Showing posts sorted by relevance for query buku. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query buku. Sort by date Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menegaskan bahwa impor buku ilmu pengetahuan bebas dari bea masuk (BM) dan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) serta dikecualikan dari pemungutan pajak penghasilan (PPh) pasal 22. Dirjen Bea dan Cukai (BC) Agung Kuswandono melalui Surat Edaran Nomor SE-16/BC/2013 tentang Penegasan Pelayanan Importasi Buku Ilmu Pengetahuan, yang diperoleh di Jakarta, Kamis (14/11) menyebutkan pembebasan tersebut berlaku juga untuk buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.


Dirjen BC merinci, pembebasan BM diberikan terhadap impor buku ilmu pengetahuan yang meliputi buku ilmu pengetahuan dan teknologi, buku pelajaran umum, kitab suci, buku pelajaran agama dan buku ilmu pengetahuan lainnya. Dikecualikan dari buku yang diberikan pembebasan BM sebagaiamana tersebut di atas, meliputi buku hiburan, buku roman populer, buku sulap, buku iklan, buku promosi suatu usaha, buku katalog di luar keperluan pendidikan, buku karikatur, buku horoskop, buku horor, buku komik dan buku reproduksi lukisan.


Terhadap impor buku ilmu pengetahuan seperti tersebut di atas, diberikan pembebasan BM tanpa perlu mendapatkan persetujuan pemberian pembebasan BM dari Menteri Keuangan atau pejabat yang ditunjuk. Sementara terhadap impor buku-buku yang dikecualikan dari pembebasan BM, dipungut BM sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012.


Orang pribadi atau badan yang melakukan impor buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, untuk memperoleh pembebasan dari pengenaan PPN tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. Buku-buku pelajaran umum seperti tersebut di atas merupakan buku-buku fiksi dan nonfiksi untuk meningkatkan pendidikan dan kecerdasan bangsa, yang merupakan buku-buku pelajaran pokok, penunjang dan kepustakaan.


Sementara kitab suci yang dimaksud adalah kitab suci agama Islam meliputi kitab suci Alquran termasuk tafsir dan terjemahnya bauk secara keseluruhan maupun sebagian, dan Juz Amma. Kitab suci agama Kristen Protestan meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Katolik yang meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian.


Kitab suci agama Hindu meliputi Weda, Smerti dan Sruti, Unpanisad, Itihsa, Purnama, termasuk tafsir dan terjemahannya baik secara keseluruhan maupun sebagian. Kitab suci agama Budha meliptui Tripitaka termasuk tafsir dan terjemahannya baik keseluruhan maupun sebagian. Juga kitab suci lainnya yang telah ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang agama atau pejabat lain yang ditunjuk.


Impor barang berupa buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama yang dibebaskan dari pungutan BM dan PPN, tidak dipungut pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 dan tidak diwajibkan memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. “Terhadap impor buku ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya buku pelajaran umum, kitab suci dan buku pelajaran agama, ditegaskan kembali bahwa tidak ada pugutan apapun terkait BM, PPN dan PPh Pasal 22,” tegas Agung.


Article source: http://www.republika.co.id/berita


Impor Buku Ilmu Pengetahuan Bebas Bea Masuk

Thursday, February 21, 2013

Puluhan Buku Agama Diduga Sesat

PADANG–Puluhan buku pelajaran agama sekolah dasar (SD) memuat ajaran Syiah ditemukan di salah satu sekolah di Kota Solok. Buku-buku Syiah itu diduga juga beredar luas di Sumbar.

Peredaran buku-buku Syiah itu terungkap dalam investigasi Forum Libas Sumbar, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Padang, Paga Nagari Sumbar, Komite Penegakan Syariat Islam (KSPI) Sumbar, dan Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) Sumbar.

Dari hasil investigasi, forum ormas Islam ini mengklaim beberapa buku pendidikan agama itu bertentangan dengan syariat Islam. Salah satunya ditemukan di SDN 07 di Kelurahan KTK, Kecamatan Lubuksikarah, Kota Solok.

“Sebagai bukti, buku-buku itu diserahkan langsung oleh Kepala SDN 07 Zuhermi didampingi Kabid Dikdas Solok Yenizal kepada tim investigasi. Jumlahnya ada 19 buah buku,” ujar Ketua Umum MTKAAM Sumbar, Irfianda Abidin di redaksi Padang Ekspres (Grup JPNN), Rabu (20/2).

Ikut bersama rombongan Khairul Amri dari Forum Libas Sumbar, Jawahir dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Padang, Ibnu Agil D Ghani dari Paga Nagari Sumbar, Novendri dari Komite Penegakan Syariat Islam (KSPI) Sumbar dan Yoldinal dari An-Nabawi Syariah Hotel. Rombongan tersebut disambut Koordinator Liputan Sanny Ardhy dan awak redaksi.

Irfianda Abidin menjelaskan, buku-buku agama itu diadakan melalui dana alokasi khusus (DAK) Dinas Pendidikan Solok tahun 2010. “Sebelumnya buku ini kami dapatkan di Yogya. Setelah kami dalami ternyata buku ini memuat tentang ajaran Syiah,” tandas Irfianda.

Irfianda membeberkan beberapa kejanggalan dalam buku tersebut. Pertama, menyatakan penganut di luar ajaran mereka kafir. Kedua, penganut di luar ajaran Syiah masuk neraka. Ketiga, penganut ajaran Syiah juga mengkafirkan sahabat nabi, salah satunya Umar Bin Khatab.

“Kalau menganggap ajaran di luar mereka masuk neraka, berarti kita umat Islam di Sumbar ini termasuk yang masuk neraka,” tukas Irfianda.

Buku itu beredar sejak tahun 2010 dari DAK kepada 26 SD di Solok, bersamaan dengan pekerjaan fisik tahun 2010. “Buku itu diserahkan bersamaan dengan pembangunan sekolah yang masuk alokasi DAK tahun 2010 di Solok. Buku itu diserahkan oleh kontraktornya,” terang Irfianda. 

Dia menegaskan, buku-buku tersebut dapat merusak akidah generasi muda karena telah diedarkan di tingkat sekolah dasar. “Ini bukan masalah sepele. Anak-anak SD mudah menerima hal yang baru, sehingga dikhawatirkan terjadi perlawanan terhadap penganut Sunni ketika mereka dewasa nanti. Jangan sampai nanti kita di Sumbar terpecah belah,” kata Irfianda diamini yang lain.

Dia meminta pertanggungjawaban Menteri Agama karena buku tersebut diterbitkan berdasarkan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam No. Dj.I/375/2009. Selain itu Menteri  Pendidikan juga harus bertanggung jawab karena mengalokasikan hal itu dalam DAK Dinas Pendidikan.

Adapun buku-buku itu diterbitkan oleh Trisula Adisakti, Cahaya dan Qorina. Di antaranya berjudul Qalbun Salim, Sejarah Fathimah Az-Zahra, Wanita-wanita Pilihan, Dosa-dosa Besar, dan Kisah Ajaib.

Ibnu Agil D Ghani mengkhawatirkan peredaran buku-buku pendidikan agama berisi ajaran Syiah itu meluas di Sumbar. “Kita curigai peredaran buku ini marak di Sumbar. Kita minta buku itu ditarik segera karena dapat mengacaukan akidah,” tegas Ibnu Agil yang juga Ketua Paga Nagari Sumbar.

Dosen Fiqih Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang, Zulkarnaini mengingatkan agar tidak menggeneralisir ajaran Syiah. Sebab, ajaran Syiah juga terdiri dari berbagai macam tingkatan. Ada ajaran Syiah moderat, ekstrem dan yang cenderung masuk ajaran Sunni.

“Bisa dinyatakan sesat ketika ajaran Syiah itu bertentangan dengan akidah. Kalau akidahnya sudah berlainan, misalnya menyatakan sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib sebagai Tuhan dan layak menjadi nabi, atau menganggap salah satu khalifah seperti Umar Bin Khatab, Abu Bakar Siddiq, dan Usman Bin Affan, itu bisa dikatakan sesat,” tukasnya.

Terhadap peredaran buku-buku pendidikan agama yang diduga terafiliasi dengan ajaran Syiah yang sesat itu, Zulkarnaini setuju jika buku-buku pendidikan agama itu ditarik dari peredarannya.

“Jika memang buku-buku itu berisi ajaran Syiah yang bertentangan dengan akidah maka sepantasnya buku itu ditarik,” tegas Ketua MUI Kabupaten Solok itu. (bis)

Article source: http://news.okezone.com/read/2012/07/09/58/660579/partai-islam-dan-partai-islami


Puluhan Buku Agama Diduga Sesat

Tuesday, July 16, 2013

Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Ujian Nasional tidak serentak atau gedung sekolah rusak hanyalah sekelumit kisah sedih wajah pendidikan negeri ini. Yang lebih bobrok lagi, buku pelajaran sekolah memuat cerita-cerita pornografi. Mau jadi apa generasi muda Indonesia?


Dalam pepatah Jawa mengatakan guru itu akronim kata dari ‘digugu lan ditiru’ (diikuti perintahnya, dicontoh setiap tindakannya). Di peribahasa Indonesia, ada juga ungkapan ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Artinya kurang lebihnya berkaitan dengan pemimpin–di sini digambarkan seorang guru– harus bisa memberi teladan kepada bawahan–seorang murid.


Ironisnya, beberpa waktu terakhir pendidik di Indonesia menunjukkan kelalaian fatal. Ini terbukti dengan beredarnya buku-buku pelajaran sekolah yang berbau pronografi.


Buku penunjang siswa kelas VI SD Negeri Polisi 4 di Bogor mislanya, jelas bermuatan pornografi. Buku terbitan CV Graphia Buana itu memuat kisah Anak Gembala dan Induk Serigala yang bertutur tentang perempuan hamil korban pemerkosaan dan kemudian berjuang di warung remang-remang demi menghidupi anaknya. Pertanyaannya: moralitas apa yang hendak diajarkan dari cerita ini?


Kisah itu, apalagi dibumbui adegan seks dengan menggunakan bahasa orang dewasa, tidaklah pantas sekaligus berbahaya jika disuguhkan untuk siswa. Ahli bedah otak asal Amerika Serikat, Dr Donald Hilton Jr., bahkan meyakini pornografi dapat merusak prefrontal cortex di otak anak. Kerusakan ini membuat anak tak mampu mengendalikan nafsu dan emosi serta mengambil keputusan.


Fakta bahwa cerita Anak Gembala diunggah begitu saja dari blog seorang penulis cerpen juga menggambarkan betapa buku itu dibikin secara asal-asalan. Penerbit yang telah mencetak buku tersebut sebanyak 10 ribu eksemplar terkesan memburu keuntungan bisnis semata.


Munculnya kisah tak mendidik dalam buku siswa bukanlah yang pertama. Di banyak daerah, cerita atau gambar porno dan kisah tak pantas juga kerap terselip dalam buku siswa. Setahun lalu, misalnya, kisah Bang Maman dari Kali Pasir membikin geger publik Jakarta. Cerita tentang tokoh lokal yang memiliki istri simpanan itu masuk buku penunjang siswa kelas II SD 9 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.


Adalah Hana (8), siswa SD Angkasa IX, Halim, bertanya pada ibunya, Intan. “Bu, istri simpanan itu apa?” Hal itu membuat Intan terperanjat. Dia terpaksa harus sedikit berbohong untuk menjawab pertanyaan itu. Intan lantas mengalihkan perhatian anaknya.


Ternyata, pertanyaan Hana berasal dari buku LKS yang dia baca. Kisah tersebut ada di dalam lembar kerja siswa (LKS) tentang Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Meski dalam teks kisah ada istilah istri simpanan, namun istilah itu tak muncul dalam soal-soal yang ada.


Buku ini diterbitkan oleh CV Media Kreasi dan terletak pada bab 11. Sebagian artikelnya berisi: “… Akhirnya Bang Maman meminta bantuan kepada Patme supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim …”


Setelah ramai jadi perbincangan, buku tersebut langsung ditarik. Sekolah yang sudah memberikan buku ke siswa pun langsung bereaksi dengan mengambil buku.


Buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) untuk SD di Pekanbaru juga  diprotes orangtua siswa. Buku tersebut dinilai terlalu vulgar dalam membahas alat kelamin.


Buku setebal 142 halaman tersebut Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Bagian sampul bergambar dua bocah tengah bermain bola.


Para ortu siswa menilai buku itu tak layak dibaca anak-anak. Dalam bagian bertopik “Menjaga Alat Kebersihan Reproduksi” muncul pertanyaan-pertanyaan di antaranya “Apa nama alat kelamin pria?”, “Apa nama alat kelamin wanita?” “Sperma dikeluarkan alat kelamin apa?” “Jika pria dan wanita berhubungan, reaksi apa yang terjadi pada wanita?”


Informasi yang dihimpun, buku yang ditulis oleh Dadan Heriana dan Giru Ferianti ini diedarkan Dinas Pendidikan Pemkot Pekanbaru.


Ada juga buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Inggris kelas 3 SMP diselip foto Miyabi alias Maria Ozawa. Meski kondisi fotonya tak bugil, namun foto bintang porno asal Jepang ini ramai dibicarakan.


Foto Miyabi muncul di halaman 36 di antara beberapa foto artis Indonesia dan foto fauna. Pada sampul LKS, tim penyusun bernama Giyono, Sumantri dan Jalil. Sementara penerbitnya adalah CV Sinar Mulia Mojosari, Mojokerto.


Beberapa orangtua siswa kelas 3 SMP Islam Brawijaya yang menyayangkan buku LKS Bahasa Inggris terdapat foto bintang porno Maria Ozawa atau Miyabi. Mereka meminta Dinas Pendidikan untuk menarik peredaran buku tersebut. Benar saja, buku itu langsung ditarik dan sebagian di antaranya dibakar.


Penistaan Agama


Ada juga buku pelajaran yang mengarah ke penistaan agama. Ditemukan buku yang memuat gambar Nabi Muhammad ini ditemukan salah satu siswa SD di Solo. Setelah melihat ada ilustrasi gambar Nabi Muhammad dalam buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolahan, siswa tersebut lalu melaporkan kepada orangtuanya.


Buku kontroversial itu diterbitkan Nobel Edumedia dan berisi kehidupan masa kecil 11 nabi. Di bagian akhir yaitu halaman 43 hingga 48 mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad SAW. Pada bagian ini terdapat lima ilustrasi gambar yang menggambarkan kehidupan masa kecil hingga masa remaja Nabi Muhammad.


Dari lima gambar itu, terdapat empat gambar yang menunjukkan sosok Nabi Muhammad. Gambar di halaman 43 terdapat gambar bayi sedang digendong seorang perempuan, yang mengilustrasikan masa bayi Nabi Muhammad di gendongan ibunya. Di depan gambar bayi diberi tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab.


Di halaman 44 nampak gambar anak lelaki kecil menggembala kambing, yang menunjukkan masa kecil Nabi Muhammad ketika dalam asuhan Halimah Tusa’diyah. Gambar utuh itu lalu ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, namun masih kelihatan jelas bagian dari seluruh rambut, jidat, mata, hingga bagian hidung. Sedangkan di bagian bawah terlihat jelas jubahnya.


Gambar halaman 46, menunjukkan seorang lelaki kecil di antara dua lelaki dewasa yang merupakan ilustrasi peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dua malaikat di perkampungan Bani Sa’d. Dalam gambar itu gambar lelaki kecil ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab ukuran besar di bagian atas namun masih terlihat jelas bagian kedua kakinya.


Gambar yang terdapat di halaman 48 adalah ilustrasi ketika Nabi Muhammad bertemu Buhairah, seorang pendeta ahli kitab yang sedang membuktikan tanda-tanda kenabian dalam diri Nabi Muhammad. Pada gambar itu di bagian kepala ditimpa tulisan ‘Muhammad’ dalam huruf Arab, sedangkan di bagian badan tetap terlihat utuh.


Kementerian Agama langsung bereaksi keras dan menarik buku dari peredaran. Menurut Menag Suryadharma Ali, Nabi Muhammad SAW tak bisa diilustrasikan dengan gambar apapun. Itu adalah materi sensitif yang bisa menimbulkan keresahan umat Islam.


Sementara, Lembar kerja siswa (LKS) di Kota Mojokerto kembali menjadi sorotan. Belum lama beredar LKS bergambar Miyabi, kali ini LKS Agama Islam tingkat SMP terdapat materi keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan fiqih.


Kesalahan buku itu terdapat pada pendefinisian salat jumat dan salat jenazah. Pada LKS ini, kedua salat itu hukumnya sunah, bukan fardu ain dan fardu kifayah atau salat wajib. Beberapa kesalahan konten tersebut dianggap tidak sesuai dengan kaidah fiqih.


“Beberapa konten yang diajarkan kami anggap itu menyesatkan,” ungkap Riha Mustofa, guru agama SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto. Pihak MUI pun sepakat buku itu harus segera diluruskan dan ditarik dari peredaran.


Kepala Sekolah SDN 155 Syafri Effendi membenarkan adanya buku tersebut. Informasi itu diterima setelah seorang orangtua siswa protes dan menganggap bahasanya tidak layak dibaca siswa SD. “Namun sekarang kami menarik buku tersebut. Kami menilai secara psikologi memang belum layak materi dan bahasanya untuk anak SD,” kata Effendi.ins


Sanksi ke Penerbit Lemah


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui jika pemerintah belum mampu memberikan sanksi tegas kepada penerbit buku pelajaran yang nakal. Menurut Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Ramon Mohandas inilah yang menyebabkan penerbit nakal tak jera memasukan materi yang tak sesuai dengan pelajaran.


“Kami akui, hukuman buat penerbit nakal masih lemah,” kata Ramon. Pernyataan Ramon ini menanggapi keluhan beradarnya buku pelajaran bermuatan materi porno di mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas VI yang digunakan oleh sejumlah SDN di Kota Bogor.


Ramon menuturkan sudah melihat cerita yang dimaksud. Dia mengatakan buku tersebut bukan buku resmi yang diwajibkan melainkan buku pengayaan. Buku itu melewati proses penilaian layak atau tidak.


 “Jadi penerbit langsung ke sekolah-sekolah terus mengiming-imingi sejumlah kompensasi,” ucap Ramon. Mestinya, ucap dia, para guru memperhatikan konten isi dulu sebelum sepakat untuk menggunakan.


Ramon mengatakan, ke depan perlu ada sanksi yang tegas untuk penerbit nakal agar menimbulkan efek jera. Menurut dia, DPR RI saat ini sedang menggodok Rancangan Undang Undang Perbukuan yang salah satu isinya tentang sanksi terhadap penerbit nakal.


Untuk Kurikulum Pendidikan 2013, Ramon menuturkan semua buku berasal dari pusat. Sekolah boleh menyediakan buku pengaya asal isinya lebih baik dibanding buku induk. “Buku induk itu hanya standar minimum,” ucap Ramon. Buku pengayaan itu harus melewati penilaian di dinas pendidikan setempat.ins




Pornografi di Buku Anak, Tragedi!

Wednesday, December 12, 2012

Angelina Sondakh diberi buku agama oleh Brotoseno

Selama menjalani masa tahanan di rutan Pondok Bambu, Angelina Sondakh lebih tekun mempelajari agama Islam yang belum lama ini dipeluknya. Tapi Angie sedikit malu-malu menyebut orang yang sering memberikan buku-buku pelajaran tentang Islam.

Saat ditemui di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012), Angie hanya mengatakan ada yang memberinya buku. “Aku suka dikasih buku kultum sama teman untuk setahun,” kata Angie.

Lantaran sang pengacara menimpali dan menyebut nama Broto, Angie pun mengaku jika buku tersebut dari dia. “Hehehehe, iya dikasih mas Broto. Dia ngasihnya Rasullallah Wanikmatwakil,” lanjut Angie.

Selain Brotoseno, Angie mengaku banyak juga yang memberikannya buku-buku doa untuk dipelajarinya. “Mas Broto sengaja bawa. Selain dia, aku banyak sekali dikasih buku, jadi banyak yang kasih doa dan wirid, amalan untuk masuk surga. Alhamdulillah banyak yang saya pelajari di dalam rutan,” katanya.

Beruntung bagi Angie ketemu dengan Neneng Sri Wuhyuni, Neneng mengajarkan bagaimana membaca Al-Qur’an. “Di rutan KPK alhamdulillah ketemu Neneng yang ajarin saya Iqro, di rutan Pondok Bambu itu ajarin ngaji, dan puasa, saling mengingatkan. Aku banyak belajar yang tadinya enggak tahu,” tandasnya. (kpl/hen/abs/faj)

Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/polah/60110-merry-putrian-belajar-agama-demi-anak.html


Angelina Sondakh diberi buku agama oleh Brotoseno

Tuesday, January 7, 2014

Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Akhlaknya yang bagus membuat keluarganya tertarik pada Islam.


Perempuan yang menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya ini mengenakan jilbab dan sangat ramah. Ibadah shalatnya pun bisa dibilang rajin.


Tak banyak yang tahu, perempuan berusia 50 tahun bernama Indriana Purnamawati itu lahir dan dibesarkan bukan oleh keluarga Islam. Masa kecilnya dipenuhi dengan kehidupan keluarga yang taat pada ajaran Katolik.


Namun, rasa ingin tahunya yang besar merintis jalannya untuk mengenal Islam, hingga akhirnya muncul keinginan kuat untuk menjadi Muslimah.


Perempuan yang akrab disapa Nina ini terlahir sebagai Katolik. Sejak TK hingga SMP, ia selalu mengenyam pendidikan di sekolah Katolik.


Ketika duduk di bangku SMA, ia bersekolah di SMA negeri. Saat itu, matanya terbuka, ternyata ia hidup menjadi minoritas di antara banyak kawannya yang Muslim.


Saat menghadapi syok karena melihat kebiasaan baru agama lain, ia banyak penasaran. Misalnya, ia melihat ada temannya yang membawa mukena ke sekolah dan mengetahui apa saja ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. “Saya dulu melihat, kok Islam itu ribet banget, ya,” ujarnya kepada Republika, pekan lalu.


Ia juga dekat dengan lelaki Muslim, yang kemudian menjadi kekasihnya kala itu. Pria ini selalu menggiringnya agar ia masuk menjadi Muslimah. “Saya tidak suka dengan cara seperti ini sehingga saat itu saya jadi benci setengah mati dengan Islam,” katanya.


Namun, saat duduk di kelas dua SMA, ia justru mulai tertarik dengan Islam. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya banyak belajar hal baru dan informasi-informasi mengenai Islam. “Bahkan, saya iseng-iseng ikut pelajaran agama Islam juga,” ujarnya.


Saat itu, ketika datang waktu ulangan pelajaran agama Islam, ia harus mencontek juga belajar menghafal mati-matian agar tidak terlalu jelek nilainya.


Ketika masa kuliah, ia semakin dekat dengan Islam. Teman kos sekamarnya Muslim yang taat dan banyak mempunyai buku agama yang menarik perhatiannya. “Awalnya ngumpet-ngumpet baca buku agama teman saya ini dan lama-lama tertarik,” kata Nina.


Banyak pengetahuan baru yang didapatnya ketika mempelajari Islam. Salah satunya adalah kenyataan Allah itu bersifat esa dan tidak diperanakkan.


Setelah banyak membaca buku agama  Islam, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia akhirnya berani membuka Alquran yang di dalamnya ada terjemahannya. “Melihat bahasanya, saya nggak ngerti sama sekali,” ujarnya.


Namun,  ia tidak menyerah. Ia terus membuka Alquran dan membaca buku-buku agama. Melalui proses yang panjang,


Nina akhirnya merasakan mendapatkan hidayah. Hingga ia minta diajarkan shalat oleh teman. Pada 1983, ia akhirnya mantap mengucapkan syahadat di depan teman-teman juga ustaz yang membimbingnya.


Awalnya, Nina menyembunyikan identitas barunya sebagai Muslimah apalagi di depan keluarga. Karena, ia tahu keluarganya adalah penganut Katolik yang taat.


Suatu hari, keluarganya akhirnya mengetahui juga. Saat itu, orang tuanya melihat ia sedang shalat. Ia pun kemudian dimarahi habis-habisan oleh bapaknya. “Saat dimarahi itu, saya ya diam saja terus,” katanya.


Ia mencari pembelaan kepada kakaknya yang telah menjadi mualaf juga karena menikah dengan orang Islam. Namun, ia kecewa karena kakaknya sama sekali tidak tahu tentang esensi Islam dan tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.


Kakaknya ini hanya ikut-ikutan shalat seperti pasangannya, namun tidak mengetahui ilmu-ilmu agama Islam. “Berbeda dengan saya. Kalau saya mempelajari dulu, tahu ilmunya, baru belajar shalat dan memutuskan masuk Islam,” ujar Nina.


Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginan sendiri.


Sebelumnya, ia banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun dan bukan sekadar ikut-ikutan.


Setelah masuk Islam, ia merasa banyak perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam.


Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. “Saya selalu merasa disayang Allah,” kata Nina.


Ia merasa seperti terlahir kembali setelah masuk Islam tersebut. Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman baginya. Meski begitu, ia tetap menghormati orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan sendiri-sendiri.


Ketika lama tak bertemu kawan lama, banyak yang kaget melihat penampilannya sekarang apalagi sekarang ia mengenakan jilbab. “Tapi, alhamdulillah hubungan kami tetap baik, hubungan sosial tetap terjaga, apa pun kepercayaan yang kamu anut,” ujarnya.


Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia selalu diam, tak membantah ataupun balas membentak orang tuanya.


Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. Bahkan, semakin hari akhlaknya kian bagus. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam.


“Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung ngebut belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat, sudah mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meregang nyawa,” kata Nina.


Article source: http://hot.detik.com/read/2011/04/08/140904/1611824/230/aniesa-amalia-langganan-peran-komedi?880006fa


Indriana Purnamawati, Terlahir Kembali dengan Islam

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Thursday, September 26, 2013

Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

— Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Gatot S. Dewa Broto kepada VOA mengaku belum mendapat laporan soal peredaran buku-buku berpaham radikal melalui dunia maya.


“Kalo yang muncul di scribd.com itu kami belum mengetahui. Kami butuh bantuan dari siapapun tidak hanya dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau dari Mabes Polri, masyarakat bisa melaporkannya kepada kami melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id. Pengiriman melalui email ini dimaksudkan untuk memudahkan. url nya kan lengkap. Tinggal klik. Nanti kami verifikasi,” kata Gatot S. Dewa Broto.



Gatot menambahkan, Kementrian Kominfo mempunyai keterbatasan untuk memantau seluruh materi yang ada di web site. Untuk itu, perlu adanya partisipasi masyarakat agar secara pro aktif melaporkan hal ini ke Kementrian Kominfo. Sejak 2010 hingga 2011 Kementrian Kominfo telah melakukan penghapusan situs-situs yang masuk kategori radikal. 



“Sudah sudah cukup banyak. Tapi tidak seperti pada 2010 – 2011 yang mencapai sekitar 200an situs radikal yang kami tutup. Kalau sekarang ini di 2012 sampai 2013 naik turun,” kata Gatot. “Belum lama ini pun ada pengaduan terhadap situs yang disitu memuat metode cara penggunaan bom. Kalo penggunaan bom mungkin bisa juga untuk keperluan pertambangan dan lain sebagainya. Cuma yang jadi persoalan disitu ada embel-embel untuk radikalisme. Sehingga dalam hitungan berapa jam sudah bisa kita tutup,” lanjutnya.



Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie memastikan Polri terus berupaya untuk mengungkap aksi propaganda kelompok teror melalui internet. Polri tambah Ronny juga telah berkoordinasi dengan BNPT untuk menangkap para pelaku.



Sementara itu, Kepala BNPT, Ansyaad Mbay mengatakan selain situs internet, kelompok teroris di Indonesia sudah mulai merambah jejaring sosial seperti twitter dan facebook untuk menyebarkan aktifitas mereka.



“Iya mereka belajar bikin bom juga ‘ga usah ke hutan. Lewat internet saja melalui situs-situs berpaham radikal. Termasuk di facebook twitter juga yang mulai dirambah oleh mereka,” jelas Ansyaad Mbay.



Pengamat teroris Al Chaidar memastikan penyebaran paham radikal memang sangat efektif dilakukan di dunia maya. Forum Islam al Busyro menurutnya yang paling aktif menyebarkan paham radikal melalui internet.



“Sangat efektif itu. mereka kan sekarang menyebar secara lebih massif. Jadi mereka cenderung untuk tidak melakukan pertemuan fisik. Dan internet adalah jalur yang paling aman,” kata Al Chaidar. “Memang ada itu pengajian Forum Islam al Busyro. Mereka sangat aktif menyebarkan informasi atau hasil-hasil kajian atau fatwa dari ulama-ulama mereka. Saya sudah mendownload Perang Gerilya Kota dan saya lihat memang adalah karateristik dari kelompok-kelompok itu,” lanjutnya.



Sementara itu pengamat intelijen Wawan Purwanto menekankan adanya komunikasi dua arah antar kelompok masyarakat hingga di lapisan terbawah. Sehingga aparat keamanan bisa mendeteksi secara dini munculnya kelompok-kelompok teroris. 



“Sekarang ini di dunia maya ‘kan tidak ada yang memfilter, kecuali itu diblok oleh lembaga yang berwenang seperti Kominfo. Hanya persoalannya kalau toh itu di blok kan mereka bisa mendapat dari sumber-sumber lain,” kata Wawan Purwanto. “Yang utama adalah adanya komunikasi timbale balik yang baik antar elemen yang ada di masyarakat baik yang radikal maupun moderat. Sehingga bisa diketahui mana titik-titik yang berbahaya, mana yang sudah terpengaruh dan mana yang masih abu-abu,” lanjutnya.



Sebuah buku berjudul “Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan” beredar di Internet melalui scribd.com. Dari penelusuran VOA, dokumen itu diunggah oleh seseorang dengan akun Syarief Ramzan Saluev setebal lebih dari 100 halaman. Buku ini berisi anjuran untuk melakukan serangan terhadap obyek vital pemerintah di perkotaan. Selain itu, ada banyak dalil dan ayat Al Quran yang dikutip untuk memberikan pembenaran pada rencana dan aksi teror mereka.



Buku lain yang beredar di internet adalah ‘Kursus Peledakan’ yang ditulis oleh Abu Khabbab al Misri dan diterjemahkan oleh “Forum Islam al-Busyro”. Buku setebal hampir 200-an halaman ini menjelaskan soal tekhnik pembuatan bom baik berskala ledak rendah ataupun yang berdaya ledak besar. Dijelaskan pula dalam buku itu, bahan apa saja yang dibutuhkan serta petunjuk teknis perakitan secara mendetail.



Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/06/18/177455/Mualaf-Ahmadiyah-Dijamin-Pusat-


Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

Wednesday, April 3, 2013

“Mengkristenkan Jawa”

Home Catatan Akhir Pekan


Catatan Akhir Pekan ke-358

“Mengkristenkan Jawa”


 

Dengan bantuan kolonial dan strategi pre-evangelisation, misi Kristen di Jawa meningkat tajam


Kamis, 04 April 2013

Oleh: Dr. Adian Husaini

”Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen”. Itulah judul buku karya Muhammad Isa Anshary, alumnus Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buku terbitan Pustaka Lir-Ilir, Surakarta, tahun 2013, ini diangkat dari Tesis penulis di Universitas yang sama. Karena kajiannya yang mendalam dan komprehensif, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan penting dalam studi Misi Kristen di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa.

Studi yang dilakukan Muhammad Isa Anshory melengkapi studi sejenis yang pernah dilakukan oleh Aqib Suminto, Deliar Noer, Alwi Shihab, dan sebagainya. Studi ini juga menguatkan kesimpulan para peneliti sebelumnya, bahwa pemerintah penjajah Belanda secara sistematis membantu kegiatan misi Kristen di Indonesia. Disimpulkan: ”Melihat praktiknya, politik etis sebenarnya adalah upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengkristenkan atau membaratkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.”

Catatan Akhir Pekan (CAP) kali ini sepenuhnya didasarkan pada data yang disajikan dalam buku ”Mengkristenkan Jawa” tersebut. Untuk bahan-bahan referensi lebih lanjut, pembaca dipersilakan merujuk langsung pada buku tersebut.

Hasil kajian Isa Anshory ini menunjukkan, bahwa laju penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda (Indonesia) sangat terkait erat dengan perkembangan politik kolonial. Awal abad ke-20 ditandai dengan peningkatan kegiatan misi Kristen. Pidato Ratu Wihelmina (1901) lebih menegaskan sikap terhadap kebijakan mendukung kegiatan misi Kristen yang telah berjalan.

Politik etis dilaksanakan pada masa kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia dan saat umat Islam mengalami kebangkitan. Arus Kristenisasi mencapai puncaknya saat Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen Anti-Revolusioner, menduduki kursi Perdana Menteri Belanda pada 1901. Banyak anggota Parlemen Belanda menuntut agar pemerintah membatasi pengaruh Islam di Indonesia. Van Baylant, misalnya, memperingatkan pemerintah akan seriusnya bahaya penyebaran Islam dan menuntut ditingkatkannya misi Kristen. Sementara itu, W.H. Bogat meluncurkan kampanye anti-Islam yang keras dan menuduh agama ini sebagai penyebab ”kurang bermoralnya” masyarakat.”

Diangkatnya Alexander Willem Frederik Idenburg sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916) lebih menguatkian arus Kristenisasi. Setelah tahun 1909, kelompok misi Kristen dengan cepat meluaskan kegiatan mereka di kepulauan Indonesia. Gerakan misi Kristen beroperasi dalam ruang lingkup yang luas untuk pembangunan kesejahteraan dan ekonomi. Pembatasan jumlah dan tempat misi dihapuskan, sehingga daerah baru di kepulauan ini pun terbuka bagi kegiatan misi Kristen. Idenburg menjadikan Kristenisasi sebagai tugas politik utama pemerintahannya.

Di hadapan Tweede Kamer, dia mengucapkan: De uitbreiding van het Christendom in Indië, als wortel van onze hoogere beschaving, is een zaak van groot politiek belang. (Penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda sebagai dasar peradaban yang tinggi adalah tugas politik utama).

Pemerintah Penjajah juga mencoba untuk melanjutkan pokok-pokok ajaran Kristen di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan tata pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai contoh adalah keluarnya ”Edaran Minggu” atau ”Edaran Pasar” yang diterbitkan oleh Gubernur Jenderal Idenburg, 1910. ”Edaran Minggu” memberi sugesti bahwa tidak pantas untuk mengadakan pesta kenegaraan pada hari Minggu. Edaran ini juga meminta agar seluruh administratur dan pegawai sipil agar menghindari kegiatan-kegiatan resmi atau setengah resmi pada hari Minggu. ”Edaran Pasar” melarang diadakannya hari pasar orang Indonesia apabila ini jatuh pada hari Minggu.

Fakta tentang ”Edaran Minggu” ini menarik untuk kita cermati. Jangan-jangan tradisi libur pada hari Minggu kita saat ini masih melanjutkan kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Idenburg yang sangat fanatik Kristen dan anti-Islam. Idenburg, misalnya, menyatakan, bahwa satu-satunya jalan untuk melanjutkan penjajahan adalah pengkristenan.

Seperti dikutip Robert E. Speer, Idenburg menegaskan: ”The issue for Mohammedan world is not Mohammed and Christ. Ia not Mohammed or Christ. It is Christ. It is Christ or decay and death.” (Pilihan untuk dunia Islam bukan Muhammad dan Kristus; bukan Muhammad atau Kristus; tetapi pilihannya hanya Kristus. Pilih Kristus atau akan mengalami pembusukan dan kematian).
   
Misi dengan lembaga

Selain mendapat bantuan dari negara, peningkatan Kristenisasi pada masa politik etis juga diakibatkan adanya perubahan strategi. Abad ke-19, strategi zending Protestan maupun misi Katolik pada umumnya masih diarahkan pada misi secara langsung. Tapi, pada abad ke-20, strategi misi sudah berganti dengan pendirian kelembagaan misi, seperti sekolah, rumah sakit, rumah yatim piatu,  dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Melalui kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan itu, zending sanggup memikat hati orang yang masih bersikap menolak terhadap Kristenisasi secara langsung.

Strategi ini disebut pre-evangelisation, yaitu suatu usaha yang perlu diadakan untuk mempersiapkan daerah supaya siap menerima Kristen. Di sekolah-sekolah zending, kesetiaan kepada pemerintah dan ratu Belanda ditanamkan ke dalam hati para murid. Meski membutuhkan biaya besar dan waktu lama, Kristenisasi lewat pendidikan ini berhasil mengkonversi banyak pribumi Muslim.

Sebagai contoh, sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan, Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam.

Teman van Lith, Hoevenaars, juga menempuh cara serupa. Dia membangun berbagai sekolah di Mendut dan mengumpulkan para murid yang masih belia. Semua guru sekolah tersebut beragama Katolik, namun para muridnya seluruhnya berasal dari keluarga-keluarga Muslim.

Sebagaimana misionaris lainnya, Hoevenaars berpikir bahwa agama Islam yang mereka anut hanyalah kepatuhan superfisial atau nominal sehingga tidak akan menghalangi para murid untuk berpindah ke agama Katolik. Mantan murid sekolah-sekolah Muntilan dan Mendut itu kebanyakan menjadi guru pada jejaring sekolah-sekolah dasar Katolik yang dikembangkan dengan cepat di berbagai kota dan kampung di Jawa. Para guru itu kemudian berupaya menghasilkan jemaat-jemaat Katolik baru. Dengan demikian, sekolah yang dibangun oleh Frans van Lith maupun Hoevenaars adalah sekolah kader.   

Sebuah ungkapan penting dari Frans van Lith:

“Tujuan kita adalah memberi pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat. Kepada mereka kita memberikan pendidikan Kristiani, dan bila mereka nanti tersebar di seluruh Pulau Jawa, kita akan menanti tumbuh dan mekarnya benih-benih yang kita sebar.”

Strategi budaya

Strategi lain dalam menyebarkan agama Kristen di Jawa pada dekade pertama abad ke-20 adalah penyesuaian ajaran Kristen dengan budaya Jawa. Strateginya: memisahkan agama Islam dari budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari.

Untuk itulah di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu dianggap identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam. J.D. Wolterbeek mengatakan, “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 

Senada dengan ini, Imam Yesuit Frans van Lith berpendapat,

Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.

Dengan bantuan pemerintah kolonial dan strategi pre-evangelisation, kegiatan misi Kristen di Jawa meningkat tajam pada masa politik etis. Walaupun orang Kristen tetap terbilang sebagai minoritas kecil, namun jumlah pribumi Muslim Jawa, terutama di Jawa Tengah, yang murtad ke agama Kristen cukup besar. Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel Steenbrink mengatakan: ”Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.”

Total populasi penduduk Pulau Jawa pada 1906 adalah 28.746.688 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 24.270.600 adalah Muslim. Lapangan yang sangat luas dan sulit ini digarap oleh enam lembaga misionaris. C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. melaporkan pada tahun tersebut bahwa pengaruh Islam menjadi rintangan berat bagi para misionaris. Akan tetapi, berkat bantuan medis dan penyelenggaraan sekolah, mereka berhasil mengkonversi pribumi Muslim ke agama Kristen.

Dengan sokongan pemerintah jajahan, pada era 1930-an, banyak terjadi kasus pelecehan Islam oleh kaum Kristen. Di Pesako Sulawesi Utara, pasukan Bala Keselamatan masuk ke dalam masjid dengan memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu Kristen dalam masjid dengan alat-alat musik yang mereka bawa. Di Solo, buku-buku Kristen ditulis dalam bahasa Arab, dibagikan secara gratis kepada umat Islam yang sedang melaksanakan shalat Jumat di Masjid Mangkunegaran. Di Tasikmalaya, seekor anjing dibawa masuk ke mushalla. Di Menado, opsir Bala Keselamatan, Ernst Brandt, pada 13 April 1938 dengan terang-terangan menghina Nabi Muhammad SAW, dengan mengatakan: “Muhammad seorang miskin dan penggembala. Ia menikah dengan Khadijah janda kaya dan menghabiskan hartanya. Muhammad mempunyai 14 istri, perampas istri orang, dan menuruti hawa nafsunya. Mana bisa kesucian dari orang begitu. Siapa saja yang tidak mau mengikuti agamanya, ditusuknya dengan pedang terhunus.”

Respon Muslim

Menghadapi serbuan misi Kristen yang dahsyat seperti itu, kaum Muslim tentu saja tidak berdiam diri. Sebuah respon penting dalam menghadapi misi Kristen dilakukan oleh Muhammadiyah, yang berdiri tahun 1912 –di masa Gubernur Jenderal Idenburg. Tahun 1933, Muhammadiyah bersama 30 organisasi Islam, mengadakan rapat akbar di Solo,  menentang pemberian izin masuknya dua orang misionaris Kristen Advent dari pemerintah Jajahan di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).

Tahun 1939, Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kudus, juga menolak dicabutnya artikel 177 Indische Staatsregeling  yang isinya adalah kewajiban misionaris untuk mendapat izin dari pemerintah Jajahan. Secara individual, mubaligh Muhammadiyah asal Surakarta, R. Moehammad Sardjana, pernah menerbitkan buku “Agama Kristen” sebagai jawaban terhadap dua jilid buku tokoh Gereja, Henderick Kraemer, yang berjudul “Agama Islam”. Secara kelembagaan, Muhammadiyah masih terus menjadi salah satu garda penting umat Islam dalam membendung arus Kristenisasi, sampai hengkangnya penjajah Kristen dari bumi Indonesia.

Pendiri organisasi ini, KH Ahmad Dahlan, dikenal sangat serius dalam mengajak umat Islam untuk membandung arus Kristenisasi. Sebuah ucapannya yang terkenal: “Islam tak mungkin lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggungjawab?”

Walhasil, dalam rangka memahami sejarah, strategi, dan taktik Kristenisasi di Indonesia, buku Muhammad Isa Anshory ini sangat baik untuk dibaca. Wallahu a’lam.*/Depok, 28 Maret 2013

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/5-kemampuan-tempur-istimewa-idjon-djanbi-bapak-kopassus-tni-ad.html


“Mengkristenkan Jawa”

Sunday, January 6, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)


 

Partai Masyumi


Senin, 07 Januari 2013

Oleh: Nuim Hidayat 

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

SURAT cinta ini  saya tulis karena terpicu dengan pernyataan salah satu tokoh politisi Muslim yang bangga ketika ada non Muslim menjadi salah satu pengurus partainya.  Mungkin ia dan sahabat-sahabatnya punya dalil atau hujjah untuk pendapatnya itu. Tapi saya yakin hujjah itu tidak diuji ke publik, terutama ke para ulama dan cendekiawan yang shaleh, yang faham tentang Islam dan sejarah bangsa ini.

Sekitar tahun 2008, saya pernah menulis di Majalah Hidayatullah tentang pentingnya kesatuan akidah dalam sebuah organisasi termasuk partai politik. Kita bisa bayangkan, bila NU dan Muhammadiyah tidak dirintis oleh orang-orang yang sama dalam tujuan akidah dan dakwah. Apakah mungkin sebesar sekarang? Inilah ringkasan dari artikel yang saya beri judul; “Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang”.

Kepada sahabat-sahabat
Generasi Muda Islam
Kususun buku ini untukmu
Turutilah djejak pemimpinmu
kenangkan sedjarahnya
teruskan perjuangannya

Di tengah gegap gempitanya  partai-partai Islam saat ini berkonsolidasi untuk Pemilu 2009, maka muncullah gagasan partai Islam agar terbuka dan inklusif. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah lebih dulu memulai gagasan ini dengan memasukkan beberapa non Muslim menjadi pengurus atau anggota DPP Partai PKB.  Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang juga menerima gagasan inklusif ini.  Meski sebenarnya PKS juga telah memulai menerima anggota/pengurus non Muslim/anggota DPRD untuk daerah Irian.

Melihat gagasan inklusif partai-partai Islam (dalam AD/ART-nya) ini, membuat penasaran diri saya untuk bertanya: “Bolehkah dalam berpartai kita bersama-sama non Muslim?

Saya membuka-buka kembali buku sejarah.  Alhamdulillah di rumah saya ketemu buku “Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito” yang yang disusun oleh SU Bajasut. Buku ini selain memaparkan pemikiran-pemikiran Ketua Umum Masyumi Prawoto juga melampirkan dokumentasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Masyumi.

Dalam Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III). Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

-Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik
-Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan
-Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam
-Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai

Nah, ini yang menarik, di pasal V tentang anggota dinyatakan, Anggota Partai terdiri dari:

-Anggota biasa, ialah warga negara Indonesia yang beragama Islam (laki-laki dan perempuan) dan tidak menjadi anggota partai politik lain
-Anggota teras, terpilih dari anggota-anggota biasa
-Anggota Istimewa, ialah Pengurus Besar/Pusat perhimpunan Islam yang bukan partai politik

Keharusan anggota wajib beragama Islam ini lebih tegas lagi, dijelaskan dalam “Anggaran Rumah Tangga Partai Politik Islam Indonesia Masjumi”. Dalam Bab II Pasal 3 dijelaskan: “Syarat-syarat untuk menjadi anggota partai: 1.  Tiap warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam, laki-laki maupun perempuan, berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah kawin dan tidak menjadi anggota partai politik lain dapat diterima menjadi anggota biasa…” (ART Partai ini ditetapkan dalam Sidang Dewan Partai, 9-12 Oktober 1953. Artinya sebelum pemilu 1955 dimana Masjumi memperoleh suara)

Jadi Masjumi tegas mengharamkan anggota partainya non Muslim. Apalagi jadi pengurus partai. Seperti sudah lazim kita ketahui untuk menjadi pengurus partai (atau anggota DPRD sebuah partai), seseorang diharuskan menjadi anggota terlebih dahulu.  Jadi bila merujuk sejarah, maka suatu hal yang aneh partai Islam anggota/pengurus non Muslim (inklusif).

Bagi partai yang ingin menegakkan syariah Islam di Indonesia, atau partai dakwah, tentu hal yang aneh bila dalam perjuangan partai itu ada anggota/pengurus non Muslim.  Bagaimana mau berdakwah, mengajak orang lain ke jalan Islam,  sementara dalam rumah tangga partai dakwah sendiri ada yang non Muslim?  Logika berpikir yang benar, tentu untuk menjadi partai dakwah, maka anggota/pengurus yang di dalam harus bersiap untuk dakwah.  Dan untuk siap berdakwah, maka seseorang harus menjadi Muslim terlebih dulu.

Sayangnya, kini sejarah Masjumi yang didirikan oleh alim ulama dan cendekiawan Islam yang penuh keteladanan itu kini jarang lagi ditengok oleh politikus-politikus partai.  Para politikus saat ini mencoba gagah-gagahan untuk melepas diri sejarah perjuangan Islam Indonesia masa lalu.  Padahal Masjumi Masjumi didirikan dari hasil Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta 7-8 November 1945, oleh hampir semua tokoh berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang. Organisasi-organisasi Islam yang masuk Masjumi antara lain: Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam, Persis, Al Irsyad, Al Jamiyatul Washliyah, Al Ittihadiyah dan lain-lain (Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hal. 47-50).

Padahal al-Qur’an berulangkali dalam ayatnya mengingatkan kita agar menengok dan meneladani sejarah.  Baik sejarah individu, masyarakat atau sebuah bangsa. Politik hari ini, adalah sejarah sejarah esok hari. Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS: 11:120).

Maka buku pemikiran Prawoto Mangkusasmito di atas, bukanlah sekedar kalimat-kalimat pemuas akal belaka. Di halaman persembahannya ditulis:

“Kususun buku ini untukmu,
Turutilah djedjak pemimpinmu,
kenangkan sedjarahnya,
teruskan perjuangannya

Tapi, kini kondisi partai politik lebih parah. Disadari atau tidak, ideologi sekuler Barat –lewat lobi-lobi para orientalis/indonesianis– telah masuk dalam cara berpikir banyak orang partai.  Sehingga dalam dan antar partai Islam yang terjadi rebutan jabatan, rebutan angggota DPR/DPRD dan rebutan sumber-sumber uang. Tanpa melihat lagi akidah, kapabilitas dan keamanahan seorang calon. Partai bukan dilihat lagi sebagai alat perjuangan dakwah dan alat perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Padahal Al-Qur’an jelas menegaskan fungsi organisasi Islam atau partai Islam adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bukan untuk mencari suara belaka. Untuk apa kekuasaan dipegang, bila tidak ditegakkan amar makruf nahi mungkar? Al-Qur’an mengingatkan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS: 3:104)

Cara berpikir Barat yang menyesatkan lainnya –yang banyak diadopsi oleh partai-partai sekuler— adalah partai diibaratkan negara kecil. Dari sinilah ide pluralisme, inklusivisme partai masuk.  Padahal partai bukanlah tipikal negara.  Partai bukan negara. Partai bisa diibaratkan rumah keluarga besar kita.  Dalam keluarga, kita berkewajiban menjaga akidah istri, anak-anak dan sistem dalam keluarga itu agar tidak keluar dari nilai-nilai Islam.  Keluarga kita harus Islami, tapi kita menghormati tetangga kita yang non Muslim.  Bahkan kita bisa saling membantu dalam hal kebaikan dengan mereka.

Walhasil, memang benar ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, bahwa dalam kehidupan ini –berumah tangga, bekerja, berorganisasi dan berpartai—ditentukan oleh niat.

Kalau dalam organisasi Islam bisa dilihat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya.  Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Bukhari Muslim)

Keberhasilan Masjumi dengan asas Islam dan agenda penegakan syariah Islam di Indonesia, dalam Pemilu tahun 1955, dan kegagalan Amien Rais dengan Partai Amanat Nasionalnya sudah merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Fa’tabiru ya Ulil Albab.* bersambung

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta

Red: Cholis Akbar


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Thursday, May 16, 2013

Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Penggeledahan rumah terduga teroris Qomasu Nuawiyah Arob alias Nuaim (39) Rabu (15/5) siang, selain berlangsung lama, juga sempat mendapat protes keras dari istri dan keluarga.


Adik kandung Nuaim, Muhammad Fauzi kepada wartawan usai penggeledahan mengatakan, pihak keluarga merasa belum mendapat pemberitahuan resmi mengenai penggeledahan tersebut. Pihaknya juga meminta agar saat penggeledahan disaksikan oleh Tim Pengacara Muslim (TPM).


“Kami hanya minta polisi menunjukkan surat resmi (penggeledahan) sebelum masuk ke rumah. Karena saat datang tidak ada pemberitahuan dan tidak ada surat resminya,” katanya.


Menurut Fauzi, pihaknya juga menanyakan alasan Densus 88 menangkap kakaknya. “Kami tidak tahu sama sekali apa salah Nuiam sehingga ditangkap Densus 88,” ujarnya.


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Densus 88 memberikan surat penangkapan dengan nomor SPJK – 40/4/5/2013. Dalam surat tersebut disebutkan, Nuaim ditangkap terkait dengan penangkapan terduga teroris lainnya, William Maksum.


“Kami dari pihak keluarga tidak mengenal William Maksum,” tegasnya.


Sementara mengenai barang bukti yang disita polisi menurut Fauzi, tidak serta merta bisa menyimpulkan bahwa Nuaim terkait tindak terorisme.


“Benda-benda itu biasa didapati di rumah-rumah warga pada umumnya. Lagian benda-benda tersebut juga tidak disembunyikan,” terangnya.


Fauzi mencontohkan, gulungan kabel, itu dibeli untuk memperbaiki saluran listrik di rumah. Sementara paralon itu sebenarnya peredam senapan angin yang sudah rusak. Kalau sarung pistol itu dibeli Nuaim dari pasar barang bekas dan jadi mainan anaknya.


“Itu tadi kan ditemukan di kotak mainan anaknya. Kalau CD dan buku-buku yang disinyalir berkaitan dengan tindak terorisme, itu tidak benar. Buku-buku itu kan bisa dibeli di pasaran,” tambahnya.


Sebelumnya, Tim Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sekaligus penggeledahan, di tempat tinggal terduga teroris Nuaim, kampung Padangan, Joyotakan RT 03 RW 04 Serengan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (15/5).


Dalam penggeledahan tersebut, polisi menemukan dan membawa beberapa barang bukti, antara lain sebuah sarung senjata, Majalah Sabili, buku-buku dengan judul “Islam Arab dan Yahudi Zionis, “Jihad dan Terorisme”, “Melawan Kafir Yahudi”, “Salibis tunggangi SBY”.


Selain barang tersebut, polisi juga menyita beberapa potongan pipa paralon, satu ikat kepala bertuliskan “freedem Palestina”, lima VCD tanpa cover, dan beberapa kabel tiga warna.










Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/03/165621/Mahasiswa-dan-Polisi-Terlibat-Baku-Pukul/6


Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Wednesday, July 24, 2013

SMP di Semarang Gunakan Kurikulum Baru untuk Sembilan Pelajaran

Metrotvnews.com, Semarang: SMP di Kota Semarang, Jawa Tengah,  telah menerapkan kurikulum baru pada sembilan pelajaran dari total 10 mata pelajaran yang ada pada kurikulum 2013.



“Kami mulai pembelajaran secara efektif, sekaligus mengaplikasikan kurikulum baru sejak tiga hari yang lalu, yakni Senin (22/7) lalu,” kata Kepala SMP Negeri 5 Semarang Suharto di Semarang, Rabu (23/7).



Siswa memang sudah mulai masuk sekolah pada 15 Juli 2013, kata dia, tetapi selama seminggu ada masa orientasi siswa (MOS) dilanjutkan kegiatan pesantren Ramadan yang harus diikuti siswa baru.



Menurut dia, para guru juga sudah diberikan pelatihan implementasi kurikulum baru di berbagai daerah, yakni Yogyakarta, Salatiga, Solo, dan Semarang, kecuali guru pendidikan agama dan budi pekerti.



Ia menyebutkan ada 17 guru dari sembilan mata pelajaran itu mengikuti pelatihan kurikulum baru yang diselenggarakan oleh pemerintah, dari total 48 guru yang dimiliki SMP Negeri 5 Semarang.



“Guru IPA ada dua orang yang dikirim pelatihan, IPS ada tiga guru, termasuk saya, kemudian bahasa Indonesia dikirim dua guru, matematika ada dua guru. Totalnya ada 17 guru yang dikirim,” katanya.



Buku-buku kurikulum baru untuk sembilan pelajaran itu, lanjut dia, sudah dikirim ke sekolah, sementara buku acuan pendidikan agama dan budi pekerti baru dapat lima buah untuk Islam, Kristen, dan Hindu.



Sembilan mata pelajaran tersebut, yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani Kesehatan, dan Prakarya.



“Kalau dari mata pelajarannya sebenarnya sudah semua pelajaran dikirim. Namun, jumlahnya sendiri masih kurang karena per pelajaran baru diberi 275 buku, sementara siswa baru kami ada 288 orang,” katanya.



Untuk mengatasi kekurangan itu, Suharto mengatakan ada satu kelas, yakni VII J yang baru sebagian siswanya dibagikan buku pelajaran sehingga setiap satu buku sementara digunakan bersama untuk dua orang.



Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kota Semarang Taufik Hidayat mengakui penerapan kurikulum baru di SMP memang lebih lengkap dibanding SMA yang baru menerapkan untuk tiga pelajaran.



“Untuk jenjang SD juga lebih lengkap, kalau SMA kan baru Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah. Namun, sebenarnya seluruh pelajaran sudah disesuaikan kompetensi inti dan kompetensi dasarnya,” katanya. (Antara)



Editor: Agus Tri Wibowo



Share:






 


cbn



Article source: http://www.merdeka.com/dunia/paus-mundur-karena-uzur.html


SMP di Semarang Gunakan Kurikulum Baru untuk Sembilan Pelajaran

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Monday, June 17, 2013

Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Home Sejarah



Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan Islam





 

Kaum Alawi rayakan festival di Banyas, Suriah, selama Perang Dunia II (foto: Wikipedia)



 




Selasa, 18 Juni 2013


Oleh: Artawijaya


BAGHDAD baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.


Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.


Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.


Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama  dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)


Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.


Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”


Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil  tunduk pada kekuasaan Tartar.


Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”.  Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.


Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”


Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut.


Padahal  Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.


Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)


Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu  Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai  Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”


Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.


Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)


Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina.


Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin.


Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak)  kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.


Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)


Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258


Pengkhianatan Selanjutnya


Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan  Khilafah Utsmaniyah pada 1924.


Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.


Sebuah dokumen luar negeri Prancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang di antaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad.


Surat tersebut berisi permohonan agar Prancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Prancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:


 
“Presiden Prancis yang terhormat,


Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.


Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.


Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.


Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Prancis.”


Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Prancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)


Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle,  dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.


Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”


Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/559376/ikatan-pelajar-nu-kecam-penyerangan-pesantren-al-idrisiyyah


Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...