Showing posts sorted by relevance for query kemudian. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kemudian. Sort by date Show all posts

Tuesday, June 25, 2013

Kisah Singa yang Tunduk kepada Nabi Daniyal

REPUBLIKA.CO.ID,   Oleh Afriza Hanifa


Allah memerintahkan si raja hutan tersebut untuk tunduk dan patuh.


Dua singa buas berputarputar di dalam lubang. Sesekali, para raja hutan itu mendongak ke atas, menunggu mangsa masuk ke kandang. Mata mereka awas, taring mereka tajam. Tiba-tiba, kandang dibuka, seorang pria hendak dilemparkan ke dalam lubang. Maka, singa-singa itu pun langsung beringas, siap menerkam. Apa pun yang masuk ke markas mereka akan tamat, bahkan sebelum mencapai dasar lubang. Mereka pasti akan langsung mencabiknya.


Bukan sembarang orang, pria yang hendak dilempar ke lubang singa itu merupakan seorang nabiyullah. Daniyal, sang utusan Allah bagi Bani Israil itu telah siap menerima hukuman. Tapi, sebenarnya hukuman itu hanya mengada-ada karena sang nabi tak melakukan pelanggaran ataupun kesalahan. Ia pun tak gentar, lisannya terus memohon pertolongan Allah.


Perkara Daniyal bermula ketika Raja Babylonia (Babel, sekarang Irak), Nebukadnezar, membutuhkan seorang penafsir mimpi. Sang raja bermimpi melihat sebuah patung raksasa yang setiap bagian tubuhnya terbuat dari logam yang berbeda.


Kepalanya terbuat dari emas, dada dan lengannya dari perak, perutnya terbuat dari tembaga, pahanya dari besi dan kakinya terbuat dari besi dan tanah liat. Tapi, kemudian sebuah batu menghancurkan patung tersebut hingga semuanya hancur luluh dan menjadi sebuah gunung. Tak ada yang mampu menafsirkan mimpi tersebut hingga kemudian raja dipertemukan dengan sang nabi.


Nabi Daniyal pun kemudian menafsirkan mimpi tersebut. Patung tersebut menunjukkan kekuasaan yang silih berganti. Emas mewakili Babylonia yang kemudian akan hancur diganti Kerajaan Persia yang diwakili perak. Kemudian, beralih ke Yunani dengan tembaga, lalu Romawi dengan besi. Tapi, semua kekuasaan itu akan hancur dan luluh lantak. Mendapat jawaban tafsir mimpi yang memuaskan, raja pun mengangkat Nabi Daniyal menjadi penasihatnya.


Namun, bukan hal baik yang didapat. Jabatan tersebut justru mela hir kan petaka. Para pejabat kerajaan merasa iri hati dan terus memfitnah. Hingga, mereka pun memengaruhi raja agar membenci Daniyaal. Terdapat fitnah yang mengatakan, Daniyal telah mencela raja. Fitnah lain menguak ibadah Daniyal ke Yerusalem yang rutin melanggar ketentuan raja. Fitnah lain mengatakan, kerajaan Babel akan hancur kecuali sang penafsir mimpi harus dibunuh. Berhasil dengan beragam fitnah yang diberikan, sang raja pun kemudian membenci Daniyal.


Raja kemudian memerintahkan pengawal membuat lubang dan me masukkan dua ekor singa ke dalamnya. Setelah itu, Daniyal pun segera diseret dan dimasukkan ke dalam kandang singa. Dua ekor singa pun telah siap menerkam. Tapi, Nabi Daniyal tetap sabar dan memohon pertolongan Allah. Ajaib, singasinga yang lapar itu membungkam mulut mereka. Tak sedikitpun taring tajam diperlihatkan dihadapan sang nabi. Saat Daniyal dimasukkan ke dalam kandang mereka, singa-singa itu justru menjilati sang nabi. Singa yang garang berubah menjadi hewan yang patuh. Sungguh tak masuk diakal kecuali memang karena kekuasaan- Nya. Allah memerintahkan singasinga tersebut agar patuh.


Beberapa hari dikurung di kan dang singa, Daniyal tetap selamat. Ia hidup bersama para singa. Hingga, kemudian rasa lapar dirasa kan sang nabi. Allah pun kembali memberi pertolongan. Allah me wahyukan kepada seorang nabi lain yang berada di Syam (kini Su riah, Yordania, dan Palestina), yakni nabi Yeremia (Jeremia) untuk menyiapkan makanan bagi Daniyal.


Namun, Yeremia kebingungan, “Ya Tuhan, saya sekarang ini berada di Yerussalem, sementara Daniyal ada di Babel,” ujarnya. Allah pun mewahyukan, “Lakukanlah apa yang Saya perintahkan dan Saya akan mengirimkan sesuatu yang akan membawamu ke sana,” firman Allah kepada nabinya.


Maka, Yeremia pun segera menyiap kan makanan. Nyata, Allah mengirimkan sesuatu yang kemudian mengantarkan Yeremia menuju Babel. Saat ia telah tiba di ambang lubang, Da niyal pun terkejut. “Siapakah itu?” kata Daniyaal. “Saya Yeremia, Tuhan mengutusku kepadamu” jawabnya.


Kemudian, terjadilah interaksi antara dua nabi tersebut. Daniyal pun sangat gembira dan bersyukur atas pertolongan Allah yang senantiasa diterimanya. “Segala puji bagi Allah yang tak pernah lupa kepada para hamba-Nya, Ia menghalau bahaya setelah kesulitan, menghargai kesabaran dengan keselamatan, melapangkan saat kewalahan, dan memberikan harapan atas ditengah keputusasaan,” kata Daniyal bersyukur tanpa henti.


Versi lain dalam kitab Yahudi dan Nasrani dikisahkan, fitnah yang menimpa nabi Daniyal terjadi di masa kekuasaan Parsi. Sang raja yang dekat dengan Daniyal bernama Dairus. Karena mendapat tekanan dari pejabatnya, Dairus terpaksa memasukkan Daniyal, penasihat kesayangannya, ke dalam lubang singa. Tapi, Darius justru terus gelisah dan terus menengok kondisi sang nabi.


Kisah Nabi Daniyaal memang terdapat dalam kitab suci Yahudi dan Nasrani. Kisahnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aramia dalam kitab Tanakh milik umat Yahudi, serta dalam perjanjian lama milik Nash rani. Adapun bagi Musli min, kisah Daniyal tak disebutkan di dalam Al quran. Hanya saja, terdapat hadis dari para sahabat Rasulullah yang membenarkan sebagian kisah tersebut.


Saat ini, banyak negara mengaku memiliki makam Nabi Daniyal. Sedikitnya ada enam lokasi yang mengaku memiliki makamnya. Tapi, hanya Allah yang tahu ke benarannya. Mengenai ki sah para sahabat nabi yang menemukan kabar Nabi Daniyal tersebut dikabar kan oleh Ibnu Katsir. Rujuklah kitab Story of the Prophet karya Ibnu Kat sir untuk mengetahui detailnya. Wallahua’lam bish shawab.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/03/mg1ikp-sejarah-islam-di-asia-tenggara-1


Kisah Singa yang Tunduk kepada Nabi Daniyal

Monday, September 16, 2013

Terpesona ajaran wudhu, pria Amerika ini akhirnya memeluk Islam


ISLAM sangat menganjurkan kebersihan dan wudhu menjadi contoh nyata praktik kesehatan bagi manusia. Itulah yang membuat takjub seorang warga AS bernama Matthew Braun.



Perkara yang seringkali dianggap remeh itu justru membuat pria kelahiran Kota Brodhead, Wisconsin itu jatuh hati pada Islam.



Braun memang seorang yang sangat peduli kesehatan. Minat pendidikannya pun pada segala ilmu kesehatan, terlihat dari gelar master yang ia dapatkan sebagai tenaga kesehatan dari Universitas Ohio.



“Islam memiliki praktik kesehatan yang baik seperti mencuci tangan, kaki dan wajah sebelum shalat lima kali sehari,” ujarnya.



Ketertarikan Braun pada Islam dimulai saat ia mengenyam pendidikan sarjana di Beloit College. Di sana, ia aktif berorganisasi hingga kemudian bertemu dengan seorang gadis asal Kuwait.



Pertemuan itu merupakan kontak pertama Braun dengan muslim. Ia pun kemudian mempelajari apa itu Islam. Saat mempelajarinya, ia terkejut.



“Saya terkejut teryata Islam adalah salah satu dari tiga agama samawi selain Yahudi dan Kristen,” ujarnya.



Braun pun makin tertarik pada Islam, namun belum memutuskan menjadi seorang muslim. Hingga kemudian ia tahu bagaimana Islam sangat menganjurkan kebersihan. Hal itu diketahuinya ketika menempuh pendidikan master studi kesehatan di University of Miami di Ohio. Tak lama, Braun pun kemudian memantapkan hati pada Islam. Ia pun resmi menjadi mualaf pada tahun 1995 di Ohio.



“Banyak alasan saya memeluk Islam. Namun minat awal saya bersyahadat adalah karena tertarik bagaimana Islam memiliki praktik kesehatan yang sangat baik,” tuturnya dikutip dari Beloit Daily News.



Braun melihat praktik wudhu sebagai upaya kebersihan yang sangat brilian. Menurutnya, itu merupakan bagian dari praktik menjaga kesehatan. Mencuci tangan kaki dan membasuh wajah lima kali sehari merupakan praktik kesehatan yang sangat baik. Terpesona dengan ajaran wudhu itulah Braun melabuhkan hati pada Islam.



Setelah memeluk Islam, ia makin jatuh hati pada agama ini. Ia pun mulai rajin menjalankan ibadah wajib. Ia meninggalkan hal-hal haram seperti minum alkohol dan berjudi.



Tentu saja sulit karena hal haram tersebut merupakan gaya hidup pemuda Amerika. Namun Braun mampu mengatasinya. Ia bahkan menjalankan sunnah Rasulullah seperti menumbuhkan jengot.



Kehidupan Braun sebagai muslim nyaris tak mendapat hambatan ataupun tantangan. Hingga kemudian insiden 9/11 mengubah citra Islam menjadi sangat buruk. Ia yang telah berislam hampir tujuh tahun itu tiba-tiba dikucilkan.



Keluarganya yang tak pernah mempertanyakan keputusannya berislam tiba-tiba menginterogasinya. Penampilan Braun pun kemudian dituding sebagai penampilan para teroris. Itu merupakan fase yang berat bagi Braun.



Namun kemudian ia memilih pindah ke Dubai bersama istrinya. Di sana, ia membangun kepedulian terhadap penolakan terorisme. Lebih tepatnya, Braun membentuk komunitas yang menentang keras aksi ekstrem dan radikal.



Terjun ke Masyarakat

Braun yang merupakan seorang tenaga kesehatan tiba-tiba beralih haluan. Ia merasa prihatin yang sangat terhadap kasus bom 11 september di gedung WTC AS tersebut. Ia pun kemudian mengkampanykan antiradikalisme.



“Saya khawatir akan persepsi publik tentang Islam pasca serangan teroris di Amerika Serikat pada 9/11,” kata Braun.



Ia mencatat bahwa para ekstremis dan teroris ada dari semua latar belakang agama. Namun tak ada agama yang mengajarkan terorisme. Mayoritas Muslim, kata braun, seperti penganut agama lain, tidak melakukan teroris dan tidak bersikap ekstrem.



“Kesalahpahaman lain yang populer adalah bahwa madrasah , sekolah Islam yag menggunakan nama Arab, merupakan jaringan terorisme. Padahal sebagian besar sekolah tersebut mengajarkan perdamaian seperti sekolah agama lain,” katanya.



Braun pun kemudian menjadi koordinator P4E Support Group, sebuah organisasi berbasis di Kanada yang memberikan layanan kemanusiaan. Salah satu kegiatan organisasi tersebut yakni mendidik muslim menjadi produktif dan menentang keyakinan dan praktek ekstrim seperti terorisme. “Banyak orang datang kepada saya dan bertanya karena ingin tahu lebih banyak,” pungkasnya. | sumber: republika.co.id


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/09/07/189727/FUI-Ajak-Hary-Tanoe-Masuk-Islam-dan-Hentikan-Kontes-Miss-World-


Terpesona ajaran wudhu, pria Amerika ini akhirnya memeluk Islam

Monday, August 26, 2013

Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

“Tidak ada waktu untuk liburan, ketika Anda menyadari betapa sedikit waktu yang ada, dan betapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk Islam,” kata Bilal Philips, mengawali kisah hidupnya dari seorang non-Islam, menjadi pakar Islam yang giat berdakwah.


Abu Ameenah Bilal Philips, merupakan seorang mualaf yang mengabdikan dirinya pada pendidikan Islam. Ia sangat terpesona pada agama yang dibawa Rasulullah ini hingga mempelajarinya ke Haramain, tanah kelahiran Islam. Setelah mumpuni berislam dari Universitas Madinah dan Universitas King Saud Riyadh, ia pun menjadi dosen teologi Islam bahkan membentuk Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Bilal lahir di Jamaika di tengah keluarga intelek. Kedua orangtuanya merupakan guru, kakeknya bahkan seorang pendeta dan pakar Al Kitab. Tak heran jika Bilal tumbuh menjadi seorang Kristen yang taat. Di usia 11 tahun, Bilal ikut keluarganya pindah ke Kanada. Di kota itulah ia kemudian mengenyam pendidikan dan tumbuh dewasa.


Bilal dan keluarganya sempat pindah ke Malaysia. Disanalah kontak pertama Bilal dengan Islam. Namun Bilal belum tertarik pada agama rahmatan lil alamin ini. Saat itu Bilal masih masih sangat muda dan lebih suka bermain musik rock ketimbang memikirkan agamanya.


Tak lama, ia dan keluarga kembali ke Kanada. Saat Bilal kuliah, pemuda tengah digandrungi pesta ganja. Namun Bilal tak ikut serta, fenomena itu justru membuatnya mengambil pelajaran biokimia disamping kuliah seni yang ia dapat dengan beasiswa. 


Pencarian jati diri Bilal belum berakhir, di kampus ia tertarik dengan politik mahasiswa. Ia pun terlibat dalam aksi mahasiswa. Ia pun kemudian belajar sosialisme kemudian tergila-gila dengan Marxis-Leninis. Ia pun kemudian menekuni sosial-pilitik hingga pergi ke California. Ia bergabung dengan para aktivis kulit hitam disana.


Namun Bilal dikecewakan karena teman-temannya merupakan pecandu narkoba. Sikap anti-narkoba Bilal masih berakar kuat. Ia pun beralih haluan dan kembali ke Kanada. Bilal mempelajari ideologi lain. Ia kemudian terpesona pada komunisme di China. Sosialisme rupanya mengakar kuat pada hati Bilal.


Ia pun pergi ke Cina untuk mendapat pelatihan perang gerilya pendukung komunisme. Namun setibanya disana, Bilal merasakan hal sama saat ia bergabung dengan sosialis di California. Hanya saja kali ini bukan narkoba. Teman-teman komunisnya merupakan para perokok berat. Ia pun kembali kecewa. Ia kembali ke Kanada.


Saat kembali ke kampus, salah seorang teman perempuannya di kelompok mahasiswa dikabarkan memeluk Islam. Ia pun kemudian mulai mempelajari ajaran Islam. Ia membaca banyak literatur Islam dan ada satu buku yang memberikannya banyak pengaruh bagi hatinya. Buku tersebut bertajuk “Islam; agama yang disalahpahami” karya Muhammad Qutb.


Tak hanya mempelajari ajarannya, Bilal juga mempelajari sejarahnya. Ia pun terpesona dengan peran muslimin dalam pembebasan negara-negara Afrika dari kolonialisme Eropa. Bilal makin merasakan ketertarikan pada Islam. Ia pun mulai membela Islam hingga kemudian memutuskan bersyahadat. “Aku mulai membela Islam. Akhirnya beberapa introspeksi dan refleksi membuat saya memeluk Islam pada tahun 1972,” ujarnya dalam biografinya di SaudiGazzette.


Setelah berislam, Bilal ingin menyempurnakan pengetahuannya tentang Islam. Tak puas mempelajari otodidak, Bilal pun memutuskan pergi ke tanah kelahiran Islam, Arab Saudi. “Saya bergabung dengan Universitas Madinah dan mengambil gelar dalam Usoolud Deen (disiplin Islam) pada tahun 1979. Kemudian mengambil MA dalam teologi Islam dari Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan menyelesaikan Ph.D., dalam Teologi Islam di tahun 1994,” kata Bilal yang sangat haus mempelajari ilmu.


Setelah menjadi pakar Islam, Bilal pun membagi ilmunya di banyak negara. Ia menjadi guru di Riyadh, menjadi dosen di UEA hingga berdakwah di Filiphina. Enggan membuang waktu, ia pun kemudian membangun kampus sendiri dengan pengajaran online, yakni Islamic Online University yang berpusat di Qatar.


Pengalaman Spiritual

Hingga memutuskan bersyahadat, Bilal sesungguhnya pernah mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menegangkan. Kepada Saudi Gazette Bilal mengakui bahwa selama mempelajari Islam otodidak, ia hanya jatuh hati pada gaya politik Islam. Namun dalam hal keimanan, ia belum mampu membangunnya di hati. Konsep Tuhan yang selama ini ia pahami dalam filsafat komunis tentu sangat jauh berbeda dari Islam. “Dalam hati saya gagasan yang kabur tentang Allah masih ada,” ujarnya.


Keimanan pada Allah baru dirasakan Bilal setelah mengalami peristiwa menegangkan dalam mimpinya. Bilal bermimpi mengendarai sepeda ke gudang. Ia memasukinya dan segalanya gelap gulita. Bulu kuduk Bilal berkidik. Ia berusaha pergi darisana. Tapi sejauh apapun ia pergi, ia tak kunjung mampu keluar. “Serasa akan mati,” kisah Bilal.


Ia diliputi  ketakutan yang sangat karena berada di ruang yang amat sangat gelap, tak ada setitik cahaya pun. Bilal pun mulai menjerit mencari pertolongan. Namun tenggorokannya tiba-tiba sesak tak mampu bersuara. Ia berusaha keras meminta bantuan, namun tak ada yang mampu ia lakukan. Badannya lemas, ia menyerah. Bilal pun terbangun.


“Mimpi ini meninggalkan kesan berat bahwa tidak ada yang bisa membawa saya keluar dari situasi seperti itu, kecuali Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu membawa saya keluar dari keadaan putus asa mutlak, dan membawa saya kembali,” pungkasnya.


 


 




Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Dr Bilal Philip, Penggila Marxisme yang Menjadi Pakar Islam

Wednesday, August 21, 2013

Geliat Islam di Polandia

REPUBLIKA.CO.ID,


Muslimin dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat.


Polandia, negara di Eropa Tengah, ini jarang didengar gaungnya dalam menaungi kehidupan Muslimin. Namun siapa sangka, negara bekas komunis tersebut memiliki sejarah Islam yang panjang, yakni sekitar 600 tahun silam.
 
Islam pertama kali masuk ke Polandia dibawa oleh bangsa Tartar Muslim yang melarikan diri dari negara mereka akibat perang sipil.


Awalnya, mereka bermigrasi ke Lithuania. Namun, kemudian Raja Polandia merekrut mereka menjadi prajurit tangguh kaki tangan raja.
 
Para prajurit Tartar itu pun dengan gagah berani bertempur mengamankan Polandia dari berbagai ancaman luar, seperti gangguan Kerajaan Teknokil pada awal abad ke-15.


Mereka bahkan dikabarkan menjadi prajurit dalam Perang Wina di kubu Kerajaan Kristen Austro-Hongaria dalam melawan pasukan Turki Usmani.
 
Hingga ketika Polandia terlibat Perang Dunia II, pasukan Tartar ini masih menjadi militer tangguh negara. Dengan posisi penting sebagai ujung pedang negara, para prajurit Tartar itu tentu saja mendapat hak spesial.


Mereka setara dengan para bangsawan dan mendapat banyak hak istimewa serta fasilitas utama dari raja. Pasukan Tartar ini pun mendapat sebidang tanah untuk mereka tinggali dan membentuk komunitas.


Itulah komunitas Islam pertama di negara tetangga Jerman tersebut. Mereka pun kemudian menikahi wanita setempat dan mengenalkan Islam kepada keluarganya. Tak hanya itu, mereka juga diizinkan membangun masjid.


Menurut halaman Planeta Islam yang dipublikasikan komunitas Muslim Polandia, saat itu komunitas Muslim telah berjumlah sekitar 200 ribu orang dengan 160 masjid tegak berdiri.
 
Sayang beribu sayang, komunitas awal Islam ini meredup seiring bergantinya zaman. Semakin lama hidup di tengah mayoritas Kristen, mereka kemudian terbawa budaya dan tradisi masyarakat setempat.


Maka, mulai hilanglah nilai-nilai Islam yang ditanamkan generasi awal. Anak cucu pasukan Tartar pun memilih menjadi nasrani.
 
Kondisi Muslimin yang makin meredup itu pun kemudian diselamatkan oleh sekelompok Muslim yang membentuk sebuah organisasi pada 1917. Mereka menamakan diri sebagai “Persatuan Muslim Polandia”.


Namun, kondisi tak mendukung pergerakan mereka. Polandia di bawah rezim komunis mengakibatkan penurunan jumlah Muslimin yang besar. Pasalnya, banyak Muslimin yang dideportasi ke Siberia, tanah mereka pun dirampas, dan masjid-masjid ditutup.
 
Disebutkan oleh Planeta Islam, jumlah Muslimin pasca-insiden tersebut tersisa sekitar 5.000 orang. Puluhan masjid pun tersisa dua saja, yakni di Bohoniki dan Kruszyniany.


Tak hanya minim secara kuantitas, Muslimin kala itu juga minim kualitas. Pemahaman mereka terhadap agama sangat buruk sehingga rawan terjadi konversi iman. Apalagi, tak adanya lembaga yang memberikan mereka pendidikan syariat.
 
Mati surinya Muslimin Polandia ini pun kemudian bangkit ketika banyak imigran Muslim dari bangsa Arab. Semangat Islam kemudian digalakkan kembali. Kelompok yang berada di garda terdepan dakwah Islam saat itu justru para mahasiswa Muslim. 


Pada 1989 mereka membentuk Perkumpulan Mahasiswa Muslim Polandia. Organisasi ini kemudian membenahi pendidikan Islam Muslimin yang dimulai dari anak-anak. “Mereka mendirikan beberapa pendidikan Islam dasar untuk anak-anak Tatar,” dikutip dari Islamweb.
 
Sejak itulah Islam kembali menggeliat di Polandia. Saat ini, jumlah Muslimin lebih dari 30 ribu jiwa dengan komposisi Tartar, sang Muslimin awal hanya 5.000 jiwa. Kemudian, Muslim imigran asing sekitar 25 ribu serta Muslimin setempat atau para mualaf sekitar 500 hingga seribu orang.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, Muslimin Polandia masih memiliki banyak hambatan. Dalam pangan misalnya, mereka hanya memiliki satu toko halal yang berlokasi di ibu kota, Warsawa.


Banyaknya jumlah masjid yang ditutup pun membuat mereka kekurangan fasilitas ibadah. Masjid tak pernah cukup menampung jamaah. Tak hanya itu, Muslimin di sana juga berada di bawah garis kemiskinan.
 
Dalam pendidikan Islam pun, Muslimin masih membutuhkan banyak literatur Islam. Bahkan, untuk terjemahan Alquran, terdapat satu karya terjemah dari era Tartar abad ke-19.


Namun, terjemahan itu pun baru rampung sebagian. Bagian yang tersisa justru dirampungkan oleh seorang orientalis non-Muslim bernama Jozef Bielawski serta sebagian lain oleh kelompok Ahmedija.
 
Kendati banyak memiliki kesulitan, Muslimin Polandia hidup bahagia. Mereka dapat hidup damai dan tak pernah bersengketa dengan masyarakat setempat. Dibanding negara Eropa sekitarnya, Muslimin Polandialah yang dapat merasakan hidup tenteram tanpa diskriminasi sodial.
 
Untuk menjaga keharmonisan dengan agama mayoritas, terdapat dewan umum di Polandia yang menanganinya. Dewan Katolik dan Muslim merupakan salah satu lembaga yang memediasi dialog antaragama di negara tersebut.


Anggota dewan itu sekaligus ketua komunitas Muslim di kawasan Bialystok, Halima Szahidewicz, menuturkan, tak pernah ada pertikaian ataupun ketegangan dalam hubungan antaragama. Kondisi damai tersebut pun telah berlaku sejak generasi Muslim pertama Polandia.


“Banyak sekali hal yang berubah dalam 600 tahun terakhir, tapi ada satu hal yang tak berubah, yakni toleransi terhadap kami Muslimin,” ujarnya.



Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Geliat Islam di Polandia

Saturday, January 4, 2014

Ruba Qewar Jatuh Cinta pada Alquran

REPUBLIKA.CO.ID. Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Ia menemukan jawaban atas keraguan hatinya dalam Alquran.


Perempuan yang tinggal di Amerika Serikat ini, Ruba Qewar lumayan banyak memicu kontroversi. Pencarian akan keyakinan kepada Tuhan yang membuatnya nyaman selama ini beberapa kali berubah.


Ia lahir dalam keluarga Kristen. Ruba lahir di Denmark pada 1981, kemudian keluarganya pindah ke Yordania pada 1985. Tinggal di sana sebagai minoritas karena ia beragama Kristen, tak membuatnya nyaman.


Hingga akhirnya keluarganya pindah ke Amerika Serikat pada 2002. Setelah ayahnya yang menjadi pendeta meninggal, ia mulai menjauhi agamanya dan gereja.


Selama ini yang membuatnya selalu pergi ke gereja dan membaca Alkitab adalah karena ayahnya, kakeknya, juga paman-pamannya yang merupakan para pendeta yang disegani.


Saudara-saudaranya yang lain juga para pengikut Kristen yang sangat taat dan beberapa dari mereka juga menikah dengan pendeta.


Namun, ia merasa berbeda. Ruba kadang tak puas dengan penjelasan yang diberikan para pendeta dan Alkitab atas pertanyaan akan rasa penasarannya. Ia kemudian mengamati agama yang lain, Hindu, Buddha, Yahudi, dan Islam.


Ia pergi bertemu dengan pengikut agama lain untuk mencari kebenaran. Ruba telah banyak berdebat dengan paman-pamannya yang pendeta, juga ibunya tentang keilahian Yesus, satu hal yang membuatnya ragu selama ini pada ajaran agamanya.


Ia pergi ke kuil Buddha, tempat ibadah Sikh, dan agama lainnya. Ia melihat mereka, penganut agama lain tersebut, bisa patuh dan percaya sepenuhnya kepada yang mereka sembah, yaitu Tuhan mereka.


Saat ingin mempelajari Islam, ia bingung harus memulainya dari mana. Ia tahu kitab suci agama ini, Alquran, namun ia tak tahu siapa yang memilikinya dan bisa meminjamkannya sebentar untuk ia baca.


Ia pun justru banyak merasa kesal kepada orang Islam karena menurutnya selalu menganggapnya salah dan merendahkan orang Kristen sepertinya. Itu yang ia ketahui dari berbagai media dan informasi yang tersebar di Amerika.


Ia ingin membaca Alquran untuk membuktikan kepada orang Islam bahwa mereka salah. “Aku ingin menemukan kesalahan dalam Alquran untuk membuktikan orang Islam itu salah dan sayalah yang benar,” ujarnya.


Ia pernah membaca bahwa Alquran hanyalah sebuah buku karangan yang ditulis seseorang yang menyebut dirinya seorang nabi. Ia kemudian membuka laman www.Muslim-web.com yang di dalamnya ada konten khusus untuk Alquran dan isi terjemahannya.


Membacanya satu per satu melalui layar komputernya, membuatnya jatuh cinta. Surat-surat pertama terdengar bahasanya tidak terlalu memaksa, namun menjelaskan dan menjawab rasa penasarannya. “Saya jadi jatuh cinta kepada Alquran,” kata Ruba.


Inilah yang membuatnya mantap untuk masuk Islam. “Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir Islam akan menjadi jalan yang saya pilih,” ujarnya.


Dalam perjalanan menjadi seorang mualaf baru, ia dilanda kebingungan dan salah jalan. Saat sedang dalam masalah keluarga, saat itu ia bercerai dari suaminya dan diusir dari rumahnya, kemudian memutuskan untuk pergi ke Yordania kembali.


Niatnya adalah untuk merasakan kembali tinggal di negara Muslim, tempat dulu ia menjadi kalangan minoritas. Namun kini ia statusnya berbeda, ia akan menjadi bagian dari keluarga Muslim itu.


Sayangnya, ia bertemu dengan orang yang salah. Sebagai seorang Muslim baru, di Yordania yang ia temui adalah guru spiritual yang mengajarkan Islam ekstremis dan mengaduk-aduk psikologis spiritualnya.


Ia merasa dididik untuk menjadi seorang teroris. Ruba kecewa dengan hal ini, hingga akhirnya ia kembali ke Amerika dan memutuskan untuk kembali ke keluarganya dan menjadi Kristen lagi.


Ia tak percaya lagi pada Islam dan kembali kepada ibu dan keluarganya yang Kristen. Kemudian, ia ditawari untuk ditayangkan dalam televisi pada sebuah acara tentang kembalinya ia menuju ke Kristen.


Dalam kesempatan tersebut, telah di-setting agar acara bisa mengharukan, yaitu dengan cara sang ibu memeluknya dengan erat sambil menangis, kemudian ia juga disuruh untuk melepaskan jilbabnya dalam acara tersebut.


Hari-hari berlalu saat ia kembali di tengah keluarga Kristen. Namun, ia merasa tak nyaman, hatinya merasa tak tenang. Saat kembali ke tengah keluarganya, ia diperlakukan berbeda, dianggap sebagai mata-mata, dan diberikan perawatan jiwa, seperti layaknya pencucian otak.


Ia merasa sangat berat sekali di masa ini. Stres secara psikologis dan waktunya banyak dihabiskan untuk mengikuti kelas dan pelajaran berat tentang kekristenan.


Kadang, ia sering menyendiri di dekat danau dan kemudian ia banyak lagi membaca Alquran. Ruba paham yang membuat jiwanya tenang adalah ketika bersama dengan hal yang dicintainya, Alquran, Islam.


Dengan keyakinan yang teguh, ia kemudian kembali ke Islam lagi. Ia percaya jalan inilah yang paling tepat baginya karena Islam bisa memberikan jawaban atas keraguannya dan ia merasa nyaman di dalamnya.


Jika ia ditanya apa alasannya kembali ke Islam lagi? Jawabnya adalah karena pertolongan Allah. “Atas rahmat-Nya yang besar yang diberikan kepada saya, saya bersyukur dan terus berdoa agar bisa selalu teguh pada Islam, agama yang saya percayai sekarang,” katanya.


Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/11/21/18210017/Kuota.Haji.Jember.Sudah.Penuh.Hingga.2024


Ruba Qewar Jatuh Cinta pada Alquran

Friday, July 12, 2013

Amru bin Ash, Si Cerdik dari Arab










Masjid Amr bin AshJakarta – Amru bin Ash adalah anak dari seorang pemuka Quraisy yang bernama Ash dan ibunya bernama Nabighah binti Harmalah. Ayahnya pernah hidup di masa Islam namun dia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Amru bin Ash berprofesi sebagai pedagang sehingga dia sempat menjelajah Mesir, Habasyah, dan Yaman. Dari perjalanan ini pula dia mendapatkan banyak pengalaman, terutama pengalaman beramsyarakat, dan banyak mempelajari budaya-budaya negara


yang pernah dia singgahi. Dari pengalaman inilah juga dia menjadi seorang yang cakap, berwawasan luas serta intelektual di negeri Arab. Orang yang terkenal cakap, berwawasan luas dan intelektul selain Amru bin Ash adalah, Muawiyah bin Abu Sufiyan, dan Mughirah bin Syu’bah.


Beberapa sahabat Nabi yang taat tapi dia lemah oleh Nabi diperintahkanya untuk berhijrah ke negeri Habasyah yang menganut agama Nasrani. Negeri ini dipimpin oleh seorang Raja Negus yang sangat taat dan paham betul dengan ajaran Agama Nasrani.


Sahabat nabi yang hijrah ke negeri ini untuk menghindar dari kekejaman orang-orang Quraisy yang tidak suka dengan keimananya dan untuk menjaga agamanya.


Maka ketika para pemuka Quraisy mendengar hijrahnya para sahabat Nabi ke negeri Habasyah, spontan mereka marah dan kemudian menyuru Amru Bin Ash untuk menjemputnya. Amru bin Ash kemudian menjemput kaum muslim yang lemah itu ke ke negeri


Habasyah, dengan membawa hadiah yang sangat banyak untuk dipersembahkan kepada Raja Negus agar Raja Negus mau mengembalikan kaum muslimin ke negerinya. Terjadilah percakapan antara Amru dan Raja Negus. Sang Raja berkata, “Kenapa kau tidak ikut agama baru yang dibawa Muhammad?”


“Apakah demikian wahai baginda?”


“Memang benar demikian adanya, demi Allah!” jawab Raja Negus.


Hal ini membuat Amru bin Ash terngiang-ngiang dalam kepalanya ketika dia kembali pulang dengan tangan Hampa. Sampailah Amru bin Ash di Mekah. Kemudian dia dan Khalid bin Walid datang menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman mereka.


Setelah Amru bin Ash masuk Islam, Rasulullah mengutusnya untuk menyampaikan sepucuk surat ke penguasa Oman Jaifar bin Julanda dan saudarana Abd bin Julanda. Surat itu berisikan ajakan kepada penguasa Oman untuk memeluk Islam. Namun Amru bin Ash tahu bahwa Abd bin Julanda memiliki sikap lemah lembut sehingga Abd lah yang dia temui dulu dan mengajaknya memeluk Islam. Sehingga sampai keduanya memeluk Islam dan Amru bin Ash pun menetap di Oman sampai wafatnya Rasulullah.


Pada masa Khalifah Abu Bakar, Amru bin Ash diutus untuk menumpas kaum murtad di daerah Qudha’ah. Hasilnya, dia berhasil menumpas orang-orang murtad di daerah tersebut.


Pembebasan Palestina


Amru bin Ash adalah salah satu prajurit yang ikut berperan dalam futuhat Islamiyah (pembebasan berbagai negeri oleh pasukan muslim). Pada saat pertempuran dengan Romawi, pertempuran pertama kali yang dijalani Amru bin Ash adalah pembebasan Palestina termasuk Gaza, Nablus dan Rafah. Selanjutnya Amru bin Ash bergerak menuju Ajnadain yang saat itu masih dikuasai oleh Romawi. Pada sat itu gubernurnya adalah Artavon. Amru bin Ash dan pasukan Muslimin berhasil mengepung


Ajnadain, sehingga Artavon tidak bisa bergerak sama sekali walaupun dengan jalan diplomasi. Amru bin Ash bergerak sendirian dengan menyamar sebagai utusan. Amru bin Ash menyampaikan maksudnya, di samping itu juga dia menyimak ucapan Artavon baik-baik dan melihat kekuatanya. Namun Artavon adalah Gubernur cerdik sehingga dia bisa mengetahui bahwa utusan yang datang kepadanya pasti bukan orang biasa. Dia pasti seorang pemimpin atau juga utusan yang sangat didengar oleh pemimpinnya. Maka Artavon menyuruh pengawalnya untuk mencegat Amru.


Amru bin Ash tahu niat buruk Artavon maka kemudian dia berkata kepada Artavon, “Aku telah mendengar informasi darimu dan engkaupun juga mendengar dariku. Aku sangat kagum dengan pembicaraanmu. Aku ini hanyalah 10 dari salah satu orang yang diutus oleh Umar bin Khatab kepada penguasa negeri ini untuk mengepungnya hingga penguasa negeri ini mau memberikan kondisinya. Oleh karena itu, aku pulang terlebih dahulu dan aku akan ajak teman-temanku itu (untuk kesini lagi). Maksudku, jika teman-temanku mengetahui sendiri sebagaimana yang aku lihat tentang kondisinya ini, tentu panglima kami dan para pasukan akan mengetahuinya. Tetapi jika teman-temanmu tidak mau melihatnya aku akan kembalikan mereka ke markas mereka, dan aku akan kembali lagi ke sini dan selanjutnya terserah kamu”.


Artavon berkata “baiklah”. Lalu menyuruh pengawal yang dipanggilnya agar menyingkir. Artavon berkata kepada Amru, “Pergilah dan kemudian datang lagi bersama teman-temanmu”.


Ketika Romawi telah ditaklukan dan Artavon menjadi tawanan dia baru tahu kalau utusan yang dulu datang kepadanya adalah panglima perang Amru bin Ash.


Pembebasan Baitul Maqdish


Pada tahun 16 H, tepatnya pada bulan Rabiul Awal, Baitul Maqdis berhasil dibebaskan oleh Amru bin Ash dari cengkeraman Romawi. Amru bin Ash juga membebaskan Gaza dan Nablus. Amru bin Ash hendak menaklukan kota Elia, Artavon menulis surat kepada Amru bin Ash dengan mengatakan “demi Allah, Amru tidak akan bisa membebaskan suatu negeripun setelah Ajnadian.”


Amru pun kemudian menulis surat kepada Khalifah Umar dengan mengatakan,“Sungguh, aku menghadapi musuh yang amat licik dan kuat, dan menghadapi negeri untuk anda taklukan. Bagaimana pendapat anda?”


Pembesar Mesir


Mesir adalah kota Fir’aun yang berpenduduk 10 juta Jiwa. bukan hanya itu Mesir juga memiliki kesuburan alam yang luar biasa. Hal ini yang membuat Amru bin Ash tertarik untuk menduduki Mesir. Namun keberanian Amru bin Ash untuk menduduki Mesir dengan membawa pasukan Muslimin sebanyak kurang dari 4.000 orang. Pertama kali tiba Amru di Arisy dan membebaskanya, kemudian membebaskan Farma, lalu Dimyath, lalu melakukan pengepungan terhadap kota Bilbis, pasukan Muslim mulai menyerang pasukan Bilbis dan menawan 1.000 orang. Sedangkan sisanya melarikan diri berlindung kepada Raja Muqaquis. Amru bin Ash dalam menghadapi Raja Muqaquis memilih lunak dengan membebaskan putri sang raja yang tertawanya. Hal ini dilakukan untuk membuka diplomasi dengan Raja Muqaquis.


Pengepungan Benteng Babylon


Benteng Babylon sangatlah kuat sehingga kekuatan benteng itu masih bisa kita saksikan sampai abad ke-20. Pada waktu pengepungan benteng itu, pasukan Muslim yang dipimpin Amru bin Ash hanya sebanyak 3.500 personil. Hal ini dirasa tidak mungkin bisa menaklukan benteng sekuat itu, sehingga Amru bin Ash meminta bantuan kepada Khalifah Umar agar menambah pasukan. Maka dikirimlah sebanyak 12.000 personil yang di dalamnya ada Zubair bin Awwam. Amru bin Ash langsung saja menyambut kedatangan pasukan ini dan kemudian sama-sama menuju benteng untuk mengepungnya. Setelah berhasil menguasai benteng tersebut, tentara Kristen-Koptik pun melarikan diri ke Gezirah (Jazirat Ar-Raudhah).


Pembebasan Alexandria


Selanjutnya, Amru bin Ash menulis surat kepada Khalifah Umar agar memberi izin untuk melanjutkan ekspedisi pembebasan Iskandaria (Alexandaria). Khalifah Umar memberi izin maka Amru bin Ash pun langsung bergerak bersama pasukanya menuju Alexandaria. Di sana pasukan Romawi telah berkumpul untuk menyambut kedatangan pasukan Muslimin. Pasukan muslimpun melakukan pengepungan dan terjadi pertempuran yang berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan muslimin.


Pembebasan Zuwailah dan Tripoli


Setelah berhasil menaklukan Alexandaria Amru bin Ash melanjutkan perjalanan ke Maroko. Ketika Amru bin Ash dan pasukannya sampai di kota Riqqah, penduduk kota itu sepakat untuk membayar jizyah kepada kaum muslim. Amru bin Ash dan pasukannya melanjutkan perjalanan ke Zuwailah dan Tripoli. Saat di Tripoli, Khalifah Umar memberi perintah untuk menghentikan ekspedisi. Sejak itulah Amru bin Ash kembali ke Fushat dan bermukim di sana. Amru bin Ash kemudian membangun Masjid yang diberi nama Masjid Jami’ Amru bin Ash. Masjid ini pertama kali dibangun di Mesir.


Amru bin Ash diberhentikan


Di Mesir, Amru menjadi Gubenur pada masa Khalifah Umar dan Usman namun ketika Khalifah Usman melihat perkembangan Mesir dengan menghabiskan banyak dana sedangkan pajak yang diperoleh dari Mesir sangat sedikit, maka Khilafah Usman memberhentikan Amru bin Ash sebagai Gubenur Mesir. Hal ini membuat sangat kecewa hati Amru bin Ash.


Setelah wafatnya Khilafah Usman digantikan Khalifah Ali, terjadilah persoalan di mana Gubenur Syam Muawiyah bin Abu Sufyan memproklamirkan diri berdiri sendiri tidak di bawah Khalifah Ali di Madinah. Amru bin Ash melihat ini sebagai peluang untuk menjalankan dua siasatnya. Pertama, pada perang Siffin, dia mengangkat Mushaf di hadapan para pendukung Ali.


Kedua, Amru bin Ash berhasil memperdaya Abu Musa Al-Asy’ari dalam peristiwa tahkim yang saat itu Abu Musa Al-Asy’ari mendapatkan kesempatan dahulu mencopot jabatan Khalifah dari Ali. Melihat Abu Musa Al-Asy’ari mencopot jabatan Ali maka kemudian Amru bin Ash menyematkan jabatan tersebut terhadap temannya Muawiyah bin Abu Sufyan.


Setelah kemenangan itu akhirnya Amru bin Ash diangkat kembali oleh Muawiyah sebagai gubernur Mesir dan Amru bin Ash melanjutkan kembali Masjid yang sempat dirobohkan oleh Khalifah Usman dan Ali.






( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/05/mnwkx2-dahsyatnya-shalat-subuh


Amru bin Ash, Si Cerdik dari Arab

Sunday, July 28, 2013

Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?










Tanya:

Assalamu’alaikum Wr Wb


Saya membaca Alquran dan artinya, kemudian menemukan ayat yang artinya sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah: 62).


Apakah benar umat yang menganut agama selain Islam juga mendapat pahala dan syurga? Sedangkan yang saya tahu agama yang Allah ridhai adalah agama Islam. Mohon penjelasannya agar kami yakin. Terimakasih
Wassalamu ‘alaikum Wr Wb


(adick_syaf@yahoo.com)



Jawab:


Persyaratan beriman kepada Allah dan hari Kemudian, seperti bunyi ayat di atas, bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka, tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh Alquran dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Memang akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu persatu. Rasul saw dalam percakapan sehari-hari, sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan hari Kemudian.


Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar-umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya.


Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah memang harus diakui. Tetapi, hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar-pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di hari Kemudian kelak agama siapa yang direstui-nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.




( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://regional.kompas.com/read/xml/2013/06/12/18252539/Penyerangan.ke.Diskusi.Lintas.Agama.Tuai.Kecaman


Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?

Sunday, April 21, 2013

Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

foto googleSungguh berat nian untuk ber-Islam dengan baik di jaman moderen ini. Jaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Jaman dimana banyak hal dalam Islam yang katanya sudah tidak lagi sesuai. Islam kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan jaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu Islam datang menyerukan pembaharuan. Hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. Islam dahulu menjadi panduan yang komplit bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di jamannya.


Islam itu (seharusnya) progresif dan revolusioner. Tapi mengapa saat ini, wajah Islam seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan Islam ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan Islam dengan penganutnya. Kemudian pertanyaannya adalah, darimana kita melihat keagungan dan keunggulan Islam? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. Islamkah yang salah?


Saya sedikit penasaran, bagaimana generasi emas, para pengukir sejarah Islam hidup dan berkembang dahulu. Saya sempatkan untuk mencari-cari dan membaca-baca literatur, hingga akhirnya saya membaca kembali tulisan lama dari penulis favorit saya, Yusuf Qardhawi, dengan tulisannya Fiqih Prioritas. Saya pikir tulisan ini cukup mewakili sudut pandang orang-orang yang hidup sebagai generasi emas Islam. Setidaknya begitu bagi saya, sudut pandang yang diberikan Yusuf Qardhawi dalam buku tersebut sangat progresif dan revolusioner. Dan seperti itulah Islam seharusnya, gerbong perubahan. Tidak berniat untuk menjadi hiperbolis mengatakan bahwa dengan ber-Islam-lah Anda bisa berubah, tapi ada beberapa semangat dalam ber-Islam yang seharusnya bisa mengubah kita. Dengan begitu, jika Islam mengalami stagnansi, itu bukanlah Islam, bukan semangat ke-Islam-an yang dulu pernah digelorakan generasi pertama.


Di sini saya kemudian juga harus jujur, bahwa hampir semua ajaran yang ada di muka bumi ini datang dengan semangat yang sama, semangat perubahan, tidak hanya Islam. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan atau melebihkan, tidak ada kapasitas saya untuk melakukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah, mempertanyakan kembali kalimat Islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena semangat dan nafasnya Islam itu yah letaknya disana, bahwa Islam itu mempunyai semangat perbaikan, dimana semangat perbaikan itu berbeda dengan nilai konservatif dan status-quo yang cenderung stagnan.


Saya akan coba ulas beberapa hal yang saat ini sering menjadi pokok masalah didalam umat Islam sendiri, yang menurut saya menjadi sumber kemerosotan kebermanfaatan muslim di lingkungan sekitar. Kadang permasalahan ini malah menggerogoti keindahan Islam itu sendiri.


1. Fatwa-fatwa yang sudah tidak sesuai dengan jaman sudah seharusnya direvisi


Perubahan kondisi dunia hingga seperti saat ini memerlukan perubahan cara pandang di diri seorang muslim. Para ahli fiqih harus mengubah fatwa-fatwa lama yang sekiranya sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, dengan berpegang pada faktor keluwesan dan keleluasan dalam syariat Islam yang sejalan dengan As Sunnah dan Al Quran. Kondisi saat ini tentu berbeda dengan jaman dahulu sehingga pendekatan-pendekatan dalam pembuatan fatwa pun tentu berbeda, sehingga peninjauan terhadap fatwa-fatwa lama pun harus dilakukan.


Contoh yang diberikan Yusuf Qardhawi adalah bagaimana seharusnya muslim saat ini melihat dunia muslim dan dunia selain muslim. Jaman dahulu ada fatwa di dunia muslim yang membagi dunia ke dalam Dar Islam dan Dar Harb, sebuah pandangan mengenai hubungan dunia muslim dengan bukan muslim adalah peperangan. Selain tidak sesuai dengan kondisi saat ini, fatwa ini juga dinilai lemah karena banyak penjelasan-penjelasan di As Sunnah dan Al Quran yang menyatakan kebalikannya, seperti
“… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…“(al-Hujurat: 13) dan ”..Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan...” (al-Ahzab: 25)


Walaupun saya yakin banyak muslim saat ini yang memiliki pandangan bahwa peperangan bukan jalan dakwah yang bisa ditempuh saat ini. Namun pandangan anarkis dalam menyebarkan keindahan Islam ini masih saja menodai langkah perjalanannya saat ini, seperti aksi kekerasan terhadap golongan lainnya dengan mengatasnamakan dakwah.


Fatwa-fatwa lama, bisa jadi telah mendarah daging sehingga tanpa kita sadari telah menjadi keseharian muslim-muslim di dunia tanpa mengetahui jika itu tidak lagi sesuai jamannya. Muslim-muslim mengikuti fatwa-fatwa tanpa mengetahui sebab musababnya dan tanpa pengetahuan, sehingga yang ada hanya sikap fanatisme kosong. Ada teguran yang cukup jelas tentang hal ini.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” (al-Isra’: 36)


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)


Untuk masalah ini kadangkala masyarakat kita sangat mudah percaya bahwa sesuatu adalah benar jika itu mengatasnamakan Islam ataupun dakwah. Sudah jelas dalam ayat diatas bahwa ijtihad itu di atas taqlid, artinya kebiasaan menggali informasi serta memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan merupakan salah satu muslim sejati. Sehingga wajar saja di jamannya dulu, generasi emas Islam menorehkan banyak karya untuk ilmu pengetahuan. Rasa penasaran begitu besar memang tertanam dan diperintahkan.


2. Memperbaiki diri sebelum memperbaiki lingkungan lebih besar


“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)


Ada beberapa orang yang beranggapan, sistem dulu diperbaiki baru semuanya bisa lebih baik. Saya sangat menyangsikan proposisi ini, bahkan Rasulullah yang utusan langsung saja melakukan pembinaan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membina sebuah masyarakat yang memiliki aturan dan sistem. Tapi itu kan dulu? Saya pikir sama saja, hidup ini kan terus berputar dan menurut saya cara Rasul adalah sebaik-baiknya cara.


Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Rasulullah ini menjalankan perbaikan sistem di tempat-tempat baru. Beliau tidak kemudian memaksakan sistem dan pemahamanan-pemahaman yang ada dalam Islam untuk dipaksakan pada orang-orang bukan Islam. Ke-khalifah-an bukanlah tujuan akhir yang ingin Rasulullah kejar, tapi menyebarkan indahnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin, ke-khalifah-an bisa jadi salah satu cara yang ditempuh. Intinya adalah kita harus jeli melihat mana yang tujuan dan mana yang cara. Jika melihat bagaimana kisah Rasul, jelas terlihat bahwa pembinaan individu itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dengan menyebarkan kebaikan demi kebaikan ke setiap individu sampai akhir hayatnya, dan itu cara yang dipilih oleh beliau.


Ini bukan berarti sistem atau lingkungan tidak penting, karena individu adalah pembentuk sistem. Layaknya sebuah perusahaan yang fokus terhadap pengembangan personal sumberdaya manusianya, maka dia akan mendapatkan sistem yang lebih optimal.


3. Memahami perbedaan itu sebagai sebuah keluwesan dan keleluasaan yang dikarunia Allah


Hal yang tersulit dilakukan saat ini adalah menghargai perbedaan. Perbedaan itu fitrah dan berkah. Namun sebagian besar manusia memang tidak menyadari itu dan menjadi perbedaan itu sebagai dasar perpecahan dan persengketaan yang berkepanjangan. Termasuk diantaranya adalah bagaimana umat muslim mengintrepretasikan isi Al Quran, banyak sekali pendekatan-pendekatan berbeda sehingga memunculkan istilah aliran-aliran tertentu. Patut disadari bahwa dalam Al Quran memang ada ayat-ayat yang sifatnya muhkamat (terang-benderang) dan mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Jika seandainya Allah menginginkan manusia dalam satu pemahaman maka isi Al Quran tentunya mengandung ayat-ayat muhkamat.


Yang paling penting itu adalah kemudian untuk tidak merubah-rubah ayat muhkamat menjadi mutasyabihat ataupun sebaliknya. Banyak sekali perdebatan yang muncul akibat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Yusuf Qardhawi dengan jelas menuliskan bahwa masalah-masalah yang dinggap besar selalu dituliskan sebagai ayat muhkamat, dan kita dilarang untuk berselisih di dalam hal ini, misalnya seperti masalah aqidah. Sedangkan untuk masalah kecil yang tersirat dalam ayat mutasyabihat memang terkadang memunculkan perbedaan hukum oleh fuqaha-fuqaha, dan ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Dalam hal ini kemudian umat Islam tidak boleh dengan mudahnya tercerai berai, inilah yang dijelaskan diawal sebagai berkah perbedaan.


Allah memberikan ruang keleluasaan dan keluwesan bagi manusia untuk berinovasi dalam koridor tertentu, bahkan disini Allah menunjukkan bahwasanya Islam bisa terus bersifat progresif dan revolusioner disesuaikan dengan jamannya. Satu hal yang paling penting, ukhuwah Islamiyah adalah hal yang tetap patut dijaga terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.


4. Fokus kepada isu-isu sentral yang ada dalam Al Quran


Sebelum memikirkan apa yang harus diperbaiki dari umat Islam ini, ada baiknya kita kembali ke Al Quran. Penekanan yang diperlihatkan di dalam Al Quran dengan mengulang-ulang kata-kata dan istilah-istilah tertentu, adalah tanda bahwa hal-hal tersebut sudah seharusnya menjadi prioritas. Seperti pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi. Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.


Sebenernya dengan melihat penekanan-penekanan dalam Al Quran ini kita bisa menilai mana yang kemudian lebih penting ketimbang lainnya. Sehingga dalam bersikap kita bisa lebih proporsional terhadap perintah-perintah Allah, tidak kemudian memakai kacamata kuda untuk bersikeras memaksakan ayat-ayat yang dia sukai saja. Tiap ayat di Al Quran saling terkait satu sama lain, sehingga jika menerapkannya dalam keseharian berdasarkan prioritas tentu kita bisa melihat gambaran kebesaran Rasulullah didalamnya. Beliau bisa begitu lembut pada siapa pun, bahkan musuh Allah sekalipun. Beliau tidak membenci kecuali atas seizin Allah.


Saya rasa propaganda kebencian umat Islam terhadap umat lain memang sudah saatnya dihentikan, karena sudah tidak sesuai semangat yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah. Ada hal yang menarik sebenarnya, di Al Quran disebutkan, misalnya contoh bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi. Tetapi disisi lain kita juga dihadapkan contoh dimana Rasul kita bisa begitu sabar dan lembutnya menghadapi orang-orang Yahudi. Dan bagaimana toleran dan luwesnya Rasul kita dalam membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak di luar Islam.


Menurut pendapat saya kebencian yang kita miliki pun harus proporsional, bukan tanpa alasan dan bukan fanatisme kosong belaka. Sudah jelas bahwa kebencian Rasulullah bukannlah kebencian terhadap personal, bukan kebencian yang pada dasarnya adalah kepada manusia. Rasulullah memperlakukan binatang pun penuh dengan perasaan apalagi manusia, sejahat apapun mereka. Kebencian kita memang sudah sepatutnya ditujukan kepada sifat-sifat jeleknya yang melekat pada personal-personal itu, dan tugas kita untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat itu, menjauhkan keluarga dari sifat-sifat itu dan menjauhkan sifat-sifat itu dari personal-personal umat manusia. Itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah untuk membenci personal, bagi Rasullah setiap pribadi adalah manusia yang wajib beliau ajak ke jalan ke-Islam-an. Itupun berlaku bagi kita, umatnya.


Kemudian bagaimana peperangan yang dahulu umat Islam lakukan. Seperti yang saya jelaskan, dalam Al Quran ayat peperangan ini bahkan tidak masuk prioritas. Peperangan ini ada karena memang pada zamannya itu tidak bisa dihindarkan. Dan kalaupun ada peperangan bukan kebenciannya yang ditebarkan, sekali lagi peperangan itu hanyalah metode yang diambil pada zaman itu dan tidak bisa dihindarkan.


Melihat kondisi dunia seperti saat ini, isu-isu kemanusiaan mungkin bisa dijadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan Islam. Umat muslim sudah seharusnya ada di garda terdepan memerangi kemiskinan sebagaimana banyak ayat-ayat yang membahas tentang zakat, shadaqah dan fakir miskin, memberantas kebodohan sebagaimana banyaknya ayat yang membicarakan tentang ilmu dan menghentikan kemerosotan akhlak individu sebagaimana banyaknya ayat yang membahas bagaimana seharusnya pribadi muslim sejati itu.


Ijtihad-ijtihad dalam hal-hal ini diperlukan, ketika kita berbicara masalah kemiskinan, umat muslim harus terdepan memoderenisasikan pokok-pokok keIslaman dalam tatanan kehidupan berekonomi, saat berbicara kebodohan, umat muslim harus memiliki seribu satu gerakan untuk menyebarkan ilmu ke seluruh pelosok daerah, dan ketika berbicara masalah akhlak, muslim juga harus memiliki standar etika yang jelas, standar pribadi muslim. Bukan muslim yang bermuka dua, yaitu mereka menebar kebencian terhadap personal tetapi muslim yang menebar kebaikan dan memusuhi kejelekan, kepada siapapun orangnya. Dengan semangat ini semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin tentu bisa kita perlihatkan dan buktikan bukan hanya pada umat Islam saja, juga umat-umat lainnya. Kata kunci yang harus dipegang muslim saat ini adalah kebermanfaatan untuk umat manusia, bukan hanya umat muslim saja.


Tulisan ini dibuat tidak kemudian untuk menjadikan Islam terlihat lebih hebat dan superior dari ajaran apapun. Tetapi ini adalah hak dan kewajiban dari umat Islam untuk menjadikan diri mereka lebih baik bagi lingkungan sekitarnya berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. InshaAllah dengan menjadi lebih baik, cahaya Islam itu sendiri tidak kemudian tertutup oleh debu-debu keterbatasan manusia. Memberikan manfaat kepada sesama, bukankah itu sebaik-baiknya manusia. Pun rekan-rekan yang beragama lain pun dipersilakan mencari mutiara didalam ajarannya masing-masing dan mari menjadi lebih baik bagi lingkungan dan dunia. Mari kita hiasi dunia dengan indahnya kebersamaan dan kebermanfaatan dalam rasa cinta dan kasih sayang.


Wallahualam Bishowab


Oleh: Iwa Kartiwa, Seoul


[006-fimadani]


 


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/12/29/337/738766/fpi-wahid-institute-sebar-berita-fitnah


Tantangan Ber-Islam di Zaman Modern

Sunday, December 23, 2012

CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab


CATATAN 2012: “The Rise of Hijab Style”, atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Minggu, 23 Desember 2012 19:37

| Ade Irwansyah

PERINGATAN: Tulisan yang akan Anda baca terbilang panjang. Bersiaplah.

PERNAH bertanya-tanya kenapa wanita berkerudung zaman sekarang lebih ingin memakai istilah hijab ketimbang jilbab?

Di majalah Tempo edisi 19 Agustus 2012 Dian Pelangi, perancang busana muslimah yang boleh jadi ikon bagi para hijabist tanah air saat ini, memberi jawab begini: “Jilbab itu kan hanya kerudung, sedangkan hijab itu busana yang menutup semua aurat.”

Benarkah defenisi itu?

Mengecek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di lemari buku saya (yang saya miliki Edisi Ketiga, 2005) “hijab” berarti: 1) Dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain; 2) Isi dinding yang membatasi hati manusia dan Alllah; dan 3) Dinding yang membatasi seseorang dari mendapat harta waris (contoh kalimatnya: Anak laki-laki adalah hijab dari saudara sebapak). (KBBI, ed.3, 2005, hal. 401.)

Sedangkan KBBI mengartikan “jilbab” sebagai “kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.” (KKBI, ed.3, 2005, hal.473.)

Mengacu pada defenisi menurut kamus, tentu hijab dan jilbab yang disebut Dian tak sinkron. KBBI tidak (belum) mengenal istilah hijab sebagai kerudung maupun pakaian yang menutupi tubuh (baca: aurat) wanita muslimah.

Dengan demikian, pengertiannya mesti ditarik lebih jauh, hingga ke kitab suci Al-Quran. Dalam Islam, tata cara berpakaian bagi wanita muslimah memang diatur. Bahkan aturannya tidak lewat aturan yang dibuat manusia, melainkan oleh Tuhan langsung lewat firman-Nya.

Ayat pertama yang mengatur aurat wanita adalah firman Allah di QS. Al Ahzab (33): 53. Di ayat itu ada petikan kalimat begini: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kamu dan hati mereka.”

Di buku Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Lentera Hati, 2004), M. Quraish Shihab menulis, secara bahasa “hijab” berarti “sesuatu yang menghalangi antara dua lainnya.” Shihab melanjutkan, seseorang yang menghalangi orang lain sehingga tidak dapat bertemu disebut hajib. Kata ini juga berarti “penutup.” Tim Departemen Agama yang menyusun Al Quran dan Terjemahannya menerjemahkan kata “hijab” dengan tabir. Dalam perkembangan lebih jauh, tulis Shihab, “wanita yang menutup diri atau seluruh badannya dengan pakaian, dinamai mutahajjibah.”

Kata “tabir” juga dimaknai banyak ulama sebagai perintah bahwa seluruh badan wanita aurat. Karena makna “tabir” berarti menutupi serta menghalangi terlihatnya sesuatu yang berada di belakangnya. Sebuah tafsir yang dikutip Shihab menerangkan, “Ayat ini menunjukkan … perempuan semuanya aurat—badannya dan terbentuknya—maka tidak boleh membukanya kecuali bila ada darurat atau kebutuhan seperti untuk menyampaikan persaksian atau karena adanya penyakit di badannya (dalam rangka pengobatan).” (M. Quraish Shihab, Jilbab, 2004, hal. 75.)

Lalu ada pula firman Allah beriikutnya yang jelas-jelas menyebut kata “jilbab.” Di QS. Al-Ahzab (33): 59, Allah berfirman: “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan aanak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Itu menjadikn mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika mengacu ke Al Quran dan pandangan ulama, tak ada beda hijab dengan jilbab. Dua-duanya dimaksudkan sebagai penghalang dan penutup badan bagi wanita muslimah. Jilbab bisa dimaknai sekadar kerudung maupun pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh wanita. (Shibab, 2004: 88.)

***

Dari sini, yang menarik untuk lebih ditelisik adalah bagaimana kata “jilbab” di Indonesia kini seakan hendak berganti jadi “hijab”?

Saat mengulas film Khalifah (Nurman Hakim, 2011), tentang kehidupan wanita wanita berjilbab cadar, saya mengurai perkembangan jilbab mengutip artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers.”

Saya kutip saja bagian “sejarah” jilbab 30 tahun terakhir di Indonesia dari ulasan saya:

“Kesadaran ber-Islam di kalangan kaum muda perkotaan sejak akhir 1970-an kemudian juga termasuk di antaranya, bagi perempuan, yakni menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Namun, di awal 1980-an lampau berjilbab tidaklah segampang sekarang, tinggal datang ke toko, beli jilbab, lalu pakai. Dulu, berjilbab, terutama di lingkungan sekolah umum termasuk hal yang dilarang. Masa itu, yang memakai jilbab (waktu itu lebih pas disebut kerudung) umumnya ibu-ibu yang sudah berumur, punya suami, atau jika masih muda, umumnya sekolah di sekolah khusus Islam seperti Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) atau Aliyah (setingkat SMA). Berjilbab ke sekolah umum masa itu mendatangkan kecurigaan.

Silakan tanya aktivis dakwah yang mengalami pahit getir berjilbab di sekolah umum hingga awal 1990-an. Mereka pasti akan cerita betapa susahnya menjalani perintah Tuhan yang satu itu.

Anda tentu mafhum, Indonesia tahun 1980-an di masa Soeharto terhitung tak akrab dengan Islam yang mereka sebut radikal. Rezim hanya mau “Islam yang mereka terima.” Waktu itu, rezim sedang gerah dengan Islam radikal yang melakukan aksi teror mengebom Candi Borobudor, membajak pesawat Garuda, mengebom Bank BCA, hingga tragedi Tanjung Priok dan Lampung.

Perempuan berjilbab dianggap representasi dari kaum Islam radikal. Maka, berjilbab dilarang. Tidak langsung, tentu. Pada 1982, Departemen P K Republik Indonesia mengeluarkan SK 052/c/Kep/D/82 (kemudian dikenal dengan sebutan SK 052) untuk mengatur penggunaan seragam sekolah. Semua tahu, ini SK untuk melarang jilbab di sekolah-sekolah umum.

Sejak ada SK itu, tekanan pada siswi berjilbab makin keras. Para siswi dipaksa melepas jilbab atau tidak boleh mengikuti pelajaran. Pada 1980-an juga marak insiden pelarangan jibab. Dari buku Revolusi Jilbab (2002) karya Alwi Alatas, kasus jilbab versus siswi sekolah muncul pertama kali 1979 di Bandung. Sejumlah siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bandung mulai menggunakan jilbab. Pihak sekolah kemudian berniat mengumpulkan mereka dalam kelas terpisah. Para siswi menolak. Ketegangan ini lalu juga mengundang MUI Jawa Barat turun tangan menyurati Kanwil P dan K Jawa Barat, meminta siswi yang memakai jilbab di sekolah tak dipersulit.

Setelah muncul SK di atas, ada pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung. Guru olahraga sekolah itu, bukan hanya melarang siswi yang pakai jilbab ikut pelajarannya, tapi juga mewajibkan mereka pakai hot pants untuk olahraga.

Pada 1983, pelarangan atas jilbab semakin memanas. Dalam catatan MUI di tahun itu ada 100 siswi dipindahpaksa dari sekolah-sekolah mereka ke sekolah lain karena pakai jilbab. Kemudian, di tahun itu juga, tepatnya 9 Agustus, terjadi insiden kekerasan di SMAN 30 Jakarta. Para siswa-siswi SMA itu yang melakukan aksi protes pelarangan jilbab malah dihadapi dengan kekerasan oleh aparat. Mereka memukul beberapa siswa dengan popor senjata, membuat sejumlah siswa masuk rumah sakit.

Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 kemudian makin membuat pemakai jilbab terjepit hingga sudut tersempit. Rezim Orde Baru makin mengkotakkan Islam ke dalam “yang diterima” dan “yang tidak diterima.” Dan jilbab masuk kategori Islam “yang tak diterima.” Di sekolah-sekolah negeri di Bandung pada 1984 diklaim bersih dari jilbab.

Bukannya tak ada yang pakai jilbab lagi. Tapi, masa itu, akhirnya pemakai jilbab memilih tiarap. Jika tak pindah sekolah, banyak aktivis Islam masa itu yang memilih berkompromi. Para siswi berjilbab mmemilih manut, melepas kerudung saat masuk pelataran sekolah. Catat artikel “Jalan Panjang Kaum Jilbabers”, aktivis dakwah masa itu akhirnya memilih merapatkan barisan dan kaderisasi.

Berbagai pelatihan keislaman mulai marak. Biasanya dilakukan dengan nama pesantren kilat (sanlat) dan para siswa ini membentuk organisasi keislaman yang berinduk pada OSIS yakni Rohani Islam (Rohis). Kemudian, siswa-siswa ini juga aktif dalam pengkaderan keislaman dalam kelompok-kelompok kecil (metode usroh) dan tarbiyah (pengkaderan intensif).

Para siswi hanya menanggalkan jilbab di sekolah. Di luar itu, mereka menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Laki-laki dan perempuan ditempatkan terpisah. Di kalangan mereka juga muncul sebutan ikhwan (saudara laki-laki) dan akhwat (saudara perempuan). Yang laki-laki dipanggil “akhi”, yang perempuan “ukhti.”

Pada akhirnya, rezim tak bisa lama-lama lagi melarang jilbab. Bukannya surut, pemakai jilbab malah makin banyak. Di awal 1990-an juga Soeharto konon lebih akrab dengan Islam. Momentumnya saat ia mengizinkan ICMI berdiri. Simpati masyarakat pada penindasan siswi berjilbab juga makin dreas.

Maka, pada 1991, Mendikbud Fuad Hasan mengeluarkan SK nomor 100 yang membolehkan siswi umum berjilbab. 

Sejak itu, jilbab semakin banyak. Maknanya juga kemudian bukan lagi simbol perlawanan atau ketaatan maksimal. Bahkan kemudian jilbab jadi bagian dari mode. Jilbab pun dikotakkan ke dalam beberapa jenis. Ada jilbab panjang, juga ada sebutan jilbab gaul, yang bisa diartikan berkerudung tapi memakai jeans atau bahkan tetap memakai kaus ukuran sang adik.”

***

Jilbab di Indonesia telah melewati sejarah panjang, jatuh-bangun. Jilbab sebagai mode gaya hidup kemudian melahirkan perancang busana muslim, seperti Ida Royani atau Ida Leman. Setelahh Reformasi 1998, perancang koleksi premium untuk perempuan berjilbab kian banyak. Hanya, rancangan mereka terlalu unik dan tampaknya ribet untuk dipakai. Ikon untuk jilbab jenis ini yang kerap dipakai Neno Warisman. Neno memakai jilbab berlapis-lapis.

Nah, anak-anak muda yang ingin tampil kasual tak melirik rancangan model begitu. Akhirnya yang terjadi salah kaprah dalam berjilbab. Berkerudung tapi pakaian tampak ketat. Dari sini muncul istilah jilbab gaul. Dicatat majalah Madina edisi Mei 2008, jilbab yang dulu dianggap tanda-tanda kebangkitan Revolusi Islam, kini dipandang sebagai bagian dari budaya pop saja. Jilbab yang di awal didasari semangat untuk menjalankan hidup yang murni secara Islam, kini diperlakukan sebagai gaya berpakaian yang “funky.” Semua dihadapi serba rileks. Istilah jilbab gaul—yang dalam istilah percakapan sehari-hari adalah berjilbab tapi juga ber-jins, dan bisa jadi menampakkan lekuk tubuh—adalah contoh sikap santai itu.

Para hijabist alias kaum berjilbab pasca dekade 2000-an semisal Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara Nasution, Fifi Alvianto, dan Ghaida Tsurayya tampaknya tak ingin terkontaminasi makna jilbab gaul yang sudah berkonotasi negatif. Pun mereka ingin membedakan diri dari perancang busana muslimah generasi orangtua mereka.

Seorang kawan yang menulis fashion dan membuat profil Dian di tabloid ini mengatakan, istilah “hijab” lebih meng-internasional ketimbang “jilbab.” Di Barat sana, misalnya, kata Arab “hijab” lebih dikenal ketimbang “jilbab.” Boleh jadi ada benarnya.

Nyatanya, yang membedakan perancang busana muslim generasi Dian dkk dengan angkatan Ida Royani dkk adalah, salah satunya, tulis Tempo, dulu para perancang menjual busana muslimah satu set: dari atas hingga bawah. Kini para perancang muda cenderung menujal dalam potongan terpisah. Pembeli, kaum jilbabers eh hijabers atau hijabist ini, bebas berkreasi. “Intinya adalah mix and match,” kata Dian. Dengan adanya internet dan majalah mode sebagai bahan referensi , setiap hijabist bisa berkreasi melakukan padu padan busana muslimah sesuai selera.

Ini dia, mau tak mau, ketika sudah bertemu dengan mode dan gaya hidup, berjilbab atau berhijab bukan lagi sekadar mematuhi tuntutan agama.***

(ade/ade)   

Berita Terkait:

KALEIDOSKOP: 10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2012 (Dengan Sedikit Catatan)KALEIDOSKOP: 5 Adegan Film Horor Seks Paling Panas 2012Dewi Sandra Sudah Mantap Berhijab?10 Video YouTube yang Paling Banyak Disaksikan di 2012

Berikan komentar

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


CATATAN 2012: "The Rise of Hijab Style", atau: Kenapa Kata Jilbab Berganti Hijab

Monday, June 17, 2013

Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Home Sejarah



Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan Islam





 

Kaum Alawi rayakan festival di Banyas, Suriah, selama Perang Dunia II (foto: Wikipedia)



 




Selasa, 18 Juni 2013


Oleh: Artawijaya


BAGHDAD baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.


Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.


Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.


Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama  dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)


Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.


Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”


Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil  tunduk pada kekuasaan Tartar.


Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”.  Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.


Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”


Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut.


Padahal  Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.


Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)


Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu  Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai  Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”


Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.


Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)


Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina.


Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin.


Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak)  kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.


Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)


Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258


Pengkhianatan Selanjutnya


Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan  Khilafah Utsmaniyah pada 1924.


Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.


Sebuah dokumen luar negeri Prancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang di antaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad.


Surat tersebut berisi permohonan agar Prancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Prancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:


 
“Presiden Prancis yang terhormat,


Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.


Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.


Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.


Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Prancis.”


Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Prancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)


Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle,  dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.


Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”


Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/559376/ikatan-pelajar-nu-kecam-penyerangan-pesantren-al-idrisiyyah


Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog