Showing posts sorted by relevance for query kala. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kala. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Thursday, January 9, 2014

Perginya seorang amil

PEMBACA budiman, kali ini saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat sahabat saya, Almarhum Aidi Munawer Ahmed Shukri, mantan Pengurus Besar, Lembaga Zakat Selangor (LZS). Lebih 10 tahun dahulu, beliaulah insan yang telah memperkenalkan LZS kepada saya. Beliau jugalah yang meyakini bakat dakwah yang tersemai dalam diri saya, lalu memberikan peluang hingga akhirnya saya mampu menjadi seperti hari ini.


Insya-Allah, dalam setiap usaha dakwah yang saya lakukan, pasti ada sebahagian pahala yang tertitip untuknya di alam barzakh sana. Sebelum itu, beberapa bulan yang lalu kala menjelangnya tarikh 1 Januari 2014, saya telah menerima satu pesanan ringkas (SMS) daripada Aidi.


“Tuan-puan dijemput ke majlis bacaan Yaasin, tahlil dan doa selamat sempena perasmian perusahaan ikan salai saya pada 1 Januari 2014…”


Saya terkejut dengan SMS berkenaan. Untuk makluman, sahabat saya ini telah berjuang lebih dari lima tahun melawan serangan jantungnya.


Selama itu, Institut Jantung Negara (IJN) telah menjadi rumah utamanya dan rumahnya sendiri menjadi rumah kedua. Malah dadanya juga telah beberapa kali dibelah, ditebuk dan dibelah.


Saya tidak akan lupa saat beliau mengisahkan, sakitnya dada dibelah tidak tergambar dengan kata-kata dan beliau seboleh mungkin tidak mahu lagi menjalaninya.


Malam 31 Disember 2013, lebih kurang pukul 8.20 malam, sahabat saya itu berjuang untuk saat-saat akhir mencicipi saki baki nafas yang terukir di dunia ini.


Kala itu, saya sedang menyampaikan kuliah Maghrib di sebuah surau dan yakin ribuan orang lain bersiap-siap demi menanti detik 12 tengah malam, sama ada di program penuh hiburan mahu pun di majlis ilmu penuh peringatan. Sahabat saya itu pula, sedang bersiap-siap menerima panggilan Ilahi.


Esoknya, 1 Januari 2014 saya menerima khabar kematian. Sayangnya, saya tidak dapat mengunjunginya lantaran anak perlu mendaftar masuk ke asrama.


Namun, saya gagahi menziarahi isterinya Kak Yati selepas itu. Apatah lagi kami memang jiran lama dan saling mengenali. Kak Yati pun berkongsi kisah 40 hari sebelum suaminya, Aidi dijemput Ilahi. Saya yakin, kisah ini ada iktibar besar yang wajar dikongsi.



Majlis tahlil



“Pada 1 Januari 2014 baru-baru ini, benar-benar kami adakan majlis tahlil besar-besaran seperti yang Aidi mahu. Tapi, bukan sebagai perasmian perniagaanya, sebaliknya atas kematiannya.”


Kak Yati kelihatan begitu tabah menghadapi suasana. Benar, ujian berat yang telah dia dan anak-anaknya lalui sekian lama, membuatkan mereka lebih kuat mendepani ujian kehilangan.


Sejak Aidi mengidap sakit jantung sekitar 2006, kehidupan mereka sekeluarga berubah warna. Jangankan anak-anak dan isterinya, saya sebagai teman sepejabat pun turut merasai kehilangannya di tempat kerja.


“Aidi tidak guna langsung wang pampasan persaraan daripada LZS (Aidi telah bersara awal ekoran masalah kesihatan). Seluruh wangnya lebih daripada RM300,000 itu, dia manfaatkan untuk membuka kilang menyalai ikan.


“Malah dia pesan sangat-sangat, apa pun yang terjadi selepas ini, sama ada dia masih ada atau pergi, kilang itu mesti terus beroperasi. Tetapi, bukan untuk kami anak-beranak, sebaliknya untuk para asnaf zakat,” kata Kak Yati.


Itulah kesungguhan sahabat saya ini dalam meladeni amanah zakat. Biarpun nyawa sudah di hujung usia, dia tidak pernah melupakan asnaf zakat, khususnya kaum fuqara wal masakin dan mualaf yang melata.


“Kami membuka kilang itu di Subang Bestari dan Aidi mahu agar para pekerjanya diambil daripada kalangan asnaf zakat yang memang ditempatkan di sana oleh LZS. Baginya, dia mahu kilang itu menjadi nadi pembangunan diri asnaf,” kata Kak Yati.


Hakikatnya, komitmen Aidi menyantuni para asnaf bukanlah perkara baharu. Dalam buku Diari Seorang Amil (terbitan Galeri Ilmu), ada saya paparkan perihal kisah kami sama-sama menyelamatkan seorang bapa tunggal dan dua anak gadis suntinya di hutan simpan Kemensah pada 2003.


Malah, sebelum saya menjawat jawatan amil pun, Aidi pernah membawa saya mengunjungi sebuah keluarga miskin di Kampung Tok Pinang, Serendah dalam bulan Ramadan dan membawa pelbagai barangan untuk disedekahkan.


Saya juga tidak akan lupa saat seorang penerima bantuan bertaraf Orang Kurang Upaya (OKU) yang datang ke Pejabat LZS di Shah Alam pada 2013 untuk meminta LZS membaiki kerusi rodanya yang sudah rosak. Kebetulan dia bertemu Aidi, langsung kerusi rodanya digantikan dengan yang baharu. Malah siap berkuasa elektrik lagi. Menangis pakcik itu menerima hadiah kerusi roda baharu berkenaan.


Justeru, pengalaman saya dalam memikul tugas sebagai amil zakat bersama Aidi amat mengesankan. Maka, saya tidak hairan kecintaannya kepada para asnaf telah membuatkan dia sanggup menafkahkan seluruh wang pampasannya untuk tujuan menyediakan pekerjaan kepada sebilangan asnaf yang memerlukan. Calang-calang orang, pasti tidak sanggup melakukan sedemikian.


“Aidi juga berpesan, jika perniagaan itu menghasilkan keuntungan, maka jangan lupa tunaikan zakat. Malah, dia juga pesan agar lebihkan bahagian untuk diinfak.


“Bagi kami anak-beranak, sudah ada bahagian lain yang dia tinggalkan. Jadi, kami tidak perlu terlalu mengharap kepada perniagaan,” ujar Kak Yati.


Demikianlah wasiat yang Aidi titipkan kepada isterinya, kala usia 40 harinya kian mengensot meninggalkannya. Kesungguhan Aidi merealisasikan perniagaannya itu, dengan ‘kebugaran’ kira-kira sebulan yang Allah SWT berikan sebelum mentakdirkan dia harus pulang kepada Allah SWT, ibarat memberikan kesempatan terbaik buat Aidi merealisasikan impian.


Ya, impian menyantuni asnaf zakat selagi usia masih terpahat, kala 40 hari kian mendekat.



Bina sekolah tahfiz



“Aidi sebenarnya berhasrat untuk membina sekolah tahfiz selain daripada membina perniagaan demi membantu asnaf. Amat besar cita-citanya, tapi tidak sempat dia penuhi semua,” kata isterinya.


Demikianlah, masa yang berenjak, namun saya tetap terkenangkan betapa Aidi dan saya dahulu sama-sama mengimarahkan rumah Allah, bertadarus sepanjang malam di bulan Ramadan. Sama-sama turun mencari orang susah hingga kawasan pedalaman, sama-sama bergelut menjayakan Karnival Ummah dan banyak lagi memori indah yang telah kami catatkan di kanvas persahabatan kami.


Di akhir kalam ini, saya hanya mengharapkan semoga Aidi diberikan Allah SWT kelapangan dalam kuburnya. Selapang hatinya dahulu yang tega menyisihkan ‘masa dan harta’ demi melunasi maslahah ummah. Duhai sahabat, terimalah daripadaku dan pembaca sekalian, hadiah berupa sakalung surah buatmu dalam menagih kasihnya Allah, al-Fatihah.



PENULIS ialah Eksekutif Dakwah di Lembaga Zakat Selangor (MAIS)



Nota: Dalam tempoh tiga bulan ini, LZS telah kehilangan tiga orang amil, iaitu Mohd. Rais Jamil, Aidi Munawer dan Mohd. Lutfi Ibni Hijar, semoga mereka ditempatkan dalam kalangan orang-orang yang soleh. Amin.




Article source: http://www.theglobejournal.com/Opini/memahami-konflik-berdarah-di-mesir/index.php


Perginya seorang amil

Thursday, December 19, 2013

Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Berita Terkait



  • Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?

    Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?


  • Ternyata ayam masih bisa tumbuh gigi!


  • 3 Faktor yang buat manusia seakan merasakan keberadaan hantu

Merdeka.com – Sebuah prasasti berusia 900 tahun ditemukan di sebuah biara di Sudan. Di dalam prasasti itu, ditemukan beberapa rahasia yang terkuak, di antaranya adalah adanya tujuh jasad yang jadi mumi secara alami.


Seperti yang dilansir oleh LiveScience (17/12), biara yang jadi situs penemuan ini dulunya terletak di Kota Tua Dongala. Dulu, kota itu merupakan ibukota sebuah kerajaan besar bernama Makuria yang makmur di sepanjang lembah Sungai Nil.


Makuria sendiri adalah kerajaan Kristen yang berdiri sekitar satu milenium yang lalu atau sekitar tahun 1000-an masehi. Kala itu, Makuria menjalin hubungan baik dengan Kekhalifahan Islam yang letaknya berada di utara.


Adapun dalam prasasti itu disebutkan bahwa salah satu mumi merupakan jasad dari Uskup Agung Georgios, yang diduga merupakan pemuka agama paling kuat pada masanya di sana. Kesimpulan ini dibuat karena identitasnya tertulis di batu nisan dengan tanggal kematian 1113 Masehi dan wafat saat berusia 82 tahun. Selain jasad Uskup Agung Georgios, juga ditemukan enam jasad lain yang semuanya laki-laki dengan kisaran usia 40 tahunan.


Jasad ini sendiri disebut para peneliti tidak dengan sengaja dimumikan atau dalam artian lain mereka jadi mumi secara alamiah. Hal ini terlihat dari pakaian yang dikenakan semua jasad tersebut yang terlihat sederhana.


Dengan adanya temuan ini sendiri para peneliti berhasil menemukan jejak dari sebuah kerajaan yang hilang bernama Makuria. Kerajaan ini diduga pernah ada di sekitar Sudan dan bagian selatan Mesir yang kala itu masih masuk wilayah Islam.


“Periode abad ke-8 sampai 12 merupakan masa emas Makuria,” kata Artur Obluski, peneliti yang mewakili University of Chicago dan University of Warsaw.


Kala berdiri, Makuria dikenal sangat baik menjaga hubungan dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang terletak di utara. Bahkan, kedua kerajaan itu sering melakukan aktivitas perdagangan dan banyak rakyat Makuria yang jadi tentara bayaran Fatimiyah.


Sayang, keharmonisan antar agama ini sirna setelah Dinasti Fatimiyah hilang berganti Dinasti Ayyubiyyah. Pada 1171 masehi, Makuria diserang hingga hancur oleh saudaranya dari utara.












Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/12/10/mxl07s-georgette-lepaulle-tak-pernah-merasa-terlambat-ucapkan-syahadat


Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Thursday, March 21, 2013

Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata

Home Gazw Al-Fikr

Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata


 

ecara psikologis, bullying termasuk merendahkan, kasar, tidak sopan


Kamis, 21 Maret 2013

Oleh: A. Kholis

“Kalmul-lisan anka min kalmis-sinan”
(dilukai lidah lebih pedih daripada dilukai gigi)
–pepatah Arab–

ADA cibiran yang pernah dilontarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk kalangan aktivis Islam. Bunyinya, “Blek ketekuk-tekuk, guru tabligh ambune penguk.” (kaleng terlipat-lipat, guru mengaji baunya tak sedap). Kalimat itu seolah dijadikan jingle sebagai pencitraan tak sedap kalangan PKI terhadap kaum Muslim.

Kala itu, jangankan menyemarakkan dakwah seperti sekarang, untuk menunjukkan identitas Islam saja kaum Muslimin ketakutan. Citra Islam benar-benar hancur. Islam identik dengan miskin, kotor, tidak punya masa depan cerah dalam pekerjaan kecuali menjadi guru mengaji.

Citra seperti ini terus berlanjut meski Orde Lama berganti Orde Baru. Sampai-sampai, di pertengahan 80-90-an, umat Islam malu menunjukkan identitas, apalagi berjilbab.

Pelan-pelan citra itu berkurang tatkala lahir Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di akhir tahun 90-an. Harian Kompas-yang lahir dari institusi gereja–menyindirnya dengan tulisan berjudul “Ijo Loyo-loyo”.

Tampilnya BJ Habibie, sejumlah pejabat negara, dan jenderal Muslim seperti Faisal Tanjung dan R Hartono (yang terang-terangan menggunakan simbol-simbol Islam) punya andil mengubah citra baru Islam di Indonesia. Sementara kelompok harakah Islam yang muncul pasca 1999, seperti tarbiyah (digambarkan dengan PKS), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan sejumlah harakah lain masih “di bawah tanah”.

Sekitar tahun 80-90-an, tidak ada perusahaan, institusi pemerintah, atau lingkungan militer yang menerima karyawati atau pegawai berjilbab. Sekarang, itu tidak terjadi lagi. Bahkan istri dan anak Jenderal (purn) Wiranto pun terang-terangan memakai jilbab. Jika itu terjadi di zaman LB Moerdani, bisa jadi Wiranto sudah “masuk kotak” dan tak akan mampu meraih pangkat jenderal.

Kekerasan Kata dan Simbol

Sepintas cibiran yang dilakukan PKI dan Kompas di atas kelihatan sepele. Namun sebenarnya ada pencitraan negatif terhadap Islam dalam kata-kata itu. Jika kriminolog asal Norwegia, Johann Galtung, pernah menggambarkan ada kekerasan struktural yang biasa digunakan penguasa, maka ini adalah “kekerasan kata-kata” (verbalistic violence).
 
Meminjam istilah Pramono dalam Bahasa dan Sastra Indonesia, Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI (Yogyakarta, 2002), verbalistic violence adalah bentuk kekerasan dalam kata-kata atau berbahasa. Bahasa tak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, namun juga untuk melakukan kekerasan yang kemudian dikenal dengan istilah kekerasan verbal.
 
Ada lagi istilah symbolic violence (kekerasan simbolik). Biasanya, kekerasan seperti ini targetnya selalu berkaitan dengan politik. Menurut Michel Foucault, biasanya kekerasan seperti itu difasilitasi media massa, terutama televisi. Menurut ilmuwan pengidap homoseksual itu, kekejaman seperti itu lahir dan langgeng karena memakai sistem kekuatan kata-kata, juga citra, yang sangat halus (soft domination), yang kehadirannya sering tak disadari.
 
Kekerasan verbal, terutama simbolik, beroperasi melalui ungkapan-ungkapan, baik visual atau kata-kata. Entah itu dalam film, sinetron, games, dan produk visual lain, atau dengan sebutan-sebutan yang kurang mengenakkan. Dan biasanya, kekerasan kata itu lebih menusuk hati dibanding kekerasan fisik.
 
Ingat, penyebutan “Islam modern”, “Islam tradisional”, “Islam Kota” dan “Islam Sarungan” di sekitar tahun 70-an, diakui atau tidak melukai perasaan kaum Nadhiyyin hingga memicu ketegangan dengan warga Muhammadiyah (ibaratnya) sampai tujuh turunan. Kalangan Nahdlatul Ulama kurang nyaman disebut “Islam tradisional” yang konotasinya kurang/tidak maju.
 
Cendekiawan dan Propaganda Kekerasan
 
Yang perlu dicermati, jika kekerasan verbal seperti itu dilakukan oleh orang-orang di luar Islam, seperti contoh PKI atau Kompas tadi, barangkali lebih jelas dengan siapa kaum Muslimin berhadapan. Masalahnya, seiring dibukanya kran kebebasan pers dan reformasi, produk kekerasan kata dan simbol itu justu datang dari kalangan yang disebut-sebut cendekiawan Muslim.
 
Beberapa tahun lalu, muncul istilah “preman berjubah”. Istilah ini dipopulerkan oleh sekelompok orang yang menyebut dirinya Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan, yang dimotori antara lain oleh artis Rieke Dyah Pitaloka dan Badriyah (anggota DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa).

Istilah itu tidak muncul dari kalangan non-Muslim. Bahkan ternyata pencetusnya adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah (kala itu), Prof Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang menulis dalam rubrik Resonansi harian Republika (9 Agustus 2005). Istilah ini kemudian dipakai oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL) untuk melabeli aktivis Islam semisal dari HTI, Front Pembela Islam (FPI), MMI, PKS, atau elemen masyarakat yang ingin menegakkan syariat Islam.

Kekerasan itu kadang dikeluarkan sembarangan untuk mencari rasa aman atau enaknya sendiri. Misalnya, sebagian kalangan seenaknya membuat katagorisasi dengan menyebut dirinya “Islam modernis” dan demokratis, lalu menggolongkan pihak lain sebagai “Islam radikal”, “militan”, atau “fundamentalis” hanya karena tidak setuju Barat, tidak mau tunduk Barat atau anti paham demokrasi. Bahkan takut disebut “teroris”, orang-orang itu ramai-ramai berebut menyebut diri “Islam moderat”.

Atas hak siapa orang boleh atau tidak menyebut yang lain modern dan sebagian yang lain radikal? Apakah karena ada orang yang taat beribadah dan meyakini al-Qur`an paling benar lantas begitu saja disebut radikal atau tekstualis? Kalau boleh seenaknya melakukan katagorisasi seperti itu, mengapa yang lain tak boleh menyebut kelompok liberal sebagai Islam STMJ (shalat terus maksiat jalan) atau “Islam Karaoke” (kanan-kiri oke)?
 
Karena itu, bisa dipahami bila Ketua PP Muhammadiyah sekarang, Din Syamsuddin, menyebut kekerasan kata-kata lebih melukai daripada kekerasan fisik. Din mengatakan hal itu ketika menanggapi obrolan (alm) Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dilansir situs JIL, yang menyebut al-Qur`an sebagai kitab suci paling porno di dunia.

Salah satu bentuk kekerasan verbalistik adalah penyebutan ‘wahabisme’. Istilah “wahabisme” juga dipopulerkan lagi oleh kalangan liberal untuk menyebut kelompok-kelompok yang berseberangan dengan mereka seperti Muhamadiyah, FPI, MMI, PKS, MUI, dan pihak-pihak lain. Awalnya, istilah ini dimunculkan oleh dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla. Ternyata kurang laku, dan kemudian dikeluarkan lagi oleh liberalis lain, Abdul Moqsid Ghozali.
 
Sebutan itu muncul sesaat setelah berlangsung aksi sejuta umat Islam di bawah koordinasi MUI mendukung RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Harap hati-hati, penyebutan “wahabisme” itu bisa dimaksudkan untuk memecah dukungan NU dan Muhammadiyah yang sudah solid menolak pornografi. Tahun 1999, istilah itu menjadi momok kalangan NU ketika Gus Dur dijatuhkan oleh “poros tengah” dari kursi presiden.

Saat ini berbeda, istilah ‘wahabi’, seolah digunakan kalangan NU untuk ‘menyerang’ komunitas lain di luar NU. Seolah-olah semua di luar NU pasti Wahabi. Gerakan ini, belakangan ‘ditunggangi’ kalangan Syiah yang menumpang karena kepentingannya terganggu. Dengan menggunakan istilah ‘wahabi’, kaum Syiah di mana-mana melontarkan kesan seolah-oleh hanya ‘wahabi’ lah yang mengancam kepentingan Syiah. Padahal, NU dikenal paling keras melawan ideologi Syiah. Jadi di mana bedanya NU dengan Syiah jika masih terus menggunakan istilah ini? [baca wawancara Dr Anis Malik Thoha: Barat Diuntungkan atas Stigma Wahabi]

Menurut Ingris Bengis, ada lima format kekerasan kata-kata. Yaitu berwujud gosip dari rasa dengki (malicious gossip), kekerasan pasif (passive-aggression), sikap tidak konsisten (inconsistency), ketidaksopanan, dan amarah. Semua itu melahirkan kekerasan kata-kata.
 
Dalam terminologi psikologis, kekerasan kata-kata masuk dalam katagori agresi berupa perilaku bullying. Bullying secara verbal antara lain menuduh atau menyalahkan, mengritik dengan tajam dan menyakitkan, menjuluki, melecehkan, memfitnah, menyebarkan gosip, membentak-bentak, mengecilkan, menghina atau mendiamkan. Secara psikologis, bullying termasuk merendahkan, kasar, tidak sopan, mempermalukan di depan umum, dan mengucilkan.
 
Biasanya, pelaku bullying adalah orang-orang yang agresif, impulsif, dan kurang memiliki empati. Mereka umumnya juga memiliki kekuatan secara fisik dan emosional (Andrew Mellor). Dengan kata lain, memiliki kelainan psikologis alias kejiwaan.
 
Boleh jadi, luka akibat lidah justru melahirkan kekerasan baru-termasuk fisik–yang tak pernah henti. Oleh karena itu, sangat tidak layak seorang cendekiawan–apalagi mengaku Muslim-melontarkan istilah-istilah yang membuat pihak lain dan saudara-sauda Muslim lain terlukai. Kecuali seperti pendapat Mellor, bahwa pelakunya memiliki gangguan kejiwaan.*
 
Penulis pemerhati masakah gerakan Islam di Surabaya

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/02/05/157005/Telantarkan-Anak-Luar-Nikah,-Penjara-Mengancam-


Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata

Monday, August 5, 2013

Kala Para Calon Presiden &#34;Berkendara&#34; dengan Iklan Komersial



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>






JAKARTA, KOMPAS.com
— “Pemimpin itu harus bejo (bersih, jujur, ojo dumeh), jangan masuk angin“.


Anda mungkin tahu kalimat itu. Di layar televisi, kalimat itu diucapkan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, pada salah satu iklan produk jamu. Ceritanya, Mahfud tengah menjadi dosen.


Kemunculan Mahfud di televisi tentu saja meraih perhatian publik. Banyak kalangan langsung mengaitkan kemunculan Mahfud dalam dunia iklan komersial itu dengan rencananya maju sebagai calon presiden pada 2014. Ketika masih menjadi Hakim Konstitusi, Mahfud hanya menyiratkan akan maju pada Pilpres 2014. Keinginan itu disampaikannya secara gamblang setelah pensiun.


Tak hanya Mahfud, ada beberapa tokoh nasional lain, yang disebut-sebut sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, muncul di luar kebiasaan. Sebut saja Menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (Purn) Pramono Edhie, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dan Ketua DPR Marzuki Alie. Biasanya, mereka hanya tampil dalam pemberitaan di media massa.


Sama seperti Mahfud, Dahlan juga tampil dalam salah satu produk jamu. Dengan beberapa artis, Dahlan mempromosikan produk tersebut dengan latar belakang negara di Eropa. Seperti diketahui, tanpa malu-malu, Dahlan juga pernah menyampaikan keinginannya menjadi presiden.


Hal yang sama dilakukan Pramono. Dia juga tampil sebagai bintang iklan produk jamu. Pada akhir masa jabatan sebagai KSAD, Pramono sempat muncul dalam iklan layanan kesehatan TNI AD, yakni operasi katarak.


Awalnya, Pramono mengaku belum memiliki rencana terjun ke dunia politik setelah pensiun dari militer. Belakangan, adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu bergabung dengan Partai Demokrat. Ia lalu secara terbuka mengaku ingin maju dalam konvensi partai tersebut.


Lain lagi Gita. Selain tampil di iklan terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Perdagangan, Gita sempat tampil di iklan ucapan ulang tahun perusahaan otomotif terkenal di Indonesia. Gita juga mengaku ingin ikut konvensi Demokrat.


Marzuki jauh lebih dulu tampil dibanding mereka. Marzuki membintangi produk kipas angin buatan lokal. Dalam iklan itu, Marzuki mengaku bahwa keluarganya menggunakan produk dalam negeri. Sama seperti Pramono dan Gita, Marzuki juga siap bertarung dalam konvensi Demokrat.


Efektif atau cuma “angin lalu“


Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengatakan, saat ini mereka yang hendak maju di pilpres tentu memanfaatkan acara, kegiatan, talk show, termasuk iklan komersial untuk menaikkan popularitas. Dalam komunikasi politik, kata dia, tindakan itu sering disebut hype politic atau memalingkan perhatian publik melalui media massa.


“Mereka, kata Gun Gun, sedang mengonstruksi diri seperti yang diinginkan. Tujuannya adalah memengaruhi persepsi publik. Jadi, mereka akan all-out memanfaatkan situasi dan menjadi free rider dalam setiap momen yang mempunyai nilai popularitas,” kata Gun Gun ketika dihubungi, Jumat (2/8/2013).


Gun Gun menambahkan, masalahnya, upaya mereka itu tidak otomatis akan berefek positif terhadap elektabilitas. Publik akan membaca pencitraan mereka historis berjenjang. Artinya, jika citra yang ditampilkan di televisi berbeda 180 derajat dengan keseharian mereka, kata dia, maka koherensi karakterologisnya akan lemah.


Dampaknya, menurut Gun Gun, perilaku narsistis mereka akan dianggap angin lalu saja. Aktivitas pencitraan yang over-expose juga berpeluang membuat orang jenuh dan tidak memberi respek lebih.


“Pencitraan boleh-boleh saja, tetapi kalau tidak sesuai dengan reputasi mereka juga tidak akan berguna banyak,” kata doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu.


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>








































Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/68905-jenazah-ully-artha-didoakan-secara-islam-dan-kristen.html


Kala Para Calon Presiden "Berkendara" dengan Iklan Komersial

Sunday, January 5, 2014

Cut Tary Digugat Cerai

JAKARTA – Cut Tary, 36, digugat cerai. Suaminya, Johannes Yusuf Soebrata, sudah mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Jakarta Timur pada 18 Desember lalu dengan nomor perkara 3451/Pdt.G/2013/PA.JT. Mereka bakal menjalani sidang perdana pada 22 Januari mendatang.


Kabar itu cukup mengejutkan. Meski, sebetulnya isu keretakan sudah sering menghampiri pasangan tersebut.


Tary menikah dengan Yusuf pada 9 Januari 2004. Tiga tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang putri bernama Sidney Azkassyah Yusuf. Seharusnya 9 Januari nanti mereka merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-10. Tapi, ternyata pada usia satu dekade pernikahan itu, keduanya tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga.


Kabar ketidakharmonisan sering menghampiri Tary dan Yusuf. Dua tahun setelah menikah, ramai diberitakan Yusuf memergoki istrinya sedang berada di rumah seorang sutradara yang diduga menjadi selingkuhannya. Namun, berita itu kemudian dibantah keduanya. Mereka malah tampil berdua di depan media. Sama-sama membantah berita tersebut.


Hantaman terbesar perkawinan Tary dan Yusuf adalah ketika video asusila Tary dan Ariel NOAH beredar. Banyak yang mengira Yusuf akan menceraikan Tary. Sebab, dari video tersebut, semua orang tahu bahwa Tary berhubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya.


Namun, yang terjadi sebaliknya. Yusuf justru selalu berada di samping istrinya. Dia mendukung Tary menghadapi permasalahan itu. Mendampingi saat Tary mengungkapkan permintaan maaf kepada publik pada 8 Juli 2010. Menemani setiap Tary diperiksa penyidik.


Menurut pengacara Hotman Paris Hutapea yang kala itu menjadi kuasa hukum dalam kasus tersebut, Yusuf berjuang keras agar istrinya tidak terjerat hukum. ’’Saya melihat istri saya sebagai sesama makhluk Allah. Saya diberi hak untuk mendampingi dan melindunginya dari segala kezaliman. Itulah yang saya pelajari setelah jadi mualaf,’’ ungkap Yusuf saat itu yang membuat Tary terisak.


Yusuf tidak mau munafik. Siapa pun pernah berbuat salah. Begitu juga istrinya. Kala itu, dia bahkan menegaskan tidak punya niat menceraikan istrinya. ’’Sama sekali tidak ada arah ke sana. Jangan diarahkan ke sana. Sudah cukup berat apa yang dialami istri saya,’’ lanjut dia.


Meski begitu, gosip miring tidak lantas berhenti. Setelah kasus tersebut mereda dan Tary mulai aktif lagi di dunia hiburan, kabar adanya masalah rumah tangga tetap mencuat. Sebab, Tary sering tampil sendiri dalam acara-acara publik tanpa didampingi suami.


Namun, setiap ditanya soal itu, bintang sinetron Aku Bukan Anak Haram tersebut menegaskan bahwa rumah tangganya baik-baik saja. Sayang sekali, kenyataannya kini berbeda. Setelah melalui 10 tahun suka dan duka, mereka akan bercerai.


Keluarga besar Tary ketika dihubungi kemarin menyatakan sudah mengetahui kabar tersebut. ’’Iya, sudah,’’ kata kakak Tary, Cindy. Hanya, mereka tidak ingin terlalu jauh mengomentari. Mereka menyerahkan semua kepada Tary dan Yusuf. ’’Biar Tary saja yang ngomong,’’ ujarnya. (jan/c5/ayi)



Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28919/11/06/2013/mengapa-institusi-kepolisian-negeri-ini-masih-melarang-jilbab?.html


Cut Tary Digugat Cerai

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Wednesday, June 12, 2013

Kaasiyaatun 'Aariyaat

Ali r.a. berkunjung kepada Nabi saw. bersama Fatimah r.anha. Nabi saw sedang menangis terisak. Ali bertanya, “Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, hai Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis ?”


Rasulullah saw menjawab, “Hai Ali pada malam ketika aku diisra’kan ke langit, kulihat beragam wanita dari umatku disiksa di neraka, aku menangis karena beratnnya siksaan itu. Aku lihat wanita digantung rambutnya dan otaknya mendidih. Ada wanita digantung dengan lidahnya, sedang air mendidih dituang ke tenggorokan. Ada lagi wanita kedua kakinya dipasung hingga buah dada dan kedua tangannya terbelenggu di ubun-ubun. Allah Swt perintahkan ular dan kalajengking untuk menyiksa. Ada wanita digantung dengan kedua buah dadanya. Ada wanita berkepala babi dan berbadan keledai, mengalami beribu siksa. Ada wanita berbentuk anjing, sedang api neraka membakar dirinya masuk melalui lubang mulut dan keluar melalui duburnya, sementara para malaikat memukulinya dengan godam panas.”


Fatimah r.anha bangkit dan berkata, “Wahai kekasih dan permata hatiku, sesungguhnya apa yang mereka lakukan dengan siksa seberat itu ?” Rasulullah saw: “Wahai putriku, perempuan digantung dengan rambut sendiri karena tak menutup rambut dari pandangan lelaki lain. Perempuan digantung menggunakan lidah karena menyakiti suami. Perempuan digantung dengan kedua buah dada karena mengotori tempat tidur (bersetubuh dengan lelaki lain). Perempuan dipasung kedua kakinya dan kedua tangannya dirantai ke ubun-ubun, Allah perintahkan ular dan kalajengking menyiksa, karena tak mandi junub, tak mandi setelah haid dan melalaikan sholat. Perempuan berkepala babi berbadan keledai karena pengadu lagi pendusta. Perempuan berbentuk anjing dan api membakar masuk melalui mulut dan keluar melalui dubur, karena suka mengungkit (pemberian ke suami) dan dengki. Putriku, celakalah istri maksiat pada suami’.


Kemudian Nabi saw bwesabda :


“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim/2128).


Belum pernah ada tapi terjadi setelah beliau tiada. Menurut An Nawawi, ‘kasiyaatun ‘aariyah dalam hadis itu, bermakna; Pertama, wanita mendapat nikmat tapi tak bersyukur. Buka aurat, kepala, telapak kaki, paha, celana dan rok di atas dengkul. Budaya barat berbumbu maksiat bercumbu aurat. Kedua, wanita berpakaian tapi kosong amal, tak mengutamakan akhirat dan tidak taat. Ketiga, wanita sengaja pamer anggota tubuh. Berpakaian tapi telanjang. Keempat, wanita berpakaian tipis hingga jelas bagian dalam. Zohirnya berpakaian, hakikatnya telanjang. (Syarh Muslim, 9/240). Akan muncul di kalangan umatku, lelaki menunggang atas pelana, turun di pintu masjid. Isteri dan anak perempuannya berpakaian tipis dan ketat. Di kepalanya bonggolan (sanggul atau tocang) seperti punuk unta. Laknatlah mereka. Sungguh mereka wanita terlaknat” (HR Ahmad 2/223).


Ibnu ‘Abdil Barr rah.a memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat; wanita berpakaian tipis menggambarkan bentuk tubuh. Pakaian belum menutup anggota tubuh yang wajib ditutup sempurna. Berpakaian namun hakikatnya telanjang. Perempuan muslim mengenakan kerudung menutup kepala dan rambut, namun bahan tipis, transparan, ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuh. Kepala dibalut kerudung atau jilbab, kaos ketat, celana full pressed body, konon kerudung gaul. Padahal mereka melecehkan syariat. Simbolnya Islam modelnya batil. Wanita berkerudung gaul tutup aurat dengan paradigma, ‘perempuan harus mensyukuri keindahan tubuh sebagai anugerah Allah, lalu memamerkannya.’ Maraknya kerudung gaul akibat akal minim dilanda iklim. Ikut-ikutan, korban iklan, sambil berangan, ‘Nikmatilah keindahan tubuh dan kecantikanku.’ Adakah yang mau mendekat ? Adakah yang mau memandang ? Adakah yang mau tersenyum ? Setiap orang mengigau, ‘Aduhai betapa cantiknya ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa berpakaian sombong (berbangga) di dunia maka Allah akan pakaikan kehinaan di akhirat.’(HR Abu Dawud). Al Munawi memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat (berpakaian tapi telanjang); wanita berpakaian tipis tampak kulit. Menampakkan perhiasan tanpa pakaian takwa. Makna lain, tandanya tidak syukur nikmat. Menutup sebagian, membuka sebagian. (Faidul Qodir, 4/275).


Kaasiyaatun ‘aariyaat ; ‘Wanita berpakaian tipis nampak bagian dalam tubuhnya dan membuka sebagian aurat yang wajib ditutup.’ Jika wanita mengetahui sesuatu haram tapi menghalalkannya, maka ia jatuh ke derjat kafir. Bagi mukminah, menundukkan pandangan; menjaga kemaluan; tidak menunjukkan perhiasan kecuali apa yang seharusnya; menutupi dada dengan kerudung; tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada suami dan mahram.


Di sini akan tampak selas bahwa syariat itu berkaitan langsung pada Allah Swt, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Setiap amalan menuju kesempurnaan tauhid. Berpakaian bukan sekadar tutup aurat, adat atau model dari keadaan dan tempat tertentu, tapi kaitannya adalah ketaatan terhadap syariat. Ada pendapat kalau di kolam renang boleh pakai bikini, di lapangan bola boleh pakai celana pendek, cadar itu budaya Arab tidak cocok untuk Indonesia, berjubah dan berjanggut budaya Arab tidak sesuai budaya kita. Itulah mulut- mulut tak bertanggungjawab. Padahal itu ajaran Islam yang jelas, baku, bersih dan furqon (pembeda), dilandasi nash yang qath’i. Coba anda jalan-jalan di Amerika, London, Meulborne (Australia), Nagoya (Jepang) jelas kelihatan wanita muslimah dan non muslimah dari cara berpakaian. Padahal muslimnya minoritas. Justru terbalik, di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Di tempat umum, kita enggan mengucap salam, kalau-kalau yang dihadapi non muslim. Karena hak menjawab salam dengan kata Alaikumussalaam wajib dan untuk sesama muslim. Tapi karena orang Islam (terutama wanitanya) kebanyakan cara berpakaiannya sama saja dengan wanita non muslimah, bahkan pada waktu-waktu shalat kebanyakan muslimahnya tidak shalat, sehingga tak ada yang membedakan mereka, maka menjadi rancu. Tak menunjukkan Islam sebagai Furqon. Islam KTP, tak ada dalam kehidupan nyata. Semestinya ingat, isi neraka itu mayoritas perempuan. Rasulullah saw. sekembali Isra dan Mi’raj, menyaksikan, perempuan digantung dengan rambutnya, otak di kepalanya mendidih. Mereka dulu tak melindungi rambut (tak berjilbab) agar tak dilihat lelaki lain. Perempuan yang digantung dengan lidahnya, tangan dikeluarkan dari punggungnya, kerongkongan dituang minyak panas. Mereka suka menyakiti hati suami dengan kata-kata. Perempuan mengunyah-ngunyah badan sampai hancur sambil berteriak kesakitan, Allah cipta badan baru dan lebih mulus, lalu dikunyah-kunyah lagi. Dulu, di dunia sering mempertontonkan tubuh dan aurat di depan khalayak (seperti penyanyi, penari, perenang, artis dan sebagainya). Perempuan digantung dengan buah dada dari arah punggung dan air pohon zaqqum dituang ke kerongkongannya. Merekalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa izin suami. Perempuan diikat dua kaki dan dua tangan sampai ke ubun-ubun dan dibelit ular dan kala jengking. Mereka yang mampu sholat dan puasa, tapi tak mau mengerjakan, tak berwudhu dan tak mau mandi junub. Keluar rumah tanpa izin suami (wanita karir, TKW), tidak mandi dan tidak bersuci selesai haid dan nifas. Perempuan makan daging tubuhnya sementara di bawahnya api menyala. Perempuan berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang (para artis, selebritis, wartawan gosip, antara lain dalam infotainment, tari-tarian, showbiz dan wanita karir). Perempuan memotong badan sendiri dengan gunting neraka. Karena suka mencari perhatian orang agar melihat perhiasan diri (artis dan selebritis). Perempuan kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai. Suka mengadu domba dan pendusta. Perempuan berwajah anjing, ular dan kala jengking masuk ke mulut dan keluar melalui dubur. Yakni, suka marah kepada suami dan memfitnah orang. Jika ancamannya jelas, kenapa wanita masih pakai rok dosa ? pamer paha ? pamer rambut ? pamer telapak kaki ? pamer leher ? Jawabannya ada pada iman masing-masing.


                                                        Penulis, pemerhati masalah keislaman.


Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/03/29/154627/mui-sumut-pelaku-kumpul-kebo-harus-dihukum-berat


Kaasiyaatun 'Aariyaat

Tuesday, October 1, 2013

Kala Garuda Muda Dilarang Ngartis

Pendapatan pesepakbola dunia terbesar dari luar lapangan hijau yaitu iklan produk. Di Indonesia, muncul wacana agar Garuda Muda “diharamkan” memasuki dunia gemerlap itu. Demi prestasi lah alasannya.

Tak bisa dipungkiri, dunia selebritas dan sepakbola memiliki hubungan spesial. Bintang lapangan hijau banyak yang mengeruk uang dari acara televisi hingga iklan. Bahkan di luar negeri, WAGS (wives and girlfriends) pesepakbola mayoritas artis.Namun, di Indonesia diwacanakan agar pemain sepakbola di tim nasional tidak dekat-dekat dengan dunia ikaln. Seperti diketahui, lama paceklik prestasi membuat publik Tanah Air risau dengan masa depan sepakbola Indonesia. Meski digandrungi publik, persepakbolaan Indonesia seolah tak bertaji.


Namun harapan akan membaiknya dunia si kulit bundar itu seakan membuncah saat Timnas U-19 menjuarai piala AFF. Paceklik prestasi selama 22 tahun seakan terobati dengan kemenangan Maldini cs atas timnas Vietnam dalam drama adu penalti.


Prestasi sepakbola Indonesia di tingkat kawasan selama ini hanya bisa dibilang “nyaris” sempurna. Lihat saja tahun 1997, 2000, 2002, 2004, 2010 dan 2011 lalu, Timnas hanya bisa masuk final lalu tunduk kepada lawan baik di ajang Piala Tiger, AFF, maupun Sea Games. Namun kemenangan tim berjuluk Garuda Jaya ini pun diselimuti awan gelap. Menjadi pemain bintang dan berprestasi terkadang banyak godaan.


Lihat saja nasib timnas senior Piala AFF 2010 yang dirusak persiapannya dengan berbagai kunjungan yang tidak penting. Banyaknya tawaran iklan dan menghadiri acara tak penting bisa membuat mereka terlena.


Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo mewanti-wanti agar timnas U-19 dijaga dari gangguan internal dan eksternal. Roy Suryo juga tidak ingin mereka menjadi bintang iklan. Politisi Demokrat ini meminta agar kekompakan tim terus dijaga dan tidak diganggu kepentingan iklan dan komersil lainnya. Dia beralasan, tim ini masih akan terus jalan. Gangguan-gangguan iklan itu akan mengakibatkan ketidakkompakan di tubuh Garuda Jaya.


Selain Roy Suryo , Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti juga mengingatkan hal yang sama. Proteksi itu diperlukan agar timnas Garuda Jaya tidak mengalami over ekspos media. Dia meminta agar pemain tidak dibawa ke mana-mana, di luar lapangan rumput. Sebab menurut dia hal itu masih terlalu dini. Misalnya ada beberapa program TV meminta anak-anak hadir di studio.


“Masak anak-anak mau diboyong ke sana kemari, dari studio TV satu ke studio TV yang lain. Tampil di acara hiburan dan entertainment. Bisa-bisa malah merusak mental anak-anak. Mereka masih harus fokus. Masa depannya masih panjang,” ujar La Nyalla.


Ketua Badan Tim Nasional (BTN) ini juga menegaskan bahwa pihaknya akan memagari para pemain timnas Indonesia U-19 dari godaan bintang iklan dan syuting untuk tayangan televisi.


“Kami khawatir akan terkontaminasi dunia hiburan dan menjadi terlalu sibuk dengan agenda di luar sepak bola. Sebab itu akan merugikan pemain sendiri dan berpengaruh ke mental,” ujar La Nyalla Mahmud Mattalitti.


Menurutnya, pihaknya telah belajar dari pengalaman beberapa pemain sepakbola yang mulai tenar dan masuk dunia hiburan. Dia menilai, karir sepakbolanya akan terganggu dan berimbas pada berkurangnya kemampuannya dalam urusan si kulit bundar.


Menpora Roy Suryo juga meminta agar timnas U-19 yang sukses menjadi juara Piala AFF U-19 dijaga dari gangguan internal dan eksternal. Menurut dia sukses timnas adalah perjalanan panjang. Sukses ini bukan merupakan keberhasilan individu tetapi kerja sama seluruh tim.


“Menurut saya, secara internal, jangan sampai di antara mereka timbul ada penonjolan sehingga ada friksi di antara mereka. Semalam yang saya lihat tokoh yang kemudian diangkat dan ditonjolkan ada Ilham. Saya sudah bicara langsung tadi pagi, saya pesankan, kebetulan saja yang jadi penentu. Tapi ini adalah kerja tim,” katanya.


Akibatnya, kata dia, kapten timnas, Evan Dimas yang biasanya menjadi pahlawan, semalam agak sedih karena tidak beruntung mengeksekusi penalti. “Nah itu jangan menjadi soal. Kalau itu diangkat bisa jadi masalah, karena ini kerja tim,” kata Roy menegaskan.


Perlukah pelarangan “ngratis” seperti ini? Ins


Pemain Bola Ini Berpenghasilan Besar dari Iklan
Faktor pemain menjadi salah satu magnet menarik dalam sepakbola. Tidak di pungkiri pemain sepak bola adalah suatu profesi yang dekat dengan ketenaran dan publisitas yang tinggi. Apalagi jika pemain itu memiliki kemampuan hebat atau tampang menawan. Dua aspek itulah yang membuat seorang pemain menjadi incaran pengusaha.


Bayaran dari iklan, tentunya membuat kekayaan sang pemain menebal. Berikut 5 pemain terkaya dunia versi Forbes yang juga menjadi bintang iklan.


Cristiano Ronaldo
Forbes merilis bahwa pendapatan mega bintang klub Real Madrid, Cristiano Ronaldo, mencapai 44 juta dollar atau setara Rp 507 miliar per tahunnya. Hampir setengah dari pendapatan Ronaldo berasal dari iklan.


Pemain Portugal ini mengikat kerjasama dengan Nike, Castrol, Clear Shampoo, Mobitti, Konami, Banco Espirito Santo. Ketenaran Ronaldo setelah 2 kali menjadi runner up pemain terbaik dunia membuatnya menjadi incaran banyak perusahaan lainnya yang mengantre untuk menjadikannya bintang iklan.


Lionel Messi
Lionel Messi, menurut catatan Forbes, memiliki pendapatan per tahun mencapai sekitar 40,3 juta dollar atau setara Rp 464,9 miliar. Pendapatan Messi ini berasal dari gaji sebesar 14 juta dollar, 2 juta dollar dari bonus dan 24 juta dollar dari iklan.


Messi, sebagai seorang pemain sepakbola dengan raihan 4 gelar pemain terbaik dunia, tidak di pungkiri dirinya mencatatkan diri sebagai seorang pesepakbola paling terkenal di dunia. Messi memiliki sponsor dari Adidas yang menyumbang 4 juta dollar per tahun lalu yakni Konami, PepsiCo, Cher, KFC, Gillete.


Sergio Aguero
Pemain asal Negeri Tango ini memiliki pendapatan per tahunnya mencapai 20,8 juta dollar atau setara Rp 239,9 miliar. Aguero telah mengikat kontrak kerjasama dengan beberapa produk dunia di antaranya Puma dan Pepsi.


Aguero dibeli Manchester City dari Atletico Madrid senilai 60 juta dollar. Selama dua tahun keduanya bersama Manchester City, Aguero selalu menjadi salah satu pencetak gol terbanyak bagi klub rival Manchester United ini. Performa apik Aguero membuat masa depannya di dunia sepak bola masih cerah. Dengan umur Aguero yang masih muda yakni 24 tahun membuat Puma terpikat untuk mengikatnya dengan kontrak kerjasama jangka panjang sebagai bintang iklan.


Wayne Rooney
Wayne Rooney, pemain yang mendapat julukan si bengal, memiliki pendapatan per tahunnya mencapai 20,3 juta dollar atau setara Rp 234,2 miliar. Sponsor terbesar Rooney ialah Nike dan Harper Collins. Rooney saat ini tengah mengalami kekeringan dana dari iklan. Pasalnya, EA Sport, sebagai salah satu penyumbang pendapatan terbesar memutus kontrak kerjasama 7 tahunnya.ins


Pesepakbola Indonesia Juga Laris Manis
Iklan, menjadi salah satu cara para atlet Indonesia untuk menambah pundi rupiah mereka. Tentunya, mereka juga kerap berlaku selektif terhadap iklan yang ditawarkan. Jika tidak ada korelasi dengan profesi mereka sebagai atlet, sudah barang tentu tidak akan diterima karena ha tersebut hanya akan mencoreng citra yang sudah melekat dalam dirinya.


Sebut saja iklan sepatu olah raga, makanan ringan penambah daya tahan tubuh hingga iklan sebuah sepeda motor yang kerap menonjolkan sifat macho seorang pria. Berikut beberapa nama pemain Timnas Sepak Bola Indonesia yang menambah pundi-pundi uang melalui jalur hiburan:


1. Irfan Bachdim
Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 11 Agustus 1988 silam tersebut mencuat namanya setelah menjebol gawang Malaysia dalam laga dua tahunan di Asia Tenggara, Piala AFF 2010. Dalam laga perdana, Indonesia berhasil membungkam Malaysia dengan perolehan skor 5-1 dan Bachdim menjadi salah satu pemain yang menjebol gawang Negeri Jiran tersebut.


Rupa yang kebule-bulean membuat seluruh pasang mata tidak bosan memandangnya. Ahasil, wajah blasteran Bachdim pun acap kali menghiasi layar kaca, tentunya di luar pertandingan yang ia lakoni.


Wajah Bachdim yang mulai menghiasi layar kaca dan sampul beberapa media cetak kerap disebut pelaku industri hiburan sangat berpotensial menyedot perhatian konsumen. Alhasil, Bachdim pun menjelma dari seorang atlet muda Indonesia menjadi superstar di dunia hiburan.


Dalam suatu kesempatan, Bachdim sempat menuturkan alasannya menerima sejumlah tawaran iklan yang berdatangan lantaran mengikuti jejak sang idola, Cristiano Ronaldo atau yang akrab disapa CR7.


“Idola saya Cristiano Ronaldo, itu juga salah satu alasannya saya ambil pekerjaan ini (bintang iklan),” tutur suami dari model Jennifer Kurniawan saat itu.


Sebut saja, iklan sampo, iklan minuman berisotonik hingga iklan sebuah sepeda motor mempercayakan Bachdim sebagai top brand mereka.


Namun, sayang, popularitas Bachdim yang meroket di dunia hiburan berbanding terbalik dengan profesinya yang sebenarnya yakni sebagai atlet Indonesia. Harapan sejumlah masyarakat harus pupus dikarenakan gelandang Persema Malang ini lebih menekuni profesi barunya di dunia hiburan.


Nama Bachdim dicoret sang pelatih, Rachmad Dharmawan (RD) dari susunan pemain Timnas U-23 yang dipersiapkan untuk menghadapi SEA Games XXVI di Palembang lantaran mangkir dari latihan Timnas U-23.


Sikap indisipliner dan perubahan gaya hidup juga yang membuat Bachdim tersandung masalah di klub yang selama ini ia bela, yakni Persema Malang.


2. Bambang Pamungkas
Siapa yang tidak kenal Bambang Pamungkas. Striker klub Persija yang akrab disapa Bepe ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Selain kemampuan bermain sepak bola yang tidak lagi diragukan, wajah Bepe yang mengeluarkan aura karismatik kerap membuat sejumlah pasang mata tidak bosan untuk memandang.


Ketajaman Bepe ketika berhadapan langsung dengan gawang lawan dalam adu penalty menjadi salah satu alas an mengapa banyak penikmat Sepak Bola di Tanah Air menaruh kagum terhadapnya. Energi positif yang dipancarkan sang mantan kapten Timnas Indonesia tersebut dilirik sejumlah pelaku di industri hiburan,


Bepe pun dipercaya membintangi sejumlah iklan, seperti iklan makanan ringan yang dipercaya dapat menambah daya tahan tubuh, kemudian ada iklan sepatu dengan merk ternama, iklan handphone hingga iklan obat sakit kepala.


Diharapkan, dengan dijadikannya pria kelahiran Semarang, 10 Juni 1980 silam tersebut menjadi icon sejumlah produk dapat dengan serta merta menyedot perhatian para konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.


3. Christian Gonzalez
Cristian Gonzales merupakan salah satu striker Indonesia yang ditakuti oleh lawannya. Pasalnya, pemain naturalisasi kelahiran Uruguay, 30 Agustus 1978 ini handal dalam posisi penyerang tengah ataupun penyerang tunggal saat di lapangan hijau dan terkenal dengan sundulan mautnya yang dapat menjebol gawang lawan.


Prestasinya di lapangan hijau yang terbilang cemerlang membuat suami dari Eva Nurida Siregar ini dilirik beberapa produser iklan yang mempercayakan Cristian sebagai top brand produk mereka. Alhasil, Pria yang telah mencetak gol sebanyak 173 gol ini dikontrak sebuah produk sepatu olah raga.


Selain menjadi bintang iklan, pria yang resmi menjadi Warga Negara Indonesia sejak 1 November 2010 ini juga dipercayakan membintangi sebuah sinetron yang berjudul Islam KTP. Kendati tawaran dari dunia hiburan mengalir deras, pemain yang dijuluki El Locco tersebut tetap berkomitmen penuh dengan profesinya sebagai atlet Sepak Bola Indonesia. Menurutnya, selama jadwal syuting tidak mengganggu hingga membuat kinerjanya menurun saat merumput, maka hal tersebut akan tetap dilakoni.


4. Andik Firmansyah
Nama Andik Vermansyah kian menjadi tidak asing didengar di telinga saat dirinya ditekling keras oleh bintang David Beckham dalam laga Tim Nasional Indonesia Selection melawan LA Galaxy di Stadion Gelora Bung Karno, Rabu 30 November 2011silam.


Selain itu, gerak yang lincah saat merumput pun juga menjadikan pria kelahiran Jember, 23 November 1991 dijuluki Lionel Messi Indonesia. Seperti para pendahulunya, keunikan Andik juga dilirik sejumlah pelaku industri hiburan khususnya iklan.


Pemain asal klub Persebaya U-18 ini pun dipercayakan membintangi sebuah iklan produk kacang yang sudah tidak asing lagi.ins


Article source: http://internasional.kompas.com/read/xml/2013/09/09/1252305/Panel.Konstitusi.Mesir.Beragam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Kala Garuda Muda Dilarang Ngartis

Monday, October 28, 2013

Kalimah ALLAH: Bahan dakwah umat Islam


  • SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI


SELEPAS Mahkamah Rayuan memutuskan larangan penggunaan kalimah ALLAH oleh Gereja Katolik dalam penerbitan akhbar mingguannya, The Herald, pada 14 Oktober lalu lalu, ia mencetus reaksi pelbagai pihak.



Seminggu kemudian, Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak pula menjelaskan larangan tersebut tidak melibatkan amalan penganut Kristian di Sabah dan Sarawak memandangkan ia terkandung dalam resolusi 10 perkara peringkat Kabinet yang dikekalkan.



Susulan itu, pelbagai persoalan lain mula timbul kerana isu itu dilihat dan dibincangkan daripada perspektif berbeza. Sinar Harian mendapatkan pandangan Ketua Pegawai Dakwah Islamic Information Services Foundation (IIS), SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI.



Beliau yang dikenali sebagai Brother Shah pada asalnya beragama Hindu sebelum memeluk Islam pada 1996 dan pernah mengikuti intensif perbandingan agama menerusi kursus ‘Program Latihan Dakwah Antarabangsa’.



Ikuti temu bual wartawan NURULFATIHA MUAH bersama Shah Kirit mengenai pandangan beliau dalam isu ini.




Sinar Harian: Selepas Mahkamah Rayuan buat keputusan tentang larangan guna kalimah ALLAH dalam akhbar The Herald, timbul pula persoalan lain seperti bolehkah orang bukan Islam guna kalimah ALLAH sehingga menimbulkan pertelagahan pendapat. Bagaimana Brother Shah melihat perkara ini?




SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya melihatnya, suatu urusan mahkamah itu biarkan mahkamah buat keputusan dan kita sebagai rakyat Malaysia, akur kepada keputusan mahkamah sebab negara kita ada sistem penghakiman.



Komen yang saya hendak berikan tidaklah berkaitan keputusan mahkamah, tetapi ia perbincangan secara ilmiah dari segi teologi. Saya melihat perbalahan orang Islam memang berlaku kerana bincang isu ini dari sudut berbeza.



Bila dibincangkan sudut berbeza, maka kita mendapat keputusan berbeza, tetapi saya lihat, agak harmoni pandangan terhadap isu ini bila dilihat daripada sudut tertentu.



Contohnya, soalan pertama, bolehkah orang bukan Islam guna kalimah ALLAH?



Kedua, adakah wajar orang Kristian menterjemahkan perkataan God dalam Bible Bahasa Inggeris (BI), sebagai ALLAH dalam Bahasa Melayu (BM)?  Bagaimana pula dengan ‘uruf’ (budaya dan adat) tempatan? Melihat kepada adat kita di sini, sesuai ke orang Kristian menterjemahkan perkataan God dalam BI sebagai ALLAH dalam BM? Ada sudut yang berbeza di sini.



Bolehkah bukan Islam guna kalimah ALLAH? Untuk menerang seseorang membuat sesuatu, kita mesti menggunakan dalil, hujah, bukti yang jelas daripada al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebagai contoh, dalam al-Quran disebut dalam Surah al-Ankabut, ayat 61 dan 63; al-Zumar ayat 38 dan al-Zukhruf ayat 87: Apabila ALLAH SWT berfirman yang bermaksud: ALLAH bertanya kepada Musyrikin ini; “Siapakah yang menjadi langit dan bumi?” Nescaya mereka kata: ALLAH. Mereka merujuk ALLAH ini kepada ALLAH yang sebenarnya, bukan merujuk kepada berhala mereka. Bila ditanya soalan; “Siapakah yang turunkan hujan daripada langit?” Nescaya mereka kata: ALLAH. Dan kemudian dalam Surah al-Zukhruf ayat 87; “Siapakah yang menjadikan manusia?” Mereka tetap mengatakan ALLAH.



Tetapi di sini, ALLAH menempelak mereka. Yang ditempelak di sini bukan penggunaan kalimah ALLAH, tetapi walaupun mereka tahu ALLAH yang jadikan semua ini, tetapi mereka tetap hendak menyembah selain dari ALLAH. Jadi pada pemahaman saya, orang bukan Islam boleh guna kalimah ALLAH apabila mereka rujuk kepada ALLAH sesuai dengan sifatnya.



Namun, apabila mereka guna kalimah ALLAH tidak bersesuaian dengan sifat ALLAH, maka saya kurang setuju penggunaan tadi kerana dalam Surah Maryam, ayat 88 hingga 90. ALLAH berfirman yang bermaksud: “Sungguh keji kata-kata mereka mengatakan ALLAH ada anak sehinggakan langit hampir sahaja pecah, bumi terbelah dan gunung ganang runtuh”.



Jika orang mengatakan sesuatu tidak benar tentang ALLAH, sebagai orang Islam, sudah tentu saya tidak boleh duduk diam dan mesti ada tindakan balik iaitu berhujah dan berdialog dengan mereka.



Bagi orang Islam, perkataan ALLAH itu bukan nama am, tetapi nama khas. Kalau dalam Bahasa Arab, God itu bukannya ALLAH, tapi God itu ialah ‘Ilah’ ataupun ‘Rabb’. Namun, bagi orang Kristian, mereka tidak pandang ALLAH itu sebagai nama khas.



Dalam Bible, kalau rujuk kepada ‘God the father’, mereka akan sebut God, tetapi ia akan dirujuk sebagai ‘Lord’ kalau rujuk kepada Jesus. ‘Lord’ dalam BM diterjemah sebagai Tuhan, jadi hujah dia ialah, God dalam BI tadi akan diterjemahkan ke dalam BM sebagai ALLAH untuk membezakan antara ‘God’ dan ‘Lord’. Orang Kristian percaya kepada tuhan anak dan tuhan bapa. Ini bercanggah dengan kepercayaan konsep ALLAH dalam agama Islam.



Sinar Harian: Apa implikasi sekiranya kalimah ALLAH digunakan penganut Kristian?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Ia dibincangkan dalam dua sudut berbeza iaitu apa akan berlaku kepada penganut agama Islam dan apa yang boleh berlaku kepada penganut agama Kristian pula? Orang Islam khuatir bila orang Kristian guna kalimah ALLAH dalam BM dan membacanya, dia akan terkeliru dan terpengaruh dengan ajaran Kristian. Kalau seseorang Islam itu faham akidah Islam dengan keyakinan, pada masa sama orang Kristian guna kalimah ALLAH, saya rasa mereka tidak mahu masuk Kristian.



Namun, hari ini kalau orang Kristian guna kalimah ALLAH, akan berlaku ancaman dan orang Islam mungkin terkeliru kerana kurang faham akidah Islam. Adakah salah orang Kristian atau Yahudi sekiranya orang Islam kurang faham akidah Islam? Itu kelemahan orang Islam sendiri walaupun kita ada kelas agama di sekolah dan pelbagai aktiviti Islam di Malaysia seperti dalam radio, televisyen dan surat khabar. Tetapi kenapa masyarakat Islam masih lagi rapuh dalam pemahaman akidah Islam mereka. Kita banyak beri tumpuan kpd isu fardu ain, hukum hakam, tetapi sangat kurang dalam bab tauhid.



Untuk berlaku adil, kita tinjau pula apa implikasi jika orang Kristian guna kalimah ALLAH? Dalam ‘Gospel of John’ (14; 28): Jesus menyebut dalam Bible, “My father is greater than I” (Tuhan bapa lebih besar dari saya). Apabila kita tukar tuhan bapa jadi ALLAH, ertinya ALLAH lebih besar dari Jesus (Nabi Isa). Apabila saya tanya banyak kali kepada orang Kristian, kebanyakan mereka menjawab tidak setuju dengan frasa tersebut.



Contoh lain, dalam ‘Gospel of Mark’ (12;29): Jesus ditanya, apakah perintah paling utama?  Jesus jawab; Wahai orang Israel, tuhan kamu, tuhan kita, tuhan adalah satu. Dalam bab ini, Jesus sebut bahawa ALLAH itu adalah ‘Ihad’ (satu).



Selain itu, dalam ‘Gospel of Matthew’ (26;39): ada dinyatakan “Jesus pray to God” (Jesus menyembah ALLAH). Dalam forum terbuka, saya tanya soalan itu kepada orang Kristian, namun semua tidak setuju dengan frasa itu. Dalam satu forum terbuka, saya bertanya; “Kamu setuju Tuhan kamu ialah ALLAH, boleh tak kamu mengucap Lailahaillallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan ALLAH)”. Kemudian, seorang yang mewakili agama Kristian dan merupakan pelatih kepada paderi Kristian berkata; “Tidak boleh mengucap begitu sebab ALLAH anda dan ALLAH saya berbeza”.



Kesimpulannya, kalau orang Kristian guna kalimah ALLAH, ia akan jadi bahan dakwah cukup besar bagi umat Islam. Bagaimanapun, dalam konteks umat Islam hari ini di Malaysia, saya lihat banyak organisasi Islam kurang berminat lakukan dakwah kepada orang bukan Islam dan kurang berminat ambil kesempatan ini untuk melakukan dakwah kepada bukan Islam. Kita dituntut supaya menyampaikan mesej Islam.



Sinar Harian: Sebelum ini, terdapat orang politik bukan beragama Islam menggunakan ayat-ayat ALLAH dalam laman sosial miliknya selepas Mahkamah Rayuan buat keputusan itu. Apa pandangan Brother Shah?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya tidak pasti itu. Apa yang banyak berlaku dalam Internet sekarang, ramai orang menyindir keputusan mahkamah terutamanya bukan Islam. Harus diambil perhatian. ada kitab-kitab suci bukan Islam memang merujuk Tuhan sebagai ALLAH.



Sebagai contoh, dalam kitab Hindu iaitu ‘Veda’, perkataan ‘Allo Upanishad’ antara lain juga merujuk Tuhan sebagai ALLAH. Dalam ‘Guru Granth’, kitab agama Sikh, nama ALLAH dirujuk pada Tuhan lebih 40 kali.



Kalau kita melarang orang bukan Islam guna kalimah ALLAH, banyak implikasi lain perlu kita lihat. Adakah kita akan melarang orang Sikh dan Hindu daripada membaca kitab sucinya sendiri? Ini belum lagi kita bangkitkan persoalan lain.



Pandangan saya ini adalah sebagai orang Islam biasa, bukan alim ulama atau orang mempunyai ilmu tinggi. Jika pandangan saya kurang tepat atau tidak betul, saya minta supaya jelaskan pandangan yang betul.



Sinar Harian: Penggunaan kalimah ALLAH di Sabah dan Sarawak serta negara jiran, Indonesia agak meluas. Boleh jelaskan mengenai perbezaan kawasan tersebut dengan Semenanjung Malaysia?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Apabila ambil kira Indonesia sebagai contoh, tidak semestinya apa yang dilaksanakan Indonesia, Malaysia kena ikut. Ia bukan satu ukuran di Malaysia untuk kita lakukan sesuatu perkara. Contohnya, kalau jiran saya berikan anaknya makan makanan ringan, bukan bererti saya juga kena berikan anak saya makan ‘junk food’.



Jadi apa yang dilakukan di negara lain bukan satu ukuran di Malaysia untuk kita lakukan sesuatu perkara. Kita ada ‘uruf’ dan maslahah kita sendiri. Kena ambil kira semua aspek sebelum buat sesuatu keputusan.



Keduanya, bila melihat di Sabah dan Sarawak, ‘uruf’ di sana berbeza dengan di Semenanjung Malaysia. Di sana, Bible diterjemahkan dalam BM atau lebih tepat lagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan kemudian ke BM. Sudah berpuluh-puluh tahun mereka gunakan kalimah ALLAH di sana. Sepanjang mereka gunakan kalimah ALLAH di situ, kita selalu kata ‘kalau bagi orang Kristian guna kalimah ALLAH, nanti kita akan jumpa macam-macam rumah ibadat orang Kristian’ dan pelbagai andaian lain. Namun, apabila kita sebut kerisauan, kita mestilah bersabit dengan fakta dan bukti serta lihat peratusan ancaman sebelum mengatakan perkara ini haram, makruh dan sebagainya.



Walaupun berpuluh-puluh tahun orang Kristian di Sabah dan Sarawak guna kalimah ALLAH, saya tak jumpa orang Islam yang membaca Bible mengandungi kalimah ALLAH di dalamnya, masuk Kristian. Yang saya banyak jumpa, orang Kristian baca Bible BM mengandungi kalimah ALLAH dan masuk Islam.



Saya pernah tanya orang Kristian  yang memeluk agama Islam; “Dulu, masa kamu Kristian, ada tak kamu nak mengkristiankan orang Islam?”. Mereka memang berharap juga berbuat demikian sebab pada mereka, mereka hanya hendak ‘menyelamatkan’ orang Islam, bukan hendak menyesatkan, tetapi tidak berjaya. Namun, akhirnya dia sendiri yang masuk Islam.



Jadi akidah umat Islam perlu diselamatkan berpandukan ajaran Islam yang berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.



Apabila kita hendak menyebut sesuatu perkara, jangan hanya lihat hanya pada zahirnya, tetapi juga kena lihat pada apa yang tersirat, bukan hanya tersurat seperti tujuan, matlamat dan lihat secara menyeluruh dalam pelbagai situasi bagaimana mereka menyelesaikan sesuatu masalah. Wallahua’lam.



Undang-undang di setiap negeri berbeza mengenai isu ini, apa saranan Brother Shah untuk menyelaraskan undang-undang berkaitan Islam di negara ini?



Kita kena lihat realiti negara kita sebab kita berpandu kepada Perlembagaan Malaysia. Dalam perlembagaan negara, bab agama adalah di bawah kuasa Sultan bawah negeri masing-masing. Kita tidak boleh lakukan sebarang penyelarasan jika semua sultan tidak bersetuju.



Ia bukan tertakluk di bawah Persekutuan. Disebabkan itu, kita nampak ketidakseragaman berlaku, namun ada pro dan kontra di situ.



Sinar Harian: Sebagai panel kaunseling orang murtad, boleh kongsikan apa alasan yang mereka gunakan untuk murtad?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Saya sudah kaunseling berpuluh-puluh orang. Semuanya termasuk orang Melayu dan saudara baru yang masuk Islam kemudian murtad, semuanya murtad sebab tidak memahami akidah Islam.



Dalam kaunseling itu bila diterangkan tentang apa itu Islam dan tauhid dan sebagainya, kebanyakan mereka setuju Islam itu agama benar. Kebanyakan mereka pun mengatakan “kenapa dulu tak ada orang cerita perkara ini kepada saya, tetapi sekarang sudah terlambat”.



Ada yang dapat diselamatkan, tetapi yang sudah terlambat sebab dia sudah mendirikan rumah tangga dengan orang bukan Islam dan mempunyai anak sebab untuk dia kembali kepada Islam sekarang ini menjadi satu masalah yang besar.



Faktor utama mereka keluar daripada Islam ialah tidak memahami akidah Islam. Tidak ada seorang pun yang murtad ini, yang saya jumpa, dia terpengaruh dengan orang Kristian gunakan kalimah ALLAH dan dia masuk Kristian.



Dalam pengetahuan saya, saya belum jumpa satu pun manusia atas muka bumi ini semata-mata mengkaji Bible, dia masuk Kristian.



Mereka masuk Kristian kerana suka dengan akhlak, kebajikan diberikan, kasih sayang, perhatian, ekonomi yang dijaga dan akhlak orang Kristian, bukan sebab baca Bible BM. Semua yang saya sebutkan tadi memang ada dalam Islam, tetapi saya lihat orang Islam kurang melakukan perkara ini.



Sinar Harian: Orang Kristian dikatakan mahu guna kalimah ALLAH sebab ada agenda hendak murtadkan orang Islam. Sejauhmana dakwaan itu?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI:  Orang Kristian percaya dengan yakin, Kristian itu agama yang benar. Saya percaya, orang Kristian sudah pasti meletakkan hasrat untuk mengkristiankan orang-orang Melayu, tapi tujuan mereka untuk mengkristiankan orang Melayu, bukan untuk murtadkan orang Melayu.



Ia untuk menyelamatkan orang Melayu supaya sama-sama masuk syurga dan kita pula tidak lakukan dakwah kepada mereka.



Jadi bagaimana kita hendak menyalahkan mereka yang tidak tahu agama Islam?  Padahal kita sendiri tidak berdakwah kepada mereka. Saya tidak kata, tiada ustaz yang berdakwah kepada bukan Islam, tetapi saya cerita secara umum dan ia jarang berlaku.



Sebut soal gereja, ia terbahagi kepada dua, iaitu yang ‘established’ dan gereja kecil-kecilan. Gereja ‘established’ sangat berhati-hati dan tidak buat kerja-kerja ‘machinery’ kepada orang Islam dan undang-undang negara.



Banyak kali juga paderi Kristian panggil saya dan kata ada orang Islam datang minta bantuan kepada mereka, tetapi mereka minta saya tolong uruskan kerana khuatir disalah tafsir jika dibantu pihak gereja. Kenapa orang Islam kita lambat bergerak dalam bab ini? Ini kelemahan kita.



Sinar Harian: Apa langkah apa yang perlu diambil oleh orang Islam?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Katakanlah akhirnya keputusan kalimah ALLAH akan dibuat Mahkamah Persekutuan, mungkin mahkamah membenarkan Kristian guna kalimah ALLAH atau mungkin juga tidak. Kalau dibenarkan Kristian guna kalimah ALLAH, apa orang Islam hendak buat?



Dan kalau mahkamah kata Kristian tak boleh guna kalimah ALLAH, adakah masalah selesai? Bagaimana anda nak membendung dalam Internet? Orang kristian boleh guna kalimah ALLAH.



Pada saya tidak ada pilihan, orang Islam kena bangun sekarang dan marilah kita amal Islam dengan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan.



Sinar Harian: Boleh ceritakan mengenai denominasi (‘mazhab’) orang Kristian?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Mereka ada banyak denominasi dan bukan semua denominasi setuju dengan penggunaan kalimah ALLAH. Ada denominasi berkeras tak boleh guna kalimah ALLAH merujuk kepada God. Dalam bab ini, denominasi yang tidak bersetuju hanya berdiam diri. Orang kritsian tidak berbalah sesama sendiri dalam keadaan terbuka.



Mereka pun kadang kala mengkafirkan antara satu sama lain, tapi mereka tak lakukannya di tempat awam. Orang Islam kadang kala perkara yang kecil menjadi perbalahan. Saya bukan rujuk kepada kalimah ALLAH, tetapi dalam bab lain.



Sinar Harian: Apa nasihat Brother Shah kepada orang Islam?



SHAH KIRIT KAKULAL GOVINDJI: Merujuk pada surah Muhammad, ayat 38: …Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia (ALLAH) akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (derhaka) seperti kamu.  



Hari ini kalau kita lihat di Malaysia, yang menjadi pelindung kepada agama Islam adalah bangsa Melayu.



Apabila orang Melayu tidak lakukan kerja Islam berdakwah, orang akan gantikan orang Melayu dengan bangsa lain.



Saya cakap ini bukan kerana rasis, tapi hanya sebagai satu peringatan kepada kita semua. Sebagai orang Islam, kita ada tanggungjawab melakukan dakwah. Jangan letak kepentingan lain lebih tinggi daripada Islam.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Kalimah ALLAH: Bahan dakwah umat Islam