di film ? (Tanda Tanya) rilis tahun 2011 karya Hanung Bramantyo. Yang sudah nonton pasti ingat sub plot tentang Ping Hen (Rio Dewanto) yang memendam cinta pada Menuk (Revalina S. Temat). Di ujung film, SPOILER ALERT lagi, setelah Menuk menjanda, Ping Hen masuk Islam dan mendapatkan cinta lamanya.

Nah, yang terakhir kisah cinta beda agama hadir lewat Cinta Tapi Beda. Saya belum nonton, jadi tak berhak mengulasnya. Namun, kawan yang menulis resensi filmnya di tabloid ini mengatakan di ulasannya, “… tidak mudah melaksanakan pernikahan beda agama. Sistem di Indonesia tidak memberi dukungan pada cinta yang didasari dua Mahacinta. Ini pesan Cinta Tapi Beda. Untuk kita renungkan.”

Yang jelas, filmnya rilis di penghujung 2012, ini artinya setiap tahun sejak 2009 lahir film yang mengangkat tema itu.

Kenyataan ini lebih menarik ditelisik. Kenapa sekarang saban tahun muncul film tentang cinta beda agama?

***

Sesungguhnya, cinta beda agama terbilang sebuah keniscayaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, terdiri atas beragam agama. Kita hidup berdampingan dengan orang beragama lain, tak mungkin rasanya jika sampai tidak terjadi kisah cinta berlatar agama berbeda. Anda mungkin pernah mengalaminya, atau pastilah kenal orang-orang yang mengalaminya.

Sesungguhnya pula, cinta beda agama bisa terjadi di belahan mana saja di dunia ini. Namun, rasanya, di Barat sana hal semacam ini tak menjadi masalah. Beda dengan di Indonesia. Nilai religiusitas dan kekeluargaan yang erat dianut masyarakat kita membuat persoalan cinta beda agama jadi pelik.

Di Barat sana yang individualis boleh saja orangtua membiarkan anaknya berkasih-kasihan dengan yang lain agama karena menganggap itu sebagai hak asasi. Tapi tak demikian halnya di Indonesia. Apalagi bila hubungan beda agama itu hendak berlanjut jadi serius ke pernikahan. Percintaan, apalagi pernikahan di masyarakat kita, bukan semata urusan dua pribadi yang jatuh cinta, tapi urusan dua keluarga.

Pertama niatan sineas melahirkan kisah ini karena sudah saatnya hal tabu itu diangkat ke permukaan, dibicarakan secara terbuka. Yang saya ingat, baik Cin(T)a dan 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta tak mendatangkan kontroversi lantaran mengangkat konfliknya dengan halus: Cin(T)a lewat penuturan bergaya esai, sedang 3 Hati lewat penyelesaian harmonis. ? (Tanda Tanya) mengundang kontroversi lebih kepada tema pluralisme religius yang diangkatnya.

Pun kontroversi terbaru ini, di Cinta Tapi Beda lebih berupa protes pada tokohnya yang digambarkan sebagai orang Minang.

Ini menandakan, meski di luar sana masih ada pro-kontra atas hubungan cinta beda agama, sebetulnya sebagian besar masyarakat relatif memberi kebebasan pada sineas untuk mengangkat tema ini.

Yang tidak setuju, misalnya, pada akhirnya memilih tidak menontonnya. Mereka lebih memilih kisah cinta sejati Habibe dengan Ainun atau semangat nasionalismenya dibakar di puncak Mahameru lewat 5 cm..

Pertanyaannya kemudian, apa kontroversi Cinta Tapi Beda ini akan menghentikan sineas membuat lagi film tentang cinta beda agama?

Saya kok ragu, ya. Sebab, hubungan cinta beda agama adalah bahan baku cemerlang untuk sebuah kisah dramatis khas Indonesia. Dalam hubungan cinta beda agama ada konflik yang menggigit penuh dilema. Di situ, cinta seakan dipertentangkan dengan agama. Ada pula tradisi dan nilai keluarga yang mungkin menentang.

Siapa yang untung? Oh, tentu produser film. Orang-orang yang penasaran jadi kepingin nonton. Apalagi sampai filmnya jadi kontroversi segala. Yuk, ke bioskop sebelum filmnya betulan berhenti tayang….

(ade/ade)

 

Berita Terkait:

Film Cinta Tapi Beda Digugat, Produser Siap MeladeniSejak Muncul Kontroversi, Penonton Cinta Tapi Beda Bertambah Lebih dari 80 RibuFilm Cahaya Kecil Siap DiproduksiKontroversi Film Cinta Tapi Beda, Hanung Bramantyo Meminta Maaf

Komentar   

Jambanizer

habibiainun

Berikan komentar

Article source: http://www.tribunnews.com/2012/12/11/peringatan-hari-anti-korupsi-di-makassar-berujung-bentrok


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Wednesday, July 10, 2013

Kekasih Jadi Mualaf, Winda Viska Mantap Menikah

Kekasih Jadi Mualaf, Winda Viska Mantap Menikah


FOTO


TEMPO.CO, Jakarta -Nada haru dan mata yang berkaca-kaca tidak lepas dari wajah penyanyi jebolan Indonesian Idol, Winda Viska. Hal tersebut dikarenakan ia bercerita tentang bagaimana kekasihnya, Mulyadi Tan berproses menjadi seorang muslim menjelang rencana pernikahan mereka.


Winda mengisahkan proses masuk Islamnya Tan, yang baru saja mengucapkan kalimat syahadat di sebuah mesjid kawasan Pondok Indah, 8 Juli 2013 lalu.


“Dia baru aja mengucapkan syahadat dua hari lalu,” tutur perempuan berusia 29 tahun ini. Diungkapkan Winda, keputusan Tan untuk memeluk Islam tidak dipungkiri karena ia menjalin hubungan dengan Winda dan mereka sudah berencana untuk menikah.


“Enggak dipungkiri ya bisa jadi karena dia kenal aku, tapi selama ini aku gak pernah memaksa dia. Cuma karena aku muslim aku bilang ke dia kalau aku menikah harus dengan yang seagama, kita gak tahu hidayah kan bisa datang dari mana saja, ada yang dari kecil Islam tapi belum tentu kan dapat hidayah,” ujarnya panjang lebar saat ditemui di kawasan Mampang,  Rabu 10 Juli 2013.


Winda takjub dengan proses yang dilalui oleh Tan karena selama proses mengenal Islam pria keturunan Tionghoa tersebut cukup kritis mencari tahu untuk mendalami Islam. Pada hari menjelang Tan mengucapkan syahadat, Winda sempat menahan keberangkatan mereka ke mesjid yang sudah mereka rencanakan.


“Aku niatkan telat dua jam sebelum ke mesjid dari waktu yang sudah dijanjikan. Waktu itu aku minta dia meyakinkan diri, benar atau nggak mau jadi mualaf. Ternyata dia memang sudah yakin,” kata Winda yang merasa bahwa Tan memang menemukan apa yang dicarinya selama ini.


Setelah menjadi muslim nama sang kekasih tidak berubah, “Menurut ustadnya nggak masalah karena namanya dia nggak ada unsur yang mengharuskan dia ganti nama.”


AISHA
Topik Terhangat:

Karya Penemu Muda
| Bursa Capres 2014| Ribut Kabut Asap| Tarif Progresif KRL|Bencana Aceh


Terpopuler:
5 Manfaat Berciuman bagi Kesehatan

Korupsi Simulator, KPK Periksa Lagi Jenderal Nanan

Demi Kebersihan, Kini Ada Urinoir dengan Wastafel

Ini Alasan Kuba Terima Permintaan Suaka Snowden

Pemain Muslim Mengubah Liga Inggris

Simulator SIM, Ini Pertanyaan KPK untuk Nanan


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/635248/kekasih-masuk-islam-winda-viska-menangis


Kekasih Jadi Mualaf, Winda Viska Mantap Menikah

Friday, August 23, 2013

Imam New York: Umat Muslim RI Bisa Hidup Tenang di AS


Shamsi Ali (tengah)





Jakarta – Imam Islamic Center New York Shamsi Ali menyatakan umat muslim Indonesia di AS tidak menjadi korban Islamophobia. Ketakutan berlebih terhadap Islam hanya menimpa pada umat Muslim dari Timur Tengah.

“Kalau orang Indonesia tidak terlalu banyak mengalami aksi kekerasan Islamophobia. Karena stereotipenya muslim itu Arab. Yang mendapat diskriminasi itu ya orang Arab. Dan untunglah wajah saya ini wajah Indonesia,” kata Shamsi mengungkapkan realitas keagamaan di Negeri Paman Sam.


Pria kelahiran Bulukumba, Sulsel, 45 tahun lalu ini berbicara hal tersebut di sela-sela Kongres Diaspora Indonesia II, di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (20/8/2013).


Dia menuturkan, pasca peristiwa pengeboman menara kembar WTC New York, kondisi perpolitikan pun mengarah ke diskriminasi terhadap umat muslim. Namun kini, suasana kehidupan antarumat beragama di AS sudah berangsur cair.


“Secara umum, umat Islam dari Indonesia tidak mengalami banyak tantangan. Realitasnya sangat tenang, baik, menikmati kehidupan demokrasi di sana,” ungkapnya.


Pria yang sudah 17 tahun tinggal di AS ini kini menjadi aktivis kerukunan antarumat beragama di AS. Menurutnya, upaya dialoglah yang harus terus dijalin agar tidak terjadi kesalahpahaman antarumat beragama.


Shamsi mengisahkan pertemuannya dengan salah seorang rabbi Yahudi bernama Marc Schneier. Pada pertemuan pertama, Marc mengaku dirinya tak sudi menatap wajah Shamsi. Ini karena kebenciannya yang mendalam terhadap muslim.


Namun pada 2005 ketika mereka bertemu dalam acara simpatik terkait wafatnya Paus Yohannes II, mereka menjadi akrab. Mereka meninggalkan kebencian masing-masing dan membuat kerjasama mewujudkan gerakan toleransi antarumat beragama.


“Sekarang dia (Schneiner) menjadi pembela pertama jika umat muslim mendapat tentangan,” tuturnya.


Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di “Reportase Sore” pukul 16.30 WIB, hanya di Trans TV


(nik/nrl)









Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Imam New York: Umat Muslim RI Bisa Hidup Tenang di AS

Wednesday, February 5, 2014

DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Assalaamu’alaikum Wr.Wb.


Bismillaahirrahmaanirrahiim,


Dalam satu literatur saya menemukan singkatan dari diet. Disebutnya dalam bahasa inggris “DIET” stands for: Did I Eat That?. Tapi pemahaman diet yang umum adalah mengatur pola makan.


Menurut istriku, adiknya yang kembar Hilma pernah jatuh lemas dan sekujur tubuhnya berkeringat dingin dikarenakan pola “Diet” yang salah, begitu juga saudara kembarnya Hilda sakit perut yang berkepanjangan, bahkan sampai sesak nafasnya. Awalnya dikarenakan pola makan yang tidak teratur.


Memang agar kurus banyak hal yang diupayakan oleh banyak orang, bukan hanya kaum hawa saja tetapi juga banyak juga para pria yang ingin menjaga penampilannya. Dari mulai Atkins diet, Rawfood diet, Food combaining, diet macan, diet mediterania, acai berry dan berbagai nama diet sampai laris manisnya alat-alat penurun berat badan di tv media.


Biayanya pun beragam dari yang murah sampai yang mahal banget. Tapi saya agak ragu apakah metoda dan pola-pola diet itu banyak berhasilnya atau justru lebih banyak gagalnya.


Jika menela’ah kehidupan Rasulullah SAW, beliau jarang sekali sakit. Pola hidupnya sangatlah sehat. Dari mulai pola makan, istirahat, berolahraga dan sebagainya. Dan mungkin saja bisa dibuat metoda Diet syar’i yang mengikuti pola beliau.


Tentu perlu kajian lebih lanjut dikarenakan makanan-makanan yang berbeda jenisnya dengan makanan kita. Namun ada baiknya kita simak bagaimana islam menuntun umatnya, sebagaimana Alloh swt berfirman; “Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah, 2 : 168).


Sesungguhnya pangkal penyakit kebanyakan bersumber dari makanan. Maka tak heran bila Rasulullah memberi perhatian besar dalam masalah ini. Prinsip pertama makanan dan minuman harus halal dan thoyib (baik).


Maksudnya selain masuk kategori halal, maka makanan dan minuman kaum muslimin juga harus bersih dan mengandung kandungan gizi yang cukup. Juga menghindari dari pola makan yang berlebihan. Sebagaimana ayat ; Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf, 7 : 31).


Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” (HR. Ibnu Majah no. 3349 dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah no. 2720).


Al Fudhail bin Iyyadh mengatakan, “Ada dua hal yang menyebabkan hati menjadi beku dan keras yaitu banyak berbicara dan banyak makan.”“Orang beriman itu makan dengan menggunakan satu lambung sedangkan orang yang kafir makan dengan menggunakan tujuh lambung.” (HR. Bukhari no. 5393, dan Muslim no. 2060).


Mengkonsumsi makanan berlebih selain menyebabkan berbagai macam penyakit juga memotivasi keinginan terhadap dunia yang berlebih. Menurut kajian tasawuf sumber malapetaka yang menimpa manusia itu disebabkan oleh kerakusan terhadap dunia, yang memotivasinya adalah perut dan alat kelamin.


Syahwat kelamin berkaitan dengan perut yang kekenyangan, sedang lapar adalah satu sarana menutup pintu kebinasaan. Ilmu tidak akan masuk kedalam perut yang terisi penuh makanan, banyak makan, banyak minum dan banyak tidur.


Nabi selalu mengambil makanan yang terdekat, memberikan keteladanan kepada orang yang beriman agar tidak diperkenankan “rakus” dan serakah dalam soal makanan.


Rasul lebih sering makan Nabati meski juga memakan daging tapi sesekali saja dan tidak banyak. Daging yang disukai nabi adalah daging yang mudah dicerna yaitu daging bagian lengan. Makanan favorit Rasul adalah labu.


Dari Anas bin Malik mengisahkan, “Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah SAW untuk menikmati hidangan makan yang disajikannya. Maka aku mendatangi undangan makan itu bersama Rasulullah. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah roti gandum serta kuah berisi labu dan daging. Lalu aku melihat Rasulullah menjumputi labu dari pinggiran pinggan. Maka sejak hari itu aku selalu menyukai labu.”(HR Bukhari).
 
Berikut secara ringkas pola sehat kebiasaan Rasulullah SAW. Beliau bangun di sepertiga malam sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Rasulullah SAW juga biasa bersiwak.


Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka sungguh aku sudah memerintahkan mereka Untuk bersiwak (sikat gigi) setiap kali berwudlu” (HR.Malik, Ahmad, dan Nasai dan dinilai Shohih oleh Ibnu Khuzaimah).


Menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan madu. Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan hadits dari Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda.“Artinya : Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”.


Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibnu Al Barra’, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun tersebut.


Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah Khol (cuka) adalah sejenis cairan. Jika kurma dimasukkan ke dalamnya, cairan tersebut akan terasa manis sehingga bisa diminum,dan minyak zaitun dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti gandum. Manfaatnya banyak sekali, di antara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan.
 
Di malam hari, menu utama makan malam adalah sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Sayyidina Umar ra, berkata : Jangan kau jadikan perutmu sebagai binatang ternak. Maka makanan Komposisi terbaik adalah : 10 % Hewani, 60 % biji-bijian, 30 % Sayuran dan buah.


Nabi makan dari berbagai makanan karena sesungguhnya bila makanan yang satu panas akan dipadamkan oleh makanan lain yang dingin. Sebagaimana hadist dari Abdullah bin Ja’far ra, ia menceritakan, bahwasanya ia melihat Rasulullah SAW menyantap kurma dengan mentimun. (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas seperti sholat terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna. Nabi bersabda: “Hancurkan makanmu dengan dzikir dan shalat serta Janganlah tidur setelah makan maka hatimu menjadi keras.” (HR. Ibnu Sunni, Thabrani dan Baihaqi).


Dengan pola seperti itu belum lagi ditambah, pengelolaan hati yang sempurna seperti tidak mudah marah, tidak terganggu stress, selalu berbaik sangka, selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan, jika sakit minum obat-obatan herbal, seperti habbats, madu, juz kurma, dan banyak lagi faktor yang membuat Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa pola hidup sehat adalah pola hidup islami.


Karenanya diet syar’i menjadi salah satu persyaratan dari sekian banyak persyaratan agar menjadi sehat yang terintegrasi. Bukan hanya jasadnya saja tetapi juga sekaligus sehat secara ruhiyah. Semoga duo kembar Hilda dan Hilma, juga kita semua dapat mengambil hikmah diet syar’i ‘ala sunnah ini. Insya Allah.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/opinion/2012/08/24/apa-aku-peduli/


DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW