Showing posts sorted by relevance for query penulis. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query penulis. Sort by date Show all posts

Monday, March 11, 2013

Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Judul Buku : Nomadic Heart
Penulis : Ariy
Penerbit : B-First, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : xiv + 174 halaman
ISBN : 978-602-8864-72-5
Peresensi : Sam Edy Yuswanto

Sebagai seorang traveler yang telah (dan akan terus) menjelajahi berbagai belahan dunia, ada banyak kepingan-kepingan cerita yang mencuat dari hati para traveler yang dijumpainya. Kisah teman-teman sesama traveler, bahkan cerita paling privasi mereka tertumpah di tiap liku perjalanan. Tawa, nestapa, tangis, bahagia tak ayal mengiringi tiap jengkal tanah yang dilaluinya. Itulah romantika kehidupan, bila direnungi dengan hati sebening telaga, akan membuat hidup ini jauh terasa lebih indah, berwarna, dan menjadi kita lebih bijak dalam memahami tiap inci kehidupan yang akan (atau sedang) kita lalui.

Bagi Ariy, menulis adalah proses menenangkan diri. Menulis itu kontemplasi. Dengan menulis, ia merasa sekolah tanpa henti, karena ia harus banyak membaca, banyak observasi, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dll. Menulis itu ‘curhat sempurna’ tanpa perlu traktir teman untuk mendengarkan. Menulis menjadi cara Ariy untuk berbagi kebahagiaan, berbagi perasaan menyenangkan. Buku ini memuat cerita-cerita yang dialami penulis sejak tahun 2008, saat ia pertama kali masuk komunitas ‘traveler’ dan mulai berinteraksi dengan banyak traveler dunia.
Banyak yang gagap dalam memahami isi pikiran dan filosofi hidup para traveler. Namun, penulis tak mau ambil pusing, tak memaksa orang lain untuk memahaminya. Pasti banyak sekali pertanyaan, mengapa hidup tak dibikin mudah saja? Lahir, sekolah, menikah, bekerja, lalu mati (hal x).

Sejujurnya, penulis sendiri tak terlalu mengerti apa sebenarnya yang membuatnya (dan para traveler lain) tak pernah berhenti bergerak. Mengapa ia lebih memilih berpayah-payah tersesat dan bukan duduk nyaman di sofa menonton televisi sambil ngemil pisang goreng hangat. Tapi yang pasti, ia dan sesama traveler lain seperti berada dalam frekuensi yang seirama. Saat bertemu, mereka saling menyelami, melengkapi, dan berbagi banyak hal. Dalam tiap perjalanan, ada banyak pelajaran penting yang ditemui, baik dari kisah hidup para traveler itu sendiri, maupun dari lingkungan yang mereka kunjungi. Benar kata orang, traveling adalah persoalan proses dan bukan lagi melulu soal destinasi. Traveling adalah sebuah proses memperkaya hati (hal xi).
Banyak orang bertanya, aku sedang menuju ke mana? Melakukan perjalanan beribu mil jauhnya hanya demi satu pertanyaan, apakah hidupmu sudah benar? Mengira di luasnya dunia akan tersedia semua jawaban atas persoalan hidup. Sedikit yang menyadari, bahwa aku sedang tidak menuju ke mana-mana. Aku bahkan mungkin tidak menyadari, bahwa aku sedang bertanya pada diriku sendiri (hal 11-12).

Ariy memilih resign dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Keputusannya itu segampang membalikkan telapak tangan. Sementara di luar sana mungkin ribuan bahkan jutaan orang tengah berjuang mendapat posisi seperti dirinya yang seorang jurnalis. Keputusannya tentu bukan atas dasar emosi. Itu keputusan terbijak menurutnya, yang merupakan hasil perenungan termatang satu tahun terakhir dan satu bulan perjalanan mengelilingi Thailand dan beberapa negara lainnya. Perusahaan tempat ia bekerja sudah tak membuatnya merasa nyaman untuk tinggal lebih lama. Meski di sisi lain, banyak orang bertahan lama kerja di perusahaan tersebut karena banyak alasan. Butuh uang menjadi alasan utama, yang bila dipaparkan lagi akan ada serentet alasan lain bahwa mereka harus membayar cicilan rumah, menghidupi keluarga, status sosial, dll. Namun pada prinsipnya, setiap orang tentu memiliki alasan atas keputusan dalam hidupnya, sebagaimana Ariy, memilih mundur dari perusahaan karena telah merasa nyaman dengan rutinitasnya sebagai traveler. “Aku percaya, di mana aku merasa nyaman, di sanalah seharusnya hatiku berada” ucap Ariy (hal 13-17).

Banyak kisah menarik dalam tiap perjalanan penulis, seperti ketika ia bertemu dengan Monica, gadis kulit putih bermabut pendek yang mengarungi samudera membentang dunia untuk melipur hatinya yang tengah terluka setelah putus dengan sang pacar. Tentang pertemuannya dengan Paul, cowok ganteng rendah hati penyuka traveling sekaligus artis terkenal di Thailand, yang dengan sukarela mau memberi tumpangan tempat tinggal, pertemuannya dengan John Doe, si “Topan Badai” yang suka mengumpat dan marah-marah, hingga pertemuannya dengan Duco, pemuda sopan berwawasan luas, mahasiswa kedokteran dari Belanda, yang tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Satu hal yang mencengangkan Ariy, Duco terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah gay. Meski begitu, Duco bilang bahwa dunianya tak melulu tentang gay. Dan inilah jawaban Duco saat Ariy bertanya; apakah kamu bahagia, Duco?

“Selama aku bisa bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, sebagai dokter bagi mereka yang membutuhkan jasaku, menjadi guru bagi mereka yang membutuhkan pengetahuanku, dan menjadi teman bagi mereka yang menginginkanku, maka selama itu pula aku akan bahagia,” ujar Duco sambil tersenyum (hal 116-123).  
***
Diresensi oleh Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen.






Article source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/514277/


Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Sunday, February 24, 2013

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Home Internasional

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia


 

Sebuah baliho di Kelantan

 


Senin, 25 Februari 2013

DALAM konstelasi perpolitikan Malaysia, Kelantan selalu “stand out” atau tampil beda dari negeri-negeri lain di negeri Semenanjung Tanah Melayu.  Betapa tidak, di negeri yang terletak di Pantai Timur Malaysia ini  Partai Islam Semalaysia (PAS), yakni partai oposisi paling sengit bagi pemerintah yang sedang berkuasa di Putrajaya, selalu keluar sebagai pemenang. Hal tersebut sudah berlangsung selama dua puluh dua tahun. Sebenarnya sudah sering kali para pemimpin Barisan Nasional (BN), berkoar-koar akan mengambil alih pemerintahan negeri Kelantan. Tetapi sejauh ini rakyat Kelantan tetap tidak bergeming dari kepemimpinan ulama. Begitu mereka menyebut pemerintahan PAS.

Fenomena ini tentu menarik dicermati di saat partai-partai Islam di Indonesia sedang kelimpungan. Seandainya survei-survei yang banyak beredar mengenai bakal anjloknya suara partai Islam di Indonesia memang layak dipercayai.

Berada di Kelantan pada detik-detik menjelang Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia ke-13 merupakan pengalaman menarik karena penulis berkesempatan bertemu dan berbincang secara langsung dengan beberapa orang calon pemilih. Kesan bahwa partai Islam sudah menjadi lagu lama seperti yang sering didengungkan lembaga-lembaga survey seolah tidak berlaku di Negeri Serambi Makkah ini.

Kepemimpinan ulama bagi rakyat Kelantan adalah prinsip karena menjadi bagian dari perjuangan menegakkan syariat. Sementara di Indonesia istilah “syariat” ini semakin dijauhi karena telah dilekatkan dengan streotipe menakutkan: terorisme!

“Bisa-bisanya mereka mengaku Muslim tetapi ketika dibicarakan hukum Islam eh ketakutan. Mereka bilang hukum hudud itu sudah ketinggalan zaman. ‘Lagu’ gapo (apa pula) ini?,” ujar seorang penceramah di Masjid Wakaf Bharu malam Jumat itu.

Pengajian yang menghadirkan penceramah terkenal Malaysia tersebut dikerumuni ribuan anak-anak muda. Tidak kira anak muda yang bersorban atau yang ‘masih’ memakai anting-anting serta memakai kalung sebesar ibu jari semuanya rela duduk berdesak-desakan. Sambutan terhadap penceramah ‘selebriti’ seperti Azhar Idrus selalu seperti itu.  Sehingga jalan umum memasuki masjid terpaksa disulap jadi selasar tambahan.

Tetapi jangan bayangkan Azhar Idrus sering tampil di RTM 1 atau TV3 sehingga dia disebut selebriti. Penceramah yang tidak ramah dengan arah kebijakan pemerintahan di Malaysia tidak mungkin bisa masuk televisi untuk berceramah. Ketenarannya, selain karena ceramahnya memang ‘asyik’, adalah manajemen publikasi yang baik dengan memanfaatkan social network seperti youtube.

Suasana religius Kelantan tersebut kembali terlihat pagi berikutnya. Ribuan orang kembali meramaikan kuliah rutin yang digelar di sebuah musholla di tengah kota. Sementara diluarnya pula meriah dengan bazar-bazar yang diadakan penduduk dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota Bharu.

“Kuliah seperti ini diadakan secara rutin setiap jumat pagi,” ujar Rusydi salah seorang warga Kota Bharu sambil membawa penulis mengitari beberapa blok yang dipenuhi dengan tenda-tenda di mana penduduk dari pelosok Kelantan menjajankan dagangan mereka.

Biasanya kajian di Dataran Ilmu tersebut diisi langsung oleh Menteri Besar (Gubernur, red) Kelantan, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Tetapi karena Menteri Besar Kelantan tersebut sedang melakukan umrah ke Tanah Suci, ceramah lalu dibawakan oleh ustadz-ustadz senior yang memang ramai sekali jumlahnya di Kelantan.

Tidak mengherankan jika Kelantan seperti gudang ustadz bagi Malaysia, mengingat Kelantan sejak zaman dahulu sudah dikenal sebagai “negeri pondok pesantren.”

Sampai saat ini mayoritas pelajar Malaysia yang studi di Kairo, Mesir, juga berasal dari Kelantan. Jumlahnya lebih dari dua ribu orang. Ketika para ustadz ini berpolitik, mereka ingin persepsi politik sebagai “dirty arts” atau kerja kotor diisi dengan ruh Islam menjadi kerja dakwah. Sebagai kerja dakwah, politik harus bersih. Mungkin terdengar klise, tetapi politik uang misalnya amat sulit dipraktekkan di Kelantan.

Menarik juga dicermati dukungan kuat yang didapatkan PAS dari kalangan intelektual dan profesional di Kelantan. Menurut YB Dato’ Hj Che Abdullah Mat Nawi, anggota dewan asal Wakaf Bharu, hal ini terjadi karena imej positif yang berhasil didapatkan PAS setelah bekerja keras dengan bersih dan sungguh-sungguh selama 22 tahun menerajui (memerintah) negeri Kelantan.

“Didaerah seperti Kubang Krian yang didiami doktor, dosen dan cerdik pandai … cukup letakkan topi haji diatas meja undi maka secara otomatis suara mereka akan diraup oleh PAS,” ujar Dato’ Che Abdullah Mat Nawi pula.

Menurutnya  kepercayaan  yang diberikan rakyat adalah amanah. Entah berapa orang yang sanggup melakukan ini: keluar rumah pukul tujuh pagi, turun ke pelosok-pelosok desa untuk menyambangi rakyat lalu pulang jam 1 atau 2 dini hari. Tetapi aktifitas tersebut merupakan rutinitasnya jika kebetulan tidak ada jam kantor. Selama dua hari mengikuti aktifitas keseharian exco Negeri Kelantan membuat penulis berpikir “kalau saya YB dah lama minta berhenti!”

Tak punya hak royalti

Negeri yang sempat ditinggali Manohara ini sama sekali tidak bisa dikatakan miskin. Pertanian di Kelantan adalah nomor dua terbesar di Malaysia.

“Tetapi Kelantan bisa kaya raya jika tuntutan kami agar royalti minyak dan gas yang telah disetujui secara tertulis dengan pihak Petronas sejak tahun 1975 segera dikembalikan ke rakyat,” ujar beberapa orang warga Kelantan.

Bagi orang Kelantan sikap pemerintah pusat terhadap mereka selama ini dianggap tidak adil. Sabah dan Sarawak menerima royalti minyak dan gas bumi mereka, demikian pula Trengganu, tetapi Kelantan tidak diberi apa-apa.

Isu ini dimainkan kembali oleh partai-partai oposisi di Malaysia menjelang Pilihan Raya Umum 13 yang disebut sebagai Pilihan Raya (Pemilu) paling menentukan dalam sejarah Malaysia.

Setelah terdepak dari kekuasaan pada tahun 2003, seiring dengan eko reformasi di Indonesia, Mahathir Muhammad tidak lantas tenggelam seperti keluarga cendana. Pengaruhnya luar biasa mencengkram, sehingga dia mampu menyingkirkan Abdullah Ahmad Badawi yang menggantikannya ketika itu lalu digantikannya dengan orang yang bisa melindungi ‘kebijakan-kebijakannya’ yaitu PM Dato’ Sri Najib Tun Razak.

Begitu kuatnya pengaruh Mahathir dalam kebijakan Najib ini diakui sendiri oleh PM yang merupakan incumbent itu. Seperti dikutip oleh Malaysiadigest.com (3 Desember 2012), Najib mengakui jasa Mahathir dengan Visi 2020nya, “Dia dapat tugas mudah, saya dapat sulitnya,” ujar Najib dengan maksud bercanda, “dia mengumumkan visi 2020, saya yang harus mengisinya. Karena dia masih terus memantau saya.”

Kalau dalam PRU 13 UMNO dan aliansinya dalam Barisan Nasional sampai kalah dengan Pakatan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim maka reformasi yang sesungguhnya bakal terjadi di semenanjung tanah Melayu ini.  Sejauh ini saja, hasil dari PRU 12 lima tahun yang lalu, sudah ada empat dari tiga belas Negara bagian di Malaysia, yaitu: Kedah, Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor yang telah berhasil dikuasai Pakatan Rakyat. Meskipun Perdana Menteri Najib Tun Razak begitu yakin akan mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai PR tersebut ke tangan BN namun banyak analis yang meragukan kemampuan BN melakukan hal tersebut.

Di jejaring sosial, misalnya, orang masih hangat membicarakan kejadian di Penang beberapa waktu yang lalu. Seperti diberitakan media massa, lebih jelas lagi di Youtube, BN telah berhasil membawa Psy si penari Gangnam Style ke Penang bersempena dengan sambutan Hari Raya Imlek. Tarifnya tidak tanggung-tanggung: dua juta ringgit untuk bergangnam ria bersama Psy selama kurang dari lima belas menit.

Di sela-sela acara tersebut Perdana Menteri Malaysia melontarkan pertanyaan,  “Are you ready for BN?” Tetapi di luar dugaannya, para pengunjung yang didominasi kawula muda justru meneriakkan: “No!” secara beramai-ramai.

Memang agak sulit membayangkan seperti apa nasib syariat Islam jika PR berhasil menduduki Putrajaya dalam PRU 13 nanti. Partai Keadilan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim jelas bukan partai berbasis Islam seperti PAS. Begitu pula DAP, anggota Pakatan Rakyat yang didominasi masyarakat China dan India, sama sekali bukan partai yang ideologically friendly dengan visi dan misi yang diperjuangkan PAS. Sejauh ini partai-partai tersebut memang berhasil disatukan oleh kepentingan sesaat.

Mengenai isu ini Presiden PAS, Abdul Hadi Awang menegaskan dengan tidak ragu-ragu, “PAS memberi jaminan kerjasama dengan parti Pakatan Rakyat -dengan DAP, dengan PKR- selagi dapat mempertahankan Melayu Islam. Sekiranya kerjasama itu merugikan Melayu Islam, merugikan Islam…PAS keluar dari Pakatan Rakyat dan tidak ada ragu-ragu lagi.” Sikap seperti inilah, menurut hemat kita, yang membuat PAS tidak pernah kehilangan dukungan konstitutennya. Setidaknya di negeri Kelantan Darun Naim.*

Syaifullah Yudha,  penulis adalah peminat kajian Bahasa dan Peradaban Islam. Saat ini sedang mengawali perjalanan ke negeri-negeri di Asia Timur

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/hmi-jangan-masuk-kemelut-politik/30593


“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Sunday, February 10, 2013

Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Richard Susilo *)

TRIBUNNEWS.COM - Banyak sekali orang Indonesia yang mau ke Jepang. Selain untuk belajar, mencari pengalaman kerja, serta menimba ilmu lebih banyak lagi dari negeri Sakura, tentu juga untuk memahami bahasa Jepang serta budayanya.

Namun kita sering tidak menyadari, bahwa Heiwa no Kuni (negeri damai) tersebut banyak sekali  menggunakan minyak babi, sedangkan orang Indonesia umumnya beragama Islam. Bahkan satu-satunya negara di dunia di mana McDonald menjual makanan dengan menu Po-ku Hanba-ga (Hamburger Babi), hanyalah Jepang.

Inilah yang memberatkan kaum muslim dunia tinggal di Jepang. Harus banyak memilih makanan kalau tak mau makan makanan yang diharamkan agama Islam.

Makanan adalah salah satu sumber utama kehidupan manusia. Manusia akan meninggal kalau tak makan, tapi manusia tidak akan meninggal hanya karena tidak bisa berbahasa asing. Jadi sebenarnya unsur bahasa, walaupun penting, masih kalah  penting dibandingkan makanan, khususnya bagi umat Islam yang mau ke Jepang. Hal ini jelas perlu benar-benar disadari terlebih dulu dan lebih lanjut oleh orang yang mau ke Jepang.

Permintaan Perusahaan

Dalam pertemuan dengan para pimpinan perusahaan Jepang, penulis selalu mendapatkan permintaan agar mencarikan tenaga kerja Indonesia, khususnya bagi perusahaan mereka yang ada di Indonesia, terutama yang mampu berbahasa Jepang sehingga komunikasi antara staf dengan pimpinan orang Jepang dapat berlangsung dengan baik.

Satu bukti sangat nyata bahwa memang bagi yang ingin bekerja di perusahaan Jepang, apalagi di negeri Sakura, harus bisa berbahasa Jepang agar dapat meningkatkan performance-nya lebih baik. Salah satu lembaga yang dapat direkomendasikan adalah Pandan College (www.pandan.ac.id) tidak hanya mengajarkan bahasa Jepang tetapi juga budaya, pola pikir dan cara bisnis orang Jepang dengan pengajar professional. Bahkan lulusan terbaik dari sekolah itu dijamin bisa ke Jepang.

Investasi Jepang di Indonesia saat ini memang masih sedikit sekitar 400 juta dolar AS dibandingkan 20 tahun lalu yang sekitar 4 miliar dolar AS. Jumlah investasi perusahaan Indonesia di Jepang pun sangat kecil hanya sekitar 8 juta dolar AS, paling kecil di antara negara Asean lain.

Hasil survei Jetro dan lembaga lain menunjukkan bahwa kestabilan politik dan keamanan, kepastian hukum, perburuhan (sumber daya manusia yang masih lemah, banyak unjuk rasa), infrastruktur , soal pajak (restitusi pajak tidak lancar berjalan), banyak korupsi, menjadi kendala investor Jepang masuk ke Indonesia.

Tapi lebih konkrit lagi mereka melihat soal perizinan usaha baru di Indonesia yang berbelit-belit. Belum lagi peraturan daerah satu dengan lainnya sering tidak sinkron. Misalnya ada satu kabupaten di Bali mensyaratkan perusahaan asing (PMA) yang mendirikan hotel di sana minimal harus bintang dua. Tetapi di kabupaten lain, juga di Bali, mensyaratkan minimal bintang tiga.

Proses perizinan di Indonesia mencapai 86 hari (hasil survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia [LPEM-UI] September 2007). Sementara negara lain seperti di New Zealand hanya seminggu diurus sudah selesai. Jauh berbeda bukan?

Data dari Bank Dunia (World Bank Investment Climate Surveys 2005) menunjukkan bahwa Indonesia  yang kaya dengan sumber energi dan alam ini masih kalah cepat dalam pengurusan perizinan bagi investor asing dibandingkan Moroko, Uganda, China, India dan bahkan El-Savador.

Keadaan di dalam negeri sendiri yang belum beres ini kenyataan di lapangan memang banyak dikeluhan pengusaha Jepang, “Kalau Indonesia sudah cantik berbenah diri, tak usah kampanye untuk menarik investor asing, dengan sendirinya mereka pasti datang sendiri,” papar seorang Presdir perusahaan besar Jepang kepada penulis.

Memang benar, mungkin ada baiknya kita berkaca diri dulu sebelum bertindak lebih lanjut. Jangan mau di-ninabobo-kan oleh kekayaan alam kita sendiri. Mungkin ada baiknya kita renungkan bersama menjelang peringatan 55 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang ini.
 
Informasi lengkap lihat: http://www.tribunnews.com/topics/tips-bisnis-jepang.
Konsultasi, kritik, saran, ide dan segalanya silakan email ke: info@promosi.jp

*) Penulis adalah CEO Office Promosi Ltd, Tokyo Japan, berdomisili dan berpengalaman lebih dari 20 tahun di Jepang

Article source: http://news.detik.com/read/2012/05/28/180046/1926703/10/pemalsu-ijazah-dibekuk-di-semarang-gaet-klien-di-bimbingan-belajar?9922032


Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Sunday, December 16, 2012

Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Foto: Chairul Sya’ban | Dok TGJ Mirza Alfath (di depan mikrophone) sedang menyampaikan permintaan maaf.Usai disyahadatkan kembali oleh MPU seraya meminta agar Mirza Alfath (MA) dan masyarakat saling memaafkan, kasus penghinaan terhadap Islam di akun facebooknya reda di media, tetapi di jejaring sosial dan mulut ke mulut isu ini masih hangat dibicarakan. Kita pantas bersyukur masalahnya telah selesai, namun ada hal lain yang luput dari berbagai analisis. Penulis mendalami isu ini dari dua sisi, Pertama, sebenarnya heboh kejadian ini sangat dipengaruhi oleh faktor blow up media cetak hingga sang dosen mendapatkan kawalan polisi bagai seorang pejabat dan akhirnya mendapat sangsi dari rektor Universitas tempat ia bekerja.

Jika tidak, kasus ini mungkin akan berlalu dengan sendirinya di alam maya. Ke dua, dari sisi “bahan hinaan” yang diposting oleh yang bersangkutan, seharusnya menjadi perhatian khusus justru nyaris tidak “tersentuh”. Opini Hafnidar Hasbi (HH), dosen dari Universitas yang sama, (Freemason JIL dan Yahudi, Serambi, 30 /11/2012) sebenarnya juga tidak memberi jawaban spesifik untuk itu walaupun menurut HH secara pribadi MA mengaku sebagai penganut freemason.  

Semua sepakat tentang keharusan mewaspadai gerakan laten freemason, JIL atau sejenisnya dengan berbagai upaya antisipatif yang disinggung panjang lebar dalam opini tersebut. Tetapi mengkooptasikan analisis dan kesimpulan bahwa yang bersangkutan memiliki keterkaitan organisatoris dengan Freemason, JIL atau Yahudi diperlukan pembuktian, jika tidak dikhawatirkan akan menjadi “senjata makan tuan”. Tuduhan tak berdasar, bahkan tidak tertutup kemungkinan akan mengarah ke ranah pidana.Al- Qur’an mengajarkan agar dalam menyikapi berbagai objek berita harus dimulai dengan prinsip dan langkah-langkah check,  re-check and balance.

Selain itu, ada uraian HH yang sangat berpotensi menimbulkan bias bagi masyarakat luas untuk tidak dibenarkan berpikir kritis, misalnya HH menyebutkan bahwa latar belakang seorang jadi freemason disebabkan “..adanya pergulatan pikiran hebat yang terjadi dalam diri seseorang yang cenderung terlalu berpikir kritis terhadap fenomena di sekelilingnya” … Mereka siap melindungi dan terus merekonstruksi pemikirannya (cuci otak) melalui diskusi- diskusi, forum ilmiah, media cetak maupun elektronik.

Pernyataan ini bisa membunuh kebebasan media dan lembaga pendidikan, menggiring umat untuk tidak boleh berpikir kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitar plus persoalan global yang secara tidak langsung terkait dengan kita. Sebaliknya, diskusi kelompok kecil atau publik harus semakin digalakkan untuk memunculkan ide- ide brilian, merajut perbedaan- perbedan pandangan menjadi  solusi alternatif mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Di era Blackberry Messenger (BBM) ini, isu apapun bisa menyebar cepat setiap saat, sebab itu kita ingin agar reaksi massa tidak berujung pada “vonis dan hukuman” di luar penegak hukum/ lembaga peradilan. Seperti kasus Peulimbang yang kebetulan terjadi beruntun sebelum kasus MA, sebelumnya ada ‘insiden’ sekolah Fajar Hidayah, dan masih banyak lagi. Apalagi bila sampai mengakibatkan nyawa melayang “sia- sia”, karena kekerasan / pembunuhan dengan alasan dan dalam bentuk apapun di luar proses pengadilan tidak dibenarkan oleh hukum Negara/ Agama. 

Dalam sebuah Hadits Rasul bersabda: ”Si pembunuh dan yang dibunuh masuk neraka”, maksudnya jika terjadi kasus saling serang/ bunuh, para terduga pelaku harus difasilitasi untuk berdamai secara kekeluargaan, jika tidak tercapai kesepakatan damai baru ditempuh jalur hukum. Bagaimanapun, orang yang masih hidup tetap terbuka kemungkinan untuk berdialog, diberi pencerahan dan bertaubat sebab Allah Maha menerima taubat, hanya saja tentu membutuhkan “pendekatan” dan waktu. Tidak sedikit orang yang awalnya menghujat Islam dari kalangan muslim atau nonmuslim, setelah memahami dengan benar dan bertaubat, tampil menjadi pembela Islam di garda terdepan seperti Umar Ibn Khattab RA.

Benar bahwa masyarakat memiliki kewajiban mengawasi pelaksanaan syari’at atau bila menduga ada praktik menyimpang, tetapi tetap harus berkoordinasi dengan pihak berwenang dan bila kemudian terbukti sipelaku belum menghentikan kegiatan nya, dengan kepala dingin dan seksama, tetap saja harus ditempuh upaya secara hukum bersama pihak berwenang. Bila tidak, situasi justru akan semakin panas, meruncing, tak terkendali sehingga tindakan fisik alam bawah sadar karena terbakar nafsu amarah. Dalam skala makro ini bisa merambat dan melahirkan dendam- dendam baru menjadi konflik horizontal berkepanjangan yang terlalu sulit untuk dipulihkan.

Nampaknya indikasi ke arah itu sudah ada karena ini bukan kasus pertama, na’ udzubillah. Hendaknya jangan sampai ada kesan “pembiaran” terhadap kasus- kasus seperti ini, akhirnya “mengendap” apalagi menganggapnya sebagai efek jera agar aliran sesat tidak terulang. Menurut antropolog muslim, akar munculnya aliran sesat adalah ideologi akibat “kekosongan spiritual” sehingga orang yang notabene berpendidikanpun bisa terjangkit, kasarnya, orang yang menganut sebuah ideologi dalam kadar yang ekstrim “tidak takut mati”. Untuk melawannya diperlukan gerakan “counter ideologi” secara sistematis di semua lini terutama oleh kalangan Ulama Dayah, Kampus, LSM, Pemerintah dan tokoh masyarakat karena tindakan fisik berresiko semakin menyuburkannya.  

Memang tidak mudah, mungkin jika penulis berada di lokasi juga akan serba spontan dan emosional, manusiawi. Tetapi yang harus diingat bahwa jangan sampai niat membela agama (syari’at) dalam hitungan menit berubah menjadi bumerang tanpa sadar merusak sendi- sendi sosial dan ukhuwwah Islamiyyah yang mudah sekali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu termasuk jaringan freemason, JIL, Yahudi dan lain- lain. Bahkan orang Islam anti- syari’at sendiri untuk kepentingan merusak syari’at dari dalam.

Ke luar, mereka mempromosikan “wajah Islam” (syi’ar) yang angker dan menyeramkan, bahkan yang lebih miris bukan hanya dari isu- isu ekternal Islam, isu internal Islam seperti perbedaan aliran keislaman (mazhab) yang dibenarkan oleh agama pun selama ini faktanya lebih ampuh ‘menggerogoti’ fondasi persatuan dan menyulut permusuhan sesama umat Islam.     

Kembali ke MA, dari sisi “bahan olok- olok”, sebagian postingnya merupakan klaim atau pertanyaan- pertanyaan ‘biasa’ yang telah lama berkembang dalam kajian keislaman sehingga tidak seluruhnya murni penghinaan tapi juga faktor keawaman. Untuk itu, tidak semuanya harus dikemukakan atau dijawab melalui karya ilmiah/ ilmiah populer seperti saran Hasan Basri M. Nur (Al- Qura’n Bukan Skripsi, Serambi, 7/12/2012). Status dan komentar jejaring sosial juga merupakan ruang lingkup tersendiri dalam membangun kultur peradaban.

Hadits Rasulullah memberi bimbingan untuk ini: “Berbicaralah kepada manusia menurut tingkat pemahamannya”. Artinya ada level kajian tertentu yang merupakan “konsumsi” forum terbatas tidak boleh disebarkan ke publik tampa “sensor”. Nah, dengan berprasangka baik, di sinilah letak herannya,  dari sekian banyak facebooker yang sudah lama berdebat dengan MA tidak adakah yang mampu menjawab ‘celotehan- celotehan liar’ nya sehingga butuh “bantuan” media cetak? Ada apa di balik ini?

Beruntung dan respek kepada respon cepat aparat keamanan, kebijakan MPU dan sikap warga dalam menyikapi “efek negatif” dari surat pembaca (T. Zulkhairi, Droe keu droe, Serambi, 20/11/2012) tidak berakibat fatal.
Wahbah Zuhaily, Pakar Hukum Islam Internasional di sela- sela kunjungannya ke Aceh beberapa waktu lalu, sempat mengingatkan Aceh agar tidak “overdosis” menghadapi berbagai kritikan penegakan syari’at Islam. Ia menegaskan: “bahwa Aceh sedang mengemban tugas besar, jalannya masih panjang dan terjal, pada hakikatnya menjawab kritik dengan cara- cara yang cerdas dan proporsional adalah bagian fundamental dari syari’at itu sendiri yang sangat dikedepankan sejak era Nabi Muhammad SAW”.

Karenanya, diperlukan kehati hatian dalam memblow up isu- isu sensitif di media massa sehingga tidak perlu “membakar lumbung padi hanya untuk menangkap seekor tikus”. Pola pengelolaan dan respon isu via media massa secara terukur dan objektif dari ‘subjek berita’, ‘objek berita’ dan ‘publik’ akan berdampak positif bagi terciptanya keseimbangan antara etika dan kebebasan berekspresi di dunia maya. Tentu saja bukan ’kebebasan mutlak’ ala- barat.     

Sebagai contoh, penulis coba menjawab posting MA tanggal 3 Juli 2012; “Hukum Syariah jelas banyak sekali kelemahan dan kekurangan, ia sudah tidak layak lagi dipertahankan bagi manusia modern dan masyarakat maju. Hukum syariah hanya cocok pada jamannya ketika manusia masih minim ilmu pengetahuan”. Salah satu kelemahan syariah Islam adalah bahwa hukum-hukumnya tidak pernah memperkenankan ‘bukti- bukti lapangan’ dan ilmu pengetahuan dalam mengambil keputusan hukum, ia hanya bersandar pada saksi-saksi yang ter-reputasi, misalnya dalam kasus pemerkosaan, “korban harus membawa 4 orang saksi yang melihat langsung untuk menjatuhi hukuman kpd tersangka”. Sementara dalam kasus perzinahan, perempuan hamil cukup dijadikan bukti perzinahan telah terjadi untuk di rajam (meskipun hukum rajam sendiri tidak diatur dalam Al-Quran). Adakah keadilan dalam hukum Allah yang katanya Maha Adil itu?” (rilis theglobejournal.com, 23/11/2012).

Kesimpulan di atas rancu, dalam sistem hukum Islam, saksi bukan satu- satunya alat bukti.  Secara tersurat Al- Qur’an baik untuk kasus pemerkosaan atau zina memang tidak menggunakan istilah alat bukti (al- bayyinah), tetapi istilah ini diterangkan lebih lanjut dalam Hadits. Lafaz al- bayyinah memiliki makna tak terbatas mencakup segala sesuatu yang sah dan bisa menjadi alat bukti di pengadilan seperti surat- surat, alat pemeriksaan setempat (bukti- bukti lapangan). Keterangan ahli termasuk bantuan iptek/ sains seperti tes medis (DNA) untuk kasus pemerkosan/ perzinahan, uji laboratorium biji kopi luwak dan lain- lain sehingga sangat layak dipertahankan bagi manusia super modern sekalipun.

Yang tidak realistis, bila al- Qur’an/ Hadits menyebut DNA, laboratorium, CCTV dan sebagainya yang belum ada pada saat diwahyukan oleh Allah. Harusnya 4 orang atau 2 orang saksi yang ter- reputasi sesuai konteksnya di mana kondisi waktu itu saksi masih merupakan alat bukti yang dominan dan meminimalisir terjadinya kesaksian palsu. Inilah letak keadilan Allah yang Maha Tahu dan Maha adil. Ya, semoga MA menjadi yang terakhir, bila ia serius ingin mempertahankan pahamnya, silahkan berargumen “seliar- liarnya” di forum- forum tertentu bersama para ahli. Kalaupun ingin memposting di jejaring sosial jangan lupa menuliskan kata- kata ”status dan komentarnya bukan untuk konsumsi media cetak (publik)!”.

Penulis adalah Presenter AcehTV, email/fb azmiliano_rox@yahoo.com.

 

Article source: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/19/327290/293/14/Peserta-Ujian-Masuk-PTAIN-Naik-150-Persen


Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Tuesday, May 7, 2013

Konflik Suriah dan Tiga Kemungkinan Skenario Hizbullah

Home Gazw Al-Fikr



Konflik Suriah dan Tiga Kemungkinan Skenario Hizbullah





 


 




Selasa, 07 Mei 2013


Oleh: Reza Ageung S


30 April 2013 lalu, Hasan Nasrallah, Sekjen milisi Hizbullah muncul di TV Al Manar, Beirut Libanon. Dalam tayangan berdurasi lebih dari satu jam itu, awalanya Nasrallah dalam pidatonya membahas persoalan Israel-Palestina. Nada suaranya meninggi ketika masuk di pembahasan Suriah. “Suriah memiliki teman-teman sejati”, begitu tegasnya, “yang tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Amerika, Israel, atau Jamaah Takfiri.”


Keberadaanteman-teman sejati itu, yang tentu saja adalah Rusia, Iran dan Hizbullahsendiri semakin menunjukkan kerapuhan rezim Assad yang sudah tidak mampu menopang patahnya kaki-kaki kursi kekuasaannya sehingga membutuhkan tangan-tangan eksternal untuk menopang. Oktober 2012, Nasralah membenarkan keberadaan tentara Hizbullah di Suriah namun katanya atas nama pribadi, bukan partai . Hal ini menjawab keraguan sebagian pihak atas kehadiran anasir partai yang oleh sebagian negara Barat dimasukkan dalam daftar teroris tersebut dalam konflik Suriah. Namun, pidato terakhir Nasralah semakin menguatkan bukti bahwa bagaimana pun Hizbullahmemang ingin hadir di dalam konflik.


Abdul Hamid Zakaria, juru  bicara FSA, bersaksi bahwa ada 2000 tentara Hizbullahselama ini memperkuat rezim di Damaskus, dan 3500 lainnya di perbatasan Suriah – Libanon . Ini bukan isapan jempol, apalagi para pejuang Suriah sudah pernah terlibat bentrokan dengan milisi Syiah tersebut, misalnya pada Februari 2013 . Oleh karenanya Muadz al-Khatib, mantan presiden Koalisi Oposisi Suriah (pro-Barat) pada April 2013 lalu menuntut Hizbu**** agar menarik diri dari Suriah.


Tiga Kemungkinan Skenario


Apa sebenarnya yang diinginkan Hizbullah? Mengapa pion Iran tersebut keukeuh ingin terjun ke dalam Perang Suriah walaupun mantan sekjen Hizbulah, Sobhi Tfaili secara terbuka pada Februari 2013 lalu telah mengkritik Hizbullah dengan mengatakan bahwa tentara Hizbullah yang “gugur” di Suriah akan masuk neraka dan tidak dapat disebut sebagai martir karena telah membantu rezim dan kejahatannya membunuhi anak-anak dan menghancurkan rumah-rumah?


Setidaknya ada tiga kemungkinan maksud di balik terjunnya Hizbullah


Pertama, memulihkan kekuasaan Rezim Assad. Alasan klasik Blok Syiah adalah bahwa Assad adalah front penting dalam perlawanan terhadap Israel untuk menyelamatkan Palestina. Alasan ini akan nampak ironis ketika fakta berbicara bahwa Assad telah mengorbankan puluhan ribu nyawa rakyatnya ketika merasa kekuasannya terancam, lalu berapa nyawa Yahudi (jika ada) yang ia bunuh ketika Israel mengancam dan membombardir Gaza?


Hizbullah berargumen bahwa selama ini Damaskus di samping Teheran adalah penyokong utama perjuangan bersenjata Hizbullah dan HAMAS, sehingga layak dipertahankan demi keberlangsungan jihad membebaskan Palestina. Padahal, sebagaimana pernah penulis paparkan dalam artikel terdahulu, Hamas-Iran dan kartu penting bernama Palestina , HAMAS sendiri tidak berkeberatan untuk berseberangan sikap dengan rezim Assad atas dasar pelanggaran kemanusiaan. Meski, dengan sikapnya tersebut HAMAS rela Iran memotong bantuannya kepada organisasi perlawanan itu. Lalu mengapa Hizbullah harus sewot?


Kemungkinan kedua adalah memberi jalan kepada Iran, majikan Hizbullah untuk mendominasi politik Suriah. Ini sama saja dengan Irakisasi Suriah, meniru kesuksesan Iran menanamkan pengaruhnya di Iraq. Pertanyaannya, apakah dengan meluasnya dominasi Iran akan berbanding lurus dengan melemahnya pengaruh koalisi Amerika Serikat-Israel di kawasan?


Padahal sebagaimana penulis paparkan dalam artikel Krisis Irak dan Perselingkuhan Iran-Amerika ,justru dengan terbentuknya rezim al Maliki yang didominasi Syiah pro-Iran di Iraq, Amerika Serikat malah mendapat rekan di Iraq, karena boneka AS tersebut ditopang oleh pengaruh Iran. Jadi, perubahan apa yang diharapkan dengan dominannya Iran di Suriah?


Koar-koar “Membela Palestina” sudah menjadi pepesan kosong sejak Iran, majikan Hizbullah menunjukkan keridhaannya terhadap penjajahan AS atas negara-negara tetangganya!


Sebenarnya kedua skenario tersebut di atas akan menemui rintangan yang berat karena, tidak sebagaimana di Iraq, mayoritas rakyat Suriah adalah Sunni. Sentimen penindasan minoritas Syiah Nushairiyah sudah menyatu dengan bahan bakar ideologisasi kaum Sunni dalam revolusi Suriah. Memaksakan dominasi Blok Syiah di Suriah hanya akan memperpanjang konflik. Maka Hizbullah akan beranjak ke kemungkinan ketiga, yaitu terjun ke dalam konflik semata-mata untuk menghalangi gerakan Sunni Ideologis untuk mengambil alih kekuasaan pasca Assad.


Hal ini sebenarnya sudah tersirat dalam kata-kata Nasrallah, “tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Amerika, Israel, atau Jamaah Takfiri.” Jamaah Takfiri yang dimaksud tentu tidak lain adalah mujahidin Sunni. Di antara mereka ada Jabhah Nushrah, kelompok paling dominan dalam jihad Suriah yang secara resmi sudah dinobatkan sebagai teroris oleh AS. Kelompok seperti itu, di samping Ahrar asy-Syam dan sederet kelompok lainnya jelas-jelas mencita-citakan Negara Islam pasca runtuhnya rezim Assad.


Bukan hanya Hizbullah yang cemas dengan pergerakan mujahidin. AS pun menggalau ketika hendak mengirim bantuan persenjataan untuk oposisi Suriah setelah muncul dugaan bahwa Assad akan menggunakan senjata kimia. AS khawatir persenjataan akan jatuh ke tangan “pejuang jihadis”.


Bukan untuk Melawan Amerika dan Israel?


Barangkali pembaca bertanya-tanya, dengan kata-kata Nasrallah di atas, bukankah menunjukkan bahwa Hizbullah ingin juga melawan konspirasi Amerika dan Israel?


Sesungguhnyalah, dengan utopisnya dua skenario di atas, mustahil bagi Hizbullah untuk melawan Amerika dan Israel dengan jalan mempertahankan rezim Assad, atau memberi jalan pada Iran untuk mendominasi pemerintahan Suriah.


Lagipula, jika Blok Syiah benar-benar ingin melawan Amerika dan Israel, mengapa tidak sedari dulu Iran menurunkan pasukannya membela Muslimin Iraq dan Afghanistan dari invasi AS?


Mengapa baru sekarang ketika Suriah hendak di-obok-obok Barat, Iran dan Hizbullah ketar-ketir dan menerjunkan pasukan? Jika sekarang Hizbullah mampu menembus perbatasan Suriah untuk memperkuat Assad yang katanya hendak digoyang oleh konspirasi Israel, mengapa tidak sedari dulu Hizbullah masuk ke Palestina memperkuat HAMAS melawan Israel? Ada apa?


Penulis peminat masalah politik Iran


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.okezone.com/read/2013/03/20/339/778807/nu-santet-nyata-mengakuinya-bukan-musyrik


Konflik Suriah dan Tiga Kemungkinan Skenario Hizbullah

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Thursday, May 16, 2013

Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Home Tsaqafah



Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak





 

Al-Kindi: “ilmuan Muslim tidak menerima bulat-bulat ilmu asing” (foto: ilustrasi)



 




Jum’at, 17 Mei 2013


Oleh: Edi Kurniawan


BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.


Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.


Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.


Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.


Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.


Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.


Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka  mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)


Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)


Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.


Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.


Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.


Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.


Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)


Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.


Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan  kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).


Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.


Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.


“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).


Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.


Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.


Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.*


Penulis adalah mahasiswa master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi


Red: Cholis Akbar


Article source: http://travel.detik.com/read/2013/01/03/095342/2131901/1308/inilah-5-masjid-bersejarah-di-singapura


Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Wednesday, September 18, 2013

Mitos Gelombang Muslim (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra


Ada banyak mitos gelombang Muslim di Barat, tegasnya Eropa dan Amerika Utara. Terdapat kalangan Barat yang sangat khawatir dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk warga Muslim dalam diaspora masing-masing. Kekhawatiran ini ditambah terus mengalirnya migran Muslim dari kawasan dunia Islam yang menurut imajinasi mereka akhirnya bakal membuat kaum Muslim menjadi mayoritas penduduk di kedua benua itu dan selanjutnya menguasai politik setempat.


Sejumlah penulis Barat yang membawa semangat anti-Muslim mengklaim, misalnya, pada 2025 nanti populasi Muslim mencapai sekitar 40 persen penduduk Uni Eropa, dan menjelang pertengahan abad 21 mereka menjadi mayoritas di benua ini. Klaim tentang gelombang Muslim ke Eropa dan Amerika Utara menimbulkan berbagai ‘mitos’ yang meningkatkan sikap anti-Muslim dan fobia Islam di kalangan masyarakat kedua benua tersebut. Akibatnya, kecemasan juga kian meningkat di kalangan Muslim, baik yang merupakan generasi kedua atau ketiga atau migran yang belum lama datang ke Eropa atau Amerika Utara.


Mengadakan beberapa kali perjalanan ke Eropa Barat sepanjang September 2013, saya juga menemukan peningkatan kecemasan di antara kaum Muslim Eropa tentang kian kuatnya sikap permusuhan (hostility) dari penduduk ‘pribumi’ lokal. Misalnya Ali Mahmud, sopir taksi asal Baghdad yang membawa saya dari Hotel Sheraton di pusat Kota Stockholm ke Bandara Arlanda pada awal September. Ketika saya tanya tentang kehidupannya belakangan ini, dia menjawab singkat, hidupnya kian sulit dan hampir selalu mendapat tatapan tajam penumpangnya yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian.


Mencoba berefleksi tentang nestapa Ali dan kalangan kaum Muslim Eropa lain, saya ibarat mendapatkan “pucuk dicinta ulam tiba” di Bandara Arlanda ketika di salah satu toko buku menemukan karya Doug Saunders, The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (New York: Vintage Books, 2012). Meski buku ini mencakup anak judul “immigrants” secara umum, isinya hampir sepenuhnya menyangkut tentang kaum Muslim migran yang menetap di Eropa dan Amerika Utara.


Walaupun begitu, ‘gelombang’ imigran ke Barat sebenarnya bukan hanya mencakup kaum Muslim. Sebelum datangnya migran Muslim setelah Perang Dunia II, sampai sekarang masih berlangsung apa yang disebut sebagai ‘gelombang’ Katolik dan ‘gelombang’ Yahudi di Eropa maupun Amerika Utara. Tetapi, gelombang kedua masyarakat keagamaan ini dalam hal tertentu berbeda dengan gelombang migran Muslim yang mulai berlangsung intensif sejak masa pasca-Perang Dunia II sampai sekarang.


Gelombang-gelombang imigran ke Barat selalu mendapatkan ‘perlawanan’ dari masyarakat lokal. Meskipun dalam kasus migran Muslim belakangan kelihatan lebih sengit. Kesengitan itu jelas banyak terkait dengan peristiwa penyerangan WTC di New York dan markas Pentagon 11 September 2001 di AS, yang kemudian disusul pengeboman di London dan Madrid.


Ketika gelombang kaum Katolik ke AS terus meningkat sejak dasawarsa awal abad 20, pada 1949 seorang penulis, Paul Blanchard, menerbitkan buku American Freedom and Catholic Power. Buku ini segera menjadi hit dengan masuk daftar best seller harian the New York Times selama 11 bulan berturut-turut. Edisi pertamanya terjual 240 ribu kopi dan dicetak ulang sampai 26 kali.


Blanchard menyalakan ‘lampu merah’ yang menyentakkan masyarakat Protestan Amerika. Ia mengatakan, gelombang migran Katolik ke Amerika mendatangkan ancaman serius bagi demokrasi, kesetaraan, dan sekularisme Amerika. Menurut dia, migran Katolik berasal dari negara-negara yang hampir sepenuhnya otoriter, fundamentalis secara keagamaan, dan menentang hak-hak perempuan serta menolak pembatasan kelahiran (birth control).


Selain itu, gereja Katolik menganut dogma tidak bisa diubah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. “Gereja [Katolik] adalah peninggalan otoritarianisme abad pertengahan yang tidak punya tempat pas dalam demokrasi Amerika,” tulisnya.


Lebih jauh, seperti juga tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Muslim belakangan, Blanchard menuduh migran Katolik dengan tingkat kelahiran yang tinggi bakal melampaui jumlah masyarakat Protestan, dan akhirnya menguasai kepresidenan Amerika. “Mereka tidak bakal terintegrasi, sebaliknya, membuat masyarakat terpisah yang berencana jahat (plot) memaksakan keimanan mereka secara lebih luas.”


Persepsi yang sama juga berlaku bagi kaum Yahudi yang mulai bermigrasi ke Amerika Utara sejak dasawarsa akhir abad 19. Umumnya mereka berpindah karena meningkatnya sikap anti-Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Semula, mereka bermigrasi ke Eropa Barat yang kemudian juga menjadi anti-Yahudi sehingga akhirnya berpindah ke Amerika Utara–AS dan Kanada.


Memang, di kota besar seperti New York, di mana terdapat imigran Yahudi dalam jumlah signifikan, mulai terlihat mereka membentuk masyarakat terpisah. Mereka tampil dengan penampilan fisik, agama, bahasa, pakaian, dan makanan (kosher) yang khas. Media setempat berulang kali mengingatkan dalam laporannya tentang “masalah orang asing” yang telah “menguasai” pertetanggaan. Orang-orang Yahudi sering dianggap sebagai pelaku kriminal, sehingga Komisioner Polisi New York, Theodore Bingham, pada 1908 menulis di North American Review, “Meski orang Yahudi hanya seperempat penduduk kota, separuh mereka adalah kriminal.”


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130917162730/limit/0/Umat-Kristen-Mesir-Dipaksa-Bayar-Pajak-300-Ribu-Per-Hari.html


Mitos Gelombang Muslim (1)

Monday, May 6, 2013

Jerry D Gray: Amerika Negara Paling Tidak Sehat di Dunia

Home Nasional



Jerry D Gray: Amerika Negara Paling Tidak Sehat di Dunia





 

padahal negara Paman Sam itu diakui sebagai negara nomor satu yang paling tidak sehat



 




Senin, 06 Mei 2013


Hidayatullah.com–Temuan 80 doter dan ilmuan Amerika mengungkapkan imunisasi sama sekali tidak cukup membantu kesahatan manusia. Bahkan anak autis di Amerika mencapai angka 1,2 juta saat ini, yang diduga penyebab utamanya adalah imunisasi.


Demikian disampaikan  Jerry D Grey, dalam “Seminar kesehatan, Rasulullah is My Doctor” hari Ahad (05/05/2013) di Auditorium IAIN Sunan Ampel Surabaya.


Acara yang berlangsung khidmat dan dimulai pukul 09.00 WIB dihadiri sekitar 500 orang aktivis herbal dan para terapis bekam seluruh Jawa Timur. Selain Jerry D Gray hadir pula Faishol Ishaq, praktisi bekam.


Muallaf


Menurut Jerry, vaksin imunisasi yang terdiri dari kompenen zat aluminium dan merkuri  akan menyebabkan manusia menderita berbagai macam.


Penulis buku “Rasulullah is My Docter” ini mempunyai pengalaman pahit tentang masalah kesehatan saat masih di AS. Pada awal bergabung di Angkatan Udara Amerika ia mengalami kesehatan yang buruk, suka marah-marah, dan stress berkepanjangan.


“Pada saat masuk Army (tentara), saya disuntik berulang-ulang, hal itu membuat kesehatan memburuk, saya menderita sakit di leher  berkepanjangan selama lima belas tahun, tapi setelah ikut bekam beberapa kali alhamdulillah sembuh,” ujar pria yang masuk di Indonesia sejak tahun 1985 ini.


Menurutnya sakit yang dialaminya berasal dari racun vaksinasi yang ia dapatkan pada waktu masuk tentara.


Jerry mengaku, pengenalannya dengan bekam dimulai dengan membaca sebuah hadits yang menganjurkan umat Islam berbekam setiap bulan sekali. Saat itu, warga Amerika yang telah masuk Islam dan menikah dengan Muslimah Indonesia ini, mencari terapi bekam. Bahkan sekarang sudah pandai bekam.


“Saya orang Amerika yang meninggalkan budaya Amerika, tapi mengapa orang Indonesia sekarang banyak yang mengikuti budaya Amerika?” ujar  penulis buku  “Demokrasi Barbar ala AS”  dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu.


Jerry mengaku heran mengapa masyakat Indonesia berkiblat dan  mengikuti Amerika, padahal negara Paman Sam itu diakui sebagai negara nomor satu yang paling tidak sehat, paling banyak warganya yang mengalami gangguan jiwa, dan paling banyak orang gemuknya di dunia.*/Samsul Bahri


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.malaysia-chronicle.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=91692:in-kuala-selangor-dzulkefly-not-spared-by-gutter-politics&Itemid=2


Jerry D Gray: Amerika Negara Paling Tidak Sehat di Dunia

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Saturday, March 9, 2013

Narkoba Masih Mengintai Kita

Narkoba terus mengintai dan membunuh. Kita tak bisa menutup mata dan lantas bergeming ketika melihat betapa kehidupan sekitar kita saat ini masih diincar oleh obat-obatan terlarang itu. Kehidupan yang tiba-tiba menjadi hancur berantakan disertai kematian mengenaskan. Itu hanya  potret kecil betapa narkoba terus meneror. Meski tak henti diperangi dari waktu ke waktu bagaikan musuh, penyalahgunaan narkoba masih terjadi dimana-mana.

Fakta Kasus Narkoba
Belum lama ini kita semua dikejutkan berita tertangkapnya seorang artis papan atas, Rafi Ahmad, pada Minggu (27/1) pukul 06.00 wib di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan oleh pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) karena kedapatan mengkonsumsi narkoba (entertainment .kompas.com 27/1).

Tertangkapnya Rafi, mengindikasikan bahwa narkoba bisa “mengincar”siapa saja, bahkan publik figur sekalipun. Kita tentunya belum lupa dengan sederet nama seperti Roy Marten, Sheila Marcia, Kaka Slank, Andika Kangen Band, yang juga menjadi korban barang haram tersebut. Mereka ikut menambah deretan nama-nama pengguna narkoba di negeri ini.

Hasil Penelitian BNN tahun 2011, menemukan fakta bahwa jumlah pengguna narkoba Indonesia mencapai 3,8 juta orang (tempo.com 15/3/12). Di Aceh, realitas kasus narkoba juga tak sedikit. Selama 2012, kepolisian Daerah menangani sampai 999 kasus narkotika, jumlah tersebut meningkat drastis dibanding tahun 2011 yang berjumlah 605 kasus. Kenyataan ini menempatkan Aceh pada peringkat ke empat sebagai provinsi terbanyak kasus penyalahgunaan dan kelompok pemakai narkoba di Indonesia (waspadamedan.com,30/1).

Aceh yang konon memiliki “benteng” syariat islam, bisa menempati posisi ke empat dari pengguna narkoba terbanyak di Indonesia. Pertayaannya, apa yang sudah terjadi dengan kita? Apakah syariat tidak berfungsi dengan baik dalam mendidik moral masyarakat?

Melihat fenomena ini, penulis berasumsi bahwa narkoba semakin dekat dengan kita, bahkan sedang dan akan terus mengintai kita. Presentase di atas bukan tidak mungkin sewaktu-waktu semakin bertambah. Lantas masihkah kita hanya berdiam diri? siapa yang patut disalahkan atas semua ini?

Media, Hedonisme dan Degradasi Moral
Kita memang tak perlu menunjuk hidung siapapun untuk saling menyalahkan. Kita hanya perlu jujur terhadap diri sendiri bahwa kita semua lah“tersangka” yang harus ikut bertanggung jawab atas realitas ini.

Tanpa disadari, pola hidup yang kita jalani saat ini semakin Hedonis (hanya mengejar kesenangan semata-mata) bahkan terkadang jauh dari syariat islam. Setiap kebiasaan, tontonan, bacaan, dan gaya pergaulan hanya “menuhankan” hura-hura. Sisi “manusia” kita terkadang lenyap, dan moral terlupakan begitu saja. Berbagai peluang negatif dan pengaruh dari hal-hal yang tidak bermanfaat masuk dengan mudah dan menyerang kehidupan kita.

Kontruksi budaya baru akibat majunya teknologi informasi dan komunikasi pun terkadang menggiring masyarakat ke arah hal-hal negatif.  Ketidakberdayaan dan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi arus kemajuan tersebut dengan sikap yang dewasa, akhirnya melahirkan krisis identitas. Masyarakat menjadi “galau” dan kehilangan benteng diri, sehingga berbagai pengaruh negatif yang ditahbiskan oleh teknologi dan media dengan mudahnya diterima. Termasuk salah satunya menjadi terperangkap dalam jerat narkoba.

Kita lihat saja bagaimana memprihatikannya pola kehidupan para remaja saat ini, tak terkecuali remaja Aceh. Berbagai sikap-sikap yang cendrung hedonis dipertontonkan oleh media, dan remaja menirunya. Dari mulai gaya berpakaian yang dituntut fashionable dengan gaya kebarat-baratan, cara berkomunikasi yang dituntut “gaul”dengan gadget-gadget canggih, hingga pergaulan bebas laki-laki dan perempuan yang menjerumuskan pada narkoba dan seks bebas. Semuanya dicontohkan oleh media, salah satunya televisi.

Jika hal ini kita kaitkan dengan teori, maka fenomena ini sejalan dengan sebuah gagasan yang dikemukakan salah seorang pakar komunikasi, George Gerbner , melalui Teori Kultivasi. Gebner menjelaskan bahwa pengaruh media massa (televisi) sangat besar bagi khalayak, dimana kehadirannya akan membentuk suatu kebudayaan baru. Itu sebabnya,budaya-budaya yang berkiblat hedonis pun menjadi budaya baru di masyarakat kita.  

Menurut Teori Kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat  dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisi nya.  

Mencerdasi pengaruh media
Kesimpulannya, pengaruh negatif media massa tanpa kita sadari telah menumbuhkan sikap hedonis, krisis moral dan krisis identitas dalam lingkungan masyarakat. Ketika masyarakat “galau” saat itulah narkoba begitu mudah mengintai lalu menghancurkan korbannya.

Penyalahgunaan narkoba yang kini mulai marak, terutama di Aceh yang notabene bersyariat islam ini perlu segera diwaspadai, karena hal itu tidak hanya akan merusak generasi Aceh untuk kedepan, tetapi juga meruntuhkan pilar-pilar syariat.

Potret negatif dari Globalisasi yang ditampilkan media massa saat ini terutama televisi sangat berbahaya jika tak difilter dengan baik. Pendidikan dan ilmu agama serta kedewasaan dalam menyikapi globalisasi dan perkembangan media sangat diperlukan. Masyarakat harus dididik untuk peka dalam mengamati tindak tanduk media dan bijak menerima pengaruhnya.

Perlu diingat bahwa siapapun akan diintai oleh narkoba. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri untuk menghalanginya agar kita tidak menjadi korban-korban berikutnya.
***

Penulis adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi Unimal dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan III

Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/02/07/33/758512/nikita-willy-bahagia-diego-michiels-masuk-islam


Narkoba Masih Mengintai Kita